Iman Kepada Malaikat
MALAIKAT
- Siapakah Malaikat?
- Dari Apakah Mereka
Diciptakan?
- Keutamaan Manusia atas
Malaikat
- Sifat/Hakekat (Tabiat)
Mereka
- Perbedaan Tingkatan Mereka
- Tugas Mereka di Alam Roh
- Tugas Mereka di Alam
Semesta
- Beriman Kepada Mereka
Al-Mala'ul
A'la [kelompok tertinggi] atau Malaikat adalah alam yang halus, gaib, dan
tidak terindra. Mereka tidak memiliki wujud jasmani yang dapat ditangkap oleh
pancaindra. Mereka termasuk bagian dari alam metafisika (di luar jangkauan alam
nyata) atau alam gaib yang tidak diketahui hakekat sebenarnya kecuali oleh
Allah.
Malaikat
disucikan dari syahwat hewani, dibebaskan dari kecenderungan hawa nafsu, dan
dibersihkan dari dosa serta kesalahan.
Malaikat
tidak seperti manusia yang makan, minum, tidur, serta disifati dengan jenis
kelamin laki-laki atau perempuan. Mereka merupakan alam tersendiri yang berdiri
sendiri dan independen. Mereka tidak disifati sedikit pun oleh keadaan-keadaan
fisik materi sebagaimana manusia. Namun, mereka memiliki kemampuan untuk
menjelma (tamatstsul) dalam wujud manusia maupun wujud-wujud indrawi
lainnya. Malaikat Jibril pernah mendatangi Sayyidatuna Maryam dengan menjelma
sebagai seorang manusia:
"Ceritakanlah
(Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur'an), yaitu ketika dia menjauhkan
diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, lalu dia memasang tabir
(yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya,
maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang
sempurna." (QS. Maryam: 16–17)
Satu
rombongan malaikat juga pernah mendatangi Nabi Ibrahim 'alaihissalam dalam
wujud manusia untuk menyampaikan kabar gembira. Nabi Ibrahim mengira mereka
adalah tamu manusia biasa, sehingga beliau menyajikan makanan kepada mereka:
"Dan
sungguh, utusan-utusan Kami (para malaikat) telah datang kepada Ibrahim membawa
kabar gembira, mereka mengucapkan, 'Selamat.' Ibrahim menjawab, 'Selamat (atas
kamu).' Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyajikan daging anak sapi yang
dipanggang. Maka ketika dilihatnya tangan mereka tidak menjangkaunya, dia
(Ibrahim) mencurigai mereka, dan merasa takut kepada mereka. Mereka (malaikat)
berkata, 'Jangan takut! Sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut.' Dan istrinya
berdiri lalu dia tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang
(kelahiran) Ishaq dan setelah Ishaq (akan lahir) Ya'qub. Dia (istrinya)
berkata, 'Sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak padahal aku sudah
tua renta, dan suamiku ini sudah sangat tua? Sungguh, ini benar-benar sesuatu
yang aneh.' Mereka (para malaikat) berkata, 'Apakah engkau merasa heran tentang
ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-Nya, dicurahkan kepada
kamu, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji, Maha Pengagung.'"
(QS. Hud: 69–73)
Dari
Apakah Mereka Diciptakan?
Malaikat
diciptakan oleh Allah dari cahaya (nur), sebagaimana Nabi Adam
diciptakan dari tanah, dan jin diciptakan dari nyala api.
Diriwayatkan
oleh Muslim dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
خُلِقَتِ المَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ،
وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
"Malaikat
diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari
apa yang telah dijelaskan kepada kalian." (HR. Muslim)
Tempat
tinggal malaikat adalah di langit, dan mereka turun dari langit atas perintah
Allah.
Diriwayatkan
oleh Ahmad dan Al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bertanya kepada Jibril: "Apakah yang
menghalangimu untuk mengunjungi kami lebih sering daripada biasanya?"
Maka turunlah ayat:
"Dan
tidaklah kami (para malaikat) turun, melainkan atas perintah Tuhanmu. Milik-Nya
segala yang ada di hadapan kita, yang ada di belakang kita, dan apa yang ada di
antara keduanya, dan Tuhanmu tidak pernah lupa." (QS. Maryam: 64)
Penciptaan
malaikat lebih dahulu daripada penciptaan manusia. Allah telah memberitahukan
kepada para malaikat bahwa Dia akan menciptakan manusia dan menjadikannya
sebagai khalifah di bumi.
"Dan
(ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, 'Sungguh, Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di bumi.' Mereka berkata, 'Apakah Engkau hendak
menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami
bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?' Dia berfirman, 'Sungguh, Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. Al-Baqarah: 30)
Keutamaan
Manusia atas Malaikat
Tampak
jelas bahwa manusia lebih utama daripada malaikat. Hal ini terlihat nyata dari
ketidakmampuan para malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda yang ditunjukkan
Allah kepada mereka, sedangkan Nabi Adam mampu menjawabnya dengan benar. Nabi
Adam dimuliakan dengan ilmu yang dikhususkan oleh Allah baginya, sehingga
beliau memiliki keunggulan atas para malaikat dalam hal pengetahuan dan
pemahaman terhadap segala sesuatu.
Demikian
pula, perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam
menunjukkan keutamaan manusia atas mereka.
