Monday, May 18, 2026

Perbaikan Diri (2) - Haditsu Tsulatsa

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita ucapkan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat serta siapa saja yang menyebarkan dakwah beliau hingga hari pembalasan.

Amma ba'du.

Salamullahi 'alaikum wa rahmatuhu wa barakatuh.

Pembicaraan kita pada maiam hari ini, wahai Ikhwan, meliputi mukadimah seperti biasa yang terasa manis manakala berulang-ulang, yang bersumber dengan begitu jernih dan bersihnya dari kedalaman hati, yang tampak bersinar dari limpahan berkah Allah swt. Itulah munajat hati dan ruhani, yang dengannya kita memunajatkan jiwa kita. Selanjutnya adalah serial yang telah kita mulai sebelumnya, yaitu tentang ishlah an-nafs. Hanya Allah-lah yang memberi taufiq dan hidayah.

Saya masih ingat akan salah seorang akh yang berbicara kepadaku, dan aku tidak tahu kenapa ia mengatakan begitu. la berkata, "Sebenarnya kita telah menghabiskan sebagian waktu untuk bermunajat seperti ini sekedar untuk membuka sebuah muhadharah (pengajian, ceramah)-” Hendaklah saudara tadi memaklumiku jika harus kukatakan kepadanya, "Sesungguhnya munajat ini dan penyingkapan hati itu dipenuhİ oleh perasaan jiwa dan diilhami oleh rasa persaudaraan. Itu dimaksudkan agar dapat sampai kepada sasaran amaliah, bukan sekedar ucapan belaka.” Saya menantikan malam ini, dan ketika saya sudah berada di tempat ini, saya tidak kuasa untuk tidak mengejutkan kalian dengan mukadimah İni.  Sungguh saya ingin menarik perhatian kalian kepada fikrah İslamiah İni, yaitu pentingnya saling bersaudara karena Allah, dan dalam keridhaan Allah. Jika tidak, maka bagaimana halnya dengan sabda Nabi saw.,

هَلِ الْإِيمَانُ إِلَّا الْحُبُّ وَالْبُغْضُ؟

“Iman itu tidak lain adalab cinta dan benci.”

Iman inilah yang telah membangkitkan masyarakat İslam, lalu menjadi bagian dan hidup mereka, sehingga "sebutan" mereka menjadi kekal dan "menara" mereka menjadi tinggi menjulang. "Dİ antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu. Dan mereka sedikitpun tidak mengubah janji itu.” (Al-Abzab: 23)

Saya dapat katakan bahwa iman inilah satu-satunya yang akan menghantar kita ke surga, bahkan menuju Firdaus-Nya yang tertinggi manakala keimanan itu berdiri di atas kecintaan demi Allah dan saling bersaudara demi Allah pula. Iman itulah yang akan menyatukan persatuan umat dan memecahkan segah persoalannya. "Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Al-Hujurat: 10) "Kaum mukminin dan mukminat itu sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain." (At-Taubah: 71)

Dengan dua sayap inilah Islam diterbangkan tinggi-tinggi ke langit kemuliaan. Kiranya tidak berlebihan bila saya katakan bahwa -"Iman itu tidak dapat dibayangkan tanpa cinta”, dan "cinta tidak dapat digambarkan tanpa iman", Allah swt. berfirman, "Bagaimanakah kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah telah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian?   Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Ali Imran: 101)

Orang-orang mukmin tidak ada yang sampai kufur juhud (ingkar), akan tetapi mereka berselisih setelah sebelumnya bersatu, dan berpecah belah setelah sebelumnya menyatu. Ini pun hal yang berlawanan dengan iman. Iman itu tidak lain adalah kesatuan dan cinta. Percayalah bahwa kaum muslimin tidaklah kehilangan sesuatu yang. lebih besar daripada kehilangan dua unsur ini. Orang mukmin itu laksana sebuah bangunan; sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain. la juga, seperti jasad yang satu; jika satu anggota tubuh ada yang sakit, maka seluruh anggota badan akan merintih.

