Thursday, May 7, 2026

KH. Hilmi Aminuddin: Moralitas Qiyadah Dakwah

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil 'alam in. Wabihi nasta'inu 'a la umuriddunya waddin. Wasyahdu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadairasulullah. Amma badu...

Qolallaku ta 'ala, audzubillahi minasyaithanirrajim, "Wamayyatawakkal 'alallahi fahuwa hasbuh.."

Ikhwan wa akhwat fillah rohimakummulah..

Alhamdulillah kita pada siang hari ini diberikan kekuatan, kesempataan dan kemauan untuk berkumpul bersama-sama di sini. Menghimpun seluruh kader-kader kepemimpinan nasional dalam al'ijtima' alqiyadi alwathoni (Rapat Pimpinan Nasional).

Ikhwan dan akhwat fillah..

Sebetulnya dalam pertemuan yang jarang terjadi seperti ini, kerinduaan  saya sebetulnya mau ngobrol-ngobrol saja, mau berbincang-bincang, berdialog sccara secara santai. Setelah ini, yang jelas antum akan kembali ke maidanu da'wah di daerah antum masing-masing. Akan kembali memimpin dakwah, memimpin umat, memimpin junud. Bergerak untuk merealisir target-target atau sasaran yang telah atau akan antum gariskan dalam al ijtima' alqiyadi alwathani (Rapat Pimpinan Nasional) ini.

Ikhwan dan akhawat fillah

Melihat peserta dari Rapimnas ini yang jumlahnya sudah mendekati lima ratusan, dengan jumlah antum yang mencapai 467 pimpinan atau kader pimpinan, bagi saya sebagai salah saru muassis dakwah ini di Indonesia, ini adalah sesuatu yang sangat menggembirakan dan sekaligus mengharukan.

Kira-kira 27 tahun yang lalu, langkah-langkah harokah di sini, di Indonesia ini sunyi, sepi. Illa ma'allah (kecuali bersama Allah). Mengayunkan kaki seorang sendiri. Baru tiga tahun kemudian dilakukan ta'sis haraki atau ta'sis amali, pada tahun 1983 November, tepatnya tanggal 2 Dzulhijjah 1403. Dalam ta'sis tanzhimi waktu itu, kita hanya berkumpul 4 orang. Kita hanya duduk lesehan, bukan di hotel. Dan hanya empat orang, sekarang di level qiyadah saja sudah ada 467.

Saya menjadi yakin, kata-kata mutiara dari para salafusshalih dalam dakwah ini yang mengatakan, "Addakwaatu waluudatun". Bahwa dakwah ini, sangat mudah beranak-pinak. Sangat subur dan mudah berketurunan. Lihat saja, ikhwan dan akhwat yang bergabung dalam dakwah ini, secara biologis pun jumlah anaknya lumayan. Saya kira secara nasional keluarga kita paling berprestasi. Lima orang, delapan orang, sepuluh orang, tiga belas orang anak. Ini salah satu indikator bahwa addakwatu waluudatun. Bahwa dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru. Bahkan secara biologis lebih dulu dibuktikan oleh Allah SWT, secara 'a'iliyah thabi'iyyah.

Secara haraki da'awi pun kita lihat luarbiasa. Dalam waktu 27 tahun sudah ada kader pimpinan 467 yang sekarang berkumpul dalam alijtima' alqiyadi alwathani. Ini membuat saya di hari tua saya tersenyum. Saya  tidak perlu rasanya berdoa seperti Nabi Zakaria, yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam Surat Maryam. Dia merayu dan merajuk kepada Allah SWT. Bahwa dalam kesepuhan beliau, dalam kerentaan beliau, masih belum juga ada generasi penerus.  Generasi penerus yang akan melanjutkan langkah-langkah dakwah beliau. Langkah-langkah dakwah yang diharapkan diteruksan oleh pewaris itu belum juga muncul, sehingga beliau melanjutkan dengan do'a yang dijelaskan oleh Allah: "Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera." Agar menjadi pewaris. Esensinya adalah pewaris dakwah. Penerus-penerus risalah Nabiyullah Ya'qub, Keluarga Ya'kub AS.

Ikhwan dan Akhwat fillah...

Sepertinya saya tidak perlu berdo'a seperti ini. Karena baik secara biologis atau secara haroki pun, memang Allah telah membuktikan bahwa Addakwatu waluudatun. Bahwa dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru, termasuk generasi kepemimpinan. Bahwa dakwah ini mendapat sambutan yang hangat dari generasi terbaik dari ummat ini. Bahkan sebetulnya, kalau kita pelajari secara demografis ­sekali lagi secara demografis­ penduduk negara-negara Muslim itu rata-rata banyak. Berarti pula addakwatu waluudatun itu berpangkal dari al ummatu waluudatun, bahwa ummat kita sangat tinggi populasinya dan mudah beranak pinak. Ada masyaikh dakwah yang mengatakan bahwa di bumi di mana kalimat laa ilaaha illalllah muhammadurrasulullah dikumandangkan maka segalanya akan subur. Manusianya subur. Cepat melahirkan betapapun kondisinya sulit.

Ikhwan dan akhwat fillah

Di Palestina dalam kondisi terhimpit, terjajah, tertindas, ada pembantaian setiap hari, perobohan rumah setiap hari oleh Yahudi, tapi perbandingan kelahiran antara Muslimin Palestina dan Yahudi itu adalah 1:50. Yahudi sebelum takut dengan roket-roket hizbullah dan oleh bom-bom Hammas sudah takut akan ledakan penduduk umat Islam di Palestina. Karena kelahirannya berbanding 1:50.

Jadi ikhwan wa akhwat fillah. Kalau kemudian para salafussahlih mengatakan almustaqbal lil islam, dan almustaqbal lidakwatina, itu sesuai dengan fitrah pertumbuhan. Baik secara demografis, atau maupun secara dakwah dan harokah.

Harokah dan dakwah kita di Indonesia sangat berpeluang dan paling berpotensi dalam segi pertumbuhan. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara di Timur Tengah, sangat jauh. Bahkan dengan saudara-saudara kita di negen tetangga. Kita sudah memasuki era musyarakah, dengan mizhallah siyasiyah payung politik yang besar dan lebar. Tersedia medan yang luas untuk kita bergerak, peluang-peluang juga sangat luas di segala bidang. Dan alhamdulillah pertumbuhan kader pun  termasuk di level (nukhbah qiyadiyah) kader kepemimpinan juga sangat menggembirakan. Sekali lagi ini adalah pemberian Allah semata. Allah membuktikan bahwa al-ummah waluudah. Umat Islam di Indonesia dengan populasi penduduk Indonesia yang lebih dan 220 juta juga  menjadikan harokah dakwah kita populasinya tumbuh pesat.

