Pembahasan Pertama: Kesiapan Para Sahabat dalam Menghafal Sunnah dan Menyebarkannya
Bangsa Arab sebelum diutusnya Nabi Muhammad berada dalam
kebodohan yang pekat dan kesesatan yang buta. Kebodohan mereka telah mencapai
puncaknya hingga mereka memahat batu menjadi berhala-berhala sebagai tuhan yang
mereka sembah selain Allah. Kesesatan dan kekejaman mereka telah sampai pada
titik di mana mereka membunuh anak-anak mereka sendiri karena takut akan aib
atau kemiskinan. Kebiadaban mereka telah mencapai tahap di mana mereka
mengobarkan peperangan hanya karena alasan yang paling sepele sekalipun.
Fanatisme jahiliyah adalah sebagian dari sifat mereka, dan fanatisme kesukuan
telah mengakar kuat dalam jiwa mereka; mereka menenggak khamar dan melakukan
perjudian. Sering kali perang pecah di antara mereka selama bertahun-tahun
hingga menghanguskan apa saja (melumatkan yang hijau maupun yang kering). Tidak
ada penguasa yang mencegah mereka, dan tidak ada agama yang menghalangi mereka.
Secara singkat, mereka berada dalam fitnah yang kelam dan
kegelapan yang berlapis-lapis, hingga Jazirah Arab menjerit karena peperangan
yang terus-menerus, dan bumi mengadu kepada Tuhannya atas darah yang tertumpah
ini. Jiwa-jiwa pun merindukan sosok yang dapat mengangkat mereka dari kegelapan
kebingungan dan menyelamatkan mereka dari pelukan kebodohan dan kebuasan.
Mereka mencoba mencari jalan keluar dari kondisi tersebut namun tidak mampu,
ibarat orang yang menjulurkan kedua telapak tangannya ke air agar sampai ke
mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya.
Maka, merupakan bagian dari rahmat Allah kepada mereka dan
kepada kemanusiaan seluruhnya, bahwa Dia mengutus di tengah-tengah mereka
seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya
kepada mereka, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan
Al-Hikmah. Rasul ini adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, manusia
yang paling mulia nasabnya dan yang paling terhormat asal-usul serta garis
keturunannya di kalangan Quraisy. Rasulullah ﷺ memulai dakwah kepada Allah secara
sembunyi-sembunyi agar tidak mengejutkan kaum tersebut saat mereka masih
tenggelam dalam kebodohan dan tersesat dalam penyimpangan sebagaimana yang
telah kami gambarkan. Maka, pengikut beliau pada saat itu hanyalah beberapa
individu yang jumlahnya tidak melebihi jemari tangan. Kemudian beliau
menyuarakan dakwah kepada Allah Azza wa Jalla secara terang-terangan, sehingga
banyak orang dari kalangan pemuka kaum yang masuk ke dalam agama ini. Mereka
masuk Islam dengan keyakinan yang jelas, mendengarkan Kitab Tuhan mereka dan
Sunnah Nabi mereka, sehingga kemanisan iman bercampur di dalam hati mereka.
Terlebih lagi, mereka memang haus akan sesuatu yang dapat menyelamatkan mereka
dari kegelapan syirik dan menunjuki mereka ke jalan-jalan keselamatan.
Islam pun menjumpai hati yang siap dan jiwa-jiwa yang sangat
mendamba serta telah bersiap, sehingga Islam merasuk ke dalamnya dengan
kemantapan yang sempurna, dan iman mengalir di dalam diri mereka seperti aliran
darah di dalam urat nadi. Hal itu dikarenakan mereka mengetahui dari Rasulullah
ﷺ bahwa agama ini
adalah sumber kebahagiaan mereka, simpul kemuliaan mereka, dan sebab
kebangkitan mereka. Maka mereka memegang teguh agama ini dengan jari-jari
mereka, mencintai Rasulullah dengan cinta yang melebihi cinta kepada ayah dan
anak, serta mencurahkan perhatian sepenuhnya pada apa yang dibawa oleh beliau
dari Al-Qur'an untuk mereka hafal, dan pada apa yang beliau sampaikan sebagai
penjelasan bagi Al-Kitab atau pensyariatan hukum-hukum. Mereka mengumpulkannya
di dalam dada-dada mereka dan menerapkannya dalam segala keadaan mereka.
