Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt., Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita sampaikan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabatnya, serta kepada siapa saja yang menyerukan dakwah beliau, hingga hari pembalasan.
Amma ba'du.
Salamullahi 'alaikum warahmatuhu wa
barakatuh.
Salah seorang akh bertanya kepadaku,
"Apakah sescorang dapat memberikan manfaat dan bantuan kepada saudaranya
dengan saran atau dengan sesuatu yang bersifat spiritual?" Saya kurang
jelas dengan pertanyaan itu, lalu saya meminta agar ia sudi memperjelasnya. Ia
kemudian berkata, "Seseorang mendoakan saudaranya, memberikan perhatian
terhadap urusannya, senantiasa sibuk dengannya. Apakah kesibukan seorang mukmin
terhadap saudaranya, selalu memikirkannya, dan merasa selalu ada hubungan yang
mengikat antara diri dengannya, dapat memberikan manfaat? Apakah ada nash-nash
Islam, atau dalam realitas, terdapat bukti-bukti yang menunjukkan dan
menguatkan hal ini?
Ikhwan sekalian, saya telah dibuat gembira
dengan hal ini dari dua sudut. Pertama, adanya faedah ilmiah. Kedua, bahwa Nabi
saw. telah bersabda,
اَلْعِلْمُ
خَزَائِنُ وَمَفَاتِيْحُهَا السُّؤَالُ.
"Ilmu
adalahpertendaharaan. Kunci-kuncinya adalah pertanyaan. "
Dalam hal ini ada tiga
pihak yang diberi pahala: penanya, yang ditanya, serta yang mendengarkannya. la
akan membuka berbagai pintu kebaikan. Kegembiraanku semakin bertambah karena di
balik ini saya menemukan ikatan "emosi". Yaitu bahwa saudara ini
sibuk dengan saudara-saudaranya, dan ia ingin terus dapat sibuk dengan mereka
serta terus memikirkan mereka. Hal itu muncul dan didorong oleh perasaan batin
yang luar biasa. la sibuk untuk dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada
saudaranya. Dan tentunya, sekali waktu dia juga akan butuh bantuan
saudara-saudaranya. Dalam hal ini, ada aktivitas ruhiah berupa kesibukan hati
dengan hati dan jiwa dengan jiwa. Semua itu merupakan bagian dari inti Islam.
Dengan jujur saya katakan bahwa segala kesibukanku tidak sampai melupakanku
dari menikmati pertanyaan seperti ini.
Saya merasakan bahwa hati
saling tersibukkan oleh hati yang lainnya.
Untuk menjawab pertanyaan
ini dari segi nash adalah sabda Rasulullah saw.,
اَلْمُؤْمِنُ
لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا.
"Seorang mukmin dengan mukmin yang lain
bagaikan satu bangunan; sebagiannya mengokohkan bagian yang Iain. "
Juga sabda Nabi saw.
اَلْمُسْلِمُ
لِلْمُسْلِمِ كَالْيَدَيْنِ تَغْسِلُ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَى
"Seorang muslim dengan muslim lainnya
bagaikah kedua tangan, salah satunya mencuci yang Iain”
Dari hadits ini dapatlah kita ketahui bahwa
hubungan antara orang-orang munafik itu tidaklah hilang atau melemah, kecuali
lantaran hilangnya keterikatan ruhiah ini. "Engkau mengira bahwa mereka
itu bersatu, padahal sebenarnya hati mereka bercerai berai. " (Al-Hasyr:
14)
Sedangkan orang-orang mukmin itu satu sama
lain saling menolong, saling mencintai. "Mereka memerintahkan yang ma'ruf
dan mencegah yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta menaati
Allah dan RasuI-Nya. Mereka itulah orang-orang yang akan diberi rahmat oleh
Ailah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Bijaksana." (At- Taubah:
71)
Kekuasaan iman inilah yang mengenalkan mereka
kepada perasaan ini, mengumumkan adanya keterikatan ini serta menunjukkan
kepada mereka bahwa hal itu terus bersemayam dalam emosi mereka, dan bahwa di
balik itu Islam mendukung dan mengokohkannya.
