Wa man ya’tashim billahi faqad hudiya ila shiratim mustaqim
Alhamdulillah pada siang hari ini, Allah swt memberikan taufik hidayah
riayah dan inayah kepada kita dan memberikan kekuatan kemampuan dan kemauan
untuk berkumpul bersama di sini. Mudah-mudahan semua arah kerja keras kita di
hari yang lalu, hari ini dan yang akan datang, benar benar bisa meningkatkan
kinerja dan kerja kita dalam rangka taabbud kepada Allah, dalam rangka dakwah,
sehingga semakin mendekatkan kita pada janji dan ridha Allah swt.
Ikhwan dan akhwat rahimakumullah,
Hari-hari ini semakin mendekat pada hari-hari yang banyak tantangan. Tuntutan akan pengorbanan, dan semakin bertambahnya
beban perjuangan. Ini adalah konsekwensi logis dari perkembangan dakwah kita.
Di mana Alhamdulillah dengan kekuatan dan pertolongan dari Allah swt, dakwah
ini terus bergerak, insya Allah akan terus bergerak sampai hari kiamat. Dan
kita tetap menjadi bagian dari pengemban risalah muhammadiyah.
Konseksensi logis
dari pertumbuhan dakwah yang cakupannya makin luas, cakupan komunikasinya
semakin intensif terhadap semua komunitas, entitas dan lapisan masyarakat yang
ada. Konsekwensinya
sudah tentu, kita akan mendapat tantangan yang semakin berat. Tuntutan
pengorbanan yang semakin banyak. Tenaga yang akan semakin terkuras. Sudah
barang tentu, dalam merespon dan mengantisipasi konsekwensi perkembangan dakwah
ke depan, kita pertama-tama harus memahami betul tentang sunnatuddakwah, dimana
merupakan keharusan bagi kita agar menjaga agar dakwah ini tetap dalam
kejernihannya, ke asholahannya, keoriginalitasnya, tidak menyimpang dari
prinsip prinsip dasar yang digariskan oleh Allah dan Rasulnya. Tapi di sisi
lain, dalam menghadapi tantangan, tuntutan, hambatan, kita harus mampu
mengembangkan dan merespon tuntutan perkembangan dakwah ini. Di mana seperti sering
saya katakan, likulli marhalatin
ihtiyajatuha, bahkan likulli marhalatin rijaluha. Setiap marhalah
membutuhkan tipologi dari orang-orag yang berjuang. Ini bukan ganti orang tapi
bagaimana orang ini selalu berkembang. Karenanya, kita merasakan, akhir akhir
ini ada tajazub atau tarik menarik antara kebutuhan terus mempertahankan
ashalah, dan kebutuhan meningkatkan kebutuhan kita merespon perkembangan yang Allah
swt berikan kepada kita. Ini bagian dari sunnatuddakwah, yang penting bagaimana
kita memenej situasi ini.
Bahwa kita wajib menjaga
orisinalitas dakwah ini, adalah keniscayaan. Dan itu baru bisa kita
pertahankan kalau dakwah kita muthabiqan. Muthabiqan itu, kalau dua benda
dimensi nya sama dan kita temukan, itu sesuai, itu namanya muthabiq. Jika
dakwah ini muthabiqan, artinya sesuai dengan ta’aalimul kitab wa sunnah, itu
menjadi unsur yang paling mendasar dari orisinalitas dakwah kita. Dan muthabiqan
dengan kitab wa sunnah, sudah ada dalam prinsip-prinsip dasar dalam kitab dan
sunnah. Ruang lingkup sunnah, adalah ittab’uu sunnati wa sunnatal khulafa
rasyidin mimba’di. Jadi itu memerlukan tarjamah amaliyah bagi langkah-langkah
Rasulullah saw dalam berdakwah yang dilanjutkan oleh para sahabatnya, para
khulafa rasyidin.
Kedua, harus muwafiqan limafahim ahli sunnah wal jamaah, sesuai dengan
pemahaman para salafushalih dari ahli sunnah wal jamaah. Jadi setelah
kecocokan, juga kesesuaian dengan mafahim. Jadi pemahaman kita terhadap al
quran dan sunnah terikat dengan pemahaman ahli sunnah wal jamaah. Kalau
pemahaman itu artinya adalah cara berpikir, cara istimbath, metodologi dalam
mengambil kesimpulan, yang tidak keluar dari pemahaman ahli sunnah wal jamaah.
Karena ada cara cara lain di luar pemahaman ahli sunnah wal jamaah. Ada
pemahaman-pemahaman Al Quran dan sunnah, ada cara khawarij, cara syiah, dan
kita harus sesuai dengan pemahaman salafushalih ahli sunnah wal jamaah.
Ketiga, multaziman bi dhawabitil fikril islami. Kalimat iltazama itu
berasal dari kata lazima yalzamu. Artinya, melazimkan bisa berarti mewajibkan.
Artinya keharusan. Tapi kalau sudah iltazama, itu artinya mengharuskan diri
sendiri, mewajibkan diri sendiri, ada komitmen dari dalam diri sendiri, tanpa
paksaan tanpa disuruh, tapi iltizam. Iltizam dengan pedoman, patokan-patokan
dalam pemikiran Islam. Ini lebih lebar lagi dari mafahim tadi. Sebab fikril
Islami itu tidak satu, sangat banyak. Yang dimaksud di sini adalah, fikril
islami al ikhwani. Sebab banyak fikril islami lainnya, as salafi, at tahriri,
as syi’i at turabi, at tablighi dan al al yang lain. Fikril islami at tablighi,
katakan sesuatu kemudian tinggalkan. Tapi saya sangat hormati karena mereka melakukan
apa yang mereka katakan. Hanya sekedar tabligh. Lebih baik daripada mengatakan
sesuatu tapi praktiknya lebih dari apa yang dikatakan.
Jadi fikril islami ini sangat luas. Karena demikian luas, ini masalah pilihan. Karena
itu, untuk mengarahkan tgerjadinya pilihan, salah satu sarananya yang utama dan
pertama adalah TARBIYAH. Jadi orng itu tidak kita todong, ayo bergabung dan
anut pikiran kita. Tapi kita kasih pelan pelan, perbandingan perbandingan,
contoh-contoh sampai orientasin pikirannya menjadi seperti apa yang kita
pahami. Sifatnya, tathawwu’an, sukarela, setelah al fahm. Jadi dalam dakwah
tidak ada istilah DO, tetap saja dia mad’u karena bisa jadi metodologi kitanya
tidak pas dengan orang itu. Mungkin khitab kita belum pas dengan standar logika
dia. Makanya, tidak ada yang DO, tidak selalu dia yang salah.
Kita sudah memilih, dan pilihan ini mempunyai landasan kenapa memilih
fikril islami ikhwani. Yang paling menonjol ada beberapa diferensiasi dalam
fikril islami al ikhwani. Yakni, pemikiran yang syamil mutakamil meyeluruh dan
terintegrasi. Artinya tidak memilih bidang tertentu dan meninggalkan bidang
tertentu. Melainkan seluruhnya kita perjuangan. Tidak ada bidang yang tidak
berpengaruh pada bidang yang lain.
Bahkan mengingkari ke kafaahan adalah bagian dari ittiba khuthuwat
syaitan. Langkah syetan adalah untuki menjauhkan kita dari kekafahan dan
keterpaduan itu. Ketiga, diferensiasinya adalah bersifat tawazun dan seimbang.
Meski kita mengakui keterpaduan, tapi dalam pertumubunah dakwah kita, kita bisa
garap semuanya secara tawazun, tanpa mengabaikan yang lain,. Karena bila tidak
kita akan terjebak pada juz’iyah. Diferensiasi lain, adalah tadarruj
kebertahapan. Tumbuh seimbang dan bertahap dalam memperjuangkan ajaran Allah
swt dan Rasulnya. Dan yang keempat, adalah wasathiyah, moderat sifatnya. Sebab
kita memang dituntut menjadi ummathan wasatha. Tidak boleh ghuluw dalam
mahdhah, sehingga ibadah ammah terbengkalai. Setelah wasathiyah adalah
itidaliyah. Artinya tidak sempoyongan ke kanan dan kiri. Yang ketujuh,
mutawasilah, kontinyu. Istimroriah. Karena salah satu unsur dari definisi jihad
adalah jiddiyah, kesungguhan tapi sampai akhir hayat.
Ikhwan akhwat
rahimakuulah,
Dengan basis asholah tadi kita menghadapi tantangan dan tunuan. Karena itu kita kemudian membutuhkan tathwir.
Kalau dilakukan hanya dengan renungan bisanya hanya merupakan konsepmenaa
gading, tidak aplikatif. Ada interaksi, tantangan dakwah yang kita hadapi di
lapangan selain perenungan yang disebut waqrah.
Apalagi ketika ruang lingkup komunikasi kita semakin luas. Bukan karena
keinginan kita, tapi dipaksa oleh kondisi. Kita pikirannya hanya masalah
tarbiyah paling keluar sedikit masalah amniyah. Sangat sedikit, karena ruang
gerak di bidang ekonomi, budaya, sosial, politik masih belum dalam jangkauan.
Mafahim kita waktu itu dibatasi kondisi. Begitupula metodologinya, berbeda.
Saat itu belum optimal, meski bisa kita lakukan tapi belum luas. Maka, ketika
kita memasuki era reformasi, saya katakan jangan persoalakan demokrasi secara
ideologis, tapi manfaatkan di mana kita bisa mengeksplor potensi umat inii, dan
bebas mengaktualisasikan diri. Kalau dikatakan yang lain juga bebas, ya ngga
papah. Al hak dan al bathil juga bebas. Di alam demokrasi ini semua bebas, cocok
dengan Islam? Sudah tentu tidak cocok karena dalam Islam kebathilan tidak
dibebaskan. Sekarang ini dalam marhalah di mana semua bebas. Kita ga boleh
takut, karena Allah swt menjelaskan pada kita karakter pertarungan bainal hak
wal bathil. Innal bathila kaana zahuuqa. Jangan takut kompetisi, jangan takut
untuk berlomba, karena kalau al haq datang, hudhurul haq,. Dalam diri dalam
keluarga dalam masyarakat dalam keluarga, akan zahaqal bathil. Al bathil amamal
haq zahiq. Karakter dasarnya itu, al haq wal bathil seluruhnya tidak lepas dari
kekuasan Allah, dari tabiat yang ditentukan oleh Allah. Nah tabiat kebatilan
itu amamal haq zahiq. Jadi kewajiban kita bagaimana menghadirkan al haq dalam
diri kita, keluarga kita, dalam masyarkat dan negara kita, sehinga al bathil
menjadi tereliminasi. Kalau hilang, tidak akan hilang, karena apa, karena kata
Allah wa nafsiwwamaa sawwaha fa alhamahaa fujuraha wa taqwaaha. Potensi fujur
tetap ada. Tinggal apakah kita berhasil menghadirkan al haq atau tidak.
Seukuran kita menghadirkan al haq, seukuran itu pula al bathil akan semakin
terpuruk.
Ikhwan dan akhwat fillah,
Na’udzubilah bila kader kader dakwah ini lengah menampilkan al haq,
kebathilan akan tampil lagi karena ngga ada pesaing. Maka, kalau ada fitnah
kebathilan itu yang paling efektif itu lakukan di lapangaan al haq itu, al
bathil langsung hancur. Tidak akan tunggu-tunggu. Karena rumusannya jaal bathil
zahaqal bathil. Sejauh kita mampu menampilkan al haq semakin kita mampu
menyingkirkan kebathilan.
Jadi kembali pada maslaha tadi, tidak perlu mendebatkan secara ideologis,
yang penting ada ruang bebas untuk kita berlomba. Kebathilan bebas? Memang
karena memang belum menjadi areal Islam. Bukan masalah ideologi. Kalau berdebat
ideologi panjang, tapi kalo bicara amali, kita langsung manfaatkan ruang ini.
Maka, ketika sekarang di era reformasi, keterbukaan demokratisasi, sudah tentu
tuntutan tuntutan pemahaman kita, cara berdialog, cara berkomunikasi, terus
berkembang, tapi selalu merujuk pada asholah itu tadi. Jadi, kalau dilihat dari
kebutuhan itu antara ashalah dan tathwir, itu sesuatu yang harus beriringan
terus. Sebab upaya upaya tashil tanpa tathwir, kita ditarik ke belakang, ke
masa lalu. Apalagi, statemen statemen ta’shil itu sekedar persembunyian dari
ketidakmampuan merespon perkembangan dengan mengatakan tidak ashalah tidak
ashalah. Persembunyian dari tidakmampu berkembang secara uslub dan sebagainya.
Ikhwan dan akhwat fillah,
Jadi pertama, pemahaman, kemudian uslub yang disebut juga dengan tathwirul
adaa (perkembangan kerja dan kinerja, termasuk metodologi uslub dan wasail
sarana prasarana, prsedur ijroatnya, idariyahnya kita kembangkan, termasuk
pengendalian kontrolnya). Al adaa- atau kinerja, inilah yang membuat mafahim
kita dialah yang bisa memproduk sesuatu yang bisa dinikmati orang. Maka di jawa
barat adapameo, PKS itu kahatos, bisa dipahami. Seluruh kader bisa
berargumentasi, karena memang ditraining, ditarqiyah, tidak ada anggota partai
yang diurus kayak partai kita ini. Maka, kalau masalah dimengerti, itu sudah
paling depan. Dipahami, juga paling depan. Karena kader kita mau latar belakang
pendidikan apa saja, disebutnya ustadz, ustadz insinyur ini dan itu. Tapi
apakah sudah dinikmati, apakah kita sudah bisa dinikmati? Apakah orang bisa
menikmati dakwah kita? Jadi bahasa di Jawa Barat PKS harus Kahatos dan Karaos, bisa dipahami dan
bisa dinikmati. Insya Allah, awlawiyatnya umat Islam menikmati keislaman kita.
Sudah tentu ikhwan dan akhwat, yang paling menikmati keislaman kita. Jangan
dibalik. Orang lain, lebih dulu menikmati sementara ikhwan dan akhwat sendiri,
mengalami abasa wa tawalla.
Bahkan sebagai agent perubahan, orang kafir itu menikmati keislaman kita
dalam kekafirannya. Jadi apapun golongannya, partainya, bisa menikmati
keislaman kita, kalau kita bisa melakukan tathwirul ada. Jadi tantangan kita ke
depan adalah bagaimana mengembangkan mafahim dan ada (kinerja dan kerja). Dalam
tarbiyah ini menghasilkan tathwir suluk, prilaku sosial perilaku bisnis,
prilaku politik yang bisa dinikmati orang.
Ikhwan dan akhwat fillah,
Contoh dari Rasulullah sw sudah selesai. Beliau meninggalkan Islam dalam
kejelasan. Bahkan di awal kebangkitan Islam Rasulullah sudah memanfaatkan
potensi musyrik pamannya sendiri Abu Thalib, untuk menyelamatkan dakwah. Siapa
yang lebih furqan dan wala bara dari Rasulullah. Dan kewafatan Abu Thalib yang
musyrik itu disebut dalam sejarah Islam aamul huzni. Tahun kesedihan, dengn
meninggalnya Abu Thalib dan meninggalnya Khadijah. Potensi positif yang
dimiliki sang paman yang masih musyrik dimanfaatkan. Meskipun tidak ada tawar
menawar. Ketika abu Thalib sudah tua mengatakan, wahai anakku, paman ini sudah
tua tolong jangan membebani paman. Cobalah berdialog dengan kaummu. Tapi deal
itu dibatsi oleh Rasululah, kalau mereka memberikan matahari dan bulan di tangan
kanan dan kiri, tidak akan dilakukan. Tapi kalau deal yang lain masih mungkin.
Kita bisa cari titik temu tapi tidak pada na’budu. Karena itu akan syirik.
Kita harus bisa memanfaatkan sunnah tadafu’ perlombaan pergulatan. Dan kita
semua didorong untuk berlomba, wa saari’uu, fastabiqul khairat, kita harus
berlomba melawan kebathilan. Sebagaimana prinsip innal bathila kaana zahuqa.
Kalau selama ini kebathilan dominan, di tengah negeri kita, karena al haq nya
tidak zahir.
Ikhwan dan akhwat
rahimakumullah,
Jadi pertama, muthabiqan bi mabadi al quran wa sunnah. Muwafiqan limafahim
salafishalih
min ahli
sunnah wal jamaah. Dan ketiga, multaziman bi dhawabitil fikril islami al
ikhwani. Kita dalam menghadapi tantangan perjuangan yang jangka pendeknya
adalah pemilu, maka kesadaran akan menjaga keseimbangan antara tashil dan
tathwir, antara ashalah dan hadatsah, antara tashil dan tajdid, itu harus
dijaga. Kalau
kita hanya bicara tashil, kita akan tertarik ke belakang. Tidak ada asemangat
merespon situasi kondisi mengantisipasi tantangan. Apalagi kalau pemikiran
ashalah itu hanya berupa persembunyian dari tidak mampu antisipasi. Jangan ikut
ke situ, utnuk bisa jaga ashalah. Kenapa perlunya tarbiyah kalau ketemu orang
terbawa-bawa.
Sekarang masyarakat menunggu apa deferensiasi PKS? Apakah piawai memberi
solusi dalam kerjanya terhadap permaslahan bangsa ini? Itu kembali pada tathwirul adaa,
kerja kinerja kita harus ditingkatkan. Dengan menjaga keseimbangan tadi, insya
Allah kita akan diberikan oleh Allah swt, peluang-peluang, dan janji janji
Allah. Seperti Rasululah memanfaatkan abdullah bin uraiqith menjadi petunjuk
jalan ke Madinah, atau ketikapulang dari Thaif dimana Rasulullah mendatangi
Mutab bin Adi untuk melindunginya. Abu Jahal sampai mengatakan, ”Qad ajjartu man ajjarta ya mutab, kata abu
Jahal. Aku menghargai siapa yang membayarmu untuk melindungimu ya Mutab.
Bahkan ketika hijrah, Rasulullah saw memanfaatkan orang yang tergiur oleh
sayembara Quraisy untuk memburu Rasulullah, yaitu Suraqah bin malik. Karena waktu itu siapa
yang bisa membunuh Rasul dapat 100 onta. Ketika datang dekat Rasullllah kudanya
terperosok di pasir. Rasulullah
memandang positif, katanya, Wahai Suraqah saya tidak akan menyakiti kamu. Ini
mengejutkan. Ini tawaran deal yang luar biasa. Syaratnya, ketika balik bilang
jangan ke sini, sudah tidak ada Muhammad. Ini namanya khud’ah artinya mengecoh,
ada dibilang tidak ada. Bahkan dijanjikan, nanti kalau Rasulullah menang, akan
diberi suaka politik. Suraqah sendiri, karena melihat Rasulullah akan menang,
Suraqah melihat akan dapat keuntungan kelak dari Rasulullah saw. Lihat bagimana
Rasulullah saw masih menempuh deal meskipun telah ditolong oleh Allah swt. Kita
tidak mungkin memetik hikmah kecuali kita memiliki pandangan positif.
Kita juga dalam berjuang, sudah tentu kita berjuang di tengah tengah umat
Islam. Yang walaupun belum islami, tetap umat Islam. Artinya, mereka umat Islam
dan artinya kebaikan positif itu ada di mana-mana. Apalagi secara pandangan
dakwah mereka itu semua adalah mad’u kita. Kita tidak oleh putus komunikasi.
Paling tidak di seluruh kelompok itu kita punya channeling.
Ikhwan akhwat fillah,
Kemampuan kita dalam mengambangkan kerja dan kinerja adalah tuntutan
perjuangan kita. Contoh-contoh yang dimiliki saudara asaudara kita, sebenarnya
lebih sulit dari apa yang kita alami. Misalnya, di turki, para ikhwah hidup di
tengah sistem sekuler ortodok dan sangat dahsyat. Sekuler sudah seperti agama.
Sampai partai bernama Islam saja tidak boleh. Bersimbolkan Islam tidak boleh.
Sampai sekarang. Kita ada Soekarnoisme, tapi itu tidak masuk undang undang.
Kalau di Turki, Kemalisme masuk undang undang dasar. Mengkritisi doktrin
Kemalisme melawan undang undang. Bahkan simbol Partai Keadilan dan Pembangunan
itu, bohlam. Doktrinnya, artinya enrightment, pencerahan. Partai yang membawa
pencerahan bagi bangsa Turki. Jadi diterjemahkan melalui kinerja. Sampai sekarang,
berjilbab masih dilarang. Tapi kemarin gara-gara jilbab juga ramai diajukan ke
mahkamah konstitusi. Karena yang berjilbab istri presiden, istri pm dan istri MA. Bahkan
presiden Abdullah Gull dilantik, presiden lamanya tidak mau hadir, karna ada
istri Abdullah Gul yang memakai jilbab tidak mau hadir. Tapi rakyat Turki
menikmati kinerja dari Ikhwah di sana. Mereka ditemua semuap ihak. Maka, kekuatan sekuler
ortodok yang dikawal militer tidak banyak berkutik.
Bahkan kinerja politik yang luar biasa adalah, keinginan bergabung dengan
masyarakat UE. Masyarakat Turki menginduk ke Eropa, sekuler ortodok ini, sangat
diktator, anti agama, anti kebebasan, kalau dibentur langsung akan ada mahkamah
konstitusi. Maka ikhwah di sana bikin program bergabung dengan UE. Kalau benar
terjadi, dakwah semakin luas. Kalau tidak jadi, paling tidak Eropa akan
mengatakan syarat untuk UE adalah harus ada demokratisasi. Sebetulnya itu
tuntutan ikhwah kepada Sekuler ortodok tapi yang menyuarakannya Eropa.
Ini bagian dari tathwirul ada dalam khitab siyasi. Dalam marhalah ini, kita
lebih mengutamakan khitab wathani, amal islami. Kenapa, karena bangsa kita
bangsa muslim. Bahkan di zaman Faisal Tanjung, Islam adalah daya kohesif
nasional Indonesia. Maka, khitab wathani kita selaras dengan kepentingan Islam.
Wallahu’alam.
No comments:
Post a Comment