Iman Kepada Kitab-Kitab Samawi

KITAB-KITAB SAMAWi

  • Kitab-Kitab yang Terkodifikasi
  • Al-Qur'anul Karim sebagai Kitab Terakhir
  • Pengubahan/Penyelewengan (Tahrif) Taurat
  • Pengubahan/Penyelewengan (Tahrif) Injil
  • Pembersamaan/Pembenaran (Tashdiq) Al-Qur'an terhadap Kitab-Kitab Sebelumnya
  • Jalan Menuju Kebenaran

Sesungguhnya Allah Mahasuci lagi Mahatinggi memiliki ajaran-ajaran dan wasiat-wasiat yang Dia wahyukan kepada para rasul dan nabi-Nya: di antaranya ada yang dibukukan dalam bentuk kitab-kitab, dan di antaranya ada yang tidak kita ketahui. Setiap nabi memiliki risalah yang telah disampaikan kepada kaumnya:

"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan..." (QS. Al-Baqarah: 213).

"Jika mereka mendustakan engkau (Muhammad), maka sungguh rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan (pula), mereka membawa bukti-bukti yang nyata, زُبُر (kitab-kitab), dan kitab yang memberi penjelasan yang terang." (QS. Ali 'Imran: 184).

Kitab-Kitab yang Terkodifikasi

Kitab-kitab yang dibukukan/terkodifikasi tersebut adalah:

Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalām:

"Sungguh, Kami yang menurunkan Kitab Taurat; di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang Yahudi oleh nabi-nabi yang berserah diri (kepada Allah), oleh orang-orang suci (rabbani) dan ulama-ulama mereka, sebab mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya..." (QS. Al-Ma'idah: 44).

"Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, "Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia." Katakanlah (Muhammad), "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan..." (QS. Al-An'am: 91).

Injil yang diturunkan kepada Nabi 'Isa ‘alaihissalām:

"Dan Kami teruskan jejak mereka dengan mengutus Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya, dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Taurat, dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Ma'idah: 46).

Zabur yang diturunkan kepada Nabi Daud ‘alaihissalām:

"...Dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (QS. Al-Isra': 55).

Di antaranya pula adalah Suhuf Ibrahim dan Musa ‘alaihimassalām:

"Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran (Suhuf) Musa? Dan (lembaran-lembaran) Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu)." (QS. An-Najm: 36–42).

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman), dan ingat nama Tuhannya, lalu dia shalat. Sedangkan kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Sungguh, ini terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa." (QS. Al-A'la: 14–19).

Dari Abu Dzar radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah isi Suhuf Ibrahim itu?"

Beliau bersabda: *"Semuanya berupa perumpamaan-perumpamaan [dan iktibar]: Wahai raja yang berkuasa[*1], yang diuji[*2] lagi terpedaya[3], Aku tidak mengutusmu untuk mengumpulkan harta dunia antara satu dengan yang lainnya, melainkan Aku mengutusmu untuk menolak dariku doa orang yang terzalimi, karena Aku tidak akan menolaknya meskipun ia dari orang kafir. Dan hendaknya bagi orang yang berakal—selama ia tidak tertutup akalnya—memiliki beberapa waktu:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَانَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ؟ قَالَ: كَانَتْ أَمْثَالًا كُلُّهَا: أَيُّهَا الْمَلِكُ الْمُسَلَّطُ الْمُبْتَلَى الْمَغْرُورُ، إِنِّي لَمْ أَبْعَثْكَ لِتَجْمَعَ الدُّنْيَا بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ، وَلَكِنِّي بَعَثْتُكَ لِتَرُدَّ عَنِّي دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنِّي لَا أَرُدُّهَا وَإِنْ كَانَتْ مِنْ كَافِرٍ. وَعَلَى الْعَاقِلِ - مَا لَمْ يَكُنْ مَغْلُوبًا عَلَى عَقْلِهِ - أَنْ تَكُونَ لَهُ سَاعَاتٌ: سَاعَةٌ يُنَاجِي فِيهَا رَبَّهُ، وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ، وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيهَا فِي صُنْعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَسَاعَةٌ يَخْلُو فِيهَا لِحَاجَتِهِ مِنَ الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ. وَعَلَى الْعَاقِلِ أَلَّا يَكُونَ ظَاعِنًا إِلَّا لِثَلَاثٍ: تَزَوُّدٍ لِمَعَادٍ، أَوْ لِمَعَاشٍ، أَوْ لَذَّةٍ فِي غَيْرِ مُحَرَّمٍ. وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَكُونَ بَصِيرًا بِزَمَانِهِ، مُقْبِلًا عَلَى شَأْنِهِ، حَافِظًا لِلِسَانِهِ، وَمَنْ حَسَبَ كَلَامَهُ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلَامُهُ إِلَّا فِيمَا يَعْنِيهِ.

*Suatu waktu yang ia gunakan untuk bermunajat[4] kepada Tuhannya, suatu waktu yang ia gunakan untuk mengintrospeksi (merekapitulasi) dirinya, suatu waktu yang ia gunakan untuk merenungkan ciptaan Allah 'Azza wa Jalla, dan suatu waktu yang ia khususkan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumnya.

*Dan hendaknya orang yang berakal tidak berkelana[*5] melainkan untuk tiga hal: bekal untuk hari kembali (akhirat)[*6], bekal untuk penghidupan (dunia)[7], atau untuk menikmati kelezatan yang tidak diharamkan.

*Dan hendaknya orang yang berakal itu jeli terhadap zamannya, fokus pada urusannya, menjaga lidahnya. Barang siapa yang memperhitungkan perkataannya sebagai bagian dari amalnya, niscaya sedikit perkataannya kecuali pada hal-hal yang berguna baginya[8]."

Aku bertanya: "Wahai Rasulullah, lalu apakah isi Suhuf Musa 'alaihissalam?"

Beliau bersabda: *"Semuanya berisi pelajaran-pelajaran[9] [hikmah]:

قَالَ: كَانَتْ عِبَرًا كُلُّهَا: عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْمَوْتِ ثُمَّ هُوَ يَفْرَحُ، عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالنَّارِ ثُمَّ هُوَ يَضْحَكُ، عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْقَدَرِ ثُمَّ هُوَ يَنْصَبُ، عَجِبْتُ لِمَنْ رَأَى الدُّنْيَا وَتَقَلُّبَهَا بِأَهْلِهَا ثُمَّ اطْمَأَنَّ إِلَيْهَا، عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ غَدًا ثُمَّ لَا يَعْمَلُ.

Aku heran terhadap orang yang yakin akan kematian, tetapi mengapa ia bisa bersenang-senang?

Aku heran terhadap orang yang yakin akan neraka, tetapi mengapa ia bisa tertawa?

*Aku heran terhadap orang yang yakin akan takdir, tetapi mengapa ia memeras tenaga hingga kepayahan[10]?

Aku heran terhadap orang yang melihat dunia beserta perubahannya terhadap para penghuninya, kemudian ia merasa tenang dengannya?

Aku heran terhadap orang yang yakin akan adanya perhitungan (hisab) esok hari, tetapi ia tidak beramal?"

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat..."

Beliau bersabda: "Aku berwasiat kepadamu untuk bertakwa kepada Allah, karena sesungguhnya takwa adalah pokok dari segala urusan."

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku..."

Beliau bersabda: "Hendaklah engkau membaca Al-Qur'an dan berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla, karena sesungguhnya itu adalah cahaya bagimu di bumi dan simpanan pahala bagimu di langit."

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku..."

Beliau bersabda: *"Jauhilah olehmu banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa itu dapat mematikan hati[11] dan menghilangkan cahaya wajah."

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku..."

Beliau bersabda: *"Hendaklah engkau berjihad, karena sesungguhnya jihad adalah kerahiban[12] umatku."

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku..."

Beliau bersabda: "Cintailah orang-orang miskin dan duduklah (bergaullah) bersama mereka."

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku..."

Beliau bersabda: "Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu, karena hal itu lebih patut agar engkau tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu."

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku..."

Beliau bersabda: "Katakanlah kebenaran itu meskipun terasa pahit."

Aku berkata: "Wahai Rasulullah, tambahkanlah untukku..."

Beliau bersabda: "Hendaklah apa yang engkau ketahui dari cela dirimu mencegahmu untuk mencela orang lain, dan janganlah engkau marah kepada mereka atas apa yang engkau sendiri lakukan. Cukuplah menjadi cela bagi dirimu jika engkau mengetahui cela orang lain yang tidak engkau ketahui dari dirimu sendiri, dan engkau marah kepada mereka atas apa yang engkau sendiri lakukan."

Kemudian beliau menepuk dadaku dengan tangannya seraya bersabda: *"Wahai Abu Dzar, tidak ada akal seperti halnya mengatur strategi/perencanaan (tadbir), tidak ada wara' seperti halnya menahan diri dari dosa, dan tidak ada kehormatan[13] seperti halnya akhlak yang baik."

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي. قَالَ: "أَوْصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا رَأْسُ الْأَمْرِ كُلِّهِ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي. قَالَ: "عَلَيْكَ بِتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ، وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّهُ نُورٌ لَكَ فِي الْأَرْضِ، وَذُخْرٌ لَكَ فِي السَّمَاءِ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي. قَالَ: "إِيَّاكَ وَكَثْرَةَ الضَّحِكِ فَإِنَّهُ يُمِيتُ الْقَلْبَ، وَيَذْهَبُ بِنُورِ الْوَجْهِ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي. قَالَ: "عَلَيْكَ بِالْجِهَادِ فَإِنَّهُ رُهْبَانِيَّةُ أُمَّتِي". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي. قَالَ: "أَحِبَّ الْمَسَاكِينَ وَجَالِسْهُمْ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي. قَالَ: "انْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ تَحْتَكَ، وَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَا هُوَ فَوْقَكَ؛ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرِيَ نِعْمَةَ اللَّهِ عِنْدَكَ". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي. قَالَ: "قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا". قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ زِدْنِي. قَالَ: "لِيَرُدَّكَ عَنِ النَّاسِ مَا تَعْلَمُهُ مِنْ نَفْسِكَ، وَلَا تَجِدْ عَلَيْهِمْ فِيمَا تَأْتِي، وَكَفَى بِكَ عَيْبًا أَنْ تَعْرِفَ مِنَ النَّاسِ مَا تَجْهَلُهُ مِنْ نَفْسِكَ، وَتَجِدَ عَلَيْهِمْ فِيمَا تَأْتِي". ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى صَدْرِي. فَقَالَ: "يَا أَبَا ذَرٍّ لَا عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ، وَلَا وَرَعَ كَالْكَفِّ، وَلَا حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ".

(HR. Ibn Hibban dalam Shahih-nya dan lafaz ini milik-Nya, serta Al-Hakim, dan ia berkata: Shahih isnadnya).

Al-Qur'anul Karim Adalah Kitab Suci Samawi Terakhir yang Diturunkan

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) mengandung kebenaran, membenarkan (kitab-kitab) yang dibandingkannya sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan..." (QS. Ali 'Imran: 2–4).

Keistimewaan-Keistimewaan Al-Qur'an

Al-Qur'anul Karim memiliki keistimewaan-keistimewaan yang membedakannya dari kitab-kitab samawi yang mendahuluinya, yaitu:

  1. Mengandung Intisari Ajaran Ilahi: Al-Qur'an mencakup sari pati ajaran Ilahi yang terdapat di dalam Taurat, Injil, dan seluruh wasiat yang diturunkan Allah lainnya. Al-Qur'an mendukung kebenaran yang dibawanya: seperti mengesakan ibadah hanya kepada Allah semata, beriman kepada para rasul-Nya, membenarkan adanya balasan (akhirat), kewajiban menegakkan kebenaran, dan berakhlak dengan akhlak yang mulia.

*"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya[14] dan menjaganya (sebagai saksi/penjaga atasnya); maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang..." (QS. Al-Ma'idah: 48).

Maksudnya adalah bahwa Allah menurunkan Al-Qur'anul Karim kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam menyatu dengan kebenaran pada setiap apa yang dibawanya, membenarkan kitab-kitab Ilahi terdahulu yang diturunkan Allah kepada para nabi sebelumnya, dan sebagai pengawas/penjaga (raqīban) atasnya: menetapkan apa yang benar di dalamnya, serta menjelaskan apa yang telah disusupi oleh pengubahan (tahrīf) dan kekeliruan cetak/penulisan (tasīf). Kemudian Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk memutuskan perkara di antara manusia—baik Muslim maupun Ahli Kitab—berdasarkan apa yang diturunkan Allah dalam Al-Qur'an, dengan menjauhi hawa nafsu mereka.

Dan bahwasanya Dia Mahasuci telah menjadikan bagi setiap umat syariat dan metode hukum praktis yang sesuai dengan kesiapan/kondisi mereka. Adapun pokok-pokok akidah, ibadah, adab (etik), hal-hal yang halal dan haram, serta hal-hal yang tidak berbeda dengan berbedanya waktu dan tempat, maka semuanya itu adalah satu (sama) dalam seluruh agama.

"Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya..." (QS. Asy-Syura: 13).

Kemudian hukum-hukum praktis sebelumnya dihapus (dinaskh) oleh syariat Islam, yakni hukum-hukum final dan abadi yang relevan/layak untuk setiap zaman dan tempat. Maka akidah pun menjadi satu, dan syariat menjadi satu untuk seluruh manusia.

  1. Ajaran Al-Qur'an adalah Firman Allah Terakhir untuk Petunjuk Manusia: Allah menghendaki ajaran ini tetap ada sepanjang masa dan abadi mengarungi waktu. Maka Allah memeliharanya dari jangkauan tangan-tangan yang hendak mengubah (tahrīf), mengelirukan (tasīf), mengganti, atau menukarnya.

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu adalah Kitab yang mulia. (Yang) tidak datang kepadanya kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana, Maha Terpuji." (QS. Fussilat: 41–42).

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr: 9).

Tujuannya adalah agar hujjah Allah atas manusia tetap berdiri tegak hingga Allah mewarisi bumi dan apa yang ada di atasnya.

  1. Kesesuaian dengan Sains dan Realitas Alam: Al-Qur'an yang Allah kehendaki keabadiannya ini tidak dapat dibayangkan akan tiba suatu hari di mana sains mencapai suatu hakikat ilmiah yang bertentangan dengan salah satu hakikat Al-Qur'an. Sebab, Al-Qur'an adalah firman Allah (kalāmullāh), sedangkan alam semesta adalah ciptaan Allah ('amalullāh); dan firman Allah serta ciptaan-Nya tidak akan pernah bertentangan sama sekali, melainkan satu sama lain saling membenarkan. Oleh karena itu, fakta-fakta ilmiah hadir membenarkan apa yang telah didahului oleh Al-Qur'an, sebagai wujud nyata dari firman-Nya Mahasuci:

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap horizon dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" (QS. Fussilat: 53).

  1. Kemudahan untuk Dipelajari, Dihafal, dan Dipahami: Allah menghendaki firman-Nya tersiar, sampai ke akal dan pendengaran, serta berubah menjadi realitas praktis. Hal itu tidak akan terwujud kecuali jika ia dimudahkan untuk diingat, dihafal, dan dipahami. Oleh sebab itu, Al-Qur'an hadir secara mudah, tidak ada di dalamnya hal yang menyulitkan manusia untuk memahaminya atau sukar bagi mereka untuk mengamalkannya.

"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar: 17).

Di antara bentuk kemudahannya adalah Al-Qur'an dapat dihafal oleh laki-laki, perempuan, anak-anak, orang dewasa, orang kaya, maupun orang miskin. Mereka mengulangnya di rumah-rumah dan masjid-masjid, serta suara para pembaca Al-Qur'an senantiasa bergema di setiap penjuru. Kami tidak mengetahui ada satu pun kitab di antara kitab-kitab selain Al-Qur'an yang mendapatkan sebagian saja dari keistimewaan yang dikhususkan bagi Al-Qur'anul Karim ini.

Dengan demikian, tidak ada kitab lain yang dapat menyamai atau mendekati Al-Qur'an dalam hal pengaruh dan petunjuknya, tidak pula dalam hal pembahasan dan keluhuran tujuannya. Maka dari itu, Al-Qur'an adalah sebaik-baik dan seutama-utama kitab secara mutlak.

Pengubahan/Penyelewengan (Tahrif) Taurat

Sesungguhnya beriman kepada Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa adalah salah satu rukun iman. Allah telah memberitahukan bahwa di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, serta memujinya dalam firman-Nya:

"Dan sungguh, Kami telah memberikan kepada Musa dan Harun, Al-Furqan (pembeda) dan penerang serta pengajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Anbiya': 48).

Akan tetapi, Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalām ini sudah tidak ada sama sekali [di masa sekarang], sebagaimana disepakati oleh semua pihak. Adapun Taurat yang beredar saat ini ditulis oleh lebih dari satu penulis, dan pada rentang waktu yang berbeda-beda. Pengubahan/penyelewengan (tahrīf) telah masuk ke dalamnya. Almarhum Profesor Besar Muhammad Farid Wajdi berkata:

"Di antara bukti inderawi/konkret adanya pengubahan (tahrīf) adalah bahwa Taurat yang beredar di kalangan umat Nasrani berbeda dengan Taurat yang beredar di kalangan umat Yahudi." Selesai.

Al-Qur'an telah menegaskan pengubahan ini, dan mengkritik keras orang-orang Yahudi atas perubahan dan penggantian yang mereka masukkan ke dalam Taurat:

"Maka apakah kamu (Muslimin) sangat mengharapkan mereka akan beriman kepadamu, sedangkan sungguh ada segolongan dari mereka yang mendengar firman Allah, kemudian mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahui?" (QS. Al-Baqarah: 75).

Mereka telah lancang terhadap Kitabullah, lalu mengubahnya demi menyembunyikan kebenaran yang ada di dalamnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diingatkan Allah kepada mereka di dalam Taurat. Maka apa yang ada pada mereka dari Taurat yang sahih hanyalah sebagian kecil saja.

"Dan di antara orang Yahudi, ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya..." (QS. An-Nisa': 46).

Bukti pertama akan kebenaran kritik Al-Qur'an terhadap Taurat yang beredar saat ini—serta bukti bahwa tidak seluruh communicates adalah Taurat Musa yang dijadikan Allah sebagai cahaya dan petunjuk—adalah apa yang tercantum di dalam Taurat berupa penyifatan Allah dengan hal-hal yang tidak layak bagi keagungan dan kesempurnaan-Nya. Sebagaimana dalam Kitab Kejadian (3: 22): "Berfirmanlah TUHAN Allah: 'Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat'".

Dan di dalamnya (Kitab Kejadian 6: 6): "Maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya."

Apakah masuk akal jika ini merupakan firman Allah? Dan apakah sah menisbahkan sifat duka cita dan penyesalan kepada Allah atas sesuatu yang telah diciptakan-Nya?

Demikian pula apa yang terdapat di dalamnya yang mencederai kehormatan para nabi serta bertentangan dengan sifat kemaksuman ('iṣmah), kedudukan yang tinggi, dan akhlak yang kokoh pada diri mereka. Mereka mengatakan tentang Ibrahim: bahwa beliau adalah seorang pembohong; tentang Luth: bahwa beliau berzina dengan kedua putri beliau sendiri; tentang Harun: beliau mengajak Bani Israil menyembah patung anak sapi; tentang Daud: beliau berzina dengan istri Uria; dan tentang Sulaiman: beliau menyembah berhala demi menyenangkan hati istrinya.

Adakah bukti pengubahan (tahrīf) yang lebih kuat daripada ini? Para pengkritik dari kalangan pembaru Yahudi itu sendiri terpaksa mengakui kenyataan ini: bahwa Taurat memang telah diubah. Mazhab/pandangan mereka ini telah dikutip oleh Rabi Paris, Agulian Weil, dalam kitabnya Al-Yahūdiyyah (Yudaisme).

Pengubahan/Penyelewengan (Tahrif) Injil

Injil yang diturunkan kepada Nabi 'Isa ‘alaihissalām adalah seperti Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa; keduanya merupakan firman Allah (kalāmullāh), yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Namun, Injil telah ditimpa oleh pengubahan (tahrīf) sebagaimana yang menimpa Taurat:

"Dan di antara orang-orang yang mengatakan, 'Sesungguhnya kami ini orang-orang Nasrani,' Kami telah mengambil perjanjian mereka, tetapi mereka melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Wahai Ahli Kitab! Sungguh, Rasul Kami telah datang kepadamu, menjelaskan kepadamu banyak hal dari isi kitab yang kamu sembunyikan, dan membiarkan banyak hal (pula)..." (QS. Al-Ma'idah: 14–15).

Cukuplah sebagai bukti shahih atas terjadinya pengubahan (tahrīf) dalam Injil-Injil yang beredar di tangan umat Nasrani saat ini, yaitu bahwa Injil tersebut berjumlah empat yang dipilih dari sekitar tujuh puluh Injil. Injil-Injil ini berisi tulisan tentang riwayat hidup junjungan kita Nabi 'Isa ‘alaihissalām. Para penulisnya pun dikenal dan nama-nama mereka tertulis di atasnya. Para pengkritik Kristen sendiri telah menetapkan bahwa doktrin-doktrin dalam Injil tersebut merupakan pandangan Paulus, bukan pandangan murid-murid Yesus (al-awāriyyūn) lainnya, dan bukan pula pandangan orang-orang yang paling dekat dengan 'Isa.

Telah ditemukan di perpustakaan seorang pangeran di Paris sebuah naskah Injil Barnabas, yang kemudian dicetak oleh Percetakan Al-Manar setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab; dan Injil ini sangat berbeda jauh dengan Injil yang empat.

Makna Pembersamaan/Pembenaran (Tashdiq) Al-Qur'an terhadap Kitab-Kitab Sebelumnya

Jika pengubahan (tahrīf) pada Taurat dan Injil telah terbukti secara nyata tanpa keraguan berdasarkan teks Al-Qur'an di satu sisi, dan bukti-bukti inderawi di sisi lain, lalu apa makna bahwa Al-Qur'an datang membenarkan (muṣaddiqan) kitab-kitab Ilahi sebelumnya?

Maknanya adalah Al-Qur'an datang untuk mendukung kebenaran yang terkandung di dalamnya—sebagaimana telah diisyaratkan sebelumnya—seperti mengesakan ibadah hanya kepada Allah semata, beriman kepada para rasul-Nya, membenarkan adanya balasan (akhirat), menjaga kebenaran dan keadilan, serta berakhlak dengan akhlak yang saleh. Pada saat yang sama, Al-Qur'an bertindak sebagai pengawas/batu ujian (muhayminan) atas kitab-kitab tersebut, serta menjelaskan kesalahan-kesalahan, kekeliruan, pengubahan (tahrīf), kekeliruan cetak/penulisan (tasīf), penggantian, dan penukaran yang terjadi di dalamnya.

Apabila kesalahan-kesalahan yang dimasukkan oleh para pemuka agama ke dalam kitab-kitab samawi ini dihilangkan—yang mana mereka palsukan atas nama Allah kepada manusia—maka kebenaran akan tampak jelas, terang benderang, dan Al-Qur'an pun akan bertemu (sejalan) dengan Taurat dan Injil.

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Kamu tidak dipandang beragama sedikit pun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu'..." (QS. Al-Ma'idah: 68).

Dan penegakannya tidak akan terwujud kecuali setelah membersihkannya dari kepalsuan.

Jalan Menuju Kebenaran

Sesungguhnya barang siapa yang mencari kebenaran dan ingin mencapai ajaran-ajaran Ilahi yang murni/sahih, niscaya ia tidak akan mendapati di hadapannya selain Al-Qur'anul Karim. Sebab Al-Qur'an adalah Kitab yang prinsip-prinsip aslinya terjaga, ajaran-ajarannya terpelihara, dan diterima oleh umat dari Muhammad, dari Jibril, dari Allah—suatu hal yang tidak dimiliki oleh kitab mana pun yang serupa dengannya.

Al-Qur'an adalah himpunan prinsip-prinsip terpuji, kurikulum paling lurus, dan tatanan terbaik, yang mencakup segala hal yang dibutuhkan manusia dari segi akidah, ibadah, adab (etika), muamalah, dan sistem aturan. Al-Qur'an pulalah yang menjamin terwujudnya individu yang sempurna, keluarga yang utama, masyarakat yang saleh, pemerintahan yang adil, serta entitas yang kuat yang menegakkan kebenaran dan keadilan, menghilangkan kezaliman, menolak agresi, serta menjadi satu-satunya sarana untuk mewujudkan kepemimpinan (khilāfah) dan pewarisan bumi.

"Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang memberi penjelasan. Dengan Kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan Kitab itu pula) Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka ke jalan yang lurus." (QS. Al-Ma'idah: 15–16).

Catatan Kaki / Penjelasan Istilah:

[*1] Al-Malik al-Musalla: Raja/penguasa yang memiliki kekuasaan mutlak dan efektif. [*2] Al-Mubtalā: Yang diuji atau diuji kepemimpinannya. [*3] Al-Maghrūr: Orang yang terpedaya/terlenakan oleh kekuasaannya hingga melupakan hak-hak Allah. [*4] Yunājī: Bermunajat, berdoa, dan berbisik memasrahkan diri kepada Rabbya. [*5] ā'inan: Berkelana, melakukan perjalanan/rihlah. [*6] Tazawwudu ma‘ād: Mencari bekal amal saleh untuk kehidupan akhirat. [*7] Ma‘āsy: Usaha pencaharian untuk memenuhi kebutuhan hidup duniawi. [*8] Ya‘nīhi: Sesuatu yang membawa kebaikan/manfaat bagi dirinya. [*9] ‘Ibar: Bentuk jamak dari ‘ibrah, artinya pelajaran moral atau hikmah spiritual. [*10] Yanṣab: Memeras tenaga hingga mengalami kelelahan yang sangat. [*11] Yumītul-qalb: Hati menjadi keras dan mati sehingga tidak lagi terpengaruh oleh nasihat-nasihat keagamaan. [*12] Rohbāniyyah: Sikap pengasingan diri sepenuhnya untuk berfokus pada ketaatan dan pengabdian kepada Allah. [*13] asab: Kehormatan, kemuliaan keturunan, atau kedudukan. [*14] Yang dimaksud dengan Al-Kitāb di sini adalah kata generik yang mencakup Taurat dan Injil.

 

Sumber: kitab Al-'Aqa'id Al-Islamiyyah karya Syaikh Sayyid Sabiq

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat