Adam,
sebuah nama untuk manusia pertama.
·
Ad-Dhahhak berpendapat
bahwa kata Adam (آدَم) berasal
dari kata al-udmah (الأدْمَة) yang berarti السُّمْرَةُ (coklat), dan Adam as
berkulit coklat.
·
Namun An-Nadhr berpendapat
bahwa al-udmah (الأدْمَة) berarti putih (البَيَاضُ) dan Adam as menurutnya
berkulit putih. Orang Arab berkata: نَاقَةٌ أَدْمَاء
(unta adma) jika warnanya putih. Bentuk plural (jamak) nya adalah udm
(أُدْمٌ) dan awaadim (أَوَادِمُ) seperti humr (حُمْرٌ) dan hawaamir (حَوَامِرُ).
·
Pendapat lain mengatakan
bahwa al-udmah berarti materi (zat). Udmatul ardhi (أُدْمَةُ الأَرْضِ) artinya zat yang berasal dari bumi yaitu tanah, dan Adam
as memang diciptakan dari tanah, sedangkan bentuk jamaknya adalah آدَمُوْنَ
(adamuun).
Pendapat terakhir ini adalah pendapat yang lebih kuat, Said bin Jubair berkata:
“Dinamakan Adam karena ia diciptakan dari materi tanah.”
Nama lain Adam adalah Insan dan kuniyah-nya[1]
adalah Abul Basyar. Kata Adam terulang dalam Al-Quran sebanyak 25
(dua puluh lima) kali, sembilan diantaranya dalam bentuk mudhaf ilaih
(disandarkan) dengan kata bani dan dzurriyyah, seperti dalam
firman Allah swt:
۞ يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ
عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا
يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ ࣖ
Hai anak Adam, pakailah
pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. (Al-A’raf (7): 31).[2]
Sedangkan kata al-insan
yang bermakna Adam as terulang sebanyak 3 (tiga) kali, salah satunya adalah
firman Allah swt:
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ
كَالْفَخَّارِ
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti
tembikar (Ar-Rahman (55): 14).[3]
Kata turaab (tanah)
yang menjadi asal penciptaan Adam as disebutkan 4 (empat) kali, diantaranya:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ
فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ …
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang
kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) Sesungguhnya Kami telah menjadikan
kamu dari tanah… (Al-hajj (22):5).[4]
Kata thiin (tanah)
disebutkan 6 (enam) kali, diantaranya:
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ طِيْنٍ
ثُمَّ قَضٰٓى اَجَلًا ۗوَاَجَلٌ مُّسَمًّى عِنْدَهٗ ثُمَّ اَنْتُمْ تَمْتَرُوْنَ
Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu
ditentukannya ajal (kematianmu). (Al-An’am (6):2).[5]
Kata khalifah yang terkait
dengan Adam as disebutkan sekali saja yaitu surat Al-Baqarah (2) ayat 30:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ
اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ …
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Sedangkan ayat-ayat yang
berbicara tentang kisah Adam as dan anak cucunya cukup banyak di dalam
Al-Quran. Beberapa hal penting yang perlu dibahas terkait dengan Nabi Adam as
adalah:
Hakikat Pertama: Materi
Penciptaannya
Materi penciptaan Adam as
adalah tanah. Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Allah swt mengutus satu
malaikat untuk mengambil tanah dari bumi dengan mencampurkan tanah dari
berbagai tempat di bumi. Dicampurkan antara tanah merah, putih dan hitam, oleh
karenanya anak keturunan Adam as pun berbeda warna kulitnya.
وَاللّٰهُ خَلَقَكُمْ مِّنْ تُرَابٍ
ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ جَعَلَكُمْ اَزْوَاجًاۗ وَمَا تَحْمِلُ مِنْ اُنْثٰى
وَلَا تَضَعُ اِلَّا بِعِلْمِهٖۗ وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُّعَمَّرٍ وَّلَا يُنْقَصُ
مِنْ عُمُرِهٖٓ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍۗ اِنَّ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرٌ
Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air
mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan).
(Fathir (35): 11).
Kemudian tanah itu dibasahi
dengan air sehingga bercampur satu dengan lainnya (thiin laazib), Allah
swt berfirman:
فَاسْتَفْتِهِمْ اَهُمْ اَشَدُّ خَلْقًا
اَمْ مَّنْ خَلَقْنَا ۗاِنَّا خَلَقْنٰهُمْ مِّنْ طِيْنٍ لَّازِبٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah
liat. (As-Shafat (37): 11).
Kemudian tanah itu
dibiarkan hingga kering (hingga bila diketuk menimbulkan suara karena amat
keringnya) dan berbau.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ
صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍۚ
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam)
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
(Al-Hijr (15): 26).
Lalu Allah swt
menyempurnakan dan membentuknya dengan kedua tangan-Nya, meniupkan ruh dari
sisi-Nya serta menjadikan baginya pendengaran, penglihatan dan akal pikiran
sehingga ia menjadi makhluk yang berbeda. Maha Suci Allah swt Rabbul alamin.
الَّذِيْٓ اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ
خَلَقَهٗ وَبَدَاَ خَلْقَ الْاِنْسَانِ مِنْ طِيْنٍ ٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهٗ مِنْ
سُلٰلَةٍ مِّنْ مَّاۤءٍ مَّهِيْنٍ ۚ ٨ ثُمَّ سَوّٰىهُ وَنَفَخَ فِيْهِ مِنْ
رُّوْحِهٖ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا
مَّا تَشْكُرُوْنَ ٩
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan
sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia
menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia
menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan
bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali
bersyukur. (As-Sajdah (32): 7-9).
عَنْ أَبِي مُوْسَى الأَشْعَرِيِّ قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُوْلُ: ((إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ
آدَمَ مِنْ قَبْضَةٍ قَبَضَهَا مِنْ جَمِيْعِ الأَرْضِ، فَجَاءَ بَنُوْ آدَمَ عَلَى
قَدْرِ الأَرْضِ، فَجَاءَ مِنْهُمُ الأَحْمَرُ، وَالأَبْيَضُ، وَالأَسْوَدُ، وَبَيْنَ
ذلِكَ، وَالسَّهْلُ، وَالْحَزَنُ، وَالْخَبِيْثُ، وَالطَّيِّبُ)). رواه الترمذي
وقال: حديثٌ حسَنٌ صحيحٌ.
Dari Abu Musa Al-Asy’ari ra
berkata: Saya mendengar Rasulullah saw saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt
telah menciptakan Adam as dari genggaman setiap jenis tanah di bumi sehingga
keturunan Adam berbeda-beda sesuai perbedaan tanah tersebut. Diantara mereka
ada yang merah, putih, atau diantaranya.
Hal ini amat penting untuk
kita ketahui sebagai bingkai pemahaman kita terhadap teori penciptaan dan
perkembangan manusia sehingga kita tidak tersesat dengan asumsi-asumsi yang tak
berdasar sedikitpun.
۞ مَآ اَشْهَدْتُّهُمْ خَلْقَ السَّمٰوٰتِ
وَالْاَرْضِ وَلَا خَلْقَ اَنْفُسِهِمْۖ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّيْنَ
عَضُدًا
Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan
penciptaan langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan
tidaklah Aku mengambil orang-orang yang menyesatkan itu sebagai penolong.
(Al-Kahfi (18): 51).
Hakikat Kedua: Karakteristik
Penting Adam as
(1) At-Tafkir &
At-Ta’allum (التَّفْكِيْرُ
وَالتَّعَلُّمُ)
At-tafkir (berpikir) dan
at-ta’allum (belajar) adalah karakteristik Adam as yang amat penting. Allah swt
berfirman:
وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ
كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰۤىِٕكَةِ فَقَالَ اَنْۢبِـُٔوْنِيْ
بِاَسْمَاۤءِ هٰٓؤُلَاۤءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٣١ قَالُوْا سُبْحٰنَكَ لَا
عِلْمَ لَنَآ اِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۗاِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ
٣٢ قَالَ يٰٓاٰدَمُ اَنْۢبِئْهُمْ بِاَسْمَاۤىِٕهِمْ ۚ فَلَمَّآ اَنْۢبَاَهُمْ
بِاَسْمَاۤىِٕهِمْۙ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ غَيْبَ
السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۙ وَاَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُوْنَ
٣٣
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda)
seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman:
"Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang
yang benar!"Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami
ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya
Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah berfirman:
"Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka
setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman:
"Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui
rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?" (Al-Baqarah (2): 31-33).
قَالَ
ابْنُ عَبَّاسٍ وَنَفَرٌ مِنَ التَّابِعِيْنَ: عَلَّمَهُ أَسْمَاءَ جَمِيْعِ الأَشْيَاءِ
كُلِّهَا: جَلِيْلِهَا، وَحَقِيْرِهَا.
Ibnu Abbas ra dan beberapa orang tabi’in berkata:
“Allah swt mengajarkan kepada Adam as nama-nama semua hal, yang besar maupun
yang kecil.”[6]
عَنْ
أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ r قَالَ: ((وَيَجْتَمِعُ الْمُؤْمِنُوْنَ يَوْمَ
القِيَامَةِ، فَيَقُوْلُونَ: لَوِ اسْتَشْفَعْنَا إِلَى رَبِّنَا، فَيَأْتُوْنَ آدَمَ،
فَيَقُوْلُوْنَ: أَنْتَ أَبُو النَّاسِ خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ، وَأَسْجَدَ لَكَ
مَلاَئِكَتَهُ، وَعَلَّمَكَ أَسْمَاءَ كُلَّ شَيْءٍ...)) (رواه البخاري).
Dari Anas ra dari Nabi Muhammad saw bersabda: “… dan
manusia berkumpul pada hari kiamat lalu mereka berkata: Alangkah baiknya jika
kita meminta syafaat kepada seseorang agar menghadap Allah swt. Lalu mereka
mendatangi Adam as dan berkata: “Engkau adalah bapak semua manusia, Allah swt
telah menciptakanmu dengan tangan-Nya, memerintahkan malaikat sujud kepadamu
dan telah mengajarkanmu nama-nama segala sesuatu…” (HR. Bukhari).
Para ulama berkata bahwa Adam as lah yang pertama kali
berbicara dengan semua bahasa – Arab maupun selain Arab. Mereka berdalil dengan
ayat 31 surat Al-Baqarah di atas:
وَعَلَّمَ
اٰدَمَ الْاَسْمَاۤءَ كُلَّهَا …
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya. (Al-Baqarah (2):31).
Karena mereka berpendapat bahwa semua bahasa termasuk
dalam pengertian asma (nama-nama) pada ayat tersebut. Mereka juga berdalil
dengan sabda Rasulullah saw:
((وَعَلَّمَ
آدَمَ الأَسْمَاءَ كُلَّهَا حَتَّى القَصْعَةِ، وَالقُصَيْعَةِ)).