Pertumbuhan itu akan semakin pesat dengan dipicu dan dipacu oleh target-target yang sudah digariskan dalam kebijakan jama'ah, mulai Munasnya yang dikokohkan melalui keputuskan Majelis Syura. Pencanangan  DPP dengan target kader terbina 1,6 juta, begitu juga dengan target konstituen Pemilu, 24 juta. Ini juga akan mendorong pertumbuhan populasi baik internal maupun eksternal yang sangat tinggi.

Ikhwan wa Akhwat fillah...

467 qiyadatu dakwah berkumpul. Sudah tentu berkumpulnya qiyadah, shofful qiyadah, diharapkan menghasilkan kescpakatan-kesepakatan atau ittifaq qiyadi atau kesepakatan kepemimpinan. Kalau ittifaq qiyadi atau kesepakatan kepemimpinan itu, cenderung bersifat manajerial.  Antum akan mensinkronkan perencanaan-perencanaan, akan mensinkronkan pelaksanaan-pelaksnaan di lapangan. Yang isnya Allah tidak boleh terjadi tumpang tindih, overlapping, tidak boleh paradok, apalagi ada resistensi program satu bidang terhadap program bidang lainnya. Harus terjadi kesyumuliyahan kita didukung ketakamuliyahan. Langkah-langkah yang sinergis. Munassaq, baik tansiq kulli ataupun juz'i sebagaimana manhaj dakwah kita.

Dengan perencanaan-perencaan, koordinasi dalam pelaksanaannya, begitu juga langkah-langkah yang bersifat supporting program (baraamij tasyji'iiyyah), terutama di tahun-tahun pertama diharapkan di daerah-daerah akan terjadi sebuah gebrakan-gebrakan di semua sektor di awal tahun kedua ini. Gebrakan di bidang Pembinaan Kader, gebrakan di Pembinaan Wilayah, Ekuintek, Kesra, gebrakan di badan-badan Bapilu dalam menyiapkan PEMILU, di Badan Humas, juga badan-badan yang lain.

Gebrakan dimaksud adalah merupakan tonggak bidayatul 'amal yang berindeks tinggi. Jangan sampai di tahun kedua ini terjadi dho'ful bidayah (permulaan yang lemah), apalagi khoto'ul bidayah (permulaan yang salah). Dho'ful bidayah,maksudnya, jangan melangkah lumayanan. Karena Allah SWT menuntut kita besemangat kompetitif, besemangat lomba, bersemangat berpacu.

Bagaimana taujihat Robbaniyah dalam Al-Quran menyuruh kita fastabiqul khairat, wasaari'u ilaa maghfiratin min roabbikum, falyatanafasil mutanafisun, seluruhnya adalah merupakan ayat yang mempunyai daya pacu dan daya picu tehadap gerak langkah perjuangan kita yang bernilai kompetitif, yang berdaya lomba tinggi, bersifat tanafusiah, bersifat musyarokah, musaro'ah.. Ini tuntutan Al-Qur'an.

Dan sudah barang tentu yang bisa melakukan itu hanya organsiasi kader. jama'ah kader, partai kader. Partai massa tidak bisa diajak begitu. Dipacu dan dipicu secara terus menerus dalam perjalan panjang, itu yang bisa adalah kader. Dan lahirnya kader-kader kita insya Allah melalui proses tarbiyah yang panjang. Menghasilkan khiyarul ummah, pilihan dan umat ini yang diberikan Allah kepada jama'ah dakwah kita.

Ikhwan wa Akhwat fillah...

Tahun pertama antum sudah melakukan konsolidasi. Dan capaian konsolidasi tersebut sangat menggembirakan. Itu bisa menjadi modal yang cukup untuk tahun kedua yang digariskan dalam bentuk tahun pembinaan dan pelayanan. Sebelum kita bicara tentang pembinaan dan pelayanan, saya ingin berbicara tentang antum sebagai qiyadah. Qiyadatud dakwah, dan antum adalah rijalud dakwah yang sudah tampil menjadi rijalul ummah. Dan Insya Allah tidak lama lagi, binashrin minallah, bita'yiid minallah, sebentar lagi akan menjadi rijalul daulah di dalam pergaulan hidup berbangsa dan bernegara.

Tanggung jawab sebagai rijalul daulah sudah diambang mata. Kalau istilah Qur'annya, sudah qooba qausaini aw adna. Kalau melihat dan pencanangan target pemilu saja, tahun 2009 ke sana, kita sudah mulai memasuki muqaddimah dari mihwar daulah. Insya Allah bi'aunillah. Oleh karena itu, betapa pun kita sudah menjadi rijalul daulah, basic kita tetap bahwa kita adalah jama'ah dakwah, kita adalah qiyadah dakwah, dan kalau sampai masuk ke mihwar daulah sekalipun, tetap daulah dakwah.

Karena di dunia ini, masil luar biasa merajalelanya dholalat wal fasaad. Kedzaliman, kesesatan, kerusakan, masih merajalela. Dan yang harus mentekel dan menghadapinya adalah adalah daulah dakwah. Dan mudah-mudahan, daulatul dakwah yang muncul ke permukaan di dunia ini salah satunya adalah Indonesia. Oleh karena itu prinsip-prinsip kepemimpinan dalam qiyadatud dakwah sama sekali berbeda dengan qiyadah syarikah (perusahaan), atau qiyadah ahzab siyasiyah, atau qiyadah jam'iyah (ormas).

Al Qur'anul karim sudah memberikan landasan-landasan yang kokoh bagi qiyadatu dakwah. Begitu juga, taujihat nabawiyah, juga memberikan banyak landasan-landasan bagi qiyadatul dakwah, yang sering kita ulang-ulang dalam Surar Ali Imran 159. Fabima rohmatin minallah linta lahum.

Qiyadah yang semacam itu insya Allah akan menjadikan dakwah ini mustahiq (berhak) mendapat pertolongan dari Allah. Dengan selalu menumbuhkan keyakinan, In yanshurkumullahu falaa ghaliba lakum, wa in yakhdzulkum faman dzalladzi yanshurukum minnallah...

Ikhwan dan akhwat fillah.

Sebagai lapisan qiyadah, barisan qiyadah, shofful qiyadah, sudah tentu pertama-tama harus selalu berusaha untuk meningkatkan pendekatan diri kepada Allah SWT. Agar selalu mendapat curahan rahmat dari Allah SWT. Curahan rahmat diberikan oleh Allah SWT kepada orang yang selalu mendekat, taqarrub, ta'abbud, tawakkul, wal I'timad 'alallah. Makadengan curahan rahmat itulah qiyadah dakwah akan tumbuh sepreti disebutkan dalam ayat tadi, fabima rahmatin minallahi. Dengan curahan rahmat dari Allaah, qiyadah dakwah dalam mengendalikan jaringan dakwah, dalam mengendalikan manuver-manuver dakwah, dengan penuh lemah lembut, fabima rahmatin minallahi linta lahum...

Imam Syahid Hasan Al Banna rahimahullah merumuskan tiga rumusan penting bagi seorang qiyadah. Yaitu :

1. Kal walid, bagai orang tua. Kal walid al hanuun. Orang tua yang sangat santun, hangat dengan anak-anaknya.

2. Kal murabbi, sebagai pendidik, yang menginginkan lahirnya generasi pelanjut yang lebih baik dari dirinya. Lihat guru-guru taman kanak-kanak, guru-guru SD yang usianya menjelang renta. Dia tetap saja masih mengajar di SD. Sementara murid-muridnya sudah S1, S2, S3. Sudah menjadi menteri. Dia ridha, ikhlas, senang, tidak pernah guru mencemburui anak didiknya yang mencapai sukses-sukses besar. Bahkan dia bergembira. Bahkan walau dia dilupakan. Itu sifat Murabbi. Tapi juga harus memiliki sifat,

3. Kal qaid fil ma'rokah. Bagaikan panglima dalam pertempuran. Dan kita memang punya ma'rokah yang masih terus belanjut bainalhaq walbatil. Itu memerlukan qiyadah yang hanuun, yang santun, berusaha mengembangkan junudnya, tapi juga bisa tegas, bisa berwibawa, bisa melakukan komando.

Dengan curahan dan limpahan rahmat Allah kepada antum sebagai barisan qiyadah dalam jama'ah ini, insya Allah rahmat itu akan terpancar kembali menjadi semangat dakwah yang memancarkan rahmatan lil'alamin, dengan liinul janaah (perilaku yang lembut), santun, mudah memaafkan, (fa'fu 'anhum) bahkan secara proaktif mendoakan agar sesama ikhwah dan akhwat diampuni oleh Allah (wastaghfir lahum). Bukan saja secara aktif memaafkan bila ada kesalahan, kekurangan, ketidaksesuaian, bahkan secara proaktif memohonkan ampunan kepada Allah untuk junudnya.

Kalau ada kader yang langkah-langkahnya yang mendahului qiyadah, maka seperti dicontohkan oleh shahabi al jalil Saad bin Abi Waqqash, ketika kelompok-kelonipok prajuritnya bergerak lebih dulu sebelum dikomando, dia katakan, Allahummaghfirlahum, allahumma inni qod adzantu lahum. Ya Allah, ampuni mereka, maafkan mereka, sesungguhnya aku telah mengizinkan mereka untuk bergerak. Karena apa? Karena Saad bin Abi  Waqqash menyadari betul, bahwa mukhalafatul amir, mukhalafatul qiyadah yang istiqomah memiliki implikasi-implikasi buruk dalam perjuangan.
Maka dengan segera beliau mengatakan, allahumaghfirlahum, allahumma
inni qod adzntu lahum.

Lalu, wasyawirhum fil amri, budaya musyawarah, budaya isytisyarah harus dikembangluaskan. Sudah tentu, yang bersifat musyawarah dalam majalis rasmiyah (format-format resmi), apakah syura jama'ah, atau jalsah-jalsah syuriah pada level-level MRA, DPP, MPP, DSP, begitu juga di level wilayah, di level daerah, kecamatan dan desa, harus membiasakan kehidupan syuro yang bersifat resmi.

Begitu juga budaya istisyariah (yang informal). Melakukan konsultasi-konsultasi, yang mungkin tidak terasa bahwa qiyadah sedang melakukan konsultasi, dengan obrolan-obrolan ringan, dalam pertemuan-pertemuan, dalam ziyarah-ziyarah akhawiyah terjadi isytisyariat. Semangat syura dan istisyarah harus selalu ditumbuhkembangkan.

Ikhwan dan akhwat fillah, Insya Allah jika semangat syura dan isytisyarah ditumbuhkembangkan akan tumbuh dalam jamaah ini al-azam, al iradah alqaniyyah (kemauan keras) untuk bergerak melaksanakan tugas-tugas, bergerak mencapai sasaran dan target-target, bahkan bergerak untuk meraih kemenangan yang diberikan oleh Allah SWT.

Selain azam, qiyadah perlu juga tawakkal dan I'timad 'alallah, dia tsiqoh karena dakwah ini masyru' robbani. Dakwah ini adalah proyeknya Allah dan kita hanyalah pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengna arahan-arahan bimbingan irsyadat dan taujihat robbaniyah wannabawiyah, kita dimenangkan oleh Allah SWT Insya Allah. Karena, dengan selalu dispilin terhadap manhaj robani, dengan taujihat robbaniyah, irsyadat robaniyah yang diberikan Al-Qur'an dan sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.

Ikhwan wa akhwat fillah...

Meraih kemenangan di mata Allah harus menjadi target yang utama dan pertama sebelum meraih kemenangan menurut penilaian manusia. Naudzubillah kalau meraih kemenangan menurut penilaian manusia, sementara kalah menurut penilaian Allah, maka faqod khasira khusronan mubinan. Rugi serugi-ruginya.

