Hadits Ketiga Puluh Satu
عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ
السَّاعِدِيِّ قَالَ: «جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ
أَحَبَّنِي اللَّهُ، وَأَحَبَّنِي النَّاسُ، فَقَالَ: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ
اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ» . حَدِيثٌ حَسَنٌ
رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُ بِأَسَانِيدَ حَسَنَةٍ
Dari Sahl bin
Sa'ad As-Saidi Radhiyallah Anhu
yang berkata, "Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam kemudian berkata,
'Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku perbuatan yang jika aku kerjakan maka aku dicintai Allah dan dicintai
manusia. 'Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda; 'Zuhudlah di dunia niscaya engkau dicintai Allah dan zuhudlah terhadap apa yang ada di
tangan manusia niscaya engkau dicintai
manusia”. (Hadits hasan
diriwayatkan Ibnu Majah dan lain-lain dengan
sanad hasan). [1]
Hadits
bab di atas diriwayatkan Ibnu Majah dari riwayat Khalid bin Amr Al-Qurasyi dari Sufyan Ats-Tsauri dari Abu Hazim
dari Sahl bin Sa'ad. Syaikh An-Nawawi menyebutkan bahwa sanad hadits ini hasan,
namun ada catatan dalam hal ini, karena tentang Khalid bin Amr Al-Qurasyi, Imam
Ahmad berkata, "Haditsnya munkar”.
Murrah berkata, "Ia bukan perawi tepercaya dan meriwayatkan hadits-hadits batil”. Ibnu Main berkata, "Haditsnya
tidak ada apa-apanya”. Murrah berkata, "Ia
pendusta yang berdusta dan meriwayatkan hadits-hadits palsu dari Syu'bah".
Al-Bukhari dan Abu Zur'ah berkata,
"Haditsnya munkar”. Abu Hatim berkata, "Haditsnya tidak bisa dipakai dan dhaif". Shalih bin
Muhammad dan Ibnu Adi mengatakan
bahwa ia memalsukan hadits. Ibnu Hibban kontradiksi tentang Khalid bin Amr Al-Qurasyi. Ia menyebutkannya di Ats-Tsiqaat
dan menyebutkannya di Adh-Dhu’afa’.
Ibnu Hibban berkata, "Ia
sendirian meriwayatkan hadits-hadits palsu dari para perawi tepercaya dan tidak boleh berhujjah dengan haditsnya”.
Al-Uqaili [2]) meriwayatkan hadits Khalid bin Amr ini dan
berkata, "Hadits ini tidak punya asal-usul dari hadits Sufyan Ats-Tsauri”. Al-Uqaili juga berkata,
"Muhammad bin Katsir Ash-Shan'ani
setuju dengan Khalid bin Amr dalam hadits tersebut dan bisa jadi Muhammad bin Katsir Ash-Shan'ani mengambil hadits
tersebut dari Khalid bin Amr dan menggelapkannya, karena hadits ini
terkenal dari Khalid bin Amr”.
Abu Bakr Al-Khathib berkata, "Hadits tersebut juga
disetujui Abu Qatadah Al-Harrani dan
Mihran bin Abu Umar Ar-Razi [3])
kemudian mereka meriwayatkan hadits
tersebut dari Ats-Tsauri yang berkata, "Hadits yang paling terkenal ialah hadits Ibnu Katsir”. Ini yang ia katakan dan
ini bertentangan dengan perkataan Al-Uqaili,
"Hadits yang paling terkenal ialah hadits Khalid bin Amr”. Apa yang dikatakan Al-Uqaili benar, karena Muhammad bin Katsir
Ash-Shan'ani yang tidak lain adalah
Al-Mashishi dianggap sebagai perawi dhaif
oleh Imam Ahmad, sedang Abu
Qatadah dan Mihran dipermasalahkan, namun Muhammad bin Katsir lebih baik daripada keduanya, karena ia perawi tepercaya
menurut banyak hafidz hadits.
Ibnu Adi heran dengan hadits Khalid bin Amr ini kemudian
berkata, "Aku tidak tahu apa yang harus saya
katakan tentang haditsnya ini”.
Ibnu Abu Hatim [4])
menyebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada ayahnya tentang hadits Muhammad bin Katsir dari Sufyan Ats-Tsauri kemudian ia
menyebutkan hadits tersebut. Ayah
Ibnu Abu Hatim berkata, "Hadits ini batil", maksudnya batil
dengan sanad seperti itu dan ini mengisyaratkan bahwa hadits tersebut tidak mempunyai asal-usul dari Muhammad bin Katsir dari
Sufyan.
Ibnu Masyisy berkata, "Aku pernah bertanya kepada
Imam Ahmad tentang hadits Sahl bin
Sa'ad sambil menyebutkan hadits di atas. Imam Ahmad berkata, 'Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah -
dengan nada heran -, siapa yang
meriwayatkan hadits ini?' Aku menjawab, 'Khalid bin Amr'. Imam Ahmad berkata,
'Kita mencela Khalid bin Amr'. Imam Ahmad diam”. Maksudnya, Imam Ahmad menolak orang yang menyebutkan hadits Khalid
ini, karena ia tidak mau kacau
dengannya.
Hadits di atas juga diriwayatkan Abu Ubaid Al-Qasim bin
Salam di Al-Mawaidh [5])
dari Khalid bin Amr kemudian ia berkata, "Aku tidak mengakui hadits ini”. Syaikh An-Nawawi mengisahkan hadits ini
kepadaku dari Waki' bahwa ia (An-Nawawi)
bertanya kepada Waki' tentang hadits ini dan jika ia tidak berkata seperti itu, aku pasti meninggalkannya”. Ibnu Adi
meriwayatkan hadits ini di biografi
Khalid bin Amr [6]) dan
juga menyebutkan riwayat Muhammad bin Katsir kemudian ia berkata,
"Hadits ini dari Ats-Tsauri munkar”. Ibnu Adi juga berkata, "Hadits ini juga diriwayatkan Zafir alias
Ibnu Salman dari Muhammad bin Uyainah saudara
Sufyan dari Abu Hazim”. Zafir dan Muhammad bin Uyainah adalah perawi dhaif.
[7])
Hadits di atas juga diriwayatkan dari jalur lain namun mursal diriwayatkan Abu Sulaiman bin Zubar Ad-Dimasyqi di Musnad Ibrahim bin Adham
yang mengumpulkannya dari riwayat Muawiyah
bin Hafsh dari Ibrahim bin Adham dari Manshur dari Rib'i bin Hirasy yang
berkata,
'"Seseorang datang kepada Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku perbuatan
yang membuatku dicintai Allah dan dicintai
manusia. 'Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Adapun perbuatan yang membuatmu dicintai Allah maka zuhud di dunia sedang perbuatan yang membuatmu dicintai
manusia maka lihatlah puing-puing
(dunia) ini kemudian lemparkan kepada mereka”.
[8])
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Dzammud Dunya dari
riwayat Ali bin Bakar dari Ibrahim bin Adham yang berkata,
"Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam", kemudian Ibrahim bin Adham menyebutkan hadits tersebut secara lengkap tanpa
menyebutkan Manshur dan Rib'i di sanadnya.
Di hadits Ibrahim bin Adham, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Lempar puing-puing yang ada
di kedua tanganmu kepada mereka”.
Hadits bab di atas mengandung dua wasiat agung;
Pertama, zuhud di dunia yang menyebabkan Allah Azza wa jalla cinta
hamba-Nya.
Kedua, zuhud terdapat apa yang ada di tangan manusia yang
menyebabkan orang dicintai manusia.
Adapun zuhud di dunia, Al-Qur'an banyak sekali memujinya
dan mengecam cinta dunia. Allah Ta'ala
berfirman,
"Tetapi kalian memilih
kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah
lebih baik dan lebih kekal”. (Al-A'la:16-17).
Allah Ta'ala berfirman,
"Kalian menghendaki harta benda
duniawi sedang Allah menghendaki akhirat”.
(Al-Anfal: 67).
Allah Ta'ala berfirman tentang kisah Qarun,
"Maka keluarlah Qarun kepada
kaumnya dalam kemegahannya; berkatalah orang-orang
yang menghendaki kehidupan dunia, 'Semoga kami mempunyai seperti apa yang telah
diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'.
Berkatalah orang-orang yang dianugerahi
ilmu, 'Kecelakaan besar bagi kalian, pahala Allah lebih baik bagi
orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan pahala tidak diperoleh kecuali oleh orang-orang yang sabar'. Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam
bumi, maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya dari adzab Allah dan ia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri. Dan jadilah orang-orang
yang kemarin mencita-citakan
kedudukan Qarun berkata, Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba
hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau
Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada kita, Dia benar-benar
membenamkan kita. Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari. Negeri akhirat itu Kami
jadikan untuk orang-orang yang tidak
ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di bumi dan kesudahan itu bagi orang-orang yang bertakwa”.
(Al-Qashash: 79-83).
Allah Ta'ala berfirman,
"Mereka bergembira dengan
kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia (dibanding dengan) kehidupan akhirat hanyalah kesenangan
(yang sedikit)”. (Ar-Ra'du:
26).
Allah Ta'ala berfirman,
"Katakan, 'Kesenangan di dunia ini hanya
sebentar dan akhirat lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kalian
tidak akan dianiaya sedikit pun”. (An-Nisa`: 77).
Allah Ta'ala
berfirman tentang orang Mukmin dari
keluarga Fir'aun yang berkata kepada
kaumnya,
"Hai kaumku, ikutilah aku; aku tunjukkan jalan yang
benar kepada kalian. Hai kaumku,
sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal: "(Ghafir: 38-39).
Allah Ta'ala juga mengecam orang yang
menginginkan dunia dengan amal, usaha, dan niatnya. Hal ini telah disebutkan pada
pembahasan hadits, "Sesungguhnya seluruh amal perbuatan
itu dengan niat".
Hadits-hadits tentang celaan terhadap dunia dan
kehinaannya di sisi Allah sangat banyak. Dalam Shahih
Muslim [9]) disebutkan hadits dari Jabir Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam berjalan melewati pasar
sedang manusia berada di pasar tersebut. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan melewati anak
kambing jantan yang kedua telinganya kecil dan telah mati. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang telinganya sambil bersabda, "Siapa
di antara kalian yang suka membeli ini seharga satu dirham?" Orang-orang
berkata, "Kita sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa
kami perbuat dengannya?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Apakah kalian suka kalau ini
menjadi milik kalian?"
Orang-orang berkata, "Demi Allah, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena hidungnya kecil,
apalagi ia telah mati?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Demi Allah, pastilah dunia itu
lebih hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian”.
Di Shahih Muslim [10])
juga disebutkan hadits dari Al-Mustaurid Al-Fihri dari Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam yang bersabda,
'Tidaklah dunia
dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian
meletakkan jari-jarinya ke laut, maka
lihatlah apa yang dibawa jari-jarinya”.
At-Tirmidzi meriwayatkan hadits dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Seandainya dunia di sisi
Allah sebanding dengan sayap nyamuk, maka Dia tidak memberi minuman sedikit pun darinya kepada orang
kafir". [11])
Makna zuhud terhadap sesuatu ialah berpaling darinya
karena menganggapnya kecil, merendahkannya, dan
hilang keinginan kepadanya.
Para generasi salaf dan generasi sesudah mereka banyak
bicara tentang penafsiran zuhud di dunia dan
redaksi mereka beragam. Dalam hal ini, ada hadits dari Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari riwayat Amr bin Waqid dari Yunus bin
Halbas dari Abu Idris Al-Khaulani
dari Abu Dzar Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam yang bersabda,
'Zuhud di dunia tidak dengan
mengharamkan halal dan menyia-nyiakan harta, namun
zuhud di dunia ialah hendaknya lebih yakin kepada apa yang ada di tangan Allah daripada kepada apa yang di
kedua tanganmu dan jika engkau diuji
dengan musibah maka engkau lebih senang kepada pahalanya hingga engkau berharap sekiranya musibah tersebut
tetap terjadi padamu''.
[12])
At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut gharib dan
kami tidak mengenalnya kecuali dari jalur tersebut. Hadits Amr bin Waqid adalah
munkar”.
