Pendahuluan
Jalan
dakwah adalah jalan menuju jamaah kaum muslimin, jalan menuju penegakan Daulah
Islamiyah (Negara Islam) dunia yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah. Ia adalah
jalan menuju pengokohan (tamkin) bagi agama Allah di bumi; jalan yang
ditempuh oleh para pejuang yang jujur untuk mewujudkan tujuan yang agung ini.
Ini
adalah jalan yang seluruhnya berisi kerja, upaya, jihad, kesukaran, dan
kesulitan, serta kesabaran, keteguhan, pengorbanan, tebusan jiwa, kemenangan,
hingga kesyahidan. Ini bukanlah jalan kata-kata dan teori, atau perdebatan dan
filsafat, atau khayalan dan asumsi belaka. Pada jalan seperti inilah,
keteladanan (qudwah) menjadi perkara yang paling mendesak, terutama
keteladanan praktis yang merepresentasikan Islam yang benar dengan segala
ajaran dan tuntutannya tanpa kesalahan, penyimpangan, atau keberanian melanggar
hukum.
Kami
menginginkan bagi Negara Islam yang dicitakan ini segala sebab kekuatan,
keaslian, dan kemapanan, agar ia dapat stabil, berlanjut, dan menjalankan peran
agungnya, yaitu memberi petunjuk kepada kemanusiaan yang menderita dan tersesat
di antara prinsip-prinsip yang batil dan akidah yang rusak. Kami
menginginkannya menjadi sebuah negara yang menyampaikan Islam sebagai agama
yang hak kepada manusia dan mengibarkan panjinya di seluruh penjuru dunia.
Oleh
karena itu, kami ingin agar komponen-komponen negara ini—mulai dari individu,
keluarga, masyarakat, hingga pemerintah—menjadi sehat, kokoh, dan kuat, yang
merepresentasikan model Islami yang benar bagi elemen-elemen pembentuk
negaranya. Kami tidak ingin Negara Islam kami hanya tampak indah di luar namun
buruk di dalam (muthahharun duna mukhbir). Kami tidak menginginkannya
menjadi entitas yang rapuh, lemah, dan tidak kohesif yang runtuh hanya karena
guncangan dari musuh. Persoalan bagi kami bukan sekadar sampai ke kursi
kekuasaan, melainkan pengokohan bagi agama Allah di muka bumi, di mana negara-Nya
berdiri, unggul, stabil, dan melenyapkan segala kebatilan di Timur maupun Barat
dengan izin Allah.
Oleh
karena itu, kami ingin bagi mereka yang menempuh jalan dakwah agar jelas dalam
benak mereka bahwa mereka sedang berupaya mewujudkan pencapaian terbesar yang
mungkin diraih di muka bumi. Hendaknya mereka menghargai perkara ini dengan
penghargaan yang semestinya dan memberikan perhatian yang layak. Kemudian,
hendaknya mereka juga mengetahui tabiat fase ini, yaitu bahwa kita sedang
meletakkan fondasi yang kokoh bagi bangunan raksasa ini. Ketahuilah bahwa
fondasi dalam setiap bangunan adalah tahap yang paling penting sekaligus paling
sulit. Dari sinilah muncul pentingnya "Keteladanan di Jalan
Dakwah".
Kami
menginginkan bagi fondasi ini: individu muslim yang teladan, keluarga muslim
yang teladan, dan masyarakat muslim yang teladan, agar di atas basis yang kokoh
ini berdirilah pemerintahan Islam yang teladan. Hal ini dilakukan pada level
bangsa-bangsa Islam, barulah kemudian datang pemerintahan-pemerintahan muslim
yang bersedia masuk dalam kedamaian bersama saudara-saudaranya membentuk Negara
Islam.
Telah
diketahui bahwa berpartisipasi dalam menegakkan bangunan agung ini—yaitu
membangun Negara Islam—adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Karena
kewajiban ini tidak mungkin dilakukan secara individu melainkan harus melalui
kerja kolektif yang terorganisir (amal jama'i munazzam), maka harus ada
Jamaah Islamiyah yang menghimpun para pekerja Islam, merancang jalan bagi
mereka, dan memulai pelaksanaan. Dengan demikian, bekerja dalam sebuah jamaah
menjadi wajib, karena "suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali
dengannya, maka sesuatu itu hukumnya wajib." Oleh sebab itu, dalam
pembahasan kita tentang "Keteladanan di Jalan Dakwah," kita harus
merujuk pada Jamaah Muslimah yang teladan, dengan tujuan menyatukan upaya dan
arah di jalan yang benar, alih-alih terpecah belah dan tercerai-berai.
Saat
kita membahas tentang individu muslim yang teladan, kita akan mencoba
memberikan profil dasar, baik ia seorang pelajar, guru, insinyur, dokter,
pekerja, pedagang, pemimpin, maupun prajurit... dan bidang-bidang lainnya, agar
setiap individu dapat mengambil manfaat dari profil ini sesuai posisi dan
spesialisasinya. Kami juga akan merujuk pada rumah tangga dan menyentuh
beberapa institusi yang dianggap sebagai sarana di jalan dakwah, seperti
sekolah Islam teladan, rumah sakit Islam teladan, lembaga Islam teladan, bank
Islam teladan, dan klub olahraga Islam teladan... demikian seterusnya sejauh
situasi memungkinkan.
Penting
juga bagi kami untuk mengisyaratkan dalam pendahuluan ini tentang peran saudari
muslimah (akhwat) dalam bidang kerja Islami di jalan dakwah, bahwa
perannya tidak kalah penting dan krusial dibanding peran saudara muslim (ikhwan).
Kami berharap para akhwat menganggap diri mereka juga menjadi sasaran dari apa
yang kami tulis mengenai "Keteladanan di Jalan Dakwah," meskipun
konteks pembicaraan sering kali menggunakan bentuk kata ganti laki-laki, namun
yang kami maksud adalah saudara dan saudari secara bersamaan.
Mustafa
Mashhur
Tradisi
(Taqlid) dan Meneladani (Iqtida')
Demikianlah,
melalui pendengaran, penglihatan, dan akal, pengetahuan terbentuk pada manusia
agar ia mendapat petunjuk dan menempuh jalannya dalam kehidupan. Kita mendapati
seorang anak pada fase-fase awalnya bersandar pada meniru (taqlid) apa
yang ia lihat dan dengar karena keterlambatan pertumbuhan persepsinya. Sejauh
mana sarana pengetahuan yang sehat dan pandangan yang benar tentang dunia dan
risalahnya tersedia bagi anak tersebut, maka sejauh itu pula ia memiliki
peluang untuk memilih dengan benar saat akalnya matang. Ia akan memilih dengan
kehendak bebasnya: jalan kebaikan atau jalan keburukan, jalan hidayah atau
jalan kesesatan.
Di
antara rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia tidak membiarkan mereka
hanya bergantung pada akal dan indra mereka saja, melainkan Dia mengutus para
Rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada
alasan bagi manusia di hadapan Allah setelah diutusnya para Rasul tersebut. Dia
juga menurunkan kitab-kitab untuk memberikan pencerahan kepada manusia mengenai
jalan kebenaran dan kebahagiaan, serta jalan kesesatan dan kesengsaraan. Di
antara keadilan dan rahmat-Nya pula, Dia tidak menghisab amal perbuatan kecuali
setelah mencapai usia dewasa (idrak) dan beban syariat (taklif),
sesuai dengan akal yang telah dianugerahkan.
Manusia
melihat, mendengar, membaca, dan mengenali, kemudian akal menimbang dan
membimbing anggota tubuh untuk melakukan apa yang dipilihnya. Hakikatnya,
perumpamaan akal dan cahaya wahyu adalah seperti mata dan cahaya lampu. Mata
tanpa cahaya akan membuat pemiliknya terantuk-antuk dalam kegelapan; demikian
pula akal tanpa wahyu dapat membuat pemiliknya tersesat di jalan kegelapan.
Kita melihat kitab-kitab dan para Rasul langit menjelaskan kepada manusia
hakikat alam semesta ini dan Penciptanya, menjelaskan hakikat kehidupan dunia
dan misi manusia di dalamnya, serta hakikat kematian dan apa yang setelah
kematian berupa kebangkitan, hisab, dan balasan. Setelah semua penjelasan ini,
manusia diberikan kebebasan untuk memilih dan meyakini.
Renungan
atas Nikmat Pendengaran, Penglihatan, dan Akal
Mengingat
urgensi besar dari tiga sarana pengetahuan—yaitu pendengaran, penglihatan, dan
akal—dalam bidang hidayah dan keteladanan, saya memohon izin kepada pembaca
untuk merenungkan ayat mulia guna mengetahui nilai dari ketiga nikmat ini.
Seorang bayi lahir seperti sekerat daging yang tidak mengetahui dan tidak
menyadari apa pun, namun Allah membekalinya dengan pendengaran dan penglihatan,
kemudian akal agar persepsi dan kemampuannya untuk hidup menjadi sempurna.
Bayangkan
bersamaku, wahai pembaca, seorang bayi yang lahir tanpa nikmat pendengaran.
Bayangkan hidupnya tanpa itu, dan penderitaan serta kekurangan persepsi yang
diakibatkannya, terutama karena hilangnya indra pendengaran berakibat pada
hilangnya kemampuan bicara (bisu), karena ia tidak mendengar apa yang bisa ia
tiru ucapannya. Kasus seperti ini ada di sekitar kita, dan kita merasakan
penderitaan mereka serta upaya yang dilakukan untuk menyampaikan pengetahuan
kepada mereka melalui isyarat atau tulisan.
Jika
kita bayangkan bayi lahir tanpa penglihatan, ia mungkin bisa belajar bicara
melalui pendengaran, namun ia akan sulit memahami bentuk benda dan mengenal
warna. Ia mungkin menggunakan pendengarannya untuk pengenalan parsial. Ada
perbedaan besar antara dia dengan orang yang kehilangan penglihatan setelah
dewasa dan pernah melihat benda serta mengetahui nama-namanya.
Jika
kita bayangkan bayi lahir tanpa akal, betapa pun bertambah usianya, tidak
diragukan lagi kondisinya akan lebih buruk dari sebelumnya dan ia tidak akan
memiliki kehidupan kecuali di rumah sakit jiwa. Kasus-kasus di atas
menggambarkan hilangnya satu dari tiga nikmat tersebut, dan kita merasakan
nilai dari setiap nikmat secara individu.
Bagaimana
jika kita bayangkan bayi lahir tanpa pendengaran dan penglihatan sekaligus?
Tentu secara otomatis ia juga akan kehilangan kemampuan bicara. Bayangkan
manusia yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak bicara; bagaimana kita
menyampaikan pengetahuan kepadanya dan bagaimana ia merintis jalannya dalam
hidup? Pastilah itu menjadi kehidupan yang paling berat. Demikian pula jika
lahir tanpa akal ditambah kehilangan salah satu indra; hidupnya akan habis di
rumah sakit jiwa. Apalagi jika lahir tanpa ketiga nikmat tersebut (pendengaran,
penglihatan, dan akal); bagaimana keadaannya, keadaan keluarganya, dan
bagaimana mereka memperlakukannya?
Saudaraku,
sudahkah engkau melihat bersamaku kondisi orang yang kehilangan ketiga nikmat
ini atau sebagian darinya dari sudut pandang fisik-material, betapa berat
penderitaannya? Maka bagaimana menurutmu jika kita melihatnya dari sudut
pandang akhirat? Sesungguhnya kehilangan ketiga nikmat tersebut secara maknawi
(spiritual) padahal fisiknya ada, jauh lebih berbahaya. Kondisinya menjadi
lebih sesat daripada binatang ternak. Demikianlah orang yang melumpuhkan
akalnya, tidak mencari cahaya dari wahyu, tidak mengambil pelajaran dari
tanda-tanda kekuasaan Allah yang terlihat maupun terdengar; tempat kembalinya
adalah neraka Jahanam, dan ia lebih sesat dari binatang.
Maka
alangkah pantasnya bagi kita setelah renungan ini untuk menghargai
nikmat-nikmat ini dengan semestinya, merasakan anugerah Allah atas kita,
terutama jika kita menggunakannya untuk mengenali-Nya, beribadah, dan
menaati-Nya, serta memohon bantuan-Nya agar tidak menggunakan nikmat tersebut
untuk bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya kita tidak akan mampu menghitung
nikmat Allah, apalagi mensyukurinya secara sempurna.
Peniruan
yang Lemah terhadap yang Kuat
Kita
telah mengetahui bagaimana seorang anak pada fase awalnya—masa lemah dan belum
berakal—bergantung pada peniruan terhadap orang yang lebih besar darinya.
Mungkin motivasinya meniru adalah karena ia ingin terlihat dewasa seperti
mereka. Demikian pula kita melihat bangsa-bangsa yang tertindas meniru bangsa
yang menjajahnya karena adanya perasaan inferioritas (inferiority complex)
dan anggapan bahwa meniru mereka akan membuat mereka menjadi kuat seperti
penjajah. Namun sayangnya, mereka sering kali hanya meniru kebiasaan buruk yang
sengaja diekspor oleh musuh, sementara hal-hal yang bermanfaat justru
disembunyikan agar bangsa-bangsa tersebut tetap terbelakang dan lemah.
Jika
hal itu terjadi pada bangsa tertindas yang non-muslim, maka tidak boleh hal itu
terjadi pada bangsa-bangsa Islam kita. Allah telah memuliakan kita dengan Islam
yang agung ini yang membekali segala unsur negara kepemimpinan yang memandu
kemanusiaan menuju hidayah dan cahaya. Namun sayangnya, kita melihat banyak
individu dari bangsa kita meniru musuh yang pernah menjajah negeri kita dalam
banyak kebiasaan buruk mereka. Bahkan, kita dapati orang-orang yang disebut
pemimpin pemikiran di negeri kita menyerukan untuk meniru Barat dalam segala
hal, baik baiknya maupun buruknya, jika ingin meraih kekuatan dan kemajuan.
Keteladanan
dan Peniruan Warisan
Tiap
generasi sering kali mewarisi banyak adat, tradisi, dan keyakinan dari generasi
sebelumnya. Terkadang terjadi modifikasi atau perubahan seiring berjalannya
generasi, baik itu benar maupun salah. Terkadang peniruan adat pada sebagian
orang mencapai derajat penyucian atau pegangan yang sangat kuat sehingga sulit
dilepaskan. Al-Qur'an telah menceritakan kepada kita beberapa potret fenomena
ini dan mencela pelakunya yang bersikeras memegang akidah atau adat tersebut
meskipun kebatilannya sudah jelas bagi mereka. Benarlah Rasulullah SAW dalam
hadisnya:
"Setiap
anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani, atau Majusi..."
Maka
tanggung jawab orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dan mewariskan akidah
serta adat yang saleh adalah tanggung jawab besar yang diperingatkan oleh Allah
dan Rasul-Nya. Hadis dari Ibnu Umar RA berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda:
"Kalian
semua adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas rakyatnya (yang
dipimpinnya). Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan bertanggung
jawab atas mereka... maka kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab
atas apa yang dipimpinnya." (Muttafaq 'alaih).
Pada
saat yang sama, Al-Qur'an mengingatkan kita tentang tanggung jawab individu,
bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas amalnya sendiri dan seseorang tidak
memikul dosa orang lain.
Anjuran
Meneladani Ahli Kebaikan dan Menjauhi Ahli Keburukan
Islam
menganjurkan kita untuk meneladani orang-orang yang baik, saleh, dan pemilik
akidah yang lurus. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an)
bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan
(oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum
mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat
demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan
semua orang munafik dan orang kafir di neraka Jahanam." (QS. An-Nisa:
140).
Dan
berikut hadis Rasulullah SAW mengenai makna ini, dari Abu Musa Al-Asy'ari RA
bahwa Nabi SAW bersabda:
"Perumpamaan
teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak
wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu
(yuhdzika), atau engkau membelinya darinya, atau engkau mencium aroma wangi
darinya. Sedangkan tukang pandai besi, mungkin percikan apinya mengenai
pakaianmu, atau engkau akan mencium aroma yang busuk." (Muttafaq
'alaih. Yuhdzika artinya: memberimu).
Pengaruh
Keteladanan dan Peniruan dalam Masyarakat
Masyarakat
ibarat jasad yang di dalamnya mengalir pengaruh keteladanan dan peniruan, baik
secara negatif maupun positif, lemah maupun kuat. Jika keteladanan itu buruk,
maka pengaruh buruknya akan menjalar pada masyarakat dalam bentuk kelemahan.
Sebaliknya, jika keteladanan itu baik, maka pengaruh baiknya akan mengalir
sebagai kekuatan dalam masyarakat. Oleh karena itu, kita melihat Islam sangat
antusias dalam menjaga masyarakatnya dengan mendorong penyebaran semangat
kebaikan, kebajikan, dan kesalehan di dalamnya melalui perintah kepada yang
makruf (amr ma'ruf), serta antusias melindunginya dari faktor-faktor
kejahatan dan kerusakan melalui larangan terhadap kemungkaran (nahyi munkar)
dan penegakan hukum batas (hudud).
Umat
Islam istimewa karena sifat amr ma'ruf nahi munkar ini, sementara Bani
Israil dilaknat karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka
perbuat. Sistem hisbah dalam Islam telah dikenal luas bertujuan untuk
membersihkan masyarakat dari pelanggaran agar tetap sehat. Islam juga
mengadopsi prinsip pencegahan (preventif); kita dapati ayat-ayat
berbunyi: "Dan janganlah kamu mendekati zina." Makna
"jangan mendekati" adalah menjauhi segala pendahuluan yang dapat
menyebabkan terjadinya zina atau kekejian, seperti pandangan, berdua-duaan (khalwat),
sentuhan, ciuman, dan sebagainya.
Hadis-hadis
mulia mengenai perlindungan masyarakat Islam dari kerusakan sangatlah banyak,
di antaranya:
Dari
Abu Sa'id al-Khudri RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa
di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak
mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu
adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim).
Dari
beliau juga, dari Nabi SAW bersabda: "Jihad yang paling utama adalah
kalimat yang adil (benar) di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu
Dawud dan Tirmidzi, ia berkata hadis ini hasan).
Dari
Nu’man bin Basyir RA, dari Nabi SAW bersabda: "Perumpamaan orang yang
menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah ibarat
sekelompok orang yang berbagi tempat di sebuah kapal. Sebagian mendapat tempat
di atas dan sebagian di bawah. Orang yang berada di bawah, jika ingin mengambil
air, mereka harus melewati orang-orang di atas mereka. Lalu mereka berkata:
'Andai saja kita lubangi bagian kita sendiri, sehingga kita tidak mengganggu
orang yang di atas.' Jika orang-orang di atas membiarkan mereka melakukan
keinginan itu, maka binasalah semuanya. Namun jika mereka mencegahnya dengan
tangan mereka, maka selamatlah mereka dan selamatlah semuanya." (HR.
Bukhari).
Dari
Hudzaifah RA, dari Nabi SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di
tangan-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan yang makruf dan melarang
yang munkar, atau (jika tidak) Allah hampir saja mengirimkan siksaan dari-Nya
kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan."
(HR. Tirmidzi, ia berkata hadis ini hasan).
Masyarakat
Islam Kita
Di
saat kita melihat Islam sangat menjaga kesucian masyarakatnya dari segala
bentuk dan elemen kerusakan, kita justru melihat masyarakat di negeri-negeri
Islam kita saat ini dipenuhi dengan kerusakan dan dekadensi moral yang berada
di bawah perlindungan hukum. Perangkat media pemerintah memegang peran terbesar
dalam menyebarkan kerusakan melalui film, drama yang cabul dan tidak bermoral,
nyanyian, serta tarian. Terjadi pula penyebaran tempat-tempat hiburan malam,
kefasikan, bar minuman keras, klub judi, dan pantai-pantai telanjang, di
samping merebaknya penyakit sosial lain seperti kebohongan, suap, kefasikan,
pencurian, dan berbagai kejahatan serta kemungkaran lainnya.
Media
massa menampilkan film-film kekerasan dan kriminalitas impor seolah-olah sedang
mengajarkan kejahatan tersebut kepada pemuda kita. Mereka juga menyajikan para
penyanyi dan penari sebagai figur teladan (idol) bagi pemuda, serta
memberikan penghormatan dan pengagungan kepada mereka. Hal ini membuat kita
tidak mustahil berpikir bahwa musuh-musuh Islam memiliki peran langsung dalam
rencana perusakan ini untuk mengosongkan nilai-nilai kejantanan dan kekuatan dari
pemuda kita, lalu menggantinya dengan sifat kewanita-wanitaan (takhannuts)
dan kelembekan, sehingga tanah air kita kehilangan unsur kekuatannya yang
direpresentasikan oleh para pemuda.
Biasanya
kita melihat pemerintah sangat memperhatikan kebersihan lingkungan dan kota
dari kotoran dan sampah karena takut akan penyebaran penyakit fisik, namun
mereka justru membantu penyebaran penyakit yang menghancurkan karakter.
Akibatnya, keluarga runtuh, masyarakat hancur, dan hal ini niscaya berdampak
pada negara dan kemerdekaannya, menjadikannya mangsa yang mudah bagi
musuh-musuh Allah untuk mengendalikan nasibnya.
Rahmat
Allah bagi Umat Islam
Kalaulah
bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada umat Muhammad SAW dengan
memberikan taufik kepada sebagian putra-putranya untuk memperbaharui urusan
agamanya—seperti Al-Banna, Abul A'la Al-Maududi, dan selainnya—serta berdirinya
gerakan-gerakan Islam dan jamaah-jamaah Islam di medan dakwah, niscaya
keadaannya akan sangat berbeda.
Berkat
karunia Allah, kemudian pengaruh dari gerakan-gerakan Islam ini, kehidupan
mulai mengalir kembali ke dalam jasad umat Islam. Umat mulai bangun dari
kelalaiannya dan bangkit dari keterpurukannya. Kita mulai melihat model lelaki
beriman, wanita beriman, serta pemuda-pemudi beriman yang berpegang teguh pada
ajaran agama mereka, membawa segala makna kemuliaan Islam, dan mencurahkan
tenaga untuk mengembalikan umat kepada Islam dan kejayaannya, serta bekerja
bersama untuk menegakkan Negara Islam dan Khilafah Islamiyah.
Gerakan-gerakan
Islam ini telah dan masih terus melakukan perubahan mendasar dalam masyarakat
negeri-negeri Islam kita. Banyak bid'ah, takhayul, dan kebiasaan jahiliyah yang
hilang. Banyak sunnah yang hampir punah kini dihidupkan kembali. Semangat
keberagamaan ditiupkan di kalangan pemuda, begitu pula semangat jihad yang
telah memberikan contoh luar biasa di berbagai tempat di dunia Islam. Langkah
jauh telah ditempuh dalam membersihkan akidah dari noda dan penyimpangan. Kita
melihat bangsa-bangsa Islam hari ini menuntut pemerintah mereka untuk
menerapkan Syariat Islam, dan kita melihat gelombang keislaman rakyat terus
maju menyapu ketelanjangan dan pamer aurat (tabarruj). Semua ini—dan
banyak lagi yang akan datang dengan izin Allah—adalah buah dari upaya para
pekerja di ladang dakwah melalui jamaah-jamaah Islam yang menjadi teladan di
jalan dakwah.
Keteladanan
Praktis
Keteladanan
praktis (al-qudwah al-'amaliyah) adalah sarana yang paling kuat dan
tajam pengaruhnya dalam menyebarkan prinsip dan ide, karena ia merupakan
perwujudan dan penerapan nyata. Ia mudah disaksikan, memengaruhi, diikuti, dan
ditiru; berbeda dengan ucapan, ceramah, atau tulisan. Perkataan terkadang tidak
dipahami oleh sebagian pendengar atau pembaca, atau mereka tidak menangkap
tujuannya, bahkan bisa dilupakan sebagian atau seluruhnya. Ia juga bisa tetap
menjadi sekadar teori di mana banyak orang tidak tahu cara menerapkannya secara
praktis atau melakukan kesalahan saat mempraktikkannya.
Rasulullah
SAW adalah teladan manusia yang praktis di tengah kaum muslimin generasi
pertama. Beliau memberikan pengaruh besar bagi umat Islam untuk mengenal Islam
secara teori maupun praktik. Mereka meneladani beliau SAW dalam setiap urusan
besar maupun kecil, baik dalam masalah ibadah, muamalah, maupun aktivitas
sehari-hari seperti makan, minum, tidur, berpakaian, dan lain-lain. Jika kita
tambahkan betapa antusiasnya Rasulullah SAW dalam membimbing umat ke arah
kebaikan dan melarang mereka dari hal yang berbahaya, kita akan memahami betapa
besarnya keberuntungan muslim generasi pertama karena meneladani sebaik-baik
teladan. Kebaikan ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi setelah
sahabat hingga sampai kepada kita, untuk kita wariskan lagi kepada generasi
setelah kita, insya Allah.
Mengingat
pentingnya keteladanan praktis dalam Islam, Allah memperingatkan orang-orang
beriman agar jangan sampai perbuatan mereka menyelisihi perkataan yang mereka
serukan. Hadis Rasulullah SAW mempertegas makna ini. Dari Usamah bin Zaid RA,
ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Seorang lelaki
didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka hingga ususnya
terburai. Dia berputar-putar dengannya seperti keledai yang berputar pada
gilingannya. Penduduk neraka berkumpul mengelilinginya dan bertanya: 'Wahai
fulan, ada apa denganmu? Bukankah engkau dulu memerintahkan yang makruf dan
melarang yang munkar?' Dia menjawab: 'Benar, aku dulu memerintahkan yang makruf
namun aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang yang munkar namun aku
mengerjakannya'." (Muttafaq 'alaih).
Sebagaimana
keteladanan praktis memiliki pengaruh baik dalam bidang kebaikan dan amal
saleh, ia juga memiliki pengaruh buruk ketika menjadi contoh dalam kemaksiatan
dan kerusakan. Sayangnya, kita melihat teladan-teladan buruk ini tersebar luas
di masyarakat negeri Islam di bawah perlindungan hukum, sementara teladan yang
saleh justru dikejar-kejar, dipersempit ruang geraknya, ditangkap, dipenjara,
disiksa, hingga dibunuh. Dari semua ini, kita melihat betapa pentingnya
keteladanan praktis di jalan dakwah, sebagai sarana sekaligus tujuan dalam
pembinaan.
Di
Jalan Dakwah
Kami
telah menjelaskan di pendahuluan bahwa di jalan dakwah ini, kita sedang
berupaya mewujudkan pencapaian terbesar di muka bumi, yaitu pengokohan (tamkin)
agama Allah dengan mendirikan Negara Islam yang dipimpin oleh Khilafah
Islamiyah. Tujuannya adalah menjalankan peran melindungi tanah Islam,
membebaskan apa yang dirampas—terutama Masjidil Aqsha—melindungi nyawa dan
kehormatan umat Islam, serta memenangkan wilayah baru bagi Islam dengan
menyebarkan agama Allah di bumi-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Kami juga
menjelaskan bahwa bangunan raksasa ini sangat membutuhkan keteladanan yang baik
dalam setiap tahap pembangunan dan setiap komponennya, mulai dari individu,
rumah tangga, masyarakat, pemerintah, hingga negara dan Khilafah.
Ada
perbedaan besar antara mendirikan pemerintahan Islam yang lemah di
wilayah-wilayah kita di atas fondasi yang rapuh tanpa keterikatan kuat antar
pemerintahan tersebut, dengan mendirikan Negara Islam yang tinggi, kuat,
bersatu, di atas basis yang solid, dalam, dan kokoh. Perbedaan ini dapat
diibaratkan begini: Jika kita memiliki sebidang tanah, ada perbedaan besar
antara membangun rumah satu lantai di atasnya dengan membangun gedung pencakar
langit. Fondasi yang dibutuhkan pada kedua keadaan tersebut sangat berbeda.
Fondasi pencakar langit harus sangat dalam, kokoh, dan memakan waktu yang tidak
sebentar. Begitu pula halnya dengan Negara Islam yang dicita-citakan. Fondasi
yang dalam dan kokoh membutuhkan waktu dan upaya besar, meskipun sifat fondasi
itu tidak terlihat di atas permukaan tanah.
Ada
makna lain yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa kita tidak membangun gedung
Negara Islam di atas tanah yang rata dan siap bangun. Namun, kita harus
menyingkirkan puing-puing yang bertumpuk sejak berabad-abad untuk mendirikan
bangunan besar yang baru di atasnya. Puing-puing itu berupa penyimpangan
akidah, bid'ah, takhayul, kebodohan, penyimpangan moral, kelemahan, sifat wahn
(cinta dunia takut mati), perpecahan, sifat ghutsa' (buih), serta
rendahnya cita-cita dan tekad. Juga pengaruh prinsip-prinsip duniawi yang
menyerbu negeri kita seperti komunisme, sosialisme, kapitalisme, dan lainnya.
