Buku tentang Rumah Tangga Muslim – Dr. Tawfiq Al-Wa’i
Pendahuluan
Tujuan
Kognitif yang diharapkan dapat dicapai dengan mempelajari pendahuluan ini:
- Menjelaskan pentingnya
memberikan perhatian kepada wanita sebagaimana perhatian kita kepada
laki-laki.
- Menjelaskan pentingnya
membangun keluarga muslim.
- Menjelaskan bahwa membangun
keluarga muslim adalah langkah ketiga—setelah memperbaiki diri sendiri dan
mendakwahi orang lain.
- Menyebutkan secara ringkas
ciri-ciri keluarga muslim.
- Menyebutkan dasar-dasar
pemilihan istri.
- Menjelaskan landasan yang
mendasari berdirinya keluarga muslim.
- Membuktikan bahwa pernikahan
adalah ibadah, amanah, dan tanggung jawab yang dikelola oleh laki-laki.
- Menjelaskan misi rumah tangga
muslim.
- Menjelaskan kedudukan
keluarga dalam Islam.
- Menentukan posisi rumah
tangga muslim dalam kurikulum amal Islami.
- Menentukan landasan
pembangunan keluarga muslim yang teladan dan hakikat kebahagiaan
suami-istri.
- Menyebutkan beberapa
rekomendasi umum terkait keluarga muslim [bangunan – perabot rumah –
pakaian – makanan dan minuman – anggaran . . . . . dll].
- Menjelaskan bagaimana
seharusnya sosok ayah yang teladan.
- Menjelaskan bagaimana
seharusnya sosok ibu yang teladan.
- Menjelaskan bagaimana
seharusnya sosok putra teladan dan putri teladan.
Konten
Ilmiah:
Tanggung
Jawab Muslim dalam Membangun Rumah Tangga Muslim yang Integral
Tidak
diperbolehkan bagi kita hanya memperhatikan laki-laki dan mengabaikan wanita,
atau memperhatikan pemuda muslim dan mengabaikan para pemudi. Sebab, wanita
adalah setengah dari masyarakat dan pencetak para lelaki. Seorang saudara
muslim (aktivis), jika ia tidak menemukan saudari muslimah untuk membangun
rumah tangga muslim bersama, maka ia akan terpaksa menikah dengan sembarang
gadis muslimah, yang mungkin saja bisa merusak kehidupannya dan melemahkan
semangatnya untuk melanjutkan perjalanan di jalan dakwah.
Demikianlah,
dengan pengabaian kita dalam mempersiapkan saudari-saudari muslimah, kita
mempertaruhkan upaya kita terhadap para pemuda muslim menuju kesia-siaan. Lebih
lanjut, keluarga muslim yang didasarkan pada ketakwaan adalah pilar utama dalam
membangun negara yang dicita-citakan, dan keluargalah yang akan membesarkan
generasi mendatang dengan gambaran yang melayakkan mereka untuk melanjutkan
perjalanan dan memikul amanah.
Sangat
mendesak untuk memperhatikan anak-anak dan pemuda di setiap tahapan usia mereka
agar mereka tumbuh di atas religiositas yang benar dan persiapan yang
diperlukan, sehingga mereka menjadi pendamping yang kuat bagi generasi saat
ini, terutama karena tugas kita sangat besar dan membentang melalui
generasi-generasi yang berurutan. Kelalaian terhadap generasi mana pun akan
menyebabkan keterputusan dan paparan terhadap risiko yang besar.
Dirikanlah
Rumah Tangga Muslim
Memperbaiki
diri sendiri dan mendakwahi orang lain adalah dua kewajiban utama di jalan
dakwah bagi setiap muslim dan muslimah. Seiring dengan penunaian dua kewajiban
ini, muncul kewajiban ketiga yang tidak kalah pentingnya, yaitu mendirikan
rumah tangga muslim. Sebagaimana individu muslim—sebagai orang yang
berakidah—perlu dipersiapkan untuk merepresentasikan model Islam yang benar dan
teladan perintis yang diikuti, maka betapa butuhnya kita kepada keluarga muslim
yang teladan sebagai pilar yang kuat dalam membangun masyarakat muslim.
Keluarga
memiliki peran yang sangat krusial dalam kekuatan dan kohesi masyarakat, atau
sebaliknya, dalam kehancuran dan keruntuhannya. Karena rumah adalah benteng
atau sel tempat tumbuhnya tunas muda, di mana karakter mereka terbentuk pada
masa pembentukan dan persiapan. Rumah memiliki impresi (kesan) yang mendalam
pada kepribadian anak-anak yang akan menyertai mereka sepanjang hidup mereka.
Benarlah
sabda Rasulullah ﷺ
saat beliau bersabda: (Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah, maka kedua
orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi).
Berbicara
tentang mendirikan rumah tangga muslim tidak akan cukup dalam satu atau dua
artikel saja, namun harus merujuk pada apa yang telah dan sedang ditulis
mengenai hal tersebut dalam berbagai karya tulis dan studi. Di sini, kami cukup
memaparkan poin-ciri dan sorotan utama dengan harapan dapat diambil manfaatnya:
Pemilihan
(Al-Ikhtiyar):
Sesungguhnya
saudara muslim dan saudari muslimah yang telah kita seru untuk memperbaiki diri
dan mendakwahi orang lain, masing-masing dari keduanya harus mencari satu sama
lain, dan tidak rela mencari pengganti selainnya sebagai pasangan hidup berumah
tangga.
Agar
keluarga muslim dibangun di atas ketakwaan sejak hari pertama, maka seorang
saudara muslim harus memilih wanita yang memiliki agama (dzatu ad-din),
yang memahami misinya dalam kehidupan ini, sehingga ia menjadi penolong terbaik
di jalan dakwah; membantunya dan mengingatkannya jika ia lupa, menyemangatinya
dan tidak melemahkannya, menjaganya saat ia tidak di rumah (bepergian) selama
apa pun itu, dan membesarkan anak-anaknya dengan didikan Islami.
Demikian
pula bagi saudari muslimah, hendaknya ia tidak menerima bagi dirinya kecuali
suami yang memiliki akidah, yang bertakwa kepada Allah dalam memperlakukannya,
serta membantunya dalam ketaatan kepada Allah dan mewujudkan keridaan-Nya.
Sunnah Rasulullah ﷺ
mengarahkan kita pada hal itu, di mana beliau ﷺ bersabda: (Wanita dinikahi karena empat
hal: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Maka
pilihlah yang memiliki agama, niscaya kamu akan beruntung). Sebagaimana
Rasulullah ﷺ
juga tidak membenarkan wali dari seorang gadis untuk menikahkannya dengan orang
yang tidak ia sukai secara paksa, dan ini memberikan kesempatan bagi saudari
muslimah untuk memilih suami yang saleh.
Komitmen
pada Batasan-Batasan Islam:
Kita
ingin agar batasan-batasan dan adab-adab Islam kembali dan berdaulat dalam
setiap tahapan pendirian rumah tangga muslim; mulai dari khitbah (lamaran),
akad nikah, persiapan rumah tangga, hingga pesta pernikahan (walimah),
jauh dari adat istiadat dan tradisi yang rusak, baik yang lama maupun yang
impor, yang di dalamnya terdapat pelanggaran terhadap syariat Allah atau yang
membangun rintangan di jalan pernikahan dan terkadang menghalangi
penyelesaiannya.
Mengapa
kita tidak menuntaskan akad nikah di masjid dalam suasana yang suci dan
sederhana, jauh dari kemewahan dan adat istiadat yang menyertai acara tersebut
yang di dalamnya terdapat pemborosan dan pelanggaran syariat? Mungkin sebagian
orang saat ini akan mengingkarinya sebagaimana mereka mengingkari busana
Muslimah sebelumnya. Namun, dengan kegigihan kita, akad nikah di masjid akan
menjadi hal yang lumrah sebagaimana busana Muslimah telah menjadi lumrah. Ini
adalah pertarungan antara kebajikan dan maksiat, dan dengan berpegang teguh
pada kebajikan serta adab Islam, kita mampu memaksakan eksistensi kepribadian
Islam kita.
Kebahagiaan
Suami Istri yang Dicita-citakan:
Jika
pemilihan dilakukan berdasarkan agama dan langkah-langkah dijalankan sesuai
ajaran Islam, maka kita telah memulai pendirian rumah tangga muslim di atas
fondasi yang kokoh yang mewujudkan stabilitas dan kebahagiaan hakiki yang
hilang dari banyak keluarga saat ini.
Sebab,
kebahagiaan itu bukan berasal dari luar diri, dan tidak terwujud dengan harta,
tempat tinggal, pakaian, maupun perabot, melainkan berasal dari dalam jiwa
melalui takwa kepada Allah, Sang Pemberi kebahagiaan, Sang Pemberi kasih sayang
(mawaddah) dan rahmat. Maha Benar Allah Yang Maha Agung:
{Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang} (QS. Ar-Rum: 21).
Dan
aku tidak melihat kebahagiaan itu adalah mengumpulkan harta,
Akan
tetapi, orang yang bertakwalah yang sebenarnya berbahagia.
Pernikahan
adalah Ibadah
Misi
kita dalam kehidupan ini adalah beribadah kepada Allah, dan kita wajib mengubah
seluruh urusan kehidupan kita menjadi ibadah yang dengannya kita mendekatkan
diri kepada Allah, serta menjadikannya sarana untuk membantu kita dalam
beribadah dan taat kepada Allah. Maka makan, minum, olahraga, ilmu, bekerja,
menikah, dan mendidik anak, semuanya adalah ibadah dan sarana pendekatan diri (qurbat)
kepada Allah; kita mengupayakan pada setiap hal tersebut apa yang diridai Allah
dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya. Maka, saudara muslim dan saudari muslimah
wajib memandang pernikahan mereka sebagai sebuah ibadah yang mereka harapkan
pahala dan rida Allah di baliknya.
Oleh
karena itu, kedua belah pihak diwajibkan untuk mengetahui hal-hal yang
berkaitan dengan pernikahan mulai dari adab, ajaran, hak, serta kewajiban, dan
bersemangat dalam menunaikan kewajiban-kewajiban ini serta berkomitmen pada
adab-adab tersebut, serta saling tolong-menolong dalam kebajikan, takwa, dan
ketaatan kepada Allah melalui pernikahan mereka.
