Friday, May 1, 2026

Tabattul

Tabattul Secara Etimologi

Tabattul adalah bentuk mashdar dari Tabattala yang artinya total dan totalitas dalam ibadah. Diambil dari akar kata ta' - ba' - lam, yang mempunyai pengertian jelasnya sesuatu dari yang lain. Bataltu as-Syai'a artinya aku menjelaskan sesuatu.

Tabattala Ilallah Ta'ala artinya ia total dan ikhlas untuk Allah. Di dalam Al-Qur'an disebutkan,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ ٨

"Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8)

Mashdar yang ada pada surat ini bukan melalui pecahan kata kerjanya, banyak contoh lain dalam hal ini. Arti ayat tersebut adalah, Ikhlaslah untuk Allah dengan sebenar-benar ikhlas. At-Tabattul berarti pula terputus dari dunia dan hanya berhubungan dengan Allah semata. Demikian pula kata at-Tabtiil. Kata ini diungkapkan untuk seorang ahli ibadah ketika ia meninggalkan segala sesuatu dan hanya beribadah. Qad tabattala, artinya terputus dari segala sesuatu selain perintah Allah dan taat kepada-Nya.

Wanita Al-Batul adalah yang terputus dari laki-laki (lajang). Ia tidak berminat kepada mereka sama sekali. Maryam diberi julukan seperti ini. Bahkan ada yang mengatakan Fathimah Al-Batul. Karena ia berbeda dari semua wanita semasanya atau bahkan semua wanita ummat ini dari sisi iffahnya, kemuliannya, agama, dan nasabnya. Ada yang mengatakan karena terputusnya dia dari dunia dan hanya untuk Allah semata.

Wanita Mubtilah secara akhlak artinya wanita yang akhlaknya berbeda dari wanita lain, ia memiliki banyak kelebihan dibanding yang lain. [1]

Ibnu Hajar berkata pada bab 'Yang dimakruhkan dari Tabattul'. Dan yang dimaksudkan di sini adalah yang tidak menikah berikut ibadah yang bernuansa kesenangan. Yang diperintahkan dari Tabattul seperti halnya firman Allah,

"Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8)

Mujahid menafsirkannya dengan, ia berbuat ikhlas kepada-Nya seikhlas-ikhlasnya. Ini tafsir dengan pendekatan pengertian bahasa. Sebab inti dari makna Tabattul adalah totalitas hanya kepada Allah.

Terdapat pula istilah Shadaqah Batlah yang artinya sedekah yang tidak ada pemiliknya.

Maryam Al-Batul karena ia tidak menikah dan hanya beribadah.

At-Tabattul secara terminologi

Dalam terminologi syariah, yang dimaksud dengan istilah ini adalah dua hal:

Pertama, total beribadah kepada Allah dan mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya dan hanya untuk-Nya. Inilah yang dimaksud oleh firman Allah,

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍۗ قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ الَّذِيْ جَاۤءَ بِهٖ مُوْسٰى نُوْرًا وَّهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنْتُمْ وَلَآ اٰبَاۤؤُكُمْ ۗقُلِ اللّٰهُ ۙثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ ٩١

"Katakanlah, 'Allah-lah (yang menurunkannya)", Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." (al-An'am: 91 )

Kedua, Terputus dari Nikah.

Ini dilarang.[2] Dan batul adalah sifat Maryam yang diambil dari pengertian kedua ini karena ia tidak menikah. At-Tahanawi berkata, "Yaitu seorang gadis yang terputus dari nikah."[3]

Maka dari pengertian pertama Fathimah diberi julukan seperti ini, sebab, sebagaimana yang dikatakan At-Tahawani, "Wanita yang terputus dari dunia dan hanya kepada Allah. Bertemu dengan-Nya pada akhirnya. Dengan pengertian inilah Fathimah diberi gelar Al-Batul."[4]

Ibnul Qayyim berkata, "Di antara manzilah (tahapan) iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in adalah manzilah Tabattul.

Allah berfirman,

"Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8)

Maryam dinamakan Al-Batul karena ia tidak menikah. Juga karena ia tidak memiliki tandingan di kalangan wanita semasanya. Ia mengungguli wanita lain dari sisi kemuliaan.

Pengarang 'Al-Manazil' mengatakan, "Tabattul adalah totalitas untuk Allah semata." Firman Allah Ta'ala, "Dia memiliki panggilan kebenaran." Maksudnya totalitas yang sempurna. Lalu yang dimaksud dengan totalitas yang sempurna adalah terputus dari mengharapkan semua imbalan. Di mana seorang Mutabattil tidak seperti buruh yang bekerja hanya mengharapkan imbalan. Jika telah mendapatkannya ia pergi dan tidak lagi menjadi buruh. Berbeda dengan hamba (abdun) ia melakukan perbuatan sebagai konsekuensi dari ubudiyahnya, dan bukan untuk imbalan. Ia tidak berpaling dari pintu tuannya kecuali jika ia seorang Abiq. Seorang Abiq muingkin saja jauh dari kemuliaan kehambaan namun tidak mendapatkan kemerdekaan sama sakali. Tujuan utama kemuliaan jiwa adalah masuknya jiwa itu sendiri ke dalam penghambaan ubudiyah karena suka rela, pilihannya, dan karena cinta. Bukan karena kebencian atau paksaaan. Sebagaimana seorang penyair berkata,

"Kemuliaan jiwa adalah saat ia masuk ke dalam penghambaan mereka

Sedangkan seorang hamba memiliki kebanggaan dengan kepemilikan."

Pengertian yang baik dalam memahami ayat tersebut, "Dan milik-Nya ajakan kebenaran,"[5] dalam tema ini adalah, seperti yang dikehendaki oleh ayat itu sendiri, bahwa Allah adalah pemilik ajakan kebenaran, baik secara Dzat maupun sifat-Nya. Maka Allah sendiri yang paling berhak untuk disembah, paling layak dimintai doa, dituju, disyukuri, dipuji, disambut ajakan-Nya, diharapkan, ditakuti, ditawakali, dimintai pertolongan, dimintai perlindungan, dijadikan tempat sandaran, dijadikan tempat bergantung. Maka ajakan ilahi yang haq hanya milik-Nya.

Siapa melaksanakan hal ini dengan hatinya, mengenalnya, merasakannya, dan dengan segenap kesadarannya, berarti orang itu telah mencapai pengertian Tabattul dan totalitas. Para ulama salaf menafsirkan pengertian, "Dan milik-Nya ajakan kebenaran," adalah tauhid dan ikhlas dalam bertauhid serta kejujuran.

Sementara Ali ra mengartikan da'wah adalah al-haq yang berarti tauhid." Ibnu Abbas berkata, "Maksudnys syahadat tiada ilah selain Allah." Ada juga yang mengertikannya doa yang dipanjatkan dengan keikhlasan. Dan doa dengan keikhlasan hanya mungkin jika dipanjatkan kepada Allah. Da'watul haq adalah dakwah ilahiyah dengan memenuhi hak-haknya, totalitasnya, dan keikhlasannya.

Ayat-ayat yang berbicara tentang Tabattul diantaranya,

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ ٨

"Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8)

رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا ࣖ ٦٥

"Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?" (Maryam: 65)

فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ٧ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨

"Maka apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Al-Insyirah: 7-8).

Sedangkan hadits-hadits yang berbicara Tabattul yang dilarang adalah,

رَدَّ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ التَّبَتُّلَ ، وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لَاخْتَصَيْنَا

Sa'id bin Abi Waqqash berkata, "Rasulullah saw menolak keinginan Utsman bin Madz'un untuk Tabattul (membujang). Kalau saja diizinkan, kami pasti akan mengebiri kami sendiri."[6] Inilah Tabattul yang dilarang, yakni enggan menikah meskipun mampu.

كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُوْلِ اللهِ وَلَيْسَ لَنَا شَيْءٌ ، فَقُلْنَا : أَلاَ نَسْتَخْصِي ؟ ، فَنَهَانَا عَنْ ذَلِكَ ، ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْاَةَ بِالثَّوْبِ ، ثُمَّ قَرَأ َعَلَيْنَا : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

2. Abdullah berkata, "Kami pernah berperang bersama Rasulullah sementara kami tidak punya apapun. Kami berkata kepada beliau, 'Tidakkah sebaiknya kita mengebiri?' lalu beliau melarang kami malakukan hal itu. Beliau juga mengizinkan kami untuk menikahi wanita dengan mahar sehelai baju. Beliau membacakan ayat kepada kami,  "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan kebaikan yang telah dihalalkan Allah bagi kalian dna janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampui batas." (al-Maidah: 87).

Atsar, ucapan para ulama dan ahli tafsir tentang Tabattul yang diperintahkan.

