Hadits Ketiga Puluh Enam
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
«مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ
عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ،
يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا،
سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ،
مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ
عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا جَلَسَ
قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ،
وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ،
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ
فَيَمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ»
رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Barangsiapa meringankan orang
Mukmin dari salah satu kesempitan dunia maka Allah meringankannya dari salah
satu kesempitan Hari Kiamat, barangsiapa memberi kemudahan
kepada orang yang kesulitan maka Allah memberi
kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa menutupi orang Muslim maka Allah menutupinya
di dunia dan akhirat. Allah menolong
hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk
mencari ilmu di dalamnya maka Allah memudahkannya di jalan ke surga. Tidaklah satu kaum duduk di salah satu rumah Allah;
mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya sesama mereka, melainkan ketenangan turun pada mereka, rahmat
meliputi mereka, para malaikat
mengelilingi mereka, dan Allah ingat (menyebut) mereka pada makhluk yang ada di samping-Nya. Barangsiapa amalnya lamban,
maka ia tidak bisa dipercepat oleh
nasabnya”. (Diriwayatkan Muslim). [1]
Hadits bab ini diriwayatkan Muslim dari
riwayat Al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah. Ini
ditentang sejumlah hafidz hadits,
misalnya Abu Al-Fadhl Al-Harawi dan Ad-Daruquthni, karena Asbath bin Muhammad
meriwayatkan hadits tersebut dari
Al-A'masy. Asbath bin Muhammad
berkata, "Aku diberi hadits dari
Abu Shalih”. [2]) Jadi,
jelaslah bahwa Al-A'masy tidak mendengar hadits tersebut dan Abu Shalih dan ia
tidak menyebutkan orang yang mendapatkan hadits tersebut dari Abu Shalih, namun At-Tirmidzi dan lain-lain
menguatkan riwayat ini. Salah
seorang sahabat Al-A'masy menambahkan
di teks hadits,
"Dan barangsiapa menerima pembatalan akad orang Muslim maka Allah menerima
pembatalan kekeliruannya pada Hari Kiamat".
[3])
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits di Shahih-nya
masing-masing dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Orang Muslim adalah saudara Muslim lainnya; ia tidak mendzaliminya
dan tidak menyerahkannya. Barangsiapa berada dalam
kebutuhan saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya. Barangsiapa
meringankan orang Muslim maka Allah meringankannya dari salah satu kesempitan
Hari Kiamat dan barangsiapa menutupi orang Muslim maka Allah
menutupinya pada Hari Kiamat”. [4])
Ath-Thabrani [5]) meriwayatkan hadits dari Ka'ab bin Ujrah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Barangsiapa meringankan orang Mukmin dari salah satu kesempitan
dunia maka
Allah meringankannya dari salah satu kesempitan Hari Kiamat, barangsiapa menutupi aurat orang Muslim maka Allah
menutupi auratnya, dan barangsiapa
menghilangkan kesempitan dari orang Mukmin maka Allah menghilangkan kesempitan darinya”.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Maslamah bin Mukhallad Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Barangsiapa menutupi orang Muslim maka Allah menutupinya di dunia dan
akhirat, barangsiapa menyelamatkan orang yang sedih maka Allah menghilangkan
salah satu kesempitan Hari Kiamat darinya, dan barangsiapa berada dalam
kebutuhan saudaranya maka Allah berada dalam kebutuhannya”. [6])
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa meringankan orang Mukmin dari salah satu kesempitan dunia
maka Allah meringankannya dari salah
satu kesempitan Hari Kiamat",
karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Hadits-hadits tentang makna ini banyak sekali,
misalnya sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Sesungguhnya
Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang". [7])
Atau sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
“Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia”. [8])
Kurbah (kesempitan) di hadits bab ini ialah kesempitan yang
luar biasa yang menyebabkan
pelakunya sedih dan upaya meringankannya ialah dengan meringankan kesempitan tersebut dari pelakunya namun menghilangkan
kesempitan tersebut lebih agung, yaitu menghilangkan kesempitan tersebut
dari pelakunya hingga kesempitan tersebut hilang dari pelakunya dan sedihnya
pun sirna. Jadi balasan peringanan
kesempitan ialah peringanannya dan penghilangan kesempitan adalah penghilangannya, seperti terlihat di hadits
Ibnu Umar, tapi kedua hal tersebut disebutkan
bersamaan di hadits Ka'ab bin Ujrah.
At-Tirmidzi [9])
meriwayatkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Siapa saja di antara orang Mukmin yang memberi makan kepada orang yang
lapar, maka Allah memberinya makan pada Hari Kiamat dari buah-buahan surga.
Siapa saja di antara orang Mukmin yang memberi air minum kepada
orang yang haus, maka Allah memberinya air minum pada Hari Kiamat
dari minuman murni yang tertutup. Siapa saja di antara orang Mukmin
yang memberi pakaian kepada orang yang telanjang, maka Allah memberinya
pakaian dari pakaian warna hijau dari surga”.
Ibnu Abu Ad-Dunya [10]) meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu yang berkata,
"Pada Hari
Kiamat, manusia dikumpulkan dalam
keadaan lebih telanjang daripada sebelumnya,
lebih lapar daripada sebelumnya, lebih
haus daripada sebelumnya, dan lebih lelah daripada sebelumnya. Karenanya, barangsiapa memberi pakaian karena Allah Azza
wa Jalla maka Allah memberinya pakaian,
barangsiapa memberi makan karena Allah Azza wa jalla maka Allah memberinya makan,
barangsiapa memberi air minum karena Allah Azza wa Jalla maka Allah memberinya
air minum, dan barangsiapa memaafkan karena Allah Azza wa jalla maka Allah memaafkannya”.
Al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda bahwa
salah seorang penghuni surga
melihat penghuni neraka pada Hari Kiamat kemudian ia dipanggil salah seorang dari penghuni neraka, "Hai si Fulan, apakah engkau
mengenaliku?" Orang dari penghuni surga
tersebut berkata, "Tidak, demi Allah aku tidak mengenalimu. Siapa
engkau?" Orang dari penghuni neraka
tersebut berkata, "Aku orang
yang engkau pernah berjalan melewatiku di dunia kemudian engkau meminta air minum kepadaku lalu
aku memberimu air minum”. Orang dari
penghuni surga berkata,
"Sekarang aku mengenalimu”. Orang dari penghuni neraka berkata,
"Mintalah syafa'at dengannya untukku
kepada Tuhanmu”. Kemudian orang dari penghuni surga tersebut meminta kepada Allah Azza wa jalla dengan berkata, "Berilah aku hak untuk
memberi syafa'at kepadanya”. Allah memerintahkan orang dari
penghuni surga tersebut memberi
syafa'at kepada orang dari penghuni neraka tersebut kemudian orang dari penghuni neraka tersebut
dikeluarkan dari neraka. [11])
Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
"Dari salah satu kesempitan Hari
Kiamat", dan tidak bersabda,
"Dari salah satu kesempitan
dunia dan akhirat", seperti
yang beliau sabdakan di pemudahan kesempitan dan menutup aurat. Tentang hal ini, ada yang mengatakan bahwa kurab yang
merupakan kesempitan yang luar biasa
itu tidak terjadi pada semua manusia. Kurab berbeda dengan kesulitan dan aurat yang butuh ditutup yang hampir terjadi pada semua manusia, kendati
ada di antara mereka yang mendapatkan kesulitan dalam memenuhi salah satu
kebutuhan penting. Ada lagi yang
mengatakan bahwa kurab dunia tidak bisa dibandingkan dengan kurab
akhirat, karenanya, Allah
menyimpan pahala meringankan kurab di sisi-Nya
agar dengannya Dia meringankan kurab
akhirat dari orang tersebut. Ini
diperkuat sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam,
"Allah mengumpulkan manusia dan generasi pertama hingga generasi terakhir
di satu tempat kemudian penyeru memperdengarkan suara kepada mereka,
penglihatan Allah meliputi mereka, matahari dekat dengan mereka, dan
manusia sampai pada puncak kesedihan dan kesempitan yang tidak mampu mereka tahan dan
tanggung. Sebagian manusia berkata kepada sebagian
lainnya, 'Tidakkah kalian lihat apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian
tidak melihat orang yang bisa meminta syafa'at untuk kalian kepada Tuhan kalian", dan seterusnya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits semakna dari Abu Hurairah. [12])
Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dan Aisyah Radhiyallahu
Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Kalian dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki, telanlang, dan
tidak berkhitan”. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, orang
laki-laki dan perempuan saling melihat yang lain?" Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Perkaranya lebih dahsyat
daripada apa yang mereka inginkan”. [13])
Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta'ala, 'Pada hari itu, manusia berdiri kepada
Tuhan semesta alam".
(Al-Muthaffifin: 6) kemudian beliau
bersabda, 'Salah seorang dari
mereka berdiri sementara keringatnya
sampai ke separoh kedua telinganya". [14])
Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu
Anhu dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
'Pada Hari Kiamat, manusia berkeringat hingga keringat mereka habis di
bumi selama tujuh puluh tahun dan mengalir hingga mulut mereka hingga sampai
di telinga mereka’. Teks tersebut menurut Al-Bukhari dan teks Muslim
ialah, "Sesungguhnya keringat pasti habis di bumi selama tujuh puluh tahun
dan pasti sampai ke mulut manusia atau hingga telinga mereka”. [15])
Muslim [16])
meriwayatkan hadits dari Al-Miqdad Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
'Matahari dekat dengan hamba-hamba hingga sebatas satu atau dua mil
kemudian matahari membuat mereka mencair (berkeringat) lalu mereka berada di
keringat sesuai dengan perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan
oleh keringatnya hingga kedua tumitnya, ada yang ditenggelamkan
keringatnya hingga kedua lututnya, ada yang ditenggelamkan keringatnya
hingga pinggangnya, dan di antara mereka ada yang ditenggelamkan
sampai ke mulutnya hingga ia tidak bisa bicara”.
