Pada abad ini, banyak ahli hadis terkemuka dan pakar Sunnah yang menjadi masyhur. Mereka memiliki andil yang sangat besar dalam melayani hadis, mengenali para perawinya, serta meneliti cacat-cacatnya ('illat). Berikut adalah sekelompok dari mereka:
Ali bin al-Madini
Beliau termasuk salah satu imam hadis yang istimewa. Tidak
ada satu pun bab dari bab-bab ilmu hadis melainkan beliau telah mendalaminya,
khususnya yang berkaitan dengan biografi perawi (Rijal) dan cacat hadis
('Ilal). Beliau telah menyusun banyak kitab dalam bidang tersebut yang
sebagian besar belum pernah didahului oleh orang lain dan tidak tertandingi
oleh banyak orang setelahnya.
Oleh karena itu, para ulama memujinya dan bersaksi atas
keunggulan serta keluasan ilmunya. Sufyan bin Uyainah—yang merupakan salah satu
gurunya—berkata: "Demi Allah, aku benar-benar belajar darinya lebih
banyak daripada apa yang ia pelajari dariku." Hal serupa juga
dikatakan oleh Yahya bin al-Qatthan yang juga merupakan gurunya. Al-Bukhari
berkata: "Aku tidak pernah merasa diriku kecil di hadapan siapa pun
kecuali di hadapan Ali bin al-Madini." Abu Hatim berkata: "Ibnu
al-Madini adalah panji dalam pengetahuan hadis dan 'illat."
Al-Hakim dalam Ma’rifah Ulum al-Hadits menyebutkan
sejumlah besar karyanya yang menunjukkan kokohnya ilmu dan luasnya cakrawala
pemikirannya dalam ilmu Sunnah, di antaranya: Kitab al-Mudallisin (lima
juz), Kitab adh-Dhu'afa (sepuluh juz), Kitab 'Ilal al-Musnad
(tiga puluh juz), Kitab 'Ilal Hadits Ibni Uyainah (tiga belas juz),
Kitab Man Laa Yuhtajju bi Haditsihi wa Laa Yusqath (dua juz), Kitab al-Kuna
(lima juz), Kitab al-Wahm wal Khatha’ (lima juz), Kitab Man Nazala
minal Shahabah Sairal Buldan (lima juz), Kitab Man Haddatsa tsumma
Raja’a 'Anhu (dua juz), Kitab Ikhtilaf al-Hadits (lima juz), Kitab al-'Ilal
al-Mutafarriqah (tiga puluh juz), dan Kitab Madzahib al-Muhadditsin
(dua juz). Selain itu, masih banyak karya-karya brilian lainnya yang
menunjukkan luasnya ilmu, keunggulan, dan kesempurnaan pengetahuannya. Beliau
wafat—rahimahullah—pada tahun 234 H di Surra Man Ra’a (Samarra) ([1]).
Yahya bin Ma'in
Beliau adalah salah satu dari empat imam yang menjadi
pemimpin tertinggi dalam bidang hadis, yaitu: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin
Ma'in, Ali bin al-Madini, dan Abu Bakar bin Abi Syaibah. Beliau mendengar hadis
dari Ibnu al-Mubarak, Ibnu Uyainah, Ibnu Mahdi, Husyaim, Waki', dan selain
mereka. Sementara yang mendengar darinya adalah Abu Zur'ah al-Razi, Abu Hatim,
al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan banyak lainnya.
Para ulama sepakat atas keimaman dan keagungan beliau dalam
urusan ini, terutama yang berkaitan dengan Jarh wa Ta'dil (kritik dan
rekomendasi perawi) serta menyingkap keadaan para pendusta dengan ketelitian
dan kemantapan. Diriwayatkan bahwa beliau pernah menghadap kiblat dan
mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Ya Allah, jika aku berbicara
tentang seseorang padahal dia menurutku bukan seorang pendusta, maka janganlah
Engkau ampuni aku." Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata: "Jika
kami tidak menulis sebuah hadis dari tiga puluh jalur, niscaya kami tidak akan
memahaminya."
Mengenai beliau, Ahmad bin Hanbal berkata: "Mendengar
(hadis) dari Yahya bin Ma'in adalah obat bagi apa yang ada di dalam dada."
Beliau juga berkata: "Yahya bin Ma'in adalah orang yang diciptakan
Allah untuk urusan ini; ia menyingkap kedustaan para pendusta, dan setiap hadis
yang tidak diketahui oleh Yahya, maka itu bukan hadis." Ibnu al-Madini
berkata: "Aku tidak pernah melihat orang seperti dia."
Al-Hakim dalam kitabnya Ulum al-Hadits memasukkan beliau ke dalam
golongan ahli fikih dari kalangan muhadditsin (Fuqaha al-Muhadditsin).
Beliau wafat di Madinah al-Munawwarah pada tahun 233 H dan dimakamkan di Baqi'.
Pada hari wafatnya, diserukan: "Inilah orang yang dahulu membersihkan
kedustaan dari hadis Rasulullah ﷺ" ([2]).
Abu Bakar bin Abi Syaibah
Beliau adalah al-Hafiz yang akurat (mutqin), Abdullah
bin Muhammad bin Abi Syaibah al-Kufi. Beliau meriwayatkan dari Abu al-Ahwash,
Ibnu al-Mubarak, Syarik, Husyaim, Jarir bin Abdul Hamid, Waki', Ibnu 'Ulayyah,
Ibnu Mahdi, Ibnu al-Qatthan, Ibnu Uyainah, Zaid bin Harun, dan banyak lagi
lainnya.
Yang meriwayatkan darinya adalah al-Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, dan Ibnu Majah. An-Nasa'i juga meriwayatkan darinya melalui perantara
Ahmad bin Ali al-Qadhi. Selain itu, putra beliau Abu Syaibah Ibrahim, Ahmad bin
Hanbal, Muhammad bin Sa'ad, Abu Zur'ah, Abu Hatim, Abdullah bin Ahmad bin
Hanbal, Ibrahim al-Harbi, dan banyak lainnya juga meriwayatkan darinya.
Abu Bakar adalah seorang yang terpercaya (tsiqah) dan
penghafal hadis. Banyak ulama sezamannya yang memuji hafalan dan ketelitiannya.
Abu Ubaid al-Qasim berkata: "Puncak ilmu berakhir pada empat orang: Abu
Bakar adalah yang paling lancar hafalannya (asradahum), Ahmad adalah yang
paling paham fikihnya, Yahya adalah yang paling banyak menghimpunnya, dan Ali
adalah yang paling tahu tentangnya." Shalih bin Muhammad berkata: "Orang
paling alim yang aku temui tentang hadis dan 'illatnya adalah Ali bin
al-Madini, yang paling tahu tentang kesalahan tulis/baca para guru adalah Yahya
bin Ma'in, dan yang paling kuat hafalannya saat diskusi (mudzakarah) adalah Abu
Bakar bin Abi Syaibah." Abu Zur'ah al-Razi berkata: "Aku tidak
pernah melihat orang yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Bakar bin Abi
Syaibah." Ibnu Hibban berkata: "Beliau adalah orang yang
akurat, penghafal, taat beragama, termasuk orang yang menulis, menghimpun,
menyusun, dan berdiskusi, serta merupakan orang yang paling hafal di zamannya
tentang riwayat-riwayat yang terputus (al-maqathi')." Beliau
wafat—radhiyallahu 'anhu—pada tahun 235 H ([3]).
Abu Zur'ah al-Razi
Beliau adalah Abdullah bin Abdul Karim, salah satu penghafal
(Hafiz) yang termasyhur. Para ulama sezamannya memuji beliau dalam hal
ilmu, kewarakan, dan hafalan, serta bersaksi atas keunggulannya dibanding
rekan-rekan sebayanya. Dikatakan bahwa beliau menghafal tujuh ratus ribu hadis.
Di masa mudanya, jika beliau berkumpul dengan Ahmad bin Hanbal, maka Imam Ahmad
hanya akan mengerjakan salat-salat fardu saja dan meninggalkan amalan sunnah
demi mencukupkan diri dengan berdiskusi hadis bersamanya. Cukuplah fakta ini
dari orang seperti Ahmad bin Hanbal sebagai bukti atas ketelitian dan kekuatan
hafalan Abu Zur'ah.
