Tuesday, May 19, 2026

Perbaikan Diri (4) - Haditsu Tsulatsa

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada penghulu kita Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari pembalasan.

Amma ba'du.

Salamullahi alaikum wa rahmatuhu wa barakatuh.

Wahai Ikhwan, setiap kali terlintas di hadapan kita suatu gambaran hidup yang indah lagi mulia, yang dinamis lagi bersinar, yang pancarannya keluar dari perasaan yang dengannya Allah menyinari hati kita dan membuat dada kita bercahaya, yakni perasaan cinta karena Allah, saling bersaudara karena Allah, dan hasrat meraih keridhaan Allah, maka ketika itulah terasa bahwa segala persoalan dan kesulitan hidup di hadapan kita menjadi tak berarti.

Sebenarnya akar dari persoalan dalam hidup ini adalah jiwa, sebelum keadaan lingkungan. Betapa banyak kondisi pelik yang menyelimuti orang-orang mukhlis dari berbagai penjuru, namun mereka menganggapnya remeh saja. Sebaliknya, betapa jelasnya suatu solusi persoalan terlihat, namun -karena rusaknya hati, kotornya nurani, serta bengkoknya jiwa - justru semakin membuat jalan menjadi buntu.

Saya diingatkan kembali oleh kisah dua orang yang saling bersaudara karena Allah. Keduanya mengadakan perjalanan bersama dengan mengendarai perahu. Salah seorang dari mereka berdiri di bagian pinggir perahu, lalu tiba-tiba kakinya terpeleset dan akhirnya. ia tercebur ke laut. Tanpa disadari, temannya tadi juga tiba-tiba ikut tercebur. Para penumpang perahu lainnya pun segera mengentaskail keduanya. Ketika yang pertama sudah siuman, ia melihat saudaranya ikut basah kuyup karena tenggelam, ia lalu bertanya, "Apa gerangan yang menimpamu?” Yang ditanya menjawab, "Aku telah fana (hilang dan menyatu) denganmu. Sehingga aku mengira bahwa kamu adalah aku sendiri.”

Mereka adalah orang-orang yang telah fana dari ke-“diri”-annya. Mereka lupa eksistensi dirinya karena demikian kuat rasa itsarnya kepada yang lain. Mengenai hal ini Allah swt. berfirman, "Dan mereka lebih mengutamakan orang lain (orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan iłu). Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9) Kekikiran diri bukan hanya sikap kikir untuk mengeluarkan harta saja, namun juga termasuk perasaan ego dan hanya mau berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya semata.

Kita temukan bahwa beberapa persoalan saja penyelesaiannya bisa menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, dan bahkan berbulan-bulan. Namun oleh orang-orang yang saling mencintai, masalah yang sama dapat dipecahkan dałam waktu sekejap. Sebagaimana pernah saya katakan, "Sesungguhnya krisis global yang dialami dunia yang menimpa umat manusia dengan begitu dahsyatnya selama enam tahun belakangan, penyebabnya tidak lain adalah kekikiran. Di sana -terjadi konflik antara manusia dengan dirinya sendiri antara saudara dengan saudaranya yang lain, serta antara satu umat dengan umat lainnya. Orang miskin dengki kepada orang kaya, orang sakit dengki kepada orang yang sehat, orang bodoh dengki kepada orang pintar, orang menganggur dengki kepada orang yang bekerja, dan seterusnya, Demikianlah kita dapatkan masing-rnasing berada dalam konflik yang tiada hentinya. Hilangnya rasa cinta dan kasih sayang antara sesama manusia telah menjadikan suatu umat berperang dengan dirinya sendiri. Masing-masing individu betbuat untuk diri sendiri, untuk kemauan nafsunya, serta untuk tujuan-tujuannya sendiri.

