Bersatu Adalah Kewajiban

PERSATUAN: SUATU KEWAJIBAN ISLAM

Sasaran kerja para da'i dan aktivitas İslam ialah persatuan, ta'lifu 'l-qulub, kerapian dan kekokohan barisan. Mereka harus menjauhi perselişihan dan perpepecahan serta menghindari segala hal yang dapat memecah-belah jama'ah atau kalimat mereka. Perselisihan menimbulkan kerusakan pada hubungan baik sesama mereka dan melemahkan agama Ummat dan dunianya.

İslam adalah satu-satunya agama yang mengajak kepada persaudaraan yang terwujud dalam persatuan dan solidaritas, saling menolong dan membantu serta mengecam perpecahan dan perselisihan.

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu berinıan. Bagaimanakah akalmu (sanıpai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rosul Nya pun berada ditengah-tengah kamu? Barang siapa yang  berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang beriman, bertaqwlah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah kamu sekali-kali mati melainkan dalam keadaan Islana, dan jangnanlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan ni 'mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu(masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalü menjadilah kamu karena ni 'mat Allah orang-orang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalü Allah menyelammkan kamu  daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma 'ruf dan mencegah yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang„orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat. Pada hari yang di waktu itü ada muka yang menjadi putih berseri, dan ada pula muka yang menjadi hitam muram. Adapun orang-orang yang menjadi hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itü rasakanlah siksa disebabkan kekafiranmu itü ". Adapun orang-orang yang menjadi putih bersih mukanya, maka mereka berada dalam rahmat Allah (sorga); mereka kekal di dalamnya". (QS, Ali lmran : 100-107). 

AL-Hafizh as-Suyuthi di dalam ad-Durru 'l-Mantsur menyebutkan sejumlah riwayat tentang sebab turunnya ayat-ayat diatas. Diantara riwayat yang paling rinci ialah riwayat yang dikeluarkan oleh İbnu İshaq, İbnu Jurair, İbnu 'l-mundzir, Ibnu Abi Hatim dan Abu 's-Syaikh dari Zaid bin Aslam, ia berkata: "Syas bin Qais -seorang tokoh dan gembong kekafiran pada masa Jahiliah yang sangat memusuhi dan membenci kaum Muslimin- pernah berjalan melewati majelis yang terdiri dari beberapa shahabat Rasulullah saw dari suku Aus dan Khazraj. Kedua suku ini saling bermusuhan di masa Jahiliah. Melihat persatuan dan keakraban yang dibina diatas landasan islam ini, timbulah kedengkiannya, kemudian berkata: "Para tokoh Bani Qilah telah bersatu di negeri ini. Demi Allah, kami tidak akan membiarkan mereka bersatu di negeri ini". Kemudian Syas bin Qais memerintahkan seorang pemuda Yahudi dengan pesannya: "Pergilah dan duduklah di majelis mereka, kemudian ingatkanlah mereka akan peristiwa Bu’ats dan peristiwa-peristiwa sebelumnya. Selanjutnya bacakanlah kepada mereka sya’ir-sya’ir yang pernah dibacakan pada peristiwa tersebut.”

Peristiwa Bu'ats adalah pertempurah yang terjadi antara suku Aus dan Khazraj (pada masa Jahiliah), yang dimenangkan oleh suku Aus. Kemudian pemuda Yahudi itupun melakukannya, sehingga timbullah kegaduhan diantara mereka. Masing-masing pihak saling membanggakan dirinya. Dua orang dari kedua belah pihak, Aus bin Qaizhi salah seorang dari Bani Haritsa dari suku Aus dan Jabar bin Shakar salah seorang dari Bani Salamah dari suku Khazraj, melompat ke tas kendaraan beradu mulut. Kemudian salah seorang dari keduannya menantang temannya, seraya berkata: "Jika kalian suka, demi Allah, sekarang juga kami sanggup melakukannya kembali sebagaimana dulu (di peristiwa Bu 'ats)”. Beranglah kedua belah pihak, hingga mereka berkata: Kita pernah melakukan. Keluarkan senjata, kita kumpul di lapangan! Kemudian mereka keluar menuju lapangan. Maka berhimpunlah masing-masing dari suku Aus dan Khazraj dengan slogan-slogan sebagaimana di masa jahiliah dahulu. Kejadian ini sampai pada Rasulullah saw, sehingga bersama beberapa orang Muhajirin, Rasulullah segera datang kepada mereka lalü bersabda

يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، اللهَ اللهَ! أَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ وَأَنَا بَيْنَ أَظْهُرِكُمْ؟ أَبَعْدَ أَنْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلْإِسْلَامِ، وَأَكْرَمَكُمْ بِهِ، وَقَطَعَ بِهِ عَنْكُمْ أَمْرَ الْجَاهِلِيَّةِ، وَاسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ، وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ؛ تَرْجِعُونَ إِلَى كُفْرِكُمْ؟

"Wahai kaum Muslimin! (Takutlah kepada) Allah, (takutlah kepada) Allah! Apakah seruan-seruan Jahiliah (muncul lagi) sedangkan aku masih ada di tengah-tengah kalian? Apakah setelah Allah menunjuki kalian kepada Islam memuliakan kalian, menghapuskan cara jahiliah dari kehidupan kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran dan menjinakkan hati kalian, kalian kembali lagi kepada kekafiran?".

Maka mereka pun sadar bahwa apa yang baru saja dilakukan tipu daya syetan dan musuh-musuh mereka. Kemudian meletakkan senjata seraya menangis dan saling berangkulan antara satu dengan yang lainnya. Mereka pulang kembali bersama Rasulullah saw dengan penuh keta'atan. Dengan demikian Allah telah memadamkan api tipu daya yang ditiupkan oleh musuh Allah, Syas bin Qais, kepada mereka. Berkenaan dengan perbuatan Syas bin Qais ini, Allah menurunkan firman-Nya: 

"Katakanlah: "Hai ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan apa yang kamu kerjakan?". Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?". Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan". (QS,Ali Imran: 98-99).

Sedangkan berkenaan dengan Aus bin Qaizhi dan Jabar bin Shakhar beserta kaumnya, Allah menurunkan firman-Nya:

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman…..". (QS. Ali Imran: 100-105) (Ad Danul Mantsur, As Suyuthy, 2/278,279, Darul Fikri, Beirut)

Ayat-ayat tersebut di atas merupakan ajakan serius kepada persatuan kalimat (pandangan hidup) dan kesatuan barisan Muslim di atas landasan Islam. Ayat-ayat tersebut mengandung:

1. Peringatan agar berhati-hati terhadap intrik-intrik orang-orang di luar Islam. Karena issu dan intrik yang mereka lontarkan tidak lain hanyalah untuk memurtadkan kaum Mu'minin.

2. Mengungkapkan bahwa persatuan merupakan buah keimanan, dan perpecahan adalan buah kekafiran. Sebab makna: "mengembalikan kamu menjadi kafir sesudah beriman”, yakni setelah kamu bersatu dan bersaudara kamu berpecah belah dan bermusuhan, sebagaimana dijelaskan oleh sebab turunnya ayat di atas.

3. Berpegang teguh dengan tali Allah, dari semua pihak, merupakan asas persatuan dan kesatuan kaum Muslimin. Tali Allah adalah Islam dan Al Qur'an.

4. Mengingatkan bahwa ukhuwwah Imaniyah, setelah beraneka permusuhan dan peperangan Jahiliah, merupakan ni'mat terbesar sesudah ni'mat iman;

"Dan (Dia) yang mempersatukan hati mereka (Mu'minin). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang ada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka,  akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Anfal: 63).

5. Tidak ada sesuatu yang dapat mempersatukan Ummat kecuali jika Ummat tersebut memiliki sasaran besar dan risalah termulia yang diperjuangkannya. Dan, tidak ada sasaran atau risalah yang lebih besar dan lebih tinggi bagi Ummat Islam selain dari da'wah kepada kebaikan yang dibawa oleh Islam. Inilah rahasia firman Allah didalam konteks tersebut:

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyehu kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma 'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung". (QS,Ali Imran: 104).

6. Sejarah adalah catatan berbagai pelajaran dan pemberi nasehat yang baik bagi manusia. Sejarah telah mencatat bahwa orang-orang sebelum kita telah berpecah-belah dan berselisih dalam masalah agama, kemudian mereka binasa. Perselisihan yang tak beralasan, karena terjadi setelah mereka mendapatkan ilmu pengetahuan dan penjelasan dari Allah. Oleh karena itu Allah memperingatkan didalam ayat-ayat-Nya:

"Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapatkan siksa yang berat.” (QS, Ali Imran: 105).

Demikianlah Al Qur'an telah menegaskan bahwa kaum Muslimin kendatipun berbeda jenis, warna, negeri, bahasa dan tingkatan adalah satu Ummat. Ummat "pertengahan” yang dijadikan Allah sebagai "saksi atas manusia” (QS. Al-Baqarah:143). Ummat yang disebut Al-Qur'an dengan: "Kamu adalah Ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, nıenyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110)

Al Qur'an juga menjelaskan bahwa ukhuwwah yang kokoh merupakan ikatan suci arıtara jama'ah kaum Muslimin dan bukti yang mengungkapkan hakekat iman:

Sesungguhnya orang-orang mu 'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat". (QS, al-Hujarat: 10).

Setelah ayat ini, menyusül beberapa ayat yang menjelaskan sejumlah adab dan akhlak utama yang akan melindungi ukhuwwah dari segala hal yang mengancamnya seperti sikap suka menghina, mencela, memanggil dengan gelar yang buruk, buruk sangka, memata-matai dan menggunjing:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (kerena) boleh jadi mereka  (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita yang (mengolok-olokkan) dan janganlah kamu panggil memanggil dengan  gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa  dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging  saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang".(QS, al-Hujarat: 11-12).

Al-Qur’an sangat mengecam perpecahan. Firman Allah:

"Katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau Dia campurkan kamu dalam golongan-golongan (yang  bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain". (QS, al-An'am: 65) 

Perpecahan Ummat menjadi beberapa golongan sehingga sebagian merasakan keganasan sebagian yang lain adalah salah satu bentuk hukuman yang ditetapkan Allah kepada manusia tatkala mereka menyimpang dari jalan-Nya dan tidak memperdulikan ayat ayat-Nya. Disamping itu Al Qur'an juga menyebutkan siksaan lain berupa lemparan batu dari atas mereka seperti yang pernah diturunkan kepada kaum Luth, atau berupa pemberangusan dari bawah kaki mereka seperti yang pernah ditimpakan kepada Qarun.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikipun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat". (QS, al-Ana'am: 159).

Riwayat dari ibnu Abbas menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berpecah belah dan berselisih dalam agama mereka.

Sementara itu riwayat dari selainnya menyatakan bahwa mereka itu adalah Ahli bid'ah, Ahli syubhat dan ahli kesesatan dari ummat ini.

İbnu Katsir berkata: "Jelas bahwa ayat ini adalah umum bagi setiap orang yang memecah belah agama Allah dan menentangnya. Sesungguhnya Allah telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama kebenaran untuk dimenangkan-Nya atas segala agama. Syari'at-Nya hanya satu, tidak ada perselisihan dan pertentangan di dalamnya. Barang siapa berselisih mengenainya dan mereka menjadi beberapa golongan seperti pengikut kelompok-kelompok dan aliran-aliran sesat maka sesungguhnya Allah telah membebaskan Rasulullah saw dari mereka. Ayat ini seperti firman Allah:

"Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh apa yang telah Kami wahyukan kepadanıu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada İbrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya". (QS. asy-Syura: 13). (Tafsir Ibnu Katsir, 2/186 terbitan Al Halabi)

Al Qur'an sangat mengecam Ahli Kitab yang berpecah belah dan berselisih dalam agama, diberbagai ayatnya yang akan kami sebutkan pada pembahasan mendatang.

Diantara Pengarahan Sunnah Nabawiah.

Adapun Sunnah Nabawiyah, secara lebih tegas menjelaskan dan merinci ajakan Al-Qur'an kepada persatuan dan peringatan dari perpecahan dan perselisihan.

As-Sunnah telah mengajak kepada kehidupan Jama’ah dan persatuan, mengecam tindakan nyeleneh dan perpecahan, mengajak ukhuwwah dan mahabbah. As-Sunnah mencela permusuhan serta perselisihan.

Hadits-hadits dalam masalah ini banyak sekali.

"Turmudzi meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Umar telah menyampaikan khutbah kepada kami di Al-Jabiah -nama sebuah tempat- lalu berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya aku berdiri dihadapan kalian menggantikan kedudukan Rasulullah saw diantara kita, kemudian beliau bersabda:

أُوصِيكُمْ بِأَصْحَابِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ، مَنْ أَرَادَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ

Aku wasiatkan kepada kalian (agar mengikuti) para shahabatku kemudian generasi berikutnya kemudian generasi berikutnya. Kalian harus ber-Jama'ah. Waspadalah terhadap perpecahan, kerena sesungguhnya syetan bersama orang yang sendirian, dan dia (syetan) akan lebih jauh dari dua orang. Barang siapa menginginkan bau wangi surga maka hendaklah komit dengan Jama 'ah ". (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: "Tangan Allah bersama Jama’ah.”