Benarlah
sabda Rasulullah ﷺ:
"Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari
lalu mendirikan salat dan membangunkan istrinya, jika istrinya enggan maka ia
memercikkan air ke wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun
di malam hari lalu mendirikan salat dan membangunkan suaminya, jika suaminya
enggan maka ia memercikkan air ke wajahnya." (HR. Abu Dawud dengan
sanad sahih).
Pernikahan
adalah Kepercayaan Timbal Balik
Semakin
tersedia kepercayaan di antara suami istri, maka kebahagiaan dan ketenangan
jiwa akan terwujud; di sana tidak ada prasangka, keraguan, tidak mendengar
desas-desus atau fitnah. Hal itu tidak akan tercapai kecuali di bawah naungan
takwa kepada Allah dan pengawasan diri yang baik kepada-Nya dalam rahasia
maupun terang-terangan, saat sendiri maupun bersama orang lain. Dengan begitu,
suami merasa tenang dan percaya bahwa istrinya hanya milik dia seorang yang
menjaganya saat ia tidak di tempat (bepergian) selama apa pun itu, dan istri
juga merasakan bahwa suaminya hanya milik dia seorang. Di bawah naungan
kepercayaan ini, keduanya mampu untuk tidak memberikan celah bagi setan dari
golongan manusia maupun jin di antara mereka.
Pernikahan
adalah Syarikat (Kemitraan) yang Dipimpin oleh Laki-laki
Salah
satu faktor stabilitas dan kebahagiaan dalam kehidupan pernikahan adalah
berdirinya ia di atas landasan partisipasi, musyawarah, dan kerja sama, dengan
catatan bahwa suami adalah penanggung jawab, pemilik kata terakhir, dan
pemegang kepemimpinan (qiwamah). Setiap kecacatan dalam timbangan ini
akan menyebabkan stabilitas dan kebahagiaan tidak akan terwujud. {Dan para
wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang
makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada
istrinya}, {Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh
karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang
lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari
harta mereka}. Maka, pengaturan urusan rumah dan anggarannya dilakukan
dalam suasana berbagi tanggung jawab dan musyawarah dalam batasan Islam dan
ajaran-ajarannya; tidak boros dan tidak kikir, dalam suasana qana'ah (merasa
cukup), rida, dan keyakinan bahwa dunia bukanlah negeri kenikmatan abadi.
Sungguh telah berlalu waktu pada rumah-rumah Rasulullah ﷺ di mana terlihat
hilal kemudian hilal berikutnya, namun tidak ada api yang dinyalakan di
dalamnya (untuk memasak).
Pernikahan
adalah Amanah dan Tanggung Jawab
Hendaklah
setiap suami dan istri merasakan amanah dan tanggung jawabnya; "Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas apa yang
dipimpinnya." Maka hendaklah masing-masing bertakwa kepada Allah dalam
hal apa yang Allah amanahkan kepadanya: {Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah
manusia dan batu}. Rasulullah ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik
terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik di antara kalian
terhadap keluargaku." Kita menginginkan standar penjagaan yang benar;
sebab kita melihat perhatian yang berlebihan jika salah satu anggota keluarga
sakit fisiknya, namun kita tidak melihat perhatian ini jika salah satu dari
mereka lalai dalam hak Allah atau menyelisihi ajaran Islam, padahal mengobati
yang terakhir ini lebih utama untuk diperhatikan.
Rumah
Tangga Muslim adalah Sebuah Misi (Risalah)
Sebagaimana
kita menginginkan individu muslim menjadi potret Islam yang jujur dan hidup
dalam hal akidah, ibadah, akhlak, dan perilaku; maka kita juga menginginkan
rumah tangga muslim menjadi penerapan ajaran Islam yang benar dan presisi dalam
kehidupan keluarga.
Kita
ingin melihat suami muslim yang menunaikan kewajiban-kewajibannya
terhadap rumahnya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Islam, dan kita
melihat ayah muslim yang mendidik anak-anaknya dengan adab-adab Islam,
memahamkan mereka urusan agama mereka, serta menjaga mereka di setiap tahapan
kehidupan mereka.
Kita
melihat istri muslimah yang menjadikan rumahnya sebagai taman bagi
suaminya, tempat suaminya beristirahat dari lelahnya perjuangan, menjadi
penolong bagi suaminya dalam ketaatan kepada Allah. Betapa indahnya apa yang
dikatakan oleh seorang istri kepada suaminya ketika sang suami hendak keluar
rumah di pagi hari: "Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami, dan
janganlah engkau memberi kami makan kecuali dari yang halal lagi baik..."
Dan
kita ingin melihat di dalam rumah tangga muslim seorang ibu muslimah
yang menjaga anak-anaknya dan membesarkan mereka di atas Islam, karena ia
adalah orang yang paling banyak mendampingi mereka. Ini adalah salah satu misi
terpenting wanita yang coba dipalingkan oleh musuh-musuh kemanusiaan dengan
berbagai macam pengalih agar mereka dapat menghancurkan eksistensi masyarakat.
Dan
kita ingin melihat di dalam rumah tangga muslim putra muslim dan putri
muslimah yang menyembah Tuhan mereka, berbakti kepada ayah dan ibu mereka,
memperlakukan teman-teman mereka dengan adab Islam, serta tidak keluar dari
lisan maupun perbuatan mereka hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
Kita
menginginkan rumah tangga muslim yang menjaga tali silaturahmi dan
memeliharanya, memperhatikan kerabat dekat dan menunaikan hak-hak mereka. Kita
ingin melihat dari rumah tangga muslim gambaran luhur yang telah dilukiskan
Islam dalam memperlakukan pelayan; ia makan dari apa yang mereka makan,
berpakaian dari apa yang mereka pakai, tidak membebani mereka dengan apa yang
tidak mereka sanggupi, dan jika membebani mereka, maka mereka membantunya.
Kita
ingin melihat dari rumah tangga muslim gambaran unik yang dilukiskan Islam
dalam berbuat baik kepada tetangga dan menunaikan hak-haknya sebagaimana
yang diwasiatkan oleh Rasulullah ﷺ kepada kita.
Kita
menginginkan rumah tangga muslim yang menyajikan model teladan dalam
segala aspek kehidupannya; dengan busana Islamnya, makanan halalnya, minuman
halalnya, akhlak yang terpuji, perilaku Islami, dan karakter Islami dalam adat
istiadat dan tradisi seperti saat suka maupun duka. Menjauhkan diri dalam semua
itu dari corak jahiliah serta adat istiadat impor. Tidak dapat diterima dari
seorang penyeru kepada Allah yang meniti jalan dakwah adanya kelalaian atau
keteledoran dalam mewajibkan anggota keluarganya terhadap ajaran Islam dalam
aspek mana pun dari aspek kehidupan keluarga. Sebab, orang yang tidak mampu
mendisiplinkan rumahnya sendiri, maka untuk mendisiplinkan orang lain ia akan
jauh lebih tidak mampu.
Rumah
Tangga Muslim adalah Pusat Pancaran Cahaya
Wajib
bagi rumah tangga muslim, sebagaimana individu muslim, untuk menunaikan
kewajiban dakwah kepada Allah bagi keluarga dan rumah di sekitarnya dengan
kesabaran dan ketabahan. Dengan hikmah dan nasihat yang baik, istri (saudari
muslimah) dapat menaklukkan hati para tetangganya dengan dakwah Allah, dan
mengubah pertemuan-pertemuan yang biasanya didominasi oleh ghibah dan
kesia-siaan menjadi pertemuan belajar dan memahami urusan agama.
Bidang
dakwah Islam sangat membutuhkan sosok saudari muslimah daiyah untuk menjalankan
perannya di tengah kaum wanita. Wanita, yang mana musuh-musuh Islam telah
menjadikannya alat perusak dan dekadensi, ingin kita jadikan sebagai alat
perbaikan dan pembangunan, guna mengukuhkan kebajikan dan memerangi keburukan.
Demikianlah
kita menginginkan rumah tangga muslim menjadi menara suar yang memberi
petunjuk bagi orang-orang yang bingung di sekitarnya, mengusir kegelapan dari
sekitar mereka, dan menerangi jalan bagi mereka. Dengan bertambah banyaknya
tipe rumah tangga muslim seperti ini, maka lingkaran cahaya akan saling
terhubung dan menyatu hingga mendominasi masyarakat. Dengan begitu, kepribadian
Islam dapat memaksakan eksistensinya pada masyarakat-masyarakat ini, kebajikan
akan tumbuh, keburukan akan surut, dan terbentuklah basis mukmin yang suci,
stabil bagi entitas Islam dan hukum Islam.
Maka,
bagi setiap saudara muslim dan saudari muslimah, hendaknya bersemangat dan
bersegera untuk mendirikan rumah tangga muslim yang teladan, karena ini adalah
langkah penting dan mendasar di jalan dakwah. Maka mohonlah pertolongan kepada
Allah, mudahkanlah dan janganlah mempersulit, dan hanya kepada Allah-lah
tumpuan kesuksesan.
Keluarga
Muslim Teladan
Kedudukan
Keluarga dalam Islam:
Keluarga
muslim atau rumah tangga muslim dianggap sebagai salah satu institusi
terpenting dalam kehidupan umat Islam secara umum, dan dalam manhaj (metode)
amal Islami secara khusus. Hal ini dikarenakan peran besar yang diamanahkan
kepada keluarga dalam membina generasi dan mencetak laki-laki yang menjadi
bekal masa depan, pilar pembangunan, serta perisai bagi tanah air.
Masyarakat
di negara mana pun merupakan kumpulan dari keluarga-keluarga. Sejauh mana
integritas dan keaslian sebuah keluarga, maka sejauh itu pula integritas dan
keaslian masyarakatnya, yang pada gilirannya akan menentukan kekuatan,
kekokohan, dan keselamatan struktur negara tersebut. Sebaliknya, jika keluarga
runtuh, maka masyarakat akan ikut runtuh, diikuti dengan runtuhnya negara.
