Friday, May 1, 2026

Tidak Imma'ah

Sebagian kelompok orang indonesia di sini boleh dibilang ikut-ikutan trend yang terjadi di sekitarnya. Dulu tahun 2000, lagi trendnya kitkat hp nokia, hampir setiap orang pada beli dan show off, waktu berlalu trend berubah. Musim laptop, orang pada beli, lagi musim orang beli mobil, teman-teman beramai-ramai kredit mobil baru dan used car.lagi musim nikah, orang-orang pada ikut-ikutan nikah.Masa lewat,yang single live hidup bersama dalam ikatan pernikahan untuk menyatukan perbedaan. Disadari, uang yang berlimpah selama hidup lajang, dirasa kurang setelah menjalani hidup berumah tangga, karena bertambahnya kebutuhan dan tanggung-jawab, sehingga beramai-ramai orang untuk cari partner sharing flat untuk mengurangi outcome. Seiring waktu berjalan, satu-persatu partner sharing pergi untuk mencari flat sendiri, karena dua kepala rumah tangga dalam satu rumah disadari atau tidak menyebabkan ketidak rukunan antar sesama kepala dan anggota keluarga. Seiring dengan persaingan hidup yang semakin tinggi, dan krisis ekonomi global yang sedikitnya berefek juga terhadap negara petrodollar Kuwait, menjadi hidup yang pas-pasan bagi orang yang berkeluarga dengan jumlah anak lebih dari satu yang sudah masuk usia sekolah, akhirnya mereka memutuskan harus berpisah dengan keluarga tercinta, ada yang mengirimkan anak-anak mereka ke Indonesia, kemudian tinggal berpisah di asrama yang disediakan ministry seperti dulu sebelum menikah, ada yang memulangkan anak istrinya ke Indonesia dan hidup lajang lagi di Kuwait.Alhamdulillah Yang belum terjadi di Kuwait adalah trendnya poligami, seperti maraknya issue poligami di Indonesia, dan yang saya khawatirkan, jika ada yang talaq, diikuti oleh orang lain, sehingga jadi trend, musimnya cerai, seperti para artis-artis kita, naudzubillah.

Fenomena ini secara tidak langsung adalah efek dari hidup kita bermasyarakat, memberikan pengaruh dan saling dipengaruhi, akibatnya kalau tidak ada filter dan konsep diri, efek negatif bisa berimbas ke kita, menjadi acuan hidup dan landasan berfikir. Imma'ah(ikut-ikutan) ini bisa kena ke siapa saja, di setiap status dan strata sosial, baik itu orang miskin, kaya, awam maupun alim. Di kalangan ustadz, lagi musimnya ceramah di televisi, ustadz pada disibukan oleh program televisi swasta, lagi musim sinetron, terkuras waktunya untuk mengikuti trend pasar, sehingga ahdaf atau tujuan tarbiyah untuk membina umat tidak selesai.lagi musim berjilbab di kalangan wanita, pada ikut-ikutan berjilbab, alhamdulillah walaupun masih jilbab gaul, tapi tatkala musim celana jeans yang longgar yang kelihatan auratnya kalo dibonceng motor, dan t shirt pendek yang kelihatan pusar, menyebebkan para abg berbondong-bondong melepaskan jilbabnya dan ikut-ikutan gaul.Sangat kuat sekali pengaruh lingkungan dalam membentuk karakter dan prilaku manusia, lingkungan adalah teman kita secara global, berinteraksi dengan lingkungan yang buruk, kita telah berteman dengan teman yang buruk, berinteraksi dengan lingkungan yang baik, otomatis kita sudah mempunyai teman-teman yang baik.Bukankah dalam Al-Qur-an disampaikan cerita tentang penyesalan seseorang di akhirat, masuk neraka karena teman-teman buruknya, yang menyeret mereka ke neraka, "seandainya aku tidak menjadikan si fulan teman karibku, aku tidak akan begini". Oleh karena itu kita mempunyai kewajiban untuk membentuk mileu yang baik, yang nilai kebaikan itu akan dirasakan oleh semua pihak, sehingga pencetus kebaikan insha allah akan mendapatkan pahala dari Allah SWT yang kontinyu walaupun dia telah meninggal, kita lihat bagaimana harumnya nama Imam Syafii dengan hasil karya beliau yang setiap orang, setiap generasi mengkaji kitabnya, menjadi pelita umat sepanjang masa di berbagai belahan dunia, walaupun beliau sudah wafat ilmu yang bermanfaat akan menjadi teman baiknya di alam barzah.Beda dengan seseorang yang menciptakan dan membikin keburukan dan kerusakan, lewat tangan beliau orang jadi sesat, lewat sarana beliau menjerumuskan seseorang ke neraka, sehingga bukan cuma dosa beliau, dosa-dosa orang lain akibat ulah dia ditimpakan ke dia, sehingga menumpuklah saham dosa, tatkala dia telah meninggal, hasil karya buruk dia masih dinikmati oleh orang yang masih hidup, mengalirlah dosa-dosa orang lain menjadi teman buruk untuk tambahan siksa kuburnya, naudzubillah. Seandainya kita tidak bisa membikin mileu yang baik, menciptakan kebaikan yang akan bermanfaat bagi orang lain, janganlah kita membikin kerusakan yang lewat tangan kita orang lain jadi ikut-ikutan. Standar yang ideal jadilah sosok yang yakhtalitun walakin yatamayyazun, berbaurlah tapi jangan sampai terkontaminasi.

Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu syaitan-syaitan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan). (Al-A’raaf: 202)

Begitu sulitnya saat ini membedakan antara teman yang baik dengan yang buruk. Padahal kelak teman kitalah yang akan menentukan masa depan dan akhir kesudahan kita di surga atau neraka. Teman yang baik akan membawa kita ke surga, sedangkan teman yang buruk akan menyeret kita ke dalam api neraka.

Rasulullah SAW bersabda: “Jika engkau hendak mengenal seseorang (siapa dan bagaimana dia?), maka lihatlah dengan siapa dia berteman. Maka seperti itulah dia”. (Al Hadits)

Sehingga begitu berarti dan pentingnya kita dalam memilih teman yang akan mempengaruhi pola fikir, jalan/ cara hidup, cara berbicara, dan cara bergaul kita. Lebih lanjut, Nabi SAW mengatakan bahwa: “Sesungguhnya setiap bayi yang dilahirkan itu dalam keadaan suci/ fitroh (Islam), maka kelak keluarga dan masyarakatnyalah (teman) yang akan menjadikan dia Nashrani, Majusi atau Yahudi (Al Hadits).

Dalam sabdanya yang lain: “Jika kau berteman dengan pandai besi, maka engkau akan terkena panas baranya, tetapi jika engkau berteman dengan penjual minyak wangi, maka engkau akan mencium harum wanginya” (Al Hadits).

Untaian-untaian pesan Nabi SAW tersebut adalah sebuah gambaran akan begitu pentingnya memilih teman yang baik dan menjadikan kita semakin taat dan beriman kepada Rabb kita, Allah SWT. Bukan berteman dengan orang yang tidak beriman atau mengajak kita berbuat maksiat dan menyekutukan Allah. Lebih lanjut Allah SWT berfirman:

QS. Ali Imran: 118. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh Telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.

Terkadang kita cenderung sembarangan dalam memilih teman. Kita memilih teman dengan mengikuti orang lain atau trend yang berkembang dalam masyarakat atau lingkungan tersebut. Jika trend lingkungan didominasi oleh orang yang disegani oleh orang lain karena kebrutalannya, maka kita dianggap nggak gaul atau tidak wajar jika tidak berteman dan mengikuti mereka. Padahal mereka cenderung tergolong sebagai ahli neraka (jika mereka tidak bertobat), daripada ahli surga.

Padahal telah jelas bagi kita, bahwa akhir kesudahan itu hanya ada dua kemungkinan, surga atau neraka! Sementara nanti jika kita telah masuk ke dalam neraka, Allah SWT berfirman:

QS. Al A’raaf: 38. Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka bersama umat-umat jin dan manusia yang Telah terdahulu sebelum kamu. setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk Kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudiandi antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu"Ya Tuhan kami, mereka Telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak Mengetahui".

Sehingga seperti pesan qudwah kita, Rasulullah SAW lagi dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:

“Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma’ah (ikut-ikutan), yang jika orang lain baik maka engkau baik; dan jika mereka jelek maka engkau jelek pula.

Akan tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orang lain baik, maka engkau baik; dan jika mereka jelek, hendaklah engkau jauhi keburukan mereka”.

Rasulullah SAW memberikan kita sebuah pesan yang melarang kita ikut-ikutan orang berbuat buruk, tetapi kita diharuskan untuk konsisten (istiqomah) dalam kebaikan.

Lalu bagaimana konsisten (istiqomah) dalam kebaikan itu? Supaya kita bisa terus berada dalam kebaikan. Mudah saja, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan:

1. Memilih dan memiliki teman yang jelas arah dan tujuan hidupnya, yaitu untuk beribadah pada Allah SWT.

QS. Ali Imran: 28 : Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi teman dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

2. Jauhi tempat-tempat maksiat (nongkrong yang sia-sia menghabiskan waktu) yang berisi orang-orang yang lalai dari mengingat Allah.

3. Tinggalkan orang-orang yang melupakan Allah SWT dan melupakan hari pembalasan.

QS. Jaatsiyah: 34 : Dan dikatakan (kepada mereka): "Pada hari Ini kami melupakan kamu sebagaimana kamu Telah melupakan pertemuan (dengan) harimu Ini dan tempat kembalimu ialah neraka dan kamu sekali-kali tidak memperoleh penolong".

4. Jauhi orang-orang yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya.

QS. Al A’raaf: 51 : (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia Telah menipu mereka.

Teman seperti apakah yang harus kita pilih? Di mana kita dapatkan?

1. Teman yang dewasa, tetapi bukan teman yang sekedar lebih tua saja. Sebab, lebih tua belum tentu dewasa. Teman dewasa adalah teman yang dewasa aqidahnya, bukan sekedar libidonya. Ia dikenal baik dan mampu membedakan yang baik dengan yang bathil dan mengajarkan serta mengajak berbuat kebaikan.

2. Teman yang pandai dan rajin beribadah, sebab pandai aja gak cukup. Orang pandai ada yang baik ada yang buruk, standard orang pandai yang baik adalah yang rajin ibadah.

3. Teman yang baik berada di tempat yang baik. Di masjid dan musholla, sebab, Nabi SAW senantiasa berpesan: “salah satu golongan yang akan mendapat syafaat pada hari perhitungan nanti adalah pemuda yang hatinya terpaut pada masjid”.

 

No comments:

Post a Comment

Iman Kepada yang Ghaib