Sunday, April 5, 2026

Sunnah dan Fase-Fasenya di Masa Nabi

Pembahasan Pertama: Kesiapan Para Sahabat dalam Menghafal Sunnah dan Menyebarkannya

Bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad berada dalam kebodohan yang pekat dan kesesatan yang buta. Kebodohan mereka telah mencapai puncaknya hingga mereka memahat batu menjadi berhala-berhala sebagai tuhan yang mereka sembah selain Allah. Kesesatan dan kekejaman mereka telah sampai pada titik di mana mereka membunuh anak-anak mereka sendiri karena takut akan aib atau kemiskinan. Kebiadaban mereka telah mencapai tahap di mana mereka mengobarkan peperangan hanya karena alasan yang paling sepele sekalipun. Fanatisme jahiliyah adalah sebagian dari sifat mereka, dan fanatisme kesukuan telah mengakar kuat dalam jiwa mereka; mereka menenggak khamar dan melakukan perjudian. Sering kali perang pecah di antara mereka selama bertahun-tahun hingga menghanguskan apa saja (melumatkan yang hijau maupun yang kering). Tidak ada penguasa yang mencegah mereka, dan tidak ada agama yang menghalangi mereka.

Secara singkat, mereka berada dalam fitnah yang kelam dan kegelapan yang berlapis-lapis, hingga Jazirah Arab menjerit karena peperangan yang terus-menerus, dan bumi mengadu kepada Tuhannya atas darah yang tertumpah ini. Jiwa-jiwa pun merindukan sosok yang dapat mengangkat mereka dari kegelapan kebingungan dan menyelamatkan mereka dari pelukan kebodohan dan kebuasan. Mereka mencoba mencari jalan keluar dari kondisi tersebut namun tidak mampu, ibarat orang yang menjulurkan kedua telapak tangannya ke air agar sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya.

Maka, merupakan bagian dari rahmat Allah kepada mereka dan kepada kemanusiaan seluruhnya, bahwa Dia mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah. Rasul ini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, manusia yang paling mulia nasabnya dan yang paling terhormat asal-usul serta garis keturunannya di kalangan Quraisy. Rasulullah memulai dakwah kepada Allah secara sembunyi-sembunyi agar tidak mengejutkan kaum tersebut saat mereka masih tenggelam dalam kebodohan dan tersesat dalam penyimpangan sebagaimana yang telah kami gambarkan. Maka, pengikut beliau pada saat itu hanyalah beberapa individu yang jumlahnya tidak melebihi jemari tangan. Kemudian beliau menyuarakan dakwah kepada Allah Azza wa Jalla secara terang-terangan, sehingga banyak orang dari kalangan pemuka kaum yang masuk ke dalam agama ini. Mereka masuk Islam dengan keyakinan yang jelas, mendengarkan Kitab Tuhan mereka dan Sunnah Nabi mereka, sehingga kemanisan iman bercampur di dalam hati mereka. Terlebih lagi, mereka memang haus akan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka dari kegelapan syirik dan menunjuki mereka ke jalan-jalan keselamatan.

Islam pun menjumpai hati yang siap dan jiwa-jiwa yang sangat mendamba serta telah bersiap, sehingga Islam merasuk ke dalamnya dengan kemantapan yang sempurna, dan iman mengalir di dalam diri mereka seperti aliran darah di dalam urat nadi. Hal itu dikarenakan mereka mengetahui dari Rasulullah bahwa agama ini adalah sumber kebahagiaan mereka, simpul kemuliaan mereka, dan sebab kebangkitan mereka. Maka mereka memegang teguh agama ini dengan jari-jari mereka, mencintai Rasulullah dengan cinta yang melebihi cinta kepada ayah dan anak, serta mencurahkan perhatian sepenuhnya pada apa yang dibawa oleh beliau dari Al-Qur'an untuk mereka hafal, dan pada apa yang beliau sampaikan sebagai penjelasan bagi Al-Kitab atau pensyariatan hukum-hukum. Mereka mengumpulkannya di dalam dada-dada mereka dan menerapkannya dalam segala keadaan mereka. Kemudian terjadilah hijrah ke Madinah, sehingga peluang untuk mendengarkan Al-Qur'an dan menghadiri majelis-majelis Nabi menjadi semakin luas.

Para Sahabat Rasulullah menyadari kedudukan Sunnah dalam agama, bahwa ia adalah rukun kedua dalam bangunannya yang kokoh setelah Al-Kitab yang mulia. Mereka juga mengetahui wasiat Allah Ta'ala untuk mengikutinya dan peringatan-Nya yang keras dari menyelisihi Sunnah. Barangsiapa yang melalaikan urusannya atau meremehkan kedudukannya maka ia terhalang (dari kebaikan), dan barangsiapa yang menghafalnya serta mengamalkannya maka ia adalah orang yang bahagia lagi bersyukur.

