Hadits Kedua Puluh Sembilan
«عَنْ
مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي
بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ: لَقَدْ
سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ
عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ،
وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ:
أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ
تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي
جَوْفِ اللَّيْلِ، ثُمَّ تَلَا: {تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ}
[السجدة: 16] حَتَّى بَلَغَ: يَعْلَمُونَ [السَّجْدَةِ: 16 - 17] ، ثُمَّ قَالَ:
أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ:
بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ
الصَّلَاةُ، وَذُرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ، ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ
بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَأَخَذَ
بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا
لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ
يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ، أَوْ قَالَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ
إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ
حَسَنٌ صَحِيحٌ.
Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu
Anhu yang berkata, aku berkata, "Wahai Rasulullah, jelaskan
kepadaku amal perbuatan yang memasukkanku ke
surga dan menjauhkanku dari neraka. "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh engkau bertanya tentang
sesuatu yang besar namun mudah hagi
orang yang diberi kemudahan oleh Allah di dalamnya; engkau menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan
sesuatu apa pun, mendirikan shalat,
membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. "Setelah itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, "Maukah engkau aku
tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah tameng, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan
api dan shalat seseorang di tengah
malam". Kemudlan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca firman
Allah, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa
takut dan harap dan mereka menafkahkan
sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk
mereka yaitu (bermacam-macam nikmat)
yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (As-Sajdah: 16-17). Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda lagi, “Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara, tiang-tiangnya, dan
puncak punuknya?" Aku berkata, "Mau, wahai Rasulullah". Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Pokok segala perkara adalah Islam,
tiang-tiangnya adalah shalat, dan
puncak punuknya adalah jihad". Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda
lagi, 'Maukah engkau aku jelaskan tentang hal yang menguatkan itu semua?" Aku menjawab, 'Mau, wahai
Rasulullah". Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam memegang lidah beliau kemudian bersabda, 'Jagalah
ini (lidah)". Aku berkata,
"Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita katakan?" Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, 'Mudah-mudahan ibumu kehilanganmu (kalimat
yang menunjukkan nada heran), tidaklah
manusia terjungkir di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan karena hasil lidah
mereka". (Diriwayatkan
At-Tirmidzi. Ia berkata, "Hadits ini hasan shahih"). [1]
Hadits
bab di atas diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah dari
riwayat Ma'mar dari Ashim bin Abu An-Nujud dari Abu Wail dari Muadz bin Jabal.
At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut hasan shahih”.
Ada
dua catatan tentang perkataan At-Tirmidzi di atas,
1.
Tidak ada
bukti bahwa Abu Wail mendengar hadits di atas dari Muadz bin Jabal, kendati ia hidup semasa dengan Muadz bin
Jabal di usia tuanya, karena ketika
itu Muadz bin Jabal berada di Syam, sedang Abu Wail berada di Kufah. Para imam seperti Imam Ahmad dan lain-lain
berhujjah tidak adanya proses
pendengaran suatu hadits dari seseorang dalam kondisi seperti itu. Abu Hatim Ar-Razi berkata tentang pendengaran
hadits Abu Wail dari Abu Ad-Darda',
"Ia hidup semasa dengan Abu Ad-Darda'. Abu Wail berada di Kufah, sedang
Abu Ad-Darda' berada di Syam”. Maksudnya, tidak benar kalau Abu Wail
mendengar hadits dari Abu Ad-Darda'. Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi menukil dari salah satu kaum bahwa mereka memilih diam tidak berpendapat
tentang pendengaran hadits Abu Wail dari Umar atau menafikannya, karena pendengaran hadits olehnya dari Muadz bin Jabal
menjadi lebih mustahil.
2. Hadits di atas diriwayatkan Hammad
bin Salamah dari Ashim bin Abu An-Nujud
dari Syahr bin Hausyab dari Muadz bin Jabal seperti diriwayatkan Imam Ahmad secara singkat. Ad-Daruquthni berkata,
"Itu lebih dekat kepada kebenaran, karena hadits
tersebut terkenal dari riwayat Syahr kendati ia dipermasalahkan”.
Saya katakan, riwayat Syahr bin Hausyab dari Muadz bin
Jabal adalah mursal tanpa keraguan di dalamnya dan Syahr bin Hausyab sendiri
dipermasalahkan, yaitu statusnya sebagai perawi
tepercaya atau perawi dhaif Hadits di
atas diriwayatkan Imam Ahmad dari
riwayat Syahr bin Hausyab dari Abdurrahman bin Ghanm dari Muadz bin Jabal. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam
Ahmad dari riwayat Urwah bin An-Nazzal atau An-Nizal bin Urwah dan
Maimun bin Abu Syabib di mana keduanya
meriwayatkannya dari Muadz bin Jabal. Urwah dan Maimun tidak
meriwayatkan hadits tersebut dari Muadz bin Jabal. Hadits tersebut mempunyai
jalur-jalur lain dari Muadz bin Jabal, namun semuanya dhaif.
Perkataan Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu,
"Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku amal
perbuatan yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka”. Di sharah
hadits kedua puluh dua buku ini disebutkan hadits Abu Hurairah dan Abu Ayyub dari jalur kuat bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya seperti yang ditanyakan Muadz
bin Jabal kemudian beliau menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban
beliau di hadits Muadz bin Jabal tersebut.
