Tuesday, May 19, 2026

Perbaikan Diri (3) - Haditsu Tsulatsa

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita sampaikan shalawat dan salam kepada penghulu kita, Nabi Muhammad, kepada keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada siapa saja yang menyebarkan dakwahnya hingga hari pembalasan.

Amma ba 'du.

Salamullahi 'alaikum wa rahmatuhu wa barakatuh.

Ceramah pada malam hari ini sebenarnya hendak disampaikan oleh yang mulia Ustadz Syaikh Abdul Azhim Az-Zarqani, dosen Fakultas Ushuluddin, namun beliau ternyata berhalangan. Saya tidak tahu, apakah secara pribadi saya merasa kecewa atau gembira. Namun sebenarnya saya ingin sekali agar kalian dapat mendengar berbagai ceramah yang disampaikan oleh para ulama dan udaba'. Saya menginginkan sekali hal ini. Terlebih lagi saya hendak bepergian. Saya ingin agar Ikhwan sekalian dapat mendengarkan ceramah dari para ulama tersebut pada bulan Rajab dan Sya'ban ini. Sekalipun saya berkeinginan seperti ini, namun terus terang saya tidak bermaksud untuk tidak menyampaikan ceramah kepada Ikhwan sekalian dan bertatap muka dengan kalian di malam yang mudah-mudahan Allah swt. menurunkan berkah, rahmat, dan sakinah-Nya kepada kita semua di sana. Yakni suatu malam di saat Allah mengumpulkan kita dalam rangka melakukan ketaatan kepada-Nya di salah satu rumah Allah. Di dalamnya kita mengkaji Al-Qur'an yang mulİa dan berusaha memahami kandungan isinya.

Rasulullah saw. pernah bersabda,

مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca kitab Allah dan saling mempelajari kandungannya, melainkan ketenangan pasti turun pada mereka, rahmat menyelimuti mereka, para malaikat mengelilingi mereka", dan Allah menyebut mereka di hadapan orang-orang yang berada di sisi-Nya.”

Gedung-gedung Ikhwanul Muslİmİn merupakan rumah-rumah Allah, karena digunakan untuk berdakwah kepada-Nya, mengamalkan Kitab-Nya serta berpegang kepada sunah Rasul-Nya. Dengan demikian ia dapat dikatakan sebagaİ masjid. "Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah." (Al-Jin: 18)

Terus terang, memang saya ingin sekali dapat bertemu dengan kalian pada malam hari ini. Saya berada di antara dua perasaan: perasaan ingin menghidangkan "santapan" yang baru kepada kalian berupa ceramah dari para ulama, serta perasaan ingin senantiasa bisa bertarap muka dengan kalian. İni benar-benar terjadi.

Wa ba'du, Kalaulah saja pada malam hari ini kita hanya saling bertemu dan berta'aruf saja, yang bisa membawa kepada rasa cinta, tentu itu sudah cukup. Dengan modal cinta saja, kita bisa mengurai persoalan-persoalan yang pelik. Dasar darİ cinta ini adalah kelurusan jiwa. Karena sesungguhnya jika jiwa itu rusak, rusaklah segalanya; dan jika jiwa itu baik, ikut baik pula segalanya. Kebaikannya terletakpada kejernihannya, hubungan ruhiahnya, serta keikhlasannya dalam berucap dan beramal. Ikhwan sekalian, saya ingin selalu mengingat,kan kembali bahwa nilai-nilai ini harus benar-benar tertancap. Sebab, jika jiwa kalian bersih, ruhani kalian bersambung, dan kalian juga dapat berbuat ikhlas kepada Allah dalam amalan dan ucapan kalian, percayalah bahwa kita akan dapat meraih kebaikan yang banyak. Tiada arti cinta kecuali ini. Islam tidaklah datang kecuali untuk menyatukan manusia di atas cinta dan kebenaran. " (Tetaplah atas) fitrah Allah, yang telah mènciptakan manusia menurut fitrah itu." (Ar-Rum: 30)

Kajian mengenai ini berkaitan dengan pembicaraan kita sebelumnya. Kalian tentu masih ingat bahwa kita telah berbicara tentang serial mengenai akhlak dan orientasi-orientasi spiritual. Kita bisa mengaitkan antara apa yang kita dengar dengan apa yang akan kita katakan. Saya ingin mengingatkan dan mengajak kalian untuk meyakini bahwa akhlak dan nilai-nilai moralitas amaliah kenyataannya merupakan asas kebaikan (shalah), kehidupan yang baik dan seterusnya, baik dalam skala individu maupun umat. Jika seseorang ingin menjadi baik (shalih), hendaklah ia memperbaiki jiwa dan akhlaknya. Jika suatu komunitas orang ingin menjadi baik, hendaklah mereka memperbaiki jiwa dan akhlak mereka. Dan jika suatu umat ingin agar menjadi baik dan kokoh, maka hendaklah umat itu memulai dengan mengadakan perbaikan hati, kemudian memperbaiki akhlak. Tentang perbaikan individu, Al-Qur'an mengatakan, "Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya." (Asy-Syams: 7-8)

Allah swt. sampai bersumpah demi jiwa manusia, dan setelah itu mengatakan bahwa Dia mernberikan ilham kepada jiwa itu mengenai kefasikan jiwa dan ketaqwaannya, sebagaimana juga Allah berfirman, "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (yaitu kebajikan dan kejahatan)." (Al-BaIad: 10) Kemudian Allah mengemukakan hasilnya dengan berfirman, "Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Asy-Syams: 9-10)

Tentang kebaikan dan kerusakan umat, Allah swt. berfirman di dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Ar-Ra'd: 11) Ini dikuatkan lagi dengan firmanNya, "Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, sehingga kaum itu mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (Al-Anfal: 53)

Kebaikan jiwa merupakan kebaikan umat, dan mengubah jiwa berarti mengubah umat. Oleh karena itu, Al-Qur'an menegaskan arti nilai tersebut. Banyak sekali hadits yang menjelaskan bahwa asas kebaikan dan kerusakan terdapat pada kekokohan akhlak. Sampai-sampai Nabi saw. berkata bahwa seutama-utama amal terletak pada akhlak yang baik.

Diriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah saw. lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Akhlak yang baik!" Lantas ia mendatangi beliau lagi dari arah kanan seraya bertanya, "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Akhlak yang baik." Kemudian ia mendatangi beliau dari arah kiri dan bertanya lagi, "Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama?" Maka Rasulullah saw. menoleh kepadanya seraya bersabda, "Mengapa kamu tidak juga paham? Akhlak yang baik. Yaitu, kalau engkau mampu, janganlah engkau marah."

Nabi saw. menganjurkan akhlak yang baik serta menjelaskan bahwa kebahagiaan seseorang terletak pada kebaikan akhlaknya. Nabi saw. , bersabda,

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا، الْمُوَطَّؤُونَ أَكْنَافًا، الَّذِينَ يَأْلَفُونَ وَيُؤْلَفُونَ، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ الْمَشَّاؤُونَ بِالنَّمِيمَةِ، الْمُفَرِّقُونَ بَيْنَ الْأَحِبَّةِ، الْمُلْتَمِسُونَ لِلْبُرَآءِ الْعَنَتَ

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya; yang rendah hati; dan yang akrab lagi mudah diakrabi. Sedangkan orang yang paling aku benci di antara kalian adalah orang yang ke mana-mana -menebar fitnah, yang memecah belah orang-orang yang saling mencintai; dan yang suka mencaricari cacat orang yang bersih.”

Akhlak yang baik merupakan pilar yang kokoh di dalam membangun umat, individu, dan jamaah. Allah swt. telah menjadikannya mudah, dan tidak sulit. Nabi saw. bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَيْسَرِ الْعِبَادَةِ وَأَهْوَنِهَا عَلَى الْبَدَنِ؟ الصَّمْتُ وَحُسْنُ الْخُلُقِ

"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang ibadah yang paling mudah serta paling ringan bagi badan? Yaitu diam dan berakhlak yang baik. "

Oleh karena itu, Allah swt. memberikan pujian kepada kekasih-Nya, Muhammad saw., ihwal kekokohan akhlaknya. Allah swt. berfirman, "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung." (Al-Qalam: 4)

Nilai semacam ini harus bersarang di dalam jiwa kita. Kita harus dapat merasakan kenikmatan akhlak yang baik, sehingga dada akan terasa lapang dan jiwa akan terasa segar. Nabi saw. bersabda,

إِنَّ الْإِيمَانَ إِذَا دَخَلَ الْقَلْبَ انْشَرَحَ لَهُ الصَّدْرُ وَانْفَسَحَ

"Sesungguhnya iman itu jika telah masuk ke dalam hati, maka dada akan merasa lapang dan segar,"

Jika engkau belum dapat merasakan nikmatnya akhlak yang baik, berarti engkau tidak mampu melakukan akhlak yang mulia, dan engkau tidak mungkin dapat menilai keagungannya. Bait syair bertutur:

Dakwaan-dakwaan yang tanpa bukti sebagai penopangnya,

maka pendakwanya itulah sang terdakwa

Jika engkau meyakini suatu aqidah namun tidak tampak dalam perilakumu, maka itu merupakan aqidah yang sebenarnya belum engkau imani. Misalkan ada firman Allah swt., "Mahasuci Allah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada-Nyalah kalian dikembalikan." (Yasin: 83)

Ini merupakan aqidah. Nah, seumpama engkau ditimpa suatu petaka dan engkau tidak mampu bersabar menghadapinya, maka ketahuilah bahwa sebenarnya aqidah belum tertancap di dalam jiwamu, dan keimanan mengenai hal itu masih lemah.

Rasulullah saw. bersabda,

عَجِبْتُ لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ لَهُ، وَلَيْسَ ذَلِكَ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.

"Sangat mengagumkan keadaan orang-orang beriman, karena segala keadaan yang dialaminya baik ädanya, dan hal itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Yaitu, jika mendapat nikmat maka ia bersyukur dan itu baik baginya; sedangkan apabila mendapat kesusahan maka ia bersabar, dan sabar itu baik baginya."

Dampak dari aqidah itu harus muncul di dalam ucapan dan amal perbuatan. Pembicaraan mengenai akhlak yang baik terdapat dalam berbagai kitab. Akan tetapi, - yang lebih penting - harus ada kesadaran dan sensitivitas hati. Karena sesungguhnya hati yang mati bagaikan cermin yang sudah karatan yang tidak dapat menampakkan sesuatu, dan orang yang bercermin pun tak dapat kelihatan. Adapun hati yang bersinar itu bagaikan timbangan yang sensitif, yang ketika dibebani sedikit saja sudah kelihatan berat benda yang ditimbang. Oleh karena itu, engkau harus menjernihkan hatimu sampai semua karat yang menempel dapat hilang, sehingga hatimu menjadi sensitif. Dasar amaliahnya adalah, engkau jadikan akhlak yang utama itu sebagai batas pemisah, dengannya engkau akan menentukan pijakan dan tidak akan melangkah menuju selainnya. Ini tentunya menuntut kalian untuk berkorban dengan jiwa, harta, dan kesehatanmu dalam rangka mewujudkannya. Engkau juga harus dapat berbuat adil terhadap orang lain, dan tidak menunrut keadilan dari orang lain terhadap dirimu. Jika engkau telah melakukan hal itu, maka percayalah bahwa engkau adalah manusia yang paling baik akhlaknya dan paling dicintai oleh mereka.

Saya bawakan sebuah contoh. Seseorang mengendarai mobil, lalu ia menabrak seseorang tanpa ada satu orang pun yang melihat kejadian itu. la bisa saja meneruskan perjalanannya dan membiarkan orang yang tertabrak itu menderita. Akan tetapi akhlak yang mulia tidaklah demikian. la akan menolong orang yang terkena musibah itu sedapat mungkin, lalu membawanya ke tempat yang semestinya. Tidak menjadi soal setelah itu apakah ia dimintai tanggung jawab atau tidak. Yang penting ia telah melaksanakan kewajiban, selesai.

Itulah dia "sulfur merah" yang jarang wujudnya. di mana telah banyak pribadi semisalnya, ketika itulah umat akan maju, sehingga seseorang akan mempersernbahkan sesuatu lebih banyak daripada yang dia ambil.

Dikisahkan bahwa Qutaibah bin Muslim ketika sampai di perbatasan Cina, mengirim utusan kepada rajanya. Ketika para utusan itu sampai di hadapan raja dan memberikan laporan keberadaannya, ternyata sang raja meremehkan keberadaan mereka. Raja berkata kepada utusan itu, "Kembalilah kepada tuan kalian dan katakanlah kepadanya agar dia kernbali saja. Saya sudah tahu akan ketamakannya, sekali pun dengan sedikitnya pengikut yang ia miliki. Kalau tidak mau, aku akan mengirimkan tentara untuk menghancurkan kalian." Para utusan itu méngatakan, "Bagaimana bisa dikatakan sedikit pengikutnya, sementara kuda pertamanya terdapat di negerimu dan kuda terakhirnya terdapat di tempat tumbuhnya pohon Zaitun. Bagaimana bisa dikatakan tamak, orang yang meninggalkan dunia padahal mampu meraihnya, dan ia malah melawanmu? Adapun intimidasi yang kamu lakukan terhadap kami dengan hendak membunuh kami, maka ketahuilah bahwa kami sudah memiliki ajal yang jika telah datang, Allah akan memuliakan kami dengan mati syahid, dan kami sama sekali tidak benci dan tidak takut mati." Raja itu kemudian bertanya, "Lalu apa yang dapat memuaskan tuan kalian?" Utusan itu menjawab, "Sesungguhnya ia telah bersumpah untuk tidak akan kembali sehingga menginjak bumi (tanah) kalian dan menyetempel kerajaan kalian serta mengambil jizyah dari kalian." Sang Raja berkata, "Baiklah, saya akan mengeluarkannya dari sumpahnya itu. Kami akan mengirimkan tanah bumi kami agar ia bisa menginjaknya, kami kirim anak buah kami agar ia bisa 'menyetempel' mereka, dan kami akan mengirimkan jizyah yang ia kehendaki.” Lalü sang Raja meminta agar disiapkan piring yang terbuat dari emas yang diisi dengan tanah, lalu mengirimkannya kepada Qutaibah dengan sutera, emas, dan empat pemuda dari anak buah kerajaan. Kemudian Raja memberikan mandat kepada para pemuda itu. Mereka ini akhirnya tiba di hadapan Qutaibah, lalu Qutaİbah pun menerİma jizyah, menyetempel para pemuda ini, dan menginjak tanah tersebut,

Masih tentang Qutaibah. Pernah suatu hari ia didatangi oleh seorang Arab dusun, yang dengan membawa pedangnya ia hendak meminta sesuatu. la meletakkan pedangnya hingga ujung pedang itu mengenai jari-jari kaki Qutaibah, lalu ia meminta keperluannya. Qutaibah diam saja tanpa menunjukkan rasa sakit. Ketika keperluan si Arab dusun itu telah selesai, Qutaibah lantas mengangkat kakinya, dan ternyata darah telah mengalir darİ jari-jari kakinya. Dİtanyakan kepadanya, "Mengapa engkau tidak melarangnya?" la menjawab, "Aku tidak ingin memutus pembicaraannya, sehingga aku membuatnya takut.”

Ibrahim bin Adham pernah menemani seseorang dalam safarnya. Namun hanya ada satu hewan tunggangan untuk keduanya, sehingga harus bergantian dalam menaikinya. Di tengah perjalanan, hewan kendaraan itu dijual, sehingga keduanya harus berjalan kaki. Ketika temannya itu letih, maka ibrahim membawa di atas pundaknya sejauh enam farsakh. (1 farsakh kurang lebih 8 km)

Perilaku semacam ini merupakan salah satu bentuk dari akhlak yang mulia. Masyarakat yang di dalamnya terdapat orang-orang semacam itu adalah masyarakat yang utama, yang kejernihannya tidak akan dapat dibuat keruh oleh berbagai persoalan. la akan menjadi sebuah masyarakat yang hidup dengan hati yang tenteram, jiwa yang tenang, serta memiliki hasrat, dan keimanan yang kuat.

Ketika Rasulullah saw. pulang ke rumah dalam keadaan gemetar hatinya setelah menerima wahyu, Khadijah berkata kepada beliau, "Demi Allah, selamanya Allah tidak akan mencemoohkan engkau. Engkau adalah orang yang mau memikul beban orang lain, membantu orang-miskin; dan menolong orang lain yang mengalami kesulitan menuju jalan yang benar.”

Demikianlah, setiap orang yang kebaikannya sampai kepada orang lain, maka Allah Yang Mahamulia menjadikan orang lain tersebut merasa segan terhadapnya. Oleh karena itu, kalian harus membiasakan diri untuk berakhlakul karimah serta mau mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri kalian sendiri (itsar). "Dan mereka mengutamakan orang lain (orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, sekalipun sebenarnya mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)

Yang disebut kikir itu bukan hanya kikir harta saja, akan tetapi ketamakan diri untuk memanfaatkan hartanya melebihi yang lainnya juga merupakan bentuk kekikiran. Setiap orang pasti tamak untuk bisa mendapatkan harta yang banyak untuk dirinya semampu mungkin, dan tidak ada yang dapat menghalanginya untuk mendapatkan keinginannya itu.

لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ ذَهَبٍ تَمَنَّى الثَّالِثَ وَلَوْ كَانَ لَهُ ثَالِثٌ تَمَنَّى الرَّابِعَ وَلَا يَمْلَأُ عَيْنَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ .

"Kalau saja anak Adam sudah mempunyai dua lembah dari emas, tentu ia masih menginginkan yang ketiga. Dan jika telah mempunyai tiga, tentu ia masih menginginkan yang keempat. Tidak ada yang dapat memenuhi mulut anak Adam kecuali tanah. "

Manusia memang selaiu saja menuntut yang lebih banyak dari yang dimiliki orang Iain.

Perhatikanlah Fir'aun! la belum merasa cukup dengan kerajaan Mesir yang dimilikinya. la masih ingin naik ke langit, dengan mengatakan kepada Haman, "Hai Haman, buatkan untukku bangunan yang tinggi supaya aku bisa sampai ke pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhannya Musa, dan sesungguhnya aku melihat Musa adalah seorang pendusta." (Al-Mukmin: 36)

Jika Allah telah menjagamu dari kekikiran dirimu, berarti Dia telah menggiring segala kebaikan untukmu. "Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (At-Taghabun: 16)

Suatu ketika Abu Thalhah pulang ke rumahnya dengan membawa seorang tamu. la lantas berkata kepada istrinya, "Itu adalah tamu Rasulullah saw." Istrinya berkata, "Lalu dari mana kita akan memberinya makan, sedangkan kita tidak punya apa-apa kecuali cukup buat kita dan anak-anak kita." Abu Thalhah kemudian berkata, "Kalau begitu kita beri makan anak-anak, lalu jatah makan untuk kita, kita berikan kepada tamu itu.” Istrinya berkata kepadanya, "Aduhai, bagus sekalİ pendapatmu." Keduanya pun tidur malam dalam keadaan lapar. Keesokan harinya Rasulullah saw. bertemu dengannya lalu bersabda, "Tuhanmu merasa heran terhadap tindakanmu tadi malam." Kemudİan Allah menurunkan firmanNya, "Dan orang-orang yang telah menempatİ kota Madinah dan telah beriman (yaitu kaum Anshar) sebelum kedatangan mereka (kaum Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin); dan mereka mengutamakan orang lain (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan İtu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung." (Al-Hasyr: 9)

Akhlak ini merupakan asas keutamaan dan kebaikan. Engkau menahan diri dan lebih mendahulukan orang lain. Adapun jika engkau berbuat untuk kemanfaatan sendiri, bukan untuk orang lain, maka itu merupakan kegagalan. Oleh karena itu, banyak institusi yang hancur, karena para personilnya ingin mengambil keuntungan finansal darinya. Institusi-institusi tidaklah membutuhkan ilmu, peraturan, dan ketertiban sebesar kebutuhannya akan keikhlasan, pengurbanan, dan itsar. Sctiap kita harus membiasakan diri untuk berakhlak mulia, sekalipun dalam hal yang kecil-kecil, karena hal itu akan memberinya nıanfaat dalam hal-hal yang besar.

Kata-kata hikmah menyebutkan,

lika seseorang belum bisa memikul kezhaliman atas dirinya

Maka tak ada jalan untuk memberikan pujian kepadanya

Orang-orang Eropa mampu menguasai dunia, sekalipun mereka berada di atas kebatilan. Itu karena pengalaman mengajari mereka bagaimana berakhlak dan berbuat itsar serta berkorban, sekalipun hanya demi umat dan bangsa mereka (bukan demi agama). Khalid bin Walid pernah berkata, "Carilah kematian, niscaya engkau akan memperoleh kehidupan."

Ringkasnya, wahai Ikhwan, bahwa fondasi amaliah dalam melakukan ishlah (perbaikan) adalah:

·       Perbaikan hati (ishlahul-qulub)

·       Adanya rasa tanggung jawab. Hati harus sensitif seperti timbangan emas

·       Penampilan-penampilan amaliah (perilaku). Di sini kita harus berhias dengan akhlak-akhlak yang mulia

Di antara akhlak itu adalah hormat kepada yang tua, berkasih sayang terhadap yang kecil, selalu berbuat adil dan tidak menuntut keadilan buat dirinya. Ini merupakan induk dari keutamaan-keutamaan diri.

Nabi saw. pernah bersabda,

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا وَقَّرَ صَغِيرُهَا كَبِيرَهَا وَرَحِمَ كَبِيرُهَا صَغِيرَهَا

"Umatku akan senantiasa dalam keadaan balk, selama yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda. "

Semoga Allah mencurahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, juga kepada keluarga dan sahabatnya.

 

No comments:

Post a Comment