Pendahuluan
Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
Masalah
beramal (bekerja) untuk Islam merupakan masalah yang sangat penting, bahkan
merupakan masalah yang menentukan (nasib) dan layak mendapatkan seluruh
perhatian. Memilih jalan amal adalah perkara mendasar dalam masalah ini, dan
keraguan apa pun di dalamnya atau penyimpangan darinya akan mengakibatkan
konsekuensi yang sangat berbahaya.
Oleh
karena itu, kebutuhan akan rasa tenang, verifikasi (kepastian), dan kepercayaan
terhadap keselamatan menempuh jalan ini adalah perkara aksiomatik (jelas dengan
sendirinya) yang niscaya. Begitu pula kejelasan visi, pengenalan terhadap
tanda-tanda jalan, tahapan-tahapannya, hambatan-hambatannya, serta
kelokan-kelokannya, merupakan hal-hal mendasar demi menjamin keberlanjutan
perjalanan tanpa ada penyimpangan atau berhenti di tengah jalan.
Sebagai
hasil dari pengalaman, interaksi, dan keterpaparan terhadap berbagai pertanyaan
atau keragu-raguan, serta karena sebagian musuh dan orang-orang yang memiliki
tendensi tertentu sengaja mengembuskan keraguan dengan tujuan melemahkan
semangat dan menciptakan kebingungan; maka demi itu semua, dan agar para
penempuh jalan ini mengetahui tanda-tanda jalan mereka, serta demi membungkam
orang-orang yang ragu, kami memaparkan sebagian dari pertanyaan-pertanyaan di
sepanjang jalan ini beserta jawabannya berdasarkan apa yang Allah bukakan (beri
petunjuk). Semoga Allah menjadikan di balik semua ini manfaat dan kebaikan.
Allah-lah tujuan segala maksud, dan hanya dari Allah-lah taufik (keberhasilan)
itu berasal.
Mengapa
Ada Pertanyaan-Pertanyaan Ini.....!!??
- Dakwah ini.... memiliki
kepercayaan kepada Allah... tujuan yang jelas... jalan yang benar.
- Setan adalah musuh yang
pertama, dan di antara senjata-senjatanya:
- Meragukan....... dan
melemahkan semangat......
- Memalingkan tekad....
melemahkan kemauan.... dalam jubah nasihat !!
- Korban pertamanya adalah
mereka yang membenarkan begitu saja tanpa meneliti (tabayun)... !!
Jalan
Dakwah... Jalan Terbaik
Kepercayaan
kepada Allah... Tujuan yang jelas... Jalan yang benar
Sepatutnya
bagi siapa saja yang menempuh suatu jalan menuju sasaran atau tujuan yang ia
dambakan, untuk merasa yakin, tenang, dan memastikan bahwa dirinya berada di
atas jalan yang benar yang dapat menyampaikannya kepada tujuannya tersebut. Ia
tidak boleh membiarkan dirinya berada dalam keraguan atau kebimbangan atas
keselamatan perjalanannya, sebab jika tidak, ia akan terancam tersesat dan
binasa. Sejauh mana ia meminta petunjuk dari orang-orang yang memiliki
pengalaman dan pengetahuan tentang jalan tersebut beserta tanda-tandanya,
sejauh itu pula ia akan selamat dari penyimpangan darinya, dan ketenangannya
akan semakin bertambah setiap kali ia menemukan tanda-tanda yang telah mereka
sebutkan kepadanya—bahkan meskipun sebagian tanda itu terasa sunyi mencekam
atau menakutkan, ia tidak akan merasa takut melainkan justru merasa tenang,
selama tanda tersebut memang bagian dari karakteristik jalan tersebut.
Dikarenakan
jalan dakwah adalah jalan terbaik untuk tujuan yang paling mulia, serta
menempuh dan berkomitmen pada jalurnya merupakan masalah yang menentukan bagi
seorang saudara Muslim (Al-Akh al-Muslim) dan bukan masalah cabang (remeh),
maka wajib baginya untuk memiliki ketenangan yang utuh serta kepercayaan yang
penuh lagi abadi terhadap keselamatan arah tujuannya. Ia harus yakin bahwa ia
berada di atas jalan yang benar untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya dan
tuntutan-tuntutan Islam terhadap dirinya, serta agar ia dapat melesat dalam
amal, pergerakan, jihad, dan produktivitasnya di medan dakwah dengan
mengerahkan seluruh energinya tanpa ada keraguan ataupun kemalasan, dan tanpa
terpengaruh oleh upaya peraguan maupun pelemahan semangat.
Kebutuhan
orang yang menempuh jalan dakwah akan rasa tenang dan kepastian ini semakin
meningkat ketika ia mengetahui bahwa setan senantiasa mengintainya di tengah
jalan, mencoba memalingkannya tanpa pernah berputus asa. Setan telah mewajibkan
dirinya sendiri dengan tugas ini: (Setan) berkata, "Karena Engkau telah
menghukum saya tersesat, pasti saya akan selalu menghalangi mereka dari
jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari
belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan
mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (QS. Al-A'raf: 16-17). Dan
Allah telah memperingatkan kita dari hal tersebut serta menyeru kita untuk
berkomitmen pada jalan-Nya yang lurus, berfirman: “Dan bahwa (yang Kami
perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah
agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An'am: 153).
Penyimpangan
dari jalan yang lurus tidak selalu berupa kelalaian (hiburan) atau kefasikan,
melainkan bisa saja datang dari arah Islam itu sendiri melalui penyimpangan
pemikiran (fikrah) atau pergerakan (harakah) yang dihiasi oleh setan agar
terlihat indah baginya, sehingga dengan cara itu setan memalingkannya dari
jalan yang benar.
Oleh
karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita—sementara kita berada di atas
jalan dakwah—untuk saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati
dalam kesabaran. Hendaknya sebagian dari kita menggandeng tangan sebagian yang
lain, dan orang-orang yang telah mendahului di jalan ini membimbing
saudara-saudara mereka yang baru menyusul, serta memperingatkan mereka tentang
hambatan-hambatan dan kelokan-kelokan agar mereka dapat melewati hambatan
tersebut dan berhati-hati terhadap kelokan yang ada. Ini termasuk kewajiban
persaudaraan (ukhuwah) yang paling wajib, terutama jika kita mengetahui bahwa
orang yang menyimpang sering kali tidak menyadari bahwa dirinya telah
menyimpang, karena Iblis telah mengelabui dirinya bahwa ia berada di atas jalan
yang benar, sedangkan orang lainlah yang menyimpang.
Di
samping bimbingan dan peringatan ini, harus ada pembekalan dengan bekal iman
dan takwa, karena cahaya iman dapat memberikan kefahaman tentang jalan dan
melindungi dari kesesatan darinya: “Dan apakah orang yang sudah mati
kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An'am: 122). “Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka
ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat
(kesalahan-kesalahannya). Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik)
membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya
(menyesatkan).” (QS. Al-A'raf: 201-202).
Meragukan
dan Melemahkan Semangat..... Termasuk Senjata Setan:
Dalam
hal ini, setan meminta bantuan kepada para penolongnya untuk melancarkan
senjata peraguan, pelemahan semangat, perapuhan tekad, dan pemalingan
cita-cita, yang semuanya dibungkus dalam jubah nasihat, bimbingan, rasa iba,
dan cinta kebaikan. Ini adalah senjata yang sangat berbahaya di dalam jubah
sutra yang harus sangat diwaspadai. Terkadang, tindakan ini dilakukan oleh
orang-orang yang tidak diragukan lagi agamanya, namun terjadi akibat kebodohan,
keterbatasan dalam pemahaman, atau adanya perasaan lemah dan takut.
Sebagai
langkah preventif dari metode ini dan guna melindungi barisan serta individu
dari dampaknya, kami akan memaparkan beberapa pertanyaan atau keraguan
tersebut, lalu menjawabnya dengan jawaban yang menjelaskan sisi kebenaran.
Tujuannya agar para penempuh jalan ini semakin bertambah ketenangan dan
kepercayaannya terhadap jalan mereka, serta memudahkan mereka untuk menjawab
setiap orang yang meminta kejelasan dan ingin mengetahui kebenaran. Adapun
orang-orang yang hanya menginginkan debat kusir dan bantahan, maka kita tidak
ada urusan dengan mereka.
Di
antara pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:
- Apakah wajib bagi setiap
Muslim untuk menempuh jalan dakwah yang sedang kalian tempuh ini?
- Apakah bekerja untuk
menegakkan Negara Islam merupakan kewajiban bagi setiap Muslim?
- Apakah amal (bekerja)
untuk tujuan tersebut harus dilakukan melalui sebuah jamaah (kelompok)?
- Mengapa tidak dilakukan
secara individu saja? Dan bagaimana kita memilih jamaah yang tepat?
- Apakah jamaah Ikhwanul
Muslimin menempuh jalan yang benar? Ataukah ia telah menyimpang dari jalur
yang telah digariskan oleh Imam Hasan al-Banna?
- Mengapa negara Islam belum
tegak di tangan jamaah Ikhwanul Muslimin padahal telah berlalu lebih dari
setengah abad?
- Apakah Ikhwan akan terus
menerima pukulan dan meneguk (merasakan) ujian demi ujian tanpa ada
jawaban atau perlawanan?
- Apakah ujian-ujian ini
merupakan akibat dari kesalahan pihak pimpinan yang sebenarnya mungkinkah
untuk dihindari?
- Apa saja sumber-sumber
dana yang dibelanjakan dalam bidang dakwah dan pergerakan di lingkungan
Ikhwan?
- Di manakah posisi syura
(musyawarah) di lingkungan Ikhwan?
- Bagaimana sikap Ikhwan
terhadap jamaah-jamaah Islam lainnya?
- Apakah Ikhwan berlindung
di balik agama demi tujuan-tujuan duniawi?
- Apakah Ikhwan merupakan
agen untuk pemerintah tertentu atau pihak tertentu, dan di mana buktinya?
- Serta pertanyaan-pertanyaan
lainnya.
Pembicaraan
Ini.......... Untuk Siapa?
Mungkin
ada baiknya kami jelaskan bahwa pembicaraan dan dialog kita ini ditujukan
kepada seorang Muslim yang telah merasakan makna keterikatannya (afiliasinya)
kepada Islam—agama yang agung ini—dan ia berpikir, bahkan ingin menunaikan
kewajiban-kewajibannya terhadap agama tersebut demi menggapai rida Tuhannya.
Adapun Muslim yang lalai dan sibuk dengan urusan dunianya, maka baginya ada
ranah lain dan pembicaraan yang lain lagi.
Sesungguhnya
kepercayaan kami terhadap jalan dakwah yang kami tempuh ini sangatlah besar,
walhamdulillah. Hari demi hari serta berbagai peristiwa justru semakin menambah
ketenangan kami akan keaslian dan keselamatannya. Jalan ini adalah Islam yang
dibawa oleh Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak ada yang
lain selain itu. Kami sangat berkomitmen untuk berpegang teguh kepadanya dan
tidak menyimpang darinya. Kami menerima setiap nasihat yang jujur yang dapat
membantu kami dalam ketepatan komitmen dan keselamatan perjalanan. Kami merasa
bahwa ini adalah jalan setiap Muslim dan kondisi setiap Muslim yang dengan
jujur ingin menunaikan kewajiban Islamnya.
Kami
tidak akan merasa khawatir terhadap jamaah ataupun barisan ini dari keraguan
orang yang ragu atau pelemahan dari orang yang melemahkan semangat, melainkan
kami mencoba untuk mengambil manfaat dari hal tersebut, sebagaimana tubuh
mengambil manfaat dari vaksin pelindung (serum).
Sesungguhnya
merupakan hak bagi generasi muda yang sedang menerima amanah amal dan tanggung
jawab ini untuk mewarisi keahlian dan pengalaman dari kami. Dan barangkali
metode tanya jawab ini merupakan salah satu sarana terbaik untuk mewujudkan hal
tersebut.
Masalah
Pertama
Jalan
Dakwah Kita, Apakah Wajib Diikuti oleh Setiap Muslim?
- Jalan dakwah kita, apakah
wajib diikuti oleh setiap Muslim? Dan apakah kewajiban tersebut merupakan
fardu ain (kewajiban individu) ataukah atas dasar pilihan (opsional)?
- Apakah bekerja untuk
menegakkan negara Islam merupakan kewajiban bagi setiap Muslim...?!
Pertanyaan
yang menempati posisi paling utama untuk dijawab adalah pertanyaan yang
membahas tentang asal mula masalah ini, yaitu: Apakah wajib bagi setiap Muslim
untuk menempuh jalan dakwah yang sedang kalian tempuh ini? Dan selanjutnya,
apakah tujuan-tujuan di sepanjang jalan ini—seperti menegakkan negara Islam dan
memberikan kejayaan (tamkin) bagi agama ini—merupakan kewajiban yang niscaya
bagi setiap Muslim laki-laki dan Muslimah perempuan? Ataukah itu merupakan
fardu kifayah (kewajiban kolektif) atau bersifat pilihan bagi siapa saja yang
menghendakinya?
Telah
banyak ditulis jawaban mengenai pertanyaan ini, dan yang paling utama di zaman
modern kita ini adalah risalah-risalah dari Imam Syahid Hasan al-Banna, yang
telah menggariskan jalan ini untuk kita dengan menyitirnya dari Kitabullah
(Al-Qur'an) dan dari sirah Rasul kita tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau kemudian menyeru kita kepada jalan tersebut, lalu kita pun menyambutnya
dan berjalan bersamanya dalam kurun waktu tertentu. Beliau telah mendahului
kita sebagai seorang syahid di jalan dakwah ini, dan kita memohon kepada Allah
agar meneguhkan kita di atas jalan ini sampai kita menemui-Nya dalam keadaan
tidak mengganti, tidak mengubah, tidak memicu fitnah, dan tidak pula terfitnah.
Dalam
menjawab pertanyaan ini, saya akan berusaha menyarikan dan memfokuskannya
sedapat mungkin, tanpa mengeklaim telah mencakup seluruh pembahasannya. Dan
hanya kepada Allah-lah taufik itu berasal.
Islam....
Agama Jamaah... Agama Akhirat dan Dunia Sekaligus:
Sesungguhnya
Islam kita yang agung ini bukanlah agama individu yang bercorak kerahiban
(menjauh dari dunia), melainkan sebuah agama yang memadukan antara dunia dan
akhirat. Agama dari satu jamaah, satu umat, satu tanah air, dan satu tubuh;
yang jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh
lainnya akan ikut berjaga (tidak tidur) dan merasakan demam. Sebuah agama yang
menuntut setiap Muslim untuk memedulikan urusan kaum Muslimin di belahan bumi
mana pun, serta memperhatikan agresi-agresi yang menimpa mereka dan rasa sakit
yang mereka derita: “Barangsiapa yang tidak memedulikan urusan kaum
Muslimin, maka ia bukan golongan mereka.” Sesungguhnya ada tanggung jawab
umum yang dibebankan oleh Islam kepada setiap Muslim laki-laki dan Muslimah
perempuan, yang kelak akan ditanyakan pada hari kiamat.
Sesungguhnya
nyawa kaum Muslimin yang melayang hingga ribuan, kehormatan para wanita yang
dinodai, anak-anak kaum Muslimin yang tumbuh besar di atas selain Islam,
penonaktifan syariat Islam lalu menggantinya dengan hukum-hukum buatan manusia,
perusakan akidah, penyerangan terhadap tempat-tempat suci kaum Muslimin, invasi
dekadensi moral, serta penyulutan permusuhan dan perang di antara sesama
Muslim—atas semua hal ini dan selainnya, akankah Islam seorang Muslim dapat
diterima jika ia tidak terenyuh dan tidak bergerak menghadapi tragedi-tragedi
ini? Terlebih jika kita mengetahui bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki
semua itu dan mengubah kenyataan yang pahit ini kecuali dengan menegakkan
Negara Islam yang memberikan kejayaan bagi agama Allah, menegakkan syariat
Allah, serta melindungi nyawa, kehormatan, harta kaum Muslimin, dan anak-anak
mereka....
Pemerintahan
dalam Islam... Termasuk Akidah dan Pokok Agama.... Bukan Termasuk Masalah Fikih
dan Cabang:
Maka
Islam menjadikan pemerintahan sebagai salah satu rukun dari rukun-rukunnya.
Kekuasaan/pemerintahan di dalam kitab-kitab fikih kita dihitung sebagai bagian
dari akidah dan pokok agama (ushul), bukan termasuk masalah fikih dan cabang
(furu'). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah menjadikannya
sebagai salah satu simpul dari simpul-simpul Islam, bahkan barangsiapa yang
mengingkari perkara ini maka ia telah kafir dengan kekafiran yang
mengeluarkannya dari agama.
Dan
jika kita mengetahui bahwa tanggung jawab untuk menegakkan negara Islam adalah
tanggung jawab setiap Muslim laki-laki dan perempuan, dan bukan hanya tanggung
jawab para penguasa dan ulama saja tanpa yang lainnya; sebab wajib bagi setiap
Muslim dan Muslimah untuk memiliki peran dalam menunaikan kewajiban Islam ini,
yang diwajibkan oleh tabiat tahapan yang kita lalui saat ini dalam usia dakwah
Islamiyah pasca runtuhnya negara dan kekhalifahan....
Orang-orang
yang membatasi aktivitas mereka hanya pada ilmu, ibadah, zikir, dan amal
kebajikan saja tanpa bekerja untuk menunaikan kewajiban (menegakkan negara
Islam) ini adalah orang-orang yang berdosa lagi lalai. Ilmu dan ibadah tidak
akan ada gunanya jika kaum Muslimin terus berada dalam kondisi seperti
ini—menjadi santapan empuk bagi musuh-musuh Allah yang menghalalkan segala hal
yang disucikan oleh kaum Muslimin. Bahkan musuh-musuh itu kelak akan
menghalangi antara orang-orang yang ahli ibadah, ahli ilmu, dan ahli zikir
tersebut dari ibadah, ilmu, dan zikir mereka, serta akan membesarkan anak-anak
mereka di atas selain Islam, sementara mereka tidak memiliki kuasa apa pun
untuk menolong anak-anak tersebut.
Karena
kewajiban mendasar dan penting ini—yaitu menegakkan negara Islam—tidak dapat
terwujud secara individu, melainkan harus melalui kerja kolektif (amal jama'i)
yang terorganisasi dan terencana.... maka kita mengetahui bahwa bergabung
dengan jamaah dan melakukan kerja kolektif adalah hal yang wajib diwujudkan
oleh setiap Muslim dan Muslimah.... Dan kerja individu yang mencerai-berai lagi
tidak terorganisasi tidaklah mencukupi untuk menggantikan hal tersebut, karena "suatu
kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu
tersebut hukumnya menjadi wajib." (Kaidah Ushul Fikih: $Ma\ la\
yatimmul\ wajib\ illa\ bihi\ fahuwa\ wajib$).
Syahid
Hasan al-Banna Menggariskan Jalan:
Inilah
perkara yang dipahami oleh Imam Syahid Hasan al-Banna setelah melakukan studi
yang mendalam terhadap realitas kaum Muslimin dan studi mendalam terhadap sirah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau kemudian menggariskan
jalan bagi kita untuk kerja kolektif yang terorganisasi ini, yaitu jalan
dakwah. Jalan ini merupakan jalan yang sama dengan yang telah ditempuh oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya ridhwanullahi
'alaihim ketika mereka mendirikan Negara Islam yang pertama. Kita berjalan
di atasnya dan menyeru untuk menempuhnya, serta kepercayaan kita terhadap jalan
ini semakin bertambah seiring berjalannya hari dan terjadinya berbagai
peristiwa.
Demikianlah,
dan dengan ringkasan yang sangat padat ini, kita melihat bahwa sudah menjadi
keharusan (wajib) bagi setiap Muslim laki-laki dan Muslimah perempuan pada
periode usia dakwah saat ini untuk bekerja demi menegakkan negara Islam, dan
menempuh jalan dakwah yang sedang kami tempuh demi mewujudkan kewajiban ini.
Masalah
Kedua
Sifat-Sifat
Jamaah
- Apa saja sifat-sifat
jamaah yang wajib diikuti?
- Apakah sifat-sifat ini
terpenuhi dalam jamaah Ikhwan?
- Apakah jamaah
Ikhwanmenempuh jalan yang benar?
Sifat-Sifat
Jamaah:
Adapun
mengenai sifat-sifat yang wajib terpenuhi dalam suatu jamaah, yang mana seorang
Muslim yang ingin menunaikan kewajiban ini bekerja di dalamnya, serta mengenai
sejauh mana terpenuhinya sifat-sifat tersebut dalam jamaah Ikhwanul Muslimin.
Dan
apakah Ikhwan pada hari ini telah menyimpang dari jalur yang telah digariskan
oleh Imam al-Banna ataukah tidak? Maka kami katakan:
Selama
tujuan kita adalah agar Islam berdaulat, kalimat Allah meninggi, kejayaan
(tamkin) terwujud bagi agama Allah, syariat-Nya ditegakkan, serta negara Islam
dan kekhalifahannya berdiri, maka mutlak diperlukan adanya kerja kolektif (amal
jama'i) yang terorganisasi atau jamaah yang bekerja untuk mewujudkan semua itu:
Pertama:
Mengembalikan
manusia secara umum, dan para aktivis Islam secara khusus, kepada pemahaman
yang benar, komprehensif (syamil), lagi murni tentang Islam sebagaimana yang
dibawa oleh Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, jauh dari pemotongan
(parsial), penyimpangan, kesalahan, sikap berlebih-lebihan (ghuluw), maupun
sikap meremehkan (tafrith). Kaum Muslimin dapat bersatu di atas pemahaman
tersebut tanpa ada sikap fanatik terhadap suatu pendapat atau mazhab, dan dalam
bentuk yang mewujudkan kerja sama di antara kaum Muslimin dalam hal-hal pokok
(ushul) yang telah disepakati, serta saling toleran (memberi uzur) dalam
hal-hal cabang (furu') yang diperselisihkan.
Sebab,
tidaklah ada yang mencerai-beraikan kaum Muslimin dan menjadikan mereka
berkelompok-kelompok, bergolongan, serta berpartai-partai—dan hal itu masih
berlangsung hingga kini—kecuali perbedaan dalam pemahaman mereka tentang Islam
dan menjauhkannya dari pemahaman yang benar, yang dahulu dihidupkan oleh kaum
Muslimin generasi pertama bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Selain itu, karena salah satu tujuan utama yang ingin diwujudkan adalah
menegakkan Negara Islam yang bersifat global, dan yang paling puncaknya adalah
Kekhalifahan Islam, maka kita harus mendirikan negara yang dicitakan ini di
atas pemahaman yang benar, komprehensif, lagi murni tentang Islam, agar negara
tersebut layak menunaikan risalahnya dengan cara yang selamat lagi benar.
Karena setiap cacat dalam pemahaman akan melahirkan cacat pula dalam penerapan.
Demikianlah kita melihat pentingnya syarat ini dalam kerja kolektif yang
terorganisasi atau dalam jamaah yang di bawah naungannya seorang Muslim
menempuh jalan dakwah demi mewujudkan tuntutan-tuntutan Islam terhadap dirinya.
Kedua:
Wajib
bagi jamaah yang bekerja untuk mewujudkan tuntutan-tuntutan dan
kewajiban-kewajiban Islam, agar di dalam manhajnya (kurikulum/program kerja)
mencantumkan penegakan negara Islam, kekhalifahan, dan perwujudan kejayaan
(tamkin) bagi agama ini di muka bumi.
Jamaah
mana pun yang membatasi dirinya hanya pada sebagian aspek Islam saja, atau
bahkan pada seluruh tuntutan Islam namun menghindari tujuan ini—yaitu:
menegakkan negara Islam dan kekhalifahan Islam—maka jamaah seperti ini tidak
layak untuk diikuti dalam bekerja sama, karena kelalaian dalam menunaikan
kewajiban akan tetap ada, dan dosa kelalaian tersebut juga akan tetap ada.
Ketiga:
Tidak
cukup bagi jamaah tersebut sekadar memiliki pemahaman yang benar tentang Islam
dan mencantumkan penegakan negara Islam di dalam manhajnya saja, tetapi jamaah
tersebut juga harus menempuh jalan yang benar dalam rangka mewujudkan kewajiban
ini. Tidak ada jalan yang lebih benar daripada jalan yang telah ditempuh oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam
menegakkan Negara Islam yang pertama, yaitu: kekuatan akidah, kekuatan
persatuan, kemudian kekuatan fisik (kemampuan) dan senjata ketika hal lain
sudah tidak lagi berguna.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam telah menanamkan akidah di dalam jiwa-jiwa
orang beriman generasi pertama, dan mencetak tipe-tipe manusia pemilik akidah
yang beliau didik di atas hidangan Al-Qur'an dan di dalam madrasah (sekolah)
beliau 'alaihi ash-shalatu wa as-salam.
Kemudian
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum
Muhajirin dan kaum Anshar, serta mengambil janji setia (ba'at) dari mereka
untuk membela agama, lalu mengambil sebab-sebab untuk kekuatan fisik dan
senjata, karena kebenaran itu mutlak membutuhkan kekuatan yang melindunginya....
