Tujuan Pendidikan dalam Keluarga Muslim
Tujuan
Kognitif yang diharapkan dapat dicapai dengan mempelajari pembahasan ini:
- Menentukan tujuan-tujuan
pendidikan dalam keluarga muslim dengan menyebutkan contoh-contohnya.
- Menjelaskan dasar-dasar yang
membangun emosi anak agar menjadi manusia yang normal/stabil.
- Menyebutkan model/teladan
dari tokoh-tokoh yang menuntut ilmu di masa kecil mereka dalam warisan
sejarah kita.
- Menjelaskan dasar-dasar
ilmiah dalam pembangunan intelektual dan pemikiran anak.
- Memberikan dalil tentang
pentingnya anak menguasai bahasa asing semampunya setelah menguasai bahasa
Arab.
- Membuktikan pentingnya
persaudaraan dalam membangun keluarga muslim.
- Menjelaskan pentingnya
mewujudkan rasa aman serta ketenangan jiwa dan raga bagi keluarga dengan
menyebutkan contoh-contohnya.
- Menjelaskan pentingnya
keluarga dalam membebankan amanah dakwah dan pembelaan terhadap Islam
serta umat Islam kepada anak-anaknya.
- Menyebutkan contoh-contoh
tokoh yang memikul amanah dakwah dan berjihad membela Islam serta umat
Islam.
- Menjelaskan landasan yang
menjadi tegaknya sebuah keluarga.
- Menjelaskan pentingnya peran
perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
- Memberikan dalil tentang
pentingnya mendidik/memperbaiki adab perempuan.
- Memberikan dalil tentang
perlunya membedakan (peran/ketentuan) antara perempuan dan laki-laki.
Konten
Ilmiah:
Pendidikan
Islam dalam keluarga muslim memiliki target dan tujuan-tujuan dasar yang hendak
dicapai agar manusia sampai pada tingkat tersebut.
Tujuan-tujuan
ini adalah fondasi utama dalam membangun individu, masyarakat, peradaban, dan
negara Islam. Oleh karena itu, wajib bagi ayah, keluarga, pendidik, sekolah,
negara, dan pembaharu sosial untuk memperhatikan pencapaian tujuan ini serta
bekerja untuk mengukuhkannya.
Tujuan-tujuan
tersebut secara ringkas dan terfokus adalah:
1.
Mengenalkan manusia pada dirinya sendiri dan dunianya:
Agar
ia mengetahui kadar dan nilai kemanusiaannya, mengenal dunia yang
mengelilinginya, masyarakat tempat ia tinggal, serta mengetahui hak-hak,
kewajiban, tujuan eksistensinya, dan hubungannya dengan dunia serta kehidupan
ini.
Yang
kami maksud dengan hal tersebut adalah membangun anak secara sosial agar ia
mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, baik dengan orang dewasa maupun
dengan teman sebaya dan yang seusia dengannya. Agar ia menjadi pribadi yang
aktif dan positif, jauh dari sifat tertutup (introvert) dan rasa malu yang
tercela. Ia mampu memberi dan menerima dengan adab dan rasa hormat, mampu
berjual beli, berinteraksi, dan bergaul. Melalui perenungan terhadap
hadis-hadis Nabi ﷺ,
kita menemukan hal-hal yang dikhususkan oleh Rasulullah ﷺ dalam pembentukan
sosial anak, yaitu:
Landasan
Sosial Pertama: Membawanya ke Majelis Orang Dewasa
Anak-anak
dahulu menghadiri majelis Nabi ﷺ dan ayah-ayah mereka membawa mereka ke majelis-majelis yang
baik, suci, dan murni tersebut. Lihatlah Umar yang menyertakan putranya ke
majelis Rasulullah ﷺ.
Al-Bukhari
dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Beritahukan kepadaku tentang sebuah pohon yang
perumpamaannya seperti seorang muslim; ia memberikan buahnya setiap waktu
dengan izin Tuhannya dan daunnya tidak berguguran." Maka terlintas
dalam benakku bahwa itu adalah pohon kurma, namun aku segan untuk berbicara
karena di sana ada Abu Bakar dan Umar. Ketika keduanya tidak berbicara, Nabi ﷺ bersabda: "Itu
adalah pohon kurma." Ketika aku keluar bersama ayahku, aku berkata: "Wahai
ayahku, tadi terlintas di benakku bahwa itu adalah pohon kurma." Umar
berkata: "Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya? Seandainya engkau
mengatakannya, hal itu lebih aku sukai daripada ini dan itu." Ibnu
Umar berkata: "Tidak ada yang menghalangiku kecuali aku tidak melihatmu
maupun Abu Bakar berbicara, maka aku pun segan." Dalam riwayat lain
disebutkan: "Ternyata aku adalah orang yang paling muda di antara kaum
tersebut, maka aku diam."
Rasulullah
ﷺ juga biasa bergaul
dan bercampur dengan anak-anak. Dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah
ﷺ
biasa bercampur (berinteraksi) dengan kami sampai-sampai beliau bersabda kepada
adik kecilku: 'Wahai Abu 'Umair, apa yang sedang dilakukan oleh an-nughair
(burung kecil yang biasa ia gunakan bermain)?'" Rasulullah ﷺ juga pernah
memercikkan air ke tikar kami, lalu beliau shalat di atasnya dan kami berbaris
di belakang beliau. (Diriwayatkan oleh Ahmad 3/119).
Maka,
dengan membawa anak ke majelis orang dewasa, akan tampak kekurangan dan
kebutuhannya, sehingga pendidik saat itu dapat mengarahkannya menuju
kesempurnaan. Pendidik juga bisa mendorongnya untuk menjawab ketika diajukan
sebuah pertanyaan, sehingga ia berbicara setelah meminta izin dengan segala
adab dan ketenangan. Ia berbicara dengan mereka, sehingga akalnya berkembang
dan jiwanya terdidik. Ia pun mulai mengenal pembicaraan orang dewasa sedikit
demi sedikit sehingga ia siap untuk terjun ke masyarakat. Demikianlah ia
bertahap setahap demi setahap.
Oleh
karena itu, masa kecil tokoh-tokoh masyhur dalam Islam dan interaksi mereka
dengan para ulama memiliki andil dalam kejeniusan mereka.
Masa
Kecil Imam Abu Yusuf, Sahabat Imam Abu Hanifah رضي الله عنه:
Abu
Yusuf berkata: "Dahulu aku menuntut ilmu hadis dan fikih dalam keadaan
fakir dan memprihatinkan. Suatu hari ayahku datang saat aku berada di sisi Abu
Hanifah, lalu aku pulang bersamanya. Ayahku berkata: 'Wahai anakku, janganlah
engkau memanjangkan kakimu (menghabiskan waktu) bersama Abu Hanifah, karena Abu
Hanifah rotinya sudah terpanggang (sudah kaya), sedangkan engkau butuh mencari
penghidupan.' Maka aku pun mengurangi kegiatan menuntut ilmu dan lebih
mendahulukan ketaatan kepada ayahku.
Lalu
Abu Hanifah merasa kehilangan dan menanyakanku. Aku pun berusaha kembali
mendatangi majelisnya. Pada hari pertama aku datang setelah lama absen, beliau
bertanya kepadaku: 'Apa yang menyibukkanmu dari kami?' Aku menjawab: 'Kesibukan
mencari nafkah dan ketaatan kepada ayahku.' Aku pun duduk, dan ketika
orang-orang telah bubar, beliau menyerahkan sebuah kantong kepadaku dan
berkata: 'Gunakanlah ini.' Aku melihat ternyata di dalamnya ada seratus dirham.
Beliau berkata kepadaku: 'Tetaplah berada di lingkaran (majelis) ini, dan jika
uang ini habis, beritahukan aku.'
Maka
aku terus mengikuti majelis tersebut. Selang waktu yang tidak lama, beliau
memberiku seratus dirham lagi. Beliau selalu memperhatikan keadaanku; aku tidak
pernah mengenalnya sebagai orang bakhil sama sekali, dan aku tidak pernah
memberitahunya jika uangku habis, namun beliau seolah-olah sudah tahu kapan
uang itu habis, sampai akhirnya aku menjadi berkecukupan dan memiliki
harta."
Dan
terdapat riwayat kedua mengenai masa tumbuh kembang Imam Abu Yusuf:
Ali
bin al-Ja'd berkata: Abu Yusuf menceritakan kepadaku, ia berkata: "Ayahku,
Ibrahim bin Habib, wafat dan meninggalkanku dalam keadaan kecil di bawah asuhan
ibuku. Ibuku lalu menyerahkanku kepada seorang tukang cuci kain (qashshar)
agar aku membantunya. Namun, aku sering meninggalkan tukang cuci itu dan pergi
ke halakah Abu Hanifah untuk duduk mendengarkan. Ibuku sering datang mencariku
ke halakah tersebut, lalu menarik tanganku dan membawaku kembali ke tukang
cuci. Abu Hanifah menaruh perhatian kepadaku karena melihat kehadiran dan
kesungguhanku dalam belajar. Ketika hal itu dirasa berat bagi ibuku dan
pelarianku sudah berlangsung lama, ia berkata kepada Abu Hanifah: 'Tidak ada
yang merusak anak ini kecuali engkau! Dia adalah anak yatim yang tidak punya
apa-apa, aku memberinya makan dari hasil pintalanku, dan aku berharap dia bisa
menghasilkan satu daniq (satuan mata uang kecil) untuk mencukupi dirinya
sendiri.' Abu Hanifah berkata kepadanya: 'Diamlah wahai wanita dungu, dia saat
ini sedang belajar untuk bisa makan faludhaj (makanan manis mewah)
dengan minyak kacang pistachio.' Ibuku berpaling darinya sambil berkata:
'Engkau adalah orang tua yang sudah pikun dan telah hilang akalmu'."
Abu
Yusuf berkata: "Kemudian aku terus menyertai Abu Hanifah dan beliau selalu
membantuku dengan hartanya. Beliau tidak membiarkan aku dalam kekurangan
sedikit pun, hingga Allah memberiku manfaat melalui ilmu dan mengangkat
derajatku sampai aku menjabat sebagai Qadhi (hakim). Aku sering duduk bersama
Harun al-Rasyid dan makan bersamanya di meja makannya. Pada suatu hari,
dihidangkanlah faludhaj kepada Harun al-Rasyid, lalu Harun berkata
kepadaku: 'Wahai Ya'qub, makanlah ini, karena tidak setiap hari hidangan
seperti ini dibuatkan untuk kita.' Aku bertanya: 'Apa ini wahai Amirul
Mukminin?' Beliau menjawab: 'Ini adalah faludhaj dengan minyak
pistachio.' Maka aku pun tertawa. Beliau bertanya: 'Apa yang membuatmu
tertawa?' Aku menjawab: 'Kebaikan, semoga Allah mengekalkan Amirul Mukminin.'
Beliau berkata: 'Engkau harus memberitahuku,' dan beliau mendesakku. Maka aku
ceritakan kisah itu dari awal hingga akhir. Beliau takjub dengan hal itu dan
berkata: 'Demi umurku, sesungguhnya ilmu itu benar-benar mengangkat derajat dan
memberi manfaat baik secara agama maupun dunia.' Beliau pun mendoakan rahmat
untuk Abu Hanifah dan berkata: 'Beliau melihat dengan mata akalnya apa yang
tidak bisa dilihat orang lain dengan mata kepalanya'." ([1])
Masa
Kecil Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani dalam Menuntut Ilmu:
Al-Khathib
meriwayatkan dengan sanadnya sampai ke Mujasyi' bin Yusuf, ia berkata:
"Aku berada di Madinah di sisi Malik (Imam Malik) saat beliau sedang
memberikan fatwa kepada orang-orang. Lalu masuklah Muhammad bin al-Hasan,
sahabat Abu Hanifah, dalam keadaan ia masih muda, yaitu sebelum ia melakukan
perjalanan kepada Malik untuk mendengarkan kitab al-Muwaththa' darinya.
Muhammad bertanya:
'Apa
pendapatmu mengenai orang yang junub namun tidak menemukan air kecuali di dalam
masjid?' Malik menjawab: 'Orang junub tidak boleh masuk masjid.' Muhammad
bertanya: 'Lalu apa yang harus ia lakukan padahal waktu salat telah tiba dan ia
melihat air (di dalam masjid)?' Malik pun terus mengulang: 'Orang junub tidak
boleh masuk masjid.' Ketika Muhammad terus mendesaknya, Malik berkata
kepadanya: 'Lalu apa pendapatmu mengenai hal ini?' Muhammad menjawab: 'Ia
bertayamum lalu masuk dan mengambil air dari masjid, kemudian keluar dan
mandi.' Malik bertanya: 'Dari mana asalmu?' Muhammad menjawab: 'Dari penduduk
ini,' sambil menunjuk ke arah bumi (tanah), lalu ia bangkit berdiri.
Orang-orang bertanya: 'Ini Muhammad bin al-Hasan, bagaimana mungkin ia
berbohong? Ia tadi menyebutkan bahwa ia penduduk Madinah?' Malik menjawab: 'Dia
tadi hanya berkata dari penduduk ini sambil menunjuk ke bumi.' Malik
lalu berkata: 'Pertanyaannya ini lebih berat bagiku daripada hal itu
(identitasnya)'." ([2])
2.
Mengenalkan manusia kepada Tuhannya dengan pengenalan yang berdiri di atas
landasan kesadaran dan pemahaman yang benar, guna membangkitkan hubungan yang
sehat antara manusia dengan Penciptanya, serta membentuk pemahaman iman yang
orisinal yang berkontribusi dalam membangun kepribadian individu dan
membangkitkan gambaran yang benar tentang kehidupan dunia dan akhirat.
Oleh
karena itu, Rasulullah ﷺ
mengajarkan kepada anak-anak kaum muslimin tentang takwa kepada Allah dan
menjaga batasan-batasan Allah Ta'ala. Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata:
"Suatu hari aku berada di belakang Nabi ﷺ, lalu beliau bersabda: 'Wahai nak,
sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah
niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya
di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau
memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika
umat manusia bersatu untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat
memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan
jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan
dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.
Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering'."
Dalam
sebuah riwayat disebutkan: "Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama
kesabaran, kelapangan itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama
kesulitan itu ada kemudahan."
Maka,
apabila seorang anak menghafal hadis ini dan memahaminya dengan baik, tidak
akan ada rintangan yang menghalanginya dan tidak ada sesuatu pun yang
menghambat perjalanan seluruh hidupnya. Pendidikan manakah—baik lama maupun
baru—yang mampu merasuk ke dalam jiwa anak sebagaimana hadis ini merasukinya?
Sesungguhnya
hadis ini memiliki kekuatan besar untuk menyelesaikan masalah-masalah anak
berkat pengaruh dan spiritualitasnya. Ia memiliki kemampuan untuk mendorong
anak maju ke depan berkat permohonan tolongnya kepada Allah, pengawasannya
terhadap-Nya, serta imannya kepada qadha dan qadar. Anak-anak para sahabat
telah menerima arahan nabawi ini; mereka memohon pertolongan kepada Allah atas
takdir-Nya yang menimpa mereka, meminta kepada Allah ketika musibah turun,
meyakini bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah, serta
beriman bahwa kelapangan itu bersama kesempitan dan kemudahan bersama
kesulitan. Mereka juga mengetahui bahwa Allah mengawasi manusia, melihatnya,
dan menghitung apa yang dilakukannya.
Dahulu
Ibnu Umar sedang dalam perjalanan, lalu ia melihat seorang budak penggembala
kambing. Beliau berkata kepadanya: "Maukah engkau menjual satu ekor dari
kambing ini?" Budak itu menjawab: "Kambing ini bukan milikku."
Ibnu Umar berkata: "Katakanlah kepada pemiliknya bahwa serigala telah
memakan satu ekor." Budak itu menjawab: "Maka di manakah Allah?"
Setelah kejadian itu, Ibnu Umar selama beberapa waktu terus mengulang-ulang
perkataan budak tersebut: "Maka di manakah Allah?" ([3])
Ada
seorang Syekh yang memiliki beberapa murid, namun beliau mengistimewakan salah
satu dari mereka dengan perhatian yang lebih daripada yang lain. Murid-murid
lain menanyakan hal itu kepadanya. Maka Syekh itu berkata: "Aku akan
jelaskan kepada kalian." Beliau lalu memberikan seekor burung kepada
setiap muridnya dan berkata: "Sembelihlah burung ini di tempat yang tidak
dilihat oleh siapa pun." Beliau juga memberikan hal yang sama kepada murid
kesayangannya itu. Mereka pun pergi, lalu masing-masing kembali dalam keadaan
telah menyembelih burungnya, sedangkan murid kesayangan itu membawa burungnya
dalam keadaan hidup. Syekh bertanya: "Mengapa engkau tidak
menyembelihnya?" Ia menjawab: "Engkau memerintahkanku untuk
menyembelihnya di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun, sedangkan aku tidak
menemukan satu tempat pun di mana Allah tidak melihatku di sana." Syekh
pun berkata: "Karena inilah aku mengistimewakan dia dengan
perhatianku."
([1])
Dari buku Sifat min Shabr al-'Ulama.
([2])
Bulugh al-Amani fi Sirat al-Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani karya
Syekh Zahid al-Kautsari rahimahullah, hal. 12.
([3])
Al-Risalah al-Qusyairiyyah hal. 137.
Imam
Al-Ghazali dalam kitab Ihya'-nya ([1]) menyebutkan sebuah kisah yang
lembut, beliau berkata:
Sahl
bin Abdullah At-Tustari bercerita: "Ketika aku berusia tiga tahun, aku
sering bangun di malam hari, lalu aku memperhatikan salat pamanku (dari pihak
ibu), Muhammad bin Sawwar. Suatu hari ia berkata kepadaku: 'Tidakkah engkau
mengingat Allah yang telah menciptakanmu?' Aku bertanya: 'Bagaimana caranya?'
Ia menjawab: 'Ucapkanlah di dalam hatimu saat engkau berganti pakaian (hendak
tidur) sebanyak tiga kali tanpa menggerakkan lidahmu: Allah bersamaku; Allah
melihatku; Allah menyaksikanku.' Aku mengucapkan hal itu selama beberapa
malam, lalu aku memberitahunya. Ia berkata: 'Ucapkanlah setiap malam sebanyak
tujuh kali.' Aku melakukannya lalu memberitahunya lagi. Ia berkata: 'Ucapkanlah
setiap malam sebelas kali.' Aku pun mengucapkannya, hingga terasa manisnya di
dalam hatiku. Setelah satu tahun berlalu, pamanku berkata: 'Jagalah apa yang
telah aku ajarkan kepadamu, dan dawamkanlah (rutinkan) sampai engkau masuk
liang kubur, karena hal itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.' Aku senantiasa
melakukan hal itu selama bertahun-tahun, hingga aku menemukan manisnya dalam
rahasiaku (batin). Kemudian suatu hari pamanku berkata kepadaku: 'Wahai Sahl,
barang siapa yang Allah bersamanya, melihatnya, dan menyaksikannya, apakah ia
akan bermaksiat kepada-Nya? Jauhilah maksiat!' Aku sering menyendiri, lalu
mereka mengirimku ke sekolah (maktab). Aku berkata: 'Sesungguhnya aku khawatir
konsentrasiku akan terpecah, namun buatlah syarat kepada guru bahwa aku akan
mendatanginya sebentar saja untuk belajar kemudian pulang.' Maka aku pergi ke kuttab
(tempat belajar Al-Qur'an), lalu aku belajar Al-Qur'an dan menghafalnya saat
aku berusia enam atau tujuh tahun. Aku juga berpuasa sepanjang tahun, dan
makananku hanyalah roti gandum selama dua belas tahun."
3-
Mendidik perasaan cinta, kasih sayang, dan empati, serta memperkuat perasaan
terhadap konsep kebaikan untuk membentuk rasa kemanusiaan yang baik yang
membuat anak mampu bersikap positif.
Di
mana emosi membentuk ruang yang luas dalam jiwa anak yang sedang tumbuh, emosi
tersebut membentuk jiwanya dan membangun kepribadiannya. Jika ia mendapatkannya
secara seimbang, ia akan menjadi manusia yang normal di masa depannya dan
sepanjang hidupnya. Namun, jika ia mendapatkannya secara tidak seimbang—baik
berlebihan maupun kekurangan—akan terbentuk pada dirinya trauma atau ikatan
psikologis yang berakibat buruk. Berlebihan (dalam kasih sayang) akan
membuatnya manja sehingga tidak mampu memikul beban hidup dengan serius dan
aktif. Sedangkan kekurangan (kasih sayang) akan membuatnya menjadi manusia yang
keras dan kasar terhadap semua orang di sekitarnya.
Oleh
karena itu, pembangunan emosi memiliki kepentingan khusus dalam membangun jiwa
dan struktur anak. Dalam pembangunan ini, kedua orang tua memainkan peran
terbesar, karena merekalah sumber utama dari pancaran emosi yang membangun jiwa
anak. Mereka adalah pilar bijak tempat anak berlindung untuk menikmati
hangatnya emosi serta nikmatnya ayah dan ibu. Oleh sebab itu, kita dapati di
akhir pasal ini perhatian yang besar terhadap dua jenis anak yang sering kali
kedua orang tua atau salah satunya kurang memberikan kasih sayang kepada
mereka, yaitu: anak perempuan dan anak yatim. Mengingat perhatian
Rasulullah ﷺ
terhadap anak-anak, beliau memberikan perhatian dan kedudukan khusus kepada
keduanya. Maka, alangkah indahnya jika masyarakat muslim menjalankan peran
sebagai ayah bagi anak yatim ini, dan alangkah indahnya jika kedua orang tua
memperhatikan pendidikan anak perempuan, merawatnya, dan menyetarakannya dengan
saudara laki-lakinya.
Muncul
pertanyaan: Bagaimana kita membangun emosi anak? Dan menunaikan haknya agar ia
menjadi manusia yang normal di masa depannya? Untuk menjawab pertanyaan ini,
berikut adalah tinjauan dalam hadis-hadis nabawi yang mulia dan penggalian atas
enam landasan ini yang dengan menerapkannya, kita berjalan di atas hidayah dan
cahaya yang terang:
Landasan
Emosional Pertama — Ciuman, Kelembutan, dan Rahmat bagi Anak-anak:
Sesungguhnya
ciuman (kasih sayang) memiliki peran efektif dalam menggerakkan perasaan dan
emosi anak. Ciuman juga memiliki peran besar dalam menenangkan gejolak dan
kemarahannya, di samping adanya perasaan keterikatan yang erat dalam membangun
hubungan cinta antara orang dewasa dan anak kecil. Hal itu merupakan bukti
rahmat di dalam hati dan sanubari bagi anak yang tengah tumbuh ini, bukti
kerendahhatian orang dewasa terhadap anak kecil, dan merupakan cahaya terang
yang memukau sanubari anak, melapangkan jiwanya, serta meningkatkan
interaksinya dengan orang di sekitarnya. Terlebih lagi, ini adalah sunnah yang
tetap dari Al-Musthafa ﷺ
terhadap anak-anak.
Al-Bukhari
dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: "Beberapa orang Arab
Badui datang menemui Rasulullah ﷺ lalu mereka bertanya: 'Apakah kalian mencium anak-anak
laki-laki kalian?' Rasulullah menjawab: 'Ya.' Mereka berkata: 'Tetapi kami,
demi Allah, tidak pernah mencium mereka.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Apa dayaku
jika Allah telah mencabut rahmat dari hati kalian?'"
Al-Bukhari
dan Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:
"Nabi ﷺ
mencium Hasan bin Ali رضي الله
عنهما, lalu Al-Aqra' bin Habis berkata: 'Sesungguhnya aku memiliki
sepuluh orang anak, tidak pernah satu pun dari mereka aku cium.' Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda: 'Barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan
disayangi.'"
Ibnu
Asakir meriwayatkan dari Anas رضي الله
عنه, ia berkata: "Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling penyayang
terhadap anak-anak dan keluarga."
Sesungguhnya
menyayangi anak-anak dan berbelas kasih kepada mereka adalah salah satu sifat
dari sifat-sifat kenabian Muhammad, dan merupakan jalan untuk masuk surga serta
meraih ridha Allah Ta'ala.
Al-Bukhari
meriwayatkan dari Anas رضي الله
عنه, ia berkata: "Seorang wanita datang kepada Aisyah رضي الله عنها, lalu Aisyah
memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberikan kepada setiap anaknya
masing-masing satu butir kurma, dan ia memegang satu butir untuk dirinya
sendiri. Kedua anaknya memakan kedua kurma tersebut lalu mereka melihat ke arah
ibunya (masih lapar). Maka sang ibu mengambil satu butir kurma miliknya tadi,
membelahnya, lalu memberikan kepada setiap anaknya masing-masing setengah butir
kurma. Kemudian Nabi ﷺ
datang dan Aisyah memberitahukan hal itu. Beliau ﷺ bersabda: 'Apa yang membuatmu takjub dari
hal itu? Sungguh Allah telah merahmatinya karena rahmatnya (kasih sayangnya)
kepada kedua anaknya.'"
Di
antara bentuk rahmat Rasulullah ﷺ terhadap anak-anak adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dari Anas رضي الله
عنه: "Sesungguhnya aku masuk ke dalam salat dan aku ingin
memanjangkannya, namun aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun mempercepat
salatku karena aku mengetahui betapa sedihnya hati ibunya karena
tangisannya." (Diriwayatkan oleh lima imam hadis kecuali Abu Daud).
([1])
3/72, dan lihat kitab Abna' Nujaba' al-Abna' hal. 144 karya Ibnu Zhufar
Al-Makki.
Dari
Abu Qatadah رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ "pernah
mengimami orang-orang dalam keadaan beliau menggendong Umamah binti Zainab
binti Rasulullah ﷺ.
Apabila beliau sujud, beliau meletakkannya, dan apabila beliau berdiri, beliau
menggendongnya." (Dikeluarkan oleh enam imam hadis kecuali
At-Tirmidzi).
Sungguh
hati akan merasa takjub ketika melihat atau mendengar anak kecil mengajarkan
para orang tua tentang kasih sayang kepada hewan dan mengingatkan mereka akan
rahmat Allah kepada mereka. Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan dalam tafsirnya
([1]) bahwa ada seorang nelayan yang sedang menangkap ikan, lalu ia berhasil
menangkap seekor ikan. Ia memiliki seorang putri kecil, lalu putri kecilnya
mengambil ikan tersebut dan melemparkannya kembali ke dalam air seraya berkata:
"Ikan ini tidak akan terjatuh ke dalam jaring kecuali karena
kelalaiannya." Fakhruddin Ar-Razi berkata mengomentari hal ini:
"Wahai
Tuhan kami, anak kecil itu telah mengasihani kelalaian ikan tersebut dan ia
melemparkannya kembali ke laut. Sedangkan kami, sungguh waswas Iblis telah
menangkap kami dan mengeluarkan kami dari laut rahmat-Mu, maka rahmatilah kami
dengan karunia-Mu, selamatkanlah kami darinya, dan lemparkanlah kami kembali ke
dalam lautan rahmat-Mu sekali lagi." ([2])
Di
antara bentuk kasih sayang para ibu kepada anak-anaknya adalah apa yang
dikabarkan oleh Rasulullah ﷺ
melalui gambaran menakjubkan ini, yang memiliki indikasi meledaknya rasa kasih
sayang dari hati seorang ibu terhadap anaknya.
