Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil 'alam in. Wabihi nasta'inu 'a la umuriddunya waddin. Wasyahdu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadairasulullah. Amma badu...
Qolallaku
ta 'ala, audzubillahi minasyaithanirrajim, "Wamayyatawakkal 'alallahi
fahuwa hasbuh.."
Ikhwan
wa akhwat fillah rohimakummulah..
Alhamdulillah
kita pada siang hari ini diberikan kekuatan, kesempataan dan kemauan untuk
berkumpul bersama-sama di sini. Menghimpun seluruh kader-kader kepemimpinan
nasional dalam al'ijtima' alqiyadi alwathoni (Rapat Pimpinan Nasional).
Ikhwan
dan akhwat fillah..
Sebetulnya
dalam pertemuan yang jarang terjadi seperti ini, kerinduaan saya sebetulnya mau ngobrol-ngobrol saja, mau
berbincang-bincang, berdialog sccara secara santai. Setelah ini, yang jelas
antum akan kembali ke maidanu da'wah di daerah antum masing-masing. Akan
kembali memimpin dakwah, memimpin umat, memimpin junud. Bergerak untuk
merealisir target-target atau sasaran yang telah atau akan antum gariskan dalam
al ijtima' alqiyadi alwathani (Rapat Pimpinan Nasional) ini.
Ikhwan
dan akhawat fillah
Melihat
peserta dari Rapimnas ini yang jumlahnya sudah mendekati lima ratusan, dengan
jumlah antum yang mencapai 467 pimpinan atau kader pimpinan, bagi saya sebagai
salah saru muassis dakwah ini di Indonesia, ini adalah sesuatu yang sangat
menggembirakan dan sekaligus mengharukan.
Kira-kira
27 tahun yang lalu, langkah-langkah harokah di sini, di Indonesia ini sunyi,
sepi. Illa ma'allah (kecuali bersama Allah). Mengayunkan kaki seorang sendiri.
Baru tiga tahun kemudian dilakukan ta'sis haraki atau ta'sis amali, pada tahun
1983 November, tepatnya tanggal 2 Dzulhijjah 1403. Dalam ta'sis tanzhimi waktu
itu, kita hanya berkumpul 4 orang. Kita hanya duduk lesehan, bukan di hotel.
Dan hanya empat orang, sekarang di level qiyadah saja sudah ada 467.
Saya
menjadi yakin, kata-kata mutiara dari para salafusshalih dalam dakwah ini yang
mengatakan, "Addakwaatu waluudatun". Bahwa dakwah ini, sangat mudah
beranak-pinak. Sangat subur dan mudah berketurunan. Lihat saja, ikhwan dan
akhwat yang bergabung dalam dakwah ini, secara biologis pun jumlah anaknya
lumayan. Saya kira secara nasional keluarga kita paling berprestasi. Lima
orang, delapan orang, sepuluh orang, tiga belas orang anak. Ini salah satu
indikator bahwa addakwatu waluudatun. Bahwa dakwah ini sangat subur melahirkan
generasi baru. Bahkan secara biologis lebih dulu dibuktikan oleh Allah SWT, secara
'a'iliyah thabi'iyyah.
Secara
haraki da'awi pun kita lihat luarbiasa. Dalam waktu 27 tahun sudah ada kader
pimpinan 467 yang sekarang berkumpul dalam alijtima' alqiyadi alwathani. Ini
membuat saya di hari tua saya tersenyum. Saya tidak perlu rasanya berdoa seperti Nabi
Zakaria, yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam Surat Maryam. Dia merayu dan
merajuk kepada Allah SWT. Bahwa dalam kesepuhan beliau, dalam kerentaan beliau,
masih belum juga ada generasi penerus. Generasi
penerus yang akan melanjutkan langkah-langkah dakwah beliau. Langkah-langkah
dakwah yang diharapkan diteruksan oleh pewaris itu belum juga muncul, sehingga
beliau melanjutkan dengan do'a yang dijelaskan oleh Allah: "Dan
sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku
adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang
putera." Agar menjadi pewaris. Esensinya adalah pewaris dakwah.
Penerus-penerus risalah Nabiyullah Ya'qub, Keluarga Ya'kub AS.
Ikhwan
dan Akhwat fillah...
Sepertinya
saya tidak perlu berdo'a seperti ini. Karena baik secara biologis atau secara
haroki pun, memang Allah telah membuktikan bahwa Addakwatu waluudatun. Bahwa
dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru, termasuk generasi
kepemimpinan. Bahwa dakwah ini mendapat sambutan yang hangat dari generasi
terbaik dari ummat ini. Bahkan sebetulnya, kalau kita pelajari secara
demografis sekali lagi secara demografis penduduk negara-negara Muslim itu
rata-rata banyak. Berarti pula addakwatu waluudatun itu berpangkal dari al
ummatu waluudatun, bahwa ummat kita sangat tinggi populasinya dan mudah beranak
pinak. Ada masyaikh dakwah yang mengatakan bahwa di bumi di mana kalimat laa
ilaaha illalllah muhammadurrasulullah dikumandangkan maka segalanya akan subur.
Manusianya subur. Cepat melahirkan betapapun kondisinya sulit.
Ikhwan
dan akhwat fillah
Di
Palestina dalam kondisi terhimpit, terjajah, tertindas, ada pembantaian setiap
hari, perobohan rumah setiap hari oleh Yahudi, tapi perbandingan kelahiran
antara Muslimin Palestina dan Yahudi itu adalah 1:50. Yahudi sebelum takut
dengan roket-roket hizbullah dan oleh bom-bom Hammas sudah takut akan ledakan
penduduk umat Islam di Palestina. Karena kelahirannya berbanding 1:50.
Jadi
ikhwan wa akhwat fillah. Kalau kemudian para salafussahlih mengatakan
almustaqbal lil islam, dan almustaqbal lidakwatina, itu sesuai dengan fitrah
pertumbuhan. Baik secara demografis, atau maupun secara dakwah dan harokah.
Harokah
dan dakwah kita di Indonesia sangat berpeluang dan paling berpotensi dalam segi
pertumbuhan. Kalau kita bandingkan dengan negara-negara di Timur Tengah, sangat
jauh. Bahkan dengan saudara-saudara kita di negen tetangga. Kita sudah memasuki
era musyarakah, dengan mizhallah siyasiyah payung politik yang besar dan lebar.
Tersedia medan yang luas untuk kita bergerak, peluang-peluang juga sangat luas
di segala bidang. Dan alhamdulillah pertumbuhan kader pun termasuk di level (nukhbah qiyadiyah) kader
kepemimpinan juga sangat menggembirakan. Sekali lagi ini adalah pemberian Allah
semata. Allah membuktikan bahwa al-ummah waluudah. Umat Islam di Indonesia dengan
populasi penduduk Indonesia yang lebih dan 220 juta juga menjadikan harokah dakwah kita populasinya
tumbuh pesat.
Pertumbuhan
itu akan semakin pesat dengan dipicu dan dipacu oleh target-target yang sudah
digariskan dalam kebijakan jama'ah, mulai Munasnya yang dikokohkan melalui
keputuskan Majelis Syura. Pencanangan DPP
dengan target kader terbina 1,6 juta, begitu juga dengan target konstituen
Pemilu, 24 juta. Ini juga akan mendorong pertumbuhan populasi baik internal
maupun eksternal yang sangat tinggi.
Ikhwan
wa Akhwat fillah...
467
qiyadatu dakwah berkumpul. Sudah tentu berkumpulnya qiyadah, shofful qiyadah,
diharapkan menghasilkan kescpakatan-kesepakatan atau ittifaq qiyadi atau
kesepakatan kepemimpinan. Kalau ittifaq qiyadi atau kesepakatan kepemimpinan
itu, cenderung bersifat manajerial. Antum
akan mensinkronkan perencanaan-perencanaan, akan mensinkronkan pelaksanaan-pelaksnaan
di lapangan. Yang isnya Allah tidak boleh terjadi tumpang tindih, overlapping,
tidak boleh paradok, apalagi ada resistensi program satu bidang terhadap
program bidang lainnya. Harus terjadi kesyumuliyahan kita didukung
ketakamuliyahan. Langkah-langkah yang sinergis. Munassaq, baik tansiq kulli
ataupun juz'i sebagaimana manhaj dakwah kita.
Dengan
perencanaan-perencaan, koordinasi dalam pelaksanaannya, begitu juga
langkah-langkah yang bersifat supporting program (baraamij tasyji'iiyyah),
terutama di tahun-tahun pertama diharapkan di daerah-daerah akan terjadi sebuah
gebrakan-gebrakan di semua sektor di awal tahun kedua ini. Gebrakan di bidang
Pembinaan Kader, gebrakan di Pembinaan Wilayah, Ekuintek, Kesra, gebrakan di
badan-badan Bapilu dalam menyiapkan PEMILU, di Badan Humas, juga badan-badan
yang lain.
Gebrakan
dimaksud adalah merupakan tonggak bidayatul 'amal yang berindeks tinggi. Jangan
sampai di tahun kedua ini terjadi dho'ful bidayah (permulaan yang lemah),
apalagi khoto'ul bidayah (permulaan yang salah). Dho'ful bidayah,maksudnya,
jangan melangkah lumayanan. Karena Allah SWT menuntut kita besemangat
kompetitif, besemangat lomba, bersemangat berpacu.
Bagaimana
taujihat Robbaniyah dalam Al-Quran menyuruh kita fastabiqul khairat, wasaari'u
ilaa maghfiratin min roabbikum, falyatanafasil mutanafisun, seluruhnya adalah
merupakan ayat yang mempunyai daya pacu dan daya picu tehadap gerak langkah
perjuangan kita yang bernilai kompetitif, yang berdaya lomba tinggi, bersifat
tanafusiah, bersifat musyarokah, musaro'ah.. Ini tuntutan Al-Qur'an.
Dan
sudah barang tentu yang bisa melakukan itu hanya organsiasi kader. jama'ah
kader, partai kader. Partai massa tidak bisa diajak begitu. Dipacu dan dipicu
secara terus menerus dalam perjalan panjang, itu yang bisa adalah kader. Dan
lahirnya kader-kader kita insya Allah melalui proses tarbiyah yang panjang.
Menghasilkan khiyarul ummah, pilihan dan umat ini yang diberikan Allah kepada
jama'ah dakwah kita.
Ikhwan
wa Akhwat fillah...
Tahun
pertama antum sudah melakukan konsolidasi. Dan capaian konsolidasi tersebut
sangat menggembirakan. Itu bisa menjadi modal yang cukup untuk tahun kedua yang
digariskan dalam bentuk tahun pembinaan dan pelayanan. Sebelum kita bicara
tentang pembinaan dan pelayanan, saya ingin berbicara tentang antum sebagai
qiyadah. Qiyadatud dakwah, dan antum adalah rijalud dakwah yang sudah tampil menjadi
rijalul ummah. Dan Insya Allah tidak lama lagi, binashrin minallah, bita'yiid
minallah, sebentar lagi akan menjadi rijalul daulah di dalam pergaulan hidup
berbangsa dan bernegara.
Tanggung
jawab sebagai rijalul daulah sudah diambang mata. Kalau istilah Qur'annya,
sudah qooba qausaini aw adna. Kalau melihat dan pencanangan target pemilu saja,
tahun 2009 ke sana, kita sudah mulai memasuki muqaddimah dari mihwar daulah.
Insya Allah bi'aunillah. Oleh karena itu, betapa pun kita sudah menjadi rijalul
daulah, basic kita tetap bahwa kita adalah jama'ah dakwah, kita adalah qiyadah
dakwah, dan kalau sampai masuk ke mihwar daulah sekalipun, tetap daulah dakwah.
Karena
di dunia ini, masil luar biasa merajalelanya dholalat wal fasaad. Kedzaliman,
kesesatan, kerusakan, masih merajalela. Dan yang harus mentekel dan
menghadapinya adalah adalah daulah dakwah. Dan mudah-mudahan, daulatul dakwah
yang muncul ke permukaan di dunia ini salah satunya adalah Indonesia. Oleh
karena itu prinsip-prinsip kepemimpinan dalam qiyadatud dakwah sama sekali
berbeda dengan qiyadah syarikah (perusahaan), atau qiyadah ahzab siyasiyah,
atau qiyadah jam'iyah (ormas).
Al
Qur'anul karim sudah memberikan landasan-landasan yang kokoh bagi qiyadatu
dakwah. Begitu juga, taujihat nabawiyah, juga memberikan banyak
landasan-landasan bagi qiyadatul dakwah, yang sering kita ulang-ulang dalam
Surar Ali Imran 159. Fabima rohmatin minallah linta lahum.
Qiyadah
yang semacam itu insya Allah akan menjadikan dakwah ini mustahiq (berhak)
mendapat pertolongan dari Allah. Dengan selalu menumbuhkan keyakinan, In
yanshurkumullahu falaa ghaliba lakum, wa in yakhdzulkum faman dzalladzi
yanshurukum minnallah...
Ikhwan
dan akhwat fillah.
