Westernisasi
Penbaratan (Tagrib / Westernisasi)
Definisi:
Penbaratan
(Tagrib) adalah sebuah arus pemikiran besar yang memiliki dimensi
politik, sosial, budaya, dan seni, yang bertujuan untuk mewarnai kehidupan
bangsa-bangsa secara umum, dan umat Islam secara khusus, dengan gaya hidup
Barat. Hal ini bertujuan untuk menghapuskan kepribadian mereka yang independen
serta keistimewaan mereka yang khas, sekaligus menjadikan mereka tawanan dalam
ketergantungan total terhadap peradaban Barat.
Pembentukan
dan Tokoh-Tokoh Utama
Para
penguasa yang terbaratkan (müstagrib) di dunia Islam mulai melakukan
modernisasi dan penguatan pasukan militer mereka pada akhir abad ke-18 dan awal
abad ke-19. Langkah ini dilakukan dengan mengirimkan utusan (beasiswa) ke
negara-negara Eropa atau dengan mendatangkan tenaga ahli dari Barat untuk
mengajar dan merancang kebangkitan modern. Kebijakan tersebut diambil guna
menghadapi ambisi bangsa Barat yang ingin memperluas pengaruh kolonial mereka
menyusul dimulainya era Renaisans Eropa.
- Ketika Sultan Mahmud II
membubarkan pasukan Janisari (Ingkisariyyah) Utsmaniyah pada tahun 1826 M,
beliau memerintahkan pengadopsian busana gaya Eropa yang diwajibkan bagi
kalangan militer maupun sipil tanpa terkecuali.
- Sultan Utsmaniyah Abdul Mejid
I mengeluarkan maklumat pada tahun 1255 H / 1839 M yang mengizinkan
non-Muslim untuk bergabung dalam dinas militer.
- Sultan Selim III mendatangkan
para insinyur dari Swedia, Prancis, Hungaria, dan Inggris untuk mendirikan
sekolah-sekolah militer dan kelautan.
- Muhammad Ali Pasha, Wali
Mesir yang menjabat pada tahun 1805 M, membangun tentara dengan sistem
Eropa, serta mengutus para alumni Al-Azhar untuk mengambil spesialisasi
studi di Eropa.
- Ahmad Basyah Bey I di Tunisia
mendirikan pasukan tentara reguler dan membuka sekolah ilmu militer yang
perwira dan pengajarnya terdiri dari orang-orang Prancis, Italia, dan
Inggris.
- Dinasti Qajar yang memerintah
Iran membuka perguruan tinggi ilmu pengetahuan dan seni berorientasi Barat
pada tahun 1852 M.
- Sejak tahun 1860 M, gerakan
penbaratan mulai beroperasi di Lebanon melalui misi-misi
zending/misionaris. Dari sana, gerakan ini meluas ke Mesir di bawah
pemerintahan Khedive Ismail, yang bertujuan menjadikan Mesir sebagai
bagian dari Eropa.
- Khedive Ismail bertemu dengan
Sultan Utsmaniyah Abdul Aziz di Paris pada tahun 1284 H / 1867 M ketika
keduanya memenuhi undangan Kaisar Napoleon III untuk menghadiri Pameran
Umum Prancis (Exposition Universelle). Keduanya saat itu berjalan
dalam arus peradaban Barat.
- Rifa'ah at-Tahtawi diutus ke
Paris dan menetap di sana selama lima tahun (1826–1831 M). Khairuddin
at-Tunisi juga diutus ke sana dan menetap selama empat tahun (1852–1856
M). Keduanya kembali dengan membawa gagasan-gagasan yang menyerukan
penataan masyarakat atas dasar sekular rasional.
- Sejak tahun 1830 M, para
pelajar yang kembali dari Eropa mulai menerjemahkan karya-karya Voltaire,
Rousseau, dan Montesquieu, dalam upaya menyebarkan pemikiran Eropa yang
menentang agama (*)—yang muncul pada abad ke-18 (sebagaimana telah kami
rincikan dalam pembahasan Sekularisme).
- Lord Cromer mendirikan Victoria
College di Iskandariyah (Alexandria) untuk mendidik generasi anak-anak
penguasa, pemimpin, dan tokoh terkemuka dalam lingkungan khas Inggris,
agar mereka menjadi sarana di masa depan untuk mentransfer dan menyebarkan
peradaban Barat.