Al-Hakim meriwayatkan dalam Ma’rifah Ulum al-Hadits: "Ketika
Qutaibah bin Sa'ad pergi ke Rayy, penduduk di sana memintanya untuk
menyampaikan hadis, namun ia menolak dan berkata: 'Aku akan menyampaikan hadis
kepada kalian setelah aku menghadiri majelis Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in,
Ali bin al-Madini, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Abu Khaitsamah.' Mereka
berkata kepadanya: 'Sesungguhnya kami memiliki seorang pemuda yang mampu
menyebutkan secara berurutan semua yang engkau sampaikan di setiap majelis.' Maka
Abu Zur'ah berdiri dan menyebutkan secara berurutan semua yang telah
disampaikan Qutaibah, barulah setelah itu Qutaibah menyampaikan hadis kepada
mereka." Al-Hakim memasukkan beliau dalam golongan ahli fikih hadis
dalam kitabnya tersebut. Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 264 H ([4]).
Abu Hatim al-Razi
Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-Mundzir bin Dawud
bin Mihran, Abu Hatim al-Hanzhali al-Razi. Beliau termasuk salah satu imam
penghafal yang tepercaya (atst-tsabat), pakar tentang cacat hadis ('illat),
serta Jarh wa Ta'dil. Beliau adalah rekan sebaya Abu Zur'ah. Beliau
banyak mendengar hadis, berkeliling ke berbagai penjuru negeri, dan
meriwayatkan dari banyak imam besar.
Diriwayatkan bahwa beliau berkata kepada putranya,
Abdurrahman: "Wahai anakku, aku telah berjalan kaki dalam mencari hadis
lebih dari seribu farsakh." Beliau sering menantang para penghafal
hadis yang hadir di sisinya dengan berkata: "Siapa yang bisa membawakan
kepadaku satu hadis shahih yang asing bagiku, maka ia berhak mendapatkan satu
dirham dariku untuk aku sedekahkan." Beliau menjelaskan bahwa
maksudnya adalah "mendengar hadis yang tidak ada di sisiku". Namun,
tidak ada seorang pun yang mampu membawakan hal tersebut, dan di antara yang
hadir saat itu adalah Abu Zur'ah al-Razi. Para ulama sepakat atas keagungan dan
tingginya kedudukan beliau dalam hadis dan 'illatnya. Al-Hakim memasukkannya
dalam golongan ahli fikih hadis. Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 277 H
([5]).
(1) Tahdzib al-Asma' karya an-Nawawi Juz 1 hal. 350,
Fihrist Ibnu Nadim hal. 322, dan Ma’rifah Ulum al-Hadits karya al-Hakim hal.
71.
(2) Tahdzib al-Asma' karya an-Nawawi Juz 1 hal. 156,
Fihrist Ibnu Nadim hal. 322, Ma’rifah Ulum al-Hadits karya al-Hakim hal. 72.
(3) Tahdzib al-Tahdzib Juz 6 hal. 2.
(4) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 37, Ma’rifah Ulum
al-Hadits hal. 75 dan setelahnya.
(5) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 59, Ma’rifah Ulum
al-Hadits karya al-Hakim hal. 76.
Muhammad bin Jarir al-Thabari
Beliau adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin
Katsir bin Ghalib al-Thabari.
Beliau lahir di Amul pada tahun 224 H dan menetap di Baghdad
hingga wafat di sana. Beliau dianggap berada dalam tingkatan (thabaqah)
yang sama dengan al-Tirmidzi dan al-Nasa'i. Beliau banyak mendengar hadis dari
guru-guru al-Bukhari, Muslim, dan selainnya. Banyak ulama yang meriwayatkan
darinya, di antaranya Ahmad bin Kamil, Muhammad bin Abdullah al-Syafi'i, dan
Mukhallad bin Ja'far.
Ibnu Jarir termasuk jajaran imam besar yang pendapatnya
dijadikan hukum serta dirujuk pengetahuan dan ilmunya. Beliau adalah seorang
penghafal Kitabullah, menguasai seluruh jenis qira'at, memahami maknanya, ahli
fikih dalam hukum-hukum, alim dalam sunnah beserta jalur-jalurnya, mana yang
shahih dan yang berpenyakit (saqim), serta mana yang nasikh
(menghapus) dan mansukh (yang dihapus). Beliau juga menguasai pendapat
para sahabat, tabi'in, dan generasi setelah mereka, serta pakar dalam sejarah
manusia dan berita-berita mereka.
Di antara karya tulisnya adalah kitabnya yang masyhur, Tarikh
al-Umam wa al-Muluk (Sejarah Umat dan Raja-raja), serta kitab Tafsir yang
tentangnya Abu Hamid al-Isfarayini berkata:
"Sekiranya seseorang melakukan perjalanan jauh hingga
ke negeri Cina demi mendapatkan Tafsir Ibnu Jarir al-Thabari, maka hal itu
tidaklah dianggap berlebihan."
Karya lainnya adalah kitab Tahdzib al-Atsar, namun
sayang beliau tidak menyelesaikannya. Seandainya selesai, niscaya kitab itu
akan menjadi mukjizat dalam ilmu Sunnah. Beliau memulainya dengan riwayat dari
Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu mengulas setiap hadis, cacatnya ('illat),
jalur-jalurnya, kandungan fikihnya, perbedaan pendapat ulama beserta
argumen-argumennya, serta aspek bahasanya. Bagian yang sempat selesai adalah Musnad
Sepuluh Sahabat yang Dijamin Surga, Musnad Ahli Bait, Musnad para
Mawali, serta sebagian dari Musnad Ibnu Abbas. Kitab ini termasuk
salah satu karyanya yang menakjubkan.
Ibnu Katsir berkata dalam kitab al-Tarikh bahwa
beliau pernah melihat sebuah kitab karya al-Thabari yang menghimpun hadis-hadis
"Ghadir Khum" dalam dua jilid tebal, serta sebuah kitab yang
menghimpun jalur-jalur "Hadis al-Thair". Beliau
wafat—rahimahullah—pada tahun 310 H ([1]).
Ibnu Khuzaimah
Beliau adalah Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah
al-Naisaburi, Imamul Aimmah (Imamnya para Imam). Beliau melakukan
perjalanan ilmu (rihlah) ke Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Syam,
Jazirah, Mesir, dan Wasith. Beliau mendengar hadis dari banyak sekali ulama, di
antaranya Ishaq bin Rahawaih dan Muhammad bin Hamid al-Razi, namun beliau tidak
meriwayatkan dari keduanya karena beliau mendengar dari mereka saat masih
sangat kecil. Beliau meriwayatkan dari Mahmud bin Ghailan, Muhammad bin Aban
al-Mustamli, Ishaq bin Musa al-Khathami, Abu Qudamah al-Sarkhasi, dan
selainnya. Sementara itu, para imam besar meriwayatkan darinya seperti
al-Bukhari dan Muslim (di luar kitab Shahih mereka), Muhammad bin
Abdullah bin Abdil Hakam (yang merupakan gurunya), Yahya bin Muhammad bin
Sha'id, Abu Ali al-Ghassani, Ishaq bin Sa'ad al-Nabawi, dan banyak orang
lainnya.
Ibnu Khuzaimah adalah kiblat ilmu dan ulama, serta imam yang
dituju manusia dari segala penjuru.
"Bagaikan lautan yang melemparkan permata bagi yang
dekat karena kedermawanannya, dan mengirimkan awan mendung (hujan) bagi yang
jauh."
Beliau sangat teliti dalam menyeleksi hadis hingga beliau
akan menunda penshahihan hanya karena adanya sedikit komentar (cacat) pada
sanadnya. Al-Hakim meriwayatkan dari Abu al-Abbas bin Suraij bahwa ia berkata
tentang Ibnu Khuzaimah: "Sesungguhnya ia mengeluarkan poin-poin halus (nukat)
dari hadis Rasulullah ﷺ
dengan menggunakan pinset (sangat teliti)." Al-Rabi' bin Sulaiman berkata:
"Kami mendapatkan manfaat dari Ibnu Khuzaimah lebih banyak daripada
manfaat yang ia dapatkan dari kami." Muhammad bin Hibban al-Tamimi
berkata: "Aku tidak melihat di muka bumi ini orang yang lebih ahli dalam
mengolah Sunnah, menghafal lafaz-lafaznya yang shahih, serta
tambahan-tambahannya hingga seolah-olah seluruh Sunnah ada di depan matanya,
kecuali Muhammad bin Ishaq." Al-Daraquthni berkata: "Ibnu Khuzaimah
adalah imam yang teguh (tsabat) dan tidak ada bandingannya."
Al-Hakim memasukkannya dalam golongan ahli fikih hadis dan
berkata: "Karya tulisnya mencapai lebih dari seratus empat puluh kitab,
selain kitab-kitab masalah. Kitab masalah yang disusunnya lebih dari seratus
jilid; sebagai contoh, pembahasan fikih hadis Barirah saja mencapai tiga jilid,
dan masalah Haji mencapai lima jilid." Beliau memiliki kitab al-Shahih
yang merupakan salah satu kitab hadis paling mulia, kedudukannya menyusul Shahih
Muslim bin al-Hajjaj sebagaimana disebutkan al-Suyuthi dalam Alfiyyah-nya,
namun sebagian besar kitab tersebut telah hilang. Beliau
wafat—rahimahullah—pada tahun 311 H ([2]).