Duhai,
andai setiap ibu mencurahkan kasih sayang seperti ini kepada bayinya:
Imam
Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dalam kedua Shahih mereka, serta
An-Nasa'i, meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Pernah ada dua orang wanita bersama kedua putra mereka,
tiba-tiba datang seekor serigala lalu membawa lari salah satu anak mereka.
Keduanya kemudian meminta keputusan hukum kepada Nabi Daud, lalu beliau
memutuskan (anak yang tersisa) adalah milik wanita yang lebih tua. Keduanya
kemudian keluar, lalu Nabi Sulaiman memanggil mereka dan berkata: 'Bawa kemari
sebilah pisau (untuk membelah anak itu menjadi dua).' Wanita yang lebih muda
berkata: 'Semoga Allah merahmatimu, anak itu adalah miliknya (wanita yang lebih
tua), janganlah engkau membelahnya.' Maka Nabi Sulaiman pun memutuskan bahwa
anak itu adalah milik wanita yang lebih muda."
Dalam
kisah ini, Anda juga dapat memperhatikan kerasnya hati ibu yang lebih tua;
serigala telah mencuri anaknya namun ia tidak menunjukkan kesedihan atasnya,
bahkan ia menunjukkan kekerasan hati yang tidak terbayangkan oleh akal
laki-laki sekalipun, apalagi hati seorang wanita. Ia tega mencuri anak temannya
sendiri. Karena tidak masuk akal jika kedua anak itu benar-benar mirip secara
identik, sebagaimana tidak masuk akal jika seorang ibu tidak mampu membedakan
anaknya sendiri di antara dua anak. Maka hadis ini menunjukkan kerasnya hati
ibu yang lebih tua dan kasih sayang hati ibu yang lebih muda.
Landasan
Emosional Kedua — Mencandai dan Bergurau dengan Anak-anak:
Kita
akan hidup bersama dengan sekelompok hadis nabawi yang mulia, kita mengambil
darinya pelajaran praktis dari Rasulullah ﷺ dalam mencandai anak-anak; terkadang
dengan berlarian, terkadang dengan menggendong, terkadang dengan mengecilkan
nama panggilan (tasghir), dan terkadang dengan membuat mereka tertawa,
serta cara lainnya.
Perbuatan-perbuatan
ini, jika tidak dilakukan oleh orang tua sebagai kewajiban pendidikan, maka
mereka tetap dituntut untuk melakukannya sebagai bentuk meneladani Rasulullah ﷺ. Thabrani
meriwayatkan dari Jabir رضي الله
عنه, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ lalu kami diundang
untuk makan, tiba-tiba (kami melihat) Husain sedang bermain di jalan bersama
anak-anak. Nabi ﷺ
segera maju mendahului rombongan kemudian membentangkan kedua tangannya. Husain
mulai lari menghindar ke sana kemari sementara Rasulullah ﷺ mencandainya hingga
beliau menangkapnya. Beliau meletakkan salah satu tangannya pada dagu Husain
dan tangan lainnya di antara kepala dan telinganya, kemudian beliau memeluk dan
menciumnya, lalu bersabda: "Husain adalah bagian dariku dan aku bagian
darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Hasan dan Husain. Hasan dan
Husain adalah dua cucu di antara cucu-cucu (para Nabi)." ([3])
Al-Bukhari
dalam Adabul Mufrad dan Thabrani meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Kedua
telingaku ini mendengar dan kedua mataku ini melihat Rasulullah ﷺ memegang dengan kedua
tangannya telapak tangan Hasan atau Husain, sementara kedua kaki anak itu
berada di atas kedua kaki Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ
bersabda: "Naiklah." Maka anak itu naik hingga ia meletakkan
kedua kakinya di atas dada Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukalah
mulutmu," lalu beliau menciumnya dan berdoa: "Ya Allah,
cintailah dia, karena sesungguhnya aku mencintainya." Dalam kitab Al-Ishabah
disebutkan tambahan: "khuzaqah khuzaqah, tarqa 'ain baqqah".
Dalam kitab An-Nihayah karya Ibnu Atsir disebutkan: "Di dalamnya
diceritakan bahwa beliau ﷺ
menimang-nimang Hasan atau Husain sambil berucap: huzuqah huzuqah tarqa 'ain
baqqah—hingga anak itu naik dan meletakkan kedua kakinya di atas dada
beliau." Al-khuzaqah atau al-huzuqah artinya orang yang
lemah dan langkah kakinya pendek karena kelemahannya, ada pula yang mengatakan
artinya orang yang pendek dan berperut besar; beliau menyebutkan itu dalam
konteks candaan dan menghibur anak tersebut. Tarqa artinya naiklah, dan 'ain
baqqah (mata nyamuk) adalah kiasan untuk mata yang kecil. ([4])
Al-Bukhari,
Muslim, Tirmidzi, dan Abu Daud meriwayatkan dari Anas رضي الله عنه, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ
adalah manusia dengan akhlak yang paling baik. Aku memiliki seorang saudara
laki-laki yang dipanggil Abu 'Umair—saat itu ia baru saja disapih. Apabila
Rasulullah datang kepada kami, beliau bersabda: 'Wahai Abu 'Umair, apa yang
sedang dilakukan oleh an-nughair (burung kecil)?'—yaitu burung kecil yang
biasa ia gunakan bermain."
Dalam
riwayat Ahmad (3/188 dan 201, 212) dari Anas رضي الله عنه disebutkan bahwa Nabi
ﷺ pernah masuk menemui
Ummu Sulaim yang memiliki seorang putra dari Abu Thalhah yang dipanggil Abu
'Umair. Beliau biasa mencandainya. Suatu ketika beliau masuk menemuinya dan
melihat anak itu sedang bersedih, beliau bertanya: "Mengapa aku melihat
Abu 'Umair bersedih?" Mereka menjawab: "Burung kecil (nughair)
yang biasa ia gunakan bermain telah mati." Maka beliau mulai berucap: "Wahai
Abu 'Umair, apa yang sedang dilakukan oleh an-nughair?"
Telah
disebutkan sebelumnya perkataan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Al-Fath bahwa
hadis ini mengandung kebolehan bercanda dan mengulang-ulang candaan, dan bahwa
hal tersebut merupakan kesunnahan yang diperbolehkan bukan sekadar keringanan (rukhshah).
Juga boleh mencandai anak kecil yang belum tamyiz, serta mengulang-ulang
kunjungan kepada orang yang diajak bercanda. Di dalamnya juga terdapat
pelajaran untuk meninggalkan sikap sombong dan merasa tinggi, serta perbedaan
kondisi antara orang dewasa saat di jalan (harus berwibawa) atau saat di rumah
(boleh bercanda).
([1])
Shahih. Lihat Shahihul Jami' No. 4797, diriwayatkan oleh Muslim dan Abu
Syaikh.
([2])
Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 1/283 dan 2/41.
([3])
Hasan, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab, Tirmidzi, Ibnu Majah,
dan Al-Hakim. Lihat Shahihul Jami' No. 2146.
([4])
Lihat kitab "Sayyiduna Muhammad Rasulullah" karya Syekh
Abdullah Sirajuddin hal. 157.
At-Tirmidzi
dan Abu Daud meriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda (kepadanya):
"Wahai pemilik dua telinga," maksudnya beliau sedang
mencandainya.
At-Tirmidzi
meriwayatkan dan ia berkata ini adalah hadis gharib, dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah
ﷺ
memberiku nama julukan (kunyah) dengan nama sejenis sayuran yang aku
petik." ([1])
Al-Bukhari
meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله
عنهما, ia berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Mekah, beliau
disambut oleh anak-anak kecil dari Bani Al-Muththalib, lalu beliau menggendong
salah satu dari mereka di depan beliau dan yang lainnya di belakang
beliau."
Al-Bukhari
meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله
عنهما bahwa Usamah (bin Zaid) pernah berboncengan di belakang Nabi ﷺ dari Arafah menuju
Muzdalifah, kemudian beliau memboncengkan Al-Fadhl (bin Abbas) dari Muzdalifah
menuju Mina. Keduanya berkata: "Nabi ﷺ senantiasa bertalbiyah hingga beliau
melontar Jamrah Aqabah."
Dari
Abdullah bin Syaddad, ia berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ sedang mengimami
orang-orang dalam salat, tiba-tiba Husain datang lalu menunggangi leher beliau
saat beliau sedang sujud. Beliau pun memperlama sujudnya di hadapan orang-orang
hingga mereka mengira telah terjadi sesuatu. Ketika beliau menyelesaikan salatnya,
mereka bertanya: 'Wahai Rasulullah, engkau memperlama sujud hingga kami mengira
telah terjadi sesuatu.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya anakku ini telah
menjadikanku sebagai tunggangannya, dan aku tidak suka menyegerakannya (turun)
sampai ia menyelesaikan hajatnya (puas bermain).'"
Al-Iraqi
berkata ([2]) hadis ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Hakim, dan Al-Hakim
berkata: "Shahih sesuai syarat Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim)."
Para
sahabat رضي الله
عنهم meneladani Rasulullah ﷺ dalam hal ini; mereka bersegera mencandai
dan menggendong anak-anak mereka, turun ke tingkatan (dunia) mereka,
berperilaku seperti anak kecil di depan mereka, dan mengajak mereka bermain.
Ad-Dailami
dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Sufyan, ia berkata: "Aku masuk
menemui Muawiyah yang sedang berbaring terlentang, sementara di atas dadanya
ada seorang bayi laki-laki atau perempuan yang sedang diajaknya bercanda
(mengeluarkan suara-suara lucu). Aku berkata: 'Jauhkanlah ini darimu wahai
Amirul Mukminin.' Muawiyah menjawab: 'Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Barang
siapa yang memiliki anak kecil (bayi), maka hendaklah ia berperilaku seperti
anak kecil (bermain-main) untuknya.'" ([3])
Umar
رضي الله عنه berkata ([4]): "Seyogianya
seorang laki-laki di tengah keluarganya menjadi seperti anak kecil—yakni dalam
hal kehangatan, keceriaan, keluwesan akhlak, dan canda tawa bersama
anak-anaknya—namun jika dicari apa yang ada pada dirinya (saat dibutuhkan untuk
urusan serius), ia akan ditemukan sebagai seorang lelaki sejati."
Bahkan Umar رضي الله
عنه pernah mencopot salah satu gubernurnya dari jabatannya karena
ia menemukan bukti nyata tentang kerasnya hati sang gubernur terhadap
anak-anaknya. Dari Muhammad bin Salam, ia berkata: "Umar bin
Al-Khaththab رضي الله
عنه menugaskan seseorang untuk suatu pekerjaan (jabatan), lalu
orang tersebut melihat Umar mencium salah satu putranya. Orang itu berkata:
'Engkau menciumnya padahal engkau adalah Amirul Mukminin? Seandainya aku, aku
tidak akan melakukannya.' Umar berkata: 'Apa salahku jika Allah telah mencabut
rahmat dari hatimu! Sesungguhnya Allah tidak merahmati hamba-hamba-Nya kecuali
orang-orang yang penyayang.' Lalu Umar mencopotnya dari jabatannya seraya
berkata: 'Engkau saja tidak menyayangi anakmu sendiri, maka bagaimana engkau
akan menyayangi rakyat?'" ([5])
Dengan
candaan, permainan, sikap ramah, dan meniru dunia anak-anak inilah interaksi
Rasulullah ﷺ
terhadap anak-anak dilakukan, di mana beliau memberi nutrisi bagi jiwa mereka
dengan emosi yang jujur dan baik, jauh dari sikap kaku, keras, dan pengabaian
terhadap hak-hak anak.
Landasan
Emosional Ketiga — Hadiah dan Pemberian untuk Anak-anak:
Hadiah
memiliki pengaruh yang baik dalam jiwa manusia secara umum, dan pada jiwa
anak-anak pengaruhnya lebih kuat serta dampaknya lebih besar. Rasulullah ﷺ telah menetapkan
kaidah cinta di antara manusia, beliau menasihati umat dengan sabdanya: "Saling
memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." Ini adalah
undang-undang yang bersifat umum.
Rasulullah
ﷺ telah menjelaskan
kepada kita secara praktis pilar yang kuat ini dalam membangun emosi anak,
menggerakkannya, mengarahkannya, serta mendidiknya.
Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ biasanya jika dibawakan hasil buah-buahan
pertama (panen awal), beliau berdoa: "Ya Allah, berkahilah kami pada
kota kami, pada buah-buahan kami, pada mud kami, dan pada sha' kami, berkah di
atas berkah," kemudian beliau memberikannya kepada anak kecil paling
muda yang hadir di hadapan beliau.
Thabrani
meriwayatkan dari Ishaq bin Yahya bin Thalhah, ia berkata: "Aku pernah
bersama pamanku, Isa bin Thalhah, di masjid, lalu masuklah As-Sa'ib bin Yazid.
Pamanku mengutusku menemuinya dan berkata: 'Pergilah kepada Syekh itu dan
katakan kepadanya: Pamanku Isa bin Thalhah bertanya kepadamu: Apakah engkau
pernah melihat Rasulullah ﷺ?' Aku pun mendatanginya dan bertanya hal itu. Ia menjawab: 'Ya,
aku melihat Rasulullah ﷺ.
Aku pernah masuk menemui beliau bersama anak-anak sebayaku, kami dapati beliau
sedang makan kurma di sebuah wadah anyaman bersama beberapa sahabatnya. Beliau
mengambil segenggam kurma untuk kami dan mengusap kepala kami.'"
Abu
Daud meriwayatkan dari Aisyah رضي الله
عنها, ia berkata: "Pernah datang hadiah-hadiah dari Najasyi
(Raja Ethiopia) yang di antaranya terdapat sebuah perhiasan (cincin atau
kalung) dari Habasyah. Rasulullah ﷺ mengambilnya dengan sebatang kayu atau
dengan sebagian jarinya dengan sikap segan (zuhud) terhadapnya, kemudian beliau
memanggil Umamah binti Abil 'Ash dari putrinya (Zainab), lalu beliau bersabda:
'Berhiaslah dengan ini, wahai putriku.'"
([1])
Sanadnya lemah. Lihat Jami'ul Ushul 9/91, tahqiq Al-Arna'uth.
([2])
Dalam Ihya' Ulumiddin.
([3])
Lemah. Lihat Dha'iful Jami' No. 5812.
([4])
Kanzul 'Ummal 16/573, diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya, Ad-Dinawari,
dan Abdurrazzaq dalam Al-Jami'.
([5])
Kanzul 'Ummal 165/583, diriwayatkan oleh Ad-Dinawari.
Landasan
Emosional Keempat — Mengusap Kepala Anak:
Engkau
telah memperhatikan pada hadis sebelum yang terakhir, bagaimana Nabi ﷺ mencurahkan kasih
sayang kepada emosi anak-anak dengan mengusap kepala mereka, sehingga mereka
merasakan lezatnya rahmat, kelembutan, cinta, dan kasih sayang. Hal ini membuat
anak merasa keberadaannya diakui, merasa dicintai oleh orang dewasa, dan diperhatikan.
Demikian pula, sudah sepatutnya mendekatkan diri kepada anak dan membuatnya
merasa berharga dengan cara seperti:
- Menyambut anak dengan baik.
- Memperhatikan kondisinya dan
menanyakan kabarnya.
- Memberikan perhatian khusus
kepada anak-anak yang lemah, yatim, dan yang membutuhkan, dan lain
sebagainya.
4.
Menciptakan pemikiran islami dan bakat yang cemerlang yang menguasai berbagai
hal serta mendalami ilmu pengetahuan dengan metodologi yang mengantarkan pada
kreativitas intelektual, ilmiah, dan peradaban, tanpa beban atau paksaan yang
berlebihan, sehingga hal itu menjadi tabiat jiwa dan gaya hidup.
Di
hadapan kita terdapat sejumlah tokoh luar biasa yang mampu menaklukkan
kesulitan dan menganggap manis perjuangan dalam menuntut ilmu. Mereka tidak
terhalang oleh kemiskinan atau kebutuhan, tidak terpedaya oleh syahwat, dan
tidak teralihkan oleh harta maupun jabatan, padahal saat itu mereka masih
anak-anak yang mungkin saja tertipu oleh hal-hal sepele sebagaimana anak-anak
sebaya mereka tertipu.
Masa
Kecil Imam Ibnu al-Jauzi رضي الله عنه dalam Menuntut Ilmu:
Imam
Ibnu al-Jauzi bercerita tentang kesulitan yang ia alami di awal masa menuntut
ilmu dan tentang pujian atas kesabarannya menghadapi kesulitan tersebut:
"Sungguh,
di tengah manisnya aku menuntut ilmu, aku menjumpai kesulitan-kesulitan yang
bagiku lebih manis daripada madu, demi apa yang kucari dan kuharapkan. Di masa
kanak-kanak, aku membawa beberapa potong roti kering lalu keluar untuk mencari
hadis. Aku duduk di tepi sungai 'Isa (di Bagdad), dan aku tidak mampu memakan
roti itu kecuali dengan bantuan air. Setiap kali aku memakan satu suap, aku
meminum air setelahnya. Namun, mata ambisiku tidak melihat kecuali kelezatan
dalam meraih ilmu. Hal itu membuahkan hasil bagiku sehingga aku dikenal karena
banyaknya mendengarkan hadis Rasulullah ﷺ, mempelajari keadaan beliau, adab beliau,
serta keadaan para sahabat dan tabi'in mereka."
Beliau
juga berkata: "Aku tidak puas dengan satu bidang ilmu saja, bahkan aku
mendengarkan ilmu fikih, hadis, dan mengikuti jejak para zahid (orang-orang
zuhud). Kemudian aku belajar ilmu bahasa, dan tidaklah aku melewatkan seorang
pun yang meriwayatkan hadis atau memberi nasihat, serta tidak ada orang asing
(alim) yang datang melainkan aku mendatanginya dan memilih keutamaan-keutamaan
darinya. Dahulu aku berkeliling mendatangi para syekh untuk mendengarkan hadis
sampai napasku terengah-engah karena berlari agar tidak didahului orang lain.
Aku sering mendapati waktu pagi tanpa memiliki makanan, dan sore hari pun tanpa
makanan. Allah tidak pernah menghinakanku di hadapan makhluk-Nya sama sekali.
Seandainya aku jelaskan keadaanku, niscaya penjelasannya akan sangat
panjang." ([1])
Masa
Kecil Imam Syafi'i رضي الله
عنه dan Perjuangannya Menuntut Ilmu:
Beliau
رضي الله عنه berkata: "Dahulu
aku tidak memiliki harta, dan aku menuntut ilmu di masa muda—yakni di awal
usiaku, saat itu usianya sekitar tiga belas tahun—aku sering pergi ke kantor
pemerintahan (diwan) untuk meminta kertas bekas—yakni bagian belakang kertas yang
sudah ditulisi—lalu aku menulis (ilmu) di sana." ([2])
Al-Buwaiti
menceritakan dari Asy-Syafi'i رضي الله
عنه bahwa beliau pernah berada di majelis Malik bin Anas رضي الله عنه saat beliau masih
belia. Lalu datanglah seorang laki-laki menemui Malik untuk meminta fatwa, ia
berkata: "Sesungguhnya aku telah bersumpah dengan talak tiga bahwa burung
bulbul ini tidak akan berhenti berkicau sejak pagi." Maka Malik berkata kepadanya:
"Engkau telah melanggar sumpah (jatuh talak)." Laki-laki itu pun
pergi. Kemudian Asy-Syafi'i berpaling kepada sebagian sahabat Malik dan
berkata: "Sesungguhnya fatwa ini keliru." Hal itu pun disampaikan
kepada Malik. Saat itu Malik adalah orang yang sangat disegani majelisnya,
tidak ada yang berani membantahnya, bahkan terkadang kepala keamanan datang
berdiri di dekat kepalanya saat beliau duduk di majelis. Mereka berkata kepada
Malik: "Anak muda ini mengklaim bahwa fatwa tadi adalah kelalaian dan kekeliruan."
Malik bertanya kepadanya: "Atas dasar apa engkau mengatakan hal ini?"
Asy-Syafi'i menjawab: "Bukankah Engkau sendiri yang meriwayatkan kepada
kami dari Nabi ﷺ
dalam kisah Fathimah binti Qais رضي الله عنها ketika ia berkata kepada Nabi ﷺ bahwa Abu Jahm dan
Mu'awiyah (melamarnya), lalu Nabi ﷺ bersabda: 'Adapun Abu Jahm, tongkatnya tidak pernah lepas
dari bahunya'. Apakah tongkat Abu Jahm selalu ada di bahunya setiap saat?
Beliau ﷺ
hanya memaksudkan kondisi yang paling sering terjadi (kebiasaan)." Maka
Malik pun menyadari kedudukan dan kapasitas Asy-Syafi'i. Asy-Syafi'i berkata:
"Ketika aku hendak keluar dari Madinah, aku mendatangi Malik untuk
berpamitan, lalu Malik berkata kepadaku saat perpisahan itu:
'Wahai
pemuda, bertakwalah kepada Allah Ta'ala, dan janganlah engkau memadamkan cahaya
yang telah Allah berikan kepadamu ini dengan kemaksiatan'—yakni cahaya ilmu,
sebagaimana firman Allah Ta'ala: {Dan barang siapa yang tidak diberi cahaya
oleh Allah, maka tidaklah dia mempunyai cahaya sedikit pun} [QS. An-Nur:
40]. Demikianlah dalam riwayat burung bulbul ini, dan dalam riwayat lain
disebutkan burung al-qumri (merpati)." ([3])
Masa
Kecil Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani dalam Menuntut Ilmu:
Al-Khathib
meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Mujasyi' bin Yusuf, ia berkata:
"Aku berada di Madinah di sisi Malik saat beliau memberikan fatwa kepada
orang-orang. Lalu masuklah Muhammad bin al-Hasan, sahabat Abu Hanifah, dalam
keadaan ia masih muda, yaitu sebelum ia melakukan perjalanan kepada Malik untuk
mendengarkan al-Muwaththa' darinya. Muhammad bertanya:
'Apa
pendapatmu mengenai orang junub yang tidak menemukan air kecuali di dalam
masjid?' Malik menjawab: 'Orang junub tidak boleh masuk masjid.' Muhammad
bertanya: 'Lalu apa yang harus ia lakukan padahal waktu salat telah tiba dan ia
melihat air (di dalam masjid)?' Malik pun terus mengulang: 'Orang junub tidak
boleh masuk masjid.' Ketika Muhammad terus mendesaknya, Malik berkata
kepadanya: 'Lalu apa pendapatmu mengenai hal ini?' Muhammad menjawab: 'Ia
bertayamum lalu masuk dan mengambil air dari masjid, kemudian keluar dan
mandi.' Malik bertanya: 'Dari mana asalmu?' Muhammad menjawab: 'Dari penduduk ini'—sambil
menunjuk ke arah bumi (tanah)—lalu ia bangkit berdiri. Mereka berkata: 'Ini
adalah Muhammad bin al-Hasan, sahabat Abu Hanifah.' Malik bertanya: 'Muhammad
bin al-Hasan? Bagaimana mungkin ia berbohong, padahal ia menyebutkan dirinya
penduduk Madinah?' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya ia tadi hanya berkata: Dari
penduduk ini sambil menunjuk ke bumi.' Malik berkata: 'Hal ini
(kecerdasannya) lebih berat bagiku daripada hal itu (identitasnya)'."
([1])
Shafahat min Shabr al-'Ulama hal. 76, cet. 2.
([2])
Dari buku Shafahat min Shabr al-'Ulama.
([3])
Bulugh al-Amani fi Sirat al-Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani oleh
Syekh Zahid al-Kautsari rahimahullah hal. 12.
Masa
Kecil Malik bin Anas رضي الله
عنه:
Mutharrif
berkata: Malik bercerita: "Aku berkata kepada ibuku: 'Bolehkah aku pergi
untuk menulis ilmu?' Ibuku menjawab: 'Kemarilah, pakailah pakaian ilmu.' Lalu
ia memakaikanku pakaian musammarah (pakaian yang dijahit rapi),
memakaikan thawilah (peci tinggi) di kepalaku, dan melilitkan sorban di
atasnya. Kemudian ia berkata: 'Pergilah dan tulislah (ilmu) sekarang'."
Ibunda
Malik juga sering berpesan: "Pergilah kepada Rabi'ah, pelajarilah adabnya
sebelum engkau mempelajari ilmunya."
Menanamkan
Kecintaan pada Ilmu dan Belajar, serta Mengarahkan Anak pada Apa yang Ia Minati
dan Kuasai
Tidak
ada dalam sejarah, sebuah agama seperti agama Islam yang begitu gigih mendidik
anak-anaknya, dan tidak ada satu pemikiran pun di dunia ini yang begitu
bersemangat mengajar murid-muridnya seperti pemikiran Islam. Hal ini diakui
oleh musuh-musuh Islam sebelum orang lain. Dr. Arthur Arberry, Profesor Studi
Islam di Universitas Cambridge, mengatakan ([1]):
"Islam
memiliki jasa-jasa bagi umat manusia yang mengundang kekaguman dan menuntut
rasa syukur. Kita memiliki banyak karya tulis yang mendeskripsikan kontribusi
umat Islam dalam memajukan seni, sastra, sains, dan politik. Sangat jelas bahwa
umat Islam tidak akan mencapai tujuan ilmiah yang tinggi ini jika bukan karena
semangat mereka yang luar biasa terhadap belajar dan mengajar; semangat yang
menjadi ciri khas bangsa-bangsa Islam sepanjang sejarahnya yang panjang. Maka
kaum laki-laki dan perempuan bangkit menyambut seruan Rasul ﷺ: 'Tuntutlah ilmu
walau ke negeri Cina' ([2])."
Dalam
proses pembangunan ilmiah dan intelektual, harus ada kejelasan rukun dan
landasan yang dijalani oleh kedua orang tua demi menjamin anak mereka
mendapatkan struktur yang sehat, ilmu yang melimpah, dan pemikiran yang benar.
Sebab, pembangunan ini dianggap sebagai hal terpenting yang membentuk anak
karena ini adalah pembangunan akal. Jika akal itu sehat, maka akan menjadi
kebaikan dan kabar gembira bagi kedua orang tua. Namun jika sebaliknya, maka
keduanya telah melahirkan musuh bagi diri mereka sendiri yang memerangi mereka
dari dalam, dan membawa keduanya ke jurang Jahanam, wal 'iyadzu billah.
Kita
perhatikan dari landasan-landasan pembangunan ilmiah yang akan kami sebutkan
berikut ini—dengan pertolongan Allah Ta'ala—bahwa landasan tersebut mengobati
anak dari sisi dalamnya agar ia condong pada ilmu, belajar, dan cinta kepada
ulama. Hal ini juga menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam memilih guru
yang sukses dan saleh, yang merupakan cermin bagi hati dan akal sang anak.
Sebab, apa yang dianggap baik oleh guru akan dianggap baik pula oleh anak. Oleh
karena itu, penting untuk mengetahui landasan-landasan yang dibutuhkan orang
tua ini. Apa sajakah itu?
Landasan
Ilmiah Pertama — Menanamkan Cinta Ilmu dan Adabnya pada Anak:
Nabi
ﷺ telah menetapkan
kaidah dasar dalam memanfaatkan masa kanak-kanak untuk belajar dan menuntut
ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menjadi pemacu
semangat para ayah untuk mendorong anak-anak mereka menuntut ilmu dan
mencintainya. Karena: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap
muslim" ([3]), baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan,
anak laki-laki maupun anak perempuan. Menuntut ilmu adalah ibadah paling utama
bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Oleh karena itu,
masa kanak-kanak adalah masa paling subur dalam pembangunan ilmiah dan
intelektual anak.
Ath-Thabrani
([4]) meriwayatkan dari Abu Darda رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Perumpamaan
orang yang menuntut ilmu di masa kecilnya seperti mengukir di atas batu, dan
perumpamaan orang yang menuntut ilmu di masa tuanya seperti orang yang menulis
di atas air."
Ibnu
Abidin menyebutkan hal ini dalam Hasyiyah-nya, kemudian ia berkata:
"Di antara syair yang disenandungkan Naftawaih untuk dirinya sendiri
adalah ([5]):"
Aku
merasa telah lupa apa yang kupelajari saat dewasa,
Namun
aku takkan lupa apa yang kupelajari saat kecil.
Tiadalah
ilmu melainkan dengan belajar di masa muda,
Dan
tiadalah kebijaksanaan melainkan dengan membiasakan diri saat dewasa.
Tiadalah
ilmu setelah uban tumbuh melainkan sebuah kepayahan,
Saat
hati, pendengaran, dan penglihatan seseorang mulai melemah.
Seandainya
hati seorang pelajar di masa muda dibelah,
Niscaya
akan terlihat ilmu di dalamnya bagaikan ukiran pada batu.
As-Sakhawi
dalam Al-Maqashid al-Hasanah mencantumkan sejumlah hadis yang menguatkan
makna ini, di antaranya:
Diriwayatkan
oleh Abu Hurairah رضي الله
عنه secara marfu': "Barang siapa yang mempelajari
Al-Qur'an di masa mudanya, maka Al-Qur'an akan menyatu dengan daging dan
darahnya. Dan barang siapa yang mempelajarinya di masa tuanya, maka Al-Qur'an
itu mudah lepas darinya namun ia tidak meninggalkannya, maka baginya pahala dua
kali." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Ad-Dailami, dan Al-Hakim).
Ibnu
Abbas berkata: "Barang siapa yang membaca (menghafal) Al-Qur'an sebelum
ia bermimpi basah (balig), maka ia termasuk orang yang dianugerahi hikmah saat
masih kanak-kanak."
Sungguh
para sahabat, tabi'in, dan ahli hadis telah menyadari bahwa pendidikan
anak-anak memiliki pengaruh besar bagi pertumbuhan ilmiah sang anak,
menjadikannya lebih kuat, teguh, dan lebih tertanam dalam ingatan dibandingkan
apa yang dipelajari seseorang saat sudah dewasa. Jika seseorang melewatkan
(belajar) di masa kecil, jangan sampai ia melewatkannya di masa dewasa.
([1])
Dari pendahuluan buku (Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah) karya Dr. Ahmad
Syalabi.
([2])
As-Sakhawi berkata dalam Al-Maqashid al-Hasanah: Diriwayatkan oleh
Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab, Al-Khathib dalam Al-Rihlah, dan
lainnya, Ibnu Abdil Barr dalam Jami' al-'Ilm, dan Ad-Dailami. Kemudian
ia berkata: Ibnu Hibban berkata: "Ini batil tidak ada asalnya," dan
Ibnu Jauzi menyebutkannya dalam Al-Maudhu'at (hadis-hadis palsu).
Wallahu a'lam.
([3])
Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas رضي الله عنه secara marfu'.
Lihat Al-Maqashid al-Hasanah nomor 660, di mana Al-Iraqi berkata:
Sebagian imam mensahihkan sebagian jalannya, dan Al-Mizzi berkata: Sesungguhnya
jalan-jalannya mencapai derajat hasan.
([4])
Dengan sanad lemah menurut As-Sakhawi dalam Al-Maqashid al-Hasanah.
Lihat Dha'if al-Jami' dengan redaksi "Hafalan anak kecil seperti
mengukir di atas batu" nomor 2726, dan ia mengisyaratkan kelemahannya.
([5])
Hasyiyah Ibnu Abidin cetakan ke-2, 1/157, lihat Al-Maqashid
al-Hasanah hal. 461.
Landasan
Ilmiah Kedua — Mengarahkan Anak Sesuai dengan Kecenderungan Ilmiahnya:
Telah
disebutkan sebelumnya tentang kisah Zaid bin Tsabit yang mempelajari bahasa
Suryani; di mana para sahabat memilihnya, mengajukannya kepada Nabi ﷺ, dan
merekomendasikannya karena mereka mengetahui kapasitas serta kecenderungan
bahasanya, serta kemampuannya untuk melaksanakan keinginan Rasulullah ﷺ dalam mempelajari
bahasa Suryani. Ini merupakan dalil atas pentingnya mengarahkan anak sesuai
dengan kecenderungan ilmiah dan keinginan jiwanya, karena hal itu lebih
menjamin penguasaan ilmu di dalam dirinya, keahliannya, serta keunggulannya di
atas teman-teman sebayanya.
Hal
ini juga telah ditetapkan oleh ulama salaf—semoga Allah meridai mereka. Ibnu
Sina berpendapat bahwa: "Tidak setiap keterampilan (profesi) yang
diinginkan oleh seorang anak itu memungkinkan dan cocok baginya, namun
hendaknya ia menekuni apa yang sesuai dengan tabiat dan kecocokannya."
Diriwayatkan
bahwa Yunus bin Habib sering mendatangi Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi untuk
mempelajari ilmu Arudh (timbangan syair) dan puisi darinya, namun ia
merasa kesulitan. Suatu hari Al-Khalil bertanya kepadanya: "Dari bahar
(pola) manakah perkataan penyair berikut ini:
Jika
engkau tidak mampu melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah,
Dan
lewati ia menuju apa yang engkau mampu melakukannya.
Ketika
Yunus bin Habib tidak mampu menjawab, Al-Khalil bin Ahmad memintanya untuk
melaksanakan (makna dari) potongan kedua dari bait syair yang ditanyakan
tersebut (yakni memintanya meninggalkan ilmu Arudh karena ia tidak mampu
dan beralih ke bidang lain).
Begitu
pula Imam Al-Bukhari pada awal mulanya mencoba mempelajari ilmu fikih dan
mendalaminya, lalu Muhammad bin Al-Hasan berkata kepadanya: "Pergilah dan
sibukkan dirimu dengan ilmu hadis," karena beliau melihat ilmu hadis lebih
cocok dengan kapasitasnya, lebih layak, dan lebih dekat dengan jiwanya.
Al-Bukhari pun patuh, dan setelah itu ia menjadi pemimpin ahli hadis, bahkan
imam mereka. ([1])
Landasan
Ilmiah Ketiga — Perpustakaan Rumah yang Baik dan Pengaruhnya dalam Membangun
Anak:
Agar
anak dapat mempelajari Al-Qur'an, hadis, dan bahasa, maka rumah harus memiliki
perpustakaan Islam yang bersifat ilmiah sebagai tempat ia tumbuh dan menimba
ilmu.
Dari
Abdullah bin Salamah, dari ayahnya (Salamah), ia berkata: "Ayahku, Budail
bin Warqa', menyerahkan sebuah kitab kepadaku, lalu ia berkata: 'Wahai anakku,
ini adalah kitab (surat) Rasulullah ﷺ, maka wasiatkanlah ia (untuk dijaga), karena kalian akan
senantiasa dalam kebaikan selama kitab ini ada di tengah-tengah kalian.'"
Kemudian ia menyebutkan hadis tersebut yang di dalamnya disebutkan bahwa kitab
tersebut ditulis oleh Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Samurah
bin Jundub رضي الله
عنه juga telah mengumpulkan banyak hadis dalam sebuah naskah yang
diwarisi oleh putranya, Sulaiman, dan diriwayatkan darinya. Diduga naskah
tersebut adalah risalah (surat) yang dikirimkan Samurah kepada anak-anaknya.
Terkait hal ini, Ibnu Sirin berkata: "Dalam risalah Samurah kepada
anak-anaknya terdapat ilmu yang banyak." ([2]) Ini mengisyaratkan
pentingnya keberadaan perpustakaan ilmiah yang bermanfaat di dalam rumah untuk
membangun anak secara ilmiah dengan kuat. Terkait hal ini Al-Jahiz berkata:
"Apabila
seorang sastrawan itu mahir, dan warisannya adalah buku-buku yang luar biasa
serta adab yang komprehensif, maka sang anak akan lebih layak memandang belajar
sebagai sebuah keberuntungan, lebih cepat dalam menerima pendidikan, memandang
meninggalkan belajar sebagai sebuah kesalahan, lebih layak berjalan di jalur
sastra yang telah dirintis baginya, lebih layak dialiri darah dari jenisnya dan
disirami dari tanamannya, serta lebih layak menjadikan kegiatan menelaah buku
dan mendengarkan ilmu sebagai pengganti dari mencari keuntungan (materi),
hingga ia mencapai kecukupan dan puncak kebutuhannya." ([3])
Imam
Asy-Syahid (Hasan al-Banna) juga telah mengingatkan peran perpustakaan rumah
dalam risalahnya—Metode Paling Berhasil dalam Mendidik Generasi Muda dengan
Pendidikan Islam yang Murni—beliau berkata:
"Sebutkan
pula pentingnya rumah memiliki sebuah perpustakaan, betapapun sederhananya,
namun buku-bukunya dipilih dari buku-buku sejarah Islam, biografi para
pendahulu (salaf), buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan, dan
setiap ilmu yang bermanfaat."
Menguasai
Bahasa Asing bagi Anak Selama Memungkinkan:
Setelah
anak menguasai bahasa Arab dengan baik serta menghafal sebagian Al-Qur'an dan
hadis, maka tidak mengapa jika ia menguasai bahasa asing yang lazim digunakan.
Hal itu bertujuan untuk membentuk generasi muslim yang mampu membongkar rencana
musuh, merasa aman dari tipu daya mereka, serta mampu mentransfer ilmu-ilmu
materi murni kepada umat Islam. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah ﷺ sesaat setelah tiba
di Madinah Al-Munawwarah saat berhijrah dari Mekah:
Abu
Ya'la dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, ia berkata: Aku
dibawa menemui Nabi ﷺ
saat beliau tiba di Madinah. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, ini adalah
seorang anak dari Bani Najjar, ia telah membaca (menghafal) tujuh belas surah
dari apa yang diturunkan kepadamu." Maka aku membacanya di hadapan
Rasulullah ﷺ
dan beliau merasa takjub. Beliau bersabda: "Wahai Zaid, pelajarilah bagiku
tulisan orang Yahudi, karena demi Allah, aku tidak memercayai orang Yahudi atas
kitabku (surat-suratku)." Maka aku mempelajarinya, dan belum berlalu
setengah bulan hingga aku mahir menguasainya. Aku pun menjadi penulis bagi
Rasulullah ﷺ
jika beliau menulis surat, dan aku membacakan surat mereka jika mereka menulis
surat kepada beliau.
Diriwayatkan
juga oleh keduanya dan Ibnu Abi Daud dari Zaid, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku:
"Apakah engkau menguasai bahasa Suryani? Karena banyak surat yang datang
kepadaku (dalam bahasa itu)." Aku menjawab: "Tidak." Beliau
bersabda: "Maka pelajarilah." Maka aku mempelajarinya dalam waktu
tujuh belas hari.
Atas
dasar inilah para pendahulu (salaf) berjalan dalam mendidik anak-anak
mereka; selain bahasa Arab, mereka juga mengajarkan bahasa asing lainnya:
Al-Hakim
meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah
dari Umar bin Qais, ia berkata: "Ibnu Az-Zubair رضي الله عنه memiliki seratus
budak pemuda, setiap pemuda berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Ibnu
Az-Zubair berbicara kepada setiap mereka dengan bahasa mereka masing-masing.
Jika engkau melihatnya dalam urusan dunianya, engkau akan berkata: 'Orang ini
tidak menginginkan Allah (akhirat) sekejap mata pun,' namun jika engkau
melihatnya dalam urusan akhiratnya, engkau akan berkata: 'Orang ini tidak
menginginkan dunia sekejap mata pun.'"
([1])
Dari majalah Al-Wa'yul 'Arabi, tahun pertama, edisi 1, tahun 1357 H /
1977 M, hal. 33.
([2])
Tahdzibut Tahdzib: 4/326, nomor 402, karya Al-Hafiz Ibnu Hajar.
([3])
Kitab Al-Hayawan karya Al-Jahiz, cetakan rangkaian Al-Mukhtar min
At-Turats Al-'Arabi nomor 11/364.
Islam,
sebagaimana yang kita ketahui, sangat mendorong penguasaan ilmu yang
bermanfaat, yang kita ambil dari bahasa apa pun dan dari wadah mana pun. Hikmah
(ilmu) adalah barang hilang milik orang mukmin; ia mengambilnya dari pihak mana
pun, dan mencarinya di mana pun ia menemukannya, karena ia adalah orang yang
paling berhak atas ilmu tersebut.
Saat
ini, ilmu pengetahuan telah berpindah dari tangan seluruh umat Islam ke tangan
bangsa lain, dan penemuan-penemuan telah diungguli oleh selain mereka. Maka,
wajib bagi umat Islam untuk mengambil ilmu tersebut dan mengungggulinya
kembali. Wajib pula bagi mereka untuk mempelajari bahasanya,
istilah-istilahnya, serta metode-metodenya. Kita sekarang berada di era sains,
di mana ilmu telah masuk ke segala bidang, baik dalam pertanian, industri,
maupun berbagai aspek kehidupan lainnya, dan ilmu tersebut telah menjadi mudah
diakses melalui buku, surat kabar, risalah, siaran radio, video, televisi,
hingga internet. Kita tidak tahu apa yang akan dibawa oleh masa depan, maka
wajib bagi kaum muslimin untuk saling berlomba dan menjadi yang terdepan,
karena ilmu bagi mereka adalah bagian dari kewajiban dan kefarduan.
Dahulu,
umat Islam berada di puncak kejayaan ilmiah karena mereka mengambil manfaat
dari arahan-arahan Islam. Mereka menekuni ilmu-ilmu syariat, ilmu pengetahuan
umum, serta ilmu alam. Mereka menganggap mempelajari setiap ilmu yang
bermanfaat sebagai bagian dari fardu dan kewajiban. Mereka mengambil manfaat
dari peradaban bangsa-bangsa lain di dunia, lalu mereka memperbaruinya,
mendalaminya, dan mencetaknya dengan karakter Islam yang khas. Dunia selama
berabad-abad lamanya senantiasa mengutip dari ilmu-ilmu mereka dan mengambil
manfaat dari peradaban mereka. Tidaklah peradaban materi bersinar di era modern
ini, baik di Timur maupun di Barat, kecuali berkat apa yang mereka ambil dari
peradaban dan ilmu-ilmu umat Islam melalui Sisilia, Andalusia, dan Perang Salib.
Maka negara Islam, sejatinya, telah menjadi guru dan pemimpin bagi dunia yang
tersesat dan bagi kemanusiaan yang sedang kebingungan.
Berikut
adalah kesaksian dari para filosof Barat yang objektif mengenai keagungan
kemuliaan ilmiah dan peradaban yang dicapai umat Islam dalam periode sejarah
yang panjang:
- (Christie) berkata
dalam pembicaraannya mengenai seni Islam: "Eropa selama sekitar
seribu tahun memandang seni Islam seolah-olah ia adalah keajaiban dari
segala keajaiban."
- (Dozy), seorang
orientalis Belanda, berkata: "Sesungguhnya di seluruh Andalusia
tidak ditemukan seorang pun laki-laki yang buta huruf, sementara di Eropa
tidak ada laki-laki yang mengenal baca tulis pada tingkat dasar sekalipun
kecuali dari kalangan kelas atas para pendeta."
- (Lane-Poole) dalam
bukunya (The Moors in Spain) berkata: "Eropa yang buta
huruf saat itu dipenuhi dengan kebodohan dan kemiskinan, sementara
Andalusia membawa kepemimpinan ilmu dan panji kebudayaan."
- (Briffault) dalam
bukunya (The Making of Humanity) berkata: "Sains adalah hal
terbesar yang diberikan oleh peradaban Arab kepada dunia modern. Meskipun
tidak ada satu pun aspek pertumbuhan Eropa yang tidak dipengaruhi secara
mendalam oleh kebudayaan Islam, namun pengaruh yang paling besar dan
paling berbahaya (penting) adalah pengaruh yang menciptakan kekuatan yang
membentuk faktor utama dan permanen di dunia modern serta sumber tertinggi
kemenangannya, yaitu ilmu alam dan semangat ilmiah... Fakta-fakta ini
menunjukkan bahwa Islam adalah agama pembangunan peradaban."
- (Abu Shabakah) dalam
bukunya (Ikatan Pemikiran dan Ruh antara Arab dan Franka) berkata: "Sesungguhnya
hilangnya peradaban Arab adalah kesialan bagi Spanyol dan Eropa. Andalusia
tidak mengenal kebahagiaan kecuali di bawah naungan orang Arab, dan segera
setelah orang Arab pergi, kehancuran menggantikan kekayaan, keindahan, dan
kesuburan..."
- (H.A.R. Gibb) dalam
bukunya (Modern Trends in Islam), saat membahas mengenai metode
eksperimen yang menjadi dasar bagi seluruh dunia Eropa—yang sebenarnya
merupakan warisan Islam yang asli—mengatakan teks berikut: "Saya
percaya telah disepakati bahwa observasi detail dan akurat yang dilakukan
oleh para peneliti muslim telah membantu kemajuan pengetahuan ilmiah
secara materi dan nyata, dan melalui observasi-observasi inilah metode
eksperimental sampai ke Eropa pada Abad Pertengahan."
- (Victor Robinson),
setelah pembicaraan panjang dalam perbandingannya antara peradaban Islam
di Andalusia dan peradaban Eropa di Abad Pertengahan, berkata: "...Para
bangsawan Eropa saat itu tidak mampu menandatangani nama mereka sendiri
sementara anak-anak muslim di Cordoba sudah pergi ke sekolah-sekolah; para
rahib Eropa melakukan kesalahan dalam membaca kitab gereja sementara para
pengajar di Cordoba telah mendirikan perpustakaan yang kemegahannya
menandingi perpustakaan besar Aleksandria..."
Perkataan-perkataan
ini, dan banyak perkataan lainnya, menegaskan dengan jelas kepada kita betapa
besarnya kekuatan pendorong peradaban yang terkandung dalam Islam, serta
pancaran cahaya ilmiahnya. Sementara itu, para ilmuwan di Eropa—pada Abad
Pertengahan—dibunuh di alun-alun umum secara terang-terangan karena keberanian
ilmiah dan intelektual mereka!!!
Namun,
apakah rahasia di balik dorongan peradaban dan pancaran ilmiah ini? Rahasianya
terletak pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam syariat Islam yang kekal:
5-
Keteladanan (Al-Qudwah):
Tidak
diragukan lagi bahwa keteladanan dalam pendidikan memegang peran utama. Ia
memiliki nilai dan pengaruh yang sangat besar dalam jiwa manusia. Teladan
pertama bagi seseorang adalah orang-orang yang berinteraksi dengannya, mulai
dari kedua orang tuanya, keluarganya, kemudian guru dan pengajarnya, serta
lingkungan tempat ia tumbuh dan dididik di dalamnya. Ada jenis keteladanan lain
yang memiliki pengaruh sangat mendalam, yaitu keteladanan intelektual.
Terkait
jenis yang kedua, berikut adalah teladan-teladan dalam bidang intelektual dan
keagamaan:
- Pemilik teladan utama,
Nabi kita ﷺ,
yang telah menemui berbagai macam siksaan, aneka penindasan, dan berbagai
rasa sakit di jalan dakwah Islam. Buku-buku sirah nabawiyah dipenuhi
dengan penyebutan contoh-contoh dan kabar mengenai hal ini...
- Kepada para pemilik teladan
dari generasi awal para sahabat Rasulullah ﷺ yang telah
berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, dan memasuki
ujian dakwah pada fase Mekah dengan iman yang kokoh laksana gunung. Mereka
tidak pernah goyah, tidak menyerah, dan tidak pula menjadi lemah.
Sebaliknya, berbagai cobaan dan kesulitan tersebut justru menambah iman
dan kepasrahan mereka. Mereka itulah orang-orang yang dikatakan oleh
Abdullah bin Mas'ud رضي
الله عنه: "Barang siapa yang ingin meneladani, maka
teladanilah para sahabat Rasulullah ﷺ, karena
sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam
ilmunya, paling sedikit bebannya (tidak mengada-ada), paling lurus
petunjuknya, dan paling baik kondisinya. Allah telah memilih mereka untuk
mendampingi Nabi-Nya ﷺ dan untuk menegakkan agama-Nya. Maka
kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena
sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus." Dan
kisah-kisah mereka dalam hal keteguhan, pengorbanan, serta kesabaran
sangatlah banyak dan tersebar luas.
- Kepada para pemilik teladan
dari tokoh-tokoh dakwah sepanjang sejarah hingga masa kita sekarang ini.
Mereka memiliki sikap-sikap yang mulia dan pengorbanan yang abadi, yang
membuat generasi demi generasi merasa bangga sepanjang zaman. Tokoh-tokoh
seperti Hasan Al-Bashri, Al-Izz bin Abdus Salam, Mundzir bin Sa'id, Ahmad
bin Hanbal, Abu Ghiyats Az-Zahid, Imam Hasan Al-Banna, Asy-Syahid Sayyid
Quthb, dan ratusan lainnya yang telah menjadi laksana gunung dalam
ketabahan, laksana singa dalam keteguhan, dan menjadi perumpamaan dalam
kesabaran serta pengorbanan.
Maka
ketika engkau—wahai saudaraku pendidik—menanamkan makna-makna dari sikap
pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan di jalan penyampaian dakwah Islam ini ke
dalam diri anak, niscaya sikap-sikap tersebut akan terpatri dalam persepsinya,
dan makna-maknanya akan merasuk ke dalam jiwa serta hatinya.
Pada
saat itulah, ia akan mengambil jalan keteladanan dalam hidupnya. Ia akan
mengikuti jejak mereka, berjalan di atas metode mereka, dan menjadi bagian dari
orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya:
{Mereka
itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka demi petunjuk
mereka itu, teladanilah olehmu} (QS. Al-An'am: 90).
Oleh
karena itu, dalam pendidikan kita mencari sosok teladan saleh yang mampu
memberikan pengaruh melalui perbuatannya dan mampu memberikan arahan melalui
perkataannya, sehingga ia memiliki kepatuhan yang mendalam. Jika tidak, maka
perkataan tanpa perbuatan adalah sebuah kejahatan terhadap semua orang.
Benarlah firman Allah:
{Wahai
orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang
tidak kamu kerjakan} [QS. Ash-Shaff: 2-3].
Sebab
itu, kami menginginkan bagi saudari muslimah dan saudara muslim agar perilaku
umum dan khusus mereka, serta tindakan mereka dalam setiap urusan, menjadi
gambaran yang jujur bagi prinsip-prinsip agama dan dakwah mereka. Seharusnya
makna ini termasuk dalam kewajiban yang sangat ditekankan dalam pendidikan,
namun tidak mengapa jika dipisahkan dalam pembahasan khusus, karena
terpenuhinya syarat-syarat keteladanan adalah tanda keikhlasan dan jalan untuk
memengaruhi jiwa orang lain. Maka hendaknya kondisi keadaan (perilaku)
seseorang lebih fasih dalam menunjukkan (kebenaran) dan lebih kuat pengaruhnya
di dalam jiwa daripada sekadar ucapan dan nasihatnya.
Kami
tidak bermaksud dengan hal itu hanya sebatas menyempurnakan penampilan pakaian
yang berwibawa dan tampilan yang menjaga kesucian saja. Melainkan, kami
maksudkan bersamanya agar setiap amal, setiap gerakan, dan setiap isyarat
muncul dari ketaatan pada nilai-nilai luhur, rasa cinta, dan keinginan tulus
terhadapnya, hingga pengamalan dan komitmen pada jalannya tersebut menjadi
kebiasaan akrab yang dilakukan seseorang secara alami tanpa perlu lagi ia
pikirkan.
Itulah
teladan saleh yang memberikan inspirasi, memberi pengaruh, membangkitkan tekad
orang lain, serta menciptakan rumah yang ideal, lingkungan yang mulia, dan
masyarakat yang terhormat, meskipun tanpa bermaksud memberikan nasihat yang
formal atau bimbingan yang disengaja.
Sesungguhnya
itu adalah teladan pertama bagi anak, di mana ia sangat cepat dalam meniru dan
kuat terpengaruh oleh kondisi ibunya. Anak adalah salah satu amanah paling
berharga yang diberikan kepada sang ibu setelah agamanya. Kami tidak mengatakan
kepadanya "cetaklah anakmu di atas kebaikan", melainkan
"cetaklah dirimu sendiri di atas prinsip-prinsip kebaikan dan nilai-nilai
luhur ini", karena sesungguhnya engkau sedang membentuk teladan yang
nantinya akan diikuti oleh anakmu.
Hendaknya
saudari yang mulia mengetahui bahwa ia tidak akan sampai pada derajat
memberikan pengaruh dalam masyarakat kita kecuali jika ia memiliki kepribadian
yang kuat. Kepribadian seseorang hanya akan kuat dan agung jika ia meninggalkan
perkataan yang sia-sia dan obrolan kosong, serta menegakkan jiwanya di atas
kebenaran dengan keseriusan dan kewibawaan; dengan menyuarakan kebenaran
meskipun terhadap dirinya sendiri, menerima konsekuensinya meskipun pahit, dan
selalu bersikap adil terhadap dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih disegani
dalam jiwa manusia selain sosok yang melelahkan dirinya demi menjaga kebenaran
dan bersabar atas beban-bebannya, hingga kehormatannya menjadi besar di mata
mereka dan kedudukannya tinggi di jiwa mereka, sehingga mereka mengambil ilmu
darinya, terpengaruh olehnya, serta menyambut seruannya dengan penuh
kebahagiaan dan kerelaan. Tidak ada makna yang lebih jujur bagi kekuatan
kepribadian selain ini. Maka, hendaknya saudari yang mulia menjaga aspek ini,
karena dengannya masyarakat akan menjadi sehat dan timbangannya menjadi adil.
Rumah
tangga muslim haruslah merepresentasikan kesucian Islam, kematangannya,
cita-cita, serta tujuannya, dan harus memperkuat amal-amal saleh di tengah
masyarakat serta menyucikannya. Di tengah bangsa-bangsa muslim hari ini, tidak
diragukan lagi terdapat teladan-teladan mulia dan perbuatan-perbuatan agung
yang seharusnya diperhatikan oleh pendidik, ditekankan untuk dijaga, serta
diikuti jejak dan polanya.
Masyarakat
bukanlah sekadar klub-klub, majelis-majelis, atau pesta-pesta tempat laki-laki
dan perempuan bercampur baur tanpa rasa segan atau batasan. Melainkan,
masyarakat adalah lingkungan yang mengelilingimu dan tradisi yang mengatur
hubungan segala sesuatu di dalamnya antara satu dengan yang lainnya. Maka, bagi
saudari muslimah yang mulia, hendaknya ia berkontribusi dalam membangun
masyarakat di atas tradisi yang saleh dan norma yang menjaga kebajikan serta
membuahkan kerja sama dalam kebaikan dan takwa.
1-
Ia harus memboikot segala keburukan di masyarakat seperti tabarruj (pamer
perhiasan/kecantikan) dan pertemuan di pesta-pesta dansa, khamar, judi, tempat
hiburan maksiat, serta apa yang disebut dengan "pesta amal"—yaitu
acara di mana laki-laki menghamburkan sumbangan mereka di bawah pengaruh pesona
dan perhiasan wanita dalam suasana yang menyerupai rayuan dan senda gurau.
Hal-hal semacam itu adalah perbuatan keji dari setan yang wajib baginya untuk
dijauhi, serta ia harus bekerja membersihkan masyarakat dari noda memalukan
tersebut dengan cara menimbulkan rasa benci terhadap hal itu, serta memberikan
nasihat dan peringatan bagi siapa saja yang terjerumus di dalamnya.
2-
Hendaknya ia bekerja untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang matang dan
prinsip-prinsip yang lurus ke dalam benak kaum wanita, baik yang berpendidikan
maupun yang tidak berpendidikan.
Adapun
para wanita terdidik yang hanya mengejar kesibukan politik dan sejenisnya demi
penampilan dan gengsi semata, mereka tidak lain hanyalah sosok-sosok kosong
yang ikut-ikutan. Di masyarakat kita, mereka bagaikan buih yang kebingungan dan
hampa, tidak memiliki pengaruh kecuali sekadar ringannya pakaian di sana-sini
dengan warna-warni pelangi yang menghiasinya. Seandainya masing-masing dari
mereka memahami misi pentingnya dan memenuhi benaknya dengan hakikat yang jujur
serta makna yang tepat, niscaya ia akan menemukan di lingkungan wanitanya
berbagai amal mulia yang akan meninggikan namanya di antara penduduk bumi dan
langit.
Sedangkan
di lingkungan wanita yang tidak berpendidikan, terdapat jutaan wanita dari
kalangan masyarakat umum yang sangat membutuhkan orang yang membimbing mereka
serta mencerdaskan akal dan hati mereka. Yakni dengan hal-hal yang dapat
menyucikan jiwa, menghilangkan kebodohan dan takhayul, serta mengajarkan
kaidah-kaidah kebersihan, kesehatan, dasar-dasar keperawatan, keterampilan
menjahit pakaian, serta mengatur anggaran rumah tangga dengan cara yang tepat,
serta cara mengatasi krisis kenaikan harga, pendapatan yang kecil, serta
pengangguran suami atau penanggung jawab keluarga.
Hal-hal
semacam ini tidak akan tegak kecuali oleh kelompok wanita-wanita yang utama.
Maka, hendaknya saudari yang mulia memberikan porsi perhatian terbesar untuk
hal ini selama ia menemukan jalan ke sana. Dan alangkah baiknya jika para
wanita terdidik memahami bahwa hal itu jauh lebih baik, lebih bermanfaat, dan
lebih mulia daripada merancang demonstrasi atau berdesakan di atas
mimbar-mimbar pidato untuk menasihati kaum laki-laki tentang tanah air dan
patriotisme.
Di
zaman buku-buku (teori semata) dan hilangnya kebebasan, yang diperlukan adalah
pendidikan yang tenang bagi laki-laki dan perempuan, hingga jumlah para pekerja
yang berjuang dan pemilik kebenaran yang nyata semakin banyak; barulah pada
saat itu, setiap kejadian akan memiliki pembicaraannya sendiri (tindakan yang
sesuai).
6-
Persaudaraan (Al-Ukhuwwah):
Persaudaraan
dalam Islam bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan sebuah akidah,
keimanan, hak seorang muslim atas muslim lainnya, serta sebuah gaya hidup. Hal
ini telah ditetapkan oleh Allah dalam Kitab-Nya yang mulia dan diperkuat oleh
Rasul-Nya yang mulia dalam banyak hadisnya, sedemikian rupa sehingga hati dan
ruh terikat dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan
paling berharga; persaudaraan adalah saudara kandung keimanan, sedangkan
perpecahan adalah saudara kandung kekufuran.
Persaudaraan
di dalam keluarga akan mewariskan rasa cinta dan sikap mendahului orang lain (itsar),
serta menjauhkan rasa iri (hasad), kebencian, dendam, dan pemutusan hubungan.
Kita telah melihat bagaimana dampak hasad dalam keluarga Nabi Ya'qub عليه السلام, di mana rasa iri dan
kebencian menghancurkan stabilitas keluarga yang mulia tersebut. Mari kita
perhatikan apa yang terjadi antara Yusuf عليه السلام dan
saudara-saudaranya.
Suatu
hari, Yusuf terbangun dengan pikiran yang sibuk dan beban pikiran yang berat.
Ia ditarik oleh perasaan akan kemuliaan dan derajat yang tinggi di satu sisi,
dan rasa takut akan masa depan beserta risikonya di sisi lain. Ia pun
mendatangi ayahnya dalam kesendirian, lalu membocorkan rahasia yang terpendam
dan pemikirannya yang dalam, seraya berkata:
{Wahai
ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan;
aku melihat semuanya bersujud kepadaku} (QS. Yusuf: 4).
Bintang-bintang
yang tinggi dan mulia itu, serta pelita-pelita petunjuk yang jauh itu, telah
aku lihat tanpa aku cari-cari atau harapkan; mereka berada di hadapanku dalam
keadaan tunduk, merendah, taat, dan patuh, sementara aku berada di atas mereka
sebagai pemberi perintah dan larangan. Dan engkau adalah Nabi yang mulia, ayah
yang lemah lembut lagi penyayang; maka apa makna dari urusan yang berada di
tengah langit dan tempat persemayaman bintang-bintang ini, yang untuk
mencapainya pun membutuhkan perjuangan dan keletihan?!!
Maka
sang ayah yang penyayang pun menenangkan ketakutan putranya yang masih belia,
menanamkan harapan yang cerah di hadapannya, dan mendorongnya untuk mengikuti
jejak petunjuk nenek moyangnya serta para pendahulu yang saleh agar ia menjadi
tempat bagi perhatian Rabbaniah dan layak bagi pilihan serta kemuliaan Ilahi.
Ia mengingatkan putranya untuk menjaga rahasianya dan menyembunyikan urusannya
dari orang-orang terdekatnya, yaitu saudara-saudaranya, hingga ketentuan Allah
mencapai batasnya dan takdir mencapai tujuannya; agar setan tidak menghasut di
antara saudara-saudara tersebut dan tidak membangkitkan badai hasad di antara
orang-orang yang dicintai.
Sebab,
hasad adalah akar dari setiap penyakit dan kepala dari setiap kebencian. Hal
ini memiliki contoh di masa lalu dan pengalaman lama yang disampaikan oleh para
Nabi serta dirinci oleh risalah-risalah tentang dua putra Adam:
{Ketika
keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka
dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti
membunuhmu!" Ia berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima dari
orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau engkau menggerakkan tanganmu kepadaku
untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu
untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.
Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan membawa dosa (membunuh)-ku
dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian
itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim." Maka hawa nafsu (qabil)
menjadikannya mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka jadilah ia
termasuk orang-orang yang merugi} (QS. Al-Ma'idah: 27–30).
Inilah
tabiat manusia dan insting dari insting-insting anak cucu Adam. Begitulah
Ya'qub عليه
السلام berpaling kepada putranya dengan kelembutan dan nasihat,
pengajaran dan bimbingan, serta arahan dan pendidikan, seraya berkata:
{Wahai
anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka
mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan itu
adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Rabbmu memilih kamu dan
diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari takwil mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya
nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah
menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim
dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana} (QS.
Yusuf: 5–6).
Telah
menjadi kehendak takdir Ilahi bahwa mimpi ini terjadi persis seperti yang
ditafsirkan oleh Ya'qub huruf demi huruf. Dan telah datang dari Rasulullah ﷺ penegasan akan hal
ini melalui sabda beliau: "Mimpi itu berada di atas kaki burung selama
belum ditafsirkan, namun jika sudah ditafsirkan maka ia akan jatuh (terjadi),
dan janganlah engkau menceritakannya kecuali kepada orang yang mencintai atau
orang yang memiliki pendapat (berakal)."
Perhatian
Ya'qub terhadap Yusuf pun semakin meningkat, dan ia mengambil sebagian besar
perhatian ayahnya dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Saudara kandungnya
(Bunyamin) juga mendapatkan sebagian perhatian ini karena usianya yang masih
kecil—Wallahu a'lam. Insting kebapakan yang sehat memang cenderung terdorong
kepada anak yang kecil karena kelemahan, ketidakberdayaan, dan kebutuhannya.
Pernah ditanyakan kepada seorang bijak tentang siapa anak yang paling ia
cintai, ia menjawab: "Yang kecil sampai ia besar, yang sakit sampai ia
sembuh, dan yang bepergian sampai ia kembali."
Begitulah
perasaan Ya'qub meluap-luap kepada Yusuf karena tanda-tanda kebaikan,
kecerdasan, dan ketakwaan yang ia lihat pada dirinya, serta apa yang ia pahami
dari mimpi-mimpi tersebut. Hingga akhirnya jarak antara Yusuf dan
saudara-saudaranya di dalam hati Ya'qub menjadi jauh. Padahal setiap anak—baik
laki-laki maupun perempuan—ingin memiliki kedudukan di hati kedua orang tuanya
serta ruang dan posisi dalam pemikiran mereka.
Saudara-saudaranya
pun mulai berbisik-bisik di antara mereka, mereka berkumpul dan berpencar, dan
pembicaraan mereka hanyalah tentang kecintaan Ya'qub kepada Yusuf serta
bagaimana Ya'qub mengistimewakan Yusuf dalam hati, akal, penglihatan, dan
lisannya. Padahal ia masih kecil, belum banyak gunanya, dan sedikit manfaatnya;
sedangkan "kami adalah kelompok yang kuat yang telah mencukupi segala
kebutuhan sarana hidup dan kehidupannya, lalu mengapa semua perhatian ini
tertuju kepadanya?"
Rasa
tidak terima membesar dalam jiwa mereka bahwa hal itu adalah kesalahan dalam
berpikir, serta penyimpangan dalam perilaku dan sikap ayah mereka, karena ia
tidak menempatkan masing-masing dari mereka sesuai kedudukannya, sesuai dengan
kadar manfaat dan kecukupannya!!
{Ketika
mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai
oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita adalah suatu golongan (yang
kuat). Sesungguhnya ayah kita benar-benar dalam kekeliruan yang nyata"}
(QS. Yusuf: 8).
Tidak
terlintas dalam benak mereka bahwa mencintai anak kecil adalah fitrah yang
Allah ciptakan pada makhluk-Nya. Mungkin karena mereka belum mengetahuinya,
atau karena api amarah dan kebencian telah membutakan mereka dari menyadari
hakikat tersebut.
Telah
banyak kutipan perkataan dari orang bijak dan syair dari para penyair tentang
mencintai anak kecil yang mengekspresikan emosi ini serta menunjukkan posisinya
di dalam hati manusia. Di antaranya adalah apa yang dikatakan oleh Wazir Abu
Marwan Abdul Malik bin Idris Al-Jaziri dalam sebuah qasidah yang ia kirimkan
kepada anak-anaknya saat ia berada di penjara ([1]):
Dan
yang paling kecil dari mereka adalah Abdul Aziz, sesungguhnya aku,
Memendam
duka yang tidak mengecil karena perpisahan dengannya.
Dialah
yang paling didahulukan di dalam hati, meskipun ia telah menjadi,
Setara
dengan kalian dalam hal nasab dan asal usul.
Sesungguhnya
kelima jari jemari itu setara semuanya,
Namun
perhiasan (cincin) di antara semuanya hanyalah untuk jari kelingking.
Apabila
seorang pemuda telah kehilangan masa mudanya, maka ia akan mendambakan,
Kecintaan
pada anak-anak, dan tidak ada yang seperti kecintaan pada yang paling kecil.
Hal
itu dipertegas oleh sabda Rasulullah ﷺ: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak
menyayangi yang kecil di antara kami..." ([2]).
Setelah
berbagai pertemuan di antara mereka, serta berbagai kasak-kusuk, mereka
mengambil keputusan tegas untuk menyingkirkan Yusuf agar perhatian ayah mereka
hanya tertuju kepada mereka, supaya wajah, hati, perhatian, dan perlindungan
ayah mereka murni bagi mereka, sehingga hari-hari mereka menjadi jernih dan
hidup mereka menjadi nikmat dalam dekapan kebapakan dan kehangatan keluarga:
{Bunuhlah
Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah agar perhatian ayahmu tertumpah
kepadamu saja, dan sesudah itu kamu menjadi orang-orang yang saleh} (QS.
Yusuf: 9).
([1])
Lihat: Al-Alusi: Ruhul Ma'ani 12/190.
([2])
Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas dalam Kitabul Birr dari Jami'-nya,
bab nomor 15, dan sanadnya hasan; dikeluarkan juga dalam bab yang sama dari
hadis Abdullah bin Amr bin al-Ash, dan melalui jalan Abdullah bin Amr bin
al-Ash dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya, Kitabul Adab,
bab tentang Rahmat, nomor 4943, serta Ahmad dan Al-Hakim, dan hadis ini shahih.
Mereka
sepakat mengenai prinsip ini (menyingkirkan Yusuf), namun mereka berselisih
tentang cara pelaksanaannya, hingga salah seorang dari mereka melontarkan
usulan ke telinga mereka, lalu mereka menangkapnya dan merasa usulan itu cocok,
maka mereka memegangnya:
{Salah
seorang di antara mereka berkata: "Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi
masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh sebagian musafir
(kafilah), jika kamu hendak berbuat."} (QS. Yusuf: 10).
Seolah-olah
ia berkata kepada mereka: "Jika kita sudah sepakat untuk menyingkirkannya,
maka janganlah permusuhan dan kebencian ini sampai pada batas pembunuhan,
eksekusi, dan melenyapkan nyawa yang tidak berdosa lagi beriman, yang mana hal
itu dapat menggetarkan hati dan mengundang kemurkaan Allah Yang Maha Tinggi.
Akan tetapi, tujuannya adalah menjauhkannya dari jalan kita dan menjauhkannya
dari ayah kita. Maka mari kita lempar dia ke dalam salah satu sumur atau lubang
yang dalam dan terpencil yang digali di sepanjang jalan kafilah yang melintasi
padang pasir dan tanah tandus, agar kafilah yang lewat memungutnya dan
membawanya pergi jauh dari kita. Dengan begitu, akan terjadi perpisahan antara
ayah yang penyayang dan anak yang menyenangkan, perpisahan yang tidak ada
pertemuan lagi setelahnya."
{Dan
masukkanlah dia ke dasar sumur (Ghayabat al-Jubb)}. Kata al-Ghayabah
adalah sesuatu yang hilang dari pandangan mata, dan Ghayabat al-Jubb
artinya dasar sumur. Dalam qira’ah Nafi’, dibaca "Ghayabat"
(bentuk jamak), yang berarti lebih menjauhkan, dan sebagai bentuk pelampiasan
yang mendalam atas apa yang tersimpan dalam hati mereka dan apa yang memenuhi
dada mereka dari rasa hasad dan dengki.
Mereka
pun beranjak dari rencana ini dan berpencar setelah melakukan tipu daya dan
pemikiran tersebut. Ini adalah rantai pertama dari mimpi Yusuf dan takwil
Ya’qub: {maka mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu}.
Muhammad
bin Ishaq bin Yasar berkata: "Sungguh mereka telah berkumpul untuk
melakukan perkara yang besar, yaitu pemutusan silaturahmi, pendurhakaan kepada
orang tua, kurangnya rasa kasih sayang kepada anak kecil yang masih menyusu dan
tidak berdosa, serta kepada orang tua renta yang memiliki hak, kehormatan, dan
keutamaan. Posisi perkara ini di sisi Allah sangat besar terkait hak orang tua
atas anaknya; yaitu mereka memisahkan antara dia dengan ayahnya, kekasihnya, di
saat usianya sudah tua dan tulang-tulangnya sudah rapuh, di samping
kedudukannya di sisi Allah sebagai orang yang mencintainya sejak kecil. Mereka
memisahkan ayah tersebut dengan anaknya di saat kekuatan anak itu masih lemah,
usianya masih kecil, dan kebutuhannya akan kelembutan serta ketenangan di sisi
ayahnya sangat besar. Semoga Allah mengampuni mereka, dan Dia-lah Yang Maha
Penyayang di antara para penyayang."
Meskipun
mereka melakukan tipu daya dan menyimpan niat buruk, mereka memutuskan untuk
bertaubat dan merahasiakan dalam jiwa mereka keinginan untuk kembali (menjadi
baik) sebelum melakukan kemaksiatan ini, sebagaimana dijelaskan dalam
firman-Nya: {Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah agar perhatian
ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu kamu menjadi orang-orang yang
saleh}.
Kemudian
mereka berpindah ke tahap pelaksanaan rencana dan mewujudkan tipu daya itu.
Namun bagaimana mereka bisa melakukannya, sementara Yusuf adalah bayang-bayang
ayahnya dan teman setianya saat pergi maupun pulang, siang maupun malam, ia
tidak pernah berpisah darinya dalam urusan kecil maupun besar, dan tidak pernah
jauh dari pandangan matanya dalam perkara yang mulia maupun rendah?
Maka
mereka membulatkan tekad, datang secara rombongan dan mengepung sang ayah dari
segala sisi, lalu mengejutkannya dengan ucapan mereka: {Wahai ayah kami},
dan engkau adalah ayah bagi semuanya, kepadamu kami bernasab, dan kepadamu kami
berlindung serta berpegang teguh: {Mengapa engkau tidak memercayai kami atas
Yusuf?}
Sehingga
kini Yusuf tidak lagi mendekat kepada kami atau melihat apa yang kami kerjakan;
ia menjadi milikmu sendiri dan engkau menjadi miliknya sendiri hingga hubungan
di antara kami menjadi asing, dan hampir-hampir ikatan persaudaraan serta
kekerabatan di antara kami menjadi usang dan binasa. Padahal kami bagi dia
adalah pemberi nasihat, pencinta kebaikan, dan memiliki rasa kasih sayang yang
tinggi. Dengan ucapan itu, mereka ingin mengguncang emosi ayah mereka dan
menjebaknya dengan perkataan. Jika sang ayah berkata kepada mereka:
"Apakah aku menuduh kalian tidak amanah, atau menyatakan kepada kalian
bahwa kalian bukan pemberi nasihat?" Maka mereka akan menjawab:
"Sesungguhnya nasihat dan kecintaan kami kepada saudara kami mendorong
kami untuk menginginkan baginya apa yang kami inginkan bagi diri kami sendiri.
Kami adalah saudara-saudaranya, putra-putramu. Maka utuslah dia bersama kami ke
padang pasir yang luas dan kesenangan pedalaman untuk berlomba, memanah,
berlari, dan bergembira, agar semangatnya pulih kembali, cakrawalanya meluas,
dan memecah kebosanan hidup serta rutinitas siang dan malamnya. Biarkanlah ia
menikmati kemakmuran dalam makan dan minum di tempat yang paling terlindungi
dan posisi yang paling terjaga, sehingga tidak ada hal buruk yang sampai
kepadanya, dan tidak ada kesedihan yang menghampirinya":
{Biarkanlah
dia pergi bersama kami besok pagi, bersenang-senang dan bermain-main, dan
sesungguhnya kami pasti menjaganya.} (QS. Yusuf: 12).
Relung
hati Ya’qub pun tergerak, dan hatinya bergetar mendengar ucapan: {Utuslah
dia bersama kami} dan tinggalkanlah dia untuk kami. Ini berarti sebuah
perpisahan darinya dan kejauhan. Bagaimana mungkin ia bisa bersabar atas hal
itu, sementara ia menjaganya dengan pandangan mata dan batinnya di setiap saat
dalam hidupnya, serta di setiap tidur atau gerakan dari gerakannya.
Lisannya
pun mulai menegaskan kesedihannya atas perpisahan ini, dan bertambahlah
kesedihan serta ketakutannya akan kejadian yang tak terduga dalam perpisahan
tersebut. Ia menyindir mereka bahwa baktinya kepada sang ayah dan keinginan
mereka akan kenyamanan serta keselamatannya adalah dengan tidak mendesaknya
dalam urusan ini dan membatalkan permintaan mereka: {Dia (Ya'qub) berkata:
"Sesungguhnya kepergian kamu bersamanya sangat menyedihkanku"}.
Ia
menegaskan hal itu dengan huruf Lam dan Inna (sebagai penegas).
Ia memaparkan kepada mereka berbagai kejadian tak terduga dalam perpisahan,
peristiwa-peristiwa zaman, serta bahaya di padang pasir yang dapat memalingkan
mereka dari pemikiran tersebut atau mengulang permintaan: {dan aku khawatir
dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya}, karena fisiknya yang
lemah dan usianya yang kecil, di saat kalian sedang lalai, dan tiba-tiba dalam
keadaan kalian sedang asyik bermain dan sibuk dengan binatang ternak serta
gembalaan kalian.
Maka
mereka menjawabnya dengan penegasan dan tekad yang kuat, serta menunjukkan
kekuatan dan kemudaan mereka: {Jika dia dimakan serigala, sedang kami
golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang
merugi}. Maka manfaat apa yang diharapkan dari kami, dan kegunaan apa bagi
kelompok kami jika seekor serigala bisa mencapainya atau seekor binatang buas
menerkamnya? Padahal kami telah menjaga ternak dan hewan peliharaan kami sejak
lama. Jika hal semacam itu terjadi pada Yusuf, maka urusan kami adalah sebuah
kerugian dan kesudahan kami adalah kebinasaan, padahal hal itu tidak pernah
dikenal terjadi pada kami sebelumnya.
Ini
adalah bentuk penafian terhadap segala hal buruk yang diperkirakan akan
terjadi, dan upaya menyingkirkan keresahan Ya’qub serta alasan-alasannya agar
Yusuf tidak pergi. Maka Ya’qub menekan perasaan sedih yang menyelimutinya
karena hilangnya Yusuf dari pandangannya, demi mempertimbangkan kemaslahatan
anak itu untuk keluar, bermain di alam bebas, dan bersenang-senang yang
bermanfaat, serta agar takdir terus berjalan dan ketetapan Allah terwujud:
{Dan
ketetapan Allah itu adalah suatu takdir yang sudah ditentukan.} (QS.
Al-Ahzab: 38).
Yusuf
pun keluar bersama mereka keesokan harinya setelah gejolak batin yang dahsyat
antara luapan cinta dan limpahan kasih sayang dari sang ayah yang penyayang
kepada anak yang lembut lagi rupawan ini. Sang ayah melepasnya dengan
mendekapnya ke dadanya, menciumnya, memeluknya, dan mendoakannya. Ada semacam
firasat batin dan pemikiran bagi anak ini (Yusuf), sehingga ia berlindung ke
dekapan ayahnya dan meminta bantuan untuk menenangkan perasaan batin yang
meluap-luap ini. Kemudian ia merasa tenang akan baiknya perjalanan hidupnya dan
lurusnya niatnya setelah ayahnya memberitahukan bahwa itu adalah awal dari
jalan pilihan Ilahi dan pengajaran Rabbaniah. Akan tetapi, anugerah Ilahi ini
memiliki para pendengki dari kalangan manusia dan para pengintai dari kalangan
makhluk hidup; sebab setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan didengki.
Semua
ini membuat Ya’qub tidak bisa merasa tenang dan pikirannya tidak bisa damai
hingga ia melihat Yusuf berada di hadapannya kembali. Sementara itu, apa yang
semakin membakar hati saudara-saudaranya terhadapnya adalah kebencian dan hasad
karena kedudukannya. Hati Ya’qub seolah terlepas, dan ia hidup di dunia lain
saat Yusuf pergi bersama mereka; batinnya bersama Yusuf dan ruhnya melayang
mengikuti langkahnya. Allah mewahyukan kepadanya bahwa suatu perkara akan
terjadi pada Yusuf sebagai bentuk penenangan bagi Nabi yang mulia ini, Ya’qub,
dan bagi siapa saja yang seperti dia di antara para ayah yang sangat terikat
cintanya kepada keluarga dan anak, lalu ia mendengar kabar tentang anaknya yang
tidak ia sukai, sehingga akalnya bisa hilang dan ia kehilangan kesadaran:
{Dan
Kami wahyukan kepadanya: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada
mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak menyadari."} ([1])
(QS. Yusuf: 15).
([1])
Dikatakan: Bahwa firman-Nya dalam ayat ini bermakna Yusuf akan mengabarkan
kepada mereka tentang perbuatan mereka ini setelah beberapa waktu lamanya,
sebagai bentuk penghiburan baginya atas musibah yang menimpanya, dan ketenangan
yang menenteramkan ketakutannya serta meringankan kesepiannya. Dikatakan pula:
Bahwa hal itu berasal dari malaikat dari langit, atau berupa ilham yang
dimasukkan ke dalam hatinya.
Hal
itu tidak lain karena Ya’qub selalu menghitung setiap napas, gerakan, dan
diamnya Yusuf, agar ia bisa hidup bersama putranya dengan seluruh
keberadaannya, baik secara indrawi maupun maknawi. Sejak Yusuf keluar, Ya’qub
sudah merasakan perasaan ini dan terus menantikan kepulangan serta pertemuan
kembali.
Ketika
mereka telah menjauh dari pandangan Ya’qub dan terputus dari kawasan pemukiman,
mereka mulai menampakkan luapan kebencian dan amarah, lalu menumpahkannya
kepada Yusuf saat demi saat. Mereka membawanya ke sumur yang paling jauh dan
paling dalam, lalu melemparkannya ke sana tanpa rasa rahim (kasih) atau belas
kasihan. Bahkan, mereka telah merampas bajunya dan membiarkannya telanjang.
Yusuf memanggil-manggil mereka: "Wahai saudara-saudaraku, kembalikanlah
bajuku untuk menutupi diriku di dalam sumur ini; jika aku mati maka ia menjadi
kain kafanku, dan jika aku hidup maka ia menjadi penutup auratku." Namun,
tidak ada jawaban dari mereka dan tidak ada yang menaruh iba!!
Yusuf
menyerahkan urusannya kepada Allah, karena tidak ada daya untuk melawan
kelompok saudara yang bersekongkol itu, dan tidak ada kekuatan baginya untuk
menghalangi mereka dari perbuatan ini. Ia adalah teladan bagi setiap orang yang
dizalimi, dan contoh bagi setiap orang yang haknya dirampas yang tidak
menemukan daya atau upaya untuk menolak kesewenang-wenangan dan agresi terhadap
dirinya. Maka, berserah diri adalah yang pertama dan yang utama, dalam segala
kondisi, kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Mereka
melemparkannya ke dalam sumur. Dari jiwanya meluap, dan dari ujung lidahnya
meluncur doa-doa yang tulus serta rintihan yang dalam. Sebagian ulama salaf
menyebutkan sebagian dari doa tersebut—dan Allah lebih mengetahui
kebenarannya—di antaranya:
(Wahai
Dzat yang menemani setiap orang asing, wahai Teman bagi setiap yang sendirian,
wahai Tempat Berlindung bagi setiap yang ketakutan, wahai Penyingkap setiap
kesusahan, wahai Yang Mengetahui setiap bisikan rahasia, wahai Puncak dari
setiap pengaduan, wahai Yang Hadir di setiap perkumpulan. Wahai Dzat Yang Maha
Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menanamkan
harapan kepada-Mu di dalam hatiku sehingga tidak ada lagi kegundahan maupun
kesibukan bagiku selain Engkau, dan agar Engkau menjadikan bagi urusanku ini
kemudahan dan jalan keluar. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu).
Mereka
pun menjauh darinya setelah meluapkan gunung berapi kedengkian dan kebencian
mereka, sambil melihat akan jadi apa nasibnya di dalam sumur itu. Padahal Allah
berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Datanglah
sebuah sayyarah—kafilah yang sedang berjalan membawa barang
dagangan—lalu pendahulu mereka (pencari air) mendahului mereka untuk mencari
air. Ia menjatuhkan timbanya ke dalam sumur yang diberkati tersebut, lalu
menariknya untuk meredakan dahaganya, memuaskan rasa haus, dan kembali kepada
kawan-kawannya dengan membawa air serupa. Tiba-tiba, seorang pemuda yang
menyerupai bulan purnama—bahkan ia lebih mulia—berdiri tegak di hadapannya. Ia
pun berteriak dengan suara keras: "Wahai, kabar gembira! Wahai kegembiraan
dan kesenanganku! Ini adalah seorang anak laki-laki!" Ia pun memegangnya.
Telah datang dalam hadis shahih tentang Isra' bahwa Yusuf telah diberi setengah
dari keindahan (ketampanan) dunia.
Saudara-saudaranya
mengawasinya dari jauh, lalu mereka kembali kepadanya dengan cepat, bukan
karena peduli padanya, melainkan karena takut Yusuf akan kembali kepada mereka
atau kembali kepada ayah mereka. Mereka lalu mengklaim bahwa Yusuf adalah budak
milik mereka, lalu mereka menjualnya dengan harga yang sangat rendah, lebih
murah dari harga budak pada umumnya—hanya beberapa dirham saja—bukan dinar dan
bukan pula dengan timbangan yang berharga, melainkan dirham-dirham yang hanya
bisa digunakan untuk membeli barang murahan, jumlahnya sedikit dan bisa
dihitung. Hal itu mereka lakukan semata-mata untuk menyingkirkannya dan
menjauhkannya agar tidak kembali lagi. Mereka menyembunyikan identitasnya serta
mengaburkan kedudukan dan martabatnya. Para pemilik kafilah itu pun memegang
erat tangannya, menjadikannya bagian dari barang dagangan mereka, dan
membawanya sebagai budak ke pasar Mesir. Mereka semakin menyembunyikan
kondisinya, menutup-nutupi kabarnya, dan kisah tentang harganya.
Allah
Maha Mengetahui atas perbuatan mereka dan keburukan tindakan mereka. Dan
apabila Allah menghendaki sesuatu, Dia akan menyiapkan sebab-sebabnya.
Di
sana, di perkemahan dan rumah-rumah mereka, Ya’qub عليه السلام sedang menunggu
dengan penuh kesabaran untuk melihat Yusuf, dan sangat rindu untuk mendengar
suaranya atau sekadar kabar darinya.
Mereka
datang kepada ayah mereka setelah perbuatan hitam tersebut pada waktu isya: {Dan
mereka datang kepada ayah mereka pada waktu isya sambil menangis}. Yakni
pada waktu makan malam; hal itu tidak lain karena kebiasaan penggembala adalah
kembali ke perkemahan dan rumah mereka pada waktu tersebut, atau karena mereka
mencari waktu malam agar lebih mampu berdalih di dalam kegelapan. Oleh karena
itu, sebagian ulama salaf berkata: "Janganlah engkau tertipu oleh tangisan
orang yang mengadu dizalimi, karena betapa banyak orang zalim namun ia
menangis." Beliau menyebutkan tangisan saudara-saudara Yusuf yang datang
di kegelapan malam agar lebih bisa menutupi pengkhianatan mereka, bukan alasan
mereka.
Mereka
meledakkan jeritan dan ratapan. Ya’qub dalam kondisi penuh kewaspadaan dan
perhatian segera menemui mereka, hatinya berdebar ketakutan, lalu ia bertanya
kepada mereka: "Apa yang terjadi pada kalian? Apa yang menimpa
kalian?!"
{Mereka
berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami
tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala"}
(QS. Yusuf: 17).
Maka
Ya’qub pun jatuh pingsan—sebagaimana dikatakan—lalu mereka memercikinya dengan
air namun ia tidak bergerak, mereka memanggilnya namun ia tidak menjawab. Ia
jatuh dalam keadaan tidak sadar, tidak bergerak sedikit pun. Salah seorang dari
mereka berkata: "Celakalah kita di hadapan Penguasa Hari Pembalasan, kita
telah menyia-nyiakan saudara kita dan membunuh ayah kita." Ia tidak sadar
kecuali pada waktu sahur dalam keadaan menangis dan meratap. Mereka pun kembali
menegaskan kepadanya bahwa mereka tidak lalai dalam menjaga dan merawatnya,
melainkan mereka meninggalkannya bersama barang-barang dan bekal mereka—dan
barang-barang ini tidak mungkin ditinggalkan kecuali di tempat yang aman.
Kepergian mereka untuk berlomba dan berlari pun hanya sebentar, namun serigala
menerkamnya sehingga terjadilah apa yang telah terjadi. Mereka menegaskan bahwa
kecintaan Ya’qub yang berlebihan kepada Yusuf dan penguasaan Yusuf atas hati
dan akalnya akan membuat perkataan mereka ini tidak akan ia terima, tidak
dibenarkan, dan tidak didengar: {dan kamu sekali-kali tidak akan memercayai
kami, walaupun kami adalah orang-orang yang benar}.
Mereka
memperkuat ratapan dan tangisan mereka dengan baju Yusuf yang telah mereka
lumuri dengan darah palsu. Mereka melemparkannya kepada Ya’qub dengan harapan
sang ayah akan percaya pada ucapan mereka, sehingga cinta Yusuf berakhir dari
hatinya dan ia akan mengalihkan kasih sayangnya kepada mereka. Ya’qub mengambil
baju tersebut, menciumnya, memeluknya, dan mulai membolak-baliknya, namun ia
tidak melihat ada robekan maupun cabikan di sana. Maka ia berkata kepada
mereka: "Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku tidak pernah
melihat hari ini seekor serigala yang lebih santun daripada serigala yang
memakan anakku ini namun tidak merobek bajunya." Ia pun memalingkan
wajahnya dari mereka dengan penuh kemarahan dan kesedihan, seraya berkata: {Bahkan
dirimu sendirilah yang memandang baik urusan (yang buruk) itu}.
Artinya,
jiwa kalian telah menghiasi dan menganggap baik bagi kalian untuk melakukan
suatu perbuatan dalam urusan Yusuf ini. Kabar yang sebenarnya bukanlah seperti
yang kalian klaim, dan bukan seperti yang kalian tuduhkan; namun ia belum mampu
menentukan bentuk pasti dari konspirasi mereka. At-Taswil adalah
penghiasan jiwa terhadap apa yang diinginkannya, serta penggambaran hal yang
buruk dalam bentuk yang baik.
Ingatannya
kembali ke hari-hari yang lalu, tentang desakan mereka untuk mengajaknya dan
semangat mereka untuk membawanya, serta perasaannya sebelum Yusuf dibawa
tentang persekongkolan mereka terhadapnya, tangisan mereka yang dibuat-buat
lagi palsu, serta bajunya yang tidak terdapat bekas taring serigala atau
cabikan binatang buas. Maka ia melepaskan desahan dan rintihannya, serta
mengadu kepada Allah dengan penuh keluh kesah seraya berkata: {Maka
kesabaran yang baik (sabrun jamil) itulah yang aku lakukan. Dan Allah jugalah
yang dimintai pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan}. Artinya:
aku akan bersabar dengan kesabaran yang indah, yang tidak ada keluh kesah di
dalamnya dan tidak ada pengaduan kepada siapa pun selain Allah, atas apa yang
telah kalian perbuat dan dosa yang telah kalian lakukan. Dan aku memohon
pertolongan Allah atas apa yang kalian klaim dan kalian sifatkan berupa
kedustaan dan hal yang mustahil, agar Dia memberikan karunia kesabaran. ([1])
Sungguh
Allah telah menceritakan kepada kita kisah dua putra Adam, dan menceritakan
kepada kita kisah Yusuf serta saudara-saudaranya agar kita memperhatikan
pelajaran dan hikmah di dalamnya. Kita hendaknya memperhatikan penguatan
persaudaraan dan pemantapan iman di sekitarnya, serta menjauhkan diri dari
segala hal yang memicu kebencian dan permusuhan di antara saudara dalam satu
keluarga, agar keluarga tidak hidup dalam bencana dan musibah. Serta agar
tercipta rasa cinta dan sikap mengutamakan orang lain (itsar), baik atas
dasar persaudaraan darah dan nasab, maupun persaudaraan akidah dan Islam.
Persaudaraan karena Allah yang menghilangkan segala kotoran dan kedengkian
serta mencabut setiap hawa nafsu dan dendam. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah
seseorang merasakan manisnya iman, sampai ia mencintai seseorang yang tidaklah
ia mencintainya kecuali karena Allah" (HR. Bukhari).
Cinta
karena Allah adalah derajat yang agung yang mewariskan penerimaan di dunia—di
dalam keluarga, kerabat, masyarakat—dan di akhirat, di sisi Allah. Ia juga
memiliki kedudukan yang agung dalam hal pahala dan pengangkatan derajat.
Al-Bazzar
meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah ada seorang
hamba melainkan ia memiliki reputasi di langit; jika reputasinya baik maka ia
akan diletakkan (diterima) di bumi, dan jika reputasinya buruk maka ia akan
diletakkan (ditolak) di bumi." Maka sepatutnya demi kebahagiaan
keluarga, seseorang melatih dirinya di dalam keluarga untuk mencintai karena
Allah dan bersahabat dengan orang lain atas dasar cinta ini.
Demikian
pula di antara tujuan keluarga adalah:
([1])
Lihat Malamih Tarbawiyyah fil Qur'an hal. 50 dan seterusnya.
7.
Realisasi Keamanan dan Ketenteraman Psikologis serta Fisik:
Benarlah
firman Allah:
"Dan
di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan
untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya,
dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..." (QS. Ar-Rum:
21).
Iman
keluarga muslim adalah penjaga mereka dari keluh kesah dan kelemahan di saat
sulit dan ketika menghadapi penderitaan. Di hadapan kita terdapat contoh-contoh
hidup mengenai hal tersebut:
Kesabaran
Ummu Haritsah atas Kematian Putranya
Dua
Imam Hadis (Bukhari & Muslim) mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه bahwa Haritsah bin
Suraqah رضي الله
عنه gugur pada hari perang Badr, saat itu ia berada di barisan Nadzharah
([1]) (peninjau). Ia terkena sahmun gharab ([2]) (anak panah nyasar)
yang membunuhnya. Lalu ibunya datang dan berkata: "Wahai Rasulullah,
kabarkanlah kepadaku tentang Haritsah. Jika ia berada di surga, aku akan
bersabar. Namun jika tidak, maka Allah akan melihat apa yang akan aku perbuat"—maksudnya
ia akan meratapi dengan hebat, karena saat itu meratap belum diharamkan.
Maka
Rasulullah ﷺ
bersabda kepadanya: "Aduhai, apakah engkau telah kehilangan akalmu?
([3]) Sesungguhnya surga itu ada delapan, dan putra engkau telah mendapatkan
Firdaus yang tertinggi." Demikian dalam kitab Al-Bidayah (3/274).
Al-Baihaqi (9/167) juga mengeluarkannya dari Anas dengan redaksi serupa, dan
dalam satu riwayat disebutkan: "Jika ia di surga aku bersabar, namun
jika selain itu, aku akan bersungguh-sungguh menangisinya." Beliau
bersabda: "Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya ada banyak taman di surga,
dan putramu mendapatkan Firdaus yang tertinggi." Ibnu Abi Syaibah juga
mengeluarkannya sebagaimana dalam Al-Kanz (5/273), Al-Hakim (3/208), dan
Ibnu Sa'ad (3/68) dari Anas dengan makna yang sama. Dalam hadisnya disebutkan: "Wahai
Ummu Haritsah, itu bukan hanya satu surga, melainkan surga yang banyak, dan dia
berada di Firdaus yang tertinggi."
Wanita
itu (Ummu Sulaim) berkata: "Sesungguhnya aku menjadikanmu saksi dan aku
menjadikan Nabi Allah ﷺ
sebagai saksi bahwa jika engkau masuk Islam, maka dia telah rida terhadap
Islammu." Abu Thalhah berkata: "Siapa yang bisa menjamin ini
bagiku?" Ia berkata: "Wahai Anas, bangunlah dan pergilah bersama
pamanmu." Maka Anas berdiri dan meletakkan tangannya di atas pundakku,
lalu kami berangkat hingga ketika kami sudah dekat dengan Nabi Allah ﷺ, beliau mendengar
pembicaraan kami dan bersabda: "Ini adalah Abu Thalhah, di antara kedua
matanya tampak kemuliaan Islam." Lalu ia mengucapkan salam kepada Nabi
Allah ﷺ
dan berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya." Maka Rasulullah ﷺ menikahkannya atas
dasar keislamannya.
Kemudian
ia melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Setelah anak itu mulai tumbuh (daraja)
([4]) dan ayahnya sangat menyayanginya, Allah Tabaaraka wa Ta'ala
mewafatkannya. Abu Thalhah datang dan bertanya: "Apa yang dilakukan
anakku, wahai Ummu Sulaim?" Ia menjawab: "Ia dalam keadaan paling
tenang daripada sebelumnya." Lalu ia berkata: "Tidakkah engkau makan
siang? Aku telah mengakhirkan makan siangmu hari ini." Ia menyajikan makan
siang untuknya, lalu berkata: "Wahai Abu Thalhah, seandainya ada suatu
kaum meminjam suatu pinjaman ('ariyah), lalu pinjaman itu ada pada
mereka selama waktu yang Allah kehendaki, kemudian pemilik pinjaman itu
mengirim utusan untuk mengambil kembali pinjamannya, apakah mereka berhak untuk
mengeluh?" Abu Thalhah menjawab: "Tidak." Ia berkata: "Maka
sesungguhnya putramu telah meninggalkan dunia." Abu Thalhah bertanya:
"Di mana dia?" Ia menjawab: "Dia ada di kamar kecil itu."
Abu Thalhah masuk, membukanya, dan ber-istirja' ([5]).
Lalu
ia pergi menemui Rasulullah ﷺ
dan menceritakan perkataan Ummu Sulaim. Beliau bersabda: "Demi (Dzat)
yang mengutusku dengan kebenaran, sungguh Allah Tabaaraka wa Ta'ala telah
menanamkan di dalam rahimnya seorang anak laki-laki karena kesabarannya atas
(kematian) anaknya." Anas berkata: Lalu ia melahirkannya, dan Nabi
Allah ﷺ
bersabda: "Pergilah wahai Anas menemui ibumu, katakan padanya: Jika
engkau telah memotong tali pusar ([6]) anakmu, janganlah engkau memberinya
cicipan apa pun hingga engkau mengirimnya kepadaku." Anas berkata:
Lalu aku meletakkannya di atas lenganku hingga aku membawanya kepada Rasulullah
ﷺ. Beliau bersabda: "Bawakan
aku tiga butir kurma Ajwa." Aku membawakannya, lalu beliau membuang
bijinya dan mengunyahnya di mulut beliau, lalu membuka mulut bayi itu dan
memasukkannya ke dalam mulutnya. Bayi itu pun mulai mengecap-ngecap, lalu
beliau bersabda: "Anshar itu sangat suka kurma." Beliau
bersabda: "Pergilah kepada ibumu dan katakan: Semoga Allah memberkahimu
padanya dan menjadikannya anak yang berbakti lagi bertakwa."
Al-Haitsami (9/291) berkata: Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan perawi-perawinya
adalah perawi Shahih selain Ahmad bin Manshur Al-Ramadi, dan dia
terpercaya (tsiqah). Dalam riwayat Al-Bazzar lainnya disebutkan:
"Aku tidak akan menikahimu sementara engkau menyembah kayu yang diseret
oleh budakku si fulan..." —ia menyebutkan hadis tersebut dan perawinya
adalah perawi Shahih. Selesai. Ibnu Sa'ad (8/316) juga mengeluarkannya
dari Anas tanpa menyebutkan kisah masuk Islamnya Abu Thalhah.
Dalam
riwayat Bukhari (2/822) dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: Ada putra Abu Thalhah رضي الله عنه yang sedang sakit.
Lalu Abu Thalhah keluar (pergi), dan si bocah meninggal dunia. Ketika Abu
Thalhah pulang, ia bertanya: "Apa yang dilakukan anakku?" Ummu Sulaim
menjawab: "Dia sekarang dalam keadaan paling tenang." Lalu ia
menyajikan makan malam untuknya dan ia makan malam, kemudian ia (Abu Thalhah)
menggaulinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: "Uruslah bocah
itu." Pagi harinya, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah ﷺ dan mengabarkannya.
Beliau bertanya: "Apakah kalian menempuh malam pengantin semalam?"
Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Ya Allah, berkahilah
keduanya." Lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah
berkata kepadaku (Anas): "Jagalah dia hingga engkau membawanya kepada Nabi
ﷺ." Maka ia
membawanya kepada Nabi ﷺ,
dan ibunya mengirimkan beberapa butir kurma bersamanya. Nabi ﷺ mengambilnya dan
bertanya: "Apakah bersamanya ada sesuatu?" Mereka menjawab:
"Ya, beberapa butir kurma." Nabi ﷺ mengambilnya, mengunyahnya, lalu mengambil
dari mulutnya dan meletakkannya di mulut bayi tersebut serta men-tahnik-nya,
dan memberinya nama Abdullah. Dalam riwayat lain (1/174) disebutkan: Rasulullah
ﷺ bersabda: "Semoga
Allah memberkahi keduanya dalam malam mereka itu." Sufyan berkata:
Seorang lelaki dari Anshar berkata: "Maka aku melihat (bagi keduanya)
sepuluh anak laki-laki yang semuanya hafal Al-Qur'an."
Kesabaran
Ummu Khallad atas Putranya
Ibnu
Sa'ad (3/83) mengeluarkan riwayat dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syamas رضي الله عنه, ia berkata: Pada
hari (perang) Quraizhah, seorang lelaki dari Anshar yang dipanggil Khallad رضي الله عنه gugur. Lalu ibunya
didatangi dan dikatakan kepadanya: "Wahai Ummu Khallad, Khallad telah
gugur." Ia datang dalam keadaan bercadar, lalu dikatakan kepadanya:
"Khallad gugur dan engkau tetap bercadar?!" Ia menjawab: "Jika
aku kehilangan Khallad, maka aku tidak akan kehilangan rasa maluku." Hal
itu dikabarkan kepada Nabi ﷺ,
lalu beliau bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya baginya pahala dua
orang syahid." Ditanyakan: "Mengapa demikian, wahai
Rasulullah?" Beliau bersabda: "Karena Ahli Kitab yang
membunuhnya." Abu Nu'aim juga mengeluarkannya dari Abdul Khair bin
Qais bin Syamas dari ayahnya dari kakeknya sebagaimana dalam Al-Kanz
(2/157). Abu Ya'la juga mengeluarkannya melalui jalur yang sama sebagaimana
dalam Al-Ishabah (1/454), dan ia berkata: Ibnu Mandah berkata:
"Hadis gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini."
Selesai.
Kesabaran
Abu Thalhah dan Ummu Sulaim atas Kehilangan Anaknya
Al-Bazzar
mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: Ummu Sulaim رضي الله عنها datang kepada Abu
Anas (ayah Anas) dan berkata: "Hari ini aku membawa sesuatu yang engkau
benci." Ia berkata: "Engkau senantiasa membawa apa yang aku benci
dari sisi orang Badui ini (maksudnya Nabi ﷺ)." Ia menjawab: "Dia adalah
seorang lelaki Arab yang telah dipilih Allah dan dijadikan-Nya sebagai
Nabi." Ia bertanya: "Apa yang engkau bawa?" Ia menjawab:
"Khamar telah diharamkan." Ia berkata: "Ini adalah perpisahan
antara aku dan engkau." Lalu ia mati dalam keadaan musyrik.
Kemudian
Abu Thalhah رضي الله
datang kepada Ummu Sulaim, lalu ia berkata: "Aku tidak mungkin menikahimu
sementara engkau musyrik." Abu Thalhah berkata: "Tidak, demi Allah,
bukan ini dahraka ([7]) (tujuan/keinginan)-mu." Ia bertanya:
"Lalu apa tujuanku?" Ia menjawab: "Tujuanmu adalah pada emas dan
perak ([8])." Ia berkata: (Teks terputus di sini).
Catatan
Kaki Teks:
([1])
An-Nadzharah: Orang-orang yang melihat jalannya peperangan namun
tidak ikut serta di dalamnya.
([2])
Sahmun gharib: Anak panah nyasar/tidak tentu arah.
([3])
Habilti: Kehilangan akal. Di sini digunakan sebagai kiasan atas
hilangnya keseimbangan dan akal sehat akibat kesedihan mendalam karena
kehilangan anak, seolah beliau bersabda: "Apakah engkau kehilangan akal
karena kehilangan putramu hingga mengira surga itu hanya satu?"
([4])
Daraja: Mulai bisa berjalan.
([5])
Istirja': Mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi
raji'un".
([6])
As-Surrah: Tali pusar yang dipotong oleh bidan.
([7])
Dahraka: Semangatmu atau keinginanmu.
([8])
Ash-Shafra' wal Baidha': Emas dan perak.
Contoh
terbaik bagi sandaran (dukungan) adalah istri Rasulullah ﷺ.
Khadijah
binti Khuwailid:
Khadijah
binti Khuwailid, istri Rasulullah ﷺ, adalah seorang diri yang menyamai dunia. Beliau mampu
memberikan kelapangan bagi Rasulullah ﷺ, mampu meneguhkan beliau di saat sulit dan
waktu-waktu yang genting, serta di saat-saat kegoncangan. Kita telah melihat
beliau ketika Rasulullah ﷺ
datang dalam keadaan hatinya bergetar setelah turunnya wahyu kepada beliau,
seraya berkata kepada Khadijah: "Sungguh aku mengkhawatirkan diriku."
Maka Khadijah mengucapkan kalimatnya yang luar biasa dan agung: "Sekali-kali
tidak, demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selamanya.
Sesungguhnya engkau benar-benar menyambung silaturahmi, memikul beban orang
lain, memberi penghidupan bagi orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan
menolong setiap upaya membela kebenaran."
Beliau
tidak cukup hanya berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu
selamanya," tetapi beliau juga mendatangkan alasan-alasan pembicaraannya
dan dalil kejujuran ucapannya sehingga hati Rasulullah ﷺ menjadi tenang.
Kemudian beliau membuktikan hal itu secara praktis dengan pergi menemui Waraqah
bin Naufal dan memperdengarkan kepadanya apa yang dialami Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ pun mendengar dari
Waraqah bin Naufal bahwa beliau jujur dan apa yang turun kepadanya itu adalah
wahyu dari langit. Oleh karena itu, keadaan Rasulullah ﷺ berubah setelahnya;
beliau menjadi rindu kepada wahyu dan turunnya malaikat setelah sebelumnya
merasa takut dan gemetar.
Kemudian
beliau berdiri di belakang Nabi dengan harta dan perlindungannya. Beliau
laksana penyeimbang bagi masyarakat jahiliyah namun dalam hal kebaikan, dan
kedua sisi timbangan itu hampir saja seimbang. Karena itu, setiap apa yang
ditemui oleh Rasulullah ﷺ
dalam menyampaikan dakwah di siang hari, hilang di malam hari saat beliau
menemui istri yang penuh kasih sayang yang menghapuskan keletihan itu,
mencurahkan cinta, penghargaan, keteguhan, dan pengorbanan. Maka dari itulah
Allah memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah dari permata di
surga, semoga Allah meridaiku dan meridaianya.
Istri-istri
dengan tingkat ketabahan, akal, pemahaman, dan kekuatan mental seperti ini
sangat layak untuk menjadikan rumah tangga muslim aman dari guncangan jiwa dan
konflik setan, serta mampu mendidik generasi muda dan membentuk kehidupan
dengan pembentukan yang agung, yang keagungannya setara dengan ajaran risalah
dan arahan-arahan keimanan. Sebagaimana ia menghidupkan arahan-arahan Rabbaniah
dan risalah secara nyata, bukan sekadar kata-kata, melainkan melalui amal yang
dalam dan teladan sepanjang zaman, hari, dan sejarah.
8.
Pengembangan Bakat dan Pembinaan Individu di Atas Nilai-Nilai.
Tidak
diragukan lagi bahwa manusia mengambil (pelajaran) dari lingkungannya dan
belajar dari keluarga serta kedua orang tuanya, kemudian dari orang-orang yang
berinteraksi dengannya dan rekan-rekannya. Benarlah Rasulullah ﷺ ketika bersabda: "Setiap
bayi dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
Di
antara faktor besar yang menyebabkan penyimpangan anak, kerusakan akhlak, dan
runtuhnya kepribadiannya adalah: pengabaian kedua orang tua dalam memperbaiki
diri mereka sendiri, serta kesibukan mereka sehingga tidak sempat mengarahkan
dan mendidiknya.
Kita
tidak boleh mengabaikan peran ibu dalam memikul amanah dan menjalankan
kewajiban tanggung jawab terhadap mereka yang berada di bawah asuhannya,
mendidik mereka, serta mengawasi persiapan dan pengarahan mereka. Semoga Allah
merahmati orang yang berkata:
Ibu
adalah sebuah sekolah, jika engkau menyiapkannya dengan baik,
Maka
engkau telah menyiapkan sebuah bangsa yang baik budi pekertinya.
Sebab,
ibu dalam memikul tanggung jawab sama halnya dengan ayah, bahkan tanggung
jawabnya lebih penting dan lebih berisiko, mengingat dialah yang senantiasa
menyertai anaknya sejak lahir hingga tumbuh besar, beranjak remaja, dan
mencapai usia yang melayakkannya untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab
dan laki-laki yang tangguh dalam hidup. Rasulullah ﷺ telah mengkhususkan ibu dalam pemikulan
tanggung jawab ketika bersabda: "Dan seorang ibu adalah pemimpin di
rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya
(anak-anaknya)."
Hal
itu tidak lain adalah untuk menyadarkannya agar bekerja sama dengan ayah dalam
menyiapkan generasi dan mendidik anak-anak. Jika ibu melalaikan kewajiban
pendidikannya terhadap anak-anaknya karena sibuk dengan kenalan dan
teman-temannya, menerima tamu, serta sering keluar rumah; dan jika ayah
mengabaikan tanggung jawab pengarahan dan pendidikan terhadap anak-anaknya
karena menghabiskan waktu luangnya untuk hiburan dan mengunjungi kedai-kedai
kopi bersama teman-temannya;
Maka
tidak diragukan lagi bahwa anak-anak akan tumbuh seperti anak yatim, hidup
seperti orang-orang terlantar, bahkan mereka akan menjadi penyebab kerusakan
dan alat kriminalitas bagi umat secara keseluruhan.
Sungguh
luar biasa apa yang dikatakan oleh penyair:
Bukanlah
anak yatim itu orang yang kedua orang tuanya telah tiada,
Dari
beban kehidupan dan meninggalkan mereka dalam keadaan hina.
Sesungguhnya
anak yatim itu adalah yang engkau dapati padanya,
Seorang
ibu yang mengabaikan atau seorang ayah yang (selalu) sibuk.
Maka
apa yang engkau harapkan dari anak-anak yang ayah dan ibunya berada dalam
keadaan abai dan lalai seperti ini?!
Pastinya
kita tidak mengharapkan dari mereka kecuali penyimpangan, dan tidak
memperkirakan kecuali kriminalitas, akibat kesibukan ibu dari merawat dan
mendidik anak, serta pengabaian ayah akan kewajiban mendisiplinkan dan
mengawasinya.
Perkara
akan menjadi lebih buruk ketika kedua orang tua menghabiskan sebagian besar
waktu mereka dalam kehidupan dosa dan kesesatan, bergelimang dalam tungku
syahwat dan kelezatan, serta terjerumus di jalan dekadensi dan serba boleh
(liberalisme moral). Maka tidak diragukan lagi bahwa penyimpangan anak akan
menjadi lebih mendalam dan berbahaya, serta langkah-langkahnya dalam
kriminalitas akan menjadi lebih pasti dan besar.
Semoga
Allah merahmati orang yang berkata:
Dan
tidaklah tanaman yang tumbuh di dalam taman (yang terawat),
Sama
seperti tanaman yang tumbuh di padang pasir yang tandus.
Dan
apakah dapat diharapkan kesempurnaan bagi anak-anak,
Jika
mereka menyusu dari payudara wanita-wanita yang kurang (akal dan agamanya).
Islam
dalam seruannya untuk memikul tanggung jawab, telah membebankan kepada ayah dan
ibu tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anak, menyiapkan mereka
dengan persiapan yang sempurna untuk memikul beban kehidupan, serta mengancam
mereka dengan azab yang lebih besar jika mereka melampaui batas, lalai, dan
berkhianat:
{Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia
perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.}
(QS. At-Tahrim: 6).
Rasulullah
ﷺ telah menegaskan
dalam lebih dari satu perkara dan lebih dari satu wasiat tentang pentingnya
memperhatikan anak-anak, serta kewajiban menjalankan urusan mereka dan
memperhatikan pendidikan mereka.
Berikut
adalah sekumpulan dari perintah dan arahan beliau:
- "Seorang laki-laki
adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban
atas rakyatnya, dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan
akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya..." (HR. Bukhari
dan Muslim).
- "Didiklah anak-anakmu
dan baguskanlah adab mereka." (HR. Ibnu Majah).
- "Ajarkanlah kebaikan
kepada anak-anakmu dan keluargamu, dan didiklah mereka." (HR.
Abdurrazzaq dan Said bin Manshur).
- "Perintahkanlah
anak-anakmu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi
larangan-larangan, karena hal itu adalah perlindungan bagi mereka dari api
neraka." (HR. Ibnu Jarir).
- "Didiklah anak-anakmu
atas tiga perkara: mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitnya, dan
membaca Al-Qur'an; karena para pengemban Al-Qur'an berada di bawah naungan
'Arsy Allah pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya."
(HR. Ath-Thabrani).
Dan
kami akan merinci pembicaraan mengenai tanggung jawab para pendidik pada bagian
kedua dari buku "Pendidikan Anak dalam Islam". Pembaca akan menemukan
apa yang dapat memuaskan dahaga (pengetahuan), serta mengenyangkan jiwa dan
pikiran, insya Allah.
Kaum
mukminin dan orang-orang bertakwa di sepanjang sejarah senantiasa mengetahui
nilai dukungan seorang wanita bagi laki-laki dan bantuannya dalam menghadapi
hari-hari. Oleh karena itu, di antara doa mereka adalah:
{Wahai
Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa} [QS. Al-Furqan: 74].
Kami
memberikan contoh di sini tentang para istri yang menjadi penolong bagi
suami-suami mereka dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, di
antaranya:
Hajar,
Ibunda Ismail:
Wanita
yang bertakwa dan wara' yang menjadi penolong bagi suaminya dalam melaksanakan
perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: "Ibrahim عليه السلام datang membawa Ummu
Ismail (Hajar) dan putranya, Ismail, yang saat itu masih menyusu, hingga beliau
menempatkan keduanya di sisi Baitullah, di bawah sebuah pohon besar (dauhah)
di atas Zamzam pada bagian tertinggi Masjid. Saat itu di Mekah tidak ada
seorang pun dan tidak ada air. Beliau menempatkan keduanya di sana, dan
meletakkan di dekat mereka sebuah tas berisi kurma dan sebuah wadah kulit
berisi air.
Kemudian
Ibrahim عليه
السلام berbalik pergi, maka Ummu Ismail mengikutinya. Ia berkata:
'Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah yang
tidak ada manusia maupun sesuatu apa pun ini?!'
Ia
mengatakan hal itu berulang kali, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya!!
Hajar
bertanya: 'Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?'
Ibrahim
menjawab: 'Ya.'
Hajar
berkata: 'Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.'
Maka
Ibrahim عليه
السلام berangkat pergi hingga sampai di Ats-Tsaniyah (suatu tempat di
Mekah) di mana mereka tidak lagi melihat beliau. Kemudian beliau menghadapkan
wajahnya ke arah Baitullah, lalu berdoa dengan doa-doa ini seraya mengangkat
kedua tangannya:
{Ya
Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah
yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang
dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat,
maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri
rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur} [QS.
Ibrahim: 37].
Ummu
Ismail mulai menyusui Ismail dan meminum air tersebut hingga air dalam wadah
kulit itu habis. Maka ia pun merasa haus dan putranya juga haus. Ia mulai
melihat putranya meronta-ronta (kehausan). Ia pun pergi karena tidak tega
melihatnya, lalu ia mendapati Shafa adalah gunung terdekat di bumi yang berada
di hadapannya. Ia berdiri di atasnya kemudian menghadap ke arah lembah
mencari-cari apakah ia melihat seseorang? Namun ia tidak melihat siapa pun.
Lalu ia turun dari Shafa hingga sampai di lembah, ia mengangkat ujung
pakaiannya kemudian berlari-lari kecil seperti larinya orang yang kepayahan
hingga melintasi lembah tersebut. Kemudian ia mendatangi Marwah dan berdiri di
atasnya seraya mencari-cari apakah ia melihat seseorang? Namun ia tidak melihat
siapa pun. Ia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali." Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata bahwa
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Itulah (asal-mula) sa'i manusia di antara keduanya (Shafa dan
Marwah)."
Ketika
ia berada di puncak Marwah, ia mendengar sebuah suara, lalu ia berkata:
"Diam!!"—maksudnya ia menyuruh dirinya sendiri untuk diam. Kemudian
ia mendengarkan lagi dan kembali mendengar suara tersebut. Ia berkata:
"Engkau telah memperdengarkan suara, (tunjukkanlah dirimu) jika engkau
memiliki pertolongan."
Para
Wanita Muhajirat:
Tidaklah
para wanita yang berhijrah bersama suami-suami mereka demi mencari rida Allah,
melainkan mereka adalah pendorong bagi para suami menuju kemuliaan dan rida
Allah Subhanahu wa Ta'ala di tengah keterasingan serta meninggalkan harta,
tempat tinggal, dan keluarga. Kita telah melihat para wanita muslimah berhijrah
ke Habasyah dan ke Madinah mendampingi suami-suami mereka, dan tidaklah hal ini
melainkan sebuah dukungan, dorongan, pengagungan urusan suami, dan kemudahan
bagi urusannya.
Maka
ia pun mendapati malaikat (Jibril) di tempat Zamzam. Malaikat itu menggali
dengan tumitnya atau sayapnya hingga air muncul. Lalu Hajar mulai membuat
bendungan (di sekeliling air) dan membentuknya dengan tangannya seperti ini, ia
mulai menciduk air ke dalam wadah kulitnya sementara air itu terus memancar
setelah ia menciduknya. Ia pun minum dan menyusui putranya.
Malaikat
itu berkata kepadanya: "Janganlah kalian takut akan kebinasaan, karena di
sini ada rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya, dan
sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya."
Hajar
mendidik Ismail عليه
السلام di samping Baitullah sebagai anak yang sabar, bertakwa, dan
berbakti, hingga anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya.
Tiba-tiba Ibrahim عليه
السلام datang untuk menyembelih putranya sebagai pembenaran atas mimpi
yang beliau lihat. Beliau mengetahui bahwa itu adalah isyarat dari Allah
sebagai ujian dengan menyembelih Ismail, maka datanglah perintah untuk itu:
{Maka
tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim,
Ibrahim berkata: "Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa
aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab:
"Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah
kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"} [QS.
Ash-Shaffat: 102].
Aduhai,
alangkah indahnya iman, ketaatan, dan kepasrahan ini.
Inilah
Ibrahim, seorang syeikh (orang tua) yang terputus dari keluarga dan kerabatnya,
berhijrah dari tanah air dan buminya, datang untuk menaati perintah Allah
dengan menyembelih putranya. Dan inilah sang ibu yang sabar dan sendirian di
tempat ini, bersabar dan menaati Allah serta menolong suaminya dalam ketaatan
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan inilah sang anak kecil yang mengetahui
maksud ayahnya, lalu memerintahkan ayahnya untuk menaati Allah Subhanahu wa
Ta'ala.
Abu
Hurairah berkata: Ketika Ibrahim bermaksud menyembelih putranya, setan berkata:
"Jika aku tidak menggoda mereka pada saat seperti ini, maka aku tidak akan
pernah bisa menggoda mereka selamanya." Maka Ibrahim عليه السلام keluar membawa
putranya, lalu setan mendatangi ibunya (Hajar) dan bertanya: "Ke mana
Ibrahim pergi membawa putramu?" Hajar menjawab: "Ia membawanya pergi
untuk suatu keperluan." Setan berkata: "Ia tidak membawanya untuk
suatu keperluan, ia membawanya pergi untuk menyembelihnya." Hajar
bertanya: "Mengapa ia menyembelihnya?" Setan menjawab: "Ia
mengklaim bahwa Tuhannya memerintahkannya melakukan itu." Hajar berkata:
"Maka ia telah berbuat baik dengan menaati Tuhannya."
Setan
lalu pergi mengikuti jejak keduanya dan bertanya kepada si anak (Ismail):
"Ke mana ayahmu membawamu pergi?" Ismail menjawab: "Untuk suatu
keperluan." Setan berkata: "Ia membawamu pergi untuk
menyembelihmu." Ismail bertanya: "Mengapa ia menyembelihku?"
Setan menjawab: "Ia mengklaim bahwa Tuhannya memerintahkannya melakukan
itu." Ismail berkata: "Demi Allah, jika memang Allah memerintahkannya
demikian, maka ia pasti akan melakukannya." Setan pun merasa kecewa
darinya dan meninggalkannya.
Lalu
setan menyusul Ibrahim عليه
السلام dan mengatakan hal yang sama kepadanya, namun Ibrahim menjawab:
"Jika memang Allah memerintahkanku melakukan itu, maka aku pasti akan
melakukannya." Maka putus asalah setan dari menggoda mereka ([1]).
([1])
Lihat mengenai hal itu: Tafsir Ibnu Katsir 4/17.
Kesabaran
yang menakjubkan, ketaatan, dan bantuan atas perintah Allah dari seorang istri
yang beriman dan seorang anak bertakwa yang dididik dengan pendidikan yang
sehat dan beriman.
Ismail
tumbuh besar dan belajar bahasa Arab, kemudian ibunya wafat. Ismail pun
menikah. Suatu hari Ibrahim datang untuk menanyakan kabarnya, namun beliau
mendapati Ismail memiliki istri yang tidak salehah, tidak bersyukur, dan tidak
membantu. Maka Ibrahim memerintahkan Ismail untuk menceraikannya, dan Ismail
pun melakukannya. Para perawi menceritakan: Ibrahim datang setelah pernikahan
Ismail untuk meninjau keadaan putranya, namun beliau tidak mendapati Ismail.
Beliau bertanya kepada istrinya tentang Ismail, sang istri menjawab: "Dia
pergi berburu untuk kami." Kemudian Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan
keadaan mereka, sang istri menjawab: "Kami dalam keadaan yang buruk, kami
dalam kesempitan dan kesulitan," dan ia pun mengeluh kepada Ibrahim!!
Ibrahim
berkata kepadanya: "Apabila suamimu datang, sampaikan salam kepadanya, dan
katakan kepadanya: hendaklah ia mengganti ambang pintunya" (sebuah kiasan
untuk perceraian).
Tatkala
Ismail datang, ia bertanya: "Apakah ada seseorang yang mendatangi
kalian?" Istrinya menjawab: "Ya, telah datang kepada kami seorang
syeikh (tua) yang begini dan begitu" (ia mensifatkannya kepada Ismail).
"Dia bertanya tentangmu, lalu aku kabarkan. Kemudian dia bertanya
bagaimana kehidupan kita, maka aku kabarkan bahwa aku dalam keletihan dan
kesulitan." Ismail bertanya: "Apakah dia mewasiatkan sesuatu
kepadamu?" Istrinya menjawab: "Ya, dia memerintahkanku untuk
menyampaikan salam kepadamu, dan berkata kepadamu: 'Gantilah ambang
pintumu'."
Ismail
berkata: "Itu adalah ayahku, dan dia telah memerintahkanku untuk
memisahkanmu (menceraikanmu). Kembalilah kepada keluargamu." Maka Ismail
menceraikannya dan menikah lagi dengan wanita lain.
Ibrahim
datang lagi setelah beberapa lama dan tidak mendapati Ismail. Beliau bertanya
kepada istrinya: "Di mana Ismail dan bagaimana keadaan kalian?" Istri
kedua itu menjawab: "Dia pergi berburu untuk kami, dan kami dalam keadaan
baik serta lapang. Tidakkah engkau berkenan singgah untuk makan dan
minum?"
Ibrahim
bertanya: "Apa makanan dan minuman kalian?" Ia menjawab:
"Makanan kami daging dan minuman kami air." Ibrahim berdoa: "Ya
Allah, berkahilah mereka dalam makanan dan minuman mereka." Kemudian
beliau berkata kepadanya: "Apabila suamimu datang, sampaikan salam
kepadanya dan perintahkan dia untuk memperkokoh ambang pintunya."
Ismail
datang dan bertanya: "Apakah ada seseorang yang mendatangi kalian?"
Sang istri menjawab: "Ya, telah datang kepada kami seorang syeikh yang
berpenampilan baik," dan ia memujinya. "Dia bertanya kepadaku
tentangmu, maka aku kabarkan bahwa kami dalam keadaan baik." Ismail
bertanya: "Apakah dia mewasiatkan sesuatu kepadamu?" Ia menjawab:
"Ya, dia menyampaikan salam kepadamu, dan memerintahkanmu untuk
memperkokoh ambang pintumu." Ismail berkata: "Itu adalah ayahku, dan
engkau adalah ambang pintu itu. Beliau memerintahkanku untuk memperkokohmu dan
tetap memegangmu (mempertahankanmu sebagai istri)."
Ibrahim
mendapati pada istri yang pertama bahwa dia tidak bersyukur, tidak merasa cukup
(qana'ah), dan bukan tipe wanita yang pantas berada di belakang seorang
Nabi atau lelaki yang berjuang dalam hidup serta bersabar bersamanya dalam
kesulitan, maka beliau memerintahkan untuk menceraikannya. Beliau mendapati
pada istri kedua sosok yang bersyukur, agung, berbakti, dan mampu melakukan hal
tersebut, maka beliau memerintahkan untuk mempertahankannya. Dan boleh jadi
istri pertama adalah sebab kesempitan hidup, sedangkan istri kedua adalah sebab
kelapangan, kemakmuran, dan bantuan.
9-
Memikul Amanah Dakwah Islam dan Membelanya serta Membela Kaum Muslimin:
Maka,
pemuda harus mengetahui bahwa mereka memiliki identitas dalam hidup, memiliki
tujuan di dunia, dan memiliki misi di bumi yang berjalan dengan pemikiran dan
bekerja untuk suatu target. Pemuda adalah lengan kuatnya, akalnya yang cerdas,
dan tekadnya yang membara. Anak-anak umat ini harus dilatih melakukan
pekerjaan-pekerjaan besar sebagai persiapan untuk menjalankan peran penting
yang menanti mereka dalam hidup, di mana mereka harus layak untuk peran
tersebut.
Jika
engkau ingin—wahai saudaraku sang pendidik—anakmu menjadi salah satu prajurit
Islam dan dai kebenaran, maka engkau harus menghubungkan anakmu dengan para dai
yang jujur dan pemberi petunjuk yang ikhlas. Dari merekalah ia mengambil tekad
keimanan, melalui mereka ia terdorong menuju jihad, dan dengan pembinaan mereka
ia meluncur di medan dakwah kepada Allah. Sehingga jika ia lulus di tangan
mereka dan menunggangi kuda jihad dakwah, ia akan menjalankan peran besar dalam
penyelamatan, pemberian petunjuk, perbaikan, dan penyampaian (tablig), tanpa
kelalaian, sikap pasrah yang salah (tawakul), atau kekurangan.
Betapa
dunia Islam sangat membutuhkan anak-anak yang menyusu air susu dakwah Islam
sejak usia dini, bernaung di bawah naungan amal haraki (pergerakan) dan jihad
tablig padahal mereka belum mencapai usia dewasa (baligh). Sehingga
ketika mereka mencapai usia yang melayakkan mereka untuk memikul risalah Islam
yang kekal, mereka meluncur ke pelosok bumi, memberikan peradaban bagi
bangsa-bangsa, memuliakan manusia, menetapkan pengetahuan, menolong kebenaran,
mengajak kepada petunjuk, serta memenuhi bumi dengan keadilan, keamanan, dan
stabilitas.
Mereka
meluncur di gelanggang dakwah dan jihad tanpa rasa takut maupun gentar. Mereka
menyampaikan risalah-risalah Tuhan mereka dan tidak takut kepada siapa pun
kecuali Allah, hingga pada akhirnya mereka sampai pada penegakan syariat Allah,
pendirian negara Islam, dan mengembalikan kemuliaan menjulang serta keagungan
yang kokoh yang telah dibangun oleh para pendahulu—sebuah negara besar yang
luas yang matahari tidak pernah terbenam dari buminya!! Dan yang demikian itu
tidaklah sulit bagi Allah.
1-
Anak Muda dalam Kisah Ashabul Ukhdud sebagai Teladan bagi Anak-anak:
Muslim
meriwayatkan dari Shuhaib رضي الله
عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Dahulu ada seorang raja pada umat sebelum kalian, ia
memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah tua, ia berkata
kepada raja: "Sesungguhnya aku telah tua, maka utuslah kepadaku seorang
pemuda agar aku ajarkan kepadanya ilmu sihir." Maka raja mengutus seorang
pemuda kepadanya. Pemuda itu mendengar pembicaraan tukang sihir dan
mengaguminya. Di tengah perjalanannya menuju tukang sihir, ia melewati seorang
rahib (ahli ibadah). Ia duduk dan mendengarkan perkataan rahib tersebut yang membuatnya
kagum. Jika ia mendatangi tukang sihir, ia melewati rahib tersebut. Rahib itu
berkata: "Jika engkau takut kepada tukang sihir, katakanlah: 'Keluargaku
menahanku', dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakanlah: 'Tukang sihir
menahanku'."
Ketika
ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba muncul seekor binatang besar ([1]) yang
menghalangi orang-orang. Pemuda itu berkata: "Ya Allah, jika urusan rahib
lebih Engkau cintai daripada urusan tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini
agar orang-orang bisa lewat." Ia pun melemparnya lalu membunuhnya dan
orang-orang pun bisa lewat ([2]). Ia mendatangi rahib dan mengabarkannya. Rahib
itu berkata kepadanya: "Wahai anakku, hari ini engkau lebih mulia dariku.
Urusanmu telah sampai pada tingkat yang aku lihat. Sesungguhnya engkau akan
diuji; jika engkau diuji, janganlah tunjukkan keberadaanku."
Pemuda
itu (dengan izin Allah) bisa menyembuhkan orang yang buta sejak lahir (akmah)
dan orang yang berpenyakit kulit (abrash), serta mengobati manusia dari
segala macam penyakit. Hal itu terdengar oleh teman dekat raja yang telah buta.
Ia mendatangi pemuda itu dengan membawa banyak hadiah dan berkata: "Semua
yang ada di sini untukmu jika engkau menyembuhkanku." Pemuda itu menjawab:
"Sesungguhnya aku tidak menyembuhkan siapa pun, yang menyembuhkan hanyalah
Allah Ta'ala. Jika engkau beriman kepada Allah Ta'ala, aku akan berdoa kepada
Allah agar menyembuhkanmu." Maka ia beriman kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya.
Ia mendatangi raja dan duduk di dekatnya seperti biasa. Raja bertanya:
"Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?" Ia menjawab:
"Tuhanku." Raja bertanya: "Apakah engkau punya Tuhan selain
aku?" Ia menjawab: "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Maka raja
menyiksanya terus-menerus hingga ia menunjukkan keberadaan pemuda itu.
Pemuda
itu pun didatangkan. Raja berkata: "Wahai anakku, sihirmu telah mencapai
tingkat bisa menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit kulit, dan engkau
melakukan ini dan itu." Pemuda itu menjawab: "Sesungguhnya aku tidak
menyembuhkan siapa pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah Ta'ala." Maka
raja menyiksanya terus-menerus hingga ia menunjukkan keberadaan sang rahib.
Rahib itu didatangkan dan dikatakan kepadanya: "Kembalilah dari
agamamu!" Namun ia menolak. Maka raja meminta gergaji, lalu diletakkan di
tengah kepalanya dan dibelah hingga kedua belahannya jatuh. Kemudian
didatangkan teman dekat raja tadi, dikatakan: "Kembalilah dari
agamamu!" Namun ia menolak, maka diletakkan gergaji di tengah kepalanya
dan dibelah hingga kedua belahannya jatuh.
Kemudian
didatangkanlah pemuda itu. Dikatakan kepadanya: "Kembalilah dari
agamamu!" Namun ia menolak. Maka raja menyerahkannya kepada sekelompok
pengawalnya dan berkata: "Bawalah dia ke gunung ini dan itu, daki gunung
itu bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya, jika ia mau kembali dari
agamanya (lepaskanlah), jika tidak, maka lemparkanlah dia." Mereka
membawanya mendaki gunung, lalu pemuda itu berdoa: "Ya Allah, cukupilah
aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki." Maka gunung itu
berguncang dan mereka semua jatuh, sementara pemuda itu datang kembali berjalan
menemui raja. Raja bertanya: "Apa yang dilakukan teman-temanmu?" Ia
menjawab: "Allah Ta'ala telah mencukupiku dari mereka."
Lalu
raja menyerahkannya lagi kepada sekelompok pengawalnya dan berkata:
"Bawalah dia di atas sebuah sampan (qurqur) dan bawalah ke tengah
laut. Jika ia mau kembali dari agamanya (lepaskanlah), jika tidak, maka
lemparkanlah." Mereka membawanya, lalu ia berdoa: "Ya Allah,
cukupilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki." Maka sampan
itu terbalik dan mereka semua tenggelam, sementara pemuda itu datang kembali
berjalan menemui raja. Raja bertanya: "Apa yang dilakukan
teman-temanmu?" Ia menjawab: "Allah Ta'ala telah mencukupiku dari
mereka." Lalu ia berkata kepada raja: "Sesungguhnya engkau tidak akan
bisa membunuhku hingga engkau mengumpulkan semua orang di satu tanah lapang,
dan engkau menyalibku pada sebuah batang pohon. Kemudian ambillah anak panah
dari wadah panahku, letakkan anak panah itu di tengah busur, lalu ucapkanlah:
'Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini', kemudian panahlah aku. Jika
engkau melakukan itu, engkau bisa membunuhku."
Maka
raja mengumpulkan semua orang di satu tanah lapang, menyalibnya di batang
pohon, mengambil anak panah dari wadah panah si pemuda, meletakkannya di tengah
busur, dan mengucapkan: "Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda
ini." Lalu ia memanahnya, dan anak panah itu mengenai pelipisnya—yaitu
antara mata dan daun telinga. Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya
lalu meninggal. Orang-orang pun berkata: "Kami beriman kepada Tuhan pemuda
ini!" Raja pun didatangi dan dikatakan: "Tahukah engkau hal yang selama
ini engkau khawatirkan? Demi Allah, kekhawatiranmu telah terjadi, orang-orang
telah beriman."
Maka
raja memerintahkan untuk membuat parit (ukhdud) di mulut-mulut jalan,
lalu parit itu digali dan dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata: "Siapa
yang tidak kembali dari agamanya, maka ceburkanlah dia ke dalamnya," atau
dikatakan: "Ceburkanlah dirimu!" Mereka pun melakukannya, hingga
datanglah seorang wanita bersama bayinya. Wanita itu sempat ragu-ragu untuk
terjun ke dalamnya, lalu si bayi berkata kepadanya:
"Wahai
ibunda bersabarlah, karena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran."
([1])
([1])
Dalam riwayat Abdurrazzaq: Seekor singa.
([2])
Dalam riwayat Abdurrazzaq: Orang-orang berkata: "Sungguh pemuda ini telah
mengetahui suatu ilmu yang tidak diketahui oleh siapa pun."
Dalam
riwayat Abdurrazzaq disebutkan: "Itulah firman Allah: {Binasalah
orang-orang yang membuat parit, (yaitu parit) yang berapi (yang mempunyai) kayu
bakar} hingga sampai pada ayat {Maha Perkasa lagi Maha Terpuji}. Ia
berkata: 'Adapun pemuda itu, sesungguhnya ia dikuburkan.' Ia menyebutkan bahwa
makamnya digali pada zaman Umar bin Khattab, dan didapati jarinya masih berada
di pelipisnya sebagaimana posisi saat ia meletakkannya (ketika wafat)."
2-
Contoh-Contoh Pengorbanan dan Jihad Anak-Anak Sahabat serta Salafus Shalih:
1-
Para Ibu yang Mendorong Anak-Anak Mereka untuk Berjihad:
Ibnu
Abi Syaibah meriwayatkan dari Al-Sya'bi: Bahwa seorang wanita menyerahkan
sebilah pedang kepada putranya pada hari Perang Uhud, namun anak itu tidak kuat
memanggulnya. Maka sang ibu mengikatkan pedang itu ke lengan anaknya dengan
tali kulit, kemudian ia membawanya menghadap Nabi ﷺ dan berkata: "Wahai Rasulullah, ini
putraku, ia akan berperang membelamu." Nabi ﷺ bersabda: "Wahai anakku, menyeranglah
di sini! Wahai anakku, menyeranglah di sini!" Lalu anak itu terkena luka,
maka ia dibawa menghadap Nabi ﷺ.
Beliau bertanya: "Wahai anakku, mungkinkah engkau merasa takut?" Ia
menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah."
2-
Para Ibu yang Bergembira dengan Syahidnya Anak-Anak Mereka:
Ahmad
dan Bukhari mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه bahwa Haritsah bin
Al-Rabi' datang pada hari Perang Badr sebagai pengawas (peninjau) dan saat itu
ia masih belia. Lalu datanglah anak panah nyasar yang mengenai pangkal lehernya
dan membunuhnya. Ibunya, Al-Rabi', datang dan berkata: "Wahai Rasulullah,
engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di hatiku. Jika ia termasuk penduduk
surga, aku akan bersabar. Jika tidak, maka Allah akan melihat apa yang akan aku
perbuat." Beliau bersabda: "Wahai Ummu Haritsah! Sesungguhnya surga
itu bukan satu, melainkan surga yang banyak, dan ia berada di Firdaus yang
tertinggi." ([2])
3-
Anak-Anak yang Membunuh Para Thaghut Musuh Rasulullah ﷺ:
Dari
Abdurrahman bin Auf رضي الله
عنه, ia berkata: "Ketika aku sedang berdiri di barisan pada
hari Perang Badr, aku menoleh ke kanan dan kiriku, tiba-tiba aku berada di
antara dua anak muda yang masih belia dari kaum Anshar. Aku sempat berharap
seandainya aku berada di antara orang-orang yang lebih kuat dari mereka.
Tiba-tiba salah satunya menyenggolku dan bertanya: 'Wahai paman, apakah engkau
kenal Abu Jahl?' Aku menjawab: 'Ya, apa keperluanmu dengannya wahai putra
saudaraku?' Ia berkata: 'Aku dikabari bahwa ia mencaci Rasulullah ﷺ. Demi Dzat yang
jiwaku berada di tangan-Nya, jika aku melihatnya, bayanganku tidak akan
berpisah dari bayangannya hingga yang paling cepat ajalnya di antara kami
mati.' Aku pun heran dengan hal itu. Lalu yang satunya lagi menyenggolku dan
mengatakan hal yang sama. Tidak lama kemudian, aku melihat Abu Jahl berjalan di
antara orang-orang. Aku berkata kepada keduanya: 'Tidakkah kalian lihat? Itu
adalah orang yang kalian tanyakan.' Maka keduanya segera berlari dan memukulnya
dengan pedang mereka hingga membunuhnya. Kemudian keduanya kembali menghadap
Rasulullah ﷺ
dan mengabarkannya. Beliau bertanya: 'Siapa di antara kalian yang membunuhnya?'
Masing-masing menjawab: 'Aku yang membunuhnya.' Beliau bertanya: 'Apakah kalian
sudah menyeka pedang kalian?' Mereka menjawab: 'Belum.' Beliau melihat kedua
pedang itu dan bersabda: 'Kalian berdua telah membunuhnya.' Lalu beliau
menetapkan harta rampasannya untuk Mu'adh bin Amr bin Al-Jamuh, dan nama yang
satunya adalah Mu'adh bin Afra'." (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan
Abu Ya'la dalam Musnad-nya 2/170 dengan sanad shahih).
4-
Anak-Anak yang Menangis dan Bersembunyi Agar Bisa Keluar Berjihad:
Ibnu
Asakir meriwayatkan dari Sa'ad bin Abi Waqqas رضي الله عنه, ia berkata:
"Rasulullah ﷺ
menolak Umair bin Abi Waqqas untuk berangkat ke Badr karena menganggapnya masih
kecil. Maka Umair رضي الله
عنه menangis, hingga akhirnya beliau mengizinkannya." Sa'ad
berkata: "Maka aku ikatkan tali pedangnya. Sungguh aku telah mengikuti
Perang Badr, sementara di wajahku tidak ada kecuali sehelai bulu (kumis) yang
aku usap dengan tanganku." ([3])
Ibnu
Sa'ad meriwayatkan dari Sa'ad رضي الله
عنه, ia berkata: "Aku melihat saudaraku, Umair bin Abi Waqqas رضي الله عنه, sebelum Rasulullah ﷺ memeriksa barisan
kami pada hari Badr, ia sedang bersembunyi. Aku bertanya: 'Ada apa denganmu
wahai saudaraku?' Ia menjawab: 'Aku takut Rasulullah ﷺ melihatku lalu menganggapku kecil dan
menolakku, padahal aku ingin keluar (berperang) agar Allah mengaruniakan
syahadah kepadaku'." Sa'ad berkata: "Maka aku mengikatkan tali
pedangnya karena kecilnya tubuhnya. Ia pun gugur terbunuh saat usianya enam
belas tahun." ([4])
Al-Hakim
meriwayatkan dalam Al-Mustadrak 2/59—ia berkata sanadnya shahih dan disetujui
oleh Al-Dzahabi—dari Zaid bin Haritsah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ menganggap masih
kecil beberapa orang pada hari Uhud, di antaranya: Zaid bin Haritsah (maksudnya
dirinya sendiri), Al-Bara bin Azib, Zaid bin Arqam, Sa'ad, Abu Said Al-Khudri,
Abdullah bin Umar, dan menyebutkan pula Jabir bin Abdullah.
5-
Anak-Anak Meminta Perlengkapan untuk Berjihad:
Muslim
dan Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه bahwa seorang pemuda
dari kabilah Aslam berkata: "Wahai Rasulullah ﷺ, sesungguhnya aku ingin berperang namun
aku tidak memiliki perlengkapan." Beliau bersabda: "Datangilah si
fulan, ia telah menyiapkan perlengkapan namun kemudian jatuh sakit."
Pemuda itu pun mendatanginya dan berkata: "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyampaikan salam
kepadamu dan bersabda: 'Berikanlah kepadaku perlengkapan yang telah engkau
siapkan'." Maka lelaki itu berkata kepada istrinya: "Wahai fulanah,
berikanlah kepadanya perlengkapan yang telah kusiapkan dan jangan engkau tahan
sedikit pun darinya. Demi Allah, tidaklah engkau menahan sesuatu darinya
melainkan Allah akan memberkahi kita di dalamnya."
Dari
Samurah bin Jundub, ia berkata: "Rasulullah ﷺ memeriksa barisan kami dari kaum Anshar,
beliau meloloskan siapa yang sudah dewasa di antara mereka. Aku diperiksa pada
suatu tahun, lalu beliau meloloskan seorang pemuda dan menolakku. Aku berkata:
'Wahai Rasulullah, engkau meloloskannya dan menolakku, padahal jika aku beradu
gulat dengannya, aku pasti akan menjatuhkannya.' Beliau bersabda:
'Bergulatlah!' Maka aku bergulat dengannya dan menjatuhkannya, sehingga beliau
meloloskanku." (Al-Hakim berkata sanadnya shahih). ([5])
6-
Para Ayah yang Membawa Anak-Anak Mereka ke Medan Perang:
Bukhari
mengeluarkan riwayat dari Urwah bin Al-Zubair رحمه الله, ia berkata:
"Pada tubuh Al-Zubair terdapat tiga bekas luka pukulan (pedang), salah
satunya di pundaknya. Sungguh aku dahulu memasukkan jari-jariku ke dalamnya dan
memainkannya saat aku masih kecil." Para sahabat Rasulullah ﷺ berkata kepadanya
pada hari Perang Yarmuk: "Tidakkah engkau menyerang, sehingga kami bisa
menyerang bersamamu?"
Al-Zubair
berkata: "Jika aku menyerang, kalian pasti akan tertinggal (bohong)."
Mereka menjawab: "Jangan katakan itu." Maka ia menyerang mereka
hingga membelah barisan musuh dan melewati mereka sementara tidak ada seorang
pun bersamanya. Kemudian ia kembali lagi, lalu musuh memegang tali kendalinya
dan memukul pundaknya dengan dua pukulan pedang, di antara keduanya terdapat
bekas luka yang ia dapatkan pada hari Badr. Urwah berkata: "Saat itu
Abdullah (bin Al-Zubair) bersamanya pada hari Yarmuk, usianya sepuluh tahun,
Al-Zubair menaikkannya ke atas kuda dan mewakilkan seorang lelaki untuk
menjaganya."
Ibnu
Jarir meriwayatkan dalam Tahdzib al-Atsar 1/94 dengan sanadnya dari
Abdullah bin Al-Zubair, ia berkata: "Aku dan Umar bin Abi Salamah berada
di benteng pada hari Perang Khandaq. Umar merunduk agar aku bisa melihat
peperangan, dan aku merunduk untuknya agar ia bisa melihat peperangan. Aku melihat
ayahku berkeliling di tanah asin, menyerang ke arah mereka sekali, dan ke arah
yang lain sekali. Aku bertanya kepadanya: 'Wahai ayah, aku melihatmu menyerang
di tanah asin itu ke sana kemari.' Ayah berkata: 'Rasulullah ﷺ hari ini telah
mengumpulkan bagiku kedua orang tuanya ([6])'."
Dalam
riwayat lain baginya disebutkan: Ayah bertanya: "Apakah engkau melihatku,
wahai anakku?" Aku menjawab: "Ya." Ayah berkata:
"Rasulullah ﷺ
saat itu mengumpulkan bagi ayahmu kedua orang tuanya dengan bersabda:
'Seranglah, tebusannya adalah ayah dan ibuku'."
Dengan
jihad semacam inilah para sahabat mendidik anak-anak mereka. Mereka tidak
mengenal rasa malas atau merasa berat terikat pada bumi (dunia). Sebaliknya,
mereka menggunakan berbagai cara agar Nabi ﷺ tidak menganggap mereka kecil lalu menolak
mereka. Terkadang mereka menangis, di lain waktu mereka bersembunyi, dan yang
ketiga mereka berdiri di atas ujung jari kaki (agar tampak tinggi). Semua itu
dilakukan agar mereka bisa keluar berjihad di jalan Allah dan meraih syahadah
akhirat yang tidak tertandingi oleh ijazah (sertifikat) dunia mana pun secara
mutlak. Mereka membangun masa depan yang cerah, mulia, abadi, dan kekal di
surga yang luasnya seluas langit dan bumi.
Ya
Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan
dalam urusan kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum
yang kafir.
Oleh
karena itu, Imam Syahid Al-Banna berkhotbah kepada para pemuda dengan berkata:
"Wahai
para pemuda:
Sesungguhnya
suatu pemikiran (ide) hanya akan berhasil jika iman kepadanya kuat, keikhlasan
dalam jalannya tersedia, semangat terhadapnya meningkat, dan terdapat kesiapan
yang mendorong pada pengorbanan serta amal untuk mewujudkannya. Keempat rukun
ini—Iman, Ikhlas, Semangat, dan Amal—seolah-olah merupakan karakteristik para
pemuda. Karena dasar dari Iman adalah hati yang cerdas, dasar dari Ikhlas
adalah sanubari yang murni, dasar dari Semangat adalah perasaan yang kuat, dan
dasar dari Amal adalah tekad yang membara. Semua ini tidak ada melainkan pada
pemuda. Dari sinilah, dahulu maupun sekarang, di setiap umat, pemuda adalah
pilar kebangkitannya, dalam setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia
kekuatannya, dan dalam setiap pemikiran pemuda adalah pembawa panjinya."
{Sesungguhnya
mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah
pula untuk mereka petunjuk.} [QS. Al-Kahfi].
Catatan
Kaki:
([1])
Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz Uyun al-Sud—Syaikh al-Qurra'
rahimahullah—memberikan komentar kepada saya atas sikap ibu ini ketika saya
menyodorkan riset ini kepadanya untuk ditinjau; beliau menulis di pinggir
halaman: "(Mendahulukan perintah Allah di atas kasih sayang kepada
anak)." Habib al-Rahman al-A'dzami berkata dalam komentarnya atas Mushannaf
Abdurrazzaq: "Dikeluarkan oleh Tirmidzi, Ahmad, dan Muslim."
([2])
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad, Ibnu Khuzaimah, dan Ath-Thabrani. Lihat Shahih
al-Jami' no. 7853.
([3])
Kanz al-Ummal 5/270 dan Al-Hakim 3/88.
([4])
Al-Ishabah 135.
([5])
Lihat Uqud al-Jawahir al-Munifah 2/97.
([6])
Bukhari Bab Fadhail 13, Muslim 4/1880, dan Musnad Ahmad 1/164 dengan
perbedaan redaksi. Lihat juga Thabaqat Ibnu Sa'ad 3/106 dan Al-Bidayah
4/107. Diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dalam Musnad-nya 2/35 dengan sanad
shahih.
Dan
dari sinilah tugas-tugas kalian menjadi banyak, dari sinilah tanggung jawab
kalian menjadi besar, dari sinilah hak-hak umat kalian atas kalian menjadi
berlipat ganda, dan dari sinilah amanah di pundak kalian menjadi berat. Dari
sinilah wajib bagi kalian untuk berpikir panjang, bekerja keras, menentukan
sikap kalian, maju untuk melakukan penyelamatan, dan memberikan hak umat ini
secara sempurna dari potensi pemuda ini.
Terkadang
seorang pemuda tumbuh dalam umat yang tenang dan damai, kuat kekuasaannya dan
luas pembangunannya, sehingga ia lebih banyak mencurahkan perhatian pada
dirinya sendiri daripada umatnya; ia bermain-main dan bersenda gurau dalam
keadaan jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.
Namun,
adakalanya ia tumbuh dalam umat yang berjuang dan bekerja keras, yang telah
dikuasai oleh pihak lain, dan urusannya diktator oleh musuhnya. Umat tersebut
berjuang sekuat tenaga demi mengembalikan hak yang dirampas, warisan yang
dicolong, kebebasan yang hilang, kemuliaan yang tinggi, dan teladan yang luhur.
Saat itulah, termasuk kewajiban yang paling utama bagi pemuda ini adalah
mencurahkan perhatian pada umatnya lebih banyak daripada perhatian pada dirinya
sendiri. Dengan melakukan hal itu, ia akan mendapatkan kebaikan yang segera di
medan kemenangan, serta kebaikan yang tertunda berupa pahala dari Allah. Dan
barangkali termasuk keberuntungan kita bahwa kita termasuk dalam kelompok yang
kedua ini, sehingga mata kita terbuka pada umat yang tekun berjihad dan
terus-menerus berjuang demi kebenaran dan kebebasan. Bersiaplah wahai para
lelaki, karena betapa dekat kemenangan bagi orang-orang mukmin dan betapa agung
kesuksesan bagi para pekerja yang tekun.
Wahai
para pemuda:
Sesungguhnya
Allah telah memuliakan kalian dengan penisbatan diri kepada-Nya, iman
kepada-Nya, dan tumbuh di atas agama-Nya. Dengan itu, Allah telah menetapkan
bagi kalian derajat terdepan di dunia, kedudukan pemimpin di antara alam
semesta, dan kemuliaan seorang guru di antara murid-muridnya: {Kamu adalah
umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf,
dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah} [QS. Ali Imran].
{Dan
demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan
pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia} [QS. Al-Baqarah].
Maka
hal pertama yang diserukan kepada kalian adalah agar kalian beriman kepada diri
kalian sendiri, mengetahui kedudukan kalian, dan meyakini bahwa kalian adalah
tuan-tuan dunia meskipun musuh-musuh kalian menginginkan kehinaan bagi kalian,
dan kalian adalah guru-guru alam semesta meskipun pihak lain nampak unggul atas
kalian dalam kehidupan dunia yang tampak saja; dan kesudahan yang baik adalah
bagi orang-orang yang bertakwa.
Maka
perbaruilah wahai para pemuda iman kalian, tentukanlah sasaran dan tujuan
kalian. Awal dari kekuatan adalah iman, dan hasil dari iman ini adalah
persatuan, dan akhir dari persatuan adalah kemenangan yang kuat lagi nyata.
Maka berimanlah, bersaudaralah, berilmulah, dan nantikanlah setelah itu
kemenangan... dan berilah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.
Sesungguhnya
seluruh dunia sedang kebingungan dan terombang-ambing. Segala sistem yang ada
di dalamnya telah gagal mengobatinya, dan tidak ada obat baginya kecuali Islam.
Maka majulah dengan nama Allah untuk menyelamatkannya, karena semua orang
sedang menanti sang penyelamat, dan tidak akan ada penyelamat kecuali risalah
Islam yang kalian bawa obornya dan kalian kabarkan berita gembiranya.
Wahai
para pemuda:
Sesungguhnya
manhaj (metode) Ikhwanul Muslimin memiliki tahapan-tahapan yang terbatas dan
langkah-langkah yang jelas. Kami tahu benar apa yang kami inginkan dan kami
tahu sarana untuk mewujudkan keinginan ini.
- Pertama, kami menginginkan
sosok pribadi muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam akhlak dan
perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Inilah pembentukan individu
kami.
- Setelah itu, kami
menginginkan rumah tangga muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam
akhlak dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. (Catatan: Teks
poin ini mengulang deskripsi poin sebelumnya).
- Setelah itu, kami
menginginkan rumah tangga muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam
akhlak dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Karena itulah
kami memperhatikan wanita sebagaimana perhatian kami kepada pria, dan kami
memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. Inilah
pembentukan keluarga kami.
- Setelah itu, kami
menginginkan masyarakat muslim dalam itu semua juga. Karena itulah
kami bekerja agar dakwah kami sampai ke setiap rumah, suara kami terdengar
di setiap tempat, dan agar pemikiran kami menjadi mudah dan merasuk ke
desa-desa, dusun-dusun, kota-kota, pusat-pusat daerah, metropolitan, dan
negeri-negeri. Kami tidak akan menghemat usaha dalam hal itu dan tidak
meninggalkan satu pun sarana.
- Setelah itu, kami
menginginkan pemerintahan muslim yang memimpin masyarakat ini ke
masjid, dan membawa manusia di bawah petunjuk Islam sebagaimana mereka
pernah dibawa oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, yaitu Abu Bakar
dan Umar sebelumnya. Karena itulah kami tidak mengakui sistem pemerintahan
mana pun yang tidak tegak di atas dasar Islam dan tidak bersumber darinya.
Kami tidak mengakui partai-partai politik ini, tidak juga bentuk-bentuk
tradisional yang dipaksakan oleh ahli kufur dan musuh-musuh Islam kepada
kami untuk memerintah dan bekerja di atasnya. Kami akan bekerja untuk
menghidupkan sistem pemerintahan Islam dengan segala manifestasinya, dan
membentuk pemerintahan Islam berdasarkan sistem ini.
- Kemudian beliau (semoga Allah
merahmatinya) berkata: Setelah itu kami ingin menyatukan kembali setiap
jengkal tanah air Islam kita yang telah dicerai-beraikan oleh politik
Barat dan dihancurkan persatuannya oleh ambisi-ambisi Eropa.
- Setelah itu, kami ingin
agar panji Allah kembali berkibar tinggi di atas wilayah-wilayah yang
pernah berbahagia dengan Islam pada suatu masa, di mana suara muazin
menggema dengan takbir dan tahlil, namun kemudian nasib buruk menghendaki
cahaya itu surut darinya sehingga wilayah itu kembali kepada kekufuran
setelah sebelumnya Islam.
- Setelah itu dan bersamaan
dengan itu, kami ingin mengajarkan dakwah Islam kepada dunia dan
menyampaikannya kepada seluruh manusia.
Maka,
apakah engkau sependapat denganku wahai saudaraku, bahwa risalah dan tujuan ini
tidak akan tercapai kecuali jika ada pembinaan keimanan, dakwah, jihad, dan
keluarga yang menanam benih-benih yang kuat untuk memanen surga (buah) yang
lezat.
Dasar
Berdirinya Keluarga:
Tidak
diragukan lagi bahwa dasar yang menjadi landasan berdirinya keluarga adalah
laki-laki dan perempuan. Dari keduanyalah terbentuk fondasi bangunan yang
menjadi tumpuan kebangkitan umat dan pendidikan generasi yang akan datang.
Pasangan suami istri bekerja sama dalam membangun keluarga dan memikul tanggung
jawab. Masing-masing dari keduanya menyempurnakan pekerjaan yang lain. Wanita
bekerja sesuai dengan spesialisasinya dan apa yang selaras dengan fitrah serta
kewanitaannya, yaitu dalam mengawasi pengelolaan rumah tangga dan menjalankan
pendidikan anak-anak. Benarlah orang yang berkata:
Ibu
adalah sekolah, jika engkau menyiapkannya,
Maka
engkau telah menyiapkan sebuah bangsa yang baik budi pekertinya.
Laki-laki
pun demikian, ia bekerja sesuai dengan spesialisasinya dan apa yang selaras
dengan fitrah serta kelaki-lakiannya, yaitu dengan berusaha, mencari nafkah,
menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang berat, melindungi keluarga, serta
menyediakan apa yang dibutuhkan berupa tempat tinggal, makanan, dan pakaian.
Dalam hal inilah tercapai kerja sama untuk membina generasi dengan pembinaan
yang baik secara akal, pikiran, dan jasmani.
Risalah
Wanita:
Fadhilatusy
Syaikh Hasan al-Banna رحمه
الله menjelaskan pentingnya peran wanita dalam keluarga dan
masyarakat, beliau menulis sebagai berikut:
Aku
tidaklah mengabaikan pentingnya menulis tentang tema seperti ini, dan aku
bukannya tidak tahu kedudukan wanita dalam suatu umat. Wanita adalah separuh
dari bangsa, bahkan ia adalah separuh yang memengaruhi kehidupannya dengan
pengaruh yang paling mendalam. Karena ia adalah sekolah pertama yang membentuk
generasi dan menempa tunas bangsa. Berdasarkan gambaran yang diterima oleh anak
dari ibunya, maka masa depan suatu bangsa dan arah tujuan umat akan ditentukan.
Selain itu, wanita adalah pemberi pengaruh pertama dalam kehidupan para pemuda
dan kaum laki-laki secara bersamaan.
Aku
tidak mengabaikan semua ini, dan Islam yang lurus pun tidak melalaikannya.
Islam yang datang sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia telah mengatur
urusan kehidupan dengan aturan yang paling teliti serta kaidah dan hukum yang
paling utama. Benar, Islam tidak melalaikan semua ini, dan tidak membiarkan
manusia kebingungan di dalamnya di setiap lembah, melainkan menjelaskan perkara
tersebut kepada mereka dengan penjelasan yang tidak menyisakan ruang bagi siapa
pun untuk meminta tambahan lagi.
Sebenarnya,
yang penting bukanlah sekadar mengetahui pandangan Islam terhadap wanita dan
pria, hubungan keduanya, serta kewajiban masing-masing terhadap yang
lain—karena hal itu adalah perkara yang hampir diketahui oleh semua orang.
Namun yang penting adalah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita siap
untuk tunduk pada hukum Islam?
Kenyataannya,
negeri ini dan negeri-negeri Islam lainnya sedang diselimuti oleh gelombang
yang bergejolak dan keras berupa rasa cinta untuk taklid (mengekor) kepada
Eropa serta tenggelam di dalamnya hingga ke dagu (sangat dalam).
Bagi
sebagian orang, tidak cukup hanya tenggelam dalam taklid ini, bahkan mereka
mencoba menipu diri sendiri dengan memutarbalikkan hukum-hukum Islam agar
sesuai dengan hawa nafsu Barat dan sistem Eropa ini. Mereka mengeksploitasi
toleransi agama ini dan keluwesan hukum-hukumnya dengan eksploitasi yang buruk,
yang mengeluarkan hukum-hukum tersebut dari citra Islamnya secara total,
menjadikannya sistem lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan Islam,
serta mengabaikan sepenuhnya ruh syariat Islam dan banyak teks (dalil) yang
tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka.
Ini
adalah bahaya yang berlipat ganda pada hakikatnya. Tidak cukup bagi mereka
untuk menyelisihinya, hingga mereka datang mencari-cari celah hukum (legalitas)
untuk pelanggaran ini, dan mewarnainya dengan warna kehalalan serta kebolehan
agar mereka tidak pernah bertaubat darinya dan tidak meninggalkannya suatu hari
nanti.
Maka
yang penting sekarang adalah kita melihat hukum-hukum Islam dengan pandangan
yang bersih dari hawa nafsu, serta menyiapkan dan mengondisikan diri kita untuk
menerima perintah-perintah Allah Ta'ala dan larangan-larangan-Nya, khususnya
dalam perkara ini yang dianggap sebagai fondasi dan hal vital dalam kebangkitan
kita saat ini.
Atas
dasar inilah, tidak ada salahnya kita mengingatkan manusia dengan apa yang
telah mereka ketahui, dan apa yang wajib mereka ketahui tentang hukum-hukum
Islam dalam sisi ini.
Pertama:
Islam mengangkat nilai wanita dan menjadikannya mitra laki-laki dalam hak dan
kewajiban:
Ini
adalah persoalan yang sudah hampir selesai (jelas). Islam telah memuliakan
kedudukan wanita, mengangkat nilainya, dan menganggapnya sebagai saudara
perempuan bagi laki-laki serta mitra baginya dalam kehidupannya. Wanita adalah
bagian dari laki-laki dan laki-laki adalah bagian dari wanita: {sebagian
kamu adalah turunan dari sebagian yang lain}. Islam telah mengakui hak-hak
pribadi wanita secara penuh, hak-hak sipilnya secara penuh, serta hak-hak
politiknya secara penuh pula. Islam memperlakukannya sebagai manusia yang
memiliki kemanusiaan yang sempurna, memiliki hak dan memikul kewajiban; ia disyukuri
jika menunaikan kewajibannya dan wajib baginya untuk mendapatkan hak-haknya.
Al-Qur'an dan hadis-hadis sangat melimpah dengan teks-teks yang menegaskan
makna ini dan menjelaskannya.
Kedua:
Pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hak-hak hanyalah mengikuti
perbedaan fitrah yang tidak dapat dihindari antara keduanya, serta mengikuti
perbedaan tugas yang dilakukan masing-masing, demi menjaga hak-hak yang
diberikan kepada keduanya:
Mungkin
dikatakan bahwa Islam membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam banyak
keadaan dan kondisi, serta tidak menyamakan keduanya dengan penyamaan yang
total. Hal itu benar, namun di sisi lain harus diperhatikan bahwa jika Islam
mengurangi sesuatu dari hak wanita di satu sisi, maka Islam telah memberikan
ganti yang lebih baik baginya di sisi yang lain ([1]), atau pengurangan ini
adalah untuk kemaslahatan dan kebaikannya sendiri sebelum menjadi hal lainnya.
Apakah ada orang, siapa pun dia, yang mampu mengeklaim bahwa susunan fisik dan
ruhani wanita sama persis dengan susunan laki-laki? Apakah ada orang, siapa pun
dia, yang mampu mengeklaim bahwa peran yang harus dilakukan wanita dalam
kehidupan adalah peran yang harus dilakukan laki-laki selama kita percaya bahwa
di sana ada peran keibuan dan peran keayahan?
Aku
meyakini bahwa kedua susunan tersebut berbeda, dan kedua tugas tersebut juga
berbeda. Perbedaan ini mau tidak mau harus diikuti oleh perbedaan dalam aturan
kehidupan yang berkaitan dengan masing-masing dari keduanya. Inilah rahasia
dari apa yang ada dalam Islam berupa pembedaan antara wanita dan pria dalam hak
dan kewajiban.
Ketiga:
Antara wanita dan pria terdapat ketertarikan fitri yang kuat yang merupakan
fondasi awal bagi hubungan di antara keduanya, dan bahwa tujuannya sebelum
menjadi kesenangan dan semisalnya, adalah kerja sama dalam menjaga kelestarian
jenis (manusia) serta memikul beban-beban kehidupan:
Islam
telah mengisyaratkan kecenderungan psikologis ini, mensucikannya, dan
memalingkannya dari makna hewani dengan pemalingan yang paling indah menuju
makna ruhani yang mengagungkan tujuannya, menjelaskan maksud darinya, dan
mengangkatnya tinggi dari sekadar gambaran pemuasan nafsu menuju pencarian
gambaran kerja sama yang sempurna. Marilah kita dengar firman Allah Tabaaraka
wa Ta'ala:
{Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang} ([2]).
Inilah
prinsip-prinsip yang diperhatikan dan ditetapkan oleh Islam dalam pandangannya
terhadap wanita. Atas dasar itulah syariatnya yang bijaksana datang menjamin
kerja sama yang sempurna antara kedua jenis kelamin, sehingga masing-masing
dari keduanya dapat mengambil manfaat dari yang lain dan membantunya dalam
urusan-urusan kehidupan.
Catatan
Kaki:
([1])
Dalam warisan, Islam menjadikan bagian wanita setengah dari bagian laki-laki,
namun Islam membebankan kewajiban nafkah kepada laki-laki.
([2])
Surat Ar-Rum ayat 21.
Pembahasan
mengenai wanita dalam masyarakat dalam pandangan Islam terangkum dalam
poin-poin berikut ini:
Pertama:
Wajibnya Mendidik Wanita
Islam
memandang wajibnya mendidik akhlak wanita dan membina mereka di atas keutamaan
serta kesempurnaan jiwa sejak masa pertumbuhan. Islam mendorong para ayah dan
para wali urusan gadis-gadis untuk melakukan hal ini, menjanjikan mereka pahala
yang melimpah dari Allah, serta mengancam mereka dengan siksaan jika mereka
lalai. Dalam ayat yang mulia disebutkan:
{Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia
perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.}
([1]).
Dan
dalam hadis sahih disebutkan:
"Kalian
semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya: Seorang imam
(pemimpin negara) adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang
laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas
kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan
bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang pelayan adalah pemimpin atas
harta tuannya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Kalian semua adalah
pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (Dikeluarkan
oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Abdullah bin Umar).
Dari
Ibnu Abbas رضي الله
عنهما, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah ada seorang
muslim yang memiliki dua anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada keduanya
selama mereka bersamanya atau ia bersama mereka, melainkan keduanya akan
memasukkannya ke dalam surga." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan
sanad sahih dan Ibnu Hibban dalam Sahih-nya).
Dari
Abu Said Al-Khudri رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang
memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua anak
perempuan atau dua saudara perempuan, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik
dan bertakwa kepada Allah dalam urusan mereka, maka baginya surga."
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ini adalah redaksinya, serta Abu Dawud,
hanya saja ia menyebutkan: "Lalu ia mendidik mereka, berbuat baik
kepada mereka, dan menikahkan mereka, maka baginya surga").
Termasuk
dalam pendidikan yang baik adalah mengajarkan mereka apa yang tidak boleh tidak
harus mereka ketahui sebagai penunjang misi utama mereka, seperti membaca,
menulis, berhitung, agama, sejarah—sejarah Salafus Shalih baik laki-laki maupun
perempuan—tata kelola rumah tangga, urusan kesehatan, prinsip-prinsip
pendidikan, cara mendidik anak, serta segala hal yang dibutuhkan seorang ibu
dalam mengatur rumahnya dan merawat anak-anaknya. Dalam hadis Bukhari
disebutkan: "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak
menghalangi mereka untuk memahami (bertafaqquh) dalam urusan agama."
Banyak dari wanita salaf berada pada tingkat ilmu, keutamaan, dan kepahaman
yang agung dalam agama Allah Tabaraka wa Ta'ala.
Adapun
mendalami ilmu-ilmu selain itu yang tidak dibutuhkan oleh wanita, maka hal itu
adalah kesia-siaan yang tidak ada hasilnya; wanita tidak membutuhkannya dan
lebih baik baginya untuk menghabiskan waktunya pada hal yang bermanfaat dan
berguna.
Wanita
tidak butuh untuk mendalami berbagai bahasa yang berbeda jika ia memang tidak
membutuhkannya, sementara ia memiliki hal lain yang lebih penting. Ia juga
tidak butuh pada studi seni yang khusus, karena ia akan segera mengetahui bahwa
wanita adalah untuk rumah tangga pertama dan utamanya, dan studinya terhadap
ilmu seni dilakukan sekadar sesuai kebutuhan umat. Ia pun tidak butuh untuk
mendalami studi hak-hak sipil dan undang-undang; cukuplah baginya mengetahui
hal tersebut sejauh yang dibutuhkan orang awam jika hal itu memang tidak
dituntut darinya atau bukan termasuk spesialisasi yang dibebankan kepadanya.
Dahulu
Abu Al-Ala Al-Ma'arri berwasiat kepada para wanita dengan berkata:
Ajarkanlah
mereka memintal, menenun, dan menjahit ([2]),
dan
tinggalkanlah (urusan) menulis serta membaca.
Karena
shalat seorang gadis dengan (surah) Al-Hamdu dan Al-Ikhlas ([3]),
sudah
mencukupi (daripada membaca surah) Yunus dan Bara'ah (At-Taubah).
Namun
kami tidak ingin berhenti pada batasan ini saja, dan kami tidak menginginkan
apa yang diinginkan oleh orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam
membebani wanita dengan berbagai jenis studi yang tidak ia butuhkan. Akan
tetapi kami katakan: Ajarkanlah wanita apa yang ia butuhkan berdasarkan misi
dan fungsi yang Allah ciptakan untuknya: Mengelola rumah tangga dan merawat
anak sebagai prioritas utama, kemudian barulah hal-hal lain setelah itu sesuai
kebutuhan.
Kedua:
Pemisahan Antara Wanita dan Laki-Laki
Islam
memandang bahwa percampuran (ikhtilath) antara wanita dan laki-laki
adalah bahaya yang nyata. Islam menjauhkan hubungan di antara keduanya kecuali
dengan pernikahan. Oleh karena itu, masyarakat Islam adalah masyarakat yang
terpisah (infiradi), bukan masyarakat yang bercampur (musytarak).
Para
penyeru ikhtilath berkata bahwa dalam pemisahan itu terdapat
penghalangan bagi kedua jenis kelamin dari kenikmatan berkumpul dan manisnya
kebersamaan yang didapatkan masing-masing ketika merasa tenang dengan yang
lain, yang mana hal itu menciptakan perasaan yang diikuti oleh banyak adab
sosial seperti kelembutan, pergaulan yang baik, tutur kata yang halus,
keramahan budi pekerti, dan sebagainya. Mereka juga berkata bahwa pemisahan
antara kedua jenis kelamin ini akan membuat masing-masing selalu merindu kepada
yang lain, namun pertemuan di antara keduanya akan mengurangi pemikiran ke arah
tersebut dan menjadikannya perkara biasa dalam jiwa (karena manusia sangat
menginginkan apa yang dilarang bagi dirinya, dan apa yang sudah dimiliki tangan
akan dianggap biasa oleh jiwa).
Demikianlah
yang mereka katakan, dan banyak pemuda yang terfitnah oleh perkataan mereka,
terlebih lagi karena itu adalah ide yang selaras dengan hawa nafsu jiwa dan
mengikuti syahwatnya. Kami katakan kepada mereka: Meskipun kami tidak menerima
apa yang kalian sebutkan pada perkara pertama, kami katakan kepada kalian bahwa
dampak yang mengikuti "kenikmatan berkumpul" dan "manisnya
kebersamaan" itu berupa hilangnya kehormatan, busuknya niat, rusaknya
jiwa, hancurnya rumah tangga, kesengsaraan keluarga, malapetaka kriminalitas,
serta apa yang ditimbulkan oleh percampuran ini berupa lembeknya akhlak dan
lunaknya maskulinitas yang tidak berhenti pada batas "kelembutan"
saja, melainkan melampaui itu hingga batas kebanci-bancian dan kerapuhan. Semua
itu adalah fakta yang tidak akan didebat kecuali oleh orang yang keras kepala.
Semua
dampak buruk yang diakibatkan oleh ikhtilath ini jumlahnya seribu kali
lipat lebih besar daripada manfaat yang diharapkan darinya. Apabila maslahat
dan mafsadah (kerusakan) bertentangan, maka menolak kerusakan harus
didahulukan, terlebih lagi jika maslahat tersebut tidak ada apa-apanya
dibandingkan dengan kerusakan ini.
Adapun
perkara kedua (bahwa ikhtilath mengurangi nafsu) adalah tidak benar.
Justru percampuran itu menambah kekuatan kecenderungan syahwat. Dahulu
dikatakan: "Makanan itu memperkuat nafsu makan orang yang rakus."
Seorang laki-laki hidup bersama istrinya dalam waktu yang lama, namun ia
mendapati kecenderungan kepada istrinya selalu terbarukan dalam jiwanya; maka
bagaimana mungkin hubungannya dengan wanita lain dianggap bisa menghilangkan
kecenderungannya? Wanita yang bercampur baur dengan laki-laki akan bersaing
dalam menampakkan berbagai jenis perhiasannya, dan ia tidak akan puas kecuali
jika berhasil membangkitkan kekaguman dalam jiwa laki-laki tersebut. Ini juga
merupakan dampak ekonomi dari dampak terburuk yang ditimbulkan oleh ikhtilath,
yaitu pemborosan dalam perhiasan dan bersolek (tabarruj) yang berujung
pada kebangkrutan, kehancuran, dan kemiskinan.
Oleh
karena itu, kami menyatakan secara terang-terangan bahwa masyarakat Islam
adalah masyarakat individu (terpisah), bukan masyarakat berpasangan
(bercampur). Laki-laki memiliki komunitas mereka sendiri dan wanita memiliki
komunitas mereka sendiri. Islam memang membolehkan wanita untuk menghadiri
shalat Id, menghadiri jamaah, dan keluar untuk berperang ketika dalam keadaan
darurat yang mendesak, namun Islam berhenti pada batasan ini dan mensyaratkan
syarat-syarat yang sangat ketat: Menjauh dari segala bentuk perhiasan, menutup
tubuh, pakaian yang longgar (tidak membentuk lekuk tubuh dan tidak transparan),
tidak berkhalwat (berduaan) dengan bukan mahram dalam situasi apa pun, dan
seterusnya.
Catatan
Kaki:
([1])
Surat At-Tahrim ayat 6.
([2])
Menjahit pakaian.
([3])
Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.
Sesungguhnya
termasuk salah satu dosa besar yang paling besar dalam Islam adalah seorang
laki-laki berdua-duaan (berkhalwat) dengan seorang wanita yang bukan mahram
baginya. Islam telah menutup celah bagi kedua jenis kelamin dalam hal
percampuran ini dengan aturan yang sangat kuat dan kokoh.
- Menutup aurat dalam
berpakaian adalah bagian dari adabnya.
- Mengharamkan berdua-duaan
(khalwat) dengan orang asing (bukan mahram) adalah salah satu hukumnya.
- Menundukkan pandangan adalah
salah satu kewajibannya.
- Menetap di dalam rumah bagi
wanita, bahkan dalam urusan shalat, adalah salah satu syiarnya.
- Menjauh dari godaan melalui
ucapan, isyarat, dan segala bentuk perhiasan, terutama saat keluar rumah,
adalah salah satu batasannya.
Semua
itu bertujuan agar laki-laki selamat dari fitnah (ujian/godaan) wanita—yang
merupakan fitnah paling disukai oleh nafsunya—dan agar wanita selamat dari
fitnah laki-laki—yang merupakan fitnah paling dekat ke hatinya. Ayat-ayat yang
mulia dan hadis-hadis yang suci menyatakan hal tersebut.
Allah
Tabaaraka wa Ta'ala berfirman dalam Surah An-Nur:
{Katakanlah
kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat."
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain
kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami
mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau
putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka,
atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka
memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung."} ([1]).
Dan
dalam Surah Al-Ahzab:
{Wahai
Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri
orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh
mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena
itu mereka tidak diganggu.} ([2]).
Dari
Abdullah bin Mas'ud رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, meriwayatkan dari Tuhannya Azza
wa Jalla: "Pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak panah
iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku akan
menggantikannya dengan iman yang ia dapati manisnya dalam hatinya."
(Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Hakim dari hadis Hudzaifah).
Dari
Abi Umamah رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian
benar-benar menundukkan pandangan kalian dan menjaga kemaluan kalian, atau
Allah benar-benar akan menghitamkan wajah-wajah kalian." (Diriwayatkan
oleh Ath-Thabrani).
Dari
Abi Said رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada satu pagi pun
kecuali ada dua malaikat yang berseru: 'Celakalah laki-laki karena wanita, dan
celakalah wanita karena laki-laki'." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan
Al-Hakim).
Dari
Uqbah bin Amir رضي الله
عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Waspadalah kalian dari masuk menemui para
wanita." Maka seorang laki-laki dari Anshar bertanya: "Bagaimana
pendapatmu tentang al-hamu (kerabat suami)?" Beliau bersabda: "Al-hamu
([3]) adalah kematian." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan
At-Tirmidzi). Yang dimaksud dengan masuknya kerabat suami menemui wanita adalah
berdua-duaan (khalwat) dengannya, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ: "Tidaklah
seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya
adalah setan."
Dari
Ibnu Abbas رضي الله
عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian
berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama dengan mahramnya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).
Dari
Ma'qil bin Yasar رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh jika kepala
salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya
daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Diriwayatkan
oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi; perawi Ath-Thabrani adalah orang-orang
kepercayaan/tsiqah sebagaimana perawi kitab Shahih, demikian kata Al-Hafizh
Al-Mundziri).
Diriwayatkan
dari Abi Umamah رضي الله
عنه, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Waspadalah kalian dari berdua-duaan
dengan wanita. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang
laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali setan masuk di antara
keduanya. Dan sungguh jika seorang laki-laki berdesakan dengan seekor babi yang
berlumuran lumpur atau tanah hitam, itu lebih baik baginya daripada pundaknya
berdesakan dengan pundak wanita yang tidak halal baginya."
(Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani).
Dari
Abu Musa رضي الله
عنه, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: "Setiap mata itu berzina. Dan seorang wanita jika
memakai wewangian lalu melewati sebuah majelis (perkumpulan), maka dia itu
begini dan begitu," yakni: pezina. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan
At-Tirmidzi, ia berkata: Hasan Shahih. Diriwayatkan juga oleh An-Nasa'i, Ibnu
Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka, dengan redaksi: Nabi ﷺ bersabda: "Wanita
mana saja yang memakai wewangian lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium
baunya, maka dia adalah pezina, dan setiap mata (yang memandang) adalah
berzina," maksudnya setiap mata yang memandangnya dengan pandangan
kagum dan menganggapnya baik).
Dari
Ibnu Abbas رضي الله
عنهما, ia berkata: "Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki
yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah,
dan Ath-Thabrani). Darinya juga: Bahwa seorang wanita melewati Rasulullah ﷺ dengan menyandang
busur panah, maka beliau bersabda: "Allah melaknat wanita-wanita yang
menyerupai laki-laki, dan laki-laki yang menyerupai wanita."
Dari
Abu Hurairah رضي الله
عنه, ia berkata: "Rasulullah ﷺ melaknat laki-laki
yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki."
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam
Shahih-nya, dan Al-Hakim, ia berkata: Shahih sesuai syarat Muslim).
Dari
Ibnu Mas'ud رضي الله
عنه, bahwasanya ia berkata: "Allah melaknat wanita-wanita
yang menato dan yang minta ditato ([4]), wanita-wanita yang mencabut bulu
alisnya (al-mutanammishat) ([5]), dan wanita-wanita yang merenggangkan giginya
(al-mutafallijat) ([6]) untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah."
Maka seorang wanita memprotesnya tentang hal itu, lalu ia berkata: "Mengapa
aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah ﷺ, padahal hal itu ada
dalam Kitabullah? Allah Ta'ala berfirman: {Apa yang diberikan Rasul kepadamu
maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah}."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan
An-Nasa'i).
Catatan
Kaki:
([1])
QS. An-Nur ayat 30-31.
([2])
QS. Al-Ahzab ayat 59.
([3])
Semua kerabat dari pihak suami seperti saudara laki-laki (ipar) dan ayah.
([4])
Tato (al-washm): yaitu menusukkan jarum (pada kulit) kemudian menaburkan
zat pewarna di atasnya. (Lihat Mukhtar Al-Shihah).
([5])
Al-mutanammishat: wanita-wanita yang mencabut bulu-bulu mereka (terutama
alis) untuk kecantikan.
([6])
Al-mutafallijat: wanita-wanita yang mengikir/merenggangkan gigi mereka
untuk memperindah penampilan.
Dari
Aisyah رضي الله
عنها, bahwasanya seorang gadis dari kalangan Anshar telah menikah,
kemudian ia jatuh sakit sehingga rambutnya rontok (tamaththat [1]).
Mereka (keluarganya) bermaksud menyambung rambutnya ([2]), lalu mereka bertanya
kepada Nabi ﷺ,
maka beliau bersabda:
"Allah
melaknat wanita yang menyambung rambutnya (al-washilah) dan wanita yang minta
disambungkan rambutnya (al-mustaushilah)."
Dalam
sebuah riwayat disebutkan: "Bahwasanya seorang wanita Anshar menikahkan
putrinya, lalu rambut kepala putrinya itu rontok. Wanita itu mendatangi Nabi ﷺ dan menceritakan hal
itu kepada beliau, seraya berkata: 'Sesungguhnya suaminya memerintahkanku agar
aku menyambung rambutnya.' Beliau menjawab: 'Tidak, sesungguhnya telah dilaknat
para wanita yang menyambung rambutnya'." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dan Muslim).
Dari
Abu Said Al-Khudri رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak halal bagi
seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan
perjalanan (safar) selama tiga hari atau lebih, kecuali bersamanya ayahnya,
saudara laki-lakinya, suaminya, putranya, atau mahramnya."
(Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan: "Janganlah seorang
wanita melakukan perjalanan selama dua hari, kecuali bersamanya seorang mahram
atau suaminya."
Dari
Abu Hurairah رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada dua golongan ahli
neraka yang belum pernah aku lihat: Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi
yang mereka gunakan untuk memukul orang-orang, dan wanita-wanita yang
berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan condong (kepada maksiat),
kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan
tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan
sekian." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban
dalam Shahih mereka).
Tidak
ada penjelasan lagi setelah penjelasan ini. Dari sini diketahui bahwa apa yang
kita jalani saat ini sama sekali bukan bagian dari Islam. Percampuran (ikhtilath)
di antara kita di sekolah-sekolah, institut, lembaga-lembaga, dan
perkumpulan-perkumpulan umum; serta keluarnya (wanita) ke tempat hiburan,
restoran, dan taman-taman; juga sikap seronok dan bersolek (tabarruj)
yang telah sampai pada tingkat menanggalkan rasa malu serta kecabulan; semua
ini adalah barang asing yang tidak memiliki hubungan sedikit pun dengan Islam.
Sungguh hal ini telah memberikan dampak yang sangat buruk dalam kehidupan
sosial kita.
Banyak
orang berkata bahwa Islam tidak mengharamkan wanita menjalankan pekerjaan umum
dan tidak ada teks (dalil) yang menunjukkan hal tersebut, (mereka berkata):
"Datangkanlah kepadaku teks yang mengharamkan hal itu!" Orang-orang
semacam ini sama seperti mereka yang berkata: "Sesungguhnya memukul kedua
orang tua itu boleh, karena larangan dalam ayat hanyalah mengatakan 'Ah'
(hus/uf), dan tidak ada teks tentang memukul."
Sesungguhnya
Islam mengharamkan wanita membuka anggota tubuhnya, berdua-duaan (khalwat)
dengan orang lain, dan bercampur baur dengan selain mahramnya; Islam juga
menganjurkan baginya untuk shalat di rumahnya, menganggap pandangan mata
sebagai salah satu anak panah iblis, serta mengingkari perbuatannya membawa
busur karena menyerupai laki-laki. Maka, apakah setelah ini masih dikatakan
bahwa Islam tidak menetapkan keharaman bagi wanita untuk menjalankan pekerjaan
umum?
Sesungguhnya
Islam memandang wanita memiliki tugas alami yang fundamental, yaitu rumah
tangga dan anak. Sebagai seorang gadis, ia harus disiapkan untuk masa depan
keluarganya. Sebagai seorang istri, ia harus tulus bagi rumah dan suaminya.
Sebagai seorang ibu, ia harus ada untuk suaminya dan anak-anaknya, serta fokus
pada rumah tangga ini. Dialah ibu rumah tangga, pengaturnya, dan ratunya. Kapan
seorang wanita sempat menyelesaikan urusan rumah tangganya untuk mengurusi hal
selain itu?
Jika
memang ada kebutuhan mendesak (dharurah) secara sosial yang memaksa
wanita untuk menjalankan pekerjaan lain selain tugas alaminya ini, maka ia
wajib saat itu memperhatikan syarat-syarat yang telah diletakkan oleh Islam
guna menjauhkan fitnah wanita terhadap laki-laki dan fitnah laki-laki terhadap
wanita. Kewajiban bagi dirinya pula adalah menjadikan pekerjaannya ini sebatas
kadar kebutuhannya saja, bukan menjadikannya sebagai sistem yang umum di mana
setiap wanita berhak bekerja berdasarkan asas tersebut.
Pembicaraan
dalam sisi ini lebih banyak daripada yang bisa dicakup, terlebih lagi di zaman
(mekanik) ini, di mana masalah pengangguran dan tidak bekerjanya kaum laki-laki
telah menjadi masalah paling rumit dalam masyarakat manusia di setiap bangsa
dan negara.
Referensi
untuk Belajar Mandiri dan Pendalaman:
- (Kosong dalam teks)
- (Kosong dalam teks)
- (Kosong dalam teks)
Aktivitas
Praktis Terkait Konten:
- Meringkas tujuan keluarga
muslim dalam sebuah brosur (folder) dan membagikannya kepada masyarakat
umum.
- Mengundang pakar di bidang
pendidikan dan psikologi untuk berbicara tentang dasar-dasar emosional
ilmiah dalam membangun anak yang normal/lurus.
- Memilih cerita-cerita yang
disajikan dengan gaya bahasa mudah tentang tokoh-tokoh ilmu pengetahuan
dan militer yang luar biasa dalam sejarah Islam untuk dibacakan kepada
anak.
- Membaca buku-buku ilmiah yang
berbicara tentang cara mendidik anak muslim untuk diambil manfaatnya dalam
mendidik anak-anaknya sendiri.
- Menyajikan rekaman video
kepada anak-anaknya yang mengajarkan bahasa Arab dengan metode yang
sederhana.
- Menghindari percampuran (ikhtilath)
dengan wanita.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
- Tentukan tujuan-tujuan
pendidikan bagi keluarga muslim.
- Apa dasar-dasar emosional
yang seharusnya menjadi landasan pendidikan anak muslim?
- Sebutkan dasar-dasar ilmiah
untuk membangun anak muslim secara keilmuan dan pemikiran.
- Sebutkan beberapa contoh
yang menjelaskan model-model tokoh luar biasa dalam sejarah umat Islam
saat mereka menuntut ilmu di waktu kecil.
- Apa dasar yang menjadi
landasan berdirinya keluarga muslim?
- Berbicaralah tentang
pentingnya peran wanita dalam keluarga dan masyarakat.
- Apa yang dimaksud dengan
"tahdzib" (pendidikan/pembersihan) wanita? Dan mengapa wanita
harus dididik?
- Mengapa Islam bersikeras
membedakan (memisahkan) antara wanita dan laki-laki?
Catatan
Kaki:
([1])
Tamaththat syaruha: Rambutnya jatuh/rontok.
([2])
Maksudnya menyambung rambutnya (rambut palsu/ekstensi).
No comments:
Post a Comment