Teks Hadis dan Penjelasannya
1.
عَنْ مَسْرُوقٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عَبْدِ
اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا حِينَ قَدِمَ مَعَ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ إِلَى الْكُوفَةِ، فَذَكَرَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ: لَمْ يَكُنْ فَاحِشاً، وَلَا مُتَفَحِّشاً، وَقَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ
مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقاً". (رواه
البخاري)
Terjemahan Hadis:
Dari Masruq RA, ia berkata: "Kami menemui Abdullah bin
'Amr RA ketika ia datang bersama Mu'awiyah RA ke Kufah, lalu ia menyebutkan
tentang Rasulullah SAW dan berkata: 'Beliau tidak pernah berkata keji (fahisyan)
dan tidak pula berbuat keji (mutafahhishan).' Dan ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda: 'Sesungguhnya di antara orang yang terbaik di antara kalian
adalah yang paling baik akhlaknya.'" (HR. Al-Bukhari)
2.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: لَمْ يَكُنِ
النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّاباً، وَلَا فَاحِشاً، وَلَا
لَعَّاناً. وَكَانَ يَقُولُ لِأَحَدِنَا عِنْدَ الْمَعْتَبَةِ: "مَا لَهُ
تَرِبَ جَبِينُهُ". (رواه البخاري)
Terjemahan Hadis:
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: "Nabi SAW bukanlah
seorang pencela, bukan orang yang suka berkata keji, dan bukan seorang
pelaknat. Beliau biasa berkata kepada salah seorang dari kami ketika sedang
menegur (marah): 'Ada apa dengannya? Semoga dahinya berdebu.'" (HR.
Al-Bukhari)
3.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا أَنَّ رَجُلاً اسْتَأْذَنَ عَلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: "بِئْسَ
أَخُو الْعَشِيرَةِ، وَبِئْسَ ابْنُ الْعَشِيرَةِ"،
فَلَمَّا جَلَسَ، تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي
وَجْهِهِ، وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ، قَالَتْ
عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللهِ، حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ: كَذَا
وَكَذَا، ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ، وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ. فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا
عَائِشَةُ، مَتَى عَهَدْتِنِي فَحَّاشاً؟ إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ
مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ، اتِّقَاءَ شَرِّهِ". (رواه
البخاري ومسلم وأبو داود والترمذي)
Terjemahan Hadis:
Dari Aisyah RA, bahwa seorang lelaki meminta izin untuk
menemui Nabi SAW. Ketika melihatnya, beliau bersabda: "Seburuk-buruk
saudara di dalam sukunya dan seburuk-buruk anak di dalam sukunya."
Namun ketika orang itu duduk, Nabi SAW menampakkan wajah yang ceria dan
bersikap ramah kepadanya. Setelah orang itu pergi, Aisyah bertanya: "Wahai
Rasulullah, saat melihat orang itu engkau berkata begini dan begitu, namun
kemudian engkau bermuka ceria dan ramah kepadanya." Maka Rasulullah SAW
bersabda: "Wahai Aisyah, kapan engkau dapati aku berkata keji?
Sesungguhnya seburuk-buruknya kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat
adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan
keburukannya." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan At-Tirmidzi)
Syarah (Penjelasan):
"Bab" (dengan tanwin): Di dalamnya
disebutkan bahwa "Nabi SAW tidak pernah berkata keji (Fahisyan)".
- Al-Fuhsy
(Kekejian): Adalah segala sesuatu yang keluar dari batasannya hingga
menjadi buruk, mencakup perkataan, perbuatan, dan sifat. Dikatakan:
"Sangat tinggi (thawil fahisy al-thul)" jika tingginya
berlebihan. Namun, penggunaannya dalam perkataan lebih sering.
- "Wala
mutafahhishan" (dengan tasydid pada huruf ha): Yakni orang yang
sengaja berbuat keji dan sering melakukannya.
- "Beliau
senantiasa Mudaraat (beramah-tamah/menjaga perasaan) terhadap
manusia": Yakni melembutkan perkataan kepada mereka, tidak
bersikap kasar, bersikap lembut kepada orang bodoh dalam mengajar, dan
kepada orang fasik dalam melarang perbuatannya dengan tidak menampakkan
aibnya secara terang-terangan melainkan mengingkari dengan lembut hingga
orang tersebut meninggalkan kemaksiatannya.
- Perbedaan
Mudaraat dan Mudahanah: Mudaraat berbeda dengan Mudahanah.
