Friday, May 1, 2026

Iman Kepada yang Ghaib

Iman kepada yang gaib adalah dasar keyakinan agama-agama samawi secara umum, dan aqidah Islam secara khusus. Sebagaimana juga hal itu bukan monopoli aqidah islamiyyah tetapi juga merupakan hal yang sama-sama ada di seluruh keyakinan agama.

Dan semua orang yang beriman kepada yang gaib selalu berada di barisan terdepan perjalanan keimanan di muka bumi. Dan Allah dalam Al-Qur’an telah memuji mereka dan menyanjung keimanan mereka bahwa mereka “beriman kepada yang gaib” (Al-Baqarah: 3).

Sekat-sekat material tidak menghalangi mereka untuk menjalin hubungan antara ruh-ruh mereka dengan Kekuatan Terbesar yang merupakan asal mereka dan asal seluruh alam ini. Sekat-sekat material juga tidak menjadi penghalang antara ruh-ruh mereka dengan semua hakikat, kekuatan, energi, makhluk, dan semua eksistensi yang ada di balik materi.

Iman kepada yang gaib merupakan batasan yang harus dilewati manusia untuk meningkatkan diri dari martabat hewan yang tidak dapat menangkap selain apa yang ditangkap oleh panca indera menuju martabat manusia yang mengetahui bahwa kosmos sesungguhnya lebih besar dan lebih luas dari sekedar wilayah kecil yang terbatas yang dapat ditangkap oleh panca indera –atau alat-alat yang merupakan perpanjangan dari panca indera.

Dan hal itu adalah peningkatan yang sangat jauh pengaruhnya dalam pandangan manusia terhadap hakikat alam seluruhnya, hakikat keberadaan dirinya, serta hakikat kekuatan-kekuatan yang ada dalam kosmos ini. Juga berpengaruh pada penghayatan manusia terhadap kekuasaan dan pengendalian alam ini dan yang di balik kosmos ini. Sebagaimana aqidah ini juga berpengaruh sangat jauh dalam kehidupannya di atas bumi ini.

Tidaklah sama antara orang yang hidup dalam lingkup materi yang kerdil dengan orang yang hidup dalam alam yang luas yang ditangkap oleh kecerdasannya dan mata hatinya, di mana dia menerima pancaran dan isyaratnya dengan jiwa dan nuraninya. Dia merasakan bahwa batasan tempat dan waktunya lebih luas dari seluruh apa yang dicerna oleh alam sadarnya dengan umurnya yang sempit dan terbatas. Dia juga menyadari bahwa di balik alam ini, baik terlihat ataupun tidak, ada sebuah hakikat yang lebih besar dari dunia kosmos. Hakikat itulah yang merupakan cikal bakal alam ini. Hakikat Zat Ilahiyah yang tidak ditangkap oleh pengelihatan dan tidak dikuasai oleh akal.

Di kala itulah potensi pemikiran yang terbatas dapat terpelihara dari kekacauan dan kesemerawutan dikarenakan oleh sesuatu yang memang akal tidak diciptakan untuknya, tidak diberikan kemampuan untuk menguasainya, dan juga tidak bermanfaat untuk di'belanjakan' di situ.

Sesungguhnya potensi pemikiran yang diberikan untuk manusia, diberikan untuk berperan sebagai khalifah di bumi ini. Sehingga akal tersebut diamanahi untuk mengurus kehidupan nyata yang dekat ini. Akal dapat membahasnya, memperdalam dan menggalinya, lalu bekerja dan menghasilkan, kemudian dia berhubungan dengan kehidupan ini dan memperindahnya. Semua itu bersandar pada energi ruhiyah yang berhubungan langsung dengan seluruh alam dan Sang Pencipta alam. Dan juga dengan membiarkan bagian hal-hal yang tidak diketahui di koridor gaib yang tidak dikuasai oleh akal.

Sedangkan percobaan untuk menangkap dunia di belakang realita dengan akal yang terbatas kemampuannya dengan batas-batas bumi dan kehidupannya ini, tanpa dukungan ruh yang terilhami dan mata hati yang terbuka, dan dengan mengenyampingkan sisi kegaiban yang tak terjangkau oleh akal pikiran. Maka percobaan ini akan gagal pada awalnya dan percuma pada akhirnya.

Ketika akal manusia menerima aksioma logika pertama, yaitu bahwa sesuatu yang terbatas tidak akan menangkap yang mutlak (tak terbatas), maka –untuk menghormati logikanya sendiri- dia harus menerima bahwa penguasaannya terhadap yang mutlak adalah mustahil, dan bahwa ketidakmampuannya menangkap yang tidak diketahui tidaklah menafikan keberadaan hal itu di dunia gaib yang tersembunyi. Dan hendaknya dia serahkan yang gaib itu kepada energi lain selain energi akal, dan menerima ilmu tentang hal itu dari Yang Maha Mengetahui dan Maha Ahli yang menguasai yang lahir dan batin, yang gaib dan nampak.

Dan penghormatan terhadap logika akal dalam masalah ini adalah ciri mukmin dan sifat pertama dari sifat-sifat muttaqin.

Iman kepada yang gaib merupakan persimpangan jalan dalam meningkatkan manusia dari dunia ternak. Akan tetapi kelompok meterialis pada zaman ini, seperti juga materialis setiap zaman, menginginkan manusia kembali mundur….ke dunia hewan yang tidak mengenal selain yang ditangkap oleh panca indera. Dan mereka menamakannya “kemajuan”. Padahal itu adalah kemunduran di mana kaum mukminin telah dipelihara oleh Allah. Sehingga Allah menjadikan sifat kaum mukminin yang khas adalah sifat “Orang-orang yang beriman kepada yang gaib” (Al-Baqarah: 3). Segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan kemunduran bagi mereka yang terjungkir dan terkotori. (lihat Fi Zhilalil Qur’an: 1/39-40).

Alam Gaib

Telah kami singgung di unit ini mengenai kedudukan Iman kepada yang Gaib dalam bangunan aqidah agama secara umum. Dan akan kami tambahkan penjelasan di sini.

Nash-nash al-Qur’an mengaitkan pembicaraan tentang alam gaib dengan alam nyata dalam banyak tempat. Di antaranya firman Allah, “Dialah Allah yang tiada tuhan selain-Nya, Yang Mengetahui dunia gaib dan nyata, Dialah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang” (al-Hasyr: 22). Juga firman Allah, “Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata.” (at-Taghabun: 18).

Dan firman Allah, “Itulah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan nyata Yang Maha Perkasa dan Maha Penyayang.” (as-Sajdah: 6).

"Barangkali anda memperhatikan seperti saya bahwa penggandengan antara alam gaib dan alam nyata memiliki makna penting. Jika alam nyata adalah hakikat yang tampak di depan pandangan, maka sesungguhnya alam gaib dalah hakikat terbesar yang tidak menjadi kecil hanya karena dia tak terlihat. Dan bukti dari hal itu adalah bahwa ayat-ayat Qur’an mendahulukan alam gaib sebelum alam nyata. Hikmahnya, bahwa hal-hal yang gaib tidak terhingga luas dan batasnya, sedangkan hal-hal yang mungkin kita capai dengan melihat dan mengenalnya adalah hal-hal yang sederhana.” (Habannakah, Abdrrahman, al-Aqidah al-Islamiyyah Ususuha, 62).

Dan karena Iman kepada yang gaib begitu pentingnya, maka perlu bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang gaib, jenis-jenisnya, dalil-dalilnya, dan cara-cara mengimaninya dalam pembahasan berikut.

Makna ”al-Ghaib”

Ada berbagai pendapat ulama mengenai arti kata al-Ghaib. Akan kami tampilkan beberapa dari mereka dalam masalah ini:

Ibnu Manzhur mendefinisikan bahwa al-Ghaib adalah, “Segala hal yang hadir di hadapanmu”. Dan beliau mengutip definisi ini dari Ibnul A’rabi bahwa al-Ghaib adalah “hal yang tidak hadir di pandangan meskipun didapatkan di hati.” (Ibnu Manzhur, Lisanul ‘Arab, materi ghaib)

Ibnu Taimiyah mendefinisikan bahwa al-Ghaib adalah “hal yang tidak hadir dalam penyaksian orang.” (Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arudhil ‘Aql wan Naql, 5/172).

Ibnu Tahanuwi mendefinisikan bahwa al-Ghaib adalah “hal yang tidak tampak dan tidak ditangkap indera serta tidak dihasilkan oleh akal secara spontan.” (Salamah Bassam, al-Iman bil Gaib, hal 10).

Dan masih banyak definisi-definisi lain.

Dengan memperhatikan beberapa definisi tersebut dapat kita tampilkan beberapa catatan berikut:

a.               Semua definisi tersebut bertemu dalam hal, bahwa al-Ghaib adalah yang absen dari manusia, tetapi mereka berselisih dalam hal, apakah yang gaib itu yang absen dari pandangan atau absen dari indera secara umum.

b.               At-Tahanuwi berpendapat bahwa al-Ghaib tidak dihasilkan dengan akal secara spontan. Pendapat ini jikalau tepat dalam banyak hal seperti malaikat, adzab kubur, as-Shirath, timbangan amal, akan tetapi tidak tepat pada masalah berkenaan dengan Allah. Iman kepada Allah adalah hal fitri dihasilkan di hati seperti disebut oleh Ibnul A’rabi dalam definisinya. Akal manusia merasakan keberadaan Allah secara spontan jika dibiarkan tanpa tekanan hawa nafsu dan syahwat.

c.               Ketika kita katakan bahwa al-Ghaib tidak dapat ditangkap indera bukan berarti bahwa al-Ghaib tidak mungkin ditangkap sama sekali. Karena itu Ibnu Taimiyah sangat menentang mereka yang mencampr aduk masalah ini. Beliau berkata, “Al-Ghaib yang dikabarkan oleh para rasul secara umum dapat ditangkap dan bukan tidak mungkin ditangkap, tetapi penyaksiannya dan penangkapannya baru mungkin setelah kematian dan hari akhir. Di sana ada kehidupan dan pelengkap-pelengkapnya berupa pengideraan dan amal lebih kuat dan sempurna. Karena negeri akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Para rasul tidak membedakan antara gaib dan nyata bahwa yang pertama hanya ditangkap akal dan yang kedua ditangkap indera sebagaimana persangkaan para ahli failsafat dan golongan Jahmiyah serta orang-orang yang mengikuti mereka dalam hal itu. Sedangkan para rasul memberikan perbedaan bahwa salah satunya terlihat sekarang dan yang lain gaib tidak kita saksikan sekarang. Karena itu Allah namakan gaib. Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman kepada yang gaib” (al-Baqarah: 3).(Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arudhil ‘Aqli wan Naql, 9/14-15).

d.               Jika al-Ghaib itu adalah yang absen dari indera, maka di antara jenis-jenis gaib ada yang pada masa lalu termasuk dalam alam nyata atau mungkin di suatu saat nanti menjadi bagian dari alam nyata.

Di antara jenis pertama adalah kisah-kisah orang dahulu yang Allah kisahkan. Kisah-kisah ini dahulu adalah realita kehidupan yang terlihat. Allah bercerita kepada kita tentang Maryam putri Imran dan kisah kehamilannya, kemudian Allah akhiri dengan firman-Nya, “Itu termasuk dari kabar-kabar gaib yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad saw.) dan engkau tidak pernah bersama dengan mereka ketika mereka melemparkan pena-pena mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan menanggung Maryam, dan engkau tidak bersama mereka ketika mereka bertengkar.” (Ali Imran: 44).

Dan al-Qur’an juga menampilkan kisah nabi Yusuf as. kemudian mengomentarinya dengan kata-kata, “Itu termasuk kabar-kabar gaib yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad saw.) dan engkau tidak bersama dengan mereka ketika mereka bersepakat membuat makar” (Yusuf: 102).

Dan termasuk dalam jenis kedua adalah hal-hal yang mungkin diungkap oleh ilmu pengetahuan di berbagai bidang: fisika, kimia, biologi, falak, kedokteran, dan seterusnya. Karena sesungguhnya semua penemuan sebelum dicapai adalah hal yang gaib. Dan tidak diragukan lagi bahwa penggolongan hal ini termasuk hal yang gaib, mengharuskan orang mukmin untuk “beriman” kepada perkembangan dan pembaharuan, dan tidak hanya terpaku pada batas ilmu-ilmu eksperimental (empirik). Dan hal itu memberi implikasi sangat positif kepada pemikiran Islam dalam pencapaian ilmu pengetahuan. Bebarapa ulama tidak mendukung klasifikasi hal itu dalam golongan al-Ghaib yang dimaksud dalam Kitabullah. Seperti Muhammad Abduh berkata, “Sedangkan yang dikerjakan oleh beberapa orang dengan penguasaan dan penggunaan mereka terhadap sebab-sebab yang tidak dikerjakan oleh selain mereka karena kebodohannya terhadap sebab-sebab itu atau ketidakmampuan menggunakannya, maka itu tidak termasuk dalam keumuman arti al-Ghaib yang terdapat dalam Kitabullah. Dan sebab-sebab ini ada yang teoritis seperti dalil-dalil yang rasional dan ilmiyah. Seperti para ahli matematika atau ilmu lainnya, menyingkap detail-detail hal yang tidak diketahui yang tidak dapat dikethui oleh kebanyakan orang. Mereka memprediksikan kejadian gerhana matahari dan bulan dengan hitungan menit dan detik sebelum terjadi beribu-ribu tahun. Dan di antara sebab itu ada juga yang praktis seperti telegraf, radio, dan wireless yang dapat diakses seseorang dari negeri-negeri yang jauh di seberang lautan yang berjarak beribu-ribu kilometer.” (Muhammad Abduh, Tafsir al-Manar, 7/422).

Syaikh Muhammad Abduh cenderung membagi al-Ghaib menjadi dua jenis:

Pertama: gaib hakiki mutlak, yaitu semua yang tidak diketahui oleh semua makhluk termasuk malaikat. Dalam hal ini Allah berfirman, “Katakanlah (wahai Muhammad) semua yang di langit dan di bumi tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65).

Kedua: gaib relatif, yaitu yang tidak diketahui sebagian makhluk tapi diketahui oleh yang lain, seperti yang diketahui malaikat dari dunia mereka dan tidak diketahui manusia misalnya.

Dalil-dalil Iman kepada Yang Gaib

Al-Qur’an menyebut al-Ghaib lebih dari 50 tempat. Pada ayat-ayat itu dikatakan bahwa Allah adalah Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dan telah kita sebutkan beberapa ayat-ayat tersebut. Sedangkan ayat-ayat lain membatasi pengetahuan tentang al-Ghaib hanya pada Allah swt., “Katakanlah (wahai Muhammad) semua yang di langit dan di bumi tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah.” (an-Naml: 65). “Yang gaib hanyalah (diketahui) oleh Allah.” (Yunus: 20).

Dan ayat-ayat jenis ketiga menafikan pegetahuan tentang gaib selain Allah, termasuk malaikat, seperti firman Allah, “Mereka (malaikat) berkata, ‘Mahasuci engkau tidak ada ilmu pada kami selain apa yang Kau ajarkan kepada kami.” (al-Baqarah: 32). Juga termasuk jin, seperti firman Allah, “…Ketika Sulaiman terjatuh, jelaslah bagi para jin bahwa seandainya mereka mengetahui yang gaib mereka tidak akan berada dalam siksaan yang menghinakan.” (Saba': 14), termasuk juga manusia. “…Atau apakah mereka mengetahui yang gaib sehingga mereka menulis?” (at-Thur: 41).

Lalu ayat jenis keempat mendeskripsikan orang-orang mukmin bahwa mereka adalah “orang-orang yang beriman kepada yang gaib, mendirikan sholat, dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami berikan kepada mereka.” (al-Baqarah: 3).

Sedangkan hadits-hadits yang berhubungan dengan tema ini sangat banyak. Di antaranya:

وَالَّذِي لاَ إلَهَ غَيْرُهُ مَا آمَنَ أحَدٌ أَفْضَلُ مِنْ إِيْمَانٍ بغَيْبٍ.

“Demi yang tidak ada tuhan selain-Nya tidaklah seseorang beriman lebih baik dari iman kepada yang gaib.” (Diriwayatkan Sufyan bin Uyainah, Ibnu Abu Hatim, al-Hakim dan dishahihkan oleh al-Hakim).

طُوْبىَ لِمَنْ رَآنِي وَآمَنَ بي، وَطُوْبىَ لِمَنْ آمَنَ بي وَلَمْ يَرَنِي، قَالَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ

“Kebaikan bagi orang melihatku dan beriman kepadaku, dan kebaikan bagi yang beriman kepadaku namun belum pernah melihatku.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari dalam Tarikhnya, dan al-Hakim).

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسٌ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ اللهُ  لاَ يَعْلَمُ مَا تَغِيْضُ الأَرْحَامُ إلاَّ اللهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ مَا فِي غَدٍ إلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتىَ يَأْتي الْمَوْتُ أحَدٌ إلاَّ اللهُ ، وَلاَ تَدْرِي نفْسٌ بأيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ إلاَّ اللهُ، وَلاَ يَعْلَمُ مَتىَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إلاَّ الله.

“Kunci-kunci gaib itu ada lima. Tidak ada yang mengetahuinya selain Allah. Tidak ada ang mengetahui yang susut dalam rahim kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi esok kecuali Allah, tidak ada yang mengetahui kapan datangnya maut kecuali Allah, sebuah jiwa tidak mengetahui di bumi mana dia akan mati kecuali Allah, dan tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya Kiamat kecuali Allah..” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Dalam riwayat lain,

مَفَاتِيْحُ الْغَيْبِ خَمْسَةٌ : إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَينْزِلُ مِنَ الْغَيْثِ ويَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَداً وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بأيِّ أَرْضٍ تَمُوْتُ

“Kunci-kunci gaib ada lima: ‘Sesungguhnya di sisi Allah-lah ilmu gaib itu dan Dia menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan sebuah jiwa tidak apa yang dia kerjakan besok, dan sebuah jiwa tidak tahu di bumi mana dia akan mati." ((Diriwayatkan al-Bukhari).

Hadits ini berkaitan dengan firman Allah,

اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّاعَةِۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَرْحَامِۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًاۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌۢ بِاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ࣖ

"Sesungguhnya di sisi Allahlah ilmu gaib itu dan Dia menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan sebuah jiwa tidak apa yang dia kerjakan besok, dan sebuah jiwa tidak tahu di bumi mana dia akan mati.” (Luqman[31]: 34).

Dalil-dalil ini banyak menggugah perhatian para ulama dan orang-orang awam  dalam pemahaman dan penafsirannya. Dan barangkali juga menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sekitar kandungannya. Bagaimana mengetahui ilmu tentang yang susut dalam janin, atau jatuhnya hujan menjadi gaib yang tidak diketahui kecuali oleh Allah? Pada kita mengetahui bahwa pengetahuan modern dapat menyingkap embrio sebelum terbentuk? Dan ramalan cuaca melaporkan kepada kita tentang jatuhnya hujan sebelum terjadi?

Saya ingin lebih dahulu memperlihatkan kepada anda apa yang disebut oleh Ibnu Katsir dalam masalah ini. Beliau berkata, “Ini adalah kunci-kunci gaib yang hanya diketahui oleh Allah. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kecuali setelah pemberitahuan dari Allah. Maka ilmu tentang waktu kiamat tidak diketahui seorang nabi pun juga seorang malaikat pun. “Tidak ada menyingkap waktunya kecuali Dia” (al-A’raf: 187). Begitu juga turunnya hujan, tidak tidak diketahui kecuali oeh Allah, akan tetapi jika Allah memerintahkannya, Allah memberitahukannya kepada malaikat yang ditugaskan untuk itu dan siapa saja makhluk yang Allah kehendaki. Begitu juga tidak tahu apa yang akan Allah buat dalam rahim. Akan tetapi jika Allah perintah untuk membuat janin menjadi laki-laki atau perempuan, bahagia atau sengsara. Allah akan memberi tahu malaikat yang ditugaskan untuk itu dan siapa saja makhluk yang Allah kehendaki. Juga tak seorang pun tahu apa yang akan dia dapatkan esok hari baik untuk dunia atau akhirat. Dan Tak seorang pun tahu di bumi mana dia akan mati, di negerinya atau bumi Allah yang lain, tak seorang pun mengetahui hal itu.

Syaikh Ali at-Thanthawi berkata, “Ramalan cuaca hanyalah mengabarkan tentang hujan setelah melihat sebab-sebabnya dan setelah sempurna penciptaannya. Seperti orang yang melihat tukang pos dari jendela dan memperkirakan kapan sampai ke rumahnya. Lalu ia berkata kepada keluarganya, “Tukang pos akan datang lima menit lagi. Seperti juga orang yang melihat dengan teleskop sebuah mobil yang datang, kemudian dia mengabarkannya sebelum mobil itu terlihat orang. Sesungguhnya dia tidak mengetahui yang gaib. Akan tetapi dia melihat kenyataan sebelum dilihat orang lain. Seperti itu juga orang yang mengabarkan jenis janin setelah terbentuknya. Sedangkan terbentuknya awan dan turunnya hujan di daerah yang Allah takdirkan kering, menahan hujan awan dari tanah yang Allah turunkan hujan di atasnya, mengenali janin ketika masih menjadi sperma yang baru bertemu sel telur, inilah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut."

Jalan-jalan Menuju Iman kepada yang Gaib

Telah kita lalui penjelasan tentang makna alam gaib secara panjang lebar. Sekarang akan kita bicarakan tentang sarana-sarana iman terhadapnya. Apakah hanya ada satu jalan atau berbagai macam jalan? Jawaban dari pertanyaan itu bergantung kepada pengetahuan kita tentang komponen-komponen alam gaib dan batasan cakupannya. Telah kita dapatkan berbagai pendapat ulama dalam masalah ini ketika berbicara tentang tafsir ayat,

"Sesungguhnya di sisi Allahlah ilmu gaib itu dan Dia menurunkan hujan, mengetahui apa yang ada dalam rahim, dan sebuah jiwa tidak apa yang dia kerjakan besok, dan sebuah jiwa tidak tahu di bumi mana dia akan mati.” (Luqman[31]: 34).

Kita perlu berhenti sejenak pada poin ini sebelum kita masuk pada pembahasan jalan dan metode iman kepada hakikat al-Ghaib.

Cakupan Alam Gaib

Para ahli tafsir telah secara gamblang menjelaskan apa yang termasuk alam gaib. Mereka menukil banyak pendapat dari ulama salaf.([1]) Saya akan menjelaskan kepada anda ringkasan dari berbagai pendapat tersebut dengan menukil dari kitab Zadul Masir fi ‘Ilmit Tafsir karya Ibnul Jauzi. Beliau menuntaskan perbedaan pendapat ulama dalam hal ini menjadi enam pendapat:

  1. Bahwa yang dimaksud dengan gaib di sini adalah wahyu. Pendapat ini dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Juraij.
  2. Bahwa itu adalah al-Qur’an. Ini pendapat Abu Razin al-Uqaili, dab Zirr bin Hubaisi.
  3. Bahwa itu adalah Allah. Dikatakan oleh Atha' dan Sa’id bin Jubair.
  4. Hal-hal yang tidak diketahui manusia seperti masalah sorga dan neraka dan sejenisnya seperti disebut dalam al-Qur’an. Ini diriwayatkan as-Suddi dari para syuyukh-nya dan juga pendapat Abul ‘Aliyah dan Qatadah.
  5. Bahwa itu adalah takdir Allah. Dikatakan oleh az-Zuhri.
  6. Bahwa itu adalah iman kepada Rasulullah saw. bagi yang belum melihatnya. ‘Amr bin Murrah berkata,

قَالَ أصْحَابُ عَبْدِاللهِ لَهُ : طُوبَى لَكَ ، جَاهَدْتَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ r وَجَالَسْتهُ فَقَالَ : إِنَّ شَأْنَ رَسُوْلِ اللهِ r كَانَ مُبَيِّناً لِمَنْ رَآهُ ، وَلَكِنْ أَعْجَبُ مِنْ ذَلِكَ قَوْمٌ يَجِدُوْنَ كِتاباً مَكْتُوْباً يُؤْمِنُوْنَ بهِ وَلَمْ يَرَوْهُ

Para murid Abdullah bin Mas’ud berkata kepada Abdullah bin Mas’ud, "Betapa beruntungnya anda. Anda berjihad dengan Rasulullah saw. dan berguru dari beliau. Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya perihal Rasulullah saw. adalah jelas bagi yang melihatnya. Tetapi yang lebih mengagumkan adalah kaum yang hanya menemukan kitab tertulis mereka beriman dengan Rasulullah saw. pada hal belum melihat.” (Ibnul Jauzi, Zadul Masir, 1964, 1/24-25).

Ibnu Katsir berpendapat bahwa semua pendapat ini benar. Al-Ghaib itu melingkupi semua rukun Iman dari iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir beserta isinya berupa seperti kebangkitan. Inilah pendapat yang rajih (unggul).

Tampak baik buat kita saat kita membahas cakupan alam gaib, untuk menampilkan pendapat Imam al-Ghazali dalam pandangannya tentang Dzat Ilahiyah. Beliau menegaskan secara eksplisit bahwa Allah bukanlah gaib. Beliau berkata:

اعْلَمْ أَنَّ أَظْهَرَ الْمَوْجُوْدَاتِ وَأَجْلاَهَا هُوَ اللهُ تَعَالَى

“Ketahuilah bahwa bahwa eksistensi yang paling jelas dan nyata adalah Allah saw.”

Kemudian beliau bertanya-tanya, “Jikalau Allah begitu nyata dan jelas, mengapa pemahaman kita dan indera kita tidak menjangkaunya?" Beliau menjawab pertanyaan ini dan berkata bahwa kelemahan di satu sisi dan kedahsyatan “kemunculan” dan pancaran Allah di sisi lain adalah sebab kesamaran tersebut. Sehingga kejelasan Allah menjadi sebab kesamaran-Nya. Kondisi kita ini sangat mirip dengan kondisi kelelawar yang terpukau dengan sinar matahari. Sehingga kekuatan munculnya matahari beserta kelemahan pandangan kelelawar menjadi sebab dia tidak dapat melihat.

Beliau juga membuat perumpamaan dari cahaya itu sendiri. Cahaya matahari tidak terlihat dengan sendirinya. Padahal cahaya itu sangat jelas dan sebab bagi terlihatnya benda-benda lain. Allah adalah cahaya langit dan bumi. Dia adalah eksistensi yang paling nyata dan dengan-Nya segala sesuatu tampak. (al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, 1968, 4/399-401).

Mudah-mudahan dengan ringkasan pendapat al-Ghazali ini anda mempunyai persepsi yang sama dengan saya yang didasarkan kepada analisa ilmiyah dan perenungan yang dalam.

Metode-metode Para Ulama untuk Membuktikan Alam Gaib

Kita telah jelaskan bahwa alam gaib mencakup beberapa hakikat, dan tidak terbatas pada satu hakikat saja. Karenanya akan beragam metoda para ulama dalam membuktikan  hakikat-hakikat ini. Karena suatu metode bisa cocok untuk satu hakaekat tetapi tidak cocok untuk hakikat yang lain. Secara global ada tiga macam dalil dalam hal ini, yaitu: dalil akal, dalil sam’i (dari nash-nash Qur’an dan Hadits), dan dalil mukasyafah bagi yang mempercayainya.

Sebagai tambahan penjelasan saya ingin menjelaskan metoda-metoda para ulama dalam membuktikan hakikat alam gaib terbesar yaitu adalah iman kepada Allah.

a.                      Bagi golongan al-Hasyawiyah jalan mengenal Allah hanyalah dari nash-nash al-Qur’an dan Hadits bukannya akal. Cukup seorang manusia menerima itu dari wahyu. Dan ini berlaku juga dalam masalah-masalah alam gaib yang lain yang telah kita sebutkan. (Ibnu Rusyd, 1968, hal 42)

b.                      Mayoritas Ahlus Sunnah juga Mu’tazilah berpendapat bahwa jalan iman kepada Allah adalah akal dan pemikiran. Dan telah kita lalui beberapa dalil atas keesaan Allah Azza wa Jalla di dalam diktat ini sehingga tidak perlu kita ulang lagi.

c.                      Sedangkan para sufi mereka membangun iman mereka atas dasar mukasyafah ruhiyah (tersingkapnya jiwa) dan ilham dengan terbebasnya dari hawa nafsu dan tidak menginginkan popularitas (syuhrah).

Dalil-dalil Akal

Akal manusia, tidak dapat diingkari, memiliki kedudukan khusus untuk memberikan bukti. Dan dalam banyak hal akal bertumpu pada informasi panca indera. Dengan demikian maka kesimpulan-kesimpulan akal berkaitan dengan dunia materi dalam kadar yang besar. Sedangkan hal-hal gaib di balik materi adalah hal yang di luar kemampuan akal. Seorang filosof  Jerman, Kant, mengarang sebuah kitan terkenal yang menegaskan bahwa akal tidak dapat menangkap selain materi saja. Dan itu juga yang ditegaskan oleh ulama kita sehingga menjadi aksioma yang diterima. Sehingga pembicaraan tentang hal itu menjadi tema yang biasa.

Kita temukan bagaimana banyak para filosof menjadi sesat ketika mereka bergantung pada akal dan pengamatan mereka saja. Mereka tidak sampai pada keyakinan, tidak menggapai ketetapan. Imam as-Syahrisyani menggambarkan keadaan mereka. Beliau berkata:

وَسَيّرَتُ طَرَفَيَّ بَيْنَ تِلْكَ الْمَعَالِمِ

:

لَعُمْرِي لَقَدْ طُفْـُت الْمَعَاهِدَ كُلَّهَا

عَلَى ذَقْــنٍ أَوْ قَارِعِ سِنٍّ ناَدِمِ

:

فَلَمْ أَرَ إِلاَّ وَاضِــعاً كَفَّ حَائِرٍ

 

"Sungguh telah kukitari seluruh lembaga

dan telah kuedarkan mataku di antara semua rambu

Aku tak melihat selain telapak di atas dagu peragu

atau pengetuk gigi penyesal."

Mungkin anda bertanya-tanya, bukankah hal ini berarti pengecilan makna akal dan marginalisasi peranannya? Saya jawab anda dengan jawaban Ibnu Khaldun. Beliau berkata, “Hal itu tidak menggores akal dan kemampuannya. Bahkan akal itu adalah timbangan yang benar. Putusan-putusan akal bersifat yakin dan tidak dusta. Tetapi anda jangan berambisi untuk menimbang urusan tauhid, hakikat nubuwat, hakikat sifat-sifat tuhan dan semua yang ada di belakang batasannya. Karena itu adalah ambisi yang mustahil. Perumpamaan hal itu seperti seseorang yang melihat timbangan untuk menimbang emas lalu dia ingin menimbang gunung dengan itu. Hal ini tidak berarti timbangan itu hasilnya tidak benar. Tetapi akal berhenti di situ tidak melewati batasnya."

Dalil-dalil Sam’i

Sebagian ulama menamakannya dalil-dalil syar’i dan menjadikannya jenis baru yang bukan dalil-dalil akal. Seolah-olah tidak ada kaitan antara dalil akal dan dalil syar’i. Ini adalah prasangka yang tidak tepat yang ada di benak para penulis. Tetapi yang tepat adalah bahwa dalil syar’i terkadang adalah dalil akal dan terkadang dalil sam’i yang tidak dicapai akal sendirian.

Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya sangat bagus mengungkapkan hal ini dengan cara yang pantas dikagumi. Lihat misalnya perkataan Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya dalam hal ini. Beliau berkata, “Banyak dari ahli Ilmu Kalam mengira bahwa dalil-dalil syar’i terbatas pada kabar yang benar (khabar shadiq) saja. Sesungguhnya al-Kitab dan as-Sunnah tidak menunjukkan selain dari sisi ini. Karena itu mereka menjadikan ushulud-din dua bagian: aqliyat dan sam’iyat. Dan mereka menjadikan bagian pertama adalah hal-hal yang tidak diketahui lewat al-Kitab dan as-Sunnah. Dan ini adalah kerancuan dari mereka. Tetapi sesungguhnya al-Qur’an menunjukkan dalil aqli, menjelaskan dan mengungkapkannya. Walaupun di antara dalil aqli ada yang bisa diketahui dengan dengan penglihatan dan lain-lain. Seperti firman Allah:

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di berbagai penjuru dan dalam diri mereka sampai jelas bagi mereka bahwa hal itu adalah benar. Tidakkah bahwa Allah menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Fusshilat: 53). (Ibnu Taimiyah, Dar’u Ta’arudhl ‘Aql wan Naql, 1979, 1/199).

Tampak pentingnya dalil-dalil sam’iyah jika kita tahu terbatas akal manusia untuk menguasai hakikat alam gaib seperti shirat, timbangan amal, surga, neraka dll. Begitulah wahyu menjadi penyempurna akal. Sehingga pengetahuan menjadi lengkap dalam pancaran agama. Dan tidak benar ada pemisahan antara dua sayap pengetahuan tersebut. Dalil akal menunjuki pada sam’i. Ibnu Taimiyah menjelaskan koekuivalensi (keselarasan) antara akal dan sam’i. Beliau berkata, “Ketika jalan menuju kebenaran adalah akal dan wahyu, dan keduanya adalah saling terkait, maka siapa yang menelusuri jalan akal dia akan sampai jalan wahyu, yaitu kebenaran Rasulullah saw. Dan siapa yang menelusuri jalan wahyu dia akan jelas tentang dalil-dalil akal, sebagaimana diterangkan oleh al-Qur’an. Dan orang celaka adalah yang tidak menjalani keduanya. Sebagaimana penduduk neraka berkata, “Dan mereka berkata, ‘Seandainya kami mendengar (wahyu) atau berpikir kami tidak akan menjadi penduduk neraka.” (al-Mulk: 10) Allah juga berfirman, “Tidakkah mereka berjalan dimuka bumi sehinggan memiliki hati untuk berpikir atau telinga agar mereka mendengar. Karena sesungguhnya bukanlah penglihatan yang buta tetapi hati yang ada di dada.” (al-Hajj: 46). Karena itu Allah menafikan wahyu dan akal dari kesyirikan.

Agar kita kita tidak ekstrim dalam mensakralkan akal manusia seperti ektrimnya kaum atheis dalam menafikan alam gaib, saya ingin mengingatkan anda bahwa kepercayaan terhadap yang gaib bukan hanya bagian agama samawi saja, bahkan akal juga memiliki bagian juga. Bahkan dalam banyak bidang ilmu pengetahuan. Apakah sesungguhnya gravitasi itu sebenarnya? Apa itu energi? Apa itu elektron, proton, hal-hal yang tidak kita lihat tapi merupakan kenyataan lugas yang ditetapkan oleh ilmu pengetahuan?

Dalam hal ini saya kagum dengan seorang pemikir muslim Wahiduddin Khan ketika beliau berkata, “Tidak tepat kita mengatakan bahwa agama adalah percaya kepada yang gaib lalu sains adalah percaya kepada pengamatan ilmiah. Karena agama dan sains bersandar kepada percaya akan yang gaib. Tetapi ruangan agama yang sesungguhnya adalah menentukan hakikat masalah secara tuntas dan mendasar. Sedangkan sains pembahasannya terbatas pada fenomena luar dan awal. Maka ketika sains masuk medan penentuan hakikat masalah secara hakiki dan tuntas yang merupakan medan agama yang sebenarnya, ketika itu sains juga memakai jalan iman kepada yang gaib…” Sampai beliau berkata, “Sains di bidang ini adalah pembahasan hakikat yang tidak diketahui menggunakan hakikat yang sudah diketahui.” (Wahiduddin Khan, Islam Yatahadda, 1979, hal 50-51).

Dr. Muhammad Fathi Utsman berkata, “Saya respek dengan mereka yang menolak mengatakan bahwa keyakinan terhadap Allah dan hari Akhir adalah iman terhadap hal yang irasionil akan tetapi itu adalah iman terhadap hal yang ultra rasionil.” (Basalamah, al-Insan wal Ghaib, 1986, hal 10).

Dalil-dalil Mukasyafah dan Pencerahan Ruh

Orang-orang sufi berkeyakinan bahwa mukasyafah adalah salah satu jalan pengetahuan terhadap ilmu-ilmu gaib. Dan ini berarti bahwa pengetahuan didapatkan oleh jiwa ketika terbebas dari hawa nafsu. Dan mereka menjadikan para wali memiliki kedudukan yang tinggi dalam kabar-kabar gaib. Dan mereka mewajibkan para pengikut mereka untuk mempercayai kabar-kabar seperti itu. Mereka berdalil untuk madzhab mereka itu dengan beberapa dalil, di antaranya:

1.                      Firman Allah, “Wahai orang-orang beriman jika kalian bertakwa kepada Allah, Allah akan menjadikan untuk kalian furqan.” (al-Anfal: 29) dan firman Allah, “Dan bertakwalah kepada Allah dan Allah mengajarkan kepada kalian.” (al-Baqarah: 282).

2.                      Sabda Nabi saw.

اتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإنَّهُ يَنْظُرُ بنُوْرِ اللهِ

"Hati-hatilah dengan firasat mukmin karena dia melihat dengan cahaya Allah." (Hadits riwayat at-Thabrani dan at-Turmudzi. Beliau berkata, hadits ini hadits gharib).

3.                      Meng-qiyaskan para wali dengan para nabi. Para nabi itu mengabarkan tentang hal-hal yang tersingkap dari berbagai hakikat permasalahan, dan tidak mustahil jika di dunia ini ada orang yang dapat menyingkap berbagai hakikat dan dia itu adalah wali.” (al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, 1967, 3/32).

4.                      Mimpi yang benar, karena itu adalah jalan untuk mengetahui sebagian yang gaib, jika itu mungkin dalam tidur maka tidak mustahil juga terjadi ketika sadar.

Dengan dalil-dalil di atas, tidak dapat diingkari bahwa mujahadatunnafs dapat menjadi jalan penyingkapan tirai indera untuk melongok hakikat wujud yang tidak mungkin didapatkan oleh selain mereka yang bermujahadah.

Tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa kabar-kabar yang disampaikan oleh para nabi bukanlah hasil riyadhah kejiwaan atau mujahadah. Tetapi itu adalah karunia rabbani untuk orang pilihan yang terbaik tersebut. Dan cukup kita kita ingat di sini hadits Aisyah dalam as-Shahihain, Aisyah ra. berkata,

مَنْ حَدَّثَكَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَأَى رَبَّهُ فَقَدْ كَذَبَ، وَهُوَ يَقُولُ: "لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ"، وَمَنْ حَدَّثَكَ أَنَّهُ يَعْلَمُ الْغَيْبَ فَقَدْ كَذَبَ، وَهُوَ يَقُولُ: "لَا يَعْلَمُ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ"

“Siapa yang mengatakan bahwa Muhammad melihat Tuhannya maka dia telah berbohong, padahal Allah telah berkata, Dia (Allah) tidak dijangkau penglihatan. Dan siapa yang berkata bahwa Muhammad SAW mengetahui yang gaib maka dia telah berbohong karena dia berkata “tidak ada yang mengetahui yang gaib selain-Nya.”

Begitulah karena sesungguhnya mengqiyaaskan wali dengan nabi adalah analogi dua hal yang berbeda. Begitu juga antara tidur dengan sadar. Betapa banyak kita dengar ‘mimpi-mimpi sadar’ dari para sufi tersebut yang tidak dibenarkan oleh realita dan tidak juga didukung oleh kesolehan sejarah hidup dan perilaku banyak orang dari mereka.

Kita katakan di sini di antara bahayanya mempercayai cara ini adalah memalingkan kita dari bertafakkur dan bertadabbur. Dan kita telah sama-sama ketahui bahwa al-Qur’an adalah ajakan tegas agar akal manusia bekerja dan berpikir.



([1])          Di antara mereka adalah Ibnu Jarir at-Thobari (1/78), Ibnu Katsir (1/41) dan al-Khozin (1/23)

No comments:

Post a Comment

Iman Kepada yang Ghaib