1-     Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah, " Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8) Berikhlaslah untuk-Nya dengan seikhlas-ikhlasnya.[7]

2-     Tentang firman Allah, " Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8) Mujahid berkata, "Ikhlaslah dalam meminta dan berdoa."[8]

3-     Terhadap ayat tersebut Qatadah juga berkomentar, "Ikhlaskan ibadah dan doa untuk-Nya."[9]

4-     Juga tentang ayat tersebut Ibnu Wahb juga berkomentar, yakni total dalam ibadah kepada-Nya. Lebih utama lagi tabattul hanya untuk Allah. Dia membaca ayat, "Dan apabila engkau selesai (berjihad) maka lakukan ibadah." (Al-Insyirah). Artinya, jika kamu selesai berjihad segeralah lakukan ibadah kepada Allah dan berharaplah kepada Tuhanmu.[10]

Komentar Ahli tafsir

5-     Al-'Allamah An-Naisaburi berkata, "Allah menjelaskan amal perbuatan mulia dalam qiyamul lail dalam dua hal: disebutkannya nama Ar-Rabb dan kata Tabattul kepada-Nya, yakni totalitas dalam menyembah Allah. Yang pertama merupakan kedudukan seorang Salik (penempuh jalan menuju Allah) dan yang kedua kedudukan Musyahid (yang menyaksikan). Yang pertama bagai bakas kaki dan yang kedua bagai mata.[11]

Peringkat Tabattul

Dia (pengarang Al-Manazil) berkata, "Tabattul mempunyai tiga peringkat.

Peringkat Pertama, total berpaling dari semua hak dan komentar hanya kepada Dzat yang Maha Mengetahui baik karena takut, berharap, atau peduli.[12]

Saya (Ibnul Qayyim) katakan, Tabattul mencakup dua hal: Ittishal (berhubungan) dan Infishal (memutuskan) dan Tabattul tidak tercapai tanpa keduanya.

Infishal adalah terputusnya hati dari jatah jiwa jika bersinggungan dengan apa yang dikehendaki Allah. Juga dari keberpalingan hati kepada selain Allah, baik karena takut, berharap, peduli kepadanya, atau memikirkannya. Yang dengan itu hatinya disibukkan dari memikirkan Allah.

Dan Ittishal tidak mungkin tercapai kecuali setelah Infishal. Yakni tersambungnya hati kepada Allah, menghadap kepada-Nya dengan penuh kecintaan, takut, berharap, kembali, dan berserah diri kepada-Nya.

Hal-hal yang membantu menuju Tajrid (totalitas).

Beliau menyebutkan bahwa yang membantu seseorang menuju tajrid adalah dengan menguatkan harap dengan keridhaan, menghilangkan rasa takut dengan penyerahan, dan membuang sikap peduli dengan menyaksikan hakikat kebenaran.[13]

Dia mengatakan, "Yang menguatkan harapan para makhluk dalam hatimu adalah ridha kepada hukum Allah dan pembagian-Nya untukmu. Siapa ridha terhadap hukum dan pembagian Allah tidak ada lagi di dalam hatinya ruang berharap kepada makhluk.

Lalu yang menguatkan rasa takut adalah penyerahan diri kepada Allah. Karena barangsiapa menyerahkan diri kepada Allah dan mengetahui bahwa apa yang menimpanya bukan karena kesalahannya dan kesalahannya bukan menjadi penyebab ujian yang menimpanya. Ia juga mengetahui bahwa ia tidak tertimpa sesuatu kecuali hal itu telah ditentukan Allah untuknya. Maka tidak ada lagi rasa takut kepada makhluk dalam hatinya. Sebab jiwa yang ditakutkannya itu telah diserahkan kepada Pemilik dan Pelindungnya. Ia juga tahu bahwa Allah tidak menimpakan sesuatu kepadanya kecuali apa yang telah ditentukannya. Ia juga mengetahui bahwa apa yang ditentukannya pasti akan menimpanya. Maka tidak ada artinya takut kepada selain Allah.

Ada manfaat yang sangat indah dari penyerahan diri kepada Allah. Bahwa ketika seorang hamba menyerahkan dirinya kepada Allah ia telah menitipkan kepada-Nya serta menyimpannya dalam dekapan-Nya serta menjadikannya di bawah kepemilikannya. Di mana ia tidak bisa dijamah oleh tangan musuh dan kejalihan pembangkang.

Yang menguatkan 'memalingkan perhatian' (Al-Mubalat) manusia terhadap dirinya dalah menyaksikan hakikat kebenaran. Yakni melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah, karena Allah, dalam genggaman-Nya, dan di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bergerak kecuali karena daya dan kekuatan-Nya. Tidak ada yang mendatangkan manfaat dan mudarat kecuali karena izin dan kehendak-nya. Lalu apa untungnya mengharapkan perhatian makhluk setelah mengetahui hakikat ini?

Peringkat kedua: Totalitas dari semua upaya menuju jiwa dengan mengenyampingkan hawa nafsu, mereguk harumnya bersikap lembut kepada Allah serta mendapatkan kilatan Kasyaf.[14]

Perbedaan antara peringkat ini dengan peringkat pertama adalah, bahwa yang pertama memutuskan hubungan dengan makhluk sementara peringkat yang ini memutuskan hubungan dari jiwa dan ini tercapai melalui tida hal:

  1. Mengenyampingkan hawa nafsu, berseberangan dengannya, dan menahan nafsu. Sebab mengikuti hawa nafsu menghalangi seseorang melakukan Tabattul.
  2. Setelah berseberangan dengan hawa nafsu seseorang akan mereguk harumnya kelembutan (Al-Unsu) bersama Allah. Ruh bertemu ruh bagai ruh bertemu badan. Dia adalah ruh dan ketenteraman-Nya. Kenikmatan ini bisa digapai oleh seseorang yang berpaling dari hawa nafsunya. Dan kala itulah ia mereguk ruh manisnya bersikap lembut kepada Allah serta mencium baunya. Karena jiwa harus itu pasti mempunyai gantungan. Ketika jiwa terputus dan gantungannya seseorang akan mendapatkan nikmatnya bersikap lembut kepada Allah, merasakan semilirnya dan keharumannya.
  3. Mendapatkan kilatan cahaya Kasyaf. Ia menjadi sarana pandangnya. Agar dengan demikian ia mengetahui tempat-tempat anugerah dan tempat turunnya rahmat.

Macam-macam Kasyaf

  1. Kasyaf (melihat) tingkatan-tingkatan perjalanan.
  2. Kasyaf terhadap mata pandang manusia, kendala-kendala, dan perusak amal.
  3. Kasyaf terhadap makna Asma'ul Husna dan Sifat-Sifat serta hakikat tauhid dan ma'rifah.

Ketiga macam pintu inilah ringkasan ilmu para hamba, di sekitarnya mereka berkerumun, di sekelilingnya mereka bersenandung, dan untuknya mereka melewati malam-malam. Di antara mereka ada yang komentarnya berbobot dalam bidang tauhid dan ma'rifah, juga pada hakikat Al-Asma dan Sifat.

Seorang yang jujur dan cerdas mengambil kebenaran dari salah seorang di antara mereka lalu menjadikannya sebagai sarana mencapai cita-citanya. Namun ia juga tidak menolak kebenaran yang datang darinya hanya karena orang tersebut abai terhadap kebenaran yang lain. Kesempurnaan mutlak hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam. Sedangkan hamba mempunyai kedudukan terbatas.

Peringkat Ketiga: Totalitas untuk menuju keterdahuluan dengan meluruskan sisi istiqamahnya, larut dalam uapaya mencapai tujuan, dan semangat memilih hal-hal utama.[15]

Jadi, peringkat pertama bertujuan melepaskan diri dari makhluk, peringkat kedua melepaskan diri dari jiwa, dan peringkat ketiga upaya menggapai keterdahuluan dengan meluruskan istiqamah, yakni berpaling dari selain kebenaran. Komitmen menerima kebenaran serta menyibukkan diri untuk menggapai apa yang dicintainya. Setelah itu larut dalam upaya mencapai tujuannya.

Di antara pencari kemuliaan ada yang kembali dengan tangan hampa dan di antara mereka ada yang berhasil menggapai cita-citanya.

"Seorang perindu hendaknya sejenak merenung

Antara apa yang menyenangkan dan yang menggelisahkan

Kala itulah kakinya menapak

Kembali ke belakang atau menuju ke hadapan."

Peringkat Keempat: Memutuskan diri dari keinginannya kepada Rabbnya. Meleburkan diri kepada keinginan Tuhannya. Ia tidak menginginkan kepada Tuhannya namun berusaha sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhannya. Terputus dari semua keinginan dirinya dan hanya menurutkan keinginan keagamaannya, sesuai dengan apa yang dicintai diridhai Tuhannya.

---oo0oo---

 



[1] Maqayisul Lughah (1/195) dan Lisanul Arab (1206)

[2] Mufradat Ar-Raghib hlm. 36

[3]Kasysyafu ishthi Al-Funun (1/204).

[4] Ibid.

[5] Demikian disebutkan dalam Lisanul Arab 1/206-207.

[6] Al-Bukhari – Al-Fath 9 (5073) dan Muslim (1402).

[7] Jami' Al-Bayan, At-Thabari (29/84).

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Gharaibu Al-Qur'an dengan catatan pinggir Ath-Thabari (29/70).

[12] Manazil As-Sairin hlm. 2333.

[13] Ibid.

[14] Manazil As-Sairin hlm. 33

[15] Ibid.

No comments:

Post a Comment

Iman Kepada yang Ghaib