Periode Ketiga: Sunnah Setelah Masa Khilafah Rasyidah Hingga Akhir Abad Pertama
Pertama — Luasnya Penaklukan Islam dan Tersebarnya Para
Sahabat di Berbagai Negeri
Wilayah Islam meluas dengan sangat hebat setelah wafatnya
beliau ﷺ
di tangan para sahabatnya, sebagai bentuk pemenuhan janji Allah yang tidak
pernah meleset: "Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang
beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia
sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diredhai-Nya untuk mereka, dan Dia
benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam
ketakutan menjadi aman sentosa." [QS. An-Nur: 55].
Maka Syam seluruhnya dan Irak sepenuhnya telah ditaklukkan
pada tahun 17 Hijriah. Mesir ditaklukkan pada tahun 20 Hijriah. Persia
ditaklukkan pada tahun 21 Hijriah. Kaum muslimin mencapai Samarkand pada tahun
56 Hijriah dan mengambil Spanyol (Andalusia) pada tahun 93 Hijriah.
Dampak dari penaklukan ini adalah banyak penduduknya yang
masuk Islam dan jiwa mereka sangat haus untuk mempelajari hukum-hukumnya. Maka
merupakan kewajiban bagi para khalifah muslim untuk mengutus orang-orang dari
kalangan sahabat Rasulullah ﷺ
yang dapat mengajarkan hukum-hukum agama kepada mereka. Di samping itu, banyak
pula dari kalangan Sahabat yang berpindah ke berbagai negeri tersebut atas
inisiatif sendiri sebagai pengajar dan pembimbing. Di antara mereka ada yang
merasa betah tinggal di sana sehingga menetap di negeri yang didatanginya
hingga wafat.
Dengan menetapnya para Sahabat di berbagai negeri tersebut,
tempat-tempat itu menjadi pusat pembelajaran Al-Qur'an dan Hadis. Para penuntut
ilmu berkumpul di sekitar mereka, menimba dari lautan ilmu mereka yang
meluap-luap, dan menghafal dari mereka apa yang mereka hafal dari Rasulullah ﷺ. Hingga akhirnya di
setiap wilayah tersebut luluslah satu tingkatan Tabi'in yang di kemudian hari
menjadi penjaga Sunnah dan perawi hadis.
Janganlah terlintas dalam benak Anda bahwa di sana terdapat
sekolah-sekolah dan institut dalam makna yang kita kenal sekarang, yang
memiliki sistem khusus, perpustakaan, ruang kuliah, dan sebagainya. Namun,
mereka berada dalam kesederhanaan awal; seorang Sahabat membawa ilmunya di
dalam dadanya dan menjaganya dengan hatinya. Masjid-masjid pada umumnya adalah
rumah bagi ilmu dan pusat pengajaran hadis. Seorang Sahabat duduk di masjid dan
di sekelilingnya terdapat lingkaran (halaqah) dari para pengikut dan murid-muridnya
yang mendengarkan darinya, menghafal darinya, bertanya kepadanya, dan meminta
fatwa kepadanya. Dalam semua itu, ia tidak keluar dari Kitabullah dan Sunnah
Rasulullah ﷺ,
atau pendapat yang bersandar pada asal yang benar dari keduanya, dan hal itu
jarang terjadi.
Tidak ada salahnya jika kita menyebutkan ringkasan tentang
pusat-pusat (rumah) hadis di berbagai negeri tersebut, maka kami katakan:
([1]) Fathul Baari (1 - 160).
Pusat-Pusat (Rumah) Hadis di Berbagai Negeri
1. Pusat Hadis di Madinah Al-Munawwarah:
Madinah Al-Munawwarah adalah tempat hijrah Nabi ﷺ dan para sahabatnya.
