Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita sampaikan shalawat dan salam kepada penghulu kita, Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada siapa saja yang menyebarkan dakwahnya hingga hari pembalasan.
Amma ba 'du.
Salamullahi 'alaikum wa rahmatuhu wa
barakatuh.
Ceramah pada malam hari ini sebenarnya hendak
disampaikan oleh yang mulia Ustadz Syaikh Abdul Azhim Az-Zarqani, dosen
Fakultas Ushuluddin, namun beliau ternyata berhalangan. Saya tidak tahu, apakah
secara pribadi saya merasa kecewa atau gembira. Namun sebenarnya saya ingin
sekali agar kalian dapat mendengar berbagai ceramah yang disampaikan oleh para
ulama dan udaba'. Saya menginginkan sekali hal ini. Terlebih lagi saya
hendak bepergian. Saya ingin agar Ikhwan sekalian dapat mendengarkan ceramah
dari para ulama tersebut pada bulan Rajab dan Sya'ban ini. Sekalipun saya
berkeinginan seperti ini, namun terus terang saya tidak bermaksud untuk tidak
menyampaikan ceramah kepada Ikhwan sekalian dan bertatap muka dengan kalian di
malam yang mudah-mudahan Allah swt. menurunkan berkah, rahmat, dan sakinah-Nya
kepada kita semua di sana. Yakni suatu malam di saat Allah mengumpulkan kita
dalam rangka melakukan ketaatan kepada-Nya di salah satu rumah Allah. Di
dalamnya kita mengkaji Al-Qur'an yang mulİa dan berusaha memahami kandungan isinya.
Rasulullah saw. pernah bersabda,
مَا
اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ
وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ،
وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ
فِيمَنْ عِنْدَهُ
"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah
satu rumah Allah untuk membaca kitab Allah dan saling mempelajari kandungannya,
melainkan ketenangan pasti turun pada mereka, rahmat menyelimuti mereka, para
malaikat mengelilingi mereka", dan Allah menyebut mereka di hadapan
orang-orang yang berada di sisi-Nya.”
Gedung-gedung Ikhwanul Muslİmİn merupakan
rumah-rumah Allah, karena digunakan untuk berdakwah kepada-Nya, mengamalkan
Kitab-Nya serta berpegang kepada sunah Rasul-Nya. Dengan demikian ia dapat
dikatakan sebagaİ masjid. "Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah
kepunyaan Allah." (Al-Jin: 18)
Terus terang, memang saya ingin sekali dapat
bertemu dengan kalian pada malam hari ini. Saya berada di antara dua perasaan:
perasaan ingin menghidangkan "santapan" yang baru kepada kalian
berupa ceramah dari para ulama, serta perasaan ingin senantiasa bisa bertarap
muka dengan kalian. İni benar-benar terjadi.
Wa ba'du, Kalaulah saja pada malam hari ini
kita hanya saling bertemu dan berta'aruf saja, yang bisa membawa kepada rasa
cinta, tentu itu sudah cukup. Dengan modal cinta saja, kita bisa mengurai
persoalan-persoalan yang pelik. Dasar darİ cinta ini adalah kelurusan jiwa.
Karena sesungguhnya jika jiwa itu rusak, rusaklah segalanya; dan jika jiwa itu
baik, ikut baik pula segalanya. Kebaikannya terletakpada kejernihannya,
hubungan ruhiahnya, serta keikhlasannya dalam berucap dan beramal. Ikhwan
sekalian, saya ingin selalu mengingat,kan kembali bahwa nilai-nilai ini harus
benar-benar tertancap. Sebab, jika jiwa kalian bersih, ruhani kalian
bersambung, dan kalian juga dapat berbuat ikhlas kepada Allah dalam amalan dan
ucapan kalian, percayalah bahwa kita akan dapat meraih kebaikan yang banyak.
Tiada arti cinta kecuali ini. Islam tidaklah datang kecuali untuk menyatukan
manusia di atas cinta dan kebenaran. " (Tetaplah atas) fitrah Allah, yang
telah mènciptakan manusia menurut fitrah itu." (Ar-Rum: 30)
Kajian mengenai
ini berkaitan dengan pembicaraan kita sebelumnya. Kalian tentu masih ingat
bahwa kita telah berbicara tentang serial mengenai akhlak dan
orientasi-orientasi spiritual. Kita bisa mengaitkan antara apa yang kita dengar
dengan apa yang akan kita katakan. Saya ingin mengingatkan dan mengajak kalian
untuk meyakini bahwa akhlak dan nilai-nilai moralitas amaliah kenyataannya
merupakan asas kebaikan (shalah), kehidupan yang baik dan seterusnya, baik dalam
skala individu maupun umat. Jika seseorang ingin menjadi baik (shalih),
hendaklah ia memperbaiki jiwa dan akhlaknya. Jika suatu komunitas orang ingin
menjadi baik, hendaklah mereka memperbaiki jiwa dan akhlak mereka. Dan jika
suatu umat ingin agar menjadi baik dan kokoh, maka hendaklah umat itu memulai
dengan mengadakan perbaikan hati, kemudian memperbaiki akhlak. Tentang
perbaikan individu, Al-Qur'an mengatakan, "Demi jiwa dan penyempurnaan
(ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketaqwaannya." (Asy-Syams: 7-8)
Allah swt. sampai bersumpah demi jiwa
manusia, dan setelah itu mengatakan bahwa Dia mernberikan ilham kepada jiwa itu
mengenai kefasikan jiwa dan ketaqwaannya, sebagaimana juga Allah berfirman,
"Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu kebajikan dan
kejahatan)." (Al-BaIad: 10) Kemudian Allah mengemukakan hasilnya dengan
berfirman, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Asy-Syams: 9-10)
Tentang kebaikan dan kerusakan umat, Allah
swt. berfirman di dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah
keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka
sendiri." (Ar-Ra'd: 11) Ini dikuatkan lagi dengan firmanNya, "Yang
demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan
mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sehingga
kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Al-Anfal: 53)
Kebaikan jiwa merupakan kebaikan umat, dan mengubah
jiwa berarti mengubah umat. Oleh karena itu, Al-Qur'an menegaskan arti nilai
tersebut. Banyak sekali hadits yang menjelaskan bahwa asas kebaikan dan
kerusakan terdapat pada kekokohan akhlak. Sampai-sampai Nabi saw. berkata bahwa
seutama-utama amal terletak pada akhlak yang baik.
Diriwayatkan bahwa seseorang datang kepada
Rasulullah saw. lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang
paling utama?" Beliau menjawab, "Akhlak yang baik!" Lantas ia
mendatangi beliau lagi dari arah kanan seraya bertanya, "Amalan apakah
yang paling utama?" Beliau menjawab, "Akhlak yang baik."
Kemudian ia mendatangi beliau dari arah kiri dan bertanya lagi, "Wahai
Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?" Maka Rasulullah saw. menoleh
kepadanya seraya bersabda, "Mengapa kamu tidak juga paham? Akhlak yang
baik. Yaitu, kalau engkau mampu, janganlah engkau marah."
Nabi saw. menganjurkan akhlak yang baik serta
menjelaskan bahwa kebahagiaan seseorang terletak pada kebaikan akhlaknya. Nabi
saw. , bersabda,
إِنَّ
أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا، الْمُوَطَّؤُونَ أَكْنَافًا،
الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ
الْمَشَّاؤُونَ بِالنَّمِيمَةِ، الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ،
الْمُلْتَمِسُونَ لِلْبُرَآءِ الْعَنَتَ
"Sesungguhnya orang yang paling aku
cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya; yang rendah hati;
dan yang akrab lagi mudah diakrabi. Sedangkan orang yang paling aku benci di
antara kalian adalah orang yang ke mana-mana -menebar fitnah, yang memecah
belah orang-orang yang saling mencintai; dan yang suka mencaricari cacat orang
yang bersih.”
Akhlak yang baik merupakan pilar yang kokoh
di dalam membangun umat, individu, dan jamaah. Allah swt. telah menjadikannya
mudah, dan tidak sulit. Nabi saw. bersabda,
أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِأَيْسَرِ الْعِبَادَةِ وَأَهْوَنِهَا عَلَى الْبَدَنِ؟ الصَّمْتُ
وَحُسْنُ الْخُلُقِ
"Maukah aku beritahukan kepada kalian
tentang ibadah yang paling mudah serta paling ringan bagi badan? Yaitu diam dan
berakhlak yang baik. "
Oleh karena itu, Allah swt. memberikan pujian
kepada kekasih-Nya, Muhammad saw., ihwal kekokohan akhlaknya. Allah swt.
berfirman, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung."
(Al-Qalam: 4)
Nilai semacam ini harus bersarang di dalam
jiwa kita. Kita harus dapat merasakan kenikmatan akhlak yang baik, sehingga
dada akan terasa lapang dan jiwa akan terasa segar. Nabi saw. bersabda,
إِنَّ
الْإِيمَانَ إِذَا دَخَلَ الْقَلْبَ انْشَرَحَ لَهُ الصَّدْرُ وَانْفَسَحَ
"Sesungguhnya iman itu jika telah masuk
ke dalam hati, maka dada akan merasa lapang dan segar,"
Jika engkau belum dapat merasakan nikmatnya
akhlak yang baik, berarti engkau tidak mampu melakukan akhlak yang mulia, dan
engkau tidak mungkin dapat menilai keagungannya. Bait syair bertutur:
Dakwaan-dakwaan yang tanpa bukti sebagai
penopangnya,
maka pendakwanya itulah sang terdakwa
Jika engkau meyakini suatu aqidah namun tidak
tampak dalam perilakumu, maka itu merupakan aqidah yang sebenarnya belum engkau
imani. Misalkan ada firman Allah swt., "Mahasuci Allah yang di
tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada-Nyalah kalian
dikembalikan." (Yasin: 83)
Ini merupakan aqidah. Nah, seumpama engkau
ditimpa suatu petaka dan engkau tidak mampu bersabar menghadapinya, maka
ketahuilah bahwa sebenarnya aqidah belum tertancap di dalam jiwamu, dan
keimanan mengenai hal itu masih lemah.
Rasulullah saw. bersabda,
عَجِبْتُ
لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ
إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ،
وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
"Sangat mengagumkan keadaan orang-orang
beriman, karena segala keadaan yang dialaminya baik ädanya, dan hal itu tidak
terjadi kecuali pada orang yang beriman. Yaitu, jika mendapat nikmat maka ia bersyukur
dan itu baik baginya; sedangkan apabila mendapat kesusahan maka ia bersabar,
dan sabar itu baik baginya."
Dampak dari aqidah itu harus muncul di dalam
ucapan dan amal perbuatan. Pembicaraan mengenai akhlak yang baik terdapat dalam
berbagai kitab. Akan tetapi, - yang lebih penting - harus ada kesadaran dan
sensitivitas hati. Karena sesungguhnya hati yang mati bagaikan cermin yang
sudah karatan yang tidak dapat menampakkan sesuatu, dan orang yang bercermin
pun tak dapat kelihatan. Adapun hati yang bersinar itu bagaikan timbangan yang
sensitif, yang ketika dibebani sedikit saja sudah kelihatan berat benda yang
ditimbang. Oleh karena itu, engkau harus menjernihkan hatimu sampai semua karat
yang menempel dapat hilang, sehingga hatimu menjadi sensitif. Dasar amaliahnya
adalah, engkau jadikan akhlak yang utama itu sebagai batas pemisah, dengannya
engkau akan menentukan pijakan dan tidak akan melangkah menuju selainnya. Ini
tentunya menuntut kalian untuk berkorban dengan jiwa, harta, dan kesehatanmu
dalam rangka mewujudkannya. Engkau juga harus dapat berbuat adil terhadap orang
lain, dan tidak menunrut keadilan dari orang lain terhadap dirimu. Jika engkau
telah melakukan hal itu, maka percayalah bahwa engkau adalah manusia yang
paling baik akhlaknya dan paling dicintai oleh mereka.
Saya bawakan sebuah contoh. Seseorang
mengendarai mobil, lalu ia menabrak seseorang tanpa ada satu orang pun yang
melihat kejadian itu. la bisa saja meneruskan perjalanannya dan membiarkan
orang yang tertabrak itu menderita. Akan tetapi akhlak yang mulia tidaklah
demikian. la akan menolong orang yang terkena musibah itu sedapat mungkin, lalu
membawanya ke tempat yang semestinya. Tidak menjadi soal setelah itu apakah ia
dimintai tanggung jawab atau tidak. Yang penting ia telah melaksanakan kewajiban,
selesai.
Itulah dia "sulfur merah" yang
jarang wujudnya. di mana telah banyak pribadi semisalnya, ketika itulah umat
akan maju, sehingga seseorang akan mempersernbahkan sesuatu lebih banyak
daripada yang dia ambil.
Dikisahkan bahwa Qutaibah bin Muslim ketika
sampai di perbatasan Cina, mengirim utusan kepada rajanya. Ketika para utusan
itu sampai di hadapan raja dan memberikan laporan keberadaannya, ternyata sang
raja meremehkan keberadaan mereka. Raja berkata kepada utusan itu,
"Kembalilah kepada tuan kalian dan katakanlah kepadanya agar dia kernbali
saja. Saya sudah tahu akan ketamakannya, sekali pun dengan sedikitnya pengikut
yang ia miliki. Kalau tidak mau, aku akan mengirimkan tentara untuk
menghancurkan kalian." Para utusan itu méngatakan, "Bagaimana bisa
dikatakan sedikit pengikutnya, sementara kuda pertamanya terdapat di negerimu
dan kuda terakhirnya terdapat di tempat tumbuhnya pohon Zaitun. Bagaimana bisa
dikatakan tamak, orang yang meninggalkan dunia padahal mampu meraihnya, dan ia
malah melawanmu? Adapun intimidasi yang kamu lakukan terhadap kami dengan
hendak membunuh kami, maka ketahuilah bahwa kami sudah memiliki ajal yang jika telah
datang, Allah akan memuliakan kami dengan mati syahid, dan kami sama sekali
tidak benci dan tidak takut mati." Raja itu kemudian bertanya, "Lalu
apa yang dapat memuaskan tuan kalian?" Utusan itu menjawab,
"Sesungguhnya ia telah bersumpah untuk tidak akan kembali sehingga
menginjak bumi (tanah) kalian dan menyetempel kerajaan kalian serta mengambil
jizyah dari kalian." Sang Raja berkata, "Baiklah, saya akan
mengeluarkannya dari sumpahnya itu. Kami akan mengirimkan tanah bumi kami agar
ia bisa menginjaknya, kami kirim anak buah kami agar ia bisa 'menyetempel'
mereka, dan kami akan mengirimkan jizyah yang ia kehendaki.” Lalü sang Raja
meminta agar disiapkan piring yang terbuat dari emas yang diisi dengan tanah,
lalu mengirimkannya kepada Qutaibah dengan sutera, emas, dan empat pemuda dari
anak buah kerajaan. Kemudian Raja memberikan mandat kepada para pemuda itu.
Mereka ini akhirnya tiba di hadapan Qutaibah, lalu Qutaİbah pun menerİma jizyah,
menyetempel para pemuda ini, dan menginjak tanah tersebut,
Masih tentang Qutaibah. Pernah suatu hari ia
didatangi oleh seorang Arab dusun, yang dengan membawa pedangnya ia hendak meminta
sesuatu. la meletakkan pedangnya hingga ujung pedang itu mengenai jari-jari kaki
Qutaibah, lalu ia meminta keperluannya. Qutaibah diam saja tanpa menunjukkan
rasa sakit. Ketika keperluan si Arab dusun itu telah selesai, Qutaibah lantas
mengangkat kakinya, dan ternyata darah telah mengalir darİ jari-jari kakinya.
Dİtanyakan kepadanya, "Mengapa engkau tidak melarangnya?" la
menjawab, "Aku tidak ingin memutus pembicaraannya, sehingga aku membuatnya
takut.”
Ibrahim bin Adham pernah menemani seseorang
dalam safarnya. Namun hanya ada satu hewan tunggangan untuk keduanya, sehingga
harus bergantian dalam menaikinya. Di tengah perjalanan, hewan kendaraan itu
dijual, sehingga keduanya harus berjalan kaki. Ketika temannya itu letih, maka
ibrahim membawa di atas pundaknya sejauh enam farsakh. (1 farsakh kurang lebih 8
km)
Perilaku semacam ini merupakan salah satu
bentuk dari akhlak yang mulia. Masyarakat yang di dalamnya terdapat orang-orang
semacam itu adalah masyarakat yang utama, yang kejernihannya tidak akan dapat
dibuat keruh oleh berbagai persoalan. la akan menjadi sebuah masyarakat yang
hidup dengan hati yang tenteram, jiwa yang tenang, serta memiliki hasrat, dan
keimanan yang kuat.
Ketika Rasulullah saw. pulang ke rumah dalam
keadaan gemetar hatinya setelah menerima wahyu, Khadijah berkata kepada beliau,
"Demi Allah, selamanya Allah tidak akan mencemoohkan engkau. Engkau adalah
orang yang mau memikul beban orang lain, membantu orang-miskin; dan menolong
orang lain yang mengalami kesulitan menuju jalan yang benar.”
Demikianlah, setiap orang yang kebaikannya
sampai kepada orang lain, maka Allah Yang Mahamulia menjadikan orang lain
tersebut merasa segan terhadapnya. Oleh karena itu, kalian harus membiasakan
diri untuk berakhlakul karimah serta mau mendahulukan kepentingan orang lain
daripada kepentingan diri kalian sendiri (itsar). "Dan mereka mengutamakan
orang lain (orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, sekalipun
sebenarnya mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Barangsiapa yang
dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang
beruntung." (Al-Hasyr: 9)
Yang disebut kikir itu bukan hanya kikir
harta saja, akan tetapi ketamakan diri untuk memanfaatkan hartanya melebihi
yang lainnya juga merupakan bentuk kekikiran. Setiap orang pasti tamak untuk
bisa mendapatkan harta yang banyak untuk dirinya semampu mungkin, dan tidak ada
yang dapat menghalanginya untuk mendapatkan keinginannya itu.
لَوْ
كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ تَمَنَّى الثَّالِثَ وَلَوْ كَانَ
لَهُ ثَالِثٌ تَمَنَّى الرَّابِعَ وَلَا يَمْلَأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا
التُّرَابُ .
"Kalau saja anak Adam sudah mempunyai dua
lembah dari emas, tentu ia masih menginginkan yang ketiga. Dan jika telah
mempunyai tiga, tentu ia masih menginginkan yang keempat. Tidak ada yang dapat
memenuhi mulut anak Adam kecuali tanah. "
Manusia memang selaiu saja menuntut yang lebih
banyak dari yang dimiliki orang Iain.
Perhatikanlah Fir'aun! la belum merasa cukup
dengan kerajaan Mesir yang dimilikinya. la masih ingin naik ke langit, dengan
mengatakan kepada Haman, "Hai Haman, buatkan untukku bangunan yang tinggi
supaya aku bisa sampai ke pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhannya
Musa, dan sesungguhnya aku melihat Musa adalah seorang pendusta."
(Al-Mukmin: 36)
Jika Allah telah menjagamu dari kekikiran
dirimu, berarti Dia telah menggiring segala kebaikan untukmu. "Dan barangsiapa
yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang
beruntung.” (At-Taghabun: 16)
Suatu ketika Abu
Thalhah pulang ke rumahnya dengan membawa seorang tamu. la lantas berkata
kepada istrinya, "Itu adalah tamu Rasulullah saw." Istrinya berkata,
"Lalu dari mana kita akan memberinya makan, sedangkan kita
tidak punya apa-apa kecuali cukup buat kita dan anak-anak kita." Abu
Thalhah kemudian berkata, "Kalau begitu kita beri makan anak-anak, lalu
jatah makan untuk kita, kita berikan kepada tamu itu.” Istrinya berkata
kepadanya, "Aduhai, bagus sekalİ pendapatmu." Keduanya pun tidur
malam dalam keadaan lapar. Keesokan harinya Rasulullah saw. bertemu dengannya
lalu bersabda, "Tuhanmu merasa heran terhadap tindakanmu tadi malam."
Kemudİan Allah menurunkan firmanNya, "Dan orang-orang yang telah menempatİ
kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshar) sebelum kedatangan mereka
(kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan
mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan
kepada mereka (kaum Muhajirin); dan mereka mengutamakan orang lain (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang
mereka berikan İtu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka
mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)
Akhlak ini merupakan asas keutamaan dan
kebaikan. Engkau menahan diri dan lebih mendahulukan orang lain. Adapun jika
engkau berbuat untuk kemanfaatan sendiri, bukan untuk orang lain, maka itu
merupakan kegagalan. Oleh karena itu, banyak institusi yang hancur, karena para
personilnya ingin mengambil keuntungan finansal darinya. Institusi-institusi
tidaklah membutuhkan ilmu, peraturan, dan ketertiban sebesar kebutuhannya akan
keikhlasan, pengurbanan, dan itsar. Sctiap kita harus membiasakan diri untuk
berakhlak mulia, sekalipun dalam hal yang kecil-kecil, karena hal itu akan
memberinya nıanfaat dalam hal-hal yang besar.
Kata-kata hikmah menyebutkan,
lika seseorang belum bisa memikul
kezhaliman atas dirinya
Maka tak ada jalan untuk memberikan pujian
kepadanya
Orang-orang Eropa mampu menguasai dunia,
sekalipun mereka berada di atas kebatilan. Itu karena pengalaman mengajari
mereka bagaimana berakhlak dan berbuat itsar serta berkorban, sekalipun hanya
demi umat dan bangsa mereka (bukan demi agama). Khalid bin Walid pernah
berkata, "Carilah kematian, niscaya engkau akan memperoleh
kehidupan."
Ringkasnya, wahai Ikhwan, bahwa fondasi
amaliah dalam melakukan ishlah (perbaikan) adalah:
·
Perbaikan hati (ishlahul-qulub)
·
Adanya rasa tanggung jawab.
Hati harus sensitif seperti timbangan emas
·
Penampilan-penampilan
amaliah (perilaku). Di sini kita harus berhias dengan akhlak-akhlak yang mulia
Di antara akhlak itu adalah
hormat kepada yang tua, berkasih sayang terhadap yang kecil, selalu berbuat
adil dan tidak menuntut keadilan buat dirinya. Ini merupakan induk dari
keutamaan-keutamaan diri.
Nabi saw. pernah bersabda,
لَا
تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا وَقَّرَ صَغِيرُهَا كَبِيرَهَا وَرَحِمَ كَبِيرُهَا
صَغِيرَهَا
"Umatku akan senantiasa dalam keadaan
balk, selama yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda.
"
Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam
kepada junjungan kita Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabatnya.
No comments:
Post a Comment