Tafakkur Tentang Laut
NIKMAT LAUTAN DALAM PERSPEKTIF FIKIH
Oleh
Ustadz
Kholid Syamhudi Lc
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan seluruh yang ada diatas bumi ini untuk
digunakan manusia, sebagai bentuk anugerah dan karunia-Nya yang sangat besar
dan luas. Allâh Azza wa Jalla berfirman:
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ
اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ
عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي
اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ
Tidakkah
kamu perhatikan sesungguhnya Allâh telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa
yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir
dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allâh
tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.
[Luqmân/31:20].
Diantara
kenikmatan dan karunia Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang ada dibumi ini adalah
lautan, yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala sifatkan dalam firman-Nya :
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ
الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً
تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan
Dia-lah, Allâh yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu
perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan
supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.
[an-Nahl/16:14]
Lautan
memiliki urgensi dalam kehidupan manusia, dimana menjadi sarana berlayarnya
kapal-kapal yang membawa manfaat bagi mereka. Juga dalam lautan berisi kekayaan
yang tak ternilai berupa barang tambang, hewan-hewan laut dan bebatuan berharga
serta yang lainnya yang menjadi kebutuhan manusia.
Apalagi
dimasa kini semakin terasa urgensi lautan dengan banyaknya orang yang beralih
kelautan dalam menggali dan mengeksploitasi kekayaan yang terkandung
didalamnya. Demikian banyaknya keterikatan manusia dengan lautan dewasa ini
mendorong setiap Muslim untuk mengetahui hukum dan pandangan Islam terhadap
lautan.
Manfaat
Lautan Sebuah Anugerah Ilahi
Lautan
termasuk tanda kebesaran Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan keajaiban ciptaan-Nya.
Lautan berisi manfaat yang besar yang bermanfaat bagi makhluk sebagai bentuk
anugerah Allâh Subhanahu wa Ta’ala kepada mereka. Diantara manfaat lautan
adalah:
1. Allâh
tundukkan lautan yang bergelombang ombaknya dan mudahkan untuk para hamba-Nya
sehingga mereka mampu mengarunginya dan mengambil manfaat dari kandungannya
seperti menangkap ikannya. Juga mereka mampu memanfaatkan lautan untuk mencapai
daerah-daerah yang terpisahkan lautan.
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala jelaskan nikmat yang agung ini pada banyak ayat dalam
al-Qur`an, seperti dalam firman-Nya :
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ
الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا
Dan
Dia-lah, Allâh yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan), [an-Nahl/16:14]
Firman
Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا
حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ ﴿٤١﴾ وَخَلَقْنَا لَهُمْ
مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ
Dan
suatu tanda (kebesaran Allâh yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut
keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. Dan Kami ciptakan untuk
mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. [Yâsîn/36:41-42]
Juga
firman-Nya :
اللَّهُ الَّذِي
سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا
مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Allâh-lah
yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya
dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan
kamu bersyukur. [al-Jâtsiyah/45:12]
Diantara
bentuk kemudahan yang Allâh Subhanahu wa Ta’ala berikan disini adalah Allâh
Subhanahu wa Ta’ala menahan air laut dengan kekuasaan dan kehendaknya sehingga
tidak melebihi bumi dan menenggelamkannya.[1].
2. Allâh
Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemudahan bagi kapal-kapal untuk membelah ombak
lautan yang ganas dengan ujung depannya. Kapal-kapal tersebut berlayar menerpa
air dan mengambang diatasnya dengan beban berat yang dibawanya. Allâh Subhanahu
wa Ta’ala yang memberikan petunjuk kepada hamba-Nya untuk membuat kapal-kapal
dan membinbing mereka sebagai bentuk warisan dari nabi Nuh Alaihissallam,
karena beliaulah orang pertama yang membuat perahu dan kapal dan
menggunakannya.[2].
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan nikmat berlayarnya kapal-kapal membelah
ombak lautan dalam beberapa ayat, seperti dalam firman Allâh Subhanahu wa
Ta’ala :
وَخَلَقْنَا لَهُمْ
مِنْ مِثْلِهِ مَا يَرْكَبُونَ ﴿٤٢﴾ وَإِنْ نَشَأْ نُغْرِقْهُمْ فَلَا صَرِيخَ
لَهُمْ وَلَا هُمْ يُنْقَذُونَ
Dan
Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan
jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi
mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. [Yâsîn/36:42-43]
Juga
firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَسَخَّرَ لَكُمُ
الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ
Dan
Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan
dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.
[Ibrâhîm/14:32].
Serta
firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَتَرَى الْفُلْكَ
مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan
kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan)
dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. [an-Nahl/16:14].
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala mengungkapkan hal ini sebagai nikmat dari-Nya. Allâh
Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ
الْفُلْكَ تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِنِعْمَتِ اللَّهِ لِيُرِيَكُمْ مِنْ آيَاتِهِ
Tidakkah
kamu memperhatikan bahwa Sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat
Allâh, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebahagian dari tanda-tanda
(kekuasaan)-Nya. [Luqmân/31: 31]
3. Diperbolehkan
menangkap dan dan dihalalkannya hewan laut berupa ikan dan lainnya baik masih
hidup atau sudah jadi bangkai, baik dalam keadaan tidak berihram maupun sedang
berihram. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/480). Sebagaimana firman Allâh Subhanahu
wa Ta’ala :
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ
الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ
Dihalalkan
bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai
makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan. [al-Mâidah/5:96].
Diantara
anugerah Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap makhluk dengan lautan adalah Allâh
Subhanahu wa Ta’ala ciptakan dilautan daging segar dari ikan dan selainnya
untuk dimakan. Disifatkan dengan kata segar; karena daging tersebut cepat rusak
sehingga harus segera dimakan karena khawatir rusak.
Demikian
juga Allâh Subhanahu wa Ta’ala jelaskan nikmat ini dalam beberapa ayat,
diantranya :
وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ
الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا
Dan
Dia-lah, Allâh yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan) [an-Nahl/16:14]
4. Didapatkan
dan dikeluarkannya isi lautan berupa perhiasan dan telah disampaikan Allâh
Subhanahu wa Ta’ala tentang anugerah ini dalam beberapa ayat, diantaranya
firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
يَخْرُجُ مِنْهُمَا
اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ
Dari
keduanya keluar mutiara dan marjan [ar-Rahmân/55:22]
Firman
Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَمِنْ كُلٍّ
تَأْكُلُونَ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُونَ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا
Dan
dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat
mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya. [Fâthir/35:12].
Perhiasan
yang dimaksud dalam ayat ini mencakup mutiara, marjan dan semua yang
dipergunakan manusia untuk berhias dari kandungan lautan tersebut.
5. Sarana
mencari keutamaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala yaitu dengan mengarungi lautan
untuk berdagang mencari keuntungan dan seluruh tujuan manusia. Allâh Subhanahu
wa Ta’ala telah menghalalkannya dan memudahkan manusia dengan nikmat ini. Allâh
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَتَرَى الْفُلْكَ
مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Dan
kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan)
dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur. [an-Nahl/16 :14].
Maksudnya
adalah agar kalian mengarungi lautan untuk berniaga dalam rangka mencari
keuntungan dari karunia Allâh Subhanahu wa Ta’ala . Apabila kalian dapatkan
keutamaan Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan kebaikan-Nya, semoga kalian bisa
bersyukur kepada Allâh Azza wa Jalla .
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala mengulangi penjelasan nikmat ini dalam beberapa ayat dalam
al-Qur`an, seperti dalam surat al-Baqarah, Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman
:
وَالْفُلْكِ الَّتِي
تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ
Bahtera
yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia. [al-Baqarah/2:164].
Allâh
Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam Surat al-Jâtsiyah :
اللَّهُ الَّذِي
سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا
مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Allah-lah
yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya
dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan Mudah-mudahan
kamu bersyukur. [al-Jâtsiyah/45:12].
Juga
firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
رَبُّكُمُ الَّذِي
يُزْجِي لَكُمُ الْفُلْكَ فِي الْبَحْرِ لِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ
كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Rabb-mu
adalah yang melayarkan kapal-kapal di lautan untukmu, agar kamu mencari
sebahagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyayang terhadapmu.
[al-Isra`/17:66]
Serta
firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :
وَلِتَجْرِيَ الْفُلْكُ
بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Supaya
kapal dapat berlayar dengan perintah-Nya dan (juga) supaya kamu dapat mencari
karunia-Nya; mudah-mudahn kamu bersyukur. [ar-Rûm/30:49]
Demikianlah
anugerah Allâh Subhanahu wa Ta’ala terhadap hamba-hambaNya dengan lautan dan
isi kandungannya yang telah di jelaskan dalam al-Qur`an dan Sunnah Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga bermanfaat.
[Disalin
dari majalah As-Sunnah Edisi Khusus 10/Tahun XVII/1435H/2014M. Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57773 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
[1] Lihat Miftâh Dâr as-Sa’âdah 1/210
[2] Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr 4/481
Sumber:
https://almanhaj.or.id/4184-nikmat-lautan-dalam-perspektif-fikih.html
Fenomena
Ayat Ayat Kelautan
Menurut
Imam Thanthawi Jauhari dalam tafsirnya Al Jawahir fi Tafsir Al Quran, terdapat
banyak ayat di dalam Al Quran yang menyebut tentang fenomena alam, yaitu 750
Ayat, yang dikenal dengan ayat kauniyah, dibandingkan dengan ayat-ayat tentang
fikih dan syariah yang lebih sedikit. (Shihab, 1994). Kata ’Ilm atau
pengetahuan, muncul 854 kali dalam Al Quran. Al Quran juga menyebut tentang
laut di mana kata bahr atau lautan muncul 42 kali (Shihab, 1994). Ternyata Al
Quran selain sebagai kitab hukum Islam juga mencakup ayat ayat yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan.
Wilayah
lautan meliputi 72% dari permukaan bumi, dengan kedalaman air rata-rata sekitar
3.800 meter. Permukaan kecil bumi yang kering yaitu 28% permukaan bumi,
memiliki ketinggian rata-rata hanya sekitar 400 meter di atas permukaan laut.
Tidak heran jika bumi disebut sebagai planet biru. Pegunungan tertinggi di
bumi, Mount Everest, ketinggiannya hanya 8.848 meter, sementara parit terdalam,
Mariana Trench, kedalamannya adalah 10.860 meter. Bahkan jika kita
membandingkannya dengan gunung berapi tertinggi di bumi, Mauna Kea Volcano,
yang diukur 10.200 m dari kaki lerengnya, tetap saja lebih kecil dibandingkan
dengan kedalaman lautan. (Djamil, 2004;Engel, L., 1979; Talbot, F.H. & R.E.
Stevenson, 1991).
Dengan
menggunakan analisis paralelistik sebagai metode, kita dapat melihat korelasi
positif antar ayat di dalam Al Quran, yaitu hubungan antara kata ‘ayat’ yang
dipahami sebagai bagian dari Al Quran (QS. 16:101) dan kata ‘ayat’ sebagai
wahyu (QS. 20:134), dengan bukti fenomena alam atau kata ‘ayat’ yang dipahami
sebagai petunjuk, bukti (QS. 12:35), mukjizat, dan isyarat (QS. 13:7) melalui
penjelasan silang yang wajar di antara kedua bentuk ‘ayat’ di atas.
Analisis
paralelistik adalah berdasarkan korelasi positif pada kedua sisi ayat: ayat
kauniyah atau fenomena alam dan ayat qauliyah atau Al Quran. “Ayatun” atau
“ayah” adalah heteronim yang memilik sepuluh arti (Badawi, 2008), ia dapat
berarti: tanda, indikator, indikasi (QS. 12:105); petunjuk, bukti (QS. 12:35);
mukjizat, isyarat (13:7); simbol, contoh (QS. 23:50); pesan, wahyu (QS.
20:134); pengajaran, instruksi (QS. 24:1); ayat-ayat, bagian dari Al Quran (QS.
16:101); pelajaran (QS.3:13); kejayaan, takjub (QS. 17:1); ucapan, penafsiran
ayat-ayat (QS. 7:132).
Penjelasan
silang diterima karena alam semesta (termasuk lautan) dan Al Quran, keduanya
adalah ayatullah, tanda dari Allah. Al Quran adalah ayat qauliyah (lisan /
tulisan) sementara alam semesta adalah ayat kauniyah (rentang terbuka pada alam
semesta mulai dari mikro kosmos hingga makro kosmos).
Korelasi
positif dan negatif yang tadinya mungkin antara ayat-ayat Al Quran dengan
fenomena kelautan, akan terjadi paralelisme pada korelasi positif kekinian.
Fenomena samudera sebagai bagian dari ayat kauniyah dan ayat-ayat terkait laut
sebagai bagian dari ayat qauliyah akan dianalisis (lihat Analisis Paralelistik)
untuk memahami korelasi positif antara keduanya. Kebaikan metode paralelistik
ini adalah kita dapat menjelaskan secara bolak balik antara fenomena alam
dengan wahyu untuk memasuki penafsiran tematik, tafsir maudhu’i. Kekurangan
dari metode paralelistik ini adalah ulama akan banyak terperang-kap dalam
korelasi apologetic dan justifikasi terhadap apa yang sains modern temukan.
WAHYU
KOMPREHENSIF TENTANG LAUT
Terdapat
banyak korelasi atau penjelasan silang antara ayat-ayat di dalam Al Quran
dengan fenomena alam dalam kelautan.
Api
di dalam Laut: Al Quran menyebutkan dalam QS. Ath-Thur 52:6 “Dan laut yang
terjaga isinya (atau berupa api)”. Atau terjemahan lainnya yang mengatakan “Dan
laut yang mengandung api di dalamnya”. Jika tanpa membaca tanda lain dari Allah
SWT pada kenyataan lautan, maka ayat ini akan cukup membingungkan. Ayat ini
mengindikasikan bahwa ada sumber panas di dalam lautan. Ini adalah alasan
cemerlang untuk mendapatkan sumber energi pada kedalaman laut, dinamika
kelautan, kondisi fisika/ biologi/kimia laut. Ilmu pengetahuan telah mampu
menyelidiki samudera dalam hingga ke dasar, untuk mengumpulkan data dan
melaporkan bahwa di sana terdapat api, panas yang luar biasa, energi tinggi dan
potensi energi di dalam samudera.
Lapisan
Laut dan Kegelapan Laut: Al Quran juga mengungkapkan, jauh sebelum manusia
dapat masuk ke kedalaman air dengan kapal selam, bahwa laut dalam adalah
benar-benar gelap. Kegelapan sempurna dengan lapisan gelombang, lapis demi
lapis. QS. An Nuur 24:40 mengungkapkan: “Atau seperti gelap gulita di lautan
yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), dilapisi
gelap gulita yang tindih bertindih; apabila dia mengeluarkan tangannya,
tidaklah dia dapat melihatnya! Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya
(petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun”. Samudera
memiliki karakteristik lapisan fisik seperti tekanan, kadar garam, suhu,
kepadat n, intensitas cahaya, komposisi kimia, dan distribusi biologi. Volume
besar air laut tidak pernah homogeny dalam hal karakteristik fisik, kimia dan
biologi.
Pembuatan
Kapal Pertama berdasarkan Wahyu: Memang, kapal mungkin satu-satunya
teknologi transportasi yang langsung datang melalui wahyu Ilahi, sebagaimana
disebutkan dalam QS. Hud 11:37 “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan
petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang
orang-orang yang zalim itu; sesungguhnya mereka akan ditenggelamkan.” Begitu
bergunanya bahwa pembuatan kapal pertama diungkap dan diawasi langsung oleh
Allah sendiri.