Muhammad bin Sa'ad (Penulis al-Waqidi)
Beliau adalah Imam, Hafiz, Sejarawan yang terpercaya (tsiqah),
Abu Abdullah Muhammad bin Sa'ad bin Mani' al-Qurasyi al-Hasyimi (secara
loyalitas/wala'), penduduk Bashrah kemudian Baghdad. Ayahnya adalah maula
(bekas budak) dari al-Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin al-Abbas bin Abdul
Muthalib al-Hasyimi. Beliau lahir di Bashrah pada tahun 168 H dan wafat di
Baghdad pada tahun 230 H.
Beliau meriwayatkan dari Muhammad bin Umar al-Waqidi—dan
darinyalah beliau menimba ilmu secara mendalam—serta dari Ibnu 'Ulayyah, Sufyan
bin Uyainah, Yazid bin Harun al-Wasithi, dan Ubaidillah bin Musa al-'Absi. Juga
dari Abu Nu'aim al-Fadhl bin Dukain al-Kufi dan guru-guru riwayat lainnya di
Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Mekkah, Madinah, Syam, Yaman, Mesir, dan
negeri-negeri lainnya. Beliau termasuk perawi yang sangat banyak meriwayatkan
dari guru-guru di berbagai kota besar, dan tumpuan utamanya dalam ilmu adalah
"lautan yang bergelombang" Muhammad bin Umar al-Waqidi. Di antara
yang meriwayatkan darinya adalah Mush'ab al-Zubairi, al-Harits Muhammad bin Abi
Usamah (pemilik Musnad), Ahmad bin Ubaid bin Nashih al-Hasyimi, Ahmad
bin Yazid bin Jabir al-Baladzuri (penulis Futuh al-Buldan), Abu Bakar
Abdullah bin Muhammad yang dikenal sebagai Ibnu Abi al-Dunya, serta al-Husain
bin Muhammad bin Abdurrahman bin Fahm—perawi kitab al-Thabaqat al-Kubra
dari Ibnu Sa'ad, yang berkata tentang gurunya: "Beliau memiliki banyak
ilmu dan banyak kitab; beliau menulis hadis, fikih, dan bahasa yang asing (gharib)."
Ibnu Sa'ad adalah sosok yang disenangi para perawi karena
beliau tidak terlibat dalam fitnah-fitnah besar pada masa al-Ma'mun dan
setelahnya, sehingga hal itu memungkinkannya menyebarkan ilmunya dan ilmu
gurunya. Kitab-kitabnya tetap terjaga dan diterima di kalangan mereka. Yang
terpenting adalah kitab al-Thabaqat al-Kabir, di mana beliau menghimpun
inti sari dari apa yang disebutkan para ulama sirah seperti al-Sya'bi,
al-Auza'i, Musa bin Uqbah, dan Muhammad bin Ishaq (al-Waqidi).
Dalam kitab ini, beliau menyebutkan berita para
nabi—'alaihimussalam—serta seluruh nenek moyang pemimpin para rasul dan penutup
mereka, Muhammad ﷺ,
sebagai pendahuluan sebelum menyebutkan sirah dan peperangan beliau ﷺ. Setelah selesai
dengan Sirah Nabawiyah, beliau menyebutkan tingkatan (thabaqat) para
sahabat, tabi'in, dan generasi setelahnya hingga masanya, serta membagi mereka
berdasarkan kota-kota Muslim: Madinah, Mekkah, Syam, Yaman, Mesir, Kufah,
Bashrah, Baghdad, dan negeri lainnya. Kitab ini merupakan kitab tertua yang
diwariskan dalam bidangnya, dan tidak bisa diabaikan oleh ahli hadis, ahli
fikih, maupun sejarawan. Beliau telah menyajikannya dengan sangat baik dan
indah. Namun, tidak semua riwayat di dalamnya kuat; di antara sanad-sanadnya
ada yang terputus (maqthu') atau mursal. Beliau sengaja melakukan
itu guna melengkapi segala sesuatu yang berkaitan dengan topik yang dibahasnya,
dan menyeleksi sanad-sanad tersebut adalah perkara mudah bagi para ahli ilmu.
Orang-orang yang datang setelah Ibnu Sa'ad yang menulis tentang biografi perawi
sebenarnya berhutang budi pada ilmunya, meskipun mereka kehilangan sistematika
urutan dan susunan sanad beliau karena mereka melakukan peringkasan ([3]).
(1) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 145 dst, Miftah
al-Sunnah hal. 33, Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra Juz 2 hal. 135.
(2) Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra Juz 2 hal. 130,
Ma'rifah Ulum al-Hadits karya al-Hakim hal. 83, al-Risalah al-Mustathrafah
karya al-Kattani hal. 17.
(3) Tarikh Baghdad karya al-Khathib dan Mukaddimah
al-Thabaqat al-Kubra karya Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari, cetakan Mesir.
Ishaq bin Rahawaih
Beliau adalah Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim, Abu
Ya’qub al-Hanzhali al-Marwazi, yang dikenal dengan sebutan Ibnu
Rahawaih—Rahawaih adalah julukan ayahnya, Ibrahim. Beliau termasuk di antara
imam kaum Muslimin dan ulama yang terkemuka; beliau menghimpun kepemimpinan
dalam bidang hadis sekaligus kepemimpinan dan kemahiran dalam bidang fikih,
disertai dengan hafalan, kejujuran, kewarakan, serta kezuhudan.
Beliau melakukan perjalanan ilmu (rihlah) ke Irak,
Hijaz, Yaman, dan Syam. Beliau mendengar (hadis) dari Jarir bin Abdul Hamid
al-Razi, Ismail bin 'Ulayyah, Sufyan bin Uyainah, Waki' bin al-Jarrah, Baqiyyah
bin al-Walid, Abdurrazzaq bin Hammam, an-Nadhr bin Syumail, dan lain-lain.
Sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah Muhammad bin Ismail al-Bukhari,
Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Abu Isa
al-Tirmidzi, Ahmad bin Salamah, dan banyak lagi lainnya.
Juga meriwayatkan darinya para gurunya yang terdahulu
seperti Yahya bin Adam ([1]) dan Baqiyyah bin al-Walid, serta dari rekan
sebanyanya (aqran) yaitu Ahmad bin Hanbal. Beliau—rahimahullah—menjadi
tamsil (perumpamaan) dalam hal hafalan, ketelitian, keimaman, dan kejujuran.
Beliau berkata tentang dirinya sendiri:
"Aku mengetahui letak seratus ribu hadis seolah-olah
aku sedang melihat kepadanya, aku menghafal tujuh puluh ribu hadis di luar
kepala, dan aku menghafal empat ribu hadis yang dipalsukan (muzawwarah)."
Lalu ditanyakan kepadanya: "Apa makna menghafal hadis yang
dipalsukan?" Beliau menjawab: "Jika lewat padaku satu hadis darinya
di sela-sela hadis yang shahih, maka aku akan memilahnya dengan teliti."
Pernah ditanyakan kepadanya: "Apakah benar engkau
menghafal seratus ribu hadis?" Beliau menjawab: "Seratus ribu, aku
tidak tahu apa itu (maksudnya jumlah yang tidak terhitung), akan tetapi
tidaklah aku mendengar sesuatu pun melainkan aku pasti menghafalnya, dan
tidaklah aku menghafal sesuatu pun lalu aku melupakannya."
Abu Dawud al-Khaffaf berkata: "Ishaq bin Rahawaih
mendiktekan kepada kami sebelas ribu hadis dari hafalannya, kemudian beliau
membacakannya kembali kepada kami; beliau tidak menambah satu huruf pun dan
tidak mengurangi satu huruf pun." Abu Hatim al-Razi berkata: "Aku
menyebutkan kepada Abu Zur’ah tentang Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali dan
hafalannya terhadap sanad serta matan, maka Abu Zur’ah berkata: 'Tidak pernah
terlihat orang yang lebih kuat hafalannya daripada Ishaq'." Abu Hatim berkata:
"Yang menakjubkan adalah ketelitiannya dan keselamatannya dari kesalahan,
di samping karunia hafalan yang diberikan kepadanya." Ucapan para imam
dalam memuji Ishaq sangat panjang untuk disebutkan, maka kami cukupkan dengan
hal tersebut. Abu Dawud berkata: "Ishaq bin Rahawaih mengalami perubahan
(ingatan) lima bulan sebelum wafatnya; aku mendengar darinya pada hari-hari itu
namun aku membuang (riwayat)nya." Beliau lahir pada tahun 161 H dan wafat
pada tahun 238 H di Naisabur dalam usia tujuh puluh tujuh tahun ([2]).
Imam Ahmad bin Hanbal
Beliau adalah imamnya para imam, penjaga umat, dan ahli
fikihnya, yaitu Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani
al-Marwazi kemudian al-Baghdadi.
Lahir di Baghdad pada tahun 164 H. Di masa mudanya, beliau
sering mendatangi majelis Qadhi Abu Yusuf, kemudian beliau meninggalkan hal itu
dan beralih untuk mendengar hadis pada tahun 187 H. Beliau telah berkeliling ke
berbagai negeri dan penjuru dunia serta mendengar dari para guru di masanya
yang sangat memuliakan dan menghormati beliau. Di antara guru-gurunya adalah
Husyaim, Ibrahim bin Said, dan Sufyan bin Uyainah. Beliau belajar fikih kepada
asy-Syafi'i saat ia datang ke Baghdad, mendampinginya, serta mengambil manfaat
darinya.
Beliau menaruh perhatian yang sangat besar terhadap Sunnah
dan fikih hingga ahli hadis menganggapnya sebagai imam dan ahli fikih mereka.
Sekelompok ulama terkemuka telah mengambil hadis darinya, di antaranya Muhammad
bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, asy-Syafi'i,
Abdurrazzaq, dan Waki'—dan tiga orang terakhir ini sebenarnya adalah
guru-gurunya. Imam asy-Syafi'i, meskipun memiliki kedudukan yang agung dalam
hadis dan fikih, beliau bersandar pada Imam Ahmad dalam hal menshahihkan dan mendhaifkan
hadis. Oleh karena itu, ketika asy-Syafi'i berkumpul bersamanya di Baghdad pada
tahun 198 H, beliau berkata: "Wahai Abu Abdullah, jika sebuah hadis
telah shahih menurutmu, maka beritahukanlah kepadaku agar aku menuju kepadanya,
baik perawinya orang Hijaz, Syam, Irak, maupun Yaman." Usia Ahmad saat
itu adalah tiga puluh sekian tahun.
Asy-Syafi'i berkata: "Aku keluar dari Irak dan
tidaklah aku meninggalkan seorang lelaki pun yang lebih utama, lebih berilmu,
lebih warak, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal." Demikian
pula para ulama di zamannya, meskipun berbeda kecenderungan dan latar belakang,
mengakui tingginya kedudukan beliau dalam ilmu dan hadis. Ishaq bin Rahawaih
berkata: "Ahmad adalah hujah antara Allah dan hamba-hamba-Nya di
bumi-Nya." Yahya bin Ma'in berkata: "Terdapat sifat-sifat pada
diri Ahmad bin Hanbal yang belum pernah aku lihat pada seorang alim pun; ia
adalah seorang ahli hadis, seorang hafiz, seorang alim, seorang yang warak,
seorang yang zuhud, dan seorang yang berakal." Beliau juga berkata: "Orang-orang
menginginkan kami menjadi seperti Ahmad bin Hanbal; demi Allah, kami tidak kuat
untuk menjadi seperti dia dan tidak sanggup menempuh jalannya."
Selesai kutipan.
Sekelompok kaum Mu’tazilah sempat menguasai pemikiran
al-Ma'mun, kemudian al-Mu'tashim, lalu al-Watsiq, dan mengajak mereka untuk
memaksa rakyat agar berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Di antara orang
yang dipaksa melakukan hal itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal, namun beliau
menolak dengan keras. Beliau pun dipukul dan dipenjara, namun beliau tetap
teguh pada penolakannya pada tahun 220 H di masa al-Mu'tashim. Bisyr al-Hafi
berkata setelah Ahmad dipukul: "Ahmad dimasukkan ke dalam tungku api
lalu keluar sebagai emas murni." Ali bin al-Madini berkata: "Tidak
ada seorang pun yang membela Islam sebagaimana tegaknya Ahmad bin Hanbal."
Ketika ucapan ini sampai kepada Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, beliau berkata: "Benarlah
Ali; sesungguhnya Abu Bakar mendapati penolong dan pembantu pada hari
kemurtadan, sedangkan Ahmad bin Hanbal tidak memiliki penolong maupun
pembantu." Kemudian Abu Ubaid mulai memujinya dan berkata: "Aku
tidak tahu ada yang seperti dia dalam Islam." Ahmad
wafat—rahimahullah—pada tahun 241 H di Baghdad, dan beliau memiliki kenangan
serta reputasi yang indah di kalangan ulama—Tarikh Ibnu Katsir (10-335).
(1) Diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih, beliau berkata:
"Yahya bin Adam menulis dariku dua ribu hadis."
(2) Tarikh Baghdad karya al-Khathib Juz 6 hal. 345 dan
setelahnya.
Imam al-Bukhari
Beliau adalah imam para ahli hadis dan syekh para hafiz, Abu
Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi
(secara loyalitas/muala). Beliau adalah imam ahli hadis di zamannya, panutan
pada masanya, dan sosok yang paling dikedepankan di antara rekan-rekan
sejawatnya. Al-Bukhari—rahimahullah—lahir di Bukhara pada tahun 194 H. Allah
mengilhaminya untuk menghafal hadis saat beliau masih berada di sekolah dasar (al-maktab).
Al-Farabri berkata: "Aku mendengar Muhammad bin Abi
Hatim, juru tulis (warraq) al-Bukhari, berkata: 'Aku mendengar
al-Bukhari berkata: Aku diilhami untuk menghafal hadis saat aku masih di
sekolah (al-kuttab).' Aku bertanya: 'Berapa usiamu saat itu?' Beliau
menjawab: 'Sepuluh tahun atau kurang.' Kemudian beliau keluar dari sekolah dan
mulai mendatangi ad-Dakhili dan ulama lainnya. Suatu hari, saat orang-orang
membacakan (hadis) kepada ad-Dakhili: 'Sufyan dari Abu az-Zubair dari Ibrahim.'
Maka aku (al-Bukhari) berkata: 'Sesungguhnya Abu az-Zubair tidak meriwayatkan
dari Ibrahim.' Ad-Dakhili menghardikku, lalu aku berkata kepadanya: 'Kembalilah
ke naskah aslimu jika kau memilikinya.' Ia pun masuk ke rumahnya dan
melihatnya, lalu kembali keluar dan bertanya: 'Bagaimana yang benar wahai anak
muda?' Aku menjawab: 'Dia adalah az-Zubair bin 'Adi dari Ibrahim.' Maka
ad-Dakhili mengambil pena dan memperbaiki kitabnya, lalu berkata kepadaku:
'Engkau benar'."
Ada seseorang bertanya kepada beliau: "Berapa usiamu
saat engkau menyanggahnya?" Beliau menjawab: "Sebelas tahun."
Beliau melanjutkan: "Ketika usiaku mencapai enam belas tahun, aku telah
menghafal kitab-kitab Ibnu al-Mubarak dan Waki' serta memahami pemikiran mereka
(maksudnya para pengikut ahlul ra'yi). Kemudian aku keluar bersama ibu
dan saudaraku untuk menunaikan haji." Beliau berkata lagi: "Ketika
usiaku mencapai delapan belas tahun, aku menyusun kitab Qadhaya al-Shahabah
wa al-Tabi'in, kemudian aku menyusun kitab at-Tarikh di Madinah di
dekat makam Nabi ﷺ.
Aku menulisnya pada malam-malam yang diterangi cahaya bulan. Hampir tidak ada
satu nama pun dalam at-Tarikh melainkan aku memiliki cerita tentangnya,
hanya saja aku tidak suka jika kitab itu menjadi terlalu panjang."
Al-Bukhari melakukan perjalanan jauh untuk mencari hadis dan
berpindah-pindah antar negeri. Sahl bin al-Sirri berkata: Al-Bukhari berkata:
"Aku memasuki Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing
dua kali. Aku ke Bashrah empat kali dan menetap di Hijaz selama enam tahun. Aku
tidak bisa menghitung berapa kali aku memasuki Kufah dan Baghdad bersama para
ahli hadis."
Beliau tidak tertandingi dalam menghafal hadis, baik sanad
maupun matannya, disertai keahlian membedakan mana yang shahih dan yang cacat.
Suatu kali beliau memasuki Samarkand, lalu berkumpul empat ratus ulama hadis di
sana. Mereka menukar matan-matan hadis ke sanad yang bukan pasangannya dan
mencampuradukkan sanad-sanad tersebut; mereka memasukkan sanad Syam ke sanad
Irak. Kemudian mereka membacakannya kepada al-Bukhari dengan maksud menguji.
