Sejarah Persatuan Islam
Tampilnya jam'iyyah Persatuan islam (Persis) dalam pentas
sejarah di
Pada tanggal 12
September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini
secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama "Persatuan Islam"
(Persis). Nama persis ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad
dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita=cita
yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran
Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam.
Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat 103 :
"Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (undang-undang (aturan)
Allah seluruhnya dan janganlah kamu bercerai berai". Serta sebuah hadits
Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, "Kekuatan Allah itu bersama
al-jama'ah".
Tujuan dan
Aktifitas Persis
Pada dasarnya,
perhatian Persis ditujukan terutama pada faham Al-Quran dan Sunnah. Hal ini
dilakukan berbagai macam aktifitas diantaranya dengan mengadakan
pertemuan-pertemuan umum, tabligh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan
sekolah-sekolah (pesantren), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta
berbagai aktifitas keagamaan lainnya. Tujuan utamanya adalah terlaksananya
syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
Untuk mencapai
tujuan jam'iyyah, Persis melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pendidikan
yang dimulai dengan mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936. dari
pesantren Persis ini kemudian berkembang berbagai lembaga pendidikan mulai dari
Raudlatul Athfal (
Kepemimpinan
Kepemimpinan
Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H.
Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda
organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang
berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya.
Pada masa
pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para
pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi
dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca
kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system
organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi
tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua
diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960),
K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada
masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil;
pemerintah Republik
Setelah
berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis
dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai
persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya
berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis,
Islam Jama'ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi'ah, Ahmadiyyah dan faham sesat
lainnya.
Kepemimpinan
K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan
K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari
tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya. (Pemuda
Persis). Pada masa ini terdapat perbedaan yang ckup mendasar: jika pada awal
berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontrobersial yang bersifat gebrakan
shock therapy paa masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat
persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.
Persis Masa
Kini
Pada masa kini
Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih
realistis dan kritis. Gerak perjuangan Persis tidak terbatas pada persoalan
persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas kepada persoalan-persoalan
strategis yang dibutuhkan oleh umat Islam terutama pada urusan muamalah dan
peningkatan pengkajian pemikiran keislaman.
Dibawah kepemimpinan KH. Shiddiq Amien,
anggota dan simpatan Persis beserta otonomnya tercatat kurang lebih dari 3 juta
orang yang tersebar di 14 propinsi dengan 7 Pimpinan Wilayah, 33 Pimpinan
Daerah, dan 258 Pimpinan Cabang. Bersama lima organisasi otonom Persis, yakni
Persatuan Islam Istri, (Persistri) Pemuda Persis, Pemudi Persis, Himpunan
Mahasiswa (HIMA) Persis, dan Himpunan Mahasiswi (Himi) Persis, aktifitas Persis
telah meluas ke dalam aspek-aspek lain tidak hanya serangkaian pendidikan,
penerbitan dan tabligh, akan tetapi telah meluas ke berbagai bidang garapan
yang dibutuhkan oleh umat Islam melalui bidang pendidikan (pendidikan
dasar/menengah hingga pendidikan tinggi), da'wah, bimbingan haji, perzakatan,
sosial ekonomi, perwakafan, dan perkembangan fisik yakni
pembangunan-pembangunan masjid dengan dana bantuan kaum muslimin dari dalam dan
luar negri, menyelenggarakan seminar-seminar, pelatihan-pelatihan, dan diskusi
(halakoh) pengkajian Islam. Demikian pula fungsi Dewan Hisbah sebagai lembaga tertinggi
dalam pengambilan keputusan hukum Islam di kalangan Persis serta Dewan Hisab
dan Dewan Tafkir semakin ditingkatkan aktifitasnya dan semakin intensif dalam
penelaahan berbagai masalah hukum keagamaan, perhitungan hisab, dan kajian
sosial semakin banyak dan beragam.
No comments:
Post a Comment