Saturday, May 2, 2026

Tujuan Pendidikan Keluarga

Tujuan Pendidikan dalam Keluarga Muslim

Tujuan Kognitif yang diharapkan dapat dicapai dengan mempelajari pembahasan ini:

  1. Menentukan tujuan-tujuan pendidikan dalam keluarga muslim dengan menyebutkan contoh-contohnya.
  2. Menjelaskan dasar-dasar yang membangun emosi anak agar menjadi manusia yang normal/stabil.
  3. Menyebutkan model/teladan dari tokoh-tokoh yang menuntut ilmu di masa kecil mereka dalam warisan sejarah kita.
  4. Menjelaskan dasar-dasar ilmiah dalam pembangunan intelektual dan pemikiran anak.
  5. Memberikan dalil tentang pentingnya anak menguasai bahasa asing semampunya setelah menguasai bahasa Arab.
  6. Membuktikan pentingnya persaudaraan dalam membangun keluarga muslim.
  7. Menjelaskan pentingnya mewujudkan rasa aman serta ketenangan jiwa dan raga bagi keluarga dengan menyebutkan contoh-contohnya.
  8. Menjelaskan pentingnya keluarga dalam membebankan amanah dakwah dan pembelaan terhadap Islam serta umat Islam kepada anak-anaknya.
  9. Menyebutkan contoh-contoh tokoh yang memikul amanah dakwah dan berjihad membela Islam serta umat Islam.
  10. Menjelaskan landasan yang menjadi tegaknya sebuah keluarga.
  11. Menjelaskan pentingnya peran perempuan dalam keluarga dan masyarakat.
  12. Memberikan dalil tentang pentingnya mendidik/memperbaiki adab perempuan.
  13. Memberikan dalil tentang perlunya membedakan (peran/ketentuan) antara perempuan dan laki-laki.

Konten Ilmiah:

Pendidikan Islam dalam keluarga muslim memiliki target dan tujuan-tujuan dasar yang hendak dicapai agar manusia sampai pada tingkat tersebut.

Tujuan-tujuan ini adalah fondasi utama dalam membangun individu, masyarakat, peradaban, dan negara Islam. Oleh karena itu, wajib bagi ayah, keluarga, pendidik, sekolah, negara, dan pembaharu sosial untuk memperhatikan pencapaian tujuan ini serta bekerja untuk mengukuhkannya.

Tujuan-tujuan tersebut secara ringkas dan terfokus adalah:

1. Mengenalkan manusia pada dirinya sendiri dan dunianya:

Agar ia mengetahui kadar dan nilai kemanusiaannya, mengenal dunia yang mengelilinginya, masyarakat tempat ia tinggal, serta mengetahui hak-hak, kewajiban, tujuan eksistensinya, dan hubungannya dengan dunia serta kehidupan ini.

Yang kami maksud dengan hal tersebut adalah membangun anak secara sosial agar ia mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya, baik dengan orang dewasa maupun dengan teman sebaya dan yang seusia dengannya. Agar ia menjadi pribadi yang aktif dan positif, jauh dari sifat tertutup (introvert) dan rasa malu yang tercela. Ia mampu memberi dan menerima dengan adab dan rasa hormat, mampu berjual beli, berinteraksi, dan bergaul. Melalui perenungan terhadap hadis-hadis Nabi , kita menemukan hal-hal yang dikhususkan oleh Rasulullah dalam pembentukan sosial anak, yaitu:

Landasan Sosial Pertama: Membawanya ke Majelis Orang Dewasa

Anak-anak dahulu menghadiri majelis Nabi dan ayah-ayah mereka membawa mereka ke majelis-majelis yang baik, suci, dan murni tersebut. Lihatlah Umar yang menyertakan putranya ke majelis Rasulullah .

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Beritahukan kepadaku tentang sebuah pohon yang perumpamaannya seperti seorang muslim; ia memberikan buahnya setiap waktu dengan izin Tuhannya dan daunnya tidak berguguran." Maka terlintas dalam benakku bahwa itu adalah pohon kurma, namun aku segan untuk berbicara karena di sana ada Abu Bakar dan Umar. Ketika keduanya tidak berbicara, Nabi bersabda: "Itu adalah pohon kurma." Ketika aku keluar bersama ayahku, aku berkata: "Wahai ayahku, tadi terlintas di benakku bahwa itu adalah pohon kurma." Umar berkata: "Apa yang menghalangimu untuk mengatakannya? Seandainya engkau mengatakannya, hal itu lebih aku sukai daripada ini dan itu." Ibnu Umar berkata: "Tidak ada yang menghalangiku kecuali aku tidak melihatmu maupun Abu Bakar berbicara, maka aku pun segan." Dalam riwayat lain disebutkan: "Ternyata aku adalah orang yang paling muda di antara kaum tersebut, maka aku diam."

Rasulullah juga biasa bergaul dan bercampur dengan anak-anak. Dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah biasa bercampur (berinteraksi) dengan kami sampai-sampai beliau bersabda kepada adik kecilku: 'Wahai Abu 'Umair, apa yang sedang dilakukan oleh an-nughair (burung kecil yang biasa ia gunakan bermain)?'" Rasulullah juga pernah memercikkan air ke tikar kami, lalu beliau shalat di atasnya dan kami berbaris di belakang beliau. (Diriwayatkan oleh Ahmad 3/119).

Maka, dengan membawa anak ke majelis orang dewasa, akan tampak kekurangan dan kebutuhannya, sehingga pendidik saat itu dapat mengarahkannya menuju kesempurnaan. Pendidik juga bisa mendorongnya untuk menjawab ketika diajukan sebuah pertanyaan, sehingga ia berbicara setelah meminta izin dengan segala adab dan ketenangan. Ia berbicara dengan mereka, sehingga akalnya berkembang dan jiwanya terdidik. Ia pun mulai mengenal pembicaraan orang dewasa sedikit demi sedikit sehingga ia siap untuk terjun ke masyarakat. Demikianlah ia bertahap setahap demi setahap.

Oleh karena itu, masa kecil tokoh-tokoh masyhur dalam Islam dan interaksi mereka dengan para ulama memiliki andil dalam kejeniusan mereka.

Masa Kecil Imam Abu Yusuf, Sahabat Imam Abu Hanifah رضي الله عنه:

Abu Yusuf berkata: "Dahulu aku menuntut ilmu hadis dan fikih dalam keadaan fakir dan memprihatinkan. Suatu hari ayahku datang saat aku berada di sisi Abu Hanifah, lalu aku pulang bersamanya. Ayahku berkata: 'Wahai anakku, janganlah engkau memanjangkan kakimu (menghabiskan waktu) bersama Abu Hanifah, karena Abu Hanifah rotinya sudah terpanggang (sudah kaya), sedangkan engkau butuh mencari penghidupan.' Maka aku pun mengurangi kegiatan menuntut ilmu dan lebih mendahulukan ketaatan kepada ayahku.

Lalu Abu Hanifah merasa kehilangan dan menanyakanku. Aku pun berusaha kembali mendatangi majelisnya. Pada hari pertama aku datang setelah lama absen, beliau bertanya kepadaku: 'Apa yang menyibukkanmu dari kami?' Aku menjawab: 'Kesibukan mencari nafkah dan ketaatan kepada ayahku.' Aku pun duduk, dan ketika orang-orang telah bubar, beliau menyerahkan sebuah kantong kepadaku dan berkata: 'Gunakanlah ini.' Aku melihat ternyata di dalamnya ada seratus dirham. Beliau berkata kepadaku: 'Tetaplah berada di lingkaran (majelis) ini, dan jika uang ini habis, beritahukan aku.'

Maka aku terus mengikuti majelis tersebut. Selang waktu yang tidak lama, beliau memberiku seratus dirham lagi. Beliau selalu memperhatikan keadaanku; aku tidak pernah mengenalnya sebagai orang bakhil sama sekali, dan aku tidak pernah memberitahunya jika uangku habis, namun beliau seolah-olah sudah tahu kapan uang itu habis, sampai akhirnya aku menjadi berkecukupan dan memiliki harta."

Dan terdapat riwayat kedua mengenai masa tumbuh kembang Imam Abu Yusuf:

Ali bin al-Ja'd berkata: Abu Yusuf menceritakan kepadaku, ia berkata: "Ayahku, Ibrahim bin Habib, wafat dan meninggalkanku dalam keadaan kecil di bawah asuhan ibuku. Ibuku lalu menyerahkanku kepada seorang tukang cuci kain (qashshar) agar aku membantunya. Namun, aku sering meninggalkan tukang cuci itu dan pergi ke halakah Abu Hanifah untuk duduk mendengarkan. Ibuku sering datang mencariku ke halakah tersebut, lalu menarik tanganku dan membawaku kembali ke tukang cuci. Abu Hanifah menaruh perhatian kepadaku karena melihat kehadiran dan kesungguhanku dalam belajar. Ketika hal itu dirasa berat bagi ibuku dan pelarianku sudah berlangsung lama, ia berkata kepada Abu Hanifah: 'Tidak ada yang merusak anak ini kecuali engkau! Dia adalah anak yatim yang tidak punya apa-apa, aku memberinya makan dari hasil pintalanku, dan aku berharap dia bisa menghasilkan satu daniq (satuan mata uang kecil) untuk mencukupi dirinya sendiri.' Abu Hanifah berkata kepadanya: 'Diamlah wahai wanita dungu, dia saat ini sedang belajar untuk bisa makan faludhaj (makanan manis mewah) dengan minyak kacang pistachio.' Ibuku berpaling darinya sambil berkata: 'Engkau adalah orang tua yang sudah pikun dan telah hilang akalmu'."

Abu Yusuf berkata: "Kemudian aku terus menyertai Abu Hanifah dan beliau selalu membantuku dengan hartanya. Beliau tidak membiarkan aku dalam kekurangan sedikit pun, hingga Allah memberiku manfaat melalui ilmu dan mengangkat derajatku sampai aku menjabat sebagai Qadhi (hakim). Aku sering duduk bersama Harun al-Rasyid dan makan bersamanya di meja makannya. Pada suatu hari, dihidangkanlah faludhaj kepada Harun al-Rasyid, lalu Harun berkata kepadaku: 'Wahai Ya'qub, makanlah ini, karena tidak setiap hari hidangan seperti ini dibuatkan untuk kita.' Aku bertanya: 'Apa ini wahai Amirul Mukminin?' Beliau menjawab: 'Ini adalah faludhaj dengan minyak pistachio.' Maka aku pun tertawa. Beliau bertanya: 'Apa yang membuatmu tertawa?' Aku menjawab: 'Kebaikan, semoga Allah mengekalkan Amirul Mukminin.' Beliau berkata: 'Engkau harus memberitahuku,' dan beliau mendesakku. Maka aku ceritakan kisah itu dari awal hingga akhir. Beliau takjub dengan hal itu dan berkata: 'Demi umurku, sesungguhnya ilmu itu benar-benar mengangkat derajat dan memberi manfaat baik secara agama maupun dunia.' Beliau pun mendoakan rahmat untuk Abu Hanifah dan berkata: 'Beliau melihat dengan mata akalnya apa yang tidak bisa dilihat orang lain dengan mata kepalanya'." ([1])

Masa Kecil Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani dalam Menuntut Ilmu:

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya sampai ke Mujasyi' bin Yusuf, ia berkata: "Aku berada di Madinah di sisi Malik (Imam Malik) saat beliau sedang memberikan fatwa kepada orang-orang. Lalu masuklah Muhammad bin al-Hasan, sahabat Abu Hanifah, dalam keadaan ia masih muda, yaitu sebelum ia melakukan perjalanan kepada Malik untuk mendengarkan kitab al-Muwaththa' darinya. Muhammad bertanya:

'Apa pendapatmu mengenai orang yang junub namun tidak menemukan air kecuali di dalam masjid?' Malik menjawab: 'Orang junub tidak boleh masuk masjid.' Muhammad bertanya: 'Lalu apa yang harus ia lakukan padahal waktu salat telah tiba dan ia melihat air (di dalam masjid)?' Malik pun terus mengulang: 'Orang junub tidak boleh masuk masjid.' Ketika Muhammad terus mendesaknya, Malik berkata kepadanya: 'Lalu apa pendapatmu mengenai hal ini?' Muhammad menjawab: 'Ia bertayamum lalu masuk dan mengambil air dari masjid, kemudian keluar dan mandi.' Malik bertanya: 'Dari mana asalmu?' Muhammad menjawab: 'Dari penduduk ini,' sambil menunjuk ke arah bumi (tanah), lalu ia bangkit berdiri. Orang-orang bertanya: 'Ini Muhammad bin al-Hasan, bagaimana mungkin ia berbohong? Ia tadi menyebutkan bahwa ia penduduk Madinah?' Malik menjawab: 'Dia tadi hanya berkata dari penduduk ini sambil menunjuk ke bumi.' Malik lalu berkata: 'Pertanyaannya ini lebih berat bagiku daripada hal itu (identitasnya)'." ([2])

2. Mengenalkan manusia kepada Tuhannya dengan pengenalan yang berdiri di atas landasan kesadaran dan pemahaman yang benar, guna membangkitkan hubungan yang sehat antara manusia dengan Penciptanya, serta membentuk pemahaman iman yang orisinal yang berkontribusi dalam membangun kepribadian individu dan membangkitkan gambaran yang benar tentang kehidupan dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, Rasulullah mengajarkan kepada anak-anak kaum muslimin tentang takwa kepada Allah dan menjaga batasan-batasan Allah Ta'ala. Al-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: "Suatu hari aku berada di belakang Nabi , lalu beliau bersabda: 'Wahai nak, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa jika umat manusia bersatu untuk memberimu suatu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan jika mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering'."

Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesempitan, dan sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."

Maka, apabila seorang anak menghafal hadis ini dan memahaminya dengan baik, tidak akan ada rintangan yang menghalanginya dan tidak ada sesuatu pun yang menghambat perjalanan seluruh hidupnya. Pendidikan manakah—baik lama maupun baru—yang mampu merasuk ke dalam jiwa anak sebagaimana hadis ini merasukinya?

Sesungguhnya hadis ini memiliki kekuatan besar untuk menyelesaikan masalah-masalah anak berkat pengaruh dan spiritualitasnya. Ia memiliki kemampuan untuk mendorong anak maju ke depan berkat permohonan tolongnya kepada Allah, pengawasannya terhadap-Nya, serta imannya kepada qadha dan qadar. Anak-anak para sahabat telah menerima arahan nabawi ini; mereka memohon pertolongan kepada Allah atas takdir-Nya yang menimpa mereka, meminta kepada Allah ketika musibah turun, meyakini bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah, serta beriman bahwa kelapangan itu bersama kesempitan dan kemudahan bersama kesulitan. Mereka juga mengetahui bahwa Allah mengawasi manusia, melihatnya, dan menghitung apa yang dilakukannya.

Dahulu Ibnu Umar sedang dalam perjalanan, lalu ia melihat seorang budak penggembala kambing. Beliau berkata kepadanya: "Maukah engkau menjual satu ekor dari kambing ini?" Budak itu menjawab: "Kambing ini bukan milikku." Ibnu Umar berkata: "Katakanlah kepada pemiliknya bahwa serigala telah memakan satu ekor." Budak itu menjawab: "Maka di manakah Allah?" Setelah kejadian itu, Ibnu Umar selama beberapa waktu terus mengulang-ulang perkataan budak tersebut: "Maka di manakah Allah?" ([3])

Ada seorang Syekh yang memiliki beberapa murid, namun beliau mengistimewakan salah satu dari mereka dengan perhatian yang lebih daripada yang lain. Murid-murid lain menanyakan hal itu kepadanya. Maka Syekh itu berkata: "Aku akan jelaskan kepada kalian." Beliau lalu memberikan seekor burung kepada setiap muridnya dan berkata: "Sembelihlah burung ini di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun." Beliau juga memberikan hal yang sama kepada murid kesayangannya itu. Mereka pun pergi, lalu masing-masing kembali dalam keadaan telah menyembelih burungnya, sedangkan murid kesayangan itu membawa burungnya dalam keadaan hidup. Syekh bertanya: "Mengapa engkau tidak menyembelihnya?" Ia menjawab: "Engkau memerintahkanku untuk menyembelihnya di tempat yang tidak dilihat oleh siapa pun, sedangkan aku tidak menemukan satu tempat pun di mana Allah tidak melihatku di sana." Syekh pun berkata: "Karena inilah aku mengistimewakan dia dengan perhatianku."


([1]) Dari buku Sifat min Shabr al-'Ulama.

([2]) Bulugh al-Amani fi Sirat al-Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani karya Syekh Zahid al-Kautsari rahimahullah, hal. 12.

([3]) Al-Risalah al-Qusyairiyyah hal. 137.


Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya'-nya ([1]) menyebutkan sebuah kisah yang lembut, beliau berkata:

Sahl bin Abdullah At-Tustari bercerita: "Ketika aku berusia tiga tahun, aku sering bangun di malam hari, lalu aku memperhatikan salat pamanku (dari pihak ibu), Muhammad bin Sawwar. Suatu hari ia berkata kepadaku: 'Tidakkah engkau mengingat Allah yang telah menciptakanmu?' Aku bertanya: 'Bagaimana caranya?' Ia menjawab: 'Ucapkanlah di dalam hatimu saat engkau berganti pakaian (hendak tidur) sebanyak tiga kali tanpa menggerakkan lidahmu: Allah bersamaku; Allah melihatku; Allah menyaksikanku.' Aku mengucapkan hal itu selama beberapa malam, lalu aku memberitahunya. Ia berkata: 'Ucapkanlah setiap malam sebanyak tujuh kali.' Aku melakukannya lalu memberitahunya lagi. Ia berkata: 'Ucapkanlah setiap malam sebelas kali.' Aku pun mengucapkannya, hingga terasa manisnya di dalam hatiku. Setelah satu tahun berlalu, pamanku berkata: 'Jagalah apa yang telah aku ajarkan kepadamu, dan dawamkanlah (rutinkan) sampai engkau masuk liang kubur, karena hal itu akan bermanfaat bagimu di dunia dan akhirat.' Aku senantiasa melakukan hal itu selama bertahun-tahun, hingga aku menemukan manisnya dalam rahasiaku (batin). Kemudian suatu hari pamanku berkata kepadaku: 'Wahai Sahl, barang siapa yang Allah bersamanya, melihatnya, dan menyaksikannya, apakah ia akan bermaksiat kepada-Nya? Jauhilah maksiat!' Aku sering menyendiri, lalu mereka mengirimku ke sekolah (maktab). Aku berkata: 'Sesungguhnya aku khawatir konsentrasiku akan terpecah, namun buatlah syarat kepada guru bahwa aku akan mendatanginya sebentar saja untuk belajar kemudian pulang.' Maka aku pergi ke kuttab (tempat belajar Al-Qur'an), lalu aku belajar Al-Qur'an dan menghafalnya saat aku berusia enam atau tujuh tahun. Aku juga berpuasa sepanjang tahun, dan makananku hanyalah roti gandum selama dua belas tahun."


3- Mendidik perasaan cinta, kasih sayang, dan empati, serta memperkuat perasaan terhadap konsep kebaikan untuk membentuk rasa kemanusiaan yang baik yang membuat anak mampu bersikap positif.

Di mana emosi membentuk ruang yang luas dalam jiwa anak yang sedang tumbuh, emosi tersebut membentuk jiwanya dan membangun kepribadiannya. Jika ia mendapatkannya secara seimbang, ia akan menjadi manusia yang normal di masa depannya dan sepanjang hidupnya. Namun, jika ia mendapatkannya secara tidak seimbang—baik berlebihan maupun kekurangan—akan terbentuk pada dirinya trauma atau ikatan psikologis yang berakibat buruk. Berlebihan (dalam kasih sayang) akan membuatnya manja sehingga tidak mampu memikul beban hidup dengan serius dan aktif. Sedangkan kekurangan (kasih sayang) akan membuatnya menjadi manusia yang keras dan kasar terhadap semua orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, pembangunan emosi memiliki kepentingan khusus dalam membangun jiwa dan struktur anak. Dalam pembangunan ini, kedua orang tua memainkan peran terbesar, karena merekalah sumber utama dari pancaran emosi yang membangun jiwa anak. Mereka adalah pilar bijak tempat anak berlindung untuk menikmati hangatnya emosi serta nikmatnya ayah dan ibu. Oleh sebab itu, kita dapati di akhir pasal ini perhatian yang besar terhadap dua jenis anak yang sering kali kedua orang tua atau salah satunya kurang memberikan kasih sayang kepada mereka, yaitu: anak perempuan dan anak yatim. Mengingat perhatian Rasulullah terhadap anak-anak, beliau memberikan perhatian dan kedudukan khusus kepada keduanya. Maka, alangkah indahnya jika masyarakat muslim menjalankan peran sebagai ayah bagi anak yatim ini, dan alangkah indahnya jika kedua orang tua memperhatikan pendidikan anak perempuan, merawatnya, dan menyetarakannya dengan saudara laki-lakinya.

Muncul pertanyaan: Bagaimana kita membangun emosi anak? Dan menunaikan haknya agar ia menjadi manusia yang normal di masa depannya? Untuk menjawab pertanyaan ini, berikut adalah tinjauan dalam hadis-hadis nabawi yang mulia dan penggalian atas enam landasan ini yang dengan menerapkannya, kita berjalan di atas hidayah dan cahaya yang terang:

Landasan Emosional Pertama — Ciuman, Kelembutan, dan Rahmat bagi Anak-anak:

Sesungguhnya ciuman (kasih sayang) memiliki peran efektif dalam menggerakkan perasaan dan emosi anak. Ciuman juga memiliki peran besar dalam menenangkan gejolak dan kemarahannya, di samping adanya perasaan keterikatan yang erat dalam membangun hubungan cinta antara orang dewasa dan anak kecil. Hal itu merupakan bukti rahmat di dalam hati dan sanubari bagi anak yang tengah tumbuh ini, bukti kerendahhatian orang dewasa terhadap anak kecil, dan merupakan cahaya terang yang memukau sanubari anak, melapangkan jiwanya, serta meningkatkan interaksinya dengan orang di sekitarnya. Terlebih lagi, ini adalah sunnah yang tetap dari Al-Musthafa terhadap anak-anak.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: "Beberapa orang Arab Badui datang menemui Rasulullah lalu mereka bertanya: 'Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki kalian?' Rasulullah menjawab: 'Ya.' Mereka berkata: 'Tetapi kami, demi Allah, tidak pernah mencium mereka.' Maka Rasulullah bersabda: 'Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmat dari hati kalian?'"

Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: "Nabi mencium Hasan bin Ali رضي الله عنهما, lalu Al-Aqra' bin Habis berkata: 'Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, tidak pernah satu pun dari mereka aku cium.' Maka Rasulullah bersabda: 'Barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.'"

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah adalah manusia yang paling penyayang terhadap anak-anak dan keluarga."

Sesungguhnya menyayangi anak-anak dan berbelas kasih kepada mereka adalah salah satu sifat dari sifat-sifat kenabian Muhammad, dan merupakan jalan untuk masuk surga serta meraih ridha Allah Ta'ala.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: "Seorang wanita datang kepada Aisyah رضي الله عنها, lalu Aisyah memberinya tiga butir kurma. Wanita itu memberikan kepada setiap anaknya masing-masing satu butir kurma, dan ia memegang satu butir untuk dirinya sendiri. Kedua anaknya memakan kedua kurma tersebut lalu mereka melihat ke arah ibunya (masih lapar). Maka sang ibu mengambil satu butir kurma miliknya tadi, membelahnya, lalu memberikan kepada setiap anaknya masing-masing setengah butir kurma. Kemudian Nabi datang dan Aisyah memberitahukan hal itu. Beliau bersabda: 'Apa yang membuatmu takjub dari hal itu? Sungguh Allah telah merahmatinya karena rahmatnya (kasih sayangnya) kepada kedua anaknya.'"

Di antara bentuk rahmat Rasulullah terhadap anak-anak adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Anas رضي الله عنه: "Sesungguhnya aku masuk ke dalam salat dan aku ingin memanjangkannya, namun aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun mempercepat salatku karena aku mengetahui betapa sedihnya hati ibunya karena tangisannya." (Diriwayatkan oleh lima imam hadis kecuali Abu Daud).


([1]) 3/72, dan lihat kitab Abna' Nujaba' al-Abna' hal. 144 karya Ibnu Zhufar Al-Makki.


Dari Abu Qatadah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah "pernah mengimami orang-orang dalam keadaan beliau menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah . Apabila beliau sujud, beliau meletakkannya, dan apabila beliau berdiri, beliau menggendongnya." (Dikeluarkan oleh enam imam hadis kecuali At-Tirmidzi).

Sungguh hati akan merasa takjub ketika melihat atau mendengar anak kecil mengajarkan para orang tua tentang kasih sayang kepada hewan dan mengingatkan mereka akan rahmat Allah kepada mereka. Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan dalam tafsirnya ([1]) bahwa ada seorang nelayan yang sedang menangkap ikan, lalu ia berhasil menangkap seekor ikan. Ia memiliki seorang putri kecil, lalu putri kecilnya mengambil ikan tersebut dan melemparkannya kembali ke dalam air seraya berkata: "Ikan ini tidak akan terjatuh ke dalam jaring kecuali karena kelalaiannya." Fakhruddin Ar-Razi berkata mengomentari hal ini:

"Wahai Tuhan kami, anak kecil itu telah mengasihani kelalaian ikan tersebut dan ia melemparkannya kembali ke laut. Sedangkan kami, sungguh waswas Iblis telah menangkap kami dan mengeluarkan kami dari laut rahmat-Mu, maka rahmatilah kami dengan karunia-Mu, selamatkanlah kami darinya, dan lemparkanlah kami kembali ke dalam lautan rahmat-Mu sekali lagi." ([2])

Di antara bentuk kasih sayang para ibu kepada anak-anaknya adalah apa yang dikabarkan oleh Rasulullah melalui gambaran menakjubkan ini, yang memiliki indikasi meledaknya rasa kasih sayang dari hati seorang ibu terhadap anaknya.

