۞
وَاِلٰى عَادٍ اَخَاهُمْ هُوْدًاۗ قَالَ يٰقَوْمِ اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ
مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اَفَلَا تَتَّقُوْنَ ٦٥ قَالَ الْمَلَاُ الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا مِنْ قَوْمِهٖٓ اِنَّا لَنَرٰىكَ فِيْ سَفَاهَةٍ وَّاِنَّا لَنَظُنُّكَ
مِنَ الْكٰذِبِيْنَ ٦٦ قَالَ يٰقَوْمِ لَيْسَ بِيْ سَفَاهَةٌ وَّلٰكِنِّيْ
رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَ ٦٧ اُبَلِّغُكُمْ رِسٰلٰتِ رَبِّيْ وَاَنَا۠
لَكُمْ نَاصِحٌ اَمِيْنٌ ٦٨ اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ
رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْۗ وَاذْكُرُوْٓا اِذْ جَعَلَكُمْ
خُلَفَاۤءَ مِنْۢ بَعْدِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّزَادَكُمْ فِى الْخَلْقِ بَصْۣطَةً
ۚفَاذْكُرُوْٓا اٰلَاۤءَ اللّٰهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ ٦٩ قَالُوْٓا
اَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللّٰهَ وَحْدَهٗ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ
اٰبَاۤؤُنَاۚ فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ ٧٠ قَالَ
قَدْ وَقَعَ عَلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ رِجْسٌ وَّغَضَبٌۗ اَتُجَادِلُوْنَنِيْ
فِيْٓ اَسْمَاۤءٍ سَمَّيْتُمُوْهَآ اَنْتُمْ وَاٰبَاۤؤُكُمْ مَّا نَزَّلَ اللّٰهُ
بِهَا مِنْ سُلْطٰنٍۗ فَانْتَظِرُوْٓا اِنِّيْ مَعَكُمْ مِّنَ الْمُنْتَظِرِيْنَ
٧١ فَاَنْجَيْنٰهُ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا وَقَطَعْنَا دَابِرَ
الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا وَمَا كَانُوْا مُؤْمِنِيْنَ ࣖ ٧٢
“Dan
(kami telah mengutus) kepada kaum 'Aad saudara mereka, Huud. ia berkata, ‘Wahai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya.
Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?’ Pemuka-pemuka yang kafir dari
kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu dalam Keadaan
kurang akal dan Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang
berdusta.’ Huud herkata, ‘Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal
sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku
menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat
yang terpercaya bagimu.’ Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang
kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu
untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu
Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah
lenyapnya kaum Nuuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu
(daripada kaum Nuuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan. Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya
menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak
kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk
orang-orang yang benar.’ Ia berkata, ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa
azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan
aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya,
Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah
(azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.’ Maka
Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat yang
besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami,
dan Tiadalah mereka orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 65-72)
Pada penggalan surat Al-Qur'an ini terdapat beberapa pelajaran dan
ibrah mengenai kisah Huud as. dan tanggapan kaumnya terhadap dakwahnya, antara
lain:
1.
Pendekatan
maksimal yang dilakukan oleh Huud as. terhadap kaumnya yang masih musyrik. Di
mana ia menyeru kaumnya dengan ungkapan, “Wahai kaumku,” untuk menggait simpati
hati mereka dan untuk mengingatkan ikatan yang menghimpun mereka.
2.
Mempertegas
bahwa tauhid, penghambaan kepada Allah swt., dan pengingkaran terhadap
kesyirikan. Karena kesyirikan itu kedustaan kepada Allah swt.
3.
Huud as. adalah
tokoh pembaru yang tulus; ia tidak mengharapkan balasan berupa jabatan, harta,
atau prestise yang menghiasi jiwa dan mempermainkan pikiran mereka.
4.
Mengingatkan
bahwa hujan lebat yang dapat mereka manfaatkan untuk minum dan bercocok tanam,
adalah balasan atas istighfar dan ketaatan. Bukan karena kesyirikan, kekufuran
terhadap nikmat, dan kedurhakaan. Juga penambahan kekuatan fisik dan akal tidak
terjadi kecuali karena keistiqamahan dan sikap menjauhi kerusakan. Sebab semua
itu terjadi karena rekayasa Allah swt. dan kehendak-Nya.