Mudahanah adalah bergaul dengan orang yang terang-terangan berbuat
fasik dan menunjukkan rasa ridha terhadap perbuatannya tanpa ada
pengingkaran baik dengan lisan maupun hati.
- Penjelasan
(Syarah) Hadis Nomor (1):
- "Dari
Masruq": Beliau adalah Ibnu al-Ajda', seorang Tabi'in —semoga Allah
meridhainya.
- "Abdullah
bin 'Amr": Beliau adalah putra dari Al-'Ash —semoga Allah meridhai
keduanya.
- "Ketika
ia datang bersama Mu'awiyah": Yakni putra Abu Sufyan —semoga Allah
meridhainya— ke Kufah: "Pada tahun empat puluh satu (Hijriah)".
Lalu ia menyebutkan tentang Rasulullah —shollallahu 'alayhi wasallam— dan
berkata: "Beliau tidak pernah berkata keji" yakni secara tabiat
(watak asli), "dan tidak pula berbuat keji" yakni secara sengaja
atau dibuat-buat.
- Sungguh,
beliau —shollallahu 'alayhi wasallam— adalah orang yang sangat jauh dari
segala bentuk kekejian secara mutlak. Abdullah bin 'Amr —semoga Allah
meridhai keduanya— berkata: Rasulullah —shollallahu 'alayhi wasallam—
bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو
رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ:
"إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقاً".
Terjemahan:
"Sesungguhnya di antara orang
yang terbaik di antara kalian (yakni: yang paling utama) adalah yang paling
baik akhlaknya."
- Kata "Khuluqan"
(dengan harakat dammah pada huruf kha dan lam) adalah: Suatu
kondisi jiwa (karakter) yang darinya lahir perbuatan-perbuatan dengan
mudah tanpa perlu melalui proses pemikiran (yang berat).
Pelajaran dari hadis:
- Bersihnya
Nabi SAW dari segala bentuk kekejian.
- Bahwa
dasar dan standar keutamaan adalah akhlak yang baik.
Syarah (Penjelasan) Hadis Nomor (2)
- "Sabbāban"
(Pencela): Dengan tasydid pada huruf ba yang pertama.
- "Fahḥāsyan" (Orang
yang berkata keji): Dengan tasydid pada huruf ha.
- "La''ānan"
(Pelaknat): Dengan tasydid pada huruf 'ain.
Perbedaan antara ketiganya adalah: Ada kemungkinan
bahwa mencela (al-sabb) berkaitan dengan nasab (garis keturunan) seperti
menuduh zina (qadzaf), berkata keji (al-fuhsy) berkaitan dengan
kehormatan/martabat (al-hasab), dan melaknat berkaitan dengan akhirat,
karena laknat berarti dijauhkan dari rahmat Allah Ta'ala, yang mana rahmat
itulah yang menentukan baiknya kondisi seseorang di akhirat.
Maksud dari kata sabbāb, fahḥāsy, dan la''ān di
sini bukanlah untuk menunjukkan "banyaknya" melakukan celaan,
kekejian, atau laknat (siighah mubalaghah), melainkan penisbatan (sifat)
terhadap hal tersebut. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala:
وَمَا
رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
"Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi
hamba-hamba-Nya." (QS. Fussilat: 46)
Maknanya adalah "tidak memiliki sifat zalim"
kepada mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Suci dari kezaliman. Maka
maknanya: Nabi SAW tidak memiliki sifat pencela, tidak pula berkata keji, dan
tidak pula pelaknat.
- "Beliau
biasa berkata kepada salah seorang dari kami ketika Al-Ma'tabah":
Dengan fathah pada mim, sukun pada 'ain, serta fathah atau
kasrah pada ta': Yakni ketika menegur (al-'itāb).
- Al-Khalil
berkata: Al-'Itāb adalah pembicaraan dalam rangka menunjukkan
keakraban (namun ada ketidaksukaan), sedangkan Al-Mūjadah adalah
kemarahan.
- "Mā
lahu": Merupakan kata tanya (Istifham).
- "Tariba
jabīnuhu" (Semoga dahinya berdebu): Merupakan ungkapan yang biasa
diucapkan oleh bangsa Arab namun tidak dimaksudkan arti hakikinya, yaitu
dahi yang terkena debu karena jatuh tersungkur ke tanah dari arah dahinya.
Dahi (jabīn) sendiri ada dua: di sebelah kanan kening dan di
sebelah kirinya. Ungkapan ini seperti perkataan mereka: "Raghima
anfuhu", yang berarti orang tersebut telah tunduk dan patuh,
bukan berarti hidungnya benar-benar menempel pada debu (al-raghām).
Hadis ini menunjukkan: Bersihnya Nabi SAW dari sifat
mencela, berkata keji, dan melaknat, serta jauhnya lisan beliau yang mulia dari
mengucapkan hal-hal tersebut, baik dalam keadaan ridha (senang) maupun marah.
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ
كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan
(kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS.
Al-Ahzab: 21).
Syarah (Penjelasan) Hadis Nomor (3):
- "Dari
Aisyah —semoga Allah meridhainya— bahwa seorang lelaki meminta izin untuk
menemui Nabi —shollallahu 'alayhi wasallam—": Al-Qadhi 'Iyadh,
Al-Qurthubi, dan An-Nawawi menegaskan bahwa lelaki ini adalah 'Uyainah
bin Hishn Al-Fazari, yang biasa dijuluki sebagai "Si Bodoh yang
Ditaati". Ia adalah seorang yang ceroboh namun ditaati di tengah
kaumnya. Ada pula yang berpendapat selain dia.
- "Ketika
beliau melihatnya" —shollallahu 'alayhi wasallam— setelah
memberinya izin. Dalam riwayat Al-Bukhari disebutkan bahwa Nabi SAW
bersabda segera setelah lelaki itu meminta izin: "Izinkanlah ia
masuk."
- "Beliau
bersabda" —shollallahu 'alayhi wasallam—: "Seburuk-buruk
saudara di dalam sukunya, dan seburuk-buruk anak di dalam sukunya."
'Iyadh berkata bahwa yang dimaksud Al-'Asyirah adalah kelompok atau
kabilah. Ulama lain berpendapat: Al-'Asyirah adalah kerabat
terdekat seseorang dari keluarganya, yaitu anak-anak ayah dan kakeknya.
- 'Iyadh
juga berkata: Wallahu a'lam, saat itu 'Uyainah belum masuk Islam, sehingga
perkataan Nabi tersebut bukan termasuk ghibah (yang dilarang). Atau, ia
sudah masuk Islam namun keislamannya tidak tulus (lemah). Nabi SAW ingin
menjelaskan hal tersebut agar orang yang tidak mengetahui batinnya tidak
tertipu olehnya. Sungguh, telah terjadi pada dirinya—baik di masa hidup
Nabi SAW maupun setelah wafatnya—perkara-perkara yang menunjukkan lemahnya
iman, sehingga apa yang disifatkan oleh Nabi SAW kepadanya termasuk di
antara tanda-tanda kenabian.
- Di
antara perkara tersebut: Ia murtad di zaman Abu Bakar dan ikut berperang,
kemudian kembali masuk Islam dan menghadiri beberapa penaklukan (futuhat)
di era Umar bin Khattab RA.
- "Ketika
ia duduk, Nabi —shollallahu 'alayhi wasallam— menampakkan wajah ceria
kepadanya": (Dengan fathah pada huruf tha' dan tasydid
pada lam) artinya beliau menampakkan kegembiraan wajah kepadanya.
Hal ini sama dengan ungkapan: "Dan beliau bersikap ramah
(inbasatha) kepadanya", yakni berlapang dada, berseri-seri, dan
menampakkan kenyamanan kepadanya. Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya: "Ketika
ia masuk, beliau melembutkan perkataan kepadanya."
- Hal
itu beliau lakukan karena watak asli beliau yang berakhlak mulia, dan
beliau berharap dengan penyambutan tersebut dapat melunakkan hatinya (ta'lif
al-qulub) agar kaumnya masuk Islam, karena ia adalah pemimpin mereka.
Beliau tidak mengonfrontasi lelaki itu dengan apa yang beliau ucapkan
sebelumnya agar umat beliau dapat meneladani beliau dalam cara menjaga
diri dari keburukan orang yang bersifat seperti itu, serta dalam bersikap madarah
(ramah): yaitu dengan pergaulan yang baik dan kelembutan dalam berbicara.
- Nabi
SAW tidak melakukan apa pun kepada 'Uyainah setelah ia duduk di dekat
beliau selain madarah. Beliau tidak memujinya dengan perkataan,
sehingga perbuatan beliau tidak bertentangan dengan ucapan beliau:
"Seburuk-buruk saudara di dalam sukunya". Sebab, ucapan beliau
tentangnya adalah kebenaran, sedangkan perbuatan beliau bersamanya adalah
pergaulan yang baik dan madarah.
- Al-Madarah
adalah: Mengorbankan urusan dunia demi kemaslahatan dunia, agama, atau
keduanya sekaligus. Hal ini dibolehkan, bahkan terkadang disukai (mustahab)
jika bertujuan untuk kebaikan agama, sebagaimana yang dilakukan oleh
beliau SAW.
- "Ketika
lelaki itu pergi, Aisyah bertanya kepada beliau: Wahai Rasulullah, saat
melihat lelaki itu engkau berkata begini dan begitu": Yakni
engkau berkata karenanya atau tentangnya "seburuk-buruk saudara di
dalam sukunya", dan seterusnya.
- "Kemudian
engkau bermuka ceria dan ramah kepadanya. Maka Rasulullah —shollallahu
'alayhi wasallam— bersabda":
عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "يَا عَائِشَةُ، مَتَى عَهَدْتِنِي فَحَّاشاً؟
إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ
النَّاسُ، اتِّقَاءَ شَرِّهِ".
Terjemahan:
"Wahai Aisyah, kapan engkau dapati aku sebagai orang
yang berkata keji? Sesungguhnya seburuk-buruknya kedudukan manusia di sisi
Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut
akan keburukannya."
Dalam riwayat Al-Bukhari lainnya disebutkan: "Karena
takut akan kekejiannya (ittiga'a fuhsyihi)". Keduanya bermakna:
takut akan perkataannya yang buruk, karena lelaki tersebut termasuk orang Arab
pedalaman yang berwatak kasar.
Pelajaran dari Hadis:
- Bersihnya
Nabi SAW dari kekejian di segala waktu. Oleh karena itu beliau
bersabda: "Wahai Aisyah, kapan engkau dapati aku sebagai orang
yang berkata keji?"
- Bolehnya
melakukan ghibah terhadap orang yang terang-terangan melakukan kekejian
dan semisalnya, dengan tujuan agar orang lain menjauh dari keadaannya dan
sebagai nasihat bagi selainnya agar tidak menjadi sepertinya. Oleh karena
itu Nabi SAW bersabda tentang 'Uyainah: "Seburuk-buruk saudara di
dalam sukunya", dan beliau bersabda pada kesempatan tersebut: "Sesungguhnya
seburuk-buruknya kedudukan manusia di sisi Allah pada hari kiamat adalah
orang yang ditinggalkan oleh manusia karena takut akan keburukan atau
kekejiannya." Imam Al-Bukhari mencantumkan hadis ini dalam
bab-bab ghibah di dalam Shahih-nya dengan judul: "Bab Ghibah yang
Dibolehkan terhadap Ahli Kerusakan dan Orang-orang yang Meragukan
(Mencurigakan)."
- Bolehnya
bersikap madarah (ramah) kepada pemilik keburukan atau kekejian:
Dengan melembutkan perkataan dan menampakkan wajah berseri, demi menjaga
keselamatan dari keburukannya dan perkataannya yang buruk, sebagaimana
yang dilakukan Rasulullah SAW terhadap lelaki yang meminta izin masuk
menemui beliau.
Referensi Belajar Mandiri:
- Riyadus
Shalihin karya Imam Nawawi.
- At-Targhib
wa At-Tarhib karya Al-Mundziri.
Penerapan Praktis:
- Menyampaikan
khutbah/ceramah tentang akhlak Nabi SAW.
- Menulis
artikel tentang akhlak Nabi SAW.
- Mengajak
orang lain meneladani akhlak Rasulullah SAW.
- Menulis
riset tentang hukum Mudaraat dalam Islam.
Evaluasi Mandiri:
- Apa
yang Anda ketahui tentang Masruq bin Al-Ajda' dan Abdullah bin 'Amr?
- Jelaskan
makna kata: Al-Fuhsy, Al-Mutafahhisy, Al-Mudaraat, Al-Mudahanah.
- Sebutkan
beberapa sifat Nabi SAW.
- Berikan
bukti bahwa "Akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur'an".
- Apa
perbedaan antara Mudaraat dan Mudahanah?
- Jelaskan
sabda Rasulullah SAW tentang seburuk-buruknya kedudukan manusia di hari
kiamat.
Arahan Pendidikan:
- Boleh
menyebutkan keburukan orang yang terang-terangan berbuat keji agar orang
lain menjauh.
- Boleh
bersikap ramah kepada orang jahat demi keselamatan.
- Meneladani
Rasulullah SAW dalam perkataan dan perbuatan.
- Akhlak
yang baik adalah bagian dari iman.
[1] QS. Fussilat: 46.
[2] QS. Al-Ahzab: 21.
No comments:
Post a Comment