Waktu setelah pemilu 1999, saya menjelaskan rumusan kemenangan robbani yang sangat sederhana yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan, definisi kemenangan ltu adalah "maa laazamal haqqu quluubana" artinya "selama kebenaran masih tetap kokoh di dalam hati kita". Luzumul haq fii qulubina, itulah kemenangan. Itulah intishar. Itulah keberhasilan. Dalam percaturan, pertempuran, apakah ma'rokah siyasiyah, ma'rokah fikriyah, atau ma'rakah intikhobiyah, bentuknya apakah Pilkada di Kabupaten, Kota, Propinsi, Pemilu Nasional, Legislatif atau Presiden, pertama-tama, yang harus diraih adalah kemenangan menurut penilaian Allah. Insya Allah, jika kita dinilai Allah sebagai pemenang, Allah akan memberikan kemenangan yang dinilai oleh manusia. Itu rumusan dasar yang harus kita pegang. Jangan sampai target kemenangan-lemenganan Pilkada, atau pemilu nasional, membuat kita kalah menurut perhitungan Allah SWT. Kalah karena godaan-godaan jabatan jadi Gubernur, Bupati, Walikota, bahkan Presiden. Menang menurut manusia, kalau kemudian dalam posisi itu, adalah hasil kecurangan, hasil kedzaliman, hasil ketamakan dan kerasukan, maka  maghlub 'indallah, itu kalah menurut Allah.

Sebab ada inkhila-ul haq minal qalb, tercabutnya kejujuran dari hati. Tercerabutnya amanah dari hati. Inkhila-ul shidq, terccrabutnya kejujuran dari hati. Itu adalah kekalahan di sisi Allah. Tentu semua itu tidak kita inginkan. Karena itu kader-kader yang sudah mulai memasuki lembaga-lembaga negara, yang jadi Gubernur, atau Wagub, atau Wali Kota, atau Wakil, agar mempertahankan kemenangan di sisi Allah dalam posisi-posisi itu. Agar tetap mustahiq (berhak) mendapatkan kemenangan berikutnya di arena perjuangan dan pergaulan antar manusia.

Ikhwan wa akhwat fillah ...

Sebagai lapisan pimpinan, peran yang akan ditampilkan adalah peran manajemen, peran idari. Idarotu dakwah itu prinsipnya atau mabda'nya adalah mabda' taisir, memudahkan, Jangan sampai untuk memperlihatkan kekuasaan, kewenangan, otoritas, menjadi "Kalau bisa dipersulit, mengapa tidak." Seperti yang terjadi dalam birokrasi yang kita lihat selama ini. Qiyadatu dakwah harus mempermudah, tidak memberikan hambatan-hambatan untuk berjalannya junud agar bergerak. Dengan mengatakan, nantilah saya lihat dulu, nantilah saya pertimbangkan dulu. Jadi jadilah muyassirin, bukan mu'assirin.

Taisir bukan tasahul, bukan menggampangkan. Muyassirin tidak saja dan segi moral, idiil atau operasional, tapi juga muyassirin dalam bentuk memikirkan bagaimana memback-up pelaksanaannya di lapangan. Langkah-langkah taisiriyah ini bentuknya bisa secara ruhiyah dalam  bentuk do'a. Jadi antum itu masih muda nggak apa-apa berdo'a. Jangan do'a itu diserahkan ke orang tua saja. Di bawah antum ada junud, berdo'alah agar mereka dimudahkan oleh Allah. Itu adalah taisir ma'nawi. Merasa didoa'kan dan didukung oleh qiyadah akan memberi mereka semangat.

Begitu juga taisir secara fikri, memberi usulan, pertimbangan, solusi-solusi, dibantu dalam menghadapi tantangan. Bantu para junud dengan ide-ide pemikiran dan solusi.

Begitu juga taisir secara 'amali. Secara idari mungkin perlu ada SK, perlu ada Surat Perintah, mudahkan. Jangan sampai agar terlihat berkuasa berkata, "Tunggu seminggu, ngantri situ." Kalau ijroat sudah benar, pertimbangan sudah, mau pakai SK, mau pakai Surat Penntah, mau  anggaran dana kalau ada, harus jalan. Mabda'nya harus taisir bukan ta'sir. Sebab, kalau ta'sir, itu akibatnya akan ta'khir. Kalau dipersulit terhambat sudah akibatnya.

Kedua, mabda' tabsyir, bassyiru walaa tunaffiru. Kalimat-kalimat,  "Insya Allah antum akan ditolong Allah," "A'anaknmullah, harus menjadi kebiasaan seorang qiyadah. Memberi berita gembira. Jangan sampai yunaffir. Jangan sampai akibatnya, kader itu kalau ketemu qiyadah  segen sekali. Sebab fakut disemprot, takut dievaluasi dengan hisaaban 'asira (evaluasi yang keras). Tapi harus  seperti kata Dzulqarnain­hisaban yasiran. Kalau yang dzalim, menyimpang, baru hisaban 'asira, evaluasi yang keras. Ini kan kader menjalankan tugas, mungkin saja ada kesalahan-kesalahan. Umumnya ikhwah dan akhawat itu semangatnya menjalankan tugas. Jangan memperbesar kesalahan-kesalahan junud. Justru kita harus memperkecil. Sebab pada hakekatnya, siapa pun, bahkan qiyadah sekalipun adalah juga manusia. Tarbiyah itu tidak akan sampai kapan pun mengubah manusai menjadi malaikat. Justru kita beramal jamai untuk saling membantu kekurangan kita, untuk saling menutupi kelemahan-kelemahan kita. Saling mengobarkan semangat. Itulah mabda tabsyir. Pnnsip-prinsip itu adalah prinsip dasar yang digariskan Rasulullah.

Ikhwan wa akhwat fillah ...

Makanya sejak beberapa tahun yang lalu saya sudah menjelaskan bahwa manajemen dalam dakwah ini, kebijakan qiyadah ini bersifat tahfiidziyyah, membangkitkan semangat untuk melaksanakan tugas. Secara umum langkah-langkah (khutuwat) tahfiidziyyah itu ada lima:

Pertama, almusyarokah 'indal qarar. Dikutsertakan dalam mengambil keputusan, baik langsung atau tidak langsung, baik dalam syura atau dalam istisyarah, baik terasa atau tidak terasa, resmi atau tidak resmi.

Kedua, attasyji' 'indal ijtihad. Didorong untuk berani mengemukakan pendapat. Bahkan kalau ada ide-ide dan pendapat dari junud, jangan dahulukan pendapat qiyadah. Itu akan membangkitkan semangat. Sebab ijtihadnya diakomodasi, bahkan dijadikan kebijakan. Kita qiyadah mungkin punya pendapat, tapi kalau pendapat junud ada dan dilaksanakan, maka pertumbuhan nukhbah qiyadiyah (kader berkapasitas pemimpin) itu terus terjadi. Itu yang disebut sponsoring-up. Jangan  mendahului dengan pendapat. Sebab junud itu kalau qiyadah sudah berpendapat biasanya akan diam. Siapa tahu muncul dari mereka ide yang lebih cemerlang. Jadi sekali lagi, tasyji' 'indal ijtihad. Jangan sampai mengatakan, "Pokoknya ini instruksi, tidak ada diskusi. Nanti junudnya akan lemas. Dan, bisa muncul nantinya generasi kepemimpinan yang toledo: tolol, letoy, bodo, kalau selalu digebrak, merasa ditekan, apalagi merasa terintimidasi oleh pimpinan.

Ketiga, adda'm 'inda tanfiz. Dalam pelaksanaan didukung, minimal dengan do'a. Do'akan supaya sukses, supaya dilancarkan. Bahkan do'a fi dzharil ghaib. Doa ketika mereka melaksanakan tugas tanpa sepengetahuan mereka. Itu mustajab. Biasakan ketika ada junud yang tidak selesai melaksanakan tugas, atau kurang sempurna, agar kita bertanya kepada diri sendin, apa yang sudah kita berikan untuk mempermudah, apa yang sudah kita berikan agar mereka bisa melaksanakan dengan baik. Pikiran muhasabah dzatiyah qiyadiyah, atau instrospeksi dzatiyah bagi qiyadah sendiri saat mengevaluasi junud, itu sangat penting sekali supaya tidak takabbur, atau mentang-mentang jadi pimpinan.

Keempat, al-i'tiraf 'indal injaaz. Pengakuan dan penghargaan ketika dia menjalankan tugas. Katakan "jazakumullah khairan katsira",  "Ahsantum", "Barokallahu... " Ini adalah bentuk-bentuk pengakuan prestasi. Minimal secara moril. Syukur-syukur bisa memberi dalam bentuk secara materiil. Termasuk kader kita yang ide-idenya dalam  menulis nasyid diakomodasi dalam Mars Partai PKS, saya minta kepada DPP untuk memberikan penghargaan. Ucapan syukur, atas nama Partai, dan berikan hadiah secukupnya. Karena itu hak intelektual, dan hak kreatif dia. Termasuk yang menciptakan seragam antum ini, kasih penghargaan. Sebab seragam antum itu cocok sekali dengan pelaksanaan tahun kedua ini, tahun pelayanan. Itu semua merupakan injazat, prestasi. Dan itu memerlukan ali'tiraf indal injaz. Itu akan mendorong kader untuk lebih kreatif.

Kelima, al inshaf  'indal khata'. Bersikap adil kalau ada kesalahan. Kalau ada kesalahan jangan di kunyek-kunyek, tetap adil dan bijaksana. Sepanjang kesalahaan itu 'amali kita harus inshaf, kecuali berubah menjadi khata' mauqifi, atau bersikap beda, menentang, bahkan insyilakh. Itulah yang harus disikapi dengan beda. Kalau salah secara operasional, siapa saja mungkin terjadi. Karena dia manusia, mungkin dia salah, dia terpeleset. Asal jangan hobi terpeleset. Kalau hobi terpeleset itu seperti selancar. Dan selancar itu jalannya tidak istiqomah. Itu bisa berubah menjadi khotho' mauqif. Salah dalam sikap.

Ikhwan wa akhwat fillah...

Di dalam Al-Quran dan Hadist banyak terdapat nilai-nilai Qiyadah, bertebaran mabadi' qiyadiyah, qiyam qiyadiyah, dalam Islam. Silakan antum baca masalah Ilmu tentang perencanaan, tentang programming, komunikasi masa, tapi yang paling prinsip pelajari prinsip qiyadah di dalam Al-Quran. Ia adalah prinsip abadi yang kekal, yang harus dipegang teguh sampai kapan pun.

Ikhwan wa akhwat fillah

Terkait dengan kesalahan-kesalahan, itu harus kita luruskan, tetapi dengan santun, bil hilmi. Saya nukilkan tentang masalah ini dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang mengatakan:

"Maa syarro ba'dahul jannah bisyarin

Wa laa khaira ba'dahun naar bikhairin

wa kullu na'imin duunal jannati haqirun"

Tidak ada suatu kesulitan bila sesudahnya surga.

Kesempitan, bahkan musibah, bila akhirnya masuk surga, maka semua itu
tidak ada artinya.

Sebaliknya, tidak ada suatu kebaikan bila disusul dengan masuk neraka.

Dan setiap kenikmatan selain surga nilainya sedikit.

Secara manusia, jabatan-jabatan itu mungkin Insya Allah ada sisi kenikmatannya. Sebab, lil manaashibi fi nufusina nashih. Bagi jabatan itu di dalam diri kita ada ruang. Tapi mudah-mudahan ruang itu tidak besar. Meskipun memang ada.

Ada ruang senang ketika ada jabatan, kemasyhuran, tapi itu biarkan di sudut hati kita dan jangan biarkan dia berperan. Supaya tidak memunculkan takabbur dan berbuat dzalim.

Insya Allah saya sendiri sebagai bagian dari muassis, saya katakan saya tidak akan ikut-ikutan (merecoki) ikhwah dalam mendapatkan jabatan menteri. Dalam jabatan, dalam kemasyhuran, tidak juga dalam pencarian ma'isyah.

Ikhwan dan akhawat fillah.

Selanjutnya, dahulukan pendapat syura, jangan pendapat pribadi. Masih dari Ali, "man a'jaba bira'yihi dhalla, barang siapa yang mengagumi pendapatnya sendiri akan sesat. Wa man istaghna bi'aqlihi zalla. Merasa cukup dengan idenya sendin akan terpeleset, dan yang sombong akan hina. Sebagai qiyadah harus memahami betul prinsip-prinsip ini. Waman takabbara 'alannasi dzalla. Barang siapa sombong akan hina.

Sebagai lapisan qiyadah, harus memahami prinsip-prinsip seperti ini. Memahami tarbawiyah qiyadaiyah yang robbaniyah, yang bersumber Al-Qur'an dan sunnah, atau sahabat yang langsung menerima tarbiyah dari Rasulullah.

Ikhwah fillah..

Pada Tahun Kedua ini jamaah telah mengariskan sebagai Tahun Pembinaan dan Pelayanan. Tahun pembinaan, mungkin sekilas terlintas dalam diri kita adalah tahun tarbiyah. Padahal kalimat pembinaan ini makudnya membina seluruh potensi. Apakah potensi SDM, ekonomi, sosioal budaya, potensi pendidikan harus kita bina. Yang kita bina adalah sumber daya, dan itu bukan hanya Sumber Daya Manusia. Jadi, masing-masing bidang punya kapling dalam pembinaan, bukan hanya tugas Bidang Pembinaan Kader. Sementara Bidang Ekuintek bukan berarti tidak melakukan permbinaan ekonomi. Atau Bidang Kesra tidak membina kemahasiswaan.

Data tentang tarbiyah thulabiyah yang masuk kepada saya, dari segi jumlah cenderung meriah dan semarak, tetapi begitu dilihat efek produktifitas ke kampus sangat kecil. Di UnivInd misalnya, ada 70 dosen KI, tapi yang aktif membina hanya tiga orang di kampus. Ana faham mereka punya dakwah di tempafnya, di kampungnya. Tapi harusnya kampus mendapat bagian paling tidak sebanding dengan bagian di kampungnya kalau tidak bisa lebih besar. Karena arahan dosen untuk mahasiswa itusangat kuat pengaruhnya.

Di UnivLam ada KI jumlahnya 30, yang membina di kampus hanya 1 orang. Di UnivGam 20 KI yang aktif membina di kampus 3 orang. Sehingga kita perlu chek, apakah dominasi kita dulu menjelang reformasi yang menguasai lebih dari 40 persen kampus-kampus masih berlaku?

Bidang pembinaan kader harus melihat pentingnya pembinaan di kampus-kampus. Guru dan dosen itu sudah mendapat kepercayaan dan orang tua murid atau mahasiswa. Target kita, bahkan tamat SMU atau aliyah minimal sudah sudah muntasib. Ini akan memperbaiki peta SDM kita yang kini masih sangat timpang. Banyak pos-pos yang kosong dan blank.

Sekarang misalanya, dalam musyarokah dan amal jamahiri, banyak komplikasi hukum dengan pihak lain. Sementara mencari kader yang sarjana hukum sangat sulk. Padahal masalah-maslah Pilkada perlu bantuan mereka. Bapilu juga perlu bantuan mereka. Kalau tamat SMU sudah muntasib bisa kita arahkan, agar misalnya masuk ke Fakultas Hukum, Pertanian, bahkan Akademi Kepolisian, dan lain sebagainya.

Bila memasuki mihwar daulah dan belum terjadi tawazun dalam penyebaran SDM di lembaga-lembaga penyelenggara negara, akan menyulitkan kita. Jadi sekali lagi, tahun pembinaan ini selain pembinaan SDM juga bidang-bidang yang lain.

Umpamanya, laporan dari pembinaan kader mengatakan bahwa hanya 40% kader yang aktif dalam pembinaan (tajnid). Bagi saya, saya tidak terjebak dengan angka 40 persen itu, tapi pertanyaan saya apakah itu hasil koordinasi seluruh bidang atau tidak. Kalau hasil koordinasi,
jangankan 40 persen 25 persen tapi hasil koordinasi dengan bidang lain.

Bidang ekonomi memback-up ekonomi kader, ada payung dalam bidang politik, bidang-bidang lain memback-up kalau begitu, bagi saya 25% pun maqbul. Tapi kalau 40 persen bukan hasil koordinasi, harus dipikirkan peningkatan manajemen kita. Agar target-target dan sasaran itu merupakan sasaran yang terkoordinasi. Terkordinasi itu artinya terjadi tanasuq, yang diawali dengan tafaahum, adanya ta'awun, adanya takaful dan saling kerjasama.

Ada ADK yang datang ke rumah dan melapor bahwa sekarang sulit mencari ustadz murobbi untuk memberi memberi taujih di kampus. Ada daerah yang mengeluh bahwa banyak murobbi dari Jakarta yang ke daerah tidak mampir ke DPW setempat. Ini keluhan kader yang haus tarbiyah. Katakanlah ada kontrak dengan perusahaan beberapa hari, misalnya, setelah itu meluangkan waktu untuk DPW. Itu harus ada manajemen dari Pusat, dari Bidang Pembinaan Wilayah, atau dari IKADI misalnya.

Ikhwan wa akhwat fillah

mendapat dukungan basis massa. Antum jangan terlalu terjebak bahwa pemahamannya adalah 1,6 itu target untuk 24 juta. Ada banyak target dari pencapaian target 1,6 juta itu. Target struktural internal saja masih besar. Pengurus-pengurus DPD di daerah masih banyak yang bukan  kader. Apalagi DPC dan DPRa. Target 1,6 kader terbina itu diharapkan mengisi pos-pos struktural yang masih menggunakan tenaga pendukung, terutama di daerah. Bahkan pada tingkat DPC, apalagi DPRa. Jadi ada kebutuhan internal yang besar. Keinginan kita, seluruh strata  organsasi kita, dikelola kader sampai DPRa, karena tanzhim kita tanzhim nukhbawi, Partai kader. Kita tidak akan berubah menjadi partai massa.

Jadi target 1,6 juta itu tidak hanya terkait dengan perolehan dalam pemilu, tapi banyak kebutuhan internal struktural yang memerlukan pengisian pos-pos struktural. Misalnya pengurus DPRa minimal lima orang. Desa di negeri kita ada katakanlah 60 ribu. Jadi dibutuhkan 60 ribu kali 5. Kecamatan, DPC, katakanlah pengurusnya delapan orang. Kalikan jumlah kecamatan. Jumlah pengurus DPD misalnya, 10 atau 12 orang. Kalikan jumlah DPD 441. Jumlah Pengurus DPW katakanlah 20. Belum lagi kebutuhan wajihah-wajihah yang menginginkan pengurusnya kader inti. Termasuk di bidang keuangan, medis. Jadi target kader yang terbina itu tidak hanya terkait dengan masalah Pemilu.

Ikhwan wa akhwat fillah

Kalau masalah pemilu, sebenarnya itu terkait erat dengan nilai instrinsik kader dibandingkan dengan masyarakat. Pengalaman kita di  tahun Pemilu 2004, pada waktu tahun 2001 kita mentargetkan untuk mencapai 8 juta konstituen atau sekitar 8% maka tahun 2003 harus berhasil menghimpun kader 800 ribu. Itu saja waktu itu bukan kader terbina, tapi kader tercatat. Ternyata di tahun 2003, hasilnya hanya 400 ribu. Bahkan yang terbina hanya 285 ribu. Tapi karena nilai
intinsiknya tinggi, bisa mencapai target yang dicanangkan untuk 800 ribu, bahkan lebih.

Berarti, produk waktu itu, dalam 'aam tarbawi menghasilkan sebuah intensifikasi yang meningkatkan nilai intrinsik kader sehingga daya pengaruhnya, daya himpunnya terhadap massa lebih tinggi dan yang kita perkirakan 1 berbanding 10.

Jadi Bidang Pembinaan Kader, tolong dijaga keseimbangan antara  ekstensifikasi dengan intensifikasi. Jangan hanya memburu ekstensifikasi 1,6 juta, tapi kurang intensitasnya dalam bidang intensifikasi. Sebab, kalau pun tercapai 1,6 juta itu, ekstensifikasi tapi tanpa intensifikasi, nanti kader-kader senior tidak mampu  mengendalikan kader-kader baru. Tidak mampu membina rekruting baru, tajnid baru. Jadi keseimbangan antara membina yang sudah ada dengan merekrut yang baru. Kalau pun tidak tercapai 1,6 juta, tapi berhasil melakukan intensifikasi, berhasil menaikkan nilai intinsik kader, maka, akan luar bisa daya pengaruhnya, haimamahnya, koordinasinya, isti'abnya, di masyarakat. Sambil tetap kita kejar target 1,6 juta itu. Tapi imbangi dengan intensifikasi. Jadi harus ada perimbangan antara almuhafazat alal muktasabat almadhiyah (hasil-hasil yang lalu) dengan almuhafazah 'alal muktasabat al jadidah (hasil-hasil yang baru).

Tarbiyah atau Pembinaan Kader secara amaliyah, merupakan amaliyah tahsin, kerja-kerja perbaikan. Manusia itu seperti emas dan perak,  memiliki kadar-kadar logam. Kita memilih kader itu memilih yang nilai logamnya atau nilai karatnya tinggi. Logam adalah logam, tinggal bagaimana kita melakukan tahsin (memperbaikinya), talmi' (membuatnya cemerlang), dan tarqiyah, meningkatkan daya gunanya. Logam perak, berapa harga batangannya. Tapi setelah dipahat, diukir, bisa lebih mahal dari emas. Karena ada amaliyah talmi' dan tarqiyah. Tarbiyah itu seperti itu. Jangan sampai kita hanya mentahsin yang baru sementara yang lama terbengkalai.

Sekadar mengingatkanya bahwa seluruh proses tarbiyah adalah dalam rangka memunculkan arkan baiah alasyarah. Ibrazul arkanul baiaah. Muwashofat yang dituntut oleh arkanul baiah asyarah agar muncul dalam diri kader melalui indikator rakaizul intiqa. Dari segi mafahim aqidahnya, fikriyahnya, manhajiyahnya. Dari suluknya, suluk ta'abbudi, suluk ijtima'i.

Jika indikator itu terpenuhi, akan terlihat di lapangan mana keikhlasan yang totalitas, yang tidak lapuk di makan umur dan tidak rusak di makan masa. Kita lihat gelora semangat dakwahnya intens dari sejak remaja sampai kakek-kakek. Mungkin ia kesandung, tapi bangkit lagi dan terus berjalan. Tidak sekali terpeleset, lalu mengeluh dan minggir dari barisan dakwah. Jatuh, bangun, terpeleset, bangun, jatuh, bangun, dan terus istiqomah.

Yang kedua, di lapangan juga akan terlihat dalam soal indhibatnyamdalam qiyam dan mabadi', kedisplinannya dalam prinsip-prinsip nilai-nilai. Disiplinnya dalam nilai-nilai ubudiyah, khuluqiyyah  mua'amalah. Juga ijabiyatur'uyah dan tafaulnya. Pandangan positif dan optimismenya. Dalam kesulitan apapun ia melihat ada harapan. Seperti para sahabat yang dikepung di Ahzab justru melihat, Hadza maa wa'adanallahu wa rasuluhu. Rasulullah di saat itu juga membangkitkan  semangat yang obsesif. Di saat terkepung itu, Rasulullah menjanjikan bahwa Rowami dan Persi akan futuh.

Begitu juga kader itu juga akan menjadi shahibul mubadarah (punya inisiatif), tidak menjadi pengekor, latah, pengikut orang lain. Tapi berinisiatif. Juga ruhul badzl wattadhiyyah. Semangat berkorban, melalui hartaya, ilmunya, tenaganya secara totalitas. Dari dulu saya mengatakan, bahwa dakwah kita secara totalitas bukan berarti kader kita berdakwah meninggalkan keluarga dan orang tua dan membiarkan  mereka terbengkalai.

Ikhwan wa akhwat fillah

Begitu juga semangat amal jama'i. Amal jamai ini yang diikat oleh ikatan aqidah, manhaj, wihdatul manhaj, wihdatul fikrah, wihdatul barokah, kesatun-kesatuan ini, akan semakin mengokohkan amal jamai kita.

Kader-kader kita agar mutawakkil kepada Allah, i'timad kepada Allah. Kita boleh jadi mendapat sumbangan dari siapa pun, yakinilah bahwa sebenarnya itu adalah dari Allah. Walau pun salurannya bisa Bupati, bisa Polisi, atau Pengusaha, bahkan bisa dari artis sekali pun, tapi itu semua dari Allah. Jadi kita harus betul-betul i'timad (bersandar) kepada Allah, tsiqoh kepada Allah, tsiqoh binnashrin minallah. Sehingga tampak langkah-langkahnya itu adalah langkah-langkah  perbaikan (khutuwat ishlahiyah). In uriidu illal ishlaah. Keinginan kita adalah memperbaiki diri kita, keluarga kita, masyarakat kita agar semakin membaik. Karena jamah kita adalah jamah islahiyah. Jamaah perbaikan. Dari hasan menuju ahsan, dan seterusnya.

Ikhwah fillah..

Sekali lagi, jamaah kita juga jamaah kader. Jadi jangan salah memilih orang. Jangan merekrut orang yang akan menjadi beban. Yang direkrut adalah pemikul beban. Seperti kata Rasulullah, manusia itu seperti onta, dari 100 belum tentu ada yang bisa menjadi tunggangan. Maka bila harus dari seratus orang, bahkan kalau perlu 1000, tidak apa yang penting kita dapatkan para pemikul beban. Yaitu beban risalah Muhammadiyah SAW.

Pembinaan itu harus syumuliyah takamuliah. Bukan hanya di sektor Bidang Pembinaan Kader, sektor Ekonomi, Budaya. Tapi di seluruh sektor. Secara jamaah paradigma kita satu. Tapi begitu mendapat tugas masing-masing bidang, masing-masing sektor punya paradigma sendin.  Maka jangan sampai ada paradigma satu yang marjinal atau menghilangkan paradigma atau program lainnya. Jangan sampai pemahaman pembinaan hanya di sektor tajnid. Tapi juga dalam sektor lain. Karena dari tahun ini juga kita akan melayani. Antum harus bangga dengan peran khadimul
ummah, pelayan umat.

Pelayanan ini di segala bidang. Kita gunakan segala wasail. Seluruh wajihat kita gunakan untuk melayani. Wajihah pendidikan, khidmat  ta'limiyah, tsaqofiyah, khariyah, i'lamiyyah, seluruh bidang kerjakita harus terasa oleh semua masyarakat. Pendidikan kita melalui media. Karena kita akan melakukan pendidikan melalui informasi yang benar, bukan palsu. Melakukan pelayanan berupa peningkatan guru-guru.  Melakukan pembinaan murid-murid. Khidmah tsaqofiyah melalui seminar. Atau khidmah iqtishadiyah di mana departemen kita ada yang mengurus UKM, koperasi, buruh, sehingga diharapkan masyarakar merasakan pelayanan dari kader kita.

Juga di sektor pertanian dan peternakan. Apalagi kita punya menteri Pertanian. Begitu juga informasi dari DPR harus menyalur ke masyarakat. Bahwa ini ada anggaran ini dan itu, dan bagaimana mengaksesnya. Harus mengalir kebawah, DPRa-DPRa harus tahu untuk mendukung program pelayanan. Pertanian, Perumahan dan pemuda-olahraga harus menjelaskan program pemerintah bagaimana aksesnya kepada masyarakat sampai ke tingkat daerah. Untuk memback up program pelayanan.

Jelaskan bahwa pemerintah ada program ini, anggarannya ini, dan cara mengaksesnya begini. Ikhwah yang ada di lembaga negara, baik eksekutif dan legislatif harus mensosialisasikan program-program pemerintah untuk rakyat. Karena biaya yang dikeluarkan dan dana rakyat untuk  program negara yang untuk rakyat, harus sampai ke rakyat. Jadi, pelayanan jangan hanya diartikan lembaga charity, atau amal khairi saja. Kalau pembinaan dan pelayanan ini sukses, insya Allah, di tahun ketiga untuk tahun penokohan, akan lancar.

Ikhwan dan akhawat

Seperti tadi saya jelaskan, bahwa dalam Rapim ini tolong langkah pemikiran yang antum curahkan adalah pendekatan manejerial, bagaimana agar kerja-kerja di lapangan sinergis, tanasuq dzati atau kulli, sinkron, dan terlaksananya secara syumuliyah dan takamuliyah antara bidang-bidang yang ada. Sehingga, program di tahun kedua bisa memberikan kita modal untuk melaksanakan program di tahun ketiga.

Apalagi, rencana kerja tahunan dan semua Lembaga kita, semua Bidang, sudah selesai disahkan oleh Majelis Syuro. Tinggal sosialisasi dan tansiq (koordinasi) atau manajemen. Koordinasi sangat penting, begitu juga kontrol dan program yang bersifat supporting program, bagaimaan ada gelora di awal tahun kedua menggelegar terasa, berindeks tinggi. Katakanlah indeksnya 10, kalau di tengah jalan ada delapan, indeks yang 10 kita naikkan lagi. Kalau indeksnya salah, salah dalam memulai, indeksnya cuma dua, maka begitu kita mencapai tiga, sudah merasa sukses. Saya minta Bidang-bidang, merencanakan supporting program yang meledak di daerah-daerah, yang menjadi milestone, ma'alim fi thariq. Juga program sponsoring-up, agar kader-kader kita di DPC, DPRa meningkat menjadi rijalul ummah. BPW harus jeli bekerjasama dengan BPK meningkatkan kader di level DPRa untuk dinaikkan ke DPC, yang di DPC dan layak dinaikan ke DPD. Supaya di tahun ketiga, program Penokohan itu menjadi mudah. Dengan segala aneka ragam cara  Kita sudah biasa mengorbitkan kader di tengah masyarakat. Kita bisa undang kader dari daerah untuk seminar di level nasional. Banyak yang sudah mampu. Kita  lakukan sponsoring-up. Karena amant Munas itu memunculkan 100 tokoh nasional, belum lagi 1000 tokoh profesional.

Pelayanan kita akan bagus kalau program pembinaan di segala sektor bagus. Pelayanan akan bagus kalau koordinasi antara seluruh bidang juga bagus. Dan sekali lagi kader-kader yang sudah mendapat amanah di lembaga-lembaga pemerintah agar membantu. Di lembaga-lembaga itu banyak anggaran yang diperuntukkan untuk rakyat. Banyak rakyat yang tidak tahu. Kalau pun tahu tidak tahu bagaimana cara mengaksesnya. Para kader yang di lembaga itu harus membantu. Bukan untuk kita, tapi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Agar masyarakat merasakan, ada menteri dari PKS, ada Walikota dari PKS, ada Bupati dari PKS. Gerak langkah pelayanan umat tahun ini sangat menentukan tahun ke depan. Insya Allah, beban pelayanan itu tidak akan tertumpu kepada bendahara. Kita bisa memanfaatkan dana rakyat yang ada di negara, untuk rakyat juga, dengan langkah-langkah yang koordinatif, baik antar bidang maupuan antara bidang dengan penyelenggara negara.

Ikhwan dan akhawat...

Saya kira kalimat sambutan dan saya cukupkan sekian. Mudah-mudahan RAPIMNAS ini mendapatkan taufiq, hidayah, ri'ayah, inayah dan Allah swt, sehinga menghasilkan qaulan sadida yang berguna untuk dakwah, umat, bahkan bangsa dan negara, bahkan untuk kemanusiaan. Pelayanan bukan saja ditunggu oleh Aceh dan Jogja, pelayanan kita harus menjangkau dunia Islam. Pelayaanan kita tidak saja hanya berskala lokal, tapi harus berlevel global.

Aqulu qauli hadza wa astaghfirullahal 'azhim

Wassalamu'alaikum wr. wb.

No comments:

Post a Comment

Keluarga Muslim Teladan