Pengendalian Diri
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.
Aku
bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku
bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Wahai
saudara-saudaraku sekalian: Assalāmu 'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.
Amma
ba'du:
Pentingnya
Pengendalian Diri (Dhabth an-Nafs)
Sesungguhnya
Allah menciptakan jiwa dan menunjukinya dua jalan (kebaikan dan keburukan). Dia
menanamkan ke dalamnya berbagai hawa nafsu dan kecenderungan sebagai ujian bagi
seorang hamba. Oleh karena itu, dalam diri manusia senantiasa bertarung dua
dorongan: dorongan yang mengundangnya untuk taat kepada Rabb-nya, dan dorongan
yang mengundangnya kepada kebalikannya:
"demi
jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan)
kejahatan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams [91]: 7-8)
Ibnu
Zaid—rahimahullāh—berkata: "Allah menjadikan pada jiwa itu
kefasikan dan ketakwaannya. Dan orang yang mendapatkan taufik adalah mereka
yang mampu mengendalikan jiwanya (dhabth an-nafs), melarangnya dari
kefasikan, serta mewajibkannya untuk bertakwa."
Pengendalian
diri adalah usaha seorang muslim untuk senantiasa mencari kebenaran dan
petunjuk; mengupayakan sikap pertengahan (irodal), kelembutan (hilm),
kehati-hatian (ta'annī), keramahan (rifq), hikmah, keadilan,
kesaksian yang jujur, kemurahan hati, serta pemaafan. Ia bermujahadah melawan
jiwa ini dan mengekang gejolaknya agar berjalan sesuai dengan tuntutan syariat.
Sungguh,
Allah telah memerintahkan untuk bermujahadah melawan nafsu dan memerintahkan
untuk memerangi hawa nafsu:
"...Maka,
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu..." (QS. An-Nisa' [4]: 135)
"Berjihadlah
kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya..." (QS. Al-Hajj
[22]: 78)
Menahan
jiwa hanya pada hal-hal yang halal dan mencegahnya dari yang haram merupakan
bentuk pengendalian diri yang sangat agung dan jihad yang besar:
"Orang-orang
yang bermujahadah (berjuang) di jalan Kami sungguh akan Kami tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami..." (QS. Al-'Ankabut [29]: 69)
Yaitu
mereka yang bermujahadah melawan jiwa, hawa nafsu, dan setan.
"Adapun
orang yang takut pada keagungan Rabb-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa
nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya)." (QS. An-Nazi'at
[79]: 40-41)
Para
ulama Salaf menjelaskan tafsir ayat tersebut: "Menahan diri dari hawa
nafsu adalah keadaan seseorang yang berniat melakukan maksiat, lalu ia teringat
posisinya di hari perhitungan (hisab), sehingga ia meninggalkan maksiat
tersebut." Meninggalkan hawa nafsu adalah kunci surga:
"Adapun
orang yang takut pada keagungan Rabb-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa
nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya)." (QS. An-Nazi'at
[79]: 40-41)
((حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ
وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ))
"Surga
itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci (oleh nafsu), dan neraka itu diliputi
oleh syahwat (kesenangan nafsu)." (HR. Muslim no. 2822)
Tidak
ada jalan untuk masuk surga kecuali dengan menerobos hal-hal yang dibenci oleh
nafsu, dan tidak ada jalan menuju neraka kecuali dengan terjerumus ke dalam
syahwat ini.
"Bagi
siapa yang takut pada makam (keagungan) Rabb-nya ada dua surga." (QS.
Ar-Rahman [55]: 46)
Yaitu
seseorang yang hendak berbuat dosa, lalu ia teringat akan posisinya berdiri di
hadapan Allah pada hari perhitungan, maka ia pun meninggalkannya.
Seorang
mujahid sejati adalah orang yang menundukkan jiwanya dalam ketaatan
kepada Allah, menahannya agar tidak larut dalam kenikmatan dan syahwat yang
diharamkan. Jiwamu adalah musuh terdekatmu, maka mulailah bermujahadah
menundukkan jiwamu sendiri, dan perangilah ia terlebih dahulu.
Selisihilah
nafsu dan setan, serta durhakailah keduanya
Meskipun
keduanya memberimu nasihat tulus, tetap curigailah
Begitu
pula seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita berpangkat dan
berparas cantik, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada
Allah."
Jihad
yang paling berat adalah jihad melawan hawa nafsu; jihad melawan jiwa dan hawa
nafsu adalah fondasi dari jihad melawan orang-orang kafir.
Seorang
muslim bukanlah pribadi yang bebas tanpa batas hingga boleh berbuat sesuka
hatinya. Para menyeru kebebasan mutlak yang berteriak: "Kebebasan!
Kebebasan!" pada hakikatnya telah terperosok ke dalam propaganda
orang-orang kafir, zindiq, dan moral terpuruk yang mengumandangkan kebebasan
tanpa batas.
Dunia
adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.
Diceritakan
bahwa seorang Yahudi melihat Ibnu Hajar—rahimahullāh—yang kala itu
menjabat sebagai Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) di Mesir. Beliau berjalan
bersama rombongannya yang terdiri dari para penuntut ilmu, para syekh, dan
ulama dalam keagungan yang sangat besar. Yahudi penjual minyak itu pun
menghentikan langkahnya dan berkata: "Bagaimana mungkin Nabimu bersabda: 'Dunia
adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir', padahal
engkau berada dalam keagungan seperti ini dan aku berada dalam kemelaratan
seperti ini?" Yahudi itu bermaksud: Aku miskin, sedangkan engkau berada
dalam kemewahan ini? Bagaimana mungkin Nabimu bersabda demikian sementara
keadaanmu dan keadaanku seperti ini? Ibnu Hajar—rahimahullāh—menjawab:
"Dibandingkan dengan surga di akhirat, aku saat ini berada di dalam
penjara. Sedangkan engkau, dibandingkan dengan neraka di akhirat, saat ini
berada di dalam surga."
"Setiap
mukmin dipenjara di dunia," kata Imam An-Nawawi, "dari syahwat yang
diharamkan dan dipertanyakan (makruh), serta dibebani untuk menjalankan
ketaatan-ketaatan yang berat." ( Syarh an-Nawawi 'ala Muslim,
18/93)
Syariat
Memerintahkan Pengendalian Diri dan Tidak Liar
Syariat
telah memerintahkan untuk mengendalikan diri dan tidak meluapkan emosi secara
liar:
"(yaitu)
orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang
yang menahan amarahnya..." (QS. Ali 'Imran [3]: 134)
Merekapun
tidak bertindak menuruti dorongan tabiat dasarnya. Tabiat dasar berbisik:
"Balaslah!", tabiat berbisik: "Marahlah!", tabiat berbisik:
"Hantamlah!". Akan tetapi, menahan amarah dan memaafkan manusia
adalah sifat-sifat penghuni surga.
Dikisahkan
bahwa suatu hari budak wanita milik Maimun bin Mihran datang membawakan nampan
berisi kuah panas saat Maimun sedang bersama para tamunya. Budak itu tersandung
sehingga menyiramkan kuah panas tersebut ke tubuh tuannya. Apa yang kita
bayangkan akan terjadi pada situasi emosional tersebut? Budak wanita itu lantas
berkata: "Tuanku, (dan orang-orang yang menahan amarahnya)."
Maimun menjawab: "Aku telah menahan amarahku." Budak itu melanjutkan:
(dan memaafkan manusia) [QS. Ali 'Imran [3]: 134]. Maimun berkata:
"Aku telah memaafkanmu." Budak itu menimpali lagi: (dan Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan) [QS. Ali 'Imran [3]: 134].
Maimun pun berkata: "Pergilah, engkau merdeka karena Allah."
Allah
memuji orang-orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah sehingga tidak
melampiaskan dendamnya, Allah berfirman:
"...dan
apabila mereka marah mereka memberi maaf." (QS. Asy-Syura [42]: 37)
Barangsiapa
mengaku memiliki sifat hilm (sabar/santun), buatlah ia marah untuk
membuktikannya
Sebab
sifat hilm tidak akan teruji kecuali pada saat amarah memuncak
Sifat
hilm bukanlah sekadar teori yang hanya dipelajari; sifat hilm
tidak akan tampak kecuali di saat marah.
((لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ،
إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ))
"Orang
yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat, melainkan orang yang mampu
menguasai dirinya saat marah." (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Perhatikanlah
konsep ini: pengendalian diri berdasarkan dalil-dalil syari. Ini merupakan
konsep yang sangat penting. Betapa banyak orang yang menceraikan istrinya hanya
karena tidak mampu mengendalikan dirinya. Betapa banyak orang yang mengucapkan
kata-kata pemutus silaturahmi, yang dampaknya merusak hubungan ber tahun-tahun
antar kerabat, hanya karena tidak adanya pengendalian diri. Orang yang
bertindak nekat hingga mencelakakan dirinya sendiri terjadi karena tidak ada
pengendalian diri. Orang yang bunuh diri, karena tidak ada pengendalian diri.
Orang yang caci maki, karena tidak ada pengendalian diri. Orang yang tiba-tiba
memotong jalan orang lain di jalan raya karena emosi hingga memicu kecelakaan,
semua karena tidak adanya pengendalian diri.
((مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ
عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلاَئِقِ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ))
"Barangsiapa
menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah 'Azza wa Jalla akan
memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga Dia menyuruhnya
memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki." (HR. Abu Dawud no. 4777,
At-Tirmidzi no. 2021, dan Ibnu Majah no. 4186; hadis ini hasan).
Dalam
riwayat Ibnu Majah disebutkan:
((مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا
عِنْدَ اللَّهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ))
"Tidak
ada satu tegukan pun yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada tegukan
amarah yang ditelan oleh seorang hamba demi mengharapkan wajah Allah."
(HR. Ibnu Majah no. 4189)
Jika
engkau marah, bersikaplah tenang, tahanlah amarahmu, perhatikan apa yang engkau
katakan dan dengarkan. Cukuplah sebagai sebuah keutamaan ketika engkau
menyadari saat di mana Tuhan meredaimu dan melindungi diri dari keburukan.
Al-Hasan Al-Bashri—rahimahullāh—berkata: "Tidak ada dua tegukan
yang diteguk seorang hamba yang lebih dicintai Allah daripada tegukan musibah
yang ditelan hamba dengan kesabaran dan pengharapan pahala yang baik, serta
tegukan amarah yang ditelan hamba dengan kesantunan (hilm) dan
pemaafan."
Dua
tegukan: tegukan musibah dan tegukan amarah. Namun di sisi Allah, menahan
keduanya adalah perkara yang sangat agung. Ketika seorang lelaki berkata kepada
Nabi ﷺ: "Berilah aku
wasiat," dan ia mengulangnya berkali-kali, Nabi ﷺ bersabda: ((لاَ تَغْضَبْ)) "Jangan
marah." Lelaki itu berkata: "Maka aku memikirkan apa yang disabdakan
oleh Nabi ﷺ
tersebut, ternyata amarah itu menghimpun seluruh bentuk keburukan." (HR.
Ahmad no. 23171; para periset Al-Musnad menyatakan: "Sanadnya
shahih").
Oleh
sebab itu, pernah dikatakan kepada 'Abdullah bin Al-Mubarok: "Rangkumlah
akhlak yang baik untuk kami dalam satu kata!" Beliau menjawab:
"Meninggalkan amarah."
Dengan
demikian, makna ini mencakup dua hal: Pertama, berhias dengan sifat hilm
(santun) dan pemaaf. Kedua, tidak bertindak menuruti gejolak amarah. Jika
amarah mendorongmu untuk menghantam, tahanlah tanganmu; jika mendorong untuk
mencaci, tahanlah lidahmu; jika engkau berdiri, maka duduklah; dan jika engkau
duduk, maka berbaringlah.
Pengendalian
Diri adalah Sifat yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya
Pengendalian
diri adalah sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketika utusan (suku
'Abdul Qais) tiba menemui Nabi ﷺ, setibanya mereka di Madinah, mereka bergegas menuju Nabi ﷺ. Mereka meninggalkan
tunggangan mereka dan datang masih berpakaian perjalanan serta berbau
perjalanan. Namun, Al-Asyajj bin 'Abdul Qais tetap tinggal di tempat
barang-barang mereka, ia mengumpulkannya dan mengikat untanya. Ia mengikat
hewan-hewan tunggangan tersebut, memakai pakaian terbaiknya, baru kemudian
menghadap Nabi ﷺ.
Maka Nabi ﷺ
bersabda:
((إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ
يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ))
"Sesungguhnya
pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah: kelembutan/kesantunan (al-hilm)
dan kehati-hatian/ketenangan (al-anāh)." (HR. Muslim no. 18)
Lelaki
ini tahu benar bagaimana tata cara masuk yang baik, sebagaimana doa: "Ya
Tuhan kami, masukkanlah aku melalui tempat masuk yang benar."
Tergesa-gesa
Berlawanan dengan Pengendalian Diri
Sikap
tergesa-gesa (al-'ajalah) berlawanan dengan pengendalian diri. Melangkah
melakukan sesuatu sejak terlintasnya pikiran pertama tanpa perenungan dan
pengamatan adalah sebuah masalah.
Bisa
jadi orang yang berhati-hati mendapatkan sebagian hajatnya
Dan
bisa jadi orang yang tergesa-gesa jatuh dalam kesalahan
Orang
yang tergesa-gesa berbicara sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami,
memuji sebelum mencoba, mencela setelah memuji, bertekad sebelum berpikir, dan
melangkah sebelum mantap bertekad.
Sikap
tergesa-gesa selalu disertainya penyesalan, dan keselamatan akan menjauh
darinya. Orang-orang Arab dahulu memberi julukan bagi sikap tergesa-gesa
sebagai: Umm an-Nadamāt (ibunya segala penyesalan).
Pengendalian
Diri Menjadi Sebab Datangnya Pertolongan Allah
Pengendalian
diri ini menjadi sebab datangnya pertolongan Allah bagi seorang hamba.
"Wahai Rasulullah, aku memiliki kerabat, aku menyambung silaturahmi kepada
mereka tetapi mereka memutuskannya, aku berbuat baik kepada mereka tetapi
mereka berbuat jahat kepadaku, aku bersabar (hilm) menghadapi mereka
tetapi mereka bersikap bodoh kepadaku?" Ini adalah puncak pengendalian
diri menghadapi kerabat yang menyakiti. Beliau bersabda:
((لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ
فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ
عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ))
"Jika
benar seperti apa yang engkau katakan, maka seolah-olah engkau menyuapkan
debu/abu panas ke mulut mereka, dan senantiasa ada penolong dari Allah
bersamamu untuk menghadapi mereka selama engkau tetap berada dalam keadaan
demikian." (HR. Muslim no. 2558)
Kata
tusiffuhum berarti memasukkan sesuatu ke dalam mulut orang lain secara
paksa. Al-Mall adalah abu yang panas. Ini merupakan kiasan atas
keunggulan dan kemenangannya yang nyata atas mereka.
Di
antara wasiat orang-orang bijak kepada anaknya: "Wahai anakku, aku
berwasiat kepadamu dengan beberapa perkara yang jika engkau pegang teguh,
engkau akan senantiasa menjadi pemimpin: terapkanlah sifat hilm-mu
kepada kerabat maupun orang jauh, tahanlah kebodohan/emosimu dari orang yang
mulia maupun orang yang hina, sambunglah silaturahmi dengan kerabatmu, dan
jadikanlah saudara-saudaramu adalah orang-orang yang ketika engkau berpisah
dengan mereka dan mereka berpisah denganmu, engkau tidak mencela mereka."
Pengendalian
Diri adalah Sifat 'Ibādurraḥmān (Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih)
Pengendalian
diri termasuk di antara sifat-sifat 'Ibādurraḥmān:
"Hamba-hamba
Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan
rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang
menghina), mereka mengucapkan, 'Salam'." (QS. Al-Furqan [25]: 63)
Di
sinilah letak pengendalian diri. Di manakah letak pengendalian diri pada
hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih? Yaitu pada firman-Nya: (dan apabila
orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan "salam").
Mereka adalah orang-orang yang santun, tidak berbuat bodoh/emosional, dan tidak
membalas orang pandir.
Dalam
sifat hilm terdapat pencegah bagi orang pandir dari menyakiti
Sedangkan
dalam kebodohan (kejahilan) terdapat pemicu, maka janganlah engkau menjadi
orang yang bodoh
Orang
pandir sangat berharap engkau membalas perbuatannya agar ia dapat memojokkanmu
dan caci-maki terus berlanjut.
Sebagian
orang yang bekerja di dunia media massa memiliki tabiat seperti ini. Ia ingin
memicu pertempuran agar dapat menulis artikel, menghubungi si Fulan untuk
mengadu domba dengan si Fulan, dan menghubungi si Fulan untuk mengadu domba
dengan si Fulan; karena inilah "bahan jualan"-nya. Sensasi di dunia
media tidak akan muncul baginya kecuali dengan cara ini. Oleh karena itu, ia
menjalankan peran iblis dalam mengadu domba sesama manusia.
Merek
berkata: "Engkau diam padahal engkau didebat?" Aku katakan kepada
mereka:
Sesungguhnya
jawaban itu adalah kunci pembuka pintu keburukan
Berdiam
diri dari orang bodoh atau pandir adalah sebuah kemuliaan
Di
dalamnya juga terdapat perbaikan untuk menjaga kehormatan
Tidakkah
engkau melihat singa ditakuti padahal ia diam?
Sedangkan
anjing diusir, demi umurku, padahal ia menggonggong
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah—rahimahullāh—berkata: "Tingkatan hilm,
sabar atas gangguan, dan memaafkan kedzaliman adalah akhlak terbaik penghuni
dunia dan akhirat. Seseorang dapat mencapai darajat dengannya apa yang tidak
dapat dicapai dengan puasa dan salat malam." (Shārim al-Maslūl,
hal. 234)
Pengendalian
Diri adalah Sifat Para Nabi
Tentu
saja, pengendalian diri ini merupakan sifat para Nabi. Petunjuk yang baik,
ketenangan, dan kesederhanaan adalah satu bagian dari dua puluh empat bagian
kenabian—itulah sifat ketenangan/kehati-hatian (at-tu'adah).
Sifat
apakah yang disebutkan Allah mengenai Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dalam hal
pengendalian diri?
"Sesungguhnya
Ibrahim benar-benar seorang yang penyantun, lembut hati, lagi suka kembali
(kepada Allah)." (QS. Hud [11]: 75)
Dan
pada ayat yang lain:
"...Sesungguhnya
Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hati lagi penyantun." (QS.
At-Taubah [9]: 114)
Allah
Ta'ala juga menyifati putranya, Isma'il, dengan sifat ini:
"Maka,
Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat penyantun."
(QS. As-Saffat [37]: 101)
Dan
cucunya yang datang kemudian, Muhammad ﷺ, adalah pemimpin orang-orang yang
penyantun (Sayyid al-Hulamā').
Lihatlah
kesantunan Isma'il ketika berkata kepada ayahnya:
"...Wahai
ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Insya Allah engkau akan
mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Saffat [37]: 102)
Betapa
agungnya pengendalian diri yang ditunjukkannya!
Dan
Nabi Yahya 'Alaihissalam, Allah berfirman tentangnya:
"...membenarkan
kalimat dari Allah, menjadi panutan, menahan diri (dari hawa nafsu)..."
(QS. Ali 'Imran [3]: 39)
Para
ulama seperti Sa'id bin Jubair dan Qatadah menjelaskan tafsir kata Sayyidan
(panutan/pemimpin): "Orang yang penyantun (al-ḥalīm) adalah
pemimpin yang amarahnya tidak dapat menguasai dirinya."
Di
manakah kesantunan Yusuf 'Alaihissalam sebelum bertemu saudara-saudaranya? Di
manakah ketenangan Yusuf 'Alaihissalam sebelum bertemu saudara-saudaranya?
Bagaimanakah sikapnya? (Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku").
Namun Yusuf belum dibebaskan nama baiknya di hadapan khalayak; ia masuk penjara
atas tuduhan palsu:
"...Maka,
ketika utusan itu datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata, "Kembalilah
kepada tuanmu, lalu tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan
yang telah melukai tangan mereka..." (QS. Yusuf [12]: 50)
Yusuf
tidak langsung keluar begitu saja padahal telah dipenjara selama tujuh tahun.
Ketika utusan datang dan berkata: "Kemarilah," ia ingin keluar dengan
prinsip, ingin keluar dengan kejelasan di hadapan manusia. Ia mengenal dirinya
sendiri, tetapi ia ingin lembaran hidupnya bersih di mata manusia. Ini adalah
hal penting bagi seorang da'i dalam berdakwah; rekam jejak yang baik sangat
penting di hadapan masyarakat. Ia berkata: (Kembalilah kepada tuanmu, lalu
tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai
tangan mereka. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Mengetahui tipu daya mereka) [QS.
Yusuf [12]: 50].
Nabi
kita ﷺ memuji sikap ini
seraya bersabda:
((لَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ طُولَ
مَا لَبِثَ يُوسُفُ لأَجَبْتُ الدَّاعِيَ))
"Seandainya
aku tinggal di penjara selama Yusuf tinggal di dalamnya, tentu aku akan
langsung memenuhi panggilan utusan itu." (HR. Bukhari no. 3372 dan Muslim
no. 151)
Maksudnya,
langsung keluar saat utusan itu datang. Tentu ini merupakan bentuk ketawaduan
Nabi ﷺ, sebab beliau lebih
santun daripada Nabi Yusuf.
Ini
adalah pujian yang sangat agung bagi Yusuf 'Alaihissalam atas ketelitiannya,
ketenangannya, dan keputusannya untuk tidak keluar dari penjara sampai
kebebasan dan kesucian nama baiknya tampak di hadapan umum.
Di
antara faedah peristiwa ini adalah: pentingnya menuntut pembersihan nama baik (barā'at
as-sāhah).
Kesantunan
lainnya adalah ketika ia bertemu saudara-saudaranya setelah bertahun-tahun
berlalu, padahal dulu mereka melemparkannya ke dalam sumur, menjadi sebab
terpisahnya ia dari ayahnya, menghalanginya dari pengajaran ayahnya yang
seorang Nabi, mencelakakannya di dalam sumur, menyebabkannya dijadikan budak
yang dijual dengan harga murah, serta menyebabkannya diuji dengan fitnah wanita
hingga masuk penjara—semua itu berawal dari kedzaliman saudara-saudaranya.
Namun ketika melihat mereka dan terjadi berbagai peristiwa setelahnya, ia
berkata:
"...Pada
hari ini tidak ada celaan atas kamu..." (QS. Yusuf [12]: 92)
Ia
tidak membalas dendam; ini adalah pengendalian diri yang sangat luar biasa: (Tidak
ada celaan atas kamu pada hari ini, semoga Allah mengampuni kamu. Dia Maha
Penyayang di antara yang penyayang) [QS. Yusuf [12]: 92]. Tidak ada celaan,
tidak ada cerca, tidak ada teguran, tidak ada ejekan, dan tidak
mengungkit-ungkit kembali masalah itu.
Marilah
kita tutup pembicaraan yang telah terjadi
Jangan
sampai pemfitnah mendengar atau mengetahuinya
Marilah
kita kembali pada keridaan
Seakan-akan
ikatan tak pernah berubah
Perselisihan
kata di antara kita telah berlangsung lama
Dan
tidaklah perselisihan itu memanjang melainkan untuk segera berakhir
Mulai
hari ini adalah sejarah kasih sayang di antara kita
Semoga
Allah memaafkan teguran yang telah berlalu
Nabi
Sulaiman 'Alaihissalam, di manakah ketenangannya dalam kisah Ratu Saba' bersama
burung Hud-hud ketika ia berkata:
"Dia
memeriksa burung-burung, lalu berkata, 'Mengapa aku tidak melihat Hud-hud,
apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh, aku benar-benar akan mengazabnya
dengan azab yang keras atau menyembelihnya, kecuali jika dia datang kepadaku
dengan alasan yang jelas.'" (QS. An-Naml [27]: 20-21)
Beliau
memberikan ruang bagi pemilik udzur untuk menyampaikan alasannya. Ketika
Hud-hud menyampaikan alasannya, muncul bentuk ketenangan lainnya dari Sulaiman.
Apakah itu?
"Dia
(Sulaiman) berkata, 'Akan kami lihat, apakah engkau benar ataukah engkau
termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu
jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu
perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.'" (QS. An-Naml [27]: 27-28)
Sikap
dalam menghadapi peristiwa seperti inilah yang menjadi kebiasaan para Nabi:
memberikan ruang untuk menyampaikan udzur. Jika Hud-hud memiliki udzur, ia
tidak dihukum. Ketika Hud-hud membawa berita, Sulaiman tidak tergesa-gesa
membenarkannya sampai perkaranya menjadi jelas.
Pengendalian
Diri dalam Ibadah
Terdapat
ibadah-ibadah yang secara jelas melatih seorang muslim untuk mengendalikan
dirinya. Bahkan salat ini:
"...dan
tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan
munkar..." (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)
Begitu
pula puasa, di dalamnya terdapat pengendalian diri dari syahwat makanan dan
pernikahan. Demikian pula jika ada seseorang yang mencaci atau mencelanya,
sementara orang yang berpuasa tersebut telah mencapai kondisi fisik/mental
tertentu karena puasanya, ia menasihati dirinya sendiri dengan berseru:
"Sesungguhnya aku sedang berpuasa" (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim
no. 1151), serta mengingatkan lawannya: "Aku sedang berpuasa, aku sedang
berpuasa."
Ada
sebuah permasalahan yang berkaitan dengan pengendalian diri dalam puasa bagi
pria yang sudah menikah, apakah itu? Hukum mencium istri saat berpuasa. Para
ulama menjelaskan: Jika ia mengetahui dari dirinya bahwa apabila ia mencium ia
akan terlanjur melangkah lebih jauh, maka tidak boleh baginya. Sebab mungkin
ada orang yang berargumen: Bukankah telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Muslim
bahwa Nabi ﷺ
mencium istrinya saat berpuasa? Kita jawab: Ya, tetapi 'Aisyah berkata:
"Namun beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hajat/nafsunya
di antara kalian." (HR. Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106).
Betapa
banyak orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya saat berpuasa, lalu datang
seraya berkata: "Aku tidak menemukan budak untuk dimerdekakan, ini masalah
besar puasa dua bulan berturut-turut, carikan aku jalan keluar di dunia
fatwa!" Pertanyaan seperti ini sudah sangat umum: memerdekakan budak tidak
ada, sedangkan puasa dua bulan aku memiliki pekerjaan dan jam dinas, carikan
aku pintu keluar! Sungguh engkau telah menganiaya dirimu sendiri, di sinilah
letak pentingnya pengendalian diri.
Perhatikan
pula ibadah haji dan latihan pengendalian diri yang ada di dalamnya:
"(Musim)
haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang menetapkan niatnya
untuk melaksanakan haji pada bulan-bulan itu, tidak boleh berbuat
rafats..." (QS. Al-Baqarah [2] : 197)
Inilah
bentuk pengendalian diri: (tidak boleh berbuat rafats) tidak boleh
bersetubuh dan tidak boleh melakukan pendahuluan persetubuhan, (tidak boleh
berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan).