Allah
swt mengajarkan Adam as semuanya sampai qash’ah (tempat makanan untuk sepuluh
orang) dan qushai’ah (kurang dari sepuluh).[7]
Disamping itu Allah swt telah memberikan kepada Adam as
kemampuan mengenali karakteristik segala sesuatu dan sarana memanfaatkannya.
Az-Zamakhsyari berkata: “Allah swt telah mengajarkan Adam as keadaan segala
sesuatu dan semua manfaat yang terkait dengannya baik manfaat duniawi maupun
dini (agama).”[8]
(2) An-Nis-yan dan Ad-Dha’f (النِّسْيَانُ
وَالضَّعْفُ)
Lupa (nis-yan) dan lemah (dha’f) adalah salah satu
karakteristik Adam as. Dalilnya adalah pelanggaran yang dilakukan Adam as
dengan memakan dari pohon yang terlarang:
Dan sesungguhnya telah Kami
perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak
Kami dapati padanya kemauan yang kuat. (Thaha (20): 115).
(3) At-takrim lahu fi dzatihi (التَّكْرِيْمُ
لَهُ فِي ذَاتِهِ)
Pemuliaan Allah swt terhadap diri Adam as. Hal ini
terbukti dengan diperintahkanNya malaikat untuk sujud kepada Adam as:
Dan (Ingatlah)
ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada
Adam," maka sujudlah mereka.. (Al-baqarah (2): 34).
Juga dengan
ditempatkanNya Adam as di surga-Nya:
Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu
dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik
dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang
menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim. (Al-baqarah (2): 35).
Juga dengan
dipilihNya Adam as sebagai nabi dan
rasul-Nya:
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam… (Ali Imran (3):
33).
Disebutkan
dalam hadits syafaat:
((اِنْطَلِقُوا
إِلَى آدَمَ فَإِنَّ اللهَ خَلَقَهُ بِيَدِهِ وَكَلَّمَهُ...)) (رواه الدارمي).
Pergilah kepada Adam as karena Allah swt telah
menciptakannya dengan tangan-Nya dan berbicara (memberi wahyu) kepadanya… (HR.
Ad-Darimi).
Ibnu ‘Athiyyah berkata: “Adam as adalah nenek moyang
kita, Allah swt telah memilihnya dengan menciptakannya dan mengutusnya sebagai
rasul dan berbicara kepadanya seperti disebutkan dalam hadits.”[9]
Allah swt juga telah memuliakannya dengan menundukkan
untuknya dan anak cucunya semua yang berada di langit dan bumi:
Dan Dia telah menundukkan untukmu apa
yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang berfikir. (Al-jatsiyah (45): 13).
Allah swt juga telah memuliakan semua keturunan Adam
dengan kewajiban berpegangteguh kepada manhaj-Nya, firman Allah swt:
Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan
anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka
rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (Al-Isra (17): 70).
Sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke
tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
(At-Tin (95): 4-6).
Dan Allah swt telah memuliakan Adam dengan kenabian dan
kerasulan bagi sebagian anak cucunya:
Mereka itu adalah orang-orang yang
telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam… (Maryam
(19): 58).
(4) Al-I’tinas (الاِئْتِنَاسُ)
I’tinas berarti kecenderungan untuk
berkumpul dan berjiwa sosial. Allah swt telah menciptakan Adam as dan
keturunannya memiliki fitrah untuk senang berdekatan dan berhubungan dengan
sesama manusia. Boleh jadi kata “insan” (إِنْسَانٌ)
- yang berarti seorang manusia - berhubungan dengan kata i’tinas yang keduanya
berasal dari kata “anisa” (أَنِسَ)
yang maknanya adalah senang mendekat. Meskipun pendapat yang lebih masyhur
mengatakan bahwa kata insan berasal dari kata “nasiya” (نَسِيَ) yang maknanya
lupa, namun tidak mengapa bila kita mengatakan bahwa kata insan berhubungan
dengan kedua-duanya.
Dalam bahasa Arab, masyarakat mengetahui bahwa al-makan
al-anis (الْمَكَانُ الأَنِيْسُ)
artinya adalah tempat yang suka ditinggali oleh manusia; al-hayawan al-anis
(الْحَيَوَانُ
الأَنِيْسُ) adalah hewan jinak yang
disukai manusia untuk tinggal bersamanya. Sebaliknya, tempat yang tidak suka
dijadikan tempat tinggal oleh manusia disebut al-makan al-muhisy (الْمَكَانُ
الْمُوْحِشُ) seperti hutan belantara dan penghuninya disebut al-wuhusy
(الوُحُوْشُ) atau binatang liar.[10]
(5)
Al-ibtila (الاِبْتِلاَءُ)
Allah swt memberikan ibtila (ujian) kepada manusia,
di mana unsur bumi (tanah) dan unsur langit (ruh) menjadi satu bercampur pada
diri manusia (
”Maka syaitan membisikkan pikiran
jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari
mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu
mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau
tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (syaitan)
bersumpah kepada keduanya: "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang
memberi nasehat kepada kamu berdua." Maka syaitan membujuk keduanya (untuk
memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu
itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya
dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah
Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu:
"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. Allah berfirman:
"Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian
yang lain. dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari
kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan". (Al-A’raf
(7): 20-24).
Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh
sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka
memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis (ikhlas) di antara
mereka". Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban
Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu
terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang
yang sesat.” (Al-Hijr (15): 39-42).
Hakikat Pertama: Risalah (Misi) Adam as
الرِّسَالَة
(misi) yang dikehendaki Allah swt dari Adam as adalah menjadi khalifah di bumi:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di muka bumi." (Al-baqarah (2): 30).
Az-Zamakhsyari berkata dalam Al-Kasyaf: “Yang dimaksud
khalifah adalah Adam as. Penyebutan Adam saja cukup untuk mewakili anak
keturunannya seperti penyebutan nenek moyang sebuah kabilah cukup mewakili
kabilah itu. Seperti ucapan Anda: “Mudhar”, “Hasyim” (maksudnya Banu Mudhar dan
Banu Hasyim).
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Tampak bahwa Allah
swt tidak menginginkan Adam as semata. Karena jika hanya Adam yang dimaksud
tidak layak malaikat mengatakan:
"Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah?” (Al-baqarah (2): 30).
Sedangkan maksud malaikat adalah bahwa ada diantara keturunan
Adam yang melakukan perbuatan tercela itu.”
Khilafah ini menurut pendapat yang lebih kuat adalah amanah
dari Allah swt dalam menghukum dengan adil diantara hamba-hamba-Nya. Ibnu Jarir
At-Thabari dalam Jami’ul Bayan setelah menyebutkan riwayat Ibnu Abbas &
Ibnu Mas’ud ra tentang masalah ini mengatakan: “Maksud ayat ini sebagaimana
riwayat Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas radhiyallahu’anhum: “Aku (Allah swt) akan
menjadikan di bumi ini makhluk yang akan mewakili-Ku dalam menghukum diantara
hamba-hamba-Ku.” Dan khalifah itu adalah Adam dan siapa saja yang yang berada
dalam posisi yang sama dengannya yaitu posisi ketaatan kepada Allah swt dan
menghukum dengan adil diantara makhluk-makhluk-Nya. Sedangkan berbuat kerusakan
dan menumpahkan darah tanpa alasan yang benar bukanlah khalifah Allah swt dan
bukanlah Adam as serta bukan pula hamba-hamba-Nya yang taat kepada-Nya.
Alasannya adalah karena kedua sahabat Rasulullah saw tersebut telah mengabarkan
bahwa Allah swt berkata kepada malaikat ketika mereka bertanya kepada-Nya bahwa
khalifah ini akan memiliki keturunan yang berbuat kerusakan di bumi, saling
hasad dan membunuh. Di sini Allah menyandarkan perbuatan kerusakan dan
menumpahkan darah kepada keturunan khalifah ini, bukan khalifah itu sendiri.”
مُقَوِّمَاتُ
الْخِلاَفَةِ:
·
العِلْمُ بِصِفَاتِ
الله والإِيْمَانُ بِهِ وَبِسَائِرِ أَرْكَانِ الإِيمَانِ.
·
النُّزُوْلُ عَلَى
حُكْمِ اللهِ فِي كُلِّ شَيْئٍ.
(عِمَارَةُ الأَرْضِ وِفْقَ مَنْهَجِ اللهِ وَنَشْرُ هذَا
الْمَنْهَجِ وَحِمَايَتُهُ).
Adapun muqawwimat
(penopang-penopang) khilafah ini adalah:
- Memiliki
ilmu tentang sifat-sifat kesempurnaan Allah swt, sehingga keyakinan ini
mengantarkan kepada semua rukun iman (keimanan kepada-Nya, malaikat,
kitab, para rasul, hari akhir dan qadar baik maupun buruk).
- Menerapkan
hukum-hukum Allah swt dalam setiap permasalahan.
Dengan bahasa lain: ‘imaratul ardh (memakmurkan
bumi) sesuai manhaj Allah swt, menyebarkan manhaj ini dan melindunginya dari
makar musuh dan permainan orang yang sia-sia.
Dengan risalah (misi) seperti ini, Adam as dan anak
cucunya benar-benar diuji dengan ujian yang berat karena ia diciptakan dari
perpaduan antara ruh dan tanah, sehingga ia harus mengkomposisikan antara
keduanya di mana kepemimpinan atau dominasi haruslah berada pada ruh. Bila kita
ingat bahwa setan juga selalu menunggunya di setiap jalan yang akan ditempuhnya
bahkan seperti berjalan dalam pembuluh darahnya seperti yang disebutkan dalam
sebuah hadits,[11]
ada makar manusia para pembantu setan, ada ujian dunia berbentuk kesulitan
maupun keindahannya, ditambah lagi dengan panjangnya perjalanan ini, maka semua
itu menambah beratnya ujian tersebut. Allah swt berfirman:
Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Al-Mulk (67): 2).
Hakikat Keempat
Allah swt telah mengambil janji dari anak-anak Adam
untuk beribadah hanya kepada-Nya dan meninggalkan penyembahan terhadap syaithan
sejak mereka masih berada di alam ruh, dan mereka berikrar untuk setia dengan
janji tersebut.
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini
Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)" (Al-a’raf (7): 172).
Namun setelah mereka keluar ke dunia, mereka terbagi
menjadi dua kelompok. Kelompok yang
setia yaitu orang-orang yang beriman dan kelompok yang mengkhianati perjanjian
yaitu orang-orang kafir. Oleh karena itu Allah swt mengutus para rasul dan
menurunkan kitab-kitab kepada manusia untuk menjadi hujjah atas mereka
(bukti bahwa Allah swt telah menjelaskan kebenaran kepada manusia).
(mereka
Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya
rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (An-Nisa
(4): 165).
Sesungguhnya Kami mengutus kamu
dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi
peringatan. dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang
pemberi peringatan. (Fathir (35): 24).
Sesungguhnya Kami telah mengutus
rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah kami turunkan
bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan
keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan
berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan
supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya
padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
(Al-hadid (57): 25).
