Thursday, May 7, 2026

KH. Hilmi Aminuddin: Memaknai Orisinalitas Da’wah antara Ta’shil dan Tathwir

Wa man ya’tashim billahi faqad hudiya ila shiratim mustaqim

Alhamdulillah pada siang hari ini, Allah swt memberikan taufik hidayah riayah dan inayah kepada kita dan memberikan kekuatan kemampuan dan kemauan untuk berkumpul bersama di sini. Mudah-mudahan semua arah kerja keras kita di hari yang lalu, hari ini dan yang akan datang, benar benar bisa meningkatkan kinerja dan kerja kita dalam rangka taabbud kepada Allah, dalam rangka dakwah, sehingga semakin mendekatkan kita pada janji dan ridha Allah swt.

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah,

Hari-hari ini semakin mendekat pada hari-hari yang banyak tantangan. Tuntutan akan pengorbanan, dan semakin bertambahnya beban perjuangan. Ini adalah konsekwensi logis dari perkembangan dakwah kita. Di mana Alhamdulillah dengan kekuatan dan pertolongan dari Allah swt, dakwah ini terus bergerak, insya Allah akan terus bergerak sampai hari kiamat. Dan kita tetap menjadi bagian dari pengemban risalah muhammadiyah.

Konseksensi logis dari pertumbuhan dakwah yang cakupannya makin luas, cakupan komunikasinya semakin intensif terhadap semua komunitas, entitas dan lapisan masyarakat yang ada. Konsekwensinya sudah tentu, kita akan mendapat tantangan yang semakin berat. Tuntutan pengorbanan yang semakin banyak. Tenaga yang akan semakin terkuras. Sudah barang tentu, dalam merespon dan mengantisipasi konsekwensi perkembangan dakwah ke depan, kita pertama-tama harus memahami betul tentang sunnatuddakwah, dimana merupakan keharusan bagi kita agar menjaga agar dakwah ini tetap dalam kejernihannya, ke asholahannya, keoriginalitasnya, tidak menyimpang dari prinsip prinsip dasar yang digariskan oleh Allah dan Rasulnya. Tapi di sisi lain, dalam menghadapi tantangan, tuntutan, hambatan, kita harus mampu mengembangkan dan merespon tuntutan perkembangan dakwah ini. Di mana seperti sering saya katakan, likulli marhalatin ihtiyajatuha, bahkan likulli marhalatin rijaluha. Setiap marhalah membutuhkan tipologi dari orang-orag yang berjuang. Ini bukan ganti orang tapi bagaimana orang ini selalu berkembang. Karenanya, kita merasakan, akhir akhir ini ada tajazub atau tarik menarik antara kebutuhan terus mempertahankan ashalah, dan kebutuhan meningkatkan kebutuhan kita merespon perkembangan yang Allah swt berikan kepada kita. Ini bagian dari sunnatuddakwah, yang penting bagaimana kita memenej situasi ini.

Bahwa kita wajib menjaga orisinalitas dakwah ini, adalah keniscayaan. Dan itu baru bisa kita pertahankan kalau dakwah kita muthabiqan. Muthabiqan itu, kalau dua benda dimensi nya sama dan kita temukan, itu sesuai, itu namanya muthabiq. Jika dakwah ini muthabiqan, artinya sesuai dengan ta’aalimul kitab wa sunnah, itu menjadi unsur yang paling mendasar dari orisinalitas dakwah kita.  Dan muthabiqan dengan kitab wa sunnah, sudah ada dalam prinsip-prinsip dasar dalam kitab dan sunnah. Ruang lingkup sunnah, adalah ittab’uu sunnati wa sunnatal khulafa rasyidin mimba’di. Jadi itu memerlukan tarjamah amaliyah bagi langkah-langkah Rasulullah saw dalam berdakwah yang dilanjutkan oleh para sahabatnya, para khulafa rasyidin.

Kedua, harus muwafiqan limafahim ahli sunnah wal jamaah, sesuai dengan pemahaman para salafushalih dari ahli sunnah wal jamaah. Jadi setelah kecocokan, juga kesesuaian dengan mafahim. Jadi pemahaman kita terhadap al quran dan sunnah terikat dengan pemahaman ahli sunnah wal jamaah. Kalau pemahaman itu artinya adalah cara berpikir, cara istimbath, metodologi dalam mengambil kesimpulan, yang tidak keluar dari pemahaman ahli sunnah wal jamaah. Karena ada cara cara lain di luar pemahaman ahli sunnah wal jamaah. Ada pemahaman-pemahaman Al Quran dan sunnah, ada cara khawarij, cara syiah, dan kita harus sesuai dengan pemahaman salafushalih ahli sunnah wal jamaah.

Ketiga, multaziman bi dhawabitil fikril islami. Kalimat iltazama itu berasal dari kata lazima yalzamu. Artinya, melazimkan bisa berarti mewajibkan. Artinya keharusan. Tapi kalau sudah iltazama, itu artinya mengharuskan diri sendiri, mewajibkan diri sendiri, ada komitmen dari dalam diri sendiri, tanpa paksaan tanpa disuruh, tapi iltizam. Iltizam dengan pedoman, patokan-patokan dalam pemikiran Islam. Ini lebih lebar lagi dari mafahim tadi. Sebab fikril Islami itu tidak satu, sangat banyak. Yang dimaksud di sini adalah, fikril islami al ikhwani. Sebab banyak fikril islami lainnya, as salafi, at tahriri, as syi’i at turabi, at tablighi dan al al yang lain. Fikril islami at tablighi, katakan sesuatu kemudian tinggalkan. Tapi saya sangat hormati karena mereka melakukan apa yang mereka katakan. Hanya sekedar tabligh. Lebih baik daripada mengatakan sesuatu tapi praktiknya lebih dari apa yang dikatakan.

Jadi fikril islami ini sangat luas. Karena demikian luas, ini masalah pilihan. Karena itu, untuk mengarahkan tgerjadinya pilihan, salah satu sarananya yang utama dan pertama adalah TARBIYAH. Jadi orng itu tidak kita todong, ayo bergabung dan anut pikiran kita. Tapi kita kasih pelan pelan, perbandingan perbandingan, contoh-contoh sampai orientasin pikirannya menjadi seperti apa yang kita pahami. Sifatnya, tathawwu’an, sukarela, setelah al fahm. Jadi dalam dakwah tidak ada istilah DO, tetap saja dia mad’u karena bisa jadi metodologi kitanya tidak pas dengan orang itu. Mungkin khitab kita belum pas dengan standar logika dia. Makanya, tidak ada yang DO, tidak selalu dia yang salah.

Kita sudah memilih, dan pilihan ini mempunyai landasan kenapa memilih fikril islami ikhwani. Yang paling menonjol ada beberapa diferensiasi dalam fikril islami al ikhwani. Yakni, pemikiran yang syamil mutakamil meyeluruh dan terintegrasi. Artinya tidak memilih bidang tertentu dan meninggalkan bidang tertentu. Melainkan seluruhnya kita perjuangan. Tidak ada bidang yang tidak berpengaruh pada bidang yang lain.  Bahkan mengingkari ke kafaahan adalah bagian dari ittiba khuthuwat syaitan. Langkah syetan adalah untuki menjauhkan kita dari kekafahan dan keterpaduan itu. Ketiga, diferensiasinya adalah bersifat tawazun dan seimbang. Meski kita mengakui keterpaduan, tapi dalam pertumubunah dakwah kita, kita bisa garap semuanya secara tawazun, tanpa mengabaikan yang lain,. Karena bila tidak kita akan terjebak pada juz’iyah. Diferensiasi lain, adalah tadarruj kebertahapan. Tumbuh seimbang dan bertahap dalam memperjuangkan ajaran Allah swt dan Rasulnya. Dan yang keempat, adalah wasathiyah, moderat sifatnya. Sebab kita memang dituntut menjadi ummathan wasatha. Tidak boleh ghuluw dalam mahdhah, sehingga ibadah ammah terbengkalai. Setelah wasathiyah adalah itidaliyah. Artinya tidak sempoyongan ke kanan dan kiri. Yang ketujuh, mutawasilah, kontinyu. Istimroriah. Karena salah satu unsur dari definisi jihad adalah jiddiyah, kesungguhan tapi sampai akhir hayat.

Ikhwan akhwat rahimakuulah,

Dengan basis asholah tadi kita menghadapi tantangan dan tunuan.  Karena itu kita kemudian membutuhkan tathwir. Kalau dilakukan hanya dengan renungan bisanya hanya merupakan konsepmenaa gading, tidak aplikatif. Ada interaksi, tantangan dakwah yang kita hadapi di lapangan selain perenungan yang disebut waqrah.

Apalagi ketika ruang lingkup komunikasi kita semakin luas. Bukan karena keinginan kita, tapi dipaksa oleh kondisi. Kita pikirannya hanya masalah tarbiyah paling keluar sedikit masalah amniyah. Sangat sedikit, karena ruang gerak di bidang ekonomi, budaya, sosial, politik masih belum dalam jangkauan. Mafahim kita waktu itu dibatasi kondisi. Begitupula metodologinya, berbeda. Saat itu belum optimal, meski bisa kita lakukan tapi belum luas. Maka, ketika kita memasuki era reformasi, saya katakan jangan persoalakan demokrasi secara ideologis, tapi manfaatkan di mana kita bisa mengeksplor potensi umat inii, dan bebas mengaktualisasikan diri. Kalau dikatakan yang lain juga bebas, ya ngga papah. Al hak dan al bathil juga bebas. Di alam demokrasi ini semua bebas, cocok dengan Islam? Sudah tentu tidak cocok karena dalam Islam kebathilan tidak dibebaskan. Sekarang ini dalam marhalah di mana semua bebas. Kita ga boleh takut, karena Allah swt menjelaskan pada kita karakter pertarungan bainal hak wal bathil. Innal bathila kaana zahuuqa. Jangan takut kompetisi, jangan takut untuk berlomba, karena kalau al haq datang, hudhurul haq,. Dalam diri dalam keluarga dalam masyarakat dalam keluarga, akan zahaqal bathil. Al bathil amamal haq zahiq. Karakter dasarnya itu, al haq wal bathil seluruhnya tidak lepas dari kekuasan Allah, dari tabiat yang ditentukan oleh Allah. Nah tabiat kebatilan itu amamal haq zahiq. Jadi kewajiban kita bagaimana menghadirkan al haq dalam diri kita, keluarga kita, dalam masyarkat dan negara kita, sehinga al bathil menjadi tereliminasi. Kalau hilang, tidak akan hilang, karena apa, karena kata Allah wa nafsiwwamaa sawwaha fa alhamahaa fujuraha wa taqwaaha. Potensi fujur tetap ada. Tinggal apakah kita berhasil menghadirkan al haq atau tidak. Seukuran kita menghadirkan al haq, seukuran itu pula al bathil akan semakin terpuruk.

Ikhwan dan akhwat fillah,

Na’udzubilah bila kader kader dakwah ini lengah menampilkan al haq, kebathilan akan tampil lagi karena ngga ada pesaing. Maka, kalau ada fitnah kebathilan itu yang paling efektif itu lakukan di lapangaan al haq itu, al bathil langsung hancur. Tidak akan tunggu-tunggu. Karena rumusannya jaal bathil zahaqal bathil. Sejauh kita mampu menampilkan al haq semakin kita mampu menyingkirkan kebathilan.

Jadi kembali pada maslaha tadi, tidak perlu mendebatkan secara ideologis, yang penting ada ruang bebas untuk kita berlomba. Kebathilan bebas? Memang karena memang belum menjadi areal Islam. Bukan masalah ideologi. Kalau berdebat ideologi panjang, tapi kalo bicara amali, kita langsung manfaatkan ruang ini. Maka, ketika sekarang di era reformasi, keterbukaan demokratisasi, sudah tentu tuntutan tuntutan pemahaman kita, cara berdialog, cara berkomunikasi, terus berkembang, tapi selalu merujuk pada asholah itu tadi. Jadi, kalau dilihat dari kebutuhan itu antara ashalah dan tathwir, itu sesuatu yang harus beriringan terus. Sebab upaya upaya tashil tanpa tathwir, kita ditarik ke belakang, ke masa lalu. Apalagi, statemen statemen ta’shil itu sekedar persembunyian dari ketidakmampuan merespon perkembangan dengan mengatakan tidak ashalah tidak ashalah. Persembunyian dari tidakmampu berkembang secara uslub dan sebagainya.

Ikhwan dan akhwat fillah,

Jadi pertama, pemahaman, kemudian uslub yang disebut juga dengan tathwirul adaa (perkembangan kerja dan kinerja, termasuk metodologi uslub dan wasail sarana prasarana, prsedur ijroatnya, idariyahnya kita kembangkan, termasuk pengendalian kontrolnya). Al adaa- atau kinerja, inilah yang membuat mafahim kita dialah yang bisa memproduk sesuatu yang bisa dinikmati orang. Maka di jawa barat adapameo, PKS itu kahatos, bisa dipahami. Seluruh kader bisa berargumentasi, karena memang ditraining, ditarqiyah, tidak ada anggota partai yang diurus kayak partai kita ini. Maka, kalau masalah dimengerti, itu sudah paling depan. Dipahami, juga paling depan. Karena kader kita mau latar belakang pendidikan apa saja, disebutnya ustadz, ustadz insinyur ini dan itu. Tapi apakah sudah dinikmati, apakah kita sudah bisa dinikmati? Apakah orang bisa menikmati dakwah kita? Jadi bahasa di Jawa Barat PKS harus Kahatos dan Karaos, bisa dipahami dan bisa dinikmati. Insya Allah, awlawiyatnya umat Islam menikmati keislaman kita. Sudah tentu ikhwan dan akhwat, yang paling menikmati keislaman kita. Jangan dibalik. Orang lain, lebih dulu menikmati sementara ikhwan dan akhwat sendiri, mengalami abasa wa tawalla.

Bahkan sebagai agent perubahan, orang kafir itu menikmati keislaman kita dalam kekafirannya. Jadi apapun golongannya, partainya, bisa menikmati keislaman kita, kalau kita bisa melakukan tathwirul ada. Jadi tantangan kita ke depan adalah bagaimana mengembangkan mafahim dan ada (kinerja dan kerja). Dalam tarbiyah ini menghasilkan tathwir suluk, prilaku sosial perilaku bisnis, prilaku politik yang bisa dinikmati orang.

Ikhwan dan akhwat fillah,

Contoh dari Rasulullah sw sudah selesai. Beliau meninggalkan Islam dalam kejelasan. Bahkan di awal kebangkitan Islam Rasulullah sudah memanfaatkan potensi musyrik pamannya sendiri Abu Thalib, untuk menyelamatkan dakwah. Siapa yang lebih furqan dan wala bara dari Rasulullah. Dan kewafatan Abu Thalib yang musyrik itu disebut dalam sejarah Islam aamul huzni. Tahun kesedihan, dengn meninggalnya Abu Thalib dan meninggalnya Khadijah. Potensi positif yang dimiliki sang paman yang masih musyrik dimanfaatkan. Meskipun tidak ada tawar menawar. Ketika abu Thalib sudah tua mengatakan, wahai anakku, paman ini sudah tua tolong jangan membebani paman. Cobalah berdialog dengan kaummu. Tapi deal itu dibatsi oleh Rasululah, kalau mereka memberikan matahari dan bulan di tangan kanan dan kiri, tidak akan dilakukan. Tapi kalau deal yang lain masih mungkin. Kita bisa cari titik temu tapi tidak pada na’budu. Karena itu akan syirik.

Kita harus bisa memanfaatkan sunnah tadafu’ perlombaan pergulatan. Dan kita semua didorong untuk berlomba, wa saari’uu, fastabiqul khairat, kita harus berlomba melawan kebathilan. Sebagaimana prinsip innal bathila kaana zahuqa. Kalau selama ini kebathilan dominan, di tengah negeri kita, karena al haq nya tidak zahir.

Ikhwan dan akhwat rahimakumullah,

Jadi pertama, muthabiqan bi mabadi al quran wa sunnah. Muwafiqan limafahim salafishalih min ahli sunnah wal jamaah. Dan ketiga, multaziman bi dhawabitil fikril islami al ikhwani. Kita dalam menghadapi tantangan perjuangan yang jangka pendeknya adalah pemilu, maka kesadaran akan menjaga keseimbangan antara tashil dan tathwir, antara ashalah dan hadatsah, antara tashil dan tajdid, itu harus dijaga. Kalau kita hanya bicara tashil, kita akan tertarik ke belakang. Tidak ada asemangat merespon situasi kondisi mengantisipasi tantangan. Apalagi kalau pemikiran ashalah itu hanya berupa persembunyian dari tidak mampu antisipasi. Jangan ikut ke situ, utnuk bisa jaga ashalah. Kenapa perlunya tarbiyah kalau ketemu orang terbawa-bawa.

Sekarang masyarakat menunggu apa deferensiasi PKS? Apakah piawai memberi solusi dalam kerjanya terhadap permaslahan bangsa ini? Itu kembali pada tathwirul adaa, kerja kinerja kita harus ditingkatkan. Dengan menjaga keseimbangan tadi, insya Allah kita akan diberikan oleh Allah swt, peluang-peluang, dan janji janji Allah. Seperti Rasululah memanfaatkan abdullah bin uraiqith menjadi petunjuk jalan ke Madinah, atau ketikapulang dari Thaif dimana Rasulullah mendatangi Mutab bin Adi untuk melindunginya. Abu Jahal sampai mengatakan,  ”Qad ajjartu man ajjarta ya mutab, kata abu Jahal. Aku menghargai siapa yang membayarmu untuk melindungimu ya Mutab.

Bahkan ketika hijrah, Rasulullah saw memanfaatkan orang yang tergiur oleh sayembara Quraisy untuk memburu Rasulullah, yaitu  Suraqah bin malik. Karena waktu itu siapa yang bisa membunuh Rasul dapat 100 onta. Ketika datang dekat Rasullllah kudanya terperosok di pasir.  Rasulullah memandang positif, katanya, Wahai Suraqah saya tidak akan menyakiti kamu. Ini mengejutkan. Ini tawaran deal yang luar biasa. Syaratnya, ketika balik bilang jangan ke sini, sudah tidak ada Muhammad. Ini namanya khud’ah artinya mengecoh, ada dibilang tidak ada. Bahkan dijanjikan, nanti kalau Rasulullah menang, akan diberi suaka politik. Suraqah sendiri, karena melihat Rasulullah akan menang, Suraqah melihat akan dapat keuntungan kelak dari Rasulullah saw. Lihat bagimana Rasulullah saw masih menempuh deal meskipun telah ditolong oleh Allah swt. Kita tidak mungkin memetik hikmah kecuali kita memiliki pandangan positif.

Kita juga dalam berjuang, sudah tentu kita berjuang di tengah tengah umat Islam. Yang walaupun belum islami, tetap umat Islam. Artinya, mereka umat Islam dan artinya kebaikan positif itu ada di mana-mana. Apalagi secara pandangan dakwah mereka itu semua adalah mad’u kita. Kita tidak oleh putus komunikasi. Paling tidak di seluruh kelompok itu kita punya channeling.

Ikhwan akhwat fillah,

Kemampuan kita dalam mengambangkan kerja dan kinerja adalah tuntutan perjuangan kita. Contoh-contoh yang dimiliki saudara asaudara kita, sebenarnya lebih sulit dari apa yang kita alami. Misalnya, di turki, para ikhwah hidup di tengah sistem sekuler ortodok dan sangat dahsyat. Sekuler sudah seperti agama. Sampai partai bernama Islam saja tidak boleh. Bersimbolkan Islam tidak boleh. Sampai sekarang. Kita ada Soekarnoisme, tapi itu tidak masuk undang undang. Kalau di Turki, Kemalisme masuk undang undang dasar. Mengkritisi doktrin Kemalisme melawan undang undang. Bahkan simbol Partai Keadilan dan Pembangunan itu, bohlam. Doktrinnya, artinya enrightment, pencerahan. Partai yang membawa pencerahan bagi bangsa Turki. Jadi diterjemahkan melalui kinerja. Sampai sekarang, berjilbab masih dilarang. Tapi kemarin gara-gara jilbab juga ramai diajukan ke mahkamah konstitusi. Karena yang berjilbab istri presiden, istri pm dan istri MA. Bahkan presiden Abdullah Gull dilantik, presiden lamanya tidak mau hadir, karna ada istri Abdullah Gul yang memakai jilbab tidak mau hadir. Tapi rakyat Turki menikmati kinerja dari Ikhwah di sana. Mereka ditemua semuap ihak. Maka, kekuatan sekuler ortodok yang dikawal militer tidak banyak berkutik.

Bahkan kinerja politik yang luar biasa adalah, keinginan bergabung dengan masyarakat UE. Masyarakat Turki menginduk ke Eropa, sekuler ortodok ini, sangat diktator, anti agama, anti kebebasan, kalau dibentur langsung akan ada mahkamah konstitusi. Maka ikhwah di sana bikin program bergabung dengan UE. Kalau benar terjadi, dakwah semakin luas. Kalau tidak jadi, paling tidak Eropa akan mengatakan syarat untuk UE adalah harus ada demokratisasi. Sebetulnya itu tuntutan ikhwah kepada Sekuler ortodok tapi yang menyuarakannya Eropa.

Ini bagian dari tathwirul ada dalam khitab siyasi. Dalam marhalah ini, kita lebih mengutamakan khitab wathani, amal islami. Kenapa, karena bangsa kita bangsa muslim. Bahkan di zaman Faisal Tanjung, Islam adalah daya kohesif nasional Indonesia. Maka, khitab wathani kita selaras dengan kepentingan Islam.

Wallahu’alam.

 

No comments:

Post a Comment

Keluarga Muslim Teladan