Duhai, andai setiap ibu mencurahkan kasih sayang seperti ini kepada bayinya:

Imam Ahmad, Al-Bukhari, dan Muslim dalam kedua Shahih mereka, serta An-Nasa'i, meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Pernah ada dua orang wanita bersama kedua putra mereka, tiba-tiba datang seekor serigala lalu membawa lari salah satu anak mereka. Keduanya kemudian meminta keputusan hukum kepada Nabi Daud, lalu beliau memutuskan (anak yang tersisa) adalah milik wanita yang lebih tua. Keduanya kemudian keluar, lalu Nabi Sulaiman memanggil mereka dan berkata: 'Bawa kemari sebilah pisau (untuk membelah anak itu menjadi dua).' Wanita yang lebih muda berkata: 'Semoga Allah merahmatimu, anak itu adalah miliknya (wanita yang lebih tua), janganlah engkau membelahnya.' Maka Nabi Sulaiman pun memutuskan bahwa anak itu adalah milik wanita yang lebih muda."

Dalam kisah ini, Anda juga dapat memperhatikan kerasnya hati ibu yang lebih tua; serigala telah mencuri anaknya namun ia tidak menunjukkan kesedihan atasnya, bahkan ia menunjukkan kekerasan hati yang tidak terbayangkan oleh akal laki-laki sekalipun, apalagi hati seorang wanita. Ia tega mencuri anak temannya sendiri. Karena tidak masuk akal jika kedua anak itu benar-benar mirip secara identik, sebagaimana tidak masuk akal jika seorang ibu tidak mampu membedakan anaknya sendiri di antara dua anak. Maka hadis ini menunjukkan kerasnya hati ibu yang lebih tua dan kasih sayang hati ibu yang lebih muda.


Landasan Emosional Kedua — Mencandai dan Bergurau dengan Anak-anak:

Kita akan hidup bersama dengan sekelompok hadis nabawi yang mulia, kita mengambil darinya pelajaran praktis dari Rasulullah dalam mencandai anak-anak; terkadang dengan berlarian, terkadang dengan menggendong, terkadang dengan mengecilkan nama panggilan (tasghir), dan terkadang dengan membuat mereka tertawa, serta cara lainnya.

Perbuatan-perbuatan ini, jika tidak dilakukan oleh orang tua sebagai kewajiban pendidikan, maka mereka tetap dituntut untuk melakukannya sebagai bentuk meneladani Rasulullah . Thabrani meriwayatkan dari Jabir رضي الله عنه, ia berkata: Kami pernah bersama Rasulullah lalu kami diundang untuk makan, tiba-tiba (kami melihat) Husain sedang bermain di jalan bersama anak-anak. Nabi segera maju mendahului rombongan kemudian membentangkan kedua tangannya. Husain mulai lari menghindar ke sana kemari sementara Rasulullah mencandainya hingga beliau menangkapnya. Beliau meletakkan salah satu tangannya pada dagu Husain dan tangan lainnya di antara kepala dan telinganya, kemudian beliau memeluk dan menciumnya, lalu bersabda: "Husain adalah bagian dariku dan aku bagian darinya. Allah mencintai orang yang mencintai Hasan dan Husain. Hasan dan Husain adalah dua cucu di antara cucu-cucu (para Nabi)." ([3])

Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad dan Thabrani meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Kedua telingaku ini mendengar dan kedua mataku ini melihat Rasulullah memegang dengan kedua tangannya telapak tangan Hasan atau Husain, sementara kedua kaki anak itu berada di atas kedua kaki Rasulullah . Rasulullah bersabda: "Naiklah." Maka anak itu naik hingga ia meletakkan kedua kakinya di atas dada Rasulullah . Kemudian Rasulullah bersabda: "Bukalah mulutmu," lalu beliau menciumnya dan berdoa: "Ya Allah, cintailah dia, karena sesungguhnya aku mencintainya." Dalam kitab Al-Ishabah disebutkan tambahan: "khuzaqah khuzaqah, tarqa 'ain baqqah". Dalam kitab An-Nihayah karya Ibnu Atsir disebutkan: "Di dalamnya diceritakan bahwa beliau menimang-nimang Hasan atau Husain sambil berucap: huzuqah huzuqah tarqa 'ain baqqah—hingga anak itu naik dan meletakkan kedua kakinya di atas dada beliau." Al-khuzaqah atau al-huzuqah artinya orang yang lemah dan langkah kakinya pendek karena kelemahannya, ada pula yang mengatakan artinya orang yang pendek dan berperut besar; beliau menyebutkan itu dalam konteks candaan dan menghibur anak tersebut. Tarqa artinya naiklah, dan 'ain baqqah (mata nyamuk) adalah kiasan untuk mata yang kecil. ([4])

Al-Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Abu Daud meriwayatkan dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah adalah manusia dengan akhlak yang paling baik. Aku memiliki seorang saudara laki-laki yang dipanggil Abu 'Umair—saat itu ia baru saja disapih. Apabila Rasulullah datang kepada kami, beliau bersabda: 'Wahai Abu 'Umair, apa yang sedang dilakukan oleh an-nughair (burung kecil)?'—yaitu burung kecil yang biasa ia gunakan bermain."

Dalam riwayat Ahmad (3/188 dan 201, 212) dari Anas رضي الله عنه disebutkan bahwa Nabi pernah masuk menemui Ummu Sulaim yang memiliki seorang putra dari Abu Thalhah yang dipanggil Abu 'Umair. Beliau biasa mencandainya. Suatu ketika beliau masuk menemuinya dan melihat anak itu sedang bersedih, beliau bertanya: "Mengapa aku melihat Abu 'Umair bersedih?" Mereka menjawab: "Burung kecil (nughair) yang biasa ia gunakan bermain telah mati." Maka beliau mulai berucap: "Wahai Abu 'Umair, apa yang sedang dilakukan oleh an-nughair?"

Telah disebutkan sebelumnya perkataan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Al-Fath bahwa hadis ini mengandung kebolehan bercanda dan mengulang-ulang candaan, dan bahwa hal tersebut merupakan kesunnahan yang diperbolehkan bukan sekadar keringanan (rukhshah). Juga boleh mencandai anak kecil yang belum tamyiz, serta mengulang-ulang kunjungan kepada orang yang diajak bercanda. Di dalamnya juga terdapat pelajaran untuk meninggalkan sikap sombong dan merasa tinggi, serta perbedaan kondisi antara orang dewasa saat di jalan (harus berwibawa) atau saat di rumah (boleh bercanda).


([1]) Shahih. Lihat Shahihul Jami' No. 4797, diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Syaikh.

([2]) Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya 1/283 dan 2/41.

([3]) Hasan, diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Adab, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Lihat Shahihul Jami' No. 2146.

([4]) Lihat kitab "Sayyiduna Muhammad Rasulullah" karya Syekh Abdullah Sirajuddin hal. 157.


At-Tirmidzi dan Abu Daud meriwayatkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwa Rasulullah bersabda (kepadanya): "Wahai pemilik dua telinga," maksudnya beliau sedang mencandainya.

At-Tirmidzi meriwayatkan dan ia berkata ini adalah hadis gharib, dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah memberiku nama julukan (kunyah) dengan nama sejenis sayuran yang aku petik." ([1])

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: "Ketika Rasulullah tiba di Mekah, beliau disambut oleh anak-anak kecil dari Bani Al-Muththalib, lalu beliau menggendong salah satu dari mereka di depan beliau dan yang lainnya di belakang beliau."

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما bahwa Usamah (bin Zaid) pernah berboncengan di belakang Nabi dari Arafah menuju Muzdalifah, kemudian beliau memboncengkan Al-Fadhl (bin Abbas) dari Muzdalifah menuju Mina. Keduanya berkata: "Nabi senantiasa bertalbiyah hingga beliau melontar Jamrah Aqabah."

Dari Abdullah bin Syaddad, ia berkata: "Ketika Rasulullah sedang mengimami orang-orang dalam salat, tiba-tiba Husain datang lalu menunggangi leher beliau saat beliau sedang sujud. Beliau pun memperlama sujudnya di hadapan orang-orang hingga mereka mengira telah terjadi sesuatu. Ketika beliau menyelesaikan salatnya, mereka bertanya: 'Wahai Rasulullah, engkau memperlama sujud hingga kami mengira telah terjadi sesuatu.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya anakku ini telah menjadikanku sebagai tunggangannya, dan aku tidak suka menyegerakannya (turun) sampai ia menyelesaikan hajatnya (puas bermain).'"

Al-Iraqi berkata ([2]) hadis ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dan Al-Hakim, dan Al-Hakim berkata: "Shahih sesuai syarat Syaikhain (Al-Bukhari dan Muslim)."

Para sahabat رضي الله عنهم meneladani Rasulullah dalam hal ini; mereka bersegera mencandai dan menggendong anak-anak mereka, turun ke tingkatan (dunia) mereka, berperilaku seperti anak kecil di depan mereka, dan mengajak mereka bermain.

Ad-Dailami dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abu Sufyan, ia berkata: "Aku masuk menemui Muawiyah yang sedang berbaring terlentang, sementara di atas dadanya ada seorang bayi laki-laki atau perempuan yang sedang diajaknya bercanda (mengeluarkan suara-suara lucu). Aku berkata: 'Jauhkanlah ini darimu wahai Amirul Mukminin.' Muawiyah menjawab: 'Aku mendengar Rasulullah bersabda: Barang siapa yang memiliki anak kecil (bayi), maka hendaklah ia berperilaku seperti anak kecil (bermain-main) untuknya.'" ([3])

Umar رضي الله عنه berkata ([4]): "Seyogianya seorang laki-laki di tengah keluarganya menjadi seperti anak kecil—yakni dalam hal kehangatan, keceriaan, keluwesan akhlak, dan canda tawa bersama anak-anaknya—namun jika dicari apa yang ada pada dirinya (saat dibutuhkan untuk urusan serius), ia akan ditemukan sebagai seorang lelaki sejati." Bahkan Umar رضي الله عنه pernah mencopot salah satu gubernurnya dari jabatannya karena ia menemukan bukti nyata tentang kerasnya hati sang gubernur terhadap anak-anaknya. Dari Muhammad bin Salam, ia berkata: "Umar bin Al-Khaththab رضي الله عنه menugaskan seseorang untuk suatu pekerjaan (jabatan), lalu orang tersebut melihat Umar mencium salah satu putranya. Orang itu berkata: 'Engkau menciumnya padahal engkau adalah Amirul Mukminin? Seandainya aku, aku tidak akan melakukannya.' Umar berkata: 'Apa salahku jika Allah telah mencabut rahmat dari hatimu! Sesungguhnya Allah tidak merahmati hamba-hamba-Nya kecuali orang-orang yang penyayang.' Lalu Umar mencopotnya dari jabatannya seraya berkata: 'Engkau saja tidak menyayangi anakmu sendiri, maka bagaimana engkau akan menyayangi rakyat?'" ([5])

Dengan candaan, permainan, sikap ramah, dan meniru dunia anak-anak inilah interaksi Rasulullah terhadap anak-anak dilakukan, di mana beliau memberi nutrisi bagi jiwa mereka dengan emosi yang jujur dan baik, jauh dari sikap kaku, keras, dan pengabaian terhadap hak-hak anak.


Landasan Emosional Ketiga — Hadiah dan Pemberian untuk Anak-anak:

Hadiah memiliki pengaruh yang baik dalam jiwa manusia secara umum, dan pada jiwa anak-anak pengaruhnya lebih kuat serta dampaknya lebih besar. Rasulullah telah menetapkan kaidah cinta di antara manusia, beliau menasihati umat dengan sabdanya: "Saling memberilah hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai." Ini adalah undang-undang yang bersifat umum.

Rasulullah telah menjelaskan kepada kita secara praktis pilar yang kuat ini dalam membangun emosi anak, menggerakkannya, mengarahkannya, serta mendidiknya.

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah biasanya jika dibawakan hasil buah-buahan pertama (panen awal), beliau berdoa: "Ya Allah, berkahilah kami pada kota kami, pada buah-buahan kami, pada mud kami, dan pada sha' kami, berkah di atas berkah," kemudian beliau memberikannya kepada anak kecil paling muda yang hadir di hadapan beliau.

Thabrani meriwayatkan dari Ishaq bin Yahya bin Thalhah, ia berkata: "Aku pernah bersama pamanku, Isa bin Thalhah, di masjid, lalu masuklah As-Sa'ib bin Yazid. Pamanku mengutusku menemuinya dan berkata: 'Pergilah kepada Syekh itu dan katakan kepadanya: Pamanku Isa bin Thalhah bertanya kepadamu: Apakah engkau pernah melihat Rasulullah ?' Aku pun mendatanginya dan bertanya hal itu. Ia menjawab: 'Ya, aku melihat Rasulullah . Aku pernah masuk menemui beliau bersama anak-anak sebayaku, kami dapati beliau sedang makan kurma di sebuah wadah anyaman bersama beberapa sahabatnya. Beliau mengambil segenggam kurma untuk kami dan mengusap kepala kami.'"

Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah رضي الله عنها, ia berkata: "Pernah datang hadiah-hadiah dari Najasyi (Raja Ethiopia) yang di antaranya terdapat sebuah perhiasan (cincin atau kalung) dari Habasyah. Rasulullah mengambilnya dengan sebatang kayu atau dengan sebagian jarinya dengan sikap segan (zuhud) terhadapnya, kemudian beliau memanggil Umamah binti Abil 'Ash dari putrinya (Zainab), lalu beliau bersabda: 'Berhiaslah dengan ini, wahai putriku.'"


([1]) Sanadnya lemah. Lihat Jami'ul Ushul 9/91, tahqiq Al-Arna'uth.

([2]) Dalam Ihya' Ulumiddin.

([3]) Lemah. Lihat Dha'iful Jami' No. 5812.

([4]) Kanzul 'Ummal 16/573, diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunya, Ad-Dinawari, dan Abdurrazzaq dalam Al-Jami'.

([5]) Kanzul 'Ummal 165/583, diriwayatkan oleh Ad-Dinawari.


Landasan Emosional Keempat — Mengusap Kepala Anak:

Engkau telah memperhatikan pada hadis sebelum yang terakhir, bagaimana Nabi mencurahkan kasih sayang kepada emosi anak-anak dengan mengusap kepala mereka, sehingga mereka merasakan lezatnya rahmat, kelembutan, cinta, dan kasih sayang. Hal ini membuat anak merasa keberadaannya diakui, merasa dicintai oleh orang dewasa, dan diperhatikan. Demikian pula, sudah sepatutnya mendekatkan diri kepada anak dan membuatnya merasa berharga dengan cara seperti:

  1. Menyambut anak dengan baik.
  2. Memperhatikan kondisinya dan menanyakan kabarnya.
  3. Memberikan perhatian khusus kepada anak-anak yang lemah, yatim, dan yang membutuhkan, dan lain sebagainya.

 

4. Menciptakan pemikiran islami dan bakat yang cemerlang yang menguasai berbagai hal serta mendalami ilmu pengetahuan dengan metodologi yang mengantarkan pada kreativitas intelektual, ilmiah, dan peradaban, tanpa beban atau paksaan yang berlebihan, sehingga hal itu menjadi tabiat jiwa dan gaya hidup.

Di hadapan kita terdapat sejumlah tokoh luar biasa yang mampu menaklukkan kesulitan dan menganggap manis perjuangan dalam menuntut ilmu. Mereka tidak terhalang oleh kemiskinan atau kebutuhan, tidak terpedaya oleh syahwat, dan tidak teralihkan oleh harta maupun jabatan, padahal saat itu mereka masih anak-anak yang mungkin saja tertipu oleh hal-hal sepele sebagaimana anak-anak sebaya mereka tertipu.

Masa Kecil Imam Ibnu al-Jauzi رضي الله عنه dalam Menuntut Ilmu:

Imam Ibnu al-Jauzi bercerita tentang kesulitan yang ia alami di awal masa menuntut ilmu dan tentang pujian atas kesabarannya menghadapi kesulitan tersebut:

"Sungguh, di tengah manisnya aku menuntut ilmu, aku menjumpai kesulitan-kesulitan yang bagiku lebih manis daripada madu, demi apa yang kucari dan kuharapkan. Di masa kanak-kanak, aku membawa beberapa potong roti kering lalu keluar untuk mencari hadis. Aku duduk di tepi sungai 'Isa (di Bagdad), dan aku tidak mampu memakan roti itu kecuali dengan bantuan air. Setiap kali aku memakan satu suap, aku meminum air setelahnya. Namun, mata ambisiku tidak melihat kecuali kelezatan dalam meraih ilmu. Hal itu membuahkan hasil bagiku sehingga aku dikenal karena banyaknya mendengarkan hadis Rasulullah , mempelajari keadaan beliau, adab beliau, serta keadaan para sahabat dan tabi'in mereka."

Beliau juga berkata: "Aku tidak puas dengan satu bidang ilmu saja, bahkan aku mendengarkan ilmu fikih, hadis, dan mengikuti jejak para zahid (orang-orang zuhud). Kemudian aku belajar ilmu bahasa, dan tidaklah aku melewatkan seorang pun yang meriwayatkan hadis atau memberi nasihat, serta tidak ada orang asing (alim) yang datang melainkan aku mendatanginya dan memilih keutamaan-keutamaan darinya. Dahulu aku berkeliling mendatangi para syekh untuk mendengarkan hadis sampai napasku terengah-engah karena berlari agar tidak didahului orang lain. Aku sering mendapati waktu pagi tanpa memiliki makanan, dan sore hari pun tanpa makanan. Allah tidak pernah menghinakanku di hadapan makhluk-Nya sama sekali. Seandainya aku jelaskan keadaanku, niscaya penjelasannya akan sangat panjang." ([1])

Masa Kecil Imam Syafi'i رضي الله عنه dan Perjuangannya Menuntut Ilmu:

Beliau رضي الله عنه berkata: "Dahulu aku tidak memiliki harta, dan aku menuntut ilmu di masa muda—yakni di awal usiaku, saat itu usianya sekitar tiga belas tahun—aku sering pergi ke kantor pemerintahan (diwan) untuk meminta kertas bekas—yakni bagian belakang kertas yang sudah ditulisi—lalu aku menulis (ilmu) di sana." ([2])

Al-Buwaiti menceritakan dari Asy-Syafi'i رضي الله عنه bahwa beliau pernah berada di majelis Malik bin Anas رضي الله عنه saat beliau masih belia. Lalu datanglah seorang laki-laki menemui Malik untuk meminta fatwa, ia berkata: "Sesungguhnya aku telah bersumpah dengan talak tiga bahwa burung bulbul ini tidak akan berhenti berkicau sejak pagi." Maka Malik berkata kepadanya: "Engkau telah melanggar sumpah (jatuh talak)." Laki-laki itu pun pergi. Kemudian Asy-Syafi'i berpaling kepada sebagian sahabat Malik dan berkata: "Sesungguhnya fatwa ini keliru." Hal itu pun disampaikan kepada Malik. Saat itu Malik adalah orang yang sangat disegani majelisnya, tidak ada yang berani membantahnya, bahkan terkadang kepala keamanan datang berdiri di dekat kepalanya saat beliau duduk di majelis. Mereka berkata kepada Malik: "Anak muda ini mengklaim bahwa fatwa tadi adalah kelalaian dan kekeliruan." Malik bertanya kepadanya: "Atas dasar apa engkau mengatakan hal ini?" Asy-Syafi'i menjawab: "Bukankah Engkau sendiri yang meriwayatkan kepada kami dari Nabi dalam kisah Fathimah binti Qais رضي الله عنها ketika ia berkata kepada Nabi bahwa Abu Jahm dan Mu'awiyah (melamarnya), lalu Nabi bersabda: 'Adapun Abu Jahm, tongkatnya tidak pernah lepas dari bahunya'. Apakah tongkat Abu Jahm selalu ada di bahunya setiap saat? Beliau hanya memaksudkan kondisi yang paling sering terjadi (kebiasaan)." Maka Malik pun menyadari kedudukan dan kapasitas Asy-Syafi'i. Asy-Syafi'i berkata: "Ketika aku hendak keluar dari Madinah, aku mendatangi Malik untuk berpamitan, lalu Malik berkata kepadaku saat perpisahan itu:

'Wahai pemuda, bertakwalah kepada Allah Ta'ala, dan janganlah engkau memadamkan cahaya yang telah Allah berikan kepadamu ini dengan kemaksiatan'—yakni cahaya ilmu, sebagaimana firman Allah Ta'ala: {Dan barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidaklah dia mempunyai cahaya sedikit pun} [QS. An-Nur: 40]. Demikianlah dalam riwayat burung bulbul ini, dan dalam riwayat lain disebutkan burung al-qumri (merpati)." ([3])

Masa Kecil Imam Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani dalam Menuntut Ilmu:

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya sampai kepada Mujasyi' bin Yusuf, ia berkata: "Aku berada di Madinah di sisi Malik saat beliau memberikan fatwa kepada orang-orang. Lalu masuklah Muhammad bin al-Hasan, sahabat Abu Hanifah, dalam keadaan ia masih muda, yaitu sebelum ia melakukan perjalanan kepada Malik untuk mendengarkan al-Muwaththa' darinya. Muhammad bertanya:

'Apa pendapatmu mengenai orang junub yang tidak menemukan air kecuali di dalam masjid?' Malik menjawab: 'Orang junub tidak boleh masuk masjid.' Muhammad bertanya: 'Lalu apa yang harus ia lakukan padahal waktu salat telah tiba dan ia melihat air (di dalam masjid)?' Malik pun terus mengulang: 'Orang junub tidak boleh masuk masjid.' Ketika Muhammad terus mendesaknya, Malik berkata kepadanya: 'Lalu apa pendapatmu mengenai hal ini?' Muhammad menjawab: 'Ia bertayamum lalu masuk dan mengambil air dari masjid, kemudian keluar dan mandi.' Malik bertanya: 'Dari mana asalmu?' Muhammad menjawab: 'Dari penduduk ini'—sambil menunjuk ke arah bumi (tanah)—lalu ia bangkit berdiri. Mereka berkata: 'Ini adalah Muhammad bin al-Hasan, sahabat Abu Hanifah.' Malik bertanya: 'Muhammad bin al-Hasan? Bagaimana mungkin ia berbohong, padahal ia menyebutkan dirinya penduduk Madinah?' Mereka menjawab: 'Sesungguhnya ia tadi hanya berkata: Dari penduduk ini sambil menunjuk ke bumi.' Malik berkata: 'Hal ini (kecerdasannya) lebih berat bagiku daripada hal itu (identitasnya)'."


([1]) Shafahat min Shabr al-'Ulama hal. 76, cet. 2.

([2]) Dari buku Shafahat min Shabr al-'Ulama.

([3]) Bulugh al-Amani fi Sirat al-Imam Muhammad bin al-Hasan al-Syaibani oleh Syekh Zahid al-Kautsari rahimahullah hal. 12.


Masa Kecil Malik bin Anas رضي الله عنه:

Mutharrif berkata: Malik bercerita: "Aku berkata kepada ibuku: 'Bolehkah aku pergi untuk menulis ilmu?' Ibuku menjawab: 'Kemarilah, pakailah pakaian ilmu.' Lalu ia memakaikanku pakaian musammarah (pakaian yang dijahit rapi), memakaikan thawilah (peci tinggi) di kepalaku, dan melilitkan sorban di atasnya. Kemudian ia berkata: 'Pergilah dan tulislah (ilmu) sekarang'."

Ibunda Malik juga sering berpesan: "Pergilah kepada Rabi'ah, pelajarilah adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya."


Menanamkan Kecintaan pada Ilmu dan Belajar, serta Mengarahkan Anak pada Apa yang Ia Minati dan Kuasai

Tidak ada dalam sejarah, sebuah agama seperti agama Islam yang begitu gigih mendidik anak-anaknya, dan tidak ada satu pemikiran pun di dunia ini yang begitu bersemangat mengajar murid-muridnya seperti pemikiran Islam. Hal ini diakui oleh musuh-musuh Islam sebelum orang lain. Dr. Arthur Arberry, Profesor Studi Islam di Universitas Cambridge, mengatakan ([1]):

"Islam memiliki jasa-jasa bagi umat manusia yang mengundang kekaguman dan menuntut rasa syukur. Kita memiliki banyak karya tulis yang mendeskripsikan kontribusi umat Islam dalam memajukan seni, sastra, sains, dan politik. Sangat jelas bahwa umat Islam tidak akan mencapai tujuan ilmiah yang tinggi ini jika bukan karena semangat mereka yang luar biasa terhadap belajar dan mengajar; semangat yang menjadi ciri khas bangsa-bangsa Islam sepanjang sejarahnya yang panjang. Maka kaum laki-laki dan perempuan bangkit menyambut seruan Rasul : 'Tuntutlah ilmu walau ke negeri Cina' ([2])."

Dalam proses pembangunan ilmiah dan intelektual, harus ada kejelasan rukun dan landasan yang dijalani oleh kedua orang tua demi menjamin anak mereka mendapatkan struktur yang sehat, ilmu yang melimpah, dan pemikiran yang benar. Sebab, pembangunan ini dianggap sebagai hal terpenting yang membentuk anak karena ini adalah pembangunan akal. Jika akal itu sehat, maka akan menjadi kebaikan dan kabar gembira bagi kedua orang tua. Namun jika sebaliknya, maka keduanya telah melahirkan musuh bagi diri mereka sendiri yang memerangi mereka dari dalam, dan membawa keduanya ke jurang Jahanam, wal 'iyadzu billah.

Kita perhatikan dari landasan-landasan pembangunan ilmiah yang akan kami sebutkan berikut ini—dengan pertolongan Allah Ta'ala—bahwa landasan tersebut mengobati anak dari sisi dalamnya agar ia condong pada ilmu, belajar, dan cinta kepada ulama. Hal ini juga menjelaskan pentingnya peran orang tua dalam memilih guru yang sukses dan saleh, yang merupakan cermin bagi hati dan akal sang anak. Sebab, apa yang dianggap baik oleh guru akan dianggap baik pula oleh anak. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui landasan-landasan yang dibutuhkan orang tua ini. Apa sajakah itu?


Landasan Ilmiah Pertama — Menanamkan Cinta Ilmu dan Adabnya pada Anak:

Nabi telah menetapkan kaidah dasar dalam memanfaatkan masa kanak-kanak untuk belajar dan menuntut ilmu yang diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menjadi pemacu semangat para ayah untuk mendorong anak-anak mereka menuntut ilmu dan mencintainya. Karena: "Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim" ([3]), baik kecil maupun besar, laki-laki maupun perempuan, anak laki-laki maupun anak perempuan. Menuntut ilmu adalah ibadah paling utama bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya. Oleh karena itu, masa kanak-kanak adalah masa paling subur dalam pembangunan ilmiah dan intelektual anak.

Ath-Thabrani ([4]) meriwayatkan dari Abu Darda رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Perumpamaan orang yang menuntut ilmu di masa kecilnya seperti mengukir di atas batu, dan perumpamaan orang yang menuntut ilmu di masa tuanya seperti orang yang menulis di atas air."

Ibnu Abidin menyebutkan hal ini dalam Hasyiyah-nya, kemudian ia berkata: "Di antara syair yang disenandungkan Naftawaih untuk dirinya sendiri adalah ([5]):"

Aku merasa telah lupa apa yang kupelajari saat dewasa,

Namun aku takkan lupa apa yang kupelajari saat kecil.

Tiadalah ilmu melainkan dengan belajar di masa muda,

Dan tiadalah kebijaksanaan melainkan dengan membiasakan diri saat dewasa.

Tiadalah ilmu setelah uban tumbuh melainkan sebuah kepayahan,

Saat hati, pendengaran, dan penglihatan seseorang mulai melemah.

Seandainya hati seorang pelajar di masa muda dibelah,

Niscaya akan terlihat ilmu di dalamnya bagaikan ukiran pada batu.

As-Sakhawi dalam Al-Maqashid al-Hasanah mencantumkan sejumlah hadis yang menguatkan makna ini, di antaranya:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah رضي الله عنه secara marfu': "Barang siapa yang mempelajari Al-Qur'an di masa mudanya, maka Al-Qur'an akan menyatu dengan daging dan darahnya. Dan barang siapa yang mempelajarinya di masa tuanya, maka Al-Qur'an itu mudah lepas darinya namun ia tidak meninggalkannya, maka baginya pahala dua kali." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, Ad-Dailami, dan Al-Hakim).

Ibnu Abbas berkata: "Barang siapa yang membaca (menghafal) Al-Qur'an sebelum ia bermimpi basah (balig), maka ia termasuk orang yang dianugerahi hikmah saat masih kanak-kanak."

Sungguh para sahabat, tabi'in, dan ahli hadis telah menyadari bahwa pendidikan anak-anak memiliki pengaruh besar bagi pertumbuhan ilmiah sang anak, menjadikannya lebih kuat, teguh, dan lebih tertanam dalam ingatan dibandingkan apa yang dipelajari seseorang saat sudah dewasa. Jika seseorang melewatkan (belajar) di masa kecil, jangan sampai ia melewatkannya di masa dewasa.


([1]) Dari pendahuluan buku (Tarikh al-Tarbiyah al-Islamiyah) karya Dr. Ahmad Syalabi.

([2]) As-Sakhawi berkata dalam Al-Maqashid al-Hasanah: Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Asy-Syu'ab, Al-Khathib dalam Al-Rihlah, dan lainnya, Ibnu Abdil Barr dalam Jami' al-'Ilm, dan Ad-Dailami. Kemudian ia berkata: Ibnu Hibban berkata: "Ini batil tidak ada asalnya," dan Ibnu Jauzi menyebutkannya dalam Al-Maudhu'at (hadis-hadis palsu). Wallahu a'lam.

([3]) Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas رضي الله عنه secara marfu'. Lihat Al-Maqashid al-Hasanah nomor 660, di mana Al-Iraqi berkata: Sebagian imam mensahihkan sebagian jalannya, dan Al-Mizzi berkata: Sesungguhnya jalan-jalannya mencapai derajat hasan.

([4]) Dengan sanad lemah menurut As-Sakhawi dalam Al-Maqashid al-Hasanah. Lihat Dha'if al-Jami' dengan redaksi "Hafalan anak kecil seperti mengukir di atas batu" nomor 2726, dan ia mengisyaratkan kelemahannya.

([5]) Hasyiyah Ibnu Abidin cetakan ke-2, 1/157, lihat Al-Maqashid al-Hasanah hal. 461.


Landasan Ilmiah Kedua — Mengarahkan Anak Sesuai dengan Kecenderungan Ilmiahnya:

Telah disebutkan sebelumnya tentang kisah Zaid bin Tsabit yang mempelajari bahasa Suryani; di mana para sahabat memilihnya, mengajukannya kepada Nabi , dan merekomendasikannya karena mereka mengetahui kapasitas serta kecenderungan bahasanya, serta kemampuannya untuk melaksanakan keinginan Rasulullah dalam mempelajari bahasa Suryani. Ini merupakan dalil atas pentingnya mengarahkan anak sesuai dengan kecenderungan ilmiah dan keinginan jiwanya, karena hal itu lebih menjamin penguasaan ilmu di dalam dirinya, keahliannya, serta keunggulannya di atas teman-teman sebayanya.

Hal ini juga telah ditetapkan oleh ulama salaf—semoga Allah meridai mereka. Ibnu Sina berpendapat bahwa: "Tidak setiap keterampilan (profesi) yang diinginkan oleh seorang anak itu memungkinkan dan cocok baginya, namun hendaknya ia menekuni apa yang sesuai dengan tabiat dan kecocokannya."

Diriwayatkan bahwa Yunus bin Habib sering mendatangi Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi untuk mempelajari ilmu Arudh (timbangan syair) dan puisi darinya, namun ia merasa kesulitan. Suatu hari Al-Khalil bertanya kepadanya: "Dari bahar (pola) manakah perkataan penyair berikut ini:

Jika engkau tidak mampu melakukan sesuatu, maka tinggalkanlah,

Dan lewati ia menuju apa yang engkau mampu melakukannya.

Ketika Yunus bin Habib tidak mampu menjawab, Al-Khalil bin Ahmad memintanya untuk melaksanakan (makna dari) potongan kedua dari bait syair yang ditanyakan tersebut (yakni memintanya meninggalkan ilmu Arudh karena ia tidak mampu dan beralih ke bidang lain).

Begitu pula Imam Al-Bukhari pada awal mulanya mencoba mempelajari ilmu fikih dan mendalaminya, lalu Muhammad bin Al-Hasan berkata kepadanya: "Pergilah dan sibukkan dirimu dengan ilmu hadis," karena beliau melihat ilmu hadis lebih cocok dengan kapasitasnya, lebih layak, dan lebih dekat dengan jiwanya. Al-Bukhari pun patuh, dan setelah itu ia menjadi pemimpin ahli hadis, bahkan imam mereka. ([1])


Landasan Ilmiah Ketiga — Perpustakaan Rumah yang Baik dan Pengaruhnya dalam Membangun Anak:

Agar anak dapat mempelajari Al-Qur'an, hadis, dan bahasa, maka rumah harus memiliki perpustakaan Islam yang bersifat ilmiah sebagai tempat ia tumbuh dan menimba ilmu.

Dari Abdullah bin Salamah, dari ayahnya (Salamah), ia berkata: "Ayahku, Budail bin Warqa', menyerahkan sebuah kitab kepadaku, lalu ia berkata: 'Wahai anakku, ini adalah kitab (surat) Rasulullah , maka wasiatkanlah ia (untuk dijaga), karena kalian akan senantiasa dalam kebaikan selama kitab ini ada di tengah-tengah kalian.'" Kemudian ia menyebutkan hadis tersebut yang di dalamnya disebutkan bahwa kitab tersebut ditulis oleh Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.

Samurah bin Jundub رضي الله عنه juga telah mengumpulkan banyak hadis dalam sebuah naskah yang diwarisi oleh putranya, Sulaiman, dan diriwayatkan darinya. Diduga naskah tersebut adalah risalah (surat) yang dikirimkan Samurah kepada anak-anaknya. Terkait hal ini, Ibnu Sirin berkata: "Dalam risalah Samurah kepada anak-anaknya terdapat ilmu yang banyak." ([2]) Ini mengisyaratkan pentingnya keberadaan perpustakaan ilmiah yang bermanfaat di dalam rumah untuk membangun anak secara ilmiah dengan kuat. Terkait hal ini Al-Jahiz berkata:

"Apabila seorang sastrawan itu mahir, dan warisannya adalah buku-buku yang luar biasa serta adab yang komprehensif, maka sang anak akan lebih layak memandang belajar sebagai sebuah keberuntungan, lebih cepat dalam menerima pendidikan, memandang meninggalkan belajar sebagai sebuah kesalahan, lebih layak berjalan di jalur sastra yang telah dirintis baginya, lebih layak dialiri darah dari jenisnya dan disirami dari tanamannya, serta lebih layak menjadikan kegiatan menelaah buku dan mendengarkan ilmu sebagai pengganti dari mencari keuntungan (materi), hingga ia mencapai kecukupan dan puncak kebutuhannya." ([3])

Imam Asy-Syahid (Hasan al-Banna) juga telah mengingatkan peran perpustakaan rumah dalam risalahnya—Metode Paling Berhasil dalam Mendidik Generasi Muda dengan Pendidikan Islam yang Murni—beliau berkata:

"Sebutkan pula pentingnya rumah memiliki sebuah perpustakaan, betapapun sederhananya, namun buku-bukunya dipilih dari buku-buku sejarah Islam, biografi para pendahulu (salaf), buku-buku akhlak, hikmah, kisah perjalanan, dan setiap ilmu yang bermanfaat."


Menguasai Bahasa Asing bagi Anak Selama Memungkinkan:

Setelah anak menguasai bahasa Arab dengan baik serta menghafal sebagian Al-Qur'an dan hadis, maka tidak mengapa jika ia menguasai bahasa asing yang lazim digunakan. Hal itu bertujuan untuk membentuk generasi muslim yang mampu membongkar rencana musuh, merasa aman dari tipu daya mereka, serta mampu mentransfer ilmu-ilmu materi murni kepada umat Islam. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah sesaat setelah tiba di Madinah Al-Munawwarah saat berhijrah dari Mekah:

Abu Ya'la dan Ibnu Asakir meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit رضي الله عنه, ia berkata: Aku dibawa menemui Nabi saat beliau tiba di Madinah. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, ini adalah seorang anak dari Bani Najjar, ia telah membaca (menghafal) tujuh belas surah dari apa yang diturunkan kepadamu." Maka aku membacanya di hadapan Rasulullah dan beliau merasa takjub. Beliau bersabda: "Wahai Zaid, pelajarilah bagiku tulisan orang Yahudi, karena demi Allah, aku tidak memercayai orang Yahudi atas kitabku (surat-suratku)." Maka aku mempelajarinya, dan belum berlalu setengah bulan hingga aku mahir menguasainya. Aku pun menjadi penulis bagi Rasulullah jika beliau menulis surat, dan aku membacakan surat mereka jika mereka menulis surat kepada beliau.

Diriwayatkan juga oleh keduanya dan Ibnu Abi Daud dari Zaid, ia berkata: Rasulullah bersabda kepadaku: "Apakah engkau menguasai bahasa Suryani? Karena banyak surat yang datang kepadaku (dalam bahasa itu)." Aku menjawab: "Tidak." Beliau bersabda: "Maka pelajarilah." Maka aku mempelajarinya dalam waktu tujuh belas hari.

Atas dasar inilah para pendahulu (salaf) berjalan dalam mendidik anak-anak mereka; selain bahasa Arab, mereka juga mengajarkan bahasa asing lainnya:

Al-Hakim meriwayatkan dalam Mustadrak-nya dan Abu Nu'aim dalam Al-Hilyah dari Umar bin Qais, ia berkata: "Ibnu Az-Zubair رضي الله عنه memiliki seratus budak pemuda, setiap pemuda berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda. Ibnu Az-Zubair berbicara kepada setiap mereka dengan bahasa mereka masing-masing. Jika engkau melihatnya dalam urusan dunianya, engkau akan berkata: 'Orang ini tidak menginginkan Allah (akhirat) sekejap mata pun,' namun jika engkau melihatnya dalam urusan akhiratnya, engkau akan berkata: 'Orang ini tidak menginginkan dunia sekejap mata pun.'"


([1]) Dari majalah Al-Wa'yul 'Arabi, tahun pertama, edisi 1, tahun 1357 H / 1977 M, hal. 33.

([2]) Tahdzibut Tahdzib: 4/326, nomor 402, karya Al-Hafiz Ibnu Hajar.

([3]) Kitab Al-Hayawan karya Al-Jahiz, cetakan rangkaian Al-Mukhtar min At-Turats Al-'Arabi nomor 11/364.


Islam, sebagaimana yang kita ketahui, sangat mendorong penguasaan ilmu yang bermanfaat, yang kita ambil dari bahasa apa pun dan dari wadah mana pun. Hikmah (ilmu) adalah barang hilang milik orang mukmin; ia mengambilnya dari pihak mana pun, dan mencarinya di mana pun ia menemukannya, karena ia adalah orang yang paling berhak atas ilmu tersebut.

Saat ini, ilmu pengetahuan telah berpindah dari tangan seluruh umat Islam ke tangan bangsa lain, dan penemuan-penemuan telah diungguli oleh selain mereka. Maka, wajib bagi umat Islam untuk mengambil ilmu tersebut dan mengungggulinya kembali. Wajib pula bagi mereka untuk mempelajari bahasanya, istilah-istilahnya, serta metode-metodenya. Kita sekarang berada di era sains, di mana ilmu telah masuk ke segala bidang, baik dalam pertanian, industri, maupun berbagai aspek kehidupan lainnya, dan ilmu tersebut telah menjadi mudah diakses melalui buku, surat kabar, risalah, siaran radio, video, televisi, hingga internet. Kita tidak tahu apa yang akan dibawa oleh masa depan, maka wajib bagi kaum muslimin untuk saling berlomba dan menjadi yang terdepan, karena ilmu bagi mereka adalah bagian dari kewajiban dan kefarduan.

Dahulu, umat Islam berada di puncak kejayaan ilmiah karena mereka mengambil manfaat dari arahan-arahan Islam. Mereka menekuni ilmu-ilmu syariat, ilmu pengetahuan umum, serta ilmu alam. Mereka menganggap mempelajari setiap ilmu yang bermanfaat sebagai bagian dari fardu dan kewajiban. Mereka mengambil manfaat dari peradaban bangsa-bangsa lain di dunia, lalu mereka memperbaruinya, mendalaminya, dan mencetaknya dengan karakter Islam yang khas. Dunia selama berabad-abad lamanya senantiasa mengutip dari ilmu-ilmu mereka dan mengambil manfaat dari peradaban mereka. Tidaklah peradaban materi bersinar di era modern ini, baik di Timur maupun di Barat, kecuali berkat apa yang mereka ambil dari peradaban dan ilmu-ilmu umat Islam melalui Sisilia, Andalusia, dan Perang Salib. Maka negara Islam, sejatinya, telah menjadi guru dan pemimpin bagi dunia yang tersesat dan bagi kemanusiaan yang sedang kebingungan.

Berikut adalah kesaksian dari para filosof Barat yang objektif mengenai keagungan kemuliaan ilmiah dan peradaban yang dicapai umat Islam dalam periode sejarah yang panjang:

  • (Christie) berkata dalam pembicaraannya mengenai seni Islam: "Eropa selama sekitar seribu tahun memandang seni Islam seolah-olah ia adalah keajaiban dari segala keajaiban."
  • (Dozy), seorang orientalis Belanda, berkata: "Sesungguhnya di seluruh Andalusia tidak ditemukan seorang pun laki-laki yang buta huruf, sementara di Eropa tidak ada laki-laki yang mengenal baca tulis pada tingkat dasar sekalipun kecuali dari kalangan kelas atas para pendeta."
  • (Lane-Poole) dalam bukunya (The Moors in Spain) berkata: "Eropa yang buta huruf saat itu dipenuhi dengan kebodohan dan kemiskinan, sementara Andalusia membawa kepemimpinan ilmu dan panji kebudayaan."
  • (Briffault) dalam bukunya (The Making of Humanity) berkata: "Sains adalah hal terbesar yang diberikan oleh peradaban Arab kepada dunia modern. Meskipun tidak ada satu pun aspek pertumbuhan Eropa yang tidak dipengaruhi secara mendalam oleh kebudayaan Islam, namun pengaruh yang paling besar dan paling berbahaya (penting) adalah pengaruh yang menciptakan kekuatan yang membentuk faktor utama dan permanen di dunia modern serta sumber tertinggi kemenangannya, yaitu ilmu alam dan semangat ilmiah... Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama pembangunan peradaban."
  • (Abu Shabakah) dalam bukunya (Ikatan Pemikiran dan Ruh antara Arab dan Franka) berkata: "Sesungguhnya hilangnya peradaban Arab adalah kesialan bagi Spanyol dan Eropa. Andalusia tidak mengenal kebahagiaan kecuali di bawah naungan orang Arab, dan segera setelah orang Arab pergi, kehancuran menggantikan kekayaan, keindahan, dan kesuburan..."
  • (H.A.R. Gibb) dalam bukunya (Modern Trends in Islam), saat membahas mengenai metode eksperimen yang menjadi dasar bagi seluruh dunia Eropa—yang sebenarnya merupakan warisan Islam yang asli—mengatakan teks berikut: "Saya percaya telah disepakati bahwa observasi detail dan akurat yang dilakukan oleh para peneliti muslim telah membantu kemajuan pengetahuan ilmiah secara materi dan nyata, dan melalui observasi-observasi inilah metode eksperimental sampai ke Eropa pada Abad Pertengahan."
  • (Victor Robinson), setelah pembicaraan panjang dalam perbandingannya antara peradaban Islam di Andalusia dan peradaban Eropa di Abad Pertengahan, berkata: "...Para bangsawan Eropa saat itu tidak mampu menandatangani nama mereka sendiri sementara anak-anak muslim di Cordoba sudah pergi ke sekolah-sekolah; para rahib Eropa melakukan kesalahan dalam membaca kitab gereja sementara para pengajar di Cordoba telah mendirikan perpustakaan yang kemegahannya menandingi perpustakaan besar Aleksandria..."

Perkataan-perkataan ini, dan banyak perkataan lainnya, menegaskan dengan jelas kepada kita betapa besarnya kekuatan pendorong peradaban yang terkandung dalam Islam, serta pancaran cahaya ilmiahnya. Sementara itu, para ilmuwan di Eropa—pada Abad Pertengahan—dibunuh di alun-alun umum secara terang-terangan karena keberanian ilmiah dan intelektual mereka!!!

Namun, apakah rahasia di balik dorongan peradaban dan pancaran ilmiah ini? Rahasianya terletak pada prinsip-prinsip yang terkandung dalam syariat Islam yang kekal:

5- Keteladanan (Al-Qudwah):

Tidak diragukan lagi bahwa keteladanan dalam pendidikan memegang peran utama. Ia memiliki nilai dan pengaruh yang sangat besar dalam jiwa manusia. Teladan pertama bagi seseorang adalah orang-orang yang berinteraksi dengannya, mulai dari kedua orang tuanya, keluarganya, kemudian guru dan pengajarnya, serta lingkungan tempat ia tumbuh dan dididik di dalamnya. Ada jenis keteladanan lain yang memiliki pengaruh sangat mendalam, yaitu keteladanan intelektual.

Terkait jenis yang kedua, berikut adalah teladan-teladan dalam bidang intelektual dan keagamaan:

  1. Pemilik teladan utama, Nabi kita , yang telah menemui berbagai macam siksaan, aneka penindasan, dan berbagai rasa sakit di jalan dakwah Islam. Buku-buku sirah nabawiyah dipenuhi dengan penyebutan contoh-contoh dan kabar mengenai hal ini...
  2. Kepada para pemilik teladan dari generasi awal para sahabat Rasulullah yang telah berjihad di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, dan memasuki ujian dakwah pada fase Mekah dengan iman yang kokoh laksana gunung. Mereka tidak pernah goyah, tidak menyerah, dan tidak pula menjadi lemah. Sebaliknya, berbagai cobaan dan kesulitan tersebut justru menambah iman dan kepasrahan mereka. Mereka itulah orang-orang yang dikatakan oleh Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه: "Barang siapa yang ingin meneladani, maka teladanilah para sahabat Rasulullah , karena sesungguhnya mereka adalah umat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya (tidak mengada-ada), paling lurus petunjuknya, dan paling baik kondisinya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi-Nya dan untuk menegakkan agama-Nya. Maka kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah jejak-jejak mereka, karena sesungguhnya mereka berada di atas petunjuk yang lurus." Dan kisah-kisah mereka dalam hal keteguhan, pengorbanan, serta kesabaran sangatlah banyak dan tersebar luas.
  3. Kepada para pemilik teladan dari tokoh-tokoh dakwah sepanjang sejarah hingga masa kita sekarang ini. Mereka memiliki sikap-sikap yang mulia dan pengorbanan yang abadi, yang membuat generasi demi generasi merasa bangga sepanjang zaman. Tokoh-tokoh seperti Hasan Al-Bashri, Al-Izz bin Abdus Salam, Mundzir bin Sa'id, Ahmad bin Hanbal, Abu Ghiyats Az-Zahid, Imam Hasan Al-Banna, Asy-Syahid Sayyid Quthb, dan ratusan lainnya yang telah menjadi laksana gunung dalam ketabahan, laksana singa dalam keteguhan, dan menjadi perumpamaan dalam kesabaran serta pengorbanan.

Maka ketika engkau—wahai saudaraku pendidik—menanamkan makna-makna dari sikap pengorbanan, kesabaran, dan keteguhan di jalan penyampaian dakwah Islam ini ke dalam diri anak, niscaya sikap-sikap tersebut akan terpatri dalam persepsinya, dan makna-maknanya akan merasuk ke dalam jiwa serta hatinya.

Pada saat itulah, ia akan mengambil jalan keteladanan dalam hidupnya. Ia akan mengikuti jejak mereka, berjalan di atas metode mereka, dan menjadi bagian dari orang-orang yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam firman-Nya:

{Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka demi petunjuk mereka itu, teladanilah olehmu} (QS. Al-An'am: 90).

Oleh karena itu, dalam pendidikan kita mencari sosok teladan saleh yang mampu memberikan pengaruh melalui perbuatannya dan mampu memberikan arahan melalui perkataannya, sehingga ia memiliki kepatuhan yang mendalam. Jika tidak, maka perkataan tanpa perbuatan adalah sebuah kejahatan terhadap semua orang. Benarlah firman Allah:

{Wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan} [QS. Ash-Shaff: 2-3].

Sebab itu, kami menginginkan bagi saudari muslimah dan saudara muslim agar perilaku umum dan khusus mereka, serta tindakan mereka dalam setiap urusan, menjadi gambaran yang jujur bagi prinsip-prinsip agama dan dakwah mereka. Seharusnya makna ini termasuk dalam kewajiban yang sangat ditekankan dalam pendidikan, namun tidak mengapa jika dipisahkan dalam pembahasan khusus, karena terpenuhinya syarat-syarat keteladanan adalah tanda keikhlasan dan jalan untuk memengaruhi jiwa orang lain. Maka hendaknya kondisi keadaan (perilaku) seseorang lebih fasih dalam menunjukkan (kebenaran) dan lebih kuat pengaruhnya di dalam jiwa daripada sekadar ucapan dan nasihatnya.

Kami tidak bermaksud dengan hal itu hanya sebatas menyempurnakan penampilan pakaian yang berwibawa dan tampilan yang menjaga kesucian saja. Melainkan, kami maksudkan bersamanya agar setiap amal, setiap gerakan, dan setiap isyarat muncul dari ketaatan pada nilai-nilai luhur, rasa cinta, dan keinginan tulus terhadapnya, hingga pengamalan dan komitmen pada jalannya tersebut menjadi kebiasaan akrab yang dilakukan seseorang secara alami tanpa perlu lagi ia pikirkan.

Itulah teladan saleh yang memberikan inspirasi, memberi pengaruh, membangkitkan tekad orang lain, serta menciptakan rumah yang ideal, lingkungan yang mulia, dan masyarakat yang terhormat, meskipun tanpa bermaksud memberikan nasihat yang formal atau bimbingan yang disengaja.

Sesungguhnya itu adalah teladan pertama bagi anak, di mana ia sangat cepat dalam meniru dan kuat terpengaruh oleh kondisi ibunya. Anak adalah salah satu amanah paling berharga yang diberikan kepada sang ibu setelah agamanya. Kami tidak mengatakan kepadanya "cetaklah anakmu di atas kebaikan", melainkan "cetaklah dirimu sendiri di atas prinsip-prinsip kebaikan dan nilai-nilai luhur ini", karena sesungguhnya engkau sedang membentuk teladan yang nantinya akan diikuti oleh anakmu.

Hendaknya saudari yang mulia mengetahui bahwa ia tidak akan sampai pada derajat memberikan pengaruh dalam masyarakat kita kecuali jika ia memiliki kepribadian yang kuat. Kepribadian seseorang hanya akan kuat dan agung jika ia meninggalkan perkataan yang sia-sia dan obrolan kosong, serta menegakkan jiwanya di atas kebenaran dengan keseriusan dan kewibawaan; dengan menyuarakan kebenaran meskipun terhadap dirinya sendiri, menerima konsekuensinya meskipun pahit, dan selalu bersikap adil terhadap dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih disegani dalam jiwa manusia selain sosok yang melelahkan dirinya demi menjaga kebenaran dan bersabar atas beban-bebannya, hingga kehormatannya menjadi besar di mata mereka dan kedudukannya tinggi di jiwa mereka, sehingga mereka mengambil ilmu darinya, terpengaruh olehnya, serta menyambut seruannya dengan penuh kebahagiaan dan kerelaan. Tidak ada makna yang lebih jujur bagi kekuatan kepribadian selain ini. Maka, hendaknya saudari yang mulia menjaga aspek ini, karena dengannya masyarakat akan menjadi sehat dan timbangannya menjadi adil.