Ibnu Mas'ud berkata, "Pada Hari Kiamat, semua bumi adalah api dan
dari belakang surga engkau bisa melihat gelas-gelas dan wanita-wanita yang
montok payudaranya kemudian seseorang berkeringat hingga
keringatnya merembes ke bumi sepanjang postur tubuh kemudian keringat tersebut
naik lagi hingga mencapai hidungnya, padahal hisab belum terjadi padanya”.
Dikatakan, "Kenapa ia bisa begitu, wahai Abu Abdurrahman?" Ibnu
Mas'ud menjawab, "Karena ia melihat manusia diperbuat seperti itu”.
Abu Musa berkata, "Pada Hari Kiamat, matahari berada di atas kepala
manusia sedang amal perbuatan mereka menaungi mereka atau memperlihatkan mereka".
[17])
Di dalam Al-Musnad [18])
disebutkan hadits dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Setiap orang berada dalam naungan
sedekahnya hingga perkaranya sesama manusia
diputuskan”.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allah
memberi kemudahan kepadanya di dunia
dan akhirat”. Ini menunjukkan
bahwa kesulitan bisa jadi terjadi di akhirat, karena Allah menjelaskan bahwa Hari Kiamat adalah hari yang sulit dan
tidak mudah bagi orang-orang kafir. Ini menunjukkan bahwa Hari Kiamat
itu mudah bagi selain mereka. Allah Ta'ala berfirman,
"Dan adalah (hari
itu) satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir".
(Al-Furqan: 26).
Memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan dengan uang di dunia bisa
dengan dua cara;
Pertama, memberinya kelonggaran waktu sampai pada waktu lapang dan ini
hukumnya wajib, karena Allah Ta'ala berfirman, "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan”. (Al-Baqarah:
280).
Kedua, dengan menghapus hutangnya jika orang tersebut berhutang.
Jika tidak, maka dengan memberinya sesuatu yang bisa menghilangkan
kesulitannya.
Kedua hal tersebut merupakan perbuatan luhur.
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan
hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
'Seorang pedagang memberi pinjaman kepada manusia. Jika ia
melihat orang
kesulitan membayar hutangnya, ia berkata kepada anak-anaknya, 'Maafkan dia,
mudah-mudahan Allah memaafkan kita'. Allah
pun memaafkannya”. [19])
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim juga
disebutkan hadits dari Hudzaifah dan Abu Mas'ud Al-Anshari yang keduanya
mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Seseorang meninggal dunia lalu dikatakan kepadanya kemudian ia menjawab,
'Dulu aku pernah melakukan jual-beli
dengan manusia kemudian aku memaafkan orang yang berada
dalam kondisi lapang
dan memberi keringanan kepada orang yang berada dalam kondisi sulit'. Di
riwayat lain disebutkan bahwa orang tersebut berkata,
"Dulu aku memberi tempo waktu kepada orang yang kesulitan
dan memaafkan mata uang - atau ia
berkata uang -", kemudian ia diampuni”. [20])
Hadits tersebut juga diriwayatkan Muslim [21]) dari Abu Mas'ud Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Di haditsnya, Muslim berkata bahwa Nabi Shallallahu Alailui
wa Sallam bersabda,
'Kemudian Allah berfirman, 'Kami lebih berhak seperti itu daripada dia. Maafkan
dia".
Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Qatadah Radhiyallahu
Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Siapa
ingin diselamatkan Allah dari salah
satu kesempitan Hari Kiamat, hendaklah ia
meringankan orang yang berada dalam kondisi kesulitan atau hapuslah hutang darinya”. [22])
Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Al-Yasar Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Barangsiapa memberi kelonggaran waktu kepada orang yang berada
dalam kondisi
sulit atau menghapus hutang darinya, maka Allah menaunginya di naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali
naungan-Nya”. [23])
Di Al-Musnad [24])
disebutkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
'Barangsiapa ingin doanya dikabulkan dan kesempitannya dihilangkan, hendaklah
ia memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kondisi sulit”.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim maka Allah menutupnya di dunia
dan akhirat”. Banyak sekali dalil-dalil serupa dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut.
Ibnu Majah [25])
meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Barangsiapa menutupi aurat saudaranya yang Muslim maka Allah
menutup auratnya
pada Hari Kiamat dan barangsiapa membuka aurat saudaranya yang Muslim maka Allah membuka auratnya hingga Dia
menjelek-jelekkannya dengan auratnya tersebut di rumahnya”.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu
Anhu yang mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Barangsiapa menutupi (aib) orang Mukmin di dunia maka Allah Azza
wa jalla menutupinya pada Hari Kiamat”. [26])
Diriwayatkan dari salah seorang dari generasi salaf yang berkata,
"Aku pemah berjumpa dengan kaum yang tidak mempunyai aib kemudian
mereka menyebutkan aib-aib manusia lalu manusia menyebutkan aib-aib mereka.
Aku juga pernah bertemu kaum yang mempunyai aib-aib, kemudian mereka menjaga
aib-aib manusia, kemudian
aib-aib mereka dilupakan”. Atau seperti yang ia katakan.
Perkataan
tersebut diperkuat hadits Abu Barzah Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Hai
orang-orang yang beriman dengan lidahnya tapi iman tidak masuk ke hatinya, kalian jangan menggunjing kaum Muslimin
dan jangan mencari-cari aib mereka,
karena barangsiapa mencari-cari aib mereka maka Allah mencari-cari aibnya dan barangsiapa aibnya
dicari-cari Allah maka Allah menjelek-jelekkannya di rumahnya”. (Diriwayatkan
Imam Ahmad dan Abu Daud). [27]
At-Tirmidzi meriwayatkan hadits semakna dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma. [28])
Ketahuilah bahwa manusia terbagi ke dalam dua kelompok;
Pertama: Orang yang tidak dikenal melakukan salah satu
kemaksiatan. Jika terjadi kekeliruan padanya, kekeliruan tersebut tidak
boleh dibongkar dan dibicarakan, karena itu termasuk ghibah (menggunjing)
yang diharamkan. Banyak dalil terkait dengan masalah ini, di
antaranya ialah firman Allah Ta'ala,
"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji
itu tersiardi kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka
adzab yang pedih di dunia dan di akhirat". (An-Nuur: 19).
Maksud ayat di atas ialah menyebarkan perbuatan keji orang Mukmin yang perbuatannya
tidak diketahui atau ia dituduh sesuatu yang ia sebenarnya bebas daripadanya,
seperti yang terjadi di kisah berita bohong yang menimpa Aisyah. Salah seorang
menteri yang shalih berkata kepada orang yang melakukan amar ma'ruf, "Hendaklah engkau
berusaha menutup para pelaku maksiat karena terbongkarnya kemaksiatan-kemaksiatan mereka adalah aib bagi para pemeluk
agama Islam”. Masalah yang paling
penting ialah menutup aib. Misalnya, jika seseorang datang dalam keadaan
bertaubat, menyesal, dan mengaku berbuat maksiat, namun ia tidak bisa
menjelaskan dan tidak diminta memberi penjelasan, maka orang tersebut diperintahkan pulang dan menutup aib
dirinya, seperti yang diperintahkan Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Maiz dan wanita dari kabilah Al-Ghamidi. Dan seperti orang yang berkata di bawah ini tidak
diminta memberi penjelasan lebih lanjut tentang kemaksiatannya, "Aku telah
berbuat maksiat maka jatuhkan hukuman kepadaku”. Contoh lain, jika seseorang
melakukan tindak kejahatan dan tindak kejahatannya tidak sampai terdengar
penguasa, maka orang tersebut diberi pembelaan
agar tindak kejahatannya tidak sampai terdengar penguasa. Tentang hal ini ada hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Maafkan seluruh kesalahan orang-orang yang akhlaknya baik".
(Diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasai dari Aisyah). [29]
Kedua: Orang yang terkenal melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dengan terang-terangan tanpa memperdulikan
kemaksiatan-kemaksiatan yang telah ia kerjakan
dan komentar manusia terhadap dirinya. Orang seperti ini jelas orang jahat terang-terangan dan menggunjingnya tidak
apa-apa. Ini ditegaskan Al-Hasan Al-Bashri dan lain-lain. Orang seperti
itu harus diselidiki untuk dijatuhi hudud.
Ini ditegaskan sebagian
sahabat-sahabat kami. Ia berhujjah dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Hai Unais,
pergilah kepada wanita ini jika ia mengaku, rajamlah dia”. [30]) Orang seperti itu tidak wajib dibela jika
tertangkap kendati beritanya tidak sampai terdengar penguasa, namun ia
dibiarkan hingga hudud dijatuhkan terhadapnya agar ia berhenti dari kejahatannya dan orang-orang
sepertinya juga kapok tidak mengulangi perbuatannya. Imam Malik berkata,
"Orang yang tidak dikenal menyakiti manusia namun melakukan kesalahan maka
tidak apa-apa ia dibela selagi
informasinya belum terdengar oleh penguasa. Sedang orang yang terkenal berbuat jahat atau kerusakan maka aku tidak
senang kalau ia dibela siapa pun, namun ia dibiarkan hingga had
dijatuhkan kepadanya”. Ini dikisahkan Ibnu Al-Mundziri
dan lain-lain.
