Sunday, May 10, 2026

Mengikuti Hawa Nafsu

Penyakit yang kesembilan yang menimpa sebagian aktifis dakwah adalah mengikuti Ittiba'ul hawa ( Mengikuti hawa nafsu ). Agar jiwa kita tetap bersih dan terhindar dari penyakit ini, maka kita harus mendalami kajian ini dengan pembahasan sebagai berikut. Terdapat lima point pembahasan yang harus kita fahami.

1. DEFINISI ITTIBA'UL HAWA .

Secara etimologi memmiliki 3 makna : a. Kecendrungan jiwa terhadap apa yang diinginkan; b. Keinginan jiwa terhadap apa yang dicintai;. c. Kecintaan jiwa terhadap sesuatu dan telah menguasai hatinya; d. Kecintaan terhadap sesuatu secara berlebihan dan tertanam dalam hati. Dan tidaklah disebut kata Hawa dalam al Qur'an kecuali konotasinya negatif.

Sedangkan menurut Istilah : Tindakan mngikuti apa saja yang diinginkan dan disenangi jiwa.

Definisi lain mengatakan : Tindakan mengikuti tuntutan emosi tanpa mempertimbangkan akal atau kembali kepada syar'i atau mempertimbangkan akibatnya.

2. HAKIKAT ITTIBA'UL HAWA DALAM TIMBANGAN ISLAM

فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ

Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu untuk tidak berbuat adil (Annisa: 135)

وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ

Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkannmu dari jalan Allah. (Shad: 26)

Untuk lebih lengkapnya periksa surat AN Najm: 3 dan 4. An Naazi'at: 40. Al A'rof: 176. Al Qashas: 50. Sedangkan dari hadits :

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا ، وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ

Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengefaluasi dirinya, dan berbuat untuk persiapan setalah kematian. Dan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan menginginkan pahala dari Allah ( HR Atturmudzi )

 

 

 

3. SEBAB-SEBAB ITTIBA'UL HAWA

a. Tidak terbiasa mengendalikan hawa nafsu sejak kecil.

Syaikh Muhammad Qutb mengatakan dalam kitabnya Manhaj Tarbiyah: "Seorang ibu yang selalu menyusui bayinya setiap kali menangis, agar diam, atau karena dia tidak tahan mendengar tangisannya, akan berdampak negatif bagi bayinya, karena tidak dapat membantunya dalam mengendalikan keinginannya, dan tidak membiasakannya dari sejak kecilnya sehingga tidak terbiasa di masa besarnya.

Jihad fi sabilillah adalah ibadah yang sangat membutuhkan kebiasaan mengendalikan diri, seseorang tidak mungkin dapat berjihad jika dirinya tidak melatih kebiasaan mengendalikan diri.

Sikap disiplin pada diri manusia tergantung pada pembiasaan dan latihan, semakin banyak ia melatih di masa kecilnya, semakin mampu melakukannya dan lebih besar meresapnya, sehingga meresap dalam dirinya.

b. Bergaul akrab dengan orang-orang yang suka mengikuti hawa nafsu.

Seorang salaf Abu Qollabah mengatakan :

لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْأَهْوَاءِ ، وَلَا تُجَادِلُوهُمْ ، فَإِنِّي لَا آمَنُ أَنْ يَغْمِسُوكُمْ فِي ضَلَالَتِهِمْ ، أَوْ يَلْبِسُوا عَلَيْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ

Janganlah engkau bergaul dengan orang-orang yang suka mengikuti hawa nafsu, dan jangan berdiskusi dengan mereka, karena sesungguhnya aku tidak yakin mereka tidak akan menjerumuskan kamu ke dalam kesesatan mereka, atau mencampur aduk apa sudah kalian ketahui.

Al Hasan Basri dan Ibnu Sirin juga mengatkan:

وَلَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ الْأَهْوَاءِ ، وَلَا تُجَادِلُوهُمْ ، وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ

Dan janganlah kalian bergaul dengan orang-orang yang suka mengikuti hawa nafsu dan jangan berdiskusi dengan mereka, dan jangan mau mendengar dari mereka.

c. Lemah ma'rifahnya kepada Allah dan negeri akhirat.

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ

Dan mereka tidak  menghargai Allah dengan penghargaan yang semestinya. (QS Al-An’am[6]: 91)

Pemahaman dari ayat ini; bahwa ketika manusia sudah tidak lagi menghargai Allah, maka dia akan berbuat apa saja, mengikuti hawa nafsunya tanpa perduli, apakah yang dilakukan itu diridloi Allah atau tidak, membinasakan dirinya atau tidak. Sikap  seperti inilah yang akan menyesatkan manusia.

d. Kelalaian orang-orang sekitarnya yang tidak menunaikan tugas mengingatkan terhadap Shohibul Hawa

Logikanya adalah ketika orang yang terbiasa mengikuti hawa nafsunya melihat orang-orang yang disekelilingnya membiarkan dirinya melakukan apa saja, ia mengira bahwa apa yang dilakukan adalah baik, hal ini berdampak, menjadi dirinya semakin menjadi-jadi dalam kemunkarannya, bahkan merasuk kedalam hatinya dan mewarnai seluruh tindakannya. Inilah rahasia mengapa Islam sangat menganjurkan untuk menghidupkan amal dakwah. Begitu juga tindakan Rosulullah kepada tiga sahabat yang tidak ikut perang Tabuk, adalah agar berfungsi sebagai peringatan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan yang tidak diridloi Allah dan RosulNya.

e. Cinta dunia dan cenderung kepadanya serta melupakan akhirat 

Kecintaan terhadap duni lah yang menyebabkan manusia selalu termotifasi dengan cepat melakukan tindakan-tindakan yang negative dan melanggar hukum Allah. Allah mengancam orang-orang yang bersikap seperti ini dalam ayatnya.

اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا وَرَضُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَاطْمَـَٔنُّوْا بِهَا وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنْ اٰيٰتِنَا غٰفِلُوْنَۙ ٧ اُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ٨

Orang-orang yang tidak mengharapkanperjumpaan dengan kami dan rela dengan kehidupan dunia dan terhadap ayat-ayat Allah lengah, mereka tempatnya di neraka, sebagai balasan terhadap apa yang telah merka lakukan. (QS Yunus [10]:7-8)

f. Tidak mengetahui dampak-dampak yang terjadi akibat Ittibaul hawa.

Inilah yang menjadi rahasia dari pada karakter syariat islam yang selalu menjelaskan dampak setiap pelanggaran amal, agar manusia berfikir setiap kali melakukan pelanggaran.

 

 

4. DAMPAK-DAMPAK ITTIBAUL HAWA.

Dampak nya terhadap para aktifis dakwah.

a. Berkurang bahkan hilangnya ketaatan jiwa.

Allah tidak menjadikan dua hati dlam diri manusia, maka tidak mngkin menyatu antara taat kepada Allah dengan ketaatan kepada hawa nafsu.

b. Hati menjadi sakit, kemudian mengeras dan mati.

Sesungghnya seorang mukmin jika berbuat dosa terjadilah bintik hitam di dalam hatinya, jika beratubat, mencabut dan meminta ampun,  bersihlah hatinya, jika dosanya bertambah bertambahlah bintik hitamnya, sehingga menutupi hatinya.

c. Meremehkan dosa dan pelanggaran.

Seorang mukmin melihat dosanya, bagaikan orang yang duduk di bawah gunung, yang dikhawatirkan menjathinya. Sedangkan ornag yang durhaka, melihat dosanya, bagaikan lalat yang terbang di depannya..

d. Nasihat dan arahan tidak ada gunanya.

Orang yang mengikuti hawa nafsunya menjadi budak nafsunya. Dengan demikian ia tidak mungkin menerima dan mendapatkan manfaat dari nasihat dan bimbingan. Tidak ada baiknya suatu kaum jika mereka tidak saling menasihati.

"Jika mereka tidak menyambutmu. Ketahuilah bahwa mereka itu mengikuti hawa nafsu mereka."

e. Bid'ah

Karena pengikut hawa nafsu cenderung memperhatikan eksistensi diri sendiri, ia tidak rela terhadap manhaj Allah untuk merealisasikan kecenderungan tersebut. Maka tidak ada cara lain kecuali mencari manhaj yang sesuai dengan hawa nafsunya. Hammad bin Salamah berkata, "Syaikh mereka yang bertaubat, yakni Rafidhah bercerita kepadaku, 'Dulu jika kami berkumpul, kami mencari sesuatu yang bagus lalu kami jadikann hadits. "Bid'ah itu tersesat dan tersesat di neraka.”

f. Tersesat dari jalan yang lurus

Sebab orang yang mengikuti hawa nafsu berpaling dari sumber hidayah dan taufiq. Maka dari mana ia mendapatkan taufiq menuju jalan yang lurus. (Al-Jatsiyah: 23)

g. Menyesatkan orang lain dari jalan yang benar

Bahasa hawa nafsu tidak hanya menimpa pengikutnya. Tapi juga menimpa orang lain

وَإِنَّ كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ

Dan sesngghnya banyak manusia yang menyesatkan dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.

h. Masuk neraka sejelek-jelek tempat.

فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ ٣٧ وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَاۙ ٣٨ فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٣٩

Adapun orang yang melampaui batas, dan mementingkan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka jahim tempatnya.

Dampak-dampak Ittibaul hawa terhadap amal islami.

1. Lemah bahkan hilangnya dukungan masayarkat pendukung.

Ketika amal islami dihinggapi orang yang mengikuti hawa nafsu, maka masyarakat akan kehilangan qudwah dan akan berdampak kepada hilangnya dkungan umat.

2. Pecah atau robeknya kesatuan shof.

Mereka yang mengikuti hawa nafsu dalam barisan amal islami akan mengarah kepada pembangkangan terhadap qiyadah, hal ini akan menjadi smber perpecahan.

3. Tidak mendapatkan dkngan dan pertolongan Allah.

Pertolongan Allah hanya akan diberikan kepada orang-orang yang berhak saja. Ahli maksiat tidak akan mendapatkan pertolongan Allah.

اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ ٤١

Orang-orang yang kami kokohkan di tas bmi ini, mereka yang menegakkan sholat, mennaikan zakat, menyuruh kepada kebaikan dan melarang kepada kemungkaran. (QS. Al-Hajj: 41)

Ingatlah pesan umar terhadap Saad bin Abi Waqqos ketika akan berjihad di iraq : "Wahai Saad, janganlah engkau terpukau dengan sebutan fulan paman Roslllah atau sahabatnya, karena Allah tidak akan menghapus maksiat denagn maksiat, namun Allah hanya akan menghapus kemaksiatan dengan amal salih. Dan sesungghnya tidak ada di antara Allah dan siapa pun karena pertimbangan nasab keculai dengan ketaatan. Manusia di sisi Allah yang berpangkat dan yang tidak, adalah sama.

Dalam surat yang ditulisnya kepada Saad dan pasukannya beliau menulis : "Sesungguhnya aku menyuruhmu dan pasukan yang bersamamu dengan taqwa kepada Allah, karena taqwa kepada Allah sebaik-baik bekal dalam menghadapi musuh, dan strategi yang paling jitu dalam menghadapi musuh. Aku perintahkan kepadamu dan orang yang bersamamu agar lebih waspada terhadap maksiat dari pada musuh,  karena dosa pasukan lebih menakutkan dari pada musuh itu sendiri. Dan sesunggiuhnya umat islam itu hanya akan menang karena maksiat yang dilakukan oleh musuh.,  kalau bukan karena itu kita tidak mngkin kuat

5. SOLUSI MENGATASI ITTIBAUL HAWA.

  • Mengingat akibat-akibat  Ittaul Hawa baik kepada aktifis dakwah atau kepada kerja dakwah itu sendiri.
  • Memutuskan diri dari pergaulan kalangan Ash habul Hawa, dan bergaul dengan orang-orang yang salih.
  • Mengenal Allah dengan pengenalan sesungguhnya.
  • Memperhatikan ash habul hawa, dengan nasihat, atau menampakkan contoh yang baik di hadapan mereka.
  • Mengikaji sejarah orang yang mengikuti hawa nafsu, baik dari umat ini atau umat yang lain.
  • Mengkaji sejarah orang-orang yang  telah bermujahadah mengatasi hawa nafsunya.
  • Mengingatkan ancaman terhadap orang yang cenderung kepada dunia.
  • Meminta pertolongan penuh kepada Allah.
  • Melakukan mujahadah dan pemaksaan berlepas diri dari hawa nafsu.
  • Mengingatkan bahwa ketenangan, kkebahagian dan kesuksesan, hanya terdapat di dalam mengikuti apa yang disyariatkan, bukan dalam mengikuti hawa nafsu.

 

No comments:

Post a Comment

Mengikuti Hawa Nafsu