Perilaku para pendahulu kita seperti itu
adanya. "...dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap
orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka...." (Al-Fath: 29)
Tentang doa seorang muslim kepada saudara
muslimnya secara rahasia, maka Allah swt. akan mengabulkannya dan tidak akan
menolaknya. Sesuai dengan kadar keikhlasannya itulah kadar dikabulkannya doa
itu.
Perasaan ini saya dapatkan di dalam jiwaku.
Setiap jamaah atau perkumpulan manusia yang memiliki hubungan seperti ini, maka
berilah mereka kabar gembira dengan kebaikan. la adalah salah satu harta
simpanan yang sangat mahal.
Malam ini merupakan malam yang penuh berkah.
Malam yang diisi dengan limpahan ruhiah yang merajut hati dengan hari.
Wa ba'du. Saya sampai lupa untuk mengomentari
kalimat-kalimat di atas, yakni mengenai muatan-muatan ilmiah yang telah
mengilhami diriku untuk membuka serial baru ketika saya memulai pembicaraan
mengenai jiwa. Saya ingin katakan bahwa saya sangat prihatin ketika saya
menyaksikan sudut-sudut kelemahan manusia.
Ketika saya hendak mengulangi serial itu, saya
kemudian berpikir untuk kembali kepada apa yang telah saya janjİkan.
Saya ingin agar kita selalu menuntut diri sendiri,
dan agar perhatian kita terhadap diri
atau jiwa kita ini sebagaimana perhatian seseorang yang selalu curiga dan
khawatir. Bila ia merasakan adanya panas badan yang tak seberapa saja, ia
lantas konsultasi ke dokter. Jika ia sakit gigi umpamanya, ia segera dihinggapi
berbagai kecemasan dan kekhawatiran. Jadi, ia selalu saja bertanya-tanya soal
dirinya. Kaidahnya memang tak perlu curiga. Namun, yang saya inginkan adalah
curiga mengenai aspek moralitas sehingga membangkitkan upaya untuk memperbaiki
dan meluruskannya.
Penyakit yang berhubungan dengan ruh dan jiwa itu
berbahaya sekali. Meskipun demikian, pengobatannya sebenarnya tidaklah terlalu
sulit. Diriwayatkan bahwa suatu kali Umar bin Khathab ra. naik ke atas mimbar
kemudian berkhotbah, "Wahai manusia, sesungguhnya saya dahulu pernah
mengembala kambing milik bibi-bibiku dari Bani Mahzum. Mereka memberiku gaji
berupa kurma sepenuh kedua telapak tangan." Lalu Abdurrahman bin 'Auf ra.
berkata, "Apa-apaan itu, wahai Umar? Engkau hanyalah menambah ejekan
terhadap dirimu sendiri." Umar berkata, "Oh, Itukah yang engkau
maksudkan, wahai putra 'Atif. Saya kemarin berdiri di depan cermin, lalu saya
telah dibuat ujub oleh diriku dan aku katakan, 'Hai Umar, engkau telah menjadi
Amirul Mukminin. Kata-kata yang keluar dari mulutmu dapat menggoncangkan Timur
dan Barat. Tiada yang berani menentangmu.' Maka saya ingin mendidik
(memperbaiki akhlak) diriku dengan disaksikan oleh orang banyak. Saya katakan
kepada diriku sendiri, 'Apakah engkau telah lupa tentang kurma dan kegiatan
menggembala kambing, wahai Umar?'"
Umar ra. mengatakan demikian itu ketika beliau
merasa tidak kenyang dengan kurma, dan saat itu beliau menjadi seorang
khalifah. Beliau bermuhasabah terhadap diri, baik dalam hal yang sifarnya kecil
maupun besar. Beliau khawatir bila muncul kesombongan dan ujub ketika beliau
berkuasa. Beliau mengobatinya dengan obat seperti itu.
