Ghirah Agama

Manajemen Cemburu

“Hai Nabi, mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu: kamu mencari simpati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS.at-Tahrim:1)

Cemburu bisa melanda siapa saja. Sepanjang masih dalam batas-batas kewajaran, merasa cemburu kepada pasangan sah-sah saja. Namun akan menjadi masalah, apabila rasa cemburu membuat seseorang kehilangan akal sehatnya.

Cemburu, suatu fitrah?

Cemburu atau ghiroh dalam bahasa Arab merupakan suatu gejala fitrah dan wajar sebagai ungkapan rasa cinta, sayang, saling memiliki, melindungi dan peduli. Namun dalam kehidupan sehari-hari, kerap kali cemburu mendapatkan konotasi negatif dan dianggap sebagai suatu hal yang tidak pada tempatnya, bahkan dianggap perwujudan sikap egois kepada pasangan.

Memang sangat menyakitkan dan menyesakkan apabila seorang wanita senantiasa dihantui perasaan cemburu kepada pasangannya. Seorang wanita bahkan pernah bercerita tentang penderitaan temannya, “Aku pernah menjumpai seorang teman yang begitu menderita, banyak mengeluh dan pencemburu karena suaminya sering bepergian. Ia juga merasa cemburu ketika suaminya membuat janji dengan rekan kerja, sedang menelepon atau menulis surat, bahkan ketika sedang termangu dan tersenyum malu. Ia merasa yakin bahwa dalam pikiran suaminya saat itu terdapat wanita lain.”

Kecemburuan dapat muncul baik karena pengaruh eksternal maupun internal. Secara internal, kecemburuan yang dialami wanita tersebut mungkin muncul akibat ketidakmampuannya mengendalikan kecemburuan dan kewaspadaannya secara bijaksana. Akibatnya, ia kehilangan kepercayaan kepada suaminya dan merugikan dirinya hanya karena sebuah dugaan yang belum jelas kebenarannya. Adapaun secara eksternal, memang tidak tertutup kemungkinan terdapat indikasi yang membuat suaminya layak dicemburui, diwaspadai, bahkan dicurigai akibat penampilannya yang genit ataupun mata keranjang.

Perasaan cemburu tidak hanya menghinggapi kaum wanita. Namun dapat pula melanda kaum pria. Kalau kita sering mendengar adanya istri pencemburu yang senantiasa mengganggu keleluasaan gerak suaminya, kita juga tidak jarang mendengar tentang suami pencemburu yang merasa tidak nyaman dengan prestasi positif istrinya atau sikap pasangannya yang dianggap mencurigakan.

Cemburu secara proporsional

Sebelum menjelma menjadi duri dalam perkawinan, perasaan cemburu yang berkobar hendaknya tidak dibiarkan terus membesar. Ada baiknya dilakukan klarifikasi(tabayun) untuk mencari kejelasan informasi. Melakukan koreksi(tanasuh) untuk memperbaiki segala kesalahan dan kekurangan yang ada, maupun melakukan instropeksi(muhasabah) secara lapang dada dan dengan pikiran jernih.

Apabila hal ini tidak dilakukan, tidak mustahil perasaan cemburu lambat laun dapat mengahancurkan keluarga. Padahal, Allah swt telah berpesan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Agar perasaan cemburu tidak membuat segalanya menjadi berantakan, Imam Ibnul Qayyim dalam bukunya Raudhatul Muhibbin menganjurkan muslimah untuk meniru karakteristik bidadari surga yang berhati suci seperti yang digambarkan Allah swt dalam firman-Nya, “…dan untuk mereka di dalamnya terdapat istri-istri yang suci.”(QS.Al Baqarah:25)

Salah satu kepribadian para bidadari penghuni surga adalah mereka senantiasa mengembangkan kepribadian yang bebas dari cemburu yang tidak pada tempatnya, tidak menyakiti hati suami dan tidak pernah memberi tempat pria lain dalam benak mereka.

Cemburu yang positif

Tidak semua rasa cemburu berakibat negatif dan harus dilenyapkan dari dalam hati. Sebab rasa cemburu yang tepat justru bermanfaat sebagai suatu kontrol positif dalam diri seseorang. Imam al Munawir dalam kitab al Faidh justru menyatakan bahwa wanita yang paling mulia dan luhur adalah yang memilki rasa cemburu pada tempatnya.

Sifat orang beriman yang memiliki rasa cemburu(ghoyyur) sesuai dengan sifat yang dimiliki Allah swt. Siapa yang mempunyai sifat yang menyerupai sifat-sifat Allah swt, maka sifat tersebut berada dalam perlindungan-Nya. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt memiliki sifat cemburu dan orang-orang beriman juga memilikinya. Adapaun rasa cemburu Allah ialah ketika melihat seorang hamba yang mengaku dirinya beriman kepada-Nya melakukan sesuatu yang diharamkan-Nya.”(HR.Bukhari dan Nasa’I).

Lenyapnya rasa cemburu disertai tumbuhnya sikap tidak peduli kepada pasangan hidup dan keluarga, membiarkan penampilan yang seronok dan mengumbar aurat, berperilaku tercela serta melakukan aktivitas yang jauh dari nilai-nilai Islam yanpa kontrol dengan dalih saling percaya dapat mengundang fitnah. Kondisai seperti ini akan membuka peluang ternodanya kehormatan dan citra keluarga, suatu hal yang dibenci dalam Islam.

Rasulullah saw melaknat perangai dayyuts, yaitu hilangnya rasa cemburu kepada keluarga dengan tujuan mencegah mereka jatuh dalam kemaksiatan. Beliau juga bersabda, “Orang-orang mukmin itu pencemburu dan Allah lebih pencemburu.”(HR.Muslim). Cemburu yang positif dilandasi oleh cinta karena Allah agar keluarga selamat dari api neraka, bukan karena hawa nafsu dan egoisme semata. Sa’ad bin ‘Ubadah berkata,”Dengan cinta kebahgiaan hidup seseorang akan abadi.”

Cemburu demi kebenaran dan ketaatan kepada Allah merupakan dasar untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Tanpa rasa cemburu, sulit diperoleh dorongan untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar yang harus dimulai dari diri dan keluarga sendiri.

Rasa cemburu yang diletakkan pada tempatnya akan bernilai ibadah dan dicintai Allah. Yaitu cemburu terhadap pelanggaran nilai syari’ah secara pasti dan jelas. Sebaliknya, cemburu akan bernilai maksiat dan dibenci Allaah justru akan merenggangkan kasih saynga suami istri, mengganggu ketentraman keluarga dan menyengsarakan kehidupan apabila bersifat mengada-ada, su’udzhon(berprasangka buruk) dan kecurigaan tanpa alasan mendasar. Cemburu buta yang timbul akibat kebodohan dan rasa was-was yang tidak pada tempatnya berasal dari setan.(QS.an Naas:3-6)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kecemburuan itu ada yang disukai oleh Allah swt dan ada yang dibenci oleh-Nya. Adapun kecemburuan yang disukai adalah kecembururan pada hal-hal yang pasti. Sedangkan yang dibenci oleh-Nya adalah kecemburuan pada hal-hal yang tidak pasti.”(HR.Ahmad, Nasa’I dan Ibnu Hibban).

Kecemburuan istri Rasulullah dan para sahabat

Rasa cemburu yang tidak pada tempatnya dapat menghasilkan tindakan tercela maupun aniaya. Hal ini pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. Kondisi seperti ini bahkan menjadi sebab turunnya ayat pertama surat at Tahrim.

“Hai Nabi, mengapa akamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu, kamu mencari simpati istri-istrimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita semua tentang arti cinta dan cemburu. Cinta kepada Allah swt harus senantiasa diletakkan pada tempat tertinggi agar rasa cemburu yang kita miliki tidak keluar garis cinta kepada Allah swt, walaupun sebenarnya rasa cemburu itu timbul secara fitrah.

Rasulullah saw pernah bertanya kepada Aisyah, ummul mu’minin ra, “Apakah engkau pernah merasa cemburu?” Aisyah menjawab, “Bagaimana mungkin orang sepertiku tidak merasa cemburu memiliki suami sepertimu?”(HR.Ahmad)

Dalam riwayat yang lain, Aisyah ra bercerita, “Suatau malam, Nabi saw bersamaku dan ia mengira aku sudah tidur. Maka beliau keluar dan akupun mengikuti jejak langkah beliau. Sungguh aku mengira bahwa beliau akan pergi untuk menemui istrinya yang lain, hingga beliau sampai di suatu pemakaman. Lalu beliau berbelok, akupun mengikutinya. Beliau mempercepat langkahnya, akupun mempercepat langkahku. Kemudian beliau bergegas kembali ke rumah dan akupun berlari agar agar dapat mendahuluinya menuju rumah. Setelah beliau memasuki rumah, beliau bertanya mengapa nafasku tewrengah-engah seperti penderita asma yang mendaki bukit. Akupun menceritakan kejadian sebenarnya kepada beliau, bahwa aku mengikuti kemana beliau pergi. Beliaupun bertanya, “Apakah engkau mengira bahwa Allah dan Rasul-Nya akan tega menyakiti dirimu?”(HR.Muslim)

Rasa cemburu bukan hanya dimiliki oleh istri-istri Rasulullah atau para wanita lainnya semata. Karena ternyata, para sahabat Rasulullah saw yang laki-laki pun memiliki rasa cemburu seperti Umar bin Khattab dan Zubair bin Awwam. Mengenai kecembururan Umar, dikisahkan dalam sebuah hadist dimana Rasulullah saw bercerita, “Ketika tidur, aku bermimpi bahwa diriku berda di surga. Tiba-tiba ada seorang wanita berwudhu’ di dekat sebuah istana surga. Aku bertanya, “Milik siapa istana itu?” Mereka mengatakan, “Milik Umar.” Lalu aku teringat kepada kecemburuan Umar, segera saja aku pergi berlalu. Umar menangis mendengar cerita Rasulullah seraya berkata, “Apakah kepadamu aku akan cemburu, wahai Rasulullah?”(HR.Bukhari dan Muslim)        

Kecemburuan Zubair tergambar dari sebuah riwayat yang dikisahkan oleh Asma’ binti Abu Bakar, istrinya, “Pada suatu hari aku dalam perjalanan pulang sambil memikul biji gandum di kepala. Lalu aku bertemu Rasulullah saw(ipar Asma’) yang tengah bersama sesesorang dari kalangan Anshor. Beliau memanggilku dan menyuruh untanya menunduk agar dapat membeoncengku di belakangnya. Aku merasa malu berjalan bersama laki-laki dan teringat pada kecemburuan Zubair, sebab Zubair termasuk orang yang sangat pencemburu. Rasulullah saw mengerti bahwa aku merasa malu, lalu beliau pergi berlalu.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Bahkan Sa’ad bin Ubadah berkata, “Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku pukul ia dengan pedang pada bagian yang tajam.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Apakah kalian merasa heran dengan kecembururan Sa’ad? Sungguh, aku lebih pencemburu darinya dan Allah lebih cemburu dariku.”(HR.Bukhari dan Muslim)

Kecembururan para sahakbat Rasulullah senantiasa terbingkai dalam syari’at. Sebesar apapun kecemburuan Umar bin Khattab, Zubair bin Awwam atau Aisyah ra, semua itu dapat dilunakkan oleh aturan-aturan syariah.

Dalam suatu kisah diriwayatkan bahwa seorang budak wanita Umar bin Khattab ikut sholat berjama’ah Isya’ dan Shubuh di masjid Nabawi. Lalu dikatakan kepada hamba sahaya itu, “Mengapa kamu keluar rumah, sedangkan kamu mengetahui bahwa Umar tidak akan senang dan akan merasa cemburu?” Ia menjawab, ”Apa yang menghalangi untuk melarang aku?” Ia justru dihalangi untuk melarangku oleh sabda Rasulullah saw, “Janganlah kamu melarang wanita hamba Allah untuk pergi ke masjid.”

Penutup

Sikap yang beragam dalam menghadapi kecemburuan dipengaruhi oleh berbagai hal seperti, pembawaan pribadi, karakter, temperamen individu serta pemahaman akan makna kecemburuan. Titik temu antara berbagai faktor tersebut adalah suatu kearifan untuk menjadikan rasa cemburu sebagai sarana beramar ma’ruf nahi munkar, melindungi kehormatan diri dan keluarga serta mencegah timbulnya fitnah yang dapat menodai kehormatan keluarga. Tantu saja hal itu harus disertai bukti-bukti kuat, terhindar dari berburuk sangka dan mendahulukan keutuhan keluarga shalihah agar senantiasa berada dalam ridha Allah swt.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat