Sunday, May 17, 2026

Perbaikan Diri (1) - Haditsu Tsulatsa

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah, Dzat Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita sampaikan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat serta kepada siapa saja yang mendakwahkan risalah beliau hingga hari pem„ balasan.

Amma ba 'du.

Assalamu 'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Dengan pembukaan ini, dan dengan berbagai kajian yang menjadikan hati kita menyatu di sekelilingnya, serta dalam nuansa yang hiruk-pikuk oleh kesibukan hidup dengan segala dimensinya, saya ucapkan selamat kepada kalian atas kehadirannya kembali untuk mengikuti pengajian ini setelah fatrah (jeda) beberapa saat. Saya berharap kiranya tenggang waktu tersebut merupakan fatrah hisab, masa hitung-hitung diri. Sebab, seorang mukmin tentunya tiada pernah berpangku tangan atau pun bermain-main yang tidak mengandung manfaat. Kalau ia berangkat kerja, tentunya ia pun bekerja dengan serius. Semoga kalian semua telah menghabiskan waktu kalian untuk menghitung-hitung diri dengan seksama, lebih-lebih kita telah memperoleh “bulan Al-Qur'an”. Jika kalian belum juga menghisab diri kalian, tak usahlah berputus asa. Karena sesungguhnya setiap fatrah dari kehidupan seorang mukmin ini, wajib dipergunakan untuk menghisab diri dan kemudian memperbaharui taubatnya. Adalah taubat yang sangat bermanfaat jika diiringi dengan azam yang kuat dan dzikiŕ yang bermakna. “lngatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra'd: 28)

Wahai Ikhwan, saya juga berharap kiranya kalian telah mengerjakan amalan-amalan yang shalih dan telah menempuh langkah ke depan, Kebahagiaan kita tidaklah pada harta, tidak pada penampilan diri, tidak juga pada gemerlapnya perhiasan hidup dan keindahan dunia. Itu semua hanyalah sekedar kesenangan hidup sementara-

"Katakanlah, 'Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada itu semua?' Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), maka pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan  (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan, serta mendapatkan keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-otang yang berdoa, 'Wahai Tuhan kami, sungguh kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.' Juga orang-orang yang sabar, yang jujur, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang beristighfar (memohon ampun) di waktu sahur." (Ali Imran: 15-17)

Ikhwan sekalian, kita wajib mengukur kebahagiâan kita dengan nilai-nilai luhur yang berkait erat dengan hati dan ruh kita, sehingga menjadikan Allah ridha kepada kita dan membuat nurani kita tenteram, (Mintalah nasihat pada hatimu sendiri, sekalipun orang lain juga sudah menasihatimu.)

Saya bermohon kepada Allah semoga Dia berkenan memberikan taufiq dan petunjuk kepada kita untuk dapat mengamalkan apa yang kita ucapkan dan kita dengar sendiri. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.

Wahai Ikhwan, kita sebelumnya telah memulai pembicaraan tentang serial mengenai sejarah Islam. Kita telah berulang-ulang mengkaji sirah penghulu kita, Rasulullah saw. dan khalifah (pengganti) beliau, yakni As-Shiddiq Abu Bakar, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Khalid bin Al-Walid. Saya masih ingin meneruskan kajian tersebut hingga selesai. Namun, ketika saya sedang dalam perjalanan, tiba-tiba muncul di benakku suatu hakikat nilai luhur yang menghinggapi pikiranku. Ketika aku berusaha berpaling darinya menuju hal lain, hati ini rasanya masih saja terikat dengannya. Akhirnya saya katakan hal itu dengan terus terang kepada beberapa akh. Saya katakan, "Sungguh kita ini perlu sekali melakukan perubahan secara total dan hakiki. Kita jangan merasa cukup dengan melakukan 'tansiq' (koordinasi) dan penataan ilmu dan pembicaraan kita. Sebab, ini tidak akan memberikan faedah kepada kita jika diri kita masih saja belum berubah. Seoräng muslim memiliki banyak sifat. Di antaranya adalah shidq (jujur), ikhlas karena Allah, suka memberi nasihat, bersandar kepada Allah dengan kuat, dsb. la tidak akan peduli dengan celaan manusia, tidak akan menipu, dan tidak akan berbuat munafik, sekalipun terjadi permusuhan antara dirinya dengan orang lain. la tidak akan berpegang kecuali kepada perkataan yang benar. la akan teguh di atasnya dan mati di atas kebenaran itu pula." 

Apakah kita sudah demikian?

Saya sampaikan kepada kalian, wahai Ikhwan, bahwa mayoritas kaum muslimin hari ini belum matang dan belum merasakan akhlak seperti ini. Bahkan, terlintas di benak mereka pun beium. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana yang mereka warisi dari bapak-bapak dan kakek-kakek mereka, demikian juga puasa mereka.

Adapun kalangan khusus dari kaum muslimin memang merasakan hal Iain yang tidak dirasakan oleh kebanyakan dari mereka. Mereka ini dapat merasakan nilai-nilai luhur dan merasakan adanya dorongan semangat yang sangat kuat. Namun, masih banyak di antara ikhwan yang masih juga belum mampu berpegang dengan ini sepenuhnya. Mereka menunaikan ibadah yang sifatnya lahir. Adapun mengenai jiwa dan ruh yang islami, yang akan terbentuk oleh arus yang islami, maka 90% belum juga teraih secara memadai.

Saya juga ingin menyampaikan pembicaraan kita pada kesempatan kali ini mengenai ishlah an-nafs (perbaikan jiwa/diri) serta memberikan penjelasan yang memadai. Karena sesungguhnya jika jiwa itu berubah, segalanya juga akan ikut berubah. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd:11)

Kadang dikatakan, Ikhwan sekalian, bahwa ini adalah salah satu dari kecenderungan-kecenderungan sufistik, sedangkan Ikhwan adalah orang-orang yang pragmatis, berorientasi pada kerja, dan bukannya para syaikh tarekat. Saya ingin katakan kepada kalian bahwa kita khawatir bila setan sampai menipu dan memperdayakan kita, sehingga ia menguasai kendali dalam diri kita. Manakala kita telah sampai pada sasaran, setan lantas membelokkan langkah kita dan memainkan kendalinya. Maka dari itu, yang ingin saya tekankan lebih dahulu adalah tentang "bahtera keselamatan", sebelum yang lain."..Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya (Allah-lah yang menguasai hati manusia). Dan sesungguhnya kepada Allah-lah kalian akan dikumpulkan." (AI-Anfala; 24)

Sesungguhnya kita menginginkan adanya saat-saat di mana kita dapat mengkonsentrasikan diri untuk melakukan ishlah an-nafs. Kemudian kita berupaya melakukan terapi terhadapnya dengan berbagai macam sarana dan berbagai jenis pengobatan. Saya ingin berbicara kepada kalian mengenai arti penting dari nilai-nilai kejiwaan dengan anatomi dan medikasi. Akan tetapi jika itu kita mulai, pastilah kita memerlukan waktu yang panjang. Akhirnya, saya memperoleh suatu ilustrasi. Dalam berbagai ceramah, sering sekali saya katakan, "Mengapa Al-Qur'anul Karim itu dapat memberikan pengaruh yang demikian besar terhadap para salafus shalih, sehingga memberikan kemanfaatan bagi mereka, namun tidak demikian bagi kita? Mengapa juga ayat-ayat Al-Qur'an itu hanya dapat memberikan pengaruh dan dampak yang lemah pada diri kita?"

Saya katakan bahwa jika tukang listrik menyentuh arus listrik, tentu akan terkena pengaruh setrum. Pengaruhnya berbeda-beda sesuai dengan kuatnya arus listrik yang ada. Jika arusnya kuat bisa membuatnya pingsan dan akan mengakibatkan dirinya masuk rumah sakit. Bila kekuatannya bertambah lagi, pingsannya bisa-bisa tidak akan membuatnya siuman, tapi malah harus membawanya ke kuburan.

Mari kita beralih dari ilustrasi yang bersifat materiil ini menuju ilustrasi yang bersifat spiritual, serta menuju arus lain yang hakiki, yaitu Al-Qur'anul Karim. Permisalannya adalah sebagaimana arus listrik itu. "...Kami menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami." (Asy-Syura: 52)  "Dia menurunkan para malaikat dengan membawakan 'ruh' (wahyu) atas perintah-Nya, kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya." (An-Nahl: 2) "Dia mengutus Jibril dengan membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya di antara hamba-hamba-Nya." (Ghafir: 15)

Al-Qur'an ini, di dalarnnya terdapat muatan listrik yang berasal dari sisi Yang Mahabijaksana dan Maha Mengetahui. Dia sendirilah yang membuatnya. "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung." (Al-Hijr: 87)

la akan memberikan pengaruh ke dalam jiwa, baik secara materiil maupun spirituil. Pengaruhnya yang menggelora akan tampak pada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah kepada jalan-Nya yang lurus. "Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. itulah petunjuk Allah, yang dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petiljuk baginya." (Az-Zumar: 23)

Arus ini telah merasuk ke dalam hati mereka dan memberikan dampak yang konkret dalam diri mereka yang diciptakan oleh adanya "muatan listrik" itu. Pengaruh itu tampak nyata dalam kulit mereka. "Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya," (Az-Zumar: 23)

Arus ini sesuai dengan kecenderungan atau daya tarik. Jika daya tariknya kuat, maka arus itu akan kuat pula. Suatu ketika Umar ra. mendengar firman Allah swt. "Seseorang telah meminta kedatangan azab yang pasti bakal terjadi, untuk orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya." (AI-Ma'arij: 1-2)

Maka, ia pun kemudian jatuh pingsan karena adanya pengarúh yang dahsyat dari ayat tersebut. la pun terpaksa harus dibawa ke rumah dan berbaring di atas ranjangnya selama sebulan. Sakit yang biasa bisa memakan waktu yang cukup lama, bahkan tak jarang sampai membawa kepada kematian. Demikian halnya dengan sakit yang disebabkan oleh adanya pengaruh spiritual ini, ia dapat juga menyebabkan pasiennya menuju ke liang lahat. Ada salah seorang di antara kaum shalihin mendengar firman Allah swt., "Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah! Dan pakaianmu, bersihkanlah! Dan perbuatan dosa, tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. Apabila sangkakala telah ditiup; maka waktu itu adalah waktu (datangnya) hari yang sangat sulit." (AI-Muddatsir; 1-9)

Akhirnya ia pun pingsan yang mengakibatkan nyawanya harus berpisah dengan jasadnya, dan harus membawanya ke liang kubur.

Demikian itu adalah hati yang telah mendapatkan pengaruh dari Al-Qur'an yang menjadikan ruhaninya bergelora. Gelora itu pun dapat melenturkan perasaan-perasaannya dan menghaluskan pendengarannya, serta menjadikan hati itu gemetar ketika mengingat Allah.

"Sesungguhnya orang-orang.yang beriman itu adalah mereka yang apabila nama Allah disebut, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka iman mereka menjadi bertambah karenanya." (Al-Anfal: 2)

Adapuñ kita, kita belum dapat merasakan pengaruh dari apa yang telah memberikan pengaruh kepada mereka, dan Al-Qur'an belum berdampak pada diri kita sebagaimana telah membawa dampak bagi mereka. Ibaratnya kita ini adalah tukang listrik yang membuat penghalang antara dirinya dengan listrik sehingga ia tidak terkena setrum atau tidak terkena dampak dari aliran listrik itu.

Maka tugas kita, wahai Ikhwan, adalah menghancurkan sekat ini, sehingga kita dapat bersentuhan dengan Al-Qur'anul Karim dan hati kita dapat bersambung dengannya, sehingga kita dapat menikmati kelezatannya.

Sadarlah bahwa yang namanya manusia itu tidak lain adalah nafs atau jiwa. Inilah arti sebenarnya. Adapun jasad, maka ia tidak lebih dari sekedar pembungkus belaka bagi jiwa ini. Allah swt. telah menjadikan baiknya seseorang itu tergantung pada kebaikah dirinya, atau jiwanya. Kerusakannya pun tergantung kerusakan jiwanya pula, Allah swt. berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh, beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya." (Asy Syams: 7-10)

Allah swt. juga berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu yang ada pada suatu kaum sehingga mereka sendiri yang mau mengubah sesuatu yang ada pada diri mereka itu." (Ar-Ra'd: 11)

Para malaikat tidaklah diperintah untuk sujud kepada Adam kecuali setelah dibentuk kejiwaannya. Inilah rahasia kemuliaan dan keutamaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada Adam. "Dan sesungguhnya kami telàh memuliakan Bani Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Al-Isra': 70)

Keutamaan yang diberikan ini bukan karena kuatnya jasad atau penampilan dan parasnya. Akan tetapi itu disebabkan oleh adanya nilai rabbani yang telah diletakkan oleh Allah padanya. Yaitu hakikat ruhani, di mana Allah menjadikan hal itu sebagai bagian dari urusan-Nya sendiri. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang  ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan,tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (Al-lsra': 85)

Yang saya inginkan adalah agar di dalam jiwa bersemayam nilai-nilai ruhiah yang telah dialirkan oleh Allah swt. atas jasad kalian. Pangkal kebaikan dan kerusakannya terletak di dalam jiwa. Apa yang kita dengar tentang akhlak yang baik dan sebagainya bukanlah merupakan standar kebaikan dan kerusakan. Boleh jadi ketawadhuan itu memang karena hina, pemaaf lantaran pengecut, serta dermawan dan berani karena riya'. Boleh jadi pula sikap sombong itu disebabkan adanya dorongan kejiwaan, yang seringkali pula padanya muncul sisi baiknya, entah salah ataupun benar. Rasulullah saw. memuji orang yang menyombongkan diri dalam suasana perang, yaitu Abu Dujanah ra., karena keadaan memang menuntut demikian. Baik tidaknya akhlak itu bukan yang tampak oleh manusia dari bentuk lahiriahnya. Akan tetapi keutamaan yang semayam di dalam jiwa, yang membangkitkan perbuatan-perbuatan baik, sedangkan muatan negatif yang tersembunyi di dalamnya  akan melahirkan perbuatan-perbuatan tercela. Nabi saw. pernah bersabda,

عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ، فَقَالَ: اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَعْلَمَهُ النَّاسُ

“Kebajikan adalah akhlak yang balk, sedangkan dosa adalah sesuatu yang berbekas di dalam jiwa dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya."

Manusia dalam hal ini terbagi menjadi tiga golongan:

Pertama, golongan yang diberi petunjuk oleh Allah swt-dan dijadikan bahagia oleh-Nya dengan ma'rifat kepada-Nya. Mereka adalah para nabi yang memang diistimewakan oleh Allah dengan beberapa kekhususan dan dianugerahi dengan beberapa keutamaan. Mengenai penghulu kita Muhammad saw. , Allah berfirman, "Sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami." (At-Thur: 48)

Mengenai Nabi Musa as., Allah berfirman, “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.” (Thaha: 41)

Mengenai Nabi Isa as., Allah berfirman, ”Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil." (Ali Imran: 48)

Dan, mengenai para rasul seluruhnya, Allah swt. berfirman, "Rasul-rasul mereka itu berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.;” (Ibrahim: 11) Hati mereka memang dijaga oleh Allah swt. serta diberi jalan kepada petunjuk. 

Kedua, golongan yang tergoda oleh setan, yang menyebabkannya lebih memilih dunia, menanggalkan baju karakter keinsanannya serta kembali kepada nilai kebinatangannya. "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Kalau Kami menghendaki, tentu Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayatayat itu, tetapi ternyata dia lebih cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing; jika kamu mengusirnya, ia akan mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia pun akan mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (AI-A 'raf: 175-176)

Golongan ini sudah pasti bakal menerima adzab ”Apakah kamu hendak mengubah nasib orang-orang yang telah pasti ketentuan adzab atasnya? Apakah kamu akan rnenyelamatkan orang yang berada dalam api neraka?” (Az-Zumar.' 19)

Ketiga, golongan yang memiliki hati; dadanya dilapangkan oleh Allah untuk menerima Islam; namun ia mengenal Allah dengan tidak sempurna. Ia mencoba untuk berpegang kepada Islam. Namun demikian, ia masih dikalahkan oleh hawa nafsunya, terbujuk oleh rayuan setan, dan masih dibelak-belokkan oleh berbagai keinginan dan tuntutan. Dalam sebuah atsar (perkataan para sahabat) dikatakan,

اَلْمُؤْمِنُ بَيْنَ خَمْسِ شَدَائِدَ: مُؤْمِنٍ يَحْسُدُهُ، وَمُنَافِقٍ يُبْغِضُهُ، وَكَافِرٍ يُقَاتِلُهُ، وَنَفْسٍ تُنَازِعُهُ، وَشَيْطَانٍ يُضِلُّهُ

“Orang mukmin itu di antara lima kekerasan: mukmin yang dengki kepadamu; munafik yang membencimu; kafir yang memerangimu; setan yang menyesatkanmu; dan jiwa yang memusuhimu.”

la masih mempertentangkan antara yang baik dan yang buruk. Yang sering dirasakan oleh manusia dalam sudut ini adalah manisnya mujahadah (jihad, perjuangan) dan pahitnya kekalahan. Oleh karena itu tidak boleh tidak harus dilakukan pengobatan terhadap jiwa. Jika kita mengobati orang sakit, maka yang pertama-tama kita lakukan adalah mendiagnosa penyakitnya. Demikian halnya jika kita mengobati jiwa. Semua tergantung pada pengetahuan tentang sebab dan jenis penyakitnya. Jadi, wajib mengetahui tentang penyebab penyakit jiwa dan jenis-jenis peryakitnya. Dalam hal ini dituntut kesabaran dalam menanggung pahitnya pengobatan yang memang harus dilakukan.

Orang-orang bijak mengatakan bahwa ada empat hal yang dapat membantu untuk mengetahui penyakit-penyakit jiwa:

Pertama, ilmu. Ini yang paling penting dan paling banyak membantu. Ilmu yang akan menjelaskan kepadamu tentang jalan-jalan penyakit dan yang akan dapat mengidentifikasikannya. la yang pertama menyingkapkan kepadamu tentang "tong-tong" penyakit.

Kedua, saudara yang suka memberi nasihat. Yaitu orang yang empati kepadamu sehingga ia mau memberitahukan tentang kekurangan dan kelebihanmu. Dia melihat hal itu sebagai suatu kewajiban dalam rangka mengamalkan sabda Nabi saw:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ»قُلْنَا: لِمَنْ؟قَالَ:«لِلَّهِ، وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ

"Agama adalah nasihat. Para sahabat menanyakan, ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untukpimpinan-pimpinan kaum muslimin, dan untuk kaum muslimin secara umum. "

Ketiga, musuh atau lawan-lawanmu. Mereka tentu akan selalu mencari kelemahan dan kejelekanmu. Jika engkau mengetahui bahwa mereka sedang melakukan hal itu kepadamu, maka kamu tidak perlu marah. Namun justru pujilah Allah, karena Dia telah menjadikan untukmu orang Iain yang dapat mengerti kekuranganmu, sebab kamu sendiri tidak mengerti kekurangan itu. Mereka akan berterus-terang dalam menjelaskan kekuranganmu. Adapun teman kamu sendiri, maka ia tentu akan merasa malu dan sungkan untuk menunjukkan kekurangan itu.

Bait-bait syair menuturkan,

عَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ، وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي الْمَسَاوِيَا

Mata yang ridha, kabur melihat aib; Mata yang benci, aib-aib belaka yang tampak

Karenanya, jika engkau ingin tahu aib-aibmu, maka ambillah ia dari musuh-musuhmu terlebih dahulu sebelum dari karib-karibmu. Dengarkan baik-baik apa yang mereka katakan tentangmu karena hal itu lebih patut untuk memantau dirimu.

Keempat, mengerti dan menyadari kritikan yang engkau berikan kepada orang Iain tentang kekurangan dan aibnya, serta usahamu yang sungguh-sungguh agar jangan sampai terperosok ke dalamnya. Jika engkau lihat orang-orang bersahut-sahutan dengan banyaknya bicara, umpamanya, maka menjauhlah engkau darinya. Dan jika kamu lihat mereka mulai jenuh berbicara tak karuan dan mulai bubar dari tempat itu, maka jadilah engkau seorang yang lembut dan penyayang.

Demikianlah, setiap kali engkau melihat sesuatu yang rendah atau hina dari perasaan yang mulia, maka berupayalah untuk selalu meninggalkannya. Sebaliknya berupayalah untuk berhias dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang baik, yang akan menjadikanmu cinta kepada mereka dan menjadikan mereka mencintai dirimu.

Semoga shalawat serta salam dicurahkan oleh Allah kepada penghulu kita Muhammad, keluarga serta para sahabatnya.

 

No comments:

Post a Comment

Perbaikan Diri (2) - Haditsu Tsulatsa