Thursday, May 7, 2026

Jihad adalah Satu-satunya Jalan (Musthafa Masyhur)

PENDAHULUAN

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Jihad adalah jalan... Inilah yang harus kita sadari sepenuhnya, dan kita melangkah serta bekerja di bawah cahayanya.

Lemahnya iman telah membawa umat Islam kepada kondisi yang mereka alami saat ini, berupa kehinaan, perpecahan, serta penguasaan musuh-musuh Allah terhadap urusan mereka, dan fitnah yang memalingkan sebagian dari mereka dari agamanya.

Membangkitkan kembali iman di dalam hati adalah titik tolak utama bagi kebangkitan dan pengaliran kembali denyut kehidupan dalam umat Islam; agar umat ini dapat merebut kembali kekuatannya, membebaskan diri, dan mengambil kedudukan yang telah Allah pilihkan baginya sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, serta sebagai guru bagi kemanusiaan dengan agama yang hak (benar) ini, guna mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.

Di samping kekuatan iman dan aqidah, harus ada kekuatan persatuan dan ikatan di antara kaum muslimin untuk menyatukan langkah. Kemudian, barulah datang kekuatan fisik dan senjata ketika cara lain tidak lagi memadai, dan inilah peran Jihad.

Imam Syahid Hasan Al-Banna telah mengutip urgensi dari ketiga kekuatan ini—dengan urutan tersebut—dari sirah Rasulullah SAW dan pergerakan dakwah beliau saat mendirikan Daulah Islam yang pertama.

Sikap Ikhwanul Muslimin terhadap Jihad

Muncul banyak pertanyaan di sana-sini, baik dari kalangan awam maupun khusus: Pertanyaan dari mereka yang tidak mengerti banyak tentang Islam; pertanyaan dari mereka yang telah menjual diri dan harta mereka kepada Allah; pertanyaan dari orang-orang yang jiwanya telah mati oleh kelemahan dan keputusasaan; serta dari orang-orang yang jiwanya sangat rindu untuk mati syahid di jalan Allah.

Maka kita mendengar ada yang berkata:

"Apakah kalian ingin dengan Jihad itu memaksa orang non-muslim untuk memeluk Islam dengan kekuatan senjata?"

Ada pula yang berkata:

"Apakah kalian ingin berjihad melawan musuh-musuh Allah di Timur dan Barat, sementara mereka memiliki kekuatan yang dahsyat dan kalian dalam keadaan lemah tidak memiliki apa-apa?"

Dan ada yang berkata:

"Apakah kalian ingin dengan Jihad itu melemparkan pemuda-pemuda Islam ke dalam kebinasaan, dan menyajikan mereka sebagai santapan empuk bagi musuh-musuh Allah?!"

Sebaliknya, kita juga mendengar perkataan sebagian pemuda yang bersemangat:

"Apakah Ikhwan sudah merasa lelah setelah berbagai cobaan sehingga mereka meletakkan senjata dan meninggalkan Jihad?"

Ada yang berkata:

"Apakah kalian ingin dengan sikap pasif ini mematahkan semangat para pemuda dan mematikan ruh Jihad di dalam diri mereka?"

Dan ada yang bertanya:

"Sampai kapan kalian hanya merasa cukup dengan dakwah dan tarbiyah (pendidikan) tanpa Jihad, sementara musuh-musuh Allah terus mengintai dan menyerang kalian dari waktu ke waktu, namun kalian menghadapi serangan mereka dengan penyerahan diri tanpa perlawanan?!"

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sekitar Ikhwan dan sikap mereka terhadap Jihad. Kami mungkin memaklumi sebagian penanya: Kami memaklumi mereka yang belum tahu (jahil) sebagaimana kami memaklumi mereka yang bersemangat... Namun, kami merasa wajib untuk menjelaskan segala sesuatunya kepada mereka; agar kita semua memiliki visi yang jelas, sehingga pemahaman dan upaya kita dapat bersatu dengan izin Allah.

Mustafa Mashhur


Di Ambang Pembahasan

  1. Hakikat agama ini... Dakwah... dan Pergerakan.
  2. Jihad adalah puncak tertinggi (dzirwatu sanamihi).
  3. Di antara ayat-ayat Jihad dalam Islam.
  4. Di antara hadits-hadits Jihad dalam Sunnah.
  5. Perkataan Imam Syahid.
  6. Sikap Ikhwanul Muslimin terhadap Jihad.

Hakikat Agama ini.. Dakwah.. dan Pergerakan - Dan Jihad adalah Puncak Tertingginya.

Membahas pertanyaan-pertanyaan ini dan menjawabnya mengharuskan kita untuk mengingatkan kembali tentang rambu-rambu dasar dan isu-isu penting; agar visi yang dihasilkan benar dan terikat pada batas-batasnya.

Agama Islam ini, tuntutannya terhadap kaum muslimin, serta peran dan kedudukan Jihad dalam agama ini, adalah hal-hal yang harus jelas tanpa ada keraguan.

Agama Islam kita bukanlah agama kependetaan atau kerahiban, dalam artian setiap orang hanya beribadah kepada Tuhannya tanpa memedulikan orang lain, dan orang lain pun tidak memedulikannya. Sebaliknya, Islam adalah agama yang sempurna yang mengatur urusan kehidupan dunia manusia sebagaimana ia memelihara urusan akhirat.

Islam mengatur urusan ekonomi, sosial, politik, hukum, dan lainnya. Islam adalah agama aqidah, syariah, dan ibadah, yang mencakup setiap hal kecil maupun besar yang berkaitan dengan manusia di kedalaman jiwanya, dalam kehidupan dunianya bersama sesama muslim maupun non-muslim, serta masa depan abadinya di akhirat kelak.

Demikian pula, ini adalah agama umat yang satu, jamaah yang satu, kiblat yang satu, dan kitab yang satu, yang menjadikan kaum muslimin dalam hubungan mereka seperti satu tubuh; jika salah satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.

Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia bukan golongan mereka" (Diriwayatkan oleh At-Thabrani, Abu Nu'aim, dan Al-Hakim dengan sanad-sanad yang lemah/dhaif).

Islam mewajibkan pengikutnya untuk menerapkan syariatnya dan menjadikan Al-Qur'an serta Sunnah Nabinya sebagai pemutus perkara di antara mereka. Islam juga mewajibkan pengikutnya untuk menyampaikan agama yang hak ini kepada seluruh manusia. Ini adalah revolusi melawan jahiliyah dan segala bentuk penyembahan kepada selain Allah, atau adat istiadat dan tradisi yang tidak diredhai Allah.

Mungkinkah agama seperti ini dapat tegak dan pengikutnya dapat mewujudkan segala tuntutannya tanpa ada serangan atau agresi dari pemilik keyakinan lain yang mencoba menghalangi mereka dari menegakkan agama ini? Dan apakah pengikut agama ini akan berhenti mengamalkannya dan bekerja untuknya hanya karena serangan musuh-musuh Allah?

Mereka bersabar, menanggung beban, dan terus melanjutkan jalan mereka. Namun, bukankah kesabaran dan ketabahan ini ada batasnya? Bukankah mereka berhak untuk membalas agresi dan menyingkirkan hambatan dari jalan mereka?

Di sinilah Jihad menjadi kebutuhan yang mendesak. Oleh karena itu, Islam menjadikannya sebagai kewajiban yang terus berlaku hingga hari kiamat. Islam sangat menganjurkan dan mendorongnya, serta menjadikannya sebagai puncak tertinggi Islam. Tanpanya, agama tidak akan tegak, para pembela kebatilan akan berkuasa, agama Allah akan terabaikan, kehidupan akan rusak, dan berjalan di jalan yang tidak diredhai Allah. Apakah hal seperti itu layak bagi Allah Tabaraka wa Ta'ala?

Berikut adalah beberapa hal yang berkaitan dengan Jihad dalam Islam, kemudian dengan izin Allah, kami akan menjelaskan sikap Ikhwan terhadap Jihad dan menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang telah disebutkan sebelumnya.

Islam menaruh perhatian besar pada urusan Jihad, militer, dan mobilisasi umat, serta menghimpun seluruh umat dalam satu barisan untuk membela kebenaran dengan segala kekuatan. Islam menjadikan Jihad sebagai kewajiban yang mutlak bagi setiap muslim yang tidak ada jalan untuk menghindarinya. Islam memberikan dorongan yang luar biasa, menjanjikan pahala yang melimpah bagi mujahidin dan syuhada, serta mengancam mereka yang tertinggal (enggan berjihad) dengan siksaan yang pedih dan sifat-sifat yang buruk. Bahkan, melarikan diri dari medan perang dianggap sebagai salah satu dosa besar yang membinasakan.

Sangat bermanfaat untuk merujuk pada Risalah Al-Jihad karya Imam Syahid Hasan Al-Banna, karena beliau telah mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan Jihad, peperangan, dan kesyahidan, serta hadits-hadits nabawi yang memberikan bekal yang sangat banyak. Kami kutipkan sedikit di antaranya sebagai contoh:

Di Antara Ayat Jihad dalam Islam:

  • "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216).
  • "Karena itu, hendaklah orang-orang yang menjual kehidupan dunia untuk (kehidupan) akhirat berperang di jalan Allah. Dan barangsiapa berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka akan Kami berikan pahala yang besar kepadanya." (An-Nisa: 74).
  • "Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati..." (Ali Imran: 169-171).
  • "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4).

Di Antara Hadits Jihad dalam Sunnah:

  • Dari Abu Hurairah RA: Seseorang bertanya, "Wahai Rasulullah, amal apakah yang setara dengan Jihad di jalan Allah?" Beliau menjawab, "Kalian tidak akan sanggup melakukannya." Mereka mengulanginya dua atau tiga kali, dan beliau tetap menjawab, "Kalian tidak akan sanggup." Kemudian beliau bersabda: "Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa, shalat, dan tunduk dengan ayat-ayat Allah, ia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya sampai orang yang berjihad itu pulang." (HR. Al-Jama'ah kecuali Abu Dawud).
  • Dari Sahl bin Hunaif RA: Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang memohon kesyahidan kepada Allah dengan jujur (benar-benar), maka Allah akan menyampaikannya ke derajat para syuhada, meskipun ia mati di atas tempat tidurnya." (HR. Al-Khamsah kecuali Bukhari).
  • Dari Al-Miqdam bin Ma'di Karib: Rasulullah SAW bersabda: "Bagi orang yang syahid di sisi Tuhannya ada enam perkara: diampuni dosanya pada tumpahan darah pertama, diperlihatkan tempat duduknya di surga, diselamatkan dari siksa kubur, diberi keamanan dari ketakutan yang besar (hari kiamat), diletakkan di atas kepalanya mahkota kewibawaan yang satu batu yaqutnya lebih baik dari dunia dan seisinya, dinikahkan dengan 72 istri dari bidadari, dan diberi izin memberi syafaat bagi 70 orang kerabatnya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Perkataan Imam Syahid

Mengenai hukum Jihad dalam Islam, Imam Syahid (Hasan al-Banna) mengatakan dalam Risalah al-Jihad:

"Para ahli ilmu—baik yang mujtahid maupun muqallid, baik kaum salaf maupun khalaf—telah sepakat bahwa Jihad adalah fardhu kifayah bagi umat Islam untuk menyebarkan dakwah, dan menjadi fardhu 'ain (kewajiban individu) untuk menolak serangan kaum kafir terhadap mereka."

