Thursday, May 7, 2026

Keteladanan di Jalan Dakwah (Musthafa Masyhur)

Pendahuluan

Jalan dakwah adalah jalan menuju jamaah kaum muslimin, jalan menuju penegakan Daulah Islamiyah (Negara Islam) dunia yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah. Ia adalah jalan menuju pengokohan (tamkin) bagi agama Allah di bumi; jalan yang ditempuh oleh para pejuang yang jujur untuk mewujudkan tujuan yang agung ini.

Ini adalah jalan yang seluruhnya berisi kerja, upaya, jihad, kesukaran, dan kesulitan, serta kesabaran, keteguhan, pengorbanan, tebusan jiwa, kemenangan, hingga kesyahidan. Ini bukanlah jalan kata-kata dan teori, atau perdebatan dan filsafat, atau khayalan dan asumsi belaka. Pada jalan seperti inilah, keteladanan (qudwah) menjadi perkara yang paling mendesak, terutama keteladanan praktis yang merepresentasikan Islam yang benar dengan segala ajaran dan tuntutannya tanpa kesalahan, penyimpangan, atau keberanian melanggar hukum.

Kami menginginkan bagi Negara Islam yang dicitakan ini segala sebab kekuatan, keaslian, dan kemapanan, agar ia dapat stabil, berlanjut, dan menjalankan peran agungnya, yaitu memberi petunjuk kepada kemanusiaan yang menderita dan tersesat di antara prinsip-prinsip yang batil dan akidah yang rusak. Kami menginginkannya menjadi sebuah negara yang menyampaikan Islam sebagai agama yang hak kepada manusia dan mengibarkan panjinya di seluruh penjuru dunia.

Oleh karena itu, kami ingin agar komponen-komponen negara ini—mulai dari individu, keluarga, masyarakat, hingga pemerintah—menjadi sehat, kokoh, dan kuat, yang merepresentasikan model Islami yang benar bagi elemen-elemen pembentuk negaranya. Kami tidak ingin Negara Islam kami hanya tampak indah di luar namun buruk di dalam (muthahharun duna mukhbir). Kami tidak menginginkannya menjadi entitas yang rapuh, lemah, dan tidak kohesif yang runtuh hanya karena guncangan dari musuh. Persoalan bagi kami bukan sekadar sampai ke kursi kekuasaan, melainkan pengokohan bagi agama Allah di muka bumi, di mana negara-Nya berdiri, unggul, stabil, dan melenyapkan segala kebatilan di Timur maupun Barat dengan izin Allah.

Oleh karena itu, kami ingin bagi mereka yang menempuh jalan dakwah agar jelas dalam benak mereka bahwa mereka sedang berupaya mewujudkan pencapaian terbesar yang mungkin diraih di muka bumi. Hendaknya mereka menghargai perkara ini dengan penghargaan yang semestinya dan memberikan perhatian yang layak. Kemudian, hendaknya mereka juga mengetahui tabiat fase ini, yaitu bahwa kita sedang meletakkan fondasi yang kokoh bagi bangunan raksasa ini. Ketahuilah bahwa fondasi dalam setiap bangunan adalah tahap yang paling penting sekaligus paling sulit. Dari sinilah muncul pentingnya "Keteladanan di Jalan Dakwah".

Kami menginginkan bagi fondasi ini: individu muslim yang teladan, keluarga muslim yang teladan, dan masyarakat muslim yang teladan, agar di atas basis yang kokoh ini berdirilah pemerintahan Islam yang teladan. Hal ini dilakukan pada level bangsa-bangsa Islam, barulah kemudian datang pemerintahan-pemerintahan muslim yang bersedia masuk dalam kedamaian bersama saudara-saudaranya membentuk Negara Islam.

Telah diketahui bahwa berpartisipasi dalam menegakkan bangunan agung ini—yaitu membangun Negara Islam—adalah kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah. Karena kewajiban ini tidak mungkin dilakukan secara individu melainkan harus melalui kerja kolektif yang terorganisir (amal jama'i munazzam), maka harus ada Jamaah Islamiyah yang menghimpun para pekerja Islam, merancang jalan bagi mereka, dan memulai pelaksanaan. Dengan demikian, bekerja dalam sebuah jamaah menjadi wajib, karena "suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu hukumnya wajib." Oleh sebab itu, dalam pembahasan kita tentang "Keteladanan di Jalan Dakwah," kita harus merujuk pada Jamaah Muslimah yang teladan, dengan tujuan menyatukan upaya dan arah di jalan yang benar, alih-alih terpecah belah dan tercerai-berai.

Saat kita membahas tentang individu muslim yang teladan, kita akan mencoba memberikan profil dasar, baik ia seorang pelajar, guru, insinyur, dokter, pekerja, pedagang, pemimpin, maupun prajurit... dan bidang-bidang lainnya, agar setiap individu dapat mengambil manfaat dari profil ini sesuai posisi dan spesialisasinya. Kami juga akan merujuk pada rumah tangga dan menyentuh beberapa institusi yang dianggap sebagai sarana di jalan dakwah, seperti sekolah Islam teladan, rumah sakit Islam teladan, lembaga Islam teladan, bank Islam teladan, dan klub olahraga Islam teladan... demikian seterusnya sejauh situasi memungkinkan.

Penting juga bagi kami untuk mengisyaratkan dalam pendahuluan ini tentang peran saudari muslimah (akhwat) dalam bidang kerja Islami di jalan dakwah, bahwa perannya tidak kalah penting dan krusial dibanding peran saudara muslim (ikhwan). Kami berharap para akhwat menganggap diri mereka juga menjadi sasaran dari apa yang kami tulis mengenai "Keteladanan di Jalan Dakwah," meskipun konteks pembicaraan sering kali menggunakan bentuk kata ganti laki-laki, namun yang kami maksud adalah saudara dan saudari secara bersamaan.

Mustafa Mashhur


Tradisi (Taqlid) dan Meneladani (Iqtida')

Demikianlah, melalui pendengaran, penglihatan, dan akal, pengetahuan terbentuk pada manusia agar ia mendapat petunjuk dan menempuh jalannya dalam kehidupan. Kita mendapati seorang anak pada fase-fase awalnya bersandar pada meniru (taqlid) apa yang ia lihat dan dengar karena keterlambatan pertumbuhan persepsinya. Sejauh mana sarana pengetahuan yang sehat dan pandangan yang benar tentang dunia dan risalahnya tersedia bagi anak tersebut, maka sejauh itu pula ia memiliki peluang untuk memilih dengan benar saat akalnya matang. Ia akan memilih dengan kehendak bebasnya: jalan kebaikan atau jalan keburukan, jalan hidayah atau jalan kesesatan.

Di antara rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia tidak membiarkan mereka hanya bergantung pada akal dan indra mereka saja, melainkan Dia mengutus para Rasul sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia di hadapan Allah setelah diutusnya para Rasul tersebut. Dia juga menurunkan kitab-kitab untuk memberikan pencerahan kepada manusia mengenai jalan kebenaran dan kebahagiaan, serta jalan kesesatan dan kesengsaraan. Di antara keadilan dan rahmat-Nya pula, Dia tidak menghisab amal perbuatan kecuali setelah mencapai usia dewasa (idrak) dan beban syariat (taklif), sesuai dengan akal yang telah dianugerahkan.

Manusia melihat, mendengar, membaca, dan mengenali, kemudian akal menimbang dan membimbing anggota tubuh untuk melakukan apa yang dipilihnya. Hakikatnya, perumpamaan akal dan cahaya wahyu adalah seperti mata dan cahaya lampu. Mata tanpa cahaya akan membuat pemiliknya terantuk-antuk dalam kegelapan; demikian pula akal tanpa wahyu dapat membuat pemiliknya tersesat di jalan kegelapan. Kita melihat kitab-kitab dan para Rasul langit menjelaskan kepada manusia hakikat alam semesta ini dan Penciptanya, menjelaskan hakikat kehidupan dunia dan misi manusia di dalamnya, serta hakikat kematian dan apa yang setelah kematian berupa kebangkitan, hisab, dan balasan. Setelah semua penjelasan ini, manusia diberikan kebebasan untuk memilih dan meyakini.

Renungan atas Nikmat Pendengaran, Penglihatan, dan Akal

Mengingat urgensi besar dari tiga sarana pengetahuan—yaitu pendengaran, penglihatan, dan akal—dalam bidang hidayah dan keteladanan, saya memohon izin kepada pembaca untuk merenungkan ayat mulia guna mengetahui nilai dari ketiga nikmat ini. Seorang bayi lahir seperti sekerat daging yang tidak mengetahui dan tidak menyadari apa pun, namun Allah membekalinya dengan pendengaran dan penglihatan, kemudian akal agar persepsi dan kemampuannya untuk hidup menjadi sempurna.

Bayangkan bersamaku, wahai pembaca, seorang bayi yang lahir tanpa nikmat pendengaran. Bayangkan hidupnya tanpa itu, dan penderitaan serta kekurangan persepsi yang diakibatkannya, terutama karena hilangnya indra pendengaran berakibat pada hilangnya kemampuan bicara (bisu), karena ia tidak mendengar apa yang bisa ia tiru ucapannya. Kasus seperti ini ada di sekitar kita, dan kita merasakan penderitaan mereka serta upaya yang dilakukan untuk menyampaikan pengetahuan kepada mereka melalui isyarat atau tulisan.

Jika kita bayangkan bayi lahir tanpa penglihatan, ia mungkin bisa belajar bicara melalui pendengaran, namun ia akan sulit memahami bentuk benda dan mengenal warna. Ia mungkin menggunakan pendengarannya untuk pengenalan parsial. Ada perbedaan besar antara dia dengan orang yang kehilangan penglihatan setelah dewasa dan pernah melihat benda serta mengetahui nama-namanya.

Jika kita bayangkan bayi lahir tanpa akal, betapa pun bertambah usianya, tidak diragukan lagi kondisinya akan lebih buruk dari sebelumnya dan ia tidak akan memiliki kehidupan kecuali di rumah sakit jiwa. Kasus-kasus di atas menggambarkan hilangnya satu dari tiga nikmat tersebut, dan kita merasakan nilai dari setiap nikmat secara individu.

Bagaimana jika kita bayangkan bayi lahir tanpa pendengaran dan penglihatan sekaligus? Tentu secara otomatis ia juga akan kehilangan kemampuan bicara. Bayangkan manusia yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak bicara; bagaimana kita menyampaikan pengetahuan kepadanya dan bagaimana ia merintis jalannya dalam hidup? Pastilah itu menjadi kehidupan yang paling berat. Demikian pula jika lahir tanpa akal ditambah kehilangan salah satu indra; hidupnya akan habis di rumah sakit jiwa. Apalagi jika lahir tanpa ketiga nikmat tersebut (pendengaran, penglihatan, dan akal); bagaimana keadaannya, keadaan keluarganya, dan bagaimana mereka memperlakukannya?

Saudaraku, sudahkah engkau melihat bersamaku kondisi orang yang kehilangan ketiga nikmat ini atau sebagian darinya dari sudut pandang fisik-material, betapa berat penderitaannya? Maka bagaimana menurutmu jika kita melihatnya dari sudut pandang akhirat? Sesungguhnya kehilangan ketiga nikmat tersebut secara maknawi (spiritual) padahal fisiknya ada, jauh lebih berbahaya. Kondisinya menjadi lebih sesat daripada binatang ternak. Demikianlah orang yang melumpuhkan akalnya, tidak mencari cahaya dari wahyu, tidak mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah yang terlihat maupun terdengar; tempat kembalinya adalah neraka Jahanam, dan ia lebih sesat dari binatang.

Maka alangkah pantasnya bagi kita setelah renungan ini untuk menghargai nikmat-nikmat ini dengan semestinya, merasakan anugerah Allah atas kita, terutama jika kita menggunakannya untuk mengenali-Nya, beribadah, dan menaati-Nya, serta memohon bantuan-Nya agar tidak menggunakan nikmat tersebut untuk bermaksiat kepada-Nya. Sesungguhnya kita tidak akan mampu menghitung nikmat Allah, apalagi mensyukurinya secara sempurna.

Peniruan yang Lemah terhadap yang Kuat

Kita telah mengetahui bagaimana seorang anak pada fase awalnya—masa lemah dan belum berakal—bergantung pada peniruan terhadap orang yang lebih besar darinya. Mungkin motivasinya meniru adalah karena ia ingin terlihat dewasa seperti mereka. Demikian pula kita melihat bangsa-bangsa yang tertindas meniru bangsa yang menjajahnya karena adanya perasaan inferioritas (inferiority complex) dan anggapan bahwa meniru mereka akan membuat mereka menjadi kuat seperti penjajah. Namun sayangnya, mereka sering kali hanya meniru kebiasaan buruk yang sengaja diekspor oleh musuh, sementara hal-hal yang bermanfaat justru disembunyikan agar bangsa-bangsa tersebut tetap terbelakang dan lemah.

Jika hal itu terjadi pada bangsa tertindas yang non-muslim, maka tidak boleh hal itu terjadi pada bangsa-bangsa Islam kita. Allah telah memuliakan kita dengan Islam yang agung ini yang membekali segala unsur negara kepemimpinan yang memandu kemanusiaan menuju hidayah dan cahaya. Namun sayangnya, kita melihat banyak individu dari bangsa kita meniru musuh yang pernah menjajah negeri kita dalam banyak kebiasaan buruk mereka. Bahkan, kita dapati orang-orang yang disebut pemimpin pemikiran di negeri kita menyerukan untuk meniru Barat dalam segala hal, baik baiknya maupun buruknya, jika ingin meraih kekuatan dan kemajuan.

Keteladanan dan Peniruan Warisan

Tiap generasi sering kali mewarisi banyak adat, tradisi, dan keyakinan dari generasi sebelumnya. Terkadang terjadi modifikasi atau perubahan seiring berjalannya generasi, baik itu benar maupun salah. Terkadang peniruan adat pada sebagian orang mencapai derajat penyucian atau pegangan yang sangat kuat sehingga sulit dilepaskan. Al-Qur'an telah menceritakan kepada kita beberapa potret fenomena ini dan mencela pelakunya yang bersikeras memegang akidah atau adat tersebut meskipun kebatilannya sudah jelas bagi mereka. Benarlah Rasulullah SAW dalam hadisnya:

"Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi..."

Maka tanggung jawab orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya dan mewariskan akidah serta adat yang saleh adalah tanggung jawab besar yang diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Hadis dari Ibnu Umar RA berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

"Kalian semua adalah pemimpin dan masing-masing bertanggung jawab atas rakyatnya (yang dipimpinnya). Seorang laki-laki adalah pemimpin di keluarganya dan bertanggung jawab atas mereka... maka kalian semua adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya." (Muttafaq 'alaih).

Pada saat yang sama, Al-Qur'an mengingatkan kita tentang tanggung jawab individu, bahwa setiap manusia bertanggung jawab atas amalnya sendiri dan seseorang tidak memikul dosa orang lain.

Anjuran Meneladani Ahli Kebaikan dan Menjauhi Ahli Keburukan

Islam menganjurkan kita untuk meneladani orang-orang yang baik, saleh, dan pemilik akidah yang lurus. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di neraka Jahanam." (QS. An-Nisa: 140).

Dan berikut hadis Rasulullah SAW mengenai makna ini, dari Abu Musa Al-Asy'ari RA bahwa Nabi SAW bersabda:

"Perumpamaan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu (yuhdzika), atau engkau membelinya darinya, atau engkau mencium aroma wangi darinya. Sedangkan tukang pandai besi, mungkin percikan apinya mengenai pakaianmu, atau engkau akan mencium aroma yang busuk." (Muttafaq 'alaih. Yuhdzika artinya: memberimu).


Pengaruh Keteladanan dan Peniruan dalam Masyarakat

Masyarakat ibarat jasad yang di dalamnya mengalir pengaruh keteladanan dan peniruan, baik secara negatif maupun positif, lemah maupun kuat. Jika keteladanan itu buruk, maka pengaruh buruknya akan menjalar pada masyarakat dalam bentuk kelemahan. Sebaliknya, jika keteladanan itu baik, maka pengaruh baiknya akan mengalir sebagai kekuatan dalam masyarakat. Oleh karena itu, kita melihat Islam sangat antusias dalam menjaga masyarakatnya dengan mendorong penyebaran semangat kebaikan, kebajikan, dan kesalehan di dalamnya melalui perintah kepada yang makruf (amr ma'ruf), serta antusias melindunginya dari faktor-faktor kejahatan dan kerusakan melalui larangan terhadap kemungkaran (nahyi munkar) dan penegakan hukum batas (hudud).

Umat Islam istimewa karena sifat amr ma'ruf nahi munkar ini, sementara Bani Israil dilaknat karena mereka tidak saling mencegah kemungkaran yang mereka perbuat. Sistem hisbah dalam Islam telah dikenal luas bertujuan untuk membersihkan masyarakat dari pelanggaran agar tetap sehat. Islam juga mengadopsi prinsip pencegahan (preventif); kita dapati ayat-ayat berbunyi: "Dan janganlah kamu mendekati zina." Makna "jangan mendekati" adalah menjauhi segala pendahuluan yang dapat menyebabkan terjadinya zina atau kekejian, seperti pandangan, berdua-duaan (khalwat), sentuhan, ciuman, dan sebagainya.

Hadis-hadis mulia mengenai perlindungan masyarakat Islam dari kerusakan sangatlah banyak, di antaranya:

Dari Abu Sa'id al-Khudri RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim).

Dari beliau juga, dari Nabi SAW bersabda: "Jihad yang paling utama adalah kalimat yang adil (benar) di hadapan penguasa yang zalim." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, ia berkata hadis ini hasan).

Dari Nu’man bin Basyir RA, dari Nabi SAW bersabda: "Perumpamaan orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah ibarat sekelompok orang yang berbagi tempat di sebuah kapal. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian di bawah. Orang yang berada di bawah, jika ingin mengambil air, mereka harus melewati orang-orang di atas mereka. Lalu mereka berkata: 'Andai saja kita lubangi bagian kita sendiri, sehingga kita tidak mengganggu orang yang di atas.' Jika orang-orang di atas membiarkan mereka melakukan keinginan itu, maka binasalah semuanya. Namun jika mereka mencegahnya dengan tangan mereka, maka selamatlah mereka dan selamatlah semuanya." (HR. Bukhari).

Dari Hudzaifah RA, dari Nabi SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian benar-benar harus memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar, atau (jika tidak) Allah hampir saja mengirimkan siksaan dari-Nya kepada kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya namun tidak dikabulkan." (HR. Tirmidzi, ia berkata hadis ini hasan).

Masyarakat Islam Kita

Di saat kita melihat Islam sangat menjaga kesucian masyarakatnya dari segala bentuk dan elemen kerusakan, kita justru melihat masyarakat di negeri-negeri Islam kita saat ini dipenuhi dengan kerusakan dan dekadensi moral yang berada di bawah perlindungan hukum. Perangkat media pemerintah memegang peran terbesar dalam menyebarkan kerusakan melalui film, drama yang cabul dan tidak bermoral, nyanyian, serta tarian. Terjadi pula penyebaran tempat-tempat hiburan malam, kefasikan, bar minuman keras, klub judi, dan pantai-pantai telanjang, di samping merebaknya penyakit sosial lain seperti kebohongan, suap, kefasikan, pencurian, dan berbagai kejahatan serta kemungkaran lainnya.

Media massa menampilkan film-film kekerasan dan kriminalitas impor seolah-olah sedang mengajarkan kejahatan tersebut kepada pemuda kita. Mereka juga menyajikan para penyanyi dan penari sebagai figur teladan (idol) bagi pemuda, serta memberikan penghormatan dan pengagungan kepada mereka. Hal ini membuat kita tidak mustahil berpikir bahwa musuh-musuh Islam memiliki peran langsung dalam rencana perusakan ini untuk mengosongkan nilai-nilai kejantanan dan kekuatan dari pemuda kita, lalu menggantinya dengan sifat kewanita-wanitaan (takhannuts) dan kelembekan, sehingga tanah air kita kehilangan unsur kekuatannya yang direpresentasikan oleh para pemuda.

Biasanya kita melihat pemerintah sangat memperhatikan kebersihan lingkungan dan kota dari kotoran dan sampah karena takut akan penyebaran penyakit fisik, namun mereka justru membantu penyebaran penyakit yang menghancurkan karakter. Akibatnya, keluarga runtuh, masyarakat hancur, dan hal ini niscaya berdampak pada negara dan kemerdekaannya, menjadikannya mangsa yang mudah bagi musuh-musuh Allah untuk mengendalikan nasibnya.

Rahmat Allah bagi Umat Islam

Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada umat Muhammad SAW dengan memberikan taufik kepada sebagian putra-putranya untuk memperbaharui urusan agamanya—seperti Al-Banna, Abul A'la Al-Maududi, dan selainnya—serta berdirinya gerakan-gerakan Islam dan jamaah-jamaah Islam di medan dakwah, niscaya keadaannya akan sangat berbeda.

Berkat karunia Allah, kemudian pengaruh dari gerakan-gerakan Islam ini, kehidupan mulai mengalir kembali ke dalam jasad umat Islam. Umat mulai bangun dari kelalaiannya dan bangkit dari keterpurukannya. Kita mulai melihat model lelaki beriman, wanita beriman, serta pemuda-pemudi beriman yang berpegang teguh pada ajaran agama mereka, membawa segala makna kemuliaan Islam, dan mencurahkan tenaga untuk mengembalikan umat kepada Islam dan kejayaannya, serta bekerja bersama untuk menegakkan Negara Islam dan Khilafah Islamiyah.

Gerakan-gerakan Islam ini telah dan masih terus melakukan perubahan mendasar dalam masyarakat negeri-negeri Islam kita. Banyak bid'ah, takhayul, dan kebiasaan jahiliyah yang hilang. Banyak sunnah yang hampir punah kini dihidupkan kembali. Semangat keberagamaan ditiupkan di kalangan pemuda, begitu pula semangat jihad yang telah memberikan contoh luar biasa di berbagai tempat di dunia Islam. Langkah jauh telah ditempuh dalam membersihkan akidah dari noda dan penyimpangan. Kita melihat bangsa-bangsa Islam hari ini menuntut pemerintah mereka untuk menerapkan Syariat Islam, dan kita melihat gelombang keislaman rakyat terus maju menyapu ketelanjangan dan pamer aurat (tabarruj). Semua ini—dan banyak lagi yang akan datang dengan izin Allah—adalah buah dari upaya para pekerja di ladang dakwah melalui jamaah-jamaah Islam yang menjadi teladan di jalan dakwah.

Keteladanan Praktis

Keteladanan praktis (al-qudwah al-'amaliyah) adalah sarana yang paling kuat dan tajam pengaruhnya dalam menyebarkan prinsip dan ide, karena ia merupakan perwujudan dan penerapan nyata. Ia mudah disaksikan, memengaruhi, diikuti, dan ditiru; berbeda dengan ucapan, ceramah, atau tulisan. Perkataan terkadang tidak dipahami oleh sebagian pendengar atau pembaca, atau mereka tidak menangkap tujuannya, bahkan bisa dilupakan sebagian atau seluruhnya. Ia juga bisa tetap menjadi sekadar teori di mana banyak orang tidak tahu cara menerapkannya secara praktis atau melakukan kesalahan saat mempraktikkannya.

Rasulullah SAW adalah teladan manusia yang praktis di tengah kaum muslimin generasi pertama. Beliau memberikan pengaruh besar bagi umat Islam untuk mengenal Islam secara teori maupun praktik. Mereka meneladani beliau SAW dalam setiap urusan besar maupun kecil, baik dalam masalah ibadah, muamalah, maupun aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, tidur, berpakaian, dan lain-lain. Jika kita tambahkan betapa antusiasnya Rasulullah SAW dalam membimbing umat ke arah kebaikan dan melarang mereka dari hal yang berbahaya, kita akan memahami betapa besarnya keberuntungan muslim generasi pertama karena meneladani sebaik-baik teladan. Kebaikan ini kemudian diwariskan dari generasi ke generasi setelah sahabat hingga sampai kepada kita, untuk kita wariskan lagi kepada generasi setelah kita, insya Allah.

Mengingat pentingnya keteladanan praktis dalam Islam, Allah memperingatkan orang-orang beriman agar jangan sampai perbuatan mereka menyelisihi perkataan yang mereka serukan. Hadis Rasulullah SAW mempertegas makna ini. Dari Usamah bin Zaid RA, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Seorang lelaki didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka hingga ususnya terburai. Dia berputar-putar dengannya seperti keledai yang berputar pada gilingannya. Penduduk neraka berkumpul mengelilinginya dan bertanya: 'Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah engkau dulu memerintahkan yang makruf dan melarang yang munkar?' Dia menjawab: 'Benar, aku dulu memerintahkan yang makruf namun aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang yang munkar namun aku mengerjakannya'." (Muttafaq 'alaih).

Sebagaimana keteladanan praktis memiliki pengaruh baik dalam bidang kebaikan dan amal saleh, ia juga memiliki pengaruh buruk ketika menjadi contoh dalam kemaksiatan dan kerusakan. Sayangnya, kita melihat teladan-teladan buruk ini tersebar luas di masyarakat negeri Islam di bawah perlindungan hukum, sementara teladan yang saleh justru dikejar-kejar, dipersempit ruang geraknya, ditangkap, dipenjara, disiksa, hingga dibunuh. Dari semua ini, kita melihat betapa pentingnya keteladanan praktis di jalan dakwah, sebagai sarana sekaligus tujuan dalam pembinaan.

Di Jalan Dakwah

Kami telah menjelaskan di pendahuluan bahwa di jalan dakwah ini, kita sedang berupaya mewujudkan pencapaian terbesar di muka bumi, yaitu pengokohan (tamkin) agama Allah dengan mendirikan Negara Islam yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah. Tujuannya adalah menjalankan peran melindungi tanah Islam, membebaskan apa yang dirampas—terutama Masjidil Aqsha—melindungi nyawa dan kehormatan umat Islam, serta memenangkan wilayah baru bagi Islam dengan menyebarkan agama Allah di bumi-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Kami juga menjelaskan bahwa bangunan raksasa ini sangat membutuhkan keteladanan yang baik dalam setiap tahap pembangunan dan setiap komponennya, mulai dari individu, rumah tangga, masyarakat, pemerintah, hingga negara dan Khilafah.

Ada perbedaan besar antara mendirikan pemerintahan Islam yang lemah di wilayah-wilayah kita di atas fondasi yang rapuh tanpa keterikatan kuat antar pemerintahan tersebut, dengan mendirikan Negara Islam yang tinggi, kuat, bersatu, di atas basis yang solid, dalam, dan kokoh. Perbedaan ini dapat diibaratkan begini: Jika kita memiliki sebidang tanah, ada perbedaan besar antara membangun rumah satu lantai di atasnya dengan membangun gedung pencakar langit. Fondasi yang dibutuhkan pada kedua keadaan tersebut sangat berbeda. Fondasi pencakar langit harus sangat dalam, kokoh, dan memakan waktu yang tidak sebentar. Begitu pula halnya dengan Negara Islam yang dicita-citakan. Fondasi yang dalam dan kokoh membutuhkan waktu dan upaya besar, meskipun sifat fondasi itu tidak terlihat di atas permukaan tanah.

Ada makna lain yang perlu diperhatikan, yaitu bahwa kita tidak membangun gedung Negara Islam di atas tanah yang rata dan siap bangun. Namun, kita harus menyingkirkan puing-puing yang bertumpuk sejak berabad-abad untuk mendirikan bangunan besar yang baru di atasnya. Puing-puing itu berupa penyimpangan akidah, bid'ah, takhayul, kebodohan, penyimpangan moral, kelemahan, sifat wahn (cinta dunia takut mati), perpecahan, sifat ghutsa' (buih), serta rendahnya cita-cita dan tekad. Juga pengaruh prinsip-prinsip duniawi yang menyerbu negeri kita seperti komunisme, sosialisme, kapitalisme, dan lainnya.

