Hadits Keempat Puluh
«عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي،
فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ. وَكَانَ
ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: إِذَا أَمْسَيْتَ، فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا
أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ،
وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ» رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ
Dari
Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma yang berkata, "Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang bahuku kemudian bersabda,
‘Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pelintas jalan'. Ibnu Umar berkata, “jika
engkau berada di sore hari, engkau jangan menunggu pagi hari. Jika engkau
berada di pagi hari, engkau jangan menunggu sore hari. Gunakan kesehatanmu untuk sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu". (Diriwayatkan
Al-Bukhari). [1]
Hadits bab ini diriwayatkan Al-Bukhari dari Ali bin Al-Madini yang
berkata, Muhammad bin Abdurrahman Ath-Thafawi berkata kepadaku,
Al-A'masy berkata kepadaku, Mujahid berkata kepadaku dari Ibnu Umar Radhiyallahu
Anhuma yang kemudian menyebutkan hadits tersebut. Banyak hafidz
hadits mempersoalkan perkataan, "Mujahid berkata kepadaku”. Mereka berkata,
"Itu tidak benar”. Mereka juga menolak itu dilakukan Ibnu Al-Madini. Mereka
berkata, "Al-A’masy tidak mendengar hadits tersebut dari Mujahid, namun
mendengarnya dari Laits bin Abu Sulaim. Ini dikatakan Al-Uqaili [2]) dan lain-lain.
Hadits tersebut juga diriwayatkan At-Tirmidzi [3]) dari
Laits dari Mujahid. At-Tirmidzi menambahkan di haditsnya, "Anggaplah
dirimu termasuk penghuni kuburan”. At-Tirmidzi juga menambahkan, 'Karena
engkau, wahai Abdullah, barangkali tidak tahu apa namamu besok".
Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Majah tanpa menyebutkan perkataan
Ibnu Umar. Imam Ahmad dan An-Nasai meriwayatkan hadits Al-Auzai dari Abdah bin Abu Lubabah
dari Ibnu Umar Rodhiyallahu Anhuma yang berkata, "Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam memegang sebagian
tubuhku kemudian bersabda, Beribadahlah
kepada Allah seperti engkau melihat-Nya dan jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pelintas jalan”. [4]) Abdah
bin Abu Lubabah pernah melihat Ibnu Umar, namun ada perbedaan pendapat apakah ia mendengar hadits tersebut darinya
atau tidak.
Hadits bab ini merupakan landasan tentang pendeknya angan-angan di
dunia dan orang Mukmin tidak pantas menjadikan dunia sebagai tempat domisili
yang ia tenteram di dalamnya, namun seyogyanya ia menganggap
hidup di dunia ini seperti orang yang sedang bersiap-siap untuk bepergian. Ya,
ia menyiapkan perbekalannya untuk
bepergian.
Ini sesuai dengan wasiat-wasiat para nabi dan para pengikut mereka.
Allah Ta'ala berfirman mengisahkan tentang orang
beriman dari keluarga Fir'aun yang berkata,
"Ha,, kaumku,
sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara)
dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal”. (Ghafir:
39).
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
"Apa
urusanku dengan dunia? Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan dunia ialah seperti pengembara yang tidur siang di naungan pohon; ia istirahat kemudian meninggalkannya”. [5])
Di antara wasiat Nabi Isa Alaihis-Salam kepada
sahabat-sahabat beliau bahwa beliau berkata kepada mereka, "Seberangilah dunia
dan kalian jangan memakmurkannya”.
Juga diriwayatkan dari Nabi Isa Alaihis-Salam yang berkata,
"Siapakah yang membangun rumah di atas gelombang laut? Itulah dunia,
karenanya, kalian jangan menjadikannya
sebagai tempat domisili”. [6])
Seseorang masuk ke tempat Abu Dzar kemudian mengarahkan pandangannya ke
rumah Abu Dzar. Orang tersebut berkata, "Hai Abu Dzar, mana
perabotanmu?" Abu Dzar berkata, "Kita mempunyai rumah yang sedang
kita tuju”. Orang tersebut berkata, "Engkau harus mempunyai
perabotan selama engkau berada di sini”. Abu Dzar berkata, "Sesungguhnya pemilik
'rumah' tidak meninggalkan kami di dalamnya”.
Orang-orang memasuki rumah salah seorang shalih dan mengarahkan pandangan
ke rumah orang shalih tersebut. Mereka berkata, "Kami lihat rumahmu seperti
rumah orang yang akan bepergian”. Orang shalih tersebut berkata, "Apa seperti rumah orang yang akan
bepergian? Tidak, namun aku diusir darinya”.
Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berkata, "Sesungguhnya
dunia telah pergi dengan mundur sedang akhirat pergi dengan maju.
Masing-masing dari dunia dan
akhirat mempunyai anak-anak, karenanya, hendaklah kalian menjadi anak-anak akhirat dan kalian jangan menjadi anak-anak
dunia, karena hari ini adalah hari amal
tanpa hisab di dalamnya, sedang kelak adalah hari hisab tanpa amal di dalamnya”.
Salah seorang bijak berkata, "Aku heran kepada orang-orang, sedang
dunia berpaling
darinya dan akhirat datang kepadanya. Ia lebih sibuk dengan sesuatu yang mundur darinya (dunia) dan berpaling dari
sesuatu yang maju kepadanya (akhirat)”.
Umar bin Abdul
Aziz berkata di khutbahnya, "Sesungguhnya dunia bukan negeri tetap bagi
kalian, karena Allah telah menetapkan kehancuran baginya dan memutuskan kepergian bagi penghuninya. Betapa
banyak penghuni yang dipercayai tidak
lama lagi hancur dan betapa banyak orang mukim yang bergembira tidak lama lagi akan pergi. Karena itu, hendaklah kalian
- semoga Allah merahmati kalian - memperbaiki kepergian kalian darinya
dengan kendaraan paling baik yang ada pada
kalian dan berbekallah, sesungguhnya bekal paling baik ialah takwa”. [7])
Jika dunia bukan negeri domisili dan tempat tetap bagi orang Mukmin, maka orang Mukmin di dalamnya
harus bersikap salah satu dari sikap;
Pertama, seperti orang asing yang menetap di negeri asing dan
obsesinya ialah mencari bekal untuk pulang ke tanah airnya.
Kedua, seperti orang asing yang tidak menetap sama sekali, namun
pada malam dan siangnya ia berjalan menuju negeri abadi. Oleh karena itu,
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat
kepada Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma agar ia di dunia ini berada di
antara salah satu dari kedua sikap berikut;
Pertama: Orang Mukmin menempatkan dirinya di dunia ini seperti
orang asing dan ia membayangkan bisa menetap, namun di negeri asing. Hatinya
tidak menyatu dengan negeri asing tersebut namun menyatu dengan tanah airnya,
tempat ia kembali kepadanya. Ia bermukim di dunia untuk
menyelesaikan tujuan persiapannya
untuk pulang ke tanah airnya. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Orang Mukmin
di dunia itu galau dan sedih. Obsesinya ialah menyelesaikan perbekalannya”.
Barangsiapa di dunia dalam keadaan seperti itu, ia tidak mempunyai
obsesi selain
mencari bekal dengan sesuatu yang bermanfaat baginya untuk kepulangannya ke tanah airnya, tidak bersaing dengan
penduduk negeri yang ia asing dalam kejayaan
mereka, dan tidak berkeluh-kesah dengan kehinaan di tengah-tengah mereka.
Al-Hasan berkata, "Orang Mukmin di dunia itu seperti orang asing yang
tidak berkeluh-kesah karena kehinaan di dalamnya dan tidak bersaing memperebutkan kejayaannya. Ia mempunyai urusan sedang
manusia lainnya mempunyai urusan yang lain”.
Ketika Nabi Adam Alaihis-Salam
dan istrinya ditempatkan di surga kemudian diturunkan darinya, maka
keduanya dan anak keturunan keduanya yang shalih dijanjikan dikembalikan kepadanya.
Jadi, orang Mukmin yang selalu merindukan tanah air pertamanya dan mencintai
tanah air, hal seperti ini termasuk iman, seperti dikatakan
salah seorang penyair,
'Betapa banyak tempat disenangi pemuda
Namun kerinduannya selalu ke tempat pertamanya”.
Salah seorang
guru kami [8])
berkata,
"Mari ke surga surga Aden
Karena surga-surga Aden adalah tempatmu yang pertama
dan di dalamnya terdapat
kemah-kemah
Namun kita adalah tawanan musuh
Duhai, kita kembali ke tanah air kita dan mengucapkan salam
Mereka menduga bahwa jika orang asing jauh
Dan tanah airnya jauh darinya, maka ia merugi
Adakah keterasingan di atas keterasingan kita
Di mana para musuh menjadi berkuasa atas kita?"
Atha' As-Sulami berkata dalam doanya, "Ya Allah, rahmatilah
keterasinganku di dunia, rahmatilah ketakutanku di kubur, dan
rahmatilah berdiriku kelak di hadapan-Mu”. [9])
Al-Hasan berkata, disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat,
"Sesungguhnya perumpamaanku dan kalian dengan dunia ialah seperti
kaum yang melintasi padang pasir. Ketika mereka tidak tahu
sebagian besar perjalanan yang telah mereka lalui atau perjalanan yang masih
tersisa, mereka kehabisan perbekalan, letih,
dan berada di antara tepi padang
pasir tersebut tanpa perbekalan dan
muatan. Mereka semua yakin mati. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba keluarlah pada mereka seseorang
yang mengenakan pakaian dan kepalanya meneteskan air. Mereka berkata,
'Orang ini baru datang dari perkampungan dan ia tidak datang kepada kalian
kecuali dari tempat dekat. 'Ketika orang
tersebut tiba di tempat mereka, ia berkata, ‘Ada apa dengan kalian?' Mereka berkata, 'Seperti yang engkau
lihat sendiri'. Orang tersebut berkata, ‘Bagaimana pendapat kalian
jika aku tunjukkan kalian ke air
segar dan taman-taman hijau, apa yang akan kalian kerjakan?' Mereka berkata, 'Kami tidak akan membangkang
sedikit pun kepadamu'. Orang tersebut berkata, ‘Perjanjian kalian dengan
Allah'. Mereka pun memberikan
perjanjian dengan Allah kepada orang tersebut bahwa mereka tidak akan
membangkang sedikit pun kepadanya. Kemudian orang tersebut mengantar mereka ke air segar dan taman-taman
hijau. Orang tersebut menetap bersama
mereka beberapa lama seperti yang dikehendaki Allah kemudian berkata, 'Hai manusia, mari kita berangkat'.
Mereka berkata, 'Ke mana?' Orang
tersebut berkata, 'Ke air yang bukan seperti air kalian dan taman yang
bukan seperti taman kalian'. Orang-orang terkemuka dari mereka dan berjumlah mayoritas berkata, ‘Demi Allah, itu
tidak kami dapatkan bahkan kami menduga
bahwa kami mustahil mendapatkannya dan kami tidak bisa membuat kehidupan
yang lebih baik daripada kehidupan sekarang ini'. Sekelompok
dari mereka dan mereka minoritas berkata, 'Bukankah kalian telah memberikan perjanjian kalian dengan
Allah kepada orang ini bahwa kalian
tidak akan membangkang sedikit pun kepadanya? Sungguh, ia berkata benar kepada kalian pada awal
perkataanya dan demi Allah ia akan berkata benar kepada kalian pada
akhir perkataannya'. Akhirnya orang tersebut
berangkat dengan orang-orang yang mengikutinya sedang orang-orang lainnya tidak berangkat. Tiba-tiba musuh
berhenti di tempat orang-orang yang
tidak berangkat tersebut kemudian mereka menjadi di antara tawanan dan korban”.
(Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya). [10]
Hadits semakna
diriwayatkan Imam Ahmad secara ringkas dari Ali bin Zaid bin Jud'an dari Yusuf
bin Mihran dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu
Alailu wa Sallam. [11])
Perumpamaan di
atas sangat sinkron dengan kondisi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
bersama umat beliau. Ketika beliau datang kepada mereka, saat itu orang-orang
Arab adalah manusia paling hina, paling minoritas, paling buruk kehidupannya di
dunia dan akhirat. Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajak
mereka meniti jalan keselamatan dan petunjuk-petunjuk kejujuran beliau terlihat
oleh mereka sebagaimana terlihatnya kejujuran orang yang datang kepada kaum di
padang pasir di hadits di atas ketika kaum tersebut kehabisan perbekalan dan
punggung mereka letih kemudian orang tersebut datang dengan mengenakan pakaian
dan kepalanya meneteskan air. Ia tunjukkan kaum tersebut ke air dan taman yang
hijau. Di sisi lain, orang-orang Arab melihat kejujuran sabda Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam melalui penampilan dan sikap beliau, karenanya mereka
mengikuti beliau. Beliau menjanjikan kepada orang-orang yang mengikuti beliau
tentang penaklukan Persia dan Romawi dan pengambilan gudang-gudang kedua negeri
tersebut. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang mereka tertipu oleh
itu semua dan memerintahkan mereka melintasi dunia dengan berjalan, serius,
bersungguh-sungguh untuk mencari akhirat, dan membuat persiapan untuknya.
Mereka melihat apa yang beliau janjikan itu terbukti terjadi. Ketika dunia
ditaklukkan bagi mereka, sebagian besar manusia sibuk mengumpulkan dan
menyimpannya, bersaing di dalamnya, ridha menetap di dalamnya, bersenang-senang
dengan seluruh pesonanya, dan meninggalkan persiapan untuk akhirat yang beliau
perintahkan kepada mereka dengan sungguh-sungguh dan serius untuk mendapatkannya.
Sekelompok kecil manusia menerima pesan beliau untuk serius dan
bersungguh-sungguh dalam mencari akhirat dan bersiap-siap untuknya. Kelompok
minoritas tersebut selamat dan menyusui nabi mereka karena mereka meniti jalan
beliau di dunia, menerima pesan beliau, dan melaksanakan apa yang beliau
perintahkan. Sedang sebagian besar manusia, mereka masih berada dalam sekarat
dunia dan memperkaya diri, akibatnya, hal tersebut melupakan mereka dari
akhirat hingga mereka didatangi kematian dengan tiba-tiba dalam keadaan tertipu
seperti itu. Mereka pun binasa dan menjadi di antara tawanan dan korban.
Sungguh indah apa yang dikatakan Yahya bin Muadz Ar-Razi, "Dunia
adalah minuman keras syetan. Barangsiapa teler dengannya, ia
tidak siuman kecuali di barak orang-orang yang telah meninggal dalam keadaan
menyesal bersama orang-orang yang rugi”.
Kedua: Orang Mukmin menempatkan dirinya di dunia seperti musafir
yang tidak pernah mukim di satu tempat, namun tetap berjalan melintasi
tempat-tempat perjalanan hingga perjalanannya terhenti di tempat
tujuan, yaitu kematian. Barangsiapa sikapnya seperti ini di dunia, obsesinya ialah
mencari bekal untuk perjalanan dan tidak berobsesi memperkaya diri dengan perhiasan
dunia. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berwasiat
kepada sejumlah orang dari para sahabat agar bekal mereka dari dunia seperti bekal
pengembara.
Dikatakan kepada Muhammad bin Wasi', "Bagaimana khabarmu pagi
ini?" Muhammad bin Wasi' berkata, "Apa komentarmu tentang
seseorang yang berjalan setiap hari melintasi tahapan ke akhirat?". [12])
Al-Hasan berkata, "Engkau tidak lebih dari kumpulan hari-hari. Jika
satu hari berlalu maka sebagian darimu telah berlalu”. Al-Hasan
juga berkata, "Hai anak keturunan Adam, engkau berada di antara dua
kendaraan yang mengantarkanmu. Siang mengantarkanmu kepada malam dan malam
mengantarkanmu kepada siang hingga kedua kendaraan tersebut; siang dan malam,
menyerahkanmu kepada akhirat. Hai anak keturunan Adam, siapakah yang lebih
besar nilainya dari engkau?" [13])
Al-Hasan juga berkata, "Kematian diikat di ubun-ubun kalian dan
dunia dilipat dari belakang kalian”.
Daud Ath-Thai
berkata, "Sesungguhnya malam dan siang adalah tahapan-tahapan, sedang manusia berhenti padanya tahap
demi tahap hingga mereka tiba di akhir
perjalanan mereka. Jika engkau mampu menyiapkan perbekalan di setiap tahapan
untuk tahapan berikutnya, kerjakanlah, karena akhir perjalanan itu dekat dan apakah akhir perjalanan itu? Urusannya lebih
cepat dari ini semua, karenanya cari
bekal untuk perjalananmu dan selesaikan urusanmu yang ingin engkau selesaikan
seperti engkau diserang perkara secara tiba-tiba”. [14])
Salah seorang dari generasi salaf menulis surat kepada saudaranya. Di suratnya,
ia berkata, "Saudaraku, bayangkan engkau bermukim atau engkau terus-menerus
berjalan. Engkau dituntun dengan penuntunan yang buruk, kematian diarahkan
kepadamu, dan dunia dilipat dari belakangmu. Usiamu yang telah berlalu tidak
kembali lagi kepadamu hingga hari ditampakkannya seluruh kesalahan (Hari Kiamat) dikembalikan
kepadamu”.
Salah seorang penyair berkata,
'Jalanmu di
dunia ialah jalannya musafir
Karenanya, dibutuhkan bekal bagi semua musafir
Manusia harus membawa perbekalan
Apalagi jika ia takut serangan orang ke perkara”.
Orang bijak berkata, "Bagaimana bahagia dengan dunia orang yang
harinya menghabiskan
bulannya, bulannya menghabiskan tahunnya, dan tahunnya menghabiskan umurnya?
Bagaimana bisa bahagia dengan dunia orang yang dituntun usianya kepada ajalnya dan dituntun kehidupannya kepada kematian?"
Al-Fudhail bin Iyadh berkata kepada seseorang, "Berapa
usiamu?" Orang tersebut menjawab, "Enam puluh tahun”. Al-Fudhail
bin Iyadh berkata, "Kalau begitu, sejak enam puluh tahun yang silam, engkau berjalan
kepada Tuhanmu dan tidak lama lagi engkau tiba kepada-Nya”. Orang tersebut
berkata, "Innaa lillahi wa innaa
ilaihi raajiun”. Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Tahukah engkau
penafsiran ucapanmu tadi? Penafsirannya, aku hamba Allah dan aku
kembali kepada-Nya. Barangsiapa mengetahui ia hamba Allah dan ia kembali
kepada-Nya, hendaklah ia mengetahui bahwa dirinya diberdirikan. Barangsiapa
mengetahui bahwa dirinya diberdirikan,
hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan ditanya. Barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya, hendaklah ia
menyiapkan jawaban pertanyaannya”. Orang tersebut berkata, "Apa
triknya?" Al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Sederhana sekali”. Orang
tersebut berkata, "Apa itu?" Al-Fudhail bin Iyadh berkata,
"Engkau memperbaiki umur yang masih ada, niscaya dosa-dosa silammu
diampuni, karena jika engkau berbuat
salah di sisa usia maka engkau disiksa karena dosa-dosa silam dan dosa-dosa
sekarang”. Tentang makna ini, salah seorang ulama berkata,
"Sesungguhnya seseorang telah berjalan enam puluh tahun
Ke tempat minumnya yang sudah dekat”.
Orang bijak berkata, "Barangsiapa malam dan siang menjadi
kendaraannya, maka kendaraannya tersebut berjalan dengannya kendati ia
tidak berjalan”.
Penyair berkata,
"Hari-hari ini tidak lain adalah tahapan-tahapan
Yang dihimbau
oleh penyeru kepada kematian
Yang paling
aneh jika Anda berpikir- bahwa hari-hari itu
Adalah tempat-tempat yang dilipat dan musafirnya duduk”. [15])
Penyair lain berkata,
'Duhai celaka diriku karena siang yang menuntunnya
Ke barak
kematian dan karena malam yang menyerbunya”.
Al-Hasan berkata, "Malam dan siang tidak henti-hentinya berjalan
untuk mengurangi umur dan mendekatkan kepada ajal. Jauh sekali, sungguh malam
dan siang telah menemani Nabi Nuh, 'Ad, Tsamud, dan banyak sekali kaum,
kemudian mereka datang kepada Tuhan mereka dan tiba sesuai dengan
amal perbuatan mereka. Malam dan siang terus-menerus mengurangi orang-orang
baru tanpa peduli dengan apa saja yang telah berjalan untuk bersiap-siap
mengambil orang-orang yang tersisa sebagaimana keduanya mengambil
orang-orang yang telah lewat”.
Al-Auzai menulis surat kepada saudaranya, "Amma
ba’du, sungguh engkau dikepung dari semua arah. Ketahuilah bahwa engkau
dijalankan di setiap siang dan malam. Takutlah kepada Allah, hari engkau
berdiri di depan-Nya, dan akhir perjanjianmu
dengan-Nya. Was salam”. [16])
Penyair berkata,
"Kita berjalan kepada ajal di setiap detik
Hari-hari kita dilipat dan merupakan tahapan-tahapan
Aku tidak pernah melihat sesuatu yang hakiki seperti kematian
Jika sesuatu dilampaui angan-angan, maka batil
Sungguh jelek lalai di waktu muda
Bagaimana uban itu memenuhi kepala?
Ia berjalan dari dunia dengan bekal takwa
jadi, umurmu adalah hari-hari dan hari-hari itu sedikit”.
Sedang wasiat Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma di hadits
bab ini, maka dipetik dari hadits yang ia riwayatkan. Wasiatnya berisi
tentang akhir dari pendeknya angan-angan dan jika seseorang berada di sore hari maka
ia tidak perlu menunggu pagi hari serta jika ia berada di pagi hari maka tidak
perlu menunggu sore hari. Bahkan, ia menduga ajal menjemputnya sebelum itu. Banyak
sekali ulama yang menafsirkan zuhud di dunia dengan pengertian seperti itu.
Al-Marwazi berkata, aku bertanya kepada Abu Abdullah (Imam Ahmad),
"Apakah yang termasuk sikap zuhud di
dunia?" Abu Abdullah menjawab, "Pendek angan-angan, yaitu orang yang
jika berada di sore hari, ia berkata, 'Aku tidak hidup sampai sore hari'. Hal
ini juga ditanyakan Sufyan”. Dikatakan kepada Abu Abdullah, "Kiat apa yang
bisa kita pakai untuk pendek angan-angan?" Abu Abdullah menjawab,
"Aku tidak tahu karena ini termasuk petunjuk”.
Al-Hasan berkata, "Tiga ulama berkumpul kemudian mereka bertanya kepada
salah seorang dari mereka, 'Apa angan-anganmu?' Ulama yang ditanya menjawab,
'Sebulan tidak datang kepadaku, melainkan aku menduga bahwa aku akan mati di
dalamnya'. Dua ulama lainnya berkata, 'Ini termasuk angan-angan'. Dua ulama
tersebut bertanya kepada salah seorang dari mereka, 'Apa angan-anganmu?' Ulama
yang ditanya menjawab, 'Sepekan tidak datang kepadaku melainkan aku menduga
bahwa aku akan mati di dalamnya'. Dua ulama berkata, 'Ini juga termasuk angan-angan'.
Dua ulama bertanya kepada salah seorang dari mereka, 'Apa angan-anganmu?'
Ulama yang ditanya tersebut menjawab, 'Tidak ada angan-angan bagi orang
yang jiwanya ada di tangan pihak lain". [17])
Daud Ath-Thai berkata, "Aku pernah bertanya kepada Athwan bin Umar At-Tamimi,
'Apa angan-angan yang paling dekat itu?' Athwan bin Umar At-Tamimi menjawab,
'Sesuatu yang berada di antara keluar-masuknya nafas'“. Hal ini diceritakan Daud
Ath-Thai kepada Al-Fudhail bin Iyadh yang kemudian menangis dan berkata, "Ia bernafas
kemudian takut kalau ia mati sebelum nafasnya terhenti”. Athwan bin Umar At-Tamimi sangat takut kematian. [18])
Salah seorang dari generasi salaf berkata, "Aku tidak pernah tidur
sekali pun kemudian jiwaku berkata bahwa aku akan bangun
darinya”.