Kemudian Imam melanjutkan:

"Umat Islam saat ini, sebagaimana yang Anda ketahui, sedang dihinakan oleh selain mereka dan dikuasai oleh orang-orang kafir. Tanah mereka telah diinjak-injak, syiar agama mereka dilecehkan di negeri mereka sendiri, ditambah lagi ketidakmampuan mereka untuk menyebarkan dakwah. Maka, menjadi wajib secara 'ain (individu) yang tidak bisa dihindari bagi setiap muslim untuk bersiap diri, menanamkan niat Jihad, dan mempersiapkan segala perlengkapan untuk itu, hingga tiba kesempatan yang tepat dan Allah menetapkan keputusan yang harus terjadi."

Imam Syahid juga mengatakan di bagian lain dalam Risalah al-Jihad mengenai atsar (riwayat) yang berbunyi: "Kita telah kembali dari Jihad yang kecil menuju Jihad yang besar. Mereka bertanya: 'Apa itu Jihad yang besar?' Beliau menjawab: 'Jihad hati, atau jihad melawan hawa nafsu'." Beliau (Hasan al-Banna) menyatakan:

"Atsar ini bukan merupakan hadits menurut pendapat yang shahih, dan dikatakan bahwa itu adalah perkataan Ibrahim bin 'Ablah."

Judul: "Mengapa Seorang Muslim Berperang?" dalam Risalah yang sama

Imam Syahid mengatakan:

"Allah mewajibkan Jihad atas kaum muslimin bukan sebagai alat agresi atau sarana untuk ambisi pribadi, melainkan sebagai pelindung bagi dakwah, jaminan bagi perdamaian, dan penunaian risalah besar yang dipikul oleh kaum muslimin; yaitu risalah untuk memberi petunjuk kepada manusia menuju kebenaran dan keadilan. Dan sesungguhnya Islam, sebagaimana ia mewajibkan peperangan, ia juga memuji perdamaian."

Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah." (Al-Anfal: 61).

Tentang Rahmat dalam Jihad Islam

Imam Syahid mengatakan:

"Karena tujuan dalam Jihad Islam adalah semulia-mulia tujuan, maka sarananya pun merupakan sebaik-baik sarana. Allah telah mengharamkan agresi dan membimbing kaum muslimin kepada puncak kasih sayang. Maka ketika mereka berperang, mereka tidak melampaui batas, tidak berbuat fujur (jahat), tidak memutilasi (mayat), tidak mencuri, tidak merampas harta, tidak melanggar kehormatan, dan tidak memulai dengan gangguan. Di masa perang, mereka adalah sebaik-baik pejuang, sebagaimana di masa damai mereka adalah sebaik-baik pendamai."

Sebagaimana telah datang larangan membunuh wanita, anak-anak, orang tua, dilarang menghabisi yang terluka, dilarang mengusik para rahib dan orang-orang yang menyendiri (untuk ibadah), serta orang-orang yang tidak ikut berperang dari kalangan masyarakat yang aman. Di manakah kasih sayang ini jika dibandingkan dengan serangan-serangan gas beracun (serangan yang mencekik) dari bangsa-bangsa yang mengaku beradab dan kekejaman mereka yang mengerikan? Dan di manakah hukum internasional mereka dibandingkan dengan keadilan Tuhan yang bersifat menyeluruh ini?

Kemudian beliau berdoa:

"Ya Allah, pahamkanlah kaum muslimin akan agama mereka, dan selamatkanlah dunia dari kegelapan-kegelapan ini dengan cahaya Islam."


Sikap Ikhwanul Muslimin terhadap Jihad

Sesungguhnya Jihad di jalan Allah dalam beberapa tahun terakhir mulai memaksakan eksistensinya di arena Islam, dan telah menjadi kenyataan yang nyata di beberapa bagian dunia Islam. Di bagian lainnya, mengalir semangat persiapan untuk itu dan perasaan bahwa Jihad adalah keniscayaan; bahwa ia adalah satu-satunya jalan untuk menolak agresi musuh-musuh Allah dan membebaskan tanah Islam dari penjajahan dan invasi mereka.

Telah muncul keyakinan bahwa jalan negosiasi dan perjanjian damai dengan musuh-musuh Allah tanpa adanya Jihad adalah sebuah penyerahan diri (penaklukan) yang dibungkus dengan nama perdamaian. Selain itu, ada kewajiban yang dibebankan kepada setiap muslim yang tidak akan terwujud tanpa Jihad dan persiapan untuk itu: yaitu menegakkan Daulah Islam (Negara Islam), Khilafah Islam, dan pemantapan agama ini di muka bumi.

"...sehingga tidak ada lagi fitnah (kesyirikan) dan agama itu hanya untuk Allah." (Al-Anfal: 39).

Jihad adalah Jalan (Peta Jalan)

  1. Jalan untuk mengembalikan Khilafah Rasyidah: Iman dan Amal... Cinta dan Persaudaraan... Persiapan (I'dad) dan Jihad.
  2. "Jihad adalah Jalan Kami": Sebuah syiar (semboyan) bagi dakwah.
  3. Realitas membuktikan kebenaran pengalaman... dan Jihad terus berlanjut.
  4. Apakah Ikhwan sudah lelah dari cobaan lalu meletakkan senjata dan meninggalkan Jihad? Jawabannya: Tidak.
  5. Cobaan bagi mereka justru mengasah pengalaman, menambah iman, dan menguatkan tekad untuk terus melangkah.
  6. Tidak ada tindakan yang didorong oleh antusiasme yang gegabah, dan tidak pula menunggu sampai kematian menjemput tanpa berbuat; melainkan segala sesuatu ada ukurannya (perhitungannya).
  7. Jihad bukan hanya untuk menolak gangguan saja... melainkan juga untuk menegakkan Negara Muslim.

Mukadimah

Kami telah menjelaskan hakikat agama ini dan kedudukan Jihad di jalan Allah di dalamnya. Di sini kami menjelaskan sikap Ikhwanul Muslimin terhadap Jihad di masa lalu, masa kini, dan masa depan insya Allah; guna menghilangkan keraguan seputar topik ini serta menjawab pertanyaan-pertanyaan atau kecurigaan yang muncul, agar pemuda-pemuda mujahid kita melihat jalan tersebut dengan jelas sehingga tidak menyimpang dan tidak terpengaruh oleh perkataan orang-orang yang melemahkan semangat atau orang-orang yang ragu.

Jalan untuk Mengembalikan Khilafah Rasyidah

Iman dan Amal... Cinta dan Persaudaraan... Persiapan dan Jihad

Sesaat sebelum berdirinya jamaah Ikhwanul Muslimin, dan tepat setelah jatuhnya Khilafah Islamiyah, Imam Syahid Hasan al-Banna melihat ke sekelilingnya—saat itu beliau masih menjadi mahasiswa di Fakultas Darul Ulum. Beliau mempelajari kondisi dunia Islam dan apa yang terjadi pada kaum muslimin dengan studi yang mendalam dan tenang.

Beliau menyadari bahwa jauhnya kaum muslimin dari esensi agama mereka dan lemahnya iman merekalah yang menyebabkan musuh-musuh Allah dapat menguasai mereka, meruntuhkan Daulah Islam dan Khilafah Islamiyah, serta menjajah umat Islam secara pemikiran, ekonomi, dan moral; demi mematikan aqidah di dalam jiwa sebagaimana mereka menghancurkan entitas fisik dalam bentuk Khilafah.

Beliau merasakan bahaya besar yang mengancam kaum muslimin, dan kebutuhan yang sangat mendesak, bahkan kewajiban yang dibebankan Islam kepada setiap muslim laki-laki dan perempuan untuk bekerja mengembalikan Khilafah Islamiyah dan menegakkan kembali Daulah Islam di atas fondasi yang kokoh dan entitas yang kuat; demi melindungi aqidah, menegakkan syariat Allah di antara kaum muslimin, membebaskan umat Islam serta melindungi mereka dari setiap agresi, dan untuk menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia serta memenangkan agama agung ini yang diredhai Allah bagi hamba-hamba-Nya.

Setelah pemikiran yang dalam dan berserah diri kepada Allah, Allah memberikan taufik kepada Imam Syahid bahwa satu-satunya jalan untuk mewujudkan kewajiban agung ini adalah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya terdahulu ketika mereka mendirikan Daulah Islamiyah yang pertama. Jalan tersebut terangkum dalam beberapa kata: Iman dan Amal, Cinta dan Persaudaraan, Persiapan dan Jihad. Begitulah Rasulullah SAW mendidik kaum muslimin di atas hidangan Al-Qur'an dan di dalam madrasah beliau SAW; beliau mempersaudarakan mereka, mengorganisir mereka, dan mendorong mereka untuk berjihad serta berkorban. Maka mereka pun menjadi layak mendapatkan pertolongan dan dukungan Allah, sehingga jazirah Arab dibersihkan dari kemusyrikan dan berhala, negeri Persia ditaklukkan, Romawi dikalahkan, kaum Yahudi diusir, kegelapan sirna, dan cahaya pun merata.

Imam Syahid memahami hal tersebut, maka beliau mendirikan jamaah Ikhwanul Muslimin dan berjalan di atas jalan yang sama. Beliau berpendapat bahwa agar tarbiyah (pendidikan) berdiri di atas landasan yang kokoh, dan agar pembangunan negara berdiri di atas asas yang benar, maka kaum muslimin harus dikembalikan kepada Islam yang benar, komprehensif (syamil), dan murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullah SAW—jauh dari penyimpangan atau kesalahan, jauh dari pemotongan (parsial), distorsi, bid'ah, maupun takhayul, serta jauh dari sebab-sebab perpecahan.

Oleh karena itu, beliau menetapkan 20 Prinsip (Ushul 'Isyrin) yang terdapat dalam Risalah al-Ta'alim di bawah rukun "Faham" dari sepuluh rukun baiat, sebagai kerangka yang menjaga pemahaman yang benar terhadap Islam. Beliau juga memahami peran Jihad dalam kerahasiaan dakwah, urgensinya, serta persiapan untuknya, karena kebenaran harus memiliki kekuatan yang melindunginya. Beliau merasakan bahwa ruh Jihad di antara kaum muslimin pada waktu itu hampir tidak ada, dan ruh ketundukan serta penyerahan diri (kepada penjajah) adalah yang mendominasi.

