Tuesday, May 19, 2026

Ikhwanul Muslimin Menjawab Gugatan (Musthafa Masyhur)

Pendahuluan

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Masalah beramal (bekerja) untuk Islam merupakan masalah yang sangat penting, bahkan merupakan masalah yang menentukan (nasib) dan layak mendapatkan seluruh perhatian. Memilih jalan amal adalah perkara mendasar dalam masalah ini, dan keraguan apa pun di dalamnya atau penyimpangan darinya akan mengakibatkan konsekuensi yang sangat berbahaya.

Oleh karena itu, kebutuhan akan rasa tenang, verifikasi (kepastian), dan kepercayaan terhadap keselamatan menempuh jalan ini adalah perkara aksiomatik (jelas dengan sendirinya) yang niscaya. Begitu pula kejelasan visi, pengenalan terhadap tanda-tanda jalan, tahapan-tahapannya, hambatan-hambatannya, serta kelokan-kelokannya, merupakan hal-hal mendasar demi menjamin keberlanjutan perjalanan tanpa ada penyimpangan atau berhenti di tengah jalan.

Sebagai hasil dari pengalaman, interaksi, dan keterpaparan terhadap berbagai pertanyaan atau keragu-raguan, serta karena sebagian musuh dan orang-orang yang memiliki tendensi tertentu sengaja mengembuskan keraguan dengan tujuan melemahkan semangat dan menciptakan kebingungan; maka demi itu semua, dan agar para penempuh jalan ini mengetahui tanda-tanda jalan mereka, serta demi membungkam orang-orang yang ragu, kami memaparkan sebagian dari pertanyaan-pertanyaan di sepanjang jalan ini beserta jawabannya berdasarkan apa yang Allah bukakan (beri petunjuk). Semoga Allah menjadikan di balik semua ini manfaat dan kebaikan. Allah-lah tujuan segala maksud, dan hanya dari Allah-lah taufik (keberhasilan) itu berasal.

Mengapa Ada Pertanyaan-Pertanyaan Ini.....!!??

  • Dakwah ini.... memiliki kepercayaan kepada Allah... tujuan yang jelas... jalan yang benar.
  • Setan adalah musuh yang pertama, dan di antara senjata-senjatanya:
    • Meragukan....... dan melemahkan semangat......
    • Memalingkan tekad.... melemahkan kemauan.... dalam jubah nasihat !!
    • Korban pertamanya adalah mereka yang membenarkan begitu saja tanpa meneliti (tabayun)... !!

Jalan Dakwah... Jalan Terbaik

Kepercayaan kepada Allah... Tujuan yang jelas... Jalan yang benar

Sepatutnya bagi siapa saja yang menempuh suatu jalan menuju sasaran atau tujuan yang ia dambakan, untuk merasa yakin, tenang, dan memastikan bahwa dirinya berada di atas jalan yang benar yang dapat menyampaikannya kepada tujuannya tersebut. Ia tidak boleh membiarkan dirinya berada dalam keraguan atau kebimbangan atas keselamatan perjalanannya, sebab jika tidak, ia akan terancam tersesat dan binasa. Sejauh mana ia meminta petunjuk dari orang-orang yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang jalan tersebut beserta tanda-tandanya, sejauh itu pula ia akan selamat dari penyimpangan darinya, dan ketenangannya akan semakin bertambah setiap kali ia menemukan tanda-tanda yang telah mereka sebutkan kepadanya—bahkan meskipun sebagian tanda itu terasa sunyi mencekam atau menakutkan, ia tidak akan merasa takut melainkan justru merasa tenang, selama tanda tersebut memang bagian dari karakteristik jalan tersebut.

Dikarenakan jalan dakwah adalah jalan terbaik untuk tujuan yang paling mulia, serta menempuh dan berkomitmen pada jalurnya merupakan masalah yang menentukan bagi seorang saudara Muslim (Al-Akh al-Muslim) dan bukan masalah cabang (remeh), maka wajib baginya untuk memiliki ketenangan yang utuh serta kepercayaan yang penuh lagi abadi terhadap keselamatan arah tujuannya. Ia harus yakin bahwa ia berada di atas jalan yang benar untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya dan tuntutan-tuntutan Islam terhadap dirinya, serta agar ia dapat melesat dalam amal, pergerakan, jihad, dan produktivitasnya di medan dakwah dengan mengerahkan seluruh energinya tanpa ada keraguan ataupun kemalasan, dan tanpa terpengaruh oleh upaya peraguan maupun pelemahan semangat.

Kebutuhan orang yang menempuh jalan dakwah akan rasa tenang dan kepastian ini semakin meningkat ketika ia mengetahui bahwa setan senantiasa mengintainya di tengah jalan, mencoba memalingkannya tanpa pernah berputus asa. Setan telah mewajibkan dirinya sendiri dengan tugas ini: (Setan) berkata, "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, pasti saya akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur." (QS. Al-A'raf: 16-17). Dan Allah telah memperingatkan kita dari hal tersebut serta menyeru kita untuk berkomitmen pada jalan-Nya yang lurus, berfirman: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An'am: 153).

Penyimpangan dari jalan yang lurus tidak selalu berupa kelalaian (hiburan) atau kefasikan, melainkan bisa saja datang dari arah Islam itu sendiri melalui penyimpangan pemikiran (fikrah) atau pergerakan (harakah) yang dihiasi oleh setan agar terlihat indah baginya, sehingga dengan cara itu setan memalingkannya dari jalan yang benar.

Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan bagi kita—sementara kita berada di atas jalan dakwah—untuk saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran. Hendaknya sebagian dari kita menggandeng tangan sebagian yang lain, dan orang-orang yang telah mendahului di jalan ini membimbing saudara-saudara mereka yang baru menyusul, serta memperingatkan mereka tentang hambatan-hambatan dan kelokan-kelokan agar mereka dapat melewati hambatan tersebut dan berhati-hati terhadap kelokan yang ada. Ini termasuk kewajiban persaudaraan (ukhuwah) yang paling wajib, terutama jika kita mengetahui bahwa orang yang menyimpang sering kali tidak menyadari bahwa dirinya telah menyimpang, karena Iblis telah mengelabui dirinya bahwa ia berada di atas jalan yang benar, sedangkan orang lainlah yang menyimpang.

Di samping bimbingan dan peringatan ini, harus ada pembekalan dengan bekal iman dan takwa, karena cahaya iman dapat memberikan kefahaman tentang jalan dan melindungi dari kesesatan darinya: “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (QS. Al-An'am: 122). “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya). Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (QS. Al-A'raf: 201-202).


Meragukan dan Melemahkan Semangat..... Termasuk Senjata Setan:

Dalam hal ini, setan meminta bantuan kepada para penolongnya untuk melancarkan senjata peraguan, pelemahan semangat, perapuhan tekad, dan pemalingan cita-cita, yang semuanya dibungkus dalam jubah nasihat, bimbingan, rasa iba, dan cinta kebaikan. Ini adalah senjata yang sangat berbahaya di dalam jubah sutra yang harus sangat diwaspadai. Terkadang, tindakan ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak diragukan lagi agamanya, namun terjadi akibat kebodohan, keterbatasan dalam pemahaman, atau adanya perasaan lemah dan takut.

Sebagai langkah preventif dari metode ini dan guna melindungi barisan serta individu dari dampaknya, kami akan memaparkan beberapa pertanyaan atau keraguan tersebut, lalu menjawabnya dengan jawaban yang menjelaskan sisi kebenaran. Tujuannya agar para penempuh jalan ini semakin bertambah ketenangan dan kepercayaannya terhadap jalan mereka, serta memudahkan mereka untuk menjawab setiap orang yang meminta kejelasan dan ingin mengetahui kebenaran. Adapun orang-orang yang hanya menginginkan debat kusir dan bantahan, maka kita tidak ada urusan dengan mereka.

Di antara pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah:

  • Apakah wajib bagi setiap Muslim untuk menempuh jalan dakwah yang sedang kalian tempuh ini?
  • Apakah bekerja untuk menegakkan Negara Islam merupakan kewajiban bagi setiap Muslim?
  • Apakah amal (bekerja) untuk tujuan tersebut harus dilakukan melalui sebuah jamaah (kelompok)?
  • Mengapa tidak dilakukan secara individu saja? Dan bagaimana kita memilih jamaah yang tepat?
  • Apakah jamaah Ikhwanul Muslimin menempuh jalan yang benar? Ataukah ia telah menyimpang dari jalur yang telah digariskan oleh Imam Hasan al-Banna?
  • Mengapa negara Islam belum tegak di tangan jamaah Ikhwanul Muslimin padahal telah berlalu lebih dari setengah abad?
  • Apakah Ikhwan akan terus menerima pukulan dan meneguk (merasakan) ujian demi ujian tanpa ada jawaban atau perlawanan?
  • Apakah ujian-ujian ini merupakan akibat dari kesalahan pihak pimpinan yang sebenarnya mungkinkah untuk dihindari?
  • Apa saja sumber-sumber dana yang dibelanjakan dalam bidang dakwah dan pergerakan di lingkungan Ikhwan?
  • Di manakah posisi syura (musyawarah) di lingkungan Ikhwan?
  • Bagaimana sikap Ikhwan terhadap jamaah-jamaah Islam lainnya?
  • Apakah Ikhwan berlindung di balik agama demi tujuan-tujuan duniawi?
  • Apakah Ikhwan merupakan agen untuk pemerintah tertentu atau pihak tertentu, dan di mana buktinya?
  • Serta pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Pembicaraan Ini.......... Untuk Siapa?

Mungkin ada baiknya kami jelaskan bahwa pembicaraan dan dialog kita ini ditujukan kepada seorang Muslim yang telah merasakan makna keterikatannya (afiliasinya) kepada Islam—agama yang agung ini—dan ia berpikir, bahkan ingin menunaikan kewajiban-kewajibannya terhadap agama tersebut demi menggapai rida Tuhannya. Adapun Muslim yang lalai dan sibuk dengan urusan dunianya, maka baginya ada ranah lain dan pembicaraan yang lain lagi.

Sesungguhnya kepercayaan kami terhadap jalan dakwah yang kami tempuh ini sangatlah besar, walhamdulillah. Hari demi hari serta berbagai peristiwa justru semakin menambah ketenangan kami akan keaslian dan keselamatannya. Jalan ini adalah Islam yang dibawa oleh Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak ada yang lain selain itu. Kami sangat berkomitmen untuk berpegang teguh kepadanya dan tidak menyimpang darinya. Kami menerima setiap nasihat yang jujur yang dapat membantu kami dalam ketepatan komitmen dan keselamatan perjalanan. Kami merasa bahwa ini adalah jalan setiap Muslim dan kondisi setiap Muslim yang dengan jujur ingin menunaikan kewajiban Islamnya.

Kami tidak akan merasa khawatir terhadap jamaah ataupun barisan ini dari keraguan orang yang ragu atau pelemahan dari orang yang melemahkan semangat, melainkan kami mencoba untuk mengambil manfaat dari hal tersebut, sebagaimana tubuh mengambil manfaat dari vaksin pelindung (serum).

Sesungguhnya merupakan hak bagi generasi muda yang sedang menerima amanah amal dan tanggung jawab ini untuk mewarisi keahlian dan pengalaman dari kami. Dan barangkali metode tanya jawab ini merupakan salah satu sarana terbaik untuk mewujudkan hal tersebut.


Masalah Pertama

Jalan Dakwah Kita, Apakah Wajib Diikuti oleh Setiap Muslim?

  • Jalan dakwah kita, apakah wajib diikuti oleh setiap Muslim? Dan apakah kewajiban tersebut merupakan fardu ain (kewajiban individu) ataukah atas dasar pilihan (opsional)?
  • Apakah bekerja untuk menegakkan negara Islam merupakan kewajiban bagi setiap Muslim...?!

Pertanyaan yang menempati posisi paling utama untuk dijawab adalah pertanyaan yang membahas tentang asal mula masalah ini, yaitu: Apakah wajib bagi setiap Muslim untuk menempuh jalan dakwah yang sedang kalian tempuh ini? Dan selanjutnya, apakah tujuan-tujuan di sepanjang jalan ini—seperti menegakkan negara Islam dan memberikan kejayaan (tamkin) bagi agama ini—merupakan kewajiban yang niscaya bagi setiap Muslim laki-laki dan Muslimah perempuan? Ataukah itu merupakan fardu kifayah (kewajiban kolektif) atau bersifat pilihan bagi siapa saja yang menghendakinya?

Telah banyak ditulis jawaban mengenai pertanyaan ini, dan yang paling utama di zaman modern kita ini adalah risalah-risalah dari Imam Syahid Hasan al-Banna, yang telah menggariskan jalan ini untuk kita dengan menyitirnya dari Kitabullah (Al-Qur'an) dan dari sirah Rasul kita tercinta shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau kemudian menyeru kita kepada jalan tersebut, lalu kita pun menyambutnya dan berjalan bersamanya dalam kurun waktu tertentu. Beliau telah mendahului kita sebagai seorang syahid di jalan dakwah ini, dan kita memohon kepada Allah agar meneguhkan kita di atas jalan ini sampai kita menemui-Nya dalam keadaan tidak mengganti, tidak mengubah, tidak memicu fitnah, dan tidak pula terfitnah.

Dalam menjawab pertanyaan ini, saya akan berusaha menyarikan dan memfokuskannya sedapat mungkin, tanpa mengeklaim telah mencakup seluruh pembahasannya. Dan hanya kepada Allah-lah taufik itu berasal.

Islam.... Agama Jamaah... Agama Akhirat dan Dunia Sekaligus:

Sesungguhnya Islam kita yang agung ini bukanlah agama individu yang bercorak kerahiban (menjauh dari dunia), melainkan sebuah agama yang memadukan antara dunia dan akhirat. Agama dari satu jamaah, satu umat, satu tanah air, dan satu tubuh; yang jika salah satu anggotanya mengeluh sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut berjaga (tidak tidur) dan merasakan demam. Sebuah agama yang menuntut setiap Muslim untuk memedulikan urusan kaum Muslimin di belahan bumi mana pun, serta memperhatikan agresi-agresi yang menimpa mereka dan rasa sakit yang mereka derita: “Barangsiapa yang tidak memedulikan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan golongan mereka.” Sesungguhnya ada tanggung jawab umum yang dibebankan oleh Islam kepada setiap Muslim laki-laki dan Muslimah perempuan, yang kelak akan ditanyakan pada hari kiamat.

Sesungguhnya nyawa kaum Muslimin yang melayang hingga ribuan, kehormatan para wanita yang dinodai, anak-anak kaum Muslimin yang tumbuh besar di atas selain Islam, penonaktifan syariat Islam lalu menggantinya dengan hukum-hukum buatan manusia, perusakan akidah, penyerangan terhadap tempat-tempat suci kaum Muslimin, invasi dekadensi moral, serta penyulutan permusuhan dan perang di antara sesama Muslim—atas semua hal ini dan selainnya, akankah Islam seorang Muslim dapat diterima jika ia tidak terenyuh dan tidak bergerak menghadapi tragedi-tragedi ini? Terlebih jika kita mengetahui bahwa tidak ada jalan untuk memperbaiki semua itu dan mengubah kenyataan yang pahit ini kecuali dengan menegakkan Negara Islam yang memberikan kejayaan bagi agama Allah, menegakkan syariat Allah, serta melindungi nyawa, kehormatan, harta kaum Muslimin, dan anak-anak mereka....

Pemerintahan dalam Islam... Termasuk Akidah dan Pokok Agama.... Bukan Termasuk Masalah Fikih dan Cabang:

Maka Islam menjadikan pemerintahan sebagai salah satu rukun dari rukun-rukunnya. Kekuasaan/pemerintahan di dalam kitab-kitab fikih kita dihitung sebagai bagian dari akidah dan pokok agama (ushul), bukan termasuk masalah fikih dan cabang (furu'). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun telah menjadikannya sebagai salah satu simpul dari simpul-simpul Islam, bahkan barangsiapa yang mengingkari perkara ini maka ia telah kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama.

Dan jika kita mengetahui bahwa tanggung jawab untuk menegakkan negara Islam adalah tanggung jawab setiap Muslim laki-laki dan perempuan, dan bukan hanya tanggung jawab para penguasa dan ulama saja tanpa yang lainnya; sebab wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah untuk memiliki peran dalam menunaikan kewajiban Islam ini, yang diwajibkan oleh tabiat tahapan yang kita lalui saat ini dalam usia dakwah Islamiyah pasca runtuhnya negara dan kekhalifahan....

Orang-orang yang membatasi aktivitas mereka hanya pada ilmu, ibadah, zikir, dan amal kebajikan saja tanpa bekerja untuk menunaikan kewajiban (menegakkan negara Islam) ini adalah orang-orang yang berdosa lagi lalai. Ilmu dan ibadah tidak akan ada gunanya jika kaum Muslimin terus berada dalam kondisi seperti ini—menjadi santapan empuk bagi musuh-musuh Allah yang menghalalkan segala hal yang disucikan oleh kaum Muslimin. Bahkan musuh-musuh itu kelak akan menghalangi antara orang-orang yang ahli ibadah, ahli ilmu, dan ahli zikir tersebut dari ibadah, ilmu, dan zikir mereka, serta akan membesarkan anak-anak mereka di atas selain Islam, sementara mereka tidak memiliki kuasa apa pun untuk menolong anak-anak tersebut.

Karena kewajiban mendasar dan penting ini—yaitu menegakkan negara Islam—tidak dapat terwujud secara individu, melainkan harus melalui kerja kolektif (amal jama'i) yang terorganisasi dan terencana.... maka kita mengetahui bahwa bergabung dengan jamaah dan melakukan kerja kolektif adalah hal yang wajib diwujudkan oleh setiap Muslim dan Muslimah.... Dan kerja individu yang mencerai-berai lagi tidak terorganisasi tidaklah mencukupi untuk menggantikan hal tersebut, karena "suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan adanya sesuatu, maka sesuatu tersebut hukumnya menjadi wajib." (Kaidah Ushul Fikih: $Ma\ la\ yatimmul\ wajib\ illa\ bihi\ fahuwa\ wajib$).

Syahid Hasan al-Banna Menggariskan Jalan:

Inilah perkara yang dipahami oleh Imam Syahid Hasan al-Banna setelah melakukan studi yang mendalam terhadap realitas kaum Muslimin dan studi mendalam terhadap sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau kemudian menggariskan jalan bagi kita untuk kerja kolektif yang terorganisasi ini, yaitu jalan dakwah. Jalan ini merupakan jalan yang sama dengan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya ridhwanullahi 'alaihim ketika mereka mendirikan Negara Islam yang pertama. Kita berjalan di atasnya dan menyeru untuk menempuhnya, serta kepercayaan kita terhadap jalan ini semakin bertambah seiring berjalannya hari dan terjadinya berbagai peristiwa.

Demikianlah, dan dengan ringkasan yang sangat padat ini, kita melihat bahwa sudah menjadi keharusan (wajib) bagi setiap Muslim laki-laki dan Muslimah perempuan pada periode usia dakwah saat ini untuk bekerja demi menegakkan negara Islam, dan menempuh jalan dakwah yang sedang kami tempuh demi mewujudkan kewajiban ini.


Masalah Kedua

Sifat-Sifat Jamaah

  • Apa saja sifat-sifat jamaah yang wajib diikuti?
  • Apakah sifat-sifat ini terpenuhi dalam jamaah Ikhwan?
  • Apakah jamaah Ikhwanmenempuh jalan yang benar?

Sifat-Sifat Jamaah:

Adapun mengenai sifat-sifat yang wajib terpenuhi dalam suatu jamaah, yang mana seorang Muslim yang ingin menunaikan kewajiban ini bekerja di dalamnya, serta mengenai sejauh mana terpenuhinya sifat-sifat tersebut dalam jamaah Ikhwanul Muslimin.

Dan apakah Ikhwan pada hari ini telah menyimpang dari jalur yang telah digariskan oleh Imam al-Banna ataukah tidak? Maka kami katakan:

Selama tujuan kita adalah agar Islam berdaulat, kalimat Allah meninggi, kejayaan (tamkin) terwujud bagi agama Allah, syariat-Nya ditegakkan, serta negara Islam dan kekhalifahannya berdiri, maka mutlak diperlukan adanya kerja kolektif (amal jama'i) yang terorganisasi atau jamaah yang bekerja untuk mewujudkan semua itu:

Pertama:

Mengembalikan manusia secara umum, dan para aktivis Islam secara khusus, kepada pemahaman yang benar, komprehensif (syamil), lagi murni tentang Islam sebagaimana yang dibawa oleh Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, jauh dari pemotongan (parsial), penyimpangan, kesalahan, sikap berlebih-lebihan (ghuluw), maupun sikap meremehkan (tafrith). Kaum Muslimin dapat bersatu di atas pemahaman tersebut tanpa ada sikap fanatik terhadap suatu pendapat atau mazhab, dan dalam bentuk yang mewujudkan kerja sama di antara kaum Muslimin dalam hal-hal pokok (ushul) yang telah disepakati, serta saling toleran (memberi uzur) dalam hal-hal cabang (furu') yang diperselisihkan.

Sebab, tidaklah ada yang mencerai-beraikan kaum Muslimin dan menjadikan mereka berkelompok-kelompok, bergolongan, serta berpartai-partai—dan hal itu masih berlangsung hingga kini—kecuali perbedaan dalam pemahaman mereka tentang Islam dan menjauhkannya dari pemahaman yang benar, yang dahulu dihidupkan oleh kaum Muslimin generasi pertama bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Selain itu, karena salah satu tujuan utama yang ingin diwujudkan adalah menegakkan Negara Islam yang bersifat global, dan yang paling puncaknya adalah Kekhalifahan Islam, maka kita harus mendirikan negara yang dicitakan ini di atas pemahaman yang benar, komprehensif, lagi murni tentang Islam, agar negara tersebut layak menunaikan risalahnya dengan cara yang selamat lagi benar. Karena setiap cacat dalam pemahaman akan melahirkan cacat pula dalam penerapan. Demikianlah kita melihat pentingnya syarat ini dalam kerja kolektif yang terorganisasi atau dalam jamaah yang di bawah naungannya seorang Muslim menempuh jalan dakwah demi mewujudkan tuntutan-tuntutan Islam terhadap dirinya.

Kedua:

Wajib bagi jamaah yang bekerja untuk mewujudkan tuntutan-tuntutan dan kewajiban-kewajiban Islam, agar di dalam manhajnya (kurikulum/program kerja) mencantumkan penegakan negara Islam, kekhalifahan, dan perwujudan kejayaan (tamkin) bagi agama ini di muka bumi.

Jamaah mana pun yang membatasi dirinya hanya pada sebagian aspek Islam saja, atau bahkan pada seluruh tuntutan Islam namun menghindari tujuan ini—yaitu: menegakkan negara Islam dan kekhalifahan Islam—maka jamaah seperti ini tidak layak untuk diikuti dalam bekerja sama, karena kelalaian dalam menunaikan kewajiban akan tetap ada, dan dosa kelalaian tersebut juga akan tetap ada.

Ketiga:

Tidak cukup bagi jamaah tersebut sekadar memiliki pemahaman yang benar tentang Islam dan mencantumkan penegakan negara Islam di dalam manhajnya saja, tetapi jamaah tersebut juga harus menempuh jalan yang benar dalam rangka mewujudkan kewajiban ini. Tidak ada jalan yang lebih benar daripada jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam menegakkan Negara Islam yang pertama, yaitu: kekuatan akidah, kekuatan persatuan, kemudian kekuatan fisik (kemampuan) dan senjata ketika hal lain sudah tidak lagi berguna.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah menanamkan akidah di dalam jiwa-jiwa orang beriman generasi pertama, dan mencetak tipe-tipe manusia pemilik akidah yang beliau didik di atas hidangan Al-Qur'an dan di dalam madrasah (sekolah) beliau 'alaihi ash-shalatu wa as-salam.

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, serta mengambil janji setia (ba'at) dari mereka untuk membela agama, lalu mengambil sebab-sebab untuk kekuatan fisik dan senjata, karena kebenaran itu mutlak membutuhkan kekuatan yang melindunginya....

Suatu jamaah yang tidak memasukkan jihad di jalan Allah ke dalam kalkulasinya (perhitungannya), maka ia tidak layak. Dan harus ada urutan bagi ketiga kekuatan ini; sebab, andai kekuatan senjata digunakan sebelum terwujudnya kekuatan persatuan, maka ketika terjadi perselisihan apa pun, bisa saja sebagian dari mereka akan membunuh sebagian yang lain.

Dan tanpa adanya kekuatan akidah, maka amal tersebut menjadi amal yang tidak memiliki fondasi dari akidah yang selamat. Oleh karena itu, kelompok manusia yang memiliki akidah lagi saling mencintai inilah yang menjadi fondasi dan pilar-pilar tegaknya bangunan Negara Islam yang pertama. Sebab, suatu bangunan itu biasanya tegak dan dimulai dari fondasi (bawah), bukan dari atas.

Keempat:

Kewajiban bagi jamaah seperti ini adalah bekerja di seluruh arena Islam (dunia Islam) secara keseluruhan sejauh kemampuan yang ada untuk itu, dan tidak hanya terbatas di satu wilayah (negara) saja.

Sebab, Islam dan amal untuknya mencakup seluruh dunia Islam. Lagipula, negara Islam global yang dicitakan itu mutlak membutuhkan basis yang luas yang membentang di atas panggung dunia Islam. Jamaah ini juga wajib membangun komunikasi dan kerja sama dengan pihak-pihak Islam sejenis guna menyatukan berbagai potensi yang bekerja di medan dakwah Islam, menyinergikannya, serta menghalangi terjadinya perpecahan dan pertentangan di antara mereka.

Kelima:

Jika ada dua jamaah yang setara dalam keempat sifat ini misalnya, lalu salah satu dari keduanya memiliki keahlian, pengalaman, dan rekam jejak (aset sejarah) dalam medan amal Islami, sedangkan yang lain masih baru dan masih berada di awal jalan; maka yang lebih utama adalah bekerja bersama jamaah yang pertama demi menghemat waktu, tenaga, dan nyawa, daripada harus masuk ke dalam eksperimen-eksperimen baru. Selain itu, hal ini demi menyatukan kalimat kaum Muslimin dan memperkuat barisan para mujahid, daripada mengibarkan bendera yang berbilang yang membuat para aktivis terpecah belah di sekitarnya, demi mematuhi firman Allah Ta'ala: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali 'Imran: 103). Tidak boleh meninggalkan jamaah yang memiliki pengalaman dan telah terpenuhi padanya keempat sifat sebelumnya tersebut, kecuali jika kita mendapati bahwa jamaah tersebut secara kolektif (keseluruhan) telah menyimpang dan berada di atas kefasikan atau kesesatan yang nyata. Adapun beberapa kekhilafan minor atau kesalahan individu yang tidak luput dari jamaah mana pun—karena kita adalah manusia—maka hal itu tidak menghalalkan sikap menjauh dari jamaah seperti ini dan tidak bekerja bersamanya, melainkan kita bekerja bersama-sama dan sebagian dari kita saling meluruskan sebagian yang lain.

Inilah sebagian dari sifat-sifat dasar yang wajib terpenuhi dalam suatu jamaah yang layak untuk diajak bekerja sama dan menempuh perjalanan di atas jalan dakwah di bawah naungannya. Jika kita mencari dan meneliti dengan saksama, niscaya kita akan mendapati bahwa sifat-sifat ini telah terpenuhi—walhamdulillah—dalam jamaah Ikhwanul Muslimin.


Jamaah Ikhwanul Muslimin.... Telah Memiliki Sifat-Sifat Ini:

  • Imam Syahid (Hasan al-Banna) sangat rindu untuk mengembalikan pemahaman tentang Islam kepada kondisi di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para salafush shalih (generasi terdahulu yang saleh). Beliau menjadikan pemahaman sebagai rukun pertama dari rukun-rukun baiat, serta meletakkan 20 prinsip (Ushul 'Isyrin) sebagai kerangka yang melindungi pemahaman yang benar ini dari kesalahan, penyimpangan, pemotongan (parsial), bidah, dan khurafat. Pemahaman ini pun karakternya dapat menyatukan kaum Muslimin dan menjauhkan mereka dari wilayah perselisihan masa lalu yang telah mencabik-cabik mereka serta mencerai-beraikan mereka menjadi kelompok, golongan, dan partai.
  • Beliau juga menjadikan penegakan negara Islam dan pengembalian Kekhalifahan Islam sebagai salah satu tujuan terpenting jamaah. Kita dapat menemukan hal tersebut pada rukun amal dari rukun-rukun baiat dalam Risalah Ta'alim, ketika beliau menggariskan tahapan-tahapan amal untuk mewujudkan tujuan yang agung ini, dimulai dari: individu Muslim (fardul muslim), rumah tangga Muslim (baitul muslim), masyarakat Muslim (mujtama'ul muslim), lalu pemerintahan Islam (hukumah islamiyah). Hal ini terjadi pada tingkat bangsa-bangsa Muslim, yang kemudian pemerintahan-pemerintahan Islam tersebut bersatu hingga menjadi Negara Islam yang dipuncaki oleh Kekhalifahan, insya Allah.
  • Kemudian beliau mengikuti jejak jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam mewujudkan tujuan ini, dimulai dengan kekuatan akidah, kemudian kekuatan persatuan, lalu kekuatan fisik dan senjata ketika hal lain sudah tidak lagi berguna, serta mengambil sebab-sebab untuk mewujudkan ketiga kekuatan ini.
  • Lalu kita dapati beliau sejak hari pertama telah menyerukan universalitas (keuniversalan) dakwah ini dan bergerak dengannya sedemikian rupa sehingga tidak dibatasi oleh waktu maupun tempat. Maka di masa hidup beliau, dakwah ini telah melintasi batas-batas Mesir menuju ke banyak negara Arab. Dan lihatlah hari ini, dakwah ini telah memenuhi panggung dunia Islam dengan karunia Allah. Musuh-musuh Allah pun mengkhususkan dakwah ini dengan banyak peperangan dan pukulan mereka, karena mereka mengetahui keasliannya dan sejauh mana bahayanya bagi kebatilan mereka. Peperangan dan tipu daya ini justru ikut andil dalam penyebarannya dan membuat para pemuda menyambutnya, serta darah para syuhadanya menjadi bekal dan bahan bakar bagi generasi-generasi di berbagai penjuru dunia.
  • Atas karunia Allah, jamaah ini telah memperoleh keahlian dan pengalaman di medan amal Islami dalam berbagai bidang, seperti penyebaran dakwah, tarbiyah (pendidikan), takwin (pembentukan karakter), i'dad (persiapan), jihad, pengorbanan, keteguhan, dan ketulusan (tajrud), hingga berhasil meraih—walhamdulillah—kepercayaan dari mayoritas jamaah-jamaah Islam yang ada di panggung dunia Islam.
  • Sejak hari pertama, Imam Syahid selalu berhasrat untuk membangun hubungan dan jembatan di antara jamaah Ikhwanul Muslimin dengan para aktivis yang ikhlas di medan dakwah di panggung dunia Islam. Beliau menjaga hubungan yang baik bahkan dengan orang-orang yang berprasangka buruk terhadap jamaah, membalas keburukan dengan kebaikan, serta tidak mencela institusi maupun personal.

Jamaah Ikhwan secara Keseluruhan Menempuh Jalan yang Benar:

Dan kami tidak menganggap bahwa jamaah Ikhwanul Muslimin secara keseluruhan (kolektif) telah menyimpang lalu berada di atas kefasikan atau kesesatan yang dapat menghalangi seseorang untuk bekerja bersama mereka, serta menghalangi untuk ikut andil dalam kehormatan yang agung ini dan berpartisipasi dalam mewujudkan tujuan-tujuan besar ini—yang mana jamaah telah mengabdikan dirinya untuk mewujudkannya tanpa ada rasa lemah, lesu, ataupun menyerah, bagaimanapun pengorbanan dan waktu yang harus ditebus untuk itu.


Masalah Ketiga

Ikhwan ....... dan Jalur Imam Syahid

  • Apakah Ikhwanul Muslimin dan para pimpinan mereka hari ini telah menyimpang dari jalur yang telah ditempuh oleh (Imam) Syahid Hasan al-Banna rahimahullah?
  • Dan mengapa negara Islam belum juga tegak di tangan Ikhwan?!

Ikhwan ....... dan Jalur Imam Syahid:

Sebuah pertanyaan sering kali diembuskan: Apakah Ikhwanul Muslimin hari ini dan pimpinan mereka telah menyimpang dari jalur yang dahulu dilalui oleh Imam Syahid Hasan al-Banna ataukah tidak? Dan terkadang hal ini dikatakan sebagai bentuk vonis (pernyataan sepihak) atau tuduhan, bukan lagi sebuah pertanyaan.

Sesungguhnya Imam al-Banna rahimahullah telah menghimpun Ikhwan di atas pemahaman yang benar lagi selamat tentang Islam, serta menggariskan jalur pergerakannya dengan menyitir hal tersebut dari sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau pun telah menetapkan sasaran serta tujuan akhir, sekaligus meletakkan rencana-rencana utama, target-target tahapan (sasaran antara), dan sarana-sarana yang memungkinkan lagi disyariatkan demi mewujudkan tujuan dan tahapan-tahapan ini.

Pemahaman .... Salah Satu dari Dua Puluh Prinsip (Ushul 'Isyrin):

Maka kita dapati, bersama dengan pemahaman tersebut, beliau meletakkan Dua Puluh Prinsip (Ushul 'Isyrin) sebagai kerangka untuk memahami Islam berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau menjadikan pemahaman ini sebagai rukun pertama dari sepuluh rukun baiat—yang pada hakikatnya merupakan baiat (perjanjian setia) kepada Allah—hal ini demi menjamin terjaganya pemahaman tersebut tanpa ada penggantian maupun pengubahan. Kita telah dan sedang diuji di dalam berbagai ujian berat (mihnah) pada rukun pemahaman ini; di antara kelompok yang mencari-cari keringanan (mutarakhishin) dan kelompok yang berlebih-lebihan (mugalin). Di antara mereka yang menginginkan kita melepaskan aspek-aspek Islam yang memicu kemarahan para penguasa serta musuh sehingga membuat kita terkena ujian berat, dan di antara kelompok yang berlebih-lebihan yang menyelisihi Prinsip Kedua Puluh sehingga mereka mengafirkan orang-orang Muslim lainnya secara massal dan serampangan. Maka bentuk kesetiaan terhadap baiat adalah dengan kita tidak menuruti kedua belah pihak tersebut, sehingga kita dapat mewariskan pemahaman yang benar ini tanpa ada penggantian maupun pengubahan.

Imam dan Perbedaan Masalah Cabang (Furu'iyah):

Imam Hasan al-Banna rahimahullah telah mengingatkan bahwa di sana terdapat masalah-masalah cabang yang di dalamnya ada perbedaan pandangan fikih (khilafiyah). Beliau mendorong kita untuk tidak berselisih di seputarnya dan berwasiat agar kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati, serta saling toleran (memberi uzur) satu sama lain dalam hal-hal yang kita perselisihkan. Terhadap urusan-urusan cabang yang memiliki lebih dari satu pendapat—di mana setiap pendapat memiliki dalilnya masing-masing—Imam al-Banna tidak mengharuskan seluruh anggota Ikhwan untuk memegang satu pendapat saja, hal ini agar jamaah Ikhwan tidak berubah menjadi sebuah sekte (aliran) atau mazhab tertentu. Dan bisa saja terjadi dari sebagian individu jamaah menulis atau mengatakan suatu perkataan yang mungkin menyelisihi pada bagian parsial (جزئية) tertentu dari apa yang ada di dalam Ushul 'Isyrin, namun hal itu tidak berarti jamaah Ikhwan secara keseluruhan telah menyimpang dari pemahaman yang telah dimulai oleh Hasan al-Banna.

Sasaran dan Tujuan Akhir:

Adapun mengenai sasaran dan tujuan akhir yang telah ditetapkan oleh Imam Syahid, beliau mengatakan: “Tugas kita adalah memimpin dunia dan membimbing seluruh umat manusia menuju sistem-sistem Islam yang maslahat serta ajaran-ajarannya, yang mana manusia tidak akan bisa bahagia tanpa ajaran tersebut.” Di tempat lain beliau mengatakan: “Ingatlah selalu bahwa kalian memiliki dua tujuan mendasar:

  1. Membebaskan tanah air Islami dari setiap kekuasaan asing, dan hal itu merupakan hak alami bagi setiap manusia yang tidak akan diingkari kecuali oleh orang yang zalim lagi culas, atau diktator yang menindas.
  2. Menegakkan sebuah negara Islam yang merdeka di dalam tanah air yang bebas ini, yang bekerja dengan hukum-hukum Islam, menerapkan sistem sosialnya, mengumumkan prinsip-prinsipnya yang lurus, dan menyampaikan dakwahnya yang bijaksana kepada umat manusia.

Dan selama negara ini belum tegak, maka kaum Muslimin seluruhnya berdosa lagi bertanggung jawab di hadapan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar atas kelalaian mereka dalam menegakkannya dan sikap diam mereka dari mewujudkannya.”

Maka Apakah Ikhwan Telah Mengubah...

Maka apakah Ikhwan dan pimpinan mereka hari ini telah mengubah sasaran dan tujuan akhir mereka? Atau apakah mereka telah menyimpang kepada tujuan-tujuan yang lain? Apakah mereka menguranginya atau melepaskannya? Apakah mereka mengincar kekuasaan demi kekuasaan itu sendiri untuk tujuan duniawi layaknya partai-partai politik? Ataukah mereka tetap teguh dan menegaskan tujuan penegakan Negara Islam universal yang dipuncaki oleh Kekhalifahan Islam? Dan sesungguhnya ketika mereka bertujuan kepada hal tersebut, pada hakikatnya mereka hanyalah mencari rida Allah; sebab Allah-lah tujuan akhir (Allah Ghaayatunaa), dan mereka menanggung segala gangguan di jalan tersebut.

Pergerakan ..... Tahapan ..... dan Sarana:

Dalam ranah pergerakan (gerak langkah) bersama dakwah, target-target tahapan, serta sarana-sarana, Imam Syahid menyebutkan bahwa sarana-sarana yang bersifat umum adalah:

  • Iman yang mendalam (Al-Imanul 'Amiq).
  • Pembentukan karakter yang teliti (At-Takwinud Daqiq).
  • Amal yang berkesinambungan (Al-'Amalul Mutawashil).

Beliau juga menyebutkan bahwa di sana terdapat tahapan Pengenalan (At-Ta'rif), Pembentukan (At-Takwin), dan Pelaksanaan (At-Tanfidz).

Di dalam rukun amal dari rukun-rukun baiat, beliau menyebutkan tingkatan-tingkatan amal dan tahapannya secara berjenjang dimulai dari membentuk individu Muslim (fardul muslim) dan beliau menyebutkan baginya spesifikasi tertentu, kemudian rumah tangga Muslim (baitul muslim), masyarakat Muslim (mujtama'ul muslim), membebaskan tanah air Islami dari setiap kekuasaan asing, membentuk pemerintahan Islam (hukumah islamiyah), kemudian mengembalikan eksistensi internasional bagi umat Islam sehingga mengarah pada pengembalian Kekhalifahan Islam, lalu kepemimpinan dunia (ustadziyatul 'alam) dengan menyebarkan dakwah Islam di seluruh penjuru bumi. Beliau menjadikan hal tersebut sebagai bagian dari rukun-rukun baiat untuk melindunginya dari penggantian dan pengubahan. Beliau juga menyebutkan berbagai sarana untuk mewujudkan target-target tahapan ini dan menjadikan jihad sebagai jalan yang mutlak harus ditempuh; sebab jihad adalah kewajiban yang terus berlaku dan merupakan puncak tertinggi dari urusan agama ini, dan beliau menegaskan tentang jihad ini baik secara perkataan maupun perbuatan.

Apakah Ikhwan dan Pimpinan Mereka Masih Berada di Atas Jalan Ini .... dengan Amanah .... dan Kesetiaan? :

Maka apakah Ikhwan dan pimpinan mereka menempuh jalan selain jalan ini? Atau apakah mereka memotong tahapan-tahapannya? Atau apakah mereka melalaikan sebagian darinya? Atau apakah mereka mangkir dari jihad, atau yang selain itu? Lihatlah, manhaj-manhaj (kurikulum) serta program-program kerja mereka senantiasa menegaskan jalur ini dengan seluruh tujuan, tahapan, dan sarana-sarananya. Mereka berkomitmen pada jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah kami isyaratkan sebelumnya, dimulai dari kekuatan akidah, kemudian kekuatan persatuan, lalu kekuatan fisik dan senjata ketika hal lain sudah tidak lagi berguna.

Jika komitmen terhadap pemahaman, pergerakan, tujuan, tahapan, serta sarana telah terwujud, maka dalam hal apa lagi letak penyimpangan dari jalur Imam al-Banna?

Namun tampaknya—wallahu a'lam (dan Allah lebih mengetahui)—di sana ada orang-orang yang ingin mengembuskan keraguan pada jamaah secara keseluruhan karena adanya suatu tendensi tersembunyi di dalam jiwa mereka, tetapi mereka merasa malu untuk mengembuskan keraguan langsung pada jalur Hasan al-Banna agar niat asli mereka tidak terbongkar. Maka mereka mengatakan bahwa Ikhwan hari ini telah menyimpang dari jalur Hasan al-Banna.

Anehnya, di sisi lain kita juga mendengar ada pihak yang menuduh Ikhwan mengalami stagnasi (kejumudan) dan tidak berkembang, serta menuduh bahwa Ikhwan ingin mengharuskan siapa saja yang bekerja bersama mereka untuk terikat dengan pemikiran dan konsep Hasan al-Banna yang telah berlalu lebih dari empat puluh tahun yang lalu. Ini juga merupakan tuduhan yang batil (salah). Sebab, kita berkomitmen pada prinsip-prinsip pokok (ushul) dan garis-garis besar yang bersumber dari asal agama Islam serta apa yang telah dilalui oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Adapun berijtihad dalam sarana-sarana cabang (wasa'il furu'iyah) demi mewujudkan cita-cita serta tujuan-tujuan utama ini, maka tidak ada halangan darinya. Bahkan kita wajib mengembangkan sarana-sarana kita dalam batas-batas Islam dengan memanfaatkan setiap hal yang modern dan baru.

Dalam ranah pergerakan sebagaimana dalam ranah pemahaman, terkadang memang bisa saja muncul dari sebagian anggota Ikhwan perkataan atau perilaku yang di dalamnya terdapat sedikit pelanggaran dari jalur yang pertama—seperti mendominasi aspek politik di atas aspek tarbiyah (pendidikan) dan takwin (pembentukan karakter) atau yang selain itu—namun hal tersebut tidak berarti bahwa jamaah secara keseluruhan telah menyimpang dari jalur yang pertama.


Masalah Keempat

Mengapa Negara Islam Belum Juga Tegak di Tangan Ikhwan?

  • Apakah hal itu berarti bahwa jalan mereka tidak dapat mengantarkan pada perwujudan tujuan akhir ini?
  • Tidak......

Benar, mengapa Ikhwan belum mendirikan negara Islam yang mereka dambakan padahal telah berlalu waktu lebih dari setengah abad? Dan apakah hal itu berarti bahwa jalan mereka tidak dapat mengantarkan pada perwujudan tujuan akhir ini?

Negara Global.... Bukan Negara Kecil (Duwailah):

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu melihat dengan pandangan yang mendalam serta membentang luas secara waktu dan tempat... Sesungguhnya yang didambakan oleh Ikhwan bukanlah sekadar sebuah negara kecil (duwailah) Islam di satu wilayah (regional) Islam saja, melainkan mereka mendambakan sebuah negara Islam global (universal) yang menaungi panggung dunia Islam, menunaikan risalah Islam yang mendunia, serta mampu menghadapi dan bertahan di hadapan kekuatan musuh-musuh global di Timur maupun di Barat, yang mana mereka memiliki sarana-sarana komunikasi, transportasi, penyadapan, serta persenjataan modern paling mutakhir yang berhasil dicapai oleh sains.

Semua hal ini memberikan dimensi lain pada persoalan ini dalam hal karakteristik pergolakan antara pembela kebenaran (ahlul haq) dan pembela kebatilan (ahlul bathil) yang wajib dimasukkan ke dalam kalkulasi.

Kami Tidak Sedang Merenovasi... Melainkan Membangun dari Baru:

Kemudian, sesungguhnya kami tidak sedang merenovasi sebuah bangunan yang sudah ada, melainkan kami sedang mendirikan sebuah bangunan yang baru setelah kami menyingkirkan puing-puing dari bangunan yang telah hancur lebur. Negara Islam, sebagaimana bangunan megah lainnya, mutlak harus memiliki fondasi yang luas, dalam, lagi kokoh. Hal ini membutuhkan waktu dan tenaga yang sangat besar, mengingat fondasi adalah tahapan paling penting sekaligus paling berat dalam sebuah pembangunan. Karakteristik fondasi pada bangunan mana pun adalah berada di bawah permukaan tanah, sehingga tidak dapat dilihat atau diapresiasi oleh orang yang berpandangan dangkal (permukaan) tanpa pendalaman, lalu ia menyangka bahwa belum ada sesuatu pun yang selesai, serta mengira bahwa waktu dan tenaga yang telah berlalu terbuang sia-sia.

Perubahan Total (Akar) Adalah Kerja Ikhwan:

Begitu pula bagi orang yang hari ini melihat pada kurun waktu masa lalu yang terbatas, ia tidak akan bisa mengapresiasi hakikat perubahan total (akar) yang telah dihasilkan oleh dakwah Ikhwanul Muslimin di panggung dunia Islam. Padahal, perbandingan mutlak harus dilakukan antara kondisi kaum Muslimin dan tanah air Islam pada saat bermulanya pendirian jamaah Ikhwan dengan kondisi mereka pada hari ini, agar dampak yang besar tersebut menjadi jelas dan tampaklah hakikat peletakan fondasi yang di atasnya bangunan ini akan tegak dengan izin Allah.

Secara ringkas sekali, saya jelaskan dampak dan perubahan tersebut dalam empat fenomena mendasar:

  1. Sebagian besar wilayah Islam dahulunya dijajah secara militer oleh musuh-musuh Allah, di mana mereka menjauhkan syariat Allah dari pemerintahan, menghalalkan hal-hal yang disucikan oleh kaum Muslimin, serta menginvasi kaum Muslimin dalam hal akidah, bahasa, moral mereka... dan seterusnya.
  2. Mayoritas mutlak kaum Muslimin dahulu bodoh (tidak mengerti) akan hakikat agama mereka, hidup dalam kulit luar yang dangkal tanpa menyentuh substansi (inti), serta tidak menyadari komprehensifnya Islam dan cakupannya terhadap seluruh aspek kehidupan dunia sebagaimana ia mencakup urusan akhirat.
  3. Ruh jihad di jalan Allah dahulu bisa dikatakan telah punah, dan tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang terenyuh atau bergerak karena apa yang menimpa saudara-saudara Muslimnya di wilayah lain.
  4. Komitmen beragama (religiusitas) dahulu tidak tersebar di kalangan pemuda, dan hampir-hampir hanya terbatas pada orang-orang lanjut usia (tua), itu pun merupakan religiusitas yang pasif.

Inilah kondisi yang dialami oleh kaum Muslimin dan dunia Islam sesaat sebelum berdirinya jamaah Ikhwan.

  • Adapun hari ini, dengan karunia Allah pertama-tama, kemudian berkat pengaruh dakwah Ikhwan, kita melihat bahwa dakwah ini telah mendorong banyak bangsa Muslim untuk membebaskan diri dari penjajahan militer, serta menuntut penerapan syariat Allah yang sempat dijauhkan dari pemerintahan. Dan tuntutan tersebut masih terus berlangsung dengan penuh keteguhan di hadapan para penguasa negeri-negeri Islam saat ini.
  • Kita juga melihat pemahaman yang komprehensif tentang Islam—bahwa Islam adalah agama sekaligus negara (dinun wa daulah)—telah menjadi hal yang lumrah (dominan), dan keyakinan akan kelayakan Islam dalam memperbaiki kehidupan umat manusia telah menjadi perkara yang diakui oleh banyak orang, walhamdulillah.
  • Kita melihat hari ini ruh jihad dan kecintaan untuk mati syahid di jalan Allah mengalir di dalam diri para pemuda dalam jumlah yang terus meningkat, sebagaimana kita juga melihat adanya rasa keterpautan dan respons terhadap isu-isu dunia Islam serta apa yang dialami oleh kaum Muslimin di mana pun berada.
  • Kita melihat fenomena religiusitas di tengah-tengah pemuda dan pemudi, yang dipresentasikan dalam kebangkitan Islam (shahwah islamiyah) yang nyata pada tingkat bangsa-bangsa Muslim. Yang mana jika kita mengamati dengan saksama tentang siapa di balik kebangkitan ini dan tentang awal mula kemunculannya di wilayah Islam mana pun, niscaya kita dapati bahwa dakwah Ikhwan, sarana-sarana Ikhwan, ujian berat (mihnah) yang dialami Ikhwan, serta para syuhada yang telah mereka persembahkan; semua itu menjadi bekal dan bahan bakar bagi generasi muda yang sedang tumbuh... Dan kita dapat merasakan bahwa religiusitas para pemuda hari ini bersifat aktif, hidup, kuat, lagi berpengaruh yang ingin melakukan perubahan, dan bukan religiusitas yang pasif seperti masa lalu. Di sinilah bukti bahwa kehidupan mulai berdenyut kembali di dalam tubuh dunia Islam.

Demikianlah karakteristik fondasi. Maka perubahan ini, tipe-tipe manusia pemilik akidah seperti ini, rumah tangga Muslim yang didirikan di atas ketakwaan, serta opini publik Islam; semua itu merepresentasikan basis yang solid dan fondasi yang kokoh agar pemerintahan Islam dan Negara Islam dapat tegak di atasnya, insya Allah. Sejauh mana kita berkontribusi demi menyempurnakan ketiga elemen ini, sejauh itu pula kondisi-kondisi akan terkondisikan bagi tegaknya pemerintahan Islam, insya Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan. Dan sejauh mana adanya kelalaian, sejauh itu pula akan terjadi penundaan.

Dan Di Sana Ada Sudut Pandang Lain:

Bahwa waktu di sini tidak diukur dengan umur individu manusia, melainkan diukur dengan umur dakwah-dakwah dan umat-umat. Jika kita menengok ke masa lalu, niscaya kita dapati bahwa kurva Negara Islam telah mengalami penurunan secara bertahap sejak beberapa abad yang lalu hingga runtuhnya negara kemudian kekhalifahan. Lalu kita dapati, dengan karunia Allah kemudian berkat pengaruh dakwah Ikhwanul Muslimin, kurva tersebut mengubah arah penurunannya dan mulai bergerak naik kembali, meskipun secara perlahan. Keempat fenomena terdahulu merupakan bukti atas transformasi dan kenaikan ini. Dan agar kenaikan ini mencapai puncaknya hingga tegaknya negara Islam global, insya Allah, sekiranya hal itu menghabiskan waktu satu abad lamanya sejak dimulainya transformasi tersebut, maka hal itu tidaklah lama dalam hitungan umur dakwah-dakwah dan umat-umat. Terlebih karena kita tidak ingin bangunan kita tegak lalu runtuh kembali, melainkan tegak untuk berdiri kokoh dengan izin Allah. Dan sudah maklum bahwa sikap terburu-buru atau ketidaksempurnaan dalam fondasi dapat berisiko meruntuhkan bangunan saat menghadapi guncangan atau tekanan apa pun, dan inilah yang tidak kita inginkan.

Di sana ada makna lain, yaitu bahwa kita bertanggung jawab atas amal (bekerja) dan mengambil sebab-sebab (berikhtiar) sejauh kemampuan yang ada untuk itu, dan kita tidak bertanggung jawab atas hasil akhir. Sesungguhnya kami jauh lebih merindukan datangnya pertolongan Allah dan kejayaan dari-Nya daripada para pemuda yang penuh semangat itu, akan tetapi segala urusan berjalan berdasarkan takaran-takaran (ketetapan) dan sunatullah yang mutlak harus dilalui.

Perkara yang paling penting dalam masalah ini adalah bahwa kita berjalan di atas jalan yang benar dan mengerahkan segenap kemampuan tanpa ada penggantian maupun pengubahan.

Ketahuilah, maka hendaklah orang-orang yang mencari kejelasan dengan jujur serta para aktivis Ikhwan merasa tenang dan bahagia, dan hendaklah orang-orang yang ragu menahan diri, bertakwa kepada Allah, serta berkatalah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amal mereka dan mengampuni dosa-dosa mereka: “Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung.” (QS. Al-Ahzab: 71).


Apakah Mungkin bagi Jamaah Ikhwan untuk Menegakkan Negara Islam Sementara Musuh-Musuh Allah Senantiasa Mengintai Mereka?

  • Apakah mungkin bagi jamaah Ikhwan untuk menegakkan negara Islam sementara musuh-musuh Allah senantiasa mengintai mereka?
  • Mengapa mereka tidak menggunakan metode partai-partai politik saja agar barangkali bisa sampai lebih cepat?

Apakah mungkin bagi Ikhwan untuk mendirikan bangunan negara Islam sementara musuh-musuh Allah senantiasa mengintai mereka, memukul mereka, dan menghancurkan apa yang mereka bangun secara berkesinambungan? Maka apakah mereka perlu berkompromi (mengalah) sedikit saja dari metode tarbiyah (pendidikan) lalu beralih menggunakan metode partai-partai politik, karena barangkali hal itu dapat mempercepat mereka mencapai kekuasaan dan menegakkan negara Islam?

Kembalilah kepada Prinsip-Prinsip Pokok (Ushul)... Karena di Sanalah Ada Solusi:

Kembalilah kepada prinsip-prinsip pokok... karena ia adalah kunci solusi.

Mungkin ada baiknya untuk menjawab pertanyaan ini dengan cara kembali kepada sirah yang harum, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya dihadapkan pada ujian-ujian berat, pukulan-pukulan, dan gangguan dari musuh-musuh Allah. Saat itu, secara lahiriah tampak bahwa volume kesyirikan dan kekafiran sangat besar, kekuatan musuh-musuh Allah sangat agung, sedangkan volume orang-orang beriman sangat kecil dan kekuatan mereka sangat sederhana. Akan tetapi, meskipun gangguan dan ujian berat tersebut terus berlanjut, negara Islam tetap tegak, Jazirah Arab bersih dari kesyirikan dan berhala-berhala, Persia berhasil ditaklukkan, Yahudi diusir, cahaya merata, dan kegelapan pun sirna. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sejak hari pertama telah fokus pada agenda mempersiapkan orang-orang beriman dan mendidik (tarbiyah) mereka, dan beliau terus melakukan hal itu meskipun di tengah ujian-ujian berat, bahkan beliau sangat menjaga hal itu hingga pasca terjadinya kemenangan dan kejayaan (tamkin).

Perkara ini pada hakikatnya memiliki ukuran-ukuran dan timbangan-timbangan lain di luar ukuran dan timbangan manusia yang bersifat materi. Ini adalah tentang Al-Haq (kebenaran) dan Al-Bathil (kebatilan). Ini adalah tentang dukungan Allah dan pertolongan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman di hadapan tipu daya setan beserta para penolongnya dari kalangan musuh-musuh Allah. Sesungguhnya persoalan ini bukan antara musuh-musuh Allah dengan personal para dai yang menyeru kepada Allah, melainkan antara mereka dengan Allah dan dakwah Allah: “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (QS. Yusuf: 21). Sesungguhnya para dai yang menyeru kepada Allah yang aktif di medan dakwah telah menjual diri mereka kepada Allah, mereka tidak lagi memiliki bagian dalam urusan dunia manusia, dan tidak pula memiliki ambisi duniawi yang mereka perebutkan dengan musuh-musuh Allah. Dan kamu akan mendapati sunatullah yang tidak akan pernah berubah antara pembela kebenaran dan pembela kebatilan bahwa pergolakan itu pasti terjadi, dan hasil akhir pada kesudahannya akan berpihak pada pembela kebenaran bagaimanapun kebatilan itu tampak membusungkan dada di hadapan mereka: “Demikianlah Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Ra'd: 17). “Sebenarnya Kami melemparkan yang benar kepada yang batil lalu (yang benar) itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap.” (QS. Al-Anbiya: 18). “Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara, gereja-gereja, sinagoge-sinagoge, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (QS. Al-Hajj: 40).

Akan tetapi, hal itu merupakan ujian dan cobaan dari Allah: “Demikianlah, dan sekiranya Allah menghendaki niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad: 4). Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kepada kita ukuran-ukuran ini dalam medan perang dan pertempuran, berfirman: “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, (karena) sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa: 76), dan berfirman: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249). Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjanjikan pertolongan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, oleh karena itu wajib bagi kita untuk menjadi orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, agar kita layak untuk mewujudkan janji Allah berupa pertolongan atas musuh-musuh Allah.

Di sinilah tampak pentingnya aspek tarbiyah (pendidikan) dan takwin (pembentukan karakter) di sepanjang jalan, serta tidak boleh meremehkan urusannya atau menguranginya. Sebab, iman adalah senjata kuat yang dengannya kita menghadapi seluruh kekuatan bumi secara keseluruhan, dan iman pulalah yang meledakkan di dalam diri pemiliknya seluruh potensi kesabaran, ketahanan, keteguhan, jihad, pengorbanan, dan penebusan jiwa—dan bukannya politik beserta metode-metodenya. Sesungguhnya metode partai-partai politik tidak akan layak dalam pertempuran kita ini menghadapi musuh-musuh Allah, terutama jika hal itu harus mengorbankan tarbiyah, i'dad (persiapan), dan penguatan iman. Hal ini tidak berarti bahwa kita menolak politik secara mutlak, melainkan kita berinteraksi dengannya sebagai bagian dari agama, kita mengaturnya dengan aturan-aturan agama, serta menyelaraskan antara politik dengan tarbiyah dan takwin, khususnya pada tahapan peletakan fondasi dan pembentukan basis yang solid agar bangunan dapat tegak di atasnya secara stabil, insya Allah.

Bukan Penghancuran Terhadap Bangunan yang Telah Tegak ......

Terkadang perkara ini rancu bagi sebagian orang, lalu mereka menyangka bahwa apa yang dialami oleh Ikhwan berupa ujian berat atau pukulan dari musuh-musuh Allah adalah bentuk penghancuran terhadap bangunan yang telah tegak, sehingga seolah-olah penghancuran tersebut terus berulang pada setiap kalinya. Padahal, hakikatnya tidaklah demikian. Sesungguhnya ujian-ujian berat—yang merupakan sunatullah dalam jalan dakwah—bukanlah sebuah penghancuran, melainkan merupakan proses penempaan (pemurnian) dan penyaringan bagi bata-bata (kader-kader) tersebut, yang mana dengannya bangunan yang kuat akan tegak dengan izin Allah.


Sesungguhnya menjauhnya sebagian orang dari barisan sebagai akibat dari ujian-ujian berat (mihnah) ini bukanlah sebuah penghancuran dan bukan pula pelemahan bagi barisan, melainkan itu adalah pembersihan barisan dari titik-titik kelemahan, dan Allah akan menggantikan barisan tersebut dengan orang-orang selain mereka yang kemudian tidak akan seperti mereka.

Andaikata tujuannya adalah sekadar mewujudkan sebuah pemerintahan Islam yang independen di salah satu negeri dari negeri-negeri Islam yang telah dicabik-cabik oleh musuh-musuh Allah ini, niscaya kondisinya akan berbeda, dan perkara tersebut tidak akan membutuhkan tenaga yang banyak serta fondasi yang dalam. Akan tetapi, ketika negeri Islam ini menjadi bagian dari sebuah entitas raksasa yaitu Negara Islam global, maka perkaranya berbeda, serta kedalaman fondasi dan kekokohannya pun berbeda. Maka berbeda antara meletakkan fondasi untuk sekelompok rumah yang berdampingan yang masing-masing hanya terdiri dari satu lantai, dengan meletakkan fondasi untuk sebuah gedung pencakar langit di atas luas area yang sama dengan rumah-rumah tersebut.

Sesungguhnya metode partai-partai politik dalam hal memprioritaskan kekuasaan dan jumlah perolehan suara dalam pemilu tanpa memedulikan kualitas (mutu/karakter), tidaklah layak bagi kita dan tidak dapat dipercaya kesudahannya. Sesungguhnya kami tidak menginginkan orang yang hanya memberikan suaranya saja kepada kami, melainkan kami menginginkan orang yang menyerahkan jiwa, harta, dan segala apa yang dimilikinya, serta bertahan dan teguh dalam menghadapi berbagai kesulitan. Tidak boleh bagi kita didorong oleh keinginan yang menggebu-gebu untuk melihat bangunan muncul di atas permukaan tanah lalu terburu-buru dalam membangun fondasi tanpa adanya kesempurnaan (profesionalitas) padanya. Sebab, waktu itu diukur dengan umur dakwah-dakwah dan umat-umat, bukan dengan umur individu manusia. Dan sebelum kamu menganggap pertolongan itu datang terlambat, niscaya kita harus bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah kita telah menegakkan seluruh mukadimah (syarat-syarat awal) dan tuntutan-tuntutannya serta menunaikan kewajiban kita dengan bentuk yang paling sempurna? Kemudian, apakah kita telah benar-benar menjadi layak untuk menerima pertolongan yang telah dijanjikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman: “Dan merupakan hak Kami untuk menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47), ataukah kita masih sebatas para pengklaim iman dan sekadar dinisbatkan sebagai orang-orang yang beriman?

Kami tidak mengecilkan arti pertempuran antara kebenaran dan kebatilan, dan kami mengetahui bahwa jalan ini terjal serta penuh dengan duri, darah, dan serpihan tubuh (jasad), serta kebatilan akan terus memerangi kita sampai ia mengembuskan napasnya yang terakhir. Akan tetapi, kami memohon pertolongan kepada Allah Sang Pemberi segala kekuatan dan kami mengambil sebab-sebab kekuatan sejauh kemampuan kami demi mematuhi perintah-Nya Ta'ala: “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu” (QS. Al-Anfal: 60). Kami juga mengimani firman Allah Ta'ala: “Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan kemarahan hati mereka. Dan Allah menerima tobat orang yang Dia kehendaki. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS. At-Tawbah: 14-15). Dan kami mengadakan transaksi yang menguntungkan dengan Allah: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur'an.” (QS. At-Tawbah: 111). Serta kami merasa tenang atas terwujudnya janji Allah: “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Ku.” (QS. An-Nur: 55).

Dengan demikian, kita berada pada level tugas agung yang kita hadapi ini, dan pada level persiapan untuknya. Harapan senantiasa memenuhi hati kami, serta kepercayaan kepada Allah dan dukungan-Nya meliputi kami. Tidak ada rasa takut maupun kelemahan yang merasuki kami ketika melihat kekuatan musuh, dan kami tidak menjadi lesu, tidak menyerah, dan tidak pula menjadi lemah disebabkan oleh apa yang menimpa kami berupa ujian-ujian berat dan pukulan-pukulan di jalan Allah, dan Allah-lah tempat memohon pertolongan.


Apakah Ikhwan akan Terus Menerima Pukulan dan Meneguk Ujian Demi Ujian atau Merasakannya Tanpa Ada Jawaban atau Perlawanan?

Setelah ini, kita akan membahas sebuah pertanyaan yang erat kaitannya dengan pertanyaan sebelumnya, yaitu:

  • Apakah Ikhwan akan terus menerima pukulan dan meneguk ujian demi ujian atau merasakannya tanpa ada jawaban atau perlawanan?

Mungkin ada baiknya juga sebelum menjawab pertanyaan ini, kita kembali kepada sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar kita menemukan jawaban yang jelas di dalamnya. Beliau 'alaihi ash-shalatu wa as-salam beserta kaum Muslimin yang bersama beliau telah dihadapkan pada gangguan dan penyiksaan yang sangat keji dari kaum musyrik di Makkah. Beliau dahulu berjalan melewati keluarga Yasir (Alu Yasir) ketika mereka sedang disiksa, lalu beliau bersabda kepada mereka: “Bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat yang dijanjikan untuk kalian adalah surga.” Dan mereka pun bersabar hingga Yasir dan istrinya, Sumayyah radhiallahu 'anhuma, gugur syahid di bawah siksaan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memerintahkan seorang pun dari kaum Muslimin untuk membalas agresi gangguan tersebut dengan kekuatan pada masa itu, karena upaya apa pun dari jenis tersebut tidak akan menghentikan agresi, melainkan karakternya justru akan meningkatkan eskalasi agresi itu dan membawanya pada tindakan refresif yang sangat kejam yang dapat memusnahkan kaum Muslimin padahal mereka masih berjumlah sedikit.

Sirah juga meriwayatkan kepada kita bahwa ketika gangguan semakin hebat menimpa sebagian kaum Muslimin, salah seorang dari mereka berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: “Tidakkah engkau memohon pertolongan untuk kami?” Maka tampaklah rasa marah di wajah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan beliau bersabda (yang maknanya): bahwa orang-orang sebelum kalian dahulu ada yang digalikan lubang untuk mereka, lalu mereka digergaji dengan gergaji, dan dipisahkan antara daging dan tulangnya, tanpa hal itu memalingkan mereka dari agama mereka. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan kabar gembira kepada mereka tentang sempurnanya perkara (agama) ini dan beliau bersabda: “Akan tetapi kalian adalah kaum yang tergesa-gesa.” Adalah berada dalam kemampuan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memerintahkan sebagian kaum Muslimin untuk membunuh tokoh-tokoh kekafiran seperti Abu Jahal atau Abu Lahab, atau untuk menghancurkan berhala-berhala atau sebagian darinya, akan tetapi beliau tidak melakukannya karena alasan yang telah kami sebutkan di atas. Dan hal itu tidak dianggap sebagai sikap pasif dari beliau, melainkan hikmah dan maslahat dakwah menghendaki hal tersebut. Karena ambisi dan maksud utamanya bukanlah menghentikan gangguan yang menimpa kaum Muslimin, melainkan maksudnya adalah menyampaikan dakwah Allah serta membentuk basis-basis dan pilar-pilar yang di atasnya akan tegak bangunan megah dakwah dan Negara Islam. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengetahui bahwa gangguan dan cobaan bukanlah perkara baru yang asing di atas jalan dakwah yang mutlak harus dilepaskan dan dihentikan seketika itu juga, melainkan itu adalah sunatullah dalam dakwah-dakwah demi sebuah hikmah yang mulia, yaitu penyaringan, penempaan, dan penambahan iman. Karena amanah-amanah kemenangan itu sangat berat, dan tidak ada yang mampu memikulnya serta menunaikan kinerjanya dengan baik kecuali tipe-tipe manusia yang telah tersaring ini, sekira mereka tidak terfitnah oleh dunia dan tidak pula dipalingkan oleh kesulitan.

Kemudian kita mendapati, dengan mengikuti sirah pasca hijrah dan pada saat bermulanya pembentukan basis bertolak (pangkalan gerak) kaum Muslimin, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berpikir untuk menghadapi kaum musyrik dengan kekuatan. Ketika beliau keluar menuju (perang) Badar, beliau keluar untuk menghadang kafilah dagang dan bukan untuk berperang. Akan tetapi Allah Ta'ala menghendaki terjadinya pertempuran yang memiliki kekuatan (peperangan besar) dengan ilmu dan takdir-Nya. Maka seketika itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di bawah tenda (al-'arisy) seraya berdoa kepada Tuhannya dengan sangat mengiba dalam berdoa hingga selendangnya terjatuh dari kedua pundaknya, dan beliau bersabda: “Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini, maka Engkau tidak akan disembah lagi di bumi.” Makna dari hal tersebut adalah bahwa beliau, berdasarkan takaran manusianya, masih merasa khawatir atas kelompok orang-orang beriman ini jika mereka sampai binasa dalam peperangan tersebut padahal jumlah mereka sedikit, sehingga perjalanan dakwah akan terhenti.

Akan tetapi, telah ada dalam takdir Allah pertolongan bagi orang-orang beriman dan kekalahan yang hina bagi musuh-musuh Allah, dan peristiwa Badar menjadi pemisah antara periode gangguan serta keterpencilan (posisi lemah) dengan periode pertolongan serta kejayaan (tamkin).

Demikianlah kita melihat bahwa permulaan dalam membalas agresi musuh-musuh Allah mutlak harus memiliki ketersediaan kondisi-kondisi dan situasi-situasi yang menjadikannya tepat (kondusif). Dan bahwa upaya apa pun sebelum itu tidak akan aman kesudahannya, serta berada dalam kondisi tidak menguntungkan bagi dakwah—yang mana dakwah itulah yang menjadi maksud utama, dan bukan personal orang-orang yang diagresi.

Kami katakan juga, barangkali pada sikap Ikhwan di beberapa belahan dunia Islam terdapat jawaban yang jelas untuk pertanyaan ini; bahwa tidak mungkin mereka akan terus-menerus seperti ini menerima pukulan tanpa ada jawaban atau perlawanan. Maka hendaklah orang-orang yang bersemangat merasa tenang, dan janganlah orang-orang yang terburu-buru bersikap tergesa-gesa, karena segala urusan berjalan berdasarkan takaran-takaran (ketetapan): “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti.” (QS. Yusuf: 21).


Apakah Itu Kesalahan Pimpinan?

Di dalam atmosfer ujian berat dan dengan panjangnya kurun waktu ujian tersebut, maka atmosfer itu bersiap untuk memunculkan pertanyaan lain, dan barangkali sebagian orang meniupkannya sebagai bentuk peraguan, yaitu: Apakah ujian-ujian berat dan pukulan-pukulan ini merupakan akibat dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh pihak pimpinan? Dan apakah mungkinkah untuk dihindari?

Dan kita kembali lagi kepada sirah untuk menemukan jawaban di dalamnya. Maka kita dapati bahwa apa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya berupa gangguan dan penyiksaan bukanlah akibat dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, melainkan itu merupakan sikap yang lumrah (alami) dari musuh-musuh Allah terhadap dakwah Allah dan para dai yang menyeru kepada Allah. Mereka merasakan di dalam dakwah tersebut adanya bahaya bagi kebatilan mereka dan bagi kekuasaan mereka yang berdiri di atas kelaliman serta kezaliman. Mereka mengetahui bahwa dalam tegaknya dakwah yang haq dan kemenangannya terdapat kehancuran bagi kebatilan mereka serta kekalahan bagi mereka. Oleh karena itu, mereka memeranginya dan mencoba menghancurkannya sebelum dakwah tersebut menghancurkan mereka. Akan tetapi mereka gagal dalam hal itu karena ia adalah dakwah Allah dan cahaya Allah, dan manusia tidak akan pernah mampu memadamkan cahaya Allah: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (QS. As-Saff: 8).

Pimpinan Telah Berijtihad Sejauh Kemampuannya untuk Kebaikan:

Akan tetapi, musuh-musuh Allah ketika mereka memerangi dakwah Allah, mereka mutlak harus menyodorkan kepada khalayak manusia atau kepada opini publik sebuah alasan palsu yang mereka sandarkan dalam peperangan dan agresi mereka. Maka mereka menempelkan tuduhan-tuduhan batil kepada para dai yang menyeru kepada Allah, sebagaimana mereka dahulu mengatakan tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau adalah seorang pendusta, penyihir, dukun, penyair, dan orang gila; serta menuduh bahwa dengan dakwahnya dan dengan agamanya beliau memisahkan antara seseorang dengan keluarganya... dan seterusnya.

Sebagaimana juga Firaun dan para pemuka di sekitarnya mendahului mereka dengan menuduh Musa dan kaumnya melakukan kerusakan di muka bumi. Dan sebagaimana yang terjadi di zaman kita sekarang ini, di mana musuh-musuh Allah menuduh Ikhwan dan para dai yang menyeru kepada Allah dengan tuduhan ekstremisme, terorisme, dan berlindung di balik agama untuk memanjat menuju kekuasaan.

Serta sebagaimana mereka merekayasa berbagai peristiwa sebagai alasan untuk memukul mereka, seperti sandiwara upaya pembunuhan Abdel Nasser di Alexandria... dan seterusnya dari metode-metode penyesatan, peraguan, dan pencitraan buruk. Akan tetapi cahaya kebenaran lebih kuat dan lebih bersinar daripada untuk ditutupi oleh tuduhan-tuduhan batil ini. Sebagaimana sebagian orang yang pendek tekadnya untuk melanjutkan perjalanan sebagai akibat dari pukulan-pukulan dan ujian berat ini, mereka gemar mengembalikan celaan kepada pihak pimpinan dan menuduh bahwa pimpinanlah yang menyebabkan terjadinya ujian-ujian berat ini sebagai akibat dari kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan. Hal ini sangat tidak sesuai dengan realitas. Dan sebagaimana dahulunya tidak berada dalam kemampuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menghindari terjadinya gangguan dan penyiksaan atas diri beliau dan atas kaum Muslimin yang bersama beliau kecuali jika beliau berkompromi (mengalah) dari banyak hal yang beliau serukan—yang mana hal itu memicu kemarahan musuh dan menggelisahkan mereka, khususnya seruan kepada Tuhan yang Esa dan meninggalkan berhala-berhala ini—padahal tidak boleh bagi beliau shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berkompromi dari sesuatu pun tentang hal itu, sementara Allah menyeru beliau: “Maka berpegangteguhlah engkau kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya engkau berada di atas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.” (QS. Az-Zukhruf: 43-44). Maka konsekuensinya, agresi musuh-musuh Allah dan gangguan mereka terhadap beliau dan kaum Muslimin tidak pernah berhenti hingga kemenangan itu terwujud.

Kami tidak bermaksud dengan hal itu bahwa Ikhwan dan pimpinan mereka maksum (bebas) dari kesalahan. Akan tetapi kita wajib membedakan antara kesalahan-kesalahan yang bersifat parsial (juz'iyah) atau individual yang tidak luput dari jamaah mana pun atau pergerakan mana pun—bahkan jamaah pertama bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sekalipun—dengan sikap mengembalikan urusan ujian-ujian berat pada asal mulanya kepada kesalahan-kesalahan dari pimpinan, atau menganggap bahwa mungkinkah untuk menghindari ujian berat dengan cara menghindari kesalahan. Maka konsep pemikiran (asumsi) seperti ini adalah inti dari kesalahan itu sendiri.


Masalah Keenam

Kantong Para Dai... Adalah Brankas bagi Harta Ini

  • Mengembalikan manusia secara umum kepada agama yang murni lagi komprehensif.
  • Menegakkan hukum Allah di muka bumi merupakan bagian mendasar di dalam manhajnya.
  • Jalannya untuk mewujudkan hal itu.... Adalah jalan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Kantong Para Dai... Adalah Brankas bagi Harta Ini:

Dan setelah itu: Maka Ikhwan biasanya lebih memilih untuk tidak menyibukkan diri mereka dan para pembaca mereka dengan apa yang diembuskan oleh orang-orang yang memiliki tendensi tertentu berupa peraguan atau tuduhan-tuduhan batil. Mereka membiarkan amal nyata dan sikap-sikap yang menjawabnya untuk mereka sekaligus menegaskan kebatilan tuduhan-tuduhan ini. Hal itu dikarenakan jika Ikhwan menjawab suatu tuduhan dan membuktikan kebatilannya, maka betapa mudahnya bagi orang-orang yang memiliki tendensi tertentu tersebut untuk merekayasa tuduhan lain secara dusta dan bohong, dan begitu seterusnya. Di dalam hal yang demikian itu terdapat pengalihan dari amal yang serius, pembuangan waktu dan tenaga, serta memberikan nilai (panggung) bagi orang-orang yang mengembuskan keraguan.

Harta Itu Bersumber dari Kantong Para Dai Saja....

  • Sebagian orang mengembuskan pertanyaan atau peraguan di seputar sumber harta (dana) yang dinafkahkan di medan dakwah dan pergerakan ini...
  • Yang mana itu benar-benar merupakan nafkah yang banyak.... Dan Imam Syahid rahimahullah menjawab orang-orang yang melontarkan pertanyaan ini, beliau bersabda:

Ketahuilah, maka hendaklah mereka dan selain mereka mengetahui bahwa Ikhwanul Muslimin tidak pernah kikir terhadap dakwah mereka pada suatu hari pun, bahkan dengan makanan pokok anak-anak mereka, perasan darah mereka, dan harga dari kebutuhan-kebutuhan darurat mereka, terlebih lagi terhadap kebutuhan tersier (kemewahan) mereka serta kelebihan dari nafkah-nafkah mereka. Dan bahwa pada hari ketika mereka memikul beban ini, mereka telah mengetahui dengan sangat baik bahwa ini adalah dakwah yang tidak rida dengan sesuatu yang lebih rendah daripada darah dan harta. Maka mereka pun keluar (menyerahkan) dari semua itu, dan mereka memahami makna firman-Nya Ta'ala: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Tawbah: 111). Maka mereka menerima transaksi penjualan tersebut dan menyerahkan barang dagangannya atas dasar keridaan dan kebaikan jiwa, seraya meyakini bahwa segala karunia seluruhnya milik Allah. Maka mereka merasa cukup dengan apa yang ada di tangan mereka dari apa yang ada di tangan manusia, dan Allah menganugerahkan keberkahan kepada mereka dalam hal yang sedikit sehingga membuahkan hasil yang banyak... Kemudian Imam Syahid menegaskan bahwa tidak pernah masuk ke dalam kas Ikhwan satu sen (piaster) pun dari pihak pemerintah, dan beliau bersabda kepada Ikhwan: Dan janganlah kalian menjadikan hal itu di dalam kalkulasi kalian, manhaj kalian, jangan pula kalian memandangnya, dan jangan bekerja untuknya. Beliau bersabda: Dan kami tidak akan menerima kecuali dari seorang anggota atau dari seorang simpatisan (pencinta). Dan demikianlah kita mendapati bahwa jamaah Ikhwan termasuk jamaah yang paling kaya karena ia memiliki segala apa yang ada di dalam kantong para individunya, terlebih lagi dari para simpatisan mereka. Orang-orang yang memiliki pandangan materialistis mungkin merasa heran dengan sikap Ikhwan ini, akan tetapi inilah akidah yang mereka dididik di atasnya, dan mereka reguk di dalam hati mereka yang mendorong mereka untuk berkorban dan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah. Sebagaimana hal itu dahulu mendorong kaum Muslimin generasi pertama menuju contoh-contoh yang mengagumkan dalam hal pengorbanan dan penafkahan di jalan Allah, seperti contoh dari Abu Bakar Ash-Siddiq dan Utsman bin Affan radhiallahu 'anhum serta selain mereka yang sangat banyak. Kemudian sesungguhnya pihak mana pun atau pemerintah mana pun ketika menyerahkan harta kepada suatu jamaah dari jamaah-jamaah yang ada, mereka tidak menyerahkannya karena mengharap rida Allah, melainkan untuk mewujudkan suatu kemaslahatan bagi dirinya di balik hal tersebut... Dan di sana ada banyak orang yang siap untuk hal itu... Akan tetapi Ikhwan—walhamdulillah—sejak hari di mana jamaah mereka tumbuh, mereka tidak pernah mengotori tangan-tangan mereka dengan perkara semacam ini. Sungguh hal itu pernah ditawarkan kepada mereka, lalu mereka menolaknya dengan segala keengganan dan rasa cukup (independen) berkat karunia Allah. Maka hendaklah orang-orang yang ragu menahan diri, dan hendaklah orang-orang yang bertanya merasa tenang.


Syura (Musyawarah).... Prinsip yang Ada.... dan Realitas yang Diterapkan:

Dan di dalam ranah pergerakan peraguan—yang mana ini lebih mendominasi daripada sekadar ranah pertanyaan—sebagian orang mengeklaim bahwa Ikhwan tidak memberikan kedudukan yang layak bagi syura di dalam organisasi-organisasi mereka, dan mereka mengharuskan siapa saja yang berjalan bersama mereka dengan ketaatan yang buta (tha'ah 'amya').

Dan ini merupakan klaim yang batil, yang tujuannya adalah memalingkan pemuda Muslim yang merdeka dari keteraturan di dalam barisan jamaah karena khawatir ia akan kehilangan kepribadiannya. Dan realitas Ikhwan menolak klaim ini dan mengingkarinya, mengingat Ikhwan sangat berhasrat untuk membentuk individu Muslim yang kuat dalam segala aspek kepribadiannya, pemilik kehendak yang kuat, berpengaruh, mengubah, lagi membangun. Jika tidak demikian, maka bagaimana mungkin jamaah menghadapi pencapaian paling agung di dunia ini yaitu: menegakkan negara Islam, sementara ia bersandar dalam hal itu pada tipe-tipe manusia yang lemah kepribadiannya, lemah kehendaknya, tidak memiliki pendapat, dan tidak memiliki pengaruh? Kemudian sesungguhnya Ikhwan—di mana mereka telah mengharuskan diri mereka dengan Islam yang benar sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam baik secara pemahaman maupun penerapan—tidak dapat dibayangkan mereka melalaikan urusan syura di dalam manhaj mereka, organisasi mereka, dan keputusan-keputusan mereka. Sementara mereka membaca di dalam sirah bagaimana dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempraktikkannya bersama para sahabat beliau padahal wahyu turun kepada beliau, maka bagaimana lagi dengan kita sedangkan kita jauh lebih membutuhkan untuk menyaring pendapat dan saling bertukar musyawarah? Kemudian sesungguhnya realitas organisasional bagi Ikhwan menegaskan prinsip syura; maka Dewan Pendiri (Al-Hai'ah At-Ta'siyyah), majelis-majelis syura, dan seluruh institusi jamaah tegak di atas prinsip syura, menghormati pendapat, dan diskusi yang jauh dari perpecahan serta perselisihan. Akan tetapi, perlu diingatkan pada suatu perkara yaitu bahwa setelah diberikannya kesempatan untuk syura dan dialog, wajib berkomitmen pada apa yang dihasilkan dari pendapat atau ketetapan tersebut, termasuk bagi para pemilik pendapat yang menyelisihi (berbeda), demi mencegah terjadinya kebimbangan dan fitnah. Dan hal itu tidak dianggap pada tahapan ini sebagai pengekangan terhadap kebebasan atau pelarangan terhadap syura, melainkan itu merupakan pencegahan terhadap fitnah dan perlindungan bagi barisan.


Dakwah Itu Mengasihi dan Menghimpun... Sebagaimana Ia Mencintai dan Bekerja:

Dan sebagian orang mengembuskan pertanyaan atau peraguan yang intinya bahwa Ikhwan bersikap jemawa (merasa tinggi) di atas jamaah-jamaah yang selain mereka, dan seolah-olah mereka sendirilah kaum Muslimin sedangkan yang lainnya diragukan keislaman mereka, dan bahwa Ikhwan berloyalitas kepada siapa saja yang bersama mereka, serta memusuhi dan menjauhi siapa saja yang tidak bersama mereka, hingga selain itu dari klaim-klaim di seputar hal tersebut.

Dan di dalam menjawab peraguan ini, saya bertanya lalu saya katakan: Apakah dapat dibayangkan atau masuk akal jika ruh semacam ini dipikul oleh orang-orang yang mengerahkan segenap kemampuan untuk mengumpulkan seluruh kaum Muslimin di atas satu pemahaman dan di bawah satu bendera agar mereka berdiri dalam satu barisan menghadapi musuh-musuh Islam? Apakah mungkin perilaku ini ditempuh oleh orang-orang yang menyerahkan jiwa mereka, harta mereka, dan menanggung segala gangguan demi mewujudkan kebaikan bagi Islam dan kaum Muslimin seluruhnya tanpa adanya pengungkapan budi (menyebut-nyebut kebaikan) atau mengesankan adanya jasa, melainkan mereka mengembalikan segala karunia dalam apa saja yang mereka persembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala? Apakah mungkin bagi orang-orang yang telah menjadikan Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai pemimpin dan komandan bagi mereka untuk memikul ruh semacam ini, sementara pemimpin mereka bersabda mengenai hak kaum musyrik yang telah menyakiti beliau: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui,” maka bagaimana lagi dengan kita terhadap saudara-saudara kita sesama Muslim?

Dan hakikatnya adalah bahwa Ikhwan—walhamdulillah—telah berjalan sejak hari pertama dengan ruh cinta, persaudaraan, kelembutan sikap, menjauh dari pencelaan terhadap personal maupun institusi, bersabar atas gangguan orang lain, dan membalas keburukan dengan kebaikan. Dan saya ingat dalam ranah ini sebuah ungkapan dari Imam Syahid yang beliau gunakan untuk mengarahkan kita, beliau bersabda: “Jadilah kalian bersama manusia seperti pohon; mereka melemparinya dengan batu, dan ia melempari mereka dengan buah.” Dan barangkali syiar: “Kita saling bekerja sama dalam hal-hal yang kita sepakati, dan kita saling toleran (memberi uzur) satu sama lain dalam hal-hal yang kita perselisihkan” merupakan bukti yang jelas atas keinginan untuk menghimpun kalimat kaum Muslimin dan menjauhkan mereka dari setiap perselisihan atau perpecahan... Dan Ikhwan sangat berhasrat untuk memenangkan hati sebelum memenangkan sikap... Dan mereka sangat berhati-hati dengan sehati-hatinya dalam menjatuhkan vonis kepada orang selain mereka dengan kekafiran atau kefasikan. Dan barangkali penentangan mereka terhadap pemikiran takfir (pengafiran) serta buku "Du'at La Qudhat" (Dai Bukan Hakim) karya Ustadz Al-Hudhaibi rahimahullah merupakan bukti atas hal tersebut. Kemudian sesungguhnya kepercayaan yang baik ini, yang berhasil diraih oleh jamaah Ikhwan di sisi jamaah-jamaah Islam di panggung dunia Islam, benar-benar merupakan bukti terbaik atas batilnya klaim dan peraguan ini, yang mana hal itu tidak melayani kecuali musuh-musuh Allah. Dan jika diasumsikan terjadi suatu perilaku dari sebagian individu Ikhwan yang menyelisihi ruh ini, maka hal itu dianggap sebagai pelanggaran individu yang wajib diluruskan, dan bukan kesalahan bagi jamaah.


Tulus Ikhlas Karena Allah..... Tidak Berlindung (Sembunyi)..... dan Bukanlah Agen dari Orang yang Memenjarakan Mereka dan Memukul Mereka:

Dan diembuskan sebuah peraguan dan bukan pertanyaan, bahwa Ikhwan berlindung di balik agama di balik ambisi-ambisi dan tujuan-tujuan duniawi, serta mereka berusaha merebut kekuasaan demi ghanimah (keuntungan) atau jabatan-jabatan. Dan sebagian orang menambahkan dengan menuduh para pimpinan Ikhwan sebagai agen (antek) untuk kepentingan beberapa pemerintah atau pihak-pihak yang memusuhi Islam.

Maka berkenaan dengan klaim berlindung di balik agama di balik ambisi duniawi, saya katakan: —dan sungguh saya telah hidup di bawah naungan jamaah ini lebih dari empat puluh tahun— sesungguhnya ini merupakan klaim yang batil lagi tidak memiliki fondasi. Dan hal itu biasanya termasuk tuduhan yang diembuskan oleh rezim-rezim yang berkuasa di negeri-negeri kita beserta aparat-aparat keamanannya terhadap Ikhwan dan para aktivis Islam, sebagai alasan di hadapan rakyat untuk melakukan tindakan represif dan penyiksaan terhadap mereka dengan tuduhan berulang yang menjijikkan tersebut: (bekerja untuk menggulingkan sistem pemerintahan dengan kekuatan), seolah-olah pemerintahan ini adalah sebuah kursi kecil atau ember kosong yang dapat digulingkan dengan mudah.

Dan hendaklah menjadi maklum bahwa mereka itu tidak memerangi personal Ikhwan atau para aktivis Islam, melainkan mereka memerangi Islam sebagai sebuah dakwah dan orientasi yang menyelisihi hawa nafsu mereka serta ambisi mereka sendiri beserta orang-orang lain selain mereka dari kalangan yang memusuhi Islam.

Kemudian sesungguhnya logika yang sederhana membuat kita bertanya-tanya: Jika Ikhwan adalah pemilik ambisi duniawi dan berlindung di balik agama, mengapa mereka tetap teguh untuk berjalan di atas jalan ini meskipun apa yang menimpa mereka di dalamnya berupa banyak kerugian; penjara, penyiksaan, pembunuhan, pengusiran, dan penyitaan harta benda hingga selain itu? Apakah mereka belum yakin bahwa perlindungan mereka di balik agama tidak mendatangkan bagi mereka keuntungan duniawi, melainkan mendatangkan bagi mereka bencana, kerugian, dan kesulitan? Dan bahwa kewajiban atas mereka—jika mereka benar-benar menginginkan dunia—adalah menempuh jalan selain mereka yang berhasil mendapatkan keuntungan-keuntungan ini dengan mudah dan gampang tanpa dihadapkan pada sesuatu pun dari apa yang dialami oleh Ikhwan, sebagaimana yang dilakukan oleh partai-partai bumi (sekuler/buatan manusia)?

Hakikat yang wajib diketahui oleh para pengembus tuduhan semacam ini—jika mereka bodoh (tidak mengetahuinya) atau pura-pura tidak tahu—bahwa Ikhwan dengan amal mereka dan jihad mereka untuk agama ini serta keteguhan mereka atas hal itu, sesungguhnya mereka benar-benar mendambakan keuntungan yang banyak, yang tidak dapat ditandingi oleh sesuatu pun dari ambisi dan keuntungan dunia yang mereka isyaratkan tersebut: sesungguhnya mereka mendambakan keridaan Allah, kenikmatan Allah, surga-surga Allah, ampunan Allah, rahmat-Nya, serta keselamatan dari azab-Nya. Dan sungguh mereka telah menyambut seruan Allah kepada mereka: “Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah kemenangan yang agung. Dan (ada lagi karunia) yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.” (QS. As-Saff: 10-13).

Apakah dapat dibayangkan bagi orang-orang yang telah hidup puluhan tahun di dalam penjara-penjara dan kamp-kamp tahanan di dalam kesukaran hidup, buruknya makanan, pakaian, serta pengobatan, dan mereka tidur di atas tikar kasar dari serat pohon kurma tanpa ada sikap menyerah dari mereka, padahal berada dalam kelapangan mereka untuk membebaskan diri mereka dari seluruh kesulitan ini dan keluar dari penjara-penjara mereka sekiranya mereka melepaskan diri dari jamaah mereka dan mendukung penguasa yang zalim? Akan tetapi mereka lebih memilih apa yang ada di sisi Allah dan terus mengibarkan bendera Allah melawan kezaliman serta kesewenang-wenangan hingga mereka menyerahkannya kepada orang-orang setelah mereka dalam keadaan terkibar tinggi. Apakah dapat dibayangkan bagi orang-orang yang seperti mereka ini menjadi para pencari dunia, ambisi duniawi, jabatan, atau yang selain itu? Bagaimana mungkin bagi mereka hal itu sedangkan mereka melihat kematian di depan mata mereka puluhan kali dan melihat saudara-saudara mereka bertumbangan di hadapan mereka dalam keadaan terbunuh akibat penyiksaan? Jika mereka adalah para pencari dunia, apakah mereka setelah itu akan tetap teguh untuk melanjutkan perjalanan di atas jalan yang sama?

Wahai orang-orang yang mengembuskan keraguan: Gunakanlah sedikit akal sehat dalam apa yang kalian klaimkan... Ataukah kalian sebenarnya mengetahui kebenaran akan tetapi kalian memutarbalikkan fakta? Maka apakah kalian mengira bahwa orang-orang yang kalian ajak bicara itu tidak berakal?

Sebuah kenaifan (bahwa): sesungguhnya Ikhwanul Muslimin menentang komunisme, dan imperialisme menentang komunisme, maka kesimpulannya Ikhwan adalah agen imperialisme... ia meniru logika ini dari gurunya, (Gamal) Abdel Nasser.

Mengenai perkara bekerja untuk kepentingan orang lain, Imam Syahid bersabda dalam Risalah Muktamar Kelima: Bahwa tidak ada kesalahan yang lebih mendalam daripada persangkaan sebagian orang bahwa Ikhwanul Muslimin—pada masa kapan pun dari masa-masa dakwah mereka—pernah menjadi kendaraan bagi suatu pemerintahan dari pemerintahan-pemerintahan yang ada, atau menjadi pelaksana bagi tujuan selain tujuan mereka sendiri, atau bekerja di atas manhaj selain manhaj mereka sendiri. Maka hendaklah hal itu diketahui oleh orang yang belum mengetahuinya, baik dari kalangan Ikhwan maupun dari selain Ikhwan.

Dan realitas Ikhwan pasca syahidnya Imam al-Banna hingga hari ini senantiasa menegaskan makna ini, walhamdulillah.

Jika kita melihat kepada pihak-pihak yang dituduhkan bahwa Ikhwan bekerja untuk kepentingan mereka, kita dapati mereka itu adakalanya musuh bagi Islam, atau pihak-pihak yang bekerja sama dengan musuh Islam. Maka bagaimana mungkin bisa sejalan bagi orang yang mengibarkan bendera Islam dan dihadapkan pada bencana serta kesulitan karenanya dalam keadaan bersabar dan mengharap pahala, justru bekerja untuk kepentingan musuh-musuh Islam, atau untuk kepentingan orang-orang yang bekerja sama dengan mereka? Dan apakah mungkin bagi orang-orang yang telah menjual dunia mereka demi akhirat mereka, justru menjual akhirat mereka demi dunia orang lain dari kalangan yang memusuhi Islam?

Terlebih lagi, apa yang dialami oleh Ikhwan berupa kesulitan yang sangat berat dari orang-orang yang dituduh bahwa Ikhwan bekerja untuk kepentingan mereka, benar-benar merupakan bukti terbaik atas kedustaan tuduhan ini. Akan tetapi, kedustaan, rekayasa, kebohongan, dan fitnah ini kita hadapi dengan cara berpaling darinya dan dengan perkataan kita: Hasbunallah wa ni'mal wakil (Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung).

Dan barangkali ada baiknya kita menyebutkan sebuah perkataan dari Imam Syahid dalam kedudukan ini: “Dan jika dikatakan kepada kalian bahwa kalian meminta bantuan kepada personal maupun institusi, maka katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan kami ingkar kepada apa yang kamu sekutukan dengan-Nya.’ Dan jika mereka bersikeras dalam agresi mereka, maka katakanlah: ‘Selamat tinggal (salam) atas kalian, kami tidak ingin bersama orang-orang yang bodoh.’”


Penutup

Akhir Perjalanan

Saudaraku sesama Muslim:

Demikianlah wahai saudaraku sesama Muslim, kamu melihat dakwahmu telah jelas tujuannya, selamat manhajnya, lagi lurus rencananya.

Maka ia—baik secara perbuatan maupun perkataan, sejarah maupun realitas—memiliki prinsip:

Allah adalah tujuannya, Rasul adalah teladaninya, Al-Qur'an adalah konstitusinya, Jihad adalah jalannya, dan Mati di jalan Allah adalah cita-cita tertingginya.

Sesungguhnya ia adalah dakwah Al-Haq (kebenaran), Al-Quwwah (kekuatan), dan Al-Hurriyah (kebebasan). Sesungguhnya ia adalah harapan bagi generasi ini sekaligus pengibar bendera keselamatan, maka tidakkah kamu merapatkan barisan di sekitarnya?

Maka jadilah kamu bersamanya dan untuknya; sebagai pemilik risalah, prajurit akidah, seraya senantiasa mengumandangkan:

“Dan aku bersegera kepada-Mu, wahai Tuhanku, agar Engkau rida.” (QS. Thaha: 84).

“Ya Allah, asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak memedulikan (segala ujian yang menimpaku).” Dan Allah senantiasa bersama kami dan bersamamu, dan Dia adalah Pemberi Petunjuk menuju jalan yang terbaik.

Dan akhir dari dakwah (doa) kami adalah: Alhamdulillahirabbil 'alamin (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).

 

تساؤلات على طريق الدعوة بقلم: الأستاذ مصطفى مشهور

 

No comments:

Post a Comment