Kemudian Allah Swt, memperingatkan manusia sejak awal
dari musuh terbesar mereka, yaitu iblis, sebagaimana Dia juga memperingatkan
mereka dari tipu daya dunia. Firman Allah swt:
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali
kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu
dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan
kepada keduanya 'auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat
kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah
menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpim bagi orang-orang yang tidak
beriman. (Al-a’raf (7): 27).
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah
adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan
sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu memperdayakan kamu tentang
Allah. (Fathir (35): 5).
Lalu Allah Swt menyeru manusia secara tegas untuk
istiqamah dan bertaqwa dan memperingatkan mereka dari kekafiran, melalui firman-Nya:
Maka tetaplah pada jalan yang lurus
menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya dan kecelakaan besarlah bagi
orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (Fushilat (41): 6).
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan. Dan pakaian takwa, itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah
sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
(Al-a’raf (7): 26).
Hai anak-anak Adam, jika datang
kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku,
Maka barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan
orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya,
mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al-a’raf (7):
35-36).
Akan tetapi
mereka tetap dalam kondisi demikian, yaitu ada yang beriman dan ada yang kafir.
Hakikat kelima
Kejahatan pembunuhan pertama pada manusia dilakukan
oleh anak Adam yang pertama. Di mana pada suatu hari dua orang anak Adam as,
Habil dan Qabil, sedang duduk, mereka berkata: “Seandainya kita dapat
mendekatkan diri kepada Allah dengan berkurban…” Salah satu diantara mereka
membawa kambing terbaik dan tergemuk yang dimilikinya, yang lain membawa
sebagian dari tanamannya, lalu turunlah api dan membakar kambing dan membiarkan
tanaman begitu saja. Pada saat itu tanda pengabulan adalah api yang turun dan
membakar kurban.
Yang tidak diterima kurbannya berkata kepada
saudaranya: “Akan kubunuh engkau.” Saudaranya menjawab: “Aku tidak akan melawan
untuk kepentingan diriku, sesungguhnya aku amat takut kepada Allah swt Rabbul
‘alamin. Kalau engkau membunuhku aku ingin engkau membawa dosa membunuh dan
dosa yang telah ada pada pundakmu.”
Ia bermaksud menakut-nakuti saudaranya dari dosa
membunuh, dan sama sekali tidak pernah memanas-manasinya karena hal itu
bertentangan dengan hadits:
((لاَ
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ)) (متفق
عليه)
Tidak beriman seseorang diantara kamu sampai ia
mencintai untuk saudaranya apa saja yang ia cintai untuk dirinya sendiri.
(Muttafaq ‘alaih).
((مَنْ
رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيِدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ
فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذلِكَ أَضْعَفُ
الإِيْمَانِ)) (رواه مسلم).
Siapa diantara kamu melihat kemunkaran hendaklah ia
mengubahnya dengan tangannya, jika tidak sanggup maka dengan lisannya, jika
tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman. (HR. Muslim).
Namun saudaranya itu telah terpedaya (oleh setan) lalu
membunuhnya kemudian menyesal. Allah swt berfirman:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam
(Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan
korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak
diterima dari yang lain (Qabil). ia Berkata (Qabil): "Aku pasti
membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima
(korban) dari orang-orang yang bertakwa". "Sungguh kalau kamu
menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan
menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada
Allah, Tuhan seru sekalian alam." "Sesungguhnya Aku ingin agar kamu
kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan
menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang
yang zalim." Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh
saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara
orang-orang yang merugi. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak
menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana
seharusnya menguburkan mayat saudaranya berkata Qabil: "Aduhai celaka aku,
mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat
menguburkan mayat saudaraku ini?" karena itu jadilah dia seorang diantara
orang-orang yang menyesal. (Al-Maidah (5): 26-31).
Dengan demikian anak Adam yang telah membunuh
saudaranya itu mendapatkan dosa setiap pembunuhan zalim(sengaja) yang terjadi
di dunia setelah itu, karena dialah yang pertama kali mencontohkannya
sebagaimana hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra:
((لاَ
تُقْتَلُ نَفْسٌ ظُلْمًا إِلاَّ كَانَ عَلَى ابْنِ آدَمَ الأَوَّلِ كِفْلٌ مِنْ
دَمِهَا لِأَنَّهُ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ القَتْلَ)) (متفق عليه).
Tidak ada satu jiwapun yang terbunuh dengan aniaya
kecuali anak Adam yang pertama mendapat bagian dari darahnya, karena ialah yang
pertama kali mencontohkan kejahatan membunuh. (Muttafaq ‘alaih).
Hakikat Keenam
Bahwa keturunan Adam as semuanya diperintahkan untuk
selalu tahadduts menyebut-nyebut nikmat-nikmat Allah swt kepada mereka
diantaranya adalah nikmat perhiasan yang halal, makan dan minum secara normal
dan wajar (tidak berlebihan).
Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan
perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan
(siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?" Katakanlah:
"Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan
dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat." Demikianlah kami
menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al-a’raf (7):
31-32).
Penciptaan Adam as dalam Al-Quran Al-Karim
Allah swt berfirman: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman
kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah
di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa
yang tidak kamu ketahui." Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama
(benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu
berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang
benar orang-orang yang benar!" Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau,
tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami;
sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana." Allah
berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda
ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu,
Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya
Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan
dan apa yang kamu sembunyikan?" Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman
kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah
mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan
yang kafir. Dan kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu
surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja
yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu
termasuk orang-orang yang zalim. Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari
surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan kami berfirman:
"Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu
ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang
ditentukan." Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka
Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu!
Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti
petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula)
mereka bersedih hati". Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan
ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.
(Al-baqarah (2): 30-39).
Allah swt berfirman: Sesungguhnya
misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah
menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:
"Jadilah" (seorang manusia), maka jadilah dia. (Ali Imran (3): 59).
Firman Allah swt: Hai
sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari
seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada
keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan
bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya
Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (An-nisa (4): 1).
Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi
Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Al-Hujurat (49): 13).
Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan
dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka
setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan
teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat,
keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata:
"Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami
termasuk orang-orang yang bersyukur". (Al-a’raf (7): 189).
10. Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu kami
bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah
kamu kepada Adam", maka merekapun bersujud kecuali iblis, dia tidak
termasuk mereka yang bersujud.
11.
Allah berfirman: "Apakah yang
menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?"
menjawab Iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api
sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".
12.
Allah berfirman: "Turunlah
kamu dari surga itu; Karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya,
maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina".
13.
Iblis menjawab: "Beri
tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan".
14.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh."
15.
Iblis menjawab: "Karena
Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan
(menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
16.
Kemudian saya akan mendatangi
mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan
Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).
17.
Allah berfirman: "Keluarlah
kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya
barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi
neraka Jahannam dengan kamu semuanya".
18.
(dan Allah berfirman): "Hai
Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu
berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua
mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang
zalim."
19.
Maka syaitan membisikkan pikiran
jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari
mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu
dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat
atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".
20.
Dan dia (syaitan) bersumpah kepada
keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat
kepada kamu berdua",
21.
Maka syaitan membujuk keduanya
(untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah
kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya
menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka:
"Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku
katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi
kamu berdua?"
22.
Keduanya berkata: "Ya Tuhan
kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni
kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang
yang merugi.
23.
Allah berfirman: "Turunlah
kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan
kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di
muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan".
24.
Allah berfirman: "Di bumi itu
kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan
dibangkitkan.
Sebagaimana Allah swt berfirman di ayat lain:
Dari
bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan
kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain. (Thaha
(20): 55).
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam)
dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan
Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas. Dan
(ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya
Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari
lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan
kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu
kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya
bersama-sama, kecuali iblis, ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud
itu. Allah berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud)
bersama-sama mereka yang sujud itu?" Berkata Iblis: "Aku sekali-kali
tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah
liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk" Allah
berfirman: "Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan Sesungguhnya
kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat". Berkata Iblis: "Ya
Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia)
dibangkitkan. Allah berfirman: "(Kalau begitu) maka Sesungguhnya kamu
termasuk orang-orang yang diberi tangguh sampai hari (suatu) waktu yang telah
ditentukan.Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan
bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan
ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di
antara mereka". Allah berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban
Aku-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu
terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang
sesat. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan
kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai
tujuh pintu. Tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu
dari mereka. (Al-hijr (15): 26-44).
Dan
(ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. dia berkata:
"Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?"
Dia (iblis) berkata: "Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau
muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai
hari kiamat, niscaya benar-benar akan Aku sesatkan keturunannya, kecuali
sebahagian kecil". Tuhan berfirman: "Pergilah, barangsiapa di antara
mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu
semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu
sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka
pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan
mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang
dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya
hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka, dan cukuplah Tuhan-mu
sebagai Penjaga". (Al-isra (17): 61-65).
Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu
kepada Adam.” Maka sujudlah mereka kecuali iblis, dia adalah dari golongan jin,
maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. patutkah kamu mengambil dia dan
turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah
musuhmu?Aamat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi
orang-orang yang zalim. (Al-Kahfi (18): 50).
Firman Allah swt: Dan Sesungguhnya telah Kami
perintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa (akan perintah itu), dan tidak
kami dapati padanya kemauan yang kuat. Dan (ingatlah) ketika Kami berkata
kepada malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam", maka mereka sujud kecuali
iblis, ia membangkang. Maka kami berkata: "Hai Adam, sesungguhnya ini
(iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah
sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi
celaka. Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan
ditimpa panas matahari di dalamnya". Kemudian syaitan membisikkan pikiran
jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada
kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?" Maka keduanya
memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan
mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan
durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya,
maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman:
"Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh
bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu
barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan
celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam
keadaan buta". Berkatalah ia:
"Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal
aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" Allah berfirman:
"Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu
melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (Thaha
(20): 115-126).
Katakanlah:
"Berita itu adalah berita yang besar, yang kamu berpaling daripadanya. Aku
tiada mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang Al mala'ul a'la (malaikat) itu
ketika mereka berbantah-bantahan. Tidak diwahyukan kepadaku, melainkan bahwa
sesungguhnya Aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata".
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku
akan menciptakan manusia dari tanah". Maka apabila telah Kusempurnakan
kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu
tersungkur dengan bersujud kepadanya". Lalu seluruh malaikat-malaikat itu
bersujud semuanya, kecuali Iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia
termasuk orang-orang yang kafir. Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang
menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku?
Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang
(lebih) tinggi?". Iblis berkata: "Aku lebih baik daripadanya, karena
Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah".
Allah berfirman: "maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah
orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai hari
pembalasan". Iblis berkata: "Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai
hari mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya kamu
termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah
ditentukan waktunya (hari kiamat)". Iblis menjawab: "Demi kekuasaan
Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis
di antara mereka. Allah berfirman: "Maka yang benar (adalah sumpah-Ku) dan
hanya kebenaran itulah yang Ku-katakan". Sesungguhnya Aku pasti akan
memenuhi neraka Jahannam dengan jenis kamu dan dengan orang-orang yang
mengikuti kamu di antara mereka kesemuanya. Katakanlah (hai Muhammad):
"Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah Aku
termasuk orang-orang yang mengada-adakan. Al Quran ini
tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam. Dan sesungguhnya kamu akan
mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi. (Shad (38): 67-88).
Apakah
Adam as Seorang Nabi & Rasul?
Pembahasan
Mungkin ada
yang bertanya: “Apakah Adam as itu seorang nabi?”
Jawabnya tentu saja “ya” dan tidak ada perdebatan
dalam masalah ini. Memang benar bahwa Al-Quran tidak menyatakan dengan tegas
tentang kenabian Adam as sebagaimana nabi-nabi yang selainnya seperti Nuh as,
Ibrahim as, Yunus as, dan Musa as. Akan tetapi Al-Quran menyebutkan bahwa Allah
swt berbicara langsung kepada Adam (mukhatabah) tanpa perantara lebih
dari sekali, dan mukhathabah tanpa perantara adalah salah satu jenis wahyu
sebagaimana difirmankan oleh Allah swt:
Dan
tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia
kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus
seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang
Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.[12]
Dalam seruan langsung ini juga terkandung taklif
(pembebanan kewajiban) untuk mengikuti petunjuk dari Allah swt untuknya dan
anak keturunannya:
Allah
berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu
menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk
daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat
dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka
sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya
pada hari kiamat dalam keadaan buta". (Thaha (20): 123-124).
Di samping itu, hadits Rasulullah saw pun secara tegas
menyatakan kenabian Adam as.
رَوَى
الإِمَامُ أَحْمَدُ عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ t
قَالَ: قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَيُّ الأَنْبِيَاءِ كَانَ أَوَّل؟ قَالَ:
"آدَمُ". قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ الله أَوَ نَبِيّ كَانَ؟ قَالَ:
"نَعَمْ نَبِيٌّ مُكَلَّمٌ"، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ:
كَمِ الْمُرْسَلُوْنَ؟ قَالَ: "ثَلاَثُمِائَةٍ وَبِضْعَةَ عَشْرَ جَمّاً غَفِيْراً"
وَقَالَ مَرَّةً أُخْرَى: "خَمْسَةَ عَشَرَ". قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ
اللهِ: آدَمُ نَبِيٌّ". قَالَ: "نَعَمْ نَبِيٌّ ُمكَلَّمٌ."
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzar ra bahwa Abu
Dzar berkata: Aku (Abu Dzar) berkata: “Ya Rasulullah, siapakah nabi pertama?
Nabi bersabda: “Adam” Aku berkata: “Adam seorang nabi?” Beliau berkata: “Nabi
yang diajak berbicara.” Aku berkata: ”Ya Rasulullah, berapakah jumlah para
rasul?” Beliau bersabda: “Tiga ratus sekian belas orang, jumlah yang banyak.” Kali lain beliau berkata: “Lima belas.”
(tiga ratus lima belas). Aku (Abu Dzar) berkata: “Apakah Adam seorang nabi?”
Beliau menjawab: “Ya, nabi yang diajak bicara (oleh Allah swt).”[13]
رَوَى
التِّرْمِذِيُّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا
فَخْرَ وَبِيَدِي لِوَاءُ الْحَمْدِ وَلَا فَخْرَ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ يَوْمَئِذٍ
آدَمَ فَمَنْ سِوَاهُ إِلَّا تَحْتَ لِوَائِي وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ
عَنْهُ الْأَرْضُ)).
Imam At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Abu Sa’id ra
bahwa beliau berkata: Rasulullah saw telah bersabda: “Aku adalah pemimpin anak
Adam pada hari kiamat, dan aku tak bermaksud membanggakan diri sedikitpun.[14]
Di tanganku lah bendera Al-hamd (segala pujian)[15],
dan aku tak bermaksud membanggakan diri sedikitpun. Tidak ada seorang nabi pun
hari itu, Adam dan lainnya, kecuali berada di bawah benderaku. Dan akulah yang
pertama kali dibangkitkan dari tanah.”[16]
Adapun pertanyaan apakah Adam as adalah seorang rasul?
Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama.
Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa kerasulan
itu dimulai sejak Nuh as dengan sandaran firman Allah swt:
Dia
telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. (Asy-Syura (42): 13).
Juga dengan hadits tentang syafaat:
((ائْـتُوْا
نُوْحاً أوَّلَ رَسُوْلٍ)) (رواه البخاري).
Datanglah
kepada Nuh, rasul pertama. (HR Bukhari).[17]
Hal ini
mendorong kita untuk mengetahui perbedaan antara nabi dengan rasul.
Banyak
berkata bahwa rasul adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah swt dengan
sebuah syari’at dan diperintahkan menyampaikannya. Sedangkan nabi adalah
seseorang yang diberikan wahyu oleh Allah swt dengan sebuah syari’at dan tidak
diperintahkan menyampaikannya.
Definisi
ini dihafal oleh kebanyakan para penuntut ilmu.
Namun
ketika diperhatikan, perbedaan seperti ini tidak lah teliti, karena mengabaikan
tugas dan fungsi nabi (yakni tabligh) dan menganggap bahwa wahyu yang diberikan
kepadanya seperti tersimpan begitu saja dan tak bermanfaat bagi siapapun. Kalau
begitu lalu apakah tugas seorang nabi kalau tidak menyampaikan (berdakwah)!?
Padahal kita tahu sejak kecil bahwa diantara sifat yang lazim (harus ada) pada
diri para nabi dan rasul adalah shidiq,
amanah, tabligh, dan fathanah?!
Dapat kita
katakan bahwa mekipun terdapat perbedaan antara nabi dan rasul seperti isyarat
Al-Quran:
Dan Kami
tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi,
melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan
godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimasukkan
oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya dan Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Bijaksana. (Al-Haj (22): 52).
Di mana
huruf wawu (artinya “dan”) antara kata rasul dan nabi adalah huruf ‘athaf
yang berfungsi menunjukkan perbedaan, namun terdapat pula kesamaan antara
keduanya dalam fungsi tabsyir (memberi kabar gembira) dan indzar
(memberi peringatan). Sehingga yang kita ambil tentang perbedaan antara
nabi dengan rasul adalah pendapat Al-Alusi yang mengatakan bahwa:
أنَّ
الرَّسُوْلَ هُوَ مَنْ أُوْحِيَ إِلَيْهِ بِشَرْعٍ جَدِيْدٍ، وَالنَّبِيُّ هُوَ الْمَبْعُوْثُ
لِتَقْدِيْرِ شَرْعِ مَنْ قَبْلَهُ.
Rasul adalah seseorang yang diberi wahyu oleh Allah
swt dengan syariat baru, sedangkan nabi adalah orang yang diutus untuk
menetapkan dan syariat rasul sebelumnya.
Maksudnya: rasul datang membawa syariat baru atau
hukum-hukum yang terinci sebagaimana makna syariat dalam risalah mereka seperti
firman Allah swt:
Dia
telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu. (Asy-Syura (42): 13).
Sedangkan nabi diutus tidak membawa syariat baru tapi
sekadar menetapkan syariat sebelumnya, atau ia datang dengan membawa prinsip
umum da’wah yaitu dasar-dasar keimanan kepada Allah swt dan kaidah-kaidah
akhlak yang suci, serta tidak mengandung hukum-hukum yang baru.
Diantara dalil yang menunjukkan bahwa seorang nabi
harus menjalankan perannya menyampaikan wahyu yang telah disampaikan kepadanya
ialah:
- Firman
Allah swt:
Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul
perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan
peringatan. (Al-baqarah (2): 213).
Ayat ini
menerangkan bahwa para nabi adalah para pemberi kabar gembira dan pemberi
peringatan dan hal itu juga adalah tugas para rasul tanpa perbedaan pendapat di
kalangan para ulama seperti difirmankan-Nya:
(Mereka
Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan
agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya
rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(An-Nisa (4): 165).
- Allah swt menjelaskan bahwa tugas
para nabi Bani Israil dalam firman-Nya terkait dengan Taurat:
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di
dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu
diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkan diri
kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka,
disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi
saksi terhadapnya. (Al-maidah (5): 44).
Di mana nabi-nabi tersebut memutuskan dengan Taurat dan
tentunya menyampaikannya (hukm wa tabligh).
- Demikian
pula ayat yang mengisyaratkan perbedaan antara nabi dan rasul yaitu:
Dan
Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi…
(Al-haj (22): 52).
Ayat ini dengan tegas menyebutkan kata “arsalna” (Kami
telah mengutus) para nabi sebagaimana Allah swt mengutus para rasul.[18]
- Hadits
Rasulullah saw:
((إِنَّهُ
لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِيْ إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ
عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرُهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ)).
(رواه مسلم).
Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku
kecuali diwajibkan kepadanya menunjuki ummatnya kepada kebaikan yang ia ketahui
dan memperingatkan mereka terhadap keburukan yang ia ketahui. (HR. Muslim).[19]
Sedangkan pendapat yang mengatakan bahwa nabi diberi
wahyu berupa syariat namun tidak menyampaikannya kepada ummatnya, hal ini jelas
bertentangan dengan konsekuensi kenabian bahkan masuk kategori menyembunyikan
apa yang telah diturunkan Allah swt dan kita wajib menyucikan para nabi dari
perbuatan tersebut.
Apakah
Adam as adalah Manusia Pertama?
Kandungan Materi:
Zhahir (makna yang lebih kuat) dari beberapa nash
(teks) Al-Quran menunjukkan bahwa Adam as adalah manusia pertama tanpa dapat
dibantah seperti terkandung dalam penjelasan berikut ini:
- Penisbatan
manusia yang diberikan selalu kepada Adam as di mana ada beberapa ayat
Al-Quran yang berbunyi: يَا بَنِي آدَمَ (Hai
anak keturunan Adam).[20]
Sedangkan tentang Adam as sendiri Allah swt berfirman kepada malaikat:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman
kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari
tanah". (Shad (38): 71).
Ini
adalah pemberitaan tentang penciptaan makhluk baru di bumi seperti juga
firman-Nya:
Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." (Al-baqarah (2): 30).
Makhluk
baru yang diciptakan dari tanah ini adalah awal mula kemunculan manusia dan ia
tidak dapat dinisbatkan kecuali kepada Adam as. Sedangkan keturunannya
diciptakan melalui proses pernikahan antara laki-laki dan perempuan seperti
firman-Nya:
Yang membuat segala sesuatu yang Dia
ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (As-sajadah
(32): 7-8).
- Dalam
hadits syafaat yang terkenal terdapat juga penjelasan bahwa Adam as adalah
bapak manusia dan bukan orang lain. Disebutkan dalam Shahihain (dua
kitab hadits shahih – Shahih Bukhari & Shahih Muslim) bahwa ketika
kesulitan dan keadaan berat menimpa manusia yang bediri di mahsyar,
sebagian orang berkata kepada sebagaian lain agar mendatangi Adam, lalu
mereka mendatanginya kemudian berkata:
((يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُو الْبَشَرِ خَلَقَكَ
اللَّهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيْكَ مِنْ رُوْحِهِ وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوْا
لَكَ اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ...))
