Tuesday, May 5, 2026

Hadits Arbain 31: Zuhud

Hadits Ketiga Puluh Satu

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ، وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ» . حَدِيثٌ حَسَنٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ حَسَنَةٍ

Dari Sahl bin Sa'ad As-Saidi Radhiyallah Anhu yang berkata, "Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku perbuatan yang jika aku kerjakan maka aku dicintai Allah dan dicintai manusia. 'Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda; 'Zuhudlah di dunia niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya engkau dicintai manusia”. (Hadits hasan diriwayatkan Ibnu Majah dan lain-lain dengan sanad hasan). [1]

Hadits bab di atas diriwayatkan Ibnu Majah dari riwayat Khalid bin Amr Al-Qurasyi dari Sufyan Ats-Tsauri dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa'ad. Syaikh An-Nawawi menyebutkan bahwa sanad hadits ini hasan, namun ada catatan dalam hal ini, karena tentang Khalid bin Amr Al-Qurasyi, Imam Ahmad berkata, "Haditsnya munkar”. Murrah berkata, "Ia bukan perawi tepercaya dan meriwayatkan hadits-hadits batil”. Ibnu Main berkata, "Haditsnya tidak ada apa-apanya”. Murrah berkata, "Ia pendusta yang berdusta dan meriwayatkan hadits-hadits palsu dari Syu'bah". Al-Bukhari dan Abu Zur'ah berkata, "Haditsnya munkar”. Abu Hatim berkata, "Haditsnya tidak bisa dipakai dan dhaif". Shalih bin Muhammad dan Ibnu Adi mengatakan bahwa ia memalsukan hadits. Ibnu Hibban kontradiksi tentang Khalid bin Amr Al-Qurasyi. Ia menyebutkannya di Ats-Tsiqaat dan menyebutkannya di Adh-Dhu’afa’. Ibnu Hibban berkata, "Ia sendirian meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perawi tepercaya dan tidak boleh berhujjah dengan haditsnya”. Al-Uqaili [2]) meriwayatkan hadits Khalid bin Amr ini dan berkata, "Hadits ini tidak punya asal-usul dari hadits Sufyan Ats-Tsauri”. Al-Uqaili juga berkata, "Muhammad bin Katsir Ash-Shan'ani setuju dengan Khalid bin Amr dalam hadits tersebut dan bisa jadi Muhammad bin Katsir Ash-Shan'ani mengambil hadits tersebut dari Khalid bin Amr dan menggelapkannya, karena hadits ini terkenal dari Khalid bin Amr”.

Abu Bakr Al-Khathib berkata, "Hadits tersebut juga disetujui Abu Qatadah Al-Harrani dan Mihran bin Abu Umar Ar-Razi [3]) kemudian mereka meriwayatkan hadits tersebut dari Ats-Tsauri yang berkata, "Hadits yang paling terkenal ialah hadits Ibnu Katsir”. Ini yang ia katakan dan ini bertentangan dengan perkataan Al-Uqaili, "Hadits yang paling terkenal ialah hadits Khalid bin Amr”. Apa yang dikatakan Al-Uqaili benar, karena Muhammad bin Katsir Ash-Shan'ani yang tidak lain adalah Al-Mashishi dianggap sebagai perawi dhaif oleh Imam Ahmad, sedang Abu Qatadah dan Mihran dipermasalahkan, namun Muhammad bin Katsir lebih baik daripada keduanya, karena ia perawi tepercaya menurut banyak hafidz hadits.

Ibnu Adi heran dengan hadits Khalid bin Amr ini kemudian berkata, "Aku tidak tahu apa yang harus saya katakan tentang haditsnya ini”.

Ibnu Abu Hatim [4]) menyebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada ayahnya tentang hadits Muhammad bin Katsir dari Sufyan Ats-Tsauri kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Ayah Ibnu Abu Hatim berkata, "Hadits ini batil", maksudnya batil dengan sanad seperti itu dan ini mengisyaratkan bahwa hadits tersebut tidak mempunyai asal-usul dari Muhammad bin Katsir dari Sufyan.

Ibnu Masyisy berkata, "Aku pernah bertanya kepada Imam Ahmad tentang hadits Sahl bin Sa'ad sambil menyebutkan hadits di atas. Imam Ahmad berkata, 'Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah - dengan nada heran -, siapa yang meriwayatkan hadits ini?' Aku menjawab, 'Khalid bin Amr'. Imam Ahmad berkata, 'Kita mencela Khalid bin Amr'. Imam Ahmad diam”. Maksudnya, Imam Ahmad menolak orang yang menyebutkan hadits Khalid ini, karena ia tidak mau kacau dengannya.

Hadits di atas juga diriwayatkan Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam di Al-Mawaidh [5]) dari Khalid bin Amr kemudian ia berkata, "Aku tidak mengakui hadits ini”. Syaikh An-Nawawi mengisahkan hadits ini kepadaku dari Waki' bahwa ia (An-Nawawi) bertanya kepada Waki' tentang hadits ini dan jika ia tidak berkata seperti itu, aku pasti meninggalkannya”. Ibnu Adi meriwayatkan hadits ini di biografi Khalid bin Amr [6]) dan juga menyebutkan riwayat Muhammad bin Katsir kemudian ia berkata, "Hadits ini dari Ats-Tsauri munkar”. Ibnu Adi juga berkata, "Hadits ini juga diriwayatkan Zafir alias Ibnu Salman dari Muhammad bin Uyainah saudara Sufyan dari Abu Hazim”. Zafir dan Muhammad bin Uyainah adalah perawi dhaif. [7])

Hadits di atas juga diriwayatkan dari jalur lain namun mursal diriwayatkan Abu Sulaiman bin Zubar Ad-Dimasyqi di Musnad Ibrahim bin Adham yang mengumpulkannya dari riwayat Muawiyah bin Hafsh dari Ibrahim bin Adham dari Manshur dari Rib'i bin Hirasy yang berkata,

'"Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku perbuatan yang membuatku dicintai Allah dan dicintai manusia. 'Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Adapun perbuatan yang membuatmu dicintai Allah maka zuhud di dunia sedang perbuatan yang membuatmu dicintai manusia maka lihatlah puing-puing (dunia) ini kemudian lemparkan kepada mereka”. [8])

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Dzammud Dunya dari riwayat Ali bin Bakar dari Ibrahim bin Adham yang berkata, "Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam", kemudian Ibrahim bin Adham menyebutkan hadits tersebut secara lengkap tanpa menyebutkan Manshur dan Rib'i di sanadnya. Di hadits Ibrahim bin Adham, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Lempar puing-puing yang ada di kedua tanganmu kepada mereka”.

Hadits bab di atas mengandung dua wasiat agung;

Pertama, zuhud di dunia yang menyebabkan Allah Azza wa jalla cinta hamba-Nya.

Kedua, zuhud terdapat apa yang ada di tangan manusia yang menyebabkan orang dicintai manusia.

Adapun zuhud di dunia, Al-Qur'an banyak sekali memujinya dan mengecam cinta dunia. Allah Ta'ala berfirman,

"Tetapi kalian memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Al-A'la:16-17).

Allah Ta'ala berfirman,

"Kalian menghendaki harta benda duniawi sedang Allah menghendaki akhirat”. (Al-Anfal: 67).

Allah Ta'ala berfirman tentang kisah Qarun,

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya; berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Semoga kami mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu, 'Kecelakaan besar bagi kalian, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan pahala tidak diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar'. Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi, maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya dari adzab Allah dan ia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun berkata, Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, Dia benar-benar membenamkan kita. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari. Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi dan kesudahan itu bagi orang-orang yang bertakwa”. (Al-Qashash: 79-83).

Allah Ta'ala berfirman,

"Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan (yang sedikit)”. (Ar-Ra'du: 26).

Allah Ta'ala berfirman,

"Katakan, 'Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kalian tidak akan dianiaya sedikit pun”. (An-Nisa`: 77).

Allah Ta'ala berfirman tentang orang Mukmin dari keluarga Fir'aun yang berkata kepada kaumnya,

"Hai kaumku, ikutilah aku; aku tunjukkan jalan yang benar kepada kalian. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal: "(Ghafir: 38-39).

Allah Ta'ala juga mengecam orang yang menginginkan dunia dengan amal, usaha, dan niatnya. Hal ini telah disebutkan pada pembahasan hadits, "Sesungguhnya seluruh amal perbuatan itu dengan niat".

Hadits-hadits tentang celaan terhadap dunia dan kehinaannya di sisi Allah sangat banyak. Dalam Shahih Muslim [9]) disebutkan hadits dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati pasar sedang manusia berada di pasar tersebut. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati anak kambing jantan yang kedua telinganya kecil dan telah mati. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang telinganya sambil bersabda, "Siapa di antara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham?" Orang-orang berkata, "Kita sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Apakah kalian suka kalau ini menjadi milik kalian?" Orang-orang berkata, "Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena hidungnya kecil, apalagi ia telah mati?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Demi Allah, pastilah dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian”.

Di Shahih Muslim [10]) juga disebutkan hadits dari Al-Mustaurid Al-Fihri dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian meletakkan jari-jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang dibawa jari-jarinya”.

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Seandainya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minuman sedikit pun darinya kepada orang kafir". [11])

Makna zuhud terhadap sesuatu ialah berpaling darinya karena menganggapnya kecil, merendahkannya, dan hilang keinginan kepadanya.

Para generasi salaf dan generasi sesudah mereka banyak bicara tentang penafsiran zuhud di dunia dan redaksi mereka beragam. Dalam hal ini, ada hadits dari Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari riwayat Amr bin Waqid dari Yunus bin Halbas dari Abu Idris Al-Khaulani dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Zuhud di dunia tidak dengan mengharamkan halal dan menyia-nyiakan harta, namun zuhud di dunia ialah hendaknya lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah daripada kepada apa yang di kedua tanganmu dan jika engkau diuji dengan musibah maka engkau lebih senang kepada pahalanya hingga engkau berharap sekiranya musibah tersebut tetap terjadi padamu''. [12])

At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut gharib dan kami tidak mengenalnya kecuali dari jalur tersebut. Hadits Amr bin Waqid adalah munkar”.

Saya katakan, yang benar hadits tersebut adalah mauquf, seperti diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu. [13]) Imam Ahmad berkata bahwa Zaid bin Yahva Ad-Dimasyqi berkata kepadaku bahwa Khalid bin Shabih berkata kepadaku bahwa Yunus bin Halbas berkata kepadaku bahwa Abu Muslim Al-Khaulani berkata, "Zuhud di dunia tidak dengan mengharamkan halal dan menyia-nyiakan harta, namun zuhud di dunia ialah hendaknya engkau lebih yakin kepada apa yang ada di Tangan Allah daripada kepada apa yang ada di kedua tanganmu dan jika engkau diuji dengan musibah maka engkau lebih senang dengan pahalanya hingga engkau berharap seandainya musibah tersebut tetap terjadi padamu”.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dari riwayat Muhammad bin Muhajir dari Yunus bin Maisarah yang berkata, "Zuhud di dunia tidak dengan mengharamkan halal dan menyia-nyiakan harta, namun zuhud di dunia ialah hendaknya engkau lebih yakin kepada apa yang ada di Tangan Allah daripada kepada apa yang ada di kedua tanganmu, kondisimu ketika mendapatkan musibah dan kondisimu ketika tidak mendapatkan musibah sama saja, dan pemujimu dan pencelamu dalam kebenaran sama”.