Kita ini, Ikhwan sekalİan, jauh lebih
membutuhkan pengobatan semacam ini. Kita bukan hanya menginginkan perbaikan
yang bersifat fisik, akan tetapi juga perbaikan yang bersifat ruhani. Kita
harus mengevaluasi diri dengan sungguh-sungguh, lalu kita bersikap sebagaimana
sikap seorang dokter terhadap pasiennya, memberikan obat hingga pasien sehat
kembali.
Berbagai penyakit telah tersebar di wilayah
Islam. Penyakit yang pertama-tama saya perhatikan adalah sikap mujamalah
(basa-basi) yang membawa kita kepada kemunafikan. Akibat dari sikap ini adalah
kenyataan bahwa di antara kita tidak ada orang yang berani mengatakan bersalah kepada
orang yang salah, dan tidak berani mengatakan jahat kepada orang yang berbuat
kejahatan. Sikap ini jelas menjauhkan kita dari sekian banyak kesempurnaan dan
keutamaan. Penyebab lahirnya sikap ini adalah adanya sikap fanatik buta, pengecut,
dan lemah kemauan. Padahal, kewajiban menuntut kita agar menjadi pemberani.
Demi kebenaran kita tidak boleh takut dan khawatir terhadap celaan orang yang
suka mencela. Kita katakan saja terus terang, "Engkau salah," kepada
orang yang memang salah, dan kita katakan, ”Engkau jahat" kepada orang
yang memang jahat.
Di samping hal ini merupakan kewajiban, ia
juga termasuk akhlak yang mulia. la merupakan inti dałam kegiatan amar ma'ruf
nahi munkar, selain juga merupakan timbangan yang digunakan oleh Allah swt.
untuk menakar kualitas berbagai umat. Kita temukan kelemahan ini pada Bani
Israil. "Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil melalui lisan
Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan
selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak saling melarang
perbuatan mungkar. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.”
(Al-Maidah: 78-79)
Sementara itu, kita melihat adanya ketinggian
pada umat Islam. "Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk
manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf serta melarang kemungkaran, serta beriman
kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
Kalau saja kita mau mengambil kaidah amar ma
'ruf nahi munkar, niscaya kita mampu mengobati penyakit-penyakit kita.
Sebagai contoh, jika engkau melihat orang yang
tidak melakukan shalat, tidaklah mengapa jika engkau katakan kepadanya,
"Mengapa kamu tidak shalat?" Taruhlah dia kemudian memperolok-olokmu,
tetapi engkau telah menunaikan kewajiban. Jika dalam suatu pesta engkau dapati
suatu kemungkaran, maka engkau tidak boleh toleran, apa pun kondisinya.
Penolakanmu terhadap kemungkaran itu jelas membawa faedah; minimal mereka
mendengarkanmu atau engkau telah menggetarkan majelis mereka. Yang penting,
engkau telah memperoleh faedah dari apa yang engkau lakukan itu.
Saya teringat ketika saya masih tinggal di
Ismailia, ketika orang-orang asing mengadakan pesta atau perayaan musiman. Pada
acara itu mereka mengundang salah seorang akh. Di dalam pesta ini terdapat
banyak sekali kemungkaran. Mereka menghidangkan khamr kepada akh tersebut. la
kemudian berdiri dan berkata, "Siapa ketua panitianya?" Mereka
menjawab, "Si Fulan." la berkata, "Kalian mengundang kami agar
bisa melecehkan kami!" "Mengapa demikian?" tanya mereka. "Sesungguhnya
khamr itu haram. Menghidangkannya kepada kami berarti penghinaan terhadap
kami" jawab al-akh tegas. la lantas meminta agar tidak Iagi menghidangkan
khamr, entah untuk kaum muslimin atau pun orang-orang asing. Tindakan ini
merupakan pembelaan dan pemenangan terhadap kebenaran, kemuliaan terhadap
pribadi akh itu sendiri, serta menunjukkan identitas seorang muslim seutuhnya,
yang senantiasa mendakwahkan kebaikan, sejalan dengan sabda Nabi saw.,
"Agama adalah nasihat. " Inilah yang benar. Namun tentu saja hal ini
harus dilakukan dengan cara yang lembut, bijaksana, menggunakan tata krama,
serta harus dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.
Pernah suatu kali kami menghadiri upacara
pemakaman. Salah seorang akh melihat seorang pembesar sedang merokok. Al-akh
tersebut kemudian menegurnya dengan cara yang bijaksana. Akhirnya pembesar itu
pun segera mematikan rokoknya. Dalam masalah-masalah seperti ini, yang penting
adalah membuat seseorang itu merasa jika dirinya diperingatkan.
Adapun melakukan proses perubahan dengan
menggunakan tangan memang merupakan sesuatu yang sulit, karena sebenarnya hal
itu merupakan tanggung jawab pemerintah yang berkuasa. Hanya saja cara-cara
untuk mengingkari atau menolak kemungkaran memang banyak ragamnya. Kita harus
pandai-pandai menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi. Ada kalanya sikap
toleran itu diperlukan untuk maksud tertentu, akan tetapi tidak berlaku secara
umum."...kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakutkan
dari mereka." (Ali Imran: 28)
Akan tetapi engkau juga merasakan bahwa itu
merupakan cacat atau kekurangan dan engkau harus tidak rela terhadapnya. Jika
tidak demikian, engkau kelak akan disiksa atas kesalahanmu itu. Janganlah
engkau sampai hanyut dalam istilah toleransi. Umumkan kata kebaikan dan tak
perlu takut kepada manusia. Ketahuilah bahwa hal itu merupakan bagian dari
kesempurnaan sifat kejantanan. "Kalian takut kepada manusia, padahal Allah-lah
yang seharusnya engkau takuti." (Al-Ahzab: 37) "Karena itu, janganlah
kalian takut kepada manusia, akan tetapi takutlah kepada-Ku." (Al-Maidah:
44)
Ketahuilah bahwa di antara ciri kesempurnaan
akhlak seseorang adalah memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan dan mau
kembali kepada kebenaran. "Semua Bani Adam adalah pelaku kesalahan, dan
sebaik-baik pelaku kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat. "
(Al-Hadits). Manusia masih terus bisa menyempurnakan diri selama ia masih
hidup. "Pelajarilah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat.
Demikian juga tidak perlu takut untuk
mengatakan,"Saya salah," jika engkau memang berbuat kesalahan. Namun
demikian, engkau tentu harus berupaya sedapat mungkin untuk senantiasa berdiri
di atas kebenaran, siap memikul tanggung jawab kesalahan, serta berupaya untuk
melakukan perbaikan. Karena ada sebagian orang yang memperbaiki satu kesalahan,
tetapi dengan kesalahan lain yang lebih berat. Bukanlah aib jika kita berbuat
salah, karena itu merupakan tabiat kita sebagai manusia. Yang aib adalah jika
kita tinggal diam atas kesalahan kita dan tidak berupaya untuk memperbaikinya.
Perhatikanlah beberapa contoh yang agung dalam
sejarah pendahulu kita. Suatu ketika sahabat Ma'iz Al-Mazini datang menghadap Nabi saw. la berkata,
"Wahai Rasulullah, saya telah berzina."
"Barangkali engkau sebenarnya hanya mencium?" kata Nabi. la
menegaskan lagi, "Saya benar-benar telah berzina." Akhirnya Nabi saw.
memerintahkan agar ia dirajam. Setelah iłu beliau bersabda, "Shalatkanlah
ia." Dałam kesempatan iłu beliau juga bersabda, "Sesungguhnya ia
telah bertaubat, yang jika taubatnya itu dibagi untuk tujuh puluh orang
penduduk Madinah, niscaya mencukupi mereka. "
Peristiwa ini tidak hanya terjadi pada kaum
lelaki akan tetapi juga pada kaum wanitanya. Seorang wanita datang menghadap
Nabi saw. lalu berkata, "Saya telah berzina.” Rasul pun akhirnya
memerintahkan agar wanita itu dirajam. Dan, tentang wanita itu, Rasul saw.