“Hai Adam, engkau adalah bapak
manusia, Allah swt telah menciptakanmu dengan Tangan-Nya, meniupkan kepadamu
langsung ruh ciptaan-Nya, dan memerintahkan malaikat untuk sujud kepadamu lalu
merekapun sujud.. mintalah syafaat untuk kami kepada Tuhanmu…”[21]
Dari penjelasan di atas tidaklah benar pendapat yang
dikemukakan oleh beberapa penulis bahwa telah ada sebelumnya adam-adam lain
atau spesies manusia sebelum Adam as.
Diantara yang berpendapat demikian adalah Ustadz ‘Afif
Thabarah dalam bukunya ‘Ma’al Anbiya Fil Quranil Karim” (Bersama Para Nabi
Dalam Al-Quran) dalam salah satu pembahasan yang berjudul “Adam bukanlah yang
pertama kali tinggal di bumi”.[22]
Demikian pula yang disebutkan oleh Syaikh ‘Abdul
Wahhab An-Najjar dalam bukunya “Qashash Al-Anbiya” bahwa sejak dulu dan
sekarang ada orang-orang yang mengklaim bahwa penduduk negeri lebih dahulu ada
sebelum penciptaan Adam seperti penduduk
|
قَبْـــلَهُ
آدَمٌ عَلَى إِثـْــــــرِ آدَمِ |
☼ |
جَــائِزٌ
أَنْ يَــكُوْنَ آدَمُ هَــــذَا |
Boleh saja di samping Adam as ini, sebelumnya ada adam
demi adam yang lain.
Al-Fakhr Ar-Razi dalam tafsirnya menyebutkan riwayat
dari Al-Imam Muhammad bin Ali Al-Baqir yang mengatakan: “Telah berlalu sebelum
Adam as, bapak kita, seribu adam lain atau lebih.” Kemudian Al-Fakhr Ar-Razi
menanggapi dengan komentar yang mengesankan beliau membolehkannya: “Aku
berpendapat bahwa perkataan ini (adanya manusia sebelum Adam as) tidak
bertentangan dengan keyakinan akan adanya permulaan alam semesta. Bagaimanapun,
silsilah manusia harus berakhir kepada manusia pertama, yang juga adalah
seorang manusia. Adapun bahwa manusia pertama itu adalah bapak kita Adam as,
tidak dapat kita tetapkan kecuali melalui dalil sam’i (Al-Quran & Hadits).”[23]
Namun sekali lagi, semua pendapat di atas hanyalah
klaim yang bertentangan dengan dalil. Menurut Ustadz Al-Bahi Al-Khuli pendapat
seperti itu adalah ijtihad yang penuh ketergelinciran di mana ia mengakibatkan
seseorang men-ta’wil-kan[24]
ayat-ayat Al-Quran tanpa alasan yang kuat. Dalam kajian ilmiah, ia merupakan
madzhab orang-orang yang meninggalkan sesuatu yang meyakinkan (al-yaqin)
lalu mengambil dugaan-dugaan (zhan), dan dalam tinjauan agama, ia adalah
madzhab mereka yang tidak melepaskan agama dan kehormatannya dari hal-hal yang
syubhat.[25]
Diantara adab kita terhadap Al-Quran dan Sunnah
Rasul-Nya kita berhenti atau mencukupkan diri dengan nash-nash keduanya karena
nash-nash tersebut tegas dan jelas, kemudian kita menyerahkan apa-apa yang
tidak dijelaskan Allah swt dan Rasul-Nya kepada ilmu Allah swt.
Khalifah & Khilafah
Al-Quran menyebut Adam, bapak manusia, dengan ungkapan
khalifah:
Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi." Mereka berkata: "Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(Al-Baqarah (2): 30).
Apa makna khalifah di sini? Tampaknya dari pertanyaan
malaikat kita melihat bahwa ada jenis makhluk sebelumnya yang hidup di bumi
berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Mereka adalah kelompok-kelompok jin
seperti yang disebutkan oleh hadits riwayat Al-Hakim dari Ibnu Abbas ra bahwa beliau berkata:
كَانَ
فِيْهَا – أَيِ فِي الأَرْضِ –
قَبْلَ أَنْ يُخْلَقَ – أيْ آدَمَ u - بِأَلْفَيْ عَامٍ الْجِنُّ بَنُو الجَانِّ،
فَأَفْسَدُوا فِي الأَرْضِ وَسَفَكُوْا الدِّمَاءَ، فَلَمَّا أَفْسَدُوا فِي الأَرْضِ
بَعَثَ اللهُ عَلَيْهِمْ جُنُوْداً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ فَضَرَبُوهُمْ حَتَّى أَلْجَأُوْهُمْ
بِجَزَائِرِ الْبُحُورِ.
Dua ribu tahun sebelum Adam diciptakan, bumi ini telah
dihuni oleh jin anak keturunan Jaan, mereka berbuat kerusakan di bumi dan
menumpahkan darah. Ketika mereka telah berbuat kerusakan, Allah swt mengutus
tentara dari malaikat yang memukul mereka hingga menyingkirkan mereka ke
pulau-pulau di lautan.[26]
Pertanyaan malaikat: "Apakah Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu siapa yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah?” semata-mata ingin mengetahui tentang hikmah penciptaan
khalifah berdasarkan pengalaman mereka sebelumnya dengan bangsa jin yang telah
berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Atau mungkin pula malaikat memprediksi
kerusakan yang akan terjadi berdasarkan ilham dan fitrah mereka yang bersih.
Lalu Allah swt menjawab dengan firman-Nya:
"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." Maksudnya:
Aku mengetahui maslahat yang lebih besar dengan penciptaan khalifah ini
dibandingkan kerusakan yang kalian sebutkan. Karena Aku akan menjadikan
diantara mereka para Nabi, para Rasul, shiddiqun, syuhada, shalihun, ahli
ibadah, orang-orang Zuhud, para wali, orang-orang yang dekat dengan-Ku
(muqarrabun), ulama yang beramal, orang-orang yang khusyu’ dan orang-orang yang
mengikuti para rasul alahimus salam.
Dapat juga diartikan bahwa khalifah adalah salah satu
diantara khulafa (banyak khalifah/pengganti).
Kemudian
Kami jadikan kamu pengganti-pengganti (mereka) di muka bumi sesudah mereka,
supaya Kami memperhatikan bagaimana kamu berbuat. (Yunus (10): 14).
Dan
Dia lah yang menjadikan kamu para pengganti yang berkuasa di bumi dan dia
meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk
mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat
cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al-An’am (6): 165).
Dia-lah
yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barangsiapa yang kafir,
maka (akibat) kekafirannya menimpa dirinya sendiri. Dan kekafiran orang-orang
yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah kemurkaan pada sisi Tuhannya
dan kekafiran orang-orang yang kafir itu tidak lain hanyalah akan menambah
kerugian mereka belaka. (Fathir (35): 39).
Imam At-Thabarabi meriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri
bahwa yang dimaksud khalifah adalah keturunan Adam yang menggantikan bapak
mereka, juga setiap generasi yang menggantikan generasi sebelumnya.
Hai
Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi (Shad
(38): 26).
Sebagian ulama mengecam pendapat yang mengatakan bahwa
manusia adalah khalifatullah. Inti alasannya adalah bahwa khalifah adalah
pengganti atau wakil bagi pihak yang tidak mampu, tidak hadir atau mangkat. Hal
ini tidak laik dinisbatkan kepada Allah swt yang selalu bersama hamba mengawasi
mereka:
dan dia bersama kamu di mama saja kamu berada. dan Allah
Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Hadid (57): 4).
Tiada
pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada
(pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula)
pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan dia
berada bersama mereka di manapun mereka berada. (Al-Mujadilah (58): 7).
Mungkin juga mereka mengambil kisah yang disebutkan
oleh Ibnu Khaldun dalam Mukaddimah-nya bahwa Abu Bakar ra melarang sahabat yang
memanggilnya khalifah Allah, beliau mengatakan: “Aku adalah khalifah Rasulullah
saw.”[27]
Sebenarnya keberatan ini tidak perlu terjadi karena
makna yang mereka jelaskan dari ungkapan “khalifatullah” cukup jauh dari pemikiran seorang muslim.
Tetapi makna yang hadir dalam benak seorang muslim dari kalimat khalifatullah
adalah manusia sebagai khalifah Allah swt dalam menyebarkan aqidah tauhid,
rambu kebaikan dan keadilan di muka bumi ini.
Dan masalahnya seperti yang disampaikan oleh ahli
tafsir Abus-Su’ud: Allah swt tidak membutuhkan hal ini. Akan tetapi karena
keterbatasan peneriman khilafah, dan ketidak layakannya menerima langsung dari,
maka kekhilafahan secara khusus diberikan kepada salah seorang bangsa manusia. [28]
jumhurul mufssirin (Mayorotas ahli tafsir) menyebutkan dua makna ini sekaligus.
Abus-Su’ud mengatakan dalam tafsirnya: “Yang
dimaksudkan dengan khilafah dari sisi Allah swt adalah dalam melaksanakan
hokum-hukum-Nya, menerapkan perintah-perintahNya pada manusia pengelolaan
makhluk lainnya. Dan khilafah hanya diberikan kepada penghuni bumi.[29]
Fakhrurrazi dan An Nasafi menyebutkan senada
dengannya. [30]
Hanya saja Al Khazin setelah menuturkan dua makna tadi
melakukan tarjih pada salah satunya: “Dan yang benar adalah bahwa ia dinamankan
khalifah karena menjadi kahlifah Allah di muka bumi untuk menegakkan ketentuan
dan menerapkan keputusan-Nya.[31]
Selanjutnya, bahwa manusia itu tidak diciptakan tanpa
tujuan atau main-main:
116. Maka Maha Tinggi Allah, raja yang Sebenarnya;
tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia. QS. Al
Mukminun: 116
Hanya saja ia berperan untuk menjadi khalifahdi muka
bumi, menegakkan kebenaran dan keadilan, menebar kebaikan, kemaslahatan dan
ketaqwaan di
165. Dan dia lah yang menjadikan kamu
penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian
(yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya
kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya dia Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. QS.Al An’am: 165
Maha
Suci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan dia Maha Kuasa atas
segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa
di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun, QS. Al Mulk: 1-2
Maka hendaklah manusia memikul perannya dengan
sungguh-sungguh dan bersemangat, dan merasakan adanya pertanggungjawaban dan
bahaya di baliknya.
PENGHORMATAN DAN PEMULIAAN
Setelah
Allah ciptakan Adam dan meniupkan ruh padanya. Allah perintahkan para malaikat
untuk menyambut makhluk baru itu dengan penyambutan penghormatan dan pemuliaan,
hal ini tampak dalam perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud
kepadanya.
(Ingatlah)
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan
menciptakan manusia dari tanah".
Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh
(ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya".