Imam Ahmad memandang makruh melaporkan orang-orang fasik kepada penguasa dalam kondisi apa
pun. Ia memandang makruh, karena pada umumnya penguasa
tidak menjatuhkan hudud sebagaimana semestinya. Oleh karena itu, ia
berkata, "Jika engkau tahu penguasa tersebut menjatuhkan had kepadanya,
maka laporkan orang fasik tersebut
kepadanya”. Imam Ahmad menyebutkan bahwa orang-orang memukuli seseorang hingga
tewas. Dalam kasus tersebut, pembunuhan tidak diperbolehkan.
Jika salah seorang dari kelompok pertama bertaubat, afdhalnya
ia bertaubat antara dirinya dengan Allah Ta'ala dan
menutup aibnya.
Sedang jika salah seorang dari kelompok kedua bertaubat, ia juga
sebaiknya bertindak seperti itu. Ada lagi yang berkata bahwa
sebaiknya ia menghadap kepada penguasa dan mengakui kesalahannya yang menyebabkan
dirinya mendapatkan had agar ia bersih.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong
saudaranya”. Di hadits Ibnu Umar disebutkan bahwa
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Dan barangsiapa berada dalam kebutuhan
saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya”. Sebelumnya
di syarah hadits
kedua puluh lima dan kedua puluh enam dijelaskan keutamaan memenuhi kebutuhan. Ath-Thabrani [31])
meriwayatkan hadits dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Perbuatan terbaik ialah memasukkan kebahagiaan kepada orang
Mukmin; engkau menutup auratnya, atau mengenyangkan kelaparannya,
atau memenuhi kebutuhannya”.
Al-Hasan Al-Bashri mengutus beberapa orang dari sahabat-sahabatnya
untuk memenuhi kebutuhan seseorang dan ia berkata kepada mereka,
"Hendaklah kalian berjalan melewati Tsabit Al-Bunani dan bawalah dia
bersama kalian”. Mereka pun datang kepada Tsabit Al-Bunani yang kemudian berkata,
"Aku sedang i'tikaf”. Mereka menemui Al-Hasan Al-Bashri dan bercerita kepadanya
tentang perihal Tsabit Al-Bunani. Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Katakan
kepada Tsabit Al-Bunani, 'Hai A'masy, tidakkah engkau tahu bahwa jalanmu untuk
memenuhi kebutuhan saudaramu yang Muslim itu lebih baik daripada berhaji sekian
kali?"' Mereka menemui Tsabit Al-Bunani untuk kedua kalinya kemudian Tsabit
Al-Bunani meninggalkan i'tikafnya
dan ikut bersama mereka.
Imam Ahmad [32])
meriwayatkan hadits dari putri Khabbab bin Al-Arat yang berkata, "Khabbab keluar di detasemen. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperhatikan kami hingga beliau memerah kambing
untuk kami di mangkok hingga mangkok
tersebut penuh dan meluber. Ketika Khabbab datang, ia memerah kambing tersebut
dan susunya kembali seperti semula”.
Abu Bakar Ash-Shiddiq memerah kambing-kambing untuk salah satu kampung. Ketika ia diangkat
menjadi khalifah, salah seorang wanita kampung tersebut berkata, "Sekarang Abu Bakar tidak lagi memerah
kambing-kambing”. Abu Bakar berkata,
"Tidak, justru aku berharap kiranya aku tidak bisa dirubah oleh sesuatu yang telah aku masuki dari hal-hal yang
biasa aku kerjakan”. Atau seperti yang
dikatakan Abu Bakar.
Orang laki-laki memerah susu karena dalam tradisi Arab, orang-orang
wanita tidak memerah susu dan orang-orang Arab memandang buruk
hal tersebut. Jika orang-orang laki pergi, maka para wanita membutuhkan
orang laki-laki yang memerah susu untuk mereka. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang
bersabda kepada salah satu kaum, "Kalian jangan memberiku minum dari perahan wanita”. [33])
Umar bin Khaththab sering mendatangi para janda kemudian mengambil air untuk
mereka pada malam hari. Pada suatu malam, Umar bin Khaththab dilihat Thalhah
masuk ke rumah seorang wanita kemudian Thalhah masuk ke rumah wanita tersebut
pada siang harinya, ternyata wanita tersebut wanita tua, buta, dan lumpuh.
Thalhah bertanya kepada wanita tersebut, "Apa yang diperbuat orang
laki-laki tadi malam di rumahmu?" Wanita tersebut menjawab,
"Orang ini sejak waktu yang lama datang kepadaku dengan membawa sesuatu yang membuatku baik dan mengeluarkan gangguan dariku”. Thalhah berkata, "Semoga ibumu
menjanda - kalimat nada heran -, hai
Thalhah, kenapa engkau menyelidiki aurat-aurat Umar?" [34])
Abu Wail berkeliling mendatangi wanita-wanita kampung dan orang-orang lansia
setiap hari kemudian ia membeli kebutuhan untuk mereka dan apa saja yang membuat
mereka baik.
Mujahid berkata, "Aku pernah menemani Ibnu Umar di perjalanan untuk melayaninya,
namun justru ia yang melayaniku”. [35])
Banyak di antara orang-orang shalih memberi syarat kepada sahabat-sahabatnya di perjalanan agar
ia yang melayani mereka.
Seseorang menemani salah satu kaum di jihad dan membuat persyaratan kepada
mereka agar ia yang melayani mereka. Sesudahnya, jika salah seorang dari mereka
ingin membersihkan rambut atau pakaiannya, orang tersebut berkata, "Ini termasuk
persyaratanku”. Ia pun mencucinya. Ketika orang tersebut meninggal dunia
dan orang-orang melepas pakaiannya untuk dimandikan, ternyata mereka melihat
di tangannya tertulis, "Penghuni surga”. Mereka mengamati ternyata tulisan
tersebut ditulis di antara kulit dengan daging.
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata,
"Kami bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di perjalanan. Di
antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Di
hari yang panas kami berhenti di satu tempat. Orang yang paling berteduh
adalah pemilik pakaian dan di antara kami ada yang berlindung diri dari
terik matahari dengan
tangannya. Orang-orang yang berpuasa pun jatuh sedang orang-orang yang tidak berpuasa tetap berdiri. Mereka
memasang kemah dan memberi minum
kepada para pengendara kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Pada hari ini,
orang-orang yang tidak berpuasa pergi dengan membawa pahala”. [36])
Diriwayatkan dari seseorang dari Aslam bahwa makanan disuguhkan kepada Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam di salah satu perjalanan beliau kemudian beliau dan para
sahabat makan makanan tersebut, sedang orang dari Aslam tersebut menahan
tangannya. Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda
kepada orang dari Aslam tersebut, "Ada
apa denganmu?" Orang dari Aslam tersebut berkata, "Aku berpuasa”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda
kepadanya, "Kenapa engkau berpuasa?" Orang dari Aslam tersebut
berkata, "Aku bersama dua orang anakku
yang bepergian untukku dan melayaniku”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Mereka selalu mempunyai kelebihan atas engkau”.
Di Maraasilu Abu Daud [37]) disebutkan hadits dari Abu Qilabah bahwa beberapa orang dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba dengan
memuji salah seorang sahabat mereka yang mempunyai kebaikan atas mereka. Mereka berkata, "Kami tidak pernah
melihat orang seperti si Fulan. Ia tidak berjalan melainkan dalam keadaan membaca Al-Qur'an dan kami tidak
berhenti di satu tempat melainkan ia shalat”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Siapa yang memenuhi kebutuhannya?"
hingga beliau bersabda, "Siapa yang mencari rumput untuk untanya atau hewan kendaraannya?" Mereka
berkata, "Kami”. Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
"Kalian semua lebih baik daripada
dia”.
Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Barangsiapa menempuh
jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkannya jalan ke
surga”. Hadits semakna diriwayatkan Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. [38]) Termasuk menempuh jalan untuk mencari ilmu ialah
menempuh jalan hakiki, yaitu berjalan
kaki ke majlis-majlis ulama dan menempuh jalan-jalan abstrak yang menyebabkan seseorang mendapatkan ilmu
seperti menghapalnya, mempelajarinya,
mendiskusikannya, menulisnya, memahaminya, dan jalan-jalan abstrak lainnya yang
menyebabkan seseorang
mendapatkan ilmu.
Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Maka Allah
memudahkannya jalan ke surga”. Bisa jadi maksudnya bahwa Allah memudahkannya kepada ilmu
yang ia cari, menempuh jalannya, dan
memberi kemudahan kepadanya, karena ilmu adalah jalan ke surga. Ini seperti
difirmankan Allah Ta'ala,
"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran,
maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Al-Qamar:
17).
Salah seorang
dari generasi salaf [39])
berkata, "Maksud ayat di atas, 'Adakah pencari
ilmu kemudian ia dibantu dalam mencarinya?"
Bisa jadi, yang dimaksud sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di atas ialah
bahwa Allah memberi kemudahan kepada pencari ilmu jika ia mencarinya karena
ingin mendapatkan keridhaan Allah, mengambil manfaat darinya, dan mengamalkan
konsekwensinya. Jadi, ilmu menjadi penyebab ia mendapatkan petunjuk
dan masuk surga.
Terkadang Allah
memberi kemudahan kepada pencari ilmu dengan memberinya ilmu-ilmu yang dapat ia manfaatkan dan mengantarkannya ke surga,
seperti dikatakan, "Barangsiapa
mengerjakan apa yang diketahuinya, maka Allah memberinya ilmu tentang hal-hal yang belum ia
ketahui”. Atau seperti dikatakan, "Pahala kebaikan ialah kebaikan sesudahnya”. Ini diperkuat firman Allah Ta'ala,
"Dan
Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk". (Maryam: 76).
Dan juga ditunjukkan firman Allah Ta'ala,
"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada
mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya”. (Muhammad:
17).