Ukuran
integritas dan keaslian keluarga tidak hanya dilihat dari aspek materi duniawi
semata, seperti kesehatan fisik, level hunian, makanan, pakaian, serta tingkat
sosial dan budaya, dan lain sebagainya. Namun, faktor kekuatan dan keaslian
dalam keluarga muslim pertama-tama tercermin pada komitmen anggota keluarga
terhadap Islam, baik dalam akidah, ibadah, akhlak, adab, maupun muamalah,
sehingga Islam benar-benar mendominasi suasana keluarga tersebut secara total.
Kita
dapat melihat Islam dengan jelas dalam setiap aspek kehidupan keluarga dan
rumah tangga; dalam setiap hal kecil maupun besar, pada aspek lahiriah maupun
batiniah, dalam makanan dan minuman, perabot dan pakaian, dalam suasana suka
maupun duka, dalam adat istiadat dan tradisi, dalam hubungan antaranggota
keluarga satu sama lain, serta dalam mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ pada aktivitas sehari
semalam dan doa-doa ma'tsur dalam setiap keadaan tersebut.
Anda
akan melihat Islam dalam setiap detail kehidupan mereka: pada jadwal tidur dan
bangun, dalam memperlakukan pelayan, dalam hubungan dengan tetangga, serta
dalam batasan hubungan dengan mahram dan kerabat lainnya, serta perkara-perkara
lainnya. Kita melihat ayah sebagai kepala keluarga menunaikan kewajibannya
terhadap istri dan anak-anaknya serta menjadi pemimpin yang sebaik-baiknya bagi
rakyatnya (keluarganya). Begitu pula ibu menunaikan kewajibannya terhadap suami
dan anak-anaknya. Demikian pula anak-anak menunaikan kewajiban terhadap ayah
dan ibu mereka sesuai dengan apa yang diperintahkan Islam berupa bakti (birr),
ihsan, dan ketaatan selama bukan dalam kemaksiatan.
Demikianlah
iklim Islami menguasai suasana rumah tangga muslim teladan, sehingga keturunan
tumbuh menjadi anak yang saleh, benar-benar menjadi penyejuk mata bagi orang
tua, serta menjadi simpanan berharga bagi umat. Di sisi lain, suasana keluarga
muslim teladan bersih dari hiburan yang sia-sia, perkataan tidak berguna, dosa,
adat jahiliah, serta hal-hal yang diharamkan dalam makanan, minuman, pakaian,
maupun barang koleksi. Rumah tersebut juga bersih dari pemborosan, kemewahan
yang berlebihan (taraf), serta apa saja yang dilarang oleh Islam.
Kedudukan
Rumah Tangga Muslim dalam Manhaj Amal Islami:
Kita
melihat Imam Al-Banna ketika menentukan tujuan besar yang kita
cita-citakan—yaitu pengukuhan (tamkin) bagi agama Allah dengan
mendirikan negara Islam global yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah—beliau
juga menentukan sarana-sarana pembangunan dan tahapannya, yang meliputi:
Individu Muslim, Rumah Tangga Muslim, Masyarakat Muslim, Pemerintah Islam, kemudian
Negara Islam, Khilafah, dan kepemimpinan dunia (ustadziyatul 'alam).
Maka
individu-individu muslim, rumah-rumah muslim, dan masyarakat muslim merupakan
basis (fondasi) solid yang di atasnya tegak bangunan pemerintahan muslim yang
stabil dan kuat, agar hal tersebut dapat terwujud di tingkat bangsa-bangsa
Islam.
Individu
muslim teladanlah yang mendirikan rumah tangga muslim teladan, sebagaimana
rumah tangga muslim teladanlah yang melahirkan individu-individu muslim
teladan. Dengan demikian, proses pewarisan keaslian Islam kepada
generasi-generasi berikutnya dapat berlangsung dengan kuat. Jika terjadi
kelalaian dalam proses pewarisan ini, maka keluarga dan individu akan mengalami
penurunan level dan keruntuhan, terutama karena para penyeru kejahatan dan
kerusakan tidak pernah berhenti mengerahkan tenaga untuk menyerang individu dan
rumah-rumah kita dengan segala macam warna kerusakan dan kejahatan mereka.
Landasan
Membangun Keluarga Muslim Teladan:
Takwa
kepada Allah adalah landasan yang mendasari bangunan keluarga muslim teladan.
Maka, pemilihan istri oleh suami dilakukan sesuai arahan Rasulullah ﷺ, yaitu yang memiliki
pemahaman agama (dzatu din), bukan karena kecantikan, harta, atau
nasabnya semata. Begitu pula persetujuan istri dan keluarganya terhadap calon
suami adalah karena ia memiliki akhlak, agama, dan sifat amanah.
Dengan
demikian, rumah tangga muslim didirikan di atas takwa sejak hari pertama.
Ukuran-ukuran Rabbani dan adab-adab Islami menjadi hal yang mengarahkan dan
mengendalikan langkah-langkah pembangunan rumah ini, mulai dari khitbah
(lamaran), akad, malam pertama, dan setelahnya. Pandangan Islam yang benar
tentang pernikahan dan kehidupan suami istri akan mendominasi, berbeda dengan
pandangan materialistis yang menjadi dasar sebagian pernikahan saat ini, di
mana ukuran materi menjadi gaya berinteraksi dalam kehidupan rumah tangga. Jika
demikian, perselisihan akan cepat terjadi dan suasana kehidupan suami istri
akan keruh karena tidak merujuk pada batasan dan ukuran Islami yang mengatur
perilaku serta keinginan yang harus dipatuhi oleh kedua pasangan.
Hakikat
Kebahagiaan Suami Istri:
Salahlah
orang yang mengira bahwa kebahagiaan suami istri dapat diwujudkan melalui
materi, seperti kelimpahan harta, tersedianya hunian yang indah, perabot mewah,
kendaraan yang nyaman, pakaian yang beragam, peralatan modern di rumah, makanan
lezat, sarana kemewahan, pemuasan syahwat, dan hal-hal lainnya.
Kami
tidak berlebih-lebihan atau jauh dari kenyataan jika kami katakan: Sesungguhnya
banyak gadis yang dikuasai oleh persepsi yang salah tentang hakikat kebahagiaan
suami istri ini. Mimpi-mimpi indah mereka tentang "sarang" pernikahan
hanya dilihat melalui pandangan materialistis yang sempit ini.
Kenyataan
yang kami ingin pemuda dan pemudi muslim kita ketahui adalah bahwa kebahagiaan
suami istri yang hakiki tidak terwujud di balik materi-materi sepele ini.
Betapa banyak kita melihat mereka yang tinggal di istana di tengah para
pengawal dan pelayan, namun tidak merasakan kebahagiaan suami istri yang nyata.
Sebaliknya, kita melihat kebahagiaan suami istri terwujud di antara seorang
pria dan istrinya yang hidup di gubuk kecil.
Sesungguhnya
kebahagiaan suami istri secara umum berasal dari dalam jiwa, bukan dari luar
jiwa. Ia berasal dari takwa kepada Allah, di mana Allah melimpahkannya kepada
hamba-hamba-Nya yang bertakwa. Benarlah perkataan penyair:
Dan
aku tidak melihat kebahagiaan itu adalah mengumpulkan harta,
Tetapi
orang yang bertakwalah yang sebenarnya berbahagia.
Ketika
takwa tersedia pada masing-masing suami dan istri, maka kebahagiaan suami istri
yang hakiki akan terwujud bagi mereka. Takwa kepada Allah berarti merasa
diawasi oleh Allah terlebih dahulu, mengupayakan segala yang diridai-Nya,
menjauhi apa yang dimurkai-Nya, serta komitmen masing-masing pada arahan
Al-Qur'an dan Sunnah dalam kehidupan, kewajiban, dan hak mereka.
Tidak
diragukan lagi bahwa kebahagiaan dan kebaikan ada di sana, karena itu adalah
arahan dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, yang kepada hamba-Nya
Maha Santun lagi Maha Penyayang. Itu adalah petunjuk dari Rasul yang mulia yang
tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, yang terhadap orang-orang mukmin sangat
penyantun lagi penyayang, merasa berat atas penderitaan kalian, dan sangat
menginginkan kebaikan bagi kalian.
Kemudian,
dengan tersedianya takwa pada pasangan suami istri, maka kepercayaan di antara
keduanya akan terwujud. Suami merasa tenang bahwa istrinya hanya miliknya
seorang, dan istri merasa tenang bahwa suaminya hanya miliknya seorang. Saat
itulah tidak ada jalan bagi keraguan, prasangka, kecurigaan, dan hal lain yang
dapat mengeruhkan kejernihan kehidupan suami istri serta mengorbankan
kebahagiaan dan kasih sayang.
Dengan
tersedianya takwa, terwujudlah ketenangan (sakinah), serta timbul rasa
kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah) di antara keduanya,
membenarkan firman Allah Ta'ala: {Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya
ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu
cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa
kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi kaum yang berpikir}.
Seorang
muslim yang bertakwa kepada Allah akan memandang pernikahan sebagai sebuah
ibadah yang dengannya ia mendekatkan diri kepada Allah melalui penunaian
kewajibannya yang baik terhadap istri, rumah, dan anak-anaknya. Demikian pula
muslimah yang bertakwa kepada Allah menganggap pernikahan sebagai ibadah dan
berusaha meraih keridaan Allah dengan menjalankan kewajibannya yang baik
terhadap suami, rumah, dan anak-anaknya. Dengan demikian, pada rumah tangga
seperti inilah akan turun ketenangan, rahmat, kasih sayang, dan kebahagiaan.
Rekomendasi
Umum untuk Keluarga Muslim Teladan
Terdapat
perkara-perkara yang sangat erat kaitannya dengan keluarga muslim atau rumah
tangga muslim teladan, di mana biasanya terjadi pelanggaran-pelanggaran yang
tidak sesuai dengan keteladanan di jalan dakwah. Kami merasa wajib untuk
menarik perhatian kepadanya; sebagian berkaitan dengan bangunan, sebagian
dengan perabot, dan begitu pula yang berkaitan dengan makanan, minuman,
pakaian, anggaran, adat istiadat, tetangga, maupun teman. Kami akan
memaparkannya dalam ringkasan yang sangat padat, meskipun sebenarnya memerlukan
rincian yang bukan di sini tempatnya.
Tentang
Bangunan:
Kita
mengamati di zaman ini adanya perlombaan yang aneh dalam membangun rumah dan
semangat untuk kemewahan serta hiasannya. Para teknisi saling berlomba
menonjolkan kejeniusan mereka, dan menghabiskan jutaan (uang) untuk hal
tersebut. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah pemborosan (israf) yang
dilarang, pada saat kita menemukan jutaan umat Islam yang telantar tanpa tempat
berteduh, tanpa pakaian, dan tanpa makanan.
Mungkin
seseorang akan berkata: "Apa salahnya jika pemilik harta telah menunaikan
hak Allah di dalamnya, mengeluarkan zakatnya, dan berinfak melebihi zakat
kepada sebagian fakir miskin dan orang yang membutuhkan?" Maka kami
katakan: Seharusnya sudah jelas sejak awal bahwa kehidupan dunia bukanlah
negeri kenikmatan dan bukan pula negeri tempat menetap. Selain itu, rumah-rumah
mewah seperti ini dapat menjadi sumber fitnah (ujian) bagi pemiliknya, membuat
mereka cenderung pada dunia dan tidak mau maju untuk berjihad serta bekerja
keras di jalan Allah. Selain itu, hal tersebut dapat memicu rasa dengki dan
hasad di dalam jiwa orang-orang yang kekurangan dan fakir.
Kita
tidak ingin memakmurkan rumah-rumah kita di dunia dengan mengorbankan tempat
tinggal yang baik di surga 'Adn. Mari kita semua mengingat sifat rumah-rumah
Nabi ﷺ, padahal beliau
adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah.
Adapun
yang kami rekomendasikan kepada keluarga muslim teladan mengenai bangunan
adalah: Kesederhanaan, moderasi, dan meminimalisir biaya serta kemewahan
(aksesori). Hendaknya tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas melebihi
kebutuhan. Hendaknya rumah tersebut sehat, kamar-kamarnya cukup untuk
mewujudkan pemisahan tempat tidur di antara anak-anak serta memisahkan antara
anak perempuan dan laki-laki. Perlu diperhatikan agar aurat (bagian dalam
rumah) tidak terlihat dari luar, dan memudahkan pergerakan penghuni rumah agar
terpisah dari tempat penerimaan tamu sebisa mungkin. Alangkah baiknya jika
dikhususkan sebuah tempat untuk salat yang senantiasa dijaga kebersihan dan
kesuciannya, serta adab-adab Islam lainnya yang wajib diperhatikan. Ini berlaku
bagi mereka yang memiliki kemampuan untuk membangun, sedangkan bagi yang tidak
mampu, maka cukup dengan menyewa sambil berusaha mewujudkan kriteria-kriteria
di atas pada rumah sewa tersebut sebisa mungkin. Dan pada dasarnya, negara
Islam menjamin bagi fakir miskin sebuah rumah untuk ditinggali.
Tentang
Perabot Rumah:
Kita
juga mengamati perlombaan yang sengit dan saling membanggakan di antara manusia
dalam memiliki perabot mewah serta kasur yang empuk dan halus. Rumah-rumah
penuh sesak dengan segala sarana kemewahan, kenyamanan, dan fasilitas
pelengkap. Para wanita memiliki peran besar dalam perlombaan ini dan dalam
desakan mereka kepada para laki-laki di arena ini dan pada
pelanggaran-pelanggaran ini. Sayangnya, banyak laki-laki yang tunduk pada
tekanan para wanita.
Selain
karena di dalamnya terdapat pemborosan yang dilarang, perabot jenis ini akan
menarik pemiliknya dan menyeretnya untuk terpaku pada istirahat, relaksasi, dan
tidur meninggalkan ketaatan. Hal ini juga menjadi fitnah (godaan) terhadap
hiasan kehidupan dunia dan kesenangannya dengan mengorbankan akhirat dan
kenikmatannya. Ini membuat pemiliknya merasa berat untuk berjihad dan
menanggung kesulitan serta kehidupan yang keras di jalan dakwah menuju Allah: {Janganlah
kamu berangkat pergi berperang dalam panas terik ini}. Jika ia ditawan atau
dipenjara dan harus tidur di atas aspal atau tikar sabut, ia mungkin akan
mengalami keruntuhan mental akibat perubahan drastis tersebut.
Selain
itu, perabot mewah akan menjadi beban bagi penghuni rumah karena membutuhkan
usaha dan tenaga kerja untuk menjaga kebersihan dan pengaturannya setiap hari.
Yang
kami rekomendasikan kepada keluarga muslim teladan mengenai perabot rumah
adalah: Kesederhanaan dan ketahanan, jauh dari pemborosan dan kemewahan.
Hendaknya perabot lebih dekat kepada sifat yang keras/sederhana daripada
kehalusan yang membantu banyak tidur sehingga meninggalkan ketaatan. Dalam hal
itu terdapat penghematan harta dan penghematan tenaga dalam pengaturan dan
pembersihannya. Dapat dimanfaatkan pula potongan perabot yang memiliki lebih
dari satu fungsi, seperti sebagian sofa yang dapat diubah menjadi tempat tidur
saat dibutuhkan, dan lain sebagainya. Juga diperhatikan agar perabot rumah
bersih dari benda-benda haram seperti patung, bejana emas dan perak, dan
lain-lain.
Adalah
bermanfaat dalam hal ini untuk mengingat perabot rumah-rumah Nabi ﷺ dan bagaimana tikar
membekas pada lambung beliau yang mulia, padahal beliau adalah makhluk Allah
yang paling mulia di sisi Allah.
Tentang
Pakaian:
Kita
juga mengamati perlombaan yang gila dalam membeli pakaian yang banyak dan mewah
serta mengikuti mode terkini. Lemari-lemari pakaian di rumah-rumah penuh sesak
dengannya, di saat banyak umat Islam dan anak-anak mereka terpapar
ketelanjangan dan menderita akibat perubahan cuaca. Sebagaimana kasur yang
empuk memiliki dampak yang tidak diinginkan bagi muslim teladan, demikian pula
pakaian mewah memiliki dampak psikologis pada pemiliknya, membuatnya cenderung
pada kemalasan, kemewahan, dan kelembutan yang bertentangan dengan sifat
kejantanan mujahid yang menanggung kesulitan. Oleh karena itu, Allah
mengharamkan sutra dan emas bagi laki-laki. Memakai pakaian mewah terkadang
juga menyebabkan kesombongan dan perasaan tinggi hati di hadapan manusia, serta
makna-makna lain yang bertentangan dengan ruh Islam dan adab-adabnya. Pakaian
mewah juga dapat melalaikan pemiliknya dan menyibukkannya (mengganggu
konsentrasi) dalam salatnya.
Oleh
karena itu, kami merekomendasikan kepada keluarga muslim teladan untuk menjauhi
pemborosan dan kemewahan dalam berpakaian. Hendaknya diperhatikan kesederhanaan
dan ketahanan, serta semangat menjaga kebersihan dan kesuciannya.
Berhati-hati dari yang diharamkan seperti sutra dan emas bagi laki-laki. Adapun
bagi wanita, hendaknya memperhatikan busana muslimah dengan batasan dan
kriteria yang dikenal saat keluar dari rumah atau saat terlihat oleh selain
mahram dari kerabat atau orang lain di dalam rumah. Kami juga merekomendasikan
untuk menyedekahkan kelebihan pakaian kepada fakir miskin. Mari kita ingat
bagaimana dahulu pakaian Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya. Hendaknya ambisi kita adalah mengenakan
sutra sundus dan istabraq di akhirat, karena di sanalah
kenikmatan yang abadi.
Tentang
Makanan dan Minuman:
Kita
mengamati pada banyak orang adanya kerakusan dan pemborosan dalam makanan dan
minuman, banyaknya macam ragamnya, serta banyaknya jumlahnya yang mengonsumsi
bagian besar dari anggaran rumah tangga. Sering kali sebagian besar makanan
dibuang ke tempat sampah, di saat ribuan dan jutaan umat Islam mati kelaparan,
dan para mujahidin di jalan Allah di Afghanistan dan tempat lain membutuhkan
sesuatu untuk sekadar menyambung nyawa. Kita telah dilarang dari pemborosan
dalam makanan dan minuman: {Makan dan minumlah, tetapi jangan
berlebih-lebihan}. Dan dari hadis Rasulullah ﷺ: "Tidaklah anak Adam memenuhi
suatu wadah yang lebih buruk daripada perutnya" (HR. Tirmidzi).
Kemudian,
pemborosan dalam makanan dan minuman menyebabkan kegemukan dan besarnya badan,
yang berakibat pada munculnya berbagai penyakit, penguasaan syahwat, dan pada
gilirannya menyebabkan rasa berat, malas, serta kelesuan dalam beribadah,
bergerak, dan berjihad. Umar bin Khattab رضي الله عنه berkata: "Jauhilah
oleh kalian kekenyangan dalam makanan dan minuman, karena ia merusak jasad,
mewariskan penyakit, dan membuat malas dalam salat. Hendaklah kalian bersahaja
dalam keduanya, karena itu lebih baik bagi jasad dan lebih jauh dari sikap
berlebihan. Sesungguhnya Allah membenci ulama yang gemuk, dan seseorang tidak
akan binasa sampai ia mendahulukan syahwatnya di atas agamanya."
Termasuk
dalam kategori menjungkirbalikkan keadaan adalah berubahnya bulan Ramadan,
bulan puasa dan lapar, menjadi bulan kekenyangan dan saling membanggakan
berbagai jenis makanan, manisan, kacang-kacangan, bergadang, mengobrol, dan
hal-hal lain yang sangat bertentangan dengan hakikat bulan Ramadan. Padahal
keadaan umat Islam seharusnya adalah melatih jiwa, menyedikitkan makan dan
minum, fokus pada ketaatan, serta menjauhi hiburan, perkataan sia-sia, dan
dosa.
Yang
kami rekomendasikan kepada keluarga muslim teladan mengenai makanan dan minuman
adalah: Mencari yang halal lagi baik, berhati-hati dari yang haram dan
yang syubhat, menjauhi pemborosan maupun kekikiran, serta memperhatikan
kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh sebisa mungkin. Kita tidak ingin
bersenang-senang di dunia dengan syahwat perut dengan mengorbankan kenikmatan
surga dan buah-buahannya.
Mari
kita ingat makanan Rasulullah ﷺ
dan istri-istri beliau, para Ibu Orang Beriman (Ummahatul Mukminin).
Sebagaimana yang diriwayatkan Aisyah رضي الله عنها bahwa sering kali terlihat hilal kemudian
hilal berikutnya, namun tidak ada api yang dinyalakan (untuk memasak) di
rumah-rumah Rasulullah. Banyak dari sahabat, di antaranya Abu Bakar dan Umar,
keluar dari rumah mereka karena rasa lapar. Dan janganlah kita lupa untuk
mengingatkan doa saat memulai dan mengakhiri makan agar Allah memberikan berkah
di dalamnya dan setan tidak ikut serta di dalamnya.
Seputar
Anggaran Rumah Tangga Muslim:
Kita
memperhatikan sebagian orang yang telah Allah lapangkan rezekinya, mereka
memperluas pintu pengeluaran dengan memiliki lebih dari satu mobil dan jumlah
pelayan yang tidak sedikit. Mereka juga memberi anak-anak mereka uang dalam
jumlah besar yang sering kali justru menyebabkan kerusakan dan penyimpangan
pada anak-anak tersebut. Kita juga mendapati mereka menghabiskan waktu untuk
perjalanan wisata ke luar negeri dengan biaya yang sangat besar, padahal di
sana mereka mungkin saja terpapar fitnah, kerusakan, dan dosa.
Di
sisi lain, kita juga melihat keluarga dengan penghasilan terbatas yang tidak
mengatur tingkat pengeluaran agar sesuai dengan sumber pendapatan mereka,
sehingga mereka jatuh ke dalam krisis dan terkadang terpaksa berutang hingga
utang tersebut menumpuk. Kita melihat keluarga yang di dalamnya muncul
perselisihan antara suami dan istri karena ketimpangan dalam neraca
pengeluaran. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang: "Wanita dan anak
kecil menyangka bahwa laki-laki (suami/ayah) mampu atas segala sesuatu,"
sehingga mereka membebani laki-laki tersebut dengan beban yang tidak sanggup
ditanggung oleh pendapatannya, yang mana perselisihan ini bisa meluas dan
menyebabkan keretakan keluarga.
Karena
itu semua dan alasan lainnya yang banyak, kami merekomendasikan kepada keluarga
muslim teladan hal-hal berikut:
- Pertama: Sebelum
segala sesuatu, carilah penghasilan yang halal lagi baik dan
berhati-hatilah dari yang haram lagi buruk. Sebab, setiap daging yang
tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih utama baginya. Betapa
indahnya wasiat istri muslimah yang salehah kepada suaminya saat hendak
keluar bekerja di pagi hari, di mana ia berkata: "Bertakwalah kepada
Allah dalam urusan kami, dan janganlah engkau memberi kami makan kecuali
dari yang halal."
- Kedua: Adanya
musyawarah antara suami dan istri mengenai anggaran rumah tangga,
pintu-pintu pengeluaran, dan nafkah, dengan syarat pengeluaran tidak boleh
melampaui pemasukan. Bahkan, harus ada bagian yang ditabung untuk keadaan
darurat. Dengan cara ini, istri akan merasakan tanggung jawabnya untuk
tidak melampaui anggaran dan berhemat dalam pengeluaran.
- Ketiga: Mencukupkan
diri pada kebutuhan pokok (primer) dan menjauhi kebutuhan pelengkap
(sekunder/mewah) sebisa mungkin, serta tidak memberikan kesempatan bagi
penyimpangan anak-anak akibat ketersediaan uang yang berlebihan di tangan
mereka.
- Keempat: Memperhatikan
hak Allah dengan menunaikan zakat tepat pada waktunya, menunaikan ibadah
haji jika telah tersedia kemampuan, serta membiasakan diri berinfak di
jalan Allah dan membantu fakir miskin, serta membiasakan anggota keluarga
untuk hal tersebut. Lebih baik jika di rumah terdapat kotak khusus untuk
sumbangan ke pintu-pintu kebaikan dan jihad, di mana anggota keluarga
dapat menyetorkan apa yang mudah bagi mereka untuk diinfakkan di jalan
Allah.
Pengalaman
yang Berhasil:
Saya
akan memaparkan di sini sebuah pengalaman sukses bagi mereka yang
berpenghasilan terbatas, yang berfungsi mengatur tingkat pengeluaran dan
membebaskan kepala keluarga dari krisis musiman—di mana pintu pengeluaran
meningkat seperti saat awal tahun ajaran sekolah, hari raya, atau lainnya. Cara
ini juga membebaskannya dari rasa tidak enak akibat kecemburuan di antara
anak-anak ketika sang ayah membelikan mereka pakaian atau lainnya, karena
sebagian dari mereka mungkin membayangkan ayahnya mengistimewakan salah satu
dari mereka.
Hendaknya
dilakukan musyawarah antara suami dan istri berdasarkan pendapatan yang ada,
lalu ditentukan jumlah yang sesuai untuk pengeluaran rumah tangga seperti
makanan, minuman, listrik, dan lainnya. Jumlah ini dipisahkan sendiri dan dapat
dibagi menjadi tiga bagian (masing-masing untuk sepuluh hari) agar tingkat
pengeluaran teratur sepanjang bulan.
Selain
itu, ditentukan pula untuk setiap anggota keluarga jatah bulanan sesuai dengan
kondisi, usia, dan kebutuhannya dalam batas anggaran yang ada. Jumlah ini harus
mencakup seluruh kebutuhan pribadinya mulai dari pakaian, transportasi, dan
lain-lain, kecuali untuk urusan darurat seperti sakit atau perjalanan jauh.
Setiap
anggota mengambil jatahnya setiap bulan. Untuk anak-anak, pengeluaran mereka
dapat diatur di bawah pengawasan ibu untuk memenuhi permintaan mereka dalam
batas uang mereka sendiri. Mereka juga bisa dipermudah dengan sistem pinjam
kemudian bayar (potong jatah) sembari memotivasi mereka untuk menabung. Dengan
demikian, mereka terbiasa merasakan tanggung jawab atas diri mereka sendiri dan
mengatur prioritas kebutuhan mereka pada berbagai kesempatan tanpa harus
membebani ayah mereka dengan urusan permintaan mereka.
Dengan
metode ini, permintaan tidak akan menumpuk pada satu waktu saat uang tidak
mencukupi, dan sensitivitas atau kecemburuan serta masalah lainnya akan hilang,
sehingga urusan berjalan dengan sangat teratur.
Saat
mengatur anggaran, tentukanlah jumlah cadangan untuk keadaan darurat. Pada
liburan musim panas, anak laki-laki atau perempuan yang sudah besar dilatih
dengan menyerahkan kepada mereka uang belanja rumah tangga bulanan selama satu
bulan secara bergantian di bawah pengawasan ibu, agar mereka terlatih dalam
mendistribusikan uang dengan baik sepanjang hari dalam sebulan dan baik dalam
memilih kebutuhan rumah tangga berupa jenis makanan dan lainnya. Hal ini
merupakan pembekalan bagi mereka sebelum menikah.
Di
bawah naungan suasana saling pengertian, kerja sama, dan partisipasi ini,
keluarga akan menyesuaikan hidupnya dengan kadar seminim mungkin jika terkena
cobaan atau ujian di mana pendapatan berkurang, sampai Allah memberikan jalan
keluar bagi mereka. Sebab, kekayaan sejati adalah kekayaan jiwa, dan sifat
qana'ah adalah simpanan yang tidak akan habis. Betapa indahnya hadis Rasulullah
ﷺ: (Barang siapa
yang berpagi hari dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan
memiliki makanan untuk harinya itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan
untuknya dengan segala isinya).
Dari
Abdullah bin Mihshan, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: (Barang siapa di antara
kalian yang berpagi hari dalam keadaan sehat fisiknya, aman di tempat
tinggalnya, dan memiliki makanan untuk harinya, maka seolah-olah dunia telah
dianugerahkan kepadanya) (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Silaturahmi
dan Hubungan dengan Kerabat:
Keluarga
muslim teladan dituntut untuk menjadi teladan dalam segala kebajikan yang
diserukan oleh Islam. Islam sangat menekankan silaturahmi dan berbuat baik
kepada kerabat. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut memiliki dampak dalam
memperkuat ikatan dan hubungan dalam masyarakat muslim guna mewujudkan suasana
kerja sama, solidaritas, dan kasih sayang antar sesama muslim. Allah Ta'ala
berfirman: {Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang
jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri}. Seandainya
setiap muslim dan setiap keluarga muslim mengamalkan ayat mulia ini, niscaya
akan terwujud masyarakat yang utama, saling mencintai, dan saling menyayangi,
sehingga tidak ada satu pun individu yang membutuhkan yang terlupakan atau
terabaikan.
Dari
Anas bin Malik رضي الله
عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: (Barang siapa yang ingin
dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya serta dijauhkan dari kematian
yang buruk, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi)
(Muttafaq 'alaih).
Bukhari,
Tirmidzi, dan Ahmad mengeluarkan dari Amr bin Ash, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: (Bukanlah
penyambung silaturahmi itu orang yang membalas (kebaikan), akan tetapi
penyambung silaturahmi adalah orang yang jika diputuskan hubungan
kekerabatannya, ia tetap menyambungnya).
Bukhari,
Tirmidzi, dan Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Aisyah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: (Sesungguhnya
rahim (tali persaudaraan) itu adalah cabang dari Yang Maha Pengasih
(Ar-Rahman). Allah berfirman: Barang siapa yang menyambungmu, maka Aku
menyambungnya, dan barang siapa yang memutusmu, maka Aku memutusnya).
Tirmidzi menambahkan sebelumnya: (Orang-orang yang penyayang akan disayangi
oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya yang di
langit akan menyayangi kalian).
Maka,
suami dalam keluarga muslim teladan harus bersemangat untuk menghormati
keluarga istri dan memuliakan mereka, terutama kedua orang tuanya, sehingga
mereka merasa seolah-olah dia adalah anak mereka sendiri; ini dilakukan di
samping baktinya kepada keluarganya sendiri, terutama kedua orang tuanya.
Begitu pula istri muslimah harus bersemangat menghormati keluarga suami dan
memuliakan mereka, terutama kedua orang tuanya, sehingga mereka merasa
seolah-olah dia adalah anak perempuan mereka sendiri; ini dilakukan di samping
baktinya kepada keluarganya sendiri, terutama kedua orang tuanya.
Kami
ingatkan dalam hubungan dan pertemuan dengan kerabat agar tetap memperhatikan
adab-adab Islam dan ajarannya dalam hal berhijab dan tidak berkhalwat
(berduaan) dengan yang bukan mahram. Sebab, kita sering melihat pelanggaran
dalam hal ini karena pemahaman yang salah bahwa dengan kerabat tidak ada
masalah. Maka, harus dibedakan di antara mereka mana yang halal bagi mahram dan
mana yang tidak halal baginya.
Hubungan
Keluarga Muslim dengan Tetangga:
Islam
memberikan perhatian besar dalam mewasiatkan tetangga dan berbuat baik
kepadanya sebagaimana tercantum dalam ayat sebelumnya. Hadis-hadis dalam bab
ini sangat banyak, di antaranya:
Dari
Abu Hurairah رضي الله
عنه, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: (Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Dan barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam)
(Muttafaq 'alaih. Dalam satu riwayat menggunakan kata "liyashmut"
sebagai ganti "liyas-kut" yang keduanya berarti diam).
Dari
Aisyah رضي الله
عنها, dari Nabi ﷺ,
beliau bersabda: (Jibril senantiasa mewasiatiku tentang tetangga
sampai-sampai aku mengira bahwa ia akan memberikan hak waris kepadanya)
(Muttafaq 'alaih).
Dari
Abu Dzar, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda: (Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak (sup), maka perbanyaklah
kuahnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu atau bagikanlah kepada
tetangga-tetanggamu) (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Seputar
Kenalan dan Teman:
Keluarga
muslim tidaklah terisolasi dari masyarakat dan pasti memiliki kenalan serta
teman. Oleh karena itu, diperlukan kesepahaman antara suami dan istri dalam
menentukan lingkaran kenalan dan teman agar dapat memilih mereka dengan baik
dan menghindari keterlibatan dalam hubungan dengan orang-orang yang buruk.
Selain itu, perlu ditentukan batasan hubungan tersebut agar berada pada kadar
yang tepat yang mendatangkan kebaikan serta mencegah dampak negatif maupun
kesulitan.
Bagi
keluarga muslim teladan, tujuan utama dari hubungan-hubungan ini haruslah demi
mewujudkan kebaikan bagi dakwah Islam, yaitu melalui dakwah kepada Allah, amar
makruf nahi mungkar, serta tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa. Mungkin
merupakan hal yang tepat untuk mengatur pertemuan-pertemuan guna memperdalam
pemahaman agama (tafaqquh fidding) bagi kaum laki-laki dan pertemuan
lain bagi kaum wanita, dengan menjauhi segala hal yang dilarang Allah dan
Rasul-Nya seperti ghibah, adu domba (namimah), dan selainnya. Begitu
juga perlu memberikan perhatian kepada anak-anak dan memberikan arahan kepada
mereka.
Hubungan
tersebut juga tidak lepas dari aktivitas saling memberi hadiah. Maka keluarga
muslim teladan hendaknya mahir memilih hadiah-hadiah yang bermanfaat bagi sisi
dakwah, seperti Mushaf Syarif, buku-buku Islam yang bermanfaat, kaset atau
video Islami, atau hal lainnya yang berguna bagi orang dewasa maupun anak-anak.
Seputar
Tamu dan Memuliakannya:
Memuliakan
tamu juga termasuk di antara fadhilah (keutamaan) yang dianjurkan oleh Islam.
Ini adalah keutamaan yang memperkuat ruh persaudaraan, cinta, dan simpati di
antara sesama muslim. Ketika perkara ini mendominasi masyarakat kita, maka
setiap individu di dalamnya akan merasa seperti berada di tengah keluarganya
sendiri ke mana pun ia pergi dan di mana pun ia singgah.
Hal
ini berbeda dengan masyarakat materialistis di Eropa dan tempat lainnya yang
kehilangan fadhilah-fadhilah seperti ini; bahkan bakti kepada orang tua dan
berbuat baik kepada keduanya hampir tidak ditemukan, karena materi telah
mendominasi hubungan-hubungan sosial. Namun di dalam masyarakat Islam, kita
mendapati Islam menganjurkan umatnya untuk saling berpartisipasi dan bekerja
sama dalam menjamu tamu jika jumlah mereka banyak, sebagaimana yang terjadi
pada Ahli Shuffah, dengan tetap memperhatikan agar tidak berlebihan atau
memaksakan diri.
Hadis-hadis
mengenai memuliakan tamu sangat banyak, dan kami telah menyebutkan salah
satunya saat membahas tentang hubungan dengan tetangga. Dari Abdullah bin Ubaid
bin Umair, ia berkata bahwa sekelompok sahabat Rasulullah ﷺ bertamu kepada Jabir
bin Abdullah, lalu Jabir menghidangkan roti dan cuka kepada mereka seraya
berkata: "Makanlah, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
'Sebaik-baik lauk adalah cuka'." Sesungguhnya merupakan kehancuran
bagi seseorang jika sekelompok saudaranya bertamu kepadanya lalu ia meremehkan
apa yang ada di rumahnya untuk dihidangkan kepada mereka, dan merupakan
kehancuran bagi suatu kaum jika mereka meremehkan apa yang dihidangkan kepada
mereka. (HR. Ahmad dan Thabrani). Kemungkinan perkataan "Sesungguhnya
merupakan kehancuran bagi seseorang... dst" adalah perkataan Jabir yang
disisipkan (mudraj), bukan sabda Nabi (marfu'), wallahu a'lam.
Dari
Abu Syuraih Al-Khuza'i, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Jamuan itu tiga hari,
dan masa pemberiannya (yang istimewa) adalah sehari semalam. Tidak halal bagi
seorang laki-laki untuk menetap (bertamu) di tempat saudaranya sampai ia
menyebabkannya berdosa." Para sahabat bertanya: "Wahai
Rasulullah, bagaimana ia menyebabkannya berdosa?" Beliau menjawab: "Ia
menetap di sana padahal saudaranya itu tidak memiliki sesuatu untuk
menjamunya." (Muttafaq 'alaih).
Suami
dan Ayah Teladan:
Setelah
kita membahas perkara-perkara umum yang berkaitan dengan keluarga muslim
teladan, alangkah baiknya kita membahas unsur-unsur pembentuk keluarga muslim
satu per satu, seperti Ayah atau Suami, Ibu atau Istri, serta putra dan putri,
agar masing-masing dari mereka mengenali kewajiban Islamnya terhadap dirinya
sendiri maupun terhadap orang lain.
Mengenai
Ayah atau Suami, kami ingatkan pada hal-hal berikut:
- Hendaknya ia merasakan
tanggung jawabnya yang besar dan berat di hadapan Allah atas
kepemimpinannya terhadap keluarga. Ia bertanggung jawab atas setiap
individu di dalamnya dan segala hal yang berkaitan dengan mereka secara
jasmani, ruhani, dan akal. Landasan yang paling utama dan penting adalah
aspek ruhani, yaitu yang berkaitan dengan akidah dan pendidikan Islam yang
menentukan nasib kehidupan di akhirat kelak. Allah Ta'ala berfirman: {Wahai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api
neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah
terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan}. Begitu pula hadis Rasulullah ﷺ: "Setiap
kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang
dipimpinnya..."
- Ia harus menjadi teladan yang
baik bagi istri dan anak-anaknya dalam hal berpegang teguh pada ajaran
Islam, menjalankan tugas-tugas keagamaan, dan berakhlak dengan akhlak
Islam. Hal itu lebih baik baginya dan membuatnya memiliki pengaruh yang
lebih kuat dalam mengarahkan dan menjaga anggota keluarga. Berbeda halnya
jika ia lalai dalam hal tersebut, maka ia akan kehilangan kelayakannya
untuk memberikan arahan, karena orang yang tidak memiliki sesuatu tidak
akan bisa memberikannya (faqidul syai' la yu'thih).
- Suami harus memperlakukan
istrinya dengan baik. Ini adalah kewajiban Islam yang dianjurkan oleh
Rasulullah ﷺ
baik melalui perkataan maupun perbuatan, dan beliaulah teladan kita.
Hadis: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap
keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap
keluargaku," menegaskan makna ini. Tidak diragukan lagi bahwa
sejauh mana hubungan yang baik antara suami dan istri di bawah naungan
ajaran Islam, maka akan terwujudlah kehidupan yang baik bagi seluruh
keluarga, dan begitupun sebaliknya. Maka yang dituntut adalah dominasi
suasana kasih sayang (mawaddah), rahmat, dan ketenangan (sakinah),
sehingga setan tidak menemukan celah untuk masuk di antara keduanya.
- Kepala keluarga harus
bersemangat untuk memberikan suasana Islami pada keluarga dan rumah,
sehingga seluruh kehidupan di dalam keluarga berjalan sesuai ajaran Islam
dan bersih dari pelanggaran atau dosa, bahkan menjauhkan diri dari perkara
syubhat. Maka ibadah, tilawah Al-Qur'an, dan dzikir kepada Allah menjadi
suasana yang dominan, sementara kebisingan, caci maki, ghibah, dusta, dan
dosa-dosa lainnya akan surut.
- Suami muslim teladan harus
memberikan kesempatan bagi istrinya untuk berpartisipasi dan bekerja sama
dengannya dalam memikul tanggung jawab keluarga dan memecahkan masalahnya.
Keluarga itu ibarat sebuah perusahaan yang manajernya adalah laki-laki,
namun istri memiliki peran besar dalam kelancaran perjalanan hidup di
dalam keluarga. Tidak boleh bagi suami untuk mengabaikan peran istri atau
cenderung pada gaya memerintah, otoriter, dan sewenang-wenang dengan
pendapatnya sendiri. Sebelumnya telah kita sebutkan topik kesepahaman
mengenai anggaran dan pendistribusiannya yang baik serta komitmen
terhadapnya sebagai contoh dari kerja sama ini.