QS. Shaad: 71-72
Dalam dua ayat ini terdapat beberapa pemuliaan yang
Allah khususkan kepada Adam, yaitu:
1.
Allah cipatakan dalam bentuk
terbaik, paling sempurna, seperti yang ada dalam kata “Taswiyah”
2.
tiupan ruh
3.
Perintah kepada para malaikat
untuk bersujud kepadanya.
Sujud malaikat kepada Adam adalah sujud tahiyyah
(penghprmatan) dan takrim (pemuliaan), bukan sujud penyembahan dan peribadatan.
Sebab sujud ibadah tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah swt. Dan Allah
tidak pernah menyuruh siapapun menyembah selain-Nya.
Dari itulah tidak ada pembenaran bagi anggapan aneh
sebagian orientalis tentang penetapan sujud para malaikat kepada Adam dalam
Islam, padahal yang diakui dalam agama ini adalah sikap tegas terhadap masalah
tauhid dan penolakan kemusyrikan, serta mengkafirkan orang yang bersujud kepada
selain Allah.[32]
Mereka lupa bahwa sujud ini adalah untuk memenuhi
perintah Al Khaliq, mengakui Kekuasaan dan Keagungan-Nya pada makhluk baru ini.
Dan Allah telah mencatat kutukan abadi-Nya
atas Iblis karena menolak perintah sujud ini.
Allah
berfirman: "Hai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama
mereka yang sujud itu?". Berkata
Iblis: "Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau Telah
menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang
diberi bentuk" Allah berfirman:
"Keluarlah dari surga, Karena Sesungguhnya kamu terkutuk, Dan Sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu
sampai hari kiamat". QS. Al Hijr: 32-35
Sujud
di sini bukan untuk penyembahan dan pengagungan, akan tetapi untuk pemuliaan
dan penghormatan.
Hanya
saja sebagian orang berpandangan bahwa sujud di situ bukanlah sujud yang
dikenal dalam shalat, yaitu dengan meletakkan dahi di atas tanah, tetapi dengan
menundukkan kepala yang terdapat unsure pemuliaan dan penghormatan.
Al
Qurthuby mengatakan dalam tafsirnya: “
Al ‘Aqqad
berkata: Kata sujud telah diketahui maknanya dalam bahasa Arab, sebelum bangsa
Arab mengenal shalat dalam Islam. Mereka tidak pernah memahaminya bahwa kata
sujud itu hanya bermakna ibadah, bukan lainnya. Karena mereka biasa mengatakan
: Sajadtu=’aghdhadhtu (aku tundukkan kepala) asjada ‘ainahu=ghadhdha
minha (memejamkan matanya) sajadatinnakhlatu (pohon kurma
itu merunduk), sajada (menundukkan kepalanya untuk menghormati) sajada
li ‘azhimin (menghormatinya, tenang di hadapannya).
Tidak ada pertentangan antara makna kalimat ini, antara
sujud kepada Adam dan tauhidullah. Sujud ini adalah untuk ta’zhim.
Dalam Al Qur’an terdapat beberapa bukti kata sujud dengan
makna lughawi, yaitu merunduk, diantaranya firman Allah:
Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk
kepada nya. QS. Ar Rahman: 6
Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada
di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat,
sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. QS. An Nahl: 49
Nabi Yusuf mengungkapkan:
(ingatlah),
ketika Yusuf Berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku[34] ,
Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat
semuanya sujud kepadaku."QS. Yusuf:4
Dalam ayat lain:
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud
apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung,
pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada
manusia? dan banyak di antara manusia yang Telah ditetapkan azab atasnya. dan
barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang
dia kehendaki. QS. Al Hajj: 18
Maka kata sujud itu memiliki beberapa makna dan tampilan
lain, selain yang ada dalam shalat. Dan sangat mungkin, sujud para
malaikat kepada Adam adalah seperti yang
ada dalam makna ini.
Meskipun kepada makna pertama ada kecenderungan, karena secara zhahir perintah pada kata: “faqa’u”
terdapat kesan bahwa seruan itu kepada para malaikat untuk serentak sujud
kepada Allah, sebagai penghormatan kepada Adam.
Sujud diarahkan untuk menghormati Adam. Penghormatan
kepada Adam adalah penghormatan kepada anak cucunya. Penghormatan kepada Adam
tidak terbatas pada hal ini saja, akan tetapi Allah memuliakan manusia dalam
bentuk-bentuk lain lagi.
1.
Allah telah
muliakan Adam dalam bentuk penciptaan yang paling baik bentuk dan sosoknya.
Sesungguhnya
kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya . QS. At Tin: 4
2.
Allah telah tundukkan apa yang ada di langit dan di bumi
sesuai dengan kebutuhannya.
Dan dia Telah menundukkan untukmu apa
yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang berfikir. Al Jatsiyah: 13
3.
Allah muliakan manusia dengan ilmu pengetahuan, yang
membantunya melaksanakan perannya dalam hidup:
31.
Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!"
32.
Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; QS.Al Baqarah: 31-32
4.
Allah muliakan dengan kekuatan akal yang mampu menangkap
hakekat banyak hal, dan rahasia dari yang ada.
5.
Allah muliakan dengan sifat-sifat mulia yang merupakan
pancaran dari sifat rububiyah, seperti ilmu, kemampuan, pendengaran dan
penglihatan.
Dan
Islam hadir mengumandangkan kemuliaan ini dengan jelas dan gambling, sehingga
membuka pintu kemuliaan dan obsesi, memenuhi hatinya dengan tsiqah dan
kemuliaan.
Bandingkanlah
pemuliaan yang diberikan Islam dengan teori-teori filsafat modern tentang
manusia, yang memandangnya sebagai makhluk paling rugi dan celaka. Manusia
dilihat tidak lebih dari serangga hina, atau belatung yang ada di sampah
kehidupan, seperti yang diungkapkan oleh Syarter. Atau memandangnya tidak lebih
dari seekor kera yang Allah ciptakan untuk bermain-main dalam waktu yang
panjang dan melelahkan seperti yang dikatakan oleh Netch.[35]
Dengan
ini pula dapat diperoleh data betapa jahatnya orientalis J. A Geronbawm dalam
bukunya “HADHARATUL ISLAM/peradaban Islam, ketika mengatakan: Dan Islam sejak
semula tidak pernah mengakui, kecuali sedikit sekali, dan Al Qur’an memaksa
mereka untuk menerima kehinaan asal-usulnya secara fisik.[36]
Ungkapan ini betul-betul dusta. Sebab manusia belum
pernah mendapatkan pemuliaan seperti yang diberikan Islam. Penjelasan Islam tentang asal-usul
manusia dari air dan tanah, adalah pengakuan terhadap realitas yang tidak
mungkin ditolak, seperti yang diungkapkan secara logis dan dikuatkan oleh
penelitian-penelitian ilmiah.
Jika dilakukan uraian terhadap fisik manusia maka akan
ditemukan susunan seperti yang terdapat dalam susunan tanah bumi ini-sebab
manusia adalah bagian segumpal darinya- seperti hidrogin,besi, kalsium, potassium,
karbon, dst… demikian juga ketika manusia mati, fisiknya akan terurai kepada
bahan dasar yang membentuk tanah bumi ini.
Dan Islam ketika mengajak manusia melihat asal
penciptaannya, sesungguhnya hanya untuk mengingatkannya akan kelemahan asalnya,
mengingatkan ketidak berdayaannya sehingga tidak melampaui batas, dan tersesat
dari jalan lurus.
dan
manusia dijadikan bersifat lemah. QS.An Nisa’: 28
mengingatkannya
pada asalnya agar tidak sombong
Bukankah
kami menciptakan kamu dari air yang hina ?[37]
QS. Al Mursalat: 20
Pada
waktu yang sama tidak menjadikan fisik sebagai landasan dalam keutamaan atau
pemuliaan. Semua manusia berasal dari sisi ini dari segi keberadaannya. Tidak
ada yang lebih utama yang membedakannya dari yang lain.
|
الناس من جهة
التمثـيل أكفـاء |
: |
أبوهــم آدم والأم
حــواء |
|
فإن يكن لهم في
أصلهم شـرف |
: |
يفاخـرون به فالطين
والماء |
Manusia
itu dari sisi bentuknya sama, Adam ayahnya dan ibunya
Jika
ada kemuliaan dari asal muasal yang dibanggakan, maka itulah tanah dan air
Islam memperhitungkan kemuliaan manusia pada titik lain
eksistensinya, yaitu sisi ruhiyah. Dari
sisi inilah terdapat karakteristik manusia yang berhak dimuliakan dan
dibanggakan, dan makhluk lain memberikan penghormatan.
Dari
itulah Islam menanggalkan kebanggaan unsur tanah atau kedekatan nasab dengan
generasi masa lalu.
"كلكم
لآدم وآدم من تراب، لينتهين قوم يفتخرون بآبائهم، أو ليكونن أهون على الله من
الجعلان"([38])
“Semua
kalian dari Adam, dan Adam terbuat dari tanah.sungguh mereka mau berhenti
membanggakan nenek moyangnya, atau Allah jadikan mereka lebih hina dari
belatung.
"من بطأ به عمله لم يسرع به نسبه"([39])
Barang siapa yang lambat amalnya, maka nasabnya tidak
akan mengangkatnya.
"أيها الناس إن الله أذهب عنكم عبية الجاهلية ، وفخرها
بالآباء، مؤمن تقي وفاجر شقي، والناس بنو آدم وآدم من تراب"([40])
Wahai
manusia, sesungguhnya Allah telah hilangkan dari kalian kebanggaan jahiliyah,
dan nenek moyang. Mukmin yang bertaqwa dan pendurhaka yang celaka. Manusia
adalah anak cucu Adam dan Adam berasal dari tanah.
Kehormatan
manusia berpulang kepada aspek ruhiyah bukan pada sisi tanahnya. Berpulang
kepada tiupan dari atas bukan segenggam tanah yang rendah. Dengan aspek ruh
manusia mampu mengemban pancaran sifat-sifat dari Yang Maha Tinggi,
menjadikannya mendengar dan melihat, hidup, berbicara, membuat malaikat siap
menyambutnya dengan senang.
Sedang
sisi kedua adalah segumpal tanah, yang mudah lapuk, keras dan a lot.
Kemuliaan manusia tergantung pada dominasi sisi ruhiyah.
Hidup bukanlah fisik semat, atau kesenangan saja.
|
لحا الله صعلــوكاً
مناه وهمــه |
: |
من الحياة أن يلقى
لبوساً ومطعماً |
Allah
membenci si miskin, yang obsesi dan cita-citanya. Dalam hidup ini hanya pakaian
dan makanan.
Kemudian
Islam datang mengingatkan manusia akan nilai materialnya, menyadarkannya akan
status etikanya. Manakah yang masih kurang? Islam tidak membiarkan aspek
material manusia, bahkan memberikan perhatian padanya. Arahan Nabi Muhammad
sangat jelas menunjukkan perhatian terhadap fisik manusia dan kebersihannya,
sehingga bisa tampil dalam keadaan yang indah.
