Hadits Ketiga Puluh Delapan
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا، فَقَدْ آذَنْتُهُ
بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا
افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَلَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ
حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ،
وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ
الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ
اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ» ،. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari Abu
Hurairah Radhiyallahu Anhu yang berkata, Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah Ta'ala
berfirman, Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat
kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak
henti-henti-Nya mendekat kepada-Ku
dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya yang ia
gunakan untuk mendengar, menjadi
matanya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan, jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku
pasti melindunginya". (Diriwayatkan
Al-Bukhari). [1]
Hadits bab di
atas hanya diriwayatkan Al-Bukhari tanpa penulis-penulis hadits lainnya.
Al-Bukhari meriwayatkannya dari Muhammad bin Utsman bin Karamah yang berkata, Khalid bin Makhlad berkata kepadaku, Sulaiman bin
Bilal berkata kepadaku, Syuraik bin Abdullah bin Abu Namir berkata
kepadaku dari Atha' dari Abu Hurairah dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian Al-Bukhari menyebutkan hadits di atas dan menambahkan di
akhirnya,
'Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti
ragu-raguku terhadap jiwa orang Mukmin yang benci kematian dan Aku tidak
suka menyusahkannya'.
Hadits di atas termasuk keanehan Shahih Al-Bukhari dan hanya
diriwayatkan Ibnu Karamah dari Khalid. Hadits tersebut tidak ada
di Musnad Imam Ahmad, padahal Khalid bin Makhlad Al-Qathuwani juga dibicarakan
Imam Ahmad dan lain-lain. Mereka berkata, "Ia mempunyai
hadits-hadits munkar”. Atha' di sanadnya ada yang mengatakan bahwa ia adalah
Ibnu Abu Rabah. Ada lagi yang mengatakan bahwa ia adalah Ibnu Yasar. [2]) Di
salah satu naskah Shahih Al-Bukhari tertulis seperti itu.
Hadits di atas diriwayatkan dari banyak jalur yang semuanya memiliki catatan.
Hadits tersebut diriwayatkan Abdul Wahid bin Maimun bin Abu Hamzah mantan
budak Urwah bin Az-Zubair dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu
Anha dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"(Allah Ta'ala berfirman"; 'Barangsiapa memusuhi wali-Ku,
sungguh ia menghalalkan peperangan-Ku. Hamba-Ku tidak mendekat
kepada-Ku (dengan sesuatu) seperti menunaikan
kewajiban-kewajiban-Ku Sesungguhnya hamba-Ku mendekat kepada-Ku
dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku
telah mencintainya, Aku menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat,
menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, menjadi kakinya yang ia
gunakan untuk berjalan, menjadi hatinya (akalnya) yang ia gunakan untuk
berpikir, dan menjadi lidahnya yang ia gunakan untuk berkata. Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku
pasti mengabulkan doanya. Jika ia meminta kepada-Ku,
Aku pasti memberinya. Aku tidak pernah ragu-ragu dalam sesuatu yang Aku
kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang kematiannya. Ini karena ia tidak suka
kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya”.
(Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dan lain-lain). [3]
Hadits semakna
juga diriwayatkan Imam Ahmad.
Ibnu Adi [4]) menyebutkan bahwa hadits di atas diriwayatkan sendirian oleh Abdul Wahid dari Urwah. Tentang Abdul Wahid,
Al-Bukhari [5])
berkata, "Haditsnya munkar”.
Namun hadits tersebut diriwayatkan Ath-Thabrani [6]) yang
berkata, Harun bin Kamil berkata
kepadaku, Sa'id bin Abu Maryam berkata kepadaku, Ibrahim bin Suwaid
Al-Madani berkata kepadaku, Abu Hazrah alias Ya'qub bin Mujahid berkata kepadaku, Urwah menjelaskan kepadaku dari
Aisyah Radhiyallahu Anha dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian Ath-Thabrani menyebutkan hadits tersebut. Sanad tersebut baik dan seluruh
perawinya adalah para perawi tepercaya disebutkan di Shahih Al-Bukhari [7]) kecuali guru Ath-Thabrani yang sampai sekarang identitasnya tidak aku ketahui. Barangkali perawi
berkata, Abu Hamzah berkata kepadaku
maksudnya Abdul Wahid bin Maimun kemudian terbayang di telinga pendengar bahwa ia berkata Abu Hazrah. Ia
menyebutkan namanya (Abu Hamzah) dari
dirinya sendiri berdasarkan dugaannya tersebut, wallahu a'lam.
Ath-Thabrani [8])
dan lain-lain meriwayatkan hadits dari riwayat Utsman bin Abu Al-Atikah dari Ali bin Yazid dari Al-Qasim
dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Allah Azza wa Jalla berfirman, 'Barangsiapa menghina wali-Ku,
sungguh ia menantang-Ku untuk berperang. Hai anak keturunan Adam,
sesungguhnya engkau tidak bisa mendapatkan apa saja yang ada di sisi-Ku kecuali
dengan menunaikan
apa yang Aku wajibkan kepadamu. Hamba-Ku selalu mencari cinta kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi hatinya
(akalnya) yang ia gunakan untuk
berpikir, menjadi lidahnya yang ia gunakan untuk berbicara dengannya, dan menjadi matanya yang ia gunakan untuk
melihat. Jika ia berdoa kepada-Ku,
Aku mengabulkan doanya. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku memberinya. jika ia meminta pertolongan kepada-Ku,
Aku menolongnya. Ibadah hamba-Ku
yang paling Aku sukai ialah nasihat”.
Utsman dan Ali bin Zaid adalah perawi dhaif. Abu Hatim Ar-Razi [9]) berkata
tentang hadits tersebut, "Hadits ini sangat munkar”.
Hadits tersebut
juga diriwayatkan dari Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan sanad dhaif oleh Al-Ismaili di Musnad Ali. [10])
Hadits tersebut
juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu
Anhuma dengan sanad dhaif oleh
Ath-Thabrani [11]) dan di
dalamnya terdapat penambahan. Hadits
tersebut juga kami riwayatkan dari jalur lain dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma, namun hadits
tersebut juga dhaif.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani dan lain-lain dari
Al-Hasan bin Yahya Al-Khasyani dari Shadqah bin Abdullah
Ad-Dimasyqi dari Hisyam Al-Kinani
dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari Malaikat Jibril dari Allah Ta'ala yang berfirman,
'Barangsiapa menghina wali-Ku, sungguh ia menantang-Ku untuk berperang. Aku
pernah tidak ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku
tentang pencabutan nyawa orang Mukmin. Ia benci kematian
dan Aku tidak suka menyusahkannya dan kematian wajib terjadi padanya.
Di antara hamba hamba-Ku yang beriman terdapat hamba yang menginginkan pintu ibadah
kemudian Aku menahan pintu ibadah tersebut agar
ia tidak dimasuki ujub yang membuatnya rusak. Hamba-Ku tidak mendekat
kepada-Ku dengan seperti menunaikan apa yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya
mengerjakan ibadah-ibadah sunnah
kepada-Ku hingga Aku mencintainya. Barangsiapa telah Aku cintai, Aku menjadi telinga, mata, tangan, dan pendukung
baginya. Ia berdoa kepada-Ku kemudian
Aku mengabulkan doanya. Ia meminta kepada-Ku kemudian Aku memberinya. Ia memberi nasihat untuk-Ku kemudian Aku
memberi nasihat kepadanya. Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada hamba
yang imannya tidak bisa diperbaiki kecuali dengan kekayaan. Jika Aku membuatnya
miskin, ia dibuat rusak olehnya. Diantara hamba-hamba-Ku ada hamba yang imannya tidak bisa diperbaiki kecuali oleh kemiskinan.
Jika Aku melapangkan rezki baginya, ia dibuat rusak olehnya. Sesungguhnya di antara hamba-hamba-Ku ada hamba yang imannya
tidak bisa diperbaiki kecuali oleh
kesehatan. Jika Aku membuatnya sakit, ia dibuat rusak olehnya. Di antara hamba-hamba-Ku terdapat hamba yang
imannya tidak bisa diperbaiki kecuali
oleh sakit. Jika Aku membuatnya sehat, ia dibuat rusak olehnya. Aku mengatur
hamba-hamba-Ku sesuai dengan pengetahuan-Ku tentang apa yang ada di hati
mereka. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui dan Maha Mengerti".
Al-Khasyani dan Shadqah adalah perawi dhaif, sedang
Hisyam tidak diketahui. Ibnu Muin pernah
ditanya tentang Hisyam; siapa dia? Ibnu Muin menjawab, "Ia tidak ada apa-apanya”. Al-Bazzar [12]) meriwayatkan sebagian hadits di atas dari jalur Shadqah dari Abdul Karim Al-Jazri dari Anas
bin Malik Radhiyallahu Anhu.
Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Al-Auzai dari Abdah bin Abu Lubabah
yang berkata, Zirr bin Hubaisy berkata kepadaku, aku dengar Hudzaifah Radhiyallahu
Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah Ta'ala mewahyukan kepadaku, 'Hai saudara para
rasul, hai saudara para pemberi peringatan, peringatkan kaummu agar mereka
tidak memasuki salah satu rumah-Ku dalam keadaan seseorang dari mereka
memiliki madzlamah (barang yang dirampas dari orang lain). Sungguh
Aku melaknatnya selama ia berdiri di depan-Ku dalam keadaan shalat hingga ia
mengembalikan madzlamah tersebut kepada pemiliknya kemudian Aku menjadi
telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, ia menjadi wali-wali-Ku dan orang-orang pilihan-Ku, dan menjadi tetangga-Ku
bersama para nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada' di surga". [13])
Sanad hadits tersebut baik, namun sangat gharib (dhaif).
Kita kembali kepada hadits Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu yang diriwayatkan
Al-Bukhari. Ada yang mengatakan bahwa hadits tersebut adalah hadits termulia tentang wali-wali. [14])
Firman Allah Azza wa Jalla, "Barangsiapa memusuhi wali-Ku,
sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya",
maksudnya, sungguh Aku mengumumkan kepadanya bahwa Aku memeranginya,
karena ia memerangi-Ku dengan memusuhi wali-wali-Ku. Oleh karena itu,
disebutkan di hadits Aisyah Radhiyallahu Anha, "Sungguh
ia menghalalkan peperangan-Ku”. Di hadits
Abu Umamah dan lain-lain disebutkan, 'Sungguh ia menantang-Ku untuk berperang”. Ibnu
Majah [15]) meriwayatkan hadits dengan sanad dhaif dari
Muadz bin Jabal Radhiyallahu
Anhu yang mendengar Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya sedikit riya' itu syirik. Barangsiapa memusuhi wali Allah, sungguh
ia menantang Allah berperang.
Sesungguhnya Allah mencintai orang
baik-baik yang bertakwa dan tidak terkenal yang
jika pergi maka tidak dicari, Jika hadir
maka tidak dipanggil dan tidak dikenal. Hati
mereka adalah lampu-lampu petunjuk;
mereka keluar dari setiap kesulitan yang gelap”.
Jadi, wali-wali Allah wajib ditemani dan haram dimusuhi, sebagaimana musuh-musuh Allah wajib
dimusuhi dan haram ditemani. Allah Ta'ala
berfirman,
"Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh-musuh kalian
menjadi teman-teman setia”. (Al-Mumtahanah: 1).
Allah Ta'ala
juga berfirman,
"Sesungguhnya
wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman yang
mendirikan shalat dan menunaikan zakat,
seraya mereka tunduk (kepada Allah).
Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya
dan orang-orang yang beriman menjadi walinya, maka sesungguhnya pengikut Allah
itulah yang pasti menang'.
(Al-Maidah: 55-56).
Allah Ta'ala menjelaskan bahwa sifat orang-orang yang Dia cintai
dan mereka mencintai-Nya ialah mereka rendah hati terhadap kaum
Mukminin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir. Imam Ahmad meriwayatkan
hadits di Az-Zuhdu
[16]) dengan sanadnya dari Wahb bin Munabbih yang
berkata, "Sesungguhnya Allah Ta'ala
berfirman kepada Musa Alaihis-Salam ketika berdialog dengan beliau, 'Ketahuilah
bahwa barangsiapa menghina wali-Ku atau menakut-nakutinya, sungguh ia menantang-Ku berperang, mendahului-Ku,
memperlihatkan dirinya, dan mengajak-Ku
kepada perang, padahal Aku yang paling cepat menolong wali-wali-Ku. Apakah
orang yang memerangi-Ku mengira dapat berdiri kepada-Ku? Apakah orang yang sombong kepada-Ku mengira dapat
melemahkan-Ku? Apakah orang yang
menantang-Ku mengira dapat mendahului-Ku atau lolos dari-Ku? Bagaimana tidak,
Aku pembalas mereka di dunia dan akhirat dan Aku tidak menyerahkan pertolongan mereka kepada selain Aku?"
Ketahuilah bahwa pada hakikatnya seluruh kemaksiatan adalah peperangan
kepada Allah Azza wa Jalla. Al-Hasan berkata, "Hai anak
keturunan Adam, apakah engkau mempunyai kekuatan untuk memerangi Allah? Karena
sesungguhnya barangsiapa
bermaksiat kepada Allah, sungguh ia memerangi-Nya”. Jika dosa semakin besar, maka sangat memerangi Allah. Oleh
karena itu, Allah Ta'ala menamakan
pemakan riba dan para perampok di jalan sebagai orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya, karena besarnya
kedzaliman mereka terhadap hamba-hamba-Nya
dan ulah mereka membuat kerusakan di negeri-Nya. Begitu juga memusuhi wali-wali
Allah, karena Allah menolong wali-wali-Nya, mencintai dan mendukung
mereka. Jadi, barangsiapa memusuhi mereka, sungguh ia memusuhi Allah dan memerangi-Nya. Disebutkan di hadits dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"(Takutlah) Allah. (Takutlah) Allah terhadap sahabat-sahabatku.
janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran. Barangsiapa menyakiti
mereka, sungguh ia menyakitiku dan barangsiapa menyakitiku maka
ia menyakiti Allah. Barangsiapa menyakiti Allah, Dia nyaris
menyiksanya”. (Diriwayatkan At-Tirmidzi dan lain-lain). [17]
Firman Allah Ta'ala,
"Hamba-Ku tidak henti-henti-Nya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya”. Setelah
Allah menyebutkan
bahwa sikap memusuhi wali-wali-Nya adalah bentuk peperangan kepada-Nya, Dia menjelaskan sifat wali-wali-Nya
yang haram dimusuhi dan wajib ditemani. Untuk itu, Dia menyebutkan
sarana taqarrub kepada-Nya. Asal makna al-wilayah
(kewalian) ialah dekat dan asal
makna al-adawah (permusuhan) ialah jauh. Jadi, wali-wali Allah ialah orang-orang yang mendekat (taqarrub)
kepada Allah dengan apa saja yang
membuat mereka dekat kepada-Nya dan musuh-musuh Allah ialah orang-orang dijauhkan dari-Nya karena perbuatan-perbuatan
mereka yang menghendaki pengusiran
mereka dan pengasingan mereka dari-Nya. Allah membagi wali-wali-Nya yang
dekat ke dalam dua kelompok;
1.
Hamba yang mendekat kepada-Nya
dengan menunaikan ibadah-ibadah wajib, termasuk di dalamnya pengalaman
kewajiban-kewajiban dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan, karena itu semua
termasuk amalan-amalan yang diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya.
2.
Hamba yang mendekatkan diri kepada
Allah setelah ibadah-ibadah wajib dengan menunaikan ibadah-ibadah
sunnah. Dengan demikian, terlihatlah bahwa tidak ada jalan yang
mengantarkan dekat kepada Allah Ta'ala, kewalian-Nya,
dan kecintaan-Nya selain taat kepada-Nya yang diwajibkan melalui lisan
Rasul-Nya. Jadi, barangsiapa mengaku mendapatkan kewalian Allah, dekat
dengan-Nya, dan cinta kepada-Nya, namun tidak dengan jalan tersebut, jelaslah
bahwa ia bohong dalam pengakuannya, seperti yang terjadi pada orang-orang
musyrikin yang mendekatkan kepada Allah dengan cara menyembah
tuhan-tuhan selain Allah yang mereka sembah, seperti dikisahkan
Allah tentang mereka bahwa mereka berkata,
"Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. (Az-Zumar: 3).
Atau seperti yang dikisahkan Allah tentang orang-orang Yahudi dan
Kristen bahwa mereka berkata,
"Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. (Al-Maidah:
18).
Padahal mereka terus-menerus mendustakan Rasul-rasul-Nya, mengerjakan larangan-larangan-Nya,
dan meninggalkan kewajiban-kewajiban-Nya.
Oleh karena itu, Allah Ta'ala menyebutkan pada hadits di atas bahwa wali-wali-Nya terdiri dari dua tingkatan;
1.
Orang-orang yang mendekat
kepada-Nya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban. Ini tingkatan orang-orang
pertengahan, yaitu orang-orang golongan kanan. Menunaikan kewajiban-kewajiban adalah
perbuatan yang paling baik, seperti dikatakan Umar bin Khaththab Radhiyallahu
Anhu, "Perbuatan terbaik ialah menunaikan apa saja yang
diwajibkan Allah, menjauhi apa saja yang diharamkan-Nya, dan niat yang
jujur terhadap apa saja yang ada di sisi Allah Azza wa
jalla”. Umar bin Abdul Aziz berkata di khutbahnya, "Ibadah
terbaik ialah menunaikan ibadah-ibadah wajib dan menjauhi hal-hal yang diharamkan". [18]) Itu
karena Allah mewajibkan ibadah-ibadah
wajib kepada hamba-hamba-Nya untuk mendekatkan mereka kepada-Nya dan
membuat mereka mendapatkan keridhaan dan rahmat-Nya. Ibadah wajib oleh badan
untuk mendekatkan seorang hamba kepada Allah yang
paling baik ialah shalat, seperti difirmankan Allah,
"Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan)“. (Al-Alaq: 19).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Saat hamba terdekat dengan Allah ialah ketika ia sujud”. [19])
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga
bersabda,
'Jika salah seorang dari kalian shalat, ia bermunajat kepada Tuhannya
atau Tuhannya ada di antara dirinya dengan kiblat”. [20])
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga
bersabda,
"Sesungguhnya
Allah menghadapkan wajah-Nya untuk wajah hamba-Nya di shalatnya selagi ia tidak menoleh”. [21])
Di antara ibadah-ibadah wajib yang mendekatkan kepada Allah ialah keadilan
pemimpin dalam kepemimpinannya; kepemimpinannya umum seperti
penguasa atau khusus seperti keadilan seseorang terhadap keluarga dan
anaknya, seperti disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,
"Setiap dari kalian adalah pemimpin dan setiap dari kalian ditanya
tentang kepemimpinannya”. [22])
Di Shahih
Muslim [23]) disebutkan hadits dari Abdullah bin Amr Radhiyallahu
Anhuma dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah berada di atas
mimbar-mimbar dari cahaya di atas Tangan Kanan Allah - dan
keduanya Tangan-Nya adalah kanan -, yaitu orang-orang
yang adil terhadap hukum mereka, keluarga mereka, dan apa saja yang diamanahkan kepada mereka”.
Di At-Tirmidzi [24]) disebutkan hadits dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya hamba yang paling dicintai Allah pada Hari Kiamat dan paling
dekat duduknya dengan-Nya ialah pemimpin yang adil”.
2.
Tingkatan orang-orang yang dahulu dan
dekat, yaitu orang-orang yang mendekat kepada Allah dengan ibadah-ibadah wajib
kemudian bersungguh-sungguh
mengerjakan ibadah-ibadah sunnah dan menjaga diri dari hal-hal yang makruh dengan sikap wara’: Sikap seperti itu menyebabkan seorang hamba dicintai Allah, seperti difirmankan Allah, "Hamba-Ku tidak henti-henti-Nya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah
sunnah hingga Aku mencintainya”. Jadi,
barangsiapa dicintai Allah, maka Allah menganugerahkan cinta-Nya, taat kepada-Nya, sibuk berdzikir kepada-Nya, dan melayani-Nya. Itu semua menyebabkannya dekat dengan
Allah dan terhormat di sisi-Nya,
seperti difirmankan Allah Ta'ala,
"Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian murtad
dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum
yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang
bersikap lemah-lembut terhadap orang yang Mukmin, yang bersikap keras
terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan
Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang
suka mencela; itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa ,yang dikehendaki-Nya dan
Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui”. (Al-Maidah: 54).
Di ayat tersebut terdapat sinyal bahwa barangsiapa berpaling dari
mencintai Kami dan mendekat kepada Kami, maka Kami tidak peduli dan
Kami menggantinya dengan orang-orang yang lebih
layak menerima pemberian ini. Jadi barangsiapa berpaling dari Allah, ia tidak mempunyai
pengganti dari Allah
sedang Allah mempunyai banyak pengganti untuknya. Dikatakan pada syair,
"Aku tidak mempunyai kesibukan kecuali Dia
Hatiku yang suka mencela tidak berpaling dari mencintai-Nya
Apa yang bisa aku perbuat jika cita-cita berpaling dan gagal?
Ada pengganti
dariku sedang aku tidak mempunyai pengganti dari-Nya”.
Di salah satu atsar disebutkan bahwa Allah Azza wa
Jalla berfirman,
"Hai anak keturunan Adam, carilah Aku,
niscaya engkau mendapatkan-Ku. Jika engkau telah mendapatkan-Ku, engkau
mendapatkan segala hal. Jika Aku meninggalkanmu,
engkau ditinggalkan segala hal. Aku lebih mencintaimu daripada segala hal”.
Dzun Nun selalu
melantunkan berulang-ulang bait-bait syair berikut,
"Carilah untuk kalian
Seperti sesuatu yang telah aku dapatkan
Aku telah mendapatkan rahmat untukku
Mencintainya tidak membuat lelah
Jika aku menjauh, Dia mendekat kepadaku
Atau jika aku mendekat pada-Nya, Dia mendekat”.
Barangsiapa ditinggalkan Allah kendati ia mendapatkan surga beserta isinya, ia
tetap menjadi orang yang rugi. Bagaimana jika ia hanya mendapatkan sesuatu yang
sedikit dan hina dari negeri yang semua isinya tidak sebanding dengan sayap nyamuk?
Dikatakan di syair,
"Barangsiapa Dia tidak melihatnya sehari saja
Maka seluruh
waktunya menjadi hilang
Di negeri mana pun aku berada
Maka aku menoleh kepada wajah-Mu”.
Setelah itu, Allah Ta'ala menjelaskan tentang sifat-sifat orang-orang yang Dia cintai
dan mereka mencintai-Nya, "Yang bersikap lemah-lembut terhadap orang yang
Mukmin", maksudnya, mereka bergaul dengan kaum Mukminin
dengan rendah diri dan ramah. Sifat mereka yang lain, "Yang
bersikap keras terhadap orang-orang kafir", maksudnya, mereka memperlakukan orang-orang kafir
dengan sikap keras terhadap mereka. Karena
wali-wali Allah mencintai Allah, maka mereka mencintai wali-wali-Nya yang mencintai-Nya kemudian mereka
bergaul dengan wali-wali Allah dengan
cinta dan kasih sayang. Mereka juga membenci musuh-musuh Allah yang
memusuhi-Nya kemudian bergaul dengan mereka dengan sikap keras, seperti difirmankan
Allah Ta'ala,
"Muhammad
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia keras terhadap orang orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka”. (Al-Fath: 29).