Kemudian terjadilah hijrah ke Madinah, sehingga peluang untuk mendengarkan
Al-Qur'an dan menghadiri majelis-majelis Nabi ﷺ menjadi semakin luas.
Para Sahabat Rasulullah ﷺ menyadari kedudukan Sunnah dalam agama,
bahwa ia adalah rukun kedua dalam bangunannya yang kokoh setelah Al-Kitab yang
mulia. Mereka juga mengetahui wasiat Allah Ta'ala untuk mengikutinya dan
peringatan-Nya yang keras dari menyelisihi Sunnah. Barangsiapa yang melalaikan
urusannya atau meremehkan kedudukannya maka ia terhalang (dari kebaikan), dan
barangsiapa yang menghafalnya serta mengamalkannya maka ia adalah orang yang
bahagia lagi bersyukur.
Tidaklah tersembunyi bagi mereka bahwa Al-Qur'an yang mulia
telah meninggikan derajat ilmu dan ulama, serta merendahkan kedudukan kebodohan
dan orang-orang bodoh. Allah berfirman: "Katakanlah: 'Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?'"
[QS. Az-Zumar: 9]. Allah juga berfirman: "Allah akan meninggikan
orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat." [QS. Al-Mujadilah: 11]. Allah mendorong
untuk mendalami agama (tafaqquh fiddin) dan menyampaikannya kepada
manusia melalui firman-Nya: "Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang
mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap
golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka
tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah
kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya." [QS.
At-Taubah: 122].
Demikian pula tidak tersembunyi bagi mereka ancaman yang
keras atas tindakan menyembunyikan ilmu, sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya
orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa
keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya
kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat (pula)
oleh semua makhluk yang dapat melaknat." [QS. Al-Baqarah: 159].
Sebagaimana ayat-ayat Al-Qur'an datang mendorong mereka untuk mempelajari agama
dan hukum-hukumnya, mempelajarinya serta menyebarkannya, demikian pula
hadis-hadis Nabawi datang membuat mereka mencintai kegiatan mengemban ilmu dan mendalami
agama, memperingatkan mereka dari menyembunyikannya, serta mendorong untuk
menyampaikannya kepada manusia.
Nabi ﷺ
bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia
akan memahamkannya dalam urusan agama." (Muttafaqun 'alaih). Beliau
juga bersabda: "Dunia itu terlaknat, terlaknat pula apa yang ada di
dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa yang berkaitan dengannya, serta
orang yang berilmu atau orang yang belajar." (Hadis Hasan menurut
Tirmidzi). "Semoga Allah memperindah (mencerahkan) rupa seseorang yang
mendengar sesuatu dari kami lalu dia menyampaikannya sebagaimana yang dia
dengar; betapa banyak orang yang disampaikan (berita) lebih paham daripada
orang yang mendengar (langsung)." (Hadis Shahih menurut Tirmidzi). "Barangsiapa
menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga." (HR. Muslim). "Barangsiapa yang ditanya
tentang suatu ilmu lalu dia menyembunyikannya, maka dia akan datang pada hari
kiamat dengan dikekang oleh kekang dari api neraka." (HR. Abu Ya'la,
dan para perawinya terpercaya). Ayat-ayat dan hadis-hadis dalam bab ini sangat
banyak dan masyhur.
Ayat-ayat dan hadis-hadis ini telah menguasai perasaan para
Sahabat, memenuhi akal pikiran mereka, dan memenuhi hati mereka dengan cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Hal itu juga membakar semangat jiwa mereka untuk berilmu dan beramal, sehingga
mereka tidak menyia-nyiakan upaya sedikit pun dalam menghafal hukum-hukum dan
Sunnah-sunnah, serta mengorbankan harta dan jiwa mereka demi tujuan tersebut.
Di samping semangat keagamaan ini, terdapat kesiapan fitrah
dan semangat alami, yaitu kemampuan menghafal, kekuatan ingatan, kecepatan
berpikir, kecerdasan yang tajam, serta kejeniusan yang sempurna. Para Sahabat
adalah bangsa Arab murni yang ummi (tidak membaca dan menulis), sehingga
seluruh sandaran mereka adalah pada bakat hafalan dan kekuatan mereka dalam hal
tersebut. Ambillah contoh dari keadaan mereka di masa jahiliyah; mereka
menghafal nasab-nasab, keutamaan-keutamaan, syair-syair, serta pidato-pidato
mereka. Sering kali terjadi di antara mereka aksi saling membanggakan nasab dan
kemuliaan, di mana mereka tidak dibantu oleh apa pun kecuali lisan yang
menggerakkan apa yang telah mereka hafal dari berita-berita tentang mereka dan
lawan-lawan mereka, yang dapat meninggikan derajat mereka dan menjatuhkan
martabat musuh mereka.
Maka, setiap individu dari mereka—sesuai dengan kadar
hafalan dan kekuatan daya serapnya—adalah juru bicara bagi sukunya, yang
meninggikan derajat sukunya dan berbicara tentang kebanggaan serta kemuliaan
nasabnya. Kaum yang berada di belakangnya seolah-olah adalah catatan yang penuh
dengan peristiwa dan berita, serta buku yang sarat dengan sejarah dan
peninggalan. Kecintaan mereka untuk membanggakan kemuliaan dan nasab, serta
saling mencela dengan aib dan julukan—ditambah dengan fanatisme kesukuan yang tertanam
kuat—telah membantu mereka dalam kemahiran menghafal dan ketepatan (dhobth),
serta kekuatan ingatan yang tidak dimiliki oleh umat mana pun.
Seolah-olah Allah dengan kekuasaan-Nya yang maha tinggi
telah menyiapkan umat Arab ini dengan kesiapan yang luar biasa sebagai
pendahulu (irhash) bagi kenabian Muhammad ﷺ. Maka, dada-dada yang menghafal ini
menjadi tempat bersemayamnya ayat-ayat Al-Qur'an, dan hati-hati yang sadar ini
menjadi wadah bagi hadis-hadis Nabi yang mulia. Para Sahabat yang mulia ini pun
bergegas menerima hadis Rasulullah dengan ketamakan yang besar dan kerinduan
yang tinggi, dan melalui mereka Allah memenangkan agama-Nya di atas segala
agama, dan ketetapan Allah itu adalah suatu ketetapan yang pasti berlaku.
Ya, kedua faktor ini—faktor spiritual dan faktor
fitrah—saling bekerja sama, sehingga kaum tersebut menghasilkan apa yang tidak
pernah dihasilkan oleh satu umat pun sejak Allah Ta'ala mengutus para Rasul-Nya
kepada makhluk. Mereka menjaga Kitab Tuhan mereka dan Sunnah Nabi mereka, serta
menjadikan syariat-Nya sebagai pelita dalam urusan kehidupan dunia maupun
akhirat mereka, dan menyampaikannya kepada manusia sebagaimana aslinya, dalam
keadaan yang masih murni dan segar.
Pembahasan Kedua: Majelis-Majelis Ilmu Nabi ﷺ
Engkau telah melihat pada pembahasan sebelumnya bagaimana
Nabi ﷺ menjelaskan
hukum-hukum Al-Qur'an yang mulia, dan kami telah memaparkan contoh-contoh yang
menjelaskan tugas beliau ﷺ
dalam penyampaian (tabligh) dan penjelasan (bayan). Nabi ﷺ tidak memiliki gedung
sekolah yang megah, tidak pula institut pendidikan khusus tempat beliau duduk
bersama para sahabatnya. Akan tetapi, majelis-majelis ilmu beliau berlangsung
dalam segala situasi yang memungkinkan. Saat berada di tengah pasukan, beliau
adalah seorang pengajar dan pemberi nasihat yang membakar semangat hati dengan
petuahnya dan mengobarkan keberanian prajurit dengan perkataannya. Dalam
perjalanan, beliau adalah pembimbing dan penunjuk jalan. Di dalam rumah, beliau
mengajar keluarganya. Di dalam masjid, beliau adalah guru, khatib, hakim, dan
pemberi fatwa. Di tengah jalan sekalipun, orang yang paling lemah di antara
manusia bisa menghentikan langkah beliau untuk bertanya tentang urusan
agamanya, maka beliau pun berhenti. Beliau dalam segala keadaannya adalah
pembimbing, penasihat, dan pengajar.