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللهَ لَا يَجْمَعُ أُمَّتِي عَلَى ضَلَالَةٍ، وَيَدُ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ

"Diriwayatkan dari Ibnu Umar, sesungguhnya Rasulullah bersabda: sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan ummat Muhamad saw di atas kesesatan. Tangan Allah bersama Jama 'ah. Barang siapa menyempal maka dia menyempal ke neraka.” (Imam At-Tirmidzi dari jalur sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma)

Di dalam ash-Shahihain ditegaskan:

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلَّا مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barang siapa memisahkan diri dari Jama'ah sejengkal kemudian dia mati maka matinya adalah (mati) jahiliah." (Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma)

Selanjunya Sunnah Nabawiyah menegaskan ajakannya kepada ukhuwwah dan persatuan antar kaum Muslimin, di berbagai kesempatan dan dengan beraneka cara: 

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، مَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللهُ فِي حَاجَتِهِ

"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Barangsiapa membantu keperluan saudaranya maka Allah akan membantu keperluannya". (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma)

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Tidaklah beriman salah seorang diantara kalian sehingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya”. (Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

"Demi yang diriku berada di tangan-Nya, tidaklah kalian akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kapada kalian akan sesuatu yang jika kalian lakukan pasti kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam diantara kalian.” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam bab Iman dari Abu Hurairah (93))

الْمُسْلِمُونَ كَرَجُلٍ وَاحِدٍ، تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ، وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ، وَيُرَدُّ عَلَى أَقْصَاهُمْ، وَهُمْ يَدٌ عَلَى مَنْ سِوَاهُمْ

"Darah sesama Muslimin adalah setara. Orang-orang yang paling dekat berkewajiban menjaga kehormatannya. Orang-orang yang paling jauh berkewajiban melindungi keamanannya, dan mereka satu tangan (kekuatan) dalam menghadapi orang lain.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Abdullah bin Amer, dan dihasankannya dalam Shahihul Jami 'ish Shaghir (6706))

As-Sunnah an-Nabbawiyah sangat mengecam tindakan saling bermusuhan dan saling membenci.

لَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، وَلَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ

"Janganlah saling membenci, saling iri hati saling membuat makar. Jadilah hamba-hamba Allah saling bersaudara. Tidak boleh seorang Muslim menghindari saudaranya diatas tiga hari ". (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam bab Adab dan Muslim dalam bab Kebajikan. Lihat Al Lu'Lu'u wal Marjan (1658))

لَا يَحِلُّ لِرَجُلٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ

"Tidak boleh seorang Muslim menghindari saudaranya diatas  tiga hari. Keduanya bertemu kemudian saling menghindar. Orang yang paling baik diantara keduanya ialah yang memulai salam.” (Idem, (Hadits nomor 1659))

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ، وَلَا تَجَسَّسُوا، وَلَا تَحَسَّسُوا، وَلَا تَنَافَسُوا، وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا

"Jauhkanlah diri kalian dari prasangka, karena prasangka itu merupakan omongan yang paling dusta. Janganlah saling mencurigai, saling menghasut, saling iri hati, saling membenci dan saling membuat makar. Tetapi jadilah Hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (Idem, (Hadits nomor 1660))

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَاهُنَا — وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ — بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ: دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ

"Sesama Muslim tidak boleh menzhalimi, menjerumuskan dan menganiaya. Taqwa itu disini (seraya menunjuk dadanya tiga kali). Adalah sesuatu kejahatan jika seorang Muslim menghina saudaranya. Setiap Muslim atas Muslim lainnya adalah haram darah, harta dan kehormatannya". (HR. Muslim dalam bab Kebajikan nomor (2564))

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

"Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, kemudian diberikan ampunan kepada setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seseorang yang sedang bermusuhan; lalu dikatakan (kepada Malaikat): Tangguhkan dua orang ini sampai keduanya akur, tangguhkan dua orang ini sampai keduanya akur, tangguhkan dua orang ini  sampai keduanya akur." (idem (2565))

Maukah kalian aku tunjukkan kepada sesuatu yang lebih baik dari pahala shalat, puasa dan sadaqah? Para Shahabat menjawab: "tentu, wahai Rasulullah". Nabi saw bersabda: "Memperbaiki hubungan sesama saudara, karena rusaknya persaudaraan itu adalah pencukur".( Diriwayatkan oleh At Turmudzi dalam bab Sifat Kiamat dan dishahihkannya (2511) dan Abu Dawud (4919)) Turmudzi berkata: Diriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: aku tidak memaksudkan mencukur rambut tetapi pencukur agama”.

"Jauhkanlah diri kalian dari tindakan merusak hubungan persaudaraan karena tindakan itu adalah pencukur (agama)”. (Diriwayatkan oleh At Turmudzi, ia berkata : Shahih gharib (2510))

دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ، هِيَ الْحَالِقَةُ، لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ، وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

"Penyakit ummat-ummat sebelum kamu telah menjangkit kepada kalian: Kedengkian dan permusuhuan. Permusuhan adalah pencukur, aku tidak mengatakan mencukur rambut tetapi pencukur agama. Demi dzat yang diriku berada di tengah tengah-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak beriman saling kalian mencintai". (HR. Turmudzi (2512))

ثَلَاثَةٌ لَا تَرْفَعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُؤُوسِهِمْ شِبْرًا: رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ، وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ

"Tiga orang shalatnya tidak akan terangkat walaupun sejengkal diatas kepalanya: orang yang mengimami suatu kaum tetapi kaum itu belum datang tetapi kaum itu membencinya, wanita yang dibenci oleh suaminya, dan dua saudara yang saling bermusuhan.". (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (971). Penelitinya mengutip dari kitab Az Zawa'id : Sanadnya shahih dan para perawinya dipercaya)

مَنْ هَجَرَ أَخَاهُ سَنَةً، فَهُوَ كَسَفْكِ دَمِهِ

"Barang siapa yang memutus saudaranya satu tahun maka ia seperti menumpahkan darahnya ". (Diriwayatkan Oleh Abu Dawud (4515))

إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ

Sesungguhnya syetan telah putus asa dari menjadikan dirinya sebagai sesembahan bagi orang-orang yang shalatnya di Jajirah Arab, tetapi tidak pernah putus asa dalam menimbulkan permusuhan sesama mereka ". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam sifat orang-orang Munafiq (2812))

Islam Membenci Perpecahan

Islam sangat membenci perpecahan dan perselisihan, sampai Rasulullah saw memerintahkan kepada orang yang sedang membaca Al-Qur'an agar menghentikan bacaannya apabila bacaannya itu akan mengakibatkan perpecahan.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Jundab bin Abdullah dari Nabi saw, ia berkata:

اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوبُكُمْ، فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فَقُومُوا عَنْهُ

"Bacalah al-Qur'an selama bacaan itu dapat menyatukan hati kalian, tetapi jika kalian berselisih maka hentikanlah bacaan itu.” (Muttafaq 'alaih, dalam AI Lu'lu'u wal Marjan 91706)

Artinya bubarlah dan pergilah supaya perselisihan itü tidak berlarut-larut lalu menimbulkan keburukan.