"Dan
Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan
kepada para malaikat, seraya berfirman, 'Sebutkan kepada-Ku nama benda-benda
itu jika kamu benar!' Mereka menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami
ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah
Yang Maha Mengetahui, Mahabijaksana.' Dia (Allah) berfirman, 'Wahai Adam!
Beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!' Setelah dia memberitahukan
nama-nama benda itu, Dia berfirman, 'Bukankah telah Ku-katakan kepadamu, bahwa
Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu
nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan?' Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman
kepada para malaikat, 'Sujudlah kamu kepada Adam!' Maka mereka pun sujud
kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang
kafir." (QS. Al-Baqarah: 31–34)
Di
sisi lain, kita melihat bahwa ketaatan para malaikat bersifat pembawaan (jibilliyyah
/ alami), dan meninggalkan kemaksiatan tidak membutuhkan perjuangan (mujahadah)
sedikit pun bagi mereka, karena mereka tidak memiliki syahwat.
Lantas,
di manakah letak keutamaan ketaatan dan peninggalan maksiat mereka, padahal hal
itu terjadi secara otomatis (idh-thirari) sebagaimana detak jantung,
aliran darah, dan napas paru-paru? Sementara itu, manusia harus berjuang
melawan nafsunya, mengendalikan hawa nafsunya, memerangi setan, memaksakan diri
dalam ketaatan, serta berusaha keras menyempurnakan jiwanya dan menaikkan
derajat rohnya dengan rasa harap dan cemas.
Sifat/Hakekat
(Tabiat) Mereka
Sifat
dan tabiat dasar malaikat adalah ketaatan yang sempurna kepada Allah, tunduk
patuh kepada keagungan-Nya, dan melaksanakan segala perintah-Nya. Mereka
mengatur urusan alam semesta atas kehendak dan kemauan Allah, dan Dialah
-Subhanahu wa Ta'ala- yang mengelola kerajaan-Nya melalui perantara mereka.
Mereka tidak memiliki kemampuan sedikit pun atas kehendak sendiri:
"Merek
takut kepada Tuhan yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan apa yang
diperintahkan (kepada mereka)." (QS. An-Nahl: 50)
"Bahkan
mereka adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului-Nya dengan
perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Dia (Allah) mengetahui
segala sesuatu yang di hadapan mereka dan yang di belakang mereka, dan mereka
tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai (Allah), dan mereka
selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya." (QS. Al-Anbiya': 26–28)
"Tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا قَضَى اللَّهُ الأَمْرَ فِي
السَّمَاءِ ضَرَبَتِ المَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خُضْعَانًا لِقَوْلِهِ
كَأَنَّهُ صَلْصَلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ، فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا:
مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا: الحَقَّ، وَهُوَ العَلِيُّ الكَبِيرُ
"Apabila
Allah menetapkan suatu urusan di langit, para malaikat mengepakkan
sayap-sayapnya karena tunduk patuh kepada firman-Nya, seolah-olah firman itu
seperti suara rantai yang ditarik di atas batu yang licin. Maka apabila telah
dihilangkan rasa takut dari hati mereka, mereka bertanya: 'Apakah yang
difirmankan oleh Tuhan kalian?' Mereka menjawab: '(Dia berfirman) yang benar,
dan Dialah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar.'" (HR. Al-Bukhari)
Perbedaan
Tingkatan Mereka
Para
malaikat berbeda-beda dalam hal bentuk penciptaan sebagaimana mereka juga
berbeda-beda dalam hal kedudukan/derajat; suatu perbedaan yang tidak diketahui
kadar ukurannya kecuali oleh Allah:
"Segala
puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai
utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap,
masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada
ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala
sesuatu." (QS. Fathir: 1)
Maksudnya,
Allah menjadikan para malaikat memiliki sayap. Di antara mereka ada yang
memiliki dua sayap, tiga sayap, empat sayap, dan ada pula yang lebih dari itu.
Ini merupakan manifestasi dari perbedaan tingkatan kedudukan di sisi Allah
serta perbedaan kemampuan dalam berpindah tempat.
Diriwayatkan
oleh Muslim dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam pernah melihat Malaikat Jibril 'alaihissalam memiliki 600
sayap.
Banyaknya
sayap menunjukkan bukti kemampuan untuk bergerak cepat dalam melaksanakan
perintah-perintah Allah dan menyampaikan risalah-Nya.
"Dan
tidak satu pun di antara kami (malaikat) melainkan masing-masing mempunyai
kedudukan tertentu, dan sungguh, kami benar-benar bersaf-saf (dalam menaati
Allah), dan sungguh, kami benar-benar bertasbih (menyucikan Allah)." (QS.
As-Saffat: 164–166)
Ibnu
Katsir berkata: "Tidak ada satu malaikat pun melainkan ia memiliki
tempat khusus di langit dan tempat-tempat peribadatan yang tidak akan dilampaui
dan dilanggar."
Ibnu
'Asakir meriwayatkan dalam biografi Muhammad bin Khalid dengan sanadnya sampai
kepada 'Abdurrahman bin Al-'Ala' bin Sa'ad, dari ayahnya—yang termasuk orang
yang ikut membaiat Nabi pada hari Fathu Makkah—bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam pada suatu hari bersabda kepada para sahabat yang duduk
bersama beliau:
أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا
أَنْ تئِطَّ، لَيْسَ فِيهَا مَوْضِعُ قَدَمٍ إِلاَّ عَلَيْهِ مَلَكٌ رَاكِعٌ أَوْ
سَاجِدٌ
"Langit
rintih bersuara dan sudah sepantasnya ia bersuara merintih; tidak ada satu
tempat seukuran telapak kaki pun di langit melainkan di sana ada malaikat yang
sedang rukuk atau sujud."
