Sunday, April 5, 2026

Darul Hadits di Berbagai Negara

Periode Ketiga: Sunnah Setelah Masa Khilafah Rasyidah Hingga Akhir Abad Pertama

Pertama — Luasnya Penaklukan Islam dan Tersebarnya Para Sahabat di Berbagai Negeri

Wilayah Islam meluas dengan sangat hebat setelah wafatnya beliau di tangan para sahabatnya, sebagai bentuk pemenuhan janji Allah yang tidak pernah meleset: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa." [QS. An-Nur: 55].

Maka Syam seluruhnya dan Irak sepenuhnya telah ditaklukkan pada tahun 17 Hijriah. Mesir ditaklukkan pada tahun 20 Hijriah. Persia ditaklukkan pada tahun 21 Hijriah. Kaum muslimin mencapai Samarkand pada tahun 56 Hijriah dan mengambil Spanyol (Andalusia) pada tahun 93 Hijriah.

Dampak dari penaklukan ini adalah banyak penduduknya yang masuk Islam dan jiwa mereka sangat haus untuk mempelajari hukum-hukumnya. Maka merupakan kewajiban bagi para khalifah muslim untuk mengutus orang-orang dari kalangan sahabat Rasulullah yang dapat mengajarkan hukum-hukum agama kepada mereka. Di samping itu, banyak pula dari kalangan Sahabat yang berpindah ke berbagai negeri tersebut atas inisiatif sendiri sebagai pengajar dan pembimbing. Di antara mereka ada yang merasa betah tinggal di sana sehingga menetap di negeri yang didatanginya hingga wafat.

Dengan menetapnya para Sahabat di berbagai negeri tersebut, tempat-tempat itu menjadi pusat pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis. Para penuntut ilmu berkumpul di sekitar mereka, menimba dari lautan ilmu mereka yang meluap-luap, dan menghafal dari mereka apa yang mereka hafal dari Rasulullah . Hingga akhirnya di setiap wilayah tersebut luluslah satu tingkatan Tabi'in yang di kemudian hari menjadi penjaga Sunnah dan perawi hadis.

Janganlah terlintas dalam benak Anda bahwa di sana terdapat sekolah-sekolah dan institut dalam makna yang kita kenal sekarang, yang memiliki sistem khusus, perpustakaan, ruang kuliah, dan sebagainya. Namun, mereka berada dalam kesederhanaan awal; seorang Sahabat membawa ilmunya di dalam dadanya dan menjaganya dengan hatinya. Masjid-masjid pada umumnya adalah rumah bagi ilmu dan pusat pengajaran hadis. Seorang Sahabat duduk di masjid dan di sekelilingnya terdapat lingkaran (halaqah) dari para pengikut dan murid-muridnya yang mendengarkan darinya, menghafal darinya, bertanya kepadanya, dan meminta fatwa kepadanya. Dalam semua itu, ia tidak keluar dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah , atau pendapat yang bersandar pada asal yang benar dari keduanya, dan hal itu jarang terjadi.

Tidak ada salahnya jika kita menyebutkan ringkasan tentang pusat-pusat (rumah) hadis di berbagai negeri tersebut, maka kami katakan:


([1]) Fathul Baari (1 - 160).


Pusat-Pusat (Rumah) Hadis di Berbagai Negeri

1. Pusat Hadis di Madinah Al-Munawwarah:

Madinah Al-Munawwarah adalah tempat hijrah Nabi dan para sahabatnya. Di sanalah Nabi paling banyak menyampaikan hadis-hadisnya karena mayoritas syariat Islam turun di sana. Kaum Muhajirin sangat suka menetap di sana dan tidak suka pindah darinya menuju Makkah atau kota lainnya. Setelah wafatnya Nabi , Madinah tetap menjadi ibu kota umat Islam, pusat Khilafah Rasyidah, dan tempat tinggal para sahabat senior. Oleh karena itu, Madinah adalah tanah air pertama para sahabat yang mereka utamakan di atas tempat lainnya, di mana mereka mendapatkan berkah Nabi semasa hidup beliau maupun setelah wafatnya. Mereka tidak meninggalkannya kecuali karena kebutuhan mendesak terkait pemerintahan, mata pencaharian, atau pendidikan.

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dalam al-Thabaqat dari Muhammad bin Umar bahwa ia berkata: "Kami tidak mengetahui seorang pun dari kaum Muhajirin ahli Badar yang kembali ke Makkah—maksudnya setelah wafatnya Nabi —lalu menetap di sana selain Abu Sabrah. Ia kembali ke Makkah setelah wafatnya Nabi dan menetap di sana, namun hal itu tidak disukai oleh kaum muslimin lainnya. Anak cucunya mengingkari hal tersebut dan menolak anggapan bahwa ia kembali ke Makkah lalu menetap di sana setelah berhijrah darinya, dan mereka marah jika hal itu disebutkan."