Jasa
Transportasi Apung: Transportasi apung adalah sungguh berkah bagi manusia.
QS. Luqman 31:31 mengatakan: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya
kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya
kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya? Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi
banyak bersyukur.” Di ayat lain pada QS. An Nahl 16:14, Allah menyebut: “Dan
kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan)dari
karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. Betapa nyamannya kita dapat mengapung
dan mengangkut hasil produksi yang sangat besar dalam sekali jalan. Sesuatu
yang harusnya kita malu jika tidak bersyukur.
Pembatas
antara Dua Samudera: QS. Ar Rahman 19 – 22 mengatakan: “Dia membiarkan dua
lautan yang keduanya kemudian bertemu. Antara keduanya ada batas yang tidak
dilampaui masing-masing Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?”
Terdapat juga ayat-ayat lain pada QS. An Naml 27:61 dan Fathir 35:12 yang juga
menyebutkan tentang batas dua samudera. Garis pembatas antara dua samudera juga
diindikasikan dalam Al Quran sebagai tempat yang kamu dapat memanfaatkan
karunia, lu’lu wal marjan (mutiara dan marjan). Hal itu memberikan kita banyak
berkah dan kekayaan. Adanya batas menciptakan beberapa fenomena, seperti
geografi kepulauan strategis di perbatasan antara Samudera Pasifik dengan
Samudera Hindia, geo-ekonomi, batas saat ini, biologi, variasi suhu dan tekanan,
variasi kadar garam, berkurangnya intensitas cahaya dengan kedalaman air,
variasi kecepatan suara dalam lapisan air; dan akhirnya, pada level Ionic:
jumlah ion bermuatan negatif yang berpengaruh pada perbedaan resistivitas
antara lapisan.
Metafora
Akurat: Gelap gulita total di kedalaman samudera adalah sebagai metafora
untuk kondisi seseorang yang tanpa bimbingan dari Allah SWT dalam QS. An Nuur
24:40. Kondisi fisik kegelapan abadi di kedalaman samudera dan tekanan yang
sangat tinggi adalah malapetaka total. Metafora laut dalam, jauh lebih kuat dan
lebih relevan dibandingkan hanya gurun atau kegelapan gua. Metafora istimewa
ini tidak dapat dihubungkan dengan bahasa berbudaya tinggi yang digunakan dalam
Al Quran dengan bahasa Arab biasa yang digunakan oleh orang Arab (termasuk Nabi
Muhammad) yang hidupnya di pedalaman (Ben-nabi, 2009, pp 296). Jelas ini sebuah
metafora akurat dari wahyu agung tentang kondisi samudera dalam.
Oleh
karenanya, kami ingin menyarankan untuk:
•
Meninjau ulang semua skrip ilmiah Islam untuk menemukan kembali, membuat atau
mengusulkan penafsiran baru ayat-ayat samudera.
•
Membangun kerangka pengetahuan yang lebih kuat dengan pemahaman komprehensif
tentang ayat-ayat, tidak terbatas hanya pada aspek bahasa tetapi juga pada
disiplin ilmu kelautan.
•
Merekomendasikan untuk melengkapinya dengan studi lebih lanjut dan kelompok
riset untuk studi lebih jauh berbasis Al Quran atas sumber daya kelautan dengan
fokus pada: Ketahanan Pangan, Ketahanan Energi, Sains dan Teknologi, Jasa
Pengiriman dan Perlindungan Lingkungan. Di antara tujuan praktis lainnya, harus
mencari solusi untuk ketahanan pangan dan energi untuk dunia demi kelangsungan
dan pengembangan kemajuan di negeri-negeri dengan populasi Muslim.
Penulis:
Dr. Agus S. Jamil
Sumber:
Comments
Post a Comment