Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah
Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada
penghulu kita Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabatnya, serta siapa
saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari
Amma ba'du.
Salamullahi ‘alaikum wa
rahmatuhu wa barakatuh.
Wahai Ikhwan, setiap kali terlintas di hadapan
kita suatu gambaran hidup yang indah lagi mulia, yang dinamis lagi bersinar,
yang pancarannya keluar dari perasaan yang dengannya Allah menyinari hati kita
dan membuat dada kita bercahaya, yakni perasaan cinta karena Allah, saling
bersaudara karena Allah, dan hasrat meraih keridhaan Allah, maka ketika itulah
terasa bahwa segala persoalan dan kesulitan hidup di hadapan kita menjadi tak
berarti.
Sebenarnya akar dari persoalan dalam hidup ini
adalah jiwa, sebelum keadaan lingkungan. Betapa banyak kondisi pelik yang
menyelimuti orang-orang mukhlis dari berbagai penjuru, namun mereka
menganggapnya remeh saja. Sebaliknya, betapa jelasnya suatu solusi persoalan
terlihat, namun -karena rusaknya hati, kotornya nurani, serta bengkoknya jiwa -
justru semakin membuat jalan menjadi buntu.
Saya diingatkan kembali oleh kisah dua orang
yang saling bersaudara karena Allah. Keduanya mengadakan perjalanan bersama
dengan mengendarai perahu. Salah seorang dari mereka berdiri di bagian pinggir
perahu, lalu tiba-tiba kakinya terpeleset dan akhirnya. ia tercebur ke laut.
Tanpa disadari, temannya tadi juga tiba-tiba ikut tercebur. Para penumpang
perahu lainnya pun segera mengentaskail keduanya. Ketika yang pertama sudah
siuman, ia melihat saudaranya ikut basah kuyup karena tenggelam, ia lalu
bertanya, "Apa gerangan yang menimpamu?” Yang ditanya menjawab, "Aku
telah fana (hilang dan menyatu) denganmu. Sehingga aku mengira bahwa kamu
adalah aku sendiri.”
Mereka adalah orang-orang yang telah fana dari
ke-“diri”-annya. Mereka lupa eksistensi dirinya karena demikian kuat rasa
itsarnya kepada yang lain. Mengenai hal ini Allah swt. berfirman, "Dan
mereka lebih mengutamakan orang lain (orang-orang Muhajirin) daripada diri
mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan iłu).
Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah
orang-orang yang beruntung.” (Al-Hasyr: 9) Kekikiran diri bukan hanya sikap
kikir untuk mengeluarkan harta saja, namun juga termasuk perasaan ego dan hanya
mau berbuat sesuatu untuk kepentingan dirinya semata.
Kita temukan bahwa beberapa persoalan saja
penyelesaiannya bisa menghabiskan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, dan
bahkan berbulan-bulan. Namun oleh orang-orang yang saling mencintai, masalah
yang sama dapat dipecahkan dałam waktu sekejap. Sebagaimana pernah saya
katakan, "Sesungguhnya krisis global yang dialami dunia yang menimpa umat
manusia dengan begitu dahsyatnya selama enam tahun belakangan, penyebabnya
tidak lain adalah kekikiran. Di sana -terjadi konflik antara manusia dengan
dirinya sendiri antara saudara dengan saudaranya yang lain, serta antara satu
umat dengan umat lainnya. Orang miskin dengki kepada orang kaya, orang sakit
dengki kepada orang yang sehat, orang bodoh dengki kepada orang pintar, orang
menganggur dengki kepada orang yang bekerja, dan seterusnya, Demikianlah kita
dapatkan masing-rnasing berada dalam konflik yang tiada hentinya. Hilangnya
rasa cinta dan kasih sayang antara sesama manusia telah menjadikan suatu umat
berperang dengan dirinya sendiri. Masing-masing individu betbuat untuk diri
sendiri, untuk kemauan nafsunya, serta untuk tujuan-tujuannya sendiri.
Dikisahkan bahwa seorang lelaki shalih memberikari
pesan kepada pegawainya agar menjelaskan cacat barang dagangannya kepada
pembeli, jika memang ada cacatnya. Setiap kali ada pembeli, ia tunjukkan cacat
bila ada. Namun pada suatu hari datanglah seorang Yahudi. la hendak membeli
baju yang kebetulan juga ada cacatnya. Karena sang majikan sedang tidak ada di
tempat, si pelayan berkata dalam hatinya, "Saya tidak perlu memberitahu caeat
baju ini kepada Yahudi." Benar saja, ia tidak menunjukkan cacat baju yang
dibeli orang Yahudi itu. Tidak lama kemudian datanglah sang majikan. Dia
menanyakan tentang baju itu. Lalu pegawainya menjelaskan, "Baju itu telah
dibeli oleh seorang Yahudi seharga tiga ribu dirham, namun saya tidak
menunjukkan cacat baju itu kepadanya." "Lalu di mana dia
sekarang?" tanya sang majikan dengan nada tinggi. "Dia sudah pergi
bersama kafilah,” jawab pelayan santai.
Serta merta majikan mengambil uang itu lalu
pergi menyusul kafilah yang telah berlalu beberapa saat. Setelah tiga hari,
tersusul juga akhirnya. Dengan tergopoh-gopoh sang majikan berkata, "Aduh,
ternyata engkau yang ıelah membeli baju yang ada cacatnya itu. Sekarang,
ambillah dirhammu ini dan kembalikan baju itu kepadaku!" Dengan heran si
Yahudi bertanya, "Apa yang membuatmu jadi sepertİ ini?” Si majikan yang
shalih ini menjawab, "Islam! Rasulullah saw. pernah bersabda, Barangsiapa
menipu, ia bukanlah termasıık golongan kami. Sesaat Yahudi itu tercengang, lalu
berkata, "Ketahuilah bahwa dirham yang aku bayarkan kepadamu itu adalah
palsu. Kini terimalah tiga ribu dirham asli ini sebagai gantinya. Selain itu,
saya akan memberikan tambahan kepadamu lebih banyak lagi. Dan saya
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan
Allah."
Ikhwan sekalian, apa yang menyebabkan si
pedagang itu sampaİ
Saya juga sudah menyampaikan ceramah mengenai
nilai-nilai moral, yaitu tentang sabar, wafa' (memenuhi janji), jujur, dan rasa
malu. Seandainya semua orang mau berpegang teguh pada keempat macam moralitas
ini, nicaya keadaan mereka akan berubah dengan drastis.
Kata "sabar'i sering dimaknai
secara parsial. Saya ingin sampaikan sedikit masalah ini. Ketika orang-orang
menyebut kata "sabar" di benak mereka sering hanya terbayang arti
yang sempit dan terbatas, seperti sikap sabar ketika rnenghadapi musibah
kematian dan sakit. Mereka tidak menyadari bahwa sebenarnya kesabaran yang
mereka pahami itu hanya salah satu dampak dari kesabaran, bukan kesabaran itu
sendiri: Perhatikan kesabaran para pelaku dan aktivis dakwah. Banyak sekali
rintangan yang harus mereka hadapi. Nah, sikap sabar adalah kesiapan untuk mati
di jalannya. Demikian itu karena kematian itu sendiri – baginya - adalah
sesuatu yang paling mulia. Kemuliaan mati di jalan dakwah tidaklah lebih rendah
dibanding kemuliaan mati di medan jihad peperangan, Prinsip ini sangatlah
mendalam.
Renungkanlah hal ini, dan betapa jelas tampak
dalam peristiwa perang Hudaibiyah. Ini dia Makkah. Makkah telah mulai terlihat
oleh kaum muslimin, bahkan ada di hadapan mata mereka. Mereka sangat yakin
dapat memasukinya, sebab Allah swt. memberikan kabar gembira mengenai hal itu.
"Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam
keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu
tidak merasa takut. Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui dan Dia
memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. " (Al-Fath: 27)
Dengan harapan tersebut, muncullah gejolak.
Mereka dihalangi untuk memasuki Makkah dan mundur sambil menunggu sampai waktu
yang panjang dan syarat-syarat yang berat. Di sini terdapat dua sikap berbeda,
antara Umar dan Abu Bakar. Umar bersikap keras, sedangkan Abu Bakar
menyikapinya dengan kesabaran yang tulus. Umar berkata, "Wahai Rasulullah,
bukankah kita berada di atas kebenaran, sedang musuh kita berada di atas
kebatilan?" "Tentu," jawab Rasulullah. "Bukankah Allah
telah menjanjikan kepadamu bahwa engkau akan memasuki Makkah?" tanya Umar.
"Benar," jawab Rasulullah. Dengan 'tidak sabar’ Umar bertanya,
Lain Umar lain pula Abu Bakar ra. Beliau
memiliki keimanan yang kuat dan pendirian kokoh yang tak goyah oleh apa pun.
Beliau berkata kepada Umar, "Tetap, setialah engkau kepada Rasulullah.
Lagi pula, apakah beliau mengatakan kepadamu bahwa Allah akan memasukkan kita
ke kota Makkah pada tahun ini juga?"
Sikap Umar tersebut merupakan bukti semangat
berkorban. Sebaliknyaj sikap Abu Bakar merupakan bukti kesabaran. Dari
peristiwa tersebut, terlihat bahwa pada diri Abu Bakar kesabarannya lebih
dominan daripada semangat berkorban. Sementara pada diri Umar, sikap semangat
berkorbannya mengalahkan kesabarannya. Pada kasus tersebut, sikap Abu Bakar
lebih tepat, dan bahwa kesabaran memang lebih utama daripada semangat
berkorban.
Para pengemban dakwah membutuhkan kesabaran di
dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, karena mereka adalah suri teladan.
Mereka membutuhkan kesabaran di dalam menghadapi berbagai musibah dan cobaan,
karena mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah. Mereka membutuhkan
kesabaran di dalam berjihad, karena jihad merupakan kunci kemenangan. Tiada
kemenangan dan kejayaan tanpa jihad. "Orang-orang yang berjihad (untuk
mencari keridhaan) Kami, maka Kami pasti akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami." (Al-Ankabut: 69)
Allah swt memberikan ujian kepada mujahid.
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan,
'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al-Ankabut: 2)
"Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata
bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kalian dan belum nyata
orang-orang yang bersabar." (Ali Imran: 142)
Allah swt. mencela orang-orang yang bimbang,
yang mau bersabar dalam berdakwah hanya apabila hal itu menguntungkan. Namun
jika mereka mendapat cobaan karena dakwah yang mereka lakukan, mereka pun lalu
berpaling. "Dan sesungguhnya di antara kalian ada orang yang sangat
berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika ada di antara kalian ditimpa
musibah ia berkata, 'Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada
saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka,' Dan sungguh, jika kamu
memperoleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah
belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia, 'Aduhai, kiranya
saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar
pula.'" (An-Nisa: 72-73)
Jika mereka diajak untuk berjuang dan
melakukan sesuatu yang membutuhkan ketabahan atas penderitaan, mereka lalu
mengemukakan berbagai alasan yang dibuat-buat dan berusaha menghindar dengan
melakukan tipuan. "Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak
terkandung dalam hatinya." (Ali Imran: 167) Mereka merasa keberatan dan
berpaling dari menunaikan jihad serta menghalangi yang Iainnya.
Jika kalian tertimpa musibah, seperti kematian
atau kekalahan, maka orang yang berlambat-lambat itu berkata, "Sungguh,
Allah telah menganugerahkan nikmat kepadaku karena aku tidak ikut berjihad
bersama mereka, sehingga aku tidak tertimpa musibah sebagaimana yang menimpa
mereka." Akan tetapi manakala kalian memperoleh karunia dari Allah, serta
nikmat yang berupa ghanimah atau kemenangan, ia mengatakan dengan penuh
penyesalan, "Aduhai, kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya akan
mendapat kernenangan yang besar pula."
Di sini terdapat kalimat sisipan,
"Seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan
dia." Kalimat ini mengingatkan kita akan lemahnya aqidah mereka, dan bahwa
perkataan seperti ini adalah perkataan orang yang tidak memiliki hubungan sama
sekali dengan mereka yang berjihad itu; seakan dia tidak pernah mengenal
mereka. "Bukankah Allah lebih mengetahui tentang apa yang ada dalam dada
semua manusia." (Al-Ankabut: 10)
Kemudian Allah menyetempel mereka dengan keputusan
yang mengerikan. "Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah
dengan berada di 'tepi', maka jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam
keadaan itu, dan jika ia ditimpa suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah
ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugianyang nyata."
(Al-Hajj: 11)
Para da'i harus mengerti betul bahwa mereka
memiliki tanggung iawab besar untuk memfokuskan perhatian kepada dakwah mereka.
Harus pula disadari båhwa prinsip-prinsip yangdiserukan adalah mengubah kondisi
manusia. Karenanya para da'i harus siap memikul tanggung jawab ini dan harus
mampu bersabar, dengan tekad yang kuat, keimanan yang kokoh, dan keyakinan yang
bersih dari keraguan.
Para pendahulu kita telah meraih ini semua,
sehingga mereka berbahagia dengannya dan mampu mengalahkan musuh-musuh mereka.
Adalah merupakan bagian dari
keajaiban-keajaiban ilahiyah
Al-Qur'an telah mengisahkan bahwa seorang
penguasa kafir membuat sebuah parit, lalu menggiring orang-orang ke mulut parit
itu. Barangsiapa mau menerima kebatilan penguasa itu, ia akan menyelamatkannya
dari parit tersebut. Sedangkan siapa saja yang menentangnya, ia akan dimasukkan
ke dalamnya. Namun hal ini bukan berarti bahwa para da'i umat-umat terdahulu
lebih kuat kesabarannya dibanding dengan da'i-da'i umat Muhammad saw., atau
berarti bahwa da'i umat Muhammad lebih lemah perjuangannya dibanding mereka. Sesungguhnya
rahmat Allah terhadap umat ini jauh lebih sempurna dan lebih banyak. Allah swt.
berfirman, "Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
memerintahkan yang ma'ruf dan mencegah perbuatan mungkar, dan beriman kepada
Allah." (Ali Imran: 110)
Kita harus mengokohkan tekad kita untuk bisa
bersabar serta siap mengemban tugas-tugas yang tidak kita sukai karena
beratnya, sehingga Allah akan membimbing kita di jalan para pekerja dakwah.
Kita mesti menyandang akhlak sabar dengan pengertian yang lebih luas lagi, agar
kita bisa berjuang di jalan Allah. "Sesungguhnya Allah pasti menolong
siapa saja yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi
Mahaperkasa." (Al-Hajj: 40)
Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam
kepada penghulu kita Nabi Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.
No comments:
Post a Comment