Namun, al-Bukhari mengembalikan setiap hadis ke sanadnya yang benar dan
membetulkan semua hadis serta sanad tersebut. Mereka tidak mampu menemukan satu
pun kesalahan beliau, baik pada sanad maupun matan. Hal yang sama juga mereka
lakukan kepadanya di Baghdad, hingga mereka tunduk mengakui keutamaan dan
keunggulan beliau.
Disebutkan bahwa beliau cukup melihat sebuah kitab sekali
pandang lalu langsung menghafalnya, dan berita-berita mengenai hal itu sangat
banyak. Para ulama di zamannya, baik dari kalangan guru maupun rekan sejawat,
memujinya. Imam Ahmad berkata: "Khurasan belum pernah melahirkan orang
yang seperti dia." Ibnu al-Madini berkata: "Al-Bukhari belum pernah
melihat orang yang seperti dirinya sendiri." Mahmud bin al-Nazhar bin Sahl
al-Syafi'i berkata: "Aku telah memasuki Bashrah, Syam, Hijaz, dan Kufah;
aku melihat para ulamanya setiap kali nama Muhammad bin Ismail al-Bukhari
disebut, mereka pasti mengunggulkannya di atas diri mereka sendiri."
Ahmad bin Hamdun al-Qashshar berkata: "Aku melihat
Muslim bin al-Hajjaj mendatangi al-Bukhari lalu mencium keningnya dan berkata:
'Biarkan aku mencium kakimu wahai gurunya para guru, pemimpin para ahli hadis,
dan dokter hadis dalam hal cacat-cacatnya ('illat).' Kemudian Muslim
bertanya tentang hadis kafaratul majelis, lalu al-Bukhari menyebutkan cacatnya.
Setelah selesai, Muslim berkata: 'Tidak ada yang membencimu kecuali orang yang
dengki, dan aku bersaksi bahwa tidak ada di dunia ini yang sepertimu'."
Al-Tirmidzi berkata: "Aku tidak pernah melihat di Irak maupun Khurasan
orang yang lebih alim daripada al-Bukhari dalam hal 'illat, sejarah, dan
pengenalan sanad." Ibnu Khuzaimah berkata: "Aku tidak melihat di
bawah kolong langit ini orang yang lebih alim tentang hadis Rasulullah ﷺ dan lebih hafal
daripadanya melebihi Muhammad bin Ismail al-Bukhari."
Al-Bukhari—rahimahullah—termasuk imam mujtahid dalam fikih
dan penggalian hukum dari Sunnah serta atsar. Di antara perkataan beliau yang
masyhur adalah: "Aku tidak mengetahui sesuatu pun yang dibutuhkan (oleh
umat) melainkan hal itu sudah ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah."
Ditanyakan kepada beliau: "Apakah mungkin untuk mengetahui hal itu?"
Beliau menjawab: "Ya." Judul-judul bab (tarajum) hadis dalam
kitabnya al-Jami' al-Shahih menunjukkan hal tersebut. Ishaq bin
Rahawaih, salah satu gurunya, berkata: "Seandainya al-Bukhari hidup di
masa al-Hasan (al-Bashri), niscaya orang-orang akan membutuhkannya dalam urusan
hadis, pengetahuannya, serta fikihnya." Abu Muhammad Abdullah bin Abdul
Rahman al-Darimi berkata: "Muhammad bin Ismail al-Bukhari adalah yang
paling paham fikih di antara kami, yang paling alim, yang paling dalam
pengetahuannya, dan yang paling banyak mencari hadis." Ibnu Katsir
menyebutkan dalam at-Tarikh: "Di antara ulama ada yang
mengunggulkannya dalam fikih dan hadis di atas Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq
bin Rahawaih."
Al-Bukhari—rahimahullah—memiliki sifat sangat pemalu,
pemberani, dermawan, warak, dan zuhud terhadap dunia. Beliau berjiwa mulia dan
menjaga jarak dari para amir dan sultan. Bahkan ketika Amir Bukhara, Khalid bin
Ahmad al-Dzuhli, memintanya datang untuk membacakan hadis bagi anak-anaknya,
beliau menolak untuk pergi dan berkata: "Ilmu itu didatangi di rumahnya
(majelisnya)." Maka sang Amir ingin melarang orang-orang mendengar hadis
darinya, namun rakyat tidak patuh kepada Amir. Akhirnya sang Amir memerintahkan
pengusiran beliau, sehingga al-Bukhari pindah dari kotanya ke sebuah desa
bernama Khartank, sekitar dua farsakh dari Samarkand. Beliau mulai berdoa agar
Allah mewafatkannya ketika melihat fitnah dalam agama. Beliau pun jatuh sakit
setelah itu dan wafat pada malam Idul Fitri dalam usia enam puluh dua tahun.
Beliau meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi seluruh umat Islam melalui
karya-karyanya yang penuh dengan ilmu yang melimpah. Di antara karya-karya
tersebut adalah:
Qadhaya al-Shahabah wa al-Tabi'in, at-Tarikh
al-Kabir, at-Tarikh al-Awsat, at-Tarikh al-Shaghir, al-Adab
al-Mufrad, al-Qira'ah Khalf al-Imam, Birr al-Walidain, Khalq
Af'al al-'Ibad, Kitab al-Dhu'afa, al-Jami' al-Kabir, al-Musnad
al-Kabir, al-Tafsir al-Kabir, Kitab al-Asyribah, Kitab
al-Hibah, Asami al-Shahabah, Kitab al-Wahdan, Kitab
al-Mabsuth, Kitab al-'Ilal, Kitab al-Kuna, dan kitab al-Jami'
al-Shahih yang merupakan kitabnya yang paling besar manfaatnya dan paling
tinggi kedudukannya. Semoga Allah merahmati al-Bukhari dengan rahmat yang luas
dan melipatgandakan pahala baginya. Amin ([1]).
Imam Muslim bin al-Hajjaj
Beliau adalah imam besar dan penjaganya para hafiz, Abu
al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi. Lahir di Naisabur pada
tahun 204 H. Beliau mencari hadis sejak kecil dan melakukan perjalanan ke
seluruh ahli hadis di berbagai negeri; beliau pergi ke Irak, Hijaz, Syam, dan
Mesir. Beliau mengambil ilmu dari guru-guru mereka, termasuk guru-guru
al-Bukhari dan selainnya.
Ketika al-Bukhari datang ke Naisabur di akhir masa hidupnya,
Muslim senantiasa mendampinginya, terus-menerus mendatangi majelisnya, meneliti
ilmunya, dan mengikuti jejaknya serta membelanya. Beliau bahkan meninggalkan
gurunya sendiri, Muhammad bin Yahya al-Dzuhli, demi membela al-Bukhari. Hal itu
terjadi ketika suatu hari al-Dzuhli berkata kepada orang-orang di
majelisnya—yang di antaranya terdapat Muslim: "Ketahuilah, barangsiapa
yang berpendapat seperti pendapat al-Bukhari dalam masalah 'pelafalan Al-Qur'an',
maka hendaklah ia meninggalkan majelis kami." Maka Muslim segera bangkit
saat itu juga menuju rumahnya, mengumpulkan semua riwayat yang pernah ia dengar
dari al-Dzuhli, mengirimkannya kembali kepadanya, dan meninggalkan riwayat
darinya di dalam kitab Shahih-nya maupun kitab lainnya.
Banyak imam dan hafiz sezamannya yang meriwayatkan dari
Muslim, termasuk sekelompok rekan sejawatnya seperti Abu Hatim al-Razi, Musa
bin Harun, Ahmad bin Salamah, al-Tirmidzi, dan selainnya. Mereka sepakat atas
keagungan, keimaman, dan tingginya derajat beliau dalam Sunnah serta kemahiran
dan kedalaman ilmunya di bidang tersebut. Bukti terbesar akan hal itu adalah
kitab Shahih-nya, yang tidak ditemukan pada kitab sebelumnya maupun
sesudahnya keindahan susunan seperti itu, peringkasan jalur-jalur hadis tanpa
penambahan atau pengurangan, kehati-hatian dalam pengalihan (tahwil)
sanad ketika ada kesamaan tanpa menambah lafaz, serta peringatannya terhadap
perbedaan kata-kata perawi pada matan atau sanad meskipun sedikit. Beliau juga
sangat memperhatikan peringatan tentang riwayat-riwayat yang secara tegas
menyebutkan pendengaran (sima') dari para perawi mudallis, dan
hal-hal lain yang dikenal dalam kitabnya.