Demi Tuhan semesta alam, sisi manakah di antara unsur-unsur kebaikan yang ada, yang kedudukannya lebih tinggi daripada unsur yang telah menjadikan Islam itu mulia? Nabi saw- pernah bersabda,

عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:«إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ، يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ»قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ؟قَالَ:«هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ، وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ، وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ، لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ»ثُمَّ قَرَأَ:﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾(يونس: ٦٢)

"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah itu terdapat satu golongan manusia biasa, bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Namun para nabi dan syuhada' merasa iri kepada mereka pada hari kiamat, karena kedudukan mereka di sisi Allah swt. Para sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami siapa mereka itu?' Beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah; bukan karena kekerabatan mereka dan bukan karena harta benda yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka adalah cahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa khawatir ketika manusia mulai khawatir, dan mereka tidak pula bersedih hati manakala orang lain bersedih hati. Selanjutnya beliau membaca ayat, Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yunus: 62) Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud.

Wahai Ikhwan, oleh karena itu, saya selalu mengingatkan bahwa tidak akan ada kebangkitan tanpa cinta, dan tidak ada cinta tanpa imam Manakala gambaran mengenai masyarakat yang mulia ini terbersit ke dalam jiwa, ia akan melahirkan harapan yang mulia pula, Karena, kita semua sebagai umat Islam ini tidak akan kekurangan sesuatu sebagaimana bila kita ini kekurangan perasaan yang kuat, yang dapat menyatukan hati kita dan mampu mewujudkan ilustrasi yang digambarkan oleh Rasulullah saw. melalui sabdanya,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

"Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, sating mengasihi dan saling empati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh; jika ada sebagian dari anggota tubuh yang sakit, maka selurub anggota tubuh Iainnya akan ikut merintih merasakan demam dan tak bisa tidur. "

Dari hadits ini kita akan dapat memahami realitas hidup yang dijalani oleh kaum muslimin generasi pertama.

"Gambaran orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi..." Nilai seperti ini mulai saya pahami dalam kehidupan para pendahulu itu. Di dalam kehidupan mereka, Anda akan mendapatkan contoh-contoh yang cukup banyak. Adapun kehidupan kita yang sedang kita jalani ini jarang sekali yang sesuai dengan sebagian dari gambaran tersebut. Semoga kita bisa terhibur oleh perkumpulan yang menyatukan kalian di sini.

Hadits ini terbetik dalam benakku, bahkan saya gambarkan tidak sebagaimana menggambarkan kata-kata, akan tetapi saya gambarkan dan saya lihat seakan terlukis di depan mataku. Saya baca bahwa seorang lelaki dalam suatu peperangan terkena pedang sampai akhirnya kematian menjemputnya. Ia tidak mengaduh dan tidak pula berteriak, akan tetapi langsung jatuh tersungkur sebagaimana jatuhnya pahlawan. Bukan ini yang saya inginkan dari hadits tersebut. Tapi coba lihatlah, pukulan pedang menimpa tengkuknya, lalu tiba-tiba saudara yang lain yang sedang berada di sampingnya berteriak, ”Saudaraku, engkau mendahuluiku menuju surga!" Hal inilah yang membuatku bergetar. la yang terpukul, tapi justru orang lain yang berteriak. Yang terpukul tidak berteriak, namun tetap tabah, karena dia orang beriman yang mengetahui bahwa pukulan itu justru akan menghantarkannya ke surga. Tapi lihatlah orang yang berada di sebelahnya. la mengatakan, "Aaah..!", seakan pukulan itu mengenai dirinya. ”...saudaraku, engkau ielah mendahuluiku menuju surga.", lanjutnya. Hakikat inilah yang menggambarkan kepadaku akan sabda Rasulullah saw., "Kamu lihat orang-orang beriman dalam hal saling mencintai dan saling menyayangi serta saling empati di antara sesama mereka laksana satu tubuh.” Yang terkena pukulan justru tidak mengaduh, namun saudaranyalah yang mengaduh. Seakan keduanya merupakan hakikat yang satu. Yang menambah lagi keindahan ikatan nilai ini adalah bahwa orang yang mengatakan "aduh" tadi tidaklah mengucapkannya karena dibuat-buat, akan tetapi ia mengucapkannya karena ia merasakan kepedihan saudaranya yang tertimpa pukulan pedang.