Habib alias Abu Muhammad berwasiat setiap hari seperti wasiat yang diberikan
orang yang hendak meninggal dunia yaitu pemandian dirinya, pengkafanannya,
dan lain sebagainya. Ia menangis pada setiap pagi dan petang kemudian istrinya
ditanya tentang tangisnya. Istrinya menjawab, "Demi Allah, ia takut jika
ia berada di petang hari maka tidak bisa hidup sampai pagi hari dan jika ia
berada di pagi hari maka ia tidak bisa hidup sampai petang hari”.
Jika Muhammad bin
Wasi' hendak tidur, ia berkata kepada keluarganya, "Aku titipkan kalian
kepada Allah, karena barangkali aku mati saat tidur dan aku tidak bangun lagi”. Itulah kebiasaan Muhammad bin
Wasi setiap kali hendak tidur.
Bakr Al-Muzani berkata, "Jika salah seorang dari kalian dapat tidak
tidur kecuali meletakkan wasiatnya secara tertulis di samping kepalanya,
silahkan ia kerjakan, karena ia tidak tahu barangkali ia tidur
bersama penghuni dunia kemudian pagi harinya ia bersama penghuni akhirat”.
Jika dikatakan kepada Uwais, "Bagaimana zaman padamu?" Uwais
berkata, "Bagaimana zaman pada seseorang yang jika berada di
petang hari maka ia menduga tidak sampai hidup hingga pagi hari dan jika ia berada di
pagi hari maka ia menduga tidak hidup hingga petang hari kemudian ia diberi kabar
surga atau neraka?" [19])
Aun bin Abdullah berkata, "Barangsiapa menganggap besok adalah
kematiannya, ia tidak menempatkan kematian pada kedudukan yang sebenarnya.
Betapa banyak orang hidup di satu hari, namun ia tidak sampai
menuntaskan hari tersebut. Betapa banyak orang berangan-angan untuk hari besok namun
ia tidak mendapatkan angan-angannya. Jika kalian melihat ajal dan
perjalanannya, kalian pasti membenci angan-angan dan segala
tipu-dayanya”.
Aun bin Abdullah
juga berkata, "Hari-hari yang paling bermanfaat bagi orang Mukmin di dunia ialah hari di mana ia
menduga tidak sampai hidup hingga akhir
hari tersebut”.
Seorang wanita beribadah di Makkah. Pada sore hari, ia berkata,
"Wahai diriku, malam adalah malammu. Tidak ada malam bagimu selain
malam ini, karenanya, bersungguh-sungguhlah engkau”. Pada pagi hari, wanita
tersebut berkata, "Wahai diriku,
hari ini adalah harimu dan tidak ada hari bagimu selain hari ini, maka bersungguh-sungguhlah engkau”.
Bakr Al-Muzani berkata, "Jika engkau ingin shalat bermanfaat
bagimu, katakan, 'Barangkali aku tidak bisa shalat setelah
shalat ini.' Ini dipetik dari hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah”. [20])
Ma'ruf Al-Kurkhi sedang berdiri shalat kemudian berkata kepada
seseorang, "Majulah dan jadilah engkau sebagai imam kami”.
Orang tersebut berkata, "Jika aku sudah mengerjakan shalat ini
denganmu, aku tidak mengerjakan shalat lainnya denganmu”. Ma'ruf Al-Kurkhi
berkata, "Dirimu berkata kepadamu bahwa engkau mengerjakan
shalat lainnya? Kami berlindung kepada Allah dari panjang angan-angan
karena panjang angan-angan menghalangi perbuatan yang baik”. [21])
Salah seorang dari generasi salaf mengetuk pintu saudaranya dan menanyakan
tentang saudaranya tersebut. Dikatakan kepada orang tersebut, "Saudaramu tidak
ada di rumah”. Orang tersebut bertanya, "Kapan dia pulang?" Seorang
gadis dari dalam rumah berkata kepada orang tersebut, "Barangsiapa
jiwanya ada di tangan pihak lain, maka ia tidak tahu kapan ia pulang”.
Abu Al-Atahiyah menulis sejumlah bait syair,
"Aku tidak tahu kendati aku berangan-angan tentang usia
Barangkali ketika aku berada di pagi hari
maka aku tidak hidup hingga petang hari
Tidakkah engkau lihat bahwa setiap pagi hari
Dan umurmu di dalamnya adalah lebih pendek daripada kemarin?"
Bait kedua diambil Abu Al-Atahiyah
dari perkataan yang ia riwayatkan dari Abu Ad-Darda'
dan Al-Hasan yang keduanya berkata, "Hai anak keturunan Adam,
engkau tidak henti-hentinya menghabiskan umurmu sejak engkau keluar dari perut
ibumu”.
Salah seorang dari generasi salaf melantunkan syair,
Sungguh kita senang dengan hari-hari yang telah kita jalani
Dan setiap hari yang berlalu itu mendekatkan kepada ajal
Berbuatlah dengan sungguh-sungguh untuk dirimu sebelum mati
Karena keuntungan dan kerugian itu dalam perbuatan”.
Perkataan Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, “Gunakan kesehatanmu untuk sakitmu
dan kehidupanmu untuk kematianmu", maksudnya, kerjakan amal-amal
shalih pada masa sehat sebelum engkau dipisahkan dengannya oleh sakit
dan kerjakan amal-amal shalih di kehidupan sebelum engkau dipisahkan dengannya oleh
kematian. Di riwayat lain, "Karena engkau, wahai Abdullah, barangkali tidak tahu apa namamu besok,
"maksudnya, barangkali engkau besok termasuk orang-orang meninggal dunia
dan bukannya orang-orang yang hidup.
Wasiat yang sama diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam dari banyak jalur. Di Shahih Al-Bukhari [22]) disebutkan
hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Ada dua nikmat, banyak sekali manusia merugi di dalamnya,
kesehatan dan
kekosongan (waktu luang)”.
Di Shahih Al-Hakim [23]) disebutkan hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma bahwa Rasulullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada seseorang ketika beliau menasihatinya,
'Manfaatkan lima hal sebelum datangnya lima hal; masa mudamu sebelum masa
tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu
luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum
kematianmu”.
Ghanim bin Qais berkata, "Kami saling memberi nasihat pada zaman
permulaan Islam, 'Hai anak keturunan Adam, bekerjalah pada masa luangmu
sebelum masa sibukmu, pada masa mudamu untuk masa tuamu, pada
masa sehatmu untuk masa sakitmu, di duniamu untuk akhiratmu, dan di
kehidupanmu untuk akhiratmu”. [24])
Di Shahih Muslim [25])
disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Dahuluilah enam hal dengan perbuatan-perbuatan; terbitnya matahari
dari barat, atau kabut, atau dajjal, atau binatang atau
perihal khusus salah seorang dari kalian, atau perihal orang
umum (Hari Kiamat)”.
Di At-Trmidzi [26])
disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
'Dahuluilah tujuh hal dengan perbuatan-perbuatan; kalian tidak menunggu kecuali
kemiskinan yang melupakan, atau kekayaan yang membuat sewenang-wenang, sakit
yang merusak, masa tua yang membuat pikun (lemah akal),
atau kematian yang disiapkan, atau dajjal yang merupakan hal ghaib yang paling jelek ditunggu
atau Hari Kiamat, dan Hari Kiamat itu amat dahsyat dan amat pahit”.
Maksudnya, kemiskinan, kekayaan, dan lain-lain membuat orang tidak dapat
beramal. Sebagian dari hal-hal tersebut bersifat pribadi seperti
kemiskinan, kekayaan, sakit, masa tua, dan kematiannya, dan sebagian yang lain
bersifat umum seperti Hari Kiamat, keluarnya dajjal, da fitnah-fitnah yang
mengguncang seperti disebutkan di hadits lain, "Dahuluilah fitnah-fitnah
seperti potongan malam yang gelap dengan perbuatan-perbuatan”. [27])
Di sebagian kejadian-kejadian umum tersebut, amal perbuatan menjadi
tidak berguna
sesudahnya, seperti difirmankan Allah Ta'ala,
"Pada hari datangnya beberapa ayat dari Tuhanmu tidaklah bermanfaat
lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman
sebelum itu, atau dia (belum) mengerjakan kebaikan pada masa imannya”. (Al-An'am:
158).
Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan
hadits dari Abu Hurairah
Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam yang bersabda, "Hari Kiamat tidak terjadi hingga matahari
terbit dari barat. Jika matahari terbit
(dari barat) dan dilihat manusia, mereka semua beriman. Itulah saat di mana
keimanan seseorang tidak bermanfaat baginya selagi ia tidak beriman sebelumnya
atau belum mengerjakan kebaikan pada masa imannya". [28])
Di Shahih Muslim [29])
disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Tiga hal jika telah keluar, maka keimanan seseorang menjadi tidak
berguna baginya selagi ia tidak beriman sebelumnya atau
mengerjakan kebaikan pada masa imannya; terbitnya matahari dari barat, dajjal,
dan binatang bumi".
Di Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Barangsiapa
bertaubat kepada Allah sebelum matahari terbit dari barat, Allah menerima taubatnya". [30])
Di Shahih Muslim juga disebutkan hadits dari Abu Musa Al-Asy'ari Radhiyallahu
Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya Allah membuka Tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat
salah di siang hari bertaubat dan membuka Tangan-Nya di siang hari agar
orang yang berbuat salah di malam hari bertaubat hingga matahari terbit
dari barat”. [31])
Imam Ahmad, An-Nasai, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dari
Shafwan bin Assal Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu
Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Sesungguhnya Allah membuka pintu menghadap barat yang lebarnya (sepanjang
perjalanan selama) tujuh puluh tahun untuk taubat. Pintu tersebut tidak ditutup
hingga matahari terbit dari barat”. [32])
Di Al-Musnad
[33]) disebutkan hadits dari Abdurrahman bin Auf,
Abdullah bin Amr, dan Muawiyah dari
Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang
bersabda,
"Taubat senantiasa diterima hingga matahari terbit dari barat. Jika
matahari telah terbit (dari barat), maka setiap hati ditutup
dengan apa yang ada di dalamnya
dan manusia dihentikan dari perbuatan”.
Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang
berkata, "Jika tanda pertama (Hari Kiamat) keluar, maka pena-pena
dilempar, para malaikat penjaga manusia ditahan, dan seluruh jasad bersaksi tentang
perbuatan-perbuatan”. (Diriwayatkan Ibnu Jarir Ath-Thabari). [34]
Hal yang sama dikatakan Katsir bin Murrah, Yazid bin Syuraih, dan
generasi salaf lainnya, "Jika matahari telah terbit dari
barat, maka semua hati ditutup dengan apa saja yang ada di dalamnya, para
malaikat penjaga manusia dan amal perbuatan diangkat, dan para malaikat diperintahkan tidak menulis
perbuatan apa pun”.
Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Jika matahari telah terbit dari barat,
maka para malaikat melipat lembaran-lembaran mereka dan meletakkan pena-pena
mereka”.
Jadi, orang Muslim wajib segera mengerjakan amal-amal shalih sebelum ia
tidak sanggup mengerjakannya atau ia dipisahkan dengannya oleh sakit,
atau kematian, atau ia melihat salah satu tanda Hari Kiamat, yang ketika itu
amal tidak lagi diterima. Abu Hazim berkata, "Sesungguhnya
komoditi akhirat tidak ramai dan nyaris habis kemudian tidak mengantarkan kepada
sesuatu yang sedikit dan banyak”. [35])
Jika orang telah dipisahkan dari amal maka yang tersisa adalah kerugian
dan ingin kembali kepada kondisi yang memungkinkannya untuk beramal, tapi
angan-angan ini tidak bermanfaat baginya.
Allah Ta'ala berfirman,
"Dan kembalilah kalian kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah
kepada-Nya sebelum datang adzab kepada kalian kemudian kalian
tidak dapat ditolong. Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah
diturunkan kepada kalian dari Tuhan kalian sebelum datang adzab kepada kalian
dengan tiba-tiba, sedang kalian tidak menyadarinya. Supaya jangan ada orang
yang berkata, Amat
besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk
orang-orang yang memperolok-olokkan (agama
Allah)'. Atau supaya jangan ada yang
berkata, ‘Kalau sekiranya Allah
memberi petunjuk kepadaku, tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa'. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat adzab, 'Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke
dunia), niscaya aku termasuk orang-orang
berbuat baik". (Az-Zumar: 54-58).
Allah Ta'ala berfirman,
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang
kematian kepada seseorang dan mereka,
ia berkata, 'Ya Tuhanku kembalikan aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat amal yang shalih terhadap yang aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak, sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja dan di hadapan mereka ada
dinding sampai hari mereka dibangkitkan”. (Al-Mukminun:
99-100).
Allah Azza wa jalla berfirman,
"Dan belanjakan sebagian dariapa yang Kami berikan kepada kalian
sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian lalu ia berkata,
'Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkanku sampai waktu
yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku
termasuk orang-orang yang shalih?' Dan Allah sekali-kali
tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu
kematian'. (Al-Munafiqun: 10-11).
Di At-Tirmidzi
disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,
"Tidaklah seorang mayit meninggal dunia melainkan dalam keadaan menyesal”.
Para sahabat berkata, "Apa penyesalannya?" Nabi Shallallahu Alaihi wa
Sallam bersabda, 'Jika ia orang baik, ia menyesal tidak meningkatkan (kebaikannya).
Dan jika ia orang tidak baik, ia menyesal tidak mengemukakan alasan”. [36])
Jika masalahnya demikian, orang Mukmin wajib memanfaatkan sebaik mungkin
sisa umurnya. Oleh karena itu dikatakan, "Sesungguhnya sisa umur orang
Mukmin itu tidak ada nilai baginya”. Sa'id bin Jubair berkata, "Setiap
hari yang dijalani orang Mukmin adalah rampasan perang”. Bakr
Al-Muzani berkata, "Tidaklah hari dikeluarkan Allah ke dunia,
melainkan berkata, 'Hai anak keturunan Adam, pergunakan aku baik-baik, karena
barangkali engkau tidak lagi mempunyai hari sesudahku'. Tidaklah malam dikeluarkan Allah ke dunia,
melainkan berseru, 'Hai anak keturunan
Adam, pergunakan aku baik-baik, karena barangkali engkau tidak lagi mempunyai malam sesudahnya”.
Seorang penyair [37])
berkata,
"Kerjakan ruku' yang baik di waktu luang
Sebab barangkali kematianmu datang secara tiba-tiba
Betapa banyak orang sehat yang tidak engkau lihat sakit
Namun jiwanya yang sehat pergi tanpa diduga”.
Mahmud Al-Warraq berkata,
"Kemarinmu telah berlalu sebagai saksi yang adil
Di susul hari baru lainnya padamu
jika kemarin engkau melakukan kesalahan
Maka gantilah dengan kebaikan, niscaya engkau dipuji
Harimu, jika
engkau cela, maka manfaatnya kembali kepadamu
Sedang hari kemarin tidak lagi kembali kepadamu
Engkau jangan menunda pengerjaan kebaikan ke hari esok
Karena barangkali hari esok datang,
sedang engkau telah mati".
[1] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 6416,
Al-Baihaqi 3/369, Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 13, Al-Baghawi
hadits nomer 4029. Al-Qadhai di Musnad
Asy-Syihab hadits nomer 644, dan Ibnu Hibban hadits nomer 698.
Takhrij secara lengkap, silahkan baca buku tersebut.
[2] Perkataanya disebutkan Al-Hafidz Ibnu Hajar di Fathul Bari 11/233-234 dan
menjawabnya, jadi, silahkan baca buku tersebut.
[3] Hadits nomer 2333. Hadits tersebut juga diriwayatkan Imam Ahmad 2/24, 41, Ibnu Ma jah hadits nomer 4114, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 13537, 13538, Ash-Shaghir hadits nomer 63, dan Abu Nu'aim di Al-Hilyah 1/312-313.
[4] Diriwayatkan Imam Ahmad 2/132 dan An-Nasai di Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf
5/481. Abdah bin Abu Lubabah pernah melihat Ibnu Umar dan
melihatnya di Syam seperti terlihat
di Tahdzibut Tahdzib 6/408 dan Al-Maraasil Ibnu Abu Hatim, hal. 136.
[5] Dari Ibnu Mas'ud, hadits tersebut diriwayatkan
Imam Ahmad 1/391 dan At Tirmidzi hadits nomer 2377. At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut hasan
shahih”.
[6]
Disebutkan Imam Ahmad di Az-Zuhdu hal.
93.
[7]
Al-Hilyah 5/292.
[8] Ia adalah Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah. Bait-bait
syair di atas secara lengkap ia tulis di kata pengantar bukunya, Haadil
Arwah ilaa Bilaadil Afrah (dalam edisi bahasa Indonesia berjudul Tamasya ke Surga diterbitkan Penerbit Darul Falah yang menerbitkan buku ini, Pent), Thariqul Hijratain
hal 50-55, dan Madaarijus Salikin 3/200-201.
[9]
Al-Hilyah 6/217.
[10] Juga diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 507. Ia berkata, disampaikan kepada kami dari Al-Hasan bahwa ia berkata, Rasulullah Shallallahu
Alaihi wa Sallam bersabda, "…."
Juga
diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Dzammud Dunya hadits nomer 88 dari jalur
Ruh bin Ubadah yang berkata, Hisyam bin Hassan berkata kepada kami dari
Al-Hasan yang berkata, “disampaikan kepada kami dan seterusnya”. Hadits ini mursal.
[11] Diriwayatkan
Imam Ahmad 1/267, Ath-Thabrani di Al-Kabir hadits nomer 12940, dan
Al-Bazzar hadits nomer 2407. Ali bin Zaid bin Jud'an adalah perawi dhaif.
Kendati demikian, hadits tersebut di-hasan-kan Al-Hafidz Al-Haitsami di Majmauz
Zawaid 8/260 dan Al-Hafidz Al-Iraqi di Takhrijul Ihya' 3/218.
[12]
Al-Hilyah 2/348
[13]
Ibid., 2/152.
[14]
Ibid., 7/345-346.
[15]
Madaarijus Salikin 3/201 tanpa
disebutkan nama penyairnya.
[16]
Al-Hilyah 6/140.
[17]
Diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 253.
[18]
Shafwatush Shafwah 2/83.
[19]
Al-Hilyah 2/83.
[20] Hadits
hasan. Dari Abu Ayyub Al-Anshari yang diriwayatkan Imam Ahmad 5/412, Ibnu Majah hadits nomer 4171, Abu Asy-Syaikh di Al-Amtsaal hadits nomer 226, dan Abu Nu'aim
di Al-Hilyah 1/462.
Dari
Ibnu Umar, hadits tersebut diriwayatkan Al-Qadhai di Musnad Asy-Syihab
hadits
nomer
952 dan Ath-Thabrani di Al-Ausath seperti terlihat di Majmauz Zawaid 10/229. Al-Haitsami
berkata, "Di sanadnya terdapat perawi-perawi yang tidak aku kenal”.
Dari Sa'ad bin Abu
Waqqash. hadits tersebut diriwayatkan Al-Hakim 4/326-327 dan ia menshahihkannya dengan disetujui Adz-Dzahabi,
padahal di sanadnya terdapat perawi Muhammad
bin Abu Humaid yang merupakan perawi dhaif.
[21]
Al-Hilyah 8/361.
[22]
Hadits nomer 6412.
[23] 4/306. Al-Hakim menshahihkan hadits di atas
dengan disetujui Adz-Dzahabi. Hadits tersebut
seperti yang dikatakan keduanya. Hadits tersebut mempunyai hadits penguat,
yaitu hadits dari Amr bin Maimun
secara mursal yang diriwayatkan Ibnu
Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 2, Abu Nu'aim di Al-Hilyah 4/148, dan Al-Khathib di Iqtidhaul ilmil
Amal hadits nomer 170.
[24] Al-Hilyah 6/200 dan Iqtidhaul llmil
Amal hadits nomer 171. Perkataan
yang sama diriwayatkan Abu Nu'aim 3/97 dari Abu Nadhrah.
[25]
Hadits nomer 2947. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6790.
[26] Hadits
nomer 2306. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Adi di Al-Kamil 6/2434 dan Al-Uqaili di Adh-Dhuafa'
4/230. Di sanadnya terdapat perawi
Mahraz bin Harun yang haditsnya
munkar. Kendati demikian, At-Tirmidzi berkata, "Hadits ini hasan gharib”.
Al-Uqaili dan Adz-Dzahabi di Al-Mizan
3/443 berkata, "Hadits ini
juga diriwayatkan dengan sanad yang lebih
shahih daripada sanad ini”.
Sanad yang dimaksud ialah yang diriwayatkan
Al-Hakim 4/321 dari jalur Ibnu Al-Mubarak dari Ma'mar dari Sa'id Al-Maqbari dari Abu Hurairah. Hadits tersebut
dishahihkan Al-Hakim menurut syarat
Al-Bukhari dan Muslim dengan disetujui Adz-Dzahabi. Namun hadits tersebut menurut Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 7 dan dari jalurnya menurut Al-Baghawi di Syarhus Sunnah hadits nomer 4022 dari Ma'mar dari seseorang yang mendengar Al-Maqbari menceritakan
hadits dari Abu Hurairah. Sanad hadits tersebut dhaif karena dhaif-nya perawi yang tidak disebutkan namanya tersebut.
[27] Dari Abu Hurairah, hadits tersebut diriwayatkan
Muslim hadits nomer 118 dan At-Tirmidzi hadits nomer 2195. Hadits tersebut
dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 6704. Kelanjutan hadits tersebut, "Pada pagi hari seseorang menjadi
Mukmin kemudian petang harinya menjadi
kafir dan pada petang hari ia Mukmin kemudian kafir di pagi hari. Ia menjual
agamanya dengan harta dunia”.
[28] Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 4635, Muslim
hadits nomer 157, Abu Daud hadits
nomer 4312, dan Ibnu Majah hadits nomer 4068. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu
Hibban hadits nomer 6838.
[29]
Hadits nomer 158.
[30] Diriwayatkan Muslim haidts nomer 2703 dan Imam
Ahmad 2/327. Hadits tersebut dishahihkan
Ibnu Hibban hadits nomer 629.
[31]
Diriwayatkan Muslim hadits nomer 2759.
[32] Diriwayatkan Imam Ahmad 4/240, At-Tirmidzi hadits
nomer 3536. An-Nasai di As-Sunan
Al-Kubra seperti terlihat di Tuhfatul Asyraaf 4/192, dan Ibnu Majah hadits nomer 4070. At-Tirmidzi berkata, "Hadits tersebut hasan
shahih”.
[33] 1/192. Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Jarir
Ath-Thabari di Jamiul Bayan hadits
nomer 14212 dan Ath-Thabrani di Al-Kabir 19/895. Sanad hadits tersebut hasan.
[34]
Di Jamiul Bayan hadits nomer 14246.
[35]
Al-Nilyah 3/242.
[36] Diriwayatkan
At-Tirmidzi hadits nomer 2403 dari jalur Ibnu Al-Mubarak dan hadits tersebut
diriwayatkan Ibnu Al-Mubarak di Az-Zuhdu hadits nomer 33.
Hadits tersebut juga diriwayatkan Abu Nua'im di Al-Hilvah 8/178 dari jalur Ibnu
Al-Mubarak dan Al-Baghawi di Syarhus Sunnah hadits norner 4309. Di sanadnya terdapat perawi Yahya bin Ubaidillah bin Abdullah bin Muhib yang
tidak bisa dijadikan sebagai hujjah.
[37] Ia adalah Imam Al-Bukhari penulis Shahih
Al-Bukhari. Bait-bait syair di atas ada
di Thabaqaatusy-Syafi'iyah, As-Subki 2/235.
No comments:
Post a Comment