Monday, May 11, 2026

Uzlah

Pertama: Makna Uzlah (Keterasingan/Menyendiri) atau At-Tafarrud (Menyendiri)

Penyakit keempat yang diderita oleh sebagian aktivis (pejuang dakwah), dan mereka harus bekerja keras untuk membersihkan diri darinya, adalah Uzlah atau Tafarrud (menyendiri/terisolasi). Agar kita memiliki pemahaman yang akurat mengenai dimensi dan ciri-ciri penyakit ini, kita akan membahasnya sebagai berikut:

Secara Bahasa:

Uzlah atau Tafarrud secara bahasa berarti menjauh atau menyingkir ke samping. Pemilik kitab Lisan al-Arab berkata: "Seseorang mengisolasi sesuatu artinya menjauhkannya, dan ia pun mengisolasi diri atau terpisah; bermakna menyingkirkannya ke samping sehingga ia menyingkir."

Firman Allah SWT: “Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar (Al-Qur'an)” (QS. Asy-Syu'ara: 212), maknanya adalah ketika mereka dilempari dengan bintang-bintang (meteor)—sebagaimana firman-Nya: “dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya)”—maka mereka terhalang dari mendengar.

Secara Istilah:

Adapun dalam istilah para pendakwah, yang dimaksud adalah lebih mengutamakan kehidupan sendiri (individualis) daripada kehidupan berjamaah. Hal ini terjadi ketika seorang aktivis merasa cukup dengan menegakkan Islam pada dirinya sendiri saja, tanpa peduli kepada orang lain dan kondisi mereka yang berada dalam kesesatan dan kehancuran. Atau, ia menegakkan Islam pada dirinya dan berusaha keras menegakkannya pada orang lain, namun melalui upaya individu yang jauh dari kerja sama dan saling tolong-menolong dengan para pejuang lainnya di lapangan.

Kedua: Sebab-sebab Uzlah atau Tafarrud

Terdapat beberapa sebab yang mengarah pada keterasingan atau sikap menyendiri ini, di antaranya:

1. Terpaku pada sebagian teks syariat yang menganjurkan Uzlah, namun lalai terhadap posisinya dibandingkan teks lain yang menyerukan kehidupan berjamaah.

Terdapat beberapa teks syariat yang memuji uzlah dan menganjurkannya, seperti sabda Nabi SAW:

“Hampir tiba masanya harta milik Muslim yang paling baik adalah kambing yang digiring ke puncak gunung dan tempat-tempat jatuhnya hujan, ia lari membawa agamanya dari berbagai fitnah.”

Begitu juga jawaban beliau kepada orang yang bertanya: "Siapakah manusia yang paling utama?" Beliau bersabda:

“Seseorang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Beliau menjawab: “Seorang mukmin yang berada di syi’b (lembah di antara dua gunung) yang menyembah Tuhannya dan menjauhkan manusia dari keburukannya.”

Serta sabda beliau dalam hadis Hudzaifah bin Al-Yaman:

“...Maka jauhilah semua golongan itu, meskipun kamu harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dalam keadaan demikian.”

Dan sabdanya:

“Di antara kehidupan manusia yang terbaik bagi mereka adalah: seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah, ia terbang di atas punggungnya, setiap kali mendengar suara teriakan perang atau ketakutan ia segera terbang ke sana untuk mencari kematian di tempat-tempat yang diduga terdapat kematian. Atau seorang laki-laki yang memiliki sekumpulan kambing di puncak gunung atau di dasar lembah, ia mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyembah Tuhannya hingga datang keyakinan (ajal) kepadanya. Tidak ada hubungan dengan manusia kecuali dalam kebaikan.”

Di sisi lain, terdapat pula teks syariat yang menyerukan untuk berjalan di bawah panji jamaah dan hidup dalam naungannya, seperti firman Allah SWT:

  • “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”
  • “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai...”
  • “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”

Dan sabda Nabi SAW:

  • “...Hati-hatilah kalian dari perpecahan, dan hendaknya kalian berjamaah, karena setan itu bersama satu orang, dan ia dari dua orang akan lebih jauh. Barangsiapa yang menginginkan bagian tengah surga (yang paling luas/nikmat), maka hendaklah ia menetapi jamaah.”
  • “...Dan aku memerintahkan kalian dengan lima perkara yang Allah perintahkan aku dengannya: Berjamaah, mendengar, taat, hijrah, dan jihad di jalan Allah. Karena sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari jamaah sejauh satu jengkal, maka ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya hingga ia kembali.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, meskipun ia shalat dan puasa?” Beliau menjawab: “Meskipun ia puasa dan shalat serta mengaku bahwa dirinya Muslim.”
  • “Tangan Allah bersama jamaah.”

Seorang aktivis yang hanya terpaku pada teks-teks pertama yang menganjurkan uzlah dengan melupakan atau pura-pura lupa akan keterkaitannya dengan teks-teks lain yang menyerukan interaksi dengan jamaah dan hidup di dalamnya, niscaya akan tertimpa penyakit uzlah atau tafarrud.

2. Terpaku pada fenomena Uzlah yang diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf, namun lalai terhadap kondisi yang melatarbelakanginya.