Kendatipun keutamaan membaca al-Qur'an sangat besar, setiap huruf yang dibacanya mendapat sepuluh kebaikan, tetapi Nabi saw tidak mengizinkan membacanya apabila bacaan itu akan membawa  kepada pertentangan dan perselisihan. Baik perselisihan itu menyangkut qira'at ataupun menyangkut adab-adab lainnya. Para shahabat diperintahkan agar membubarkan majlis pada saat terjadi perselisihan. Sementara itu dari masing-masing mereka tetap diperbolehkan berpegang teguh dengan qira'atnya; seperti yang terjadi antara Umar dan Hisyam, atau antara İbnu Mas'ud dan sebagian shahabat. Kepada kedua pihak Rasulullah mengatakan: "Kalian semua membaca dengan bacaan yang baik”.

Jika perselisihan itü menyangkut pemahaman makna maka harus dibaca dengan berpegang teguh kepada pemahaman dan pengertian yang akan menumbuhkan persatuan. Jika terjadi perselisihan atau timbul suatu keraguan yang akan menyebabkan perpecahan maka hendaklah bacaan itu ditinggalkan dan berpegang teguh kepada yang Muhkam yang akan membawa persatuan. Hal ini seperti apa yang ditegaskan oleh Nabi saw di dalam sabdanya:

فَإِذَا رَأَيْتِ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

"Jika kamu melihat orang-orang yang mengikuti hal-hal yang mutasyabih dari al-Qur'an maka hendaklah kamu waspada terhadap mereka.”

Hadits-hadits tersebut di atas -seperti dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar- menganjurkan kepada Jama'ah dan persatuan, mengecam perpecahan dan perselisihan, serta melarang memperdebatkan al-Qur'an dengan tanpa kebenaran (Fathul Bary, 9/102-103, terbitan Darul Fikri).

Kenapa Harus Selalu Menjaga Persatuan dan Kesatuan?

Mengapa Islam demikian kerasnya dalam memerintahkan persatuan dan kesatuan ? Mengapa pula Islam sangat mengecam perpecahan dan pertentangan ?. 

Sesungguhnya di balik persatuan terdapat sekian banyak manfaat dan pengaruhnya yang positif bagi kehidupan Ummat. Diantaranya :

1 - Persatuan akan memperkuat orang-orang yang lemah dan menambah kekuatan bagi orang-orang yang sudah kuat. Satu batu bata saja akan tetap lemah betapapun matangnya batu bata tersebut. Ribuan batu bata yang berserakan tidak akan membentuk kekuatan, kecuali jika telah menjadi dinding. Antara batu bata yang satu dengan yang lain telah direkat dan ditata secara rapi. Inilah yang diisyaratkan oleh sabda Rasulullah saw :

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Orang Mu'min yang satu dengan orang Mu'min lainnya seperti bangunan yang saling memperrekat". (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu Musa Al ‘Asy’ari)

Dan Firman Allah :

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dengan berbaris seolah-olah mereka satu bangunan yang kokoh".(QS, Ash-Shaf: 4).

Kisah terkenal yang diajarkan seorang bapak kepada anak-anaknya menegaskan hal ini. Tak seorangpun diantara mereka yang dapat mematahkan sapu lidi dari sejumlah batang lidi. Tetapi manakala sapu itu diurai, maka dengan mudah dapat dipatahkan satu-persatu.

2 - Persatuan merupakan benteng pertahanan dari ancaman kehancuran. Seorang diri bisa saja lenyap, jatuh atau disergap oleh syethan-syethan manusia dan jin. Tetapi jika ia berada di dalam Jama'ah maka akan terlindungi. Seperti seekor kambing yang berada di tengah kawannya. Tidak ada srigala yang berani memangsanya karena perlindungan kawanan itu sendiri. Srigala akan berani memangsanya manakala kambing itu keluar dari kawanannya atau berjalan sendirian.

Hal ini telah ditegaskan Oleh Rasulullah saw dalam hadits-hadits berikut:

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ؛ فَإِنَّ يَدَ اللهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ، وَمَنْ شَذَّ شَذَّ فِي النَّارِ

"Kalian harus berjama'ah karena tangan Allah bersama Jama’ah. Barang siapa melesat sendirian maka ia akan melesat sendirian di neraka".

Sesungguhnya syethan adalah srigala manusia, dan srigala itu hanya memakan kambing yang lepas (dari kawanan)”.

Kalian harus berjama’ah, karena syethan itu bersama orang yang sendirian dan dia akan lebih jauh dari dua orang”.

Ada satu kisah di dalam al-Qur'an yang mengajarkan agar kita senantiasa menjaga kesatuan Jama'ah. Kisah tersebut ialah kisa Musa as ketika pergi untuk memenuhi "panggilan” Allah selama tiga puluh malam kemudian disempurnakan dengan sepuluh sehingga menjadi empat puluh malam. Selama kepergian tersebut tugas Nabi Musa as tersebut digantikan oleh saudaranya dan partnernya, Harun as. Selama kepergian Nabi Musa as inilah, kaum diuji dengan penyembahan anak sapi yang dibuat oleh Samiri. Setelah kembali kepada kaumnya, Nabi Musa as dikejutkan oleh penyimpangan besar yang menyentuh esensi aqidah yang dibawanya dan dibawa oleh semua Rasul sebelum ataupun sesudahnya. 

Nabi. musa kemudian marah lalu melemparkan lembaran-lembarannya seraya menjambak rambut saudaranya dan berkata

"Hai Harun! Apakah yang menyebabkanmu, waktu engkau melihat mereka sesat, untuk tidak mengikuti (contoh)-ku ? Apakah (dengan sengaja) engkau telah durhaka kepada perintahku ?. (QS. Thaha: 92-93).

