Monday, May 4, 2026

Hadits Arbain 29: Jalan Menuju Surga

Hadits Kedua Puluh Sembilan

«عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، قَالَ: لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظِيمٍ وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ: تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتَحُجُّ الْبَيْتَ. ثُمَّ قَالَ: أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ، وَصَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ، ثُمَّ تَلَا: {تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ} [السجدة: 16] حَتَّى بَلَغَ: يَعْلَمُونَ [السَّجْدَةِ: 16 - 17] ، ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: رَأْسُ الْأَمْرِ الْإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلَاةُ، وَذُرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ، ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ؟ قُلْتُ: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ، قَالَ: كُفَّ عَلَيْكَ هَذَا قُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللَّهِ، وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ؟ فَقَالَ: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ، أَوْ قَالَ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ» . رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku berkata, "Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku amal perbuatan yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka. "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh engkau bertanya tentang sesuatu yang besar namun mudah hagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah di dalamnya; engkau menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, mendirikan shalat, membayar zakat, berpuasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah. "Setelah itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Maukah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah tameng, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api dan shalat seseorang di tengah malam". Kemudlan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca firman Allah, “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan". (As-Sajdah: 16-17). Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda lagi, “Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara, tiang-tiangnya, dan puncak punuknya?" Aku berkata, "Mau, wahai Rasulullah". Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Pokok segala perkara adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncak punuknya adalah jihad". Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda lagi, 'Maukah engkau aku jelaskan tentang hal yang menguatkan itu semua?" Aku menjawab, 'Mau, wahai Rasulullah". Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang lidah beliau kemudian bersabda, 'Jagalah ini (lidah)". Aku berkata, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yang kita katakan?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Mudah-mudahan ibumu kehilanganmu (kalimat yang menunjukkan nada heran), tidaklah manusia terjungkir di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan karena hasil lidah mereka". (Diriwayatkan At-Tirmidzi. Ia berkata, "Hadits ini hasan shahih"). [1]

Hadits bab di atas diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah dari riwayat Ma'mar dari Ashim bin Abu An-Nujud dari Abu Wail dari Muadz bin Jabal. At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut hasan shahih”.

Ada dua catatan tentang perkataan At-Tirmidzi di atas,

1.      Tidak ada bukti bahwa Abu Wail mendengar hadits di atas dari Muadz bin Jabal, kendati ia hidup semasa dengan Muadz bin Jabal di usia tuanya, karena ketika itu Muadz bin Jabal berada di Syam, sedang Abu Wail berada di Kufah. Para imam seperti Imam Ahmad dan lain-lain berhujjah tidak adanya proses pendengaran suatu hadits dari seseorang dalam kondisi seperti itu. Abu Hatim Ar-Razi berkata tentang pendengaran hadits Abu Wail dari Abu Ad-Darda', "Ia hidup semasa dengan Abu Ad-Darda'. Abu Wail berada di Kufah, sedang Abu Ad-Darda' berada di Syam”. Maksudnya, tidak benar kalau Abu Wail mendengar hadits dari Abu Ad-Darda'. Abu Zur'ah Ad-Dimasyqi menukil dari salah satu kaum bahwa mereka memilih diam tidak berpendapat tentang pendengaran hadits Abu Wail dari Umar atau menafikannya, karena pendengaran hadits olehnya dari Muadz bin Jabal menjadi lebih mustahil.

2.      Hadits di atas diriwayatkan Hammad bin Salamah dari Ashim bin Abu An-Nujud dari Syahr bin Hausyab dari Muadz bin Jabal seperti diriwayatkan Imam Ahmad secara singkat. Ad-Daruquthni berkata, "Itu lebih dekat kepada kebenaran, karena hadits tersebut terkenal dari riwayat Syahr kendati ia dipermasalahkan”.

Saya katakan, riwayat Syahr bin Hausyab dari Muadz bin Jabal adalah mursal tanpa keraguan di dalamnya dan Syahr bin Hausyab sendiri dipermasalahkan, yaitu statusnya sebagai perawi tepercaya atau perawi dhaif Hadits di atas diriwayatkan Imam Ahmad dari riwayat Syahr bin Hausyab dari Abdurrahman bin Ghanm dari Muadz bin Jabal. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dari riwayat Urwah bin An-Nazzal atau An-Nizal bin Urwah dan Maimun bin Abu Syabib di mana keduanya meriwayatkannya dari Muadz bin Jabal. Urwah dan Maimun tidak meriwayatkan hadits tersebut dari Muadz bin Jabal. Hadits tersebut mempunyai jalur-jalur lain dari Muadz bin Jabal, namun semuanya dhaif.

Perkataan Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu, "Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku amal perbuatan yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka”. Di sharah hadits kedua puluh dua buku ini disebutkan hadits Abu Hurairah dan Abu Ayyub dari jalur kuat bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ditanya seperti yang ditanyakan Muadz bin Jabal kemudian beliau menjawab dengan jawaban yang sama dengan jawaban beliau di hadits Muadz bin Jabal tersebut.

