Thursday, May 21, 2026

As-Syakhshiyyah At-Tanfidziyyah (Kepribadian Pemimpin Eksekutif)

 Muqawimat Syakhshiyah Tanfidziyah

(Karakteristik Figur Eksekutif)

Ada beberapa muqawwimat asasi yang harus dimiliki seorang da’i yang selalu melakukan penghimpunan massa dan pengorganisasiannya. Jika muqawwimat ini tidak dimiliki akan mengankibatkan aktifitas da’i menjadi minim buah dan hasil.

Tanpa sikap dasar itu da’i tidak akan mampu melaksanakan tugas-tugas yang diberikan oleh jama’ah. Muqawwimat terpenting itu ialah :

1.      Adz Dzaka’ At Tandhimiy / Kecerdasan organisatoris

2.      Ar Rashid al fikriy / Stok Pemikiran/gagasan

3.      His al Amniy / Kepekaan Amniyah

4.      Ruh at Tanafus / Semangat Kompetitif

5.      Ar Ruhaniyyah al ‘Aliyah / Ruhiyyah yang tinggi

6.      Al Qudwah al Amaliyyah / Keteladan operasional

 

1.     ADZ DZAKA’ AT TANDHIMIY (kecerdasan organisatoris)

Kecerdasan adalah sesuatu yang fitri, ia merupakan karunia Allah SWT yang diberikan khusus kepada orang-orang yang Ia kehendaki. Da’wah bertugas menghimpun komponen-komponen yang cerdas ini sesuai dengan fitrah, dan berkembang bersamanya secara organisatoris, dengan mengaplikasikan kecerdasan dan kemampuan yang ada dalam area aktifitas organisasi, memunculkan ekstrak kecerdasan yang fitri itu dan mengembangkannya dalam aktifitas da’wah, agar kecerdasan itu betul-betul menjadi kecerdasan organisatoris, membuatnya berkelas dalam aktifitas kesehariannya.

Tanpa memiliki kecerdasan organisatoris seorang akh (aktifis da’wah) akan banyak terbuang waktu siang malamnya, memiliki banyak hubungan yang tidak urgen, memiliki banyak aktifitas harian yang tidak jelas sasarannya, memiliki banyak relasi sosial yang tidak diketahui maksudnya, memiliki sejumlah aktifitas da’wah ammah yang tidak ada faedahnya, dst.

Maka meskipun jumlah ikhwah muntadhim begitu berlimpah, di berbagai tingkatannya, serta kadar keikhlasan niatnya, juga kejujuran amal, dan kesungguhan dalam melaksanakan garis jama’ah, akan tetapi produktifitasnya sangat lemah. Salah satu sebab kelemahan produktifitas itu ialah lemahnya kecerdasan organisatoris pada kebanyakan ikhwah.

Kita ambil contoh yang akan membuktikan betapa pentingnya kecerdasan organisatoris itu bagi setiap muntadhim dalam jama’ah.

a.     Dalam Proses Tajmi’iyyah (penghimpunan)

Seorang akh mampu menghimpun beberapa orang di sekitarnya, dan memadukan hatinya karena mereka memiliki kecenderungan, keinginan, serta tingkat keimanan yang sejenis. Dan seorang akh yang cerdas manajerialnya akan mampu dengan baik dan jitu dalam menghimpun seraya membanding-bandingkan antara dirinya dengan mitra kerjanya. Dia menyadari bahwa orang-orang yang berhimpun itu masih sangat lemah tingkat keterikatan organisatorisnya dengan da’wah, sehingga kemungkinan terlepasnya mereka dari da’wah lebih cepat terjadi daripada orang-orang yang telah menapaki tahapan-tahapan tandhim. Dari itulah, jika al akh yang melakukan penghimpunan itu memiliki kecerdasan organisatoris akan sangat memudahkannya memahami secara menyeluruh orang-orang yang serius, mengarahkan dan menghindarkannya dari serangan pemikiran dan politik yang melingkupinya, menyediakan instrumen amniyyah dan tarbawiyah agar mereka mampu berjalan bersama dengan da’wah.

b.     Dalam Tarbiyyah Usariyyah Tandhimiyyah

Sebuah usrah terdiri dari komponen ikhwan yang berbada-beda, keimanan, pemikiran, kejiwaan, ruhiyyah, dan bisa saja karena kondisi tertentu terdapat sebuah usrah yang menghimpun sekian banyak ikhwah yang tidak seragam. Di sinilah peran naqib dan kecerdasan organisatorisnya yang cemerlang menyulut hayawiyah (dinamika), aktifitas, keseriusan dan kompetisi ukhuwaah dalam sebuah usrah, mengangkat kapasitas anggota usrah dan mewujudkan partisipasi seluruh anggota, hingga mereka menjadi sejajar sejenis dalam batas tertentu.

Tanpa kecerdasan manajerial ini seorang akh akan mengalami abortus dalam menata usrah dan mengembangkannya, mulailah keluh kesah sepanjang waktu, menuding anggotanya sebagai biang kegagalan yang dipersalahkan, lupa bahwa kelemahan sesungguhnya berada pada dirinya.

Al Akh seperti ini akan selamanya menjadi beban jamaah dengan tumpukan pengaduan dan keluhan meminta jama’ah untuk menguraikan permasalahan dan membek-up kelemahannya dalam mengelola usrah. Selanjutnya akan membebani struktur jama’ah dalam kajian dan diskusi pimpinan hanya untuk membahas permasalahan Zaid, Amr, dan ikhwan muntadhim yang ada dalam usrahnya, mengalihkan pimpinan jama’ah dari pembahasan tentang maslahat da’wah yang lebih besar dan memiliki sasaran lebih tinggi.

c.     Dalam Pertarungan Politik dan Kepartaian

Akan lebih jelas urgensi kecerdasan organisatoris itu dalam interaksi ikhwan bersama dengan partai dan organisasi yang berseberangan. Kecerdasan organisatoris akan membuatnya lebih ahli, lebih waspada dari yang lainnya dalam menghadapi politik lawan baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi. Ia akan membantu jama’ah dengan kemapanan dan kemampuannya yang prima dalam berkompetisi dengan ahlul-bathil dalam perebutan lapangan kerja, memanfaatkan lingkar pertarungan, mengubah opini publik dalam melawan mereka, menelanjangi keburukannya, dengan tidak melakukan tindakan sembrono yang terburu-buru, atau sikap dingin yang membunuh diri sendiri.

Demikianlah medan yang menjadi permainan kecerdasan organisatoris ini tidak terbatas, dan yang kami inginkan adalah mengungkapkan urgensinya dalam aktifitas harokah, merasakan pentingnya kecerdasan organisatoris untuk semakin bertambah pada setiap orang yang masih memikirkan ikhwannya dengan tetap memperhatikan kebusukan dan keserakahan musuh-mush serta kecanggihan, kecerdasan mereka dalam metode pengumpulan massa dan pengorganisasiannya.

 

2.     AR RASHIID AL FIKRIY (stok gagasan/pemikiran)

Ketika pertarungan antara ahlul-haq dan ahlul-bathil semakin memanas, maka kita wajib meningkatkan dan memperkokoh stok pemikiran kita. Pemikiran adalah buah dari akidah, artinya pemikiran Islam adalah buah dari aqidah Islamiyyah. Sebagaimana pemikiran komunis adalah buah dari komunis. Dari itulah membangun dasar akidah yang lurus bagi setiap akh adalah dasar modal pemikirannya, di atas dasar itulah bangunan pemikiran dibangun.

Stok pemikiran mirip stok finansial, dimana pemilik dana besar mampu memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarganya dengan leluasa tanpa kesulitan, dan pemilik dana yang kecil akan lamban dan berat dalam memenuhi dan mempersipakan kebutuhan pribadinya, karena tidak mengalirnya dana di tangannya, maka perhatiannya hanya pada pemenuhan kebutuhan primer. Begitulah daya beli seseorang sejajar dengan besarnya fasilitas dan dana yang dimilikinya, dan akan menurun daya beli itu jika menurun pula dananya.

Begitulah permodalan, seorang akh adalah pemilik stok gagasan/pemikiran yang kuat, yang mampu menghadapai pemikiran apapun yang bertentangan, seperti pemikiran skuler, klasik maupun modern, bidang aqidah maupun madzhabiyyah. Begitu juga sebalinya bagi akh yang memiliki stok pemikiran kecil, ia memiliki banyak banyak sisi kelemahan, misalnya dalam menyampaikan ajaran Islam kepada komunitas sosialnya, ia akan menyembunyikan diri, dengan cara menghindar atau bentuk lain dalam percaturan sosial, dan bahkan akan membuatnya mengucilkan diri dan hidup menyendiri.

Keleluasaan melakukan aktifitas tandhim dan tajmi’ hanya di tengah komunitas syabab yang relegius/mutadayyin karena stok pemikiran kita kurang memadai dalam berhadapan langsung dengan pemikiran-pemikiran lain. Jika kita tidak dapatkan komunitas muda mutadayyin, atau setengan mutadayyin dalam lingkup da’wah ini pastilah kita tidak akan mampu dan gagal dalam menghalau pemikiran ba’tsiy, qaumiy (nasionalis) atau bukan mtadayyin yang tidak memiliki pemikiran maupun ittijah yang jelas, atau kalangan buruh dan petani. Setiap komunitas di atas memerlukan bentuk pemikiran, yang jika dikuasai oleh ikhwah maka ia akan mampu berperan di tangah-tengah mereka dalam kadar tertentu. Tidak menjadi keharusan untuk menjadikan mereka berada dalam shaf tnadhim kita, tapi mungkin cukup dengan menjadikan mereka mitra, atau muayyid fikrah kita, atau simpatisan, atau dengan membuatnya ragu dengan fikrah mereka dengan mengungkap kebatilannya. Demikianlah batas adl’aful iman.

Agar kita mampu menyajikan fikrah Islamiyah ke seluruh lapisan masyarkat, apalagi menyajikan mutiara fikrah Islamiyah dan mendiskusikannya, kita wajib terus menerus tanpa kenal lelah dan menyerah, menggali dan menimba sumber-sumber pemikiran Islam, selanjutnya meningkat kepada kajian pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan fikrah kita, menguasainya secara menyeluruh, mencerna dan meneliti celah-celah kekurangannya, mengkaji teori-teori skuler dan materialisme kontemporer, tidak ketinggalan kajian tentang sejarah bid’ah klasik maupun modern, memahami tahapan konfrontasi dengan ahlu bid’ah, mengenali dengan baik pokok-pokok pikiran dan penyimpangan mereka.

Kemampuan kita menampilkan fikrah Islamiyyah, dan akan membantu kita memasuki medan aktifitas thullabiy(pelajar), Ummaliy (buruh) dan Fallahiy (petani) dengan menorehkan prestasi besar insya-Allah. Namun jika kita tidak sanggup memasukinnya maka akan menjadi infestasi aktifitas kaum sosialis dan gerakan kiri.

 

3.     AL HISS AL AMNIY (kepekaan amniyah)

Faktor amniyyah adalah kebutuhan dasar agar aktifitas tandhim bisa terus berjalan. Tanpa faktor ini kerja kita akan sedikit melangkah ke depan kemudian mundur kembali ke belakang karena tersingkap tabir amniyyahnya.

Kepekaan amniyyah adalah salah satu konsekwensi yang harus dimiliki oleh setiap akh dan jama’ah bersama-sama. Dari sensitifitas amniyyah inilah muncul sikap waspada (al hadzar), artinya kewaspadaan adalah buah dari sensitifitas amniyyah, bukan sebaliknya. Orang yang memiliki sensitifitas amniyyah akan terlihat penuh waspada, dan jika sensitifitas amniyyahnya lemah akan melemah pula kewaspadaaannya.

Jamaah berkewajiban melatih secara teoritis dan praktis penggunaan dan penguasaan sensitifitas ini, karena ikhwan sangat berbeda-beda kemampuan sensitifitasnya.

Dari sudut teoritis adalah dengan menerangkan dan menyebarluaskannya lewat penerbitan dan ceramah-ceramah. Menjelaskan urgensinya bagi ikhwan juga bagi keberhasilan da’wah, meyakinkan bahwa aktifitas tandhimiy tidak bisa di lepaskan dari sensitifitas ini. Kesadaran ini harus terus-menerus di ulang-ulang dengan berbagai macam cara dan kesempatan agar setiap ikhwan menyadari betul urgensinya bagi kelangsungan da’wah.

Di sudut praktis adalah lewat para naqib, dengan meangajak ikhwan untuk merasakan secara praktis bahwa ia adalah pemilik sensitifitas amniyyah dan melatihnya. Sehingga ikhwan yang lain dapat mencontoh dari para naqib melalui sepak terjang serta perilakunya, “faaqidus-syai’I laa yu’thihi, orang yang tidak memiliki sesuatu maka ia tidak akan dapat memberikannya” , artinya diperlukan contoh riil dari para naqib dan mas’ulin di hadapan para ikhwah agar mereka terlatih dan mengetahui sensitifitas ini, kapan pemakaiannya, dan bagaiman penggunaannya. Jika tidak dicontohkan maka tidak akan ditemukan bentuknya, terutama bagi ikhwan yang berada dalam tataran teoritis.

Dalam Al Qur’anul-Karim banyak bukti nyata, bahwa seorang da’I sangat menguasai sensitifitas amniyyah ini dan menikmatinya. Contoh yang paling jelas adalah ASHABUL KAHFI, Al Qur’an menceriterakannya kepada kita, bagaimana sensitifitas amniyyah mereka yang sangat tinggi.

“….. Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceriterakan halmu kepada seseorangpun" QS.”18:19

Marilah sejenak kita renungkan pada kalimat “ dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan janganlah sekali-kali menceriterakan halmu kepada seorangpun” mereka merasakan sensitifitas amniyyah dengan menyadari bahwa mereka adalah pembawa rahasia, mereka tidak ingin ada seorangpun penduduk kota yang mengetahui urusan dan rahasianya, mereka merasakan bahwa terkuaknya rahasia mereka itu berarti kehancurannya. Dari itulah wasiat mereka kepada salah seorang yang pergi ke kota untuk membeli makanan bagi mereka adalah aga r ia berlemah lembut dan tidak menceriterakan perihal dirinya kepada siapapun, para pemuda mukmin itu memiliki sebuah rahasia, maka bagaimana dengan kita yang memiliki sekian banyak rahasia, berapa banyak kemampuan kepekaan amniyah yang kita perlukan untuk menghindarkan diri –dengan izin Allah- dari intaian mata musuh-musuh kita.

Kepekaan serupa bisa kita temukan dalam pesan Nabi Ya’qub kepada putra-putranya : “ hai anak-anakku janganlah kamu bersama-sama masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu yang berlain-lain;…” QS. 12:67

Maha benar Allah yang Maha Agung. Dan Dialah yang paling benar dalam berfirman.

 

4.     RUH TANAFUS (Semangat kompetitif)

Tanafus terbagi dua: tanafus terpuji dan tanafus tercela.

Tanafus terpuji adalah yang terjadi dalam aktifitas kebajikan (al bir wa al Khair), perbaikan (ishlah), menuntut ilmu, mencari rizqi yang halal dan sejenisnya.

Tanafus tercela adalah yang terjadi dalam pengrusakan (ifsad), pembatilan (ibthal) amal shalih orang lain, menghalangi atau membuat kesulitan orang lain yang beramal shalih. Dari tanfus tercela ini muncullah sifat HASAD/dengki yang jika ada di tengah tengah kita akan menjadi ancaman besar yang akan menghancurkan kekuatan kita.

Allah SWT telah menciptakan manusia berbeda-beda kesiapan dan kemampuan fitrinya. Bisa kita saksikan ada seorang ikhwan yang lebih mampu dan lebih layak dibandingkan dengan yang lain, karena kemajuan dan peningkatan aktifitas da’wahnya, sehingga ia mampu memperoleh kepercayaan penuh dari ikhwah lain yang dia pimpin, menjadikan mereka layak menjadi pilar dan mengantarkannya ke medan da’wah.

Kemjuan yang Allah berikan kepada seorang ikhwah pilihan dibandingkan dengan lainnya, membuat ikhwah lain yang kesiapan fitrah, qabiliyyah (daya tangkap) tarbiyah dan harakiyyahnya rendak menyainginya dengan persaingan tercela. Dan tidak jarang syetan –na’udzubillah- menaburkan kerancuan di hati para kompetitor, hingga membuat ucapan mereka lancang kepada ikhwan yang telah maju ke depan. Sepertinya aktifitas da’wah rabbaniy ini adalah sentralistic, kekuasaan, penonjolan, cinta kedudukan, yang pada gilirannya melahirkan yang disebut “Tanafus al Aqran/persaingan” di antara ikhwan muntadhim dalam lingkaran da’wah. Inilah realitas yang kita sering lihat berulang-ulang terjadi pada masa yang berbeda-beda yang akan menghancurkan sekian banyak aktifitas jama’ah, menyia-nyiakan waktu ikhwan dalam gosip dan berita dusta.

Terapi terhadap realitas ini memaksa jama’ah melakukan “al Jazmu at tandhimiy/ komitmen organisatoris” terhadap para ikhwan kompetitor, memberikan nasehat, dan mengarahkannya, atau dengan memberikan sangsi disiplin harokah untuk mencegahnya, dan mengembalikannya kepada ajaran yang benar. Menjelaskan bahwa sikap semacam itu bertentangan dengan akhlaq imaniyah dan trabiyah ikhwaniyyah.

Sebagimana pula kepada ikhwan atau sekelompok ikhwan yang memiliki kemampuan untuk berkompetisi dengan tetap memperlihatkan akhlaq mulia, pemaaf dan lapang dada kepda kompetitor lainnya dengan kesadaran penuh bahwa kompetisi adalah realitas alamiyah, dan kita bukanlah malaikat yang mulia, kita adalah manusia biasa yang bisa salah, dan syetan adalah musuh. Terutama dengan memahami alasan yang mendorongnya melakukan kompetisi, dengan tetap menjaga hubungan yang lebih baik ketika mendapatkan perlakuan yang tidak bersahabat atau kurang menyenangkan, menyerahkan urusan kepada pimpinan yang akan meluruskan penyimpangannya.

Mengingatkan hal ini dan memperingatkan bahaya persaingan adalah kewajiban setiap akh murabbi maupun mas’ul dalam jama’ah. Karena tidak akan pernah ada sejengkal tanah atau sekepal komunitas ikhwan yang tidak memiliki persaingan. Dan pada setiap ikhwah untuk menjadikan dirinya orang pertama yang memeriksa pribadinya masing-masing, menyadari bahwa nafsu akan mendorong manusia berbuat buruk, dan ia berkewajiban untuk membina dan menempanya dengan akhlaq Islamiyyah dan tradisi ikhwaniyyah. Dan jika persaingan itu sudah berakar dalam jiwa salah seorang kita, maka yang ada hanyalah upaya mencari-cari keburukan dan kesalahan ikhwan para mas’ul, dan kemudian lahirlah hasad, ghibah, namimah.

 

5.     RUHANIYAH ‘ALIYA (ruhiyyah yang tinggi)

Ruhiyyah bagi seorang ikhwah adalah bagaikan bahan bakar bagi sebuah mesin, maka apalah artinya mesin teronggok diam, tidak bergerak dan tidak berfungsi, apalah artinya memiliki mobil mewah tetapi tidak memilki bahan bakar untuk menghidupkan dan menggerakkannya. Daya gerak telah ada dalam mesin, yang akan digerakkan dengan bahan bakar yang menyalakan dan mempertahankan gerakan dan aktifitasnya.

Begitulah, apalah artinya puluhan ikhwah muntadhim dalam jama’ah tanpa gerakan serius dalam memutar roda da’wah dan menggerakkannya ke depan ? keberadaan mereka hanya akan membebani da’wah dan hanya memperbanyak qunatitas, itu saja. Perlu di ingat bahwa air yang diam tidak mengalir akan membuatnya bau jika lama terdiam. Seorang da’I akan lembek dan melemah jika lama ia terdiam, dan dingin.

Ruhiyyah adalah komunikasi hati dengan Allah SWT, dari sanalah seorang da’I mengambil bekal kekuatan untuk melanjutkan perjalanan, sabar menghadapi sulitnya medan, dengan cinta dan nikmat, nikmat dunia yang tertutup baginya tidak mampu menggoyahkannya. Amal, kesabaran, dan hijrahnya hanya ia serahkan kepada Allah. Kedzaliman tidak menggetarkannya, penjara dan sipir tidak menakutkannya.

Kelemahan ruhiyyah pada salah seorang kita akan menyebabkan dua efek nyata pada penampilan seorang da’I :

·        Kegagalannya meneruskan aktifitas harakah tarbiyah dan tandhimiyyah, terasa berat dalam melaksanakan tugas da’wah, termasuk pengelelaan dang pengarahannya. Merasakan bahwa da’wah adalah beban berat di hati dan jiwanya, dan ingin menghindarkan diri dari beban berat itu dengan apapun bayarnya.

·        Tidak ditemukan transparansi dasar, muka ceria dan menyenangkan dari seorang murabbiy yang berlapang dada dari seorang ikhwah yang lemah ruhiyyah. Aktifitasnya menyerupai aktifitas partisan yang kering ukhuwwah imaniyyah, sabar dalam menghadapai bertanya medan. Ikhwah seperti ini terlihat kaku dan keras, kering, kering dalam bermu’amalah bersam para ikhwan. Sepertinya kita ini adalah partai duniawiy, bukan jama’ah rabbaniy yang menyeru kepada Allah.

Idealnya seorang ikhwan adalah menyeimbangkan antara sisi pemikiran dan ruhiyyah dalam dirinya, tidak berlebihan di satu sisi dan mengabaikan sisi lainnya, ditambah dengan tugas jama’ah yang mempersiapkan manhaj tarbiyah untuk membentuk dan meningkatkan ruhiyyah ikhwan… dan jama’ah telah sejak dini menyadari hal ini, kehadiran risalah “ Hazalurruh/kurusnya ruhiyyah” adalah untuk memberikan terapi kelemahan ruhiyyah ikhwan. Alangkah baiknya kalau risalah itu dapat beredar dan menyebar di setiap level ikhwan yang beraneka ragam. Dan pada umumnya tidak ada manhaj ikhwan yang mengabaikan sisi ini, hanya saja mungkin terdapat kekurangan dari para naqib, dalam mengemas dan menyampaikan sisi tarbiyah ini, dan bisa jadi ia sendiri yang sedang mengalami kelemahan ruhiyyah. Dengan demikan tanggung jawab para mas’ul berpindah kepada para mas’ul yang ada di atasnya untuk segera melakukan pembenahan. Salah satu penyebab kelemahan aktifitas harakah kita adalah kelemahan ruhiyyah yang melanda kita semua.

 

6.     QUDWAH AMALIYAH ( keteladanan operasional)

Pimpinan da’wah kita yang pertama Imam Syahid Hasan al Bana rahimahullah aalah teladan terbaik yang bisa dijadikan figur oleh teman-teman da’I, sehingga da’wah kepada Allah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Ia memiliki banyak pengikut.

Dan seseorang tidak akan menjadi teladan praktis yang berpengaruh kuat dengan sesungguhnya kecuali memenuhi dua sifat:

·        Pribadi Rabbaniy, hidup karena Allah, mengajak dan menyeru kepada Allah, mati karena Allah, hanya karena Allah satu-satunya.

·        Berinteraksi dengan da’wah dan hidup untuk da’wah dengan segenap anggota tubuh dan perasaannya, ucapan dan perbuatannya.

Jika tidak dengan dua sifat ini maka seseorang tidak akan pernah menjadi teladan, walaupun menyatakan dirinya sebagai figur teladan.

Perhatikanlah point ini pada khatib-khatib jumuah, juga para penceramah di masjid-masjid. Terdengar suara mereka sangat lantang, frekwensi suara yang sangat tinggi, bahasa yang manis dan indah, menunjukkan kepandaiannya merangkai kata, kepiawaian pengungkapan makna. Namun hanya sedikit sekali yang ucapannya sama dengan perbuatannya, lalu terasalah ucapan mereka itu tidak lebih dari sekedar lewat telinga, terlebih jika anda mengetahui bahwa yang berpidato itu begini, begitu…yang bertentangan dengan agama, atau masih berkubang dengan kemunkaran, banyak dosa.

Realistas da’wah kitapun begitu juga, apa artinya anda katakan kepada ikhwah lain untuk infaq jika anda sendiri menutup tangan rapat-rapat, atau berbicara tentang pengorbanan dan anda menarik diri ? bahasa adalah perbuatan sebelum ucapan.

Dan mungkin anda mencari sosok teladan di lingkungan da’wah anda yang memiliki unsur-unsur qudwah amaliyyah, kamu jadikan sebagai figur, dan tidak kamu temukan. Di sinilah seorang ikhwan harus mengingat dua hal penting :

·        Sesungguhnya sebaik-baik dan seindah-indahnya teladan adalah Rasulullah SAW, jejaknyalah yang harus diikuti, sirohnyalah yang harus ditapaki, dan bersungguh-sungguh menjadikan diri ini pengikut sunnahnya baik dalam ucapan maupun perbuatan.

·        Bahwa qudwah yang menghimpun seluruh sifat tadi sangat sedikit berada di barisan kita, tetapi ada ditemukan yang memiliki sifat itu meskipun tidak keseluruhannya. Seorang akh bisa menjadi teladan dalam pengorbanan dan infaq fi sabilillah, ikhwan lain menjadi teladan dalam kesabaran menuntut ilmu, yang lain menjadi teladan dalam ketekunan harokah dan semangatnya dalam da’wah, dan mungkin ada seorang ikhwan yang mampu menghimpun sifat-sifat itu hingga membuatnya menjadi teladan lebih dari satu bidang, lalu bisa diambil teladan, diikuti langkah jejaknya… dalam jama’ahlah kebaikan dan keberkahan. Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamiiiin.

No comments:

Post a Comment