Sebagai
lapisan qiyadah, barisan qiyadah, shofful qiyadah, sudah tentu pertama-tama
harus selalu berusaha untuk meningkatkan pendekatan diri kepada Allah SWT. Agar
selalu mendapat curahan rahmat dari Allah SWT. Curahan rahmat diberikan oleh
Allah SWT kepada orang yang selalu mendekat, taqarrub, ta'abbud, tawakkul, wal
I'timad 'alallah. Makadengan curahan rahmat itulah qiyadah dakwah akan tumbuh
sepreti disebutkan dalam ayat tadi, fabima rahmatin minallahi. Dengan curahan rahmat
dari Allaah, qiyadah dakwah dalam mengendalikan jaringan dakwah, dalam
mengendalikan manuver-manuver dakwah, dengan penuh lemah lembut, fabima
rahmatin minallahi linta lahum...
Imam
Syahid Hasan Al Banna rahimahullah merumuskan tiga rumusan penting bagi seorang
qiyadah. Yaitu :
1.
Kal walid, bagai orang tua. Kal walid al hanuun. Orang tua yang sangat santun,
hangat dengan anak-anaknya.
2.
Kal murabbi, sebagai pendidik, yang menginginkan lahirnya generasi pelanjut
yang lebih baik dari dirinya. Lihat guru-guru taman kanak-kanak, guru-guru SD
yang usianya menjelang renta. Dia tetap saja masih mengajar di SD. Sementara
murid-muridnya sudah S1, S2, S3. Sudah menjadi menteri. Dia ridha, ikhlas,
senang, tidak pernah guru mencemburui anak didiknya yang mencapai sukses-sukses
besar. Bahkan dia bergembira. Bahkan walau dia dilupakan. Itu sifat Murabbi.
Tapi juga harus memiliki sifat,
3.
Kal qaid fil ma'rokah. Bagaikan panglima dalam pertempuran. Dan kita memang
punya ma'rokah yang masih terus belanjut bainalhaq walbatil. Itu memerlukan
qiyadah yang hanuun, yang santun, berusaha mengembangkan junudnya, tapi juga
bisa tegas, bisa berwibawa, bisa melakukan komando.
Dengan
curahan dan limpahan rahmat Allah kepada antum sebagai barisan qiyadah dalam
jama'ah ini, insya Allah rahmat itu akan terpancar kembali menjadi semangat
dakwah yang memancarkan rahmatan lil'alamin, dengan liinul janaah (perilaku
yang lembut), santun, mudah memaafkan, (fa'fu 'anhum) bahkan secara proaktif
mendoakan agar sesama ikhwah dan akhwat diampuni oleh Allah (wastaghfir lahum).
Bukan saja secara aktif memaafkan bila ada kesalahan, kekurangan,
ketidaksesuaian, bahkan secara proaktif memohonkan ampunan kepada Allah untuk
junudnya.
Kalau
ada kader yang langkah-langkahnya yang mendahului qiyadah, maka seperti
dicontohkan oleh shahabi al jalil Saad bin Abi Waqqash, ketika kelompok-kelonipok
prajuritnya bergerak lebih dulu sebelum dikomando, dia katakan,
Allahummaghfirlahum, allahumma inni qod adzantu lahum. Ya Allah, ampuni mereka,
maafkan mereka, sesungguhnya aku telah mengizinkan mereka untuk bergerak.
Karena apa? Karena Saad bin Abi Waqqash
menyadari betul, bahwa mukhalafatul amir, mukhalafatul qiyadah yang istiqomah
memiliki implikasi-implikasi buruk dalam perjuangan.
Maka dengan segera beliau mengatakan, allahumaghfirlahum, allahumma
inni qod adzntu lahum.
Lalu,
wasyawirhum fil amri, budaya musyawarah, budaya isytisyarah harus
dikembangluaskan. Sudah tentu, yang bersifat musyawarah dalam majalis rasmiyah
(format-format resmi), apakah syura jama'ah, atau jalsah-jalsah syuriah pada
level-level MRA, DPP, MPP, DSP, begitu juga di level wilayah, di level daerah,
kecamatan dan desa, harus membiasakan kehidupan syuro yang bersifat resmi.
Begitu
juga budaya istisyariah (yang informal). Melakukan konsultasi-konsultasi, yang
mungkin tidak terasa bahwa qiyadah sedang melakukan konsultasi, dengan
obrolan-obrolan ringan, dalam pertemuan-pertemuan, dalam ziyarah-ziyarah
akhawiyah terjadi isytisyariat. Semangat syura dan istisyarah harus selalu ditumbuhkembangkan.
Ikhwan
dan akhwat fillah, Insya Allah jika semangat syura dan isytisyarah
ditumbuhkembangkan akan tumbuh dalam jamaah ini al-azam, al iradah alqaniyyah
(kemauan keras) untuk bergerak melaksanakan tugas-tugas, bergerak mencapai
sasaran dan target-target, bahkan bergerak untuk meraih kemenangan yang
diberikan oleh Allah SWT.
Selain
azam, qiyadah perlu juga tawakkal dan I'timad 'alallah, dia tsiqoh karena
dakwah ini masyru' robbani. Dakwah ini adalah proyeknya Allah dan kita hanyalah
pelaksananya saja. Kalau langkah-langkah kita sesuai dengna arahan-arahan
bimbingan irsyadat dan taujihat robbaniyah wannabawiyah, kita dimenangkan oleh
Allah SWT Insya Allah. Karena, dengan selalu dispilin terhadap manhaj robani,
dengan taujihat robbaniyah, irsyadat robaniyah yang diberikan Al-Qur'an dan
sunnah, maka kita sebelum dinilai menjadi pemenang di hadapan manusia, insya Allah
telah dinilai menjadi pemenang di hadapan Allah.
Ikhwan
wa akhwat fillah...
Meraih
kemenangan di mata Allah harus menjadi target yang utama dan pertama sebelum
meraih kemenangan menurut penilaian manusia. Naudzubillah kalau meraih
kemenangan menurut penilaian manusia, sementara kalah menurut penilaian Allah,
maka faqod khasira khusronan mubinan. Rugi serugi-ruginya.
Waktu
setelah pemilu 1999, saya menjelaskan rumusan kemenangan robbani yang sangat
sederhana yang disampaikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan, definisi
kemenangan ltu adalah "maa laazamal haqqu quluubana" artinya
"selama kebenaran masih tetap kokoh di dalam hati kita". Luzumul haq
fii qulubina, itulah kemenangan. Itulah intishar. Itulah keberhasilan. Dalam
percaturan, pertempuran, apakah ma'rokah siyasiyah, ma'rokah fikriyah, atau
ma'rakah intikhobiyah, bentuknya apakah Pilkada di Kabupaten, Kota, Propinsi,
Pemilu Nasional, Legislatif atau Presiden, pertama-tama, yang harus diraih
adalah kemenangan menurut penilaian Allah. Insya Allah, jika kita dinilai Allah
sebagai pemenang, Allah akan memberikan kemenangan yang dinilai oleh manusia.