Islam
membangun interaksi sesama manusia atas dasar pengakuan akan eksistensi manusia
secara keseluruhan, fisiknya, ruhnya, akalnya, hatinya, hobinya, dan
perasaannya. Sebagaimana Islam meletakkan dasar perbaikan di atas prinsip ini.
Kebahagiaan manusia dan ketenangannya dalam hidup tidak akan terwujud tanpa
terpenuhinya dua sisi ini bersamaan. Inilah Islam yang menegaskannya pada
setiap taujih (arahan), syariah (hokum) dan adabnya (etika).
Apabila
kamu Telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut
Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu[41]
, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada
orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia",
dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa:
"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan
peliharalah kami dari siksa neraka"[42].
Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan;
dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. QS. Al Baqarah: 200-202
دروس من قصة آدم
PELAJARAN
DARI KISAH ADAM ALAIHISSALAM
Dalam
kisah Adam ini terdapat beberapa pelajaran yang patut direnungkan dan dijadikan
cermin, kami ungkapkan di antaranya:
- Setelah penjelasan Allah tentang
prinsip-prinsip penugasan yang terdapat dalam perintah dan larangan-Nya,
seperti pada ayat:
(dan Allah berfirman): "Hai Adam
bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua
(buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati
pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim."
QS. Al A’raf: 19
Setelah itu kita dapati peringatan
Allah kepad Adam tentang adanya hambatan-hambatan yang akan menghalanginya
melaksanakan tugas ini. yaitu dalam bentuk permusuhan abadi dengan Iblis, dalam
surah lain:
Maka kami berkata: "Hai Adam,
Sesungguhnya Ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, Maka
sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang
menyebabkan kamu menjadi celaka. QS. Thaaha: 117
Iblis adalah hambatan pertama bagi
manusia sejak menerima tugas. Dan iblis telah menetapkan dirinya selama
hidupnya untuk hal ini. sejak di usir dari surga karena menolak perintah ia
minta untuk ditangguhkan sampai hari kiamat.dan permintaan itu dikabulkan:
Iblis menjawab: "Beri tangguhlah
saya[43]
sampai waktu mereka dibangkitkan". Allah berfirman: "Sesungguhnya
kamu termasuk mereka yang diberi tangguh." QS. Al A’raf: 14-15
Dan iblis ditangguhkan tidak untuk
diam atau tidur, tetapi untuk mengintai manusia dan menggodanya ke manapun ia
menuju.
82.
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka
semuanya,
83.
Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka [44].
QS. Shaad
Dan jelas sekali dari kisan di atas
bahwa permusuhan ini terjadi di manapun berada, ia akan dating kapan dan di
manapun arahnya.
16.
Iblis menjawab: "Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya
benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus,
17.
Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka,
dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan
mereka bersyukur (taat). QS. Al A’raf
Dan Iblis memliki banyak pembantu
dari bangsa manusia
112.
Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu
syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka
membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah
untuk menipu (manusia)[45]
[499]. Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, Maka
tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. QS. Al An’am
Akan tetapi mereka tidak akan berdaya
di hadapan orang yang berpegang teguh dengan agama Allah:
99.
Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang
beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya.
100.
Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang
mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan
Allah. QS. An Nahl.
- Adam melakukan kesalahan di
hadapan Rabbnya, akan tetapi dengan cepat kembali dan meminta ampun kepada
Rabbnya yang Maha Perkasa:
23.
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. QS. Al A’raf.
Sedangkan iblis menambhakan durhaka
besarnya itu dengan meneruskannya dan mendebat Allah Yang Maha Perkasa, menolak
perintah-Nya.
61. …. "Apakah Aku akan sujud kepada orang
yang Engkau ciptakan dari tanah?" QS.
Al Isra.
12.
… menjawab Iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya
dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". QS.Al A’raf
Ini jelas kufur. Dari itulah Al
Khaliq swt mengusirnya dari surga dan dijauhkan dari rahmat Allah.
13.
Allah berfirman: "Turunlah kamu dari surga itu; Karena kamu
sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, Maka keluarlah, Sesungguhnya kamu
termasuk orang-orang yang hina". AL A’raf
Allah
tetapkan laknat kepadanya dan para pengikutnya.
43. Dan Sesungguhnya Jahannam itu benar-benar
tempat yang Telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan)
semuanya.
44.
Jahannam itu mempunyai tujuh pintu. tiap-tiap pintu (telah ditetapkan)
untuk golongan yang tertentu dari mereka. QS. Al Hijr.
Demikianlah kaidah setiap orang yang
menolak hukum syar’iy –apalagi yang telah diketahui secara aksiomatic dari
agama- dan tidak menganggap bahwa yang telah Allah turunkan tidak wajib
diterapkan, maka ia telah mengikuti jalan yang pernah dirintis oleh iblis.
Adapun orang yang mengalami kelemahan
sesaat dalam menjalankan tugas dari Allah, karena kelemahan dan kelalaian,
kemudian ia segera menyadarinya seperti yang dikatakan Adam alaihissalam:
23.
Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami Telah menganiaya diri kami
sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya Pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. QS. Al A’raf.
70.
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh;
Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Al Furqan.
"لا كبيرة
مع الاستغفار، ولا صغيرة مع الإصرار"([46]).
Tidak
ada dosa besar yang disertai istighfar, dan tidak ada dosa kecil, yang
dilakukan dengan terus menerus. HR. Ad Dailamiy, Ath Thabrani
Sesungguhnya perintah Allah harus
dijaga, dilindungi, dan diterima dengan penuh penyerahan, penghormatan dari
seluruh manusia.
36. Dan tidaklah
patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin,
apabila Allah dan rasul-Nya Telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan barangsiapa mendurhakai
Allah dan rasul-Nya Maka sungguhlah dia Telah sesat, sesat yang nyata. QS. AL
Ahzab
65.
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian
mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang
kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. QS. An Nisa
Dan siapapun yang melakukan seperti
yang dilakukan adalah iblis menolak perintah Tuhannya, atau mengungkapkan
pandangannya yang berbeda dengan perintah Allah, atau memutuskan bukan dengang
yang telah Allah putuskan. Maka ia berhak mendapatkan hukum yang pernah
dijatuhkan kepada iblis, karena pengikut itu mengikuti hukum yang diikuti. Dan
Allah swt telah melarang kita mengikuti dan mentaati syetan, dan menyebutkan
sebagai ibadah. Firman Allah:
60.
Bukankah Aku Telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu
tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi
kamu",
61.
Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. inilah jalan yang lurus.
62.
Sesungguhnya syaitan itu Telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu,
Maka apakah kamu tidak memikirkan ?. QS. Yasin
Demikianlah, dengan memahami
perberbedaan antara ma’siyat Adam alaihisalam dan ma’siyah iblis, penerapan
Islam menempati posisi penitng dalam kehidupan.
- Manusia senantiasa dinaungi
dengan pertolongan Allah swt, dijaga dengan lindungan dan kasih sayang
Allah jika berada dalam perintah-Nya, berjalan di atas ajaran-Nya. Ketika
itulah diberikan anugerah Allah dalam bentuk barakah dan rahmat.
58.
Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin
Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya Hanya tumbuh merana.
Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (kami) bagi orang-orang yang
bersyukur. QS. Al A’
96.
Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, Pastilah
kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka
mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan
perbuatannya. QS. Al A’raf
Sedangkan ketika jauh dari kitabullah
dan wahyu-Nya, maka tercabutlah selendang taqwa dan keamanan, menempatkan diri
pada penyebab kesempitan dan kecelakaan.
124.
Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya
penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam
keadaan buta".
125.
Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, Mengapa Engkau menghimpunkan Aku dalam
keadaan buta, padahal Aku dahulunya adalah seorang yang melihat?"
126.
Allah berfirman: "Demikianlah, Telah datang kepadamu ayat-ayat
kami, Maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari Ini kamupun
dilupakan". QS. Thaaha.
Dan Adam ketika berada dalam
keindahan surga, berpakaian lengkap, bersenang-senang terpenuhi semua
kebutuhannya primer maupun komplementer tanpa susah payah, demikian juga Hawa.
118.
Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan
telanjang,
119.
Dan Sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan
ditimpa panas matahari di dalamnya". QS. Thaha.
Dan ketika keduanya makan buah,
melanggar perintah Allah terbukalah auratnya, dan telanjang tanpa pakaian.
22.
Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu
daya. tatkala keduanya Telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya
aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga….QS.
AL A’raf.
|
إذا المرء لم يلبس
ثياباً من التقى |
: |
تجرد
عرياناً وإن كان كاسياً |
Jika seseorang tidak mengenakan
pakaian taqwa, maka ia bugil telanjang meskipun kelihatannya berpakaian
Inilah kaidah AL Qur’an yang
mengungkapkan dengan tegas.
112.
Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang
dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari
segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena
itu Allah merasakan kepada mereka pakaian [47]
kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. QS. AnNahl
- Dapat diambil dari firman Allah:
Bahwa Adam alaihissalam sejak awal
mula diciptakan adalah untuk menjadi penghuni bumi. Adapaun keberadaannya di
surga saat itu adalah untuk waktu sementara, berbekal diri untuk dirinya dan
anak cucunya dengan bimbingan yang diperlukan sebagai khalifah setelah itu. Firman
Allah:
38. Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya
dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa
yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan
tidak (pula) mereka bersedih hati".
39.
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu
penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. QS. Al Baqarah.
Turunnya Adam alaihissalam adalah
untuk menegakkan risalah di muka bumi. Ia turun tidak dengan kehinaan dan
pengusiran, akan tetapi turun dengan disertai rahmat dan pertolongan Allah.
Sebab sangat mungkin jika surga itu memang mejadi tempat menetapnya maka Allah
akan menghukumnya dengan hukuman lain selain dikeluarkan darinya, seperti
celaan, cibiran, atau keluar sementara dari surga, dll.
Akan tetapi Adam alaihissalam
diciptakan dari tanah agar menjadi khalifah di
Seseorang pernah bertanya kepada Al
Hasan Al Bashriy: “Adam itu diciptakan untuk berada di langit atau di bumi?
Jawab Hasan: “Ia diciptakan untuk berada di bumi. Ia berkata: “Bagaimana
pendapatmu jika Adam berpegang teguh dengan perintah Allah dan tidak makan buah
itu? Jawab Hasan: “Pasti dia makan buah itu, karena ia memang diciptakan untuk
menghuni bumi.[48]
Hadits dialog Adam dan Musa
alaihimassalam menguatkan makna ini, seperti yang terdapat dalam shahih Al
Bukhary dan Muslim. Dari Abu Hurairah ra berkata:
"حاج موسى آدم عليهما السلام فقال له:
أنت الذي أخرجت الناس بذنبك من الجنة وأشقيتهم. قال آدم: يا موسى أنت الذي اصطفاك
الله برسالته وبكلامه أتلومني على أمر قد كتبه الله علي قبل أن يخلقني أو قدره
عليَّ قبل أن يخلقني. قال رسول الله r : فحج آدم موسى"([49]).
Nabi Musa berkata kepada Nabi Adam
alaihimassalam: Engkaulah yang karena dosamu membuat manusia keluar dari surga
dan sengsara. Adam menjawab: Wahai Musa, Engkaulah yang dipilih Allah dengan
risalah, dan berdialog dengan-Nya. Apakah Engkau salahkan aku atas urusan yang
telah Allah tetapkan atasku sebelum aku diciptakan. Rasulullah saw bersabda:
Adam menjawab pertanyaan Musa dengan kuat.
Ibnu Katsir berkata: hadits ini
diriwayatkan dengan banyak redaksi, dan focus dalam kitab shahihain dan lainnya
adalah bahwa Nabi Musa menyalahkan Adam karena mengeluarkan dirinya dan anak
cucunya dari surga. Adam berkata: Aku tidak mengeluarkan kamu semua dari surga,
sesungguhnya yang mengeluarkan kalian adalah yang mengeluarkanku karena makan
buah, yang telah menetapkan dan menentukan itu sebelum aku diciptakan adal
Allah swt. Lalu mengapa kamu salahkan aku atas sesuatu yang tidak ada
hubungannya denganku, lebih dari aku dilarang makan buah lalu aku memakannya.
Pengeluaran dari surga sebagai konsekwensi hal ini bukanlah perbuatanku. Aku
bukan mengeluarkan kalian, bahkan diriku sendiri dari surga. Sesungguhnya hal
ini adalah keputusan Allah, yang pasti ada hikmahnya. Dari itulah Adam
alaihissalam menjawab pertanyaan Musa.
Kemudian Ibnu Katsir berkata: Dan
barang siapa yang mendustakan hadits ini, maka ia tergolong pembangkang. Hadits
ini adalah hadits mutawatir dari Abu Hurairah ra, orang yang berada dalam
puncak keadilan, hafalan dan ketelitian. Kemudian diriwayatkan pula dari para
sahabat lainnya.
- Kemdian jika Adam lupa dan makan
buah yang dilarang mendekatinya, ternyata ia menyesali salahnya dan
meminta ampunan Allah, dan Allah memberinya ampunan dan rahmat seketika
itu pula. Dan semua bekas kesalahan telah bersih total dengan taubat ini.
37.
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat[50]
dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima
Taubat lagi Maha Penyayang. QS. AL Baqarah.
Maka Adam tidak turun ke muka bumi
kecuali dengan lembaran bersih tidak ada bekas dosa dan salah. Maka tidak ada
dosa warisan yang dibebankan di leher manusia sejak kelahirannya seperti yang
difahami oleh gereja. Tidak ada juga penebus dosa seperti kata gereja bahwa Isa
ibn Maryam disalib untuk menebus dosa manusia dari kesalahan Adam.
Kesalahan Adam adalah kesalahan
pribadi yang dan selesai dengan taubat, dan Allah memilihnya menjadi nabi.
Masalah keselahan sudah selesai tidak ada lagi yang tersisa, kecuali bekal
pengalaman yang membantu manusia dalam pertarungan panjang sepenjang
zaman.
122.
Kemudian Tuhannya memilihnya[51] Maka dia menerima taubatnya dan memberinya
petunjuk. QS. Thaaha
- Tidak ada lagi kesalahan setelah
bertaubat dan terpilih. Tidak ada lagi dosa warisan yang diterima anak
cucu. Setiap orang menghadapi hidup ini dengan bersih tanpa dosa yang ia
warisi. Tidak ada dosa yang membebani punggunnya. Firman Allah:
Dan orang yang berdosa tidak akan
memikul dosa orang lain [52].
QS. Fathir. 28
38.
Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang Telah diperbuatnya, QS.
AL Muddatstsir
Dan manusia dengan sikap perbuatanya
sendiri akan dapat menjaga lembarannya ini tetap bersih sampai berjumpa kembali
dengan Rabbnya. Dan sama saja bagi yang dapat menjaganya bersih atau menodainya
dengan penyimpangan, maka ia tidak akan dihisab (diperhitungkan)
kecuali yang telah ia perbuat sendiri, dan tidak ada urusan dengan perbuatan
dosa orang lain.
39.
Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang Telah
diusahakannya,
40.
Dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). QS.An Najm
13.
Dan tiap-tiap manusia itu Telah kami tetapkan amal perbuatannya
(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan kami keluarkan baginya pada
hari kiamat sebuah Kitab yang dijumpainya terbuka.
14.
"Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu Ini sebagai
penghisab terhadapmu". QS. Al Isra
[1] Kuniyah
adalah sebutan untuk seseorang yang dimulai dengan kata Abu, Ummu, atau Ibnu,
misalnya Abu Bakar, Ummu Aiman, Ibnu Abbas. (penerjemah).
[2] Untuk
kata Adam yang disandarkan dengan kata dzurriyyah dapat dilihat dalam
[3] Dua ayat
yang lain adalah Al-Hijr (15): 26 dan As-Sajdah (32): 7.
[4]
Ayat-ayat lainnya adalah Ar-Rum (30): 20, Fathir (35): 11, Ghafir (40): 67.
[5]
Ayat-ayat lainnya adalah Al-A’raf (7): 12, As-Shafat (37): 11, Shad (38): 71
& 76, dan Al-Isra (17): 61.
[6] Lihat
Tafsir Al-Qurthubi : I/282, di dalamnya tersebut tabi’in yang dimaksud yaitu
Ikrimah, Qatadah, Mujahid dan Ibnu Jubair rahimahumullah. (penerjemah).
[7] Tafsir
Al-Qurthubi: I/284.
[8]
Al-Kasyaf – Lihat: Adam as, Al-Bahi Al-Khuli.
[9]
Al-Muharrar Al-Wajiz.
[10]
Al-Insan fil Quran, Ustadz Abbas Mahmud Al-‘Aqqad.
[11] Yakni hadits yang diriwayatkan dari Ummul mu’minin
Shafiyyah binti Huyay ra:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنْ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ (Sesunggunya setan berjalan pada diri manusia seperti aliran darah…) (HR. Bukhari & Muslim). (Penerjemah).
[12] Di belakang tabir artinya ialah seorang dapat mendengar kalam Ilahi akan tetapi dia tidak dapat melihat-Nya seperti yang terjadi kepada nabi Musa a.s.
[13] Musnad
Imam Ahmad: V/178, cetakan Al-maktab Al-islami,
[14]
Maksudnya beliau tidak merasa bangga karena hal itu beliau peroleh semata-mata
karena pemberian Allah swt. Dan beliau menyampaikannya semata menaati
perintah-Nya agar diketahui oleh ummatnya. (Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi tentang
syarah hadits ini – Penerjemah).
[15]
Maksudnya: karena Rasulullah saw adalah makhluk Allah swt yang paling terpuji,
maka beliau pantas mendapatkan panji atau bendera pujian tersebut.
(Penerjemah).
[16] Juga
diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah. Lihat: Al-Fath Al-Kabir: I/274, cetakan
Al-Halabi.
[17] Ibnu
‘Asakir dalam At-Tarikh dari Anas. Lihat: Faidul Qadir III/961.
[18] Kata
“mengutus” menunjukkan ada ummat atau objek dakwah bagi setiap nabi. Ini
menunjukkan bahwa seorang nabi ditugaskan untuk menyampaikan (tabligh) kepada
ummatnya. (Penerjemah).
[19] Shahih
Muslim: Kitab Al-Imarah. Lihat: An-Nawawi ‘ala Muslim: XII/234, Mathba’ah
Mishriyyah.
[20]
[21] Shahih
Bukhari: Kitab At-Tauhid, Bab Firman-Nya “Allah berbicara kepada Musa” hadits
No 6962; Shahih Muslim: Kitab Al-Iman, Bab Kedudukan Terendah Penghuni Surga,
hadits No 287. Teks di atas adalah lafazh Muslim.
[22] Hal 45,
cetakan ke-empat.
[23] Tafsir
Ar-Razi: V/267, cetakan kedua – 1324 H ketika menafsirkan ayat-ayat di
[24] Ta’wil
dalam hal ini maksudnya: beralih dari makna yang lebih kuat (misalnya makna
hakiki) ke makna yang lebih lemah (misalnya makna kiasan). Ta’wil baru
dibenarkan jika ia didukung oleh dalil yang kuat. (Penerjemah).
[25] Kitab:
Adam alaihis salam, hlm 124, cetakan ke-3 – 1394 H.
[26] Tafsir
At-Thabari I/157 cetakan ke-3, th 1398 H.
[27]
Mukaddimah Ibnu Khaldun, hlm 191, cetakan IV, thn 1398 H.
[28] تفسير أبو السعود ، ج 1/ ص: 81-82 .
[29] المرجع السابق، ص: 81
[30] انظر: في ذلك كتب التفسير لهؤلاء العلماء عند تفسير أية
الخلافة في سورة البقرة .
[31] تفسير الخازن
، ج 1/ ص: 40 .
[32] انظر: " كتاب حقائق الإسلام وأباطيل خصومه "
للأستاذ العقـاد ، ص: 27 ، ط دار الهلال .
[33] تفسير القرطبي: ج 1/ ص: 273 .
[34] bapak Yusuf a.s. ialah Ya'qub putera Ishak putera Ibrahim a.s.
[35] مع الأنبياء في القرآن الكريم – عفيف
طبارة 43 .
[36] ibid
[37] yang dimaksud dengan air yang hina
ialah air mani.
([38]) البراز عن حذيفة، والجعلان دويبة سوداء تعيش على
القاذورات، فإذا شمت رائحة طيبة ماتت، انظر فيض القدير ج 5/ص: 37 .
([39]) رواه مسلم عن أبي هريرة في حديث طويل أوله
"من نفس عن مؤمنٍ كربةٍ .." والدارمي ج 1 / ص : 99 ، ط دار الفكر .
[41] adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu Bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. setelah ayat Ini diturunkan Maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.
[42] inilah doa yang sebaik-baiknya bagi
seorang muslim.
[43] Maksudnya: janganlah saya dan anak cucu saya dimatikan sampai hari kiamat sehingga saya berkesempatan menggoda Adam dan anak cucunya.
[44] [1304] yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang Telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah s.w.t.
[45] [499] maksudnya syaitan-syaitan jenis jin dan manusia berupaya menipu manusia agar tidak beriman kepada nabi.
[47] Maksudnya: kelaparan dan ketakutan itu meliputi mereka seperti halnya Pakaian meliputi tubuh mereka.
[48] سير أعلام النبلاء ، ج 4 / ص: 581
[50] tentang beberapa kalimat (ajaran-ajaran) dari Tuhan
yang diterima oleh Adam sebahagian ahli tafsir mengartikannya dengan kata-kata
untuk bertaubat.
[51] Maksudnya: Allah memilih nabi Adam a.s. untuk menjadi
orang yang dekat kepada-Nya.
[52] Maksudnya: masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.
No comments:
Post a Comment