Apakah arti da’i? Da’i adalah seseorang yang menyeru/mengajak kepada Islam. Dalam hal ini kita menemukan beberapa kosa kata dengan maksud yang hampir sama yakni :
·
Mubalighah : wanita yg
menyampaikan pesan pesan Islam kpd masyarakat
·
Ustadzah : guru
·
Mu’allimah : wanita
yang memberikan pengajaran atau ilmu kepada orang lain
·
Mudarrisah : wanita
yang mengajarkan atau membimbing proses belajar mengajar.
·
Murabbiyah ; akhawat
muslimah yang membimbing, mendidik,dan membina masyarakat.
Dengan demikian seorang
pembina adalah mubalighah, mudarrisah, mu’allimah, sekaligus murabbiyah.
Pada konteks pembahasan ini
maka seorang pembina adalah sosok pribadi yang melakukan kegiatan tarbiyah,
yakni seseorang yang membina, membimbing, mendidik satu atau beberapa
mutarobiyah untuk mencapai tujuan bersama.
Antara murobbi dan mutarobi
terdapat ikatan kejamaahan, sistem, tujuan, moral, emosional dan ikatan
keilmuan.
Apakah sulit menjadi seorang
murobbi?
Aktivis dakwah menganggap
sulit untuk menjadi murobbi karena merasa adanya kelemahan dan kekurangan diri.
Padahal dengan menilik arti murobbi di atas, maka tidak hanya ilmu yang
dibutuhkan disini. Bila sebuah pembinaan hanya untuk transfer ilmu, maka
seorang murobbi memang harus mempunyai kadar keilmuan yg mumpuni. Namun
ternyata tidak demikian halnya. Proses tarbiyah merupakan representasi dari
kegiatan JAMAAH , maka kekuatannya adalah pada sistem, bukan semata-mata dari
murobbi saja.
Ulama Sa’id bin Jubair
berkata,”Apabila seseorang tidak mau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar
sampai dalam dirinya tidak ada sesuatu (hal yang tidak baik) niscaya tidak ada
seorang pun yg menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar”.
Al Qurthubi berkata :
”Orang-orang berilmu berkata, tidaklah termasuk syarat orang yg melakukan nahi
mungkar bahwa ia harus orang yang suci dari maksiat, tapi orang-orang yang
mengerjakan maksiat itu melakukan nahi mungkar kepada sesama mereka”
Dengan demikian syarat menjadi
Pembina adalah sbb :
1. Kesediaan
untuk berproses bersama dalam kebaikan sesuai mekanisme kejamaahan
2. kesediaan
untuk berproses bersama para kader untuk mengoptimalkan berbagai potensi
positif yang dimiliki
3. Kesungguhan
untuk mengelola proses pembinaan dalam bingkai sistem
4. Kemauan
yang kuat untuk senantiasa meningkatkan kapasitas diri
5. Pemahaman
akan visi, misi, tujuan, tahapan, metode, serta sarana dalam pembinaan.
Kiprah Muslimah Di Kancah
Dakwah
Berdakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim
dan ia bukan hanya menjadi tanggung jawab kaum pria saja, tetapi juga kaum
wanita. Allah Imran (3) : 104:
“Dan hendaklah ada di antara
kamu, sebagian umat yang menyeru kepada kebajikan, meyeru kepada yang ma’ruf
dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Dari ayat tersebut, secara
umum memerintahkan setiap muslim, termasuk pula muslimah untukAllah turut ambil
bagian dalam pergerakan dakwah Islam. Sejak zaman Rasulullah muslimah memegang
peranan yang penting dalam menyebarluaskan syiar Islam. Seperti Ummul Mukminin
Aisyah yang dikenal sebagai tokoh muslimah teladan yang dengan kedalaman
ilmunya, sebagai hasil tarbiyah langusng dari suami , beliau menjadi sumber
rujukan,sekaligus manusia yang paling utama, Rasulullah oleh para sahabat dan
kaum muslimin saat itu. Bahkan dalam sejarah Islam beliau yang paling banyak
dikenal sebagai salah satu dari sahabat Rasulullah meriwayatkan hadits.
Melihat kondisi ummat manusia
dewasa ini khususnya kaum muslimin, maka dakwah lil Islam ini terasa semakin
dibutuhkan sebagai penerangan kepada kaum manusia untuk kembali ke jalan yang
benar. Tersebarluasnya kemaksiatan dan dekadensi moral, pelecehan terhadap
sebagian atau seluruh syari’at Islam, dan lain sebagainya, semakin menuntut
keterlibatan kaum muslimah untuk menyerukan kebenaran Islam, secara lisan
maupun perbuatan. Di sinilah terlihat jelas peran aktif muslimah dalam dakwah
Islamiyah
Beberapa hal yang menjadi
bekal dalam da’wah
Sebelum melangkah jauh dalam
da’wah, ada beberapa hal yang perlu menjadi bekal dan perhatian seorang
muslimah dai’yah di antaranya :
1. Seorang muslimah daiyah
hendaknya memiliki pemahaman yang mendalam akan ilmu-ilmu syar’i, makna-makna,
dan hukum-hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Ini adalah bekal
pokok dalam berdakwah. Tanpa bekal ilmu yang cukup, maka ia tidak akan mungkin
bisa menyampaikan kebenaran yang haq kepada manusia. Betapa banyak saat ini
orang-orang yang berdakwah tidak dilandasi dengan ilmu dan pemahamn yang benar
tentang Islam. Akibatnya, mereka bukannya mengeluarkan manusia dari kebodohan
dan kenistaan, justrue sebaliknya, mereka malah membuat ummat ini semakin jauh
dari kebenaran. Tidaklah mengherankan jika ummat ini semakin terpuruk dalam
berbagai klemersotan, kemunduran, penganiayaan, dan pelecehan oleh ummat-ummat
lain. Itu semua pada prinsipnya kembali pada ummat ini sendiri yang tidak mau
kembali kepada ajaran Islam yang murni. Karena kebodohannya, mereka hanya mau
menjalankan Islam sebatas apa yang mereka terima dari nenek-nenek moyang
mereka, padahal sesungguhnya mereka itu sama sekali tidak mengetahui apa-apa.
Benarlah kiranya firman Allah
“Dan apakah mereka akan
mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk.” (Al Maaidah : 104).
Yang lebih parah lagi adalah,
sebagian besar kaum muslim menganggap baik peribadatan yang mereka lakukan,
padaha; apa-apa yang mereka lakukan itu sungguh sangat jauh dari Al Qur’an, As
Sunnah, dan pemahaman para salafushshaleh. Peribadatan-peribadatan bid’ah
dianggap baik sementara peribadatan-peribadatan yang mengikuti sunnah dianggap
asing, bahkan dijauhi dan dicemoohkan.
Semakin dilazimkannya
perbuatan-perbuatan kemungkaran dan semakin banyaknya syubhat tentang dien ini,
sungguh-sungguh membutuhkan ilmu dari seorang dai/daiyah untuk dapat membedakan
antara yang haq dan yang bathil. Mana perkara yang masyru’ dan mana yang
bid’ah. Mereka inilah yang akan mampu mengeluarkan ummat Islam dari kegelapan
menuju cahaya yang terang benderang. Allah berfirman dalam Al Qur’an surah An
Nahl (16) : 89:
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ
مِّنْ اَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلٰى هٰٓؤُلَاۤءِۗ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ
الْكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
ࣖ
(Dan Ingatlah) akan hari (ketika) Kami
bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri,
dan Kami datangkan kamu (Muhammmad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia.
Dan telah Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur’an) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang Islam.
Dalam riwayat Imam Ahmad dan
Imam Ibnu Majah, Rasulullah bersabda
تَرَكْتكم عَلى المثل
بَيْضَاءِ ليلها كنهارها لاَ يَزِيْغ عَنْهَا إلا هَالِكَ
Saya telah meninggalkan kamu wahai umatku
seperti baidhoh yang sangat putih (artinya : sangat jelas/terang sekali),
malamnya sama dengan siangnya, tidak ada yang berpaling dari syariatku kecuali
ia akan binasa.
2. Iman yang dalam yang
melahirkan cinta kepada Allah, takut kepada-Nya (siksa-Nya), optimis akan
rahmat-Nya dan mengikuti segala petunjuk Rasulullah. Keimanan ini sangatlah
dibutuhkan dalam menghadapi berbagai tantangan dan hambatan dakwah yang semakin
besar. Seorang daiyah perlu membentengi diri dengan keimanan sehingga ia tidak
akan mudah terbawa oleh arus kemerosotan yang terjadi di sekelilingnya. Dengan
keimanan pula, seorang dai dan daiyah akan bisa tetap untuk istiqomah dengan
kebenaran yang diembannya, seberapapun besar penentangan yang ia hadapi,
seberapapun keji fitnah yang menimpanya. Seorang dai/daiyah yang memiliki
keimanan di dadanya, tidak akan pernah merasa khawatir dan takut akan apapun,
karena ia yakin akan kekuatan yang Maha Tinggi dan Maha Besar milik Allah Allah
pun telah menurunkan ketenangan di hati orang-orang yang beriman, sebagaimana
firman-Nya dalam surat Al Fath (48) : 4:
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ
الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ ۗ
“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan
ke dalam hati orang-orang mu’min supaya keimanan mereka bertambah di samping
keimanan mereka (yang telah ada) ...”
Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:
وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا
وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
“...dan apabila dibacakan kepada mereka
ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) ... (QS Al Anfaal : 2)
Dalam Al Qur’an Surat Al Muddatstsir (74) :
31:
وَمَا جَعَلْنَآ اَصْحٰبَ النَّارِ اِلَّا مَلٰۤىِٕكَةً
ۖوَّمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ اِلَّا فِتْنَةً لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْاۙ لِيَسْتَيْقِنَ
الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ وَيَزْدَادَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِيْمَانًا ࣖ
“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu
melainkan dari malaikat; dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu
melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang
diberi Al Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah
imannya...”
3. Selalu berhubungan dengan
Allah dalam rangka tawakkal atau meminta pertolongan-Nya dalam da’wah. Dalam
hadits Rasulullah bersabda:
وإذا سأ لت قا سئل الله
وإذا الستعنت فستعن بالله
“Dan apabila , dan apabila kamu meminta,
engkau meminta maka mintalah kepada Allah pertolongan maka mintalah pertolongan
kepada Allah
4. Membina diri untuk
berakhlak mulia. Hal ini juga harus mendapat perhatian dari para muslimah
daiyah, karena mereka adalah orang yang menjadi pencerminan kebenaran yang ia
bawa. Islam akan dengan mudah didakwahkan apabila para mad’u melihat refleksi
dari ajaran tersebut pada diri seorang daiyah. Sebaliknya, orang justru akan
menjauhi seorang daiyah, apabila ia menyeru manusia kepada kebenaran akan
tetapi ia sendiri tidak melakukan kebenaran tersebut.
Firman Allah Allah
۞ اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ
اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Mengapa kamu suruh orang lain
(mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri,
padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir? (Al-Baqarah:
44)
Kalau ada yang menasehati
dengan ayat ini, jangan dikatakan “itu ditujukan hanya kepada orang Yahudi”.
Memang ayat ini pertama kali diturunkan kepada Yahudi, namun ia berlaku secara
umum; bahwa siapasaja yang berlaku dengan kelakuan seperti itu berarti dia
telah melakukan kesalahan, dan sebagaimana Allah mencela orang Yahudi maka
Allah juga mencela orang tersebut.
Daiyah yang seperti ini selain
hanya akan menjadikan cemoohan manusia, juga yang lebih . Kemunduran berbahaya
lagi adalah mendatangkan celaan dan laknat dari Allah Islam saat ini sedikit
banyaknya juga dipengaruhi oleh tidak atau kurangnya panutan dari para daiyah,
sehingga ummat Islam ini tidak bisa melihat figur pemimpin ummat yang
betul-betul bisa dicontoh akhlaknya. Sebaliknya, pada zaman Rasulullah dan para
salaf dahulu, umat Islam begitu mudah tersentuh oleh siraman Islam karena
mereka juga melihat kebenaran dan cahaya Islam itu terpancar dari dalam diri
para pendakwah pada masa tersebut. Dari sirah Rasulullah dan berbagai kisah
para salaf, kita membaca dan mendengarkan bagaimana ummat manusia pada masa
tersebut begitu mengelu-elukan para ulama jauh melebihi para penguasa. Kita
mempelajari bagaimana masyarakat Islam saat itu menanti-nantikan kehadiran para
ulama yang mereka yakini akan menyampaikan sesuatu yang menentramkan hati dan
membawa keselamatan bagi mereka, bukan hanya orang-orang yang lisannya menyampaikan
kebenaran namun hatinya dipenuhi dengan berbagai perkara syubhat dan
menyebarkan syak kepada ummat, serta bukan pula daiyah yang hanya bagus
penampilannya namun hatinya dipenuhi dengan kurafat, dan perkara-perkara
bid’ah.
Agar bisa menjadi seorang
daiyah dengan akhlak yang baik, maka ia mesti berusaha untuk dapat memiliki
hati yang selamat. Hati yang selamat (Qalbun Salim) adalah hati yang bersih
dari segala macam noda-noda baik kesyirikan, bid’ah, syahwat (hawa nafsu) juga
masalah syubhat dan bersih dari . Sehingga hatinya ini penuh dengan cinta
karena ma'siyat-ma'siyat kepada Allah yakni memberi, yang menggerakkan dirinya
untuk beramal adalah Allah semuanya karena Allah, benci karena Allah cinta
karena Allah karena Allah . Dan inilah hatinya orang mukmin yang benar
keimanannya yang pasti.
Cara yang paling tepat untuk menyembuhkan
penyakit-penyakit di hati sebagaimana disebutkan oleh Allah Qur’an adalah
sebagai syifaa’ (obat). Karena Al Qur’an ini diturunkan oleh Allah dalam QS.
Yunus :57:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ
مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
Hai manusia, sesungguhnya
telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi
penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman.
Dan yang dimaksud dengan مَوْعِظَةٌ
di sini adalah Al Qur’an itu sebagai obat bagi penyakit-penyakit dalam hati.
Ayat lain pada QS Al Furqan : 30-31
وَقَالَ الرَّسُوْلُ يٰرَبِّ اِنَّ قَوْمِى اتَّخَذُوْا
هٰذَا الْقُرْاٰنَ مَهْجُوْرًا ٣٠ وَكَذٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ
الْمُجْرِمِيْنَۗ وَكَفٰى بِرَبِّكَ هَادِيًا وَّنَصِيْرًا ٣١
Berkatalah Rasul : “Ya
Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur’an ini suatu yang tidak
diacuhkan”. Dan seperti itulah, telah Kami adaka bagi tiap-tiap Nabi, musuh
dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Pemberi petunjuk
dan Penolong
Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah
ketika menafsirkan ayat ini mengatakan bahwa termasuk meninggalkan Al Qur’an
adalah ketika kita tidak menjadikannya sebagai obat, terutama obat bagi
penyakit hati. Dan yang paling bisa menyembuhkan penyakit yang ada di dalam
hati adalah Al-Qur'an.
Allah swt berfirman dalam ayat
lain bahwa hati itu bisa tenang dengan mengingat Allah dalam Al Qur’an Surah
13:28
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ
اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan
mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Afdhalnya zikir adalah membaca
Al Qur’an. Karena itulah jika kita ingin memperbaiki anggota tubuh kita
hendaklah dengan memperbaiki hati kita dan siapa yang mau memperbaiki hatinya
maka jalan yang paling baik untuk itu adalah pendekatan diri kita dengan sedekat-dekatnya
dengan Al Qur’an.
5. Memahami hakekat da’wah
dengan sempurna. Ada beberapa prinsip dalam dakwah yang mesti diperhatikan:
Dakwah pertama yang
dilancarkan adalah dakwah tauhid yang menyeru manusia untuk hanya menyembah
Allah semata, sebagaimana yag diserukan setiap rasul pada umatnya.
لَقَدْ اَرْسَلْنَا نُوْحًا اِلٰى قَوْمِهٖ فَقَالَ يٰقَوْمِ
اعْبُدُوا اللّٰهَ مَا لَكُمْ مِّنْ اِلٰهٍ غَيْرُهٗۗ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ
عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
“Sembahlah Allah, sekali-kali tak ada
sembahan yang haq bagimu selain-Nya.” (Al ‘Araf : 59)
Allah swt juga berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ
اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ هَدَى اللّٰهُ وَمِنْهُمْ
مَّنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلٰلَةُ ۗ فَسِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ
كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul
pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan kauhilah
thaghut itu.” (An-Nahl : 36)
Dengan demikian, misi pertama
dan utama dalam berdakwah adalah bagaimana mengajak umat manusia untuk
memurnikan tauhid yang akan berlanjut pada kemurnian pelaksanaan ajaran tauhid
itu menurut Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah
·
Selanjutnya adalah
mengajak kepada amar ma’ruf nahi munkar. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata
dalam kitabnya Al’Amru bil Ma’ruf wannahyi Anil Mungkar bahwa kewajiban ini
(mengajak kepada al-ma’ruf nahi munkar) adalah kewajiban atas keseluruhan umat,
dan ini yang oleh para ulama disebut fardhu kifayah. Apabila segolongan dari
umat melaksanakannya, gugurlah kewajiban itu dari yang lain. Seluruh umat
dikenai kewajiban itu. Tetapi bila segolongan umat telah ada yang
melaksanakannya, maka tertunaikan kewajiban itu dari yang lain”.
Kemudian
dikatakan bahwa sesungguhnya fardhu kifayah dan pelaksanaannya menghendaki
pentingnya realisasi sesuatu yang diperintahkan itu, dan penerapannya, serta
golongan yang jadi sasaran perintah itu dapat menerimanya secara nyata. Apabila
mereka tetap dalam kesesatan, mengikuti hawa nafsu, senang dalam kedurhakaan
dan terjerumus dalam kesalahan, maka semua orang Islam tetap dalam beban
kewajiban tersebut .
·
Diwajibkan kepada
setiap muslim melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dalam hal-hal dimana orang
berilmu dan orang bodoh sama di dalamnya, seperti zina, minum khamar (minuman
keras), riba, ghibah, mengadu domba, dusta, bersumpah dengan selain Allah dan sifat-sifat-Nya,
mengandalkan diri kepada selain Allah Yang Maha Pemberi Rezeki, mengganggu
manusia, menolong orang dzalim, meninggalkan shalat, tidak menunaikan zakat,
puasa, haji dan hal-hal lain yang sudah diketahui secara umum di kalangan
perseorangan umat, baik peringatan itu bermanfaat atau tidak, baik peringatan
berfirman:itu bermanfaat atau tidak. Allah
فَذَكِّرْإِن نَّفَعَتِ
الذِّكْرَى
“Maka
berilah peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat”. .
·
Kewajiban berdakwah
(amar ma’ruf nahi munkar) hanyalah menurut kemampuan yang ada. Ada suatu
riwayat dari Abu Juhaifah, ia menceritakan: Ali ra pernah berkata:
“Sesungguhnya jihad pertama yang harus diatasi adalah jihad dengan tangan
kalian, kemudian jihad dengan lisan, lalu dengan hati. Dan barangsiapa hatinya
tidak mengetahui kebaikan (al ma’rif) dan menentang kemunkaran (al munkar),
maka ia jungkir-balik, yang di atas menjadi di bawah.”
Ibnu
Mas’ud berkata: “Celakalah orang yang hatinya tidak mengenal (mengetahui)
kebaikan dan kemungkaran.” Itu menunjukkan, bahwa mengetahui kebaikan dan
kemungkaran dengan hati merupakan kewajiban yang tidak bisa lepas dari
seseorang, maka bagi yang tidak tahu, celaka ia. Adapun penentangan dengan
tangan dan lisan, kewajibannya hanyalah menurut kemampuan seseorang .
6. Mampu mengatur strategi dan
manajemen dakwah, dimana tidak dapat dipungkiri bahwa kedua hal ini merupakan
suatu kemutlakan. Tanpa strategi dan manajemen yang baik, maka pergerakan
dakwah tidak akan mampu secara optimal mencapai sasarannya. Selain itu, salah
satu faktor yang menyebabkan dakwah Islam banyak yang mengalami kegagalan, atau
paling tidak mandeg di tengah jalan, adalah karena kurangnya strategi dan
manajemen dakwah yang baik. Di sisi lain, kita melihat bahwa musuh-musuh Islam
serta kaum munafikin justru semakin gigih dalam meluluhlantakkan gerakan
pejuang-pejuang Al Qur’an dan As Sunnah dengan senantiasa memperbarui strategi
dan manajemen mereka. Tidak ada cara yang lain yang lebih baik dari hal ini
kecuali dengan kembali ke Al Qur’an dan .mempelajari bagaimana strategi dan
manajemen dakwah Rasulullah
7. Persiapan yang benar dan
matang, serta pemahaman yang baik akan prioritas dakwah. Dalam hal ini Islam
lebih mengutamakan kualitas daripada kuantitas, dan yang diakui adalah mutu
bukan jumlah bilangan, Maha Benar Allah yang beriman: “Berapa banyak golongan
yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah”. (Al
Baqarah : 249).
Seorang daiyah hendaknya tidak bersikap
tergesa-gesa dan bijaksana dalam menaggapi setiap perubahan yangterjadi apakah
perubahan yang baik atau perubahan yang kurang baik. Pada saat mengalami
keberhasilan, tidak takabbur dan lupa akan tujuan awal dari dakwah itu sendiri,
yang justru bisa berbalik menjadi suatu kondisi keterpurukan yang tidak
terduga. Apa yang terjadi dalam Perang Hunain hendaknya menjadi pelajaran yang
cukup bagi setiap muslimah untuk bersikpa bijak dalam menaggapi keberhasilan.
“Sesungguhnya Allah telah
menolong kamu (hai para mu’minin) di medan peperangan yang banyak, dan
(ingatlah) peperangan Hunain, yaitu ketika kamu menjadi congkak karena
jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit
pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kam lari ke
belakang denga bercerai-berai”. (At Taubah : 25)
8. Faham bahwa da’wah adalah
kewajiban Islam dan caranya diatur dalam Islam, hingga tidak menghalalkan
segala cara. Beberapa rambu jalan (‘alamat dlauiyyah) yang hendaknya
diperhatikan oleh juru dakwah :
Ayat pertama “Mengapa kamu
suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri
padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (QS 2 :
44)
Ayat kedua “Sesungguhnya
orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan
(yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al
Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk)
yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan
dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya
dan Akulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”. (QS 2 : 159 – 160)
Ayat ketiga “Dan hendaklah ada
di antara kamu, sebagian umat yang menyeru kepada kebajikan, meyeru kepada yang
ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.”
Ayat keempat “Kamu adalah umat
yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan
mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab
beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman,
dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS 3 : 110).
Ayat kelima “Telah dilaknati
orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putra Maryam. Yang
demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu
sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat.
Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu”. (QS 5 : 78 –
79)
Ayat keenam “Hai orang-orang
yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi
mudharat kepadamu bila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu
kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS 5 : 105)
Ayat ketujuh “Dan tanyakanlah kepada Bani
Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar
aturan hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di
sekitar) mereka terapung-apung di permukaan, dan di hari-hari yang bukan hari
Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. demikian Kami mencoba mereka
karena berlaku fasik. Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka
berkata: “Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau
mengadzab mereka dengan adzab yang sangat keras” Mereka menjawab: “Agar kami
punya alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka
bertakwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka,
Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan kami
timpakan kepada orang-orang yang dzalim siksaan yang keras, disebabkan mereka
selalu berbuat fasik. Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang
dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “jadilah kamu kera
hina!” (QS 7 : 163 – 166)
Ayat kedelapan “Dan
peliharalah dirimu daris iksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
dzalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS
8 : 25)
Ayat kesembilan “Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan
bantahlah mereka dengan cara yang paling baik. sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang
lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS 16 : 125)
Ayat kesepuluh “Siapakah yang
lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan
amal yang shalih dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
menyerah diri?” (QS 41 : 33)
9. Seorang da’iyah mesti
memahami metodologi da’wah. Seseorang daiyah harus mengenal karakter mad’u
(objek dakwah) dan bi’ah (lingkungan) sehingga mampu menentukan metode dakwah
yang sesuai dengan kondisi yang berbeda-beda. Seorang daiyah harus mengetahui
metode dakwah Rasulullah dan para salaf dalam menyebarkan Islam di berbagai
kalangan masyarakat mulai dari kalangan penguasa (politikus) hingga kepada
masyarakat Badui.
10. Memanfaatkan waktu sebaik
mungkin, dimana bagi seorang da’iyyah, tidak ada waktu baginya kecuali waktu
tersebut senantiasa diisi dengan berbagai aktifitas kebaikan. Sebagaimana dalam
Al Qur’an Surah Al Ashr, dimana pada surah tersebut, manusia dikatakan merugi
kecuali orang-orang yang beriman dan yang mengisi waktu-waktunya dengan
mengerjakan amal-amal shalih, serta tolong-menolong dalam kebenaran dan
kesabaran. Bagi seorang da’iyyah, tidak ada waktu untuk istirahat kecuali waktu
untuk memenuhi hak-hak dirinya dan keluarganya. Bahkan dalam keadaan berbaring,
akalnya senantiasa ia gunakan untuk berpikir.
Penutup
Demikianlah beberapa hal yang
kiranya perlu mendapat perhatian dari setiap muslimah da’iyah. Satu hal yang
tidak boleh dilupakan adalah upaya setiap muslimah untuk berada sedekat mungkin
dengan Al Qur’an dan As Sunnah yang dengan demikian akan membantu dia untuk
tetap berada di atas manhaj yang benar berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah
serta pemahaman para salafushshaleh. Bagaimanapun juga, seorang muslimah
da’iyah tidak akan mampu melaksanakan kewajiban-kewajiban kifayahnya kepada
orang lain selama ia belum mampu menegakkan fardu ‘ain di dalam dirinya. Lebih
khusus lagi dalam kaitannya dengan kewajibannya sebagai hamba Allah wallahu
a’lam.
Maraji’:
1. Hakikat
Tauhid dan makna لاإله إلاالله, Syaikh Dr. Shaleh bin Fauzan bin Abdullah
Al Fauzan
2. Terjemahan
Kitab Amar Ma’ruf Nahyi Munkar, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah
3. Yang
Berjatuhan di Jalan Dakwah, Fathi Yakan
4. Rekaman
materi Tafsir Surah Al Fathihah, daurah syar’iyyah ke-9 Wahdah Islamiyah,
Sabtu/27 Juli 2002 M, Syaikh Fahad Al ‘Azany, Penerjemah : Ustadz Ilham Jaya,
Lc
5. Rekaman
materi Al Iman, daurah syar’iyyah ke-9 Wahdah Islamiyah, 1423 H/2002 M, Syaikh
Abdullah Muhammad Az Zaidani
No comments:
Post a Comment