KH. Hilmi Aminuddin: Tadabbur Surat Al-Ahzab: 70-71

  

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً  يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً (الأحزاب)

Ikhwan dan akhwat fillah, alhamdulillah pagi ini kita kembali mendapat taufik, hidayah dan karunia Allah SWT, dikumpulkan dalam kegiatan bersama untuk merancang peningkatan kualitas taqarrub dan ta’abbud kita melalui program-program dakwah kita. Mudah-mudahan dalam penyusunan program kerja ini dihasilkan qaulan sadida, pilihan-pilihan keputusan yang tepat. Sehingga insya Allah sesuai dengan janjinya “yushlih lakum a’malukum”. Kesemuanya itu akan meningkatkan kualitas dan performance amal kita serta “wayaghfir lakum dzunubakum”, segala kekurangan dan kesalahan manusiawi yang disebabkan oleh kelemahan kita akan diampuni Allah SWT.

Namun yang perlu diingat sekali ialah janji Allah “wayaghfir lakum dzunubakum” munculnya setelah ada upaya “yushlih lakum a’malukum”. Jadi Allah akan mengampuni semua kesalahan dan kekurangan setelah kita berupaya maksimal memperbaiki kinerja, performance dan langkah-langkah kita sesuai dengan kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada kita.

Hal tersebut sudah diisyaratkan dari ayat Allah “wa-atakum min kulli ma sa-altumu”. Yakni bahwa segala yang kita butuhkan telah disediakan Allah SWT. Tinggal bagaimana kita merekayasa pendayagunaannya seoptimal mungkin. Salah satu bentuk mensyukuri nikmat Allah berupa potensi adalah dengan melakukan optimalisasi dalam pendayagunaannya. “Wa-in ta-uddu ni’matallahi la tuhsuha”, kalau kita menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kita tak akan mampu menghitungnya. Menghitungnya saja kita tidak mampu apalagi mensyukuri dan bahkan membalasnya. Mudah-mudahan upaya mensyukuri nikmat Allah itu akan mendatangkan nikmat Allah yang lebih besar yakni ishlahul a’mal semakin baik dan ampunanNya atas segala kekurangan dan kelemahan kita. Itulah yang menjadi harapan kita bersama.

Ikhwan dan akhwat fillah, seperti yang telah sering saya kemukakan bahwa penyusunan program-program kerja ini terkait dengan pilihan-pilihan atas metodologi, sarana dan prasarana. Tetapi kita tidak memilih-milih prinsip karena memang kita tidak punya pilihan dalam hal tersebut. Allah SWT memberikan fleksibilitas kepada kita untuk memilih metodologi, sarana dan prasarana namun Ia tidak membolehkan kita menawar-nawar prinsip.

Sekali lagi yang disebut mabda atau prinsip itu tsawabit yakni suatu kepastian yang tidak akan pernah berubah sehingga efek-efek mengikuti atau melanggar prinsip-prinsip adalah keniscayaan. Melaksanakan prinsip atau melanggar prinsip merupakan keniscayaan baik pahala atau dosanya sebagai efek dari pelaksanaan maupun pengingkarannya.

Dalam hal ushlub dan wasail karena merupakan masalah pilihan-pilihan memang ada keleluasaan tetapi sudah tentu pilihan-pilihan tersebut diambil sepanjang tidak bertentangan dengan hukum Allah baik hukum syar’i ataupun hukum kauni. Jika hal tersebut diperhatikan maka upaya itu akan mendapatkan pahala yang baik sedangkan masalah hasil kita serahkan kepada Allah SWT karena yang paling tahu kapan hasil itu akan mendatangkan manfaat kepada kita hanyalah Allah SWT. Tugas kita adalah memilih ashalib dan wasail yang sesuai dengan sunnatullah baik syar’iyah maupun kauniyah. Kemudian mendisiplinkan diri kita dengan hal itu. Soal natijahnya kita serahkan kepada Allah SWT.

Sekali lagi bila kita bicara tentang adanya pilihan-pilihan maka hal tersebut hanya berlaku dalam hal ushlub dan wasail. Hal ini berlaku di segala bidang kehidupan termasuk ibadah, misalnya shalat. Shalat itu sendiri adalah suatu prinsip atau keharusan. “As Shalatu imaduddin”, shalat itu tiang agama (al Hadits). Namun dalam soal ushlub dan wasail ada pilihan-pilihan ditinjau dari kondisi objektif maupun subyektif. Dalam kondisi obyektif misalnya tidak ada air maka syarat sah shalat berubah dari wudhu menjadi tayammum. Dalam kondisi kita diserang musuh boleh kita shalatul khauf sesuai dengan kadar ketakutannya. Jadi bisa sambil tiarap ataupun tiduran. Begitu pula ketika kondisi subyektif kita sedang sakit maka shalat boleh dilakukan sambil duduk atau bahkan berbaring.

Begitu juga ketika berdakwah dan berjihad kita harus membaca kondisi obyektif yaitu kondisi medan dakwah, kondisi waqi’i kita dan kondisi subyektif kita sebagai da’ i atau da’iyah baik secara individu, jamaah ataupun umat. Kemudian berdasarkan perimbangan antara penilaian terhadap kondisi obyektif dan subyektif itulah kita pilih mana yang paling tepat. Sehingga insya Allah akan menghasilkan qaulan sadida yang “yushlih lakum a’malukum yaghfir lakum dzunubakum” sebagaimana yang dijanjikan Allah SWT dalam ayat di awal pembicaraan ini.

Kemudian sekali lagi dalam memilih dan melaksanakan ushlub dan wasail ini yang penting adalah tidak melanggar sunnah syar’iyah maupun sunnah kauniyah. Itulah batas pilihannya. Bila kita melanggar sunnah kauniyah hukumannya akan spontan saat itu juga kita rasakan, sementara bila kita melanggar sunnah syar’iyah boleh jadi ada penangguhan yakni hukumannya tidak kita dapatkan di dunia tetapi pasti di akhirat kelak.

Jadi bila kita menabrak aturan-aturan kauni baik dalam berjihad atau berdakwah maka secara otomatis akan hancur sendiri sebab al fitrah muhakkamah alias begitu kokoh dan universal.

Sementara kita hanya sebagian kecil saja dari universalitas ciptaan Allah dengan segala aturannya. Oleh karena itu kita tidak boleh melanggar aturan kauniyah yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Dan sunnah kauniyah yang paling menonjol adalah bahwa seluruh proses pertumbuhan makhluk dengan segala aktifitas perjuangan kehidupannya adalah tadarruj dan tawazun.

Selain itu kita juga harus memahami nawamisul kaun yaitu adanya as sunnatut tadaffu’ (walaula daf’ullahi …) dalam Al Hajj ayat 40 dan Al Baqarah ayat 251. untuk menjaga keseimbangan dan kelestarian alam maka Allah mengadakan pula proses mudafa’ah sebagai antitesa dari ba’dhuhum ba’dh. Di antara setiap kelompok manusia bahkan di setiap kelompok makhluk akan senantiasa ada predator-predator. Itu adalah sunnatut tadaffu’. Maka begitu pula dalam dunia dakwah, kita akan temukan juga predatornya. Tinggal bagaimana kita memahami tabiat predator dakwah itu seperti apa, doyannya makan apa, kecenderungannya bagaimana. Sehingga kita bisa memancingnya dengan makanannya agar ia tidak memakan kita. Atau kita beri pil tidur agar predatornya tidur dan  tidak mengusik kita. Jadi bila kita benar-benar mengenali siapa predator-predator dakwah maka kita tidak akan terprovokasi oleh pancingan-pancingannya dan tidak menjadi mangsa.

Upaya memahami manhaj syar’i dan kauni ini sangat penting agar kita tidak terprovokasi oleh situasi, kondisi, statement-statement atau pancingan-pancingan para predator. Karena sebenarnya yang selalu harus kita sadari adalah bahwa seluruh program-program serta respon kita terhadap program-program orang lain adalah bukan karena terprovokasi melainkan memang benar tuntutan-tuntutan aqidah, fikrah, manhaj, marhaliyah dan mihwariyah kita.

Jadi yang harus kita pertanyakan tuntutan marhaliyah kita atau tuntutan mihwariyah kita saat ini apa. Misalnya kita kini sedang berada dalam mihwar muassasi maka jangan kita layani tuntutan-tuntutan mihwar daulah, karena itu bukan dalam kapasitas kita.

Sehingga sesuai tuntutan mihwar muassasi ini program-program yang kita buat minimal menurut perhitungan kita tidak akan membuat langkah mundur ke mihwar sirriy tanzhimi lagi. Artinya kita harus tetap eksis dan dominan dalam mihwar muassasi.

Harapan kita tentunya bahwa program-program yang kita buat dalam mihwar muassasi ini akan mempercepat atau terjadi akselerasi menuju mihwar daulah. Jadi ada range minimal dan maksimalnya. Minimalnya jangan sampai kita mundur kembali ke mihwar sirriy tanzhimi sedangkan maksimalnya mempercepat tercapainya mihwar daulah. Hitung-hitungan muqtadhoyat mihwariyah (tuntutan-tuntutan mihwariah) nya adalah seperti itu. Begitu juga dengan marhaliah kita, saat ini mihwariah sudah semakin luas. Secara politis kita sudah kredibel sehingga harus hati-hati jangan sampai gara-gara program kita, langkah kita dan respon kita terhadap gejolak-gejolak dan situasi aktual membuat kredibilitas kita menurun dan tidak bisa ngomong politik lagi. Justru seharusnya vokalitas dan kemampuan artikulatif politik kita semakin meningkat. Inilah yang disebut muqtadhoyat marhaliah.

Selain itu kita juga harus disiplin dengan muqtadhoyat  aqidiyah, fikriyah dan ma’nawiyah sehingga insya Allah kita tidak mungkin terpancing, terprovokasi apalagi terjerumus ke dalam agenda-agenda terselubung dari predator-predator dakwah apapun bentuknya.

Insya Allah dengan kedisiplinan kita terhadap taujihat rabbani dan taujihat nabawi yang senantiasa ada dalam seluruh aneka program kita, kita akan selalu mendapat ri’ayah, inayah, taufik dan hidayah untuk mencapai qaulan sadida dalam program-program kita. Hingga akhirnya insya Allah “yushlih lakum a’malukum yaghfir lakum dzunubakum dan kemudian mencapai mardhatillah fid dunya wal akhirah.

Wallahu a’lam.

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat