Wednesday, May 6, 2026

Hadits Arbain 36: Meringankan Beban Mu'min

Hadits Ketiga Puluh Enam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا، سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ، مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ، وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا جَلَسَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فَيَمَنْ عِنْدَهُ، وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ، لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Barangsiapa meringankan orang Mukmin dari salah satu kesempitan dunia maka Allah meringankannya dari salah satu kesempitan Hari Kiamat, barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allah memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat, dan barangsiapa menutupi orang Muslim maka Allah menutupinya di dunia dan akhirat. Allah menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu di dalamnya maka Allah memudahkannya di jalan ke surga. Tidaklah satu kaum duduk di salah satu rumah Allah; mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya sesama mereka, melainkan ketenangan turun pada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah ingat (menyebut) mereka pada makhluk yang ada di samping-Nya. Barangsiapa amalnya lamban, maka ia tidak bisa dipercepat oleh nasabnya”. (Diriwayatkan Muslim). [1]

Hadits bab ini diriwayatkan Muslim dari riwayat Al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah. Ini ditentang sejumlah hafidz hadits, misalnya Abu Al-Fadhl Al-Harawi dan Ad-Daruquthni, karena Asbath bin Muhammad meriwayatkan hadits tersebut dari Al-A'masy. Asbath bin Muhammad berkata, "Aku diberi hadits dari Abu Shalih”. [2]) Jadi, jelaslah bahwa Al-A'masy tidak mendengar hadits tersebut dan Abu Shalih dan ia tidak menyebutkan orang yang mendapatkan hadits tersebut dari Abu Shalih, namun At-Tirmidzi dan lain-lain menguatkan riwayat ini. Salah seorang sahabat Al-A'masy menambahkan di teks hadits,

"Dan barangsiapa menerima pembatalan akad orang Muslim maka Allah menerima pembatalan kekeliruannya pada Hari Kiamat". [3])

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits di Shahih-nya masing-masing dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Orang Muslim adalah saudara Muslim lainnya; ia tidak mendzaliminya dan tidak menyerahkannya. Barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya. Barangsiapa meringankan orang Muslim maka Allah meringankannya dari salah satu kesempitan Hari Kiamat dan barangsiapa menutupi orang Muslim maka Allah menutupinya pada Hari Kiamat”. [4])

Ath-Thabrani [5]) meriwayatkan hadits dari Ka'ab bin Ujrah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa meringankan orang Mukmin dari salah satu kesempitan dunia maka Allah meringankannya dari salah satu kesempitan Hari Kiamat, barangsiapa menutupi aurat orang Muslim maka Allah menutupi auratnya, dan barangsiapa menghilangkan kesempitan dari orang Mukmin maka Allah menghilangkan kesempitan darinya”.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Maslamah bin Mukhallad Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa menutupi orang Muslim maka Allah menutupinya di dunia dan akhirat, barangsiapa menyelamatkan orang yang sedih maka Allah menghilangkan salah satu kesempitan Hari Kiamat darinya, dan barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya maka Allah berada dalam kebutuhannya”. [6])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Barangsiapa meringankan orang Mukmin dari salah satu kesempitan dunia maka Allah meringankannya dari salah satu kesempitan Hari Kiamat", karena balasan itu sesuai dengan jenis perbuatan. Hadits-hadits tentang makna ini banyak sekali, misalnya sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang". [7])

Atau sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

“Sesungguhnya Allah menyiksa orang-orang yang menyiksa manusia di dunia”. [8])

Kurbah (kesempitan) di hadits bab ini ialah kesempitan yang luar biasa yang menyebabkan pelakunya sedih dan upaya meringankannya ialah dengan meringankan kesempitan tersebut dari pelakunya namun menghilangkan kesempitan tersebut lebih agung, yaitu menghilangkan kesempitan tersebut dari pelakunya hingga kesempitan tersebut hilang dari pelakunya dan sedihnya pun sirna. Jadi balasan peringanan kesempitan ialah peringanannya dan penghilangan kesempitan adalah penghilangannya, seperti terlihat di hadits Ibnu Umar, tapi kedua hal tersebut disebutkan bersamaan di hadits Ka'ab bin Ujrah.

At-Tirmidzi [9]) meriwayatkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Siapa saja di antara orang Mukmin yang memberi makan kepada orang yang lapar, maka Allah memberinya makan pada Hari Kiamat dari buah-buahan surga. Siapa saja di antara orang Mukmin yang memberi air minum kepada orang yang haus, maka Allah memberinya air minum pada Hari Kiamat dari minuman murni yang tertutup. Siapa saja di antara orang Mukmin yang memberi pakaian kepada orang yang telanjang, maka Allah memberinya pakaian dari pakaian warna hijau dari surga”.

Ibnu Abu Ad-Dunya [10]) meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu yang berkata,

"Pada Hari Kiamat, manusia dikumpulkan dalam keadaan lebih telanjang daripada sebelumnya, lebih lapar daripada sebelumnya, lebih haus daripada sebelumnya, dan lebih lelah daripada sebelumnya. Karenanya, barangsiapa memberi pakaian karena Allah Azza wa Jalla maka Allah memberinya pakaian, barangsiapa memberi makan karena Allah Azza wa jalla maka Allah memberinya makan, barangsiapa memberi air minum karena Allah Azza wa Jalla maka Allah memberinya air minum, dan barangsiapa memaafkan karena Allah Azza wa jalla maka Allah memaafkannya”.

Al-Baihaqi meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda bahwa salah seorang penghuni surga melihat penghuni neraka pada Hari Kiamat kemudian ia dipanggil salah seorang dari penghuni neraka, "Hai si Fulan, apakah engkau mengenaliku?" Orang dari penghuni surga tersebut berkata, "Tidak, demi Allah aku tidak mengenalimu. Siapa engkau?" Orang dari penghuni neraka tersebut berkata, "Aku orang yang engkau pernah berjalan melewatiku di dunia kemudian engkau meminta air minum kepadaku lalu aku memberimu air minum”. Orang dari penghuni surga berkata, "Sekarang aku mengenalimu”. Orang dari penghuni neraka berkata, "Mintalah syafa'at dengannya untukku kepada Tuhanmu”. Kemudian orang dari penghuni surga tersebut meminta kepada Allah Azza wa jalla dengan berkata, "Berilah aku hak untuk memberi syafa'at kepadanya”. Allah memerintahkan orang dari penghuni surga tersebut memberi syafa'at kepada orang dari penghuni neraka tersebut kemudian orang dari penghuni neraka tersebut dikeluarkan dari neraka. [11])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dari salah satu kesempitan Hari Kiamat", dan tidak bersabda, "Dari salah satu kesempitan dunia dan akhirat", seperti yang beliau sabdakan di pemudahan kesempitan dan menutup aurat. Tentang hal ini, ada yang mengatakan bahwa kurab yang merupakan kesempitan yang luar biasa itu tidak terjadi pada semua manusia. Kurab berbeda dengan kesulitan dan aurat yang butuh ditutup yang hampir terjadi pada semua manusia, kendati ada di antara mereka yang mendapatkan kesulitan dalam memenuhi salah satu kebutuhan penting. Ada lagi yang mengatakan bahwa kurab dunia tidak bisa dibandingkan dengan kurab akhirat, karenanya, Allah menyimpan pahala meringankan kurab di sisi-Nya agar dengannya Dia meringankan kurab akhirat dari orang tersebut. Ini diperkuat sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Allah mengumpulkan manusia dan generasi pertama hingga generasi terakhir di satu tempat kemudian penyeru memperdengarkan suara kepada mereka, penglihatan Allah meliputi mereka, matahari dekat dengan mereka, dan manusia sampai pada puncak kesedihan dan kesempitan yang tidak mampu mereka tahan dan tanggung. Sebagian manusia berkata kepada sebagian lainnya, 'Tidakkah kalian lihat apa yang terjadi pada kalian? Kenapa kalian tidak melihat orang yang bisa meminta syafa'at untuk kalian kepada Tuhan kalian", dan seterusnya.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits semakna dari Abu Hurairah. [12])

Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dan Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Kalian dikumpulkan dalam keadaan telanjang kaki, telanlang, dan tidak berkhitan”. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, orang laki-laki dan perempuan saling melihat yang lain?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Perkaranya lebih dahsyat daripada apa yang mereka inginkan”. [13])

Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang firman Allah Ta'ala, 'Pada hari itu, manusia berdiri kepada Tuhan semesta alam". (Al-Muthaffifin: 6) kemudian beliau bersabda, 'Salah seorang dari mereka berdiri sementara keringatnya sampai ke separoh kedua telinganya". [14])

Al-Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Pada Hari Kiamat, manusia berkeringat hingga keringat mereka habis di bumi selama tujuh puluh tahun dan mengalir hingga mulut mereka hingga sampai di telinga mereka’. Teks tersebut menurut Al-Bukhari dan teks Muslim ialah, "Sesungguhnya keringat pasti habis di bumi selama tujuh puluh tahun dan pasti sampai ke mulut manusia atau hingga telinga mereka”. [15])

Muslim [16]) meriwayatkan hadits dari Al-Miqdad Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Matahari dekat dengan hamba-hamba hingga sebatas satu atau dua mil kemudian matahari membuat mereka mencair (berkeringat) lalu mereka berada di keringat sesuai dengan perbuatan mereka. Di antara mereka ada yang ditenggelamkan oleh keringatnya hingga kedua tumitnya, ada yang ditenggelamkan keringatnya hingga kedua lututnya, ada yang ditenggelamkan keringatnya hingga pinggangnya, dan di antara mereka ada yang ditenggelamkan sampai ke mulutnya hingga ia tidak bisa bicara”.

Ibnu Mas'ud berkata, "Pada Hari Kiamat, semua bumi adalah api dan dari belakang surga engkau bisa melihat gelas-gelas dan wanita-wanita yang montok payudaranya kemudian seseorang berkeringat hingga keringatnya merembes ke bumi sepanjang postur tubuh kemudian keringat tersebut naik lagi hingga mencapai hidungnya, padahal hisab belum terjadi padanya”. Dikatakan, "Kenapa ia bisa begitu, wahai Abu Abdurrahman?" Ibnu Mas'ud menjawab, "Karena ia melihat manusia diperbuat seperti itu”.

Abu Musa berkata, "Pada Hari Kiamat, matahari berada di atas kepala manusia sedang amal perbuatan mereka menaungi mereka atau memperlihatkan mereka". [17])

Di dalam Al-Musnad [18]) disebutkan hadits dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Setiap orang berada dalam naungan sedekahnya hingga perkaranya sesama manusia diputuskan”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan maka Allah memberi kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat”. Ini menunjukkan bahwa kesulitan bisa jadi terjadi di akhirat, karena Allah menjelaskan bahwa Hari Kiamat adalah hari yang sulit dan tidak mudah bagi orang-orang kafir. Ini menunjukkan bahwa Hari Kiamat itu mudah bagi selain mereka. Allah Ta'ala berfirman,

"Dan adalah (hari itu) satu hari yang penuh kesukaran bagi orang-orang kafir". (Al-Furqan: 26).

Memberi kemudahan kepada orang yang kesulitan dengan uang di dunia bisa dengan dua cara;

Pertama, memberinya kelonggaran waktu sampai pada waktu lapang dan ini hukumnya wajib, karena Allah Ta'ala berfirman, "Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan”. (Al-Baqarah: 280).

Kedua, dengan menghapus hutangnya jika orang tersebut berhutang. Jika tidak, maka dengan memberinya sesuatu yang bisa menghilangkan kesulitannya.

Kedua hal tersebut merupakan perbuatan luhur.

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Seorang pedagang memberi pinjaman kepada manusia. Jika ia melihat orang kesulitan membayar hutangnya, ia berkata kepada anak-anaknya, 'Maafkan dia, mudah-mudahan Allah memaafkan kita'. Allah pun memaafkannya”. [19])

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Hudzaifah dan Abu Mas'ud Al-Anshari yang keduanya mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Seseorang meninggal dunia lalu dikatakan kepadanya kemudian ia menjawab, 'Dulu aku pernah melakukan jual-beli dengan manusia kemudian aku memaafkan orang yang berada dalam kondisi lapang dan memberi keringanan kepada orang yang berada dalam kondisi sulit'. Di riwayat lain disebutkan bahwa orang tersebut berkata, "Dulu aku memberi tempo waktu kepada orang yang kesulitan dan memaafkan mata uang - atau ia berkata uang -", kemudian ia diampuni”. [20])

Hadits tersebut juga diriwayatkan Muslim [21]) dari Abu Mas'ud Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Di haditsnya, Muslim berkata bahwa Nabi Shallallahu Alailui wa Sallam bersabda,

'Kemudian Allah berfirman, 'Kami lebih berhak seperti itu daripada dia. Maafkan dia".

Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Qatadah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Siapa ingin diselamatkan Allah dari salah satu kesempitan Hari Kiamat, hendaklah ia meringankan orang yang berada dalam kondisi kesulitan atau hapuslah hutang darinya”. [22])

Muslim juga meriwayatkan hadits dari Abu Al-Yasar Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa memberi kelonggaran waktu kepada orang yang berada dalam kondisi sulit atau menghapus hutang darinya, maka Allah menaunginya di naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya”. [23])

Di Al-Musnad [24]) disebutkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Barangsiapa ingin doanya dikabulkan dan kesempitannya dihilangkan, hendaklah ia memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kondisi sulit”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dan barangsiapa menutupi (aib) orang Muslim maka Allah menutupnya di dunia dan akhirat”. Banyak sekali dalil-dalil serupa dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut. Ibnu Majah [25]) meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa menutupi aurat saudaranya yang Muslim maka Allah menutup auratnya pada Hari Kiamat dan barangsiapa membuka aurat saudaranya yang Muslim maka Allah membuka auratnya hingga Dia menjelek-jelekkannya dengan auratnya tersebut di rumahnya”.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Uqbah bin Amir Radhiyallahu Anhu yang mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Barangsiapa menutupi (aib) orang Mukmin di dunia maka Allah Azza wa jalla menutupinya pada Hari Kiamat”. [26])

Diriwayatkan dari salah seorang dari generasi salaf yang berkata, "Aku pemah berjumpa dengan kaum yang tidak mempunyai aib kemudian mereka menyebutkan aib-aib manusia lalu manusia menyebutkan aib-aib mereka. Aku juga pernah bertemu kaum yang mempunyai aib-aib, kemudian mereka menjaga aib-aib manusia, kemudian aib-aib mereka dilupakan”. Atau seperti yang ia katakan.

Perkataan tersebut diperkuat hadits Abu Barzah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Hai orang-orang yang beriman dengan lidahnya tapi iman tidak masuk ke hatinya, kalian jangan menggunjing kaum Muslimin dan jangan mencari-cari aib mereka, karena barangsiapa mencari-cari aib mereka maka Allah mencari-cari aibnya dan barangsiapa aibnya dicari-cari Allah maka Allah menjelek-jelekkannya di rumahnya”. (Diriwayatkan Imam Ahmad dan Abu Daud). [27]

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits semakna dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma. [28])

Ketahuilah bahwa manusia terbagi ke dalam dua kelompok;

Pertama: Orang yang tidak dikenal melakukan salah satu kemaksiatan. Jika terjadi kekeliruan padanya, kekeliruan tersebut tidak boleh dibongkar dan dibicarakan, karena itu termasuk ghibah (menggunjing) yang diharamkan. Banyak dalil terkait dengan masalah ini, di antaranya ialah firman Allah Ta'ala,

"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang amat keji itu tersiardi kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat". (An-Nuur: 19).

Maksud ayat di atas ialah menyebarkan perbuatan keji orang Mukmin yang perbuatannya tidak diketahui atau ia dituduh sesuatu yang ia sebenarnya bebas daripadanya, seperti yang terjadi di kisah berita bohong yang menimpa Aisyah. Salah seorang menteri yang shalih berkata kepada orang yang melakukan amar ma'ruf, "Hendaklah engkau berusaha menutup para pelaku maksiat karena terbongkarnya kemaksiatan-kemaksiatan mereka adalah aib bagi para pemeluk agama Islam”. Masalah yang paling penting ialah menutup aib. Misalnya, jika seseorang datang dalam keadaan bertaubat, menyesal, dan mengaku berbuat maksiat, namun ia tidak bisa menjelaskan dan tidak diminta memberi penjelasan, maka orang tersebut diperintahkan pulang dan menutup aib dirinya, seperti yang diperintahkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Maiz dan wanita dari kabilah Al-Ghamidi. Dan seperti orang yang berkata di bawah ini tidak diminta memberi penjelasan lebih lanjut tentang kemaksiatannya, "Aku telah berbuat maksiat maka jatuhkan hukuman kepadaku”. Contoh lain, jika seseorang melakukan tindak kejahatan dan tindak kejahatannya tidak sampai terdengar penguasa, maka orang tersebut diberi pembelaan agar tindak kejahatannya tidak sampai terdengar penguasa. Tentang hal ini ada hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Maafkan seluruh kesalahan orang-orang yang akhlaknya baik". (Diriwayatkan Abu Daud dan An-Nasai dari Aisyah). [29]

Kedua: Orang yang terkenal melakukan kemaksiatan-kemaksiatan dengan terang-terangan tanpa memperdulikan kemaksiatan-kemaksiatan yang telah ia kerjakan dan komentar manusia terhadap dirinya. Orang seperti ini jelas orang jahat terang-terangan dan menggunjingnya tidak apa-apa. Ini ditegaskan Al-Hasan Al-Bashri dan lain-lain. Orang seperti itu harus diselidiki untuk dijatuhi hudud. Ini ditegaskan sebagian sahabat-sahabat kami. Ia berhujjah dengan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Hai Unais, pergilah kepada wanita ini jika ia mengaku, rajamlah dia”. [30]) Orang seperti itu tidak wajib dibela jika tertangkap kendati beritanya tidak sampai terdengar penguasa, namun ia dibiarkan hingga hudud dijatuhkan terhadapnya agar ia berhenti dari kejahatannya dan orang-orang sepertinya juga kapok tidak mengulangi perbuatannya. Imam Malik berkata, "Orang yang tidak dikenal menyakiti manusia namun melakukan kesalahan maka tidak apa-apa ia dibela selagi informasinya belum terdengar oleh penguasa. Sedang orang yang terkenal berbuat jahat atau kerusakan maka aku tidak senang kalau ia dibela siapa pun, namun ia dibiarkan hingga had dijatuhkan kepadanya”. Ini dikisahkan Ibnu Al-Mundziri dan lain-lain.

