Pertama: Makna Uzlah (Keterasingan/Menyendiri) atau At-Tafarrud (Menyendiri)
Penyakit
keempat yang diderita oleh sebagian aktivis (pejuang dakwah), dan mereka harus
bekerja keras untuk membersihkan diri darinya, adalah Uzlah atau Tafarrud
(menyendiri/terisolasi). Agar kita memiliki pemahaman yang akurat mengenai
dimensi dan ciri-ciri penyakit ini, kita akan membahasnya sebagai berikut:
Secara
Bahasa:
Uzlah
atau Tafarrud secara bahasa berarti menjauh atau menyingkir ke samping.
Pemilik kitab Lisan al-Arab berkata: "Seseorang mengisolasi sesuatu
artinya menjauhkannya, dan ia pun mengisolasi diri atau terpisah; bermakna
menyingkirkannya ke samping sehingga ia menyingkir."
Firman
Allah SWT: “Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar
(Al-Qur'an)” (QS. Asy-Syu'ara: 212), maknanya adalah ketika mereka
dilempari dengan bintang-bintang (meteor)—sebagaimana firman-Nya: “dan
sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk
mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang
(mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang
mengintai (untuk membakarnya)”—maka mereka terhalang dari mendengar.
Secara
Istilah:
Adapun
dalam istilah para pendakwah, yang dimaksud adalah lebih mengutamakan kehidupan
sendiri (individualis) daripada kehidupan berjamaah. Hal ini terjadi ketika
seorang aktivis merasa cukup dengan menegakkan Islam pada dirinya sendiri saja,
tanpa peduli kepada orang lain dan kondisi mereka yang berada dalam kesesatan
dan kehancuran. Atau, ia menegakkan Islam pada dirinya dan berusaha keras
menegakkannya pada orang lain, namun melalui upaya individu yang jauh dari
kerja sama dan saling tolong-menolong dengan para pejuang lainnya di lapangan.
Kedua:
Sebab-sebab Uzlah atau Tafarrud
Terdapat
beberapa sebab yang mengarah pada keterasingan atau sikap menyendiri ini, di
antaranya:
1.
Terpaku pada sebagian teks syariat yang menganjurkan Uzlah, namun lalai
terhadap posisinya dibandingkan teks lain yang menyerukan kehidupan berjamaah.
Terdapat
beberapa teks syariat yang memuji uzlah dan menganjurkannya, seperti
sabda Nabi SAW:
“Hampir
tiba masanya harta milik Muslim yang paling baik adalah kambing yang digiring
ke puncak gunung dan tempat-tempat jatuhnya hujan, ia lari membawa agamanya
dari berbagai fitnah.”
Begitu
juga jawaban beliau kepada orang yang bertanya: "Siapakah manusia yang
paling utama?" Beliau bersabda:
“Seseorang
yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.” Orang itu bertanya
lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Seorang mukmin yang berada di syi’b
(lembah di antara dua gunung) yang menyembah Tuhannya dan menjauhkan manusia
dari keburukannya.”
Serta
sabda beliau dalam hadis Hudzaifah bin Al-Yaman:
“...Maka
jauhilah semua golongan itu, meskipun kamu harus menggigit akar pohon hingga
maut menjemputmu dalam keadaan demikian.”
Dan
sabdanya:
“Di
antara kehidupan manusia yang terbaik bagi mereka adalah: seorang laki-laki
yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, ia terbang di atas punggungnya,
setiap kali mendengar suara teriakan perang atau ketakutan ia segera terbang ke
sana untuk mencari kematian di tempat-tempat yang diduga terdapat kematian.
Atau seorang laki-laki yang memiliki sekumpulan kambing di puncak gunung atau
di dasar lembah, ia mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyembah Tuhannya
hingga datang keyakinan (ajal) kepadanya. Tidak ada hubungan dengan manusia
kecuali dalam kebaikan.”
Di
sisi lain, terdapat pula teks syariat yang menyerukan untuk berjalan di bawah
panji jamaah dan hidup dalam naungannya, seperti firman Allah SWT:
- “Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
- “Dan berpegang teguhlah
kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai
berai...”
- “Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Dan
sabda Nabi SAW:
- “...Hati-hatilah kalian
dari perpecahan, dan hendaknya kalian berjamaah, karena setan itu bersama
satu orang, dan ia dari dua orang akan lebih jauh. Barangsiapa yang
menginginkan bagian tengah surga (yang paling luas/nikmat), maka hendaklah
ia menetapi jamaah.”
- “...Dan aku memerintahkan
kalian dengan lima perkara yang Allah perintahkan aku dengannya:
Berjamaah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Karena
sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari jamaah sejauh satu jengkal, maka
ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya hingga ia kembali.” Mereka
bertanya: “Wahai Rasulullah, meskipun ia shalat dan puasa?” Beliau
menjawab: “Meskipun ia puasa dan shalat serta mengaku bahwa dirinya
Muslim.”
- “Tangan Allah bersama
jamaah.”
Seorang
aktivis yang hanya terpaku pada teks-teks pertama yang menganjurkan uzlah
dengan melupakan atau pura-pura lupa akan keterkaitannya dengan teks-teks lain
yang menyerukan interaksi dengan jamaah dan hidup di dalamnya, niscaya akan
tertimpa penyakit uzlah atau tafarrud.
2.
Terpaku pada fenomena Uzlah yang diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf, namun
lalai terhadap kondisi yang melatarbelakanginya.
Terkadang
faktor pendorong uzlah adalah apa yang diriwayatkan dari sebagian Salaf
bahwa mereka lebih memilih menyendiri daripada berinteraksi dengan masyarakat.
Lihatlah Nabi Allah Ibrahim AS, ia berkata kepada kaumnya sebagaimana yang
diceritakan Al-Qur'an:
“Dan
aku akan menjauhkan diri (اعتزلكم) darimu dan dari apa yang kamu sembah
selain Allah...”
Faktor
pendorong beliau melakukan itu adalah karena cara-cara perubahan dan perbaikan
telah habis dilakukan, kemudian kaumnya tetap bersikeras dalam kekafiran,
sehingga beliau khawatir akan fitnah dalam agamanya, lalu beliau lari dari
mereka dan menjauh.
Begitu
pula Abu Dzarr dan Ibnu Umar, serta sekelompok sahabat bersama mereka, yang
menjauh dari jamaah kaum Muslimin dan hidup menyendiri ketika terjadi fitnah
(perang saudara). Motivasi mereka adalah untuk menjaga tangan mereka agar tidak
terlumur darah suci yang telah disucikan oleh Allah SWT, sementara tidak
diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.
Demikian
juga Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijrah, yang menghabiskan hari-hari
terakhir hidupnya dalam uzlah jauh dari orang-orang. Alasannya adalah
untuk menghindari benturan dengan penguasa demi menjaga tumpahnya darah kaum
Muslimin.
Aktivis
yang membaca tentang uzlah para tokoh ini namun melupakan kondisi dan
latar belakangnya, akan timbul dalam dirinya keinginan untuk meneladani atau
setidaknya meniru, sehingga ia memilih hidup menyendiri jauh dari suasana
jamaah, padahal tidak ada alasan yang membenarkan uzlah tersebut.
3.
Anggapan bahwa kehidupan berjamaah selalu menghapus jati diri anggotanya dan
memengaruhi kepribadiannya, disertai kelalaian terhadap manhaj Islam dalam
menyelaraskan antara individu dan jamaah.
Penyebab
lainnya adalah anggapan sebagian aktivis bahwa hidup dan bergabung dengan
jamaah akan menghapus jati dirinya, sehingga kepribadiannya melebur dan ia
menjadi seorang Imma'ah (pengekor); jika orang baik ia ikut baik, jika
orang buruk ia ikut buruk. Ia lalai bahwa manhaj Islam menyelaraskan antara
sisi individual dan kolektif. Manhaj ini menyerukan individu untuk hidup dalam
naungan jamaah, namun di saat yang sama menekankan bahwa ia bertanggung jawab
penuh atas setiap tindakannya. Allah berfirman:
- “Dan seorang yang berdosa
tidak akan memikul dosa orang lain.”
- “Tiap-tiap diri
bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
- “...Suatu jiwa tidak dapat
membela jiwa yang lain sedikit pun.”
- “Bahkan manusia itu
menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan
alasan-alasannya.”
- “Dan jika seseorang yang
berat bebannya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tiadalah
akan dipikul sedikit pun, meskipun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya.”
Ia
juga wajib memberikan nasihat—dengan syarat dan adabnya—kepada setiap anggota
jamaah tanpa memandang seberapa tinggi kedudukan atau statusnya:
“Agama
itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untuk
Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan masyarakat umum
mereka.”
“Seorang
mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin
lainnya, ia menjaga hartanya dan melindunginya dari belakang.” Dalam
riwayat lain: “Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, jika ia melihat
aib padanya, maka ia meluruskannya.”
Para
sahabat telah hidup bersama Nabi SAW, dan kaum Muslimin hidup satu sama lain,
namun kita tidak melihat ada individu yang kepribadiannya melebur atau jati
dirinya hilang dalam jamaah. Sebaliknya, yang kita lihat adalah saling
menasihati, musyawarah, serta amar ma'ruf nahi munkar. Ucapan sebagian sahabat
kepada Umar bin Khattab: “Jika kami melihat penyimpangan padamu, niscaya
akan kami luruskan dengan pedang-pedang kami,” bukanlah hal yang asing bagi
kita.
Dengan
seruan ini, dalam diri seorang Muslim terbangun entitas internal yang istimewa
dengan batasan yang jelas, sehingga nuraninya tetap terjaga dan peka terhadap
segala sesuatu yang menyentuhnya, meskipun dari kejauhan.
Anggapan
keliru dan kelalaian ini niscaya akan membawa seorang aktivis untuk memilih
jalan uzlah, sehingga ia terjangkit salah satu penyakit yang paling
berbahaya.
4.
Lalai Terhadap Karakteristik Beban Berinteraksi dengan Jamaah dan Hidup di
Tengah Manusia
Terkadang,
pendorong utama munculnya sikap memisahkan diri (uzlah) adalah kelalaian
terhadap karakteristik beban (takalif) dalam berinteraksi dengan jamaah
dan hidup bermasyarakat. Karakteristik beban ini adalah: jumlahnya banyak dan
besar, menyita kehidupan manusia dari hari pertama hingga hari terakhir, bahkan
mungkin tidak pernah berakhir. Sering kali, beban ini bertentangan dengan apa
yang diinginkan oleh hawa nafsu. Jika seorang aktivis ('amil) tidak
menyadari hal ini, ia akan mengabaikan proses penyucian diri (tazkiyah),
pembinaan (tarbiyah), serta perjuangan diri (mujahadah).
Akibatnya, hawa nafsu dan syahwat akan menguasainya. Seiring berjalannya waktu,
ia menjadi lemah dan tidak mampu memikul beban-beban tersebut. Pada saat
itulah, ia mencari jalan keluar atau tempat berlindung, dan ia tidak menemukan
apa pun selain mengasingkan diri atau menyendiri.