Semua
puing yang rusak itu membutuhkan proses pembersihan dan perubahan dalam jiwa
agar Sunnatullah yang tidak berubah dapat terwujud. Kita ingin menyiapkan
"batu bata" (individu) yang sehat dan kuat secara akidah, ibadah,
akhlak, wawasan, fisik, maupun semangat jihad, agar bangunan yang sehat dan
kokoh dapat berdiri dengan izin Allah. Untuk mencapainya, kami memandang bahwa
peran mendasar sangat bergantung pada keteladanan yang baik di jalan dakwah.
Ya
untuk Harapan, Tidak untuk Keputusasaan
Di
saat kita berada di jalan dakwah, tidak boleh ada sedikit pun rasa putus asa
atau kelesuan karena buruknya keadaan, banyaknya puing, atau rusaknya
masyarakat kita. Sebaliknya, kita semua penuh harapan bahwa dengan pertolongan
Allah, kita akan mampu menyingkirkan semua puing ini, menghalau semua kerusakan
ini, dan menggantinya dengan kesucian, ketakwaan, serta kesalehan untuk
mendirikan bangunan yang sehat dan kokoh.
Jika
kita melihat masyarakat Jahiliyah tempat Rasulullah SAW diutus dengan agama
yang hak ini, kita akan dapati bahwa kondisinya sangatlah buruk. Berhala dari
batu disembah selain Allah, minuman keras, judi, zina, perampokan, pembunuhan,
penguburan bayi perempuan hidup-hidup, serta perang antar suku karena alasan
sepele. Namun dengan semua itu, masyarakat tersebut berubah menjadi masyarakat
yang penuh kesucian, kesalehan, kasih sayang, persaudaraan, pengorbanan (itsar),
dan tolong-menolong dalam kebaikan. Dan yang terpenting adalah tauhid kepada
Allah dan ibadah yang jujur kepada-Nya. Semua itu terjadi karena pengaruh
Al-Qur'an dan petunjuk Rasulullah SAW sebagai teladan yang baik di jalan
tersebut.
Maka,
jika kita berjalan di atas jalan Rasulullah SAW itu sendiri, mengikuti jejak
langkah beliau dengan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya,
maka dengan bantuan Allah kita akan mampu melakukan perubahan yang diperlukan
di masyarakat kita. Kita akan menyembuhkan penyakit-penyakitnya selama botol
obat masih ada di tangan kita, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya SAW.
Sesungguhnya, tidak akan pernah baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa
yang telah membuat baik generasi awalnya. Imam Syahid (Hassan Al-Banna) telah
memaparkan diagnosis terhadap keadaan kaum muslimin serta meresepkan obat dan
terapinya. Alangkah bermanfaatnya jika kita menyebutkan perkataan beliau dalam
bidang ini:
"...(Sesungguhnya
bangsa-bangsa terkadang dihadang oleh peristiwa-peristiwa zaman yang mengancam
eksistensinya dan meretakkan bangunannya, serta mengalirkan penyakit ke dalam
sendi-sendi kekuatannya. Penyakit itu terus mendesak dan mencengkeramnya hingga
berhasil melemahkannya, sehingga bangsa itu tampak kurus dan lemah, membuat
para pencari kesempatan berambisi menguasainya dan para perampas berhasil
menjajahnya. Ia pun tidak lagi kuat mengusir perampas dan tidak mampu
menghalangi ambisi orang yang tamak. Obatnya hanyalah dengan tiga perkara:
mengetahui letak penyakit, sabar menanggung kepedihan pengobatan, dan adanya
sistem/tatanan yang menangani hal tersebut hingga Allah mewujudkan tujuannya
melalui tangan tatanan tersebut, serta sempurnanya kesembuhan dan
kemenangan)."
Setelah
beliau (Imam Syahid Hasan al-Banna) memaparkan kondisi sebagian negeri-negeri
Islam kita beserta cacat, penyakit, dan kerusakan di dalamnya, beliau berkata:
"(Apa
yang bisa diharapkan dari sebuah bangsa yang dikepung oleh semua faktor
penyerang ini dengan manifestasi terkuat dan gejala yang paling parah:
Kolonialisme, fanatisme kepartaian, riba, perusahaan-perusahaan asing. Ditambah
lagi ateisme, permisivisme (perilaku bebas), kekacauan pendidikan dan
perundang-undangan.
Juga
keputusasaan, sifat kikir, kebanci-bancian (kehilangan kejantanan), sifat
pengecut, dan kekaguman terhadap musuh—kekaguman yang mendorong untuk meniru
segala sesuatu yang datang dari mereka, terutama dalam keburukan amal
perbuatannya. Sesungguhnya satu saja dari penyakit-penyakit ini sudah cukup
untuk membunuh bangsa-bangsa yang besar. Lalu bagaimana jika semuanya mewabah
secara bersamaan pada setiap bangsa satu per satu? Kalaulah bukan karena
kekebalan, benteng perlindungan, ketabahan, dan ketangguhan yang ada pada
bangsa-bangsa Timur ini, niscaya jejak mereka sudah hilang dan mereka sudah
musnah dari eksistensi. Namun Allah dan orang-orang mukmin enggan membiarkan
hal itu terjadi)."
Setelah
beliau menafikan rasa putus asa dari jiwa anggota Ikhwan, beliau berkata:
"(Segala
sesuatu di sekitar kita memberi kabar gembira tentang harapan, meskipun ada
pesimisme dari orang-orang yang pesimis)." Kemudian beliau melanjutkan:
"(Telah datang suatu masa bagi bangsa-bangsa Timur ini di mana mereka
membeku hingga kebekuan itu sendiri merasa bosan terhadap mereka. Mereka diam
hingga diam itu melelahkan mereka. Namun sekarang, mereka sedang mendidih
dengan kebangkitan yang menyeluruh di segala aspek kehidupan. Mereka berkobar
dengan perasaan hidup yang kuat dan emosi yang hebat. Kalaulah bukan karena
beratnya belenggu di satu sisi, dan kekacauan dalam pengarahan di sisi lain,
niscaya kebangkitan ini akan memberikan dampak yang paling menakjubkan.
Belenggu tidak akan bertahan sepanjang masa. Sesungguhnya zaman itu berputar,
dan antara kedipan mata dan perhatiannya, Allah mengubah satu keadaan ke
keadaan lainnya. Orang yang bingung tidak akan selamanya bingung, karena
setelah kebingungan ada petunjuk, dan setelah kekacauan ada stabilitas. Dan
milik Allah-lah segala urusan, sebelum dan sesudahnya. Karena itulah kami tidak
pernah berputus asa)."
Di
tempat lain, setelah beliau memaparkan kondisi di Mesir dan keburukan yang
terjadi di sana, demikian pula di tanah air Arab dan Islam kita, serta di arena
kemanusiaan secara umum, beliau berkata:
"(Inilah
gambaran kondisi di tanah air khusus kita (Mesir), di tanah air Arab dan Islam
kita, serta di tanah air kemanusiaan kita secara umum. Jika di dunia ini tidak
berdiri bangsa pembawa Dakwah Baru yang membawa risalah kebenaran dan
perdamaian, maka kehancuranlah bagi dunia dan selamat tinggallah bagi
kemanusiaan. Adalah menjadi kewajiban kita, sementara di tangan kita ada obor
cahaya dan botol obat, untuk maju memperbaiki diri kita dan menyeru orang lain.
Jika kita berhasil, maka itulah yang dicari. Jika tidak, cukuplah bagi kita
bahwa kita telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan menginginkan
kebaikan bagi manusia. Tidak benar sama sekali jika kita meremehkan diri
sendiri. Cukuplah bagi mereka yang membawa risalah dan menegakkan dakwah sebagai
faktor kesuksesan adalah dengan menjadi orang-orang yang beriman kepadanya,
ikhlas untuknya, dan berjihad di jalannya, serta mengetahui bahwa zaman sedang
menunggunya dan dunia sedang menantikannya. Maka, adakah yang menyambut seruan
ini?)"
Inilah
yang dikatakan oleh Imam Syahid, dan inilah kita sekarang, berjalan di atas
jalan dakwah. Kita tidak akan berputus asa, dengan izin Allah, untuk mengubah
kerusakan ini dan mengobati penyakit-penyakit ini meskipun jumlahnya banyak,
dengan tetap berpedoman selama perjalanan kita kepada teladan kita (Rasulullah
SAW) dan para sahabat beliau yang mulia dalam melakukan perubahan ini dengan
hikmah dan nasihat yang baik (al-mau'izhah al-hasanah), dengan
keteladanan praktis yang baik, serta dengan mencurahkan tenaga, kerja
terus-menerus, dan memohon pertolongan kepada Allah.
Di
antara hal yang menyejukkan hati dan menambah harapan dalam jiwa adalah apa
yang kita lihat berupa banyaknya bentuk perubahan yang telah terjadi di
masyarakat kita, pertama-tama berkat karunia Allah, kemudian berkat pengaruh
upaya para pekerja di ladang dakwah Islam. Kami sebutkan beberapa di antaranya
sebagai contoh:
Telah
ditempuh langkah yang jauh dalam memurnikan akidah tauhid dari banyak noda dan
penyimpangan, dan upaya-upaya tersebut masih terus bersinergi dan berlanjut.
Banyak bid'ah, takhayul, dan tradisi yang menyalahi Islam telah menghilang, dan
apa yang tersisa darinya kini menjadi hal yang diingkari setelah sebelumnya
dianggap biasa. Telah dihidupkan kembali banyak sunnah yang hampir hilang,
seperti i'tikaf, salat malam di bulan Ramadan, salat Id di lapangan (mushalla),
serta komitmen terhadap petunjuk Nabi dalam kehidupan manusia dan aktivitas
sehari-hari. Risalah masjid telah dihidupkan kembali, semangat keberagamaan
menyebar di kalangan pemuda dan pemudi, komitmen para pemudi terhadap busana
muslimah, kebangkitan semangat jihad dan praktiknya secara nyata di banyak
tempat, pemahaman Islam yang komprehensif bahwa ia adalah manhaj kehidupan yang
lengkap, tuntutan rakyat kepada pemerintah untuk menerapkan syariat
menggantikan hukum buatan manusia saat ini, serta dukungan umat Islam di
berbagai belahan dunia terhadap isu-isu Islam di arena internasional seperti
isu Palestina, Lebanon, Afghanistan, Filipina, Eritrea, Suriah, Kashmir, dan
lain-lain. Juga tuntutan yang mendesak untuk membersihkan perangkat media dari
kerusakan, serta banyak hal lainnya yang membawa kabar baik dan menghalangi
rasa putus asa.
Tabiat
Ladang Dakwah dan Pentingnya Keteladanan
Masyarakat
di negeri-negeri Islam kita, sebagian besar anggotanya adalah muslim yang
mewarisi Islam dari ayah dan kakek mereka dengan segala noda, penyimpangan,
bid'ah, dan takhayul yang dimasukkan ke dalamnya. Mereka juga mewarisi apa yang
ditanamkan oleh kolonialisme dalam jiwa banyak muslim berupa perasaan lemah,
terbelakang, ketergantungan, dan mentalitas kalah. Demikian pula kerusakan,
dekadensi moral, standar materialistik, serta persepsi yang salah tentang
kehidupan dunia dan misi manusia di dalamnya yang mereka gunakan untuk menyerbu
negeri kita. Selain itu, ada prinsip-prinsip buatan manusia yang mereka
tonjolkan di negeri kita untuk menjadi pengganti bagi Islam, sistem, dan
perundang-undangannya. Mereka mengerahkan individu-individu untuk prinsip-prinsip
ini dan mendirikan partai-partai yang mencabik-cabik persatuan rakyat, serta
gambaran menyedihkan lainnya yang kita lihat di arena Islam kita.
Ladang
dakwah hari ini sangat berbeda dengan ladang dakwah di zaman Rasulullah SAW.
Dahulu, beliau dan kaum muslimin pertama menyeru kaum musyrik dan kafir agar
masuk Islam, meninggalkan penyembahan berhala, dan beriman kepada Allah yang
Maha Esa. Upaya dicurahkan untuk mengubah akidah mereka. Jika itu berhasil dan
seseorang berpindah dari syirik ke Islam, ia akan mengenali Islamnya dan
berkomitmen kepadanya, merasakan lompatan besar dari kekufuran ke iman dan dari
kesesatan ke hidayah. Di balik itu semua ada kebaikan di dunia dan akhirat.
Maka penghargaan mereka terhadap keagungan agama ini serta penghargaan mereka
terhadap Kitabullah dan Rasul-Nya sangatlah besar, sehingga jiwa mereka berubah
secara radikal, dan segala residu serta puing jahiliyah hilang dari pikiran
mereka. Dari mereka lahirlah para lelaki dan wanita beriman yang di atas pundak
merekalah Negara Islam pertama berdiri, dan mereka memberikan contoh luar biasa
dalam pengorbanan, keteguhan, cinta, dan kerja sama.
Adapun
individu-individu yang kita hadapi di ladang dakwah hari ini bukanlah orang
kafir atau musyrik. Kita berhadapan dengan orang-orang muslim yang meyakini
bahwa apa yang mereka jalani adalah Islam sebagaimana yang mereka pahami dan
warisi dari generasi sebelumnya, terlepas dari noda dan penyimpangan di
dalamnya. Sering kali banyak dari mereka menolak nasihat ketika kita menyeru
mereka kepada nikmat pemahaman yang benar yang kita miliki, karena ia memandang
dirinya adalah muslim sebagaimana kita pun muslim. Terkadang terjadi
perselisihan dan tantangan antara pengusung dakwah yang benar dengan
orang-orang yang mereka seru, terutama jika para aktivis perbaikan (duat
at-tashih) tidak menguasai metode dakwah dengan baik. Bisa juga muncul
pengelompokan, kepartaian, atau fanatisme golongan, berkibarnya berbagai
bendera, sehingga upaya menjadi tercerai-berai atau bahkan saling berbenturan.
Karena
itulah, kita mendapati kebutuhan yang sangat mendesak akan sosok Saudara
Da'i yang Teladan; yang memiliki hati yang lapang, akhlak yang baik, dan
metode yang tepat untuk menaklukkan hati dan menumbuhkan kepercayaan antara
dirinya dengan orang yang diserunya. Ia harus mahir dalam merangkul orang-orang
yang salah untuk memperbaiki pemahaman, persepsi, dan perilaku mereka tanpa
menimbulkan perpecahan atau pertikaian. Namun dilakukan dengan kelembutan,
hikmah, nasihat yang baik, dan keteladanan praktis yang mampu merebut rasa
hormat serta mendorong orang untuk terpengaruh, meniru, dan menyambut apa yang
diserukannya.
Ketika
kita menyeru sesama muslim untuk memperbaiki pemahaman Islam mereka, mereka
harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari
mereka. Kita tidak boleh menganggap diri kita sebagai komunitas muslim yang
terpisah dari kaum muslimin lainnya, karena hal itu akan mengisolasi kita dari
mereka, sehingga kita akan terkurung dan akhirnya mati. Kewajiban kita adalah
menjadi lebih mengasihi mereka daripada diri mereka sendiri, karena mereka
adalah ladang dakwah tempat kita menabur benih dakwah kita.
Ada
perbedaan jelas dalam sikap ketika saya menyeru orang kafir ke Islam dengan
ketika saya menyeru seorang muslim untuk memperbaiki Islamnya. Orang kafir
tidak memiliki hak atas saya kecuali hak dakwah dan penyampaian (balagh).
Adapun seorang muslim, ia memiliki hak persaudaraan (ukhuwah) atas saya
betapapun menyimpangnya dia. Di antara hak persaudaraan adalah berprasangka
baik kepadanya dan tidak melabelinya dengan kekafiran atau kemunafikan.
Sesungguhnya perlakuan kita terhadap sesama muslim dengan akhlak persaudaraan
Islam lebih kuat pengaruhnya dalam menarik mereka ke dakwah kita dibandingkan
sarana lainnya. Selain itu, ketika kita menyeru kaum muslimin untuk memperbaiki
keislaman mereka, kita juga bertujuan untuk mewujudkan kepercayaan mereka pada
Islam sebagai manhaj kehidupan dan kepercayaan mereka pada Gerakan (Harakah)
bahwa ia mampu dengan izin Allah memimpin umat Islam. Mengembalikan kepercayaan
kepada Islam dan Gerakan tidak mungkin terjadi kecuali melalui interaksi
persaudaraan dengan orang-orang.
Tentang
Perubahan yang Dibutuhkan
Hal
terpenting yang perlu diperbaiki dalam kehidupan muslim hari ini adalah
persepsi mereka terhadap kehidupan dunia, misi mereka di dalamnya, dan apa yang
seharusnya mendominasi perhatian mereka. Kita merasakan dominasi aspek material
atas aspek spiritual. Kita melihat bahwa dunia telah menjadi ambisi terbesar
bagi banyak dari mereka dan batas tertinggi dari ilmu mereka. Akibatnya, mereka
mencurahkan tenaga, waktu, dan ijtihad mereka untuk memenuhi tuntutan hidup
jasmani serta bagaimana cara mendapatkan dan menikmatinya. Adapun urusan agama
dan apa yang dituntut dari umat Islam berupa kewajiban, tugas, akhlak, kerja,
dan jihad, tidak menyibukkan pikiran banyak dari mereka. Mereka menganggapnya
sebagai perkara sekunder yang hanya diberi sisa waktu, sisa harta, dan sisa
tenaga—itu pun jika masih ada sisa, jika tidak ada, maka tidak diberi apa-apa.
Kita
ingin mengembalikan kaum muslimin kepada persepsi Islam yang benar tentang
hakikat kehidupan duniawi kita dan misi yang untuknya Allah menciptakan kita.
Kita ingin kaum muslimin mengalihkan perhatian terbesar mereka kepada akhirat
mereka, dan menundukkan dunia mereka serta segala yang mereka miliki berupa
kesehatan, harta, dan waktu untuk kehidupan abadi mereka di akhirat. Kita ingin
kaum muslimin merasakan keagungan Islam mereka, bahwa ia adalah agama yang
benar yang diterima di sisi Allah, dan bahwa dengan berafiliasi kepadanya,
mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, guru bagi kemanusiaan
dengan agama ini, serta pemilik kemuliaan dan kepemimpinan di dunia serta
keberuntungan dan kenikmatan di akhirat jika mereka benar-benar muslim.
Kita
juga ingin mereka setelah itu merasakan apa yang dituntut oleh tabiat fase usia
dakwah Islam yang baru ini, bahwa setiap individu muslim harus menjadi elemen
yang efektif di posisinya dan sesuai spesialisasinya dalam mendirikan bangunan
raksasa ini. Dan hendaknya umat Islam memahami bahwa mereka semua berdosa jika
tidak bekerja untuk menegakkan Negara Islam.
Oleh
karena itu, menjadi keharusan untuk memunculkan Keteladanan yang Baik di
setiap bidang kehidupan dan untuk setiap kategori komponen masyarakat kita.
Harus ada Mahasiswa Muslim yang Teladan agar menjadi contoh bagi rekan-rekan
mahasiswanya. Harus ada Guru Muslim yang Teladan, Dokter Muslim yang Teladan,
Insinyur Muslim yang Teladan, Hakim Muslim yang Teladan, Pekerja Muslim yang
Teladan, Putra atau Putri Muslim yang Teladan, Ibu Muslimah yang Teladan, dan
seterusnya. Menjadi keharusan untuk menetapkan ciri-ciri utama keteladanan
Islam di semua bidang dan kategori ini. Inilah yang akan coba kami sampaikan
dalam risalah ini, dengan harapan besar akan manfaat darinya, insya Allah.
Karena
amal Islami bertujuan membangun individu muslim yang efektif, ia juga bertujuan
mendirikan Rumah Tangga Muslim sebagai pilar dalam fondasi bangunan. Maka,
perlu juga bagi kita untuk membahas tentang Rumah Tangga Muslim yang Teladan
agar dapat dicontoh. Demikian pula Masyarakat Muslim yang Teladan
sebagai basis kokoh tempat berdirinya pemerintahan Islam.
Mungkin
untuk menyempurnakan perkara ini, kita juga perlu memaparkan beberapa institusi
dalam masyarakat yang sekaligus menjadi sarana kerja pembangunan, agar
keteladanan terpancar di dalamnya. Kita akan memaparkan tentang Sekolah Islam
yang Teladan, Rumah Sakit Islam yang Teladan, Lembaga Ekonomi Islam yang
Teladan, Bank Islam yang Teladan, Klub Olahraga Islam yang Teladan, Surat Kabar
Islam yang Teladan, dan seterusnya, untuk menonjolkan penerapan Islam yang
benar di semua bidang ini agar dapat menjalankan peran efektifnya dalam
membangun negara. Dan karena amal Islami yang serius harus dilakukan melalui
jamaah dan tidak bisa bersifat individual, maka perlu juga bagi kita untuk
memaparkan tentang Jamaah Islamiyah yang Teladan untuk dicontoh, demi
menyatukan upaya menuju arah yang benar.
Keteladanan
di Jalan Dakwah dan Isu Iman
Iman
adalah faktor terpenting untuk melakukan perubahan di dalam masyarakat,
demikian juga dalam mewujudkan keteladanan di jalan dakwah. Iman, pada
hakikatnya, adalah sebuah isu sentral. Ia adalah hal terpenting, bahkan
segalanya bagi manusia; tanpanya manusia bukanlah apa-apa. Kehidupan manusia
yang sesungguhnya adalah kehidupan hatinya dengan iman, bukan kehidupan jasad
yang di dalamnya kita serupa dengan hewan.
Iman,
ketika telah memakmurkan hati, akan mengubah pemiliknya secara radikal,
menyeluruh, dan sempurna. Ia memperbaiki persepsi, standar, dan
timbangan-timbangan nilai agar semuanya menjadi bersifat rabbani (ketuhanan)
dan sesuai dengan agama Allah. Iman yang jujur akan meledakkan di dalam jiwa
pemiliknya segala makna kebaikan, kesabaran, daya tahan, pengorbanan, jihad,
dan cinta kepada kesyahidan. Iman mendorong pemiliknya untuk melepaskan setiap
akhlak atau pemahaman yang menyalahi Islam, serta menghiasi diri dengan setiap
akhlak dan adab Islami yang tinggi.
Lihatlah
bagaimana iman memindahkan kaum muslimin pertama dari masa Jahiliyah dan
menjadikan mereka teladan-teladan yang luar biasa dalam kekuatan kepribadian,
dalam jihad, dalam mendahulukan apa yang ada di sisi Allah, serta dalam cinta,
persaudaraan, dan sifat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain).
Demikianlah kita melihat bagaimana iman mengangkat derajat kaum Muhajirin dari
berbagai penjuru bumi, membuat mereka meninggalkan rumah dan harta benda demi
mengutamakan apa yang ada di sisi Allah. Lihat pula bagaimana iman menjadikan
kaum Anshar mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka dan mendahulukan
kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri.
Lihatlah
perubahan yang dihasilkan oleh iman ini: keluar dari segala kesenangan dunia
dan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah, lalu terciptanya suasana cinta dan
kedermawanan jiwa, serta hati yang mengharapkan kebaikan bagi orang lain,
bersih dari rasa dendam dan dengki. Hal ini terjadi setelah sebelumnya di
antara mereka diliputi kebencian, permusuhan, peperangan, dan pembunuhan, serta
setelah mereka sebelumnya cenderung kepada kesenangan duniawi, tuntutan jasad,
dan pemenuhan syahwat nafsu.
Iman
bukanlah sekadar pengakuan dengan lisan, melainkan keyakinan dalam hati dan
pembuktian dengan amal saleh. Oleh karena itu, kita dapati lafaz
"iman" dan "amal saleh" sering disebutkan beriringan dalam
banyak ayat Al-Qur'an. Keteladanan yang baik di jalan dakwah sebagaimana yang
kita dambakan, mutlak memerlukan ketersediaan iman yang jujur dan kuat. Bahkan
keteladanan itu bertambah kuat dengan adanya golongan pilihan dari orang-orang
mukmin yang Allah sifati sebagai laki-laki yang jujur dalam keimanan mereka,
jujur dalam komitmen pada ajaran Islam, jujur dalam janji mereka kepada Tuhan
mereka, serta teguh di atas kebenaran tanpa mengganti atau mengubahnya,
sehingga Allah pun memuji mereka.
Kemudian,
kita di jalan dakwah ini mengharapkan keteguhan, kemenangan, dan pengokohan (tamkin)
bagi agama Allah. Allah telah menjanjikan hal-hal ini kepada hamba-hamba-Nya
yang beriman. Oleh karena itu, iman juga merupakan hal yang paling mendesak
untuk mewujudkan janji Allah kepada kita berupa keteguhan, kemenangan, dan
pengokohan tersebut.
Iman
adalah fondasi dalam membangun individu, rumah tangga, dan masyarakat. Ialah
yang mendorong kepada setiap kebaikan dan merupakan jalan untuk mewujudkan
setiap kebaikan. Maka, marilah menuju iman yang jujur dan amal saleh agar kita
meraih kemenangan, pengokohan, dan kepemimpinan di dunia, serta kenikmatan dan
keridaan di akhirat. Kami menutup pembicaraan tentang iman ini dengan kutipan
dari Imam Syahid yang ditujukan kepada para pemuda:
"Perbaruilah,
wahai para pemuda, iman kalian, dan tentukanlah tujuan serta sasaran kalian.
Awal dari kekuatan adalah iman, hasil dari iman ini adalah persatuan, dan
konsekuensi dari persatuan adalah kemenangan yang kuat dan nyata. Maka
berimanlah, bersaudaralah, beramallah, dan nantikanlah setelah itu
kemenangan... dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman."
Rasulullah
Adalah Teladan Kita
Adalah
hal yang alami dan logis jika Rasulullah SAW menjadi teladan kita di jalan
dakwah. Dakwah kita adalah Islam dan tidak ada yang lain selain Islam, dan
beliau adalah utusan Allah dengan membawa Islam ini; agama hak yang diridai
Allah bagi hamba-hamba-Nya, dan kita telah merasa terhormat dengan menisbatkan
diri kepada beliau. Kemudian, Rasulullah SAW pulalah yang melakukan penerapan
pertama terhadap agama ini dalam segala aspek dan tuntutannya, dan hal itu
berada di bawah jaminan Allah dan arahan-Nya melalui wahyu. Tidak ada satu pun
manusia yang lebih mengetahui atau lebih paham tentang urusan agama ini
melebihi Rasulullah SAW. Maka, beliaulah yang paling berhak untuk memimpin dan
diikuti oleh siapa saja yang mengharapkan (pertemuan dengan) Allah dan hari
akhir, serta bagi setiap orang yang ingin menunaikan kewajibannya terhadap
Islam secara benar.
Ketika
kita menaati Rasul dan meneladaninya, sesungguhnya kita sedang menaati Allah
dan beribadah kepada-Nya melalui ketaatan kita kepada Rasulullah SAW. Segala
apa yang beliau bawa atau serukan adalah berdasarkan arahan Allah kepadanya.
Makna ini dipertegas secara jelas oleh banyak ayat Al-Qur'an dan hadis
Rasulullah SAW, di antaranya:
Dari
hadis Nabi yang mulia:
Dari
Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Setiap umatku akan
masuk surga kecuali yang enggan." Ditanyakan: "Siapa yang enggan
wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Barangsiapa menaatiku akan masuk
surga, dan barangsiapa mendurhakai aku maka dialah yang enggan." (HR.
Bukhari).
Dari
Jabir RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaanku dan
perumpamaan kalian adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu
mulailah serangga dan laron jatuh ke dalamnya, sementara ia menghalaunya agar
menjauh. Aku pun memegang ikat pinggang kalian agar tidak jatuh ke neraka,
namun kalian lolos dari tanganku." (HR. Muslim). Hadis ini menjelaskan
betapa besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah SAW terhadap kaum muslimin.
Kemudian,
persaksian kita bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah
Rasulullah merupakan dasar keislaman kita dan pintu masuk bagi kita; hal ini
mewajibkan kita untuk mengikuti petunjuk Rasulullah SAW sebagaimana ia
mewajibkan kita untuk beribadah hanya kepada Allah. Maka, teladan kita di jalan
dakwah adalah Rasulullah SAW, karena jalan dakwah kita adalah jalan Rasulullah
SAW.
Hal
ini diungkapkan oleh Imam Syahid Hasan al-Banna dengan ucapannya:
"Jalan
dakwah adalah jalan yang satu, yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para
sahabatnya sebelumnya, dan telah ditempuh oleh para dai dan akan kita tempuh
dengan taufik dari Allah sesudahnya: iman, amal, cinta, dan persaudaraan.
Beliau menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatukan hati mereka di
atas cinta dan persaudaraan... maka berkumpullah kekuatan akidah dengan
kekuatan persatuan, dan jadilah jamaah mereka sebagai jamaah teladan yang
kalimatnya pasti akan tampak dan dakwahnya pasti menang, meskipun seluruh
penduduk bumi menentangnya."
Oleh
karena itu, syiar dan pekikan Ikhwan yang paling dicintai di hati mereka
adalah: "Allah tujuan kami, Rasul pemimpin kami (atau teladan kami),
Al-Qur'an undang-undang kami..." Sebab, Al-Qur'an adalah manhaj
(kurikulum) yang penjelasan dan penerapannya dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Para
sahabat Rasulullah SAW telah memahami makna peneladanan dan menjadikan
Rasulullah sebagai uswah. Mereka semua menjadi "telinga dan mata"
untuk mengetahui segala apa yang keluar dari beliau SAW, baik berupa perkataan,
perbuatan, maupun ketetapan (takrir), agar mereka dapat mengikuti dan
berkomitmen padanya. Kemudian mereka menghafalnya dan meriwayatkannya kepada
generasi setelahnya hingga sampai kepada kita. Allah telah memberikan taufik
kepada para imam terkemuka yang bertakwa yang telah mencurahkan upaya luar
biasa dalam mengumpulkan warisan berharga dari petunjuk Rasulullah SAW,
mengklasifikasikannya, menyusun bab-babnya, serta membersihkannya dari segala
hal asing yang menyusup ke dalamnya. Semoga Allah membalas mereka atas jasa
mereka terhadap kami, Islam, dan kaum muslimin dengan balasan terbaik.
Kita
dapati di dalam sunnah Rasulullah SAW petunjuk beliau dalam segala urusan agama
dan dunia. Kita dapati petunjuk beliau dalam ibadah, muamalah, akhlak, adab,
saat bepergian maupun menetap, di masjid maupun di rumah, dalam kondisi perang
maupun damai, dalam berdakwah di jalan Allah maupun dalam menanggung gangguan,
dalam janji dan kontrak, serta banyak lagi hal lainnya yang terdapat dalam
kitab-kitab Sirah dan Sunnah. Sebagaimana beliau SAW sangat antusias
mengajarkan urusan agama kepada kaum muslimin karena kasih sayang beliau kepada
mereka, kaum muslimin pun sangat antusias untuk mengetahui segala apa yang
diperintahkan oleh agama mereka. Mereka bertanya kepada Rasulullah SAW dan
meminta penjelasan dari beliau tentang apa yang sulit mereka pahami.
Kami
berikan satu contoh kepatuhan sahabat terhadap petunjuk Rasulullah sebagai
bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah: apa yang diriwayatkan oleh Abis bin
Rabi'ah, ia berkata: Aku melihat Umar bin Khattab RA mencium Hajar Aswad seraya
berkata: "Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa
memberi manfaat maupun mudarat. Kalaulah bukan karena aku melihat Rasulullah
SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (Muttafaq 'alaih).
Pengaruh
Mengikuti Sunnah Terhadap Masyarakat Muslim
Pengikutan
kita terhadap sunnah Rasul kita SAW dalam segala urusan hidup menjadikan kita
senantiasa hidup dalam kondisi kesadaran internal, kewaspadaan, dan
pengendalian diri. Hal ini karena dalam setiap perkara kita berusaha mencari
bagaimana petunjuk Rasulullah SAW di dalamnya dan apa doa yang beliau panjatkan
dalam setiap urusan atau kesempatan tersebut. Dengan demikian, setiap hal yang
kita lakukan tunduk pada pengawasan spiritual kita, dan tidak kita lakukan
begitu saja secara serampangan tanpa kesadaran atau pemikiran. Ini adalah
perkara yang sangat penting dalam kehidupan dan perilaku setiap individu.
Selain
itu, pengikutan kaum muslimin terhadap sunnah Nabi memberikan manfaat sosial
yang besar. Perbedaan karakter dan kecenderungan antar individu menjadikan
manusia memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, dan seiring waktu kebiasaan ini
berubah menjadi dorongan yang bisa memicu perselisihan dan konflik. Namun,
Islam yang murni membawa individu-individu dalam lingkungan sosial tersebut
dengan cara yang terorganisir agar kebiasaan dan tabiat mereka menjadi serupa,
betapapun keadaan sosial dan ekonomi mereka bertentangan. Maka, setiap muslim
seolah-olah menjadi batu bata yang dicetak dalam cetakan tertentu yang menyatu
dan selaras dengan saudara-saudaranya, seakan mereka adalah bangunan yang
kokoh, tidak ada kebengkokan dan tidak ada ketidakharmonisan. ("Shibghah
Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?").
Hal
ini juga membuat kaum muslimin merasakan keistimewaan mereka serta kemandirian
kepribadian dan identitas Islami mereka. Mereka tidak akan lari untuk meniru
orang lain baik di Barat maupun di Timur dalam gaya hidup atau kebiasaan
mereka.
Mungkin
ada orang yang ragu atau berniat buruk bertanya: "Bukankah komitmen
kita untuk mengikuti petunjuk Rasulullah SAW dalam segala urusan hidup
merupakan pelanggaran terhadap kebebasan individu bagi kepribadian
manusia?" Kenyataannya, keberatan ini batil. Kebebasan yang hakiki
adalah dalam komitmen kita pada manhaj kehidupan yang telah ditetapkan Allah
bagi kita. Dialah yang menciptakan kita dan tahu apa yang terbaik bagi kita,
karena Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada kita. Rasulullah SAW telah
menerapkannya dan Allah memerintahkan kita untuk meneladaninya. Sesungguhnya
menyimpang dari manhaj ini adalah belenggu itu sendiri, karena penyimpangan
tersebut pastilah tidak membawa kebaikan bagi manusia; andai itu baik bagi
manusia, niscaya manhaj Rabbani telah mencakupnya.
Meneladani
Rasulullah SAW akan mengangkat derajat orang yang meneladani ke tingkat iman,
takwa, dan akhlak agung yang tinggi, serta mewujudkan model kepribadian Islami
secara akidah, ibadah, akhlak, pemikiran, maupun fisik. Lihatlah bagaimana
Rasulullah SAW sebagai "rahmat yang dihadiahkan" menjamin setiap
muslim dengan segala pemeliharaan dan perhatian dalam setiap kondisinya dan
dalam setiap tahapan hidupnya, bahkan sejak sebelum kelahirannya hingga setelah
wafatnya. Kami akan jelaskan hal ini secara singkat:
Kita
melihat Rasulullah SAW saat pembentukan keluarga muslim berwasiat untuk memilih
istri yang salehah dan taat beragama agar tercipta iklim Islami yang baik
sebagai tempat tumbuh anak muslim. Kemudian kita dapati bahwa merupakan sunnah
untuk memohon perlindungan kepada Allah dari setan saat hendak berhubungan yang
mungkin akan menghasilkan keturunan. Sunnah juga memberikan wasiat tentang apa
yang dapat melindungi janin saat masih dalam kandungan ibunya. Ketika ia lahir,
sunnah mewasiatkan untuk azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga
kirinya. Sunnah juga mewasiatkan agar memilihkan nama-nama yang baik bagi sang
bayi, dan mewasiatkan sang ibu untuk merawat dan menyusuinya. Demikianlah
sunnah terus mengikuti tahapan pertumbuhan anak dan gaya perlakuan yang
diperlukan di setiap tahap hingga ia tumbuh dewasa dan mencapai usia taklif
(beban syariat), hingga setelah itu sampai pada kematian. Setelah wafat pun, ia
disalatkan, dikuburkan, makamnya tidak boleh dibongkar, dan ia didoakan agar
mendapat rahmat serta ampunan. Dengan demikian, kita dapati sunnah lebih
menyayangi kaum muslimin daripada seorang ibu yang sangat pengasih terhadap
anak tunggalnya.
Meneladani
Berarti Tidak Membuat Bid'ah
Di
antara hal penting yang harus diingatkan adalah bahwa peneladanan kita kepada
Rasulullah SAW berarti mengikuti (ittiba') dan bukan membuat hal baru
dalam agama (ibtida' atau bid'ah). Dengan demikian, petunjuk Rasulullah
SAW akan tetap murni, jauh dari segala bentuk distorsi atau penyimpangan hingga
Allah mewarisi bumi dan seisinya. Kita telah melihat bagaimana terjadinya
distorsi dan perubahan dalam agama di tangan para pendeta dan rahib (umat
terdahulu), bahkan mereka menghalalkan dan mengharamkan bagi pengikut mereka
apa yang tidak ditetapkan oleh Allah. Dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah
SAW bersabda: "Barangsiapa membuat hal baru dalam urusan kami (agama)
ini yang bukan merupakan bagian darinya, maka ia tertolak." (Muttafaq
'alaih). Dalam riwayat Muslim: "Barangsiapa melakukan suatu amal yang
tidak ada perintah kami di atasnya, maka ia tertolak."
Peneladanan
yang Terintegrasi (Komprehensif)
Setiap
muslim harus antusias untuk meneladani Rasulullah SAW secara terintegrasi dan
tidak sepotong-sepotong. Tidak diperbolehkan meneladani beliau dalam sebagian
aspek namun menyalahi beliau di aspek lainnya. Para pekerja di ladang dakwah
Islam dan mereka yang tampil di depan untuk berdakwah di jalan Allah serta
bekerja untuk pengokohan agama Allah haruslah lebih antusias terhadap
integritas dalam peneladanan ini. Sebab, mereka dianggap sebagai teladan bagi
orang-orang yang mereka seru.
Mereka
harus mengenali petunjuk Rasulullah SAW dan sunnah beliau dalam segala aspek
kehidupan: dalam hubungan beliau dengan Tuhannya, dalam salat dan tahajudnya,
dalam zikir, rasa takut, dan pengawasan (muraqabah) beliau kepada Allah.
Dalam semangat beliau menyeru manusia kepada Allah dan ketabahan beliau
menanggung gangguan di jalan tersebut. Dalam kehidupan rumah tangga dan
pergaulan yang baik dengan istri-istri beliau. Dalam keteguhan beliau memegang
ajaran agama dan tidak mempermudah diri (tarakkhus) dalam hal tersebut.
Dalam anjuran beliau untuk bersaudara dan saling mencintai di antara sesama
muslim serta kelembutan sikap beliau. Dalam pemaafan beliau, kemampuan menahan
amarah, dan tidak marah karena kepentingan diri sendiri. Dalam musyawarah beliau
dengan kaum muslimin, dalam tekad dan tawakal beliau kepada Allah, serta dalam
jihad, keberanian, dan kegigihan beliau dalam peperangan, dan lain sebagainya.
Kami
tidak bermaksud merangkum seluruh sirah, sifat, dan akhlak beliau SAW yang
harus kita teladani di sini. Namun, kami berpesan kepada setiap muslim dan
setiap aktivis dakwah agar mempelajari dengan penuh perhatian sirah Rasulullah
SAW dan sunnah beliau dengan maksud untuk meneladani (al-iqtida'), bukan
sekadar untuk wawasan dan pengetahuan belaka.
Jamaah
Islamiyah yang Teladan
Telah
kami jelaskan sebelumnya bahwa tabiat fase yang kita jalani hari ini dalam usia
dakwah Islam mewajibkan setiap muslim dan muslimah untuk bekerja demi tegaknya
Negara Islam, yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah, sebagai bentuk pengokohan
(tamkin) bagi agama Allah di muka bumi. Kami juga telah menyebutkan
bahwa kewajiban ini tidak mungkin terwujud melalui upaya-upaya individu yang
terpecah-pecah, melainkan harus melalui kerja kolektif yang terorganisir bagi
upaya-upaya tersebut. Maka, berjamaah hukumnya adalah wajib, karena suatu
kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi
wajib.
Oleh
karena itu, menjadi suatu keharusan bagi kami saat menulis tentang
"Keteladanan di Jalan Dakwah" untuk menulis tentang "Jamaah
Islamiyah", mengingat Jamaah Islamiyah adalah wadah yang tepat di mana
para aktivis berhimpun untuk mewujudkan tujuan yang agung ini. Kami akan
mencoba menyebutkan beberapa sifat atau ciri yang harus tersedia pada Jamaah
Islamiyah yang Teladan, agar menjadi pedoman bagi pemuda yang merasa
bingung saat memilih jamaah tempat ia bekerja untuk menunaikan kewajiban
terhadap Islamnya. Karena tujuan kami adalah menyatukan kalimat kaum muslimin,
maka kami berharap dengan menjelaskan sifat-sifat Jamaah Muslimah Teladan ini,
jamaah-jamaah yang ada di medan dakwah dapat berkomitmen padanya, sehingga
membantu mendekatkan mereka dan menyatukan upaya mereka dengan pertolongan
Allah Ta'ala.
Di
antara perkara-perkara mendasar yang harus tersedia pada Jamaah Islamiyah yang
Teladan adalah:
- Tujuannya Harus Rabbani:
Tujuan berdirinya haruslah murni karena Allah dan mengharap keridaan-Nya,
jauh dari segala tujuan duniawi seperti keinginan untuk populer, meraih
jabatan, atau haus pujian (hubbuz zhuhur). Ia juga harus jauh dari
dorongan-dorongan jahiliyah seperti fanatisme kesukuan, kedaerahan, atau
semacamnya. Sesungguhnya perkara-perkara tersebut dapat menghapuskan amal,
dan kesudahan dari jamaah semacam itu adalah kepunahan atau kegagalan.
- Independensi: Jika
telah bersih dari noda-noda di atas, maka jamaah tersebut harus melindungi
dirinya agar tidak tunduk pada hegemoni pihak lain, baik itu pemerintah,
tokoh-tokoh tertentu, maupun para pembesar. Tujuannya agar cahayanya yang
murni tidak ternodai oleh warna lain, agar ia dapat menunaikan risalahnya
di jalan yang benar, dan agar tidak ada pihak mana pun yang mencoba
memanfaatkan atau mengarahkannya kepada selain tujuan yang telah
ditetapkan.
- Tujuan yang Komprehensif:
Tujuan utama berdirinya adalah tujuan menyeluruh dan pemersatu, yaitu
pengokohan (tamkin) agama Allah di muka bumi dengan menegakkan
Negara Islam internasional. Dalam manhajnya, harus mencakup seluruh
langkah dan persiapan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Tidak benar jika jamaah membatasi dirinya hanya pada bagian-bagian kecil
dari urusan agama dan melarang anggotanya untuk melampaui batasan sempit
tersebut.
- Pemahaman Islam yang
Syamil (Universal): Di antara perkara yang paling mendesak bagi Jamaah
Islamiyah Teladan adalah memiliki pemahaman tentang Islam yang syamil
(menyeluruh) dan benar, jauh dari pemotongan (parsial) atau kesalahan,
serta murni dari segala noda, bid’ah, dan takhayul. Pemahamannya harus
sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya SAW, serta menjauhi
perselisihan yang telah mencabik-cabik kaum muslimin menjadi sekte-sekte
dan kelompok-kelompok.
- Bersifat Global
(Alamiyah): Harus bersifat global, bukan bersifat kedaerahan (regional)
maupun rasis (rasial), karena dakwah Islam ditujukan kepada seluruh
manusia, dan kaum muslimin seluruhnya adalah umat yang satu. Terlebih
lagi, tujuannya bersifat global yaitu menegakkan Negara Islam
internasional, bukan sekadar mendirikan pemerintahan Islam di suatu wilayah
tertentu yang terisolasi dari wilayah dunia Islam lainnya. Setidaknya,
jamaah Islam lokal harus memiliki tujuan global yang sama dan
berkoordinasi dengan pergerakan Islam internasional untuk mewujudkan
tujuan tersebut.
- Mengikuti Manhaj Kenabian:
Jamaah Islamiyah Teladan harus menempuh jalan Rasulullah SAW yang beliau
lalui saat mendirikan Negara Islam pertama, yang direpresentasikan dalam:
- Menanamkan akidah tauhid
dan memperkuat iman di dalam hati.
- Memperhatikan kekuatan
ukhuwah (persaudaraan) dan persatuan di antara kaum muslimin.
- Memperhatikan kekuatan
fisik dan senjata (persiapan jihad) setelah adanya kekuatan akidah dan
persatuan, guna menolak agresi kaum musyrik dan kafir.
- Jamaah Teladan harus
memperhatikan pendidikan anggotanya secara akidah, akhlak, wawasan (tsaqafah),
dan fisik agar mereka menjadi pilar-pilar kuat tempat bangunan itu
berdiri. Ia juga harus menyucikan semangat cinta dan persaudaraan di
antara mereka sehingga terbentuk basis yang solid dan kohesif, kemudian
menyiapkan mereka untuk jihad sebagai kewajiban yang terus berlaku.
- Penting untuk diingatkan
bahwa penggunaan kekuatan fisik dan senjata sebelum terwujudnya kekuatan
akidah dan persatuan akan membuat jamaah rentan terpecah dan punah. Kita
semua tahu bahwa Rasulullah SAW tidak diizinkan untuk membalas agresi
kaum musyrik kecuali setelah kondisi memungkinkan untuk itu.
- Mengutamakan Amal Nyata:
Jamaah Islamiyah Teladan harus mengutamakan sisi amal nyata daripada
sekadar propaganda (propaganda) dan penampilan luar. Ia harus
membiasakan anggotanya untuk bekerja dan berproduksi dengan tekun dan
diam, jauh dari perdebatan dan banyaknya diskusi. Sering kali perdebatan
menyebabkan perselisihan atau terhambatnya kerja dan produksi di ladang
dakwah. Selain itu, cinta pada publisitas dan penampilan dapat mengotori
keikhlasan dan menghapuskan pahala.
- Memiliki Rencana yang
Matang dan Realistis: Harus bekerja berdasarkan rencana kerja yang
lengkap, bertahap, dan realistis. Kerjanya tidak boleh bersifat
spontanitas, sekadar reaksi, atau berupa lompatan-lompatan yang tidak
terencana dan tidak terjamin konsekuensinya. Jalan terbaik menuju tujuan adalah
menyiapkan individu muslim sebagai batu bata dasar dalam bangunan; dialah
yang akan mendirikan Rumah Tangga Muslim Teladan yang dibangun di atas
takwa sebagai penyangga dalam membangun Masyarakat Muslim yang sehat, yang
menjadi basis solid bagi berdirinya pemerintahan Islam yang stabil. Hal
ini harus dilakukan di level bangsa-bangsa Islam sebagai persiapan bagi
berdirinya Negara Islam internasional.
- Mencakup Segala Aspek
Kehidupan: Perhatiannya harus mencakup seluruh bidang kerja yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ia memperhatikan aspek spiritual,
pendidikan (tarbawi), wawasan, dan olahraga fisik. Ia memperhatikan
aspek sosial dengan mewujudkan integrasi sosial dan memudahkan pernikahan
bagi pemuda. Memperhatikan aspek ekonomi dengan mendirikan lembaga-lembaga
ekonomi. Memperhatikan aspek politik dengan menyuarakan Islam di bidang
politik dan perwakilan, jauh dari gaya partai-partai (sekuler) dan
pertengkarannya. Memperhatikan aspek media (cetak, audio, visual), serta
mendirikan rumah penerbitan dan menyajikan setiap hal baru yang bermanfaat
untuk membantu penyebaran dakwah serta membantah syubhat dan kebatilan.
- Tawadhu’ (Rendah Hati)
terhadap Jamaah Lain: Jamaah Islamiyah Teladan tidak boleh merasa
lebih tinggi dari jamaah Islam lainnya. Ia tidak boleh menganggap dirinya
sebagai satu-satunya "Jamaah Kaum Muslimin", atau merasa hanya
dirinya yang di atas kebenaran sementara yang lain di atas kebatilan.
Namun, ia harus berusaha keras mewujudkan semangat persatuan dan kerja
sama dengan jamaah lainnya. Ia harus menjauhi tindakan mencela lembaga
atau individu; jika ia mendapat perlakuan buruk dari individu atau jamaah
lain, ia harus bersabar dan membalasnya dengan cara yang lebih baik.
Harapan kami adalah datangnya hari di mana nama-nama, gelar-gelar, dan
perbedaan formalitas di antara jamaah Islam hilang, dan digantikan oleh
kesatuan amal yang menghimpun barisan "Batalion Muhammad", di
mana semua menjadi saudara yang saling mencintai, bekerja untuk agama, dan
berjihad di jalan Allah.
- Menyatu dengan Umat:
Kewajiban Jamaah Islamiyah Teladan adalah menyatu dengan massa kaum
muslimin, hidup dengan isu-isu mereka, serta berbagi kepedihan dan harapan
dengan mereka. Umat adalah ladang dakwah dan basis yang harus disiapkan
agar pemerintahan Islam dapat berdiri dengan stabil atas izin Allah.
Musuh-musuh Islam dan kaki tangan mereka selalu berusaha membangun tembok
imajiner antara jamaah Islam dan rakyat muslim dengan menyematkan tuduhan
palsu kepada gerakan Islam. Penyatuan jamaah Islam dengan rakyat akan
membatalkan tuduhan tersebut dan menunjukkan kepalsuannya.
- Memiliki Sistem dan
Organisasi: Harus memiliki anggaran dasar dan peraturan yang mengatur
kerjanya, menentukan tujuan dan sarana, menetapkan metode dan bidang
kerja, mengontrol anggotanya, serta mengatur perilaku mereka. Ia juga
harus melindungi barisannya dari kelalaian dan dari penyusupan
elemen-elemen mencurigakan. Ia juga harus mengevaluasi kinerjanya dari
waktu ke waktu untuk mengambil manfaat dari sisi positif dan menghindari
sisi negatif.
- Menerapkan Syura
(Musyawarah): Harus mewujudkan syura dalam lembaga-lembaganya di semua
level, mendorong anggotanya untuk berinisiatif, memberikan pendapat,
saran, dan nasihat kepada pengurus, serta memberikan kritik yang
membangun. Hal ini dibarengi dengan pengokohan makna ketaatan (selama
bukan dalam maksiat) dan komitmen terhadap pendapat akhir yang diputuskan.
Anggota harus dididik untuk bersikap proaktif dan memiliki kepribadian
yang kuat.
- Bersikap Moderat
(Wasathiyah): Harus menempuh jalan moderat, menjauhi sikap ekstrem (ghuluw)
maupun melalaikan (tafrith), baik dalam pemikiran (seperti
pemikiran pengkafiran/takfiri) maupun dalam pergerakan (seperti aksi-aksi
prematur yang ceroboh). Ia juga harus menjauhi sikap meremehkan dalam
urusan akidah, ibadah, atau kewajiban secara umum, serta tidak ekstrem
atau keras dalam membebankan tugas yang memberatkan orang banyak.
- Peduli terhadap Isu Islam
Internasional: Harus mengikuti perkembangan isu-isu Islam di medan
internasional dan berkontribusi di dalamnya semampunya. Ia mengajak
seluruh muslim untuk berkontribusi guna menyucikan semangat persatuan dan
rasa tanggung jawab umum atas setiap jengkal tanah Islam dan
membebaskannya dari tangan perampas, terutama Masjidil Aqsha, serta
bertanggung jawab atas setiap nyawa muslim yang melayang di tangan musuh
di belahan dunia mana pun.
- Waspada terhadap Tipu Daya
Musuh: Harus waspada terhadap makar atau jebakan yang dirancang musuh.
Ia harus menyiapkan anggotanya untuk menanggung kesulitan di jalan dakwah,
karena jalan ini tidak bertabur bunga, melainkan penuh duri, rintangan,
upaya keras, jihad, keringat, dan darah. Jalan ini membutuhkan kesabaran,
keteguhan hati, dan mengharap pahala (ikhtisab), dengan kesadaran bahwa
ujian adalah sunnah (ketetapan) dalam dakwah, dan kemenangan pada akhirnya
milik ahli kebenaran betapapun kebatilan tampak jumawa dan sombong untuk
sementara waktu.
- Menanamkan Harapan dan
Pahala: Jamaah harus menjelaskan kepada anggotanya betapa besarnya
kebaikan yang akan mereka berikan kepada kaum muslimin, kemanusiaan, dan
generasi berikutnya dengan tegaknya Negara Islam dan pengokohan agama hak
ini. Juga betapa besarnya pahala dari Allah. Tidak diragukan lagi bahwa
makna-makna ini akan mendorong individu untuk tabah, teguh, dan terus
melanjutkan perjalanan.
- Mempersiapkan Kader Masa
Depan: Harus memikirkan tahapan kerja mendatang dan menyiapkan
anggotanya untuk tugas dan tanggung jawab yang menanti, baik di bidang
dakwah dan pendidikan, bidang jihad fi sabilillah, maupun di bidang
pemerintahan. Penting sekali menyiapkan kompetensi spesialis di setiap
bidang atau sektor kenegaraan.
- Terbuka terhadap Hikmah:
Harus mengambil manfaat dari setiap produk pemikiran atau pengalaman di
kancah dunia selama tidak bertentangan dengan Islam dan ajarannya. Hikmah
adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, maka
ia paling berhak memilikinya.
- Bertawakal kepada Allah:
Terakhir, Jamaah Islamiyah Teladan harus menyadarkan anggotanya bahwa
mereka adalah instrumen bagi takdir Allah. Segala urusan terjadi dengan
kehendak dan kekuasaan-Nya. Tugas mereka adalah mengambil sebab-sebab dan
sarana yang disyariatkan, sedangkan hasil ada di tangan Allah. Mereka
tidak akan diharamkan dari pahala orang yang bekerja meskipun hasil tidak
terwujud di tangan mereka. Hendaknya mereka tahu bahwa waktu dalam tugas
besar kita ini diukur dengan usia dakwah dan bangsa-bangsa, bukan dengan usia
individu. Ketika sebab-sebab kemenangan terwujud pada hamba-hamba Allah
yang beriman, maka janji Allah adalah benar; janji-Nya kepada orang mukmin
untuk diberikan pengokohan (tamkin) pasti akan terwujud dengan izin
Allah jika mereka berjalan di atas jalan yang benar, yaitu jalan
Rasulullah SAW. Maka, marilah bekerja dan menuju kemenangan, insya Allah.
Keluarga
Muslim yang Teladan
Kedudukan
Keluarga dalam Islam:
Keluarga
muslim atau rumah tangga muslim dianggap sebagai salah satu institusi
terpenting dalam kehidupan umat Islam secara umum, dan dalam manhaj (metode)
amal Islami secara khusus. Hal ini disebabkan oleh besarnya peran yang diemban
oleh keluarga dalam mendidik generasi dan mencetak tokoh-tokoh yang akan
menjadi bekal masa depan, pilar pembangunan, serta perisai tanah air.
Masyarakat dalam negara mana pun merupakan kumpulan dari keluarga-keluarga;
sejauh mana kesehatan dan keaslian sebuah keluarga, sejauh itu pula kesehatan
dan keaslian masyarakatnya, yang pada gilirannya akan menentukan kekuatan,
kekokohan, dan keselamatan struktur negaranya. Namun, jika keluarga runtuh,
maka masyarakat dan negara akan ikut runtuh bersamanya.
Ukuran
kesehatan dan keaslian keluarga tidak hanya dilihat dari aspek material duniawi
semata, seperti kesehatan fisik, standar hunian, makanan, pakaian, serta
tingkat sosial dan budaya lainnya. Akan tetapi, faktor kekuatan dan keaslian
dalam keluarga muslim pertama-tama tercermin dalam komitmen anggota keluarga
terhadap Islam secara akidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah, sehingga
Islam mendominasi suasana keluarga sepenuhnya. Kita dapat melihat Islam secara
nyata dalam setiap aspek kehidupan keluarga dan rumah tangga; pada setiap
perkara kecil maupun besar, dalam penampilan maupun batin, dalam apa yang
diminum, pada perabot dan pakaian, dalam suasana suka maupun duka, dalam adat
istiadat dan tradisi, dalam hubungan antaranggota keluarga satu sama lain,
serta dalam mengikuti petunjuk Rasulullah SAW pada aktivitas siang dan malam
serta doa-doa ma'tsur (yang diajarkan) dalam segala kondisi tersebut.
Anda
akan melihat Islam dalam setiap perkara kecil dan besar dalam hidup mereka:
pada jadwal tidur dan bangun, dalam memperlakukan pelayan, dalam hubungan
dengan tetangga, dan dalam batasan hubungan dengan mahram serta kerabat
lainnya, dan urusan lainnya. Kita melihat sang ayah sebagai kepala keluarga
menunaikan kewajibannya terhadap istri dan anak-anaknya serta menjadi pemimpin
yang sebaik-baiknya. Begitu pula sang ibu menunaikan kewajibannya terhadap
suami dan anak-anaknya. Demikian juga anak-anak menunaikan kewajiban terhadap
ayah dan ibu mereka sesuai dengan apa yang didiktekan oleh Islam berupa bakti (birrul
walidain), ihsan, dan ketaatan selama bukan dalam kemaksiatan. Dengan
demikian, iklim Islami menyelimuti suasana rumah tangga muslim yang teladan,
sehingga keturunan tumbuh menjadi anak yang saleh, benar-benar menjadi penyejuk
mata bagi orang tua, dan menjadi simpanan berharga bagi umat.
Sebaliknya,
suasana keluarga muslim yang teladan bersih dari hiburan yang melalaikan,
perkataan sia-sia, perbuatan dosa, adat jahiliyah, serta hal-hal yang
diharamkan dalam makanan, minuman, pakaian, maupun barang koleksi. Ia juga
bersih dari sikap berlebih-lebihan (israf), kemewahan yang melampaui
batas (taraf), dan segala hal yang dilarang oleh Islam.
Kedudukan
Rumah Tangga Muslim dalam Manhaj Amal Islami:
Kita
melihat Imam Al-Banna, ketika menetapkan tujuan agung yang kita dambakan—yaitu
pengokohan agama Allah dengan mendirikan Negara Islam Internasional yang
dipimpin oleh Khilafah Islamiyah—beliau juga menetapkan sarana dan tahapan
pembangunannya, yang meliputi: Individu Muslim, Keluarga Muslim, Masyarakat
Muslim, Pemerintah Islam, lalu Negara Islam, Khilafah, dan kepemimpinan dunia (ustadziyatul
'alam).
Individu-individu
muslim dan keluarga-keluarga muslim dalam masyarakat muslim berfungsi sebagai
basis solid tempat berdirinya pemerintahan Islam yang stabil dan kuat, agar hal
ini terwujud di tingkat bangsa-bangsa Islam. Individu muslim yang teladanlah yang
mendirikan keluarga muslim yang teladan, dan keluarga muslim yang teladan
pulalah yang melahirkan individu-individu muslim yang teladan. Dengan demikian,
pewarisan keaslian Islam kepada generasi-generasi berikutnya terjadi dengan
kuat. Jika terjadi kelalaian dalam pewarisan ini, maka keluarga dan individu
akan mengalami penurunan standar dan keruntuhan, terutama karena para penyeru
keburukan dan kerusakan tidak henti-hentinya mengerahkan tenaga untuk menyerbu
individu dan rumah tangga kita dengan segala jenis kerusakan dan keburukan
mereka.
Dasar
Pembangunan Keluarga Muslim yang Teladan:
Takwa
kepada Allah adalah fondasi kokoh tempat berdirinya bangunan keluarga muslim
yang teladan. Maka, pemilihan istri oleh sang suami dilakukan sesuai arahan
Rasulullah SAW, yaitu berdasarkan ketaatan agamanya (dzatu dien), bukan
karena kecantikannya, hartanya, atau keturunannya. Demikian pula persetujuan
istri dan keluarganya terhadap suami didasarkan karena ia memiliki akhlak,
agama, dan sifat amanah.
Maka,
rumah tangga muslim dibangun di atas takwa sejak hari pertama. Ukuran-ukuran
Rabbani dan adab-adab Islami menjadi pengarah dan pengatur langkah-langkah
pembangunan rumah ini, mulai dari khitbah (lamaran), akad nikah, malam pertama,
dan seterusnya. Sudut pandang Islam yang benar terhadap pernikahan dan
kehidupan suami istri mendominasi, berbeda dengan pandangan materialistik yang
menjadi dasar sebagian pernikahan, di mana ukuran materi menjadi gaya interaksi
dalam kehidupan rumah tangga sehingga perselisihan cepat terjadi dan suasana
kehidupan suami istri menjadi keruh karena tidak merujuk pada batasan dan
ukuran Islam yang menentukan perilaku serta keinginan yang harus ditaati oleh
kedua belah pihak.
Hakikat
Kebahagiaan Suami Istri
Adalah
salah bagi siapa pun yang menyangka bahwa kebahagiaan suami istri terwujud
melalui hal-hal material seperti berlimpahnya harta, tersedianya hunian yang
indah, perabot mewah, kendaraan yang nyaman, pakaian yang beragam, alat-alat
rumah tangga modern, makanan lezat, sarana kemewahan, pemuasan syahwat, dan
urusan lainnya. Kami tidak sedang berlebihan atau menjauh dari realitas jika
kami katakan: banyak gadis yang dikuasai oleh persepsi salah tentang hakikat
kebahagiaan suami istri ini, di mana mimpi-mimpi indah mereka tentang
"sangkar" pernikahan hanyalah melalui pandangan material yang sempit
ini.
Hakikat
yang ingin kami sampaikan kepada para pemuda dan pemudi muslim kita adalah
bahwa kebahagiaan suami istri yang sejati tidak akan terwujud di balik hal-hal
material yang remeh dan fana ini. Betapa sering kita melihat mereka yang
tinggal di istana di tengah dayang-dayang dan pelayan namun tidak merasakan
kebahagiaan suami istri yang hakiki. Sebaliknya, kita melihat kebahagiaan suami
istri terwujud antara seorang pria dan istrinya yang tinggal di gubuk kecil.
Kebahagiaan secara umum berasal dari dalam jiwa, bukan dari luarnya; yaitu dari
takwa kepada Allah, di mana Allah melimpahkannya kepada hamba-hamba-Nya yang
bertakwa.
Ketika
takwa tersedia pada diri suami maupun istri, maka kebahagiaan suami istri yang
sejati akan terwujud. Takwa kepada Allah berarti merasa diawasi oleh Allah
terlebih dahulu, mengupayakan segala yang diridai-Nya, menjauhi apa yang
dimurkai-Nya, serta komitmen masing-masing pada arahan Al-Kitab dan As-Sunnah
dalam hidup mereka, kewajiban mereka, dan hak-hak mereka. Tidak diragukan lagi
bahwa di dalam hal itu terdapat kebahagiaan dan kebaikan, karena ia merupakan
arahan dari Zat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, serta Maha Pengasih
lagi Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Ia juga merupakan petunjuk dari Rasul
yang mulia, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, yang sangat penyayang
kepada orang-orang mukmin, yang merasa berat atas penderitaan mereka, dan
sangat menginginkan kebaikan bagi mereka.
Kemudian,
dengan adanya takwa pada suami istri, maka kepercayaan (tsiqah) akan
terwujud di antara keduanya. Suami tenang bahwa istrinya hanya untuk dirinya,
dan istri tenang bahwa suaminya hanya untuk dirinya. Saat itu, tidak ada jalan
bagi keraguan, prasangka buruk, kecurigaan, dan hal-hal lain yang memperkeruh
kejernihan hidup suami istri serta mengorbankan kebahagiaan dan cinta kasih.
Dengan adanya takwa, ketenangan (sakinah) terwujud, serta terciptalah
cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) di antara keduanya.
Seorang
muslim yang bertakwa kepada Allah akan memandang pernikahan sebagai ibadah yang
dengannya ia mendekatkan diri kepada Allah melalui penunaian kewajibannya
secara baik terhadap istri, rumah tangga, dan anak-anaknya. Demikian pula
muslimah yang bertakwa kepada Allah menganggap pernikahan sebagai ibadah dan
berusaha meraih keridaan Allah dengan menjalankan kewajibannya secara baik
terhadap suami, rumah tangga, dan anak-anaknya. Ke dalam rumah tangga semacam
inilah sakinah, rahmah, mawaddah, dan kebahagiaan akan turun.
Rekomendasi
Umum untuk Keluarga Muslim yang Teladan
Ada
beberapa perkara yang sangat erat kaitannya dengan keluarga muslim atau rumah
tangga muslim yang teladan, di mana biasanya terjadi pelanggaran yang tidak
sesuai dengan sifat keteladanan di jalan dakwah. Kami memandang wajib untuk
menarik perhatian terhadap hal-hal tersebut. Sebagian berkaitan dengan
bangunan, sebagian dengan perabot, makanan, minuman, pakaian, anggaran, adat
istiadat, tetangga, atau teman. Kami paparkan secara sangat ringkas:
Terkait
Bangunan:
Kita
perhatikan di zaman sekarang ini adanya perlombaan yang aneh dalam membangun
rumah dan keinginan untuk menjadikannya sangat mewah. Para ahli berlomba
menonjolkan kejeniusan mereka, dan uang berjuta-juta dihabiskan untuk itu.
Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sikap berlebih-lebihan (israf)
yang dilarang, di saat kita mendapati jutaan umat Islam lainnya terlantar tanpa
tempat berteduh, tanpa pakaian, dan tanpa makanan.
Mungkin
ada yang berkata: "Apa salahnya? Pemilik harta telah menunaikan hak Allah,
mengeluarkan zakatnya, dan memberi infak lebih dari zakat kepada fakir
miskin." Kami katakan: harus jelas sejak awal bahwa kehidupan dunia
bukanlah negeri kenikmatan abadi atau negeri stabilitas. Kemudian, rumah-rumah
megah semacam itu bisa menjadi fitnah bagi pemiliknya; membuat mereka cenderung
kepada dunia dan enggan untuk melakukan jihad serta kerja keras di jalan Allah.
Selain itu, rumah mewah bisa menimbulkan kebencian dan kedengkian dalam jiwa
orang-orang yang kekurangan dan fakir. Kita tidak ingin membangun rumah kita di
dunia dengan mengorbankan tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Marilah kita
semua ingat rumah-rumah Nabi SAW, padahal beliau adalah manusia yang memiliki
kedudukan tertinggi di sisi Allah.
Hal-hal
yang kami rekomendasikan bagi keluarga muslim yang teladan terkait bangunan
adalah:
Kesederhanaan,
moderasi, meminimalkan biaya dan hal-hal pelengkap (aksesoris).
Hendaknya rumah tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas melebihi kebutuhan.
Hendaknya rumah itu sehat (sanitasi baik) dan memiliki kamar yang cukup untuk
mewujudkan pemisahan tempat tidur antar anak-anak serta memisahkan anak
perempuan dari anak laki-laki. Perlu diperhatikan agar aurat rumah tidak
terlihat dari luar, serta memudahkan pergerakan penghuni rumah terpisah dari
tempat penerimaan tamu sejauh mungkin. Alangkah baiknya jika dikhususkan satu
tempat untuk salat yang terjaga kebersihan dan kesuciannya, serta adab-adab
Islami lainnya yang harus diperhatikan. Bagi mereka yang tidak mampu membangun,
cukup dengan menyewa sambil berusaha mewujudkan kriteria tersebut pada rumah
sewaan semampunya. Adapun dasarnya, Negara Islam menjamin rumah tinggal bagi
orang fakir.
Terkait
Perabot Rumah:
Kita
juga memperhatikan perlombaan sengit dan sikap saling membanggakan di tengah
manusia dalam mengoleksi perabot mewah dan tempat tidur yang sangat empuk.
Rumah-rumah dipenuhi dengan segala sarana kemewahan dan gaya hidup glamor. Kaum
wanita memiliki peran besar dalam perlombaan ini melalui desakan mereka kepada
kaum pria. Sayangnya, banyak pria yang tunduk pada tekanan wanita tersebut.
Selain
adanya unsur berlebih-lebihan yang dilarang, jenis perabot seperti ini akan
menarik pemiliknya kepada sikap santai, bermalas-malasan, dan tertidur dari
ketaatan. Ini adalah fitnah yang memperindah dunia dan kesenangannya dengan
mengorbankan akhirat dan kenikmatannya. Hal ini membuat pemiliknya merasa berat
untuk berjihad atau menanggung kesulitan dan hidup keras di jalan dakwah. Jika
ia ditangkap atau dipenjara dan harus tidur di atas aspal atau tikar sabut, ia
bisa mengalami keruntuhan mental akibat perubahan drastis tersebut. Selain itu,
perabot mewah akan menjadi beban bagi penghuni rumah karena membutuhkan tenaga
kerja dan upaya ekstra untuk menjaga kebersihan dan pengaturannya setiap hari.
Yang
kami rekomendasikan bagi keluarga muslim yang teladan terkait perabot rumah
adalah:
Kesederhanaan
dan kekokohan, jauh dari sikap berlebih-lebihan dan kemewahan. Hendaknya
perabot lebih dekat kepada sifat fungsional daripada kelembutan berlebih yang
mendorong banyak tidur sehingga melalaikan ketaatan. Dalam hal itu terdapat
penghematan harta dan penghematan tenaga dalam pengaturannya. Bisa dimanfaatkan
perabot yang memiliki fungsi ganda, seperti sofa yang bisa berubah menjadi
tempat tidur saat dibutuhkan, dan sebagainya. Perlu diperhatikan juga agar
perabot rumah bersih dari hal-hal yang diharamkan seperti patung-patung, bejana
emas atau perak, dan lain-lain. Sangat bermanfaat dalam hal ini untuk
meneladani perabot rumah Nabi SAW, dan bagaimana tikar membekas pada lambung
beliau yang mulia, padahal beliau adalah makhluk yang paling mulia di sisi
Allah.
Terkait
Pakaian:
Kita
juga memperhatikan adanya perlombaan yang gila-gilaan dalam membeli pakaian
mewah yang sangat banyak, serta mengikuti tren mode terbaru hingga
lemari-lemari penyimpanan pakaian di rumah-rumah menjadi sesak karenanya. Hal
ini terjadi di saat banyak kaum muslimin dan anak-anak mereka terpapar hawa
dingin (telanjang) dan menderita akibat perubahan cuaca. Sebagaimana tempat
tidur yang empuk memiliki dampak yang tidak diinginkan bagi muslim yang
teladan, demikian pula pakaian mewah memiliki dampak psikologis bagi
pemiliknya; menjadikannya cenderung pada kemalasan, kemewahan, dan kelembutan
yang bertentangan dengan sifat kelaki-lakian yang siap berjihad dan menanggung
kesulitan. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan sutra dan emas bagi kaum
laki-laki.
Mengenakan
pakaian mewah juga terkadang membawa pada kesombongan (khuyala) dan
merasa tinggi di hadapan manusia, serta makna-makna lain yang bertentangan
dengan spirit Islam dan adab-adabnya. Bahkan, pakaian mewah bisa melalaikan
pemiliknya dan menyibukkannya (mengganggu konsentrasi) di dalam salat. Oleh
karena itu, kami merekomendasikan kepada keluarga muslim yang teladan untuk
menjauhi sikap berlebih-lebihan dan kemewahan dalam berpakaian. Hendaknya
memperhatikan kesederhanaan, kekuatan bahan, serta menjaga kebersihan dan
kesuciannya, sembari berhati-hati dari hal yang diharamkan seperti sutra dan
emas bagi laki-laki.
Adapun
bagi wanita, hendaknya memperhatikan busana muslimah dengan batasan dan
kriteria yang telah dikenal saat keluar rumah atau saat berhadapan dengan
kerabat yang bukan mahram atau orang asing di dalam rumah. Kami juga
merekomendasikan untuk menyedekahkan kelebihan pakaian kepada fakir miskin.
Marilah kita ingat bagaimana keadaan pakaian Rasulullah SAW dan para
sahabatnya. Hendaknya ambisi kita adalah mengenakan sundus dan istabraq
(jenis sutra surga) di akhirat kelak, karena di sanalah kenikmatan yang kekal.
Terkait
Makanan dan Minuman:
Kita
memperhatikan pada banyak orang adanya sifat rakus dan berlebih-lebihan dalam
makanan dan minuman, serta banyaknya jenis dan jumlah yang dikonsumsi sehingga
menghabiskan sebagian besar anggaran rumah tangga. Sering kali, sebagian besar
sisa makanan dibuang ke tempat sampah, di saat ribuan bahkan jutaan kaum
muslimin mati kelaparan, dan para mujahidin di jalan Allah di Afghanistan dan
tempat lainnya membutuhkan apa yang sekadar bisa menyambung hidup mereka. Kita
telah dilarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum: ("Makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan").
Dari
hadis Rasulullah SAW: "Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang
lebih buruk daripada perutnya." (HR. Tirmidzi). Sesungguhnya
berlebih-lebihan dalam makan dan minum mengakibatkan obesitas dan besarnya
badan, yang berdampak pada munculnya cacat dan penyakit, serta dominasi syahwat
yang mengakibatkan rasa berat, malas, dan lesu dalam menjalankan ketaatan,
pergerakan, maupun jihad. Inilah Umar bin Khattab RA berkata: "Waspadalah
kalian dari sifat kenyang yang berlebihan dalam makan dan minum, karena hal itu
merusak jasad, mewariskan penyakit, dan membuat malas dalam salat. Hendaknya
kalian bersikap sederhana (moderat) dalam keduanya, karena itu lebih baik bagi
jasad dan menjauhkan dari sikap boros. Sesungguhnya Allah Ta'ala membenci ulama
yang gemuk (karena banyak makan), dan seseorang tidak akan binasa sampai ia
mendahulukan syahwatnya di atas agamanya."
Termasuk
dalam kategori menjungkirbalikkan keadaan adalah ketika bulan Ramadan—bulan
puasa dan rasa lapar—berubah menjadi bulan kekenyangan dan saling pamer
berbagai jenis makanan, manisan, kacang-kacangan, serta begadang untuk
mengobrol dan hal lainnya yang sangat bertentangan dengan tabiat bulan Ramadan.
Padahal, seharusnya kaum muslimin pada bulan itu melatih jiwa, menyedikitkan
makan dan minum, fokus pada ketaatan, serta menjauhi senda gurau, perkataan
sia-sia, dan dosa.
Yang
kami rekomendasikan bagi keluarga muslim yang teladan terkait makanan dan
minuman adalah mengupayakan yang halal dan baik (thayib), berhati-hati
dari yang haram dan syubhat, serta menjauhi sikap berlebih-lebihan maupun
kekikiran, dengan tetap memperhatikan kecukupan nutrisi bagi tubuh semampunya.
Kita tidak ingin bersenang-senang di dunia dengan syahwat perut dengan
mengorbankan kenikmatan surga dan buah-buahannya. Marilah kita ingat makanan
Rasulullah SAW dan istri-istri beliau, para Ibu Orang Beriman (Ummahatul
Mukminin). Sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah RA, bahwa pernah
berlalu pada kami satu bulan sabit, kemudian bulan sabit berikutnya, hingga
tiga bulan sabit, namun tidak ada api yang dinyalakan di satu pun rumah
Rasulullah (tidak memasak). Banyak sahabat, di antaranya Abu Bakar dan Umar,
keluar dari rumah mereka karena rasa lapar. Jangan lupa pula untuk membaca doa
saat memulai dan selesai makan agar Allah memberikan berkah di dalamnya dan
setan tidak ikut serta.
Terkait
Anggaran Keluarga Muslim yang Teladan:
Kita
memperhatikan sebagian orang yang dilapangkan rezekinya oleh Allah, mereka
meluaskan pintu pengeluaran dengan mengoleksi lebih dari satu mobil, memiliki
jumlah pelayan yang tidak sedikit, serta memberikan uang yang banyak kepada
anak-anak mereka yang sering kali justru mengakibatkan kerusakan dan
penyimpangan anak tersebut. Kita dapati mereka menghabiskan waktu untuk
perjalanan wisata ke luar negeri dengan biaya yang sangat besar, di mana mereka
mungkin terpapar fitnah, kerusakan, dan dosa selama perjalanan tersebut.
Kita
juga melihat keluarga dengan penghasilan terbatas yang tidak mengatur laju
pengeluaran agar sesuai dengan sumber daya mereka, sehingga mereka jatuh ke
dalam krisis, berutang, bahkan utang tersebut menumpuk. Kita melihat keluarga
di mana perselisihan timbul antara suami dan istri karena ketimpangan dalam
neraca pengeluaran. Sebagaimana dikatakan sebagian orang, istri dan anak kecil
menyangka bahwa pria itu mampu atas segala sesuatu (mahakuasa), sehingga
mereka membebani pria tersebut dengan beban yang tidak sanggup dipikul oleh
penghasilannya. Hal ini dapat memperlebar perselisihan dan mengakibatkan
keretakan keluarga. Oleh karena itu, kami merekomendasikan keluarga muslim yang
teladan sebagai berikut:
- Pertama: Sebelum
segala sesuatu, upayakan mencari nafkah yang halal dan baik, serta
berhati-hati dari yang haram dan buruk. Setiap daging yang tumbuh dari
sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas baginya. Alangkah indahnya
wasiat istri muslimah yang salehah kepada suaminya saat berangkat kerja di
pagi hari dengan mengatakan: "Bertakwalah kepada Allah dalam
urusan kami, janganlah engkau memberi kami makan kecuali dari hasil yang
halal."
- Kedua: Bermusyawarah
antara suami dan istri dalam anggaran rumah tangga dan pintu-pintu
pengeluaran. Bersepakat agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan, bahkan
harus ada bagian yang ditabung untuk keadaan darurat. Dengan cara ini,
istri merasakan tanggung jawabnya untuk tidak melampaui anggaran dan
berhemat dalam belanja.
- Ketiga: Mencukupkan
diri pada hal-hal yang darurat (pokok) dan menjauhi kemewahan semampunya,
serta tidak memberikan peluang bagi penyimpangan anak akibat berlebihnya
uang di tangan mereka.
- Keempat: Memperhatikan
hak Allah dengan menunaikan zakat tepat waktu, menunaikan ibadah haji jika
mampu, serta membiasakan berinfak di jalan Allah untuk menolong fakir
miskin. Membiasakan anggota keluarga bersedekah untuk pintu-pintu kebaikan
dan jihad, di mana setiap anggota keluarga menyimpan apa yang mereka
sanggup untuk disedekahkan di jalan tersebut.
Pengalaman
yang Sukses
Saya
sampaikan di sini sebuah pengalaman sukses bagi mereka yang berpenghasilan
terbatas yang dapat mengatur laju pengeluaran dan membebaskan kepala keluarga
dari krisis musiman (seperti awal tahun ajaran sekolah, hari raya, dll). Hal
ini juga membebaskannya dari rasa tidak enak akibat kecemburuan antar anak saat
ayah membelikan pakaian atau lainnya, karena sebagian anak mungkin menyangka
ayahnya mengistimewakan salah satu dari mereka.
Caranya
adalah dengan bermusyawarah antara suami dan istri berdasarkan pendapatan yang
ada. Ditentukan jumlah yang sesuai untuk pengeluaran rumah tangga (makan,
minum, listrik, dll). Jumlah ini disisihkan tersendiri dan bisa dibagi menjadi
tiga bagian (masing-masing untuk sepuluh hari) agar pengeluaran teratur
sepanjang bulan.
Kemudian,
ditentukan untuk setiap anggota keluarga jatah bulanan tertentu sesuai kondisi,
umur, dan kebutuhannya dalam batas anggaran. Jumlah ini mencakup kebutuhan
pribadinya seperti pakaian, transportasi, dan lain-lain, kecuali hal mendadak
seperti sakit atau perjalanan jauh. Setiap anggota mengambil bagiannya setiap
bulan. Untuk anak-anak, pengeluaran mereka bisa diatur di bawah pengawasan ibu.
Mereka bisa dibantu dengan pinjaman lalu dicicil, sembari didorong untuk
menabung. Dengan demikian, mereka terbiasa bertanggung jawab atas diri sendiri
dan menyusun prioritas kebutuhan mereka pada berbagai kesempatan tanpa
menyibukkan pikiran ayah mereka dengan tuntutan tersebut.
Dengan
cara ini, tuntutan tidak menumpuk dalam satu waktu saat uang tidak mencukupi,
rasa sensitif atau kecemburuan hilang, dan urusan berjalan teratur. Saat
mengatur anggaran, tentukan dana cadangan darurat. Pada libur musim panas, anak
laki-laki atau perempuan yang sudah besar dilatih dengan menyerahkan uang
belanja bulanan rumah tangga kepada salah satu dari mereka selama sebulan di
bawah pengawasan ibu. Ini bertujuan agar mereka berlatih mendistribusikan uang
sepanjang bulan dan memilih kebutuhan rumah tangga dengan baik. Hal ini
merupakan pembekalan bagi mereka sebelum menikah. Di bawah suasana saling
pengertian dan kerja sama ini, keluarga dapat menyesuaikan hidupnya dengan
beban seminimal mungkin jika terkena ujian atau saat sumber daya berkurang, hingga
Allah memberikan jalan keluar. Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan jiwa, dan
sifat qana'ah adalah simpanan yang tidak akan sirna.
Alangkah
indahnya hadis Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang melewati malam harinya
dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan
untuk harinya itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya."
Dari Abdullah bin Mihshan, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa
di antara kalian yang menyongsong pagi dalam keadaan sehat fisiknya, aman di
tempat tinggalnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia
telah dianugerahkan kepadanya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Silaturahmi
dan Hubungan dengan Kerabat:
Keluarga
muslim yang teladan dituntut untuk menjadi teladan dalam segala keutamaan yang
diserukan Islam. Islam sangat menekankan silaturahmi dan berbuat baik kepada
kerabat. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut berdampak pada penguatan
ikatan di dalam masyarakat muslim guna mewujudkan suasana kerja sama,
kesetiakawanan, dan kasih sayang antar sesama muslim.
Seandainya
setiap muslim dan keluarga muslim mengamalkan ayat yang mulia (tentang
kerabat), niscaya akan terwujud masyarakat yang utama, saling mencintai, dan
saling menyayangi, sehingga tidak ada satu pun individu yang membutuhkan yang
terlupakan atau terabaikan. Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa
yang ingin dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari
kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung
silaturahmi." (Muttafaq 'alaih).
Diriwayatkan
oleh Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad dari Amr bin Ash, dari Nabi SAW bersabda: "Bukanlah
penyambung silaturahmi itu orang yang membalas (kebaikan kerabatnya), akan
tetapi penyambung silaturahmi adalah orang yang jika diputus tali
kekerabatannya, ia justru menyambungnya." Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad
meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda: "Rahim
(tali kekerabatan) itu adalah cabang dari (rahmat) Ar-Rahman. Allah berfirman:
Barangsiapa menyambungmu, maka Aku menyambungnya, dan barangsiapa memutusmu,
maka Aku memutusnya." Tirmidzi menambahkan di awalnya: "Orang-orang
yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah siapa yang ada di
bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian."
Maka,
suami dalam keluarga muslim yang teladan harus antusias menghormati keluarga
istri dan memuliakan mereka, terutama orang tuanya, sehingga mereka merasa
seolah-olah ia adalah anak kandung mereka sendiri; di samping baktinya kepada
keluarganya sendiri terutama orang tuanya. Istri pun harus antusias menghormati
keluarga suami dan memuliakan mereka terutama orang tuanya, sehingga mereka
merasa seolah-olah ia adalah anak perempuan mereka sendiri; di samping baktinya
kepada keluarganya sendiri terutama orang tuanya.
Kami
ingatkan dalam hubungan dan pertemuan dengan kerabat agar tetap memperhatikan
adab-adab Islam seperti hijab dan tidak berdua-duaan (khalwat) dengan
yang bukan mahram. Kita sering memperhatikan adanya pelanggaran dalam hal ini
karena pemahaman yang salah bahwa dengan kerabat tidak ada masalah (bebas).
Maka harus dibedakan antara mereka, mana yang mahram dan mana yang bukan.
Hubungan
Keluarga Muslim dengan Tetangga:
Islam
sangat memperhatikan wasiat tentang tetangga dan berbuat baik kepadanya
sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Qur'an. Hadis-hadis dalam bab ini sangat
banyak, di antaranya:
Dari
Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada
Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Dan
barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik
atau diam." (Muttafaq 'alaih). Dalam sebuah riwayat digunakan kata liyashmut
(hendaknya diam).
Dari
Aisyah RA, dari Nabi SAW bersabda: "Jibril senantiasa mewasiatiku untuk
berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira bahwa ia akan
menetapkan ahli waris bagi tetangga tersebut." (Muttafaq 'alaih).
Dari
Abu Dzar bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Abu Dzar, jika engkau
memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu
atau bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu." (HR. Muslim, Tirmidzi,
dan Ibnu Majah).
Seputar
Kenalan dan Teman:
Keluarga
muslim tidak berada dalam keterpencilan dari masyarakat, dan pasti ia memiliki
kenalan serta teman. Oleh karena itu, diperlukan kesepahaman antara suami dan
istri dalam menentukan lingkaran kenalan dan pertemanan agar dapat memilih
mereka dengan baik dan menghindari keterlibatan hubungan dengan orang-orang
yang buruk. Selain itu, perlu ditentukan batasan hubungan tersebut agar berada
pada kadar yang tepat yang mendatangkan kebaikan dan menghalangi dampak negatif
serta kesulitan.
Keluarga
muslim yang teladan hendaknya menjadikan tujuan utama dari hubungan-hubungan
ini adalah demi mewujudkan kebaikan bagi dakwah Islam; yaitu agar melalui
hubungan tersebut terwujud dakwah di jalan Allah, amar ma'ruf nahi munkar,
dan saling tolong-menolong dalam kebajikan serta takwa. Mungkin merupakan hal
yang tepat untuk mengatur pertemuan-pertemuan guna mendalami agama (tafaqquh
fiddin) bagi kaum laki-laki dan pertemuan serupa bagi kaum perempuan, serta
menjauhi segala hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya seperti ghibah, namimah
(adu domba), dan lainnya. Perhatian juga diberikan kepada anak-anak dengan
memberikan pengarahan kepada mereka.