Banyak ulama hadis dan lainnya yang memuji beliau. Ahmad bin
Salamah berkata: "Aku mendengar Abu Zur'ah dan Abu Hatim lebih
mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj dalam hal pengetahuan hadis shahih di atas
guru-guru sezaman mereka." Ishaq bin Manshur berkata kepada Muslim:
"Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah mengekalkanmu bagi kaum
Muslimin."
Muslim menyusun banyak kitab dalam ilmu hadis, di antaranya:
kitab al-Shahih yang merupakan anugerah Allah bagi umat Islam, al-Kitab
al-Musnad al-Kabir berdasarkan nama perawi (Asma al-Rijal), al-Kitab
al-Jami' al-Kabir berdasarkan bab-bab, Kitab al-'Ilal, Kitab
Awham al-Muhadditsin, Kitab al-Tamyiz, Kitab Man Laisa Lahu Illa
Rawin Wahid, Kitab Thabaqat al-Tabi'in, Kitab al-Mukhadhramin,
dan lain-lain. Beliau wafat—rahimahullah—di Naisabur pada tahun 261 H dalam
usia 57 tahun (Tahdzib al-Asma' dan Tarikh Ibnu Katsir 11-32).
(1) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 24 dst, Miftah
al-Sunnah hal. 38-39, Mukaddimah Fathul Bari Juz 2 hal. 193 dst.
Berikut adalah terjemahan lengkap dan tidak diringkas dari
teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia:
Imam an-Nasa'i
Beliau adalah al-Hafiz Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu'aib bin
Ali bin Bahr bin Sinan bin Dinar an-Nasa'i, dinisbatkan kepada Nasa', sebuah
kota masyhur di Khurasan. Terkadang disebut al-Nasawi dengan mengubah hamzah
menjadi wawu. Beliau—rahimahullah—lahir pada tahun 215 H. Beliau merupakan
salah satu tokoh agama dan imam hadis, imam bagi penduduk zamannya, serta
panutan di antara para ahli hadis dalam pengetahuan Jarh wa Ta'dil
(kritik dan rekomendasi perawi).
Al-Hakim Abu Abdullah berkata: "Aku mendengar
al-Daraquthni berkali-kali berkata: 'Abu Abdurrahman (an-Nasa'i) lebih
didahulukan daripada siapa pun yang disebut memiliki ilmu hadis dari penduduk
zamannya dalam hal kritik dan rekomendasi perawi'." Beliau adalah orang
yang sangat teliti dan warak; engkau dapat melihat beliau berkata dalam kitab Sunan-nya
ketika meriwayatkan dari al-Harits bin Miskin: "Demikianlah dibacakan di
hadapannya (al-Harits) sementara aku mendengarnya," dan beliau tidak
berkata "telah menceritakan kepada kami (haddatsana)" atau
"telah mengabarkan kepada kami (akhbarana)" sebagaimana yang
beliau ucapkan pada riwayat-riwayat lain dari guru-gurunya yang lain.
Beliau mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Dawud
al-Sijistani, Mahmud bin Ghailan, Qutaibah bin Said, Ali bin Khasyram, serta
ulama lain dari Khurasan, Hijaz, Jazirah, Mesir, Syam, dan lainnya. Banyak
orang mengambil hadis darinya, di antaranya al-Dulabi, Abu al-Qasim
al-Thabrani, Abu Ja'far al-Thahawi, dan Muhammad bin Harun bin Syu'aib.
Pada usia 15 tahun, beliau melakukan perjalanan (rihlah)
kepada Qutaibah bin Said al-Balkhi dan menetap di sana selama satu tahun dua
bulan untuk mengambil hadis darinya. Beliau kemudian datang ke Mesir, tinggal
lama di sana, dan karya-karyanya tersebar luas di sana hingga orang-orang
mengambil ilmu darinya. Kemudian beliau keluar dari Mesir pada tahun 302 H
menuju Damaskus. Di sana beliau ditanya tentang Mu'awiyah dan apa yang
diriwayatkan mengenai keutamaannya, namun beliau justru lebih mengunggulkan Ali
di atasnya, sehingga orang-orang (di sana) terus menyiksanya hingga beliau
terbunuh karena pukulan. Al-Daraquthni berkata: "Ketika an-Nasa'i diuji di
Damaskus, ia berkata: 'Bawalah aku ke Mekkah.' Maka ia dibawa ke sana, lalu
wafat di sana dan dimakamkan di antara Shafa dan Marwah." Namun,
al-Dzahabi berpendapat yang benar bahwa beliau wafat di Ramlah, Palestina.
Al-Taj al-Subki menukil dari gurunya al-Hafiz al-Dzahabi dan
ayahnya al-Taqi al-Subki bahwa an-Nasa'i lebih kuat hafalannya daripada Muslim
pemilik kitab Shahih, dan bahwa kitab Sunan-nya adalah kitab Sunan
yang paling sedikit hadis dhaifnya setelah Shahihain (Bukhari-Muslim).
Bahkan sebagian guru berkata bahwa kitab itu adalah karya tulis yang paling
mulia dan tidak ada yang serupa dengannya yang pernah disusun dalam Islam. Ibnu
Mandah, Ibnu al-Sakan, Abu Ali al-Naisaburi, Abu Ahmad bin Adi, al-Khathib, dan
al-Daraquthni berkata: "Semua yang ada dalam Sunan an-Nasa'i adalah
shahih." Akan tetapi, pernyataan ini mengandung unsur kelonggaran (tasahul)
yang nyata. Sebagian ulama Maghrib (Maroko) bersikap aneh dengan
mengunggulkannya di atas kitab al-Bukhari, mungkin karena beberapa aspek di
luar kesempurnaan keshahihan. Abu Ali al-Naisaburi berkata: "An-Nasa'i
memiliki syarat perawi yang lebih ketat daripada syarat Muslim."
Pernyataan ini pun tidak sepenuhnya diterima. Al-Biqa'i dalam Syarh
al-Alfiyyah menukil dari Ibnu Katsir: "Bahwa dalam Sunan an-Nasa'i
terdapat perawi-perawi yang tidak dikenal (majhul) baik identitas maupun
keadaannya, di antara mereka ada yang tercacat (majruh), serta di
dalamnya terdapat hadis-hadis dhaif, mu'allal (cacat tersembunyi), dan
munkar." An-Nasa'i memiliki banyak karya dalam bidang hadis dan 'illat.
Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 303 H setelah mencapai usia 89 tahun
([1]).
Abu Dawud
Beliau adalah Sulaiman bin al-Asy'ats bin Ishaq al-Azdi
al-Sijistani. Lahir pada tahun 202 H. Beliau melakukan perjalanan dalam mencari
ilmu dan menulis hadis dari penduduk Irak, Syam, Mesir, dan Khurasan. Beliau
mengambil hadis dari guru-guru al-Bukhari dan Muslim seperti Ahmad bin Hanbal,
Usman bin Abi Syaibah, Qutaibah bin Said, dan imam-imam hadis lainnya. Yang
mengambil hadis darinya adalah putranya sendiri Abdullah, Abu Abdurrahman
an-Nasa'i, Abu Ali al-Lu'lu'i, dan banyak orang lainnya.
Para ulama memujinya dan mensifatinya dengan hafalan yang
sempurna, ilmu yang melimpah, serta pemahaman yang tajam dalam hadis dan bidang
lainnya disertai ketaatan agama dan kewarakan. Beliau merupakan salah satu
tokoh besar penjaga hadis Rasulullah ﷺ, sunnah-sunnahnya, dan sejarah hidupnya. Al-Hakim Abu Abdullah
berkata: "Abu Dawud adalah imam ahli hadis di zamannya tanpa ada
penentangan; ia mendengarnya (hadis) di Mesir, Hijaz, Syam, dua Irak (Kufah
& Bashrah), dan Khurasan."
Sebelum Abu Dawud, para ulama hadis telah menyusun
kitab-kitab Jawami' (umum) dan Masanid (berdasarkan sahabat), di
mana kitab-kitab mereka mencampuradukkan antara sunnah-sunnah hukum dengan
berita-berita, kisah-kisah, adab, serta nasihat. Adapun sunnah-sunnah murni
(hukum), belum ada seorang pun dari mereka yang bermaksud mengkhususkannya dan
menyaringnya hingga datanglah Abu Dawud. Beliau berupaya menghimpun hadis-hadis
hukum dan membatasinya pada hal tersebut, sehingga beliau berhasil meraih apa
yang tidak dicapai orang lain. Beliau menyodorkan kitabnya kepada Ahmad bin
Hanbal, lalu Imam Ahmad menganggapnya baik dan memujinya. Ibrahim al-Harbi
berkata: "Ketika Abu Dawud menyusun kitab ini, hadis menjadi lunak baginya
sebagaimana besi menjadi lunak bagi (Nabi) Dawud." Abu Dawud menyusun
banyak kitab dan wafat di Bashrah pada tahun 275 H.
