Friday, May 1, 2026

Belajar Mandiri dan Membaca Efektif

Pertama: Definisi Belajar Mandiri

Belajar mandiri dimaksudkan sebagai upaya individu untuk mengajar dirinya sendiri, yang berarti ia bersandar pada dirinya sendiri dalam mendidik, membina, dan mengembangkan wawasannya.

Terdapat hubungan yang sangat erat antara belajar mandiri dengan penguasaan membaca secara independen. Hal ini dikarenakan membaca merupakan sarana utama bagi individu dalam belajar mandiri. Perkara ini mungkin akan menjadi jelas secara nyata melalui baris-baris berikut ini.


Bab Pertama: Belajar Mandiri dan Membaca Efektif

Tujuan Umum:

  1. Memahami hal-hal yang berkaitan dengan belajar mandiri dan membaca efektif dari segi konsep, urgensi, serta keterampilan yang dibutuhkan bagi keduanya.
  2. Mengenal hakikat dari proses membaca.
  3. Membentuk sikap dan kecenderungan positif terhadap belajar mandiri dan membaca.
  4. Membekali para pembelajar dengan keterampilan membaca.

Tujuan Perilaku Operasional untuk Topik Ini:

Setelah selesainya proses pembelajaran topik ini, pembelajar diharapkan mampu melakukan hal-hal berikut:

Satu — Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan belajar mandiri dan pentingnya hal tersebut di era sekarang.
  2. Menunjukkan hubungan antara belajar mandiri dengan penguasaan membaca secara independen.
  3. Memaparkan konsep membaca dan tingkatan-tingkatannya dengan paparan yang benar.
  4. Menyimpulkan pentingnya membaca bagi individu dan masyarakat.
  5. Mengurutkan keterampilan-keterampilan membaca dengan urutan yang benar.
  6. Menyebutkan poin-poin keterampilan membaca.
  7. Menyebutkan faktor-faktor yang memengaruhi pembelajaran membaca.
  8. Menyebutkan langkah-langkah yang dilalui dalam proses membaca.
  9. Meringkas hakikat proses membaca dengan ringkasan yang memadai.
  10. Membedakan antara model-model yang menjelaskan hakikat proses membaca menurut masing-masing tokoh: (Thorndike – Gray – Harris & Smith – Joe).
  11. Menyimpulkan hubungan antara membaca dengan proses berpikir dan belajar.
  12. Menjelaskan model integratif bagi hakikat proses membaca dan faktor-faktor yang memengaruhinya.

Dua — Tujuan Afektif (Sikap/Perasaan):

  1. Menegaskan pentingnya belajar mandiri untuk mengimbangi perkembangan pengetahuan yang sangat pesat di dunia kontemporer.
  2. Membiasakan diri untuk membaca yang memiliki tujuan dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Memperhatikan kegiatan membaca dan persiapan materi sebelum mendiskusikan topik apa pun.
  4. Mengalokasikan waktu untuk berlatih membaca dalam hati (silent reading) yang disertai dengan pemahaman dan kecepatan terhadap teks yang dibaca.
  5. Merasakan pentingnya apa yang ia baca.
  6. Menonjolkan nilai membaca dan kedudukannya dalam proses berpikir dan belajar.
  7. Mengubah beberapa kebiasaan buruk yang menyertai aktivitas membaca, seperti mengeraskan suara dan lambat dalam membaca.
  8. Menghindari membaca langsung dari buku saat memaparkan topik tertentu di tengah sesi bersama rekan-rekannya agar tidak membuang waktu mereka.
  9. Memuji posisi Islam terhadap aktivitas membaca dan belajar.

Tiga — Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Membaca topik dengan bacaan yang sadar dan teliti.
  2. Mencatat maksud dari belajar mandiri dan pentingnya di era sekarang.
  3. Menerapkan apa yang telah dipelajari dari topik ini dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kegiatan dakwah.
  4. Mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadis-hadis yang berkaitan dengan topik dalam lembar kerja khusus.
  5. Menulis laporan tentang model-model yang menjelaskan proses membaca dan hakikatnya.
  6. Mengklasifikasikan sub-sub keterampilan dari keterampilan pemahaman dengan klasifikasi yang akurat.
  7. Berlatih melakukan improvisasi (berbicara tanpa teks) untuk topik yang dipaparkan dan tidak bergantung pada menyalin (membaca teks) dari buku.
  8. Memperbaiki penggunaan bakat/kemampuannya dalam membaca efektif yang independen.
  9. Mempraktikkan membaca beserta aktivitas dan keterampilannya dengan metode yang benar dan efektif.
  10. Menciptakan cara-cara baru untuk melatih kecepatan membaca dan cara mengukurnya.

Bab ini memaparkan konsep belajar mandiri, kemudian membahas secara rinci tentang membaca efektif, di mana ia menjelaskan konsep membaca, urgensinya, keterampilan-keterampilannya, hakikat proses membaca, serta beberapa model yang menjelaskan proses membaca, konsep membaca efektif, jenis-jenis membaca, tingkatan-tingkatan membaca, serta tujuan dan jenis-jenis membaca.

Era saat ini sedang menyaksikan gelombang informasi yang dahsyat serta aliran pengetahuan yang melimpah dan intens. Gelombang dan aliran ini terus tumbuh secara konsisten, didorong oleh perkembangan cepat dalam teknologi percetakan dan produksi wadah pengetahuan. Hal ini menyebabkan era ini dijuluki dengan beberapa istilah yang semuanya menunjukkan bahwa ini adalah era kekayaan informasi, di antaranya adalah "Era Informasi" atau "Era Aliran Pengetahuan" ... dan istilah-istilah lainnya.

Salah satu ciri paling menonjol dari dunia kontemporer adalah perkembangan yang luar biasa—baik secara kuantitas maupun kualitas—dari pengetahuan manusia dan pembaharuannya dengan cara yang belum pernah dialami umat manusia sebelumnya.

Oleh karena itu, muncul seruan untuk mendorong individu agar meningkatkan kecepatan membaca mereka, serta mencari jalan dan sarana yang membantu meningkatkan kecepatan tersebut agar mampu mengimbangi pengetahuan yang terus bertambah di berbagai bidang.

Dalam hal ini, Lauri Rozakis, Ph.D. mengatakan: "Era informasi telah menyerang kita dan tidak ada jalan untuk lari darinya, karena kita berada di tengah-tengah ledakan informasi terbesar yang pernah terjadi di dunia sejauh ini. Tidak ada era sebelumnya yang menyaksikan jumlah data, rincian, contoh, opini, statistik, dan angka sebanyak yang kita saksikan setiap hari. Para penganut masa depan yakin bahwa gelombang informasi yang meluap ini akan terus meningkat." Di antara fakta yang menegaskan hal tersebut adalah sebagai berikut:

  • Terbitnya sekitar 7.000 studi ilmiah setiap hari di seluruh penjuru dunia.
  • Dalam 50 tahun terakhir, telah terbit jumlah informasi yang melebihi apa yang terbit dalam 5.000 tahun sebelumnya.
  • Jumlah informasi yang tersedia hari ini berlipat ganda setiap lima tahun.

Maka dari itu, menguasai keterampilan membaca adalah satu-satunya solusi, agar para pencari ilmu dapat beradaptasi dengan aliran pengetahuan ini dan memanfaatkannya. Hal ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap pengajaran dan pembelajaran membaca, pelatihan di dalamnya, serta praktik aktivitas membaca.

  1. Pertama: Konsep membaca dan perkembangannya.
  2. Kedua: Urgensi/Pentingnya membaca.
  3. Ketiga: Keterampilan membaca.
  4. Keempat: Hakikat proses membaca.
  5. Kelima: Beberapa model yang menjelaskan proses membaca.
  6. Keenam: Tingkatan-tingkatan membaca.
  7. Ketujuh: Kriteria tingkatan membaca dan derajat setiap tingkatan.
  8. Kedelapan: Makna pengukuran tingkatan membaca dan urgensinya.
  9. Kesembilan: Hubungan antara pengukuran tingkatan membaca dan keterbacaan materi (readability).
  10. Kesepuluh: Metode dan sarana pengukuran tingkatan membaca:
    • (1) Sarana formal (Tes standar/terstandarisasi).
    • (2) Metode dan sarana non-formal.
  11. Kesebelas: Tren modern dalam pengukuran tingkatan membaca.

Kedua: Konsep Membaca dan Perkembangannya

Konsep membaca berkaitan erat dengan tingkatan membaca, oleh karena itu peneliti perlu memulai dengan menjelaskan apa yang dimaksud dengan membaca, seraya menunjukkan bagaimana konsep ini berkembang selama abad ke-20. Membaca adalah:

"Sebuah proses mental-psikologis yang mencakup interpretasi simbol-simbol yang diterima pembaca melalui matanya, dan memerlukan pengaitan antara pengalaman pribadi dengan makna dari simbol-simbol tersebut."

Dari sini, membaca terdiri dari dua proses yang saling berkaitan:

  1. Proses pertama: Bentuk mekanis, yaitu respons fisiologis terhadap apa yang tertulis.
  2. Proses kedua: Proses mental yang melaluinya makna diinterpretasikan, mencakup berpikir dan menyimpulkan.

Ini berarti membaca adalah proses berpikir yang kompleks, dan mencakup lebih dari sekadar mengenali kata-kata yang tercetak dan mengucapkannya dengan benar. Membaca melampaui itu menuju pemahaman terhadap apa yang dinyatakan secara tersurat dalam teks, memahami apa yang ada di antara baris (makna tersirat), dan memahami apa yang ada di balik teks.

Ketiga: Urgensi Membaca

Membaca dianggap sebagai salah satu keterampilan komunikasi terpenting di dunia kontemporer kita. Membaca sangat diperlukan bagi individu, baik saat persiapan ilmiahnya maupun saat menjalankan berbagai perannya di masyarakat. Banyak pendidik setuju bahwa membaca memiliki peran mendasar dalam penguasaan berbagai mata pelajaran bagi pembelajar sepanjang tahun-tahun studinya. Penguasaan keterampilannya akan membawa kemajuan pesat dalam berbagai jenis pengetahuan, baik itu sastra, sains, maupun sosial.

Selain itu, membaca adalah sarana pengembangan intelektual dan emosional, juga sarana hiburan dan kenyamanan psikologis, khususnya di era yang kita jalani sekarang, di mana nilai-nilai materialistis lebih mendominasi daripada nilai-nilai kemanusiaan. Membaca juga digunakan dalam menangani masalah remaja dan membantu pertumbuhan mereka, di samping adanya penegasan dari beberapa studi ilmiah tentang keberhasilan membaca dalam mengobati beberapa masalah psikologis.

Hal lain yang memperkuat urgensi membaca adalah bahwa ia termasuk sarana terkuat dalam mewujudkan tujuan kurikulum pendidikan. "Buku teks adalah salah satu pilar utama yang menyangga kurikulum, ia adalah wadah yang menampung materi pendidikan yang diasumsikan sebagai alat—atau setidaknya salah satu alat—yang mampu membuat siswa dapat mencapai tujuan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya." Membaca adalah jalan untuk mewujudkan itu semua.

Membaca tidak diragukan lagi merupakan pintu masuk bagi pertumbuhan mental dan merupakan perantara yang memberi makan memori jangka panjang bagi setiap pembelajar, tidak hanya pada satu mata pelajaran tertentu, melainkan pada seluruh mata pelajaran dan seluruh bidang kehidupan profesional, budaya, serta sosial. Membaca tetap menjadi dasar pembelajaran, dan kemampuan membacanya dianggap sebagai bekal pertama bagi pembelajar.

Penelitian ilmiah telah membuktikan adanya hubungan antara kemampuan membaca dan minat terhadapnya dengan keunggulan intelektual. Membaca memiliki peran dalam kehidupan anak-anak yang tidak kalah pentingnya dibandingkan perannya dalam kehidupan orang dewasa, bahkan mungkin lebih. Singkatnya, membaca menambah usia ke dalam usianya dan kehidupan ke dalam hidupnya, yang tidak akan ia dapatkan jika ia tumbuh dengan enggan membaca dan jauh dari sumber pengetahuan serta pendidikan.

Membaca memiliki peran besar dalam mencetak para ilmuwan, penemu, politisi, orang-orang berbakat, dan kreatif. Mungkin yang menegaskan hal ini adalah bahwa Thomas Edison, penemu lampu pijar, tidak belajar matematika di sekolah, melainkan ia mempelajari apa yang ia pelajari dan menemukan apa yang ia temukan melalui membaca, studi, dan eksperimen pribadinya. Demikian pula halnya dengan Lord Baldwin, salah satu mantan Perdana Menteri Inggris, juga Abbas Mahmoud al-Aqqad, dan banyak lainnya.

Hal yang menambah urgensi dan keabadian membaca adalah bahwa ia terus berlanjut meskipun wadahnya berbeda-beda. Jika beberapa pakar teknologi memprediksi bahwa perpustakaan akan menjadi museum, kenyataannya—di bawah penggunaan teknologi modern—justru menyuarakan keabadian membaca. Dalam dunia komunikasi, kita menemukan wadah-wadah baru untuk membaca seperti: ponsel, mesin faks, dan jaringan komputer. Hal ini, menurut pendapat peneliti, mempermudah sarana membaca dan di saat yang sama menambah urgensinya tanpa menghilangkannya. Peneliti memperkirakan bahwa hubungan pembaca dengan referensi dan sumber akan bergantung pada satu tekanan jarinya pada sebuah tombol atau beberapa tombol di komputer; hal ini bukan tidak mungkin karena tanda-tandanya sudah muncul sejak awal milenium ketiga dan awal abad ke-21.

Jika lima paragraf sebelumnya telah merangkum urgensi membaca bagi individu—baik orang dewasa maupun anak-anak—maka membaca juga memiliki urgensi besar bagi masyarakat. Membaca adalah salah satu alat pembangunan masyarakat maju yang tegak di atas asas syura (musyawarah). Semakin meningkat kesadaran massa dan semakin kuat mereka dengan ilmu dan pengetahuan, maka massa tersebut akan lebih banyak mempraktikkan syura dan memiliki keinginan yang lebih kuat untuk kemakmuran dan kemajuan.


Keempat: Keterampilan Membaca

Tingkat kemahiran seorang pembaca berkaitan erat dengan sejauh mana ia menguasai keterampilan membaca. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan keterampilan-keterampilan tersebut di sini. Hal ini pada gilirannya mengharuskan penyebutan dua jenis membaca dari segi performa: yaitu Membaca Nyaring (Oral Reading) yang menitikberatkan pada pelafalan dan pemahaman secara bersamaan, serta Membaca Senyap (Silent Reading) yang menitikberatkan pada pemahaman dan proses mental yang mengikutinya.

Terdapat banyak studi ilmiah dan tulisan yang telah menetapkan keterampilan-keterampilan ini, yang darinya dapat disimpulkan bahwa keterampilan dasar membaca terbagi menjadi enam keterampilan, yaitu: Pengenalan dan Pelafalan, Pemahaman (Eksplisit dan Implisit), Penarikan Kesimpulan (Inference), Interpretasi, Pengungkapan Pendapat, serta Keterampilan Formula dan Gaya Bahasa.

Fathi Younis merinci keterampilan membaca sebagai berikut:

  1. Pengenalan Kata: Yaitu melalui gerakan mata, penggunaan konteks (context clues), dan memori.
  2. Pemahaman: Ini mencakup beberapa sub-keterampilan, yaitu: memberikan makna pada simbol, memahami unit yang lebih besar seperti frasa, kalimat, paragraf, hingga teks secara utuh; keterampilan membaca dalam unit-unit ide; memahami kata dari konteks dan memilih makna yang sesuai; keterampilan memprediksi makna kata; menyimpulkan ide-ide utama dan kepentingannya; memahami organisasi yang diikuti oleh penulis; menarik kesimpulan; memahami arah/kecenderungan penulis; mengetahui gaya sastra dan tujuan penulis; mengevaluasi bahan bacaan; menyimpan ide; serta menafsirkan ide dan menerapkannya dalam cahaya pengalaman sebelumnya.

(1) Keterampilan Pelafalan: Cabang-cabangnya meliputi: melafalkan bunyi huruf dengan benar sesuai harakat (tanda baca), membedakan pelafalan antara bunyi yang makhrajnya (titik artikulasi) berdekatan seperti huruf Ta (ت) dan Tha (ط); melafalkan kata-kata dengan benar sesuai harakat; melafalkan vokal pendek dan panjang dengan benar; membaca dalam kalimat sempurna; melakukan intonasi suara sesuai gaya bahasa yang berbeda (seperti tanya, seru, perintah, larangan, dsb.); serta menggunakan isyarat tangan dan kepala secara benar.

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pembelajaran membaca, yaitu: kecerdasan, kekayaan kosa kata, kemampuan visual, kemampuan auditori, pengaruh lingkungan, dan faktor emosional (sikap terhadap membaca dan masalah pribadi secara umum). Kenyataannya, keterampilan membaca itu saling tumpang tindih dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika seorang siswa mengenali huruf dan kata, ia sedang mempraktikkan keterampilan verbal sekaligus keterampilan pemahaman. Begitu pula dengan keterampilan lainnya. Oleh karena itu, keterampilan membaca nyaring pada dasarnya adalah keterampilan membaca senyap ditambah dengan keterampilan performa dan pelafalan. Seiring pertumbuhan kemampuan membaca anak, keterampilannya pun berkembang hingga ia mampu melakukan membaca kreatif dan kritis, serta mampu membaca cepat dengan pemahaman.

Namun demikian, tujuan dari membacalah yang menentukan keterampilan membaca yang dibutuhkan. Membaca fungsional dengan tujuan lulus ujian memerlukan keterampilan membaca mendalam dan teliti, yang berbeda dengan membaca sekilas (skimming) yang memerlukan keterampilan kecepatan saat pembaca ingin mencapai informasi tertentu tanpa membaca seluruh halaman, dan berbeda pula dengan membaca rekreatif, dan seterusnya.

Penelitian yang dilakukan untuk mempelajari proses membaca menunjukkan bahwa proses ini melewati langkah-langkah berikut:

  1. Ketika pembaca melihat halaman yang tertulis dalam cahaya yang cukup, cahaya yang jatuh pada simbol-simbol tercetak tersebut memantulkan citra simbol ke mata.
  2. Saat itulah saraf mata membawa pesan visual ini ke area penglihatan di otak. Jika bentuk kata atau kalimat yang mencapai area penglihatan tersebut memicu maknanya yang sudah diketahui pembaca sebelumnya, atau bentuk tersebut terhubung dengan maknanya, maka pembaca akan memahami arti tersebut. Oleh karena itu, para pembaca berbeda-beda dalam pemahaman makna tergantung pada budaya, pengalaman, sejauh mana pemahaman mereka terhadap gaya penulis, hakikat pemikirannya, serta sifat materi yang dibaca itu sendiri.
  3. Di dalam otak, pusat-pusat penglihatan terhubung dengan pusat-pusat bicara. Dari pusat bicara inilah keluar perintah untuk melakukan gerakan tertentu guna melafalkan sesuatu, dalam kasus membaca nyaring.
  4. Pembaca mungkin masih pemula atau bersifat dangkal, sehingga persepsi simbol hanya memicu makna-makna eksplisit yang sederhana dan terbatas. Namun, pembaca bisa jadi memiliki pengalaman panjang, pengetahuan luas, dan kemampuan kreatif, sehingga lingkaran makna yang dipahaminya meluas dan mencapai pemahaman makna implisit dan kreativitas.
  5. Pembaca mungkin memiliki kemampuan kritis, sehingga ia menganalisis dan menafsirkan apa yang ia baca, memahaminya secara mendalam, serta menilainya apakah itu benar atau salah, berbobot atau kosong, sesuai dengan kriteria objektif. Jenis pemahaman yang disertai kritik dan evaluasi ini merupakan sumber kenikmatan artistik yang dirasakan oleh pembaca yang mendalam.
  6. Jika pembaca mengambil manfaat dari apa yang dibaca atau sebagian darinya, lalu merespons dan menginternalisasinya, maka ia akan menggabungkannya ke dalam pengalamannya dan hal itu menjadi bagian dari pengetahuan serta eksperimen mentalnya.