Di sanalah Nabi ﷺ
paling banyak menyampaikan hadis-hadisnya karena mayoritas syariat Islam turun
di sana. Kaum Muhajirin sangat suka menetap di sana dan tidak suka pindah
darinya menuju Makkah atau kota lainnya. Setelah wafatnya Nabi ﷺ, Madinah tetap
menjadi ibu kota umat Islam, pusat Khilafah Rasyidah, dan tempat tinggal para
sahabat senior. Oleh karena itu, Madinah adalah tanah air pertama para sahabat
yang mereka utamakan di atas tempat lainnya, di mana mereka mendapatkan berkah
Nabi ﷺ semasa hidup beliau
maupun setelah wafatnya. Mereka tidak meninggalkannya kecuali karena kebutuhan
mendesak terkait pemerintahan, mata pencaharian, atau pendidikan.
Ibnu Sa'ad meriwayatkan dalam al-Thabaqat dari
Muhammad bin Umar bahwa ia berkata: "Kami tidak mengetahui seorang pun
dari kaum Muhajirin ahli Badar yang kembali ke Makkah—maksudnya setelah
wafatnya Nabi ﷺ—lalu
menetap di sana selain Abu Sabrah. Ia kembali ke Makkah setelah wafatnya Nabi ﷺ dan menetap di sana,
namun hal itu tidak disukai oleh kaum muslimin lainnya. Anak cucunya
mengingkari hal tersebut dan menolak anggapan bahwa ia kembali ke Makkah lalu
menetap di sana setelah berhijrah darinya, dan mereka marah jika hal itu
disebutkan."
Di Madinah, telah masyhur sejumlah besar sahabat yang
memiliki kedudukan tinggi dalam bidang hadis dan fikih, di antaranya: Abu
Bakar, Umar, Ali (sebelum pindah ke Kufah), Abu Hurairah, Aisyah Ummul
Mukminin, Abdullah bin Umar, Abu Sa'id al-Khudri, serta Zaid bin Tsabit yang
termasyhur karena pemahamannya terhadap hukum-hukum dari Al-Kitab, Sunnah, dan
pendapat yang tepat. Bahkan Umar sering meminta Zaid tetap tinggal bersamanya
untuk meminta pendapatnya dalam berbagai kasus yang dihadapi. Zaid terus menjadi
rujukan utama dalam urusan peradilan, fatwa, qira'at (bacaan Al-Qur'an), dan
ilmu waris (faraidh) pada masa Umar, Usman, dan Ali hingga beliau wafat
pada tahun 45 H di masa kekhalifahan Muawiyah radhiyallahu 'anhum.
Melalui tangan orang-orang mulia ini, luluslah angkatan
pertama Tabi'in di Madinah. Di antara yang paling masyhur adalah: Said bin
al-Musayyib, Urwah bin az-Zubair bin al-Awwam, Ibnu Syihab al-Zuhri, Ubaidillah
bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud, Salim bin Abdullah bin Umar, al-Qasim bin
Muhammad bin Abu Bakar, Nafi' maula Ibnu Umar, serta penjaga-penjaga
Sunnah lainnya yang menjadi rujukan dalam hadis dan fatwa.
2. Pusat Hadis di Makkah Al-Mukarramah:
Ketika Nabi ﷺ menaklukkan Makkah, beliau meninggalkan Mu'adz bin Jabal di
sana untuk mengajarkan penduduknya tentang halal dan haram, memberikan
pemahaman dalam agama (tafaqquh), serta membacakan Al-Qur'an al-Karim
kepada mereka. Mu'adz adalah salah satu pemuda Anshar yang paling utama dalam
hal ilmu, kesantunan, dan kedermawanan; ia mengikuti semua peperangan bersama
Rasulullah dan dianggap sebagai sahabat yang paling mengetahui tentang halal
dan haram. Ibnu Abbas, Umar, dan putranya telah meriwayatkan darinya.