At-Tirmidzi
Beliau adalah Imam al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin
Saurah bin Musa bin al-Dhahhak al-Sulami al-Tirmidzi. Lahir pada tahun 209 H di
Tirmidz. Beliau adalah imam yang terpercaya (tsiqah) dan hujah. Beliau
mengambil hadis dari kelompok yang besar, di antaranya Qutaibah bin Said, Ishaq
bin Musa, Mahmud bin Ghailan, Said bin Abdurrahman, Muhammad bin Basyar, Ali
bin Hujr, Ahmad bin Mani', Muhammad bin al-Mutsanna, Sufyan bin Waki', dan Muhammad
bin Ismail al-Bukhari. Banyak orang yang meriwayatkan hadis darinya, termasuk
Muhammad bin Ahmad bin Mahbub al-Mahbubi (perawi kitab al-Jami'
darinya), Abu Hamid Ahmad bin Abdullah al-Marwazi, al-Haitsam bin Kulaib
al-Syasyi, dan Muhammad bin al-Mundzir bin Syukr.
Abu Isa berkeliling ke berbagai penjuru negeri dan mendengar
dari banyak ulama Khurasan, Irak, dan Hijaz. Beliau menulis hadis dan menyusun
karya-karya yang menakjubkan, di antaranya: al-Jami', Kitab al-Asma'
wa al-Kuna, al-Syama'il, al-Tawarikh, al-'Ilal, dan Kitab
al-Zuhd. Para ulama sepakat atas keimaman dan keagungan beliau. Ibnu Hibban
menyebutnya dalam al-Tsiqat (kitab perawi terpercaya) dan berkata:
"Beliau termasuk orang yang menghimpun, menyusun, menghafal, dan
berdiskusi." Abu Ya'la al-Khalili berkata: "Terpercaya yang
disepakati (tsiqah muttafaq 'alaih)." Cukuplah sebagai bukti
keshahihannya bahwa imam hadis dan ahli hadis, Muhammad bin Ismail al-Bukhari,
bersandar dan mengambil ilmu darinya. Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata: "Lebih
dari satu ulama meriwayatkan darinya, di antaranya Muhammad bin Ismail
al-Bukhari dalam Shahih-nya."
Berdasarkan hal ini, maka tidak perlu menoleh pada ucapan
Ibnu Hazm mengenai beliau bahwa beliau adalah "mualaf/tidak dikenal"
(majhul). Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata: "Ketidaktahuan (jahalah)
Ibnu Hazm terhadap Abu Isa al-Tirmidzi tidaklah membahayakannya, ketika ia
(Ibnu Hazm) berkata dalam kitab al-Muhalla-nya: 'Dan dari Muhammad bin
Isa bin Saurah'. Sesungguhnya ketidaktahuan Ibnu Hazm tidak menjatuhkan derajat
al-Tirmidzi di mata para ahli ilmu, melainkan justru menjatuhkan kedudukan Ibnu
Hazm di mata para hafiz."
Bagaimana sesuatu akan menjadi benar dalam pikiran,
Jika siang hari masih membutuhkan dalil (bukti
keberadaannya)?
Al-Dzahabi berkata dalam kitab Mizan-nya:
"Muhammad bin Isa bin Saurah, al-Hafiz yang menjadi panji, Abu Isa
al-Tirmidzi pemilik kitab al-Jami', adalah orang terpercaya yang
disepakati. Tidak perlu menoleh pada perkataan Abu Muhammad bin Hazm di dalam
bab Faraid dari kitab al-Ittishal bahwa beliau itu majhul,
karena sesungguhnya Ibnu Hazm tidak mengenal dan tidak mengetahui keberadaan
kitab al-Jami' maupun kitab al-'Ilal milik al-Tirmidzi."
Selesai kutipan.
Beliau kehilangan penglihatannya (menjadi buta) di akhir
usianya dan wafat—rahimahullah Ta'ala—di Tirmidz pada tahun 279 H dalam usia
tujuh puluh tahun ([2]).
(1) Tarikh Ibnu Katsir (Juz 11 hal. 123-124) dan
Mukaddimah Syarh al-Mujtaba oleh al-Sindi dan al-Suyuthi.
(2) Mizan al-I'tidal karya al-Dzahabi Juz 3 hal. 117.
Al-Bidayah wa al-Nihayah karya al-Hafiz Ibnu Katsir Juz 11 hal. 66-67.
Berikut adalah terjemahan lengkap dan tidak diringkas dari
teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia:
Ibnu Majah
Beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah
bin Majah (Majah adalah nama/julukan bagi Yazid) al-Qazwini, penulis kitab Sunan
yang masyhur, kitab Tafsir, dan kitab Sejarah (Tarikh).
Beliau lahir pada tahun 209 H dan melakukan perjalanan (rihlah)
untuk menulis serta mendapatkan hadis ke Rayy, Bashrah, Kufah, Baghdad, Syam,
Mesir, dan Hijaz. Beliau mengambil hadis dari banyak syekh di berbagai negeri
seperti Abu Bakar bin Abi Syaibah serta murid-murid Imam Malik dan al-Laits.
Banyak orang meriwayatkan darinya, di antaranya Ibnu Sibawaih, Muhammad bin Isa
al-Shaffar, Ishaq bin Muhammad, Ali bin Ibrahim bin Salamah al-Qatthan, Ahmad
bin Ibrahim (kakek dari al-Hafiz Ibnu Katsir), dan Sulaiman bin Yazid.
Abu Ya'la al-Khalili al-Qazwini berkata: "Beliau adalah
seorang alim dalam bidang ini, penulis berbagai karya termasuk Tarikh
dan Sunan, serta telah melakukan perjalanan ke dua Irak (Kufah dan
Bashrah), Mesir, dan Syam." Ibnu Katsir berkata: "Muhammad bin Yazid
bin Majah adalah penulis kitab Sunan yang masyhur; kitab tersebut
menunjukkan atas amal, ilmu, kedalaman, keluasan wawasan, serta ketaatannya
terhadap Sunnah baik dalam masalah ushul (pokok) maupun furu' (cabang). Kitab
itu mencakup 32 kitab (bab besar), 1.500 bab, dan 4.000 hadis yang semuanya
berkualitas baik (jiyad) kecuali sedikit saja." Beliau
wafat—rahimahullah—pada tahun 273 H.
Imam Ibnu Qutaibah ad-Dinawari
Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah
ad-Dinawari, ada yang menyebut al-Marwazi sang ahli bahasa, penulis kitab al-Ma'arif
dan Adab al-Katib. Beliau adalah orang yang mulia dan terpercaya (tsiqah).
Beliau tinggal di Baghdad dan menyampaikan hadis di sana dari Ishaq bin
Rahawaih, Abu Ishaq Ibrahim al-Ziyadi (dinisbatkan kepada kakeknya Ziyad bin
Abihi), Abu Hatim al-Sijistani, dan ulama di tingkatan tersebut.
Putranya, Abu Ja'far Ahmad al-Faqih yang menjabat sebagai
hakim di Mesir dan datang ke sana pada tahun 321 H, meriwayatkan darinya;
dikatakan bahwa sang putra meriwayatkan seluruh karya tulis ayahnya. Di antara
yang meriwayatkan dari Ibnu Qutaibah juga adalah Ibnu Dustuyah al-Farisi. Semua
karya tulisnya sangat bermanfaat, di antaranya yang telah disebutkan
sebelumnya, juga: Gharib al-Qur'an, Gharib al-Hadits, Uyun
al-Akhbar, Musykil al-Qur'an, Musykil al-Hadits, Thabaqat
al-Syu'ara', al-Asyribah, Ishlah al-Ghalath, Kitab
al-Tafqih, Kitab al-Khail, Kitab I'rab al-Qur'an, Kitab
al-Anwa', Kitab al-Masail wa al-Jawabab, al-Maisir wa al-Qidah,
dan lain-lain. Beliau membacakan kitab-kitabnya di Baghdad hingga wafat.
Dikatakan bahwa ayahnya berasal dari Marw, sedangkan beliau lahir di Baghdad
atau ada yang menyebut di Kufah. Beliau menetap di Dinur dalam waktu lama
sebagai hakim sehingga dinisbatkan ke sana (ad-Dinawari). (Dikutip dari Ibnu
Khallikan).
Ilmu dan Keutamaannya:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Tafsir
Surah al-Ikhlas setelah menukil pendapat bahwa orang-orang yang mendalam
ilmunya (al-Rasikhun) mengetahui takwil yang benar dari ayat mutasyabihat:
"Pendapat ini adalah pilihan banyak ahli sunnah, di antaranya Ibnu
Qutaibah, Abu Sulaiman ad-Dimasyqi, dan lainnya. Ibnu Qutaibah termasuk orang
yang menisbatkan diri kepada Ahmad dan Ishaq, serta pembela mazhab Sunnah yang
masyhur, dan beliau memiliki banyak karya tulis dalam hal tersebut."
Penulis kitab al-Tahdits berkata tentangnya:
"Beliau adalah salah satu tokoh imam, ulama, dan orang mulia. Karya
tulisnya adalah yang paling bermutu dan susunannya paling indah, beliau
memiliki sekitar tiga ratus karya tulis. Beliau cenderung pada mazhab Ahmad dan
Ishaq, serta sezaman dengan Ibrahim al-Harbi dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi.
Penduduk wilayah Maghrib (Afrika Utara/Spanyol Islam) sangat mengagungkannya
dan mereka berkata: 'Siapa saja yang menghalalkan celaan terhadap Ibnu
Qutaibah, maka ia tertuduh sebagai zindik', dan mereka juga berkata: 'Setiap
rumah yang di dalamnya tidak ada karya tulisnya, maka tidak ada kebaikan di
dalamnya'."
Syaikhul Islam mengakhiri ucapannya dengan berkata:
"Aku katakan: Disebutkan bahwa kedudukan beliau bagi ahli sunnah seperti
kedudukan al-Jahizh bagi kaum Mu'tazilah, karena beliau adalah oratornya ahli
sunnah sebagaimana al-Jahizh adalah oratornya kaum Mu'tazilah."
Kemudian beliau (Ibnu Taimiyah)—rahimahullah—mendiskusikan
bantahan Ibnu al-Anbari terhadap Ibnu Qutaibah dengan berkata: "Bukannya
dia (Ibnu al-Anbari) lebih tahu tentang makna Al-Qur'an dan hadis serta lebih
mengikuti sunnah daripada Ibnu Qutaibah, tidak pula lebih paham dalam hal
tersebut. Meskipun Ibnu al-Anbari termasuk orang yang paling hafal bahasa,
namun bab pemahaman teks (fiqh al-nushush) berbeda dengan bab menghafal
lafaz bahasa."
Al-Dzahabi berkata dalam al-Mizan: "Abdullah bin
Muslim bin Qutaibah Abu Muhammad, pemilik banyak karya tulis, seorang yang
jujur (shaduq) namun sedikit riwayatnya. Beliau meriwayatkan dari Ishaq
bin Rahawaih dan sekelompok ulama." Al-Khathib berkata: "Beliau
terpercaya, taat beragama, dan mulia." Beliau wafat pada bulan Rajab tahun
276 H.
Aktivasi Praktis Fakta dan Nilai Materi Melalui Kegiatan
Berikut:
Pertama — Aktivitas Pendamping:
- Berpartisipasi
dengan menyebutkan beberapa tokoh kontemporer yang telah dan sedang
melayani Sunnah.
- Bertukar
pengalaman tentang penggunaan komputer dan jaringan informasi (internet)
dalam mencari hadis dan penjelasannya.
- Memberikan
pendapat tentang pemanfaatan metode ahli hadis dalam hal penelitian,
verifikasi, dan penilaian personal (mizan al-asykhash) untuk
diterapkan dalam metode gerakan Islam serta cara-cara evaluasi dan
peninjauan kembali (muraja'ah).
Kedua — Aktivitas Pendukung:
- Menghidupkan
kembali kebiasaan masyarakat awam untuk mengoleksi kitab-kitab Sunnah di
samping Mushaf Al-Qur'an di rumah.
- Mengadakan
halaqah (lingkaran studi) di masjid-masjid untuk membenarkan bacaan Sunnah
dan mempelajari ilmunya, meneladani halaqah tajwid.
- Membuat
majalah dinding yang bertujuan mengenalkan masyarakat pada Sunnah.
- Mempopulerkan
nama-nama ulama Sunnah yang masyhur melalui berbagai cara yang
memungkinkan.
- Mengundang
ulama spesialis Sunnah untuk memberikan pelajaran di masjid-masjid.
- Mengorganisir
kunjungan para pelajar kepada ulama Sunnah untuk mengenal mereka dan
menimba ilmu dari mereka.
- Mengenalkan
masyarakat kepada musuh-musuh Sunnah agar waspada terhadap mereka dan
mampu membantah mereka.
- Menugaskan
para pelajar untuk mempersiapkan materi pelajaran sebelum dipelajari di
kelas.
- Menyusun
buku-buku kecil (buklet) tentang biografi tokoh-tokoh ahli hadis.
- Membuat
papan informasi berisi biografi tokoh ahli hadis, metode mereka, dan cara
mengambil manfaat dari kitab mereka untuk dipajang di masjid dan tempat
lainnya.
- Menugaskan
para pelajar membaca topik-topik tertentu untuk didiskusikan.
- Mendengarkan
kaset rekaman (audio) yang berkaitan dengan materi.
- Membuat
tabel-tabel khusus materi dan menempelnya di lorong-lorong serta masjid.
- Mengadakan
seminar yang menampilkan kitab-kitab hadis dan menjelaskan upaya para
ulama.
- Mengadakan
perlombaan di masjid dan institusi lainnya seputar topik ini dan
menyediakan hadiah bagi pemenang.
- Mengadakan
seminar untuk mengenalkan kehidupan para imam ini, upaya, dan metode
mereka.
- Melakukan
penelitian terkait topik tersebut.
- Meringkas
biografi tokoh-tokoh ahli hadis.
- Mendengarkan
kaset audio dan video khusus topik tersebut.
- Kuliah/ceramah
berkala yang membahas elemen-elemen isi materi.
- Merekam
ceramah, khotbah, dan pelajaran lalu menghadiahkannya kepada masyarakat
umum melalui perpustakaan masjid.
- Mengadakan
seminar yang bertujuan memperdalam elemen isi materi dan menyanggah
syubhat (keraguan) yang dimunculkan seputar Sunnah.
- Mengikuti
serial televisi yang menceritakan kehidupan para imam Muslim dan
memberikan komentar atasnya.
- Menyediakan
perpustakaan khusus ilmu Sunnah.
- Memanfaatkan
kaset rekaman, video, dan komputer.
Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:
Pertama — Pertanyaan Esai:
- Jelaskan
metode para ulama pada abad kedua dalam menghimpun hadis.
- Apa
penyebab hilangnya sebagian besar karya tulis dari abad kedua?
- Apa
alasan penamaan kitab al-Muwaththa' karya Imam Malik dengan nama
tersebut?
- Tulislah
secara rinci tentang derajat hadis-hadis dalam al-Muwaththa' dan
penilaian ulama terhadapnya.
- Berapa
jumlah hadis dalam al-Muwaththa'?
- Sebutkan
tiga kitab penjelasan (syarah) dan ringkasan (mukhtashar)
dari al-Muwaththa'.
- Bagaimana
bentuk perhatian masyarakat terhadap al-Muwaththa'?
- Jelaskan
upaya para ulama dalam melawan para pemalsu hadis (wadha'in).
- Apa
makna dari ungkapan-ungkapan berikut:
- Abu
Dawud al-Sijistani berkata: "Sufyan, Waki', dan yang serupa dengan
mereka telah bersungguh-sungguh dengan puncaknya kesungguhan, namun
mereka tidak berhasil mendapatkan hadis marfu' yang bersambung (muttashil)
kecuali kurang dari seribu hadis."
- Malik
bin Anas berkata: "Ilmu tidak boleh diambil dari empat golongan, dan
boleh diambil dari selain mereka: (1) Jangan diambil dari orang
bodoh/pendir, (2) Jangan diambil dari pengikut hawa nafsu yang mengajak
orang pada nafsunya, (3) Jangan dari pendusta yang berdusta dalam ucapan
sehari-hari meskipun ia tidak tertuduh berdusta atas hadis Rasulullah ﷺ,
(4) Jangan dari seorang syekh yang memiliki keutamaan, kesalihan, dan
ibadah namun ia tidak mengerti apa yang ia sampaikan."
- Bagaimana
para khalifah Abbasiyah melawan kaum zindik?
- Apa
pengaruh para tukang cerita (al-qashash) terhadap periwayatan hadis
pada abad ketiga Hijriah? Dan bagaimana para ulama serta pemimpin melawan
hal tersebut?
- Tulislah
biografi singkat untuk para imam di zaman ini: (Ali bin al-Madini – Yahya
bin Ma'in – Abu Bakar bin Abi Syaibah – Abu Zur'ah al-Razi – Abu Hatim
al-Razi – Muhammad bin Jarir al-Thabari – Imam al-Bukhari – Imam
an-Nasa'i).
No comments:
Post a Comment