Namun demikian, beliau sering kali duduk bersama para
sahabatnya dalam majelis-majelis ilmu di masjid, tempat di mana mereka
berkumpul di sebagian besar waktu untuk menunaikan salat fardu. Beliau mengatur
waktu bagi mereka untuk memberikan nasihat demi nasihat dan pelajaran demi
pelajaran agar mereka tidak merasa jenuh dan bosan. Al-Bukhari meriwayatkan
dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa ia berkata: "Nabi ﷺ mengatur waktu bagi
kami dalam memberikan nasihat pada hari-hari tertentu karena khawatir kami akan
merasa bosan." Dalam majelis-majelis ini, beliau ﷺ mencurahkan kepada
para sahabatnya kata-kata yang baik, ilmu yang bermanfaat, dan petunjuk yang
lurus yang melapangkan dada mereka dan memenuhi hati mereka. Mereka pun membawa
anak-anak mereka ke majelis Rasulullah ﷺ untuk mendengarkan hadis beliau dan
belajar adab dari akhlak beliau. Beliau ﷺ sering kali dimintai fatwa lalu beliau
berfatwa, atau ditanya lalu menjawab, atau terjadi suatu peristiwa di hadapan
beliau lalu beliau menyingkap hukum Allah di dalamnya, atau turun kepada beliau
ayat Al-Qur'an lalu beliau menjelaskan maksud Allah darinya, atau terjadi suatu
perbuatan dari sebagian sahabat yang belum diketahui hukumnya lalu beliau diam
sebagai tanda bahwa hal itu diperbolehkan dalam agama.
Janganlah engkau mengira bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang raja
yang tertutup dari rakyatnya atau penguasa yang merasa tinggi untuk berbaur
dengan individu umatnya. Sebaliknya, beliau justru berada di tengah-tengah
mereka; menyampaikan risalah Tuhannya, menjenguk yang sakit, mengantarkan
jenazah, memutuskan perkara mereka, menuntaskan perselisihan, dan menghilangkan
perbedaan di antara mereka. Dalam semua itu, para sahabat menghadap kepada
beliau dengan telinga yang menyimak dan hati yang sadar.
Meskipun demikian, tingkat kehadiran para sahabat
radhiyallahu 'anhum dalam majelis ilmu beliau tidaklah sama. Di antara mereka
ada yang senantiasa menyertai beliau dan tidak pernah absen baik saat mukim
maupun safar, sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Abu Hurairah
radhiyallahu 'anhuma. Ada pula yang absen pada waktu-waktu tertentu untuk
mengurusi kepentingan nafkah mereka seperti bertani, berdagang, dan sejenisnya,
atau pergi dalam satuan tugas militer (sariyah), dan lain sebagainya.
Meski begitu, mereka sangat haus akan pelajaran Nabi ﷺ yang terlewatkan; jika mereka telah hadir,
mereka akan bertanya dan mencari penjelasan. Ada pula sahabat yang saking
kuatnya keinginan mereka terhadap hadis Rasulullah ﷺ, mereka bergantian menghadiri majelis
beliau dengan tetangganya; yang satu hadir di satu hari dan yang lain hadir di
hari berikutnya, kemudian masing-masing mengabarkan kepada temannya apa yang
didengarnya pada hari itu. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Shahih
al-Bukhari dari Umar bin Khattab bahwa ia dan seorang tetangganya dari kalangan
Ansar bergantian menghadiri majelis Rasulullah ﷺ, dan masing-masing saling mengabarkan apa
yang dilihat atau didengarnya.