Semua puing yang rusak itu membutuhkan proses pembersihan dan perubahan dalam jiwa agar Sunnatullah yang tidak berubah dapat terwujud. Kita ingin menyiapkan "batu bata" (individu) yang sehat dan kuat secara akidah, ibadah, akhlak, wawasan, fisik, maupun semangat jihad, agar bangunan yang sehat dan kokoh dapat berdiri dengan izin Allah. Untuk mencapainya, kami memandang bahwa peran mendasar sangat bergantung pada keteladanan yang baik di jalan dakwah.

Ya untuk Harapan, Tidak untuk Keputusasaan

Di saat kita berada di jalan dakwah, tidak boleh ada sedikit pun rasa putus asa atau kelesuan karena buruknya keadaan, banyaknya puing, atau rusaknya masyarakat kita. Sebaliknya, kita semua penuh harapan bahwa dengan pertolongan Allah, kita akan mampu menyingkirkan semua puing ini, menghalau semua kerusakan ini, dan menggantinya dengan kesucian, ketakwaan, serta kesalehan untuk mendirikan bangunan yang sehat dan kokoh.

Jika kita melihat masyarakat Jahiliyah tempat Rasulullah SAW diutus dengan agama yang hak ini, kita akan dapati bahwa kondisinya sangatlah buruk. Berhala dari batu disembah selain Allah, minuman keras, judi, zina, perampokan, pembunuhan, penguburan bayi perempuan hidup-hidup, serta perang antar suku karena alasan sepele. Namun dengan semua itu, masyarakat tersebut berubah menjadi masyarakat yang penuh kesucian, kesalehan, kasih sayang, persaudaraan, pengorbanan (itsar), dan tolong-menolong dalam kebaikan. Dan yang terpenting adalah tauhid kepada Allah dan ibadah yang jujur kepada-Nya. Semua itu terjadi karena pengaruh Al-Qur'an dan petunjuk Rasulullah SAW sebagai teladan yang baik di jalan tersebut.

Maka, jika kita berjalan di atas jalan Rasulullah SAW itu sendiri, mengikuti jejak langkah beliau dengan berpegang teguh pada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka dengan bantuan Allah kita akan mampu melakukan perubahan yang diperlukan di masyarakat kita. Kita akan menyembuhkan penyakit-penyakitnya selama botol obat masih ada di tangan kita, yaitu Al-Qur'an dan Sunnah Nabi-Nya SAW. Sesungguhnya, tidak akan pernah baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah membuat baik generasi awalnya. Imam Syahid (Hassan Al-Banna) telah memaparkan diagnosis terhadap keadaan kaum muslimin serta meresepkan obat dan terapinya. Alangkah bermanfaatnya jika kita menyebutkan perkataan beliau dalam bidang ini:

"...(Sesungguhnya bangsa-bangsa terkadang dihadang oleh peristiwa-peristiwa zaman yang mengancam eksistensinya dan meretakkan bangunannya, serta mengalirkan penyakit ke dalam sendi-sendi kekuatannya. Penyakit itu terus mendesak dan mencengkeramnya hingga berhasil melemahkannya, sehingga bangsa itu tampak kurus dan lemah, membuat para pencari kesempatan berambisi menguasainya dan para perampas berhasil menjajahnya. Ia pun tidak lagi kuat mengusir perampas dan tidak mampu menghalangi ambisi orang yang tamak. Obatnya hanyalah dengan tiga perkara: mengetahui letak penyakit, sabar menanggung kepedihan pengobatan, dan adanya sistem/tatanan yang menangani hal tersebut hingga Allah mewujudkan tujuannya melalui tangan tatanan tersebut, serta sempurnanya kesembuhan dan kemenangan)."

Setelah beliau (Imam Syahid Hasan al-Banna) memaparkan kondisi sebagian negeri-negeri Islam kita beserta cacat, penyakit, dan kerusakan di dalamnya, beliau berkata:

"(Apa yang bisa diharapkan dari sebuah bangsa yang dikepung oleh semua faktor penyerang ini dengan manifestasi terkuat dan gejala yang paling parah: Kolonialisme, fanatisme kepartaian, riba, perusahaan-perusahaan asing. Ditambah lagi ateisme, permisivisme (perilaku bebas), kekacauan pendidikan dan perundang-undangan.

Juga keputusasaan, sifat kikir, kebanci-bancian (kehilangan kejantanan), sifat pengecut, dan kekaguman terhadap musuh—kekaguman yang mendorong untuk meniru segala sesuatu yang datang dari mereka, terutama dalam keburukan amal perbuatannya. Sesungguhnya satu saja dari penyakit-penyakit ini sudah cukup untuk membunuh bangsa-bangsa yang besar. Lalu bagaimana jika semuanya mewabah secara bersamaan pada setiap bangsa satu per satu? Kalaulah bukan karena kekebalan, benteng perlindungan, ketabahan, dan ketangguhan yang ada pada bangsa-bangsa Timur ini, niscaya jejak mereka sudah hilang dan mereka sudah musnah dari eksistensi. Namun Allah dan orang-orang mukmin enggan membiarkan hal itu terjadi)."

Setelah beliau menafikan rasa putus asa dari jiwa anggota Ikhwan, beliau berkata:

"(Segala sesuatu di sekitar kita memberi kabar gembira tentang harapan, meskipun ada pesimisme dari orang-orang yang pesimis)." Kemudian beliau melanjutkan: "(Telah datang suatu masa bagi bangsa-bangsa Timur ini di mana mereka membeku hingga kebekuan itu sendiri merasa bosan terhadap mereka. Mereka diam hingga diam itu melelahkan mereka. Namun sekarang, mereka sedang mendidih dengan kebangkitan yang menyeluruh di segala aspek kehidupan. Mereka berkobar dengan perasaan hidup yang kuat dan emosi yang hebat. Kalaulah bukan karena beratnya belenggu di satu sisi, dan kekacauan dalam pengarahan di sisi lain, niscaya kebangkitan ini akan memberikan dampak yang paling menakjubkan. Belenggu tidak akan bertahan sepanjang masa. Sesungguhnya zaman itu berputar, dan antara kedipan mata dan perhatiannya, Allah mengubah satu keadaan ke keadaan lainnya. Orang yang bingung tidak akan selamanya bingung, karena setelah kebingungan ada petunjuk, dan setelah kekacauan ada stabilitas. Dan milik Allah-lah segala urusan, sebelum dan sesudahnya. Karena itulah kami tidak pernah berputus asa)."

Di tempat lain, setelah beliau memaparkan kondisi di Mesir dan keburukan yang terjadi di sana, demikian pula di tanah air Arab dan Islam kita, serta di arena kemanusiaan secara umum, beliau berkata:

"(Inilah gambaran kondisi di tanah air khusus kita (Mesir), di tanah air Arab dan Islam kita, serta di tanah air kemanusiaan kita secara umum. Jika di dunia ini tidak berdiri bangsa pembawa Dakwah Baru yang membawa risalah kebenaran dan perdamaian, maka kehancuranlah bagi dunia dan selamat tinggallah bagi kemanusiaan. Adalah menjadi kewajiban kita, sementara di tangan kita ada obor cahaya dan botol obat, untuk maju memperbaiki diri kita dan menyeru orang lain. Jika kita berhasil, maka itulah yang dicari. Jika tidak, cukuplah bagi kita bahwa kita telah menyampaikan risalah, menunaikan amanah, dan menginginkan kebaikan bagi manusia. Tidak benar sama sekali jika kita meremehkan diri sendiri. Cukuplah bagi mereka yang membawa risalah dan menegakkan dakwah sebagai faktor kesuksesan adalah dengan menjadi orang-orang yang beriman kepadanya, ikhlas untuknya, dan berjihad di jalannya, serta mengetahui bahwa zaman sedang menunggunya dan dunia sedang menantikannya. Maka, adakah yang menyambut seruan ini?)"

Inilah yang dikatakan oleh Imam Syahid, dan inilah kita sekarang, berjalan di atas jalan dakwah. Kita tidak akan berputus asa, dengan izin Allah, untuk mengubah kerusakan ini dan mengobati penyakit-penyakit ini meskipun jumlahnya banyak, dengan tetap berpedoman selama perjalanan kita kepada teladan kita (Rasulullah SAW) dan para sahabat beliau yang mulia dalam melakukan perubahan ini dengan hikmah dan nasihat yang baik (al-mau'izhah al-hasanah), dengan keteladanan praktis yang baik, serta dengan mencurahkan tenaga, kerja terus-menerus, dan memohon pertolongan kepada Allah.

Di antara hal yang menyejukkan hati dan menambah harapan dalam jiwa adalah apa yang kita lihat berupa banyaknya bentuk perubahan yang telah terjadi di masyarakat kita, pertama-tama berkat karunia Allah, kemudian berkat pengaruh upaya para pekerja di ladang dakwah Islam. Kami sebutkan beberapa di antaranya sebagai contoh:

Telah ditempuh langkah yang jauh dalam memurnikan akidah tauhid dari banyak noda dan penyimpangan, dan upaya-upaya tersebut masih terus bersinergi dan berlanjut. Banyak bid'ah, takhayul, dan tradisi yang menyalahi Islam telah menghilang, dan apa yang tersisa darinya kini menjadi hal yang diingkari setelah sebelumnya dianggap biasa. Telah dihidupkan kembali banyak sunnah yang hampir hilang, seperti i'tikaf, salat malam di bulan Ramadan, salat Id di lapangan (mushalla), serta komitmen terhadap petunjuk Nabi dalam kehidupan manusia dan aktivitas sehari-hari. Risalah masjid telah dihidupkan kembali, semangat keberagamaan menyebar di kalangan pemuda dan pemudi, komitmen para pemudi terhadap busana muslimah, kebangkitan semangat jihad dan praktiknya secara nyata di banyak tempat, pemahaman Islam yang komprehensif bahwa ia adalah manhaj kehidupan yang lengkap, tuntutan rakyat kepada pemerintah untuk menerapkan syariat menggantikan hukum buatan manusia saat ini, serta dukungan umat Islam di berbagai belahan dunia terhadap isu-isu Islam di arena internasional seperti isu Palestina, Lebanon, Afghanistan, Filipina, Eritrea, Suriah, Kashmir, dan lain-lain. Juga tuntutan yang mendesak untuk membersihkan perangkat media dari kerusakan, serta banyak hal lainnya yang membawa kabar baik dan menghalangi rasa putus asa.

Tabiat Ladang Dakwah dan Pentingnya Keteladanan

Masyarakat di negeri-negeri Islam kita, sebagian besar anggotanya adalah muslim yang mewarisi Islam dari ayah dan kakek mereka dengan segala noda, penyimpangan, bid'ah, dan takhayul yang dimasukkan ke dalamnya. Mereka juga mewarisi apa yang ditanamkan oleh kolonialisme dalam jiwa banyak muslim berupa perasaan lemah, terbelakang, ketergantungan, dan mentalitas kalah. Demikian pula kerusakan, dekadensi moral, standar materialistik, serta persepsi yang salah tentang kehidupan dunia dan misi manusia di dalamnya yang mereka gunakan untuk menyerbu negeri kita. Selain itu, ada prinsip-prinsip buatan manusia yang mereka tonjolkan di negeri kita untuk menjadi pengganti bagi Islam, sistem, dan perundang-undangannya. Mereka mengerahkan individu-individu untuk prinsip-prinsip ini dan mendirikan partai-partai yang mencabik-cabik persatuan rakyat, serta gambaran menyedihkan lainnya yang kita lihat di arena Islam kita.

Ladang dakwah hari ini sangat berbeda dengan ladang dakwah di zaman Rasulullah SAW. Dahulu, beliau dan kaum muslimin pertama menyeru kaum musyrik dan kafir agar masuk Islam, meninggalkan penyembahan berhala, dan beriman kepada Allah yang Maha Esa. Upaya dicurahkan untuk mengubah akidah mereka. Jika itu berhasil dan seseorang berpindah dari syirik ke Islam, ia akan mengenali Islamnya dan berkomitmen kepadanya, merasakan lompatan besar dari kekufuran ke iman dan dari kesesatan ke hidayah. Di balik itu semua ada kebaikan di dunia dan akhirat. Maka penghargaan mereka terhadap keagungan agama ini serta penghargaan mereka terhadap Kitabullah dan Rasul-Nya sangatlah besar, sehingga jiwa mereka berubah secara radikal, dan segala residu serta puing jahiliyah hilang dari pikiran mereka. Dari mereka lahirlah para lelaki dan wanita beriman yang di atas pundak merekalah Negara Islam pertama berdiri, dan mereka memberikan contoh luar biasa dalam pengorbanan, keteguhan, cinta, dan kerja sama.

Adapun individu-individu yang kita hadapi di ladang dakwah hari ini bukanlah orang kafir atau musyrik. Kita berhadapan dengan orang-orang muslim yang meyakini bahwa apa yang mereka jalani adalah Islam sebagaimana yang mereka pahami dan warisi dari generasi sebelumnya, terlepas dari noda dan penyimpangan di dalamnya. Sering kali banyak dari mereka menolak nasihat ketika kita menyeru mereka kepada nikmat pemahaman yang benar yang kita miliki, karena ia memandang dirinya adalah muslim sebagaimana kita pun muslim. Terkadang terjadi perselisihan dan tantangan antara pengusung dakwah yang benar dengan orang-orang yang mereka seru, terutama jika para aktivis perbaikan (duat at-tashih) tidak menguasai metode dakwah dengan baik. Bisa juga muncul pengelompokan, kepartaian, atau fanatisme golongan, berkibarnya berbagai bendera, sehingga upaya menjadi tercerai-berai atau bahkan saling berbenturan.

Karena itulah, kita mendapati kebutuhan yang sangat mendesak akan sosok Saudara Da'i yang Teladan; yang memiliki hati yang lapang, akhlak yang baik, dan metode yang tepat untuk menaklukkan hati dan menumbuhkan kepercayaan antara dirinya dengan orang yang diserunya. Ia harus mahir dalam merangkul orang-orang yang salah untuk memperbaiki pemahaman, persepsi, dan perilaku mereka tanpa menimbulkan perpecahan atau pertikaian. Namun dilakukan dengan kelembutan, hikmah, nasihat yang baik, dan keteladanan praktis yang mampu merebut rasa hormat serta mendorong orang untuk terpengaruh, meniru, dan menyambut apa yang diserukannya.

Ketika kita menyeru sesama muslim untuk memperbaiki pemahaman Islam mereka, mereka harus merasa bahwa mereka adalah bagian dari kita dan kita adalah bagian dari mereka. Kita tidak boleh menganggap diri kita sebagai komunitas muslim yang terpisah dari kaum muslimin lainnya, karena hal itu akan mengisolasi kita dari mereka, sehingga kita akan terkurung dan akhirnya mati. Kewajiban kita adalah menjadi lebih mengasihi mereka daripada diri mereka sendiri, karena mereka adalah ladang dakwah tempat kita menabur benih dakwah kita.

Ada perbedaan jelas dalam sikap ketika saya menyeru orang kafir ke Islam dengan ketika saya menyeru seorang muslim untuk memperbaiki Islamnya. Orang kafir tidak memiliki hak atas saya kecuali hak dakwah dan penyampaian (balagh). Adapun seorang muslim, ia memiliki hak persaudaraan (ukhuwah) atas saya betapapun menyimpangnya dia. Di antara hak persaudaraan adalah berprasangka baik kepadanya dan tidak melabelinya dengan kekafiran atau kemunafikan. Sesungguhnya perlakuan kita terhadap sesama muslim dengan akhlak persaudaraan Islam lebih kuat pengaruhnya dalam menarik mereka ke dakwah kita dibandingkan sarana lainnya. Selain itu, ketika kita menyeru kaum muslimin untuk memperbaiki keislaman mereka, kita juga bertujuan untuk mewujudkan kepercayaan mereka pada Islam sebagai manhaj kehidupan dan kepercayaan mereka pada Gerakan (Harakah) bahwa ia mampu dengan izin Allah memimpin umat Islam. Mengembalikan kepercayaan kepada Islam dan Gerakan tidak mungkin terjadi kecuali melalui interaksi persaudaraan dengan orang-orang.

Tentang Perubahan yang Dibutuhkan

Hal terpenting yang perlu diperbaiki dalam kehidupan muslim hari ini adalah persepsi mereka terhadap kehidupan dunia, misi mereka di dalamnya, dan apa yang seharusnya mendominasi perhatian mereka. Kita merasakan dominasi aspek material atas aspek spiritual. Kita melihat bahwa dunia telah menjadi ambisi terbesar bagi banyak dari mereka dan batas tertinggi dari ilmu mereka. Akibatnya, mereka mencurahkan tenaga, waktu, dan ijtihad mereka untuk memenuhi tuntutan hidup jasmani serta bagaimana cara mendapatkan dan menikmatinya. Adapun urusan agama dan apa yang dituntut dari umat Islam berupa kewajiban, tugas, akhlak, kerja, dan jihad, tidak menyibukkan pikiran banyak dari mereka. Mereka menganggapnya sebagai perkara sekunder yang hanya diberi sisa waktu, sisa harta, dan sisa tenaga—itu pun jika masih ada sisa, jika tidak ada, maka tidak diberi apa-apa.

Kita ingin mengembalikan kaum muslimin kepada persepsi Islam yang benar tentang hakikat kehidupan duniawi kita dan misi yang untuknya Allah menciptakan kita. Kita ingin kaum muslimin mengalihkan perhatian terbesar mereka kepada akhirat mereka, dan menundukkan dunia mereka serta segala yang mereka miliki berupa kesehatan, harta, dan waktu untuk kehidupan abadi mereka di akhirat. Kita ingin kaum muslimin merasakan keagungan Islam mereka, bahwa ia adalah agama yang benar yang diterima di sisi Allah, dan bahwa dengan berafiliasi kepadanya, mereka adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, guru bagi kemanusiaan dengan agama ini, serta pemilik kemuliaan dan kepemimpinan di dunia serta keberuntungan dan kenikmatan di akhirat jika mereka benar-benar muslim.

Kita juga ingin mereka setelah itu merasakan apa yang dituntut oleh tabiat fase usia dakwah Islam yang baru ini, bahwa setiap individu muslim harus menjadi elemen yang efektif di posisinya dan sesuai spesialisasinya dalam mendirikan bangunan raksasa ini. Dan hendaknya umat Islam memahami bahwa mereka semua berdosa jika tidak bekerja untuk menegakkan Negara Islam.

Oleh karena itu, menjadi keharusan untuk memunculkan Keteladanan yang Baik di setiap bidang kehidupan dan untuk setiap kategori komponen masyarakat kita. Harus ada Mahasiswa Muslim yang Teladan agar menjadi contoh bagi rekan-rekan mahasiswanya. Harus ada Guru Muslim yang Teladan, Dokter Muslim yang Teladan, Insinyur Muslim yang Teladan, Hakim Muslim yang Teladan, Pekerja Muslim yang Teladan, Putra atau Putri Muslim yang Teladan, Ibu Muslimah yang Teladan, dan seterusnya. Menjadi keharusan untuk menetapkan ciri-ciri utama keteladanan Islam di semua bidang dan kategori ini. Inilah yang akan coba kami sampaikan dalam risalah ini, dengan harapan besar akan manfaat darinya, insya Allah.

Karena amal Islami bertujuan membangun individu muslim yang efektif, ia juga bertujuan mendirikan Rumah Tangga Muslim sebagai pilar dalam fondasi bangunan. Maka, perlu juga bagi kita untuk membahas tentang Rumah Tangga Muslim yang Teladan agar dapat dicontoh. Demikian pula Masyarakat Muslim yang Teladan sebagai basis kokoh tempat berdirinya pemerintahan Islam.

Mungkin untuk menyempurnakan perkara ini, kita juga perlu memaparkan beberapa institusi dalam masyarakat yang sekaligus menjadi sarana kerja pembangunan, agar keteladanan terpancar di dalamnya. Kita akan memaparkan tentang Sekolah Islam yang Teladan, Rumah Sakit Islam yang Teladan, Lembaga Ekonomi Islam yang Teladan, Bank Islam yang Teladan, Klub Olahraga Islam yang Teladan, Surat Kabar Islam yang Teladan, dan seterusnya, untuk menonjolkan penerapan Islam yang benar di semua bidang ini agar dapat menjalankan peran efektifnya dalam membangun negara. Dan karena amal Islami yang serius harus dilakukan melalui jamaah dan tidak bisa bersifat individual, maka perlu juga bagi kita untuk memaparkan tentang Jamaah Islamiyah yang Teladan untuk dicontoh, demi menyatukan upaya menuju arah yang benar.


Keteladanan di Jalan Dakwah dan Isu Iman

Iman adalah faktor terpenting untuk melakukan perubahan di dalam masyarakat, demikian juga dalam mewujudkan keteladanan di jalan dakwah. Iman, pada hakikatnya, adalah sebuah isu sentral. Ia adalah hal terpenting, bahkan segalanya bagi manusia; tanpanya manusia bukanlah apa-apa. Kehidupan manusia yang sesungguhnya adalah kehidupan hatinya dengan iman, bukan kehidupan jasad yang di dalamnya kita serupa dengan hewan.

Iman, ketika telah memakmurkan hati, akan mengubah pemiliknya secara radikal, menyeluruh, dan sempurna. Ia memperbaiki persepsi, standar, dan timbangan-timbangan nilai agar semuanya menjadi bersifat rabbani (ketuhanan) dan sesuai dengan agama Allah. Iman yang jujur akan meledakkan di dalam jiwa pemiliknya segala makna kebaikan, kesabaran, daya tahan, pengorbanan, jihad, dan cinta kepada kesyahidan. Iman mendorong pemiliknya untuk melepaskan setiap akhlak atau pemahaman yang menyalahi Islam, serta menghiasi diri dengan setiap akhlak dan adab Islami yang tinggi.

Lihatlah bagaimana iman memindahkan kaum muslimin pertama dari masa Jahiliyah dan menjadikan mereka teladan-teladan yang luar biasa dalam kekuatan kepribadian, dalam jihad, dalam mendahulukan apa yang ada di sisi Allah, serta dalam cinta, persaudaraan, dan sifat itsar (mendahulukan kepentingan orang lain). Demikianlah kita melihat bagaimana iman mengangkat derajat kaum Muhajirin dari berbagai penjuru bumi, membuat mereka meninggalkan rumah dan harta benda demi mengutamakan apa yang ada di sisi Allah. Lihat pula bagaimana iman menjadikan kaum Anshar mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka dan mendahulukan kaum Muhajirin atas diri mereka sendiri.

Lihatlah perubahan yang dihasilkan oleh iman ini: keluar dari segala kesenangan dunia dan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah, lalu terciptanya suasana cinta dan kedermawanan jiwa, serta hati yang mengharapkan kebaikan bagi orang lain, bersih dari rasa dendam dan dengki. Hal ini terjadi setelah sebelumnya di antara mereka diliputi kebencian, permusuhan, peperangan, dan pembunuhan, serta setelah mereka sebelumnya cenderung kepada kesenangan duniawi, tuntutan jasad, dan pemenuhan syahwat nafsu.

Iman bukanlah sekadar pengakuan dengan lisan, melainkan keyakinan dalam hati dan pembuktian dengan amal saleh. Oleh karena itu, kita dapati lafaz "iman" dan "amal saleh" sering disebutkan beriringan dalam banyak ayat Al-Qur'an. Keteladanan yang baik di jalan dakwah sebagaimana yang kita dambakan, mutlak memerlukan ketersediaan iman yang jujur dan kuat. Bahkan keteladanan itu bertambah kuat dengan adanya golongan pilihan dari orang-orang mukmin yang Allah sifati sebagai laki-laki yang jujur dalam keimanan mereka, jujur dalam komitmen pada ajaran Islam, jujur dalam janji mereka kepada Tuhan mereka, serta teguh di atas kebenaran tanpa mengganti atau mengubahnya, sehingga Allah pun memuji mereka.

Kemudian, kita di jalan dakwah ini mengharapkan keteguhan, kemenangan, dan pengokohan (tamkin) bagi agama Allah. Allah telah menjanjikan hal-hal ini kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Oleh karena itu, iman juga merupakan hal yang paling mendesak untuk mewujudkan janji Allah kepada kita berupa keteguhan, kemenangan, dan pengokohan tersebut.

Iman adalah fondasi dalam membangun individu, rumah tangga, dan masyarakat. Ialah yang mendorong kepada setiap kebaikan dan merupakan jalan untuk mewujudkan setiap kebaikan. Maka, marilah menuju iman yang jujur dan amal saleh agar kita meraih kemenangan, pengokohan, dan kepemimpinan di dunia, serta kenikmatan dan keridaan di akhirat. Kami menutup pembicaraan tentang iman ini dengan kutipan dari Imam Syahid yang ditujukan kepada para pemuda:

"Perbaruilah, wahai para pemuda, iman kalian, dan tentukanlah tujuan serta sasaran kalian. Awal dari kekuatan adalah iman, hasil dari iman ini adalah persatuan, dan konsekuensi dari persatuan adalah kemenangan yang kuat dan nyata. Maka berimanlah, bersaudaralah, beramallah, dan nantikanlah setelah itu kemenangan... dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman."

Rasulullah Adalah Teladan Kita

Adalah hal yang alami dan logis jika Rasulullah SAW menjadi teladan kita di jalan dakwah. Dakwah kita adalah Islam dan tidak ada yang lain selain Islam, dan beliau adalah utusan Allah dengan membawa Islam ini; agama hak yang diridai Allah bagi hamba-hamba-Nya, dan kita telah merasa terhormat dengan menisbatkan diri kepada beliau. Kemudian, Rasulullah SAW pulalah yang melakukan penerapan pertama terhadap agama ini dalam segala aspek dan tuntutannya, dan hal itu berada di bawah jaminan Allah dan arahan-Nya melalui wahyu. Tidak ada satu pun manusia yang lebih mengetahui atau lebih paham tentang urusan agama ini melebihi Rasulullah SAW. Maka, beliaulah yang paling berhak untuk memimpin dan diikuti oleh siapa saja yang mengharapkan (pertemuan dengan) Allah dan hari akhir, serta bagi setiap orang yang ingin menunaikan kewajibannya terhadap Islam secara benar.

Ketika kita menaati Rasul dan meneladaninya, sesungguhnya kita sedang menaati Allah dan beribadah kepada-Nya melalui ketaatan kita kepada Rasulullah SAW. Segala apa yang beliau bawa atau serukan adalah berdasarkan arahan Allah kepadanya. Makna ini dipertegas secara jelas oleh banyak ayat Al-Qur'an dan hadis Rasulullah SAW, di antaranya:

Dari hadis Nabi yang mulia:

Dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan." Ditanyakan: "Siapa yang enggan wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Barangsiapa menaatiku akan masuk surga, dan barangsiapa mendurhakai aku maka dialah yang enggan." (HR. Bukhari).

Dari Jabir RA ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Perumpamaanku dan perumpamaan kalian adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu mulailah serangga dan laron jatuh ke dalamnya, sementara ia menghalaunya agar menjauh. Aku pun memegang ikat pinggang kalian agar tidak jatuh ke neraka, namun kalian lolos dari tanganku." (HR. Muslim). Hadis ini menjelaskan betapa besar perhatian dan kasih sayang Rasulullah SAW terhadap kaum muslimin.

Kemudian, persaksian kita bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah merupakan dasar keislaman kita dan pintu masuk bagi kita; hal ini mewajibkan kita untuk mengikuti petunjuk Rasulullah SAW sebagaimana ia mewajibkan kita untuk beribadah hanya kepada Allah. Maka, teladan kita di jalan dakwah adalah Rasulullah SAW, karena jalan dakwah kita adalah jalan Rasulullah SAW.

Hal ini diungkapkan oleh Imam Syahid Hasan al-Banna dengan ucapannya:

"Jalan dakwah adalah jalan yang satu, yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya sebelumnya, dan telah ditempuh oleh para dai dan akan kita tempuh dengan taufik dari Allah sesudahnya: iman, amal, cinta, dan persaudaraan. Beliau menyeru mereka kepada iman dan amal, kemudian menyatukan hati mereka di atas cinta dan persaudaraan... maka berkumpullah kekuatan akidah dengan kekuatan persatuan, dan jadilah jamaah mereka sebagai jamaah teladan yang kalimatnya pasti akan tampak dan dakwahnya pasti menang, meskipun seluruh penduduk bumi menentangnya."

