Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah, Dzat Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita sampaikan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, keluarga, para sahabat serta kepada siapa saja yang mendakwahkan risalah beliau hingga hari pem„ balasan.
Amma
ba 'du.
Assalamu
'alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Dengan
pembukaan ini, dan dengan berbagai kajian yang menjadikan hati kita menyatu di
sekelilingnya, serta dalam nuansa yang hiruk-pikuk oleh kesibukan hidup dengan
segala dimensinya, saya ucapkan selamat kepada kalian atas kehadirannya kembali
untuk mengikuti pengajian ini setelah fatrah (jeda) beberapa saat. Saya
berharap kiranya tenggang waktu tersebut merupakan fatrah hisab, masa
hitung-hitung diri. Sebab, seorang mukmin tentunya tiada pernah berpangku
tangan atau pun bermain-main yang tidak mengandung manfaat. Kalau ia berangkat
kerja, tentunya ia pun bekerja dengan serius. Semoga kalian semua telah
menghabiskan waktu kalian untuk menghitung-hitung diri dengan seksama, lebih-lebih
kita telah memperoleh “bulan Al-Qur'an”. Jika kalian belum juga menghisab diri
kalian, tak usahlah berputus asa. Karena sesungguhnya setiap fatrah dari
kehidupan seorang mukmin ini, wajib dipergunakan untuk menghisab diri dan
kemudian memperbaharui taubatnya. Adalah taubat yang sangat bermanfaat jika
diiringi dengan azam yang kuat dan dzikiŕ yang bermakna. “lngatlah, hanya
dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra'd: 28)
Wahai
Ikhwan, saya juga berharap kiranya kalian telah mengerjakan amalan-amalan yang
shalih dan telah menempuh langkah ke depan, Kebahagiaan kita tidaklah pada
harta, tidak pada penampilan diri, tidak juga pada gemerlapnya perhiasan hidup
dan keindahan dunia. Itu semua hanyalah sekedar kesenangan hidup sementara-
"Katakanlah,
'Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang lebih baik daripada itu semua?'
Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), maka pada sisi Tuhan mereka ada
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang
disucikan, serta mendapatkan keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat
hamba-hamba-Nya. Yaitu orang-otang yang berdoa, 'Wahai Tuhan kami, sungguh kami
telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa
neraka.' Juga orang-orang yang sabar, yang jujur, yang tetap taat, yang
menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang beristighfar (memohon ampun) di
waktu sahur." (Ali Imran: 15-17)
Ikhwan
sekalian, kita wajib mengukur kebahagiâan kita dengan nilai-nilai luhur yang
berkait erat dengan hati dan ruh kita, sehingga menjadikan Allah ridha kepada
kita dan membuat nurani kita tenteram, (Mintalah nasihat pada hatimu sendiri,
sekalipun orang lain juga sudah menasihatimu.)
Saya
bermohon kepada Allah semoga Dia berkenan memberikan taufiq dan petunjuk kepada
kita untuk dapat mengamalkan apa yang kita ucapkan dan kita dengar sendiri.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.
Wahai
Ikhwan, kita sebelumnya telah memulai pembicaraan tentang serial mengenai
sejarah Islam. Kita telah berulang-ulang mengkaji sirah penghulu kita,
Rasulullah saw. dan khalifah (pengganti) beliau, yakni As-Shiddiq Abu
Bakar, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Khalid
bin Al-Walid. Saya masih ingin meneruskan kajian tersebut hingga selesai.
Namun, ketika saya sedang dalam perjalanan, tiba-tiba muncul di benakku suatu
hakikat nilai luhur yang menghinggapi pikiranku. Ketika aku berusaha berpaling
darinya menuju hal lain, hati ini rasanya masih saja terikat dengannya.
Akhirnya saya katakan hal itu dengan terus terang kepada beberapa akh. Saya
katakan, "Sungguh kita ini perlu sekali melakukan perubahan secara total
dan hakiki. Kita jangan merasa cukup dengan melakukan 'tansiq' (koordinasi) dan
penataan ilmu dan pembicaraan kita. Sebab, ini tidak akan memberikan faedah
kepada kita jika diri kita masih saja belum berubah. Seoräng muslim memiliki
banyak sifat. Di antaranya adalah shidq (jujur), ikhlas karena Allah,
suka memberi nasihat, bersandar kepada Allah dengan kuat, dsb. la tidak akan
peduli dengan celaan manusia, tidak akan menipu, dan tidak akan berbuat
munafik, sekalipun terjadi permusuhan antara dirinya dengan orang lain. la
tidak akan berpegang kecuali kepada perkataan yang benar. la akan teguh di
atasnya dan mati di atas kebenaran itu pula."
Apakah
kita sudah demikian?
Saya
sampaikan kepada kalian, wahai Ikhwan, bahwa mayoritas kaum muslimin hari ini
belum matang dan belum merasakan akhlak seperti ini. Bahkan, terlintas di benak
mereka pun beium. Mereka mengerjakan shalat sebagaimana yang mereka warisi dari
bapak-bapak dan kakek-kakek mereka, demikian juga puasa mereka.
Adapun
kalangan khusus dari kaum muslimin memang merasakan hal Iain yang tidak
dirasakan oleh kebanyakan dari mereka. Mereka ini dapat merasakan nilai-nilai
luhur dan merasakan adanya dorongan semangat yang sangat kuat. Namun, masih
banyak di antara ikhwan yang masih juga belum mampu berpegang dengan ini
sepenuhnya. Mereka menunaikan ibadah yang sifatnya lahir. Adapun mengenai jiwa
dan ruh yang islami, yang akan terbentuk oleh arus yang islami, maka 90% belum
juga teraih secara memadai.
Saya
juga ingin menyampaikan pembicaraan kita pada kesempatan kali ini mengenai ishlah
an-nafs (perbaikan jiwa/diri) serta memberikan penjelasan yang memadai.
Karena sesungguhnya jika jiwa itu berubah, segalanya juga akan ikut berubah.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mau mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd:11)
Kadang
dikatakan, Ikhwan sekalian, bahwa ini adalah salah satu dari
kecenderungan-kecenderungan sufistik, sedangkan Ikhwan adalah orang-orang yang
pragmatis, berorientasi pada kerja, dan bukannya para syaikh tarekat. Saya
ingin katakan kepada kalian bahwa kita khawatir bila setan sampai menipu dan
memperdayakan kita, sehingga ia menguasai kendali dalam diri kita. Manakala
kita telah sampai pada sasaran, setan lantas membelokkan langkah kita dan
memainkan kendalinya. Maka dari itu, yang ingin saya tekankan lebih dahulu
adalah tentang "bahtera keselamatan", sebelum yang lain."..Dan
ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya
(Allah-lah yang menguasai hati manusia). Dan sesungguhnya kepada Allah-lah
kalian akan dikumpulkan." (AI-Anfala; 24)
Sesungguhnya
kita menginginkan adanya saat-saat di mana kita dapat mengkonsentrasikan diri
untuk melakukan ishlah an-nafs. Kemudian kita berupaya melakukan terapi
terhadapnya dengan berbagai macam sarana dan berbagai jenis pengobatan. Saya
ingin berbicara kepada kalian mengenai arti penting dari nilai-nilai kejiwaan
dengan anatomi dan medikasi. Akan tetapi jika itu kita mulai, pastilah kita
memerlukan waktu yang panjang. Akhirnya, saya memperoleh suatu ilustrasi. Dalam
berbagai ceramah, sering sekali saya katakan, "Mengapa Al-Qur'anul Karim
itu dapat memberikan pengaruh yang demikian besar terhadap para salafus shalih,
sehingga memberikan kemanfaatan bagi mereka, namun tidak demikian bagi kita?
Mengapa juga ayat-ayat Al-Qur'an itu hanya dapat memberikan pengaruh dan dampak
yang lemah pada diri kita?"
Saya
katakan bahwa jika tukang listrik menyentuh arus listrik, tentu akan terkena
pengaruh setrum. Pengaruhnya berbeda-beda sesuai dengan kuatnya arus listrik
yang ada. Jika arusnya kuat bisa membuatnya pingsan dan akan mengakibatkan
dirinya masuk rumah sakit. Bila kekuatannya bertambah lagi, pingsannya bisa-bisa
tidak akan membuatnya siuman, tapi malah harus membawanya ke kuburan.
Mari
kita beralih dari ilustrasi yang bersifat materiil ini menuju ilustrasi yang
bersifat spiritual, serta menuju arus lain yang hakiki, yaitu Al-Qur'anul
Karim. Permisalannya adalah sebagaimana arus listrik itu. "...Kami
menjadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami
kehendaki di antara hamba-hamba Kami." (Asy-Syura: 52) "Dia menurunkan para malaikat dengan
membawakan 'ruh' (wahyu) atas perintah-Nya, kepada siapa yang Dia kehendaki di
antara hamba-hamba-Nya." (An-Nahl: 2) "Dia mengutus Jibril dengan
membawa perintah-Nya kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya di antara
hamba-hamba-Nya." (Ghafir: 15)
Al-Qur'an
ini, di dalarnnya terdapat muatan listrik yang berasal dari sisi Yang
Mahabijaksana dan Maha Mengetahui. Dia sendirilah yang membuatnya. "Dan
sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang
dan Al-Qur'an yang agung." (Al-Hijr: 87)
la
akan memberikan pengaruh ke dalam jiwa, baik secara materiil maupun spirituil.
Pengaruhnya yang menggelora akan tampak pada orang-orang yang diberi petunjuk
oleh Allah kepada jalan-Nya yang lurus. "Allah telah menurunkan perkataan
yang paling baik, yaitu Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang,
gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian
menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. itulah petunjuk
Allah, yang dengan itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi
petiljuk baginya." (Az-Zumar: 23)
Arus
ini telah merasuk ke dalam hati mereka dan memberikan dampak yang konkret dalam
diri mereka yang diciptakan oleh adanya "muatan listrik" itu.
Pengaruh itu tampak nyata dalam kulit mereka. "Gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya," (Az-Zumar: 23)
Arus
ini sesuai dengan kecenderungan atau daya tarik. Jika daya tariknya kuat, maka
arus itu akan kuat pula. Suatu ketika Umar ra. mendengar firman Allah swt.
"Seseorang telah meminta kedatangan azab yang pasti bakal terjadi, untuk
orang-orang kafir, yang tidak seorang pun dapat menolaknya." (AI-Ma'arij:
1-2)
Maka,
ia pun kemudian jatuh pingsan karena adanya pengarúh yang dahsyat dari ayat
tersebut. la pun terpaksa harus dibawa ke rumah dan berbaring di atas
ranjangnya selama sebulan. Sakit yang biasa bisa memakan waktu yang cukup lama,
bahkan tak jarang sampai membawa kepada kematian. Demikian halnya dengan sakit
yang disebabkan oleh adanya pengaruh spiritual ini, ia dapat juga menyebabkan
pasiennya menuju ke liang lahat. Ada salah seorang di antara kaum shalihin
mendengar firman Allah swt., "Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan
berilah peringatan! Dan Tuhanmu, agungkanlah! Dan pakaianmu, bersihkanlah! Dan
perbuatan dosa, tinggalkanlah! Dan janganlah kamu memberi dengan maksud
memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu,
bersabarlah. Apabila sangkakala telah ditiup; maka waktu itu adalah waktu
(datangnya) hari yang sangat sulit." (AI-Muddatsir; 1-9)
Akhirnya
ia pun pingsan yang mengakibatkan nyawanya harus berpisah dengan jasadnya, dan
harus membawanya ke liang kubur.
Demikian
itu adalah hati yang telah mendapatkan pengaruh dari Al-Qur'an yang menjadikan
ruhaninya bergelora. Gelora itu pun dapat melenturkan perasaan-perasaannya dan
menghaluskan pendengarannya, serta menjadikan hati itu gemetar ketika mengingat
Allah.
"Sesungguhnya
orang-orang.yang beriman itu adalah mereka yang apabila nama Allah disebut,
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, maka
iman mereka menjadi bertambah karenanya." (Al-Anfal: 2)
Adapuñ
kita, kita belum dapat merasakan pengaruh dari apa yang telah memberikan
pengaruh kepada mereka, dan Al-Qur'an belum berdampak pada diri kita
sebagaimana telah membawa dampak bagi mereka. Ibaratnya kita ini adalah tukang
listrik yang membuat penghalang antara dirinya dengan listrik sehingga ia tidak
terkena setrum atau tidak terkena dampak dari aliran listrik itu.
Maka
tugas kita, wahai Ikhwan, adalah menghancurkan sekat ini, sehingga kita dapat
bersentuhan dengan Al-Qur'anul Karim dan hati kita dapat bersambung dengannya,
sehingga kita dapat menikmati kelezatannya.
Sadarlah
bahwa yang namanya manusia itu tidak lain adalah nafs atau jiwa. Inilah arti
sebenarnya. Adapun jasad, maka ia tidak lebih dari sekedar pembungkus belaka
bagi jiwa ini. Allah swt. telah menjadikan baiknya seseorang itu tergantung
pada kebaikah dirinya, atau jiwanya. Kerusakannya pun tergantung kerusakan
jiwanya pula, Allah swt. berfirman, “Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sungguh,
beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang
mengotorinya." (Asy Syams: 7-10)
Allah
swt. juga berfirman, "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah sesuatu yang
ada pada suatu kaum sehingga mereka sendiri yang mau mengubah sesuatu yang ada
pada diri mereka itu." (Ar-Ra'd: 11)
Para
malaikat tidaklah diperintah untuk sujud kepada Adam kecuali setelah dibentuk
kejiwaannya. Inilah rahasia kemuliaan dan keutamaan yang diberikan oleh Allah
swt. kepada Adam. "Dan sesungguhnya kami telàh memuliakan Bani Adam. Kami
angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Al-Isra': 70)
Keutamaan
yang diberikan ini bukan karena kuatnya jasad atau penampilan dan parasnya.
Akan tetapi itu disebabkan oleh adanya nilai rabbani yang telah
diletakkan oleh Allah padanya. Yaitu hakikat ruhani, di mana Allah menjadikan
hal itu sebagai bagian dari urusan-Nya sendiri. “Dan mereka bertanya kepadamu
tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu
termasuk urusan Tuhanku, dan,tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit." (Al-lsra': 85)
Yang
saya inginkan adalah agar di dalam jiwa bersemayam nilai-nilai ruhiah yang
telah dialirkan oleh Allah swt. atas jasad kalian. Pangkal kebaikan dan
kerusakannya terletak di dalam jiwa. Apa yang kita dengar tentang akhlak yang
baik dan sebagainya bukanlah merupakan standar kebaikan dan kerusakan. Boleh
jadi ketawadhuan itu memang karena hina, pemaaf lantaran pengecut, serta
dermawan dan berani karena riya'. Boleh jadi pula sikap sombong itu disebabkan
adanya dorongan kejiwaan, yang seringkali pula padanya muncul sisi baiknya,
entah salah ataupun benar. Rasulullah saw. memuji orang yang menyombongkan diri
dalam suasana perang, yaitu Abu Dujanah ra., karena keadaan memang menuntut
demikian. Baik tidaknya akhlak itu bukan yang tampak oleh manusia dari bentuk
lahiriahnya. Akan tetapi keutamaan yang semayam di dalam jiwa, yang
membangkitkan perbuatan-perbuatan baik, sedangkan muatan negatif yang
tersembunyi di dalamnya akan melahirkan
perbuatan-perbuatan tercela. Nabi saw. pernah bersabda,
عَنْ النَّوَّاسِ بْنِ
سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ عَنِ الْبِرِّ
وَالْإِثْمِ، فَقَالَ: اَلْبِرُّ حُسْنُ
الْخُلُقِ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ، وَكَرِهْتَ أَنْ يَعْلَمَهُ
النَّاسُ
“Kebajikan
adalah akhlak yang balk, sedangkan dosa adalah sesuatu yang berbekas di dalam
jiwa dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya."
Manusia
dalam hal ini terbagi menjadi tiga golongan:
Pertama,
golongan yang diberi petunjuk oleh Allah swt-dan dijadikan bahagia oleh-Nya
dengan ma'rifat kepada-Nya. Mereka adalah para nabi yang memang diistimewakan
oleh Allah dengan beberapa kekhususan dan dianugerahi dengan beberapa
keutamaan. Mengenai penghulu kita Muhammad saw. , Allah berfirman, "Sesungguhnya
engkau berada dalam pengawasan Kami." (At-Thur: 48)
Mengenai
Nabi Musa as., Allah berfirman, “Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku.”
(Thaha: 41)
Mengenai
Nabi Isa as., Allah berfirman, ”Dan Allah akan mengajarkan kepadanya Al-Kitab,
Hikmah, Taurat, dan Injil." (Ali Imran: 48)
Dan,
mengenai para rasul seluruhnya, Allah swt. berfirman, "Rasul-rasul mereka
itu berkata kepada mereka, 'Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kalian,
akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara
hamba-hamba-Nya.;” (Ibrahim: 11) Hati mereka memang dijaga oleh Allah swt.
serta diberi jalan kepada petunjuk.
Kedua,
golongan yang tergoda oleh setan, yang menyebabkannya lebih memilih dunia,
menanggalkan baju karakter keinsanannya serta kembali kepada nilai
kebinatangannya. "Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah
Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al-Kitab),
kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan
(sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat. Kalau
Kami menghendaki, tentu Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayatayat itu, tetapi
ternyata dia lebih cenderung kepada dunia dan menuruti hawa nafsunya yang
rendah, maka perumpamaannya adalah seperti anjing; jika kamu mengusirnya, ia
akan mengulurkan lidahnya, dan jika kamu membiarkannya, ia pun akan mengulurkan
lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan
ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka
berpikir.” (AI-A 'raf: 175-176)
Golongan
ini sudah pasti bakal menerima adzab ”Apakah kamu hendak mengubah nasib orang-orang
yang telah pasti ketentuan adzab atasnya? Apakah kamu akan rnenyelamatkan orang
yang berada dalam api neraka?” (Az-Zumar.' 19)
Ketiga,
golongan yang memiliki hati; dadanya dilapangkan oleh Allah untuk menerima
Islam; namun ia mengenal Allah dengan tidak sempurna. Ia mencoba untuk
berpegang kepada Islam. Namun demikian, ia masih dikalahkan oleh hawa nafsunya,
terbujuk oleh rayuan setan, dan masih dibelak-belokkan oleh berbagai keinginan
dan tuntutan. Dalam sebuah atsar (perkataan para sahabat) dikatakan,
اَلْمُؤْمِنُ بَيْنَ
خَمْسِ شَدَائِدَ: مُؤْمِنٍ يَحْسُدُهُ، وَمُنَافِقٍ يُبْغِضُهُ، وَكَافِرٍ
يُقَاتِلُهُ، وَنَفْسٍ تُنَازِعُهُ، وَشَيْطَانٍ يُضِلُّهُ
“Orang
mukmin itu di antara lima kekerasan: mukmin yang dengki kepadamu; munafik yang
membencimu; kafir yang memerangimu; setan yang menyesatkanmu; dan jiwa yang memusuhimu.”
la
masih mempertentangkan antara yang baik dan yang buruk. Yang sering dirasakan
oleh manusia dalam sudut ini adalah manisnya mujahadah (jihad,
perjuangan) dan pahitnya kekalahan. Oleh karena itu tidak boleh tidak harus
dilakukan pengobatan terhadap jiwa. Jika kita mengobati orang sakit, maka yang
pertama-tama kita lakukan adalah mendiagnosa penyakitnya. Demikian halnya jika
kita mengobati jiwa. Semua tergantung pada pengetahuan tentang sebab dan jenis
penyakitnya. Jadi, wajib mengetahui tentang penyebab penyakit jiwa dan
jenis-jenis peryakitnya. Dalam hal ini dituntut kesabaran dalam menanggung
pahitnya pengobatan yang memang harus dilakukan.
Orang-orang
bijak mengatakan bahwa ada empat hal yang dapat membantu untuk mengetahui
penyakit-penyakit jiwa:
Pertama,
ilmu. Ini yang paling penting dan paling banyak membantu. Ilmu yang akan
menjelaskan kepadamu tentang jalan-jalan penyakit dan yang akan dapat
mengidentifikasikannya. la yang pertama menyingkapkan kepadamu tentang
"tong-tong" penyakit.
Kedua,
saudara yang suka memberi nasihat. Yaitu orang yang empati kepadamu sehingga ia
mau memberitahukan tentang kekurangan dan kelebihanmu. Dia melihat hal itu
sebagai suatu kewajiban dalam rangka mengamalkan sabda Nabi saw:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ»قُلْنَا: لِمَنْ؟قَالَ:«لِلَّهِ،
وَلِكِتَابِهِ، وَلِرَسُولِهِ، وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَعَامَّتِهِمْ
"Agama
adalah nasihat. Para sahabat menanyakan, ‘Untuk siapa, wahai Rasulullah?’ Beliau
menjawab, ‘Untuk Allah, untuk Rasul-Nya, untukpimpinan-pimpinan kaum muslimin,
dan untuk kaum muslimin secara umum. "
Ketiga,
musuh atau lawan-lawanmu. Mereka tentu akan selalu mencari kelemahan dan
kejelekanmu. Jika engkau mengetahui bahwa mereka sedang melakukan hal itu
kepadamu, maka kamu tidak perlu marah. Namun justru pujilah Allah, karena Dia
telah menjadikan untukmu orang Iain yang dapat mengerti kekuranganmu, sebab
kamu sendiri tidak mengerti kekurangan itu. Mereka akan berterus-terang dalam
menjelaskan kekuranganmu. Adapun teman kamu sendiri, maka ia tentu akan merasa
malu dan sungkan untuk menunjukkan kekurangan itu.
Bait-bait
syair menuturkan,
عَيْنُ الرِّضَا عَنْ كُلِّ عَيْبٍ كَلِيلَةٌ، وَلَكِنَّ عَيْنَ السُّخْطِ تُبْدِي
الْمَسَاوِيَا
Mata
yang ridha, kabur melihat aib; Mata yang benci, aib-aib belaka yang tampak
Karenanya,
jika engkau ingin tahu aib-aibmu, maka ambillah ia dari musuh-musuhmu terlebih
dahulu sebelum dari karib-karibmu. Dengarkan baik-baik apa yang mereka katakan
tentangmu karena hal itu lebih patut untuk memantau dirimu.
Keempat,
mengerti dan menyadari kritikan yang engkau berikan kepada orang Iain tentang
kekurangan dan aibnya, serta usahamu yang sungguh-sungguh agar jangan sampai
terperosok ke dalamnya. Jika engkau lihat orang-orang bersahut-sahutan dengan
banyaknya bicara, umpamanya, maka menjauhlah engkau darinya. Dan jika kamu
lihat mereka mulai jenuh berbicara tak karuan dan mulai bubar dari tempat itu,
maka jadilah engkau seorang yang lembut dan penyayang.
Demikianlah,
setiap kali engkau melihat sesuatu yang rendah atau hina dari perasaan yang
mulia, maka berupayalah untuk selalu meninggalkannya. Sebaliknya berupayalah
untuk berhias dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang baik, yang akan
menjadikanmu cinta kepada mereka dan menjadikan mereka mencintai dirimu.
Semoga
shalawat serta salam dicurahkan oleh Allah kepada penghulu kita Muhammad,
keluarga serta para sahabatnya.
No comments:
Post a Comment