Imam Ahmad memandang makruh melaporkan orang-orang fasik kepada penguasa dalam kondisi apa pun. Ia memandang makruh, karena pada umumnya penguasa tidak menjatuhkan hudud sebagaimana semestinya. Oleh karena itu, ia berkata, "Jika engkau tahu penguasa tersebut menjatuhkan had kepadanya, maka laporkan orang fasik tersebut kepadanya”. Imam Ahmad menyebutkan bahwa orang-orang memukuli seseorang hingga tewas. Dalam kasus tersebut, pembunuhan tidak diperbolehkan.

Jika salah seorang dari kelompok pertama bertaubat, afdhalnya ia bertaubat antara dirinya dengan Allah Ta'ala dan menutup aibnya.

Sedang jika salah seorang dari kelompok kedua bertaubat, ia juga sebaiknya bertindak seperti itu. Ada lagi yang berkata bahwa sebaiknya ia menghadap kepada penguasa dan mengakui kesalahannya yang menyebabkan dirinya mendapatkan had agar ia bersih.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Allah akan menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya”. Di hadits Ibnu Umar disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dan barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya”. Sebelumnya di syarah hadits kedua puluh lima dan kedua puluh enam dijelaskan keutamaan memenuhi kebutuhan. Ath-Thabrani [31]) meriwayatkan hadits dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Perbuatan terbaik ialah memasukkan kebahagiaan kepada orang Mukmin; engkau menutup auratnya, atau mengenyangkan kelaparannya, atau memenuhi kebutuhannya”.

Al-Hasan Al-Bashri mengutus beberapa orang dari sahabat-sahabatnya untuk memenuhi kebutuhan seseorang dan ia berkata kepada mereka, "Hendaklah kalian berjalan melewati Tsabit Al-Bunani dan bawalah dia bersama kalian”. Mereka pun datang kepada Tsabit Al-Bunani yang kemudian berkata, "Aku sedang i'tikaf”. Mereka menemui Al-Hasan Al-Bashri dan bercerita kepadanya tentang perihal Tsabit Al-Bunani. Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Katakan kepada Tsabit Al-Bunani, 'Hai A'masy, tidakkah engkau tahu bahwa jalanmu untuk memenuhi kebutuhan saudaramu yang Muslim itu lebih baik daripada berhaji sekian kali?"' Mereka menemui Tsabit Al-Bunani untuk kedua kalinya kemudian Tsabit Al-Bunani meninggalkan i'tikafnya dan ikut bersama mereka.

Imam Ahmad [32]) meriwayatkan hadits dari putri Khabbab bin Al-Arat yang berkata, "Khabbab keluar di detasemen. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memperhatikan kami hingga beliau memerah kambing untuk kami di mangkok hingga mangkok tersebut penuh dan meluber. Ketika Khabbab datang, ia memerah kambing tersebut dan susunya kembali seperti semula”.

Abu Bakar Ash-Shiddiq memerah kambing-kambing untuk salah satu kampung. Ketika ia diangkat menjadi khalifah, salah seorang wanita kampung tersebut berkata, "Sekarang Abu Bakar tidak lagi memerah kambing-kambing”. Abu Bakar berkata, "Tidak, justru aku berharap kiranya aku tidak bisa dirubah oleh sesuatu yang telah aku masuki dari hal-hal yang biasa aku kerjakan”. Atau seperti yang dikatakan Abu Bakar.

Orang laki-laki memerah susu karena dalam tradisi Arab, orang-orang wanita tidak memerah susu dan orang-orang Arab memandang buruk hal tersebut. Jika orang-orang laki pergi, maka para wanita membutuhkan orang laki-laki yang memerah susu untuk mereka. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda kepada salah satu kaum, "Kalian jangan memberiku minum dari perahan wanita”. [33])

Umar bin Khaththab sering mendatangi para janda kemudian mengambil air untuk mereka pada malam hari. Pada suatu malam, Umar bin Khaththab dilihat Thalhah masuk ke rumah seorang wanita kemudian Thalhah masuk ke rumah wanita tersebut pada siang harinya, ternyata wanita tersebut wanita tua, buta, dan lumpuh. Thalhah bertanya kepada wanita tersebut, "Apa yang diperbuat orang laki-laki tadi malam di rumahmu?" Wanita tersebut menjawab, "Orang ini sejak waktu yang lama datang kepadaku dengan membawa sesuatu yang membuatku baik dan mengeluarkan gangguan dariku”. Thalhah berkata, "Semoga ibumu menjanda - kalimat nada heran -, hai Thalhah, kenapa engkau menyelidiki aurat-aurat Umar?" [34])

Abu Wail berkeliling mendatangi wanita-wanita kampung dan orang-orang lansia setiap hari kemudian ia membeli kebutuhan untuk mereka dan apa saja yang membuat mereka baik.

Mujahid berkata, "Aku pernah menemani Ibnu Umar di perjalanan untuk melayaninya, namun justru ia yang melayaniku”. [35])

Banyak di antara orang-orang shalih memberi syarat kepada sahabat-sahabatnya di perjalanan agar ia yang melayani mereka.

Seseorang menemani salah satu kaum di jihad dan membuat persyaratan kepada mereka agar ia yang melayani mereka. Sesudahnya, jika salah seorang dari mereka ingin membersihkan rambut atau pakaiannya, orang tersebut berkata, "Ini termasuk persyaratanku”. Ia pun mencucinya. Ketika orang tersebut meninggal dunia dan orang-orang melepas pakaiannya untuk dimandikan, ternyata mereka melihat di tangannya tertulis, "Penghuni surga”. Mereka mengamati ternyata tulisan tersebut ditulis di antara kulit dengan daging.

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata,

"Kami bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di perjalanan. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada yang tidak berpuasa. Di hari yang panas kami berhenti di satu tempat. Orang yang paling berteduh adalah pemilik pakaian dan di antara kami ada yang berlindung diri dari terik matahari dengan tangannya. Orang-orang yang berpuasa pun jatuh sedang orang-orang yang tidak berpuasa tetap berdiri. Mereka memasang kemah dan memberi minum kepada para pengendara kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Pada hari ini, orang-orang yang tidak berpuasa pergi dengan membawa pahala”. [36])

Diriwayatkan dari seseorang dari Aslam bahwa makanan disuguhkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di salah satu perjalanan beliau kemudian beliau dan para sahabat makan makanan tersebut, sedang orang dari Aslam tersebut menahan tangannya. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang dari Aslam tersebut, "Ada apa denganmu?" Orang dari Aslam tersebut berkata, "Aku berpuasa”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadanya, "Kenapa engkau berpuasa?" Orang dari Aslam tersebut berkata, "Aku bersama dua orang anakku yang bepergian untukku dan melayaniku”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Mereka selalu mempunyai kelebihan atas engkau”.

Di Maraasilu Abu Daud [37]) disebutkan hadits dari Abu Qilabah bahwa beberapa orang dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba dengan memuji salah seorang sahabat mereka yang mempunyai kebaikan atas mereka. Mereka berkata, "Kami tidak pernah melihat orang seperti si Fulan. Ia tidak berjalan melainkan dalam keadaan membaca Al-Qur'an dan kami tidak berhenti di satu tempat melainkan ia shalat”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Siapa yang memenuhi kebutuhannya?" hingga beliau bersabda, "Siapa yang mencari rumput untuk untanya atau hewan kendaraannya?" Mereka berkata, "Kami”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Kalian semua lebih baik daripada dia”.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkannya jalan ke surga”. Hadits semakna diriwayatkan Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. [38]) Termasuk menempuh jalan untuk mencari ilmu ialah menempuh jalan hakiki, yaitu berjalan kaki ke majlis-majlis ulama dan menempuh jalan-jalan abstrak yang menyebabkan seseorang mendapatkan ilmu seperti menghapalnya, mempelajarinya, mendiskusikannya, menulisnya, memahaminya, dan jalan-jalan abstrak lainnya yang menyebabkan seseorang mendapatkan ilmu.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Maka Allah memudahkannya jalan ke surga”. Bisa jadi maksudnya bahwa Allah memudahkannya kepada ilmu yang ia cari, menempuh jalannya, dan memberi kemudahan kepadanya, karena ilmu adalah jalan ke surga. Ini seperti difirmankan Allah Ta'ala,

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?". (Al-Qamar: 17).

Salah seorang dari generasi salaf [39]) berkata, "Maksud ayat di atas, 'Adakah pencari ilmu kemudian ia dibantu dalam mencarinya?"

Bisa jadi, yang dimaksud sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di atas ialah bahwa Allah memberi kemudahan kepada pencari ilmu jika ia mencarinya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah, mengambil manfaat darinya, dan mengamalkan konsekwensinya. Jadi, ilmu menjadi penyebab ia mendapatkan petunjuk dan masuk surga.

Terkadang Allah memberi kemudahan kepada pencari ilmu dengan memberinya ilmu-ilmu yang dapat ia manfaatkan dan mengantarkannya ke surga, seperti dikatakan, "Barangsiapa mengerjakan apa yang diketahuinya, maka Allah memberinya ilmu tentang hal-hal yang belum ia ketahui”. Atau seperti dikatakan, "Pahala kebaikan ialah kebaikan sesudahnya”. Ini diperkuat firman Allah Ta'ala,

"Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk". (Maryam: 76).

Dan juga ditunjukkan firman Allah Ta'ala,

"Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya”. (Muhammad: 17).

Termasuk dalam cakupan sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah pemberian kemudahan di jalan surga pada Hari Kiamat, yaitu shirath beserta kedahsyatan sebelum dan sesudahnya. Itu semua dimudahkan bagi pencari ilmu agar ia mendapatkan manfaat dari ilmunya, karena ilmu menunjukkan seseorang kepada Allah daripada jalan-jalan kepada-Nya yang lain. Jadi, barangsiapa menempuh jalan ilmu dan tidak berpaling darinya, ia tiba kepada Allah dan surga daripada jalan-jalan lain yang paling dekat dan mudah. Karenanya, semua jalan ke surga di dunia dan akhirat menjadi mudah bagi pencari ilmu. Jadi, tidak ada jalan untuk kenal Allah, tiba di keridhaan-Nya, sukses berdekatan dengan-Nya, dan bertetanggaan dengan-Nya di akhirat, kecuali dengan ilmu yang bermanfaat di mana Allah mengutus para Rasul-Nya dengan ilmu tersebut dan menurunkan Kitab-kitab-Nya dengannya. Ini bukti bagi pencari ilmu dan dengan ilmu itu pula ia mendapatkan petunjuk di kegelapan kebodohan, syubhat, dan keragu-raguan. Oleh karena itu, Allah menamakan Kitab-Nya sebagai cahaya, karena memberi petunjuk di kegelapan. Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan Allah mengeluarkan orang-orang dari gelap-gulita kepada cahaya yang terang-benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. (Al-Maidah 15-16).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumpamakan para pengemban ilmu yang beliau bawa seperti bintang-bintang yang dijadikan sebagai petunjuk di kegelapan. Di Al-Musnad [40]) disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang dijadikan sebagai petunjuk di kegelapan daratan dan lautan. jika bintang-bintang hilang sinarnya, maka para juru petunjuk nyaris tersesat”.

Jika ilmu tetap ada di bumi, manusia senantiasa berada di atas petunjuk dan ilmu abadi dengan keberadaan para pengembannya. Jika para pengembannya dan orang-orang yang mengamalkannya tidak ada lagi, manusia jatuh dalam kesesatan. Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut dengan mencabutnya dari dada manusia, namun Dia mencabutnya dengan mencabut para ulama. Jika orang ulama tidak ada lagi, maka manusia mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin; jika mereka ditanya, mereka berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan". [41])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa ilmu akan hilang pada suatu hari. Ditanyakan kepada beliau, "Bagaimana ilmu hilang, padahal kita membaca Al-Qur’an dan membacakannya kepada wanita-wanita dan anak-anak kami?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Taurat dan Injil masih ada di tangan orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen, namun mereka tidak mendapatkan manfaat darinya”. Ubadah bin Ash-Shamit pernah ditanya tentang hadits ini kemudian ia menjawab, "Jika aku mau, aku jelaskan kepadamu tentang ilmu yang pertama kali dicabut dari manusia, yaitu khusyu'“. [42])

Ubadah bin Ash-Shamit berkata seperti itu, karena ilmu terbagi ke dalam dua jenis;

  1. Ilmu yang buahnya ada di hati manusia. Ilmu tersebut adalah ilmu tentang Allah Ta'ala, Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, dan Perbuatan-perbuatan-Nya yang membuat orang takut kepada Allah, segan kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada-Nya, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, berdoa kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, dan lain sebagainya. Itulah ilmu yang bermanfaat seperti dikatakan Ibnu Mas'ud, "Banyak orang membaca Al-Qur'an namun Al-Qur'an tidak melewati tulang selangka mereka. Tapi jika Al-Qur'an mengenai hati kemudian bersemayam di dalamnya, itulah yang bermanfaat”.

Al-Hasan berkata, "Ilmu ada dua; Pertama, ilmu di lidah. Itulah hujjah Allah pada manusia. Kedua, ilmu di hati. Itulah ilmu yang bermanfaat”. [43])

  1. Ilmu di lidah. Itulah hujjah Allah seperti dikatakan di hadits, "Al-Qur’an adalah hujjah bagimu atau atasmu”. [44]) Jadi, ilmu yang pertama kali dicabut ialah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu batin yang menyatu dengan hati dan memperbaikinya. Sedang yang tersisa ialah ilmu di lidah kemudian manusia; para pengembannya atau selain mereka, menyia-nyiakannya dan tidak mengamalkannya. Kemudian ilmu hilang dengan kematian para pengembannya, akibatnya, Al-Qur'an hanya ada di mushaf tanpa ada orang yang mengerti makna-maknanya, batasan-batasannya, dan hukum-hukumnya. Hal tersebut berkembang terus hingga akhir zaman kemudian tidak ada yang tersisa di mushaf dan hati. Setelah itu, Kiamat terjadi, seperti disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Hari Kiamat tidak terjadi kecuali pada manusia yang jahat”. [45])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

"Kiamat tidak terjadi pada saat di bumi ada orang yang berkata, ‘Allah. Allah'". [46])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tidaklah satu kaum duduk di salah satu rumah Allah; mereka membaca Kitabullah dan mengkajinya sesama mereka, melainkan ketenangan turun pada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di makhluk yang ada di samping-Nya”. Sabda tersebut menjadi dalil tentang disunnahkannya duduk di masjid-masjid untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Ini jika sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tersebut ditafsirkan kepada mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya. Jadi, tidak ada perbedaan pendapat tentang disunnahkannya duduk di masjid-masjid untuk membaca dan mempelajari Al-Qur'an. Di Shahih Al-Bukhari disebutkan hadits dari Utsman Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Orang terbaik dari kalian ialah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mempelajarinya”. [47])

Abu Abdurrahman As-Sulami berkata, "Itulah yang membuatku duduk di tempat dudukku ini”. Abu Abdurrahman As-Sulami mengajarkan Al-Qur'an pada zaman kekhalifahan Utsman bin Affan hingga pada masa Al-Hajjaj bin Yusuf.

Jika sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di atas ditafsirkan kepada makna yang lebih umum, maka mencakup berkumpul di masjid-masjid untuk mengkaji Al-Qur'an secara mutlak, karena terkadang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyuruh seseorang membaca Al-Qur'an agar beliau bisa mendengarkan bacaannya, seperti misalnya beliau menyuruh Ibnu Mas'ud membaca Al-Qur'an. Beliau bersabda, "Aku ingin mendengarnya dari orang lain". [48]) Umar bin Khaththab menyuruh seseorang membaca Al-Qur'an, sedang ia dan sahabat-sahabat lain mendengarkannya. Terkadang Umar bin Khaththab menyuruh Abu Musa atau Uqbah bin Amir.

Ibnu Abbas pernah ditanya, "Perbuatan apakah yang paling baik?" Ibnu Abbas menjawab, "Dzikir kepada Allah. Tidaklah suatu kaum duduk di salah satu rumah Allah kemudian mereka membaca dan mempelajari Al-Qur'an sesama mereka, melainkan para malaikat menaungi mereka dengan sayap-sayapnya dan mereka adalah tamu-tamu Allah selagi mereka dalam kondisi seperti itu hingga mereka beralih kepada pembahasan lain”. Perkataan yang sama diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun yang lebih benar perkataan tersebut dari Ibnu Abbas.

Yazid Ar-Raqasyi meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu yang berkata, "Setelah mengerjakan shalat Shubuh, para sahabat duduk di halaqah-halaqah guna membaca Al-Qur'an, mempelajari kewajiban-kewajiban (fardhu) dan sunnah-sunnah, dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla”.

Athiyah meriwayatkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Tidaklah satu kaum telah mengerjakan shalat Shubuh kemudian mereka duduk di tempat-tempat shalat mereka guna membaca Al-Qur'an dan mempelajarinya, melainkan Allah mewakilkan mereka kepada para malaikat guna memintakan ampunan untuk mereka hingga mereka beralih kepada pembahasan lain”.

Ini menunjukkan disunnahkannya berkumpul usai shalat Shubuh untuk mempelajari Al-Qur'an, namun Athiyah termasuk perawi dhaif.

Harb Al-Karmani meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-Auzai yang pernah ditanya tentang belajar setelah shalat Shubuh. Ia menjawab, "Aku diberitahu Hassan bin Athiyah bahwa orang yang pertama kali melakukannya di Masjid Damaskus ialah Hisyam bin Ismail Al-Makhzumi pada masa kekhalifahan Abdul Malik bin Marwan kemudian manusia menirunya”.

Harb Al-Karmani juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Sa'id bin Abdul Aziz dan Ibrahim bin Sulaiman bahwa keduanya belajar Al-Qur'an setelah shalat Shubuh di Beirut. Ketika itu, Al-Auzai sedang di masjid dan tidak melarangnya.