Tidaklah tersembunyi bagi mereka bahwa Al-Qur'an yang mulia telah meninggikan derajat ilmu dan ulama, serta merendahkan kedudukan kebodohan dan orang-orang bodoh. Allah berfirman: "Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'" [QS. Az-Zumar: 9]. Allah juga berfirman: "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." [QS. Al-Mujadilah: 11]. Allah mendorong untuk mendalami agama (tafaqquh fiddin) dan menyampaikannya kepada manusia melalui firman-Nya: "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." [QS. At-Taubah: 122].

Demikian pula tidak tersembunyi bagi mereka ancaman yang keras atas tindakan menyembunyikan ilmu, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh semua makhluk yang dapat melaknat." [QS. Al-Baqarah: 159]. Sebagaimana ayat-ayat Al-Qur'an datang mendorong mereka untuk mempelajari agama dan hukum-hukumnya, mempelajarinya serta menyebarkannya, demikian pula hadis-hadis Nabawi datang membuat mereka mencintai kegiatan mengemban ilmu dan mendalami agama, memperingatkan mereka dari menyembunyikannya, serta mendorong untuk menyampaikannya kepada manusia.

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama." (Muttafaqun 'alaih). Beliau juga bersabda: "Dunia itu terlaknat, terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, serta orang yang berilmu atau orang yang belajar." (Hadis Hasan menurut Tirmidzi). "Semoga Allah memperindah (mencerahkan) rupa seseorang yang mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia dengar; betapa banyak orang yang disampaikan (berita) lebih paham daripada orang yang mendengar (langsung)." (Hadis Shahih menurut Tirmidzi). "Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). "Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka dia akan datang pada hari kiamat dengan dikekang oleh kekang dari api neraka." (HR. Abu Ya'la, dan para perawinya terpercaya). Ayat-ayat dan hadis-hadis dalam bab ini sangat banyak dan masyhur.

Ayat-ayat dan hadis-hadis ini telah menguasai perasaan para Sahabat, memenuhi akal pikiran mereka, dan memenuhi hati mereka dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya . Hal itu juga membakar semangat jiwa mereka untuk berilmu dan beramal, sehingga mereka tidak menyia-nyiakan upaya sedikit pun dalam menghafal hukum-hukum dan Sunnah-sunnah, serta mengorbankan harta dan jiwa mereka demi tujuan tersebut.

Di samping semangat keagamaan ini, terdapat kesiapan fitrah dan semangat alami, yaitu kemampuan menghafal, kekuatan ingatan, kecepatan berpikir, kecerdasan yang tajam, serta kejeniusan yang sempurna. Para Sahabat adalah bangsa Arab murni yang ummi (tidak membaca dan menulis), sehingga seluruh sandaran mereka adalah pada bakat hafalan dan kekuatan mereka dalam hal tersebut. Ambillah contoh dari keadaan mereka di masa jahiliyah; mereka menghafal nasab-nasab, keutamaan-keutamaan, syair-syair, serta pidato-pidato mereka. Sering kali terjadi di antara mereka aksi saling membanggakan nasab dan kemuliaan, di mana mereka tidak dibantu oleh apa pun kecuali lisan yang menggerakkan apa yang telah mereka hafal dari berita-berita tentang mereka dan lawan-lawan mereka, yang dapat meninggikan derajat mereka dan menjatuhkan martabat musuh mereka.

Maka, setiap individu dari mereka—sesuai dengan kadar hafalan dan kekuatan daya serapnya—adalah juru bicara bagi sukunya, yang meninggikan derajat sukunya dan berbicara tentang kebanggaan serta kemuliaan nasabnya. Kaum yang berada di belakangnya seolah-olah adalah catatan yang penuh dengan peristiwa dan berita, serta buku yang sarat dengan sejarah dan peninggalan. Kecintaan mereka untuk membanggakan kemuliaan dan nasab, serta saling mencela dengan aib dan julukan—ditambah dengan fanatisme kesukuan yang tertanam kuat—telah membantu mereka dalam kemahiran menghafal dan ketepatan (dhobth), serta kekuatan ingatan yang tidak dimiliki oleh umat mana pun.

Seolah-olah Allah dengan kekuasaan-Nya yang maha tinggi telah menyiapkan umat Arab ini dengan kesiapan yang luar biasa sebagai pendahulu (irhash) bagi kenabian Muhammad . Maka, dada-dada yang menghafal ini menjadi tempat bersemayamnya ayat-ayat Al-Qur'an, dan hati-hati yang sadar ini menjadi wadah bagi hadis-hadis Nabi yang mulia. Para Sahabat yang mulia ini pun bergegas menerima hadis Rasulullah dengan ketamakan yang besar dan kerinduan yang tinggi, dan melalui mereka Allah memenangkan agama-Nya di atas segala agama, dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku.

Ya, kedua faktor ini—faktor spiritual dan faktor fitrah—saling bekerja sama, sehingga kaum tersebut menghasilkan apa yang tidak pernah dihasilkan oleh satu umat pun sejak Allah Ta'ala mengutus para Rasul-Nya kepada makhluk. Mereka menjaga Kitab Tuhan mereka dan Sunnah Nabi mereka, serta menjadikan syariat-Nya sebagai pelita dalam urusan kehidupan dunia maupun akhirat mereka, dan menyampaikannya kepada manusia sebagaimana aslinya, dalam keadaan yang masih murni dan segar.

Pembahasan Kedua: Majelis-Majelis Ilmu Nabi

Engkau telah melihat pada pembahasan sebelumnya bagaimana Nabi menjelaskan hukum-hukum Al-Qur'an yang mulia, dan kami telah memaparkan contoh-contoh yang menjelaskan tugas beliau dalam penyampaian (tabligh) dan penjelasan (bayan). Nabi tidak memiliki gedung sekolah yang megah, tidak pula institut pendidikan khusus tempat beliau duduk bersama para sahabatnya. Akan tetapi, majelis-majelis ilmu beliau berlangsung dalam segala situasi yang memungkinkan. Saat berada di tengah pasukan, beliau adalah seorang pengajar dan pemberi nasihat yang membakar semangat hati dengan petuahnya dan mengobarkan keberanian prajurit dengan perkataannya. Dalam perjalanan, beliau adalah pembimbing dan penunjuk jalan. Di dalam rumah, beliau mengajar keluarganya. Di dalam masjid, beliau adalah guru, khatib, hakim, dan pemberi fatwa. Di tengah jalan sekalipun, orang yang paling lemah di antara manusia bisa menghentikan langkah beliau untuk bertanya tentang urusan agamanya, maka beliau pun berhenti. Beliau dalam segala keadaannya adalah pembimbing, penasihat, dan pengajar.

Namun demikian, beliau sering kali duduk bersama para sahabatnya dalam majelis-majelis ilmu di masjid, tempat di mana mereka berkumpul di sebagian besar waktu untuk menunaikan salat fardu. Beliau mengatur waktu bagi mereka untuk memberikan nasihat demi nasihat dan pelajaran demi pelajaran agar mereka tidak merasa jenuh dan bosan. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: "Nabi mengatur waktu bagi kami dalam memberikan nasihat pada hari-hari tertentu karena khawatir kami akan merasa bosan." Dalam majelis-majelis ini, beliau mencurahkan kepada para sahabatnya kata-kata yang baik, ilmu yang bermanfaat, dan petunjuk yang lurus yang melapangkan dada mereka dan memenuhi hati mereka. Mereka pun membawa anak-anak mereka ke majelis Rasulullah untuk mendengarkan hadis beliau dan belajar adab dari akhlak beliau. Beliau sering kali dimintai fatwa lalu beliau berfatwa, atau ditanya lalu menjawab, atau terjadi suatu peristiwa di hadapan beliau lalu beliau menyingkap hukum Allah di dalamnya, atau turun kepada beliau ayat Al-Qur'an lalu beliau menjelaskan maksud Allah darinya, atau terjadi suatu perbuatan dari sebagian sahabat yang belum diketahui hukumnya lalu beliau diam sebagai tanda bahwa hal itu diperbolehkan dalam agama.

Janganlah engkau mengira bahwa Rasulullah adalah seorang raja yang tertutup dari rakyatnya atau penguasa yang merasa tinggi untuk berbaur dengan individu umatnya. Sebaliknya, beliau justru berada di tengah-tengah mereka; menyampaikan risalah Tuhannya, menjenguk yang sakit, mengantarkan jenazah, memutuskan perkara mereka, menuntaskan perselisihan, dan menghilangkan perbedaan di antara mereka. Dalam semua itu, para sahabat menghadap kepada beliau dengan telinga yang menyimak dan hati yang sadar.

Meskipun demikian, tingkat kehadiran para sahabat radhiyallahu 'anhum dalam majelis ilmu beliau tidaklah sama. Di antara mereka ada yang senantiasa menyertai beliau dan tidak pernah absen baik saat mukim maupun safar, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma. Ada pula yang absen pada waktu-waktu tertentu untuk mengurusi kepentingan nafkah mereka seperti bertani, berdagang, dan sejenisnya, atau pergi dalam satuan tugas militer (sariyah), dan lain sebagainya. Meski begitu, mereka sangat haus akan pelajaran Nabi yang terlewatkan; jika mereka telah hadir, mereka akan bertanya dan mencari penjelasan. Ada pula sahabat yang saking kuatnya keinginan mereka terhadap hadis Rasulullah , mereka bergantian menghadiri majelis beliau dengan tetangganya; yang satu hadir di satu hari dan yang lain hadir di hari berikutnya, kemudian masing-masing mengabarkan kepada temannya apa yang didengarnya pada hari itu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Umar bin Khattab bahwa ia dan seorang tetangganya dari kalangan Ansar bergantian menghadiri majelis Rasulullah , dan masing-masing saling mengabarkan apa yang dilihat atau didengarnya.

Adapun bagi mereka yang jarak tempat tinggalnya jauh, jika tertimpa suatu masalah dan sulit menemukan solusinya, mereka akan memacu unta menempuh perjalanan jauh menuju kota Rasulullah untuk mengetahui hukum Allah atas peristiwa yang mereka hadapi. Terkadang mereka menghabiskan waktu berhari-hari dan bermalam-malam dalam perjalanan tersebut. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Uqbah bin al-Harits, bahwa ia dikabari oleh seorang wanita bahwa wanita itu telah menyusui dirinya dan istrinya. Maka ia segera berangkat—saat itu ia berada di Mekkah—menuju Madinah hingga sampai kepada Rasulullah . Ia bertanya kepada beliau tentang hukum Allah mengenai seseorang yang menikahi wanita yang tidak ia ketahui bahwa wanita itu adalah saudara sepersusuannya, kemudian wanita yang menyusui keduanya mengabarkan hal itu. Maka Nabi bersabda kepadanya: "Bagaimana mungkin (tetap diteruskan) padahal hal itu telah dikatakan?" Maka Uqbah pun seketika itu juga menceraikan istrinya.

Nabi mengetahui bahwa para sahabatnya akan menggantikan posisi beliau sepeninggalnya nanti, dan tanggung jawab bimbingan serta pengajaran akan dipikul di pundak mereka. Oleh karena itu, dalam pelajaran-pelajaran beliau, beliau menerapkan hal-hal yang memberikan pengaruh besar dalam mengarahkan para sahabat dan mengajarkan mereka bagaimana memikul tugas pengajaran di kemudian hari. Mari kami sebutkan contoh-contoh dari petunjuk pengajaran beliau yang menjadi pelita petunjuk bagi para sahabatnya radhiyallahu 'anhum:

  • Di antara petunjuk pengajaran beliau adalah: Jika beliau ditanya tentang sesuatu yang belum beliau ketahui, beliau diam menunggu wahyu dari Allah mengenai hal tersebut.
  • Di antara petunjuk beliau adalah: Jika beliau mengucapkan suatu kalimat, beliau mengulanginya tiga kali hingga dapat dipahami dengan baik.
  • Di antara petunjuk beliau adalah: Terkadang beliau melontarkan suatu masalah kepada para sahabatnya untuk menguji sejauh mana ilmu yang mereka miliki dan untuk mengasah ketajaman pikiran mereka agar paham.
  • Jika beliau ditanya tentang suatu masalah lalu menjawabnya, terkadang beliau menambah penjelasan pada masalah-masalah lain yang sesuai dengan konteks atau berkaitan dengan jawaban tersebut, beliau menguraikannya lebih lanjut untuk memberikan ilmu baru bagi penanya dan hadirin.
  • Beliau mengatur waktu dalam memberikan nasihat karena tidak suka jika mereka bosan. Hingga ketika murid-murid Ibnu Mas'ud meminta beliau mengajar setiap hari, beliau menolak dan berkata: "Sesungguhnya aku mengatur waktu pemberian nasihat kepada kalian sebagaimana Rasulullah mengatur waktu bagi kami karena khawatir kami akan merasa bosan."
  • Beliau mengkhususkan sebagian sahabat dengan ilmu tertentu dan tidak kepada yang lain, karena khawatir mereka tidak memahaminya sehingga justru menjadi fitnah (kebingungan).

Serta contoh-contoh lainnya yang jika kita telusuri dalam hadis Rasulullah , kita akan menemukan sebuah metode yang bijaksana dalam membimbing para sahabat, hingga mereka menjadi guru-guru dalam pendidikan dan pemegang amanah atas hukum-hukum agama, sebagaimana yang akan engkau ketahui saat pembahasan mengenai Sunnah pada periode kedua, insya Allah.

No comments:

Post a Comment

Al Ikhtilaf Wa Adabuhu