5.
Bukti kebenaran
Huud as. terdapat pada syari’at dan ajaran-ajarannya yang luhur, bukan pada
mu’jizat-mu’jizat fisik yang selalu dituntut oleh kebanyakan orang, tetapi
setelah datang mereka mendustakannya. Dan, bukti yang berupa ajaran serta
realitas yang terjadi dapat menyingkap fithrah yang sehat serta menggugah
nurani.
6.
Keberanian Huud
as. yang luar biasa. Di mana ia sendirian melawan tokoh-tokoh kemusyrikan
dengan argument-argumen yang dapat meruntuhkan akidah mereka serta menampakkan
kebodohan akal mereka. Inilah keimanan, keperyaan diri, keyakinan pada
pertolongan Allah swt., dan ketentraman menunggu kemenangan dari-Nya. Allah
swt. berfirman, “Sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan
janganlah kamu memberi tangguh kepadaku.” (Huud: 55)
7.
Akhir
perjalanan orang-orang zhalim selalu tragis, terutama jika mereka menentang
para rasul dan menghalangi sampainya petunjuk kepada umat manusia.
8.
Cara hidup
orang-orang angkuh adalah menyeru pada kejahatan serta kesesatan. Dan, cara
hidup seperti itu akan berujung pada kebinasaan.
9.
Laknat di dunia
selalu menyertai orang-orang yang berbuat sewenang-wenang, melakukan kerusakan,
dan kufur.
10.
Siksa Allah
swt. di akhirat lebih keras dan lebih menyakitkan. Inilah kerugian yang nyata.
Nabi Huud as. memulai dakwah dengan menyeru kaumnya agar
meng-esakan Allah swt. Namun ia disambut dengan cacian, pengingkaran, dan
ejekan. Maka ia pun menjelaskan bahwa dirinya adalah utusan Tuhan yang
menciptakan dan menguasai alam semesta. Ia juga mengingatkan mereka tentang
kisah Nabi Nuuh as. dan nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada mereka. Tetapi mereka
malah bertambah ingkar dan menantang siksa yang diancamkan. Maka siksa itu pun
diturunkan kepada mereka, sehingga mereka tercabut sampai ke akar-akarnya.
Pada penggalan Surat di atas dapat kita ketahui hal-hal berikut:
1.
Seruan pada
tauhid yang diserukan oleh setiap nabi adalah inti dakwah Nabi Huud as.
2.
Tokoh-tokoh
kaumnya, yaitu para pembesar adalah orang-orang yang paling cepat
mendustakannya. Sebab merekalah yang paling diuntungkan dengan terjadinya
kerusakan.
3.
Mereka
menuduhnya bodoh dan tidak memahami urusan. Sebab keshalihan yang diserukannya
dapat menjadi batu sandungan bagi kesewenang-wenangan dan kezhaliman yang
memberikan keuntungan banyak kepada mereka.
4.
Nabi Huud as.
membalas mereka dengan kebaikan dan memberikan penjelasan kepada mereka bahwa
ia bukan orang yang mengada-ada, sebab sebelumnya Allah swt. mengutus Nuuh as.
Dan, mereka adalah generasi setelah kaum Nabi Nuuh as. yang mendapat nikmat
melimpah.
5.
Asingnya tauhid
bagi mereka adalah pertanda bahwa kebatilan telah menguasai jiwa mereka,
sehingga berubah menjadi kebenaran yang tidak dapat diperdebatkan dan
ditentang.
6.
Pengorbanan
mereka dalam membela kebatilan, meski berujung pada kebinasaan. Serta keheranan
Nabi Huud as terhadap sikap mereka, sebab kebatilan mereka merupakan utopia
yang diada-adakan dan nama-nama yang tidak mempunyai makna.
Kebatilan
Selalu Mengantar Pada Kehancuran dan Hilangnya Nikmat.
