Sunday, April 5, 2026

Biografi Perawi Pada Masa Ini

Pada abad ini, banyak ahli hadis terkemuka dan pakar Sunnah yang menjadi masyhur. Mereka memiliki andil yang sangat besar dalam melayani hadis, mengenali para perawinya, serta meneliti cacat-cacatnya ('illat). Berikut adalah sekelompok dari mereka:

Ali bin al-Madini

Beliau termasuk salah satu imam hadis yang istimewa. Tidak ada satu pun bab dari bab-bab ilmu hadis melainkan beliau telah mendalaminya, khususnya yang berkaitan dengan biografi perawi (Rijal) dan cacat hadis ('Ilal). Beliau telah menyusun banyak kitab dalam bidang tersebut yang sebagian besar belum pernah didahului oleh orang lain dan tidak tertandingi oleh banyak orang setelahnya.

Oleh karena itu, para ulama memujinya dan bersaksi atas keunggulan serta keluasan ilmunya. Sufyan bin Uyainah—yang merupakan salah satu gurunya—berkata: "Demi Allah, aku benar-benar belajar darinya lebih banyak daripada apa yang ia pelajari dariku." Hal serupa juga dikatakan oleh Yahya bin al-Qatthan yang juga merupakan gurunya. Al-Bukhari berkata: "Aku tidak pernah merasa diriku kecil di hadapan siapa pun kecuali di hadapan Ali bin al-Madini." Abu Hatim berkata: "Ibnu al-Madini adalah panji dalam pengetahuan hadis dan 'illat."

Al-Hakim dalam Ma’rifah Ulum al-Hadits menyebutkan sejumlah besar karyanya yang menunjukkan kokohnya ilmu dan luasnya cakrawala pemikirannya dalam ilmu Sunnah, di antaranya: Kitab al-Mudallisin (lima juz), Kitab adh-Dhu'afa (sepuluh juz), Kitab 'Ilal al-Musnad (tiga puluh juz), Kitab 'Ilal Hadits Ibni Uyainah (tiga belas juz), Kitab Man Laa Yuhtajju bi Haditsihi wa Laa Yusqath (dua juz), Kitab al-Kuna (lima juz), Kitab al-Wahm wal Khatha’ (lima juz), Kitab Man Nazala minal Shahabah Sairal Buldan (lima juz), Kitab Man Haddatsa tsumma Raja’a 'Anhu (dua juz), Kitab Ikhtilaf al-Hadits (lima juz), Kitab al-'Ilal al-Mutafarriqah (tiga puluh juz), dan Kitab Madzahib al-Muhadditsin (dua juz). Selain itu, masih banyak karya-karya brilian lainnya yang menunjukkan luasnya ilmu, keunggulan, dan kesempurnaan pengetahuannya. Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 234 H di Surra Man Ra’a (Samarra) ([1]).

Yahya bin Ma'in

Beliau adalah salah satu dari empat imam yang menjadi pemimpin tertinggi dalam bidang hadis, yaitu: Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, Ali bin al-Madini, dan Abu Bakar bin Abi Syaibah. Beliau mendengar hadis dari Ibnu al-Mubarak, Ibnu Uyainah, Ibnu Mahdi, Husyaim, Waki', dan selain mereka. Sementara yang mendengar darinya adalah Abu Zur'ah al-Razi, Abu Hatim, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan banyak lainnya.

Para ulama sepakat atas keimaman dan keagungan beliau dalam urusan ini, terutama yang berkaitan dengan Jarh wa Ta'dil (kritik dan rekomendasi perawi) serta menyingkap keadaan para pendusta dengan ketelitian dan kemantapan. Diriwayatkan bahwa beliau pernah menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: "Ya Allah, jika aku berbicara tentang seseorang padahal dia menurutku bukan seorang pendusta, maka janganlah Engkau ampuni aku." Diriwayatkan pula bahwa beliau berkata: "Jika kami tidak menulis sebuah hadis dari tiga puluh jalur, niscaya kami tidak akan memahaminya."

Mengenai beliau, Ahmad bin Hanbal berkata: "Mendengar (hadis) dari Yahya bin Ma'in adalah obat bagi apa yang ada di dalam dada." Beliau juga berkata: "Yahya bin Ma'in adalah orang yang diciptakan Allah untuk urusan ini; ia menyingkap kedustaan para pendusta, dan setiap hadis yang tidak diketahui oleh Yahya, maka itu bukan hadis." Ibnu al-Madini berkata: "Aku tidak pernah melihat orang seperti dia." Al-Hakim dalam kitabnya Ulum al-Hadits memasukkan beliau ke dalam golongan ahli fikih dari kalangan muhadditsin (Fuqaha al-Muhadditsin). Beliau wafat di Madinah al-Munawwarah pada tahun 233 H dan dimakamkan di Baqi'. Pada hari wafatnya, diserukan: "Inilah orang yang dahulu membersihkan kedustaan dari hadis Rasulullah " ([2]).

Abu Bakar bin Abi Syaibah

Beliau adalah al-Hafiz yang akurat (mutqin), Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah al-Kufi. Beliau meriwayatkan dari Abu al-Ahwash, Ibnu al-Mubarak, Syarik, Husyaim, Jarir bin Abdul Hamid, Waki', Ibnu 'Ulayyah, Ibnu Mahdi, Ibnu al-Qatthan, Ibnu Uyainah, Zaid bin Harun, dan banyak lagi lainnya.

Yang meriwayatkan darinya adalah al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. An-Nasa'i juga meriwayatkan darinya melalui perantara Ahmad bin Ali al-Qadhi. Selain itu, putra beliau Abu Syaibah Ibrahim, Ahmad bin Hanbal, Muhammad bin Sa'ad, Abu Zur'ah, Abu Hatim, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Ibrahim al-Harbi, dan banyak lainnya juga meriwayatkan darinya.

Abu Bakar adalah seorang yang terpercaya (tsiqah) dan penghafal hadis. Banyak ulama sezamannya yang memuji hafalan dan ketelitiannya. Abu Ubaid al-Qasim berkata: "Puncak ilmu berakhir pada empat orang: Abu Bakar adalah yang paling lancar hafalannya (asradahum), Ahmad adalah yang paling paham fikihnya, Yahya adalah yang paling banyak menghimpunnya, dan Ali adalah yang paling tahu tentangnya." Shalih bin Muhammad berkata: "Orang paling alim yang aku temui tentang hadis dan 'illatnya adalah Ali bin al-Madini, yang paling tahu tentang kesalahan tulis/baca para guru adalah Yahya bin Ma'in, dan yang paling kuat hafalannya saat diskusi (mudzakarah) adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah." Abu Zur'ah al-Razi berkata: "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih kuat hafalannya daripada Abu Bakar bin Abi Syaibah." Ibnu Hibban berkata: "Beliau adalah orang yang akurat, penghafal, taat beragama, termasuk orang yang menulis, menghimpun, menyusun, dan berdiskusi, serta merupakan orang yang paling hafal di zamannya tentang riwayat-riwayat yang terputus (al-maqathi')." Beliau wafat—radhiyallahu 'anhu—pada tahun 235 H ([3]).

Abu Zur'ah al-Razi

Beliau adalah Abdullah bin Abdul Karim, salah satu penghafal (Hafiz) yang termasyhur. Para ulama sezamannya memuji beliau dalam hal ilmu, kewarakan, dan hafalan, serta bersaksi atas keunggulannya dibanding rekan-rekan sebayanya. Dikatakan bahwa beliau menghafal tujuh ratus ribu hadis. Di masa mudanya, jika beliau berkumpul dengan Ahmad bin Hanbal, maka Imam Ahmad hanya akan mengerjakan salat-salat fardu saja dan meninggalkan amalan sunnah demi mencukupkan diri dengan berdiskusi hadis bersamanya. Cukuplah fakta ini dari orang seperti Ahmad bin Hanbal sebagai bukti atas ketelitian dan kekuatan hafalan Abu Zur'ah.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Ma’rifah Ulum al-Hadits: "Ketika Qutaibah bin Sa'ad pergi ke Rayy, penduduk di sana memintanya untuk menyampaikan hadis, namun ia menolak dan berkata: 'Aku akan menyampaikan hadis kepada kalian setelah aku menghadiri majelis Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, Ali bin al-Madini, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Abu Khaitsamah.' Mereka berkata kepadanya: 'Sesungguhnya kami memiliki seorang pemuda yang mampu menyebutkan secara berurutan semua yang engkau sampaikan di setiap majelis.' Maka Abu Zur'ah berdiri dan menyebutkan secara berurutan semua yang telah disampaikan Qutaibah, barulah setelah itu Qutaibah menyampaikan hadis kepada mereka." Al-Hakim memasukkan beliau dalam golongan ahli fikih hadis dalam kitabnya tersebut. Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 264 H ([4]).

Abu Hatim al-Razi

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-Mundzir bin Dawud bin Mihran, Abu Hatim al-Hanzhali al-Razi. Beliau termasuk salah satu imam penghafal yang tepercaya (atst-tsabat), pakar tentang cacat hadis ('illat), serta Jarh wa Ta'dil. Beliau adalah rekan sebaya Abu Zur'ah. Beliau banyak mendengar hadis, berkeliling ke berbagai penjuru negeri, dan meriwayatkan dari banyak imam besar.

Diriwayatkan bahwa beliau berkata kepada putranya, Abdurrahman: "Wahai anakku, aku telah berjalan kaki dalam mencari hadis lebih dari seribu farsakh." Beliau sering menantang para penghafal hadis yang hadir di sisinya dengan berkata: "Siapa yang bisa membawakan kepadaku satu hadis shahih yang asing bagiku, maka ia berhak mendapatkan satu dirham dariku untuk aku sedekahkan." Beliau menjelaskan bahwa maksudnya adalah "mendengar hadis yang tidak ada di sisiku". Namun, tidak ada seorang pun yang mampu membawakan hal tersebut, dan di antara yang hadir saat itu adalah Abu Zur'ah al-Razi. Para ulama sepakat atas keagungan dan tingginya kedudukan beliau dalam hadis dan 'illatnya. Al-Hakim memasukkannya dalam golongan ahli fikih hadis. Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 277 H ([5]).


(1) Tahdzib al-Asma' karya an-Nawawi Juz 1 hal. 350, Fihrist Ibnu Nadim hal. 322, dan Ma’rifah Ulum al-Hadits karya al-Hakim hal. 71.

(2) Tahdzib al-Asma' karya an-Nawawi Juz 1 hal. 156, Fihrist Ibnu Nadim hal. 322, Ma’rifah Ulum al-Hadits karya al-Hakim hal. 72.

(3) Tahdzib al-Tahdzib Juz 6 hal. 2.

(4) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 37, Ma’rifah Ulum al-Hadits hal. 75 dan setelahnya.

(5) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 59, Ma’rifah Ulum al-Hadits karya al-Hakim hal. 76.

Muhammad bin Jarir al-Thabari

Beliau adalah Abu Ja'far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib al-Thabari.

Beliau lahir di Amul pada tahun 224 H dan menetap di Baghdad hingga wafat di sana. Beliau dianggap berada dalam tingkatan (thabaqah) yang sama dengan al-Tirmidzi dan al-Nasa'i. Beliau banyak mendengar hadis dari guru-guru al-Bukhari, Muslim, dan selainnya. Banyak ulama yang meriwayatkan darinya, di antaranya Ahmad bin Kamil, Muhammad bin Abdullah al-Syafi'i, dan Mukhallad bin Ja'far.

Ibnu Jarir termasuk jajaran imam besar yang pendapatnya dijadikan hukum serta dirujuk pengetahuan dan ilmunya. Beliau adalah seorang penghafal Kitabullah, menguasai seluruh jenis qira'at, memahami maknanya, ahli fikih dalam hukum-hukum, alim dalam sunnah beserta jalur-jalurnya, mana yang shahih dan yang berpenyakit (saqim), serta mana yang nasikh (menghapus) dan mansukh (yang dihapus). Beliau juga menguasai pendapat para sahabat, tabi'in, dan generasi setelah mereka, serta pakar dalam sejarah manusia dan berita-berita mereka.

Di antara karya tulisnya adalah kitabnya yang masyhur, Tarikh al-Umam wa al-Muluk (Sejarah Umat dan Raja-raja), serta kitab Tafsir yang tentangnya Abu Hamid al-Isfarayini berkata:

"Sekiranya seseorang melakukan perjalanan jauh hingga ke negeri Cina demi mendapatkan Tafsir Ibnu Jarir al-Thabari, maka hal itu tidaklah dianggap berlebihan."

Karya lainnya adalah kitab Tahdzib al-Atsar, namun sayang beliau tidak menyelesaikannya. Seandainya selesai, niscaya kitab itu akan menjadi mukjizat dalam ilmu Sunnah. Beliau memulainya dengan riwayat dari Abu Bakar ash-Shiddiq, lalu mengulas setiap hadis, cacatnya ('illat), jalur-jalurnya, kandungan fikihnya, perbedaan pendapat ulama beserta argumen-argumennya, serta aspek bahasanya. Bagian yang sempat selesai adalah Musnad Sepuluh Sahabat yang Dijamin Surga, Musnad Ahli Bait, Musnad para Mawali, serta sebagian dari Musnad Ibnu Abbas. Kitab ini termasuk salah satu karyanya yang menakjubkan.

Ibnu Katsir berkata dalam kitab al-Tarikh bahwa beliau pernah melihat sebuah kitab karya al-Thabari yang menghimpun hadis-hadis "Ghadir Khum" dalam dua jilid tebal, serta sebuah kitab yang menghimpun jalur-jalur "Hadis al-Thair". Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 310 H ([1]).


Ibnu Khuzaimah

Beliau adalah Muhammad bin Ishaq Abu Bakar bin Khuzaimah al-Naisaburi, Imamul Aimmah (Imamnya para Imam). Beliau melakukan perjalanan ilmu (rihlah) ke Rayy, Baghdad, Bashrah, Kufah, Syam, Jazirah, Mesir, dan Wasith. Beliau mendengar hadis dari banyak sekali ulama, di antaranya Ishaq bin Rahawaih dan Muhammad bin Hamid al-Razi, namun beliau tidak meriwayatkan dari keduanya karena beliau mendengar dari mereka saat masih sangat kecil. Beliau meriwayatkan dari Mahmud bin Ghailan, Muhammad bin Aban al-Mustamli, Ishaq bin Musa al-Khathami, Abu Qudamah al-Sarkhasi, dan selainnya. Sementara itu, para imam besar meriwayatkan darinya seperti al-Bukhari dan Muslim (di luar kitab Shahih mereka), Muhammad bin Abdullah bin Abdil Hakam (yang merupakan gurunya), Yahya bin Muhammad bin Sha'id, Abu Ali al-Ghassani, Ishaq bin Sa'ad al-Nabawi, dan banyak orang lainnya.

Ibnu Khuzaimah adalah kiblat ilmu dan ulama, serta imam yang dituju manusia dari segala penjuru.

"Bagaikan lautan yang melemparkan permata bagi yang dekat karena kedermawanannya, dan mengirimkan awan mendung (hujan) bagi yang jauh."

Beliau sangat teliti dalam menyeleksi hadis hingga beliau akan menunda penshahihan hanya karena adanya sedikit komentar (cacat) pada sanadnya. Al-Hakim meriwayatkan dari Abu al-Abbas bin Suraij bahwa ia berkata tentang Ibnu Khuzaimah: "Sesungguhnya ia mengeluarkan poin-poin halus (nukat) dari hadis Rasulullah dengan menggunakan pinset (sangat teliti)." Al-Rabi' bin Sulaiman berkata: "Kami mendapatkan manfaat dari Ibnu Khuzaimah lebih banyak daripada manfaat yang ia dapatkan dari kami." Muhammad bin Hibban al-Tamimi berkata: "Aku tidak melihat di muka bumi ini orang yang lebih ahli dalam mengolah Sunnah, menghafal lafaz-lafaznya yang shahih, serta tambahan-tambahannya hingga seolah-olah seluruh Sunnah ada di depan matanya, kecuali Muhammad bin Ishaq." Al-Daraquthni berkata: "Ibnu Khuzaimah adalah imam yang teguh (tsabat) dan tidak ada bandingannya."

Al-Hakim memasukkannya dalam golongan ahli fikih hadis dan berkata: "Karya tulisnya mencapai lebih dari seratus empat puluh kitab, selain kitab-kitab masalah. Kitab masalah yang disusunnya lebih dari seratus jilid; sebagai contoh, pembahasan fikih hadis Barirah saja mencapai tiga jilid, dan masalah Haji mencapai lima jilid." Beliau memiliki kitab al-Shahih yang merupakan salah satu kitab hadis paling mulia, kedudukannya menyusul Shahih Muslim bin al-Hajjaj sebagaimana disebutkan al-Suyuthi dalam Alfiyyah-nya, namun sebagian besar kitab tersebut telah hilang. Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 311 H ([2]).


Muhammad bin Sa'ad (Penulis al-Waqidi)

Beliau adalah Imam, Hafiz, Sejarawan yang terpercaya (tsiqah), Abu Abdullah Muhammad bin Sa'ad bin Mani' al-Qurasyi al-Hasyimi (secara loyalitas/wala'), penduduk Bashrah kemudian Baghdad. Ayahnya adalah maula (bekas budak) dari al-Husain bin Abdullah bin Ubaidillah bin al-Abbas bin Abdul Muthalib al-Hasyimi. Beliau lahir di Bashrah pada tahun 168 H dan wafat di Baghdad pada tahun 230 H.

Beliau meriwayatkan dari Muhammad bin Umar al-Waqidi—dan darinyalah beliau menimba ilmu secara mendalam—serta dari Ibnu 'Ulayyah, Sufyan bin Uyainah, Yazid bin Harun al-Wasithi, dan Ubaidillah bin Musa al-'Absi. Juga dari Abu Nu'aim al-Fadhl bin Dukain al-Kufi dan guru-guru riwayat lainnya di Bashrah, Kufah, Wasith, Baghdad, Mekkah, Madinah, Syam, Yaman, Mesir, dan negeri-negeri lainnya. Beliau termasuk perawi yang sangat banyak meriwayatkan dari guru-guru di berbagai kota besar, dan tumpuan utamanya dalam ilmu adalah "lautan yang bergelombang" Muhammad bin Umar al-Waqidi. Di antara yang meriwayatkan darinya adalah Mush'ab al-Zubairi, al-Harits Muhammad bin Abi Usamah (pemilik Musnad), Ahmad bin Ubaid bin Nashih al-Hasyimi, Ahmad bin Yazid bin Jabir al-Baladzuri (penulis Futuh al-Buldan), Abu Bakar Abdullah bin Muhammad yang dikenal sebagai Ibnu Abi al-Dunya, serta al-Husain bin Muhammad bin Abdurrahman bin Fahm—perawi kitab al-Thabaqat al-Kubra dari Ibnu Sa'ad, yang berkata tentang gurunya: "Beliau memiliki banyak ilmu dan banyak kitab; beliau menulis hadis, fikih, dan bahasa yang asing (gharib)."

Ibnu Sa'ad adalah sosok yang disenangi para perawi karena beliau tidak terlibat dalam fitnah-fitnah besar pada masa al-Ma'mun dan setelahnya, sehingga hal itu memungkinkannya menyebarkan ilmunya dan ilmu gurunya. Kitab-kitabnya tetap terjaga dan diterima di kalangan mereka. Yang terpenting adalah kitab al-Thabaqat al-Kabir, di mana beliau menghimpun inti sari dari apa yang disebutkan para ulama sirah seperti al-Sya'bi, al-Auza'i, Musa bin Uqbah, dan Muhammad bin Ishaq (al-Waqidi).

Dalam kitab ini, beliau menyebutkan berita para nabi—'alaihimussalam—serta seluruh nenek moyang pemimpin para rasul dan penutup mereka, Muhammad , sebagai pendahuluan sebelum menyebutkan sirah dan peperangan beliau . Setelah selesai dengan Sirah Nabawiyah, beliau menyebutkan tingkatan (thabaqat) para sahabat, tabi'in, dan generasi setelahnya hingga masanya, serta membagi mereka berdasarkan kota-kota Muslim: Madinah, Mekkah, Syam, Yaman, Mesir, Kufah, Bashrah, Baghdad, dan negeri lainnya. Kitab ini merupakan kitab tertua yang diwariskan dalam bidangnya, dan tidak bisa diabaikan oleh ahli hadis, ahli fikih, maupun sejarawan. Beliau telah menyajikannya dengan sangat baik dan indah. Namun, tidak semua riwayat di dalamnya kuat; di antara sanad-sanadnya ada yang terputus (maqthu') atau mursal. Beliau sengaja melakukan itu guna melengkapi segala sesuatu yang berkaitan dengan topik yang dibahasnya, dan menyeleksi sanad-sanad tersebut adalah perkara mudah bagi para ahli ilmu. Orang-orang yang datang setelah Ibnu Sa'ad yang menulis tentang biografi perawi sebenarnya berhutang budi pada ilmunya, meskipun mereka kehilangan sistematika urutan dan susunan sanad beliau karena mereka melakukan peringkasan ([3]).


(1) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 145 dst, Miftah al-Sunnah hal. 33, Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra Juz 2 hal. 135.

(2) Thabaqat al-Syafi'iyyah al-Kubra Juz 2 hal. 130, Ma'rifah Ulum al-Hadits karya al-Hakim hal. 83, al-Risalah al-Mustathrafah karya al-Kattani hal. 17.

(3) Tarikh Baghdad karya al-Khathib dan Mukaddimah al-Thabaqat al-Kubra karya Syaikh Muhammad Zahid al-Kautsari, cetakan Mesir.

Ishaq bin Rahawaih

Beliau adalah Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad bin Ibrahim, Abu Ya’qub al-Hanzhali al-Marwazi, yang dikenal dengan sebutan Ibnu Rahawaih—Rahawaih adalah julukan ayahnya, Ibrahim. Beliau termasuk di antara imam kaum Muslimin dan ulama yang terkemuka; beliau menghimpun kepemimpinan dalam bidang hadis sekaligus kepemimpinan dan kemahiran dalam bidang fikih, disertai dengan hafalan, kejujuran, kewarakan, serta kezuhudan.

Beliau melakukan perjalanan ilmu (rihlah) ke Irak, Hijaz, Yaman, dan Syam. Beliau mendengar (hadis) dari Jarir bin Abdul Hamid al-Razi, Ismail bin 'Ulayyah, Sufyan bin Uyainah, Waki' bin al-Jarrah, Baqiyyah bin al-Walid, Abdurrazzaq bin Hammam, an-Nadhr bin Syumail, dan lain-lain. Sedangkan yang meriwayatkan darinya adalah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Muhammad bin Nashr al-Marwazi, Abu Isa al-Tirmidzi, Ahmad bin Salamah, dan banyak lagi lainnya.

Juga meriwayatkan darinya para gurunya yang terdahulu seperti Yahya bin Adam ([1]) dan Baqiyyah bin al-Walid, serta dari rekan sebanyanya (aqran) yaitu Ahmad bin Hanbal. Beliau—rahimahullah—menjadi tamsil (perumpamaan) dalam hal hafalan, ketelitian, keimaman, dan kejujuran. Beliau berkata tentang dirinya sendiri:

"Aku mengetahui letak seratus ribu hadis seolah-olah aku sedang melihat kepadanya, aku menghafal tujuh puluh ribu hadis di luar kepala, dan aku menghafal empat ribu hadis yang dipalsukan (muzawwarah)." Lalu ditanyakan kepadanya: "Apa makna menghafal hadis yang dipalsukan?" Beliau menjawab: "Jika lewat padaku satu hadis darinya di sela-sela hadis yang shahih, maka aku akan memilahnya dengan teliti."

Pernah ditanyakan kepadanya: "Apakah benar engkau menghafal seratus ribu hadis?" Beliau menjawab: "Seratus ribu, aku tidak tahu apa itu (maksudnya jumlah yang tidak terhitung), akan tetapi tidaklah aku mendengar sesuatu pun melainkan aku pasti menghafalnya, dan tidaklah aku menghafal sesuatu pun lalu aku melupakannya."

Abu Dawud al-Khaffaf berkata: "Ishaq bin Rahawaih mendiktekan kepada kami sebelas ribu hadis dari hafalannya, kemudian beliau membacakannya kembali kepada kami; beliau tidak menambah satu huruf pun dan tidak mengurangi satu huruf pun." Abu Hatim al-Razi berkata: "Aku menyebutkan kepada Abu Zur’ah tentang Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali dan hafalannya terhadap sanad serta matan, maka Abu Zur’ah berkata: 'Tidak pernah terlihat orang yang lebih kuat hafalannya daripada Ishaq'." Abu Hatim berkata: "Yang menakjubkan adalah ketelitiannya dan keselamatannya dari kesalahan, di samping karunia hafalan yang diberikan kepadanya." Ucapan para imam dalam memuji Ishaq sangat panjang untuk disebutkan, maka kami cukupkan dengan hal tersebut. Abu Dawud berkata: "Ishaq bin Rahawaih mengalami perubahan (ingatan) lima bulan sebelum wafatnya; aku mendengar darinya pada hari-hari itu namun aku membuang (riwayat)nya." Beliau lahir pada tahun 161 H dan wafat pada tahun 238 H di Naisabur dalam usia tujuh puluh tujuh tahun ([2]).