Dikisahkan bahwa seorang lelaki shalih memberikari pesan kepada pegawainya agar menjelaskan cacat barang dagangannya kepada pembeli, jika memang ada cacatnya. Setiap kali ada pembeli, ia tunjukkan cacat bila ada. Namun pada suatu hari datanglah seorang Yahudi. la hendak membeli baju yang kebetulan juga ada cacatnya. Karena sang majikan sedang tidak ada di tempat, si pelayan berkata dalam hatinya, "Saya tidak perlu memberitahu caeat baju ini kepada Yahudi." Benar saja, ia tidak menunjukkan cacat baju yang dibeli orang Yahudi itu. Tidak lama kemudian datanglah sang majikan. Dia menanyakan tentang baju itu. Lalu pegawainya menjelaskan, "Baju itu telah dibeli oleh seorang Yahudi seharga tiga ribu dirham, namun saya tidak menunjukkan cacat baju itu kepadanya." "Lalu di mana dia sekarang?" tanya sang majikan dengan nada tinggi. "Dia sudah pergi bersama kafilah,” jawab pelayan santai.

Serta merta majikan mengambil uang itu lalu pergi menyusul kafilah yang telah berlalu beberapa saat. Setelah tiga hari, tersusul juga akhirnya. Dengan tergopoh-gopoh sang majikan berkata, "Aduh, ternyata engkau yang ıelah membeli baju yang ada cacatnya itu. Sekarang, ambillah dirhammu ini dan kembalikan baju itu kepadaku!" Dengan heran si Yahudi bertanya, "Apa yang membuatmu jadi sepertİ ini?” Si majikan yang shalih ini menjawab, "Islam! Rasulullah saw. pernah bersabda, Barangsiapa menipu, ia bukanlah termasıık golongan kami. Sesaat Yahudi itu tercengang, lalu berkata, "Ketahuilah bahwa dirham yang aku bayarkan kepadamu itu adalah palsu. Kini terimalah tiga ribu dirham asli ini sebagai gantinya. Selain itu, saya akan memberikan tambahan kepadamu lebih banyak lagi. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah."

Ikhwan sekalian, apa yang menyebabkan si pedagang itu sampaİ bersikap demikian? Apakah karena hukum adat yang mengikatnya? ataukah karena adanya pihak yang menjadi mata-mata? Tidak! Semua itu pangkalnya adalah iman yang kuat dan keyakinan kepada pengawasan Allah. Karena itulah Allah swt. memeliharanya dari kekikiran diri serta membersihkannya dari kotoran ego. Berbagai krisis yang kini terjadi di mana-mana sebenarnya bermuara pada konflik kejiwaan, sebelum konflik secara fisik. Konflik kejiwaan ini bersifat sangat merusak karena ia dikendalikan oleh hawa nafsu. Di medan konflik itu tidak ada Iagi sisa perasaan yang bersih dan mulia, yang dapat memecahkan berbagai persoalan.

Dalam suatu peristiwa bersejarah yang belum lama terjadi, dua orang pemimpin di negara Arab yang bersengketa mengenai suatu wilayah menyelesaikannya dengan sangat indah. Salah seorang dari mereka mengangkat telepon dan berkata, "Tolong dengarkan wahai saudaraku, saya serahkan wilayah itu kepadamu." Pemimpin yang ditelepon menjawab, "Saya juga telah memutuskan untuk menyerahkannya kepadamu." Mendengar jawaban itu, salah seorang petinggi kerajaan memprotes, "Mintalah tebusan kepadanya!" "Apa urusanmu? Kami ini bersaudara," jawabnya enteng.

Saya juga sudah menyampaikan ceramah mengenai nilai-nilai moral, yaitu tentang sabar, wafa' (memenuhi janji), jujur, dan rasa malu. Seandainya semua orang mau berpegang teguh pada keempat macam moralitas ini, nicaya keadaan mereka akan berubah dengan drastis.

Kata "sabar'i sering dimaknai secara parsial. Saya ingin sampaikan sedikit masalah ini. Ketika orang-orang menyebut kata "sabar" di benak mereka sering hanya terbayang arti yang sempit dan terbatas, seperti sikap sabar ketika rnenghadapi musibah kematian dan sakit. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya kesabaran yang mereka pahami itu hanya salah satu dampak dari kesabaran, bukan kesabaran itu sendiri: Perhatikan kesabaran para pelaku dan aktivis dakwah. Banyak sekali rintangan yang harus mereka hadapi. Nah, sikap sabar adalah kesiapan untuk mati di jalannya. Demikian itu karena kematian itu sendiri – baginya - adalah sesuatu yang paling mulia. Kemuliaan mati di jalan dakwah tidaklah lebih rendah dibanding kemuliaan mati di medan jihad peperangan, Prinsip ini sangatlah mendalam.

Renungkanlah hal ini, dan betapa jelas tampak dalam peristiwa perang Hudaibiyah. Ini dia Makkah. Makkah telah mulai terlihat oleh kaum muslimin, bahkan ada di hadapan mata mereka. Mereka sangat yakin dapat memasukinya, sebab Allah swt. memberikan kabar gembira mengenai hal itu. "Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. " (Al-Fath: 27)

Dengan harapan tersebut, muncullah gejolak. Mereka dihalangi untuk memasuki Makkah dan mundur sambil menunggu sampai waktu yang panjang dan syarat-syarat yang berat. Di sini terdapat dua sikap berbeda, antara Umar dan Abu Bakar. Umar bersikap keras, sedangkan Abu Bakar menyikapinya dengan kesabaran yang tulus. Umar berkata, "Wahai Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran, sedang musuh kita berada di atas kebatilan?" "Tentu," jawab Rasulullah. "Bukankah Allah telah menjanjikan kepadamu bahwa engkau akan memasuki Makkah?" tanya Umar. "Benar," jawab Rasulullah. Dengan 'tidak sabar’ Umar bertanya, "Lalu mengapa kita menimpakan kehinaan pada agama kita?"

Lain Umar lain pula Abu Bakar ra. Beliau memiliki keimanan yang kuat dan pendirian kokoh yang tak goyah oleh apa pun. Beliau berkata kepada Umar, "Tetap, setialah engkau kepada Rasulullah. Lagi pula, apakah beliau mengatakan kepadamu bahwa Allah akan memasukkan kita ke kota Makkah pada tahun ini juga?"

Sikap Umar tersebut merupakan bukti semangat berkorban. Sebaliknyaj sikap Abu Bakar merupakan bukti kesabaran. Dari peristiwa tersebut, terlihat bahwa pada diri Abu Bakar kesabarannya lebih dominan daripada semangat berkorban. Sementara pada diri Umar, sikap semangat berkorbannya mengalahkan kesabarannya. Pada kasus tersebut, sikap Abu Bakar lebih tepat, dan bahwa kesabaran memang lebih utama daripada semangat berkorban.

Para pengemban dakwah membutuhkan kesabaran di dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, karena mereka adalah suri teladan. Mereka membutuhkan kesabaran di dalam menghadapi berbagai musibah dan cobaan, karena mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Mereka membutuhkan kesabaran di dalam berjihad, karena jihad merupakan kunci kemenangan. Tiada kemenangan dan kejayaan tanpa jihad. "Orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridhaan) Kami, maka Kami pasti akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (Al-Ankabut: 69)

Allah swt memberikan ujian kepada mujahid. "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabut: 2) "Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orang yang bersabar." (Ali Imran: 142)

"Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum datang kepada kalian cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan berbagai macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (Al-Baqarah: 214)

Allah swt. mencela orang-orang yang bimbang, yang mau bersabar dalam berdakwah hanya apabila hal itu menguntungkan. Namun jika mereka mendapat cobaan karena dakwah yang mereka lakukan, mereka pun lalu berpaling. "Dan sesungguhnya di antara kalian ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika ada di antara kalian ditimpa musibah ia berkata, 'Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka,' Dan sungguh, jika kamu memperoleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia, 'Aduhai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar pula.'" (An-Nisa: 72-73)

Jika mereka diajak untuk berjuang dan melakukan sesuatu yang membutuhkan ketabahan atas penderitaan, mereka lalu mengemukakan berbagai alasan yang dibuat-buat dan berusaha menghindar dengan melakukan tipuan. "Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya." (Ali Imran: 167) Mereka merasa keberatan dan berpaling dari menunaikan jihad serta menghalangi yang Iainnya.

Jika kalian tertimpa musibah, seperti kematian atau kekalahan, maka orang yang berlambat-lambat itu berkata, "Sungguh, Allah telah menganugerahkan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berjihad bersama mereka, sehingga aku tidak tertimpa musibah sebagaimana yang menimpa mereka." Akan tetapi manakala kalian memperoleh karunia dari Allah, serta nikmat yang berupa ghanimah atau kemenangan, ia mengatakan dengan penuh penyesalan, "Aduhai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya akan mendapat kernenangan yang besar pula."

Di sini terdapat kalimat sisipan, "Seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia." Kalimat ini mengingatkan kita akan lemahnya aqidah mereka, dan bahwa perkataan seperti ini adalah perkataan orang yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan mereka yang berjihad itu; seakan dia tidak pernah mengenal mereka. "Bukankah Allah lebih mengetahui tentang apa yang ada dalam dada semua manusia." (Al-Ankabut: 10)

Kemudian Allah menyetempel mereka dengan keputusan yang mengerikan. "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di 'tepi', maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugianyang nyata." (Al-Hajj: 11)

Para da'i harus mengerti betul bahwa mereka memiliki tanggung iawab besar untuk memfokuskan perhatian kepada dakwah mereka. Harus pula disadari båhwa prinsip-prinsip yangdiserukan adalah mengubah kondisi manusia. Karenanya para da'i harus siap memikul tanggung jawab ini dan harus mampu bersabar, dengan tekad yang kuat, keimanan yang kokoh, dan keyakinan yang bersih dari keraguan.

Para pendahulu kita telah meraih ini semua, sehingga mereka berbahagia dengannya dan mampu mengalahkan musuh-musuh mereka.

Adalah merupakan bagian dari keajaiban-keajaiban ilahiyah bahwa Dia menentukan perjalanan umat dan jamaah yang ada sesuai dengan situasi zamannya. Suatu ketika pernah terjadi, orang-orang kafir menggergaji seorang yang shalih dari arah kepala hingga terbelah menjadi dua. Namun hal ini tidak membuat para pengikutnya beralih dari agamanya.

Al-Qur'an telah mengisahkan bahwa seorang penguasa kafir membuat sebuah parit, lalu menggiring orang-orang ke mulut parit itu. Barangsiapa mau menerima kebatilan penguasa itu, ia akan menyelamatkannya dari parit tersebut. Sedangkan siapa saja yang menentangnya, ia akan dimasukkan ke dalamnya. Namun hal ini bukan berarti bahwa para da'i umat-umat terdahulu lebih kuat kesabarannya dibanding dengan da'i-da'i umat Muhammad saw., atau berarti bahwa da'i umat Muhammad lebih lemah perjuangannya dibanding mereka. Sesungguhnya rahmat Allah terhadap umat ini jauh lebih sempurna dan lebih banyak. Allah swt. berfirman, "Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah perbuatan mungkar, dan beriman kepada Allah." (Ali Imran: 110)

Kita harus mengokohkan tekad kita untuk bisa bersabar serta siap mengemban tugas-tugas yang tidak kita sukai karena beratnya, sehingga Allah akan membimbing kita di jalan para pekerja dakwah. Kita mesti menyandang akhlak sabar dengan pengertian yang lebih luas lagi, agar kita bisa berjuang di jalan Allah. "Sesungguhnya Allah pasti menolong siapa saja yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa." (Al-Hajj: 40)

Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.

 

No comments:

Post a Comment