Oleh karena itu, syiar dan pekikan Ikhwan yang paling dicintai di hati mereka adalah: "Allah tujuan kami, Rasul pemimpin kami (atau teladan kami), Al-Qur'an undang-undang kami..." Sebab, Al-Qur'an adalah manhaj (kurikulum) yang penjelasan dan penerapannya dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Para sahabat Rasulullah SAW telah memahami makna peneladanan dan menjadikan Rasulullah sebagai uswah. Mereka semua menjadi "telinga dan mata" untuk mengetahui segala apa yang keluar dari beliau SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan (takrir), agar mereka dapat mengikuti dan berkomitmen padanya. Kemudian mereka menghafalnya dan meriwayatkannya kepada generasi setelahnya hingga sampai kepada kita. Allah telah memberikan taufik kepada para imam terkemuka yang bertakwa yang telah mencurahkan upaya luar biasa dalam mengumpulkan warisan berharga dari petunjuk Rasulullah SAW, mengklasifikasikannya, menyusun bab-babnya, serta membersihkannya dari segala hal asing yang menyusup ke dalamnya. Semoga Allah membalas mereka atas jasa mereka terhadap kami, Islam, dan kaum muslimin dengan balasan terbaik.

Kita dapati di dalam sunnah Rasulullah SAW petunjuk beliau dalam segala urusan agama dan dunia. Kita dapati petunjuk beliau dalam ibadah, muamalah, akhlak, adab, saat bepergian maupun menetap, di masjid maupun di rumah, dalam kondisi perang maupun damai, dalam berdakwah di jalan Allah maupun dalam menanggung gangguan, dalam janji dan kontrak, serta banyak lagi hal lainnya yang terdapat dalam kitab-kitab Sirah dan Sunnah. Sebagaimana beliau SAW sangat antusias mengajarkan urusan agama kepada kaum muslimin karena kasih sayang beliau kepada mereka, kaum muslimin pun sangat antusias untuk mengetahui segala apa yang diperintahkan oleh agama mereka. Mereka bertanya kepada Rasulullah SAW dan meminta penjelasan dari beliau tentang apa yang sulit mereka pahami.

Kami berikan satu contoh kepatuhan sahabat terhadap petunjuk Rasulullah sebagai bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah: apa yang diriwayatkan oleh Abis bin Rabi'ah, ia berkata: Aku melihat Umar bin Khattab RA mencium Hajar Aswad seraya berkata: "Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudarat. Kalaulah bukan karena aku melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu." (Muttafaq 'alaih).

Pengaruh Mengikuti Sunnah Terhadap Masyarakat Muslim

Pengikutan kita terhadap sunnah Rasul kita SAW dalam segala urusan hidup menjadikan kita senantiasa hidup dalam kondisi kesadaran internal, kewaspadaan, dan pengendalian diri. Hal ini karena dalam setiap perkara kita berusaha mencari bagaimana petunjuk Rasulullah SAW di dalamnya dan apa doa yang beliau panjatkan dalam setiap urusan atau kesempatan tersebut. Dengan demikian, setiap hal yang kita lakukan tunduk pada pengawasan spiritual kita, dan tidak kita lakukan begitu saja secara serampangan tanpa kesadaran atau pemikiran. Ini adalah perkara yang sangat penting dalam kehidupan dan perilaku setiap individu.

Selain itu, pengikutan kaum muslimin terhadap sunnah Nabi memberikan manfaat sosial yang besar. Perbedaan karakter dan kecenderungan antar individu menjadikan manusia memiliki kebiasaan yang berbeda-beda, dan seiring waktu kebiasaan ini berubah menjadi dorongan yang bisa memicu perselisihan dan konflik. Namun, Islam yang murni membawa individu-individu dalam lingkungan sosial tersebut dengan cara yang terorganisir agar kebiasaan dan tabiat mereka menjadi serupa, betapapun keadaan sosial dan ekonomi mereka bertentangan. Maka, setiap muslim seolah-olah menjadi batu bata yang dicetak dalam cetakan tertentu yang menyatu dan selaras dengan saudara-saudaranya, seakan mereka adalah bangunan yang kokoh, tidak ada kebengkokan dan tidak ada ketidakharmonisan. ("Shibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya daripada Allah?").

Hal ini juga membuat kaum muslimin merasakan keistimewaan mereka serta kemandirian kepribadian dan identitas Islami mereka. Mereka tidak akan lari untuk meniru orang lain baik di Barat maupun di Timur dalam gaya hidup atau kebiasaan mereka.

Mungkin ada orang yang ragu atau berniat buruk bertanya: "Bukankah komitmen kita untuk mengikuti petunjuk Rasulullah SAW dalam segala urusan hidup merupakan pelanggaran terhadap kebebasan individu bagi kepribadian manusia?" Kenyataannya, keberatan ini batil. Kebebasan yang hakiki adalah dalam komitmen kita pada manhaj kehidupan yang telah ditetapkan Allah bagi kita. Dialah yang menciptakan kita dan tahu apa yang terbaik bagi kita, karena Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada kita. Rasulullah SAW telah menerapkannya dan Allah memerintahkan kita untuk meneladaninya. Sesungguhnya menyimpang dari manhaj ini adalah belenggu itu sendiri, karena penyimpangan tersebut pastilah tidak membawa kebaikan bagi manusia; andai itu baik bagi manusia, niscaya manhaj Rabbani telah mencakupnya.

Meneladani Rasulullah SAW akan mengangkat derajat orang yang meneladani ke tingkat iman, takwa, dan akhlak agung yang tinggi, serta mewujudkan model kepribadian Islami secara akidah, ibadah, akhlak, pemikiran, maupun fisik. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW sebagai "rahmat yang dihadiahkan" menjamin setiap muslim dengan segala pemeliharaan dan perhatian dalam setiap kondisinya dan dalam setiap tahapan hidupnya, bahkan sejak sebelum kelahirannya hingga setelah wafatnya. Kami akan jelaskan hal ini secara singkat:

Kita melihat Rasulullah SAW saat pembentukan keluarga muslim berwasiat untuk memilih istri yang salehah dan taat beragama agar tercipta iklim Islami yang baik sebagai tempat tumbuh anak muslim. Kemudian kita dapati bahwa merupakan sunnah untuk memohon perlindungan kepada Allah dari setan saat hendak berhubungan yang mungkin akan menghasilkan keturunan. Sunnah juga memberikan wasiat tentang apa yang dapat melindungi janin saat masih dalam kandungan ibunya. Ketika ia lahir, sunnah mewasiatkan untuk azan di telinga kanannya dan iqamah di telinga kirinya. Sunnah juga mewasiatkan agar memilihkan nama-nama yang baik bagi sang bayi, dan mewasiatkan sang ibu untuk merawat dan menyusuinya. Demikianlah sunnah terus mengikuti tahapan pertumbuhan anak dan gaya perlakuan yang diperlukan di setiap tahap hingga ia tumbuh dewasa dan mencapai usia taklif (beban syariat), hingga setelah itu sampai pada kematian. Setelah wafat pun, ia disalatkan, dikuburkan, makamnya tidak boleh dibongkar, dan ia didoakan agar mendapat rahmat serta ampunan. Dengan demikian, kita dapati sunnah lebih menyayangi kaum muslimin daripada seorang ibu yang sangat pengasih terhadap anak tunggalnya.

Meneladani Berarti Tidak Membuat Bid'ah

Di antara hal penting yang harus diingatkan adalah bahwa peneladanan kita kepada Rasulullah SAW berarti mengikuti (ittiba') dan bukan membuat hal baru dalam agama (ibtida' atau bid'ah). Dengan demikian, petunjuk Rasulullah SAW akan tetap murni, jauh dari segala bentuk distorsi atau penyimpangan hingga Allah mewarisi bumi dan seisinya. Kita telah melihat bagaimana terjadinya distorsi dan perubahan dalam agama di tangan para pendeta dan rahib (umat terdahulu), bahkan mereka menghalalkan dan mengharamkan bagi pengikut mereka apa yang tidak ditetapkan oleh Allah. Dari Aisyah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa membuat hal baru dalam urusan kami (agama) ini yang bukan merupakan bagian darinya, maka ia tertolak." (Muttafaq 'alaih). Dalam riwayat Muslim: "Barangsiapa melakukan suatu amal yang tidak ada perintah kami di atasnya, maka ia tertolak."

Peneladanan yang Terintegrasi (Komprehensif)

Setiap muslim harus antusias untuk meneladani Rasulullah SAW secara terintegrasi dan tidak sepotong-sepotong. Tidak diperbolehkan meneladani beliau dalam sebagian aspek namun menyalahi beliau di aspek lainnya. Para pekerja di ladang dakwah Islam dan mereka yang tampil di depan untuk berdakwah di jalan Allah serta bekerja untuk pengokohan agama Allah haruslah lebih antusias terhadap integritas dalam peneladanan ini. Sebab, mereka dianggap sebagai teladan bagi orang-orang yang mereka seru.

Mereka harus mengenali petunjuk Rasulullah SAW dan sunnah beliau dalam segala aspek kehidupan: dalam hubungan beliau dengan Tuhannya, dalam salat dan tahajudnya, dalam zikir, rasa takut, dan pengawasan (muraqabah) beliau kepada Allah. Dalam semangat beliau menyeru manusia kepada Allah dan ketabahan beliau menanggung gangguan di jalan tersebut. Dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan yang baik dengan istri-istri beliau. Dalam keteguhan beliau memegang ajaran agama dan tidak mempermudah diri (tarakkhus) dalam hal tersebut. Dalam anjuran beliau untuk bersaudara dan saling mencintai di antara sesama muslim serta kelembutan sikap beliau. Dalam pemaafan beliau, kemampuan menahan amarah, dan tidak marah karena kepentingan diri sendiri. Dalam musyawarah beliau dengan kaum muslimin, dalam tekad dan tawakal beliau kepada Allah, serta dalam jihad, keberanian, dan kegigihan beliau dalam peperangan, dan lain sebagainya.

Kami tidak bermaksud merangkum seluruh sirah, sifat, dan akhlak beliau SAW yang harus kita teladani di sini. Namun, kami berpesan kepada setiap muslim dan setiap aktivis dakwah agar mempelajari dengan penuh perhatian sirah Rasulullah SAW dan sunnah beliau dengan maksud untuk meneladani (al-iqtida'), bukan sekadar untuk wawasan dan pengetahuan belaka.


Jamaah Islamiyah yang Teladan

Telah kami jelaskan sebelumnya bahwa tabiat fase yang kita jalani hari ini dalam usia dakwah Islam mewajibkan setiap muslim dan muslimah untuk bekerja demi tegaknya Negara Islam, yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah, sebagai bentuk pengokohan (tamkin) bagi agama Allah di muka bumi. Kami juga telah menyebutkan bahwa kewajiban ini tidak mungkin terwujud melalui upaya-upaya individu yang terpecah-pecah, melainkan harus melalui kerja kolektif yang terorganisir bagi upaya-upaya tersebut. Maka, berjamaah hukumnya adalah wajib, karena suatu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu menjadi wajib.

Oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi kami saat menulis tentang "Keteladanan di Jalan Dakwah" untuk menulis tentang "Jamaah Islamiyah", mengingat Jamaah Islamiyah adalah wadah yang tepat di mana para aktivis berhimpun untuk mewujudkan tujuan yang agung ini. Kami akan mencoba menyebutkan beberapa sifat atau ciri yang harus tersedia pada Jamaah Islamiyah yang Teladan, agar menjadi pedoman bagi pemuda yang merasa bingung saat memilih jamaah tempat ia bekerja untuk menunaikan kewajiban terhadap Islamnya. Karena tujuan kami adalah menyatukan kalimat kaum muslimin, maka kami berharap dengan menjelaskan sifat-sifat Jamaah Muslimah Teladan ini, jamaah-jamaah yang ada di medan dakwah dapat berkomitmen padanya, sehingga membantu mendekatkan mereka dan menyatukan upaya mereka dengan pertolongan Allah Ta'ala.

Di antara perkara-perkara mendasar yang harus tersedia pada Jamaah Islamiyah yang Teladan adalah:

  1. Tujuannya Harus Rabbani: Tujuan berdirinya haruslah murni karena Allah dan mengharap keridaan-Nya, jauh dari segala tujuan duniawi seperti keinginan untuk populer, meraih jabatan, atau haus pujian (hubbuz zhuhur). Ia juga harus jauh dari dorongan-dorongan jahiliyah seperti fanatisme kesukuan, kedaerahan, atau semacamnya. Sesungguhnya perkara-perkara tersebut dapat menghapuskan amal, dan kesudahan dari jamaah semacam itu adalah kepunahan atau kegagalan.
  2. Independensi: Jika telah bersih dari noda-noda di atas, maka jamaah tersebut harus melindungi dirinya agar tidak tunduk pada hegemoni pihak lain, baik itu pemerintah, tokoh-tokoh tertentu, maupun para pembesar. Tujuannya agar cahayanya yang murni tidak ternodai oleh warna lain, agar ia dapat menunaikan risalahnya di jalan yang benar, dan agar tidak ada pihak mana pun yang mencoba memanfaatkan atau mengarahkannya kepada selain tujuan yang telah ditetapkan.
  3. Tujuan yang Komprehensif: Tujuan utama berdirinya adalah tujuan menyeluruh dan pemersatu, yaitu pengokohan (tamkin) agama Allah di muka bumi dengan menegakkan Negara Islam internasional. Dalam manhajnya, harus mencakup seluruh langkah dan persiapan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Tidak benar jika jamaah membatasi dirinya hanya pada bagian-bagian kecil dari urusan agama dan melarang anggotanya untuk melampaui batasan sempit tersebut.
  4. Pemahaman Islam yang Syamil (Universal): Di antara perkara yang paling mendesak bagi Jamaah Islamiyah Teladan adalah memiliki pemahaman tentang Islam yang syamil (menyeluruh) dan benar, jauh dari pemotongan (parsial) atau kesalahan, serta murni dari segala noda, bid’ah, dan takhayul. Pemahamannya harus sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya SAW, serta menjauhi perselisihan yang telah mencabik-cabik kaum muslimin menjadi sekte-sekte dan kelompok-kelompok.
  5. Bersifat Global (Alamiyah): Harus bersifat global, bukan bersifat kedaerahan (regional) maupun rasis (rasial), karena dakwah Islam ditujukan kepada seluruh manusia, dan kaum muslimin seluruhnya adalah umat yang satu. Terlebih lagi, tujuannya bersifat global yaitu menegakkan Negara Islam internasional, bukan sekadar mendirikan pemerintahan Islam di suatu wilayah tertentu yang terisolasi dari wilayah dunia Islam lainnya. Setidaknya, jamaah Islam lokal harus memiliki tujuan global yang sama dan berkoordinasi dengan pergerakan Islam internasional untuk mewujudkan tujuan tersebut.
  6. Mengikuti Manhaj Kenabian: Jamaah Islamiyah Teladan harus menempuh jalan Rasulullah SAW yang beliau lalui saat mendirikan Negara Islam pertama, yang direpresentasikan dalam:
    • Menanamkan akidah tauhid dan memperkuat iman di dalam hati.
    • Memperhatikan kekuatan ukhuwah (persaudaraan) dan persatuan di antara kaum muslimin.
    • Memperhatikan kekuatan fisik dan senjata (persiapan jihad) setelah adanya kekuatan akidah dan persatuan, guna menolak agresi kaum musyrik dan kafir.
    • Jamaah Teladan harus memperhatikan pendidikan anggotanya secara akidah, akhlak, wawasan (tsaqafah), dan fisik agar mereka menjadi pilar-pilar kuat tempat bangunan itu berdiri. Ia juga harus menyucikan semangat cinta dan persaudaraan di antara mereka sehingga terbentuk basis yang solid dan kohesif, kemudian menyiapkan mereka untuk jihad sebagai kewajiban yang terus berlaku.
    • Penting untuk diingatkan bahwa penggunaan kekuatan fisik dan senjata sebelum terwujudnya kekuatan akidah dan persatuan akan membuat jamaah rentan terpecah dan punah. Kita semua tahu bahwa Rasulullah SAW tidak diizinkan untuk membalas agresi kaum musyrik kecuali setelah kondisi memungkinkan untuk itu.
  7. Mengutamakan Amal Nyata: Jamaah Islamiyah Teladan harus mengutamakan sisi amal nyata daripada sekadar propaganda (propaganda) dan penampilan luar. Ia harus membiasakan anggotanya untuk bekerja dan berproduksi dengan tekun dan diam, jauh dari perdebatan dan banyaknya diskusi. Sering kali perdebatan menyebabkan perselisihan atau terhambatnya kerja dan produksi di ladang dakwah. Selain itu, cinta pada publisitas dan penampilan dapat mengotori keikhlasan dan menghapuskan pahala.
  8. Memiliki Rencana yang Matang dan Realistis: Harus bekerja berdasarkan rencana kerja yang lengkap, bertahap, dan realistis. Kerjanya tidak boleh bersifat spontanitas, sekadar reaksi, atau berupa lompatan-lompatan yang tidak terencana dan tidak terjamin konsekuensinya. Jalan terbaik menuju tujuan adalah menyiapkan individu muslim sebagai batu bata dasar dalam bangunan; dialah yang akan mendirikan Rumah Tangga Muslim Teladan yang dibangun di atas takwa sebagai penyangga dalam membangun Masyarakat Muslim yang sehat, yang menjadi basis solid bagi berdirinya pemerintahan Islam yang stabil. Hal ini harus dilakukan di level bangsa-bangsa Islam sebagai persiapan bagi berdirinya Negara Islam internasional.
  9. Mencakup Segala Aspek Kehidupan: Perhatiannya harus mencakup seluruh bidang kerja yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Ia memperhatikan aspek spiritual, pendidikan (tarbawi), wawasan, dan olahraga fisik. Ia memperhatikan aspek sosial dengan mewujudkan integrasi sosial dan memudahkan pernikahan bagi pemuda. Memperhatikan aspek ekonomi dengan mendirikan lembaga-lembaga ekonomi. Memperhatikan aspek politik dengan menyuarakan Islam di bidang politik dan perwakilan, jauh dari gaya partai-partai (sekuler) dan pertengkarannya. Memperhatikan aspek media (cetak, audio, visual), serta mendirikan rumah penerbitan dan menyajikan setiap hal baru yang bermanfaat untuk membantu penyebaran dakwah serta membantah syubhat dan kebatilan.
  10. Tawadhu’ (Rendah Hati) terhadap Jamaah Lain: Jamaah Islamiyah Teladan tidak boleh merasa lebih tinggi dari jamaah Islam lainnya. Ia tidak boleh menganggap dirinya sebagai satu-satunya "Jamaah Kaum Muslimin", atau merasa hanya dirinya yang di atas kebenaran sementara yang lain di atas kebatilan. Namun, ia harus berusaha keras mewujudkan semangat persatuan dan kerja sama dengan jamaah lainnya. Ia harus menjauhi tindakan mencela lembaga atau individu; jika ia mendapat perlakuan buruk dari individu atau jamaah lain, ia harus bersabar dan membalasnya dengan cara yang lebih baik. Harapan kami adalah datangnya hari di mana nama-nama, gelar-gelar, dan perbedaan formalitas di antara jamaah Islam hilang, dan digantikan oleh kesatuan amal yang menghimpun barisan "Batalion Muhammad", di mana semua menjadi saudara yang saling mencintai, bekerja untuk agama, dan berjihad di jalan Allah.
  11. Menyatu dengan Umat: Kewajiban Jamaah Islamiyah Teladan adalah menyatu dengan massa kaum muslimin, hidup dengan isu-isu mereka, serta berbagi kepedihan dan harapan dengan mereka. Umat adalah ladang dakwah dan basis yang harus disiapkan agar pemerintahan Islam dapat berdiri dengan stabil atas izin Allah. Musuh-musuh Islam dan kaki tangan mereka selalu berusaha membangun tembok imajiner antara jamaah Islam dan rakyat muslim dengan menyematkan tuduhan palsu kepada gerakan Islam. Penyatuan jamaah Islam dengan rakyat akan membatalkan tuduhan tersebut dan menunjukkan kepalsuannya.
  12. Memiliki Sistem dan Organisasi: Harus memiliki anggaran dasar dan peraturan yang mengatur kerjanya, menentukan tujuan dan sarana, menetapkan metode dan bidang kerja, mengontrol anggotanya, serta mengatur perilaku mereka. Ia juga harus melindungi barisannya dari kelalaian dan dari penyusupan elemen-elemen mencurigakan. Ia juga harus mengevaluasi kinerjanya dari waktu ke waktu untuk mengambil manfaat dari sisi positif dan menghindari sisi negatif.
  13. Menerapkan Syura (Musyawarah): Harus mewujudkan syura dalam lembaga-lembaganya di semua level, mendorong anggotanya untuk berinisiatif, memberikan pendapat, saran, dan nasihat kepada pengurus, serta memberikan kritik yang membangun. Hal ini dibarengi dengan pengokohan makna ketaatan (selama bukan dalam maksiat) dan komitmen terhadap pendapat akhir yang diputuskan. Anggota harus dididik untuk bersikap proaktif dan memiliki kepribadian yang kuat.
  14. Bersikap Moderat (Wasathiyah): Harus menempuh jalan moderat, menjauhi sikap ekstrem (ghuluw) maupun melalaikan (tafrith), baik dalam pemikiran (seperti pemikiran pengkafiran/takfiri) maupun dalam pergerakan (seperti aksi-aksi prematur yang ceroboh). Ia juga harus menjauhi sikap meremehkan dalam urusan akidah, ibadah, atau kewajiban secara umum, serta tidak ekstrem atau keras dalam membebankan tugas yang memberatkan orang banyak.
  15. Peduli terhadap Isu Islam Internasional: Harus mengikuti perkembangan isu-isu Islam di medan internasional dan berkontribusi di dalamnya semampunya. Ia mengajak seluruh muslim untuk berkontribusi guna menyucikan semangat persatuan dan rasa tanggung jawab umum atas setiap jengkal tanah Islam dan membebaskannya dari tangan perampas, terutama Masjidil Aqsha, serta bertanggung jawab atas setiap nyawa muslim yang melayang di tangan musuh di belahan dunia mana pun.
  16. Waspada terhadap Tipu Daya Musuh: Harus waspada terhadap makar atau jebakan yang dirancang musuh. Ia harus menyiapkan anggotanya untuk menanggung kesulitan di jalan dakwah, karena jalan ini tidak bertabur bunga, melainkan penuh duri, rintangan, upaya keras, jihad, keringat, dan darah. Jalan ini membutuhkan kesabaran, keteguhan hati, dan mengharap pahala (ikhtisab), dengan kesadaran bahwa ujian adalah sunnah (ketetapan) dalam dakwah, dan kemenangan pada akhirnya milik ahli kebenaran betapapun kebatilan tampak jumawa dan sombong untuk sementara waktu.
  17. Menanamkan Harapan dan Pahala: Jamaah harus menjelaskan kepada anggotanya betapa besarnya kebaikan yang akan mereka berikan kepada kaum muslimin, kemanusiaan, dan generasi berikutnya dengan tegaknya Negara Islam dan pengokohan agama hak ini. Juga betapa besarnya pahala dari Allah. Tidak diragukan lagi bahwa makna-makna ini akan mendorong individu untuk tabah, teguh, dan terus melanjutkan perjalanan.
  18. Mempersiapkan Kader Masa Depan: Harus memikirkan tahapan kerja mendatang dan menyiapkan anggotanya untuk tugas dan tanggung jawab yang menanti, baik di bidang dakwah dan pendidikan, bidang jihad fi sabilillah, maupun di bidang pemerintahan. Penting sekali menyiapkan kompetensi spesialis di setiap bidang atau sektor kenegaraan.
  19. Terbuka terhadap Hikmah: Harus mengambil manfaat dari setiap produk pemikiran atau pengalaman di kancah dunia selama tidak bertentangan dengan Islam dan ajarannya. Hikmah adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, maka ia paling berhak memilikinya.
  20. Bertawakal kepada Allah: Terakhir, Jamaah Islamiyah Teladan harus menyadarkan anggotanya bahwa mereka adalah instrumen bagi takdir Allah. Segala urusan terjadi dengan kehendak dan kekuasaan-Nya. Tugas mereka adalah mengambil sebab-sebab dan sarana yang disyariatkan, sedangkan hasil ada di tangan Allah. Mereka tidak akan diharamkan dari pahala orang yang bekerja meskipun hasil tidak terwujud di tangan mereka. Hendaknya mereka tahu bahwa waktu dalam tugas besar kita ini diukur dengan usia dakwah dan bangsa-bangsa, bukan dengan usia individu. Ketika sebab-sebab kemenangan terwujud pada hamba-hamba Allah yang beriman, maka janji Allah adalah benar; janji-Nya kepada orang mukmin untuk diberikan pengokohan (tamkin) pasti akan terwujud dengan izin Allah jika mereka berjalan di atas jalan yang benar, yaitu jalan Rasulullah SAW. Maka, marilah bekerja dan menuju kemenangan, insya Allah.

Keluarga Muslim yang Teladan

Kedudukan Keluarga dalam Islam:

Keluarga muslim atau rumah tangga muslim dianggap sebagai salah satu institusi terpenting dalam kehidupan umat Islam secara umum, dan dalam manhaj (metode) amal Islami secara khusus. Hal ini disebabkan oleh besarnya peran yang diemban oleh keluarga dalam mendidik generasi dan mencetak tokoh-tokoh yang akan menjadi bekal masa depan, pilar pembangunan, serta perisai tanah air. Masyarakat dalam negara mana pun merupakan kumpulan dari keluarga-keluarga; sejauh mana kesehatan dan keaslian sebuah keluarga, sejauh itu pula kesehatan dan keaslian masyarakatnya, yang pada gilirannya akan menentukan kekuatan, kekokohan, dan keselamatan struktur negaranya. Namun, jika keluarga runtuh, maka masyarakat dan negara akan ikut runtuh bersamanya.

Ukuran kesehatan dan keaslian keluarga tidak hanya dilihat dari aspek material duniawi semata, seperti kesehatan fisik, standar hunian, makanan, pakaian, serta tingkat sosial dan budaya lainnya. Akan tetapi, faktor kekuatan dan keaslian dalam keluarga muslim pertama-tama tercermin dalam komitmen anggota keluarga terhadap Islam secara akidah, ibadah, akhlak, adab, dan muamalah, sehingga Islam mendominasi suasana keluarga sepenuhnya. Kita dapat melihat Islam secara nyata dalam setiap aspek kehidupan keluarga dan rumah tangga; pada setiap perkara kecil maupun besar, dalam penampilan maupun batin, dalam apa yang diminum, pada perabot dan pakaian, dalam suasana suka maupun duka, dalam adat istiadat dan tradisi, dalam hubungan antaranggota keluarga satu sama lain, serta dalam mengikuti petunjuk Rasulullah SAW pada aktivitas siang dan malam serta doa-doa ma'tsur (yang diajarkan) dalam segala kondisi tersebut.

Anda akan melihat Islam dalam setiap perkara kecil dan besar dalam hidup mereka: pada jadwal tidur dan bangun, dalam memperlakukan pelayan, dalam hubungan dengan tetangga, dan dalam batasan hubungan dengan mahram serta kerabat lainnya, dan urusan lainnya. Kita melihat sang ayah sebagai kepala keluarga menunaikan kewajibannya terhadap istri dan anak-anaknya serta menjadi pemimpin yang sebaik-baiknya. Begitu pula sang ibu menunaikan kewajibannya terhadap suami dan anak-anaknya. Demikian juga anak-anak menunaikan kewajiban terhadap ayah dan ibu mereka sesuai dengan apa yang didiktekan oleh Islam berupa bakti (birrul walidain), ihsan, dan ketaatan selama bukan dalam kemaksiatan. Dengan demikian, iklim Islami menyelimuti suasana rumah tangga muslim yang teladan, sehingga keturunan tumbuh menjadi anak yang saleh, benar-benar menjadi penyejuk mata bagi orang tua, dan menjadi simpanan berharga bagi umat.

Sebaliknya, suasana keluarga muslim yang teladan bersih dari hiburan yang melalaikan, perkataan sia-sia, perbuatan dosa, adat jahiliyah, serta hal-hal yang diharamkan dalam makanan, minuman, pakaian, maupun barang koleksi. Ia juga bersih dari sikap berlebih-lebihan (israf), kemewahan yang melampaui batas (taraf), dan segala hal yang dilarang oleh Islam.

Kedudukan Rumah Tangga Muslim dalam Manhaj Amal Islami:

Kita melihat Imam Al-Banna, ketika menetapkan tujuan agung yang kita dambakan—yaitu pengokohan agama Allah dengan mendirikan Negara Islam Internasional yang dipimpin oleh Khilafah Islamiyah—beliau juga menetapkan sarana dan tahapan pembangunannya, yang meliputi: Individu Muslim, Keluarga Muslim, Masyarakat Muslim, Pemerintah Islam, lalu Negara Islam, Khilafah, dan kepemimpinan dunia (ustadziyatul 'alam).

Individu-individu muslim dan keluarga-keluarga muslim dalam masyarakat muslim berfungsi sebagai basis solid tempat berdirinya pemerintahan Islam yang stabil dan kuat, agar hal ini terwujud di tingkat bangsa-bangsa Islam. Individu muslim yang teladanlah yang mendirikan keluarga muslim yang teladan, dan keluarga muslim yang teladan pulalah yang melahirkan individu-individu muslim yang teladan. Dengan demikian, pewarisan keaslian Islam kepada generasi-generasi berikutnya terjadi dengan kuat. Jika terjadi kelalaian dalam pewarisan ini, maka keluarga dan individu akan mengalami penurunan standar dan keruntuhan, terutama karena para penyeru keburukan dan kerusakan tidak henti-hentinya mengerahkan tenaga untuk menyerbu individu dan rumah tangga kita dengan segala jenis kerusakan dan keburukan mereka.

Dasar Pembangunan Keluarga Muslim yang Teladan:

Takwa kepada Allah adalah fondasi kokoh tempat berdirinya bangunan keluarga muslim yang teladan. Maka, pemilihan istri oleh sang suami dilakukan sesuai arahan Rasulullah SAW, yaitu berdasarkan ketaatan agamanya (dzatu dien), bukan karena kecantikannya, hartanya, atau keturunannya. Demikian pula persetujuan istri dan keluarganya terhadap suami didasarkan karena ia memiliki akhlak, agama, dan sifat amanah.

Maka, rumah tangga muslim dibangun di atas takwa sejak hari pertama. Ukuran-ukuran Rabbani dan adab-adab Islami menjadi pengarah dan pengatur langkah-langkah pembangunan rumah ini, mulai dari khitbah (lamaran), akad nikah, malam pertama, dan seterusnya. Sudut pandang Islam yang benar terhadap pernikahan dan kehidupan suami istri mendominasi, berbeda dengan pandangan materialistik yang menjadi dasar sebagian pernikahan, di mana ukuran materi menjadi gaya interaksi dalam kehidupan rumah tangga sehingga perselisihan cepat terjadi dan suasana kehidupan suami istri menjadi keruh karena tidak merujuk pada batasan dan ukuran Islam yang menentukan perilaku serta keinginan yang harus ditaati oleh kedua belah pihak.

Hakikat Kebahagiaan Suami Istri

Adalah salah bagi siapa pun yang menyangka bahwa kebahagiaan suami istri terwujud melalui hal-hal material seperti berlimpahnya harta, tersedianya hunian yang indah, perabot mewah, kendaraan yang nyaman, pakaian yang beragam, alat-alat rumah tangga modern, makanan lezat, sarana kemewahan, pemuasan syahwat, dan urusan lainnya. Kami tidak sedang berlebihan atau menjauh dari realitas jika kami katakan: banyak gadis yang dikuasai oleh persepsi salah tentang hakikat kebahagiaan suami istri ini, di mana mimpi-mimpi indah mereka tentang "sangkar" pernikahan hanyalah melalui pandangan material yang sempit ini.

Hakikat yang ingin kami sampaikan kepada para pemuda dan pemudi muslim kita adalah bahwa kebahagiaan suami istri yang sejati tidak akan terwujud di balik hal-hal material yang remeh dan fana ini. Betapa sering kita melihat mereka yang tinggal di istana di tengah dayang-dayang dan pelayan namun tidak merasakan kebahagiaan suami istri yang hakiki. Sebaliknya, kita melihat kebahagiaan suami istri terwujud antara seorang pria dan istrinya yang tinggal di gubuk kecil. Kebahagiaan secara umum berasal dari dalam jiwa, bukan dari luarnya; yaitu dari takwa kepada Allah, di mana Allah melimpahkannya kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Ketika takwa tersedia pada diri suami maupun istri, maka kebahagiaan suami istri yang sejati akan terwujud. Takwa kepada Allah berarti merasa diawasi oleh Allah terlebih dahulu, mengupayakan segala yang diridai-Nya, menjauhi apa yang dimurkai-Nya, serta komitmen masing-masing pada arahan Al-Kitab dan As-Sunnah dalam hidup mereka, kewajiban mereka, dan hak-hak mereka. Tidak diragukan lagi bahwa di dalam hal itu terdapat kebahagiaan dan kebaikan, karena ia merupakan arahan dari Zat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui, serta Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada hamba-Nya. Ia juga merupakan petunjuk dari Rasul yang mulia, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu, yang sangat penyayang kepada orang-orang mukmin, yang merasa berat atas penderitaan mereka, dan sangat menginginkan kebaikan bagi mereka.

Kemudian, dengan adanya takwa pada suami istri, maka kepercayaan (tsiqah) akan terwujud di antara keduanya. Suami tenang bahwa istrinya hanya untuk dirinya, dan istri tenang bahwa suaminya hanya untuk dirinya. Saat itu, tidak ada jalan bagi keraguan, prasangka buruk, kecurigaan, dan hal-hal lain yang memperkeruh kejernihan hidup suami istri serta mengorbankan kebahagiaan dan cinta kasih. Dengan adanya takwa, ketenangan (sakinah) terwujud, serta terciptalah cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah) di antara keduanya.

Seorang muslim yang bertakwa kepada Allah akan memandang pernikahan sebagai ibadah yang dengannya ia mendekatkan diri kepada Allah melalui penunaian kewajibannya secara baik terhadap istri, rumah tangga, dan anak-anaknya. Demikian pula muslimah yang bertakwa kepada Allah menganggap pernikahan sebagai ibadah dan berusaha meraih keridaan Allah dengan menjalankan kewajibannya secara baik terhadap suami, rumah tangga, dan anak-anaknya. Ke dalam rumah tangga semacam inilah sakinah, rahmah, mawaddah, dan kebahagiaan akan turun.

Rekomendasi Umum untuk Keluarga Muslim yang Teladan

Ada beberapa perkara yang sangat erat kaitannya dengan keluarga muslim atau rumah tangga muslim yang teladan, di mana biasanya terjadi pelanggaran yang tidak sesuai dengan sifat keteladanan di jalan dakwah. Kami memandang wajib untuk menarik perhatian terhadap hal-hal tersebut. Sebagian berkaitan dengan bangunan, sebagian dengan perabot, makanan, minuman, pakaian, anggaran, adat istiadat, tetangga, atau teman. Kami paparkan secara sangat ringkas:

Terkait Bangunan:

Kita perhatikan di zaman sekarang ini adanya perlombaan yang aneh dalam membangun rumah dan keinginan untuk menjadikannya sangat mewah. Para ahli berlomba menonjolkan kejeniusan mereka, dan uang berjuta-juta dihabiskan untuk itu. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah sikap berlebih-lebihan (israf) yang dilarang, di saat kita mendapati jutaan umat Islam lainnya terlantar tanpa tempat berteduh, tanpa pakaian, dan tanpa makanan.

Mungkin ada yang berkata: "Apa salahnya? Pemilik harta telah menunaikan hak Allah, mengeluarkan zakatnya, dan memberi infak lebih dari zakat kepada fakir miskin." Kami katakan: harus jelas sejak awal bahwa kehidupan dunia bukanlah negeri kenikmatan abadi atau negeri stabilitas. Kemudian, rumah-rumah megah semacam itu bisa menjadi fitnah bagi pemiliknya; membuat mereka cenderung kepada dunia dan enggan untuk melakukan jihad serta kerja keras di jalan Allah. Selain itu, rumah mewah bisa menimbulkan kebencian dan kedengkian dalam jiwa orang-orang yang kekurangan dan fakir. Kita tidak ingin membangun rumah kita di dunia dengan mengorbankan tempat tinggal yang baik di surga 'Adn. Marilah kita semua ingat rumah-rumah Nabi SAW, padahal beliau adalah manusia yang memiliki kedudukan tertinggi di sisi Allah.

Hal-hal yang kami rekomendasikan bagi keluarga muslim yang teladan terkait bangunan adalah:

Kesederhanaan, moderasi, meminimalkan biaya dan hal-hal pelengkap (aksesoris). Hendaknya rumah tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas melebihi kebutuhan. Hendaknya rumah itu sehat (sanitasi baik) dan memiliki kamar yang cukup untuk mewujudkan pemisahan tempat tidur antar anak-anak serta memisahkan anak perempuan dari anak laki-laki. Perlu diperhatikan agar aurat rumah tidak terlihat dari luar, serta memudahkan pergerakan penghuni rumah terpisah dari tempat penerimaan tamu sejauh mungkin. Alangkah baiknya jika dikhususkan satu tempat untuk salat yang terjaga kebersihan dan kesuciannya, serta adab-adab Islami lainnya yang harus diperhatikan. Bagi mereka yang tidak mampu membangun, cukup dengan menyewa sambil berusaha mewujudkan kriteria tersebut pada rumah sewaan semampunya. Adapun dasarnya, Negara Islam menjamin rumah tinggal bagi orang fakir.

Terkait Perabot Rumah:

Kita juga memperhatikan perlombaan sengit dan sikap saling membanggakan di tengah manusia dalam mengoleksi perabot mewah dan tempat tidur yang sangat empuk. Rumah-rumah dipenuhi dengan segala sarana kemewahan dan gaya hidup glamor. Kaum wanita memiliki peran besar dalam perlombaan ini melalui desakan mereka kepada kaum pria. Sayangnya, banyak pria yang tunduk pada tekanan wanita tersebut.

Selain adanya unsur berlebih-lebihan yang dilarang, jenis perabot seperti ini akan menarik pemiliknya kepada sikap santai, bermalas-malasan, dan tertidur dari ketaatan. Ini adalah fitnah yang memperindah dunia dan kesenangannya dengan mengorbankan akhirat dan kenikmatannya. Hal ini membuat pemiliknya merasa berat untuk berjihad atau menanggung kesulitan dan hidup keras di jalan dakwah. Jika ia ditangkap atau dipenjara dan harus tidur di atas aspal atau tikar sabut, ia bisa mengalami keruntuhan mental akibat perubahan drastis tersebut. Selain itu, perabot mewah akan menjadi beban bagi penghuni rumah karena membutuhkan tenaga kerja dan upaya ekstra untuk menjaga kebersihan dan pengaturannya setiap hari.

Yang kami rekomendasikan bagi keluarga muslim yang teladan terkait perabot rumah adalah:

Kesederhanaan dan kekokohan, jauh dari sikap berlebih-lebihan dan kemewahan. Hendaknya perabot lebih dekat kepada sifat fungsional daripada kelembutan berlebih yang mendorong banyak tidur sehingga melalaikan ketaatan. Dalam hal itu terdapat penghematan harta dan penghematan tenaga dalam pengaturannya. Bisa dimanfaatkan perabot yang memiliki fungsi ganda, seperti sofa yang bisa berubah menjadi tempat tidur saat dibutuhkan, dan sebagainya. Perlu diperhatikan juga agar perabot rumah bersih dari hal-hal yang diharamkan seperti patung-patung, bejana emas atau perak, dan lain-lain. Sangat bermanfaat dalam hal ini untuk meneladani perabot rumah Nabi SAW, dan bagaimana tikar membekas pada lambung beliau yang mulia, padahal beliau adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah.

Terkait Pakaian:

Kita juga memperhatikan adanya perlombaan yang gila-gilaan dalam membeli pakaian mewah yang sangat banyak, serta mengikuti tren mode terbaru hingga lemari-lemari penyimpanan pakaian di rumah-rumah menjadi sesak karenanya. Hal ini terjadi di saat banyak kaum muslimin dan anak-anak mereka terpapar hawa dingin (telanjang) dan menderita akibat perubahan cuaca. Sebagaimana tempat tidur yang empuk memiliki dampak yang tidak diinginkan bagi muslim yang teladan, demikian pula pakaian mewah memiliki dampak psikologis bagi pemiliknya; menjadikannya cenderung pada kemalasan, kemewahan, dan kelembutan yang bertentangan dengan sifat kelaki-lakian yang siap berjihad dan menanggung kesulitan. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan sutra dan emas bagi kaum laki-laki.

Mengenakan pakaian mewah juga terkadang membawa pada kesombongan (khuyala) dan merasa tinggi di hadapan manusia, serta makna-makna lain yang bertentangan dengan spirit Islam dan adab-adabnya. Bahkan, pakaian mewah bisa melalaikan pemiliknya dan menyibukkannya (mengganggu konsentrasi) di dalam salat. Oleh karena itu, kami merekomendasikan kepada keluarga muslim yang teladan untuk menjauhi sikap berlebih-lebihan dan kemewahan dalam berpakaian. Hendaknya memperhatikan kesederhanaan, kekuatan bahan, serta menjaga kebersihan dan kesuciannya, sembari berhati-hati dari hal yang diharamkan seperti sutra dan emas bagi laki-laki.

Adapun bagi wanita, hendaknya memperhatikan busana muslimah dengan batasan dan kriteria yang telah dikenal saat keluar rumah atau saat berhadapan dengan kerabat yang bukan mahram atau orang asing di dalam rumah. Kami juga merekomendasikan untuk menyedekahkan kelebihan pakaian kepada fakir miskin. Marilah kita ingat bagaimana keadaan pakaian Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Hendaknya ambisi kita adalah mengenakan sundus dan istabraq (jenis sutra surga) di akhirat kelak, karena di sanalah kenikmatan yang kekal.

Terkait Makanan dan Minuman:

Kita memperhatikan pada banyak orang adanya sifat rakus dan berlebih-lebihan dalam makanan dan minuman, serta banyaknya jenis dan jumlah yang dikonsumsi sehingga menghabiskan sebagian besar anggaran rumah tangga. Sering kali, sebagian besar sisa makanan dibuang ke tempat sampah, di saat ribuan bahkan jutaan kaum muslimin mati kelaparan, dan para mujahidin di jalan Allah di Afghanistan dan tempat lainnya membutuhkan apa yang sekadar bisa menyambung hidup mereka. Kita telah dilarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum: ("Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan").

Dari hadis Rasulullah SAW: "Tidak ada wadah yang dipenuhi anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya." (HR. Tirmidzi). Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam makan dan minum mengakibatkan obesitas dan besarnya badan, yang berdampak pada munculnya cacat dan penyakit, serta dominasi syahwat yang mengakibatkan rasa berat, malas, dan lesu dalam menjalankan ketaatan, pergerakan, maupun jihad. Inilah Umar bin Khattab RA berkata: "Waspadalah kalian dari sifat kenyang yang berlebihan dalam makan dan minum, karena hal itu merusak jasad, mewariskan penyakit, dan membuat malas dalam salat. Hendaknya kalian bersikap sederhana (moderat) dalam keduanya, karena itu lebih baik bagi jasad dan menjauhkan dari sikap boros. Sesungguhnya Allah Ta'ala membenci ulama yang gemuk (karena banyak makan), dan seseorang tidak akan binasa sampai ia mendahulukan syahwatnya di atas agamanya."

Termasuk dalam kategori menjungkirbalikkan keadaan adalah ketika bulan Ramadan—bulan puasa dan rasa lapar—berubah menjadi bulan kekenyangan dan saling pamer berbagai jenis makanan, manisan, kacang-kacangan, serta begadang untuk mengobrol dan hal lainnya yang sangat bertentangan dengan tabiat bulan Ramadan. Padahal, seharusnya kaum muslimin pada bulan itu melatih jiwa, menyedikitkan makan dan minum, fokus pada ketaatan, serta menjauhi senda gurau, perkataan sia-sia, dan dosa.

Yang kami rekomendasikan bagi keluarga muslim yang teladan terkait makanan dan minuman adalah mengupayakan yang halal dan baik (thayib), berhati-hati dari yang haram dan syubhat, serta menjauhi sikap berlebih-lebihan maupun kekikiran, dengan tetap memperhatikan kecukupan nutrisi bagi tubuh semampunya. Kita tidak ingin bersenang-senang di dunia dengan syahwat perut dengan mengorbankan kenikmatan surga dan buah-buahannya. Marilah kita ingat makanan Rasulullah SAW dan istri-istri beliau, para Ibu Orang Beriman (Ummahatul Mukminin). Sebagaimana yang diceritakan oleh Aisyah RA, bahwa pernah berlalu pada kami satu bulan sabit, kemudian bulan sabit berikutnya, hingga tiga bulan sabit, namun tidak ada api yang dinyalakan di satu pun rumah Rasulullah (tidak memasak). Banyak sahabat, di antaranya Abu Bakar dan Umar, keluar dari rumah mereka karena rasa lapar. Jangan lupa pula untuk membaca doa saat memulai dan selesai makan agar Allah memberikan berkah di dalamnya dan setan tidak ikut serta.

Terkait Anggaran Keluarga Muslim yang Teladan:

Kita memperhatikan sebagian orang yang dilapangkan rezekinya oleh Allah, mereka meluaskan pintu pengeluaran dengan mengoleksi lebih dari satu mobil, memiliki jumlah pelayan yang tidak sedikit, serta memberikan uang yang banyak kepada anak-anak mereka yang sering kali justru mengakibatkan kerusakan dan penyimpangan anak tersebut. Kita dapati mereka menghabiskan waktu untuk perjalanan wisata ke luar negeri dengan biaya yang sangat besar, di mana mereka mungkin terpapar fitnah, kerusakan, dan dosa selama perjalanan tersebut.

Kita juga melihat keluarga dengan penghasilan terbatas yang tidak mengatur laju pengeluaran agar sesuai dengan sumber daya mereka, sehingga mereka jatuh ke dalam krisis, berutang, bahkan utang tersebut menumpuk. Kita melihat keluarga di mana perselisihan timbul antara suami dan istri karena ketimpangan dalam neraca pengeluaran. Sebagaimana dikatakan sebagian orang, istri dan anak kecil menyangka bahwa pria itu mampu atas segala sesuatu (mahakuasa), sehingga mereka membebani pria tersebut dengan beban yang tidak sanggup dipikul oleh penghasilannya. Hal ini dapat memperlebar perselisihan dan mengakibatkan keretakan keluarga. Oleh karena itu, kami merekomendasikan keluarga muslim yang teladan sebagai berikut:

  • Pertama: Sebelum segala sesuatu, upayakan mencari nafkah yang halal dan baik, serta berhati-hati dari yang haram dan buruk. Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka neraka lebih pantas baginya. Alangkah indahnya wasiat istri muslimah yang salehah kepada suaminya saat berangkat kerja di pagi hari dengan mengatakan: "Bertakwalah kepada Allah dalam urusan kami, janganlah engkau memberi kami makan kecuali dari hasil yang halal."
  • Kedua: Bermusyawarah antara suami dan istri dalam anggaran rumah tangga dan pintu-pintu pengeluaran. Bersepakat agar pengeluaran tidak melebihi pendapatan, bahkan harus ada bagian yang ditabung untuk keadaan darurat. Dengan cara ini, istri merasakan tanggung jawabnya untuk tidak melampaui anggaran dan berhemat dalam belanja.
  • Ketiga: Mencukupkan diri pada hal-hal yang darurat (pokok) dan menjauhi kemewahan semampunya, serta tidak memberikan peluang bagi penyimpangan anak akibat berlebihnya uang di tangan mereka.
  • Keempat: Memperhatikan hak Allah dengan menunaikan zakat tepat waktu, menunaikan ibadah haji jika mampu, serta membiasakan berinfak di jalan Allah untuk menolong fakir miskin. Membiasakan anggota keluarga bersedekah untuk pintu-pintu kebaikan dan jihad, di mana setiap anggota keluarga menyimpan apa yang mereka sanggup untuk disedekahkan di jalan tersebut.

Pengalaman yang Sukses

Saya sampaikan di sini sebuah pengalaman sukses bagi mereka yang berpenghasilan terbatas yang dapat mengatur laju pengeluaran dan membebaskan kepala keluarga dari krisis musiman (seperti awal tahun ajaran sekolah, hari raya, dll). Hal ini juga membebaskannya dari rasa tidak enak akibat kecemburuan antar anak saat ayah membelikan pakaian atau lainnya, karena sebagian anak mungkin menyangka ayahnya mengistimewakan salah satu dari mereka.

Caranya adalah dengan bermusyawarah antara suami dan istri berdasarkan pendapatan yang ada. Ditentukan jumlah yang sesuai untuk pengeluaran rumah tangga (makan, minum, listrik, dll). Jumlah ini disisihkan tersendiri dan bisa dibagi menjadi tiga bagian (masing-masing untuk sepuluh hari) agar pengeluaran teratur sepanjang bulan.

Kemudian, ditentukan untuk setiap anggota keluarga jatah bulanan tertentu sesuai kondisi, umur, dan kebutuhannya dalam batas anggaran. Jumlah ini mencakup kebutuhan pribadinya seperti pakaian, transportasi, dan lain-lain, kecuali hal mendadak seperti sakit atau perjalanan jauh. Setiap anggota mengambil bagiannya setiap bulan. Untuk anak-anak, pengeluaran mereka bisa diatur di bawah pengawasan ibu. Mereka bisa dibantu dengan pinjaman lalu dicicil, sembari didorong untuk menabung. Dengan demikian, mereka terbiasa bertanggung jawab atas diri sendiri dan menyusun prioritas kebutuhan mereka pada berbagai kesempatan tanpa menyibukkan pikiran ayah mereka dengan tuntutan tersebut.

Dengan cara ini, tuntutan tidak menumpuk dalam satu waktu saat uang tidak mencukupi, rasa sensitif atau kecemburuan hilang, dan urusan berjalan teratur. Saat mengatur anggaran, tentukan dana cadangan darurat. Pada libur musim panas, anak laki-laki atau perempuan yang sudah besar dilatih dengan menyerahkan uang belanja bulanan rumah tangga kepada salah satu dari mereka selama sebulan di bawah pengawasan ibu. Ini bertujuan agar mereka berlatih mendistribusikan uang sepanjang bulan dan memilih kebutuhan rumah tangga dengan baik. Hal ini merupakan pembekalan bagi mereka sebelum menikah. Di bawah suasana saling pengertian dan kerja sama ini, keluarga dapat menyesuaikan hidupnya dengan beban seminimal mungkin jika terkena ujian atau saat sumber daya berkurang, hingga Allah memberikan jalan keluar. Sesungguhnya kekayaan adalah kekayaan jiwa, dan sifat qana'ah adalah simpanan yang tidak akan sirna.

Alangkah indahnya hadis Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang melewati malam harinya dalam keadaan aman di tempat tinggalnya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk harinya itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya." Dari Abdullah bin Mihshan, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa di antara kalian yang menyongsong pagi dalam keadaan sehat fisiknya, aman di tempat tinggalnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dianugerahkan kepadanya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Silaturahmi dan Hubungan dengan Kerabat:

Keluarga muslim yang teladan dituntut untuk menjadi teladan dalam segala keutamaan yang diserukan Islam. Islam sangat menekankan silaturahmi dan berbuat baik kepada kerabat. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut berdampak pada penguatan ikatan di dalam masyarakat muslim guna mewujudkan suasana kerja sama, kesetiakawanan, dan kasih sayang antar sesama muslim.

Seandainya setiap muslim dan keluarga muslim mengamalkan ayat yang mulia (tentang kerabat), niscaya akan terwujud masyarakat yang utama, saling mencintai, dan saling menyayangi, sehingga tidak ada satu pun individu yang membutuhkan yang terlupakan atau terabaikan. Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya, diluaskan rezekinya, dan dijauhkan dari kematian yang buruk, maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi." (Muttafaq 'alaih).

Diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad dari Amr bin Ash, dari Nabi SAW bersabda: "Bukanlah penyambung silaturahmi itu orang yang membalas (kebaikan kerabatnya), akan tetapi penyambung silaturahmi adalah orang yang jika diputus tali kekerabatannya, ia justru menyambungnya." Bukhari, Tirmidzi, dan Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Aisyah bahwa Nabi SAW bersabda: "Rahim (tali kekerabatan) itu adalah cabang dari (rahmat) Ar-Rahman. Allah berfirman: Barangsiapa menyambungmu, maka Aku menyambungnya, dan barangsiapa memutusmu, maka Aku memutusnya." Tirmidzi menambahkan di awalnya: "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian."

Maka, suami dalam keluarga muslim yang teladan harus antusias menghormati keluarga istri dan memuliakan mereka, terutama orang tuanya, sehingga mereka merasa seolah-olah ia adalah anak kandung mereka sendiri; di samping baktinya kepada keluarganya sendiri terutama orang tuanya. Istri pun harus antusias menghormati keluarga suami dan memuliakan mereka terutama orang tuanya, sehingga mereka merasa seolah-olah ia adalah anak perempuan mereka sendiri; di samping baktinya kepada keluarganya sendiri terutama orang tuanya.

Kami ingatkan dalam hubungan dan pertemuan dengan kerabat agar tetap memperhatikan adab-adab Islam seperti hijab dan tidak berdua-duaan (khalwat) dengan yang bukan mahram. Kita sering memperhatikan adanya pelanggaran dalam hal ini karena pemahaman yang salah bahwa dengan kerabat tidak ada masalah (bebas). Maka harus dibedakan antara mereka, mana yang mahram dan mana yang bukan.

Hubungan Keluarga Muslim dengan Tetangga:

Islam sangat memperhatikan wasiat tentang tetangga dan berbuat baik kepadanya sebagaimana tercantum dalam ayat Al-Qur'an. Hadis-hadis dalam bab ini sangat banyak, di antaranya:

Dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (Muttafaq 'alaih). Dalam sebuah riwayat digunakan kata liyashmut (hendaknya diam).

Dari Aisyah RA, dari Nabi SAW bersabda: "Jibril senantiasa mewasiatiku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira bahwa ia akan menetapkan ahli waris bagi tetangga tersebut." (Muttafaq 'alaih).

Dari Abu Dzar bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya dan perhatikanlah tetangga-tetanggamu atau bagikanlah kepada tetangga-tetanggamu." (HR. Muslim, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Seputar Kenalan dan Teman:

Keluarga muslim tidak berada dalam keterpencilan dari masyarakat, dan pasti ia memiliki kenalan serta teman. Oleh karena itu, diperlukan kesepahaman antara suami dan istri dalam menentukan lingkaran kenalan dan pertemanan agar dapat memilih mereka dengan baik dan menghindari keterlibatan hubungan dengan orang-orang yang buruk. Selain itu, perlu ditentukan batasan hubungan tersebut agar berada pada kadar yang tepat yang mendatangkan kebaikan dan menghalangi dampak negatif serta kesulitan.

Keluarga muslim yang teladan hendaknya menjadikan tujuan utama dari hubungan-hubungan ini adalah demi mewujudkan kebaikan bagi dakwah Islam; yaitu agar melalui hubungan tersebut terwujud dakwah di jalan Allah, amar ma'ruf nahi munkar, dan saling tolong-menolong dalam kebajikan serta takwa. Mungkin merupakan hal yang tepat untuk mengatur pertemuan-pertemuan guna mendalami agama (tafaqquh fiddin) bagi kaum laki-laki dan pertemuan serupa bagi kaum perempuan, serta menjauhi segala hal yang dilarang Allah dan Rasul-Nya seperti ghibah, namimah (adu domba), dan lainnya. Perhatian juga diberikan kepada anak-anak dengan memberikan pengarahan kepada mereka.

Urusan ini tidak lepas pula dari saling bertukar kado. Maka, keluarga muslim yang teladan hendaknya memilih kado-kado yang bermanfaat bagi sisi dakwah, seperti Mushaf Al-Qur'an, buku-buku Islam yang bermanfaat, kaset atau video Islami, atau hal lainnya yang berguna bagi orang dewasa maupun anak-anak.

Seputar Tamu dan Memuliakannya:

Memuliakan tamu juga termasuk keutamaan yang dianjurkan oleh Islam. Ini adalah keutamaan yang memperkuat ruh persaudaraan, cinta kasih, dan empati di antara sesama muslim. Ketika perkara ini mendominasi masyarakat kita, maka setiap individu di dalamnya akan merasa bahwa ia berada di tengah keluarganya ke mana pun ia pergi dan di mana pun ia singgah. Hal ini berbeda dengan masyarakat materialis di Eropa dan lainnya yang kehilangan keutamaan-keutamaan seperti ini; bahkan bakti kepada orang tua dan berbuat baik kepada keduanya hampir tidak ditemukan karena materi telah mendominasi hubungan. Namun, di dalam masyarakat Islam, kita mendapati Islam menganjurkan kaum muslimin untuk saling membantu dan bekerja sama dalam menjamu tamu-tamu jika jumlah mereka banyak, sebagaimana yang terjadi pada Ahlus Shuffah, dengan tetap memperhatikan agar tidak berlebih-lebihan atau membebani diri secara paksa (takalluf).

Hadis-hadis mengenai memuliakan tamu sangat banyak, dan telah kami sebutkan salah satunya saat membahas hubungan dengan tetangga. Dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: "Sekelompok sahabat Nabi SAW mengunjungi Jabir bin Abdullah, lalu ia menghidangkan roti dan cuka kepada mereka seraya berkata: 'Makanlah, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sebaik-baik lauk adalah cuka.' Sesungguhnya merupakan kehancuran bagi seseorang jika saudara-saudaranya berkunjung kepadanya lalu ia meremehkan apa yang ada di rumahnya untuk dihidangkan kepada mereka, dan merupakan kehancuran bagi suatu kaum jika mereka meremehkan apa yang dihidangkan kepada mereka." (HR. Ahmad dan Thabrani). Kemungkinan perkataan "Sesungguhnya merupakan kehancuran bagi seseorang... dst" adalah ucapan Jabir (mauquf) dan bukan sabda Nabi (marfu'), Wallahu a'lam.

Dari Abu Syuraih Al-Khuza'i, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: "Menjamu tamu itu tiga hari, dan jaizahnya (jamuan istimewanya) adalah sehari semalam. Tidak halal bagi seseorang untuk tinggal di tempat saudaranya hingga ia membuatnya berdosa." Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana ia membuatnya berdosa?" Beliau menjawab: "Ia tinggal di tempatnya padahal saudaranya itu tidak memiliki sesuatu untuk menjamunya." (Muttafaq 'alaih).

Suami dan Ayah Muslim yang Teladan

Setelah kita mengulas perkara-perkara umum yang berkaitan dengan keluarga muslim yang teladan, ada baiknya kita mengulas elemen-elemen penyusun keluarga muslim secara terpisah, seperti ayah atau suami, ibu atau istri, anak laki-laki, dan anak perempuan, agar masing-masing dari mereka mengenal kewajiban Islamnya terhadap diri sendiri dan orang lain. Mengenai ayah atau suami, kami mengingatkan hal-hal berikut:

  1. Menyadari Tanggung Jawab: Ia harus merasakan tanggung jawabnya yang agung dan berat di hadapan Allah atas kepemimpinannya terhadap keluarga. Ia bertanggung jawab atas setiap individu di dalamnya dan atas segala hal yang berkaitan dengan mereka secara fisik, spiritual, dan intelektual. Yang paling dasar dan penting adalah aspek spiritual, yaitu yang berkaitan dengan pendidikan Islam yang menentukan kehidupan nasib seseorang di akhirat. Rasulullah SAW bersabda: "Kalian semua adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya..."
  2. Menjadi Teladan yang Baik: Ia harus menjadi teladan yang baik bagi istri dan anak-anaknya dalam hal komitmen terhadap ajaran Islam, menjalankan kewajiban-kewajibannya, dan berakhlak dengan akhlak Islam. Hal itu lebih baik baginya dan menjadikannya memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam mengarahkan serta membimbing anggota keluarga. Berbeda halnya jika ia lalai dalam hal tersebut, maka ia akan kehilangan kelayakannya untuk membimbing, karena orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan bisa memberikannya (faqidul syai' la yu'thih).
  3. Memperlakukan Istri dengan Baik: Suami harus memperlakukan istrinya dengan baik. Ini adalah kewajiban Islam yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW melalui perkataan dan perbuatan beliau, dan beliaulah teladan kita. Hadis beliau: "Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku" mempertegas makna ini. Tidak diragukan lagi bahwa sejauh mana baiknya hubungan antara suami dan istri di bawah naungan ajaran Islam, maka akan terwujud kehidupan yang baik bagi seluruh keluarga, begitu pula sebaliknya. Yang dituntut adalah dominasi suasana cinta, kasih sayang, dan ketenangan, sehingga setan tidak menemukan jalan untuk masuk di antara keduanya.
  4. Membangun Suasana Islami: Kepala keluarga harus antusias memberikan suasana Islami pada keluarga dan rumah, sehingga seluruh kehidupan dalam keluarga berjalan sesuai ajaran Islam dan bersih dari pelanggaran atau dosa, bahkan menjauhkan diri dari perkara syubhat. Hendaknya ibadah, tilawah Al-Qur'an, dan zikir kepada Allah menjadi suasana yang dominan, serta meminimalisir kegaduhan, makian, ghibah, dusta, dan dosa-dosa lainnya.
  5. Melibatkan Istri dalam Tanggung Jawab: Suami muslim yang teladan hendaknya memberikan kesempatan kepada istrinya untuk berpartisipasi dan bekerja sama dengannya dalam memikul tanggung jawab keluarga serta menyelesaikan masalah-masalahnya. Keluarga bagaikan sebuah perusahaan di mana laki-laki adalah manajernya, namun istri memiliki peran besar dalam kelancaran kehidupan di dalam keluarga. Tidak boleh bagi suami mengabaikan perannya atau cenderung pada gaya memerintah, otoriter, dan memaksakan pendapat sendiri. Sebelumnya telah kami sebutkan topik kesepahaman mengenai anggaran dan pembagiannya yang baik sebagai contoh kerja sama ini.
  6. Mendidik Anak secara Islami: Di antara hal terpenting dalam kerja sama suami dan istri adalah pendidikan anak-anak yang baik dan membimbing mereka dengan pertumbuhan Islami agar benar-benar menjadi penyejuk mata bagi keduanya dan elemen konstruktif dalam masyarakat Islam. Kelalaian dalam mendidik mereka akan menjadikan mereka sumber kesulitan dan penderitaan bagi orang tua. Rasulullah SAW bersabda: "Jika anak Adam mati, terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim dan lainnya). Dari Nu'man bin Basyir RA, Rasulullah SAW bersabda: "Samakanlah di antara anak-anakmu," dalam lafaz lain: "Adillah di antara anak-anakmu, adillah di antara anak-anakmu, adillah di antara anak-anakmu (yakni dalam pemberian)." (Muttafaq 'alaih). Dari Aisyah RA bahwa seorang wanita menemuinya bersama dua anak perempuannya, ia memberinya sebutir kurma lalu wanita itu membelahnya menjadi dua untuk anak-anaknya. Hal itu diceritakan kepada Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: "Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan ini lalu ia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka." (Muttafaq 'alaih). Suami istri hendaknya membiasakan anak-anak mereka untuk percaya diri, berani, dan cinta jihad, serta memilih mainan anak-anak yang menanamkan makna-makna tersebut dalam jiwa mereka. Begitu pula mendorong anak-anak untuk memperhatikan pelajaran, berprestasi, dan memberikan kado serta hadiah kepada mereka.
  7. Menyediakan Rekreasi yang Sehat: Kepala keluarga hendaknya memberikan suasana kegembiraan pada keluarga dan menyediakan berbagai hiburan serta rekreasi yang bebas dari dosa, agar anak-anak tidak mencari hiburan di bidang-bidang yang berdosa. Contohnya seperti tamasya ke tempat-tempat yang jauh dari kemaksiatan, atau berkebun jika ada lahan. Juga mempelajari beberapa hal praktis seperti P3K, dasar-dasar pipa air, kelistrikan, pertukangan, atau lainnya. Hendaknya menjaga suasana cinta di antara anak-anak, mencegah pertikaian dan tumbuhnya ruh permusuhan, membiasakan yang bersalah untuk meminta maaf, dan membiasakan yang lain untuk berjiwa besar serta menerima maaf.
  8. Memiliki Kesadaran dan Kewaspadaan: Ayah sebagai kepala keluarga harus memiliki hati nurani yang waspada dan berhati-hati.
  9. Meningkatkan Level Iman Keluarga: Ayah/suami muslim yang teladan hendaknya berupaya meningkatkan level iman anggota keluarganya serta tugas-tugas yang diwajibkan oleh iman tersebut berupa amal, jihad, dan pengorbanan demi membebaskan tanah air Islam dan mengokohkan agama Allah di muka bumi. Begitu pula mempersiapkan mereka menghadapi apa yang mungkin menimpa mereka berupa ujian dan cobaan, serta pentingnya sabar dan ketabahan dengan mencontoh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
  10. Sikap Moderat: Kepala keluarga muslim yang teladan harus bersikap moderat dalam gaya hidup keluarganya; tidak cenderung pada kekerasan dan kekerasan, tidak pula pada kelembutan dan kelalaian yang berlebihan. Moderat pula antara sikap boros dan kikir, serta antara sikap terlalu mengekang dan terlalu membebaskan (tasyayyub).
  11. Berbuat Baik kepada Pelayan: Suami dan istri hendaknya memperlakukan pelayan dengan baik, begitu pula terhadap anak-anak yatim atau orang lain yang menjadi tanggungan mereka.

Istri dan Ibu Muslimah yang Teladan

Wanita sebagai istri atau ibu merupakan pilar yang kuat dalam struktur keluarga dan faktor stabilitas utama di dalam rumah; bahkan rumah adalah "kerajaannya" sebagaimana pepatah mengatakan. Di atas pundaknyalah terletak beban terbesar dalam mendidik anak-anak dan mencetak laki-laki (tokoh). Keluarga muslim yang teladan tidak akan terwujud jika sifat-sifat yang diharapkan hanya tersedia pada kepala keluarga saja, tanpa tersedia pula pada sang istri. Para musuh telah menyadari peran wanita yang berpengaruh dalam keluarga dan masyarakat, sehingga mereka menjadikannya sarana untuk menyebarkan kehinaan. Oleh karena itu, wajib bagi para aktivis Islam untuk memperhatikan wanita muslimah dan menjadikan mereka sarana untuk menyebarkan keutamaan, mendukung struktur keluarga dan masyarakat, serta mendidik generasi yang berkomitmen pada Islamnya.

Oleh karena itu, kami merekomendasikan kepada Istri dan Ibu Muslimah yang Teladan hal-hal berikut:

  1. Meyakini Perannya: Ia harus beriman dalam lubuk hatinya akan perannya yang besar dan pengaruhnya yang efektif dalam suasana serta kehidupan keluarga. Dengan perilakunya, kebijaksanaannya, kewaspadaannya, dan rasa takutnya (muraqabah) kepada Allah, ia dapat menjadikan rumah tangganya sebagai surga tempat suami dan anak-anak bernaung dan rindu kepadanya, serta tempat mereka beristirahat dari panasnya kehidupan dan kelelahan di luar rumah.
  2. Mendidik Anak: Ia harus menunaikan kewajiban dan peran dasarnya dalam mendidik serta mengasuh anak-anak, karena ia adalah orang yang paling sering berinteraksi dengan mereka, dan mereka sangat membutuhkannya pada fase pembentukan kepribadian dan pertumbuhan. Diperlukan koordinasi antara dirinya dan sang ayah dalam metode pendidikan agar proses pembentukan tersebut saling melengkapi dan tidak terjadi pertentangan antara kedua metode. Terkadang kita melihat kasih sayang ibu terhadap anaknya, jika tidak disiplin, justru menjadi penyebab anak menjadi manja atau membangkang terhadap aturan ayahnya. Kita juga melihat sebagian orang tua memberikan perhatian besar pada kesehatan fisik anak namun ketaatan agama mereka tidak mendapat perhatian serupa, padahal itu yang utama. Ibu harus mengenali kebiasaan dan akhlak buruk yang mungkin dialami anak di luar rumah untuk melindungi mereka, serta memantau teman-teman anaknya agar dengan bantuan ayah, mereka terhindar dari teman yang buruk. Ia juga harus menerapkan adab Islam seperti memerintahkan salat pada usia tujuh tahun dan memukul (sebagai pelajaran) pada usia sepuluh tahun, memisahkan tempat tidur mereka, serta membiasakan anak perempuan untuk memiliki rasa malu dan menerima busana muslimah saat mencapai usia haid atau sesaat sebelumnya. Ibu hendaknya tidak bergantung pada pengasuh kecuali dalam keadaan darurat, dan tidak bergantung pada susu formula kecuali karena alasan kesehatan.
  3. Perbandingan: Agar kita merasakan dampak yang efektif, kita bandingkan gambaran cerah keluarga muslim teladan ini dengan membayangkan di sampingnya sebuah keluarga muslim yang istrinya tidak memiliki sifat-sifat tersebut; bahkan mungkin menjungkirbalikkan keadaan dan menjadikan rumah sebagai neraka, arena perselisihan, dan pelanggaran terhadap adab Islam, sehingga suami dan anak tidak menemukan ketenangan di dalamnya, yang mengakibatkan suami menderita dan anak-anak terlantar.
  4. Menunaikan Hak Suami: Istri muslimah teladan harus mengenali secara akurat kewajibannya terhadap suami dan hak-hak suami atas dirinya, lalu menunaikannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah demi meraih pahala-Nya. Ia harus menjaga perasaan suami, meredam kegelisahannya, menjaga rahasianya, serta menjaga kehormatannya saat suami tidak ada. Ia juga harus bekerja sama dengan suami dalam hal-hal yang telah kami sebutkan sebelumnya, terutama pendidikan anak dan silaturahmi.
  5. Mendukung Dakwah Suami: Istri muslimah teladan harus mendorong suaminya untuk menunaikan kewajiban terhadap Islam berupa amal, pengorbanan, dan jihad, serta tidak menjadi penghambat atau fitnah yang menghalangi suaminya.
  6. Memilih Teman: Ia harus memilih kenalan dan teman wanita yang salehah, menjalankan peran memberi pengarahan dan pengingat akan adab Islam, serta menjadi teladan bagi orang lain. Pertemuan-pertemuan harus bernuansa Islami, bebas dari dosa seperti ghibah, dan tetap menjaga adab seperti hijab.
  7. Mencari yang Halal: Istri muslimah teladan hendaknya mengupayakan yang halal dalam segala hal yang berkaitan dengan rumah, baik perabot, pakaian, makanan, minuman, maupun kebiasaan, serta membebaskan diri sepenuhnya dari yang haram dan syubhat. Ia juga harus menjadi teladan dalam kebersihan dan keteraturan, serta membiasakan anak-anaknya akan hal itu.
  8. Menjaga Kesehatan dan Keselamatan: Ia harus menjaga aturan kesehatan, mencegah makanan terkontaminasi, serta tidak meletakkan benda berbahaya dalam jangkauan anak-anak seperti obat-obatan, korek api, benda tajam, dan sebagainya.
  9. Mengikuti Sunnah: Mengikuti sunnah Rasulullah SAW dalam aktivitas siang dan malam di rumah, seperti adab makan, minum, berpakaian, tidur, salam, meminta izin, buang hajat, masuk dan keluar rumah, bercermin, serta doa-doa terkait hal tersebut. Ia juga harus menjauhi tradisi jahiliyah atau tradisi Barat yang bertentangan dengan ajaran Islam.
  10. Menghidupkan Syiar Islam: Ia dan suami harus antusias menghidupkan momen-momen Islami bagi anak-anak, seperti bulan Ramadan dengan puasa dan qiyamul lail-nya, serta menjauhi hal-hal yang biasa dilakukan orang banyak namun menyimpang, seperti begadang yang tidak bermanfaat, teka-teki yang melalaikan, kekenyangan, dan banyaknya jenis makanan.
  11. Menjaga Penampilan: Tidak perlu diingatkan lagi bahwa istri muslimah teladan harus menjadi teladan yang baik dengan berkomitmen pada busana muslimah dan menghindari hiasan yang dilarang seperti menyambung rambut (wasahl), mencukur alis (namsh), mewarnai kulit secara berlebihan, dan sebagainya.

Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan Muslim yang Teladan

Ketika kita mendambakan keluarga muslim, kita juga memaksudkan bahwa setiap individu di dalamnya harus menjadi teladan Islam yang baik. Setelah membahas ayah dan ibu, maka kepada anak laki-laki dan perempuan kami sampaikan rekomendasi berikut:

  1. Menyadari Kedudukan Orang Tua: Setiap anak harus merasakan kedudukan ayah dan ibu serta hak mereka untuk dicintai, dihargai, dibakti, dan diperlakukan dengan baik. Mereka harus menghargai rasa lelah, terjaga, dan pengasuhan orang tua, terutama ibu atas kepayahan selama masa kehamilan, persalinan, menyusui, dan pengasuhan masa kecil.
  2. Ketaatan adalah Perintah Allah: Mereka harus merasakan kewajiban menaati perintah Allah dan Rasul-Nya dalam berbakti kepada orang tua dan pahala di baliknya. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar yang mendatangkan murka dan siksa Allah. Beberapa hadis terkait hal ini:
    • Dari Ibnu Mas'ud RA: "Aku bertanya kepada Rasulullah SAW: Amal apa yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: Salat pada waktunya. Aku bertanya: Kemudian apa? Beliau menjawab: Berbakti kepada orang tua. Aku bertanya: Kemudian apa? Beliau menjawab: Jihad di jalan Allah." (HR. Bukhari, Muslim, dan Nasai).
    • Dari Abu Hurairah RA: "Celakalah, celakalah, celakalah seseorang yang mendapati orang tuanya dalam usia lanjut, salah satu atau keduanya, namun ia tidak masuk surga (karena tidak berbakti)." (HR. Muslim).
    • Dari Abdullah bin Amr RA, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci orang tuanya... yakni dengan mencaci ayah orang lain lalu orang itu membalas mencaci ayahnya..." (HR. Muslim).
  3. Mematuhi Nasihat: Anak-anak harus tahu bahwa orang tua mereka lebih tahu apa yang bermanfaat dan berbahaya bagi anak karena faktor usia dan pengalaman. Orang tua mencintai kebaikan bagi mereka. Maka anak-anak harus menaati orang tua selama bukan dalam maksiat yang nyata, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.
  4. Menjaga Kasih Sayang Antar Saudara: Anak-anak harus menjaga ruh cinta dan kasih sayang di antara mereka, menghindari suasana pertikaian dan kebencian. Hendaknya suasana toleransi dan empati mendominasi; yang besar menyayangi yang kecil, dan yang kecil menghormati yang besar.
  5. Ketaatan Beribadah: Anak-anak harus menjaga ketaatan kepada Allah, terutama salat tepat waktu dan akhlak Islam secara umum. Mereka harus memperhatikan Al-Qur'an, menghafalnya, memahaminya, serta mendalami agama. Hadis menyebutkan salah satu dari tujuh golongan yang dinaungi Allah adalah pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.
  6. Mengamalkan Sunnah: Mereka harus mempelajari sunnah dan doa dalam makan, minum, tidur, berpakaian, dan lainnya, serta mempraktikkannya.
  7. Berprestasi dalam Studi: Mereka harus memperhatikan studi mereka hingga menjadi orang-orang yang unggul dan berprestasi.
  8. Kebersihan dan Keteraturan: Mereka harus terbiasa bersih dalam pakaian, tubuh, kamar, dan sekolah, serta teratur dalam waktu, pengaturan meja belajar, peralatan, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan mereka.
  9. Memilih Teman: Mereka harus pandai memilih teman dan kenalan, serta menjadi teladan yang baik bagi teman-teman mereka tersebut.

Saudara Muslim (Al-Akh) yang Teladan

Telah diketahui bahwa individu muslim merupakan model aplikasi bagi Islam dalam berbagai aspeknya, baik akidah, ibadah, akhlak, maupun tasyri' (perundang-undangan) di antara anggota masyarakat muslim. Sejauh mana kesempurnaan model individu muslim tersebut, maka sejauh itu pula kesempurnaan model rumah tangga atau keluarga muslim, masyarakat muslim, pemerintahan Islam, hingga negara Islam; sehingga terwujudlah model pemerintahan Islam yang benar dan sehat serta penerapan syariat Allah di muka bumi. Seorang "Akh" (saudara) muslim dalam jamaah yang berjuang mewujudkan tujuan agung—yaitu pengokohan (tamkin) bagi agama Allah dan tegaknya Daulah Islamiyah—mewakili unsur asasi dalam kerja, pergerakan, dan pembangunan.

Oleh karena itu, wajib bagi kita saat berbicara tentang "Keteladanan di Jalan Dakwah" untuk memberikan perhatian yang layak kepada Akh Muslim yang Teladan. Kami selalu menekankan bahwa setiap kali kami berbicara tentang "Akh Muslim", kami juga memaksudkan "Ukht (Saudari) Muslimah", karena keduanya adalah unsur yang saling melengkapi dalam bidang kerja dan pembangunan. Rumah tangga muslim tidak akan tegak kecuali dengan adanya Akh dan Ukht, dan masyarakat tidak akan berdiri hanya di atas pundak laki-laki tanpa perempuan.

Tujuan kami adalah mewujudkan model Akh Muslim yang Teladan, apa pun kedudukannya dalam keluarga (sebagai ayah, suami, atau anak), apa pun posisinya di masyarakat (sebagai guru, mahasiswa, dokter, pekerja, atau pedagang), dan apa pun posisinya di dalam jamaah (sebagai pemimpin/mas'ul maupun prajurit/jundi). Sebelumnya, saat membahas Keluarga Muslim yang Teladan, kami telah mengulas tentang Ayah Muslim Teladan, Suami Muslim Teladan, Anak Muslim Teladan, serta Ibu Muslimah Teladan, Istri Muslimah Teladan, dan Putri Muslimah Teladan.

Pilar-Pilar Umum

Ada pilar-pilar dasar umum yang harus ditaati oleh Akh Muslim Teladan, dan ada kewajiban-kewajiban lain dalam kapasitasnya sebagai anggota sebuah jamaah yang bekerja mewujudkan tujuan-tujuan Islam. Kita akan mulai dengan pilar-pilar umum, kemudian diikuti dengan yang lainnya atas pertolongan dan taufik dari Allah.

Pilar pertama yang kita mulai—dan ini adalah yang terpenting dari semuanya—adalah Akh Muslim yang Teladan harus memiliki Akidah yang Selamat (Salimul Aqidah). Hendaknya akidah tauhid yang murni padanya bersifat bersih, tidak dicampuri oleh noda apa pun yang mengeruhkan kejernihan dan kemurniannya. Sebab, akidah adalah landasan amal, dan amal hati lebih penting daripada amal jasmani, meskipun pencapaian kesempurnaan pada keduanya dituntut secara syariat.

Seorang Akh Muslim Teladan harus menunaikan ibadah-ibadah fardu dengan benar dan sehat; sebuah penunaian yang menghimpun antara hukum-hukum keabsahannya dengan rahasia-rahasia dan ruhnya agar membuahkan hasil berupa takwa dan diterima di sisi Allah. Ia harus memperbagus salatnya dan menjaganya tepat waktu secara berjemaah di masjid semampunya, serta senantiasa dalam keadaan berwudu di sebagian besar waktunya. Ia harus antusias berpuasa Ramadan dan menunaikan haji jika mampu. Ia juga mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunah (nawafil) setelah menunaikan yang fardu, seperti qiyamul lail dan puasa minimal tiga hari setiap bulan. Hendaknya ia terus-menerus berzikir kepada Allah Ta'ala, baik di hati maupun lisan, serta memperbanyak doa-doa ma'tsur.

Diharapkan pula bagi Akh Muslim Teladan untuk menjadikan seluruh hidupnya sebagai ibadah, yaitu dengan menjadikan tujuannya dalam setiap pekerjaan adalah untuk melayani Islam dan kaum muslimin serta memohon pertolongan dengannya untuk menaati Allah. Maka, makan, minum, studi, pekerjaan, pernikahan, olahraga, dan setiap amal yang ia lakukan, diniatkan untuk menaati Allah serta melayani Islam dan muslimin. Bersamaan dengan niat, ia wajib mengupayakan yang halal dan menjauhi yang haram dalam semua urusan tersebut. Ia harus memperbanyak membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang baik, serta menghafal apa yang mudah baginya agar dapat ia gunakan untuk qiyamul lail. Ia juga harus memperbanyak membaca hadis Rasulullah SAW, menghafal sebagiannya, dan melaksanakan arahan yang terkandung dalam hadis-hadis tersebut.

Ia harus berkomitmen pada sunah Rasulullah SAW dalam hidupnya dan aktivitas sehari-semalam, seperti makan, minum, berpakaian, tidur, buang hajat, dan lainnya, beserta doa-doa ma'tsur yang menyertainya. Ia harus mendalami urusan agamanya (tafaqquh fiddin), antusias untuk menambah wawasan tersebut, mengenali isu-isu Islam dan muslimin, mengembangkan budaya dan pengalamannya, serta menguasai spesialisasi ilmiah atau teknisnya agar bermanfaat bagi dakwahnya.

Ada aspek yang sangat penting dalam kehidupan Akh Muslim Teladan yang kami inginkan agar ia menjadi teladan yang baik, yaitu Aspek Akhlak. Akh Muslim yang mewajibkan dirinya berakhlak dengan akhlak Islam yang utama akan memberikan citra jujur bagi Islam yang mampu meraih apresiasi dan rasa hormat, bahkan dari musuh Islam sekalipun. Ia akan menjadi teladan praktis yang berpengaruh bagi orang-orang di sekitarnya; ia memperbagus interaksi dengan mereka melalui akhlak mulia yang mereka rasakan darinya. Sangat disayangkan, hari ini banyak muslim yang memberikan citra buruk bagi Islam karena ketidakberkomitmenan mereka terhadap akhlak Islam, sehingga menjauhkan non-muslim dari Islam. Kita menginginkan muslim yang istimewa dengan adab, tradisi, salam, bahasa, pakaian, etos kerja, amanah, dan kesetiaannya—bahkan dalam suasana suka maupun duka. Kita tidak membiarkan budaya asing menjajah manifestasi kehidupan di masyarakat kita.

Akh Muslim Teladan harus jujur dalam perkataan sehingga tidak pernah berbohong, dan setia pada janji serta komitmen sehingga tidak pernah ingkar apa pun kondisinya. Kita menginginkan Akh Teladan yang pemberani dan memiliki daya tahan yang besar; telah diketahui bahwa keberanian terbaik adalah berterus terang dalam kebenaran, menjaga rahasia, mengakui kesalahan, bersikap adil terhadap diri sendiri, serta mampu menguasai diri saat marah. Ia harus memiliki wibawa (waqar) dan mengutamakan kesungguhan, namun hal itu tidak menghalanginya dari canda yang jujur dan tawa dalam bentuk senyuman.

Kita juga menginginkannya memiliki rasa malu yang kuat, perasaan yang peka, sangat terpengaruh oleh kebaikan dan keburukan (senang pada yang pertama dan pedih pada yang kedua), rendah hati (tawadhu') tanpa rasa hina, tidak tunduk (pada kebatilan), dan tidak menjilat. Ia harus bersikap adil dalam segala situasi, jauh dari pengaruh amarah maupun kesenangan pribadi. Ia mengatakan yang benar meskipun pahit bagi dirinya atau orang-orang terdekatnya.