Jawaban Nabi Harun seperti disebutkan dalam al-Qur’an ialah :

"la (Harun) menjawab : Hai anak ibuku, janganlah engkau jambak jenggotku dan janganlah engkau tarik rambut kepalaku.  Sesungguhnya aku takut engkau akan berkata : "Engkau telah memecah belah Bani Israel dan engkau tidak pelihara perkataanku". (QS Thaha :94)

Di dalam jawaban ini kita lihat bahwa Nabi Allah, Harun meminta maaf kepada saudaranya dengan ungkapan: "Aku takut bahwa engkau akan berkata: engkau telah memecah-belah Bani Israel dan engkau tidak pelihara perkataanku ".

İni berarti Nabi Harun as mendiamkan tindakan kemusyrikan besar dan penyembahan anak sapi yang dibuat oleh Samiri, demi menjaga kesatuan Jama'ah dan khawatir akan perpecahannya. Tentu saja kekhawatiran tersebut hanya bersifat sementara, selama kepergian Musa. Setelah Nabi Musa kembali, kedua Rasul bersaudara ini bekerjasama dalam menangani krisis yang timbul.

PERPECAHAN UMMAT BUKAN SUATU KELAZIMAN

Sebagian orang mengatakan : Perpecahan Ummat adalah suatu kelaziman yang sudah menjadi ketetapan taqdir dan diberikan oleh syari'at sehingga tidak mungkin dihindari. Diantara argumentasi yang dikemukakan adalah:

·       Sejumlah hadits yang mengkhabarkan bahwa Allah menimpakan keganasan sebagian Ummat kepada sebagian yang lain.

·       Hadits tentang perpecahan Ummat menjadi 73 golongan, semua di neraka kecuali satu golongan.

Arti "Menimpakan Keganasan Sebagian Ummat Kepada Sebagian Yang Lain".

Hadits-hadits yang menjelaskan masalah ini adalah hadits-hadits shahih yang diriwayatkan dari sejumlah shahabat, diantaranya Sa’ad bin Abi Waqash, Tsauban, Jabir bin Atik, Anas bin Malik, Huzaifah, Mu'adz bin Jabal, Kabbab bin Arit, Syadad bin Aus, Khalid al-Khuzai'i, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas dan Abu Hurairah.

Al-Hafidz Ibnu Katsir menyebutkan hadits-hadits ini ketika mentafsirkan firman Allah :

"Katakanlah ; "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu dari atas kamu atau dari bawah kakimu, atau dia mencampur kamu dari golongan-golongan (yang saling  bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain". (QS. al-An'am: 65).

Diantara hadits-hadits ini cukup penulis sebutkan tiga hadits saja ;

1. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari Sa’ad bahwa Rasulullah pada suatu hari datang dari daerah pegunungan. Ketika melewati Majelis Bani Mu'awiah beliau masuk kemudian shalat dua raka'at bersama kami. Setelah itu Nabi berdo'a panjang sekali lalu berpaling menghadap kepada kami seraya berkata :

«سَأَلْتُ رَبِّي ثَلَاثًا، فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً: سَأَلْتُ رَبِّي أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالسَّنَةِ فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يُهْلِكَ أُمَّتِي بِالْغَرَقِ فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُهُ أَنْ لَا يَجْعَلَ بَأْسَهُمْ بَيْنَهُمْ فَمَنَعَنِي هَا»

"Aku meminta kepada Allah tiga hal lalu Dia memberiku dua hal dan menolak yang satu. Aku meminta kepada Allah agar tidak membinasakan Ummatku dengan bencana kelaparan lalu  Dia mengabulkannya. Aku meminta-Nya agar tidak membinasakan Ummatku dengan bencana banjir lalu Dia mengabulkannya. Dan aku meminta-Nya agar tidak menimpakan keganasan sebagian ummatku kepada sebagian yang lain tetapi Dia menolak permintaanku ini ". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam bab Fitnah (2890))

2. Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan dari Khabbab bin Arit : Aku pernah menyertai Rasulullah saw melaksanakan shalat semalam penuh. Setelah fajar Rasulullah saw mengakhiri shalatnya, aku bertanya : Wahai Rasulullah, pada malam ini engkau melakukan shalat tidak seperti hari-hari lainnya ? kemudian Rasulullah saw menjawab :

أَجَلْ، إِنَّهَا صَلَاةُ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ، سَأَلْتُ اللهَ فِيهَا ثَلَاثًا، فَأَعْطَانِي ثِنْتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً: سَأَلْتُ اللهَ أَنْ لَا يُهْلِكَنَا بِمَا أَهْلَكَ بِهِ الْأُمَمَ قَبْلَنَا فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُ اللهَ أَنْ لَا يُظْهِرَ عَلَيْنَا عَدُوًّا مِنْ غَيْرِنَا فَأَعْطَانِيهَا، وَسَأَلْتُ اللهَ أَنْ لَا يَلْبِسَنَا شِيَعًا فَمَنَعَنِي هَا

"ya, itu adalah shalat permohonan dan (sekaligus) keprihatinan. Dalam shalat tadi aku meminta kepada Allah tiga hal lalu Dia mengabulkan dua hal dan menolak satu hal. Aku meminta Allah agar tidak membinasakan kita dengan bencana yang pernah ditimpakan kepada ummat sebelum kita lalu Dia mengabulkannya. Aku meminta Allah agar tidak menguasakan kepada kami musuh dari selain kami lalu Dia mengabulkannya. Dan aku meminta Allah agar tidak menimpakan perpecahan kepada kami tetapi Dia menolak permintaanku ini". (Disebutkan oleh Ibnu Katsir ketika menfsirkan ayat 65 surat Al-An’am (2/141) mengutip dari Al Musnad. la berkata : Diriwayatkan oleh Nasa'i, Ibnu Hibbab di dalam Shahih-nya, dan Turmudzi dalam bab fitnah, ia berkata : hasan shahih)

3. Muslim meriwayatkan dari Tsauban ra, ia berkata: telah bersabda Rasulullah saw :

إِنَّ اللهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا

"Sesungguhnya Allah pernah melipatkan bumi kepadaku kemudian aku dapat melihat bagian timur dan baratnya... ". (HR. Muslim dalam bab fitnah (2889))

Hadits-hadits tersebut -juga hadits-hadits yang semakna- secara jelas menunjukkan bahwa Allah menjamin dua hal bagi ummat Nabi-Nya, sebagai penghormatan kepada nabi saw. Jaminan berkenaan dengan do'a Nabi saw yang dikabulkan Allah swt, yakni : 

Pertama: Allah tidak akan membinasakan ummatnya dengan bencana yang pernah ditimpakan kepada umat-umat terdahulu. Bencana banjir pernah menimpa kaum Nabi Nuh as atau Fir'aun dan tentaranya. Kelaparan membinasakan total ummat-ummat terdahulu, atau bencana-bencana lainnya seperti lemparan batu dari atas langit atau pemberangusan dari bawah kaki mereka.