Jihad adalah Jalan Kami... Semboyan bagi Dakwah

Beliau memberikan perhatian yang layak pada sisi Jihad dalam dakwah Ikhwan. Kita dapat merasakan perhatian ini dalam berbagai bentuk:

  1. Kita temukan beliau menegaskan bahwa Jihad adalah jalan yang diserukan oleh Ikhwan: "Allah tujuan kami, Rasul teladan kami, Al-Qur'an undang-undang kami, Jihad jalan kami, dan Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi."
  2. Kita temukan lambang Ikhwan adalah dua bilah pedang yang mengelilingi Kitabullah. Kedua pedang tersebut adalah simbol Jihad dan kekuatan yang melindungi kebenaran yang direpresentasikan oleh Al-Qur'an.
  3. Beliau menamai dakwah Ikhwan sebagai "Dakwah Kebenaran, Kekuatan, dan Kebebasan" sebagai penegasan atas perlunya kekuatan di samping kebenaran.
  4. Beliau menjadikan "Jihad" sebagai salah satu rukun dari sepuluh rukun baiat, dan "Pengorbanan" (Tadhiyah) sebagai rukun lainnya.
  5. Beliau mengkhususkan pembahasan Jihad dalam risalah-risalah yang ditulisnya, dan senantiasa dalam ceramah-ceramah beliau mendorong untuk berjihad, menanamkan kecintaan pada kesyahidan, dan menghubungkan Ikhwan dengan generasi awal bersama Rasulullah SAW serta teladan luar biasa yang mereka berikan dalam bidang Jihad dengan jiwa dan harta.

Realita Membuktikan Pengalaman... dan Jihad Terus Berlanjut

Persoalan ini tidak hanya terbatas pada ucapan dan tulisan semata. Ketika kesempatan untuk berjihad di Palestina datang, Ikhwan segera menyambut dan memanfaatkannya. Di sana, mereka menorehkan contoh-contoh yang paling mengagumkan. Seandainya bukan karena tipu daya, konspirasi, dan pengkhianatan terhadap isu tersebut oleh para penguasa negeri-negeri muslim pada waktu itu, niscaya keadaannya akan berubah.

Di antara aktivitas Ikhwan selain olahraga fisik adalah: kepanduan (Al-Jawwalah) dan latihan-latihan pramuka. Seringkali kami melihat Imam Syahid berada di tengah-tengah kami dengan mengenakan seragam kepanduan dan ikut serta dalam latihan-latihan tersebut.

Setelah Allah memuliakan beliau dengan syahadah (mati syahid)—di mana pembunuhan beliau merupakan bagian dari konspirasi tersebut—Ikhwan tetap melanjutkan langkah mereka di jalan jihad di tepian Terusan Suez melawan penjajah Inggris pada awal tahun lima puluhan. Mereka juga melanjutkan jihad melawan Yahudi di wilayah Islam lainnya selain Mesir, setelah dakwah sempat dihilangkan di balik jeruji penjara pada masa Abdel Nasser. Hari ini, kita melihat Ikhwan ikut serta bersama saudara-saudara mujahid mereka di Afghanistan, sebagaimana mereka juga berjihad di Suriah melawan rezim sektarian yang kafir lagi zhalim.


Apakah Ikhwan Lelah dari Cobaan?!

Lalu Meletakkan Senjata dan Meninggalkan Jihad!!

"TIDAK"

Begitulah kita melihat bahwa Ikhwan tidak pernah berubah, tidak berganti, dan tidak memutus masa kini mereka dari masa lalu mereka. Mereka juga tidak akan memutus masa depan mereka dari masa kini dan masa lalu mereka. Mereka mewariskan dakwah ini kepada generasi-generasi selanjutnya dengan segala kesempurnaan dan kemurniannya. Mereka mewariskan ruh jihad, kecintaan pada mati syahid, dan pengorbanan hingga kemenangan Allah terwujud dan kalimat Allah menjadi yang paling tinggi.

Cobaan Bagi Mereka Mengasah Pengalaman, Menambah Iman, dan Menguatkan Tekad untuk Terus Melangkah

Ikhwan tidak menjadi lelah karena cobaan. Mereka tidak—dan tidak akan pernah—meletakkan senjata atau meninggalkan jihad. Sebaliknya, cobaan-cobaan itu justru mengasah mereka, menambah keimanan serta kegigihan mereka untuk bekerja menolong agama mereka tanpa rasa letih, lemah, atau menyerah akibat apa yang menimpa mereka di jalan Allah.

Tidak Ada Tindakan Gegabah di Balik Antusiasme, Tidak Ada Penantian Hingga Kematian, Melainkan Segala Sesuatu Ada Ukurannya

Namun demikian, Ikhwan tidak akan terbawa arus oleh antusiasme sebagian pemuda untuk melakukan tindakan-tindakan mentah yang tidak terukur, yang tidak mengubah realitas yang rusak, dan bahkan mungkin merugikan amal Islami serta menguntungkan ahli batil. Di sisi lain, Ikhwan juga tidak akan menempuh jalan "sikap menunggu yang mematikan" yang menyia-nyiakan kesempatan dan menurunkan ruh jihad dalam jiwa para pemuda. Akan tetapi, mereka menakar segala urusan dengan ukuran yang semestinya, dengan merujuk pada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya—Shallallahu 'alaihi wa sallam—dalam setiap langkah yang mereka ambil sembari memohon pertolongan kepada Allah, mengharap petunjuk dan taufik-Nya. Mereka menerima setiap nasihat, peringatan, atau bimbingan dari setiap individu tanpa memandang kedudukannya.

Ikhwan menyadari bahwa ketergesaan sebelum adanya persiapan (i'dad) bisa berakibat pada kegagalan (seperti keguguran janin). Mereka juga tahu bahwa kelambanan atau keragu-raguan setelah datangnya waktu yang tepat dan adanya alasan di hadapan Allah, adalah seperti kematian maknawi. Di bawah naungan syura (musyawarah) dan kepercayaan timbal balik, kemenangan akan terwujud dengan izin Allah.

Sebagian pemuda yang rindu pada jihad dan syahadah menyangka bahwa ia dapat mewujudkan harapannya itu melalui aksi-aksi parsial: seperti menghilangkan beberapa bentuk kemungkaran yang tersebar di negeri kita dengan kekerasan. Padahal kenyataannya, bentuk-bentuk kemungkaran ini hanyalah buah dari pohon yang buruk (syajarah khabitsah). Jika sebagian buahnya dihilangkan, ia akan berbuah lagi selama pohon itu masih berdiri. Maka, pohon yang buruk itu harus dicabut sampai ke akar-akarnya dan diganti dengan pohon yang baik (syajarah thayyibah): yaitu pohon "La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah". (Akar-akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya) (Ibrahim: 24-25). Dan hal ini membutuhkan penilaian, persiapan, serta penentuan waktu yang tepat.

Ketika Ikhwan menyodorkan pemuda-pemuda mereka untuk berjihad pada waktu yang tepat, mereka tidak sedang melemparkan diri ke dalam kebinasaan. Justru kebinasaan yang sebenarnya adalah menahan diri dari jihad ketika waktunya telah tiba dan keadaan mengharuskannya. Sebab, jika musuh-musuh Allah menang, kaum muslimin akan terkena fitnah dalam agama mereka, kehormatan mereka dilecehkan, dan anak-anak mereka akan tumbuh besar di atas aqidah yang bukan Islam.

Juga harus diketahui bahwa kaum muslimin tidak harus selalu membalas setiap agresi atau gangguan yang menimpa mereka dari musuh-musuh Allah seketika itu juga, melainkan ketika kemampuan dan kondisi telah memungkinkan. Pada periode dakwah pertama, saat kaum muslimin masih sedikit dan terkena gangguan serta agresi kaum musyrikin, Rasulullah SAW tidak memerintahkan mereka untuk membalas agresi dengan kekuatan. Beliau justru mewasiatkan mereka pada saat itu untuk bersabar dan teguh sembari memberi kabar gembira berupa kemenangan dan surga. Bersama kesabaran dan keteguhan tersebut, penyampaian dakwah terus berlanjut meski ada gangguan. Ketika kondisi telah siap, barulah turun izin untuk berperang melalui firman Allah Ta'ala: (Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu) (Al-Hajj: 39).

...Atas dasar ini, sikap Ikhwan terhadap agresi yang berulang-ulang terhadap mereka tidak akan terus bersifat pasif. Pasti akan tiba harinya di mana mereka memiliki alasan di hadapan Allah untuk membalas agresi dan membela diri mereka sendiri.


Jihad Bukan Hanya untuk Menolak Gangguan... Tetapi Juga untuk Menegakkan Negara Muslim

Hendaknya diketahui bahwa jihad dan persiapannya bukan semata-mata untuk menolak agresi dan gangguan yang dialami kaum muslimin dari musuh-musuh Allah. Jihad dan persiapannya juga ditujukan untuk menyempurnakan tugas agung, yaitu menegakkan Daulah Islam (Negara Islam), memenangkan agama ini, serta menyebarkannya ke seluruh penjuru dunia. Sejauh mana keagungan tugas tersebut, sejauh itu pulalah persiapan yang dibutuhkan, termasuk waktu dan tenaga. Waktu di sini tidak diukur dengan umur individu, melainkan dengan umur bangsa-bangsa dan gerakan dakwah.

Adapun pernyataan keliru bahwa maksud jihad dalam Islam adalah untuk memaksa orang masuk Islam dengan pedang, kita tidak perlu bersusah payah membuktikan kebatilannya. Banyak orang telah menulis tentang hal ini, dan cukuplah pernyataan itu bertentangan dengan firman Allah Ta'ala: (Tidak ada paksaan dalam agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat) (Al-Baqarah: 256). Realitas dan sejarah pun membantah klaim dusta tersebut.

Setelah penjelasan dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar jihad secara umum dan seputar Ikhwan secara khusus ini, tinggallah kita menyampaikan kepada pemuda muslim kita beberapa makna esensial yang harus senantiasa menyertai mereka dalam medan jihad dan persiapannya, agar layak mendapatkan kehormatan agung ini...


Kepada Pemuda Muslim di Jalan Jihad

  • Seruan dari Imam Syahid.
  • Agar para pemuda mengetahui.
  • Wahai para pemuda.
  • Saudariku Muslimah.

Kepada Pemuda Muslim di Jalan Jihad

Kami telah menjelaskan sebelumnya tentang hakikat agama Islam kita, kedudukan jihad dan hukumnya dalam Islam—bahwa ia adalah fardhu kifayah untuk menyebarkan dakwah, dan fardhu 'ain untuk menolak serangan kaum kafir serta membalas agresi mereka terhadap tanah Islam dan kehormatan kaum muslimin. Kami juga telah menjelaskan sikap Ikhwanul Muslimin terhadap jihad, sejarah mereka bersamanya, keterikatan mereka dengannya, serta bahwa mereka menjadikan jihad sebagai jalan... Hal ini sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar Ikhwan dan jihad, serta untuk menenangkan pemuda muslim yang berjihad dan memberi penglihatan pada jalannya agar tidak menyimpang, serta melanjutkan jihadnya tanpa keragu-raguan dan tanpa kecerobohan.

Setelah itu, kami sampaikan kepada pemuda muslim kita di kancah Islami beberapa makna yang harus mereka miliki dan letakkan di depan mata sebagai rambu-rambu di jalan jihad.

Mungkin bermanfaat saat kita berbicara kepada pemuda muslim untuk mengutip beberapa ungkapan Imam Syahid Hasan al-Banna dari risalahnya kepada pemuda, di mana beliau berkata:

"Wahai pemuda, sesungguhnya suatu gagasan akan berhasil jika keimanan terhadapnya kuat, keikhlasan di jalannya tersedia, semangat terhadapnya meningkat, dan terdapat kesiapan yang mendorong pada pengorbanan dan amal untuk mewujudkannya. Keempat rukun ini—Iman, Ikhlas, Semangat, dan Amal—seakan-akan merupakan karakteristik pemuda. Karena dasar iman adalah hati yang cerdas, dasar ikhlas adalah nurani yang suci, dasar semangat adalah perasaan yang kuat, dan dasar amal adalah tekad yang muda. Semua ini tidak ada kecuali pada pemuda. Oleh karena itu, sejak dulu hingga sekarang, di setiap umat, pemuda adalah pilar kebangkitannya, dalam setiap kebangkitan pemuda adalah rahasia kekuatannya, dan dalam setiap gagasan pemuda adalah pembawa panjinya."

Kemudian beliau berkata:

"Hal pertama yang kami serukan kepada kalian adalah agar kalian percaya pada diri kalian sendiri, mengetahui kedudukan kalian, dan meyakini bahwa kalian adalah para tuan di dunia ini—meskipun musuh-musuh kalian menginginkan kehinaan bagi kalian—dan kalian adalah guru bagi seluruh alam, meskipun pihak lain terlihat unggul atas kalian dalam kehidupan dunia ini. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka perbaruilah wahai para pemuda keimanan kalian, tentukanlah sasaran dan tujuan kalian."

"...Dan kekuatan yang pertama adalah iman, hasil dari iman adalah persatuan, dan konsekuensi dari persatuan adalah kemenangan yang kuat lagi nyata. Maka berimanlah kalian, bersaudaralah kalian, beramallah kalian, dan nantikanlah setelah itu kemenangan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman."

Setelah pendahuluan ini, kami tujukan nasihat dan fokus pada jalan Jihad kepada pemuda muslim di seluruh dunia, maka kami katakan kepada pemuda ini:

Ketahuilah bahwa Jihad di jalan Allah akan menjadi—dan Allah lebih mengetahui—ciri yang dominan pada amal Islami di fase mendatang dari usia dakwah Islamiyah—yang akan dialami oleh pemuda hari ini bersamaan dengan kelanjutan dalam dakwah dan tarbiyah (pendidikan). Fase atau tahapan tersebut tidak akan lepas dari ujian (ibtila) dan gangguan di tangan musuh-musuh Allah dan para pembantu mereka, karena sudah menjadi sunnatullah bahwa gangguan akan terus berlanjut hingga datangnya kemenangan.

“Dan sesungguhnya rasul-rasul sebelum mu pun telah didustakan, maka mereka bersabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat (ketetapan) Allah.” (QS. Al-An’am: 34).

Hendaknya pemuda muslim di jalan Jihad mengetahui bahwa medan jihadnya di jalan Allah tidak terbatas pada satu negeri Islam saja tanpa negeri lainnya. Sebab, tanah air Islam itu satu dan tidak terbagi-bagi. Sesungguhnya panji Jihad telah berkibar di beberapa bagiannya, dan akan tetap berkibar dengan izin Allah hingga setiap jengkal tanah Islam terbebaskan, berdirinya negara Islam, dan sampainya dakwah Allah kepada seluruh manusia.

Ketahuilah wahai pemuda, bahwa isu-isu dunia Islam seperti Palestina, Afghanistan, Suriah, Eritrea, Filipina, dan lainnya bukanlah sekadar isu tanah dan bangsa, melainkan isu aqidah dan agama. Itu adalah isu Islam dan seluruh umat Islam. Tidak mungkin solusinya melalui negosiasi, tawar-menawar, dan pengakuan terhadap musuh atas tanah Islam yang dirampasnya. Namun, harus dengan Jihad di jalan Allah, maka Jihad adalah jalannya.

Wahai Pemuda Muslim Mujahid

Sadarilah tugas-tugas besar yang dibebankan Islam kepadamu di fase usia dakwah Islamiyah ini, serta harapan besar dan pencapaian luar biasa yang digantungkan umat Islam kepadamu. Yakinlah bahwa masa depan adalah milik agama yang lurus ini yang diredhai Allah bagi hamba-Nya, dan tenanglah akan terwujudnya janji Allah kepada hamba-Nya yang beriman berupa kemenangan dan kejayaan (tamkin). Ketahuilah bahwa di balik terwujudnya harapan-harapan besar ini terdapat usaha dan jihad, keringat dan darah, nyawa dan syuhada, serta pengorbanan dan penebusan. Maka siapkanlah dirimu untuk itu, karena jalan Jihad tidak ditaburi bunga mawar, melainkan panjang, melelahkan, dan penuh duri serta rintangan.

Wahai Pemuda Muslim di Jalan Jihad

Ketahuilah bahwa medan Jihad hari ini luas, musuh-musuh Allah banyak, dan bentuk peperangan beragam, yang menjadikan konflik antara kebenaran (al-haq) dan kebatilan membutuhkan usaha dan waktu. Maka siapkanlah dirimu untuk itu, jadilah orang yang memiliki napas panjang (sabar), dan janganlah menjadi orang yang menyepelekan urusan tanpa pemahaman mendalam serta terburu-buru mengharap kemenangan. Jika kemenangan tertunda sesaat, tekad mereka melemah, semangat mereka luntur, dan keputusasaan merasuki hati mereka. Jadilah engkau wahai saudaraku, orang yang memiliki kepercayaan mutlak kepada Tuhanmu; Dia bersamamu selama engkau bersama-Nya, dan Dia akan menolongmu selama engkau menolong agama-Nya.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).

Milikilah kepercayaan mutlak pada agamamu, bahwa ia adalah agama yang benar dan diterima di sisi Allah. Milikilah kepercayaan besar pada jalanmu dan jamaahmu bahwa engkau berada di jalan yang benar. Percayalah pada dirimu dan saudara-saudaramu bahwa kalian mampu—dengan pertolongan Allah—untuk menegakkan kebenaran dan menghancurkan kebatilan meskipun setelah beberapa waktu.

Wahai Pemuda Muslim

Rasakanlah tanggung jawabmu atas setiap muslim di bumi Allah yang mengalami pembunuhan, gangguan, kemiskinan, penyakit, kebodohan, penindasan, atau penguasaan dari musuh-musuh Allah. Ikutlah merasakan sakit atas penderitaan mereka, dan biarlah rasa sakit itu mendorongmu untuk beramal dan berjihad demi menyelamatkan mereka semua. Rasakan juga tanggung jawabmu untuk memberi petunjuk kepada umat manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran dan kesesatan menuju cahaya Islam. Rasakan semua tanggung jawab raksasa ini, dan berkumpullah bersama saudara-saudaramu di bawah panji amal Islami yang serius, serta tempuhlah jalan Jihad yang benar untuk menolong agama Allah dan memuliakan umat Islam agar kemanusiaan kembali kepada apa yang menjadi kebaikan dan keberuntungannya.

Wahai Saudaraku Pemuda Muslim

Kenalilah jalanmu dan tentukan arahmu tanpa kelambanan dan keraguan. Letakkan tanganmu di tangan para ahli Jihad dan kebenaran, orang-orang yang jujur dalam ucapan dan ikhlas dalam perbuatan. Tinggalkanlah orang-orang yang membatasi jihad mereka hanya di halaman buku, surat kabar, dan majalah, serta sibuk berdebat tentang masalah-masalah cabang (furu'iyyah) dalam Islam, di saat tanah kaum muslimin dirampas, nyawa mereka dihilangkan, kehormatan mereka dilecehkan, dan kesucian mereka dinodai oleh tangan musuh-musuh Allah.

Wahai Saudaraku Pemuda Muslim

Bersegeralah menuju kebaikan dan adakanlah transaksi yang menguntungkan dalam perniagaan bersama Allah ini, agar engkau meraih kemenangan yang besar, pertolongan yang nyata, mendapatkan kenikmatan yang kekal, dan selamat dari azab yang pedih, sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman! Maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah kemenangan yang agung. Dan (ada lagi karunia lain) yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Ash-Shaff: 10-13).

Dan sebagai perwujudan firman Allah Ta'ala: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah: 11).

Janganlah bakhil (kikir) wahai saudaraku dengan sesuatu pun dari jiwa, harta, waktu, atau usaha di jalan Allah. “Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (QS. Al-Anfal: 60).

“Dan siapa yang kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang membutuhkan; dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu.” (QS. Muhammad: 38).

Wahai Saudaraku Pemuda Muslim:

Siapkanlah dirimu dan keluargamu untuk meraih kemuliaan Jihad di jalan Allah, dan bekalilah dengan setiap bekal yang menolong di jalan tersebut, agar perjalanan terus berlanjut hingga kemenangan atau syahid tanpa keraguan, tanpa rasa berat, dan tanpa duduk berpangku tangan. Siapkanlah diri dengan aqidah yang selamat, iman yang kuat, dan niat yang murni serta jujur karena Allah, bersih dari segala riya atau tujuan duniawi, melainkan semata agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi.

Siapkanlah diri dengan ibadah yang benar dan ikhlas karena Allah serta akhlak Islam yang kokoh. Siapkanlah diri dengan pemikiran yang terdidik dan ilmu bermanfaat yang spesifik, agar terpenuhi kemandirian kita dalam setiap kebutuhan Jihad semampu kita. Siapkanlah diri dengan badan yang kuat yang mampu menanggung beban Jihad, serta siapkanlah dengan harta yang baik dan segala sebab kekuatan, sebagai ketaatan atas perintah Allah: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.” (QS. Al-Anfal: 60).

Wahai Saudaraku Pemuda Muslim di Jalan Jihad:

Sembari engkau menyiapkan dirimu dan melatihnya dalam seni peperangan serta mengambil sebab-sebab kekuatan, engkau wajib mempelajari fikihnya, batasan-batasannya, adab-adabnya, dan hukum-hukumnya. Engkau harus mempelajarinya dan berkomitmen padanya agar jihadmu diterima di sisi Allah. Sebab jihad itu sama seperti kewajiban lainnya seperti shalat, puasa, zakat, atau haji; jika tidak berkomitmen pada adab dan hukumnya, maka ia batal dan tidak diterima di sisi Allah.