Itu rumusan dasar yang harus kita pegang. Jangan sampai target
kemenangan-lemenganan Pilkada, atau pemilu nasional, membuat kita kalah menurut
perhitungan Allah SWT. Kalah karena godaan-godaan jabatan jadi Gubernur,
Bupati, Walikota, bahkan Presiden. Menang menurut manusia, kalau kemudian dalam
posisi itu, adalah hasil kecurangan, hasil kedzaliman, hasil ketamakan dan
kerasukan, maka maghlub 'indallah, itu
kalah menurut Allah.
Sebab
ada inkhila-ul haq minal qalb, tercabutnya kejujuran dari hati. Tercerabutnya
amanah dari hati. Inkhila-ul shidq, terccrabutnya kejujuran dari hati. Itu
adalah kekalahan di sisi Allah. Tentu semua itu tidak kita inginkan. Karena itu
kader-kader yang sudah mulai memasuki lembaga-lembaga negara, yang jadi
Gubernur, atau Wagub, atau Wali Kota, atau Wakil, agar mempertahankan
kemenangan di sisi Allah dalam posisi-posisi itu. Agar tetap mustahiq (berhak)
mendapatkan kemenangan berikutnya di arena perjuangan dan pergaulan antar
manusia.
Ikhwan
wa akhwat fillah ...
Sebagai
lapisan pimpinan, peran yang akan ditampilkan adalah peran manajemen, peran
idari. Idarotu dakwah itu prinsipnya atau mabda'nya adalah mabda' taisir,
memudahkan, Jangan sampai untuk memperlihatkan kekuasaan, kewenangan, otoritas,
menjadi "Kalau bisa dipersulit, mengapa tidak." Seperti yang terjadi
dalam birokrasi yang kita lihat selama ini. Qiyadatu dakwah harus mempermudah,
tidak memberikan hambatan-hambatan untuk berjalannya junud agar bergerak.
Dengan mengatakan, nantilah saya lihat dulu, nantilah saya pertimbangkan dulu.
Jadi jadilah muyassirin, bukan mu'assirin.
Taisir
bukan tasahul, bukan menggampangkan. Muyassirin tidak saja dan segi moral,
idiil atau operasional, tapi juga muyassirin dalam bentuk memikirkan bagaimana
memback-up pelaksanaannya di lapangan. Langkah-langkah taisiriyah ini bentuknya
bisa secara ruhiyah dalam bentuk do'a.
Jadi antum itu masih muda nggak apa-apa berdo'a. Jangan do'a itu diserahkan ke
orang tua saja. Di bawah antum ada junud, berdo'alah agar mereka dimudahkan
oleh Allah. Itu adalah taisir ma'nawi. Merasa didoa'kan dan didukung oleh
qiyadah akan memberi mereka semangat.
Begitu
juga taisir secara fikri, memberi usulan, pertimbangan, solusi-solusi, dibantu
dalam menghadapi tantangan. Bantu para junud dengan ide-ide pemikiran dan
solusi.
Begitu
juga taisir secara 'amali. Secara idari mungkin perlu ada SK, perlu ada Surat
Perintah, mudahkan. Jangan sampai agar terlihat berkuasa berkata, "Tunggu
seminggu, ngantri situ." Kalau ijroat sudah benar, pertimbangan sudah, mau
pakai SK, mau pakai Surat Penntah, mau anggaran
dana kalau ada, harus jalan. Mabda'nya harus taisir bukan ta'sir. Sebab, kalau
ta'sir, itu akibatnya akan ta'khir. Kalau dipersulit terhambat sudah akibatnya.
Kedua,
mabda' tabsyir, bassyiru walaa tunaffiru. Kalimat-kalimat, "Insya Allah antum akan ditolong
Allah," "A'anaknmullah, harus menjadi kebiasaan seorang qiyadah.
Memberi berita gembira. Jangan sampai yunaffir. Jangan sampai akibatnya, kader
itu kalau ketemu qiyadah segen sekali.
Sebab fakut disemprot, takut dievaluasi dengan hisaaban 'asira (evaluasi yang
keras). Tapi harus seperti kata Dzulqarnainhisaban
yasiran. Kalau yang dzalim, menyimpang, baru hisaban 'asira, evaluasi yang
keras. Ini kan kader menjalankan tugas, mungkin saja ada kesalahan-kesalahan.
Umumnya ikhwah dan akhawat itu semangatnya menjalankan tugas. Jangan
memperbesar kesalahan-kesalahan junud. Justru kita harus memperkecil. Sebab
pada hakekatnya, siapa pun, bahkan qiyadah sekalipun adalah juga manusia.
Tarbiyah itu tidak akan sampai kapan pun mengubah manusai menjadi malaikat.
Justru kita beramal jamai untuk saling membantu kekurangan kita, untuk saling menutupi
kelemahan-kelemahan kita. Saling mengobarkan semangat. Itulah mabda tabsyir.
Pnnsip-prinsip itu adalah prinsip dasar yang digariskan Rasulullah.
Ikhwan
wa akhwat fillah ...
Makanya
sejak beberapa tahun yang lalu saya sudah menjelaskan bahwa manajemen dalam
dakwah ini, kebijakan qiyadah ini bersifat tahfiidziyyah, membangkitkan
semangat untuk melaksanakan tugas. Secara umum langkah-langkah (khutuwat)
tahfiidziyyah itu ada lima:
Pertama,
almusyarokah 'indal qarar. Dikutsertakan dalam mengambil keputusan, baik
langsung atau tidak langsung, baik dalam syura atau dalam istisyarah, baik
terasa atau tidak terasa, resmi atau tidak resmi.
Kedua,
attasyji' 'indal ijtihad. Didorong untuk berani mengemukakan pendapat. Bahkan
kalau ada ide-ide dan pendapat dari junud, jangan dahulukan pendapat qiyadah.
Itu akan membangkitkan semangat. Sebab ijtihadnya diakomodasi, bahkan dijadikan
kebijakan. Kita qiyadah mungkin punya pendapat, tapi kalau pendapat junud ada
dan dilaksanakan, maka pertumbuhan nukhbah qiyadiyah (kader berkapasitas pemimpin)
itu terus terjadi. Itu yang disebut sponsoring-up. Jangan mendahului dengan pendapat. Sebab junud itu
kalau qiyadah sudah berpendapat biasanya akan diam. Siapa tahu muncul dari
mereka ide yang lebih cemerlang. Jadi sekali lagi, tasyji' 'indal ijtihad.
Jangan sampai mengatakan, "Pokoknya ini instruksi, tidak ada diskusi.
Nanti junudnya akan lemas. Dan, bisa muncul nantinya generasi kepemimpinan yang
toledo: tolol, letoy, bodo, kalau selalu digebrak, merasa ditekan, apalagi
merasa terintimidasi oleh pimpinan.
Ketiga,
adda'm 'inda tanfiz. Dalam pelaksanaan didukung, minimal dengan do'a. Do'akan
supaya sukses, supaya dilancarkan. Bahkan do'a fi dzharil ghaib. Doa ketika
mereka melaksanakan tugas tanpa sepengetahuan mereka. Itu mustajab. Biasakan ketika
ada junud yang tidak selesai melaksanakan tugas, atau kurang sempurna, agar
kita bertanya kepada diri sendin, apa yang sudah kita berikan untuk
mempermudah, apa yang sudah kita berikan agar mereka bisa melaksanakan dengan
baik. Pikiran muhasabah dzatiyah qiyadiyah, atau instrospeksi dzatiyah bagi
qiyadah sendiri saat mengevaluasi junud, itu sangat penting sekali supaya tidak
takabbur, atau mentang-mentang jadi pimpinan.
Keempat,
al-i'tiraf 'indal injaaz. Pengakuan dan penghargaan ketika dia menjalankan
tugas. Katakan "jazakumullah khairan katsira", "Ahsantum", "Barokallahu...
" Ini adalah bentuk-bentuk pengakuan prestasi. Minimal secara moril.
Syukur-syukur bisa memberi dalam bentuk secara materiil. Termasuk kader kita
yang ide-idenya dalam menulis nasyid
diakomodasi dalam Mars Partai PKS, saya minta kepada DPP untuk memberikan
penghargaan. Ucapan syukur, atas nama Partai, dan berikan hadiah secukupnya.
Karena itu hak intelektual, dan hak kreatif dia. Termasuk yang menciptakan
seragam antum ini, kasih penghargaan. Sebab seragam antum itu cocok sekali
dengan pelaksanaan tahun kedua ini, tahun pelayanan. Itu semua merupakan
injazat, prestasi. Dan itu memerlukan ali'tiraf indal injaz. Itu akan mendorong
kader untuk lebih kreatif.
Kelima,
al inshaf 'indal khata'. Bersikap adil kalau ada kesalahan. Kalau
ada kesalahan jangan di kunyek-kunyek, tetap adil dan bijaksana. Sepanjang
kesalahaan itu 'amali kita harus inshaf, kecuali berubah menjadi khata'
mauqifi, atau bersikap beda, menentang, bahkan insyilakh. Itulah yang harus
disikapi dengan beda. Kalau salah secara operasional, siapa saja mungkin
terjadi. Karena dia manusia, mungkin dia salah, dia terpeleset. Asal jangan
hobi terpeleset. Kalau hobi terpeleset itu seperti selancar. Dan selancar itu
jalannya tidak istiqomah. Itu bisa berubah menjadi khotho' mauqif. Salah dalam
sikap.
Ikhwan
wa akhwat fillah...
Di
dalam Al-Quran dan Hadist banyak terdapat nilai-nilai Qiyadah, bertebaran
mabadi' qiyadiyah, qiyam qiyadiyah, dalam Islam. Silakan antum baca masalah
Ilmu tentang perencanaan, tentang programming, komunikasi masa, tapi yang
paling prinsip pelajari prinsip qiyadah di dalam Al-Quran. Ia adalah prinsip
abadi yang kekal, yang harus dipegang teguh sampai kapan pun.
Ikhwan
wa akhwat fillah
Terkait
dengan kesalahan-kesalahan, itu harus kita luruskan, tetapi dengan santun, bil
hilmi. Saya nukilkan tentang masalah ini dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu
'anhu yang mengatakan:
"Maa syarro ba'dahul jannah bisyarin
Wa laa khaira ba'dahun naar bikhairin
wa
kullu na'imin duunal jannati haqirun"
Tidak ada suatu kesulitan bila sesudahnya surga.
Kesempitan, bahkan musibah, bila akhirnya masuk surga, maka
semua itu
tidak ada artinya.
Sebaliknya, tidak ada suatu kebaikan bila disusul dengan masuk
neraka.
Dan
setiap kenikmatan selain surga nilainya sedikit.
Secara
manusia, jabatan-jabatan itu mungkin Insya Allah ada sisi kenikmatannya. Sebab,
lil manaashibi fi nufusina nashih. Bagi jabatan itu di dalam diri kita ada
ruang. Tapi mudah-mudahan ruang itu tidak besar. Meskipun memang ada.
Ada
ruang senang ketika ada jabatan, kemasyhuran, tapi itu biarkan di sudut hati
kita dan jangan biarkan dia berperan. Supaya tidak memunculkan takabbur dan
berbuat dzalim.
Insya
Allah saya sendiri sebagai bagian dari muassis, saya katakan saya tidak akan
ikut-ikutan (merecoki) ikhwah dalam mendapatkan jabatan menteri. Dalam jabatan,
dalam kemasyhuran, tidak juga dalam pencarian ma'isyah.
Ikhwan
dan akhawat fillah.
Selanjutnya,
dahulukan pendapat syura, jangan pendapat pribadi. Masih dari Ali, "man
a'jaba bira'yihi dhalla, barang siapa yang mengagumi pendapatnya sendiri akan
sesat. Wa man istaghna bi'aqlihi zalla. Merasa cukup dengan idenya sendin akan
terpeleset, dan yang sombong akan hina. Sebagai qiyadah harus memahami betul
prinsip-prinsip ini. Waman takabbara 'alannasi dzalla. Barang siapa sombong
akan hina.
Sebagai
lapisan qiyadah, harus memahami prinsip-prinsip seperti ini. Memahami
tarbawiyah qiyadaiyah yang robbaniyah, yang bersumber Al-Qur'an dan sunnah,
atau sahabat yang langsung menerima tarbiyah dari Rasulullah.
Ikhwah
fillah..
Pada
Tahun Kedua ini jamaah telah mengariskan sebagai Tahun Pembinaan dan Pelayanan.
Tahun pembinaan, mungkin sekilas terlintas dalam diri kita adalah tahun
tarbiyah. Padahal kalimat pembinaan ini makudnya membina seluruh potensi.
Apakah potensi SDM, ekonomi, sosioal budaya, potensi pendidikan harus kita
bina. Yang kita bina adalah sumber daya, dan itu bukan hanya Sumber Daya
Manusia. Jadi, masing-masing bidang punya kapling dalam pembinaan, bukan hanya
tugas Bidang Pembinaan Kader. Sementara Bidang Ekuintek bukan berarti tidak
melakukan permbinaan ekonomi. Atau Bidang Kesra tidak membina kemahasiswaan.
Data
tentang tarbiyah thulabiyah yang masuk kepada saya, dari segi jumlah cenderung
meriah dan semarak, tetapi begitu dilihat efek produktifitas ke kampus sangat
kecil. Di UnivInd misalnya, ada 70 dosen KI, tapi yang aktif membina hanya tiga
orang di kampus. Ana faham mereka punya dakwah di tempafnya, di kampungnya.
Tapi harusnya kampus mendapat bagian paling tidak sebanding dengan bagian di
kampungnya kalau tidak bisa lebih besar. Karena arahan dosen untuk mahasiswa
itusangat kuat pengaruhnya.
Di UnivLam
ada KI jumlahnya 30, yang membina di kampus hanya 1 orang. Di UnivGam 20 KI
yang aktif membina di kampus 3 orang. Sehingga kita perlu chek, apakah dominasi
kita dulu menjelang reformasi yang menguasai lebih dari 40 persen kampus-kampus
masih berlaku?
Bidang
pembinaan kader harus melihat pentingnya pembinaan di kampus-kampus. Guru dan
dosen itu sudah mendapat kepercayaan dan orang tua murid atau mahasiswa. Target
kita, bahkan tamat SMU atau aliyah minimal sudah sudah muntasib. Ini akan
memperbaiki peta SDM kita yang kini masih sangat timpang. Banyak pos-pos yang
kosong dan blank.
Sekarang
misalanya, dalam musyarokah dan amal jamahiri, banyak komplikasi hukum dengan
pihak lain. Sementara mencari kader yang sarjana hukum sangat sulk. Padahal
masalah-maslah Pilkada perlu bantuan mereka. Bapilu juga perlu bantuan mereka.
Kalau tamat SMU sudah muntasib bisa kita arahkan, agar misalnya masuk ke
Fakultas Hukum, Pertanian, bahkan Akademi Kepolisian, dan lain sebagainya.
Bila
memasuki mihwar daulah dan belum terjadi tawazun dalam penyebaran SDM di
lembaga-lembaga penyelenggara negara, akan menyulitkan kita. Jadi sekali lagi,
tahun pembinaan ini selain pembinaan SDM juga bidang-bidang yang lain.
Umpamanya,
laporan dari pembinaan kader mengatakan bahwa hanya 40% kader yang aktif dalam
pembinaan (tajnid). Bagi saya, saya tidak terjebak dengan angka 40 persen itu,
tapi pertanyaan saya apakah itu hasil koordinasi seluruh bidang atau tidak.
Kalau hasil koordinasi,
jangankan 40 persen 25 persen tapi hasil koordinasi dengan bidang lain.
Bidang
ekonomi memback-up ekonomi kader, ada payung dalam bidang politik,
bidang-bidang lain memback-up kalau begitu, bagi saya 25% pun maqbul. Tapi
kalau 40 persen bukan hasil koordinasi, harus dipikirkan peningkatan manajemen
kita. Agar target-target dan sasaran itu merupakan sasaran yang terkoordinasi.
Terkordinasi itu artinya terjadi tanasuq, yang diawali dengan tafaahum, adanya
ta'awun, adanya takaful dan saling kerjasama.
Ada
ADK yang datang ke rumah dan melapor bahwa sekarang sulit mencari ustadz
murobbi untuk memberi memberi taujih di kampus. Ada daerah yang mengeluh bahwa
banyak murobbi dari Jakarta yang ke daerah tidak mampir ke DPW setempat. Ini
keluhan kader yang haus tarbiyah. Katakanlah ada kontrak dengan perusahaan
beberapa hari, misalnya, setelah itu meluangkan waktu untuk DPW. Itu harus ada
manajemen dari Pusat, dari Bidang Pembinaan Wilayah, atau dari IKADI misalnya.
Ikhwan
wa akhwat fillah
mendapat
dukungan basis massa. Antum jangan terlalu terjebak bahwa pemahamannya adalah
1,6 itu target untuk 24 juta. Ada banyak target dari pencapaian target 1,6 juta
itu. Target struktural internal saja masih besar. Pengurus-pengurus DPD di
daerah masih banyak yang bukan kader.
Apalagi DPC dan DPRa. Target 1,6 kader terbina itu diharapkan mengisi pos-pos
struktural yang masih menggunakan tenaga pendukung, terutama di daerah. Bahkan
pada tingkat DPC, apalagi DPRa. Jadi ada kebutuhan internal yang besar.
Keinginan kita, seluruh strata organsasi
kita, dikelola kader sampai DPRa, karena tanzhim kita tanzhim nukhbawi, Partai
kader. Kita tidak akan berubah menjadi partai massa.
Jadi
target 1,6 juta itu tidak hanya terkait dengan perolehan dalam pemilu, tapi
banyak kebutuhan internal struktural yang memerlukan pengisian pos-pos
struktural. Misalnya pengurus DPRa minimal lima orang. Desa di negeri kita ada
katakanlah 60 ribu. Jadi dibutuhkan 60 ribu kali 5. Kecamatan, DPC, katakanlah
pengurusnya delapan orang. Kalikan jumlah kecamatan. Jumlah pengurus DPD
misalnya, 10 atau 12 orang. Kalikan jumlah DPD 441. Jumlah Pengurus DPW
katakanlah 20. Belum lagi kebutuhan wajihah-wajihah yang menginginkan
pengurusnya kader inti. Termasuk di bidang keuangan, medis. Jadi target kader
yang terbina itu tidak hanya terkait dengan masalah Pemilu.
Ikhwan
wa akhwat fillah
Kalau
masalah pemilu, sebenarnya itu terkait erat dengan nilai instrinsik kader
dibandingkan dengan masyarakat. Pengalaman kita di tahun Pemilu 2004, pada waktu tahun 2001 kita
mentargetkan untuk mencapai 8 juta konstituen atau sekitar 8% maka tahun 2003
harus berhasil menghimpun kader 800 ribu. Itu saja waktu itu bukan kader terbina,
tapi kader tercatat. Ternyata di tahun 2003, hasilnya hanya 400 ribu. Bahkan
yang terbina hanya 285 ribu. Tapi karena nilai
intinsiknya tinggi, bisa mencapai target yang dicanangkan untuk 800 ribu,
bahkan lebih.
Berarti,
produk waktu itu, dalam 'aam tarbawi menghasilkan sebuah intensifikasi yang
meningkatkan nilai intrinsik kader sehingga daya pengaruhnya, daya himpunnya
terhadap massa lebih tinggi dan yang kita perkirakan 1 berbanding 10.
Jadi
Bidang Pembinaan Kader, tolong dijaga keseimbangan antara ekstensifikasi dengan intensifikasi. Jangan
hanya memburu ekstensifikasi 1,6 juta, tapi kurang intensitasnya dalam bidang intensifikasi.
Sebab, kalau pun tercapai 1,6 juta itu, ekstensifikasi tapi tanpa
intensifikasi, nanti kader-kader senior tidak mampu mengendalikan kader-kader baru. Tidak mampu
membina rekruting baru, tajnid baru. Jadi keseimbangan antara membina yang
sudah ada dengan merekrut yang baru. Kalau pun tidak tercapai 1,6 juta, tapi
berhasil melakukan intensifikasi, berhasil menaikkan nilai intinsik kader, maka,
akan luar bisa daya pengaruhnya, haimamahnya, koordinasinya, isti'abnya, di
masyarakat. Sambil tetap kita kejar target 1,6 juta itu. Tapi imbangi dengan
intensifikasi. Jadi harus ada perimbangan antara almuhafazat alal muktasabat
almadhiyah (hasil-hasil yang lalu) dengan almuhafazah 'alal muktasabat al
jadidah (hasil-hasil yang baru).
Tarbiyah
atau Pembinaan Kader secara amaliyah, merupakan amaliyah tahsin, kerja-kerja
perbaikan. Manusia itu seperti emas dan perak, memiliki kadar-kadar logam. Kita memilih kader
itu memilih yang nilai logamnya atau nilai karatnya tinggi. Logam adalah logam,
tinggal bagaimana kita melakukan tahsin (memperbaikinya), talmi' (membuatnya cemerlang),
dan tarqiyah, meningkatkan daya gunanya. Logam perak, berapa harga batangannya.
Tapi setelah dipahat, diukir, bisa lebih mahal dari emas. Karena ada amaliyah
talmi' dan tarqiyah. Tarbiyah itu seperti itu. Jangan sampai kita hanya
mentahsin yang baru sementara yang lama terbengkalai.
Sekadar
mengingatkanya bahwa seluruh proses tarbiyah adalah dalam rangka memunculkan
arkan baiah alasyarah. Ibrazul arkanul baiaah. Muwashofat yang dituntut oleh
arkanul baiah asyarah agar muncul dalam diri kader melalui indikator rakaizul
intiqa. Dari segi mafahim aqidahnya, fikriyahnya, manhajiyahnya. Dari suluknya,
suluk ta'abbudi, suluk ijtima'i.
Jika
indikator itu terpenuhi, akan terlihat di lapangan mana keikhlasan yang
totalitas, yang tidak lapuk di makan umur dan tidak rusak di makan masa. Kita
lihat gelora semangat dakwahnya intens dari sejak remaja sampai kakek-kakek.
Mungkin ia kesandung, tapi bangkit lagi dan terus berjalan. Tidak sekali
terpeleset, lalu mengeluh dan minggir dari barisan dakwah. Jatuh, bangun,
terpeleset, bangun, jatuh, bangun, dan terus istiqomah.
Yang
kedua, di lapangan juga akan terlihat dalam soal indhibatnyamdalam qiyam dan
mabadi', kedisplinannya dalam prinsip-prinsip nilai-nilai. Disiplinnya dalam
nilai-nilai ubudiyah, khuluqiyyah mua'amalah.
Juga ijabiyatur'uyah dan tafaulnya. Pandangan positif dan optimismenya. Dalam
kesulitan apapun ia melihat ada harapan. Seperti para sahabat yang dikepung di
Ahzab justru melihat, Hadza maa wa'adanallahu wa rasuluhu. Rasulullah di saat
itu juga membangkitkan semangat yang
obsesif. Di saat terkepung itu, Rasulullah menjanjikan bahwa Rowami dan Persi
akan futuh.
Begitu
juga kader itu juga akan menjadi shahibul mubadarah (punya inisiatif), tidak
menjadi pengekor, latah, pengikut orang lain. Tapi berinisiatif. Juga ruhul
badzl wattadhiyyah. Semangat berkorban, melalui hartaya, ilmunya, tenaganya
secara totalitas. Dari dulu saya mengatakan, bahwa dakwah kita secara totalitas
bukan berarti kader kita berdakwah meninggalkan keluarga dan orang tua dan
membiarkan mereka terbengkalai.
Ikhwan
wa akhwat fillah
Begitu
juga semangat amal jama'i. Amal jamai ini yang diikat oleh ikatan aqidah,
manhaj, wihdatul manhaj, wihdatul fikrah, wihdatul barokah, kesatun-kesatuan
ini, akan semakin mengokohkan amal jamai kita.
Kader-kader
kita agar mutawakkil kepada Allah, i'timad kepada Allah. Kita boleh jadi
mendapat sumbangan dari siapa pun, yakinilah bahwa sebenarnya itu adalah dari
Allah. Walau pun salurannya bisa Bupati, bisa Polisi, atau Pengusaha, bahkan
bisa dari artis sekali pun, tapi itu semua dari Allah. Jadi kita harus
betul-betul i'timad (bersandar) kepada Allah, tsiqoh kepada Allah, tsiqoh
binnashrin minallah. Sehingga tampak langkah-langkahnya itu adalah
langkah-langkah perbaikan (khutuwat
ishlahiyah). In uriidu illal ishlaah. Keinginan kita adalah memperbaiki diri
kita, keluarga kita, masyarakat kita agar semakin membaik. Karena jamah kita
adalah jamah islahiyah. Jamaah perbaikan. Dari hasan menuju ahsan, dan
seterusnya.
Ikhwah
fillah..
Sekali
lagi, jamaah kita juga jamaah kader. Jadi jangan salah memilih orang. Jangan
merekrut orang yang akan menjadi beban. Yang direkrut adalah pemikul beban.
Seperti kata Rasulullah, manusia itu seperti onta, dari 100 belum tentu ada
yang bisa menjadi tunggangan. Maka bila harus dari seratus orang, bahkan kalau
perlu 1000, tidak apa yang penting kita dapatkan para pemikul beban. Yaitu
beban risalah Muhammadiyah SAW.