Kita menginginkannya memiliki hati yang pengasih, pemberi maaf, lapang dada, lembut, santun, dan penyayang terhadap manusia maupun hewan. Ia berkelakuan baik, berinteraksi dengan indah, menyayangi yang kecil dan menghormati yang besar. Tidak memata-matai (tajassus), tidak ghibah, tidak gaduh, serta meminta izin saat masuk maupun berpamitan, hingga akhir dari adab-adab Islam ini. Ia berbakti kepada orang tua, berbuat baik kepada mereka, menyambung silaturahmi, menunaikan hak tetangga, memuliakan tamu, serta melakukan segala yang diserukan Islam seperti menyantuni anak yatim, memperlakukan mereka dengan baik, memberi makan orang fakir, miskin, dan tawanan.

Kita ingin Akh Muslim Teladan menjadi sosok yang penuh pergerakan, aktivitas, dan vitalitas. Ia memberikan pelayanan dan merasakan kebahagiaan setiap kali memberikan bantuan kepada orang lain. Ia menjenguk orang sakit, menolong yang membutuhkan, membantu yang lemah, menghibur yang tertimpa musibah meskipun hanya dengan kata-kata yang baik, dan selalu bersegera dalam kebaikan.

Akh Muslim Teladan harus memperhatikan kesehatan dan tubuhnya agar mampu menjalankan kewajiban, tugas-tugas berat, dan jihad di jalan Allah; jangan sampai kelemahan fisik menjadi penghalang untuk mewujudkan hal tersebut. Maka, ia harus bersegera melakukan pemeriksaan kesehatan umum dan mengobati penyakit yang mungkin dideritanya. Ia harus memperhatikan faktor-faktor kekuatan fisik, pencegahan penyakit, dan menjauhi penyebab kelemahan kesehatan. Ia harus berhenti total dari merokok dan segala hal buruk lainnya (khaba'its), serta tidak berlebihan dalam minum kopi atau teh dan minuman berenergi sejenisnya, kecuali jika diperlukan.

Ia harus memperhatikan kebersihan dalam segala hal: tempat tinggal, pakaian, makanan, tubuh, dan tempat kerja. Ia harus teratur dalam semua urusannya. Akh Muslim Teladan harus menjalankan usaha ekonomi betapa pun kayanya ia, dan mengutamakan kerja mandiri (wirausaha) daripada menjadi pegawai pemerintah, sembari berusaha memanfaatkan bakatnya. Ia bersungguh-sungguh dalam menekuni pekerjaannya, menepati janji, tidak curang, tidak rakus, baik dalam menuntut haknya, dan baik dalam menunaikan hak orang lain secara sempurna tanpa diminta dan tanpa menunda-nunda (muthal). Ia mengupayakan kasab (penghasilan) yang halal dan menghindari segala cara kasab yang haram. Ia menjauhi judi dan transaksi riba.

Akh Muslim harus mengabdi pada kekayaan Islam dengan mendukung produk-produk dan lembaga ekonomi Islam. Ia berusaha agar uangnya tidak jatuh ke tangan non-islam, serta antusias agar makanan dan pakaiannya berasal dari produksi tanah air Islamnya. Ia menunaikan zakat wajibnya dan memberikan sebagian hartanya untuk dakwah dan amal Islami betapa pun kecil pendapatannya. Ia menabung sebagian pendapatannya untuk keadaan darurat betapa pun sedikitnya, dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan (kamaliyat).

Kita menginginkan Akh Muslim Teladan menjadi sosok yang mampu berjihad melawan nafsunya (mujahidun linafsihi), dan membawanya dengan tegas hingga nafsunya itu patuh padanya dan berkomitmen pada ajaran serta kewajiban Islam. Ia berhati-hati dari dosa kecil apalagi dosa besar, serta bersikap wara' (menjaga diri) dari perkara syubhat agar tidak jatuh ke dalam keharaman. Ia menundukkan pandangannya, mengatur emosinya, melawan dorongan insting dalam dirinya, dan mengangkatnya menuju yang halal dan baik, serta menghalanginya dari yang haram apa pun bentuknya. Ia senantiasa bertaubat dan beristigfar, serta memberikan waktu bagi dirinya sebelum tidur untuk bermuhasabah (mengevaluasi diri) atas kebaikan atau keburukan yang telah ia lakukan.

Kita menginginkan Akh Muslim Teladan menjadi orang yang sangat menjaga waktunya; karena waktu adalah kehidupan dan kewajiban lebih banyak daripada waktu yang tersedia. Ia tidak menghabiskan bagian dari waktunya pada hal yang tidak bermanfaat. Ia menjauhi teman-teman yang buruk, kawan-kawan perusak, serta tempat-tempat maksiat. Ia memilih orang-orang saleh dan bertakwa, menjauhi manifestasi kemewahan dan kelembekan, bahkan melatih dirinya pada kehidupan yang keras (khasynah) semampunya. Akh Muslim harus menunaikan kewajiban dakwah di jalan Allah dengan hikmah dan nasihat yang baik, serta merekrut unsur-unsur baru ke dalam barisan amal Islami.


Saudara Muslim (Al-Akh) yang Teladan dalam Jamaah

Amal jama'i (kerja kolektif) untuk mewujudkan tujuan-tujuan Islam dan prinsip-prinsipnya memiliki komitmen dan kewajiban tersendiri, di samping komitmen dan kewajiban umum yang telah disebutkan sebelumnya. Seorang Akh Muslim dalam jamaah harus memiliki keyakinan penuh tentang wajibnya bekerja untuk menegakkan Daulah Islamiyah Internasional dan mengokohkan agama Allah di muka bumi. Ia harus mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa kewajiban ini tidak dapat ditunaikan secara individual, melainkan melalui kerja kolektif. Sesuai kaidah: "Sesuatu yang suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka sesuatu itu hukumnya wajib." Atas dasar ini, bekerja dalam jamaah adalah wajib.

Selain itu, pengorganisasian amal jama'i menuntut adanya komitmen dan janji setia yang harus ditepati demi kelancaran kerja sehingga tujuan-tujuan yang dicita-citakan dapat tercapai. Akh Muslim yang Teladan wajib mengikat dirinya untuk bekerja demi mewujudkan tujuan-tujuan berdirinya jamaah tersebut; ia tidak menyimpang dari tujuan itu dan tidak menguranginya akibat menghadapi rintangan, atau karena tergesa-gesa ingin melihat hasil, atau alasan lainnya. Akh Teladan di jalan dakwah harus menunaikan baiatnya, karena itu adalah janji setia kepada Allah, dan ia tidak boleh melanggar satu pun dari sepuluh rukun baiatnya agar ia meraih janji Allah berupa pahala yang agung bagi mereka yang menepati janji.

Akh Teladan di jalan dakwah harus berkomitmen pada pemahaman Islam yang benar dan sehat, yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, sebagaimana yang diringkas oleh Imam Syahid (Hasan Al-Banna) dalam Ushul Isyrin (Dua Puluh Prinsip). Seorang Akh harus menjauhi segala bentuk pemotongan (parsial), penyimpangan, atau kesalahan dalam apa yang ia tulis atau katakan. Bahkan, setiap Akh harus menjadi penjaga yang terpercaya atas keselamatan pemahaman ini di dalam jamaah, sebagai bentuk kesetiaan pada baiatnya dan perlindungan bagi jamaah agar tidak terbentuk sekolah pemikiran yang berbeda-beda akibat perbedaan pemahaman yang mungkin awalnya sederhana namun kemudian membesar. Hal itu dikhawatirkan dapat menyebabkan terpecahnya upaya dan pengorganisasiannya.

Akh Muslim Teladan di jalan dakwah harus menjaga keikhlasan niat hanya karena Allah dan menanggalkan secara permanen setiap tujuan materi atau duniawi dari niatnya. Ia harus sangat waspada terhadap penyakit-penyakit hati yang dapat membinasakan pemiliknya dan menghapus amal serta pahalanya, seperti sifat ujub (kagum pada diri sendiri), sombong, cinta dunia, ambisi kepemimpinan, ingin tampil (popularitas), dan sebagainya. Sejauh mana keikhlasan menguasai hati seorang Akh, maka hal itu akan tercermin pada perilaku, tindakan, dan perkataannya. Ia tidak mengambil suatu sikap dan tidak melakukan suatu perbuatan kecuali berangkat dari keikhlasannya kepada Allah, terbebas dari segala hawa nafsu, kepentingan, maupun sikap sekadar menyenangkan orang atau pihak tertentu.

Oleh karena itu, Akh Muslim Teladan wajib memurnikan dirinya (tajarrud) untuk dakwahnya; membebaskan diri dari segala seruan, prinsip, lembaga, atau person selain dakwah tersebut. Dakwahnya adalah pemikiran yang paling luhur, paling komprehensif, dan paling tinggi, maka ia tidak boleh menawarnya dan tidak boleh tertipu oleh selainnya. Akh yang aktif dan teladan harus mengenali jalan dakwahnya serta tahapan-tahapan kerja yang mengantarkan pada pencapaian tujuan. Ia harus berkomitmen pada jalan ini tanpa memotong atau menyimpang. Jalan ini adalah jalan yang disarikan oleh Imam Syahid dari sirah Rasulullah SAW, pergerakan dakwah beliau, dan pendirian Daulah Islamiyah pertama. Jalan ini berfokus pada:

  1. Mewujudkan kekuatan iman dan keselamatan akidah dalam jiwa.
  2. Mewujudkan kekuatan persatuan, persaudaraan, dan cinta di antara orang-orang mukmin.
  3. Mewujudkan kekuatan fisik, persenjataan, dan jihad guna melindungi dakwah kebenaran.

Urutan ini dilakukan tanpa mendahulukan atau mengakhirkan, betapa pun banyaknya rintangan atau waktu yang terasa lama. Sebagaimana dikatakan Imam Syahid: "Sesungguhnya ini adalah jalan yang panjang dan berat, namun tidak ada jalan lain selainnya."

Akh Muslim Teladan harus telah membulatkan tekad untuk berjihad dan berkorban dengan jiwa dan harta demi meninggikan kalimat Allah dan mengokohkan agama-Nya di muka bumi. Ia harus telah melakukan "transaksi yang menguntungkan" dengan Allah, dan agar transaksi itu sempurna, ia harus menghiasi diri dengan sifat-sifat orang beriman. Ia bersama saudara-saudaranya juga harus menempuh sebab-sebab persiapan jihad (i'dad) berupa kekuatan fisik, ilmu, harta, dan senjata. Ia wajib mempelajari fikih jihad dan peperangan dalam Islam agar ia terikat dengannya saat mempraktikkannya; sehingga ia tidak berkhianat, tidak menipu, tidak melakukan mutilasi, tidak membunuh anak-anak, orang tua, maupun wanita, serta adab peperangan Islam lainnya. Kita menginginkan Akh Mujahid Teladan yang berdiri bersama saudara-saudaranya dalam barisan jihad secara solid dan saling mencintai bagaikan bangunan yang tersusun kokoh (bunyanun marshush). Ia tidak membiarkan setan maupun musuh-musuh Allah menciptakan perselisihan atau pertikaian di barisan mujahidin, karena hal itu mengakibatkan kegagalan dan kekalahan. Kita menginginkan Akh Teladan yang tidak merasa berat (enggan) berangkat ke medan juang ketika seruan jihad dikumandangkan; ia harus selalu waspada terhadap tarikan kesenangan dunia dan tuntutan fisik. Ia juga harus sangat berhati-hati agar tidak melarikan diri dari medan tempur saat berkecamuknya perang agar tidak tertimpa murka dan azab Allah serta menyebabkan kekalahan bagi kaum muslimin. Akh Mujahid harus beriman bahwa kemenangan datangnya dari Allah, sedangkan ia dan saudara-saudaranya beserta latihan dan upaya yang mereka kerahkan hanyalah sebab-sebab semata.

Akh Mujahid yang Teladan tidak merasa tinggi hati saat meraih kemenangan, dan tidak merasa putus asa jika terjadi kekalahan dalam salah satu pertempuran melawan musuh. Peperangan antara kebenaran dan kebatilan adalah hal yang besar, panjang, dan berulang; ia tidak akan berakhir hanya dengan satu kemenangan atau kekalahan dalam satu pertempuran. Maka mutlak diperlukan sabar, mushabarah (menguatkan kesabaran), dan ribath (waspada di perbatasan). Mutlak diperlukan kekuatan tekad, kemauan, upaya, jihad, kelelahan, serta pengorbanan jiwa dan harta dengan segala hal yang murah maupun berharga.

Akh Muslim yang Teladan di jalan dakwah harus menjadi teladan dalam mendengar dan taat kepada pimpinannya, baik dalam keadaan sulit maupun lapang, saat bersemangat maupun saat terpaksa, selama bukan dalam maksiat, tanpa keraguan, syak (kecurigaan), atau keberatan, meskipun perintah tersebut menyelisihi pendapatnya. Hendaknya seorang Akh menganggap bahwa ketaatannya kepada pimpinannya adalah bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya demi mendekatkan diri kepada Allah, sekaligus sebagai bentuk pemenuhan baiatnya. Kita menginginkan ketaatan yang tidak disertai kelalaian, pengurangan, penundaan, atau keragu-raguan, karena hal itu mengandung bahaya yang besar.

Kita menginginkan Akh Muslim Teladan di jalan dakwah menghargai pentingnya persaudaraan (ukhuwah) dan kecintaan kepada saudara-saudaranya. Itu adalah faktor kemenangan yang paling mutlak dan pilar keimanan: "Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri." Tingkatan ukhuwah tertinggi adalah itsaar (mendahulukan saudara di atas diri sendiri) dan yang paling rendah adalah salamatus shadr (bersihnya hati dari kebencian). Maka hendaknya seorang Akh antusias mengejar tingkatan tertinggi dan berhati-hati jangan sampai mendekati batas terendah agar tidak melanggar rukun baiat ini. Akh Teladan harus memandang saudara-saudaranya lebih utama bagi dirinya daripada dirinya sendiri, karena ia tidak ada artinya tanpa mereka, sedangkan mereka jika tidak bersamanya akan bersama yang lain. Sesungguhnya serigala hanya memakan domba yang terpisah dari kawanannya. "Orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lain." Persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar adalah teladan bagi kita di jalan dakwah.

Akh Muslim Teladan harus menonjolkan sikap lemah lembut, menebarkan salam, perkataan yang baik, dan senyuman, serta segala hal yang diarahkan oleh Rasulullah SAW untuk menyucikan makna cinta di antara kita. Sebaliknya, ia harus menjauhi segala hal yang dapat menimbulkan perpecahan dalam barisan; tidak melakukan hal yang menyakiti saudaranya, tidak marah karena membela ego sendiri melainkan berlapang dada, memaafkan, dan berbuat baik. Jika ia melihat perselisihan antara dua saudara, ia bersegera mendamaikan keduanya.

Akh Muslim Teladan di jalan dakwah dituntut untuk menjaga kepercayaan (tsiqah) antara dirinya dan pimpinannya. Kepercayaan yang melahirkan ketenangan, yang membuahkan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan. Pemimpin adalah bagian dari dakwah, dan tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Sejauh mana kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan prajuritnya, sejauh itu pula kekuatan sistem jamaah, kerapihan rencana-rencananya, serta kesuksesannya dalam mencapai tujuan dan mengatasi rintangan serta kesulitan. Maka kepercayaan kepada kepemimpinan adalah hal penting dalam kesuksesan dakwah. Akh Teladan tidak boleh membiarkan hal-hal yang membuat kepercayaan tersebut goyah. Jika terlintas keraguan, ia harus segera menghilangkannya dengan melakukan tabayyun (klarifikasi), pertemuan, dan keterbukaan. Ia tidak boleh membiarkan dirinya terpengaruh oleh isu-isu tendensius dan keraguan yang diembuskan musuh dalam bentuk "nasihat" dengan tujuan memecah belah, melemahkan tekad, dan merusak kesatuan jamaah. Akh Teladan yang berada di posisi tanggung jawab harus menjauhi situasi yang menimbulkan kecurigaan semampunya, dan jika terjadi, ia harus segera menjelaskan hal tersebut kepada saudara-saudaranya.

Terakhir, namun bukan yang terakhir, kita menginginkan Akh Muslim Teladan yang memberikan contoh dalam keteguhan (tsabat) di jalan dakwah. Ia melanjutkan perjalanannya dengan tenang, percaya diri, dan yakin akan pertolongan Allah betapa pun lamanya waktu dan berlalunya tahun-tahun, serta betapa pun ia dihadapkan pada ujian dan gangguan. Ujian adalah "kemenangan" pada tahapan tersebut, sedangkan kelemahan dan pengkhianatan adalah "kekalahan". Hendaknya ia mengetahui bahwa kemenangan datang bersama kesabaran, dan bersama kesulitan ada kemudahan. Maka bersabarlah, teguhlah, dan mohonlah kesabaran, keteguhan, serta kemenangan kepada Allah. Ketahuilah bahwa waktu adalah bagian dari obat; ia diukur dengan usia dakwah dan bangsa-bangsa, bukan dengan usia individu. Hal yang membantu keteguhan adalah seorang Akh mengetahui bahwa jalan kita—meskipun jangkauannya jauh, tahapan-tahapannya panjang, dan rintangannya banyak—hanyalah satu-satunya jalan yang mengantarkan pada tujuan disertai pahala yang agung dan balasan yang indah.

Di antara karunia Allah yang indah adalah Dia memuliakan saudara-saudara kita di jalan ini dengan keteguhan di atas kebenaran. Sebagian dari mereka telah gugur (syahid) dan sebagian lagi menunggu tanpa mengubah atau mengganti janji mereka, meskipun mereka dihadapkan pada godaan untuk dibebaskan dari penderitaan tersebut seandainya mereka mau mengirim telegram dukungan bagi penguasa zalim dan meninggalkan jamaah. Namun mereka menolak hal itu, merasa mulia di atas godaan tersebut, dan tidak pernah goyah sedikit pun agar panji tetap berkibar tinggi untuk diserahkan seperti itu kepada generasi setelah mereka. Maka, setiap Akh Muslim harus jujur dalam janjinya.

Keteladanan dalam Bidang Dakwah dan Tarbiyah

Ini adalah Sunnatullah yang tidak berubah: agar perubahan yang didambakan terjadi di masyarakat kita sebagai pembuka jalan bagi tujuan pengokohan agama Allah, maka wajib bagi para aktivis di medan dakwah untuk memperhatikan bidang-bidang yang memiliki pengaruh efektif dalam menciptakan perubahan tersebut, seperti bidang dakwah dan bidang tarbiyah (pendidikan). Demikian pula bidang pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan, bidang media massa dengan berbagai sarananya, serta bidang-bidang lain yang berpengaruh dalam mengubah jiwa. Jika kita melihat para penganut ideologi duniawi memanfaatkan bidang dan sarana ini untuk menyebarkan prinsip mereka dan memaksakannya pada bangsa dan generasi, maka kaum muslimin pemilik agama yang hak lebih pantas untuk menundukkan sarana-sarana tersebut bagi kepentingan amal Islami. Telah diketahui dalam jalan dakwah ada tahapan: Ta'rif (pengenalan), Takwin (pembentukan), dan Tanfidz (pelaksanaan). Bidang dakwah dan tarbiyah mencakup tahapan Ta'rif dan Takwin. Oleh karena itu, perlu bagi kita untuk mengulas tentang Akh Da'i yang Teladan dan Akh Murabbi (Pendidik) yang Teladan agar masing-masing menjalankan perannya dengan sempurna.


Saudara Da'i Muslim yang Teladan:

  1. Seorang saudara da'i harus merasakan agungnya tugasnya, kemuliaannya, serta kehormatan besar yang ia peroleh (dengan menjadi penyeru di jalan Allah).
  2. Ia harus merasakan pentingnya dan kebutuhan mendesak tugas tersebut di jalan dakwah, karena dakwah adalah pintu masuk dan sarana untuk menyampaikan cahaya kebenaran ke dalam hati agar manusia mendapat hidayah menuju jalan yang lurus.
  3. Ia juga harus merasakan pahala besar yang ia peroleh dari hasil dakwahnya kepada Allah. Hadis Rasulullah SAW menjelaskan hal itu: "Sungguh, jika Allah memberi hidayah kepada satu orang melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta paling berharga)."

Tiga makna ini akan mendorong seorang saudara da'i untuk sangat antusias dalam menjalankan kewajiban menyebarkan dakwah dan antusias untuk memperbagus penyampaiannya.

  1. Seorang saudara da'i hendaknya mengetahui bahwa faktor terpenting yang membantunya dalam penyampaian yang baik dan mendatangkan taufik Allah adalah keikhlasan niat hanya karena Allah, serta bersihnya hati dari segala sesuatu yang menodai keikhlasan ini seperti sifat ujub (bangga diri), riya, keinginan untuk tampil (populer), dan sebagainya. Terutama karena seorang da'i bisa terpapar fitnah jika ia merasakan besarnya pengaruhnya terhadap manusia serta kekaguman massa kepadanya dan perkumpulan mereka di sekelilingnya.
  2. Seorang saudara da'i wajib mengikat dirinya dengan arahan Rabbani dalam berdakwah kepada Allah, sebagaimana yang Allah arahkan kepada Nabi-Nya.
  3. Ia harus ahli dalam "menaklukkan" hati dan cara membuka gembok-gemboknya. Ia harus memadukan antara menggugah perasaan (wijdan) dan meyakinkan akal, karena hal itu lebih menjamin menetapnya pengaruh ucapannya dan keterpengaruhan audiens agar membuahkan hidayah dan amal saleh.
  4. Ia harus menghidupkan dalam hatinya apa yang ia serukan dengan lisannya, yaitu dengan berinteraksi secara emosional terhadap makna-makna tersebut. Hal itu membuat perkataan lebih berpengaruh dalam jiwa para pendengar, karena apa yang keluar dari hati akan sampai ke hati, dan apa yang hanya keluar dari lisan tidak akan melampaui telinga, sebagaimana pepatah mengatakan.
  5. Seorang saudara da'i teladan harus mengenali karakteristik lingkungan dan medan tempat ia berdakwah agar ucapannya realistis dan sesuai. Ia harus berbicara kepada manusia sesuai kadar akal mereka, serta menyelami isu-isu mereka dan apa yang menyibukkan pikiran mereka, sehingga mereka lebih perhatian, mengikuti ucapannya, dan menyambut apa yang ia serukan.
  6. Ia harus objektif dalam ucapannya dan menentukan makna-makna yang ingin ia sampaikan kepada pendengar atau pembaca, lalu bersungguh-sungguh dalam menjelaskan dan memfokuskannya. Barangkali meringkasnya di akhir pembicaraan akan sangat bermanfaat.
  7. Ia hendaknya tidak merasa keberatan untuk mengulang pembicaraan mengenai suatu makna di benak pendengar. Jangan menyangka bahwa menyebutkannya sekali saja sudah cukup untuk kejelasan dan kemantapan bagi mereka yang ia ajak bicara. Sesungguhnya dalam pengulangan terdapat manfaat, dan ia bisa mengubah gaya penyajian saat pengulangan tersebut. Hal ini tampak jelas dalam gaya bahasa Al-Qur'an.
  8. Seorang saudara da'i harus memilih dalil-dalil kuat sebagai argumen untuk mempertegas makna yang ia sampaikan, serta memperhatikan kesesuaian dalil dengan makna tersebut. Ia memiliki medan yang luas untuk memilih kutipan, mulai dari ayat-ayat Al-Qur'anul Karim, hadis-hadis Rasulullah, sirah yang harum, hingga sejarah Islam; semua itu merupakan ladang luas bagi dalil-dalil kuat yang tepat untuk dijadikan argumen.
  9. Oleh karena itu, saudara da'i wajib antusias untuk terus menambah ilmu, menghafal Al-Qur'an dan hadis semampunya, serta senantiasa mengulang pelajaran sirah, karena ia akan menemukan di dalamnya bekal yang baik yang bermanfaat bagi dakwahnya.
  10. Ia harus menghubungkan dalam pembicaraannya antara apa yang ia serukan dengan pergerakan dakwah (harakah) sehingga tidak ada pemisahan antara dakwah, amal Islami yang dituntut, dan kebutuhan tahapan dakwah. Tujuannya agar setiap muslim merasakan apa yang diwajibkan oleh Islamnya berupa partisipasi dalam mewujudkan target yang diinginkan.
  11. Seorang saudara da'i harus menjadi teladan yang baik dalam keluhuran budi pekerti, kelembutan sikap, dan kebaikan interaksi. Teladan praktis memiliki pengaruh besar dalam penerimaan manusia terhadap apa yang ia serukan.
  12. Ia harus sangat berhati-hati agar jangan sampai darinya keluar perbuatan atau tindakan yang menyelisihi apa yang ia serukan kepada manusia, agar ia tidak terkena murka dan kemarahan Allah, serta agar tidak terjadi guncangan (intikasah) dalam jiwa orang-orang yang ia dakwahi saat mereka mendapatinya menyelisihi apa yang ia serukan.
  13. Seorang saudara da'i teladan di jalan dakwah harus mengupayakan pemahaman Islam yang benar dalam ucapannya, yang bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya SAW, dengan berpedoman pada Ushul Isyrin (Dua Puluh Prinsip) yang disebutkan oleh Imam Al-Banna dalam rukun "Faham" dari rukun-rukun Baiat, yang kesesuaiannya telah diuji dengan Al-Qur'an dan Sunnah serta jauh dari penyimpangan dan perselisihan. Seorang Akh menganggap komitmennya terhadap hal ini sebagai bentuk pemenuhan baiatnya.
  14. Ia tidak boleh dalam ucapannya melakukan pencelaan (tajrih) terhadap person atau lembaga tertentu, dan tidak mencari musuh dari siapapun atau pihak manapun di antara para aktivis Islam—demikianlah tradisi jamaah ini sejak awal berdirinya. Ia harus menanggung gangguan apapun dari mereka demi menjaga persatuan serta menjauhkan perpecahan dan pertikaian.
  15. Jika seorang saudara da'i ingin mengingatkan adanya penyimpangan dalam pemahaman atau perilaku pada sebagian kelompok yang bekerja di medan dakwah, ia harus mengobati penyimpangan ini secara objektif dengan dalil yang meyakinkan tanpa menyerang kelompok tertentu atau individu tertentu secara spesifik.
  16. Ia harus selalu memfokuskan pembicaraannya pada makna-makna persaudaraan Islam, cinta karena Allah, persatuan di antara kaum muslimin, kerja sama dalam kebajikan dan takwa, serta menjauhkan segala hal yang memicu perpecahan dan perselisihan. Ia juga harus mengingatkan pentingnya menyatukan upaya untuk menghadapi perang sengit dari musuh-musuh Allah melawan Islam dan kaum muslimin.
  17. Seorang saudara da'i harus sangat berhati-hati dalam menghukumi kafir (takfir) atau fasik (tafsiq) terhadap individu muslim tertentu, selama tidak ada keadaan darurat yang menuntut hal tersebut disertai tersedianya dalil-dalil qath'i (pasti) untuk hukum tersebut.
  18. Ia harus mengambil manfaat dalam metode dakwah dari apa yang termaktub dalam Al-Qur'an melalui lisan para Rasul AS dan lainnya, seperti mukmin dari keluarga Fir'aun.
  19. Ia harus meneladani Rasulullah SAW dalam rasa belas kasih beliau yang besar serta keinginan beliau yang kuat dalam memberi hidayah kepada kaumnya, serta dalam ketabahan beliau menanggung gangguan dari mereka namun tetap terus berdakwah.
  20. Seorang saudara da'i harus merasakan tanggung jawabnya atas waktu orang-orang yang mendengarkannya. Ia harus mendisiplinkan diri untuk hadir tepat waktu, serta bersungguh-sungguh menyajikan bekal yang baik yang sepadan dengan waktu yang telah mereka habiskan.
  21. Ia tidak boleh pelit untuk berbicara (menyampaikan ilmu) meskipun audiens yang hadir hanya sedikit, karena bisa jadi buah dari pembicaraannya dengan mereka lebih agung daripada dengan orang banyak lainnya.
  22. Ketika ia diberi taufik dalam ucapannya dan para pendengar terpengaruh olehnya, ia harus mengembalikan keutamaan hal tersebut kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri.