Sebagaimana telah kami sebutkan, kaum muslimin ketika berperang tidak melampaui batas, tidak berbuat jahat, tidak memutilasi, tidak berlebihan, tidak merampas harta, tidak melanggar kehormatan, dan tidak membunuh wanita, anak-anak, serta orang tua. Mereka juga dilarang menghabisi yang terluka, dilarang mengusik rahib yang menyendiri dan orang-orang yang tidak berperang dari kalangan masyarakat yang aman, serta instruksi dan adab lainnya. Janganlah engkau meniru musuh-musuh Allah dalam hal-hal yang dilarang ini.

Wahai Pemuda Muslim di Jalan Jihad:

Senjata pertama dan terpenting yang harus engkau miliki dalam jihadmu melawan musuh-musuh Allah adalah senjata Iman. Itulah bekal yang terus diperbarui di jalan ini, dialah yang meledakkan potensi dan mendorong pemiliknya untuk menyongsong kematian tanpa rasa takut, meremehkan kesulitan, dan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah. Dalam penilaianku, seorang pemuda mukmin mujahid lebih ditakuti oleh musuh Allah daripada reaktor atom. Dia juga dalam timbangan kekuatan lebih berat dan lebih kuat daripada reaktor atom karena alasan sederhana: Jika kaum muslimin bersenjatakan iman, mereka menjadi layak untuk mendapatkan janji Allah berupa kemenangan dan kejayaan, serta Dia akan menguatkan mereka dengan tentara-tentara-Nya.

“Dan milik Allah-lah tentara langit dan bumi, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 4). “Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri.” (QS. Al-Muddatstsir: 31).

“Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang suka berkhianat lagi sangat ingkar. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (QS. Al-Hajj: 38-39). “Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47). “Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai untuk mereka, dan Dia benar-benar akan mengubah (keadaan) mereka, setelah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.” (QS. An-Nur: 55).

Wahai Para Pemuda:

Pemuda muslim di jalan Jihad, ringankanlah dirimu dari tarikan-tarikan dunia dan sebab-sebab kemewahan agar engkau dapat menyambut penyeru Jihad tanpa rasa berat. Jika tidak, engkau akan terkena azab yang pedih sesuai dengan firman Allah Ta’ala:

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepadamu: 'Berangkatlah (berperang) di jalan Allah', kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyukai kehidupan di dunia daripada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang pedih dan mengganti kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat mendatangkan mudarat kepada-Nya sedikit pun. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: 'Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.' Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepadanya dan membantunya dengan tentara yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 38-41).

Wahai saudaraku pemuda muslim mujahid, ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak butuh) atas kita dan jihad kita, kitalah yang membutuhkan pahala Allah, nikmat-Nya, dan meraih kemuliaan ini. “Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabut: 6).

Allah mampu untuk menang atas musuh-musuh-Nya tanpa jihad kita, akan tetapi ini adalah ujian dan cobaan. “Demikianlah, dan apabila Allah menghendaki niscaya Allah membinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain.” (QS. Muhammad: 4). “Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu.” (QS. Muhammad: 31). “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.” (QS. Ali Imran: 142).

Wahai saudaraku pemuda Muslim di jalan Jihad:

Janganlah engkau gentar terhadap kekuatan musuh-musuh Allah meskipun jumlah dan perlengkapan mereka banyak. Karena Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia membela mereka dengan bala tentara-Nya dan menguatkan mereka dengan pertolongan-Nya. (Dan milik Allah-lah bala tentara langit dan bumi) (Al-Fath: 4). (Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan setan itu, karena sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah) (An-Nisa: 76). (Ingatlah ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka) (Al-Anfal: 12). (Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu) (Ali Imran: 160).

Kita, wahai saudaraku pemuda mujahid, pada hakikatnya hanyalah perantara bagi takdir Allah dan kemenangan-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan bagi kita kecuali dengan pertolongan Allah. Engkau akan menemukan makna ini sangat jelas dalam firman Allah Ta'ala: (Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar) (Al-Anfal: 17).

Serta dalam firman-Nya: (Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana) (At-Taubah: 14-15).

Engkau akan mendapati bahwa subjek (pelaku) dari kata kerja: menyiksa mereka, menghinakan mereka, menolong kamu, melegakan, menghilangkan, dan menerima taubat... adalah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka kewajiban kaum Muslimin adalah berperang, adapun hasil yang timbul dari peperangan tersebut kembalinya adalah kepada Allah. Segala urusan sepenuhnya milik Allah dan kembali kepada Allah.

Wahai saudaraku pemuda Muslim mujahid:

Letakkanlah tanganmu di tangan saudara-saudaramu dalam barisan Jihad. Ikatlah hubungan dengan mereka secara kuat melalui ikatan persaudaraan yang jujur karena Allah, agar kalian menjadi seperti bangunan yang kokoh, yang satu bagian menguatkan bagian yang lain. Dengan begitu, kalian semua akan meraih cinta Allah dan pertolongan-Nya, sesuai dengan firman Allah: (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh) (Ash-Shaff: 4).

Teladanilah keadaan para mujahidin terdahulu dari kalangan Anshar dan Muhajirin, serta cinta, persaudaraan, dan sifat mementingkan orang lain (itsar) yang ada di antara mereka, yang mana Allah menjadikannya perumpamaan dalam Al-Qur'anul Karim: (Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan) (Al-Hashr: 9).

Janganlah engkau izinkan setan atau musuh-musuh Allah untuk merusak cinta dan persaudaraan ini, yang mana hal itu bisa memberikan celah bagi mereka untuk masuk ke barisan kaum Muslimin.

Wahai para pemuda Muslim di jalan Jihad:

Jadilah pelaksana terbaik bagi perintah Allah dan arahan-Nya kepada kaum mukminin yang berjihad dalam seruan yang mulia ini: (Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar) (Al-Anfal: 45-46).

Begitulah Allah memerintahkan kita untuk teguh, berdzikir kepada Allah, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta tidak berbantah-bantahan atau berselisih, kemudian diperintahkan untuk sabar. Semua itu adalah prasyarat kemenangan dan pencegah kegagalan. Maka jadikanlah prioritasmu wahai saudaraku untuk menyatukan visi dan barisan, menjauhlah sejauh-jauhnya dari segala hal yang memecah barisan mujahidin, mencabik persatuan mereka, atau menyia-nyiakan usaha mereka. Ketahuilah bahwa bersatu di atas sesuatu yang kurang tepat lebih baik daripada berpecah-belah di atas sesuatu yang paling tepat, karena dalam naungan persatuan, kita dapat dibimbing menuju hal yang paling tepat setelah itu.

Wahai saudaraku pemuda Muslim mujahid:

Pelajarilah sikap orang-orang munafik terhadap Jihad dan perkataan mereka, begitu pula orang-orang yang duduk santai dan tertinggal. Kenalilah hal itu dari Kitabullah, khususnya dari Surah At-Taubah. Berhati-hatilah agar tidak jatuh ke dalamnya atau terpengaruh olehnya. Tutuplah telingamu dari perkataan orang-orang yang melemahkan semangat (muthabbithin), orang-orang yang ragu, dan kaum munafik. Tekad mereka telah lemah untuk berjihad, sehingga mereka beralih melemahkan tekad para mujahidin, menebarkan rasa lemah dan lesu ke dalam jiwa dengan menakut-nakuti tentang kengerian perang dan kekuatan musuh, serta merusak kepercayaan terhadap kepemimpinan maupun perintah dan instruksi yang dikeluarkan. Hal-hal semacam itu akan membawa dampak terburuk dan konsekuensi berbahaya saat perang berlangsung. Benarlah Allah Yang Maha Agung saat berfirman: (Jika mereka berangkat bersamamu, niscaya mereka tidak menambah kamu melainkan kekacauan saja, dan tentu mereka bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu untuk mengadakan fitnah di antaramu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim) (At-Taubah: 47).

Wahai pemuda Muslim mujahid:

Bergantunglah kepada Allah dan janganlah lemah. Mintalah kepada Allah kesabaran dan keteguhan hati. Begitulah Rasul kita tercinta—Shallallahu 'alaihi wa sallam—berwasiat kepada kita: "Janganlah kalian mengharap-harapkan bertemu musuh, tetapi jika kalian bertemu mereka, maka bersabarlah (teguhlah). Dan ketahuilah bahwa surga itu berada di bawah naungan pedang" (Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud).

Maka kita tidak memulai agresi dan tidak berharap bertemu musuh, tetapi kita membalas serangan dengan memohon pertolongan kepada Allah, meminta kesabaran, keteguhan, dan kemenangan. Kita melihat kebenaran hal itu pada kelompok mukmin yang teguh bersama Thalut dalam firman Allah: (Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar". Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah) (Al-Baqarah: 249-251).

Seorang mujahid harus memiliki kesabaran dan keteguhan. Perhatikanlah wahai saudaraku ungkapan (tuangkanlah kesabaran atas diri kami), maknanya adalah kesabaran yang sangat banyak. Karena sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, dan sebagaimana dikatakan, antara kemenangan dan kekalahan hanyalah selisih sabar sesaat. Benarlah Allah Yang Maha Agung saat berfirman: (Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung) (Ali Imran: 200).

Wahai saudaraku pemuda Muslim mujahid:

Majulah ke barisan pejuang di jalan Allah dengan penuh keyakinan bahwa engkau akan bertemu dengan salah satu dari dua kebaikan (al-husnayain): Kemenangan atau Mati Syahid. Kemenangan yang membuat orang-orang beriman di seluruh penjuru bumi bergembira, atau Syahid yang dengannya engkau meraih kedudukan dan pahala para syuhada. (Dan barangsiapa berperang di jalan Allah lalu gugur atau memperoleh kemenangan, maka kelak Kami berikan kepadanya pahala yang besar) (An-Nisa: 74). (Katakanlah: "Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab dari sisi-Nya, atau (azab) melalui tangan kami. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami pun menunggu bersamamu") (At-Taubah: 52).

Pada saat yang sama, letakkanlah di depan matamu konsekuensi berbahaya bagi umat Islam dan ancaman keras dari Allah bagi mereka yang melarikan diri saat pertempuran berkecamuk, sebagaimana jelas dalam firman-Nya: (Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya) (Al-Anfal: 15-16).

Wahai pemuda Muslim mujahid:

Berhati-hatilah jangan sampai engkau tertimpa rasa lemah, lesu, atau menyerah jika Allah menakdirkan kekalahan bagi kaum mukminin dalam suatu pertempuran. Kekalahan yang sesungguhnya adalah kekalahan dari dalam hati, bukan kekalahan di medan perang. Maka kita harus bertawakal kepada Allah dan melanjutkan Jihad tanpa menjadi lemah karena apa yang menimpa kita di jalan Allah. Ayat-ayat ini menceritakan kondisi orang-orang beriman dalam posisi tersebut: (Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim, dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir) (Ali Imran: 139-141).

Dan firman-Nya: (Orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan di antara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar) (Ali Imran: 172). Serta firman-Nya: (Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan) (Ali Imran: 146-148).

Wahai saudaraku pemuda Muslim mujahid:

Renungkanlah ayat-ayat terakhir ini, dan lihatlah bagaimana saudara-saudaramu mujahidin terdahulu memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa mereka dan tindakan berlebihan mereka dalam urusan mereka, di samping memohon keteguhan dan kemenangan. Seolah-olah mereka merasakan bahwa dosa-dosa dan tindakan berlebihan ini termasuk sebab kekalahan, sebagaimana keteguhan dan ketaatan kepada Allah termasuk sebab kemenangan. Maka para mujahid di jalan Allah harus menjauhi kemaksiatan kepada Allah saat mereka sedang berjihad di jalan-Nya. Ketahuilah bahwa kemaksiatan mereka kepada Allah lebih berbahaya bagi mereka dan lebih patut ditakuti daripada musuh mereka.

Adapun dalam kondisi menang, kita tidak boleh mengembalikannya kepada kekuatan, kemampuan, kompetensi, atau perlengkapan kita, melainkan mengembalikannya kepada Allah. (Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana) (Ali Imran: 126).

Kita harus rendah hati dan tidak sombong. Kita memiliki teladan pada tawadhu-nya Rasulullah—Shallallahu 'alaihi wa sallam—kepada Allah saat penaklukan Mekah (Fathul Makkah). Sebagaimana tidak layak bagi kita untuk dihinggapi rasa tertipu (ghurur) atau ujub (bangga diri) ketika kita melihat jumlah personel dan perlengkapan yang banyak di barisan mujahidin mukminin. Jumlah yang banyak itu tidak akan berguna sedikit pun bagi kita jika Allah meninggalkan kita. Benarlah Allah Yang Maha Agung: (Sesungguhnya Allah telah menolong kamu di banyak medan peperangan, dan (ingatlah) peperangan Hunain, di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai) (At-Taubah: 25).

Ketahuilah wahai saudaraku pemuda Muslim mujahid, bahwa kita dituntut untuk bekerja (beramal), dan kita tidak bertanggung jawab atas hasil. Allah telah memerintahkan kita untuk berjihad melawan musuh-musuh Allah dan membalas agresi mereka, namun tidak menuntut kita untuk menciptakan kemenangan. Kemenangan itu datang dari sisi-Nya. Oleh karena itu, Allah tidak akan menghalangi kita dari pahala para mujahidin di jalan-Nya, meskipun hasilnya tidak berpihak kepada kaum mukminin.

Ketahuilah wahai saudaraku pemuda Muslim di barisan mujahidin, bahwa engkau adalah target besar dan tangkapan berharga bagi musuh-musuh Allah jika mereka berhasil mendapatkanmu. Hal itu bukan hanya dengan membunuhmu, tetapi jika mereka mampu menipumu, menyogokmu, atau menarikmu ke pihak mereka dengan janji atau ancaman. Maka jangan biarkan mereka menguasai dirimu. Ketahuilah bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal, dan engkau sedang berada di salah satu pos penjagaan kaum Muslimin, maka jangan sampai mereka masuk melalui posmu. Jadilah engkau di posisimu sebagai penjaga, pejuang, atau pemberi bantuan yang terbaik. Rasakanlah karunia Allah atasmu yang telah menganugerahimu kehormatan Jihad di jalan-Nya, seraya mengingat pahala yang agung: pahala ribath (bersiaga di perbatasan), penjagaan, atau peperangan di jalan Allah. (Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan") (Yunus: 58). Sebagaimana engkau juga harus merasakan bahaya besar, dosa besar, bahkan azab pedih jika engkau meninggalkan posmu dan tugasmu, serta membiarkan musuh-musuh Allah menyusup ke barisan mukminin.

Wahai saudaraku pemuda Muslim di barisan mujahidin:

Jadilah orang yang sangat teliti dalam pekerjaanmu, waktumu, dan pelaksanaan apa yang diminta darimu. Terkadang keterlambatan satu menit atau kelalaian kecil dalam melaksanakan perintah dapat memaparkan banyak mujahidin pada kebinasaan dan kematian, atau menyebabkan jatuhnya posisi penting ke tangan musuh.

Wahai pemuda Muslim mujahid:

Di mana pun engkau berada, hendaknya engkau berpegang pada Kitabullah. Tadabburilah dan bacalah dengan sebenar-benarnya bacaan, karena di dalamnya terdapat bekal yang melimpah di jalan Jihad. Berhentilah lama pada surah-surah dan ayat-ayat yang membahas Jihad dan perang di jalan Allah, dan hafallah jika engkau mampu. Itu akan membekalimu dengan segala apa yang engkau butuhkan dalam usahamu dan peperanganmu melawan musuh-musuh Allah. Bacalah dan tadabburilah sirah Imam para Mujahidin—Shallallahu 'alaihi wa sallam—serta para sahabatnya yang mulia, dan lihatlah apa yang ada dalam peristiwa peperangan berupa gambaran Jihad yang luar biasa, model pengorbanan yang unik, penebusan, cinta, itsar, persiapan, serta perencanaan.

Saudariku Muslimah:

Engkau, wahai saudari Muslimah, berada di jalan Jihad, dan sesungguhnya engkau memiliki peran penting dalam bidang Jihad. Peran itu dimulai dari rumah dengan mendidik generasi, menumbuhkan, dan mempersiapkan mereka untuk berjihad. Sebab wanita adalah pencetak tokoh-tokoh besar (lelaki sejati). Dahulu, para wanita Muslimah mengajarkan anak-anak mereka tentang sejarah peperangan (ghazawat) sebagaimana mereka mengajarkan surah-surah dari Al-Qur'an.

Wanita Muslimah di masa lalu juga memiliki peran dalam pertempuran: mereka bertugas memberi minum tentara dan mengobati luka-luka, bahkan terkadang ikut serta memegang senjata sebagaimana yang dilakukan oleh Nusaibah binti Ka'ab dalam membela Rasulullah pada hari Perang Uhud.

Mati Syahid di Jalan Dakwah

(Jihad adalah jalan kami, dan Mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi)

Slogan ini senantiasa kami ulang-ulang, dan para putra dakwah mengulanginya bersama kami di jalan dakwah selama perjalanan, amal, dan jihad mereka demi meninggikan kalimat Allah dan memenangkan agama-Nya. Banyak orang-orang tercinta yang telah meraih cita-cita ini, di antaranya adalah pendiri jamaah ini, Imam Syahid Hasan Al-Banna. Kita memohon kepada Allah agar menerima mereka semua, melapangkan surga bagi mereka, mempertemukan kita dengan mereka tanpa mengubah atau mengganti (ajaran), tanpa menebar fitnah maupun terkena fitnah, serta menganugerahkan kita syahadah (mati syahid) seperti mereka. Amin.

Iring-iringan para syuhada telah berlanjut di jalan dakwah sejak lama. Para saudara yang mulia telah meraih syahadah di tanah Palestina tercinta pada tahun 1947 dan 1948 dalam jihad mereka melawan gerombolan Zionis yang berdosa dan perampas. Dakwah ini telah mempersembahkan contoh-contoh luar biasa dalam jihad, penebusan, dan mati syahid di jalan Allah. Kenangan tentang mereka masih menakuti Yahudi hingga hari ini, dan nama Ikhwanul Muslimin masih membuat mereka gentar. Beberapa buku telah membahas jihad ini dan menyebutkan detail tentang pertempuran serta para syuhadanya.

Kemudian terjadilah konspirasi dengan perencanaan musuh-musuh Allah dan pelaksanaan oleh para agen mereka dari kalangan penguasa Arab pada masa itu. Maka keluarlah keputusan pembubaran Jamaah Ikhwan di Mesir pada Desember 1948, serta penangkapan mereka kecuali Imam Al-Banna, di mana mereka merencanakan pembunuhannya pada Februari 1949. Mereka (penguasa) memasukkan pasukan Arab atau simbol-simbolnya ke Palestina dengan alasan menyelamatkannya dari Yahudi, padahal hakikatnya adalah untuk menyerahkannya kepada Yahudi melalui pengumuman gencatan senjata, penghentian perang reguler dan gerilya, serta membawa para mujahidin dari kalangan Ikhwan keluar dari medan jihad menuju kamp tahanan dan penjara. Setelah itu, diumumkanlah pembagian wilayah dan berdirinya Israel. Oleh karena itu, Imam Syahid Hasan Al-Banna dianggap sebagai syahid Palestina meskipun tidak terbunuh di atas tanahnya.

Di tepian Terusan Suez, terjadi pula jihad Ikhwan melawan penjajah Inggris. Dalam peristiwa itu, banyak pemuda di usia belia meraih syahadah, seperti Umar Syahin, Ahmad Al-Munaisi, dan selainnya—semoga Allah merahmati mereka semua. Mereka juga menorehkan contoh kepahlawanan dan pengorbanan yang luar biasa, yang mempercepat keluarnya Inggris dari Mesir.

Kemudian musuh-musuh Allah memaksakan medan syahadah lainnya kepada kita, yaitu medan kezaliman dan para zalimin serta fitnah (ujian) terhadap orang-orang beriman, di bawah siksaan berat di penjara-penjara Abdel Nasser dan di atas tiang gantungan. Mereka menyongsong syahadah dengan penuh keteguhan hati, ketabahan, dan mengharap pahala Allah. Di antara para syuhada tersebut adalah: Abdul Qadir Audah, Syaikh Muhammad Farghali, dan Yusuf Thal'at (keduanya adalah pemimpin jihad di Palestina), Ibrahim At-Thayyib, Hindawi Duwair, dan Mahmoud Abdul Latif. Kemudian para syuhada: Sayyid Quthb, Abdul Fattah Ismail, Muhammad Yusuf Hawash, dan puluhan lainnya di bawah siksaan. Terakhir, syahid Muhammad Kamal Al-Sananiri di masa sekarang, begitu pula Khalid Al-Islambuli dan saudara-saudaranya—semoga Allah merahmati mereka semua.

Banyak pula putra dakwah yang meraih syahadah di Palestina yang diduduki dan di Lebanon, dan mereka masih terus mendapatkannya dalam jihad melawan Yahudi. Begitu pula di Suriah, baik yang terbunuh oleh peluru, di bawah puing-puing, dikubur hidup-hidup di bawah siksaan, atau dihukum gantung di penjara-penjara Suriah. Syahadah juga diraih oleh saudara-saudara di Irak, Libya, Somalia, Indonesia, di medan-medan jihad di Afghanistan, Filipina, Eritrea, dan lainnya. Iring-iringan syuhada akan terus berlanjut di setiap wilayah di dunia Islam di mana terjadi konflik antara musuh-musuh Allah serta para pembela kebatilan yang berkuasa melawan para penyeru jalan Allah yang ruh jihadnya telah bangkit, sehingga mereka mempersembahkan nyawa mereka dengan murah demi meninggikan kalimat Allah.

Konflik antara kebenaran (al-haq) dan kebatilan akan terus berlanjut: medannya meluas, panji-panji jihad berkibar, dan pertolongan Allah turun kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Allah mengambil para syuhada dari kalangan mereka hingga pertolongan Allah turun sepenuhnya, dan agama Allah tegak di bumi dengan izin-Nya.

Sebagian orang mengira bahwa gugurnya para syuhada ini adalah kerugian bagi jamaah karena kehilangan tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh dalam kancah amal dan jihad. Ini adalah persangkaan yang salah. Sesungguhnya syahidnya seorang pejuang di jalan dakwahnya adalah bekal dan bahan bakar bagi generasi mendatang, simbol pengorbanan, dan teladan bagi putra-putra dakwah di jalan dakwah.

Musuh-musuh Allah dan agen-agen mereka mengira bahwa dengan membunuh para penyeru jalan Allah, mereka akan menghabisi dakwah dan jamaahnya, terutama jika yang dibunuh adalah para pemimpinnya. Mereka tertipu dan salah dalam persangkaan ini. Sebab ini bukanlah dakwah individu atau kelompok orang yang berakhir dengan kematian mereka, melainkan dakwah Allah dan cahaya Allah. Cahaya Allah tidak akan bisa dipadamkan oleh manusia. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan orang-orang yang jujur dan ikhlas untuk menggantikan mereka dalam barisan agar terus melanjutkan amal dan jihad hingga tujuan berdirinya jamaah tercapai, yaitu tegaknya Negara Islam yang dipuncaki oleh Khilafah Islamiyah demi memenangkan agama Allah di bumi-Nya: (Hingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu seluruhnya milik Allah) (Al-Anfal: 39).

Hendaknya pemuda Muslim kita mengetahui bahwa peperangan antara kebenaran dan kebatilan adalah perang yang sengit, meluas dalam dimensi waktu dan tempat hingga mencakup seluruh kancah Islam. Hendaknya mereka tahu bahwa Jihad adalah jalannya, dan pengorbanan nyawa serta harta adalah hal yang niscaya. Kesempatan untuk berjihad dan meraih syahadah akan meningkat dalam beberapa puluh tahun mendatang sebagai mukadimah menuju fase Jihad dan Kemenangan (tamkin) dengan izin Allah, sebagaimana terjadi pada era Negara Islam pertama setelah fase penganiayaan dan penyiksaan.

Tidak boleh ada rasa putus asa yang merasuki pemuda kita dalam meraih kemenangan karena banyaknya musuh dan sedikitnya orang beriman. Dahulu, kaum mukminin bersama Rasulullah berjumlah sedikit dalam personil maupun perlengkapan, sementara musuh berjumlah banyak. Namun Allah menguatkan Rasul-Nya dan orang-orang beriman dengan bala tentara-Nya: (Dan milik Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami); (Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri) (Al-Muddaththir: 31).

Sungguh, wahai para pemuda, mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi. Mengapa tidak? Padahal ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits-hadits Rasulullah yang mulia memberikan semangat dan menarik kita menuju kesyahidan di jalan Allah melalui penjelasan tentang kedudukan para syuhada serta kebaikan, kemuliaan, dan keutamaan yang Allah berikan kepada mereka.

Mari kita tinjau sebagian darinya agar kerinduan dan usaha kita untuk meraih syahadah di jalan Allah semakin bertambah: Kedudukan pertama para syuhada adalah bahwa mereka menjadi hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, serta bergembira dengan karunia yang Allah berikan kepada mereka.

Allah Ta'ala berfirman: (Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya) (Al-Baqarah: 154). (Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman) (Ali Imran: 169-171). (Dan orang-orang yang syahid di sisi Tuhannya, mereka mempunyai pahala dan cahaya mereka). Rasakanlah bersamaku wahai saudaraku, kalimat: (di sisi Tuhannya).

(Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka) (Muhammad: 4-6). (Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah. Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak Kami berikan kepadanya pahala yang besar) (An-Nisa: 74). (Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik) (Ali Imran: 195).

(Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan mereka itulah (orang-orang) yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar) (At-Taubah: 88-89). (Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkanmu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah kemenangan yang besar. Dan (ada lagi karunia lain) yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman) (Ash-Shaff: 10-13).

Kita berpindah ke taman hadits-hadits Rasulullah seputar Jihad dan Syahadah:

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: "Ditanyakan, wahai Rasulullah: Apakah yang setara dengan jihad di jalan Allah? Beliau menjawab: 'Kalian tidak akan sanggup melakukannya.' Mereka mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali, dan beliau tetap menjawab: 'Kalian tidak akan sanggup melakukannya.' Kemudian beliau bersabda: 'Perumpamaan orang yang berjihad di jalan Allah adalah seperti orang yang berpuasa, mengerjakan shalat, lagi khusyuk dengan ayat-ayat Allah, dia tidak berhenti dari puasa dan shalatnya hingga orang yang berjihad itu kembali.'" (HR. Enam Imam kecuali Abu Dawud).

Dari Anas رضي الله عنه, bahwa Nabi bersabda: "Tidak ada seorang pun yang masuk surga yang ingin kembali ke dunia meskipun ia memiliki segala sesuatu yang ada di bumi, kecuali orang yang mati syahid. Ia berharap untuk kembali ke dunia lalu terbunuh sepuluh kali karena kemuliaan yang ia lihat." Dalam riwayat lain: "karena keutamaan syahadah yang ia lihat." (Muttafaqun 'Alaih).

Dari Al-Miqdam bin Ma'di Yakrib, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Bagi orang yang mati syahid di sisi Allah ada enam perkara: diampuni dosanya sejak kucuran darah pertama, diperlihatkan tempat duduknya di surga, diselamatkan dari azab kubur, diberikan keamanan dari ketakutan yang besar (hari kiamat), diletakkan di atas kepalanya mahkota kewibawaan yang satu batu yakutnya lebih baik daripada dunia dan seisinya, dinikahkan dengan tujuh puluh dua istri dari bidadari, dan diberi izin memberi syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Dari Anas رضي الله عنه, bahwa Ummu Ar-Rabi' binti Al-Bara (ibunda Haritsah binti Suraqah) mendatangi Nabi dan berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau menceritakan kepadaku tentang Haritsah—ia terbunuh pada perang Badar—jika ia berada di surga maka aku akan bersabar, namun jika selain itu, maka engkau akan melihat apa yang aku lakukan dalam menangisinya." Beliau bersabda: "Wahai ibunda Haritsah, sesungguhnya di sana ada banyak surga di dalam surga, dan anakmu telah meraih Firdaus yang tertinggi." (HR. Bukhari).

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Seorang yang mati syahid tidak merasakan sakitnya pembunuhan kecuali seperti salah seorang dari kalian merasakan sakitnya cubitan." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan Shahih).

Inilah sebagian ayat dan hadits yang membuat kita rindu pada Jihad dan Syahadah. Kami tidak bermaksud merangkum semuanya karena ini bukan tempatnya, namun ini adalah kilatan cahaya yang memberikan pemahaman dan menjelaskan kepada kita kedudukan para syuhada di sisi Tuhannya.

Wahai saudaraku di jalan dakwah, wahai engkau yang telah memilih jalan orang-orang mukmin yang jujur, yang telah berjanji setia kepada Allah untuk beramal dan berjihad demi meninggikan kalimat Allah dan demi tegaknya agama Allah di bumi. Wahai engkau yang telah mengenal kedudukan Jihad di jalan Allah serta derajat para syuhada, sehingga engkau menjadi rindu untuk meraih kedudukan tersebut, dan meneriakkan dari lubuk hatimu: (Jihad adalah jalan kami, dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi).

Wahai saudaraku, sesungguhnya itu adalah cita-cita yang benar-benar mulia, namun untuk meraihnya diperlukan kesiapan, persiapan, ketelitian, dan komitmen. Janganlah seseorang membayangkan bahwa jika ia melakukan suatu tindakan pada waktu kapan pun menurut penilaiannya sendiri, lalu ia terbunuh di dalamnya, berarti ia telah meraih kesyahidan. Namun, ada hal-hal yang wajib diperhatikan dan dipatuhi, yang kami sebutkan di antaranya:

Pertama: Mengadakan transaksi yang menguntungkan dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 111).

Engkau harus berada dalam kesiapan penuh untuk menyerahkan diri, harta, dan segala yang engkau miliki di jalan Allah kapan pun urusan itu membutuhkannya.

Kedua: Agar transaksi sempurna dan penjualan diterima, engkau harus menghiasi diri dengan sifat-sifat orang mukmin; karena Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka...” Maka ayat setelah ayat ini (At-Taubah: 112) beserta sifat-sifat mukmin di dalamnya mempertegas makna ini, di mana Allah berfirman:

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang mengembara (berpuasa), yang ruku', yang sujud, yang menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mukmin itu.” (QS. At-Taubah: 112).

Ketahuilah bahwa ada sifat-sifat lain bagi orang mukmin yang disebutkan dalam Surah Al-Mu’minun dan surah lainnya, begitu pula dalam hadits-hadits Rasulullah yang wajib dipelajari dan diperjuangkan dalam diri untuk dipatuhi. Iman yang kuat sangat dibutuhkan di jalan dakwah; karena iman membantu kesabaran, ketahanan, dan keteguhan di atas kebenaran saat pemiliknya menghadapi kesulitan, gangguan, atau siksaan, sebagaimana yang kita saksikan pada sikap Sumayyah dan suaminya Yasir—semoga Allah meridhai keduanya—begitu pula Bilal dan selainnya. Iman juga membantu pemiliknya untuk berani dalam pertempuran, menghadapi musuh, serta bersabar dan teguh saat serangan berkecamuk.

Ketiga: Mengikhlaskan niatmu dalam Jihad dan Syahadah.

Jadikanlah niatmu semata-mata untuk meninggikan kalimat Allah di bumi Allah, dan janganlah mencampuri niat ini dengan noda duniawi apa pun. Hadits Rasulullah menjelaskan hal ini dengan sangat jelas: Dari Abu Musa رضي الله عنه, bahwa seorang Arab Badui mendatangi Nabi lalu berkata: "Wahai Rasulullah, seseorang berperang demi harta rampasan, seseorang berperang agar namanya disebut, seseorang berperang agar kedudukannya dilihat"—dan dalam satu riwayat: "berperang karena keberanian, berperang karena fanatisme (hamiyyah)", dalam riwayat lain: "berperang karena marah""maka siapakah yang berada di jalan Allah?" Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang paling tinggi, maka ia berada di jalan Allah." (Muttafaqun ‘Alaih).

Keempat: Memohon Syahadah (mati syahid) kepada Allah Ta’ala dengan jujur.

Hal ini janganlah hanya sekadar ucapan lisan, namun harus dibenarkan oleh hati, tekad yang jujur, dan menantikan kesempatan. Dengan demikian, engkau meraih derajat para syuhada dan pahalanya dengan izin Allah meskipun engkau mati di atas tempat tidurmu sebagaimana dalam hadits Rasulullah. Dari Sahl bin Hunaif رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa memohon syahadah kepada Allah Ta’ala dengan jujur, maka Allah akan menyampaikannya ke kedudukan para syuhada meskipun ia mati di atas tempat tidurnya." (HR. Muslim).

Sebagai kebalikannya, terdapat peringatan bagi siapa yang tidak berperang atau tidak berpikir untuk berperang. Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang mati sementara ia belum pernah berperang dan tidak pernah terlintas dalam dirinya keinginan untuk berperang, maka ia mati di atas salah satu cabang kemunafikan." (HR. Muslim).

Kelima: Senantiasa menyambut seruan Jihad dengan harta tanpa rasa kikir atau pelit, meskipun kondisi belum memungkinkan untuk Jihad dengan jiwa, karena transaksi yang menguntungkan itu mencakup jiwa dan harta. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka...”, sebagaimana Allah berfirman: “Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 41). Dan hadits-hadits Rasulullah yang mendorong hal tersebut:

Dari Zaid bin Khalid رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang mempersiapkan perlengkapan orang yang berperang di jalan Allah, maka sungguh ia telah ikut berperang. Dan barangsiapa yang menjaga keluarga orang yang berperang dengan baik, maka sungguh ia telah ikut berperang." (Muttafaqun ‘Alaih).

Dari Abu Yahya bin Fatik رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang menafkahkan suatu nafkah di jalan Allah, maka dicatat baginya tujuh ratus kali lipat." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadits Hasan).

Keenam: Bersiaplah untuk menjawab seruan Jihad kapan pun engkau dipanggil di belahan bumi Islam mana pun.

Islam kita bersifat universal (alamiyah), bukan regional (iqlimiyah). Negeri-negeri Muslim adalah satu tanah air. Engkau harus melepaskan diri dari tarikan dunia yang membuat pemiliknya merasa berat untuk berangkat sehingga ia terancam azab Allah sebagaimana dalam ayat mulia: “Wahai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: 'Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah' kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikit pun.” (QS. At-Taubah: 38-39).

Makna firman Allah Ta’ala: (Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat) adalah: Keluarlah untuk berperang wahai sekalian orang mukmin, baik yang tua maupun yang muda, baik berjalan kaki maupun berkendaraan, dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam kesulitan maupun kemudahan, baik saat semangat maupun saat enggan.

Jangan sampai kita mendekati keadaan orang-orang yang disebutkan dalam ayat mulia: “Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan duduk-duduk mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: 'Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.' Katakanlah: 'Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas(nya)' jika mereka mengetahui. Maka biarkanlah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 81-82).

Ketujuh: Selama engkau menjadi prajurit dalam barisan, engkau wajib mematuhi apa yang diminta darimu dalam bidang Jihad, serta apa yang ditentukan bagimu baik waktu maupun tempatnya. Janganlah beralih kepada tindakan individu atau ijtihad pribadi, demi memenuhi janji setiamu (baiat), menyatukan kekuatan, dan melindungi amal dari dampak negatif tindakan individu yang tidak terkendali. Seringkali antusiasme mendorong sebagian pemuda kepada tindakan individu yang gegabah yang justru merugikan amal umum dan menyeret ke dalam situasi sulit yang belum dipersiapkan untuk dihadapi.

Karena pandangan yang dangkal dan terbatas, sebagian pemuda membayangkan bahwa konflik sengit antara kebenaran dan kebatilan ini dapat berakhir hanya dengan membunuh beberapa orang, meledakkan bom, atau tindakan serupa tanpa melihat konsekuensinya. Padahal, persoalan ini sangat dalam di dalam jiwa karena ini adalah persoalan aqidah; ia meluas di seluruh kancah Islam, sudah ada sejak lama, dan akan terus berlanjut di masa depan hingga waktu yang dikehendaki Allah.

Tidaklah sulit atau berat bagi salah seorang Muslim di periode Mekah untuk membunuh Abu Jahal atau Abu Lahab, atau menghancurkan berhala-berhala di sekitar Ka'bah dalam rangka menghilangkan kemungkaran. Namun, tidak ada seorang pun Muslim yang berani melakukan hal tersebut karena dampak besar yang dapat merugikan dakwah dan berisiko menghancurkannya saat ia masih berupa benih yang lemah.

Kedelapan: Wahai saudaraku, pelajarilah adab-adab peperangan dalam Islam agar engkau dapat mematuhinya, sehingga jihadmu benar dan diterima tanpa noda. Kaum Muslimin ketika berperang tidak melampaui batas, tidak berbuat jahat (fajir), tidak memutilasi, tidak mencuri, tidak merampas harta, tidak melanggar kehormatan, dan tidak memulai gangguan. Mereka adalah pejuang terbaik saat perang, sebagaimana mereka adalah pembela perdamaian terbaik saat damai.

Dari Buraidah رضي الله عنه, ia berkata: "Rasulullah apabila mengangkat seorang komandan pasukan, beliau berpesan kepadanya secara khusus agar bertakwa kepada Allah dan berbuat baik kepada kaum Muslimin yang bersamanya. Kemudian beliau bersabda: 'Berperanglah kalian dan janganlah berlebih-lebihan (dalam menggunakan rampasan sebelum dibagi), jangan berkhianat, jangan memutilasi, dan jangan membunuh anak kecil.'" (HR. Muslim). Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Jika salah seorang dari kalian berperang, hindarilah (memukul) wajah." (Muttafaqun ‘Alaih).

(Sebagaimana datang pula larangan membunuh wanita, orang tua, menghabisi yang terluka, mengusik rahib dan orang-orang yang mengasingkan diri, serta mereka yang tidak berperang dari kalangan warga yang aman. Maka di manakah rahmat ini dibandingkan dengan serangan gas beracun kaum yang mengaku beradab dan kekejaman mereka yang mengerikan? Dan di manakah hukum internasional mereka dibandingkan dengan keadilan Ilahi yang menyeluruh ini?) — Dari risalah Jihad oleh Imam Al-Banna.

Kesembilan: Wahai saudaraku, ambillah sebab-sebab persiapan (i'dad) semampumu tanpa memaksakan diri secara berlebihan atau menimbulkan bahaya, serta dilakukan di bawah bimbingan dan kondisi yang ada. Rasulullah senantiasa mengarahkan para sahabatnya dalam hal ini.

Dari Abu Hammad Uqbah bin Amir Al-Juhani رضي الله عنه, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah saat berada di atas mimbar bersabda: 'Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah, ingatlah bahwa kekuatan itu adalah memanah.'" (HR. Muslim). Dan darinya juga: "Aku mendengar Rasulullah bersabda: 'Kelak negeri-negeri akan ditaklukkan untuk kalian dan Allah akan mencukupkan bagi kalian, maka janganlah salah seorang dari kalian merasa lemah untuk bermain dengan panahnya.'" (HR. Muslim). Darinya pula: "Rasulullah bersabda: 'Barangsiapa yang telah diajarkan memanah lalu ia meninggalkannya, maka ia bukan golongan kami (atau ia telah bermaksiat).'" (HR. Muslim).

Ada sebuah makna yang perlu kita perhatikan, yaitu kita harus mengimani bahwa kemenangan itu datangnya dari Allah. Persiapan dan segala hal yang berkaitan dengannya hanyalah bagian dari menjalankan sebab saja. Janganlah kita menisbatkan kemenangan kepada kemahiran latihan atau persiapan, tetapi kembalikanlah ia kepada dukungan Allah dan keteguhan yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. “Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10). “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar.” (QS. Al-Anfal: 17).

Kesepuluh: Wahai saudaraku, jagalah rumahmu dan keluargamu dengan pemahaman Islam dan siapkanlah mereka untuk suasana Jihad dan Syahadah. Jangan sampai mereka menjadi pelemah semangat (muthabbithin), melainkan bantulah agar mereka mendorong dan mendukung untuk berjihad. Mereka hendaknya menerima kabar syahidmu (jika Allah mengizinkan) dengan keridhaan, mengharap pahala (ihtisab), dan kabar gembira, bukannya dengan keluh kesah atau ratapan. Berikanlah kepada mereka teladan dari sirah harum kaum Muslimin terdahulu dan bagaimana keluarga mereka menerima kabar syahadah mereka.

Kesebelas: Berusahalah sekuat tenaga agar tidak memiliki hutang, atau berwasiatlah untuk melunasinya jika tidak mampu melunasinya selama hidupmu. Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash رdhia-llahu 'anhuma, bahwa Rasulullah bersabda: "Allah mengampuni segala sesuatu bagi syahid kecuali hutang." (HR. Muslim). Dalam riwayat lain: "Terbunuh di jalan Allah menghapuskan segala sesuatu kecuali hutang."

Kami tutup pembicaraan tentang Syahadah di jalan dakwah ini dengan ucapan Imam Syahid yang ia gunakan untuk menutup Risalah Jihad, di mana beliau berkata:

"Wahai Ikhwan: Sesungguhnya umat yang mahir dalam 'seni kematian' dan tahu bagaimana cara mati yang mulia, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Kelemahan (wahn) yang menghinakan kita hanyalah karena cinta dunia dan benci kematian. Maka siapkanlah diri kalian untuk amal yang besar dan bersemangatlah untuk mati (mulia), niscaya kehidupan akan dianugerahkan kepada kalian. Ketahuilah bahwa kematian adalah hal yang pasti dan ia hanya terjadi sekali. Jika kalian menjadikannya di jalan Allah, maka itu adalah keuntungan di dunia dan pahala di akhirat. Apa pun yang menimpa kalian hanyalah apa yang telah Allah tetapkan bagi kalian. Renungkanlah baik-baik firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala:

‘Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepadamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita sesuatu peran dalam urusan ini?" Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita sesuatu peran dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan baginya akan mati, keluar juga ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu...’ (QS. Ali Imran: 154).

Bekerjalah untuk kematian yang mulia, niscaya kalian akan meraih kebahagiaan yang sempurna. Semoga Allah menganugerahkan kepada kami dan kalian kemuliaan syahadah di jalan-Nya.”

Allah telah mengabulkan doanya dan menganugerahinya kesyahidan. Kita memohon kepada Allah agar menganugerahkannya pula kepada kita, sesungguhnya Dia Maha Dekat lagi Maha Mengabulkan doa.

 

No comments:

Post a Comment

Keluarga Muslim Teladan