Di
manakah pengendalian diri dalam ibadah haji terwujud? Pada larangan-larangan
ihram. Pengendalian diri bagi orang-orang yang memiliki hobi: pengharaman
berburu bagi orang yang berihram dan pengharaman berburu di tanah haram.
Ketahuilah ini adalah bagian dari pengendalian diri: (Allah pasti akan
menguji kamu dengan sedikit binatang buruan yang mudah dicapai oleh tangan dan
tombakmu). Maksudnya, binatang buruan yang berada dalam jangkauan tangan,
sangat mudah ditangkap dengan tangan. (binatang buruan yang mudah dicapai
oleh tangan dan tombakmu), namun demikian para Sahabat mampu mengendalikan
diri mereka sehingga tidak berburu; karena Allah menguji mereka:
"Wahai
orang-orang yang beriman, Allah pasti akan menguji kamu dengan sedikit binatang
buruan yang mudah dicapai oleh tangan dan tombakmu agar Allah mengetahui siapa
yang takut kepada-Nya dalam keghaiban..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 94)
Maka
tampaklah siapa pengikut ketaatan yang sejati, dan para Sahabat pun menahan
diri. Abu Qatadah pernah berjalan bersama Nabi ﷺ, hingga ketika berada di sebagian jalan
menuju Mekkah, ia tertinggal bersama beberapa sahabat yang sedang berihram
sementara ia sendiri tidak berihram. Lalu ia melihat seekor keledai liar, maka
ia naik ke atas kudanya dan meminta para sahabatnya untuk mengambilkan
cambuknya, namun mereka menolak (HR. Bukhari no. 5490 dan Muslim no. 1196);
karena mereka sedang berihram. Orang yang berihram tidak boleh membantu
perburuan walaupun membantu orang yang tidak berihram, sedikit pun tidak boleh
membantu. Abu Qatadah berkata: "Berikan cambukku!", mereka tidak mau
memberikan. Ia meminta tombaknya, mereka tetap menolak.
Dalam
riwayat lain: "Maka aku menyiapkan pelana kudaku dan mengambil tombakku
lalu naik, tiba-tiba cambukku terjatuh. Aku berkata kepada sahabat-sahabatku
yang sedang berihram: 'Ambilkan cambuk itu untukku!' Mereka menjawab: 'Demi
Allah, kami tidak akan membantumu sedikit pun untuk memburu binatang itu.' Maka
aku memungutnya sendiri lalu menyerang keledai liar itu dan membunuhnya."
(HR. Bukhari no. 5407 dan Muslim no. 1196).
Berbeda
dengan Bani Israil, Allah mengharamkan menangkap ikan atas mereka pada hari
Sabtu:
"...ketika
mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, yaitu ketika ikan-ikan (yang berada di
sekitar) mereka datang terapung-apung pada hari Sabtu itu..." (QS.
Al-A'raf [7]: 163)
Ikan-ikan
bermunculan di permukaan air, datang melimpah pada hari Sabtu mereka; mirip
dengan firman-Nya: (yang mudah dicapai oleh tangan dan tombakmu) [QS.
Al-Ma'idah [5]: 94], yaitu berada dalam jangkauan tangan. (Demikianlah Kami
menguji mereka disebabkan mereka selalu berbuat fasik) [QS. Al-A'raf [7]:
163].
Pengendalian
Diri dalam Hukum Ḥudūd dan Qisas
Perhatikan
bagaimana syariat mengendalikan manusia melalui hukum ḥudūd (hukuman
syari) dan qisas agar mereka dapat mengendalikan diri:
"Dalam
hukum qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu..." (QS. Al-Baqarah [2]:
179)
"Laki-laki
maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya..." (QS.
Al-Ma'idah [5]: 38)
Apa
yang Allah firmankan kepada wali korban pembunuhan dalam hal pengendalian diri?
Apa yang Allah perintahkan kepada wali darah (waliy ad-dam) terkait
pengendalian diri?:
"...Janganlah
kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar.
Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti." (QS. Al-An'am
[6]: 151)
"Janganlah
kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak. Siapa yang
dibunuh secara teraniaya, sungguh Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya.
Akan tetapi, janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan.
Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan." (QS. Al-Isra'
[17]: 33)
Jangan
membunuh selain pembunuh! Pada masa Jahiliyah, mereka membunuh si pembunuh,
kerabat pembunuh, kelompok pembunuh, dan siapa saja dari suku si pembunuh.
Jangan membunuh orang selain pembunuh, jangan membunuh orang lain bersama si
pembunuh, dan jangan memotong-motong tubuh (mutsla) si pembunuh. Apabila
ada yang bertanya: Apa makna firman-Nya (maka janganlah walinya melampaui
batas dalam pembunuhan)? Kita katakan: Inilah bentuk larangan tersebut.
Para
Sahabat telah diuji dengan pengendalian diri pada fase Mekkah, pada ayat mana?
Para
Sahabat dilarang melakukan perang (jihad) di Mekkah, padahal bagi orang
Arab tidaklah mudah untuk dizalimi tanpa membalas dendam meskipun harus
mengorbankan keluarga mereka. Namun demikian, para Sahabat mampu mengendalikan
diri mereka dengan luar biasa, pada ayat mana?
"Tidakkah
engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahankanlah
tanganmu'..." (QS. An-Nisa' [4]: 77)
Barulah
kemudian: (Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi
karena sesungguhnya mereka dizalimi) [QS. Al-Hajj [22]: 39]. Berarti,
sebelum adanya izin ini mereka dilarang.
Bidang-bidang
Pengendalian Diri
Kita
harus mendidik diri kita dan anak-anak kita di atas prinsip yang agung ini,
karena demi Allah ini adalah kebaikan yang sangat besar. Jika seseorang
memperhatikan masalah pengendalian diri ini, apa saja sarana penunjangnya dan
apa saja bidang-bidangnya?
Lihatlah
misalnya dalam masalah ibadah:
((لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ
فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ))
"Hendaklah
salah seorang di antara kalian salat sewaktu kondisinya segar/bersemangat, dan
jika ia merasa lelah maka hendaklah ia duduk." (HR. Bukhari no. 1150 dan
Muslim no. 784)
((إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا،
وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي
حَقٍّ حَقَّهُ))
"Sesungguhnya
Rabb-mu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu
memiliki hak atasmu; maka berikanlah kepada setiap pemilik hak akan
haknya." (HR. Bukhari no. 1968)
Lidah
ini, betapa sulit mengendalikannya. Namun ketika Nabi bersabda:
((مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ
لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ))
"Barangsiapa
dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lidah) dan
apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), aku jamin surga baginya."
(HR. Bukhari no. 6474)
Dari
sini kita mengetahui pahala yang sangat besar dalam mengendalikan lidah.
Al-Hasan Al-Bashri—rahimahullāh—berkata: "Lidah orang yang berakal
berada di belakang hatinya; jika ia ingin berbicara, ia berpikir terlebih
dahulu. Jika berdampak baik baginya ia bicara, dan jika berdampak buruk ia
diam. Sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya."
Masalah
pengendalian diri dalam mengambil sikap pertengahan (at-tawassuth) pada
berbagai perkara, misalnya dalam berinfak:
"Janganlah
engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau
mengulurkannya terlalu terentang..." (QS. Al-Isra' [17]: 29)
"Orang-orang
yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula)
kikir. (Sikap mereka) adalah di tengah-tengah antara yang demikian." (QS.
Al-Furqan [25]: 67)
Pengendalian
diri dalam makan dan minum:
"...makan
dan minumlah, tetapi jangan berlebihan..." (QS. Al-A'raf [7]: 31)
Pengendalian
diri dalam mencintai dan membenci:
"...Jangan
sampai kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil.
Berlaku adillah! Itu lebih dekat kepada takwa..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 8)
Dalam
hadis disebutkan:
((أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا
عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا
عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا))
"Cintailah
kekasihmu secukupnya saja, bisa jadi ia akan menjadi orang yang engkau benci
suatu hari nanti. Dan bencilah orang yang engkau benci secukupnya saja, bisa
jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu hari nanti." (HR. At-Tirmidzi no.
1997 dan Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 1321; dishahihkan oleh
Al-Albani dalam Shahih Al-Adab al-Mufrad no. 997)
"Janganlah
cintamu menjadi beban yang berlebihan, dan janganlah kebencianmu membawa
kebinasaan," sebagaimana dikatakan oleh 'Umar radhiyallāhu 'anhu. (Al-Adab
al-Mufrad, hal. 448)
Pengendalian
diri ketika mendengar berita:
"Apabila
datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka
mengembuskannya..." (QS. An-Nisa' [4]: 83)
Sebagian
orang tidak mampu mengendalikan dirinya; begitu menerima berita apa saja,
langsung membuka aplikasi WhatsApp, membuka seluruh grup; salin, tempel, kirim.
Tiga gerakan langsung selesai, tidak ada pengendalian diri.
Wahai
saudaraku, bersikaplah tenang (tarawwā), pastikan kebenaran berita
tersebut, periksa sumber beritanya, apakah berita itu berulang, apakah
sumbernya beragam, siapa yang mengatakannya? Tidak ada kontrol sama sekali, di
manakah pengendalian diri? Di manakah firman Allah: (maka periksalah dengan
teliti) [QS. Al-Hujurat [49]: 6]? Tidakkah Allah berfirman: (tentulah
orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya dapat mengetahuinya dari mereka)
[QS. An-Nisa' [4]: 83]? Yaitu mereka yang mengetahui sudut pandang masalah
dengan pemikiran yang lurus, pandangan bijak, dan ilmu yang membimbing.
Allah
membenci bagi kita desas-desus (qīla wa qāla) dan menyebarkan berita
tanpa verifikasi:
((كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ
يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ))
"Cukuplah
seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia
dengar." (HR. Muslim no. 4)
Perhatikan
pandangan syariat dalam pengendalian diri saat berbaur dengan masyarakat:
((الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ
النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي لاَ
يُخَالِطُهُمْ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ))
"Seorang
mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih
besar pahalanya daripada orang yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak
bersabar atas gangguan mereka." (HR. Ibnu Majah no. 4032 dan Ahmad no.
5022; para periset Al-Musnad menyatakan: "Sanadnya shahih").
Kisah-kisah
Teladan dalam Pengendalian Diri
Nabi
ﷺ adalah seorang
pemimpin yang mengajari kita pengendalian diri. Di antara sifat beliau dalam
Taurat disebutkan: "Beliau bukan orang yang kasar, tidak keras, tidak suka
berteriak-teriak di pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan
memaafkan dan mengampuni." (HR. Bukhari no. 2125).
Sangat
masyhur kisah beliau bersama seorang Arab Badui yang menarik kain selendang
Najran milik beliau.
Masyhur
pula kisah beliau bersama pimpinan utama Khawarij, Dzul Khuwaishirah, yang
berkata: "Wahai Muhammad, berbuat adillah!" (HR. Bukhari no. 3610).
Nabi
ﷺ tidak tergesa-gesa
membunuhnya. Beliau juga tidak membalas dendam kepada orang yang berniat
membunuhnya ketika menghunuskan pedang ke arah beliau seraya berkata:
"Siapa yang dapat membelamu dariku?" Dan ketika pedangnya terjatuh,
Nabi ﷺ bersabda: ((وَالآنَ مَنْ يَمْنَعُكَ؟))
"Dan sekarang, siapa yang dapat membelamu dariku?" (HR. Bukhari no.
4135 dan Muslim no. 843). Orang itu menjawab: "Jadilah engkau sebaik-baik
pengambil tindakan."
Ketika
mereka mengusir beliau dari Mekkah lalu beliau pergi ke Tha'if, dan penduduk
Tha'if mengusirnya, Malaikat Penjaga Gunung menemui beliau dalam kondisi
kesedihan mendalam tersebut. Apa yang sekiranya dapat dikatakan beliau kepada
Malaikat Penjaga Gunung saat malaikat itu meminta izin untuk menimpakan dua
gunung batu (Al-Akhsyabain) kepada mereka?
Itulah
bentuk pengendalian diri.
Nabi
ﷺ mengajari kita sikap
pengendalian diri yang luar biasa demi menjaga kedudukan saudaranya, Nabi
Sulaiman 'Alaihissalam. Kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari, sebuah kisah
yang menakjubkan. Beliau bersabda:
((إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الْجِنِّ
تَفَلَّتَ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلاَتِي، فَأَمْكَنَنِي
اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ
سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ دَعْوَةَ
أَخِي سُلَيْمَانَ: {رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي}،
فَرَدَدْتُهُ خَاسِئًا))
"Sesungguhnya
jin 'Ifrit tiba-tiba menampakkan diri kepadaku semalam untuk memutus salatku.
Maka Allah memberiku kuasa atasnya hingga aku berhasil menangkapnya. Aku
berniat mengikatnya pada salah satu tiang masjid agar kalian semua dapat
melihatnya, lalu aku teringat doa saudaraku Sulaiman: (Ya Rabb-ku,
anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun
setelahku), maka aku mengembalikannya dalam keadaan terhina." (HR.
Bukhari no. 461 dan Muslim no. 541)
Maka
Nabi ﷺ meninggalkan tindakan
pembalasan untuk mengikat setan tersebut di tiang masjid demi menjaga kedudukan
saudaranya, Sulaiman.
Doa
yang dipanjatkan para Sahabat ketika mereka berniat menghakimi seorang Arab
Badui yang kencing di dalam masjid; Nabi ﷺ memerintahkan mereka untuk mengendalikan
diri dan memperhatikan dampak kerusakan yang lebih besar agar tidak melakukan
hal yang memicu kerusakan tersebut.
Demikian
pula dapat kita temukan pada diri beliau ﷺ dalam peristiwa Ḥadīts al-Ifk
(berita bohong tentang 'Aisyah). Ketika terjadi peristiwa tersebut, beliau
tidak tergesa-gesa mengambil tindakan terhadap 'Aisyah. Beliau pergi
bermusyawarah dengan 'Ali, Usamah bin Zaid, dan budak wanita bernama Burairah
yang berada di rumah 'Aisyah. Beliau tidak langsung menceraikan istrinya, tidak
tergesa-gesa. Beliau mendatangi dan mengajak bicara 'Aisyah seraya bersabda:
((يَا عَائِشَةُ، فَإِنَّهُ قَدْ
بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ
اللَّهُ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي
إِلَيْهِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ))
"Wahai
'Aisyah, telah sampai kepadaku berita demikian dan demikian tentangmu. Jika
engkau tidak bersalah, maka Allah akan membebaskanmu. Namun jika engkau telah
terlanjur melakukan dosa, mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah
kepada-Nya; karena seorang hamba jika mengakui dosanya lalu bertobat, niscaya
Allah menerima tobatsnya." (HR. Bukhari no. 4141 dan Muslim no. 2770)
Beliau
lalu berkhotbah, mengucapkan syahadat, memuji Allah, dan bersabda:
((أَمَّا بَعْدُ، أَشِيرُوا عَلَيَّ
فِي أُنَاسٍ أَبَنُوا أَهْلِي، وَأَيْمُ اللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي مِنْ
سُوءٍ))
"Amma
ba'du, berilah nasihat/saran kepadaku mengenai orang-orang yang telah menuduh
keluargaku. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui adanya keburukan pada
keluargaku sedikit pun." (HR. Bukhari no. 4757 dan Muslim no. 2770)
Ketika
seorang pemuda datang meminta izin kepada Nabi ﷺ untuk berzina, seorang pemberi fatwa (mufti)
bisa saja naik pitam. Sebagian penanya memang membuat emosi melonjak, tetapi
ketika pemuda itu berkata: "Izinkan aku berzina," Nabi ﷺ tidak meluapkan emosi
kepadanya, padahal pertanyaan itu sangat memancing amarah. Beliau justru
bertanya kepadai: ((ادْنُ))
"Mendekatlah." Pemuda itu mendekat lalu duduk. Nabi bertanya: ((أَتُحِبُّهُ لأُمِّكَ؟ أَتُحِبُّهُ
لأُخْتِكَ؟ أَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟)) "Apakah engkau menyukainya untuk
ibumu? Apakah engkau menyukainya untuk saudara perempuanmu? Apakah engkau
menyukainya untuk bibimu?" (HR. Ahmad no. 22211; para periset Al-Musnad
menyatakan: "Sanadnya shahih"). Hasil akhirnya, pemuda itu menjadi
iffah (menjaga diri) dan tidak pernah lagi menoleh kepada syahwat yang
diharamkan setelah peristiwa itu.
Pengendalian
diri dalam kisah Hatib bin Abi Balta'ah sangat menakjubkan. Ia mengirimkan
surat yang dapat mengagalkan seluruh pertempuran, sebuah surat yang jika sampai
ke tangan orang-orang kafir dapat menggagalkan Fatḥu Makkah (Penaklukan
Kota Mekkah). Nabi bersabda: ((مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟)) "Apa yang
mendorongmu melakukan ini?" (HR. Bukhari no. 3983).
Pertanyaan:
"Apa yang mendorongmu melakukan ini?", berapa kali beliau
mengucapkannya?
Semua
itu adalah bentuk kontrol, pengendalian diri, tidak terburu-buru memberikan
hukuman. Bahkan kepada para wanita, ketika salah satu istri beliau memecahkan
piring milik istri yang lain di hadapan beliau, apa yang beliau lakukan? ((غَارَتْ أُمُّكُمْ))
"Ibu kalian sedang cemburu" (HR. Bukhari no. 5225). Beliau
mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengirimkan piring utuh milik istri
dari rumah tempat piring itu dipecahkan untuk diberikan kepada pemilik piring
yang pecah, seraya memaklumi rasa cemburu istri yang memecahkannya.
Bahkan
ketika orang Yahudi membubuhkan racun pada makanan beliau, apakah beliau
langsung memerintahkan membunuh mereka dengan pedang? Beliau bertanya: ((مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ؟))
"Apa yang mendorong kalian melakukan hal ini?" Mereka menjawab:
"Kami ingin tahu, jika engkau seorang pendusta maka kami bisa beristirahat
darimu, dan jika engkau seorang Nabi maka racun itu tidak akan
membahayakanmu." (HR. Bukhari no. 5777).
Tentu
saja ini adalah perkataan yang sangat buruk: "Jika engkau pendusta kami
bisa beristirahat dari gangguanmu."
Pengendalian
Diri Para Sahabat
Para
Sahabat berjalan di atas manhaj ini. Dahulu para ulama Salaf ketika dikatakan
kepada salah seorang dari mereka: "Aku sungguh akan mencelamu dengan
celaan yang ikut masuk bersama ke dalam kuburmu!" Ia menjawab:
"Pencelaan itu masuk ke dalam kuburmu, bukan kuburku."
Abu
Bakar radhiyallāhu 'anhu memiliki keteladanan bersama 'Umar dalam hal
pengendalian diri pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah. Beliau berkata:
"Wahai laki-laki, sesungguhnya beliau adalah Rasulullah ﷺ, beliau tidak akan
mendurhakai Rabb-nya dan Allah pasti menolongnya, maka pegang teguhlah
petunjuknya! Demi Allah, sesungguhnya beliau berada di atas kebenaran."
(HR. Bukhari no. 2731). "Pegang teguhlah petunjuknya", ini adalah
puncak pengendalian diri.
'Abdullah
bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā ketika mendengarkan seorang khatib
berkhotbah, lalu khalifah berkata: "Barangsiapa yang ingin berbicara dalam
perkara ini (kepemimpinan/kekhalifahan), hendaklah ia menampakkan dirinya
kepada kami! Kami lebih berhak atas perkara ini daripada dia dan ayahnya."
Lalu dikatakan kepada Ibnu 'Umar: "Mengapa engkau tidak menjawabnya?"
Maksudnya, ada orang yang lebih utama darinya atau lebih berhak darinya,
mengapa engkau tidak menjawabnya? 'Abdullah bin 'Umar berkata: "Maka aku
melepaskan sarung paha (ḥubwah)-ku dan berniat untuk mengatakan: 'Orang
yang lebih berhak atas perkara ini darimu adalah orang yang memerangi engkau
dan ayahmu demi Islam.' Namun aku takut mengucapkan kata-kata yang dapat
memecah belah persatuan kaum muslimin, menumpahkan darah, dan perkataanku
dipahami secara keliru oleh orang lain." (HR. Bukhari no. 4108).
Maksudnya, salah dipahami dan tidak dimaknai sesuai dengan tujuan awal yang aku
inginkan.
Perhatikanlah—wahai
saudara-saudara sekalian—seorang laki-laki bijak yang mempertimbangkan dampak
akhir dari setiap perkara sebelum ia berbicara. Di sana terdapat
ungkapan-ungkapan yang memprovokasi, tetapi apa kata Ibnu 'Umar? "Aku
melepaskan sarung pahaku dan berniat untuk berbicara, tetapi aku takut
mengucapkan kata-kata yang memecah belah persatuan kaum muslimin, menumpahkan
darah, dan dipahami secara keliru oleh orang lain. Maka aku pun teringat apa
yang disediakan Allah di dalam surga." (HR. Bukhari no. 4108).
Ini
adalah bukti yang sangat agung dalam kisah ini mengenai topik kita. Apakah yang
menahan Ibnu 'Umar dari berbicara?
Dua
hal yang menahannya: Perenungan terhadap dampak kerusakan (mafāsid), dan
yang kedua: pahala menahan amarah berupa kenikmatan yang disiapkan Allah di
dalam surga.
Sarana-sarana
yang Membantu Pengendalian Diri
Ketika
Nabi ﷺ mengutus Hudzaifah
bin Al-Yaman dalam Perang Ahzab, beliau bersabda kepadanya:
((اذْهَبْ فَأْتِنِي بِخَبَرِ
الْقَوْمِ وَلاَ تَذْعَرْهُمْ عَلَيَّ))
"Pergilah
dan bawakan berita tentang kaum itu kepadaku, dan jangan buat mereka
terkejut/terprovokasi menatangkan bahaya kepadaku!" (HR. Bukhari no. 1788)
Jangan
membuat mereka bergerak, jangan memprovokasi mereka, jangan memicu emosi
mereka! Masuklah, ambil berita, lalu kembali saja. Jangan melakukan tindakan
yang dapat memprovokasi musuh. Mereka saat itu sudah hampir mundur, jangan
sampai keadaan berbalik karena tindakanmu. Jangan membuat mereka tergerak,
jangan memprovokasi mereka! Hudzaifah pun pergi dan menyusup ke dalam pasukan
Ahzab hingga mendekati sang panglima musyrik, yaitu Abu Sufyan. "Aku
melihat Abu Sufyan sedang memanaskan punggungnya di dekat api." Saat itu
malam musim dingin yang sangat dingin dan Abu Sufyan sedang memanaskan
punggungnya di dekat api. "Maka aku memasang anak panah pada
busurku," kata Hudzaifah. "Aku ingin memanah dengannya, dan
seandainya aku memanahnya tentu aku akan mengenainya." Maksudnya, aku bisa
membunuh pimpinan musyrikin. "Namun aku teringat sabda Rasulullah ﷺ: (dan jangan buat
mereka terkejut/terprovokasi mendatangiku)." (HR. Bukhari no. 1788).
Maka ia pun mengendalikan dirinya.
Mengingat
Teks Syariat (An-Nashsh asy-Syar'ī)
Di
antara hal terbesar yang membantu pengendalian diri adalah: mengingat teks
syariat pada detik-detik genting tersebut. Misalnya mengingat firman Allah:
"...dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) manusia. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran [3]: 134)
Mengingat
teks syariat di saat-saat kritis itulah yang membuat seseorang menahan diri.
Seorang laki-laki datang dan mencaci-maki Ibnu 'Abbas. Ibnu 'Abbas menunggu
hingga orang itu selesai berbicara, lalu berkata kepada pelayannya: "Wahai
'Ikrimah, apakah orang ini memiliki hajat yang dapat kita penuhi?" Orang
itu langsung menundukkan kepalanya karena malu. Selesai sudah, tujuannya telah
tercapai; orang tersebut mendadak sadar, merasa malu, dan mengambil pelajaran.
Seorang
laki-laki berkata kepada 'Amr bin Al-'Ash: "Demi Allah, aku sungguh akan
meluangkan waktu khusus untuk mencelamu!" 'Amr menjawab: "Kalau
begitu engkau jatuh dalam kesibukan." Maksudnya, itu bukan luang waktu
melainkan kesibukan yang sia-sia. Orang itu berkata: "Seakan-akan engkau
mengancamku? Demi Allah, jika engkau mengucapkan satu kata celaan kepadaku,
sungguh aku akan membalasmu dengan sepuluh kata celaan!" 'Amr menjawab:
"Sedangkan engkau, demi Allah, seandainya engkau mengucapkan sepuluh kata
celaan kepadaku, aku tidak akan membalasmu walau dengan satu kata pun."
Seorang
laki-laki mencaci-maki 'Ali bin Al-Husain (Zainal 'Abidin). Maka 'Ali
melepaskan baju jubah (khamīshah) yang dipakainya lalu melemparkannya
kepada orang tersebut, serta memerintahkan agar orang itu diberi hadiah uang
seribu dirham.
Ia
mengumpulkan lima keutamaan sekaligus: kesantunan (hilm),
mengesampingkan gangguan, menyelamatkan orang tersebut dari hal yang
menjauhkannya dari Allah, membawanya pada penyesalan dan tobat, serta mengubah
sikap celaan orang itu menjadi pujian. Ia membeli semua itu dengan sedikit
harta dunia.
Zainab
binti Jahsy radhiyallāhu 'anhā ketika terjadi peristiwa Ḥadīts
al-Ifk terhadap 'Aisyah, ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku menjaga
pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui darinya
melainkan kebaikan." Padahal peristiwa itu adalah kesempatan untuk
membalas dendam kepada madunya, menjatuhkan madunya, menjebak madunya,
berbicara untuk menghancurkan reputasinya, dan melakukan apa saja. Namun
demikian, terlepas dari apa yang biasa terjadi di antara sesama madu, Zainab
adalah seorang wanita yang wara' radhiyallāhu 'anhā. Ia berkata:
"Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah,
aku tidak mengetahui darinya melainkan kebaikan." 'Aisyah berkata:
"Maka Allah melindunginya dengan sifat wara'." Padahal Zainab adalah
pesaing nomor dua tepat setelah 'Aisyah di antara istri-istri Nabi yang masih
hidup saat itu. Sebab 'Aisyah berkata: "Dialah yang membandingkan
kedudukannya denganku," maksudnya menyamai kedudukanku di sisi Nabi ﷺ. 'Aisyah berkata:
"Aku tidak pernah melihat seorang wanita pun yang lebih baik dalam
beragama daripada Zainab, lebih bertakwa kepada Allah, lebih jujur
perkataannya, lebih menyambung silaturahmi, lebih besar sedekahnya, dan lebih
keras memeras keringatnya dalam beramal untuk bersedekah dan mendekatkan diri
kepada Allah Ta'ala." (HR. Bukhari no. 2442).
Seorang
laki-laki pernah menyampaikan kata-kata yang sangat keras kepada Mu'awiyah.
Lalu dikatakan kepadanya: "Mengapa engkau tidak menghukumnya dan
menjadikannya pelajaran bagi yang lain?" Beliau menjawab:
"Sesungguhnya aku merasa malu jika kesantunanku (hilm) tidak mampu
menampung dosa salah seorang rakyatku."
Al-Ahnaf
bin Qais adalah sosok yang sangat masyhur dengan kesantunannya. Namun reputasi
itu tidak muncul dari ruang kosong. Lelaki ini memiliki rekam jejak
peristiwa-peristiwa besar. Ia tidak menjadi pemimpin dalam kesantunan melainkan
karena peristiwa-peristiwa agung yang dilaluinya. Di antaranya: Suatu hari ia
sedang duduk di halaman rumahnya sambil melipat kakinya dengan kain (mConstraint/muḥtabiyan).
Tiba-tiba datang sekelompok orang membawa jenazah anaknya yang terbunuh dan
seorang laki-laki yang terikat. Mereka berkata: "Ini anakmu yang terbunuh,
dan pemudanya yang terikat ini adalah anak saudaramu (keponakanmu) yang
membunuhnya, kami telah mengikatnya." Peristiwa seperti ini, apa yang
sekiranya akan dilakukan oleh manusia biasa? Mereka menceritakan: Demi Allah,
ia tidak mengubah posisi duduknya, tidak menggeser panggulnya. Kemudian ia
menoleh kepada anaknya yang lain di majelis itu seraya berkata:
"Bangunlah, lepaskan ikatan anak saudaramu itu! Lepaskan ikatannya, dan
uruslah jenazah saudaramu: mandikan, kafani, salatkan, dan kuburkan! Serta
serahkan kepada ibunya (ibu korban) seratus ekor unta, karena dia adalah wanita
asing di sini." Maksudnya, aku menikahinya dari luar sukunya, ia wanita
asing yang terpisah dari keluarganya, "Maka bawakan untuk ibunya seratus
ekor unta sebagai penawar duka karena ia wanita asing." Kemudian ia
menoleh kepada si pembunuh (keponakannya) dan berkata: "Engkau telah mengurangi
jumlah keluarga kita, memutuskan tali silaturahmimur, membuat murka Rabb-mu,
dan menuruti setanmu." Sebuah nasihat yang sangat mendalam. Oleh karena
itulah muncul peribahasa: "Lebih penyantun daripada Ahnaf."
Seorang
laki-laki mendatangi Wahab bin Munabbih—rahimahullāh—dan berkata:
"Aku baru saja melewati si Fulan dan ia sedang mencacimu." Wahab
menjawab: "Apakah setan tidak menemukan utusan lain selain dirimu untuk
dikirim kepadaku?" Ketika sang pencaci itu datang, Wahab menyambutnya
dengan salam, mengucap selamat datang, mengulurkan tangan menjabat tangannya,
lalu mendudukkannya di sampingnya.
'Abdullah
bin Muhammad Al-Warraq menceritakan: Kami berada di majelis Ahmad bin Hanbal,
lalu beliau bertanya: "Dari mana kalian datang?" Kami menjawab:
"Dari majelis Abu Kuraib." Beliau bersabda: "Catatlah ilmu
darinya, karena dia adalah seorang syekh yang shalih." Kami katakan:
"Sesungguhnya dia sering mencelamu." Imam Ahmad menjawab: "Lalu
apa daya ku? Seorang syekh yang shalih sedang diuji melalui diriku."
Ketika
'Umar bin 'Abdul 'Aziz masuk ke dalam masjid pada malam hari yang gelap gulita,
kaki beliau tersandung seorang laki-laki. Laki-laki itu membentak: "Apakah
engkau gila?" 'Umar menjawab ringkas: "Bukan." Para pengawal
berniat menghajar orang tersebut, tetapi 'Umar mencegah mereka seraya berkata:
"Tahan! Dia hanya bertanya kepadaku: 'Apakah engkau gila?' Maka aku jawab:
'Bukan'."
Shalahuddin
Al-Ayyubi berada dalam suatu majelis dan meminta air minum kepada para
pelayannya, namun mereka tidak membawakannya. Beliau mengulang permintaan itu
hingga lima kali dan mereka tetap belum membawakannya, hingga beliau berkata:
"Wahai sahabat-sahabatku, demi Allah dahaga ini sungguh membunuhku,"
barulah mereka membawakan air untuknya.
Bandingkanlah
antara sikap beliau ini dengan apa yang dilakukan seseorang terhadap pelayannya
pada zaman sekarang!
Bagaimanakah
pengendalian diri Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap orang-orang yang
menyelisihi beliau? Mereka mencerca, mencaci, mengadili, memenjarakan, dan
menyakiti beliau. Mereka menuduh beliau dengan tuduhan kafir dan sesat. Namun
demikian, ketika beliau mendengar kabar kematian salah seorang musuhnya, beliau
pergi bertakziyah kepada keluarga almarhum seraya berkata: "Aku akan
menjadi penggantinya bagi kalian."
Di
antara tokoh-tokoh besar yang masyhur dengan sifat hilm dari kalangan
ulama kita zaman ini—rahimahumullāh—adalah guru kami, Al-Imam 'Abdul
'Aziz bin 'Abdullah bin Baz—rahimahullāh. Beliau memiliki banyak
pengalaman yang menampilkan sifat kesantunannya. Di antaranya: Pernah seseorang
datang dan berkata kepada beliau: "Si Fulan telah mencelamu." Beliau
menjawab: "Semoga Allah memberinya petunjuk." Orang itu berkata lagi:
"Dia telah mengkafirkanmu!" Beliau menjawab: "Semoga Allah
memberinya petunjuk." Orang itu menimpali: "Dia melaknatmu!"
Beliau tetap menjawab: "Semoga Allah memberinya petunjuk."
Sifat
kedengkian tidak akan bersemayam pada jiwa yang memiliki kedudukan tinggi
Dan
keluhuran tidak akan diraih oleh orang yang tabiat dasarnya pemarah
Di
antara tempat pengendalian diri yang mana Syekh Bin Baz menjadi teladan agung
di dalamnya adalah: pengendalian diri di hadapan desakan orang-orang yang
mengajukan berbagai permohonan. Syekh adalah teladan luar biasa dalam hal ini.
Sebab orang-orang yang mendatangi beliau adakala meminta fatwa, meminta bantuan
rekomendasi (syafa'at), atau meminta bantuan harta/keuangan—begitu
banyak permohonan dari berbagai jenis. Sampai-sampai seorang laki-laki
mendatangi beliau dan berkata: "Tuliskan surat rekomendasi untukku
sekarang! Tuliskan surat rekomendasi nikah untukku, aku ingin menikah."
Syekh bertanya: "Engkau dari negeri mana?" Orang itu menjawab dari
kota anu. Syekh bersabda: "Pergilah kepada Fulan, hakim di kota itu atau
syekh di sana agar ia menuliskan surat keterangan tentang dirimu." Orang
itu mendesak: "Aku orang yang memiliki hajat, umurku sudah mencapai lima
puluh tahun, kapan lagi aku menikah padahal umurku sudah lima puluh
tahun?!" Syekh tetap dengan lembut menenangkan: "Engkau akan menikah
insya Allah, bahkan sampai umur sembilan puluh tahun." Walaupun demikian,
Syekh tidak membiarkannya pergi sampai orang itu makan siang bersama beliau.
Orang itu berkata: "Tetapi aku punya janji pertemuan." Syekh
bersabda: "Ini ada telepon, minta uzurlah kepada teman janjimu itu."
Tentu
saja hal seperti ini merupakan anugerah yang Allah berikan kepada siapa saja
dari hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun hal ini juga membutuhkan latihan (mirān)
dan perjuangan (mujāhadah) yang besar. Maksudnya, dapat diraih dengan
usaha melatih diri: "Sesungguhnya ilmu itu diraih dengan belajar, dan
sifat hilm (santun) diraih dengan melatih kesantunan (at-taḥallum)."
Sifat ini diraih dengan melatih diri, yaitu memaksa jiwa melakukan kebaikan
hingga menjadi karakter yang melekat.
Bermujahadah
Menundukkan Jiwa untuk Pengendalian Diri
Di
antara medan terbesar dalam pengendalian diri adalah: masalah syahwat. Zaman
sekarang ini sangat membutuhkan pengendalian diri di hadapan syahwat, mengingat
banyaknya pemicu naluri pada zaman ini: pemandangan, tayangan, klip video,
foto, film, penampakan aurat (tabarruj) dan kebebasan wanita—sebuah
fenomena yang sangat dahsyat di alam nyata. Sementara pada diri manusia
terdapat tabiat bawaan, naluri, syahwat, dan kecenderungan:
"...Allah
hendak menerima tobatsmu, melainkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya
menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa' [4]: 27)
Maka
pengendalian diri di sini membuat seseorang teringat akan kisah Nabi Yusuf
'Alaihissalam. Beliau adalah seorang pemuda, sedangkan gejolak zina pada diri
pemuda jauh lebih kuat dibandingkan anak kecil atau orang tua renta. Beliau
seorang lajang, dan pemicu syahwat pada orang lajang jauh lebih besar daripada
orang beristri yang memiliki penyalur halal. Beliau berada di negeri asing,
sedangkan orang asing tidak memiliki rasa malu sebagaimana rasa malu penduduk
asli, serta tidak takut akan kehancuran reputasi seperti penduduk setempat.