Terkadang faktor pendorong uzlah adalah apa yang diriwayatkan dari sebagian Salaf bahwa mereka lebih memilih menyendiri daripada berinteraksi dengan masyarakat. Lihatlah Nabi Allah Ibrahim AS, ia berkata kepada kaumnya sebagaimana yang diceritakan Al-Qur'an:

“Dan aku akan menjauhkan diri (اعتزلكم) darimu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah...”

Faktor pendorong beliau melakukan itu adalah karena cara-cara perubahan dan perbaikan telah habis dilakukan, kemudian kaumnya tetap bersikeras dalam kekafiran, sehingga beliau khawatir akan fitnah dalam agamanya, lalu beliau lari dari mereka dan menjauh.

Begitu pula Abu Dzarr dan Ibnu Umar, serta sekelompok sahabat bersama mereka, yang menjauh dari jamaah kaum Muslimin dan hidup menyendiri ketika terjadi fitnah (perang saudara). Motivasi mereka adalah untuk menjaga tangan mereka agar tidak terlumur darah suci yang telah disucikan oleh Allah SWT, sementara tidak diketahui siapa yang benar dan siapa yang salah.

Demikian juga Imam Malik bin Anas, Imam Darul Hijrah, yang menghabiskan hari-hari terakhir hidupnya dalam uzlah jauh dari orang-orang. Alasannya adalah untuk menghindari benturan dengan penguasa demi menjaga tumpahnya darah kaum Muslimin.

Aktivis yang membaca tentang uzlah para tokoh ini namun melupakan kondisi dan latar belakangnya, akan timbul dalam dirinya keinginan untuk meneladani atau setidaknya meniru, sehingga ia memilih hidup menyendiri jauh dari suasana jamaah, padahal tidak ada alasan yang membenarkan uzlah tersebut.

3. Anggapan bahwa kehidupan berjamaah selalu menghapus jati diri anggotanya dan memengaruhi kepribadiannya, disertai kelalaian terhadap manhaj Islam dalam menyelaraskan antara individu dan jamaah.

Penyebab lainnya adalah anggapan sebagian aktivis bahwa hidup dan bergabung dengan jamaah akan menghapus jati dirinya, sehingga kepribadiannya melebur dan ia menjadi seorang Imma'ah (pengekor); jika orang baik ia ikut baik, jika orang buruk ia ikut buruk. Ia lalai bahwa manhaj Islam menyelaraskan antara sisi individual dan kolektif. Manhaj ini menyerukan individu untuk hidup dalam naungan jamaah, namun di saat yang sama menekankan bahwa ia bertanggung jawab penuh atas setiap tindakannya. Allah berfirman:

  • “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”
  • “Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya.”
  • “...Suatu jiwa tidak dapat membela jiwa yang lain sedikit pun.”
  • “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.”
  • “Dan jika seseorang yang berat bebannya memanggil (orang lain) untuk memikul bebannya itu, tiadalah akan dipikul sedikit pun, meskipun (yang dipanggil itu) kaum kerabatnya.”

Ia juga wajib memberikan nasihat—dengan syarat dan adabnya—kepada setiap anggota jamaah tanpa memandang seberapa tinggi kedudukan atau statusnya:

“Agama itu adalah nasihat.” Kami bertanya: “Untuk siapa?” Beliau bersabda: “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan masyarakat umum mereka.”

“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, ia menjaga hartanya dan melindunginya dari belakang.” Dalam riwayat lain: “Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, jika ia melihat aib padanya, maka ia meluruskannya.”

Para sahabat telah hidup bersama Nabi SAW, dan kaum Muslimin hidup satu sama lain, namun kita tidak melihat ada individu yang kepribadiannya melebur atau jati dirinya hilang dalam jamaah. Sebaliknya, yang kita lihat adalah saling menasihati, musyawarah, serta amar ma'ruf nahi munkar. Ucapan sebagian sahabat kepada Umar bin Khattab: “Jika kami melihat penyimpangan padamu, niscaya akan kami luruskan dengan pedang-pedang kami,” bukanlah hal yang asing bagi kita.

Dengan seruan ini, dalam diri seorang Muslim terbangun entitas internal yang istimewa dengan batasan yang jelas, sehingga nuraninya tetap terjaga dan peka terhadap segala sesuatu yang menyentuhnya, meskipun dari kejauhan.

Anggapan keliru dan kelalaian ini niscaya akan membawa seorang aktivis untuk memilih jalan uzlah, sehingga ia terjangkit salah satu penyakit yang paling berbahaya.

4. Lalai Terhadap Karakteristik Beban Berinteraksi dengan Jamaah dan Hidup di Tengah Manusia

Terkadang, pendorong utama munculnya sikap memisahkan diri (uzlah) adalah kelalaian terhadap karakteristik beban (takalif) dalam berinteraksi dengan jamaah dan hidup bermasyarakat. Karakteristik beban ini adalah: jumlahnya banyak dan besar, menyita kehidupan manusia dari hari pertama hingga hari terakhir, bahkan mungkin tidak pernah berakhir. Sering kali, beban ini bertentangan dengan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu. Jika seorang aktivis ('amil) tidak menyadari hal ini, ia akan mengabaikan proses penyucian diri (tazkiyah), pembinaan (tarbiyah), serta perjuangan diri (mujahadah). Akibatnya, hawa nafsu dan syahwat akan menguasainya. Seiring berjalannya waktu, ia menjadi lemah dan tidak mampu memikul beban-beban tersebut. Pada saat itulah, ia mencari jalan keluar atau tempat berlindung, dan ia tidak menemukan apa pun selain mengasingkan diri atau menyendiri.

5. Berdalih Bahwa Berinteraksi dengan Manusia Menghambat Ibadah, Disertai Kelalaian Terhadap Konsep Ibadah yang Benar

Pendorong uzlah lainnya adalah alasan bahwa berinteraksi dengan orang lain menyita waktu untuk fokus beribadah, mulai dari shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, zikir, doa, istigfar, hingga tafakur, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena kelalaian terhadap konsep ibadah yang benar. Sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah —semoga Allah merahmatinya— bahwa ibadah adalah:

"Sebuah nama yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak (lahir) maupun yang tersembunyi (batin). Maka shalat, zakat, puasa, dan haji adalah ibadah; doa, istigfar, zikir, dan membaca Al-Qur'an adalah ibadah; kejujuran dalam berbicara, menunaikan amanah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturahmi adalah ibadah; menepati janji, berdakwah kepada kebaikan, memerintah pada yang makruf, mencegah dari yang munkar, serta berjihad melawan orang-orang kafir dan munafik adalah ibadah; berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, musafir, pelayan, serta menyayangi yang lemah dan berlemah lembut kepada hewan adalah ibadah. Begitu pula cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, bertaubat kepada-Nya, memurnikan ketaatan bagi-Nya, bersabar atas ketetapan-Nya, ridha pada takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, berharap pada rahmat-Nya, dan takut akan azab-Nya; semua itu dan yang serupa dengannya adalah ibadah."

Al-Qur'an dan Sunnah membenarkan konsep yang disampaikan Syaikhul Islam ini. Meskipun demikian, berinteraksi dengan manusia tidak menghalangi seorang muslim untuk memiliki waktu-waktu khusus bagi dirinya sendiri guna menunaikan kewajiban, mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah sunnah, menghafal ilmu, mengkaji suatu masalah, membaca Al-Qur'an, berzikir, bertafakur, atau bermuhasabah (introspeksi diri). Itulah makna perkataan Umar bin Khattab ra.: "Ambillah bagianmu dari uzlah (kesendirian)." Hilangnya konsep ibadah yang benar dari benak seorang aktivis muslim, dan pembatasan ibadah hanya pada lingkaran ritual formal saja—sambil beranggapan bahwa kehidupan berjamaah menghalanginya untuk fokus sepenuhnya pada ritual tersebut—semua ini pasti akan menjerumuskannya ke dalam penyakit pengasingan diri atau penyendirian.

6. Beralasan dengan Tersebarnya Kejahatan dan Kerusakan, Serta Lalai Terhadap Peran Muslim Saat Hal Itu Terjadi

Pendorong uzlah bisa juga berupa alasan tersebarnya kejahatan dan kerusakan, disertai kelalaian terhadap peran seorang muslim saat kondisi tersebut terjadi. Peran muslim dalam kondisi ini seharusnya adalah aktif melakukan perlawanan dengan segala metode yang tersedia dan sarana yang memungkinkan. Ia tidak boleh memilih uzlah kecuali saat penyakit sudah sangat akut, sarana sudah tidak berdaya, dan muncul kekhawatiran akan fitnah (gangguan terhadap iman).

Jika seorang aktivis muslim lalai akan hakikat peran ini, ia akan segera lari menuju pengasingan diri, sehingga bumi pun berubah menjadi pusat kejahatan dan kerusakan. Benarlah firman Allah Yang Maha Agung:

  • "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah rusak binasa bumi ini." (QS. Al-Baqarah: 251).
  • "Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah." (QS. Al-Hajj: 40).

Dan benarlah sabda Rasulullah SAW yang memberi nasihat:

"Perumpamaan orang yang tegak di atas batasan-batasan Allah dan orang yang melanggarnya, adalah seperti sekelompok orang yang mengundi tempat di sebuah kapal. Sebagian mendapatkan bagian atas dan sebagian lagi di bagian bawah. Jika orang-orang di bagian bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang di atasnya. Mereka pun berkata: 'Seandainya kita lubangi saja bagian kita sendiri, agar kita tidak mengganggu orang-orang di atas kita.' Jika orang-orang di atas membiarkan mereka melakukan keinginan itu, niscaya mereka semua akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, niscaya mereka akan selamat dan menyelamatkan semuanya."

7. Melihat Gambaran Ujian dan Cobaan yang Dialami Para Pejuang Agama Sepanjang Sejarah, Namun Lalai Terhadap Sikap Mereka Menghadapi Ujian Tersebut

Melihat gambaran penderitaan dan cobaan yang menimpa para pejuang agama sepanjang sejarah dapat mendorong seseorang untuk memilih uzlah, terutama jika ia lalai terhadap sikap para pejuang tersebut. Sikap mereka sebenarnya adalah keyakinan penuh bahwa ujian merupakan sunnatullah dalam dakwah, kemudian mereka mengakui kekurangan diri dan memohon kepada Allah agar meneguhkan langkah mereka serta memberi kemenangan. Allah menerima permohonan mereka, meneguhkan, dan menolong mereka:

"Dan berapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Dan tidak lain ucapan mereka hanyalah doa, 'Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.' Maka Allah memberi mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran: 146-148).

Benar, jika seorang aktivis melihat gambaran ujian ini tanpa memahami sikap para pejuang tersebut, ia akan dikuasai oleh rasa takut dan cemas. Ia akan mencoba mencari jalan keluar, lalu nafsunya membisikkan dan setan menghiasi pikirannya bahwa jalan keluar itu hanya ada dalam pengasingan diri, sehingga ia cenderung memilih jalan tersebut.

8. Berteman dengan Sekelompok Muslim yang Manhajnya Adalah Pengasingan Diri

Seseorang bisa terdorong untuk uzlah karena bergaul dengan sekelompok muslim yang memiliki manhaj uzlah dan kebiasaan menyendiri. Hal ini karena seseorang sangat mudah terpengaruh oleh temannya, terutama jika teman tersebut memiliki kepribadian yang kuat atau termasuk orang yang dijadikan teladan. Rasulullah SAW bersabda: "Seseorang itu berada di atas agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang ia jadikan teman dekat."

9. Banyaknya Organisasi dan Jamaah yang Bergerak untuk Agama Allah

Banyaknya lembaga dan kelompok dakwah dapat membuat seorang aktivis bingung: dengan lembaga mana ia harus bekerja dan dari mana ia harus menjauh? Kebingungan ini berakhir pada sikap menyendiri, terutama jika ia tidak memahami hakikat kelompok-kelompok tersebut. Hakikatnya, semua kelompok itu berada di atas kebaikan, namun tingkat kebaikannya berbeda-beda; ada yang memiliki sedikit kebaikan, banyak kebaikan, atau kebaikan yang menyeluruh. Sikap yang harus diambil adalah mengenal semuanya (tujuan dan sarananya), lalu berjalan bersama kelompok yang memiliki kebaikan yang menyeluruh, dengan ciri-ciri:

  • Tujuannya adalah menerapkan syariat Allah dan manhaj-Nya di bumi.
  • Meniatkan segala perkataan dan perbuatan hanya karena Allah semata.
  • Menanggalkan semua loyalitas kecuali loyalitas kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman.
  • Memahami Islam secara moderat (wasathiyah), tanpa sikap ekstrem (ghuluw) maupun meremehkan (tafrith), lalu mengamalkan Islam secara menyeluruh, mulai dari perkara siwak hingga jihad.
  • Memulai dengan membentuk kepribadian muslim yang mengumpulkan segala sifat baik dan menjauhi sifat buruk agar layak mendapatkan pertolongan Allah.
  • Berusaha memperluas pembentukan kepribadian muslim ini agar tersebar ke seluruh masyarakat bahkan dunia.
  • Berusaha mengikat kepribadian-kepribadian muslim ini sehingga memiliki satu pandangan, satu pemikiran, satu hati, satu ruh, dan satu perasaan meskipun raga mereka banyak.
  • Bergerak berdasarkan pengaturan yang matang, teliti, dan berdasar pada studi serta pemahaman terhadap realitas secara terus-menerus.
  • Memperhatikan prioritas dalam bekerja; jika fasilitas terbatas, maka mendahulukan yang pokok (ushul) atas cabang (furu'), yang wajib atas yang sunnah, dan yang disepakati atas yang diperselisihkan. Sebagaimana Rasulullah SAW menghancurkan berhala di dalam jiwa manusia sebelum menghancurkan berhala fisik di Ka'bah.
  • Tidak bermudah-mudah dalam perkara pokok yang disepakati, namun memberi uzur (toleransi) dalam perkara cabang yang diperselisihkan, sehingga membuka pintu kerja sama dengan semua pejuang dakwah.
  • Memiliki manhaj yang jelas rukun dan fiturnya, yang membimbing individu dari satu tahap ke tahap berikutnya, menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, dan meningkatkan level mereka.
  • Terbukti keteguhan dan kesabarannya menghadapi kesulitan jalan dakwah, tetap kokoh di hadapan teror, dan unggul di atas cobaan.
  • Telah menempuh perjalanan panjang dalam beramal sehingga memiliki pengalaman luas yang dapat menghemat waktu dan tenaga bagi pengikutnya.
  • Selalu bersikap tenang, penuh pertimbangan, dan tidak tergesa-gesa.
  • Memiliki pimpinan yang mengarahkan dan membimbing agar urusan diletakkan pada porsinya.
  • Seluruh anggotanya mengikuti pendapat pimpinan selama dalam perkara yang makruf.
  • Adanya tradisi saling menasihati dengan syarat dan adabnya, serta penerimaan yang baik terhadap nasihat tersebut.
  • Ketelitian dan amanah dalam memilih anggota untuk menutup celah bagi orang-orang yang berniat buruk.
  • Berpegang pada prinsip mengikuti tuntunan (ittiba') dan bukan mengada-ada (ibtida').

10 - Lalai Terhadap Dampak-Dampak yang Ditimbulkan oleh Uzlah, Baik yang Berkaitan dengan Para Aktivis Maupun dengan Amal Islami:

Terakhir, pendorong sikap menyendiri (uzlah) bisa jadi adalah kelalaian terhadap dampak-dampak yang ditimbulkan oleh sikap tersebut, baik dampak yang mengenai para aktivis secara personal maupun yang berkaitan dengan gerakan dakwah Islam (al-amal al-islami), sebagaimana yang akan kita paparkan sesaat lagi. Sebab, barangsiapa yang lalai terhadap dampak buruk dari suatu perkara, niscaya ia akan terjerumus ke dalam perkara tersebut.

Ketiga: Dampak-Dampak Uzlah atau At-Tafarrud (Sikap Menyendiri)

Sikap menyendiri atau terisolasi memiliki dampak-dampak yang merugikan dan konsekuensi yang buruk, baik bagi para aktivis secara individu maupun bagi kerja dakwah Islam secara kolektif. Berikut adalah rincian dampak-dampak tersebut:

A. Dampak Bagi Para Aktivis (Individu):

1. Ketidaktahuan Mereka Terhadap Dimensi dan Ciri Kepribadian Sendiri:

Hal ini dikarenakan manusia—seberapa pun tingkat kecerdasan dan ketajamannya—tidak mungkin mampu mengetahui dimensi dan ciri kepribadiannya secara akurat hanya melalui dirinya sendiri. Ia pasti membutuhkan orang lain untuk membantunya mengenali hal tersebut. Sebagai contoh, manusia tidak dapat mendeteksi apakah dalam kepribadiannya terdapat sifat egois dan mementingkan diri sendiri, ataukah sifat mendahulukan orang lain (itsar) dan gemar bekerja sama, kecuali jika ia hidup di tengah manusia dan berinteraksi dengan mereka. Saat melihat orang-orang yang membutuhkan bantuan, ia dapat merenungi dirinya sendiri: Apakah hatinya mengeras dan membatu sehingga ia menjadi kikir dan pelit? Di situlah letak keegoisan. Ataukah hatinya melunak sehingga ia menjadi dermawan dan suka memberi? Di situlah letak sifat itsar dan kerja sama.

Demikian pula, ia tidak dapat mengetahui apakah kepribadiannya memiliki sifat santun (hilm) dan ketenangan, ataukah kebodohan dan ketergesa-gesaan, kecuali jika ia bergaul dengan masyarakat dan bertemu dengan berbagai macam orang, termasuk mereka yang kurang sopan. Ia dapat melihat: Apakah ia membalas ucapan kasar mereka dengan kelembutan, dan kekerasan hati mereka dengan keramahan? Di situlah letak kesantunan dan ketenangan. Ataukah ia membalasnya dengan hal serupa atau bahkan lebih keras? Di situlah letak kebodohan dan ketergesa-gesaan.

Seseorang juga tidak akan mengetahui keberanian mental yang ia miliki atau justru kepengecutan dan kelemahan hati, kecuali jika ia menetapi jamaah dan melihat ada orang yang berbuat salah, lalu ia merenungi dirinya sendiri: Apakah ia merasa mudah untuk berkata kepada orang yang salah itu, "Kebenaran bukan pada apa yang kau ucapkan, kebenaran bukan pada apa yang kau lihat, dan kebaikan bukan pada apa yang kau lakukan"? Di situlah letak keberanian mental. Ataukah ia merasa berat untuk mengucapkannya sehingga ia diam dan membisu? Di situlah letak kepengecutan dan kelemahan hati.

Begitu juga dalam hal kejujuran atau kedustaan, amanah atau khianat, keteraturan atau kekacauan; seseorang tidak akan menyadarinya kecuali jika ia hidup di tengah jamaah, berbicara dengan anggotanya, atau saat mereka mempercayakan darah, harta, dan kehormatan mereka kepadanya, atau saat ia membuat janji dengan mereka. Lalu ia melihat: Apakah ia berbicara sesuai dengan fakta dan realitas? Jika ya, maka ia jujur. Jika tidak, maka ia pendusta. Apakah ia menjaga darah, harta, dan kehormatan mereka? Jika ya, maka ia amanah. Jika ia melanggarnya, maka ia pengkhianat. Apakah ia menepati janji? Jika ya, maka ia disiplin dan teratur. Jika ia lalai dan ingkar, maka ia kacau (fawdhawiy) dan tidak disiplin.

Maka, jika seorang muslim hidup dalam keterasingan atau menyendiri, kepribadiannya akan tetap menjadi misteri bagi dirinya sendiri, dan itulah kerugian yang nyata. Sebab, boleh jadi ia melakukan keburukan karena menyangkanya sebagai kebaikan, atau meninggalkan kebaikan karena meyakininya sebagai keburukan.

"Katakanlah (Muhammad), 'Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya? (Yaitu) orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.'" (QS. Al-Kahfi: 103-104).

Dampak inilah yang mungkin dimaksudkan dalam sabda Nabi SAW: "Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya..." dan perkataan Umar ra.: "Telah dihadiahkan kepada kami aib-aib kami." Artinya, jalan bagi seorang muslim untuk mengetahui dimensi kepribadiannya, baik berupa kesempurnaan maupun kekurangan, kekuatan maupun kelemahan—agar ia dapat mengembangkan aspek kekuatan dan memperbaiki aspek kelemahan—hanyalah melalui jamaah. Tanpa jamaah, seorang muslim akan hidup dalam kebutaan dan tanpa petunjuk yang jelas.

2. Terhalang Dari Penolong yang Dapat Membimbing dan Membantu Memperbaiki Aib Mereka:

Manusia mungkin saja menyadari aib-aibnya, namun terkadang ia memiliki kemauan yang lemah sehingga tidak mampu memperbaiki aib tersebut sendirian. Ia membutuhkan penolong yang membantunya menundukkan nafsunya. Ketika ia memilih uzlah, ia kehilangan penolong tersebut dan tetap terjerumus dalam kemaksiatan sepanjang hidupnya. Hal ini sesuai dengan makna hadis: "Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya; jika ia melihat aib padanya, ia memperbaikinya," dan "Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah memberinya teman yang saleh; jika ia lupa, temannya mengingatkan, dan jika ia ingat, temannya membantu."

3. Terhentinya Sebagian Potensi dan Kemampuan Mereka:

Hal ini menjadikan mereka sasaran empuk bagi godaan, penyesatan, dan bisikan setan, selain juga menyebabkan terjadinya perpecahan atau ketimpangan dalam kepribadian. Manusia terdiri dari jasad, akal, dan ruh (materi dan spiritual). Ruh dibekali dengan potensi insting (gharizah) yang saling berpasangan dan sejajar dalam jiwa, namun berbeda arah: takut dan harap, cinta dan benci, realitas dan imajinasi, energi fisik dan energi maknawi, keyakinan pada yang terindera dan yang gaib, keinginan terikat dan keinginan sukarela, sifat individual dan sosial, pasif dan aktif. Semuanya berfungsi untuk mengikat manusia dengan kehidupan.

Keseimbangan dalam hidup manusia bergantung pada pemberian hak kepada setiap insting ini secara proporsional. Jamaah adalah satu-satunya medan yang mampu mengfungsikan seluruh potensi muslim dan menjalankan semua insting secara seimbang, sehingga terbentuklah kepribadian yang lurus, utuh, tanpa penyimpangan, dan terbentengi dari tipu daya setan. Sebaliknya, jika muslim menjauh dari jamaah, sebagian potensinya pasti akan terhenti, menyebabkan ketimpangan kepribadian dan menciptakan kekosongan yang dimanfaatkan setan untuk menyesatkannya. Inilah yang diperingatkan Nabi SAW: "Barangsiapa di antara kalian yang menginginkan bagian tengah surga, maka hendaklah ia menetapi jamaah, karena setan bersama satu orang, dan ia dari dua orang akan lebih jauh."

4. Sedikitnya Cadangan Pengalaman yang Membantu Menghadapi Kesulitan:

Jalan dakwah penuh dengan duri dan risiko. Muslim yang cerdas adalah yang memiliki pengalaman untuk mengatasi risiko tersebut. Tidak ada tempat yang lebih luas untuk menimba pengalaman selain hidup dan berinteraksi dengan manusia. Saat seorang aktivis menjauh dari jamaah, ia kehilangan pengalaman berharga tersebut, sehingga ia tetap berwawasan sempit dan tidak tahu cara menghadapi masalah yang paling sederhana sekalipun.

5. Dikuasai Oleh Rasa Putus Asa yang Berujung Pada Kemalasan (Futur):

Setan sering mendatangi aktivis muslim zaman sekarang dengan pertanyaan: "Apa jalan keluarnya sementara musuh Allah di dalam dan luar umat sangat banyak? Mereka menguasai dunia Islam dengan rencana yang licik." Muslim yang berinteraksi dengan jamaah dapat menepis keraguan ini karena ia sadar ia tidak sendirian; ada orang lain yang memiliki sarana dan kemampuan untuk menghadapi musuh. Namun, bagi mereka yang menyendiri, pertanyaan ini akan terus menghantui tanpa ada jawaban nyata, hingga putus asa merayap ke hatinya dan ia meninggalkan amal dakwah.

6. Sedikitnya Cadangan Pahala dan Ganjaran:

Orang yang hidup bermasyarakat memiliki ladang pahala yang sangat luas: majelis ilmu, menjenguk orang sakit, mengunjungi saudara untuk mempererat kasih sayang, memberikan ucapan selamat, bertakziah, membimbing orang ke jalan kebaikan, serta memberikan bantuan materi maupun moril. Orang yang terisolasi kehilangan semua peluang emas ini sehingga pahalanya menjadi sedikit.

7. Ketidakmampuan Menegakkan Agama Allah Pada Diri Sendiri, Baik Kini Maupun Esok:

Kebatilan tidak pernah berhenti bekerja agar bumi penuh dengan kejahatan. Peran muslim untuk menjalankan kewajiban tidak akan tercapai jika ahli kebenaran lari dari medan perjuangan atau bekerja secara tercerai-berai. Seorang yang memilih uzlah pada hakikatnya adalah orang yang lari dari medan atau memilih bekerja sendiri, dan orang seperti ini pasti akan terdesak ruang geraknya oleh dominasi kebatilan, baik sekarang maupun di masa depan.

Dampak inilah yang diisyaratkan oleh teks-teks Al-Qur'an dan hadis yang menyebutkan bahwa jika Allah tidak menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, maka bumi akan rusak dan tempat-tempat ibadah akan hancur, serta perumpamaan penumpang kapal yang jika membiarkan satu orang melubangi kapal atas nama "kebebasan individu", maka seluruh penumpang akan tenggelam.

8. Membiarkan Diri Mereka Terjerumus dalam Dosa dan Kemurkaan Ilahi

Ini disebabkan oleh sikap mereka yang memisahkan diri dari orang lain dan memisahkan diri dari jamaah. Bagaimana mungkin seorang muslim sanggup atau mampu menanggung kemurkaan tersebut? Dampak ini dapat dipahami dari sabda Rasulullah SAW:

"Barangsiapa yang keluar dari ketaatan dan memisahkan diri dari jamaah lalu ia mati, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah…"

Itulah dampak-dampak terpenting dari uzlah (pengasingan diri) atau tafarrud (menyendiri) bagi para aktivis dakwah, yang secara keseluruhan disarikan dari sabda Nabi SAW:

"Barangsiapa yang memisahkan diri dari jamaah sejauh satu jengkal, maka sungguh ia telah menanggalkan ikatan Islam dari lehernya."

Maksud dari hadis tersebut adalah bahwa siapa pun yang keluar dan memisahkan diri dari jamaah dalam perkara yang telah disepakati (al-amr al-mujma' 'alaih), maka ia telah membiarkan dirinya binasa dan tersesat. Sebab, tidak ada jaminan baginya untuk tidak terperosok ke dalam semua dampak yang telah disebutkan di atas, atau setidaknya sebagian darinya. Hal ini persis seperti yang terjadi pada hewan ternak jika ikatan atau kalung yang ada di lehernya (agar tidak tersesat) dilepaskan; maka tidak ada jaminan hewan tersebut akan selamat dari kebinasaan atau hilang tersesat.

Dampak Terhadap Kerja Islam (Amal Islami):

Adapun dampak-dampaknya terhadap kerja Islam berkisar pada hal-hal berikut:

(1) Kemudahan bagi musuh untuk memukul, menghancurkan, atau setidaknya menggagalkan kerja Islam tersebut.

Akibatnya, kerja Islam tidak akan membuahkan hasil kecuali setelah pengorbanan yang banyak dan waktu yang lama, mengingat kondisinya yang lemah karena perpecahan para aktivisnya dan ketiadaan solidaritas di antara mereka. Barangkali inilah rahasia di balik semangat musuh-musuh Allah untuk membiarkan umat Islam tetap terpecah belah dengan slogan: "Divide et Impera" (Pecah belah dan kuasai). Inilah pula rahasia di balik perintah untuk bersatu dan larangan terhadap perpecahan serta perselisihan:

  • “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103).
  • “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang.” (QS. Al-Anfal: 46).
  • “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma'idah: 2).

(2) Terhalang dari pertolongan atau bantuan Ilahi:

Hal ini karena kerja Islam, seberapa pun besar energi dan potensinya, tetap membutuhkan pertolongan dan penguatan dari Allah Azza wa Jalla. Allah telah menjanjikan bahwa Dia tidak akan memberikan pertolongan dan penguatan tersebut kecuali jika para pelaksana kerja Islam saling bersolidaritas dan bahu-membahu. Nabi SAW bersabda:

"Tangan Allah bersama jamaah."

Jika karena penghalangan pertolongan ini kemudian timbul ujian atau cobaan, maka ujian tersebut akan menjadi rahmat dan berkah bagi para aktivis yang bersatu, namun menjadi bencana dan azab bagi mereka yang duduk berpangku tangan (tidak ikut berjuang) serta bagi para aktivis yang tercerai-berai:

  • “Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4-6).
  • "Jika Allah menurunkan azab kepada suatu kaum, maka azab tersebut akan menimpa siapa saja yang ada di tengah mereka, kemudian mereka akan dibangkitkan berdasarkan amal perbuatan mereka." (HR. Bukhari).

Keempat: Jalan Keluar dan Pencegahan dari Uzlah

Selama kita telah memahami sebab-sebab uzlah dan dampak-dampaknya, maka mudah bagi kita untuk menyadari jalan keselamatan dan cara mencegahnya, yang terangkum dalam:

(1) Pemahaman yang utuh tentang hubungan antara teks-teks syariat yang menganjurkan uzlah dengan teks-teks lain yang menyerukan interaksi dengan manusia serta menetapi jamaah.

Pemahaman ini menjamin seorang muslim (jika ia jujur pada dirinya sendiri) akan tercabut dari kehidupan menyendiri dan melemparkan dirinya ke dalam pelukan jamaah. Hal ini karena berinteraksi dengan jamaah adalah hukum asal, sedangkan uzlah adalah perkara darurat yang tidak dilakukan kecuali dalam kondisi mendesak di mana agama dan kehidupan tidak lagi bisa dipertahankan.

(2) Pemahaman yang utuh tentang kondisi atau sebab yang mendorong sebagian ulama salaf untuk melakukan uzlah atau tafarrud.

Pemahaman ini sering kali menghalangi kita untuk sekadar ikut-ikutan meneladani mereka dalam hal ini. Terutama jika kita mengetahui bahwa uzlah mereka dahulu tidak membawa dampak buruk (bagi umat) karena negara Islam masih tegak, panji Islam masih berkibar, dan agama seluruhnya milik Allah. Adapun uzlah kita saat ini justru membawa banyak kemudaratan mengingat hilangnya negara Islam, cengkeraman musuh Allah di leher kita, serta banyaknya penghalangan dari jalan Allah. Kita saat ini sangat membutuhkan massa yang banyak serta upaya kolektif yang besar dan saling mendukung untuk mengembalikan otoritas bagi Allah.

(3) Pemahaman yang akurat tentang manhaj Islam dalam menyelaraskan antara sisi individualitas dan kolektivitas.

Hal ini menjamin seorang muslim terdorong untuk hidup dalam dekapan jamaah sambil tetap menjaga jati diri atau kepribadian individunya.

(4) Memahami konsep ibadah yang benar.

Hal ini cukup untuk mengakhiri sikap uzlah dan mendorong seseorang untuk menetapi jamaah serta berinteraksi dengan manusia tanpa merasa terbebani bahwa waktunya habis untuk hal selain ketaatan dan ibadah.

(5) Mujahadah (perjuangan) melawan nafsu dan memperlakukannya dengan ketegasan serta kedisiplinan.

Agar hawa nafsu tidak menguasainya dan syahwat tidak membelenggunya, sehingga tidak mendorongnya untuk lari dari beban berinteraksi dengan jamaah dan hidup di tengah masyarakat.

(6) Memahami peran yang wajib dilakukan oleh seorang muslim ketika kejahatan tersebar dan kerusakan merajalela.

Ini cukup untuk mengeluarkan aktivis mana pun dari pengasingannya dan mendorongnya berinteraksi dengan manusia serta menghadapi berbagai kesulitan demi membasmi kejahatan dan melawan kerusakan, atau setidaknya meminimalisir keduanya.

(7) Berserah diri sepenuhnya kepada Allah Azza wa Jalla dan memohon pertolongan dengan jujur kepada-Nya. Sesungguhnya siapa yang memohon pertolongan kepada Allah, maka Allah akan menolongnya:

  • “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (QS. Al-Baqarah: 186).

(8) Melepaskan diri dari pertemanan dengan orang-orang yang manhajnya adalah uzlah dan kebiasaannya adalah menyendiri, disertai dengan menetapi barisan para aktivis dakwah. Hal ini memiliki peran besar dalam membasmi keinginan untuk uzlah.

(9) Memahami sepenuhnya hakikat lembaga-lembaga dan jamaah-jamaah yang bekerja untuk agama Allah. Hal ini pasti akan mengakhirinya pada sikap meninggalkan kehidupan menyendiri dan berjalan bersama pihak yang berada di atas kebaikan yang menyeluruh dan menegakkan kebenaran secara utuh.

(10) Memahami hakikat manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah SAW dalam membangun monumen dan negara Islam pertama. Hal ini membantu melepaskan diri dari uzlah dan mendorong untuk bergabung dengan jamaah sebagai bentuk keteladanan kepada beliau SAW:

  • “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21).

(11) Menyadari bahwa musuh-musuh Allah dari kalangan kafir dan munafik saling bekerja sama di antara mereka. Mereka bekerja untuk memukul Islam secara bersatu, bukan terpisah-pisah, baik dalam bentuk aliansi militer (Pakta Warsawa, NATO), pasar perdagangan (Pasar Tunggal Eropa), parlemen dan badan politik (Parlemen Eropa), maupun dalam bentuk persatuan republik dan negara bagian (Uni Soviet, Amerika Serikat). Jika demikian keadaan musuh Allah padahal mereka berada di atas kebatilan dan memiliki perbedaan fundamental di antara mereka, maka lebih utama bagi kita umat Islam—terutama karena kita berada di atas kebenaran dan tidak memiliki perbedaan fundamental—untuk menghadapi mereka dengan cara yang sama, yakni secara bersatu dan tidak bercerai-berai:

  • “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (wahai umat Islam) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (yaitu bersatu padu), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al-Anfal: 73).

(12) Merenungkan kehidupan makhluk-makhluk di sekitar kita. Perenungan ini pasti akan membawa kita pada kesimpulan bahwa makhluk-makhluk tersebut tidak hidup dalam keterasingan, melainkan hidup berkelompok dan bekerja sama untuk menjalankan perannya. Lihatlah tata surya yang bekerja sama menyediakan cahaya dan kehangatan bagi seluruh makhluk hidup. Lihatlah komunitas lebah yang bekerja sama membangun sarangnya, membersihkannya, dan melindunginya, kemudian terbang mengisap nektar bunga untuk akhirnya dikeluarkan sebagai madu murni yang menjadi obat bagi manusia. Hal serupa terjadi pada komunitas semut dan makhluk lainnya, sehingga penyair berkata:

"Semut membangun negerinya dengan kekompakan mereka, dan lebah memanen sari madu dengan saling menolong."

Jika demikian keadaan makhluk yang tidak memiliki akal, maka bagaimana dengan kita anak cucu Adam yang telah Allah muliakan dengan akal, kebebasan, dan kehendak, serta dijadikan pemimpin di alam semesta ini? Renungan seperti ini dapat memicu sikap meninggalkan uzlah dan memilih hidup bersama jamaah di tengah manusia.

(13) Memahami hakikat dampak-dampak yang ditimbulkan oleh uzlah atau menyendiri. Dampak-dampak ini telah kita sebutkan sebelumnya. Hal ini akan menuntun siapa pun yang memiliki hati atau menggunakan pendengarannya dengan saksama untuk memilih hidup di tengah manusia dan berinteraksi dengan mereka karena takut terperosok ke dalam dampak atau konsekuensi buruk tersebut.

 

No comments:

Post a Comment

Ujub