- Lord Lloyd, High Commissioner
(Komisioner Tinggi) Britania di Mesir, menyatakan saat meresmikan
perguruan tinggi ini pada tahun 1936 M: "Semua anak ini tidak akan
memakan waktu lama hingga mereka terserap oleh sudut pandang Britania,
berkat hubungan kekeluargaan yang erat antara para pengajar dan
murid."
- Orang-orang Kristen Syam
termasuk kelompok pertama yang menjalin hubungan dengan misi-misi
evangelis dan zending, serta menjadi kelompok yang paling cepat menyerap
kebudayaan Prancis dan Inggris. Mereka juga mendukung sekularisme liberal
karena tidak merasakannya adanya kesetiaan terhadap Daulah Utsmaniyah.
Oleh karena itu, mereka sangat berlebihan dalam menunjukkan kekaguman
terhadap Barat serta menyerukan agar Barat dijadikan teladan dan diikuti
jalannya. Hal ini terlihat jelas dalam surat kabar-surat kabar yang mereka
dirikan dan kelola.
- Nashif al-Yaziji (1800–1871
M) dan putranya, Ibrahim al-Yaziji (1847–1906 M), memiliki hubungan yang
sangat erat dengan misi-misionaris Evangelis Amerika.
- Butrus al-Bustani (1819–1883
M) pada tahun 1863 M mendirikan sekolah untuk mengajarkan bahasa Arab dan
ilmu-ilmu modern. Dengan demikian, ia menjadi orang Kristen pertama yang
menyerukan paham Arabisme ('Urubah) dan Nasionalisme (Wataniyyah),
di mana semboyannya adalah "Cinta tanah air adalah bagian dari
iman". Ia juga menerbitkan surat kabar al-Jinan pada tahun
1870 M yang bertahan selama enam belas tahun. Ia menjabat sebagai
penerjemah di Konsulat Amerika di Beirut dan berpartisipasi dalam
penerjemahan Alkitab versi Protestan (*) bersama dua orang Amerika, Eli
Smith dan Cornelius Van Dyck.
- Jurji Zaidan (1861–1914 M)
mendirikan majalah al-Hilal di Mesir pada tahun 1892 M. Ia memiliki
hubungan dengan para utusan Amerika, serta menulis serial novel sejarah
yang dipenuhi kebohongan dan tuduhan palsu terhadap Islam dan umat Islam.
- Salim Taqla mendirikan surat
kabar al-Ahram di Mesir. Sebelumnya, ia mengenyam pendidikan di
sekolah 'Abeih di Lebanon yang didirikan oleh misionaris Amerika, Van
Dyck.
- Salim an-Naqqasy menerbitkan
surat kabar al-Muqtataf yang beroperasi selama delapan tahun di
Lebanon, sebelum kemudian pindah ke Mesir pada tahun 1884 M.
- Jamaluddin al-Afghani
(1838–1897 M) banyak berkelana di dunia Islam, baik di belahan Timur
maupun Barat. Ia memasukkan sistem perkumpulan rahasia (jam'iyyat
sirriyyah) era modern ke Mesir, dan dikatakan bahwa ia bergabung
dengan loji-loji Masonik. Ia juga memiliki hubungan dengan Mr. Wilfrid
Scawen Blunt dari Britania.
- Syekh Muhammad Abduh
(1849–1905 M) merupakan salah satu murid paling terkemuka dari al-Afghani
dan rekannya dalam mendirikan majalah al-'Urwat al-Wustqa. Beliau
menjalin persahabatan dengan Lord Cromer dan Mr. Blunt. Mazhab
pemikirannya—termasuk Rashid Rida—menyerukan penyerangan terhadap
tradisi-tradisi lama. Merekapun mengeluarkan fatwa-fatwa yang bersandar
pada takwil (*) batas maksimal yang dimungkinkan oleh teks-teks keagamaan,
dengan tujuan menampilkan Islam sebagai agama yang dapat menerima
peradaban Barat. Syekh Muhammad Abduh juga menyerukan dimasukkannya
ilmu-ilmu modern ke dalam kurikulum Al-Azhar untuk mengembangkan dan
memodernisasikannya.
- Orientalis Mr. Blunt bersama
istrinya sering berkeliling dengan mengenakan busana Arab, menyerukan
nasionalisme Arab (al-Qaumiyyah al-'Arabiyyah) dan pembentukan
kekhalifahan Arab demi menghancurkan ikatan keislaman.
