Wednesday, May 6, 2026

Hadits Arbain 38: Wali Allah

Hadits Ketiga Puluh Delapan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ» ،. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-henti-Nya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya". (Diriwayatkan Al-Bukhari). [1]

Hadits bab di atas hanya diriwayatkan Al-Bukhari tanpa penulis-penulis hadits lainnya. Al-Bukhari meriwayatkannya dari Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata, Khalid bin Makhlad berkata kepadaku, Sulaiman bin Bilal berkata kepadaku, Syuraik bin Abdullah bin Abu Namir berkata kepadaku dari Atha' dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian Al-Bukhari menyebutkan hadits di atas dan menambahkan di akhirnya,

'Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti ragu-raguku terhadap jiwa orang Mukmin yang benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya'.

Hadits di atas termasuk keanehan Shahih Al-Bukhari dan hanya diriwayatkan Ibnu Karamah dari Khalid. Hadits tersebut tidak ada di Musnad Imam Ahmad, padahal Khalid bin Makhlad Al-Qathuwani juga dibicarakan Imam Ahmad dan lain-lain. Mereka berkata, "Ia mempunyai hadits-hadits munkar”. Atha' di sanadnya ada yang mengatakan bahwa ia adalah Ibnu Abu Rabah. Ada lagi yang mengatakan bahwa ia adalah Ibnu Yasar. [2]) Di salah satu naskah Shahih Al-Bukhari tertulis seperti itu.

Hadits di atas diriwayatkan dari banyak jalur yang semuanya memiliki catatan. Hadits tersebut diriwayatkan Abdul Wahid bin Maimun bin Abu Hamzah mantan budak Urwah bin Az-Zubair dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"(Allah Ta'ala berfirman"; 'Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh ia menghalalkan peperangan-Ku. Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku (dengan sesuatu) seperti menunaikan kewajiban-kewajiban-Ku Sesungguhnya hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, menjadi hatinya (akalnya) yang ia gunakan untuk berpikir, dan menjadi lidahnya yang ia gunakan untuk berkata. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku pasti mengabulkan doanya. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Aku tidak pernah ragu-ragu dalam sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang kematiannya. Ini karena ia tidak suka kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya”. (Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dan lain-lain). [3]

Hadits semakna juga diriwayatkan Imam Ahmad.

Ibnu Adi [4]) menyebutkan bahwa hadits di atas diriwayatkan sendirian oleh Abdul Wahid dari Urwah. Tentang Abdul Wahid, Al-Bukhari [5]) berkata, "Haditsnya munkar”. Namun hadits tersebut diriwayatkan Ath-Thabrani [6]) yang berkata, Harun bin Kamil berkata kepadaku, Sa'id bin Abu Maryam berkata kepadaku, Ibrahim bin Suwaid Al-Madani berkata kepadaku, Abu Hazrah alias Ya'qub bin Mujahid berkata kepadaku, Urwah menjelaskan kepadaku dari Aisyah Radhiyallahu Anha dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian Ath-Thabrani menyebutkan hadits tersebut. Sanad tersebut baik dan seluruh perawinya adalah para perawi tepercaya disebutkan di Shahih Al-Bukhari [7]) kecuali guru Ath-Thabrani yang sampai sekarang identitasnya tidak aku ketahui. Barangkali perawi berkata, Abu Hamzah berkata kepadaku maksudnya Abdul Wahid bin Maimun kemudian terbayang di telinga pendengar bahwa ia berkata Abu Hazrah. Ia menyebutkan namanya (Abu Hamzah) dari dirinya sendiri berdasarkan dugaannya tersebut, wallahu a'lam.

Ath-Thabrani [8]) dan lain-lain meriwayatkan hadits dari riwayat Utsman bin Abu Al-Atikah dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Barangsiapa menghina wali-Ku, sungguh ia menantang-Ku untuk berperang. Hai anak keturunan Adam, sesungguhnya engkau tidak bisa mendapatkan apa saja yang ada di sisi-Ku kecuali dengan menunaikan apa yang Aku wajibkan kepadamu. Hamba-Ku selalu mencari cinta kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi hatinya (akalnya) yang ia gunakan untuk berpikir, menjadi lidahnya yang ia gunakan untuk berbicara dengannya, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku mengabulkan doanya. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku memberinya. jika ia meminta pertolongan kepada-Ku, Aku menolongnya. Ibadah hamba-Ku yang paling Aku sukai ialah nasihat”.

Utsman dan Ali bin Zaid adalah perawi dhaif. Abu Hatim Ar-Razi [9]) berkata tentang hadits tersebut, "Hadits ini sangat munkar”.

Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sanad dhaif oleh Al-Ismaili di Musnad Ali. [10])

Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dengan sanad dhaif oleh Ath-Thabrani [11]) dan di dalamnya terdapat penambahan. Hadits tersebut juga kami riwayatkan dari jalur lain dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, namun hadits tersebut juga dhaif.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani dan lain-lain dari Al-Hasan bin Yahya Al-Khasyani dari Shadqah bin Abdullah Ad-Dimasyqi dari Hisyam Al-Kinani dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Malaikat Jibril dari Allah Ta'ala yang berfirman,

'Barangsiapa menghina wali-Ku, sungguh ia menantang-Ku untuk berperang. Aku pernah tidak ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang Mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya dan kematian wajib terjadi padanya. Di antara hamba hamba-Ku yang beriman terdapat hamba yang menginginkan pintu ibadah kemudian Aku menahan pintu ibadah tersebut agar ia tidak dimasuki ujub yang membuatnya rusak. Hamba-Ku tidak mendekat kepada-Ku dengan seperti menunaikan apa yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mengerjakan ibadah-ibadah sunnah kepada-Ku hingga Aku mencintainya. Barangsiapa telah Aku cintai, Aku menjadi telinga, mata, tangan, dan pendukung baginya. Ia berdoa kepada-Ku kemudian Aku mengabulkan doanya. Ia meminta kepada-Ku kemudian Aku memberinya. Ia memberi nasihat untuk-Ku kemudian Aku memberi nasihat kepadanya. Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada hamba yang imannya tidak bisa diperbaiki kecuali dengan kekayaan. Jika Aku membuatnya miskin, ia dibuat rusak olehnya. Diantara hamba-hamba-Ku ada hamba yang imannya tidak bisa diperbaiki kecuali oleh kemiskinan. Jika Aku melapangkan rezki baginya, ia dibuat rusak olehnya. Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada hamba yang imannya tidak bisa diperbaiki kecuali oleh kesehatan. Jika Aku membuatnya sakit, ia dibuat rusak olehnya. Di antara hamba-hamba-Ku terdapat hamba yang imannya tidak bisa diperbaiki kecuali oleh sakit. Jika Aku membuatnya sehat, ia dibuat rusak olehnya. Aku mengatur hamba-hamba-Ku sesuai dengan pengetahuan-Ku tentang apa yang ada di hati mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui dan Maha Mengerti".

Al-Khasyani dan Shadqah adalah perawi dhaif, sedang Hisyam tidak diketahui. Ibnu Muin pernah ditanya tentang Hisyam; siapa dia? Ibnu Muin menjawab, "Ia tidak ada apa-apanya”. Al-Bazzar [12]) meriwayatkan sebagian hadits di atas dari jalur Shadqah dari Abdul Karim Al-Jazri dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu.

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Al-Auzai dari Abdah bin Abu Lubabah yang berkata, Zirr bin Hubaisy berkata kepadaku, aku dengar Hudzaifah Radhiyallahu Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya Allah Ta'ala mewahyukan kepadaku, 'Hai saudara para rasul, hai saudara para pemberi peringatan, peringatkan kaummu agar mereka tidak memasuki salah satu rumah-Ku dalam keadaan seseorang dari mereka memiliki madzlamah (barang yang dirampas dari orang lain). Sungguh Aku melaknatnya selama ia berdiri di depan-Ku dalam keadaan shalat hingga ia mengembalikan madzlamah tersebut kepada pemiliknya kemudian Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, ia menjadi wali-wali-Ku dan orang-orang pilihan-Ku, dan menjadi tetangga-Ku bersama para nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada' di surga". [13])

Sanad hadits tersebut baik, namun sangat gharib (dhaif).

Kita kembali kepada hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang diriwayatkan Al-Bukhari. Ada yang mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits termulia tentang wali-wali. [14])

Firman Allah Azza wa Jalla, "Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya", maksudnya, sungguh Aku mengumumkan kepadanya bahwa Aku memeranginya, karena ia memerangi-Ku dengan memusuhi wali-wali-Ku. Oleh karena itu, disebutkan di hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, "Sungguh ia menghalalkan peperangan-Ku”. Di hadits Abu Umamah dan lain-lain disebutkan, 'Sungguh ia menantang-Ku untuk berperang”. Ibnu Majah [15]) meriwayatkan hadits dengan sanad dhaif dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu yang mendengar Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya sedikit riya' itu syirik. Barangsiapa memusuhi wali Allah, sungguh ia menantang Allah berperang. Sesungguhnya Allah mencintai orang baik-baik yang bertakwa dan tidak terkenal yang jika pergi maka tidak dicari, Jika hadir maka tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati mereka adalah lampu-lampu petunjuk; mereka keluar dari setiap kesulitan yang gelap”.

Jadi, wali-wali Allah wajib ditemani dan haram dimusuhi, sebagaimana musuh-musuh Allah wajib dimusuhi dan haram ditemani. Allah Ta'ala berfirman,

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh-musuh kalian menjadi teman-teman setia”. (Al-Mumtahanah: 1).

Allah Ta'ala juga berfirman,

"Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi walinya, maka sesungguhnya pengikut Allah itulah yang pasti menang'. (Al-Maidah: 55-56).

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sifat orang-orang yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya ialah mereka rendah hati terhadap kaum Mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Imam Ahmad meriwayatkan hadits di Az-Zuhdu [16]) dengan sanadnya dari Wahb bin Munabbih yang berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada Musa Alaihis-Salam ketika berdialog dengan beliau, 'Ketahuilah bahwa barangsiapa menghina wali-Ku atau menakut-nakutinya, sungguh ia menantang-Ku berperang, mendahului-Ku, memperlihatkan dirinya, dan mengajak-Ku kepada perang, padahal Aku yang paling cepat menolong wali-wali-Ku. Apakah orang yang memerangi-Ku mengira dapat berdiri kepada-Ku? Apakah orang yang sombong kepada-Ku mengira dapat melemahkan-Ku? Apakah orang yang menantang-Ku mengira dapat mendahului-Ku atau lolos dari-Ku? Bagaimana tidak, Aku pembalas mereka di dunia dan akhirat dan Aku tidak menyerahkan pertolongan mereka kepada selain Aku?"

Ketahuilah bahwa pada hakikatnya seluruh kemaksiatan adalah peperangan kepada Allah Azza wa Jalla. Al-Hasan berkata, "Hai anak keturunan Adam, apakah engkau mempunyai kekuatan untuk memerangi Allah? Karena sesungguhnya barangsiapa bermaksiat kepada Allah, sungguh ia memerangi-Nya”. Jika dosa semakin besar, maka sangat memerangi Allah. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menamakan pemakan riba dan para perampok di jalan sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, karena besarnya kedzaliman mereka terhadap hamba-hamba-Nya dan ulah mereka membuat kerusakan di negeri-Nya. Begitu juga memusuhi wali-wali Allah, karena Allah menolong wali-wali-Nya, mencintai dan mendukung mereka. Jadi, barangsiapa memusuhi mereka, sungguh ia memusuhi Allah dan memerangi-Nya. Disebutkan di hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"(Takutlah) Allah. (Takutlah) Allah terhadap sahabat-sahabatku. janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran. Barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia menyakitiku dan barangsiapa menyakitiku maka ia menyakiti Allah. Barangsiapa menyakiti Allah, Dia nyaris menyiksanya”. (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan lain-lain). [17]

Firman Allah Ta'ala, "Hamba-Ku tidak henti-henti-Nya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya”. Setelah Allah menyebutkan bahwa sikap memusuhi wali-wali-Nya adalah bentuk peperangan kepada-Nya, Dia menjelaskan sifat wali-wali-Nya yang haram dimusuhi dan wajib ditemani. Untuk itu, Dia menyebutkan sarana taqarrub kepada-Nya. Asal makna al-wilayah (kewalian) ialah dekat dan asal makna al-adawah (permusuhan) ialah jauh. Jadi, wali-wali Allah ialah orang-orang yang mendekat (taqarrub) kepada Allah dengan apa saja yang membuat mereka dekat kepada-Nya dan musuh-musuh Allah ialah orang-orang dijauhkan dari-Nya karena perbuatan-perbuatan mereka yang menghendaki pengusiran mereka dan pengasingan mereka dari-Nya. Allah membagi wali-wali-Nya yang dekat ke dalam dua kelompok;

1.         Hamba yang mendekat kepada-Nya dengan menunaikan ibadah-ibadah wajib, termasuk di dalamnya pengalaman kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, karena itu semua termasuk amalan-amalan yang diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

2.      Hamba yang mendekatkan diri kepada Allah setelah ibadah-ibadah wajib dengan menunaikan ibadah-ibadah sunnah. Dengan demikian, terlihatlah bahwa tidak ada jalan yang mengantarkan dekat kepada Allah Ta'ala, kewalian-Nya, dan kecintaan-Nya selain taat kepada-Nya yang diwajibkan melalui lisan Rasul-Nya. Jadi, barangsiapa mengaku mendapatkan kewalian Allah, dekat dengan-Nya, dan cinta kepada-Nya, namun tidak dengan jalan tersebut, jelaslah bahwa ia bohong dalam pengakuannya, seperti yang terjadi pada orang-orang musyrikin yang mendekatkan kepada Allah dengan cara menyembah tuhan-tuhan selain Allah yang mereka sembah, seperti dikisahkan Allah tentang mereka bahwa mereka berkata,

"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Az-Zumar: 3).

Atau seperti yang dikisahkan Allah tentang orang-orang Yahudi dan Kristen bahwa mereka berkata,

"Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. (Al-Maidah: 18).

Padahal mereka terus-menerus mendustakan Rasul-rasul-Nya, mengerjakan larangan-larangan-Nya, dan meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya.

Oleh karena itu, Allah Ta'ala menyebutkan pada hadits di atas bahwa wali-wali-Nya terdiri dari dua tingkatan;

1.      Orang-orang yang mendekat kepada-Nya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban. Ini tingkatan orang-orang pertengahan, yaitu orang-orang golongan kanan. Menunaikan kewajiban-kewajiban adalah perbuatan yang paling baik, seperti dikatakan Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu, "Perbuatan terbaik ialah menunaikan apa saja yang diwajibkan Allah, menjauhi apa saja yang diharamkan-Nya, dan niat yang jujur terhadap apa saja yang ada di sisi Allah Azza wa jalla”. Umar bin Abdul Aziz berkata di khutbahnya, "Ibadah terbaik ialah menunaikan ibadah-ibadah wajib dan menjauhi hal-hal yang diharamkan". [18]) Itu karena Allah mewajibkan ibadah-ibadah wajib kepada hamba-hamba-Nya untuk mendekatkan mereka kepada-Nya dan membuat mereka mendapatkan keridhaan dan rahmat-Nya. Ibadah wajib oleh badan untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah yang paling baik ialah shalat, seperti difirmankan Allah,

"Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (Al-Alaq: 19).

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Saat hamba terdekat dengan Allah ialah ketika ia sujud”. [19])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

'Jika salah seorang dari kalian shalat, ia bermunajat kepada Tuhannya atau Tuhannya ada di antara dirinya dengan kiblat”. [20])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda,

"Sesungguhnya Allah menghadapkan wajah-Nya untuk wajah hamba-Nya di shalatnya selagi ia tidak menoleh”. [21])

Di antara ibadah-ibadah wajib yang mendekatkan kepada Allah ialah keadilan pemimpin dalam kepemimpinannya; kepemimpinannya umum seperti penguasa atau khusus seperti keadilan seseorang terhadap keluarga dan anaknya, seperti disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

"Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian ditanya tentang kepemimpinannya”. [22])

Di Shahih Muslim [23]) disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya di atas Tangan Kanan Allah - dan keduanya Tangan-Nya adalah kanan -, yaitu orang-orang yang adil terhadap hukum mereka, keluarga mereka, dan apa saja yang diamanahkan kepada mereka”.

Di At-Tirmidzi [24]) disebutkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling dekat duduknya dengan-Nya ialah pemimpin yang adil”.

2.      Tingkatan orang-orang yang dahulu dan dekat, yaitu orang-orang yang mendekat kepada Allah dengan ibadah-ibadah wajib kemudian bersungguh-sungguh mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dan menjaga diri dari hal-hal yang makruh dengan sikap wara’: Sikap seperti itu menyebabkan seorang hamba dicintai Allah, seperti difirmankan Allah, "Hamba-Ku tidak henti-henti-Nya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya”. Jadi, barangsiapa dicintai Allah, maka Allah menganugerahkan cinta-Nya, taat kepada-Nya, sibuk berdzikir kepada-Nya, dan melayani-Nya. Itu semua menyebabkannya dekat dengan Allah dan terhormat di sisi-Nya, seperti difirmankan Allah Ta'ala,

"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela; itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa ,yang dikehendaki-Nya dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. (Al-Maidah: 54).

Di ayat tersebut terdapat sinyal bahwa barangsiapa berpaling dari mencintai Kami dan mendekat kepada Kami, maka Kami tidak peduli dan Kami menggantinya dengan orang-orang yang lebih layak menerima pemberian ini. Jadi barangsiapa berpaling dari Allah, ia tidak mempunyai pengganti dari Allah sedang Allah mempunyai banyak pengganti untuknya. Dikatakan pada syair,

"Aku tidak mempunyai kesibukan kecuali Dia

Hatiku yang suka mencela tidak berpaling dari mencintai-Nya

Apa yang bisa aku perbuat jika cita-cita berpaling dan gagal?

Ada pengganti dariku sedang aku tidak mempunyai pengganti dari-Nya”.

Di salah satu atsar disebutkan bahwa Allah Azza wa Jalla berfirman, "Hai anak keturunan Adam, carilah Aku, niscaya engkau mendapatkan-Ku. Jika engkau telah mendapatkan-Ku, engkau mendapatkan segala hal. Jika Aku meninggalkanmu, engkau ditinggalkan segala hal. Aku lebih mencintaimu daripada segala hal”.

Dzun Nun selalu melantunkan berulang-ulang bait-bait syair berikut,

"Carilah untuk kalian

Seperti sesuatu yang telah aku dapatkan

Aku telah mendapatkan rahmat untukku

Mencintainya tidak membuat lelah

Jika aku menjauh, Dia mendekat kepadaku

Atau jika aku mendekat pada-Nya, Dia mendekat”.

Barangsiapa ditinggalkan Allah kendati ia mendapatkan surga beserta isinya, ia tetap menjadi orang yang rugi. Bagaimana jika ia hanya mendapatkan sesuatu yang sedikit dan hina dari negeri yang semua isinya tidak sebanding dengan sayap nyamuk?

Dikatakan di syair,

"Barangsiapa Dia tidak melihatnya sehari saja

Maka seluruh waktunya menjadi hilang

Di negeri mana pun aku berada

Maka aku menoleh kepada wajah-Mu”.

Setelah itu, Allah Ta'ala menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang Dia cintai dan mereka mencintai-Nya, "Yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang Mukmin", maksudnya, mereka bergaul dengan kaum Mukminin dengan rendah diri dan ramah. Sifat mereka yang lain, "Yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir", maksudnya, mereka memperlakukan orang-orang kafir dengan sikap keras terhadap mereka. Karena wali-wali Allah mencintai Allah, maka mereka mencintai wali-wali-Nya yang mencintai-Nya kemudian mereka bergaul dengan wali-wali Allah dengan cinta dan kasih sayang. Mereka juga membenci musuh-musuh Allah yang memusuhi-Nya kemudian bergaul dengan mereka dengan sikap keras, seperti difirmankan Allah Ta'ala,

"Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (Al-Fath: 29).

Kesempurnaan cinta ialah memerangi musuh-musuh Dzat tercinta. Begitu juga jihad di jalan Allah merupakan ajakan dengan pedang dan panah kepada orang-orang yang berpaling dari Allah untuk kembali kepada-Nya setelah sebelumnya mengajak mereka kepada-Nya dengan hujjah dan petunjuk. Jadi, orang yang mencintai Allah suka membawa seluruh manusia ke pintu-Nya. Barangsiapa tidak merespon dakwah dengan sikap lemah-lembut, ia perlu diajak dengan sikap keras. Disebutkan di hadits,

"Allah heran kepada kaum yang dituntun ke surga dengan belenggu-belenggu”. [25])

Firman Allah Ta'ala, "Dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela", maksudnya, pecinta Allah tidak menginginkan kecuali sesuatu yang diridhai Dzat yang dicintainya. Ia ridha kepada siapa saja yang Dia ridhai dan marah kepada siapa saja yang Dia marahi. Jadi, barangsiapa takut celaan dalam mencintai pihak yang dicintainya, ia tidak jujur dalam cintanya.

Dikatakan dalam syair,

"Hawa nafsu berhenti denganku di tempatmu

Hawa nafsuku tidak bisa mundur dan maju darinya

Aku temukan celaan itu lezat ketika aku mencintaimu

Karena cinta ingat kepadamu, karena itu, silahkan para pencela mencelaku”.

Firman Allah Ta'ala, "Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya", yang dimaksud dengan karunia tersebut ialah tingkatan (derajat) orang-orang yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya dengan sifat-sifat yang telah disebutkan tadi.

Firman Allah Ta'ala, "Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui", maksudnya, Allah Mahaluas pemberian-Nya dan mengetahui orang-orang yang berhak atas karunia-Nya kemudian Dia memberikan karunia-Nya kepada mereka serta mengetahui orang-orang yang tidak berhak atas karunia-Nya kemudian Dia tidak memberikan karunia-Nya tersebut kepada mereka.

Diriwayatkan bahwa Nabi Daud Alaihis-Salam berkata, "Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang Engkau cintai, karena jika Engkau mencintai seorang hamba, Engkau ampuni dosanya kendati dosanya besar dan menerima perbuatannya kendati perbuatannya kecil”.

Nabi Daud Alaihis Salam juga berkata dalam doanya, "Ya Allah, aku meminta cinta-Mu kepada-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta perbuatan yang mengantarkanku ke cinta-Mu. Ya Allah, jadikan cinta-Mu sebagai sesuatu yang paling aku cintai daripada diriku, keluargaku, dan air segar”. [26])

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Tuhanku Azza wa Jalla datang kepadaku - dalam mimpiku - kemudian berfirman kepadaku, 'Hai Muhammad, katakan, 'Ya Allah, aku meminta cinta-Mu kepada-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal perbuatan yang mengantarkanku kepada cinta-Mu”. [27])

Di antara doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah,

"Ya Allah, anugerahkan kepadaku cinta-Mu dan cinta orang-orang yang cintanya bermanfaat bagiku di sisi-Mu. Ya Allah, apa saja yang Engkau anugerahkan kepadaku dari apa saja yang aku cintai itu jadikan sebagai kekuatan untukku terhadap apa saja yang Engkau cintai. Ya Allah, apa saja yang Engkau jauhkan dariku dari hal-hal yang aku cintai itu jadikan sebagai kekosongan bagiku dari hal-hal yang Engkau cintai”. [28])

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau berdoa,

"Ya Allah, jadikan cinta-Mu sebagai sesuatu yang paling aku cintai dan takut kepada-Mu sebagai sesuatu yang paling aku takuti. Putuskan kebutuhan-kebutuhan dunia dariku dengan rindu kepada pertemuan dengan-Mu. jika Engkau menghibur mata penduduk dunia dengan dunia mereka, hiburlah mataku dengan ibadah kepada-Mu”. [29])

Orang-orang yang berada pada derajat (tingkatan) ini hanya mempunyai keinginan kepada hal-hal yang mendekatkan mereka kepada orang-orang dicintai Allah dan mereka pun mencintai-Nya. Salah seorang dari generasi salaf berkata, "Beramal karena takut bisa jadi diubah oleh harapan dan beramal karena cinta (cinta Allah) itu tidak dimasuki rasa malas”. Salah seorang dari generasi salaf lainnya berkata, "Jika para pengangguran bosan dengan pengangguran mereka, maka para pecinta-Mu tidak bosan dari bermunajat dan dzikir kepada-Mu”.

Farqad As-Sabakhi berkata, "Aku baca di salah satu kitab terdapat tulisan berbunyi, 'Barangsiapa mencintai Allah maka tidak ada sesuatu pada dirinya yang lebih ia utamakan dari cinta-Nya dan barangsiapa mencintai dunia maka tidak ada sesuatu pada dirinya yang lebih ia utamakan daripada hawa nafsunya. Pecinta Allah adalah pemimpin, rombongannya adalah rombongan pertama pada Hari Kiamat, dan tempat duduknya adalah tempat duduk yang paling dekat (dengan Allah) di sana. Cinta adalah puncak kedekatan dan kesungguhan. Para pecinta Allah tidak akan bosan karena kesungguhan mereka yang lama karena Allah Azza wa jalla yang mereka cintai, cinta dzikir kepada-Nya, dan membuat-Nya dicintai manusia. Mereka berjalan di antara hamba-hamba-Nya dengan memberi nasihat dan mengkhawatirkan perbuatan-perbuatan mereka pada hari ketika keburukan-keburukan menjadi terlihat. Mereka wali-wali Allah, orang-orang yang dicintai-Nya, dan orang-orang pilihan-Nya. Mereka itulah orang-orang yang tidak mempunyai ketenangan kecuali bertemu dengan-Nya”.

Fath Al-Maushili berkata, "Pecinta Allah Azza wa Jalla tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang lezat dan tidak lalai dari dzikir kepada Allah sekejap mata pun”.

Muhammad bin An-Nadhr Al-Haritsi berkata, "Pecinta Allah Azza wa Jalla nyaris tidak bosan mendekat kepada Allah Ta'ala”.

Salah seorang ulama berkata, "Hati pecinta Allah terbang, banyak berdzikir, dan mencari sebab-sebab kepada keridhaan-Nya dengan sarana apa saja dan ibadah-ibadah sunnah karena rindu”.

Salah seorang ulama melantunkan syair,

'Jadilah engkau pengabdi kepada Tuhanmu yang mempunyai cinta

Karena para pecinta itu menjadi pengabdi bagi pihak yang dicintainya”.

Ulama lain berkata,

'Pecinta hanya memiliki keinginan cinta-Nya

Sesungguhnya pecinta itu dekat dengan semua kebaikan”.

Ibadah-ibadah sunnah yang paling mendekatkan seorang hamba kepada Allah Ta'ala ialah banyak membaca Al-Qur'an, mendengarnya dengan merenungkan, dan berusaha memahaminya. Khabbab bin Al-Arat berkata kepada seseorang, "Mendekatlah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu. Ketahuilah bahwa engkau tidak dapat mendekat kepada-Nya dengan sesuatu yang lebih Dia cintai daripada firman-Nya". [30])

Di At-Tirmidzi [31]) disebutkan hadits dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Hamba-hamba tidak mendekat kepada Allah dengan sesuatu seperti apa yang keluar darinya, maksudnya Al-Qur’an”.

Bagi para pecinta Allah, tidak ada yang paling manis bagi mereka selain firman Dzat yang mereka cintai, karena firman-Nya adalah kelezatan hati mereka dan puncak tujuan mereka. Utsman berkata, "Jika hati kalian bersih, kalian tidak akan kenyang dengan firman Tuhan kalian”. [32]) Ibnu Mas'ud berkata, "Barangsiapa mencintai Al-Qur'an, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya”. [33])

Salah seorang sufi berkata kepada muridnya, "Apakah engkau hapal Al-Qur'an?" Sang murid menjawab, "Tidak”. Orang sufi tersebut berkata, "Aduh, murid tidak hapal Al-Qur’an? Kalau begitu, dengan apa ia mendapatkan kenikmatan? Dengan apa ia berdendang? Dengan apa ia bermunajat kepada Tuhannya Azza wa Jalla ?".

Salah seorang ulama banyak membaca Al-Qur'an kemudian sibuk dengan selain Al-Qur'an. Setelah itu, ia bermimpi bertemu penyeru yang berkata,

'Jika engkau mengaku mencintai-Ku

Kenapa engkau menjauhi Kitab-Ku?

Tidakkah engkau merenungkan kecaman halus-Ku yang ada di dalamnya?"

Ibadah-ibadah sunnah lainnya yang paling mendekatkan seorang hamba kepada Allah ialah banyak berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisan. Di Musnad Al-Bazzar [34]) disebutkan hadits dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu yang berkata, aku berkata,

"Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku perbuatan yang paling baik dan paling mendekatkan kepada Allah Ta'ala”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Engkau meninggal dunia sedang lidahmu dalam keadaan basah dengan dzikir kepada Allah Ta'ala”.

Disebutkan di hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku menurut dugaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia ingat (zikir) kepada-Ku sendirian maka Aku ingat kepadanya sendirian dan jika ia ingat (dzikir) kepada-Ku di kelompok maka Aku ingat kepadanya di kelompok yang lebih baik daripada mereka”. [35])

Di hadits lain, Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Allah Ta'ala berfirman, Aku bersama hamba-Ku selagi ia ingat (dzikir) kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak dengan-Ku”. [36])

Allah Ta'ala berfirman,

"Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada kalian”. (Al-Baqarah:152).

Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar orang-orang bertakbir dan bertahmid dengan suara keras ketika mereka bepergian bersama beliau, maka beliau bersabda, "Kalian tidak berdoa kepada Dzat, yang tuli dan tidak ada di sini; namun kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, serta Dia bersama kalian”. Di riwayat lain, "Dia lebih dekat kepada kalian daripada leher unta kalian”. [37])

Di antara ibadah-ibadah sunnah lain yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada Allah ialah mencintai wali-wali Allah dan orang-orang yang dicintai-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya karena-Nya. Di Sunan Abu Daud disebutkan hadits dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat manusia yang bukan nabi-nabi dan syuhada' namun para nabi dan syuhada' iri kepada mereka karena kedudukan mereka terhadap Allah Azza wa jalla”. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, siapa mereka?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Mereka kaum yang saling mencintai karena ruh Allah tanpa ada hubungan kekerabatan sesama mereka dan harta yang mereka ambil. Demi Allah, wajah mereka pasti cahaya dan mereka di atas cahaya. Mereka tidak takut jika manusia lain takut dan tidak sedih jika manusia lam sedih”. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada kekhawatiran pada mereka dan mereka tidak sedih”. (Yunus: 62). [38]

Hadits semakna diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Di haditsnya disebutkan, "Para nabi iri kepada mereka karena kedekatan dan tempat duduk mereka dari Allah Azza wa jalla”. [39])

Di Al-Musnad [40]) disebutkan hadits dari Amr bin Al-Jamuh Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Seorang hamba tidak mendapatkan hakikat iman hingga ia mencintai karena Allah dan membenci karena-Nya. jika ia mencintai karena Allah dan membenci karena-Nya, sungguh ia berhak atas kewalian dari Allah. Sesungguhnya wali-wali-Ku dari hamba hamba-Ku dan orang-orang kecintaan-Ku dari makhluk-Ku ialah orang-orang yang berdzikir dengan dzikir-Ku dan Aku dzikir (ingat) dengan dzikir mereka”.

Al-Murtaizy pernah ditanya, "Cinta diperoleh dengan apa saja?" Al-Murtaizy menjawab, "Dengan berteman dengan wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya”. [41])

Di Az Zuhdu [42]) Imam Ahmad disebutkan hadits dari Atha' bin Yasar yang berkata, Nabi Musa Alaihis Salam berkata, "Tuhanku, siapa orang-orang-Mu yang Engkau naungi di naungan Arasy-Mu?" Allah berfirman, "Hai Musa, mereka adalah orang-orang yang tangan dan hati mereka suci. Mereka saling bercinta karena keagungan-Ku. Jika Aku ingat maka mereka ingat kepada-Ku dan jika mereka ingat maka Aku ingat dengan ingatan mereka. Mereka menyempurnakan wudhu di saat-saat kritis, kembali kepada dzikir (ingat) kepada-Ku sebagaimana burung nasar kembali ke sarangnya, gemar kepada cinta-Ku sebagaimana bayi gemar kepada manusia, dan marah jika hal-hal yang Aku haramkan dihalalkan sebagaimana singa marah jika marahnya meluap-luap”.

Firman Allah Ta'ala, 'jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan”. Di salah satu riwayat, "Dan menjadi hatinya (akalnya) yang ia gunakan untuk berpikir dan menjadi lidahnya yang ia gunakan untuk berkata”. Maksudnya, barangsiapa bersungguh-sungguh dalam mendekat kepada Allah dengan mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, maka Allah mendekatkannya kepada-Nya dan menaikkannya dari tingkatan iman ke tingkatan ihsan. Karenanya, ia menjadi hamba yang beribadah kepada Allah dengan dihadiri dan diawasi Allah seperti ia melihat-Nya kemudian hatinya penuh dengan ma'rifat kepada Allah, cinta-Nya, takut kepada-Nya, segan kepada-Nya, mengagungkan-Nya, damai dengan-Nya, dan rindu kepada-Nya, bahkan ia menjadi orang yang bisa melihat Allah dengan mata hatinya, seperti dikatakan salah seorang penyair,

"Penghuni di hati memenuhi hati

Aku tidak melupakannya dan ingat kepadanya

Ia pergi dari telinga dan mataku

Sungguh hati menjadi mulia, jika engkau melihatnya”.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Bohong orang yang mengaku cinta pada-Ku namun tidur dari-Ku. Bukankah setiap pecinta senang berduaan dengan pihak yang dicintainya? Inilah Aku melihat orang-orang yang Aku cintai sedang mereka menjelmakan-Ku di depan mereka, berdialog dengan-Ku seperti di alam nyata, dan berbicara dengan-Ku dengan langsung. Kelak, Aku membuat hati mereka senang di surga-Ku'“.

Perasaan seperti itu selalu menguat di hati para pecinta Allah dan orang-orang yang didekatkan kepada-Nya hingga hati mereka penuh dengan-Nya, walhasil, di hati mereka hanya ada Allah dan organ tubuh mereka tidak bergerak kecuali sesuai dengan apa yang ada di hati mereka. Barangsiapa kondisinya seperti itu, ada yang mengatakan bahwa di hatinya hanya ada Allah, maksudnya ia kenal dengan-Nya, mencintai-Nya, dan ingat kepada-Nya. Tentang makna ini, disebutkan di atsar Israel yang terkenal, "Allah berfirman, 'Aku tidak dibuat luas oleh langit dan bumi-Ku, namun dibuat luas oleh hati hamba-Ku yang beriman'“. [43]) Salah seorang sufi berkata, "Takutlah kalian kepada Allah, karena Allah pencemburu yang tidak ingin melihat ada pihak lain di hati hamba-Nya”. Tentang makna ini, salah seorang penyair melantunkan syair,

"Manusia tidak mempunyai tempat di hatiku

Di dalamnya, cinta kepada-Mu bertambah hingga memenuhinya”.

Penyair lain berkata,

"Hatiku dibentuk sesuai dengan kadar cinta mereka

Hingga hatiku tidak ada tempat untuk mencintai selain mereka”.

Makna ini diisyaratkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di khutbah beliau ketika tiba di Madinah, "Cintailah Allah sepenuh hati kalian", seperti disebutkan Ibnu Ishaq di Sirah-nya. [44]) Jadi, kapan saja hati penuh dengan keagungan Allah, maka kondisi tersebut menghapus apa saja selain Allah dari hati dan seorang hamba tidak lagi punya keinginan kecuali apa yang diinginkan Tuhannya. Ketika itulah, seorang hamba tidak bicara kecuali dengan dzikir kepada Allah dan tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya. Jika ia bicara, ia bicara dengan Allah. Jika ia mendengar, ia mendengar dengan-Nya. Jika ia melihat, ia melihat dengan-Nya. Jika ia berbuat, ia berbuat dengan-Nya. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah Ta'ala,

'Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan”. Barangsiapa mengisyaratkan kepada selain makna ini, ia mengisyaratkan kepada kekafiran; apakah itu ajaran pantheisme (manunggaling kawula gusti) atau ajaran lain yang Allah dan Rasul-Nya berlepas diri darinya.

Dari sini, sebagian generasi salaf seperti Sulaiman At-Taimi berpendapat bahwa ia tidak kuasa bermaksiat kepada Allah. Salah satu istrinya dari generasi salaf berwasiat kepada anak-anaknya dengan berkata kepada mereka, "Hendaklah kalian membiasakan diri mencintai Allah dan taat kepada-Nya, karena orang-orang bertakwa senang dengan ketaatan dan organ tubuh mereka tidak senang dengan selain ketaatan. Jika orang yang dikutuk karena maksiat terlihat oleh mereka, maksiat tersebut berjalan melewati mereka dengan malu dan mereka berpaling dari maksiat tersebut”.

Tentang makna ini, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, "Sungguh kami melihat syetan takut kepada Umar bin Khaththab untuk menyuruhnya berbuat kesalahan”. [45]) Sebelumnya saya sebutkan bahwa hal ini termasuk salah satu rahasia tauhid, karena makna kalimat laa ilaaha illallah ialah bahwa seorang hamba tidak menuhankan selain Allah dalam cinta, harapan, takut, dan taat. Jika hatinya merealisir tauhid sempurna, maka di hatinya tidak ada lagi cinta kepada apa yang tidak dicintai Allah dan tidak ada benci kepada apa yang tidak dibenci Allah. Barangsiapa kondisi hatinya seperti ini, organ tubuhnya tidak tergerak kecuali dalam ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya dosa-dosa itu terjadi karena cinta kepada apa yang dibenci Allah dan benci kepada apa yang dicintai Allah. Itu terjadi karena cinta hawa nafsu didahulukan atas cinta Allah dan takut kepada-Nya. Sikap seperti ini merupakan aib dalam tauhid yang sempurna, akibatnya seorang hamba lalai terhadap sebagian kewajiban atau mengerjakan sebagian larangan. Sedang hati orang yang merealisir tauhid kepada Allah, ia tidak mempunyai keinginan kecuali di jalan Allah dan pada apa saja yang diridhai-Nya. Disebutkan di hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Barangsiapa keinginannya bukan Allah, keinginan tersebut tidak dari Allah”. [46])

Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dari Ubai bin Ka'ab secara mauquf yang berkata, "Barangsiapa keinginan terbesarnya ialah selain Allah, keinginannya tersebut tidak dari Allah”. Salah seorang sufi berkata, "Barangsiapa menjelaskan kepadamu bahwa wali Allah mempunyai keinginan kepada selain Dia, engkau jangan mempercayainya”.

Daud Ath-Thai berseru di malam hari, "Keinginan kepada-Mu mengosongkan segala duka dari hatiku dan memisahkan dari orang-orang yang tidak bisa tidur. Rindu untuk melihat-Mu merupakan kelezatan yang paling kuat bagiku dan memisahkanku dari seluruh syahwat. Aku berharap ada di penjara-Mu, hai Dzat Yang Mahamulia”.

Tentang makna ini, salah seorang penyair berkata,

"Mereka berkata, ia lupa kepada kami dan mencari pengganti kami

Itu perbuatan pengkhianat yang pelupa

Bagaimana aku menyibukkan hatiku dari mencintai kalian

Dengan tidak ingat kepada kalian, hai orang-orang yang sangat aku perhatikan?"

Firman Allah Ta'ala, 'Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya”. Di riwayat lain, 'Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku pasti mengabulkan doanya. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya", maksudnya, orang yang dicintai Allah dan didekatkan kepada-Nya mempunyai kedudukan khusus di sisi Allah yang menyebabkannya jika ia minta sesuatu kepada Allah maka Allah memberikan apa yang ia minta, jika ia minta perlindungan kepada-Nya dari sesuatu maka Dia melindunginya, dan jika ia berdoa kepada-Nya maka Dia mengabulkan doanya, karenanya, ia menjadi orang yang doanya dikabulkan karena kemuliaannya di sisi Allah Azza wa Jalla. Banyak sekali di antara generasi salaf yang terkenal doanya dikabulkan. Di Shahih Muslim disebutkan bahwa Ar-Rubbiyi' binti An-Nadhr memecah gigi depan seorang wanita kemudian kabilah Ar-Rubbiyi' binti An-Nadhr menawarkan diyat kepada kabilah wanita tersebut, namun kabilah wanita tersebut menolak. Kabilah Ar-Rubbiyi' binti An-Nadhr meminta maaf kepada kabilah wanita tersebut, namun kabilah wanita tersebut menolak, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan dilakukan qishas. Anas bin An-Nadhr berkata, "Apakah engkau akan memecahkan gigi depan Ar-Rubbiyi'? Demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, engkau jangan memecahkan gigi depannya”. Kabilah wanita tersebut pun ridha dan mengambil diyat kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang yang jika bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti melaksanakan sumpahnya”. [47])

Di Shahih Al-Hakim [48]) disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Betapa banyak orang lemah yang dianggap lemah dan mempunyai dua pakaian usang, namun jika ia bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti melaksanakannya, di antara mereka adalah Al-Barra' bin Azib”.

Al-Barra' bin Azib pernah bertemu pasukan kaum musyrikin kemudian kaum Muslimin berkata kepadanya, "Bersumpahlah kepada Tuhanmu”. Al-Barra' bin Azib berkata, "Aku bersumpah kepada-Mu, wahai Tuhanku, kenapa Engkau tidak memberikan pundak-pundak orang-orang musyrikin tersebut kepada kami?" Allah pun memberikan pundak-pundak kaum musyrikin kepada kaum Muslimin. Pada kesempatan lain, kaum Muslimin kembali berjumpa kaum musyrikin kemudian mereka berkata kepada Al-Barra' bin Azib, "Bersumpahlah kepada Allah”. Al-Barra' bin Azib berkata, "Aku bersumpah kepada-Mu, wahai Tuhanku, kenapa Engkau tidak memberikan pundak-pundak kaum musyrikin tersebut kepada kami dan tidak menyusulkanku kepada Nabi-Mu?" Kaum Muslimin pun diberi pundak-pundak kaum musyrikin dan Al-Barra' bin Azib gugur sebagai syahid.

Ibnu Abu Ad-Dunya [49]) meriwayatkan dengan sanadnya bahwa An-Nu'man bin Qauqal berkata di Perang Uhud, "Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu hendaknya aku dibunuh kemudian masuk surga”. Ia pun gugur sebagai syahid kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya jika An-Nu'man bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti mengabulkannya”.

Abu Nu'aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Sa'ad bahwa Abdullah bin Jahsy berkata di Perang Uhud, "Tuhanku, jika aku bertemu musuh besok pagi, pertemukan aku dengan orang yang kuat kekuatannya dan sangat pemarah agar aku memeranginya di jalan-Mu dan ia memerangiku kemudian ia menyerangku lalu memotong hidung dan telingaku. Jika aku bertemu dengan-Mu kelak kemudian Engkau berkata, 'Siapa yang memotong hidung dan telingamu?' maka aku menjawab, 'Di jalan-Mu dan Rasul-Mu.' Kemudian Engkau berfirman, 'Engkau berkata benar'“. Sa'ad berkata, "Aku melihat Abdullah bin Jahsy di akhir siang, ternyata hidung dan telinganya ditali dengan benang”. [50])

Sa'ad bin Abu Waqqash adalah orang yang doanya terkabul. Pada suatu hari, ia didustakan seseorang kemudian ia berkata, "Ya Allah, jika orang tersebut berkata bohong, butakan matanya, panjangkan usianya, dan hadapkan dia pada fitnah-fitnah”. Ternyata orang tersebut mendapatkan itu semua. Ia bertemu budak-budak wanita di jalan sambil berkata, "Aku orang lanjut usia, mendapatkan fitnah, dan terkena doa Sa'ad”. [51])

Sa'ad bin Abu Waqqash mendoakan orang yang ia dengar menghina Ali bin Abu Thalib. Orang tersebut belum beranjak dari tempatnya, tiba-tiba datanglah unta yang berlari kemudian menginjak orang tersebut dengan kedua tangan dan kedua kakinya hingga ia tewas. [52])

Seorang wanita bertengkar dengan Sa'ad bin Zaid di lahan Sa'ad bin Zaid. Wanita tersebut mengklaim bahwa Sa'ad bin Zaid mengambil lahan tersebut darinya kemudian Sa'ad bin Zaid berkata, "Ya Allah, jika wanita tersebut bohong, butakan matanya dan bunuh dia di lahannya”. Ternyata, wanita tersebut buta. Ketika pada suatu malam ia berjalan di lahannya, ia jatuh di sumur di lahannya kemudian meninggal dunia. [53])

Al-Ala' bin Al-Hadhrami berada dalam salah satu detasemen kemudian anggota detasemen tersebut kehausan. Al-Ala' bin Al-Hadhrami shalat kemudian berdoa, "Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang Maha Pemurah, wahai Dzat Yang Mahatinggi, dan wahai Dzat Yang Mahaagung, sesungguhnya kami hamba-hamba-Mu dan di jalan-Mu kami memerangi musuh-Mu, karenanya, turunkan hujan kepada kami hingga kami dapat minum dan berwudhu dengannya dan jangan berikan sedikit pun daripadanya kepada seorang pun selain kami”. Detasemen tersebut berjalan sebentar kemudian menemukan sungai dari air hujan yang memancar lalu mereka meminumnya dan mengisi wadah-wadah mereka hingga penuh. Setelah itu, mereka berangkat lalu salah seorang dari sahabat-sahabat Al-Ala' bin Al-Hadhrami kembali ke sungai tersebut, namun tidak melihat apa-apa di dalamnya dan sepertinya di tempat tersebut tidak pernah ada air. [54])

Seseorang melapor kepada Anas bin Malik bahwa lahannya di Basrah mengalami kekeringan kemudian Anas bin Malik berwudhu, keluar ke daratan, shalat dua raka'at, dan berdoa. Ternyata, hujan turun kemudian mengairi lahannya dan hujan tersebut hanya sedikit mengenai lahan lainnya. [55])

Sejumlah gubuk di Basrah terbakar pada zaman Abu Musa Al-Asy'ari dan di tengah-tengah gubuk terdapat satu gubuk yang tidak terbakar. Abu Musa Al-Asy'ari berkata kepada pemilik gubuk yang tidak terbakar, "Kenapa gubukmu tidak terbakar?" Pemilik gubuk yang tidak terbakar berkata, "Aku bersumpah kepada Tuhanku agar Dia tidak membakar gubukku”. Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Aku dengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Di umatku terdapat orang-orang yang kepala mereka berwarna seperti debu dan pakaian mereka kotor, namun seandainya mereka bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti mengabulkannya". [56])

Abu Muslim Al-Khaulani dikenal sebagai orang yang doanya dikabulkan. Pada suatu hari, komodo berjalan melewatinya lalu anak-anak kecil berkata kepadanya, "Berdoalah kepada Allah untuk kami agar Dia menahan komodo ini”. Abu Muslim Al-Khaulani pun berdoa kepada Allah kemudian Allah menahan komodo tersebut hingga komodo tersebut diambil anak-anak kecil tersebut dengan tangan mereka". [57])

Abu Muslim Al-Khaulani mendoakan wanita yang merusak hubungan istrinya dengannya agar wanita tersebut buta, ternyata wanita tersebut buta seketika itu juga. Wanita tersebut datang kepada Abu Muslim Al-Khaulani kemudian menyumpahinya kepada Allah dan meminta kepada-Nya. Abu Muslim Al-Khaulani merasa iba kepada wanita tersebut kemudian ia berdoa kepada Allah lalu Allah mengembalikan mata wanita tersebut dan hubungan istrinya dengannya pun kembali seperti semula. [58])

Seseorang berbohong kepada Mutharrif bin Abdullah Asy-Syakhkhir kemudian Mutharrif bin Abdullah Asy-Syakhkhir berkata kepada orang tersebut, "Jika engkau berkata bohong, semoga Allah mempercepat kematianmu”. Ternyata orang tersebut meninggal dunia di tempat itu juga. [59])

Salah seorang dari kaum Khawarij hadir di majlis Al-Hasan Al-Bashri kemudian mengganggu orang-orang di majlis tersebut. Ketika gangguan orang tersebut semakin meningkat, Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Ya Allah, Engkau telah mengetahui gangguan orang tersebut kepada kami, karena itu, cegahlah gangguannya dari kami dengan apa yang Engkau kehendaki”. Orang tersebut jatuh dan dibawa kepada keluarganya dalam keadaan mati di atas kasurnya. [60])

Shilah bin Usyaim berada dalam satu detasemen kemudian baghlah (peranakan kuda dengan keledai) miliknya hilang beserta muatannya. Anggota detasemen berangkat sedang Shilah bin Usyaim berdiri shalat lalu berdoa, "Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu, hendaknya Engkau mengembalikan baghlahku beserta muatannya”. Kemudian baghlah Shilah bin Usyaim datang hingga berdiri di depannya. [61])

Murrah berada di daratan luas kemudian kelaparan. Ia pun minta makanan kepada Allah kemudian mendengar suara, "brakk", dari belakangnya, ternyata yang jatuh adalah pakaian atau handuk yang di dalamnya terdapat keranjang dari daun kurma berisi kurma segar kemudian Murrah memakannya dan pakaian tersebut disimpan oleh istrinya, Muadzah Al-Adawiyah, yang termasuk wanita-wanita shalihah. [62])

Muhammad bin Al-Munkadir ikut perang kemudian salah seorang temannya berkata kepadanya, "Aku ingin keju dan kurma”. Muhammad bin Al-Munkadir berkata, "Hendaklah kalian minta makanan kepada Allah, semoga Dia memberi makanan kepada kalian, karena Dia Mahakuasa”. Orang-orang di pasukan tersebut pun berdoa kepada Allah. Mereka baru berjalan beberapa saat, mereka melihat keranjang terikat yang berisi keju dan kurma. Salah seorang dari mereka berkata, "Ah seandainya keranjang ini berisi madu”. Muhammad bin Al-Munkadir berkata, "Sesungguhnya Dzat yang memberi kalian keju mampu memberi kalian madu, karena itu, mintalah madu kepada Allah”. Mereka pun berdoa kemudian berjalan beberapa saat lalu mendapatkan wadah madu di jalan. Mereka pun berhenti kemudian minum madu tersebut. [63])

Habib Al-Ajmi alias Abu Muhammad adalah orang yang terkenal doanya dikabulkan. Suatu ketika, ia berdoa untuk anak yang kepalanya botak. Ia menangis dan mengusap kepala anak tersebut dengan airmatanya. Ketika anak tersebut berdiri, ternyata rambutnya hitam dan menjadi orang yang rambutnya paling indah. [64])

Seseorang yang sakit kronis dibawa kepada Habib Al-Ajmi di atas tandu kemudian Habib Al-Ajmi mendoakan orang tersebut kemudian orang tersebut berdiri di atas kedua kakinya dan memikul tandunya kemudian pulang kepada keluarganya. [65])

Pada saat musik paceklik, Habib Al-Ajmi membeli makanan yang banyak sekali kemudian menyedekahkannya kepada orang-orang miskin. Habib Al-Ajmi menjahit kantong kemudian meletakkannya di bawah tempat tidurnya. Ia berdoa kepada Allah. Setelah itu, para pemilik makanan datang kepada Habib Al-Ajmi meminta pembayaran makanan. Habib Al-Ajmi mengeluarkan kantong tadi, temyata penuh dengan dirham. Habib Al-Ajmi menimbang dirham-dirham tersebut dan ternyata beratnya pas sesuai dengan harga makanan kemudian Habib Al-Ajmi memberikan dirham-dirham tersebut kepada para pemilik makanan. [66])

Seseorang seringkali bersenda gurau kepada Habib Al-Ajmi kemudian Habib Al-Ajmi mendoakan orang tersebut, ternyata orang tersebut menderita sakit kusta. [67])

Pada suatu ketika, Habib Al-Ajmi berada di tempat Malik bin Dinar, tiba-tiba seseorang datang kepada Malik bin Dinar dan berkata kasar kepada Malik bin Dinar gara-gara dirham yang dibagi-bagikan Malik bin Dinar. Ketika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, Habib Al-Ajmi menengadahkan kedua tangannya ke langit dan berdoa, "Ya Allah, sungguh orang ini mengganggu dzikir kami kepada-Mu, maka hiburlah kami darinya dengan sesuatu yang Engkau kehendaki”. Ternyata orang tersebut jatuh dan mati. [68])

Salah satu kaum berangkat jihad di jalan Allah dan salah seorang dari mereka membawa keledai yang kemudian mati. Ketika mereka terus berjalan, pemilik keledai tetap berada di tempat. Ia berdiri untuk berwudhu, shalat, dan berdoa, "Ya Allah, sungguh aku keluar untuk berjihad di jalan-Mu dan mencari keridhaan-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau mampu menghidupkan orang-orang mati dan menghidupkan orang-orang di kuburan, karena itu, hidupkan keledaiku”. Usai berdoa, orang tersebut mendekat kepada keledainya dan memukulnya. Ternyata, keledai tersebut berdiri sambil mengibas-ngibaskan kedua telinganya. Orang tersebut pun menaikinya, menyusul teman-temannya, dan setelah itu menjualnya di Kufah”. [69])

Salah satu detasemen berangkat berjihad di jalan Allah kemudian diserang hawa yang sangat dingin hingga mereka nyaris meninggal dunia. Mereka berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan di samping mereka terdapat pohon besar, ternyata pohon yang berada di samping mereka menyala-menyala kemudian mereka mengeringkan pakaian mereka dan menghangatkan badan mereka hingga matahari terbit. Setelah itu, mereka meneruskan perjalannya sedang pohon tersebut kembali seperti kondisi semula.

Abu Qilabah berangkat haji dalam keadaan berpuasa dan mendahului rekan-rekannya di hari yang panas. Setelah itu, ia merasa kehausan tidak ada taranya kemudian ia berdoa, "Ya Allah, Engkau mampu menghilangkan kehausanku tanpa aku harus membatalkan puasaku”. Kemudian ia dinaungi awan lalu awan tersebut menurunkan air hujan kepadanya hingga pakaiannya basah dan rasa hausnya hilang. Ia berhenti di tempat tersebut kemudian membuat telaga dan memenuhinya dengan air. Setelah itu, rekan-rekannya tiba di tempat tersebut dan meminum air telaga tersebut tanpa terkena air hujan sedikit pun. [70])

Kisah-kisah seperti di atas sangat banyak dan panjang sekali kalau disebutkan semuanya. Sebagian besar orang-orang yang doanya dikabulkan dari generasi salaf bersabar atas musibah, memilih pahalanya, dan tidak berdoa meminta hilangnya musibah dari dirinya. [71])

Diriwayatkan bahwa Sa'ad bin Abu Waqqash berdoa untuk manusia karena mereka mengetahui doanya dikabulkan. Dikatakan kepadanya, "Seandainya saja engkau berdoa kepada Allah untuk matamu - ketika itu buta -”. Sa'ad bin Abu Waqqash berkata, "Keputusan Allah lebih aku sukai daripada mataku”.

Salah seorang dari generasi salaf menderita sakit kusta kemudian dikatakan kepadanya, "Kami dengar engkau mengetahui nama Allah yang terbesar, karenanya, bagaimana kalau engkau meminta kepada-Nya agar ia menghilangkan penyakit kustamu?" Orang tersebut berkata, "Hai anak saudaraku, Allahlah yang mengujiku dan aku tidak suka melawan-Nya”.

Dikatakan kepada Ibrahim At-Taimi di penjara Al-Hajjaj, "Bagaimana kalau engkau berdoa kepada Allah?" Ibrahim At-Taimi berkata, "Aku tidak suka berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan dariku sesuatu yang di dalamnya aku mendapatkan pahala”.

Sa'id bin Jubair juga bersabar atas penyiksaan Al-Hajjaj hingga Al-Hajjaj membunuhnya, padahal doa Sa'id bin Jubair dikabulkan. Dikisahkan, Sa'id bin Jubair mempunyai ayam jantan dan biasanya Sa'id bin Jubair bangun malam untuk shalat karena kokok ayam jantan tersebut. Pada suatu malam, ayam jantan tersebut tidak berkokok, karenanya, ia tidak bangun malam untuk shalat dan sedih karenanya. Sa'id bin Jubair berkata, "Ada apa dengan ayam jantan? Semoga Allah memotong suaranya”. Ternyata, setelah itu ayam jantan tersebut tidak berkokok lagi. Ibu Sa'id bin Jubair berkata kepada Sa'id bin Jubair, "Anakku, setelah ini, engkau jangan lagi mendoakan sesuatu apa pun". [72])

Dikisahkan kepada Rabi'ah bahwa seseorang mempunyai kedudukan di sisi Allah, namun orang tersebut makan dari makanan-makanan sisa yang ia ambil dari sampah. Seseorang berkata, "Orang ini tidak ada salahnya kalau ia berdoa kepada Allah agar Allah membuatnya kaya”. Rabi'ah berkata, "Sesungguhnya jika keputusan diberikan kepada wali-wali Allah, mereka tidak ngedumel kepada keputusan tersebut”.

Hayawah bin Syuraih sangat miskin kemudian dikatakan kepadanya, "Bagaimana kalau engkau berdoa kepada Allah agar Dia membuatmu kaya?" Hayawah bin Syuraih mengambil tongkat kemudian berkata, "Ya Allah, jadikan tongkat ini sebagai emas”. Ternyata, tongkat tersebut menjadi biji emas di tangan Hayawah bin Syuraih. Ia berkata, "Tidak ada yang lebih di dunia kecuali akhirat”. Hayawah bin Syuraih berkata lagi, "Allah lebih tahu tentang apa saja yang membuat hamba-hamba-Nya menjadi shalih”.

Terkadang orang Mukmin yang doanya dikabulkan (mustajab) berdoa tentang suatu hal, namun Allah mengetahui bahwa yang terbaik baginya itu tidak di sesuatu tersebut, karenanya Allah tidak mengabulkan doanya namun menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik baginya di dunia atau di akhirat. Sebelumnya disebutkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, "Di antara hamba-hamba-Ku yang beriman terdapat hamba yang menginginkan pintu ibadah kemudian Aku menahan pintu ibadah tersebut agar ia tidak dimasuki ujub yang membuatnya rusak". [73])

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits Salim bin Abu Al-Ja'du dari Tsauban Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya di antara umatku ada orang yang jika salah seorang dari kalian datang kepadanya guna meminta dinar maka ia tidak memberikannya, jika (salah seorang dari kalian) meminta dirham kepadanya maka ia tidak memberikannya, jika (salah seorang dari kalian) meminta uang kepadanya maka ia tidak memberikannya. Jika orang yang mempunyai dua pakaian dan tidak diperhatikan, orang tersebut minta surga kepada Allah maka Allah pasti memberikan surga kepadanya dan jika ia bersumpah kepada Allah maka Allah pasti mengabulkannya". [74])

Hadits tersebut juga diriwayatkan selain Ath-Thabrani dari Salim secara mursal dan ditambahkan di dalamnya,

"Dan jika orang tersebut meminta sesuatu dari dunia kepada Allah, maka Allah tidak memberinya sebagai bentuk kemuliaan baginya”.

Firman Allah Ta'ala, "Aku pernah tidak ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang Mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya", maksudnya, Allah Ta'ala telah menentukan kematian bagi hamba-hamba-Nya, seperti yang Dia firmankan,

'Setiap jiwa itu merasakan kematian”. (Ali Imran:185).

Kematian ialah nyawa meninggalkan badan dan tidak terjadi kecuali dengan sakit yang sangat luar biasa, bahkan kematian termasuk sakit paling pedih yang menimpa seorang hamba di dunia. Umar bin Khaththab berkata kepada Ka'ab, "Jelaskan kematian kepadaku”. Ka'ab berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kematian itu seperti pohon besar dan banyak durinya, anak keturunan Adam yang kuat kedua lengannya kemudian ia mencabut pohon besar dan banyak durinya tersebut”. Umar bin Khaththab pun menangis. [75])

Ketika Amr bin Al-Ash hendak meninggal dunia, anaknya bertanya kepadanya tentang ciri-ciri kematian kemudian Amr bin Al-Ash menjawab, "Demi Allah, kedua lambungku sepertinya berada di bangku, aku seperti bernafas dari lubang jarum, dan sepertinya ada ranting berduri ditarik dari kedua kakiku hingga kepalaku”. [76])

Dikatakan kepada seseorang yang hendak meninggal dunia, "Bagaimana engkau mendapati dirimu?" Orang tersebut berkata, "Aku mendapati diriku ditarik keras, sepertinya banyak pisau besar di hatiku, dan hatiku menjadi seperti tungku yang dibakar hingga apinya menyala-nyala”.

Dikatakan kepada seseorang, "Bagaimana engkau mendapati dirimu?" Orang tersebut berkata, "Aku mendapati diriku sepertinya langit-langit runtuh di atas bumi kemudian mengenai diriku dan aku mendapati diriku seperti keluar dari lubang jarum”.

Jika kematian dengan sakit luar biasa seperti itu, Allah mewajibkannya kepada seluruh hamba-Nya, kematian merupakan keniscayaan bagi mereka, dan Allah Mahatinggi dari tidak suka menyakiti dan menyusahkan orang Mukmin, maka Allah menamakan hal tersebut sebagai keragu-raguan terkait dengan orang Mukmin. Sedang para nabi, mereka tidak meninggal dunia hingga diberi hak untuk memilih.

Al-Hasan berkata, "Karena para nabi juga benci kematian, maka Allah memudahkan pertemuan dengan Allah (kematian) kepada mereka dan dengan apa saja yang mereka sukai; karunia atau kemuliaan, hingga nyawa salah seorang dari mereka dicabut dari tubuhnya sedang ia sendiri senang dengannya karena berbagai kenikmatan telah dijelmakan kepadanya”.

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata, "Aku tidak pernah iri lagi kepada seseorang yang kematian dimudahkan baginya setelah aku melihat beratnya kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam". [77])

Aisyah Radhiyallahu Anha juga berkata, "Di samping Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terdapat gelas berisi air kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memasukkan tangan ke gelas tersebut lalu mengusap wajah beliau dengan air dari gelas tersebut sambil bersabda, 'Laa ilaaha illallah, sesungguhnya kematian mempunyai sekarat-sekarat”. [78])

Disebutkan di hadits mursal bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa,

"Ya Allah, Engkau mengambil nyawa dari di antara urat saraf, usus, dan kuku. Ya Allah, bantulah aku dalam kematian dan mudahkan kematian bagiku”. [79])

Sebagian generasi salaf senang diberi kesulitan pada saat kematiannya, seperti dikatakan Umar bin Abdul Aziz, "Aku tidak suka kalau sakaratul maut dimudahkan kepadaku, karena kematian adalah sesuatu paling akhir dihapus dari orang Mukmin”. [80])

An-Nakhai berkata, "Generasi salaf tidak suka diberi kemudahan ketika meninggal dunia”. [81])

Sebagian generasi salaf khawatir kalau diuji dengan beratnya kematian. Jika Allah berkehendak memudahkan kematian pada seorang hamba, Dia memudahkannya pada hamba tersebut. Di Shahih Al-Bukhari disebutkan hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya jika orang Mukmin didatangi kematian, maka ia diberi kabar gembira tentang keridhaan Allah dan kemuliaan-Nya, karenanya, tidak ada sesuatu yang paling ia sukai daripada apa yang ada di depannya. Ia pun senang bertemu Allah dan Allah pun senang bertemu dengannya”. [82])

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu berkata, "Jika malaikat pencabut nyawa datang untuk mencabut nyawa orang Mukmin, ia berkata kepada orang Mukmin tersebut, 'Sesungguhnya Tuhanmu kirim salam kepadamu'“.

Muhammad bin Ka'ab berkata, "Malaikat pencabut kematian berkata, 'As-Salaamu alaika, wahai wali Allah, sesungguhnya Allah kirim salam kepadamu'“. Kemudian Muhammad bin Ka'ab membaca firman Allah Ta'ala, '(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan berkata (kepada mereka), Salaamun alaikum, masuklah kalian ke surga disebabkan apa yang telah kalian kerjaka ". (An-Nahl: 32). [83]

Zaid bin Aslam Radhiyallahu Anhu berkata, "Para malaikat datang kepada orang Mukmin yang hendak meninggal dunia kemudian berkata kepadanya, 'Engkau jangan takut kepada kematian yang datang kepadamu - kemudian Allah menghilangkan ketakutannya -, jangan sedih terhadap dunia dan penghuninya, dan senanglah dengan surga'. Kemudian orang Mukmin tersebut meninggal dunia dalam keadaan telah mendapatkan kabar gembira”.

Al-Bazzar [84]) meriwayatkan hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

"Sesungguhnya Allah lebih kikir dengan kematian hamba-Nya yang Mukmin daripada kekikiran salah seorang dari kalian dengan hartanya yang baik hingga Dia mematikannya di atas ranjangnya”.

Zaid bin Aslam Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

"Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang merupakan orang-orang yang mendapat afiat di dunia dan akhirat”. [85])

Tsabit Al-Bunani berkata, "Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba Allah menjaga mereka di dunia dari pembunuhan dan kelaparan, memperpanjang usia mereka, memperbanyak rezki mereka, mematikan mereka di atas ranjang mereka, dan mencetak mereka dengan catakan para syuhada'“. [86])

Perkataan tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dan Ath-Thabrani dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak jalur yang dhaif. Di sebagian teksnya disebutkan,

'Sesungguhnya Allah mempunyai orang-orang khusus di antara makhluk-Nya Dia tidak menghendaki mereka mendapatkan musibah, menghidupkan mereka dalam keadaan mendapat afiat, mematikan mereka dalam keadaan mendapat afiat, dan memasukkan mereka ke surga dalam keadaan mendapat afiat". [87])

Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu dan lain-lain berkata, "Sesungguhnya kematian mendadak adalah keringanan bagi orang Mukmin”.

Abu Tsa'labah Al-Khasyani berkata, "Sungguh aku berharap kiranya Allah tidak mencekikku sebagaimana aku lihat kalian dicekik saat kematian”.

Pada suatu malam, Abu Tsa'labah Al-Khasyani berada di rumahnya kemudian orang-orang mendengar Abu Tsa'labah berseru, "Hai Abdurrahman," padahal Abdurrahman telah gugur sebagai syahid ketika ikut perang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah itu, Abu Tsa'labah pergi ke tempat shalat di rumahnya kemudian shalat dan nyawanya dicabut ketika ia sedang sujud.

Sejumlah generasi salaf meninggal dunia ketika mereka sedang sujud dalam shalat. Salah seorang dari mereka berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Aku tidak mati seperti kematian kalian, namun aku berdoa kemudian doaku dikabulkan”. Pada suatu hari orang tersebut duduk bersama sahabat-sahabatnya kemudian ia berkata, "Aku sambut panggilan-Mu," kemudian ia jatuh dalam keadaan meninggal dunia.

Salah seorang dari generasi salaf lainnya sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya kemudian mereka mendengar suara berbunyi, "Hai si Fulan, jawablah, demi Allah, inilah saat terakhirmu di dunia”. Orang tersebut meloncat sambil berkata, "Demi Allah, suara tadi adalah suara penggiring kematian”. Setelah itu, orang tersebut berpisah dengan sahabat-sahabat, mengucapkan salam kepada mereka, dan pergi menuju suara tadi, sambil berkata, "Salam untuk para nabi dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. Tiba-tiba, suara tersebut tidak terdengar lagi kemudian sahabat-sahabat orang itu menelusuri jejaknya dan mendapatinya telah meninggal dunia.

Salah seorang dari generasi salaf sedang duduk menulis di kertas kemudian meletakkan penanya dari tangannya sambil berkata, "Jika kematian kalian seperti ini, demi Allah, ini kematian yang baik”. Usai berkata seperti itu, ia jatuh dan meninggal dunia.

Salah seorang dari generasi salaf lainnya duduk menulis hadits kemudian meletakkan pena dari tangannya, menengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Allah kemudian meninggal dunia.

 



[1] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6502, Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/4, Al-Baihaqi di Az-Zuhdu hadits nomer 690 dan di As-Sunan 3/346, 10, 219, dan Al-Baghawi di Syarhus Sunnah hadits nomer 1248.

[2] Al-Hilali Abu Muhammad Al-Madani mantan budak Maimunah. Ia perawi tepercaya, mulia, orator, dan ahli ibadah. Banyak perawi meriwayatkan hadits darinya.

[3] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Auliya' hadits nomer 45, Imam Ahmad 6/256, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/5.

[4] Di Al-Kamil 5/1939.

[5] Di At-Tarikh Al-Kabir 6/58.

[6] Di Al-Ausath seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/269. Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Bazzar hadits nomer 3627 dan 3647 dari Muhammad bin Al-Mutsanna yang berkata Abu Amir berkata kepadaku, Abdul Wajid bin Maimun berkata kepadaku dari Urwah dari Aisyah. Tentang Abdul Wahid bin Maimun, Al-Bukhari berkata, "Haditsnya munkar”. Ad-Daruquthni dan lain-lain berkata, "Ia perawi dhaif”.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Baihaqi di Az-Zuhdu hadits nomer 692 dari jalur Abdul Wahid.

[7] Selain Ya'qub bin Mujahid, karena Al-Bukhari meriwayatkan haditsnya di Al-Adab Al-Mufrad.

[8] Di Al-Kabir hadits nomer 7880 dan As-Sulami di Al-Arbain Ash-Shufiyah hadits nomer 36. Hadits di atas dianggap dhaif oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342 dan Al-Hafidz Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 2/248.

[9] Di Al-Ilal 2/126-127.

[10] Hadits tersebur juga diisyaratkan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342 dan menganggap sanadnya dhaif.

[11] Di Al-Kabir hadits nomer 12719. Hadits tersebut dianggap dhaif oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342. Juga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/270. Ia berkata, "Di sanadnya terdapat perawi yang tidak aku ketahui”.

[12] Hadits tersebut juga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/270 dan berkata bahwa hadits tersebut diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Ausath. Al-Haitsami berkata, "Di sanadnya terdapat perawi Umar bin Sa'id Abu Hafsh Ad-Dimasyqi yang merupakan perawi dhaif”.

[13] Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 6/116 dari Ath-Thabrani. Abu Nu'aim berkata, "Hadits tersebut dhaif berasal dari Al-Auzai dari Abdah. Hadits tersebut juga diisyaratkan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342. Ia berkata”. Sanad hadits ini hasan gharib”.

[14] Baca Majmu'ul Fataawa 18/129.

[15] Hadits nomer 3989. Hadits tersebutjuga diriwayatkan Abu Nu'aim di al-Hilyah 1/5. Di sanadnya terdapat perawi Isa bin Abdurrahman bin Farwah Al-Anshari. Abu Hatim berkata, "Haditsnya munkar, dhaif, dan layak ditinggalkan”. Hadits tersebut juga dianggap dhaif oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342.

[16] Hal. 65.

[17] Hadits dhaif Dari Abdullah bin Al-Mughaffal, hadits tersebut diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3862, Imam Ahmad 4/87, 5/54-55, 57, dan Ibnu Hibban hadits nomer 7256.

[18] Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad di Zawaaiduz Zuhdi hal, 296.

[19] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Muslim hadits nomer 482, Abu Daud hadits nomer 875, dan An-Nasai 2/226.

[20] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 405.

[21] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2863 dari Al-Harits Al-Asy'ari. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih gharib”. Namun hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 2287. Takhrijnya secara lengkap, silahkan baca buku tersebut.

[22] Dari Ibnu Umar, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 893, Muslim hadits nomer 1839, Abu Daud hadits nomer 2928, dan At-Tirmidzi hadits nomer 1705. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits norner 4489.

[23] Hadits nomer 1827.

[24] Hadits nomer 1329. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 3/22, 55, Al-Baihaqi 10/88, dan Al-Baghawi hadits nomer 2472. Di sanadnya terdapat perawi Athiyah Al-Aufi yang merupakan perawi dhaif. Kendati demikian, At-Tirmidzi berkata”. Hadits ini hasan gharib”.

[25] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 2/302, Al-Bukhari hadits nomer 3010, Abu Daud hadits nomer 2677, dan Ibnu Hibban hadits nomer 134.

[26] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3490 dari jalur Abdullah bin Rabi'ah Ad­-imasyqi dari Abu Idris Al-Khaulani dari Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Di antara doa Daud Alaihis-Salam ialah dan seterusnya”. Abdullah bin Rabi'ah Ad-Dimasyqi tidak diketahui identitasnya. Kendati demikian, hadits tersebut dianggap hasan oleh At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Hakim 2/433 tapi ditolak Ad-Dzahabi yang berkata, "Bahkan tentang Abdullah bin Rabi'ah Ad-Dimasyqi ini, Imam Ahmad berkata, 'Hadits-haditsnya palsu'“.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/226-227 dari jalur tersebut dari Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa, "Ya Allah, aku meminta cinta-Mu kepada-Mu dan seterusnya", tanpa menyebutkan bahwa doa tersebut doa Nabi Daud Alaihis-Salam.

Imam Ahmad meriwayatkan di Az-Zuhdu hal. 70 dari Imam Malik yang berkata, Nabi Daud Alaihis-Salam berkata, "Ya Allah, jadikan cinta-Mu sebagai sesuatu yang paling aku cintai daripada diriku, telingaku, mataku, keluargaku, dan air segar”.

[27] Penggalan dari hadits Muadz bin Jabal yang panjang. Hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 5/243, At-Tirmidzi hadits nomer 3235, Ath-Thabrani di Al-Kabir 20/216, Ibnu Khuzaimah di At-Tauhid hal. 218-219, dan Al-Hakim 1/521. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih. Aku pernah bertanya kepada Al-Bukhari tentang hadits ini kemudian ia berkata, 'Hadits ini hasan shahih'“.

[28] Dari Abdullah bin Yazid AI-Khathami, hadits tersebut diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hal. 430 dan sanadnya shahih, namun dianggap hasan oleh At-Tirmidzi hadits nomer 3491.

[29] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/282 dari Al-Haitsam bin Malik Ath-Thai. Hadits ini mursal.

[30] Diriwayatkan Al-Hakim di Al-Mustadruk 2/441. Ia menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[31] Hadits nomer 2911 dari jalur Bakr bin Khunais dari Laits bin Abu Sulaim dari Zaid bin Artha'ah dari Abu Umamah. Sanadnya seperti dhaif karena dhaif-nya Bakr bin Khunais dan Laits bin Abu Sulaim. Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari Jubair bin Nufair secara mursal. Di samping hadits tersebut mursal, di sanadnya terdapat perawi AI-Ala' bin Al-Harits yang dituduh kacau. Sanad hadits tersebut disambung oleh Al-Hakim 2/441 dari jalur Abdullah bin Shalih yang merupakan perawi dhaif dari Muawiyah bin Shalih dari Al-Ala' bin Al-Harits dari Zaid bin Artha'ah dari Jubair bin Nufair dari Uqbah bin Amir Al-Juhani.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Hakim 1/555 dari jalur Ahmad bin Hanbal dari Abdurrahman bin Mahdi dari Muawiyah bin Shalih dari Al-Ala' bin Al-Harits dari Zaid bin Artha'ah dari Jubair bin Nufair dari Abu Dzar Al-Ghifari. Di kedua sanad tersebut terdapat perawi Al-Ala' bin Al-Harits yang dituduh kacau.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 5/286 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 8658. Namun sanadnya juga dhaif.

[32] Diriwayatkan Imam Ahmad di Zawaaiduz Zuhdi hal. 128. Dari jalur Imam Ahmad, hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 7/300 dengan sanad terputus.

[33] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 8658. Al-Haitsami berkata di Majmauz Zawaid 7/165, "Para perawinya adalah para perawi tepercaya”.

[34] Hadits nomer 3059. Sanadnya diangggap hasan oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/74.

[35] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 2/251, Al-Bukhari hadits nomer 7505, Muslim hadits nomer 2675, dan Ibnu Hibban hadits nomer 811 dan 812.

[36] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan Imam Ahmad 2/540 dan Ibnu Majah hadits nomer 3792. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 815 dan Al-Hakim 1/496 dengan disetujui Adz-Dzahabi.

[37] Dari Abu Musa Al-Asy'ari, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2992, Muslim hadits nomer 2704, Abu Daud hadits nomer 1526, dan At-Tirmidzi hadits nomer 3374.

[38] Diriwayatkan Abu Daud hadits nomer 3527 dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/5 dari jalur Imarah bin Al-Qa'qa' dari Abu Zur'ah bin Amr bin Jarir dari Umar bin Khaththab. Perawi sanad tersebut adalah para perawi tepercaya, hanya saja sanadnya terputus, karena Abu Zur'ah tidak pernah bertemu Umar bin Khaththab dan riwayat darinya adalah mursal.

Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Hibban hadits nomer 573 dari jalur Imarah bin Al-Qa'qa' dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah. Sanadnya shahih dan mempunyai hadits-hadits penguat.

[39] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/343. Hadits tersebut dihasankan Al-Hafidz Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 4/21.

[40] 3/430. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Aufiya' hadits nomer 19 dan disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 1/89. Al-Haitsami berkata, "Di sanadnya terdapat Rusydin bin Sa'ad yang merupakan perawi dhaif dan sanadnya terputus”.

[41] Thabaqaatush Shufiyah, As-Sulami, hal. 351.

[42] Hal. 74. Atsar tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Aufiya' hadits nomer 37 dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/222 dari Zaid bin Aslam.

[43] Disebutkan Ibnu Taimiyah di Al-Fatawa 18/122, As-Sakhawi di Al-Maqashid Al-Hasanah hadits nomer 990, Az-Zarkasyi di At-Tadzkiratu fil Ahaaditsil Masyhurah hal. 135, Al-Fatani di Tadzkiratul Maudhu'at hal. 30, dan As-Suyuthi di Ad-Durrul Mantsurah hadits nomer 362. Para ulama tersebut berkata bahwa atsar di atas tidak mempunyai pijakan dari Nabi Shallallahu Alnihi wa Sallam dan merupakan israiliyat.

[44] Seperti terlihat di Sirah Ibnu Hisyam 2/146-147. Dari jalur Ibnu Ishaq, hadits tersebut diriwayatkan Al-Baihaqi di Dalaailun Nubuwwah 2/525. Hadits tersebut mursal.

[45] Disebutkan Ibnu AI-Jauzi di Manaqibu Umar bin Khaththab hal, 246.

[46] Diriwayatkan Al-Hakim 4/320 dari Ibnu Mas'ud. Di sanadnya terdapat perawi Ishaq bin Bisyr alias Abu Hudzaifah yang dianggap sebagai pendusta oleh Ibnu Al-Madini dan Ad-Daruquthni. Di sanadnya juga terdapat perawi Muqatil bin Sulaiman yang rusak. Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/48 dari Anas bin Malik dan di sanadnya terdapat perawi Wahb bin Rasyid. Tentang dirinya, Abu Hatim berkata, "Haditsnya munkar dan meriwayatkan hadits-hadits batil”. Ibnu Hibban berkata, "Tidak boleh berhujjah dengannya dalam kondisi apa pun”. Di sanadnya juga terdapat perawi Farqad As-Subkhi yang merupakan perawi dhaif. Baca Al-La'ali' Al-Mashnu'ah 2/316-317.

[47] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2703, Muslim hadits nomer 1625, Abu Daud hadits nomer 4595, An-Nasai 8/28, dan Ibnu Majah hadits nomer 2649. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6491.

[48] 3/292. Al-Hakim menshahihkan hadits di atas dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadits di atas juga diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3854 dari jalur lain dari Anas bin Malik dengan teks, "Betapa banyak orang yang rambutnya kusut, berdebu, mempunyai dua pakaian usang, dan tidak diperhatikan, namun seandainya ia bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti mengabulkannya, di antara mereka adalah Al-Barra' bin Azib”. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih dengan jalur seperti itu”.

[49] Di Mujabud Dakwah hadits nomer 22.

[50] Baca Siyaru A'laamin Nubala' 1/112.

[51] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 755.

[52] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Mujabud Dakwah hadits nomer 36 dan At-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 307. Kisah tersebut juga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 9/154 dari riwayat Ath-Thabrani. Al-Haitsami berkata, "Para perawinya adalah para perawi shahih”.

[53] Diriwayatkan Muslim hadits nomer 1610.

[54] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/7-8 dan Ibnu Abu Ad-Dunya di Mujabud Dakwah hadits nomer 40.

[55] Diriwayatkan Ibnu Sa'ad di Ath-Thabaqaat 7/21 dan Ibnu Abu Ad-Dunya di Mujabud Dakwah hadits nomer 44.

[56] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Aliya' hadits nomer 42. Sanadnya dhaif.

[57] Kisah tersebut ada di Mujabud Dakwah hadits nomer 84 dan Al-Hilyah 2/129.

[58] Mujabud Dakwah hadits nomer 85 dan Al-Hilyah 2/129.

[59] Mujabud Dakwah hadits nomer 92.

[60] Ibid., nomer 93.

[61] Ibid., hadits nomer 55.

[62] Ibid., hadits nomer 56.

[63] Ibid., hadits nomer 67 dan Hilyatul Auliya' 3/151.

[64] Mujabud Dakwah hadits nomer 96.

[65] Ibid., nomer 97.

[66] Ibid., nomer 99 dan Al-Hilyah 6/150.

[67] Majabud Dakwah hadits nomer 124.

[68] Ibid., nomer 95.

[69] Ibid., nomer 49.

[70] Al-Auliya', Ibnu Abu Ad-Dunya hadits nomer 63 dan Mujabud Dakwah hadits nomer 131.

[71] Doa seperti disebutkan di hadits shahih adalah ibadah. Di antara petunjuk Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah hendaknya seseorang berdoa kepada Allah untuk menghilangkan musibah, meringankannya, menyirnakan galau dan sedih, serta menolak bala'. Jadi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih berhak diikuti dan dicontoh.

[72] Mujabud Dakwah hadits nomer 122.

[73] Di Al-Ausath seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/264. Al-Haitsami berkata, "Para perawinya adalah para perawi shahih”. Hal yang sama dikatakan Al-Hafidz Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 4/152. Hadits tersebut juga dishahihkan Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul Hadits 3/277.

[74] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Ausath hal. 25 dari Majmaul Bahrain. Hadits tersebut juga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/264. Ia berkata, "Para perawi hadits tersebut adalah para perawi shahih”. Atau seperti yang ia katakan. Namun guru Ath-Thabrani, Muhammad bin Ibrahim Al-Assal, adalah perawi tepercaya dan Salim bin Abu Al-Ja'du tidak mendengar hadits tersebut dari Tsauban seperti dikatakan Imam Ahmad, Al-Bukhari, dan Abu Hatim.

[75] Al-Hilyah 5/365.

[76] Thabaqaatu Ibnu Sa'ad 4/260.

[77] Dengan teks seperti itu diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 979. namun sanadnya dhaif. Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4446, An-Nasai 4/6, dan Imam Ahmad 6/64, 77 dengan teks, "Aku tidak suka beratnya kematian bagi seseorang setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam”.

[78] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6510, At-Tirmidzi hadits nomer 978, Ibnu Majah hadits nomer 1623, dan Imam Ahmad 6/64.

[79] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Dzikrul Maut dari Thu'mah bin Ghailan Al-Ja'fi. Al-Hafidz Al-Iraqi berkata di Takhrijul Ihya' 4/462, "Hadits tersebut mu'dhal, karena sahabat dan tabi'in tidak disebutkan di sanadnya”.

[80] Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 298. Dari jalur Imam Ahmad, hadits tersebut diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 5/317

[81] Al-Hilyah 4/232.

[82] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6507 dari Aisyah.

[83] Diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari di Jamiul Bayan 14/101.

[84] Hadits nomer 42. Di sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyad bin An'am Al-Ifriqi yang merupakan perawi dhaif karena hapalannya jelek. Ia juga dianggap sebagai perawi dhaif oleh Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 1/83.

[85] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Auliya' hadits nomer 24. Hadits tersebut mursal.

[86] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Auliya' hadits nomer 5.

[87] Diriwayatkan dengan teks seperti itu oleh Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Auliya' hadits nomer 3 dari Anas bin Malik. Sanadnya sangat dhaif. Hadits yang sama diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dari Ibnu Umar, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 13425, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/6. Hadits tersebut juga dhaif. Hadits tersebutjuga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/265-266. Ia berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir dan Al-Ausath. Di sanadnya terdapat perawi Muslim bin Abdullah Al-Himshi yang tidak aku kenal dan dianggap tidak diketahui identitasnya oleh Adz-Dzahabi, namun perawi lainnya adalah perawi yang dianggap sebagai perawi tepercaya”. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ali bin Al-Ja'du di Musnad-nya dari Sa'id bin Zaid dan di sanadnya terdapat perawi Adi bin Al-Fadhl yang merupakan perawi yang tidak bisa dipakai sebagai hujjah.

No comments:

Post a Comment

Hadits Arbain 40: Jangan Menunggu