Suatu
jamaah yang tidak memasukkan jihad di jalan Allah ke dalam kalkulasinya
(perhitungannya), maka ia tidak layak. Dan harus ada urutan bagi ketiga
kekuatan ini; sebab, andai kekuatan senjata digunakan sebelum terwujudnya
kekuatan persatuan, maka ketika terjadi perselisihan apa pun, bisa saja
sebagian dari mereka akan membunuh sebagian yang lain.
Dan
tanpa adanya kekuatan akidah, maka amal tersebut menjadi amal yang tidak
memiliki fondasi dari akidah yang selamat. Oleh karena itu, kelompok manusia
yang memiliki akidah lagi saling mencintai inilah yang menjadi fondasi dan
pilar-pilar tegaknya bangunan Negara Islam yang pertama. Sebab, suatu bangunan
itu biasanya tegak dan dimulai dari fondasi (bawah), bukan dari atas.
Keempat:
Kewajiban
bagi jamaah seperti ini adalah bekerja di seluruh arena Islam (dunia Islam)
secara keseluruhan sejauh kemampuan yang ada untuk itu, dan tidak hanya
terbatas di satu wilayah (negara) saja.
Sebab,
Islam dan amal untuknya mencakup seluruh dunia Islam. Lagipula, negara Islam
global yang dicitakan itu mutlak membutuhkan basis yang luas yang membentang di
atas panggung dunia Islam. Jamaah ini juga wajib membangun komunikasi dan kerja
sama dengan pihak-pihak Islam sejenis guna menyatukan berbagai potensi yang
bekerja di medan dakwah Islam, menyinergikannya, serta menghalangi terjadinya
perpecahan dan pertentangan di antara mereka.
Kelima:
Jika
ada dua jamaah yang setara dalam keempat sifat ini misalnya, lalu salah satu
dari keduanya memiliki keahlian, pengalaman, dan rekam jejak (aset sejarah)
dalam medan amal Islami, sedangkan yang lain masih baru dan masih berada di
awal jalan; maka yang lebih utama adalah bekerja bersama jamaah yang pertama
demi menghemat waktu, tenaga, dan nyawa, daripada harus masuk ke dalam
eksperimen-eksperimen baru. Selain itu, hal ini demi menyatukan kalimat kaum
Muslimin dan memperkuat barisan para mujahid, daripada mengibarkan bendera yang
berbilang yang membuat para aktivis terpecah belah di sekitarnya, demi mematuhi
firman Allah Ta'ala: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali 'Imran: 103). Tidak
boleh meninggalkan jamaah yang memiliki pengalaman dan telah terpenuhi padanya
keempat sifat sebelumnya tersebut, kecuali jika kita mendapati bahwa jamaah
tersebut secara kolektif (keseluruhan) telah menyimpang dan berada di atas
kefasikan atau kesesatan yang nyata. Adapun beberapa kekhilafan minor atau
kesalahan individu yang tidak luput dari jamaah mana pun—karena kita adalah
manusia—maka hal itu tidak menghalalkan sikap menjauh dari jamaah seperti ini
dan tidak bekerja bersamanya, melainkan kita bekerja bersama-sama dan sebagian
dari kita saling meluruskan sebagian yang lain.
Inilah
sebagian dari sifat-sifat dasar yang wajib terpenuhi dalam suatu jamaah yang
layak untuk diajak bekerja sama dan menempuh perjalanan di atas jalan dakwah di
bawah naungannya. Jika kita mencari dan meneliti dengan saksama, niscaya kita
akan mendapati bahwa sifat-sifat ini telah terpenuhi—walhamdulillah—dalam
jamaah Ikhwanul Muslimin.
Jamaah
Ikhwanul Muslimin.... Telah Memiliki Sifat-Sifat Ini:
- Imam Syahid (Hasan al-Banna)
sangat rindu untuk mengembalikan pemahaman tentang Islam kepada kondisi di
masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para salafush
shalih (generasi terdahulu yang saleh). Beliau menjadikan pemahaman
sebagai rukun pertama dari rukun-rukun baiat, serta meletakkan 20 prinsip
(Ushul 'Isyrin) sebagai kerangka yang melindungi pemahaman yang benar ini
dari kesalahan, penyimpangan, pemotongan (parsial), bidah, dan khurafat.
Pemahaman ini pun karakternya dapat menyatukan kaum Muslimin dan
menjauhkan mereka dari wilayah perselisihan masa lalu yang telah
mencabik-cabik mereka serta mencerai-beraikan mereka menjadi kelompok,
golongan, dan partai.
- Beliau juga menjadikan
penegakan negara Islam dan pengembalian Kekhalifahan Islam sebagai salah
satu tujuan terpenting jamaah. Kita dapat menemukan hal tersebut pada
rukun amal dari rukun-rukun baiat dalam Risalah Ta'alim, ketika
beliau menggariskan tahapan-tahapan amal untuk mewujudkan tujuan yang
agung ini, dimulai dari: individu Muslim (fardul muslim), rumah tangga
Muslim (baitul muslim), masyarakat Muslim (mujtama'ul muslim), lalu
pemerintahan Islam (hukumah islamiyah). Hal ini terjadi pada tingkat
bangsa-bangsa Muslim, yang kemudian pemerintahan-pemerintahan Islam
tersebut bersatu hingga menjadi Negara Islam yang dipuncaki oleh
Kekhalifahan, insya Allah.
- Kemudian beliau mengikuti
jejak jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
mewujudkan tujuan ini, dimulai dengan kekuatan akidah, kemudian kekuatan
persatuan, lalu kekuatan fisik dan senjata ketika hal lain sudah tidak
lagi berguna, serta mengambil sebab-sebab untuk mewujudkan ketiga kekuatan
ini.
- Lalu kita dapati beliau sejak
hari pertama telah menyerukan universalitas (keuniversalan) dakwah ini dan
bergerak dengannya sedemikian rupa sehingga tidak dibatasi oleh waktu
maupun tempat. Maka di masa hidup beliau, dakwah ini telah melintasi
batas-batas Mesir menuju ke banyak negara Arab. Dan lihatlah hari ini,
dakwah ini telah memenuhi panggung dunia Islam dengan karunia Allah.
Musuh-musuh Allah pun mengkhususkan dakwah ini dengan banyak peperangan
dan pukulan mereka, karena mereka mengetahui keasliannya dan sejauh mana
bahayanya bagi kebatilan mereka. Peperangan dan tipu daya ini justru ikut
andil dalam penyebarannya dan membuat para pemuda menyambutnya, serta
darah para syuhadanya menjadi bekal dan bahan bakar bagi generasi-generasi
di berbagai penjuru dunia.
- Atas karunia Allah, jamaah
ini telah memperoleh keahlian dan pengalaman di medan amal Islami dalam
berbagai bidang, seperti penyebaran dakwah, tarbiyah (pendidikan), takwin
(pembentukan karakter), i'dad (persiapan), jihad, pengorbanan, keteguhan,
dan ketulusan (tajrud), hingga berhasil meraih—walhamdulillah—kepercayaan
dari mayoritas jamaah-jamaah Islam yang ada di panggung dunia Islam.
- Sejak hari pertama, Imam
Syahid selalu berhasrat untuk membangun hubungan dan jembatan di antara
jamaah Ikhwanul Muslimin dengan para aktivis yang ikhlas di medan dakwah
di panggung dunia Islam. Beliau menjaga hubungan yang baik bahkan dengan
orang-orang yang berprasangka buruk terhadap jamaah, membalas keburukan
dengan kebaikan, serta tidak mencela institusi maupun personal.
Jamaah
Ikhwan secara Keseluruhan Menempuh Jalan yang Benar:
Dan
kami tidak menganggap bahwa jamaah Ikhwanul Muslimin secara keseluruhan
(kolektif) telah menyimpang lalu berada di atas kefasikan atau kesesatan yang
dapat menghalangi seseorang untuk bekerja bersama mereka, serta menghalangi
untuk ikut andil dalam kehormatan yang agung ini dan berpartisipasi dalam
mewujudkan tujuan-tujuan besar ini—yang mana jamaah telah mengabdikan dirinya
untuk mewujudkannya tanpa ada rasa lemah, lesu, ataupun menyerah, bagaimanapun
pengorbanan dan waktu yang harus ditebus untuk itu.
Masalah
Ketiga
Ikhwan
....... dan Jalur Imam Syahid
- Apakah Ikhwanul Muslimin
dan para pimpinan mereka hari ini telah menyimpang dari jalur yang telah
ditempuh oleh (Imam) Syahid Hasan al-Banna rahimahullah?
- Dan mengapa negara Islam
belum juga tegak di tangan Ikhwan?!
Ikhwan
....... dan Jalur Imam Syahid:
Sebuah
pertanyaan sering kali diembuskan: Apakah Ikhwanul Muslimin hari ini dan
pimpinan mereka telah menyimpang dari jalur yang dahulu dilalui oleh Imam
Syahid Hasan al-Banna ataukah tidak? Dan terkadang hal ini dikatakan sebagai
bentuk vonis (pernyataan sepihak) atau tuduhan, bukan lagi sebuah pertanyaan.
Sesungguhnya
Imam al-Banna rahimahullah telah menghimpun Ikhwan di atas pemahaman
yang benar lagi selamat tentang Islam, serta menggariskan jalur pergerakannya
dengan menyitir hal tersebut dari sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam. Beliau pun telah menetapkan sasaran serta tujuan akhir, sekaligus
meletakkan rencana-rencana utama, target-target tahapan (sasaran antara), dan
sarana-sarana yang memungkinkan lagi disyariatkan demi mewujudkan tujuan dan
tahapan-tahapan ini.
Pemahaman
.... Salah Satu dari Dua Puluh Prinsip (Ushul 'Isyrin):
Maka
kita dapati, bersama dengan pemahaman tersebut, beliau meletakkan Dua Puluh
Prinsip (Ushul 'Isyrin) sebagai kerangka untuk memahami Islam
berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi
wa sallam. Beliau menjadikan pemahaman ini sebagai rukun pertama dari
sepuluh rukun baiat—yang pada hakikatnya merupakan baiat (perjanjian setia)
kepada Allah—hal ini demi menjamin terjaganya pemahaman tersebut tanpa ada
penggantian maupun pengubahan. Kita telah dan sedang diuji di dalam berbagai
ujian berat (mihnah) pada rukun pemahaman ini; di antara kelompok yang
mencari-cari keringanan (mutarakhishin) dan kelompok yang
berlebih-lebihan (mugalin). Di antara mereka yang menginginkan kita
melepaskan aspek-aspek Islam yang memicu kemarahan para penguasa serta musuh
sehingga membuat kita terkena ujian berat, dan di antara kelompok yang
berlebih-lebihan yang menyelisihi Prinsip Kedua Puluh sehingga mereka
mengafirkan orang-orang Muslim lainnya secara massal dan serampangan. Maka
bentuk kesetiaan terhadap baiat adalah dengan kita tidak menuruti kedua belah
pihak tersebut, sehingga kita dapat mewariskan pemahaman yang benar ini tanpa
ada penggantian maupun pengubahan.
Imam
dan Perbedaan Masalah Cabang (Furu'iyah):
Imam
Hasan al-Banna rahimahullah telah mengingatkan bahwa di sana terdapat
masalah-masalah cabang yang di dalamnya ada perbedaan pandangan fikih
(khilafiyah). Beliau mendorong kita untuk tidak berselisih di seputarnya dan
berwasiat agar kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati, serta
saling toleran (memberi uzur) satu sama lain dalam hal-hal yang kita
perselisihkan. Terhadap urusan-urusan cabang yang memiliki lebih dari satu
pendapat—di mana setiap pendapat memiliki dalilnya masing-masing—Imam al-Banna
tidak mengharuskan seluruh anggota Ikhwan untuk memegang satu pendapat saja,
hal ini agar jamaah Ikhwan tidak berubah menjadi sebuah sekte (aliran) atau
mazhab tertentu. Dan bisa saja terjadi dari sebagian individu jamaah menulis
atau mengatakan suatu perkataan yang mungkin menyelisihi pada bagian parsial (جزئية) tertentu dari apa
yang ada di dalam Ushul 'Isyrin, namun hal itu tidak berarti jamaah
Ikhwan secara keseluruhan telah menyimpang dari pemahaman yang telah dimulai
oleh Hasan al-Banna.
Sasaran
dan Tujuan Akhir:
Adapun
mengenai sasaran dan tujuan akhir yang telah ditetapkan oleh Imam Syahid,
beliau mengatakan: “Tugas kita adalah memimpin dunia dan membimbing seluruh
umat manusia menuju sistem-sistem Islam yang maslahat serta ajaran-ajarannya,
yang mana manusia tidak akan bisa bahagia tanpa ajaran tersebut.” Di tempat
lain beliau mengatakan: “Ingatlah selalu bahwa kalian memiliki dua tujuan
mendasar:
- Membebaskan tanah air
Islami dari setiap kekuasaan asing, dan hal itu merupakan hak alami bagi
setiap manusia yang tidak akan diingkari kecuali oleh orang yang zalim
lagi culas, atau diktator yang menindas.
- Menegakkan sebuah negara
Islam yang merdeka di dalam tanah air yang bebas ini, yang bekerja dengan
hukum-hukum Islam, menerapkan sistem sosialnya, mengumumkan
prinsip-prinsipnya yang lurus, dan menyampaikan dakwahnya yang bijaksana
kepada umat manusia.
Dan
selama negara ini belum tegak, maka kaum Muslimin seluruhnya berdosa lagi
bertanggung jawab di hadapan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar atas
kelalaian mereka dalam menegakkannya dan sikap diam mereka dari mewujudkannya.”
Maka
Apakah Ikhwan Telah Mengubah...
Maka
apakah Ikhwan dan pimpinan mereka hari ini telah mengubah sasaran dan tujuan
akhir mereka? Atau apakah mereka telah menyimpang kepada tujuan-tujuan yang
lain? Apakah mereka menguranginya atau melepaskannya? Apakah mereka mengincar
kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri untuk tujuan duniawi layaknya
partai-partai politik? Ataukah mereka tetap teguh dan menegaskan tujuan
penegakan Negara Islam universal yang dipuncaki oleh Kekhalifahan Islam? Dan
sesungguhnya ketika mereka bertujuan kepada hal tersebut, pada hakikatnya
mereka hanyalah mencari rida Allah; sebab Allah-lah tujuan akhir (Allah
Ghaayatunaa), dan mereka menanggung segala gangguan di jalan tersebut.
Pergerakan
..... Tahapan ..... dan Sarana:
Dalam
ranah pergerakan (gerak langkah) bersama dakwah, target-target tahapan, serta
sarana-sarana, Imam Syahid menyebutkan bahwa sarana-sarana yang bersifat umum
adalah:
- Iman yang mendalam (Al-Imanul
'Amiq).
- Pembentukan karakter yang
teliti (At-Takwinud Daqiq).
- Amal yang berkesinambungan (Al-'Amalul
Mutawashil).
Beliau
juga menyebutkan bahwa di sana terdapat tahapan Pengenalan (At-Ta'rif),
Pembentukan (At-Takwin), dan Pelaksanaan (At-Tanfidz).
Di
dalam rukun amal dari rukun-rukun baiat, beliau menyebutkan tingkatan-tingkatan
amal dan tahapannya secara berjenjang dimulai dari membentuk individu Muslim (fardul
muslim) dan beliau menyebutkan baginya spesifikasi tertentu, kemudian rumah
tangga Muslim (baitul muslim), masyarakat Muslim (mujtama'ul muslim),
membebaskan tanah air Islami dari setiap kekuasaan asing, membentuk
pemerintahan Islam (hukumah islamiyah), kemudian mengembalikan
eksistensi internasional bagi umat Islam sehingga mengarah pada pengembalian
Kekhalifahan Islam, lalu kepemimpinan dunia (ustadziyatul 'alam) dengan
menyebarkan dakwah Islam di seluruh penjuru bumi. Beliau menjadikan hal
tersebut sebagai bagian dari rukun-rukun baiat untuk melindunginya dari
penggantian dan pengubahan. Beliau juga menyebutkan berbagai sarana untuk
mewujudkan target-target tahapan ini dan menjadikan jihad sebagai jalan yang
mutlak harus ditempuh; sebab jihad adalah kewajiban yang terus berlaku dan
merupakan puncak tertinggi dari urusan agama ini, dan beliau menegaskan tentang
jihad ini baik secara perkataan maupun perbuatan.
Apakah
Ikhwan dan Pimpinan Mereka Masih Berada di Atas Jalan Ini .... dengan Amanah
.... dan Kesetiaan? :
Maka
apakah Ikhwan dan pimpinan mereka menempuh jalan selain jalan ini? Atau apakah
mereka memotong tahapan-tahapannya? Atau apakah mereka melalaikan sebagian
darinya? Atau apakah mereka mangkir dari jihad, atau yang selain itu? Lihatlah,
manhaj-manhaj (kurikulum) serta program-program kerja mereka senantiasa
menegaskan jalur ini dengan seluruh tujuan, tahapan, dan sarana-sarananya.
Mereka berkomitmen pada jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
yang telah kami isyaratkan sebelumnya, dimulai dari kekuatan akidah, kemudian
kekuatan persatuan, lalu kekuatan fisik dan senjata ketika hal lain sudah tidak
lagi berguna.
Jika
komitmen terhadap pemahaman, pergerakan, tujuan, tahapan, serta sarana telah
terwujud, maka dalam hal apa lagi letak penyimpangan dari jalur Imam al-Banna?
Namun
tampaknya—wallahu a'lam (dan Allah lebih mengetahui)—di sana ada
orang-orang yang ingin mengembuskan keraguan pada jamaah secara keseluruhan
karena adanya suatu tendensi tersembunyi di dalam jiwa mereka, tetapi mereka
merasa malu untuk mengembuskan keraguan langsung pada jalur Hasan al-Banna agar
niat asli mereka tidak terbongkar. Maka mereka mengatakan bahwa Ikhwan hari ini
telah menyimpang dari jalur Hasan al-Banna.
Anehnya,
di sisi lain kita juga mendengar ada pihak yang menuduh Ikhwan mengalami
stagnasi (kejumudan) dan tidak berkembang, serta menuduh bahwa Ikhwan ingin
mengharuskan siapa saja yang bekerja bersama mereka untuk terikat dengan
pemikiran dan konsep Hasan al-Banna yang telah berlalu lebih dari empat puluh
tahun yang lalu. Ini juga merupakan tuduhan yang batil (salah). Sebab, kita
berkomitmen pada prinsip-prinsip pokok (ushul) dan garis-garis besar
yang bersumber dari asal agama Islam serta apa yang telah dilalui oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun berijtihad dalam
sarana-sarana cabang (wasa'il furu'iyah) demi mewujudkan cita-cita serta
tujuan-tujuan utama ini, maka tidak ada halangan darinya. Bahkan kita wajib
mengembangkan sarana-sarana kita dalam batas-batas Islam dengan memanfaatkan
setiap hal yang modern dan baru.
Dalam
ranah pergerakan sebagaimana dalam ranah pemahaman, terkadang memang bisa saja
muncul dari sebagian anggota Ikhwan perkataan atau perilaku yang di dalamnya
terdapat sedikit pelanggaran dari jalur yang pertama—seperti mendominasi aspek
politik di atas aspek tarbiyah (pendidikan) dan takwin (pembentukan karakter)
atau yang selain itu—namun hal tersebut tidak berarti bahwa jamaah secara
keseluruhan telah menyimpang dari jalur yang pertama.
Masalah
Keempat
Mengapa
Negara Islam Belum Juga Tegak di Tangan Ikhwan?
- Apakah hal itu berarti
bahwa jalan mereka tidak dapat mengantarkan pada perwujudan tujuan akhir
ini?
- Tidak......
Benar,
mengapa Ikhwan belum mendirikan negara Islam yang mereka dambakan padahal telah
berlalu waktu lebih dari setengah abad? Dan apakah hal itu berarti bahwa jalan
mereka tidak dapat mengantarkan pada perwujudan tujuan akhir ini?
Negara
Global.... Bukan Negara Kecil (Duwailah):
Untuk
menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat dengan pandangan yang mendalam
serta membentang luas secara waktu dan tempat... Sesungguhnya yang didambakan
oleh Ikhwan bukanlah sekadar sebuah negara kecil (duwailah) Islam di satu
wilayah (regional) Islam saja, melainkan mereka mendambakan sebuah negara Islam
global (universal) yang menaungi panggung dunia Islam, menunaikan risalah Islam
yang mendunia, serta mampu menghadapi dan bertahan di hadapan kekuatan
musuh-musuh global di Timur maupun di Barat, yang mana mereka memiliki
sarana-sarana komunikasi, transportasi, penyadapan, serta persenjataan modern
paling mutakhir yang berhasil dicapai oleh sains.
Semua
hal ini memberikan dimensi lain pada persoalan ini dalam hal karakteristik
pergolakan antara pembela kebenaran (ahlul haq) dan pembela kebatilan (ahlul
bathil) yang wajib dimasukkan ke dalam kalkulasi.
Kami
Tidak Sedang Merenovasi... Melainkan Membangun dari Baru:
Kemudian,
sesungguhnya kami tidak sedang merenovasi sebuah bangunan yang sudah ada,
melainkan kami sedang mendirikan sebuah bangunan yang baru setelah kami
menyingkirkan puing-puing dari bangunan yang telah hancur lebur. Negara Islam,
sebagaimana bangunan megah lainnya, mutlak harus memiliki fondasi yang luas,
dalam, lagi kokoh. Hal ini membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar,
mengingat fondasi adalah tahapan paling penting sekaligus paling berat dalam
sebuah pembangunan. Karakteristik fondasi pada bangunan mana pun adalah berada
di bawah permukaan tanah, sehingga tidak dapat dilihat atau diapresiasi oleh
orang yang berpandangan dangkal (permukaan) tanpa pendalaman, lalu ia menyangka
bahwa belum ada sesuatu pun yang selesai, serta mengira bahwa waktu dan tenaga
yang telah berlalu terbuang sia-sia.
Perubahan
Total (Akar) Adalah Kerja Ikhwan:
Begitu
pula bagi orang yang hari ini melihat pada kurun waktu masa lalu yang terbatas,
ia tidak akan bisa mengapresiasi hakikat perubahan total (akar) yang telah
dihasilkan oleh dakwah Ikhwanul Muslimin di panggung dunia Islam. Padahal,
perbandingan mutlak harus dilakukan antara kondisi kaum Muslimin dan tanah air
Islam pada saat bermulanya pendirian jamaah Ikhwan dengan kondisi mereka pada
hari ini, agar dampak yang besar tersebut menjadi jelas dan tampaklah hakikat
peletakan fondasi yang di atasnya bangunan ini akan tegak dengan izin Allah.
Secara
ringkas sekali, saya jelaskan dampak dan perubahan tersebut dalam empat
fenomena mendasar:
- Sebagian besar wilayah Islam
dahulunya dijajah secara militer oleh musuh-musuh Allah, di mana mereka
menjauhkan syariat Allah dari pemerintahan, menghalalkan hal-hal yang
disucikan oleh kaum Muslimin, serta menginvasi kaum Muslimin dalam hal
akidah, bahasa, moral mereka... dan seterusnya.
- Mayoritas mutlak kaum
Muslimin dahulu bodoh (tidak mengerti) akan hakikat agama mereka, hidup
dalam kulit luar yang dangkal tanpa menyentuh substansi (inti), serta
tidak menyadari komprehensifnya Islam dan cakupannya terhadap seluruh
aspek kehidupan dunia sebagaimana ia mencakup urusan akhirat.
- Ruh jihad di jalan Allah
dahulu bisa dikatakan telah punah, dan tidak ada seorang pun dari kaum
Muslimin yang terenyuh atau bergerak karena apa yang menimpa
saudara-saudara Muslimnya di wilayah lain.
- Komitmen beragama
(religiusitas) dahulu tidak tersebar di kalangan pemuda, dan hampir-hampir
hanya terbatas pada orang-orang lanjut usia (tua), itu pun merupakan
religiusitas yang pasif.
Inilah
kondisi yang dialami oleh kaum Muslimin dan dunia Islam sesaat sebelum
berdirinya jamaah Ikhwan.
- Adapun hari ini, dengan
karunia Allah pertama-tama, kemudian berkat pengaruh dakwah Ikhwan, kita
melihat bahwa dakwah ini telah mendorong banyak bangsa Muslim untuk
membebaskan diri dari penjajahan militer, serta menuntut penerapan syariat
Allah yang sempat dijauhkan dari pemerintahan. Dan tuntutan tersebut masih
terus berlangsung dengan penuh keteguhan di hadapan para penguasa
negeri-negeri Islam saat ini.
- Kita juga melihat pemahaman
yang komprehensif tentang Islam—bahwa Islam adalah agama sekaligus negara
(dinun wa daulah)—telah menjadi hal yang lumrah (dominan), dan keyakinan
akan kelayakan Islam dalam memperbaiki kehidupan umat manusia telah
menjadi perkara yang diakui oleh banyak orang, walhamdulillah.