5.
Berdalih Bahwa Berinteraksi dengan Manusia Menghambat Ibadah, Disertai
Kelalaian Terhadap Konsep Ibadah yang Benar
Pendorong
uzlah lainnya adalah alasan bahwa berinteraksi dengan orang lain menyita
waktu untuk fokus beribadah, mulai dari shalat, puasa, membaca Al-Qur'an,
zikir, doa, istigfar, hingga tafakur, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena
kelalaian terhadap konsep ibadah yang benar. Sebagaimana dikatakan oleh
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah —semoga Allah merahmatinya— bahwa ibadah adalah:
"Sebuah
nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa
perkataan maupun perbuatan, yang tampak (lahir) maupun yang tersembunyi
(batin). Maka shalat, zakat, puasa, dan haji adalah ibadah; doa, istigfar,
zikir, dan membaca Al-Qur'an adalah ibadah; kejujuran dalam berbicara,
menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturahmi
adalah ibadah; menepati janji, berdakwah kepada kebaikan, memerintah pada yang
makruf, mencegah dari yang munkar, serta berjihad melawan orang-orang kafir dan
munafik adalah ibadah; berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin,
musafir, pelayan, serta menyayangi yang lemah dan berlemah lembut kepada hewan
adalah ibadah. Begitu pula cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, rasa takut kepada
Allah, bertaubat kepada-Nya, memurnikan ketaatan bagi-Nya, bersabar atas
ketetapan-Nya, ridha pada takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, berharap pada
rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya; semua itu dan yang serupa dengannya adalah
ibadah."
Al-Qur'an
dan Sunnah membenarkan konsep yang disampaikan Syaikhul Islam ini. Meskipun
demikian, berinteraksi dengan manusia tidak menghalangi seorang muslim untuk
memiliki waktu-waktu khusus bagi dirinya sendiri guna menunaikan kewajiban,
mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah, menghafal ilmu, mengkaji
suatu masalah, membaca Al-Qur'an, berzikir, bertafakur, atau bermuhasabah
(introspeksi diri). Itulah makna perkataan Umar bin Khattab ra.: "Ambillah
bagianmu dari uzlah (kesendirian)." Hilangnya konsep ibadah yang benar
dari benak seorang aktivis muslim, dan pembatasan ibadah hanya pada lingkaran
ritual formal saja—sambil beranggapan bahwa kehidupan berjamaah menghalanginya
untuk fokus sepenuhnya pada ritual tersebut—semua ini pasti akan
menjerumuskannya ke dalam penyakit pengasingan diri atau penyendirian.
6.
Beralasan dengan Tersebarnya Kejahatan dan Kerusakan, Serta Lalai Terhadap
Peran Muslim Saat Hal Itu Terjadi
Pendorong
uzlah bisa juga berupa alasan tersebarnya kejahatan dan kerusakan,
disertai kelalaian terhadap peran seorang muslim saat kondisi tersebut terjadi.
Peran muslim dalam kondisi ini seharusnya adalah aktif melakukan perlawanan
dengan segala metode yang tersedia dan sarana yang memungkinkan. Ia tidak boleh
memilih uzlah kecuali saat penyakit sudah sangat akut, sarana sudah
tidak berdaya, dan muncul kekhawatiran akan fitnah (gangguan terhadap iman).
Jika
seorang aktivis muslim lalai akan hakikat peran ini, ia akan segera lari menuju
pengasingan diri, sehingga bumi pun berubah menjadi pusat kejahatan dan
kerusakan. Benarlah firman Allah Yang Maha Agung:
- "Seandainya Allah
tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain,
tentulah rusak binasa bumi ini." (QS. Al-Baqarah: 251).
- "Seandainya Allah
tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain,
tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah
ibadah Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama
Allah." (QS. Al-Hajj: 40).
Dan
benarlah sabda Rasulullah SAW yang memberi nasihat:
"Perumpamaan
orang yang tegak di atas batasan-batasan Allah dan orang yang melanggarnya,
adalah seperti sekelompok orang yang mengundi tempat di sebuah kapal. Sebagian
mendapatkan bagian atas dan sebagian lagi di bagian bawah. Jika orang-orang di
bagian bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang di atasnya.
Mereka pun berkata: 'Seandainya kita lubangi saja bagian kita sendiri, agar
kita tidak mengganggu orang-orang di atas kita.' Jika orang-orang di atas
membiarkan mereka melakukan keinginan itu, niscaya mereka semua akan binasa.
Namun jika mereka mencegahnya, niscaya mereka akan selamat dan menyelamatkan
semuanya."
7.
Melihat Gambaran Ujian dan Cobaan yang Dialami Para Pejuang Agama Sepanjang
Sejarah, Namun Lalai Terhadap Sikap Mereka Menghadapi Ujian Tersebut
Melihat
gambaran penderitaan dan cobaan yang menimpa para pejuang agama sepanjang
sejarah dapat mendorong seseorang untuk memilih uzlah, terutama jika ia
lalai terhadap sikap para pejuang tersebut. Sikap mereka sebenarnya adalah
keyakinan penuh bahwa ujian merupakan sunnatullah dalam dakwah, kemudian mereka
mengakui kekurangan diri dan memohon kepada Allah agar meneguhkan langkah
mereka serta memberi kemenangan. Allah menerima permohonan mereka, meneguhkan,
dan menolong mereka:
"Dan
berapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut(nya) yang
bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan
Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah
mencintai orang-orang yang sabar. Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa,
'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang
berlebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami
terhadap orang-orang kafir.' Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan
pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat
kebaikan." (QS. Ali Imran: 146-148).
Benar,
jika seorang aktivis melihat gambaran ujian ini tanpa memahami sikap para
pejuang tersebut, ia akan dikuasai oleh rasa takut dan cemas. Ia akan mencoba
mencari jalan keluar, lalu nafsunya membisikkan dan setan menghiasi pikirannya
bahwa jalan keluar itu hanya ada dalam pengasingan diri, sehingga ia cenderung
memilih jalan tersebut.
8.
Berteman dengan Sekelompok Muslim yang Manhajnya Adalah Pengasingan Diri
Seseorang
bisa terdorong untuk uzlah karena bergaul dengan sekelompok muslim yang
memiliki manhaj uzlah dan kebiasaan menyendiri. Hal ini karena seseorang
sangat mudah terpengaruh oleh temannya, terutama jika teman tersebut memiliki
kepribadian yang kuat atau termasuk orang yang dijadikan teladan. Rasulullah
SAW bersabda: "Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka
hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman
dekat."
9.
Banyaknya Organisasi dan Jamaah yang Bergerak untuk Agama Allah
Banyaknya
lembaga dan kelompok dakwah dapat membuat seorang aktivis bingung: dengan
lembaga mana ia harus bekerja dan dari mana ia harus menjauh? Kebingungan ini
berakhir pada sikap menyendiri, terutama jika ia tidak memahami hakikat
kelompok-kelompok tersebut. Hakikatnya, semua kelompok itu berada di atas
kebaikan, namun tingkat kebaikannya berbeda-beda; ada yang memiliki sedikit
kebaikan, banyak kebaikan, atau kebaikan yang menyeluruh. Sikap yang harus
diambil adalah mengenal semuanya (tujuan dan sarananya), lalu berjalan bersama
kelompok yang memiliki kebaikan yang menyeluruh, dengan ciri-ciri:
- Tujuannya adalah menerapkan
syariat Allah dan manhaj-Nya di bumi.
- Meniatkan segala perkataan
dan perbuatan hanya karena Allah semata.
- Menanggalkan semua loyalitas
kecuali loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.
- Memahami Islam secara moderat
(wasathiyah), tanpa sikap ekstrem (ghuluw) maupun meremehkan
(tafrith), lalu mengamalkan Islam secara menyeluruh, mulai dari
perkara siwak hingga jihad.
- Memulai dengan membentuk
kepribadian muslim yang mengumpulkan segala sifat baik dan menjauhi sifat
buruk agar layak mendapatkan pertolongan Allah.
- Berusaha memperluas
pembentukan kepribadian muslim ini agar tersebar ke seluruh masyarakat
bahkan dunia.
- Berusaha mengikat
kepribadian-kepribadian muslim ini sehingga memiliki satu pandangan, satu
pemikiran, satu hati, satu ruh, dan satu perasaan meskipun raga mereka
banyak.
- Bergerak berdasarkan
pengaturan yang matang, teliti, dan berdasar pada studi serta pemahaman
terhadap realitas secara terus-menerus.
- Memperhatikan prioritas dalam
bekerja; jika fasilitas terbatas, maka mendahulukan yang pokok (ushul)
atas cabang (furu'), yang wajib atas yang sunnah, dan yang
disepakati atas yang diperselisihkan. Sebagaimana Rasulullah SAW
menghancurkan berhala di dalam jiwa manusia sebelum menghancurkan berhala
fisik di Ka'bah.
- Tidak bermudah-mudah dalam
perkara pokok yang disepakati, namun memberi uzur (toleransi) dalam
perkara cabang yang diperselisihkan, sehingga membuka pintu kerja sama
dengan semua pejuang dakwah.
- Memiliki manhaj yang jelas
rukun dan fiturnya, yang membimbing individu dari satu tahap ke tahap
berikutnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan meningkatkan level
mereka.
- Terbukti keteguhan dan
kesabarannya menghadapi kesulitan jalan dakwah, tetap kokoh di hadapan
teror, dan unggul di atas cobaan.
- Telah menempuh perjalanan
panjang dalam beramal sehingga memiliki pengalaman luas yang dapat
menghemat waktu dan tenaga bagi pengikutnya.
- Selalu bersikap tenang, penuh
pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa.
- Memiliki pimpinan yang
mengarahkan dan membimbing agar urusan diletakkan pada porsinya.
- Seluruh anggotanya mengikuti
pendapat pimpinan selama dalam perkara yang makruf.
- Adanya tradisi saling
menasihati dengan syarat dan adabnya, serta penerimaan yang baik terhadap
nasihat tersebut.
- Ketelitian dan amanah dalam
memilih anggota untuk menutup celah bagi orang-orang yang berniat buruk.
- Berpegang pada prinsip
mengikuti tuntunan (ittiba') dan bukan mengada-ada (ibtida').
10
- Lalai Terhadap Dampak-Dampak yang Ditimbulkan oleh Uzlah, Baik yang Berkaitan
dengan Para Aktivis Maupun dengan Amal Islami:
Terakhir,
pendorong sikap menyendiri (uzlah) bisa jadi adalah kelalaian terhadap
dampak-dampak yang ditimbulkan oleh sikap tersebut, baik dampak yang mengenai
para aktivis secara personal maupun yang berkaitan dengan gerakan dakwah Islam
(al-amal al-islami), sebagaimana yang akan kita paparkan sesaat lagi.
Sebab, barangsiapa yang lalai terhadap dampak buruk dari suatu perkara, niscaya
ia akan terjerumus ke dalam perkara tersebut.
Ketiga:
Dampak-Dampak Uzlah atau At-Tafarrud (Sikap Menyendiri)
Sikap
menyendiri atau terisolasi memiliki dampak-dampak yang merugikan dan
konsekuensi yang buruk, baik bagi para aktivis secara individu maupun bagi
kerja dakwah Islam secara kolektif. Berikut adalah rincian dampak-dampak
tersebut:
A.
Dampak Bagi Para Aktivis (Individu):
1.
Ketidaktahuan Mereka Terhadap Dimensi dan Ciri Kepribadian Sendiri:
Hal
ini dikarenakan manusia—seberapa pun tingkat kecerdasan dan ketajamannya—tidak
mungkin mampu mengetahui dimensi dan ciri kepribadiannya secara akurat hanya
melalui dirinya sendiri. Ia pasti membutuhkan orang lain untuk membantunya
mengenali hal tersebut. Sebagai contoh, manusia tidak dapat mendeteksi apakah
dalam kepribadiannya terdapat sifat egois dan mementingkan diri sendiri,
ataukah sifat mendahulukan orang lain (itsar) dan gemar bekerja sama,
kecuali jika ia hidup di tengah manusia dan berinteraksi dengan mereka. Saat
melihat orang-orang yang membutuhkan bantuan, ia dapat merenungi dirinya
sendiri: Apakah hatinya mengeras dan membatu sehingga ia menjadi kikir dan pelit?
Di situlah letak keegoisan. Ataukah hatinya melunak sehingga ia menjadi
dermawan dan suka memberi? Di situlah letak sifat itsar dan kerja sama.
Demikian
pula, ia tidak dapat mengetahui apakah kepribadiannya memiliki sifat santun (hilm)
dan ketenangan, ataukah kebodohan dan ketergesa-gesaan, kecuali jika ia bergaul
dengan masyarakat dan bertemu dengan berbagai macam orang, termasuk mereka yang
kurang sopan. Ia dapat melihat: Apakah ia membalas ucapan kasar mereka dengan
kelembutan, dan kekerasan hati mereka dengan keramahan? Di situlah letak
kesantunan dan ketenangan. Ataukah ia membalasnya dengan hal serupa atau bahkan
lebih keras? Di situlah letak kebodohan dan ketergesa-gesaan.
Seseorang
juga tidak akan mengetahui keberanian mental yang ia miliki atau justru
kepengecutan dan kelemahan hati, kecuali jika ia menetapi jamaah dan melihat
ada orang yang berbuat salah, lalu ia merenungi dirinya sendiri: Apakah ia
merasa mudah untuk berkata kepada orang yang salah itu, "Kebenaran bukan
pada apa yang kau ucapkan, kebenaran bukan pada apa yang kau lihat, dan
kebaikan bukan pada apa yang kau lakukan"? Di situlah letak keberanian
mental. Ataukah ia merasa berat untuk mengucapkannya sehingga ia diam dan
membisu? Di situlah letak kepengecutan dan kelemahan hati.
Begitu
juga dalam hal kejujuran atau kedustaan, amanah atau khianat, keteraturan atau
kekacauan; seseorang tidak akan menyadarinya kecuali jika ia hidup di tengah
jamaah, berbicara dengan anggotanya, atau saat mereka mempercayakan darah,
harta, dan kehormatan mereka kepadanya, atau saat ia membuat janji dengan
mereka. Lalu ia melihat: Apakah ia berbicara sesuai dengan fakta dan realitas?
Jika ya, maka ia jujur. Jika tidak, maka ia pendusta. Apakah ia menjaga darah,
harta, dan kehormatan mereka? Jika ya, maka ia amanah. Jika ia melanggarnya,
maka ia pengkhianat. Apakah ia menepati janji? Jika ya, maka ia disiplin dan
teratur. Jika ia lalai dan ingkar, maka ia kacau (fawdhawiy) dan tidak
disiplin.
Maka,
jika seorang muslim hidup dalam keterasingan atau menyendiri, kepribadiannya
akan tetap menjadi misteri bagi dirinya sendiri, dan itulah kerugian yang
nyata. Sebab, boleh jadi ia melakukan keburukan karena menyangkanya sebagai
kebaikan, atau meninggalkan kebaikan karena meyakininya sebagai keburukan.
"Katakanlah
(Muhammad), 'Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling
rugi perbuatannya? (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam
kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.'"
(QS. Al-Kahfi: 103-104).
Dampak
inilah yang mungkin dimaksudkan dalam sabda Nabi SAW: "Seorang mukmin
adalah cermin bagi mukmin lainnya..." dan perkataan Umar ra.: "Telah
dihadiahkan kepada kami aib-aib kami." Artinya, jalan bagi seorang
muslim untuk mengetahui dimensi kepribadiannya, baik berupa kesempurnaan maupun
kekurangan, kekuatan maupun kelemahan—agar ia dapat mengembangkan aspek
kekuatan dan memperbaiki aspek kelemahan—hanyalah melalui jamaah. Tanpa jamaah,
seorang muslim akan hidup dalam kebutaan dan tanpa petunjuk yang jelas.
2.
Terhalang Dari Penolong yang Dapat Membimbing dan Membantu Memperbaiki Aib
Mereka:
Manusia
mungkin saja menyadari aib-aibnya, namun terkadang ia memiliki kemauan yang
lemah sehingga tidak mampu memperbaiki aib tersebut sendirian. Ia membutuhkan
penolong yang membantunya menundukkan nafsunya. Ketika ia memilih uzlah,
ia kehilangan penolong tersebut dan tetap terjerumus dalam kemaksiatan
sepanjang hidupnya. Hal ini sesuai dengan makna hadis: "Seorang mukmin
adalah cermin bagi saudaranya; jika ia melihat aib padanya, ia
memperbaikinya," dan "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan
oleh Allah, maka Allah memberinya teman yang saleh; jika ia lupa, temannya
mengingatkan, dan jika ia ingat, temannya membantu."
3.
Terhentinya Sebagian Potensi dan Kemampuan Mereka:
Hal
ini menjadikan mereka sasaran empuk bagi godaan, penyesatan, dan bisikan setan,
selain juga menyebabkan terjadinya perpecahan atau ketimpangan dalam
kepribadian. Manusia terdiri dari jasad, akal, dan ruh (materi dan spiritual).
Ruh dibekali dengan potensi insting (gharizah) yang saling berpasangan
dan sejajar dalam jiwa, namun berbeda arah: takut dan harap, cinta dan benci,
realitas dan imajinasi, energi fisik dan energi maknawi, keyakinan pada yang
terindera dan yang gaib, keinginan terikat dan keinginan sukarela, sifat individual
dan sosial, pasif dan aktif. Semuanya berfungsi untuk mengikat manusia dengan
kehidupan.
Keseimbangan
dalam hidup manusia bergantung pada pemberian hak kepada setiap insting ini
secara proporsional. Jamaah adalah satu-satunya medan yang mampu
mengfungsikan seluruh potensi muslim dan menjalankan semua insting secara
seimbang, sehingga terbentuklah kepribadian yang lurus, utuh, tanpa
penyimpangan, dan terbentengi dari tipu daya setan. Sebaliknya, jika muslim
menjauh dari jamaah, sebagian potensinya pasti akan terhenti, menyebabkan
ketimpangan kepribadian dan menciptakan kekosongan yang dimanfaatkan setan
untuk menyesatkannya. Inilah yang diperingatkan Nabi SAW: "Barangsiapa
di antara kalian yang menginginkan bagian tengah surga, maka hendaklah ia
menetapi jamaah, karena setan bersama satu orang, dan ia dari dua orang akan
lebih jauh."
4.
Sedikitnya Cadangan Pengalaman yang Membantu Menghadapi Kesulitan:
Jalan
dakwah penuh dengan duri dan risiko. Muslim yang cerdas adalah yang memiliki
pengalaman untuk mengatasi risiko tersebut. Tidak ada tempat yang lebih luas
untuk menimba pengalaman selain hidup dan berinteraksi dengan manusia. Saat
seorang aktivis menjauh dari jamaah, ia kehilangan pengalaman berharga
tersebut, sehingga ia tetap berwawasan sempit dan tidak tahu cara menghadapi
masalah yang paling sederhana sekalipun.
5.
Dikuasai Oleh Rasa Putus Asa yang Berujung Pada Kemalasan (Futur):
Setan
sering mendatangi aktivis muslim zaman sekarang dengan pertanyaan: "Apa
jalan keluarnya sementara musuh Allah di dalam dan luar umat sangat banyak?
Mereka menguasai dunia Islam dengan rencana yang licik." Muslim yang
berinteraksi dengan jamaah dapat menepis keraguan ini karena ia sadar ia tidak
sendirian; ada orang lain yang memiliki sarana dan kemampuan untuk menghadapi
musuh. Namun, bagi mereka yang menyendiri, pertanyaan ini akan terus menghantui
tanpa ada jawaban nyata, hingga putus asa merayap ke hatinya dan ia
meninggalkan amal dakwah.
6.
Sedikitnya Cadangan Pahala dan Ganjaran:
Orang
yang hidup bermasyarakat memiliki ladang pahala yang sangat luas: majelis ilmu,
menjenguk orang sakit, mengunjungi saudara untuk mempererat kasih sayang,
memberikan ucapan selamat, bertakziah, membimbing orang ke jalan kebaikan,
serta memberikan bantuan materi maupun moril. Orang yang terisolasi kehilangan
semua peluang emas ini sehingga pahalanya menjadi sedikit.
7.
Ketidakmampuan Menegakkan Agama Allah Pada Diri Sendiri, Baik Kini Maupun Esok:
Kebatilan
tidak pernah berhenti bekerja agar bumi penuh dengan kejahatan. Peran muslim
untuk menjalankan kewajiban tidak akan tercapai jika ahli kebenaran lari dari
medan perjuangan atau bekerja secara tercerai-berai. Seorang yang memilih uzlah
pada hakikatnya adalah orang yang lari dari medan atau memilih bekerja sendiri,
dan orang seperti ini pasti akan terdesak ruang geraknya oleh dominasi
kebatilan, baik sekarang maupun di masa depan.
Dampak
inilah yang diisyaratkan oleh teks-teks Al-Qur'an dan hadis yang menyebutkan
bahwa jika Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, maka
bumi akan rusak dan tempat-tempat ibadah akan hancur, serta perumpamaan
penumpang kapal yang jika membiarkan satu orang melubangi kapal atas nama
"kebebasan individu", maka seluruh penumpang akan tenggelam.
8.
Membiarkan Diri Mereka Terjerumus dalam Dosa dan Kemurkaan Ilahi
Ini
disebabkan oleh sikap mereka yang memisahkan diri dari orang lain dan
memisahkan diri dari jamaah. Bagaimana mungkin seorang muslim sanggup atau
mampu menanggung kemurkaan tersebut? Dampak ini dapat dipahami dari sabda
Rasulullah SAW:
"Barangsiapa
yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah lalu ia mati, maka ia
mati dalam keadaan mati jahiliyah…"
Itulah
dampak-dampak terpenting dari uzlah (pengasingan diri) atau tafarrud
(menyendiri) bagi para aktivis dakwah, yang secara keseluruhan disarikan dari
sabda Nabi SAW:
"Barangsiapa
yang memisahkan diri dari jamaah sejauh satu jengkal, maka sungguh ia telah
menanggalkan ikatan Islam dari lehernya."
Maksud
dari hadis tersebut adalah bahwa siapa pun yang keluar dan memisahkan diri dari
jamaah dalam perkara yang telah disepakati (al-amr al-mujma' 'alaih),
maka ia telah membiarkan dirinya binasa dan tersesat. Sebab, tidak ada jaminan
baginya untuk tidak terperosok ke dalam semua dampak yang telah disebutkan di
atas, atau setidaknya sebagian darinya. Hal ini persis seperti yang terjadi
pada hewan ternak jika ikatan atau kalung yang ada di lehernya (agar tidak
tersesat) dilepaskan; maka tidak ada jaminan hewan tersebut akan selamat dari
kebinasaan atau hilang tersesat.
Dampak
Terhadap Kerja Islam (Amal Islami):
Adapun
dampak-dampaknya terhadap kerja Islam berkisar pada hal-hal berikut:
(1)
Kemudahan bagi musuh untuk memukul, menghancurkan, atau setidaknya menggagalkan
kerja Islam tersebut.
Akibatnya,
kerja Islam tidak akan membuahkan hasil kecuali setelah pengorbanan yang banyak
dan waktu yang lama, mengingat kondisinya yang lemah karena perpecahan para
aktivisnya dan ketiadaan solidaritas di antara mereka. Barangkali inilah
rahasia di balik semangat musuh-musuh Allah untuk membiarkan umat Islam tetap
terpecah belah dengan slogan: "Divide et Impera" (Pecah belah
dan kuasai). Inilah pula rahasia di balik perintah untuk bersatu dan larangan
terhadap perpecahan serta perselisihan:
- “Dan berpegang teguhlah
kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.”
(QS. Ali Imran: 103).
- “Dan taatlah kepada Allah
dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.” (QS. Al-Anfal: 46).
- “Dan tolong-menolonglah
kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma'idah: 2).
(2)
Terhalang dari pertolongan atau bantuan Ilahi:
Hal
ini karena kerja Islam, seberapa pun besar energi dan potensinya, tetap
membutuhkan pertolongan dan penguatan dari Allah Azza wa Jalla. Allah telah
menjanjikan bahwa Dia tidak akan memberikan pertolongan dan penguatan tersebut
kecuali jika para pelaksana kerja Islam saling bersolidaritas dan bahu-membahu.
Nabi SAW bersabda:
"Tangan
Allah bersama jamaah."
Jika
karena penghalangan pertolongan ini kemudian timbul ujian atau cobaan, maka
ujian tersebut akan menjadi rahmat dan berkah bagi para aktivis yang bersatu,
namun menjadi bencana dan azab bagi mereka yang duduk berpangku tangan (tidak
ikut berjuang) serta bagi para aktivis yang tercerai-berai:
- “Dan orang-orang yang
gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah
akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan
memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada
mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).
- "Jika Allah
menurunkan azab kepada suatu kaum, maka azab tersebut akan menimpa siapa
saja yang ada di tengah mereka, kemudian mereka akan dibangkitkan
berdasarkan amal perbuatan mereka." (HR. Bukhari).
Keempat:
Jalan Keluar dan Pencegahan dari Uzlah
Selama
kita telah memahami sebab-sebab uzlah dan dampak-dampaknya, maka mudah
bagi kita untuk menyadari jalan keselamatan dan cara mencegahnya, yang
terangkum dalam:
(1)
Pemahaman yang utuh tentang hubungan antara teks-teks syariat yang menganjurkan
uzlah dengan teks-teks lain yang menyerukan interaksi dengan manusia
serta menetapi jamaah.
Pemahaman
ini menjamin seorang muslim (jika ia jujur pada dirinya sendiri) akan tercabut
dari kehidupan menyendiri dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan jamaah. Hal
ini karena berinteraksi dengan jamaah adalah hukum asal, sedangkan uzlah
adalah perkara darurat yang tidak dilakukan kecuali dalam kondisi mendesak di
mana agama dan kehidupan tidak lagi bisa dipertahankan.
(2)
Pemahaman yang utuh tentang kondisi atau sebab yang mendorong sebagian ulama
salaf untuk melakukan uzlah atau tafarrud.
Pemahaman
ini sering kali menghalangi kita untuk sekadar ikut-ikutan meneladani mereka
dalam hal ini. Terutama jika kita mengetahui bahwa uzlah mereka dahulu
tidak membawa dampak buruk (bagi umat) karena negara Islam masih tegak, panji
Islam masih berkibar, dan agama seluruhnya milik Allah. Adapun uzlah
kita saat ini justru membawa banyak kemudaratan mengingat hilangnya negara
Islam, cengkeraman musuh Allah di leher kita, serta banyaknya penghalangan dari
jalan Allah. Kita saat ini sangat membutuhkan massa yang banyak serta upaya
kolektif yang besar dan saling mendukung untuk mengembalikan otoritas bagi
Allah.
(3)
Pemahaman yang akurat tentang manhaj Islam dalam menyelaraskan antara sisi
individualitas dan kolektivitas.
Hal
ini menjamin seorang muslim terdorong untuk hidup dalam dekapan jamaah sambil
tetap menjaga jati diri atau kepribadian individunya.
(4)
Memahami konsep ibadah yang benar.
Hal
ini cukup untuk mengakhiri sikap uzlah dan mendorong seseorang untuk
menetapi jamaah serta berinteraksi dengan manusia tanpa merasa terbebani bahwa
waktunya habis untuk hal selain ketaatan dan ibadah.
(5)
Mujahadah (perjuangan) melawan nafsu dan memperlakukannya dengan ketegasan
serta kedisiplinan.
Agar
hawa nafsu tidak menguasainya dan syahwat tidak membelenggunya, sehingga tidak
mendorongnya untuk lari dari beban berinteraksi dengan jamaah dan hidup di
tengah masyarakat.
(6)
Memahami peran yang wajib dilakukan oleh seorang muslim ketika kejahatan
tersebar dan kerusakan merajalela.
Ini
cukup untuk mengeluarkan aktivis mana pun dari pengasingannya dan mendorongnya
berinteraksi dengan manusia serta menghadapi berbagai kesulitan demi membasmi
kejahatan dan melawan kerusakan, atau setidaknya meminimalisir keduanya.
(7)
Berserah diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dan memohon pertolongan
dengan jujur kepada-Nya. Sesungguhnya siapa yang memohon pertolongan kepada
Allah, maka Allah akan menolongnya:
- “Dan apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya
Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia
memohon kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186).
(8)
Melepaskan diri dari pertemanan dengan orang-orang yang manhajnya adalah uzlah
dan kebiasaannya adalah menyendiri, disertai dengan menetapi barisan para
aktivis dakwah. Hal ini memiliki peran besar dalam membasmi keinginan untuk
uzlah.
(9)
Memahami sepenuhnya hakikat lembaga-lembaga dan jamaah-jamaah yang bekerja
untuk agama Allah. Hal ini pasti akan mengakhirinya pada sikap meninggalkan
kehidupan menyendiri dan berjalan bersama pihak yang berada di atas kebaikan
yang menyeluruh dan menegakkan kebenaran secara utuh.
(10)
Memahami hakikat manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam membangun
monumen dan negara Islam pertama. Hal ini membantu melepaskan diri dari uzlah
dan mendorong untuk bergabung dengan jamaah sebagai bentuk keteladanan kepada
beliau SAW:
- “Sesungguhnya telah ada
pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).
(11)
Menyadari bahwa musuh-musuh Allah dari kalangan kafir dan munafik saling
bekerja sama di antara mereka. Mereka bekerja untuk memukul Islam secara
bersatu, bukan terpisah-pisah, baik dalam bentuk aliansi militer (Pakta
Warsawa, NATO), pasar perdagangan (Pasar Tunggal Eropa), parlemen dan badan
politik (Parlemen Eropa), maupun dalam bentuk persatuan republik dan negara
bagian (Uni Soviet, Amerika Serikat). Jika demikian keadaan musuh Allah padahal
mereka berada di atas kebatilan dan memiliki perbedaan fundamental di antara
mereka, maka lebih utama bagi kita umat Islam—terutama karena kita berada di
atas kebenaran dan tidak memiliki perbedaan fundamental—untuk menghadapi mereka
dengan cara yang sama, yakni secara bersatu dan tidak bercerai-berai:
- “Adapun orang-orang yang
kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika
kamu (wahai umat Islam) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan
Allah itu (yaitu bersatu padu), niscaya akan terjadi kekacauan di muka
bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73).
(12)
Merenungkan kehidupan makhluk-makhluk di sekitar kita. Perenungan ini pasti
akan membawa kita pada kesimpulan bahwa makhluk-makhluk tersebut tidak hidup
dalam keterasingan, melainkan hidup berkelompok dan bekerja sama untuk
menjalankan perannya. Lihatlah tata surya yang bekerja sama menyediakan cahaya
dan kehangatan bagi seluruh makhluk hidup. Lihatlah komunitas lebah yang
bekerja sama membangun sarangnya, membersihkannya, dan melindunginya, kemudian
terbang mengisap nektar bunga untuk akhirnya dikeluarkan sebagai madu murni
yang menjadi obat bagi manusia. Hal serupa terjadi pada komunitas semut dan
makhluk lainnya, sehingga penyair berkata:
"Semut
membangun negerinya dengan kekompakan mereka, dan lebah memanen sari madu
dengan saling menolong."
Jika
demikian keadaan makhluk yang tidak memiliki akal, maka bagaimana dengan kita
anak cucu Adam yang telah Allah muliakan dengan akal, kebebasan, dan kehendak,
serta dijadikan pemimpin di alam semesta ini? Renungan seperti ini dapat memicu
sikap meninggalkan uzlah dan memilih hidup bersama jamaah di tengah
manusia.
(13)
Memahami hakikat dampak-dampak yang ditimbulkan oleh uzlah atau
menyendiri. Dampak-dampak ini telah kita sebutkan sebelumnya. Hal ini akan
menuntun siapa pun yang memiliki hati atau menggunakan pendengarannya dengan
saksama untuk memilih hidup di tengah manusia dan berinteraksi dengan mereka
karena takut terperosok ke dalam dampak atau konsekuensi buruk tersebut.
No comments:
Post a Comment