Di Madinah, telah masyhur sejumlah besar sahabat yang memiliki kedudukan tinggi dalam bidang hadis dan fikih, di antaranya: Abu Bakar, Umar, Ali (sebelum pindah ke Kufah), Abu Hurairah, Aisyah Ummul Mukminin, Abdullah bin Umar, Abu Sa'id al-Khudri, serta Zaid bin Tsabit yang termasyhur karena pemahamannya terhadap hukum-hukum dari Al-Kitab, Sunnah, dan pendapat yang tepat. Bahkan Umar sering meminta Zaid tetap tinggal bersamanya untuk meminta pendapatnya dalam berbagai kasus yang dihadapi. Zaid terus menjadi rujukan utama dalam urusan peradilan, fatwa, qira'at (bacaan Al-Qur'an), dan ilmu waris (faraidh) pada masa Umar, Usman, dan Ali hingga beliau wafat pada tahun 45 H di masa kekhalifahan Muawiyah radhiyallahu 'anhum.

Melalui tangan orang-orang mulia ini, luluslah angkatan pertama Tabi'in di Madinah. Di antara yang paling masyhur adalah: Said bin al-Musayyib, Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, Ibnu Syihab al-Zuhri, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, Salim bin Abdullah bin Umar, al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Nafi' maula Ibnu Umar, serta penjaga-penjaga Sunnah lainnya yang menjadi rujukan dalam hadis dan fatwa.

2. Pusat Hadis di Makkah Al-Mukarramah:

Ketika Nabi menaklukkan Makkah, beliau meninggalkan Mu'adz bin Jabal di sana untuk mengajarkan penduduknya tentang halal dan haram, memberikan pemahaman dalam agama (tafaqquh), serta membacakan Al-Qur'an al-Karim kepada mereka. Mu'adz adalah salah satu pemuda Anshar yang paling utama dalam hal ilmu, kesantunan, dan kedermawanan; ia mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah dan dianggap sebagai sahabat yang paling mengetahui tentang halal dan haram. Ibnu Abbas, Umar, dan putranya telah meriwayatkan darinya.

Akhirnya, kepemimpinan pusat hadis di Makkah dipegang oleh Abdullah bin Abbas setelah kepulangannya dari Bashrah. Berkat beliaulah Makkah meraih kemasyhuran ilmiah. Abdullah bin Abbas adalah "wadah" ilmu dan penghafal hadis. Di sana juga terdapat banyak sahabat lain yang disebutkan oleh al-Hakim dalam kitabnya Ma'rifat 'Ulum al-Hadis dalam jumlah yang banyak. Di antaranya: Abdullah bin al-Sa'ib al-Makhzumi (ahli qira'at di kalangan sahabat di Makkah), Attab bin Asid (gubernur yang diangkat Rasulullah di sana), saudaranya Khalid bin Asid, al-Hakam bin Abi al-Ash, Usman bin Thalhah, dan lain-lain.

Banyak Tabi'in yang lulus dari pusat ini di bawah bimbingan Abdullah bin Abbas, yang paling masyhur di antaranya adalah Mujahid bin Jabr, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Atha bin Abi Rabah, dan lainnya.

Jangan lupakan pula pengaruh besar yang dimiliki Makkah dan Madinah yang membedakannya dari seluruh kota di dunia bahkan hingga masa kita sekarang. Di sanalah diadakan "muktamar Islam" (ibadah Haji) setiap tahun, di mana kaum muslimin datang dari segala penjuru yang jauh. Tidak diragukan lagi bahwa pertemuan ini memiliki dampak besar dalam penyebaran ilmu dan pengetahuan, karena di sanalah para perawi hadis dan pembawa ilmu bertemu satu sama lain, menyodorkan hadis-hadis, dan menyeleksi sanad-sanad, sehingga seorang perawi dapat menyempurnakan ilmunya tentang hadis dan para tokoh perawinya (rijal).

Ibadah Haji merupakan salah satu ikatan terkuat yang menghubungkan berbagai negeri Islam dengan kehidupan ilmiah di kedua kota ini. Namun, hal itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah-wilayah yang luas tersebut, sehingga banyak sahabat yang berpindah ke sana sebagai pemberi petunjuk dan pengajar.

3. Pusat Hadis di Kufah:

Kufah adalah pangkalan militer bagi tentara Islam, oleh karena itu sejumlah besar sahabat menetap di sana pada masa penaklukan dan mayoritas dari mereka dimakamkan di sana. Di antara mereka adalah: Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas'ud, Sa'ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Khabbab bin al-Arat, Salman al-Farisi, Hudzaifah bin al-Yaman, Ammar bin Yasir, Abu Musa al-Asy'ari, al-Bara' bin 'Azib, al-Mughirah bin Syu'bah, an-Nu'man bin Basyir, Abu al-Thufail, Abu Juhaifah, dan sangat banyak yang lainnya ('Ulum al-Hadis karya al-Hakim, hal. 191).

Kepemimpinan di pusat ini dipegang oleh Abdullah bin Mas'ud karena kedalaman ilmunya dan lamanya beliau menetap di sana. Maka luluslah di tangan beliau banyak muridnya, yang paling masyhur adalah: Masruq bin al-Ajda' al-Hamdani, Ubaidah bin Amru al-Salmani (yang dikatakan oleh asy-Sya'bi: "Ia setara dengan Syuraih dalam urusan peradilan"), al-Aswad bin Yazid al-Nakha'i, Syuraih bin al-Harits al-Kindi (yang diangkat oleh Umar menjadi hakim di Kufah dan terus menjabat hingga masa al-Hajjaj, lalu mengundurkan diri setahun sebelum wafatnya), Ibrahim bin Yazid al-Nakha'i (ahli fikih Irak), Said bin Jubair, serta Amir bin Syurahil asy-Sya'bi yang merupakan ulama besar Tabi'in sekaligus seorang imam penghafal (hafidz). (I'lam al-Muwaqqi'in 1-20).

4. Pusat Hadis di Bashrah:

Pemimpin di pusat ini adalah Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Banyak sahabat lain yang juga menetap di sana, di antaranya: Ibnu Abbas (pernah menjadi gubernur di sana pada masa Ali), Utbah bin Ghazwan, Imran bin Hushain, Abu Barzah al-Aslami, Ma'qil bin Yasar, Abu Bakrah, Abdurrahman bin Samurah, Abdullah bin al-Syikhkhir, Jariyah bin Qudamah, dan lain-lain ('Ulum al-Hadis karya al-Hakim, hal. 191).

Dari pusat ini, luluslah para Tabi'in seperti: Abu al-'Aliyah Rafii' bin Mehran al-Riyahi, al-Hasan al-Bashri (yang menjumpai lima ratus orang sahabat), Muhammad bin Sirin, Abu al-Sya'tsa' Jabir bin Zaid (murid Ibnu Abbas), Qatadah bin Di'amah al-Sadusi, Mutharrif bin Abdullah bin al-Syikhkhir, Abu Burdah bin Abi Musa, dan masih banyak lagi yang lainnya.


5. Pusat (Rumah) Hadis di Syam:

Ketika kaum muslimin menaklukkan Syam, banyak penduduknya yang masuk Islam. Para Khalifah menaruh perhatian besar terhadap wilayah ini, sehingga mereka mengutus para sahabat yang utama ke sana, seperti Mu'adz bin Jabal yang memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi. Beliau adalah utusan Nabi ke Yaman, menjadi khalifah (wakil) beliau bagi penduduk Makkah untuk mengajarkan halal dan haram, serta menjadi utusan Umar ke Syam untuk memberikan pemahaman dalam agama Allah.

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dalam al-Thabaqat dari Abu Muslim al-Khawlani, ia berkata: "Aku masuk ke masjid Homs, ternyata di sana terdapat sekitar tiga puluh orang tua dari kalangan sahabat Nabi . Di antara mereka ada seorang pemuda yang matanya bercelak, giginya putih berkilau, ia diam dan tidak berbicara. Namun, jika orang-orang berselisih tentang sesuatu, mereka berpaling kepadanya dan bertanya kepadanya. Aku bertanya kepada orang yang duduk di sampingku, 'Siapa orang ini?' Ia menjawab, 'Mu'adz bin Jabal'."

Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa beliau berkata saat Mu'adz berangkat ke Syam: "Keberangkatannya benar-benar meninggalkan kekosongan di Madinah dan bagi penduduknya dalam hal fikih serta fatwa yang biasa ia berikan kepada mereka. Sungguh, aku telah berbicara kepada Abu Bakar rahimahullah agar menahannya (di Madinah) karena kebutuhan manusia kepadanya, namun beliau menolak permintaanku dan berkata, 'Seorang pria yang menginginkan jihad dan mengharapkan syahadah, maka aku tidak akan menahannya.' Maka aku (Umar) berkata, 'Demi Allah, sungguh seseorang akan dikaruniai syahadah meskipun ia berada di atas tempat tidurnya'."

Di antara yang paling masyhur melakukan pengajaran di wilayah ini juga adalah Ubadah bin al-Shamit, yang istimewa karena telah menghimpun Al-Qur'an. Beliau termasuk orang yang paling paham dalam agama, sangat tegas dalam kebenaran, dan tidak takut akan celaan orang yang mencela dalam membela Allah. Beliau banyak mengkritik Muawiyah dalam berbagai urusannya. Di antaranya juga adalah Abu al-Darda' al-Anshari yang terhitung sebagai ahli fikih di kalangan sahabat dan penghafal hadis. Umar mengutus keduanya bersama Mu'adz ke Syam untuk memenuhi permintaan Yazid bin Abi Sufyan, karena ia menulis surat kepada Umar bin Khattab: "Penduduk Syam sangat membutuhkan orang yang mengajarkan mereka Al-Qur'an dan memberikan pemahaman agama kepada mereka, maka utuslah Mu'adz, Ubadah, dan Abu al-Darda'." Al-Bukhari menyebutkan hal itu dalam Tarikh-nya. Mereka inilah yang menjadi batu penjuru dalam gerakan ilmiah dan penyebaran Sunnah Muhammadiah di pelosok negeri tersebut.

Umar juga mengutus Abdurrahman bin Ghanm untuk tugas yang sama, dan ia biasa disebut sebagai "Sahabat Mu'adz" karena saking seringnya mendampingi beliau, meskipun ada perbedaan pendapat mengenai status kesahabatannya. Selain mereka, banyak sahabat lain yang tersebar di Syam sebagai pemberi petunjuk dan pengajar, di antaranya Syurahbil bin Hasanah, al-Fadhl bin al-Abbas bin Abdul Muthalib—al-Hakim meriwayatkan bahwa beliau dimakamkan di Yordania—Abu Malik al-Asy'ari, dan masih banyak lagi yang lainnya. Melalui bimbingan mereka, luluslah banyak Tabi'in di berbagai sekolah di Syam, di antaranya Abu Idris al-Khawlani 'A'idullah, Qabishah bin Dzuaib, Makhul bin Abi Muslim, dan Raja' bin Haiwah al-Kindi, seorang ulama yang terpercaya (tsiqah) dan utama.

6. Pusat Hadis di Mesir:

Kaum muslimin menaklukkan Mesir sehingga banyak penduduknya masuk Islam. Demikian pula, banyak sahabat yang menetap di sana untuk menyebarkan hukum-hukum agama dan ajarannya. Yang paling masyhur di antara mereka adalah Abdullah bin Amr bin al-Ash, yang merupakan salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah . Beliau juga memiliki keistimewaan dibanding sahabat lainnya dengan menulis apa yang ia dengar dari Rasulullah . Abdullah berangkat bersama ayahnya, Amr bin al-Ash, ke Mesir ketika Muawiyah mengangkat ayahnya sebagai gubernur di sana. Setelah Amr wafat, putranya Abdullah tetap tinggal menetap di Mesir; beliau melakukan haji dan umrah lalu kembali ke sana hingga wafat di sana menurut sebagian pendapat.

Selain Abdullah bin Amr, banyak sahabat lain yang menetap di Mesir dan menjalankan tugas pengajaran, serta banyak penduduk negeri itu yang belajar fikih kepada mereka. Di antara sahabat tersebut adalah Uqbah bin Amir al-Juhani, Kharijah bin Hudzaifah, Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh, Mahmiyah bin Juz', Abdullah bin al-Harits bin Juz', Abu Bashrah al-Ghifari, Abu Sa'ad al-Khair, Mu'adz bin Anas al-Juhani, dan lainnya, hingga Muhammad bin al-Rabi' al-Jizi mengkhususkan penulisan buku tentang mereka. Jumlah mereka mencapai seratus empat puluh sekian sahabat, sebagaimana ia juga mencantumkan hadis-hadis mereka dalam karyanya tersebut ([1]).

Dari para sahabat ini, luluslah banyak Tabi'in, di antaranya Abu al-Khair Martsad bin Abdullah al-Yazani (mufti penduduk Mesir) yang meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, Abu Bashrah al-Ghifari, dan Uqbah bin Amir al-Juhani. Di antara mereka juga adalah Yazid bin Abi Habib yang meriwayatkan dari beberapa sahabat namun mayoritas riwayatnya dari Tabi'in; ia berasal dari keturunan Barbar, ayahnya berasal dari Dongola, namun ia tumbuh besar di Mesir.

Ini adalah ringkasan singkat tentang pusat-pusat ilmu dan rumah-rumah hadis di negeri-negeri Islam yang paling masyhur pada masa itu, yang menunjukkan kepada Anda kedudukan para sahabat ini dan para pengikut mereka dalam menyebarkan dan meriwayatkan hadis.

No comments:

Post a Comment

Al Ikhtilaf Wa Adabuhu