Demikianlah sejarah kaum salaf telah memperlihatkan kepada kita, yang menunjukkan bahwa kumpulan manusia itu seluruhnya adalah laksana tubuh yang satu, melakukan aktivitas yang satu, serta merasakan perasaan yang sama, betapapun dalam kondisi yang teramat sulit. Dikisahkan, suatu ketika sepasukan dari kaum muslimin keluar untuk berperang. Posisi antara pasukan kaum muslimin dengan musuh terbatasi sebuah sungai. Kedua pasukan itu saling berhadapan. Sang komandan pasukan muslim berkata, ”Bagaimana pendapat kalian menghadapi musuh-musuh kalian, sementara mereka bisa memperoleh perbekalan dan air tanpa harus susah payah? Bagaimana pendapat kalian?" Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, "Kita seberangi saja sungai ini, lalu kita perangi mereka di tempat mereka berada." 

"Barangsiapa yang mundur dari mereka di waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka Jahanam. Dan amatlah buruk tempat kembalinya itu." (Al-Anfal: 16) Mereka pun akhirnya menceburkan diri bersama kuda-kuda mereka melintasi sungai agar dapat bertempur dengan musuh. Di depan terlihat pasukan niusuh sudah siap siaga untuk menghunuskan pedang mereka. Tiba-tiba salah seorang di antara pasukan kaurn muslimin ada yang berteriak, "Qa'bku..qa'bku...., jatuh ke air!" (Qa'b adalah kantong air bejana yang terbuat dari kayu.) Mendengar hal İtu, sang komandan berkata, "Carilah dulu qa'b milik saudara kalian yang hilang itu!" Mereka pun sibuk mencarinya, sementara pasukan musuh sedang menanti mereka dan kematİan pun sedang mengitari kepala mereka. Ketika komandan pasukan musuh itu melihat perilaku mereka tersebut, ia berkata, “Apa-apaan mereka itu?" Bawahannya menjawab, "Salah seorang dari mereka kehilangan qa'bnya, dan mereka sedang sibuk mencarinya.” Sang komandan ini kemudian berkata, "Jika karena masalah qa'b saja mereka sudah seperti itu, lalu bagaimana jika kalian membunuh salah seorang saja dari mereka?! Pasukan. ..! Berdamai sajalah dengan mereka sesuai dengan apa yang mereka inginkan!"

"Pancaran ukhuwah” tersebut sudah cukup untuk mengalahkan musuh dan memenangkan kaum mukminin, sekaligus menaklukkan kota itu. Iyu semua adalah buah dari kesatuan yang menjadi perhatian Rasulullah saw., "Kamu lihat orang-orang mukmin itu dalam hal saling mencintai dan berkasİh sayang...”

Wahai Ikhwan, sementara yang terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini adalah bahwa nafsu dan kerakusan terhadap dunia telah menjadikan mereka berpecah-belah. sebab hati mereka kosong dari memahami potret semacam İni, yang dengan jelas disabdakan oleh Nabi saw., "Kamu lihat orang-orang mukmin itu dalam hal saling mencintai dan berkasih sayang...”, dan juga sabda beliau, “Orang mukmin terhadap mukrnin lainnya laksana sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan bagian yang lain."

Ikhwan sekalian. Sekali lagi saya katakan bahwa sesuatu yang paling mahal dari manusia itu adalah "diri”-nya. Bahkan manusia itu tidak akan ada artinya tanpa dirinya. Diri inilah yang akan mendapatkan pengaruh karena berbagai faktor. Kebaikan diri memerlukan berbagai sarana. Di antara faktor perbaikan diri ini adalah usaha berhubungan dengan para "dokter hati" dan dengan ikhwan yang shalih, serta mengambil pelajaran baik dan buruk yang terjadi di tengah masyarakat. Keutamaan diri itu terletak pada kestabilan pribadinya. Diri itu berwatak ”cinta kepada kenikmatan dan tidak suka kepada kemudharatan.” Cinta kenikmatan mengharuskan adanya syahwat (hasrat, keinginan, nafsu) sementara menolak kemudharatan membutuhkan adanya amarah atau kebencian. Dorongan syahwat ada yang bersifat materi dan ada pula yang bersifat maknawi. Dorongan syahwat yang bersifat materi telah disusun sedemikian rupa oleh Allah swt. di dalam jiwa demi kelanggengan 'jiwa itu sendiri, sehingga hal ini memang sangat dibutuhkan. Ini terdapat pada diri manusia bukan sekedar demi kenikmatan, akan tetapi juga demi keberlangsungan eksistensi kemanusiaannya. la menjadi pendorong yang kuat yang menyebabkan keterpeliharaannya. Kenikmatan hanyalah sarana, bukan tujuan.

