Termasuk penyakit dakwah yang sering menimpa orang yang ada di barisan dakwah adalah al qu'ud.
1. PENGERTIAN AL QU'UD
Pengertian
al qu'uud secara bahasa adalah sebagai berikut:
·
Duduk setelah berdiri.
·
Terputus dan meninggalkan suatu
urusan. Seperti wanita yang berhenti dari haid disebut Qo 'adat.
·
Tertahan dari sesuatu.
·
Tidak memperhatikan sesuatu.
·
Penyakit yang menimpa fisik.
Sedangkan menurut istilah :
Penyakit yang menimpa para aktifis dakwah dari dalam
dirinya yang menghalanginya dari meneruskan perjalanan dakwah sampai akhirnya,
karena tiba-tiba ia terhenti dari jalan dakwah ataupun minimal berlambat-lambat
tanpa peduli.
… وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ ٤٦
“Tinggallah kamu bersama orang-orang yang
tinggal itu.” (QS. At-Taubah: 46)
Ibnu Atiyyah dalam penjelasannya terhadap ayat ini
mengatakan: " Kata Qu'uud pada ayat ini yakni ketinggalan dan
berlambat-lambat.”
2. FENOMENA AL QUUD DAN NILAI DALAM TIMBANGAN ISLAM
- Meninggalkan
manhaj Allah dan bertahkim kepada manhaj manusia walaupun sedikit.
- Meninggalkan
dakwah, namun tetap istiqomah dalam diri, keluarga dan anak.
- Hanya
berkonsentrasi untuk menyakiti para aktifis dakwah.
- Berusaha
memecah belah shof para aktifis dakwah.
- Cenderung
kepada orang-orang dzalim.
- Senang
mempelajari kesalahan para aktifis dakwah.
- Memelintir
nash-nash, dan menggunakannya bukan pada tempatnya.
الَّذِينَ قَالُوا لِإِخْوَانِهِمْ وَقَعَدُوا لَوْ أَطَاعُونَا مَا
قُتِلُوا قُلْ فَادْرَءُوا عَنْ أَنْفُسِكُمْ الْمَوْتَ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Orang-orang
yang berkata terhadap saudara-saudaranya, kalau saja mereka taat kepada kita,
tentu mereka tidak terbunuh, katakana tolaklah dari diri kalian kematian, jika
kalian orang-orang yang benar. (Al Imron: 168)
Maka
semua fenomena qu'uud di atas sangat tercela dalam pandangan Islam, dan cukuplah ayat di atas menunjukkan
tercelanya sifat di atas, ketika Allah menjadikannya sebagai sifat orang-orang
munafik.
قَالُوْا
يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ
اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ
24. Mereka berkata, “Wahai Musa, sesungguhnya
kami sampai kapan pun tidak akan memasukinya selama mereka masih ada di
dalamnya. Oleh karena itu, pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah
kamu berdua. Sesungguhnya kami tetap berada di sini saja.” (QS. Al-Maidah: 24)
Dalam
ayat ini kata Qoo'iduun menjelaskan sikap orang-orang yahudi yang menolak
berjihad bersama nabi Musa.
فَاِنْ
رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ
فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَاتِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّاۗ
اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِالْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ فَاقْعُدُوْا مَعَ
الْخٰلِفِيْنَ ٨٣
83. Maka, jika Allah memulangkanmu (Nabi
Muhammad) ke satu golongan dari mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka
meminta izin kepadamu untuk keluar (pergi berperang), katakanlah, “Kamu tidak
boleh keluar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh
bersamaku. Sesungguhnya sejak semula kamu telah rida duduk (tidak berperang).
Oleh karena itu, duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut
(berperang).” (QS. At-Taubah: 83)
Orang-orang yang meminta izin tidak ikut perang
diperitahkan untuk keluar sekalian dan tidak boleh berperang, sebab mereka
memang cenderung Qu'ud sejak pertama kali.
Ibnu Jarir At-Thabari berkata, "Ini peringatan
dari Allah kepada Muhammad, jika Allah mempertemukanmu kembali dengan
orang-orang munafik lalu mereka meminta izin, katakan, 'Kalian memang tidak
akan keluar bersamaku dan tidak akan memerangi musuh. Sebab kalian memang cinta
'qu'ud." Kalian memang bagain dari musuh dan kalian sama-sama bermaksiat
kepada Allah. Maka Allah murka kepada kalian."
Ini dikuatkan oleh riwayat Ibnu Abbas, "Seseorang
berkata, 'Ya Rasulullah, udara sangat panas, kami tidak bias keluar berperang,
maka engkau jangan keluar pada cuaca panas.' Itu terjadi pada perang Tabuk.
Allah langsung berfirman,
… قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ اَشَدُّ حَرًّاۗ لَوْ كَانُوْا يَفْقَهُوْنَ
٨١
"Katakan, 'neraka Jahannam lebih panas
jika mereka mengerti." (QS. At-Taubah: 81)
Lalu Allah memerintahkan beliau untuk keluar berjihad
dan beberapa orang tidak ikut. Mereka berpikir, 'Demi Allah, kita tidak berbuat
apa-apa.' Tiga orang di antara menyusul Rasulullah, mereka bertaubat lalu
kembali Madinah. Allah menurunkan ayat,
فَاِنْ
رَّجَعَكَ اللّٰهُ اِلٰى طَاۤىِٕفَةٍ مِّنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوْكَ لِلْخُرُوْجِ
فَقُلْ لَّنْ تَخْرُجُوْا مَعِيَ اَبَدًا وَّلَنْ تُقَاتِلُوْا مَعِيَ عَدُوًّاۗ
اِنَّكُمْ رَضِيْتُمْ بِالْقُعُوْدِ اَوَّلَ مَرَّةٍۗ فَاقْعُدُوْا مَعَ
الْخٰلِفِيْنَ ٨٣ وَلَا تُصَلِّ عَلٰٓى اَحَدٍ مِّنْهُمْ مَّاتَ اَبَدًا وَّلَا
تَقُمْ عَلٰى قَبْرِهٖۗ اِنَّهُمْ كَفَرُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَمَاتُوْا
وَهُمْ فٰسِقُوْنَ ٨٤
83.
Maka, jika Allah memulangkanmu (Nabi Muhammad) ke satu golongan dari
mereka (orang-orang munafik), kemudian mereka meminta izin kepadamu untuk
keluar (pergi berperang), katakanlah, “Kamu tidak boleh keluar bersamaku
selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya sejak
semula kamu telah rida duduk (tidak berperang). Oleh karena itu, duduklah
(tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut (berperang).” 84. Janganlah engkau (Nabi Muhammad) melaksanakan
salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik)
selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (berdoa) di atas kuburnya.
Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam
keadaan fasik. (QS. At-Taubah: 83-84)
Rasulullah bersabda, "Celakalah orang-orang yang
mutakhallifun…" Akhirnya Allah menerima alasan mereka saat bertaubat,
لَقَدْ
تَّابَ اللّٰهُ عَلَى النَّبِيِّ وَالْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ الَّذِيْنَ
اتَّبَعُوْهُ فِيْ سَاعَةِ الْعُسْرَةِ مِنْۢ بَعْدِ مَا كَادَ يَزِيْغُ قُلُوْبُ
فَرِيْقٍ مِّنْهُمْ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْۗ اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۙ
١١٧
Sungguh, Allah benar-benar telah menerima tobat Nabi
serta orang-orang Muhajirin dan orang-orang Ansar yang mengikutinya pada
masa-masa sulit setelah hati sekelompok dari mereka hampir berpaling (namun)
kemudian Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang kepada mereka. (QS. At-Taubah: 117)
Allah berfirman
وَاِذَآ
اُنْزِلَتْ سُوْرَةٌ اَنْ اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَجَاهِدُوْا مَعَ رَسُوْلِهِ
اسْتَأْذَنَكَ اُولُوا الطَّوْلِ مِنْهُمْ وَقَالُوْا ذَرْنَا نَكُنْ مَّعَ
الْقٰعِدِيْنَ ٨٦ رَضُوْا بِاَنْ يَّكُوْنُوْا مَعَ الْخَوَالِفِ وَطُبِعَ عَلٰى
قُلُوْبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُوْنَ ٨٧
86.
Apabila diturunkan suatu surah (yang memerintahkan orang-orang munafik),
“Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya,” niscaya
orang-orang yang berkemampuan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk
tidak berjihad) dan mereka berkata, “Biarkanlah kami berada bersama orang-orang
yang duduk (tinggal di rumah). 87.
Mereka rida berada bersama orang-orang yang tidak pergi berperang.330)
Hati mereka telah dikunci sehingga tidak memahami. (QS. At-Taubah: 86-87)
330) Orang yang tidak pergi berperang dalam ayat ini
adalah perempuan, anak-anak, orang yang lemah, sakit, dan berusia lanjut.
Allah berfirman,
وَجَاۤءَ
الْمُعَذِّرُوْنَ مِنَ الْاَعْرَابِ لِيُؤْذَنَ لَهُمْ وَقَعَدَ الَّذِيْنَ
كَذَبُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗسَيُصِيْبُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَابٌ
اَلِيْمٌ ٩٠
Orang-orang Arab Badui yang membuat-buat alasan datang
(kepada Nabi) agar diberi izin (untuk tidak berperang). Adapun orang-orang yang
mendustakan Allah dan Rasul-Nya duduk berdiam (tidak mengemukakan alasan).
Kelak orang-orang yang kufur di antara mereka akan ditimpa azab yang sangat
pedih. (QS. At-Taubah: 90)
لَا يَسْتَوِى
الْقٰعِدُوْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ غَيْرُ اُولِى الضَّرَرِ وَالْمُجٰهِدُوْنَ
فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ فَضَّلَ اللّٰهُ
الْمُجٰهِدِيْنَ بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقٰعِدِيْنَ دَرَجَةً ۗ
وَكُلًّا وَّعَدَ اللّٰهُ الْحُسْنٰىۗ وَفَضَّلَ اللّٰهُ الْمُجٰهِدِيْنَ عَلَى
الْقٰعِدِيْنَ اَجْرًا عَظِيْمًاۙ ٩٥
Tidak sama orang-orang mukmin yang duduk (tidak turut
berperang) tanpa mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad
dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang
tanpa uzur). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang terbaik
(surga), (tetapi) Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang
yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. An-Nisa: 95)
Tentu tidak sama antara orang-orang beriman yang tidak
ikut berjihad, lebih suka malas-malas dan duduk-duduk di rumah mereka. Yang
menghindar dari berpanas-panas, berjalan di medan tempur melawan musuh karena
Allah. Padahal mereka tidak punya uzur seperti buta atau penyakit lain yang
tidak memungkinkan mereka berjihad di jalan Allah. Dengan para mujahid yang
berada dalam manhaj agama Allah agar kalimat Allah selalu tinggi, taat kepada
Allah dalam memerangi musuh-Nya dan musuh keimanan. Mereka yang menginfakkan
harta dan jiwa mereka.
Rasulullah bersabda,
مَنْ رَابَطَ
يَوْمًا أَوْ لَيْلَةً كَانَ لَهُ كَصِيَامِ شَهْرٍ لِلْقَاعِدِ
“Murabith
satu hari atau satu malam sama dengan puasa sebulan.”
وَمَنْ مَاتَ
مُرَابِطًا فِي سَبِيلِ اللهِ ، أَجْرَى اللهُ لَهُ أَجْرَهُ الَّذِي كَانَ
يَعْمَلُ : أَجْرَ صَلَاتِهِ وَصِيَامِهِ ، وَنَفَقَتِهِ ، وَوُقِيَ مِنْ فَتَّانِ
الْقَبْرِ ، وَأَمِنَ مِنَ الْفَزَعِ الْأَكْبَرِ
“Murabith yang meninggal mendapat pahala dari Allah
dan akan dijaga dari fitnah kubur serta aman dari kengeriannya.”
Walaupun secara lahir ayat-ayat di atas ditujukan
kepada orang-orang munafik. Namun ia juga mengisyarakatkan ancaman bagi
orang-orang yang tidak berperang tanpa ada uzur.
3. SEBAB-SEBAB QU'UD
1. Maksiat
Sebab orang-orang yang belepotan maksiat, lahir maupun
batin, besar maupun kecil dan tidak segera bertaubat, akan menjadi penyakit
hati, bahkan kematian hati. Ketika itu hati tidak bisa mengendalikan organ
tubuh. Pada gilirannya setan jin dan manusia, dunia dengan kemewahannya
menemukan jalan yang terbuka untuk menggodanya melakukan apa yang dimurkai
Allah. Di antara kemaksiatan tersebut adalah qu'ud dari amal di jalan Allah.
Allah memperingatkan bahwa maksiat mengakibatkan
banyak kejahatan. Sebagaimana yang terjadi pada orang-orang Bani Israil.
… وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ
بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ
اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا
وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ࣖ ٦١
Kemudian, mereka ditimpa kenistaan dan kemiskinan, dan
mereka (kembali) mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena
sesungguhnya mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi
tanpa hak (alasan yang benar). Yang demikian itu ditimpakan karena mereka
durhaka dan selalu melampaui batas. (QS. Al-Baqarah: 61)
Apa yang Aku lakukan kepada mereka disebabkan oleh
kemaksiatan mereka dan sikap melampaui batas mereka.
Rasulullah juga mengingatkan,
تُعْرَضُ
الْفِتَنُ كَالْحَصِيرِ عَوْدًا عَوْدًا ، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ
فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ
بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا ،
لَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ ، وَالْآخَرُ
أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا
يُنْكِرُ مُنْكَرًا ، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
Fitnah-fitnah
akan dipaparkan ke dalam hati (manusia) laksana anyaman tikar yang disusun
sebatang demi sebatang. Hati mana pun yang menyerapnya (menerimanya), niscaya
akan dititikkan padanya sebutir noda hitam. Dan hati mana pun yang
mengingkarinya (menolaknya), niscaya akan dititikkan padanya sebutir noda putih. Hingga akhirnya
hati manusia terbagi menjadi dua jenis: Hati yang putih seperti batu marmer yang halus, ia tidak
akan pernah tertimpa bahaya oleh fitnah apa pun selama langit dan bumi masih
ada. Hati yang hitam
legam lagi keruh (seperti abu-abu), laksana gelas yang tertelungkup (terbalik);
ia tidak lagi mengenal kebaikan dan tidak lagi mengingkari kemungkaran, kecuali
apa yang diserap oleh hawa nafsunya semata."
Fitnah
akan datang sehelai demi sehelai. Hati yang termakan olehnya menjadi noktah
hitam. Hati yang menolaknya akan menjadi noktoh putih. Jadinya ada dua hati;
hati putih yang tidak terpengaruh oleh fitnah dan hati hitam yang tidak mampu
menolak kemungkaran dan tidak mengenali yang ma'ruf.
2. Berlebihan
dalam hal-hal mubah
Hal mubah
Allah berikan kepada hamba-Nya sebagai bentuk penjagaan dan rahmat untuk
mereka. Agar seorang hamba mengambilnya sekedarnya.
Allah
berfirman,
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُحَرِّمُوْا طَيِّبٰتِ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكُمْ
وَلَا تَعْتَدُوْا ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengharamkan sesuatu yang baik yang
telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS.
Al-Maidah: 87)
Ayat ini
menjelaskan ketidak sukaan Allah terhadap orang-orang yang berlebihan dalam
mubahat, maka ketika ayat ini dilupakan, terjatuhlah manusia dalam mubahat.
Aisyah ra mengatakan:
أَوَّلُ بَلَاءٍ
حَدَثَ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ بَعْدَ نَبِيِّهَا الشِّبَعُ ، فَإِنَّ الْقَوْمَ
لَمَّا شَبِعَتْ بُطُونُهُمْ سَمِنَتْ أَبْدَانُهُمْ فَضَعُفَتْ قُلُوبُهُمْ ،
وَجَمَحَتْ شَهَوَاتُهُمْ
“Bencana
yang pertama menimpa umat ini sepeninggal nabi adalah kenyang, karena
sesungguhnya kaum yang perutnya kenyang, lemah hatinya, dan tidak terkendali
syahwatnya. “
Begitu
juga Umar:
إِيَّاكُمْ
وَالْبِطْنَةَ فِي الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ ، فَإِنَّهَا مَفْسَدَةٌ لِلْجَسَدِ ،
مُورِثَةٌ لِلسَّقَمِ ، مُكَسِّلَةٌ عَنِ الصَّلَاةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالْقَصْدِ
فِيهِمَا ، فَإِنَّهُ أَصْلَحُ لِلْجَسَدِ وَأَبْعَدُ مِنَ السَّرَفِ ، وَإِنَّ
اللهَ تَعَالَى يُبْغِضُ الْحَبْرَ الثَّمِينَ ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَنْ يَهْلِكَ
حَتَّى تُؤْثِرَ شَهْوَتُهُ عَلَى دِينِهِ
“Jauhilah
kekenyangan makan dan minum, karena hal itu merusak badan, menimbulkan
penyakit, menyebabkan malas sholat. Janganlah berlebih-lebihan, karena hal itu
bermanfaat bagi badan dan jauh dari tabdzir. Dan sungguh Allah swt membenci
alim yang gemuk, dan sungguh seseorang tidak akan binasa sehingga ia lebih
mengutamakan syahwat dari pada agamanya.”
3. Kehidupan
dunia yang sudah menguasai hati.
Karena
ketika dunia sudah menguasai hati manusia, akan menjadikan pelakunya lebih
senang-senang dengan dunia, dan meninggalkan akhirat. Kondisi inilah yang
disebut Qu'uud.
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَا لَكُمْ اِذَا قِيْلَ لَكُمُ انْفِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ
اللّٰهِ اثَّاقَلْتُمْ اِلَى الْاَرْضِۗ اَرَضِيْتُمْ بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
مِنَ الْاٰخِرَةِۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا فِى الْاٰخِرَةِ اِلَّا
قَلِيْلٌ ٣٨
Wahai
orang-orang yang beriman, mengapa ketika dikatakan kepada kamu, “Berangkatlah
(untuk berperang) di jalan Allah,” kamu merasa berat dan cenderung pada
(kehidupan) dunia? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan dunia daripada
akhirat? Padahal, kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan)
di akhirat hanyalah sedikit. (QS. At-Taubah: 38)
Menurut
Ibnu Atiyyah: Ayat ini kecaman terhadap para sahabat yang ketinggalan perang
tabuk 9 H setelah fathu Makkah, bersama 20 ribu pasukan, namun banyak
kabilah-kabilah yang tidak ikut serta, khususnya tiga sahabat: Ka'ab bin Malik,
Muroroh bin Robi' dan Hilal bin Umayyah. Mengingat mereka adalah sahabat yang
memiliki kedudukan tinggi, karena termasuk ahlu badr, dan termasuk sahabat yang
dijadikan qudwah.
4. Tidak
berniat terus berdakwah sampai titikdarah penghabisan, dan tidak berbuat,
walaupun sebatas niat.
وَالَّذِيْنَ
اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧
Orang-orang
yang mendapat petunjuk akan ditambahi petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan
(oleh Allah). (QS. Muhammad: 17)
Dalam
ayat ini Allah akan menambah hidayah dan ketaqwaan bagi orang yang berniat
terus untuk tetap dalam hidayah. Dan menjadi sunnatullah terhadap manusia,
barang siapa yang sekedar niat untuk komitmen di jalan dakwah saja, tidak mau
meniatkannya, maka Allah akan menjauhkannya dari hidayah dan taufiknya,
sehingga terjadilah Qu'ud. Allah swt telah mengingatkan kita orang-orang
beriman, tentang penyebab Qu'ud ini, ketika menjelaskan tentang orang-orang
munafiq yang enggan ikut serta dalam perang Tabuk bersama Rosul, karena
alasan-alasan yang lemah. Inti kondisi mereka adalah tidak ada niyat untuk
berjihad bersama Rosulullah. Allah berfirman:
۞
وَلَوْ اَرَادُوا الْخُرُوْجَ لَاَعَدُّوْا لَهٗ عُدَّةً وَّلٰكِنْ كَرِهَ اللّٰهُ
انْۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيْلَ اقْعُدُوْا مَعَ الْقٰعِدِيْنَ ٤٦
Seandainya
mereka mau berangkat (sejak semula), niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk
keberangkatan itu. Akan tetapi, (mereka memang enggan dan oleh sebab itu) Allah
tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan
dikatakan (kepada mereka), “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal
itu.” (QS. At-Taubah: 46)
Kalau
saja mereka berniyat untuk keluar berjihad, tentu mereka menyiapkan
persiapannya, namun Allah enggan terhadap keterlibatan mereka , maka Allah
jadikan mereka tidak mampu bangkit, dan dikatakan mereka duduklah bersama
orang-orang yang duduk.
5. Hidup
di tengah-tengah orang-orang yang qoidin.
Pada
umumnya manusia mudah terpengaruh oleh lingkungan tempat tinggalnya, baik
lingkungan terdekatnya seperti rumah atau lingkungan luasnya seperti
masyarakat, terutama jika ia tidak memiliki daya imun yang tinggi untuk melawan
lingkungannya yang cenderung mendorongnya untuk qu'uud dengan celaan dan
penghinaan bahkan penyesatan dan ancaman. Sabda Rosul.
الرَّجُلُ عَلَى
دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Manusia yang dipengaruhi agama teman akrabnya, maka
hendaklah salah seorang memperhatikan dengan siapa bergaul.”
لَا
تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا ، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ
“Janganlah bergaul kecuali dengan orang beriman, dan
tidak makan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.”
6. Tidak yakin dengan janji Allah dan
RosulNya.
Begitu banyaknya ayat-ayat yang menjanjikan kemenangan
bagi orang-orang yang terus berjuang di jalan dakwah.
وَعَدَ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ
قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا
يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ
الْفٰسِقُوْنَ ٥٥
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum
mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia
ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam
ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji)
tersebut, mereka itulah orang-orang fasik. (QS. An-Nur: 55)
وَلَقَدْ سَبَقَتْ
كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِيْنَ ۖ ١٧١ اِنَّهُمْ لَهُمُ
الْمَنْصُوْرُوْنَۖ ١٧٢ وَاِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغٰلِبُوْنَ ١٧٣
Sungguh, janji Kami benar-benar telah tetap bagi
hamba-hamba Kami yang menjadi rasul. Sesungguhnya merekalah yang pasti akan
mendapat pertolongan, dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti
menang. (Ash-Shafat: 171-173)
هُوَ الَّذِيْٓ
اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ
كُلِّهٖ ۗوَكَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًا ٢٨
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk
dan agama yang benar agar Dia mengunggulkan (agama tersebut) atas semua agama.
Cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. Al-Fath: 28)
يُرِيْدُوْنَ
لِيُطْفِـُٔوْا نُوْرَ اللّٰهِ بِاَفْوَاهِهِمْۗ وَاللّٰهُ مُتِمُّ نُوْرِهٖ
وَلَوْ كَرِهَ الْكٰفِرُوْنَ ٨ هُوَ الَّذِيْٓ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِالْهُدٰى
وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖۙ وَلَوْ كَرِهَ
الْمُشْرِكُوْنَ ࣖ ٩
Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan
mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya walaupun
orang-orang kafir tidak menyukai. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan
(membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia mengunggulkannya atas semua
agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. Ash-Shaf: 8-9)
Dan Rosulullah saw pun menjanjikan kemenangan
لَيَبْلُغَنَّ
هَذَا الْأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ ، وَلَا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ
مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّينَ
“Perjuangan ini pasti akan sampai pada kemenangan,
sebagaimana sampainya malam dan siang, dan tidaklah ada rumah yang terbuat dari
bulu atau lainnya kecuali tidak akan ditinggalkan oleh Allah untuk dimasuki
agama ini.”
Dan barang siapa yang tidak yakin dengan janji ini,
bisa dipastikan akan terjebak pada Qu'uud dan akan meninggalkan dakwah dan
jihad
7. Terjadinya halangan-halangan dakwah
yang secara tiba-tiba, tanpa disikapi dengan kesiapan dan kecerdasan dalam
menghadapinya.
Dalam perjalanan dakwah, seoorang da'i kadang
dikejutkan oleh tantangan-tantangan yang datang tiba-tiba seperti jiwa yang
ammaroh bis suu', syetan-syetan jin dan manusia, dunia dengan keindahannya yang
terlihat dalam pernikahan, anak-anak, jabatan-jabatan, popularitas, kekuasaan
dan lain-lainnya seperti lamanya perjalanan dakwah. Maka siapa saja yang tidak
siap menghadapi tantangan-tantangan di atas, tidak ayal lagi akan jatuh dalam
Qu'uud.
Dalam siroh kasus ini dikenal dengan kasus seorang
sahabat yang miskin, kemudian ia minta kepada Rosulullah agar didoakan menjadi
kaya, Rsulullah menasehatinya : Sedikit yang di sikapi dengan syukur, dari pada
banyak yang membuatmu tidak bersyukur. Namun dia masih bersikeras untuk
didoakan menjadi kaya. Setelah menjadi kaya ternyata menjauh dari dakwah
bwersama Rosulullah disibukkan oleh harta yang semakin hari semakin melimpah,
sampai akhirnya meninggal dalam keadaan su-ul khotimah. Al Qur'an mengabadikan peristiwa
ini dalam surat At-Taubah: 75-78.
۞ وَمِنْهُمْ مَّنْ عٰهَدَ اللّٰهَ لَىِٕنْ اٰتٰىنَا مِنْ فَضْلِهٖ
لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُوْنَنَّ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٧٥ فَلَمَّآ اٰتٰىهُمْ مِّنْ
فَضْلِهٖ بَخِلُوْا بِهٖ وَتَوَلَّوْا وَّهُمْ مُّعْرِضُوْنَ ٧٦ فَاَعْقَبَهُمْ
نِفَاقًا فِيْ قُلُوْبِهِمْ اِلٰى يَوْمِ يَلْقَوْنَهٗ بِمَآ اَخْلَفُوا اللّٰهَ
مَا وَعَدُوْهُ وَبِمَا كَانُوْا يَكْذِبُوْنَ ٧٧ اَلَمْ يَعْلَمُوْٓا اَنَّ
اللّٰهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوٰىهُمْ وَاَنَّ اللّٰهَ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ
٧٨
Di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada
Allah, “Sesungguhnya jika Dia memberikan sebagian dari karunia-Nya kepada kami,
niscaya kami akan benar-benar bersedekah dan niscaya kami benar-benar termasuk
orang-orang yang saleh.” Akan tetapi, ketika Allah menganugerahkan kepada
mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling seraya
menjadi penentang (kebenaran). Maka, (akibat kekikiran itu) Dia menanamkan
kemunafikan dalam hati mereka sampai pada hari mereka menemui-Nya karena mereka
telah mengingkari janji yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena
mereka selalu berdusta. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui
rahasia dan bisikan mereka dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala
yang gaib?
8. Terlambat menempati posisi jundiyah
setelah menempati posisi qiyadah.
Realitanya dalam lapangan, bagi sebagian kader ketika
berada dalam posisi qiyadah, kemudian karena suatu hal ia dipindahkan ke posisi
jundiyah, ia merasa sombong, terutama jika dia merasa bahwa posisi qiyadah
adalah suatu kehormatan bukan suatu beban atau dirasasakan sebagai ghonimah
bukan suatu tanggung jawab, maka yang terjadi tidak ada lain kecuali yang
terjadi adalah al qu'uud dan berlepas diri dari menunaikan kewajiban. Namun
coba bandingkan apa yang pernah terjadi kepada Kholid bin Walid ketika menerima
surat pemberhentian dari Umar karena suatu maslahat, maka sebagai komandan yang
terkenal selalu sukses, dengan penuh gembira melaksanakan instruksi Umar, dan
mengatakan perkataannya yang sangat popular: Demi Allah kalau saja Umar
mengangkat pimpinan seorang budak yang hitam kulitnya, tentu aku akan taat dan
mendengar, selama ia menuntunku kepada Al Qur'an.
9. Tertipu dengan janji-janji kebatilan.
Kebatilan biasanya berusaha dengan segala cara
memperdaya orang yang qo-idin setelah lama berkecimpung dalam aktifitas dakwah.
Di antaranya dengan janji-janji yang menyilaukan, seperti harta, jabatan atau
popularitas, seperti yang pernah dilakukan oleh Utbah bin Robi'ah kepada
Rosulullah. Mereka yang tidak kuat pasti akan tunduk dengan semua rayuan di
atas dan meninggalkan komitmennya dengan manhaj Alllah.Sebagaimana yang banyak
terjadi di kalangan para aktifis dakwah.
Sebagaimana yang terjadi dalam kisah rakyat: Seorang
abid yang begitu semangat akan menebang pohon yang di sembah oleh masyarakat,
maka syetan merayu sang abid, agar menghentikan upayanya untuk menebang pohon
tersebut, dengan imbalan uang yang diberikan setiap hari. Namun tatkala
pemeberian uang terhenti. Sang abid marah hendak menebang kembali pohon, namun
mudah syetan mengalahkannya, karena tidak lagi dijiwai oleh keikhlasan.
10. Ketiadaan Manhaj yang dapat memenuhi
kehidupan dan mengisi kekosongan.
Seorang muslim apabila tidak menyibukkan dirinya
dengan manhaj yang memenuhi hidupnya dan mengisi kekosongannya dengan tadabbur
dan tafakkur dalam melaksanakan berbagai macam ibadah dan amal salih, berdakwa,
melawan gerakan orang-orang kafir, maka jiwanya yang ammaroh bis suu' dibantu
oleh syetan-syetan jin dan manusia, maka dia akan memilih manhaj batil selain
yang ditetapkan oleh Allah dan RosulNya dan kemudian memperaktekannya. Inilah
hakikat Al Qu'uud.
11. Tidak ada kesesuaian Manhaj dengan
potensi dan daya dukung.
Seorang muslim tidak akan dalam kondisi selalu
bersemangat, jika tidak didukung oleh manhaj yang sesuai dengan potensi dan
daya dukungnya, maka jika suatu manhaj tidak memiliki kesesuaian, melebihi
kapasitas atau lebih rendah, maka akan berdampak Qu'uud dan meninggalkan
dakwah, kecuali yang masih dirahmati oleh Allah. Inilah rahasia mengapa
rosulullah tidaklah berdialog dengan siapapun kecuali disesuaikan dengan
kapasitasnya. Contoh dialog Rosul dengan Muadz.
عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ
اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ وَمُعَاذٌ
رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ ، قَالَ : يَا مُعَاذَ
بْنَ جَبَلٍ ، قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ
وَسَعْدَيْكَ ، قَالَ : يَا مُعَاذُ ،
قَالَ : لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ وَسَعْدَيْكَ ( ثَلَاثًا )
.قَالَ
: مَا
مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ
اللهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ
Dari Anas bin Malik ra: Bahwasanya Nabi dan Muadz
berada di satu kendaraan. Nabi bersabda: Ya Muadz Bin Jabal. Lababik wa
sa'daik, Jawab Muadz. Tiga kali Rosulullah memanggil-manggilnya. Maka rosul
bersabda: Tidak satupun seseorang yang bersyahadat tidak ada tuhan selain
Allah, dan Muhammad utusan Allah atas dasar keyakinan dari hatinya kecuali
Allah akan cegah dirinya dari Neraka. Muadzpun bertanya kepada Rosul
"Bolehkah aku sampaikan informasikan kepada masyarakat agar mereka dapat
bergembira? Rosul jawab: Nanti mereka mengandalkan itu. Dan Akhirnya
diinformasikan oleh Muadz menjelang kematiannya dengan merasa bersalah.
12. Tidak memberi penghargaan kepada
aktifis dakwah sesuai dengan haknya.
Manusia pada umumnya akan senantiasa melaksanakan
tugas-tugas yang diwajibkan kepadanya, selama dia tidak dihinakan atau
direndahkan. Jika yang terjadi sebaliknya pada umumnya akan menyebabkan
terjadinya Qu'uud. Inilah rahasianya banyaknya hadits-hadits Rosul yang
memperhatikan adab-adab bersosialisasi yang baik. Contoh-contoh hadits-hadits
tersebut:
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا ، وَيَأْمُرْ
بِالْمَعْرُوفِ ، وَيَنْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“Bukanlah golongan kami orang yang tidak menyayangi
yang kecil, dan tidak menghormati yang lebih tua, memerintahkan yang makruf dan
melarang yang munkar.” ( HR Atturmudzi )
لَيْسَ
مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا ، وَيَعْرِفْ شَرَفَ كَبِيرِنَا ، أَوْ
حَقَّ كَبِيرِنَا
“Bukanlah golongan kami yang tidak menyayangi yang
kecil, dan memperhatikan kemulyaan atau hak yang lebih tua.”
13. Membebani jiwa dengan berbagai macam
kewajiban di luar batas kemampuan.
Pada umumnya semua tugas dakwah di awalnya manis,
dilaksanakan dengan penuh semangat dan meluangkan semua waktunya. Namun ketika
dia melihat orang lain mulai kurang semangat dalam menjalankan tugas-tugas
dakwahnya, mulailah dirinya terpengaruh oleh kondisi tersebut, setelah sekian
lama, mulailah dia merasakan beratnya tugas-tugas yang diembannya dan menjadi
sangat melelahkan. Kondisi ini jika tidak segera ditangani dapat terjadi Al
Qu'uud dan berhenti dari tugas dakwah.
14. Tidak dapat mememaafkan kesalahan
orang lain.
Karakter manusia tidak akan lepas dari kesalahan,
kecuali para anbiyah. Dan sering-sering muhasabah akan dapat mengurangi
terjadinya kesalahan-kesalahan.
Namun jarang disadari bahwa muhasabah dan mudah
memaafkan merupakan salah satu cara untuk dapat bertahan dalam melaksanakan
tugas-tugas dakwah. Sebaliknya sikap ketat dan banyak menuntut kesempurnaan
dalam pelaksanaan tugas akan menyebabkan terjadinya Al Qu'uud. Inilah rahasia
banyaknya ayat-ayat Allah yang memperhatikan sisi kehidupan ini.
الَّذِيْنَ
يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ
وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak,
baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan
kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah
mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran: 134)
خُذِ الْعَفْوَ
وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ ١٩٩
Jadilah pemaaf, perintahlah (orang-orang) pada yang
makruf, dan berpalinglah dari orang-orang bodoh. (QS. Al-A’raf: 199)
وَلَا يَأْتَلِ اُولُو
الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى
وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا
وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗوَاللّٰهُ
غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ٢٢
Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan
kelapangan (rezeki) di antara kamu bersumpah (tidak) akan memberi (bantuan)
kepada kerabat(-nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah di
jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak
suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.
An-Nur: 22)
15. Mengira bahwa Qu'uud bahwa jalan
selamat dan aman.
Syetan biasanya menggoda seorang aktifis dakwah agar
berhenti dari tugas dakwah, terutama pada zaman seperti ini di mana kebatilan
masih dominan dan menghususkan diri untuk menggoda orang-orang yang bekerja di
jalan dakwah. Digoda agar lupa atau pura-pura lupa bahwa selamat dan aman
hanyalah Allah yang dapat memberi dan membuang janji karunia dari Allah swt.
Sementara sunnatullah sudah ditetapkan, bahwa hanya memberikan kepada
orang-orang yang bertaqwa dan beramal sholih;
وَعَدَ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ
لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الْاَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِيْنَ مِنْ
قَبْلِهِمْۖ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِيْنَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ
وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ اَمْنًاۗ يَعْبُدُوْنَنِيْ لَا
يُشْرِكُوْنَ بِيْ شَيْـًٔاۗ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ
الْفٰسِقُوْنَ ٥٥
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan
mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum
mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia
ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam
ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka menyembah-Ku dengan tidak
mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apa pun. Siapa yang kufur setelah (janji)
tersebut, mereka itulah orang-orang fasik. (QS. An-Nur: 55)
اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ
مُّهْتَدُوْنَ ࣖ ٨٢
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan
iman mereka dengan kezaliman (syirik), merekalah orang-orang yang mendapat rasa
aman dan mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am: 82)
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ
تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ ٢٨
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan
mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)
Syetan
juga bisa masuk dari suatu was-was dengan mengatakan kepada seorang yang
aktifis dakwah: Kamu adalah orang yang banyak berdosa. Akibat perbuatanmu ini
telah mengakhirkan pertolongannya dan dukungannya terhadap aktifis dakwah yang
lain, bahakan mungkin juga menyebabkan datangnya bencana bagi semuanya. Untuk
itu sebaiknya kamu menjauhi orang-orang yang sholih dan bertqwa itu. Agar
mereka tetap selamat dan aman. Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa merekapun
sesungguhnya juga bias salah dan melakukan dosa, hanya saja mereka segera
bertaubat dan tidak terus menerus.
16. Tidak
adanya sambutan dakwah dari masyarakat.
Hal ini
terjadi di sekelompok para duat yang mengira bahwa dirinya tidak disebut sukses
dalam tugas kecuali jika orang lain meyambut dakwahnya dan menerima apa yang
disampaikan. Kondisi ini juga dapat menyebabkan terjadinya Qu'uud dan berhenti
dari kerja dakwah. Lupa atau pura-pura lupa bahwa hati manusia semuanya di
antara dua jari dari jari-jari Allah, bagaikan satu hati yang dirubah-rubah
sekehendakNya. Sebagaimana firmanNya.
اِنَّكَ
لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚوَهُوَ
اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ٥٦
Sesungguhnya
engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang
engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki
(berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang
orang-orang yang (mau) menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash: 56)
فَاِنْ اَعْرَضُوْا
فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗاِنْ عَلَيْكَ اِلَّا الْبَلٰغُ
ۗوَاِنَّآ اِذَآ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً فَرِحَ بِهَا ۚوَاِنْ
تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ ۢبِمَا قَدَّمَتْ اَيْدِيْهِمْ فَاِنَّ الْاِنْسَانَ
كَفُوْرٌ ٤٨
Jika
mereka berpaling, (ingatlah) Kami tidak mengutus engkau sebagai pengawas bagi
mereka. Kewajibanmu hanyalah menyampaikan (risalah). Sesungguhnya apabila Kami
merasakan kepada manusia sedikit dari rahmat Kami, dia gembira karenanya. Akan
tetapi, jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka
sendiri, (niscaya mereka ingkar). Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar (pada
nikmat). (Asy-Syura: 48)
17. Melupakan akibat Al Qu'uud.
Terakhir bisa jadi lupa akan dampak yang disebabkan
oleh Al Qu'uud, baik secara pribadi atau jamaah, dunia atau akhirat dapat
menjadikan Al Qu;uud. Kami lihat di lapangan pada zaman sekarang ini beberapa
orang yang sudah berhenti dari kerja dakwah dalam kondisi yang sangat tidak
diinginkan. Mereka mengatakan; kalau saja berhenti di jalan dakwah menyebabkan
kita mengalami kondisi sejelek ini, tentulah kita tidak akan berhenti dari
jalan dakwah ini.
4. DAMPAK-DAMPAK AL QU'UUD.
A. DAMPAK TERHADAP PARA AKTIFIS DAKWAH.
1. Syetan menguasai mereka kemudian menerkamnya.
Mereka yang berhenti dari hidup dari komitmen dengan
Islam, akan menjadi orang yang berwala' kepada syetan baik dari manusia atau
jin. Sedangkan mereka yang berhenti dari jalan dakwah dan lebih memilih hidup
sendiri dan keluarganya dalam melaksanakan ajaran islam. Mereka berarti telah
memberi kesempatan bagi syetan untuk menguasai mereka kemudian menerkamnya.
Rosul bersabda :
فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ بُحْبُوحَةَ
الْجَنَّةِ ، فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ ،
وَهُوَ مِنَ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ (40).
“Barang siapa di antara kalian yang
menginginkan kenikmatan surga, maka hendaklah ia komitmen dengan jamaah, karena
syetan bersama orang yang sendiri, dan dari dua orang lebih jauh.”
2. Pelipat gandaan dosa yang dapat mengantarkan ke
neraka.
Mereka yang berhenti dari jalan dakwah berarti telah
membuka pintu yang lebar di depan sekian banyak orang-orang yang lemah dan
orang-orang awam yang mudah meniru dan mengikuti mereka. Oleh karena itu mereka
menanggung dua dosa; dosa qu'uud mereka dan dosa orang-orang yang berhenti
berdakawah karena disebabkan olehnya. Allah berfirman:
وَلَيَحْمِلُنَّ
اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ وَلَيُسْـَٔلُنَّ يَوْمَ
الْقِيٰمَةِ عَمَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ࣖ ١٣
Mereka benar-benar akan memikul dosa-dosa mereka
(sendiri) dan dosa-dosa (orang lain yang mereka perdaya) di samping dosa-dosa
mereka. Pada hari Kiamat mereka pasti akan ditanya tentang kebohongan yang
selalu mereka ada-adakan. (QS. Al-Ankabut: 13)
لِيَحْمِلُوْٓا
اَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۙوَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ
يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ اَلَا سَاۤءَ مَا يَزِرُوْنَ ࣖ ٢٥
(Ucapan mereka) menyebabkan mereka pada
hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara utuh dan sebagian dosa
orang-orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui (bahwa mereka
disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul. (QS.
An-Nahl: 25)
3. Hidup hina dan rendah.
Mereka yang berhenti bekerja dari dakwah membela agama
Allah, tidak akan terlepas dari takdir Allah, dan Allah telah menakdirkan
kehidupan hina dan rendah di dunai dan di akhirat bagi siapa saja yang
berpaling dari Allah.
وَمَنْ
اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ
الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى ١٢٤
Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka
sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit. Kami akan mengumpulkannya pada hari
Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha: 124)
لِّنَفْتِنَهُمْ
فِيْهِۗ وَمَنْ يُّعْرِضْ عَنْ ذِكْرِ رَبِّهٖ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًاۙ ١٧
Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Siapa
yang berpaling dari peringatan Tuhannya niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam
azab yang sangat berat. (QS. Al-Jin: 17)
Dan pada masa sekarang ini kami menyaksikan
orang-orang berhenti membela agama Allah, setelah sebelumnya menjadi obor
pergerakan, dan tidak punya alasan kecuali ingin memanjakan diri, istri, anak
dan harta. Berlalulah takdir Allah dan dia tidak berhasil mendapatkan apa yang
inginkan, dan suatu saat akan menyesali apa yang telah dilakukan:
وَلَىِٕنْ
اَصَابَكُمْ فَضْلٌ مِّنَ اللّٰهِ لَيَقُوْلَنَّ كَاَنْ لَّمْ تَكُنْۢ بَيْنَكُمْ
وَبَيْنَهٗ مَوَدَّةٌ يّٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ مَعَهُمْ فَاَفُوْزَ فَوْزًا عَظِيْمًا
٧٣
Sungguh, jika kamu mendapat karunia (kemenangan) dari
Allah, tentulah dia mengatakan seakan-akan belum pernah ada hubungan kasih
sayang antara kamu dengan dia, “Aduhai, sekiranya aku dahulu bersama mereka,
tentu aku akan memperoleh kemenangan yang agung (pula).” (QS. An-Nisa: 73)
B. DAMPAK AL QU'UUD BAGI GERAKAN ISLAM.
1. Melemahkan gerakan islam, dan memancing terjadinya
pembunuhan terhadap para aktifis, atau minimal menjedikan gerakan islam
berjalan di tempat tidak berkembang pada hal telah banyak tenaga pikiran dan
waktu yang telah dikorbankan.
Mereka yang berhenti di jalan dakwah, biasanya tidak
hanya berdampak terhadap dirinya, tetapi akan menular kepada lainnya meniru apa
yang dilakukan. Bahkan lebih jauh dari itu dapat menutup pintu bagi orang-orang
yang ingin komit dengan Islam dan bekerja untuk Islam untuk pertama kali,
karena pertimbangan ingin selamat dan aman menurut mereka. Tentu akan berdampak
kepada para aktifis dan gerakan Islam. Semua orang tahu bahwa musuh-musuh Islam
biasanya tidak mampu memperdaya para aktifis dan gerakan Islam kecuali dalam
suasana seperti ini, suasana lemah dan perpecahan.
2. Mengundang bencana besar terhadap para aktifis
dakwah, seperti pelecehan terhadap kehormatan, perampasan harta, pertumpahan
darah, penyiksaan dan pengusiran. Semua
ini disebabkan oleh ornag-orang yang berhenti bekerja untuk dakwah Apa yang
menimpa para aktifis dakwah di Mesir pada awal lima puluhan adalah disebabkan
oleh mundurnya sekelompok ulama dari shof, maka diikuti oleh sejumlah manusia
yang terpengaruh oleh sikap mereka. Semua ini bukti kebenaran apa yang saya
jelaskan, maka kelompok ini menanggung dosa apa yang menimpa mereka kecuali
Allah memaafkan mereka.
Dan apa yang dialami gerakan Islam saat ini dengan
banyaknya orang-orang yang mengundurkan diri dari lapangan dakwah, akan
dijadikan oleh musuh-musuh dakwah sebagai cambuk yang siap menyalak di punggung
para aktifis dakwah yang akan menjadikan masyarakat takut dari dakwah. Ini
semua bukti atas kebenaran apa yang saya jelaskan di atas.
5. SOLUSI AL QU'UUD.
1. Menumbuhkan penghargaan terhadap nikmat-nikmat
Allah yang telah diberikan kepada kita dan alam semesta yang mengelilingi kita
yang nampak dan tidak nampak. Allah berfirman:
وَاٰتٰىكُمْ
مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا
تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ ࣖ
Dia telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang
kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak
akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zalim
lagi sangat kufur. (QS. Ibrahim: 34)
اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ
اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَاَسْبَغَ
عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ۗوَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى
اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ٢٠
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah
telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia
(juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu. Akan
tetapi, di antara manusia ada yang membantah (keesaan) Allah tanpa
(berdasarkan) ilmu, petunjuk, dan kitab suci yang menerangi. (QS. Luqman: 20)
2. Menumbuhkan rasa tanggung jawab di hati orang-orang
yang berhenti di jalan dakwah di hadapan Allah terhadap apa yang menimpa umat
Islam, di Bosnia, Kasymir, Burma, Ertiria dan lain sebagainya.
Bayangkan apa jawaban mereka terhadap Allah, pada hari
semua manusia menghadap Allah, hari tidak satupun jiwa dapat menolong jiwa yang
lain sedikitpun. Sesungguhnya perasaan ini akan menumbuhkan perasaan takut,
jika fitrahnya masih bagus dan akal yang masih cerdas. Maka dia akan bersuasaha
melepaskan dirinya dari qu'uud dan berusaha bangkit dari awal.
3. Tidak berlebihan dalam menikmati yang mubah. Dan
meyakini bahwa hal ini akan membawa kemaslahatan bagi fisik, akal dan ruh kita.
Dan apa yang tidak dapat kita nikmati sekarang akan kita nikmati nanti di
akhirat dengan lebih sempurna dan lebih indah.
قُلْ
مَنْ حَرَّمَ زِيْنَةَ اللّٰهِ الَّتِيْٓ اَخْرَجَ لِعِبَادِهٖ وَالطَّيِّبٰتِ
مِنَ الرِّزْقِۗ قُلْ هِيَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
خَالِصَةً يَّوْمَ الْقِيٰمَةِۗ كَذٰلِكَ نُفَصِّلُ الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ
يَّعْلَمُوْنَ ٣٢
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Siapakah yang
mengharamkan perhiasan (dari) Allah yang telah Dia sediakan untuk
hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, ‘Semua itu adalah untuk
orang-orang yang beriman (dan juga tidak beriman) dalam kehidupan dunia,
(tetapi ia akan menjadi) khusus (untuk mereka yang beriman saja) pada hari
Kiamat.’” Demikianlah Kami menjelaskan secara terperinci ayat-ayat itu kepada
kaum yang mengetahui. (QS. Al-A’raf: 32)
4. Menghilangkan rasa cinta terhadap dunia dengan
segala cara. Cinta dunia adalah sumber dari segala dosa. Ini bukan berarti kita
boleh memiliki dunia sesuai dengan keinginan kita dengan syarat sumbernya
halal, dan melaksanakan hak Allah di dalamnya, bahkan demi kehalalan kita harus
siap mengalah karena Allah.
5. Selalu tadabbur Al-Qur'an dan Sunnah Rosulullah
saw. Dari situlah kita akan dapatkan berita orang yang berhenti bekerja untuk
dakwah, bagaimana Allah menghinakan mereka di dunai dan di akhirat. Hati yang
bersih akan dengan mudah mengambil pelajaran, dan kemudian bangkit dari
sikapnya, sebagai rasa takut akan mendapat balasan seperti orang-orang yang
telah melakukan qu'uud. Surat An Nisa', Al Ahzab, dan Al Fath adalah
surat-surat yang paling banyak menjelaskan jenis manusia ini.
6. Merenungkan kondisi mereka saat ini dan bagaimana
mereka akan menjadi andil menguatnya barisan musuh Allah dan RosulNya. Orang-orang
seperti ini biasanya sering dimanfaatkan musush, namun setelah mereka berhasil
akan dibuang begitu saja dan dibuanglah mereka di sampah sejarah. Mereka akan
merugi dalam dua kehidupan yakni dunai dan akhirat. Dan kerugian akhirat lebih
dahsyat.
فَاعْبُدُوْا
مَا شِئْتُمْ مِّنْ دُوْنِهٖۗ قُلْ اِنَّ الْخٰسِرِيْنَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْٓا
اَنْفُسَهُمْ وَاَهْلِيْهِمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِۗ اَلَا ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ
الْمُبِيْنُ ١٥
Maka, sembahlah sesukamu selain Dia (wahai orang-orang
musyrik!)660) Katakanlah, “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang
yang merugikan diri sendiri dan keluarganya pada hari Kiamat.” Ingatlah, yang
demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az-Zumar: 15)
660) Perintah ini bukanlah dalam arti yang sebenarnya,
tetapi pernyataan kemurkaan Allah Swt. terhadap kaum musyrik yang selalu
ingkar, meskipun berulang kali diajak bertauhid.
7. Melakukan mujahadah agar selalu memiliki niat jihad
dan bekerja untuk agama Allah, kemudian melaksanakan apa yang tuntutan niat
ini. Sikap ini akan berjalan dengan baik manaka dibarengi kesungguhan dan niat
ikhlas dan mengikuti sunnah Rosulullah. Maka boleh jadi Allah swt dengan niat
ini akan memberi karunia kepada kelompok ini dapat bangkit dari sikap Al Qu'uud
dan menjadi kerja nyata di lapangan dakwah. Firman Allah.
وَيَزِيْدُ
اللّٰهُ الَّذِيْنَ اهْتَدَوْا هُدًىۗ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ
رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ مَّرَدًّا ٧٦
Allah akan menambah petunjuk kepada orang-orang yang
telah mendapat petunjuk. Amal kebajikan yang kekal itu lebih baik pahala dan
kesudahannya di sisi Tuhanmu. (QS. Maryam: 76)
وَالَّذِيْنَ
اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ ١٧
Orang-orang yang mendapat petunjuk akan ditambahi
petunjuk(-nya) dan dianugerahi ketakwaan (oleh Allah). (QS. Muhammad: 17)
8. Memutus hubungan dari
pergaulan dari orang-orang yang Qo'idiin, kecuali sekedar untuk membangkit
mereka dari sikap qu'uud mereka. Dan begitu selesai dengan mereka segera
bergabung lagi di tengah orang yang aktif bekerja untuk dakwah, agar segera
membangkitkan kembali semangat bekerja dan meneguhkan jiwa dan mendorong mereka
untuk berqudwah.
9. Selalu merenungi
janji Allah dan RosulNya bagi orang-orang yang beriman ketika mereka masih
aktif dan k etika mereka menjadi qo'idiin.
10. Waspada terhadap
hambatan-hambatan dakwah seperti istri, anak-anak, harta, kekuasaan dan
popularitas dan sejenisnya agar kita dapat siap siaga dan menyadari bahwa
mereka sedikitpun tidak bermanfaat bagi
kita.
يٰٓاَيُّهَا
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ
فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ
غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ١٤ اِنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ
ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ ١٥
Wahai orang-orang yang
beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi
musuh bagimu.719) Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu
memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah
cobaan (bagimu). Di sisi Allahlah (ada) pahala yang besar.
719) Kadang-kadang istri
atau anak dapat menjerumuskan suami atau bapaknya untuk melakukan
perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan oleh agama.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ
ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٩
Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat
Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS.
Al-Munafiqun: 9)
11. Bersegera
melaksanakan manhaj yang meliputi kehidupan dengan segala macam fariasinya, dan
menjadi sesuai dengan potensi dan daya dukung manusia, terutama jenis manusia
yang qo'idiin, dengan menjadikan Al Qur'a n dan sunnah merupakan manhaj yang
asas dan utama. Manhaj seperti ini biasanya dapat mengobati saat-saat
kekosongan yang suka dijadikan oleh syetan jin dan manusia dan membuka pintu
kebangkitan bagi orang-orang yang qo'idiin.
12. Mujahadah nafs untuk
menghormati orang-orang lain, terutama orang-orang yang memiliki kelbihan ilmu
dan agama. Bentuk mujahadahnya adalah dengan tidak membebankan
kewajiban-kewajiban yang berlebihan, mengingat perjalanan yang panjang dan
sulit. Dengan mujahadah seperti ini insya Allah akan menggerakkan qo'idiin akan
bangkit lagi dari awal.
13. Mudah memaafkan
beberapa kesalahan dan kekuranagn saat efaluasi, selama tidak berlebihan
pelanggaran dalam hak Allah dan hak hambanya Sikap ini insya Allah akan
menghilangkan rasa putus asa dan membuka rasa harap dan optimis.
14. Selalu menyambut
perubahan posisi, terutama perubahan dari posisi atas menjadi posisi bawah,
dari qiyadah menjadi jundiyyah dengan gembira. Karena semakin tinggi kedudukan
seseorang semakin berat tanggung jawabnya dan semakin besar hisabnya.
يٰنِسَاۤءَ
النَّبِيِّ مَنْ يَّأْتِ مِنْكُنَّ بِفَاحِشَةٍ مُّبَيِّنَةٍ يُّضٰعَفْ لَهَا
الْعَذَابُ ضِعْفَيْنِۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا ۔ ٣٠
Wahai istri-istri Nabi,
siapa di antara kamu yang melakukan perbuatan keji yang nyata, pasti azabnya akan
dilipatgandakan dua kali lipat kepadanya. Hal yang demikian itu sangat mudah
bagi Allah. (QS. Al-Ahzab: 30)
No comments:
Post a Comment