Saya
katakan, yang benar hadits tersebut adalah mauquf,
seperti diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu. [13]) Imam Ahmad berkata bahwa Zaid bin Yahva Ad-Dimasyqi berkata kepadaku bahwa Khalid bin Shabih
berkata kepadaku bahwa Yunus bin Halbas berkata kepadaku bahwa Abu Muslim
Al-Khaulani berkata, "Zuhud di
dunia tidak dengan mengharamkan halal dan menyia-nyiakan harta, namun zuhud di dunia ialah hendaknya engkau lebih
yakin kepada apa yang ada di Tangan
Allah daripada kepada apa yang ada di kedua tanganmu dan jika engkau diuji
dengan musibah maka engkau lebih senang dengan pahalanya hingga engkau berharap
seandainya musibah tersebut tetap terjadi padamu”.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dari
riwayat Muhammad bin Muhajir dari Yunus bin
Maisarah yang berkata, "Zuhud di dunia tidak dengan mengharamkan halal dan
menyia-nyiakan harta, namun zuhud di dunia ialah
hendaknya engkau lebih yakin kepada apa yang ada di Tangan Allah daripada
kepada apa yang ada di kedua tanganmu, kondisimu ketika mendapatkan musibah dan
kondisimu ketika tidak mendapatkan musibah sama saja, dan pemujimu dan pencelamu dalam kebenaran sama”.
Jadi, zuhud ditafsirkan dengan tiga hal yang semuanya
merupakan perbuatan hati dan bukan perbuatan organ
tubuh. Oleh karena itu, Abu Sulaiman berkata, "Engkau
jangan bersaksi untuk seseorang bahwa ia zuhud, karena zuhud ada di hati”.
Pertama: Hendaknya
seorang hamba lebih yakin terhadap apa yang ada di sisi Allah daripada terhadap apa yang ada di tangannya sendiri. Sikap
ini muncul dari lurus dan kuatnya keyakinan, karena Allah menjamin rezki
seluruh hamba-Nya dan menanggungnya,
seperti yang Dia firmankan,
"Dan tidak ada satu binatang
melata pun di bumi melainkan Allah yang memberi
rezkinya”. (Huud: 6).
Allah
Ta'ala berfirman,
"Dan di langit terdapat rezki
kalian dan apa yang dijanjjkan kepada kalian'.
(Adz-Dzaariyat: 22).
Allah Ta ala juga berfirman,
"Maka mintalah rezki di sisi
Allah dan sembahlah Dia”. (Al-Ankabut:l7).
Al-Hasan berkata, "Di antara bukti lemahnya
keyakinanmu ialah engkau lebih yakin
terhadap apa yang ada di tanganmu daripada terhadap apa yang di Tangan Allah Azza
wa Jalla”.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud yang berkata,
"Sesungguhnya rezki yang paling aku
harapkan ialah ketika mereka berkata bahwa di rumah tidak ada tepung”.
Masruq berkata, "Sesuatu terbaik yang aku duga ialah
ketika pembantu berkata bahwa di rumah tidak ada
sedikit pun gandum dan dirham”.
Imam Ahmad berkata, "Hari-hariku yang paling
menyenangkanku ialah hari ketika pada
suatu pagi aku tidak mempunyai apa-apa”.
Dikatakan kepada Abu Hazim, "Apa hartamu?" Abu
Hazim berkata, "Aku mempunyai dua
harta dan dengan keduanya aku tidak takut miskin; yakin kepada Allah dan tidak mempunyai harapan kepada apa yang ada
di tangan manusia”. [14])
Dikatakan
kepada Abu Hazim, "Apakah engkau tidak takut miskin?" Abu Hazim berkata, "Pantaskah aku takut miskin,
padahal Tuhanku mempunyai apa saja
yang ada di langit, bumi, di antara keduanya, dan di bawah tanah?"
Secarik kertas disodorkan kepada Ali bin Al-Muwaffaq
kemudian ia membacanya, ternyata berbunyi, "Hai Ali bin Al-Muwaffaq,
pantaskah engkau takut miskin, padahal Aku Tuhanmu?"
Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Prinsip zuhud ialah
ridha kepada Allah Azza wa Jalla”. Ia juga berkata, "Qana'ah
adalah zuhud dan itulah kekayaan”.
Barangsiapa merealisir keyakinan, yakin kepada Allah
dalam seluruh urusannya, ridha
dengan pengaturan-Nya terhadap dirinya, dan tidak menggantungkan diri kepada makhluk dalam harapan dan takut, kemudian itu
semuanya mencegahnya dari mencari
dunia dengan cara-cara yang ilegal, sungguh ia menjadi orang zuhud
sejati di dunia dan manusia terkaya, kendati ia tidak mempunyai sedikit pun dunia, seperti dikatakan Ammar, "Cukuplah
kematian sebagai pengingat, cukuplah
keyakinan sebagai kekayaan, dan cukuplah ibadah sebagai kesibukan”. [15])
Ibnu Mas'ud berkata, "Keyakinan ialah engkau tidak
ridha kepada manusia dengan
kemurkaan Allah, tidak memuji seorang pun atas rezki Allah, dan tidak mencela seorang pun karena sesuatu yang tidak diberikan
Allah kepadamu, karena rezki tidak
bisa didatangkan oleh ambisi orang yang ambisius dan ditolak oleh kebencian pembenci, sebab Allah Tabaraka wa Ta'ala - dengan
keadilan, ilmu, dan kebijaksanaan-Nya - menjadikan ketentraman dan kebahagiaan
di keyakinan dan ridha serta menjadikan
kegalauan dan kesedihan di keragu-raguan dan kemurkaan”. [16])
Di hadits mursal
disebutkan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa
dengan doa berikut,
"Ya Allah, aku meminta kepada-Mu
iman yang menyentuh hatiku dan keyakinan
yang benar hingga aku tahu bahwa tidak ada yang menghalangi terhadap rezki yang Engkau bagikan untukku dan jadikan aku
ridha dari penghidupan
yang Engkau bagikan untukku".
[17])
Atha' Al-Khurasani tidak berdiri dari tempat duduknya
hingga berkata, "Ya Allah,
anugerahkan kepadaku keyakinan dari-Mu hingga seluruh musibah dunia menjadi
kecil bagiku, hingga aku tahu bahwa tidak akan mengenaiku kecuali apa yang
telah Engkau tulis untukku, dan aku tidak akan mendapatkan rezki kecuali apa
yang telah Engkau bagikan untukku”. [18])
Kami
riwayatkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu
Anhuma dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Barangsiapa ingin menjadi manusia terkaya, hendaklah ia yakin kepada apa yang di Tangan Allah daripada kepada apa yang ada di tangannya”. [19])
Kedua: Jika seorang hamba mendapatkan musibah di dunianya,
misalnya hartanya habis ludes, anaknya
meninggal dunia, dan lain sebagainya, maka ia lebih senang kepada pahala musibah tersebut daripada kepada
dunianya yang hilang untuk kembali lagi kepadanya. Sikap
seperti ini juga terjadi karena kesempurnaan keyakinan.
Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma bahwa Nabi Shallallahu wa
Sallam berkata dalam doa beliau,
"Ya Allah, bagikan
untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dapat
memisahkan kami dengan maksiat
kepada-Mu, bagikan untuk kami
ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu, bagikan untuk
kami keyakinan yang membuat kami memandang kecil
seluruh musibah dunia". [20])
Ini semua pertanda zuhud di dunia dan minimnya ambisi
kepada dunia, seperti dikatakan Ali bin Abu
Thalib, "Barangsiapa zuhud di dunia, seluruh musibah menjadi
kecil baginya”.
Ketiga. Pemuji dan pencela dalam
kebenaran itu sama saja bagi seorang hamba.
Ini juga pertanda zuhud di dunia, merendahkannya, dan minimnya ambisi kepadanya, karena barangsiapa dunia menjadi agung
baginya, maka ia mencintai pujian dan
anti celaan. Tidak tertutup kemungkinan, sikap tersebut menyebabkannya meninggalkan banyak sekali kebenaran karena
takut celaan dan mengerjakan banyak sekali kebatilan karena mengharapkan
pujian. Jadi, barangsiapa pemuji dan pencelanya sama dalam kebenaran, maka itu
menunjukkan runtuhnya kedudukan seluruh makhluk dari hatinya, hatinya penuh
dengan cinta kepada kebenaran, dan ridha kepada Tuhannya, seperti dikatakan
Ibnu Mas'ud, "Keyakinan ialah engkau tidak membuat senang manusia dengan
kemurkaan Allah”. Allah memuji orang-orang yang berjihad di jalan Allah dan
tidak takut celaan pencela.
Diriwayatkan
redaksi lain tentang penafsiran zuhud di dunia dari generasi salaf dan semuanya
terfokus pada ucapan-ucapan sebelumnya, seperti ucapan Al-Hasan, "Orang
zuhud ialah orang yang jika melihat seseorang, ia berkata, 'Orang tersebut
lebih baik dariku'“. Ini bertitik tolak pada definisi bahwa orang zuhud sejati
ialah orang yang tidak memuji dirinya dan tidak pula mengagungkannya. Oleh
karena itu, dikatakan, "Zuhud terhadap kekuasaan itu lebih berat daripada
zuhud terhadap emas dan perak”. [21])
Jadi, barangsiapa menghilangkan dari hatinya ambisi kekuasaan di dunia dan
perasaan lebih tinggi dari orang lain, sungguh ia orang zuhud sejati dan dialah
orang yang pemuji dan pencelanya dalam kebenaran itu sama saja, seperti
dikatakan Wahib bin Al-Ward, "Zuhud di dunia ialah engkau tidak putus asa
atas sesuatu yang hilang dari dunia dan engkau tidak bersorak dengan dunia yang
datang kepadamu”. [22])
Ibnu As-Sammak berkata, "Itulah orang zuhud yang luar biasa dalam
zuhudnya”.
Ini
berpulang pada bahwa kerugian dan kemajuan, peningkatan dan pengurangan dunia
itu sama bagi seorang hamba. Itu sama seperti menyamakan musibah dengan tidak
adanya musibah seperti telah dijelaskan sebelumnya.
Salah
seorang ulama - kalau tidak salah Imam Ahmad - ditanya tentang orang yang
mempunyai harta; apakah ia dikatakan orang zuhud? Ia menjawab, "Ya, jika
ia tidak senang dengan penambahannya dan tidak sedih dengan pengurangannya”.
Begitulah kurang lebihnya perkataan beliau.
Az-Zuhri
pernah ditanya tentang orang zuhud kemudian ia berkata, "Orang zuhud ialah
orang yang kesabarannya tidak dikalahkan oleh haram dan kesyukurannya tidak
dikalahkan oleh halal”. [23])
Perkataan ini mirip dengan perkataan sebelumnya. Maknanya bahwa orang zuhud di
dunia jika ditakdirkan kepada sesuatu yang haram dari dunia, ia bersabar dengan
cara tidak mengambilnya dan jika ia mendapatkan halal dari dunia maka itu tidak
melupakannya dari bersyukur, namun ia justru bersyukur kepada Allah atas
sesuatu yang halal tersebut.
Ahmad
bin Abu Al-Hawari berkata, "Aku pernah berkata kepada Sufyan bin Uyainah,
'Siapakah orang zuhud di dunia itu?' Sufyan bin Uyainah menjawab, 'Yaitu orang yang jika diberi nikmat maka ia
bersyukur dan jika diuji maka ia bersabar'.
Aku berkata, 'Wahai Abu Muhammad, orang tersebut diberi nikmat kemudian
bersyukur dan diuji kemudian bersabar, serta menahan nikmat. Bagaimana ia
menjadi orang zuhud?' Sufyan bin Uyainah menjawab, 'Diamlah. Orang yang tidak dihalangi oleh nikmat dari bersyukur dan tidak
dirintangi musibah dari bersabar adalah orang zuhud”. [24])
Rabi'ah berkata, "Puncak zuhud ialah mengumpulkan
segala hal dengan haknya dan
meletakkannya di tempat semestinya”. [25])
Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Zuhud di dunia ialah
pendek angan-angan bukan dengan makan
makanan yang kering atau mengenakan sorban”.
Sufyan
Ats-Tsauri juga berkata, doa salah seorang ulama ialah, "Ya Allah, jadikan kami zuhud di dunia, jadikan kami lapang
di dalamnya, dan jangan Engkau jauhkan
dunia dariku sehingga aku rindu kepadanya”.
Hal yang sama dikatakan Imam Ahmad, "Zuhud di dunia
ialah pendek angan-angan”.
Di kesempatan lain, Imam Ahmad berkata, "Pendek
angan-angan dan tidak mempunyai harapan terhadap apa yang
ada di tangan manusia”.