Manakala Islam mengakui adanya kenikmatan dengan segala bentuknya, Islam juga menjelaskan bahwa ia merupakan instink dan watak yang dominan. Selain itu juga menjelaskan pula bahwa jika ia berkuasa dan terlepas begitu saja tanpa kendali, ia akan menjadikan manusia ini ”predator" (binatang buas yang memangsa binatang lain). la juga mengandung unsur emosi dan sifat yang dominan atas akal orang yang berakal. Maka Islam memandangnya secara adil, Islam membentenginya dengan kendali syariat. Islam mengharamkan nazhar (memandang lawan jenis), khalwat (menyendiri dengan lawan jenis), dan tabarruj (berhias yang berlebihan) bagi wanita. Islam mendorong pernikahan serta menghilangkan segala rintangan yang menghalanginya, Adapun Eropa dan Barat, mereka memberikan kebebasan mutlak kepada nafsu serta membolehkannya untuk melakukan segala yang diinginkan. Mereka bahkan mempersenjatai dengan filsafat, dcngan berbagaİ majalah dan surat kabar, serta tarian dan perhiasan. Hasilnya adalah sebuah masyarakat yang hancur dan terperosok ke derajat yang paling rendah. Parahnya, ternyata kita pun bertaklid buta kepada mereka dalam dosa İni. Instink kita menjadi lepas begitu saja sehingga kita mudah berbuat maksiat. Jika kita menginginkan perbaikan, yakni memperbaiki instink itu, kita harus berpegang kepada batasan-batasan syara'. Kita harus mendudukkan diri sebagai orang yang mengoreksi diri secara berani dengan merasakan adanya muraqabah (pengawasaö) dari Allah swt. Hendaklah sejarah hidup nabi kita Yusuf as, menjadi contoh bagi kita. Beliau pernah diuji dengan posisi yang sangat sulit, namun beliau tetap tahan dan tidak melemah di hadapan godaan yang sedemikian rupa, sekalipun sifat kepemudaannya begitu kuat dan sifat kelelakiannya begitu sempurna, Yusuf as. mengatakan, ”Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang zhalim tidak akan beruntung.” (Yusuf: 23)

Kemudian ia menjadikan dirinya selalu dalam pengawasan Allah swt. manakala ia melihat tanda terang dari Tuhannya. Akhirnya, Allah pun menghindarkannya dari keburukan dan kekejian. Alasannya adalah: "Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamb-hamba Kami yang terpilih," (Yusuf: 24)

Abdullah bin Abdul Muthalib, ayah Nabi saw., pernah ditawari oleh seorang dukun wanita untuk berbuat serong dengannya dan diberi berbagai macam tawaran dan harta benda, namun Abdullah enggan menuruti kemauan wanita itu. la lebih merasa mulia dengan kelelakiannya yang utuh, akhlaknya yang mulia, serta dengan kesuciannya. la enggan untuk mengotori kesucian ini, sebagaimana syair terkenal bertutur:

أَمَّا الْحَرَامُ فَالْمَمَاتُ دُونَهُ، *وَالْحِلُّ لَا حِلٌّ فَأَسْتَبِيحُهُ.

فَكَيْفَ بِالْأَمْرِ الَّذِي تَبْغِينَهُ، *يَحْمِي الْكَرِيمُ عِرْضَهُ وَدِينَهُ.

Yang haram kematian taruhannya

Yang halal, pasti kutahu

Bagaimana dengan urusan yang kaıı inginkan

Orang muda menjaga harga diri dan agamanya

Yang dapat menjauhkan dari hal yang demikian itu, tidak lain adalah kemuliaan dan kehormatan dirinya.