Akhirnya, kepemimpinan pusat hadis di Makkah dipegang oleh
Abdullah bin Abbas setelah kepulangannya dari Bashrah. Berkat beliaulah Makkah
meraih kemasyhuran ilmiah. Abdullah bin Abbas adalah "wadah" ilmu dan
penghafal hadis. Di sana juga terdapat banyak sahabat lain yang disebutkan oleh
al-Hakim dalam kitabnya Ma'rifat 'Ulum al-Hadis dalam jumlah yang
banyak. Di antaranya: Abdullah bin al-Sa'ib al-Makhzumi (ahli qira'at di
kalangan sahabat di Makkah), Attab bin Asid (gubernur yang diangkat Rasulullah ﷺ di sana), saudaranya
Khalid bin Asid, al-Hakam bin Abi al-Ash, Usman bin Thalhah, dan lain-lain.
Banyak Tabi'in yang lulus dari pusat ini di bawah bimbingan
Abdullah bin Abbas, yang paling masyhur di antaranya adalah Mujahid bin Jabr,
Ikrimah maula Ibnu Abbas, Atha bin Abi Rabah, dan lainnya.
Jangan lupakan pula pengaruh besar yang dimiliki Makkah dan
Madinah yang membedakannya dari seluruh kota di dunia bahkan hingga masa kita
sekarang. Di sanalah diadakan "muktamar Islam" (ibadah Haji) setiap
tahun, di mana kaum muslimin datang dari segala penjuru yang jauh. Tidak
diragukan lagi bahwa pertemuan ini memiliki dampak besar dalam penyebaran ilmu
dan pengetahuan, karena di sanalah para perawi hadis dan pembawa ilmu bertemu
satu sama lain, menyodorkan hadis-hadis, dan menyeleksi sanad-sanad, sehingga
seorang perawi dapat menyempurnakan ilmunya tentang hadis dan para tokoh
perawinya (rijal).
Ibadah Haji merupakan salah satu ikatan terkuat yang
menghubungkan berbagai negeri Islam dengan kehidupan ilmiah di kedua kota ini.
Namun, hal itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah-wilayah yang luas
tersebut, sehingga banyak sahabat yang berpindah ke sana sebagai pemberi
petunjuk dan pengajar.
3. Pusat Hadis di Kufah:
Kufah adalah pangkalan militer bagi tentara Islam, oleh
karena itu sejumlah besar sahabat menetap di sana pada masa penaklukan dan
mayoritas dari mereka dimakamkan di sana. Di antara mereka adalah: Ali bin Abi
Thalib, Abdullah bin Mas'ud, Sa'ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid, Khabbab bin
al-Arat, Salman al-Farisi, Hudzaifah bin al-Yaman, Ammar bin Yasir, Abu Musa
al-Asy'ari, al-Bara' bin 'Azib, al-Mughirah bin Syu'bah, an-Nu'man bin Basyir,
Abu al-Thufail, Abu Juhaifah, dan sangat banyak yang lainnya ('Ulum al-Hadis
karya al-Hakim, hal. 191).
Kepemimpinan di pusat ini dipegang oleh Abdullah bin Mas'ud
karena kedalaman ilmunya dan lamanya beliau menetap di sana. Maka luluslah di
tangan beliau banyak muridnya, yang paling masyhur adalah: Masruq bin al-Ajda'
al-Hamdani, Ubaidah bin Amru al-Salmani (yang dikatakan oleh asy-Sya'bi:
"Ia setara dengan Syuraih dalam urusan peradilan"), al-Aswad bin
Yazid al-Nakha'i, Syuraih bin al-Harits al-Kindi (yang diangkat oleh Umar
menjadi hakim di Kufah dan terus menjabat hingga masa al-Hajjaj, lalu
mengundurkan diri setahun sebelum wafatnya), Ibrahim bin Yazid al-Nakha'i (ahli
fikih Irak), Said bin Jubair, serta Amir bin Syurahil asy-Sya'bi yang merupakan
ulama besar Tabi'in sekaligus seorang imam penghafal (hafidz). (I'lam
al-Muwaqqi'in 1-20).
4. Pusat Hadis di Bashrah:
Pemimpin di pusat ini adalah Anas bin Malik radhiyallahu
'anhu. Banyak sahabat lain yang juga menetap di sana, di antaranya: Ibnu
Abbas (pernah menjadi gubernur di sana pada masa Ali), Utbah bin Ghazwan, Imran
bin Hushain, Abu Barzah al-Aslami, Ma'qil bin Yasar, Abu Bakrah, Abdurrahman
bin Samurah, Abdullah bin al-Syikhkhir, Jariyah bin Qudamah, dan lain-lain ('Ulum
al-Hadis karya al-Hakim, hal. 191).