Kedua: Allah tidak akam manguasakan musuh atas mereka sampai kepada batas menindas dan melenyapkan eksistensi mereka sama sekali.

Permintaan Nabi saw kepada Allah tidak dikabulkan, agar tidak menimpakan perpecahan pada ummat ini. Artinya persoalan tersebut diserahkan kepada sunnah kauniah (hukum kealaman), sunnah ijtima'iah (hukum kemasyarakatan) dan hukum-hukum sebab akibat  lainnya.

Dalam hal ini umat berkuasa penuh atas dirinya. Allah tidak memaksakan sesuatu kepadanya dan tidak pula memberi kekhususan. Jika ummat ini menyambut perintah Rabb-nya, pengarahan Nabinya, da'wah kitabnya, menyatukan kalimatnya dan merapikan barisannya, maka pasti mereka akan berhasil melancarkan serbuan dan merebut kemenangan atas musuh Allah dan musuh-musuhnya. Tetapi jika ummat menyambut seruan syethan dan hawa nafsunya maka tidak ayal Iagi mereka pasti akan berpecah belah dan dikuasai musuh-musuhnya akibat perselisihan dan perpecahan tersebut. Ini seperti yang diisyaratkan oleh hadits Nabi saw:

Sehingga sebagian mereka membinasakan sebagian lainnya dan sebagian mereka menawan sebagian lainnya.”

Hadits tersebut tidak berarti bahwa perpecahan ummat dan saling permusuhan itu menjadi suatu yang lazim dan selalu terjadi di setiap zaman, tempat dan keadaan sampai hari kiamat.

Sebab, jika perpecahan itu merupakan suatu yang lazim dan selalu terjadi di setiap waktu, tempat dan keadaan, niscaya tidak akan ada artinya firman-firman Allah berikut:

Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali Allah dan jangan berpecah belah”. (QS. Ali Imran: 103)

Dan janganlah engkau menjadi seperti mereka yang berpecah belah dan berselisih sesudah datang kepada mereka keterangan, dan mereka itu akan mendapat siksa yang dahsyat”. (QS. Ali Imran: 105)

“ … dan janganlah kamu saling berselisih, karena nanti kamu jadi lemah dan hilang kekuatan kamu…” (QS. Al-Anfal: 46)

Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan Allah dengan berbaris (rapi) seolah-olah mereka satu bangunan yang kokoh". (QS. ash-Shaff : 4)

“ … dan janganlah kamu menjadi seperti kaum Musyrikin (yaitu) orang-orang yang memecah belah agama mereka sehingga mereka menjadi beberapa golongan; masing-masing golongan membanggakan apa yang ada pada mereka”. (QS. ar-Rum: 31-32).

"Dan sesungguhnya inilah ummatmu, ummat yang satu, dan Aku-lah Rabbmu, maka hendaklah kamu takut kepada-Ku”. (QS. al-Mu'minun: 52).

Juga hadits-hadits Rasulullah saw berikut:

لَا تَخْتَلِفُوا، فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

"Janganlah kalian berselisih, karena orang-orang sebelum kalian hancur karena mereka berselisih."

"Orang Mu'min bagi orang Mu'min lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan”.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Kamu lihat kaum Mu'minin dalam berkasih sayang dan menjalin hubungan seperti satu tubuh; apabila salah satu anggota tubuh mengeluhkan rasa sakit maka seluruh tubuh ikut meraskannya”.

"Janganlah kalian saling hasad, saling membuat makar dan saling bermusuhan. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara ".

Tidak ada artinya pula nash-nash lainnya dari al-Qur'an dan al-hadits yang memerintahkan persatuan dan melarang perpecahan, mewajibkan kaum Muslimin agar mempunyai satu Imam, tidak  membai'at dua Khalifah pada waktu yang bersamaan, serta memerangi orang yang bermaksud memecah belah kalimat atau urusan mereka.

Seandainya perpecahan itu merupakan suatu yang ditetapkan  atas ummat secara umum dan abadi niscaya perintah-perintah dan larangan-larangan tersebut di atas sia-sia belaka, karena berarti memerintahkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi dan melarang sesuatu yang mustahil dihindari. 

Hadits-hadits yang menjelaskan bahwa Allah tidak akan menguasakan atas ummat ini musuh yang akan menghapuskan eksistensinya sama sekali dan bahwa Allah akan menimpakan perpecahan antar sesamanya, tidak menyebutkan bahwa hal tersebut akan terjadi di setiap belahan bumi İslam dan di setiap zaman.

la hanyalah penyakit dan wabah yang akan menyerang ummat ini manakala telah cukup sebab-sebabnya. Ummat yang terkena wabah tersebut tidak memiliki imunitas yang memadai, sebagaimana orang yang diserang sesuatu penyakit karena mengabaikan perawatan atau kurang pengobatan. 

Mungkin "penyakit" perpecahan ini terjadi di suatu tempat, tetapi tidak demikian halnya di tempat lain, atau di suatu zaman  tetapi tidak demikian halnya di suatu zaman yang lain, atau antar suatu kaum tetapi tidak demikian halnya di suatu kaum yang lain. Itulah yang dimaksudkan oleh hadits Nabi saw tersebut.

Hadits-hadits tersebut juga dapat ditafsirkan dengan apa yang pernah terjadi pada beberapa kurun yang lampau. Fitnah-fitnah (perpecahan) telah terjadi pada masa shahabat itu sendiri dan masa-masa sesudahnya, seperti di masa Umawi kemudian Abbasi. Peristiwa tersebut memungkinkan masuknya kaum Salib dari Barat dan Tartar dari Timur ke negeri İslam dan menguasai belahan bumi İslam selama beberapa masa.

Sementara itu, hadits-hadits lainnya memberikan khabar gembira bahwa islam akan berjaya dan akan masuk ke Eropa sekali lagi, setelah dua kali diusir dari sana. Kota Roma akan berhasil ditaklukkan kaum muslimin sebagaimana mereka telah menaklukkan Konstantinopel. Tidak ada rumah yang terbuat dari tanah atau bulu kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya. Sudah barang tentü semuanya ini tidak akan terwujud manakala Ummat İslam berpecah belah dan saling bermusuhan. Kesemuanya itu akan terwujudkan manakala Ummat bersatu diatas landasan İslam dan di bawah panji keimanan.