Kemudian
beliau membaca ayat:
"Dan
tidak satu pun di antara kami (malaikat) melainkan masing-masing mempunyai
kedudukan tertentu, dan sungguh, kami benar-benar bersaf-saf (dalam menaati
Allah), dan sungguh, kami benar-benar bertasbih (menyucikan Allah)." (QS.
As-Saffat: 164–166)
Tugas
Mereka
Para
malaikat memiliki tugas di alam roh, tugas di alam semesta (alam nyata), dan
memiliki hubungan khusus dengan manusia.
Tugas
Rohani Mereka
Tugas
mereka di alam roh terangkum dalam hal-hal berikut:
(a)
Bertasbih dan Tunduk Patuh Sepenuhnya kepada Allah:
"Sesungguhnya
orang-orang yang ada di sisi Tuhanmu tidak enggan menyembah-Nya dan mereka
bertasbih menyucikan-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud." (QS.
Al-A'raf: 206)
"Dan
engkau (Muhammad) akan melihat malaikat-malaikat melingkar di sekeliling 'Arsy
bertasbih seraya memuji Tuhannya..." (QS. Az-Zumar: 75)
(b)
Memikul 'Arsy:
"(Malaikat-malaikat)
yang memikul 'Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan
memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya..." (QS. Ghafir: 7)
"Dan
pada hari itu delapan malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala)
mereka." (QS. Al-Haqqah: 17)
(c)
Mengucapkan Salam kepada Penghuni Surga:
"...sedang
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil
mengucapkan), 'Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu.'" (QS.
Ar-Ra'd: 23–24)
(d)
Menyiksa Penghuni Neraka:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, dan keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang
diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang
diperintahkan." (QS. At-Tahrim: 6)
"Tahukah
engkau apakah (neraka) Saqar itu? Saqar itu tidak menyisakan dan tidak
membiarkan. (Saqar itu) adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan
belas (malaikat penjaga). Dan Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu
melainkan dari malaikat..." (QS. Al-Muddatstsir: 27–31)
Menurunkan
Wahyu
Malaikat
pembawa wahyu adalah Jibril 'alaihissalam. Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah
(Muhammad), 'Barangsiapa menjadi musuh Jibril, maka ketahuilah bahwa dialah
yang telah menurunkan (Al-Qur'an) ke dalam hatimu dengan izin Allah,
membenarkan apa (kitab-kitab) yang terdahulu...'" (QS. Al-Baqarah: 97)
Ia
juga dinamakan Ar-Ruh Al-Amin (Roh yang Terpercaya). Allah Ta'ala
berfirman:
"Dan
sungguh, (Al-Qur'an) ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan seluruh alam, yang
dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar
engkau menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi
peringatan." (QS. Asy-Syu'ara': 192–194)
Ia
juga dinamakan Ruhul Qudus (Roh Kudus). Allah Ta'ala berfirman:
"Katakanlah,
'Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur'an itu dari Tuhanmu dengan
hak...'" (QS. An-Nahl: 102)
Ia
dinamakan pula dengan An-Namus [penyimpan rahasia wahyu], sebagaimana
dikatakan oleh Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam pada awal mula kerasulan beliau: "Sungguh telah datang
kepadamu An-Namus yang pernah diturunkan Allah kepada Musa."
Malaikat
Jibril terkadang datang dalam wujud manusia, dan terkadang datang seperti suara
gemerincing (shashalah) lonceng.
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Al-Harits bin
Hasyim radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah wahyu datang
kepadamu?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ
صَلْصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيَفْصِمُ عَنِّي وَقَدْ
وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا
فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ
"Kadang-kadang
wahyu itu datang kepadamu seperti gemerincing lonceng, dan itulah yang paling
berat bagiku. Lalu keadaan itu terhenti dariku sedang aku telah menghafal apa
yang diucapkannya. Dan kadang-kadang malaikat menjelma menjadi seorang laki-laki
kepadaku lalu mengajakku berbicara, maka aku memahami apa yang
diucapkannya."
'Aisyah
radhiyallahu 'anha berkata: "Sungguh aku telah melihat beliau
ketika diturunkan wahyu kepadanya pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu
terhenti dari beliau sementara dahi beliau mengucurkan keringat."
Dalam
hadis yang dikeluarkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dan Al-Hakim dari Ibnu Mas'ud,
bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فِي
رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا؛ فَاتَّقُوا
اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
"Sesungguhnya
Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam batinku bahwa suatu jiwa tidak akan
mati sampai ia menyempurnakan rezekinya. Maka bertakwalah kepada Allah dan
carilah rezeki dengan cara yang baik."
Tugas
Mereka di Alam Semesta dan Bersama Manusia
Para
malaikat memiliki peran dalam mengelola urusan-urusan alam semesta; seperti
menerbangkan angin dan udara, mengarak awan, menurunkan hujan, menumbuhkan
tumbuh-tumbuhan, serta tugas-tugas lainnya yang tersembunyi dari pandangan mata
dan tidak terjangkau oleh pancaindra.
Mereka
senantiasa menyertai manusia sepanjang hidupnya hingga setelah matinya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مَعَكُمْ مَنْ لاَ
يُفَارِقُكُمْ إِلاَّ عِنْدَ الخَلاَءِ، وَعِنْدَ الجِمَاعِ، فَاسْتَحْيُوهُمْ
وَأَكْرِمُوهُمْ
"Sesungguhnya
bersama kalian ada (para malaikat) yang tidak pernah berpisah dengan kalian
kecuali ketika buang hajat dan ketika bersetubuh. Maka malu-lah kepada mereka
dan muliakanlah mereka."
Mengobarkan
Potensi Rohani Manusia Melalui Bisikan Kebenaran dan Kebaikan
Diriwayatkan
dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ
آدَمَ، وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَادٌ
بِالشَّرِّ وَتَكْذِيبٌ بِالحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ المَلَكِ فَإِيعَادٌ
بِالخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ ذَلِكَ فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ
اللَّهِ فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ، وَمَنْ وَجَدَ الأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ مِنَ
الشَّيْطَانِ
"Sesungguhnya
setan memiliki bisikan (lammah) pada diri anak Adam, dan malaikat pun memiliki
bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan
kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan
membenarkan kebenaran. Barangsiapa yang merasakan hal itu (bisikan kebaikan),
hendaklah ia mengetahui bahwa itu berasal dari Allah dan hendaklah ia memuji
Allah. Dan barangsiapa yang merasakan yang satunya lagi, hendaklah ia memohon
perlindungan (kepada Allah) dari setan."
Kemudian
beliau membaca ayat:
"Setan
menjanjikan (menakut-nakuti) kamu kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji
(kikir); sedangkan Allah menjanjikan kamu ampunan dari-Nya dan karunia. Dan
Allah Mahaluas, Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 268)
Doa
Para Malaikat untuk Orang-Orang Beriman
Allah
Subhanahu wa Ta'ala, karena luasnya ampunan-Nya dan kasih sayang-Nya
kepada hamba-hamba-Nya, mengilhamkan para malaikat-Nya untuk berdoa memohon
kepada-Nya dengan merendahkan diri. Mereka memohon demi rahmat dan ilmu-Nya
yang meliputi segala sesuatu, agar Allah mengampuni orang-orang yang bertobat
dan memasukkan mereka ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh:
"(Malaikat-malaikat)
yang memikul 'Arsy dan (malaikat) yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan
memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memohonkan ampunan untuk
orang-orang yang beriman (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu yang
ada pada-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang
yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari azab neraka
Jahim. Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau
janjikan kepada mereka, dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka,
istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa,
Mahabijaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan. Dan orang-orang
yang Engkau pelihara dari (balasan) kejahatan pada hari itu, maka sungguh,
Engkau telah menganugerahkan rahmat kepadanya; dan demikian itulah kemenangan
yang agung.'" (QS. Ghafir: 7–9)
Diriwayatkan
oleh Muslim bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ
فِيهِ إِلاَّ وَمَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ
مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
"Tidak
ada satu hari pun yang disalimi oleh hamba-hamba Allah melainkan ada dua
malaikat yang berdoa. Salah satunya berdoa: 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi
orang yang berinfak.' Dan yang satunya lagi berdoa: 'Ya Allah, berikanlah
kehancuran bagi orang yang menahan harta (kikir).'" (HR. Muslim)
Mengucapkan
"Amin" Bersama Orang-Orang yang Shalat
Para
malaikat mengucapkan "Amin" bersama orang-orang yang sedang shalat.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
إِذَا قَالَ الإِمَامُ: {غَيْرِ
المَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ} فَقُولُوا: آمِينَ، فَإِنَّ
المَلَائِكَةَ تَقُولُ: آمِينَ، وَإِنَّ الإِمَامَ يَقُولُ: آمِينَ، فَمَنْ
وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ المَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِهِ
"Apabila
imam membaca '{Ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh-dhaalliin}', maka ucapkanlah
'Aamiin', karena sesungguhnya para malaikat mengucapkan 'Aamiin' dan imam pun
mengucapkan 'Aamiin'. Barangsiapa yang ucapan aminnya bersamaan dengan ucapan
amin para malaikat, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR.
Ahmad, Abu Dawud, dan An-Nasa'i)
Hadirnya
Malaikat pada Shalat Subuh dan 'Ashar Setiap Hari
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Keutamaan shalat berjemaah dibanding
shalat sendirian adalah dua puluh lima derajat. Malaikat malam dan malaikat
siang berkumpul pada shalat Subuh." Abu Hurairah berkata:
"Bacalah jika kalian mau:"
"...dan
(laksanakanlah pula shalat) Subuh. Sungguh, shalat Subuh itu disaksikan (oleh
malaikat)." (QS. Al-Isra': 78)
Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ
بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلاَةِ الفَجْرِ
وَصَلاَةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ
رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ:
تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
"Para
malaikat malam dan malaikat siang bergantian menyertai kalian. Mereka berkumpul
pada shalat Subuh dan shalat 'Ashar. Kemudian naiklah para malaikat yang
bermalam bersama kalian, lalu Tuhan mereka bertanya kepada mereka—padahal Dia
lebih mengetahui keadaan mereka—: 'Bagaimana kalian meninggalkan
hamba-hamba-Ku?' Para malaikat menjawab: 'Kami meninggalkan mereka dalam
keadaan sedang shalat, dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan sedang
shalat.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Turunnya
Malaikat Saat Pembacaan Al-Qur'an
Para
malaikat turun ketika Al-Qur'an dibaca dan mereka mendengarkannya:
Diriwayatkan
dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika Usaid bin
Hudhair pada suatu malam sedang membaca Al-Qur'an di tempat penjemputan
kurmanya (mirbad), tiba-tiba kudanya melompat-lompat. Ia terus membaca,
lalu kudanya melompat lagi. Ia terus membaca, dan kudanya melompat lagi. Usaid
berkata: "Aku khawatir kuda itu akan menginjak Yahya (anakku), maka aku
berdiri menghampiri kuda itu. Tiba-tiba di atas kepalaku ada sesuatu seperti
naungan/awan yang di dalamnya terdapat benda-benda serupa pelita, lalu naik
berbubung ke udara hingga aku tidak melihatnya lagi."
Ia
berkata: "Maka di pagi hari aku mendatangi Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam dan berkata: 'Wahai Rasulullah, ketika tadi malam di tengah
malam aku membaca Al-Qur'an di tempat penjemputan kurmaku, tiba-tiba kudaku
melompat-lompat.'"
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah terus, wahai
Ibnu Hudhair!"
Usaid
berkata: "Aku terus membaca, lalu kuda itu melompat lagi."
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah terus, wahai
Ibnu Hudhair!"
Usaid
berkata: "Aku terus membaca, lalu kuda itu melompat lagi."
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah terus, wahai
Ibnu Hudhair!"
Usaid
berkata: "Maka aku berhenti, sementara Yahya berada di dekat kuda itu,
aku khawatir kuda itu menginjaknya. Lalu aku melihat sesuatu seperti naungan
yang di dalamnya ada lampu-lampu, naik ke udara sampai aku tidak melihatnya
lagi."
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
تِلْكَ المَلَائِكَةُ كَانَتْ
تَسْتَمِعُ لَكَ، وَلَوْ قَرَأْتَ لأَصْبَحَتْ يَرَاهَا
النَّاسُ مَا تَسْتَتِرُ مِنْهُمْ
"Itu
adalah para malaikat yang mendengarkan bacaanmu. Seandainya engkau terus
membaca, niscaya pada pagi hari manusia dapat melihatnya tanpa terhalang dari
mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan redaksi ini milik Muslim)
Hadirnya
Malaikat di Majelis-Majelis Dzikir
Para
malaikat mencari majelis-majelis dzikir untuk menyokong mereka dengan kekuatan
rohani.
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً
يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا
قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ،
فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا. قَالَ:
فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ - وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ -: مَا يَقُولُ عِبَادِي؟
قَالَ: يَقُولُونَ: يُسَبِّحُونَكَ، وَيُكَبِّرُونَكَ، وَيَحْمَدُونَكَ،
وَيُمَجِّدُونَكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: فَيَقُولُونَ: لاَ
وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: كَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟
قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً، وَأَشَدَّ لَكَ
تَمْجِيدًا، وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا. قَالَ: فَيَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟
قَالَ: يَقُولُونَ: يَسْأَلُونَكَ الجَنَّةَ. قَالَ: فَيَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟
قَالَ: يَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا. قَالَ: فَيَقُولُ:
فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا
أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا، وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا، وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً.
قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ: يَقُولُونَ: يَتَعَوَّذُونَ مِنَ النَّارِ.
قَالَ: فَيَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لاَ وَاللَّهِ مَا
رَأَوْهَا. قَالَ: فَيَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ
رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا، وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً. قَالَ:
فَيَقُولُ: أُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ. قَالَ: يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ
المَلَائِكَةِ: فِيهِمْ فُلاَنٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ.
قَالَ: هُمُ القَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ
"Sesungguhnya
Allah memiliki para malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli
dzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang mengingat Allah, mereka saling
memanggil: 'Kemarilah kepada hajat kalian!' Lalu para malaikat itu menutupi
mereka dengan sayap-sayapnya sampai ke langit dunia. Rasulullah bersabda: Lalu
Tuhan mereka bertanya kepada mereka—padahal Dia lebih mengetahui keadaan
mereka—: 'Apakah yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?' Para malaikat menjawab:
'Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, bertahmid kepada-Mu, dan
mengagungkan-Mu.' Allah berfirman: 'Apakah mereka pernah melihat-Ku?' Para
malaikat menjawab: 'Tidak, demi Allah wahai Tuhan kami, mereka tidak pernah
melihat-Mu.' Allah berfirman: 'Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?' Para
malaikat menjawab: 'Seandainya mereka melihat-Mu, niscaya ibadah mereka
kepada-Mu akan lebih dahsyat, pengagungan mereka kepada-Mu akan lebih hebat,
dan tasbih mereka kepada-Mu akan lebih banyak.' Allah berfirman: 'Lalu apakah
yang mereka mohon kepada-Ku?' Para malaikat menjawab: 'Mereka memohon
surga-Mu.' Allah berfirman: 'Apakah mereka pernah melihatnya?' Para malaikat
menjawab: 'Tidak, demi Allah wahai Tuhan kami, mereka tidak pernah melihatnya.'
Allah berfirman: 'Bagaimana seandainya mereka melihatnya?' Para malaikat
menjawab: 'Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih sangat
menginginkannya, lebih keras mencarinya, dan lebih besar hasratnya padanya.'
Allah berfirman: 'Lalu dari apakah mereka memohon perlindungan?' Para malaikat
menjawab: 'Mereka memohon perlindungan dari neraka.' Allah berfirman: 'Apakah
mereka pernah melihatnya?' Para malaikat menjawab: 'Tidak, demi Allah mereka
tidak pernah melihatnya.' Allah berfirman: 'Bagaimana seandainya mereka
melihatnya?' Para malaikat menjawab: 'Seandainya mereka melihatnya, niscaya
mereka akan lebih lari darinya dan lebih takut kepadanya.' Allah berfirman:
'Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.' Salah satu
malaikat berkata: 'Di antara mereka ada si Fulan yang bukan dari golongan
mereka, dia datang hanya karena ada suatu keperluan.' Allah berfirman: 'Mereka
adalah kaum yang teman duduknya tidak akan celaka.'" (HR. Al-Bukhari,
dan redaksi ini miliknya, serta HR. Muslim)
Lafaz
diriwayatkan oleh Muslim menyebutkan:
إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى
مَلَائِكَةً سَيَّارَةً فُضُلًا يَبْتَغُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا
وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا
بِأَجْنِحَتِهِمْ حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ. قَالَ:
فَيَسْأَلُهُمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ - وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ -: مِنْ أَيْنَ
جِئْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادِكَ فِي الأَرْضِ،
يُسَبِّحُونَكَ، وَيُكَبِّرُونَكَ، وَيُهَلِّلُونَكَ، وَيَحْمَدُونَكَ،
وَيَسْأَلُونَكَ. قَالَ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالُوا: يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ.
قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: لاَ يَا رَبِّ. قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ
رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَجِيرُونَكَ. قَالَ: وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونِي؟
قَالُوا: مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ. قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: لاَ يَا
رَبِّ. قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَغْفِرُونَكَ.
قَالَ: فَيَقُولُ: قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ، وَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا،
وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا. قَالَ: يَقُولُونَ: رَبِّ فِيهِمْ فُلاَنٌ
عَبْدٌ خَطَّاءٌ إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ؟ قَالَ: فَيَقُولُ: وَلَهُ
غَفَرْتُ، هُمُ القَوْمُ لاَ يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ
"Sesungguhnya
Allah Tabaraka wa Ta'ala memiliki para malaikat yang berkeliling dan memiliki
keutamaan, mereka mencari majelis-majelis dzikir. Apabila mereka menemukan
majelis yang di dalamnya ada dzikir, mereka duduk bersama mereka dan melingkupi
satu sama lain dengan sayap-sayap mereka hingga memenuhi antara mereka dan
langit. Allah 'Azza wa Jalla bertanya kepada mereka—padahal Dia lebih
mengetahui keadaan mereka—: 'Dari manakah kalian datang?' Para malaikat
menjawab: 'Kami datang dari sisi hamba-hamba-Mu di bumi yang bertasbih
kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, bertahlil kepada-Mu, bertahmid kepada-Mu, dan
memohon kepada-Mu.' Allah berfirman: 'Apakah yang mereka mohon kepada-Ku?' Para
malaikat menjawab: 'Mereka memohon surga-Mu.' Allah berfirman: 'Apakah mereka
pernah melihat surga-Ku?' Para malaikat menjawab: 'Belum, wahai Tuhan kami.'
Allah berfirman: 'Bagaimana seandainya mereka melihat surga-Ku?' Para malaikat
menjawab: 'Dan mereka memohon perlindungan-Mu.' Allah berfirman: 'Dari apakah
mereka memohon perlindungan-Ku?' Para malaikat menjawab: 'Dari neraka-Mu, wahai
Tuhan kami.' Allah berfirman: 'Apakah mereka pernah melihat neraka-Ku?' Para
malaikat menjawab: 'Belum, wahai Tuhan kami.' Allah berfirman: 'Bagaimana
seandainya mereka melihat neraka-Ku?' Para malaikat menjawab: 'Dan mereka
memohon ampunan-Mu.' Allah berfirman: 'Maka Allah berfirman: Sungguh Aku telah
mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta, dan melindungi mereka dari
apa yang mereka minta perlindungan darinya.' Para malaikat berkata: 'Wahai
Tuhan, di antara mereka ada si Fulan, seorang hamba yang banyak berbuat salah,
dia hanya lewat lalu duduk bersama mereka?' Allah berfirman: 'Dan kepadanya pun
Aku ampunan, mereka adalah kaum yang teman duduknya tidak akan celaka.'"
(HR. Muslim)
Shalawat
Malaikat kepada Orang-Orang Beriman, Khususnya Para Penuntut dan Pengajar Ilmu
"Dialah
yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan
untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (terang
benderang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS.
Al-Ahzab: 43)
Diriwayatkan
dari Abu Umamah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الخَيْرَ
"Sesungguhnya
Allah, para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi benar-benar
bershalawat (mendoakan rahmat) atas orang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia." (HR. At-Tirmidzi, dan beliau berkata: Hadis ini hasan)
Penghormatan
Malaikat kepada Penuntut Ilmu dan Sikap Tawadhunya
Diriwayatkan
dari Abu Ad-Darda' bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
إِنَّ المَلَائِكَةَ لَتَضَعُ
أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ العِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ
"Sesungguhnya
para malaikat benar-benar meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu karena
ridha terhadap apa yang dilakukannya." (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Membawa
Kabar Gembira
Diriwayatkan
oleh Muslim dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
beliau bersabda:
"Ada
seorang laki-laki mengunjungi saudaranya di desa lain, lalu Allah mengutus
malaikat untuk mengintainya di tengah jalannya. Ketika orang itu sampai
kepadanya, malaikat bertanya: 'Ke mana engkau hendak pergi?' Orang itu
menjawab: 'Aku ingin mengunjungi saudaraku di desa ini.' Malaikat bertanya:
'Apakah ada kenikmatan (jasa) darinya yang ingin engkau kelola/balas?' Orang
itu menjawab: 'Tidak ada, selain bahwa aku mencintainya karena Allah 'Azza wa
Jalla.' Malaikat itu berkata: 'Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu
untuk memberitahukan bahwa Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai
saudaramu karena-Nya.'" (HR. Muslim)
Pengumuman
Malaikat Mengenai Orang yang Dicintai dan Dibenci Allah
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى إِذَا
أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ،
فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوَضَّعُ لَهُ
القَبُولُ فِي الأَرْضِ. وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ:
إِنِّي أَبْغَضُ فُلاَنًا فَأَبْغِضْهُ، فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي
فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ أَبْغَضَ فُلاَنًا فَأَبْغِضُوهُ، ثُمَّ
تُوَضَّعُ لَهُ البَغْضَاءُ فِي الأَرْضِ
"Sesungguhnya
Allah Ta'ala apabila mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya
berfirman: 'Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan, maka cintailah dia.' Lalu
Jibril pun mencintainya. Kemudian Jibril menyeru di langit seraya berkata:
'Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan, maka cintailah dia oleh kalian.' Maka
penghuni langit pun mencintainya, kemudian dijadikan baginya penerimaan (rasa
simpatik) di bumi. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil
Jibril seraya berfirman: 'Sesungguhnya Aku membenci si Fulan, maka bencilah
dia.' Lalu Jibril pun membencinya. Kemudian Jibril menyeru di antara penghuni
langit: 'Sesungguhnya Allah membenci si Fulan, maka bencilah dia oleh kalian.'
Kemudian dijadikan baginya kebencian di bumi." (HR. Muslim)
Mencatat
Amal Perbuatan
Para
malaikat bertugas mencatat amal perbuatan manusia serta menghitung
kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukannya:
"Dan
sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh
hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah)
ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan
dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya
melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat)."
(QS. Qaf: 16–18)
"Dan
sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (perbuatanmu), mereka mengetahui
apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Infitar: 10–12)
"Apakah
mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka?
Ya, benar, dan utusan-utusan Kami (malaikat) mencatat di sisi mereka."
(QS. Az-Zukhruf: 80)
[Catatan
Footnote Asli Teks: Al-Hasan Al-Bashri berkata mengenai firman Allah ("di
sebelah kanan dan di sebelah kiri duduk"): "Wahai anak Adam,
telah dibentangkan lembaran catatannmu, dan telah ditugaskan kepadamu dua
malaikat yang mulia: salah satunya di sebelah kananmu dan yang lain di sebelah
kirimu. Adapun yang di sebelah kananmu menjaga kebaikan-kebaikanmu, sedangkan yang
di sebelah kirimu menjaga keburukan-keburukanmu. Maka perbuatlah apa yang
engkau kehendaki, sedikit ataupun banyak. Hingga apabila engkau mati, lembaran
catatanmu dilipat dan dikalungkan di lehermu bersama dirimu di dalam kuburmu,
sampai engkau keluar pada hari kiamat." Maka pada saat itulah Allah
Ta'ala berfirman: "Dan setiap manusia telah Kami kalungkan burung (amal
perbuatannya) di lehernya..." Kemudian Al-Hasan berkata: "Demi
Allah, Allah telah berlaku adil kepadamu ketika Dia menjadikan dirimu sendiri
sebagai pembuat perhitungan atas dirimu."]
Para
malaikat mencatat amal-amal ini di sisi mereka dalam lembaran catatan (sijill)
bagi setiap individu, kemudian lembaran tersebut dipaparkan pada hari
perhitungan (yaumul hisab):
"Dan
setiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana lekatnya
kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab
yang dijumpainya terbuka. 'Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari
ini sebagai pembuat perhitungan atas dirimu.'" (QS. Al-Isra': 13–14)
Di
tengah-tengah pemaparan amal tersebut, mereka menjadi saksi atas apa yang telah
dikerjakan oleh manusia, baik berupa kebaikan maupun keburukan:
"Dan
ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan. Dan setiap orang akan datang
bersama (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi. Sungguh, engkau dahulu
lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan darimu tutup (yang
menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS.
Qaf: 20–22)
Meneguhkan
Hati Orang-Orang Beriman
Para
malaikat meneguhkan hati orang-orang beriman melalui dukungan (ta'yid)
yang mereka tanamkan ke dalam jiwa mereka:
"(Ingatlah)
ketika Tuhanmu membisikkan wahyu kepada para malaikat, 'Sesungguhnya Aku
bersama kamu, maka teguhkanlah (hati) orang-orang yang telah beriman...'"
(QS. Al-Anfal: 12)
"Engkau
(Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari
akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau
kerabatnya. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam
hatinya dan menguatkan mereka dengan roh dari-Nya..." (QS. Al-Mujadilah:
22) [Maksud dari roh di sini adalah Ruhul Qudus, yaitu Jibril.]
Ditugaskan
Mengabut Roh (Mencabut Nyawa)
"...sehingga
apabila kematian datang kepada salah seorang di antara kamu, utusan-utusan Kami
mencabut nyawanya, dan mereka tidak melalaikan tugasnya." (QS. Al-An'am:
61)
"Katakanlah,
'Malaikat maut yang diserahi tugas untuk (mencabut nyawa)-mu akan mematikan
kamu...'" (QS. As-Sajdah: 11)
Mereka
menyambut orang-orang yang baik dengan salam penghormatan yang indah ketika
mencabut roh mereka:
"(yaitu)
orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan
(kepada mereka), 'Salamun 'alaikum (selamat sejahtera bagimu)...'" (QS.
An-Nahl: 32)
Dan
mereka menyampaikan kabar gembira berupa surga kepada mereka:
"Sesungguhnya
orang-orang yang berkata, 'Tuhan kami ialah Allah' kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan,
'Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.' Kamilah
pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu
memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang
kamu minta. Sebagai penghormatan (bagimu) dari (Allah) Yang Maha Pengampun,
Maha Penyayang." (QS. Fussilat: 30–32)
Maksudnya,
sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Allah dengan iman yang sejati,
serta istiqamah di atas jalan yang telah ditetapkan-Nya bagi hamba-hamba-Nya,
maka para malaikat akan turun kepada mereka saat menjelang kematian dan berkata
kepada mereka: Janganlah kalian takut terhadap apa yang ada di hadapan kalian
berupa keangkeran kubur dan azab akhirat, dan janganlah kalian bersedih atas
apa yang kalian tinggalkan di belakang kalian berupa harta benda dan anak-anak,
serta bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian...
Sementara
itu, mereka menghina orang-orang yang fasik/kafir serta memukul wajah-wajah dan
punggung-punggung mereka:
"(yaitu)
orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan menzalimi diri
sendiri, lalu mereka menyerahkan diri..." (QS. An-Nahl: 28)
"Dan
sekiranya engkau melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang
kafir sambil memukul wajah dan belakang mereka..." (QS. Al-Anfal: 50)
Beriman
Kepada Malaikat
Jika
demikian halnya keberadaan malaikat di alam roh, serta peran positif mereka di
alam semesta dan alam nyata, dan jika demikian hubungan mereka dengan manusia
di dunia ini dan alam setelahnya, maka diwajibkan untuk beriman kepada
keberadaan mereka. Serta berupaya untuk terhubung dengan mereka melalui jalan
penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), pembersihan hati, dan beribadah kepada
Allah secara khusyuk.
Sebab,
dalam terhubungnya jiwa dengan malaikat terdapat keluhuran bagi roh untuk
mewujudkan hikmah tertinggi diciptakannya manusia, yaitu menunaikan amanah
kehidupan dan menjalankan kekhalifahan Allah di bumi.
Oleh
karena itu, beriman kepada malaikat termasuk bagian dari kebajikan (al-birr),
serta menjadi bukti kebenaran iman dan ketakwaan:
"...akan
tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari
akhir, malaikat-malaikat..." (QS. Al-Baqarah: 177)
Sesungguhnya
iman tidak akan memiliki hakekat yang nyata kecuali jika manusia beriman kepada
alam rohani ini dengan keimanan yang tidak disusupi oleh keraguan sedikit pun
dan tidak tersusupi oleh prasangka-prasangka.
Inilah
jalan para nabi dan orang-orang beriman yang telah tersingkap kebenaran di
hadapan pandangan mereka, sehingga mereka mampu menangkap hakekat alam semesta
yang tidak mampu ditangkap oleh orang-orang yang lalai:
"Rasul
(Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian
pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya..." (QS.
Al-Baqarah: 285)
Sesungguhnya
alam gaib ini tidak dapat dijangkau oleh indra dan tidak pula oleh akal. Bahkan
setan-setan pun tidak mungkin dapat sampai meninggi ke alam tersebut:
"Merek
(setan-setan itu) tidak dapat mendengar (pembicaraan) para malaikat di tempat
yang tinggi (al-mala'ul a'la) dan mereka dilempari dari segala
penjuru." (QS. As-Saffat: 8)
Satu-satunya
jalan untuk mengetahuinya adalah melalui wahyu, karena hal ini merupakan bagian
dari perkara-perkara yang gaib:
"Katakanlah
(wahai Muhammad), 'Aku hanya seorang pemberi peringatan, dan tidak ada tuhan
selain Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada
di antara keduanya, Yang Mahaperkasa, Maha Pengampun.' Katakanlah, 'Ini
(Al-Qur'an) adalah berita yang besar, yang kamu berpaling darinya. Aku tidak
mempunyai pengetahuan sedikit pun tentang al-mala'ul a'la (para malaikat)
ketika mereka berbantah-bantahan. Yang diwahyukan kepadaku hanyalah bahwa aku
adalah seorang pemberi peringatan yang nyata.'" (QS. Sad: 65–70)
Maka
segala hal yang wajib menjadi perhatian kita adalah beriman kepada mereka,
menjaga hak kebersamaan dengan mereka, serta mempererat hubungan kita dengan
mereka sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya
bersama kalian ada (para malaikat) yang tidak pernah berpisah dengan kalian
kecuali ketika buang hajat dan ketika bersetubuh. Maka malu-lah kepada mereka
dan muliakanlah mereka."
Sumber:
kitab Al-'Aqa'id Al-Islamiyyah karya Syaikh Sayyid Sabiq
Comments
Post a Comment