Di riwayat Imam Ahmad tentang hadits Muadz bin Jabal disebutkan bahwa Muadz bin Jabal berkata,

"Wahai Rasulullah, aku ingin bertanya kepadamu tentang satu kalimat yang membuatku sakit, menderita, dan sedih”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tanyakan apa saja yang engkau kehendaki". Muadzbin jabal berkata, 'Jelaskan kepadaku tentang satu perbuatan yang memasukkanku ke surga dan aku tidak bertanya kepadamu selain pertanyaan ini?" Ini menunjukkan kuatnya perhatian dan kepedulian Muadz bin Jabal terhadap amal-amal shalih dan di dalamnya terdapat dalil bahwa amal-amal menjadi penyebab orang masuk ke surga, seperti difirmankan Allah Ta’ala,

"Dan itulah surga yang diwariskan kepada kalian disebabkan amal-amal yang dulu kalian kerjakan”. (Az-Zukhruf: 72).

Sedang sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Salah seorang dari kalian tidak akan masuk surga dengan amalnya", maksudnya, wallahua'lam, bahwa amal itu sendiri tidak membuat seseorang berhak atas surga jika Allah tidak menjadikan amalnya dengan karunia dan rahmat-Nya sebagai penyebab dirinya masuk surga. Amal merupakan rahmat Allah dan karunia-Nya kepada hamba-Nya. Jadi, surga dan penyebab-penyebabnya, semuanya berasal dari karunia dan rahmat Allah.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihiwa Sallam, "Sungguh engkau bertanya tentang sesuatu yang besar". Sebelumnya disebutkan di syarah hadits sebelumnya bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang yang bertanya kepada beliau tentang hal sama, "Kendati engkau bertanya dengan singkat, sungguh engkau telah menganggap besar dan panjang”. Itu karena masuk surga dan selamat dari neraka adalah sesuatu yang sangat agung, karenanya, Allah menurunkan kitab-kitab dan mengutus para rasul. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang, "Apa yang engkau ucapkan jika engkau shalat?" Orang tersebut menjawab, "Aku meminta surga kepada Allah dan berlindung diri dengan-Nya dari neraka. Aku tidak mampu sebaik seruanmu dan seruan Muadz”. Hadits ini menunjukkan betapa banyak doa dan usaha keras kedua sahabat tersebut dalam meminta kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Di sekitar itulah hendaknya engkau berseru”. Di riwayat lain, "Tidaklah seruanku dan seruan Muadz melainkan kami meminta surga kepada Allah dan berlindung dengan-Nya dari neraka'. [2])

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Namun mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah di dalamnya", adalah sinyal bahwa seluruh petunjuk berada di Tangan Allah Azza wa Jalla. Barangsiapa diberi kemudahan oleh Allah kepada petunjuk maka ia mendapatkan petunjuk dan barangsiapa tidak diberi kemudahan kepada petunjuk maka ia tidak mendapatkan kemudahan kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman,

'Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik. Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup. Serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar”. (Al-Lail: 5-10).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

'Berbuatlah kalian, karena segala hal dipermudah kepada apa yang diciptakan untuknya. Adapun orang-orang bahagia, mereka dipermudah kepada amal perbuatan orang-orang bahagia dan sedang orang-orang celaka dipermudah kepada amal perbuatan orang-orang celaka”. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat di atas. [3])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata dalam doa beliau,

واهدنى ويسر الهدى لى.

'Berilah aku petunjuk dan permudah petunjuk untukku”. [4])

Allah Ta'ala menjelaskan tentang Nabi Musa Alaihis-Salam bahwa beliau berkata dalam doa beliau,

"Ya Tuhanku, lapangkan dadaku untukku. Dan mudahkanlah urusanku untukku”. (Thaaha: 25-26).

Ibnu Umar berdoa, "Ya Allah, beri aku kemudahan kepada pahala yang terbaik dan jauhkan aku dari jalan yang sulit”.

Sebelumnya disebutkan bahwa masuk ke surga itu disebabkan mengerjakan kelima rukun Islam, yaitu tauhid, shalat, zakat, puasa, dan haji.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Maukah engkau aku tunjukkan pintu pintu kebaikan?" karena masuk ke surga disebabkan mengerjakan kewajiban-kewajiban Islam, maka setelah itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan ibadah-ibadah sunnah yang merupakan pintu-pintu kebaikan. Wali-wali Allah yang paling mulia ialah al-muqarrabun, yaitu orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah setelah mengerjakan ibadah-ibadah wajib.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa adalah tameng”. Sabda tersebut diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak sekali jalur. Sabda tersebut diriwayatkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim [5]) dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sabda tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad [6]) dengan penambahan, 'Puasa adalah tameng dan benteng kokoh dari neraka”.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits Utsman bin Abu Al-Ash Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

“Puasa adalah tameng dari neraka sebagaimana tameng salah seorang dari kalian dari perang”. [7])

Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits Jabir Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Tuhan kita Azza wa Jalla berfirman, Puasa adalah tameng di mana hamba bertameng dengannya dari neraka". [8])

Imam Ahmad dan An-Nasai meriwayatkan hadits Abu Ubaidah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Puasa adalah tameng selagi tidak dirobek”. [9])

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Selagi tidak dirobek", maksudnya dirobek dengan perkataan jelek dan lain sebagainya. Oleh karena itu, disebutkan di hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam disebutkan,

'Puasa adalah tameng, karenanya, pada hari puasa salah seorang dari kalian maka ia tidak boleh berkata jelek, membodohkan, dan jika ia dihina seseorang maka hendaklah ia berkata, 'Aku orang yang berpuasa”.

Salah seorang generasi salaf berkata, "Menggunjing itu merobek puasa sedang istighfar menambalnya. Maka barangsiapa di antara kalian tidak dapat mengerjakan puasa yang terobek, silahkan ia mengerjakannya”.

Ibnu Al-Munkadir berkata, "Jika orang berpuasa menggunjing, puasanya menjadi robek. Jika ia beristighfar, ia menambalnya”.

Ath-Thabrani [10]) meriwayatkan dengan sanad yang di dalamnya terdapat catatan dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Puasa adalah tameng selagi tidak dirobek”. Ditanyakan, "Dengan apa tameng dirobek?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dengan kebohongan dan menggunjing”.

Tameng ialah sesuatu yang digunakan bertameng oleh seorang hamba seperti tameng yang melindunginya dari pukulan ketika berperang. Puasa juga begitu, ia melindungi pelakunya dari berbagai kemaksiatan di dunia, seperti difirmankan Allah Ta'ala

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”. (Al-Baqarah: 183).

Jika puasa merupakan tameng dari kemaksiatan-kemaksiatan bagi seorang hamba di dunia, maka tameng merupakan tameng baginya dari neraka. Jika seseorang tidak mempunyai tameng dari kemaksiatan-kemaksiatan di dunia, ia tidak mempunyai tameng dari neraka di akhirat.

Ibnu Mardawih meriwayatkan hadits dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Allah mengutus Yahya bin Zakaria kepada Bani Israel dengan lima kalimat”. Ali bin Abu Thalib menyebutkan hadits tersebut secara lengkap dan di dalamnya disebutkan, "Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berpuasa. Perumpamaan puasa ialah seperti orang yang melangkah kepada musuhnya dan ia mengambil tameng untuk perang, oleh karena itu, ia tidak khawatir dari apa saja yang datang kepadanya”.

Ibnu Mardawih juga meriwayatkan hadits tersebut dari Ali bin Abu Thalib secara mauquf dan di dalamnya Ali bin Abu Thalib berkata, "Dan perumpamaan puasa ialah seperti orang yang dimintai pertolongan oleh manusia kemudian ia menajamkan senjata hingga ia menduga bahwa senjata musuh tidak dapat mengenai dirinya. Puasa juga merupakan tameng”. [11])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api”. Sabda tersebut diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak jalur. Sabda tersebut diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi dari hadits Ka'ab bin Ujrah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Puasa adalah tameng kokoh dan sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api”. [12])

Sabda semakna juga diriwayatkan Ath-Thabrani dan lain-lain dari hadits Anas bin Malik dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Sabda tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban di Shahih-nya dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya sedekah dengan rahasia itu memadamkan kemarahan Allah dan menolak kematian jelek". [13])

Diriwayatkan dari Ali bin Al-Husain bahwa ia memanggul roti di atas punggung pada suatu malam untuk dibagikan kepada orang-orang miskin di kegelapan malam. Ia berkata, "Sesungguhnya sedekah di kegelapan malam itu memadamkan kemarahan Allah Azza wa Jalla". [14])

Allah Ta'ala sendiri berfirman,

'jika kalian menampakkan sedekah, maka itu baik sekali dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan”. (Al-Baqarah: 271).

Ini menunjukkan bahwa sedekah menghapus kesalahan-kesalahan; baik sedekah secara mutlak atau sedekah dengan rahasia.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Dan shalat seseorang di tengah malam”. Maksudnya, shalat juga memadamkan kesalahan seperti halnya sedekah.

Hal ini diperkuat hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad [15]) dari riwayat Urwah bin An-Nazzal dari Muadz bin Jabal yang berkata,

"Kami datang bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Perang Tabuk. Beliau menyebutkan hadits tersebut dan di dalamnya beliau bersabda, "Puasa adalah tameng, sedekah dan shalat seorang hamba di tengah malam itu menghapus kesalahan”.

Di Shahih Muslim [16]) disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Shalat terbaik setelah shalat wajib ialah qiyamullail”.

Diriwayatkan dari sekelompok sahabat yang berkata, "Sesungguhnya manusia terbakar dengan dosa-dosa pada siang hari. Setiap kali mereka mengerjakan salah satu shalat wajib, ia memadamkan dosa-dosa mereka”. Perkataan ini juga diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak jalur yang di dalamnya terdapat catatan.

Qiyamul lail juga menghapus kesalahan-kesalahan, karena qiyamul lail adalah shalat sunnah terbaik. Di At-T-rmidzi disebutkan hadits dari Bilal Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alalhi wa Sallam yang bersabda,

"Hendaklah kalian mengerjakan qiyamul lail, karena qiyamul lail adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, ibadah pendekat kepada Allah Azza wa jalla, pelarang dari dosa, penghapus kesalahan-kesalahan, dan pengusir penyakit dari badan”.

At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits semakna dari hadits Abu Umamah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut lebih shahih daripada hadits Bilal”. Hadits tersebut juga diriwayatkan ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim di Shahih-nya masing-masing dari Abu Umamah. [17])

Ibnu Mas'ud berkata, "Keutamaan shalat malam atas shalat siang adalah seperti keutamaan sedekah dengan rahasia atas sedekah dengan terang-terangan”. (Diriwayatkan Abu Nu'aim dari secara marfu' dan mauquf, namun yang benar hadits ini mauquf). [18]

Sebelumnya disebutkan bahwa sedekah dengan rahasia itu memadamkan kesalahan dan kemarahan Allah. Shalat malam begitu juga.

Perkataan Muadz bin Jabal, "Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca firman Allah, 'Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan'. (As-Sajdah: 16-17)”. Maksudnya, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan kedua ayat di atas setelah menyebutkan shalat malam untuk menjelaskan keutamaan shalat malam. Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa ayat di atas turun tentang menunggu shalat Isya'. Hadits tersebut diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya. [19]) Diriwayatkan dari Anas bin Malik yang berkata tentang ayat tersebut, "Para sahabat dulu menunggu antara shalat Maghrib dengan shalat Isya'”. (Diriwayatkan Abu Daud). [20] Hadits semakna diriwayatkan dari Bilal dan itu diriwayatkan Al-Bazzar [21]) dengan sanad dhaif.

Itu semua masuk dalam cakupan umum ayat di atas, karena Allah memuji orang-orang yang lambung mereka jauh dari tempat tidur mereka untuk berdoa kepada-Nya. Pujian tersebut mencakup orang yang tidak tidur malam hari untuk dzikir kepada Allah dan berdoa kepada-Nya. Termasuk dalam cakupan pujian ialah orang mengerjakan shalat di antara dua shalat Isya' (antara shalat Maghrib dengan shalat Isya') dan orang yang menunggu shalat Isya' dengan tidak tidur hingga mengerjakannya, terutama ia amat membutuhkan tidur dan melawan dirinya untuk tidak meninggalkan kewajiban, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang orang yang menunggu shalat Isya',

"Sesungguhnya kalian selalu dalam shalat selama kalian menunggu shalat”. [22])

Pujian juga mencakup orang yang tidur kemudian bangun dari tidurnya untuk mengerjakan shalat tahajud yang merupakan shalat sunnah terbaik secara mutlak.

Bisa jadi, pujian juga mencakup orang yang tidak tidur ketika fajar terbit kemudian mengerjakan shalat Shubuh, terutama ketika itu rasa kantuk ingin tidur begitu kuat. Oleh karena itu, muadzin disyariatkan berkata di adzan Shubuhnya, "Ash-Shalatu khairum minan naumi (shalat itu lebih baik daripada tidur)”.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Dan shalat seseorang di tengah malam”, Pada sabda hadits tersebut, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutkan waktu terbaik tahajud di malam hari, yaitu tengah malam. At-Tirmidzi dan An-Nasai meriwayatkan hadits Abu Umamah Radhiyallahu Anhu yang berkata,

"Dikatakan, 'Wahai Rasulullah, doa apakah yang paling didengar?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Di tengah malam terakhir dan setelah shalat-shalat wajib”. [23])

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dan teksnya ialah, "Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, Shalat apakah yang paling baik?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tengah malam pertengahan”. Orang tersebut bertanya lagi, Doa manakah yang paling didengar?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, Setelah shalat-shalat wajib".

An-Nasai meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang malam yang paling baik? Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Malam terbaik ialah pertengahannya”. [24])

Imam Ahmad meriwayatkan hadits Abu Muslim yang berkata, "Aku berkata kepada Abu Dzar, 'Qiyamul lail manakah yang paling baik?' kemudian Abu Dzar berkata, 'Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang apa yang engkau tanyakan kepadaku lalu beliau bersabda, 'Pertengahan malam yang telah berlalu atau tengah malam dan sedikit sekali orang yang mengerjakannya'. [25])

Al-Bazzar dan Ath-Thabrani meriwayatkan hadits Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma yang berkata,

"Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya, Malam kapankah doa paling dikabulkan?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tengah malam”.. Al-Bazzar menambahkan di riwayatnya, "Tengah malam terakhir”. [26])

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits Amr bin Absah Radhiyallahu Anhu yang mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Saat terdekat Tuhan dengan hamba ialah di tengah malam terakhir. Jika engkau mampu menjadi orang-orang yang dzikir kepada Allah pada saat tersebut, kerjakan”. (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan ia menshahihkannya).

Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dan teksnya bahwa Amr bin Absah berkata, "Aku berkata, `Wahai Rasulullah, waktu manakah yang paling baik?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tengah malam terakhir'”. Di riwayat lain Imam Ahmad disebutkan, "Tengah malam terakhir adalah doa paling dikabulkan”. Di riwayat lain Imam Ahmad disebutkan bahwa Amr bin Absah berkata, "Aku berkata, `Wahai Rasulullah, adakah waktu yang paling dekat kepada Allah daripada waktu lain?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tengah malam terakhir”. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Majah dan menurut riwayatnya ialah, "Tengah malam pertengahan”. Di riwayat lain Imam Ahmad dari Amr bin Absah yang berkata, aku berkata, "Wahai Rasulullah, adakah waktu yang lebih baik daripada waktu lainnya?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sungguh Allah turun di tengah malam kemudian mengampuni kecuali dosa dari syirik". [27])

Ada yang mengatakan bahwa jika tengah malam dimutlakkan, maka yang dimaksudkan ialah pertengahan malam. Jika dikatakan, "Tengah malam terakhir," maka yang dimaksudkan ialah tengah malam kedua, yaitu seperenam kelima dari seperenam-seperenam malam. Waktu itulah saat turunnya ilahi,

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Maukah engkau aku jelaskan tentang pokok segala perkara, tiang-tiangnya, dan puncak punuknya?" Aku berkata, 'Mau, wahai Rasulullah”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Pokok segala perkara adalah Islam, tiang-tiangnya adalah shalat, dan puncak punuknya adalah jihad”. Di riwayat Imam Ahmad dari riwayat Syahr bin Hausyab dari Ibnu Ghanm dari Muadz bin Jabal yang berkata, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepadaku,

'jika engkau mau, aku ceritakan kepadamu pokok segala perkara, tiangnya, dan puncak punuknya”. Aku menjawab, 'Mau wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya pokok segala perkara ialah engkau bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, tiang perkara ini ialah mendirikan shalat dan membayar zakat, dan puncak punuknya ialah jihad di jalan Allah. Sesungguhnya aku diperintahkan memerangi manusia hingga mereka mendirikan shalat, membayar zakat, dan bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Jika mereka melakukan hal-hal tersebut, mereka berpegang teguh dan melindungi darah dan harta mereka kecuali dengan haknya dan hisab mereka ada pada Allah Azza wa Jalla”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, wajah tidak pucat dan kaki tidak berdebu dalam perbuatan untuk mencari derajat-derajat surga setelah shalat wajib itu seperti jihad di jalan Allah. Tidak add yang memberatkan timbangan seorang hamba seperti hewan yang ia infakkan baginya di jalan Allah atau dinaiki di jalan Allah Azza wa Jalla”.

Di hadits di atas, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menjelaskan tiga hal; pokok segala sesuatu, tiangnya, dan puncak punuknya.

Adapun pokok segala perkara dan yang dimaksud dengan perkara di hadits ialah agama yang dibawa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yaitu Islam. Perkara tersebut di riwayat lain ditafsirkan dengan dua kalimat syahadat. Jadi, barangsiapa tidak mengakui keduanya lahir-batin, ia tidak termasuk bagian dari Islam.

Sedang tiang agama di mana agama tegak dengannya sebagaimana tenda tegak di atas tiang-tiangnya ialah shalat. Di riwayat lain disebutkan, "Mendirikan shalat dan membayar zakat”. Sebelumnya dijelaskan rukun-rukun Islam dan keterkaitan sebagian rukun Islam dengan sebagian rukun Islam lainnya.

Sedang puncak punuk perkara ialah jihad. Ini menunjukkan bahwa jihad adalah amal perbuatan terbaik setelah ibadah-ibadah wajib seperti dikatakan Imam Ahmad dan ulama-ulama lainnya.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di riwayat Imam Ahmad, "Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, wajah tidak pucat dan kaki tidak berdebu dalam perbuatan untuk mencari derajat-derajat surga setelah shalat wajib itu seperti jihad di jalan Allah", menunjukkan hal ini secara transparan.

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku berkata,

"Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling baik?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya”. [28])

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Perbuatan yang paling baik ialah iman kepada Allah kemudian jihad di jalan Allah”. [29])

Hadits-hadits tentang tema ini sangat banyak.

Sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Maukah engkau aku jelaskan tentang hal yang menguatkan itu semua?" Aku menjawab, "Mau, wahai Rasulullah”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang lidah beliau kemudian bersabda, 'Jagalah ini (lidah)”. Aku berkata, "Wahai Nabi Allah, apakah kita akan disiksa karena apa yangkita katakan?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Mudah-mudahan ibumu kehilanganmu (kalimat yang menunjukkan nada heran), tidaklah manusia terjungkir di neraka di atas wajah mereka atau di atas hidung mereka melainkan karena hasil lidah mereka”. Ini menunjukkan bahwa penahanan lidah, pengendaliannya, dan penjagaannya merupakan pilar seluruh kebaikan dan bahwa barangsiapa mampu mengendalikan lidahnya maka ia menguasai perkaranya dan mengendalikannya. Hal ini telah dibahas di syarah hadits, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata dengan baik atau hendaklah ia diam”. [30]) Dan juga di syarah hadits, "Katakan, ‘Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqamahlah”. [31]) Al-Bazzar meriwayatkan di Musnad-nya [32]) hadits dari Abu Al-Yusr bahwa seseorang berkata,

"Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku perbuatan yang memasukkanku ke surga”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Tahanlah ini”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seperti itu sambil memberi isyarat ke lidah. Orang tersebut mengulangi pertanyaannya kemdian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Semoga Ibumu kehilanganmu, tidak ada yang membuat manusia terjungkir di atas hidung di neraka melainkan hasil lidah mereka”. (Al-Bazzar berkata, "Sanad hadits ini hasan”.).

Yang dimaksud dengan hasil lidah ialah balasan dan hukuman atas perkataan yang diharamkan. Pada dasarnya, manusia menanam kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan dengan perkataan dan perbuatannya kemudian pada Hari Kiamat ia menuai apa yang telah ia tanam. Barangsiapa menanam kebaikan; baik dari perkataan atau perbuatan, ia memanen kemuliaan. Dan barangsiapa menanam keburukan; baik berupa perkataan dan perbuatan, kelak ia menuai penyesalan.

Tekstual hadits Muadz bin Jabal menunjukkan bahwa sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka ialah berkata dengan lidah, karena termasuk dalam maksiat dengan perkataan ialah syirik yang merupakan dosa paling besar di sisi Allah Azza wa Jalla. Termasuk juga mengatakan tentang Allah tanpa didasari ilmu dan dosa seperti ini termasuk sahabat karib syirik. Termasuk juga kesaksian palsu yang dosanya setara dengan dosa syirik kepada Allah Azza wajalla. Termasuk di dalamnya sihir, menuduh orang-orang baik melakukan zina dan dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil lainnya seperti berbohong, menggunjing, mengadu domba, dan seluruh kemaksiatan yang berbentuk tindakan yang pada umumnya didukung perkataan.

Disebutkan di hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka ialah dua hal yang terletak di tengah; mulut dan kemaluan”. (Diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi). [33]

Disebutkan di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya seseorang mengatakan suatu ucapan yang tidak ia perhatikan isinya, menyebabkan ia terjerumus ke neraka lebih jauh daripada antara timur dengan barat". [34])

Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dan teksnya ialah,

"Sesungguhnya seseorang mengatakan perkataan yang ia lihat tidak ada madzarat di dalamnya namun ia terjerumus disebabkannya selama tujuh puluh tahun di neraka”.

Imam Malik meriwayatkan hadits dari Zaid bin Aslam dari ayahnya bahwa Umar bin Khaththab masuk ke tempat Abu Bakar Ash-Shiddiq yang ketika itu sedang menarik lidah. Umar bin Khaththab berkata kepada Abu Bakar, "Ah, semoga Allah mengampunimu”. Abu Bakar berkata, "Inilah (lidah) yang menempatkanku di tempat-tempat bahaya”. [35])

Ibnu Buraidah berkata, "Aku pernah melihat Ibnu Abbas menarik lidah sambil berkata, 'Celakah engkau (lidah). Katakan yang baik, niscaya engkau beruntung atau diamlah dari mengatakan yang buruk niscaya engkau selamat. Jika tidak, ketahuilah bahwa engkau akan menyesal”. Ditanyakan kepada Ibnu Abbas, "Hai Abu Abbas, kenapa engkau berkata seperti itu?" Ibnu Abbas berkata, "Pada Hari Kiamat, organ tubuh yang paling dibenci manusia ialah lisan kecuali kebaikan yang mereka katakan atau mendiktekan kebaikan dengannya”. [36])

Ibnu Mas'ud berkata bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia bahwa di atas bumi ini tidak ada sesuatu yang perlu dipenjara hingga lama daripada lidah. [37])

Al-Hasan berkata, "Lidah adalah komandan tubuh. Jika lidah berbuat dosa terhadap organ tubuh, maka organ tubuh menjadi berdosa. Jika lidah menahan diri, organ tubuh menahan diri". [38])

Yunus bin Ubaid berkata, "Aku tidak melihat seseorang di mana lidahnya berada di atas kebaikan, melainkan aku melihatnya sebagai kebaikan di seluruh organ tubuhnya”. [39])

Yahya bin Abu Katsir berkata, "Tidaklah perkataan seseorang itu baik, melainkan aku mengetahuinya di seluruh organ tubuhnya. Tidaklah perkataan seseorang itu rusak, melainkan aku mengetahuinya di seluruh organ tubuhnya”. [40])

Al-Mubarak bin Fadhalah berkata dari Yunus bin Ubaid, "Engkau tidak mendapatkan salah satu kebaikan pada seseorang yang diikuti seluruh kebaikan daripada lidah. Engkau mendapati orang berpuasa di siang hari namun ia berbuka puasa dengan barang haram. Ia mengerjakan qiyamul lail, namun ia bersaksi palsu di siang hari. Tapi engkau tidak mendapatinya berkata benar kemudian perkataan benarnya bertentangan dengan amalnya untuk selama-lamanya”. [41])

 



[1] Hadits shahih dengan seluruh Jalurnya. Hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 5/ 230, 236, 237, 245, At-Tirmidzi hadits nomer 2616, dan An-Nasai di Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 8/399. Hadits tersebut.juga diriwayatkan Abdurrazzaq hadits nomer 20303, Ibnu Majah hadits nomer 3973, Ibnu Abu Syaibah di Al-Iman hadits nomer l, 2. Al-Baihaqi 9/20. Hannad bin As-Siri di Az-Zuhdu hadits nomer 1090, Ath-Thayalisi hadits nomer 560, Ath-Thabrani di Al-Kabir 20/200, 291, 294, 304, 305, Al-Hakim 2/412-413, dan Ibnu Hibban hadits nomer 214.

[2] Diriwayatkan Ibnu Majah hadits nomer 910 dan 3847 dari hadits Abu Hurairah. Para perawinya adalah para perawi tepercaya yang merupakan perawi Al-Bukhari dan Muslim kecuali guru Ibnu Majah yang merupakan perawi Al-Bukhari. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 868. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 3/474 dan Abu Daud 792 dari jalur Abu Shalih dari sebagian sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

[3] Dari Ali bin Abu Thalib, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 1/82, Al-Bukhari hadits nomer 1362, Muslim hadits nomer 2647, Abu Daud hadits nomer 4694. At-Tirmidzi hadits nomer 2136, dan Ibnu Majah hadits nomer 78. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 334 dan 335.

[4] Dari Ibnu Abbas, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 1/227, Abu Daud hadits nomer 1510, At-Tirmidzi hadits nomer 3551, Ibnu Majah hadits nomer 3830, Al-Bukhari di Al-Adab Al-Mufrad hadits nomer 664, 665, An-Nasai di Amalul Yaumi wal Lailah hadits nomer 607, dan Al-Hakim 1/519-520. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 947 dan 948.

[5] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 1894 dan Muslim 1151. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 3416 dan 3427.

[6] 2/402. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Abu Umamah yang diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 7608.

[7] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/22, An-Nasai 4/167, dan Ibnu Majah hadits nomer 1639. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 3649.

[8] Diriwayatkan Imam Ahmad 3/396. Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 3/180 menghasankan sanad hadits tersebut.

[9] Diriwayatkan Imam Ahmad 1/195, 196, An-Nasai 4/167, dan Ad-Darimi 2/15. Sanad hadits tersebut ada kemungkinan bisa dianggap hasan.

[10] Di Al-Ausath. Di sanadnya terdapat perawi Ar-Rabi' bin Badr yang merupakan perawi dhaif seperti dikatakan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 3/171.

[11] Disebutkan As-Suyuthi di Al-Jami’ Al-Kabir 1/459 dan mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan Abu Hamid Al-Bazzar. Ia berkata, "Para perawinya adalah para perawi tepercaya”.

Hadits tersebut juga disebutkan Al-Hindi kanzul Ummal 16/141-142 dan mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan Al-Askari di Al-Mawa'idh dan Abu Nu'aim. Aku berkata, hadits Al-Harits Al-Asy'ari yang diriwayatkan Ibnu Hibban hadits nomer 6233 ialah, "Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan lima kalimat kepada Yahya bin Zukaria; beliau mengamalkannya dan menyuruh Bani Israil mengamnlkannya”.

Di dalamnya juga disebutkan, "Dan Allah memerintahkan puasa kepada kalian. Sesungguhnya perumpamaan puasa ialah seperti orang yang membawa kantong berisi kesturi dan ia mempunyai sekelompok orang yang ia inginkan mereka mencium aroma kesturi tersebut. Sesungguhnya puasa di sisi Allah lebih wangi daripada aroma kesturi”.

[12] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 614. Ia berkata, "Hadits tersebut hasan gharib”. Hadits tersebut juga disebutkan di Mu’jam Ath-Thabrani Al-Kabir 19/212. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dan lain-lain dari hadits Jabir dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Hai Ka'ab bin Ujrah, dan seterusnya”. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 1723.

[13] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 664. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer (3309).

[14] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/135-136.

[15] Di Al-Musnad 5/237.

[16] Hadits nomer 1163.

[17] Hadits hasan diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3549 dan Bilal. Di sanadnya terdapat perawi Muhammad bin Sa'id Asy-Syami yang merupakan perawi pendusta dan keliru orang yang mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad dan Al-Hakim.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Baihaqi di As-Sunan 2/502 dari Bilal dari jalur lain yang di dalamnya tidak ada perawi pendusta.

Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari hadits Abu Umamah setelah hadits Bilal, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 7466, Ibnu Khuzaimah hadits nomer 1135, dan Al-Hakim 1/308. Di sanadnya terdapat perawi Abdullah bin Shalih, penulis Al-Laits, yang haditsnya hasan dengan adanya mutabaat. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Salman yang diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 6154. Hadits tersebut dihasankan Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul Ahaaditsil Ahya' 1/354.

[18] Diriwayatkan Abdurrazzaq hadits nomer 4735 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 8998, 8999 secara mauquf dan sanadnya shahih.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 4/167, 5/36, dan 7/238 secara marfu' dan mauquf. Di sanadnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terdapat perawi Makhlad bin Yazid Al-Harani yang selalu keliru. Hadits tersebut dianggap mauquf oleh para perawi yang lebih tepercaya darinya.

[19] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3196. Ia berkata, "Hadits ini hasan shahih gharib”.

[20] Hadits nomer 1321 dan sanadnya shahih. Teksnya, "Para sahabat dulu tidak tidur antara Maghrib dengan Isya' untuk shalat”.

[21] Hadits nomer 2250. Hadits tersebut dianggap dhaif oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 7/90 karena keberadaan guru Al-Bazzar yang bernama Abdullah bin Syabib.

[22] Potongan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad 3/267 dari Anas bin Malik, Al-Bukhari hadits nomer 572, dan Muslim hadits nomer 640. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban 1537.

[23] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3499 dan An-Nasai di Amalul Yaumi wal Lailah hadits nomer 108. Sanadnya terputus dan perawinya, Ibnu Juraij menggunakan an'anah. Lima sahabat Abu Umamah meriwayatkan asal hadits tersebut dari riwayat Abu Umamah dari Amr bin Absah. Kendati demikian, hadits tersebut dianggap hasan oleh At-Tirmidzi.

Saya katakan, hadits di atas juga diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3579, An-Nasai 1/279, dan Ath-Thabrani di Ad-Du'a hadits nomer 128, 129 dari hadits Abu Umamah dari Amr bin Absah. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Khuzaimah hadits nomer 1147 dan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Nataijul Afkaar 73/1. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Hadits tersebut shahih”. Hadits tersebut akan disebutkan kemudian.

[24] Diriwayatkan An-Nasai di As-Sunan Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 9/156-157. Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Bukhari di At-Tarikh Al-Kabir 2/45-46.

[25] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/179. Di sanadnya terdapat Muhajir bin Makhlad yang merupakan perawi dhaif.

[26] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir, Al-Ausath, Ash-Shaghir hadits nomer 355 dan Al-Bazzar hadits nomer 3151. Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/155 berkata, "Para perawi Al-Bazzar dan buku Al-Kabir adalah para perawi Bukhari.

[27] Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad 4/112, 114, 385. 387, At-Tirmidzi hadits nomer 3579, Ibnu Majah hadits nomer 1251, 1364, dan Ath-Thabrani dalam "Ad Du'a’ hadits nomer 128-134. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Khuzaimah hadits nomer 1147.

[28] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2518, Muslim hadits nomer 84. Imam Ahmad 5/150, dan An-Nasai 6/19. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 152.

[29] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 26, 1519 dan Muslim hadits nomer 83. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 2/268. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 153.

[30] Hadits kelima belas buku ini.

[31] Hadits kedua puluh satu buku ini.

[32] Hadits nomer 3572.

[33] Diriwayatkan Imam Ahmad 2/291, 392, 442, At-Tirmidzi hadits nomer 2004, Ibnu Majah hadits nomer 4246, dan Al-Hakim 4/324. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 476.

[34] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6477-6478, Muslim hadits nomer 2988, dan At-Tirrnidzi hadits nomer 2314. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5706 dan 5707.

[35] Al-Muwaththa' 2/988 dan sanadnya shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Ya'la hadits nomer 5, Ibnu As-Sunni di Amalul Yaumi wal Lailah hadits nomer 7, dan Ibnu Abu Ad-Dunya di Ash-Shamthu hadits nomer 13.

[36] Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 189. Dari jalur Imam Ahmad. atsar di atas juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/327-328 dari Abdul Wahhab dari Sa'id Al-Jariri dari seseorang yang berkata, aku lihat Ibnu Abbas dan seterusnya.

[37] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/134.

[38] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Ash-Shamthu hadits nomer 59.

[39] Perkataan tersebut ada di Ash-Shamthu Ibnu Abu Ad-Dunya hadits nomer 60 dan 653.

[40] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/68.

[41] Al-Hilyah 3/20.

No comments:

Post a Comment

Hadits Arbain 30: Menjaga Aturan Allah