Adapun bagi mereka yang jarak tempat tinggalnya jauh, jika
tertimpa suatu masalah dan sulit menemukan solusinya, mereka akan memacu unta
menempuh perjalanan jauh menuju kota Rasulullah ﷺ untuk mengetahui hukum Allah atas
peristiwa yang mereka hadapi. Terkadang mereka menghabiskan waktu berhari-hari
dan bermalam-malam dalam perjalanan tersebut. Al-Bukhari meriwayatkan dalam
Shahih-nya dari Uqbah bin al-Harits, bahwa ia dikabari oleh seorang wanita
bahwa wanita itu telah menyusui dirinya dan istrinya. Maka ia segera
berangkat—saat itu ia berada di Mekkah—menuju Madinah hingga sampai kepada
Rasulullah ﷺ.
Ia bertanya kepada beliau tentang hukum Allah mengenai seseorang yang menikahi
wanita yang tidak ia ketahui bahwa wanita itu adalah saudara sepersusuannya,
kemudian wanita yang menyusui keduanya mengabarkan hal itu. Maka Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Bagaimana
mungkin (tetap diteruskan) padahal hal itu telah dikatakan?" Maka
Uqbah pun seketika itu juga menceraikan istrinya.
Nabi ﷺ
mengetahui bahwa para sahabatnya akan menggantikan posisi beliau sepeninggalnya
nanti, dan tanggung jawab bimbingan serta pengajaran akan dipikul di pundak
mereka. Oleh karena itu, dalam pelajaran-pelajaran beliau, beliau menerapkan
hal-hal yang memberikan pengaruh besar dalam mengarahkan para sahabat dan
mengajarkan mereka bagaimana memikul tugas pengajaran di kemudian hari. Mari
kami sebutkan contoh-contoh dari petunjuk pengajaran beliau yang menjadi pelita
petunjuk bagi para sahabatnya radhiyallahu 'anhum:
- Di
antara petunjuk pengajaran beliau ﷺ adalah: Jika
beliau ditanya tentang sesuatu yang belum beliau ketahui, beliau diam
menunggu wahyu dari Allah mengenai hal tersebut.
- Di
antara petunjuk beliau ﷺ
adalah: Jika beliau mengucapkan suatu kalimat, beliau mengulanginya tiga
kali hingga dapat dipahami dengan baik.
- Di
antara petunjuk beliau ﷺ
adalah: Terkadang beliau melontarkan suatu masalah kepada para sahabatnya
untuk menguji sejauh mana ilmu yang mereka miliki dan untuk mengasah
ketajaman pikiran mereka agar paham.
- Jika
beliau ditanya tentang suatu masalah lalu menjawabnya, terkadang beliau
menambah penjelasan pada masalah-masalah lain yang sesuai dengan konteks
atau berkaitan dengan jawaban tersebut, beliau menguraikannya lebih lanjut
untuk memberikan ilmu baru bagi penanya dan hadirin.
- Beliau
mengatur waktu dalam memberikan nasihat karena tidak suka jika mereka
bosan. Hingga ketika murid-murid Ibnu Mas'ud meminta beliau mengajar
setiap hari, beliau menolak dan berkata: "Sesungguhnya aku
mengatur waktu pemberian nasihat kepada kalian sebagaimana Rasulullah ﷺ
mengatur waktu bagi kami karena khawatir kami akan merasa bosan."
- Beliau
ﷺ
mengkhususkan sebagian sahabat dengan ilmu tertentu dan tidak kepada yang
lain, karena khawatir mereka tidak memahaminya sehingga justru menjadi
fitnah (kebingungan).
Serta contoh-contoh lainnya yang jika kita telusuri dalam hadis Rasulullah ﷺ, kita akan menemukan sebuah metode yang bijaksana dalam membimbing para sahabat, hingga mereka menjadi guru-guru dalam pendidikan dan pemegang amanah atas hukum-hukum agama, sebagaimana yang akan engkau ketahui saat pembahasan mengenai Sunnah pada periode kedua, insya Allah.
No comments:
Post a Comment