Pembinaan
itu harus syumuliyah takamuliah. Bukan hanya di sektor Bidang Pembinaan Kader,
sektor Ekonomi, Budaya. Tapi di seluruh sektor. Secara jamaah paradigma kita
satu. Tapi begitu mendapat tugas masing-masing bidang, masing-masing sektor
punya paradigma sendin. Maka jangan
sampai ada paradigma satu yang marjinal atau menghilangkan paradigma atau
program lainnya. Jangan sampai pemahaman pembinaan hanya di sektor tajnid. Tapi
juga dalam sektor lain. Karena dari tahun ini juga kita akan melayani. Antum
harus bangga dengan peran khadimul
ummah, pelayan umat.
Pelayanan
ini di segala bidang. Kita gunakan segala wasail. Seluruh wajihat kita gunakan
untuk melayani. Wajihah pendidikan, khidmat ta'limiyah, tsaqofiyah, khariyah, i'lamiyyah,
seluruh bidang kerjakita harus terasa oleh semua masyarakat. Pendidikan kita
melalui media. Karena kita akan melakukan pendidikan melalui informasi yang benar,
bukan palsu. Melakukan pelayanan berupa peningkatan guru-guru. Melakukan pembinaan murid-murid. Khidmah
tsaqofiyah melalui seminar. Atau khidmah iqtishadiyah di mana departemen kita
ada yang mengurus UKM, koperasi, buruh, sehingga diharapkan masyarakar
merasakan pelayanan dari kader kita.
Juga
di sektor pertanian dan peternakan. Apalagi kita punya menteri Pertanian.
Begitu juga informasi dari DPR harus menyalur ke masyarakat. Bahwa ini ada
anggaran ini dan itu, dan bagaimana mengaksesnya. Harus mengalir kebawah,
DPRa-DPRa harus tahu untuk mendukung program pelayanan. Pertanian, Perumahan
dan pemuda-olahraga harus menjelaskan program pemerintah bagaimana aksesnya
kepada masyarakat sampai ke tingkat daerah. Untuk memback up program pelayanan.
Jelaskan
bahwa pemerintah ada program ini, anggarannya ini, dan cara mengaksesnya
begini. Ikhwah yang ada di lembaga negara, baik eksekutif dan legislatif harus
mensosialisasikan program-program pemerintah untuk rakyat. Karena biaya yang
dikeluarkan dan dana rakyat untuk program
negara yang untuk rakyat, harus sampai ke rakyat. Jadi, pelayanan jangan hanya
diartikan lembaga charity, atau amal khairi saja. Kalau pembinaan dan pelayanan
ini sukses, insya Allah, di tahun ketiga untuk tahun penokohan, akan lancar.
Ikhwan
dan akhawat
Seperti
tadi saya jelaskan, bahwa dalam Rapim ini tolong langkah pemikiran yang antum
curahkan adalah pendekatan manejerial, bagaimana agar kerja-kerja di lapangan
sinergis, tanasuq dzati atau kulli, sinkron, dan terlaksananya secara
syumuliyah dan takamuliyah antara bidang-bidang yang ada. Sehingga, program di
tahun kedua bisa memberikan kita modal untuk melaksanakan program di tahun
ketiga.
Apalagi,
rencana kerja tahunan dan semua Lembaga kita, semua Bidang, sudah selesai
disahkan oleh Majelis Syuro. Tinggal sosialisasi dan tansiq (koordinasi) atau
manajemen. Koordinasi sangat penting, begitu juga kontrol dan program yang
bersifat supporting program, bagaimaan ada gelora di awal tahun kedua
menggelegar terasa, berindeks tinggi. Katakanlah indeksnya 10, kalau di tengah
jalan ada delapan, indeks yang 10 kita naikkan lagi. Kalau indeksnya salah,
salah dalam memulai, indeksnya cuma dua, maka begitu kita mencapai tiga, sudah
merasa sukses. Saya minta Bidang-bidang, merencanakan supporting program yang meledak
di daerah-daerah, yang menjadi milestone, ma'alim fi thariq. Juga program
sponsoring-up, agar kader-kader kita di DPC, DPRa meningkat menjadi rijalul
ummah. BPW harus jeli bekerjasama dengan BPK meningkatkan kader di level DPRa
untuk dinaikkan ke DPC, yang di DPC dan layak dinaikan ke DPD. Supaya di tahun
ketiga, program Penokohan itu menjadi mudah. Dengan segala aneka ragam cara Kita sudah biasa mengorbitkan kader di tengah
masyarakat. Kita bisa undang kader dari daerah untuk seminar di level nasional.
Banyak yang sudah mampu. Kita lakukan
sponsoring-up. Karena amant Munas itu memunculkan 100 tokoh nasional, belum
lagi 1000 tokoh profesional.
Pelayanan
kita akan bagus kalau program pembinaan di segala sektor bagus. Pelayanan akan
bagus kalau koordinasi antara seluruh bidang juga bagus. Dan sekali lagi
kader-kader yang sudah mendapat amanah di lembaga-lembaga pemerintah agar
membantu. Di lembaga-lembaga itu banyak anggaran yang diperuntukkan untuk
rakyat. Banyak rakyat yang tidak tahu. Kalau pun tahu tidak tahu bagaimana cara
mengaksesnya. Para kader yang di lembaga itu harus membantu. Bukan untuk kita,
tapi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Agar masyarakat merasakan,
ada menteri dari PKS, ada Walikota dari PKS, ada Bupati dari PKS. Gerak langkah
pelayanan umat tahun ini sangat menentukan tahun ke depan. Insya Allah, beban
pelayanan itu tidak akan tertumpu kepada bendahara. Kita bisa memanfaatkan dana
rakyat yang ada di negara, untuk rakyat juga, dengan langkah-langkah yang
koordinatif, baik antar bidang maupuan antara bidang dengan penyelenggara
negara.
Ikhwan
dan akhawat...
Saya
kira kalimat sambutan dan saya cukupkan sekian. Mudah-mudahan RAPIMNAS ini
mendapatkan taufiq, hidayah, ri'ayah, inayah dan Allah swt, sehinga
menghasilkan qaulan sadida yang berguna untuk dakwah, umat, bahkan bangsa dan
negara, bahkan untuk kemanusiaan. Pelayanan bukan saja ditunggu oleh Aceh dan
Jogja, pelayanan kita harus menjangkau dunia Islam. Pelayaanan kita tidak saja
hanya berskala lokal, tapi harus berlevel global.
Aqulu
qauli hadza wa astaghfirullahal 'azhim
Wassalamu'alaikum
wr. wb.
No comments:
Post a Comment