Pendek angan-angan membuat orang cinta bertemu Allah
dengan keluar dari dunia sedang panjang
angan-angan membuat seseorang cinta abadi di dunia. Barangsiapa
pendek angan-angannya, ia tidak suka abadi di dunia. Inilah puncak zuhud di dunia dan berpaling darinya. Ibnu Uyainah
berkata seperti itu dengan berhujjah
kepada firman Allah Ta'ala,
"Katakan, ‘Jika negeri akhirat
itu khusus untuk kalian di sisi Allah bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian jika kalian
memang benar'. Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian
selama-lamanya, karena
kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat tangan mereka dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang dzalim. Dan
sungguh kamu pasti mendapati mereka manusia yang
paling tamak kepada kehidupan, bahkan (lebih tamak) dari orang-orang musyrik;
masing-masing mereka ingin agar diberi umur
seribu tahun, padahal umur panjang sekali-kali tidak menjauhkannya dari
siksa, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan'. (Al-Baqarah: 94-96).
Ibnu Abu Ad-Dunya meriwayatkan hadits dengan sanadnya dari
Adh-Dhahhak bin Muzahim yang berkata,
"Seseorang datang kepada Nabi
Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, 'Wahai Rasulullah, siapakah
manusia yang paling zuhud?' Nabi Shallallahu Alaihi
wa Sallam bersabda, 'Orang yang tidak lupa kuburan dan musibah, meninggalkan perhiasan dunia yang paling baik, mengutamakan sesuatu yang abadi atas sesuatu yang fana,
tidak menganggap hari esok di antara hari-harinya, dan menganggap dirinya termasuk orang-orang yang mati”. (Hadits
ini mursal). [26]
Banyak sekali generasi salaf membagi zuhud ke dalam
beberapa bagian. Di antara mereka
ada yang berkata, "Zuhud yang paling utama ialah zuhud terhadap syirik dan zuhud terhadap penyembahan sesuatu yang
disembah selain Allah, kemudian zuhud
terhadap hal-hal yang haram, kemudian zuhud terhadap halal yang merupakan jenis zuhud yang paling minim. Bagian
pertama dan kedua zuhud tersebut adalah
wajib, sedang zuhud bagian ketiga tidak wajib, karena kewajiban yang paling agung ialah zuhud terhadap syirik kemudian terhadap
seluruh maksiat”.
Bakr Al-Muzani berdoa untuk saudara-saudaranya,
"Semoga Allah membuat kami dan
kalian menjadi zuhud seperti zuhudnya orang yang dikuasai haram dan dosa-dosa pada saat sendirian kemudian ia mengetahui
bahwa Allah melihatnya lalu ia
meninggalkan haram dan dosa-dosa tersebut”.
Ibnu Al-Mubarak berkata, Sallam bin Abu Muthi' berkata,
"Zuhud terbagi ke dalam tiga
bagian;
Pertama, mengikhlaskan perbuatan dan perkataan karena Allah Azza wa Jalla
tanpa menginginkan sesuatu apa pun dari dunia dengannya.
Kedua, meninggalkan
sesuatu yang tidak patut dikerjakan dan mengerjakan sesuatu yang patut dikerjakan.
Ketiga, zuhud terhadap hal-hal yang halal dan ini merupakan
tindakan sukarela dan merupakan bagian zuhud terendah”. [27])
Perkataan Sallam bin Abu Muthi' mirip dengan perkataan
sebelumnya, hanya saja, ia
meletakkan peringkat zuhud pertama ialah zuhud terhadap riya' yang merupakan lawan ikhlas dalam perkataan dan perbuatan.
Riya' adalah syirik kecil, membuat orang ingin dipuji di
dunia, mencari kedudukan pada manusia, dan salah
satu jenis cinta kedudukan dan jabatan di dunia.
Ibrahim bin Adham berkata, "Zuhud terbagi ke dalam
tiga bagian. Pertama, zuhud wajib. Kedua, zuhud sunnah. Ketiga, zuhud
keselamatan. Zuhud wajib ialah zuhud
terhadap haram, zuhud sunnah ialah zuhud terhadap halal, dan zuhud keselamatan
ialah zuhud terhadap perkara-perkara syubhat”. [28])
Para ulama berbeda pendapat apakah nama zuhud hanya
khusus diberlakukan pada orang yang zuhud terhadap haram dan tidak
zuhud terhadap hal-hal mubah ataukah tidak? Ada dua pendapat dalam masalah ini;
1. Orang yang zuhud seperti itu berhak atas nama zuhud,
sebagaimana telah diriwayatkan dari Az-Zuhri, Ibnu Uyainah, dan lain-lain.
2. Orang yang berzuhud seperti itu
tidak berhak atas nama zuhud jika ia tidak zuhud
terhadap hal-hal mubah. Ini pendapat sejumlah orang-orang sufi dan lain-lain. [29]) Bahkan
salah seorang dari mereka berkata, "Hari ini tidak ada zuhud karena
ketiadaaan hal yang murni mubah”. Ini pendapat Yusuf bin Asbath dan
lain-lain”. Ada catatan terhadap perkataan tersebut. Yunus bin Ubaid berkata, "Apa sih nilainya dunia hingga orang
yang zuhud di dalamnya dipuji?"
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata, "Para ulama di Irak
berbeda pendapat tentang zuhud.
Di antara mereka ada yang berkata bahwa zuhud ialah tidak bertemu manusia. Ada lagi di antara mereka yang berkata bahwa
zuhud ialah meninggalkan syahwat. Ada
lagi yang berkata bahwa zuhud ialah meninggalkan kekenyangan. Perkataah
sebagian dari mereka mirip dengan perkataan sebagian lainnya”.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata lagi, "Aku
berpendapat bahwa zuhud ialah
meninggalkan sesuatu yang melupakanmu dari Allah Azza wa jalla". [30])
Apa yang dikatakan Abu Sulaiman Ad-Darini baik sekali
karena menghimpun semua makna zuhud dan jenis-jenisnya.
Ketahuilah bahwa kecaman kepada dunia di Al-Qur'an dan
sunnah itu tidak tertuju kepada
waktu dunia yang tidak lain adalah malam dan siang yang datang secara
bergiliran sampai Hari Kiamat, karena Allah menjadikan keduanya datang silih berganti bagi orang yang ingin ingat atau
bersyukur. Diriwayatkan dari Isa bin Maryam Alaihis-Salam yang bersabda, "Sesungguhnya malam dan siang adalah gudang,
karenanya, perhatikan apa saja yang kalian letakkan di keduanya”.
Isa bin Maryam Alaihis-Salam
juga berkata, "Berbuatlah pada
malam hari untuk apa saja yang diciptakan
untuknya dan berbuat pada siang hari untuk apa saja yang diciptakan untuknya”.
Mujahid berkata, "Hari tidak berjalan melainkan ia
berkata, 'Hai anak keturunan Adam, perhatikan hari ini
karena aku tidak kembali kepadamu setelah hari
ini dan pikirkan apa yang engkau kerjakan pada hariku'. Jika hari telah
berlalu, ia dilipat kemudian ditutup
dan tidak dibuka hingga Allah sendiri yang membukanya pada Hari Kiamat. Malam tidak berjalan melainkan berkata yang
sama". [31])
Salah seorang dari generasi salaf melantunkan syair,
"Sesungguhnya dunia adalah
jalan ke surga dan neraka
Malam-malam adalah tempat bisnis
manusia dan hari-hari adalah
pasarnya”.
Kecaman
kepada dunia juga tidak tertuju kepada tempat dunia yang tidak lain adalah bumi
yang dijadikan Allah sebagai hamparan dan tempat tinggal. Kecaman kepada dunia juga tidak tertuju kepada apa
saja yang ditempatkan Allah di dalamnya, yaitu gunung, laut, sungai, dan
pertambangan. Kecaman kepada dunia juga
tidak tertuju kepada apa saja yang ditanam Allah di dalamnya, yaitu pohon dan tanaman. Kecaman kepada dunia juga tidak
tertuju kepada hewan-hewan dan lain
sebagainya yang ada di dalamnya, karena itu semua nikmat-nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dan mereka mendapatkan sejumlah
manfaat darinya dan merupakan bahan
perenungan tentang keesaan Penciptanya, kekuasaan-Nya, dan keagungan-Nya. Namun kecaman kepada dunia tertuju
kepada perbuatan-perbuatan anak
keturunan Adam yang terjadi di dunia, karena sebagian besar perbuatan mereka mempunyai dampak yang tidak terpuji, bahkan
berdampak negatif atau melakukan
hal-hal yang tidak bermanfaat, seperti difirmankan Allah Azza wa Jalla,
"Ketahullah bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia hanyalah permainan dan
sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kalian serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan
anak-anak". (Al-Hadid: 20).
Manusia
di dunia terbagi ke dalam dua kelompok;
1.
Kelompok yang mengingkari bahwa manusia setelah dunia ini mempunyai negeri
untuk pemberian pahala dan siksa. Mereka itulah yang dikatakan Allah Ta'ala,
"Sesungguhnya orang-orang yang
tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami
dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan
ayat-ayat Kami Mereka itu
tempat mereka adalah neraka disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan”. (Yunus: 7-8).
Obsesi mereka adalah menikmati dunia dan memanfaatkan
seluruh kelezatannya sebelum kematian, seperti
difirmankan Allah Ta'ala,
"Dan orang-orang yang kafir itu
bersenang-senang dan mereka makan seperti makannya
binatang-binatang dan neraka adalah tempat tinggal mereka”. (Muhammad: 12).
Di antara mereka ada yang menyuruh berzuhud di dunia
karena ia berpendapat bahwa
memperbanyak dunia membuat orang galau dan sedih. Ia berkata, "Jika ketergantungan kepada dunia semakin
menguat, jiwa menjadi sedih jika
berpisah dengannya ketika ia harus meninggal dunia”. Itulah puncak zuhud mereka di dunia.
2. Kelompok yang mengakui adanya
negeri setelah kematian untuk pemberian pahala
dan siksa. Kelompok ini bergabung ke dalam syariat para rasul. Mereka terbagi ke dalam tiga kelompok;
Pertama, orang yang mendzalimi dirinya sendiri.
Kedua, orang pertengahan.
Ketiga, orang yang berlomba dalam kebaikan atas izin Allah.
Kelompok yang mendzalimi dirinya
sendiri adalah kelompok
terbanyak dan sebagian besar dari mereka berhenti di bunga-bunga dunia dan perhiasannya kemudian mengambilnya tidak
dari jalannya dan menggunakannya tidak pada
semestinya, akibatnya, dunia menjadi obsesi
terbesarnya. Karena dunia, mereka marah, ridha, berdamai, dan memusuhi. Mereka itulah orang-orang yang lalai, main-main,
orang-orang yang mementingkan
penampilan, sombong, dan gila harta. Semua dari mereka tidak
mengetahui tujuan hidup dan bahwa dunia adalah tempat perjalanan untuk berbekal dengannya untuk negeri sesudahnya
yaitu negeri akhirat, kendati salah seorang dari mereka beriman kepadanya
dengan keimanan global, namun ia
tidak mengetahuinya secara rinci dan tidak merasakan apa yang dirasakan
orang-orang yang kenal Allah di dunia yang merupakan teladan tentang apa yang mesti disimpan untuk akhirat.
Orang pertengahan ialah orang-orang yang mengambil dunia
dari sumber-sumber yang diperbolehkan,
menunaikan kewajiban-kewajibannya, menahan kelebihan-kelebihan
dari yang diwajibkan untuk dirinya, dan juga menikmati syahwat dunia. Ada
perbedaan pendapat tentang masuknya mereka ke dalam nama orang zuhud di dunia seperti disebutkan sebelumnya dan
mereka tidak mendapatkan hukuman
karenanya, hanya saja, derajat mereka di akhirat berkurang sesuai dengan kadar penikmatan mereka terhadap syahwat dunia.
Ibnu Umar berkata, "Seorang hamba tidak mendapatkan sesuatu dari dunia
melainkan sesuatu tersebut mengurangi
derajatnya di sisi Allah, kendati ia dermawan dengannya”. (Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dengan sanad yang baik). [32] Hadits
tersebut juga diriwayatkan dari
Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sanad yang ada catatan di dalamnya.
Imam
Ahmad meriwayatkan hadits di Az-Zuhdu dengan sanadnya bahwa seseorang masuk menemui Muawiyah lalu Muawiyah
memberinya pakaian lalu orang
tersebut berjalan melewati Abu Mas'ud Al-Anshari dan salah seorang sahabat. Salah seorang dari kedua berkata kepada orang
tersebut, "Ambillah pakaian ini dari
kebaikan-kebaikanmu”. Orang satunya berkata, "Ambillah dari hal-hal baik milikmu”.
Imam Ahmad juga meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar
bin Khaththab Radhiyallahu
Anhu yang berkata, "Jika kebaikan-kebaikanku tidak berkurang,
aku pasti bergaul dengan kalian di
kehidupan kalian yang enak, namun aku dengar Allah
mengecam salah satu kaum dengan berfirman, 'Kalian
telah menghabiskan rezki kalian yang
baik di kehidupan duniawi kalian'.
(Al-Ahqaaf: 20)”.
Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Jika engkau mau,
silahkan anggap kecil dunia. Jika
engkau mau, silahkan anggap besar dunia, sesungguhnya engkau mengambil sesuatu dari sakumu”.
Ini diperkuat dengan fakta bahwa Allah Azza wa jalla mengharamkan
banyak hal dari kelebihan syahwat dunia,
perhiasannya, dan gemerlapnya kepada hamba-hamba-Nya, karena
mereka tidak membutuhkannya dan Allah menyimpannya di akhirat untuk mereka. Hal
ini diisyaratkan Allah di firman-Nya,
"Dan sekiranya bukan karena
hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang-orang
yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak
bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga
(perak) yang mereka menaikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya.
Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dan emas untuk mereka) dan
semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan
kehidupan dunia dan kehidupan akhirat itu di sisi Tuhanmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa”. (Az-Zukhruf: 33-35).
Diriwayatkan
dengan shahih dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Barangsiapa mengenakan sutra di
dunia, ia tidak mengenakannya di akhirat”. [33])
Nabi Shallallahu
Alailri wa Sallam juga bersabda,
"Barangsiapa minum minuman keras
di dunia, tidak meminumnya di akhirat”.
[34])
Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam juga bersabda,
'Janganlah kalian memakai sutra dan
dibaj (sejenis sutra), jangan minum di tempat-tempat emas dan perak, dan jangan makan di piring-piringnya, karena itu semua bagi mereka di dunia
dan bagi kalian di akhirat”.
[35])
Wahb berkata, "Sesungguhnya Allah Azza wa jalla berfirman
kepada Musa Alaihis Salam, 'Aku pasti melindungi wali-wali-Ku dari
kenikmatan dunia dan kemakmurannya
sebagaimana penggembala penyayang yang melindungi unta-unta dari tempat-tempat kotoran binatang. Itu tidak
lain karena rendahnya mereka bagi-Ku. Namun hendaklah mereka
menyempurnakan bagian mereka dari kemuliaan-Ku
dalam keadaan selamat dan sempurna tanpa diganggu dunia'”.
Ini diperkuat hadits yang diriwayatkan At-Tirmidzi dari
Qatadah bin An-Nu'man dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya jika Allah
mencintai seorang hamba, Dia melindunginya dari dunia sebagaimana salah seorang dari kalian selalu
melindungi orang sakit dari
air”. [36])
Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Hakim dengan
redaksi,
"Sesungguhnya Allah pasti
melindungi hamba-Nya dari dunia karena mencintainya
sebagaimana kalian melindungi orang yang sakit dari makanan dan makanan karena mengkhawatirkan
keselamatannya”.
Di Shahih Muslim
[37])
disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu
Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Dunia adalah penjara orang
Mukmin dan surga orang kafir'.
Adapun
kelompok yang berlomba dalam kebaikan seizin Allah, mereka memahami tujuan dunia dan beramal sesuai dengan
konsekwensinya. Mereka mengetahui
bahwa Allah menempatkan hamba-hamba-Nya di dunia untuk menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling
baik amalnya? Seperti yang Dia firmankan,
"Dan Dia yang menciptakan
langit dan bumi dalam enam masa dan Arsy-Nya di atas air agar Dia menguji siapakah di antara kalian yang paling
baik amalnya”. (Huud: 7).
Allah
Ta'ala juga berfirman,
"Yang menjadikan mati dan
hidup, supaya Dia menguji kalian; siapa di antara kalian yang paling baik amalnya”. (Al-Mulk: 2).
Salah seorang generasi salaf berkata, "Maksudnya,
siapa di antara mereka yang paling
zuhud di dunia dan paling cinta akhirat? Allah menjadikan apa saja di dunia;
kegembiraan dan kenikmatan, sebagai ujian untuk menguji siapa di antara mereka yang membela dunia, cenderung kepadanya,
dan siapa orang yang tidak seperti
itu, seperti difirmankan Allah Ta'ala, Sesungguhnya Kami telah menjadikan
apa yang ada di bumi sebagai perhiasan
baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.' (Al-Kahfi: 7). Kemudian Allah menjelaskan bahwa dunia akan sirna pada suatu
saat. Allah berfirman, 'Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan
apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus'. (Al-Kahfi: 8). Ketika mereka mengetahui hakikat kehidupan
dunia, mereka menjadikan obsesi
mereka mencari bekal untuk akhirat yang merupakan negeri abadi dan mengambil dunia sebatas seperti
yang dibutuhkan seorang musafir untuk perjalanannya, seperti disabdakan
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, 'Apa urusanku dengan dunia. Sesungguhnya perumpamaanku
dan perumpamaan dunia ialah seperti pengembara yang tidur siang di bawah naungan
salah satu pohon; ia istirahat
kemudian meninggalkannya". [38])
Sejumlah sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, di
antaranya Salman, Abu Ubaidah
bin Al-Jarrah, Abu Dzar, dan Aisyah [39]),
berpesan agar bekal seseorang dengan dunia ialah sebatas bekal pengembara. Ibnu
Umar berpesan agar orang di dunia
seperti orang asing atau pejalan kaki dan mengganggap dirinya termasuk penghuni kuburan. [40])
Orang-orang di kelompok ini (kelompok yang berlomba
dalam kebaikan seizin Allah) terbagi ke dalam dua kelompok;
Pertama, kelompok yang hanya mengambil dunia sebatas yang menutup kerongkongan saja. Inilah kondisi kebanyakan orang-orang
zuhud.
Kedua, kelompok yang terkadang mengizinkan dirinya makan sebagian
syahwat yang diperbolehkan agar
dirinya menjadi kuat dan giat beramal, seperti diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bahwa beliau
bersabda,
"Di antara dunia kalian yang
aku dibuat senang kepadanya ialah wanita dan parfum, dan penyejuk mataku
dijadikan dalam shalat”. (Diriwayatkan
Imam Ahmad dan An-Nasai dari Anas bin Malik). [41]
Imam Ahmad [42])
meriwayatkan hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang berkata, "Di antara dunia yang
disukai Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam ialah wanita, parfum, dan
makanan. Beliau telah mendapat wanita dan parfum, namun tidak mendapatkan makanan”.
Wahb berkata, "Di hikmah keluarga Nabi Daud Alaihis Salam
tertulis, 'Orang berakal tidak pantas melalaikan empat hal; sesaat
untuk mengevaluasi dirinya, sesaat
untuk bermunajat kepada Tuhannya, sesaat untuk bertemu saudara-saudaranya
yang menjelaskan aib dirinya dan membenarkannya tentang dirinya, dan sesaat untuk menyendiri antara dirinya dengan
kelezatannya dalam hal-hal yang halal
dan baik, karena di sesaat ini terdapat pembantu untuk saat-saat tersebut, kehidupan dan relaksasi untuk hati'“.
Jika orang Mukmin ketika melampiaskan syahwatnya yang
mubah berniat untuk memperkuat diri untuk taat,
maka syahwatnya adalah ketaatan baginya dan ia diberi pahala, seperti dikatakan
Muadz bin Jabal, "Sungguh aku mengharapkan pahala dari tidurku sebagaimana aku mengharapkan pahala dari shalatku”.
Maksudnya, ia berniat dengan tidurnya untuk memperkuat dirinya hingga mampu melakukan qiyamul lail di akhir malam. Jadinya, ia
mengharapkan pahala tidurnya sebagaimana
ia mengharapkan pahala dari shalat malamnya.
Jika
salah seorang dari generasi salaf makan sesuatu dari syahwatnya yang mubah, ia
memberikannya kepada saudara-saudaranya, seperti diriwayatkan dari Ibnu Al-Mubarak bahwa jika ia menginginkan
sesuatu, ia tidak memakannya hingga makanan
tersebut juga diinginkan sebagian sahabat-sahabatnya kemudian ia makan bersama mereka. Begitu juga, jika ia menginginkan
sesuatu, ia mengajak tamunya untuk
makan bersamanya.
Disebutkan dari Al-Auzai yang berkata, "Tiga orang
yang tidak ada hisabnya di makanan
mereka; orang yang makan sahur, orang puasa hingga berbuka puasa, dan makanan tamu”.
Al-Hasan berkata, "Engkau tidak dikatakan cinta
dunia jika engkau mencari sesuatu
yang memperbaiki dirimu di dalamnya dan engkau tidak dikatakan zuhud di dunia jika engkau meninggalkan kebutuhan di mana
kebutuhan tersebut ditutup dengan meninggalkannya.
Barangsiapa cinta dunia dan senang kepadanya, maka takut kepada akhirat hilang dari hatinya”.
Said bin Jubair berkata, "Kenikmatan yang menipu
ialah kenikmatan yang melalaikanmu
dari mencari akhirat dan apa saja yang tidak melalaikanmu tidak dikatakan kenikmatan yang menipu, namun dikatakan
kenikmatan yang mengantarkan kepada
sesuatu yang lebih baik”.
Yahya bin Muadz Ar-Razi berkata, "Bagaimana aku
tidak mencintai dunia yang di dalamnya aku diberi makanan untuk mendapatkan
kehidupan, kemudian dengan
kehidupan tersebut aku mendapatkan ketaatan, kemudian dengan ketaatan tersebut
aku mendapatkan akhirat?"
Abu Shafwan Ar-Raini berkata, "Dunia apa yang dicela
Allah di Al-Qur'an yang harus dijauhi orang berakal?" Kata Abu Shafwan
Ar-Raini lebih lanjut, "Apa saja
yang engkau dapatkan di dunia untuk mendapatkan dunia adalah
tercela dan apa saja yang engkau dapatkan di
dalamnya untuk mendapatkan akhirat adalah tidak
tercela”.
Al-Hasan berkata, "Negeri terbaik ialah dunia bagi
orang Mukmin karena ia beramal sedikit
dan mengambil bekal darinya ke surga. Dan negeri terjelek ialah dunia bagi orang kafir dan orang munafik, karena ia
menyia-nyiakan malam-malamnya dan
mengambil bekal darinya ke neraka”.
Aifa' bin Abidin Al-Kalai berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
'Jika penghuni surga telah masuk
surga dan penghuni neraka telah masuk neraka, Allah berfirman, 'Hai penghuni surga, berapa tahun kalian hidup
di bumi?' Mereka berkata, 'Kami hidup
satu hari atau setengah hari'. Allah berfirman,
Sungguh baik apa yang kalian bisniskan di satu hari atau setengah hari tersebut, kalian mendapatkan Rahmat-Ku,
keridhaan-Ku, dan surga-Ku.
Tinggallah kalian di surga dengan kekal dan dikekalkan'.
Kemudian Allah berfirman kepada para penghuni neraka, Berapa tahun kalian
tinggal di bumi?' Mereka menjawab,
Kami tinggal satu hari atau setengah hari'. Allah berfirman, Sungguh jelek apa yang kalian bisniskan di satu satu
hari atau setengah hari tersebut; kalian mendapatkan kemurkaan-Ku,
ketidakridhaan-Ku, dan neraka-Ku Tinggallah kalian di neraka dengan kekal dan dikekalkan".
[43])
Al-Hakim [44])
meriwayatkan hadits dari Abdul Jabbar bin Wahb yang berkata, Sa'ad bin Thariq berkata kepada kami dari ayahnya dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda,
"Negeri dunia terbaik ialah
bagi orang berbekal dengannya untuk akhirat hingga ia ridha kepada Tuhannya. Negeri dunia terjelek
ialah bagi orang yang
dihalang-halangi dari akhiratnya dan tidak mampu mencapai keridhaan Tuhannya. Jika seorang hamba berkata, Mudah-mudahan
Allah menjelek-jelekkan dunia', maka dunia berkata, Mudah-mudahan Allah
menjelek-jelekkan orang yang paling maksiat di
antara kami kepada Tuhannya”.
Al-Hakim berkata, "Sanad hadits ini shahih”. Hadits
tersebut juga diriwayatkan
Al-Uqaili dan berkata, "Abdul Jabbar bin Wahb tidak dikenal dan haditsnya tidak
kuat. Ucapan ini diriwayatkan pula dari perkataan Ali bin Abu Thalib”.
Perkataan Ali bin Abu Thalib yang diriwayatkan Ibnu Abu
Ad-Dunya [45]) darinya dengan sanad yang terdapat catatan di dalamnya
ialah bahwa Ali bin Abu Thalib mendengar seseorang mencela dunia kemudian ia
berkata, "Sesungguhnya dunia
adalah negeri kebenaran bagi orang yang membenarkannya, negeri keselamatan bagi orang yang memahaminya, negeri kekayaan
bagi orang yang berbekal dengannya,
masjid orang-orang kecintaan Allah, tempat turun wahyu-Nya, tempat shalat para
Malaikat-Nya, dan tempat bisnis para wali-Nya. Mereka mendapatkan rahmat di dalamnya dan mendapatkan keuntungan berupa
surga. Barangsiapa mencela dunia, sungguh ia
mengumumkan perpisahan dirinya dengan dunia, menyiarkan aibnya, mencela dirinya
dan penghuninya, kemudian dunia menjelma menjadi
petaka dengan petakanya dan merindukan dengan kesenangannya kepada kesenangan. Dunia dicela salah satu kaum pada saat
hari penyesalan dan dipuji kaum yang lain. Dunia bercerita kepada mereka kemudian mereka membenarkan dan mengingatkan mereka kemudian mereka ingat. Hai
orang yang tertipu oleh dunia dan terpedaya oleh jebakannya, kapan dunia
menyerah kepadamu? Kapan dunia menipumu?
Apakah di tempat pembaringan nenek moyangmu? Ataukah di tempat kematian para ibumu? Betapa seringnya
dunia berbalik dengan kedua telapak tanganmu.
Betapa seringnya dunia sakit dengan kedua tanganmu kemudian dunia meminta kesembuhan untuknya dan bertanya kepada
para dokter untuknya, namun dunia tidak dapat memenuhi kebutuhanmu dan tidak
mengabulkan permintaanmu. Dunia
menjelmakan kematiannya untukmu dengan kematianmu esok hari. Ketika itulah, tangisan tidak bisa membelamu dan
orang-orang kecintaanmu tidak bermanfaat
bagimu”.
Di
perkataan di atas, Amirul Mukminin Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu menjelaskan
bahwa dunia tidak bisa dicela secara mutlak, namun dunia dipuji bagi orang yang berbekal di dalamnya
dengan amal-amal shalih. Di dalamnya terdapat masjid-masjid para nabi, tempat
turunnya wahyu, dan tempat bisnis kaum Mukminin
kemudian mereka mendapatkan rahmat di dalamnya dan mendapatkan keuntungan berupa surga. Jadi, dunia adalah
negeri terbaik bagi orang yang sifatnya seperti itu. Adapun perkataan Ali bin Abu Thalib bahwa dunia menipu dan
memperdaya, maka dunia menyeru dengan pelajaran-pelajarannya, menasihati
dengan pesan-pesannya, dan memperlihatkan aib-aibnya karena apa yang ia lihat
pada penghuninya, yaitu kebinasaan
orang-orang yang binasa, pergantian kondisinya dari sehat ke sakit, remaja ke tua, kaya ke miskin, dan mulia ke hina,
namun pecinta dunia dibuat tuli dan
buta oleh cinta kepadanya. Ya, pecinta tidak mendengar seruannya, seperti dikatakan di syair,
"Sungguh dunia menyeru dengan
dirinya
Seandainya di dunia ini ada orang
yang mendengar
Betapa banyak orang yang percaya
dengan umurnya, namun aku sirnakan dia
Betapa banyak pengumpul, namun aku
cerai-beraikan apa yang ia kumpulkan”.
Yahya bin Muadz berkata, "Jika manusia mendengar
suara ratapan terhadap dunia di alam
ghaib dari mulut orang-orang yang telah meninggal dunia, hati mereka pasti jatuh berguguran karena sedih”. [46])
Salah seorang bijak berkata, "Dunia adalah
perumpamaan-perumpamaan yang dibuat
hari-hari untuk manusia dan ilmu zaman yang tidak membutuhkan penerjemah. Karena cinta dunia, pendengaran hati menjadi
tuli dari pelajaran-pelajaran”.
Orang-orang
zuhud terhadap kelebihan-kelebihan dunia terbagi ke dalam beberapa kelompok.
Ada orang yang mendapatkannya kemudian menahannya dan mendekat dengannya kepada
Allah, seperti yang terjadi di kebanyakan para sahabat dan lain-lain. Abu
Sulaiman berkata, "Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua
gudang dari gudang-gudang Allah di bumi. Keduanya berinfak dalam ketaatan
kepada-Nya dan berinteraksi dengan Allah dengan hati”. [47])
Di
antara mereka ada orang-orang yang mengeluarkan kelebihan dunia dari tangan
mereka dan tidak menahannya. Mereka terbagi ke dalam dua kelompok;
Pertama, orang-orang yang
mengeluarkannya dengan sukarela.
Kedua, orang-orang yang
mengeluarkannya tapi jiwa mereka menolak mengeluarkannya, tapi mereka melawan
jiwa mereka hingga mampu mengeluarkannya.
Ada
perbedaan pendapat mengenai siapa di antara keduanya yang paling baik. Ibnu
As-Sammak dan Al-Junaid berkata, "Kelompok pertama lebih baik karena
dirinya berada dalam tingkatan kedermawanan dan zuhud”. Ibnu Atha' berkata,
"Kelompok kedua lebih baik karena mereka mempunyai amal dan perjuangan
melawan dirinya sendiri”. Perkataan Imam Ahmad mendukung pendapat Ibnu Atha'.
Di
antara mereka ada yang tidak mendapatkan sesuatu apa pun dari
kelebihan-kelebihan dunia dan ia zuhud dalam mendapatkannya karena mampu
mendapatkannya atau tidak. Kelompok pertama (kelompok yang mampu
mendapatkannya) lebih baik. Oleh karena itu, banyak sekali generasi salaf
berkata, "Umar bin Abdul Aziz lebih zuhud daripada Uwais dan lain-lain”.
Ini yang dikatakan Abu Sulaiman" [48])
dan lain-lain.
Malik
bin Dinar berkata, "Manusia berkata bahwa Malik adalah orang zuhud,
padahal orang zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz". [49])
Para
ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih baik antara mencari dunia untuk
menyambung silaturahim dan memberikannya kepada dirinya atau orang yang
meninggalkan dunia dan tidak mencarinya secara total? Sejumlah ulama, di
antaranya Al-Hasan dan lain-lain, menguatkan pendapat yang meninggalkan dunia
dan menjauhinya. Sejumlah ulama, di antaranya An-Nakhai dan lain-lain,
menguatkan pendapat bahwa orang yang mencari dunia dari jalannya itu lebih
baik. Hal yang sama diriwayatkan dari Al-Hasan.
Orang-orang
zuhud di dunia dengan hati mereka mempunyai sejumlah penglihatan yang mereka
saksikan. Di antara mereka ada yang menyaksikan banyaknya kelelahan dalam upaya
mencapai penglihatan tersebut kemudian ia zuhud di dalamnya dengan maksud menghibur dirinya. Al-Hasan berkata, "Zuhud
di dunia itu menghibur hati dan dunia''. [50])
Di antara mereka ada yang
takut bagiannya berkurang di akhirat
karena mengambil kelebihan-kelebihan
dunia. Di antara mereka ada yang takut lamanya hisab terhadap dirinya. Salah seorang dari mereka [51])
berkata, "Barangsiapa meminta dunia,
ia meminta lama dihisab (di akhirat)”.
Di antara mereka ada yang menyaksikan banyaknya aib
dunia, kecepatan perubahan dan
kepergiannya, dan kerumunan orang-orang hina dalam mencarinya, seperti
dikatakan kepada salah seorang dari mereka, "Apa yang membuatmu zuhud di dunia?" Orang tersebut menjawab, "Yaitu
minimnya ia menepati janji, kebusukannya yang
banyak, dan kehinaan sekutu-sekutunya”.
Di antara mereka ada yang melihat kehinaan dunia di sisi
Allah kemudian ia membencinya,
seperti dikatakan Al-Fudhail bin Iyadh, "Jika dunia dan seisinya dipaparkan kepadaku dalam keadaan halal dan aku tidak
dihisab dengannya di akhirat, maka aku membencinya sebagaimana orang membenci
bangkai jika ia melewatinya dan ia khawatir bangkai
tersebut mengenai bajunya”. [52])
Di antara mereka ada yang takut kalau dunia
menyibukkannya dari mengadakan persiapan untuk akhirat dan
mencari bekal untuknya. Al-Hasan berkata, "Jika
salah seorang dari mereka menjalani hidupnya dalam keadaan sangat melarat dan di sampingnya terdapat harta halal kemudian
dikatakan kepadanya, 'Kenapa engkau
tidak datang kepada harta tersebut dan mengambilnya?' Ia pasti menjawab, 'Tidak, demi Allah. Aku takut datang kepada harta
tersebut kemudian mendapatkannya, karena itu akan merusak hati dan
amalku''. [53])
Harta dikirim kepada Umar bin Al-Munkadir kemudian ia
menangis dengan tangisan keras.
Ia berkata, "Aku takut dunia menguasai hatiku, akibatnya aku tidak mendapatkan bagian di akhirat. Itulah yang membuatku
menangis”. Kemudian harta tersebut ia perintahkan disedekahkan kepada
orang-orang miskin Madinah.
Orang-orang khos di antara mereka takut kalau
dunia menyibukkannya dari Allah,
seperti dikatakan Rabi'ah, "Aku tidak ingin mempunyai dunia yang halal sekali
pun dari awal hingga akhir. Aku menginfakkanya di jalan Allah, karena dunia
menyibukkanku dari Allah meski sekejap mata”.
Abu Sulaiman berkata, "Zuhud ialah meninggalkan apa
saja yang menyibukkan dari Allah”. [54])
Abu Sulaiman juga berkata, "Apa saja yang
menyibukkanmu dari Allah; baik itu
keluarga, harta, dan anak, maka tercela”. [55])
Abu Sulaiman juga berkata, "Orang zuhud di dunia
terbagi ke dalam dua kelompok; Pertama,
orang yang zuhud di dunia kemudian
aroma akhirat tidak dibuka untuknya
di dunia. Kedua, orang yang jika zuhud di dunia, maka aroma akhirat dibuka baginya di dunia dan tidak ada sesuatu
yang lebih ia sukai daripada abadi untuk taat kepada Allah”.
[56])
Abu Sulaiman juga berkata, "Orang zuhud bukan orang
yang mencampakkan duka-duka
dunia dan istirahat darinya, namun orang zuhud ialah orang yang zuhud
di dunia dan lelah di dalamnya untuk
akhirat”. [57])
Jadi, zuhud di dunia ialah mengosongkan hati dari sibuk
dengan dunia untuk berkonsentrasi mencari Allah,
mengenal-Nya, mendekat kepada-Nya, damai dengan-Nya,
dan rindu bertemu dengan-Nya. Kesemua hal tersebut bukan termasuk dunia
seperti disabdakan Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam,
"Di antara dunia kalian yang
aku dibuat cinta kepadanya ialah wanita dan parfum, dan dijadikan sebagai penyejuk mataku adalah
shalat”.
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menjadikan shalat yang beliau dibuat cinta kepadanya sebagai dunia. Begitu yang disebutkan
di Al-Musnad dan An-Nasai. Saya
kira di selain kedua buku tersebut disebutkan,
"Tiga hal dan dunia kalian yang
aku dibuat cinta kepadanya”.
[58])
Tapi di hadits tersebut, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memasukkan shalat
sebagai dunia. Hal ini didukung hadits,
"Dunia terlaknat dan terlaknat
apa saja yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan apa saja yang mendukungnya (dzikir),
orang alim, dan orang yang
belajar”. (Diriwayatkan Ibnu Majah dan
At-Tirmidzi. At-Tirmidzi meng-hasankan hadits tersebut dari
hadits Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam). [59]
Hadits
semakna diriwayatkan dari jalur lain secara mursal dan muttashil
(sanadnya tidak terputus).
Ath-Thabrani
[60])
meriwayatkan hadits dari Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Dunia terlaknat dan terlaknat pula apa saja yang
ada di dalamnya, kecuali sesuatu yang digunakan untuk mencari keridhaan Allah”.
Hadits
tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya [61])
secara mauquf. Ia juga meriwayatkannya dari riwayat Syahr bin Hausyab
dari Ubadah dan saya kira Ubadah berkata bahwa hadits tersebut dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Pada Hari Kiamat, dunia didatangkan kemudian
dikatakan, 'Bedakan apa yang milik Allah di antara dunia dan lemparkan yang
lainnya ke neraka”.
Jadi,
dunia dan apa saja di dalamnya adalah terlaknat, maksudnya dijauhkan dari
Allah, karena menyibukkan manusia dari Allah, kecuali ilmu yang bermanfaat yang
menunjukkan kepada Allah, kenal dengan-Nya, mencari kedekatan dengan-Nya dan
keridhaan-Nya, juga dzikir kepada Allah dan apa saja yang mendukungnya dari apa
saja yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah. Itulah tujuan dunia, karena
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya hanya untuk bertakwa dan taat kepada-Nya.
Itu semua menghendaki seorang hamba selalu dzikir kepada Allah, seperti
dikatakan Ibnu Mas'ud, "Takwa kepada Allah dengan takwa yang sebenarnya
ialah agar Allah diingat dan tidak dilupakan”. [62])
Allah mensyariatkan shalat untuk dzikir kepada-Nya. Begitu juga haji dan
thawaf. Ahli ibadah yang paling utama ialah orang yang paling banyak dzikir
kepada Allah dalam ibadahnya. Jadi, ini semua (dzikir, shalat, dll) tidak
termasuk dunia yang tercela, karena itulah tujuan penciptaan dunia dan manusia,
seperti difirmankan Allah Ta’ala,
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka menyembah-Ku”. (Adz-Dzaariyat: 56).
Sebagian fuqaha' dan orang-orang sufi menduga bahwa
seluruh ibadah yang ada di bumi lebih baik daripada kenikmatan yang ada di
surga. Mereka berkata, "Karena
kenikmatan surga adalah jatah hamba sedang ibadah-ibadah di dunia adalah hak Allah. Dan hak Allah itu lebih baik daripada jatah
hamba”. Ini rancu dan kerancuan
mereka diperkuat ucapan banyak mufassir tentang firman Allah Ta'ala,
"Barangsiapa membawa kebaikan, maka ia
memperoleh yang lebih baik dari padanya”. (An-Naml: 89). Mereka berkata, "Kebaikan tersebut
ialah kalimat laa ilaaha
illallah dan tidak ada sesuatu apa pun yang
lebih baik daripada kalimat tersebut”. Namun susunan kalimat di ayat tersebut mengalami taqdim (dimajukan)
dan ta’khir (diakhirkan). Jadi, maksud ayat tersebut, maka baginya
kebaikan. Makna yang lengkap lagi, ia mendapatkan kebaikan
karenanya.
Pendapat yang benar ialah apa yang dikatakan Al-Qur'an
dan sunnah bahwa akhirat lebih
baik daripada dunia secara mutlak. Di Shahih
Al-Hakim [63]) disebutkan
hadits dari Al-Mustaurid bin Syaddad
yang berkata, "Kami sedang berada di tempat Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam kemudian
mereka (kami) ngobrol tentang dunia dan
akhirat. Sebagian dari mereka berkata, 'Dunia adalah pengantar ke akhirat. Di dalamnya terdapat amal, shalat, dan zakat'. Sebagian
yang lain berkata, 'Di akhirat terdapat
surga'. Mereka berkata terus sesuai dengan kehendak Allah kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidaklah dunia di akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian berjalan ke laut
kemudian memasukkan jari-jarinya ke
laut. Apa yang keluar dari jari-jarinya itulah dunia'“. Hadits ini secara
transparan menegaskan bahwa akhirat lebih baik daripada dunia
beserta isinya.
Penjelasannya
bahwa kesempurnaan dunia terletak pada ilmu dan amal. Ilmu yang merupakan tujuan amal menjadi berlipat ganda di akhirat dengan
sesuatu yang tidak ada di dunia.
Akar ilmu ialah ilmu tentang Allah, Nama-nama dan Sifat-sifat-Nya. Di akhirat, tutup menjadi terbuka,
cerita-cerita menjadi fakta yang bisa dilihat, ilmu yakin menjadi fakta
konkrit, dan pengenalan (ma'rifat) kepada Allah menjadi penglihatan langsung
kepada-Nya. Mana mungkin itu semua bisa dibandingkan
dengan sesuatu yang ada di dunia?
Adapun amal-amal tubuh, maka di dunia mempunyai dua
tujuan; Pertama, menyibukkan organ tubuh dengan ketaatan dan membuatnya
serius dengan ibadah. Kedua, menyatukan hati dengan Allah dan menyinarinya dengan
dzikir kepada-Nya.
Tujuan pertama dihapus dari para penghuni surga. Oleh
karena itu, diriwayatkan bahwa ketika mereka ingin sujud untuk Allah pada saat
Dia menampakkan diri kepada mereka, dikatakan kepada mereka, "Angkat
kepala kalian karena kalian tidak lagi
di negeri perjuangan”.
Sedang tujuan kedua, maka tetap terjadi pada penghuni
surga dalam bentuk yang lebih
sempurna dan paripurna. Selain itu, apa saja yang tadinya terjadi di hati selama di dunia, misalnya sentuhan-sentuhan kedekatan,
kedamaian, dan keterkaitan hati
dengan Allah menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan apa yang mereka saksikan di akhirat dengan kasat mata, karena
ketika itu hati, mata, dan telinga
mereka berada dalam kenikmatan karena berdekatan dengan Allah, melihat-Nya,
dan mendengar firman-Nya, terutama pada waktu-waktu shalat versi dunia, misalnya shalat Jum'at dan shalat Hari Raya.
Orang-orang yang didekatkan kepada Allah
di antara mereka ada yang mendapatkan hal-hal tersebut dua kali dalam setiap hari; pagi dan petang di waktu shalat
Shubuh dan shalat Ashar (versi dunia). Oleh
karena itu, setelah menyebutkan bahwa penghuni surga melihat Tuhan mereka [64]), Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam menganjurkan kaum
Muslimin menjaga shalat Ashar dan
shalat Shubuh, karena kedua waktu shalat tersebut adalah waktu bagi orang-orang khos (khusus)
di antara penghuni surga untuk melihat Tuhan mereka dan berkunjung kepada-Nya.
Begitu juga dzikir dan membaca Al-Qur'an, maka tetap berlangsung pada penghuni surga, karena mereka diberi ilham
untuk bertasbih sebagaimana mereka
diberi ilham untuk bernafas. Ibnu Uyainah berkata, "Kalimat laa ilaaha illalah bagi penghuni surga adalah seperti air segar untuk penghuni dunia. Bagaimana mungkin dzikir
orang-orang arif di dunia bisa dibandingkan dengan kelezatan penghuni
surga dengan kalimat tersebut di surga?"
Dengan demikian, menjadi jelaslah bahwa firman Allah Ta’ala, "Barangsiapa membawa kebaikan, maka ia memperoleh yang lebih baik
daripadanya”. (An-Naml: 89)
itu sesuai dengan substantifnya, karena pahala kalimat tauhid di dunia
mengantarkan pengucapnya untuk mengatakannya di surga dalam bentuk yang dikhususkan bagi penghuni surga.
Kesimpulannya, detail ilmu tentang Allah, Nama-nama-Nya,
Sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya,
kedekatan-Nya, penglihatan-Nya, dan kelezatan dzikir kepada-Nya yang terjadi pada penghuni surga merupakan
sesuatu yang hakikatnya tidak mungkin
bisa diungkap di dunia, karena penghuninya belum mendapatkannya dalam bentuk
aslinya, bahkan hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pernah
terlintas di benak manusia. Kepada Allah kita meminta
agar Dia tidak mengharamkan kita terhadap kebaikan di sisi-Nya karena keburukan
yang ada pada kita sesuai dengan kemuliaan dan rahmat-Nya, amiin.
Kita kembali kepada syarah hadits, "Dan zuhudlah terhadap
apa yang ada di tangan manusia niscaya
engkau dicintai manusia”. Hadits ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala
mencintai orang-orang yang zuhud di
dunia. Salah seorang dari generasi salaf
berkata, "Para Hawariyun berkata
kepada Nabi Isa Alaihis-Salam, 'Wahai ruh Allah, ajarkan
kepada kami satu perbuatan yang membuat
kami dicintai Allah Azza wa jalla'. Nabi
Isa Alaihis Salam menjawab,
'Bencilah dunia, niscaya Allah Azza
wa Jalla mencintai kalian'“.
Allah Ta'ala mencela orang-orang yang mencintai dunia dan mengutamakannya daripada akhirat, seperti yang Dia firmankan,
'Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kalian mencintai kehidupan dunia. Dan meninggalkan akhirat”. (Al-Qiyamah:
20-21).
Allah Ta'ala
berfirman,
"Dan kalian
mencintai harta dengan kecintaan yang
berlebihan”. (Al-Fajr: 20).
Allah Ta'ala
berfirman,
"Dan sesungguhnya
dia sangat bakhil karena cinta
kepada harta”. (Al-Adiyaat: 8).
Jika Allah Ta'ala
mencela orang-orang yang mencintai
dunia, maka itu menunjukkan
bahwa Dia memuji orang-orang yang tidak mencintai dunia, menolaknya, dan meninggalkannya.
Di Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan hadits dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Barangsiapa mencintai
dunia, ia merugikan akhiratnya. Barangsiapa mencintai akhiratnya, ia
merugikan dunianya kemudian ia mengutamakan sesuatu yang abadi daripada sesuatu yang fana”. [65])
Di Al-Musnad dan Sunan Ibnu
Majah disebutkan hadits dari Zaid bin
Tsabit Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Barangsiapa dunia menjadi obsesinya, maka Allah mencerai-beraikan urusannya, menjadikan
kemiskinannya di kedua matanya, dan dunia
tidak datang kepadanya kecuali yang
telah ditetapkan baginya. Barangsiapa akhirat menjadi niatnya, maka Allah menyatukan urusannya, menjadikan kekayaannya di hatinya, dan
dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk”. [66])
Hadits semakna diriwayatkan At-Tirmidzi [67]) dari
Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.
Salah seorang sahabat, Jundab bin Abdullah Radhiyallahu
Anhu, berkata,
"Cinta dunia adalah induk segala
kesalahan”. Perkataan tersebut juga diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam dan juga
diriwayatkan dari Al-Hasan secara mursal. [68])
Al-Hasan berkata, "Barangsiapa cinta dunia dan senang
kepadanya, maka cinta akhirat
keluar dari hatinya”. [69])
Aun bin Abdullah berkata, "Dunia dan akhirat di hati
adalah seperti dua piringan
timbangan; jika salah satu piringannya lebih berat, maka piringan satunya menjadi
ringan”. [70])
Wahb berkata, "Dunia dan akhirat ibarat seorang
laki-laki yang mempunyai dua istri; jika ia ridha kepada
salah satu istrinya, ia marah kepada istri satunya". [71])
Jadi, zuhud adalah simbol para Nabi Allah, wali-wali-Nya,
dan orang-orang kecintaan-Nya. Amr bin Al-Ash Radhiyallahu Anhu berkata,
"Betapa jauhnya petunjuk
kalian dari petunjuk Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam. Beliau orang yang paling zuhud di dunia, sedang kalian manusia
paling cinta dunia”. (Diriwayatkan
Imam Ahmad). [72]
Ibnu Mas'ud Radluyallahu
Anhu berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Kalian lebih banyak puasa, shalat, dan jihad daripada
sahabat-sahabat Muhammad Shallallahu
Alaihi wa Sallam, namun mereka
lebih baik daripada kalian”. Sahabat-sahabat Ibnu Mas'ud berkata, "Kenapa begitu?" Ibnu Mas'ud berkata,
"Mereka lebih zuhud di dunia dan
lebih cinta akhirat daripada kalian”. [73])
Abu Ad-Darda' Radhiyallahu
Anhu berkata, "Jika kalian bersumpah
kepadaku tentang seseorang bahwa ia
orang paling zuhud di antara kalian, maka aku bersumpah untuk kalian bahwa orang tersebut merupakan orang paling baik
di antara kalian'.
Diriwayatkan dari Al-Hasan yang berkata, orang-orang
berkata,
"Wahai Rasulullah, siapa yang
paling baik di antara kita?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Yaitu
orang di antara kalian yang paling zuhud di
dunia dan paling cinta akhirat”.
[74])
Perkataan tentang tema ini sangat banyak dan apa yang
saya sebutkan sudah cukup, Insya Allah.
Wasiat kedua di hadits bab di atas ialah zuhud terhadap
apa saja yang ada di tangan manusia.
Zuhud seperti ini membuat orang dicintai manusia. Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bahwa beliau berwasiat kepada
seseorang dengan bersabda kepadanya,
"Berputus asalah terhadap apa
saja yang ada di tangan manusia, niscaya engkau menjadi orang kaya”. (Diriwayatkan
Ath-Thabrani dan lain-lain). [75]
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
'Kemuliaan orang Mukmin ialah
qiyamul lailnya dan kehormatannya ialah ketidak-butuhannya kepada manusia”. [76])
Al-Hasan berkata, "Engkau selalu menjadi mulia di
mata manusia atau manusia senantiasa
memuliakanmu jika engkau tidak mengambil apa yang ada di tangan manusia. Jika engkau mengambil apa yang ada di
tangan manusia, mereka meremehkanmu, membenci perkataanmu, dan benci kepadamu”.
[77])
Ayyub As-Sikhtiyani berkata, "Orang tidak mulia
hingga mempunyai dua sifat; tidak
meminta apa yang ada di tangan manusia dan memaafkan kesalahan mereka”. [78])
Umar berkata dalam khutbahnya di atas mimbar,
"Sesungguhnya tamak adalah
kemiskinan dan putus asa adalah kekayaan. Jika seseorang putus asa dari sesuatu, ia tidak membutuhkannya”. [79])
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Salam bertemu Ka'ab di
rumah Umar bin Khaththab kemudian Abdullah bin
Salam berkata, "Hai Ka'ab, siapakah orang-orang
berilmu?" Ka'ab berkata, "Orang-orang yang mengamalkannya”. Abdullah bin Salam berkata, "Apa yang menyebabkan
hilangnya ilmu dari hati para ulama, padahal
mereka telah menghapal dan memahaminya?" Ka'ab menjawab, "Ilmu menjadi hilang oleh tamak, kerakusan jiwa, dan
engkau meminta kebutuhan kepada manusia”.
Abdullah bin Salam berkata, "Engkau berkata benar”. [80])
Banyak sekali hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallarn yang memerintahkan
menahan diri dari meminta-minta kepada manusia dan merasa tidak membutuhkan mereka. Jadi, barangsiapa meminta sesuatu
yang ada di tangan manusia, maka
mereka membencinya dan tidak menyukainya, karena harta itu disukai manusia, karenanya, barangsiapa meminta apa yang mereka
sukai, maka mereka membencinya.
Sedang orang yang memberi apa yang diminta peminta dan
berpenclapat bahwa jika ia memberikan seluruh
hartanya kepada peminta, maka ia belum berbuat maksimal kendati ia telah memberi apa yang diminta peminta dan peminta
menampilkan hina kepadanya, atau ia
berkata kepada keluarganya, "Pakaian kalian dikenakan orang lain itu lebih baik bagi kalian daripada
kalian yang mengenakannya dan
kendaraan kalian dinaiki orang lain itu lebih daripada kalian sendiri yang menaikinya," maka itu semua langka sekali terjadi pada
manusia dan lembaran sejarah sudah
tertutup serta tidak lagi menulis kisah seperti itu sejak berabad-abad yang silam.
Adapun orang yang zuhud terhadap apa yang ada di tangan
manusia dan menahan diri dari meminta mereka, maka mereka akan
mencintai dan memuliakannya. Karenanya, ia
menjadi mulia di atas mereka, seperti dikatakan orang Arab Badui kepada penduduk Basrah, "Siapa orang
yang mulia di desa ini?" Penduduk Basrah
menjawab, "Al-Hasan”. Orang Arab Badui tersebut bertanya, "Kenapa ia mulia
atas penduduk Basrah?" Penduduk Basrah menjawab, "Manusia membutuhkan ilmunya sedang ia tidak membutuhkan dunia
mereka”.
Sungguh indah apa yang dikatakan salah seorang dari
generasi salaf yang berkata tentang sifat dunia dan penghuninya,
"Dunia tidak lain adalah
bangkai yang berubah,
Yang dikerumuni anjing-anjing dan
mereka ingin menyeretnya
jika engkau menjauhi bangkai
tersebut, engkau memberi kedamaian bagi pemiliknya
Jika engkau menariknya, engkau
bersaing dengan anjing-anjingnya”.
[1] Diriwayatkan
Ibnu Majah hadits nomer 4102, Ibnu Hibban di Raudhatul Uqala’ hal. 141, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 5972. Al-Qudhai di Musnad Asy-Syihab hadits nomer
643. Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/252-253.
7/136, di Tarikhu Ashbahan 2/244-245. Ibnu Adi di Al-Kamil
3/902, Al-Uqaili di Adh-Dhu'afa' 2/11, dan Al-Hakim 4/313 dari jalur Khalid bin Amr Al-Qurasyi dari Sufyan Ats-Tsauri dari Abu
Hazim dari Sahl bin Sa'ad.
Al-Bushairi berkata di Zawaaidu Ibnu Majah hal. 258,
”Sanad hadits ini dhaif. Tentang Khalid bin Amr, Imam
Ahmad dan Ibnu Main berkata, 'Hadits-haditsnya palsu'. Al-Bukhari dan Abu Zur'ah berkata, 'Haditsnya munkar'. Ibnu Hibban
berkata, 'Ia sendirian meriwayatkan hadits-hadits
palsu dari para perawi tepercaya. Haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah'.
Kemudian ia lalai, karena menyebutkan
Khalid bin Amr di Ats-Tsiqaat. Khalid bin Amr dianggap sebagai perawi dhaif
oleh Abu Daud dan An-Nasai. Ibnu
Adi berkata. 'Sebagian besar hadits-haditsnya atau semuanya palsu'. Al-Hakim berkata, 'Hadits ini sanadnya shahih', namun
itu ditentang Adz-Dzahabi yang berkata. 'Khalid bin Amr itu pemalsu hadits'“.
[2] Di Adh-Dhu’afa' 2/11. Saya katakan, Muhammad bin Katsir Ash-Shan'ani
banyak kekeliruannya, jadi, mutabaah
yang ada tidaklah menggembirakan.
[3] Persetujuan kedua orang tersebut juga tidak
menguatkan hadits di atas, karena tentang Abu Qatadah yang nama aslinya Abdullah bin Waqid, Al-Bukhari berkata,
"Para ulama tidak menggubrisnya, karena haditsnya munkar”. Di
tempat lain, Al-Bukhari berkata, "Mereka tidak berkomentar apa-apa tentang dia”.
[4] Di Al-‘Ilal 2/107.
[5] Hal. 197 hadits nomer 131.
[6] Di
Al-Kamil 3/902.
[7] Zafir banyak kesalahannya sedang tentang Muhammad
bin Uyainah, Abu Hatim berkata, ”Ia
tidak bisa dijadikan hujjah karena meriwayatkan hadits-hadits munkar”. Dan Mihran bin Abu Umar Ar-Razi hapalan haditsnya jelek.
[8] Para
perawinya adalah para perawi tepercaya, namun mursal. Baca Musnad Ibrahim bin Adham hal. 29-30.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/41 dari jalur Abu
Ahmad Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad
Al-Hamdani yang berkata, Abu Hafsh Umar bin Ibrahim Al-Mustamili berkata kepadaku, Abu Ubaidah bin Abu
As-Safar berkata kepadaku, Al-Hasan bin Ar-Rabi' berkata kepadaku, Al-Mufadhdhal bin Yunus
berkata kepadaku, Ibrahim bin Adham berkata
kepadaku dari Manshur dari Mujahid dari Anas bin Malik bahwa seseorang datang kepada
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian berkata, "Tunjukkan kepadaku
perbuatan yang jika aku kerjakan maka
aku dicintai Allah Azza wa Jalla dan dicintai manusia”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada orang tersebut, "Zuhudlah di
dunia niscaya engkau dicintai Allah. Sedang manusia, maka lemparkan ini kepada
mereka niscaya mereka mencintaimu”. Abu
Nu'aim berkata, "Penyebutan Anas bin Malik di hadits ini adalah kekeliruan
dari Umar atau Abu Ahmad,
karena hadits tersebut diriwayatkan para perawi tepercaya dari Al-Hasan bin Ar-Rabi' tanpa melewati Mujahid”.
Abu Nu'aim juga meriwayatkan hadits tersebut dari jalur Ahmad bin
Ibrahim Ad-Dauruqi yang berkata, Al-Hasan bin Ar-Rabi' berkata kepadaku dengan sanad ini dari Mujahid secara mursal.
[9]
Hadits nomer 2957.
[10] Shahih
Muslim hadits nomer 2858. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer4330.
[11] Hadits shahih diriwayatkan At-Tirmidzi hadits
nomer 2320 dan Ibnu Majah hadits nomer
4110. Di sanad keduanya terdapat perawi Abdul Hamid bin Sulaiman Al-Khuzai yang kendati perawi dhaif, namun haditsnya tetap
ditulis untuk mutabaah, hadits ini juga mempunyai penguat, yaitu hadits Abu Hurairah yang
diriwayatkan Al-Bazzar hadits nomer 3693 dan Al-Qudhai di Musnad-nya hadits nomer 1440. Di sanadnya terdapat perawi
Shalih mantan budak At-Tauamah yang kacau.
Hadits tersebut juga mempunyai hadits penguat, yaitu hadits Ibnu Umar
yang diriwayatkan Al-Qudhai hadits nomer 1439 dan Al-Khathib 4/92. Hadits penguat ketiga, yaitu hadits
yang diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu
hadits nomer 509 dari Ismail bin
Ayyasy bahwa, Utsman bin Ubaidillah bin Rafi' berkata kepadaku bahwa beberapa orang dari sahabat-sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bercerita bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"….”. Utsman bin Ubaidillah bin Rafi' menyebutkan hadits di atas. Riwayat Ismail bin Ayyasy dari perawi luar
daerahnya adalah dhaif dan hadits ini termasuk salah satunya. Hadits penguat keempat ialah
hadits Al-Hasan yang mursal di
Az-Zuhdu Ibnu Al-Mubarak hadits nomer 620.
[12]
Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2340 dan Ibnu Majah hadits nomer 4100.
[13]
Hal. 81.
[14]
Al-Hilyah 3/232.
[15] Diriwayatkan darinya oleh Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Yaqin hal. 117 dan di sanadnya terdapat orang tidak dikenal.
[16] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Yaqin hal. 118 dari jalur Al-Auzai dari Al-Ala' bin
Utbah bahwa Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "…"
Sanad hadits tersebut dhaif karena
terputus.
[17] Di Al-Yaqin, Ibnu Abu Ad-Dunya, hal. 112.
[18] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya, hal. 108 darinya
dan para perawinya adalah para perawi tepercaya.
[19] Penggalan
dari hadits panjang yang diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/218-219, Al-Qudhai di Musnad
Asy-Syihab hadits nomer 367, 368, dan Al-Hakim 4/269-270. Al-Hakim berkata,
"Tentang hadits ini, Hisyam bin Ziyad Al-Mishri dan Mushadif bin Ziyad
Al-Madini sepakat bahwa hadits ini
berasal dari riwayat Muhammad bin Ka'ab Al-Quradhi, wallahu a'lam”. Hal ini ditentang Adz-Dzahabi yang berkata”.
Hisyam itu matruk dan Muhammad bin Muawiyah dianggap perawi pendusta oleh Ad-Daruquthni, jadi
hadits tersebut batil”.
Hadits tersebut disebutkan Al-Hafidz Al-Iraqi di
Takhrijul Ihya' 4/244 dan mengatakan bahwa
hadits tersebut diriwayatkan Al-Hakim dan Al-Baihaqi di Az-Zuhdu, namun Al-Hafidz Al-Iraqi menganggap sanadnya dhaif.
[20] Hadits hasan diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer
3502. At-Tirmidzi berkata, "Hasan
gharib”. Hadits tersebut juga diriwayatkan An-Nasai di Amalul Yaumi wal Lailah hadits nomer
401 dan dishahihkan Al-Hakim 1/528 dengan disetujui Adz-Dzahabi.
[21]
Ucapan yang sama diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/238 dari Yusuf
bin Ashbath.
[22]
Al-Hilyah 8/140.
[23] Diriwayatkan
Abu Nu'aim di Al-Hilyah 7/287 dengan redaksi, "Orang zuhud ialah
orang yang tidak lupa untuk bersyukur dari yang halal dan bersabar dari yang
haram”.
[24] Al-Hilyah 2/273.
[25] Ibid.
3/259.
[26]
Hadits di atas juga diriwayatkan Ibnu Abu
Syaibah di Al-Mushannaf 13/223.
[27]
Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 6/188.
[28]
Ibid., 8/26 dan 10/137.
[29]
Baca Al-Hilyah 8/238.
[30] Ibid.,
9/258.
[31]
Diriwayatkan Abu Nu'aim, Ibid., 3/292.
[32] Itulah
yang dikatakan Al-Mundziri di At-Targhib
wat Tarhib 6/163 bahwa
hadits tersebut diriwayatkan Ibnu Abu
Ad-Dunya dan ia menganggap baik sanadnya. Ia berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan dari Aisyah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam namun yang benar hadits tersebut mauquf”.
Saya katakan,
hadits tersebut juga diriwayatkan secara mauquf oleh Ibnu Abu Syaibah di Al-Mushannaf 13/323, Hannad bin
As-Siri di Az-Zuhdu hadits
nomer 557, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/306.
[33] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan
Al-Bukhari hadits nomer 5832 dan Muslim
hadits nomer 2073. Dari Ibnu Az-Zubair, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 5833 dan Muslim hadits nomer 2069.
[34] Diriwayatkan Imam Malik 2/846, Al-Bukhari hadits
nomer 5575, dan Muslim hadits nomer 2003 dari Ibnu Umar. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer
5366.
[35] Dari Hudzaifah, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari
hadits nower 5426, Muslim hadits nomer
2067, Abu Daud hadits nomer 3723, At-Tirmidzi hadits nomer 1878, An-Nasai 8/198, dan Ibnu Majah hadits nomer 3414. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 5339.
[36] Hadits
shahih diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2036 dan ia menghasankannya.
Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 669. Takhrijnya secara
lengkap, silahkan baca buku tersebut.
[37] Ini kesalahan tulis dari Ibnu Rajab karena Muslim
meriwayatkan hadits tersebut dari Abu
Hurairah hadits nomer 2956. Hadits tersebut juga ada di Al-Musnad 2/323, 485 dan Ibnu Majah
hadits nomer 4113. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 687 dan
688. Hadits Abdullah bin Amr ada di Al-Musnad 2/197, Al-Hilyah Abu Nu'aim 8/177, 185, dan Al-Mustadrak
Al-Hakim 4/315.
[38] Dari
Ibnu Mas'ud, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 1/391. At-Tirmidzi hadits
nomer 2377, dan Al-Hakim 4/310. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan
shahih”.
Dari Ibnu Abbas, hadits tersebut diriwayatkan Imam
Ahmad 1/301 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 11898. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer
6352 dan Al-Hakim 4/310.
[39] Dari
Salman, hadits tersebut diriwayatkan Abdurrazzaq hadits nomer 20632, Imam Ahmad
5/438, Ibnu Hibban hadits nomer 4104, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 6069, 6160, 6182,
Al-Qudhai di Musnad Asy-Syihab hadits nomer 728, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/195, 196, 197. Hadits tersebut diriwayatkan Al-Hakim 4/417 dengan
disetujui Adz-Dzahabi dan Ibnu Hibban
hadits nomer 706.
Dari Khabab bin Al-Arat, hadits tersebut
diriwayatkan Ibnu Abu Syaibah 13/219, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 3695, Abu Ya'la hadits nomer 7214, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah
1/360. Hadits tersebut juga
disebutkan Al-Haitsami di Majmauz
Zawaid 10/253-254. Ia berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan Abu
Ya'la dan Ath-Thabrani. Para perawinya adalah perawi Bukhari kecuali Yahya bin Ja'dah yang merupakan perawi tepercaya”.
Hadits tersebut juga disebutkan Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 4/222-223 dari riwayat Ath-Thabrani dan Abu Ya’la. Ia menganggap baik sanadnya.
[40] Diriwayatkan
Imam Ahmad dengan redaksi seperti itu 2/24, 41 dan Ibnu Majah hadits
nomer 4114 dari banyak jalur dari Laits bin Abu Sulaim yang merupakan perawi dhaif dari Mujahid dari Ibnu
Umar.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Bukhari hadits
nomer 6416 dari jalur Sulaiman Al-A'masy
dari Mujahid dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda, "Jadilah engkau di
dunia seperti orang asing atau perantau”. Ibnu
Umar berkata, "Jika engkau berada
di sore hari, engkau jangan menunggu esok hari. Dan jika engkau berada di esok
hari, engkau jangan menunggu sore hari. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang
masa sakitmu, dan hidupmu sebelum
kematianmu”. Hadits ini dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 698 dari jalur
tersebut.
[41] Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad 3/128, 199,
285 dan An-Nasai 7/61, 62. Hadits
tersebut dishahihkan Al-Hakim 2/160 dengan disetujui Adz-Dzahabi.
[42]
Di Al-Musnad 6/72. Di sanadnya terdapat perawi yang tidak
disebutkan dan hadits tersebut dhaif.
[43] Diriwayatkan Ibnu Abu Hatim seperti terlihat di Tafsir
Ibnu Katsir dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 5/132. Hadits tersebut mursal seperti
dikatakan Abu Nu'aim.
[44] Di Al-Mustadrak
4/312. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ar-Ramahurmuzi di
Al-Imtsaal hal.
58, 147, Ibnu Adi di Al-Kamil 3/1099, dan Al-Uqaili di Adh-Dhuafa' 3/89. Hadits tersebut
dishahihkan Al-Hakim namun ditolak Adz-Dzahabi yang berkata, "Tidak, namun
hadits tersebut munkar, karena
Abdul Jabbar tidak dikenal”. Hadits tersebut juga dianggap dhaif oleh
Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul
Ihya' 4/19.
[45] Di Dzammud
Dunya hadits nomer 147 dari Ali bin Al-Husain bin Abu Maryam dari Abdullah bin Shalih Al-Ajli
dari Muadz Al-Hidza' yang berkata, "Ali bin Abu Thalib mendengar seseorang
mencela dunia kemudian ia berkata kepada orang tersebut, '....'“.
[46]
Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 10/56.
[47]
Al-Hilyah 9/262.
[48]
Baca Al-Hilyah 9/272.
[49]
Ibid. 5/257.
[50]
Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 10 dari Thawus secara mursal.
[51]
Ia adalah Bisyr bin Al-Harits seperti
terlihat di Al-Hilyah 8/337.
[52]
Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/89.
[53]
Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 260 dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 6/269.
[54]
Al-Hilyah 9/258.
[55]
Ibid. 9/264
[56]
Al-Hilyah 9/274.
[57]
Ibid. 9/273.
[58] Teks di atas ganjil dan justru merusak makna,
karena shalat bukan termasuk urusan penghuni dunia yang disandarkan kepada dunia.
Selain itu, hal tersebut tidak disebutkan
di salah satu hadits di jalur yang ada. Hal ini dikatakan Ibnu Al-Qayyim,
Al-Iraqi, Ibnu Hajar, dan As-Sakhawi. Baca Zaadul Ma’ad 1/151,
Talkhishul Habir 3/116, dan
Al-Maqashid Al-Hasanah hal. 180.
[59] Diriwayatkan
At-Tirmidzi hadits nomer 2322 dan Ibnu Majah hadits nomer 4112. Sanadnya
hasan seperti dikatakan At-Tirmidzi.
Hadits
tersebut juga diriwayatkan Abu Hanifah di Jamiul Masaanid 2/72 dari hadits Ummu
Hani'.
Hadits tersebut
juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah
3/157, 7/90 dari hadits Jabir.
[60] Di
Al-Kabir seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/222. Al-Haitsami berkata”.
Di sanadnya terdapat perawi Khidasy bin Al-Muhajir dan aku tidak kenal
dengannya”. Itu yang dikatakan Al-Haitsami, padahal biografinya ditulis Ibnu
Abu Hatim di Al-Jarhu wat Ta'dil 3/391. Ibnu Abu Hatim berkata,
"Aku pernah bertanya kepada ayahku tentang dia kemudian ayahku berkata, ‘Ia
guru yang tidak diketahui identitasnya dan saya pikir haditsnya shahih”. Ia
disebutkan Al-Azdi di Adh-Dhu’afa' seperti terlihat di Al-Lisan
2/394
[61]
Di Dzammud Dunya hadits nomer 6.
[62] Hadits shahih dari Ibnu Mas'ud.
Hadits tersebut secara lengkap ialah, ”Agar Allah ditaati dan tidak dimaksiati,
diingat dan tidak dilupakan, dan disyukuri dan tidak diingkari”.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Jarir
Ath-Thabari di Jami’ul Bayan hadits nomer 7536-7543 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir
hadits nomer 8501, 8502. Hadits tersebut dishahihkan Al-Hakim 2/294 dengan
disetujui Adz-Dzahabi.
[63]
4/319. Al-Hakim menshahihkan hadits di atas
dengan disetujui Adz-Dzahabi.
[64] Hadits tentang penglihatan penghuni surga kepada
Allah diriwayatkan banyak sekali sahabat.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer
7439 dan Muslim hadits nomer 183. Dari
Jarir bin Abdullah Al-Bajali, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 554, Muslim hadits nomer
633, Abu Daud hadits nomer 4729, At-Tinnidzi
hadits nomer 2554, dan Imam Ahmad 4/360. Dari Abu Hurairah, hadits tersebut
diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 7437, Muslim hadits nomer 182, Imam Ahmad
2/275, Abu Daud hadits nomer 4730,
dan At-Tirmidzi hadits nomer 2560.
[65] Diriwayatkan
Imam Ahmad 4/212 dan Ibnu Hibban hadits nomer 709. Hadits tersebut dhaif karena
sanadnya terputus.
[66] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/183. Ibnu Majah hadits
nomer 4105, dan Ath-Thabrani di Al-Kabir 4891, 4925. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 680.
[67] Hadits
nomer 2465 dari Hannad bin As-Sirri. Hadits tersebut juga diriwayatkan Hannad As-Sirri di Az-Zuhdu hadits nomer 669 dan
di sanadnya terdapat Yazid bin Aban Ar-Raqasyi yang merupakan perawi dhaif namun
hadits tersebut diperkuat hadits Zaid bin Tsabit di atas.
[68] Hadits
tersebut juga diriwayatkan Al-Baihaqi di Syuabul Iman hadits nomer
10501 dari Al-Hasan Al-Bashri secara mursal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memastikan seperti dinukil As-Sakhawi di Al-Maqashid Al-Hasanah hal. 182 bahwa perkataan di atas adalah perkataan Jundab bin Abdullah Radhiyallahu Anhu.
[69] Perkataan yang sama dari Sufyan Ats-Tsauri
diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah
7/79, 10/22.
[70] Al-Hilyah 4/251.
[71]
Dzammud Dunya hadits nomer 7.
[72]
Juga diriwayatkan Al-Hakim 4/315.
[73] Diriwayatkan Hannad di Az-Zuhdu hadits nomer
575, Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 173, Ibnu Abu Syaibah 13/295, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/136. Hadits tersebut dishahihkan
Al-Hakim 4/315.
[74]
Hadits dhaif diriwayatkan
Al-Baihaqi di Syuabul Iman hadits nomer 10521.
[75] Di Al-Ausaih
dari hadits Ibnu Mas'ud seperti
terlihat di Majmauz Zawaid 10/286.
Al-Haitsami berkata, "Di sanadnya
terdapat perawi Ibrahim bin Ziyad Al-Ajli, dia itu matruk”.
[76] Diriwayatkan
Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/253 dan Al-Qudhai di Musnad Asy-Syihah hadits nomer 151. Hadits tersebut dishahihkan
Al-Hakim 4/324-325 dengan disetujui Adz-Dzahabi, padahal di sanadnya terdapat
perawi Zafir bin Sulaiman yang merupakan perawi dhaif
Oleh
karena itu, Abu Nu'aim berkata, "Hadits tersebut gharib”. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Al-Uqaili di Adh-Dhuafa'
dari Abu Hurairah. Al-Qudhai
berkata, "Perkataan tersebut diriwayatkan dari Al-Hasan dan lain-lain”.
[77] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/20.
[78] Ibid., 3/5.
[79] Ibid.,
3/5, dan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 117.
[80]
Disebutkan Ibnu Abdul Barr di Jamiul Ilmi wa Fadhluhu 2/8 secara
ringkas.
No comments:
Post a Comment