- Di antara hal terpenting yang
dikerjasamakan antara suami dan istri adalah pendidikan anak yang baik dan
pembinaan mereka secara Islami agar mereka benar-benar menjadi penyejuk
mata bagi keduanya serta unsur-unsur pembangun dalam masyarakat Islam.
Sesungguhnya kelalaian dalam mendidik mereka akan menjadikan mereka sumber
kesengsaraan dan kesulitan bagi orang tuanya serta unsur penghancur dan
kerusakan dalam masyarakat. Ayat dan hadis mendorong makna ini: {Wahai
Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami
sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang
yang bertakwa}.
- Dari Abu Hurairah رضي الله
عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Jika anak Adam
meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim dan lainnya).
- Dari Nu'man bin Basyir رضي الله
عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Samakanlah
di antara anak-anakmu (yaitu berlakulah adil)." Dalam lafaz
lain: "Adillah di antara anak-anakmu, adillah di antara
anak-anakmu, adillah di antara anak-anakmu (yaitu dalam pemberian)."
(Muttafaq 'alaih).
- Dari Aisyah رضي الله
عنها, bahwa ada seorang wanita masuk menemuinya membawa dua
anak perempuannya. Aisyah berkata: "Aku memberinya sebutir kurma,
lalu ia membelahnya untuk kedua anaknya." Aisyah menceritakan
hal itu kepada Rasulullah ﷺ, lalu beliau bersabda: "Barang
siapa yang diuji (dicoba) dengan sesuatu dari anak-anak perempuan ini,
lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang
baginya dari api neraka." (Muttafaq 'alaih).
- Suami dan istri hendaknya
membiasakan anak-anak mereka untuk percaya diri, memiliki keberanian, dan
mencintai jihad. Hendaknya juga diperhatikan pemilihan mainan anak yang
dapat mewujudkan makna-makna tersebut dalam jiwa mereka. Begitu juga
perlu diperhatikan untuk mendorong anak-anak agar mementingkan studi dan
meraih prestasi di dalamnya dengan memberikan hadiah serta penghargaan.
- Kepala keluarga harus
memberikan suasana kegembiraan pada keluarga dan mewujudkan berbagai
bentuk hiburan dan rekreasi yang bebas dari dosa, agar anak-anak tidak
mencari hiburan di bidang-bidang yang berdosa. Misalnya, melakukan rihlah
(perjalanan) ke tempat-tempat yang jauh dari pemandangan maksiat, bekerja
di kebun (jika ada), dan mempelajari beberapa hal praktis seperti
pertolongan pertama (P3K), prinsip-prinsip perpipaan, pertukangan,
kelistrikan, atau lainnya. Perlu juga menjaga suasana cinta dan kasih
sayang di antara anak-anak, mencegah mereka dari pertikaian serta
munculnya ruh permusuhan dan kebencian di antara mereka, membiasakan yang
bersalah untuk meminta maaf kepada yang disalahi, dan membiasakan yang
lain untuk berlapang dada menerima maaf.
- Ayah sebagai kepala keluarga
harus memiliki hati nurani yang waspada dan berhati-hati terhadap apa yang
diperingatkan oleh ayat-ayat mulia: {Wahai orang-orang yang beriman,
sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi
musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu
memaafkan dan menelateni serta mengampuni (mereka), maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan
anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang
besar. Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan
dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah nafkah yang baik untuk dirimu.
Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah
orang-orang yang beruntung}.
- {Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang merugi}.
- Ayah dan suami muslim teladan
harus berupaya meningkatkan level keimanan anggota keluarganya serta apa
yang dituntut oleh iman tersebut berupa kewajiban beramal, berjihad, dan
berkorban demi membebaskan tanah air Islam dan menegakkan agama Allah di
muka bumi.
- Kepala keluarga muslim
teladan haruslah bersikap moderat dalam gaya hidup keluarga; tidak condong
pada kekasaran dan kekerasan, namun tidak juga pada kelemahan dan sikap
terlalu mempermudah. Moderat pula antara pemborosan dan kekikiran, serta
antara sikap terlalu mengekang dan terlalu membebaskan.
- Suami dan istri hendaknya
memperlakukan dengan baik para pelayan serta mereka yang mereka tanggung
seperti anak yatim dan selainnya.
Keluarga
Muslim Teladan
Istri
dan Ibu Muslimah Teladan:
Wanita,
baik sebagai istri maupun ibu, adalah pilar yang kuat dalam struktur keluarga
dan faktor stabilitas utama dalam rumah tangga. Bahkan, rumah tangga adalah
"kerajaan"-nya, sebagaimana yang sering dikatakan orang. Di atas
pundaknyalah terletak beban besar dalam mendidik anak-anak dan mencetak
laki-laki (generasi tangguh). Keluarga muslim teladan tidak akan terwujud jika
sifat-sifat yang dibutuhkan hanya tersedia pada kepala keluarga saja tanpa
tersedia pula pada diri sang istri.
Musuh-musuh
Islam telah menyadari peran wanita yang sangat berpengaruh dalam keluarga dan
masyarakat, sehingga mereka menjadikannya sebagai sarana untuk menyebarkan
kemungkaran (radzilah). Oleh karena itu, wajib bagi para aktivis Islam
untuk memberikan perhatian kepada wanita muslimah dan menjadikan mereka sebagai
sarana untuk menyebarkan kebajikan (fadhilah), memperkuat struktur
keluarga dan masyarakat, serta membina generasi yang berkomitmen pada Islam.
Oleh
karena itu, kami merekomendasikan kepada Istri dan Ibu Muslimah Teladan hal-hal
berikut:
- Hendaknya ia meyakini dalam
lubuk hatinya akan perannya yang besar dan pengaruhnya yang efektif dalam
suasana dan kehidupan keluarga. Dengan perilakunya, kebijaksanaannya,
kewaspadaannya, dan rasa takutnya (muraqabah) kepada Allah Ta'ala,
ia dapat menjadikan rumah tangganya sebagai surga tempat bernaung dan
tempat yang dirindukan oleh suami dan anak-anaknya, di mana mereka dapat
beristirahat dari panas dan penatnya kehidupan di luar rumah.
- Hendaknya ia menjalankan
kewajiban dan peran utamanya dalam mendidik serta menjaga anak-anak,
karena ia adalah orang yang paling sering berinteraksi dengan mereka dan
merekalah yang paling membutuhkannya pada fase pembentukan kepribadian dan
pertumbuhan. Diperlukan koordinasi antara dirinya dan sang ayah dalam
metode pendidikan sehingga proses pembangunan dan pembentukan karakter
menjadi integral, serta tidak terjadi pertentangan atau kontradiksi antara
kedua metode tersebut. Terkadang kita melihat kasih sayang ibu terhadap
anaknya, jika tidak terkendali, dapat menjadi sebab anak menjadi manja dan
membangkang terhadap aturan serta metode ayahnya. Kita juga melihat
sebagian ayah dan ibu memberikan perhatian terbesar pada kesehatan fisik
anak-anak mereka, namun religiositas mereka tidak mendapat perhatian
serupa, padahal hal itu lebih utama. Sang ibu harus mengenali kebiasaan
dan akhlak buruk yang mungkin ditemui anak di luar rumah untuk melindungi
mereka agar tidak terpengaruh, serta memantau teman-teman anaknya agar
dengan bantuan sang ayah, mereka dapat menjauhkan anak dari teman yang
buruk. Ia juga harus menerapkan adab dan ajaran Islam kepada mereka,
seperti menanamkan arahan agama, mengajarkan salat pada usia tujuh tahun
dan memukul (sebagai pelajaran) pada usia sepuluh tahun, serta memisahkan
tempat tidur di antara mereka. Selain itu, membiasakan anak perempuan pada
sifat malu dan menerima busana muslimah ketika mencapai usia haid atau
sesaat sebelumnya. Hendaknya ibu tidak bergantung pada pengasuh kecuali
karena kebutuhan mendesak, sebagaimana ia tidak bergantung pada susu
formula kecuali karena darurat kesehatan.
- Agar kita dapat merasakan
pengaruh yang efektif dan memperjelas gambaran ini, mari kita bandingkan
potret cerah keluarga muslim teladan ini dengan membayangkan di sampingnya
sebuah keluarga muslim yang istrinya tidak memiliki sifat-sifat yang telah
kami sebutkan dan tidak menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut, bahkan
mungkin menjungkirbalikkannya; menjadikan rumah sebagai neraka, arena
perselisihan, konflik, serta pelanggaran terhadap adab dan ajaran Islam.
Di rumah seperti itu, suami maupun anak-anak tidak akan menemukan suasana
istirahat dan ketenangan. Betapa sang suami akan menemui kesulitan dan
beban berat, sementara anak-anak akan terancam kehancuran.
- Istri muslimah teladan harus
mengenali secara akurat kewajiban-kewajibannya terhadap suaminya dan
hak-hak suami atas dirinya, lalu menunaikannya sebagai bentuk ibadah
kepada Allah dan mengharap pahala-Nya. Ia harus menjaga perasaan suami,
meredam kegelisahannya, serta menjaga rahasia dan kehormatan suami saat ia
tidak ada. Ia juga harus bekerja sama dengan suami dalam hal-hal yang
telah kami isyaratkan saat membahas tentang Suami Muslim Teladan, terutama
dalam mendidik anak dan silaturahmi.
- Istri muslimah teladan harus
memotivasi suaminya untuk menjalankan kewajiban-kewajibannya terhadap
Islam, baik dalam bentuk amal, pengorbanan, maupun jihad, dan tidak
menjadi penghalang atau fitnah yang menghambatnya. Hendaknya mereka hidup
bersama dengan menghayati makna ayat-ayat mulia: {Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir},
{Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka},
{Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi
memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah
memelihara (mereka)}, {Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang
muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang
tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan
perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan
perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar}.
- Ia harus pandai memilih
kenalan dan teman-temannya dari kalangan wanita-wanita salehah, serta
menjalankan peran memberikan arahan dan peringatan tentang adab dan ajaran
Islam. Ia sendiri harus menjadi teladan bagi orang lain dalam bidang ini,
sehingga pertemuan-pertemuan diwarnai dengan karakter Islami, bersih dari
dosa, bersih dari membicarakan orang lain (ghibah) dan sebagainya, serta
tetap memperhatikan adab Islam seperti hijab dan lain-lain.
- Sangatlah layak bagi istri
muslimah teladan untuk senantiasa mencari yang halal dalam segala hal yang
berkaitan dengan rumah, mulai dari perabot, pakaian, makanan, minuman,
kebiasaan, dan lainnya. Ia harus benar-benar menjauhkan diri dari yang
haram maupun yang syubhat. Selain itu, rumahnya harus menjadi model
kebersihan dan keteraturan, serta membiasakan anak-anaknya pada hal
tersebut.
- Ia harus menjaga
kaidah-kaidah kesehatan dan memastikan makanan tidak terkena polusi, serta
tidak meletakkan benda-benda berbahaya dalam jangkauan anak-anak seperti
obat-obatan, korek api, alat tajam, dan sebagainya.
- Wajib baginya mengikuti
Sunnah Rasulullah ﷺ
dan petunjuk beliau dalam aktivitas sehari semalam yang dilakukan di
rumah, seperti adab makan, minum, berpakaian, tidur, memberi salam,
meminta izin, buang hajat, masuk dan keluar rumah, bercermin, serta
doa-doa yang menyertai hal-hal tersebut dan lainnya. Ia juga harus
menjauhi adat istiadat jahiliah atau yang diambil dari Barat yang
mengandung pelanggaran terhadap ajaran Islam.
- Ia dan suami harus
bersemangat untuk menghidupkan momentum Islami dan menanamkan kecintaan
terhadapnya dalam jiwa anak-anak, seperti bulan Ramadan dengan segala
aktivitas puasa dan salat malam di masjid maupun di rumah, serta menjauhi
hal-hal yang biasa dilakukan orang yang menyelisihi syariat seperti
begadang yang tidak bermanfaat, acara teka-teki (fawazir),
kekenyangan, dan banyaknya jenis makanan yang berlebihan.
- Kita tidak perlu diingatkan
kembali bahwa istri muslimah teladan haruslah menjadi teladan yang baik
dengan berkomitmen pada busana muslimah dan menjauhi perhiasan yang
dilarang seperti menyambung rambut (washl), mencukur alis (namsh),
pewarna (yang dilarang), dan sebagainya.
Putra
Muslim Teladan dan Putri Muslimah Teladan
Ketika
kita mencita-citakan Keluarga Muslim Teladan, itu artinya setiap individu di
dalamnya harus menjadi teladan Islami yang baik bagi dirinya sendiri. Kita
telah membahas tentang Ayah atau Suami, serta Ibu atau Istri, kemudian kita
akan membahas tentang putra dan putri, dan kepada mereka kami sampaikan
rekomendasi berikut:
- Hendaknya setiap putra dan
putri merasakan kedudukan ayah dan ibu serta apa yang menjadi hak keduanya
atau apa yang wajib dilakukan terhadap keduanya berupa cinta, penghargaan,
bakti (birr), dan perbuatan baik (ihsan). Hendaknya mereka
menghargai kelelahan, kurang tidur, dan penjagaan yang telah diberikan
orang tua, khususnya sang ibu atas segala kelelahan dan kelemahan yang ia
alami selama masa kehamilan, melahirkan, menyusui, serta pengasuhan di
masa kanak-kanak.
- Hendaknya mereka merasakan
kewajiban taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya ﷺ dalam berbakti
kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya, serta menyadari
adanya pahala dan ganjaran di balik itu. Sebaliknya, sesungguhnya durhaka
kepada kedua orang tua (uququl walidain) termasuk dosa besar yang
berakibat pada murka Allah dan azab-Nya. Kami sebutkan beberapa ayat
Al-Qur'an dan hadis Nabi mengenai makna ini:
- {Dan Tuhanmu telah
memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu
berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang
di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam
pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu
terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah:
"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku waktu kecil"}.
- {Dan Kami perintahkan
kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk
mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang
itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di
dunia dengan baik}.
- Dari Ibnu Mas'ud رضي الله
عنه, ia berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ:
'Amal apakah yang paling dicintai Allah?' Beliau bersabda: 'Salat pada
waktunya.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau bersabda: 'Kemudian
berbakti kepada orang tua.' Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau
bersabda: 'Kemudian berjihad di jalan Allah'." Ibnu Mas'ud berkata:
"Beliau menceritakan hal itu kepadaku, seandainya aku meminta tambah
niscaya beliau akan menambahkannya." (HR. Bukhari, Muslim, dan
An-Nasa'i).
- Dari Abu Hurairah رضي الله
عنه, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Celaka,
celaka, kemudian celaka seseorang yang mendapati kedua orang tuanya atau
salah satunya di masa tua, namun ia tidak masuk surga (karena tidak
berbakti)." Dalam riwayat lain: "Maka keduanya tidak
memasukkannya ke dalam surga." (HR. Muslim dan lainnya).
- Dari Abdullah bin 'Amr رضي الله
عنهما, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya
di antara dosa besar yang paling besar adalah mendurhakai orang
tua." Dikatakan: "Apa itu mendurhakai orang tua?"
Beliau bersabda: "Seorang laki-laki mencaci ayah orang lain, lalu
orang itu mencaci ayahnya; dan ia mencaci ibu orang lain, lalu orang itu
mencaci ibunya." (HR. Muslim dan lainnya).
- Hendaknya anak-anak
mengetahui bahwa kedua orang tua mereka lebih tahu tentang apa yang
bermanfaat dan apa yang berbahaya bagi mereka berdasarkan faktor usia dan
pengalaman. Di saat yang sama, keduanya mencintai kebaikan bagi mereka dan
membenci apa yang membahayakan mereka. Maka, anak-anak wajib menaati orang
tua dalam apa yang mereka perintahkan selama bukan kemaksiatan yang nyata
dan tidak diragukan, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam
bermaksiat kepada Sang Khalik.
- Hendaknya anak-anak menjaga
ruh cinta dan kasih sayang di antara mereka sendiri, jangan berada dalam
suasana pertikaian dan permusuhan. Hendaklah suasana saling memaafkan dan
simpati mendominasi di antara mereka; yang besar menyayangi yang kecil,
dan yang kecil menghormati yang besar.
- Anak-anak harus menjaga
ketaatan kepada Allah, khususnya salat pada waktunya, serta akhlak Islam
secara umum. Mereka harus memperhatikan Al-Qur'an, menghafal apa yang
mudah bagi mereka, serta memahaminya, begitu pula memperdalam ilmu agama (tafaqquh
fidding). Hadis Rasulullah ﷺ telah menjadikan salah satu dari
tujuh golongan yang dinaungi Allah di bawah naungan-Nya pada hari tidak
ada naungan selain naungan-Nya adalah: seorang pemuda yang tumbuh dalam
ketaatan kepada Allah.
- Mereka harus mempelajari
sunnah-sunnah dalam makan, minum, tidur, berpakaian, dan lainnya, serta
doa-doanya, lalu mempraktikkan hal tersebut.
- Hendaknya mereka mementingkan
studi mereka sehingga menjadi orang-orang yang berprestasi (mutafawwiqin).
- Mereka harus membiasakan diri
untuk selalu bersih dalam pakaian, tubuh, kamar, dan sekolah mereka.
Begitu pula teratur dalam waktu, pengaturan kamar, meja belajar,
peralatan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka.
- Mereka harus pandai memilih
kenalan serta teman-teman mereka, dan hendaknya mereka menjadi teladan
bagi teman-temannya.
Referensi
untuk Belajar Mandiri dan Pendalaman:
- (Kosong dalam teks asli)
- (Kosong dalam teks asli)
- (Kosong dalam teks asli)
Aktivasi
Praktis Konten Melalui Aktivitas Pendamping:
- Mengadakan halaqah diskusi
tentang pentingnya membangun keluarga muslim dan dasar-dasar pemilihan
yang benar untuk membangun keluarga muslim.
- Menyampaikan ceramah tentang
posisi keluarga muslim dalam peta amal Islami [Individu Muslim – Keluarga
Muslim – Masyarakat Muslim .... dst].
- Mengadakan pelatihan bagi
ikhwan dan akhwat tentang cara mengelola rumah tangga muslim [Bangunan –
Makanan – Minuman – Perabot – Anggaran].
- Menyusun penelitian tentang
hambatan-hambatan yang menghalangi pembangunan keluarga muslim yang benar
dan bagaimana cara mengatasinya.
- Merekam acara televisi yang
membahas tentang penataan perabot rumah dan manajemen dapur untuk ditonton
oleh saudari muslimah dan saudara muslim.
- Mengundang pakar ekonomi
untuk berbicara tentang ekonomi keluarga muslim dan bagaimana membuat
anggaran yang sesuai bagi keluarga muslim.
- Menyeleksi film kartun,
kisah, dan cerita dari saluran satelit yang sesuai dengan konsep
pendidikan Islam untuk ditampilkan kepada anak-anak.
Evaluasi
dan Pengukuran Mandiri:
- Jelaskan pentingnya membangun
keluarga muslim!
- Jelaskan posisi keluarga
muslim dalam peta amal Islami!
- Apa ciri-ciri keluarga muslim
sebagaimana yang dijelaskan dalam pendahuluan?
- Sebutkan dasar-dasar
pemilihan istri muslimah!
- Apa dasar-dasar yang menjadi
landasan berdirinya keluarga muslim?
- Buktikan bahwa pernikahan
adalah ibadah dan amanah!
- Mengapa Allah Ta'ala
menjadikan laki-laki sebagai manajer (pemimpin) dalam institusi keluarga?
- Apa misi rumah tangga muslim?
Dan apa landasan utama berdirinya keluarga muslim?
- Bagaimana seharusnya rumah
tangga muslim dalam hal-hal berikut: [Bangunan – Perabot – Pakaian –
Makanan dan Minuman]?
- Bagaimana cara mengelola
anggaran keluarga muslim?
- Bagaimana seharusnya sosok:
Ayah Teladan – Ibu Teladan – Putra dan Putri Teladan?
No comments:
Post a Comment