Termasuk dalam cakupan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah pemberian kemudahan di jalan
surga pada Hari Kiamat, yaitu shirath beserta kedahsyatan sebelum dan sesudahnya. Itu semua dimudahkan bagi pencari ilmu
agar ia mendapatkan manfaat dari
ilmunya, karena ilmu menunjukkan seseorang kepada Allah daripada jalan-jalan kepada-Nya yang lain.
Jadi, barangsiapa menempuh jalan ilmu
dan tidak berpaling darinya, ia tiba kepada Allah dan surga daripada jalan-jalan
lain yang paling dekat dan mudah. Karenanya, semua jalan ke surga di dunia dan akhirat menjadi mudah bagi pencari ilmu.
Jadi, tidak ada jalan untuk kenal
Allah, tiba di keridhaan-Nya, sukses berdekatan dengan-Nya, dan bertetanggaan
dengan-Nya di akhirat, kecuali dengan ilmu yang
bermanfaat di mana Allah mengutus
para Rasul-Nya dengan ilmu tersebut dan menurunkan Kitab-kitab-Nya dengannya.
Ini bukti bagi pencari ilmu dan dengan ilmu itu pula ia mendapatkan petunjuk di kegelapan kebodohan, syubhat, dan
keragu-raguan. Oleh karena itu, Allah
menamakan Kitab-Nya sebagai cahaya, karena memberi petunjuk di kegelapan. Allah Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan
kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki
orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan Allah
mengeluarkan orang-orang dari gelap-gulita kepada cahaya yang
terang-benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (Al-Maidah
15-16).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumpamakan
para pengemban ilmu yang beliau bawa seperti bintang-bintang yang dijadikan
sebagai petunjuk di kegelapan. Di Al-Musnad [40]) disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di
langit yang dijadikan sebagai petunjuk di kegelapan daratan dan lautan.
jika bintang-bintang hilang sinarnya, maka para juru petunjuk nyaris tersesat”.
Jika ilmu tetap ada di bumi, manusia senantiasa berada di atas petunjuk
dan ilmu abadi dengan keberadaan para pengembannya. Jika para pengembannya
dan orang-orang yang mengamalkannya tidak ada lagi, manusia jatuh dalam
kesesatan. Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan
hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu
Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Sesungguhnya Allah tidak mencabut dengan mencabutnya dari dada manusia,
namun Dia mencabutnya dengan mencabut para ulama. Jika orang ulama
tidak ada lagi, maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin;
jika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan
menyesatkan". [41])
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan
bahwa ilmu akan hilang pada suatu hari. Ditanyakan kepada beliau,
"Bagaimana ilmu hilang, padahal kita membaca Al-Qur’an dan membacakannya
kepada wanita-wanita dan anak-anak kami?" Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Taurat dan Injil masih ada di tangan
orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen, namun mereka tidak mendapatkan
manfaat darinya”. Ubadah bin Ash-Shamit pernah ditanya tentang hadits ini
kemudian ia menjawab, "Jika aku mau, aku jelaskan kepadamu tentang ilmu
yang pertama kali dicabut dari manusia, yaitu khusyu'“. [42])
Ubadah bin Ash-Shamit berkata seperti itu, karena ilmu terbagi ke dalam
dua jenis;
- Ilmu yang buahnya ada di hati manusia. Ilmu tersebut
adalah ilmu tentang Allah Ta'ala, Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan Perbuatan-perbuatan-Nya yang membuat orang takut kepada Allah,
segan kepada-Nya, mengagungkan-Nya,
tunduk kepada-Nya, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa
kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, dan lain sebagainya. Itulah ilmu yang bermanfaat seperti dikatakan Ibnu
Mas'ud, "Banyak orang membaca
Al-Qur'an namun Al-Qur'an tidak melewati tulang selangka mereka. Tapi jika Al-Qur'an mengenai hati
kemudian bersemayam di dalamnya,
itulah yang bermanfaat”.
Al-Hasan berkata, "Ilmu ada dua; Pertama, ilmu di
lidah. Itulah hujjah Allah pada manusia. Kedua, ilmu di hati. Itulah ilmu yang bermanfaat”. [43])
- Ilmu di lidah. Itulah hujjah
Allah seperti dikatakan di hadits, "Al-Qur’an adalah
hujjah bagimu atau atasmu”. [44])
Jadi, ilmu yang pertama kali dicabut ialah ilmu yang bermanfaat,
yaitu ilmu batin yang menyatu dengan hati dan memperbaikinya.
Sedang yang tersisa ialah ilmu di lidah kemudian manusia; para
pengembannya atau selain mereka, menyia-nyiakannya dan tidak mengamalkannya.
Kemudian ilmu hilang dengan kematian para pengembannya,
akibatnya, Al-Qur'an hanya ada di mushaf tanpa ada orang yang mengerti
makna-maknanya, batasan-batasannya, dan hukum-hukumnya. Hal tersebut berkembang
terus hingga akhir zaman kemudian tidak ada yang tersisa di mushaf dan hati. Setelah itu, Kiamat terjadi, seperti
disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Hari Kiamat tidak terjadi kecuali pada manusia yang jahat”. [45])
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga
bersabda,
"Kiamat tidak terjadi pada saat di bumi ada orang
yang berkata, ‘Allah. Allah'".
[46])
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tidaklah satu kaum duduk di salah satu rumah Allah; mereka membaca
Kitabullah dan mengkajinya sesama mereka, melainkan ketenangan turun
pada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan
Allah menyebut mereka di makhluk yang ada di samping-Nya”. Sabda tersebut menjadi dalil
tentang disunnahkannya duduk di masjid-masjid
untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Ini jika sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut ditafsirkan kepada mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. Jadi, tidak ada perbedaan
pendapat tentang disunnahkannya duduk
di masjid-masjid untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Di Shahih Al-Bukhari
disebutkan hadits dari
Utsman Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Orang terbaik dari kalian ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an
dan mempelajarinya”. [47])
Abu Abdurrahman As-Sulami berkata, "Itulah yang membuatku duduk di tempat
dudukku ini”. Abu Abdurrahman As-Sulami mengajarkan Al-Qur'an pada zaman
kekhalifahan Utsman bin Affan hingga pada masa Al-Hajjaj bin Yusuf.
Jika sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam di atas ditafsirkan kepada makna yang lebih umum, maka
mencakup berkumpul di masjid-masjid untuk mengkaji Al-Qur'an secara mutlak, karena terkadang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh seseorang membaca Al-Qur'an agar beliau bisa mendengarkan
bacaannya, seperti misalnya beliau menyuruh Ibnu Mas'ud membaca Al-Qur'an. Beliau bersabda, "Aku ingin mendengarnya dari
orang lain". [48]) Umar
bin Khaththab menyuruh seseorang membaca Al-Qur'an, sedang ia dan
sahabat-sahabat lain mendengarkannya.
Terkadang Umar bin Khaththab menyuruh Abu Musa atau Uqbah bin Amir.
Ibnu Abbas pernah
ditanya, "Perbuatan apakah yang paling baik?" Ibnu Abbas menjawab, "Dzikir kepada Allah.
Tidaklah suatu kaum duduk di salah satu rumah Allah kemudian mereka membaca dan mempelajari Al-Qur'an sesama mereka, melainkan para malaikat menaungi mereka
dengan sayap-sayapnya dan mereka
adalah tamu-tamu Allah selagi mereka dalam kondisi seperti itu hingga mereka
beralih kepada pembahasan lain”. Perkataan yang sama diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, namun yang lebih benar perkataan tersebut dari Ibnu
Abbas.
Yazid Ar-Raqasyi
meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata,
"Setelah mengerjakan shalat Shubuh, para sahabat duduk di halaqah-halaqah
guna membaca Al-Qur'an, mempelajari kewajiban-kewajiban (fardhu) dan
sunnah-sunnah, dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla”.
Athiyah
meriwayatkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu dari Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Tidaklah
satu kaum telah mengerjakan shalat Shubuh kemudian mereka duduk di
tempat-tempat shalat mereka guna membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya,
melainkan Allah mewakilkan mereka kepada para malaikat guna memintakan ampunan
untuk mereka hingga mereka beralih kepada pembahasan lain”.
Ini menunjukkan
disunnahkannya berkumpul usai shalat Shubuh untuk mempelajari Al-Qur'an, namun
Athiyah termasuk perawi dhaif.
Harb Al-Karmani
meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Auzai yang pernah ditanya tentang belajar
setelah shalat Shubuh. Ia menjawab, "Aku diberitahu Hassan bin Athiyah
bahwa orang yang pertama kali melakukannya di Masjid Damaskus ialah Hisyam bin
Ismail Al-Makhzumi pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan kemudian
manusia menirunya”.
Harb Al-Karmani
juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Sa'id bin Abdul Aziz dan Ibrahim bin
Sulaiman bahwa keduanya belajar Al-Qur'an setelah shalat Shubuh di Beirut.
Ketika itu, Al-Auzai sedang di masjid dan tidak melarangnya.
Harb Al-Karmani
menyebutkan bahwa ia melihat orang-orang Damaskus, orang-orang Himsh,
orang-orang Makkah, dan orang-orang Basrah berkumpul untuk membaca Al-Qur'an
usai shalat Shubuh. Namun orang-orang Syam membaca Al-Qur'an semuanya dari satu
surat dengan suara tinggi. Sedang orang-orang Makkah dan orang-orang Basrah
berkumpul; salah seorang dari mereka membaca sepuluh ayat sedang orang-orang
lainnya diam kemudian orang lainnya membaca sepuluh ayat lainnya hingga mereka
selesai membaca Al-Qur'an. Harb Al-Karmani berkata, "Semua itu baik”.
Perbuatan
orang-orang Syam tersebut ditentang Imam Malik. Zaid bin Ubaid Ad-Dimasyqi
berkata, "Malik bin Anas berkata kepadaku, 'Aku dengar kalian duduk di
halaqah-halaqah guna membaca Al-Qur'an'. Aku pun menjelaskan kepada Malik bin
Anas tentang kebiasaan yang dikerjakan sahabat-sahabat kami kemudian Malik bin
Anas berkata, 'Di tempat kami terdapat kaum Muhajirin dan Anshar, namun kami
tidak mengenal kebiasaan seperti itu pada mereka'. Aku berkata,'Tharif juga
ikut?' Malik bin Anas berkata, 'Tharif adalah orang yang membaca, sedang
orang-orang berkumpul di sekitarnya. Ini bukan termasuk pendapat kami'“.
Abu Mush'ab dan Ishaq bin Muhammad Al-Farawi berkata, "Kami dengar
Malik bin Anas
berkata, 'Pertemuan pagi hari usai shalat Shubuh untuk membaca Al-Qur'an adalah
bid'ah, karena sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam dan para ulama
sepeninggal mereka tidak melakukannya. Usai shalat, setiap dari mereka menyendiri guna membaca Al-Qur'an dan
dzikir kepada Allah Azza wa Jalla kemudian pulang tanpa bicara kepada yang lain karena setiap dari mereka sibuk
dzikir kepada Allah. Jadi, ini semua (berkumpul untuk membaca Al-Qur'an atau dzikir) itu bid'ah'“.
Ibnu Wahb berkata, "Aku dengar Malik bin Anas berkata, 'Membaca Al-Qur'an
di masjid bukan kebiasaan manusia terdahulu dan orang yang pertama kali mengadakannya
di masjid ialah Al-Hajjaj bin Yusuf'“.
Malik bin Anas juga berkata, "Aku memandang makruh orang membaca
Al-Qur'an di masjid”.
Ini semua
disebutkan Abu Bakr An-Nisaburi di Manaqibu
Malik Rahimahullah.
Sebagian besar
ulama berhujjah tentang disunnahkannya berkumpul untuk membaca Al-Qur'an dengan hadits-hadits yang menunjukkan disunnahkannya berkumpul
untuk dzikir dan Al-Qur'an adalah jenis dzikir yang paling baik. Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim disebutkan hadits dari Abu
Hurairah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Sesungguhnya
Allah mempunyai malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan guna mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka
mendapatkan kaum yang berdzikir
kepada Allah Azza wa Jalla, mereka berseru, 'Mari pergi kepada
kebutuhan-kebutuhan kalian'. Kemudian malaikat-malaikat tersebut melindungi
orang-orang yang berdzikir tersebut dengan sayap-sayap mereka hingga langit dunia. Tuhan mereka - yang lebih tahu
tentang mereka - berfirman kepada para malaikat,
'Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?' Para malaikat berkata, 'Mereka menyucikan-Mu (bertasbih), bertakbir kepada-Mu,
memuji-Mu, dan mengagungkan-Mu'.
Allah berfirman, 'Apakah mereka melihat-Ku?' Para malaikat berkata, 'Tidak,
demi Allah, mereka tidak melihat-Mu'. Allah berfirman, 'Bagaimana seandainya
mereka melihat-Ku?' Para malaikat berkata, 'Seandainya mereka melihat-Mu, mereka lebih giat beribadah, mengagungkan,
bertahmid, dan bertasbih untuk-Mu.' Allah berfirman, 'Apa yang mereka minta
kepada-Ku?' Para malaikat berkata, 'Mereka
minta surga kepada-Mu'. Allah berfirman,'Apakah mereka pernah melihat surga?' Para malaikat berkata, 'Tidak, demi Allah,
mereka tidak pernah melihat surga'. Allah berfirman, 'Bagaimana seandainya
mereka melihat surga?' Para malaikat berkata, 'Seandainya mereka melihat
surga, mereka lebih kuat meminta, mencarinya,
dan menginginkannya'. Allah berfirman, 'Mereka minta perlindungan dari
apa?' Para malaikat berkata, ‘Dari neraka'. Allah berfirman, 'Apakah mereka pernah melihat neraka?' Para malaikat berkata,
'Tidak, Tuhanku, mereka tidak pernah
melihat neraka'. Allah berfirman, 'Bagaimana seandainya mereka pemah melihat neraka?' Para malaikat berkata, 'Jika mereka
melihat neraka, mereka berlari sekuat tenaga darinya dan sangat takut
kepadanya'. Allah Ta'ala berfirman, 'Aku bersaksi kepada kalian bahwa
Aku mengampuni mereka'. Salah satu malaikat berkata, 'Di antara mereka terdapat si Fulan yang bukan
termasuk dari mereka. Orang tersebut datang
guna memenuhi kebutuhannya'. Allah berfirman, 'Mereka semua satu teman duduk dan teman duduk mereka tidak celaka karena
mereka'“. [49])
Di Shahih Muslim [50]) disebutkan hadits dari Muawiyah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar ke salah satu halaqah
sahabat-sahabat beliau kemudian bersabda, "Apa yang
membuat kalian duduk?" Para sahabat
berkata, 'Kita duduk untuk dzikir kepada Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya karena Dia
telah memberi petunjuk kami kepada Islam dan menganugerahkan nikmat kepada
kami”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Demi Allah, apakah kalian duduk
karena itu semua?" Para sahabat berkata, "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali karena tujuan tersebut”.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya aku minta kalian bersumpah tidak karena menuduh
kalian, karena Jibril datang kepadaku kemudian memberi penjelasan kepadaku
bahwa Allah Ta'ala membanggakan kalian kepada para malaikat”.
Al-Hakim [51])
meriwayatkan hadits Muawiyah Radhiyallahu
Anhu yang berkata,
'Pada suatu hari, aku bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian
beliau
masuk masjid, ternyata di dalamnya terdapat kaum yang sedang duduk. Beliau bersabda, 'Kenapa kalian duduk?'
Mereka berkata, 'Kami telah mengerjakan
shalat wajib kemudian duduk guna mempelajari Kitabullah Azza wa jalla dan
Sunnah Nabi-Nya'. Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
‘Sesungguhnya jika Allah disebut
(dzikir), maka Dia menganggap besar
dzikir tersebut".
Hadits-hadits yang semakna dengan hadits tersebut masih banyak lagi.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa pahala
orang-orang yang duduk di salah satu rumah Allah guna mempelajari
Al-Qur'an ialah empat hal;
1.
Turunnya
Ketenangan Pada Mereka
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim disebutkan hadits dari
Al-Barra' bin Azib Radhiyallahu Anhu yang berkata, "Seseorang membaca surat
Al-Kahfi dan di sampingnya terdapat
kuda kemudian ia ditutupi awan. Awan tersebut berputar-putar dan mendekat hingga kuda orang tersebut lari dari awan
tersebut. Keesokan harinya, orang
tersebut menghadap kepada Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam dan bercerita kepada beliau tentang kejadian yang
dialaminya. Beliau bersabda, 'Itulah ketenangan yang turun bagi
Al-Qur'an'“. [52])
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahlh
Muslim [53]) juga disebutkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Usaid bin Hudhair membaca Al-Qur'an di tempat
penambatan unta miliknya, tiba-tiba kudanya berputar-putar. Ia membaca Al-Qur'an lagi, tiba-tiba kudanya berputar-putar. Ia membaca Al-Qur'an lagi, tiba-tiba
kudanya berputar-putar. Usaid bin Hudhair berkata, 'Aku khawatir kudaku menginjak Yahya – anaknya -, karenanya aku
mendekat pada kuda tersebut, ternyata ada
seperti naungan di atas kepalaku dan di naungan tersebut terdapat lampu-lampu
yang naik ke udara hingga aku tidak melihatnya'. Keesokan harinya, Usaid bin Hudhair menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bercerita kepada beliau tentang
kejadian tersebut. Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, 'Naungan
tersebut adalah para malaikat yang mendengar bacaanmu. Jika engkau tetap membaca Al-Qur'an, pasti para malaikat
tersebut bisa dilihat manusia keesokan harinya'“. Teks kedua hadits di
atas menurut Muslim.
Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan hadits dari Yahya bin Ayyub dari Ubaidillah
bin Zahr dari Sa'ad bin Mas'ud bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam berada di majlis kemudian beliau mengangkat penglihatan
ke langit, menundukkannya, dan mengangkatnya kembali. Beliau ditanya tentang
hal tersebut kemudian bersabda, "Sesungguhnya kaum tersebut - orang-orang
di majlis depan beliau - berdzikir kepada Allah kemudian ketenangan seperti kubah
turun pada mereka yang dibawa malaikat-malaikat. Ketika
ketenangan tersebut dekat dengan mereka, tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata batil,
karenanya ketenangan tersebut diangkat dari
mereka”. Hadits ini mursal.
2.
Diliputi
Rahmat
Allah Ta'ala berfirman,
"Sesungguhnya
rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik”. (Al-A'raaf:
56).
Al-Hakim [54])
meriwayatkan hadits dari Salman bahwa ia berada di kelompok yang
sedang berdzikir kepada Allah kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan
melewati mereka dan bersabda, "Apa yang kalian katakan? Karena aku lihat
rahmat turun kepada kalian, jadi, aku ingin juga mendapatkannya bersama
kalian?"
Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang berjalan
untuk mencari kelompok-kelompok dzikir. Jika mereka datang di kelompok-kelompok
dzikir tersebut,
mereka mengelilinginya kemudian mereka mengirim penunjuk jalan mereka ke langit kepada Pemilik Kekuatan Tabaraka wa Ta'ala kemudian berkata, 'Wahai Tuhan kami, kami
mendatangi hamba-hamba dari hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu,
membaca Kitab-Mu, bershalawat untuk Nabi-Mu, dan minta kepada-Mu untuk akhirat
dan dunia mereka'. Allah Tabaraka wa
Ta'ala berfirman, 'Liputi mereka dengan rahmat-Ku'. Para malaikat berkata, 'Di antara mereka terdapat orang yang
banyak berbuat salah dan hanya nimbrung dengan mereka'. Allah berfirman,
‘Liputi mereka dengan rahmat-Ku (karena
mereka teman-teman duduk di mana teman duduk tidak celaka bersama mereka)'“. [55])
3. Para
malaikat mengelilingi mereka
Ini telah disebutkan di hadits-hadits sebelumnya. Di hadits Abu Hurairah
sebelumnya
disebutkan, "Kemudian para malaikat
mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya hingga ke langit dunia”. Di riwayat Imam Ahmad [56]), "Sebagian dari mereka naik di atas sebagian yang lain hingga mereka tiba di
Arasy”.
Khalid bin Ma'dan berkata - ia mengatakannya dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam - ,"Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat di
angkasa. Mereka berkelana di antara langit dan bumi untuk
mencari dzikir. Jika mereka mendengar
salah satu kaum berdzikir kepada Allah Azza
wa Jalla, mereka berkata, 'Pelan-pelanlah,
semoga Allah memberi tambahan kepada
kalian'. Kemudian mereka
mengembangkan sayap-sayap mereka di sekitar kaum tersebut hingga perkataan kaum tersebut naik di kelompok yang lebih baik
daripada mereka (para malaikat)”. (Diriwayatkan
Al-Khallal di As-Sunnah). [57]
4. Allah
Menyebut Mereka Di Makhluk Yang Ada Di Samping-Nya
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan
hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
'Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku menurut dugaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku
bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia ingat (zikir) kepada-Ku
sendirian maka Aku ingat kepadanya sendirian dan jika ia ingat (dzikir) kepada-Ku di
kelompok maka Aku ingat kepadanya di kelompok yang
lebih baik daripada mereka”. [58])
Keempat hal tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang berkumpul untuk dzikir kepada Allah Ta'ala,
seperti disebutkan hadits di Shahih Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu
Anhuma dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya
orang-orang yang berdzikir kepada Allah mempunyai empat hal, ketenangan turun kepada
mereka, mereka diliputi rahmat, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah ingat mereka di makhluk yang ada di sisi-Nya”. [59])
Allah Ta'ala berfirman,
"Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada
kalian”. (Al-Baqarah: 152).
Bentuk Allah Ta'ala ingat hamba-Nya ialah sanjungan Allah
kepadanya di kelompok tertinggi di antara malaikat-malaikat-Nya,
membanggakannya di depan mereka, dan
memujinya dengan ingat kepadanya.
Ar-Rabi' bin Anas [60])
berkata, "Sesungguhnya Allah ingat kepada orang yang ingat kepada-Nya, menambahkan
nikmat kepada orang yang bersyukur, dan menyiksa
orang yang kafir kepada-Nya”.
Allah Ta'ala berfirman,
"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian kepada Allah
dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah
kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang bershalawat kepada kalian
dan malaikat-Nya
supaya Dia mengeluarkan kalian dari
kegelapan kepada cahaya”. (Al-Ahzab: 41-43).
Bentuk shalawat Allah kepada hamba-Nya ialah menyanjungnya di antara malaikat-malaikat-Nya
dan memujinya dengan ingat kepadanya. Itu yang dikatakan Abu
Al-Aliyah dan disebutkan Al-Bukhari di Shahih-nya. [61])
Seseorang berkata kepada Abu Umamah, "Di mimpiku, aku seperti
melihat para malaikat bershalawat kepadamu setiap kali engkau masuk, keluar,
berdiri, dan duduk”. Abu Umamah berkata, "Engkau juga kalau engkau
mau, maka para malaikat bershalawat kepadamu”. Kemudian Abu Umamah
membaca firman Allah Ta'ala, "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah
kalian kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah
kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang bershalawat kepada kalian dan
malaikat-Nya supaya Dia mengeluarkan kalian dari
kegelapan kepada cahaya”. (Al-Ahzab: 41-43). (Diriwayatkan Al-Hakim). [62]
Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa amalnya
lamban, maka
ia tidak bisa dipercepat oleh nasabnya", maksudnya bahwa amal
perbuatanlah yang mengantarkan seorang hamba ke derajat-derajat
akhirat, seperti difirmankan Allah Ta'ala,
"Dan
masing-masing orang memperoleh derajat-derajat karena apa yang dikerjakannya”. (Al-An'am:
132).
Jadi, barangsiapa
amal perbuatannya lamban untuk mencapai tingkatan-tingkatan tinggi di sisi Allah, ia tidak bisa dipercepat oleh nasabnya
untuk mendapatkan tingkatan-tingkatan tersebut, karena Allah menentukan pahala
karena amal perbuatannya dan bukan
karena nasabnya, seperti yang Dia firmankan,
"Apabila
sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak ada pula mereka
saling bertanya”. (Al-Mukminun: 101).
Allah Ta'ala memerintahkan kaum Muslimin bersegera kepada ampunan dan
rahmat-Nya dengan amal perbuatan, seperti difirmankan Allah Ta'ala,
“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan
kalian dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang
berinfak baik di waktu lapang maupun
sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang; Allah menyukai orang-orang yang
berbuat kebaikan”. (Ali Imran:133-134).
Allah Ta'ala juga berfirman,
"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati
karena takut kepada Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat
Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan
mereka. Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan
dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya
mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan dan
merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”. (Al-Mukminun: 57-61).
Ibnu Mas'ud berkata, "Allah memerintahkan shirath (titian)
dipasang di atas Jahannam kemudian manusia berjalan kelompok demi
kelompok sesuai dengan amal perbuatan mereka. Orang pertama dari mereka berjalan
seperti jalannya kilat, kemudian
seperti jalannya angin, kemudian seperti jalannya burung, kemudian seperti jalannya hewan ternak, hingga seseorang
berjalan dengan berlari, hingga seseorang berjalan dengan berjalan kaki, dan
hingga orang terakhir dari mereka berguling-guling
di atas perutnya. Orang tersebut berkata, ‘Tuhanku, kenapa engkau memperlambat jalanku?' Allah berfirman, 'Aku tidak
memperlambat jalanmu, namun amalmu
yang membuatmu lamban''. [63])
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan
hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa ketika ayat, "Dan
berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Asy-Syu'ara':
214), Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Hai seluruh orang-orang Quraisy, belilah diri kalian dari Allah, karena aku
sedikit pun tidak bisa membela kalian dari adzab Allah. Hai Bani Abdul
Muththalib, sedikit pun aku tidak bisa membela kalian dari adzab
Allah. Hai Abbas bin Abdul Muththalib, sedikit pun aku tidak bisa membela kalian
dari Allah. Hai Shafiyah paman Rasulullah dari jalur ayah, sedikit pun aku tidak
bisa membela kalian dari adzab Allah. Hai Fathimah binti Muhammad, mintalah
kepadaku apa saja yang engkau inginkan, karena sedikit pun aku tidak bisa
membela kalian dari adzab Allah”.
Di riwayat di selain Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim disebutkan,
"Sesungguhnya wali-waliku dari kalian ialah orang-orang bertakwa.
Manusia datang dengan amal perbuatan, sedang kalian datang dengan
dunia yang kalian pikul di pundak kalian kemudian kalian berkata, 'Hai
Muhammad', dan aku pun menjawab, 'Aku telah menyampaikan“.
Ibnu Abu Ad-Dunya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
'Sesungguhnya wali-waliku
ialah orang-orang bertakwa pada Hari Kiamat kendati salah satu nasab lebih
dekat daripada nasab lainnya. Manusia datang dengan
membawa amal perbuatan sedang kalian datang dengan dunia yang kalian
pikul di pundak kalian dan kalian berkata,
‘Hai Muhammad. Hai Muhammad', kemudian aku berkata, Seperti ini. Seperti ini'. Kemudian
aku berpaling dari kedua sisi dunia”. [64])
Al-Bazzar [65]) meriwayatkan hadits dari
Rifa'ah bin Rafi' Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umar bin
Khaththab, "Kumpulkan kaummu - yaitu
orang-orang Quraisy - untuk bertemu denganku”. Umar bin Khaththab pun mengumpulkan mereka kemudian Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya wali-waliku dari kalian ialah orang-orang bertakwa. Jika kalian menjadi orang-orang bertakwa
itulah yang baik. Jika tidak, lihatlah
manusia datang dengan amal-amal pada Hari Kiamat sedang kalian datang dengan beban kemudian dihindarkan dari kalian”.
Hadits ini juga diriwayatkan Al-Hakim
secara ringkas dan menshahihkannya.
Di Al-Musnad
disebutkan
hadits dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu bahwa ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam mengirimnya ke Yaman, beliau keluar
menemuinya untuk berwasiat kepadanya kemudian beliau menoleh dan menghadapkan
wajah ke Madinah lalu bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling berhak terhadapku ialah orang-orang bertakwa siapa pun mereka dan di mana pun mereka”.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani dan ia menambahkan di dalamnya,
"Sesungguhnya keluarga rumahku berpendapat bahwa mereka manusia yang
paling berhak terhadapku, namun sebenarnya tidak begitu. Sesungguhnya wali-waliku
ialah orang-orang bertakwa dari kalian siapa pun mereka dan di mana pun
mereka”. [66])
Itu semua diperkuat hadits di Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma bahwa
ia mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya keluarga ayah si Fulan bukan wali-waliku, namun wali-waliku
ialah Allah dan orang-orang Mukmin yang shalih”. [67])
Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa hubungan kewalian (kedekatan) tidak
bisa didapatkan dengan nasab kendati nasab tersebut dekat, namun
diperoleh dengan amal shalih. Jadi, barangsiapa iman dan amalnya paling
sempurna, maka kewaliannya dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat
agung kendati nasab kekeluargaannya jauh dengan beliau atau bahkan tidak mempunyai
hubungan nasab kekeluargaan dengan beliau. Tentang makna ini, salah seorang
penyair berkata,
"Aku bersumpah kepadamu bahwa manusia tidak lain dengan agamanya
Engkau jangan tinggalkan takwa hanya karena bersandar pada nasab
Sungguh Islam meninggikan Salman Al-Farisi
Dan syirik merendahkan orang celaka Abu Lahab”.
[1] Hadits nomer 2699. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Imam Ahmad 2/252, 407, Abu Daud hadits nomer 3643, At-Tirmidzi hadits nomer 2646, 2945, Ibnu Majah
hadits nomer 225, Ibnu Abu Syaibah
8/729, Ad-Darimi 1/99, dan Al-Baghawi hadits nomer 127, 130. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 84,
534, 5045.
[2] Diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 4946 dan
At-Tirmidzi hadits nomer 1325, 1930.
[3] Diriwayatkan Imam Ahmad 2/152, Abu Daud hadits
nomer 3460, Ibnu Majah hadits nomer
2199, dan Al-Hakim 2/45. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer
5030.
[4] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2442, 6951,
Muslim hadits nomer 2580, Imam Ahmad 2/91, Abu Daud hadits nomer 4893, dan
At-Tirmidzi hadits nomer 1426. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 533.
[5] Di Al-Kabir
19/350. Di sanadnya
terdapat perawi Laits bin Abu Sulaim yang merupakan perawi dhaif dan Syu'aib Al-Anmathi di mana Al-Haitsami berkata
di Majmauz Zawaid 8/193, ”Identitasnya tidak diketahui”.
[6] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/104. Di sanadnya terdapat
perawi An'anah bin Juraij. Baca Majmauz Zawaid 1/134 dan Ar-Rihlati fi Thalabil Hadits hal. 118-124.
[7] Dari Usamah bin Zaid, hadits tersebut diriwayatkan
Al-Bukhari hadits nomer 1283. Muslim hadits nomer 923, Abu Daud hadits
nomer 3125, An-Nasai 4/22,
dan Ibnu Hibban hadits nomer 1588.
[8]
Dari Hisyam bin Hakim bin Hizam, hadits
tersebut diriwayatkan Muslim hadits nomer 2613 dan Abu [)and
hadits nomer 3045. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits
nomer 5612.
[9] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2449 dan Imam Ahmad 3/13-14. Di sanadnya terdapat Athiyah Al-Aufi yang merupakan perawi dhaif. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini gharib (dhaif)”. Hadits
tersebut juga diriwayatkan secara mauquf
dari Abu Sa'id dan itu yang
paling benar.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Daud hadits
nomer 1682 dari jaiur lain. Di sanadnya terdapat Abu Khalid Ad-Dalani yang banyak salahnya.
[10]
Di Ishthinaul Ma'ruf seperti terlihat di At-Targhib wat
Tarhib 2/66.
[11] Juga diriwayatkan Abu Ya'la hadits nomer 3490. Di
sanadnya terdapat Ali bin Abu Sarah.
Abu Daud berkata, "Para ulama meninggalkan haditsnya”. Al-Bukhari berkata”.
Di haditsnya terdapat catatan”. Abu
Hatim berkata, ‘Ia perawi dhaif”. Al-Haitsami berkata di Majmauz
Zawaid 10/382, "Ia tidak bisa dijadikan hujjah”.
Hadits semakna diriwayatkan Ibnu Majah hadits nomer
3685. Di sanadnya terdapat Yazid bin
Aban Ar-Raqasyi.
[12]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4712,
Muslim hadits nomer 94, dan Imam Ahmad
2/435-436.
[13]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6527,
Muslim hadits nomer 2859, dan An-Nasai 4/114.
[14]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6531, dan
Muslim hadits nomer 2862.
[15] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6532 dan
Muslim hadits nomer 2863.
[16] Teks yang disebutkan Ibnu Rajab di atas adalah
teks At-Tirmidzi hadits nomer 2421. Teks
Muslim hadits nomer 2864 ialah dari Abdurrahman bin Jabir yang berkata, Sulaim
bin Amir berkata kepadaku, Al-Miqdad bin Al-Aswad berkata kepadaku, aku
dengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Pada Hari Kiamat, matahari didekatkan dengan manusia hingga jaraknya
dengan mereka ialah satu mil”.
[17] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Ba'ats. Sanadnya dianggap kuat oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari
11/394.
[18] 4/147-148. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban
hadits nomer 3310.
[19] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2078, 3480,
Muslim hadits nomer 1562, dan An-Nasai
7/3 18. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5041 dan 5042.
[20]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2077.
2391, 3451 dan Muslim hadits nomer 1560.
[21]
Hadits nomer 1561.
[22]
Diriwayatkan Muslim hadits nomer 1563.
[23] Diriwayatkan Muslim hadits nomer 3006. Kalimat, "Di hari
tidak ada naungan kecuali naungan-Nya", tidak diriwayatkan di Shahih
Muslim namun diriwayatkan
Ath-Thabrani di Al-Kabir 19/372, 380, Al-Qadhai di Musad-nya hadits nomer 460, 461, 462, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 2/19-20. Hadits tersebut juga
diriwayatkan di Shahih Ibnu Hibban hadits nomer5044.
[24] 2/23 dari jalur Zaid Al-Ami dari Ibnu Umar. Zaid
Al-Ami kendati dhaif, ia tidak mendengar hadits tersebut dari Ibnu Umar.
[25] Hadits nomer 2546. Sanadnya dianggap hasan oleh Al-Hafidz
Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 3/239. Al-Bushairi berkata di Az-Zawaid hal. 163, “Di sanadnya terdapat catatan”.
Tentang Muhammad bin Utsman bin Shafwan Al-Jumahi, Abu Hatim berkata
"Haditsnya munkar dan dhaif”.
Ad-Daruquthni berkata, "Ia tidak kuat”. Ia disebutkan Ibnu Hibban di Ats-Tsiqaat
dan perawi lainnya adalah perawi
tepercaya. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Abu Hurairah
yang diriwayatkan Muslim di Shahih-nya
dan para penulis As-Sunan. Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari Ibnu Umar. Saya
katakan, jadi hadits tersebut shahih.
[26] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/159. Sanadnya terputus,
seperti dikatakan Al-Haitsami di Majmauz
Zawaid 1/134. Baca juga Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits Al-Khathib
hadits nomer 34, 35.
[27] Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad 4/420-421,
424 dan Abu Daud hadits nomer 4859.
Sanadnya hasan karena hadits-hadits penguat.
[28] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2032. Ia
berkata, "Hadits tersebut hasan gharib”.
Atau seperti yang ia katakan. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits
nomer 5763. Hadits tersebut penguat hadits sebelumnya. Di tema ini terdapat
hadits dari Al-Barra' bin Azib yang
diriwayatkan Abu Ya'la hadits nomer 1675.
[29] Diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 4375, An-Nasai
di As-Sunan Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 12/413, Imam Ahmad 6/181, dan Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 465. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 94.
[30] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari
hadits nomer 2314 dan Muslim hadits
nomer 1697. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 4437.
[31] Di
Al-Ausath seperti terlihat di Majmaul
Bahrain 69/2 namun hadits tersebut dianggap dhaif oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 3/130. Di sanadnya
terdapat perawi Muhammad bin Basyir
Al-Kindi dan Katsir An-Nawa' yang keduanya merupakan perawi dhaif.
Saya
katakan, hadits tersebut menjadi kuat dengan hadits Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, "Perbuatan paling baik ialah engkau memasukkan
kebahagiaan kepada saudaramu yang Mukmin dan Muslim, atau engkau
membayar hutangnya, atau memberinya roti”. Hadits ini
diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Qadhaul Hajah hadits nomer 112 dari Ahmad bin Hanbal
dari Ammar bin Muhammad bin saudara perempuan Sufyan Ats-Tsauri dari Muhammad
bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Sanad tersebut hasan.
Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 684 meriwayatkan, Hisyam bin Al-Ghaz berkata kepada kepadaku dari seseorang dari Abu
Syuraik bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Di antara perbuatan yang paling dicintai Allah ialah memasukkan kebahagiaan kepada orang Muslim, atau menghilangkan
kesedihan darinya, atau membayar hutangnya,
atau memberinya makan dari kelaparan”.
[32] Di Al-Musnad
6/372. Al-Haitsami berkata di Majmauz Zawaid 8/312 – ia juga menambahkan
bahwa hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani -, "Para perawi
keduanya adalah para perawi shahih
kecuali Abdurrahman bin Zaid Al-Faisyi yang merupakan perawi tepercaya. Saya katakan, di At-Ta’jil hal 250, Ibnu Al-Madini berkata, "Identitasnya tidak diketahui”. Ia disebutkan Ibnu Hibban, "Ia
dibunuh di Al-Jamajim”. Ada yang mengatakan bahwa nama ayahnya ialah Yazid.
[33] Diriwayatkan
Ibnu Sa'ad di Ath-Thabagaat 6/43 dan Al-Bazzar hadits nomer 2903 dari jalur Umru'ul Qais Al-Muhazili dari Ashim bin
Bujair dari Ibnu Abu Syaikh dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Tentang Umru'ul Qais, Al-Azdi berkata seperti
dinukil darinya oleh Adz-Dzahabi di Al-Mizan 1/275, "Dari Ashim bin Bujair, ia mendapatkan
hadits munkar yang tidak shahih”. Hadits tersebut juga disebutkan
Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 5/83. Ia berkata, "Di sanadnya terdapat sejumlah perawi yang tidak aku ketahui”.
[34] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/48.
[35]
Al-Hilyah 3/285-286.
[36] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2890, Muslim hadits nomer 1119. An-Nasai 4/182. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 3558.
[37] Hadits nomer 306 dengan tahqiq kami.
[38] Diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 3641 dan Ibnu
Majah hadits nomer 223. Hadis tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 88. Hadits tersebut hasan karena diperkuat
hadits-hadits lain.
[39] Ia adalah Mathar Al-Warraq. Perkataan tersebut
diriwayatkan darinya oleh Ath-Thabari di Jamiul Bayan 27/97 dan Abu
Nu'aim di Al-Hilyah 3/76.
[40] 3/157. Sanad hadits tersebut dhaif karena
salah seorang perawinya yaitu Rusydin bin Sa'ad dhaif.
[41] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 100, 7307 dan Muslim hadits nomer 2673.
Hadits tersebut dishahihkan Ibnu
Hibban hadits nomer 4571.
[42] Diriwayatkan
At-Tirmidzi hadits nomer 2653 dan menghasankannya, namun dishahihkan Al-Hakim 1/99 dengan
disetujui Adz-Dzahabi. Hadits tersebut mernpunyai hadits penguat, yaitu hadits Auf
bin Malik yang diriwayatkan Imam Ahmad 6/26-27 dan An-Nasai di bab
"Ilmu" buku Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul
Asyraaf 8/211. Sanad
hadits tersebut shahih dan dishahihkan Ibnu
Hibban hadits nomer 4572 dan
6720.
Hadits
penguat lainnya, yaitu hadits dari Ziyad bin Labid Al-Anshari yang diriwayatkan
Imam Ahmad 4/219 dan Ibnu Majah hadits nomer 4048.
Hadits tersebut dishahihkan
Al-Hakim 1/100 dengan disetujui Adz-Dzahabi.
Ath-Thabrani di Al-Kabir meriwayatkan hadits dari Abu Ad-Darda' dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Sesuatu yang pertaina kali diangkat (dicabut) dari umat ini ialah khusyu’, karenanya engkau tidak melihat
khusyu' pada mereka”. Hadits
tersebut dianggap hasan oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 2/136. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Syaddad bin Aus yang diriwayatkan
Ath-Thabrani hadits nomer 7183. Jadi,
sanadnya tidak ada masalah karena diperkuat hadits-hadits lain.
[43] Perkataan di atas juga diriwayatkan Ibnu Abu
Syaibah 13/235 dan Ibnu Abdul Barr di Jamiu Bayanil Ilmi 1/233-234 dari Al-Hasan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Para perawinya
adalah para perawi tepercaya, namun mursal.
[44] Penggalan hadits shahih dari Abu Malik Al-Asy'ari.
[45] Dari Abdullah bin Mas'ud, hadits tersebut
diriwayatkan Muslim hadits nomer 2949. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6850.
[46] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan
Muslim hadits nomer 148 dan At-Tirmidzi hadits nomer 2207. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6850 dan 6849. Sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, "Pada saat di bumi ada orang yang berkata, 'Allah. Allah'“. Yang dimaksud dengan lafadz jalalah tersebut ialah kalimat tauhid laa ilaaha illalah sebagaimana
penafsirannya dijelaskan di riwayat Ibnu Hibban dan lain-lain. Maksud hadits
tersebut, di bumi tidak ada lagi orang Muslim. Tidak benar orang belakangan ini
yang berpendapat dengan berhujjah
dengan hadits ini tentang kewajiban berdzikir dengan nama Allah saja, padahal itu tidak disyariatkan; tidak di Al-Qur’an,
atau sunnah, atau riwayat dari salafush shalih. Dzikir termasuk ibadah, jadi akal tidak mendapatkan tempat di
dalamnya dan dzikir termasuk
sanjungan kepada Allah dengan sesuatu yang layak diterima-Nya, karenanya dzikir
harus dengan kalimat sempurna yang diam terhadapnya merupakan hal yang baik,
misalnya kalimat laa ilaaha
illallah, atau subhanallah wal
hamdu lillal: wallahu akbar, atau Laa
haula walaa quwwata illaa billah, dan
lain sebagainya.
[47] Hadits nomer 5027, 5028. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Imam Ahmad 1/58, Abu Daud hadits nomer 1452, At-Tirmidzi hadits
nomer 2907, Ibnu Majah hadits nomer 212. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu
Hibban hadits nomer 118.
[48] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4582, Muslim
hadits nomer 800, Abu Daud hadits
nomer 3668, dan At-Tirmidzi hadits nomer 3034. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer
735.
[49] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6408, Muslim
hadits nomer 2689. At-Tirmidzi hadits
nomer 3600, dan Imam Ahmad 2/251. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban
hadits nomer 856 dan 857. Takhrijnya secara lengkap, silahkan baca buku
tersebut.
[50] Hadits nomer 2701. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Imam Ahmad 4/92, At-Tirmidzi hadits nomer 3379, dan
An-Nasai 8/249. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 813.
[51] Di
Al-Mustadrak 1/94. Al-Hakim menshahihkan hadits tersebut sesuai
dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim
dengan disetujui Adz-Dzahabi.
[52]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 3614
dan Muslim hadits nomer 795.
[53] Diriwayatkan
Al-Bukhari hadits nomer 5018. Al-Bukhari berkata, "Al-Laits berkata, Yazid bin Al-Had berkata kepadaku dari Muhammad
bin Ibrahim dari Usaid bin Hudhair dan seterusnya”.
Ibnu
Al-Had berkata, "Hadits tersebut dikisahkan kepadaku oleh Abdullah bin
Khabbab dari Abu Sa'id Al-Khudri dari Usaid bin Hudhair”. Al-Hafidz Ibnu Hajar
berkata di Fathul Bari 5/63, "Abu Ubaid di Fadhailul Qur'an menyambung sanad
hadits tersebut dari Yahya bin Bukair dari Al-Laits dengan kedua sanad
tersebut”. Saya katakan, patokan ketidak-putusnya sanad ialah sanad kedua,
karena Muhammad bin Ibrahim At-Taimi yang merupakan tabi'in yang masih kecil
dan tidak pernah bertemu Usaid bin Hudhair. Jadi, sanad hadits tersebut
terputus.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Muslim hadits
nomer 796 dari dua jalur dari Ya'qub bin
Ibrahim dari ayahnya dari Yazid bin Al-Had dari Abdullah bin Khabbab dari Abu
Sa'id Al-Khudri dari Usaid bin Hudhair.
[54]
Di Al-Mustadrak 1/122. Ia menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi.
[55] Hadits nomer 3062. Hadits tersebut
juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah
6/268 Sanadnya dianggap hasan oleh
Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/77, padahal di sanadnya terdapat
perawi Zaidah bin Abu Ar-Raqad. Al-Bukhari dan An-Nasai berkata,
"Haditsnya munkar”. Di sanadnya
juga terdapat guru Al-Bazzar, Ziyad bin Abdullah An-Numairi, yang merupakan perawi dhaif.
[56]
2/358.
[57]
Sanadnya dhaif karena mursal.
[58] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 7305, Muslim
hadits nomer 2675. Imam Ahmad 2/251,
At-Tirmidzi hadits nomer 3603, dan Ibnu Majah hadits nomer 3822. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 811 dan 812.
[59] Hadits tersebut dengan teks seperti itu. Hadits
tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya
seperti terlihat di Ad-Durrul
Mantsur 1/363. Teks riwayat
Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id
ialah, "Salah satu kaum tidak duduk untuk berdzikir kepada Allah Azza
wa Jalla, melainkan
malaikat-malaikat mengelilingi mereka, mereka diliputi rahmat, ketenangan turun
kepada mereka, dan Allah ingat mereka
di makhluk yang ada di sisi-Nya”.
[60] Perkataan yang sama diriwayatkan Abdu bin Humaid,
Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Abu Hatim
dari Qatadah seperti tertulis di Ad-Durrul
Mantsur 5/7.
[61] 8/532 di tafsir bab firman Allah, "Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat
untuk Nabi”. (Al-Ahzab: 56). Ibnu Katsir berkata di Tafsir-nya
6/447, ”Perkataan tersebut
juga diriwayatkan Abu Ja'far Ar-Razi dari Ar-Rabi' bin Anas dari Abu Al-Aliyah”.
[62] Di Al-Mustadrak 2/418. Ia
menshahihkannya menurut syarat Muslim dengan disetujui Adz-Dzahabi. Dari jalur Al-Hakim, atsar di atas
juga diriwayatkan Al-Baihaqi di Dalaailun Nubuwwah 7/25.
[63] Hadits hasan. Hadits tersebut diriwayatkan secara
mauquf dan marfu'. Hadits tersebut disebutkan di Ad-Durrul Mantsur 4/281 dan Syarhuth
Thahawiyah Ibnu Abu Al-Iz 2/606.
[64] Juga diriwayatkan Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 897 dan Ibnu Abu Ashim di As-Sunnah hadits nomer 212 dan 1012. Sanadnya hasan.
[65] Hadits nomer 2780. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir
hadits nomer 4544 dan Al-Bukhari
di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 75. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 4/73 dengan disetujui
Adz-Dzahabi.
[66] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/235 dan Ath-Thabrani di
Al-Kabir 20/241. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban
hadits nomer 647.
[67]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 5990 dan
Muslim hadits nomer 215.
No comments:
Post a Comment