Monday, May 11, 2026

Qu'ud

Termasuk penyakit dakwah yang sering menimpa orang yang ada di barisan dakwah adalah al qu'ud.

1. PENGERTIAN AL QU'UD

Pengertian al qu'uud secara bahasa adalah sebagai berikut:

·         Duduk setelah berdiri.

·         Terputus dan meninggalkan suatu urusan. Seperti wanita yang berhenti dari haid disebut Qo 'adat.

·         Tertahan dari sesuatu.

·         Tidak memperhatikan sesuatu.

·         Penyakit yang menimpa fisik.

Sedangkan menurut istilah :

Penyakit yang menimpa para aktifis dakwah dari dalam dirinya yang menghalanginya dari meneruskan perjalanan dakwah sampai akhirnya, karena tiba-tiba ia terhenti dari jalan dakwah ataupun minimal berlambat-lambat tanpa peduli.

وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ ٤٦

“Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46)

Ibnu Atiyyah dalam penjelasannya terhadap ayat ini mengatakan: " Kata Qu'uud pada ayat ini yakni ketinggalan dan berlambat-lambat.”

2. FENOMENA AL QUUD DAN NILAI DALAM TIMBANGAN ISLAM

  • Meninggalkan manhaj Allah dan bertahkim kepada manhaj manusia walaupun sedikit.
  • Meninggalkan dakwah, namun tetap istiqomah dalam diri, keluarga dan anak.
  • Hanya berkonsentrasi untuk menyakiti para aktifis dakwah.
  • Berusaha memecah belah shof para aktifis dakwah.
  • Cenderung kepada orang-orang dzalim.
  • Senang mempelajari kesalahan para aktifis dakwah.
  • Memelintir nash-nash, dan menggunakannya bukan pada tempatnya.

 

  الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمْ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Orang-orang yang berkata terhadap saudara-saudaranya, kalau saja mereka taat kepada kita, tentu mereka tidak terbunuh, katakana tolaklah dari diri kalian kematian, jika kalian orang-orang yang benar. (Al Imron: 168)

Maka semua fenomena qu'uud di atas sangat tercela dalam pandangan  Islam, dan cukuplah ayat di atas menunjukkan tercelanya sifat di atas, ketika Allah menjadikannya sebagai sifat orang-orang munafik.

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ

24.  Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)

Dalam ayat ini kata Qoo'iduun menjelaskan sikap orang-orang yahudi yang menolak berjihad bersama nabi Musa.

فَاِنْ رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَاتِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّاۗ اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِالْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ فَاقْعُدُوْا مَعَ الْخٰلِفِيْنَ ٨٣

83.  Maka, jika Allah memulangkanmu (Nabi Muhammad) ke satu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya sejak semula kamu telah rida duduk (tidak berperang). Oleh karena itu, duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).” (QS. At-Taubah: 83)

Orang-orang yang meminta izin tidak ikut perang diperitahkan untuk keluar sekalian dan tidak boleh berperang, sebab mereka memang cenderung Qu'ud sejak pertama kali.

Ibnu Jarir At-Thabari berkata, "Ini peringatan dari Allah kepada Muhammad, jika Allah mempertemukanmu kembali dengan orang-orang munafik lalu mereka meminta izin, katakan, 'Kalian memang tidak akan keluar bersamaku dan tidak akan memerangi musuh. Sebab kalian memang cinta 'qu'ud." Kalian memang bagain dari musuh dan kalian sama-sama bermaksiat kepada Allah. Maka Allah murka kepada kalian."

Ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Abbas, "Seseorang berkata, 'Ya Rasulullah, udara sangat panas, kami tidak bias keluar berperang, maka engkau jangan keluar pada cuaca panas.' Itu terjadi pada perang Tabuk. Allah langsung berfirman,

قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ ٨١

"Katakan, 'neraka Jahannam lebih panas jika mereka mengerti." (QS. At-Taubah: 81)

Lalu Allah memerintahkan beliau untuk keluar berjihad dan beberapa orang tidak ikut. Mereka berpikir, 'Demi Allah, kita tidak berbuat apa-apa.' Tiga orang di antara menyusul Rasulullah, mereka bertaubat lalu kembali Madinah. Allah menurunkan ayat,

فَاِنْ رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَاتِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّاۗ اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِالْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ فَاقْعُدُوْا مَعَ الْخٰلِفِيْنَ ٨٣ وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا وَهُمْ فٰسِقُوْنَ ٨٤

83.  Maka, jika Allah memulangkanmu (Nabi Muhammad) ke satu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya sejak semula kamu telah rida duduk (tidak berperang). Oleh karena itu, duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).” 84.  Janganlah engkau (Nabi Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik) selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (berdoa) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS. At-Taubah: 83-84)

Rasulullah bersabda, "Celakalah orang-orang yang mutakhallifun…" Akhirnya Allah menerima alasan mereka saat bertaubat,

لَقَدْ تَّابَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ الَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۙ ١١٧

Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada masa-masa sulit setelah hati sekelompok dari mereka hampir berpaling (namun) kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka. (QS. At-Taubah: 117)

Allah berfirman

وَاِذَآ اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ اَنْ اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَجَاهِدُوْا مَعَ رَسُوْلِهِ اسْتَأْذَنَكَ اُولُوا الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوْا ذَرْنَا نَكُنْ مَّعَ الْقٰعِدِيْنَ ٨٦ رَضُوْا بِاَنْ يَّكُوْنُوْا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ ٨٧

86.  Apabila diturunkan suatu surah (yang memerintahkan orang-orang munafik), “Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya,” niscaya orang-orang yang berkemampuan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk (tinggal di rumah). 87.  Mereka rida berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.330) Hati mereka telah dikunci sehingga tidak memahami. (QS. At-Taubah: 86-87)

330) Orang yang tidak pergi berperang dalam ayat ini adalah perempuan, anak-anak, orang yang lemah, sakit, dan berusia lanjut.

Allah berfirman,

وَجَاۤءَ الْمُعَذِّرُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِيْنَ كَذَبُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗسَيُصِيْبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ ٩٠

Orang-orang Arab Badui yang membuat-buat alasan datang (kepada Nabi) agar diberi izin (untuk tidak berperang). Adapun orang-orang yang mendustakan Allah dan Rasul-Nya duduk berdiam (tidak mengemukakan alasan). Kelak orang-orang yang kufur di antara mereka akan ditimpa azab yang sangat pedih. (QS. At-Taubah: 90)

لَا يَسْتَوِى الْقٰعِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ غَيْرُ اُولِى الضَّرَرِ وَالْمُجٰهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ فَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةً ۗ وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰىۗ وَفَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًاۙ ٩٥

Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa uzur). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang terbaik (surga), (tetapi) Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. An-Nisa: 95)

Tentu tidak sama antara orang-orang beriman yang tidak ikut berjihad, lebih suka malas-malas dan duduk-duduk di rumah mereka. Yang menghindar dari berpanas-panas, berjalan di medan tempur melawan musuh karena Allah. Padahal mereka tidak punya uzur seperti buta atau penyakit lain yang tidak memungkinkan mereka berjihad di jalan Allah. Dengan para mujahid yang berada dalam manhaj agama Allah agar kalimat Allah selalu tinggi, taat kepada Allah dalam memerangi musuh-Nya dan musuh keimanan. Mereka yang menginfakkan harta dan jiwa mereka.

Rasulullah bersabda,

مَنْ رَابَطَ يَوْمًا أَوْ لَيْلَةً كَانَ لَهُ كَصِيَامِ شَهْرٍ لِلْقَاعِدِ

“Murabith satu hari atau satu malam sama dengan puasa sebulan.”

وَمَنْ مَاتَ مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ ، أَجْرَى اللهُ لَهُ أَجْرَهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ : أَجْرَ صَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ ، وَنَفَقَتِهِ ، وَوُقِيَ مِنْ فَتَّانِ الْقَبْرِ ، وَأَمِنَ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ

“Murabith yang meninggal mendapat pahala dari Allah dan akan dijaga dari fitnah kubur serta aman dari kengeriannya.”

Walaupun secara lahir ayat-ayat di atas ditujukan kepada orang-orang munafik. Namun ia juga mengisyarakatkan ancaman bagi orang-orang yang tidak berperang tanpa ada uzur.

 

3. SEBAB-SEBAB QU'UD

1. Maksiat

Sebab orang-orang yang belepotan maksiat, lahir maupun batin, besar maupun kecil dan tidak segera bertaubat, akan menjadi penyakit hati, bahkan kematian hati. Ketika itu hati tidak bisa mengendalikan organ tubuh. Pada gilirannya setan jin dan manusia, dunia dengan kemewahannya menemukan jalan yang terbuka untuk menggodanya melakukan apa yang dimurkai Allah. Di antara kemaksiatan tersebut adalah qu'ud dari amal di jalan Allah.

Allah memperingatkan bahwa maksiat mengakibatkan banyak kejahatan. Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Bani Israil.

وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ࣖ ٦١

Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena sesungguhnya mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu ditimpakan karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. Al-Baqarah: 61)

Apa yang Aku lakukan kepada mereka disebabkan oleh kemaksiatan mereka dan sikap melampaui batas mereka.

Rasulullah juga mengingatkan,

تُعْرَضُ الْفِتَنُ كَالْحَصِيرِ عَوْدًا عَوْدًا ، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا ، لَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ

Fitnah-fitnah akan dipaparkan ke dalam hati (manusia) laksana anyaman tikar yang disusun sebatang demi sebatang. Hati mana pun yang menyerapnya (menerimanya), niscaya akan dititikkan padanya sebutir noda hitam. Dan hati mana pun yang mengingkarinya (menolaknya), niscaya akan dititikkan padanya sebutir noda putih. Hingga akhirnya hati manusia terbagi menjadi dua jenis: Hati yang putih seperti batu marmer yang halus, ia tidak akan pernah tertimpa bahaya oleh fitnah apa pun selama langit dan bumi masih ada. Hati yang hitam legam lagi keruh (seperti abu-abu), laksana gelas yang tertelungkup (terbalik); ia tidak lagi mengenal kebaikan dan tidak lagi mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang diserap oleh hawa nafsunya semata."

Fitnah akan datang sehelai demi sehelai. Hati yang termakan olehnya menjadi noktah hitam. Hati yang menolaknya akan menjadi noktoh putih. Jadinya ada dua hati; hati putih yang tidak terpengaruh oleh fitnah dan hati hitam yang tidak mampu menolak kemungkaran dan tidak mengenali yang ma'ruf.

2. Berlebihan dalam hal-hal mubah

Hal mubah Allah berikan kepada hamba-Nya sebagai bentuk penjagaan dan rahmat untuk mereka. Agar seorang hamba mengambilnya sekedarnya.

Allah berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan sesuatu yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-Maidah: 87)

Ayat ini menjelaskan ketidak sukaan Allah terhadap orang-orang yang berlebihan dalam mubahat, maka ketika ayat ini dilupakan, terjatuhlah manusia dalam mubahat. Aisyah ra mengatakan:

أَوَّلُ بَلَاءٍ حَدَثَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا الشِّبَعُ ، فَإِنَّ الْقَوْمَ لَمَّا شَبِعَتْ بُطُونُهُمْ سَمِنَتْ أَبْدَانُهُمْ فَضَعُفَتْ قُلُوبُهُمْ ، وَجَمَحَتْ شَهَوَاتُهُمْ

“Bencana yang pertama menimpa umat ini sepeninggal nabi adalah kenyang, karena sesungguhnya kaum yang perutnya kenyang, lemah hatinya, dan tidak terkendali syahwatnya. “

Begitu juga Umar:

إِيَّاكُمْ وَالْبِطْنَةَ فِي الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ ، فَإِنَّهَا مَفْسَدَةٌ لِلْجَسَدِ ، مُورِثَةٌ لِلسَّقَمِ ، مُكَسِّلَةٌ عَنِ الصَّلَاةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ فِيهِمَا ، فَإِنَّهُ أَصْلَحُ لِلْجَسَدِ وَأَبْعَدُ مِنَ السَّرَفِ ، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ الْحَبْرَ الثَّمِينَ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَنْ يَهْلِكَ حَتَّى تُؤْثِرَ شَهْوَتُهُ عَلَى دِينِهِ

“Jauhilah kekenyangan makan dan minum, karena hal itu merusak badan, menimbulkan penyakit, menyebabkan malas sholat. Janganlah berlebih-lebihan, karena hal itu bermanfaat bagi badan dan jauh dari tabdzir. Dan sungguh Allah swt membenci alim yang gemuk, dan sungguh seseorang tidak akan binasa sehingga ia lebih mengutamakan syahwat dari pada agamanya.”

3. Kehidupan dunia yang sudah menguasai hati.

Karena ketika dunia sudah menguasai hati manusia, akan menjadikan pelakunya lebih senang-senang dengan dunia, dan meninggalkan akhirat. Kondisi inilah yang disebut Qu'uud.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا قَلِيْلٌ ٣٨

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan cenderung pada (kehidupan) dunia? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada akhirat? Padahal, kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At-Taubah: 38)

Menurut Ibnu Atiyyah: Ayat ini kecaman terhadap para sahabat yang ketinggalan perang tabuk 9 H setelah fathu Makkah, bersama 20 ribu pasukan, namun banyak kabilah-kabilah yang tidak ikut serta, khususnya tiga sahabat: Ka'ab bin Malik, Muroroh bin Robi' dan Hilal bin Umayyah. Mengingat mereka adalah sahabat yang memiliki kedudukan tinggi, karena termasuk ahlu badr, dan termasuk sahabat yang dijadikan qudwah.

4. Tidak berniat terus berdakwah sampai titikdarah penghabisan, dan tidak berbuat, walaupun sebatas niat.

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS. Muhammad: 17)

Dalam ayat ini Allah akan menambah hidayah dan ketaqwaan bagi orang yang berniat terus untuk tetap dalam hidayah. Dan menjadi sunnatullah terhadap manusia, barang siapa yang sekedar niat untuk komitmen di jalan dakwah saja, tidak mau meniatkannya, maka Allah akan menjauhkannya dari hidayah dan taufiknya, sehingga terjadilah Qu'ud. Allah swt telah mengingatkan kita orang-orang beriman, tentang penyebab Qu'ud ini, ketika menjelaskan tentang orang-orang munafiq yang enggan ikut serta dalam perang Tabuk bersama Rosul, karena alasan-alasan yang lemah. Inti kondisi mereka adalah tidak ada niyat untuk berjihad bersama Rosulullah. Allah berfirman:

۞ وَلَوْ اَرَادُوا الْخُرُوْجَ لَاَعَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ انْۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ ٤٦

Seandainya mereka mau berangkat (sejak semula), niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu. Akan tetapi, (mereka memang enggan dan oleh sebab itu) Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46)

Kalau saja mereka berniyat untuk keluar berjihad, tentu mereka menyiapkan persiapannya, namun Allah enggan terhadap keterlibatan mereka , maka Allah jadikan mereka tidak mampu bangkit, dan dikatakan mereka duduklah bersama orang-orang yang duduk.

5. Hidup di tengah-tengah orang-orang yang qoidin.

Pada umumnya manusia mudah terpengaruh oleh lingkungan tempat tinggalnya, baik lingkungan terdekatnya seperti rumah atau lingkungan luasnya seperti masyarakat, terutama jika ia tidak memiliki daya imun yang tinggi untuk melawan lingkungannya yang cenderung mendorongnya untuk qu'uud dengan celaan dan penghinaan bahkan penyesatan dan ancaman. Sabda Rosul.

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Manusia yang dipengaruhi agama teman akrabnya, maka hendaklah salah seorang memperhatikan dengan siapa bergaul.”

لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا ، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ

“Janganlah bergaul kecuali dengan orang beriman, dan tidak makan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.”

6. Tidak yakin dengan janji Allah dan RosulNya.

Begitu banyaknya ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan bagi orang-orang yang terus berjuang di jalan dakwah.

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٥٥

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik. (QS. An-Nur: 55)

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِيْنَ ۖ ١٧١ اِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُوْرُوْنَۖ ١٧٢ وَاِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ ١٧٣

Sungguh, janji Kami benar-benar telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul. Sesungguhnya merekalah yang pasti akan mendapat pertolongan, dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang. (Ash-Shafat: 171-173)

هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ٢٨

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. Al-Fath: 28)

يُرِيْدُوْنَ لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ ٨ هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ ٩

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. Ash-Shaf: 8-9)

Dan Rosulullah saw pun menjanjikan kemenangan

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ ، وَلَا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّينَ

“Perjuangan ini pasti akan sampai pada kemenangan, sebagaimana sampainya malam dan siang, dan tidaklah ada rumah yang terbuat dari bulu atau lainnya kecuali tidak akan ditinggalkan oleh Allah untuk dimasuki agama ini.”

Dan barang siapa yang tidak yakin dengan janji ini, bisa dipastikan akan terjebak pada Qu'uud dan akan meninggalkan dakwah dan jihad

7. Terjadinya halangan-halangan dakwah yang secara tiba-tiba, tanpa disikapi dengan kesiapan dan kecerdasan dalam menghadapinya.

Dalam perjalanan dakwah, seoorang da'i kadang dikejutkan oleh tantangan-tantangan yang datang tiba-tiba seperti jiwa yang ammaroh bis suu', syetan-syetan jin dan manusia, dunia dengan keindahannya yang terlihat dalam pernikahan, anak-anak, jabatan-jabatan, popularitas, kekuasaan dan lain-lainnya seperti lamanya perjalanan dakwah. Maka siapa saja yang tidak siap menghadapi tantangan-tantangan di atas, tidak ayal lagi akan jatuh dalam Qu'uud.

Dalam siroh kasus ini dikenal dengan kasus seorang sahabat yang miskin, kemudian ia minta kepada Rosulullah agar didoakan menjadi kaya, Rsulullah menasehatinya : Sedikit yang di sikapi dengan syukur, dari pada banyak yang membuatmu tidak bersyukur. Namun dia masih bersikeras untuk didoakan menjadi kaya. Setelah menjadi kaya ternyata menjauh dari dakwah bwersama Rosulullah disibukkan oleh harta yang semakin hari semakin melimpah, sampai akhirnya meninggal dalam keadaan su-ul khotimah. Al Qur'an mengabadikan peristiwa ini dalam surat At-Taubah: 75-78.

۞ وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٧٥ فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٧٦ فَاَعْقَبَهُمْ نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ٧٧ اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ ٧٨

Di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sesungguhnya jika Dia memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami, niscaya kami akan benar-benar bersedekah dan niscaya kami benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.” Akan tetapi, ketika Allah menganugerahkan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling seraya menjadi penentang (kebenaran). Maka, (akibat kekikiran itu) Dia menanamkan kemunafikan dalam hati mereka sampai pada hari mereka menemui-Nya karena mereka telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui rahasia dan bisikan mereka dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala yang gaib?

8. Terlambat menempati posisi jundiyah setelah menempati posisi qiyadah.

Realitanya dalam lapangan, bagi sebagian kader ketika berada dalam posisi qiyadah, kemudian karena suatu hal ia dipindahkan ke posisi jundiyah, ia merasa sombong, terutama jika dia merasa bahwa posisi qiyadah adalah suatu kehormatan bukan suatu beban atau dirasasakan sebagai ghonimah bukan suatu tanggung jawab, maka yang terjadi tidak ada lain kecuali yang terjadi adalah al qu'uud dan berlepas diri dari menunaikan kewajiban. Namun coba bandingkan apa yang pernah terjadi kepada Kholid bin Walid ketika menerima surat pemberhentian dari Umar karena suatu maslahat, maka sebagai komandan yang terkenal selalu sukses, dengan penuh gembira melaksanakan instruksi Umar, dan mengatakan perkataannya yang sangat popular: Demi Allah kalau saja Umar mengangkat pimpinan seorang budak yang hitam kulitnya, tentu aku akan taat dan mendengar, selama ia menuntunku kepada Al Qur'an.

9. Tertipu dengan janji-janji kebatilan.

Kebatilan biasanya berusaha dengan segala cara memperdaya orang yang qo-idin setelah lama berkecimpung dalam aktifitas dakwah. Di antaranya dengan janji-janji yang menyilaukan, seperti harta, jabatan atau popularitas, seperti yang pernah dilakukan oleh Utbah bin Robi'ah kepada Rosulullah. Mereka yang tidak kuat pasti akan tunduk dengan semua rayuan di atas dan meninggalkan komitmennya dengan manhaj Alllah.Sebagaimana yang banyak terjadi di kalangan para aktifis dakwah.

Sebagaimana yang terjadi dalam kisah rakyat: Seorang abid yang begitu semangat akan menebang pohon yang di sembah oleh masyarakat, maka syetan merayu sang abid, agar menghentikan upayanya untuk menebang pohon tersebut, dengan imbalan uang yang diberikan setiap hari. Namun tatkala pemeberian uang terhenti. Sang abid marah hendak menebang kembali pohon, namun mudah syetan mengalahkannya, karena tidak lagi dijiwai oleh keikhlasan.

10. Ketiadaan Manhaj yang dapat memenuhi kehidupan dan mengisi kekosongan.

Seorang muslim apabila tidak menyibukkan dirinya dengan manhaj yang memenuhi hidupnya dan mengisi kekosongannya dengan tadabbur dan tafakkur dalam melaksanakan berbagai macam ibadah dan amal salih, berdakwa, melawan gerakan orang-orang kafir, maka jiwanya yang ammaroh bis suu' dibantu oleh syetan-syetan jin dan manusia, maka dia akan memilih manhaj batil selain yang ditetapkan oleh Allah dan RosulNya dan kemudian memperaktekannya. Inilah hakikat Al Qu'uud.

11. Tidak ada kesesuaian Manhaj dengan potensi dan daya dukung.

Seorang muslim tidak akan dalam kondisi selalu bersemangat, jika tidak didukung oleh manhaj yang sesuai dengan potensi dan daya dukungnya, maka jika suatu manhaj tidak memiliki kesesuaian, melebihi kapasitas atau lebih rendah, maka akan berdampak Qu'uud dan meninggalkan dakwah, kecuali yang masih dirahmati oleh Allah. Inilah rahasia mengapa rosulullah tidaklah berdialog dengan siapapun kecuali disesuaikan dengan kapasitasnya. Contoh dialog Rosul dengan Muadz.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ  رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  أَنَّ النَّبِيَّ    وَمُعَاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ ، قَالَ : يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ  ، قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ، قَالَ : يَا مُعَاذُ  ، قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ( ثَلَاثًا ) .قَالَ : مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

Dari Anas bin Malik ra: Bahwasanya Nabi dan Muadz berada di satu kendaraan. Nabi bersabda: Ya Muadz Bin Jabal. Lababik wa sa'daik, Jawab Muadz. Tiga kali Rosulullah memanggil-manggilnya. Maka rosul bersabda: Tidak satupun seseorang yang bersyahadat tidak ada tuhan selain Allah, dan Muhammad utusan Allah atas dasar keyakinan dari hatinya kecuali Allah akan cegah dirinya dari Neraka. Muadzpun bertanya kepada Rosul "Bolehkah aku sampaikan informasikan kepada masyarakat agar mereka dapat bergembira? Rosul jawab: Nanti mereka mengandalkan itu. Dan Akhirnya diinformasikan oleh Muadz menjelang kematiannya dengan merasa bersalah.

12. Tidak memberi penghargaan kepada aktifis dakwah sesuai dengan haknya.

Manusia pada umumnya akan senantiasa melaksanakan tugas-tugas yang diwajibkan kepadanya, selama dia tidak dihinakan atau direndahkan. Jika yang terjadi sebaliknya pada umumnya akan menyebabkan terjadinya Qu'uud. Inilah rahasianya banyaknya hadits-hadits Rosul yang memperhatikan adab-adab bersosialisasi yang baik. Contoh-contoh hadits-hadits tersebut:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا ، وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ ، وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Bukanlah golongan kami orang yang tidak menyayangi yang kecil, dan tidak menghormati yang lebih tua, memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar.” ( HR Atturmudzi )

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا ، أَوْ حَقَّ كَبِيرِنَا

“Bukanlah golongan kami yang tidak menyayangi yang kecil, dan memperhatikan kemulyaan atau hak yang lebih tua.”

13. Membebani jiwa dengan berbagai macam kewajiban di luar batas kemampuan.

Pada umumnya semua tugas dakwah di awalnya manis, dilaksanakan dengan penuh semangat dan meluangkan semua waktunya. Namun ketika dia melihat orang lain mulai kurang semangat dalam menjalankan tugas-tugas dakwahnya, mulailah dirinya terpengaruh oleh kondisi tersebut, setelah sekian lama, mulailah dia merasakan beratnya tugas-tugas yang diembannya dan menjadi sangat melelahkan. Kondisi ini jika tidak segera ditangani dapat terjadi Al Qu'uud dan berhenti dari tugas dakwah.

14. Tidak dapat mememaafkan kesalahan orang lain.

Karakter manusia tidak akan lepas dari kesalahan, kecuali para anbiyah. Dan sering-sering muhasabah akan dapat mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan.

Namun jarang disadari bahwa muhasabah dan mudah memaafkan merupakan salah satu cara untuk dapat bertahan dalam melaksanakan tugas-tugas dakwah. Sebaliknya sikap ketat dan banyak menuntut kesempurnaan dalam pelaksanaan tugas akan menyebabkan terjadinya Al Qu'uud. Inilah rahasia banyaknya ayat-ayat Allah yang memperhatikan sisi kehidupan ini.

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤

(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran: 134)

خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩

Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199)

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢٢

Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nur: 22)

15. Mengira bahwa Qu'uud bahwa jalan selamat dan aman.

Syetan biasanya menggoda seorang aktifis dakwah agar berhenti dari tugas dakwah, terutama pada zaman seperti ini di mana kebatilan masih dominan dan menghususkan diri untuk menggoda orang-orang yang bekerja di jalan dakwah. Digoda agar lupa atau pura-pura lupa bahwa selamat dan aman hanyalah Allah yang dapat memberi dan membuang janji karunia dari Allah swt. Sementara sunnatullah sudah ditetapkan, bahwa hanya memberikan kepada orang-orang yang bertaqwa dan beramal sholih;

وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ ٥٥

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji) tersebut, mereka itulah orang-orang fasik. (QS. An-Nur: 55)

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ࣖ ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82)

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ  ٢٨

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Syetan juga bisa masuk dari suatu was-was dengan mengatakan kepada seorang yang aktifis dakwah: Kamu adalah orang yang banyak berdosa. Akibat perbuatanmu ini telah mengakhirkan pertolongannya dan dukungannya terhadap aktifis dakwah yang lain, bahakan mungkin juga menyebabkan datangnya bencana bagi semuanya. Untuk itu sebaiknya kamu menjauhi orang-orang yang sholih dan bertqwa itu. Agar mereka tetap selamat dan aman. Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa merekapun sesungguhnya juga bias salah dan melakukan dosa, hanya saja mereka segera bertaubat dan tidak terus menerus.

16. Tidak adanya sambutan dakwah dari masyarakat.

Hal ini terjadi di sekelompok para duat yang mengira bahwa dirinya tidak disebut sukses dalam tugas kecuali jika orang lain meyambut dakwahnya dan menerima apa yang disampaikan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan terjadinya Qu'uud dan berhenti dari kerja dakwah. Lupa atau pura-pura lupa bahwa hati manusia semuanya di antara dua jari dari jari-jari Allah, bagaikan satu hati yang dirubah-rubah sekehendakNya. Sebagaimana firmanNya.

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٥٦

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash: 56)

فَاِنْ اَعْرَضُوْا فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗاِنْ عَلَيْكَ اِلَّا الْبَلٰغُ ۗوَاِنَّآ اِذَآ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ فَاِنَّ الْاِنْسَانَ كَفُوْرٌ ٤٨

Jika mereka berpaling, (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia sedikit dari rahmat Kami, dia gembira karenanya. Akan tetapi, jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri, (niscaya mereka ingkar). Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (pada nikmat). (Asy-Syura: 48)

17. Melupakan akibat Al Qu'uud.

Terakhir bisa jadi lupa akan dampak yang disebabkan oleh Al Qu'uud, baik secara pribadi atau jamaah, dunia atau akhirat dapat menjadikan Al Qu;uud. Kami lihat di lapangan pada zaman sekarang ini beberapa orang yang sudah berhenti dari kerja dakwah dalam kondisi yang sangat tidak diinginkan. Mereka mengatakan; kalau saja berhenti di jalan dakwah menyebabkan kita mengalami kondisi sejelek ini, tentulah kita tidak akan berhenti dari jalan dakwah ini.

4. DAMPAK-DAMPAK AL QU'UUD.

A. DAMPAK TERHADAP PARA AKTIFIS DAKWAH.

1. Syetan menguasai mereka kemudian menerkamnya.

Mereka yang berhenti dari hidup dari komitmen dengan Islam, akan menjadi orang yang berwala' kepada syetan baik dari manusia atau jin. Sedangkan mereka yang berhenti dari jalan dakwah dan lebih memilih hidup sendiri dan keluarganya dalam melaksanakan ajaran islam. Mereka berarti telah memberi kesempatan bagi syetan untuk menguasai mereka kemudian menerkamnya. Rosul bersabda :

فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ ، فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ، وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ  (40).

“Barang siapa di antara kalian yang menginginkan kenikmatan surga, maka hendaklah ia komitmen dengan jamaah, karena syetan bersama orang yang sendiri, dan dari dua orang lebih jauh.”

2. Pelipat gandaan dosa yang dapat mengantarkan ke neraka.

Mereka yang berhenti dari jalan dakwah berarti telah membuka pintu yang lebar di depan sekian banyak orang-orang yang lemah dan orang-orang awam yang mudah meniru dan mengikuti mereka. Oleh karena itu mereka menanggung dua dosa; dosa qu'uud mereka dan dosa orang-orang yang berhenti berdakawah karena disebabkan olehnya. Allah berfirman:

وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ࣖ ١٣

Mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka (sendiri) dan dosa-dosa (orang lain yang mereka perdaya) di samping dosa-dosa mereka. Pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang selalu mereka ada-adakan. (QS. Al-Ankabut: 13)

لِيَحْمِلُوْٓا اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ ࣖ ٢٥

(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara utuh dan sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul. (QS. An-Nahl: 25)

3. Hidup hina dan rendah.

Mereka yang berhenti bekerja dari dakwah membela agama Allah, tidak akan terlepas dari takdir Allah, dan Allah telah menakdirkan kehidupan hina dan rendah di dunai dan di akhirat bagi siapa saja yang berpaling dari Allah.

وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ١٢٤

Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)

لِّنَفْتِنَهُمْ فِيْهِۗ وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاۙ ١٧

Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang sangat berat. (QS. Al-Jin: 17)

Dan pada masa sekarang ini kami menyaksikan orang-orang berhenti membela agama Allah, setelah sebelumnya menjadi obor pergerakan, dan tidak punya alasan kecuali ingin memanjakan diri, istri, anak dan harta. Berlalulah takdir Allah dan dia tidak berhasil mendapatkan apa yang inginkan, dan suatu saat akan menyesali apa yang telah dilakukan:

وَلَىِٕنْ اَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِّنَ اللّٰهِ لَيَقُوْلَنَّ كَاَنْ لَّمْ تَكُنْۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهٗ مَوَدَّةٌ يّٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ مَعَهُمْ فَاَفُوْزَ فَوْزًا عَظِيْمًا ٧٣

Sungguh, jika kamu mendapat karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia, “Aduhai, sekiranya aku dahulu bersama mereka, tentu aku akan memperoleh kemenangan yang agung (pula).” (QS. An-Nisa: 73)

B. DAMPAK AL QU'UUD BAGI GERAKAN ISLAM.

1. Melemahkan gerakan islam, dan memancing terjadinya pembunuhan terhadap para aktifis, atau minimal menjedikan gerakan islam berjalan di tempat tidak berkembang pada hal telah banyak tenaga pikiran dan waktu yang telah dikorbankan.

Mereka yang berhenti di jalan dakwah, biasanya tidak hanya berdampak terhadap dirinya, tetapi akan menular kepada lainnya meniru apa yang dilakukan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat menutup pintu bagi orang-orang yang ingin komit dengan Islam dan bekerja untuk Islam untuk pertama kali, karena pertimbangan ingin selamat dan aman menurut mereka. Tentu akan berdampak kepada para aktifis dan gerakan Islam. Semua orang tahu bahwa musuh-musuh Islam biasanya tidak mampu memperdaya para aktifis dan gerakan Islam kecuali dalam suasana seperti ini, suasana lemah dan perpecahan.

2. Mengundang bencana besar terhadap para aktifis dakwah, seperti pelecehan terhadap kehormatan, perampasan harta, pertumpahan darah, penyiksaan dan  pengusiran. Semua ini disebabkan oleh ornag-orang yang berhenti bekerja untuk dakwah Apa yang menimpa para aktifis dakwah di Mesir pada awal lima puluhan adalah disebabkan oleh mundurnya sekelompok ulama dari shof, maka diikuti oleh sejumlah manusia yang terpengaruh oleh sikap mereka. Semua ini bukti kebenaran apa yang saya jelaskan, maka kelompok ini menanggung dosa apa yang menimpa mereka kecuali Allah memaafkan mereka.

Dan apa yang dialami gerakan Islam saat ini dengan banyaknya orang-orang yang mengundurkan diri dari lapangan dakwah, akan dijadikan oleh musuh-musuh dakwah sebagai cambuk yang siap menyalak di punggung para aktifis dakwah yang akan menjadikan masyarakat takut dari dakwah. Ini semua bukti atas kebenaran apa yang saya jelaskan di atas.

5. SOLUSI AL QU'UUD.

1. Menumbuhkan penghargaan terhadap nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita dan alam semesta yang mengelilingi kita yang nampak dan tidak nampak. Allah berfirman:

وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ

Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur. (QS. Ibrahim: 34)

اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ۗوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ٢٠

Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia (juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu. Akan tetapi, di antara manusia ada yang membantah (keesaan) Allah tanpa (berdasarkan) ilmu, petunjuk, dan kitab suci yang menerangi. (QS. Luqman: 20)

2. Menumbuhkan rasa tanggung jawab di hati orang-orang yang berhenti di jalan dakwah di hadapan Allah terhadap apa yang menimpa umat Islam, di Bosnia, Kasymir, Burma, Ertiria dan lain sebagainya.

Bayangkan apa jawaban mereka terhadap Allah, pada hari semua manusia menghadap Allah, hari tidak satupun jiwa dapat menolong jiwa yang lain sedikitpun. Sesungguhnya perasaan ini akan menumbuhkan perasaan takut, jika fitrahnya masih bagus dan akal yang masih cerdas. Maka dia akan bersuasaha melepaskan dirinya dari qu'uud dan berusaha bangkit dari awal.

3. Tidak berlebihan dalam menikmati yang mubah. Dan meyakini bahwa hal ini akan membawa kemaslahatan bagi fisik, akal dan ruh kita. Dan apa yang tidak dapat kita nikmati sekarang akan kita nikmati nanti di akhirat dengan lebih sempurna dan lebih indah.

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ ٣٢

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, ‘Semua itu adalah untuk orang-orang yang beriman (dan juga tidak beriman) dalam kehidupan dunia, (tetapi ia akan menjadi) khusus (untuk mereka yang beriman saja) pada hari Kiamat.’” Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada kaum yang mengetahui. (QS. Al-A’raf: 32)

4. Menghilangkan rasa cinta terhadap dunia dengan segala cara. Cinta dunia adalah sumber dari segala dosa. Ini bukan berarti kita boleh memiliki dunia sesuai dengan keinginan kita dengan syarat sumbernya halal, dan melaksanakan hak Allah di dalamnya, bahkan demi kehalalan kita harus siap mengalah karena Allah.

5. Selalu tadabbur Al-Qur'an dan Sunnah Rosulullah saw. Dari situlah kita akan dapatkan berita orang yang berhenti bekerja untuk dakwah, bagaimana Allah menghinakan mereka di dunai dan di akhirat. Hati yang bersih akan dengan mudah mengambil pelajaran, dan kemudian bangkit dari sikapnya, sebagai rasa takut akan mendapat balasan seperti orang-orang yang telah melakukan qu'uud. Surat An Nisa', Al Ahzab, dan Al Fath adalah surat-surat yang paling banyak menjelaskan jenis manusia ini.

6. Merenungkan kondisi mereka saat ini dan bagaimana mereka akan menjadi andil menguatnya barisan musuh Allah dan RosulNya. Orang-orang seperti ini biasanya sering dimanfaatkan musush, namun setelah mereka berhasil akan dibuang begitu saja dan dibuanglah mereka di sampah sejarah. Mereka akan merugi dalam dua kehidupan yakni dunai dan akhirat. Dan kerugian akhirat lebih dahsyat.

فَاعْبُدُوْا مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۗ قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ ١٥

Maka, sembahlah sesukamu selain Dia (wahai orang-orang musyrik!)660) Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15)

660) Perintah ini bukanlah dalam arti yang sebenarnya, tetapi pernyataan kemurkaan Allah Swt. terhadap kaum musyrik yang selalu ingkar, meskipun berulang kali diajak bertauhid.

7. Melakukan mujahadah agar selalu memiliki niat jihad dan bekerja untuk agama Allah, kemudian melaksanakan apa yang tuntutan niat ini. Sikap ini akan berjalan dengan baik manaka dibarengi kesungguhan dan niat ikhlas dan mengikuti sunnah Rosulullah. Maka boleh jadi Allah swt dengan niat ini akan memberi karunia kepada kelompok ini dapat bangkit dari sikap Al Qu'uud dan menjadi kerja nyata di lapangan dakwah. Firman Allah.

وَيَزِيْدُ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اهْتَدَوْا هُدًىۗ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ مَّرَدًّا ٧٦

Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang telah mendapat petunjuk. Amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahala dan kesudahannya di sisi Tuhanmu. (QS. Maryam: 76)

وَالَّذِيْنَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧

Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS. Muhammad: 17)

8. Memutus hubungan dari pergaulan dari orang-orang yang Qo'idiin, kecuali sekedar untuk membangkit mereka dari sikap qu'uud mereka. Dan begitu selesai dengan mereka segera bergabung lagi di tengah orang yang aktif bekerja untuk dakwah, agar segera membangkitkan kembali semangat bekerja dan meneguhkan jiwa dan mendorong mereka untuk berqudwah.

9. Selalu merenungi janji Allah dan RosulNya bagi orang-orang yang beriman ketika mereka masih aktif dan k etika mereka menjadi qo'idiin.

10. Waspada terhadap hambatan-hambatan dakwah seperti istri, anak-anak, harta, kekuasaan dan popularitas dan sejenisnya agar kita dapat siap siaga dan menyadari bahwa mereka  sedikitpun tidak bermanfaat bagi kita.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥

Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.719) Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.

719) Kadang-kadang istri atau anak dapat menjerumuskan suami atau bapaknya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al-Munafiqun: 9)

11. Bersegera melaksanakan manhaj yang meliputi kehidupan dengan segala macam fariasinya, dan menjadi sesuai dengan potensi dan daya dukung manusia, terutama jenis manusia yang qo'idiin, dengan menjadikan Al Qur'a n dan sunnah merupakan manhaj yang asas dan utama. Manhaj seperti ini biasanya dapat mengobati saat-saat kekosongan yang suka dijadikan oleh syetan jin dan manusia dan membuka pintu kebangkitan bagi orang-orang yang qo'idiin.

12. Mujahadah nafs untuk menghormati orang-orang lain, terutama orang-orang yang memiliki kelbihan ilmu dan agama. Bentuk mujahadahnya adalah dengan tidak membebankan kewajiban-kewajiban yang berlebihan, mengingat perjalanan yang panjang dan sulit. Dengan mujahadah seperti ini insya Allah akan menggerakkan qo'idiin akan bangkit lagi dari awal.

13. Mudah memaafkan beberapa kesalahan dan kekuranagn saat efaluasi, selama tidak berlebihan pelanggaran dalam hak Allah dan hak hambanya Sikap ini insya Allah akan menghilangkan rasa putus asa dan membuka rasa harap dan optimis.

14. Selalu menyambut perubahan posisi, terutama perubahan dari posisi atas menjadi posisi bawah, dari qiyadah menjadi jundiyyah dengan gembira. Karena semakin tinggi kedudukan seseorang semakin berat tanggung jawabnya dan semakin besar hisabnya.

يٰنِسَاۤءَ النَّبِيِّ مَنْ يَّأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُّضٰعَفْ لَهَا الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا ۔ ٣٠

Wahai istri-istri Nabi, siapa di antara kamu yang melakukan perbuatan keji yang nyata, pasti azabnya akan dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Hal yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. (QS. Al-Ahzab: 30)

 



(40) انظر : سلسلة الأحاديث الصحيحة للألباني : المجلد الأول ص 431 .

No comments:

Post a Comment

Ujub