- Kita melihat hari ini ruh
jihad dan kecintaan untuk mati syahid di jalan Allah mengalir di dalam
diri para pemuda dalam jumlah yang terus meningkat, sebagaimana kita juga
melihat adanya rasa keterpautan dan respons terhadap isu-isu dunia Islam
serta apa yang dialami oleh kaum Muslimin di mana pun berada.
- Kita melihat fenomena
religiusitas di tengah-tengah pemuda dan pemudi, yang dipresentasikan
dalam kebangkitan Islam (shahwah islamiyah) yang nyata pada tingkat
bangsa-bangsa Muslim. Yang mana jika kita mengamati dengan saksama tentang
siapa di balik kebangkitan ini dan tentang awal mula kemunculannya di
wilayah Islam mana pun, niscaya kita dapati bahwa dakwah Ikhwan,
sarana-sarana Ikhwan, ujian berat (mihnah) yang dialami Ikhwan, serta para
syuhada yang telah mereka persembahkan; semua itu menjadi bekal dan bahan
bakar bagi generasi muda yang sedang tumbuh... Dan kita dapat merasakan
bahwa religiusitas para pemuda hari ini bersifat aktif, hidup, kuat, lagi
berpengaruh yang ingin melakukan perubahan, dan bukan religiusitas yang
pasif seperti masa lalu. Di sinilah bukti bahwa kehidupan mulai berdenyut
kembali di dalam tubuh dunia Islam.
Demikianlah
karakteristik fondasi. Maka perubahan ini, tipe-tipe manusia pemilik akidah
seperti ini, rumah tangga Muslim yang didirikan di atas ketakwaan, serta opini
publik Islam; semua itu merepresentasikan basis yang solid dan fondasi yang
kokoh agar pemerintahan Islam dan Negara Islam dapat tegak di atasnya, insya
Allah. Sejauh mana kita berkontribusi demi menyempurnakan ketiga elemen ini,
sejauh itu pula kondisi-kondisi akan terkondisikan bagi tegaknya pemerintahan
Islam, insya Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan. Dan sejauh mana
adanya kelalaian, sejauh itu pula akan terjadi penundaan.
Dan
Di Sana Ada Sudut Pandang Lain:
Bahwa
waktu di sini tidak diukur dengan umur individu manusia, melainkan diukur
dengan umur dakwah-dakwah dan umat-umat. Jika kita menengok ke masa lalu,
niscaya kita dapati bahwa kurva Negara Islam telah mengalami penurunan secara
bertahap sejak beberapa abad yang lalu hingga runtuhnya negara kemudian
kekhalifahan. Lalu kita dapati, dengan karunia Allah kemudian berkat pengaruh
dakwah Ikhwanul Muslimin, kurva tersebut mengubah arah penurunannya dan mulai
bergerak naik kembali, meskipun secara perlahan. Keempat fenomena terdahulu
merupakan bukti atas transformasi dan kenaikan ini. Dan agar kenaikan ini
mencapai puncaknya hingga tegaknya negara Islam global, insya Allah, sekiranya
hal itu menghabiskan waktu satu abad lamanya sejak dimulainya transformasi tersebut,
maka hal itu tidaklah lama dalam hitungan umur dakwah-dakwah dan umat-umat.
Terlebih karena kita tidak ingin bangunan kita tegak lalu runtuh kembali,
melainkan tegak untuk berdiri kokoh dengan izin Allah. Dan sudah maklum bahwa
sikap terburu-buru atau ketidaksempurnaan dalam fondasi dapat berisiko
meruntuhkan bangunan saat menghadapi guncangan atau tekanan apa pun, dan inilah
yang tidak kita inginkan.
Di
sana ada makna lain, yaitu bahwa kita bertanggung jawab atas amal (bekerja) dan
mengambil sebab-sebab (berikhtiar) sejauh kemampuan yang ada untuk itu, dan
kita tidak bertanggung jawab atas hasil akhir. Sesungguhnya kami jauh lebih
merindukan datangnya pertolongan Allah dan kejayaan dari-Nya daripada para
pemuda yang penuh semangat itu, akan tetapi segala urusan berjalan berdasarkan
takaran-takaran (ketetapan) dan sunatullah yang mutlak harus dilalui.
Perkara
yang paling penting dalam masalah ini adalah bahwa kita berjalan di atas jalan
yang benar dan mengerahkan segenap kemampuan tanpa ada penggantian maupun
pengubahan.
Ketahuilah,
maka hendaklah orang-orang yang mencari kejelasan dengan jujur serta para
aktivis Ikhwan merasa tenang dan bahagia, dan hendaklah orang-orang yang ragu
menahan diri, bertakwa kepada Allah, serta berkatalah dengan perkataan yang
benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal mereka dan mengampuni dosa-dosa
mereka: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia
menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 71).
Apakah
Mungkin bagi Jamaah Ikhwan untuk Menegakkan Negara Islam Sementara Musuh-Musuh
Allah Senantiasa Mengintai Mereka?
- Apakah mungkin bagi
jamaah Ikhwan untuk menegakkan negara Islam sementara musuh-musuh Allah
senantiasa mengintai mereka?
- Mengapa mereka tidak
menggunakan metode partai-partai politik saja agar barangkali bisa sampai
lebih cepat?
Apakah
mungkin bagi Ikhwan untuk mendirikan bangunan negara Islam sementara
musuh-musuh Allah senantiasa mengintai mereka, memukul mereka, dan
menghancurkan apa yang mereka bangun secara berkesinambungan? Maka apakah
mereka perlu berkompromi (mengalah) sedikit saja dari metode tarbiyah
(pendidikan) lalu beralih menggunakan metode partai-partai politik, karena
barangkali hal itu dapat mempercepat mereka mencapai kekuasaan dan menegakkan
negara Islam?
Kembalilah
kepada Prinsip-Prinsip Pokok (Ushul)... Karena di Sanalah Ada Solusi:
Kembalilah
kepada prinsip-prinsip pokok... karena ia adalah kunci solusi.
Mungkin
ada baiknya untuk menjawab pertanyaan ini dengan cara kembali kepada sirah yang
harum, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para
sahabatnya dihadapkan pada ujian-ujian berat, pukulan-pukulan, dan gangguan
dari musuh-musuh Allah. Saat itu, secara lahiriah tampak bahwa volume
kesyirikan dan kekafiran sangat besar, kekuatan musuh-musuh Allah sangat agung,
sedangkan volume orang-orang beriman sangat kecil dan kekuatan mereka sangat
sederhana. Akan tetapi, meskipun gangguan dan ujian berat tersebut terus
berlanjut, negara Islam tetap tegak, Jazirah Arab bersih dari kesyirikan dan
berhala-berhala, Persia berhasil ditaklukkan, Yahudi diusir, cahaya merata, dan
kegelapan pun sirna. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sejak hari
pertama telah fokus pada agenda mempersiapkan orang-orang beriman dan mendidik
(tarbiyah) mereka, dan beliau terus melakukan hal itu meskipun di tengah
ujian-ujian berat, bahkan beliau sangat menjaga hal itu hingga pasca terjadinya
kemenangan dan kejayaan (tamkin).
Perkara
ini pada hakikatnya memiliki ukuran-ukuran dan timbangan-timbangan lain di luar
ukuran dan timbangan manusia yang bersifat materi. Ini adalah tentang Al-Haq
(kebenaran) dan Al-Bathil (kebatilan). Ini adalah tentang dukungan Allah dan
pertolongan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di hadapan tipu daya setan
beserta para penolongnya dari kalangan musuh-musuh Allah. Sesungguhnya
persoalan ini bukan antara musuh-musuh Allah dengan personal para dai yang
menyeru kepada Allah, melainkan antara mereka dengan Allah dan dakwah Allah: “Dan
Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.”
(QS. Yusuf: 21). Sesungguhnya para dai yang menyeru kepada Allah yang aktif di
medan dakwah telah menjual diri mereka kepada Allah, mereka tidak lagi memiliki
bagian dalam urusan dunia manusia, dan tidak pula memiliki ambisi duniawi yang
mereka perebutkan dengan musuh-musuh Allah. Dan kamu akan mendapati sunatullah
yang tidak akan pernah berubah antara pembela kebenaran dan pembela kebatilan
bahwa pergolakan itu pasti terjadi, dan hasil akhir pada kesudahannya akan
berpihak pada pembela kebenaran bagaimanapun kebatilan itu tampak membusungkan
dada di hadapan mereka: “Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang
benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada
gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi.
Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Ra'd: 17). “Sebenarnya
Kami melemparkan yang benar kepada yang batil lalu (yang benar) itu
menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap.” (QS. Al-Anbiya:
18). “Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan
sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja,
sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama
Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya.
Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40).
Akan
tetapi, hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah: “Demikianlah, dan
sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak
menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad: 4). Dan
Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada kita ukuran-ukuran ini dalam medan
perang dan pertempuran, berfirman: “Orang-orang yang beriman berperang di
jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu
perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu
lemah.” (QS. An-Nisa: 76), dan berfirman: “Berapa banyak terjadi
golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah?
Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249). Allah
Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya yang
beriman, oleh karena itu wajib bagi kita untuk menjadi orang yang beriman
dengan sebenar-benarnya, agar kita layak untuk mewujudkan janji Allah berupa
pertolongan atas musuh-musuh Allah.
Di
sinilah tampak pentingnya aspek tarbiyah (pendidikan) dan takwin (pembentukan
karakter) di sepanjang jalan, serta tidak boleh meremehkan urusannya atau
menguranginya. Sebab, iman adalah senjata kuat yang dengannya kita menghadapi
seluruh kekuatan bumi secara keseluruhan, dan iman pulalah yang meledakkan di
dalam diri pemiliknya seluruh potensi kesabaran, ketahanan, keteguhan, jihad,
pengorbanan, dan penebusan jiwa—dan bukannya politik beserta metode-metodenya.
Sesungguhnya metode partai-partai politik tidak akan layak dalam pertempuran
kita ini menghadapi musuh-musuh Allah, terutama jika hal itu harus mengorbankan
tarbiyah, i'dad (persiapan), dan penguatan iman. Hal ini tidak berarti bahwa
kita menolak politik secara mutlak, melainkan kita berinteraksi dengannya
sebagai bagian dari agama, kita mengaturnya dengan aturan-aturan agama, serta
menyelaraskan antara politik dengan tarbiyah dan takwin, khususnya pada tahapan
peletakan fondasi dan pembentukan basis yang solid agar bangunan dapat tegak di
atasnya secara stabil, insya Allah.
Bukan
Penghancuran Terhadap Bangunan yang Telah Tegak ......
Terkadang
perkara ini rancu bagi sebagian orang, lalu mereka menyangka bahwa apa yang
dialami oleh Ikhwan berupa ujian berat atau pukulan dari musuh-musuh Allah
adalah bentuk penghancuran terhadap bangunan yang telah tegak, sehingga
seolah-olah penghancuran tersebut terus berulang pada setiap kalinya. Padahal,
hakikatnya tidaklah demikian. Sesungguhnya ujian-ujian berat—yang merupakan
sunatullah dalam jalan dakwah—bukanlah sebuah penghancuran, melainkan merupakan
proses penempaan (pemurnian) dan penyaringan bagi bata-bata (kader-kader)
tersebut, yang mana dengannya bangunan yang kuat akan tegak dengan izin Allah.
Sesungguhnya
menjauhnya sebagian orang dari barisan sebagai akibat dari ujian-ujian berat
(mihnah) ini bukanlah sebuah penghancuran dan bukan pula pelemahan bagi
barisan, melainkan itu adalah pembersihan barisan dari titik-titik kelemahan,
dan Allah akan menggantikan barisan tersebut dengan orang-orang selain mereka
yang kemudian tidak akan seperti mereka.
Andaikata
tujuannya adalah sekadar mewujudkan sebuah pemerintahan Islam yang independen
di salah satu negeri dari negeri-negeri Islam yang telah dicabik-cabik oleh
musuh-musuh Allah ini, niscaya kondisinya akan berbeda, dan perkara tersebut
tidak akan membutuhkan tenaga yang banyak serta fondasi yang dalam. Akan
tetapi, ketika negeri Islam ini menjadi bagian dari sebuah entitas raksasa
yaitu Negara Islam global, maka perkaranya berbeda, serta kedalaman fondasi dan
kekokohannya pun berbeda. Maka berbeda antara meletakkan fondasi untuk
sekelompok rumah yang berdampingan yang masing-masing hanya terdiri dari satu
lantai, dengan meletakkan fondasi untuk sebuah gedung pencakar langit di atas
luas area yang sama dengan rumah-rumah tersebut.