Dari pusat ini, luluslah para Tabi'in seperti: Abu
al-'Aliyah Rafii' bin Mehran al-Riyahi, al-Hasan al-Bashri (yang menjumpai lima
ratus orang sahabat), Muhammad bin Sirin, Abu al-Sya'tsa' Jabir bin Zaid (murid
Ibnu Abbas), Qatadah bin Di'amah al-Sadusi, Mutharrif bin Abdullah bin
al-Syikhkhir, Abu Burdah bin Abi Musa, dan masih banyak lagi yang lainnya.
5. Pusat (Rumah) Hadis di Syam:
Ketika kaum muslimin menaklukkan Syam, banyak penduduknya
yang masuk Islam. Para Khalifah menaruh perhatian besar terhadap wilayah ini,
sehingga mereka mengutus para sahabat yang utama ke sana, seperti Mu'adz bin
Jabal yang memiliki kedudukan ilmiah yang sangat tinggi. Beliau adalah utusan
Nabi ﷺ ke Yaman, menjadi
khalifah (wakil) beliau bagi penduduk Makkah untuk mengajarkan halal dan haram,
serta menjadi utusan Umar ke Syam untuk memberikan pemahaman dalam agama Allah.
Ibnu Sa'ad meriwayatkan dalam al-Thabaqat dari Abu
Muslim al-Khawlani, ia berkata: "Aku masuk ke masjid Homs, ternyata di
sana terdapat sekitar tiga puluh orang tua dari kalangan sahabat Nabi ﷺ. Di antara mereka ada
seorang pemuda yang matanya bercelak, giginya putih berkilau, ia diam dan tidak
berbicara. Namun, jika orang-orang berselisih tentang sesuatu, mereka berpaling
kepadanya dan bertanya kepadanya. Aku bertanya kepada orang yang duduk di
sampingku, 'Siapa orang ini?' Ia menjawab, 'Mu'adz bin Jabal'."
Ibnu Sa'ad juga meriwayatkan dari Umar bin Khattab bahwa
beliau berkata saat Mu'adz berangkat ke Syam: "Keberangkatannya
benar-benar meninggalkan kekosongan di Madinah dan bagi penduduknya dalam hal
fikih serta fatwa yang biasa ia berikan kepada mereka. Sungguh, aku telah
berbicara kepada Abu Bakar rahimahullah agar menahannya (di Madinah)
karena kebutuhan manusia kepadanya, namun beliau menolak permintaanku dan
berkata, 'Seorang pria yang menginginkan jihad dan mengharapkan syahadah, maka
aku tidak akan menahannya.' Maka aku (Umar) berkata, 'Demi Allah, sungguh
seseorang akan dikaruniai syahadah meskipun ia berada di atas tempat
tidurnya'."
Di antara yang paling masyhur melakukan pengajaran di
wilayah ini juga adalah Ubadah bin al-Shamit, yang istimewa karena telah
menghimpun Al-Qur'an. Beliau termasuk orang yang paling paham dalam agama,
sangat tegas dalam kebenaran, dan tidak takut akan celaan orang yang mencela
dalam membela Allah. Beliau banyak mengkritik Muawiyah dalam berbagai
urusannya. Di antaranya juga adalah Abu al-Darda' al-Anshari yang terhitung
sebagai ahli fikih di kalangan sahabat dan penghafal hadis. Umar mengutus
keduanya bersama Mu'adz ke Syam untuk memenuhi permintaan Yazid bin Abi Sufyan,
karena ia menulis surat kepada Umar bin Khattab: "Penduduk Syam sangat
membutuhkan orang yang mengajarkan mereka Al-Qur'an dan memberikan pemahaman
agama kepada mereka, maka utuslah Mu'adz, Ubadah, dan Abu al-Darda'."
Al-Bukhari menyebutkan hal itu dalam Tarikh-nya. Mereka inilah yang
menjadi batu penjuru dalam gerakan ilmiah dan penyebaran Sunnah Muhammadiah di
pelosok negeri tersebut.
Umar juga mengutus Abdurrahman bin Ghanm untuk tugas yang
sama, dan ia biasa disebut sebagai "Sahabat Mu'adz" karena saking
seringnya mendampingi beliau, meskipun ada perbedaan pendapat mengenai status
kesahabatannya. Selain mereka, banyak sahabat lain yang tersebar di Syam
sebagai pemberi petunjuk dan pengajar, di antaranya Syurahbil bin Hasanah,
al-Fadhl bin al-Abbas bin Abdul Muthalib—al-Hakim meriwayatkan bahwa beliau
dimakamkan di Yordania—Abu Malik al-Asy'ari, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Melalui bimbingan mereka, luluslah banyak Tabi'in di berbagai sekolah di Syam,
di antaranya Abu Idris al-Khawlani 'A'idullah, Qabishah bin Dzuaib, Makhul bin
Abi Muslim, dan Raja' bin Haiwah al-Kindi, seorang ulama yang terpercaya (tsiqah)
dan utama.
6. Pusat Hadis di Mesir:
Kaum muslimin menaklukkan Mesir sehingga banyak penduduknya
masuk Islam. Demikian pula, banyak sahabat yang menetap di sana untuk
menyebarkan hukum-hukum agama dan ajarannya. Yang paling masyhur di antara
mereka adalah Abdullah bin Amr bin al-Ash, yang merupakan salah satu sahabat
yang paling banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah ﷺ. Beliau juga memiliki keistimewaan
dibanding sahabat lainnya dengan menulis apa yang ia dengar dari Rasulullah ﷺ. Abdullah berangkat
bersama ayahnya, Amr bin al-Ash, ke Mesir ketika Muawiyah mengangkat ayahnya
sebagai gubernur di sana. Setelah Amr wafat, putranya Abdullah tetap tinggal
menetap di Mesir; beliau melakukan haji dan umrah lalu kembali ke sana hingga
wafat di sana menurut sebagian pendapat.
Selain Abdullah bin Amr, banyak sahabat lain yang menetap di
Mesir dan menjalankan tugas pengajaran, serta banyak penduduk negeri itu yang
belajar fikih kepada mereka. Di antara sahabat tersebut adalah Uqbah bin Amir
al-Juhani, Kharijah bin Hudzaifah, Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh, Mahmiyah
bin Juz', Abdullah bin al-Harits bin Juz', Abu Bashrah al-Ghifari, Abu Sa'ad
al-Khair, Mu'adz bin Anas al-Juhani, dan lainnya, hingga Muhammad bin al-Rabi'
al-Jizi mengkhususkan penulisan buku tentang mereka. Jumlah mereka mencapai
seratus empat puluh sekian sahabat, sebagaimana ia juga mencantumkan
hadis-hadis mereka dalam karyanya tersebut ([1]).
Dari para sahabat ini, luluslah banyak Tabi'in, di antaranya
Abu al-Khair Martsad bin Abdullah al-Yazani (mufti penduduk Mesir) yang
meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, Abu Bashrah al-Ghifari, dan Uqbah bin
Amir al-Juhani. Di antara mereka juga adalah Yazid bin Abi Habib yang
meriwayatkan dari beberapa sahabat namun mayoritas riwayatnya dari Tabi'in; ia
berasal dari keturunan Barbar, ayahnya berasal dari Dongola, namun ia tumbuh
besar di Mesir.
Ini adalah ringkasan singkat tentang pusat-pusat ilmu dan
rumah-rumah hadis di negeri-negeri Islam yang paling masyhur pada masa itu,
yang menunjukkan kepada Anda kedudukan para sahabat ini dan para pengikut
mereka dalam menyebarkan dan meriwayatkan hadis.
No comments:
Post a Comment