Harb Al-Karmani menyebutkan bahwa ia melihat orang-orang Damaskus, orang-orang Himsh, orang-orang Makkah, dan orang-orang Basrah berkumpul untuk membaca Al-Qur'an usai shalat Shubuh. Namun orang-orang Syam membaca Al-Qur'an semuanya dari satu surat dengan suara tinggi. Sedang orang-orang Makkah dan orang-orang Basrah berkumpul; salah seorang dari mereka membaca sepuluh ayat sedang orang-orang lainnya diam kemudian orang lainnya membaca sepuluh ayat lainnya hingga mereka selesai membaca Al-Qur'an. Harb Al-Karmani berkata, "Semua itu baik”.

Perbuatan orang-orang Syam tersebut ditentang Imam Malik. Zaid bin Ubaid Ad-Dimasyqi berkata, "Malik bin Anas berkata kepadaku, 'Aku dengar kalian duduk di halaqah-halaqah guna membaca Al-Qur'an'. Aku pun menjelaskan kepada Malik bin Anas tentang kebiasaan yang dikerjakan sahabat-sahabat kami kemudian Malik bin Anas berkata, 'Di tempat kami terdapat kaum Muhajirin dan Anshar, namun kami tidak mengenal kebiasaan seperti itu pada mereka'. Aku berkata,'Tharif juga ikut?' Malik bin Anas berkata, 'Tharif adalah orang yang membaca, sedang orang-orang berkumpul di sekitarnya. Ini bukan termasuk pendapat kami'“.

Abu Mush'ab dan Ishaq bin Muhammad Al-Farawi berkata, "Kami dengar Malik bin Anas berkata, 'Pertemuan pagi hari usai shalat Shubuh untuk membaca Al-Qur'an adalah bid'ah, karena sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para ulama sepeninggal mereka tidak melakukannya. Usai shalat, setiap dari mereka menyendiri guna membaca Al-Qur'an dan dzikir kepada Allah Azza wa Jalla kemudian pulang tanpa bicara kepada yang lain karena setiap dari mereka sibuk dzikir kepada Allah. Jadi, ini semua (berkumpul untuk membaca Al-Qur'an atau dzikir) itu bid'ah'“.

Ibnu Wahb berkata, "Aku dengar Malik bin Anas berkata, 'Membaca Al-Qur'an di masjid bukan kebiasaan manusia terdahulu dan orang yang pertama kali mengadakannya di masjid ialah Al-Hajjaj bin Yusuf'“.

Malik bin Anas juga berkata, "Aku memandang makruh orang membaca Al-Qur'an di masjid”.

Ini semua disebutkan Abu Bakr An-Nisaburi di Manaqibu Malik Rahimahullah.

Sebagian besar ulama berhujjah tentang disunnahkannya berkumpul untuk membaca Al-Qur'an dengan hadits-hadits yang menunjukkan disunnahkannya berkumpul untuk dzikir dan Al-Qur'an adalah jenis dzikir yang paling baik. Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan guna mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka mendapatkan kaum yang berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, mereka berseru, 'Mari pergi kepada kebutuhan-kebutuhan kalian'. Kemudian malaikat-malaikat tersebut melindungi orang-orang yang berdzikir tersebut dengan sayap-sayap mereka hingga langit dunia. Tuhan mereka - yang lebih tahu tentang mereka - berfirman kepada para malaikat, 'Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?' Para malaikat berkata, 'Mereka menyucikan-Mu (bertasbih), bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu, dan mengagungkan-Mu'. Allah berfirman, 'Apakah mereka melihat-Ku?' Para malaikat berkata, 'Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu'. Allah berfirman, 'Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?' Para malaikat berkata, 'Seandainya mereka melihat-Mu, mereka lebih giat beribadah, mengagungkan, bertahmid, dan bertasbih untuk-Mu.' Allah berfirman, 'Apa yang mereka minta kepada-Ku?' Para malaikat berkata, 'Mereka minta surga kepada-Mu'. Allah berfirman,'Apakah mereka pernah melihat surga?' Para malaikat berkata, 'Tidak, demi Allah, mereka tidak pernah melihat surga'. Allah berfirman, 'Bagaimana seandainya mereka melihat surga?' Para malaikat berkata, 'Seandainya mereka melihat surga, mereka lebih kuat meminta, mencarinya, dan menginginkannya'. Allah berfirman, 'Mereka minta perlindungan dari apa?' Para malaikat berkata, ‘Dari neraka'. Allah berfirman, 'Apakah mereka pernah melihat neraka?' Para malaikat berkata, 'Tidak, Tuhanku, mereka tidak pernah melihat neraka'. Allah berfirman, 'Bagaimana seandainya mereka pemah melihat neraka?' Para malaikat berkata, 'Jika mereka melihat neraka, mereka berlari sekuat tenaga darinya dan sangat takut kepadanya'. Allah Ta'ala berfirman, 'Aku bersaksi kepada kalian bahwa Aku mengampuni mereka'. Salah satu malaikat berkata, 'Di antara mereka terdapat si Fulan yang bukan termasuk dari mereka. Orang tersebut datang guna memenuhi kebutuhannya'. Allah berfirman, 'Mereka semua satu teman duduk dan teman duduk mereka tidak celaka karena mereka'“. [49])

Di Shahih Muslim [50]) disebutkan hadits dari Muawiyah Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar ke salah satu halaqah sahabat-sahabat beliau kemudian bersabda, "Apa yang membuat kalian duduk?" Para sahabat berkata, 'Kita duduk untuk dzikir kepada Allah Azza wa Jalla dan memuji-Nya karena Dia telah memberi petunjuk kami kepada Islam dan menganugerahkan nikmat kepada kami”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Demi Allah, apakah kalian duduk karena itu semua?" Para sahabat berkata, "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali karena tujuan tersebut”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya aku minta kalian bersumpah tidak karena menuduh kalian, karena Jibril datang kepadaku kemudian memberi penjelasan kepadaku bahwa Allah Ta'ala membanggakan kalian kepada para malaikat”.

Al-Hakim [51]) meriwayatkan hadits Muawiyah Radhiyallahu Anhu yang berkata,

'Pada suatu hari, aku bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian beliau masuk masjid, ternyata di dalamnya terdapat kaum yang sedang duduk. Beliau bersabda, 'Kenapa kalian duduk?' Mereka berkata, 'Kami telah mengerjakan shalat wajib kemudian duduk guna mempelajari Kitabullah Azza wa jalla dan Sunnah Nabi-Nya'. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya jika Allah disebut (dzikir), maka Dia menganggap besar dzikir tersebut".

Hadits-hadits yang semakna dengan hadits tersebut masih banyak lagi.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa pahala orang-orang yang duduk di salah satu rumah Allah guna mempelajari Al-Qur'an ialah empat hal;

 

1.      Turunnya Ketenangan Pada Mereka

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Al-Barra' bin Azib Radhiyallahu Anhu yang berkata, "Seseorang membaca surat Al-Kahfi dan di sampingnya terdapat kuda kemudian ia ditutupi awan. Awan tersebut berputar-putar dan mendekat hingga kuda orang tersebut lari dari awan tersebut. Keesokan harinya, orang tersebut menghadap kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bercerita kepada beliau tentang kejadian yang dialaminya. Beliau bersabda, 'Itulah ketenangan yang turun bagi Al-Qur'an'“. [52])

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahlh Muslim [53]) juga disebutkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu bahwa Usaid bin Hudhair membaca Al-Qur'an di tempat penambatan unta miliknya, tiba-tiba kudanya berputar-putar. Ia membaca Al-Qur'an lagi, tiba-tiba kudanya berputar-putar. Ia membaca Al-Qur'an lagi, tiba-tiba kudanya berputar-putar. Usaid bin Hudhair berkata, 'Aku khawatir kudaku menginjak Yahya – anaknya -, karenanya aku mendekat pada kuda tersebut, ternyata ada seperti naungan di atas kepalaku dan di naungan tersebut terdapat lampu-lampu yang naik ke udara hingga aku tidak melihatnya'. Keesokan harinya, Usaid bin Hudhair menghadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan bercerita kepada beliau tentang kejadian tersebut. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Naungan tersebut adalah para malaikat yang mendengar bacaanmu. Jika engkau tetap membaca Al-Qur'an, pasti para malaikat tersebut bisa dilihat manusia keesokan harinya'“. Teks kedua hadits di atas menurut Muslim.

Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan hadits dari Yahya bin Ayyub dari Ubaidillah bin Zahr dari Sa'ad bin Mas'ud bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di majlis kemudian beliau mengangkat penglihatan ke langit, menundukkannya, dan mengangkatnya kembali. Beliau ditanya tentang hal tersebut kemudian bersabda, "Sesungguhnya kaum tersebut - orang-orang di majlis depan beliau - berdzikir kepada Allah kemudian ketenangan seperti kubah turun pada mereka yang dibawa malaikat-malaikat. Ketika ketenangan tersebut dekat dengan mereka, tiba-tiba salah seorang dari mereka berkata batil, karenanya ketenangan tersebut diangkat dari mereka”. Hadits ini mursal.

 

2.      Diliputi Rahmat

Allah Ta'ala berfirman,

"Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik”. (Al-A'raaf: 56).

