Monday, May 11, 2026

Ujub

Pertama: Makna Al-I’jab bin Nafs

Penyakit kelima yang menjangkiti sebagian aktivis (pekerja dakwah), yang mana mereka harus bersungguh-sungguh mengobati, membebaskan diri, bahkan waspada dan membentengi diri darinya, adalah: Kekaguman pada diri sendiri (Ujub).

Agar pembahasan kita mengenai penyakit ini memiliki dimensi yang jelas dan batasan yang terukur, kita akan membaginya sebagai berikut:

Makna Al-I’jab bin Nafs secara Bahasa:

Secara etimologi (bahasa), istilah Al-I’jab bin Nafs merujuk pada:

  • (a) Kegembiraan dan Anggapan Baik: Anda berkata: "Amruhu a'jabahu" (perkara itu membuatnya takjub), artinya membuatnya senang. "A'jaba bihi" artinya merasa senang dengannya. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya budak perempuan yang beriman lebih baik dari perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu (a’jabatkum)." (QS. Al-Baqarah: 221).

"Katakanlah: Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu (a’jabaka)." (QS. Al-Ma'idah: 100).

"...seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan (a’jaba) para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning." (QS. Al-Hadid: 20).

  • (b) Keangkuhan atau Menganggap Besar: Anda berkata: "A'jabahu al-amru", artinya dia merasa bangga dengannya, menganggapnya agung dan besar. Seorang laki-laki yang "Mu’jab" adalah orang yang sombong atau mengagung-agungkan apa yang ada pada dirinya, baik itu hal baik maupun buruk. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"...dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu (a’jabatkum katsratukum), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun." (QS. At-Tawbah: 25).

Makna secara Istilah:

Adapun dalam istilah para dai atau aktivis, I'jab bin Nafs adalah: Perasaan senang atau gembira terhadap diri sendiri serta apa yang keluar darinya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, tanpa adanya sikap melampaui batas terhadap orang lain. Hal ini berlaku baik perkataan dan perbuatan tersebut berupa kebaikan atau keburukan, terpuji maupun tercela.

  • Jika perasaan tersebut disertai dengan sikap melampaui batas terhadap orang lain dengan cara menghina dan meremehkan apa yang mereka lakukan, maka itu disebut Ghurur (terpedaya) atau kekaguman diri yang sangat.
  • Jika disertai dengan sikap meremehkan orang lain secara personal (fisik/zatnya) dan merasa lebih tinggi di atas mereka, maka itu disebut Takabbur (sombong) atau kekaguman diri yang akut.

Kedua: Sebab-Sebab Kekaguman pada Diri Sendiri

Terdapat sebab-sebab yang mengarah pada penyakit ujub ini, di antaranya:

1. Pola Asuh Awal (Lingkungan Pertumbuhan):

Terkadang sebabnya adalah lingkungan masa kecil. Seseorang mungkin tumbuh di antara orang tua (atau salah satunya) yang memiliki sifat suka dipuji, terus-menerus menyucikan diri sendiri (baik dengan kebenaran maupun kebatilan), serta sulit menerima nasihat dan arahan. Anak tersebut kemudian meniru mereka, dan seiring berjalannya waktu, ia terpengaruh hingga sifat ujub menjadi bagian dari kepribadiannya, kecuali bagi mereka yang dirahmati Allah.

Inilah rahasia mengapa Islam menekankan agar orang tua berkomitmen pada manhaj Allah, sebagaimana yang telah kami jelaskan pada penyakit kedua (Penyakit Israf/Berlebihan). Hanya manhaj Allah-lah yang mampu melindungi orang tua dari penyimpangan, sehingga mereka layak menjadi teladan bagi anak-anaknya.

2. Sanjungan dan Pujian di Hadapan Muka tanpa Mengindahkan Adab Syar'i:

Sebagian orang, ketika dipuji langsung di hadapannya tanpa ikatan adab syar'i, akan dihinggapi bisikan setan karena ketidaktahuannya akan tipu daya iblis. Ia mulai berpikir bahwa ia dipuji karena memang memiliki bakat yang tidak dimiliki orang lain. Bisikan ini terus mengejarnya hingga ia terjangkit penyakit ujub. Inilah rahasia mengapa Rasulullah mencela pujian di hadapan muka dan menekankan pentingnya adab jika memang harus memuji.

Diriwayatkan dari Mujahid, dari Abu Ma’mar, ia berkata: "Seorang laki-laki berdiri memuji salah seorang gubernur, maka Miqdad bin Al-Aswad menaburkan debu ke wajah orang itu dan berkata: 'Rasulullah memerintahkan kami untuk menaburkan debu ke wajah orang-orang yang suka memuji.'"

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Bakrah, dari ayahnya: "Seorang laki-laki memuji orang lain di dekat Nabi , maka beliau bersabda: 'Celaka kamu! Kamu telah memenggal leher kawanmu!' (beliau mengucapkannya berkali-kali). 'Jika salah seorang di antara kalian harus memuji, maka katakanlah: Aku mengira fulan begini, dan Allah-lah yang menghisabnya, dan aku tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah. Aku mengiranya begini dan begitu (jika ia memang mengetahuinya).'

3. Berteman dengan Orang-Orang yang Ujub:

Seseorang sangat mudah meniru dan terpengaruh oleh temannya, apalagi jika temannya memiliki kepribadian yang kuat dan pengalaman luas, sementara ia sendiri adalah orang yang lalai dan polos. Jika temannya terjangkit penyakit ujub, maka "infeksinya" akan menular kepadanya. Inilah rahasia mengapa Islam menekankan pentingnya memilih teman agar membuahkan hasil yang baik.

4. Terpaku pada Nikmat dan Melupakan Pemberi Nikmat:

Ada tipe aktivis yang ketika Allah beri nikmat berupa harta, ilmu, kekuatan, atau kedudukan, ia hanya melihat pada nikmat tersebut dan lupa pada Sang Pemberi Nikmat. Di bawah kilauan bakatnya, jiwanya membisikkan bahwa ia mendapatkan semua itu karena kelebihan yang ia miliki. Ini persis seperti perkataan Karun: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." (QS. Al-Qashash: 78). Perasaan ini terus mendesaknya hingga ia merasa telah mencapai puncak, lalu ia merasa bangga pada dirinya sendiri meskipun ia berada dalam kebatilan.

Inilah rahasia mengapa Islam menegaskan bahwa sumber segala nikmat adalah Allah:

"Dan segala nikmat yang ada padamu, maka dari Allah-lah datangnya..." (QS. An-Nahl: 53).

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78).

Bahkan seorang Muslim diajarkan bermunajat setiap pagi dan sore sebanyak tiga kali: "Ya Allah, nikmat apa pun yang ada padaku di pagi ini atau pada salah satu makhluk-Mu, maka itu hanya dari-Mu semata, tidak ada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji dan syukur."

5. Tampil ke Depan (Menjadi Pemimpin) Sebelum Matang dan Sempurnanya Tarbiyah:

Kondisi amal Islami terkadang menuntut seseorang untuk tampil memimpin sebelum pribadinya matang. Saat itulah setan masuk dan membisikkan bahwa mereka terpilih karena kualifikasi dan bakat luar biasa yang mereka miliki. Karena kebodohan akan tipu daya setan, mereka mempercayainya dan mengangkat derajat diri melebihi porsinya.

Inilah rahasia mengapa Islam sangat mendorong tafaqquh (pendalaman ilmu) sebelum seseorang memegang kepemimpinan. Sebagaimana firman Allah:

"Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama..." (QS. At-Tawbah: 122).

Nabi bersabda: "Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan, maka Dia akan memahamkannya dalam urusan agama."

Umar bin Khattab ra. berkata: "Tafaqquh-lah (belajarlah) sebelum kalian menjadi pemimpin." Artinya, pelajarilah ilmu sebelum kalian menjadi tokoh atau pemegang tanggung jawab, agar kalian menyadari penyakit-penyakit dalam kepemimpinan dan dapat menghindarinya.

6. Kelalaian atau Kebodohan terhadap Hakikat Diri:

Seseorang yang lupa bahwa ia diciptakan dari air yang hina (mani) yang keluar dari tempat keluarnya air seni, bahwa kekurangan adalah sifat dasarnya, dan bahwa akhirnya ia akan dilemparkan ke tanah menjadi bangkai busuk yang baunya dijauhi makhluk lain, maka ia akan merasa dirinya "sesuatu". Setan memperkuat pikiran ini hingga ia menjadi ujub.

Inilah rahasia mengapa Al-Qur'an dan Sunnah berulang kali berbicara tentang hakikat manusia dari awal hingga akhirnya:

"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina." (QS. As-Sajdah: 7-8).

"Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur." (QS. Abasa: 21).

Berikut adalah terjemahan lengkap dan tidak diringkas dari teks Arab yang Anda berikan:

7. Silsilah Keturunan yang Mulia atau Kehormatan Asal-Usul:

Terkadang sebab dari kekaguman pada diri sendiri (ujub) adalah silsilah keturunan yang mulia atau kehormatan asal-usul. Hal ini dikarenakan sebagian aktivis (pekerja dakwah) mungkin merupakan keturunan dari keluarga yang memiliki nasab mulia atau asal-usul yang terhormat. Hal tersebut terkadang mendorongnya untuk merasa hebat terhadap dirinya sendiri dan apa yang lahir darinya, seraya lupa atau pura-pura lupa bahwa nasab atau asal-usul tidaklah dapat memajukan atau memundurkan seseorang. Justru yang menjadi sandaran utama adalah amal yang dibarengi dengan usaha dan kerja keras. Demikianlah, kemuliaan nasab atau kehormatan asal-usulnya berakhir pada kekaguman pada diri sendiri.

Mungkin itulah rahasia penekanan Islam pada aspek amal, dan hanya amal semata:

Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala:

"Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu, dan tidak pula mereka saling bertanya." (QS. Al-Mu'minun: 101).

"(Pahala Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun." (QS. An-Nisa: 123-124).

Dan sebagaimana sabda Nabi ketika diturunkan kepada beliau ayat: "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat." Beliau bersabda:

"Wahai kaum Quraisy, belilah diri kalian dari Allah (tebuslah diri kalian dengan amal saleh), aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari (adzab) Allah. Wahai Bani Abdul Muthalib, aku tidak dapat menolong kalian sedikit pun dari Allah. Wahai Abbas bin Abdul Muthalib, aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah. Wahai Fatimah binti Rasulullah, mintalah kepadaku apa saja yang engkau mau, namun aku tidak dapat menolongmu sedikit pun dari Allah."

8. Berlebihan dalam Memberikan Penghormatan dan Takzim:

Penyebab ujub lainnya adalah sikap berlebihan dalam memberikan penghormatan dan takzim. Hal ini terjadi karena sebagian aktivis mendapatkan penghormatan dan takzim dari orang lain secara berlebih-lebihan yang bertentangan dengan petunjuk Islam dan ditolak oleh syariat Allah yang lurus, seperti terus-menerus berdiri selama ia berdiri atau duduk, mencium tangannya, membungkuk kepadanya, berjalan di belakangnya, dan lain sebagainya.

Terhadap perilaku ini, jiwanya mungkin membisikkan bahwa ia tidak mendapatkan penghormatan ini kecuali karena ia memiliki bakat dan karakteristik yang tidak dimiliki orang lain. Bisikan ini terus menguat dan menghebat hingga menjadi kekaguman pada diri sendiri —kita berlindung kepada Allah darinya. Mungkin inilah rahasia larangan Nabi kepada para sahabatnya untuk berdiri menyambutnya dan mengagungkannya sebagaimana bangsa ajam (non-Arab) mengagungkan raja-raja mereka. Beliau bersabda:

"Barangsiapa yang suka orang-orang berdiri untuknya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya di neraka."

Suatu hari Nabi keluar menemui para sahabatnya dengan bersandar pada tongkat, lalu mereka berdiri untuknya, maka beliau bersabda:

"Janganlah kalian berdiri sebagaimana bangsa ajam berdiri, di mana sebagian mereka mengagungkan sebagian yang lain."

9. Berlebihan dalam Ketundukan dan Ketaatan:

Penyebab ujub lainnya adalah berlebihan dalam ketundukan dan ketaatan. Sebagian aktivis mungkin mendapatkan ketundukan dan ketaatan dari orang lain secara berlebihan yang tidak sesuai dengan manhaj Allah, seperti ketundukan dan ketaatan dalam segala hal, baik itu perkara makruf maupun mungkar, baik maupun buruk.

Sebagai konsekuensinya, jiwanya mungkin membujuknya bahwa ketundukan dan ketaatan itu tidak akan ada kecuali karena ia memiliki karakteristik dan keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Ia mungkin mempercayai hal itu sehingga terjadilah kekaguman pada diri sendiri. Mungkin itulah sebagian rahasia penekanan Islam bahwa ketundukan dan ketaatan itu hanya dalam perkara makruf, bukan dalam kemaksiatan.

Nabi bersabda:

"Wajib bagi setiap Muslim untuk mendengar dan taat dalam hal yang ia sukai maupun yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat. Jika ia diperintahkan berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar maupun taat."

10. Lalai terhadap Dampak yang Ditimbulkan oleh Ujub:

Terakhir, penyebab ujub adalah lalai terhadap dampak dan konsekuensinya. Hal ini dikarenakan perilaku manusia dalam hidup seringkali bersumber dari kesadaran atau ketidaksadarannya terhadap konsekuensi dari perilaku tersebut. Oleh karena itu, jika seorang aktivis atau dai tidak menyadari konsekuensi yang timbul dari sifat ujub, ia mungkin akan terjangkit penyakit tersebut dan menganggapnya sebagai perkara yang sepele dan ringan, yang tidak perlu ia perhatikan atau tidak perlu membuang waktu untuk memikirkannya. Mungkin itulah rahasia mengapa agama ini sangat antusias menyajikan prinsip-prinsip dan tujuannya dibarengi dengan dampak serta konsekuensinya.

Ketiga: Dampak Kekaguman pada Diri Sendiri (Al-I’jab bin Nafs)

Kekaguman pada diri sendiri memiliki dampak yang buruk dan konsekuensi yang fatal, baik bagi para pelakunya maupun bagi amal Islami. Berikut adalah sebagian dari dampak dan konsekuensi tersebut:

Terhadap Para Pelaku (Aktivis):

Dampaknya terhadap individu adalah:

  1. Terjatuh ke dalam Jeratan Ghurur (Terpedaya) bahkan Takabur (Sombong): Dampak pertama adalah terjatuh ke dalam jeratan ghurur bahkan takabur. Orang yang kagum pada dirinya sendiri seringkali mengabaikan dirinya, serta menghapus dirinya dari proses pemeriksaan dan introspeksi (muhasabah). Seiring berjalannya waktu, penyakit ini membengkak dan berubah menjadi sikap merendahkan serta meremehkan apa yang lahir dari orang lain (itulah ghurur), atau berubah menjadi perasaan lebih tinggi dari orang lain dan menghina zat serta personalitas mereka (itulah takabur). Kedua sifat ini memiliki dampak berbahaya dan konsekuensi membinasakan yang akan kita bahas detail pada bagiannya masing-masing, insya Allah.
  2. Terhalang dari Taufik Ilahi: Dampak kedua adalah terhalang dari pertolongan Allah. Orang yang ujub seringkali berakhir dengan terpaku pada zatnya sendiri dan bergantung padanya dalam segala hal, seraya lupa pada Penciptanya, Pengaturnya, dan Pemberi segala nikmat lahir maupun batin. Akhir dari orang semacam ini adalah kegagalan dan ketidaksuksesan dalam apa yang ia lakukan maupun yang ia tinggalkan. Karena sunnatullah pada makhluk-Nya adalah tidak memberikan taufik kecuali kepada mereka yang melepaskan diri dari kepentingan pribadinya, mengeluarkan bagian setan dari dirinya, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya: "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. Al-Ankabut: 69). Serta dalam Hadis Qudsi: "...dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar..."
  3. Runtuh di Saat Ujian dan Kesulitan: Dampak ketiga adalah keruntuhan di saat menghadapi cobaan. Orang yang ujub sering mengabaikan penyucian jiwa (tazkiyah) dan perbekalan di jalan dakwah. Maka ia akan runtuh dan melemah pada kesulitan pertama yang ia hadapi, karena ia tidak mengenal Allah di waktu lapang sehingga Allah "tidak mengenalnya" (memberi pertolongan khusus) di waktu sempit. Sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. An-Nahl: 128). Nabi juga menasihati Ibnu Abbas: "Jagalah Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalmu di waktu sempit."
  4. Dijauhi dan Dibenci oleh Orang Lain: Orang yang ujub telah memaparkan dirinya pada kebencian Allah. Barangsiapa yang dibenci Allah, maka penduduk langit akan membencinya, dan diletakkanlah kebencian untuknya di bumi. Orang-orang akan menjauh darinya, membencinya, dan tidak tahan melihatnya apalagi mendengar suaranya. Sebagaimana dalam hadis: "Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril... dan jika Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril dan berfirman: 'Sesungguhnya Aku membenci si fulan, maka bencilah dia'..." hingga akhirnya diletakkanlah kebencian baginya di bumi.
  5. Siksa atau Balasan Ilahi di Dunia atau Akhirat: Orang yang ujub memaparkan dirinya pada hukuman Allah di dunia, misalnya ditenggelamkan ke dalam bumi sebagaimana umat terdahulu, atau setidaknya tertimpa kegelisahan dan gangguan psikologis, atau di akhirat dengan diazab di neraka. Nabi bersabda: "Ketika seorang laki-laki berjalan dengan mengenakan pakaian yang membanggakan dirinya, rambutnya tersisir rapi, tiba-tiba Allah menenggelamkannya ke dalam bumi, maka ia terus terperosok ke dalamnya hingga hari kiamat."

Terhadap Amal Islami:

Adapun dampaknya terhadap kerja-kerja dakwah (amal Islami) berkisar pada:

  1. Mudah Disusupi dan Dihancurkan: Atau setidaknya digagalkan sehingga tidak membuahkan hasil kecuali setelah biaya yang besar dan waktu yang lama. Hal ini karena runtuhnya para aktivis yang ujub di saat ujian, serta terhalangnya mereka dari ketajaman mata hati (bashirah) yang semestinya membantu mengenali orang-orang yang berpura-pura dan membedakan penyusup dari yang lainnya.
  2. Berhenti atau Lambatnya Perekrutan Pendukung: Mengingat orang-orang menjauh dan benci kepada aktivis yang ujub. Hal ini mengakibatkan panjangnya perjalanan dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

Itulah dampak-dampak kekaguman pada diri sendiri terhadap para pelaku dakwah dan terhadap amal Islami itu sendiri.

Keempat: Manifestasi (Gejala) Kekaguman pada Diri Sendiri

Penyakit ini dapat dideteksi melalui gejala-gejala berikut:

1. Menyucikan Diri Sendiri (Tazkiyatun Nafs):

Gejala pertama dari ujub adalah terus-menerus menyucikan diri dan memuji diri sendiri, serta membanggakan nilai (prestasi) dirinya, seraya melupakan atau pura-pura lupa akan firman Allah Azza wa Jalla:

"Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." (QS. An-Najm: 32).

2. Sulit Menerima Nasihat:

Gejala kedua adalah membangkang terhadap nasihat, bahkan merasa benci terhadapnya. Padahal, tidak ada kebaikan bagi suatu kaum yang tidak saling menasihati dan tidak mau menerima nasihat.

3. Merasa Senang Mendengar Aib Orang Lain, Terutama Rekan Sejawat:

Gejala ketiga adalah perasaan gembira saat mendengar aib atau kekurangan orang lain, khususnya mereka yang setara/rekan sejawatnya. Hingga Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: "Sesungguhnya di antara tanda orang munafik adalah ia merasa senang jika mendengar aib salah seorang rekannya."

Kelima: Jalan Pengobatan terhadap Kekaguman pada Diri Sendiri

Selama kita telah mengetahui sebab dan pemicu ujub, maka mudah bagi kita untuk mengetahui jalan pengobatan dan mencabut akar penyakit ini, bahkan mencegahnya. Hal ini terangkum dalam poin-poin berikut:

1. Selalu Mengingat Hakikat Diri Manusia:

Hendaknya orang yang ujub memahami bahwa jiwanya yang ada di dalam raganya, jika bukan karena tiupan ruh dari Allah, maka tidak akan bernilai apa-apa. Manusia diciptakan dari tanah yang diinjak kaki, kemudian dari air yang hina (mani) yang dipandang jijik oleh orang yang melihatnya, dan akan dikembalikan lagi ke tanah ini hingga menjadi bangkai yang busuk, di mana semua makhluk lari dari baunya. Di antara masa awal (penciptaan) dan masa kembali (kebangkitan), ia membawa kotoran di dalam perutnya, yaitu sisa pencernaan yang berbau busuk, dan ia tidak akan merasa nyaman sebelum membuang kotoran tersebut.

Pengingat seperti ini sangat membantu dalam menundukkan jiwa, mengembalikannya dari kesesatan, mencabut penyakit ujub, dan melindunginya agar tidak terjerumus lagi.

Salah seorang ulama salaf pernah mengingatkan hal ini ketika mendengar orang yang sombong berkata: "Tahukah kamu siapa aku?" Beliau menjawab: "Ya, aku tahu siapa kamu. Kamu dulunya adalah setetes sperma yang kotor, nantinya akan menjadi bangkai yang kotor, dan di antara kedua masa itu kamu membawa kotoran (feses)."

2. Selalu Mengingat Hakikat Dunia dan Akhirat:

Menyadari bahwa dunia adalah ladang untuk akhirat. Sepanjang apa pun umurnya, dunia pasti akan musnah, sedangkan akhirat adalah yang kekal dan merupakan negeri ketetapan (darul qarar). Pengingat ini mendorong seseorang memperbaiki perilakunya atau meluruskan jiwanya yang bengkok sebelum hidup berakhir dan kesempatan hilang.

3. Mengingat Nikmat-Nikmat Allah yang Meliputi Manusia:

Nikmat Allah mengelilingi manusia dari atas hingga bawah, sebagaimana firman-Nya:

"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya." (QS. Ibrahim: 34).

"Dan Dia menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin." (QS. Luqman: 20).

Kesadaran ini akan membuat manusia merasa lemah, fakir, dan selalu butuh kepada Allah, sehingga membersihkan jiwanya dari penyakit ujub.

4. Merenungkan Kematian:

Merenungkan kematian dan fase-fase setelahnya berupa kesulitan dan kengerian (alam kubur/mahsyar). Hal ini cukup untuk mencabut rasa bangga diri bagi mereka yang memiliki hati atau mau menggunakan pendengarannya dengan saksama.

5. Senantiasa Mendengar atau Mentadabburi Kitabullah dan Sunnah Nabi :

Sebab di dalam keduanya terdapat penjelasan yang menyembuhkan dan analisis akurat terhadap empat sarana yang disebutkan sebelumnya. Dengan keduanya, manusia—jika ia objektif dan jujur pada dirinya—dapat terbebas dari segala penyakit.

6. Senantiasa Menghadiri Majelis Ilmu:

Khususnya majelis yang membahas tentang penyakit-penyakit jiwa dan cara melepaskan diri darinya. Majelis semacam ini sangat membantu membersihkan jiwa dari penyakit ujub.

7. Melihat Kondisi Orang Sakit, Orang yang Cacat, Bahkan Jenazah:

Terutama saat mereka dimandikan, dikafani, dan dikuburkan. Kemudian berziarah kubur dari waktu ke waktu serta merenungkan nasib para penghuninya. Hal ini menggerakkan batin manusia untuk mencabut ujub dan penyakit hati lainnya.

8. Wasiat kepada Orang Tua agar Membebaskan Diri dari Penyakit Ujub:

Agar mereka menjadi teladan yang baik bagi anak. Jika mereka pernah berbuat salah (menunjukkan sifat ujub), hendaknya mereka menjelaskan bahwa itu adalah kesalahan, mereka telah berhenti darinya, dan mendorong anak untuk bertaubat kepada Allah pula.

9. Memutus Hubungan dengan Teman yang Memiliki Sifat Ujub:

Serta mendekatkan diri kepada orang-orang yang rendah hati (tawadhu) yang mengetahui kadar dan kedudukan dirinya. Ini membantu proses penyembuhan dan pencegahan.

10. Menekankan Pentingnya Mengikuti Adab-Adab Syar'i:

Terutama dalam hal memuji, memberikan penghormatan, ketundukan, dan ketaatan. Serta berpaling dan memberikan teguran keras kepada mereka yang keluar dari adab-adab ini guna membebaskan jiwa dari ujub.

11. Menunda Tampil di Posisi Depan untuk Sementara Waktu:

Sampai jiwanya tegak (stabil), kepribadiannya kuat, dan sulit ditembus setan. Hal ini mempermudah jalan pengobatan.

12. Senantiasa Melihat Sirah (Sejarah) Ulama Salaf:

Bagaimana mereka berinteraksi dengan diri mereka sendiri saat melihat bibit-bibit sifat ini. Hal ini mendorong untuk meneladani atau setidaknya meniru cara mereka dalam mencabut akar penyakit tersebut.

13. Menempatkan Diri pada Situasi yang Menghancurkan Keangkuhan:

Secara berkala menempatkan diri pada posisi yang benar, seperti melayani saudara-saudaranya yang secara kedudukan lebih rendah, membeli makanan sendiri di pasar, atau membawa barang bawaannya sendiri, sebagaimana riwayat dari para salaf.

Diriwayatkan dari Umar ra. bahwa ketika sampai di Syam, ia menjumpai kubangan air. Beliau turun dari untanya, melepas alas kakinya, lalu menyeberangi air sambil menuntun untanya. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berkata: "Engkau telah melakukan hal besar hari ini di mata penduduk bumi (dianggap rendah oleh orang lokal)." Umar memukul dada Abu Ubaidah dan berkata: "Aduh, andai orang lain yang mengucapkannya, wahai Abu Ubaidah! Sesungguhnya kalian dulu adalah orang yang paling hina, lalu Allah memuliakan kalian dengan Rasul-Nya. Maka kapan pun kalian mencari kemuliaan dengan selain-Nya, Allah akan menghinakan kalian."

Dalam riwayat lain: Saat akan masuk Syam, orang-orang menyarankan agar beliau naik kendaraan yang lebih mewah agar terlihat wibawa di depan pembesar Romawi, namun Umar menolak sambil menunjuk ke langit: "Urusan kemuliaan itu datangnya dari sini (Allah), biarkan jalan untaku ini."

14. Pemantauan dari Orang Lain:

Adanya orang lain yang mendampingi dan memantau hingga ia benar-benar mampu terbebas dari penyakit ini.

15. Introspeksi Diri (Muhasabah) Secara Rutin:

Agar aib/cacat diri dapat diketahui sejak masih dini, sehingga mudah diobati dan dicegah.

16. Menyadari Dampak dan Konsekuensi dari Ujub:

Memahami dampak buruknya memiliki pengaruh yang kuat dalam mengobati dan membentengi diri dari penyakit ini.

17. Memohon Pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla:

Melalui doa, istighatsah (mohon bantuan mendesak), dan bersandar kepada-Nya agar Allah membimbing tangannya, membersihkannya dari penyakit ini, dan melindunginya dari jatuh kembali. Barangsiapa memohon pertolongan kepada Allah, niscaya Allah akan menolong dan memberi hidayah ke jalan yang lurus.

18. Menekankan pada Tanggung Jawab Individu:

Tanpa memandang status sosial atau nasab. Hal ini berperan besar dalam mendidik jiwa dan menjaganya agar tidak terjerumus lagi ke dalam jurang kekaguman pada diri sendiri.

 

No comments:

Post a Comment

Ujub