Bidang Tarbiyah (Pendidikan) di Dalam Jamaah

Tarbiyah dalam jamaah merupakan perkara yang paling mendesak dan penting untuk mewujudkan tahap Takwin (pembentukan), serta menyiapkan unsur dasar dalam bangunan yaitu individu muslim; yang darinya akan tegak rumah tangga muslim, masyarakat muslim, dan pemerintahan muslim. Individu ini mewakili model dan teladan praktis bagi akhlak dan adab Islam serta kepatuhan terhadap perintah dan larangannya.

Peristiwa demi peristiwa dan waktu telah membuktikan bahwa sejauh mana perhatian terhadap tarbiyah, maka sejauh itu pula terwujud orisinalitas pergerakan, keberlanjutan, serta pertumbuhannya. Hal itu juga mewujudkan kesolidan antar individu, kesatuan barisan, kerja sama, dan hasil yang berkah bagi setiap upaya yang dikerahkan, setiap harta yang diinfakkan, dan setiap waktu yang dihabiskan. Sebaliknya, jika sisi tarbiyah diabaikan atau terjadi kelalaian di dalamnya, akan muncul kelemahan dan keretakan dalam barisan, menonjolnya perselisihan dan perpecahan, mengecilnya kerja sama, dan berkurangnya produktivitas.

Kita semua tahu bahwa kaum muslimin generasi pertama yang mendapatkan porsi besar dari tarbiyah Rasulullah SAW, di atas pundak merekalah tegak Daulah Islamiyah pertama dan mereka telah berjuang dengan sebaik-baik perjuangan. Berikut kami sampaikan beberapa catatan bagi saudara Murabbi (pendidik) agar dapat mengambil manfaat di bidang tarbiyah dan menjadi teladan di bidang ini.


Saudara Murabbi (Pendidik) yang Teladan:

  1. Seorang saudara murabbi harus menjadi teladan yang baik, khususnya dalam aspek-aspek yang ia gunakan untuk mendidik saudara-saudaranya.
  2. Ia harus memberikan perhatian terbesar pada persoalan iman dan keselamatan akidah tauhid, karena hal itu adalah fondasi kokoh bagi bangunan individu muslim.
  3. Kemudian diikuti setelahnya dalam hal kepentingan adalah kualitas penunaian ibadah, baik dari sisi keabsahan hukum-hukumnya, rahasia-rahasianya, maupun hidupnya hati dengan ibadah tersebut agar membuahkan takwa dan keluhuran jiwa.
  4. Seorang saudara murabbi harus memberikan perhatian khusus pada aspek akhlak, karena menanggalkan akhlak buruk dan menghiasi diri dengan akhlak mulia membutuhkan waktu, upaya, kesabaran, pendampingan, serta pemantauan yang dekat. Hal ini diwujudkan melalui pelajaran (ders), rihlah (tamasya), katibah (malam bina iman dan takwa), perkemahan, kunjungan, dan sebagainya. Seorang murabbi saat rihlah, misalnya, harus memperhatikan segala yang keluar dari mereka yang bersamanya, baik berupa perkataan maupun tindakan, agar ia menjadikan penyimpangan yang ia rasakan sebagai fokus utama untuk diobati bersama mereka, layaknya seorang dokter yang ketika merasakan gejala penyakit tertentu, ia mengenalinya dan mengobatinya dengan obat yang tepat.
  5. Ia harus memfokuskan pendidikannya pada keikhlasan niat karena Allah dan bersihnya niat dari segala noda yang merusaknya. Makna ini membuka ruang untuk mengulas penyakit-penyakit hati yang membinasakan pemiliknya dan menghapus amal serta pahalanya, serta pentingnya berhati-hati darinya seperti kesombongan (kibr), bangga diri (ujub), riya, keinginan untuk tampil (popularitas), ambisi kepemimpinan, dendam, hasad, dan sebagainya.
  6. Seorang saudara murabbi harus mendidik saudara-saudaranya di atas kejujuran dan kesetiaan pada janji serta baiat, karena itu adalah hal yang paling mutlak bagi setiap saudara yang mengambil posisinya dalam barisan dan berada di salah satu celah (tsugrah) dari celah-celah amal Islami.
  7. Seorang saudara murabbi harus mendidik individu-individu di atas metode kerja jama'i (kolektif) atau karakteristik bekerja dalam jamaah, serta apa yang dituntut darinya berupa syarat-syarat dan komitmen yang harus ada demi keselamatan perjalanan, penyatuan upaya, dan tercapainya produktivitas.
  8. Ia harus menjelaskan kepada saudara-saudaranya tentang hakikat jalan dakwah dan rambu-rambunya, serta karakteristik jalan yang panjang, adanya duri dan rintangan, serta tikungan-tikungan di sisi jalan tersebut. Ia menjelaskan kepada mereka cara melewati rintangan dan berhati-hati dari tikungan tersebut. Ia harus meyakinkan mereka bahwa meskipun jalan itu berat, ia adalah satu-satunya jalan karena itulah jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau sebelumnya.
  9. Ia harus menjelaskan kepada mereka bahwa ada faktor-faktor kesuksesan yang menyertai jalan ini yang tidak akan terhalang oleh rintangan apa pun dengan izin Allah, dan bahwa harapan sangatlah besar bahwa masa depan adalah milik agama ini.
  10. Saudara murabbi harus memperhatikan penyucian makna-makna persaudaraan, cinta, dan itsaar (mendahulukan orang lain) di antara sesama saudara, serta selalu mengingatkan makna ini dan sarana-sarana yang menumbuhkannya, juga memperingatkan hal-hal yang merusak cinta tersebut atau menimbulkan perpecahan dan perselisihan. Cinta ini akan membuahkan persatuan dan soliditas barisan. Telah diketahui bahwa kekuatan persatuan adalah fondasi kedua setelah kekuatan iman, dan yang ketiga adalah kekuatan fisik dan senjata.
  11. Seorang saudara murabbi harus menghiasi diri dengan akhlak sabar dan mendidik saudara-saudaranya untuk menghiasi diri dengan akhlak ini karena kepentingannya bagi siapa pun yang meniti jalan dakwah. Demikian pula sabar dalam menanggung gangguan di jalan Allah, rida terhadap ketetapan Allah, tawakal yang baik kepada Allah, serta berharap pada rahmat Allah.
  12. Ia harus memiliki ilmu dan pengetahuan tentang persoalan pemuda serta masalah pribadi mereka, baik dalam keluarga dan kerabatnya, dalam hubungannya dengan saudara-saudaranya, maupun dalam kehidupan umumnya. Persoalan-persoalan ini bisa menjadi penyebab terhambatnya perjalanan mereka di atas jalan dakwah atau menyimpang darinya. Maka murabbi harus jeli melihat hal tersebut dan merumuskan solusi yang bermanfaat baginya.
  13. Ia juga harus menyadarkan saudara-saudaranya tentang penyimpangan pemikiran (fikriyah) maupun pergerakan (harakiyah) yang terkadang menjerumuskan sebagian orang dan menjauhkan mereka dari jalan, agar mereka berhati-hati darinya, terutama karena hal itu dimulai dari hal sederhana lalu membesar seiring waktu.
  14. Seorang saudara murabbi harus menyucikan ruh jihad dan pengorbanan jiwa, harta, waktu, tenaga, dan segala sesuatu di jalan Allah dalam jiwa saudara-saudaranya, serta memotivasi mereka untuk melakukan "transaksi yang menguntungkan" dengan Allah, dan memberikan dorongan (targhib) untuk meraih syahadah (mati syahid) di jalan Allah.
  15. Ia harus menghidupkan suasana sirah yang harum bersama saudara-saudaranya, seolah-olah ia hidup bersama mereka dengan generasi pertama ini dan apa yang mereka alami berupa peristiwa dan situasi di jalan dakwah. Hal itu adalah bantuan terbaik untuk meneladani mereka dan meniti manhaj mereka yang telah mengantarkan mereka pada kemenangan dan pengokohan (tamkin). Ia akan menemukan dalam sirah teladan praktis yang mengagumkan tentang kejujuran, amanah, kesetiaan, cinta, itsaar, tebusan, jihad, pengorbanan, pemberian, dan lainnya yang menjadi tujuan kita di bidang tarbiyah. Dengan demikian, seorang saudara akan merasa bahwa upayanya untuk mencapai level ini bukanlah khayalan, melainkan berada dalam kemampuan manusia, sehingga ia bersungguh-sungguh dalam upayanya.
  16. Seorang saudara murabbi harus mendidik saudara-saudaranya untuk mendengar dan taat dalam keadaan sulit maupun lapang, saat bersemangat maupun saat terpaksa selama bukan dalam maksiat. Ia mendidik mereka di atas rasa percaya (tsiqah) dan tidak ragu atau bimbang, serta membiasakan mereka disiplin dalam menunaikan tugas dan kewajiban yang diberikan kepada mereka, baik berada di posisi pemimpin maupun prajurit. Bahwa setiap pemimpin maupun prajurit beribadah kepada Allah dan memohon penerimaan-Nya. Ia mendidik mereka untuk siap bertukar posisi antara prajurit dan pemimpin jika kepentingan amal menuntut hal tersebut tanpa merasa keberatan.
  17. Sangat bermanfaat bagi saudara murabbi untuk membuka ruang pertanyaan dan diskusi bagi mereka yang dididiknya. Ia meminta mereka agar tidak membiarkan satu hal pun mengganjal dalam jiwa mereka tanpa upaya untuk mengklarifikasinya, serta memberikan kesempatan bagi siapa yang ingin bertanya secara pribadi agar tidak ada rasa canggung.
  18. Seorang saudara murabbi harus membiasakan saudara-saudaranya untuk memiliki wawasan yang luas dan menambah pengetahuan, serta mendalami urusan agama (tafaqquh fiddin). Ia mengajarkan mereka cara merujuk ke buku-buku rujukan induk (ummahatul kutub) dan mengenali apa yang mereka butuhkan.
  19. Ia harus membiasakan mereka untuk memberi (berkontribusi) dan menyeru orang lain kepada Allah, memberikan pelajaran-pelajaran, bahkan ia harus antusias menyiapkan pendidik-pendidik (murabbi) baru di antara mereka agar mereka dapat menjalankan kewajiban serupa terhadap saudara-saudara yang baru.
  20. Seorang saudara murabbi tidak boleh mengabaikan aspek olahraga fisik dalam pendidikannya. Tidak mengapa memilih orang-orang yang berkompeten untuk mengurus hal tersebut karena kekuatan fisik adalah keharusan bagi peniti jalan dakwah. Jika memungkinkan didirikannya klub-klub olahraga Islami, di mana berbagai jenis olahraga dipraktikkan dengan tetap menjaga ajaran dan adab Islam serta mendirikan salat tepat waktu, maka hal itu adalah lebih baik.

Dalam Bidang Tarbiyah dan Pendidikan (Sekolah)

Sektor tarbiyah dan pendidikan adalah salah satu sektor terpenting dan paling krusial karena pengaruhnya yang besar dalam pertumbuhan generasi yang merupakan struktur dasar dalam masyarakat dan negara. Oleh karena itu, ia harus mendapatkan perhatian yang layak dari kita di jalan dakwah. Anak-anak dari setiap bangsa melewati lembaga-lembaga tarbiyah dan pendidikan dalam kelompok-kelompok yang berurutan dan menghabiskan masa pertumbuhan serta pembangunan kepribadian secara fisik, intelektual, dan spiritual di sana. Maka generasi terbentuk sesuai dengan konsep, prinsip, nilai, dan teladan yang mereka terima, dan hal itu memiliki pengaruh yang panjang setelahnya dalam kehidupan mereka. Musuh-musuh dan para penganut ideologi duniawi telah menyadari pentingnya sektor ini, maka kita melihat mereka antusias menyusun kurikulum tarbiyah dan pendidikan sesuai prinsip yang mereka sukai. Kita membiarkan mereka campur tangan dalam kurikulum pendidikan di negeri-negeri kita sebagai "pakar" yang menyusupkan racun-racun mereka dan mengosongkan kurikulum kita dari ruh Islam dan ajaran-ajarannya.

Karena perubahan dalam masyarakat dan bangsa berjalan sesuai sunnah yang tidak berubah, maka sektor tarbiyah dan pendidikan adalah ladang subur yang mudah untuk menciptakan perubahan ini. Kewajiban Islam mendiktekan kepada kita agar sektor ini diwarnai dengan celupan (shibghah) Islam dan agar kita menghadirkan teladan Islam yang baik di dalamnya. Kita tidak butuh penjelasan panjang lebar tentang bagaimana Islam sangat memperhatikan ilmu dan ulama serta mendorong pendidikan dan pembelajaran, dan bahwa dasar-dasar awal ilmu modern diletakkan oleh ilmuwan muslim. Kami juga mengingatkan perbedaan antara Tarbiyah dan Ta'lim (pendidikan dan pengajaran). Jika pengajaran berhubungan dengan akal dan pikiran, maka tarbiyah berhubungan dengan jiwa dan ruh. Hal ini menjadikan perhatian terhadap tarbiyah lebih besar dan lebih mutlak; sebagaimana dikatakan: "Adab lebih didahulukan daripada ilmu." Ketika kita berbicara tentang keteladanan di jalan dakwah dalam bidang tarbiyah dan pendidikan, kita membahas tentang lembaga pendidikan, kepala sekolahnya, para guru laki-laki dan perempuan, serta para siswa dan siswi.

Lembaga Pendidikan Islam yang Teladan

Lembaga ini bisa berupa sekolah, institut, atau perguruan tinggi. Wajib bagi Islam untuk menjadi corak umum yang memaksakan dirinya dalam setiap hal besar maupun kecil. Tidak ada tabarruj (pamer kecantikan), tidak ada ikhtilat (percampuran pria-wanita yang melanggar syariat), menjaga adab Islam dalam berinteraksi, serta menyediakan tempat untuk salat dan wudu, serta mengatur waktu agar sesuai dengan waktu-waktu salat. Di samping itu, luasnya bangunan, kekokohan, dan kebersihannya juga diperhatikan karena hal itu memiliki pengaruh psikologis terhadap siswa dan guru.


Manajemen (Pimpinan) yang Teladan

Manajemen yang diwakili oleh pengawas, direktur lembaga, atau dekan fakultas, serta orang-orang yang membantu mereka, memikul beban terbesar dalam memastikan lembaga menunaikan tugasnya dengan baik. Maka, manajemen Islam yang teladan harus menyadari besarnya tanggung jawab yang dipikul di pundak mereka, bahwa para siswa adalah amanah di leher mereka, dan bahwa mereka sedang mempersembahkan pengabdian yang luhur bagi tanah air melalui pengasuhan dan persiapan yang baik bagi para siswa tersebut, serta bagi dakwah Islam dengan menanamkan prinsip-prinsip agama dan adab-adabnya ke dalam akal dan jiwa mereka.

Harus jelas bahwa mengelola lembaga pendidikan sangat berbeda dengan mengelola lembaga komersial atau industri. Setiap tindakan atau kejadian yang terjadi di dalam lembaga pendidikan akan meninggalkan kesan dan pengaruh di dalam jiwa para siswa. Selain itu, setiap fenomena penyimpangan yang muncul di tengah siswa atau guru menuntut inisiatif cepat untuk mengobati dan membasminya sebelum menyebar dan memburuk.

Manajemen Islam yang teladan harus memiliki tingkat keilmuan, akhlak, kewaspadaan, dan kemampuan manajerial yang baik, serta menjadi teladan praktis yang memadukan antara sifat seorang alim dan kasih sayang kebapakan terhadap siswa. Manajemen harus membimbing siswa melalui arahan dan bimbingan lewat siaran internal, buletin, atau aktivitas sosial, serta berupaya memperluas wawasan siswa dengan menyelenggarakan kunjungan ke lembaga-lembaga penting negara atau sektor swasta. Begitu juga aktivitas pelatihan kerja teknis yang bermanfaat agar siswa memperoleh informasi dan pengalaman di luar kerangka kurikulum sekolah.

Manajemen Islam yang teladan dapat membangun hubungan dengan wali murid dan mengingatkan mereka akan hal-hal yang menjadi maslahat bagi anak-anak mereka agar tercipta iklim pendidikan yang terintegrasi, serta mendorong mereka untuk menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dengan berkomitmen pada ajaran Islam, menunaikan kewajiban, dan berakhlak dengan akhlak Islam. Manajemen Islam yang teladan juga harus selektif dalam memilih para profesor dan guru, sehingga mereka menjadi pendidik (murabbi) sekaligus pengajar. Alangkah baiknya jika dilakukan pertemuan rutin dengan mereka untuk musyawarah dan studi bersama mengenai pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajaran lembaga, mengenali poin positif dan negatif, serta menyepakati segala hal yang mendatangkan kebaikan.


Guru Muslim yang Teladan

Hal pertama yang harus tertanam dalam benak guru muslim yang teladan adalah pentingnya peran yang ia jalankan dalam menyiapkan dan mendidik generasi muda. Banyak guru yang menyangka bahwa tugasnya hanyalah menjejali memori siswa dengan informasi, dan dengan begitu ia merasa telah menjadi guru yang sukses. Ini adalah pemahaman yang salah; tugas guru haruslah bersifat mendidik (tarbawi) sebelum bersifat mengajar (ta'limi). Oleh karena itu, guru muslim harus menjadi teladan praktis dalam komitmennya terhadap adab dan ajaran Islam, menjaga salat tepat waktu bersama anak didiknya, bahkan membantu mereka mendalami urusan agama setiap kali melihat sesuatu yang menyimpang, memuji akhlak yang mulia atau tindakan baik yang ia rasakan dari mereka, serta mencela setiap tindakan buruk.

Guru muslim yang teladan harus menghargai kesempatan besar yang tersedia baginya ini sebagai ladang dakwah yang subur. Generasi muda yang berurutan ini datang mencarinya tanpa upaya keras darinya, dan mereka mendengarkannya dengan saksama dan penuh hormat. Padahal, teladan kita Rasulullah SAW dahulu mencari orang-orang dan menanggung beban berat serta perjalanan jauh demi mendakwahi mereka, bahkan seringkali beliau menerima gangguan dari mereka namun tetap bersabar dan melanjutkan dakwahnya; perjalanan beliau ke Thaif adalah contoh terbaik.

Guru muslim yang teladan harus membangun hubungan yang baik dan ikatan emosional yang hidup antara dirinya dan para siswa, karena hal itu sangat membantu agar mereka terpengaruh olehnya dan menyambut arahannya. Hubungan ini dapat dicapai melalui partisipasi bersama dalam perjalanan atau seminar. Saat menyajikan materi pelajarannya, ia harus menghubungkan ilmu tersebut dengan Sang Pencipta Subhaanahu wa Ta'ala, terutama karena banyak ilmu pengetahuan yang mengungkap dan menjelaskan keagungan Allah serta kekuasaan-Nya pada makhluk-Nya, yang mana hal itu akan melahirkan pengagungan kepada Allah di dalam jiwa siswa, sehingga terpantul dalam bentuk ketaatan kepada apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang.

Dapat dibentuk sebuah komite dari guru-guru muslim untuk menyiapkan apa yang disebut "Panduan Guru Muslim", yang menjelaskan bagaimana setiap guru muslim menyajikan materi yang ia ajarkan kepada siswa dengan cara Islami yang menghubungkan ilmu dengan Sang Pencipta dan dengan akidah. Hal ini dilakukan untuk setiap mata pelajaran dan setiap tingkatan. Komite ini atau yang lainnya juga bertugas meninjau kurikulum untuk mengevaluasinya dan mengenali poin-poin yang mungkin bertentangan dengan akidah kita guna membersihkan kurikulum dari hal tersebut. Merupakan kewajiban pula untuk mengadakan konferensi-konferensi dari para spesialis urusan pendidikan muslim untuk mempelajari segala hal yang berkaitan dengan pendidikan dari sudut pandang Islam, guna mengambil manfaat dari studi-studi ini sekarang maupun di masa depan saat tegaknya pemerintahan Islam dengan izin Allah. Gerakan Islam juga harus mengarahkan kader-kadernya untuk mengambil spesialisasi di bidang-bidang yang dibutuhkan dunia pendidikan sebagai guru, agar bidang pengajaran tidak ditinggalkan bagi para pemilik prinsip-prinsip yang merusak.

Guru muslim yang teladan harus memperhatikan bahasa Arab fusha (standar), terutama guru bahasa Arab dan guru pendidikan Islam; karena sebagaimana diketahui, ada kampanye melawan bahasa fusha dan upaya gigih agar bahasa amiyah (dialek pasar) mendominasi. Guru muslim yang teladan juga harus segera menyambut panggilan untuk mengajar di negeri-negeri Islam yang terpencil di Afrika atau Asia dan menanggung kesulitan serta kesederhanaan hidup demi menunaikan risalah dakwah; kita lebih berhak melakukan itu daripada para misionaris yang bersedia menanggung beban tersebut.

Peringatan: Hendaknya diketahui bahwa kami juga memaksudkan Guru Perempuan (Ibu Guru) Muslimah yang Teladan dalam semua hal di atas, dengan tambahan perhatian pada komitmen keislamannya dalam hal-hal yang khusus bagi wanita, terutama busana syar'i, tidak bercampur baur (ikhtilat), menjaga rasa malu, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan gadis dan wanita muslimah.


Siswa Muslim yang Teladan

Siswa adalah unsur utama yang menjadi alasan berdirinya lembaga pendidikan, di mana para profesor dan guru menunaikan kewajiban mereka demi menyiapkannya agar menjadi batu bata yang kuat dan saleh dalam bangunan umat. Maka, menjadi keharusan bagi kita di jalan dakwah untuk menyajikan model siswa muslim yang benar agar menjadi teladan di antara sesama siswa, demikian pula bagi Siswi Muslimah yang Teladan, mengingat wanita mewakili separuh masyarakat dan memiliki peran krusial dalam mencetak generasi serta membangun rumah tangga muslim sebagai pilar kuat dalam pembangunan masyarakat dan negara Islam.

Hal pertama yang kami wasiatkan kepada siswa muslim teladan adalah memperbaiki niat dan tujuannya dalam belajar. Mayoritas siswa bertujuan mencari ijazah agar dapat bekerja dan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun kita ingin niat siswa muslim teladan dalam menuntut ilmu adalah untuk berkontribusi dalam membangun negara Islam dan menutup celah di bidang spesialisasi yang diarahkan oleh jamaah kepadanya. Islam juga telah mendorong kita untuk menuntut ilmu dan menyeru kita untuk menunaikan kewajiban khilafah di bumi serta memakmurkannya dengan potensi dan materi yang telah Allah tundukkan bagi kita.

Dengan niat ini, belajar berubah menjadi ibadah yang mendekatkan siswa kepada Tuhannya, dan ia memperoleh pahala atas setiap upaya, waktu, atau harta yang dikeluarkan di jalan pendidikan. Hendaknya siswa muslim mengetahui bahwa orang-orang yang meletakkan dasar ilmu pengetahuan modern adalah para ilmuwan muslim, dan kita harus berusaha agar dari barisan muslim hari ini lahir ilmuwan-ilmuwan jenius di berbagai bidang ilmu yang mengembalikan hak umat dan mengembalikan kemuliaannya.

Siswa muslim teladan harus memperbaiki pandangannya terhadap studi dan pendidikan, bahwa itu bukan sekadar penyerapan informasi oleh akal untuk kemudian dituangkan di akhir tahun pada lembar jawaban, melainkan yang diminta adalah pembentukan kepribadian yang terpelajar dan konstruktif yang bermanfaat dengan ilmunya di berbagai bidang kehidupan demi kemaslahatan umat manusia. Maka, siswa harus antusias mengenali sejauh mana hubungan apa yang ia pelajari dengan kehidupan umum yang praktis. Siswa muslim teladan harus menyadari bahwa aspek pendidikan akhlak lebih utama kepentingannya daripada aspek wawasan intelektual, dan tidak ada yang lebih baik daripada ajaran Islam dan adab-adabnya untuk mewujudkan aspek pendidikan ini. Hendaknya ia antusias mengenali adab Islam dan mewajibkan dirinya dengannya; membiasakan jujur, amanah, menepati janji, santun, dan setiap akhlak Islam, serta menjauhi akhlak tercela. Hal yang paling menonjol yang harus ia perhatikan adalah penunaian ibadah, terutama salat, bakti kepada kedua orang tua, serta baiknya pergaulan dengan anggota keluarga dan rekan-rekan sesama siswa.

Siswa muslim teladan harus pandai memilih siapa yang dijadikan teman di antara rekan-rekan siswanya; ia memilih mereka yang saleh dan menjauhi pertemanan dengan orang-orang buruk. Ia harus mengatur hubungan ini agar tetap moderat dan terkendali, serta tidak membiarkannya mendominasi waktu dan studinya. Ia juga harus bijak memilih sarana hiburan diri, dengan memilih yang bersih, suci, dan bermanfaat, serta menjauhi tempat-tempat dosa dan kerusakan.

Siswa muslim teladan harus memberikan perhatian besar pada urusan studi dan pendidikan; karena fase hidupnya ini adalah masa belajar dan membangun kepribadian. Ia harus melaluinya dengan fokus dan keunggulan tanpa disibukkan oleh hal-hal yang menyebabkan kegagalan, agar setelah itu ia bisa luang untuk kewajiban-kewajiban selanjutnya. Ia harus teratur dalam urusannya di rumah, sekolah, atau universitas, di meja belajarnya, dan di kamar tidurnya. Teratur dalam meletakkan pakaian saat dilepas agar mudah ditemukan saat hendak dipakai, serta teratur dalam meletakkan buku dan catatan agar tidak membuang waktu saat mencari apa yang dibutuhkan. Adapun siswa yang tidak terbiasa teratur akan menjadi kacau bahkan dalam pemikirannya, serta menghabiskan waktu dan tenaga saat mencari alat-alat dan keperluannya.

Ia harus mengatur waktunya dan menentukan waktu yang diperlukan untuk belajar, mengulang pelajaran, serta waktu tidur, dan bersungguh-sungguh mendisiplinkan diri untuk itu. Jangan biarkan waktunya dikendalikan oleh keadaan, kesibukan, media massa, atau gangguan lainnya. Ia harus disiplin menunaikan salat tepat waktu, karena dalam menunaikannya terdapat pembaruan energi serta permohonan pertolongan dan taufik dari Allah. Harus diperhatikan agar belajar tidak memakan waktu tidur, dan tidur tidak memakan waktu belajar. Perlu dicatat bahwa banyak siswa tidak mempedulikan studi dan mengulang pelajaran di awal tahun ajaran sehingga banyak waktu terbuang, lalu mereka mencoba menebusnya di akhir tahun dengan begadang dan kelelahan; ini adalah kesalahan besar yang harus dihindari oleh siswa muslim dengan cara mengatur waktu sejak awal tahun dan berjalan dengan ritme yang moderat, karena kelelahan di akhir tahun seringkali menyebabkan kepayahan dan kegagalan.

Siswa muslim teladan harus terbiasa bersih dalam segala hal, dimulai dari kebersihan batinnya; menyucikan hatinya dari dendam, hasad, kebencian, sombong, bangga diri, dan dari segala yang memurkai Allah, serta mengisinya dengan takwa, cinta, ikhlas, kejernihan, tawadhu, dan segala yang diredai Allah. Setelah itu, ia harus menjaga kebersihan tubuhnya, pakaiannya, tempat tidurnya, meja belajarnya, dan buku-bukunya.

Siswa muslim teladan harus disiplin menghadiri pelajaran dari gurunya dan tidak absen kecuali karena uzur yang sangat mendesak. Ia harus hadir secara pikiran saat penjelasan diberikan tanpa disibukkan oleh hal lain. Sebab, pemahaman yang baik terhadap penjelasan guru akan sangat bermanfaat baginya kemudian hari, berbeda jika ia tidak hadir atau tidak memperhatikan sehingga tersisa poin-poin yang samar dan tidak dipahami dengan baik. Alangkah baiknya jika ia sempat membaca materi sebelum dijelaskan oleh guru agar ia mendapat gambaran umum dan mengenali poin-poin yang butuh perhatian ekstra saat dijelaskan. Hendaknya siswa muslim mengetahui bahwa sebagian besar pelajaran saling berkaitan; seringkali sulit memahami suatu pelajaran jika pelajaran sebelumnya tidak dipahami. Maka, siswa teladan kita harus memastikan tidak ada pelajaran yang terlewat tanpa dipahami; jika itu terjadi, segera tanyakan kepada guru atau rekan-rekannya.

Hal yang membantu pemahaman dan memudahkan pengulangan di akhir tahun adalah siswa mengekstrak bab-bab dan poin-poin utama serta cabang dalam setiap bab dengan sedikit kata penjelas, lalu menuliskannya sebagai "kerangka tulang" bagi mata pelajaran tersebut dan menghafalnya dengan baik. Membaca rincian setelah itu akan berfungsi seperti "daging" yang menutupi kerangka tulang tersebut, sehingga bagian-bagian daging menempel pada tempatnya di tulang. Namun tanpa kerangka tulang, daging akan bercampur aduk satu sama lain dan tidak membentuk tubuh yang jelas bentuknya; saya tegaskan secara pribadi bahwa pengalaman ini sukses.

Siswa muslim teladan harus antusias menguasai studinya dan unggul di dalamnya, karena ini adalah tuntutan dan kewajiban Islami. Selain itu, hal tersebut akan menenangkan kedua orang tuanya bahwa aktivitas keislamannya tidak menghambat perhatiannya terhadap studi bahkan mendorongnya untuk unggul. Demikian pula rekan-rekan siswa yang ia dakwahi kepada Allah, ketika mereka melihatnya unggul, mereka tidak akan takut bahwa aktivitas Islam akan menyibukkan mereka dari studi dan keunggulan. Adapun jika siswa muslim tersebut tidak unggul, itu akan membuat orang tuanya menyalahkannya dan menjauhkan siswa lain dari berpartisipasi dalam kerja dakwah bersamanya. Hendaknya siswa muslim antusias berzikir kepada Allah, berlindung dari setan, memulai pekerjaan dan studinya, serta menjawab ujian dengan Basmalah dan memohon pertolongan Allah. Jika ia menemukan bakat pada dirinya di bidang yang bermanfaat, ia harus memberitahu saudara-saudaranya agar bakat tersebut dikembangkan demi kemanfaatan amal Islami. Ia juga harus berkonsultasi saat memilih spesialisasi untuk memilih apa yang paling bermanfaat bagi kerja Islam.

Siswa muslim teladan harus menunaikan kewajibannya dalam belajar dan mengulang pelajaran, kemudian bertawakal kepada Allah dan menghadapi ujian dengan syaraf yang tenang. Setelah itu, ia harus menerima hasil ujian dengan sikap seorang mukmin; memuji dan bersyukur kepada Allah jika taufik dan kesuksesan menyertainya, dengan mengembalikan keutamaan tersebut kepada Allah, pertolongan-Nya, dan taufik-Nya. Jika hasilnya sebaliknya, ia tidak boleh mengeluh atau bersedih; hendaknya ia berucap "Qadarullah wa maa syaa-a fa'ala" (Takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi) dan mengulangi upayanya dengan tekad, ketenangan, dan harapan.

Siswa muslimah (siswi) teladan harus menerapkan pada dirinya semua poin yang telah disebutkan di atas, dan ditambah dengan menjaga kesempurnaan serta kehormatannya dengan berkomitmen pada adab dan ajaran Islam dalam hal busana muslimah yang memenuhi syarat lengkap, menjauhi jenis perhiasan yang dilarang, berhati-hati dari situasi yang menimbulkan fitnah, ikhtilat, mengeraskan suara dalam berbicara atau tertawa, dan hal-hal lain yang tidak layak bagi siswi muslimah teladan. Ia harus mewajibkan dirinya dengan adab rasa malu, pandai memilih teman-teman perempuannya, serta mendalami urusan agamanya khususnya yang berkaitan dengan wanita muslimah. Ia juga harus menjalankan peran dakwah di antara teman-teman perempuannya.


Dalam Bidang Media Massa (I'lam):

Sesungguhnya media massa dengan berbagai lembaga, perangkat, dan sarana modernnya telah menjadi peran yang sangat krusial dan berpengaruh dalam mengarahkan bangsa-bangsa dan masyarakat. Radio, televisi, teater, bioskop, surat kabar, majalah, jurnal berkala, buku, buletin, penerbitan, pusat kebudayaan, hingga kaset rekaman audio maupun video, serta sarana lainnya, hari ini memainkan peran besar dalam pertarungan prinsip dan ideologi di kancah lokal maupun global. Kita dapati mereka yang berpijak pada prinsip-prinsip tertentu mengerahkan seluruh sarana ini untuk mempromosikan prinsip mereka dan menggugurkan prinsip lainnya.

Sudah sewajarnya bagi para aktivis di medan dakwah Islam untuk mengambil peran dalam bidang ini dan mengerahkan setiap sarana modern demi kepentingan dakwah serta menyebarkan prinsip-prinsip Islam yang lurus, agar cahayanya meliputi seluruh penjuru alam dan mengusir kegelapan materialisme yang telah mendominasi banyak negara di dunia, bahkan dunia Islam kita pun tidak luput darinya.

Jika keadaan belum memungkinkan bagi para aktivis Islam untuk memanfaatkan sarana ini secara maksimal akibat tekanan, penyempitan ruang gerak, bahkan pembredelan surat kabar dan majalah Islam di beberapa negara Islam, hal ini tidak berarti harus menyerah pada kenyataan atau meremehkan pentingnya bidang media. Mutlak diperlukan kesabaran, perjuangan, dan upaya untuk menguasai medan ini, serta menyiapkan tenaga teknis dan pakar dalam setiap cabangnya. Terutama karena Islam adalah agama fitrah yang memiliki kekuatan intrinsik yang menjadikannya memiliki pengaruh terbesar ketika disajikan oleh orang-orang ikhlas melalui berbagai sarana media ini.

Ketika para aktivis Islam mempraktikkan sarana ini, hendaknya mereka menundukkannya di bawah ajaran dan adab Islam serta meletakkan batasan-batasan syariat pada setiap sarananya agar media tersebut menjalankan peran yang konstruktif dan terhindar dari bentuk-bentuk dosa serta pelanggaran yang menjadi ciri khas banyak media di zaman kita sekarang—sebagai implementasi dari rencana musuh untuk menghancurkan masyarakat, keluarga, dan individu kita. Barangkali kerusakan inilah yang menjadi salah satu sebab menjauhnya banyak aktivis Islam untuk memasuki medan ini, kecuali mereka yang dijaga oleh Allah. Selain itu, harus diperhatikan koordinasi antara para pekerja di berbagai bidang media Islam agar upaya-upaya tersebut menyatu, arahannya seragam, dan produktivitasnya terjaga. Kami akan mengulas tentang keteladanan di beberapa bidang ini semampu mungkin, meskipun perkara ini membutuhkan upaya yang lebih besar dan studi dari para ahli di bidangnya agar manfaatnya merata dan bertambah luas.

Dalam Bidang Jurnalistik dan Penerbitan

Surat kabar, majalah, risalah, dan buku memiliki peran krusial dan pengaruh yang meluas secara horizontal maupun temporal terhadap individu dan masyarakat. Adalah kewajiban gerakan Islam untuk memberikan perhatian pada bidang-bidang ini dan menyajikan teladan yang saleh di dalamnya. Kami akan mengulas sebagian di antaranya sebagai bentuk pemberian gambaran singkat, bukan untuk mencakup segalanya, karena perkara ini membutuhkan studi dan perhatian dari para ahli di bidangnya sebagaimana telah kami sampaikan.

Jurnalis Muslim yang Teladan:

Kita menginginkan sosok jurnalis muslim teladan yang menguasai keahliannya dan berkomitmen pada adab Islam di dalamnya. Ia mengupayakan berita yang jujur tanpa pengurangan, pelebih-lebihan (hiperbola), atau menyimpang dari fakta. Ia menyajikan analisis objektif dan akurat yang bermanfaat bagi pembaca dan memberikan visi yang benar, serta menjauhi tindakan mencela atau menyakiti orang lain dalam tulisannya. Ia harus mengupayakan kritik yang membangun dan menjauhi kritik destruktif, serta mengatakan yang benar meskipun pahit tanpa basa-basi (kompromi) atau rasa takut. Kita ingin ia bersikap adil; mengatakan "anda benar" kepada yang berbuat baik dan "anda salah" kepada yang berbuat buruk dengan gaya bahasa yang tenang dan dapat diterima. Ia harus menjauhi sikap menjilat kepada pemegang kekuasaan dan pengaruh, serta waspada terhadap upaya kooptasi baik melalui rayuan materi maupun ancaman. Jurnalis muslim teladan harus mahir menghubungkan isu-isu dan berita yang ia tulis dengan dakwah kepada Allah, agar orang-orang mengetahui bahwa agama Allah mencakup seluruh bidang kehidupan dan memiliki peran, arahan, hukum, serta solusi di setiap bidangnya.

Ia harus menghidupkan isu-isu masyarakat Islam kita dan masalah yang dihadapi, serta berbagi rasa dengan masyarakat dalam perasaan dan realitas mereka. Ia juga harus bekerja sama dengan para ahli dalam menyajikan solusi Islami bagi masalah-masalah dan isu-isu tersebut. Jurnalis muslim harus waspada terhadap apa yang diterbitkan oleh musuh-musuh Allah dan agen-agen mereka untuk menyudutkan Islam atau gerakan Islam, serta menyanggah kebohongan dan kepalsuan mereka, serta memperbagus penyajian Islam kepada seluruh manusia.

Lembaga Pers Islam yang Teladan:

Lembaga pers Islam harus menyadari pentingnya peran yang dipikul di pundaknya untuk melayani dakwah Islam dan amal Islami yang konstruktif. Ia harus memperbagus penyajian Islam baik secara akidah, ibadah, syariat, maupun akhlak, serta membuktikan kompetensi dan hak Islam untuk memimpin kehidupan manusia. Ia juga harus menegaskan bahwa syariat Allah adalah yang paling berhak untuk diterapkan dan tidak ada ruang untuk membandingkannya dengan sistem serta prinsip buatan manusia.

Lembaga pers Islam harus memperhatikan tanggung jawabnya terhadap pemahaman dan persepsi pembaca, sehingga tidak menyajikan sesuatu yang menyimpang atau merusak seperti yang kita lihat di banyak surat kabar dan majalah. Pers Islam harus mengadopsi isu-isu dunia Islam dan menyajikannya dengan baik agar kaum muslimin merasakan isu saudara-saudara seiman mereka di mana pun, serta berbagi duka dan harapan dengan mereka. Pers Islam juga harus meliput informasi yang dibutuhkan di medan-medan amal Islami, gerakan Islam, jihad Islam, dan hal-hal lain yang sengaja ditutupi atau disimpangkan oleh pers global maupun nasional.

Pers Islam harus memberikan kesempatan bagi para penulis dan pemikir Islam untuk menerbitkan karya intelektual mereka dengan mudah dan lancar, dengan tetap memastikan dan memverifikasi keselamatan isi karya yang diserahkan untuk diterbitkan. Lembaga pers harus menyajikan dalam medianya apa yang dibutuhkan oleh berbagai strata masyarakat seperti pelajar, pekerja, profesional, pemuda, pemudi, anak-anak, dan sektor rakyat lainnya agar arahannya terintegrasi dan mencakup semua orang.

Penerbitan Islam yang Teladan:

Kita menginginkan penerbit-penerbit Islam yang berkontribusi aktif dalam mewujudkan tujuan amal Islami dengan menyajikan Islam yang benar, memperingatkan dari penyimpangan, dan mengobati berbagai penyakit masyarakat kita dengan obat Islam dari Al-Qur'an dan As-Sunnah. Kita ingin penerbit Islam yang menjadikan kemaslahatan dakwah sebagai tujuan utamanya, bukan keuntungan materi semata. Sangat disayangkan, kita melihat ada penerbit yang mengeksploitasi antusiasme pemuda dan masyarakat umum terhadap buku-buku Islam dengan menaikkan harga secara drastis atau menyajikan buku-buku yang dinisbatkan kepada Islam namun kosong isinya. Kita ingin penerbit Islam yang menyeleksi apa yang ia terbitkan dan siapa penulisnya, sehingga ia merasa tenang akan keselamatan penulis dan tulisannya sebelum terlanjur mencetak dan menerbitkannya. Sebab, ada penulis yang mengenakan "jubah Islam" namun menyusupkan dalam tulisan mereka hal-hal yang bertentangan dengan Islam; dan pencegahan adalah lebih baik daripada pengobatan.

Penulis Muslim yang Teladan:

Yaitu sosok yang pandai memilih tema yang tepat dan bermanfaat di medan dakwah, serta mahir mengulas tema tersebut dengan gaya bahasa yang baik dan jelas yang maknanya sampai ke hati dan akal serta memberikan pengaruh yang diinginkan. Kita ingin penulis muslim teladan berkomitmen dalam tulisannya pada pemahaman Islam yang selamat, jauh dari pemotongan, penyimpangan, atau kesalahan. Hendaknya ia menyadari besarnya beban dosa sebanding dengan jumlah pembaca yang terpengaruh oleh pemahaman yang tidak selamat tersebut. Kita ingin setiap penulis Islam yang memiliki bakat di bidang kepenulisan atau media untuk mengembangkannya dan memberikan manfaat dengannya, sehingga tidak kita tinggalkan satu pun bidang media melainkan kita investasikan dan manfaatkan setelah diwarnai dengan celupan Islam. Kita ingin sastrawan Islam turut berkontribusi dan mengobati masalah dengan gaya bercerita yang memiliki daya tarik dan pengaruh. Begitu pula kita ingin penyair muslim teladan yang berkontribusi dengan syiarnya dalam isu-isu Islam dan dengan nasyid-nasyid yang membangkitkan semangat para pemuda dan remaja. Tidak diragukan lagi bahwa puisi memiliki peran dan pengaruh tersendiri dalam jiwa.

Perpustakaan (Toko Buku) Islam:

Kita ingin toko buku Islam mahir dalam seni menyajikan buku dan mempromosikannya agar jangkauan distribusinya meluas. Kita ingin mereka tidak berlebihan dalam menetapkan harga buku-buku Islam agar terjangkau bagi sebanyak mungkin orang untuk membeli dan mengambil manfaatnya. Toko buku harus selektif dalam memilih buku, surat kabar, dan majalah yang dijual dan didistribusikannya; memilih yang bermanfaat dan menjauhi apa yang mengandung pelanggaran syariat betapa pun keuntungannya menggiurkan. Toko buku Islam harus mengikuti setiap perkembangan baru yang bermanfaat serta berkontribusi dalam menyajikan dan mendistribusikannya. Ia juga harus menjaga hubungan baik dengan penerbit dan menunaikan kewajiban finansialnya tepat waktu.

Sebelum meninggalkan bidang media Islam, kami mengingatkan setiap orang yang bekerja di bidang media akan pentingnya mengikhlaskan niat dan membersihkannya dari segala tujuan duniawi; karena beberapa bidang media sangat menggoda dengan kecintaan pada popularitas, ambisi kepemimpinan, mencari kedudukan di sisi penguasa, atau mengejar jabatan, kehormatan, maupun harta.


Keteladanan di Bidang Lainnya

Dokter Muslim yang Teladan:

Kita menginginkan dokter muslim teladan menjadikan pekerjaannya sebagai sarana mencari rida Allah dan pahala-Nya, sedangkan pendapatan materi hanyalah dampak penyerta dan bukan menjadi inti dari maksud serta arah niatnya. Ia harus meyakini bahwa Yang Maha Penyembuh adalah Allah, dan apa yang ia lakukan berupa diagnosis atau pengobatan hanyalah sebab-sebab semata. Ia harus selalu memohon taufik kepada Allah saat mendiagnosis dan meresepkan obat.

Dokter muslim harus menghiasi diri dengan sifat santun, lapang dada, penuh kasih sayang, dan membiasakan perkataan yang baik kepada pasien, karena hal itu memiliki pengaruh psikologis yang besar bagi pasien. Ia harus selalu memberikan harapan besar akan kesembuhan kepada pasien. Hendaknya ia mengetahui bahwa pasien sangat peka terhadap setiap kata, gerakan, atau raut wajah yang keluar dari dokter saat memeriksanya untuk menangkap evaluasi dokter terhadap kondisinya dan sejauh mana harapan untuk sembuh.

Dokter muslim teladan harus menjaga keteraturan dan kebersihan tempat kerjanya, mengatur jadwal, dan menetapkan waktu tertentu bagi setiap pasien agar ditaati bersama guna menghindari waktu lama yang terbuang saat mengantre. Ia harus memperhatikan waktu salat dan memudahkan para pengunjung kliniknya untuk menunaikan salat jika waktunya tiba.

Dokter muslim teladan harus menguasai hukum-hukum fikih yang berkaitan dengan pekerjaannya agar tidak jatuh dalam dosa, begitu juga hukum-hukum fikih yang dibutuhkan pasien agar dokter dapat membimbingnya. Para dokter muslim harus bersegera bekerja di negeri-negeri Islam betapa pun terpencilnya, meskipun kehidupannya keras. Tidak boleh kita melihat dokter-dokter misionaris pergi ke sana untuk menjalankan misi penginjilan di antara pasien muslim, sementara kita dapati dokter-dokter muslim enggan pergi dan lebih memilih negara-negara Teluk serta kehidupan yang nyaman. Apa yang kami sebutkan tentang dokter muslim teladan juga berlaku bagi Dokter Muslimah yang Teladan. Tidak lupa dalam bidang medis, bahwa Perawat Muslim (Laki-laki maupun Perempuan) juga memiliki peran penting; masing-masing harus menjadi teladan yang baik dalam merawat pasien, bersabar demi kenyamanan mereka, serta menghargai kondisi dan penderitaan mereka.


Rumah Sakit Islam yang Teladan:

Kita perlu menciptakan model-model Rumah Sakit Islam yang teladan dan mereplikasi model tersebut, seperti Rumah Sakit Islam di Amman, Yordania. Dengan memperhatikan standar manajerial dan teknis yang tinggi, peralatan modern, sistem, kebersihan, serta pelayanan yang baik kepada pasien, kita melihat bagian wanita sepenuhnya diisi oleh pasien wanita, dokter wanita, dan perawat wanita. Begitu pula bagian pria sepenuhnya berisi pasien pria, dokter pria, dan perawat pria. Kita dapati para dokter dan perawat wanita mengenakan busana Islami yang sesuai, tersedia tempat khusus untuk wudu dan salat, serta telah dibangun masjid yang berdekatan. Selain itu, manajemen rumah sakit memperhatikan kondisi sosial pasien dan mengalokasikan persentase tempat tidur tertentu bagi kasus-kasus yang tidak mampu membayar biaya pengobatan.

Saran: Kami menyarankan agar disusun sebuah buku kecil berjudul "Panduan Dokter Muslim" yang berisi beberapa arahan atau rekomendasi teknis serta hukum-hukum fikih dalam beberapa persoalan yang dihadapi para dokter dalam pekerjaan mereka.

Ahli Hukum Muslim:

Ahli hukum memiliki peran yang krusial dan penting dalam masyarakat kita, baik ia seorang hakim, pengacara, maupun jaksa. Undang-undang itu sendiri, proses peradilan, pelaksanaan putusan, dan mereka yang menjalankan itu semua membentuk aspek penting dalam kehidupan masyarakat. Maka, ahli hukum muslim harus mengerahkan upayanya bersama rekan-rekannya agar Syariat Islam dapat berkuasa. Hingga hal itu terwujud, ia harus menghindari menjatuhkan putusan dengan hukum-hukum yang menyelisihi syariat Allah. Ia harus mengupayakan keadilan dan kejujuran, karena ia bertanggung jawab atas setiap pelanggaran dalam pekerjaannya yang berakibat pada hilangnya hak orang yang berhak, terjadinya kezaliman pada seseorang, atau tidak diangkatnya kezaliman dari orang yang terzalimi, terutama saat kezaliman telah mendominasi banyak negeri kita di zaman ini.

Seorang pengacara muslim harus mengupayakan kebenaran dan tidak menyimpang darinya. Terkadang, demi memenangkan kasus, sebagian pengacara menempuh cara menyimpang dari kebenaran dan memutarbalikkan fakta. Tidak boleh bagi pengacara muslim membela terdakwa yang benar-benar terbukti melakukan kejahatan, kecuali jika dalam ruang lingkup hukum terdapat celah legal untuk meringankan hukuman, bukan untuk meniadakan tuduhan yang sudah terbukti.

Pedagang Muslim yang Teladan:

Perdagangan mewakili sektor besar dalam masyarakat kita, dan kita sangat membutuhkan sosok pedagang muslim yang teladan, terutama di zaman ini di mana integritas telah rusak dan kecurangan merajalela. Kita menginginkan pedagang muslim yang mengupayakan kehalalan dalam barang dagangannya dan menjauhi yang haram serta buruk. Kita menginginkan pedagang muslim yang menjauhi penipuan, pengurangan takaran, dan kecurangan timbangan, sebagaimana ia menjauhi praktik monopoli (ihtikar), transaksi riba, dan setiap jual beli yang di dalamnya terdapat pelanggaran terhadap ajaran Islam; serta merasa cukup dengan keuntungan yang sewajarnya.

Kita menginginkan pedagang muslim yang pandai memilih pihak atau perusahaan yang bekerja sama dengannya, yaitu perusahaan Islami atau nasional semaksimal mungkin, serta berupaya mempromosikan produk-produk dalam negeri. Kita menginginkan pedagang muslim yang mengetahui bahwa harta adalah milik Allah di tangannya, sehingga tidak menguasai hatinya dan pekerjaannya tidak menyibukkannya dari menunaikan salat dan zakat. Ia harus bersegera menginfakkan hartanya di jalan-jalan kebaikan, terutama jihad di jalan Allah.

Kita menginginkan pedagang muslim teladan yang teratur dalam pekerjaan, waktu, dan dalam menyajikan dagangannya. Perdagangan tidak menyibukkannya dari bekal spiritualnya, kewajibannya terhadap Islam, terhadap keluarganya, dan pengasuhan anak-anaknya. Kita menginginkan pedagang muslim yang menjaga kebersihan tokonya dan barang dagangannya agar selamat dari kerusakan, kebusukan, atau hal yang membahayakan, serta menjauhi cara-cara menyembunyikan cacat barang dan menipu pembeli. Kita menginginkan pedagang muslim yang memudahkan saat membeli, saat menjual, dan saat menagih haknya. Secara keseluruhan, kita menginginkan pedagang muslim yang meraih kepercayaan masyarakat dan menjadi da'i bagi Islam melalui interaksinya yang baik, kualitas barangnya, kejujurannya, serta amanahnya.

Lembaga Ekonomi Islam:

Kita menginginkan lembaga-lembaga ekonomi Islam yang bekerja mendukung ekonomi umat Islam kita dan melindungi kekayaan negeri kita dari eksploitasi musuh-musuh kita. Kita menginginkan lembaga Islam dan para pengusaha muslim yang berkontribusi mewujudkan kemandirian pangan bagi negeri-negeri kita dan melepaskan diri dari ketergantungan yang menghinakan kepada musuh-musuh Allah, terutama dalam hal kebutuhan pokok (roti). Kita ingin terwujud koordinasi dan kerja sama antar lembaga ekonomi Islam di kancah Islami, dan alangkah baiknya jika terbentuk pasar Islam bersama di lingkungan negara-negara Islam.

Kita menginginkan bank-bank Islam teladan yang mengupayakan ajaran Islam dalam setiap transaksinya dan menyebarkan semangat kepercayaan serta ketenangan di jiwa nasabahnya sehingga mereka tidak melihat di dalamnya kecuali kebaikan. Bank tersebut tidak boleh salah dalam penerapan dengan melakukan pelanggaran kecil maupun besar apa pun alasan dan dorongannya.

Kita menginginkan bank Islam meningkatkan level teknisnya dalam setiap aspek pekerjaan sehingga mampu bertahan dan sukses dalam persaingan dengan bank ribawi sebagai langkah awal untuk melenyapkannya; karena bank Islam berada dalam pertempuran nyata melawannya. Hendaknya para pimpinan dan karyawan di bank Islam mengetahui bahwa dengan pekerjaan ini, mereka sedang berada dalam ibadah dan jihad di medan dakwah Islam, serta menjadi bukti nyata bagi kelayakan sistem Islam untuk diterapkan dalam kehidupan manusia. Bank Islam harus menginvestasikan simpanannya di kancah Islami dengan memanfaatkan kekayaan negeri Islam kita dan potensi manusianya. Para pakar ekonomi juga harus berkontribusi di bidang ini melalui studi, riset, dan perencanaan mereka. Secara umum, kita ingin para ekonom muslim mencurahkan perhatian untuk mempelajari kondisi ekonomi negeri Islam kita, mengenali penyakit dan sebab yang menyebabkan kemerosotan ekonomi, serta menyajikan solusi bagi kondisi tersebut di bawah naungan sistem ekonomi Islam. Dengan demikian, mereka termasuk para da'i sejati yang menyeru kepada Allah dan kepada penerapan syariat-Nya di bumi.

Pekerja Muslim yang Teladan:

Pekerja membentuk sektor besar dan penting dalam masyarakat kita, di atas pundak merekalah tegak berbagai pencapaian dan bangunan yang sangat kita butuhkan. Oleh karena itu:

Kita menginginkan pekerja muslim yang merasa bahwa bekerja adalah kemuliaan, ibadah, dan sarana mendekatkan diri kepada Allah. Perlu diingat bahwa sebagian Rasul dahulu bekerja dalam perdagangan, pandai besi, pertukangan, menggembala kambing, dan lain-lain. Pekerja muslim harus menguasai pekerjaannya (itqan) dan menyadari bahwa Allah mengawasinya meskipun pemilik usaha tidak mengawasinya. Ia harus merasa izzah (mulia) apa pun jenis pekerjaan yang ia lakukan. Ia harus jujur dalam menepati penyelesaian pekerjaan pada waktu yang disepakati tanpa kelalaian atau pengabaian. Pekerja muslim yang memiliki keahlian profesi harus berusaha meningkatkan level profesinya dan memanfaatkan setiap hal baru di dalamnya. Ia juga harus menunaikan hak dakwah dan saling mengingatkan di antara rekan sesama pekerja, serta membentengi mereka dari tipu daya propaganda para pemilik paham yang merusak.


Penutup

Setelah penelusuran tentang "Keteladanan di Jalan Dakwah" yang di dalamnya kami mencoba menjelaskan rambu-rambu keteladanan Islami di berbagai bidang ini, kami katakan: Sesungguhnya ini barulah isyarat dan gambaran umum. Adalah kewajiban bagi saudara-saudara di setiap spesialisasi yang telah kami sebutkan maupun yang belum kami sebutkan untuk menyusun studi analitis yang khusus bagi bidang mereka, mencakup seluruh kebutuhan amal Islami di bidang tersebut, serta memuat sifat-sifat Islami yang harus mereka wajibkan bagi diri mereka sendiri agar dapat menunaikan pekerjaan secara sempurna.

Adalah lebih baik jika studi-studi ini dikumpulkan, dicatat, dan dicetak agar mudah disebarluaskan di antara rekan sejawat dalam spesialisasi tersebut, baik mereka dokter, insinyur, ahli hukum, jurnalis, pedagang, pelajar, guru, maupun lainnya.

Sejauh mana aktivitas di bidang-bidang ini dilakukan, sejauh itulah terwujudnya masyarakat muslim dan unsur-unsur Islami yang menjadi pilar berdirinya pemerintahan Islam dan negara Islam. Keteladanan di jalan dakwah akan memiliki peran positif yang berpengaruh dalam menciptakan basis yang solid untuk membangun Negara Islam yang dicita-citakan.

Hanya kepada Allah-lah kita memohon taufik dan dari-Nya lah segala pertolongan.

 

No comments:

Post a Comment

Keluarga Muslim Teladan