Jadi, zuhud ditafsirkan dengan tiga hal yang semuanya merupakan perbuatan hati dan bukan perbuatan organ tubuh. Oleh karena itu, Abu Sulaiman berkata, "Engkau jangan bersaksi untuk seseorang bahwa ia zuhud, karena zuhud ada di hati”.

Pertama: Hendaknya seorang hamba lebih yakin terhadap apa yang ada di sisi Allah daripada terhadap apa yang ada di tangannya sendiri. Sikap ini muncul dari lurus dan kuatnya keyakinan, karena Allah menjamin rezki seluruh hamba-Nya dan menanggungnya, seperti yang Dia firmankan,

"Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi rezkinya”. (Huud: 6).

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan di langit terdapat rezki kalian dan apa yang dijanjjkan kepada kalian'. (Adz-Dzaariyat: 22).

Allah Ta ala juga berfirman,

"Maka mintalah rezki di sisi Allah dan sembahlah Dia”. (Al-Ankabut:l7).

Al-Hasan berkata, "Di antara bukti lemahnya keyakinanmu ialah engkau lebih yakin terhadap apa yang ada di tanganmu daripada terhadap apa yang di Tangan Allah Azza wa Jalla”.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang berkata, "Sesungguhnya rezki yang paling aku harapkan ialah ketika mereka berkata bahwa di rumah tidak ada tepung”.

Masruq berkata, "Sesuatu terbaik yang aku duga ialah ketika pembantu berkata bahwa di rumah tidak ada sedikit pun gandum dan dirham”.

Imam Ahmad berkata, "Hari-hariku yang paling menyenangkanku ialah hari ketika pada suatu pagi aku tidak mempunyai apa-apa”.

Dikatakan kepada Abu Hazim, "Apa hartamu?" Abu Hazim berkata, "Aku mempunyai dua harta dan dengan keduanya aku tidak takut miskin; yakin kepada Allah dan tidak mempunyai harapan kepada apa yang ada di tangan manusia”. [14])

Dikatakan kepada Abu Hazim, "Apakah engkau tidak takut miskin?" Abu Hazim berkata, "Pantaskah aku takut miskin, padahal Tuhanku mempunyai apa saja yang ada di langit, bumi, di antara keduanya, dan di bawah tanah?"

Secarik kertas disodorkan kepada Ali bin Al-Muwaffaq kemudian ia membacanya, ternyata berbunyi, "Hai Ali bin Al-Muwaffaq, pantaskah engkau takut miskin, padahal Aku Tuhanmu?"

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Prinsip zuhud ialah ridha kepada Allah Azza wa Jalla”. Ia juga berkata, "Qana'ah adalah zuhud dan itulah kekayaan”.

Barangsiapa merealisir keyakinan, yakin kepada Allah dalam seluruh urusannya, ridha dengan pengaturan-Nya terhadap dirinya, dan tidak menggantungkan diri kepada makhluk dalam harapan dan takut, kemudian itu semuanya mencegahnya dari mencari dunia dengan cara-cara yang ilegal, sungguh ia menjadi orang zuhud sejati di dunia dan manusia terkaya, kendati ia tidak mempunyai sedikit pun dunia, seperti dikatakan Ammar, "Cukuplah kematian sebagai pengingat, cukuplah keyakinan sebagai kekayaan, dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan”. [15])

Ibnu Mas'ud berkata, "Keyakinan ialah engkau tidak ridha kepada manusia dengan kemurkaan Allah, tidak memuji seorang pun atas rezki Allah, dan tidak mencela seorang pun karena sesuatu yang tidak diberikan Allah kepadamu, karena rezki tidak bisa didatangkan oleh ambisi orang yang ambisius dan ditolak oleh kebencian pembenci, sebab Allah Tabaraka wa Ta'ala - dengan keadilan, ilmu, dan kebijaksanaan-Nya - menjadikan ketentraman dan kebahagiaan di keyakinan dan ridha serta menjadikan kegalauan dan kesedihan di keragu-raguan dan kemurkaan”. [16])

Di hadits mursal disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa dengan doa berikut,

"Ya Allah, aku meminta kepada-Mu iman yang menyentuh hatiku dan keyakinan yang benar hingga aku tahu bahwa tidak ada yang menghalangi terhadap rezki yang Engkau bagikan untukku dan jadikan aku ridha dari penghidupan yang Engkau bagikan untukku". [17])

Atha' Al-Khurasani tidak berdiri dari tempat duduknya hingga berkata, "Ya Allah, anugerahkan kepadaku keyakinan dari-Mu hingga seluruh musibah dunia menjadi kecil bagiku, hingga aku tahu bahwa tidak akan mengenaiku kecuali apa yang telah Engkau tulis untukku, dan aku tidak akan mendapatkan rezki kecuali apa yang telah Engkau bagikan untukku”. [18])

Kami riwayatkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa ingin menjadi manusia terkaya, hendaklah ia yakin kepada apa yang di Tangan Allah daripada kepada apa yang ada di tangannya”. [19])

Kedua: Jika seorang hamba mendapatkan musibah di dunianya, misalnya hartanya habis ludes, anaknya meninggal dunia, dan lain sebagainya, maka ia lebih senang kepada pahala musibah tersebut daripada kepada dunianya yang hilang untuk kembali lagi kepadanya. Sikap seperti ini juga terjadi karena kesempurnaan keyakinan.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi Shallallahu wa Sallam berkata dalam doa beliau,

"Ya Allah, bagikan untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dapat memisahkan kami dengan maksiat kepada-Mu, bagikan untuk kami ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu, bagikan untuk kami keyakinan yang membuat kami memandang kecil seluruh musibah dunia". [20])

Ini semua pertanda zuhud di dunia dan minimnya ambisi kepada dunia, seperti dikatakan Ali bin Abu Thalib, "Barangsiapa zuhud di dunia, seluruh musibah menjadi kecil baginya”.

Ketiga. Pemuji dan pencela dalam kebenaran itu sama saja bagi seorang hamba. Ini juga pertanda zuhud di dunia, merendahkannya, dan minimnya ambisi kepadanya, karena barangsiapa dunia menjadi agung baginya, maka ia mencintai pujian dan anti celaan. Tidak tertutup kemungkinan, sikap tersebut menyebabkannya meninggalkan banyak sekali kebenaran karena takut celaan dan mengerjakan banyak sekali kebatilan karena mengharapkan pujian. Jadi, barangsiapa pemuji dan pencelanya sama dalam kebenaran, maka itu menunjukkan runtuhnya kedudukan seluruh makhluk dari hatinya, hatinya penuh dengan cinta kepada kebenaran, dan ridha kepada Tuhannya, seperti dikatakan Ibnu Mas'ud, "Keyakinan ialah engkau tidak membuat senang manusia dengan kemurkaan Allah”. Allah memuji orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut celaan pencela.

Diriwayatkan redaksi lain tentang penafsiran zuhud di dunia dari generasi salaf dan semuanya terfokus pada ucapan-ucapan sebelumnya, seperti ucapan Al-Hasan, "Orang zuhud ialah orang yang jika melihat seseorang, ia berkata, 'Orang tersebut lebih baik dariku'“. Ini bertitik tolak pada definisi bahwa orang zuhud sejati ialah orang yang tidak memuji dirinya dan tidak pula mengagungkannya. Oleh karena itu, dikatakan, "Zuhud terhadap kekuasaan itu lebih berat daripada zuhud terhadap emas dan perak”. [21]) Jadi, barangsiapa menghilangkan dari hatinya ambisi kekuasaan di dunia dan perasaan lebih tinggi dari orang lain, sungguh ia orang zuhud sejati dan dialah orang yang pemuji dan pencelanya dalam kebenaran itu sama saja, seperti dikatakan Wahib bin Al-Ward, "Zuhud di dunia ialah engkau tidak putus asa atas sesuatu yang hilang dari dunia dan engkau tidak bersorak dengan dunia yang datang kepadamu”. [22]) Ibnu As-Sammak berkata, "Itulah orang zuhud yang luar biasa dalam zuhudnya”.

Ini berpulang pada bahwa kerugian dan kemajuan, peningkatan dan pengurangan dunia itu sama bagi seorang hamba. Itu sama seperti menyamakan musibah dengan tidak adanya musibah seperti telah dijelaskan sebelumnya.

Salah seorang ulama - kalau tidak salah Imam Ahmad - ditanya tentang orang yang mempunyai harta; apakah ia dikatakan orang zuhud? Ia menjawab, "Ya, jika ia tidak senang dengan penambahannya dan tidak sedih dengan pengurangannya”. Begitulah kurang lebihnya perkataan beliau.

Az-Zuhri pernah ditanya tentang orang zuhud kemudian ia berkata, "Orang zuhud ialah orang yang kesabarannya tidak dikalahkan oleh haram dan kesyukurannya tidak dikalahkan oleh halal”. [23]) Perkataan ini mirip dengan perkataan sebelumnya. Maknanya bahwa orang zuhud di dunia jika ditakdirkan kepada sesuatu yang haram dari dunia, ia bersabar dengan cara tidak mengambilnya dan jika ia mendapatkan halal dari dunia maka itu tidak melupakannya dari bersyukur, namun ia justru bersyukur kepada Allah atas sesuatu yang halal tersebut.

Ahmad bin Abu Al-Hawari berkata, "Aku pernah berkata kepada Sufyan bin Uyainah, 'Siapakah orang zuhud di dunia itu?' Sufyan bin Uyainah menjawab, 'Yaitu orang yang jika diberi nikmat maka ia bersyukur dan jika diuji maka ia bersabar'. Aku berkata, 'Wahai Abu Muhammad, orang tersebut diberi nikmat kemudian bersyukur dan diuji kemudian bersabar, serta menahan nikmat. Bagaimana ia menjadi orang zuhud?' Sufyan bin Uyainah menjawab, 'Diamlah. Orang yang tidak dihalangi oleh nikmat dari bersyukur dan tidak dirintangi musibah dari bersabar adalah orang zuhud”. [24])

Rabi'ah berkata, "Puncak zuhud ialah mengumpulkan segala hal dengan haknya dan meletakkannya di tempat semestinya”. [25])

Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Zuhud di dunia ialah pendek angan-angan bukan dengan makan makanan yang kering atau mengenakan sorban”.

Sufyan Ats-Tsauri juga berkata, doa salah seorang ulama ialah, "Ya Allah, jadikan kami zuhud di dunia, jadikan kami lapang di dalamnya, dan jangan Engkau jauhkan dunia dariku sehingga aku rindu kepadanya”.

Hal yang sama dikatakan Imam Ahmad, "Zuhud di dunia ialah pendek angan-angan”.

Di kesempatan lain, Imam Ahmad berkata, "Pendek angan-angan dan tidak mempunyai harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia”.

Pendek angan-angan membuat orang cinta bertemu Allah dengan keluar dari dunia sedang panjang angan-angan membuat seseorang cinta abadi di dunia. Barangsiapa pendek angan-angannya, ia tidak suka abadi di dunia. Inilah puncak zuhud di dunia dan berpaling darinya. Ibnu Uyainah berkata seperti itu dengan berhujjah kepada firman Allah Ta'ala,

"Katakan, ‘Jika negeri akhirat itu khusus untuk kalian di sisi Allah bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian jika kalian memang benar'. Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat tangan mereka dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang dzalim. Dan sungguh kamu pasti mendapati mereka manusia yang paling tamak kepada kehidupan, bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik; masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang sekali-kali tidak menjauhkannya dari siksa, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan'. (Al-Baqarah: 94-96).

Ibnu Abu Ad-Dunya meriwayatkan hadits dengan sanadnya dari Adh-Dhahhak bin Muzahim yang berkata,

"Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling zuhud?' Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Orang yang tidak lupa kuburan dan musibah, meninggalkan perhiasan dunia yang paling baik, mengutamakan sesuatu yang abadi atas sesuatu yang fana, tidak menganggap hari esok di antara hari-harinya, dan menganggap dirinya termasuk orang-orang yang mati”. (Hadits ini mursal). [26]

Banyak sekali generasi salaf membagi zuhud ke dalam beberapa bagian. Di antara mereka ada yang berkata, "Zuhud yang paling utama ialah zuhud terhadap syirik dan zuhud terhadap penyembahan sesuatu yang disembah selain Allah, kemudian zuhud terhadap hal-hal yang haram, kemudian zuhud terhadap halal yang merupakan jenis zuhud yang paling minim. Bagian pertama dan kedua zuhud tersebut adalah wajib, sedang zuhud bagian ketiga tidak wajib, karena kewajiban yang paling agung ialah zuhud terhadap syirik kemudian terhadap seluruh maksiat”.

Bakr Al-Muzani berdoa untuk saudara-saudaranya, "Semoga Allah membuat kami dan kalian menjadi zuhud seperti zuhudnya orang yang dikuasai haram dan dosa-dosa pada saat sendirian kemudian ia mengetahui bahwa Allah melihatnya lalu ia meninggalkan haram dan dosa-dosa tersebut”.

Ibnu Al-Mubarak berkata, Sallam bin Abu Muthi' berkata, "Zuhud terbagi ke dalam tiga bagian;

Pertama, mengikhlaskan perbuatan dan perkataan karena Allah Azza wa Jalla tanpa menginginkan sesuatu apa pun dari dunia dengannya.

Kedua, meninggalkan sesuatu yang tidak patut dikerjakan dan mengerjakan sesuatu yang patut dikerjakan.

Ketiga, zuhud terhadap hal-hal yang halal dan ini merupakan tindakan sukarela dan merupakan bagian zuhud terendah”. [27])

Perkataan Sallam bin Abu Muthi' mirip dengan perkataan sebelumnya, hanya saja, ia meletakkan peringkat zuhud pertama ialah zuhud terhadap riya' yang merupakan lawan ikhlas dalam perkataan dan perbuatan. Riya' adalah syirik kecil, membuat orang ingin dipuji di dunia, mencari kedudukan pada manusia, dan salah satu jenis cinta kedudukan dan jabatan di dunia.

Ibrahim bin Adham berkata, "Zuhud terbagi ke dalam tiga bagian. Pertama, zuhud wajib. Kedua, zuhud sunnah. Ketiga, zuhud keselamatan. Zuhud wajib ialah zuhud terhadap haram, zuhud sunnah ialah zuhud terhadap halal, dan zuhud keselamatan ialah zuhud terhadap perkara-perkara syubhat”. [28])

Para ulama berbeda pendapat apakah nama zuhud hanya khusus diberlakukan pada orang yang zuhud terhadap haram dan tidak zuhud terhadap hal-hal mubah ataukah tidak? Ada dua pendapat dalam masalah ini;

1.    Orang yang zuhud seperti itu berhak atas nama zuhud, sebagaimana telah diriwayatkan dari Az-Zuhri, Ibnu Uyainah, dan lain-lain.

2.    Orang yang berzuhud seperti itu tidak berhak atas nama zuhud jika ia tidak zuhud terhadap hal-hal mubah. Ini pendapat sejumlah orang-orang sufi dan lain-lain. [29]) Bahkan salah seorang dari mereka berkata, "Hari ini tidak ada zuhud karena ketiadaaan hal yang murni mubah”. Ini pendapat Yusuf bin Asbath dan lain-lain”. Ada catatan terhadap perkataan tersebut. Yunus bin Ubaid berkata, "Apa sih nilainya dunia hingga orang yang zuhud di dalamnya dipuji?"

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, "Para ulama di Irak berbeda pendapat tentang zuhud. Di antara mereka ada yang berkata bahwa zuhud ialah tidak bertemu manusia. Ada lagi di antara mereka yang berkata bahwa zuhud ialah meninggalkan syahwat. Ada lagi yang berkata bahwa zuhud ialah meninggalkan kekenyangan. Perkataah sebagian dari mereka mirip dengan perkataan sebagian lainnya”.

Abu Sulaiman Ad-Darani berkata lagi, "Aku berpendapat bahwa zuhud ialah meninggalkan sesuatu yang melupakanmu dari Allah Azza wa jalla". [30])

Apa yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darini baik sekali karena menghimpun semua makna zuhud dan jenis-jenisnya.

Ketahuilah bahwa kecaman kepada dunia di Al-Qur'an dan sunnah itu tidak tertuju kepada waktu dunia yang tidak lain adalah malam dan siang yang datang secara bergiliran sampai Hari Kiamat, karena Allah menjadikan keduanya datang silih berganti bagi orang yang ingin ingat atau bersyukur. Diriwayatkan dari Isa bin Maryam Alaihis-Salam yang bersabda, "Sesungguhnya malam dan siang adalah gudang, karenanya, perhatikan apa saja yang kalian letakkan di keduanya”.

Isa bin Maryam Alaihis-Salam juga berkata, "Berbuatlah pada malam hari untuk apa saja yang diciptakan untuknya dan berbuat pada siang hari untuk apa saja yang diciptakan untuknya”.

Mujahid berkata, "Hari tidak berjalan melainkan ia berkata, 'Hai anak keturunan Adam, perhatikan hari ini karena aku tidak kembali kepadamu setelah hari ini dan pikirkan apa yang engkau kerjakan pada hariku'. Jika hari telah berlalu, ia dilipat kemudian ditutup dan tidak dibuka hingga Allah sendiri yang membukanya pada Hari Kiamat. Malam tidak berjalan melainkan berkata yang sama". [31])

Salah seorang dari generasi salaf melantunkan syair,

"Sesungguhnya dunia adalah jalan ke surga dan neraka

Malam-malam adalah tempat bisnis manusia dan hari-hari adalah pasarnya”.

Kecaman kepada dunia juga tidak tertuju kepada tempat dunia yang tidak lain adalah bumi yang dijadikan Allah sebagai hamparan dan tempat tinggal. Kecaman kepada dunia juga tidak tertuju kepada apa saja yang ditempatkan Allah di dalamnya, yaitu gunung, laut, sungai, dan pertambangan. Kecaman kepada dunia juga tidak tertuju kepada apa saja yang ditanam Allah di dalamnya, yaitu pohon dan tanaman. Kecaman kepada dunia juga tidak tertuju kepada hewan-hewan dan lain sebagainya yang ada di dalamnya, karena itu semua nikmat-nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan mereka mendapatkan sejumlah manfaat darinya dan merupakan bahan perenungan tentang keesaan Penciptanya, kekuasaan-Nya, dan keagungan-Nya. Namun kecaman kepada dunia tertuju kepada perbuatan-perbuatan anak keturunan Adam yang terjadi di dunia, karena sebagian besar perbuatan mereka mempunyai dampak yang tidak terpuji, bahkan berdampak negatif atau melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti difirmankan Allah Azza wa Jalla,

"Ketahullah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak-anak". (Al-Hadid: 20).

Manusia di dunia terbagi ke dalam dua kelompok;

1.        Kelompok yang mengingkari bahwa manusia setelah dunia ini mempunyai negeri untuk pemberian pahala dan siksa. Mereka itulah yang dikatakan Allah Ta'ala,

"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami Mereka itu tempat mereka adalah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Yunus: 7-8).

Obsesi mereka adalah menikmati dunia dan memanfaatkan seluruh kelezatannya sebelum kematian, seperti difirmankan Allah Ta'ala,

"Dan orang-orang yang kafir itu bersenang-senang dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. (Muhammad: 12).

Di antara mereka ada yang menyuruh berzuhud di dunia karena ia berpendapat bahwa memperbanyak dunia membuat orang galau dan sedih. Ia berkata, "Jika ketergantungan kepada dunia semakin menguat, jiwa menjadi sedih jika berpisah dengannya ketika ia harus meninggal dunia”. Itulah puncak zuhud mereka di dunia.

2.      Kelompok yang mengakui adanya negeri setelah kematian untuk pemberian pahala dan siksa. Kelompok ini bergabung ke dalam syariat para rasul. Mereka terbagi ke dalam tiga kelompok;

Pertama, orang yang mendzalimi dirinya sendiri.

Kedua, orang pertengahan.

Ketiga, orang yang berlomba dalam kebaikan atas izin Allah.

Kelompok yang mendzalimi dirinya sendiri adalah kelompok terbanyak dan sebagian besar dari mereka berhenti di bunga-bunga dunia dan perhiasannya kemudian mengambilnya tidak dari jalannya dan menggunakannya tidak pada semestinya, akibatnya, dunia menjadi obsesi terbesarnya. Karena dunia, mereka marah, ridha, berdamai, dan memusuhi. Mereka itulah orang-orang yang lalai, main-main, orang-orang yang mementingkan penampilan, sombong, dan gila harta. Semua dari mereka tidak mengetahui tujuan hidup dan bahwa dunia adalah tempat perjalanan untuk berbekal dengannya untuk negeri sesudahnya yaitu negeri akhirat, kendati salah seorang dari mereka beriman kepadanya dengan keimanan global, namun ia tidak mengetahuinya secara rinci dan tidak merasakan apa yang dirasakan orang-orang yang kenal Allah di dunia yang merupakan teladan tentang apa yang mesti disimpan untuk akhirat.

Orang pertengahan ialah orang-orang yang mengambil dunia dari sumber-sumber yang diperbolehkan, menunaikan kewajiban-kewajibannya, menahan kelebihan-kelebihan dari yang diwajibkan untuk dirinya, dan juga menikmati syahwat dunia. Ada perbedaan pendapat tentang masuknya mereka ke dalam nama orang zuhud di dunia seperti disebutkan sebelumnya dan mereka tidak mendapatkan hukuman karenanya, hanya saja, derajat mereka di akhirat berkurang sesuai dengan kadar penikmatan mereka terhadap syahwat dunia. Ibnu Umar berkata, "Seorang hamba tidak mendapatkan sesuatu dari dunia melainkan sesuatu tersebut mengurangi derajatnya di sisi Allah, kendati ia dermawan dengannya”. (Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dengan sanad yang baik). [32] Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sanad yang ada catatan di dalamnya.

Imam Ahmad meriwayatkan hadits di Az-Zuhdu dengan sanadnya bahwa seseorang masuk menemui Muawiyah lalu Muawiyah memberinya pakaian lalu orang tersebut berjalan melewati Abu Mas'ud Al-Anshari dan salah seorang sahabat. Salah seorang dari kedua berkata kepada orang tersebut, "Ambillah pakaian ini dari kebaikan-kebaikanmu”. Orang satunya berkata, "Ambillah dari hal-hal baik milikmu”.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu yang berkata, "Jika kebaikan-kebaikanku tidak berkurang, aku pasti bergaul dengan kalian di kehidupan kalian yang enak, namun aku dengar Allah mengecam salah satu kaum dengan berfirman, 'Kalian telah menghabiskan rezki kalian yang baik di kehidupan duniawi kalian'. (Al-Ahqaaf: 20)”.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Jika engkau mau, silahkan anggap kecil dunia. Jika engkau mau, silahkan anggap besar dunia, sesungguhnya engkau mengambil sesuatu dari sakumu”.