“Pemuka-pemuka
yang kafir dari kaumnya berkata, ‘Sesungguhnya Kami benar benar memandang kamu
dalam Keadaan kurang akal dan Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang
orang yang berdusta.’ Huud herkata, ‘Wahai kaumku, tidak ada padaku kekurangan
akal sedikit pun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam. Aku
menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat
yang terpercaya bagimu.’ Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang
kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu
untuk memberi peringatan kepadamu? dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu
Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya
kaum Nuuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada
kaum Nuuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat
keberuntungan. Mereka berkata, ‘Apakah kamu datang kepada Kami, agar Kami hanya
menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak
kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk
orang-orang yang benar.’ Ia berkata, ‘Sungguh sudah pasti kamu akan ditimpa
azab dan kemarahan dari Tuhanmu. Apakah kamu sekalian hendak berbantah dengan
aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu menamakannya,
Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka tunggulah
(azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu bersama kamu.’
Maka Kami selamatkan Huud beserta orang-orang yang bersamanya dengan rahmat
yang besar dari Kami, dan Kami tumpas orang-orang yang mendustakan ayat-ayat
Kami, dan Tiadalah mereka orang-orang yang beriman.” (Al-A’raf: 65-72)
Pertama:
Allah swt. memberitahu kepada kita bahwa ia mengutus Nabi Huud as. kepada kaum
‘Aad. Allah swt. menyebutnya dengan ungkapan, ‘Saudara mereka’ seolah-olah ada
pertalian nasab, sebagaimana ungkapan, ‘wahai saudara bangsa Arab.’ Untuk
menunjukkan kesamaan kebangsaan.
Nabi
Huud as. menyeru mereka agar beribadah kepada Allah swt., sebagaimana yang juga
diserukan oleh seluruh rasul. Kemudian ia mengatakan kepada mereka, “Apakah
kalian tidak takut?” melakukan kesyirikan dan kemaksiatan yang dimurkai Allah
swt.
Ini
merupakan ungkapan pengingkaran Nabi Allah; Huud atas adanya kesyirikan dan
kemaksiatan di tengah kaumnya. Padahal sebelumnya Allah swt. menurunkan siksa
kepada kaum Nabi Nuuh as. Allah swt. juga berfirman dalam Surat Huud, “Apakah
kalian tidak memikirkan (nya).” (Huud: 15) Artinya, apakah kalian tidak
mempunyai akal yang dapat mencegah kalian dari kedurhakaan kepada Allah swt.
dan pembangkangan terhadap perintah-Nya?
Allah
swt. menggunakan dua redaksi yang berbeda untuk meragamkan manfaat dan mencegah
kejenuhan pembaca. Dan, inilah kebiasaan Al-Qur'an dalam mengungkapkan kisah.
Kedua:
Al-Mala’ adalah para bangsawan dan pembesar. Dan, kaum bangsawan ini
dibatasi dengan sifat ‘yang kafir,’ tidak sebagaimana penyebutan mala’ pada
kaum Nabi Nuuh as. Karena sebagian bangsawan dari kaum Nabi Huud as. beriman
dengan risalah yang dibawanya. Sementara bangsawan dari kaum Nabi Nuuh as.
tidak ada yang beriman. Redaksi seperti ini mirip dengan redaksi dalam firman
Allah swt.,
وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِهِ الَّذِيْنَ
كَفَرُوْا وَكَذَّبُوْا بِلِقَاۤءِ الْاٰخِرَةِ وَاَتْرَفْنٰهُمْ فِى الْحَيٰوةِ
الدُّنْيَاۙ مَا هٰذَآ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْۙ يَأْكُلُ مِمَّا تَأْكُلُوْنَ
مِنْهُ وَيَشْرَبُ مِمَّا تَشْرَبُوْنَ
“Dan berkatalah
pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui
hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di
dunia, ‘(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, Dia Makan dari
apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum’.” (Al-Mu’minun: 33)
Bisa
juga pembatasan dengan sifat tersebut dimaksudkan untuk mencela, bukan untuk
tujuan lain.
Kaum
‘Aad mensifati Nabi Allah; Huud dengan ungkapan, “Sesungguhnya Kami benar benar
memandang kamu dalam Keadaan kurang akal,” untuk memberi kesan bahwa Nabi Huud
as. benar-benar bodoh dan tidak terlepas dari kebodohan. Tidak cukup sebatas
itu, mereka menambah ejekan dengan mengutarakan prasangka bahwa ia pendusta
yang mengaku-aku mendapat risalah dari Allah swt. Dan, ungkapan mereka,
“Sesungguhnya Kami menganggap kamu Termasuk orang orang yang berdusta,” dalam
bentuk jama’ (plural), memberikan kesan bahwa mereka mendustakan seluruh rasul,
di mana Nabi Huud as. salah satu dari mereka.
Nabi
Huud as. membalas mereka dengan sangat sopan dan penuh maaf, tidak membalas
mereka dengan ejekan, meski ia mengetahui lawannya adalah manusia yang paling
sesat dan paling bodoh. Dan, adab yang baik dan akhlak yang mulia seperti ini
sangat layak dimiliki oleh para pengusung dakwah.
Ia
menjelaskan kepada mereka bahwa dirinya tidak terjangkiti kebodohan, namun ia
adalah utusan Tuhan alam semesta, yang bertugas menyampaikan risalah Allah swt.,
pemberi nasihat yang tulus pada kebahagiaan, dan terpercaya dalam menyampaikan
wahyu dari Allah swt.
Ia
menyambung pernyataan dengan ungkapan, “Sesungguhnya aku tidak berdusta kepada
kalian, sebagaimana yang biasa kalian ketahui dalam perjalanan hidupku. Dan,
jika akutdk berdusta kepada kalian, maka bagaimana mungkin aku akan berdusta
kepada Allah swt.?”
Ketiga:
“Apakah kamu (tidak percaya) dan heran
bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang
laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu?” Artinya, apakah
kalian mendustakan dan heran kalau mendapat nasihat dari Tuhan melalui lisan
seorang laki-laki dari kalangan kalian? Kemudian ia mengingatkan mereka dengan
karunia Allah swt. yang telah diberikan kepada mereka, dengan harapan ada yang
dapat mengambil manfaat dari peringatan tersebut. Ia menyeru mereka agar
menghayati bahwa Allah swt. menjadikan mereka sebagai khalifah di muka bumi
setelah kaum Nabi Nuuh as. dan memberi beberapa keunggulan dari generasi
pendahulu, yaitu kekuatan fisik, keluasan kekuasaan, dan penyebaran peradaban.
Kemudian menambahkan seruan agar mereka mau merenungkan nikmat-nikmat Allah
swt. secara umum, sehingga mendapatkan keberuntungan. Seruan seperti ini mirip
dengan seruan yang disampaikan oleh Nabi Nuuh, “Tidakkah kamu perhatikan
bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah
menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai
pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, Kemudian
Dia mengambalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada
hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai
hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang Luas di bumi itu.” (Nuuh: 15 –
20)
Ia
meragamkan komunikasi dengan mereka dan mahir dalam menggunakan metode dakwah.
Sekali waktu memberikan ancaman, sekali waktu memberi kabar gembira, sekali
waktu mengingatkan mereka dengan nikmat-nikmat Allah swt., dan sekali waktu
menyampaikan ancaman siksa-Nya.
Keempat:
Namun jawban mereka setelah mendapatkan itu semua adalah, “Apakah kamu datang
kepada Kami, agar Kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang
biasa disembah oleh bapak-bapak kami?”
Mereka
mengingkari Huud as. yang mengajarkan ketauhidan dan meninggalkan kesyirikan
serta berhala-berhala yang telah disembah oleh nenek moyang mereka. Setelah itu
mereka menantang dengan ungkapan, “Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan
kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar.” dalam seruan dan
pengakuanmu, bahwa kamu adalah utusan Tuhan alam semesta.
Rasul
menjawab tantangan terbuka tersebut dengan keyakinan penuh terhadap janji
Tuhan-nya dan keperyaan utuh pada kemenangan yang dijanjikan-Nya, “Sungguh
sudah pasti kamu akan ditimpa azab dan kemarahan dari Tuhanmu.”
Kemurkaan
disebut setelah siksa untuk menjelaskan bahwa siksa tersebut dimaksudkan
sebagian balasan yang pasti, yang tidak mungkin dihilangkan. Kita berlindung
kepada Allah swt. dari siksa yang disertai kemurkaan.
Siksa
yang dijanjikan oleh Huud as. adalah siksa yang dijelaskan oleh Allah swt.
dalam Surat Al-Qamar, yaitu firman Allah swt., “Kaum 'Aad pun
mendustakan(pula). Maka Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.
Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang
pada hari nahas yang terus menerus, yang menggelimpangkan manusia seakan-akan
mereka pokok korma yang tumbang. Maka Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan
ancaman-ancaman-Ku.” (Al-Qamar: 18-21)
Huud
as. mengingkari mereka dengan ungkapan, “Apakah kamu sekalian hendak berbantah
dengan aku tentang Nama-nama (berhala) yang kamu beserta nenek moyangmu
menamakannya, Padahal Allah sekali-kali tidak menurunkan hujjah untuk itu? Maka
tunggulah (azab itu), Sesungguhnya aku juga Termasuk orang yamg menunggu
bersama kamu.”
Akhirnya
Allah swt. menyelamatkan Huud as. berserta orang-orang yang beriman dan
menghancurkan musuh-musuhnya dengan angin, “yang menghancurkan segala sesuatu
dengan perintah Tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi
kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan
kepada kaum yang berdosa.” (Al-Ahqaf: 25)
***
Allah
swt. berfirman, “Dan kepada kaum 'Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia
berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan
selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja. Hai kaumku, aku tidak meminta
upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang
telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkan(nya)?’ Dan (dia berkata),
‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya
Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan
kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.’
Kaum 'Ad berkata, ‘Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti
yang nyata, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami
karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami
tidak mengatakan melainkan bahwa sebagian sembahan Kami telah menimpakan
penyakit gila atas dirimu.’ Huud menjawab, ‘Sesungguhnya aku bersaksi kepada
Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari
apa yang kamu persekutukan, Dari selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu
semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya
aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang
melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku
di atas jalan yang lurus. Jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah
menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya
kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu;
dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya
Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu.’ Dan, tatkala datang azab Kami,
Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama Dia dengan rahmat
dari kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat.
Dan Itulah (kisah) kaum 'Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan
mereka, dan mendurhakai Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua
Penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu
diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah,
Sesungguhnya kaum 'Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. ingatlah kebinasaanlah
bagi kaum 'Ad (yaitu) kaum Huud itu.” (Huud: 50-60)
Dengan
demikian Nampak jelaslah bahwa persoalan yang diperselisihkan oleh Huud as. dan
kaumnya adalah persoalan ketuhanan dan ketundukan hanya kepada Tuhan swt. Dan,
lebih jelas lagi terlihat dalam firman Allah swt., “Dan Itulah (kisah) kaum 'Ad
yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai
Rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua Penguasa yang
sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran).” (Huud: 59)
Persoalan
mereka adalah kedurhakaan terhadap perintah para rasul dan ketundukan pada
perintah orang-orang yang zhalim. Padahal Islam artinya ketaatan pada perintah
para rasul –karena perintah para rasul adalah perintah Allah swt.- dan
penentangan pada perintah orang-orang zhalim. Inilah persimpangan jalan antara
kaum jahiliyah dan Islam, antara kekufuran dan keimanan.
Seruan
ketauhidan sejak awal menegaskan pembebasan dari setiap ketundukan kepada
selain Allah swt., pembangkangan terhadap kekuasaan para durjana yang mengaku
tuhan, dan menganggap peleburan kepribadian karena mengikuti orang-orang yang
angkara murka adalah criminal, kesyirikan, serta kekufuran yang layak
mendapatkan kebinasaan di dunia dan siksa di akhirat. Sebab Allah swt.
menciptakan manusia dalam keadaan merdeka dan tidak menghamba kepada seorang
pun dari makhluk-Nya, baik pemimpin atau siapa saja. Inilah kemuliaan yang
dikaruniakan Allah swt. kepada mereka. Apabila mereka tidak menjaganya, maka
tiada kemuliaan dan tiada keselamatan bagi mereka di sisi Allah swt.
Tidak
mungkin manusia mengklaim punya kemuliaan dan memili kemanusiaan, sementara ia
menghambakan diri kepada selain Allah swt.
Orang-orang
yang rela menghamba kepada sesama tidak bisa dimaklumi, sebab jumlah mereka
banyak dan jumlah orang-orang yang disembah. Jika mereka mau merdeka, maka
mereka akan berkorban untuk membebaskan diri dari kehinaan diperbudak oleh para
diktator.
Kaum
‘Aad telah binasa karena mengikuti intruksi para dictator yang angkuh .. mereka
binasa dengan diiringi laknat di dunia dan akhirat, “Dan mereka selalu diikuti
dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat.” Tidak hanya
sampai di situ, mereka tidak dibiarkan binasa sebelum tercatat dalam sejarah,
hingga menjadi peringatan yang dikumandangkan ke segenap umat manusia, “Ingatlah,
sesungguhnya kaum Ad itu kafir kepada Tuhan mereka.” Kemudian ditegaskan lagi
dengan doa agar mereka binasa. Dan, pernyataan itu dialamatkan secara tegas
kepada mereka, “Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Ad (yaitu) kaum Hud itu.”
Pemaparan
perjalanan dakwah dengan cara seperti ini dalam Al-Qur'an, dimaksudkan untuk merumuskan
Garis Besar pergerakan aqidah di sepanjang masa. Bukan hanya untuk gerakan di
masa lalu, tetapi juga untuk masa depan hingga akhir zaman. Bukan hanya untuk
jamaah muslimah pertama yang disebut oleh Al-Qur'an dan yang bergerak melawan
kejahiliyahan saat itu, tetapi untuk setiap jamaah muslimah yang menghadapi
kejahiliyahan hingga akhir zamam. Inilah salah satu yang menjadikan Al-Qur'an
sebagai buku dakwah Islam sepanjang masa. Buktinya adalah pergerakan yang ada
di setiap masa.
Referensi
Belajar Mandiri
Sama
dengan referensi sebelumnya
Kegiatan
Pendamping
1.
Menyiapkan
rekaman audio atau audio visual.
2.
Menyiapkan satu
bagian dalam perpustakaan yang berisi buku-buku mengenai kisah para nabi.
3.
Menyiapkan peta
dan gambar untuk memperjelas berbagai tempat yang menjadi saksi sejarah.
4.
Menulis
berbagai pelajaran yang diambil dari kisah Huud as. dan memuatnya dalam surat
kabar atau majalah.
5.
Menyelenggarakan
perlombaan ilmiah antar para pemuda.
6.
Menyelenggarakan
pelatihan mengenai seni berdialog.
7.
Menghafal
ayat-ayat yang terkait dengan tema.
8.
Menugaskan para
khatib agar menyampaikan pelajaran yang diambil dari kisah Huud as.
9.
Menyelenggarakan
seminar pekanan bersama anak-anak di rumah, mengenai sejarah hidup Nabi Huud
as.
10. Menyiapkan ceramah mengenai manhaj para nabi dalam berdakwah di
jalan Allah swt.
Evaluasi
1.
Apakah manusia
dapat mengambil manfaat dari ajaran Islam, sepeninggal Nabi Nuuh as.?
2.
Jelaskan janji
Allah swt. untuk Nabi Nuuh as. dan anakcucunya yang muslim?
3.
Bagaimana
posisi kaum ‘Aad dari umat-umat jahiliyah?
4.
Di manakah
domisili kaum ‘Aad?
5.
Mengapa Nabi
Huud as. mengawali dakwah dengan melakukan pendekatan kepada kaumnya?
6.
Pelajaran
dakwah apa yang anda ambil dari pendekatan yang dilakukan Nabi Huud as.?
7.
Apakah anda
mengharapkan imbalan pangkat, harta, dan prestise dari dakwahmu?
8.
Sebutkan
macam-macam siksa yang ditimpakan oleh Allah swt. untuk kaum ‘Aad?
9.
Apakah anda
komitmen melakukan istighfar, ketaatan dan syukur atas berbagai nikmat?
10. Apakah sikap anda terhadap syetan manusia dan jin?
11. Apakah anda menegaskan ketauhidan dan membuang jauh kemusyrikan
dalam dakwah?
12. Apakah anda menghiasi diri dengan keberanian, ketenangan, dan
keyakinan penuh pada janji Allah swt.?
13. Apakah anda melakukan dakwah dengan cara yang baik?
14. Apakah anda bersabar menghadapi obyek dakwah?
No comments:
Post a Comment