Keempat: Hakikat Proses Membaca

Peran penting yang dimainkan oleh membaca mendorong para ilmuwan dan peneliti untuk menaruh perhatian besar padanya, terutama pada awal abad ini, kemudian perhatian ini meningkat drastis pada paruh kedua abad ke-20. Hal terpenting yang mereka perhatikan adalah:

Membaca adalah sebuah sikap mental dan emosional yang diambil oleh pembaca sebanyak dua kali: pertama, ketika ia memutuskan bagaimana cara membaca (inilah yang disebut dengan strategi membaca); dan kedua, setelah membaca, di mana di sinilah pemahaman menjadi fokus perhatian mereka dalam upaya mencari hakikat membaca dan mengetahui proses-prosesnya.

Salah satu hasil paling menonjol yang dicapai oleh para peneliti dalam hal ini adalah Model-Model Membaca. Model-model ini fokus pada penjelasan proses-proses yang terjadi saat membaca, faktor-faktor yang memengaruhinya, dan tingkatan-tingkatan membaca. Model-model ini menjadi sistem yang menjelaskan apa itu proses membaca, dan terus berkembang sejalan dengan perkembangan konsep membaca itu sendiri. Berikut adalah pemaparan dari beberapa model tersebut.


Kelima: Beberapa Model yang Menjelaskan Proses Membaca

(1) Model Stimulus dan Respon:

Model ini bersandar pada salah satu hukum belajar dari "Thorndike", di mana ia berpendapat bahwa Stimulus adalah materi cetak atau apa yang dilihat oleh mata, sedangkan Respon bisa bersifat sensorik (seperti pelafalan) atau non-sensorik (seperti keterampilan membaca senyap). Respon di sini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: kecerdasan, kekayaan kosa kata, pengalaman masa lalu, tingkat sosial ekonomi, kondisi fisik, kondisi psikologis, minat dan keinginan, sikap dan kecenderungan, serta kondisi fisik lingkungan sekitar (seperti pencahayaan, ventilasi, ukuran halaman, dll.), serta sifat materi yang dibaca dan tingkat kesulitannya. Gambar (2) menjelaskan model stimulus dan respon dalam membaca.

Gambar (2): Model Stimulus dan Respon dalam Proses Membaca.

Membaca adalah sejenis penelusuran visual dan penelusuran mental, serta merupakan penelusuran visual-mental secara bersamaan. Di antara para peneliti, ada yang memperluas makna sempit dari membaca, sehingga tidak membatasinya hanya pada buku atau gambaran instruksional yang sempit saja. Mereka berpendapat bahwa orang buta aksara dan anak kecil—yang belum belajar membaca dan menulis—sebenarnya "membaca", karena mereka menelusuri penampakan alam semesta dengan mata dan pikiran mereka, mencermati raut wajah, pepohonan, serta warna-warna burung.

Mereka mengambil dalil dari warisan budaya Arab mengenai jenis membaca yang bersifat fitrah dan intuitif ini, seperti al-qiyafah—yaitu menelusuri jejak dan mengenali pemiliknya, serta membaca bekas kaki hewan di atas pasir. Dari jejak-jejak itulah mereka menyimpulkan makna. Selain itu, telah dilakukan studi dan penelitian ilmiah untuk menetapkan apa yang disebut dengan "Keterampilan Membaca Televisi", yang mana ini tidak berarti sekadar membaca konten yang disajikan, melainkan bermaksud mengukur pembacaan terhadap makna-makna tersembunyi yang tidak eksplisit di balik penyajiannya, melalui iklan yang ditampilkan, riasan wajah (make-up), atau tipuan visual, serta mengambil pelajaran dan menganalisis karakter, dan lain sebagainya.

Terdapat hubungan antara membaca, berpikir, dan belajar. Membaca tidak berbeda dengan proses berpikir, melainkan ia adalah sebuah proses pemikiran. Begitu pula proses interaksi antara pembaca dan kata-kata tertulis mengubah membaca menjadi "belajar". Oleh karena itu, paruh kedua abad ke-20 yang lalu menyaksikan aktivitas besar dalam penelitian ilmiah di bidang ini, khususnya dalam dua dekade terakhir.

Untuk lebih menjelaskan hubungan antara membaca dan berpikir, kita dapat memperhatikan anak pemula dalam belajar membaca. Proses membaca di sini berubah menjadi proses berpikir sejak saat anak tersebut belajar memecahkan kode (decoding) dan menghubungkan antara simbol dengan maknanya secara bentuk maupun suara. Di sini ia sedang mempraktikkan pemahaman, interpretasi, inferensi, evaluasi, dan proses berpikir lainnya. "Hal ini tidaklah mengherankan, karena dalam kedua hal tersebut—membaca dan berpikir—terdapat proses pengorganisasian, pembuktian, perenungan, sintesis, penilaian, pemecahan masalah, pemilihan, deduksi, perbandingan data, pengaitan, generalisasi, dan pemahaman (13 : 69, 1999)."

Gambar (1) menjelaskan bahwa membaca adalah belajar itu sendiri. Adapun hubungan membaca dengan belajar, mungkin dapat dikatakan bahwa pernyataan itu benar, dan berdasarkan hal ini, proses membaca adalah proses mental yang sama dalam materi pembelajaran apa pun dan dalam konten bacaan apa pun. Proses-proses ini adalah: pengenalan, observasi, klasifikasi, abstraksi, kemudian deduksi. Gambar (1) menunjukkan hubungan antara membaca, berpikir, dan belajar.

Gambar (1): Hubungan antara Membaca, Berpikir, dan Belajar.

(2) Model "Gray" (41 : 1957):

Pencetus model ini berpendapat bahwa individu saat membaca pertama-tama mempersepsikan kata yang tercetak dan memindahkannya melalui mata ke pikiran, kemudian mencoba memahaminya. Dari sana terjadilah respon darinya terhadap materi yang dibaca yang mencerminkan sejauh mana pemahaman dan evaluasinya terhadap materi tersebut. Kemudian terjadi proses asimilasi (Assimilation) terhadap makna dan konsep yang ia baca, sehingga masuk ke dalam memori informasi yang ada di pikiran pembaca untuk menjadi bagian dari pengetahuan dan pengalamannya.

(3) Model Harris-Smith:

Model ini berpendapat bahwa membaca setara dengan berpikir. Ia bersandar pada faktor-faktor internal yang dasarnya adalah kecerdasan, kekayaan kosa kata, dan pengalaman masa lalu. Ia juga bersandar pada dua faktor eksternal, yaitu: keterbacaan materi (readability—yakni sejauh mana kemudahan atau kesulitannya) dan kondisi lingkungan fisik (seperti pencahayaan, kelelahan, ukuran halaman, dll.). Faktor-faktor ini secara kolektif mengkristalkan pemikiran, yang kemudian mencerminkan kemampuan membaca dan memahami bacaan dari berbagai tingkatan pembaca, sesuai dengan tujuan setiap pembaca dari proses membaca tersebut.

Perlu dicatat bahwa terdapat kemiripan yang besar antara Model Stimulus-Respon dengan Model Harris-Smith, hanya saja model yang terakhir memasukkan faktor tujuan/maksud dari membaca, yang menentukan keterampilan yang dibutuhkan oleh pembaca, yang mana keterampilan ini berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tujuan para pembaca.


(3) Model Goodman:

Model ini berpijak pada dasar bahwa proses membaca adalah pengambilan makna dan penyerapan makna. Dengan kata lain, model ini menggabungkan dua tren dalam menafsirkan proses membaca:

  • Tren Pertama: Melihat bahwa membaca bergerak dari bawah ke atas (Bottom-Up), yaitu dari teks tertulis menuju ke pikiran pembaca saat membaca. Artinya, pengirimnya adalah materi tertulis dan penerimanya adalah pikiran pembaca.
  • Tren Kedua: Melihat sebaliknya, yaitu bahwa membaca adalah proses yang bergerak dari atas ke bawah (Top-Down). Di dalamnya, pembaca melakukan analisis dan interpretasi terhadap apa yang ia baca, serta memberikan dimensi pada teks yang mungkin tidak ada di dalamnya. Artinya, proses membaca bergerak dari pikiran menuju ke teks.

Goodman mengusulkan lima langkah yang dilalui oleh pembaca yang terampil, yaitu:

  • a. Penerjemahan: Menerjemahkan simbol (kata-kata tertulis) menjadi makna.
  • b. Prediksi (Menyusun Hipotesis): Tentang apa yang diharapkan untuk dibaca setelah membaca kata, kalimat, atau paragraf.
  • c. Pemeriksaan Hipotesis: Berdasarkan materi yang ia baca.
  • d. Penerimaan atau Penolakan Hipotesis.
  • e. Koreksi Akhir: Terhadap makna dan penetapannya oleh pembaca (Membaca Kreatif).

Peneliti Goodman berbeda dalam menafsirkan proses membaca ini karena ia menafsirkan membaca di sini sebagai proses psikolinguistik (Psycho-linguistic). Ia juga meninggikan kedudukan membaca kreatif dan membaca kritis di sini, namun ia tidak menekankan tren integratif dalam proses membaca yang akan menjadi jelas pada model berikutnya.


(4) Model Integratif untuk Hakikat Proses Membaca

Model ini menekankan hubungan antara seluruh faktor dan pengaruh (internal maupun eksternal) yang berpartisipasi dalam proses membaca dalam satu sistem yang terintegrasi. Sistem ini berdiri di atas hubungan saling memengaruhi (take and give); artinya, setiap faktor dari faktor-faktor membaca memiliki hubungan pengaruh dan dipengaruhi dengan faktor lainnya, serta memiliki hubungan tersebut dengan aktivitas membaca itu sendiri.

Model ini juga menonjolkan hubungan antara membaca dan berpikir. Peneliti—dalam model ini—telah mencoba untuk menggabungkan komponen-komponen dari model-model lain yang telah ia pelajari dan ambil manfaat darinya. Menurut model ini, terdapat banyak faktor yang memengaruhi pembaca secara visual, mental, dan emosional, sehingga memberikan hasil akhir membaca dalam berbagai tingkatannya: literal, interpretatif, kreatif, dan kritis. Hal ini dilakukan melalui persepsi terhadap makna teks, menyimpulkannya, menganalisisnya, menggunakannya dalam memecahkan masalah atau menambahkan hal baru padanya, serta mengevaluasinya.

Gambar (4) menjelaskan model integratif untuk hakikat proses membaca. Model ini mengekspresikan gambaran peneliti terhadap hakikat proses membaca dan faktor-faktor yang memengaruhinya.

Model Integratif Hakikat Proses Membaca dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya.

Disusun oleh Penulis


Aktivasi praktis dari fakta-fakta dan nilai-nilai topik melalui kegiatan-kegiatan berikut:

Pertama — Aktivitas Penyerta (Intrakurikuler):

  1. Membuat publikasi khusus mengenai konsep belajar mandiri dan pentingnya di era kita, serta memberi ruang bagi setiap pembelajar untuk menyebutkan poin-poin pentingnya dalam kehidupan kita, terutama pada saat sekarang ini.
  2. Berpartisipasi dalam pembicaraan mengenai pentingnya membaca dan kedudukannya dalam Islam.

Kedua — Aktivitas Pendukung (Ekstrakurikuler):

  1. Menyampaikan kuliah/ceramah tentang pentingnya membaca dan kedudukannya dalam Islam.
  2. Menulis penelitian tentang pandangan ilmuwan Muslim dan filosof Timur Arab terhadap membaca.
  3. Mengadakan perlombaan dan diskusi mengenai membaca cepat yang disertai pemahaman terhadap teks di antara para pembelajar.
  4. Menulis penelitian tentang konsep membaca, keterampilannya, dan urgensinya dengan dukungan ayat-ayat serta hadis-hadis yang menunjukkan hal tersebut.
  5. Mengadakan pelatihan untuk penguasaan keterampilan membaca.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri

Satu — Pertanyaan Esai:

  1. Apa hubungan antara belajar mandiri dan penguasaan membaca mandiri?
  2. Apa yang dimaksud dengan belajar mandiri?
  3. Jelaskan konsep membaca dan perkembangannya!
  4. Jelaskan pentingnya membaca!
  5. Tentukan keterampilan-keterampilan membaca!
  6. Ringkaslah hakikat dari proses membaca!
  7. Sebutkan beberapa model yang menjelaskan proses membaca!
  8. Apa hubungan antara membaca dengan berpikir dan belajar?
  9. ("Pemahaman adalah salah satu keterampilan dasar membaca"), apa yang dimaksud dengan hal tersebut dan apa saja keterampilan pemahaman dasar?
  10. Sebutkan langkah-langkah yang dilalui dalam proses membaca!
  11. Apa faktor-faktor yang memengaruhi pembelajaran membaca?
  12. Jelaskan model integratif dari hakikat proses membaca!

Dua — Pertanyaan Objektif:

Soal 1: Lengkapilah titik-titik di bawah ini:

  1. Yang dimaksud dengan belajar mandiri adalah bahwa seseorang .............
  2. Membaca adalah dua proses yang saling berhubungan; yang pertama adalah ........... yaitu respons fisiologis terhadap apa yang tertulis, dan yang kedua adalah proses mental yang melaluinya dilakukan ............
  3. Di antara keterampilan membaca adalah pengenalan kata dan ............ serta ............
  4. Harris-Smith berpendapat bahwa membaca sama dengan ............ dan ia bersandar pada faktor internal: dasarnya adalah kecerdasan ............ dan ............
  5. Di antara pentingnya membaca dan manfaatnya bagi masyarakat adalah ............ dan ............
  6. Model Thorndike berpusat pada stimulus dan ............

Catatan Penting:

  1. Pertanyaan evaluasi dan pengukuran mandiri di atas, baik jenis esai maupun objektif, mengukur dan mengevaluasi tujuan perilaku operasional dalam ranah kognitif beserta tingkatannya; inilah yang dikenal sebagai evaluasi dan pengukuran hasil belajar atau tes prestasi.
  2. Evaluasi dan pengukuran tujuan afektif dilakukan melalui observasi pengajar terhadap antusiasme pembelajar, respons mereka, ketelitian, kesungguhan, semangat, dan internalisasi mereka terhadap apa yang telah dipelajari, serta sejauh mana mereka mencapai proses interaktif tersebut.
  3. Evaluasi dan pengukuran tujuan psikomotorik (keterampilan) dilakukan dengan mengamati tingkat performa pembelajar terhadap keterampilan yang ditargetkan melalui berbicara, menulis, dan praktik nyata.
  4. Evaluasi dan pengukuran aktivitas dilakukan dengan observasi terhadap interaksi dan performa pembelajar pada aktivitas penyerta selama sesi berlangsung, serta aktivitas pendukung yang bersifat memperkuat. Hal ini dilakukan dengan setiap pembelajar memilih apa yang sesuai baginya untuk dilaksanakan selama hari-hari dalam seminggu.
  5. Pengukuran dan evaluasi yang menggunakan sarana observasi dan pemantauan guna mencapai tujuannya, harus melalui kartu observasi dan pemantauan yang mencatat daftar hal-hal yang ingin diukur dan dievaluasi. Di depan setiap target terdapat kolom skala dari (0) sampai (5).
    • (0 dan 1) berarti Kurang, (2) berarti Cukup, (3) berarti Baik, (4) berarti Sangat Baik, (5) berarti Istimewa/Mumtaz.

Kartu Evaluasi Interaksi dan Performa (Observasi dan Pemantauan)

No

Hal-hal yang ingin dievaluasi dari pembelajar

0

1

2

3

4

5

Kurang

Cukup

Baik

SGT Baik

Istimewa

1

Perhatian dan antusiasmenya: minat, ketelitian, semangat

2

Respon dan ketaatannya

3

Karakter nilai-nilainya

4

Interaksi dan performanya dalam aktivitas penyerta

5

Interaksi dan performanya dalam aktivitas pendukung

6

Performanya di bagian/kelompoknya

7

Kehadirannya

8

Persiapan/preparasinya

9

Penyajian materinya

10

Pelunasan iuran bulanan

11

Kedermawanan dan pengorbanan

 


Bab Kedua: [Tujuan Membaca Efektif dan Jenis-jenisnya]

Tujuan Umum:

  1. Mengenal tujuan-tujuan membaca efektif dan jenis-jenisnya.
  2. Mengembangkan minat terhadap pencapaian target-target membaca efektif.
  3. Mengambil manfaat dari alat bantu membaca efektif dan panduannya demi mencapai tujuannya.
  4. Berupaya mewujudkan membaca efektif melalui latihan praktis dan aktivitas aktivasi.

Tujuan Perilaku Operasional untuk Topik Ini:

Setelah selesainya proses pembelajaran topik ini, pembelajar diharapkan mampu melakukan hal-hal berikut:

Satu — Tujuan Kognitif (Pengetahuan):

  1. Membedakan antara membaca sekilas (skimming) dan membaca teliti (scanning).
  2. Menjelaskan konsep membaca efektif.
  3. Menyebutkan tujuan-tujuan membaca efektif dan jenis-jenisnya.
  4. Meringkas jenis-jenis membaca berdasarkan tujuannya.
  5. Menjelaskan apa yang dimaksud dengan sistem lima langkah untuk membaca studi (SQ3R/Study Reading).
  6. Menentukan hambatan-hambatan membaca efektif dan cara mengatasinya.
  7. Menjelaskan cara meningkatkan kecepatan dalam membaca.
  8. Menyebutkan lima langkah membaca studi dan menjelaskannya.
  9. Membandingkan antara membaca sekilas dan membaca studi dari segi tujuan dan metode.
  10. Membedakan jenis-jenis membaca sesuai dengan tujuannya.

Dua — Tujuan Afektif (Sikap/Perasaan):

  1. Menyimak jalannya pelajaran dengan penuh perhatian dan konsentrasi.
  2. Menerima/menyukai aktivitas membaca efektif terhadap suatu topik.
  3. Bersemangat dalam melakukan membaca teliti yang bertujuan terhadap topik-topik kurikulum yang ditetapkan.
  4. Memberikan perhatian penting pada membaca dalam belajar mandiri dan mengimbangi zaman.
  5. Menghargai peran membaca cepat yang disertai kesadaran/pemahaman.
  6. Menghindari hambatan-hambatan membaca efektif dan mengatasinya.
  7. Mengerahkan upaya untuk meningkatkan kecepatan membacanya.
  8. Membiasakan diri melakukan tinjauan segera (immediate review) dan tinjauan lanjutan (subsequent review) dalam setiap aktivitas membacanya.

Tiga — Tujuan Psikomotorik (Keterampilan):

  1. Membaca suatu topik pelajaran dan mengukur sejauh mana kecepatan membaca serta pemahamannya sebagai bentuk uji coba dan latihan.
  2. Berbicara mengenai konsep membaca efektif dan pilar-pilarnya.
  3. Mempraktikkan kebiasaan membaca yang benar hingga menjadi kebiasaan pada dirinya.
  4. Menulis definisi membaca efektif dengan gayanya sendiri berdasarkan pemahamannya terhadap topik tersebut.
  5. Merancang skema yang membandingkan antara membaca (umum) dan membaca studi dari segi tujuan dan metode atau cara pengerjaan.
  6. Menggabungkan lima langkah membaca studi ke dalam satu sarana yang memudahkan untuk mengingatnya.
  7. Menggunakan komputer dalam merencanakan alur pelajaran.
  8. Menerapkan apa yang dipelajari dari pelajaran ini dalam kehidupan ilmiah dan dakwahnya.
  9. Menciptakan cara-cara baru untuk meningkatkan kecepatan membaca.
  10. Mengembangkan cara-cara baru untuk mengatasi hambatan-hambatan membaca.
  11. Menguasai membaca efektif dengan segala jenisnya.
  12. Mengukur kecepatan membacanya yang disertai pemahaman terhadap teks serta menentukan tujuannya dalam membaca.

Konten:

Pertama: Konsep Membaca Efektif

Agar proses belajar mandiri dapat terjadi, harus ada seseorang yang membutuhkan pembelajaran (pembelajar) dan materi ilmiah. Proses belajar mandiri mengharuskan pembelajar untuk mengandalkan dirinya sendiri dalam mencapai pemanfaatan maksimal dari materi ilmiah tertulis. Hal tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan membaca efektif. Oleh karena itu, Anda—wahai mahasiswa/pelajar—harus bersandar secara mendasar dalam proses belajar Anda pada pembacaan materi-materi pendidikan cetak dan memanfaatkannya pada tingkat semaksimal mungkin. Artinya, Anda harus membaca dengan cara yang efektif.

Pertanyaannya sekarang adalah: Apa itu membaca efektif?

Benar bahwa Anda memiliki kemampuan untuk membaca, karena jika tidak, Anda tidak akan bisa membaca materi ini sedari awal. Namun, pernahkah Anda berpikir untuk meningkatkan derajat kualitas dalam bacaan Anda? Berapa kali Anda duduk membaca sebuah buku untuk persiapan ujian, namun setelah selesai membaca, Anda menyadari bahwa Anda tidak memahami apa yang terkandung di dalamnya?

Hasil beberapa studi mengenai masalah yang dihadapi para pelajar telah membuktikan bahwa membaca yang tidak efektif adalah salah satu kendala terbesar dan paling mendasar. Bahkan, hal tersebut merupakan salah satu alasan utama keterlambatan akademik. Membaca adalah sebuah seni dan keterampilan; maka Anda—wahai pelajar—harus menguasai seni ini dan memiliki keterampilan ini, agar dapat mencapai apa yang Anda cita-citakan dalam kehidupan akademik, ilmiah, dan kependidikan Anda.

Membaca efektif bergantung pada dua faktor penting:

  1. Faktor pertama: Jumlah waktu yang dibutuhkan siswa untuk membaca teks tertentu (Kecepatan Membaca).
  2. Faktor kedua: Tingkat pemahaman dan penyerapan siswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.

Ini berarti terdapat hubungan yang berbanding terbalik antara kecepatan membaca dengan tingkat pemahaman dan penyerapan dalam menentukan keefektifan membaca. Semakin sedikit waktu yang dihabiskan siswa dalam membaca teks tertentu disertai peningkatan tingkat pemahaman dan penyerapannya, maka bacaannya dikategorikan sebagai bacaan yang efektif, begitupun sebaliknya.

Jika Anda mampu membaca materi pendidikan yang sulit dalam waktu singkat, namun setelah selesai membaca Anda menyadari bahwa Anda hanya memahami sebagian kecil saja (padahal tujuannya adalah memahami semuanya), maka bacaan Anda terhadap materi tersebut tidaklah efektif. Di sisi lain, jika Anda menghabiskan waktu berjam-jam untuk membaca suatu materi pendidikan dan berhasil mencapai tingkat pemahaman serta penyerapan yang diinginkan, maka bacaan Anda juga tidak efektif, karena Anda telah membuang-buang waktu dalam kedua kondisi tersebut.

Latihan:

Definisikan membaca efektif dengan gaya bahasa Anda sendiri, kemudian kembalilah ke buku untuk memastikan jawabannya.


Kedua: Tujuan Membaca Efektif dan Jenis-jenisnya

Sesungguhnya ketika kita membaca, kita membaca untuk mencapai suatu maksud atau tujuan. Membaca tidak lain hanyalah sarana dan alat untuk mencapai maksud atau tujuan tersebut. Maka, Anda—wahai pelajar—harus menentukan tujuan dari bacaan Anda sebelum memulainya, karena penentuan tujuan merupakan faktor yang memengaruhi jenis bacaan Anda dan kecepatannya.

Anda membaca majalah, surat kabar, dan berbagai jenis buku, begitu pula Anda membaca artikel, penelitian, serta teks sastra. Namun, pernahkah Anda berpikir tentang cara Anda membaca sumber-sumber ilmiah tersebut? Pastinya Anda tidak membaca majalah, surat kabar harian, dan cerita dengan cara yang sama seperti Anda membaca artikel ilmiah dan penelitian. Sebagaimana Anda tidak membaca saat bersiap untuk mengikuti ujian tertentu seperti halnya Anda membaca untuk hiburan, kesenangan, dan mengisi waktu luang.

Ketika kita membaca untuk kesenangan dan hiburan, biasanya kita membaca dengan cepat dan tidak berhenti di tengah pembacaan kecuali untuk merenungkan sebuah gambar atau paragraf tertentu. Kita juga tidak membebani diri sendiri, tidak melelahkan pikiran, dan tidak mencoba untuk mengingat atau memanggil kembali apa yang telah kita baca. Sementara itu, ketika kita membaca untuk menghadapi ujian, bacaan kita menuntut lebih banyak perhatian, kewaspadaan, perenungan, dan konsentrasi jika dibandingkan dengan apa yang dituntut oleh membaca untuk kesenangan dan hiburan. Kita juga mengevaluasi diri kita sendiri atas sejauh mana materi yang mampu kita pahami, dan sering kali kita membaca materi yang sama beberapa kali untuk menjamin tercapainya tujuan, yaitu lulus ujian.

Dari apa yang telah dipaparkan di atas, jelaslah bahwa tujuan dari membacalah yang menentukan jenisnya. Oleh karena itu, sebelum mulai membaca, Anda harus bertanya pada diri sendiri: "Mengapa saya membaca?" Artinya, apa tujuan yang ingin saya capai? Jawaban Anda atas pertanyaan inilah yang menentukan jenis bacaan yang Anda pilih.


Jenis-Jenis Membaca Menurut Tujuannya:

Agar Anda dapat membaca secara efektif, Anda harus mendiversifikasi metode dan kecepatan membaca Anda sesuai dengan sifat materi yang dibaca dan tujuan pembacaannya. Berikut adalah penjelasan mengenai jenis-jenis membaca yang paling banyak digunakan (populer):

(1) Membaca Teliti/Mencari (Scanning Reading):

Metode membaca ini digunakan ketika pembaca bermaksud mencari informasi tertentu, seperti mencari tanggal tertentu, nomor halaman, alamat, kata, atau frasa tertentu, dan lain sebagainya. Di sini, pembaca hanya fokus untuk mewujudkan tujuannya saja dan tidak melihat hal lain selain itu saat membalik halaman-halaman buku atau teks.

Metode membaca ini, meskipun terlihat sederhana, membutuhkan konsentrasi dan ketajaman mata yang tinggi. Kita sering menemukan beberapa siswa menghadapi kesulitan dalam menerapkannya dan mengambil manfaat darinya; sebab seringkali mereka terhenti oleh beberapa frasa atau informasi baru saat mereka sedang mencari target utama mereka. Membaca frasa atau informasi tersebut mungkin terasa menghibur atau menarik, sehingga mereka mulai membacanya dan akhirnya hanyut jauh dari tujuan atau informasi yang sebenarnya menjadi alasan awal mereka mulai membaca. Informasi yang membuat mereka terhenti mungkin saja baik, tetapi itu bukanlah informasi yang mereka cari. Oleh karena itu, tenaga dan waktu yang dikeluarkan dalam "pembacaan sampingan" ini dianggap sia-sia karena tidak berkontribusi dalam mencapai tujuan utama.

Membaca teliti—atau membaca pencarian sebagaimana disebut oleh sebagian pakar pendidikan—menuntut komitmen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan pembelajar bagi dirinya sendiri dan terus mengejarnya. Pembelajar yang baik adalah penelaah atau pencari yang baik. Jika ia mampu menguasai keterampilan ini, maka bacaannya termasuk jenis yang efektif. Pembelajar membutuhkan metode membaca ini dalam banyak situasi di kehidupan akademisnya; ia mempraktikkannya saat mencari informasi tertentu di perpustakaan untuk menulis penelitian atau laporan, sebagaimana ia mempraktikkannya saat meneliti indeks buku untuk mencari informasi yang ia butuhkan guna mendukung penelitiannya atau memperkuat poin tertentu, dan lain-lain.

Singkatnya, membaca teliti tidak lain adalah pencarian yang berkelanjutan dan terfokus untuk mendapatkan informasi tertentu. Agar Anda menjadi pembaca teliti yang baik, wahai pembelajar, Anda harus menentukan tujuan Anda dengan jelas dan berkomitmen untuk mencarinya saja tanpa memberikan perhatian pada informasi lainnya.

(2) Membaca Sekilas (Skimming Reading):

Siswa sering menggunakan metode ini untuk mendapatkan makna umum atau ide pokok dari sebuah artikel, teks, atau buku tertentu. Misalnya, Anda mungkin menelusuri buku tentang genetika untuk mencari ide-ide dasar (Main Ideas) di dalamnya, atau Anda mungkin menelusuri judul-judul dalam suatu buku untuk mengetahui apakah judul-judul tersebut menarik bagi Anda atau berguna bagi penelitian yang sedang Anda susun, dan lain sebagainya.

Membaca sekilas (skimming) memiliki kesamaan dengan membaca teliti (scanning) dalam hal faktor pencarian dan penjelajahan, namun pada jenis yang pertama (skimming) Anda melakukannya untuk mendapatkan gambaran umum tentang teks atau buku, sedangkan pada jenis yang kedua (scanning) Anda mencari ide atau informasi yang spesifik.

(3) Membaca Cepat (Speed Reading):

Membaca cepat adalah metode atau pola yang dipraktikkan pembelajar ketika ia tidak tertarik untuk mengetahui detail-detail kecil yang ada dalam teks, melainkan tertarik pada pemahaman umum terhadap alur peristiwa yang ada di dalamnya. Saat kita membaca surat kabar harian atau cerita untuk hiburan, kita membacanya dengan cepat untuk mencari berita penting atau makna umum tanpa terlalu memedulikan detail yang rumit.

Pembaca yang mahir mungkin dapat menggunakan pola membaca ini dalam mempelajari materi ilmiah yang berbeda. Misalnya, saat ia menelusuri buku pada malam ujian, ia membaca dengan cepat mencoba untuk memahami makna umum dan ide-ide utama yang terkandung di dalamnya.

Latihan:

Cobalah untuk menguji kecepatan membaca Anda. Ambillah sebuah artikel atau topik dalam buku dan cobalah membacanya dengan cepat. Pastikan Anda telah memahami apa yang Anda baca, kemudian bagilah jumlah halaman atau kata yang Anda baca dengan jumlah menit (waktu). Dengan begitu, Anda akan mendapatkan rata-rata kecepatan membaca Anda per menit.

(4) Membaca Studi/Belajar (Study Reading):

Membaca studi dianggap sebagai salah satu metode membaca yang paling penting bagi siswa. Membaca studi adalah bacaan yang serius dan bertujuan, yang membutuhkan banyak pertimbangan, pengulangan, dan frekuensi agar pembelajar dapat memahami materi pelajaran dan menyerapnya. Membaca studi berbeda dari metode membaca lainnya dalam hal tujuan dan metode atau cara pelaksanaannya. Hal ini dikarenakan tujuan dari membaca studi bukanlah untuk membentuk ide umum sebagaimana dalam membaca sekilas (skimming), atau mencari informasi tertentu sebagaimana dalam membaca teliti (scanning), melainkan untuk memahami dan menyerap seluruh aspek teks serta mengetahui detail-detail kecil di dalamnya. Jika membaca pada metode lain cenderung cepat dan ringan, maka membaca studi dilakukan dengan perlahan dan mendalam.