- Qasim Amin (1865–1908 M),
murid Muhammad Abduh, memimpin seruan emansipasi wanita dan pemberdayaan
wanita untuk bekerja di jabatan-jabatan serta pekerjaan publik. Ia menulis
buku Tahrir al-Mar'ah (1899 M) dan al-Mar'ah al-Jadidah
(1900 M).
- Saad Zaghloul, yang menjadi
Menteri Pendidikan (Wazir al-Ma'arif) pada tahun 1906 M, sangat
terpengaruh oleh pandangan-pandangan Muhammad Abduh. Ia merealisasikan
gagasan lama Lord Cromer yang menyerukan pembentukan Sekolah Peradilan
Syariah (Madrasat al-Qada' asy-Syar'i), dengan tujuan mengembangkan
pemikiran Islam melalui lembaga non-Azhar yang menjadi pesaing baginya.
- Ahmed Lutfi el-Sayed
(1872–1963 M) adalah salah satu pendiri terbesar Partai (Hizb)
Liberal Konstitusional (al-Ahrar ad-Dusturriyyun) yang memisahkan
diri secara politik dari Saad Zaghloul. Ia menyerukan paham kedaerahan
yang sempit (al-Iqlimiyyah) dan merupakan pencetus ungkapan
terkenal pada tahun 1907 M, yaitu "Mesir untuk Bangsa Mesir". Ia
mengelola Universitas Mesir sejak diambil alih oleh pemerintah Mesir dari
sekitar tahun 1916 M hingga 1941 M.
- Taha Hussein (1889–1973 M)
merupakan salah satu tokoh utama penyeru penbaratan di dunia Islam. Ia
menimba ilmu di bawah bimbingan orientalis Emile Durkheim. Ia
mempublikasikan pandangan-pandangannya yang paling berbahaya dalam dua
bukunya: asasy-Syi'r al-Jahili (Puisi Jahiliyah) dan Mustaqbal
al-Thaqafah fi Misr (Masa Depan Kebudayaan di Mesir).
- Ia menyatakan dalam bukunya asasy-Syi'r
al-Jahili (hal. 26): "Taurat (*) boleh saja menceritakan kepada
kita tentang Ibrahim dan Ismail, dan Al-Qur'an pun boleh menceritakan
kepada kita tentang keduanya; namun penyebutan kedua nama ini di dalam
Taurat dan Al-Qur'an tidaklah cukup untuk membuktikan keberadaan historis
keduanya."
- Setelah itu ia berkata:
"Kaum Quraisy telah siap sepenuhnya untuk menerima mitos ini pada
abad ketujuh Masehi ()". Selain itu, di dalam buku tersebut ia juga
menafikan nasab Nabi () yang bersumber dari bangsawan Quraisy.
- Taha Hussein pernah memulai
kuliahnya tentang bahasa dan sastra dengan memuji Allah dan bersalawat
kepada Nabi-Nya, kemudian berkata: "Sebagian hadirin mungkin akan
tertawa mendengar saya memulai kuliah ini dengan pujian kepada Allah dan
salawat kepada Nabi-Nya, karena hal itu menyelisihi kebiasaan zaman
ini." (Majalah al-Hilal, edisi Oktober dan November 1911 M).
- Gerakan penbaratan berkembang
pesat setelah kelompok Komite Persatuan dan Kemajuan (Ittihad ve
Terakki) menguasai pemerintahan di Daulah Utsmaniyah pada tahun 1908 M
dan jatuhnya Sultan Abdul Hamid II.
- Pada tahun 1924 M,
pemerintahan Mustafa Kemal Atatürk menghapuskan Kekhalifahan (*)
Utsmaniyah, yang membuka jalan bagi bergabungnya Turki ke dalam gerbong
sekular modern, serta memaksakan penbaratan dalam bentuknya yang paling
ekstrem dan keras.
- Ali Abdel Raziq
mempublikasikan bukunya al-Islam wa Usul al-Hukm (Islam dan
Dasar-Dasar Pemerintahan) pada tahun 1925 M, yang diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris dan Urdu. Penulis berusaha meyakinkan pembaca bahwa Islam
hanyalah agama (*) semata, bukan agama dan negara. Wilfred Cantwell Smith
menjadikannya contoh saat mengindikasikan bahwa sekularisme liberal dan
kosmopolitanisme tidak akan laku di dunia Islam kecuali jika ditafsirkan
dengan penafsiran Islam yang dapat diterima. Buku dan penulisnya tersebut
kemudian diadili oleh Majelis Ulama Senior (Hai'at Kibar al-'Ulama')
Al-Azhar pada 12 Agustus 1925 M, dan dijatuhi hukuman vonis bersalah yang
mengeluarkannya dari jajaran ulama. Ia pernah memimpin majalah al-Rabitah
al-Syarqiyyah, serta mengadakan acara penghormatan untuk Ernest Renan
(1823–1892 M) di Universitas Mesir dalam rangka peringatan seratus tahun
kelahiran orientalis tersebut—seorang orientalis yang tidak menyia-nyiakan
kesempatan untuk menyerang bangsa Arab dan umat Islam.
- Mahmoud Azmi adalah salah
satu penyeru paham Faraonisme (al-Fir'awniyyah) terbesar di Mesir.
Ia belajar pada gurunya, Durkheim, yang pernah berkata kepadanya:
"Jika Anda membicarakan ekonomi maka jangan sebutkan Syariat (*), dan
jika Anda membicarakan Syariat maka jangan sebutkan ekonomi."
- Sebelumnya, Mansour Fahmi
(1886–1959 M) mengajukan disintegrasi disertasi doktor pertama kepada
gurunya, Lucien Lévy-Bruhl, yang menyerang sistem pernikahan dalam Islam.
Disertasi tersebut berjudul Keadaan Wanita dalam Tradisi Islam dan
Perkembangannya. Dalam disertasi ini ia menyatakan: "Muhammad
membuat syariat bagi seluruh manusia tetapi mengecualikan dirinya
sendiri," dan ia berkata: "Hanya saja beliau membebaskan dirinya
dari mahar dan saksi-saksi." Namun, ia kemudian mengkritik gerakan
(*) penbaratan pada tahun 1915 M dan menyuarakan pandangannya secara
terbuka mengenai kesalahan-kesalahan yang diusung oleh Taha Hussein dan
sekolah pemikirannya.
- Ismail Mazhar dianggap
sebagai salah satu tokoh utama sekolah penbaratan, namun tidak lama
kemudian ia berpaling darinya pada era Kebangkitan Modern.
- Zaki Mubarak berada di
jajaran depan murid-murid Taha Hussein. Ia belajar di tangan para
orientalis dan sebelumnya telah mengajukan disertasi doktor tentang
Al-Ghazali dan Al-Ma'mun yang menyerang Al-Ghazali secara tajam. Akan
tetapi, ia ralat kembali dari pandangannya di kemudian hari dan menulis
artikelnya yang terkenal: Kepadamu Aku Meminta Maaf, Wahai Al-Ghazali.
- Muhammad Husayn Haykal
(1888–1956 M), pemred surat kabar as-Siyasah pada fase awal
kehidupannya, termasuk tokoh penbaratan yang paling menonjol. Ia
mengingkari peristiwa Isra Mi'raj dengan roh dan jasad sekaligus
berdasarkan pandangan rasional (Hayat Muhammad). Namun ia
mengoreksi hal tersebut dan menuliskan orientasi barunya dalam pengantar
bukunya Fi Manzil al-Wahy.
- Syekh Amin al-Khuli, seorang
pengajar mata kuliah Tafsir dan Balagah di Universitas Mesir,
mempromosikan gagasan-gagasan Taha Hussein yang menyerukan studi Al-Qur'an
secara artistik/sastra tanpa memandang kedudukan agamanya. Ia terus
melakukan hal tersebut hingga disingkap oleh Syekh Mahmud Syaltut pada
tahun 1947 M.
- Shibli Shumayyil (1860–1917
M) memimpin seruan menuju sekularisme serta menyerang nilai-nilai agama ()
dan moral/etika ().
Pemikiran
dan Keyakinan:
Gagasan-Gagasan
Penbaratan:
- Orientalis Inggris, H. A. R.