Ketika Ummu Salamah ra. hijrah, ia tidak ditemani oleh seorang pun kecuali putranya yang masih kecil. Dia berarti hijrah sendirian. Kemudian dalam perjalanan bertemu dengan Utsman bin Thalhah, namun pandangan Utsman tidaklah tertuju padanya. Utsman bin Thalhah bertanya kepadanya, "Siapa yang menyertaimu?" Ummu Salamah menjawab, "Tidak ada siapa-siapa bersamaku, kecuali Allah." Utsman lalu berkata kepadanya, "Kalau begitu saya bisa menemanimu." Maka Utsman bin Thalhah pun menemaninya selama delapan hari delapan malam, sampai akhirnya Ummu Salamah tiba di Madinah. Ummu Salamah berkata, "Demi Allah, aku belum pernah melihat seorang ternan yang lebih baik darinya. la mengambil kendali unta, dan demi Allah, ia tidak melihat kepada siapa pun. Sampai ketika kami telah dekat dengan Madinah, ia berkata, "Nah, inilah dia kota Yatsrib itu, dan mereka itulàh sahabat-sahabatmu." Selanjutnya ia pun berpisah begitu saja dengan Ummu Salamah. Ummu Salamah ketika itu termasuk di antara wanita yang tercantik, dan Utsman ketika itu masih kafir dan berusia muda; namun demikian ia memiliki kehormatan. Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, Abbas ingin menantangnya. Namun kemudian Nabi saw. bersabda, "Biarkan ia, karena dia mempunyai kehormatan dan harga diri.

Nilai kehormatan seperti ini jika muncul di dalam jiwamu, maka engkau pasti akan memperoleh kenikmatan tersendiri yang tidak mungkin engkau dapatkan pada saat memenuhi keinginan syahwatmu. Kemudian ada hal lain yang harus kita ingat, yaitu balasan atau pahala.

Di depan telah kami katakan bahwa jiwa itu memang tercetak untuk senang kepada kebaikan dan menolak keburukan. Dan yang berkaitan dengan kesenangan ini adalah cinta harta. Pada dasarnya, cinta harta merupakan sarana untuk mencapai tûjuan-tujuan nafsu dan meraih keinginan-keinginannya, di mana hal ini tidak mungkin tercapai kecuali dengan harta itu. Oleh karena itu, jiwa sangat tergantung sekali kepadanya. "Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan," (Al-Fajr: 20) "Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena kecintaannya yang sangat kepada harta." (Al-Adiyat: 8) "Jika ia meninggalkan harta yang banyak, agar berwasiat kepada ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, ini adalah kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah: 180)

Cinta kepada harta ada kalanya mulia dan ada kalanya pula hina. Manusia dalam masalah kecintaannya kepada harta terbagi menjadi tiga golongan.

Pertama, golongan yang berlebihan dalam mencintai harta sehingga seluruh waktunya habis demi harta, dan harta itu .saja yang selalu ia pikirkan.

Kedua, golongan yang meremehkan harta dan tidak menginginkan harta, sehingga ia tidak mau merasakan nikmatnya bekerja. Kedua golongan tersebut sama-sama keliru.

Ketiga, golongan yang senang kepada harta sehingga dapat meraih tujuan-tujuman mulia dan menjauhi yang selain itu. Kecintaannya kepada harta tidak sampai membawanya untuk melakukan dosa, dan juga tidak sampai menghalanginya untuk berbuat kebajikan. Itulah orang yang berbahagia.

Nabi saw. pernah mengatakan,

نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ

“Sebaik-baik harta adalah yang ada di tangan orang yang shalih.”

Baginda Sa'ad (bin Abi Waqqash) pernah berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya (harta) sedikit itu tidak mencukupiku, maka berilah aku (harta) banyak yang memberiku manfaat dan memberikan maslahat untuk kaum muslimin."

Ini merupakan ungkapan yang patut dipuji. la menginginkan harta demi dua hal: agar memberikan manfaat baginya dan juga memberikan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Hal semacam ini juga telah diperhatikan oleh Rasulullah saw. melalui sabda beliau, "Jika salah seorang di antara kalian mau mengambil tambang untuk dipikul di atas bahunya, lalu ia mencari kayu bakar dan diangkat dengan punggungnya; itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau. menolak."

Itu merupakan dorongan dari beliau terhadap kerja dan usaha. Beliau bahkan memohon perlindungan kepada Allah dari sifat lemah dan malas.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ

“Ya Allah, sesunguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, sifat pengecut dan bakhil, serta dari terbelit hutang dan tekanan orang lain.”

Ini jika usaha itu dari yang halal dan penggunaannya juga untuk yang halal. Adapun jika usahanya haram dan penggunaannya juga untuk hal yang haram, terapinya adalah muraqabatullah (merasa selalu diawasi oleh Allah swt.) dan mengingat-ingat akan suasana di hadapan Allah swt., yaitu di hari ketika harta maupun anak-anak tidak lagi bermanfaat kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan ketika tiada kedua telapak kaki hamba yang melangkah kecuali setelah ditanya terlebih dahulu mengenai umurnya untuk apa dia habiskan; mengenai masa mudanya untuk apa dia gunakan; mengenai ilmunya untuk apa dia amalkan; dan mengenai hartanya dari mana dia mendapatkan dan bagaimana dia belanjakan.

