Thursday, April 2, 2026

Rasul Bukanlah Orang yang Buruk Perkataan dan Perbuatannya

Teks Hadis dan Penjelasannya

1.

عَنْ مَسْرُوقٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا حِينَ قَدِمَ مَعَ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ إِلَى الْكُوفَةِ، فَذَكَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: لَمْ يَكُنْ فَاحِشاً، وَلَا مُتَفَحِّشاً، وَقَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقاً". (رواه البخاري)

Terjemahan Hadis:

Dari Masruq RA, ia berkata: "Kami menemui Abdullah bin 'Amr RA ketika ia datang bersama Mu'awiyah RA ke Kufah, lalu ia menyebutkan tentang Rasulullah SAW dan berkata: 'Beliau tidak pernah berkata keji (fahisyan) dan tidak pula berbuat keji (mutafahhishan).' Dan ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya di antara orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.'" (HR. Al-Bukhari)

2.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَمْ يَكُنِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّاباً، وَلَا فَاحِشاً، وَلَا لَعَّاناً. وَكَانَ يَقُولُ لِأَحَدِنَا عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ: "مَا لَهُ تَرِبَ جَبِينُهُ". (رواه البخاري)

Terjemahan Hadis:

Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: "Nabi SAW bukanlah seorang pencela, bukan orang yang suka berkata keji, dan bukan seorang pelaknat. Beliau biasa berkata kepada salah seorang dari kami ketika sedang menegur (marah): 'Ada apa dengannya? Semoga dahinya berdebu.'" (HR. Al-Bukhari)

3.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلاً اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: "بِئْسَ أَخُو الْعَشِيرَةِ، وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ"، فَلَمَّا جَلَسَ، تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ، وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ، قَالَتْ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ، حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ: كَذَا وَكَذَا، ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ، وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَائِشَةُ، مَتَى عَهَدْتِنِي فَحَّاشاً؟ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ، اتِّقَاءَ شَرِّهِ". (رواه البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي)

Terjemahan Hadis:

Dari Aisyah RA, bahwa seorang lelaki meminta izin untuk menemui Nabi SAW. Ketika melihatnya, beliau bersabda: "Seburuk-buruk saudara di dalam sukunya dan seburuk-buruk anak di dalam sukunya." Namun ketika orang itu duduk, Nabi SAW menampakkan wajah yang ceria dan bersikap ramah kepadanya. Setelah orang itu pergi, Aisyah bertanya: "Wahai Rasulullah, saat melihat orang itu engkau berkata begini dan begitu, namun kemudian engkau bermuka ceria dan ramah kepadanya." Maka Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Aisyah, kapan engkau dapati aku berkata keji? Sesungguhnya seburuk-buruknya kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan keburukannya." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi)


Syarah (Penjelasan):

"Bab" (dengan tanwin): Di dalamnya disebutkan bahwa "Nabi SAW tidak pernah berkata keji (Fahisyan)".

  • Al-Fuhsy (Kekejian): Adalah segala sesuatu yang keluar dari batasannya hingga menjadi buruk, mencakup perkataan, perbuatan, dan sifat. Dikatakan: "Sangat tinggi (thawil fahisy al-thul)" jika tingginya berlebihan. Namun, penggunaannya dalam perkataan lebih sering.
  • "Wala mutafahhishan" (dengan tasydid pada huruf ha): Yakni orang yang sengaja berbuat keji dan sering melakukannya.
  • "Beliau senantiasa Mudaraat (beramah-tamah/menjaga perasaan) terhadap manusia": Yakni melembutkan perkataan kepada mereka, tidak bersikap kasar, bersikap lembut kepada orang bodoh dalam mengajar, dan kepada orang fasik dalam melarang perbuatannya dengan tidak menampakkan aibnya secara terang-terangan melainkan mengingkari dengan lembut hingga orang tersebut meninggalkan kemaksiatannya.
  • Perbedaan Mudaraat dan Mudahanah: Mudaraat berbeda dengan Mudahanah. Mudahanah adalah bergaul dengan orang yang terang-terangan berbuat fasik dan menunjukkan rasa ridha terhadap perbuatannya tanpa ada pengingkaran baik dengan lisan maupun hati.
  • Penjelasan (Syarah) Hadis Nomor (1):
  • "Dari Masruq": Beliau adalah Ibnu al-Ajda', seorang Tabi'in —semoga Allah meridhainya.
  • "Abdullah bin 'Amr": Beliau adalah putra dari Al-'Ash —semoga Allah meridhai keduanya.
  • "Ketika ia datang bersama Mu'awiyah": Yakni putra Abu Sufyan —semoga Allah meridhainya— ke Kufah: "Pada tahun empat puluh satu (Hijriah)". Lalu ia menyebutkan tentang Rasulullah —shollallahu 'alayhi wasallam— dan berkata: "Beliau tidak pernah berkata keji" yakni secara tabiat (watak asli), "dan tidak pula berbuat keji" yakni secara sengaja atau dibuat-buat.
  • Sungguh, beliau —shollallahu 'alayhi wasallam— adalah orang yang sangat jauh dari segala bentuk kekejian secara mutlak. Abdullah bin 'Amr —semoga Allah meridhai keduanya— berkata: Rasulullah —shollallahu 'alayhi wasallam— bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقاً".

Terjemahan:

"Sesungguhnya di antara orang yang terbaik di antara kalian (yakni: yang paling utama) adalah yang paling baik akhlaknya."

  • Kata "Khuluqan" (dengan harakat dammah pada huruf kha dan lam) adalah: Suatu kondisi jiwa (karakter) yang darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa perlu melalui proses pemikiran (yang berat).

Pelajaran dari hadis:

  1. Bersihnya Nabi SAW dari segala bentuk kekejian.
  2. Bahwa dasar dan standar keutamaan adalah akhlak yang baik.

Syarah (Penjelasan) Hadis Nomor (2)

  • "Sabbāban" (Pencela): Dengan tasydid pada huruf ba yang pertama.
  • "Fahāsyan" (Orang yang berkata keji): Dengan tasydid pada huruf ha.
  • "La''ānan" (Pelaknat): Dengan tasydid pada huruf 'ain.

Perbedaan antara ketiganya adalah: Ada kemungkinan bahwa mencela (al-sabb) berkaitan dengan nasab (garis keturunan) seperti menuduh zina (qadzaf), berkata keji (al-fuhsy) berkaitan dengan kehormatan/martabat (al-hasab), dan melaknat berkaitan dengan akhirat, karena laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah Ta'ala, yang mana rahmat itulah yang menentukan baiknya kondisi seseorang di akhirat.

Maksud dari kata sabbāb, fahāsy, dan la''ān di sini bukanlah untuk menunjukkan "banyaknya" melakukan celaan, kekejian, atau laknat (siighah mubalaghah), melainkan penisbatan (sifat) terhadap hal tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:

وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

"Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fussilat: 46)

Maknanya adalah "tidak memiliki sifat zalim" kepada mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Suci dari kezaliman. Maka maknanya: Nabi SAW tidak memiliki sifat pencela, tidak pula berkata keji, dan tidak pula pelaknat.

  • "Beliau biasa berkata kepada salah seorang dari kami ketika Al-Ma'tabah": Dengan fathah pada mim, sukun pada 'ain, serta fathah atau kasrah pada ta': Yakni ketika menegur (al-'itāb).
  • Al-Khalil berkata: Al-'Itāb adalah pembicaraan dalam rangka menunjukkan keakraban (namun ada ketidaksukaan), sedangkan Al-Mūjadah adalah kemarahan.
  • "Mā lahu": Merupakan kata tanya (Istifham).
  • "Tariba jabīnuhu" (Semoga dahinya berdebu): Merupakan ungkapan yang biasa diucapkan oleh bangsa Arab namun tidak dimaksudkan arti hakikinya, yaitu dahi yang terkena debu karena jatuh tersungkur ke tanah dari arah dahinya. Dahi (jabīn) sendiri ada dua: di sebelah kanan kening dan di sebelah kirinya. Ungkapan ini seperti perkataan mereka: "Raghima anfuhu", yang berarti orang tersebut telah tunduk dan patuh, bukan berarti hidungnya benar-benar menempel pada debu (al-raghām).