Gibb, menulis sebuah buku berjudul Whither Islam? (Ke Mana Islam
Melangkah?) yang di dalamnya ia menyatakan: "Salah satu manifestasi
terpenting dari kebijakan penbaratan di dunia Islam adalah memupuk minat
terhadap kebangkitan peradaban-peradaban kuno." Dalam risetnya ini,
ia secara terang-terangan menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk
mengetahui sejauh mana gerakan penbaratan di Timur telah dicapai dan
faktor-faktor apa saja yang menghambat terealisasinya penbaratan tersebut.
- Ketika Lord Allenby memasuki
Yerusalem pada tahun 1918 M, ia mendeklarasikan: "Sekarang Perang
Salib telah berakhir."
- Lawrence Browne menyatakan:
"Bahaya yang sesungguhnya tersembunyi dalam sistem Islam, dalam
kemampuannya untuk berekspansi dan menaklukkan, serta dalam vitalitasnya.
Islam adalah satu-satunya dinding penghalang di hadapan kolonialisme (*)
Barat." Oleh karena itu, harus ada seruan agar dunia Islam dicetak
dengan corak peradaban Barat.
- Mendorong gagasan pembentukan
pemikiran Islam yang terbarukan yang membenarkan pola-pola Barat, serta
menghapus corak khas kepribadian Islam guna menciptakan hubungan yang
stabil antara Barat dan dunia Islam demi melayani kepentingan-kepentingan
Barat.
- Seruan menuju paham
nasionalisme, penyandaran pada studi sejarah kuno, serta seruan kepada
kebebasan (*), dengan menganggapnya sebagai dasar kebangkitan umat. Hal
ini disertai penyajian sistem-sistem ekonomi Barat yang diiringi rasa
kagum, serta pengulangan narasi di sekitar poligami dalam Islam,
pembatasan talak, dan pembauran pria-wanita (ikhtilat).
- Menyebarkan gagasan
kosmopolitanisme (al-'Alamiyyah) dan humanisme (al-Insaniyyah)
yang diklaim oleh para pengusungnya sebagai jalan untuk menyatukan manusia
di atas satu mazhab () yang dapat menghilangkan perselisihan agama dan
ras; demi mewujudkan perdamaian dunia sehingga bumi menjadi satu tanah air
yang memeluk satu agama (), menuturkan satu bahasa, dan memiliki
kebudayaan bersama. Tujuannya adalah untuk meleburkan pemikiran Islam dan
mencakupnya dalam wadah peleburan pihak-pihak penguasa yang kuat dan
memiliki pengaruh global.
- Penyebaran pemikiran
nasionalisme merupakan satu langkah di jalan penbaratan pada abad ke-19.
Pemikiran ini berpindah dari Eropa ke bangsa Arab, Iran, Turki, Indonesia,
dan India, dengan tujuan memecah belah entitas-entitas besar menjadi
entitas-entitas parsial yang berdiri di atas ikatan geografis yang
menghimpun orang-orang dengan asal-usul etnis yang sama.
- Memupuk minat terhadap
kebangkitan peradaban-peradaban kuno. Orientalis Gibb menyatakan:
"Salah satu manifestasi terpenting dari kebijakan penbaratan di dunia
Islam adalah memupuk minat terhadap kebangkitan peradaban-peradaban kuno
yang pernah berkembang di berbagai negeri yang kini dihuni oleh umat
Islam... Kepentingannya saat ini mungkin terbatas pada memperkuat rasa
permusuhan terhadap Eropa, tetapi di masa depan memungkinkan untuk
memainkan peran penting dalam memperkuat nasionalisme lokal dan memperkokoh
pilar-pilarnya."
- Rockefeller, seorang Zionis
fanatic, menawarkan sumbangan sebesar sepuluh juta dolar untuk mendirikan
museum benda-benda purbakala Firaun di Mesir yang dilengkapi dengan
institut untuk meluluskan para spesialis dalam bidang seni ini.
- Bahwasanya kolonialisme (),
orientalisme, komunisme, Masonisme beserta cabang-cabangnya, Zionisme,
serta para penyeru kompromi antaragama dan kesatuan agama-agama
(al-ittihad baint ad-adyan / wahdat ad-adyan) (), semuanya saling
bahu-membahu dalam mendukung dan menyokong gerakan (*) penbaratan; dengan
tujuan mengepung dunia Islam dan menundukkannya agar menjadi alat yang
lunak di tangan mereka.
- Menyebarkan mazhab-mazhab
destruktif seperti Freudianisme, Darwinisme, dan Marxisme; mengusung paham
evolusi moral/etika () (Lévy-Bruhl) dan evolusi masyarakat (Durkheim);
berfokus pada pemikiran eksistensialisme, sekular, liberal, serta
studi-studi tentang tasawuf Islam; menyerukan paham nasionalisme,
kedaerahan, dan kebangsaan; memisahkan antara agama dan masyarakat;
melancarkan kampanye mendegradasi agama; menyerang Al-Qur'an, kenabian (),
wahyu (), dan sejarah Islam; meragukan nilai-nilai Islam; menyerukan
pengabaian terhadap otentisitas dan keistimewaan; serta menakut-nakuti
dengan kematian atau kemiskinan guna melumpuhkan umat Islam dari gagasan
jihad (), serta mempopulerkan gagasan bahwa penyebab keterbelakangan
bangsa Arab dan umat Islam tidak lain adalah Islam itu sendiri.
- Menganggap Al-Qur'an sebagai
luapan dari alam bawah sadar (* العقل الباطن / subconscious*) disertai pujian
terhadap kejeniusan Nabi Muhammad ﷺ, kecerdasannya,
dan kejernihan pikirannya, serta menggambarkan hal itu sebagai pencerahan
(*) spiritual (al-isyraq ar-ruhi) sebagai jalan pembuka untuk
mencabut sifat kenabian dari beliau.
Konferensi-Konferensi
Penbaratan:
- Pelaksanaan konferensi di
Baltimore pada tahun 1942 M yang menyerukan studi dan pengiriman beasiswa
untuk mempelajari gerakan-gerakan rahasia dalam Islam.
- Pada tahun 1947 M, diadakan
konferensi di Universitas Princeton, Amerika Serikat, untuk mempelajari
urusan-urusan kebudayaan dan sosial di Timur Dekat (Near East).
Riset-riset konferensi ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di bawah
nomor 116 dari Proyek Seribu Buku (Masyru' al-Alf Kitab) di Mesir.
Konferensi ini diikuti oleh T. Cuyler Young, Habib Kurani, Abdul Haq
Edouard, dan Lewis Thomas.
- Pelaksanaan Konferensi
Kebudayaan Islam dan Kehidupan Kontemporer pada musim panas tahun 1953 M
di Universitas Princeton. Konferensi ini diikuti oleh para pemikir
terkemuka seperti Millar Burrows, Harold B. Smith, Raphael Patai, Harold
B. Allen, K. A. C. Creswell, Syekh Mustafa az-Zarqa, Kenneth Cragg,
Ishtiaq Husain Qureshi, dan Fazlur Rahman al-Hindi.
- Pada tahun 1955 M, diadakan
konferensi ketiga di Lahore, Pakistan, namun konferensi ini gagal dan
rencana mereka terungkap melalui upaya mereka untuk melibatkan para
peneliti dari kalangan Muslim dan orientalis dalam mengarahkan studi-studi
keislaman.
- Diadakannya konferensi untuk
penyelarasan antara Islam dan Kristen (*) di Beirut pada tahun 1953 M,
kemudian di Iskandariyah pada tahun 1954 M, yang kemudian disusul oleh
pertemuan-pertemuan dan konferensi-konferensi di Roma dan negara-negara
lainnya untuk tujuan yang sama.
- Pada bulan September 1994 M,
diadakan Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan di
Kairo dengan tujuan menyebarkan gagasan-gagasan
"promiskuitas/kebebasan seksual Barat" di kalangan umat
Islam—mulai dari penyediaan akses hubungan ilegal bagi remaja, aborsi,
pernikahan bebas, perzinahan, hingga pelatihan penggunaan kontrasepsi.
Majelis Ulama Senior di Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan fatwa
tentang kewajiban memboikot konferensi tersebut serta mewaspadai
rekomendasi dan tujuan-tujuannya.
Buku-Buku
Penbaratan yang Berbahaya:
- Islam in Modern History
(Islam dalam Sejarah Modern) karya Wilfred Cantwell Smith, Direktur
Institut Studi Islam dan Profesor Perbandingan Agama di Universitas
McGill, Kanada. Ia meraih gelar doktor dari Universitas Princeton pada
tahun 1948 M di bawah bimbingan orientalis H. A. R. Gibb yang menjadi
gurunya di Universitas Cambridge. Buku ini menyerukan liberalisme (Liberalism),
sekularisme (Secularism), dan pemisahan agama (*) dari negara.
- H. A. R. Gibb mempublikasikan
bukunya Whither Islam? (Ke Mana Islam Melangkah?) yang diterbitkan
di Lebanon pada tahun 1932 M, yang ditulis bersama sekelompok orientalis.
Buku ini mengkaji sebab-sebab terhambatnya proses penbaratan di dunia
Islam serta sarana-sarana kemajuan dan perkembangannya.
- Bahwasanya Protokol para
Tetua Zion (Protocols of the Elders of Zion) (*) yang muncul di
seluruh dunia pada tahun 1902 M tetap dilarang masuk ke Timur Tengah dan
dunia Islam hingga sekitar tahun 1952 M, yaitu setelah berdirinya Israel
di jantung umat Arab dan Islam. Tidak diragukan lagi bahwa pelarangan
tersebut dilakukan demi melayani gerakan penbaratan secara umum.
- Penggambaran sebagian
tokoh-tokoh Islam dalam citra vulgar, amoral, dan penuh penyimpangan
sebagaimana dalam buku-buku Jurji Zaidan; demikian pula buku-buku yang
menambahkan mitos-mitos kuno ke dalam sejarah Islam seperti ‘Ala Hamisy
as-Sirah karya Taha Hussein; serta buku-buku yang bersandar pada
sumber-sumber yang tidak terpercaya seperti Muhammad Rasul al-Hurriyyah
karya asy-Syarqawi beserta buku-bukunya tentang Khulafaur Rasyidin dan
Imam yang Sembilan.
Akar
Pemikiran dan Akidah
()
Ekspedisi Pasukan Salib mundur dalam keadaan terkalahkan setelah Perang Hattin,
dan Turki Utsmani menaklukkan ibu kota Kekaisaran Bizantium serta markas gereja
mereka () pada tahun 1453 M. Mereka menjadikannya sebagai ibu kota negara
dan mengubah namanya menjadi Islambol (yang berarti Rumah Islam). Selain itu,
pasukan Utsmaniyah telah mencapai Eropa dan mengancam Wina pada tahun 1529 M,
di mana ancaman ini terus berlangsung hingga tahun 1683 M. Sebelum semua itu
terjadi, telah runtuh pula Andalusia yang merupakan pusat Kekhalifahan (*)
Umayyah. Seluruh peristiwa ini menjadi pemicu untuk memikirkan penbaratan, di
mana gerakan misionaris (tabsyir) merupakan salah satu cabangnya, agar
menjadi senjata yang menghancurkan dunia Islam dari dalam.
Penbaratan
merupakan serangan Kristen, Zionis, dan kolonial (*) secara bersamaan yang
bertemu pada satu tujuan bersama, yaitu mencetak dunia Islam dengan corak Barat
sebagai jalan pembuka untuk menghapuskan ciri khas kepribadian Islam.
Penyebaran
dan Wilayah Pengaruh
Gerakan
() penbaratan telah berhasil merasuk ke seluruh negeri di dunia Islam dan ke
seluruh negeri Timur, dengan harapan dapat menanamkan jejak-jejak peradaban
materi () Barat modern di negeri-negeri ini serta mengikatnya dengan Barat
secara pemikiran maupun perilaku.
Tingkat
pengaruh gerakan penbaratan bervariasi; di mana pengaruh tersebut tampak sangat
jelas di Mesir, kawasan Syam, Turki, Indonesia, dan Magribi (Afrika Utara),
kemudian bertahap di negeri-negeri Islam lainnya dengan kadar yang lebih
rendah. Tidak ada satu pun negeri Islam atau negeri Timur yang luput dari bekas
dan jejak gerakan ini.
Dari
paparan di atas, menjadi jelas bahwa: Penbaratan adalah arus mencurigakan
yang bertujuan merusak ikatan-ikatan Islam, melepaskan diri dari kewajiban,
nilai-nilai, dan independensinya, serta menyerukan ketergantungan kepada Barat
dalam seluruh orientasi dan praktiknya. Merupakan kewajiban para pemimpin
pemikiran Islam untuk menyingkap rencana-rencananya dan berdiri kokoh
menghadapi racun dan kebohongan-kebohongannya, yang saat ini disebarkan oleh
tokoh-tokoh Muslim, media pers yang memiliki rekam jejak panjang dalam upaya
penbaratan, serta lembaga-lembaga yang berhubungan erat dengan Zionisme
Internasional dan Freemasonry Internasional. Arus ini telah berhasil menarik
banyak pemikir Arab, sehingga mengikis identitas mereka, berusaha memutuskan
hubungan mereka dengan agamanya, serta mengalihkan kesetiaan dan rasa memiliki
mereka jauh dari umat Islam melalui sikap loyal kepada Barat dan membanggakan
segala hal yang berbau Barat—hal-hal yang membawa bahaya sangat besar bagi
pemuda Muslim.
Referensi
untuk Pendalaman:
- Husununa Muhaddadah min
Dakhiliha, Dr. Muhammad Muhammad Husain – Mu'assasatur Risalah –
Beirut – Cet. 3 – 1402 H / 1982 M.
- Al-'Alam al-Islami
wal-Maka'id ad-Duwaliyyah Khilal al-Qarn ar-Rabi' 'Asyar al-Hijri,
Fathi Yakan – Mu'assasatur Risalah – Beirut – Cet. 2 – 1403 H / 1983 M.
- Al-Ittijahat al-Wataniyyah
fil-Adab al-Mu'asir, Dr. Muhammad Muhammad Husain – Dar al-Irsyad –
Beirut – Cetakan Tahun 1389 H / 1970 M.
- Al-Islam wal-Hadarach
al-Gharbiyyah, Dr. Muhammad Muhammad Husain – Mu'assasatur Risalah –
Beirut – Cet. 4 – 1402 H / 1982 M.
- Syubuhat at-Tagrib fi Gazw
al-Fikr al-Islami, Anwar al-Jundi – Al-Maktab al-Islami – Beirut –
Cetakan Tahun 1398 H / 1978 M.
- Yaqzat al-Fikr al-'Arabi,
Anwar al-Jundi – Matba'ah Zahran – Kairo – 1972 M.
- Tahrir al-Mar'ah,
Qasim Amin – Cet. 2 – Matba'ah Rose al-Youssef – 1941 M.
- Zu'ama' al-Islah fil-'Asr
al-Hadith, Ahmad Amin – Cet. 1 – Penerbit Maktabah an-Nahdah
al-Misriyyah – 1948 M.
- Tarikh ad-Da'wah
ilal-'Ammiyyah wa Atharuha fi Misr, Dr. Nafusa Zakariya – Dar
al-Thaqafah di Iskandariyah – 1393 H / 1964 M.
- Hadir al-'Alam al-Islami,
Lothrop Stoddard – Terjemahan Ajaj Nuwayhid dan Komentar oleh Shakib
Arslan – Mesir 1343 H / 1925 M.
- Al-Gharah 'alal-'Alam
al-Islami, A. L. Chatelier – Terjemahan Musa'id al-Yafi dan
Muhibbuddin al-Khatib – Mesir 1350 H / 1931 M.
- Mustaqbal al-Thaqafah fi
Misr, Taha Hussein – Mesir – 1944 M.
- Al-Yaum wag-Gad,
Salama Moussa – Mesir – 1927 M.
- Whither Islam?, H. A.
R. Gibb – Cet. Lebanon – 1932 M.
Referensi
Asing:
- Islam in Modern History,
W. C. Smith, Princeton University Press, New Jersey, 1957.
- Whither Islam?, H. A.
R. Gibb, London, 1932.
- Arabic Thought in the
Liberal Age, A. Hourani, Oxford, 1962.
- Egypt Since Cromer,
Lord Lloyd, London, 1933.
- Modern Egypt, The Earl
of Cromer, London, 1911.
- Great Britain in Egypt,
F. W. Polson Newman, 1928.
- Reports by His Majesty's
Agent and Consul General on the Finances, Administration and Condition of
Egypt and the Sudan.
Sumber:
Al-Nadwah
al-ʿĀlamiyyah
li al-Shabāb al-Islāmī. Al-Mawsūʿah
al-Muyassarah fī al-Adyān wa
al-Madhāhib wa al-Aḥzāb al-Muʿāṣirah.
Supervised by Maniʿ ibn Ḥammād al-Juhanī. 4th ed.
Riyadh: Al-Nadwah al-ʿĀlamiyyah li al-Shabāb al-Islāmī, 1999.
Comments
Post a Comment