Imam Ahmad bin Hanbal

Beliau adalah imamnya para imam, penjaga umat, dan ahli fikihnya, yaitu Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal asy-Syaibani al-Marwazi kemudian al-Baghdadi.

Lahir di Baghdad pada tahun 164 H. Di masa mudanya, beliau sering mendatangi majelis Qadhi Abu Yusuf, kemudian beliau meninggalkan hal itu dan beralih untuk mendengar hadis pada tahun 187 H. Beliau telah berkeliling ke berbagai negeri dan penjuru dunia serta mendengar dari para guru di masanya yang sangat memuliakan dan menghormati beliau. Di antara guru-gurunya adalah Husyaim, Ibrahim bin Said, dan Sufyan bin Uyainah. Beliau belajar fikih kepada asy-Syafi'i saat ia datang ke Baghdad, mendampinginya, serta mengambil manfaat darinya.

Beliau menaruh perhatian yang sangat besar terhadap Sunnah dan fikih hingga ahli hadis menganggapnya sebagai imam dan ahli fikih mereka. Sekelompok ulama terkemuka telah mengambil hadis darinya, di antaranya Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, asy-Syafi'i, Abdurrazzaq, dan Waki'—dan tiga orang terakhir ini sebenarnya adalah guru-gurunya. Imam asy-Syafi'i, meskipun memiliki kedudukan yang agung dalam hadis dan fikih, beliau bersandar pada Imam Ahmad dalam hal menshahihkan dan mendhaifkan hadis. Oleh karena itu, ketika asy-Syafi'i berkumpul bersamanya di Baghdad pada tahun 198 H, beliau berkata: "Wahai Abu Abdullah, jika sebuah hadis telah shahih menurutmu, maka beritahukanlah kepadaku agar aku menuju kepadanya, baik perawinya orang Hijaz, Syam, Irak, maupun Yaman." Usia Ahmad saat itu adalah tiga puluh sekian tahun.

Asy-Syafi'i berkata: "Aku keluar dari Irak dan tidaklah aku meninggalkan seorang lelaki pun yang lebih utama, lebih berilmu, lebih warak, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal." Demikian pula para ulama di zamannya, meskipun berbeda kecenderungan dan latar belakang, mengakui tingginya kedudukan beliau dalam ilmu dan hadis. Ishaq bin Rahawaih berkata: "Ahmad adalah hujah antara Allah dan hamba-hamba-Nya di bumi-Nya." Yahya bin Ma'in berkata: "Terdapat sifat-sifat pada diri Ahmad bin Hanbal yang belum pernah aku lihat pada seorang alim pun; ia adalah seorang ahli hadis, seorang hafiz, seorang alim, seorang yang warak, seorang yang zuhud, dan seorang yang berakal." Beliau juga berkata: "Orang-orang menginginkan kami menjadi seperti Ahmad bin Hanbal; demi Allah, kami tidak kuat untuk menjadi seperti dia dan tidak sanggup menempuh jalannya." Selesai kutipan.

Sekelompok kaum Mu’tazilah sempat menguasai pemikiran al-Ma'mun, kemudian al-Mu'tashim, lalu al-Watsiq, dan mengajak mereka untuk memaksa rakyat agar berpendapat bahwa Al-Qur'an adalah makhluk. Di antara orang yang dipaksa melakukan hal itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal, namun beliau menolak dengan keras. Beliau pun dipukul dan dipenjara, namun beliau tetap teguh pada penolakannya pada tahun 220 H di masa al-Mu'tashim. Bisyr al-Hafi berkata setelah Ahmad dipukul: "Ahmad dimasukkan ke dalam tungku api lalu keluar sebagai emas murni." Ali bin al-Madini berkata: "Tidak ada seorang pun yang membela Islam sebagaimana tegaknya Ahmad bin Hanbal." Ketika ucapan ini sampai kepada Abu Ubaid al-Qasim bin Salam, beliau berkata: "Benarlah Ali; sesungguhnya Abu Bakar mendapati penolong dan pembantu pada hari kemurtadan, sedangkan Ahmad bin Hanbal tidak memiliki penolong maupun pembantu." Kemudian Abu Ubaid mulai memujinya dan berkata: "Aku tidak tahu ada yang seperti dia dalam Islam." Ahmad wafat—rahimahullah—pada tahun 241 H di Baghdad, dan beliau memiliki kenangan serta reputasi yang indah di kalangan ulama—Tarikh Ibnu Katsir (10-335).


(1) Diriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih, beliau berkata: "Yahya bin Adam menulis dariku dua ribu hadis."

(2) Tarikh Baghdad karya al-Khathib Juz 6 hal. 345 dan setelahnya.

Imam al-Bukhari

Beliau adalah imam para ahli hadis dan syekh para hafiz, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi (secara loyalitas/muala). Beliau adalah imam ahli hadis di zamannya, panutan pada masanya, dan sosok yang paling dikedepankan di antara rekan-rekan sejawatnya. Al-Bukhari—rahimahullah—lahir di Bukhara pada tahun 194 H. Allah mengilhaminya untuk menghafal hadis saat beliau masih berada di sekolah dasar (al-maktab).

Al-Farabri berkata: "Aku mendengar Muhammad bin Abi Hatim, juru tulis (warraq) al-Bukhari, berkata: 'Aku mendengar al-Bukhari berkata: Aku diilhami untuk menghafal hadis saat aku masih di sekolah (al-kuttab).' Aku bertanya: 'Berapa usiamu saat itu?' Beliau menjawab: 'Sepuluh tahun atau kurang.' Kemudian beliau keluar dari sekolah dan mulai mendatangi ad-Dakhili dan ulama lainnya. Suatu hari, saat orang-orang membacakan (hadis) kepada ad-Dakhili: 'Sufyan dari Abu az-Zubair dari Ibrahim.' Maka aku (al-Bukhari) berkata: 'Sesungguhnya Abu az-Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.' Ad-Dakhili menghardikku, lalu aku berkata kepadanya: 'Kembalilah ke naskah aslimu jika kau memilikinya.' Ia pun masuk ke rumahnya dan melihatnya, lalu kembali keluar dan bertanya: 'Bagaimana yang benar wahai anak muda?' Aku menjawab: 'Dia adalah az-Zubair bin 'Adi dari Ibrahim.' Maka ad-Dakhili mengambil pena dan memperbaiki kitabnya, lalu berkata kepadaku: 'Engkau benar'."

Ada seseorang bertanya kepada beliau: "Berapa usiamu saat engkau menyanggahnya?" Beliau menjawab: "Sebelas tahun." Beliau melanjutkan: "Ketika usiaku mencapai enam belas tahun, aku telah menghafal kitab-kitab Ibnu al-Mubarak dan Waki' serta memahami pemikiran mereka (maksudnya para pengikut ahlul ra'yi). Kemudian aku keluar bersama ibu dan saudaraku untuk menunaikan haji." Beliau berkata lagi: "Ketika usiaku mencapai delapan belas tahun, aku menyusun kitab Qadhaya al-Shahabah wa al-Tabi'in, kemudian aku menyusun kitab at-Tarikh di Madinah di dekat makam Nabi . Aku menulisnya pada malam-malam yang diterangi cahaya bulan. Hampir tidak ada satu nama pun dalam at-Tarikh melainkan aku memiliki cerita tentangnya, hanya saja aku tidak suka jika kitab itu menjadi terlalu panjang."

Al-Bukhari melakukan perjalanan jauh untuk mencari hadis dan berpindah-pindah antar negeri. Sahl bin al-Sirri berkata: Al-Bukhari berkata:

"Aku memasuki Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali. Aku ke Bashrah empat kali dan menetap di Hijaz selama enam tahun. Aku tidak bisa menghitung berapa kali aku memasuki Kufah dan Baghdad bersama para ahli hadis."

Beliau tidak tertandingi dalam menghafal hadis, baik sanad maupun matannya, disertai keahlian membedakan mana yang shahih dan yang cacat. Suatu kali beliau memasuki Samarkand, lalu berkumpul empat ratus ulama hadis di sana. Mereka menukar matan-matan hadis ke sanad yang bukan pasangannya dan mencampuradukkan sanad-sanad tersebut; mereka memasukkan sanad Syam ke sanad Irak. Kemudian mereka membacakannya kepada al-Bukhari dengan maksud menguji. Namun, al-Bukhari mengembalikan setiap hadis ke sanadnya yang benar dan membetulkan semua hadis serta sanad tersebut. Mereka tidak mampu menemukan satu pun kesalahan beliau, baik pada sanad maupun matan. Hal yang sama juga mereka lakukan kepadanya di Baghdad, hingga mereka tunduk mengakui keutamaan dan keunggulan beliau.

Disebutkan bahwa beliau cukup melihat sebuah kitab sekali pandang lalu langsung menghafalnya, dan berita-berita mengenai hal itu sangat banyak. Para ulama di zamannya, baik dari kalangan guru maupun rekan sejawat, memujinya. Imam Ahmad berkata: "Khurasan belum pernah melahirkan orang yang seperti dia." Ibnu al-Madini berkata: "Al-Bukhari belum pernah melihat orang yang seperti dirinya sendiri." Mahmud bin al-Nazhar bin Sahl al-Syafi'i berkata: "Aku telah memasuki Bashrah, Syam, Hijaz, dan Kufah; aku melihat para ulamanya setiap kali nama Muhammad bin Ismail al-Bukhari disebut, mereka pasti mengunggulkannya di atas diri mereka sendiri."

Ahmad bin Hamdun al-Qashshar berkata: "Aku melihat Muslim bin al-Hajjaj mendatangi al-Bukhari lalu mencium keningnya dan berkata: 'Biarkan aku mencium kakimu wahai gurunya para guru, pemimpin para ahli hadis, dan dokter hadis dalam hal cacat-cacatnya ('illat).' Kemudian Muslim bertanya tentang hadis kafaratul majelis, lalu al-Bukhari menyebutkan cacatnya. Setelah selesai, Muslim berkata: 'Tidak ada yang membencimu kecuali orang yang dengki, dan aku bersaksi bahwa tidak ada di dunia ini yang sepertimu'." Al-Tirmidzi berkata: "Aku tidak pernah melihat di Irak maupun Khurasan orang yang lebih alim daripada al-Bukhari dalam hal 'illat, sejarah, dan pengenalan sanad." Ibnu Khuzaimah berkata: "Aku tidak melihat di bawah kolong langit ini orang yang lebih alim tentang hadis Rasulullah dan lebih hafal daripadanya melebihi Muhammad bin Ismail al-Bukhari."

Al-Bukhari—rahimahullah—termasuk imam mujtahid dalam fikih dan penggalian hukum dari Sunnah serta atsar. Di antara perkataan beliau yang masyhur adalah: "Aku tidak mengetahui sesuatu pun yang dibutuhkan (oleh umat) melainkan hal itu sudah ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah." Ditanyakan kepada beliau: "Apakah mungkin untuk mengetahui hal itu?" Beliau menjawab: "Ya." Judul-judul bab (tarajum) hadis dalam kitabnya al-Jami' al-Shahih menunjukkan hal tersebut. Ishaq bin Rahawaih, salah satu gurunya, berkata: "Seandainya al-Bukhari hidup di masa al-Hasan (al-Bashri), niscaya orang-orang akan membutuhkannya dalam urusan hadis, pengetahuannya, serta fikihnya." Abu Muhammad Abdullah bin Abdul Rahman al-Darimi berkata: "Muhammad bin Ismail al-Bukhari adalah yang paling paham fikih di antara kami, yang paling alim, yang paling dalam pengetahuannya, dan yang paling banyak mencari hadis." Ibnu Katsir menyebutkan dalam at-Tarikh: "Di antara ulama ada yang mengunggulkannya dalam fikih dan hadis di atas Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih."

Al-Bukhari—rahimahullah—memiliki sifat sangat pemalu, pemberani, dermawan, warak, dan zuhud terhadap dunia. Beliau berjiwa mulia dan menjaga jarak dari para amir dan sultan. Bahkan ketika Amir Bukhara, Khalid bin Ahmad al-Dzuhli, memintanya datang untuk membacakan hadis bagi anak-anaknya, beliau menolak untuk pergi dan berkata: "Ilmu itu didatangi di rumahnya (majelisnya)." Maka sang Amir ingin melarang orang-orang mendengar hadis darinya, namun rakyat tidak patuh kepada Amir. Akhirnya sang Amir memerintahkan pengusiran beliau, sehingga al-Bukhari pindah dari kotanya ke sebuah desa bernama Khartank, sekitar dua farsakh dari Samarkand. Beliau mulai berdoa agar Allah mewafatkannya ketika melihat fitnah dalam agama. Beliau pun jatuh sakit setelah itu dan wafat pada malam Idul Fitri dalam usia enam puluh dua tahun. Beliau meninggalkan ilmu yang bermanfaat bagi seluruh umat Islam melalui karya-karyanya yang penuh dengan ilmu yang melimpah. Di antara karya-karya tersebut adalah:

Qadhaya al-Shahabah wa al-Tabi'in, at-Tarikh al-Kabir, at-Tarikh al-Awsat, at-Tarikh al-Shaghir, al-Adab al-Mufrad, al-Qira'ah Khalf al-Imam, Birr al-Walidain, Khalq Af'al al-'Ibad, Kitab al-Dhu'afa, al-Jami' al-Kabir, al-Musnad al-Kabir, al-Tafsir al-Kabir, Kitab al-Asyribah, Kitab al-Hibah, Asami al-Shahabah, Kitab al-Wahdan, Kitab al-Mabsuth, Kitab al-'Ilal, Kitab al-Kuna, dan kitab al-Jami' al-Shahih yang merupakan kitabnya yang paling besar manfaatnya dan paling tinggi kedudukannya. Semoga Allah merahmati al-Bukhari dengan rahmat yang luas dan melipatgandakan pahala baginya. Amin ([1]).


Imam Muslim bin al-Hajjaj

Beliau adalah imam besar dan penjaganya para hafiz, Abu al-Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi. Lahir di Naisabur pada tahun 204 H. Beliau mencari hadis sejak kecil dan melakukan perjalanan ke seluruh ahli hadis di berbagai negeri; beliau pergi ke Irak, Hijaz, Syam, dan Mesir. Beliau mengambil ilmu dari guru-guru mereka, termasuk guru-guru al-Bukhari dan selainnya.

Ketika al-Bukhari datang ke Naisabur di akhir masa hidupnya, Muslim senantiasa mendampinginya, terus-menerus mendatangi majelisnya, meneliti ilmunya, dan mengikuti jejaknya serta membelanya. Beliau bahkan meninggalkan gurunya sendiri, Muhammad bin Yahya al-Dzuhli, demi membela al-Bukhari. Hal itu terjadi ketika suatu hari al-Dzuhli berkata kepada orang-orang di majelisnya—yang di antaranya terdapat Muslim: "Ketahuilah, barangsiapa yang berpendapat seperti pendapat al-Bukhari dalam masalah 'pelafalan Al-Qur'an', maka hendaklah ia meninggalkan majelis kami." Maka Muslim segera bangkit saat itu juga menuju rumahnya, mengumpulkan semua riwayat yang pernah ia dengar dari al-Dzuhli, mengirimkannya kembali kepadanya, dan meninggalkan riwayat darinya di dalam kitab Shahih-nya maupun kitab lainnya.

Banyak imam dan hafiz sezamannya yang meriwayatkan dari Muslim, termasuk sekelompok rekan sejawatnya seperti Abu Hatim al-Razi, Musa bin Harun, Ahmad bin Salamah, al-Tirmidzi, dan selainnya. Mereka sepakat atas keagungan, keimaman, dan tingginya derajat beliau dalam Sunnah serta kemahiran dan kedalaman ilmunya di bidang tersebut. Bukti terbesar akan hal itu adalah kitab Shahih-nya, yang tidak ditemukan pada kitab sebelumnya maupun sesudahnya keindahan susunan seperti itu, peringkasan jalur-jalur hadis tanpa penambahan atau pengurangan, kehati-hatian dalam pengalihan (tahwil) sanad ketika ada kesamaan tanpa menambah lafaz, serta peringatannya terhadap perbedaan kata-kata perawi pada matan atau sanad meskipun sedikit. Beliau juga sangat memperhatikan peringatan tentang riwayat-riwayat yang secara tegas menyebutkan pendengaran (sima') dari para perawi mudallis, dan hal-hal lain yang dikenal dalam kitabnya.

Banyak ulama hadis dan lainnya yang memuji beliau. Ahmad bin Salamah berkata: "Aku mendengar Abu Zur'ah dan Abu Hatim lebih mendahulukan Muslim bin al-Hajjaj dalam hal pengetahuan hadis shahih di atas guru-guru sezaman mereka." Ishaq bin Manshur berkata kepada Muslim: "Kami tidak akan kehilangan kebaikan selama Allah mengekalkanmu bagi kaum Muslimin."

Muslim menyusun banyak kitab dalam ilmu hadis, di antaranya: kitab al-Shahih yang merupakan anugerah Allah bagi umat Islam, al-Kitab al-Musnad al-Kabir berdasarkan nama perawi (Asma al-Rijal), al-Kitab al-Jami' al-Kabir berdasarkan bab-bab, Kitab al-'Ilal, Kitab Awham al-Muhadditsin, Kitab al-Tamyiz, Kitab Man Laisa Lahu Illa Rawin Wahid, Kitab Thabaqat al-Tabi'in, Kitab al-Mukhadhramin, dan lain-lain. Beliau wafat—rahimahullah—di Naisabur pada tahun 261 H dalam usia 57 tahun (Tahdzib al-Asma' dan Tarikh Ibnu Katsir 11-32).


(1) Tarikh Ibnu Katsir Juz 11 hal. 24 dst, Miftah al-Sunnah hal. 38-39, Mukaddimah Fathul Bari Juz 2 hal. 193 dst.

Berikut adalah terjemahan lengkap dan tidak diringkas dari teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia:


Imam an-Nasa'i

Beliau adalah al-Hafiz Abu Abdurrahman Ahmad bin Syu'aib bin Ali bin Bahr bin Sinan bin Dinar an-Nasa'i, dinisbatkan kepada Nasa', sebuah kota masyhur di Khurasan. Terkadang disebut al-Nasawi dengan mengubah hamzah menjadi wawu. Beliau—rahimahullah—lahir pada tahun 215 H. Beliau merupakan salah satu tokoh agama dan imam hadis, imam bagi penduduk zamannya, serta panutan di antara para ahli hadis dalam pengetahuan Jarh wa Ta'dil (kritik dan rekomendasi perawi).

Al-Hakim Abu Abdullah berkata: "Aku mendengar al-Daraquthni berkali-kali berkata: 'Abu Abdurrahman (an-Nasa'i) lebih didahulukan daripada siapa pun yang disebut memiliki ilmu hadis dari penduduk zamannya dalam hal kritik dan rekomendasi perawi'." Beliau adalah orang yang sangat teliti dan warak; engkau dapat melihat beliau berkata dalam kitab Sunan-nya ketika meriwayatkan dari al-Harits bin Miskin: "Demikianlah dibacakan di hadapannya (al-Harits) sementara aku mendengarnya," dan beliau tidak berkata "telah menceritakan kepada kami (haddatsana)" atau "telah mengabarkan kepada kami (akhbarana)" sebagaimana yang beliau ucapkan pada riwayat-riwayat lain dari guru-gurunya yang lain.

Beliau mendengar hadis dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Dawud al-Sijistani, Mahmud bin Ghailan, Qutaibah bin Said, Ali bin Khasyram, serta ulama lain dari Khurasan, Hijaz, Jazirah, Mesir, Syam, dan lainnya. Banyak orang mengambil hadis darinya, di antaranya al-Dulabi, Abu al-Qasim al-Thabrani, Abu Ja'far al-Thahawi, dan Muhammad bin Harun bin Syu'aib.

Pada usia 15 tahun, beliau melakukan perjalanan (rihlah) kepada Qutaibah bin Said al-Balkhi dan menetap di sana selama satu tahun dua bulan untuk mengambil hadis darinya. Beliau kemudian datang ke Mesir, tinggal lama di sana, dan karya-karyanya tersebar luas di sana hingga orang-orang mengambil ilmu darinya. Kemudian beliau keluar dari Mesir pada tahun 302 H menuju Damaskus. Di sana beliau ditanya tentang Mu'awiyah dan apa yang diriwayatkan mengenai keutamaannya, namun beliau justru lebih mengunggulkan Ali di atasnya, sehingga orang-orang (di sana) terus menyiksanya hingga beliau terbunuh karena pukulan. Al-Daraquthni berkata: "Ketika an-Nasa'i diuji di Damaskus, ia berkata: 'Bawalah aku ke Mekkah.' Maka ia dibawa ke sana, lalu wafat di sana dan dimakamkan di antara Shafa dan Marwah." Namun, al-Dzahabi berpendapat yang benar bahwa beliau wafat di Ramlah, Palestina.

Al-Taj al-Subki menukil dari gurunya al-Hafiz al-Dzahabi dan ayahnya al-Taqi al-Subki bahwa an-Nasa'i lebih kuat hafalannya daripada Muslim pemilik kitab Shahih, dan bahwa kitab Sunan-nya adalah kitab Sunan yang paling sedikit hadis dhaifnya setelah Shahihain (Bukhari-Muslim). Bahkan sebagian guru berkata bahwa kitab itu adalah karya tulis yang paling mulia dan tidak ada yang serupa dengannya yang pernah disusun dalam Islam. Ibnu Mandah, Ibnu al-Sakan, Abu Ali al-Naisaburi, Abu Ahmad bin Adi, al-Khathib, dan al-Daraquthni berkata: "Semua yang ada dalam Sunan an-Nasa'i adalah shahih." Akan tetapi, pernyataan ini mengandung unsur kelonggaran (tasahul) yang nyata. Sebagian ulama Maghrib (Maroko) bersikap aneh dengan mengunggulkannya di atas kitab al-Bukhari, mungkin karena beberapa aspek di luar kesempurnaan keshahihan. Abu Ali al-Naisaburi berkata: "An-Nasa'i memiliki syarat perawi yang lebih ketat daripada syarat Muslim." Pernyataan ini pun tidak sepenuhnya diterima. Al-Biqa'i dalam Syarh al-Alfiyyah menukil dari Ibnu Katsir: "Bahwa dalam Sunan an-Nasa'i terdapat perawi-perawi yang tidak dikenal (majhul) baik identitas maupun keadaannya, di antara mereka ada yang tercacat (majruh), serta di dalamnya terdapat hadis-hadis dhaif, mu'allal (cacat tersembunyi), dan munkar." An-Nasa'i memiliki banyak karya dalam bidang hadis dan 'illat. Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 303 H setelah mencapai usia 89 tahun ([1]).


Abu Dawud

Beliau adalah Sulaiman bin al-Asy'ats bin Ishaq al-Azdi al-Sijistani. Lahir pada tahun 202 H. Beliau melakukan perjalanan dalam mencari ilmu dan menulis hadis dari penduduk Irak, Syam, Mesir, dan Khurasan. Beliau mengambil hadis dari guru-guru al-Bukhari dan Muslim seperti Ahmad bin Hanbal, Usman bin Abi Syaibah, Qutaibah bin Said, dan imam-imam hadis lainnya. Yang mengambil hadis darinya adalah putranya sendiri Abdullah, Abu Abdurrahman an-Nasa'i, Abu Ali al-Lu'lu'i, dan banyak orang lainnya.

Para ulama memujinya dan mensifatinya dengan hafalan yang sempurna, ilmu yang melimpah, serta pemahaman yang tajam dalam hadis dan bidang lainnya disertai ketaatan agama dan kewarakan. Beliau merupakan salah satu tokoh besar penjaga hadis Rasulullah , sunnah-sunnahnya, dan sejarah hidupnya. Al-Hakim Abu Abdullah berkata: "Abu Dawud adalah imam ahli hadis di zamannya tanpa ada penentangan; ia mendengarnya (hadis) di Mesir, Hijaz, Syam, dua Irak (Kufah & Bashrah), dan Khurasan."

Sebelum Abu Dawud, para ulama hadis telah menyusun kitab-kitab Jawami' (umum) dan Masanid (berdasarkan sahabat), di mana kitab-kitab mereka mencampuradukkan antara sunnah-sunnah hukum dengan berita-berita, kisah-kisah, adab, serta nasihat. Adapun sunnah-sunnah murni (hukum), belum ada seorang pun dari mereka yang bermaksud mengkhususkannya dan menyaringnya hingga datanglah Abu Dawud. Beliau berupaya menghimpun hadis-hadis hukum dan membatasinya pada hal tersebut, sehingga beliau berhasil meraih apa yang tidak dicapai orang lain. Beliau menyodorkan kitabnya kepada Ahmad bin Hanbal, lalu Imam Ahmad menganggapnya baik dan memujinya. Ibrahim al-Harbi berkata: "Ketika Abu Dawud menyusun kitab ini, hadis menjadi lunak baginya sebagaimana besi menjadi lunak bagi (Nabi) Dawud." Abu Dawud menyusun banyak kitab dan wafat di Bashrah pada tahun 275 H.


At-Tirmidzi

Beliau adalah Imam al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin al-Dhahhak al-Sulami al-Tirmidzi. Lahir pada tahun 209 H di Tirmidz. Beliau adalah imam yang terpercaya (tsiqah) dan hujah. Beliau mengambil hadis dari kelompok yang besar, di antaranya Qutaibah bin Said, Ishaq bin Musa, Mahmud bin Ghailan, Said bin Abdurrahman, Muhammad bin Basyar, Ali bin Hujr, Ahmad bin Mani', Muhammad bin al-Mutsanna, Sufyan bin Waki', dan Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Banyak orang yang meriwayatkan hadis darinya, termasuk Muhammad bin Ahmad bin Mahbub al-Mahbubi (perawi kitab al-Jami' darinya), Abu Hamid Ahmad bin Abdullah al-Marwazi, al-Haitsam bin Kulaib al-Syasyi, dan Muhammad bin al-Mundzir bin Syukr.

Abu Isa berkeliling ke berbagai penjuru negeri dan mendengar dari banyak ulama Khurasan, Irak, dan Hijaz. Beliau menulis hadis dan menyusun karya-karya yang menakjubkan, di antaranya: al-Jami', Kitab al-Asma' wa al-Kuna, al-Syama'il, al-Tawarikh, al-'Ilal, dan Kitab al-Zuhd. Para ulama sepakat atas keimaman dan keagungan beliau. Ibnu Hibban menyebutnya dalam al-Tsiqat (kitab perawi terpercaya) dan berkata: "Beliau termasuk orang yang menghimpun, menyusun, menghafal, dan berdiskusi." Abu Ya'la al-Khalili berkata: "Terpercaya yang disepakati (tsiqah muttafaq 'alaih)." Cukuplah sebagai bukti keshahihannya bahwa imam hadis dan ahli hadis, Muhammad bin Ismail al-Bukhari, bersandar dan mengambil ilmu darinya. Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata: "Lebih dari satu ulama meriwayatkan darinya, di antaranya Muhammad bin Ismail al-Bukhari dalam Shahih-nya."

Berdasarkan hal ini, maka tidak perlu menoleh pada ucapan Ibnu Hazm mengenai beliau bahwa beliau adalah "mualaf/tidak dikenal" (majhul). Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata: "Ketidaktahuan (jahalah) Ibnu Hazm terhadap Abu Isa al-Tirmidzi tidaklah membahayakannya, ketika ia (Ibnu Hazm) berkata dalam kitab al-Muhalla-nya: 'Dan dari Muhammad bin Isa bin Saurah'. Sesungguhnya ketidaktahuan Ibnu Hazm tidak menjatuhkan derajat al-Tirmidzi di mata para ahli ilmu, melainkan justru menjatuhkan kedudukan Ibnu Hazm di mata para hafiz."

Bagaimana sesuatu akan menjadi benar dalam pikiran,

Jika siang hari masih membutuhkan dalil (bukti keberadaannya)?

Al-Dzahabi berkata dalam kitab Mizan-nya: "Muhammad bin Isa bin Saurah, al-Hafiz yang menjadi panji, Abu Isa al-Tirmidzi pemilik kitab al-Jami', adalah orang terpercaya yang disepakati. Tidak perlu menoleh pada perkataan Abu Muhammad bin Hazm di dalam bab Faraid dari kitab al-Ittishal bahwa beliau itu majhul, karena sesungguhnya Ibnu Hazm tidak mengenal dan tidak mengetahui keberadaan kitab al-Jami' maupun kitab al-'Ilal milik al-Tirmidzi." Selesai kutipan.

Beliau kehilangan penglihatannya (menjadi buta) di akhir usianya dan wafat—rahimahullah Ta'ala—di Tirmidz pada tahun 279 H dalam usia tujuh puluh tahun ([2]).


(1) Tarikh Ibnu Katsir (Juz 11 hal. 123-124) dan Mukaddimah Syarh al-Mujtaba oleh al-Sindi dan al-Suyuthi.

(2) Mizan al-I'tidal karya al-Dzahabi Juz 3 hal. 117. Al-Bidayah wa al-Nihayah karya al-Hafiz Ibnu Katsir Juz 11 hal. 66-67.

Berikut adalah terjemahan lengkap dan tidak diringkas dari teks tersebut ke dalam bahasa Indonesia:


Ibnu Majah

Beliau adalah Abu Abdullah Muhammad bin Yazid bin Abdullah bin Majah (Majah adalah nama/julukan bagi Yazid) al-Qazwini, penulis kitab Sunan yang masyhur, kitab Tafsir, dan kitab Sejarah (Tarikh).

Beliau lahir pada tahun 209 H dan melakukan perjalanan (rihlah) untuk menulis serta mendapatkan hadis ke Rayy, Bashrah, Kufah, Baghdad, Syam, Mesir, dan Hijaz. Beliau mengambil hadis dari banyak syekh di berbagai negeri seperti Abu Bakar bin Abi Syaibah serta murid-murid Imam Malik dan al-Laits. Banyak orang meriwayatkan darinya, di antaranya Ibnu Sibawaih, Muhammad bin Isa al-Shaffar, Ishaq bin Muhammad, Ali bin Ibrahim bin Salamah al-Qatthan, Ahmad bin Ibrahim (kakek dari al-Hafiz Ibnu Katsir), dan Sulaiman bin Yazid.

Abu Ya'la al-Khalili al-Qazwini berkata: "Beliau adalah seorang alim dalam bidang ini, penulis berbagai karya termasuk Tarikh dan Sunan, serta telah melakukan perjalanan ke dua Irak (Kufah dan Bashrah), Mesir, dan Syam." Ibnu Katsir berkata: "Muhammad bin Yazid bin Majah adalah penulis kitab Sunan yang masyhur; kitab tersebut menunjukkan atas amal, ilmu, kedalaman, keluasan wawasan, serta ketaatannya terhadap Sunnah baik dalam masalah ushul (pokok) maupun furu' (cabang). Kitab itu mencakup 32 kitab (bab besar), 1.500 bab, dan 4.000 hadis yang semuanya berkualitas baik (jiyad) kecuali sedikit saja." Beliau wafat—rahimahullah—pada tahun 273 H.


Imam Ibnu Qutaibah ad-Dinawari

Beliau adalah Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah ad-Dinawari, ada yang menyebut al-Marwazi sang ahli bahasa, penulis kitab al-Ma'arif dan Adab al-Katib. Beliau adalah orang yang mulia dan terpercaya (tsiqah). Beliau tinggal di Baghdad dan menyampaikan hadis di sana dari Ishaq bin Rahawaih, Abu Ishaq Ibrahim al-Ziyadi (dinisbatkan kepada kakeknya Ziyad bin Abihi), Abu Hatim al-Sijistani, dan ulama di tingkatan tersebut.

Putranya, Abu Ja'far Ahmad al-Faqih yang menjabat sebagai hakim di Mesir dan datang ke sana pada tahun 321 H, meriwayatkan darinya; dikatakan bahwa sang putra meriwayatkan seluruh karya tulis ayahnya. Di antara yang meriwayatkan dari Ibnu Qutaibah juga adalah Ibnu Dustuyah al-Farisi. Semua karya tulisnya sangat bermanfaat, di antaranya yang telah disebutkan sebelumnya, juga: Gharib al-Qur'an, Gharib al-Hadits, Uyun al-Akhbar, Musykil al-Qur'an, Musykil al-Hadits, Thabaqat al-Syu'ara', al-Asyribah, Ishlah al-Ghalath, Kitab al-Tafqih, Kitab al-Khail, Kitab I'rab al-Qur'an, Kitab al-Anwa', Kitab al-Masail wa al-Jawabab, al-Maisir wa al-Qidah, dan lain-lain. Beliau membacakan kitab-kitabnya di Baghdad hingga wafat. Dikatakan bahwa ayahnya berasal dari Marw, sedangkan beliau lahir di Baghdad atau ada yang menyebut di Kufah. Beliau menetap di Dinur dalam waktu lama sebagai hakim sehingga dinisbatkan ke sana (ad-Dinawari). (Dikutip dari Ibnu Khallikan).

Ilmu dan Keutamaannya:

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya Tafsir Surah al-Ikhlas setelah menukil pendapat bahwa orang-orang yang mendalam ilmunya (al-Rasikhun) mengetahui takwil yang benar dari ayat mutasyabihat: "Pendapat ini adalah pilihan banyak ahli sunnah, di antaranya Ibnu Qutaibah, Abu Sulaiman ad-Dimasyqi, dan lainnya. Ibnu Qutaibah termasuk orang yang menisbatkan diri kepada Ahmad dan Ishaq, serta pembela mazhab Sunnah yang masyhur, dan beliau memiliki banyak karya tulis dalam hal tersebut."

Penulis kitab al-Tahdits berkata tentangnya: "Beliau adalah salah satu tokoh imam, ulama, dan orang mulia. Karya tulisnya adalah yang paling bermutu dan susunannya paling indah, beliau memiliki sekitar tiga ratus karya tulis. Beliau cenderung pada mazhab Ahmad dan Ishaq, serta sezaman dengan Ibrahim al-Harbi dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi. Penduduk wilayah Maghrib (Afrika Utara/Spanyol Islam) sangat mengagungkannya dan mereka berkata: 'Siapa saja yang menghalalkan celaan terhadap Ibnu Qutaibah, maka ia tertuduh sebagai zindik', dan mereka juga berkata: 'Setiap rumah yang di dalamnya tidak ada karya tulisnya, maka tidak ada kebaikan di dalamnya'."

Syaikhul Islam mengakhiri ucapannya dengan berkata: "Aku katakan: Disebutkan bahwa kedudukan beliau bagi ahli sunnah seperti kedudukan al-Jahizh bagi kaum Mu'tazilah, karena beliau adalah oratornya ahli sunnah sebagaimana al-Jahizh adalah oratornya kaum Mu'tazilah."

Kemudian beliau (Ibnu Taimiyah)—rahimahullah—mendiskusikan bantahan Ibnu al-Anbari terhadap Ibnu Qutaibah dengan berkata: "Bukannya dia (Ibnu al-Anbari) lebih tahu tentang makna Al-Qur'an dan hadis serta lebih mengikuti sunnah daripada Ibnu Qutaibah, tidak pula lebih paham dalam hal tersebut. Meskipun Ibnu al-Anbari termasuk orang yang paling hafal bahasa, namun bab pemahaman teks (fiqh al-nushush) berbeda dengan bab menghafal lafaz bahasa."

Al-Dzahabi berkata dalam al-Mizan: "Abdullah bin Muslim bin Qutaibah Abu Muhammad, pemilik banyak karya tulis, seorang yang jujur (shaduq) namun sedikit riwayatnya. Beliau meriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih dan sekelompok ulama." Al-Khathib berkata: "Beliau terpercaya, taat beragama, dan mulia." Beliau wafat pada bulan Rajab tahun 276 H.


Aktivasi Praktis Fakta dan Nilai Materi Melalui Kegiatan Berikut:

Pertama — Aktivitas Pendamping:

  1. Berpartisipasi dengan menyebutkan beberapa tokoh kontemporer yang telah dan sedang melayani Sunnah.
  2. Bertukar pengalaman tentang penggunaan komputer dan jaringan informasi (internet) dalam mencari hadis dan penjelasannya.
  3. Memberikan pendapat tentang pemanfaatan metode ahli hadis dalam hal penelitian, verifikasi, dan penilaian personal (mizan al-asykhash) untuk diterapkan dalam metode gerakan Islam serta cara-cara evaluasi dan peninjauan kembali (muraja'ah).

Kedua — Aktivitas Pendukung:

  1. Menghidupkan kembali kebiasaan masyarakat awam untuk mengoleksi kitab-kitab Sunnah di samping Mushaf Al-Qur'an di rumah.
  2. Mengadakan halaqah (lingkaran studi) di masjid-masjid untuk membenarkan bacaan Sunnah dan mempelajari ilmunya, meneladani halaqah tajwid.
  3. Membuat majalah dinding yang bertujuan mengenalkan masyarakat pada Sunnah.
  4. Mempopulerkan nama-nama ulama Sunnah yang masyhur melalui berbagai cara yang memungkinkan.
  5. Mengundang ulama spesialis Sunnah untuk memberikan pelajaran di masjid-masjid.
  6. Mengorganisir kunjungan para pelajar kepada ulama Sunnah untuk mengenal mereka dan menimba ilmu dari mereka.
  7. Mengenalkan masyarakat kepada musuh-musuh Sunnah agar waspada terhadap mereka dan mampu membantah mereka.
  8. Menugaskan para pelajar untuk mempersiapkan materi pelajaran sebelum dipelajari di kelas.
  9. Menyusun buku-buku kecil (buklet) tentang biografi tokoh-tokoh ahli hadis.
  10. Membuat papan informasi berisi biografi tokoh ahli hadis, metode mereka, dan cara mengambil manfaat dari kitab mereka untuk dipajang di masjid dan tempat lainnya.
  11. Menugaskan para pelajar membaca topik-topik tertentu untuk didiskusikan.
  12. Mendengarkan kaset rekaman (audio) yang berkaitan dengan materi.
  13. Membuat tabel-tabel khusus materi dan menempelnya di lorong-lorong serta masjid.
  14. Mengadakan seminar yang menampilkan kitab-kitab hadis dan menjelaskan upaya para ulama.
  15. Mengadakan perlombaan di masjid dan institusi lainnya seputar topik ini dan menyediakan hadiah bagi pemenang.
  16. Mengadakan seminar untuk mengenalkan kehidupan para imam ini, upaya, dan metode mereka.
  17. Melakukan penelitian terkait topik tersebut.
  18. Meringkas biografi tokoh-tokoh ahli hadis.
  19. Mendengarkan kaset audio dan video khusus topik tersebut.
  20. Kuliah/ceramah berkala yang membahas elemen-elemen isi materi.
  21. Merekam ceramah, khotbah, dan pelajaran lalu menghadiahkannya kepada masyarakat umum melalui perpustakaan masjid.
  22. Mengadakan seminar yang bertujuan memperdalam elemen isi materi dan menyanggah syubhat (keraguan) yang dimunculkan seputar Sunnah.
  23. Mengikuti serial televisi yang menceritakan kehidupan para imam Muslim dan memberikan komentar atasnya.
  24. Menyediakan perpustakaan khusus ilmu Sunnah.
  25. Memanfaatkan kaset rekaman, video, dan komputer.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Pertama — Pertanyaan Esai:

  1. Jelaskan metode para ulama pada abad kedua dalam menghimpun hadis.
  2. Apa penyebab hilangnya sebagian besar karya tulis dari abad kedua?
  3. Apa alasan penamaan kitab al-Muwaththa' karya Imam Malik dengan nama tersebut?
  4. Tulislah secara rinci tentang derajat hadis-hadis dalam al-Muwaththa' dan penilaian ulama terhadapnya.
  5. Berapa jumlah hadis dalam al-Muwaththa'?
  6. Sebutkan tiga kitab penjelasan (syarah) dan ringkasan (mukhtashar) dari al-Muwaththa'.
  7. Bagaimana bentuk perhatian masyarakat terhadap al-Muwaththa'?
  8. Jelaskan upaya para ulama dalam melawan para pemalsu hadis (wadha'in).
  9. Apa makna dari ungkapan-ungkapan berikut:
    • Abu Dawud al-Sijistani berkata: "Sufyan, Waki', dan yang serupa dengan mereka telah bersungguh-sungguh dengan puncaknya kesungguhan, namun mereka tidak berhasil mendapatkan hadis marfu' yang bersambung (muttashil) kecuali kurang dari seribu hadis."
    • Malik bin Anas berkata: "Ilmu tidak boleh diambil dari empat golongan, dan boleh diambil dari selain mereka: (1) Jangan diambil dari orang bodoh/pendir, (2) Jangan diambil dari pengikut hawa nafsu yang mengajak orang pada nafsunya, (3) Jangan dari pendusta yang berdusta dalam ucapan sehari-hari meskipun ia tidak tertuduh berdusta atas hadis Rasulullah , (4) Jangan dari seorang syekh yang memiliki keutamaan, kesalihan, dan ibadah namun ia tidak mengerti apa yang ia sampaikan."
  10. Bagaimana para khalifah Abbasiyah melawan kaum zindik?
  11. Apa pengaruh para tukang cerita (al-qashash) terhadap periwayatan hadis pada abad ketiga Hijriah? Dan bagaimana para ulama serta pemimpin melawan hal tersebut?
  12. Tulislah biografi singkat untuk para imam di zaman ini: (Ali bin al-Madini – Yahya bin Ma'in – Abu Bakar bin Abi Syaibah – Abu Zur'ah al-Razi – Abu Hatim al-Razi – Muhammad bin Jarir al-Thabari – Imam al-Bukhari – Imam an-Nasa'i).

 

No comments:

Post a Comment

Al Ikhtilaf Wa Adabuhu