Al-Hakim [54]) meriwayatkan hadits dari Salman bahwa ia berada di kelompok yang sedang berdzikir kepada Allah kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati mereka dan bersabda, "Apa yang kalian katakan? Karena aku lihat rahmat turun kepada kalian, jadi, aku ingin juga mendapatkannya bersama kalian?"

Al-Bazzar meriwayatkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat yang berjalan untuk mencari kelompok-kelompok dzikir. Jika mereka datang di kelompok-kelompok dzikir tersebut, mereka mengelilinginya kemudian mereka mengirim penunjuk jalan mereka ke langit kepada Pemilik Kekuatan Tabaraka wa Ta'ala kemudian berkata, 'Wahai Tuhan kami, kami mendatangi hamba-hamba dari hamba-hamba-Mu yang mengagungkan nikmat-nikmat-Mu, membaca Kitab-Mu, bershalawat untuk Nabi-Mu, dan minta kepada-Mu untuk akhirat dan dunia mereka'. Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, 'Liputi mereka dengan rahmat-Ku'. Para malaikat berkata, 'Di antara mereka terdapat orang yang banyak berbuat salah dan hanya nimbrung dengan mereka'. Allah berfirman, ‘Liputi mereka dengan rahmat-Ku (karena mereka teman-teman duduk di mana teman duduk tidak celaka bersama mereka)'“. [55])

 

3.   Para malaikat mengelilingi mereka

Ini telah disebutkan di hadits-hadits sebelumnya. Di hadits Abu Hurairah sebelumnya disebutkan, "Kemudian para malaikat mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya hingga ke langit dunia”. Di riwayat Imam Ahmad [56]), "Sebagian dari mereka naik di atas sebagian yang lain hingga mereka tiba di Arasy”.

Khalid bin Ma'dan berkata - ia mengatakannya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam - ,"Sesungguhnya Allah mempunyai malaikat-malaikat di angkasa. Mereka berkelana di antara langit dan bumi untuk mencari dzikir. Jika mereka mendengar salah satu kaum berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, mereka berkata, 'Pelan-pelanlah, semoga Allah memberi tambahan kepada kalian'. Kemudian mereka mengembangkan sayap-sayap mereka di sekitar kaum tersebut hingga perkataan kaum tersebut naik di kelompok yang lebih baik daripada mereka (para malaikat)”. (Diriwayatkan Al-Khallal di As-Sunnah). [57]

 

4.    Allah Menyebut Mereka Di Makhluk Yang Ada Di Samping-Nya

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku menurut dugaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia ingat (zikir) kepada-Ku sendirian maka Aku ingat kepadanya sendirian dan jika ia ingat (dzikir) kepada-Ku di kelompok maka Aku ingat kepadanya di kelompok yang lebih baik daripada mereka”. [58])

Keempat hal tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang berkumpul untuk dzikir kepada Allah Ta'ala, seperti disebutkan hadits di Shahih Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya orang-orang yang berdzikir kepada Allah mempunyai empat hal, ketenangan turun kepada mereka, mereka diliputi rahmat, malaikat mengelilingi mereka, dan Allah ingat mereka di makhluk yang ada di sisi-Nya”. [59])

Allah Ta'ala berfirman,

"Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku ingat kepada kalian”. (Al-Baqarah: 152).

Bentuk Allah Ta'ala ingat hamba-Nya ialah sanjungan Allah kepadanya di kelompok tertinggi di antara malaikat-malaikat-Nya, membanggakannya di depan mereka, dan memujinya dengan ingat kepadanya.

Ar-Rabi' bin Anas [60]) berkata, "Sesungguhnya Allah ingat kepada orang yang ingat kepada-Nya, menambahkan nikmat kepada orang yang bersyukur, dan menyiksa orang yang kafir kepada-Nya”.

Allah Ta'ala berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang bershalawat kepada kalian dan malaikat-Nya supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya”. (Al-Ahzab: 41-43).

Bentuk shalawat Allah kepada hamba-Nya ialah menyanjungnya di antara malaikat-malaikat-Nya dan memujinya dengan ingat kepadanya. Itu yang dikatakan Abu Al-Aliyah dan disebutkan Al-Bukhari di Shahih-nya. [61])

Seseorang berkata kepada Abu Umamah, "Di mimpiku, aku seperti melihat para malaikat bershalawat kepadamu setiap kali engkau masuk, keluar, berdiri, dan duduk”. Abu Umamah berkata, "Engkau juga kalau engkau mau, maka para malaikat bershalawat kepadamu”. Kemudian Abu Umamah membaca firman Allah Ta'ala, "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang bershalawat kepada kalian dan malaikat-Nya supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya”. (Al-Ahzab: 41-43). (Diriwayatkan Al-Hakim). [62]

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Barangsiapa amalnya lamban, maka ia tidak bisa dipercepat oleh nasabnya", maksudnya bahwa amal perbuatanlah yang mengantarkan seorang hamba ke derajat-derajat akhirat, seperti difirmankan Allah Ta'ala,

"Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat karena apa yang dikerjakannya”. (Al-An'am: 132).

Jadi, barangsiapa amal perbuatannya lamban untuk mencapai tingkatan-tingkatan tinggi di sisi Allah, ia tidak bisa dipercepat oleh nasabnya untuk mendapatkan tingkatan-tingkatan tersebut, karena Allah menentukan pahala karena amal perbuatannya dan bukan karena nasabnya, seperti yang Dia firmankan,

"Apabila sangkakala ditiup maka tidak ada lagi pertalian nasab di antara mereka pada hari itu dan tidak ada pula mereka saling bertanya”. (Al-Mukminun: 101).

Allah Ta'ala memerintahkan kaum Muslimin bersegera kepada ampunan dan rahmat-Nya dengan amal perbuatan, seperti difirmankan Allah Ta'ala,

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang berinfak baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang; Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”. (Ali Imran:133-134).

Allah Ta'ala juga berfirman,

"Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut kepada Tuhan mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka. Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya”. (Al-Mukminun: 57-61).

Ibnu Mas'ud berkata, "Allah memerintahkan shirath (titian) dipasang di atas Jahannam kemudian manusia berjalan kelompok demi kelompok sesuai dengan amal perbuatan mereka. Orang pertama dari mereka berjalan seperti jalannya kilat, kemudian seperti jalannya angin, kemudian seperti jalannya burung, kemudian seperti jalannya hewan ternak, hingga seseorang berjalan dengan berlari, hingga seseorang berjalan dengan berjalan kaki, dan hingga orang terakhir dari mereka berguling-guling di atas perutnya. Orang tersebut berkata, ‘Tuhanku, kenapa engkau memperlambat jalanku?' Allah berfirman, 'Aku tidak memperlambat jalanmu, namun amalmu yang membuatmu lamban''. [63])

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa ketika ayat, "Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”. (Asy-Syu'ara': 214), Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Hai seluruh orang-orang Quraisy, belilah diri kalian dari Allah, karena aku sedikit pun tidak bisa membela kalian dari adzab Allah. Hai Bani Abdul Muththalib, sedikit pun aku tidak bisa membela kalian dari adzab Allah. Hai Abbas bin Abdul Muththalib, sedikit pun aku tidak bisa membela kalian dari Allah. Hai Shafiyah paman Rasulullah dari jalur ayah, sedikit pun aku tidak bisa membela kalian dari adzab Allah. Hai Fathimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa saja yang engkau inginkan, karena sedikit pun aku tidak bisa membela kalian dari adzab Allah”.

Di riwayat di selain Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan,

"Sesungguhnya wali-waliku dari kalian ialah orang-orang bertakwa. Manusia datang dengan amal perbuatan, sedang kalian datang dengan dunia yang kalian pikul di pundak kalian kemudian kalian berkata, 'Hai Muhammad', dan aku pun menjawab, 'Aku telah menyampaikan“.

Ibnu Abu Ad-Dunya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Sesungguhnya wali-waliku ialah orang-orang bertakwa pada Hari Kiamat kendati salah satu nasab lebih dekat daripada nasab lainnya. Manusia datang dengan membawa amal perbuatan sedang kalian datang dengan dunia yang kalian pikul di pundak kalian dan kalian berkata, ‘Hai Muhammad. Hai Muhammad', kemudian aku berkata, Seperti ini. Seperti ini'. Kemudian aku berpaling dari kedua sisi dunia”. [64])

Al-Bazzar [65]) meriwayatkan hadits dari Rifa'ah bin Rafi' Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada Umar bin Khaththab, "Kumpulkan kaummu - yaitu orang-orang Quraisy - untuk bertemu denganku”. Umar bin Khaththab pun mengumpulkan mereka kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya wali-waliku dari kalian ialah orang-orang bertakwa. Jika kalian menjadi orang-orang bertakwa itulah yang baik. Jika tidak, lihatlah manusia datang dengan amal-amal pada Hari Kiamat sedang kalian datang dengan beban kemudian dihindarkan dari kalian”. Hadits ini juga diriwayatkan Al-Hakim secara ringkas dan menshahihkannya.

Di Al-Musnad disebutkan hadits dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu bahwa ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirimnya ke Yaman, beliau keluar menemuinya untuk berwasiat kepadanya kemudian beliau menoleh dan menghadapkan wajah ke Madinah lalu bersabda, "Sesungguhnya manusia yang paling berhak terhadapku ialah orang-orang bertakwa siapa pun mereka dan di mana pun mereka”.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani dan ia menambahkan di dalamnya, "Sesungguhnya keluarga rumahku berpendapat bahwa mereka manusia yang paling berhak terhadapku, namun sebenarnya tidak begitu. Sesungguhnya wali-waliku ialah orang-orang bertakwa dari kalian siapa pun mereka dan di mana pun mereka”. [66])

Itu semua diperkuat hadits di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhuma bahwa ia mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya keluarga ayah si Fulan bukan wali-waliku, namun wali-waliku ialah Allah dan orang-orang Mukmin yang shalih”. [67])

Hadits tersebut mengisyaratkan bahwa hubungan kewalian (kedekatan) tidak bisa didapatkan dengan nasab kendati nasab tersebut dekat, namun diperoleh dengan amal shalih. Jadi, barangsiapa iman dan amalnya paling sempurna, maka kewaliannya dengan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sangat agung kendati nasab kekeluargaannya jauh dengan beliau atau bahkan tidak mempunyai hubungan nasab kekeluargaan dengan beliau. Tentang makna ini, salah seorang penyair berkata,

"Aku bersumpah kepadamu bahwa manusia tidak lain dengan agamanya

Engkau jangan tinggalkan takwa hanya karena bersandar pada nasab

Sungguh Islam meninggikan Salman Al-Farisi

Dan syirik merendahkan orang celaka Abu Lahab”.

 

 



[1] Hadits nomer 2699. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 2/252, 407, Abu Daud hadits nomer 3643, At-Tirmidzi hadits nomer 2646, 2945, Ibnu Majah hadits nomer 225, Ibnu Abu Syaibah 8/729, Ad-Darimi 1/99, dan Al-Baghawi hadits nomer 127, 130. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 84, 534, 5045.

[2] Diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 4946 dan At-Tirmidzi hadits nomer 1325, 1930.

[3] Diriwayatkan Imam Ahmad 2/152, Abu Daud hadits nomer 3460, Ibnu Majah hadits nomer 2199, dan Al-Hakim 2/45. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5030.

[4] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2442, 6951, Muslim hadits nomer 2580, Imam Ahmad 2/91, Abu Daud hadits nomer 4893, dan At-Tirmidzi hadits nomer 1426. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 533.

[5] Di Al-Kabir 19/350. Di sanadnya terdapat perawi Laits bin Abu Sulaim yang merupakan perawi dhaif dan Syu'aib Al-Anmathi di mana Al-Haitsami berkata di Majmauz Zawaid 8/193, ”Identitasnya tidak diketahui”.

[6] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/104. Di sanadnya terdapat perawi An'anah bin Juraij. Baca Majmauz Zawaid 1/134 dan Ar-Rihlati fi Thalabil Hadits hal. 118-124.

[7] Dari Usamah bin Zaid, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 1283. Muslim hadits nomer 923, Abu Daud hadits nomer 3125, An-Nasai 4/22, dan Ibnu Hibban hadits nomer 1588.

[8] Dari Hisyam bin Hakim bin Hizam, hadits tersebut diriwayatkan Muslim hadits nomer 2613 dan Abu [)and hadits nomer 3045. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5612.

[9] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2449 dan Imam Ahmad 3/13-14. Di sanadnya terdapat Athiyah Al-Aufi yang merupakan perawi dhaif. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini gharib (dhaif)”. Hadits tersebut juga diriwayatkan secara mauquf dari Abu Sa'id dan itu yang paling benar.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 1682 dari jaiur lain. Di sanadnya terdapat Abu Khalid Ad-Dalani yang banyak salahnya.

[10] Di Ishthinaul Ma'ruf seperti terlihat di At-Targhib wat Tarhib 2/66.

[11] Juga diriwayatkan Abu Ya'la hadits nomer 3490. Di sanadnya terdapat Ali bin Abu Sarah. Abu Daud berkata, "Para ulama meninggalkan haditsnya”. Al-Bukhari berkata”. Di haditsnya terdapat catatan”. Abu Hatim berkata, ‘Ia perawi dhaif”. Al-Haitsami berkata di Majmauz Zawaid 10/382, "Ia tidak bisa dijadikan hujjah”.

Hadits semakna diriwayatkan Ibnu Majah hadits nomer 3685. Di sanadnya terdapat Yazid bin Aban Ar-Raqasyi.

[12] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4712, Muslim hadits nomer 94, dan Imam Ahmad 2/435-436.

[13] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6527, Muslim hadits nomer 2859, dan An-Nasai 4/114.

[14] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6531, dan Muslim hadits nomer 2862.

[15] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6532 dan Muslim hadits nomer 2863.

[16] Teks yang disebutkan Ibnu Rajab di atas adalah teks At-Tirmidzi hadits nomer 2421. Teks Muslim hadits nomer 2864 ialah dari Abdurrahman bin Jabir yang berkata, Sulaim bin Amir berkata kepadaku, Al-Miqdad bin Al-Aswad berkata kepadaku, aku dengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Pada Hari Kiamat, matahari didekatkan dengan manusia hingga jaraknya dengan mereka ialah satu mil”.

[17] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Ba'ats. Sanadnya dianggap kuat oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/394.

[18] 4/147-148. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 3310.

[19] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2078, 3480, Muslim hadits nomer 1562, dan An-Nasai 7/3 18. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5041 dan 5042.

[20] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2077. 2391, 3451 dan Muslim hadits nomer 1560.

[21] Hadits nomer 1561.

[22] Diriwayatkan Muslim hadits nomer 1563.

[23] Diriwayatkan Muslim hadits nomer 3006. Kalimat, "Di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya", tidak diriwayatkan di Shahih Muslim namun diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir 19/372, 380, Al-Qadhai di Musad-nya hadits nomer 460, 461, 462, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 2/19-20. Hadits tersebut juga diriwayatkan di Shahih Ibnu Hibban hadits nomer5044.

[24] 2/23 dari jalur Zaid Al-Ami dari Ibnu Umar. Zaid Al-Ami kendati dhaif, ia tidak mendengar hadits tersebut dari Ibnu Umar.

[25] Hadits nomer 2546. Sanadnya dianggap hasan oleh Al-Hafidz Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 3/239. Al-Bushairi berkata di Az-Zawaid hal. 163, “Di sanadnya terdapat catatan”. Tentang Muhammad bin Utsman bin Shafwan Al-Jumahi, Abu Hatim berkata "Haditsnya munkar dan dhaif”. Ad-Daruquthni berkata, "Ia tidak kuat”. Ia disebutkan Ibnu Hibban di Ats-Tsiqaat dan perawi lainnya adalah perawi tepercaya. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Muslim di Shahih-nya dan para penulis As-Sunan. Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari Ibnu Umar. Saya katakan, jadi hadits tersebut shahih.

[26] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/159. Sanadnya terputus, seperti dikatakan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 1/134. Baca juga Ar-Rihlah fi Thalabil Hadits Al-Khathib hadits nomer 34, 35.

[27] Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad 4/420-421, 424 dan Abu Daud hadits nomer 4859. Sanadnya hasan karena hadits-hadits penguat.

[28] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2032. Ia berkata, "Hadits tersebut hasan gharib”. Atau seperti yang ia katakan. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5763. Hadits tersebut penguat hadits sebelumnya. Di tema ini terdapat hadits dari Al-Barra' bin Azib yang diriwayatkan Abu Ya'la hadits nomer 1675.

[29] Diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 4375, An-Nasai di As-Sunan Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 12/413, Imam Ahmad 6/181, dan Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 465. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 94.

[30] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2314 dan Muslim hadits nomer 1697. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 4437.

[31] Di Al-Ausath seperti terlihat di Majmaul Bahrain 69/2 namun hadits tersebut dianggap dhaif oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 3/130. Di sanadnya terdapat perawi Muhammad bin Basyir Al-Kindi dan Katsir An-Nawa' yang keduanya merupakan perawi dhaif.

Saya katakan, hadits tersebut menjadi kuat dengan hadits Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Perbuatan paling baik ialah engkau memasukkan kebahagiaan kepada saudaramu yang Mukmin dan Muslim, atau engkau membayar hutangnya, atau memberinya roti”. Hadits ini diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Qadhaul Hajah hadits nomer 112 dari Ahmad bin Hanbal dari Ammar bin Muhammad bin saudara perempuan Sufyan Ats-Tsauri dari Muhammad bin Amr dari Abu Salamah dari Abu Hurairah. Sanad tersebut hasan.

Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 684 meriwayatkan, Hisyam bin Al-Ghaz berkata kepada kepadaku dari seseorang dari Abu Syuraik bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Di antara perbuatan yang paling dicintai Allah ialah memasukkan kebahagiaan kepada orang Muslim, atau menghilangkan kesedihan darinya, atau membayar hutangnya, atau memberinya makan dari kelaparan”.

[32] Di Al-Musnad 6/372. Al-Haitsami berkata di Majmauz Zawaid 8/312 – ia juga menambahkan bahwa hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani -, "Para perawi keduanya adalah para perawi shahih kecuali Abdurrahman bin Zaid Al-Faisyi yang merupakan perawi tepercaya. Saya katakan, di At-Ta’jil hal 250, Ibnu Al-Madini berkata, "Identitasnya tidak diketahui”. Ia disebutkan Ibnu Hibban, "Ia dibunuh di Al-Jamajim”. Ada yang mengatakan bahwa nama ayahnya ialah Yazid.

[33] Diriwayatkan Ibnu Sa'ad di Ath-Thabagaat 6/43 dan Al-Bazzar hadits nomer 2903 dari jalur Umru'ul Qais Al-Muhazili dari Ashim bin Bujair dari Ibnu Abu Syaikh dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Tentang Umru'ul Qais, Al-Azdi berkata seperti dinukil darinya oleh Adz-Dzahabi di Al-Mizan 1/275, "Dari Ashim bin Bujair, ia mendapatkan hadits munkar yang tidak shahih”. Hadits tersebut juga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 5/83. Ia berkata, "Di sanadnya terdapat sejumlah perawi yang tidak aku ketahui”.

[34] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/48.

[35] Al-Hilyah 3/285-286.

[36] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2890, Muslim hadits nomer 1119. An-Nasai 4/182. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 3558.

[37] Hadits nomer 306 dengan tahqiq kami.

[38] Diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 3641 dan Ibnu Majah hadits nomer 223. Hadis tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 88. Hadits tersebut hasan karena diperkuat hadits-hadits lain.

[39] Ia adalah Mathar Al-Warraq. Perkataan tersebut diriwayatkan darinya oleh Ath-Thabari di Jamiul Bayan 27/97 dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/76.

[40] 3/157. Sanad hadits tersebut dhaif karena salah seorang perawinya yaitu Rusydin bin Sa'ad dhaif.

[41] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 100, 7307 dan Muslim hadits nomer 2673. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 4571.

[42] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2653 dan menghasankannya, namun dishahihkan Al-Hakim 1/99 dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadits tersebut mernpunyai hadits penguat, yaitu hadits Auf bin Malik yang diriwayatkan Imam Ahmad 6/26-27 dan An-Nasai di bab "Ilmu" buku Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 8/211. Sanad hadits tersebut shahih dan dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 4572 dan 6720.

Hadits penguat lainnya, yaitu hadits dari Ziyad bin Labid Al-Anshari yang diriwayatkan Imam Ahmad 4/219 dan Ibnu Majah hadits nomer 4048. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 1/100 dengan disetujui Adz-Dzahabi.

Ath-Thabrani di Al-Kabir meriwayatkan hadits dari Abu Ad-Darda' dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Sesuatu yang pertaina kali diangkat (dicabut) dari umat ini ialah khusyu’, karenanya engkau tidak melihat khusyu' pada mereka”. Hadits tersebut dianggap hasan oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 2/136. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Syaddad bin Aus yang diriwayatkan Ath-Thabrani hadits nomer 7183. Jadi, sanadnya tidak ada masalah karena diperkuat hadits-hadits lain.

[43] Perkataan di atas juga diriwayatkan Ibnu Abu Syaibah 13/235 dan Ibnu Abdul Barr di Jamiu Bayanil Ilmi 1/233-234 dari Al-Hasan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Para perawinya adalah para perawi tepercaya, namun mursal.

[44] Penggalan hadits shahih dari Abu Malik Al-Asy'ari.

[45] Dari Abdullah bin Mas'ud, hadits tersebut diriwayatkan Muslim hadits nomer 2949. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6850.

[46] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan Muslim hadits nomer 148 dan At-Tirmidzi hadits nomer 2207. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6850 dan 6849. Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Pada saat di bumi ada orang yang berkata, 'Allah. Allah'“. Yang dimaksud dengan lafadz jalalah tersebut ialah kalimat tauhid laa ilaaha illalah sebagaimana penafsirannya dijelaskan di riwayat Ibnu Hibban dan lain-lain. Maksud hadits tersebut, di bumi tidak ada lagi orang Muslim. Tidak benar orang belakangan ini yang berpendapat dengan berhujjah dengan hadits ini tentang kewajiban berdzikir dengan nama Allah saja, padahal itu tidak disyariatkan; tidak di Al-Qur’an, atau sunnah, atau riwayat dari salafush shalih. Dzikir termasuk ibadah, jadi akal tidak mendapatkan tempat di dalamnya dan dzikir termasuk sanjungan kepada Allah dengan sesuatu yang layak diterima-Nya, karenanya dzikir harus dengan kalimat sempurna yang diam terhadapnya merupakan hal yang baik, misalnya kalimat laa ilaaha illallah, atau subhanallah wal hamdu lillal: wallahu akbar, atau Laa haula walaa quwwata illaa billah, dan lain sebagainya.

[47] Hadits nomer 5027, 5028. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 1/58, Abu Daud hadits nomer 1452, At-Tirmidzi hadits nomer 2907, Ibnu Majah hadits nomer 212. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 118.

[48] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4582, Muslim hadits nomer 800, Abu Daud hadits nomer 3668, dan At-Tirmidzi hadits nomer 3034. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 735.

[49] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6408, Muslim hadits nomer 2689. At-Tirmidzi hadits nomer 3600, dan Imam Ahmad 2/251. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 856 dan 857. Takhrijnya secara lengkap, silahkan baca buku tersebut.

[50] Hadits nomer 2701. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 4/92, At-Tirmidzi hadits nomer 3379, dan An-Nasai 8/249. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 813.

[51] Di Al-Mustadrak 1/94. Al-Hakim menshahihkan hadits tersebut sesuai dengan syarat Al-Bukhari dan Muslim dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[52] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 3614 dan Muslim hadits nomer 795.

[53] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 5018. Al-Bukhari berkata, "Al-Laits berkata, Yazid bin Al-Had berkata kepadaku dari Muhammad bin Ibrahim dari Usaid bin Hudhair dan seterusnya”.

Ibnu Al-Had berkata, "Hadits tersebut dikisahkan kepadaku oleh Abdullah bin Khabbab dari Abu Sa'id Al-Khudri dari Usaid bin Hudhair”. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata di Fathul Bari 5/63, "Abu Ubaid di Fadhailul Qur'an menyambung sanad hadits tersebut dari Yahya bin Bukair dari Al-Laits dengan kedua sanad tersebut”. Saya katakan, patokan ketidak-putusnya sanad ialah sanad kedua, karena Muhammad bin Ibrahim At-Taimi yang merupakan tabi'in yang masih kecil dan tidak pernah bertemu Usaid bin Hudhair. Jadi, sanad hadits tersebut terputus.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Muslim hadits nomer 796 dari dua jalur dari Ya'qub bin Ibrahim dari ayahnya dari Yazid bin Al-Had dari Abdullah bin Khabbab dari Abu Sa'id Al-Khudri dari Usaid bin Hudhair.

[54] Di Al-Mustadrak 1/122. Ia menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[55] Hadits nomer 3062. Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 6/268 Sanadnya dianggap hasan oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/77, padahal di sanadnya terdapat perawi Zaidah bin Abu Ar-Raqad. Al-Bukhari dan An-Nasai berkata, "Haditsnya munkar”. Di sanadnya juga terdapat guru Al-Bazzar, Ziyad bin Abdullah An-Numairi, yang merupakan perawi dhaif.

[56] 2/358.

[57] Sanadnya dhaif karena mursal.

[58] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 7305, Muslim hadits nomer 2675. Imam Ahmad 2/251, At-Tirmidzi hadits nomer 3603, dan Ibnu Majah hadits nomer 3822. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 811 dan 812.

[59] Hadits tersebut dengan teks seperti itu. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya seperti terlihat di Ad-Durrul Mantsur 1/363. Teks riwayat Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id ialah, "Salah satu kaum tidak duduk untuk berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, melainkan malaikat-malaikat mengelilingi mereka, mereka diliputi rahmat, ketenangan turun kepada mereka, dan Allah ingat mereka di makhluk yang ada di sisi-Nya”.

[60] Perkataan yang sama diriwayatkan Abdu bin Humaid, Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Abu Hatim dari Qatadah seperti tertulis di Ad-Durrul Mantsur 5/7.

[61] 8/532 di tafsir bab firman Allah, "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi”. (Al-Ahzab: 56). Ibnu Katsir berkata di Tafsir-nya 6/447, ”Perkataan tersebut juga diriwayatkan Abu Ja'far Ar-Razi dari Ar-Rabi' bin Anas dari Abu Al-Aliyah”.

[62] Di Al-Mustadrak 2/418. Ia menshahihkannya menurut syarat Muslim dengan disetujui Adz-Dzahabi. Dari jalur Al-Hakim, atsar di atas juga diriwayatkan Al-Baihaqi di Dalaailun Nubuwwah 7/25.

[63] Hadits hasan. Hadits tersebut diriwayatkan secara mauquf dan marfu'. Hadits tersebut disebutkan di Ad-Durrul Mantsur 4/281 dan Syarhuth Thahawiyah Ibnu Abu Al-Iz 2/606.

[64] Juga diriwayatkan Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 897 dan Ibnu Abu Ashim di As-Sunnah hadits nomer 212 dan 1012. Sanadnya hasan.

[65] Hadits nomer 2780. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 4544 dan Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 75. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 4/73 dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[66] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/235 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir 20/241. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 647.

[67] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 5990 dan Muslim hadits nomer 215.

No comments:

Post a Comment