Rumah tangga muslim haruslah merepresentasikan kesucian Islam, kematangannya, cita-cita, serta tujuannya, dan harus memperkuat amal-amal saleh di tengah masyarakat serta menyucikannya. Di tengah bangsa-bangsa muslim hari ini, tidak diragukan lagi terdapat teladan-teladan mulia dan perbuatan-perbuatan agung yang seharusnya diperhatikan oleh pendidik, ditekankan untuk dijaga, serta diikuti jejak dan polanya.

Masyarakat bukanlah sekadar klub-klub, majelis-majelis, atau pesta-pesta tempat laki-laki dan perempuan bercampur baur tanpa rasa segan atau batasan. Melainkan, masyarakat adalah lingkungan yang mengelilingimu dan tradisi yang mengatur hubungan segala sesuatu di dalamnya antara satu dengan yang lainnya. Maka, bagi saudari muslimah yang mulia, hendaknya ia berkontribusi dalam membangun masyarakat di atas tradisi yang saleh dan norma yang menjaga kebajikan serta membuahkan kerja sama dalam kebaikan dan takwa.

1- Ia harus memboikot segala keburukan di masyarakat seperti tabarruj (pamer perhiasan/kecantikan) dan pertemuan di pesta-pesta dansa, khamar, judi, tempat hiburan maksiat, serta apa yang disebut dengan "pesta amal"—yaitu acara di mana laki-laki menghamburkan sumbangan mereka di bawah pengaruh pesona dan perhiasan wanita dalam suasana yang menyerupai rayuan dan senda gurau. Hal-hal semacam itu adalah perbuatan keji dari setan yang wajib baginya untuk dijauhi, serta ia harus bekerja membersihkan masyarakat dari noda memalukan tersebut dengan cara menimbulkan rasa benci terhadap hal itu, serta memberikan nasihat dan peringatan bagi siapa saja yang terjerumus di dalamnya.

2- Hendaknya ia bekerja untuk menyebarkan pemikiran-pemikiran yang matang dan prinsip-prinsip yang lurus ke dalam benak kaum wanita, baik yang berpendidikan maupun yang tidak berpendidikan.

Adapun para wanita terdidik yang hanya mengejar kesibukan politik dan sejenisnya demi penampilan dan gengsi semata, mereka tidak lain hanyalah sosok-sosok kosong yang ikut-ikutan. Di masyarakat kita, mereka bagaikan buih yang kebingungan dan hampa, tidak memiliki pengaruh kecuali sekadar ringannya pakaian di sana-sini dengan warna-warni pelangi yang menghiasinya. Seandainya masing-masing dari mereka memahami misi pentingnya dan memenuhi benaknya dengan hakikat yang jujur serta makna yang tepat, niscaya ia akan menemukan di lingkungan wanitanya berbagai amal mulia yang akan meninggikan namanya di antara penduduk bumi dan langit.

Sedangkan di lingkungan wanita yang tidak berpendidikan, terdapat jutaan wanita dari kalangan masyarakat umum yang sangat membutuhkan orang yang membimbing mereka serta mencerdaskan akal dan hati mereka. Yakni dengan hal-hal yang dapat menyucikan jiwa, menghilangkan kebodohan dan takhayul, serta mengajarkan kaidah-kaidah kebersihan, kesehatan, dasar-dasar keperawatan, keterampilan menjahit pakaian, serta mengatur anggaran rumah tangga dengan cara yang tepat, serta cara mengatasi krisis kenaikan harga, pendapatan yang kecil, serta pengangguran suami atau penanggung jawab keluarga.

Hal-hal semacam ini tidak akan tegak kecuali oleh kelompok wanita-wanita yang utama. Maka, hendaknya saudari yang mulia memberikan porsi perhatian terbesar untuk hal ini selama ia menemukan jalan ke sana. Dan alangkah baiknya jika para wanita terdidik memahami bahwa hal itu jauh lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih mulia daripada merancang demonstrasi atau berdesakan di atas mimbar-mimbar pidato untuk menasihati kaum laki-laki tentang tanah air dan patriotisme.

Di zaman buku-buku (teori semata) dan hilangnya kebebasan, yang diperlukan adalah pendidikan yang tenang bagi laki-laki dan perempuan, hingga jumlah para pekerja yang berjuang dan pemilik kebenaran yang nyata semakin banyak; barulah pada saat itu, setiap kejadian akan memiliki pembicaraannya sendiri (tindakan yang sesuai).


6- Persaudaraan (Al-Ukhuwwah):

Persaudaraan dalam Islam bukanlah sekadar kata-kata yang diucapkan, melainkan sebuah akidah, keimanan, hak seorang muslim atas muslim lainnya, serta sebuah gaya hidup. Hal ini telah ditetapkan oleh Allah dalam Kitab-Nya yang mulia dan diperkuat oleh Rasul-Nya yang mulia dalam banyak hadisnya, sedemikian rupa sehingga hati dan ruh terikat dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kokoh dan paling berharga; persaudaraan adalah saudara kandung keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kandung kekufuran.

Persaudaraan di dalam keluarga akan mewariskan rasa cinta dan sikap mendahului orang lain (itsar), serta menjauhkan rasa iri (hasad), kebencian, dendam, dan pemutusan hubungan. Kita telah melihat bagaimana dampak hasad dalam keluarga Nabi Ya'qub عليه السلام, di mana rasa iri dan kebencian menghancurkan stabilitas keluarga yang mulia tersebut. Mari kita perhatikan apa yang terjadi antara Yusuf عليه السلام dan saudara-saudaranya.

Suatu hari, Yusuf terbangun dengan pikiran yang sibuk dan beban pikiran yang berat. Ia ditarik oleh perasaan akan kemuliaan dan derajat yang tinggi di satu sisi, dan rasa takut akan masa depan beserta risikonya di sisi lain. Ia pun mendatangi ayahnya dalam kesendirian, lalu membocorkan rahasia yang terpendam dan pemikirannya yang dalam, seraya berkata:

{Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan; aku melihat semuanya bersujud kepadaku} (QS. Yusuf: 4).

Bintang-bintang yang tinggi dan mulia itu, serta pelita-pelita petunjuk yang jauh itu, telah aku lihat tanpa aku cari-cari atau harapkan; mereka berada di hadapanku dalam keadaan tunduk, merendah, taat, dan patuh, sementara aku berada di atas mereka sebagai pemberi perintah dan larangan. Dan engkau adalah Nabi yang mulia, ayah yang lemah lembut lagi penyayang; maka apa makna dari urusan yang berada di tengah langit dan tempat persemayaman bintang-bintang ini, yang untuk mencapainya pun membutuhkan perjuangan dan keletihan?!!

Maka sang ayah yang penyayang pun menenangkan ketakutan putranya yang masih belia, menanamkan harapan yang cerah di hadapannya, dan mendorongnya untuk mengikuti jejak petunjuk nenek moyangnya serta para pendahulu yang saleh agar ia menjadi tempat bagi perhatian Rabbaniah dan layak bagi pilihan serta kemuliaan Ilahi. Ia mengingatkan putranya untuk menjaga rahasianya dan menyembunyikan urusannya dari orang-orang terdekatnya, yaitu saudara-saudaranya, hingga ketentuan Allah mencapai batasnya dan takdir mencapai tujuannya; agar setan tidak menghasut di antara saudara-saudara tersebut dan tidak membangkitkan badai hasad di antara orang-orang yang dicintai.

Sebab, hasad adalah akar dari setiap penyakit dan kepala dari setiap kebencian. Hal ini memiliki contoh di masa lalu dan pengalaman lama yang disampaikan oleh para Nabi serta dirinci oleh risalah-risalah tentang dua putra Adam:

{Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka dan tidak diterima dari yang lain. Ia berkata: "Aku pasti membunuhmu!" Ia berkata: "Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa. Sungguh kalau engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam. Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan membawa dosa (membunuh)-ku dan dosamu sendiri, maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim." Maka hawa nafsu (qabil) menjadikannya mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnya, maka jadilah ia termasuk orang-orang yang merugi} (QS. Al-Ma'idah: 27–30).

Inilah tabiat manusia dan insting dari insting-insting anak cucu Adam. Begitulah Ya'qub عليه السلام berpaling kepada putranya dengan kelembutan dan nasihat, pengajaran dan bimbingan, serta arahan dan pendidikan, seraya berkata:

{Wahai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah Rabbmu memilih kamu dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari takwil mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbmu Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana} (QS. Yusuf: 5–6).

Telah menjadi kehendak takdir Ilahi bahwa mimpi ini terjadi persis seperti yang ditafsirkan oleh Ya'qub huruf demi huruf. Dan telah datang dari Rasulullah penegasan akan hal ini melalui sabda beliau: "Mimpi itu berada di atas kaki burung selama belum ditafsirkan, namun jika sudah ditafsirkan maka ia akan jatuh (terjadi), dan janganlah engkau menceritakannya kecuali kepada orang yang mencintai atau orang yang memiliki pendapat (berakal)."

Perhatian Ya'qub terhadap Yusuf pun semakin meningkat, dan ia mengambil sebagian besar perhatian ayahnya dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Saudara kandungnya (Bunyamin) juga mendapatkan sebagian perhatian ini karena usianya yang masih kecil—Wallahu a'lam. Insting kebapakan yang sehat memang cenderung terdorong kepada anak yang kecil karena kelemahan, ketidakberdayaan, dan kebutuhannya. Pernah ditanyakan kepada seorang bijak tentang siapa anak yang paling ia cintai, ia menjawab: "Yang kecil sampai ia besar, yang sakit sampai ia sembuh, dan yang bepergian sampai ia kembali."

Begitulah perasaan Ya'qub meluap-luap kepada Yusuf karena tanda-tanda kebaikan, kecerdasan, dan ketakwaan yang ia lihat pada dirinya, serta apa yang ia pahami dari mimpi-mimpi tersebut. Hingga akhirnya jarak antara Yusuf dan saudara-saudaranya di dalam hati Ya'qub menjadi jauh. Padahal setiap anak—baik laki-laki maupun perempuan—ingin memiliki kedudukan di hati kedua orang tuanya serta ruang dan posisi dalam pemikiran mereka.

Saudara-saudaranya pun mulai berbisik-bisik di antara mereka, mereka berkumpul dan berpencar, dan pembicaraan mereka hanyalah tentang kecintaan Ya'qub kepada Yusuf serta bagaimana Ya'qub mengistimewakan Yusuf dalam hati, akal, penglihatan, dan lisannya. Padahal ia masih kecil, belum banyak gunanya, dan sedikit manfaatnya; sedangkan "kami adalah kelompok yang kuat yang telah mencukupi segala kebutuhan sarana hidup dan kehidupannya, lalu mengapa semua perhatian ini tertuju kepadanya?"

Rasa tidak terima membesar dalam jiwa mereka bahwa hal itu adalah kesalahan dalam berpikir, serta penyimpangan dalam perilaku dan sikap ayah mereka, karena ia tidak menempatkan masing-masing dari mereka sesuai kedudukannya, sesuai dengan kadar manfaat dan kecukupannya!!

{Ketika mereka berkata: "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya lebih dicintai oleh ayah kita daripada kita sendiri, padahal kita adalah suatu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita benar-benar dalam kekeliruan yang nyata"} (QS. Yusuf: 8).

Tidak terlintas dalam benak mereka bahwa mencintai anak kecil adalah fitrah yang Allah ciptakan pada makhluk-Nya. Mungkin karena mereka belum mengetahuinya, atau karena api amarah dan kebencian telah membutakan mereka dari menyadari hakikat tersebut.

Telah banyak kutipan perkataan dari orang bijak dan syair dari para penyair tentang mencintai anak kecil yang mengekspresikan emosi ini serta menunjukkan posisinya di dalam hati manusia. Di antaranya adalah apa yang dikatakan oleh Wazir Abu Marwan Abdul Malik bin Idris Al-Jaziri dalam sebuah qasidah yang ia kirimkan kepada anak-anaknya saat ia berada di penjara ([1]):

Dan yang paling kecil dari mereka adalah Abdul Aziz, sesungguhnya aku,

Memendam duka yang tidak mengecil karena perpisahan dengannya.

Dialah yang paling didahulukan di dalam hati, meskipun ia telah menjadi,

Setara dengan kalian dalam hal nasab dan asal usul.

Sesungguhnya kelima jari jemari itu setara semuanya,

Namun perhiasan (cincin) di antara semuanya hanyalah untuk jari kelingking.

Apabila seorang pemuda telah kehilangan masa mudanya, maka ia akan mendambakan,

Kecintaan pada anak-anak, dan tidak ada yang seperti kecintaan pada yang paling kecil.

Hal itu dipertegas oleh sabda Rasulullah : "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil di antara kami..." ([2]).

Setelah berbagai pertemuan di antara mereka, serta berbagai kasak-kusuk, mereka mengambil keputusan tegas untuk menyingkirkan Yusuf agar perhatian ayah mereka hanya tertuju kepada mereka, supaya wajah, hati, perhatian, dan perlindungan ayah mereka murni bagi mereka, sehingga hari-hari mereka menjadi jernih dan hidup mereka menjadi nikmat dalam dekapan kebapakan dan kehangatan keluarga:

{Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah agar perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu kamu menjadi orang-orang yang saleh} (QS. Yusuf: 9).


([1]) Lihat: Al-Alusi: Ruhul Ma'ani 12/190.

([2]) Dikeluarkan oleh At-Tirmidzi dari Ibnu Abbas dalam Kitabul Birr dari Jami'-nya, bab nomor 15, dan sanadnya hasan; dikeluarkan juga dalam bab yang sama dari hadis Abdullah bin Amr bin al-Ash, dan melalui jalan Abdullah bin Amr bin al-Ash dikeluarkan oleh Abu Daud dalam Sunan-nya, Kitabul Adab, bab tentang Rahmat, nomor 4943, serta Ahmad dan Al-Hakim, dan hadis ini shahih.


Mereka sepakat mengenai prinsip ini (menyingkirkan Yusuf), namun mereka berselisih tentang cara pelaksanaannya, hingga salah seorang dari mereka melontarkan usulan ke telinga mereka, lalu mereka menangkapnya dan merasa usulan itu cocok, maka mereka memegangnya:

{Salah seorang di antara mereka berkata: "Janganlah kamu membunuh Yusuf, tetapi masukkanlah dia ke dasar sumur supaya dia dipungut oleh sebagian musafir (kafilah), jika kamu hendak berbuat."} (QS. Yusuf: 10).

Seolah-olah ia berkata kepada mereka: "Jika kita sudah sepakat untuk menyingkirkannya, maka janganlah permusuhan dan kebencian ini sampai pada batas pembunuhan, eksekusi, dan melenyapkan nyawa yang tidak berdosa lagi beriman, yang mana hal itu dapat menggetarkan hati dan mengundang kemurkaan Allah Yang Maha Tinggi. Akan tetapi, tujuannya adalah menjauhkannya dari jalan kita dan menjauhkannya dari ayah kita. Maka mari kita lempar dia ke dalam salah satu sumur atau lubang yang dalam dan terpencil yang digali di sepanjang jalan kafilah yang melintasi padang pasir dan tanah tandus, agar kafilah yang lewat memungutnya dan membawanya pergi jauh dari kita. Dengan begitu, akan terjadi perpisahan antara ayah yang penyayang dan anak yang menyenangkan, perpisahan yang tidak ada pertemuan lagi setelahnya."

{Dan masukkanlah dia ke dasar sumur (Ghayabat al-Jubb)}. Kata al-Ghayabah adalah sesuatu yang hilang dari pandangan mata, dan Ghayabat al-Jubb artinya dasar sumur. Dalam qira’ah Nafi’, dibaca "Ghayabat" (bentuk jamak), yang berarti lebih menjauhkan, dan sebagai bentuk pelampiasan yang mendalam atas apa yang tersimpan dalam hati mereka dan apa yang memenuhi dada mereka dari rasa hasad dan dengki.

Mereka pun beranjak dari rencana ini dan berpencar setelah melakukan tipu daya dan pemikiran tersebut. Ini adalah rantai pertama dari mimpi Yusuf dan takwil Ya’qub: {maka mereka akan membuat tipu daya untuk membinasakanmu}.

Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata: "Sungguh mereka telah berkumpul untuk melakukan perkara yang besar, yaitu pemutusan silaturahmi, pendurhakaan kepada orang tua, kurangnya rasa kasih sayang kepada anak kecil yang masih menyusu dan tidak berdosa, serta kepada orang tua renta yang memiliki hak, kehormatan, dan keutamaan. Posisi perkara ini di sisi Allah sangat besar terkait hak orang tua atas anaknya; yaitu mereka memisahkan antara dia dengan ayahnya, kekasihnya, di saat usianya sudah tua dan tulang-tulangnya sudah rapuh, di samping kedudukannya di sisi Allah sebagai orang yang mencintainya sejak kecil. Mereka memisahkan ayah tersebut dengan anaknya di saat kekuatan anak itu masih lemah, usianya masih kecil, dan kebutuhannya akan kelembutan serta ketenangan di sisi ayahnya sangat besar. Semoga Allah mengampuni mereka, dan Dia-lah Yang Maha Penyayang di antara para penyayang."

Meskipun mereka melakukan tipu daya dan menyimpan niat buruk, mereka memutuskan untuk bertaubat dan merahasiakan dalam jiwa mereka keinginan untuk kembali (menjadi baik) sebelum melakukan kemaksiatan ini, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya: {Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah agar perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu kamu menjadi orang-orang yang saleh}.

Kemudian mereka berpindah ke tahap pelaksanaan rencana dan mewujudkan tipu daya itu. Namun bagaimana mereka bisa melakukannya, sementara Yusuf adalah bayang-bayang ayahnya dan teman setianya saat pergi maupun pulang, siang maupun malam, ia tidak pernah berpisah darinya dalam urusan kecil maupun besar, dan tidak pernah jauh dari pandangan matanya dalam perkara yang mulia maupun rendah?

Maka mereka membulatkan tekad, datang secara rombongan dan mengepung sang ayah dari segala sisi, lalu mengejutkannya dengan ucapan mereka: {Wahai ayah kami}, dan engkau adalah ayah bagi semuanya, kepadamu kami bernasab, dan kepadamu kami berlindung serta berpegang teguh: {Mengapa engkau tidak memercayai kami atas Yusuf?}

Sehingga kini Yusuf tidak lagi mendekat kepada kami atau melihat apa yang kami kerjakan; ia menjadi milikmu sendiri dan engkau menjadi miliknya sendiri hingga hubungan di antara kami menjadi asing, dan hampir-hampir ikatan persaudaraan serta kekerabatan di antara kami menjadi usang dan binasa. Padahal kami bagi dia adalah pemberi nasihat, pencinta kebaikan, dan memiliki rasa kasih sayang yang tinggi. Dengan ucapan itu, mereka ingin mengguncang emosi ayah mereka dan menjebaknya dengan perkataan. Jika sang ayah berkata kepada mereka: "Apakah aku menuduh kalian tidak amanah, atau menyatakan kepada kalian bahwa kalian bukan pemberi nasihat?" Maka mereka akan menjawab: "Sesungguhnya nasihat dan kecintaan kami kepada saudara kami mendorong kami untuk menginginkan baginya apa yang kami inginkan bagi diri kami sendiri. Kami adalah saudara-saudaranya, putra-putramu. Maka utuslah dia bersama kami ke padang pasir yang luas dan kesenangan pedalaman untuk berlomba, memanah, berlari, dan bergembira, agar semangatnya pulih kembali, cakrawalanya meluas, dan memecah kebosanan hidup serta rutinitas siang dan malamnya. Biarkanlah ia menikmati kemakmuran dalam makan dan minum di tempat yang paling terlindungi dan posisi yang paling terjaga, sehingga tidak ada hal buruk yang sampai kepadanya, dan tidak ada kesedihan yang menghampirinya":

{Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, bersenang-senang dan bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.} (QS. Yusuf: 12).

Relung hati Ya’qub pun tergerak, dan hatinya bergetar mendengar ucapan: {Utuslah dia bersama kami} dan tinggalkanlah dia untuk kami. Ini berarti sebuah perpisahan darinya dan kejauhan. Bagaimana mungkin ia bisa bersabar atas hal itu, sementara ia menjaganya dengan pandangan mata dan batinnya di setiap saat dalam hidupnya, serta di setiap tidur atau gerakan dari gerakannya.

Lisannya pun mulai menegaskan kesedihannya atas perpisahan ini, dan bertambahlah kesedihan serta ketakutannya akan kejadian yang tak terduga dalam perpisahan tersebut. Ia menyindir mereka bahwa baktinya kepada sang ayah dan keinginan mereka akan kenyamanan serta keselamatannya adalah dengan tidak mendesaknya dalam urusan ini dan membatalkan permintaan mereka: {Dia (Ya'qub) berkata: "Sesungguhnya kepergian kamu bersamanya sangat menyedihkanku"}.

Ia menegaskan hal itu dengan huruf Lam dan Inna (sebagai penegas). Ia memaparkan kepada mereka berbagai kejadian tak terduga dalam perpisahan, peristiwa-peristiwa zaman, serta bahaya di padang pasir yang dapat memalingkan mereka dari pemikiran tersebut atau mengulang permintaan: {dan aku khawatir dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya}, karena fisiknya yang lemah dan usianya yang kecil, di saat kalian sedang lalai, dan tiba-tiba dalam keadaan kalian sedang asyik bermain dan sibuk dengan binatang ternak serta gembalaan kalian.

Maka mereka menjawabnya dengan penegasan dan tekad yang kuat, serta menunjukkan kekuatan dan kemudaan mereka: {Jika dia dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi}. Maka manfaat apa yang diharapkan dari kami, dan kegunaan apa bagi kelompok kami jika seekor serigala bisa mencapainya atau seekor binatang buas menerkamnya? Padahal kami telah menjaga ternak dan hewan peliharaan kami sejak lama. Jika hal semacam itu terjadi pada Yusuf, maka urusan kami adalah sebuah kerugian dan kesudahan kami adalah kebinasaan, padahal hal itu tidak pernah dikenal terjadi pada kami sebelumnya.

Ini adalah bentuk penafian terhadap segala hal buruk yang diperkirakan akan terjadi, dan upaya menyingkirkan keresahan Ya’qub serta alasan-alasannya agar Yusuf tidak pergi. Maka Ya’qub menekan perasaan sedih yang menyelimutinya karena hilangnya Yusuf dari pandangannya, demi mempertimbangkan kemaslahatan anak itu untuk keluar, bermain di alam bebas, dan bersenang-senang yang bermanfaat, serta agar takdir terus berjalan dan ketetapan Allah terwujud:

{Dan ketetapan Allah itu adalah suatu takdir yang sudah ditentukan.} (QS. Al-Ahzab: 38).

Yusuf pun keluar bersama mereka keesokan harinya setelah gejolak batin yang dahsyat antara luapan cinta dan limpahan kasih sayang dari sang ayah yang penyayang kepada anak yang lembut lagi rupawan ini. Sang ayah melepasnya dengan mendekapnya ke dadanya, menciumnya, memeluknya, dan mendoakannya. Ada semacam firasat batin dan pemikiran bagi anak ini (Yusuf), sehingga ia berlindung ke dekapan ayahnya dan meminta bantuan untuk menenangkan perasaan batin yang meluap-luap ini. Kemudian ia merasa tenang akan baiknya perjalanan hidupnya dan lurusnya niatnya setelah ayahnya memberitahukan bahwa itu adalah awal dari jalan pilihan Ilahi dan pengajaran Rabbaniah. Akan tetapi, anugerah Ilahi ini memiliki para pendengki dari kalangan manusia dan para pengintai dari kalangan makhluk hidup; sebab setiap orang yang memiliki nikmat pasti akan didengki.

Semua ini membuat Ya’qub tidak bisa merasa tenang dan pikirannya tidak bisa damai hingga ia melihat Yusuf berada di hadapannya kembali. Sementara itu, apa yang semakin membakar hati saudara-saudaranya terhadapnya adalah kebencian dan hasad karena kedudukannya. Hati Ya’qub seolah terlepas, dan ia hidup di dunia lain saat Yusuf pergi bersama mereka; batinnya bersama Yusuf dan ruhnya melayang mengikuti langkahnya. Allah mewahyukan kepadanya bahwa suatu perkara akan terjadi pada Yusuf sebagai bentuk penenangan bagi Nabi yang mulia ini, Ya’qub, dan bagi siapa saja yang seperti dia di antara para ayah yang sangat terikat cintanya kepada keluarga dan anak, lalu ia mendengar kabar tentang anaknya yang tidak ia sukai, sehingga akalnya bisa hilang dan ia kehilangan kesadaran:

{Dan Kami wahyukan kepadanya: "Sesungguhnya kamu akan menceritakan kepada mereka perbuatan mereka ini, sedang mereka tidak menyadari."} ([1]) (QS. Yusuf: 15).


([1]) Dikatakan: Bahwa firman-Nya dalam ayat ini bermakna Yusuf akan mengabarkan kepada mereka tentang perbuatan mereka ini setelah beberapa waktu lamanya, sebagai bentuk penghiburan baginya atas musibah yang menimpanya, dan ketenangan yang menenteramkan ketakutannya serta meringankan kesepiannya. Dikatakan pula: Bahwa hal itu berasal dari malaikat dari langit, atau berupa ilham yang dimasukkan ke dalam hatinya.


Hal itu tidak lain karena Ya’qub selalu menghitung setiap napas, gerakan, dan diamnya Yusuf, agar ia bisa hidup bersama putranya dengan seluruh keberadaannya, baik secara indrawi maupun maknawi. Sejak Yusuf keluar, Ya’qub sudah merasakan perasaan ini dan terus menantikan kepulangan serta pertemuan kembali.

Ketika mereka telah menjauh dari pandangan Ya’qub dan terputus dari kawasan pemukiman, mereka mulai menampakkan luapan kebencian dan amarah, lalu menumpahkannya kepada Yusuf saat demi saat. Mereka membawanya ke sumur yang paling jauh dan paling dalam, lalu melemparkannya ke sana tanpa rasa rahim (kasih) atau belas kasihan. Bahkan, mereka telah merampas bajunya dan membiarkannya telanjang. Yusuf memanggil-manggil mereka: "Wahai saudara-saudaraku, kembalikanlah bajuku untuk menutupi diriku di dalam sumur ini; jika aku mati maka ia menjadi kain kafanku, dan jika aku hidup maka ia menjadi penutup auratku." Namun, tidak ada jawaban dari mereka dan tidak ada yang menaruh iba!!

Yusuf menyerahkan urusannya kepada Allah, karena tidak ada daya untuk melawan kelompok saudara yang bersekongkol itu, dan tidak ada kekuatan baginya untuk menghalangi mereka dari perbuatan ini. Ia adalah teladan bagi setiap orang yang dizalimi, dan contoh bagi setiap orang yang haknya dirampas yang tidak menemukan daya atau upaya untuk menolak kesewenang-wenangan dan agresi terhadap dirinya. Maka, berserah diri adalah yang pertama dan yang utama, dalam segala kondisi, kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Mereka melemparkannya ke dalam sumur. Dari jiwanya meluap, dan dari ujung lidahnya meluncur doa-doa yang tulus serta rintihan yang dalam. Sebagian ulama salaf menyebutkan sebagian dari doa tersebut—dan Allah lebih mengetahui kebenarannya—di antaranya:

(Wahai Dzat yang menemani setiap orang asing, wahai Teman bagi setiap yang sendirian, wahai Tempat Berlindung bagi setiap yang ketakutan, wahai Penyingkap setiap kesusahan, wahai Yang Mengetahui setiap bisikan rahasia, wahai Puncak dari setiap pengaduan, wahai Yang Hadir di setiap perkumpulan. Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri, aku memohon kepada-Mu agar Engkau menanamkan harapan kepada-Mu di dalam hatiku sehingga tidak ada lagi kegundahan maupun kesibukan bagiku selain Engkau, dan agar Engkau menjadikan bagi urusanku ini kemudahan dan jalan keluar. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu).

Mereka pun menjauh darinya setelah meluapkan gunung berapi kedengkian dan kebencian mereka, sambil melihat akan jadi apa nasibnya di dalam sumur itu. Padahal Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Datanglah sebuah sayyarah—kafilah yang sedang berjalan membawa barang dagangan—lalu pendahulu mereka (pencari air) mendahului mereka untuk mencari air. Ia menjatuhkan timbanya ke dalam sumur yang diberkati tersebut, lalu menariknya untuk meredakan dahaganya, memuaskan rasa haus, dan kembali kepada kawan-kawannya dengan membawa air serupa. Tiba-tiba, seorang pemuda yang menyerupai bulan purnama—bahkan ia lebih mulia—berdiri tegak di hadapannya. Ia pun berteriak dengan suara keras: "Wahai, kabar gembira! Wahai kegembiraan dan kesenanganku! Ini adalah seorang anak laki-laki!" Ia pun memegangnya. Telah datang dalam hadis shahih tentang Isra' bahwa Yusuf telah diberi setengah dari keindahan (ketampanan) dunia.

Saudara-saudaranya mengawasinya dari jauh, lalu mereka kembali kepadanya dengan cepat, bukan karena peduli padanya, melainkan karena takut Yusuf akan kembali kepada mereka atau kembali kepada ayah mereka. Mereka lalu mengklaim bahwa Yusuf adalah budak milik mereka, lalu mereka menjualnya dengan harga yang sangat rendah, lebih murah dari harga budak pada umumnya—hanya beberapa dirham saja—bukan dinar dan bukan pula dengan timbangan yang berharga, melainkan dirham-dirham yang hanya bisa digunakan untuk membeli barang murahan, jumlahnya sedikit dan bisa dihitung. Hal itu mereka lakukan semata-mata untuk menyingkirkannya dan menjauhkannya agar tidak kembali lagi. Mereka menyembunyikan identitasnya serta mengaburkan kedudukan dan martabatnya. Para pemilik kafilah itu pun memegang erat tangannya, menjadikannya bagian dari barang dagangan mereka, dan membawanya sebagai budak ke pasar Mesir. Mereka semakin menyembunyikan kondisinya, menutup-nutupi kabarnya, dan kisah tentang harganya.

Allah Maha Mengetahui atas perbuatan mereka dan keburukan tindakan mereka. Dan apabila Allah menghendaki sesuatu, Dia akan menyiapkan sebab-sebabnya.

Di sana, di perkemahan dan rumah-rumah mereka, Ya’qub عليه السلام sedang menunggu dengan penuh kesabaran untuk melihat Yusuf, dan sangat rindu untuk mendengar suaranya atau sekadar kabar darinya.

Mereka datang kepada ayah mereka setelah perbuatan hitam tersebut pada waktu isya: {Dan mereka datang kepada ayah mereka pada waktu isya sambil menangis}. Yakni pada waktu makan malam; hal itu tidak lain karena kebiasaan penggembala adalah kembali ke perkemahan dan rumah mereka pada waktu tersebut, atau karena mereka mencari waktu malam agar lebih mampu berdalih di dalam kegelapan. Oleh karena itu, sebagian ulama salaf berkata: "Janganlah engkau tertipu oleh tangisan orang yang mengadu dizalimi, karena betapa banyak orang zalim namun ia menangis." Beliau menyebutkan tangisan saudara-saudara Yusuf yang datang di kegelapan malam agar lebih bisa menutupi pengkhianatan mereka, bukan alasan mereka.

Mereka meledakkan jeritan dan ratapan. Ya’qub dalam kondisi penuh kewaspadaan dan perhatian segera menemui mereka, hatinya berdebar ketakutan, lalu ia bertanya kepada mereka: "Apa yang terjadi pada kalian? Apa yang menimpa kalian?!"

{Mereka berkata: "Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala"} (QS. Yusuf: 17).

Maka Ya’qub pun jatuh pingsan—sebagaimana dikatakan—lalu mereka memercikinya dengan air namun ia tidak bergerak, mereka memanggilnya namun ia tidak menjawab. Ia jatuh dalam keadaan tidak sadar, tidak bergerak sedikit pun. Salah seorang dari mereka berkata: "Celakalah kita di hadapan Penguasa Hari Pembalasan, kita telah menyia-nyiakan saudara kita dan membunuh ayah kita." Ia tidak sadar kecuali pada waktu sahur dalam keadaan menangis dan meratap. Mereka pun kembali menegaskan kepadanya bahwa mereka tidak lalai dalam menjaga dan merawatnya, melainkan mereka meninggalkannya bersama barang-barang dan bekal mereka—dan barang-barang ini tidak mungkin ditinggalkan kecuali di tempat yang aman. Kepergian mereka untuk berlomba dan berlari pun hanya sebentar, namun serigala menerkamnya sehingga terjadilah apa yang telah terjadi. Mereka menegaskan bahwa kecintaan Ya’qub yang berlebihan kepada Yusuf dan penguasaan Yusuf atas hati dan akalnya akan membuat perkataan mereka ini tidak akan ia terima, tidak dibenarkan, dan tidak didengar: {dan kamu sekali-kali tidak akan memercayai kami, walaupun kami adalah orang-orang yang benar}.

Mereka memperkuat ratapan dan tangisan mereka dengan baju Yusuf yang telah mereka lumuri dengan darah palsu. Mereka melemparkannya kepada Ya’qub dengan harapan sang ayah akan percaya pada ucapan mereka, sehingga cinta Yusuf berakhir dari hatinya dan ia akan mengalihkan kasih sayangnya kepada mereka. Ya’qub mengambil baju tersebut, menciumnya, memeluknya, dan mulai membolak-baliknya, namun ia tidak melihat ada robekan maupun cabikan di sana. Maka ia berkata kepada mereka: "Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, aku tidak pernah melihat hari ini seekor serigala yang lebih santun daripada serigala yang memakan anakku ini namun tidak merobek bajunya." Ia pun memalingkan wajahnya dari mereka dengan penuh kemarahan dan kesedihan, seraya berkata: {Bahkan dirimu sendirilah yang memandang baik urusan (yang buruk) itu}.

Artinya, jiwa kalian telah menghiasi dan menganggap baik bagi kalian untuk melakukan suatu perbuatan dalam urusan Yusuf ini. Kabar yang sebenarnya bukanlah seperti yang kalian klaim, dan bukan seperti yang kalian tuduhkan; namun ia belum mampu menentukan bentuk pasti dari konspirasi mereka. At-Taswil adalah penghiasan jiwa terhadap apa yang diinginkannya, serta penggambaran hal yang buruk dalam bentuk yang baik.

Ingatannya kembali ke hari-hari yang lalu, tentang desakan mereka untuk mengajaknya dan semangat mereka untuk membawanya, serta perasaannya sebelum Yusuf dibawa tentang persekongkolan mereka terhadapnya, tangisan mereka yang dibuat-buat lagi palsu, serta bajunya yang tidak terdapat bekas taring serigala atau cabikan binatang buas. Maka ia melepaskan desahan dan rintihannya, serta mengadu kepada Allah dengan penuh keluh kesah seraya berkata: {Maka kesabaran yang baik (sabrun jamil) itulah yang aku lakukan. Dan Allah jugalah yang dimintai pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan}. Artinya: aku akan bersabar dengan kesabaran yang indah, yang tidak ada keluh kesah di dalamnya dan tidak ada pengaduan kepada siapa pun selain Allah, atas apa yang telah kalian perbuat dan dosa yang telah kalian lakukan. Dan aku memohon pertolongan Allah atas apa yang kalian klaim dan kalian sifatkan berupa kedustaan dan hal yang mustahil, agar Dia memberikan karunia kesabaran. ([1])

Sungguh Allah telah menceritakan kepada kita kisah dua putra Adam, dan menceritakan kepada kita kisah Yusuf serta saudara-saudaranya agar kita memperhatikan pelajaran dan hikmah di dalamnya. Kita hendaknya memperhatikan penguatan persaudaraan dan pemantapan iman di sekitarnya, serta menjauhkan diri dari segala hal yang memicu kebencian dan permusuhan di antara saudara dalam satu keluarga, agar keluarga tidak hidup dalam bencana dan musibah. Serta agar tercipta rasa cinta dan sikap mengutamakan orang lain (itsar), baik atas dasar persaudaraan darah dan nasab, maupun persaudaraan akidah dan Islam. Persaudaraan karena Allah yang menghilangkan segala kotoran dan kedengkian serta mencabut setiap hawa nafsu dan dendam. Dari Anas bin Malik رضي الله عنه, ia berkata: Nabi bersabda: "Tidaklah seseorang merasakan manisnya iman, sampai ia mencintai seseorang yang tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah" (HR. Bukhari).

Cinta karena Allah adalah derajat yang agung yang mewariskan penerimaan di dunia—di dalam keluarga, kerabat, masyarakat—dan di akhirat, di sisi Allah. Ia juga memiliki kedudukan yang agung dalam hal pahala dan pengangkatan derajat.

Al-Bazzar meriwayatkan dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Nabi bersabda: "Tidaklah ada seorang hamba melainkan ia memiliki reputasi di langit; jika reputasinya baik maka ia akan diletakkan (diterima) di bumi, dan jika reputasinya buruk maka ia akan diletakkan (ditolak) di bumi." Maka sepatutnya demi kebahagiaan keluarga, seseorang melatih dirinya di dalam keluarga untuk mencintai karena Allah dan bersahabat dengan orang lain atas dasar cinta ini.

Demikian pula di antara tujuan keluarga adalah:


([1]) Lihat Malamih Tarbawiyyah fil Qur'an hal. 50 dan seterusnya.


7. Realisasi Keamanan dan Ketenteraman Psikologis serta Fisik:

Benarlah firman Allah:

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang..." (QS. Ar-Rum: 21).

Iman keluarga muslim adalah penjaga mereka dari keluh kesah dan kelemahan di saat sulit dan ketika menghadapi penderitaan. Di hadapan kita terdapat contoh-contoh hidup mengenai hal tersebut:

Kesabaran Ummu Haritsah atas Kematian Putranya

Dua Imam Hadis (Bukhari & Muslim) mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه bahwa Haritsah bin Suraqah رضي الله عنه gugur pada hari perang Badr, saat itu ia berada di barisan Nadzharah ([1]) (peninjau). Ia terkena sahmun gharab ([2]) (anak panah nyasar) yang membunuhnya. Lalu ibunya datang dan berkata: "Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku tentang Haritsah. Jika ia berada di surga, aku akan bersabar. Namun jika tidak, maka Allah akan melihat apa yang akan aku perbuat"—maksudnya ia akan meratapi dengan hebat, karena saat itu meratap belum diharamkan.

Maka Rasulullah bersabda kepadanya: "Aduhai, apakah engkau telah kehilangan akalmu? ([3]) Sesungguhnya surga itu ada delapan, dan putra engkau telah mendapatkan Firdaus yang tertinggi." Demikian dalam kitab Al-Bidayah (3/274). Al-Baihaqi (9/167) juga mengeluarkannya dari Anas dengan redaksi serupa, dan dalam satu riwayat disebutkan: "Jika ia di surga aku bersabar, namun jika selain itu, aku akan bersungguh-sungguh menangisinya." Beliau bersabda: "Wahai Ummu Haritsah, sesungguhnya ada banyak taman di surga, dan putramu mendapatkan Firdaus yang tertinggi." Ibnu Abi Syaibah juga mengeluarkannya sebagaimana dalam Al-Kanz (5/273), Al-Hakim (3/208), dan Ibnu Sa'ad (3/68) dari Anas dengan makna yang sama. Dalam hadisnya disebutkan: "Wahai Ummu Haritsah, itu bukan hanya satu surga, melainkan surga yang banyak, dan dia berada di Firdaus yang tertinggi."

Wanita itu (Ummu Sulaim) berkata: "Sesungguhnya aku menjadikanmu saksi dan aku menjadikan Nabi Allah sebagai saksi bahwa jika engkau masuk Islam, maka dia telah rida terhadap Islammu." Abu Thalhah berkata: "Siapa yang bisa menjamin ini bagiku?" Ia berkata: "Wahai Anas, bangunlah dan pergilah bersama pamanmu." Maka Anas berdiri dan meletakkan tangannya di atas pundakku, lalu kami berangkat hingga ketika kami sudah dekat dengan Nabi Allah , beliau mendengar pembicaraan kami dan bersabda: "Ini adalah Abu Thalhah, di antara kedua matanya tampak kemuliaan Islam." Lalu ia mengucapkan salam kepada Nabi Allah dan berkata: "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya." Maka Rasulullah menikahkannya atas dasar keislamannya.

Kemudian ia melahirkan seorang anak laki-laki baginya. Setelah anak itu mulai tumbuh (daraja) ([4]) dan ayahnya sangat menyayanginya, Allah Tabaaraka wa Ta'ala mewafatkannya. Abu Thalhah datang dan bertanya: "Apa yang dilakukan anakku, wahai Ummu Sulaim?" Ia menjawab: "Ia dalam keadaan paling tenang daripada sebelumnya." Lalu ia berkata: "Tidakkah engkau makan siang? Aku telah mengakhirkan makan siangmu hari ini." Ia menyajikan makan siang untuknya, lalu berkata: "Wahai Abu Thalhah, seandainya ada suatu kaum meminjam suatu pinjaman ('ariyah), lalu pinjaman itu ada pada mereka selama waktu yang Allah kehendaki, kemudian pemilik pinjaman itu mengirim utusan untuk mengambil kembali pinjamannya, apakah mereka berhak untuk mengeluh?" Abu Thalhah menjawab: "Tidak." Ia berkata: "Maka sesungguhnya putramu telah meninggalkan dunia." Abu Thalhah bertanya: "Di mana dia?" Ia menjawab: "Dia ada di kamar kecil itu." Abu Thalhah masuk, membukanya, dan ber-istirja' ([5]).

Lalu ia pergi menemui Rasulullah dan menceritakan perkataan Ummu Sulaim. Beliau bersabda: "Demi (Dzat) yang mengutusku dengan kebenaran, sungguh Allah Tabaaraka wa Ta'ala telah menanamkan di dalam rahimnya seorang anak laki-laki karena kesabarannya atas (kematian) anaknya." Anas berkata: Lalu ia melahirkannya, dan Nabi Allah bersabda: "Pergilah wahai Anas menemui ibumu, katakan padanya: Jika engkau telah memotong tali pusar ([6]) anakmu, janganlah engkau memberinya cicipan apa pun hingga engkau mengirimnya kepadaku." Anas berkata: Lalu aku meletakkannya di atas lenganku hingga aku membawanya kepada Rasulullah . Beliau bersabda: "Bawakan aku tiga butir kurma Ajwa." Aku membawakannya, lalu beliau membuang bijinya dan mengunyahnya di mulut beliau, lalu membuka mulut bayi itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Bayi itu pun mulai mengecap-ngecap, lalu beliau bersabda: "Anshar itu sangat suka kurma." Beliau bersabda: "Pergilah kepada ibumu dan katakan: Semoga Allah memberkahimu padanya dan menjadikannya anak yang berbakti lagi bertakwa." Al-Haitsami (9/291) berkata: Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan perawi-perawinya adalah perawi Shahih selain Ahmad bin Manshur Al-Ramadi, dan dia terpercaya (tsiqah). Dalam riwayat Al-Bazzar lainnya disebutkan: "Aku tidak akan menikahimu sementara engkau menyembah kayu yang diseret oleh budakku si fulan..." —ia menyebutkan hadis tersebut dan perawinya adalah perawi Shahih. Selesai. Ibnu Sa'ad (8/316) juga mengeluarkannya dari Anas tanpa menyebutkan kisah masuk Islamnya Abu Thalhah.

Dalam riwayat Bukhari (2/822) dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: Ada putra Abu Thalhah رضي الله عنه yang sedang sakit. Lalu Abu Thalhah keluar (pergi), dan si bocah meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya: "Apa yang dilakukan anakku?" Ummu Sulaim menjawab: "Dia sekarang dalam keadaan paling tenang." Lalu ia menyajikan makan malam untuknya dan ia makan malam, kemudian ia (Abu Thalhah) menggaulinya. Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: "Uruslah bocah itu." Pagi harinya, Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan mengabarkannya. Beliau bertanya: "Apakah kalian menempuh malam pengantin semalam?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Ya Allah, berkahilah keduanya." Lalu ia melahirkan seorang anak laki-laki. Abu Thalhah berkata kepadaku (Anas): "Jagalah dia hingga engkau membawanya kepada Nabi ." Maka ia membawanya kepada Nabi , dan ibunya mengirimkan beberapa butir kurma bersamanya. Nabi mengambilnya dan bertanya: "Apakah bersamanya ada sesuatu?" Mereka menjawab: "Ya, beberapa butir kurma." Nabi mengambilnya, mengunyahnya, lalu mengambil dari mulutnya dan meletakkannya di mulut bayi tersebut serta men-tahnik-nya, dan memberinya nama Abdullah. Dalam riwayat lain (1/174) disebutkan: Rasulullah bersabda: "Semoga Allah memberkahi keduanya dalam malam mereka itu." Sufyan berkata: Seorang lelaki dari Anshar berkata: "Maka aku melihat (bagi keduanya) sepuluh anak laki-laki yang semuanya hafal Al-Qur'an."

Kesabaran Ummu Khallad atas Putranya

Ibnu Sa'ad (3/83) mengeluarkan riwayat dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syamas رضي الله عنه, ia berkata: Pada hari (perang) Quraizhah, seorang lelaki dari Anshar yang dipanggil Khallad رضي الله عنه gugur. Lalu ibunya didatangi dan dikatakan kepadanya: "Wahai Ummu Khallad, Khallad telah gugur." Ia datang dalam keadaan bercadar, lalu dikatakan kepadanya: "Khallad gugur dan engkau tetap bercadar?!" Ia menjawab: "Jika aku kehilangan Khallad, maka aku tidak akan kehilangan rasa maluku." Hal itu dikabarkan kepada Nabi , lalu beliau bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya baginya pahala dua orang syahid." Ditanyakan: "Mengapa demikian, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Karena Ahli Kitab yang membunuhnya." Abu Nu'aim juga mengeluarkannya dari Abdul Khair bin Qais bin Syamas dari ayahnya dari kakeknya sebagaimana dalam Al-Kanz (2/157). Abu Ya'la juga mengeluarkannya melalui jalur yang sama sebagaimana dalam Al-Ishabah (1/454), dan ia berkata: Ibnu Mandah berkata: "Hadis gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini." Selesai.

Kesabaran Abu Thalhah dan Ummu Sulaim atas Kehilangan Anaknya

Al-Bazzar mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه, ia berkata: Ummu Sulaim رضي الله عنها datang kepada Abu Anas (ayah Anas) dan berkata: "Hari ini aku membawa sesuatu yang engkau benci." Ia berkata: "Engkau senantiasa membawa apa yang aku benci dari sisi orang Badui ini (maksudnya Nabi )." Ia menjawab: "Dia adalah seorang lelaki Arab yang telah dipilih Allah dan dijadikan-Nya sebagai Nabi." Ia bertanya: "Apa yang engkau bawa?" Ia menjawab: "Khamar telah diharamkan." Ia berkata: "Ini adalah perpisahan antara aku dan engkau." Lalu ia mati dalam keadaan musyrik.

Kemudian Abu Thalhah رضي الله datang kepada Ummu Sulaim, lalu ia berkata: "Aku tidak mungkin menikahimu sementara engkau musyrik." Abu Thalhah berkata: "Tidak, demi Allah, bukan ini dahraka ([7]) (tujuan/keinginan)-mu." Ia bertanya: "Lalu apa tujuanku?" Ia menjawab: "Tujuanmu adalah pada emas dan perak ([8])." Ia berkata: (Teks terputus di sini).


Catatan Kaki Teks:

([1]) An-Nadzharah: Orang-orang yang melihat jalannya peperangan namun tidak ikut serta di dalamnya.

([2]) Sahmun gharib: Anak panah nyasar/tidak tentu arah.

([3]) Habilti: Kehilangan akal. Di sini digunakan sebagai kiasan atas hilangnya keseimbangan dan akal sehat akibat kesedihan mendalam karena kehilangan anak, seolah beliau bersabda: "Apakah engkau kehilangan akal karena kehilangan putramu hingga mengira surga itu hanya satu?"

([4]) Daraja: Mulai bisa berjalan.

([5]) Istirja': Mengucapkan "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un".

([6]) As-Surrah: Tali pusar yang dipotong oleh bidan.

([7]) Dahraka: Semangatmu atau keinginanmu.

([8]) Ash-Shafra' wal Baidha': Emas dan perak.


Contoh terbaik bagi sandaran (dukungan) adalah istri Rasulullah .

Khadijah binti Khuwailid:

Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah , adalah seorang diri yang menyamai dunia. Beliau mampu memberikan kelapangan bagi Rasulullah , mampu meneguhkan beliau di saat sulit dan waktu-waktu yang genting, serta di saat-saat kegoncangan. Kita telah melihat beliau ketika Rasulullah datang dalam keadaan hatinya bergetar setelah turunnya wahyu kepada beliau, seraya berkata kepada Khadijah: "Sungguh aku mengkhawatirkan diriku." Maka Khadijah mengucapkan kalimatnya yang luar biasa dan agung: "Sekali-kali tidak, demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu selamanya. Sesungguhnya engkau benar-benar menyambung silaturahmi, memikul beban orang lain, memberi penghidupan bagi orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong setiap upaya membela kebenaran."

Beliau tidak cukup hanya berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya," tetapi beliau juga mendatangkan alasan-alasan pembicaraannya dan dalil kejujuran ucapannya sehingga hati Rasulullah menjadi tenang. Kemudian beliau membuktikan hal itu secara praktis dengan pergi menemui Waraqah bin Naufal dan memperdengarkan kepadanya apa yang dialami Rasulullah . Rasulullah pun mendengar dari Waraqah bin Naufal bahwa beliau jujur dan apa yang turun kepadanya itu adalah wahyu dari langit. Oleh karena itu, keadaan Rasulullah berubah setelahnya; beliau menjadi rindu kepada wahyu dan turunnya malaikat setelah sebelumnya merasa takut dan gemetar.

Kemudian beliau berdiri di belakang Nabi dengan harta dan perlindungannya. Beliau laksana penyeimbang bagi masyarakat jahiliyah namun dalam hal kebaikan, dan kedua sisi timbangan itu hampir saja seimbang. Karena itu, setiap apa yang ditemui oleh Rasulullah dalam menyampaikan dakwah di siang hari, hilang di malam hari saat beliau menemui istri yang penuh kasih sayang yang menghapuskan keletihan itu, mencurahkan cinta, penghargaan, keteguhan, dan pengorbanan. Maka dari itulah Allah memberi kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah dari permata di surga, semoga Allah meridaiku dan meridaianya.

Istri-istri dengan tingkat ketabahan, akal, pemahaman, dan kekuatan mental seperti ini sangat layak untuk menjadikan rumah tangga muslim aman dari guncangan jiwa dan konflik setan, serta mampu mendidik generasi muda dan membentuk kehidupan dengan pembentukan yang agung, yang keagungannya setara dengan ajaran risalah dan arahan-arahan keimanan. Sebagaimana ia menghidupkan arahan-arahan Rabbaniah dan risalah secara nyata, bukan sekadar kata-kata, melainkan melalui amal yang dalam dan teladan sepanjang zaman, hari, dan sejarah.


8. Pengembangan Bakat dan Pembinaan Individu di Atas Nilai-Nilai.

Tidak diragukan lagi bahwa manusia mengambil (pelajaran) dari lingkungannya dan belajar dari keluarga serta kedua orang tuanya, kemudian dari orang-orang yang berinteraksi dengannya dan rekan-rekannya. Benarlah Rasulullah ketika bersabda: "Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."

Di antara faktor besar yang menyebabkan penyimpangan anak, kerusakan akhlak, dan runtuhnya kepribadiannya adalah: pengabaian kedua orang tua dalam memperbaiki diri mereka sendiri, serta kesibukan mereka sehingga tidak sempat mengarahkan dan mendidiknya.

Kita tidak boleh mengabaikan peran ibu dalam memikul amanah dan menjalankan kewajiban tanggung jawab terhadap mereka yang berada di bawah asuhannya, mendidik mereka, serta mengawasi persiapan dan pengarahan mereka. Semoga Allah merahmati orang yang berkata:

Ibu adalah sebuah sekolah, jika engkau menyiapkannya dengan baik,

Maka engkau telah menyiapkan sebuah bangsa yang baik budi pekertinya.

Sebab, ibu dalam memikul tanggung jawab sama halnya dengan ayah, bahkan tanggung jawabnya lebih penting dan lebih berisiko, mengingat dialah yang senantiasa menyertai anaknya sejak lahir hingga tumbuh besar, beranjak remaja, dan mencapai usia yang melayakkannya untuk menjadi manusia yang bertanggung jawab dan laki-laki yang tangguh dalam hidup. Rasulullah telah mengkhususkan ibu dalam pemikulan tanggung jawab ketika bersabda: "Dan seorang ibu adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya (anak-anaknya)."

Hal itu tidak lain adalah untuk menyadarkannya agar bekerja sama dengan ayah dalam menyiapkan generasi dan mendidik anak-anak. Jika ibu melalaikan kewajiban pendidikannya terhadap anak-anaknya karena sibuk dengan kenalan dan teman-temannya, menerima tamu, serta sering keluar rumah; dan jika ayah mengabaikan tanggung jawab pengarahan dan pendidikan terhadap anak-anaknya karena menghabiskan waktu luangnya untuk hiburan dan mengunjungi kedai-kedai kopi bersama teman-temannya;

Maka tidak diragukan lagi bahwa anak-anak akan tumbuh seperti anak yatim, hidup seperti orang-orang terlantar, bahkan mereka akan menjadi penyebab kerusakan dan alat kriminalitas bagi umat secara keseluruhan.

Sungguh luar biasa apa yang dikatakan oleh penyair:

Bukanlah anak yatim itu orang yang kedua orang tuanya telah tiada,

Dari beban kehidupan dan meninggalkan mereka dalam keadaan hina.

Sesungguhnya anak yatim itu adalah yang engkau dapati padanya,

Seorang ibu yang mengabaikan atau seorang ayah yang (selalu) sibuk.

Maka apa yang engkau harapkan dari anak-anak yang ayah dan ibunya berada dalam keadaan abai dan lalai seperti ini?!

Pastinya kita tidak mengharapkan dari mereka kecuali penyimpangan, dan tidak memperkirakan kecuali kriminalitas, akibat kesibukan ibu dari merawat dan mendidik anak, serta pengabaian ayah akan kewajiban mendisiplinkan dan mengawasinya.

Perkara akan menjadi lebih buruk ketika kedua orang tua menghabiskan sebagian besar waktu mereka dalam kehidupan dosa dan kesesatan, bergelimang dalam tungku syahwat dan kelezatan, serta terjerumus di jalan dekadensi dan serba boleh (liberalisme moral). Maka tidak diragukan lagi bahwa penyimpangan anak akan menjadi lebih mendalam dan berbahaya, serta langkah-langkahnya dalam kriminalitas akan menjadi lebih pasti dan besar.

Semoga Allah merahmati orang yang berkata:

Dan tidaklah tanaman yang tumbuh di dalam taman (yang terawat),

Sama seperti tanaman yang tumbuh di padang pasir yang tandus.

Dan apakah dapat diharapkan kesempurnaan bagi anak-anak,

Jika mereka menyusu dari payudara wanita-wanita yang kurang (akal dan agamanya).

Islam dalam seruannya untuk memikul tanggung jawab, telah membebankan kepada ayah dan ibu tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anak, menyiapkan mereka dengan persiapan yang sempurna untuk memikul beban kehidupan, serta mengancam mereka dengan azab yang lebih besar jika mereka melampaui batas, lalai, dan berkhianat:

{Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.} (QS. At-Tahrim: 6).

Rasulullah telah menegaskan dalam lebih dari satu perkara dan lebih dari satu wasiat tentang pentingnya memperhatikan anak-anak, serta kewajiban menjalankan urusan mereka dan memperhatikan pendidikan mereka.

Berikut adalah sekumpulan dari perintah dan arahan beliau:

  • "Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya, dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya..." (HR. Bukhari dan Muslim).
  • "Didiklah anak-anakmu dan baguskanlah adab mereka." (HR. Ibnu Majah).
  • "Ajarkanlah kebaikan kepada anak-anakmu dan keluargamu, dan didiklah mereka." (HR. Abdurrazzaq dan Said bin Manshur).
  • "Perintahkanlah anak-anakmu untuk menaati perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan, karena hal itu adalah perlindungan bagi mereka dari api neraka." (HR. Ibnu Jarir).
  • "Didiklah anak-anakmu atas tiga perkara: mencintai Nabi kalian, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur'an; karena para pengemban Al-Qur'an berada di bawah naungan 'Arsy Allah pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya." (HR. Ath-Thabrani).

Dan kami akan merinci pembicaraan mengenai tanggung jawab para pendidik pada bagian kedua dari buku "Pendidikan Anak dalam Islam". Pembaca akan menemukan apa yang dapat memuaskan dahaga (pengetahuan), serta mengenyangkan jiwa dan pikiran, insya Allah.

Kaum mukminin dan orang-orang bertakwa di sepanjang sejarah senantiasa mengetahui nilai dukungan seorang wanita bagi laki-laki dan bantuannya dalam menghadapi hari-hari. Oleh karena itu, di antara doa mereka adalah:

{Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa} [QS. Al-Furqan: 74].

Kami memberikan contoh di sini tentang para istri yang menjadi penolong bagi suami-suami mereka dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, di antaranya:

Hajar, Ibunda Ismail:

Wanita yang bertakwa dan wara' yang menjadi penolong bagi suaminya dalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: "Ibrahim عليه السلام datang membawa Ummu Ismail (Hajar) dan putranya, Ismail, yang saat itu masih menyusu, hingga beliau menempatkan keduanya di sisi Baitullah, di bawah sebuah pohon besar (dauhah) di atas Zamzam pada bagian tertinggi Masjid. Saat itu di Mekah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Beliau menempatkan keduanya di sana, dan meletakkan di dekat mereka sebuah tas berisi kurma dan sebuah wadah kulit berisi air.

Kemudian Ibrahim عليه السلام berbalik pergi, maka Ummu Ismail mengikutinya. Ia berkata: 'Wahai Ibrahim, ke mana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia maupun sesuatu apa pun ini?!'

Ia mengatakan hal itu berulang kali, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya!!

Hajar bertanya: 'Apakah Allah yang memerintahkanmu melakukan ini?'

Ibrahim menjawab: 'Ya.'

Hajar berkata: 'Kalau begitu, Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.'

Maka Ibrahim عليه السلام berangkat pergi hingga sampai di Ats-Tsaniyah (suatu tempat di Mekah) di mana mereka tidak lagi melihat beliau. Kemudian beliau menghadapkan wajahnya ke arah Baitullah, lalu berdoa dengan doa-doa ini seraya mengangkat kedua tangannya:

{Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur} [QS. Ibrahim: 37].

Ummu Ismail mulai menyusui Ismail dan meminum air tersebut hingga air dalam wadah kulit itu habis. Maka ia pun merasa haus dan putranya juga haus. Ia mulai melihat putranya meronta-ronta (kehausan). Ia pun pergi karena tidak tega melihatnya, lalu ia mendapati Shafa adalah gunung terdekat di bumi yang berada di hadapannya. Ia berdiri di atasnya kemudian menghadap ke arah lembah mencari-cari apakah ia melihat seseorang? Namun ia tidak melihat siapa pun. Lalu ia turun dari Shafa hingga sampai di lembah, ia mengangkat ujung pakaiannya kemudian berlari-lari kecil seperti larinya orang yang kepayahan hingga melintasi lembah tersebut. Kemudian ia mendatangi Marwah dan berdiri di atasnya seraya mencari-cari apakah ia melihat seseorang? Namun ia tidak melihat siapa pun. Ia melakukan hal itu sebanyak tujuh kali." Ibnu Abbas رضي الله عنهما berkata bahwa Rasulullah bersabda: "Itulah (asal-mula) sa'i manusia di antara keduanya (Shafa dan Marwah)."

Ketika ia berada di puncak Marwah, ia mendengar sebuah suara, lalu ia berkata: "Diam!!"—maksudnya ia menyuruh dirinya sendiri untuk diam. Kemudian ia mendengarkan lagi dan kembali mendengar suara tersebut. Ia berkata: "Engkau telah memperdengarkan suara, (tunjukkanlah dirimu) jika engkau memiliki pertolongan."

Para Wanita Muhajirat:

Tidaklah para wanita yang berhijrah bersama suami-suami mereka demi mencari rida Allah, melainkan mereka adalah pendorong bagi para suami menuju kemuliaan dan rida Allah Subhanahu wa Ta'ala di tengah keterasingan serta meninggalkan harta, tempat tinggal, dan keluarga. Kita telah melihat para wanita muslimah berhijrah ke Habasyah dan ke Madinah mendampingi suami-suami mereka, dan tidaklah hal ini melainkan sebuah dukungan, dorongan, pengagungan urusan suami, dan kemudahan bagi urusannya.

Maka ia pun mendapati malaikat (Jibril) di tempat Zamzam. Malaikat itu menggali dengan tumitnya atau sayapnya hingga air muncul. Lalu Hajar mulai membuat bendungan (di sekeliling air) dan membentuknya dengan tangannya seperti ini, ia mulai menciduk air ke dalam wadah kulitnya sementara air itu terus memancar setelah ia menciduknya. Ia pun minum dan menyusui putranya.

Malaikat itu berkata kepadanya: "Janganlah kalian takut akan kebinasaan, karena di sini ada rumah Allah yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya, dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya."

Hajar mendidik Ismail عليه السلام di samping Baitullah sebagai anak yang sabar, bertakwa, dan berbakti, hingga anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya. Tiba-tiba Ibrahim عليه السلام datang untuk menyembelih putranya sebagai pembenaran atas mimpi yang beliau lihat. Beliau mengetahui bahwa itu adalah isyarat dari Allah sebagai ujian dengan menyembelih Ismail, maka datanglah perintah untuk itu:

{Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Wahai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar"} [QS. Ash-Shaffat: 102].

Aduhai, alangkah indahnya iman, ketaatan, dan kepasrahan ini.

Inilah Ibrahim, seorang syeikh (orang tua) yang terputus dari keluarga dan kerabatnya, berhijrah dari tanah air dan buminya, datang untuk menaati perintah Allah dengan menyembelih putranya. Dan inilah sang ibu yang sabar dan sendirian di tempat ini, bersabar dan menaati Allah serta menolong suaminya dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan inilah sang anak kecil yang mengetahui maksud ayahnya, lalu memerintahkan ayahnya untuk menaati Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Abu Hurairah berkata: Ketika Ibrahim bermaksud menyembelih putranya, setan berkata: "Jika aku tidak menggoda mereka pada saat seperti ini, maka aku tidak akan pernah bisa menggoda mereka selamanya." Maka Ibrahim عليه السلام keluar membawa putranya, lalu setan mendatangi ibunya (Hajar) dan bertanya: "Ke mana Ibrahim pergi membawa putramu?" Hajar menjawab: "Ia membawanya pergi untuk suatu keperluan." Setan berkata: "Ia tidak membawanya untuk suatu keperluan, ia membawanya pergi untuk menyembelihnya." Hajar bertanya: "Mengapa ia menyembelihnya?" Setan menjawab: "Ia mengklaim bahwa Tuhannya memerintahkannya melakukan itu." Hajar berkata: "Maka ia telah berbuat baik dengan menaati Tuhannya."

Setan lalu pergi mengikuti jejak keduanya dan bertanya kepada si anak (Ismail): "Ke mana ayahmu membawamu pergi?" Ismail menjawab: "Untuk suatu keperluan." Setan berkata: "Ia membawamu pergi untuk menyembelihmu." Ismail bertanya: "Mengapa ia menyembelihku?" Setan menjawab: "Ia mengklaim bahwa Tuhannya memerintahkannya melakukan itu." Ismail berkata: "Demi Allah, jika memang Allah memerintahkannya demikian, maka ia pasti akan melakukannya." Setan pun merasa kecewa darinya dan meninggalkannya.

Lalu setan menyusul Ibrahim عليه السلام dan mengatakan hal yang sama kepadanya, namun Ibrahim menjawab: "Jika memang Allah memerintahkanku melakukan itu, maka aku pasti akan melakukannya." Maka putus asalah setan dari menggoda mereka ([1]).


([1]) Lihat mengenai hal itu: Tafsir Ibnu Katsir 4/17.


Kesabaran yang menakjubkan, ketaatan, dan bantuan atas perintah Allah dari seorang istri yang beriman dan seorang anak bertakwa yang dididik dengan pendidikan yang sehat dan beriman.

Ismail tumbuh besar dan belajar bahasa Arab, kemudian ibunya wafat. Ismail pun menikah. Suatu hari Ibrahim datang untuk menanyakan kabarnya, namun beliau mendapati Ismail memiliki istri yang tidak salehah, tidak bersyukur, dan tidak membantu. Maka Ibrahim memerintahkan Ismail untuk menceraikannya, dan Ismail pun melakukannya. Para perawi menceritakan: Ibrahim datang setelah pernikahan Ismail untuk meninjau keadaan putranya, namun beliau tidak mendapati Ismail. Beliau bertanya kepada istrinya tentang Ismail, sang istri menjawab: "Dia pergi berburu untuk kami." Kemudian Ibrahim bertanya tentang kehidupan dan keadaan mereka, sang istri menjawab: "Kami dalam keadaan yang buruk, kami dalam kesempitan dan kesulitan," dan ia pun mengeluh kepada Ibrahim!!

Ibrahim berkata kepadanya: "Apabila suamimu datang, sampaikan salam kepadanya, dan katakan kepadanya: hendaklah ia mengganti ambang pintunya" (sebuah kiasan untuk perceraian).

Tatkala Ismail datang, ia bertanya: "Apakah ada seseorang yang mendatangi kalian?" Istrinya menjawab: "Ya, telah datang kepada kami seorang syeikh (tua) yang begini dan begitu" (ia mensifatkannya kepada Ismail). "Dia bertanya tentangmu, lalu aku kabarkan. Kemudian dia bertanya bagaimana kehidupan kita, maka aku kabarkan bahwa aku dalam keletihan dan kesulitan." Ismail bertanya: "Apakah dia mewasiatkan sesuatu kepadamu?" Istrinya menjawab: "Ya, dia memerintahkanku untuk menyampaikan salam kepadamu, dan berkata kepadamu: 'Gantilah ambang pintumu'."

Ismail berkata: "Itu adalah ayahku, dan dia telah memerintahkanku untuk memisahkanmu (menceraikanmu). Kembalilah kepada keluargamu." Maka Ismail menceraikannya dan menikah lagi dengan wanita lain.

Ibrahim datang lagi setelah beberapa lama dan tidak mendapati Ismail. Beliau bertanya kepada istrinya: "Di mana Ismail dan bagaimana keadaan kalian?" Istri kedua itu menjawab: "Dia pergi berburu untuk kami, dan kami dalam keadaan baik serta lapang. Tidakkah engkau berkenan singgah untuk makan dan minum?"

Ibrahim bertanya: "Apa makanan dan minuman kalian?" Ia menjawab: "Makanan kami daging dan minuman kami air." Ibrahim berdoa: "Ya Allah, berkahilah mereka dalam makanan dan minuman mereka." Kemudian beliau berkata kepadanya: "Apabila suamimu datang, sampaikan salam kepadanya dan perintahkan dia untuk memperkokoh ambang pintunya."

Ismail datang dan bertanya: "Apakah ada seseorang yang mendatangi kalian?" Sang istri menjawab: "Ya, telah datang kepada kami seorang syeikh yang berpenampilan baik," dan ia memujinya. "Dia bertanya kepadaku tentangmu, maka aku kabarkan bahwa kami dalam keadaan baik." Ismail bertanya: "Apakah dia mewasiatkan sesuatu kepadamu?" Ia menjawab: "Ya, dia menyampaikan salam kepadamu, dan memerintahkanmu untuk memperkokoh ambang pintumu." Ismail berkata: "Itu adalah ayahku, dan engkau adalah ambang pintu itu. Beliau memerintahkanku untuk memperkokohmu dan tetap memegangmu (mempertahankanmu sebagai istri)."

Ibrahim mendapati pada istri yang pertama bahwa dia tidak bersyukur, tidak merasa cukup (qana'ah), dan bukan tipe wanita yang pantas berada di belakang seorang Nabi atau lelaki yang berjuang dalam hidup serta bersabar bersamanya dalam kesulitan, maka beliau memerintahkan untuk menceraikannya. Beliau mendapati pada istri kedua sosok yang bersyukur, agung, berbakti, dan mampu melakukan hal tersebut, maka beliau memerintahkan untuk mempertahankannya. Dan boleh jadi istri pertama adalah sebab kesempitan hidup, sedangkan istri kedua adalah sebab kelapangan, kemakmuran, dan bantuan.


9- Memikul Amanah Dakwah Islam dan Membelanya serta Membela Kaum Muslimin:

Maka, pemuda harus mengetahui bahwa mereka memiliki identitas dalam hidup, memiliki tujuan di dunia, dan memiliki misi di bumi yang berjalan dengan pemikiran dan bekerja untuk suatu target. Pemuda adalah lengan kuatnya, akalnya yang cerdas, dan tekadnya yang membara. Anak-anak umat ini harus dilatih melakukan pekerjaan-pekerjaan besar sebagai persiapan untuk menjalankan peran penting yang menanti mereka dalam hidup, di mana mereka harus layak untuk peran tersebut.

Jika engkau ingin—wahai saudaraku sang pendidik—anakmu menjadi salah satu prajurit Islam dan dai kebenaran, maka engkau harus menghubungkan anakmu dengan para dai yang jujur dan pemberi petunjuk yang ikhlas. Dari merekalah ia mengambil tekad keimanan, melalui mereka ia terdorong menuju jihad, dan dengan pembinaan mereka ia meluncur di medan dakwah kepada Allah. Sehingga jika ia lulus di tangan mereka dan menunggangi kuda jihad dakwah, ia akan menjalankan peran besar dalam penyelamatan, pemberian petunjuk, perbaikan, dan penyampaian (tablig), tanpa kelalaian, sikap pasrah yang salah (tawakul), atau kekurangan.

Betapa dunia Islam sangat membutuhkan anak-anak yang menyusu air susu dakwah Islam sejak usia dini, bernaung di bawah naungan amal haraki (pergerakan) dan jihad tablig padahal mereka belum mencapai usia dewasa (baligh). Sehingga ketika mereka mencapai usia yang melayakkan mereka untuk memikul risalah Islam yang kekal, mereka meluncur ke pelosok bumi, memberikan peradaban bagi bangsa-bangsa, memuliakan manusia, menetapkan pengetahuan, menolong kebenaran, mengajak kepada petunjuk, serta memenuhi bumi dengan keadilan, keamanan, dan stabilitas.

Mereka meluncur di gelanggang dakwah dan jihad tanpa rasa takut maupun gentar. Mereka menyampaikan risalah-risalah Tuhan mereka dan tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah, hingga pada akhirnya mereka sampai pada penegakan syariat Allah, pendirian negara Islam, dan mengembalikan kemuliaan menjulang serta keagungan yang kokoh yang telah dibangun oleh para pendahulu—sebuah negara besar yang luas yang matahari tidak pernah terbenam dari buminya!! Dan yang demikian itu tidaklah sulit bagi Allah.


1- Anak Muda dalam Kisah Ashabul Ukhdud sebagai Teladan bagi Anak-anak:

Muslim meriwayatkan dari Shuhaib رضي الله عنه bahwa Rasulullah bersabda: Dahulu ada seorang raja pada umat sebelum kalian, ia memiliki seorang tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah tua, ia berkata kepada raja: "Sesungguhnya aku telah tua, maka utuslah kepadaku seorang pemuda agar aku ajarkan kepadanya ilmu sihir." Maka raja mengutus seorang pemuda kepadanya. Pemuda itu mendengar pembicaraan tukang sihir dan mengaguminya. Di tengah perjalanannya menuju tukang sihir, ia melewati seorang rahib (ahli ibadah). Ia duduk dan mendengarkan perkataan rahib tersebut yang membuatnya kagum. Jika ia mendatangi tukang sihir, ia melewati rahib tersebut. Rahib itu berkata: "Jika engkau takut kepada tukang sihir, katakanlah: 'Keluargaku menahanku', dan jika engkau takut kepada keluargamu, katakanlah: 'Tukang sihir menahanku'."

Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba muncul seekor binatang besar ([1]) yang menghalangi orang-orang. Pemuda itu berkata: "Ya Allah, jika urusan rahib lebih Engkau cintai daripada urusan tukang sihir, maka bunuhlah binatang ini agar orang-orang bisa lewat." Ia pun melemparnya lalu membunuhnya dan orang-orang pun bisa lewat ([2]). Ia mendatangi rahib dan mengabarkannya. Rahib itu berkata kepadanya: "Wahai anakku, hari ini engkau lebih mulia dariku. Urusanmu telah sampai pada tingkat yang aku lihat. Sesungguhnya engkau akan diuji; jika engkau diuji, janganlah tunjukkan keberadaanku."

Pemuda itu (dengan izin Allah) bisa menyembuhkan orang yang buta sejak lahir (akmah) dan orang yang berpenyakit kulit (abrash), serta mengobati manusia dari segala macam penyakit. Hal itu terdengar oleh teman dekat raja yang telah buta. Ia mendatangi pemuda itu dengan membawa banyak hadiah dan berkata: "Semua yang ada di sini untukmu jika engkau menyembuhkanku." Pemuda itu menjawab: "Sesungguhnya aku tidak menyembuhkan siapa pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah Ta'ala. Jika engkau beriman kepada Allah Ta'ala, aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkanmu." Maka ia beriman kepada Allah, lalu Allah menyembuhkannya. Ia mendatangi raja dan duduk di dekatnya seperti biasa. Raja bertanya: "Siapa yang mengembalikan penglihatanmu?" Ia menjawab: "Tuhanku." Raja bertanya: "Apakah engkau punya Tuhan selain aku?" Ia menjawab: "Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah." Maka raja menyiksanya terus-menerus hingga ia menunjukkan keberadaan pemuda itu.

Pemuda itu pun didatangkan. Raja berkata: "Wahai anakku, sihirmu telah mencapai tingkat bisa menyembuhkan orang buta, orang berpenyakit kulit, dan engkau melakukan ini dan itu." Pemuda itu menjawab: "Sesungguhnya aku tidak menyembuhkan siapa pun, yang menyembuhkan hanyalah Allah Ta'ala." Maka raja menyiksanya terus-menerus hingga ia menunjukkan keberadaan sang rahib. Rahib itu didatangkan dan dikatakan kepadanya: "Kembalilah dari agamamu!" Namun ia menolak. Maka raja meminta gergaji, lalu diletakkan di tengah kepalanya dan dibelah hingga kedua belahannya jatuh. Kemudian didatangkan teman dekat raja tadi, dikatakan: "Kembalilah dari agamamu!" Namun ia menolak, maka diletakkan gergaji di tengah kepalanya dan dibelah hingga kedua belahannya jatuh.

Kemudian didatangkanlah pemuda itu. Dikatakan kepadanya: "Kembalilah dari agamamu!" Namun ia menolak. Maka raja menyerahkannya kepada sekelompok pengawalnya dan berkata: "Bawalah dia ke gunung ini dan itu, daki gunung itu bersamanya. Jika kalian telah sampai di puncaknya, jika ia mau kembali dari agamanya (lepaskanlah), jika tidak, maka lemparkanlah dia." Mereka membawanya mendaki gunung, lalu pemuda itu berdoa: "Ya Allah, cukupilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki." Maka gunung itu berguncang dan mereka semua jatuh, sementara pemuda itu datang kembali berjalan menemui raja. Raja bertanya: "Apa yang dilakukan teman-temanmu?" Ia menjawab: "Allah Ta'ala telah mencukupiku dari mereka."

Lalu raja menyerahkannya lagi kepada sekelompok pengawalnya dan berkata: "Bawalah dia di atas sebuah sampan (qurqur) dan bawalah ke tengah laut. Jika ia mau kembali dari agamanya (lepaskanlah), jika tidak, maka lemparkanlah." Mereka membawanya, lalu ia berdoa: "Ya Allah, cukupilah aku dari mereka dengan apa yang Engkau kehendaki." Maka sampan itu terbalik dan mereka semua tenggelam, sementara pemuda itu datang kembali berjalan menemui raja. Raja bertanya: "Apa yang dilakukan teman-temanmu?" Ia menjawab: "Allah Ta'ala telah mencukupiku dari mereka." Lalu ia berkata kepada raja: "Sesungguhnya engkau tidak akan bisa membunuhku hingga engkau mengumpulkan semua orang di satu tanah lapang, dan engkau menyalibku pada sebuah batang pohon. Kemudian ambillah anak panah dari wadah panahku, letakkan anak panah itu di tengah busur, lalu ucapkanlah: 'Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini', kemudian panahlah aku. Jika engkau melakukan itu, engkau bisa membunuhku."

Maka raja mengumpulkan semua orang di satu tanah lapang, menyalibnya di batang pohon, mengambil anak panah dari wadah panah si pemuda, meletakkannya di tengah busur, dan mengucapkan: "Dengan menyebut nama Allah, Tuhan pemuda ini." Lalu ia memanahnya, dan anak panah itu mengenai pelipisnya—yaitu antara mata dan daun telinga. Pemuda itu meletakkan tangannya di pelipisnya lalu meninggal. Orang-orang pun berkata: "Kami beriman kepada Tuhan pemuda ini!" Raja pun didatangi dan dikatakan: "Tahukah engkau hal yang selama ini engkau khawatirkan? Demi Allah, kekhawatiranmu telah terjadi, orang-orang telah beriman."

Maka raja memerintahkan untuk membuat parit (ukhdud) di mulut-mulut jalan, lalu parit itu digali dan dinyalakan api di dalamnya. Raja berkata: "Siapa yang tidak kembali dari agamanya, maka ceburkanlah dia ke dalamnya," atau dikatakan: "Ceburkanlah dirimu!" Mereka pun melakukannya, hingga datanglah seorang wanita bersama bayinya. Wanita itu sempat ragu-ragu untuk terjun ke dalamnya, lalu si bayi berkata kepadanya:

"Wahai ibunda bersabarlah, karena sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran." ([1])


([1]) Dalam riwayat Abdurrazzaq: Seekor singa.

([2]) Dalam riwayat Abdurrazzaq: Orang-orang berkata: "Sungguh pemuda ini telah mengetahui suatu ilmu yang tidak diketahui oleh siapa pun."


Dalam riwayat Abdurrazzaq disebutkan: "Itulah firman Allah: {Binasalah orang-orang yang membuat parit, (yaitu parit) yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar} hingga sampai pada ayat {Maha Perkasa lagi Maha Terpuji}. Ia berkata: 'Adapun pemuda itu, sesungguhnya ia dikuburkan.' Ia menyebutkan bahwa makamnya digali pada zaman Umar bin Khattab, dan didapati jarinya masih berada di pelipisnya sebagaimana posisi saat ia meletakkannya (ketika wafat)."


2- Contoh-Contoh Pengorbanan dan Jihad Anak-Anak Sahabat serta Salafus Shalih:

1- Para Ibu yang Mendorong Anak-Anak Mereka untuk Berjihad:

Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dari Al-Sya'bi: Bahwa seorang wanita menyerahkan sebilah pedang kepada putranya pada hari Perang Uhud, namun anak itu tidak kuat memanggulnya. Maka sang ibu mengikatkan pedang itu ke lengan anaknya dengan tali kulit, kemudian ia membawanya menghadap Nabi dan berkata: "Wahai Rasulullah, ini putraku, ia akan berperang membelamu." Nabi bersabda: "Wahai anakku, menyeranglah di sini! Wahai anakku, menyeranglah di sini!" Lalu anak itu terkena luka, maka ia dibawa menghadap Nabi . Beliau bertanya: "Wahai anakku, mungkinkah engkau merasa takut?" Ia menjawab: "Tidak, wahai Rasulullah."

2- Para Ibu yang Bergembira dengan Syahidnya Anak-Anak Mereka:

Ahmad dan Bukhari mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه bahwa Haritsah bin Al-Rabi' datang pada hari Perang Badr sebagai pengawas (peninjau) dan saat itu ia masih belia. Lalu datanglah anak panah nyasar yang mengenai pangkal lehernya dan membunuhnya. Ibunya, Al-Rabi', datang dan berkata: "Wahai Rasulullah, engkau telah mengetahui kedudukan Haritsah di hatiku. Jika ia termasuk penduduk surga, aku akan bersabar. Jika tidak, maka Allah akan melihat apa yang akan aku perbuat." Beliau bersabda: "Wahai Ummu Haritsah! Sesungguhnya surga itu bukan satu, melainkan surga yang banyak, dan ia berada di Firdaus yang tertinggi." ([2])

3- Anak-Anak yang Membunuh Para Thaghut Musuh Rasulullah :

Dari Abdurrahman bin Auf رضي الله عنه, ia berkata: "Ketika aku sedang berdiri di barisan pada hari Perang Badr, aku menoleh ke kanan dan kiriku, tiba-tiba aku berada di antara dua anak muda yang masih belia dari kaum Anshar. Aku sempat berharap seandainya aku berada di antara orang-orang yang lebih kuat dari mereka. Tiba-tiba salah satunya menyenggolku dan bertanya: 'Wahai paman, apakah engkau kenal Abu Jahl?' Aku menjawab: 'Ya, apa keperluanmu dengannya wahai putra saudaraku?' Ia berkata: 'Aku dikabari bahwa ia mencaci Rasulullah . Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika aku melihatnya, bayanganku tidak akan berpisah dari bayangannya hingga yang paling cepat ajalnya di antara kami mati.' Aku pun heran dengan hal itu. Lalu yang satunya lagi menyenggolku dan mengatakan hal yang sama. Tidak lama kemudian, aku melihat Abu Jahl berjalan di antara orang-orang. Aku berkata kepada keduanya: 'Tidakkah kalian lihat? Itu adalah orang yang kalian tanyakan.' Maka keduanya segera berlari dan memukulnya dengan pedang mereka hingga membunuhnya. Kemudian keduanya kembali menghadap Rasulullah dan mengabarkannya. Beliau bertanya: 'Siapa di antara kalian yang membunuhnya?' Masing-masing menjawab: 'Aku yang membunuhnya.' Beliau bertanya: 'Apakah kalian sudah menyeka pedang kalian?' Mereka menjawab: 'Belum.' Beliau melihat kedua pedang itu dan bersabda: 'Kalian berdua telah membunuhnya.' Lalu beliau menetapkan harta rampasannya untuk Mu'adh bin Amr bin Al-Jamuh, dan nama yang satunya adalah Mu'adh bin Afra'." (Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, dan Abu Ya'la dalam Musnad-nya 2/170 dengan sanad shahih).

4- Anak-Anak yang Menangis dan Bersembunyi Agar Bisa Keluar Berjihad:

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Sa'ad bin Abi Waqqas رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah menolak Umair bin Abi Waqqas untuk berangkat ke Badr karena menganggapnya masih kecil. Maka Umair رضي الله عنه menangis, hingga akhirnya beliau mengizinkannya." Sa'ad berkata: "Maka aku ikatkan tali pedangnya. Sungguh aku telah mengikuti Perang Badr, sementara di wajahku tidak ada kecuali sehelai bulu (kumis) yang aku usap dengan tanganku." ([3])

Ibnu Sa'ad meriwayatkan dari Sa'ad رضي الله عنه, ia berkata: "Aku melihat saudaraku, Umair bin Abi Waqqas رضي الله عنه, sebelum Rasulullah memeriksa barisan kami pada hari Badr, ia sedang bersembunyi. Aku bertanya: 'Ada apa denganmu wahai saudaraku?' Ia menjawab: 'Aku takut Rasulullah melihatku lalu menganggapku kecil dan menolakku, padahal aku ingin keluar (berperang) agar Allah mengaruniakan syahadah kepadaku'." Sa'ad berkata: "Maka aku mengikatkan tali pedangnya karena kecilnya tubuhnya. Ia pun gugur terbunuh saat usianya enam belas tahun." ([4])

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak 2/59—ia berkata sanadnya shahih dan disetujui oleh Al-Dzahabi—dari Zaid bin Haritsah رضي الله عنه bahwa Rasulullah menganggap masih kecil beberapa orang pada hari Uhud, di antaranya: Zaid bin Haritsah (maksudnya dirinya sendiri), Al-Bara bin Azib, Zaid bin Arqam, Sa'ad, Abu Said Al-Khudri, Abdullah bin Umar, dan menyebutkan pula Jabir bin Abdullah.

5- Anak-Anak Meminta Perlengkapan untuk Berjihad:

Muslim dan Abu Dawud mengeluarkan riwayat dari Anas رضي الله عنه bahwa seorang pemuda dari kabilah Aslam berkata: "Wahai Rasulullah , sesungguhnya aku ingin berperang namun aku tidak memiliki perlengkapan." Beliau bersabda: "Datangilah si fulan, ia telah menyiapkan perlengkapan namun kemudian jatuh sakit." Pemuda itu pun mendatanginya dan berkata: "Sesungguhnya Rasulullah menyampaikan salam kepadamu dan bersabda: 'Berikanlah kepadaku perlengkapan yang telah engkau siapkan'." Maka lelaki itu berkata kepada istrinya: "Wahai fulanah, berikanlah kepadanya perlengkapan yang telah kusiapkan dan jangan engkau tahan sedikit pun darinya. Demi Allah, tidaklah engkau menahan sesuatu darinya melainkan Allah akan memberkahi kita di dalamnya."

Dari Samurah bin Jundub, ia berkata: "Rasulullah memeriksa barisan kami dari kaum Anshar, beliau meloloskan siapa yang sudah dewasa di antara mereka. Aku diperiksa pada suatu tahun, lalu beliau meloloskan seorang pemuda dan menolakku. Aku berkata: 'Wahai Rasulullah, engkau meloloskannya dan menolakku, padahal jika aku beradu gulat dengannya, aku pasti akan menjatuhkannya.' Beliau bersabda: 'Bergulatlah!' Maka aku bergulat dengannya dan menjatuhkannya, sehingga beliau meloloskanku." (Al-Hakim berkata sanadnya shahih). ([5])

6- Para Ayah yang Membawa Anak-Anak Mereka ke Medan Perang:

Bukhari mengeluarkan riwayat dari Urwah bin Al-Zubair رحمه الله, ia berkata: "Pada tubuh Al-Zubair terdapat tiga bekas luka pukulan (pedang), salah satunya di pundaknya. Sungguh aku dahulu memasukkan jari-jariku ke dalamnya dan memainkannya saat aku masih kecil." Para sahabat Rasulullah berkata kepadanya pada hari Perang Yarmuk: "Tidakkah engkau menyerang, sehingga kami bisa menyerang bersamamu?"

Al-Zubair berkata: "Jika aku menyerang, kalian pasti akan tertinggal (bohong)." Mereka menjawab: "Jangan katakan itu." Maka ia menyerang mereka hingga membelah barisan musuh dan melewati mereka sementara tidak ada seorang pun bersamanya. Kemudian ia kembali lagi, lalu musuh memegang tali kendalinya dan memukul pundaknya dengan dua pukulan pedang, di antara keduanya terdapat bekas luka yang ia dapatkan pada hari Badr. Urwah berkata: "Saat itu Abdullah (bin Al-Zubair) bersamanya pada hari Yarmuk, usianya sepuluh tahun, Al-Zubair menaikkannya ke atas kuda dan mewakilkan seorang lelaki untuk menjaganya."

Ibnu Jarir meriwayatkan dalam Tahdzib al-Atsar 1/94 dengan sanadnya dari Abdullah bin Al-Zubair, ia berkata: "Aku dan Umar bin Abi Salamah berada di benteng pada hari Perang Khandaq. Umar merunduk agar aku bisa melihat peperangan, dan aku merunduk untuknya agar ia bisa melihat peperangan. Aku melihat ayahku berkeliling di tanah asin, menyerang ke arah mereka sekali, dan ke arah yang lain sekali. Aku bertanya kepadanya: 'Wahai ayah, aku melihatmu menyerang di tanah asin itu ke sana kemari.' Ayah berkata: 'Rasulullah hari ini telah mengumpulkan bagiku kedua orang tuanya ([6])'."

Dalam riwayat lain baginya disebutkan: Ayah bertanya: "Apakah engkau melihatku, wahai anakku?" Aku menjawab: "Ya." Ayah berkata: "Rasulullah saat itu mengumpulkan bagi ayahmu kedua orang tuanya dengan bersabda: 'Seranglah, tebusannya adalah ayah dan ibuku'."

Dengan jihad semacam inilah para sahabat mendidik anak-anak mereka. Mereka tidak mengenal rasa malas atau merasa berat terikat pada bumi (dunia). Sebaliknya, mereka menggunakan berbagai cara agar Nabi tidak menganggap mereka kecil lalu menolak mereka. Terkadang mereka menangis, di lain waktu mereka bersembunyi, dan yang ketiga mereka berdiri di atas ujung jari kaki (agar tampak tinggi). Semua itu dilakukan agar mereka bisa keluar berjihad di jalan Allah dan meraih syahadah akhirat yang tidak tertandingi oleh ijazah (sertifikat) dunia mana pun secara mutlak. Mereka membangun masa depan yang cerah, mulia, abadi, dan kekal di surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami atas kaum yang kafir.

Oleh karena itu, Imam Syahid Al-Banna berkhotbah kepada para pemuda dengan berkata:

"Wahai para pemuda:

Sesungguhnya suatu pemikiran (ide) hanya akan berhasil jika iman kepadanya kuat, keikhlasan dalam jalannya tersedia, semangat terhadapnya meningkat, dan terdapat kesiapan yang mendorong pada pengorbanan serta amal untuk mewujudkannya. Keempat rukun ini—Iman, Ikhlas, Semangat, dan Amal—seolah-olah merupakan karakteristik para pemuda. Karena dasar dari Iman adalah hati yang cerdas, dasar dari Ikhlas adalah sanubari yang murni, dasar dari Semangat adalah perasaan yang kuat, dan dasar dari Amal adalah tekad yang membara. Semua ini tidak ada melainkan pada pemuda. Dari sinilah, dahulu maupun sekarang, di setiap umat, pemuda adalah pilar kebangkitannya, dalam setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya, dan dalam setiap pemikiran pemuda adalah pembawa panjinya."

{Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.} [QS. Al-Kahfi].


Catatan Kaki:

([1]) Fadhilatusy Syaikh Abdul Aziz Uyun al-Sud—Syaikh al-Qurra' rahimahullah—memberikan komentar kepada saya atas sikap ibu ini ketika saya menyodorkan riset ini kepadanya untuk ditinjau; beliau menulis di pinggir halaman: "(Mendahulukan perintah Allah di atas kasih sayang kepada anak)." Habib al-Rahman al-A'dzami berkata dalam komentarnya atas Mushannaf Abdurrazzaq: "Dikeluarkan oleh Tirmidzi, Ahmad, dan Muslim."

([2]) Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad, Ibnu Khuzaimah, dan Ath-Thabrani. Lihat Shahih al-Jami' no. 7853.

([3]) Kanz al-Ummal 5/270 dan Al-Hakim 3/88.

([4]) Al-Ishabah 135.

([5]) Lihat Uqud al-Jawahir al-Munifah 2/97.

([6]) Bukhari Bab Fadhail 13, Muslim 4/1880, dan Musnad Ahmad 1/164 dengan perbedaan redaksi. Lihat juga Thabaqat Ibnu Sa'ad 3/106 dan Al-Bidayah 4/107. Diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la dalam Musnad-nya 2/35 dengan sanad shahih.


Dan dari sinilah tugas-tugas kalian menjadi banyak, dari sinilah tanggung jawab kalian menjadi besar, dari sinilah hak-hak umat kalian atas kalian menjadi berlipat ganda, dan dari sinilah amanah di pundak kalian menjadi berat. Dari sinilah wajib bagi kalian untuk berpikir panjang, bekerja keras, menentukan sikap kalian, maju untuk melakukan penyelamatan, dan memberikan hak umat ini secara sempurna dari potensi pemuda ini.

Terkadang seorang pemuda tumbuh dalam umat yang tenang dan damai, kuat kekuasaannya dan luas pembangunannya, sehingga ia lebih banyak mencurahkan perhatian pada dirinya sendiri daripada umatnya; ia bermain-main dan bersenda gurau dalam keadaan jiwa yang tenang dan hati yang tenteram.

Namun, adakalanya ia tumbuh dalam umat yang berjuang dan bekerja keras, yang telah dikuasai oleh pihak lain, dan urusannya diktator oleh musuhnya. Umat tersebut berjuang sekuat tenaga demi mengembalikan hak yang dirampas, warisan yang dicolong, kebebasan yang hilang, kemuliaan yang tinggi, dan teladan yang luhur. Saat itulah, termasuk kewajiban yang paling utama bagi pemuda ini adalah mencurahkan perhatian pada umatnya lebih banyak daripada perhatian pada dirinya sendiri. Dengan melakukan hal itu, ia akan mendapatkan kebaikan yang segera di medan kemenangan, serta kebaikan yang tertunda berupa pahala dari Allah. Dan barangkali termasuk keberuntungan kita bahwa kita termasuk dalam kelompok yang kedua ini, sehingga mata kita terbuka pada umat yang tekun berjihad dan terus-menerus berjuang demi kebenaran dan kebebasan. Bersiaplah wahai para lelaki, karena betapa dekat kemenangan bagi orang-orang mukmin dan betapa agung kesuksesan bagi para pekerja yang tekun.

Wahai para pemuda:

Sesungguhnya Allah telah memuliakan kalian dengan penisbatan diri kepada-Nya, iman kepada-Nya, dan tumbuh di atas agama-Nya. Dengan itu, Allah telah menetapkan bagi kalian derajat terdepan di dunia, kedudukan pemimpin di antara alam semesta, dan kemuliaan seorang guru di antara murid-muridnya: {Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah} [QS. Ali Imran].

{Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia} [QS. Al-Baqarah].

Maka hal pertama yang diserukan kepada kalian adalah agar kalian beriman kepada diri kalian sendiri, mengetahui kedudukan kalian, dan meyakini bahwa kalian adalah tuan-tuan dunia meskipun musuh-musuh kalian menginginkan kehinaan bagi kalian, dan kalian adalah guru-guru alam semesta meskipun pihak lain nampak unggul atas kalian dalam kehidupan dunia yang tampak saja; dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.

Maka perbaruilah wahai para pemuda iman kalian, tentukanlah sasaran dan tujuan kalian. Awal dari kekuatan adalah iman, dan hasil dari iman ini adalah persatuan, dan akhir dari persatuan adalah kemenangan yang kuat lagi nyata. Maka berimanlah, bersaudaralah, berilmulah, dan nantikanlah setelah itu kemenangan... dan berilah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.

Sesungguhnya seluruh dunia sedang kebingungan dan terombang-ambing. Segala sistem yang ada di dalamnya telah gagal mengobatinya, dan tidak ada obat baginya kecuali Islam. Maka majulah dengan nama Allah untuk menyelamatkannya, karena semua orang sedang menanti sang penyelamat, dan tidak akan ada penyelamat kecuali risalah Islam yang kalian bawa obornya dan kalian kabarkan berita gembiranya.

Wahai para pemuda:

Sesungguhnya manhaj (metode) Ikhwanul Muslimin memiliki tahapan-tahapan yang terbatas dan langkah-langkah yang jelas. Kami tahu benar apa yang kami inginkan dan kami tahu sarana untuk mewujudkan keinginan ini.

  1. Pertama, kami menginginkan sosok pribadi muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam akhlak dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Inilah pembentukan individu kami.
  2. Setelah itu, kami menginginkan rumah tangga muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam akhlak dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. (Catatan: Teks poin ini mengulang deskripsi poin sebelumnya).
  3. Setelah itu, kami menginginkan rumah tangga muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam akhlak dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Karena itulah kami memperhatikan wanita sebagaimana perhatian kami kepada pria, dan kami memperhatikan anak-anak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. Inilah pembentukan keluarga kami.
  4. Setelah itu, kami menginginkan masyarakat muslim dalam itu semua juga. Karena itulah kami bekerja agar dakwah kami sampai ke setiap rumah, suara kami terdengar di setiap tempat, dan agar pemikiran kami menjadi mudah dan merasuk ke desa-desa, dusun-dusun, kota-kota, pusat-pusat daerah, metropolitan, dan negeri-negeri. Kami tidak akan menghemat usaha dalam hal itu dan tidak meninggalkan satu pun sarana.
  5. Setelah itu, kami menginginkan pemerintahan muslim yang memimpin masyarakat ini ke masjid, dan membawa manusia di bawah petunjuk Islam sebagaimana mereka pernah dibawa oleh para sahabat Rasulullah , yaitu Abu Bakar dan Umar sebelumnya. Karena itulah kami tidak mengakui sistem pemerintahan mana pun yang tidak tegak di atas dasar Islam dan tidak bersumber darinya. Kami tidak mengakui partai-partai politik ini, tidak juga bentuk-bentuk tradisional yang dipaksakan oleh ahli kufur dan musuh-musuh Islam kepada kami untuk memerintah dan bekerja di atasnya. Kami akan bekerja untuk menghidupkan sistem pemerintahan Islam dengan segala manifestasinya, dan membentuk pemerintahan Islam berdasarkan sistem ini.
  6. Kemudian beliau (semoga Allah merahmatinya) berkata: Setelah itu kami ingin menyatukan kembali setiap jengkal tanah air Islam kita yang telah dicerai-beraikan oleh politik Barat dan dihancurkan persatuannya oleh ambisi-ambisi Eropa.
  7. Setelah itu, kami ingin agar panji Allah kembali berkibar tinggi di atas wilayah-wilayah yang pernah berbahagia dengan Islam pada suatu masa, di mana suara muazin menggema dengan takbir dan tahlil, namun kemudian nasib buruk menghendaki cahaya itu surut darinya sehingga wilayah itu kembali kepada kekufuran setelah sebelumnya Islam.
  8. Setelah itu dan bersamaan dengan itu, kami ingin mengajarkan dakwah Islam kepada dunia dan menyampaikannya kepada seluruh manusia.

Maka, apakah engkau sependapat denganku wahai saudaraku, bahwa risalah dan tujuan ini tidak akan tercapai kecuali jika ada pembinaan keimanan, dakwah, jihad, dan keluarga yang menanam benih-benih yang kuat untuk memanen surga (buah) yang lezat.

Dasar Berdirinya Keluarga:

Tidak diragukan lagi bahwa dasar yang menjadi landasan berdirinya keluarga adalah laki-laki dan perempuan. Dari keduanyalah terbentuk fondasi bangunan yang menjadi tumpuan kebangkitan umat dan pendidikan generasi yang akan datang. Pasangan suami istri bekerja sama dalam membangun keluarga dan memikul tanggung jawab. Masing-masing dari keduanya menyempurnakan pekerjaan yang lain. Wanita bekerja sesuai dengan spesialisasinya dan apa yang selaras dengan fitrah serta kewanitaannya, yaitu dalam mengawasi pengelolaan rumah tangga dan menjalankan pendidikan anak-anak. Benarlah orang yang berkata:

Ibu adalah sekolah, jika engkau menyiapkannya,

Maka engkau telah menyiapkan sebuah bangsa yang baik budi pekertinya.

Laki-laki pun demikian, ia bekerja sesuai dengan spesialisasinya dan apa yang selaras dengan fitrah serta kelaki-lakiannya, yaitu dengan berusaha, mencari nafkah, menjalankan pekerjaan-pekerjaan yang berat, melindungi keluarga, serta menyediakan apa yang dibutuhkan berupa tempat tinggal, makanan, dan pakaian. Dalam hal inilah tercapai kerja sama untuk membina generasi dengan pembinaan yang baik secara akal, pikiran, dan jasmani.


Risalah Wanita:

Fadhilatusy Syaikh Hasan al-Banna رحمه الله menjelaskan pentingnya peran wanita dalam keluarga dan masyarakat, beliau menulis sebagai berikut:

Aku tidaklah mengabaikan pentingnya menulis tentang tema seperti ini, dan aku bukannya tidak tahu kedudukan wanita dalam suatu umat. Wanita adalah separuh dari bangsa, bahkan ia adalah separuh yang memengaruhi kehidupannya dengan pengaruh yang paling mendalam. Karena ia adalah sekolah pertama yang membentuk generasi dan menempa tunas bangsa. Berdasarkan gambaran yang diterima oleh anak dari ibunya, maka masa depan suatu bangsa dan arah tujuan umat akan ditentukan. Selain itu, wanita adalah pemberi pengaruh pertama dalam kehidupan para pemuda dan kaum laki-laki secara bersamaan.

Aku tidak mengabaikan semua ini, dan Islam yang lurus pun tidak melalaikannya. Islam yang datang sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia telah mengatur urusan kehidupan dengan aturan yang paling teliti serta kaidah dan hukum yang paling utama. Benar, Islam tidak melalaikan semua ini, dan tidak membiarkan manusia kebingungan di dalamnya di setiap lembah, melainkan menjelaskan perkara tersebut kepada mereka dengan penjelasan yang tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk meminta tambahan lagi.

Sebenarnya, yang penting bukanlah sekadar mengetahui pandangan Islam terhadap wanita dan pria, hubungan keduanya, serta kewajiban masing-masing terhadap yang lain—karena hal itu adalah perkara yang hampir diketahui oleh semua orang. Namun yang penting adalah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita siap untuk tunduk pada hukum Islam?

Kenyataannya, negeri ini dan negeri-negeri Islam lainnya sedang diselimuti oleh gelombang yang bergejolak dan keras berupa rasa cinta untuk taklid (mengekor) kepada Eropa serta tenggelam di dalamnya hingga ke dagu (sangat dalam).

Bagi sebagian orang, tidak cukup hanya tenggelam dalam taklid ini, bahkan mereka mencoba menipu diri sendiri dengan memutarbalikkan hukum-hukum Islam agar sesuai dengan hawa nafsu Barat dan sistem Eropa ini. Mereka mengeksploitasi toleransi agama ini dan keluwesan hukum-hukumnya dengan eksploitasi yang buruk, yang mengeluarkan hukum-hukum tersebut dari citra Islamnya secara total, menjadikannya sistem lain yang sama sekali tidak berhubungan dengan Islam, serta mengabaikan sepenuhnya ruh syariat Islam dan banyak teks (dalil) yang tidak sejalan dengan hawa nafsu mereka.

Ini adalah bahaya yang berlipat ganda pada hakikatnya. Tidak cukup bagi mereka untuk menyelisihinya, hingga mereka datang mencari-cari celah hukum (legalitas) untuk pelanggaran ini, dan mewarnainya dengan warna kehalalan serta kebolehan agar mereka tidak pernah bertaubat darinya dan tidak meninggalkannya suatu hari nanti.

Maka yang penting sekarang adalah kita melihat hukum-hukum Islam dengan pandangan yang bersih dari hawa nafsu, serta menyiapkan dan mengondisikan diri kita untuk menerima perintah-perintah Allah Ta'ala dan larangan-larangan-Nya, khususnya dalam perkara ini yang dianggap sebagai fondasi dan hal vital dalam kebangkitan kita saat ini.

Atas dasar inilah, tidak ada salahnya kita mengingatkan manusia dengan apa yang telah mereka ketahui, dan apa yang wajib mereka ketahui tentang hukum-hukum Islam dalam sisi ini.

Pertama: Islam mengangkat nilai wanita dan menjadikannya mitra laki-laki dalam hak dan kewajiban:

Ini adalah persoalan yang sudah hampir selesai (jelas). Islam telah memuliakan kedudukan wanita, mengangkat nilainya, dan menganggapnya sebagai saudara perempuan bagi laki-laki serta mitra baginya dalam kehidupannya. Wanita adalah bagian dari laki-laki dan laki-laki adalah bagian dari wanita: {sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain}. Islam telah mengakui hak-hak pribadi wanita secara penuh, hak-hak sipilnya secara penuh, serta hak-hak politiknya secara penuh pula. Islam memperlakukannya sebagai manusia yang memiliki kemanusiaan yang sempurna, memiliki hak dan memikul kewajiban; ia disyukuri jika menunaikan kewajibannya dan wajib baginya untuk mendapatkan hak-haknya. Al-Qur'an dan hadis-hadis sangat melimpah dengan teks-teks yang menegaskan makna ini dan menjelaskannya.

Kedua: Pembedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hak-hak hanyalah mengikuti perbedaan fitrah yang tidak dapat dihindari antara keduanya, serta mengikuti perbedaan tugas yang dilakukan masing-masing, demi menjaga hak-hak yang diberikan kepada keduanya:

Mungkin dikatakan bahwa Islam membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam banyak keadaan dan kondisi, serta tidak menyamakan keduanya dengan penyamaan yang total. Hal itu benar, namun di sisi lain harus diperhatikan bahwa jika Islam mengurangi sesuatu dari hak wanita di satu sisi, maka Islam telah memberikan ganti yang lebih baik baginya di sisi yang lain ([1]), atau pengurangan ini adalah untuk kemaslahatan dan kebaikannya sendiri sebelum menjadi hal lainnya. Apakah ada orang, siapa pun dia, yang mampu mengeklaim bahwa susunan fisik dan ruhani wanita sama persis dengan susunan laki-laki? Apakah ada orang, siapa pun dia, yang mampu mengeklaim bahwa peran yang harus dilakukan wanita dalam kehidupan adalah peran yang harus dilakukan laki-laki selama kita percaya bahwa di sana ada peran keibuan dan peran keayahan?

Aku meyakini bahwa kedua susunan tersebut berbeda, dan kedua tugas tersebut juga berbeda. Perbedaan ini mau tidak mau harus diikuti oleh perbedaan dalam aturan kehidupan yang berkaitan dengan masing-masing dari keduanya. Inilah rahasia dari apa yang ada dalam Islam berupa pembedaan antara wanita dan pria dalam hak dan kewajiban.

Ketiga: Antara wanita dan pria terdapat ketertarikan fitri yang kuat yang merupakan fondasi awal bagi hubungan di antara keduanya, dan bahwa tujuannya sebelum menjadi kesenangan dan semisalnya, adalah kerja sama dalam menjaga kelestarian jenis (manusia) serta memikul beban-beban kehidupan:

Islam telah mengisyaratkan kecenderungan psikologis ini, mensucikannya, dan memalingkannya dari makna hewani dengan pemalingan yang paling indah menuju makna ruhani yang mengagungkan tujuannya, menjelaskan maksud darinya, dan mengangkatnya tinggi dari sekadar gambaran pemuasan nafsu menuju pencarian gambaran kerja sama yang sempurna. Marilah kita dengar firman Allah Tabaaraka wa Ta'ala:

{Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang} ([2]).

Inilah prinsip-prinsip yang diperhatikan dan ditetapkan oleh Islam dalam pandangannya terhadap wanita. Atas dasar itulah syariatnya yang bijaksana datang menjamin kerja sama yang sempurna antara kedua jenis kelamin, sehingga masing-masing dari keduanya dapat mengambil manfaat dari yang lain dan membantunya dalam urusan-urusan kehidupan.


Catatan Kaki:

([1]) Dalam warisan, Islam menjadikan bagian wanita setengah dari bagian laki-laki, namun Islam membebankan kewajiban nafkah kepada laki-laki.

([2]) Surat Ar-Rum ayat 21.


Pembahasan mengenai wanita dalam masyarakat dalam pandangan Islam terangkum dalam poin-poin berikut ini:

Pertama: Wajibnya Mendidik Wanita

Islam memandang wajibnya mendidik akhlak wanita dan membina mereka di atas keutamaan serta kesempurnaan jiwa sejak masa pertumbuhan. Islam mendorong para ayah dan para wali urusan gadis-gadis untuk melakukan hal ini, menjanjikan mereka pahala yang melimpah dari Allah, serta mengancam mereka dengan siksaan jika mereka lalai. Dalam ayat yang mulia disebutkan:

{Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.} ([1]).

Dan dalam hadis sahih disebutkan:

"Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya: Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya, seorang pelayan adalah pemimpin atas harta tuannya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya." (Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadis Abdullah bin Umar).

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Tidaklah ada seorang muslim yang memiliki dua anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada keduanya selama mereka bersamanya atau ia bersama mereka, melainkan keduanya akan memasukkannya ke dalam surga." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dengan sanad sahih dan Ibnu Hibban dalam Sahih-nya).

Dari Abu Said Al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik dan bertakwa kepada Allah dalam urusan mereka, maka baginya surga." (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ini adalah redaksinya, serta Abu Dawud, hanya saja ia menyebutkan: "Lalu ia mendidik mereka, berbuat baik kepada mereka, dan menikahkan mereka, maka baginya surga").

Termasuk dalam pendidikan yang baik adalah mengajarkan mereka apa yang tidak boleh tidak harus mereka ketahui sebagai penunjang misi utama mereka, seperti membaca, menulis, berhitung, agama, sejarah—sejarah Salafus Shalih baik laki-laki maupun perempuan—tata kelola rumah tangga, urusan kesehatan, prinsip-prinsip pendidikan, cara mendidik anak, serta segala hal yang dibutuhkan seorang ibu dalam mengatur rumahnya dan merawat anak-anaknya. Dalam hadis Bukhari disebutkan: "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak menghalangi mereka untuk memahami (bertafaqquh) dalam urusan agama." Banyak dari wanita salaf berada pada tingkat ilmu, keutamaan, dan kepahaman yang agung dalam agama Allah Tabaraka wa Ta'ala.

Adapun mendalami ilmu-ilmu selain itu yang tidak dibutuhkan oleh wanita, maka hal itu adalah kesia-siaan yang tidak ada hasilnya; wanita tidak membutuhkannya dan lebih baik baginya untuk menghabiskan waktunya pada hal yang bermanfaat dan berguna.

Wanita tidak butuh untuk mendalami berbagai bahasa yang berbeda jika ia memang tidak membutuhkannya, sementara ia memiliki hal lain yang lebih penting. Ia juga tidak butuh pada studi seni yang khusus, karena ia akan segera mengetahui bahwa wanita adalah untuk rumah tangga pertama dan utamanya, dan studinya terhadap ilmu seni dilakukan sekadar sesuai kebutuhan umat. Ia pun tidak butuh untuk mendalami studi hak-hak sipil dan undang-undang; cukuplah baginya mengetahui hal tersebut sejauh yang dibutuhkan orang awam jika hal itu memang tidak dituntut darinya atau bukan termasuk spesialisasi yang dibebankan kepadanya.

Dahulu Abu Al-Ala Al-Ma'arri berwasiat kepada para wanita dengan berkata:

Ajarkanlah mereka memintal, menenun, dan menjahit ([2]),

dan tinggalkanlah (urusan) menulis serta membaca.

Karena shalat seorang gadis dengan (surah) Al-Hamdu dan Al-Ikhlas ([3]),

sudah mencukupi (daripada membaca surah) Yunus dan Bara'ah (At-Taubah).

Namun kami tidak ingin berhenti pada batasan ini saja, dan kami tidak menginginkan apa yang diinginkan oleh orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam membebani wanita dengan berbagai jenis studi yang tidak ia butuhkan. Akan tetapi kami katakan: Ajarkanlah wanita apa yang ia butuhkan berdasarkan misi dan fungsi yang Allah ciptakan untuknya: Mengelola rumah tangga dan merawat anak sebagai prioritas utama, kemudian barulah hal-hal lain setelah itu sesuai kebutuhan.

Kedua: Pemisahan Antara Wanita dan Laki-Laki

Islam memandang bahwa percampuran (ikhtilath) antara wanita dan laki-laki adalah bahaya yang nyata. Islam menjauhkan hubungan di antara keduanya kecuali dengan pernikahan. Oleh karena itu, masyarakat Islam adalah masyarakat yang terpisah (infiradi), bukan masyarakat yang bercampur (musytarak).

Para penyeru ikhtilath berkata bahwa dalam pemisahan itu terdapat penghalangan bagi kedua jenis kelamin dari kenikmatan berkumpul dan manisnya kebersamaan yang didapatkan masing-masing ketika merasa tenang dengan yang lain, yang mana hal itu menciptakan perasaan yang diikuti oleh banyak adab sosial seperti kelembutan, pergaulan yang baik, tutur kata yang halus, keramahan budi pekerti, dan sebagainya. Mereka juga berkata bahwa pemisahan antara kedua jenis kelamin ini akan membuat masing-masing selalu merindu kepada yang lain, namun pertemuan di antara keduanya akan mengurangi pemikiran ke arah tersebut dan menjadikannya perkara biasa dalam jiwa (karena manusia sangat menginginkan apa yang dilarang bagi dirinya, dan apa yang sudah dimiliki tangan akan dianggap biasa oleh jiwa).

Demikianlah yang mereka katakan, dan banyak pemuda yang terfitnah oleh perkataan mereka, terlebih lagi karena itu adalah ide yang selaras dengan hawa nafsu jiwa dan mengikuti syahwatnya. Kami katakan kepada mereka: Meskipun kami tidak menerima apa yang kalian sebutkan pada perkara pertama, kami katakan kepada kalian bahwa dampak yang mengikuti "kenikmatan berkumpul" dan "manisnya kebersamaan" itu berupa hilangnya kehormatan, busuknya niat, rusaknya jiwa, hancurnya rumah tangga, kesengsaraan keluarga, malapetaka kriminalitas, serta apa yang ditimbulkan oleh percampuran ini berupa lembeknya akhlak dan lunaknya maskulinitas yang tidak berhenti pada batas "kelembutan" saja, melainkan melampaui itu hingga batas kebanci-bancian dan kerapuhan. Semua itu adalah fakta yang tidak akan didebat kecuali oleh orang yang keras kepala.

Semua dampak buruk yang diakibatkan oleh ikhtilath ini jumlahnya seribu kali lipat lebih besar daripada manfaat yang diharapkan darinya. Apabila maslahat dan mafsadah (kerusakan) bertentangan, maka menolak kerusakan harus didahulukan, terlebih lagi jika maslahat tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerusakan ini.

Adapun perkara kedua (bahwa ikhtilath mengurangi nafsu) adalah tidak benar. Justru percampuran itu menambah kekuatan kecenderungan syahwat. Dahulu dikatakan: "Makanan itu memperkuat nafsu makan orang yang rakus." Seorang laki-laki hidup bersama istrinya dalam waktu yang lama, namun ia mendapati kecenderungan kepada istrinya selalu terbarukan dalam jiwanya; maka bagaimana mungkin hubungannya dengan wanita lain dianggap bisa menghilangkan kecenderungannya? Wanita yang bercampur baur dengan laki-laki akan bersaing dalam menampakkan berbagai jenis perhiasannya, dan ia tidak akan puas kecuali jika berhasil membangkitkan kekaguman dalam jiwa laki-laki tersebut. Ini juga merupakan dampak ekonomi dari dampak terburuk yang ditimbulkan oleh ikhtilath, yaitu pemborosan dalam perhiasan dan bersolek (tabarruj) yang berujung pada kebangkrutan, kehancuran, dan kemiskinan.

Oleh karena itu, kami menyatakan secara terang-terangan bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat individu (terpisah), bukan masyarakat berpasangan (bercampur). Laki-laki memiliki komunitas mereka sendiri dan wanita memiliki komunitas mereka sendiri. Islam memang membolehkan wanita untuk menghadiri shalat Id, menghadiri jamaah, dan keluar untuk berperang ketika dalam keadaan darurat yang mendesak, namun Islam berhenti pada batasan ini dan mensyaratkan syarat-syarat yang sangat ketat: Menjauh dari segala bentuk perhiasan, menutup tubuh, pakaian yang longgar (tidak membentuk lekuk tubuh dan tidak transparan), tidak berkhalwat (berduaan) dengan bukan mahram dalam situasi apa pun, dan seterusnya.


Catatan Kaki:

([1]) Surat At-Tahrim ayat 6.

([2]) Menjahit pakaian.

([3]) Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas.


Sesungguhnya termasuk salah satu dosa besar yang paling besar dalam Islam adalah seorang laki-laki berdua-duaan (berkhalwat) dengan seorang wanita yang bukan mahram baginya. Islam telah menutup celah bagi kedua jenis kelamin dalam hal percampuran ini dengan aturan yang sangat kuat dan kokoh.

  • Menutup aurat dalam berpakaian adalah bagian dari adabnya.
  • Mengharamkan berdua-duaan (khalwat) dengan orang asing (bukan mahram) adalah salah satu hukumnya.
  • Menundukkan pandangan adalah salah satu kewajibannya.
  • Menetap di dalam rumah bagi wanita, bahkan dalam urusan shalat, adalah salah satu syiarnya.
  • Menjauh dari godaan melalui ucapan, isyarat, dan segala bentuk perhiasan, terutama saat keluar rumah, adalah salah satu batasannya.

Semua itu bertujuan agar laki-laki selamat dari fitnah (ujian/godaan) wanita—yang merupakan fitnah paling disukai oleh nafsunya—dan agar wanita selamat dari fitnah laki-laki—yang merupakan fitnah paling dekat ke hatinya. Ayat-ayat yang mulia dan hadis-hadis yang suci menyatakan hal tersebut.

Allah Tabaaraka wa Ta'ala berfirman dalam Surah An-Nur:

{Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."} ([1]).

Dan dalam Surah Al-Ahzab:

{Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.} ([2]).

Dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda, meriwayatkan dari Tuhannya Azza wa Jalla: "Pandangan adalah anak panah beracun dari anak-anak panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka Aku akan menggantikannya dengan iman yang ia dapati manisnya dalam hatinya." (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Hakim dari hadis Hudzaifah).

Dari Abi Umamah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Hendaklah kalian benar-benar menundukkan pandangan kalian dan menjaga kemaluan kalian, atau Allah benar-benar akan menghitamkan wajah-wajah kalian." (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani).

Dari Abi Said رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Tidak ada satu pagi pun kecuali ada dua malaikat yang berseru: 'Celakalah laki-laki karena wanita, dan celakalah wanita karena laki-laki'." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Dari Uqbah bin Amir رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda: "Waspadalah kalian dari masuk menemui para wanita." Maka seorang laki-laki dari Anshar bertanya: "Bagaimana pendapatmu tentang al-hamu (kerabat suami)?" Beliau bersabda: "Al-hamu ([3]) adalah kematian." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi). Yang dimaksud dengan masuknya kerabat suami menemui wanita adalah berdua-duaan (khalwat) dengannya, sebagaimana sabda Rasulullah : "Tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan."

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali bersama dengan mahramnya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Ma'qil bin Yasar رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Sungguh jika kepala salah seorang dari kalian ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi; perawi Ath-Thabrani adalah orang-orang kepercayaan/tsiqah sebagaimana perawi kitab Shahih, demikian kata Al-Hafizh Al-Mundziri).

Diriwayatkan dari Abi Umamah رضي الله عنه, dari Rasulullah , beliau bersabda: "Waspadalah kalian dari berdua-duaan dengan wanita. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang laki-laki berdua-duaan dengan seorang wanita kecuali setan masuk di antara keduanya. Dan sungguh jika seorang laki-laki berdesakan dengan seekor babi yang berlumuran lumpur atau tanah hitam, itu lebih baik baginya daripada pundaknya berdesakan dengan pundak wanita yang tidak halal baginya." (Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani).

Dari Abu Musa رضي الله عنه, dari Nabi , beliau bersabda: "Setiap mata itu berzina. Dan seorang wanita jika memakai wewangian lalu melewati sebuah majelis (perkumpulan), maka dia itu begini dan begitu," yakni: pezina. (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia berkata: Hasan Shahih. Diriwayatkan juga oleh An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka, dengan redaksi: Nabi bersabda: "Wanita mana saja yang memakai wewangian lalu melewati suatu kaum agar mereka mencium baunya, maka dia adalah pezina, dan setiap mata (yang memandang) adalah berzina," maksudnya setiap mata yang memandangnya dengan pandangan kagum dan menganggapnya baik).

Dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما, ia berkata: "Rasulullah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dan Ath-Thabrani). Darinya juga: Bahwa seorang wanita melewati Rasulullah dengan menyandang busur panah, maka beliau bersabda: "Allah melaknat wanita-wanita yang menyerupai laki-laki, dan laki-laki yang menyerupai wanita."

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki." (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, An-Nasa'i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam Shahih-nya, dan Al-Hakim, ia berkata: Shahih sesuai syarat Muslim).

Dari Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, bahwasanya ia berkata: "Allah melaknat wanita-wanita yang menato dan yang minta ditato ([4]), wanita-wanita yang mencabut bulu alisnya (al-mutanammishat) ([5]), dan wanita-wanita yang merenggangkan giginya (al-mutafallijat) ([6]) untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah." Maka seorang wanita memprotesnya tentang hal itu, lalu ia berkata: "Mengapa aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah , padahal hal itu ada dalam Kitabullah? Allah Ta'ala berfirman: {Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah}." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa'i).


Catatan Kaki:

([1]) QS. An-Nur ayat 30-31.

([2]) QS. Al-Ahzab ayat 59.

([3]) Semua kerabat dari pihak suami seperti saudara laki-laki (ipar) dan ayah.

([4]) Tato (al-washm): yaitu menusukkan jarum (pada kulit) kemudian menaburkan zat pewarna di atasnya. (Lihat Mukhtar Al-Shihah).

([5]) Al-mutanammishat: wanita-wanita yang mencabut bulu-bulu mereka (terutama alis) untuk kecantikan.

([6]) Al-mutafallijat: wanita-wanita yang mengikir/merenggangkan gigi mereka untuk memperindah penampilan.


Dari Aisyah رضي الله عنها, bahwasanya seorang gadis dari kalangan Anshar telah menikah, kemudian ia jatuh sakit sehingga rambutnya rontok (tamaththat [1]). Mereka (keluarganya) bermaksud menyambung rambutnya ([2]), lalu mereka bertanya kepada Nabi , maka beliau bersabda:

"Allah melaknat wanita yang menyambung rambutnya (al-washilah) dan wanita yang minta disambungkan rambutnya (al-mustaushilah)."

Dalam sebuah riwayat disebutkan: "Bahwasanya seorang wanita Anshar menikahkan putrinya, lalu rambut kepala putrinya itu rontok. Wanita itu mendatangi Nabi dan menceritakan hal itu kepada beliau, seraya berkata: 'Sesungguhnya suaminya memerintahkanku agar aku menyambung rambutnya.' Beliau menjawab: 'Tidak, sesungguhnya telah dilaknat para wanita yang menyambung rambutnya'." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Said Al-Khudri رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan perjalanan (safar) selama tiga hari atau lebih, kecuali bersamanya ayahnya, saudara laki-lakinya, suaminya, putranya, atau mahramnya." (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah). Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan: "Janganlah seorang wanita melakukan perjalanan selama dua hari, kecuali bersamanya seorang mahram atau suaminya."

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku lihat: Kaum yang membawa cambuk seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk memukul orang-orang, dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, yang berlenggak-lenggok dan condong (kepada maksiat), kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, padahal baunya dapat tercium dari jarak sekian dan sekian." (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban dalam Shahih mereka).

Tidak ada penjelasan lagi setelah penjelasan ini. Dari sini diketahui bahwa apa yang kita jalani saat ini sama sekali bukan bagian dari Islam. Percampuran (ikhtilath) di antara kita di sekolah-sekolah, institut, lembaga-lembaga, dan perkumpulan-perkumpulan umum; serta keluarnya (wanita) ke tempat hiburan, restoran, dan taman-taman; juga sikap seronok dan bersolek (tabarruj) yang telah sampai pada tingkat menanggalkan rasa malu serta kecabulan; semua ini adalah barang asing yang tidak memiliki hubungan sedikit pun dengan Islam. Sungguh hal ini telah memberikan dampak yang sangat buruk dalam kehidupan sosial kita.

Banyak orang berkata bahwa Islam tidak mengharamkan wanita menjalankan pekerjaan umum dan tidak ada teks (dalil) yang menunjukkan hal tersebut, (mereka berkata): "Datangkanlah kepadaku teks yang mengharamkan hal itu!" Orang-orang semacam ini sama seperti mereka yang berkata: "Sesungguhnya memukul kedua orang tua itu boleh, karena larangan dalam ayat hanyalah mengatakan 'Ah' (hus/uf), dan tidak ada teks tentang memukul."

Sesungguhnya Islam mengharamkan wanita membuka anggota tubuhnya, berdua-duaan (khalwat) dengan orang lain, dan bercampur baur dengan selain mahramnya; Islam juga menganjurkan baginya untuk shalat di rumahnya, menganggap pandangan mata sebagai salah satu anak panah iblis, serta mengingkari perbuatannya membawa busur karena menyerupai laki-laki. Maka, apakah setelah ini masih dikatakan bahwa Islam tidak menetapkan keharaman bagi wanita untuk menjalankan pekerjaan umum?

Sesungguhnya Islam memandang wanita memiliki tugas alami yang fundamental, yaitu rumah tangga dan anak. Sebagai seorang gadis, ia harus disiapkan untuk masa depan keluarganya. Sebagai seorang istri, ia harus tulus bagi rumah dan suaminya. Sebagai seorang ibu, ia harus ada untuk suaminya dan anak-anaknya, serta fokus pada rumah tangga ini. Dialah ibu rumah tangga, pengaturnya, dan ratunya. Kapan seorang wanita sempat menyelesaikan urusan rumah tangganya untuk mengurusi hal selain itu?

Jika memang ada kebutuhan mendesak (dharurah) secara sosial yang memaksa wanita untuk menjalankan pekerjaan lain selain tugas alaminya ini, maka ia wajib saat itu memperhatikan syarat-syarat yang telah diletakkan oleh Islam guna menjauhkan fitnah wanita terhadap laki-laki dan fitnah laki-laki terhadap wanita. Kewajiban bagi dirinya pula adalah menjadikan pekerjaannya ini sebatas kadar kebutuhannya saja, bukan menjadikannya sebagai sistem yang umum di mana setiap wanita berhak bekerja berdasarkan asas tersebut.

Pembicaraan dalam sisi ini lebih banyak daripada yang bisa dicakup, terlebih lagi di zaman (mekanik) ini, di mana masalah pengangguran dan tidak bekerjanya kaum laki-laki telah menjadi masalah paling rumit dalam masyarakat manusia di setiap bangsa dan negara.


Referensi untuk Belajar Mandiri dan Pendalaman:

  1. (Kosong dalam teks)
  2. (Kosong dalam teks)
  3. (Kosong dalam teks)

Aktivitas Praktis Terkait Konten:

  1. Meringkas tujuan keluarga muslim dalam sebuah brosur (folder) dan membagikannya kepada masyarakat umum.
  2. Mengundang pakar di bidang pendidikan dan psikologi untuk berbicara tentang dasar-dasar emosional ilmiah dalam membangun anak yang normal/lurus.
  3. Memilih cerita-cerita yang disajikan dengan gaya bahasa mudah tentang tokoh-tokoh ilmu pengetahuan dan militer yang luar biasa dalam sejarah Islam untuk dibacakan kepada anak.
  4. Membaca buku-buku ilmiah yang berbicara tentang cara mendidik anak muslim untuk diambil manfaatnya dalam mendidik anak-anaknya sendiri.
  5. Menyajikan rekaman video kepada anak-anaknya yang mengajarkan bahasa Arab dengan metode yang sederhana.
  6. Menghindari percampuran (ikhtilath) dengan wanita.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

  1. Tentukan tujuan-tujuan pendidikan bagi keluarga muslim.
  2. Apa dasar-dasar emosional yang seharusnya menjadi landasan pendidikan anak muslim?
  3. Sebutkan dasar-dasar ilmiah untuk membangun anak muslim secara keilmuan dan pemikiran.
  4. Sebutkan beberapa contoh yang menjelaskan model-model tokoh luar biasa dalam sejarah umat Islam saat mereka menuntut ilmu di waktu kecil.
  5. Apa dasar yang menjadi landasan berdirinya keluarga muslim?
  6. Berbicaralah tentang pentingnya peran wanita dalam keluarga dan masyarakat.
  7. Apa yang dimaksud dengan "tahdzib" (pendidikan/pembersihan) wanita? Dan mengapa wanita harus dididik?
  8. Mengapa Islam bersikeras membedakan (memisahkan) antara wanita dan laki-laki?

Catatan Kaki:

([1]) Tamaththat syaruha: Rambutnya jatuh/rontok.

([2]) Maksudnya menyambung rambutnya (rambut palsu/ekstensi).

 

No comments:

Post a Comment

Risalah (Terakhir) Qadhiyyatuna