bersabda, "Sesungguhnya wanita itu telah bertaubat, yang jika taubatnya itu
dibagikan untuk tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya mencukupi mereka. Hakikat
ini cukup jelas tersirat dałam firman Allah swt., "Jadikan kalian
orang-orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah
biarpun terhadap diri kalian sendiri, atau ibu bapak kalian, atau kaum kerabat
kalian sendiri." (An-Nisa': 135)
Demikianlah, memang tiada yang lebih agung
daripada jika kita kembali kepada kebenaran.
Di antara cacat kita lagi adalah tidak cermat
di dałam menakar dan mempertimbangkan, serta tidak teguh dałam memegang
prinsip. Banyak orang yang menjalin persahabatan denganmu. Namun hal itu hanya
berlangsung selama engkau memberi keuntungan kepadanya. jika keuntungan itu
telah terputus, ia akan putuskan pula hubungan persahabatan itu denganmu. Ini
menunjukkan bahwa ia adalah orang yang lalai, atau bisa juga disebut pendustą.
Kejantanan yang sebenarnya adalah senantiasa menjadi sahabat dałam kondisi apa
pun. Engkau juga harus mengakui kelebihan-kełebihan yang dimiliki oleh lawanmu,
sebagaimana pengakuan orang lain, baik yang pro maupun kontra terhadapnya.
Suatu ketika Mu'awiyah ra. (ia menolak
kekhalifahan Ali – edt) berkata kepada Dharar, "Engkau harus berkomentar tentang
Ali, wahai Dharar!” ''Maafkan saya,” jawab Dharar khawatir. "Tapi engkau
harus katakan," desak Mu'awiyah. Akhirnya Dharar pun mengatakan sesuatu
tentang Ali sebagaimana adanya. Demi mendengarnya Mu'awiyah pun menangis
sembari berkata, "Semoga Allah memberikan rahmat kepada ayahnya Hasan. Dia
memang demikian adanya."
Mu'awiyah pernah berkata kepada Al-Ahnaf bin
Qais, "Sampaikan beberapa kata darimu sebagai nasihat untukku!" la
menjawab, "Jika kami katakan sesuatu yang membuatmu ridha, Allah akan
memurkai kami. Sedangkan jika kami katakan sesuatu yang membuat Allah ridha,
engkau akan memurkai kami."
Suatu kali Al-Ma'mun berkonsultasi dengan
Ahmad bin Yusuf mengenai Ibad, di mana Ibad merupakan seteru Ahmad. Ahmad
berkomentar, "Dia adalah orang yang sangat baik." Al-Ma'mun berkata,
"Apakah telah hilang perseteruan yang teriadi di antara kalian
berdua?" "Tidak," jawab Ahmad. "Lalu, kenapa engkau katakan
begitu?" tanya Al-Ma'mun. Ahmad bin Yusuf menjawab, "Karena dia
benar, dan juga karena ada nasihat Amirul Mukminin bahwa nasihatmu bagiku lebih
baik daripada kemaslahatanku sendiri."
Nilai-nilai seperti ini sangat kita butuhkan.
Di antara cacat dan kekurangan kita lagi adalah sulitnya menghargai nilai
waktu, sehingga tidak ada ketertiban dan kedisiplinan. Kalian harus pandai-pandai
menguasai waktu dan memelihara janji.
Inilah beberapa potret mengenai sudut-sudut
kelemahan dan kekurangan kita sebagai manusia. Kita memohon kepada Allah swt.
agar berkenan membebaskan kita dari berbagai kelemahan dan kekurangan tersebut.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa.
Sernoga Allah mencurahkan shalawat dan salam
kepada junjungan kita Nabi Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabatnya.
No comments:
Post a Comment