Urusan
ini tidak lepas pula dari saling bertukar kado. Maka, keluarga muslim yang
teladan hendaknya memilih kado-kado yang bermanfaat bagi sisi dakwah, seperti
Mushaf Al-Qur'an, buku-buku Islam yang bermanfaat, kaset atau video Islami,
atau hal lainnya yang berguna bagi orang dewasa maupun anak-anak.
Seputar
Tamu dan Memuliakannya:
Memuliakan
tamu juga termasuk keutamaan yang dianjurkan oleh Islam. Ini adalah keutamaan
yang memperkuat ruh persaudaraan, cinta kasih, dan empati di antara sesama
muslim. Ketika perkara ini mendominasi masyarakat kita, maka setiap individu di
dalamnya akan merasa bahwa ia berada di tengah keluarganya ke mana pun ia pergi
dan di mana pun ia singgah. Hal ini berbeda dengan masyarakat materialis di
Eropa dan lainnya yang kehilangan keutamaan-keutamaan seperti ini; bahkan bakti
kepada orang tua dan berbuat baik kepada keduanya hampir tidak ditemukan karena
materi telah mendominasi hubungan. Namun, di dalam masyarakat Islam, kita
mendapati Islam menganjurkan kaum muslimin untuk saling membantu dan bekerja
sama dalam menjamu tamu-tamu jika jumlah mereka banyak, sebagaimana yang
terjadi pada Ahlus Shuffah, dengan tetap memperhatikan agar tidak
berlebih-lebihan atau membebani diri secara paksa (takalluf).
Hadis-hadis
mengenai memuliakan tamu sangat banyak, dan telah kami sebutkan salah satunya
saat membahas hubungan dengan tetangga. Dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, ia
berkata: "Sekelompok sahabat Nabi SAW mengunjungi Jabir bin Abdullah, lalu
ia menghidangkan roti dan cuka kepada mereka seraya berkata: 'Makanlah, karena
sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sebaik-baik lauk adalah
cuka.' Sesungguhnya merupakan kehancuran bagi seseorang jika
saudara-saudaranya berkunjung kepadanya lalu ia meremehkan apa yang ada di
rumahnya untuk dihidangkan kepada mereka, dan merupakan kehancuran bagi suatu
kaum jika mereka meremehkan apa yang dihidangkan kepada mereka." (HR.
Ahmad dan Thabrani). Kemungkinan perkataan "Sesungguhnya merupakan
kehancuran bagi seseorang... dst" adalah ucapan Jabir (mauquf) dan bukan
sabda Nabi (marfu'), Wallahu a'lam.
Dari
Abu Syuraih Al-Khuza'i, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Menjamu
tamu itu tiga hari, dan jaizahnya (jamuan istimewanya) adalah sehari semalam.
Tidak halal bagi seseorang untuk tinggal di tempat saudaranya hingga ia
membuatnya berdosa." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah,
bagaimana ia membuatnya berdosa?" Beliau menjawab: "Ia tinggal di
tempatnya padahal saudaranya itu tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya."
(Muttafaq 'alaih).
Suami
dan Ayah Muslim yang Teladan
Setelah
kita mengulas perkara-perkara umum yang berkaitan dengan keluarga muslim yang
teladan, ada baiknya kita mengulas elemen-elemen penyusun keluarga muslim
secara terpisah, seperti ayah atau suami, ibu atau istri, anak laki-laki, dan
anak perempuan, agar masing-masing dari mereka mengenal kewajiban Islamnya
terhadap diri sendiri dan orang lain. Mengenai ayah atau suami, kami
mengingatkan hal-hal berikut:
- Menyadari Tanggung Jawab:
Ia harus merasakan tanggung jawabnya yang agung dan berat di hadapan Allah
atas kepemimpinannya terhadap keluarga. Ia bertanggung jawab atas setiap
individu di dalamnya dan atas segala hal yang berkaitan dengan mereka
secara fisik, spiritual, dan intelektual. Yang paling dasar dan penting
adalah aspek spiritual, yaitu yang berkaitan dengan pendidikan Islam yang
menentukan kehidupan nasib seseorang di akhirat. Rasulullah SAW bersabda: "Kalian
semua adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban
atas kepemimpinannya..."
- Menjadi Teladan yang Baik:
Ia harus menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anaknya dalam hal
komitmen terhadap ajaran Islam, menjalankan kewajiban-kewajibannya, dan
berakhlak dengan akhlak Islam. Hal itu lebih baik baginya dan
menjadikannya memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam mengarahkan serta
membimbing anggota keluarga. Berbeda halnya jika ia lalai dalam hal
tersebut, maka ia akan kehilangan kelayakannya untuk membimbing, karena
orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikannya (faqidul
syai' la yu'thih).
- Memperlakukan Istri dengan
Baik: Suami harus memperlakukan istrinya dengan baik. Ini adalah
kewajiban Islam yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW melalui perkataan dan
perbuatan beliau, dan beliaulah teladan kita. Hadis beliau: "Sebaik-baik
kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang
paling baik di antara kalian terhadap keluargaku" mempertegas
makna ini. Tidak diragukan lagi bahwa sejauh mana baiknya hubungan antara
suami dan istri di bawah naungan ajaran Islam, maka akan terwujud
kehidupan yang baik bagi seluruh keluarga, begitu pula sebaliknya. Yang
dituntut adalah dominasi suasana cinta, kasih sayang, dan ketenangan,
sehingga setan tidak menemukan jalan untuk masuk di antara keduanya.
- Membangun Suasana Islami:
Kepala keluarga harus antusias memberikan suasana Islami pada keluarga dan
rumah, sehingga seluruh kehidupan dalam keluarga berjalan sesuai ajaran
Islam dan bersih dari pelanggaran atau dosa, bahkan menjauhkan diri dari
perkara syubhat. Hendaknya ibadah, tilawah Al-Qur'an, dan zikir kepada
Allah menjadi suasana yang dominan, serta meminimalisir kegaduhan, makian,
ghibah, dusta, dan dosa-dosa lainnya.
- Melibatkan Istri dalam
Tanggung Jawab: Suami muslim yang teladan hendaknya memberikan
kesempatan kepada istrinya untuk berpartisipasi dan bekerja sama dengannya
dalam memikul tanggung jawab keluarga serta menyelesaikan
masalah-masalahnya. Keluarga bagaikan sebuah perusahaan di mana laki-laki
adalah manajernya, namun istri memiliki peran besar dalam kelancaran
kehidupan di dalam keluarga. Tidak boleh bagi suami mengabaikan perannya
atau cenderung pada gaya memerintah, otoriter, dan memaksakan pendapat
sendiri. Sebelumnya telah kami sebutkan topik kesepahaman mengenai
anggaran dan pembagiannya yang baik sebagai contoh kerja sama ini.
- Mendidik Anak secara
Islami: Di antara hal terpenting dalam kerja sama suami dan istri
adalah pendidikan anak-anak yang baik dan membimbing mereka dengan
pertumbuhan Islami agar benar-benar menjadi penyejuk mata bagi keduanya
dan elemen konstruktif dalam masyarakat Islam. Kelalaian dalam mendidik
mereka akan menjadikan mereka sumber kesulitan dan penderitaan bagi orang
tua. Rasulullah SAW bersabda: "Jika anak Adam mati, terputuslah
amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat,
atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim dan lainnya).
Dari Nu'man bin Basyir RA, Rasulullah SAW bersabda: "Samakanlah di
antara anak-anakmu," dalam lafaz lain: "Adillah di antara
anak-anakmu, adillah di antara anak-anakmu, adillah di antara anak-anakmu
(yakni dalam pemberian)." (Muttafaq 'alaih). Dari Aisyah RA bahwa
seorang wanita menemuinya bersama dua anak perempuannya, ia memberinya
sebutir kurma lalu wanita itu membelahnya menjadi dua untuk anak-anaknya.
Hal itu diceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: "Barangsiapa
yang diuji dengan anak-anak perempuan ini lalu ia berbuat baik kepada
mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka."
(Muttafaq 'alaih). Suami istri hendaknya membiasakan anak-anak mereka
untuk percaya diri, berani, dan cinta jihad, serta memilih mainan
anak-anak yang menanamkan makna-makna tersebut dalam jiwa mereka. Begitu
pula mendorong anak-anak untuk memperhatikan pelajaran, berprestasi, dan
memberikan kado serta hadiah kepada mereka.
- Menyediakan Rekreasi yang
Sehat: Kepala keluarga hendaknya memberikan suasana kegembiraan pada
keluarga dan menyediakan berbagai hiburan serta rekreasi yang bebas dari
dosa, agar anak-anak tidak mencari hiburan di bidang-bidang yang berdosa.
Contohnya seperti tamasya ke tempat-tempat yang jauh dari kemaksiatan,
atau berkebun jika ada lahan. Juga mempelajari beberapa hal praktis
seperti P3K, dasar-dasar pipa air, kelistrikan, pertukangan, atau lainnya.
Hendaknya menjaga suasana cinta di antara anak-anak, mencegah pertikaian
dan tumbuhnya ruh permusuhan, membiasakan yang bersalah untuk meminta
maaf, dan membiasakan yang lain untuk berjiwa besar serta menerima maaf.
- Memiliki Kesadaran dan
Kewaspadaan: Ayah sebagai kepala keluarga harus memiliki hati nurani
yang waspada dan berhati-hati.
- Meningkatkan Level Iman
Keluarga: Ayah/suami muslim yang teladan hendaknya berupaya
meningkatkan level iman anggota keluarganya serta tugas-tugas yang
diwajibkan oleh iman tersebut berupa amal, jihad, dan pengorbanan demi
membebaskan tanah air Islam dan mengokohkan agama Allah di muka bumi.
Begitu pula mempersiapkan mereka menghadapi apa yang mungkin menimpa
mereka berupa ujian dan cobaan, serta pentingnya sabar dan ketabahan
dengan mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
- Sikap Moderat: Kepala
keluarga muslim yang teladan harus bersikap moderat dalam gaya hidup
keluarganya; tidak cenderung pada kekerasan dan kekerasan, tidak pula pada
kelembutan dan kelalaian yang berlebihan. Moderat pula antara sikap boros
dan kikir, serta antara sikap terlalu mengekang dan terlalu membebaskan (tasyayyub).
- Berbuat Baik kepada
Pelayan: Suami dan istri hendaknya memperlakukan pelayan dengan baik,
begitu pula terhadap anak-anak yatim atau orang lain yang menjadi
tanggungan mereka.
Istri
dan Ibu Muslimah yang Teladan
Wanita
sebagai istri atau ibu merupakan pilar yang kuat dalam struktur keluarga dan
faktor stabilitas utama di dalam rumah; bahkan rumah adalah
"kerajaannya" sebagaimana pepatah mengatakan. Di atas pundaknyalah
terletak beban terbesar dalam mendidik anak-anak dan mencetak laki-laki
(tokoh). Keluarga muslim yang teladan tidak akan terwujud jika sifat-sifat yang
diharapkan hanya tersedia pada kepala keluarga saja, tanpa tersedia pula pada
sang istri. Para musuh telah menyadari peran wanita yang berpengaruh dalam
keluarga dan masyarakat, sehingga mereka menjadikannya sarana untuk menyebarkan
kehinaan. Oleh karena itu, wajib bagi para aktivis Islam untuk memperhatikan
wanita muslimah dan menjadikan mereka sarana untuk menyebarkan keutamaan,
mendukung struktur keluarga dan masyarakat, serta mendidik generasi yang
berkomitmen pada Islamnya.
Oleh
karena itu, kami merekomendasikan kepada Istri dan Ibu Muslimah yang Teladan
hal-hal berikut:
- Meyakini Perannya: Ia
harus beriman dalam lubuk hatinya akan perannya yang besar dan pengaruhnya
yang efektif dalam suasana serta kehidupan keluarga. Dengan perilakunya,
kebijaksanaannya, kewaspadaannya, dan rasa takutnya (muraqabah)
kepada Allah, ia dapat menjadikan rumah tangganya sebagai surga tempat
suami dan anak-anak bernaung dan rindu kepadanya, serta tempat mereka
beristirahat dari panasnya kehidupan dan kelelahan di luar rumah.
- Mendidik Anak: Ia
harus menunaikan kewajiban dan peran dasarnya dalam mendidik serta
mengasuh anak-anak, karena ia adalah orang yang paling sering berinteraksi
dengan mereka, dan mereka sangat membutuhkannya pada fase pembentukan
kepribadian dan pertumbuhan. Diperlukan koordinasi antara dirinya dan sang
ayah dalam metode pendidikan agar proses pembentukan tersebut saling
melengkapi dan tidak terjadi pertentangan antara kedua metode. Terkadang
kita melihat kasih sayang ibu terhadap anaknya, jika tidak disiplin,
justru menjadi penyebab anak menjadi manja atau membangkang terhadap
aturan ayahnya. Kita juga melihat sebagian orang tua memberikan perhatian
besar pada kesehatan fisik anak namun ketaatan agama mereka tidak mendapat
perhatian serupa, padahal itu yang utama. Ibu harus mengenali kebiasaan
dan akhlak buruk yang mungkin dialami anak di luar rumah untuk melindungi
mereka, serta memantau teman-teman anaknya agar dengan bantuan ayah,
mereka terhindar dari teman yang buruk. Ia juga harus menerapkan adab
Islam seperti memerintahkan salat pada usia tujuh tahun dan memukul
(sebagai pelajaran) pada usia sepuluh tahun, memisahkan tempat tidur
mereka, serta membiasakan anak perempuan untuk memiliki rasa malu dan
menerima busana muslimah saat mencapai usia haid atau sesaat sebelumnya.
Ibu hendaknya tidak bergantung pada pengasuh kecuali dalam keadaan
darurat, dan tidak bergantung pada susu formula kecuali karena alasan
kesehatan.
- Perbandingan: Agar
kita merasakan dampak yang efektif, kita bandingkan gambaran cerah
keluarga muslim teladan ini dengan membayangkan di sampingnya sebuah
keluarga muslim yang istrinya tidak memiliki sifat-sifat tersebut; bahkan
mungkin menjungkirbalikkan keadaan dan menjadikan rumah sebagai neraka,
arena perselisihan, dan pelanggaran terhadap adab Islam, sehingga suami
dan anak tidak menemukan ketenangan di dalamnya, yang mengakibatkan suami
menderita dan anak-anak terlantar.
- Menunaikan Hak Suami:
Istri muslimah teladan harus mengenali secara akurat kewajibannya terhadap
suami dan hak-hak suami atas dirinya, lalu menunaikannya sebagai bentuk
ibadah kepada Allah demi meraih pahala-Nya. Ia harus menjaga perasaan
suami, meredam kegelisahannya, menjaga rahasianya, serta menjaga
kehormatannya saat suami tidak ada. Ia juga harus bekerja sama dengan
suami dalam hal-hal yang telah kami sebutkan sebelumnya, terutama
pendidikan anak dan silaturahmi.
- Mendukung Dakwah Suami:
Istri muslimah teladan harus mendorong suaminya untuk menunaikan kewajiban
terhadap Islam berupa amal, pengorbanan, dan jihad, serta tidak menjadi
penghambat atau fitnah yang menghalangi suaminya.
- Memilih Teman: Ia
harus memilih kenalan dan teman wanita yang salehah, menjalankan peran
memberi pengarahan dan pengingat akan adab Islam, serta menjadi teladan
bagi orang lain. Pertemuan-pertemuan harus bernuansa Islami, bebas dari
dosa seperti ghibah, dan tetap menjaga adab seperti hijab.
- Mencari yang Halal:
Istri muslimah teladan hendaknya mengupayakan yang halal dalam segala hal
yang berkaitan dengan rumah, baik perabot, pakaian, makanan, minuman,
maupun kebiasaan, serta membebaskan diri sepenuhnya dari yang haram dan
syubhat. Ia juga harus menjadi teladan dalam kebersihan dan keteraturan,
serta membiasakan anak-anaknya akan hal itu.
- Menjaga Kesehatan dan
Keselamatan: Ia harus menjaga aturan kesehatan, mencegah makanan
terkontaminasi, serta tidak meletakkan benda berbahaya dalam jangkauan
anak-anak seperti obat-obatan, korek api, benda tajam, dan sebagainya.
- Mengikuti Sunnah:
Mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam aktivitas siang dan malam di rumah,
seperti adab makan, minum, berpakaian, tidur, salam, meminta izin, buang
hajat, masuk dan keluar rumah, bercermin, serta doa-doa terkait hal
tersebut. Ia juga harus menjauhi tradisi jahiliyah atau tradisi Barat yang
bertentangan dengan ajaran Islam.
- Menghidupkan Syiar Islam:
Ia dan suami harus antusias menghidupkan momen-momen Islami bagi
anak-anak, seperti bulan Ramadan dengan puasa dan qiyamul lail-nya, serta
menjauhi hal-hal yang biasa dilakukan orang banyak namun menyimpang,
seperti begadang yang tidak bermanfaat, teka-teki yang melalaikan,
kekenyangan, dan banyaknya jenis makanan.
- Menjaga Penampilan:
Tidak perlu diingatkan lagi bahwa istri muslimah teladan harus menjadi
teladan yang baik dengan berkomitmen pada busana muslimah dan menghindari
hiasan yang dilarang seperti menyambung rambut (wasahl), mencukur
alis (namsh), mewarnai kulit secara berlebihan, dan sebagainya.
Anak
Laki-Laki dan Anak Perempuan Muslim yang Teladan
Ketika
kita mendambakan keluarga muslim, kita juga memaksudkan bahwa setiap individu
di dalamnya harus menjadi teladan Islam yang baik. Setelah membahas ayah dan
ibu, maka kepada anak laki-laki dan perempuan kami sampaikan rekomendasi
berikut:
- Menyadari Kedudukan Orang
Tua: Setiap anak harus merasakan kedudukan ayah dan ibu serta hak
mereka untuk dicintai, dihargai, dibakti, dan diperlakukan dengan baik.
Mereka harus menghargai rasa lelah, terjaga, dan pengasuhan orang tua,
terutama ibu atas kepayahan selama masa kehamilan, persalinan, menyusui,
dan pengasuhan masa kecil.
- Ketaatan adalah Perintah
Allah: Mereka harus merasakan kewajiban menaati perintah Allah dan
Rasul-Nya dalam berbakti kepada orang tua dan pahala di baliknya.
Sebaliknya, durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang mendatangkan
murka dan siksa Allah. Beberapa hadis terkait hal ini:
- Dari Ibnu Mas'ud RA:
"Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: Amal apa yang paling dicintai
Allah? Beliau menjawab: Salat pada waktunya. Aku bertanya: Kemudian apa?
Beliau menjawab: Berbakti kepada orang tua. Aku bertanya: Kemudian apa?
Beliau menjawab: Jihad di jalan Allah." (HR. Bukhari, Muslim, dan
Nasai).
- Dari Abu Hurairah RA:
"Celakalah, celakalah, celakalah seseorang yang mendapati orang
tuanya dalam usia lanjut, salah satu atau keduanya, namun ia tidak masuk
surga (karena tidak berbakti)." (HR. Muslim).
- Dari Abdullah bin Amr RA,
Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya termasuk dosa besar adalah
seseorang mencaci orang tuanya... yakni dengan mencaci ayah orang lain
lalu orang itu membalas mencaci ayahnya..." (HR. Muslim).
- Mematuhi Nasihat:
Anak-anak harus tahu bahwa orang tua mereka lebih tahu apa yang bermanfaat
dan berbahaya bagi anak karena faktor usia dan pengalaman. Orang tua
mencintai kebaikan bagi mereka. Maka anak-anak harus menaati orang tua
selama bukan dalam maksiat yang nyata, karena tidak ada ketaatan kepada
makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.
- Menjaga Kasih Sayang Antar
Saudara: Anak-anak harus menjaga ruh cinta dan kasih sayang di antara
mereka, menghindari suasana pertikaian dan kebencian. Hendaknya suasana
toleransi dan empati mendominasi; yang besar menyayangi yang kecil, dan
yang kecil menghormati yang besar.
- Ketaatan Beribadah:
Anak-anak harus menjaga ketaatan kepada Allah, terutama salat tepat waktu
dan akhlak Islam secara umum. Mereka harus memperhatikan Al-Qur'an,
menghafalnya, memahaminya, serta mendalami agama. Hadis menyebutkan salah
satu dari tujuh golongan yang dinaungi Allah adalah pemuda yang tumbuh
dalam ketaatan kepada Allah.
- Mengamalkan Sunnah:
Mereka harus mempelajari sunnah dan doa dalam makan, minum, tidur,
berpakaian, dan lainnya, serta mempraktikkannya.
- Berprestasi dalam Studi:
Mereka harus memperhatikan studi mereka hingga menjadi orang-orang yang
unggul dan berprestasi.
- Kebersihan dan
Keteraturan: Mereka harus terbiasa bersih dalam pakaian, tubuh, kamar,
dan sekolah, serta teratur dalam waktu, pengaturan meja belajar,
peralatan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka.
- Memilih Teman: Mereka
harus pandai memilih teman dan kenalan, serta menjadi teladan yang baik
bagi teman-teman mereka tersebut.
Saudara
Muslim (Al-Akh) yang Teladan
Telah
diketahui bahwa individu muslim merupakan model aplikasi bagi Islam dalam
berbagai aspeknya, baik akidah, ibadah, akhlak, maupun tasyri'
(perundang-undangan) di antara anggota masyarakat muslim. Sejauh mana
kesempurnaan model individu muslim tersebut, maka sejauh itu pula kesempurnaan
model rumah tangga atau keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintahan Islam,
hingga negara Islam; sehingga terwujudlah model pemerintahan Islam yang benar
dan sehat serta penerapan syariat Allah di muka bumi. Seorang "Akh"
(saudara) muslim dalam jamaah yang berjuang mewujudkan tujuan agung—yaitu
pengokohan (tamkin) bagi agama Allah dan tegaknya Daulah
Islamiyah—mewakili unsur asasi dalam kerja, pergerakan, dan pembangunan.
Oleh
karena itu, wajib bagi kita saat berbicara tentang "Keteladanan di Jalan
Dakwah" untuk memberikan perhatian yang layak kepada Akh Muslim yang
Teladan. Kami selalu menekankan bahwa setiap kali kami berbicara tentang
"Akh Muslim", kami juga memaksudkan "Ukht (Saudari)
Muslimah", karena keduanya adalah unsur yang saling melengkapi dalam
bidang kerja dan pembangunan. Rumah tangga muslim tidak akan tegak kecuali
dengan adanya Akh dan Ukht, dan masyarakat tidak akan berdiri hanya di atas
pundak laki-laki tanpa perempuan.
Tujuan
kami adalah mewujudkan model Akh Muslim yang Teladan, apa pun kedudukannya
dalam keluarga (sebagai ayah, suami, atau anak), apa pun posisinya di
masyarakat (sebagai guru, mahasiswa, dokter, pekerja, atau pedagang), dan apa
pun posisinya di dalam jamaah (sebagai pemimpin/mas'ul maupun prajurit/jundi).
Sebelumnya, saat membahas Keluarga Muslim yang Teladan, kami telah mengulas
tentang Ayah Muslim Teladan, Suami Muslim Teladan, Anak Muslim Teladan, serta
Ibu Muslimah Teladan, Istri Muslimah Teladan, dan Putri Muslimah Teladan.
Pilar-Pilar
Umum
Ada
pilar-pilar dasar umum yang harus ditaati oleh Akh Muslim Teladan, dan ada
kewajiban-kewajiban lain dalam kapasitasnya sebagai anggota sebuah jamaah yang
bekerja mewujudkan tujuan-tujuan Islam. Kita akan mulai dengan pilar-pilar
umum, kemudian diikuti dengan yang lainnya atas pertolongan dan taufik dari
Allah.
Pilar
pertama yang kita mulai—dan ini adalah yang terpenting dari semuanya—adalah Akh
Muslim yang Teladan harus memiliki Akidah yang Selamat (Salimul
Aqidah). Hendaknya akidah tauhid yang murni padanya bersifat bersih, tidak
dicampuri oleh noda apa pun yang mengeruhkan kejernihan dan kemurniannya.
Sebab, akidah adalah landasan amal, dan amal hati lebih penting daripada amal
jasmani, meskipun pencapaian kesempurnaan pada keduanya dituntut secara
syariat.
Seorang
Akh Muslim Teladan harus menunaikan ibadah-ibadah fardu dengan benar dan sehat;
sebuah penunaian yang menghimpun antara hukum-hukum keabsahannya dengan
rahasia-rahasia dan ruhnya agar membuahkan hasil berupa takwa dan diterima di
sisi Allah. Ia harus memperbagus salatnya dan menjaganya tepat waktu secara
berjemaah di masjid semampunya, serta senantiasa dalam keadaan berwudu di
sebagian besar waktunya. Ia harus antusias berpuasa Ramadan dan menunaikan haji
jika mampu. Ia juga mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunah (nawafil)
setelah menunaikan yang fardu, seperti qiyamul lail dan puasa minimal tiga hari
setiap bulan. Hendaknya ia terus-menerus berzikir kepada Allah Ta'ala, baik di
hati maupun lisan, serta memperbanyak doa-doa ma'tsur.
Diharapkan
pula bagi Akh Muslim Teladan untuk menjadikan seluruh hidupnya sebagai ibadah,
yaitu dengan menjadikan tujuannya dalam setiap pekerjaan adalah untuk melayani
Islam dan kaum muslimin serta memohon pertolongan dengannya untuk menaati
Allah. Maka, makan, minum, studi, pekerjaan, pernikahan, olahraga, dan setiap
amal yang ia lakukan, diniatkan untuk menaati Allah serta melayani Islam dan
muslimin. Bersamaan dengan niat, ia wajib mengupayakan yang halal dan menjauhi
yang haram dalam semua urusan tersebut. Ia harus memperbanyak membaca Al-Qur'an
dengan tajwid yang baik, serta menghafal apa yang mudah baginya agar dapat ia
gunakan untuk qiyamul lail. Ia juga harus memperbanyak membaca hadis Rasulullah
SAW, menghafal sebagiannya, dan melaksanakan arahan yang terkandung dalam
hadis-hadis tersebut.
Ia
harus berkomitmen pada sunah Rasulullah SAW dalam hidupnya dan aktivitas
sehari-semalam, seperti makan, minum, berpakaian, tidur, buang hajat, dan
lainnya, beserta doa-doa ma'tsur yang menyertainya. Ia harus mendalami urusan
agamanya (tafaqquh fiddin), antusias untuk menambah wawasan tersebut,
mengenali isu-isu Islam dan muslimin, mengembangkan budaya dan pengalamannya,
serta menguasai spesialisasi ilmiah atau teknisnya agar bermanfaat bagi
dakwahnya.
Ada
aspek yang sangat penting dalam kehidupan Akh Muslim Teladan yang kami inginkan
agar ia menjadi teladan yang baik, yaitu Aspek Akhlak. Akh Muslim yang
mewajibkan dirinya berakhlak dengan akhlak Islam yang utama akan memberikan
citra jujur bagi Islam yang mampu meraih apresiasi dan rasa hormat, bahkan dari
musuh Islam sekalipun. Ia akan menjadi teladan praktis yang berpengaruh bagi
orang-orang di sekitarnya; ia memperbagus interaksi dengan mereka melalui
akhlak mulia yang mereka rasakan darinya. Sangat disayangkan, hari ini banyak
muslim yang memberikan citra buruk bagi Islam karena ketidakberkomitmenan
mereka terhadap akhlak Islam, sehingga menjauhkan non-muslim dari Islam. Kita
menginginkan muslim yang istimewa dengan adab, tradisi, salam, bahasa, pakaian,
etos kerja, amanah, dan kesetiaannya—bahkan dalam suasana suka maupun duka.
Kita tidak membiarkan budaya asing menjajah manifestasi kehidupan di masyarakat
kita.
Akh
Muslim Teladan harus jujur dalam perkataan sehingga tidak pernah berbohong, dan
setia pada janji serta komitmen sehingga tidak pernah ingkar apa pun
kondisinya. Kita menginginkan Akh Teladan yang pemberani dan memiliki daya
tahan yang besar; telah diketahui bahwa keberanian terbaik adalah berterus
terang dalam kebenaran, menjaga rahasia, mengakui kesalahan, bersikap adil
terhadap diri sendiri, serta mampu menguasai diri saat marah. Ia harus memiliki
wibawa (waqar) dan mengutamakan kesungguhan, namun hal itu tidak
menghalanginya dari canda yang jujur dan tawa dalam bentuk senyuman.
Kita
juga menginginkannya memiliki rasa malu yang kuat, perasaan yang peka, sangat
terpengaruh oleh kebaikan dan keburukan (senang pada yang pertama dan pedih
pada yang kedua), rendah hati (tawadhu') tanpa rasa hina, tidak tunduk
(pada kebatilan), dan tidak menjilat. Ia harus bersikap adil dalam segala
situasi, jauh dari pengaruh amarah maupun kesenangan pribadi. Ia mengatakan
yang benar meskipun pahit bagi dirinya atau orang-orang terdekatnya.
Kita
menginginkannya memiliki hati yang pengasih, pemberi maaf, lapang dada, lembut,
santun, dan penyayang terhadap manusia maupun hewan. Ia berkelakuan baik,
berinteraksi dengan indah, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar.
Tidak memata-matai (tajassus), tidak ghibah, tidak gaduh, serta meminta
izin saat masuk maupun berpamitan, hingga akhir dari adab-adab Islam ini. Ia
berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada mereka, menyambung silaturahmi,
menunaikan hak tetangga, memuliakan tamu, serta melakukan segala yang diserukan
Islam seperti menyantuni anak yatim, memperlakukan mereka dengan baik, memberi
makan orang fakir, miskin, dan tawanan.
Kita
ingin Akh Muslim Teladan menjadi sosok yang penuh pergerakan, aktivitas, dan
vitalitas. Ia memberikan pelayanan dan merasakan kebahagiaan setiap kali
memberikan bantuan kepada orang lain. Ia menjenguk orang sakit, menolong yang
membutuhkan, membantu yang lemah, menghibur yang tertimpa musibah meskipun
hanya dengan kata-kata yang baik, dan selalu bersegera dalam kebaikan.
Akh
Muslim Teladan harus memperhatikan kesehatan dan tubuhnya agar mampu
menjalankan kewajiban, tugas-tugas berat, dan jihad di jalan Allah; jangan
sampai kelemahan fisik menjadi penghalang untuk mewujudkan hal tersebut. Maka,
ia harus bersegera melakukan pemeriksaan kesehatan umum dan mengobati penyakit
yang mungkin dideritanya. Ia harus memperhatikan faktor-faktor kekuatan fisik,
pencegahan penyakit, dan menjauhi penyebab kelemahan kesehatan. Ia harus
berhenti total dari merokok dan segala hal buruk lainnya (khaba'its),
serta tidak berlebihan dalam minum kopi atau teh dan minuman berenergi
sejenisnya, kecuali jika diperlukan.
Ia
harus memperhatikan kebersihan dalam segala hal: tempat tinggal, pakaian,
makanan, tubuh, dan tempat kerja. Ia harus teratur dalam semua urusannya. Akh
Muslim Teladan harus menjalankan usaha ekonomi betapa pun kayanya ia, dan
mengutamakan kerja mandiri (wirausaha) daripada menjadi pegawai pemerintah,
sembari berusaha memanfaatkan bakatnya. Ia bersungguh-sungguh dalam menekuni
pekerjaannya, menepati janji, tidak curang, tidak rakus, baik dalam menuntut
haknya, dan baik dalam menunaikan hak orang lain secara sempurna tanpa diminta
dan tanpa menunda-nunda (muthal). Ia mengupayakan kasab (penghasilan)
yang halal dan menghindari segala cara kasab yang haram. Ia menjauhi judi dan
transaksi riba.
Akh
Muslim harus mengabdi pada kekayaan Islam dengan mendukung produk-produk dan
lembaga ekonomi Islam. Ia berusaha agar uangnya tidak jatuh ke tangan
non-islam, serta antusias agar makanan dan pakaiannya berasal dari produksi
tanah air Islamnya. Ia menunaikan zakat wajibnya dan memberikan sebagian
hartanya untuk dakwah dan amal Islami betapa pun kecil pendapatannya. Ia
menabung sebagian pendapatannya untuk keadaan darurat betapa pun sedikitnya,
dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan (kamaliyat).
Kita
menginginkan Akh Muslim Teladan menjadi sosok yang mampu berjihad melawan
nafsunya (mujahidun linafsihi), dan membawanya dengan tegas hingga
nafsunya itu patuh padanya dan berkomitmen pada ajaran serta kewajiban Islam.
Ia berhati-hati dari dosa kecil apalagi dosa besar, serta bersikap wara'
(menjaga diri) dari perkara syubhat agar tidak jatuh ke dalam keharaman. Ia
menundukkan pandangannya, mengatur emosinya, melawan dorongan insting dalam
dirinya, dan mengangkatnya menuju yang halal dan baik, serta menghalanginya
dari yang haram apa pun bentuknya. Ia senantiasa bertaubat dan beristigfar,
serta memberikan waktu bagi dirinya sebelum tidur untuk bermuhasabah
(mengevaluasi diri) atas kebaikan atau keburukan yang telah ia lakukan.
Kita
menginginkan Akh Muslim Teladan menjadi orang yang sangat menjaga waktunya;
karena waktu adalah kehidupan dan kewajiban lebih banyak daripada waktu yang
tersedia. Ia tidak menghabiskan bagian dari waktunya pada hal yang tidak
bermanfaat. Ia menjauhi teman-teman yang buruk, kawan-kawan perusak, serta
tempat-tempat maksiat. Ia memilih orang-orang saleh dan bertakwa, menjauhi
manifestasi kemewahan dan kelembekan, bahkan melatih dirinya pada kehidupan
yang keras (khasynah) semampunya. Akh Muslim harus menunaikan kewajiban
dakwah di jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta merekrut
unsur-unsur baru ke dalam barisan amal Islami.
Saudara
Muslim (Al-Akh) yang Teladan dalam Jamaah
Amal
jama'i (kerja kolektif) untuk mewujudkan tujuan-tujuan Islam dan
prinsip-prinsipnya memiliki komitmen dan kewajiban tersendiri, di samping
komitmen dan kewajiban umum yang telah disebutkan sebelumnya. Seorang Akh
Muslim dalam jamaah harus memiliki keyakinan penuh tentang wajibnya bekerja
untuk menegakkan Daulah Islamiyah Internasional dan mengokohkan agama Allah di
muka bumi. Ia harus mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa kewajiban ini
tidak dapat ditunaikan secara individual, melainkan melalui kerja kolektif.
Sesuai kaidah: "Sesuatu yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali
dengannya, maka sesuatu itu hukumnya wajib." Atas dasar ini, bekerja
dalam jamaah adalah wajib.
Selain
itu, pengorganisasian amal jama'i menuntut adanya komitmen dan janji setia yang
harus ditepati demi kelancaran kerja sehingga tujuan-tujuan yang dicita-citakan
dapat tercapai. Akh Muslim yang Teladan wajib mengikat dirinya untuk bekerja
demi mewujudkan tujuan-tujuan berdirinya jamaah tersebut; ia tidak menyimpang
dari tujuan itu dan tidak menguranginya akibat menghadapi rintangan, atau
karena tergesa-gesa ingin melihat hasil, atau alasan lainnya. Akh Teladan di
jalan dakwah harus menunaikan baiatnya, karena itu adalah janji setia kepada
Allah, dan ia tidak boleh melanggar satu pun dari sepuluh rukun baiatnya agar
ia meraih janji Allah berupa pahala yang agung bagi mereka yang menepati janji.
Akh
Teladan di jalan dakwah harus berkomitmen pada pemahaman Islam yang benar dan
sehat, yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, sebagaimana yang
diringkas oleh Imam Syahid (Hasan Al-Banna) dalam Ushul Isyrin (Dua
Puluh Prinsip). Seorang Akh harus menjauhi segala bentuk pemotongan (parsial),
penyimpangan, atau kesalahan dalam apa yang ia tulis atau katakan. Bahkan,
setiap Akh harus menjadi penjaga yang terpercaya atas keselamatan pemahaman ini
di dalam jamaah, sebagai bentuk kesetiaan pada baiatnya dan perlindungan bagi
jamaah agar tidak terbentuk sekolah pemikiran yang berbeda-beda akibat
perbedaan pemahaman yang mungkin awalnya sederhana namun kemudian membesar. Hal
itu dikhawatirkan dapat menyebabkan terpecahnya upaya dan pengorganisasiannya.
Akh
Muslim Teladan di jalan dakwah harus menjaga keikhlasan niat hanya karena Allah
dan menanggalkan secara permanen setiap tujuan materi atau duniawi dari
niatnya. Ia harus sangat waspada terhadap penyakit-penyakit hati yang dapat
membinasakan pemiliknya dan menghapus amal serta pahalanya, seperti sifat ujub
(kagum pada diri sendiri), sombong, cinta dunia, ambisi kepemimpinan, ingin
tampil (popularitas), dan sebagainya. Sejauh mana keikhlasan menguasai hati
seorang Akh, maka hal itu akan tercermin pada perilaku, tindakan, dan
perkataannya. Ia tidak mengambil suatu sikap dan tidak melakukan suatu
perbuatan kecuali berangkat dari keikhlasannya kepada Allah, terbebas dari
segala hawa nafsu, kepentingan, maupun sikap sekadar menyenangkan orang atau
pihak tertentu.
Oleh
karena itu, Akh Muslim Teladan wajib memurnikan dirinya (tajarrud) untuk
dakwahnya; membebaskan diri dari segala seruan, prinsip, lembaga, atau person
selain dakwah tersebut. Dakwahnya adalah pemikiran yang paling luhur, paling
komprehensif, dan paling tinggi, maka ia tidak boleh menawarnya dan tidak boleh
tertipu oleh selainnya. Akh yang aktif dan teladan harus mengenali jalan
dakwahnya serta tahapan-tahapan kerja yang mengantarkan pada pencapaian tujuan.
Ia harus berkomitmen pada jalan ini tanpa memotong atau menyimpang. Jalan ini
adalah jalan yang disarikan oleh Imam Syahid dari sirah Rasulullah SAW,
pergerakan dakwah beliau, dan pendirian Daulah Islamiyah pertama. Jalan ini
berfokus pada:
- Mewujudkan kekuatan iman dan
keselamatan akidah dalam jiwa.
- Mewujudkan kekuatan
persatuan, persaudaraan, dan cinta di antara orang-orang mukmin.
- Mewujudkan kekuatan fisik,
persenjataan, dan jihad guna melindungi dakwah kebenaran.
Urutan
ini dilakukan tanpa mendahulukan atau mengakhirkan, betapa pun banyaknya
rintangan atau waktu yang terasa lama. Sebagaimana dikatakan Imam Syahid: "Sesungguhnya
ini adalah jalan yang panjang dan berat, namun tidak ada jalan lain
selainnya."
Akh
Muslim Teladan harus telah membulatkan tekad untuk berjihad dan berkorban
dengan jiwa dan harta demi meninggikan kalimat Allah dan mengokohkan agama-Nya
di muka bumi. Ia harus telah melakukan "transaksi yang menguntungkan"
dengan Allah, dan agar transaksi itu sempurna, ia harus menghiasi diri dengan
sifat-sifat orang beriman. Ia bersama saudara-saudaranya juga harus menempuh
sebab-sebab persiapan jihad (i'dad) berupa kekuatan fisik, ilmu, harta,
dan senjata. Ia wajib mempelajari fikih jihad dan peperangan dalam Islam agar
ia terikat dengannya saat mempraktikkannya; sehingga ia tidak berkhianat, tidak
menipu, tidak melakukan mutilasi, tidak membunuh anak-anak, orang tua, maupun
wanita, serta adab peperangan Islam lainnya. Kita menginginkan Akh Mujahid
Teladan yang berdiri bersama saudara-saudaranya dalam barisan jihad secara
solid dan saling mencintai bagaikan bangunan yang tersusun kokoh (bunyanun
marshush). Ia tidak membiarkan setan maupun musuh-musuh Allah menciptakan
perselisihan atau pertikaian di barisan mujahidin, karena hal itu mengakibatkan
kegagalan dan kekalahan. Kita menginginkan Akh Teladan yang tidak merasa berat
(enggan) berangkat ke medan juang ketika seruan jihad dikumandangkan; ia harus
selalu waspada terhadap tarikan kesenangan dunia dan tuntutan fisik. Ia juga
harus sangat berhati-hati agar tidak melarikan diri dari medan tempur saat
berkecamuknya perang agar tidak tertimpa murka dan azab Allah serta menyebabkan
kekalahan bagi kaum muslimin. Akh Mujahid harus beriman bahwa kemenangan
datangnya dari Allah, sedangkan ia dan saudara-saudaranya beserta latihan dan
upaya yang mereka kerahkan hanyalah sebab-sebab semata.
Akh
Mujahid yang Teladan tidak merasa tinggi hati saat meraih kemenangan, dan tidak
merasa putus asa jika terjadi kekalahan dalam salah satu pertempuran melawan
musuh. Peperangan antara kebenaran dan kebatilan adalah hal yang besar,
panjang, dan berulang; ia tidak akan berakhir hanya dengan satu kemenangan atau
kekalahan dalam satu pertempuran. Maka mutlak diperlukan sabar, mushabarah
(menguatkan kesabaran), dan ribath (waspada di perbatasan). Mutlak
diperlukan kekuatan tekad, kemauan, upaya, jihad, kelelahan, serta pengorbanan
jiwa dan harta dengan segala hal yang murah maupun berharga.
Akh
Muslim yang Teladan di jalan dakwah harus menjadi teladan dalam mendengar dan
taat kepada pimpinannya, baik dalam keadaan sulit maupun lapang, saat
bersemangat maupun saat terpaksa, selama bukan dalam maksiat, tanpa keraguan,
syak (kecurigaan), atau keberatan, meskipun perintah tersebut menyelisihi
pendapatnya. Hendaknya seorang Akh menganggap bahwa ketaatannya kepada
pimpinannya adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya demi
mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus sebagai bentuk pemenuhan baiatnya.
Kita menginginkan ketaatan yang tidak disertai kelalaian, pengurangan,
penundaan, atau keragu-raguan, karena hal itu mengandung bahaya yang besar.
Kita
menginginkan Akh Muslim Teladan di jalan dakwah menghargai pentingnya
persaudaraan (ukhuwah) dan kecintaan kepada saudara-saudaranya. Itu
adalah faktor kemenangan yang paling mutlak dan pilar keimanan: "Tidak
beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa
yang ia cintai bagi dirinya sendiri." Tingkatan ukhuwah tertinggi
adalah itsaar (mendahulukan saudara di atas diri sendiri) dan yang
paling rendah adalah salamatus shadr (bersihnya hati dari kebencian).
Maka hendaknya seorang Akh antusias mengejar tingkatan tertinggi dan
berhati-hati jangan sampai mendekati batas terendah agar tidak melanggar rukun
baiat ini. Akh Teladan harus memandang saudara-saudaranya lebih utama bagi
dirinya daripada dirinya sendiri, karena ia tidak ada artinya tanpa mereka,
sedangkan mereka jika tidak bersamanya akan bersama yang lain. Sesungguhnya
serigala hanya memakan domba yang terpisah dari kawanannya. "Orang
mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama
lain." Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar adalah teladan bagi
kita di jalan dakwah.
Akh
Muslim Teladan harus menonjolkan sikap lemah lembut, menebarkan salam,
perkataan yang baik, dan senyuman, serta segala hal yang diarahkan oleh
Rasulullah SAW untuk menyucikan makna cinta di antara kita. Sebaliknya, ia
harus menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan perpecahan dalam barisan;
tidak melakukan hal yang menyakiti saudaranya, tidak marah karena membela ego
sendiri melainkan berlapang dada, memaafkan, dan berbuat baik. Jika ia melihat
perselisihan antara dua saudara, ia bersegera mendamaikan keduanya.
Akh
Muslim Teladan di jalan dakwah dituntut untuk menjaga kepercayaan (tsiqah)
antara dirinya dan pimpinannya. Kepercayaan yang melahirkan ketenangan, yang
membuahkan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan. Pemimpin adalah
bagian dari dakwah, dan tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Sejauh mana
kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan prajuritnya, sejauh itu pula
kekuatan sistem jamaah, kerapihan rencana-rencananya, serta kesuksesannya dalam
mencapai tujuan dan mengatasi rintangan serta kesulitan. Maka kepercayaan
kepada kepemimpinan adalah hal penting dalam kesuksesan dakwah. Akh Teladan
tidak boleh membiarkan hal-hal yang membuat kepercayaan tersebut goyah. Jika
terlintas keraguan, ia harus segera menghilangkannya dengan melakukan tabayyun
(klarifikasi), pertemuan, dan keterbukaan. Ia tidak boleh membiarkan dirinya
terpengaruh oleh isu-isu tendensius dan keraguan yang diembuskan musuh dalam
bentuk "nasihat" dengan tujuan memecah belah, melemahkan tekad, dan
merusak kesatuan jamaah. Akh Teladan yang berada di posisi tanggung jawab harus
menjauhi situasi yang menimbulkan kecurigaan semampunya, dan jika terjadi, ia
harus segera menjelaskan hal tersebut kepada saudara-saudaranya.
Terakhir,
namun bukan yang terakhir, kita menginginkan Akh Muslim Teladan yang memberikan
contoh dalam keteguhan (tsabat) di jalan dakwah. Ia melanjutkan
perjalanannya dengan tenang, percaya diri, dan yakin akan pertolongan Allah
betapa pun lamanya waktu dan berlalunya tahun-tahun, serta betapa pun ia
dihadapkan pada ujian dan gangguan. Ujian adalah "kemenangan" pada
tahapan tersebut, sedangkan kelemahan dan pengkhianatan adalah
"kekalahan". Hendaknya ia mengetahui bahwa kemenangan datang bersama
kesabaran, dan bersama kesulitan ada kemudahan. Maka bersabarlah, teguhlah, dan
mohonlah kesabaran, keteguhan, serta kemenangan kepada Allah. Ketahuilah bahwa
waktu adalah bagian dari obat; ia diukur dengan usia dakwah dan bangsa-bangsa,
bukan dengan usia individu. Hal yang membantu keteguhan adalah seorang Akh
mengetahui bahwa jalan kita—meskipun jangkauannya jauh, tahapan-tahapannya
panjang, dan rintangannya banyak—hanyalah satu-satunya jalan yang mengantarkan
pada tujuan disertai pahala yang agung dan balasan yang indah.
Di
antara karunia Allah yang indah adalah Dia memuliakan saudara-saudara kita di
jalan ini dengan keteguhan di atas kebenaran. Sebagian dari mereka telah gugur
(syahid) dan sebagian lagi menunggu tanpa mengubah atau mengganti janji mereka,
meskipun mereka dihadapkan pada godaan untuk dibebaskan dari penderitaan
tersebut seandainya mereka mau mengirim telegram dukungan bagi penguasa zalim
dan meninggalkan jamaah. Namun mereka menolak hal itu, merasa mulia di atas
godaan tersebut, dan tidak pernah goyah sedikit pun agar panji tetap berkibar
tinggi untuk diserahkan seperti itu kepada generasi setelah mereka. Maka,
setiap Akh Muslim harus jujur dalam janjinya.
Keteladanan
dalam Bidang Dakwah dan Tarbiyah
Ini
adalah Sunnatullah yang tidak berubah: agar perubahan yang didambakan terjadi
di masyarakat kita sebagai pembuka jalan bagi tujuan pengokohan agama Allah,
maka wajib bagi para aktivis di medan dakwah untuk memperhatikan bidang-bidang
yang memiliki pengaruh efektif dalam menciptakan perubahan tersebut, seperti
bidang dakwah dan bidang tarbiyah (pendidikan). Demikian pula bidang pendidikan
di lembaga-lembaga pendidikan, bidang media massa dengan berbagai sarananya,
serta bidang-bidang lain yang berpengaruh dalam mengubah jiwa. Jika kita
melihat para penganut ideologi duniawi memanfaatkan bidang dan sarana ini untuk
menyebarkan prinsip mereka dan memaksakannya pada bangsa dan generasi, maka
kaum muslimin pemilik agama yang hak lebih pantas untuk menundukkan
sarana-sarana tersebut bagi kepentingan amal Islami. Telah diketahui dalam
jalan dakwah ada tahapan: Ta'rif (pengenalan), Takwin
(pembentukan), dan Tanfidz (pelaksanaan). Bidang dakwah dan tarbiyah
mencakup tahapan Ta'rif dan Takwin. Oleh karena itu, perlu bagi
kita untuk mengulas tentang Akh Da'i yang Teladan dan Akh Murabbi
(Pendidik) yang Teladan agar masing-masing menjalankan perannya dengan
sempurna.
Saudara
Da'i Muslim yang Teladan:
- Seorang saudara da'i harus
merasakan agungnya tugasnya, kemuliaannya, serta kehormatan besar yang ia
peroleh (dengan menjadi penyeru di jalan Allah).
- Ia harus merasakan pentingnya
dan kebutuhan mendesak tugas tersebut di jalan dakwah, karena dakwah
adalah pintu masuk dan sarana untuk menyampaikan cahaya kebenaran ke dalam
hati agar manusia mendapat hidayah menuju jalan yang lurus.
- Ia juga harus merasakan
pahala besar yang ia peroleh dari hasil dakwahnya kepada Allah. Hadis
Rasulullah SAW menjelaskan hal itu: "Sungguh, jika Allah memberi
hidayah kepada satu orang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu
daripada unta merah (harta paling berharga)."
Tiga
makna ini akan mendorong seorang saudara da'i untuk sangat antusias dalam
menjalankan kewajiban menyebarkan dakwah dan antusias untuk memperbagus
penyampaiannya.
- Seorang saudara da'i
hendaknya mengetahui bahwa faktor terpenting yang membantunya dalam
penyampaian yang baik dan mendatangkan taufik Allah adalah keikhlasan niat
hanya karena Allah, serta bersihnya hati dari segala sesuatu yang menodai
keikhlasan ini seperti sifat ujub (bangga diri), riya, keinginan
untuk tampil (populer), dan sebagainya. Terutama karena seorang da'i bisa
terpapar fitnah jika ia merasakan besarnya pengaruhnya terhadap manusia
serta kekaguman massa kepadanya dan perkumpulan mereka di sekelilingnya.
- Seorang saudara da'i wajib
mengikat dirinya dengan arahan Rabbani dalam berdakwah kepada Allah,
sebagaimana yang Allah arahkan kepada Nabi-Nya.
- Ia harus ahli dalam
"menaklukkan" hati dan cara membuka gembok-gemboknya. Ia harus
memadukan antara menggugah perasaan (wijdan) dan meyakinkan akal,
karena hal itu lebih menjamin menetapnya pengaruh ucapannya dan
keterpengaruhan audiens agar membuahkan hidayah dan amal saleh.
- Ia harus menghidupkan dalam
hatinya apa yang ia serukan dengan lisannya, yaitu dengan berinteraksi
secara emosional terhadap makna-makna tersebut. Hal itu membuat perkataan
lebih berpengaruh dalam jiwa para pendengar, karena apa yang keluar dari
hati akan sampai ke hati, dan apa yang hanya keluar dari lisan tidak akan
melampaui telinga, sebagaimana pepatah mengatakan.
- Seorang saudara da'i teladan
harus mengenali karakteristik lingkungan dan medan tempat ia berdakwah
agar ucapannya realistis dan sesuai. Ia harus berbicara kepada manusia
sesuai kadar akal mereka, serta menyelami isu-isu mereka dan apa yang
menyibukkan pikiran mereka, sehingga mereka lebih perhatian, mengikuti
ucapannya, dan menyambut apa yang ia serukan.
- Ia harus objektif dalam
ucapannya dan menentukan makna-makna yang ingin ia sampaikan kepada
pendengar atau pembaca, lalu bersungguh-sungguh dalam menjelaskan dan
memfokuskannya. Barangkali meringkasnya di akhir pembicaraan akan sangat
bermanfaat.
- Ia hendaknya tidak merasa
keberatan untuk mengulang pembicaraan mengenai suatu makna di benak
pendengar. Jangan menyangka bahwa menyebutkannya sekali saja sudah cukup
untuk kejelasan dan kemantapan bagi mereka yang ia ajak bicara.
Sesungguhnya dalam pengulangan terdapat manfaat, dan ia bisa mengubah gaya
penyajian saat pengulangan tersebut. Hal ini tampak jelas dalam gaya
bahasa Al-Qur'an.
- Seorang saudara da'i harus
memilih dalil-dalil kuat sebagai argumen untuk mempertegas makna yang ia
sampaikan, serta memperhatikan kesesuaian dalil dengan makna tersebut. Ia
memiliki medan yang luas untuk memilih kutipan, mulai dari ayat-ayat
Al-Qur'anul Karim, hadis-hadis Rasulullah, sirah yang harum, hingga
sejarah Islam; semua itu merupakan ladang luas bagi dalil-dalil kuat yang
tepat untuk dijadikan argumen.
- Oleh karena itu, saudara da'i
wajib antusias untuk terus menambah ilmu, menghafal Al-Qur'an dan hadis
semampunya, serta senantiasa mengulang pelajaran sirah, karena ia akan
menemukan di dalamnya bekal yang baik yang bermanfaat bagi dakwahnya.
- Ia harus menghubungkan dalam
pembicaraannya antara apa yang ia serukan dengan pergerakan dakwah (harakah)
sehingga tidak ada pemisahan antara dakwah, amal Islami yang dituntut, dan
kebutuhan tahapan dakwah. Tujuannya agar setiap muslim merasakan apa yang
diwajibkan oleh Islamnya berupa partisipasi dalam mewujudkan target yang
diinginkan.
- Seorang saudara da'i harus
menjadi teladan yang baik dalam keluhuran budi pekerti, kelembutan sikap,
dan kebaikan interaksi. Teladan praktis memiliki pengaruh besar dalam
penerimaan manusia terhadap apa yang ia serukan.
- Ia harus sangat berhati-hati
agar jangan sampai darinya keluar perbuatan atau tindakan yang menyelisihi
apa yang ia serukan kepada manusia, agar ia tidak terkena murka dan
kemarahan Allah, serta agar tidak terjadi guncangan (intikasah)
dalam jiwa orang-orang yang ia dakwahi saat mereka mendapatinya
menyelisihi apa yang ia serukan.
- Seorang saudara da'i teladan
di jalan dakwah harus mengupayakan pemahaman Islam yang benar dalam
ucapannya, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya SAW, dengan
berpedoman pada Ushul Isyrin (Dua Puluh Prinsip) yang disebutkan
oleh Imam Al-Banna dalam rukun "Faham" dari rukun-rukun Baiat,
yang kesesuaiannya telah diuji dengan Al-Qur'an dan Sunnah serta jauh dari
penyimpangan dan perselisihan. Seorang Akh menganggap komitmennya terhadap
hal ini sebagai bentuk pemenuhan baiatnya.
- Ia tidak boleh dalam
ucapannya melakukan pencelaan (tajrih) terhadap person atau lembaga
tertentu, dan tidak mencari musuh dari siapapun atau pihak manapun di
antara para aktivis Islam—demikianlah tradisi jamaah ini sejak awal
berdirinya. Ia harus menanggung gangguan apapun dari mereka demi menjaga
persatuan serta menjauhkan perpecahan dan pertikaian.
- Jika seorang saudara da'i
ingin mengingatkan adanya penyimpangan dalam pemahaman atau perilaku pada
sebagian kelompok yang bekerja di medan dakwah, ia harus mengobati
penyimpangan ini secara objektif dengan dalil yang meyakinkan tanpa
menyerang kelompok tertentu atau individu tertentu secara spesifik.
- Ia harus selalu memfokuskan
pembicaraannya pada makna-makna persaudaraan Islam, cinta karena Allah,
persatuan di antara kaum muslimin, kerja sama dalam kebajikan dan takwa,
serta menjauhkan segala hal yang memicu perpecahan dan perselisihan. Ia
juga harus mengingatkan pentingnya menyatukan upaya untuk menghadapi
perang sengit dari musuh-musuh Allah melawan Islam dan kaum muslimin.
- Seorang saudara da'i harus
sangat berhati-hati dalam menghukumi kafir (takfir) atau fasik (tafsiq)
terhadap individu muslim tertentu, selama tidak ada keadaan darurat yang
menuntut hal tersebut disertai tersedianya dalil-dalil qath'i (pasti)
untuk hukum tersebut.
- Ia harus mengambil manfaat
dalam metode dakwah dari apa yang termaktub dalam Al-Qur'an melalui lisan
para Rasul AS dan lainnya, seperti mukmin dari keluarga Fir'aun.
- Ia harus meneladani
Rasulullah SAW dalam rasa belas kasih beliau yang besar serta keinginan
beliau yang kuat dalam memberi hidayah kepada kaumnya, serta dalam
ketabahan beliau menanggung gangguan dari mereka namun tetap terus
berdakwah.
- Seorang saudara da'i harus
merasakan tanggung jawabnya atas waktu orang-orang yang mendengarkannya.
Ia harus mendisiplinkan diri untuk hadir tepat waktu, serta
bersungguh-sungguh menyajikan bekal yang baik yang sepadan dengan waktu
yang telah mereka habiskan.
- Ia tidak boleh pelit untuk
berbicara (menyampaikan ilmu) meskipun audiens yang hadir hanya sedikit,
karena bisa jadi buah dari pembicaraannya dengan mereka lebih agung
daripada dengan orang banyak lainnya.
- Ketika ia diberi taufik dalam
ucapannya dan para pendengar terpengaruh olehnya, ia harus mengembalikan
keutamaan hal tersebut kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri.
Bidang
Tarbiyah (Pendidikan) di Dalam Jamaah
Tarbiyah
dalam jamaah merupakan perkara yang paling mendesak dan penting untuk
mewujudkan tahap Takwin (pembentukan), serta menyiapkan unsur dasar
dalam bangunan yaitu individu muslim; yang darinya akan tegak rumah tangga
muslim, masyarakat muslim, dan pemerintahan muslim. Individu ini mewakili model
dan teladan praktis bagi akhlak dan adab Islam serta kepatuhan terhadap
perintah dan larangannya.
Peristiwa
demi peristiwa dan waktu telah membuktikan bahwa sejauh mana perhatian terhadap
tarbiyah, maka sejauh itu pula terwujud orisinalitas pergerakan, keberlanjutan,
serta pertumbuhannya. Hal itu juga mewujudkan kesolidan antar individu,
kesatuan barisan, kerja sama, dan hasil yang berkah bagi setiap upaya yang
dikerahkan, setiap harta yang diinfakkan, dan setiap waktu yang dihabiskan.
Sebaliknya, jika sisi tarbiyah diabaikan atau terjadi kelalaian di dalamnya,
akan muncul kelemahan dan keretakan dalam barisan, menonjolnya perselisihan dan
perpecahan, mengecilnya kerja sama, dan berkurangnya produktivitas.
Kita
semua tahu bahwa kaum muslimin generasi pertama yang mendapatkan porsi besar
dari tarbiyah Rasulullah SAW, di atas pundak merekalah tegak Daulah Islamiyah
pertama dan mereka telah berjuang dengan sebaik-baik perjuangan. Berikut kami
sampaikan beberapa catatan bagi saudara Murabbi (pendidik) agar dapat
mengambil manfaat di bidang tarbiyah dan menjadi teladan di bidang ini.
Saudara
Murabbi (Pendidik) yang Teladan:
- Seorang saudara murabbi harus
menjadi teladan yang baik, khususnya dalam aspek-aspek yang ia gunakan
untuk mendidik saudara-saudaranya.
- Ia harus memberikan perhatian
terbesar pada persoalan iman dan keselamatan akidah tauhid, karena hal itu
adalah fondasi kokoh bagi bangunan individu muslim.
- Kemudian diikuti setelahnya
dalam hal kepentingan adalah kualitas penunaian ibadah, baik dari sisi
keabsahan hukum-hukumnya, rahasia-rahasianya, maupun hidupnya hati dengan
ibadah tersebut agar membuahkan takwa dan keluhuran jiwa.
- Seorang saudara murabbi harus
memberikan perhatian khusus pada aspek akhlak, karena menanggalkan akhlak
buruk dan menghiasi diri dengan akhlak mulia membutuhkan waktu, upaya,
kesabaran, pendampingan, serta pemantauan yang dekat. Hal ini diwujudkan
melalui pelajaran (ders), rihlah (tamasya), katibah (malam bina iman dan
takwa), perkemahan, kunjungan, dan sebagainya. Seorang murabbi saat
rihlah, misalnya, harus memperhatikan segala yang keluar dari mereka yang
bersamanya, baik berupa perkataan maupun tindakan, agar ia menjadikan
penyimpangan yang ia rasakan sebagai fokus utama untuk diobati bersama
mereka, layaknya seorang dokter yang ketika merasakan gejala penyakit
tertentu, ia mengenalinya dan mengobatinya dengan obat yang tepat.
- Ia harus memfokuskan
pendidikannya pada keikhlasan niat karena Allah dan bersihnya niat dari
segala noda yang merusaknya. Makna ini membuka ruang untuk mengulas
penyakit-penyakit hati yang membinasakan pemiliknya dan menghapus amal
serta pahalanya, serta pentingnya berhati-hati darinya seperti kesombongan
(kibr), bangga diri (ujub), riya, keinginan untuk tampil
(popularitas), ambisi kepemimpinan, dendam, hasad, dan sebagainya.
- Seorang saudara murabbi harus
mendidik saudara-saudaranya di atas kejujuran dan kesetiaan pada janji
serta baiat, karena itu adalah hal yang paling mutlak bagi setiap saudara
yang mengambil posisinya dalam barisan dan berada di salah satu celah (tsugrah)
dari celah-celah amal Islami.
- Seorang saudara murabbi harus
mendidik individu-individu di atas metode kerja jama'i (kolektif) atau
karakteristik bekerja dalam jamaah, serta apa yang dituntut darinya berupa
syarat-syarat dan komitmen yang harus ada demi keselamatan perjalanan,
penyatuan upaya, dan tercapainya produktivitas.
- Ia harus menjelaskan kepada
saudara-saudaranya tentang hakikat jalan dakwah dan rambu-rambunya, serta
karakteristik jalan yang panjang, adanya duri dan rintangan, serta
tikungan-tikungan di sisi jalan tersebut. Ia menjelaskan kepada mereka
cara melewati rintangan dan berhati-hati dari tikungan tersebut. Ia harus
meyakinkan mereka bahwa meskipun jalan itu berat, ia adalah satu-satunya
jalan karena itulah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para
sahabat beliau sebelumnya.
- Ia harus menjelaskan kepada
mereka bahwa ada faktor-faktor kesuksesan yang menyertai jalan ini yang
tidak akan terhalang oleh rintangan apa pun dengan izin Allah, dan bahwa
harapan sangatlah besar bahwa masa depan adalah milik agama ini.
- Saudara murabbi harus
memperhatikan penyucian makna-makna persaudaraan, cinta, dan itsaar
(mendahulukan orang lain) di antara sesama saudara, serta selalu
mengingatkan makna ini dan sarana-sarana yang menumbuhkannya, juga
memperingatkan hal-hal yang merusak cinta tersebut atau menimbulkan
perpecahan dan perselisihan. Cinta ini akan membuahkan persatuan dan
soliditas barisan. Telah diketahui bahwa kekuatan persatuan adalah fondasi
kedua setelah kekuatan iman, dan yang ketiga adalah kekuatan fisik dan
senjata.
- Seorang saudara murabbi harus
menghiasi diri dengan akhlak sabar dan mendidik saudara-saudaranya untuk
menghiasi diri dengan akhlak ini karena kepentingannya bagi siapa pun yang
meniti jalan dakwah. Demikian pula sabar dalam menanggung gangguan di
jalan Allah, rida terhadap ketetapan Allah, tawakal yang baik kepada
Allah, serta berharap pada rahmat Allah.
- Ia harus memiliki ilmu dan
pengetahuan tentang persoalan pemuda serta masalah pribadi mereka, baik
dalam keluarga dan kerabatnya, dalam hubungannya dengan
saudara-saudaranya, maupun dalam kehidupan umumnya. Persoalan-persoalan
ini bisa menjadi penyebab terhambatnya perjalanan mereka di atas jalan
dakwah atau menyimpang darinya. Maka murabbi harus jeli melihat hal
tersebut dan merumuskan solusi yang bermanfaat baginya.
- Ia juga harus menyadarkan
saudara-saudaranya tentang penyimpangan pemikiran (fikriyah) maupun
pergerakan (harakiyah) yang terkadang menjerumuskan sebagian orang
dan menjauhkan mereka dari jalan, agar mereka berhati-hati darinya,
terutama karena hal itu dimulai dari hal sederhana lalu membesar seiring
waktu.
- Seorang saudara murabbi harus
menyucikan ruh jihad dan pengorbanan jiwa, harta, waktu, tenaga, dan
segala sesuatu di jalan Allah dalam jiwa saudara-saudaranya, serta
memotivasi mereka untuk melakukan "transaksi yang menguntungkan"
dengan Allah, dan memberikan dorongan (targhib) untuk meraih syahadah
(mati syahid) di jalan Allah.
- Ia harus menghidupkan suasana
sirah yang harum bersama saudara-saudaranya, seolah-olah ia hidup bersama
mereka dengan generasi pertama ini dan apa yang mereka alami berupa
peristiwa dan situasi di jalan dakwah. Hal itu adalah bantuan terbaik
untuk meneladani mereka dan meniti manhaj mereka yang telah mengantarkan
mereka pada kemenangan dan pengokohan (tamkin). Ia akan menemukan
dalam sirah teladan praktis yang mengagumkan tentang kejujuran, amanah,
kesetiaan, cinta, itsaar, tebusan, jihad, pengorbanan, pemberian,
dan lainnya yang menjadi tujuan kita di bidang tarbiyah. Dengan demikian,
seorang saudara akan merasa bahwa upayanya untuk mencapai level ini
bukanlah khayalan, melainkan berada dalam kemampuan manusia, sehingga ia
bersungguh-sungguh dalam upayanya.
- Seorang saudara murabbi harus
mendidik saudara-saudaranya untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit
maupun lapang, saat bersemangat maupun saat terpaksa selama bukan dalam
maksiat. Ia mendidik mereka di atas rasa percaya (tsiqah) dan tidak
ragu atau bimbang, serta membiasakan mereka disiplin dalam menunaikan
tugas dan kewajiban yang diberikan kepada mereka, baik berada di posisi
pemimpin maupun prajurit. Bahwa setiap pemimpin maupun prajurit beribadah
kepada Allah dan memohon penerimaan-Nya. Ia mendidik mereka untuk siap
bertukar posisi antara prajurit dan pemimpin jika kepentingan amal
menuntut hal tersebut tanpa merasa keberatan.
- Sangat bermanfaat bagi
saudara murabbi untuk membuka ruang pertanyaan dan diskusi bagi mereka
yang dididiknya. Ia meminta mereka agar tidak membiarkan satu hal pun
mengganjal dalam jiwa mereka tanpa upaya untuk mengklarifikasinya, serta
memberikan kesempatan bagi siapa yang ingin bertanya secara pribadi agar
tidak ada rasa canggung.
- Seorang saudara murabbi harus
membiasakan saudara-saudaranya untuk memiliki wawasan yang luas dan
menambah pengetahuan, serta mendalami urusan agama (tafaqquh fiddin).
Ia mengajarkan mereka cara merujuk ke buku-buku rujukan induk (ummahatul
kutub) dan mengenali apa yang mereka butuhkan.
- Ia harus membiasakan mereka
untuk memberi (berkontribusi) dan menyeru orang lain kepada Allah,
memberikan pelajaran-pelajaran, bahkan ia harus antusias menyiapkan
pendidik-pendidik (murabbi) baru di antara mereka agar mereka dapat
menjalankan kewajiban serupa terhadap saudara-saudara yang baru.
- Seorang saudara murabbi tidak
boleh mengabaikan aspek olahraga fisik dalam pendidikannya. Tidak mengapa
memilih orang-orang yang berkompeten untuk mengurus hal tersebut karena
kekuatan fisik adalah keharusan bagi peniti jalan dakwah. Jika
memungkinkan didirikannya klub-klub olahraga Islami, di mana berbagai
jenis olahraga dipraktikkan dengan tetap menjaga ajaran dan adab Islam
serta mendirikan salat tepat waktu, maka hal itu adalah lebih baik.
Dalam
Bidang Tarbiyah dan Pendidikan (Sekolah)
Sektor
tarbiyah dan pendidikan adalah salah satu sektor terpenting dan paling krusial
karena pengaruhnya yang besar dalam pertumbuhan generasi yang merupakan
struktur dasar dalam masyarakat dan negara. Oleh karena itu, ia harus
mendapatkan perhatian yang layak dari kita di jalan dakwah. Anak-anak dari
setiap bangsa melewati lembaga-lembaga tarbiyah dan pendidikan dalam
kelompok-kelompok yang berurutan dan menghabiskan masa pertumbuhan serta
pembangunan kepribadian secara fisik, intelektual, dan spiritual di sana. Maka
generasi terbentuk sesuai dengan konsep, prinsip, nilai, dan teladan yang
mereka terima, dan hal itu memiliki pengaruh yang panjang setelahnya dalam
kehidupan mereka. Musuh-musuh dan para penganut ideologi duniawi telah
menyadari pentingnya sektor ini, maka kita melihat mereka antusias menyusun
kurikulum tarbiyah dan pendidikan sesuai prinsip yang mereka sukai. Kita
membiarkan mereka campur tangan dalam kurikulum pendidikan di negeri-negeri
kita sebagai "pakar" yang menyusupkan racun-racun mereka dan
mengosongkan kurikulum kita dari ruh Islam dan ajaran-ajarannya.
Karena
perubahan dalam masyarakat dan bangsa berjalan sesuai sunnah yang tidak
berubah, maka sektor tarbiyah dan pendidikan adalah ladang subur yang mudah
untuk menciptakan perubahan ini. Kewajiban Islam mendiktekan kepada kita agar
sektor ini diwarnai dengan celupan (shibghah) Islam dan agar kita
menghadirkan teladan Islam yang baik di dalamnya. Kita tidak butuh penjelasan
panjang lebar tentang bagaimana Islam sangat memperhatikan ilmu dan ulama serta
mendorong pendidikan dan pembelajaran, dan bahwa dasar-dasar awal ilmu modern
diletakkan oleh ilmuwan muslim. Kami juga mengingatkan perbedaan antara Tarbiyah
dan Ta'lim (pendidikan dan pengajaran). Jika pengajaran berhubungan
dengan akal dan pikiran, maka tarbiyah berhubungan dengan jiwa dan ruh. Hal ini
menjadikan perhatian terhadap tarbiyah lebih besar dan lebih mutlak;
sebagaimana dikatakan: "Adab lebih didahulukan daripada ilmu."
Ketika kita berbicara tentang keteladanan di jalan dakwah dalam bidang tarbiyah
dan pendidikan, kita membahas tentang lembaga pendidikan, kepala sekolahnya,
para guru laki-laki dan perempuan, serta para siswa dan siswi.
Lembaga
Pendidikan Islam yang Teladan
Lembaga
ini bisa berupa sekolah, institut, atau perguruan tinggi. Wajib bagi Islam
untuk menjadi corak umum yang memaksakan dirinya dalam setiap hal besar maupun
kecil. Tidak ada tabarruj (pamer kecantikan), tidak ada ikhtilat
(percampuran pria-wanita yang melanggar syariat), menjaga adab Islam dalam
berinteraksi, serta menyediakan tempat untuk salat dan wudu, serta mengatur
waktu agar sesuai dengan waktu-waktu salat. Di samping itu, luasnya bangunan,
kekokohan, dan kebersihannya juga diperhatikan karena hal itu memiliki pengaruh
psikologis terhadap siswa dan guru.
Manajemen
(Pimpinan) yang Teladan
Manajemen
yang diwakili oleh pengawas, direktur lembaga, atau dekan fakultas, serta
orang-orang yang membantu mereka, memikul beban terbesar dalam memastikan
lembaga menunaikan tugasnya dengan baik. Maka, manajemen Islam yang teladan
harus menyadari besarnya tanggung jawab yang dipikul di pundak mereka, bahwa
para siswa adalah amanah di leher mereka, dan bahwa mereka sedang
mempersembahkan pengabdian yang luhur bagi tanah air melalui pengasuhan dan
persiapan yang baik bagi para siswa tersebut, serta bagi dakwah Islam dengan
menanamkan prinsip-prinsip agama dan adab-adabnya ke dalam akal dan jiwa
mereka.
Harus
jelas bahwa mengelola lembaga pendidikan sangat berbeda dengan mengelola
lembaga komersial atau industri. Setiap tindakan atau kejadian yang terjadi di
dalam lembaga pendidikan akan meninggalkan kesan dan pengaruh di dalam jiwa
para siswa. Selain itu, setiap fenomena penyimpangan yang muncul di tengah
siswa atau guru menuntut inisiatif cepat untuk mengobati dan membasminya
sebelum menyebar dan memburuk.
Manajemen
Islam yang teladan harus memiliki tingkat keilmuan, akhlak, kewaspadaan, dan
kemampuan manajerial yang baik, serta menjadi teladan praktis yang memadukan
antara sifat seorang alim dan kasih sayang kebapakan terhadap siswa. Manajemen
harus membimbing siswa melalui arahan dan bimbingan lewat siaran internal,
buletin, atau aktivitas sosial, serta berupaya memperluas wawasan siswa dengan
menyelenggarakan kunjungan ke lembaga-lembaga penting negara atau sektor
swasta. Begitu juga aktivitas pelatihan kerja teknis yang bermanfaat agar siswa
memperoleh informasi dan pengalaman di luar kerangka kurikulum sekolah.
Manajemen
Islam yang teladan dapat membangun hubungan dengan wali murid dan mengingatkan
mereka akan hal-hal yang menjadi maslahat bagi anak-anak mereka agar tercipta
iklim pendidikan yang terintegrasi, serta mendorong mereka untuk menjadi
teladan yang baik bagi anak-anak dengan berkomitmen pada ajaran Islam,
menunaikan kewajiban, dan berakhlak dengan akhlak Islam. Manajemen Islam yang
teladan juga harus selektif dalam memilih para profesor dan guru, sehingga
mereka menjadi pendidik (murabbi) sekaligus pengajar. Alangkah baiknya jika
dilakukan pertemuan rutin dengan mereka untuk musyawarah dan studi bersama
mengenai pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajaran lembaga, mengenali poin
positif dan negatif, serta menyepakati segala hal yang mendatangkan kebaikan.
Guru
Muslim yang Teladan
Hal
pertama yang harus tertanam dalam benak guru muslim yang teladan adalah
pentingnya peran yang ia jalankan dalam menyiapkan dan mendidik generasi muda.
Banyak guru yang menyangka bahwa tugasnya hanyalah menjejali memori siswa
dengan informasi, dan dengan begitu ia merasa telah menjadi guru yang sukses.
Ini adalah pemahaman yang salah; tugas guru haruslah bersifat mendidik (tarbawi)
sebelum bersifat mengajar (ta'limi). Oleh karena itu, guru muslim harus
menjadi teladan praktis dalam komitmennya terhadap adab dan ajaran Islam,
menjaga salat tepat waktu bersama anak didiknya, bahkan membantu mereka
mendalami urusan agama setiap kali melihat sesuatu yang menyimpang, memuji
akhlak yang mulia atau tindakan baik yang ia rasakan dari mereka, serta mencela
setiap tindakan buruk.
Guru
muslim yang teladan harus menghargai kesempatan besar yang tersedia baginya ini
sebagai ladang dakwah yang subur. Generasi muda yang berurutan ini datang
mencarinya tanpa upaya keras darinya, dan mereka mendengarkannya dengan saksama
dan penuh hormat. Padahal, teladan kita Rasulullah SAW dahulu mencari
orang-orang dan menanggung beban berat serta perjalanan jauh demi mendakwahi
mereka, bahkan seringkali beliau menerima gangguan dari mereka namun tetap
bersabar dan melanjutkan dakwahnya; perjalanan beliau ke Thaif adalah contoh
terbaik.
Guru
muslim yang teladan harus membangun hubungan yang baik dan ikatan emosional
yang hidup antara dirinya dan para siswa, karena hal itu sangat membantu agar
mereka terpengaruh olehnya dan menyambut arahannya. Hubungan ini dapat dicapai
melalui partisipasi bersama dalam perjalanan atau seminar. Saat menyajikan
materi pelajarannya, ia harus menghubungkan ilmu tersebut dengan Sang Pencipta
Subhaanahu wa Ta'ala, terutama karena banyak ilmu pengetahuan yang mengungkap
dan menjelaskan keagungan Allah serta kekuasaan-Nya pada makhluk-Nya, yang mana
hal itu akan melahirkan pengagungan kepada Allah di dalam jiwa siswa, sehingga
terpantul dalam bentuk ketaatan kepada apa yang diperintahkan dan menjauhi apa
yang dilarang.
Dapat
dibentuk sebuah komite dari guru-guru muslim untuk menyiapkan apa yang disebut
"Panduan Guru Muslim", yang menjelaskan bagaimana setiap guru muslim
menyajikan materi yang ia ajarkan kepada siswa dengan cara Islami yang
menghubungkan ilmu dengan Sang Pencipta dan dengan akidah. Hal ini dilakukan
untuk setiap mata pelajaran dan setiap tingkatan. Komite ini atau yang lainnya
juga bertugas meninjau kurikulum untuk mengevaluasinya dan mengenali poin-poin
yang mungkin bertentangan dengan akidah kita guna membersihkan kurikulum dari
hal tersebut. Merupakan kewajiban pula untuk mengadakan konferensi-konferensi
dari para spesialis urusan pendidikan muslim untuk mempelajari segala hal yang
berkaitan dengan pendidikan dari sudut pandang Islam, guna mengambil manfaat
dari studi-studi ini sekarang maupun di masa depan saat tegaknya pemerintahan
Islam dengan izin Allah. Gerakan Islam juga harus mengarahkan kader-kadernya
untuk mengambil spesialisasi di bidang-bidang yang dibutuhkan dunia pendidikan
sebagai guru, agar bidang pengajaran tidak ditinggalkan bagi para pemilik
prinsip-prinsip yang merusak.
Guru
muslim yang teladan harus memperhatikan bahasa Arab fusha (standar), terutama
guru bahasa Arab dan guru pendidikan Islam; karena sebagaimana diketahui, ada
kampanye melawan bahasa fusha dan upaya gigih agar bahasa amiyah (dialek pasar)
mendominasi. Guru muslim yang teladan juga harus segera menyambut panggilan
untuk mengajar di negeri-negeri Islam yang terpencil di Afrika atau Asia dan
menanggung kesulitan serta kesederhanaan hidup demi menunaikan risalah dakwah;
kita lebih berhak melakukan itu daripada para misionaris yang bersedia
menanggung beban tersebut.
Peringatan:
Hendaknya diketahui bahwa kami juga memaksudkan Guru Perempuan (Ibu Guru)
Muslimah yang Teladan dalam semua hal di atas, dengan tambahan perhatian
pada komitmen keislamannya dalam hal-hal yang khusus bagi wanita, terutama
busana syar'i, tidak bercampur baur (ikhtilat), menjaga rasa malu, dan
hal-hal lain yang berkaitan dengan gadis dan wanita muslimah.
Siswa
Muslim yang Teladan
Siswa
adalah unsur utama yang menjadi alasan berdirinya lembaga pendidikan, di mana
para profesor dan guru menunaikan kewajiban mereka demi menyiapkannya agar
menjadi batu bata yang kuat dan saleh dalam bangunan umat. Maka, menjadi
keharusan bagi kita di jalan dakwah untuk menyajikan model siswa muslim yang
benar agar menjadi teladan di antara sesama siswa, demikian pula bagi Siswi
Muslimah yang Teladan, mengingat wanita mewakili separuh masyarakat dan
memiliki peran krusial dalam mencetak generasi serta membangun rumah tangga
muslim sebagai pilar kuat dalam pembangunan masyarakat dan negara Islam.
Hal
pertama yang kami wasiatkan kepada siswa muslim teladan adalah memperbaiki niat
dan tujuannya dalam belajar. Mayoritas siswa bertujuan mencari ijazah agar
dapat bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun kita
ingin niat siswa muslim teladan dalam menuntut ilmu adalah untuk berkontribusi
dalam membangun negara Islam dan menutup celah di bidang spesialisasi yang
diarahkan oleh jamaah kepadanya. Islam juga telah mendorong kita untuk menuntut
ilmu dan menyeru kita untuk menunaikan kewajiban khilafah di bumi serta
memakmurkannya dengan potensi dan materi yang telah Allah tundukkan bagi kita.
Dengan
niat ini, belajar berubah menjadi ibadah yang mendekatkan siswa kepada
Tuhannya, dan ia memperoleh pahala atas setiap upaya, waktu, atau harta yang
dikeluarkan di jalan pendidikan. Hendaknya siswa muslim mengetahui bahwa
orang-orang yang meletakkan dasar ilmu pengetahuan modern adalah para ilmuwan
muslim, dan kita harus berusaha agar dari barisan muslim hari ini lahir
ilmuwan-ilmuwan jenius di berbagai bidang ilmu yang mengembalikan hak umat dan
mengembalikan kemuliaannya.
Siswa
muslim teladan harus memperbaiki pandangannya terhadap studi dan pendidikan,
bahwa itu bukan sekadar penyerapan informasi oleh akal untuk kemudian
dituangkan di akhir tahun pada lembar jawaban, melainkan yang diminta adalah
pembentukan kepribadian yang terpelajar dan konstruktif yang bermanfaat dengan
ilmunya di berbagai bidang kehidupan demi kemaslahatan umat manusia. Maka,
siswa harus antusias mengenali sejauh mana hubungan apa yang ia pelajari dengan
kehidupan umum yang praktis. Siswa muslim teladan harus menyadari bahwa aspek
pendidikan akhlak lebih utama kepentingannya daripada aspek wawasan
intelektual, dan tidak ada yang lebih baik daripada ajaran Islam dan
adab-adabnya untuk mewujudkan aspek pendidikan ini. Hendaknya ia antusias
mengenali adab Islam dan mewajibkan dirinya dengannya; membiasakan jujur,
amanah, menepati janji, santun, dan setiap akhlak Islam, serta menjauhi akhlak
tercela. Hal yang paling menonjol yang harus ia perhatikan adalah penunaian
ibadah, terutama salat, bakti kepada kedua orang tua, serta baiknya pergaulan
dengan anggota keluarga dan rekan-rekan sesama siswa.
Siswa
muslim teladan harus pandai memilih siapa yang dijadikan teman di antara
rekan-rekan siswanya; ia memilih mereka yang saleh dan menjauhi pertemanan
dengan orang-orang buruk. Ia harus mengatur hubungan ini agar tetap moderat dan
terkendali, serta tidak membiarkannya mendominasi waktu dan studinya. Ia juga
harus bijak memilih sarana hiburan diri, dengan memilih yang bersih, suci, dan
bermanfaat, serta menjauhi tempat-tempat dosa dan kerusakan.
Siswa
muslim teladan harus memberikan perhatian besar pada urusan studi dan
pendidikan; karena fase hidupnya ini adalah masa belajar dan membangun
kepribadian. Ia harus melaluinya dengan fokus dan keunggulan tanpa disibukkan
oleh hal-hal yang menyebabkan kegagalan, agar setelah itu ia bisa luang untuk
kewajiban-kewajiban selanjutnya. Ia harus teratur dalam urusannya di rumah,
sekolah, atau universitas, di meja belajarnya, dan di kamar tidurnya. Teratur
dalam meletakkan pakaian saat dilepas agar mudah ditemukan saat hendak dipakai,
serta teratur dalam meletakkan buku dan catatan agar tidak membuang waktu saat
mencari apa yang dibutuhkan. Adapun siswa yang tidak terbiasa teratur akan
menjadi kacau bahkan dalam pemikirannya, serta menghabiskan waktu dan tenaga
saat mencari alat-alat dan keperluannya.
Ia
harus mengatur waktunya dan menentukan waktu yang diperlukan untuk belajar,
mengulang pelajaran, serta waktu tidur, dan bersungguh-sungguh mendisiplinkan
diri untuk itu. Jangan biarkan waktunya dikendalikan oleh keadaan, kesibukan,
media massa, atau gangguan lainnya. Ia harus disiplin menunaikan salat tepat
waktu, karena dalam menunaikannya terdapat pembaruan energi serta permohonan
pertolongan dan taufik dari Allah. Harus diperhatikan agar belajar tidak
memakan waktu tidur, dan tidur tidak memakan waktu belajar. Perlu dicatat bahwa
banyak siswa tidak mempedulikan studi dan mengulang pelajaran di awal tahun
ajaran sehingga banyak waktu terbuang, lalu mereka mencoba menebusnya di akhir
tahun dengan begadang dan kelelahan; ini adalah kesalahan besar yang harus
dihindari oleh siswa muslim dengan cara mengatur waktu sejak awal tahun dan
berjalan dengan ritme yang moderat, karena kelelahan di akhir tahun seringkali
menyebabkan kepayahan dan kegagalan.
Siswa
muslim teladan harus terbiasa bersih dalam segala hal, dimulai dari kebersihan
batinnya; menyucikan hatinya dari dendam, hasad, kebencian, sombong, bangga
diri, dan dari segala yang memurkai Allah, serta mengisinya dengan takwa,
cinta, ikhlas, kejernihan, tawadhu, dan segala yang diredai Allah. Setelah itu,
ia harus menjaga kebersihan tubuhnya, pakaiannya, tempat tidurnya, meja
belajarnya, dan buku-bukunya.
Siswa
muslim teladan harus disiplin menghadiri pelajaran dari gurunya dan tidak absen
kecuali karena uzur yang sangat mendesak. Ia harus hadir secara pikiran saat
penjelasan diberikan tanpa disibukkan oleh hal lain. Sebab, pemahaman yang baik
terhadap penjelasan guru akan sangat bermanfaat baginya kemudian hari, berbeda
jika ia tidak hadir atau tidak memperhatikan sehingga tersisa poin-poin yang
samar dan tidak dipahami dengan baik. Alangkah baiknya jika ia sempat membaca
materi sebelum dijelaskan oleh guru agar ia mendapat gambaran umum dan
mengenali poin-poin yang butuh perhatian ekstra saat dijelaskan. Hendaknya
siswa muslim mengetahui bahwa sebagian besar pelajaran saling berkaitan;
seringkali sulit memahami suatu pelajaran jika pelajaran sebelumnya tidak
dipahami. Maka, siswa teladan kita harus memastikan tidak ada pelajaran yang
terlewat tanpa dipahami; jika itu terjadi, segera tanyakan kepada guru atau
rekan-rekannya.
Hal
yang membantu pemahaman dan memudahkan pengulangan di akhir tahun adalah siswa
mengekstrak bab-bab dan poin-poin utama serta cabang dalam setiap bab dengan
sedikit kata penjelas, lalu menuliskannya sebagai "kerangka tulang"
bagi mata pelajaran tersebut dan menghafalnya dengan baik. Membaca rincian
setelah itu akan berfungsi seperti "daging" yang menutupi kerangka
tulang tersebut, sehingga bagian-bagian daging menempel pada tempatnya di
tulang. Namun tanpa kerangka tulang, daging akan bercampur aduk satu sama lain
dan tidak membentuk tubuh yang jelas bentuknya; saya tegaskan secara pribadi
bahwa pengalaman ini sukses.
Siswa
muslim teladan harus antusias menguasai studinya dan unggul di dalamnya, karena
ini adalah tuntutan dan kewajiban Islami. Selain itu, hal tersebut akan
menenangkan kedua orang tuanya bahwa aktivitas keislamannya tidak menghambat
perhatiannya terhadap studi bahkan mendorongnya untuk unggul. Demikian pula
rekan-rekan siswa yang ia dakwahi kepada Allah, ketika mereka melihatnya
unggul, mereka tidak akan takut bahwa aktivitas Islam akan menyibukkan mereka
dari studi dan keunggulan. Adapun jika siswa muslim tersebut tidak unggul, itu
akan membuat orang tuanya menyalahkannya dan menjauhkan siswa lain dari
berpartisipasi dalam kerja dakwah bersamanya. Hendaknya siswa muslim antusias
berzikir kepada Allah, berlindung dari setan, memulai pekerjaan dan studinya,
serta menjawab ujian dengan Basmalah dan memohon pertolongan Allah. Jika
ia menemukan bakat pada dirinya di bidang yang bermanfaat, ia harus memberitahu
saudara-saudaranya agar bakat tersebut dikembangkan demi kemanfaatan amal
Islami. Ia juga harus berkonsultasi saat memilih spesialisasi untuk memilih apa
yang paling bermanfaat bagi kerja Islam.
Siswa
muslim teladan harus menunaikan kewajibannya dalam belajar dan mengulang
pelajaran, kemudian bertawakal kepada Allah dan menghadapi ujian dengan syaraf
yang tenang. Setelah itu, ia harus menerima hasil ujian dengan sikap seorang
mukmin; memuji dan bersyukur kepada Allah jika taufik dan kesuksesan
menyertainya, dengan mengembalikan keutamaan tersebut kepada Allah,
pertolongan-Nya, dan taufik-Nya. Jika hasilnya sebaliknya, ia tidak boleh
mengeluh atau bersedih; hendaknya ia berucap "Qadarullah wa maa syaa-a
fa'ala" (Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi) dan
mengulangi upayanya dengan tekad, ketenangan, dan harapan.
Siswa
muslimah (siswi) teladan harus menerapkan pada dirinya semua poin yang telah
disebutkan di atas, dan ditambah dengan menjaga kesempurnaan serta
kehormatannya dengan berkomitmen pada adab dan ajaran Islam dalam hal busana
muslimah yang memenuhi syarat lengkap, menjauhi jenis perhiasan yang dilarang,
berhati-hati dari situasi yang menimbulkan fitnah, ikhtilat, mengeraskan suara
dalam berbicara atau tertawa, dan hal-hal lain yang tidak layak bagi siswi
muslimah teladan. Ia harus mewajibkan dirinya dengan adab rasa malu, pandai
memilih teman-teman perempuannya, serta mendalami urusan agamanya khususnya
yang berkaitan dengan wanita muslimah. Ia juga harus menjalankan peran dakwah
di antara teman-teman perempuannya.
Dalam
Bidang Media Massa (I'lam):
Sesungguhnya
media massa dengan berbagai lembaga, perangkat, dan sarana modernnya telah
menjadi peran yang sangat krusial dan berpengaruh dalam mengarahkan
bangsa-bangsa dan masyarakat. Radio, televisi, teater, bioskop, surat kabar,
majalah, jurnal berkala, buku, buletin, penerbitan, pusat kebudayaan, hingga
kaset rekaman audio maupun video, serta sarana lainnya, hari ini memainkan
peran besar dalam pertarungan prinsip dan ideologi di kancah lokal maupun
global. Kita dapati mereka yang berpijak pada prinsip-prinsip tertentu
mengerahkan seluruh sarana ini untuk mempromosikan prinsip mereka dan
menggugurkan prinsip lainnya.
Sudah
sewajarnya bagi para aktivis di medan dakwah Islam untuk mengambil peran dalam
bidang ini dan mengerahkan setiap sarana modern demi kepentingan dakwah serta
menyebarkan prinsip-prinsip Islam yang lurus, agar cahayanya meliputi seluruh
penjuru alam dan mengusir kegelapan materialisme yang telah mendominasi banyak
negara di dunia, bahkan dunia Islam kita pun tidak luput darinya.
Jika
keadaan belum memungkinkan bagi para aktivis Islam untuk memanfaatkan sarana
ini secara maksimal akibat tekanan, penyempitan ruang gerak, bahkan pembredelan
surat kabar dan majalah Islam di beberapa negara Islam, hal ini tidak berarti
harus menyerah pada kenyataan atau meremehkan pentingnya bidang media. Mutlak
diperlukan kesabaran, perjuangan, dan upaya untuk menguasai medan ini, serta
menyiapkan tenaga teknis dan pakar dalam setiap cabangnya. Terutama karena
Islam adalah agama fitrah yang memiliki kekuatan intrinsik yang menjadikannya
memiliki pengaruh terbesar ketika disajikan oleh orang-orang ikhlas melalui
berbagai sarana media ini.
Ketika
para aktivis Islam mempraktikkan sarana ini, hendaknya mereka menundukkannya di
bawah ajaran dan adab Islam serta meletakkan batasan-batasan syariat pada
setiap sarananya agar media tersebut menjalankan peran yang konstruktif dan
terhindar dari bentuk-bentuk dosa serta pelanggaran yang menjadi ciri khas
banyak media di zaman kita sekarang—sebagai implementasi dari rencana musuh
untuk menghancurkan masyarakat, keluarga, dan individu kita. Barangkali
kerusakan inilah yang menjadi salah satu sebab menjauhnya banyak aktivis Islam
untuk memasuki medan ini, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah. Selain itu,
harus diperhatikan koordinasi antara para pekerja di berbagai bidang media
Islam agar upaya-upaya tersebut menyatu, arahannya seragam, dan produktivitasnya
terjaga. Kami akan mengulas tentang keteladanan di beberapa bidang ini semampu
mungkin, meskipun perkara ini membutuhkan upaya yang lebih besar dan studi dari
para ahli di bidangnya agar manfaatnya merata dan bertambah luas.
Dalam
Bidang Jurnalistik dan Penerbitan
Surat
kabar, majalah, risalah, dan buku memiliki peran krusial dan pengaruh yang
meluas secara horizontal maupun temporal terhadap individu dan masyarakat.
Adalah kewajiban gerakan Islam untuk memberikan perhatian pada bidang-bidang
ini dan menyajikan teladan yang saleh di dalamnya. Kami akan mengulas sebagian
di antaranya sebagai bentuk pemberian gambaran singkat, bukan untuk mencakup
segalanya, karena perkara ini membutuhkan studi dan perhatian dari para ahli di
bidangnya sebagaimana telah kami sampaikan.
Jurnalis
Muslim yang Teladan:
Kita
menginginkan sosok jurnalis muslim teladan yang menguasai keahliannya dan
berkomitmen pada adab Islam di dalamnya. Ia mengupayakan berita yang jujur
tanpa pengurangan, pelebih-lebihan (hiperbola), atau menyimpang dari fakta. Ia
menyajikan analisis objektif dan akurat yang bermanfaat bagi pembaca dan
memberikan visi yang benar, serta menjauhi tindakan mencela atau menyakiti
orang lain dalam tulisannya. Ia harus mengupayakan kritik yang membangun dan
menjauhi kritik destruktif, serta mengatakan yang benar meskipun pahit tanpa
basa-basi (kompromi) atau rasa takut. Kita ingin ia bersikap adil; mengatakan
"anda benar" kepada yang berbuat baik dan "anda salah"
kepada yang berbuat buruk dengan gaya bahasa yang tenang dan dapat diterima. Ia
harus menjauhi sikap menjilat kepada pemegang kekuasaan dan pengaruh, serta
waspada terhadap upaya kooptasi baik melalui rayuan materi maupun ancaman.
Jurnalis muslim teladan harus mahir menghubungkan isu-isu dan berita yang ia
tulis dengan dakwah kepada Allah, agar orang-orang mengetahui bahwa agama Allah
mencakup seluruh bidang kehidupan dan memiliki peran, arahan, hukum, serta
solusi di setiap bidangnya.
Ia
harus menghidupkan isu-isu masyarakat Islam kita dan masalah yang dihadapi,
serta berbagi rasa dengan masyarakat dalam perasaan dan realitas mereka. Ia
juga harus bekerja sama dengan para ahli dalam menyajikan solusi Islami bagi
masalah-masalah dan isu-isu tersebut. Jurnalis muslim harus waspada terhadap
apa yang diterbitkan oleh musuh-musuh Allah dan agen-agen mereka untuk
menyudutkan Islam atau gerakan Islam, serta menyanggah kebohongan dan kepalsuan
mereka, serta memperbagus penyajian Islam kepada seluruh manusia.
Lembaga
Pers Islam yang Teladan:
Lembaga
pers Islam harus menyadari pentingnya peran yang dipikul di pundaknya untuk
melayani dakwah Islam dan amal Islami yang konstruktif. Ia harus memperbagus
penyajian Islam baik secara akidah, ibadah, syariat, maupun akhlak, serta
membuktikan kompetensi dan hak Islam untuk memimpin kehidupan manusia. Ia juga
harus menegaskan bahwa syariat Allah adalah yang paling berhak untuk diterapkan
dan tidak ada ruang untuk membandingkannya dengan sistem serta prinsip buatan
manusia.
Lembaga
pers Islam harus memperhatikan tanggung jawabnya terhadap pemahaman dan
persepsi pembaca, sehingga tidak menyajikan sesuatu yang menyimpang atau
merusak seperti yang kita lihat di banyak surat kabar dan majalah. Pers Islam
harus mengadopsi isu-isu dunia Islam dan menyajikannya dengan baik agar kaum
muslimin merasakan isu saudara-saudara seiman mereka di mana pun, serta berbagi
duka dan harapan dengan mereka. Pers Islam juga harus meliput informasi yang
dibutuhkan di medan-medan amal Islami, gerakan Islam, jihad Islam, dan hal-hal
lain yang sengaja ditutupi atau disimpangkan oleh pers global maupun nasional.
Pers
Islam harus memberikan kesempatan bagi para penulis dan pemikir Islam untuk
menerbitkan karya intelektual mereka dengan mudah dan lancar, dengan tetap
memastikan dan memverifikasi keselamatan isi karya yang diserahkan untuk
diterbitkan. Lembaga pers harus menyajikan dalam medianya apa yang dibutuhkan
oleh berbagai strata masyarakat seperti pelajar, pekerja, profesional, pemuda,
pemudi, anak-anak, dan sektor rakyat lainnya agar arahannya terintegrasi dan
mencakup semua orang.
Penerbitan
Islam yang Teladan:
Kita
menginginkan penerbit-penerbit Islam yang berkontribusi aktif dalam mewujudkan
tujuan amal Islami dengan menyajikan Islam yang benar, memperingatkan dari
penyimpangan, dan mengobati berbagai penyakit masyarakat kita dengan obat Islam
dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kita ingin penerbit Islam yang menjadikan
kemaslahatan dakwah sebagai tujuan utamanya, bukan keuntungan materi semata.
Sangat disayangkan, kita melihat ada penerbit yang mengeksploitasi antusiasme
pemuda dan masyarakat umum terhadap buku-buku Islam dengan menaikkan harga
secara drastis atau menyajikan buku-buku yang dinisbatkan kepada Islam namun
kosong isinya. Kita ingin penerbit Islam yang menyeleksi apa yang ia terbitkan
dan siapa penulisnya, sehingga ia merasa tenang akan keselamatan penulis dan
tulisannya sebelum terlanjur mencetak dan menerbitkannya. Sebab, ada penulis
yang mengenakan "jubah Islam" namun menyusupkan dalam tulisan mereka
hal-hal yang bertentangan dengan Islam; dan pencegahan adalah lebih baik
daripada pengobatan.
Penulis
Muslim yang Teladan:
Yaitu
sosok yang pandai memilih tema yang tepat dan bermanfaat di medan dakwah, serta
mahir mengulas tema tersebut dengan gaya bahasa yang baik dan jelas yang
maknanya sampai ke hati dan akal serta memberikan pengaruh yang diinginkan.
Kita ingin penulis muslim teladan berkomitmen dalam tulisannya pada pemahaman
Islam yang selamat, jauh dari pemotongan, penyimpangan, atau kesalahan.
Hendaknya ia menyadari besarnya beban dosa sebanding dengan jumlah pembaca yang
terpengaruh oleh pemahaman yang tidak selamat tersebut. Kita ingin setiap
penulis Islam yang memiliki bakat di bidang kepenulisan atau media untuk
mengembangkannya dan memberikan manfaat dengannya, sehingga tidak kita
tinggalkan satu pun bidang media melainkan kita investasikan dan manfaatkan
setelah diwarnai dengan celupan Islam. Kita ingin sastrawan Islam turut
berkontribusi dan mengobati masalah dengan gaya bercerita yang memiliki daya
tarik dan pengaruh. Begitu pula kita ingin penyair muslim teladan yang
berkontribusi dengan syiarnya dalam isu-isu Islam dan dengan nasyid-nasyid yang
membangkitkan semangat para pemuda dan remaja. Tidak diragukan lagi bahwa puisi
memiliki peran dan pengaruh tersendiri dalam jiwa.
Perpustakaan
(Toko Buku) Islam:
Kita
ingin toko buku Islam mahir dalam seni menyajikan buku dan mempromosikannya
agar jangkauan distribusinya meluas. Kita ingin mereka tidak berlebihan dalam
menetapkan harga buku-buku Islam agar terjangkau bagi sebanyak mungkin orang
untuk membeli dan mengambil manfaatnya. Toko buku harus selektif dalam memilih
buku, surat kabar, dan majalah yang dijual dan didistribusikannya; memilih yang
bermanfaat dan menjauhi apa yang mengandung pelanggaran syariat betapa pun
keuntungannya menggiurkan. Toko buku Islam harus mengikuti setiap perkembangan
baru yang bermanfaat serta berkontribusi dalam menyajikan dan
mendistribusikannya. Ia juga harus menjaga hubungan baik dengan penerbit dan
menunaikan kewajiban finansialnya tepat waktu.
Sebelum
meninggalkan bidang media Islam, kami mengingatkan setiap orang yang bekerja di
bidang media akan pentingnya mengikhlaskan niat dan membersihkannya dari segala
tujuan duniawi; karena beberapa bidang media sangat menggoda dengan kecintaan
pada popularitas, ambisi kepemimpinan, mencari kedudukan di sisi penguasa, atau
mengejar jabatan, kehormatan, maupun harta.
Keteladanan
di Bidang Lainnya
Dokter
Muslim yang Teladan:
Kita
menginginkan dokter muslim teladan menjadikan pekerjaannya sebagai sarana
mencari rida Allah dan pahala-Nya, sedangkan pendapatan materi hanyalah dampak
penyerta dan bukan menjadi inti dari maksud serta arah niatnya. Ia harus
meyakini bahwa Yang Maha Penyembuh adalah Allah, dan apa yang ia lakukan berupa
diagnosis atau pengobatan hanyalah sebab-sebab semata. Ia harus selalu memohon
taufik kepada Allah saat mendiagnosis dan meresepkan obat.
Dokter
muslim harus menghiasi diri dengan sifat santun, lapang dada, penuh kasih
sayang, dan membiasakan perkataan yang baik kepada pasien, karena hal itu
memiliki pengaruh psikologis yang besar bagi pasien. Ia harus selalu memberikan
harapan besar akan kesembuhan kepada pasien. Hendaknya ia mengetahui bahwa
pasien sangat peka terhadap setiap kata, gerakan, atau raut wajah yang keluar
dari dokter saat memeriksanya untuk menangkap evaluasi dokter terhadap
kondisinya dan sejauh mana harapan untuk sembuh.
Dokter
muslim teladan harus menjaga keteraturan dan kebersihan tempat kerjanya,
mengatur jadwal, dan menetapkan waktu tertentu bagi setiap pasien agar ditaati
bersama guna menghindari waktu lama yang terbuang saat mengantre. Ia harus
memperhatikan waktu salat dan memudahkan para pengunjung kliniknya untuk
menunaikan salat jika waktunya tiba.
Dokter
muslim teladan harus menguasai hukum-hukum fikih yang berkaitan dengan
pekerjaannya agar tidak jatuh dalam dosa, begitu juga hukum-hukum fikih yang
dibutuhkan pasien agar dokter dapat membimbingnya. Para dokter muslim harus
bersegera bekerja di negeri-negeri Islam betapa pun terpencilnya, meskipun
kehidupannya keras. Tidak boleh kita melihat dokter-dokter misionaris pergi ke
sana untuk menjalankan misi penginjilan di antara pasien muslim, sementara kita
dapati dokter-dokter muslim enggan pergi dan lebih memilih negara-negara Teluk
serta kehidupan yang nyaman. Apa yang kami sebutkan tentang dokter muslim
teladan juga berlaku bagi Dokter Muslimah yang Teladan. Tidak lupa dalam
bidang medis, bahwa Perawat Muslim (Laki-laki maupun Perempuan) juga
memiliki peran penting; masing-masing harus menjadi teladan yang baik dalam
merawat pasien, bersabar demi kenyamanan mereka, serta menghargai kondisi dan
penderitaan mereka.
Rumah
Sakit Islam yang Teladan:
Kita
perlu menciptakan model-model Rumah Sakit Islam yang teladan dan mereplikasi
model tersebut, seperti Rumah Sakit Islam di Amman, Yordania. Dengan
memperhatikan standar manajerial dan teknis yang tinggi, peralatan modern,
sistem, kebersihan, serta pelayanan yang baik kepada pasien, kita melihat
bagian wanita sepenuhnya diisi oleh pasien wanita, dokter wanita, dan perawat
wanita. Begitu pula bagian pria sepenuhnya berisi pasien pria, dokter pria, dan
perawat pria. Kita dapati para dokter dan perawat wanita mengenakan busana
Islami yang sesuai, tersedia tempat khusus untuk wudu dan salat, serta telah
dibangun masjid yang berdekatan. Selain itu, manajemen rumah sakit
memperhatikan kondisi sosial pasien dan mengalokasikan persentase tempat tidur
tertentu bagi kasus-kasus yang tidak mampu membayar biaya pengobatan.
Saran:
Kami menyarankan agar disusun sebuah buku kecil berjudul "Panduan Dokter
Muslim" yang berisi beberapa arahan atau rekomendasi teknis serta
hukum-hukum fikih dalam beberapa persoalan yang dihadapi para dokter dalam
pekerjaan mereka.
Ahli
Hukum Muslim:
Ahli
hukum memiliki peran yang krusial dan penting dalam masyarakat kita, baik ia
seorang hakim, pengacara, maupun jaksa. Undang-undang itu sendiri, proses
peradilan, pelaksanaan putusan, dan mereka yang menjalankan itu semua membentuk
aspek penting dalam kehidupan masyarakat. Maka, ahli hukum muslim harus
mengerahkan upayanya bersama rekan-rekannya agar Syariat Islam dapat berkuasa.
Hingga hal itu terwujud, ia harus menghindari menjatuhkan putusan dengan
hukum-hukum yang menyelisihi syariat Allah. Ia harus mengupayakan keadilan dan
kejujuran, karena ia bertanggung jawab atas setiap pelanggaran dalam
pekerjaannya yang berakibat pada hilangnya hak orang yang berhak, terjadinya
kezaliman pada seseorang, atau tidak diangkatnya kezaliman dari orang yang
terzalimi, terutama saat kezaliman telah mendominasi banyak negeri kita di
zaman ini.
Seorang
pengacara muslim harus mengupayakan kebenaran dan tidak menyimpang darinya.
Terkadang, demi memenangkan kasus, sebagian pengacara menempuh cara menyimpang
dari kebenaran dan memutarbalikkan fakta. Tidak boleh bagi pengacara muslim
membela terdakwa yang benar-benar terbukti melakukan kejahatan, kecuali jika
dalam ruang lingkup hukum terdapat celah legal untuk meringankan hukuman, bukan
untuk meniadakan tuduhan yang sudah terbukti.
Pedagang
Muslim yang Teladan:
Perdagangan
mewakili sektor besar dalam masyarakat kita, dan kita sangat membutuhkan sosok
pedagang muslim yang teladan, terutama di zaman ini di mana integritas telah
rusak dan kecurangan merajalela. Kita menginginkan pedagang muslim yang
mengupayakan kehalalan dalam barang dagangannya dan menjauhi yang haram serta
buruk. Kita menginginkan pedagang muslim yang menjauhi penipuan, pengurangan
takaran, dan kecurangan timbangan, sebagaimana ia menjauhi praktik monopoli (ihtikar),
transaksi riba, dan setiap jual beli yang di dalamnya terdapat pelanggaran
terhadap ajaran Islam; serta merasa cukup dengan keuntungan yang sewajarnya.
Kita
menginginkan pedagang muslim yang pandai memilih pihak atau perusahaan yang
bekerja sama dengannya, yaitu perusahaan Islami atau nasional semaksimal
mungkin, serta berupaya mempromosikan produk-produk dalam negeri. Kita
menginginkan pedagang muslim yang mengetahui bahwa harta adalah milik Allah di
tangannya, sehingga tidak menguasai hatinya dan pekerjaannya tidak
menyibukkannya dari menunaikan salat dan zakat. Ia harus bersegera menginfakkan
hartanya di jalan-jalan kebaikan, terutama jihad di jalan Allah.
Kita
menginginkan pedagang muslim teladan yang teratur dalam pekerjaan, waktu, dan
dalam menyajikan dagangannya. Perdagangan tidak menyibukkannya dari bekal
spiritualnya, kewajibannya terhadap Islam, terhadap keluarganya, dan pengasuhan
anak-anaknya. Kita menginginkan pedagang muslim yang menjaga kebersihan tokonya
dan barang dagangannya agar selamat dari kerusakan, kebusukan, atau hal yang
membahayakan, serta menjauhi cara-cara menyembunyikan cacat barang dan menipu
pembeli. Kita menginginkan pedagang muslim yang memudahkan saat membeli, saat
menjual, dan saat menagih haknya. Secara keseluruhan, kita menginginkan
pedagang muslim yang meraih kepercayaan masyarakat dan menjadi da'i bagi Islam
melalui interaksinya yang baik, kualitas barangnya, kejujurannya, serta
amanahnya.
Lembaga
Ekonomi Islam:
Kita
menginginkan lembaga-lembaga ekonomi Islam yang bekerja mendukung ekonomi umat
Islam kita dan melindungi kekayaan negeri kita dari eksploitasi musuh-musuh
kita. Kita menginginkan lembaga Islam dan para pengusaha muslim yang
berkontribusi mewujudkan kemandirian pangan bagi negeri-negeri kita dan
melepaskan diri dari ketergantungan yang menghinakan kepada musuh-musuh Allah,
terutama dalam hal kebutuhan pokok (roti). Kita ingin terwujud koordinasi dan
kerja sama antar lembaga ekonomi Islam di kancah Islami, dan alangkah baiknya
jika terbentuk pasar Islam bersama di lingkungan negara-negara Islam.
Kita
menginginkan bank-bank Islam teladan yang mengupayakan ajaran Islam dalam
setiap transaksinya dan menyebarkan semangat kepercayaan serta ketenangan di
jiwa nasabahnya sehingga mereka tidak melihat di dalamnya kecuali kebaikan.
Bank tersebut tidak boleh salah dalam penerapan dengan melakukan pelanggaran
kecil maupun besar apa pun alasan dan dorongannya.
Kita
menginginkan bank Islam meningkatkan level teknisnya dalam setiap aspek
pekerjaan sehingga mampu bertahan dan sukses dalam persaingan dengan bank
ribawi sebagai langkah awal untuk melenyapkannya; karena bank Islam berada
dalam pertempuran nyata melawannya. Hendaknya para pimpinan dan karyawan di
bank Islam mengetahui bahwa dengan pekerjaan ini, mereka sedang berada dalam
ibadah dan jihad di medan dakwah Islam, serta menjadi bukti nyata bagi
kelayakan sistem Islam untuk diterapkan dalam kehidupan manusia. Bank Islam
harus menginvestasikan simpanannya di kancah Islami dengan memanfaatkan
kekayaan negeri Islam kita dan potensi manusianya. Para pakar ekonomi juga
harus berkontribusi di bidang ini melalui studi, riset, dan perencanaan mereka.
Secara umum, kita ingin para ekonom muslim mencurahkan perhatian untuk
mempelajari kondisi ekonomi negeri Islam kita, mengenali penyakit dan sebab
yang menyebabkan kemerosotan ekonomi, serta menyajikan solusi bagi kondisi
tersebut di bawah naungan sistem ekonomi Islam. Dengan demikian, mereka
termasuk para da'i sejati yang menyeru kepada Allah dan kepada penerapan
syariat-Nya di bumi.
Pekerja
Muslim yang Teladan:
Pekerja
membentuk sektor besar dan penting dalam masyarakat kita, di atas pundak
merekalah tegak berbagai pencapaian dan bangunan yang sangat kita butuhkan.
Oleh karena itu:
Kita
menginginkan pekerja muslim yang merasa bahwa bekerja adalah kemuliaan, ibadah,
dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Perlu diingat bahwa sebagian Rasul
dahulu bekerja dalam perdagangan, pandai besi, pertukangan, menggembala
kambing, dan lain-lain. Pekerja muslim harus menguasai pekerjaannya (itqan)
dan menyadari bahwa Allah mengawasinya meskipun pemilik usaha tidak
mengawasinya. Ia harus merasa izzah (mulia) apa pun jenis pekerjaan yang ia
lakukan. Ia harus jujur dalam menepati penyelesaian pekerjaan pada waktu yang
disepakati tanpa kelalaian atau pengabaian. Pekerja muslim yang memiliki
keahlian profesi harus berusaha meningkatkan level profesinya dan memanfaatkan
setiap hal baru di dalamnya. Ia juga harus menunaikan hak dakwah dan saling
mengingatkan di antara rekan sesama pekerja, serta membentengi mereka dari tipu
daya propaganda para pemilik paham yang merusak.
Penutup
Setelah
penelusuran tentang "Keteladanan di Jalan Dakwah" yang di dalamnya
kami mencoba menjelaskan rambu-rambu keteladanan Islami di berbagai bidang ini,
kami katakan: Sesungguhnya ini barulah isyarat dan gambaran umum. Adalah
kewajiban bagi saudara-saudara di setiap spesialisasi yang telah kami sebutkan
maupun yang belum kami sebutkan untuk menyusun studi analitis yang khusus bagi
bidang mereka, mencakup seluruh kebutuhan amal Islami di bidang tersebut, serta
memuat sifat-sifat Islami yang harus mereka wajibkan bagi diri mereka sendiri
agar dapat menunaikan pekerjaan secara sempurna.
Adalah
lebih baik jika studi-studi ini dikumpulkan, dicatat, dan dicetak agar mudah
disebarluaskan di antara rekan sejawat dalam spesialisasi tersebut, baik mereka
dokter, insinyur, ahli hukum, jurnalis, pedagang, pelajar, guru, maupun
lainnya.
Sejauh
mana aktivitas di bidang-bidang ini dilakukan, sejauh itulah terwujudnya
masyarakat muslim dan unsur-unsur Islami yang menjadi pilar berdirinya
pemerintahan Islam dan negara Islam. Keteladanan di jalan dakwah akan memiliki
peran positif yang berpengaruh dalam menciptakan basis yang solid untuk
membangun Negara Islam yang dicita-citakan.
Hanya
kepada Allah-lah kita memohon taufik dan dari-Nya lah segala pertolongan.
No comments:
Post a Comment