Kita panjatkan puji
syukur ke hadirat Allah yang Mahasuci dan Mahatinggi. Kita ucapkan shalawat dan
salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabat serta
siapa saja yang menyebarkan dakwah beliau hingga hari pembalasan.
Amma ba'du.
Salamullahi
'alaikum wa rahmatuhu wa barakatuh.
Pembicaraan kita
pada maiam hari ini, wahai Ikhwan, meliputi mukadimah seperti biasa yang terasa
manis manakala berulang-ulang, yang bersumber dengan begitu jernih dan
bersihnya dari kedalaman hati, yang tampak bersinar dari limpahan berkah Allah
swt. Itulah munajat hati dan ruhani, yang dengannya kita memunajatkan jiwa
kita. Selanjutnya adalah serial yang telah kita mulai sebelumnya, yaitu tentang
ishlah an-nafs. Hanya Allah-lah yang memberi taufiq dan hidayah.
Saya masih ingat
akan salah seorang akh yang berbicara kepadaku, dan aku tidak tahu kenapa ia
mengatakan begitu. la berkata, "Sebenarnya kita telah menghabiskan
sebagian waktu untuk bermunajat seperti ini sekedar untuk membuka sebuah muhadharah
(pengajian, ceramah)-” Hendaklah saudara tadi memaklumiku jika harus kukatakan
kepadanya, "Sesungguhnya munajat ini dan penyingkapan hati itu dipenuhİ
oleh perasaan jiwa dan diilhami oleh rasa persaudaraan. Itu dimaksudkan agar
dapat sampai kepada sasaran amaliah, bukan sekedar ucapan belaka.” Saya
menantikan malam ini, dan ketika saya sudah berada di tempat ini, saya tidak
kuasa untuk tidak mengejutkan kalian dengan mukadimah İni. Sungguh saya ingin menarik perhatian kalian
kepada fikrah İslamiah İni, yaitu pentingnya saling bersaudara karena Allah,
dan dalam keridhaan Allah. Jika tidak, maka bagaimana halnya dengan sabda Nabi
saw.,
هَلِ
الْإِيمَانُ إِلَّا الْحُبُّ وَالْبُغْضُ؟
“Iman itu tidak lain
adalab cinta dan benci.”
Iman inilah yang
telah membangkitkan masyarakat İslam, lalu menjadi bagian dan hidup mereka,
sehingga "sebutan" mereka menjadi kekal dan "menara" mereka
menjadi tinggi menjulang. "Dİ antara orang-orang mukmin itu ada
orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di
antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu. Dan mereka sedikitpun tidak mengubah janji itu.” (Al-Abzab:
23)
Saya dapat katakan
bahwa iman inilah satu-satunya yang akan menghantar kita ke surga, bahkan
menuju Firdaus-Nya yang tertinggi manakala keimanan itu berdiri di atas
kecintaan demi Allah dan saling bersaudara demi Allah pula. Iman itulah yang
akan menyatukan persatuan umat dan memecahkan segah persoalannya.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara." (Al-Hujurat: 10)
"Kaum mukminin dan mukminat itu sebagian mereka (adalah) menjadi penolong
bagi sebagian yang lain." (At-Taubah: 71)
Dengan dua sayap
inilah Islam diterbangkan tinggi-tinggi ke langit kemuliaan. Kiranya tidak
berlebihan bila saya katakan bahwa -"Iman itu tidak dapat dibayangkan
tanpa cinta”, dan "cinta tidak dapat digambarkan tanpa iman", Allah
swt. berfirman, "Bagaimanakah kalian (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat
Allah telah dibacakan kepada kalian, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah
kalian? Barangsiapa yang berpegang
teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada
jalan yang lurus." (Ali Imran: 101)
Orang-orang mukmin
tidak ada yang sampai kufur juhud (ingkar), akan tetapi mereka berselisih
setelah sebelumnya bersatu, dan berpecah belah setelah sebelumnya menyatu. Ini
pun hal yang berlawanan dengan iman. Iman itu tidak lain adalah kesatuan dan
cinta. Percayalah bahwa kaum muslimin tidaklah kehilangan sesuatu yang. lebih
besar daripada kehilangan dua unsur ini. Orang mukmin itu laksana sebuah
bangunan; sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain. la juga, seperti jasad
yang satu; jika satu anggota tubuh ada yang sakit, maka seluruh anggota badan akan
merintih.
Demi Tuhan semesta
alam, sisi manakah di antara unsur-unsur kebaikan yang ada, yang kedudukannya
lebih tinggi daripada unsur yang telah menjadikan Islam itu mulia? Nabi saw-
pernah bersabda,
عَنْ
عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:«إِنَّ مِنْ عِبَادِ
اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ، يَغْبِطُهُمُ
الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ»قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ؟قَالَ:«هُمْ
قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ، وَلَا
أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ، وَإِنَّهُمْ
عَلَى نُورٍ، لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا
حَزِنَ النَّاسُ»ثُمَّ
قَرَأَ:﴿أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾(يونس:
٦٢)
"Sesungguhnya
di antara hamba-hamba Allah itu terdapat satu golongan manusia biasa, bukan
para nabi dan juga bukan syuhada. Namun para nabi dan syuhada' merasa iri
kepada mereka pada hari kiamat, karena kedudukan mereka di sisi Allah swt. Para
sahabat bertanya, 'Wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami siapa mereka itu?'
Beliau menjawab, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan ruh
Allah; bukan karena kekerabatan mereka dan bukan karena harta benda yang saling
mereka berikan. Demi Allah, wajah-wajah mereka adalah cahaya dan mereka berada
di atas cahaya. Mereka tidak merasa khawatir ketika manusia mulai khawatir, dan
mereka tidak pula bersedih hati manakala orang lain bersedih hati. Selanjutnya
beliau membaca ayat, Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Yunus:
62) Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Abu Dawud.
Wahai Ikhwan, oleh
karena itu, saya selalu mengingatkan bahwa tidak akan ada kebangkitan tanpa
cinta, dan tidak ada cinta tanpa imam Manakala gambaran mengenai masyarakat
yang mulia ini terbersit ke dalam jiwa, ia akan melahirkan harapan yang mulia
pula, Karena, kita semua sebagai umat Islam ini tidak akan kekurangan sesuatu
sebagaimana bila kita ini kekurangan perasaan yang kuat, yang dapat menyatukan
hati kita dan mampu mewujudkan ilustrasi yang digambarkan oleh Rasulullah saw.
melalui sabdanya,
مَثَلُ
الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، مَثَلُ
الْجَسَدِ؛ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ
بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
"Gambaran
orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, sating mengasihi dan saling
empati di antara sesama mereka adalah laksana satu tubuh; jika ada sebagian
dari anggota tubuh yang sakit, maka selurub anggota tubuh Iainnya akan ikut
merintih merasakan demam dan tak bisa tidur. "
Dari hadits ini kita
akan dapat memahami realitas hidup yang dijalani oleh kaum muslimin generasi
pertama.
"Gambaran
orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling mengasihi..." Nilai
seperti ini mulai saya pahami dalam kehidupan para pendahulu itu. Di dalam
kehidupan mereka, Anda akan mendapatkan contoh-contoh yang cukup banyak. Adapun
kehidupan kita yang sedang kita jalani ini jarang sekali yang sesuai dengan
sebagian dari gambaran tersebut. Semoga kita bisa terhibur oleh perkumpulan
yang menyatukan kalian di sini.
Hadits ini terbetik
dalam benakku, bahkan saya gambarkan tidak sebagaimana menggambarkan kata-kata,
akan tetapi saya gambarkan dan saya lihat seakan terlukis di depan mataku. Saya
baca bahwa seorang lelaki dalam suatu peperangan terkena pedang sampai akhirnya
kematian menjemputnya. Ia tidak mengaduh dan tidak pula berteriak, akan tetapi
langsung jatuh tersungkur sebagaimana jatuhnya pahlawan. Bukan ini yang saya
inginkan dari hadits tersebut. Tapi coba lihatlah, pukulan pedang menimpa
tengkuknya, lalu tiba-tiba saudara yang lain yang sedang berada di sampingnya
berteriak, ”Saudaraku, engkau mendahuluiku menuju surga!" Hal inilah yang
membuatku bergetar. la yang terpukul, tapi justru orang lain yang berteriak.
Yang terpukul tidak berteriak, namun tetap tabah, karena dia orang beriman yang
mengetahui bahwa pukulan itu justru akan menghantarkannya ke surga. Tapi
lihatlah orang yang berada di sebelahnya. la mengatakan, "Aaah..!",
seakan pukulan itu mengenai dirinya. ”...saudaraku, engkau ielah mendahuluiku
menuju surga.", lanjutnya. Hakikat inilah yang menggambarkan kepadaku akan
sabda Rasulullah saw., "Kamu lihat orang-orang beriman dalam hal saling
mencintai dan saling menyayangi serta saling empati di antara sesama mereka
laksana satu tubuh.” Yang terkena pukulan justru tidak mengaduh, namun
saudaranyalah yang mengaduh. Seakan keduanya merupakan hakikat yang satu. Yang
menambah lagi keindahan ikatan nilai ini adalah bahwa orang yang mengatakan
"aduh" tadi tidaklah mengucapkannya karena dibuat-buat, akan tetapi ia
mengucapkannya karena ia merasakan kepedihan saudaranya yang tertimpa pukulan
pedang.
Demikianlah sejarah
kaum salaf telah memperlihatkan kepada kita, yang menunjukkan bahwa kumpulan
manusia itu seluruhnya adalah laksana tubuh yang satu, melakukan aktivitas yang
satu, serta merasakan perasaan yang sama, betapapun dalam kondisi yang teramat
sulit. Dikisahkan, suatu ketika sepasukan dari kaum muslimin keluar untuk
berperang. Posisi antara pasukan kaum muslimin dengan musuh terbatasi sebuah
sungai. Kedua pasukan itu saling berhadapan. Sang komandan pasukan muslim
berkata, ”Bagaimana pendapat kalian menghadapi musuh-musuh kalian, sementara
mereka bisa memperoleh perbekalan dan air tanpa harus susah payah? Bagaimana
pendapat kalian?" Salah seorang dari mereka kemudian menjawab, "Kita
seberangi saja sungai ini, lalu kita perangi mereka di tempat mereka
berada."
"Barangsiapa
yang mundur dari mereka di waktu itu, kecuali berbelok untuk siasat perang atau
hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu
kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya adalah neraka
Jahanam. Dan amatlah buruk tempat kembalinya itu." (Al-Anfal: 16) Mereka
pun akhirnya menceburkan diri bersama kuda-kuda mereka melintasi sungai agar
dapat bertempur dengan musuh. Di depan terlihat pasukan niusuh sudah siap siaga
untuk menghunuskan pedang mereka. Tiba-tiba salah seorang di antara pasukan
kaurn muslimin ada yang berteriak, "Qa'bku..qa'bku....,
jatuh ke air!" (Qa'b adalah kantong air bejana yang terbuat dari
kayu.) Mendengar hal İtu, sang komandan berkata, "Carilah dulu qa'b
milik saudara kalian yang hilang itu!" Mereka pun sibuk mencarinya,
sementara pasukan musuh sedang menanti mereka dan kematİan pun sedang mengitari
kepala mereka. Ketika komandan pasukan musuh itu melihat perilaku mereka
tersebut, ia berkata, “Apa-apaan mereka itu?" Bawahannya menjawab,
"Salah seorang dari mereka kehilangan qa'bnya, dan mereka sedang sibuk
mencarinya.” Sang komandan ini kemudian berkata, "Jika karena masalah qa'b
saja mereka sudah seperti itu, lalu bagaimana jika kalian membunuh salah
seorang saja dari mereka?! Pasukan. ..! Berdamai sajalah dengan mereka sesuai
dengan apa yang mereka inginkan!"
"Pancaran
ukhuwah” tersebut sudah cukup untuk mengalahkan musuh dan memenangkan kaum mukminin,
sekaligus menaklukkan kota itu. Iyu semua adalah buah dari kesatuan yang menjadi
perhatian Rasulullah saw., "Kamu lihat orang-orang mukmin itu dalam hal
saling mencintai dan berkasİh sayang...”
Wahai Ikhwan,
sementara yang terjadi dalam masyarakat kita sekarang ini adalah bahwa nafsu
dan kerakusan terhadap dunia telah menjadikan mereka berpecah-belah. sebab hati
mereka kosong dari memahami potret semacam İni, yang dengan jelas disabdakan
oleh Nabi saw., "Kamu lihat orang-orang mukmin itu dalam hal saling
mencintai dan berkasih sayang...”, dan juga sabda beliau, “Orang mukmin
terhadap mukrnin lainnya laksana sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan bagian
yang lain."
Ikhwan sekalian.
Sekali lagi saya katakan bahwa sesuatu yang paling mahal dari manusia itu
adalah "diri”-nya. Bahkan manusia itu tidak akan ada artinya tanpa
dirinya. Diri inilah yang akan mendapatkan pengaruh karena berbagai faktor.
Kebaikan diri memerlukan berbagai sarana. Di antara faktor perbaikan diri ini
adalah usaha berhubungan dengan para "dokter hati" dan dengan ikhwan
yang shalih, serta mengambil pelajaran baik dan buruk yang terjadi di tengah
masyarakat. Keutamaan diri itu terletak pada kestabilan pribadinya. Diri itu
berwatak ”cinta kepada kenikmatan dan tidak suka kepada kemudharatan.” Cinta
kenikmatan mengharuskan adanya syahwat (hasrat, keinginan, nafsu) sementara
menolak kemudharatan membutuhkan adanya amarah atau kebencian. Dorongan syahwat
ada yang bersifat materi dan ada pula yang bersifat maknawi. Dorongan syahwat
yang bersifat materi telah disusun sedemikian rupa oleh Allah swt. di dalam
jiwa demi kelanggengan 'jiwa itu sendiri, sehingga hal ini memang sangat dibutuhkan.
Ini terdapat pada diri manusia bukan sekedar demi kenikmatan, akan tetapi juga
demi keberlangsungan eksistensi kemanusiaannya. la menjadi pendorong yang kuat
yang menyebabkan keterpeliharaannya. Kenikmatan hanyalah sarana, bukan tujuan.
Manakala Islam
mengakui adanya kenikmatan dengan segala bentuknya, Islam juga menjelaskan
bahwa ia merupakan instink dan watak yang dominan. Selain itu juga menjelaskan
pula bahwa jika ia berkuasa dan terlepas begitu saja tanpa kendali, ia akan
menjadikan manusia ini ”predator" (binatang buas yang memangsa binatang
lain). la juga mengandung unsur emosi dan sifat yang dominan atas akal orang
yang berakal. Maka Islam memandangnya secara adil, Islam membentenginya dengan
kendali syariat. Islam mengharamkan nazhar (memandang lawan jenis), khalwat
(menyendiri dengan lawan jenis), dan tabarruj (berhias yang berlebihan)
bagi wanita. Islam mendorong pernikahan serta menghilangkan segala rintangan
yang menghalanginya, Adapun Eropa dan Barat, mereka memberikan kebebasan mutlak
kepada nafsu serta membolehkannya untuk melakukan segala yang diinginkan.
Mereka bahkan mempersenjatai dengan filsafat, dcngan berbagaİ majalah dan surat
kabar, serta tarian dan perhiasan. Hasilnya adalah sebuah masyarakat yang
hancur dan terperosok ke derajat yang paling rendah. Parahnya, ternyata kita
pun bertaklid buta kepada mereka dalam dosa İni. Instink kita menjadi lepas begitu
saja sehingga kita mudah berbuat maksiat. Jika kita menginginkan perbaikan,
yakni memperbaiki instink itu, kita harus berpegang kepada batasan-batasan
syara'. Kita harus mendudukkan diri sebagai orang yang mengoreksi diri secara
berani dengan merasakan adanya muraqabah (pengawasaö) dari Allah swt. Hendaklah
sejarah hidup nabi kita Yusuf as, menjadi contoh bagi kita. Beliau pernah diuji
dengan posisi yang sangat sulit, namun beliau tetap tahan dan tidak melemah di
hadapan godaan yang sedemikian rupa, sekalipun sifat kepemudaannya begitu kuat
dan sifat kelelakiannya begitu sempurna, Yusuf as. mengatakan, ”Aku berlindung
kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya
orang-orang zhalim tidak akan beruntung.” (Yusuf: 23)
Kemudian ia menjadikan
dirinya selalu dalam pengawasan Allah swt. manakala ia melihat tanda terang dari
Tuhannya. Akhirnya, Allah pun menghindarkannya dari keburukan dan kekejian.
Alasannya adalah: "Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamb-hamba Kami yang
terpilih," (Yusuf: 24)
Abdullah bin Abdul
Muthalib, ayah Nabi saw., pernah ditawari oleh seorang dukun wanita untuk
berbuat serong dengannya dan diberi berbagai macam tawaran dan harta benda,
namun Abdullah enggan menuruti kemauan wanita itu. la lebih merasa mulia dengan
kelelakiannya yang utuh, akhlaknya yang mulia, serta dengan kesuciannya. la
enggan untuk mengotori kesucian ini, sebagaimana syair terkenal bertutur:
أَمَّا الْحَرَامُ
فَالْمَمَاتُ دُونَهُ، *وَالْحِلُّ
لَا حِلٌّ فَأَسْتَبِيحُهُ.
فَكَيْفَ بِالْأَمْرِ
الَّذِي تَبْغِينَهُ، *يَحْمِي
الْكَرِيمُ عِرْضَهُ وَدِينَهُ.
Yang haram kematian taruhannya
Yang halal, pasti kutahu
Bagaimana dengan urusan yang kaıı
inginkan
Orang muda
menjaga harga diri dan agamanya
Yang dapat
menjauhkan dari hal yang demikian itu, tidak lain adalah kemuliaan dan
kehormatan dirinya.
Ketika Ummu Salamah
ra. hijrah, ia tidak ditemani oleh seorang pun kecuali putranya yang masih
kecil. Dia berarti hijrah sendirian. Kemudian dalam perjalanan bertemu dengan
Utsman bin Thalhah, namun pandangan Utsman tidaklah tertuju padanya. Utsman bin
Thalhah bertanya kepadanya, "Siapa yang menyertaimu?" Ummu Salamah
menjawab, "Tidak ada siapa-siapa bersamaku, kecuali Allah." Utsman
lalu berkata kepadanya, "Kalau begitu saya bisa menemanimu." Maka
Utsman bin Thalhah pun menemaninya selama delapan hari delapan malam, sampai
akhirnya Ummu Salamah tiba di Madinah. Ummu Salamah berkata, "Demi Allah,
aku belum pernah melihat seorang ternan yang lebih baik darinya. la mengambil
kendali unta, dan demi Allah, ia tidak melihat kepada siapa pun. Sampai ketika
kami telah dekat dengan Madinah, ia berkata, "Nah, inilah dia kota Yatsrib
itu, dan mereka itulàh sahabat-sahabatmu." Selanjutnya ia pun berpisah
begitu saja dengan Ummu Salamah. Ummu Salamah ketika itu termasuk di antara
wanita yang tercantik, dan Utsman ketika itu masih kafir dan berusia muda;
namun demikian ia memiliki kehormatan. Ketika terjadi penaklukan kota Makkah,
Abbas ingin menantangnya. Namun kemudian Nabi saw. bersabda, "Biarkan ia,
karena dia mempunyai kehormatan dan harga diri.
Nilai kehormatan
seperti ini jika muncul di dalam jiwamu, maka engkau pasti akan memperoleh
kenikmatan tersendiri yang tidak mungkin engkau dapatkan pada saat memenuhi
keinginan syahwatmu. Kemudian ada hal lain yang harus kita ingat, yaitu balasan
atau pahala.
Di depan telah kami
katakan bahwa jiwa itu memang tercetak untuk senang kepada kebaikan dan menolak
keburukan. Dan yang berkaitan dengan kesenangan ini adalah cinta harta. Pada
dasarnya, cinta harta merupakan sarana untuk mencapai tûjuan-tujuan nafsu dan
meraih keinginan-keinginannya, di mana hal ini tidak mungkin tercapai kecuali
dengan harta itu. Oleh karena itu, jiwa sangat tergantung sekali kepadanya.
"Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan,"
(Al-Fajr: 20) "Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena kecintaannya yang
sangat kepada harta." (Al-Adiyat: 8) "Jika ia meninggalkan harta yang
banyak, agar berwasiat kepada ibu bapak dan karib kerabatnya secara ma'ruf, ini
adalah kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa." (Al-Baqarah: 180)
Cinta kepada harta
ada kalanya mulia dan ada kalanya pula hina. Manusia dalam masalah kecintaannya
kepada harta terbagi menjadi tiga golongan.
Pertama,
golongan yang berlebihan dalam mencintai harta sehingga seluruh waktunya habis
demi harta, dan harta itu .saja yang selalu ia pikirkan.
Kedua,
golongan yang meremehkan harta dan tidak menginginkan harta, sehingga ia tidak
mau merasakan nikmatnya bekerja. Kedua golongan tersebut sama-sama keliru.
Ketiga,
golongan yang senang kepada harta sehingga dapat meraih tujuan-tujuman mulia dan
menjauhi yang selain itu. Kecintaannya kepada harta tidak sampai membawanya
untuk melakukan dosa, dan juga tidak sampai menghalanginya untuk berbuat
kebajikan. Itulah orang yang berbahagia.
Nabi saw. pernah
mengatakan,
نِعْمَ
الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
“Sebaik-baik harta
adalah yang ada di tangan orang yang shalih.”
Baginda Sa'ad (bin
Abi Waqqash) pernah berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya (harta) sedikit itu
tidak mencukupiku, maka berilah aku (harta) banyak yang memberiku manfaat dan
memberikan maslahat untuk kaum muslimin."
Ini merupakan
ungkapan yang patut dipuji. la menginginkan harta demi dua hal: agar memberikan
manfaat baginya dan juga memberikan kemaslahatan bagi kaum muslimin. Hal
semacam ini juga telah diperhatikan oleh Rasulullah saw. melalui sabda beliau,
"Jika salah seorang di antara kalian mau mengambil tambang untuk dipikul
di atas bahunya, lalu ia mencari kayu bakar dan diangkat dengan punggungnya;
itu lebih baik baginya daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka
memberi atau. menolak."
Itu merupakan
dorongan dari beliau terhadap kerja dan usaha. Beliau bahkan memohon
perlindungan kepada Allah dari sifat lemah dan malas.
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ
وَالْكَسَلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ
غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, sesunguhnya
aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, lemah dan malas, sifat pengecut
dan bakhil, serta dari terbelit hutang dan tekanan orang lain.”
Ini jika usaha itu
dari yang halal dan penggunaannya juga untuk yang halal. Adapun jika usahanya
haram dan penggunaannya juga untuk hal yang haram, terapinya adalah muraqabatullah
(merasa selalu diawasi oleh Allah swt.) dan mengingat-ingat akan suasana di
hadapan Allah swt., yaitu di hari ketika harta maupun anak-anak tidak lagi
bermanfaat kecuali yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, dan ketika
tiada kedua telapak kaki hamba yang melangkah kecuali setelah ditanya terlebih
dahulu mengenai umurnya untuk apa dia habiskan; mengenai masa mudanya untuk apa
dia gunakan; mengenai ilmunya untuk apa dia amalkan; dan mengenai hartanya dari
mana dia mendapatkan dan bagaimana dia belanjakan.
Pernah dikatakan
kepada salah seorang yang shalih, "Engkau mempunyai harta yang banyak.
Bukahkah jika engkau menyimpannya untuk keperluan anak-anakmu nanti lebih baik
bagimu daripada engkau sedekahkan seluruhnya?" Ia kemudian menjawab,
"Aku simpan hartaku untuk diriku dan aku simpan anak-anakku di sisi
Allah." Mahabenar Allah yang telah berfirman, "Sedangkan ayah dari
keduanya adalah seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar mereka
sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat
dari Tuhanmu." (Al-Kahfi: 82)
Abdurrahman bin Abu
Bakar pernah berkunjung ke rumah Aisyah Ummul Mukmimin, lantas Aisyah berkata
kepadanya, "Engkau akan masuk surga dengan merangkak." Abdurrahman
kemudian bertanya, "Mengapa begitu?" Aisyah menjawabi "Karena engkau
termasuk orang yang paling banyak hartanya." Abdurrahman menyahut,
"Aku akan masuk surga dengan berlari. Tentunya engkau telah mendengar
tentang kafilah yang akan datang dari Mesir." Aisyah menjawab,
"Ya." Abdurrahman kemudian berkata, "Kafilah itu, dan apa yang
mereka bawa adalah untuk orang-yang miskin di antara kaum muslimin."
Harta itu, jika
Allah membebaskan hati seseorang dari rasa mencintainya, maka pemiliknya akan
dapat membeli surga dengannya. Adapun jika yang diinginkan dengan harta itu
adalah pujian, kebanggaan, dan kesombongan, maka harta itu akan menjadi
malapetaka bagi pemiliknya.
Ikhwan sekalian,
sekarang mari kita beralih untuk berbicara mengenai hasrat spiritual, dan
berapa besar pengaruhnya terhadap jiwa. Banyak di antara ulama mendahulukan
cinta kedudukan daripada cinta harta. Sebab kedudukan itu lebih melekat pada
diri dan lebih menempel pada hati. Biasanya jiwa lebih banyak cenderung kepada
kedudukan daripada kepada harta. Sebagian manusia siap mengeluarkan harta
sekian banyak demi meraih kedudukan, apakah berkaitan dengan jabatan, pangkat
atau gelar. Kalau saja ia nafkahkan harta itu di jalan Allah, pastilah ia akan
memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Namun ternyata banyak yang lebih
suka kepada kedudukan.
Di antara maknanya
adalah keagungan dan cinta popularitas. Manusia dalam kecintaannya kepada
kedudukan terbagi menjadi dua golongan:
Pertama,
golongan yang berlebihan, sehingga ia rela mengorbankan harta benda demi
kedudukannya.
Kedua,
golongan yang justru mengabaikan, sehingga ia kehilangan harga diri, kemuliaan,
dan keutamaannya.
Setiap orang
hendaklah dapat memelihara kedudukannya sesuai dengan keperluan untuk menjaga
kemuliaan dan kehormatannya. "Sungguh telah Kami muliakan anak cucu
Adam." (Al-lsra': 70) "Kemuliaan itu hanyalah bagi Allah, bagi
Rasul-Nya, serta bagi orang-orang yang beriman." (Al-Munafiqun: 8)
"Janganlah kalian bersikap Iemah dan jangan pula bersedih hati, karena
kalianlah yang paling tinggi (derajatnya) jika kalian orang-orang yang
beriman." (Ali Imran: 139)
Jika seseorang tidak
bisa adil dan seimbang dalam menyikapi cintanya kepada kedudukan, hal itu akan
membawanya kepada kesombongan. Jelas bahwa kesombongan merupakan perilaku yang
tercela menurut syara', karena kesombongan berarti rneremehkan ciptaan Allah
swt. dan menolak kebenaran. Di samping, itu kesombongan juga membawa kepada
sikap ujub (bangga diri) yang juga tercela, yang terefleksi dalam bentuk
keangkuhan. Ini mengakibatkan seseorang bersikap arogan dan memandang dirinya
sebagai segala-galanya. Dengan demikian ia merasa bahwa pendapatnyalah yang
benar, sedang pendapat yang Iain salah. Dia tidak dapat menerima nasihat dari
orang lain. Lahirlah kemudian sifat riya' yang jelas-jelas dicela oleh agama,
karena ia akan menghanguskan seluruh pahala. Selain itu, ujub juga mendorong
seseorang untuk mencintai kedudukan. Sesungguhya hal inilah yang telah
menghancurkan keagungan kaum muslimin dan memecah belah "kalimat"
mereka.
Semua bencana ini
merupakan buah dari cinta kepada kedudukan atau kehormatan. Jika engkau ingin
mengobati dirimu dari penyakit yang kronis ini, engkau harus melakukan muraqabatullah.
Sungguh kembalimu hanyalah kepada-Nya, dan Dia akan menghisabmu atas segala
perilaku yang kecil maupun yang besar. Kemudian lihatlah orang-orang yang Iebih
tinggi darimu dalam hal kedudukan. Ternyata, engkau jumpai mereka dalam jumlah
yang banyak. Banyak orang yang Iebih tinggi darimu dalam hal harta, ilmu,
amalan, kebaikan, dan seterusnya. Lalu ingatlah akan kelemahanrnu yang telah
difitrahkan oleh Allah atasmu. "Dan manusia dijadikan memiliki sifat
Iemah." (An-Nisa': 28) "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia
berada dalam susah payah." (Al-Balad: 4) Ketahuilah bahwa kecintaan
manusia itu tidak akan bermanfaat bagimu, dan kebencian mereka iuga tidak akan
memberi madharat kepadamu.
"Katakanlah,
'Wahai Tuhan yang memiliki kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang
Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki.
Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang
Engkau kehendaki. Di tanganMu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau
Mahakuasa atas segala sesuatu." (Ali Imran: 26) Selanjutnya bacalah sirah
salafus shalih yang berisi berbagai pelajaran dan petuah.
Adalah Qadhi Raja'
bin Haiwah. la seorang yang paling dekat kepada Khalifah Sulaiman bin Abdul
Malik. Suatu kali ia bertemu dengan Umar bin Abdul Aziz, Umar berkata,
"Wahai Raja', aku yakin bahwa Amirul Mukminin (Sulaiman bin Abdul Malik)
akan memilih pengganti dari kalangan kaum muslimin ini. Maka jangan engkau
sebut aku di hadapannya. Jika engkau dapati ia mengingatku, maka palingkanlab
ia dari mengingatku!" Raja' pun hanya terdiam. Ketika Raja' kembali
menghadap Sulaiman, maka sang khalifah berkata, "Wahai Raja', siapa yang
kamu lihat layak untuk menjadi khalifah sesudahku?" Raja' balik bertanya,
"Tidakkah engkau ingin agar Tuhanmu menjadi ridha?"
"Tentu." jawabnya. Raja' kemudian berkata, "Pilihlah Umar bin
Abdul Aziz sebagai pengganti!" Amirul Mukminin Sulaiman kemudian berkata,
"Catat ia sebagai khalifah sesudahku, dan sesudahnya lagi Yazid bin Abdul
Malik." Waktu pun berlalu, dan akhirnya khalifah wafat. Raja' lalu
mengumpulkan orang-orang di masjid, dan selanjutnya mengangkat surat wasiat itu
dan berkata, "Wahai kaum muslimin, apakah kalian ridha untuk membaiat
orang yang telah ditunjuk oleh Amirul Mukminin (sebelumnya)?" Mereka
menjawab, "Ya, kami ridha." Raja' kemudian membuka surat itu dan
berkataj "Sesungguhnya Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik telah
memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah yang akan memimpin kalian."
Seketika mereka pun mencari-cari Umar bin Abdul Aziz, dan ternyata beliau
berada di masjid bagian belakang. Orang-orang pun menyampaikan selamat kepada
beliau. Beliau naik mimbar dan kemudian berkata, "Wahai manusia,
sesungguhnya aku tidak mampu memikul beban ini dan aku bukanlah ahlinya. Dan
sesungguhnya aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa aku melepas khilafah
ini.” Namun kaum muslimin ketika itu secara ijma' tetap membai'at beliau.
Yakinlah Saudara-saudara,
bahwa jika nilai-nilai yang terdapat pada kaum mukminin awal ini terus dapat
dipertahankan hingga seratus tahun, niscaya kaum mukminin akan memiliki
kekuasaan di atas bumi ini.
Ołeh karena iłu,
berbuatlah ikhlas, Ikhwan sekalian. Campakkan rasa cinta kepada kedudukan atau
kehormatan dan popularitas. Beramallah dengan keyakinan, keteguhan, dan
keberanian, serta tentunya dengan tawakkal kepada Allah swt. dałam
menunaikannya. "Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman kalian.
Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia."
(Al-Baqarah: 143)
Semoga Allah swt. melimpahkan shalawat dan salam kepada penghulu kita Nabi Muhammad, serta kepada seluruh keluarga dan para sahabatnya.
No comments:
Post a Comment