Wanita yang mengundangnya adalah wanita yang cantik, padahal dorongan
terjerumus pada wanita cantik jauh lebih besar daripada wanita berparas jelek
atau sedang. Wanita itu memiliki kekuasaan yang ditakuti, ia adalah majikannya
yang memiliki hak memerintah dan melarang, dialah yang mengundangnya seraya
berkata: "Kemarilah!" Kebiasaannya, laki-laki yang mengejar dan
wanita yang dikejar. Namun jika wanita yang mengejar dan laki-laki yang
dikejar, runtuhlah benteng-benteng psikologis, pintu-pintu telah dikunci rapat,
dan pengawas telah tiada. Suami wanita itu terbukti bukan tipe lelaki
pencemburu, sebab jika ia pencemburu tentu ia akan langsung memisahkan
keduanya. Namun yang diucapkannya hanyalah:
"(Wahai)
Yusuf, abaikanlah ini dan (wahai istriku) mohonlah ampun atas dosamu karena
sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah." (QS. Yusuf [12]:
29)
Suaminya
membiarkan mereka berdua tetap berada di dalam rumah, hingga wanita itu
berkata: (Keluarlah memperlihatkan diri kepada mereka) [QS. Yusuf [12]:
31].
Yusuf
diuji dengan tipu daya wanita-wanita kota, persekutuan tipu daya wanita atas
dirinya, namun beliau tidak memenuhinya dan tetap mengendalikan dirinya.
Kemudian
beliau diancam dengan penjara:
"...Jika
dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan
dipenjarakan dan akan menjadi orang yang hina." (QS. Yusuf [12]: 32)
Namun
beliau tetap tidak memenuhinya.
Berapa
banyak sebab yang berkumpul pada diri Yusuf 'Alaihissalam untuk melakukan
perbuatan keji tersebut? Berapa banyak bujukan? Berapa banyak tekanan? Berapa
besar kekuatan tekanan tersebut? Berapa banyak faktor iming-iming dan berapa
besar kekuatan ancaman yang didapatkannya untuk berbuat keji? Maksudnya, ada
harapan (raghab) dan ada ketakutan (rahab). Bukan sekadar hal-hal
yang bersifat iming-iming, melainkan juga ancaman hukuman. Meskipun demikian
beliau menolak, beliau berlindung kepada Allah seraya berkata: (Aku
berlindung kepada Allah) [QS. Yusuf [12]: 23]. Beliau memohon perlindungan
kepada Allah: Aku memohon perlindungan dan membentengi diri kepada-Nya dari
wanita-wanita ini dan dari perbuatan haram. Beliau berdoa kepada Rabb-nya:
"...Jika
Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku cenderung kepada
mereka dan aku termasuk orang-orang yang bodoh. Maka, Rabb-nya memperkenankan
doanya dan memalingkan tipu daya mereka darinya..." (QS. Yusuf [12]:
33-34)
Namun
beliau telah bermujahadah menundukkan jiwanya.
Oleh
karena itu, Allah akan menolong orang-orang yang bermujahadah. Allah menolong
orang-orang yang berjuang sungguh-sungguh. Adapun orang yang tidak memiliki
tekad, tidak memiliki cita-cita, tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki
ketahanan, dan tidak memiliki pengendalian diri di hadapan keharaman, lalu ia
berkata: "Perkara haram itu berada di hadapanku?" Kita katakan:
Ingatlah Yusuf 'Alaihissalam! Wanita itu berlari di belakangnya, mengejarnya
dari belakang hingga mengoyakkan baju gamisnya dari belakang.
Maka
ini adalah teladan yang sangat agung dalam hal pengendalian diri di hadapan hal
yang haram, dan ini termasuk bidang yang paling utama.
Mempertimbangkan
Dampak Akhir (An-Nazhar fī al-'Awāqib)
Di
antara hal yang membantu pengendalian diri adalah: mempertimbangkan dampak
akhir (al-'awāqib). Sebab barangsiapa merenungkan dampak-dampak indah
dari pengendalian diri dan dampak buruk dari ketiadaan pengendalian diri, hal
itu cukuplah menjadi pendorong baginya untuk bersabar dan mengendalikan diri.
Bahkan jika seseorang merenungkan dampak-dampak duniawi: secara medis penurunan
tekanan darah dan terhindar dari berbagai penyakit yang timbul jika seseorang
meluapkan emosinya dan tidak mengendalikan diri; atau terhindar dari kehancuran
reputasi jika terjerumus ke dalam keharaman akibat tidak mampu mengendalikan
diri. Apa dampak yang ditimbulkannya? Bahkan di dunia berupa kehancuran
reputasi, belum lagi di akhirat. Dan akhirat adalah fondasi utama dalam
bertahan menghadapi fitnah-fitnah ini, serta memohon perlindungan kepada Allah
dengan berdoa:
((اهْدِنِي لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ
يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ
عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ))
"Berilah
aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat memberi
petunjuk kepada akhlak yang baik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku
akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dariku akhlak yang buruk
melainkan Engkau." (HR. Muslim no. 771)
Pengendalian
Diri Bagi Para Pemegang Jabatan
Di
antara keadaan di mana seseorang sangat membutuhkan pengendalian diri adalah:
ketika ia memiliki jabatan dan kekuasaan. Sebab jika ia tidak mengendalikan
dirinya, ia akan bertindak sewenang-wenang: suami terhadap istri, ayah terhadap
anak-anaknya, pemilik rumah terhadap sopir atau pelayannya, manajer terhadap
karyawan, serta pengusaha terhadap para pekerja dan pegawainya. Perbedaan
tingkat dan tingginya kedudukan di dunia ini dapat memicu keinginan untuk
membalas dendam dan bertindak sewenang-wenang karena adanya kekuatan duniawi
yang mendukung hal tersebut. Di sinilah letak pentingnya pengendalian diri
untuk tidak bertindak sewenang-wenang.
Ketika
'Umar radhiyallāhu 'anhu menjabat sebagai Khalifah, beliau memanjatkan doa-doa,
sebagaimana terdapat dalam Mushannaf Ibni Abī Syaibah: "Ya Allah,
sesungguhnya aku ini lemah maka kuatkanlah aku; sesungguhnya aku ini keras maka
lembutkanlah aku; dan sesungguhnya aku ini kikir maka jadikanlah aku
dermawan." (Mushannaf Ibn Abī Syaibah, 6/65). Padahal beliau
termasuk orang yang paling dermawan, namun perhatikanlah perkataan beliau:
"Dan sesungguhnya aku ini keras maka lembutkanlah aku"; karena ketika
beliau memimpin rakyat, beliau membutuhkan tambahan kelembutan saat menghadapi
mereka.
Oleh
karena itu, terdapat kasih sayang yang menakjubkan pada diri 'Umar, sebagaimana
dalam kisahnya bersama seorang wanita dan anak-anaknya yang kelaparan di dalam
kemah pada malam hari. Bagaimanakah beliau membawakan makanan untuk mereka,
kembali ke Baitul Mal, dan memikul sendiri karung gandum dari Baitul
Mal untuk mereka.
Demikian
pula ketika beliau melakukan ronda malam ('asas) di luar kota Madinah,
beliau melihat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki dan
istrinya. Beliau bertanya kepadanya, lalu laki-laki itu menjawab: "Istriku
sedang merintih hendak melahirkan, sekarang ia akan melahirkan dan tidak ada
orang yang membantunya melahirkan, sedangkan aku tidak mampu membawanya masuk
ke kota Madinah." Maka 'Umar pergi mendatangi istrinya seraya berkata:
"Apakah engkau mau mengambil pahala? Ada seorang wanita yang hendak
melahirkan, bangunlah!" Istri beliau berkata: "Maka aku mengambil
kain, air hangat, dan peralatan yang diperlukan." Istri 'Umar pun pergi
dan membantunya melahirkan, sementara 'Umar berada di luar bersama laki-laki
tersebut. Laki-laki itu tidak mengetahui bahwa orang di sampingnya adalah sang
Khalifah, ia berterima kasih kepadanya seolah-olah 'Umar adalah salah seorang
pejalan kaki yang melintas. Ia tidak menyadari bahwa orang ini adalah Khalifah
kaum muslimin yang datang membawakan istrinya untuk membantu melahirkan istri
laki-laki tersebut.
Maha
Suci Allah!
Kita
memohon kepada Allah Ta'ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang
bersabar, mengaruniakan kita sifat hilm (santun), menghiasi kita dengan
sifat 'iffah (menjaga diri), mengaruniakan kita ketakwaan, dan
menjauhkan kita dari segala kesulitan.
Sumber:
https://almunajjid.com/lectures/lessons/476
Comments
Post a Comment