Hadis ini menunjukkan: Bersihnya Nabi SAW dari sifat mencela, berkata keji, dan melaknat, serta jauhnya lisan beliau yang mulia dari mengucapkan hal-hal tersebut, baik dalam keadaan ridha (senang) maupun marah.

Allah Ta'ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).

Syarah (Penjelasan) Hadis Nomor (3):

  • "Dari Aisyah —semoga Allah meridhainya— bahwa seorang lelaki meminta izin untuk menemui Nabi —shollallahu 'alayhi wasallam—": Al-Qadhi 'Iyadh, Al-Qurthubi, dan An-Nawawi menegaskan bahwa lelaki ini adalah 'Uyainah bin Hishn Al-Fazari, yang biasa dijuluki sebagai "Si Bodoh yang Ditaati". Ia adalah seorang yang ceroboh namun ditaati di tengah kaumnya. Ada pula yang berpendapat selain dia.
  • "Ketika beliau melihatnya" —shollallahu 'alayhi wasallam— setelah memberinya izin. Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda segera setelah lelaki itu meminta izin: "Izinkanlah ia masuk."
  • "Beliau bersabda" —shollallahu 'alayhi wasallam—: "Seburuk-buruk saudara di dalam sukunya, dan seburuk-buruk anak di dalam sukunya." 'Iyadh berkata bahwa yang dimaksud Al-'Asyirah adalah kelompok atau kabilah. Ulama lain berpendapat: Al-'Asyirah adalah kerabat terdekat seseorang dari keluarganya, yaitu anak-anak ayah dan kakeknya.
  • 'Iyadh juga berkata: Wallahu a'lam, saat itu 'Uyainah belum masuk Islam, sehingga perkataan Nabi tersebut bukan termasuk ghibah (yang dilarang). Atau, ia sudah masuk Islam namun keislamannya tidak tulus (lemah). Nabi SAW ingin menjelaskan hal tersebut agar orang yang tidak mengetahui batinnya tidak tertipu olehnya. Sungguh, telah terjadi pada dirinya—baik di masa hidup Nabi SAW maupun setelah wafatnya—perkara-perkara yang menunjukkan lemahnya iman, sehingga apa yang disifatkan oleh Nabi SAW kepadanya termasuk di antara tanda-tanda kenabian.
  • Di antara perkara tersebut: Ia murtad di zaman Abu Bakar dan ikut berperang, kemudian kembali masuk Islam dan menghadiri beberapa penaklukan (futuhat) di era Umar bin Khattab RA.
  • "Ketika ia duduk, Nabi —shollallahu 'alayhi wasallam— menampakkan wajah ceria kepadanya": (Dengan fathah pada huruf tha' dan tasydid pada lam) artinya beliau menampakkan kegembiraan wajah kepadanya. Hal ini sama dengan ungkapan: "Dan beliau bersikap ramah (inbasatha) kepadanya", yakni berlapang dada, berseri-seri, dan menampakkan kenyamanan kepadanya. Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya: "Ketika ia masuk, beliau melembutkan perkataan kepadanya."
  • Hal itu beliau lakukan karena watak asli beliau yang berakhlak mulia, dan beliau berharap dengan penyambutan tersebut dapat melunakkan hatinya (ta'lif al-qulub) agar kaumnya masuk Islam, karena ia adalah pemimpin mereka. Beliau tidak mengonfrontasi lelaki itu dengan apa yang beliau ucapkan sebelumnya agar umat beliau dapat meneladani beliau dalam cara menjaga diri dari keburukan orang yang bersifat seperti itu, serta dalam bersikap madarah (ramah): yaitu dengan pergaulan yang baik dan kelembutan dalam berbicara.
  • Nabi SAW tidak melakukan apa pun kepada 'Uyainah setelah ia duduk di dekat beliau selain madarah. Beliau tidak memujinya dengan perkataan, sehingga perbuatan beliau tidak bertentangan dengan ucapan beliau: "Seburuk-buruk saudara di dalam sukunya". Sebab, ucapan beliau tentangnya adalah kebenaran, sedangkan perbuatan beliau bersamanya adalah pergaulan yang baik dan madarah.
  • Al-Madarah adalah: Mengorbankan urusan dunia demi kemaslahatan dunia, agama, atau keduanya sekaligus. Hal ini dibolehkan, bahkan terkadang disukai (mustahab) jika bertujuan untuk kebaikan agama, sebagaimana yang dilakukan oleh beliau SAW.
  • "Ketika lelaki itu pergi, Aisyah bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, saat melihat lelaki itu engkau berkata begini dan begitu": Yakni engkau berkata karenanya atau tentangnya "seburuk-buruk saudara di dalam sukunya", dan seterusnya.
  • "Kemudian engkau bermuka ceria dan ramah kepadanya. Maka Rasulullah —shollallahu 'alayhi wasallam— bersabda":

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَائِشَةُ، مَتَى عَهَدْتِنِي فَحَّاشاً؟ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ، اتِّقَاءَ شَرِّهِ".

Terjemahan:

"Wahai Aisyah, kapan engkau dapati aku sebagai orang yang berkata keji? Sesungguhnya seburuk-buruknya kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan keburukannya."

Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya disebutkan: "Karena takut akan kekejiannya (ittiga'a fuhsyihi)". Keduanya bermakna: takut akan perkataannya yang buruk, karena lelaki tersebut termasuk orang Arab pedalaman yang berwatak kasar.


Pelajaran dari Hadis:

  1. Bersihnya Nabi SAW dari kekejian di segala waktu. Oleh karena itu beliau bersabda: "Wahai Aisyah, kapan engkau dapati aku sebagai orang yang berkata keji?"
  2. Bolehnya melakukan ghibah terhadap orang yang terang-terangan melakukan kekejian dan semisalnya, dengan tujuan agar orang lain menjauh dari keadaannya dan sebagai nasihat bagi selainnya agar tidak menjadi sepertinya. Oleh karena itu Nabi SAW bersabda tentang 'Uyainah: "Seburuk-buruk saudara di dalam sukunya", dan beliau bersabda pada kesempatan tersebut: "Sesungguhnya seburuk-buruknya kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan keburukan atau kekejiannya." Imam Al-Bukhari mencantumkan hadis ini dalam bab-bab ghibah di dalam Shahih-nya dengan judul: "Bab Ghibah yang Dibolehkan terhadap Ahli Kerusakan dan Orang-orang yang Meragukan (Mencurigakan)."
  3. Bolehnya bersikap madarah (ramah) kepada pemilik keburukan atau kekejian: Dengan melembutkan perkataan dan menampakkan wajah berseri, demi menjaga keselamatan dari keburukannya dan perkataannya yang buruk, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap lelaki yang meminta izin masuk menemui beliau.

Referensi Belajar Mandiri:

  1. Riyadus Shalihin karya Imam Nawawi.
  2. At-Targhib wa At-Tarhib karya Al-Mundziri.

Penerapan Praktis:

  • Menyampaikan khutbah/ceramah tentang akhlak Nabi SAW.
  • Menulis artikel tentang akhlak Nabi SAW.
  • Mengajak orang lain meneladani akhlak Rasulullah SAW.
  • Menulis riset tentang hukum Mudaraat dalam Islam.

Evaluasi Mandiri:

  1. Apa yang Anda ketahui tentang Masruq bin Al-Ajda' dan Abdullah bin 'Amr?
  2. Jelaskan makna kata: Al-Fuhsy, Al-Mutafahhisy, Al-Mudaraat, Al-Mudahanah.
  3. Sebutkan beberapa sifat Nabi SAW.
  4. Berikan bukti bahwa "Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur'an".
  5. Apa perbedaan antara Mudaraat dan Mudahanah?
  6. Jelaskan sabda Rasulullah SAW tentang seburuk-buruknya kedudukan manusia di hari kiamat.

Arahan Pendidikan:

  1. Boleh menyebutkan keburukan orang yang terang-terangan berbuat keji agar orang lain menjauh.
  2. Boleh bersikap ramah kepada orang jahat demi keselamatan.
  3. Meneladani Rasulullah SAW dalam perkataan dan perbuatan.
  4. Akhlak yang baik adalah bagian dari iman.

[1] QS. Fussilat: 46.

[2] QS. Al-Ahzab: 21.

  

No comments:

Post a Comment