Pernah dikatakan kepada salah seorang yang shalih, "Engkau mempunyai harta yang banyak. Bukahkah jika engkau menyimpannya untuk keperluan anak-anakmu nanti lebih baik bagimu daripada engkau sedekahkan seluruhnya?" Ia kemudian menjawab, "Aku simpan hartaku untuk diriku dan aku simpan anak-anakku di sisi Allah." Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Sedangkan ayah dari keduanya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu." (Al-Kahfi: 82)

Abdurrahman bin Abu Bakar pernah berkunjung ke rumah Aisyah Ummul Mukmimin, lantas Aisyah berkata kepadanya, "Engkau akan masuk surga dengan merangkak." Abdurrahman kemudian bertanya, "Mengapa begitu?" Aisyah menjawabi "Karena engkau termasuk orang yang paling banyak hartanya." Abdurrahman menyahut, "Aku akan masuk surga dengan berlari. Tentunya engkau telah mendengar tentang kafilah yang akan datang dari Mesir." Aisyah menjawab, "Ya." Abdurrahman kemudian berkata, "Kafilah itu, dan apa yang mereka bawa adalah untuk orang-yang miskin di antara kaum muslimin."

Harta itu, jika Allah membebaskan hati seseorang dari rasa mencintainya, maka pemiliknya akan dapat membeli surga dengannya. Adapun jika yang diinginkan dengan harta itu adalah pujian, kebanggaan, dan kesombongan, maka harta itu akan menjadi malapetaka bagi pemiliknya.

Ikhwan sekalian, sekarang mari kita beralih untuk berbicara mengenai hasrat spiritual, dan berapa besar pengaruhnya terhadap jiwa. Banyak di antara ulama mendahulukan cinta kedudukan daripada cinta harta. Sebab kedudukan itu lebih melekat pada diri dan lebih menempel pada hati. Biasanya jiwa lebih banyak cenderung kepada kedudukan daripada kepada harta. Sebagian manusia siap mengeluarkan harta sekian banyak demi meraih kedudukan, apakah berkaitan dengan jabatan, pangkat atau gelar. Kalau saja ia nafkahkan harta itu di jalan Allah, pastilah ia akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun ternyata banyak yang lebih suka kepada kedudukan.

Di antara maknanya adalah keagungan dan cinta popularitas. Manusia dalam kecintaannya kepada kedudukan terbagi menjadi dua golongan:

Pertama, golongan yang berlebihan, sehingga ia rela mengorbankan harta benda demi kedudukannya.

Kedua, golongan yang justru mengabaikan, sehingga ia kehilangan harga diri, kemuliaan, dan keutamaannya.

Setiap orang hendaklah dapat memelihara kedudukannya sesuai dengan keperluan untuk menjaga kemuliaan dan kehormatannya. "Sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam." (Al-lsra': 70) "Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, serta bagi orang-orang yang beriman." (Al-Munafiqun: 8) "Janganlah kalian bersikap Iemah dan jangan pula bersedih hati, karena kalianlah yang paling tinggi (derajatnya) jika kalian orang-orang yang beriman." (Ali Imran: 139)

Jika seseorang tidak bisa adil dan seimbang dalam menyikapi cintanya kepada kedudukan, hal itu akan membawanya kepada kesombongan. Jelas bahwa kesombongan merupakan perilaku yang tercela menurut syara', karena kesombongan berarti rneremehkan ciptaan Allah swt. dan menolak kebenaran. Di samping, itu kesombongan juga membawa kepada sikap ujub (bangga diri) yang juga tercela, yang terefleksi dalam bentuk keangkuhan. Ini mengakibatkan seseorang bersikap arogan dan memandang dirinya sebagai segala-galanya. Dengan demikian ia merasa bahwa pendapatnyalah yang benar, sedang pendapat yang Iain salah. Dia tidak dapat menerima nasihat dari orang lain. Lahirlah kemudian sifat riya' yang jelas-jelas dicela oleh agama, karena ia akan menghanguskan seluruh pahala. Selain itu, ujub juga mendorong seseorang untuk mencintai kedudukan. Sesungguhya hal inilah yang telah menghancurkan keagungan kaum muslimin dan memecah belah "kalimat" mereka.

