Tabattul Secara Etimologi
Tabattul
adalah bentuk mashdar dari Tabattala yang artinya total dan totalitas
dalam ibadah. Diambil dari akar kata
ta' - ba' - lam, yang mempunyai pengertian jelasnya sesuatu dari yang lain. Bataltu
as-Syai'a artinya aku menjelaskan sesuatu.
Tabattala Ilallah Ta'ala artinya ia total dan ikhlas untuk Allah. Di dalam
Al-Qur'an disebutkan,
وَاذْكُرِ اسْمَ
رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ ٨
"Sebutlah
nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil:
8)
Mashdar yang ada pada surat ini bukan melalui
pecahan kata kerjanya, banyak contoh lain dalam hal ini. Arti ayat tersebut
adalah, Ikhlaslah untuk Allah dengan sebenar-benar ikhlas. At-Tabattul
berarti pula terputus dari dunia dan hanya berhubungan dengan Allah semata. Demikian
pula kata at-Tabtiil. Kata ini diungkapkan untuk seorang ahli ibadah
ketika ia meninggalkan segala sesuatu dan hanya beribadah. Qad tabattala,
artinya terputus dari segala sesuatu selain perintah Allah dan taat kepada-Nya.
Wanita Al-Batul adalah yang terputus dari
laki-laki (lajang). Ia tidak
berminat kepada mereka sama sekali. Maryam diberi julukan seperti ini. Bahkan ada
yang mengatakan Fathimah Al-Batul. Karena ia berbeda dari semua wanita
semasanya atau bahkan semua wanita ummat ini dari sisi iffahnya, kemuliannya,
agama, dan nasabnya. Ada yang mengatakan karena terputusnya dia dari dunia dan
hanya untuk Allah semata.
Wanita Mubtilah secara akhlak artinya
wanita yang akhlaknya berbeda dari wanita lain, ia memiliki banyak kelebihan
dibanding yang lain. [1]
Ibnu Hajar berkata pada bab 'Yang dimakruhkan dari
Tabattul'. Dan yang dimaksudkan di sini adalah yang tidak menikah
berikut ibadah yang bernuansa kesenangan. Yang diperintahkan dari Tabattul
seperti halnya firman Allah,
"Sebutlah
nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil:
8)
Mujahid menafsirkannya dengan, ia berbuat ikhlas
kepada-Nya seikhlas-ikhlasnya. Ini tafsir dengan pendekatan pengertian bahasa. Sebab
inti dari makna Tabattul adalah totalitas hanya kepada Allah.
Terdapat pula istilah Shadaqah Batlah yang artinya
sedekah yang tidak ada pemiliknya.
Maryam Al-Batul karena ia tidak menikah dan
hanya beribadah.
At-Tabattul secara terminologi
Dalam terminologi syariah, yang dimaksud dengan
istilah ini adalah dua hal:
Pertama, total beribadah kepada Allah dan mengikhlaskan niat hanya kepada-Nya dan
hanya untuk-Nya. Inilah yang dimaksud oleh firman Allah,
وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ
عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍۗ قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ الَّذِيْ جَاۤءَ بِهٖ
مُوْسٰى نُوْرًا وَّهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا
وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنْتُمْ وَلَآ
اٰبَاۤؤُكُمْ ۗقُلِ اللّٰهُ ۙثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ ٩١
"Katakanlah,
'Allah-lah (yang menurunkannya)", Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al
Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya." (al-An'am: 91 )
Kedua, Terputus dari Nikah.
Ini dilarang.[2] Dan batul adalah sifat Maryam yang
diambil dari pengertian kedua ini karena ia tidak menikah. At-Tahanawi berkata,
"Yaitu seorang gadis yang terputus dari nikah."[3]
Maka dari pengertian pertama Fathimah diberi
julukan seperti ini, sebab, sebagaimana yang dikatakan At-Tahawani,
"Wanita yang terputus dari dunia dan hanya kepada Allah. Bertemu
dengan-Nya pada akhirnya. Dengan pengertian inilah Fathimah diberi gelar Al-Batul."[4]
Ibnul Qayyim berkata, "Di antara manzilah
(tahapan) iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in adalah manzilah Tabattul.
Allah berfirman,
"Sebutlah
nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil:
8)
Maryam dinamakan Al-Batul karena ia tidak menikah.
Juga karena ia tidak memiliki tandingan di kalangan wanita semasanya. Ia
mengungguli wanita lain dari sisi kemuliaan.
Pengarang 'Al-Manazil' mengatakan, "Tabattul
adalah totalitas untuk Allah semata." Firman Allah Ta'ala, "Dia
memiliki panggilan kebenaran." Maksudnya totalitas yang sempurna. Lalu
yang dimaksud dengan totalitas yang sempurna adalah terputus dari mengharapkan
semua imbalan. Di mana seorang Mutabattil tidak seperti buruh yang bekerja
hanya mengharapkan imbalan. Jika telah mendapatkannya ia pergi dan tidak lagi
menjadi buruh. Berbeda dengan hamba (abdun) ia melakukan perbuatan sebagai
konsekuensi dari ubudiyahnya, dan bukan untuk imbalan. Ia tidak berpaling dari
pintu tuannya kecuali jika ia seorang Abiq. Seorang Abiq muingkin saja jauh dari
kemuliaan kehambaan namun tidak mendapatkan kemerdekaan sama sakali. Tujuan
utama kemuliaan jiwa adalah masuknya jiwa itu sendiri ke dalam penghambaan
ubudiyah karena suka rela, pilihannya, dan karena cinta. Bukan karena kebencian
atau paksaaan. Sebagaimana seorang penyair berkata,
"Kemuliaan jiwa adalah saat ia masuk ke dalam penghambaan mereka
Sedangkan seorang hamba memiliki kebanggaan dengan
kepemilikan."
Pengertian yang baik dalam memahami ayat tersebut,
"Dan milik-Nya ajakan kebenaran,"[5] dalam tema ini adalah, seperti yang dikehendaki oleh ayat itu sendiri,
bahwa Allah adalah pemilik ajakan kebenaran, baik secara Dzat maupun sifat-Nya.
Maka Allah sendiri yang paling berhak untuk disembah, paling layak dimintai
doa, dituju, disyukuri, dipuji, disambut ajakan-Nya, diharapkan, ditakuti,
ditawakali, dimintai pertolongan, dimintai perlindungan, dijadikan tempat
sandaran, dijadikan tempat bergantung. Maka ajakan ilahi yang haq hanya
milik-Nya.
Siapa melaksanakan hal ini dengan hatinya,
mengenalnya, merasakannya, dan dengan segenap kesadarannya, berarti orang itu
telah mencapai pengertian Tabattul dan totalitas. Para ulama salaf menafsirkan
pengertian, "Dan milik-Nya ajakan kebenaran," adalah tauhid
dan ikhlas dalam bertauhid serta kejujuran.
Sementara Ali ra mengartikan da'wah adalah al-haq
yang berarti tauhid." Ibnu Abbas berkata, "Maksudnys syahadat tiada
ilah selain Allah." Ada juga yang mengertikannya doa yang dipanjatkan
dengan keikhlasan. Dan doa dengan keikhlasan hanya mungkin jika dipanjatkan
kepada Allah. Da'watul haq adalah dakwah ilahiyah dengan memenuhi hak-haknya,
totalitasnya, dan keikhlasannya.
Ayat-ayat yang berbicara tentang Tabattul
diantaranya,
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ اِلَيْهِ تَبْتِيْلًاۗ ٨
"Sebutlah
nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil:
8)
رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ
لِعِبَادَتِهٖۗ هَلْ تَعْلَمُ لَهٗ سَمِيًّا ࣖ ٦٥
"Tuhan
(yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, Maka
sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. apakah kamu
mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?" (Maryam:
65)
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ ٧ وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْ ࣖ ٨
"Maka
apabila kamu Telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh
(urusan) yang lain.Dan Hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap." (Al-Insyirah:
7-8).
Sedangkan hadits-hadits yang berbicara Tabattul
yang dilarang adalah,
رَدَّ رَسُوْلُ اللهِ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ
مَظْعُوْنٍ التَّبَتُّلَ ، وَلَوْ أَذِنَ لَهُ لَاخْتَصَيْنَا
Sa'id bin Abi Waqqash
berkata, "Rasulullah saw menolak keinginan Utsman bin Madz'un untuk Tabattul
(membujang). Kalau saja diizinkan, kami pasti akan mengebiri kami
sendiri."[6]
Inilah Tabattul yang dilarang, yakni enggan menikah meskipun mampu.
كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُوْلِ اللهِ
وَلَيْسَ لَنَا شَيْءٌ ، فَقُلْنَا : أَلاَ نَسْتَخْصِي ؟ ، فَنَهَانَا عَنْ
ذَلِكَ ، ثُمَّ رَخَّصَ لَنَا أَنْ نَنْكِحَ الْمَرْاَةَ بِالثَّوْبِ ، ثُمَّ
قَرَأ َعَلَيْنَا : يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ
مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ
الْمُعْتَدِيْنَ
2. Abdullah berkata,
"Kami pernah berperang bersama Rasulullah sementara kami tidak punya
apapun. Kami berkata kepada beliau, 'Tidakkah sebaiknya kita mengebiri?' lalu
beliau melarang kami malakukan hal itu. Beliau juga mengizinkan kami untuk
menikahi wanita dengan mahar sehelai baju. Beliau membacakan ayat kepada kami, "Hai orang-orang yang beriman,
janganlah kalian haramkan kebaikan yang telah dihalalkan Allah bagi kalian dna
janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang melampui batas." (al-Maidah: 87).
Atsar, ucapan para ulama dan ahli tafsir tentang Tabattul
yang diperintahkan.
1-
Ibnu Abbas berkata tentang firman Allah, "
Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8) Berikhlaslah untuk-Nya
dengan seikhlas-ikhlasnya.[7]
2-
Tentang firman Allah, " Sebutlah nama
Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan." (Al-Muzammil: 8) Mujahid berkata,
"Ikhlaslah dalam meminta dan berdoa."[8]
3- Terhadap ayat
tersebut Qatadah juga berkomentar, "Ikhlaskan ibadah dan doa
untuk-Nya."[9]
4-
Juga tentang ayat tersebut Ibnu Wahb juga
berkomentar, yakni total dalam ibadah kepada-Nya. Lebih utama lagi tabattul
hanya untuk Allah. Dia membaca ayat, "Dan apabila engkau selesai
(berjihad) maka lakukan ibadah." (Al-Insyirah). Artinya, jika kamu
selesai berjihad segeralah lakukan ibadah kepada Allah dan berharaplah kepada
Tuhanmu.[10]
Komentar Ahli tafsir
5-
Al-'Allamah An-Naisaburi
berkata, "Allah menjelaskan amal perbuatan mulia dalam qiyamul lail dalam
dua hal: disebutkannya nama Ar-Rabb dan kata Tabattul kepada-Nya, yakni
totalitas dalam menyembah Allah. Yang pertama merupakan kedudukan seorang Salik
(penempuh jalan menuju Allah) dan yang kedua kedudukan Musyahid (yang
menyaksikan). Yang pertama bagai
bakas kaki dan yang kedua bagai mata.[11]
Peringkat Tabattul
Dia (pengarang Al-Manazil) berkata, "Tabattul
mempunyai tiga peringkat.
Peringkat Pertama, total berpaling dari semua hak dan komentar
hanya kepada Dzat yang Maha Mengetahui baik karena takut, berharap, atau
peduli.[12]
Saya (Ibnul Qayyim) katakan, Tabattul mencakup dua
hal: Ittishal (berhubungan) dan Infishal (memutuskan) dan Tabattul tidak
tercapai tanpa keduanya.
Infishal adalah terputusnya hati dari jatah jiwa
jika bersinggungan dengan apa yang dikehendaki Allah. Juga dari keberpalingan
hati kepada selain Allah, baik karena takut, berharap, peduli kepadanya, atau
memikirkannya. Yang dengan itu hatinya disibukkan dari memikirkan Allah.
Dan Ittishal tidak mungkin tercapai kecuali
setelah Infishal. Yakni tersambungnya hati kepada Allah, menghadap kepada-Nya
dengan penuh kecintaan, takut, berharap, kembali, dan berserah diri kepada-Nya.
Hal-hal yang membantu menuju Tajrid
(totalitas).
Beliau menyebutkan bahwa yang membantu seseorang
menuju tajrid adalah dengan menguatkan harap dengan keridhaan, menghilangkan
rasa takut dengan penyerahan, dan membuang sikap peduli dengan menyaksikan
hakikat kebenaran.[13]
Dia mengatakan, "Yang menguatkan harapan para
makhluk dalam hatimu adalah ridha kepada hukum Allah dan pembagian-Nya untukmu.
Siapa ridha terhadap hukum dan pembagian Allah tidak ada lagi di dalam hatinya
ruang berharap kepada makhluk.
Lalu yang menguatkan rasa takut adalah penyerahan
diri kepada Allah. Karena barangsiapa menyerahkan diri kepada Allah dan
mengetahui bahwa apa yang menimpanya bukan karena kesalahannya dan kesalahannya
bukan menjadi penyebab ujian yang menimpanya. Ia juga mengetahui bahwa ia tidak
tertimpa sesuatu kecuali hal itu telah ditentukan Allah untuknya. Maka tidak ada lagi rasa takut kepada
makhluk dalam hatinya. Sebab jiwa yang ditakutkannya itu telah diserahkan
kepada Pemilik dan Pelindungnya. Ia juga tahu bahwa Allah tidak menimpakan
sesuatu kepadanya kecuali apa yang telah ditentukannya. Ia juga mengetahui
bahwa apa yang ditentukannya pasti akan menimpanya. Maka tidak ada artinya
takut kepada selain Allah.
Ada manfaat yang sangat indah dari penyerahan diri
kepada Allah. Bahwa ketika seorang hamba menyerahkan dirinya kepada Allah ia
telah menitipkan kepada-Nya serta menyimpannya dalam dekapan-Nya serta
menjadikannya di bawah kepemilikannya. Di mana ia tidak bisa dijamah oleh
tangan musuh dan kejalihan pembangkang.
Yang menguatkan 'memalingkan perhatian' (Al-Mubalat)
manusia terhadap dirinya dalah menyaksikan hakikat kebenaran. Yakni melihat
segala sesuatu dari sudut pandang Allah, karena Allah, dalam genggaman-Nya, dan
di bawah kekuasaan-Nya. Tidak ada yang bergerak kecuali karena daya dan
kekuatan-Nya. Tidak ada yang mendatangkan manfaat dan mudarat kecuali karena
izin dan kehendak-nya. Lalu
apa untungnya mengharapkan perhatian makhluk setelah mengetahui hakikat ini?
Peringkat kedua: Totalitas dari semua upaya menuju jiwa dengan
mengenyampingkan hawa nafsu, mereguk harumnya bersikap lembut kepada Allah
serta mendapatkan kilatan Kasyaf.[14]
Perbedaan antara peringkat ini dengan peringkat
pertama adalah, bahwa yang pertama memutuskan hubungan dengan makhluk sementara
peringkat yang ini memutuskan hubungan dari jiwa dan ini tercapai melalui tida
hal:
- Mengenyampingkan hawa nafsu, berseberangan
dengannya, dan menahan nafsu. Sebab mengikuti hawa nafsu
menghalangi seseorang melakukan Tabattul.
- Setelah berseberangan dengan hawa nafsu
seseorang akan mereguk harumnya kelembutan (Al-Unsu) bersama Allah. Ruh
bertemu ruh bagai ruh bertemu badan. Dia adalah ruh dan ketenteraman-Nya.
Kenikmatan ini bisa digapai oleh seseorang yang berpaling dari hawa
nafsunya. Dan kala itulah ia mereguk ruh manisnya bersikap lembut kepada
Allah serta mencium baunya. Karena jiwa harus itu pasti mempunyai
gantungan. Ketika jiwa terputus dan gantungannya seseorang akan
mendapatkan nikmatnya bersikap lembut kepada Allah, merasakan semilirnya
dan keharumannya.
- Mendapatkan kilatan cahaya Kasyaf. Ia
menjadi sarana pandangnya. Agar dengan demikian ia mengetahui tempat-tempat
anugerah dan tempat turunnya rahmat.
Macam-macam Kasyaf
- Kasyaf (melihat)
tingkatan-tingkatan perjalanan.
- Kasyaf terhadap mata pandang manusia,
kendala-kendala, dan perusak amal.
- Kasyaf terhadap makna Asma'ul Husna
dan Sifat-Sifat serta hakikat tauhid dan ma'rifah.
Ketiga macam pintu inilah ringkasan ilmu para
hamba, di sekitarnya mereka berkerumun, di sekelilingnya mereka bersenandung,
dan untuknya mereka melewati malam-malam. Di antara mereka ada yang komentarnya
berbobot dalam bidang tauhid dan ma'rifah, juga pada hakikat Al-Asma dan Sifat.
Seorang yang jujur dan cerdas mengambil kebenaran
dari salah seorang di antara mereka lalu menjadikannya sebagai sarana mencapai
cita-citanya. Namun ia juga tidak menolak kebenaran yang datang darinya hanya
karena orang tersebut abai terhadap kebenaran yang lain. Kesempurnaan mutlak
hanyalah milik Allah Tuhan semesta alam. Sedangkan hamba mempunyai kedudukan
terbatas.
Peringkat Ketiga: Totalitas untuk menuju keterdahuluan dengan
meluruskan sisi istiqamahnya, larut dalam uapaya mencapai tujuan, dan semangat
memilih hal-hal utama.[15]
Jadi, peringkat pertama bertujuan melepaskan diri
dari makhluk, peringkat kedua melepaskan diri dari jiwa, dan peringkat ketiga
upaya menggapai keterdahuluan dengan meluruskan istiqamah, yakni berpaling dari
selain kebenaran. Komitmen
menerima kebenaran serta menyibukkan diri untuk menggapai apa yang dicintainya.
Setelah itu larut dalam upaya mencapai tujuannya.
Di antara pencari kemuliaan ada yang kembali
dengan tangan hampa dan di antara mereka ada yang berhasil menggapai
cita-citanya.
"Seorang perindu hendaknya sejenak merenung
Antara apa yang menyenangkan dan yang menggelisahkan
Kala itulah kakinya menapak
Kembali ke belakang atau menuju ke hadapan."
Peringkat Keempat: Memutuskan diri dari keinginannya kepada
Rabbnya. Meleburkan diri kepada keinginan Tuhannya. Ia tidak menginginkan
kepada Tuhannya namun berusaha sesuai dengan apa yang diinginkan Tuhannya.
Terputus dari semua keinginan dirinya dan hanya menurutkan keinginan
keagamaannya, sesuai dengan apa yang dicintai diridhai Tuhannya.
---oo0oo---
[1] Maqayisul Lughah (1/195) dan Lisanul Arab (1206)
[2] Mufradat Ar-Raghib
hlm. 36
[3]Kasysyafu ishthi Al-Funun (1/204).
[4] Ibid.
[5] Demikian disebutkan dalam Lisanul Arab
1/206-207.
[6] Al-Bukhari – Al-Fath
9 (5073) dan Muslim (1402).
[7] Jami' Al-Bayan,
At-Thabari (29/84).
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.
[11] Gharaibu Al-Qur'an
dengan catatan pinggir Ath-Thabari (29/70).
[12] Manazil As-Sairin
hlm. 2333.
[13] Ibid.
[14] Manazil As-Sairin
hlm. 33
[15] Ibid.
No comments:
Post a Comment