Dari penjelasan di atas, kita perhatikan bahwa membaca studi lebih kompleks dan sulit dibandingkan jenis membaca lainnya. Hal itu karena membaca studi merupakan sistem yang terintegrasi yang mencakup semua jenis membaca yang telah disebutkan sebelumnya, ditambah lagi ia melibatkan lima langkah dasar (SQ3R) yang harus dilakukan oleh pembaca agar bacaannya menjadi efektif.

Latihan:

Cobalah bandingkan antara membaca teliti (scanning) dan membaca studi (study reading) dalam hal:

  • Tujuan.
  • Metode atau cara pelaksanaan.

Tuliskan jawaban Anda dalam bentuk tabel.


Sistem Lima Langkah untuk Membaca Studi (SQ3R):

Sistem atau metode lima langkah dianggap sebagai teknik terorganisir (Systematic) pertama yang dirancang untuk membantu siswa membaca buku dan teks ilmiah dengan cara yang efektif.

Sistem ini disusun pada tahun 1941 oleh Francis Robinson, salah seorang psikolog di Ohio State University, Amerika Serikat. Sistem ini memperoleh popularitas yang luas bukan hanya karena prinsip-prinsip ilmiah yang menjadi dasarnya, melainkan juga karena nama atau simbol yang dipilih untuknya membuat proses mengingat kelima langkah tersebut menjadi mudah. Nama ini terdiri dari kumpulan huruf-huruf pertama dari nama kelima langkah tersebut:

Survey (Survei/استطلع), Question (Tanya/اسأل), Read (Baca/اقرأ), Recite (Ucapkan kembali/استذكر), dan Review (Tinjau/راجع). Berikut adalah penjelasan untuk kelima langkah ini:

Langkah Pertama (Survey - Survei/Estathli'):

Langkah ini berarti meninjau atau memindai materi ilmiah yang berniat Anda baca. Lihatlah seluruh judul yang ada dalam salah satu bab buku, dan bacalah ringkasan (Summary) yang ada di bagian akhir (jika tersedia). Proses ini tidak akan memakan waktu lebih dari beberapa menit saja. Dengan demikian, Anda telah mengetahui sebelum membaca teks mengenai ide-ide atau topik-topik dasar yang akan dibahas dalam bab ini, dan Anda telah membentuk gambaran umum tentang karakter bab tersebut, bagian-bagiannya, serta tujuan umumnya.

Latihan:

Pilihlah satu bab atau buku wajib yang belum Anda baca, kemudian lakukan proses pemindaian menyeluruh terhadap semua judul yang ada di dalam bab atau buku tersebut dan bacalah ringkasannya jika ada. Catatlah hal itu di buku catatan Anda di bawah judul "Langkah Pertama dari Sistem Lima Langkah SQ3R".

Langkah Kedua (Question - Tanya/Is'al):

Sekarang, setelah Anda menyelesaikan langkah pertama dan mengenal topik-topik yang ada dalam bab atau buku tersebut, cobalah untuk menyusun beberapa pertanyaan agar Anda dapat menjawabnya pada dua langkah berikutnya. Mulailah dengan judul pertama dan cobalah mengubahnya menjadi bentuk pertanyaan. Jika judul bab tersebut adalah "Globalisasi" misalnya, maka Anda bisa mengubahnya menjadi pertanyaan atau sekumpulan pertanyaan seperti: Apa yang dimaksud dengan globalisasi? Apa tujuannya? Apa manfaatnya? Apa bahayanya? Bagaimana ia muncul? Kapan? Dan di mana ia tumbuh?

Demikian seterusnya hingga Anda menyelesaikan seluruh judul. Cobalah untuk memvariasikan pertanyaan Anda dengan kata tanya: Siapa? Kapan? Apa? Bagaimana? Di mana? ... dst.

Pertanyaan-pertanyaan ini membantu membuat bacaan Anda menjadi aktif dan bertujuan. Hal ini juga membangkitkan motivasi membaca dalam diri Anda, sehingga meningkatkan tingkat pemahaman dan penyerapan materi, karena Anda berada dalam pencarian terus-menerus akan jawaban dari pertanyaan yang Anda ajukan. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan ini membantu Anda mengingat informasi yang sudah Anda ketahui serta ide-ide penting dalam teks, sehingga Anda tidak membuang waktu membaca detail-detail yang tidak penting. Jika muncul sebuah judul yang tidak terlintas di pikiran Anda padahal itu penting, maka ia akan menarik perhatian Anda dan ini lebih mendorong Anda untuk menyerapnya.

Latihan:

Kembalilah ke latihan sebelumnya dan cobalah mengubah judul-judul yang telah Anda catat menjadi bentuk pertanyaan. Catatlah hal itu di buku catatan Anda di bawah judul "Langkah Kedua dari Sistem Lima Langkah".

Langkah Ketiga (Read - Baca/Iqra'):

Sekarang, setelah Anda mengetahui judul-judul dan topik-topik utama dalam bab tersebut serta menentukan jenis pertanyaan yang ingin Anda temukan jawabannya, Anda harus mulai membaca bab tersebut.

Namun, jangan mencoba membaca seluruh bab sekaligus dalam satu waktu. Mulailah dengan bagian pertama darinya. Selalulah berusaha untuk mengingat bahwa ada pertanyaan yang ingin Anda ketahui jawabannya dan carilah jawaban tersebut selama proses membaca.

Latihan:

Kembalilah ke latihan sebelumnya dan cobalah menjawab seluruh pertanyaan yang telah Anda susun. Lakukan hal tersebut setelah membaca teks, dan catatlah di buku catatan Anda di bawah judul "Langkah Ketiga dari Sistem Lima Langkah untuk Membaca".

Langkah Keempat (Recite - Ucapkan Kembali/Istadhkir):

Setelah Anda selesai membaca bagian pertama dari unit pembelajaran, letakkan buku itu di samping dan cobalah untuk mengingat apa yang telah Anda baca. Cobalah menjawab pertanyaan yang telah Anda ajukan pada diri sendiri. Gunakan kata-kata Anda sendiri, dan jangan mencoba memanggil kembali kata-kata penulis atau apa yang ada di dalam teks secara harfiah. Cobalah dukung jawaban Anda dengan beberapa contoh.

Berusahalah untuk mengingat kembali (recite) setelah setiap paragraf yang Anda baca. Tidak mengapa jika Anda melihat kembali kata-kata kunci atau petunjuk (Clue) yang telah Anda catat. Biarkan suara Anda terdengar seolah-olah Anda sedang menyampaikan kuliah, dan hindari berbicara di dalam hati (hanya kepada diri sendiri), karena hal ini tidak akan memberi manfaat apa pun. Pastikan juga untuk menggunakan kalimat yang sempurna, bukan frasa yang terpotong-potong. Lebih baik jika Anda sengaja menuliskan jawaban Anda seolah-olah sedang menjawab di lembar ujian. Hal ini akan menguatkan ide-ide dalam memori Anda dan meningkatkan pembelajaran Anda, karena Anda belajar melalui tiga saluran: telinga, mata, dan otot.

Sering kali siswa sengaja membaca materi ilmiah untuk kedua kalinya namun mengabaikan proses mengingat kembali (recite), padahal membaca ulang tidak dapat menggantikan proses recite. Membaca ulang saja tidak lebih dari melakukan hal yang sama dua kali, karena Anda sering kali sudah membentuk pola pikir tersendiri tentang apa yang ada dalam bab tersebut selama pembacaan pertama. Setelah itu, mata dan pikiran tidak melihat kecuali hal yang sama. Saya harap jangan sampai dipahami dari penjelasan ini bahwa kami tidak menyarankan membaca ulang jika Anda tidak memahami apa yang Anda baca pertama kali, namun tetaplah mencoba untuk melakukan recite setelah setiap kali membaca.

Beberapa studi menunjukkan bahwa proses mengingat kembali (recite) setelah membaca paragraf atau bagian kecil dari materi ilmiah dapat mengaktifkan tubuh dan pikiran, membawa pada pembelajaran yang cepat serta ingatan yang lebih baik, dan berfungsi untuk:

  • Memperkuat proses konsentrasi pada siswa.
  • Membentuk landasan dasar yang baik untuk memahami paragraf berikutnya.
  • Memberikan waktu bagi memori untuk mengintegrasikan paragraf tersebut dengan paragraf-paragraf sebelumnya.
  • Berfungsi untuk mengingat fakta dan ide dalam bentuknya yang benar (yaitu tanpa distorsi/perubahan).
  • Memberikan umpan balik kepada siswa mengenai bagaimana performanya.

Hasil beberapa studi yang dilakukan pada para pembelajar menunjukkan bahwa semakin banyak waktu yang dialokasikan untuk mengingat kembali (recite), hal itu semakin membantu memperkuat proses belajar siswa. Tingkat performa siswa yang mengalokasikan 20% waktu mereka untuk membaca dan 80% untuk recite ditemukan lebih baik daripada mereka yang mengalokasikan waktu lebih sedikit untuk recite.

Langkah Kelima (Review - Tinjau/Raji'):

Lupa merupakan salah satu masalah paling penting yang diderita oleh para pembelajar dalam kehidupan akademik mereka. Mereka melupakan persentase yang tidak sedikit dari apa yang mereka baca hanya beberapa detik setelah mereka meninggalkan buku, kecuali jika mereka mengambil langkah-langkah yang menjamin bertahannya informasi tersebut dalam struktur mental mereka. Salah satu langkah pertama yang wajib dilakukan untuk membatasi proses lupa adalah dengan membaca dan melakukan recite. Adapun "Review" (Tinjauan) adalah senjata ampuh yang dapat Anda gunakan melawan proses lupa. Peninjauan (Review) terbagi dari segi waktu pelaksanaannya menjadi dua bagian: Peninjauan Segera dan Peninjauan Lanjutan/Berkala. Berikut adalah penjelasan untuk kedua jenis peninjauan tersebut.


(1) Peninjauan Segera (Immediate Review):

Setelah Anda menghabiskan dua atau tiga jam waktu Anda untuk mencoba membaca materi ilmiah yang ada di hadapan Anda dan memahaminya, maka tidak masuk akal jika Anda rela kehilangan persentase besar dari apa yang telah Anda baca. Lakukanlah peninjauan terhadap apa yang telah Anda baca segera, apa pun kondisi dan alasannya. Waktu yang Anda habiskan untuk meninjau apa yang telah Anda baca (dan itu tidak boleh lama) akan menghemat banyak waktu yang mungkin Anda habiskan untuk mencoba memahami materi tersebut di waktu-waktu mendatang. Peninjauan segera terhadap materi dapat membatasi proses lupa, karena hal itu memberi Anda kesempatan untuk menyatukan potongan-potongan bab atau buku yang berserakan menjadi satu kesatuan. Alih-alih Anda memiliki puluhan bagian yang berbeda-beda untuk diingat, Anda akan memiliki satu gambaran yang homogen tentang bab atau buku tersebut.

Adapun cara peninjauan, ia sangat menyerupai cara mengingat kembali (recite), namun berbeda dalam hal volume informasi yang dikelola. Bukannya Anda mengingat bab atau buku itu paragraf demi paragraf, melainkan Anda meninjaunya halaman demi halaman atau bagian demi bagian.

Mulailah segera setelah Anda selesai membaca bab atau buku tersebut paragraf demi paragraf dengan menggunakan selembar kertas putih. Tutuplah halaman pertama dan cobalah untuk mengingat dengan suara keras sebagian besar ide, fakta, dan detail yang ada pada halaman tersebut. Setelah itu, lihatlah halaman tersebut untuk melihat apakah peninjauan Anda benar atau Anda telah melewatkan sesuatu, dan demikian seterusnya hingga akhir bab atau buku. Pada saat itulah Anda akan menemukan bahwa Anda telah memahami urutan ide yang ada dalam bab atau buku tersebut serta keterkaitannya satu sama lain, dan Anda akan mengingatnya.

(2) Peninjauan Lanjutan (Berkala):

Peninjauan segera sangatlah penting namun tidak cukup. Anda harus meninjau secara mendalam dan pada periode yang berulang, karena peninjauan lanjutan membuat Anda dalam keadaan siap dan sigap untuk ujian atau presentasi topik-topik pelajaran setiap saat. Dengan demikian, Anda tidak perlu terlalu membebani diri sendiri pada malam ujian atau malam presentasi, karena yang Anda butuhkan saat itu hanyalah peninjauan cepat terhadap materi.

Ketika Anda meninjau, cobalah selalu untuk menghubungkan informasi satu sama lain. Disarankan juga untuk mengklasifikasikan informasi ini dengan memasukkannya ke dalam kategori-kategori. Letakkan kategori yang serupa bersama-sama, dan hal-hal yang kontradiktif berlawanan satu sama lain. Cobalah mengklasifikasikan kategori-kategori ini berdasarkan karakteristik yang sama di antara mereka, perbedaan, atau fungsinya, dan lain-lain. Hal ini menempatkan Anda pada posisi pengendali yang menguasai materi, dan memberi Anda kesempatan untuk berkreasi.

Waktu terbaik untuk meninjau buku Anda adalah setengah jam terakhir sebelum Anda tidur. Hal itu karena hal-hal yang Anda pelajari pada waktu tersebut memiliki keistimewaan untuk menetap di memori (alam sadar) menjelang tidur, dan di alam bawah sadar saat Anda tidur.

Latihan:

Lakukanlah proses mengingat kembali (recite) dan peninjauan terhadap teks hingga Anda yakin akan kebenaran informasi yang telah Anda catat pada latihan sebelumnya.


Ketiga: Beberapa Hambatan Membaca Efektif dan Cara Mengatasinya

Kami telah mengisyaratkan sebelumnya bahwa banyak pembelajar tidak membaca secara efektif, artinya mereka tidak mahir dalam membaca. Mayoritas dari mereka lambat dalam membaca dan menghabiskan sebagian besar waktu tanpa mempelajari atau memahami apa yang seharusnya mereka pelajari atau pahami. Berikut kami paparkan hambatan atau masalah belajar terpenting yang menghalangi jalan pemahaman dan penyerapan bagi pembelajar serta menghambatnya mencapai tujuan yang diinginkan:

(1) Tidak Jelasnya Tujuan Membaca:

Membaca tanpa menetapkan tujuan tertentu membuat pembaca berjalan ke arah yang tidak menentu, sehingga bacaannya menjadi tidak efektif. Pembaca yang duduk di meja kerjanya dan membaca tanpa bertanya pada diri sendiri tentang maksud atau tujuan dari bacaannya tidak mengikuti jalan yang lurus dalam membacanya. Kita membaca untuk tujuan yang berbeda-beda; kita membaca untuk kesenangan dan hiburan, kita membaca untuk penelitian dan mengikuti kemajuan, dan kita membaca untuk lulus ujian, dan lain-lain. Masing-masing bacaan ini menuntut gaya membaca tertentu dan tingkat konsentrasi tertentu dibandingkan dengan membaca untuk kesenangan atau hiburan. Jadi, sebelum memulai proses membaca, Anda harus menentukan maksud atau tujuan membaca Anda, karena hal itu akan berimplikasi pada pemilihan gaya dan jenis bacaan yang sesuai untuk mencapai maksud atau tujuan tersebut.

(2) Tingkat Kesulitan Materi Pelajaran:

Sebagaimana pola membaca berbeda-beda sesuai dengan perbedaan maksud atau tujuannya, pola tersebut juga berbeda-beda sesuai dengan tingkat kesulitan materi ilmiah dan hakikat topik bacaan. Membaca materi ilmiah (eksakta), misalnya, berbeda sama sekali dengan membaca materi yang bersifat sastra. Anda tentu tidak membaca topik matematika atau kimia sebagaimana Anda membaca topik sejarah atau sosiologi. Masing-masing cocok dengan pola membaca yang berbeda. Anda mungkin bisa membaca topik sejarah dengan cepat untuk mengekstraksi ide-ide utamanya, tetapi Anda tidak bisa melakukan hal yang sama pada materi matematika atau teknik. Selain itu, materi-materi atau topik-topik pelajaran ini bervariasi satu sama lain dalam hal peninjauan, pengulangan, dan tingkat pemahaman siswa terhadapnya, termasuk juga tingkat kemudahan materi dan kelancaran gaya bahasa penulisnya.

(3) Menggerakkan Bibir (Melafalkan) Saat Membaca:

Melafalkan kata-kata saat (membaca nyaring) dianggap sebagai salah satu faktor pembaca yang lambat, karena Anda tidak dapat melafalkan kata-kata dengan kecepatan yang sama dengan kemampuan otak (pikiran) membacanya. Studi tentang topik ini membuktikan bahwa mayoritas orang menggerakkan bibir mereka (melafalkan kata-kata) saat membaca namun dengan tingkatan yang berbeda-beda. Orang-orang yang sengaja melafalkan setiap kata saat membaca adalah pembaca yang lambat. Mereka membaca dengan rata-rata kecepatan (atau sedikit lebih banyak) yang sama dengan saat mereka berbicara. Sementara itu, kecepatan beberapa orang yang membaca secara senyap mencapai sekitar 400 kata per menit. Oleh karena itu, kami menyarankan Anda untuk berhenti melatih pelafalan kata saat membaca dan membiasakan diri membaca senyap (membaca dengan mata), maka Anda akan menemukan bahwa kecepatan membaca Anda telah meningkat.

(4) Menggerakkan Jari pada Baris Tulisan:

Menggerakkan jari pada baris-baris tulisan saat proses membaca membatasi kecepatan gerakan mata, sehingga menghambat proses membaca. Hal itu karena saat Anda menggerakkan jari di bawah kata-kata, mata tidak melihat kecuali kata yang ditunjuk oleh jari; artinya Anda tidak melihat kecuali satu kata dalam satu kilasan karena Anda membaca kata demi kata. Dengan cara ini, Anda berhenti di setiap kata. Jika satu baris terdiri dari (10) kata, maka Anda berhenti 10 kali dalam satu baris. Dengan cara ini, Anda tidak akan bisa membaca dengan cepat.

(5) Menggerakkan Kepala Mengikuti Baris Tulisan:

Gerakan kepala mengikuti garis baris tulisan adalah salah satu hambatan membaca efektif. Meskipun kebiasaan ini tidak terlalu umum, namun beberapa pembaca masih mempraktikkannya saat proses membaca, di mana kita menemukan mereka menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan pada setiap baris yang mereka baca. Artinya, mereka menggerakkan kepala sejauh 10-12 cm pada setiap baris. Kami menyarankan mereka untuk mencoba menjauhkan diri dari gerakan semacam ini karena tidak perlu, bahkan melelahkan, serta membatasi kecepatan dan efektivitas membaca.

(6) Gerakan Mundur Mata (Regression) Saat Membaca:

Ini disebut dengan gerakan kembali atau gerakan mundur. Kebiasaan ini dihasilkan dari distraksi dan kurangnya konsentrasi saat membaca. Mungkin salah satu penyebabnya juga adalah ketidakjelasan tujuan membaca bagi siswa, sehingga ia membaca namun tidak memahami apa yang ia baca. Oleh karena itu, kita menemukan matanya gelisah, terkadang ke depan dan terkadang ke belakang, seperti pikirannya yang terdistraksi mencoba memahami apa yang ia baca. Solusi terbaik untuk kebiasaan membaca yang buruk ini adalah perhatian dan konsentrasi saat membaca, menentukan tujuan, dan melanjutkan membaca hingga akhir paragraf. Baru setelah itu Anda dapat mengingat kembali apa yang Anda baca dan mengulangi pembacaan jika hal itu memang diperlukan.

(7) Istilah Teknis dan Kata-kata Sulit:

Selama membaca, Anda pasti akan menghadapi banyak kata dan istilah teknis yang tidak Anda ketahui maknanya. Jangan biarkan kata-kata ini lewat begitu saja tanpa Anda ketahui maknanya, karena hal ini akan menghambat proses belajar Anda. Sebab, makna sebuah kalimat atau bahkan seluruh paragraf mungkin bergantung pada pengetahuan tentang kata atau istilah tersebut. Bisa jadi itu adalah kata kunci yang memudahkan Anda mengetahui banyak ide dan detail lainnya.

Jika muncul kata atau istilah baru, cobalah untuk mencari maknanya. Kembalilah ke kamus atau ensiklopedia dan carilah makna kata atau istilah tersebut. Waktu singkat yang Anda habiskan untuk mencoba mengetahui kata atau istilah baru tidaklah terbuang sia-sia, karena hal itu mengembangkan kekayaan kosa kata Anda, memperbaiki proses belajar Anda, dan meningkatkan kecepatan membaca Anda. Studi telah membuktikan bahwa siswa yang cerdas memiliki kekayaan kosa kata yang jauh melampaui rekan-rekan mereka yang lemah.

(8) Membaca Kata Per Kata (Individual) Alih-alih Membacanya dalam Kelompok:

Membaca teks kata demi kata adalah kebiasaan membaca yang buruk yang menyebabkan pembacaan menjadi lambat dan ketidakpahaman terhadap ide serta keterkaitan makna. Saat Anda membaca, jangan mencoba berhenti di setiap kata karena itu tidak perlu. Cobalah membaca beberapa kata dalam satu pandangan sekaligus. Hal ini mungkin sulit pada awalnya, namun kecepatan membaca Anda akan meningkat seiring waktu dan latihan. Namun, Anda harus ingat bahwa jumlah kata yang dapat Anda baca dalam satu pandangan bergantung pada banyak faktor, yang terpenting adalah kemudahan atau kesulitan materi di tangan Anda serta tingkat pengetahuan Anda tentang materi tersebut. Bagaimanapun, Anda mampu membaca lebih dari satu kata dalam satu waktu atau satu pandangan.

Aktivitas:

Tanyalah pada diri sendiri: Apakah Anda mempraktikkan kebiasaan membaca yang buruk ini? Jika Anda tidak yakin dengan jawaban Anda, tanyalah kepada seorang teman. Jika jawaban Anda adalah "ya", maka pilihlah sebuah materi pelajaran dan bacalah dengan mencoba menghindari kebiasaan membaca buruk yang disebutkan dalam unit ini.

Latihan:

Bayangkan Anda berdiri di depan sebuah kelas dan ingin menyampaikan kuliah tentang beberapa hambatan membaca efektif. Lakukanlah hal itu, dan rekamlah kuliah tersebut pada kaset audio jika Anda mampu.


Keempat: Bagaimana Cara Meningkatkan Kecepatan Membaca Anda?

Kami telah mengisyaratkan sebelumnya mengenai beberapa praktik atau kebiasaan membaca yang buruk, dan kami telah katakan bahwa praktik-praktik ini membatasi efektivitas membaca. Menghilangkannya akan menghasilkan pembacaan yang lebih baik atau lebih efektif. Kenyataannya, sekadar tidak menggerakkan bibir, kepala, dan jari saat membaca mungkin tidak serta-merta menjadikan Anda seorang pembaca yang cepat; hal-hal tersebut hanyalah faktor pembantu saja. Cara terbaik untuk meningkatkan kecepatan membaca Anda adalah dengan mempraktikkan membaca cepat secara nyata. Oleh karena itu, kami menyarankan Anda mengikuti instruksi berikut:

  1. Alokasikan sebagian waktu Anda untuk berlatih membaca cepat setiap hari: Lebih baik waktu ini dilakukan setelah Anda menyelesaikan tugas-tugas belajar harian. Setengah jam sehari sudah cukup untuk tujuan ini; tetapkan hal tersebut dalam jadwal belajar Anda.
  2. Ujilah diri Anda sendiri: Agar Anda mengetahui kecepatan membaca Anda saat ini, Anda harus melakukan tes mandiri (pre-test). Pilih dua materi pelajaran atau dua teks yang setara dari segi volume (jumlah halaman atau kata) namun berbeda dari segi tingkat kemudahan dan kesulitannya (satu mudah, dan lainnya sulit). Anda bisa memilih materi Musthalah Hadits atau buku Waris (sebagai materi sulit), dan lainnya yang bersifat mudah seperti Sirah Nabawiyah. Atau, Anda bisa memilih majalah mingguan dan mengambil dua artikel darinya, yang satu mudah dan yang lainnya sulit.

Mulailah membaca artikel atau teks pertama. Selalulah perhatikan bahwa Anda tidak membaca demi kecepatan semata, melainkan juga demi pemahaman; jika tidak, Anda hanya membuang waktu secara percuma. Saat selesai membaca, catatlah waktunya. Kurangi waktu pertama dari waktu kedua, lalu bagilah jumlah halaman atau kata dengan hasilnya. Dengan begitu, Anda mendapatkan rata-rata kecepatan membaca Anda per menit.

Contoh: Jika jam menunjukkan pukul 10 malam saat mulai membaca, dan menunjukkan pukul 10.30 saat selesai, dan Anda membaca total 4.500 kata, maka rata-rata kecepatan membaca Anda adalah 4.500 kata dibagi 30 menit, yaitu 150 kata per menit. Catatlah hasil ini pada tabel yang disediakan untuk tujuan tersebut.

Bacalah artikel atau teks kedua dan catat rata-rata kecepatannya sebagaimana yang Anda lakukan pada artikel pertama. Dengan demikian, Anda telah menguji diri sendiri dan mengetahui rata-rata kecepatan membaca Anda.

  1. Setelah setiap pembacaan, cobalah mengingat kembali (recite) apa yang Anda baca: Kemudian kembalilah ke teks tersebut untuk memastikan bahwa Anda telah memahami ide-ide dan detail yang terkandung di dalamnya. Jika Anda tidak melakukan hal ini, maka bacaan Anda tidak bermanfaat.
  2. Lakukan hal ini secara rutin setiap hari dan catat rata-rata kecepatan Anda setelah setiap pembacaan: Kecepatan membaca Anda akan meningkat secara bertahap seiring waktu. Anda dapat memastikannya dengan meninjau tabel yang disediakan untuk tujuan tersebut.
  3. Berusahalah untuk selalu memilih materi pelajaran yang berkaitan dengan spesialisasi (jurusan) Anda: Dengan demikian, Anda mencapai dua tujuan sekaligus: pertama, mempraktikkan dan melatih membaca cepat; kedua, memahami dan menyerap materi pelajaran Anda.
  4. Cobalah untuk memvariasikan materi pelajaran yang Anda baca untuk tujuan ini: Ingatlah bahwa kecepatan membaca berbeda-beda sesuai dengan topik (kemudahan atau kesulitan materi). Ingatlah juga bahwa tujuannya selalu adalah pemahaman dan penyerapan, bukan membaca cepat itu sendiri. Membaca cepat hanyalah sarana untuk meningkatkan produktivitas membaca. Semakin cepat Anda membaca dan semakin paham Anda terhadap apa yang dibaca, maka itu semakin baik dan bacaan Anda menjadi bacaan yang efektif.

Aktivasi Praktis Fakta dan Nilai Materi Melalui Aktivitas Berikut:

Pertama — Aktivitas Penyerta (Intrakurikuler):

  1. Membaca topik secara mendalam (study reading) dan teliti sebelum mempresentasikannya kepada rekan-rekan.
  2. Mencatat lima langkah membaca studi (SQ3R) dalam kartu saku yang mudah dirujuk saat dibutuhkan.
  3. Berpartisipasi dalam pembicaraan mengenai pentingnya kecepatan membaca dan metodenya.
  4. Memberikan kesempatan untuk membaca beberapa halaman buku sebagai bentuk uji coba dan latihan.

Kedua — Aktivitas Pendukung (Ekstrakurikuler):

  1. Merencanakan presentasi topik dengan mahir melalui komputer menggunakan program PowerPoint.
  2. Menyampaikan kuliah tentang membaca efektif dan jenis-jenisnya.
  3. Menulis penelitian tentang hambatan-hambatan membaca dan cara mengatasinya.
  4. Membuat media berupa papan pajangan atau kartu-kartu sederhana yang merangkum lima langkah membaca studi.
  5. Mencatat hambatan-hambatan membaca terpenting yang dihadapi secara pribadi dan cara-cara yang diambil untuk mengatasinya.

Evaluasi dan Pengukuran Mandiri:

Satu — Pertanyaan Esai:

  1. Jelaskan konsep membaca efektif!
  2. Sebutkan tujuan-tujuan membaca efektif dan jenis-jenisnya!
  3. Ringkaslah jenis-jenis membaca sesuai tujuannya!
  4. Apa yang dimaksud dengan sistem lima langkah membaca studi (SQ3R)?
  5. Apa saja hambatan membaca efektif? Dan apa cara mengatasinya?
  6. Bagaimana cara meningkatkan kecepatan membaca Anda?
  7. Apa perbedaan antara membaca sekilas (skimming) dan membaca teliti (scanning)?
  8. Bandingkan antara membaca teliti dan membaca studi dari segi tujuan dan metode!
  9. Tuliskan tiga hambatan membaca terpenting bagi Anda dan tentukan solusi yang Anda anggap tepat untuk mengatasinya!

Dua — Pertanyaan Objektif:

Berikan tanda (✓) di depan pernyataan yang benar dan tanda (×) di depan pernyataan yang salah:

  1. Membaca teliti (scanning) digunakan untuk mendapatkan ide umum suatu topik. ( )
  2. Jenis membaca yang paling sulit dan kompleks adalah membaca studi. ( )
  3. "Tanya" (Question) adalah langkah pertama dari lima langkah membaca studi. ( )
  4. Peninjauan segera terhadap materi lebih penting daripada peninjauan lanjutan dan sudah cukup sebagai penggantinya. ( )
  5. Menggerakkan kepala mengikuti baris tulisan saat membaca bukan termasuk hambatan membaca. ( )

Tiga — Urutan Langkah:

Berikut adalah lima langkah membaca studi (SQ3R):

  1. Baca (Read)
  2. Tanya (Question)
  3. Tinjau (Review)
  4. Ingat Kembali (Recite)
  5. Survei (Survey)

Empat — Perbandingan:

Melalui studi Anda terhadap topik ini, bandingkan antara Membaca Sekilas (Skimming) dan Membaca Teliti (Scanning) dari segi tujuan dan cara pelaksanaan pada tabel berikut:

No

Aspek Perbandingan

Membaca Sekilas (Skimming)

Membaca Teliti (Scanning)

1

Dari segi tujuan

2

Dari segi metode dan cara pelaksanaan


 

No comments:

Post a Comment

Belajar Mandiri dan Membaca Efektif