Penyakit yang kesembilan yang menimpa sebagian aktifis dakwah adalah mengikuti Ittiba'ul hawa ( Mengikuti hawa nafsu ). Agar jiwa kita tetap bersih dan terhindar dari penyakit ini, maka kita harus mendalami kajian ini dengan pembahasan sebagai berikut. Terdapat lima point pembahasan yang harus kita fahami.
1. DEFINISI ITTIBA'UL HAWA .
Secara etimologi memmiliki 3 makna : a.
Kecendrungan jiwa terhadap apa yang diinginkan; b. Keinginan jiwa terhadap apa
yang dicintai;. c. Kecintaan jiwa terhadap sesuatu dan telah menguasai hatinya;
d. Kecintaan terhadap sesuatu secara berlebihan dan tertanam dalam hati. Dan
tidaklah disebut kata Hawa dalam al Qur'an kecuali konotasinya negatif.
Sedangkan menurut Istilah : Tindakan mngikuti
apa saja yang diinginkan dan disenangi jiwa.
Definisi lain mengatakan : Tindakan mengikuti
tuntutan emosi tanpa mempertimbangkan akal atau kembali kepada syar'i atau
mempertimbangkan akibatnya.
2. HAKIKAT ITTIBA'UL HAWA DALAM
TIMBANGAN ISLAM
…فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْا
ۚ…
Maka janganlah kalian mengikuti hawa nafsu
untuk tidak berbuat adil (Annisa: 135)
… وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ ۗ…
Dan janganlah mengikuti hawa nafsu, karena
akan menyesatkannmu dari jalan Allah. (Shad: 26)
Untuk lebih lengkapnya periksa surat AN Najm:
3 dan 4. An Naazi'at: 40. Al A'rof: 176. Al Qashas: 50. Sedangkan dari hadits :
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ ،
وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا
، وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ
Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengefaluasi dirinya, dan
berbuat untuk persiapan setalah kematian. Dan orang yang lemah adalah orang
yang mengikuti hawa nafsunya dan menginginkan pahala dari Allah ( HR Atturmudzi
)
3. SEBAB-SEBAB ITTIBA'UL HAWA
a. Tidak terbiasa mengendalikan hawa nafsu
sejak kecil.
Syaikh Muhammad Qutb mengatakan dalam
kitabnya Manhaj Tarbiyah: "Seorang ibu yang selalu menyusui bayinya
setiap kali menangis, agar diam, atau karena dia tidak tahan mendengar
tangisannya, akan berdampak negatif bagi bayinya, karena tidak dapat
membantunya dalam mengendalikan keinginannya, dan tidak membiasakannya dari
sejak kecilnya sehingga tidak terbiasa di masa besarnya.
Jihad fi sabilillah adalah ibadah yang sangat
membutuhkan kebiasaan mengendalikan diri, seseorang tidak mungkin dapat
berjihad jika dirinya tidak melatih kebiasaan mengendalikan diri.
Sikap disiplin pada diri manusia tergantung
pada pembiasaan dan latihan, semakin banyak ia melatih di masa kecilnya,
semakin mampu melakukannya dan lebih besar meresapnya, sehingga meresap dalam
dirinya.
b. Bergaul akrab dengan orang-orang yang suka
mengikuti hawa nafsu.
Seorang salaf Abu Qollabah mengatakan :
لَا تُجَالِسُوا أَهْلَ الْأَهْوَاءِ ،
وَلَا تُجَادِلُوهُمْ ، فَإِنِّي لَا آمَنُ أَنْ يَغْمِسُوكُمْ فِي ضَلَالَتِهِمْ
، أَوْ يَلْبِسُوا عَلَيْكُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْرِفُونَ
Janganlah engkau bergaul dengan orang-orang
yang suka mengikuti hawa nafsu, dan jangan berdiskusi dengan mereka, karena
sesungguhnya aku tidak yakin mereka tidak akan menjerumuskan kamu ke dalam
kesesatan mereka, atau mencampur aduk apa sudah kalian ketahui.
Al Hasan Basri dan Ibnu Sirin juga mengatkan:
وَلَا تُجَالِسُوا أَصْحَابَ
الْأَهْوَاءِ ، وَلَا تُجَادِلُوهُمْ ، وَلَا تَسْمَعُوا مِنْهُمْ
Dan janganlah kalian bergaul dengan
orang-orang yang suka mengikuti hawa nafsu dan jangan berdiskusi dengan mereka,
dan jangan mau mendengar dari mereka.
c. Lemah ma'rifahnya kepada Allah dan
negeri akhirat.
وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ
…
Dan mereka tidak menghargai Allah dengan penghargaan yang
semestinya. (QS Al-An’am[6]:
91)
Pemahaman dari ayat ini; bahwa ketika manusia
sudah tidak lagi menghargai Allah, maka dia akan berbuat apa saja, mengikuti
hawa nafsunya tanpa perduli, apakah yang dilakukan itu diridloi Allah atau
tidak, membinasakan dirinya atau tidak. Sikap
seperti inilah yang akan menyesatkan manusia.
d. Kelalaian orang-orang sekitarnya yang
tidak menunaikan tugas mengingatkan terhadap Shohibul Hawa
Logikanya adalah ketika orang yang terbiasa
mengikuti hawa nafsunya melihat orang-orang yang disekelilingnya membiarkan
dirinya melakukan apa saja, ia mengira bahwa apa yang dilakukan adalah baik,
hal ini berdampak, menjadi dirinya semakin menjadi-jadi dalam kemunkarannya,
bahkan merasuk kedalam hatinya dan mewarnai seluruh tindakannya. Inilah rahasia
mengapa Islam sangat menganjurkan untuk menghidupkan amal dakwah. Begitu juga
tindakan Rosulullah kepada tiga sahabat yang tidak ikut perang Tabuk, adalah
agar berfungsi sebagai peringatan bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan
yang tidak diridloi Allah dan RosulNya.
e. Cinta dunia dan cenderung kepadanya serta
melupakan akhirat
Kecintaan terhadap duni lah yang menyebabkan
manusia selalu termotifasi dengan cepat melakukan tindakan-tindakan yang
negative dan melanggar hukum Allah. Allah mengancam orang-orang yang bersikap
seperti ini dalam ayatnya.
اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا
وَرَضُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَاطْمَـَٔنُّوْا بِهَا وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنْ
اٰيٰتِنَا غٰفِلُوْنَۙ ٧ اُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
٨
Orang-orang yang tidak mengharapkanperjumpaan
dengan kami dan rela dengan kehidupan dunia dan terhadap ayat-ayat Allah
lengah, mereka tempatnya di neraka, sebagai balasan terhadap apa yang telah
merka lakukan. (QS Yunus [10]:7-8)
f. Tidak mengetahui dampak-dampak yang
terjadi akibat Ittibaul hawa.
Inilah yang menjadi rahasia dari pada
karakter syariat islam yang selalu menjelaskan dampak setiap pelanggaran amal,
agar manusia berfikir setiap kali melakukan pelanggaran.
4. DAMPAK-DAMPAK ITTIBAUL HAWA.
Dampak nya terhadap para aktifis dakwah.
a. Berkurang bahkan hilangnya ketaatan jiwa.
Allah tidak menjadikan dua hati dlam diri
manusia, maka tidak mngkin menyatu antara taat kepada Allah dengan ketaatan
kepada hawa nafsu.
b. Hati menjadi sakit, kemudian mengeras dan
mati.
Sesungghnya seorang mukmin jika berbuat dosa
terjadilah bintik hitam di dalam hatinya, jika beratubat, mencabut dan meminta
ampun, bersihlah hatinya, jika dosanya
bertambah bertambahlah bintik hitamnya, sehingga menutupi hatinya.
c. Meremehkan dosa dan pelanggaran.
Seorang mukmin melihat dosanya, bagaikan
orang yang duduk di bawah gunung, yang dikhawatirkan menjathinya. Sedangkan
ornag yang durhaka, melihat dosanya, bagaikan lalat yang terbang di depannya..
d. Nasihat dan arahan tidak ada gunanya.
Orang yang mengikuti hawa nafsunya menjadi
budak nafsunya. Dengan demikian ia tidak mungkin menerima dan mendapatkan
manfaat dari nasihat dan bimbingan. Tidak ada baiknya suatu kaum jika mereka
tidak saling menasihati.
"Jika mereka tidak menyambutmu.
Ketahuilah bahwa mereka itu mengikuti hawa nafsu mereka."
e. Bid'ah
Karena pengikut hawa nafsu cenderung
memperhatikan eksistensi diri sendiri, ia tidak rela terhadap manhaj Allah
untuk merealisasikan kecenderungan tersebut. Maka tidak ada cara lain kecuali
mencari manhaj yang sesuai dengan hawa nafsunya. Hammad bin Salamah berkata,
"Syaikh mereka yang bertaubat, yakni Rafidhah bercerita kepadaku, 'Dulu
jika kami berkumpul, kami mencari sesuatu yang bagus lalu kami jadikann hadits.
"Bid'ah itu tersesat dan tersesat di neraka.”
f. Tersesat dari jalan yang lurus
Sebab orang yang mengikuti hawa nafsu
berpaling dari sumber hidayah dan taufiq. Maka dari mana ia mendapatkan taufiq
menuju jalan yang lurus. (Al-Jatsiyah: 23)
g. Menyesatkan orang lain dari jalan yang
benar
Bahasa hawa nafsu tidak hanya menimpa
pengikutnya. Tapi juga menimpa orang lain
وَإِنَّ
كَثِيرًا لَيُضِلُّونَ بِأَهْوَائِهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ
Dan sesngghnya banyak manusia yang
menyesatkan dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu.
h. Masuk neraka sejelek-jelek tempat.
فَاَمَّا مَنْ طَغٰىۖ ٣٧ وَاٰثَرَ الْحَيٰوةَ
الدُّنْيَاۙ ٣٨ فَاِنَّ الْجَحِيْمَ هِيَ الْمَأْوٰىۗ ٣٩
Adapun
orang yang melampaui batas, dan mementingkan kehidupan dunia, maka sesungguhnya
neraka jahim tempatnya.
Dampak-dampak
Ittibaul hawa terhadap amal islami.
1.
Lemah bahkan hilangnya dukungan
masayarkat pendukung.
Ketika amal islami dihinggapi orang yang
mengikuti hawa nafsu, maka masyarakat akan kehilangan qudwah dan akan berdampak
kepada hilangnya dkungan umat.
2.
Pecah atau robeknya kesatuan
shof.
Mereka yang mengikuti hawa nafsu dalam
barisan amal islami akan mengarah kepada pembangkangan terhadap qiyadah, hal
ini akan menjadi smber perpecahan.
3.
Tidak mendapatkan dkngan dan
pertolongan Allah.
Pertolongan Allah hanya akan diberikan kepada
orang-orang yang berhak saja. Ahli maksiat tidak akan mendapatkan pertolongan
Allah.
اَلَّذِيْنَ اِنْ مَّكَّنّٰهُمْ فِى الْاَرْضِ
اَقَامُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتَوُا الزَّكٰوةَ وَاَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا
عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَلِلّٰهِ عَاقِبَةُ الْاُمُوْرِ ٤١
Orang-orang yang kami kokohkan di tas bmi
ini, mereka yang menegakkan sholat, mennaikan zakat, menyuruh kepada kebaikan
dan melarang kepada kemungkaran. (QS. Al-Hajj: 41)
Ingatlah pesan umar terhadap Saad bin Abi
Waqqos ketika akan berjihad di iraq : "Wahai Saad, janganlah engkau
terpukau dengan sebutan fulan paman Roslllah atau sahabatnya, karena Allah
tidak akan menghapus maksiat denagn maksiat, namun Allah hanya akan menghapus
kemaksiatan dengan amal salih. Dan sesungghnya tidak ada di antara Allah dan
siapa pun karena pertimbangan nasab keculai dengan ketaatan. Manusia di sisi
Allah yang berpangkat dan yang tidak, adalah sama.
Dalam surat yang ditulisnya kepada Saad dan
pasukannya beliau menulis : "Sesungguhnya aku menyuruhmu dan pasukan yang
bersamamu dengan taqwa kepada Allah, karena taqwa kepada Allah sebaik-baik
bekal dalam menghadapi musuh, dan strategi yang paling jitu dalam menghadapi
musuh. Aku perintahkan kepadamu dan orang yang bersamamu agar lebih waspada
terhadap maksiat dari pada musuh, karena
dosa pasukan lebih menakutkan dari pada musuh itu sendiri. Dan sesunggiuhnya umat
islam itu hanya akan menang karena maksiat yang dilakukan oleh musuh., kalau bukan karena itu kita tidak mngkin
kuat
5. SOLUSI MENGATASI ITTIBAUL HAWA.
- Mengingat akibat-akibat Ittaul Hawa baik kepada aktifis dakwah atau kepada kerja dakwah itu sendiri.
- Memutuskan diri dari pergaulan kalangan Ash habul Hawa, dan bergaul dengan orang-orang yang salih.
- Mengenal Allah dengan pengenalan sesungguhnya.
- Memperhatikan ash habul hawa, dengan nasihat, atau menampakkan contoh yang baik di hadapan mereka.
- Mengikaji sejarah orang yang mengikuti hawa nafsu, baik dari umat ini atau umat yang lain.
- Mengkaji sejarah orang-orang yang telah bermujahadah mengatasi hawa nafsunya.
- Mengingatkan ancaman terhadap orang yang cenderung kepada dunia.
- Meminta pertolongan penuh kepada Allah.
- Melakukan mujahadah dan pemaksaan berlepas diri dari hawa nafsu.
- Mengingatkan bahwa ketenangan, kkebahagian dan kesuksesan, hanya terdapat di dalam mengikuti apa yang disyariatkan, bukan dalam mengikuti hawa nafsu.
No comments:
Post a Comment