Semua bencana ini merupakan buah dari cinta kepada kedudukan atau kehormatan. Jika engkau ingin mengobati dirimu dari penyakit yang kronis ini, engkau harus melakukan muraqabatullah. Sungguh kembalimu hanyalah kepada-Nya, dan Dia akan menghisabmu atas segala perilaku yang kecil maupun yang besar. Kemudian lihatlah orang-orang yang Iebih tinggi darimu dalam hal kedudukan. Ternyata, engkau jumpai mereka dalam jumlah yang banyak. Banyak orang yang Iebih tinggi darimu dalam hal harta, ilmu, amalan, kebaikan, dan seterusnya. Lalu ingatlah akan kelemahanrnu yang telah difitrahkan oleh Allah atasmu. "Dan manusia dijadikan memiliki sifat Iemah." (An-Nisa': 28) "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (Al-Balad: 4) Ketahuilah bahwa kecintaan manusia itu tidak akan bermanfaat bagimu, dan kebencian mereka iuga tidak akan memberi madharat kepadamu.

"Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tanganMu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu." (Ali Imran: 26) Selanjutnya bacalah sirah salafus shalih yang berisi berbagai pelajaran dan petuah.

Adalah Qadhi Raja' bin Haiwah. la seorang yang paling dekat kepada Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik. Suatu kali ia bertemu dengan Umar bin Abdul Aziz, Umar berkata, "Wahai Raja', aku yakin bahwa Amirul Mukminin (Sulaiman bin Abdul Malik) akan memilih pengganti dari kalangan kaum muslimin ini. Maka jangan engkau sebut aku di hadapannya. Jika engkau dapati ia mengingatku, maka palingkanlab ia dari mengingatku!" Raja' pun hanya terdiam. Ketika Raja' kembali menghadap Sulaiman, maka sang khalifah berkata, "Wahai Raja', siapa yang kamu lihat layak untuk menjadi khalifah sesudahku?" Raja' balik bertanya, "Tidakkah engkau ingin agar Tuhanmu menjadi ridha?" "Tentu." jawabnya. Raja' kemudian berkata, "Pilihlah Umar bin Abdul Aziz sebagai pengganti!" Amirul Mukminin Sulaiman kemudian berkata, "Catat ia sebagai khalifah sesudahku, dan sesudahnya lagi Yazid bin Abdul Malik." Waktu pun berlalu, dan akhirnya khalifah wafat. Raja' lalu mengumpulkan orang-orang di masjid, dan selanjutnya mengangkat surat wasiat itu dan berkata, "Wahai kaum muslimin, apakah kalian ridha untuk membaiat orang yang telah ditunjuk oleh Amirul Mukminin (sebelumnya)?" Mereka menjawab, "Ya, kami ridha." Raja' kemudian membuka surat itu dan berkataj "Sesungguhnya Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik telah memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah yang akan memimpin kalian." Seketika mereka pun mencari-cari Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau berada di masjid bagian belakang. Orang-orang pun menyampaikan selamat kepada beliau. Beliau naik mimbar dan kemudian berkata, "Wahai manusia, sesungguhnya aku tidak mampu memikul beban ini dan aku bukanlah ahlinya. Dan sesungguhnya aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku melepas khilafah ini.” Namun kaum muslimin ketika itu secara ijma' tetap membai'at beliau.

Yakinlah Saudara-saudara, bahwa jika nilai-nilai yang terdapat pada kaum mukminin awal ini terus dapat dipertahankan hingga seratus tahun, niscaya kaum mukminin akan memiliki kekuasaan di atas bumi ini.

Ołeh karena iłu, berbuatlah ikhlas, Ikhwan sekalian. Campakkan rasa cinta kepada kedudukan atau kehormatan dan popularitas. Beramallah dengan keyakinan, keteguhan, dan keberanian, serta tentunya dengan tawakkal kepada Allah swt. dałam menunaikannya. "Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia." (Al-Baqarah: 143)

Semoga Allah swt. melimpahkan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, serta kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya. 

No comments:

Post a Comment

Perbaikan Diri (2) - Haditsu Tsulatsa