Sesungguhnya
metode partai-partai politik dalam hal memprioritaskan kekuasaan dan jumlah
perolehan suara dalam pemilu tanpa memedulikan kualitas (mutu/karakter),
tidaklah layak bagi kita dan tidak dapat dipercaya kesudahannya. Sesungguhnya
kami tidak menginginkan orang yang hanya memberikan suaranya saja kepada kami,
melainkan kami menginginkan orang yang menyerahkan jiwa, harta, dan segala apa
yang dimilikinya, serta bertahan dan teguh dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Tidak boleh bagi kita didorong oleh keinginan yang menggebu-gebu untuk melihat
bangunan muncul di atas permukaan tanah lalu terburu-buru dalam membangun
fondasi tanpa adanya kesempurnaan (profesionalitas) padanya. Sebab, waktu itu
diukur dengan umur dakwah-dakwah dan umat-umat, bukan dengan umur individu
manusia. Dan sebelum kamu menganggap pertolongan itu datang terlambat, niscaya
kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita telah menegakkan
seluruh mukadimah (syarat-syarat awal) dan tuntutan-tuntutannya serta
menunaikan kewajiban kita dengan bentuk yang paling sempurna? Kemudian, apakah
kita telah benar-benar menjadi layak untuk menerima pertolongan yang telah
dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman: “Dan merupakan
hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47),
ataukah kita masih sebatas para pengklaim iman dan sekadar dinisbatkan sebagai
orang-orang yang beriman?
Kami
tidak mengecilkan arti pertempuran antara kebenaran dan kebatilan, dan kami
mengetahui bahwa jalan ini terjal serta penuh dengan duri, darah, dan serpihan
tubuh (jasad), serta kebatilan akan terus memerangi kita sampai ia mengembuskan
napasnya yang terakhir. Akan tetapi, kami memohon pertolongan kepada Allah Sang
Pemberi segala kekuatan dan kami mengambil sebab-sebab kekuatan sejauh
kemampuan kami demi mematuhi perintah-Nya Ta'ala: “Dan persiapkanlah dengan
segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan
dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu” (QS.
Al-Anfal: 60). Kami juga mengimani firman Allah Ta'ala: “Perangilah mereka,
niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu
dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta
melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan kemarahan hati
mereka. Dan Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha
Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Tawbah: 14-15). Dan kami mengadakan
transaksi yang menguntungkan dengan Allah: “Sesungguhnya Allah membeli dari
orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.
Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah
menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.”
(QS. At-Tawbah: 111). Serta kami merasa tenang atas terwujudnya janji Allah: “Allah
telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan
kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi,
sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan
sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan
Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan
menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan
sesuatu pun dengan-Ku.” (QS. An-Nur: 55).
Dengan
demikian, kita berada pada level tugas agung yang kita hadapi ini, dan pada
level persiapan untuknya. Harapan senantiasa memenuhi hati kami, serta
kepercayaan kepada Allah dan dukungan-Nya meliputi kami. Tidak ada rasa takut
maupun kelemahan yang merasuki kami ketika melihat kekuatan musuh, dan kami
tidak menjadi lesu, tidak menyerah, dan tidak pula menjadi lemah disebabkan
oleh apa yang menimpa kami berupa ujian-ujian berat dan pukulan-pukulan di
jalan Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.
Apakah
Ikhwan akan Terus Menerima Pukulan dan Meneguk Ujian Demi Ujian atau
Merasakannya Tanpa Ada Jawaban atau Perlawanan?
Setelah
ini, kita akan membahas sebuah pertanyaan yang erat kaitannya dengan pertanyaan
sebelumnya, yaitu:
- Apakah Ikhwan akan terus
menerima pukulan dan meneguk ujian demi ujian atau merasakannya tanpa ada
jawaban atau perlawanan?
Mungkin
ada baiknya juga sebelum menjawab pertanyaan ini, kita kembali kepada sirah
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar kita menemukan jawaban
yang jelas di dalamnya. Beliau 'alaihi ash-shalatu wa as-salam beserta
kaum Muslimin yang bersama beliau telah dihadapkan pada gangguan dan penyiksaan
yang sangat keji dari kaum musyrik di Makkah. Beliau dahulu berjalan melewati
keluarga Yasir (Alu Yasir) ketika mereka sedang disiksa, lalu beliau bersabda
kepada mereka: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat
yang dijanjikan untuk kalian adalah surga.” Dan mereka pun bersabar hingga
Yasir dan istrinya, Sumayyah radhiallahu 'anhuma, gugur syahid di bawah
siksaan.
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memerintahkan seorang pun dari kaum
Muslimin untuk membalas agresi gangguan tersebut dengan kekuatan pada masa itu,
karena upaya apa pun dari jenis tersebut tidak akan menghentikan agresi,
melainkan karakternya justru akan meningkatkan eskalasi agresi itu dan
membawanya pada tindakan refresif yang sangat kejam yang dapat memusnahkan kaum
Muslimin padahal mereka masih berjumlah sedikit.
Sirah
juga meriwayatkan kepada kita bahwa ketika gangguan semakin hebat menimpa
sebagian kaum Muslimin, salah seorang dari mereka berkata kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam: “Tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami?” Maka
tampaklah rasa marah di wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan beliau bersabda (yang maknanya): bahwa orang-orang sebelum kalian dahulu
ada yang digalikan lubang untuk mereka, lalu mereka digergaji dengan gergaji,
dan dipisahkan antara daging dan tulangnya, tanpa hal itu memalingkan mereka
dari agama mereka. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
memberikan kabar gembira kepada mereka tentang sempurnanya perkara (agama) ini
dan beliau bersabda: “Akan tetapi kalian adalah kaum yang tergesa-gesa.”
Adalah berada dalam kemampuan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
memerintahkan sebagian kaum Muslimin untuk membunuh tokoh-tokoh kekafiran
seperti Abu Jahal atau Abu Lahab, atau untuk menghancurkan berhala-berhala atau
sebagian darinya, akan tetapi beliau tidak melakukannya karena alasan yang
telah kami sebutkan di atas. Dan hal itu tidak dianggap sebagai sikap pasif
dari beliau, melainkan hikmah dan maslahat dakwah menghendaki hal tersebut.
Karena ambisi dan maksud utamanya bukanlah menghentikan gangguan yang menimpa
kaum Muslimin, melainkan maksudnya adalah menyampaikan dakwah Allah serta
membentuk basis-basis dan pilar-pilar yang di atasnya akan tegak bangunan megah
dakwah dan Negara Islam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam juga mengetahui bahwa gangguan dan cobaan bukanlah perkara baru yang
asing di atas jalan dakwah yang mutlak harus dilepaskan dan dihentikan seketika
itu juga, melainkan itu adalah sunatullah dalam dakwah-dakwah demi sebuah
hikmah yang mulia, yaitu penyaringan, penempaan, dan penambahan iman. Karena
amanah-amanah kemenangan itu sangat berat, dan tidak ada yang mampu memikulnya
serta menunaikan kinerjanya dengan baik kecuali tipe-tipe manusia yang telah
tersaring ini, sekira mereka tidak terfitnah oleh dunia dan tidak pula
dipalingkan oleh kesulitan.
Kemudian
kita mendapati, dengan mengikuti sirah pasca hijrah dan pada saat bermulanya
pembentukan basis bertolak (pangkalan gerak) kaum Muslimin, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam tidak berpikir untuk menghadapi kaum musyrik dengan
kekuatan. Ketika beliau keluar menuju (perang) Badar, beliau keluar untuk
menghadang kafilah dagang dan bukan untuk berperang. Akan tetapi Allah Ta'ala
menghendaki terjadinya pertempuran yang memiliki kekuatan (peperangan besar)
dengan ilmu dan takdir-Nya. Maka seketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam berdiri di bawah tenda (al-'arisy) seraya berdoa kepada Tuhannya
dengan sangat mengiba dalam berdoa hingga selendangnya terjatuh dari kedua
pundaknya, dan beliau bersabda: “Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok
ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.” Makna dari hal tersebut
adalah bahwa beliau, berdasarkan takaran manusianya, masih merasa khawatir atas
kelompok orang-orang beriman ini jika mereka sampai binasa dalam peperangan
tersebut padahal jumlah mereka sedikit, sehingga perjalanan dakwah akan
terhenti.
Akan
tetapi, telah ada dalam takdir Allah pertolongan bagi orang-orang beriman dan
kekalahan yang hina bagi musuh-musuh Allah, dan peristiwa Badar menjadi pemisah
antara periode gangguan serta keterpencilan (posisi lemah) dengan periode
pertolongan serta kejayaan (tamkin).
Demikianlah
kita melihat bahwa permulaan dalam membalas agresi musuh-musuh Allah mutlak
harus memiliki ketersediaan kondisi-kondisi dan situasi-situasi yang
menjadikannya tepat (kondusif). Dan bahwa upaya apa pun sebelum itu tidak akan
aman kesudahannya, serta berada dalam kondisi tidak menguntungkan bagi
dakwah—yang mana dakwah itulah yang menjadi maksud utama, dan bukan personal
orang-orang yang diagresi.
Kami
katakan juga, barangkali pada sikap Ikhwan di beberapa belahan dunia Islam
terdapat jawaban yang jelas untuk pertanyaan ini; bahwa tidak mungkin mereka
akan terus-menerus seperti ini menerima pukulan tanpa ada jawaban atau
perlawanan. Maka hendaklah orang-orang yang bersemangat merasa tenang, dan
janganlah orang-orang yang terburu-buru bersikap tergesa-gesa, karena segala
urusan berjalan berdasarkan takaran-takaran (ketetapan): “Dan Allah berkuasa
terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (QS. Yusuf:
21).
Apakah
Itu Kesalahan Pimpinan?
Di
dalam atmosfer ujian berat dan dengan panjangnya kurun waktu ujian tersebut,
maka atmosfer itu bersiap untuk memunculkan pertanyaan lain, dan barangkali
sebagian orang meniupkannya sebagai bentuk peraguan, yaitu: Apakah ujian-ujian
berat dan pukulan-pukulan ini merupakan akibat dari kesalahan-kesalahan yang
dilakukan oleh pihak pimpinan? Dan apakah mungkinkah untuk dihindari?
Dan
kita kembali lagi kepada sirah untuk menemukan jawaban di dalamnya. Maka kita
dapati bahwa apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
dan para sahabatnya berupa gangguan dan penyiksaan bukanlah akibat dari
kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, melainkan itu merupakan sikap yang
lumrah (alami) dari musuh-musuh Allah terhadap dakwah Allah dan para dai yang
menyeru kepada Allah. Mereka merasakan di dalam dakwah tersebut adanya bahaya
bagi kebatilan mereka dan bagi kekuasaan mereka yang berdiri di atas kelaliman
serta kezaliman. Mereka mengetahui bahwa dalam tegaknya dakwah yang haq dan
kemenangannya terdapat kehancuran bagi kebatilan mereka serta kekalahan bagi
mereka. Oleh karena itu, mereka memeranginya dan mencoba menghancurkannya
sebelum dakwah tersebut menghancurkan mereka. Akan tetapi mereka gagal dalam
hal itu karena ia adalah dakwah Allah dan cahaya Allah, dan manusia tidak akan
pernah mampu memadamkan cahaya Allah: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut-mulut mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun
orang-orang kafir benci.” (QS. As-Saff: 8).
Pimpinan
Telah Berijtihad Sejauh Kemampuannya untuk Kebaikan:
Akan
tetapi, musuh-musuh Allah ketika mereka memerangi dakwah Allah, mereka mutlak
harus menyodorkan kepada khalayak manusia atau kepada opini publik sebuah
alasan palsu yang mereka sandarkan dalam peperangan dan agresi mereka. Maka
mereka menempelkan tuduhan-tuduhan batil kepada para dai yang menyeru kepada
Allah, sebagaimana mereka dahulu mengatakan tentang Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bahwa beliau adalah seorang pendusta, penyihir, dukun,
penyair, dan orang gila; serta menuduh bahwa dengan dakwahnya dan dengan
agamanya beliau memisahkan antara seseorang dengan keluarganya... dan
seterusnya.
Sebagaimana
juga Firaun dan para pemuka di sekitarnya mendahului mereka dengan menuduh Musa
dan kaumnya melakukan kerusakan di muka bumi. Dan sebagaimana yang terjadi di
zaman kita sekarang ini, di mana musuh-musuh Allah menuduh Ikhwan dan para dai
yang menyeru kepada Allah dengan tuduhan ekstremisme, terorisme, dan berlindung
di balik agama untuk memanjat menuju kekuasaan.
Serta
sebagaimana mereka merekayasa berbagai peristiwa sebagai alasan untuk memukul
mereka, seperti sandiwara upaya pembunuhan Abdel Nasser di Alexandria... dan
seterusnya dari metode-metode penyesatan, peraguan, dan pencitraan buruk. Akan
tetapi cahaya kebenaran lebih kuat dan lebih bersinar daripada untuk ditutupi
oleh tuduhan-tuduhan batil ini. Sebagaimana sebagian orang yang pendek tekadnya
untuk melanjutkan perjalanan sebagai akibat dari pukulan-pukulan dan ujian
berat ini, mereka gemar mengembalikan celaan kepada pihak pimpinan dan menuduh
bahwa pimpinanlah yang menyebabkan terjadinya ujian-ujian berat ini sebagai
akibat dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Hal ini sangat tidak
sesuai dengan realitas. Dan sebagaimana dahulunya tidak berada dalam kemampuan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghindari terjadinya
gangguan dan penyiksaan atas diri beliau dan atas kaum Muslimin yang bersama
beliau kecuali jika beliau berkompromi (mengalah) dari banyak hal yang beliau
serukan—yang mana hal itu memicu kemarahan musuh dan menggelisahkan mereka,
khususnya seruan kepada Tuhan yang Esa dan meninggalkan berhala-berhala
ini—padahal tidak boleh bagi beliau shallallahu 'alaihi wa sallam untuk
berkompromi dari sesuatu pun tentang hal itu, sementara Allah menyeru beliau: “Maka
berpegangteguhlah engkau kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu.
Sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Qur'an
itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta
pertanggungjawaban.” (QS. Az-Zukhruf: 43-44). Maka konsekuensinya, agresi
musuh-musuh Allah dan gangguan mereka terhadap beliau dan kaum Muslimin tidak
pernah berhenti hingga kemenangan itu terwujud.
Kami
tidak bermaksud dengan hal itu bahwa Ikhwan dan pimpinan mereka maksum (bebas)
dari kesalahan. Akan tetapi kita wajib membedakan antara kesalahan-kesalahan
yang bersifat parsial (juz'iyah) atau individual yang tidak luput dari jamaah
mana pun atau pergerakan mana pun—bahkan jamaah pertama bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam sekalipun—dengan sikap mengembalikan urusan ujian-ujian
berat pada asal mulanya kepada kesalahan-kesalahan dari pimpinan, atau
menganggap bahwa mungkinkah untuk menghindari ujian berat dengan cara
menghindari kesalahan. Maka konsep pemikiran (asumsi) seperti ini adalah inti
dari kesalahan itu sendiri.
Masalah
Keenam
Kantong
Para Dai... Adalah Brankas bagi Harta Ini
- Mengembalikan manusia
secara umum kepada agama yang murni lagi komprehensif.
- Menegakkan hukum Allah di
muka bumi merupakan bagian mendasar di dalam manhajnya.
- Jalannya untuk mewujudkan
hal itu.... Adalah jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Kantong
Para Dai... Adalah Brankas bagi Harta Ini:
Dan
setelah itu: Maka Ikhwan biasanya lebih memilih untuk tidak menyibukkan diri
mereka dan para pembaca mereka dengan apa yang diembuskan oleh orang-orang yang
memiliki tendensi tertentu berupa peraguan atau tuduhan-tuduhan batil. Mereka
membiarkan amal nyata dan sikap-sikap yang menjawabnya untuk mereka sekaligus
menegaskan kebatilan tuduhan-tuduhan ini. Hal itu dikarenakan jika Ikhwan
menjawab suatu tuduhan dan membuktikan kebatilannya, maka betapa mudahnya bagi
orang-orang yang memiliki tendensi tertentu tersebut untuk merekayasa tuduhan
lain secara dusta dan bohong, dan begitu seterusnya. Di dalam hal yang demikian
itu terdapat pengalihan dari amal yang serius, pembuangan waktu dan tenaga,
serta memberikan nilai (panggung) bagi orang-orang yang mengembuskan keraguan.
Harta
Itu Bersumber dari Kantong Para Dai Saja....
- Sebagian orang mengembuskan
pertanyaan atau peraguan di seputar sumber harta (dana) yang dinafkahkan
di medan dakwah dan pergerakan ini...
- Yang mana itu benar-benar
merupakan nafkah yang banyak.... Dan Imam Syahid rahimahullah
menjawab orang-orang yang melontarkan pertanyaan ini, beliau bersabda:
Ketahuilah,
maka hendaklah mereka dan selain mereka mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin
tidak pernah kikir terhadap dakwah mereka pada suatu hari pun, bahkan dengan
makanan pokok anak-anak mereka, perasan darah mereka, dan harga dari
kebutuhan-kebutuhan darurat mereka, terlebih lagi terhadap kebutuhan tersier
(kemewahan) mereka serta kelebihan dari nafkah-nafkah mereka. Dan bahwa pada
hari ketika mereka memikul beban ini, mereka telah mengetahui dengan sangat
baik bahwa ini adalah dakwah yang tidak rida dengan sesuatu yang lebih rendah
daripada darah dan harta. Maka mereka pun keluar (menyerahkan) dari semua itu,
dan mereka memahami makna firman-Nya Ta'ala: “Sesungguhnya Allah membeli
dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk
mereka.” (QS. At-Tawbah: 111). Maka mereka menerima transaksi penjualan
tersebut dan menyerahkan barang dagangannya atas dasar keridaan dan kebaikan
jiwa, seraya meyakini bahwa segala karunia seluruhnya milik Allah. Maka mereka
merasa cukup dengan apa yang ada di tangan mereka dari apa yang ada di tangan
manusia, dan Allah menganugerahkan keberkahan kepada mereka dalam hal yang
sedikit sehingga membuahkan hasil yang banyak... Kemudian Imam Syahid
menegaskan bahwa tidak pernah masuk ke dalam kas Ikhwan satu sen (piaster) pun
dari pihak pemerintah, dan beliau bersabda kepada Ikhwan: Dan janganlah kalian
menjadikan hal itu di dalam kalkulasi kalian, manhaj kalian, jangan pula kalian
memandangnya, dan jangan bekerja untuknya. Beliau bersabda: Dan kami tidak akan
menerima kecuali dari seorang anggota atau dari seorang simpatisan (pencinta).
Dan demikianlah kita mendapati bahwa jamaah Ikhwan termasuk jamaah yang paling
kaya karena ia memiliki segala apa yang ada di dalam kantong para individunya,
terlebih lagi dari para simpatisan mereka. Orang-orang yang memiliki pandangan
materialistis mungkin merasa heran dengan sikap Ikhwan ini, akan tetapi inilah
akidah yang mereka dididik di atasnya, dan mereka reguk di dalam hati mereka
yang mendorong mereka untuk berkorban dan mengutamakan apa yang ada di sisi
Allah. Sebagaimana hal itu dahulu mendorong kaum Muslimin generasi pertama
menuju contoh-contoh yang mengagumkan dalam hal pengorbanan dan penafkahan di
jalan Allah, seperti contoh dari Abu Bakar Ash-Siddiq dan Utsman bin Affan radhiallahu
'anhum serta selain mereka yang sangat banyak. Kemudian sesungguhnya pihak
mana pun atau pemerintah mana pun ketika menyerahkan harta kepada suatu jamaah
dari jamaah-jamaah yang ada, mereka tidak menyerahkannya karena mengharap rida
Allah, melainkan untuk mewujudkan suatu kemaslahatan bagi dirinya di balik hal
tersebut... Dan di sana ada banyak orang yang siap untuk hal itu... Akan tetapi
Ikhwan—walhamdulillah—sejak hari di mana jamaah mereka tumbuh, mereka tidak
pernah mengotori tangan-tangan mereka dengan perkara semacam ini. Sungguh hal
itu pernah ditawarkan kepada mereka, lalu mereka menolaknya dengan segala
keengganan dan rasa cukup (independen) berkat karunia Allah. Maka hendaklah
orang-orang yang ragu menahan diri, dan hendaklah orang-orang yang bertanya
merasa tenang.
Syura
(Musyawarah).... Prinsip yang Ada.... dan Realitas yang Diterapkan:
Dan
di dalam ranah pergerakan peraguan—yang mana ini lebih mendominasi daripada
sekadar ranah pertanyaan—sebagian orang mengeklaim bahwa Ikhwan tidak
memberikan kedudukan yang layak bagi syura di dalam organisasi-organisasi
mereka, dan mereka mengharuskan siapa saja yang berjalan bersama mereka dengan
ketaatan yang buta (tha'ah 'amya').
Dan
ini merupakan klaim yang batil, yang tujuannya adalah memalingkan pemuda Muslim
yang merdeka dari keteraturan di dalam barisan jamaah karena khawatir ia akan
kehilangan kepribadiannya. Dan realitas Ikhwan menolak klaim ini dan
mengingkarinya, mengingat Ikhwan sangat berhasrat untuk membentuk individu
Muslim yang kuat dalam segala aspek kepribadiannya, pemilik kehendak yang kuat,
berpengaruh, mengubah, lagi membangun. Jika tidak demikian, maka bagaimana
mungkin jamaah menghadapi pencapaian paling agung di dunia ini yaitu:
menegakkan negara Islam, sementara ia bersandar dalam hal itu pada tipe-tipe
manusia yang lemah kepribadiannya, lemah kehendaknya, tidak memiliki pendapat,
dan tidak memiliki pengaruh? Kemudian sesungguhnya Ikhwan—di mana mereka telah mengharuskan
diri mereka dengan Islam yang benar sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam baik secara pemahaman maupun penerapan—tidak dapat
dibayangkan mereka melalaikan urusan syura di dalam manhaj mereka, organisasi
mereka, dan keputusan-keputusan mereka. Sementara mereka membaca di dalam sirah
bagaimana dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
mempraktikkannya bersama para sahabat beliau padahal wahyu turun kepada beliau,
maka bagaimana lagi dengan kita sedangkan kita jauh lebih membutuhkan untuk
menyaring pendapat dan saling bertukar musyawarah? Kemudian sesungguhnya
realitas organisasional bagi Ikhwan menegaskan prinsip syura; maka Dewan
Pendiri (Al-Hai'ah At-Ta'siyyah), majelis-majelis syura, dan seluruh
institusi jamaah tegak di atas prinsip syura, menghormati pendapat, dan diskusi
yang jauh dari perpecahan serta perselisihan. Akan tetapi, perlu diingatkan
pada suatu perkara yaitu bahwa setelah diberikannya kesempatan untuk syura dan
dialog, wajib berkomitmen pada apa yang dihasilkan dari pendapat atau ketetapan
tersebut, termasuk bagi para pemilik pendapat yang menyelisihi (berbeda), demi mencegah
terjadinya kebimbangan dan fitnah. Dan hal itu tidak dianggap pada tahapan ini
sebagai pengekangan terhadap kebebasan atau pelarangan terhadap syura,
melainkan itu merupakan pencegahan terhadap fitnah dan perlindungan bagi
barisan.
Dakwah
Itu Mengasihi dan Menghimpun... Sebagaimana Ia Mencintai dan Bekerja:
Dan
sebagian orang mengembuskan pertanyaan atau peraguan yang intinya bahwa Ikhwan
bersikap jemawa (merasa tinggi) di atas jamaah-jamaah yang selain mereka, dan
seolah-olah mereka sendirilah kaum Muslimin sedangkan yang lainnya diragukan
keislaman mereka, dan bahwa Ikhwan berloyalitas kepada siapa saja yang bersama
mereka, serta memusuhi dan menjauhi siapa saja yang tidak bersama mereka,
hingga selain itu dari klaim-klaim di seputar hal tersebut.
Dan
di dalam menjawab peraguan ini, saya bertanya lalu saya katakan: Apakah dapat
dibayangkan atau masuk akal jika ruh semacam ini dipikul oleh orang-orang yang
mengerahkan segenap kemampuan untuk mengumpulkan seluruh kaum Muslimin di atas
satu pemahaman dan di bawah satu bendera agar mereka berdiri dalam satu barisan
menghadapi musuh-musuh Islam? Apakah mungkin perilaku ini ditempuh oleh
orang-orang yang menyerahkan jiwa mereka, harta mereka, dan menanggung segala
gangguan demi mewujudkan kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin seluruhnya tanpa
adanya pengungkapan budi (menyebut-nyebut kebaikan) atau mengesankan adanya
jasa, melainkan mereka mengembalikan segala karunia dalam apa saja yang mereka
persembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala? Apakah mungkin bagi orang-orang
yang telah menjadikan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai
pemimpin dan komandan bagi mereka untuk memikul ruh semacam ini, sementara
pemimpin mereka bersabda mengenai hak kaum musyrik yang telah menyakiti beliau:
“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak
mengetahui,” maka bagaimana lagi dengan kita terhadap saudara-saudara kita
sesama Muslim?
Dan
hakikatnya adalah bahwa Ikhwan—walhamdulillah—telah berjalan sejak hari pertama
dengan ruh cinta, persaudaraan, kelembutan sikap, menjauh dari pencelaan
terhadap personal maupun institusi, bersabar atas gangguan orang lain, dan
membalas keburukan dengan kebaikan. Dan saya ingat dalam ranah ini sebuah
ungkapan dari Imam Syahid yang beliau gunakan untuk mengarahkan kita, beliau
bersabda: “Jadilah kalian bersama manusia seperti pohon; mereka melemparinya
dengan batu, dan ia melempari mereka dengan buah.” Dan barangkali syiar: “Kita
saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati, dan kita saling toleran
(memberi uzur) satu sama lain dalam hal-hal yang kita perselisihkan”
merupakan bukti yang jelas atas keinginan untuk menghimpun kalimat kaum
Muslimin dan menjauhkan mereka dari setiap perselisihan atau perpecahan... Dan
Ikhwan sangat berhasrat untuk memenangkan hati sebelum memenangkan sikap... Dan
mereka sangat berhati-hati dengan sehati-hatinya dalam menjatuhkan vonis kepada
orang selain mereka dengan kekafiran atau kefasikan. Dan barangkali penentangan
mereka terhadap pemikiran takfir (pengafiran) serta buku "Du'at La
Qudhat" (Dai Bukan Hakim) karya Ustadz Al-Hudhaibi rahimahullah
merupakan bukti atas hal tersebut. Kemudian sesungguhnya kepercayaan yang baik
ini, yang berhasil diraih oleh jamaah Ikhwan di sisi jamaah-jamaah Islam di
panggung dunia Islam, benar-benar merupakan bukti terbaik atas batilnya klaim
dan peraguan ini, yang mana hal itu tidak melayani kecuali musuh-musuh Allah.
Dan jika diasumsikan terjadi suatu perilaku dari sebagian individu Ikhwan yang
menyelisihi ruh ini, maka hal itu dianggap sebagai pelanggaran individu yang
wajib diluruskan, dan bukan kesalahan bagi jamaah.
Tulus
Ikhlas Karena Allah..... Tidak Berlindung (Sembunyi)..... dan Bukanlah Agen
dari Orang yang Memenjarakan Mereka dan Memukul Mereka:
Dan
diembuskan sebuah peraguan dan bukan pertanyaan, bahwa Ikhwan berlindung di
balik agama di balik ambisi-ambisi dan tujuan-tujuan duniawi, serta mereka
berusaha merebut kekuasaan demi ghanimah (keuntungan) atau jabatan-jabatan. Dan
sebagian orang menambahkan dengan menuduh para pimpinan Ikhwan sebagai agen
(antek) untuk kepentingan beberapa pemerintah atau pihak-pihak yang memusuhi
Islam.
Maka
berkenaan dengan klaim berlindung di balik agama di balik ambisi duniawi, saya
katakan: —dan sungguh saya telah hidup di bawah naungan jamaah ini lebih dari
empat puluh tahun— sesungguhnya ini merupakan klaim yang batil lagi tidak
memiliki fondasi. Dan hal itu biasanya termasuk tuduhan yang diembuskan oleh
rezim-rezim yang berkuasa di negeri-negeri kita beserta aparat-aparat
keamanannya terhadap Ikhwan dan para aktivis Islam, sebagai alasan di hadapan
rakyat untuk melakukan tindakan represif dan penyiksaan terhadap mereka dengan
tuduhan berulang yang menjijikkan tersebut: (bekerja untuk menggulingkan sistem
pemerintahan dengan kekuatan), seolah-olah pemerintahan ini adalah sebuah kursi
kecil atau ember kosong yang dapat digulingkan dengan mudah.
Dan
hendaklah menjadi maklum bahwa mereka itu tidak memerangi personal Ikhwan atau
para aktivis Islam, melainkan mereka memerangi Islam sebagai sebuah dakwah dan
orientasi yang menyelisihi hawa nafsu mereka serta ambisi mereka sendiri
beserta orang-orang lain selain mereka dari kalangan yang memusuhi Islam.
Kemudian
sesungguhnya logika yang sederhana membuat kita bertanya-tanya: Jika Ikhwan
adalah pemilik ambisi duniawi dan berlindung di balik agama, mengapa mereka
tetap teguh untuk berjalan di atas jalan ini meskipun apa yang menimpa mereka
di dalamnya berupa banyak kerugian; penjara, penyiksaan, pembunuhan,
pengusiran, dan penyitaan harta benda hingga selain itu? Apakah mereka belum
yakin bahwa perlindungan mereka di balik agama tidak mendatangkan bagi mereka
keuntungan duniawi, melainkan mendatangkan bagi mereka bencana, kerugian, dan
kesulitan? Dan bahwa kewajiban atas mereka—jika mereka benar-benar menginginkan
dunia—adalah menempuh jalan selain mereka yang berhasil mendapatkan
keuntungan-keuntungan ini dengan mudah dan gampang tanpa dihadapkan pada sesuatu
pun dari apa yang dialami oleh Ikhwan, sebagaimana yang dilakukan oleh
partai-partai bumi (sekuler/buatan manusia)?
Hakikat
yang wajib diketahui oleh para pengembus tuduhan semacam ini—jika mereka bodoh
(tidak mengetahuinya) atau pura-pura tidak tahu—bahwa Ikhwan dengan amal mereka
dan jihad mereka untuk agama ini serta keteguhan mereka atas hal itu,
sesungguhnya mereka benar-benar mendambakan keuntungan yang banyak, yang tidak
dapat ditandingi oleh sesuatu pun dari ambisi dan keuntungan dunia yang mereka
isyaratkan tersebut: sesungguhnya mereka mendambakan keridaan Allah, kenikmatan
Allah, surga-surga Allah, ampunan Allah, rahmat-Nya, serta keselamatan dari
azab-Nya. Dan sungguh mereka telah menyambut seruan Allah kepada mereka: “Wahai
orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah mengampuni
dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn.
Itulah kemenangan yang agung. Dan (ada lagi karunia) yang lain yang kamu sukai
(yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan
sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.” (QS. As-Saff:
10-13).
Apakah
dapat dibayangkan bagi orang-orang yang telah hidup puluhan tahun di dalam
penjara-penjara dan kamp-kamp tahanan di dalam kesukaran hidup, buruknya
makanan, pakaian, serta pengobatan, dan mereka tidur di atas tikar kasar dari
serat pohon kurma tanpa ada sikap menyerah dari mereka, padahal berada dalam
kelapangan mereka untuk membebaskan diri mereka dari seluruh kesulitan ini dan
keluar dari penjara-penjara mereka sekiranya mereka melepaskan diri dari jamaah
mereka dan mendukung penguasa yang zalim? Akan tetapi mereka lebih memilih apa
yang ada di sisi Allah dan terus mengibarkan bendera Allah melawan kezaliman
serta kesewenang-wenangan hingga mereka menyerahkannya kepada orang-orang
setelah mereka dalam keadaan terkibar tinggi. Apakah dapat dibayangkan bagi
orang-orang yang seperti mereka ini menjadi para pencari dunia, ambisi duniawi,
jabatan, atau yang selain itu? Bagaimana mungkin bagi mereka hal itu sedangkan
mereka melihat kematian di depan mata mereka puluhan kali dan melihat
saudara-saudara mereka bertumbangan di hadapan mereka dalam keadaan terbunuh
akibat penyiksaan? Jika mereka adalah para pencari dunia, apakah mereka setelah
itu akan tetap teguh untuk melanjutkan perjalanan di atas jalan yang sama?
Wahai
orang-orang yang mengembuskan keraguan: Gunakanlah sedikit akal sehat dalam apa
yang kalian klaimkan... Ataukah kalian sebenarnya mengetahui kebenaran akan
tetapi kalian memutarbalikkan fakta? Maka apakah kalian mengira bahwa
orang-orang yang kalian ajak bicara itu tidak berakal?
Sebuah
kenaifan (bahwa): sesungguhnya Ikhwanul Muslimin menentang komunisme, dan
imperialisme menentang komunisme, maka kesimpulannya Ikhwan adalah agen
imperialisme... ia meniru logika ini dari gurunya, (Gamal) Abdel Nasser.
Mengenai
perkara bekerja untuk kepentingan orang lain, Imam Syahid bersabda dalam Risalah
Muktamar Kelima: Bahwa tidak ada kesalahan yang lebih mendalam daripada
persangkaan sebagian orang bahwa Ikhwanul Muslimin—pada masa kapan pun dari
masa-masa dakwah mereka—pernah menjadi kendaraan bagi suatu pemerintahan dari
pemerintahan-pemerintahan yang ada, atau menjadi pelaksana bagi tujuan selain
tujuan mereka sendiri, atau bekerja di atas manhaj selain manhaj mereka
sendiri. Maka hendaklah hal itu diketahui oleh orang yang belum mengetahuinya,
baik dari kalangan Ikhwan maupun dari selain Ikhwan.
Dan
realitas Ikhwan pasca syahidnya Imam al-Banna hingga hari ini senantiasa
menegaskan makna ini, walhamdulillah.
Jika
kita melihat kepada pihak-pihak yang dituduhkan bahwa Ikhwan bekerja untuk
kepentingan mereka, kita dapati mereka itu adakalanya musuh bagi Islam, atau
pihak-pihak yang bekerja sama dengan musuh Islam. Maka bagaimana mungkin bisa
sejalan bagi orang yang mengibarkan bendera Islam dan dihadapkan pada bencana
serta kesulitan karenanya dalam keadaan bersabar dan mengharap pahala, justru
bekerja untuk kepentingan musuh-musuh Islam, atau untuk kepentingan orang-orang
yang bekerja sama dengan mereka? Dan apakah mungkin bagi orang-orang yang telah
menjual dunia mereka demi akhirat mereka, justru menjual akhirat mereka demi
dunia orang lain dari kalangan yang memusuhi Islam?
Terlebih
lagi, apa yang dialami oleh Ikhwan berupa kesulitan yang sangat berat dari
orang-orang yang dituduh bahwa Ikhwan bekerja untuk kepentingan mereka,
benar-benar merupakan bukti terbaik atas kedustaan tuduhan ini. Akan tetapi,
kedustaan, rekayasa, kebohongan, dan fitnah ini kita hadapi dengan cara
berpaling darinya dan dengan perkataan kita: Hasbunallah wa ni'mal wakil
(Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik
pelindung).
Dan
barangkali ada baiknya kita menyebutkan sebuah perkataan dari Imam Syahid dalam
kedudukan ini: “Dan jika dikatakan kepada kalian bahwa kalian meminta
bantuan kepada personal maupun institusi, maka katakanlah: ‘Kami beriman kepada
Allah Yang Maha Esa dan kami ingkar kepada apa yang kamu sekutukan dengan-Nya.’
Dan jika mereka bersikeras dalam agresi mereka, maka katakanlah: ‘Selamat
tinggal (salam) atas kalian, kami tidak ingin bersama orang-orang yang bodoh.’”
Penutup
Akhir
Perjalanan
Saudaraku
sesama Muslim:
Demikianlah
wahai saudaraku sesama Muslim, kamu melihat dakwahmu telah jelas tujuannya,
selamat manhajnya, lagi lurus rencananya.
Maka
ia—baik secara perbuatan maupun perkataan, sejarah maupun realitas—memiliki
prinsip:
Allah
adalah tujuannya, Rasul adalah teladaninya, Al-Qur'an adalah konstitusinya,
Jihad adalah jalannya, dan Mati di jalan Allah adalah cita-cita tertingginya.
Sesungguhnya
ia adalah dakwah Al-Haq (kebenaran), Al-Quwwah (kekuatan), dan Al-Hurriyah
(kebebasan). Sesungguhnya ia adalah harapan bagi generasi ini sekaligus
pengibar bendera keselamatan, maka tidakkah kamu merapatkan barisan di
sekitarnya?
Maka
jadilah kamu bersamanya dan untuknya; sebagai pemilik risalah, prajurit akidah,
seraya senantiasa mengumandangkan:
“Dan
aku bersegera kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar Engkau rida.” (QS. Thaha: 84).
“Ya
Allah, asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak memedulikan (segala
ujian yang menimpaku).” Dan Allah senantiasa bersama kami dan bersamamu,
dan Dia adalah Pemberi Petunjuk menuju jalan yang terbaik.
Dan
akhir dari dakwah (doa) kami adalah: Alhamdulillahirabbil 'alamin
(Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).
تساؤلات
على طريق الدعوة بقلم: الأستاذ مصطفى مشهور
No comments:
Post a Comment