Kesempurnaan cinta ialah memerangi musuh-musuh Dzat tercinta. Begitu juga jihad di jalan Allah
merupakan ajakan dengan pedang dan panah kepada orang-orang yang berpaling dari
Allah untuk kembali kepada-Nya setelah sebelumnya
mengajak mereka kepada-Nya dengan hujjah dan petunjuk. Jadi, orang yang
mencintai Allah suka membawa seluruh manusia ke pintu-Nya. Barangsiapa tidak
merespon dakwah dengan sikap lemah-lembut, ia perlu diajak dengan sikap keras. Disebutkan di hadits,
"Allah heran kepada kaum yang dituntun ke surga dengan belenggu-belenggu”. [25])
Firman Allah Ta'ala,
"Dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela", maksudnya, pecinta Allah
tidak menginginkan kecuali sesuatu yang diridhai
Dzat yang dicintainya. Ia ridha kepada siapa saja yang Dia ridhai dan marah
kepada siapa saja yang Dia marahi. Jadi, barangsiapa takut celaan dalam mencintai pihak yang dicintainya, ia tidak jujur
dalam cintanya.
Dikatakan dalam syair,
"Hawa
nafsu berhenti denganku di tempatmu
Hawa nafsuku
tidak bisa mundur dan maju darinya
Aku temukan celaan itu lezat ketika aku mencintaimu
Karena cinta ingat kepadamu, karena itu, silahkan para pencela
mencelaku”.
Firman Allah Ta'ala, "Itulah karunia Allah, diberikan-Nya
kepada siapa yang dikehendaki-Nya",
yang dimaksud dengan karunia tersebut ialah tingkatan (derajat) orang-orang
yang Dia cintai dan mereka pun mencintai-Nya dengan sifat-sifat yang telah
disebutkan tadi.
Firman Allah Ta'ala, "Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui",
maksudnya, Allah Mahaluas pemberian-Nya dan mengetahui orang-orang yang
berhak atas karunia-Nya kemudian Dia memberikan karunia-Nya
kepada mereka serta mengetahui orang-orang yang tidak berhak atas
karunia-Nya kemudian Dia tidak memberikan karunia-Nya tersebut kepada mereka.
Diriwayatkan bahwa Nabi Daud Alaihis-Salam berkata,
"Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang Engkau cintai, karena jika
Engkau mencintai seorang hamba, Engkau ampuni dosanya kendati dosanya besar
dan menerima perbuatannya
kendati perbuatannya kecil”.
Nabi Daud Alaihis Salam juga berkata
dalam doanya, "Ya Allah, aku meminta cinta-Mu kepada-Mu, cinta
orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta perbuatan yang mengantarkanku ke
cinta-Mu. Ya Allah, jadikan cinta-Mu sebagai sesuatu yang paling aku cintai
daripada diriku, keluargaku, dan air segar”. [26])
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Tuhanku Azza wa Jalla datang kepadaku - dalam mimpiku - kemudian
berfirman kepadaku, 'Hai Muhammad,
katakan, 'Ya Allah, aku meminta cinta-Mu kepada-Mu, cinta orang-orang
yang mencintai-Mu, dan amal perbuatan yang mengantarkanku kepada
cinta-Mu”. [27])
Di antara doa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ialah,
"Ya Allah,
anugerahkan kepadaku cinta-Mu dan cinta
orang-orang yang cintanya bermanfaat bagiku
di sisi-Mu. Ya Allah, apa saja yang
Engkau anugerahkan kepadaku dari apa
saja yang aku cintai itu jadikan sebagai kekuatan untukku terhadap apa saja yang Engkau cintai. Ya Allah, apa
saja yang Engkau jauhkan dariku dari
hal-hal yang aku cintai itu jadikan
sebagai kekosongan bagiku dari
hal-hal yang Engkau cintai”. [28])
Diriwayatkan dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwa beliau berdoa,
"Ya Allah, jadikan cinta-Mu sebagai sesuatu yang paling aku cintai
dan takut kepada-Mu sebagai
sesuatu yang paling aku takuti. Putuskan kebutuhan-kebutuhan
dunia dariku dengan rindu kepada pertemuan dengan-Mu. jika Engkau
menghibur mata penduduk dunia dengan dunia mereka, hiburlah mataku
dengan ibadah kepada-Mu”. [29])
Orang-orang yang berada pada derajat (tingkatan) ini hanya mempunyai keinginan kepada hal-hal yang
mendekatkan mereka kepada orang-orang dicintai Allah dan mereka pun mencintai-Nya. Salah seorang dari generasi salaf
berkata, "Beramal karena takut
bisa jadi diubah oleh harapan dan beramal karena cinta (cinta Allah) itu tidak dimasuki rasa malas”.
Salah seorang dari generasi salaf lainnya berkata, "Jika para pengangguran bosan dengan pengangguran mereka,
maka para pecinta-Mu tidak bosan dari
bermunajat dan dzikir kepada-Mu”.
Farqad As-Sabakhi
berkata, "Aku baca di salah satu kitab terdapat tulisan berbunyi, 'Barangsiapa mencintai Allah maka tidak
ada sesuatu pada dirinya yang lebih ia utamakan dari cinta-Nya dan barangsiapa
mencintai dunia maka tidak ada sesuatu pada dirinya yang lebih ia
utamakan daripada hawa nafsunya. Pecinta Allah
adalah pemimpin, rombongannya adalah rombongan pertama pada Hari Kiamat, dan tempat duduknya adalah tempat duduk
yang paling dekat (dengan Allah) di
sana. Cinta adalah puncak kedekatan dan kesungguhan. Para pecinta Allah tidak akan bosan karena kesungguhan mereka
yang lama karena Allah Azza wa jalla yang mereka cintai, cinta
dzikir kepada-Nya, dan membuat-Nya dicintai manusia.
Mereka berjalan di antara hamba-hamba-Nya dengan memberi nasihat dan
mengkhawatirkan perbuatan-perbuatan mereka pada hari ketika keburukan-keburukan menjadi terlihat. Mereka wali-wali
Allah, orang-orang yang dicintai-Nya,
dan orang-orang pilihan-Nya. Mereka itulah orang-orang yang tidak mempunyai
ketenangan kecuali bertemu dengan-Nya”.
Fath Al-Maushili berkata, "Pecinta Allah Azza wa
Jalla tidak melihat dunia sebagai sesuatu yang lezat dan tidak
lalai dari dzikir kepada Allah sekejap mata pun”.
Muhammad bin An-Nadhr Al-Haritsi berkata, "Pecinta Allah Azza wa
Jalla nyaris tidak bosan mendekat kepada Allah Ta'ala”.
Salah seorang ulama berkata, "Hati pecinta Allah terbang, banyak
berdzikir, dan mencari sebab-sebab kepada keridhaan-Nya dengan
sarana apa saja dan ibadah-ibadah sunnah karena rindu”.
Salah seorang ulama melantunkan syair,
'Jadilah engkau pengabdi kepada Tuhanmu yang mempunyai cinta
Karena para pecinta itu menjadi pengabdi bagi pihak yang dicintainya”.
Ulama lain berkata,
'Pecinta hanya
memiliki keinginan cinta-Nya
Sesungguhnya pecinta itu dekat dengan semua kebaikan”.
Ibadah-ibadah sunnah yang paling mendekatkan seorang hamba kepada Allah
Ta'ala ialah banyak membaca Al-Qur'an, mendengarnya dengan
merenungkan, dan berusaha memahaminya. Khabbab bin Al-Arat berkata
kepada seseorang, "Mendekatlah kepada Allah sesuai dengan kemampuanmu.
Ketahuilah bahwa engkau tidak dapat mendekat kepada-Nya dengan sesuatu
yang lebih Dia cintai daripada firman-Nya". [30])
Di At-Tirmidzi [31]) disebutkan hadits dari Abu Umamah Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Hamba-hamba tidak mendekat kepada Allah dengan sesuatu seperti apa
yang
keluar darinya, maksudnya Al-Qur’an”.
Bagi para pecinta Allah, tidak ada yang paling manis bagi mereka selain firman
Dzat yang mereka cintai, karena firman-Nya adalah kelezatan hati
mereka dan
puncak tujuan mereka. Utsman berkata, "Jika hati kalian bersih, kalian
tidak akan kenyang dengan firman Tuhan
kalian”. [32])
Ibnu Mas'ud berkata, "Barangsiapa
mencintai Al-Qur'an, ia mencintai Allah dan Rasul-Nya”. [33])
Salah seorang sufi berkata kepada muridnya, "Apakah engkau hapal Al-Qur'an?"
Sang murid menjawab, "Tidak”. Orang sufi tersebut berkata, "Aduh, murid
tidak hapal Al-Qur’an? Kalau begitu, dengan apa ia mendapatkan kenikmatan? Dengan
apa ia berdendang? Dengan apa ia bermunajat kepada Tuhannya Azza wa Jalla ?".
Salah seorang ulama banyak membaca Al-Qur'an kemudian sibuk dengan selain Al-Qur'an. Setelah
itu, ia bermimpi bertemu penyeru yang berkata,
'Jika engkau mengaku mencintai-Ku
Kenapa engkau
menjauhi Kitab-Ku?
Tidakkah engkau merenungkan kecaman halus-Ku yang ada di dalamnya?"
Ibadah-ibadah
sunnah lainnya yang paling mendekatkan seorang hamba kepada Allah ialah banyak berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisan.
Di Musnad Al-Bazzar [34]) disebutkan hadits dari Muadz bin Jabal Radhiyallahu Anhu yang berkata,
aku berkata,
"Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku perbuatan yang paling baik dan
paling mendekatkan kepada Allah Ta'ala”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Engkau meninggal dunia sedang lidahmu dalam keadaan basah dengan
dzikir kepada Allah Ta'ala”.
Disebutkan di hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Allah Azza wa Jalla berfirman, Aku menurut dugaan hamba-Ku
terhadap-Ku dan Aku bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia ingat
(zikir) kepada-Ku sendirian maka Aku ingat kepadanya sendirian dan jika ia
ingat (dzikir)
kepada-Ku di kelompok maka Aku ingat kepadanya di kelompok yang lebih baik daripada mereka”. [35])
Di hadits lain, Nabi Shallalahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Allah Ta'ala berfirman, Aku bersama hamba-Ku selagi ia ingat
(dzikir) kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak dengan-Ku”. [36])
Allah Ta'ala berfirman,
"Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepada
kalian”. (Al-Baqarah:152).
Ketika Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar
orang-orang bertakbir dan bertahmid dengan suara keras ketika mereka bepergian
bersama beliau, maka beliau bersabda, "Kalian tidak berdoa kepada Dzat,
yang tuli dan tidak ada di sini; namun
kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar dan Mahadekat, serta Dia
bersama kalian”. Di riwayat lain, "Dia lebih dekat kepada kalian
daripada leher unta kalian”. [37])
Di antara ibadah-ibadah sunnah lain yang lebih
mendekatkan seorang hamba kepada Allah ialah mencintai wali-wali Allah dan
orang-orang yang dicintai-Nya dan memusuhi musuh-musuh-Nya karena-Nya. Di Sunan
Abu Daud disebutkan hadits dari Umar bin Khaththab Radhiyallahu
Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat manusia yang
bukan nabi-nabi dan syuhada' namun para nabi dan syuhada' iri kepada
mereka karena kedudukan mereka terhadap Allah
Azza wa jalla”. Para sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, siapa
mereka?" Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Mereka kaum yang
saling mencintai karena ruh Allah tanpa
ada hubungan kekerabatan sesama mereka dan harta yang mereka ambil. Demi Allah, wajah mereka pasti cahaya dan
mereka di atas cahaya. Mereka tidak
takut jika manusia lain takut dan
tidak sedih jika manusia lam sedih”.
Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam membaca ayat, "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada
kekhawatiran pada mereka dan mereka
tidak sedih”. (Yunus: 62).
[38]
Hadits semakna diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy'ari Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Di
haditsnya disebutkan, "Para
nabi iri kepada mereka karena kedekatan dan
tempat duduk mereka dari Allah Azza wa jalla”. [39])
Di Al-Musnad
[40])
disebutkan hadits dari Amr bin Al-Jamuh Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Seorang
hamba tidak mendapatkan hakikat iman hingga ia mencintai karena Allah dan membenci karena-Nya. jika ia mencintai
karena Allah dan membenci karena-Nya,
sungguh ia berhak atas kewalian dari
Allah. Sesungguhnya wali-wali-Ku dari
hamba hamba-Ku dan orang-orang kecintaan-Ku dari makhluk-Ku ialah orang-orang
yang berdzikir dengan dzikir-Ku dan
Aku dzikir (ingat) dengan dzikir mereka”.
Al-Murtaizy pernah ditanya, "Cinta diperoleh dengan apa
saja?" Al-Murtaizy menjawab, "Dengan berteman dengan wali-wali Allah
dan memusuhi musuh-musuh-Nya”.
[41])
Di Az Zuhdu
[42]) Imam Ahmad disebutkan hadits dari Atha' bin
Yasar yang berkata, Nabi Musa Alaihis Salam berkata, "Tuhanku, siapa orang-orang-Mu yang Engkau naungi di naungan Arasy-Mu?" Allah
berfirman, "Hai Musa, mereka adalah orang-orang yang tangan dan hati mereka suci. Mereka saling bercinta
karena keagungan-Ku. Jika Aku ingat
maka mereka ingat kepada-Ku dan jika mereka ingat maka Aku ingat dengan ingatan
mereka. Mereka menyempurnakan wudhu di saat-saat kritis, kembali kepada dzikir (ingat) kepada-Ku sebagaimana burung
nasar kembali ke sarangnya, gemar kepada cinta-Ku sebagaimana bayi gemar kepada
manusia, dan marah jika hal-hal yang
Aku haramkan dihalalkan sebagaimana singa marah jika marahnya meluap-luap”.
Firman Allah Ta'ala,
'jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi
telinganya yang ia gunakan untuk
mendengar, menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat,
dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan”. Di salah
satu riwayat, "Dan menjadi hatinya (akalnya) yang ia gunakan untuk berpikir dan menjadi lidahnya yang ia gunakan untuk berkata”. Maksudnya, barangsiapa
bersungguh-sungguh dalam mendekat kepada Allah
dengan mengerjakan ibadah-ibadah wajib dan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah,
maka Allah mendekatkannya kepada-Nya dan menaikkannya dari tingkatan iman ke tingkatan ihsan. Karenanya, ia menjadi hamba yang beribadah kepada Allah dengan dihadiri dan diawasi Allah seperti
ia melihat-Nya kemudian hatinya penuh dengan ma'rifat kepada Allah,
cinta-Nya, takut kepada-Nya, segan kepada-Nya, mengagungkan-Nya, damai dengan-Nya, dan rindu kepada-Nya, bahkan ia
menjadi orang yang bisa melihat Allah
dengan mata hatinya, seperti dikatakan salah
seorang penyair,
"Penghuni di hati
memenuhi hati
Aku tidak melupakannya dan ingat kepadanya
Ia pergi dari telinga dan mataku
Sungguh hati menjadi mulia, jika engkau melihatnya”.
Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Allah Azza wa
Jalla berfirman, 'Bohong orang yang mengaku cinta pada-Ku namun tidur dari-Ku.
Bukankah setiap pecinta senang berduaan
dengan pihak yang dicintainya? Inilah Aku melihat orang-orang yang Aku cintai sedang mereka menjelmakan-Ku di
depan mereka, berdialog dengan-Ku
seperti di alam nyata, dan berbicara dengan-Ku dengan langsung. Kelak, Aku membuat hati mereka senang di surga-Ku'“.
Perasaan seperti
itu selalu menguat di hati para pecinta Allah dan orang-orang yang didekatkan kepada-Nya hingga hati mereka penuh dengan-Nya, walhasil, di hati mereka hanya ada Allah dan organ tubuh mereka tidak bergerak
kecuali sesuai dengan apa yang ada di hati mereka. Barangsiapa
kondisinya seperti itu, ada yang mengatakan bahwa di hatinya hanya ada Allah,
maksudnya ia kenal dengan-Nya,
mencintai-Nya, dan ingat kepada-Nya. Tentang makna ini, disebutkan di atsar Israel yang terkenal, "Allah berfirman, 'Aku
tidak dibuat luas oleh langit dan bumi-Ku,
namun dibuat luas oleh hati hamba-Ku yang beriman'“. [43])
Salah seorang sufi berkata, "Takutlah
kalian kepada Allah, karena Allah pencemburu yang tidak ingin melihat ada pihak lain di hati hamba-Nya”.
Tentang makna ini, salah seorang penyair melantunkan syair,
"Manusia tidak mempunyai tempat di hatiku
Di dalamnya, cinta kepada-Mu bertambah hingga memenuhinya”.
Penyair lain berkata,
"Hatiku
dibentuk sesuai dengan kadar cinta mereka
Hingga hatiku
tidak ada tempat untuk mencintai
selain mereka”.
Makna ini diisyaratkan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam di
khutbah beliau ketika tiba di Madinah, "Cintailah
Allah sepenuh
hati kalian",
seperti disebutkan Ibnu Ishaq di Sirah-nya. [44]) Jadi, kapan saja hati penuh
dengan keagungan Allah, maka kondisi
tersebut menghapus apa saja selain Allah dari hati dan seorang hamba tidak lagi punya keinginan kecuali apa yang
diinginkan Tuhannya. Ketika itulah, seorang
hamba tidak bicara kecuali dengan dzikir kepada Allah dan tidak bergerak kecuali dengan perintah-Nya. Jika ia bicara, ia
bicara dengan Allah. Jika ia mendengar,
ia mendengar dengan-Nya. Jika ia melihat, ia melihat dengan-Nya. Jika ia berbuat, ia berbuat dengan-Nya. Itulah yang
dimaksud dengan firman Allah Ta'ala,
'Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi telinganya yang
ia gunakan untuk mendengar, menjadi matanya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk
berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan”. Barangsiapa mengisyaratkan kepada selain makna ini, ia
mengisyaratkan kepada kekafiran; apakah itu
ajaran pantheisme (manunggaling kawula gusti) atau ajaran lain yang Allah dan Rasul-Nya berlepas
diri darinya.
Dari sini, sebagian generasi salaf seperti Sulaiman At-Taimi
berpendapat bahwa ia tidak kuasa bermaksiat kepada Allah. Salah satu istrinya
dari generasi salaf berwasiat kepada anak-anaknya dengan berkata kepada mereka,
"Hendaklah kalian membiasakan diri mencintai Allah dan taat
kepada-Nya, karena orang-orang bertakwa senang dengan ketaatan dan organ tubuh mereka
tidak senang dengan selain ketaatan. Jika orang yang dikutuk karena maksiat
terlihat oleh mereka, maksiat tersebut berjalan melewati mereka dengan malu dan mereka
berpaling dari maksiat tersebut”.
Tentang makna ini, Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, "Sungguh kami
melihat syetan takut kepada Umar bin Khaththab untuk menyuruhnya berbuat kesalahan”. [45])
Sebelumnya saya sebutkan bahwa hal ini
termasuk salah satu rahasia tauhid,
karena makna kalimat laa ilaaha illallah
ialah bahwa seorang hamba tidak menuhankan
selain Allah dalam cinta, harapan, takut, dan taat. Jika hatinya merealisir tauhid sempurna, maka di hatinya tidak ada lagi
cinta kepada apa yang tidak dicintai Allah dan tidak ada benci kepada apa yang
tidak dibenci Allah. Barangsiapa kondisi hatinya seperti ini, organ tubuhnya tidak tergerak kecuali dalam
ketaatan kepada Allah. Sesungguhnya dosa-dosa itu terjadi karena cinta
kepada apa yang dibenci Allah dan benci
kepada apa yang dicintai Allah. Itu terjadi karena cinta hawa nafsu didahulukan atas cinta Allah dan takut kepada-Nya.
Sikap seperti ini merupakan aib dalam
tauhid yang sempurna, akibatnya seorang hamba lalai terhadap sebagian kewajiban
atau mengerjakan sebagian larangan. Sedang hati orang yang merealisir tauhid kepada Allah, ia tidak mempunyai keinginan
kecuali di jalan Allah dan pada apa
saja yang diridhai-Nya. Disebutkan di hadits dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Barangsiapa keinginannya bukan Allah, keinginan tersebut tidak dari
Allah”. [46])
Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad dari Ubai bin Ka'ab secara mauquf yang
berkata, "Barangsiapa keinginan terbesarnya ialah selain Allah, keinginannya
tersebut tidak dari Allah”. Salah seorang sufi berkata, "Barangsiapa
menjelaskan kepadamu bahwa wali Allah mempunyai keinginan kepada selain Dia,
engkau jangan mempercayainya”.
Daud Ath-Thai berseru di malam hari, "Keinginan kepada-Mu
mengosongkan segala duka dari hatiku dan memisahkan dari orang-orang
yang tidak bisa tidur. Rindu untuk melihat-Mu merupakan kelezatan yang paling
kuat bagiku dan memisahkanku dari seluruh syahwat. Aku berharap ada di
penjara-Mu, hai Dzat Yang Mahamulia”.
Tentang makna ini, salah seorang penyair berkata,
"Mereka berkata, ia lupa kepada kami dan mencari pengganti kami
Itu perbuatan pengkhianat yang pelupa
Bagaimana aku menyibukkan hatiku dari mencintai kalian
Dengan tidak ingat kepada kalian, hai orang-orang yang sangat aku perhatikan?"
Firman Allah Ta'ala,
'Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pasti melindunginya”. Di riwayat lain, 'Jika ia berdoa kepada-Ku, Aku pasti mengabulkan
doanya. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya", maksudnya, orang yang dicintai Allah dan didekatkan kepada-Nya mempunyai
kedudukan khusus di sisi Allah yang
menyebabkannya jika ia minta sesuatu kepada Allah maka Allah memberikan apa yang ia minta, jika ia minta perlindungan
kepada-Nya dari sesuatu maka Dia melindunginya,
dan jika ia berdoa kepada-Nya maka Dia mengabulkan doanya, karenanya, ia
menjadi orang yang doanya dikabulkan karena kemuliaannya di sisi Allah Azza
wa Jalla. Banyak sekali di antara generasi salaf yang terkenal
doanya dikabulkan. Di Shahih Muslim disebutkan bahwa Ar-Rubbiyi' binti An-Nadhr memecah gigi depan seorang wanita kemudian
kabilah Ar-Rubbiyi' binti An-Nadhr menawarkan
diyat kepada kabilah wanita tersebut, namun kabilah wanita tersebut menolak. Kabilah Ar-Rubbiyi' binti An-Nadhr
meminta maaf kepada kabilah wanita tersebut,
namun kabilah wanita tersebut menolak, kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memutuskan
dilakukan qishas. Anas bin An-Nadhr berkata, "Apakah engkau akan memecahkan gigi depan Ar-Rubbiyi'? Demi Dzat
yang mengutusmu dengan membawa
kebenaran, engkau jangan memecahkan gigi depannya”. Kabilah wanita tersebut pun ridha dan mengambil diyat
kemudian Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang yang jika
bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti melaksanakan sumpahnya”. [47])
Di Shahih Al-Hakim [48]) disebutkan hadits dari Anas bin Malik Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Betapa
banyak orang lemah yang dianggap lemah dan mempunyai dua pakaian usang, namun jika ia
bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti melaksanakannya, di antara mereka adalah Al-Barra' bin Azib”.
Al-Barra' bin Azib pernah bertemu pasukan kaum musyrikin kemudian kaum
Muslimin berkata kepadanya, "Bersumpahlah kepada Tuhanmu”. Al-Barra' bin Azib
berkata, "Aku bersumpah kepada-Mu, wahai Tuhanku, kenapa Engkau tidak
memberikan pundak-pundak orang-orang musyrikin tersebut kepada kami?" Allah
pun memberikan pundak-pundak kaum musyrikin kepada kaum Muslimin. Pada
kesempatan lain, kaum Muslimin kembali berjumpa kaum musyrikin kemudian
mereka berkata kepada Al-Barra' bin Azib, "Bersumpahlah kepada Allah”.
Al-Barra' bin Azib berkata, "Aku bersumpah kepada-Mu, wahai Tuhanku, kenapa
Engkau tidak memberikan pundak-pundak kaum musyrikin tersebut kepada
kami dan tidak menyusulkanku kepada Nabi-Mu?" Kaum Muslimin pun diberi
pundak-pundak kaum musyrikin dan Al-Barra' bin Azib gugur sebagai syahid.
Ibnu Abu Ad-Dunya
[49])
meriwayatkan dengan sanadnya bahwa An-Nu'man bin
Qauqal berkata di Perang Uhud, "Ya Allah, aku bersumpah kepada-Mu hendaknya aku dibunuh kemudian masuk surga”. Ia pun
gugur sebagai syahid kemudian Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya jika An-Nu'man bersumpah
kepada Allah, maka Allah pasti mengabulkannya”.
Abu Nu'aim meriwayatkan dengan sanadnya dari Sa'ad bahwa Abdullah bin
Jahsy berkata di Perang Uhud, "Tuhanku, jika aku bertemu musuh besok pagi,
pertemukan aku dengan orang yang kuat kekuatannya dan sangat pemarah agar
aku memeranginya di jalan-Mu dan ia memerangiku kemudian ia menyerangku
lalu memotong hidung dan telingaku. Jika aku bertemu dengan-Mu kelak
kemudian Engkau berkata, 'Siapa yang memotong
hidung dan telingamu?' maka aku menjawab, 'Di jalan-Mu dan Rasul-Mu.'
Kemudian Engkau berfirman, 'Engkau berkata benar'“. Sa'ad berkata, "Aku
melihat Abdullah bin Jahsy di akhir siang, ternyata hidung
dan telinganya ditali dengan benang”. [50])
Sa'ad bin Abu Waqqash adalah orang yang doanya terkabul. Pada suatu hari, ia
didustakan seseorang kemudian ia berkata, "Ya Allah, jika orang tersebut berkata
bohong, butakan matanya, panjangkan usianya, dan hadapkan dia pada fitnah-fitnah”.
Ternyata orang tersebut mendapatkan itu semua. Ia bertemu budak-budak wanita di
jalan sambil berkata, "Aku orang lanjut usia, mendapatkan fitnah, dan
terkena doa Sa'ad”. [51])
Sa'ad bin Abu Waqqash mendoakan orang yang ia dengar menghina Ali bin Abu
Thalib. Orang tersebut belum beranjak dari tempatnya, tiba-tiba datanglah unta yang
berlari kemudian menginjak orang tersebut dengan kedua tangan dan kedua kakinya hingga ia
tewas. [52])
Seorang wanita bertengkar dengan Sa'ad bin Zaid di lahan Sa'ad bin Zaid.
Wanita tersebut mengklaim bahwa Sa'ad bin Zaid mengambil lahan tersebut
darinya kemudian Sa'ad bin Zaid berkata, "Ya Allah, jika
wanita tersebut bohong, butakan matanya dan bunuh dia di lahannya”. Ternyata, wanita
tersebut buta. Ketika pada suatu
malam ia berjalan di lahannya, ia jatuh di sumur di lahannya kemudian meninggal dunia. [53])
Al-Ala' bin Al-Hadhrami berada dalam salah satu detasemen kemudian anggota detasemen tersebut
kehausan. Al-Ala' bin Al-Hadhrami shalat kemudian berdoa, "Ya Allah, wahai Dzat Yang Maha Mengetahui, wahai Dzat Yang
Maha Pemurah, wahai Dzat Yang
Mahatinggi, dan wahai Dzat Yang Mahaagung, sesungguhnya kami
hamba-hamba-Mu dan di jalan-Mu kami memerangi musuh-Mu, karenanya, turunkan hujan kepada kami hingga kami dapat minum dan berwudhu dengannya dan jangan berikan sedikit pun
daripadanya kepada seorang pun selain
kami”. Detasemen tersebut berjalan sebentar kemudian menemukan sungai dari air hujan yang memancar lalu mereka
meminumnya dan mengisi wadah-wadah
mereka hingga penuh. Setelah itu, mereka berangkat lalu salah seorang dari
sahabat-sahabat Al-Ala' bin Al-Hadhrami kembali ke sungai tersebut, namun tidak
melihat apa-apa di dalamnya dan
sepertinya di tempat tersebut tidak pernah ada air. [54])
Seseorang melapor kepada Anas bin Malik bahwa lahannya di Basrah mengalami kekeringan kemudian
Anas bin Malik berwudhu, keluar ke daratan, shalat
dua raka'at, dan berdoa. Ternyata, hujan turun kemudian mengairi lahannya dan
hujan tersebut hanya sedikit mengenai lahan lainnya. [55])
Sejumlah gubuk di Basrah terbakar pada zaman Abu Musa Al-Asy'ari dan di
tengah-tengah gubuk terdapat satu gubuk yang tidak terbakar. Abu Musa Al-Asy'ari
berkata kepada pemilik gubuk yang tidak terbakar, "Kenapa gubukmu tidak
terbakar?" Pemilik gubuk yang tidak terbakar berkata, "Aku bersumpah kepada
Tuhanku agar Dia tidak membakar gubukku”. Abu Musa Al-Asy'ari berkata, "Aku
dengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Di umatku
terdapat orang-orang yang kepala
mereka berwarna seperti debu dan pakaian mereka kotor, namun seandainya mereka
bersumpah kepada Allah, maka Allah pasti
mengabulkannya". [56])
Abu Muslim Al-Khaulani dikenal sebagai orang yang doanya dikabulkan. Pada
suatu hari, komodo berjalan melewatinya lalu anak-anak kecil berkata kepadanya,
"Berdoalah kepada Allah untuk kami agar Dia menahan komodo ini”. Abu
Muslim Al-Khaulani pun berdoa kepada Allah kemudian Allah menahan komodo
tersebut hingga komodo tersebut diambil anak-anak kecil tersebut dengan tangan mereka".
[57])
Abu Muslim Al-Khaulani mendoakan wanita yang merusak hubungan istrinya
dengannya agar wanita tersebut buta, ternyata wanita tersebut buta seketika itu juga.
Wanita tersebut datang kepada Abu Muslim Al-Khaulani kemudian menyumpahinya
kepada Allah dan meminta kepada-Nya. Abu Muslim Al-Khaulani merasa
iba kepada wanita tersebut kemudian ia berdoa kepada Allah lalu Allah mengembalikan
mata wanita tersebut dan hubungan istrinya dengannya pun kembali
seperti semula. [58])
Seseorang
berbohong kepada Mutharrif bin Abdullah Asy-Syakhkhir kemudian Mutharrif bin
Abdullah Asy-Syakhkhir berkata kepada orang tersebut, "Jika engkau berkata
bohong, semoga Allah mempercepat kematianmu”. Ternyata orang tersebut meninggal
dunia di tempat itu juga. [59])
Salah seorang
dari kaum Khawarij hadir di majlis Al-Hasan Al-Bashri kemudian mengganggu
orang-orang di majlis tersebut. Ketika gangguan orang tersebut semakin
meningkat, Al-Hasan Al-Bashri berkata, "Ya Allah, Engkau telah mengetahui
gangguan orang tersebut kepada kami, karena itu, cegahlah gangguannya dari kami
dengan apa yang Engkau kehendaki”. Orang tersebut jatuh dan dibawa kepada
keluarganya dalam keadaan mati di atas kasurnya. [60])
Shilah bin Usyaim
berada dalam satu detasemen kemudian baghlah (peranakan kuda dengan
keledai) miliknya hilang beserta muatannya. Anggota detasemen berangkat sedang
Shilah bin Usyaim berdiri shalat lalu berdoa, "Ya Allah, aku bersumpah
kepada-Mu, hendaknya Engkau mengembalikan baghlahku beserta muatannya”. Kemudian
baghlah Shilah bin Usyaim datang hingga berdiri di depannya. [61])
Murrah berada di
daratan luas kemudian kelaparan. Ia pun minta makanan kepada Allah kemudian
mendengar suara, "brakk", dari belakangnya, ternyata yang jatuh
adalah pakaian atau handuk yang di dalamnya terdapat keranjang dari daun kurma
berisi kurma segar kemudian Murrah memakannya dan pakaian tersebut disimpan
oleh istrinya, Muadzah Al-Adawiyah, yang termasuk wanita-wanita shalihah. [62])
Muhammad bin
Al-Munkadir ikut perang kemudian salah seorang temannya berkata kepadanya,
"Aku ingin keju dan kurma”. Muhammad bin Al-Munkadir berkata,
"Hendaklah kalian minta makanan kepada Allah, semoga Dia memberi makanan
kepada kalian, karena Dia Mahakuasa”. Orang-orang di pasukan tersebut pun
berdoa kepada Allah. Mereka baru berjalan beberapa saat, mereka melihat
keranjang terikat yang berisi keju dan kurma. Salah seorang dari mereka
berkata, "Ah seandainya keranjang ini berisi madu”. Muhammad bin Al-Munkadir
berkata, "Sesungguhnya Dzat yang memberi kalian keju mampu memberi kalian
madu, karena itu, mintalah madu kepada Allah”. Mereka pun berdoa kemudian
berjalan beberapa saat lalu mendapatkan wadah madu di jalan. Mereka pun
berhenti kemudian minum madu tersebut. [63])
Habib Al-Ajmi
alias Abu Muhammad adalah orang yang terkenal
doanya dikabulkan. Suatu ketika, ia
berdoa untuk anak yang kepalanya botak. Ia menangis dan mengusap kepala anak tersebut dengan
airmatanya. Ketika anak tersebut berdiri, ternyata rambutnya hitam dan
menjadi orang yang rambutnya paling indah. [64])
Seseorang yang sakit kronis dibawa kepada Habib Al-Ajmi di atas tandu kemudian
Habib Al-Ajmi mendoakan orang tersebut kemudian orang tersebut berdiri di atas
kedua kakinya dan memikul tandunya kemudian pulang kepada keluarganya.
[65])
Pada saat musik paceklik, Habib Al-Ajmi membeli makanan yang banyak sekali
kemudian menyedekahkannya kepada orang-orang miskin. Habib Al-Ajmi menjahit
kantong kemudian meletakkannya di bawah tempat tidurnya. Ia berdoa kepada
Allah. Setelah itu, para pemilik makanan datang kepada Habib Al-Ajmi meminta
pembayaran makanan. Habib Al-Ajmi mengeluarkan kantong tadi, temyata penuh
dengan dirham. Habib Al-Ajmi menimbang dirham-dirham tersebut dan ternyata beratnya pas sesuai
dengan harga makanan kemudian Habib Al-Ajmi memberikan
dirham-dirham tersebut kepada para pemilik makanan. [66])
Seseorang seringkali bersenda gurau kepada Habib Al-Ajmi kemudian Habib
Al-Ajmi mendoakan orang tersebut, ternyata orang tersebut menderita sakit kusta. [67])
Pada suatu
ketika, Habib Al-Ajmi berada di tempat Malik bin Dinar, tiba-tiba seseorang datang kepada Malik bin Dinar dan
berkata kasar kepada Malik bin Dinar
gara-gara dirham yang dibagi-bagikan Malik bin Dinar. Ketika hal ini berlangsung dalam waktu yang lama, Habib Al-Ajmi
menengadahkan kedua tangannya ke
langit dan berdoa, "Ya Allah, sungguh orang ini mengganggu dzikir kami
kepada-Mu, maka hiburlah kami darinya
dengan sesuatu yang Engkau
kehendaki”. Ternyata orang tersebut
jatuh dan mati. [68])
Salah satu kaum berangkat jihad di jalan Allah dan salah seorang dari
mereka membawa
keledai yang kemudian mati. Ketika mereka terus berjalan, pemilik keledai tetap berada di tempat. Ia berdiri untuk
berwudhu, shalat, dan berdoa, "Ya Allah, sungguh aku keluar untuk berjihad
di jalan-Mu dan mencari keridhaan-Mu. Aku bersaksi bahwa Engkau mampu
menghidupkan orang-orang mati dan menghidupkan
orang-orang di kuburan, karena itu, hidupkan keledaiku”. Usai berdoa, orang
tersebut mendekat kepada keledainya dan memukulnya. Ternyata, keledai tersebut berdiri sambil mengibas-ngibaskan kedua
telinganya. Orang tersebut pun menaikinya,
menyusul teman-temannya, dan setelah itu menjualnya di Kufah”. [69])
Salah satu
detasemen berangkat berjihad di jalan Allah kemudian diserang hawa yang sangat dingin hingga mereka nyaris
meninggal dunia. Mereka berdoa kepada Allah Azza wa Jalla dan di
samping mereka terdapat pohon besar, ternyata pohon yang berada di samping mereka menyala-menyala kemudian mereka
mengeringkan pakaian mereka dan menghangatkan badan mereka hingga matahari terbit. Setelah itu, mereka meneruskan
perjalannya sedang pohon tersebut kembali seperti kondisi semula.
Abu Qilabah berangkat haji dalam keadaan berpuasa dan mendahului rekan-rekannya
di hari yang panas. Setelah itu, ia merasa kehausan tidak ada taranya kemudian
ia berdoa, "Ya Allah, Engkau mampu menghilangkan kehausanku tanpa aku
harus membatalkan puasaku”. Kemudian ia dinaungi awan lalu awan tersebut menurunkan
air hujan kepadanya hingga pakaiannya basah dan rasa hausnya hilang. Ia
berhenti di tempat tersebut kemudian membuat telaga dan memenuhinya dengan air.
Setelah itu, rekan-rekannya tiba di tempat tersebut dan meminum air telaga tersebut
tanpa terkena air hujan sedikit pun. [70])
Kisah-kisah seperti di atas sangat banyak dan panjang sekali kalau
disebutkan semuanya. Sebagian besar orang-orang yang doanya
dikabulkan dari generasi salaf bersabar atas musibah, memilih pahalanya, dan tidak
berdoa meminta hilangnya musibah dari dirinya. [71])
Diriwayatkan bahwa Sa'ad bin Abu Waqqash berdoa untuk manusia karena mereka
mengetahui doanya dikabulkan. Dikatakan kepadanya, "Seandainya saja engkau
berdoa kepada Allah untuk matamu - ketika itu buta -”. Sa'ad bin Abu Waqqash
berkata, "Keputusan Allah lebih aku sukai daripada mataku”.
Salah seorang dari generasi salaf menderita sakit kusta kemudian
dikatakan kepadanya, "Kami dengar engkau mengetahui nama Allah
yang terbesar, karenanya, bagaimana
kalau engkau meminta kepada-Nya agar ia menghilangkan penyakit kustamu?" Orang tersebut berkata, "Hai
anak saudaraku, Allahlah yang mengujiku dan aku tidak suka melawan-Nya”.
Dikatakan kepada Ibrahim At-Taimi di penjara Al-Hajjaj, "Bagaimana
kalau engkau berdoa kepada Allah?" Ibrahim At-Taimi berkata, "Aku
tidak suka berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan dariku sesuatu yang
di dalamnya aku mendapatkan pahala”.
Sa'id bin Jubair juga bersabar atas penyiksaan Al-Hajjaj hingga
Al-Hajjaj membunuhnya, padahal doa Sa'id bin Jubair dikabulkan.
Dikisahkan, Sa'id bin Jubair mempunyai ayam jantan dan biasanya Sa'id bin
Jubair bangun malam untuk shalat karena kokok ayam jantan tersebut. Pada suatu
malam, ayam jantan tersebut tidak berkokok, karenanya, ia tidak bangun malam untuk
shalat dan sedih karenanya. Sa'id bin Jubair berkata, "Ada apa dengan ayam
jantan? Semoga Allah memotong suaranya”. Ternyata, setelah itu ayam jantan tersebut
tidak berkokok lagi. Ibu Sa'id bin Jubair berkata kepada Sa'id bin Jubair,
"Anakku, setelah ini, engkau jangan lagi mendoakan sesuatu apa pun". [72])
Dikisahkan kepada Rabi'ah bahwa seseorang mempunyai kedudukan di sisi
Allah, namun orang tersebut makan dari makanan-makanan sisa yang ia ambil dari
sampah. Seseorang berkata, "Orang ini tidak ada salahnya kalau ia berdoa kepada
Allah agar Allah membuatnya kaya”. Rabi'ah berkata, "Sesungguhnya jika keputusan
diberikan kepada wali-wali Allah, mereka tidak ngedumel
kepada keputusan tersebut”.
Hayawah bin Syuraih sangat miskin kemudian dikatakan kepadanya,
"Bagaimana kalau engkau berdoa kepada Allah agar Dia membuatmu
kaya?" Hayawah bin
Syuraih mengambil tongkat kemudian berkata, "Ya Allah, jadikan tongkat ini
sebagai emas”. Ternyata, tongkat tersebut
menjadi biji emas di tangan Hayawah bin Syuraih. Ia berkata, "Tidak ada yang lebih di dunia kecuali
akhirat”. Hayawah bin Syuraih berkata lagi, "Allah lebih tahu
tentang apa saja yang membuat hamba-hamba-Nya
menjadi shalih”.
Terkadang orang Mukmin yang doanya dikabulkan (mustajab) berdoa tentang
suatu hal, namun Allah mengetahui bahwa yang terbaik baginya itu tidak di
sesuatu tersebut, karenanya Allah tidak mengabulkan doanya namun menggantinya dengan
sesuatu yang lebih baik baginya di dunia atau di akhirat. Sebelumnya disebutkan
hadits Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam, "Di antara
hamba-hamba-Ku yang beriman terdapat hamba yang menginginkan pintu
ibadah kemudian Aku menahan pintu ibadah tersebut agar ia tidak dimasuki ujub yang membuatnya rusak".
[73])
Ath-Thabrani meriwayatkan hadits Salim bin Abu Al-Ja'du dari Tsauban Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya di antara umatku ada orang yang jika
salah seorang dari kalian datang kepadanya guna meminta dinar maka ia tidak
memberikannya, jika (salah seorang dari kalian) meminta dirham kepadanya
maka ia tidak memberikannya, jika (salah seorang dari kalian) meminta
uang kepadanya maka ia tidak memberikannya. Jika orang yang mempunyai
dua pakaian dan tidak diperhatikan, orang tersebut minta surga kepada
Allah maka Allah pasti memberikan surga kepadanya dan jika ia
bersumpah kepada Allah maka Allah pasti mengabulkannya". [74])
Hadits tersebut juga diriwayatkan selain Ath-Thabrani dari Salim secara mursal dan
ditambahkan di dalamnya,
"Dan jika
orang tersebut meminta sesuatu dari dunia kepada Allah, maka Allah tidak memberinya sebagai bentuk kemuliaan
baginya”.
Firman Allah Ta'ala,
"Aku pernah tidak ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang
Mukmin. Ia benci kematian dan Aku
tidak suka menyusahkannya", maksudnya, Allah Ta'ala telah menentukan
kematian bagi hamba-hamba-Nya, seperti yang Dia firmankan,
'Setiap jiwa itu merasakan kematian”. (Ali
Imran:185).
Kematian ialah nyawa meninggalkan badan dan tidak terjadi kecuali
dengan sakit
yang sangat luar biasa, bahkan kematian termasuk sakit paling pedih yang menimpa seorang hamba di dunia. Umar bin Khaththab
berkata kepada Ka'ab, "Jelaskan
kematian kepadaku”. Ka'ab berkata, "Wahai Amirul Mukminin, kematian itu seperti pohon besar dan banyak durinya, anak
keturunan Adam yang kuat kedua
lengannya kemudian ia mencabut pohon besar dan banyak durinya tersebut”. Umar bin Khaththab pun menangis. [75])
Ketika Amr bin Al-Ash hendak meninggal dunia, anaknya bertanya kepadanya tentang ciri-ciri
kematian kemudian Amr bin Al-Ash menjawab, "Demi Allah, kedua lambungku
sepertinya berada di bangku, aku seperti bernafas dari lubang jarum, dan sepertinya ada ranting berduri ditarik dari kedua
kakiku hingga kepalaku”. [76])
Dikatakan kepada seseorang yang hendak meninggal dunia,
"Bagaimana engkau mendapati
dirimu?" Orang tersebut berkata, "Aku mendapati diriku ditarik keras,
sepertinya banyak pisau besar di hatiku, dan hatiku menjadi seperti tungku yang dibakar hingga apinya menyala-nyala”.
Dikatakan kepada
seseorang, "Bagaimana engkau mendapati dirimu?" Orang tersebut berkata, "Aku mendapati diriku
sepertinya langit-langit runtuh di atas bumi kemudian mengenai diriku dan aku
mendapati diriku seperti keluar dari
lubang jarum”.
Jika kematian dengan sakit luar biasa seperti itu, Allah mewajibkannya
kepada seluruh hamba-Nya, kematian merupakan keniscayaan bagi
mereka, dan Allah Mahatinggi dari tidak suka menyakiti dan menyusahkan
orang Mukmin, maka Allah menamakan hal tersebut sebagai keragu-raguan
terkait dengan orang Mukmin. Sedang para nabi, mereka tidak meninggal dunia hingga
diberi hak untuk memilih.
Al-Hasan berkata, "Karena para nabi juga benci kematian, maka
Allah memudahkan pertemuan dengan Allah (kematian) kepada mereka
dan dengan apa saja yang mereka sukai; karunia atau kemuliaan, hingga nyawa
salah seorang dari mereka dicabut dari tubuhnya sedang ia sendiri senang dengannya
karena berbagai kenikmatan
telah dijelmakan kepadanya”.
Aisyah Radhiyallahu
Anha berkata,
"Aku tidak pernah iri lagi kepada seseorang yang kematian dimudahkan baginya setelah aku
melihat beratnya kematian Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam". [77])
Aisyah Radhiyallahu Anha juga berkata,
"Di samping Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terdapat
gelas berisi air kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memasukkan
tangan ke gelas tersebut lalu mengusap wajah beliau dengan air dari gelas
tersebut sambil bersabda, 'Laa ilaaha illallah, sesungguhnya
kematian mempunyai sekarat-sekarat”. [78])
Disebutkan di hadits mursal bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa,
"Ya
Allah, Engkau mengambil nyawa dari di antara urat saraf, usus, dan kuku.
Ya Allah, bantulah aku dalam kematian dan mudahkan kematian bagiku”. [79])
Sebagian generasi salaf senang diberi kesulitan pada saat kematiannya,
seperti dikatakan Umar bin Abdul Aziz, "Aku tidak suka kalau
sakaratul maut dimudahkan kepadaku, karena kematian adalah sesuatu paling
akhir dihapus dari orang Mukmin”. [80])
An-Nakhai
berkata, "Generasi salaf tidak suka diberi kemudahan ketika meninggal dunia”. [81])
Sebagian generasi salaf khawatir kalau diuji dengan beratnya kematian.
Jika Allah
berkehendak memudahkan kematian pada seorang hamba, Dia memudahkannya pada hamba tersebut. Di Shahih Al-Bukhari disebutkan hadits
dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya jika orang Mukmin didatangi kematian, maka ia diberi
kabar gembira tentang keridhaan Allah dan kemuliaan-Nya,
karenanya, tidak ada sesuatu yang paling ia sukai daripada apa yang ada di
depannya. Ia pun senang bertemu Allah dan Allah pun senang bertemu
dengannya”. [82])
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu berkata, "Jika malaikat pencabut
nyawa datang
untuk mencabut nyawa orang Mukmin, ia berkata kepada orang Mukmin tersebut,
'Sesungguhnya Tuhanmu kirim salam kepadamu'“.
Muhammad bin Ka'ab berkata, "Malaikat pencabut kematian berkata, 'As-Salaamu
alaika, wahai wali Allah, sesungguhnya Allah kirim salam
kepadamu'“. Kemudian Muhammad bin Ka'ab membaca firman Allah Ta'ala,
'(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para
malaikat dengan berkata (kepada mereka), Salaamun alaikum, masuklah kalian ke
surga disebabkan apa yang telah kalian kerjaka ". (An-Nahl: 32). [83]
Zaid bin Aslam Radhiyallahu Anhu berkata, "Para malaikat datang kepada orang Mukmin yang hendak meninggal dunia kemudian
berkata kepadanya, 'Engkau jangan
takut kepada kematian yang datang kepadamu - kemudian Allah menghilangkan ketakutannya -, jangan sedih
terhadap dunia dan penghuninya, dan senanglah
dengan surga'. Kemudian orang Mukmin tersebut meninggal dunia dalam keadaan telah mendapatkan kabar gembira”.
Al-Bazzar [84]) meriwayatkan hadits Abdullah bin Amr Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya Allah lebih kikir dengan kematian hamba-Nya yang
Mukmin daripada kekikiran salah seorang dari kalian dengan
hartanya yang baik hingga Dia mematikannya di atas ranjangnya”.
Zaid bin Aslam Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang merupakan orang-orang
yang mendapat afiat di dunia dan akhirat”. [85])
Tsabit Al-Bunani berkata, "Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba
Allah menjaga mereka di dunia dari pembunuhan dan kelaparan, memperpanjang usia
mereka, memperbanyak rezki mereka, mematikan mereka di atas ranjang mereka, dan mencetak mereka
dengan catakan para syuhada'“. [86])
Perkataan tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dan Ath-Thabrani
dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari banyak jalur yang dhaif. Di
sebagian teksnya disebutkan,
'Sesungguhnya Allah mempunyai orang-orang khusus di antara makhluk-Nya Dia tidak menghendaki
mereka mendapatkan musibah, menghidupkan mereka
dalam keadaan mendapat afiat, mematikan mereka dalam keadaan mendapat afiat, dan memasukkan mereka ke surga
dalam keadaan mendapat afiat". [87])
Ibnu Mas'ud Radhiyallahu Anhu dan lain-lain berkata,
"Sesungguhnya kematian
mendadak adalah keringanan bagi orang Mukmin”.
Abu Tsa'labah Al-Khasyani berkata, "Sungguh aku berharap kiranya
Allah tidak mencekikku sebagaimana aku lihat kalian dicekik saat kematian”.
Pada suatu malam, Abu Tsa'labah Al-Khasyani berada di rumahnya kemudian
orang-orang mendengar Abu Tsa'labah berseru, "Hai
Abdurrahman," padahal Abdurrahman telah gugur sebagai syahid ketika ikut perang
bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah
itu, Abu Tsa'labah pergi ke tempat shalat di rumahnya kemudian shalat dan nyawanya dicabut ketika ia
sedang sujud.
Sejumlah generasi salaf meninggal dunia ketika mereka sedang sujud dalam
shalat. Salah
seorang dari mereka berkata kepada sahabat-sahabatnya, "Aku tidak mati seperti kematian kalian, namun aku berdoa
kemudian doaku dikabulkan”. Pada
suatu hari orang tersebut duduk bersama sahabat-sahabatnya kemudian ia berkata, "Aku sambut panggilan-Mu,"
kemudian ia jatuh dalam keadaan meninggal dunia.
Salah seorang dari generasi salaf lainnya sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya
kemudian mereka mendengar suara berbunyi, "Hai si Fulan, jawablah, demi
Allah, inilah saat terakhirmu di dunia”. Orang tersebut meloncat sambil
berkata, "Demi Allah, suara tadi adalah suara penggiring kematian”.
Setelah itu, orang tersebut berpisah dengan sahabat-sahabat, mengucapkan
salam kepada mereka, dan pergi menuju suara tadi, sambil berkata, "Salam
untuk para nabi dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. Tiba-tiba, suara
tersebut tidak terdengar lagi kemudian sahabat-sahabat orang itu menelusuri jejaknya
dan mendapatinya telah meninggal dunia.
Salah seorang dari generasi salaf sedang duduk menulis di kertas
kemudian meletakkan
penanya dari tangannya sambil berkata, "Jika kematian kalian seperti ini, demi Allah, ini kematian yang baik”. Usai
berkata seperti itu, ia jatuh dan meninggal
dunia.
Salah seorang dari generasi salaf lainnya duduk menulis hadits kemudian meletakkan
pena dari tangannya, menengadahkan kedua tangannya berdoa kepada Allah
kemudian meninggal dunia.
[1] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6502, Abu
Nu'aim di Al-Hilyah 1/4, Al-Baihaqi
di Az-Zuhdu hadits nomer 690 dan di As-Sunan 3/346, 10, 219, dan Al-Baghawi di Syarhus Sunnah hadits nomer
1248.
[2] Al-Hilali Abu Muhammad Al-Madani mantan budak
Maimunah. Ia perawi tepercaya, mulia,
orator, dan ahli ibadah. Banyak perawi meriwayatkan hadits darinya.
[3] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Auliya'
hadits nomer 45, Imam Ahmad 6/256, dan
Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/5.
[4]
Di Al-Kamil 5/1939.
[5]
Di At-Tarikh Al-Kabir 6/58.
[6] Di
Al-Ausath seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/269. Hadits tersebut
juga diriwayatkan Al-Bazzar hadits
nomer 3627 dan 3647 dari
Muhammad bin Al-Mutsanna yang berkata
Abu Amir berkata kepadaku, Abdul Wajid bin Maimun berkata kepadaku dari Urwah
dari Aisyah. Tentang Abdul Wahid bin Maimun, Al-Bukhari berkata,
"Haditsnya munkar”. Ad-Daruquthni dan lain-lain berkata, "Ia perawi dhaif”.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Al-Baihaqi di Az-Zuhdu hadits nomer 692 dari jalur Abdul Wahid.
[7]
Selain Ya'qub bin Mujahid, karena Al-Bukhari
meriwayatkan haditsnya di Al-Adab
Al-Mufrad.
[8] Di Al-Kabir hadits nomer 7880 dan As-Sulami di Al-Arbain Ash-Shufiyah hadits nomer 36. Hadits di atas
dianggap dhaif oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul
Bari 11/342 dan Al-Hafidz Al-Haitsami di Majmauz
Zawaid 2/248.
[9]
Di Al-Ilal 2/126-127.
[10] Hadits tersebur juga diisyaratkan Al-Hafidz Ibnu
Hajar di Fathul Bari 11/342 dan menganggap
sanadnya dhaif.
[11] Di Al-Kabir hadits nomer 12719. Hadits tersebut dianggap dhaif
oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342. Juga disebutkan
Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/270. Ia berkata, "Di sanadnya
terdapat perawi yang tidak aku ketahui”.
[12] Hadits tersebut juga disebutkan Al-Haitsami di Majmauz
Zawaid 10/270 dan berkata bahwa hadits tersebut diriwayatkan Ath-Thabrani
di Al-Ausath. Al-Haitsami berkata, "Di sanadnya terdapat perawi Umar bin Sa'id Abu Hafsh
Ad-Dimasyqi yang merupakan perawi dhaif”.
[13] Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 6/116 dari
Ath-Thabrani. Abu Nu'aim berkata, "Hadits tersebut dhaif berasal
dari Al-Auzai dari Abdah. Hadits tersebut juga diisyaratkan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342. Ia berkata”. Sanad hadits ini hasan gharib”.
[14]
Baca Majmu'ul Fataawa 18/129.
[15] Hadits nomer 3989. Hadits tersebutjuga diriwayatkan
Abu Nu'aim di al-Hilyah 1/5. Di sanadnya terdapat perawi Isa bin Abdurrahman bin Farwah Al-Anshari.
Abu Hatim berkata, "Haditsnya
munkar, dhaif, dan layak
ditinggalkan”. Hadits tersebut juga dianggap dhaif oleh Al-Hafidz
Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/342.
[16]
Hal. 65.
[17] Hadits dhaif
Dari Abdullah bin Al-Mughaffal,
hadits tersebut diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3862, Imam Ahmad 4/87, 5/54-55, 57, dan Ibnu Hibban hadits
nomer 7256.
[18]
Diriwayatkan Abdullah bin Ahmad di Zawaaiduz Zuhdi hal, 296.
[19] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan
Muslim hadits nomer 482, Abu Daud hadits
nomer 875, dan An-Nasai 2/226.
[20] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan
Al-Bukhari hadits nomer 405.
[21] Diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 2863 dari
Al-Harits Al-Asy'ari. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih
gharib”. Namun hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 2287. Takhrijnya secara lengkap, silahkan
baca buku tersebut.
[22] Dari Ibnu Umar, hadits tersebut diriwayatkan
Al-Bukhari hadits nomer 893, Muslim hadits
nomer 1839, Abu Daud hadits nomer 2928, dan At-Tirmidzi hadits nomer 1705.
Hadits tersebut dishahihkan Ibnu
Hibban hadits norner 4489.
[23]
Hadits nomer 1827.
[24] Hadits nomer 1329. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Imam Ahmad 3/22, 55, Al-Baihaqi
10/88, dan Al-Baghawi hadits nomer 2472. Di sanadnya terdapat perawi Athiyah
Al-Aufi yang merupakan perawi dhaif.
Kendati demikian, At-Tirmidzi berkata”. Hadits ini hasan gharib”.
[25] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan
Imam Ahmad 2/302, Al-Bukhari hadits
nomer 3010, Abu Daud hadits nomer 2677, dan Ibnu Hibban hadits nomer 134.
[26] Diriwayatkan
At-Tirmidzi hadits nomer 3490 dari jalur Abdullah bin Rabi'ah Ad-imasyqi dari Abu Idris Al-Khaulani dari Abu
Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu yang
berkata bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, "Di antara doa Daud Alaihis-Salam ialah dan seterusnya”. Abdullah
bin Rabi'ah Ad-Dimasyqi tidak diketahui identitasnya. Kendati demikian, hadits tersebut dianggap hasan oleh
At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Hakim 2/433 tapi ditolak Ad-Dzahabi yang berkata, "Bahkan tentang Abdullah bin
Rabi'ah Ad-Dimasyqi ini, Imam Ahmad
berkata, 'Hadits-haditsnya palsu'“.
Hadits
tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/226-227 dari jalur tersebut dari Abu Ad-Darda' Radhiyallahu Anhu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berdoa, "Ya Allah, aku meminta cinta-Mu kepada-Mu
dan seterusnya", tanpa
menyebutkan bahwa doa tersebut doa
Nabi Daud Alaihis-Salam.
Imam Ahmad meriwayatkan di Az-Zuhdu hal. 70 dari Imam Malik yang berkata, Nabi Daud Alaihis-Salam
berkata, "Ya Allah, jadikan
cinta-Mu sebagai sesuatu yang paling aku cintai daripada diriku, telingaku,
mataku, keluargaku, dan air segar”.
[27] Penggalan dari hadits Muadz bin Jabal yang panjang.
Hadits tersebut diriwayatkan Imam
Ahmad 5/243, At-Tirmidzi hadits nomer 3235, Ath-Thabrani di Al-Kabir 20/216, Ibnu Khuzaimah di At-Tauhid hal. 218-219, dan Al-Hakim 1/521. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih. Aku pernah bertanya kepada
Al-Bukhari tentang hadits ini kemudian ia
berkata, 'Hadits ini hasan shahih'“.
[28] Dari Abdullah bin Yazid AI-Khathami, hadits
tersebut diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di
Az-Zuhdu hal. 430 dan sanadnya
shahih, namun dianggap hasan oleh At-Tirmidzi hadits nomer 3491.
[29] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 8/282 dari Al-Haitsam bin Malik Ath-Thai. Hadits
ini mursal.
[30]
Diriwayatkan Al-Hakim di Al-Mustadruk 2/441. Ia menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi.
[31] Hadits
nomer 2911 dari jalur Bakr bin Khunais dari Laits bin Abu Sulaim dari Zaid bin
Artha'ah dari Abu Umamah. Sanadnya seperti dhaif karena dhaif-nya Bakr bin Khunais dan Laits bin
Abu Sulaim. Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi dari Jubair bin
Nufair secara mursal. Di
samping hadits tersebut mursal, di sanadnya terdapat perawi AI-Ala' bin Al-Harits yang
dituduh kacau. Sanad hadits tersebut disambung oleh Al-Hakim 2/441 dari jalur
Abdullah bin Shalih yang merupakan
perawi dhaif dari Muawiyah bin Shalih dari Al-Ala' bin Al-Harits dari Zaid bin Artha'ah dari Jubair bin Nufair dari
Uqbah bin Amir Al-Juhani.
Hadits
tersebut juga diriwayatkan Al-Hakim 1/555 dari jalur Ahmad bin Hanbal dari Abdurrahman bin
Mahdi dari Muawiyah bin Shalih dari Al-Ala' bin Al-Harits dari Zaid bin Artha'ah dari
Jubair bin Nufair dari Abu Dzar Al-Ghifari. Di kedua sanad tersebut terdapat perawi Al-Ala' bin
Al-Harits yang dituduh kacau.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 5/286
dan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 8658. Namun sanadnya juga dhaif.
[32] Diriwayatkan Imam Ahmad di Zawaaiduz Zuhdi hal. 128. Dari jalur Imam Ahmad, hadits
tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 7/300 dengan sanad terputus.
[33] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 8658. Al-Haitsami
berkata di Majmauz Zawaid 7/165, "Para perawinya adalah para perawi tepercaya”.
[34] Hadits nomer 3059. Sanadnya diangggap
hasan oleh Al-Haitsami di Majmauz
Zawaid 10/74.
[35] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan
Imam Ahmad 2/251, Al-Bukhari hadits
nomer 7505, Muslim hadits nomer 2675, dan Ibnu Hibban
hadits nomer 811 dan 812.
[36] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan
Imam Ahmad 2/540 dan Ibnu Majah hadits nomer 3792. Hadits
tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 815
dan Al-Hakim 1/496 dengan
disetujui Adz-Dzahabi.
[37] Dari Abu Musa Al-Asy'ari, hadits tersebut
diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 2992,
Muslim hadits nomer 2704, Abu Daud hadits nomer 1526, dan At-Tirmidzi hadits
nomer 3374.
[38] Diriwayatkan
Abu Daud hadits nomer 3527 dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/5 dari jalur Imarah bin Al-Qa'qa' dari Abu Zur'ah bin Amr bin
Jarir dari Umar bin Khaththab. Perawi sanad tersebut adalah para perawi tepercaya, hanya saja sanadnya terputus,
karena Abu Zur'ah tidak pernah bertemu Umar bin Khaththab dan riwayat darinya
adalah mursal.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Hibban
hadits nomer 573 dari jalur Imarah bin Al-Qa'qa'
dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah.
Sanadnya shahih dan mempunyai hadits-hadits penguat.
[39] Diriwayatkan Imam Ahmad 5/343. Hadits tersebut
dihasankan Al-Hafidz Al-Mundziri di
At-Targhib wat Tarhib 4/21.
[40] 3/430. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu
Ad-Dunya di Al-Aufiya' hadits nomer 19 dan disebutkan Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 1/89. Al-Haitsami
berkata, "Di sanadnya terdapat
Rusydin bin Sa'ad yang merupakan perawi dhaif dan sanadnya
terputus”.
[41] Thabaqaatush Shufiyah, As-Sulami, hal. 351.
[42] Hal. 74. Atsar tersebut juga diriwayatkan Ibnu Abu
Ad-Dunya di Al-Aufiya' hadits nomer 37 dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/222
dari Zaid bin Aslam.
[43] Disebutkan Ibnu Taimiyah di Al-Fatawa 18/122, As-Sakhawi di Al-Maqashid
Al-Hasanah hadits nomer 990, Az-Zarkasyi di At-Tadzkiratu fil Ahaaditsil Masyhurah hal. 135, Al-Fatani di Tadzkiratul Maudhu'at hal. 30, dan As-Suyuthi di Ad-Durrul Mantsurah hadits nomer 362. Para ulama tersebut berkata bahwa atsar
di atas tidak mempunyai pijakan dari
Nabi Shallallahu Alnihi wa Sallam dan merupakan israiliyat.
[44] Seperti terlihat di Sirah Ibnu Hisyam 2/146-147. Dari jalur Ibnu Ishaq, hadits tersebut diriwayatkan Al-Baihaqi di Dalaailun Nubuwwah 2/525. Hadits
tersebut mursal.
[45]
Disebutkan Ibnu AI-Jauzi di Manaqibu Umar bin Khaththab hal, 246.
[46] Diriwayatkan Al-Hakim 4/320 dari Ibnu Mas'ud. Di
sanadnya terdapat perawi Ishaq bin
Bisyr alias Abu Hudzaifah yang dianggap sebagai pendusta oleh Ibnu Al-Madini dan Ad-Daruquthni. Di sanadnya
juga terdapat perawi Muqatil bin Sulaiman yang rusak. Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 3/48 dari Anas bin Malik dan di sanadnya terdapat perawi Wahb bin Rasyid. Tentang dirinya, Abu
Hatim berkata, "Haditsnya munkar
dan meriwayatkan hadits-hadits batil”. Ibnu Hibban berkata, "Tidak boleh berhujjah dengannya dalam kondisi apa pun”. Di sanadnya juga terdapat
perawi Farqad As-Subkhi yang
merupakan perawi dhaif. Baca
Al-La'ali' Al-Mashnu'ah 2/316-317.
[47] Dari Anas bin Malik, hadits tersebut diriwayatkan
Al-Bukhari hadits nomer 2703, Muslim
hadits nomer 1625, Abu Daud hadits nomer 4595, An-Nasai 8/28, dan Ibnu Majah hadits nomer 2649. Hadits tersebut dishahihkan
Ibnu Hibban hadits nomer 6491.
[48] 3/292. Al-Hakim menshahihkan hadits di atas dengan
disetujui Adz-Dzahabi. Hadits di atas
juga diriwayatkan At-Tirmidzi hadits nomer 3854 dari jalur lain dari Anas bin
Malik dengan teks, "Betapa banyak orang yang rambutnya kusut,
berdebu, mempunyai dua pakaian usang,
dan tidak diperhatikan, namun seandainya ia bersumpah kepada Allah, maka Allah
pasti mengabulkannya, di antara mereka adalah Al-Barra' bin Azib”. At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan shahih dengan jalur seperti itu”.
[49]
Di Mujabud Dakwah hadits nomer 22.
[50]
Baca Siyaru A'laamin Nubala' 1/112.
[51]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 755.
[52] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Mujabud Dakwah hadits nomer 36 dan At-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 307. Kisah tersebut juga disebutkan
Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 9/154 dari riwayat Ath-Thabrani. Al-Haitsami
berkata, "Para perawinya adalah para perawi shahih”.
[53]
Diriwayatkan Muslim hadits nomer 1610.
[54] Diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/7-8 dan Ibnu Abu
Ad-Dunya di Mujabud Dakwah hadits
nomer 40.
[55] Diriwayatkan Ibnu Sa'ad di Ath-Thabaqaat 7/21 dan Ibnu Abu Ad-Dunya di Mujabud Dakwah hadits nomer 44.
[56] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Aliya' hadits nomer 42. Sanadnya dhaif.
[57]
Kisah tersebut ada di Mujabud Dakwah hadits nomer 84 dan Al-Hilyah 2/129.
[58]
Mujabud Dakwah hadits nomer 85 dan Al-Hilyah 2/129.
[59]
Mujabud Dakwah hadits nomer 92.
[60]
Ibid., nomer 93.
[61]
Ibid., hadits nomer 55.
[62]
Ibid., hadits nomer 56.
[63]
Ibid., hadits nomer 67 dan Hilyatul Auliya' 3/151.
[64]
Mujabud Dakwah hadits nomer 96.
[65]
Ibid., nomer 97.
[66]
Ibid., nomer 99 dan Al-Hilyah 6/150.
[67]
Majabud Dakwah hadits nomer 124.
[68]
Ibid., nomer 95.
[69]
Ibid., nomer 49.
[70]
Al-Auliya', Ibnu Abu Ad-Dunya hadits nomer 63 dan Mujabud Dakwah hadits nomer 131.
[71] Doa seperti disebutkan di hadits shahih adalah
ibadah. Di antara petunjuk Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam ialah hendaknya
seseorang berdoa kepada Allah untuk menghilangkan musibah, meringankannya,
menyirnakan galau dan sedih, serta menolak bala'. Jadi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih berhak diikuti dan dicontoh.
[72]
Mujabud Dakwah hadits nomer 122.
[73] Di Al-Ausath seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/264. Al-Haitsami berkata, "Para perawinya adalah para perawi shahih”. Hal yang sama dikatakan Al-Hafidz
Al-Mundziri di At-Targhib wat Tarhib 4/152. Hadits tersebut juga dishahihkan Al-Hafidz
Al-Iraqi di Takhrijul Hadits 3/277.
[74] Diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Ausath hal. 25 dari Majmaul Bahrain. Hadits tersebut juga
disebutkan Al-Haitsami di Majmauz
Zawaid 10/264. Ia berkata,
"Para perawi hadits tersebut adalah para perawi shahih”. Atau seperti yang
ia katakan. Namun guru Ath-Thabrani, Muhammad bin Ibrahim Al-Assal, adalah perawi tepercaya dan Salim bin Abu Al-Ja'du
tidak mendengar hadits tersebut dari
Tsauban seperti dikatakan Imam Ahmad, Al-Bukhari, dan Abu Hatim.
[75]
Al-Hilyah 5/365.
[76]
Thabaqaatu Ibnu Sa'ad 4/260.
[77] Dengan teks seperti itu diriwayatkan At-Tirmidzi
hadits nomer 979. namun sanadnya dhaif. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4446, An-Nasai 4/6, dan Imam Ahmad 6/64, 77 dengan teks, "Aku tidak suka
beratnya kematian bagi seseorang setelah Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam”.
[78]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6510,
At-Tirmidzi hadits nomer 978, Ibnu Majah hadits nomer 1623, dan Imam
Ahmad 6/64.
[79] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Dzikrul
Maut dari Thu'mah bin Ghailan Al-Ja'fi.
Al-Hafidz Al-Iraqi berkata di Takhrijul Ihya' 4/462, "Hadits tersebut mu'dhal, karena sahabat dan tabi'in tidak disebutkan di
sanadnya”.
[80] Diriwayatkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal. 298. Dari jalur Imam Ahmad, hadits tersebut diriwayatkan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 5/317
[81]
Al-Hilyah 4/232.
[82]
Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6507
dari Aisyah.
[83]
Diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari di Jamiul Bayan 14/101.
[84] Hadits nomer 42. Di sanadnya terdapat Abdurrahman
bin Ziyad bin An'am Al-Ifriqi yang
merupakan perawi dhaif karena hapalannya jelek. Ia juga dianggap sebagai perawi
dhaif oleh Al-Haitsami di
Majmauz Zawaid 1/83.
[85] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Auliya' hadits nomer 24. Hadits tersebut mursal.
[86] Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya di Al-Auliya' hadits nomer 5.
[87] Diriwayatkan dengan teks seperti itu oleh Ibnu Abu
Ad-Dunya di Al-Auliya' hadits nomer
3 dari Anas bin Malik. Sanadnya sangat dhaif. Hadits yang sama
diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya dari
Ibnu Umar, Ath-Thabrani di Al-Kabir
hadits nomer 13425, dan Abu Nu'aim
di Al-Hilyah 1/6. Hadits tersebut juga dhaif. Hadits tersebutjuga disebutkan
Al-Haitsami di Majmauz Zawaid 10/265-266. Ia berkata, "Hadits tersebut diriwayatkan Ath-Thabrani
di Al-Kabir dan Al-Ausath.
Di sanadnya terdapat perawi
Muslim bin Abdullah Al-Himshi yang tidak aku kenal dan dianggap tidak diketahui identitasnya oleh
Adz-Dzahabi, namun perawi lainnya adalah perawi yang dianggap sebagai perawi tepercaya”. Hadits tersebut juga
diriwayatkan Ali bin Al-Ja'du di Musnad-nya
dari Sa'id bin Zaid dan di
sanadnya terdapat perawi Adi bin Al-Fadhl yang merupakan perawi yang tidak bisa dipakai sebagai hujjah.
No comments:
Post a Comment