Ini diperkuat dengan fakta bahwa Allah Azza wa jalla mengharamkan banyak hal dari kelebihan syahwat dunia, perhiasannya, dan gemerlapnya kepada hamba-hamba-Nya, karena mereka tidak membutuhkannya dan Allah menyimpannya di akhirat untuk mereka. Hal ini diisyaratkan Allah di firman-Nya,

"Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya. Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dan emas untuk mereka) dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (Az-Zukhruf: 33-35).

Diriwayatkan dengan shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa mengenakan sutra di dunia, ia tidak mengenakannya di akhirat”. [33])

Nabi Shallallahu Alailri wa Sallam juga bersabda,

"Barangsiapa minum minuman keras di dunia, tidak meminumnya di akhirat”. [34])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

'Janganlah kalian memakai sutra dan dibaj (sejenis sutra), jangan minum di tempat-tempat emas dan perak, dan jangan makan di piring-piringnya, karena itu semua bagi mereka di dunia dan bagi kalian di akhirat”. [35])

Wahb berkata, "Sesungguhnya Allah Azza wa jalla berfirman kepada Musa Alaihis Salam, 'Aku pasti melindungi wali-wali-Ku dari kenikmatan dunia dan kemakmurannya sebagaimana penggembala penyayang yang melindungi unta-unta dari tempat-tempat kotoran binatang. Itu tidak lain karena rendahnya mereka bagi-Ku. Namun hendaklah mereka menyempurnakan bagian mereka dari kemuliaan-Ku dalam keadaan selamat dan sempurna tanpa diganggu dunia'”.

Ini diperkuat hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari Qatadah bin An-Nu'man dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Dia melindunginya dari dunia sebagaimana salah seorang dari kalian selalu melindungi orang sakit dari air”. [36])

Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Hakim dengan redaksi,

"Sesungguhnya Allah pasti melindungi hamba-Nya dari dunia karena mencintainya sebagaimana kalian melindungi orang yang sakit dari makanan dan makanan karena mengkhawatirkan keselamatannya”.

Di Shahih Muslim [37]) disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Dunia adalah penjara orang Mukmin dan surga orang kafir'.

Adapun kelompok yang berlomba dalam kebaikan seizin Allah, mereka memahami tujuan dunia dan beramal sesuai dengan konsekwensinya. Mereka mengetahui bahwa Allah menempatkan hamba-hamba-Nya di dunia untuk menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya? Seperti yang Dia firmankan,

"Dan Dia yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa dan Arsy-Nya di atas air agar Dia menguji siapakah di antara kalian yang paling baik amalnya”. (Huud: 7).

Allah Ta'ala juga berfirman,

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian; siapa di antara kalian yang paling baik amalnya”. (Al-Mulk: 2).

Salah seorang generasi salaf berkata, "Maksudnya, siapa di antara mereka yang paling zuhud di dunia dan paling cinta akhirat? Allah menjadikan apa saja di dunia; kegembiraan dan kenikmatan, sebagai ujian untuk menguji siapa di antara mereka yang membela dunia, cenderung kepadanya, dan siapa orang yang tidak seperti itu, seperti difirmankan Allah Ta'ala, Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.' (Al-Kahfi: 7). Kemudian Allah menjelaskan bahwa dunia akan sirna pada suatu saat. Allah berfirman, 'Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus'. (Al-Kahfi: 8). Ketika mereka mengetahui hakikat kehidupan dunia, mereka menjadikan obsesi mereka mencari bekal untuk akhirat yang merupakan negeri abadi dan mengambil dunia sebatas seperti yang dibutuhkan seorang musafir untuk perjalanannya, seperti disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Apa urusanku dengan dunia. Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ialah seperti pengembara yang tidur siang di bawah naungan salah satu pohon; ia istirahat kemudian meninggalkannya". [38])

Sejumlah sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, di antaranya Salman, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Abu Dzar, dan Aisyah [39]), berpesan agar bekal seseorang dengan dunia ialah sebatas bekal pengembara. Ibnu Umar berpesan agar orang di dunia seperti orang asing atau pejalan kaki dan mengganggap dirinya termasuk penghuni kuburan. [40])

Orang-orang di kelompok ini (kelompok yang berlomba dalam kebaikan seizin Allah) terbagi ke dalam dua kelompok;

Pertama, kelompok yang hanya mengambil dunia sebatas yang menutup kerongkongan saja. Inilah kondisi kebanyakan orang-orang zuhud.

Kedua, kelompok yang terkadang mengizinkan dirinya makan sebagian syahwat yang diperbolehkan agar dirinya menjadi kuat dan giat beramal, seperti diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda,

"Di antara dunia kalian yang aku dibuat senang kepadanya ialah wanita dan parfum, dan penyejuk mataku dijadikan dalam shalat”. (Diriwayatkan Imam Ahmad dan An-Nasai dari Anas bin Malik). [41]

Imam Ahmad [42]) meriwayatkan hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, "Di antara dunia yang disukai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah wanita, parfum, dan makanan. Beliau telah mendapat wanita dan parfum, namun tidak mendapatkan makanan”.

Wahb berkata, "Di hikmah keluarga Nabi Daud Alaihis Salam tertulis, 'Orang berakal tidak pantas melalaikan empat hal; sesaat untuk mengevaluasi dirinya, sesaat untuk bermunajat kepada Tuhannya, sesaat untuk bertemu saudara-saudaranya yang menjelaskan aib dirinya dan membenarkannya tentang dirinya, dan sesaat untuk menyendiri antara dirinya dengan kelezatannya dalam hal-hal yang halal dan baik, karena di sesaat ini terdapat pembantu untuk saat-saat tersebut, kehidupan dan relaksasi untuk hati'“.

Jika orang Mukmin ketika melampiaskan syahwatnya yang mubah berniat untuk memperkuat diri untuk taat, maka syahwatnya adalah ketaatan baginya dan ia diberi pahala, seperti dikatakan Muadz bin Jabal, "Sungguh aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari shalatku”. Maksudnya, ia berniat dengan tidurnya untuk memperkuat dirinya hingga mampu melakukan qiyamul lail di akhir malam. Jadinya, ia mengharapkan pahala tidurnya sebagaimana ia mengharapkan pahala dari shalat malamnya.

Jika salah seorang dari generasi salaf makan sesuatu dari syahwatnya yang mubah, ia memberikannya kepada saudara-saudaranya, seperti diriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak bahwa jika ia menginginkan sesuatu, ia tidak memakannya hingga makanan tersebut juga diinginkan sebagian sahabat-sahabatnya kemudian ia makan bersama mereka. Begitu juga, jika ia menginginkan sesuatu, ia mengajak tamunya untuk makan bersamanya.

Disebutkan dari Al-Auzai yang berkata, "Tiga orang yang tidak ada hisabnya di makanan mereka; orang yang makan sahur, orang puasa hingga berbuka puasa, dan makanan tamu”.

Al-Hasan berkata, "Engkau tidak dikatakan cinta dunia jika engkau mencari sesuatu yang memperbaiki dirimu di dalamnya dan engkau tidak dikatakan zuhud di dunia jika engkau meninggalkan kebutuhan di mana kebutuhan tersebut ditutup dengan meninggalkannya. Barangsiapa cinta dunia dan senang kepadanya, maka takut kepada akhirat hilang dari hatinya”.

Said bin Jubair berkata, "Kenikmatan yang menipu ialah kenikmatan yang melalaikanmu dari mencari akhirat dan apa saja yang tidak melalaikanmu tidak dikatakan kenikmatan yang menipu, namun dikatakan kenikmatan yang mengantarkan kepada sesuatu yang lebih baik”.

Yahya bin Muadz Ar-Razi berkata, "Bagaimana aku tidak mencintai dunia yang di dalamnya aku diberi makanan untuk mendapatkan kehidupan, kemudian dengan kehidupan tersebut aku mendapatkan ketaatan, kemudian dengan ketaatan tersebut aku mendapatkan akhirat?"

Abu Shafwan Ar-Raini berkata, "Dunia apa yang dicela Allah di Al-Qur'an yang harus dijauhi orang berakal?" Kata Abu Shafwan Ar-Raini lebih lanjut, "Apa saja yang engkau dapatkan di dunia untuk mendapatkan dunia adalah tercela dan apa saja yang engkau dapatkan di dalamnya untuk mendapatkan akhirat adalah tidak tercela”.

Al-Hasan berkata, "Negeri terbaik ialah dunia bagi orang Mukmin karena ia beramal sedikit dan mengambil bekal darinya ke surga. Dan negeri terjelek ialah dunia bagi orang kafir dan orang munafik, karena ia menyia-nyiakan malam-malamnya dan mengambil bekal darinya ke neraka”.

Aifa' bin Abidin Al-Kalai berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

'Jika penghuni surga telah masuk surga dan penghuni neraka telah masuk neraka, Allah berfirman, 'Hai penghuni surga, berapa tahun kalian hidup di bumi?' Mereka berkata, 'Kami hidup satu hari atau setengah hari'. Allah berfirman, Sungguh baik apa yang kalian bisniskan di satu hari atau setengah hari tersebut, kalian mendapatkan Rahmat-Ku, keridhaan-Ku, dan surga-Ku. Tinggallah kalian di surga dengan kekal dan dikekalkan'. Kemudian Allah berfirman kepada para penghuni neraka, Berapa tahun kalian tinggal di bumi?' Mereka menjawab, Kami tinggal satu hari atau setengah hari'. Allah berfirman, Sungguh jelek apa yang kalian bisniskan di satu satu hari atau setengah hari tersebut; kalian mendapatkan kemurkaan-Ku, ketidakridhaan-Ku, dan neraka-Ku Tinggallah kalian di neraka dengan kekal dan dikekalkan". [43])

Al-Hakim [44]) meriwayatkan hadits dari Abdul Jabbar bin Wahb yang berkata, Sa'ad bin Thariq berkata kepada kami dari ayahnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Negeri dunia terbaik ialah bagi orang berbekal dengannya untuk akhirat hingga ia ridha kepada Tuhannya. Negeri dunia terjelek ialah bagi orang yang dihalang-halangi dari akhiratnya dan tidak mampu mencapai keridhaan Tuhannya. Jika seorang hamba berkata, Mudah-mudahan Allah menjelek-jelekkan dunia', maka dunia berkata, Mudah-mudahan Allah menjelek-jelekkan orang yang paling maksiat di antara kami kepada Tuhannya”.

Al-Hakim berkata, "Sanad hadits ini shahih”. Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Uqaili dan berkata, "Abdul Jabbar bin Wahb tidak dikenal dan haditsnya tidak kuat. Ucapan ini diriwayatkan pula dari perkataan Ali bin Abu Thalib”.

Perkataan Ali bin Abu Thalib yang diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya [45]) darinya dengan sanad yang terdapat catatan di dalamnya ialah bahwa Ali bin Abu Thalib mendengar seseorang mencela dunia kemudian ia berkata, "Sesungguhnya dunia adalah negeri kebenaran bagi orang yang membenarkannya, negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya, negeri kekayaan bagi orang yang berbekal dengannya, masjid orang-orang kecintaan Allah, tempat turun wahyu-Nya, tempat shalat para Malaikat-Nya, dan tempat bisnis para wali-Nya. Mereka mendapatkan rahmat di dalamnya dan mendapatkan keuntungan berupa surga. Barangsiapa mencela dunia, sungguh ia mengumumkan perpisahan dirinya dengan dunia, menyiarkan aibnya, mencela dirinya dan penghuninya, kemudian dunia menjelma menjadi petaka dengan petakanya dan merindukan dengan kesenangannya kepada kesenangan. Dunia dicela salah satu kaum pada saat hari penyesalan dan dipuji kaum yang lain. Dunia bercerita kepada mereka kemudian mereka membenarkan dan mengingatkan mereka kemudian mereka ingat. Hai orang yang tertipu oleh dunia dan terpedaya oleh jebakannya, kapan dunia menyerah kepadamu? Kapan dunia menipumu? Apakah di tempat pembaringan nenek moyangmu? Ataukah di tempat kematian para ibumu? Betapa seringnya dunia berbalik dengan kedua telapak tanganmu. Betapa seringnya dunia sakit dengan kedua tanganmu kemudian dunia meminta kesembuhan untuknya dan bertanya kepada para dokter untuknya, namun dunia tidak dapat memenuhi kebutuhanmu dan tidak mengabulkan permintaanmu. Dunia menjelmakan kematiannya untukmu dengan kematianmu esok hari. Ketika itulah, tangisan tidak bisa membelamu dan orang-orang kecintaanmu tidak bermanfaat bagimu”.

Di perkataan di atas, Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu menjelaskan bahwa dunia tidak bisa dicela secara mutlak, namun dunia dipuji bagi orang yang berbekal di dalamnya dengan amal-amal shalih. Di dalamnya terdapat masjid-masjid para nabi, tempat turunnya wahyu, dan tempat bisnis kaum Mukminin kemudian mereka mendapatkan rahmat di dalamnya dan mendapatkan keuntungan berupa surga. Jadi, dunia adalah negeri terbaik bagi orang yang sifatnya seperti itu. Adapun perkataan Ali bin Abu Thalib bahwa dunia menipu dan memperdaya, maka dunia menyeru dengan pelajaran-pelajarannya, menasihati dengan pesan-pesannya, dan memperlihatkan aib-aibnya karena apa yang ia lihat pada penghuninya, yaitu kebinasaan orang-orang yang binasa, pergantian kondisinya dari sehat ke sakit, remaja ke tua, kaya ke miskin, dan mulia ke hina, namun pecinta dunia dibuat tuli dan buta oleh cinta kepadanya. Ya, pecinta tidak mendengar seruannya, seperti dikatakan di syair,

"Sungguh dunia menyeru dengan dirinya

Seandainya di dunia ini ada orang yang mendengar

Betapa banyak orang yang percaya dengan umurnya, namun aku sirnakan dia

Betapa banyak pengumpul, namun aku cerai-beraikan apa yang ia kumpulkan”.

Yahya bin Muadz berkata, "Jika manusia mendengar suara ratapan terhadap dunia di alam ghaib dari mulut orang-orang yang telah meninggal dunia, hati mereka pasti jatuh berguguran karena sedih”. [46])

Salah seorang bijak berkata, "Dunia adalah perumpamaan-perumpamaan yang dibuat hari-hari untuk manusia dan ilmu zaman yang tidak membutuhkan penerjemah. Karena cinta dunia, pendengaran hati menjadi tuli dari pelajaran-pelajaran”.

Orang-orang zuhud terhadap kelebihan-kelebihan dunia terbagi ke dalam beberapa kelompok. Ada orang yang mendapatkannya kemudian menahannya dan mendekat dengannya kepada Allah, seperti yang terjadi di kebanyakan para sahabat dan lain-lain. Abu Sulaiman berkata, "Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua gudang dari gudang-gudang Allah di bumi. Keduanya berinfak dalam ketaatan kepada-Nya dan berinteraksi dengan Allah dengan hati”. [47])

Di antara mereka ada orang-orang yang mengeluarkan kelebihan dunia dari tangan mereka dan tidak menahannya. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok;

Pertama, orang-orang yang mengeluarkannya dengan sukarela.

Kedua, orang-orang yang mengeluarkannya tapi jiwa mereka menolak mengeluarkannya, tapi mereka melawan jiwa mereka hingga mampu mengeluarkannya.

Ada perbedaan pendapat mengenai siapa di antara keduanya yang paling baik. Ibnu As-Sammak dan Al-Junaid berkata, "Kelompok pertama lebih baik karena dirinya berada dalam tingkatan kedermawanan dan zuhud”. Ibnu Atha' berkata, "Kelompok kedua lebih baik karena mereka mempunyai amal dan perjuangan melawan dirinya sendiri”. Perkataan Imam Ahmad mendukung pendapat Ibnu Atha'.

Di antara mereka ada yang tidak mendapatkan sesuatu apa pun dari kelebihan-kelebihan dunia dan ia zuhud dalam mendapatkannya karena mampu mendapatkannya atau tidak. Kelompok pertama (kelompok yang mampu mendapatkannya) lebih baik. Oleh karena itu, banyak sekali generasi salaf berkata, "Umar bin Abdul Aziz lebih zuhud daripada Uwais dan lain-lain”. Ini yang dikatakan Abu Sulaiman" [48]) dan lain-lain.

Malik bin Dinar berkata, "Manusia berkata bahwa Malik adalah orang zuhud, padahal orang zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz". [49])

Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih baik antara mencari dunia untuk menyambung silaturahim dan memberikannya kepada dirinya atau orang yang meninggalkan dunia dan tidak mencarinya secara total? Sejumlah ulama, di antaranya Al-Hasan dan lain-lain, menguatkan pendapat yang meninggalkan dunia dan menjauhinya. Sejumlah ulama, di antaranya An-Nakhai dan lain-lain, menguatkan pendapat bahwa orang yang mencari dunia dari jalannya itu lebih baik. Hal yang sama diriwayatkan dari Al-Hasan.

Orang-orang zuhud di dunia dengan hati mereka mempunyai sejumlah penglihatan yang mereka saksikan. Di antara mereka ada yang menyaksikan banyaknya kelelahan dalam upaya mencapai penglihatan tersebut kemudian ia zuhud di dalamnya dengan maksud menghibur dirinya. Al-Hasan berkata, "Zuhud di dunia itu menghibur hati dan dunia''. [50])

Di antara mereka ada yang takut bagiannya berkurang di akhirat karena mengambil kelebihan-kelebihan dunia. Di antara mereka ada yang takut lamanya hisab terhadap dirinya. Salah seorang dari mereka [51]) berkata, "Barangsiapa meminta dunia, ia meminta lama dihisab (di akhirat)”.

Di antara mereka ada yang menyaksikan banyaknya aib dunia, kecepatan perubahan dan kepergiannya, dan kerumunan orang-orang hina dalam mencarinya, seperti dikatakan kepada salah seorang dari mereka, "Apa yang membuatmu zuhud di dunia?" Orang tersebut menjawab, "Yaitu minimnya ia menepati janji, kebusukannya yang banyak, dan kehinaan sekutu-sekutunya”.

Di antara mereka ada yang melihat kehinaan dunia di sisi Allah kemudian ia membencinya, seperti dikatakan Al-Fudhail bin Iyadh, "Jika dunia dan seisinya dipaparkan kepadaku dalam keadaan halal dan aku tidak dihisab dengannya di akhirat, maka aku membencinya sebagaimana orang membenci bangkai jika ia melewatinya dan ia khawatir bangkai tersebut mengenai bajunya”. [52])

Di antara mereka ada yang takut kalau dunia menyibukkannya dari mengadakan persiapan untuk akhirat dan mencari bekal untuknya. Al-Hasan berkata, "Jika salah seorang dari mereka menjalani hidupnya dalam keadaan sangat melarat dan di sampingnya terdapat harta halal kemudian dikatakan kepadanya, 'Kenapa engkau tidak datang kepada harta tersebut dan mengambilnya?' Ia pasti menjawab, 'Tidak, demi Allah. Aku takut datang kepada harta tersebut kemudian mendapatkannya, karena itu akan merusak hati dan amalku''. [53])

Harta dikirim kepada Umar bin Al-Munkadir kemudian ia menangis dengan tangisan keras. Ia berkata, "Aku takut dunia menguasai hatiku, akibatnya aku tidak mendapatkan bagian di akhirat. Itulah yang membuatku menangis”. Kemudian harta tersebut ia perintahkan disedekahkan kepada orang-orang miskin Madinah.

Orang-orang khos di antara mereka takut kalau dunia menyibukkannya dari Allah, seperti dikatakan Rabi'ah, "Aku tidak ingin mempunyai dunia yang halal sekali pun dari awal hingga akhir. Aku menginfakkanya di jalan Allah, karena dunia menyibukkanku dari Allah meski sekejap mata”.

Abu Sulaiman berkata, "Zuhud ialah meninggalkan apa saja yang menyibukkan dari Allah”. [54])

Abu Sulaiman juga berkata, "Apa saja yang menyibukkanmu dari Allah; baik itu keluarga, harta, dan anak, maka tercela”. [55])

Abu Sulaiman juga berkata, "Orang zuhud di dunia terbagi ke dalam dua kelompok; Pertama, orang yang zuhud di dunia kemudian aroma akhirat tidak dibuka untuknya di dunia. Kedua, orang yang jika zuhud di dunia, maka aroma akhirat dibuka baginya di dunia dan tidak ada sesuatu yang lebih ia sukai daripada abadi untuk taat kepada Allah”. [56])

Abu Sulaiman juga berkata, "Orang zuhud bukan orang yang mencampakkan duka-duka dunia dan istirahat darinya, namun orang zuhud ialah orang yang zuhud di dunia dan lelah di dalamnya untuk akhirat”. [57])

Jadi, zuhud di dunia ialah mengosongkan hati dari sibuk dengan dunia untuk berkonsentrasi mencari Allah, mengenal-Nya, mendekat kepada-Nya, damai dengan-Nya, dan rindu bertemu dengan-Nya. Kesemua hal tersebut bukan termasuk dunia seperti disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Di antara dunia kalian yang aku dibuat cinta kepadanya ialah wanita dan parfum, dan dijadikan sebagai penyejuk mataku adalah shalat”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menjadikan shalat yang beliau dibuat cinta kepadanya sebagai dunia. Begitu yang disebutkan di Al-Musnad dan An-Nasai. Saya kira di selain kedua buku tersebut disebutkan,

"Tiga hal dan dunia kalian yang aku dibuat cinta kepadanya”. [58])

Tapi di hadits tersebut, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memasukkan shalat sebagai dunia. Hal ini didukung hadits,

"Dunia terlaknat dan terlaknat apa saja yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa saja yang mendukungnya (dzikir), orang alim, dan orang yang belajar”. (Diriwayatkan Ibnu Majah dan At-Tirmidzi. At-Tirmidzi meng-hasankan hadits tersebut dari hadits Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam). [59]

Hadits semakna diriwayatkan dari jalur lain secara mursal dan muttashil (sanadnya tidak terputus).

Ath-Thabrani [60]) meriwayatkan hadits dari Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Dunia terlaknat dan terlaknat pula apa saja yang ada di dalamnya, kecuali sesuatu yang digunakan untuk mencari keridhaan Allah”.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya [61]) secara mauquf. Ia juga meriwayatkannya dari riwayat Syahr bin Hausyab dari Ubadah dan saya kira Ubadah berkata bahwa hadits tersebut dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Pada Hari Kiamat, dunia didatangkan kemudian dikatakan, 'Bedakan apa yang milik Allah di antara dunia dan lemparkan yang lainnya ke neraka”.

Jadi, dunia dan apa saja di dalamnya adalah terlaknat, maksudnya dijauhkan dari Allah, karena menyibukkan manusia dari Allah, kecuali ilmu yang bermanfaat yang menunjukkan kepada Allah, kenal dengan-Nya, mencari kedekatan dengan-Nya dan keridhaan-Nya, juga dzikir kepada Allah dan apa saja yang mendukungnya dari apa saja yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Itulah tujuan dunia, karena Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya hanya untuk bertakwa dan taat kepada-Nya. Itu semua menghendaki seorang hamba selalu dzikir kepada Allah, seperti dikatakan Ibnu Mas'ud, "Takwa kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya ialah agar Allah diingat dan tidak dilupakan”. [62]) Allah mensyariatkan shalat untuk dzikir kepada-Nya. Begitu juga haji dan thawaf. Ahli ibadah yang paling utama ialah orang yang paling banyak dzikir kepada Allah dalam ibadahnya. Jadi, ini semua (dzikir, shalat, dll) tidak termasuk dunia yang tercela, karena itulah tujuan penciptaan dunia dan manusia, seperti difirmankan Allah Ta’ala,

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (Adz-Dzaariyat: 56).

Sebagian fuqaha' dan orang-orang sufi menduga bahwa seluruh ibadah yang ada di bumi lebih baik daripada kenikmatan yang ada di surga. Mereka berkata, "Karena kenikmatan surga adalah jatah hamba sedang ibadah-ibadah di dunia adalah hak Allah. Dan hak Allah itu lebih baik daripada jatah hamba”. Ini rancu dan kerancuan mereka diperkuat ucapan banyak mufassir tentang firman Allah Ta'ala, "Barangsiapa membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik dari padanya”. (An-Naml: 89). Mereka berkata, "Kebaikan tersebut ialah kalimat laa ilaaha illallah dan tidak ada sesuatu apa pun yang lebih baik daripada kalimat tersebut”. Namun susunan kalimat di ayat tersebut mengalami taqdim (dimajukan) dan ta’khir (diakhirkan). Jadi, maksud ayat tersebut, maka baginya kebaikan. Makna yang lengkap lagi, ia mendapatkan kebaikan karenanya.

Pendapat yang benar ialah apa yang dikatakan Al-Qur'an dan sunnah bahwa akhirat lebih baik daripada dunia secara mutlak. Di Shahih Al-Hakim [63]) disebutkan hadits dari Al-Mustaurid bin Syaddad yang berkata, "Kami sedang berada di tempat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian mereka (kami) ngobrol tentang dunia dan akhirat. Sebagian dari mereka berkata, 'Dunia adalah pengantar ke akhirat. Di dalamnya terdapat amal, shalat, dan zakat'. Sebagian yang lain berkata, 'Di akhirat terdapat surga'. Mereka berkata terus sesuai dengan kehendak Allah kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidaklah dunia di akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian berjalan ke laut kemudian memasukkan jari-jarinya ke laut. Apa yang keluar dari jari-jarinya itulah dunia'“. Hadits ini secara transparan menegaskan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia beserta isinya.

Penjelasannya bahwa kesempurnaan dunia terletak pada ilmu dan amal. Ilmu yang merupakan tujuan amal menjadi berlipat ganda di akhirat dengan sesuatu yang tidak ada di dunia. Akar ilmu ialah ilmu tentang Allah, Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya. Di akhirat, tutup menjadi terbuka, cerita-cerita menjadi fakta yang bisa dilihat, ilmu yakin menjadi fakta konkrit, dan pengenalan (ma'rifat) kepada Allah menjadi penglihatan langsung kepada-Nya. Mana mungkin itu semua bisa dibandingkan dengan sesuatu yang ada di dunia?

Adapun amal-amal tubuh, maka di dunia mempunyai dua tujuan; Pertama, menyibukkan organ tubuh dengan ketaatan dan membuatnya serius dengan ibadah. Kedua, menyatukan hati dengan Allah dan menyinarinya dengan dzikir kepada-Nya.

Tujuan pertama dihapus dari para penghuni surga. Oleh karena itu, diriwayatkan bahwa ketika mereka ingin sujud untuk Allah pada saat Dia menampakkan diri kepada mereka, dikatakan kepada mereka, "Angkat kepala kalian karena kalian tidak lagi di negeri perjuangan”.

Sedang tujuan kedua, maka tetap terjadi pada penghuni surga dalam bentuk yang lebih sempurna dan paripurna. Selain itu, apa saja yang tadinya terjadi di hati selama di dunia, misalnya sentuhan-sentuhan kedekatan, kedamaian, dan keterkaitan hati dengan Allah menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan apa yang mereka saksikan di akhirat dengan kasat mata, karena ketika itu hati, mata, dan telinga mereka berada dalam kenikmatan karena berdekatan dengan Allah, melihat-Nya, dan mendengar firman-Nya, terutama pada waktu-waktu shalat versi dunia, misalnya shalat Jum'at dan shalat Hari Raya. Orang-orang yang didekatkan kepada Allah di antara mereka ada yang mendapatkan hal-hal tersebut dua kali dalam setiap hari; pagi dan petang di waktu shalat Shubuh dan shalat Ashar (versi dunia). Oleh karena itu, setelah menyebutkan bahwa penghuni surga melihat Tuhan mereka [64]), Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menganjurkan kaum Muslimin menjaga shalat Ashar dan shalat Shubuh, karena kedua waktu shalat tersebut adalah waktu bagi orang-orang khos (khusus) di antara penghuni surga untuk melihat Tuhan mereka dan berkunjung kepada-Nya. Begitu juga dzikir dan membaca Al-Qur'an, maka tetap berlangsung pada penghuni surga, karena mereka diberi ilham untuk bertasbih sebagaimana mereka diberi ilham untuk bernafas. Ibnu Uyainah berkata, "Kalimat laa ilaaha illalah bagi penghuni surga adalah seperti air segar untuk penghuni dunia. Bagaimana mungkin dzikir orang-orang arif di dunia bisa dibandingkan dengan kelezatan penghuni surga dengan kalimat tersebut di surga?"

Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa firman Allah Ta’ala, "Barangsiapa membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik daripadanya”. (An-Naml: 89) itu sesuai dengan substantifnya, karena pahala kalimat tauhid di dunia mengantarkan pengucapnya untuk mengatakannya di surga dalam bentuk yang dikhususkan bagi penghuni surga.

Kesimpulannya, detail ilmu tentang Allah, Nama-nama-Nya, Sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, kedekatan-Nya, penglihatan-Nya, dan kelezatan dzikir kepada-Nya yang terjadi pada penghuni surga merupakan sesuatu yang hakikatnya tidak mungkin bisa diungkap di dunia, karena penghuninya belum mendapatkannya dalam bentuk aslinya, bahkan hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di benak manusia. Kepada Allah kita meminta agar Dia tidak mengharamkan kita terhadap kebaikan di sisi-Nya karena keburukan yang ada pada kita sesuai dengan kemuliaan dan rahmat-Nya, amiin.

Kita kembali kepada syarah hadits, "Dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya engkau dicintai manusia”. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala mencintai orang-orang yang zuhud di dunia. Salah seorang dari generasi salaf berkata, "Para Hawariyun berkata kepada Nabi Isa Alaihis-Salam, 'Wahai ruh Allah, ajarkan kepada kami satu perbuatan yang membuat kami dicintai Allah Azza wa jalla'. Nabi Isa Alaihis Salam menjawab, 'Bencilah dunia, niscaya Allah Azza wa Jalla mencintai kalian'“.

Allah Ta'ala mencela orang-orang yang mencintai dunia dan mengutamakannya daripada akhirat, seperti yang Dia firmankan,

'Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kalian mencintai kehidupan dunia. Dan meninggalkan akhirat”. (Al-Qiyamah: 20-21).

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan kalian mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan”. (Al-Fajr: 20).

Allah Ta'ala berfirman,

"Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cinta kepada harta”. (Al-Adiyaat: 8).

Jika Allah Ta'ala mencela orang-orang yang mencintai dunia, maka itu menunjukkan bahwa Dia memuji orang-orang yang tidak mencintai dunia, menolaknya, dan meninggalkannya.

Di Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan hadits dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa mencintai dunia, ia merugikan akhiratnya. Barangsiapa mencintai akhiratnya, ia merugikan dunianya kemudian ia mengutamakan sesuatu yang abadi daripada sesuatu yang fana”. [65])

Di Al-Musnad dan Sunan Ibnu Majah disebutkan hadits dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinannya di kedua matanya, dan dunia tidak datang kepadanya kecuali yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa akhirat menjadi niatnya, maka Allah menyatukan urusannya, menjadikan kekayaannya di hatinya, dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk”. [66])

Hadits semakna diriwayatkan At-Tirmidzi [67]) dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Salah seorang sahabat, Jundab bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, berkata, "Cinta dunia adalah induk segala kesalahan”. Perkataan tersebut juga diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan juga diriwayatkan dari Al-Hasan secara mursal. [68])

Al-Hasan berkata, "Barangsiapa cinta dunia dan senang kepadanya, maka cinta akhirat keluar dari hatinya”. [69])

Aun bin Abdullah berkata, "Dunia dan akhirat di hati adalah seperti dua piringan timbangan; jika salah satu piringannya lebih berat, maka piringan satunya menjadi ringan”. [70])

Wahb berkata, "Dunia dan akhirat ibarat seorang laki-laki yang mempunyai dua istri; jika ia ridha kepada salah satu istrinya, ia marah kepada istri satunya". [71])

Jadi, zuhud adalah simbol para Nabi Allah, wali-wali-Nya, dan orang-orang kecintaan-Nya. Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhu berkata, "Betapa jauhnya petunjuk kalian dari petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau orang yang paling zuhud di dunia, sedang kalian manusia paling cinta dunia”. (Diriwayatkan Imam Ahmad). [72]

Ibnu Mas'ud Radluyallahu Anhu berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Kalian lebih banyak puasa, shalat, dan jihad daripada sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun mereka lebih baik daripada kalian”. Sahabat-sahabat Ibnu Mas'ud berkata, "Kenapa begitu?" Ibnu Mas'ud berkata, "Mereka lebih zuhud di dunia dan lebih cinta akhirat daripada kalian”. [73])

Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu berkata, "Jika kalian bersumpah kepadaku tentang seseorang bahwa ia orang paling zuhud di antara kalian, maka aku bersumpah untuk kalian bahwa orang tersebut merupakan orang paling baik di antara kalian'.

Diriwayatkan dari Al-Hasan yang berkata, orang-orang berkata,

"Wahai Rasulullah, siapa yang paling baik di antara kita?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Yaitu orang di antara kalian yang paling zuhud di dunia dan paling cinta akhirat”. [74])

Perkataan tentang tema ini sangat banyak dan apa yang saya sebutkan sudah cukup, Insya Allah.

Wasiat kedua di hadits bab di atas ialah zuhud terhadap apa saja yang ada di tangan manusia. Zuhud seperti ini membuat orang dicintai manusia. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau berwasiat kepada seseorang dengan bersabda kepadanya,

"Berputus asalah terhadap apa saja yang ada di tangan manusia, niscaya engkau menjadi orang kaya”. (Diriwayatkan Ath-Thabrani dan lain-lain). [75]

Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

'Kemuliaan orang Mukmin ialah qiyamul lailnya dan kehormatannya ialah ketidak-butuhannya kepada manusia”. [76])

Al-Hasan berkata, "Engkau selalu menjadi mulia di mata manusia atau manusia senantiasa memuliakanmu jika engkau tidak mengambil apa yang ada di tangan manusia. Jika engkau mengambil apa yang ada di tangan manusia, mereka meremehkanmu, membenci perkataanmu, dan benci kepadamu”. [77])

Ayyub As-Sikhtiyani berkata, "Orang tidak mulia hingga mempunyai dua sifat; tidak meminta apa yang ada di tangan manusia dan memaafkan kesalahan mereka”. [78])

Umar berkata dalam khutbahnya di atas mimbar, "Sesungguhnya tamak adalah kemiskinan dan putus asa adalah kekayaan. Jika seseorang putus asa dari sesuatu, ia tidak membutuhkannya”. [79])

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam bertemu Ka'ab di rumah Umar bin Khaththab kemudian Abdullah bin Salam berkata, "Hai Ka'ab, siapakah orang-orang berilmu?" Ka'ab berkata, "Orang-orang yang mengamalkannya”. Abdullah bin Salam berkata, "Apa yang menyebabkan hilangnya ilmu dari hati para ulama, padahal mereka telah menghapal dan memahaminya?" Ka'ab menjawab, "Ilmu menjadi hilang oleh tamak, kerakusan jiwa, dan engkau meminta kebutuhan kepada manusia”. Abdullah bin Salam berkata, "Engkau berkata benar”. [80])

Banyak sekali hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallarn yang memerintahkan menahan diri dari meminta-minta kepada manusia dan merasa tidak membutuhkan mereka. Jadi, barangsiapa meminta sesuatu yang ada di tangan manusia, maka mereka membencinya dan tidak menyukainya, karena harta itu disukai manusia, karenanya, barangsiapa meminta apa yang mereka sukai, maka mereka membencinya.

Sedang orang yang memberi apa yang diminta peminta dan berpenclapat bahwa jika ia memberikan seluruh hartanya kepada peminta, maka ia belum berbuat maksimal kendati ia telah memberi apa yang diminta peminta dan peminta menampilkan hina kepadanya, atau ia berkata kepada keluarganya, "Pakaian kalian dikenakan orang lain itu lebih baik bagi kalian daripada kalian yang mengenakannya dan kendaraan kalian dinaiki orang lain itu lebih daripada kalian sendiri yang menaikinya," maka itu semua langka sekali terjadi pada manusia dan lembaran sejarah sudah tertutup serta tidak lagi menulis kisah seperti itu sejak berabad-abad yang silam.

Adapun orang yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia dan menahan diri dari meminta mereka, maka mereka akan mencintai dan memuliakannya. Karenanya, ia menjadi mulia di atas mereka, seperti dikatakan orang Arab Badui kepada penduduk Basrah, "Siapa orang yang mulia di desa ini?" Penduduk Basrah menjawab, "Al-Hasan”. Orang Arab Badui tersebut bertanya, "Kenapa ia mulia atas penduduk Basrah?" Penduduk Basrah menjawab, "Manusia membutuhkan ilmunya sedang ia tidak membutuhkan dunia mereka”.

Sungguh indah apa yang dikatakan salah seorang dari generasi salaf yang berkata tentang sifat dunia dan penghuninya,

"Dunia tidak lain adalah bangkai yang berubah,

Yang dikerumuni anjing-anjing dan mereka ingin menyeretnya

jika engkau menjauhi bangkai tersebut, engkau memberi kedamaian bagi pemiliknya

Jika engkau menariknya, engkau bersaing dengan anjing-anjingnya”.

 



[1] Diriwayatkan Ibnu Majah hadits nomer 4102, Ibnu Hibban di Raudhatul Uqala’ hal. 141, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 5972. Al-Qudhai di Musnad Asy-Syihab hadits nomer 643. Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/252-253. 7/136, di Tarikhu Ashbahan 2/244-245. Ibnu Adi di Al-Kamil 3/902, Al-Uqaili di Adh-Dhu'afa' 2/11, dan Al-Hakim 4/313 dari jalur Khalid bin Amr Al-Qurasyi dari Sufyan Ats-Tsauri dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa'ad.

Al-Bushairi berkata di Zawaaidu Ibnu Majah hal. 258, Sanad hadits ini dhaif. Tentang Khalid bin Amr, Imam Ahmad dan Ibnu Main berkata, 'Hadits-haditsnya palsu'. Al-Bukhari dan Abu Zur'ah berkata, 'Haditsnya munkar'. Ibnu Hibban berkata, 'Ia sendirian meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perawi tepercaya. Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah'. Kemudian ia lalai, karena menyebutkan Khalid bin Amr di Ats-Tsiqaat. Khalid bin Amr dianggap sebagai perawi dhaif oleh Abu Daud dan An-Nasai. Ibnu Adi berkata. 'Sebagian besar hadits-haditsnya atau semuanya palsu'. Al-Hakim berkata, 'Hadits ini sanadnya shahih', namun itu ditentang Adz-Dzahabi yang berkata. 'Khalid bin Amr itu pemalsu hadits'“.

[2] Di Adh-Dhu’afa' 2/11. Saya katakan, Muhammad bin Katsir Ash-Shan'ani banyak kekeliruannya, jadi, mutabaah yang ada tidaklah menggembirakan.

[3] Persetujuan kedua orang tersebut juga tidak menguatkan hadits di atas, karena tentang Abu Qatadah yang nama aslinya Abdullah bin Waqid, Al-Bukhari berkata, "Para ulama tidak menggubrisnya, karena haditsnya munkar”. Di tempat lain, Al-Bukhari berkata, "Mereka tidak berkomentar apa-apa tentang dia”.

[4] Di Al-‘Ilal 2/107.

[5] Hal. 197 hadits nomer 131.

[6] Di Al-Kamil 3/902.

[7] Zafir banyak kesalahannya sedang tentang Muhammad bin Uyainah, Abu Hatim berkata, ”Ia tidak bisa dijadikan hujjah karena meriwayatkan hadits-hadits munkar”. Dan Mihran bin Abu Umar Ar-Razi hapalan haditsnya jelek.

[8] Para perawinya adalah para perawi tepercaya, namun mursal. Baca Musnad Ibrahim bin Adham hal. 29-30.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/41 dari jalur Abu Ahmad Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al-Hamdani yang berkata, Abu Hafsh Umar bin Ibrahim Al-Mustamili berkata kepadaku, Abu Ubaidah bin Abu As-Safar berkata kepadaku, Al-Hasan bin Ar-Rabi' berkata kepadaku, Al-Mufadhdhal bin Yunus berkata kepadaku, Ibrahim bin Adham berkata kepadaku dari Manshur dari Mujahid dari Anas bin Malik bahwa seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, "Tunjukkan kepadaku perbuatan yang jika aku kerjakan maka aku dicintai Allah Azza wa Jalla dan dicintai manusia”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang tersebut, "Zuhudlah di dunia niscaya engkau dicintai Allah. Sedang manusia, maka lemparkan ini kepada mereka niscaya mereka mencintaimu”. Abu Nu'aim berkata, "Penyebutan Anas bin Malik di hadits ini adalah kekeliruan dari Umar atau Abu Ahmad, karena hadits tersebut diriwayatkan para perawi tepercaya dari Al-Hasan bin Ar-Rabi' tanpa melewati Mujahid”. Abu Nu'aim juga meriwayatkan hadits tersebut dari jalur Ahmad bin Ibrahim Ad-Dauruqi yang berkata, Al-Hasan bin Ar-Rabi' berkata kepadaku dengan sanad ini dari Mujahid secara mursal.

[9] Hadits nomer 2957.

[10] Shahih Muslim hadits nomer 2858. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer4330.

[11] Hadits shahih diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2320 dan Ibnu Majah hadits nomer 4110. Di sanad keduanya terdapat perawi Abdul Hamid bin Sulaiman Al-Khuzai yang kendati perawi dhaif, namun haditsnya tetap ditulis untuk mutabaah, hadits ini juga mempunyai penguat, yaitu hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan Al-Bazzar hadits nomer 3693 dan Al-Qudhai di Musnad-nya hadits nomer 1440. Di sanadnya terdapat perawi Shalih mantan budak At-Tauamah yang kacau. Hadits tersebut juga mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Ibnu Umar yang diriwayatkan Al-Qudhai hadits nomer 1439 dan Al-Khathib 4/92. Hadits penguat ketiga, yaitu hadits yang diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 509 dari Ismail bin Ayyasy bahwa, Utsman bin Ubaidillah bin Rafi' berkata kepadaku bahwa beberapa orang dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "….”. Utsman bin Ubaidillah bin Rafi' menyebutkan hadits di atas. Riwayat Ismail bin Ayyasy dari perawi luar daerahnya adalah dhaif dan hadits ini termasuk salah satunya. Hadits penguat keempat ialah hadits Al-Hasan yang mursal di Az-Zuhdu Ibnu Al-Mubarak hadits nomer 620.

[12] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2340 dan Ibnu Majah hadits nomer 4100.

[13] Hal. 81.

[14] Al-Hilyah 3/232.

[15] Diriwayatkan darinya oleh Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Yaqin hal. 117 dan di sanadnya terdapat orang tidak dikenal.

[16] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Yaqin hal. 118 dari jalur Al-Auzai dari Al-Ala' bin Utbah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "…" Sanad hadits tersebut dhaif karena terputus.

[17] Di Al-Yaqin, Ibnu Abu Ad-Dunya, hal. 112.

[18] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya, hal. 108 darinya dan para perawinya adalah para perawi tepercaya.

[19] Penggalan dari hadits panjang yang diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/218-219, Al-Qudhai di Musnad Asy-Syihab hadits nomer 367, 368, dan Al-Hakim 4/269-270. Al-Hakim berkata, "Tentang hadits ini, Hisyam bin Ziyad Al-Mishri dan Mushadif bin Ziyad Al-Madini sepakat bahwa hadits ini berasal dari riwayat Muhammad bin Ka'ab Al-Quradhi, wallahu a'lam”. Hal ini ditentang Adz-Dzahabi yang berkata”. Hisyam itu matruk dan Muhammad bin Muawiyah dianggap perawi pendusta oleh Ad-Daruquthni, jadi hadits tersebut batil”.

Hadits tersebut disebutkan Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul Ihya' 4/244 dan mengatakan bahwa hadits tersebut diriwayatkan Al-Hakim dan Al-Baihaqi di Az-Zuhdu, namun Al-Hafidz Al-Iraqi menganggap sanadnya dhaif.

[20] Hadits hasan diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3502. At-Tirmidzi berkata, "Hasan gharib”. Hadits tersebut juga diriwayatkan An-Nasai di Amalul Yaumi wal Lailah hadits nomer 401 dan dishahihkan Al-Hakim 1/528 dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[21] Ucapan yang sama diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/238 dari Yusuf bin Ashbath.

[22] Al-Hilyah 8/140.

[23] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 7/287 dengan redaksi, "Orang zuhud ialah orang yang tidak lupa untuk bersyukur dari yang halal dan bersabar dari yang haram”.

[24] Al-Hilyah 2/273.

[25] Ibid. 3/259.

[26] Hadits di atas juga diriwayatkan Ibnu Abu Syaibah di Al-Mushannaf 13/223.

[27] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 6/188.

[28] Ibid., 8/26 dan 10/137.

[29] Baca Al-Hilyah 8/238.

[30] Ibid., 9/258.

[31] Diriwayatkan Abu Nu'aim, Ibid., 3/292.

[32] Itulah yang dikatakan Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 6/163 bahwa hadits tersebut diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dan ia menganggap baik sanadnya. Ia berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan dari Aisyah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam namun yang benar hadits tersebut mauquf”.

Saya katakan, hadits tersebut juga diriwayatkan secara mauquf oleh Ibnu Abu Syaibah di Al-Mushannaf 13/323, Hannad bin As-Siri di Az-Zuhdu hadits nomer 557, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/306.

[33] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 5832 dan Muslim hadits nomer 2073. Dari Ibnu Az-Zubair, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 5833 dan Muslim hadits nomer 2069.

[34] Diriwayatkan Imam Malik 2/846, Al-Bukhari hadits nomer 5575, dan Muslim hadits nomer 2003 dari Ibnu Umar. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5366.

[35] Dari Hudzaifah, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nower 5426, Muslim hadits nomer 2067, Abu Daud hadits nomer 3723, At-Tirmidzi hadits nomer 1878, An-Nasai 8/198, dan Ibnu Majah hadits nomer 3414. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5339.

[36] Hadits shahih diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2036 dan ia menghasankannya. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 669. Takhrijnya secara lengkap, silahkan baca buku tersebut.

[37] Ini kesalahan tulis dari Ibnu Rajab karena Muslim meriwayatkan hadits tersebut dari Abu Hurairah hadits nomer 2956. Hadits tersebut juga ada di Al-Musnad 2/323, 485 dan Ibnu Majah hadits nomer 4113. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 687 dan 688. Hadits Abdullah bin Amr ada di Al-Musnad 2/197, Al-Hilyah Abu Nu'aim 8/177, 185, dan Al-Mustadrak Al-Hakim 4/315.

[38] Dari Ibnu Mas'ud, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 1/391. At-Tirmidzi hadits nomer 2377, dan Al-Hakim 4/310. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih”.

Dari Ibnu Abbas, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 1/301 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 11898. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6352 dan Al-Hakim 4/310.

[39] Dari Salman, hadits tersebut diriwayatkan Abdurrazzaq hadits nomer 20632, Imam Ahmad 5/438, Ibnu Hibban hadits nomer 4104, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 6069, 6160, 6182, Al-Qudhai di Musnad Asy-Syihab hadits nomer 728, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/195, 196, 197. Hadits tersebut diriwayatkan Al-Hakim 4/417 dengan disetujui Adz-Dzahabi dan Ibnu Hibban hadits nomer 706.

Dari Khabab bin Al-Arat, hadits tersebut diriwayatkan Ibnu Abu Syaibah 13/219, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 3695, Abu Ya'la hadits nomer 7214, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/360. Hadits tersebut juga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/253-254. Ia berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan Abu Ya'la dan Ath-Thabrani. Para perawinya adalah perawi Bukhari kecuali Yahya bin Ja'dah yang merupakan perawi tepercaya”. Hadits tersebut juga disebutkan Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 4/222-223 dari riwayat Ath-Thabrani dan Abu Ya’la. Ia menganggap baik sanadnya.

[40] Diriwayatkan Imam Ahmad dengan redaksi seperti itu 2/24, 41 dan Ibnu Majah hadits nomer 4114 dari banyak jalur dari Laits bin Abu Sulaim yang merupakan perawi dhaif dari Mujahid dari Ibnu Umar.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6416 dari jalur Sulaiman Al-A'masy dari Mujahid dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau perantau”. Ibnu Umar berkata, "Jika engkau berada di sore hari, engkau jangan menunggu esok hari. Dan jika engkau berada di esok hari, engkau jangan menunggu sore hari. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan hidupmu sebelum kematianmu”. Hadits ini dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 698 dari jalur tersebut.

[41] Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad 3/128, 199, 285 dan An-Nasai 7/61, 62. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 2/160 dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[42] Di Al-Musnad 6/72. Di sanadnya terdapat perawi yang tidak disebutkan dan hadits tersebut dhaif.

[43] Diriwayatkan Ibnu Abu Hatim seperti terlihat di Tafsir Ibnu Katsir dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 5/132. Hadits tersebut mursal seperti dikatakan Abu Nu'aim.

[44] Di Al-Mustadrak 4/312. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ar-Ramahurmuzi di Al-Imtsaal hal. 58, 147, Ibnu Adi di Al-Kamil 3/1099, dan Al-Uqaili di Adh-Dhuafa' 3/89. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim namun ditolak Adz-Dzahabi yang berkata, "Tidak, namun hadits tersebut munkar, karena Abdul Jabbar tidak dikenal”. Hadits tersebut juga dianggap dhaif oleh Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul Ihya' 4/19.

[45] Di Dzammud Dunya hadits nomer 147 dari Ali bin Al-Husain bin Abu Maryam dari Abdullah bin Shalih Al-Ajli dari Muadz Al-Hidza' yang berkata, "Ali bin Abu Thalib mendengar seseorang mencela dunia kemudian ia berkata kepada orang tersebut, '....'“.

[46] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 10/56.

[47] Al-Hilyah 9/262.

[48] Baca Al-Hilyah 9/272.

[49] Ibid. 5/257.

[50] Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 10 dari Thawus secara mursal.

[51] Ia adalah Bisyr bin Al-Harits seperti terlihat di Al-Hilyah 8/337.

[52] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/89.

[53] Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 260 dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 6/269.

[54] Al-Hilyah 9/258.

[55] Ibid. 9/264

[56] Al-Hilyah 9/274.

[57] Ibid. 9/273.

[58] Teks di atas ganjil dan justru merusak makna, karena shalat bukan termasuk urusan penghuni dunia yang disandarkan kepada dunia. Selain itu, hal tersebut tidak disebutkan di salah satu hadits di jalur yang ada. Hal ini dikatakan Ibnu Al-Qayyim, Al-Iraqi, Ibnu Hajar, dan As-Sakhawi. Baca Zaadul Ma’ad 1/151, Talkhishul Habir 3/116, dan Al-Maqashid Al-Hasanah hal. 180.

[59] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2322 dan Ibnu Majah hadits nomer 4112. Sanadnya hasan seperti dikatakan At-Tirmidzi.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Hanifah di Jamiul Masaanid 2/72 dari hadits Ummu Hani'.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/157, 7/90 dari hadits Jabir.

[60] Di Al-Kabir seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/222. Al-Haitsami berkata”. Di sanadnya terdapat perawi Khidasy bin Al-Muhajir dan aku tidak kenal dengannya”. Itu yang dikatakan Al-Haitsami, padahal biografinya ditulis Ibnu Abu Hatim di Al-Jarhu wat Ta'dil 3/391. Ibnu Abu Hatim berkata, "Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang dia kemudian ayahku berkata, ‘Ia guru yang tidak diketahui identitasnya dan saya pikir haditsnya shahih”. Ia disebutkan Al-Azdi di Adh-Dhu’afa' seperti terlihat di Al-Lisan 2/394

[61] Di Dzammud Dunya hadits nomer 6.

[62] Hadits shahih dari Ibnu Mas'ud. Hadits tersebut secara lengkap ialah, ”Agar Allah ditaati dan tidak dimaksiati, diingat dan tidak dilupakan, dan disyukuri dan tidak diingkari”.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari di Jami’ul Bayan hadits nomer 7536-7543 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 8501, 8502. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 2/294 dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[63] 4/319. Al-Hakim menshahihkan hadits di atas dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[64] Hadits tentang penglihatan penghuni surga kepada Allah diriwayatkan banyak sekali sahabat. Dari Abu Sa'id Al-Khudri, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 7439 dan Muslim hadits nomer 183. Dari Jarir bin Abdullah Al-Bajali, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 554, Muslim hadits nomer 633, Abu Daud hadits nomer 4729, At-Tinnidzi hadits nomer 2554, dan Imam Ahmad 4/360. Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 7437, Muslim hadits nomer 182, Imam Ahmad 2/275, Abu Daud hadits nomer 4730, dan At-Tirmidzi hadits nomer 2560.

[65] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/212 dan Ibnu Hibban hadits nomer 709. Hadits tersebut dhaif karena sanadnya terputus.

[66] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/183. Ibnu Majah hadits nomer 4105, dan Ath-Thabrani di Al-Kabir 4891, 4925. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 680.

[67] Hadits nomer 2465 dari Hannad bin As-Sirri. Hadits tersebut juga diriwayatkan Hannad As-Sirri di Az-Zuhdu hadits nomer 669 dan di sanadnya terdapat Yazid bin Aban Ar-Raqasyi yang merupakan perawi dhaif namun hadits tersebut diperkuat hadits Zaid bin Tsabit di atas.

[68] Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Baihaqi di Syuabul Iman hadits nomer 10501 dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memastikan seperti dinukil As-Sakhawi di Al-Maqashid Al-Hasanah hal. 182 bahwa perkataan di atas adalah perkataan Jundab bin Abdullah Radhiyallahu Anhu.

[69] Perkataan yang sama dari Sufyan Ats-Tsauri diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 7/79, 10/22.

[70] Al-Hilyah 4/251.

[71] Dzammud Dunya hadits nomer 7.

[72] Juga diriwayatkan Al-Hakim 4/315.

[73] Diriwayatkan Hannad di Az-Zuhdu hadits nomer 575, Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 173, Ibnu Abu Syaibah 13/295, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/136. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 4/315.

[74] Hadits dhaif diriwayatkan Al-Baihaqi di Syuabul Iman hadits nomer 10521.

[75] Di Al-Ausaih dari hadits Ibnu Mas'ud seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/286. Al-Haitsami berkata, "Di sanadnya terdapat perawi Ibrahim bin Ziyad Al-Ajli, dia itu matruk”.

[76] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/253 dan Al-Qudhai di Musnad Asy-Syihah hadits nomer 151. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 4/324-325 dengan disetujui Adz-Dzahabi, padahal di sanadnya terdapat perawi Zafir bin Sulaiman yang merupakan perawi dhaif

Oleh karena itu, Abu Nu'aim berkata, "Hadits tersebut gharib”. Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Uqaili di Adh-Dhuafa' dari Abu Hurairah. Al-Qudhai berkata, "Perkataan tersebut diriwayatkan dari Al-Hasan dan lain-lain”.

[77] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/20.

[78] Ibid., 3/5.

[79] Ibid., 3/5, dan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 117.

[80] Disebutkan Ibnu Abdul Barr di Jamiul Ilmi wa Fadhluhu 2/8 secara ringkas.

No comments:

Post a Comment