Hadits "Perpecahan Ummat Menjadi 73 golongan”

Terdapat hadits tentang perpecahan Ummat menjadi lebih dari tujuhpuluh golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Hadits ini masih dipertanyakan keabsahan riwayatnya.

1. Pertama kali harus diketahui bahwa hadits ini tidak terdapat sama sekali di dalam kitab Ash-Shahihain, padahal masalahnya sangat penting. Ini berarti hadits tersebut tidak shahih menurut salah satu syarat dari keduanya (Bukhari dan Muslim)

Sekalipun kitab Ash-Shahihain tidak mencakup seluruh hadits shahih, tetapi keduanya tidak pernah meninggalkan satupun masalah penting. Pasti akan disebutkan di dalamnya walaupun hanya satu hadits.

2. Sebagian riwayat hadits tersebut tidak menyebutkan "semua golongan akan masuk neraka kecuali satu”, tetapi hanya menyebutkan perpecahan dan jumlah golongan yang muncul.

Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Turmudzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dan Al-Hakim:

تَفَرَّقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ — أَوْ ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ — فِرْقَةً، وَالنَّصَارَى مِثْلَ ذَلِكَ، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً

Orang-orang Yahudi berpecah belah menjadi 71 atau 72 golongan, orang-orang Nasrani berpecah-belah menjadi 71 atau 72 golongan, sedangkan ummatku berpecah-belah menjadi 73 golongan”.

Hadits ini dinyatakan Hasan Shahih, oleh Turmudzi serta dishahihkan pula oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Riwayatnya dari jalan Muhammad bin Amer bin “Alqamah bin Waqqash Al-Laitsi. Siapa saja yamg membaca riwayat hidupnya di dalam Tahdzibu 't-Tahdzib pasti akan mengetahui bahwa dia seorang perawi yang dipermasalahkan segi hafalannya. Bahkan tidak ada yang menilainya sebagai orang yang tsiqat (terpercaya). Semua ahli hadits menyebutkan bahwa dia lebih kuat dari orang yang lebih lemah darinya. Oleh sebab itu, Al-Hafizh di dalam kitab at-Taqrib mengatakan: “Dia orang yang jujur tetapi banyak keraguan”. Padahal kejujuran saja dalam masalah ini belum cukup bila tidak didukung dengan kekuatan hafalan (dlabt), apalagi dia termasuk orang yang banyak keraguan.

Perlu diketahui bahwa Turmudzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim adalah termasuk para perawi yang sangat gampang men-shahih-kan suatu hadits. Khususnya Al-Hakim, sangat longgar dalam mensyaratkan sebuah hadits shahih.

Di sini Al-Hakim men-shahih-kan hadits di atas menurut syarat muslim karena Muhammad bin Amer adalah perawi yang dipakai oleh muslim. Tetapi Adz-Dzahabi menolaknya karena muslim tidak pernah memakainya dalam satu riwayat tersendiri. Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah tidak menyebutkan tambahan: "Semua golongan masuk neraka kecuali satu" yang menjadi biang permasalahan tersebut.

Hadits dengan tambahan tersebut diriwayatkan dari sejumlah shahabat: Abdullah bin Amer, Mu'awiah, Auf bin Malik dan Anas ra. Tetapi semuanya ber-sanad lemah. Para perawi hadits menguatkannya hanya dengan jalan menghubungkan yang satu dengan yang Iainnya.

Menurut saya, menguatkan suatu hadits (lemah) hanya karena banyak riwayat tidak mutlak bisa diterima. Berapa banya suatu hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalan tetapi tetap dilemahkan oleh para ahli hadits. Hal ini dapat dibaca di kitab-kitab takhrij dan Iainnya. Cara tersebut di atas (menguatkan suatu hadits (lemah) hanya karena banyaknya riwayat) dapat diterima manakala tidak ada hadits Iain yang menentangnya dan maknanya tidak menimbulkan kemusykilan.

Sedangkan hadits di atas cukup menimbulkan kemusykilan. Di satu segi menyatakan perpecahan ummat Islam lebih banyak daripada perpecahan Yahudi dan Nasrani, dan di Iain segi menyatakan bahwa semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan. Pernyataan yang kedua ini akan membuka peluang bagi masing-masing golongan untuk mengklaim bahwa dirinya adalah golongan yang selamat sedangkan golongan Iainnya masuk neraka. Ini jelas akan menimbulkan perpecahan ummat dan permusuhan antar sesamanya.

Oleh karena itu, AI-Allamah Ibnu 'l-Wazir melemahkan hadits ini secara keseluruhan, khususnya tamabahannya. Karena hadits tersebut akan mengakibatkan saling menyesatkan dan saling mengkafirkan kalangan ummat Islam.

Setelah membahas keutamaan Ummat Islam dan memperingatkan agar menjauhi takfir (mengkafirkan) sesama ummat, di dalam kitabnya al-'Awashim, beliau (Ibnu 'l-Wazir) berkata: "Janganlah sampai Anda tertipu oleh (hadits lemah yang menyatakan) 'semuanya di neraka kecuali satu golongan '. Itu adalah tambahan yang batil dan tidak benar bahkan merupakan rekayasa orang-orang Mulhid".

Selanjutnya Ibnu Wazir berkata: dari Ibnu Hazm: Ini adalah hadits palsu. Tidak mauquf (sampai kepada shahabat) juga tidak marfu' (sampai kepada Nabi saw). Demikian pula hadits-hadits tentang celaan terhadap Qadariah, Murju'ah dan Asy'ariah. Semuanya adalah hadits-hadits dla'if dan tidak kuat" . 

3. - Dikalangan ulama terdahulu dan sekarang ada yang menolak hadits tersebut baik dari segi sanad-nya ataupun dari segi matan dan maknanya.34

Abu Muhammad Ibnu Hzm menolak orang yang mengkafirkan  orang Iain karena perbedaan mengenai masalah-masalah keyakinan. Diantara hal-hal yang dijadikan hujjah untuk mengkafirkan orang Iain, kata Ibnu Hazm, adalah hadits yang dinisbatkan kepada Rasulullah saw:

·       "Golongan Qadariah dan Murji'ah adalah Majusi-nya ummat ini".

·       "Ummat ini (Islam) akan berpecah-belah menjadi 70 lebih golongan. Semuanya masuk neraka kecuali satu akan masuk surga".

 Abu Muhammad Ibnu Hazm berkata "Kedua hadits ini dari segi sanad sama sekali tidak sah. Hadits seperti ini tidak dapat dijadikan hujjah menurut orang yang menerima khabar wahid (hadits ahad). Apalagi menurut orang yang tidak menerima khabar wahid".

(Catatan: Padahal Al-Qur’an menyebutkan tentang orang-orang Yahudi: “… Dan kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat…” (QS. Al-Maidah: 64). Dan tentang orang-orang Nasrani: “Dan di antara orang-orang yang mengatakan sesungguhknya kami ini orang-orang Nasrani, ada yang kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka sengaja mengambil sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya; maka kami adakan di antara mereka permusuhan dan kebencian sampai hari kamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang selalu mereka kerjakan". (QS. Al Ma'idah: 14).

Sedangkan tentang Ummat Islam, Al Qur'an tidak pernah menyatakan hal semacam itu. Bahkan yang ada ialah peringatan AI Qur'an kepada Ummat ini agar jangan berpecah-belah sebagaimana orang-orang sebelum mereka.

Selain itu, hadits tersebut menyatakan bahwa semua golongan Ummat ini -kecuali satu akan masuk neraka, padahal dalam keterangan lain tentang keutamaan Ummat ini dinyatakan sebagai Ummat yang diberi rahmat dan akan menjadi sepertiga atau separuh dari penghuni sorga.

Juga, khabar bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani akan berpecah-belah menjadi 70 golongan atau Iebih, tidak dikenal dalam sejarah kedua agama tersebut. Tidak pernah dikenal bahwa mereka berpecah-belah ménjadi sebanyak itu.)

Al-lmam al-Yamani al-Mujtahid, pembela sunah yang memadukan antara yang ma'qul (kontekstual), dan manqul (tekstual) serta Muhammad bin Ibrahim Al-Wazir (meninggal tahun 840 H) di dalam kitabnya al-Awashim wa 'l-qawashim, menilai: "Di dalam sanad-nya terdapat nashibi. Hadits yang diriwayatkan tidak syah. Turmudzi juga meriwayatkan hadits seperti ini dari Abdullah bin Amer bin al-Ash, kemudian ia (Turmudzi) berkata hadits gharib. la menyebutkannya di dalam bab keimanan dari jalan al-Afriki (Abdullah Rahman bin Ziyad) dari Abdullah bin Yazid.

Ibnu Majah meriwayatkan hadits serupa dari 'Auf bin Malik dan Anas. Ibnu 'l-Wazir berkata: riwayat-riwayat tersebut sama sekali tidak ada yang sesuai dengan syarat hadits shahih. Oleh sebab itu, Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya sama sekali. Turmudzi men-shahih-kan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dari jalan Muhammad bin Amer bin 'Alqamah dengan tidak  menyebutkan: "Semua di neraka kecuali satu golongan". Ibnu Hazm mengatakan: Tambahan ini adalah palsu. Hal ini disebutkan oleh pengarang kitab al-Badru 'I-Munir.

(Catatan: Al 'Awashim wal Qawashim, Ibnul Wazir, dengan tahqiq Syaikh Syu'aib AI Arnawuth, 3/170-172. Apa yang disebutkan dalam buku ini menyanggah Syaikh Al Albani (yang mengatakan dalam silsilah Ahadits Shahihah (3/19-20) bahwa Ibnul Wazir menolak hadits ini dari segi matan-nya saja bukan dari segi sanad-nya. Saya tidak tahu dari mana beliau dapatkan hal tersebut???)

Ketika menafsirkan ayat:

“…atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain". (QS. al-An'am: 65).

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata: "Disebutkan di dalam hadits yang diriwayatkan dari beberapa jalan dari Rasulullah saw bahwa beliau bersabda: "Ummat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. Semuanya di dalam neraka kecuali satu golongan". (Tafsir Ibnu Katsir, 2/143, terbitan Isa Al Halabi) Ibnu Katsir tidak menyebutkan hadits itu shahih atau hasan. Bahkan tidak menambahkan penjelasan lainnya selain dari apa yang dikatakannya tersebut, padahal secara panjang lebar ia menafsirkan ayat tersebut dengan menyebutkan hadits-hadits dan atsar-atsar yang sesuai dengannya.

Sebagian ulama' meng-hasan-kan hadits tersebut, seperti al-Hafizh Ibnu Hajar, atau men-shahih-kannya seperti Syaikhu 'I-lslam Ibnu Taimiah, karena banyaknya riwayat yang menyebutkannya, sekalipun demikian hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa perpecahan itu -dengan bentuk dan jumlah yang disebutkan- merupakan suatu keadaan yang abadi hingga Hari Kiamat. Bila pada suatu masa telah muncul perpecahan maka cukuplah itu sebagai bukti kebenaran hadits tersebut.

Bisa jadi sebagian dari golongan-golongan itu telah muncul kemudian berhasil ditumbangkan oleh kebenaran sehingga lenyap untuk selama-lamanya. Dan, inilah yang secara riil terjadi dengan golongan-golongan yang menyimpang (al-Firaqu 'I-Munharifah). Sebagaian daripadanya telah lenyap dan tidak punya eksistensi lagi.

Selain itu, hadits tersebut menunjukkan bahwa semua golongan itu adalah bagian dari Ummat Nabi saw, yakni Ummatu 'I-ljabah yang dinisbatkan kepadanya (Nabi saw). Karena Nabi saw menyebutkan: "Ummatku akan berpecah-belah". Ini berarti bahwa golongan-golongan itu -kendatipun banyak melakukan bid'ah tidak keluar dari Millah (agama) dan tidak pula terlepas dari tubuh Ummat Islam. 

Adapun keberadaanya nanti "di neraka” tidak berarti akan tinggal di dalamnya untuk selama-lamanya sebagaimana orang-orang kafir. Tetapi mereka akan masuk ke dalam neraka sabagaimana orang-orang mu'min yang melakukan maksiat.

 Bahkan mungkin saja mereka akan mendapatkan syafa'at dari orang yang berhak memberikan syafa at dari para Nabi atau Malaikat atau orang-orang mu'min. Mungkin juga mereka mempunyai kebaikan-kebaikan yang dapat menghapuskan dosa-dosanya atau mengalami cobaan-cobaan dan musibah-musibah yang dapat menutupi segala kesalahannya, sehingga terlindung dari siksa.

Atau mungkin Allah akan mengampuni mereka dengan karunia dan kasih-sayang-Nya. Khususnya jika mereka sudah mengerahkan segala upayanya untuk mencari kebenaran tetapi mereka belum mendapatkannya atau salah jalan. Allah sendiri telah mengampuni dosa Ummat yang disebabkan oleh kekeliruan, kealpaan dan pemaksaan.

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat