Fashahah dan Balaghah Qur'an

Kefasihan dan Balagah (Nilai Sastra) Al-Qur'an

Kalamullah (Firman Allah) adalah Bukti atas Risalah Baginda Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam:

  • Pertanyaan: Apakah Kalamullah bersaksi atas risalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam?
  • Jawaban: Ya, Al-Qur'an menyebutkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Allah Ta'ala berfirman:

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka." [1]

  • Pertanyaan: Ini adalah perkataan yang meyakinkan bagi orang mukmin bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah. Namun, bagaimana dengan orang-orang yang tidak beriman bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah?
  • Jawaban: Al-Qur'an itu sendiri yang akan meyakinkannya bahwa ia adalah Kalamullah.
  • Pertanyaan: Bagaimana caranya?
  • Jawaban: Sesungguhnya perkataan Sang Pencipta pasti berbeda dengan perkataan manusia. Jika orang yang berakal merenungkan secara objektif perkataan manusia dan Kalamullah yang tertulis di dalam Al-Qur'an, maka ia akan menemukan karakteristik perkataan ilahi yang sangat jelas dan terang. Ia juga akan melihat perbedaan yang sangat besar antara perkataan manusia dan Kalamullah. Pada saat itulah ia akan menyadari bahwa Al-Qur'an yang bersaksi atas risalah Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam ini (tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan) dan bukanlah perkataan yang diada-adakan.

Balagah dan Kefasihan Al-Qur'an:

  • Pertanyaan: Apa saja karakteristik dan sifat yang membuat Al-Qur'an lebih unggul atas seluruh perkataan manusia?
  • Jawaban: Keunggulan Al-Qur'an (Kalam Ilahi) atas perkataan manusia sangat banyak, di antaranya yang kami sebutkan adalah: Balagah (keindahan sastra) Al-Qur'an dan kefasihannya yang melemahkan (membuat tak berdaya) orang-orang terdahulu maupun belakangan. Tidak ada seorang pun dari pakar fasih bahasa Arab—pada masa risalah—yang mendengarnya melainkan Islam langsung masuk ke dalam hatinya. Ia menyadari bahwa Al-Qur'an adalah Kalamullah, tidak ada seorang pun yang mampu mendatangkan yang semisal dengannya, bagaimanapun tinggi tingkat ilmu dan kefasihannya. Maka diketahuilah bahwa tidak ada yang mengalirkan (wahyu) ini pada lisan seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) yang tidak pernah membaca dan menulis sebelumnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Oleh karena itu, orang-orang kafir berkumpul dan saling mempelajari di antara mereka tentang bagaimana cara melawan pengaruh Al-Qur'an di dalam jiwa mereka. Maka mereka memutuskan untuk menamai kefasihan dan balagah Al-Qur'an dengan sebutan: "sihir", yang mana siapa saja yang mendengarnya akan tersihir. Allah Ta'ala berfirman menceritakan apa yang dikatakan oleh Al-Walid bin Al-Mughirah (penasihat/konsultan) orang-orang kafir dalam urusan ini:

"Kemudian dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata, '(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir diepndengarkan (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia'." [2]

Maka pensifatan mereka terhadap Kalamullah sebagai "sihir" merupakan sarana pertama untuk melawan pengaruhnya di dalam jiwa mereka. Sedangkan sarana kedua adalah melarang setiap orang dari mereka untuk mendengarkan Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan orang-orang yang kafir berkata, 'Janganlah kamu mendengarkan (bacaan) Al-Qur'an ini dan buatlah kegaduhan terhadapnya, agar kamu dapat mengalahkan (mereka)'." [3]

Hal itu dilakukan karena rasa takut jika bangsa Arab mengetahui mukjizat Al-Qur'an yang tampak jelas dalam balagahnya yang memengaruhi jiwa dan akal pikiran, sehingga mereka akan bersaksi bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah utusan Allah.

Mayoritas orang musyrik telah masuk Islam ketika mereka mendengar sebagian dari Kitabullah. Adapun orang yang tetap berada dalam kekafirannya, ia tidak menolak balagah dan kefasihan Al-Qur'an yang tidak dapat ditandingi oleh balagah manusia mana pun, melainkan mereka hanya menamainya sebagai sihir yang menyihir siapa saja yang mendengarnya. Sifat ini, di saat yang sama, merupakan kesaksian atas keagungan Al-Qur'an dan ketinggiannya di atas seluruh perkataan.

  • Pertanyaan: Mengapa kita pada zaman sekarang ini tidak bisa merasakan balagah dan kefasihan Al-Qur'an sebagaimana orang-orang Arab terdahulu merasakannya?
  • Jawaban: Sebabnya adalah Al-Qur'an dahulu sangat dipahami oleh mereka karena ia turun dengan bahasa mereka sendiri. Adapun kita, kita telah jauh dari bahasa Arab fusha (baku/fasih) yang dengannya Al-Qur'an diturunkan. Akibatnya, kita tidak memahami banyak kosakata Al-Qur'an kecuali dengan kesulitan yang sangat besar. Akan tetapi, barangsiapa yang mempelajari bahasa Arab, menguasai seni-seninya, dan membaca Kitabullah, niscaya ia akan mengetahui bahwa balagah Al-Qur'an berada di atas balagah perkataan manusia, dan sesungguhnya tidak ada yang mampu atas balagah tersebut kecuali Pencipta segala kekuatan dan kemampuan. Meskipun demikian, ada sebuah tanda ilahi di dalam setiap surah dari Kitabullah yang dapat dirasakan oleh orang alim (berilmu) maupun orang jahil (awam), yang dengannya dapat diketahui bahwa Al-Qur'an adalah perkataan Sang Pencipta yang berbeda dari perkataan seluruh makhluk.

Al-Qur'an Tidak Menjadi Usang [4] Walaupun Sering Diulang-ulang:

  • Pertanyaan: Apa mukjizat ilahi yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang alim maupun orang jahil di dalam Kitabullah tersebut?
  • Jawaban: Mukjizat itu adalah: Sesungguhnya Al-Qur'an ini selalu baru dan tidak pernah usang bagaimanapun manusia mengulang-ulang dan melantunkannya. Sesungguhnya potongan prosa atau syi'ir (puisi) apa pun dari perkataan manusia tidak akan bertahan lama melainkan akan menjadi usang jika diulang di telinga manusia dua atau tiga kali dalam sehari, dan akan menjadi sesuatu yang ditolak serta membosankan jika diulang setiap hari sebanyak tiga kali selama satu bulan. Hal ini berlaku pada setiap perkataan manusia, bahkan pada qasidah-qasidah dan potongan syi'ir yang digubah dengan alat musik dan lagu. Para penyanyi mengetahui hal tersebut sehingga mereka menetapkan syarat kepada stasiun radio untuk tidak menyiarkan lagu-lagu mereka setiap hari agar lagu-lagu tersebut tidak menjadi usang dan membosankan.

Adapun Kalamullah, meskipun ia tersusun dari huruf-huruf yang sama dengan huruf-huruf yang menyusun perkataan manusia, dan dirangkai dari kata-kata yang sama, namun setiap muslim mengetahui bahwa ia mengulang-ulang Fatihatul Kitab (Surah Al-Fatihah) setiap hari—jika ia hanya salat fardu saja—sebanyak tujuh belas kali. Sedangkan jika ia melaksanakan salat-salat sunah, ia akan mengulangnya lebih dari tiga puluh satu kali setiap hari. Hal ini tidak hanya dilakukan selama sebulan saja, melainkan sepanjang seluruh umurnya. Namun, tidak pernah seorang muslim merasakan suatu hari bahwa Al-Fatihah telah menjadi usang karena pengulangan tersebut atau menjadi kuno sebagaimana halnya perkataan manusia. Demikian pula halnya dengan semua surah-surah pendek yang diulang-ulang oleh kaum muslimin, serta setiap surah dari surah-surah Al-Qur'an yang kita baca dan kita ulang-ulang pembacaannya berkali-kali; kita tidak pernah merasakan sama sekali bahwa ia telah usang, melainkan Kalamullah senantiasa terasa segar dan baru.

Kesaksian Sebagian Orang Eropa yang Objektif:

  • Pertanyaan: Bagaimana sikap orang-orang non-muslim terhadap hal ini?
  • Jawaban: Sesungguhnya orang yang mempelajari Al-Qur'an akan mengetahui apa yang telah kita ketahui, dan ia akan melihat ayat-ayat Tuhannya tampak jelas di dalam Kitab-Nya. Sekelompok orientalis dan selain mereka telah mempelajari Al-Qur'an dengan tujuan untuk mencelanya demi kepentingan negara-negara penjajah mereka. Akan tetapi, orang-orang yang objektif di antara mereka tidak lama kemudian meninggalkan agama mereka dan masuk ke dalam agama Allah setelah mereka mengetahui bahwa Islam adalah agama yang benar. Berikut ini adalah sebagian dari apa yang dikatakan oleh orang-orang Eropa yang objektif tentang Al-Qur'an:
  • Orientalis (Sale) berkata: "Sesungguhnya gaya bahasa Al-Qur'an sangat indah dan berlimpah (luar biasa). Sangat menakjubkan bahwa ia dengan gaya bahasanya mampu menawan pikiran orang-orang Kristen, sehingga menarik mereka untuk membacanya, baik mereka yang beriman kepadanya maupun mereka yang tidak beriman dan menentangnya."
  • (Hirschfeld) berkata: "Al-Qur'an tidak ada bandingannya dalam kekuatan argumentasi, balagah, dan strukturnya. Kepadanyalah kembali jasa atas berkembangnya ilmu pengetahuan dalam segala aspeknya di dunia Islam."
  • Dr. (Maurice) asal Prancis berkata: "Sesungguhnya Al-Qur'an adalah kitab terbaik yang dikeluarkan oleh pemeliharaan abadi (Tuhan) untuk umat manusia, dan ia adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya."
  • Orientalis (Lyon) berkata: "Cukuplah bagi Al-Qur'an suatu keagungan dan kemuliaan bahwa empat belas abad yang telah berlalu atasnya, tidak mampu mengurangi sedikit pun dari gaya bahasanya yang senantiasa segar seolah-olah keberadaannya baru kemarin sore."

(Al-Qur'an Menantang dan Manusia Terbukti Lemah):

  • Pertanyaan: Apakah Al-Qur'an menantang manusia untuk mendatangkan satu surah yang semisal dengan surah-surahnya?
  • Jawaban: Ya, Al-Qur'an telah menantang orang-orang yang ragu dan bimbang, serta menuntut mereka untuk meninggalkan peperangan dan pertempuran melawan Islam serta konflik yang merenggut nyawa dan menghabiskan harta benda; dan menantang mereka untuk mendatangkan satu surah yang semisal dengan Al-Qur'an, serta mempersilakan mereka memanggil siapa saja yang mereka kehendaki dari penolong-penolong mereka untuk menjadi hakim. Jika mereka mampu, maka Al-Qur'an adalah dari sisi Muhammad sebagai manusia. Namun jika mereka tidak mampu—dan mereka tidak akan pernah mampu—maka mereka akan tahu bahwa Al-Qur'an datang dari sisi Allah yang diwahyukan kepada rasul-Nya, Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka hendaklah mereka takut akan siksaan-Nya. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan jika kamu dalam keraguan tentang apa yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surah (saja) yang semisal al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) —dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya)— jagalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." [5]

  • Pertanyaan: Bagaimana sikap manusia terhadap tantangan Al-Qur'an kepada mereka?
  • Jawaban: Sikap mereka adalah ketidakberdayaan yang mutlak—sebagaimana yang dikabarkan oleh Al-Qur'an—sehingga musuh-musuh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang paling keras dari kalangan orang-orang kafir tidak menemukan jalan di hadapan mereka kecuali berperang di medan laga karena ketidakberdayaan mereka untuk mendatangkan satu surah yang semisal dengan Al-Qur'an.

Kesimpulan:

  • Al-Qur'an adalah Kalamullah yang bersaksi bagi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau adalah utusan Allah.
  • Di dalam Al-Qur'an terdapat mukjizat-mukjizat ilahi yang menunjukkan bahwa ia adalah Kalamullah, di antaranya adalah kefasihan dan balagahnya yang melemahkan orang-orang terdahulu maupun belakangan.
  • Di antaranya juga adalah bahwa ia selalu baru, tidak pernah usang meskipun banyak dilantunkan dan diulang-ulang.

Hal tersebut telah disaksikan oleh para ilmuwan Eropa yang objektif, dan mereka mengetahui keagungan Al-Qur'an serta ketinggiannya di atas seluruh perkataan.

  • Al-Qur'an telah menantang seluruh manusia untuk mendatangkan satu surah yang semisal dengannya jika mereka ragu bahwa ia adalah Kalamullah, lalu mereka pun tidak berdaya, senantiasa tidak berdaya, dan akan tetap tidak berdaya sampai hari kiamat tiba.

[1] QS. Al-Fath: 29 [2] QS. Al-Muddatthir: 23-25 [3] QS. Fussilat: 26 [4] Laa yakhlqu: Tidak menjadi usang dan tidak menjadi kuno.

[5] QS. Al-Baqarah: 23-24

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat