PENDAHULUAN
Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Jihad
adalah jalan... Inilah yang harus kita sadari sepenuhnya, dan kita melangkah
serta bekerja di bawah cahayanya.
Lemahnya
iman telah membawa umat Islam kepada kondisi yang mereka alami saat ini, berupa
kehinaan, perpecahan, serta penguasaan musuh-musuh Allah terhadap urusan
mereka, dan fitnah yang memalingkan sebagian dari mereka dari agamanya.
Membangkitkan
kembali iman di dalam hati adalah titik tolak utama bagi kebangkitan dan
pengaliran kembali denyut kehidupan dalam umat Islam; agar umat ini dapat
merebut kembali kekuatannya, membebaskan diri, dan mengambil kedudukan yang
telah Allah pilihkan baginya sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk
manusia, serta sebagai guru bagi kemanusiaan dengan agama yang hak (benar) ini,
guna mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.
Di
samping kekuatan iman dan aqidah, harus ada kekuatan persatuan dan ikatan di
antara kaum muslimin untuk menyatukan langkah. Kemudian, barulah datang
kekuatan fisik dan senjata ketika cara lain tidak lagi memadai, dan inilah
peran Jihad.
Imam
Syahid Hasan Al-Banna telah mengutip urgensi dari ketiga kekuatan
ini—dengan urutan tersebut—dari sirah Rasulullah SAW dan pergerakan dakwah
beliau saat mendirikan Daulah Islam yang pertama.
Sikap
Ikhwanul Muslimin terhadap Jihad
Muncul
banyak pertanyaan di sana-sini, baik dari kalangan awam maupun khusus:
Pertanyaan dari mereka yang tidak mengerti banyak tentang Islam; pertanyaan
dari mereka yang telah menjual diri dan harta mereka kepada Allah; pertanyaan
dari orang-orang yang jiwanya telah mati oleh kelemahan dan keputusasaan; serta
dari orang-orang yang jiwanya sangat rindu untuk mati syahid di jalan Allah.
Maka
kita mendengar ada yang berkata:
"Apakah
kalian ingin dengan Jihad itu memaksa orang non-muslim untuk memeluk Islam
dengan kekuatan senjata?"
Ada
pula yang berkata:
"Apakah
kalian ingin berjihad melawan musuh-musuh Allah di Timur dan Barat, sementara
mereka memiliki kekuatan yang dahsyat dan kalian dalam keadaan lemah tidak
memiliki apa-apa?"
Dan
ada yang berkata:
"Apakah
kalian ingin dengan Jihad itu melemparkan pemuda-pemuda Islam ke dalam
kebinasaan, dan menyajikan mereka sebagai santapan empuk bagi musuh-musuh
Allah?!"
Sebaliknya,
kita juga mendengar perkataan sebagian pemuda yang bersemangat:
"Apakah
Ikhwan sudah merasa lelah setelah berbagai cobaan sehingga mereka meletakkan
senjata dan meninggalkan Jihad?"
Ada
yang berkata:
"Apakah
kalian ingin dengan sikap pasif ini mematahkan semangat para pemuda dan
mematikan ruh Jihad di dalam diri mereka?"
Dan
ada yang bertanya:
"Sampai
kapan kalian hanya merasa cukup dengan dakwah dan tarbiyah (pendidikan) tanpa
Jihad, sementara musuh-musuh Allah terus mengintai dan menyerang kalian dari
waktu ke waktu, namun kalian menghadapi serangan mereka dengan penyerahan diri
tanpa perlawanan?!"
Ini
adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sekitar Ikhwan dan sikap mereka
terhadap Jihad. Kami mungkin memaklumi sebagian penanya: Kami memaklumi mereka
yang belum tahu (jahil) sebagaimana kami memaklumi mereka yang bersemangat...
Namun, kami merasa wajib untuk menjelaskan segala sesuatunya kepada mereka;
agar kita semua memiliki visi yang jelas, sehingga pemahaman dan upaya kita
dapat bersatu dengan izin Allah.
Mustafa
Mashhur
Di
Ambang Pembahasan
- Hakikat agama ini...
Dakwah... dan Pergerakan.
- Jihad adalah puncak tertinggi
(dzirwatu sanamihi).
- Di antara ayat-ayat Jihad
dalam Islam.
- Di antara hadits-hadits Jihad
dalam Sunnah.
- Perkataan Imam Syahid.
- Sikap Ikhwanul Muslimin
terhadap Jihad.
Hakikat
Agama ini.. Dakwah.. dan Pergerakan - Dan Jihad adalah Puncak Tertingginya.
Membahas
pertanyaan-pertanyaan ini dan menjawabnya mengharuskan kita untuk mengingatkan
kembali tentang rambu-rambu dasar dan isu-isu penting; agar visi yang
dihasilkan benar dan terikat pada batas-batasnya.
Agama
Islam ini, tuntutannya terhadap kaum muslimin, serta peran dan kedudukan Jihad
dalam agama ini, adalah hal-hal yang harus jelas tanpa ada keraguan.
Agama
Islam kita bukanlah agama kependetaan atau kerahiban, dalam artian setiap orang
hanya beribadah kepada Tuhannya tanpa memedulikan orang lain, dan orang lain
pun tidak memedulikannya. Sebaliknya, Islam adalah agama yang sempurna yang
mengatur urusan kehidupan dunia manusia sebagaimana ia memelihara urusan
akhirat.
Islam
mengatur urusan ekonomi, sosial, politik, hukum, dan lainnya. Islam adalah
agama aqidah, syariah, dan ibadah, yang mencakup setiap hal kecil maupun besar
yang berkaitan dengan manusia di kedalaman jiwanya, dalam kehidupan dunianya
bersama sesama muslim maupun non-muslim, serta masa depan abadinya di akhirat
kelak.
Demikian
pula, ini adalah agama umat yang satu, jamaah yang satu, kiblat yang satu, dan
kitab yang satu, yang menjadikan kaum muslimin dalam hubungan mereka seperti
satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan
merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.
Rasulullah
SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum
muslimin, maka ia bukan golongan mereka" (Diriwayatkan oleh
At-Thabrani, Abu Nu'aim, dan Al-Hakim dengan sanad-sanad yang lemah/dhaif).
Islam
mewajibkan pengikutnya untuk menerapkan syariatnya dan menjadikan Al-Qur'an
serta Sunnah Nabinya sebagai pemutus perkara di antara mereka. Islam juga
mewajibkan pengikutnya untuk menyampaikan agama yang hak ini kepada seluruh
manusia. Ini adalah revolusi melawan jahiliyah dan segala bentuk penyembahan
kepada selain Allah, atau adat istiadat dan tradisi yang tidak diredhai Allah.
Mungkinkah
agama seperti ini dapat tegak dan pengikutnya dapat mewujudkan segala
tuntutannya tanpa ada serangan atau agresi dari pemilik keyakinan lain yang
mencoba menghalangi mereka dari menegakkan agama ini? Dan apakah pengikut agama
ini akan berhenti mengamalkannya dan bekerja untuknya hanya karena serangan
musuh-musuh Allah?
Mereka
bersabar, menanggung beban, dan terus melanjutkan jalan mereka. Namun, bukankah
kesabaran dan ketabahan ini ada batasnya? Bukankah mereka berhak untuk membalas
agresi dan menyingkirkan hambatan dari jalan mereka?
Di
sinilah Jihad menjadi kebutuhan yang mendesak. Oleh karena itu, Islam
menjadikannya sebagai kewajiban yang terus berlaku hingga hari kiamat. Islam
sangat menganjurkan dan mendorongnya, serta menjadikannya sebagai puncak
tertinggi Islam. Tanpanya, agama tidak akan tegak, para pembela kebatilan akan
berkuasa, agama Allah akan terabaikan, kehidupan akan rusak, dan berjalan di
jalan yang tidak diredhai Allah. Apakah hal seperti itu layak bagi Allah
Tabaraka wa Ta'ala?
Berikut
adalah beberapa hal yang berkaitan dengan Jihad dalam Islam, kemudian dengan
izin Allah, kami akan menjelaskan sikap Ikhwan terhadap Jihad dan menanggapi
pertanyaan-pertanyaan yang telah disebutkan sebelumnya.
Islam
menaruh perhatian besar pada urusan Jihad, militer, dan mobilisasi umat, serta
menghimpun seluruh umat dalam satu barisan untuk membela kebenaran dengan
segala kekuatan. Islam menjadikan Jihad sebagai kewajiban yang mutlak bagi
setiap muslim yang tidak ada jalan untuk menghindarinya. Islam memberikan
dorongan yang luar biasa, menjanjikan pahala yang melimpah bagi mujahidin dan
syuhada, serta mengancam mereka yang tertinggal (enggan berjihad) dengan
siksaan yang pedih dan sifat-sifat yang buruk. Bahkan, melarikan diri dari
medan perang dianggap sebagai salah satu dosa besar yang membinasakan.
Sangat
bermanfaat untuk merujuk pada Risalah Al-Jihad karya Imam Syahid Hasan
Al-Banna, karena beliau telah mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan
dengan Jihad, peperangan, dan kesyahidan, serta hadits-hadits nabawi yang
memberikan bekal yang sangat banyak. Kami kutipkan sedikit di antaranya sebagai
contoh:
Di
Antara Ayat Jihad dalam Islam:
- "Diwajibkan atas kamu
berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu
tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu
menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216).
- "Karena itu,
hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan)
akhirat berperang di jalan Allah. Dan barangsiapa berperang di jalan
Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka akan Kami berikan
pahala yang besar kepadanya." (An-Nisa: 74).
- "Dan janganlah kamu
mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka
bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan
bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang
belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan
tidak (pula) mereka bersedih hati..." (Ali Imran: 169-171).
- "Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang
teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun
kokoh." (Ash-Shaff: 4).
Di
Antara Hadits Jihad dalam Sunnah:
- Dari Abu Hurairah RA:
Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, amal apakah yang setara
dengan Jihad di jalan Allah?" Beliau menjawab, "Kalian
tidak akan sanggup melakukannya." Mereka mengulanginya dua atau
tiga kali, dan beliau tetap menjawab, "Kalian tidak akan
sanggup." Kemudian beliau bersabda: "Perumpamaan orang
yang berjihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa, shalat,
dan tunduk dengan ayat-ayat Allah, ia tidak berhenti dari puasa dan
shalatnya sampai orang yang berjihad itu pulang." (HR. Al-Jama'ah
kecuali Abu Dawud).
- Dari Sahl bin Hunaif RA:
Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang memohon kesyahidan
kepada Allah dengan jujur (benar-benar), maka Allah akan menyampaikannya
ke derajat para syuhada, meskipun ia mati di atas tempat tidurnya."
(HR. Al-Khamsah kecuali Bukhari).
- Dari Al-Miqdam bin Ma'di
Karib: Rasulullah SAW bersabda: "Bagi orang yang syahid di sisi
Tuhannya ada enam perkara: diampuni dosanya pada tumpahan darah pertama,
diperlihatkan tempat duduknya di surga, diselamatkan dari siksa kubur,
diberi keamanan dari ketakutan yang besar (hari kiamat), diletakkan di atas
kepalanya mahkota kewibawaan yang satu batu yaqutnya lebih baik dari dunia
dan seisinya, dinikahkan dengan 72 istri dari bidadari, dan diberi izin
memberi syafaat bagi 70 orang kerabatnya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu
Majah).
Perkataan
Imam Syahid
Mengenai
hukum Jihad dalam Islam, Imam Syahid (Hasan al-Banna) mengatakan dalam Risalah
al-Jihad:
"Para
ahli ilmu—baik yang mujtahid maupun muqallid, baik kaum salaf maupun
khalaf—telah sepakat bahwa Jihad adalah fardhu kifayah bagi umat Islam
untuk menyebarkan dakwah, dan menjadi fardhu 'ain (kewajiban individu)
untuk menolak serangan kaum kafir terhadap mereka."
Kemudian
Imam melanjutkan:
"Umat
Islam saat ini, sebagaimana yang Anda ketahui, sedang dihinakan oleh selain
mereka dan dikuasai oleh orang-orang kafir. Tanah mereka telah diinjak-injak,
syiar agama mereka dilecehkan di negeri mereka sendiri, ditambah lagi
ketidakmampuan mereka untuk menyebarkan dakwah. Maka, menjadi wajib secara 'ain
(individu) yang tidak bisa dihindari bagi setiap muslim untuk bersiap diri,
menanamkan niat Jihad, dan mempersiapkan segala perlengkapan untuk itu, hingga
tiba kesempatan yang tepat dan Allah menetapkan keputusan yang harus
terjadi."
Imam
Syahid juga mengatakan di bagian lain dalam Risalah al-Jihad mengenai
atsar (riwayat) yang berbunyi: "Kita telah kembali dari Jihad yang
kecil menuju Jihad yang besar. Mereka bertanya: 'Apa itu Jihad yang besar?'
Beliau menjawab: 'Jihad hati, atau jihad melawan hawa nafsu'." Beliau
(Hasan al-Banna) menyatakan:
"Atsar
ini bukan merupakan hadits menurut pendapat yang shahih, dan dikatakan bahwa
itu adalah perkataan Ibrahim bin 'Ablah."
Judul:
"Mengapa Seorang Muslim Berperang?" dalam Risalah yang sama
Imam
Syahid mengatakan:
"Allah
mewajibkan Jihad atas kaum muslimin bukan sebagai alat agresi atau sarana untuk
ambisi pribadi, melainkan sebagai pelindung bagi dakwah, jaminan bagi
perdamaian, dan penunaian risalah besar yang dipikul oleh kaum muslimin; yaitu
risalah untuk memberi petunjuk kepada manusia menuju kebenaran dan keadilan.
Dan sesungguhnya Islam, sebagaimana ia mewajibkan peperangan, ia juga memuji
perdamaian."
Allah
Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Dan jika mereka condong kepada
perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah."
(Al-Anfal: 61).
Tentang
Rahmat dalam Jihad Islam
Imam
Syahid mengatakan:
"Karena
tujuan dalam Jihad Islam adalah semulia-mulia tujuan, maka sarananya pun
merupakan sebaik-baik sarana. Allah telah mengharamkan agresi dan membimbing
kaum muslimin kepada puncak kasih sayang. Maka ketika mereka berperang, mereka
tidak melampaui batas, tidak berbuat fujur (jahat), tidak memutilasi (mayat),
tidak mencuri, tidak merampas harta, tidak melanggar kehormatan, dan tidak
memulai dengan gangguan. Di masa perang, mereka adalah sebaik-baik pejuang,
sebagaimana di masa damai mereka adalah sebaik-baik pendamai."
Sebagaimana
telah datang larangan membunuh wanita, anak-anak, orang tua, dilarang
menghabisi yang terluka, dilarang mengusik para rahib dan orang-orang yang
menyendiri (untuk ibadah), serta orang-orang yang tidak ikut berperang dari
kalangan masyarakat yang aman. Di manakah kasih sayang ini jika dibandingkan
dengan serangan-serangan gas beracun (serangan yang mencekik) dari
bangsa-bangsa yang mengaku beradab dan kekejaman mereka yang mengerikan? Dan di
manakah hukum internasional mereka dibandingkan dengan keadilan Tuhan yang
bersifat menyeluruh ini?
Kemudian
beliau berdoa:
"Ya
Allah, pahamkanlah kaum muslimin akan agama mereka, dan selamatkanlah dunia
dari kegelapan-kegelapan ini dengan cahaya Islam."
Sikap
Ikhwanul Muslimin terhadap Jihad
Sesungguhnya
Jihad di jalan Allah dalam beberapa tahun terakhir mulai memaksakan
eksistensinya di arena Islam, dan telah menjadi kenyataan yang nyata di
beberapa bagian dunia Islam. Di bagian lainnya, mengalir semangat persiapan
untuk itu dan perasaan bahwa Jihad adalah keniscayaan; bahwa ia adalah
satu-satunya jalan untuk menolak agresi musuh-musuh Allah dan membebaskan tanah
Islam dari penjajahan dan invasi mereka.
Telah
muncul keyakinan bahwa jalan negosiasi dan perjanjian damai dengan musuh-musuh
Allah tanpa adanya Jihad adalah sebuah penyerahan diri (penaklukan) yang
dibungkus dengan nama perdamaian. Selain itu, ada kewajiban yang dibebankan
kepada setiap muslim yang tidak akan terwujud tanpa Jihad dan persiapan untuk
itu: yaitu menegakkan Daulah Islam (Negara Islam), Khilafah Islam, dan
pemantapan agama ini di muka bumi.
"...sehingga
tidak ada lagi fitnah (kesyirikan) dan agama itu hanya untuk Allah."
(Al-Anfal: 39).
Jihad
adalah Jalan (Peta Jalan)
- Jalan untuk mengembalikan
Khilafah Rasyidah: Iman dan Amal... Cinta dan Persaudaraan...
Persiapan (I'dad) dan Jihad.
- "Jihad adalah Jalan
Kami": Sebuah syiar (semboyan) bagi dakwah.
- Realitas membuktikan
kebenaran pengalaman... dan Jihad terus berlanjut.
- Apakah Ikhwan sudah lelah
dari cobaan lalu meletakkan senjata dan meninggalkan Jihad?
Jawabannya: Tidak.
- Cobaan bagi mereka justru
mengasah pengalaman, menambah iman, dan menguatkan tekad untuk terus
melangkah.
- Tidak ada tindakan yang
didorong oleh antusiasme yang gegabah, dan tidak pula menunggu sampai
kematian menjemput tanpa berbuat; melainkan segala sesuatu ada ukurannya
(perhitungannya).
- Jihad bukan hanya untuk
menolak gangguan saja... melainkan juga untuk menegakkan Negara Muslim.
Mukadimah
Kami
telah menjelaskan hakikat agama ini dan kedudukan Jihad di jalan Allah di
dalamnya. Di sini kami menjelaskan sikap Ikhwanul Muslimin terhadap Jihad di
masa lalu, masa kini, dan masa depan insya Allah; guna menghilangkan keraguan
seputar topik ini serta menjawab pertanyaan-pertanyaan atau kecurigaan yang
muncul, agar pemuda-pemuda mujahid kita melihat jalan tersebut dengan jelas
sehingga tidak menyimpang dan tidak terpengaruh oleh perkataan orang-orang yang
melemahkan semangat atau orang-orang yang ragu.
Jalan
untuk Mengembalikan Khilafah Rasyidah
Iman
dan Amal... Cinta dan Persaudaraan... Persiapan dan Jihad
Sesaat
sebelum berdirinya jamaah Ikhwanul Muslimin, dan tepat setelah jatuhnya
Khilafah Islamiyah, Imam Syahid Hasan al-Banna melihat ke sekelilingnya—saat
itu beliau masih menjadi mahasiswa di Fakultas Darul Ulum. Beliau mempelajari
kondisi dunia Islam dan apa yang terjadi pada kaum muslimin dengan studi yang
mendalam dan tenang.
Beliau
menyadari bahwa jauhnya kaum muslimin dari esensi agama mereka dan lemahnya
iman merekalah yang menyebabkan musuh-musuh Allah dapat menguasai mereka,
meruntuhkan Daulah Islam dan Khilafah Islamiyah, serta menjajah umat Islam
secara pemikiran, ekonomi, dan moral; demi mematikan aqidah di dalam jiwa
sebagaimana mereka menghancurkan entitas fisik dalam bentuk Khilafah.
Beliau
merasakan bahaya besar yang mengancam kaum muslimin, dan kebutuhan yang sangat
mendesak, bahkan kewajiban yang dibebankan Islam kepada setiap muslim laki-laki
dan perempuan untuk bekerja mengembalikan Khilafah Islamiyah dan menegakkan
kembali Daulah Islam di atas fondasi yang kokoh dan entitas yang kuat; demi
melindungi aqidah, menegakkan syariat Allah di antara kaum muslimin,
membebaskan umat Islam serta melindungi mereka dari setiap agresi, dan untuk
menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia serta memenangkan agama agung ini
yang diredhai Allah bagi hamba-hamba-Nya.
Setelah
pemikiran yang dalam dan berserah diri kepada Allah, Allah memberikan taufik
kepada Imam Syahid bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan kewajiban agung
ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya
terdahulu ketika mereka mendirikan Daulah Islamiyah yang pertama. Jalan
tersebut terangkum dalam beberapa kata: Iman dan Amal, Cinta dan
Persaudaraan, Persiapan dan Jihad. Begitulah Rasulullah SAW mendidik kaum
muslimin di atas hidangan Al-Qur'an dan di dalam madrasah beliau SAW; beliau
mempersaudarakan mereka, mengorganisir mereka, dan mendorong mereka untuk
berjihad serta berkorban. Maka mereka pun menjadi layak mendapatkan pertolongan
dan dukungan Allah, sehingga jazirah Arab dibersihkan dari kemusyrikan dan
berhala, negeri Persia ditaklukkan, Romawi dikalahkan, kaum Yahudi diusir,
kegelapan sirna, dan cahaya pun merata.
Imam
Syahid memahami hal tersebut, maka beliau mendirikan jamaah Ikhwanul Muslimin
dan berjalan di atas jalan yang sama. Beliau berpendapat bahwa agar tarbiyah
(pendidikan) berdiri di atas landasan yang kokoh, dan agar pembangunan negara
berdiri di atas asas yang benar, maka kaum muslimin harus dikembalikan kepada
Islam yang benar, komprehensif (syamil), dan murni sebagaimana yang
dibawa oleh Rasulullah SAW—jauh dari penyimpangan atau kesalahan, jauh dari
pemotongan (parsial), distorsi, bid'ah, maupun takhayul, serta jauh dari
sebab-sebab perpecahan.
Oleh
karena itu, beliau menetapkan 20 Prinsip (Ushul 'Isyrin) yang terdapat
dalam Risalah al-Ta'alim di bawah rukun "Faham" dari sepuluh
rukun baiat, sebagai kerangka yang menjaga pemahaman yang benar terhadap Islam.
Beliau juga memahami peran Jihad dalam kerahasiaan dakwah, urgensinya, serta
persiapan untuknya, karena kebenaran harus memiliki kekuatan yang
melindunginya. Beliau merasakan bahwa ruh Jihad di antara kaum muslimin pada
waktu itu hampir tidak ada, dan ruh ketundukan serta penyerahan diri (kepada
penjajah) adalah yang mendominasi.
Jihad
adalah Jalan Kami... Semboyan bagi Dakwah
Beliau
memberikan perhatian yang layak pada sisi Jihad dalam dakwah Ikhwan. Kita dapat
merasakan perhatian ini dalam berbagai bentuk:
- Kita temukan beliau
menegaskan bahwa Jihad adalah jalan yang diserukan oleh Ikhwan: "Allah
tujuan kami, Rasul teladan kami, Al-Qur'an undang-undang kami, Jihad jalan
kami, dan Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi."
- Kita temukan lambang Ikhwan
adalah dua bilah pedang yang mengelilingi Kitabullah. Kedua pedang
tersebut adalah simbol Jihad dan kekuatan yang melindungi kebenaran yang
direpresentasikan oleh Al-Qur'an.
- Beliau menamai dakwah Ikhwan
sebagai "Dakwah Kebenaran, Kekuatan, dan Kebebasan"
sebagai penegasan atas perlunya kekuatan di samping kebenaran.
- Beliau menjadikan
"Jihad" sebagai salah satu rukun dari sepuluh rukun baiat, dan
"Pengorbanan" (Tadhiyah) sebagai rukun lainnya.
- Beliau mengkhususkan
pembahasan Jihad dalam risalah-risalah yang ditulisnya, dan senantiasa
dalam ceramah-ceramah beliau mendorong untuk berjihad, menanamkan
kecintaan pada kesyahidan, dan menghubungkan Ikhwan dengan generasi awal
bersama Rasulullah SAW serta teladan luar biasa yang mereka berikan dalam
bidang Jihad dengan jiwa dan harta.
Realita
Membuktikan Pengalaman... dan Jihad Terus Berlanjut
Persoalan
ini tidak hanya terbatas pada ucapan dan tulisan semata. Ketika kesempatan
untuk berjihad di Palestina datang, Ikhwan segera menyambut dan
memanfaatkannya. Di sana, mereka menorehkan contoh-contoh yang paling
mengagumkan. Seandainya bukan karena tipu daya, konspirasi, dan pengkhianatan
terhadap isu tersebut oleh para penguasa negeri-negeri muslim pada waktu itu,
niscaya keadaannya akan berubah.
Di
antara aktivitas Ikhwan selain olahraga fisik adalah: kepanduan (Al-Jawwalah)
dan latihan-latihan pramuka. Seringkali kami melihat Imam Syahid berada di
tengah-tengah kami dengan mengenakan seragam kepanduan dan ikut serta dalam
latihan-latihan tersebut.
Setelah
Allah memuliakan beliau dengan syahadah (mati syahid)—di mana pembunuhan beliau
merupakan bagian dari konspirasi tersebut—Ikhwan tetap melanjutkan langkah
mereka di jalan jihad di tepian Terusan Suez melawan penjajah Inggris
pada awal tahun lima puluhan. Mereka juga melanjutkan jihad melawan Yahudi di
wilayah Islam lainnya selain Mesir, setelah dakwah sempat dihilangkan di
balik jeruji penjara pada masa Abdel Nasser. Hari ini, kita melihat
Ikhwan ikut serta bersama saudara-saudara mujahid mereka di Afghanistan,
sebagaimana mereka juga berjihad di Suriah melawan rezim sektarian yang
kafir lagi zhalim.
Apakah
Ikhwan Lelah dari Cobaan?!
Lalu
Meletakkan Senjata dan Meninggalkan Jihad!!
"TIDAK"
Begitulah
kita melihat bahwa Ikhwan tidak pernah berubah, tidak berganti, dan tidak
memutus masa kini mereka dari masa lalu mereka. Mereka juga tidak akan memutus
masa depan mereka dari masa kini dan masa lalu mereka. Mereka mewariskan dakwah
ini kepada generasi-generasi selanjutnya dengan segala kesempurnaan dan
kemurniannya. Mereka mewariskan ruh jihad, kecintaan pada mati syahid, dan
pengorbanan hingga kemenangan Allah terwujud dan kalimat Allah menjadi yang
paling tinggi.
Cobaan
Bagi Mereka Mengasah Pengalaman, Menambah Iman, dan Menguatkan Tekad untuk
Terus Melangkah
Ikhwan
tidak menjadi lelah karena cobaan. Mereka tidak—dan tidak akan
pernah—meletakkan senjata atau meninggalkan jihad. Sebaliknya, cobaan-cobaan
itu justru mengasah mereka, menambah keimanan serta kegigihan mereka untuk
bekerja menolong agama mereka tanpa rasa letih, lemah, atau menyerah akibat apa
yang menimpa mereka di jalan Allah.
Tidak
Ada Tindakan Gegabah di Balik Antusiasme, Tidak Ada Penantian Hingga Kematian,
Melainkan Segala Sesuatu Ada Ukurannya
Namun
demikian, Ikhwan tidak akan terbawa arus oleh antusiasme sebagian pemuda untuk
melakukan tindakan-tindakan mentah yang tidak terukur, yang tidak mengubah
realitas yang rusak, dan bahkan mungkin merugikan amal Islami serta
menguntungkan ahli batil. Di sisi lain, Ikhwan juga tidak akan menempuh jalan
"sikap menunggu yang mematikan" yang menyia-nyiakan kesempatan dan
menurunkan ruh jihad dalam jiwa para pemuda. Akan tetapi, mereka menakar segala
urusan dengan ukuran yang semestinya, dengan merujuk pada Kitabullah dan Sunnah
Nabi-Nya—Shallallahu 'alaihi wa sallam—dalam setiap langkah yang mereka ambil
sembari memohon pertolongan kepada Allah, mengharap petunjuk dan taufik-Nya.
Mereka menerima setiap nasihat, peringatan, atau bimbingan dari setiap individu
tanpa memandang kedudukannya.
Ikhwan
menyadari bahwa ketergesaan sebelum adanya persiapan (i'dad) bisa
berakibat pada kegagalan (seperti keguguran janin). Mereka juga tahu bahwa
kelambanan atau keragu-raguan setelah datangnya waktu yang tepat dan adanya
alasan di hadapan Allah, adalah seperti kematian maknawi. Di bawah naungan
syura (musyawarah) dan kepercayaan timbal balik, kemenangan akan terwujud
dengan izin Allah.
Sebagian
pemuda yang rindu pada jihad dan syahadah menyangka bahwa ia dapat mewujudkan
harapannya itu melalui aksi-aksi parsial: seperti menghilangkan beberapa bentuk
kemungkaran yang tersebar di negeri kita dengan kekerasan. Padahal
kenyataannya, bentuk-bentuk kemungkaran ini hanyalah buah dari pohon yang buruk
(syajarah khabitsah). Jika sebagian buahnya dihilangkan, ia akan berbuah
lagi selama pohon itu masih berdiri. Maka, pohon yang buruk itu harus dicabut
sampai ke akar-akarnya dan diganti dengan pohon yang baik (syajarah
thayyibah): yaitu pohon "La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah".
(Akar-akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya
pada setiap musim dengan seizin Tuhannya) (Ibrahim: 24-25). Dan hal ini
membutuhkan penilaian, persiapan, serta penentuan waktu yang tepat.
Ketika
Ikhwan menyodorkan pemuda-pemuda mereka untuk berjihad pada waktu yang tepat,
mereka tidak sedang melemparkan diri ke dalam kebinasaan. Justru kebinasaan
yang sebenarnya adalah menahan diri dari jihad ketika waktunya telah tiba dan
keadaan mengharuskannya. Sebab, jika musuh-musuh Allah menang, kaum muslimin
akan terkena fitnah dalam agama mereka, kehormatan mereka dilecehkan, dan
anak-anak mereka akan tumbuh besar di atas aqidah yang bukan Islam.
Juga
harus diketahui bahwa kaum muslimin tidak harus selalu membalas setiap agresi
atau gangguan yang menimpa mereka dari musuh-musuh Allah seketika itu juga,
melainkan ketika kemampuan dan kondisi telah memungkinkan. Pada periode dakwah
pertama, saat kaum muslimin masih sedikit dan terkena gangguan serta agresi
kaum musyrikin, Rasulullah SAW tidak memerintahkan mereka untuk membalas agresi
dengan kekuatan. Beliau justru mewasiatkan mereka pada saat itu untuk bersabar
dan teguh sembari memberi kabar gembira berupa kemenangan dan surga. Bersama
kesabaran dan keteguhan tersebut, penyampaian dakwah terus berlanjut meski ada
gangguan. Ketika kondisi telah siap, barulah turun izin untuk berperang melalui
firman Allah Ta'ala: (Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang
diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah,
benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu) (Al-Hajj: 39).
...Atas
dasar ini, sikap Ikhwan terhadap agresi yang berulang-ulang terhadap mereka
tidak akan terus bersifat pasif. Pasti akan tiba harinya di mana mereka
memiliki alasan di hadapan Allah untuk membalas agresi dan membela diri mereka
sendiri.
Jihad
Bukan Hanya untuk Menolak Gangguan... Tetapi Juga untuk Menegakkan Negara
Muslim
Hendaknya
diketahui bahwa jihad dan persiapannya bukan semata-mata untuk menolak agresi
dan gangguan yang dialami kaum muslimin dari musuh-musuh Allah. Jihad dan
persiapannya juga ditujukan untuk menyempurnakan tugas agung, yaitu menegakkan
Daulah Islam (Negara Islam), memenangkan agama ini, serta menyebarkannya ke
seluruh penjuru dunia. Sejauh mana keagungan tugas tersebut, sejauh itu pulalah
persiapan yang dibutuhkan, termasuk waktu dan tenaga. Waktu di sini tidak
diukur dengan umur individu, melainkan dengan umur bangsa-bangsa dan gerakan
dakwah.
Adapun
pernyataan keliru bahwa maksud jihad dalam Islam adalah untuk memaksa orang
masuk Islam dengan pedang, kita tidak perlu bersusah payah membuktikan
kebatilannya. Banyak orang telah menulis tentang hal ini, dan cukuplah
pernyataan itu bertentangan dengan firman Allah Ta'ala: (Tidak ada paksaan
dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang
sesat) (Al-Baqarah: 256). Realitas dan sejarah pun membantah klaim dusta
tersebut.
Setelah
penjelasan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar jihad secara umum dan
seputar Ikhwan secara khusus ini, tinggallah kita menyampaikan kepada pemuda
muslim kita beberapa makna esensial yang harus senantiasa menyertai mereka
dalam medan jihad dan persiapannya, agar layak mendapatkan kehormatan agung
ini...
Kepada
Pemuda Muslim di Jalan Jihad
- Seruan dari Imam Syahid.
- Agar para pemuda mengetahui.
- Wahai para pemuda.
- Saudariku Muslimah.
Kepada
Pemuda Muslim di Jalan Jihad
Kami
telah menjelaskan sebelumnya tentang hakikat agama Islam kita, kedudukan jihad
dan hukumnya dalam Islam—bahwa ia adalah fardhu kifayah untuk menyebarkan
dakwah, dan fardhu 'ain untuk menolak serangan kaum kafir serta membalas agresi
mereka terhadap tanah Islam dan kehormatan kaum muslimin. Kami juga telah
menjelaskan sikap Ikhwanul Muslimin terhadap jihad, sejarah mereka bersamanya,
keterikatan mereka dengannya, serta bahwa mereka menjadikan jihad sebagai
jalan... Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Ikhwan dan
jihad, serta untuk menenangkan pemuda muslim yang berjihad dan memberi
penglihatan pada jalannya agar tidak menyimpang, serta melanjutkan jihadnya
tanpa keragu-raguan dan tanpa kecerobohan.
Setelah
itu, kami sampaikan kepada pemuda muslim kita di kancah Islami beberapa makna
yang harus mereka miliki dan letakkan di depan mata sebagai rambu-rambu di
jalan jihad.
Mungkin
bermanfaat saat kita berbicara kepada pemuda muslim untuk mengutip beberapa
ungkapan Imam Syahid Hasan al-Banna dari risalahnya kepada pemuda, di mana
beliau berkata:
"Wahai
pemuda, sesungguhnya suatu gagasan akan berhasil jika keimanan terhadapnya
kuat, keikhlasan di jalannya tersedia, semangat terhadapnya meningkat, dan
terdapat kesiapan yang mendorong pada pengorbanan dan amal untuk mewujudkannya.
Keempat rukun ini—Iman, Ikhlas, Semangat, dan Amal—seakan-akan merupakan
karakteristik pemuda. Karena dasar iman adalah hati yang cerdas, dasar ikhlas
adalah nurani yang suci, dasar semangat adalah perasaan yang kuat, dan dasar
amal adalah tekad yang muda. Semua ini tidak ada kecuali pada pemuda. Oleh
karena itu, sejak dulu hingga sekarang, di setiap umat, pemuda adalah pilar
kebangkitannya, dalam setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya, dan
dalam setiap gagasan pemuda adalah pembawa panjinya."
Kemudian
beliau berkata:
"Hal
pertama yang kami serukan kepada kalian adalah agar kalian percaya pada diri
kalian sendiri, mengetahui kedudukan kalian, dan meyakini bahwa kalian adalah
para tuan di dunia ini—meskipun musuh-musuh kalian menginginkan kehinaan bagi
kalian—dan kalian adalah guru bagi seluruh alam, meskipun pihak lain terlihat
unggul atas kalian dalam kehidupan dunia ini. Dan kesudahan yang baik adalah
bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka perbaruilah wahai para pemuda keimanan
kalian, tentukanlah sasaran dan tujuan kalian."
"...Dan
kekuatan yang pertama adalah iman, hasil dari iman adalah persatuan, dan
konsekuensi dari persatuan adalah kemenangan yang kuat lagi nyata. Maka
berimanlah kalian, bersaudaralah kalian, beramallah kalian, dan nantikanlah
setelah itu kemenangan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang
beriman."
Setelah
pendahuluan ini, kami tujukan nasihat dan fokus pada jalan Jihad kepada
pemuda muslim di seluruh dunia, maka kami katakan kepada pemuda ini:
Ketahuilah
bahwa Jihad di jalan Allah akan menjadi—dan Allah lebih mengetahui—ciri
yang dominan pada amal Islami di fase mendatang dari usia dakwah Islamiyah—yang
akan dialami oleh pemuda hari ini bersamaan dengan kelanjutan dalam dakwah dan
tarbiyah (pendidikan). Fase atau tahapan tersebut tidak akan lepas dari ujian (ibtila)
dan gangguan di tangan musuh-musuh Allah dan para pembantu mereka, karena sudah
menjadi sunnatullah bahwa gangguan akan terus berlanjut hingga datangnya
kemenangan.
“Dan
sesungguhnya rasul-rasul sebelum mu pun telah didustakan, maka mereka bersabar
terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai
datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah
kalimat-kalimat (ketetapan) Allah.” (QS. Al-An’am: 34).
Hendaknya
pemuda muslim di jalan Jihad mengetahui bahwa medan jihadnya di jalan
Allah tidak terbatas pada satu negeri Islam saja tanpa negeri lainnya. Sebab,
tanah air Islam itu satu dan tidak terbagi-bagi. Sesungguhnya panji Jihad
telah berkibar di beberapa bagiannya, dan akan tetap berkibar dengan izin Allah
hingga setiap jengkal tanah Islam terbebaskan, berdirinya negara Islam, dan
sampainya dakwah Allah kepada seluruh manusia.
Ketahuilah
wahai pemuda, bahwa isu-isu dunia Islam seperti Palestina, Afghanistan, Suriah,
Eritrea, Filipina, dan lainnya bukanlah sekadar isu tanah dan bangsa, melainkan
isu aqidah dan agama. Itu adalah isu Islam dan seluruh umat Islam. Tidak
mungkin solusinya melalui negosiasi, tawar-menawar, dan pengakuan terhadap
musuh atas tanah Islam yang dirampasnya. Namun, harus dengan Jihad di
jalan Allah, maka Jihad adalah jalannya.
Wahai
Pemuda Muslim Mujahid
Sadarilah
tugas-tugas besar yang dibebankan Islam kepadamu di fase usia dakwah Islamiyah
ini, serta harapan besar dan pencapaian luar biasa yang digantungkan umat Islam
kepadamu. Yakinlah bahwa masa depan adalah milik agama yang lurus ini yang
diredhai Allah bagi hamba-Nya, dan tenanglah akan terwujudnya janji Allah
kepada hamba-Nya yang beriman berupa kemenangan dan kejayaan (tamkin).
Ketahuilah bahwa di balik terwujudnya harapan-harapan besar ini terdapat usaha
dan jihad, keringat dan darah, nyawa dan syuhada, serta pengorbanan dan
penebusan. Maka siapkanlah dirimu untuk itu, karena jalan Jihad tidak
ditaburi bunga mawar, melainkan panjang, melelahkan, dan penuh duri serta
rintangan.
Wahai
Pemuda Muslim di Jalan Jihad
Ketahuilah
bahwa medan Jihad hari ini luas, musuh-musuh Allah banyak, dan bentuk
peperangan beragam, yang menjadikan konflik antara kebenaran (al-haq)
dan kebatilan membutuhkan usaha dan waktu. Maka siapkanlah dirimu untuk itu,
jadilah orang yang memiliki napas panjang (sabar), dan janganlah menjadi orang
yang menyepelekan urusan tanpa pemahaman mendalam serta terburu-buru mengharap
kemenangan. Jika kemenangan tertunda sesaat, tekad mereka melemah, semangat
mereka luntur, dan keputusasaan merasuki hati mereka. Jadilah engkau wahai
saudaraku, orang yang memiliki kepercayaan mutlak kepada Tuhanmu; Dia bersamamu
selama engkau bersama-Nya, dan Dia akan menolongmu selama engkau menolong
agama-Nya.
“Jika
kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan
kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).
Milikilah
kepercayaan mutlak pada agamamu, bahwa ia adalah agama yang benar dan diterima
di sisi Allah. Milikilah kepercayaan besar pada jalanmu dan jamaahmu bahwa
engkau berada di jalan yang benar. Percayalah pada dirimu dan saudara-saudaramu
bahwa kalian mampu—dengan pertolongan Allah—untuk menegakkan kebenaran dan
menghancurkan kebatilan meskipun setelah beberapa waktu.
Wahai
Pemuda Muslim
Rasakanlah
tanggung jawabmu atas setiap muslim di bumi Allah yang mengalami pembunuhan,
gangguan, kemiskinan, penyakit, kebodohan, penindasan, atau penguasaan dari
musuh-musuh Allah. Ikutlah merasakan sakit atas penderitaan mereka, dan biarlah
rasa sakit itu mendorongmu untuk beramal dan berjihad demi menyelamatkan
mereka semua. Rasakan juga tanggung jawabmu untuk memberi petunjuk kepada umat
manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran dan kesesatan menuju
cahaya Islam. Rasakan semua tanggung jawab raksasa ini, dan berkumpullah bersama
saudara-saudaramu di bawah panji amal Islami yang serius, serta tempuhlah jalan
Jihad yang benar untuk menolong agama Allah dan memuliakan umat Islam
agar kemanusiaan kembali kepada apa yang menjadi kebaikan dan keberuntungannya.
Wahai
Saudaraku Pemuda Muslim
Kenalilah
jalanmu dan tentukan arahmu tanpa kelambanan dan keraguan. Letakkan tanganmu di
tangan para ahli Jihad dan kebenaran, orang-orang yang jujur dalam
ucapan dan ikhlas dalam perbuatan. Tinggalkanlah orang-orang yang membatasi
jihad mereka hanya di halaman buku, surat kabar, dan majalah, serta sibuk
berdebat tentang masalah-masalah cabang (furu'iyyah) dalam Islam, di
saat tanah kaum muslimin dirampas, nyawa mereka dihilangkan, kehormatan mereka
dilecehkan, dan kesucian mereka dinodai oleh tangan musuh-musuh Allah.
Wahai
Saudaraku Pemuda Muslim
Bersegeralah
menuju kebaikan dan adakanlah transaksi yang menguntungkan dalam perniagaan
bersama Allah ini, agar engkau meraih kemenangan yang besar, pertolongan yang
nyata, mendapatkan kenikmatan yang kekal, dan selamat dari azab yang pedih,
sesuai dengan firman Allah Ta’ala:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang
dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah
yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah mengampuni
dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga
'Adn. Itulah kemenangan yang agung. Dan (ada lagi karunia lain) yang kamu sukai
(yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan
sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS.
Ash-Shaff: 10-13).
Dan
sebagai perwujudan firman Allah Ta'ala: “Sesungguhnya Allah telah membeli
dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk
mereka.” (QS. At-Taubah: 11).
Janganlah
bakhil (kikir) wahai saudaraku dengan sesuatu pun dari jiwa, harta, waktu, atau
usaha di jalan Allah. “Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya
akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (QS.
Al-Anfal: 60).
“Dan
siapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan
Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan; dan
jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain;
dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad: 38).
Wahai
Saudaraku Pemuda Muslim:
Siapkanlah
dirimu dan keluargamu untuk meraih kemuliaan Jihad di jalan Allah, dan
bekalilah dengan setiap bekal yang menolong di jalan tersebut, agar perjalanan
terus berlanjut hingga kemenangan atau syahid tanpa keraguan, tanpa rasa berat,
dan tanpa duduk berpangku tangan. Siapkanlah diri dengan aqidah yang selamat,
iman yang kuat, dan niat yang murni serta jujur karena Allah, bersih dari
segala riya atau tujuan duniawi, melainkan semata agar kalimat Allah menjadi
yang paling tinggi.
Siapkanlah
diri dengan ibadah yang benar dan ikhlas karena Allah serta akhlak Islam yang
kokoh. Siapkanlah diri dengan pemikiran yang terdidik dan ilmu bermanfaat yang
spesifik, agar terpenuhi kemandirian kita dalam setiap kebutuhan Jihad
semampu kita. Siapkanlah diri dengan badan yang kuat yang mampu menanggung
beban Jihad, serta siapkanlah dengan harta yang baik dan segala sebab
kekuatan, sebagai ketaatan atas perintah Allah: “Dan siapkanlah untuk
menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfal:
60).
Wahai
Saudaraku Pemuda Muslim di Jalan Jihad:
Sembari
engkau menyiapkan dirimu dan melatihnya dalam seni peperangan serta mengambil
sebab-sebab kekuatan, engkau wajib mempelajari fikihnya, batasan-batasannya,
adab-adabnya, dan hukum-hukumnya. Engkau harus mempelajarinya dan berkomitmen
padanya agar jihadmu diterima di sisi Allah. Sebab jihad itu sama seperti
kewajiban lainnya seperti shalat, puasa, zakat, atau haji; jika tidak
berkomitmen pada adab dan hukumnya, maka ia batal dan tidak diterima di sisi
Allah.
Sebagaimana
telah kami sebutkan, kaum muslimin ketika berperang tidak melampaui batas,
tidak berbuat jahat, tidak memutilasi, tidak berlebihan, tidak merampas harta,
tidak melanggar kehormatan, dan tidak membunuh wanita, anak-anak, serta orang
tua. Mereka juga dilarang menghabisi yang terluka, dilarang mengusik rahib yang
menyendiri dan orang-orang yang tidak berperang dari kalangan masyarakat yang
aman, serta instruksi dan adab lainnya. Janganlah engkau meniru musuh-musuh
Allah dalam hal-hal yang dilarang ini.
Wahai
Pemuda Muslim di Jalan Jihad:
Senjata
pertama dan terpenting yang harus engkau miliki dalam jihadmu melawan
musuh-musuh Allah adalah senjata Iman. Itulah bekal yang terus
diperbarui di jalan ini, dialah yang meledakkan potensi dan mendorong
pemiliknya untuk menyongsong kematian tanpa rasa takut, meremehkan kesulitan,
dan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah. Dalam penilaianku, seorang pemuda
mukmin mujahid lebih ditakuti oleh musuh Allah daripada reaktor atom. Dia juga
dalam timbangan kekuatan lebih berat dan lebih kuat daripada reaktor atom
karena alasan sederhana: Jika kaum muslimin bersenjatakan iman, mereka menjadi
layak untuk mendapatkan janji Allah berupa kemenangan dan kejayaan, serta Dia
akan menguatkan mereka dengan tentara-tentara-Nya.
“Dan
milik Allah-lah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4). “Dan tidak ada yang mengetahui tentara
Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” (QS. Al-Muddatstsir: 31).
“Sesungguhnya
Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
tiap-tiap orang yang suka berkhianat lagi sangat ingkar. Telah diizinkan
(berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah
dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.”
(QS. Al-Hajj: 38-39). “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang
yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47). “Allah telah menjanjikan kepada
orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia
sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan
bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan
mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman
sentosa.” (QS. An-Nur: 55).
Wahai
Para Pemuda:
Pemuda
muslim di jalan Jihad, ringankanlah dirimu dari tarikan-tarikan dunia
dan sebab-sebab kemewahan agar engkau dapat menyambut penyeru Jihad
tanpa rasa berat. Jika tidak, engkau akan terkena azab yang pedih sesuai dengan
firman Allah Ta’ala:
“Wahai
orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepadamu: 'Berangkatlah
(berperang) di jalan Allah', kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu?
Apakah kamu lebih menyukai kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat?
Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di
akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya
Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan mengganti kamu dengan kaum
yang lain, dan kamu tidak akan dapat mendatangkan mudarat kepada-Nya sedikit
pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika kamu tidak menolongnya
(Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika
orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari
dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada
temannya: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka
Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan membantunya dengan tentara yang
tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan
kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan
berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Itulah yang lebih baik
bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 38-41).
Wahai
saudaraku pemuda muslim mujahid, ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak butuh)
atas kita dan jihad kita, kitalah yang membutuhkan pahala Allah, nikmat-Nya,
dan meraih kemuliaan ini. “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya
jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya
(tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabut: 6).
Allah
mampu untuk menang atas musuh-musuh-Nya tanpa jihad kita, akan tetapi ini
adalah ujian dan cobaan. “Demikianlah, dan apabila Allah menghendaki niscaya
Allah membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan
sebagian yang lain.” (QS. Muhammad: 4). “Dan sesungguhnya Kami
benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad
dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal
ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31). “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk
surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan
belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 142).
Wahai
saudaraku pemuda Muslim di jalan Jihad:
Janganlah
engkau gentar terhadap kekuatan musuh-musuh Allah meskipun jumlah dan
perlengkapan mereka banyak. Karena Allah adalah Pelindung orang-orang yang
beriman, Dia membela mereka dengan bala tentara-Nya dan menguatkan mereka
dengan pertolongan-Nya. (Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi)
(Al-Fath: 4). (Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan
orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah
kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah)
(An-Nisa: 76). (Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:
"Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang
yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati
orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap
ujung jari mereka) (Al-Anfal: 12). (Jika Allah menolong kamu, maka tak
adalah orang yang dapat mengalahkan kamu) (Ali Imran: 160).
Kita,
wahai saudaraku pemuda mujahid, pada hakikatnya hanyalah perantara bagi takdir
Allah dan kemenangan-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan bagi kita kecuali dengan
pertolongan Allah. Engkau akan menemukan makna ini sangat jelas dalam firman
Allah Ta'ala: (Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan
tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu
melempar, tetapi Allah-lah yang melempar) (Al-Anfal: 17).
Serta
dalam firman-Nya: (Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka
dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan
menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,
dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat
orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana)
(At-Taubah: 14-15).
Engkau
akan mendapati bahwa subjek (pelaku) dari kata kerja: menyiksa mereka,
menghinakan mereka, menolong kamu, melegakan, menghilangkan, dan menerima
taubat... adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka kewajiban kaum Muslimin adalah
berperang, adapun hasil yang timbul dari peperangan tersebut kembalinya adalah
kepada Allah. Segala urusan sepenuhnya milik Allah dan kembali kepada Allah.
Wahai
saudaraku pemuda Muslim mujahid:
Letakkanlah
tanganmu di tangan saudara-saudaramu dalam barisan Jihad. Ikatlah hubungan
dengan mereka secara kuat melalui ikatan persaudaraan yang jujur karena Allah,
agar kalian menjadi seperti bangunan yang kokoh, yang satu bagian menguatkan
bagian yang lain. Dengan begitu, kalian semua akan meraih cinta Allah dan
pertolongan-Nya, sesuai dengan firman Allah: (Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan
mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh) (Ash-Shaff: 4).
Teladanilah
keadaan para mujahidin terdahulu dari kalangan Anshar dan Muhajirin, serta
cinta, persaudaraan, dan sifat mementingkan orang lain (itsar) yang ada
di antara mereka, yang mana Allah menjadikannya perumpamaan dalam Al-Qur'anul
Karim: (Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman
(Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang
berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan) (Al-Hashr: 9).
Janganlah
engkau izinkan setan atau musuh-musuh Allah untuk merusak cinta dan
persaudaraan ini, yang mana hal itu bisa memberikan celah bagi mereka untuk
masuk ke barisan kaum Muslimin.
Wahai
para pemuda Muslim di jalan Jihad:
Jadilah
pelaksana terbaik bagi perintah Allah dan arahan-Nya kepada kaum mukminin yang
berjihad dalam seruan yang mulia ini: (Wahai orang-orang yang beriman,
apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah
(nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah
dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu
menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah
beserta orang-orang yang sabar) (Al-Anfal: 45-46).
Begitulah
Allah memerintahkan kita untuk teguh, berdzikir kepada Allah, taat kepada Allah
dan Rasul-Nya, serta tidak berbantah-bantahan atau berselisih, kemudian
diperintahkan untuk sabar. Semua itu adalah prasyarat kemenangan dan pencegah
kegagalan. Maka jadikanlah prioritasmu wahai saudaraku untuk menyatukan visi
dan barisan, menjauhlah sejauh-jauhnya dari segala hal yang memecah barisan
mujahidin, mencabik persatuan mereka, atau menyia-nyiakan usaha mereka.
Ketahuilah bahwa bersatu di atas sesuatu yang kurang tepat lebih baik daripada
berpecah-belah di atas sesuatu yang paling tepat, karena dalam naungan
persatuan, kita dapat dibimbing menuju hal yang paling tepat setelah itu.
Wahai
saudaraku pemuda Muslim mujahid:
Pelajarilah
sikap orang-orang munafik terhadap Jihad dan perkataan mereka, begitu pula
orang-orang yang duduk santai dan tertinggal. Kenalilah hal itu dari
Kitabullah, khususnya dari Surah At-Taubah. Berhati-hatilah agar tidak jatuh ke
dalamnya atau terpengaruh olehnya. Tutuplah telingamu dari perkataan
orang-orang yang melemahkan semangat (muthabbithin), orang-orang yang
ragu, dan kaum munafik. Tekad mereka telah lemah untuk berjihad, sehingga
mereka beralih melemahkan tekad para mujahidin, menebarkan rasa lemah dan lesu
ke dalam jiwa dengan menakut-nakuti tentang kengerian perang dan kekuatan
musuh, serta merusak kepercayaan terhadap kepemimpinan maupun perintah dan
instruksi yang dikeluarkan. Hal-hal semacam itu akan membawa dampak terburuk
dan konsekuensi berbahaya saat perang berlangsung. Benarlah Allah Yang Maha
Agung saat berfirman: (Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak
menambah kamu melainkan kekacauan saja, dan tentu mereka bergegas maju ke muka
di celah-celah barisanmu untuk mengadakan fitnah di antaramu; sedang di antara
kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah
mengetahui orang-orang yang zalim) (At-Taubah: 47).
Wahai
pemuda Muslim mujahid:
Bergantunglah
kepada Allah dan janganlah lemah. Mintalah kepada Allah kesabaran dan keteguhan
hati. Begitulah Rasul kita tercinta—Shallallahu 'alaihi wa sallam—berwasiat
kepada kita: "Janganlah kalian mengharap-harapkan bertemu musuh, tetapi
jika kalian bertemu mereka, maka bersabarlah (teguhlah). Dan ketahuilah bahwa
surga itu berada di bawah naungan pedang" (Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud).
Maka
kita tidak memulai agresi dan tidak berharap bertemu musuh, tetapi kita
membalas serangan dengan memohon pertolongan kepada Allah, meminta kesabaran,
keteguhan, dan kemenangan. Kita melihat kebenaran hal itu pada kelompok mukmin
yang teguh bersama Thalut dalam firman Allah: (Orang-orang yang meyakini
bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan
yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan
Allah beserta orang-orang yang sabar". Tatkala mereka tampak oleh Jalut
dan tentaranya, mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas
diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang
kafir". Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin
Allah) (Al-Baqarah: 249-251).
Seorang
mujahid harus memiliki kesabaran dan keteguhan. Perhatikanlah wahai saudaraku
ungkapan (tuangkanlah kesabaran atas diri kami), maknanya adalah
kesabaran yang sangat banyak. Karena sesungguhnya kemenangan itu bersama
kesabaran, dan sebagaimana dikatakan, antara kemenangan dan kekalahan hanyalah
selisih sabar sesaat. Benarlah Allah Yang Maha Agung saat berfirman: (Wahai
orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan
tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah,
supaya kamu beruntung) (Ali Imran: 200).
Wahai
saudaraku pemuda Muslim mujahid:
Majulah
ke barisan pejuang di jalan Allah dengan penuh keyakinan bahwa engkau akan
bertemu dengan salah satu dari dua kebaikan (al-husnayain): Kemenangan
atau Mati Syahid. Kemenangan yang membuat orang-orang beriman di seluruh
penjuru bumi bergembira, atau Syahid yang dengannya engkau meraih kedudukan dan
pahala para syuhada. (Dan barangsiapa berperang di jalan Allah lalu gugur
atau memperoleh kemenangan, maka kelak Kami berikan kepadanya pahala yang
besar) (An-Nisa: 74). (Katakanlah: "Tidak ada yang kamu
tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami
menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab dari
sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya
kami pun menunggu bersamamu") (At-Taubah: 52).
Pada
saat yang sama, letakkanlah di depan matamu konsekuensi berbahaya bagi umat
Islam dan ancaman keras dari Allah bagi mereka yang melarikan diri saat
pertempuran berkecamuk, sebagaimana jelas dalam firman-Nya: (Wahai
orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir
yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).
Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok
untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain,
maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan
tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya)
(Al-Anfal: 15-16).
Wahai
pemuda Muslim mujahid:
Berhati-hatilah
jangan sampai engkau tertimpa rasa lemah, lesu, atau menyerah jika Allah
menakdirkan kekalahan bagi kaum mukminin dalam suatu pertempuran. Kekalahan
yang sesungguhnya adalah kekalahan dari dalam hati, bukan kekalahan di medan
perang. Maka kita harus bertawakal kepada Allah dan melanjutkan Jihad tanpa
menjadi lemah karena apa yang menimpa kita di jalan Allah. Ayat-ayat ini
menceritakan kondisi orang-orang beriman dalam posisi tersebut: (Janganlah
kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah
orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum
(kafir) itu pun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran)
itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan
supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir)
supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak
menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang
beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir) (Ali
Imran: 139-141).
Dan
firman-Nya: (Orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah
mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat
kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar) (Ali
Imran: 172). Serta firman-Nya: (Dan berapa banyaknya nabi yang berperang
bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka
tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan
tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang
yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah
dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan
kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik
di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan) (Ali
Imran: 146-148).
Wahai
saudaraku pemuda Muslim mujahid:
Renungkanlah
ayat-ayat terakhir ini, dan lihatlah bagaimana saudara-saudaramu mujahidin
terdahulu memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa mereka dan tindakan
berlebihan mereka dalam urusan mereka, di samping memohon keteguhan dan
kemenangan. Seolah-olah mereka merasakan bahwa dosa-dosa dan tindakan
berlebihan ini termasuk sebab kekalahan, sebagaimana keteguhan dan ketaatan
kepada Allah termasuk sebab kemenangan. Maka para mujahid di jalan Allah harus
menjauhi kemaksiatan kepada Allah saat mereka sedang berjihad di jalan-Nya.
Ketahuilah bahwa kemaksiatan mereka kepada Allah lebih berbahaya bagi mereka
dan lebih patut ditakuti daripada musuh mereka.
Adapun
dalam kondisi menang, kita tidak boleh mengembalikannya kepada kekuatan,
kemampuan, kompetensi, atau perlengkapan kita, melainkan mengembalikannya
kepada Allah. (Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya
Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) (Ali Imran: 126).
Kita
harus rendah hati dan tidak sombong. Kita memiliki teladan pada tawadhu-nya
Rasulullah—Shallallahu 'alaihi wa sallam—kepada Allah saat penaklukan Mekah (Fathul
Makkah). Sebagaimana tidak layak bagi kita untuk dihinggapi rasa tertipu (ghurur)
atau ujub (bangga diri) ketika kita melihat jumlah personel dan perlengkapan
yang banyak di barisan mujahidin mukminin. Jumlah yang banyak itu tidak akan
berguna sedikit pun bagi kita jika Allah meninggalkan kita. Benarlah Allah Yang
Maha Agung: (Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di banyak medan
peperangan, dan (ingatlah) peperangan Hunain, di waktu kamu menjadi congkak
karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat
kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu,
kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai) (At-Taubah: 25).
Ketahuilah
wahai saudaraku pemuda Muslim mujahid, bahwa kita dituntut untuk bekerja
(beramal), dan kita tidak bertanggung jawab atas hasil. Allah telah
memerintahkan kita untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah dan membalas agresi
mereka, namun tidak menuntut kita untuk menciptakan kemenangan. Kemenangan itu
datang dari sisi-Nya. Oleh karena itu, Allah tidak akan menghalangi kita dari
pahala para mujahidin di jalan-Nya, meskipun hasilnya tidak berpihak kepada
kaum mukminin.
Ketahuilah
wahai saudaraku pemuda Muslim di barisan mujahidin, bahwa engkau adalah target
besar dan tangkapan berharga bagi musuh-musuh Allah jika mereka berhasil
mendapatkanmu. Hal itu bukan hanya dengan membunuhmu, tetapi jika mereka mampu
menipumu, menyogokmu, atau menarikmu ke pihak mereka dengan janji atau ancaman.
Maka jangan biarkan mereka menguasai dirimu. Ketahuilah bahwa apa yang ada di
sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, dan engkau sedang berada di salah satu
pos penjagaan kaum Muslimin, maka jangan sampai mereka masuk melalui posmu.
Jadilah engkau di posisimu sebagai penjaga, pejuang, atau pemberi bantuan yang
terbaik. Rasakanlah karunia Allah atasmu yang telah menganugerahimu kehormatan
Jihad di jalan-Nya, seraya mengingat pahala yang agung: pahala ribath (bersiaga
di perbatasan), penjagaan, atau peperangan di jalan Allah. (Katakanlah:
"Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka
bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan") (Yunus: 58). Sebagaimana engkau juga harus
merasakan bahaya besar, dosa besar, bahkan azab pedih jika engkau meninggalkan
posmu dan tugasmu, serta membiarkan musuh-musuh Allah menyusup ke barisan
mukminin.
Wahai
saudaraku pemuda Muslim di barisan mujahidin:
Jadilah
orang yang sangat teliti dalam pekerjaanmu, waktumu, dan pelaksanaan apa yang
diminta darimu. Terkadang keterlambatan satu menit atau kelalaian kecil dalam
melaksanakan perintah dapat memaparkan banyak mujahidin pada kebinasaan dan
kematian, atau menyebabkan jatuhnya posisi penting ke tangan musuh.
Wahai
pemuda Muslim mujahid:
Di
mana pun engkau berada, hendaknya engkau berpegang pada Kitabullah.
Tadabburilah dan bacalah dengan sebenar-benarnya bacaan, karena di dalamnya
terdapat bekal yang melimpah di jalan Jihad. Berhentilah lama pada surah-surah
dan ayat-ayat yang membahas Jihad dan perang di jalan Allah, dan hafallah jika
engkau mampu. Itu akan membekalimu dengan segala apa yang engkau butuhkan dalam
usahamu dan peperanganmu melawan musuh-musuh Allah. Bacalah dan tadabburilah
sirah Imam para Mujahidin—Shallallahu 'alaihi wa sallam—serta para sahabatnya
yang mulia, dan lihatlah apa yang ada dalam peristiwa peperangan berupa
gambaran Jihad yang luar biasa, model pengorbanan yang unik, penebusan, cinta,
itsar, persiapan, serta perencanaan.
Saudariku
Muslimah:
Engkau,
wahai saudari Muslimah, berada di jalan Jihad, dan sesungguhnya engkau
memiliki peran penting dalam bidang Jihad. Peran itu dimulai dari rumah
dengan mendidik generasi, menumbuhkan, dan mempersiapkan mereka untuk berjihad.
Sebab wanita adalah pencetak tokoh-tokoh besar (lelaki sejati). Dahulu, para
wanita Muslimah mengajarkan anak-anak mereka tentang sejarah peperangan (ghazawat)
sebagaimana mereka mengajarkan surah-surah dari Al-Qur'an.
Wanita
Muslimah di masa lalu juga memiliki peran dalam pertempuran: mereka bertugas
memberi minum tentara dan mengobati luka-luka, bahkan terkadang ikut serta
memegang senjata sebagaimana yang dilakukan oleh Nusaibah binti Ka'ab dalam
membela Rasulullah ﷺ
pada hari Perang Uhud.
Mati
Syahid di Jalan Dakwah
(Jihad
adalah jalan kami, dan Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang
tertinggi)
Slogan
ini senantiasa kami ulang-ulang, dan para putra dakwah mengulanginya bersama
kami di jalan dakwah selama perjalanan, amal, dan jihad mereka demi meninggikan
kalimat Allah dan memenangkan agama-Nya. Banyak orang-orang tercinta yang telah
meraih cita-cita ini, di antaranya adalah pendiri jamaah ini, Imam Syahid Hasan
Al-Banna. Kita memohon kepada Allah agar menerima mereka semua, melapangkan
surga bagi mereka, mempertemukan kita dengan mereka tanpa mengubah atau
mengganti (ajaran), tanpa menebar fitnah maupun terkena fitnah, serta
menganugerahkan kita syahadah (mati syahid) seperti mereka. Amin.
Iring-iringan
para syuhada telah berlanjut di jalan dakwah sejak lama. Para saudara yang
mulia telah meraih syahadah di tanah Palestina tercinta pada tahun 1947
dan 1948 dalam jihad mereka melawan gerombolan Zionis yang berdosa dan
perampas. Dakwah ini telah mempersembahkan contoh-contoh luar biasa dalam
jihad, penebusan, dan mati syahid di jalan Allah. Kenangan tentang mereka masih
menakuti Yahudi hingga hari ini, dan nama Ikhwanul Muslimin masih
membuat mereka gentar. Beberapa buku telah membahas jihad ini dan menyebutkan
detail tentang pertempuran serta para syuhadanya.
Kemudian
terjadilah konspirasi dengan perencanaan musuh-musuh Allah dan pelaksanaan oleh
para agen mereka dari kalangan penguasa Arab pada masa itu. Maka keluarlah
keputusan pembubaran Jamaah Ikhwan di Mesir pada Desember 1948,
serta penangkapan mereka kecuali Imam Al-Banna, di mana mereka
merencanakan pembunuhannya pada Februari 1949. Mereka (penguasa) memasukkan
pasukan Arab atau simbol-simbolnya ke Palestina dengan alasan
menyelamatkannya dari Yahudi, padahal hakikatnya adalah untuk menyerahkannya
kepada Yahudi melalui pengumuman gencatan senjata, penghentian perang reguler
dan gerilya, serta membawa para mujahidin dari kalangan Ikhwan keluar
dari medan jihad menuju kamp tahanan dan penjara. Setelah itu, diumumkanlah
pembagian wilayah dan berdirinya Israel. Oleh karena itu, Imam Syahid Hasan
Al-Banna dianggap sebagai syahid Palestina meskipun tidak terbunuh di atas
tanahnya.
Di
tepian Terusan Suez, terjadi pula jihad Ikhwan melawan penjajah
Inggris. Dalam peristiwa itu, banyak pemuda di usia belia meraih syahadah,
seperti Umar Syahin, Ahmad Al-Munaisi, dan selainnya—semoga Allah
merahmati mereka semua. Mereka juga menorehkan contoh kepahlawanan dan
pengorbanan yang luar biasa, yang mempercepat keluarnya Inggris dari Mesir.
Kemudian
musuh-musuh Allah memaksakan medan syahadah lainnya kepada kita, yaitu medan
kezaliman dan para zalimin serta fitnah (ujian) terhadap orang-orang beriman,
di bawah siksaan berat di penjara-penjara Abdel Nasser dan di atas tiang
gantungan. Mereka menyongsong syahadah dengan penuh keteguhan hati, ketabahan,
dan mengharap pahala Allah. Di antara para syuhada tersebut adalah: Abdul
Qadir Audah, Syaikh Muhammad Farghali, dan Yusuf Thal'at
(keduanya adalah pemimpin jihad di Palestina), Ibrahim At-Thayyib, Hindawi
Duwair, dan Mahmoud Abdul Latif. Kemudian para syuhada: Sayyid
Quthb, Abdul Fattah Ismail, Muhammad Yusuf Hawash, dan
puluhan lainnya di bawah siksaan. Terakhir, syahid Muhammad Kamal
Al-Sananiri di masa sekarang, begitu pula Khalid Al-Islambuli dan
saudara-saudaranya—semoga Allah merahmati mereka semua.
Banyak
pula putra dakwah yang meraih syahadah di Palestina yang diduduki dan di
Lebanon, dan mereka masih terus mendapatkannya dalam jihad melawan
Yahudi. Begitu pula di Suriah, baik yang terbunuh oleh peluru, di bawah
puing-puing, dikubur hidup-hidup di bawah siksaan, atau dihukum gantung di
penjara-penjara Suriah. Syahadah juga diraih oleh saudara-saudara di Irak,
Libya, Somalia, Indonesia, di medan-medan jihad di Afghanistan,
Filipina, Eritrea, dan lainnya. Iring-iringan syuhada akan terus
berlanjut di setiap wilayah di dunia Islam di mana terjadi konflik antara
musuh-musuh Allah serta para pembela kebatilan yang berkuasa melawan para
penyeru jalan Allah yang ruh jihadnya telah bangkit, sehingga mereka
mempersembahkan nyawa mereka dengan murah demi meninggikan kalimat Allah.
Konflik
antara kebenaran (al-haq) dan kebatilan akan terus berlanjut: medannya
meluas, panji-panji jihad berkibar, dan pertolongan Allah turun kepada
hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah mengambil para syuhada dari kalangan mereka
hingga pertolongan Allah turun sepenuhnya, dan agama Allah tegak di bumi dengan
izin-Nya.
Sebagian
orang mengira bahwa gugurnya para syuhada ini adalah kerugian bagi jamaah
karena kehilangan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dalam kancah amal dan
jihad. Ini adalah persangkaan yang salah. Sesungguhnya syahidnya seorang
pejuang di jalan dakwahnya adalah bekal dan bahan bakar bagi generasi
mendatang, simbol pengorbanan, dan teladan bagi putra-putra dakwah di jalan
dakwah.
Musuh-musuh
Allah dan agen-agen mereka mengira bahwa dengan membunuh para penyeru jalan
Allah, mereka akan menghabisi dakwah dan jamaahnya, terutama jika yang dibunuh
adalah para pemimpinnya. Mereka tertipu dan salah dalam persangkaan ini. Sebab
ini bukanlah dakwah individu atau kelompok orang yang berakhir dengan kematian
mereka, melainkan dakwah Allah dan cahaya Allah. Cahaya Allah tidak akan bisa
dipadamkan oleh manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan orang-orang
yang jujur dan ikhlas untuk menggantikan mereka dalam barisan agar terus
melanjutkan amal dan jihad hingga tujuan berdirinya jamaah tercapai, yaitu
tegaknya Negara Islam yang dipuncaki oleh Khilafah Islamiyah demi memenangkan
agama Allah di bumi-Nya: (Hingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu
seluruhnya milik Allah) (Al-Anfal: 39).
Hendaknya
pemuda Muslim kita mengetahui bahwa peperangan antara kebenaran dan kebatilan
adalah perang yang sengit, meluas dalam dimensi waktu dan tempat hingga
mencakup seluruh kancah Islam. Hendaknya mereka tahu bahwa Jihad adalah
jalannya, dan pengorbanan nyawa serta harta adalah hal yang niscaya. Kesempatan
untuk berjihad dan meraih syahadah akan meningkat dalam beberapa puluh tahun
mendatang sebagai mukadimah menuju fase Jihad dan Kemenangan (tamkin)
dengan izin Allah, sebagaimana terjadi pada era Negara Islam pertama setelah
fase penganiayaan dan penyiksaan.
Tidak
boleh ada rasa putus asa yang merasuki pemuda kita dalam meraih kemenangan
karena banyaknya musuh dan sedikitnya orang beriman. Dahulu, kaum mukminin
bersama Rasulullah ﷺ
berjumlah sedikit dalam personil maupun perlengkapan, sementara musuh berjumlah
banyak. Namun Allah menguatkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman dengan bala
tentara-Nya: (Dan milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi
orang-orang munafik itu tidak memahami); (Dan tidak ada yang mengetahui
bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri) (Al-Muddaththir: 31).
Sungguh,
wahai para pemuda, mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi.
Mengapa tidak? Padahal ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah yang
mulia memberikan semangat dan menarik kita menuju kesyahidan di jalan Allah
melalui penjelasan tentang kedudukan para syuhada serta kebaikan, kemuliaan,
dan keutamaan yang Allah berikan kepada mereka.
Mari
kita tinjau sebagian darinya agar kerinduan dan usaha kita untuk meraih
syahadah di jalan Allah semakin bertambah: Kedudukan pertama para syuhada
adalah bahwa mereka menjadi hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki,
serta bergembira dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka.
Allah
Ta'ala berfirman: (Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang
gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu
hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya) (Al-Baqarah: 154). (Janganlah
kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan
mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan
gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka
bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum
menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang
besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
beriman) (Ali Imran: 169-171). (Dan orang-orang yang syahid di sisi
Tuhannya, mereka mempunyai pahala dan cahaya mereka). Rasakanlah bersamaku
wahai saudaraku, kalimat: (di sisi Tuhannya).
(Dan
orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal
mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan
mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya
kepada mereka) (Muhammad: 4-6). (Karena itu hendaklah orang-orang yang
menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah.
Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh
kemenangan maka kelak Kami berikan kepadanya pahala yang besar) (An-Nisa:
74). (Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya,
yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan
Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke
dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi
Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik) (Ali Imran: 195).
(Tetapi
Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta
dan diri mereka. Dan mereka itulah (orang-orang) yang memperoleh kebaikan, dan
mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah
kemenangan yang besar) (At-Taubah: 88-89). (Wahai orang-orang yang
beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkanmu
dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan
berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan
memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan
(memasukkanmu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah
kemenangan yang besar. Dan (ada lagi karunia lain) yang kamu sukai (yaitu)
pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah
berita gembira kepada orang-orang yang beriman) (Ash-Shaff: 10-13).
Kita
berpindah ke taman hadits-hadits Rasulullah ﷺ seputar Jihad dan Syahadah:
Dari
Abu Hurairah رضي الله
عنه, ia berkata: "Ditanyakan, wahai Rasulullah: Apakah yang
setara dengan jihad di jalan Allah? Beliau menjawab: 'Kalian tidak akan sanggup
melakukannya.' Mereka mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali, dan beliau
tetap menjawab: 'Kalian tidak akan sanggup melakukannya.' Kemudian beliau
bersabda: 'Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah adalah seperti
orang yang berpuasa, mengerjakan shalat, lagi khusyuk dengan ayat-ayat Allah,
dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya hingga orang yang berjihad itu
kembali.'" (HR. Enam Imam kecuali Abu Dawud).
Dari
Anas رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Tidak
ada seorang pun yang masuk surga yang ingin kembali ke dunia meskipun ia
memiliki segala sesuatu yang ada di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Ia
berharap untuk kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali karena kemuliaan
yang ia lihat." Dalam riwayat lain: "karena keutamaan syahadah
yang ia lihat." (Muttafaqun 'Alaih).
Dari
Al-Miqdam bin Ma'di Yakrib, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Bagi orang yang mati
syahid di sisi Allah ada enam perkara: diampuni dosanya sejak kucuran darah
pertama, diperlihatkan tempat duduknya di surga, diselamatkan dari azab kubur,
diberikan keamanan dari ketakutan yang besar (hari kiamat), diletakkan di atas
kepalanya mahkota kewibawaan yang satu batu yakutnya lebih baik daripada dunia
dan seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua istri dari bidadari, dan diberi
izin memberi syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya." (HR. Tirmidzi
dan Ibnu Majah).
Dari
Anas رضي الله عنه, bahwa Ummu Ar-Rabi'
binti Al-Bara (ibunda Haritsah binti Suraqah) mendatangi Nabi ﷺ dan berkata:
"Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menceritakan kepadaku tentang
Haritsah—ia terbunuh pada perang Badar—jika ia berada di surga maka aku akan
bersabar, namun jika selain itu, maka engkau akan melihat apa yang aku lakukan
dalam menangisinya." Beliau bersabda: "Wahai ibunda Haritsah,
sesungguhnya di sana ada banyak surga di dalam surga, dan anakmu telah meraih
Firdaus yang tertinggi." (HR. Bukhari).
Dari
Abu Hurairah رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang yang mati
syahid tidak merasakan sakitnya pembunuhan kecuali seperti salah seorang dari
kalian merasakan sakitnya cubitan." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits
Hasan Shahih).
Inilah
sebagian ayat dan hadits yang membuat kita rindu pada Jihad dan Syahadah. Kami
tidak bermaksud merangkum semuanya karena ini bukan tempatnya, namun ini adalah
kilatan cahaya yang memberikan pemahaman dan menjelaskan kepada kita kedudukan
para syuhada di sisi Tuhannya.
Wahai
saudaraku di jalan dakwah, wahai engkau yang telah memilih jalan orang-orang
mukmin yang jujur, yang telah berjanji setia kepada Allah untuk beramal dan berjihad
demi meninggikan kalimat Allah dan demi tegaknya agama Allah di bumi. Wahai
engkau yang telah mengenal kedudukan Jihad di jalan Allah serta derajat
para syuhada, sehingga engkau menjadi rindu untuk meraih kedudukan tersebut,
dan meneriakkan dari lubuk hatimu: (Jihad adalah jalan kami, dan mati di
jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi).
Wahai
saudaraku, sesungguhnya itu adalah cita-cita yang benar-benar mulia, namun
untuk meraihnya diperlukan kesiapan, persiapan, ketelitian, dan komitmen.
Janganlah seseorang membayangkan bahwa jika ia melakukan suatu tindakan pada
waktu kapan pun menurut penilaiannya sendiri, lalu ia terbunuh di dalamnya,
berarti ia telah meraih kesyahidan. Namun, ada hal-hal yang wajib diperhatikan
dan dipatuhi, yang kami sebutkan di antaranya:
Pertama:
Mengadakan transaksi yang menguntungkan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala:
“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111).
Engkau
harus berada dalam kesiapan penuh untuk menyerahkan diri, harta, dan segala
yang engkau miliki di jalan Allah kapan pun urusan itu membutuhkannya.
Kedua:
Agar transaksi sempurna dan penjualan diterima, engkau harus menghiasi diri
dengan sifat-sifat orang mukmin; karena Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka...” Maka
ayat setelah ayat ini (At-Taubah: 112) beserta sifat-sifat mukmin di dalamnya
mempertegas makna ini, di mana Allah berfirman:
“Mereka
itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji (Allah),
yang mengembara (berpuasa), yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat
ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan
gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah: 112).
Ketahuilah
bahwa ada sifat-sifat lain bagi orang mukmin yang disebutkan dalam Surah
Al-Mu’minun dan surah lainnya, begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang wajib dipelajari
dan diperjuangkan dalam diri untuk dipatuhi. Iman yang kuat sangat dibutuhkan
di jalan dakwah; karena iman membantu kesabaran, ketahanan, dan keteguhan di
atas kebenaran saat pemiliknya menghadapi kesulitan, gangguan, atau siksaan,
sebagaimana yang kita saksikan pada sikap Sumayyah dan suaminya Yasir—semoga
Allah meridhai keduanya—begitu pula Bilal dan selainnya. Iman juga membantu
pemiliknya untuk berani dalam pertempuran, menghadapi musuh, serta bersabar dan
teguh saat serangan berkecamuk.
Ketiga:
Mengikhlaskan niatmu dalam Jihad dan Syahadah.
Jadikanlah
niatmu semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah di bumi Allah, dan janganlah
mencampuri niat ini dengan noda duniawi apa pun. Hadits Rasulullah ﷺ menjelaskan hal ini
dengan sangat jelas: Dari Abu Musa رضي الله عنه, bahwa seorang Arab Badui mendatangi Nabi ﷺ lalu berkata: "Wahai
Rasulullah, seseorang berperang demi harta rampasan, seseorang berperang agar
namanya disebut, seseorang berperang agar kedudukannya dilihat"—dan
dalam satu riwayat: "berperang karena keberanian, berperang karena
fanatisme (hamiyyah)", dalam riwayat lain: "berperang karena
marah"— "maka siapakah yang berada di jalan Allah?"
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang
paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah." (Muttafaqun ‘Alaih).
Keempat:
Memohon Syahadah (mati syahid) kepada Allah Ta’ala dengan jujur.
Hal
ini janganlah hanya sekadar ucapan lisan, namun harus dibenarkan oleh hati,
tekad yang jujur, dan menantikan kesempatan. Dengan demikian, engkau meraih
derajat para syuhada dan pahalanya dengan izin Allah meskipun engkau mati di
atas tempat tidurmu sebagaimana dalam hadits Rasulullah. Dari Sahl bin Hunaif رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa
memohon syahadah kepada Allah Ta’ala dengan jujur, maka Allah akan
menyampaikannya ke kedudukan para syuhada meskipun ia mati di atas tempat
tidurnya." (HR. Muslim).
Sebagai
kebalikannya, terdapat peringatan bagi siapa yang tidak berperang atau tidak
berpikir untuk berperang. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Barangsiapa yang mati sementara ia belum pernah berperang
dan tidak pernah terlintas dalam dirinya keinginan untuk berperang, maka ia
mati di atas salah satu cabang kemunafikan." (HR. Muslim).
Kelima:
Senantiasa menyambut seruan Jihad dengan harta tanpa rasa kikir atau pelit,
meskipun kondisi belum memungkinkan untuk Jihad dengan jiwa, karena transaksi
yang menguntungkan itu mencakup jiwa dan harta. “Sesungguhnya Allah telah
membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka...”, sebagaimana
Allah berfirman: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun
berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.” (QS.
At-Taubah: 41). Dan hadits-hadits Rasulullah ﷺ yang mendorong hal tersebut:
Dari
Zaid bin Khalid رضي الله
عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang mempersiapkan perlengkapan
orang yang berperang di jalan Allah, maka sungguh ia telah ikut berperang. Dan
barangsiapa yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, maka
sungguh ia telah ikut berperang." (Muttafaqun ‘Alaih).
Dari
Abu Yahya bin Fatik رضي الله
عنه, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang
menafkahkan suatu nafkah di jalan Allah, maka dicatat baginya tujuh ratus kali
lipat." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan).
Keenam:
Bersiaplah untuk menjawab seruan Jihad kapan pun engkau dipanggil di belahan
bumi Islam mana pun.
Islam
kita bersifat universal (alamiyah), bukan regional (iqlimiyah). Negeri-negeri
Muslim adalah satu tanah air. Engkau harus melepaskan diri dari tarikan dunia
yang membuat pemiliknya merasa berat untuk berangkat sehingga ia terancam azab
Allah sebagaimana dalam ayat mulia: “Wahai orang-orang yang beriman, apakah
sebabnya bila dikatakan kepadamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan
Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan
kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup
di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika
kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa
yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat
memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun.” (QS. At-Taubah: 38-39).
Makna
firman Allah Ta’ala: (Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan
maupun berat) adalah: Keluarlah untuk berperang wahai sekalian orang
mukmin, baik yang tua maupun yang muda, baik berjalan kaki maupun berkendaraan,
dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam kesulitan maupun kemudahan, baik
saat semangat maupun saat enggan.
Jangan
sampai kita mendekati keadaan orang-orang yang disebutkan dalam ayat mulia: “Orang-orang
yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan duduk-duduk
mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan
jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: 'Janganlah kamu berangkat
(pergi berperang) dalam panas terik ini.' Katakanlah: 'Api neraka Jahanam itu
lebih sangat panas(nya)' jika mereka mengetahui. Maka biarkanlah mereka tertawa
sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka
kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81-82).
Ketujuh:
Selama engkau menjadi prajurit dalam barisan, engkau wajib mematuhi apa yang
diminta darimu dalam bidang Jihad, serta apa yang ditentukan bagimu baik
waktu maupun tempatnya. Janganlah beralih kepada tindakan individu atau ijtihad
pribadi, demi memenuhi janji setiamu (baiat), menyatukan kekuatan, dan
melindungi amal dari dampak negatif tindakan individu yang tidak terkendali.
Seringkali antusiasme mendorong sebagian pemuda kepada tindakan individu yang
gegabah yang justru merugikan amal umum dan menyeret ke dalam situasi sulit
yang belum dipersiapkan untuk dihadapi.
Karena
pandangan yang dangkal dan terbatas, sebagian pemuda membayangkan bahwa konflik
sengit antara kebenaran dan kebatilan ini dapat berakhir hanya dengan membunuh
beberapa orang, meledakkan bom, atau tindakan serupa tanpa melihat
konsekuensinya. Padahal, persoalan ini sangat dalam di dalam jiwa karena ini
adalah persoalan aqidah; ia meluas di seluruh kancah Islam, sudah ada sejak
lama, dan akan terus berlanjut di masa depan hingga waktu yang dikehendaki
Allah.
Tidaklah
sulit atau berat bagi salah seorang Muslim di periode Mekah untuk membunuh Abu
Jahal atau Abu Lahab, atau menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka'bah
dalam rangka menghilangkan kemungkaran. Namun, tidak ada seorang pun Muslim
yang berani melakukan hal tersebut karena dampak besar yang dapat merugikan
dakwah dan berisiko menghancurkannya saat ia masih berupa benih yang lemah.
Kedelapan:
Wahai saudaraku, pelajarilah adab-adab peperangan dalam Islam agar engkau
dapat mematuhinya, sehingga jihadmu benar dan diterima tanpa noda. Kaum
Muslimin ketika berperang tidak melampaui batas, tidak berbuat jahat (fajir),
tidak memutilasi, tidak mencuri, tidak merampas harta, tidak melanggar
kehormatan, dan tidak memulai gangguan. Mereka adalah pejuang terbaik saat
perang, sebagaimana mereka adalah pembela perdamaian terbaik saat damai.
Dari
Buraidah رضي الله
عنه, ia berkata: "Rasulullah ﷺ apabila mengangkat
seorang komandan pasukan, beliau berpesan kepadanya secara khusus agar bertakwa
kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum Muslimin yang bersamanya. Kemudian
beliau bersabda: 'Berperanglah kalian dan janganlah berlebih-lebihan (dalam
menggunakan rampasan sebelum dibagi), jangan berkhianat, jangan memutilasi, dan
jangan membunuh anak kecil.'" (HR. Muslim). Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata:
Rasulullah ﷺ
bersabda: "Jika salah seorang dari kalian berperang, hindarilah
(memukul) wajah." (Muttafaqun ‘Alaih).
(Sebagaimana
datang pula larangan membunuh wanita, orang tua, menghabisi yang terluka,
mengusik rahib dan orang-orang yang mengasingkan diri, serta mereka yang tidak
berperang dari kalangan warga yang aman. Maka di manakah rahmat ini
dibandingkan dengan serangan gas beracun kaum yang mengaku beradab dan
kekejaman mereka yang mengerikan? Dan di manakah hukum internasional mereka
dibandingkan dengan keadilan Ilahi yang menyeluruh ini?) — Dari risalah Jihad
oleh Imam Al-Banna.
Kesembilan:
Wahai saudaraku, ambillah sebab-sebab persiapan (i'dad) semampumu tanpa
memaksakan diri secara berlebihan atau menimbulkan bahaya, serta dilakukan di
bawah bimbingan dan kondisi yang ada. Rasulullah ﷺ senantiasa mengarahkan para sahabatnya
dalam hal ini.
Dari
Abu Hammad Uqbah bin Amir Al-Juhani رضي الله عنه, ia berkata: "Aku mendengar
Rasulullah ﷺ
saat berada di atas mimbar bersabda: 'Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ingatlah bahwa kekuatan itu adalah
memanah, ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ingatlah bahwa kekuatan
itu adalah memanah.'" (HR. Muslim). Dan darinya juga: "Aku
mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda: 'Kelak negeri-negeri akan ditaklukkan untuk kalian dan Allah akan
mencukupkan bagi kalian, maka janganlah salah seorang dari kalian merasa lemah
untuk bermain dengan panahnya.'" (HR. Muslim). Darinya pula:
"Rasulullah ﷺ
bersabda: 'Barangsiapa yang telah diajarkan memanah lalu ia meninggalkannya,
maka ia bukan golongan kami (atau ia telah bermaksiat).'" (HR.
Muslim).
Ada
sebuah makna yang perlu kita perhatikan, yaitu kita harus mengimani bahwa
kemenangan itu datangnya dari Allah. Persiapan dan segala hal yang berkaitan
dengannya hanyalah bagian dari menjalankan sebab saja. Janganlah kita
menisbatkan kemenangan kepada kemahiran latihan atau persiapan, tetapi
kembalikanlah ia kepada dukungan Allah dan keteguhan yang Dia berikan kepada
hamba-hamba-Nya yang beriman. “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10). “Maka
(yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang
membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi
Allah-lah yang melempar.” (QS. Al-Anfal: 17).
Kesepuluh:
Wahai saudaraku, jagalah rumahmu dan keluargamu dengan pemahaman Islam dan
siapkanlah mereka untuk suasana Jihad dan Syahadah. Jangan sampai mereka
menjadi pelemah semangat (muthabbithin), melainkan bantulah agar mereka
mendorong dan mendukung untuk berjihad. Mereka hendaknya menerima kabar
syahidmu (jika Allah mengizinkan) dengan keridhaan, mengharap pahala (ihtisab),
dan kabar gembira, bukannya dengan keluh kesah atau ratapan. Berikanlah kepada
mereka teladan dari sirah harum kaum Muslimin terdahulu dan bagaimana keluarga
mereka menerima kabar syahadah mereka.
Kesebelas:
Berusahalah sekuat tenaga agar tidak memiliki hutang, atau berwasiatlah
untuk melunasinya jika tidak mampu melunasinya selama hidupmu. Dari Abdullah
bin Amr bin Al-Ash رdhia-llahu
'anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ
bersabda: "Allah mengampuni segala sesuatu bagi syahid kecuali
hutang." (HR. Muslim). Dalam riwayat lain: "Terbunuh di jalan
Allah menghapuskan segala sesuatu kecuali hutang."
Kami
tutup pembicaraan tentang Syahadah di jalan dakwah ini dengan ucapan Imam
Syahid yang ia gunakan untuk menutup Risalah Jihad, di mana beliau
berkata:
"Wahai
Ikhwan: Sesungguhnya umat yang mahir dalam 'seni kematian' dan tahu bagaimana
cara mati yang mulia, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang
mulia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Kelemahan (wahn) yang
menghinakan kita hanyalah karena cinta dunia dan benci kematian. Maka
siapkanlah diri kalian untuk amal yang besar dan bersemangatlah untuk mati
(mulia), niscaya kehidupan akan dianugerahkan kepada kalian. Ketahuilah bahwa
kematian adalah hal yang pasti dan ia hanya terjadi sekali. Jika kalian
menjadikannya di jalan Allah, maka itu adalah keuntungan di dunia dan pahala di
akhirat. Apa pun yang menimpa kalian hanyalah apa yang telah Allah tetapkan
bagi kalian. Renungkanlah baik-baik firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala:
‘Kemudian
setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk
yang meliputi segolongan dari kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan
oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah
seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita sesuatu
peran dalam urusan ini?" Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu
seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa
yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi
kita sesuatu peran dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh di
sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya
orang-orang yang telah ditetapkan baginya akan mati, keluar juga ke tempat
mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada
dalam dadamu...’ (QS. Ali Imran: 154).
Bekerjalah
untuk kematian yang mulia, niscaya kalian akan meraih kebahagiaan yang
sempurna. Semoga Allah menganugerahkan kepada kami dan kalian kemuliaan
syahadah di jalan-Nya.”
Allah
telah mengabulkan doanya dan menganugerahinya kesyahidan. Kita memohon kepada
Allah agar menganugerahkannya pula kepada kita, sesungguhnya Dia Maha Dekat
lagi Maha Mengabulkan doa.
No comments:
Post a Comment