Di riwayat Imam Ahmad tentang hadits Muadz bin Jabal
disebutkan bahwa Muadz bin Jabal
berkata,
"Wahai Rasulullah, aku ingin
bertanya kepadamu tentang satu kalimat yang membuatku sakit, menderita, dan sedih”. Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tanyakan apa saja yang engkau kehendaki". Muadzbin jabal berkata, 'Jelaskan kepadaku tentang satu perbuatan
yang memasukkanku ke surga dan aku
tidak bertanya kepadamu selain pertanyaan ini?" Ini menunjukkan kuatnya perhatian dan kepedulian Muadz
bin Jabal terhadap amal-amal shalih dan di dalamnya terdapat dalil
bahwa amal-amal menjadi penyebab orang masuk ke surga, seperti difirmankan
Allah Ta’ala,
"Dan itulah surga yang
diwariskan kepada kalian disebabkan amal-amal yang dulu kalian kerjakan”. (Az-Zukhruf: 72).
Sedang sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, "Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amalnya", maksudnya, wallahua'lam, bahwa amal itu sendiri tidak membuat seseorang berhak
atas surga jika Allah tidak menjadikan amalnya dengan
karunia dan rahmat-Nya sebagai penyebab dirinya masuk surga. Amal merupakan rahmat Allah dan karunia-Nya kepada
hamba-Nya. Jadi, surga dan
penyebab-penyebabnya, semuanya berasal dari karunia dan rahmat Allah.
Sabda Nabi Shallallahu
Alaihiwa Sallam, "Sungguh engkau bertanya tentang sesuatu
yang besar". Sebelumnya disebutkan di
syarah hadits sebelumnya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang hal sama, "Kendati engkau bertanya
dengan singkat, sungguh engkau telah
menganggap besar dan panjang”. Itu
karena masuk surga dan selamat dari neraka adalah
sesuatu yang sangat agung, karenanya, Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda
kepada seseorang, "Apa yang engkau
ucapkan jika engkau shalat?" Orang
tersebut menjawab, "Aku
meminta surga kepada Allah dan berlindung diri dengan-Nya dari neraka.
Aku tidak mampu sebaik seruanmu dan seruan Muadz”. Hadits ini menunjukkan betapa banyak doa dan usaha keras kedua
sahabat tersebut dalam meminta kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Di sekitar itulah hendaknya engkau berseru”. Di riwayat lain, "Tidaklah seruanku dan
seruan Muadz melainkan kami
meminta surga kepada Allah dan berlindung dengan-Nya dari neraka'. [2])
Sabda
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
'Namun mudah bagi orang yang diberi
kemudahan oleh Allah di dalamnya",
adalah sinyal bahwa seluruh petunjuk berada
di Tangan Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa diberi kemudahan oleh Allah kepada petunjuk maka ia mendapatkan petunjuk dan
barangsiapa tidak diberi kemudahan
kepada petunjuk maka ia tidak mendapatkan kemudahan kepadanya.
Allah Ta'ala
berfirman,
'Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah)
dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala
yang terbaik. Maka Kami kelak akan menyiapkan
baginya jalan yang mudah. Dan adapun
orang-orang yang bakhil dan merasa
dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang
sukar”. (Al-Lail:
5-10).
Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
'Berbuatlah kalian, karena segala
hal dipermudah kepada apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang bahagia,
mereka dipermudah kepada amal
perbuatan orang-orang bahagia dan
sedang orang-orang celaka dipermudah
kepada amal perbuatan orang-orang celaka”. Kemudian Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam membaca ayat di
atas. [3])
Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam berkata dalam doa beliau,
واهدنى ويسر الهدى لى.
'Berilah aku petunjuk dan permudah
petunjuk untukku”. [4])
Allah Ta'ala menjelaskan tentang Nabi Musa Alaihis-Salam bahwa
beliau berkata dalam doa beliau,
"Ya Tuhanku, lapangkan dadaku untukku. Dan
mudahkanlah urusanku untukku”. (Thaaha: 25-26).
Ibnu Umar berdoa, "Ya Allah, beri aku kemudahan
kepada pahala yang terbaik dan jauhkan aku dari jalan yang sulit”.
Sebelumnya disebutkan bahwa masuk ke surga itu
disebabkan mengerjakan kelima rukun Islam,
yaitu tauhid, shalat, zakat, puasa, dan haji.
Sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, "Maukah engkau aku tunjukkan pintu
pintu kebaikan?" karena masuk ke surga disebabkan mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam, maka setelah itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan ibadah-ibadah sunnah yang merupakan pintu-pintu kebaikan. Wali-wali Allah
yang paling mulia ialah al-muqarrabun,
yaitu orang-orang yang
mendekatkan diri kepada Allah dengan
mengerjakan ibadah-ibadah sunnah setelah mengerjakan ibadah-ibadah wajib.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Puasa adalah tameng”. Sabda tersebut diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak sekali jalur. Sabda tersebut
diriwayatkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim [5]) dari hadits
Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sabda tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad [6]) dengan penambahan, 'Puasa adalah tameng dan benteng kokoh dari neraka”.
Imam Ahmad meriwayatkan hadits Utsman bin Abu Al-Ash Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
“Puasa adalah tameng dari neraka
sebagaimana tameng salah seorang dari kalian dari perang”. [7])
Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits Jabir Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Tuhan kita Azza wa Jalla
berfirman, Puasa adalah tameng di mana hamba bertameng dengannya dari
neraka". [8])
Imam Ahmad dan An-Nasai meriwayatkan hadits Abu Ubaidah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
'Puasa adalah tameng selagi tidak
dirobek”. [9])
Sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, 'Selagi tidak dirobek",
maksudnya dirobek dengan perkataan jelek dan
lain sebagainya. Oleh karena itu, disebutkan di hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam disebutkan,
'Puasa adalah tameng, karenanya,
pada hari puasa salah
seorang dari kalian maka ia
tidak boleh berkata jelek, membodohkan, dan jika ia dihina seseorang maka hendaklah ia berkata, 'Aku orang yang berpuasa”.
Salah seorang generasi salaf berkata, "Menggunjing
itu merobek puasa sedang istighfar
menambalnya. Maka barangsiapa di antara kalian tidak dapat mengerjakan puasa yang terobek, silahkan ia mengerjakannya”.
Ibnu Al-Munkadir berkata, "Jika orang berpuasa
menggunjing, puasanya menjadi robek.
Jika ia beristighfar, ia menambalnya”.
Ath-Thabrani [10])
meriwayatkan dengan sanad yang di dalamnya
terdapat catatan dari Abu Hurairah Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Puasa adalah tameng selagi
tidak dirobek”. Ditanyakan, "Dengan apa tameng dirobek?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersabda, "Dengan kebohongan dan
menggunjing”.
Tameng ialah sesuatu yang digunakan bertameng oleh
seorang hamba seperti tameng yang melindunginya dari
pukulan ketika berperang. Puasa juga begitu, ia melindungi pelakunya dari
berbagai kemaksiatan di dunia, seperti difirmankan Allah Ta'ala
"Hai orang-orang yang beriman,
diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian
bertakwa”. (Al-Baqarah:
183).
Jika puasa merupakan tameng dari kemaksiatan-kemaksiatan
bagi seorang hamba di dunia, maka tameng merupakan tameng baginya dari neraka.
Jika seseorang tidak mempunyai tameng dari kemaksiatan-kemaksiatan di dunia, ia
tidak mempunyai tameng dari neraka di
akhirat.
Ibnu
Mardawih meriwayatkan hadits dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Allah mengutus Yahya bin
Zakaria kepada Bani Israel dengan lima kalimat”. Ali bin Abu Thalib menyebutkan hadits tersebut secara
lengkap dan di dalamnya
disebutkan, "Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berpuasa. Perumpamaan puasa ialah seperti orang yang melangkah
kepada musuhnya dan ia
mengambil tameng untuk perang, oleh karena
itu, ia tidak khawatir dari apa
saja yang datang kepadanya”.
Ibnu
Mardawih juga meriwayatkan hadits tersebut dari Ali bin Abu Thalib secara mauquf dan di dalamnya Ali bin Abu Thalib berkata, "Dan
perumpamaan puasa ialah seperti orang yang dimintai pertolongan oleh manusia
kemudian ia menajamkan senjata
hingga ia menduga bahwa senjata musuh tidak dapat mengenai dirinya. Puasa juga merupakan tameng”. [11])
Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana
air memadamkan api”. Sabda tersebut
diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari
banyak jalur. Sabda tersebut diriwayatkan Imam
Ahmad dan At-Tirmidzi dari hadits Ka'ab bin Ujrah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
'Puasa adalah tameng
kokoh dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana
air memadamkan api”. [12])
Sabda semakna juga diriwayatkan Ath-Thabrani dan
lain-lain dari hadits Anas bin Malik
dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Sabda tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu
Hibban di Shahih-nya dari Anas
bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya sedekah dengan
rahasia itu memadamkan kemarahan Allah dan menolak kematian jelek".
[13])
Diriwayatkan dari Ali bin Al-Husain bahwa ia memanggul
roti di atas punggung pada suatu
malam untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di kegelapan malam. Ia berkata, "Sesungguhnya sedekah di
kegelapan malam itu memadamkan kemarahan
Allah Azza wa Jalla". [14])
Allah Ta'ala
sendiri berfirman,
'jika kalian menampakkan sedekah, maka itu baik
sekali dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan
itu lebih baik bagi kalian
dan Allah akan menghapuskan dari kalian
sebagian kesalahan-kesalahan kalian
dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (Al-Baqarah: 271).
Ini menunjukkan bahwa sedekah menghapus
kesalahan-kesalahan; baik sedekah secara mutlak atau
sedekah dengan rahasia.
Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Dan
shalat seseorang di tengah malam”. Maksudnya,
shalat juga memadamkan kesalahan seperti halnya sedekah.
Hal ini diperkuat hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad [15])
dari riwayat Urwah bin An-Nazzal dari Muadz bin Jabal yang berkata,
"Kami datang bersama Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Perang Tabuk. Beliau menyebutkan hadits tersebut dan di dalamnya beliau
bersabda, "Puasa adalah
tameng, sedekah dan shalat seorang hamba di tengah malam itu menghapus kesalahan”.
Di Shahih
Muslim [16])
disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda, "Shalat terbaik setelah
shalat wajib ialah qiyamullail”.
Diriwayatkan dari sekelompok sahabat yang berkata,
"Sesungguhnya manusia terbakar dengan dosa-dosa pada
siang hari. Setiap kali mereka mengerjakan salah
satu shalat wajib, ia memadamkan dosa-dosa mereka”. Perkataan ini juga diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak jalur yang di dalamnya terdapat
catatan.
Qiyamul lail juga menghapus kesalahan-kesalahan, karena
qiyamul lail adalah shalat sunnah terbaik. Di At-T-rmidzi disebutkan hadits
dari Bilal Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alalhi wa Sallam yang bersabda,
"Hendaklah kalian mengerjakan
qiyamul lail, karena qiyamul lail adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ibadah pendekat kepada Allah Azza wa jalla, pelarang dari dosa, penghapus
kesalahan-kesalahan, dan pengusir
penyakit dari badan”.
At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits semakna dari hadits
Abu Umamah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. At-Tirmidzi berkata,
"Hadits tersebut lebih shahih
daripada hadits Bilal”. Hadits tersebut juga diriwayatkan ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim di Shahih-nya masing-masing
dari Abu Umamah. [17])
Ibnu Mas'ud berkata, "Keutamaan shalat malam atas
shalat siang adalah seperti keutamaan sedekah dengan rahasia atas sedekah
dengan terang-terangan”. (Diriwayatkan
Abu Nu'aim dari secara marfu' dan mauquf, namun yang benar hadits ini mauquf). [18]
Sebelumnya disebutkan bahwa sedekah dengan rahasia itu
memadamkan kesalahan dan kemarahan Allah.
Shalat malam begitu juga.
Perkataan
Muadz bin Jabal, "Kemudian Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca
firman Allah, 'Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan
harap dan mereka menafkahkan sebagian
dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu
(bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan
pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan'. (As-Sajdah: 16-17)”.
Maksudnya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan kedua
ayat di atas setelah menyebutkan shalat malam untuk menjelaskan keutamaan shalat malam. Diriwayatkan dari
Anas bin Malik bahwa ayat di atas
turun tentang menunggu shalat Isya'. Hadits tersebut diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya. [19])
Diriwayatkan dari Anas bin Malik yang berkata tentang ayat tersebut, "Para sahabat dulu menunggu
antara shalat Maghrib dengan shalat Isya'”.
(Diriwayatkan Abu Daud). [20] Hadits semakna diriwayatkan dari Bilal dan itu diriwayatkan Al-Bazzar [21])
dengan sanad dhaif.
Itu semua masuk dalam cakupan umum ayat di atas, karena
Allah memuji orang-orang yang lambung mereka jauh
dari tempat tidur mereka untuk berdoa kepada-Nya.
Pujian tersebut mencakup orang yang tidak tidur malam hari untuk dzikir kepada
Allah dan berdoa kepada-Nya. Termasuk dalam cakupan pujian ialah orang mengerjakan shalat di antara dua shalat Isya'
(antara shalat Maghrib dengan shalat
Isya') dan orang yang menunggu shalat Isya' dengan tidak tidur hingga mengerjakannya, terutama ia amat membutuhkan
tidur dan melawan dirinya untuk
tidak meninggalkan kewajiban, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda
tentang orang yang menunggu shalat Isya',
"Sesungguhnya kalian selalu
dalam shalat selama kalian menunggu shalat”. [22])
Pujian juga mencakup orang yang tidur kemudian bangun
dari tidurnya untuk mengerjakan shalat tahajud yang
merupakan shalat sunnah terbaik secara mutlak.
Bisa jadi, pujian juga mencakup orang yang tidak tidur
ketika fajar terbit kemudian
mengerjakan shalat Shubuh, terutama ketika itu rasa kantuk ingin tidur begitu kuat. Oleh karena itu, muadzin disyariatkan berkata
di adzan Shubuhnya, "Ash-Shalatu khairum minan naumi (shalat itu lebih baik daripada tidur)”.
Sabda Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam, "Dan shalat seseorang di tengah malam”, Pada sabda
hadits tersebut, Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam menyebutkan waktu terbaik tahajud di malam hari, yaitu tengah malam.
At-Tirmidzi dan An-Nasai
meriwayatkan hadits Abu Umamah Radhiyallahu
Anhu yang berkata,
"Dikatakan, 'Wahai Rasulullah,
doa apakah yang paling didengar?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Di tengah malam terakhir dan
setelah shalat-shalat
wajib”. [23])
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dan
teksnya ialah, "Seseorang
datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, Shalat apakah yang paling baik?' Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
'Tengah malam pertengahan”. Orang tersebut bertanya lagi, Doa manakah
yang paling didengar?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Setelah shalat-shalat wajib".
An-Nasai meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu yang
berkata, aku bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang
malam yang paling baik? Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Malam terbaik ialah pertengahannya”. [24])
Imam Ahmad meriwayatkan hadits Abu Muslim yang berkata,
"Aku berkata kepada Abu Dzar, 'Qiyamul lail
manakah yang paling baik?' kemudian Abu Dzar berkata,
'Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam tentang apa yang engkau tanyakan kepadaku lalu beliau
bersabda, 'Pertengahan malam yang
telah berlalu atau tengah malam dan sedikit sekali orang yang mengerjakannya'. [25])
Al-Bazzar dan Ath-Thabrani meriwayatkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma
yang berkata,
"Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam pernah ditanya, Malam kapankah doa paling dikabulkan?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tengah malam”.. Al-Bazzar menambahkan di riwayatnya,
"Tengah malam terakhir”.
[26])
At-Tirmidzi meriwayatkan hadits Amr bin Absah Radhiyallahu
Anhu yang mendengar
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Saat terdekat Tuhan dengan
hamba ialah di tengah malam terakhir. Jika engkau
mampu menjadi orang-orang yang dzikir kepada Allah pada saat tersebut, kerjakan”. (Diriwayatkan
At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya).
Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dan teksnya
bahwa Amr bin Absah berkata, "Aku berkata, `Wahai Rasulullah,
waktu manakah yang paling baik?' Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tengah malam terakhir'”. Di riwayat lain
Imam Ahmad disebutkan, "Tengah malam terakhir adalah doa paling dikabulkan”. Di riwayat lain Imam Ahmad disebutkan
bahwa Amr bin Absah berkata,
"Aku berkata, `Wahai Rasulullah, adakah waktu yang paling dekat kepada Allah daripada waktu lain?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tengah malam terakhir”. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Majah dan menurut
riwayatnya ialah, "Tengah malam pertengahan”. Di riwayat lain Imam
Ahmad dari Amr bin Absah yang berkata, aku
berkata, "Wahai Rasulullah, adakah waktu yang lebih baik daripada waktu lainnya?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh Allah turun di
tengah malam kemudian mengampuni kecuali dosa dari syirik". [27])
Ada yang mengatakan bahwa jika tengah malam dimutlakkan,
maka yang dimaksudkan ialah pertengahan malam. Jika dikatakan,
"Tengah malam terakhir," maka yang
dimaksudkan ialah tengah malam kedua, yaitu seperenam kelima dari
seperenam-seperenam malam. Waktu itulah saat turunnya ilahi,
Sabda
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
'Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara,
tiang-tiangnya, dan puncak punuknya?" Aku berkata, 'Mau, wahai Rasulullah”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Pokok segala perkara adalah
Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncak punuknya adalah jihad”. Di riwayat Imam Ahmad
dari riwayat Syahr bin Hausyab dari Ibnu Ghanm dari Muadz bin Jabal yang
berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku,
'jika engkau mau, aku ceritakan
kepadamu pokok segala perkara, tiangnya, dan puncak punuknya”. Aku menjawab,
'Mau wahai Rasulullah”. Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya pokok segala perkara ialah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang
berhak disembah kecuali Allah
dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, tiang perkara ini ialah mendirikan shalat dan membayar
zakat, dan puncak punuknya ialah
jihad di jalan Allah. Sesungguhnya aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mendirikan shalat, membayar
zakat, dan bersaksi bahwa
tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka
melakukan hal-hal
tersebut, mereka berpegang teguh dan melindungi darah dan harta mereka
kecuali dengan haknya dan hisab mereka ada pada Allah Azza wa Jalla”.
Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
"Demi Dzat yang jiwa Muhammad
berada di Tangan-Nya, wajah tidak pucat dan kaki tidak berdebu dalam perbuatan untuk mencari derajat-derajat
surga setelah shalat wajib itu seperti
jihad di jalan Allah. Tidak add yang memberatkan timbangan seorang hamba seperti hewan yang ia infakkan baginya di jalan
Allah atau dinaiki di jalan Allah Azza wa Jalla”.
Di hadits di atas, Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam menjelaskan
tiga hal; pokok segala sesuatu, tiangnya, dan puncak punuknya.
Adapun pokok segala perkara dan yang dimaksud dengan
perkara di hadits ialah agama
yang dibawa Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, yaitu Islam.
Perkara tersebut di riwayat lain
ditafsirkan dengan dua kalimat syahadat. Jadi, barangsiapa tidak
mengakui keduanya lahir-batin, ia tidak termasuk bagian dari Islam.
Sedang tiang agama di mana agama tegak dengannya
sebagaimana tenda tegak di atas
tiang-tiangnya ialah shalat. Di riwayat lain disebutkan, "Mendirikan shalat dan membayar zakat”. Sebelumnya
dijelaskan rukun-rukun Islam dan keterkaitan sebagian rukun Islam dengan
sebagian rukun Islam lainnya.
Sedang puncak punuk perkara ialah jihad. Ini menunjukkan
bahwa jihad adalah amal perbuatan terbaik
setelah ibadah-ibadah wajib seperti dikatakan Imam Ahmad dan ulama-ulama lainnya.
Sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam di
riwayat Imam Ahmad, "Demi Dzat
yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, wajah tidak pucat dan kaki tidak
berdebu dalam perbuatan untuk
mencari derajat-derajat surga setelah shalat
wajib itu seperti jihad di jalan Allah", menunjukkan hal ini secara transparan.
Di
Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim disebutkan hadits dari
Abu Dzar Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku berkata,
"Wahai Rasulullah,
amal apakah yang paling baik?" Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya”.
[28])
Di
Shahih Al-Bukhari dan Shahih
Muslim juga disebutkan hadits
dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu
dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Perbuatan yang paling
baik ialah iman kepada Allah kemudian
jihad di jalan Allah”. [29])
Hadits-hadits tentang tema ini sangat banyak.
Sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, "Maukah engkau aku jelaskan
tentang hal yang menguatkan itu semua?" Aku menjawab, "Mau, wahai Rasulullah”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang lidah beliau kemudian
bersabda, 'Jagalah ini (lidah)”. Aku
berkata, "Wahai Nabi Allah,
apakah kita akan disiksa karena apa yangkita
katakan?" Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda, "Mudah-mudahan ibumu kehilanganmu (kalimat yang
menunjukkan nada heran), tidaklah manusia
terjungkir di neraka di atas wajah
mereka atau di atas hidung mereka melainkan
karena hasil lidah mereka”. Ini menunjukkan bahwa penahanan lidah, pengendaliannya, dan penjagaannya merupakan pilar
seluruh kebaikan dan bahwa barangsiapa
mampu mengendalikan lidahnya maka ia menguasai perkaranya dan mengendalikannya.
Hal ini telah dibahas di syarah hadits, "Barangsiapa
beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
hendaklah ia berkata dengan baik atau hendaklah ia diam”.
[30])
Dan juga di syarah hadits, "Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqamahlah”. [31])
Al-Bazzar meriwayatkan di Musnad-nya [32]) hadits dari Abu Al-Yusr bahwa seseorang berkata,
"Wahai Rasulullah, tunjukkan
kepadaku perbuatan yang memasukkanku ke
surga”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tahanlah ini”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu sambil
memberi isyarat ke lidah.
Orang tersebut mengulangi pertanyaannya
kemdian Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam bersabda, "Semoga Ibumu kehilanganmu, tidak ada yang membuat
manusia terjungkir di atas hidung di neraka melainkan hasil lidah mereka”. (Al-Bazzar
berkata, "Sanad hadits ini hasan”.).
Yang dimaksud
dengan hasil lidah ialah balasan dan hukuman atas perkataan yang diharamkan. Pada dasarnya, manusia menanam
kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan
dengan perkataan dan perbuatannya kemudian pada Hari Kiamat
ia menuai apa yang telah ia tanam. Barangsiapa menanam kebaikan; baik dari perkataan atau perbuatan, ia memanen
kemuliaan. Dan barangsiapa menanam keburukan; baik berupa perkataan dan
perbuatan, kelak ia menuai penyesalan.
Tekstual hadits Muadz bin Jabal menunjukkan bahwa sesuatu
yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka ialah berkata
dengan lidah, karena termasuk dalam maksiat dengan
perkataan ialah syirik yang merupakan dosa paling besar di sisi Allah Azza wa Jalla. Termasuk juga
mengatakan tentang Allah tanpa didasari ilmu
dan dosa seperti ini termasuk sahabat karib syirik. Termasuk juga kesaksian palsu yang dosanya setara dengan dosa syirik
kepada Allah Azza wajalla. Termasuk
di dalamnya sihir, menuduh
orang-orang baik melakukan zina dan dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil lainnya seperti berbohong,
menggunjing, mengadu domba, dan seluruh kemaksiatan yang berbentuk tindakan yang pada umumnya didukung
perkataan.
Disebutkan di hadits Abu
Hurairah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam yang bersabda,
"Yang paling banyak memasukkan
manusia ke neraka ialah dua hal yang terletak
di tengah; mulut dan kemaluan”. (Diriwayatkan
Imam Ahmad dan At-Tirmidzi). [33]
Disebutkan di
Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Abu Hurairah
Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya seseorang
mengatakan suatu ucapan yang tidak ia perhatikan isinya, menyebabkan ia terjerumus ke neraka lebih
jauh daripada antara timur
dengan barat".
[34])
Hadits
tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dan teksnya ialah,
"Sesungguhnya seseorang
mengatakan perkataan yang ia lihat tidak ada madzarat di dalamnya namun ia terjerumus disebabkannya
selama tujuh puluh tahun di
neraka”.
Imam Malik meriwayatkan hadits dari Zaid bin Aslam dari
ayahnya bahwa Umar bin Khaththab masuk ke tempat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang
ketika itu sedang menarik lidah. Umar bin
Khaththab berkata kepada Abu Bakar, "Ah, semoga Allah
mengampunimu”. Abu Bakar berkata, "Inilah (lidah) yang menempatkanku di tempat-tempat bahaya”. [35])
Ibnu Buraidah berkata, "Aku pernah melihat Ibnu
Abbas menarik lidah sambil berkata, 'Celakah engkau
(lidah). Katakan yang baik, niscaya engkau beruntung atau diamlah dari mengatakan yang buruk niscaya engkau selamat. Jika
tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal”. Ditanyakan kepada Ibnu Abbas,
"Hai Abu Abbas, kenapa engkau berkata seperti itu?" Ibnu Abbas
berkata, "Pada Hari Kiamat, organ tubuh yang paling dibenci manusia
ialah lisan kecuali kebaikan yang mereka katakan atau mendiktekan kebaikan
dengannya”. [36])
Ibnu Mas'ud berkata bersumpah dengan nama Allah yang
tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia bahwa di atas bumi ini tidak
ada sesuatu yang perlu dipenjara
hingga lama daripada lidah. [37])
Al-Hasan
berkata, "Lidah adalah komandan tubuh. Jika lidah berbuat dosa terhadap organ tubuh, maka organ tubuh menjadi
berdosa. Jika lidah menahan diri, organ
tubuh menahan diri". [38])
Yunus bin Ubaid berkata, "Aku tidak melihat
seseorang di mana lidahnya berada di atas kebaikan,
melainkan aku melihatnya sebagai kebaikan di seluruh organ tubuhnya”. [39])
Yahya bin Abu Katsir berkata, "Tidaklah perkataan
seseorang itu baik, melainkan aku
mengetahuinya di seluruh organ tubuhnya. Tidaklah perkataan seseorang itu
rusak, melainkan aku mengetahuinya di seluruh organ tubuhnya”. [40])
Al-Mubarak
bin Fadhalah berkata dari Yunus bin Ubaid, "Engkau tidak mendapatkan salah satu kebaikan pada seseorang yang
diikuti seluruh kebaikan daripada
lidah. Engkau mendapati orang berpuasa di siang hari namun ia berbuka puasa
dengan barang haram. Ia mengerjakan qiyamul lail, namun ia bersaksi palsu di
siang hari. Tapi engkau tidak mendapatinya berkata benar kemudian perkataan benarnya
bertentangan dengan amalnya untuk selama-lamanya”. [41])
[1] Hadits shahih dengan seluruh Jalurnya. Hadits
tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 5/ 230, 236, 237, 245, At-Tirmidzi hadits
nomer 2616, dan An-Nasai di Al-Kubra
seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 8/399. Hadits tersebut.juga diriwayatkan
Abdurrazzaq hadits nomer 20303, Ibnu Majah hadits nomer 3973, Ibnu Abu Syaibah
di Al-Iman hadits nomer l, 2. Al-Baihaqi 9/20. Hannad bin
As-Siri di Az-Zuhdu hadits nomer 1090, Ath-Thayalisi hadits nomer 560,
Ath-Thabrani di Al-Kabir 20/200, 291, 294, 304, 305, Al-Hakim 2/412-413, dan
Ibnu Hibban hadits nomer 214.
[2] Diriwayatkan Ibnu Majah hadits nomer 910 dan 3847
dari hadits Abu Hurairah. Para perawinya
adalah para perawi tepercaya yang merupakan perawi Al-Bukhari dan Muslim
kecuali guru Ibnu Majah yang merupakan
perawi Al-Bukhari. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer
868. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 3/474 dan Abu Daud 792 dari jalur Abu Shalih dari sebagian sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
[3] Dari Ali bin Abu Thalib, hadits tersebut
diriwayatkan Imam Ahmad 1/82, Al-Bukhari hadits nomer 1362, Muslim hadits nomer
2647, Abu Daud hadits nomer 4694. At-Tirmidzi hadits nomer 2136, dan Ibnu Majah hadits nomer 78. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer
334 dan 335.
[4] Dari Ibnu Abbas, hadits tersebut diriwayatkan Imam
Ahmad 1/227, Abu Daud hadits nomer
1510, At-Tirmidzi hadits nomer 3551, Ibnu Majah hadits nomer 3830, Al-Bukhari
di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 664, 665, An-Nasai di Amalul Yaumi wal Lailah hadits
nomer 607, dan Al-Hakim 1/519-520.
Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 947 dan 948.
[5] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 1894 dan
Muslim 1151. Hadits tersebut dishahihkan
Ibnu Hibban hadits nomer 3416 dan 3427.
[6] 2/402. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat,
yaitu hadits Abu Umamah yang diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 7608.
[7] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/22, An-Nasai 4/167, dan
Ibnu Majah hadits nomer 1639. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 3649.
[8] Diriwayatkan Imam Ahmad 3/396. Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 3/180 menghasankan sanad
hadits tersebut.
[9] Diriwayatkan Imam Ahmad 1/195, 196, An-Nasai
4/167, dan Ad-Darimi 2/15. Sanad hadits
tersebut ada kemungkinan bisa dianggap hasan.
[10]
Di Al-Ausath. Di sanadnya terdapat perawi Ar-Rabi' bin Badr
yang merupakan perawi dhaif seperti dikatakan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 3/171.
[11]
Disebutkan As-Suyuthi di Al-Jami’ Al-Kabir 1/459 dan mengatakan bahwa hadits tersebut
diriwayatkan Abu Hamid Al-Bazzar. Ia berkata, "Para perawinya adalah para perawi tepercaya”.
Hadits tersebut juga disebutkan Al-Hindi kanzul Ummal 16/141-142 dan mengatakan bahwa hadits tersebut
diriwayatkan Al-Askari di Al-Mawa'idh dan Abu Nu'aim. Aku berkata, hadits
Al-Harits Al-Asy'ari yang diriwayatkan Ibnu Hibban hadits nomer 6233 ialah, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan lima kalimat kepada Yahya bin
Zukaria; beliau mengamalkannya dan
menyuruh Bani Israil mengamnlkannya”.
Di dalamnya juga disebutkan, "Dan Allah memerintahkan puasa kepada kalian.
Sesungguhnya perumpamaan puasa ialah seperti orang yang membawa kantong
berisi kesturi dan ia mempunyai sekelompok
orang yang ia inginkan mereka mencium aroma kesturi tersebut. Sesungguhnya
puasa di sisi Allah lebih wangi daripada aroma kesturi”.
[12] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 614. Ia
berkata, "Hadits tersebut
hasan gharib”. Hadits tersebut juga disebutkan di Mu’jam
Ath-Thabrani Al-Kabir 19/212. Hadits
tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dan
lain-lain dari hadits Jabir dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Hai Ka'ab bin Ujrah, dan seterusnya”. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 1723.
[13] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 664. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits
nomer (3309).
[14] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/135-136.
[15]
Di Al-Musnad 5/237.
[16] Hadits nomer 1163.
[17] Hadits
hasan diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3549 dan Bilal. Di sanadnya terdapat perawi Muhammad bin Sa'id Asy-Syami yang
merupakan perawi pendusta dan keliru orang yang mengatakan bahwa hadits
tersebut diriwayatkan Imam Ahmad dan Al-Hakim.
Hadits
tersebut juga diriwayatkan Al-Baihaqi di As-Sunan 2/502 dari Bilal dari
jalur lain yang di dalamnya tidak ada perawi pendusta.
Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari
hadits Abu Umamah setelah hadits Bilal, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 7466, Ibnu Khuzaimah hadits nomer 1135, dan Al-Hakim 1/308. Di
sanadnya terdapat perawi Abdullah bin
Shalih, penulis Al-Laits, yang haditsnya hasan dengan adanya mutabaat. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat,
yaitu hadits Salman yang diriwayatkan
Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 6154. Hadits tersebut dihasankan
Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul
Ahaaditsil Ahya' 1/354.
[18] Diriwayatkan
Abdurrazzaq hadits nomer 4735 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer
8998, 8999 secara mauquf dan sanadnya shahih.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 4/167, 5/36, dan 7/238 secara marfu' dan
mauquf. Di sanadnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terdapat perawi Makhlad bin Yazid Al-Harani yang
selalu keliru. Hadits tersebut dianggap
mauquf oleh para perawi yang lebih tepercaya darinya.
[19] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3196. Ia
berkata, "Hadits ini hasan shahih gharib”.
[20] Hadits nomer 1321 dan sanadnya shahih. Teksnya,
"Para sahabat dulu tidak tidur antara Maghrib dengan Isya' untuk
shalat”.
[21] Hadits nomer 2250. Hadits tersebut dianggap dhaif oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 7/90 karena keberadaan guru Al-Bazzar yang bernama Abdullah bin Syabib.
[22] Potongan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad 3/267
dari Anas bin Malik, Al-Bukhari
hadits nomer 572, dan Muslim hadits nomer 640. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu
Hibban 1537.
[23] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3499 dan
An-Nasai di Amalul Yaumi wal Lailah hadits nomer 108. Sanadnya terputus dan perawinya, Ibnu Juraij
menggunakan an'anah. Lima sahabat Abu Umamah meriwayatkan asal hadits
tersebut dari riwayat Abu Umamah dari Amr
bin Absah. Kendati demikian, hadits tersebut dianggap hasan oleh At-Tirmidzi.
Saya katakan, hadits di atas juga diriwayatkan
At-Tirmidzi hadits nomer 3579, An-Nasai 1/279, dan Ath-Thabrani di Ad-Du'a
hadits nomer 128, 129 dari hadits
Abu Umamah dari Amr bin Absah. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Khuzaimah hadits nomer 1147 dan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Nataijul Afkaar 73/1. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Hadits
tersebut shahih”. Hadits tersebut akan
disebutkan kemudian.
[24] Diriwayatkan An-Nasai di As-Sunan Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 9/156-157. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Al-Bukhari di At-Tarikh
Al-Kabir 2/45-46.
[25] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/179. Di sanadnya terdapat
Muhajir bin Makhlad yang merupakan
perawi dhaif.
[26] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir, Al-Ausath, Ash-Shaghir hadits nomer 355 dan Al-Bazzar hadits nomer 3151.
Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/155 berkata, "Para perawi Al-Bazzar dan buku Al-Kabir adalah para perawi Bukhari.
[27] Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad 4/112, 114,
385. 387, At-Tirmidzi hadits nomer
3579, Ibnu Majah hadits nomer 1251, 1364, dan Ath-Thabrani dalam "Ad Du'a’
hadits nomer 128-134. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Khuzaimah hadits nomer 1147.
[28] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2518, Muslim
hadits nomer 84. Imam Ahmad 5/150,
dan An-Nasai 6/19. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer
152.
[29] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 26, 1519 dan
Muslim hadits nomer 83. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 2/268.
Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 153.
[30]
Hadits kelima belas buku ini.
[31]
Hadits kedua puluh satu buku ini.
[32]
Hadits nomer 3572.
[33] Diriwayatkan Imam Ahmad 2/291, 392, 442,
At-Tirmidzi hadits nomer 2004, Ibnu Majah
hadits nomer 4246, dan Al-Hakim
4/324. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 476.
[34] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6477-6478,
Muslim hadits nomer 2988, dan At-Tirrnidzi
hadits nomer 2314. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5706 dan 5707.
[35] Al-Muwaththa' 2/988 dan sanadnya shahih. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Abu Ya'la hadits nomer 5, Ibnu
As-Sunni di Amalul Yaumi wal Lailah hadits nomer 7, dan Ibnu Abu Ad-Dunya
di Ash-Shamthu hadits nomer 13.
[36] Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 189. Dari jalur Imam
Ahmad. atsar di atas juga diriwayatkan
Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/327-328 dari Abdul Wahhab dari Sa'id Al-Jariri
dari seseorang yang berkata, aku lihat Ibnu Abbas dan seterusnya.
[37] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/134.
[38]
Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Ash-Shamthu hadits nomer 59.
[39]
Perkataan tersebut ada di Ash-Shamthu Ibnu Abu Ad-Dunya hadits nomer 60
dan 653.
[40]
Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/68.
[41]
Al-Hilyah 3/20.
No comments:
Post a Comment