Pengendalian Diri

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya.

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Wahai saudara-saudaraku sekalian: Assalāmu 'alaikum warahmatullāhi wabarakātuh.

Amma ba'du:

Pentingnya Pengendalian Diri (Dhabth an-Nafs)

Sesungguhnya Allah menciptakan jiwa dan menunjukinya dua jalan (kebaikan dan keburukan). Dia menanamkan ke dalamnya berbagai hawa nafsu dan kecenderungan sebagai ujian bagi seorang hamba. Oleh karena itu, dalam diri manusia senantiasa bertarung dua dorongan: dorongan yang mengundangnya untuk taat kepada Rabb-nya, dan dorongan yang mengundangnya kepada kebalikannya:

"demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya." (QS. Asy-Syams [91]: 7-8)

Ibnu Zaid—rahimahullāh—berkata: "Allah menjadikan pada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya. Dan orang yang mendapatkan taufik adalah mereka yang mampu mengendalikan jiwanya (dhabth an-nafs), melarangnya dari kefasikan, serta mewajibkannya untuk bertakwa."

Pengendalian diri adalah usaha seorang muslim untuk senantiasa mencari kebenaran dan petunjuk; mengupayakan sikap pertengahan (irodal), kelembutan (hilm), kehati-hatian (ta'annī), keramahan (rifq), hikmah, keadilan, kesaksian yang jujur, kemurahan hati, serta pemaafan. Ia bermujahadah melawan jiwa ini dan mengekang gejolaknya agar berjalan sesuai dengan tuntutan syariat.

Sungguh, Allah telah memerintahkan untuk bermujahadah melawan nafsu dan memerintahkan untuk memerangi hawa nafsu:

"...Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu..." (QS. An-Nisa' [4]: 135)

"Berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya..." (QS. Al-Hajj [22]: 78)

Menahan jiwa hanya pada hal-hal yang halal dan mencegahnya dari yang haram merupakan bentuk pengendalian diri yang sangat agung dan jihad yang besar:

"Orang-orang yang bermujahadah (berjuang) di jalan Kami sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami..." (QS. Al-'Ankabut [29]: 69)

Yaitu mereka yang bermujahadah melawan jiwa, hawa nafsu, dan setan.

"Adapun orang yang takut pada keagungan Rabb-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya)." (QS. An-Nazi'at [79]: 40-41)

Para ulama Salaf menjelaskan tafsir ayat tersebut: "Menahan diri dari hawa nafsu adalah keadaan seseorang yang berniat melakukan maksiat, lalu ia teringat posisinya di hari perhitungan (hisab), sehingga ia meninggalkan maksiat tersebut." Meninggalkan hawa nafsu adalah kunci surga:

"Adapun orang yang takut pada keagungan Rabb-nya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal(-nya)." (QS. An-Nazi'at [79]: 40-41)

((حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ))

"Surga itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci (oleh nafsu), dan neraka itu diliputi oleh syahwat (kesenangan nafsu)." (HR. Muslim no. 2822)

Tidak ada jalan untuk masuk surga kecuali dengan menerobos hal-hal yang dibenci oleh nafsu, dan tidak ada jalan menuju neraka kecuali dengan terjerumus ke dalam syahwat ini.

"Bagi siapa yang takut pada makam (keagungan) Rabb-nya ada dua surga." (QS. Ar-Rahman [55]: 46)

Yaitu seseorang yang hendak berbuat dosa, lalu ia teringat akan posisinya berdiri di hadapan Allah pada hari perhitungan, maka ia pun meninggalkannya.

Seorang mujahid sejati adalah orang yang menundukkan jiwanya dalam ketaatan kepada Allah, menahannya agar tidak larut dalam kenikmatan dan syahwat yang diharamkan. Jiwamu adalah musuh terdekatmu, maka mulailah bermujahadah menundukkan jiwamu sendiri, dan perangilah ia terlebih dahulu.

Selisihilah nafsu dan setan, serta durhakailah keduanya

Meskipun keduanya memberimu nasihat tulus, tetap curigailah

Begitu pula seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita berpangkat dan berparas cantik, lalu ia berkata: "Sesungguhnya aku takut kepada Allah."

Jihad yang paling berat adalah jihad melawan hawa nafsu; jihad melawan jiwa dan hawa nafsu adalah fondasi dari jihad melawan orang-orang kafir.

Seorang muslim bukanlah pribadi yang bebas tanpa batas hingga boleh berbuat sesuka hatinya. Para menyeru kebebasan mutlak yang berteriak: "Kebebasan! Kebebasan!" pada hakikatnya telah terperosok ke dalam propaganda orang-orang kafir, zindiq, dan moral terpuruk yang mengumandangkan kebebasan tanpa batas.

Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.

Diceritakan bahwa seorang Yahudi melihat Ibnu Hajar—rahimahullāh—yang kala itu menjabat sebagai Hakim Agung (Qadhi al-Qudhat) di Mesir. Beliau berjalan bersama rombongannya yang terdiri dari para penuntut ilmu, para syekh, dan ulama dalam keagungan yang sangat besar. Yahudi penjual minyak itu pun menghentikan langkahnya dan berkata: "Bagaimana mungkin Nabimu bersabda: 'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir', padahal engkau berada dalam keagungan seperti ini dan aku berada dalam kemelaratan seperti ini?" Yahudi itu bermaksud: Aku miskin, sedangkan engkau berada dalam kemewahan ini? Bagaimana mungkin Nabimu bersabda demikian sementara keadaanmu dan keadaanku seperti ini? Ibnu Hajar—rahimahullāh—menjawab: "Dibandingkan dengan surga di akhirat, aku saat ini berada di dalam penjara. Sedangkan engkau, dibandingkan dengan neraka di akhirat, saat ini berada di dalam surga."

"Setiap mukmin dipenjara di dunia," kata Imam An-Nawawi, "dari syahwat yang diharamkan dan dipertanyakan (makruh), serta dibebani untuk menjalankan ketaatan-ketaatan yang berat." ( Syarh an-Nawawi 'ala Muslim, 18/93)

Syariat Memerintahkan Pengendalian Diri dan Tidak Liar

Syariat telah memerintahkan untuk mengendalikan diri dan tidak meluapkan emosi secara liar:

"(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya..." (QS. Ali 'Imran [3]: 134)

Merekapun tidak bertindak menuruti dorongan tabiat dasarnya. Tabiat dasar berbisik: "Balaslah!", tabiat berbisik: "Marahlah!", tabiat berbisik: "Hantamlah!". Akan tetapi, menahan amarah dan memaafkan manusia adalah sifat-sifat penghuni surga.

Dikisahkan bahwa suatu hari budak wanita milik Maimun bin Mihran datang membawakan nampan berisi kuah panas saat Maimun sedang bersama para tamunya. Budak itu tersandung sehingga menyiramkan kuah panas tersebut ke tubuh tuannya. Apa yang kita bayangkan akan terjadi pada situasi emosional tersebut? Budak wanita itu lantas berkata: "Tuanku, (dan orang-orang yang menahan amarahnya)." Maimun menjawab: "Aku telah menahan amarahku." Budak itu melanjutkan: (dan memaafkan manusia) [QS. Ali 'Imran [3]: 134]. Maimun berkata: "Aku telah memaafkanmu." Budak itu menimpali lagi: (dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan) [QS. Ali 'Imran [3]: 134]. Maimun pun berkata: "Pergilah, engkau merdeka karena Allah."

Allah memuji orang-orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah sehingga tidak melampiaskan dendamnya, Allah berfirman:

"...dan apabila mereka marah mereka memberi maaf." (QS. Asy-Syura [42]: 37)

Barangsiapa mengaku memiliki sifat hilm (sabar/santun), buatlah ia marah untuk membuktikannya

Sebab sifat hilm tidak akan teruji kecuali pada saat amarah memuncak

Sifat hilm bukanlah sekadar teori yang hanya dipelajari; sifat hilm tidak akan tampak kecuali di saat marah.

((لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ))

"Orang yang kuat itu bukanlah orang yang jago gulat, melainkan orang yang mampu menguasai dirinya saat marah." (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)

Perhatikanlah konsep ini: pengendalian diri berdasarkan dalil-dalil syari. Ini merupakan konsep yang sangat penting. Betapa banyak orang yang menceraikan istrinya hanya karena tidak mampu mengendalikan dirinya. Betapa banyak orang yang mengucapkan kata-kata pemutus silaturahmi, yang dampaknya merusak hubungan ber tahun-tahun antar kerabat, hanya karena tidak adanya pengendalian diri. Orang yang bertindak nekat hingga mencelakakan dirinya sendiri terjadi karena tidak ada pengendalian diri. Orang yang bunuh diri, karena tidak ada pengendalian diri. Orang yang caci maki, karena tidak ada pengendalian diri. Orang yang tiba-tiba memotong jalan orang lain di jalan raya karena emosi hingga memicu kecelakaan, semua karena tidak adanya pengendalian diri.

((مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ))

"Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah 'Azza wa Jalla akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat hingga Dia menyuruhnya memilih bidadari mana saja yang ia kehendaki." (HR. Abu Dawud no. 4777, At-Tirmidzi no. 2021, dan Ibnu Majah no. 4186; hadis ini hasan).

Dalam riwayat Ibnu Majah disebutkan:

((مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ))

"Tidak ada satu tegukan pun yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada tegukan amarah yang ditelan oleh seorang hamba demi mengharapkan wajah Allah." (HR. Ibnu Majah no. 4189)

Jika engkau marah, bersikaplah tenang, tahanlah amarahmu, perhatikan apa yang engkau katakan dan dengarkan. Cukuplah sebagai sebuah keutamaan ketika engkau menyadari saat di mana Tuhan meredaimu dan melindungi diri dari keburukan. Al-Hasan Al-Bashri—rahimahullāh—berkata: "Tidak ada dua tegukan yang diteguk seorang hamba yang lebih dicintai Allah daripada tegukan musibah yang ditelan hamba dengan kesabaran dan pengharapan pahala yang baik, serta tegukan amarah yang ditelan hamba dengan kesantunan (hilm) dan pemaafan."

Dua tegukan: tegukan musibah dan tegukan amarah. Namun di sisi Allah, menahan keduanya adalah perkara yang sangat agung. Ketika seorang lelaki berkata kepada Nabi : "Berilah aku wasiat," dan ia mengulangnya berkali-kali, Nabi bersabda: ((لاَ تَغْضَبْ)) "Jangan marah." Lelaki itu berkata: "Maka aku memikirkan apa yang disabdakan oleh Nabi tersebut, ternyata amarah itu menghimpun seluruh bentuk keburukan." (HR. Ahmad no. 23171; para periset Al-Musnad menyatakan: "Sanadnya shahih").

Oleh sebab itu, pernah dikatakan kepada 'Abdullah bin Al-Mubarok: "Rangkumlah akhlak yang baik untuk kami dalam satu kata!" Beliau menjawab: "Meninggalkan amarah."

Dengan demikian, makna ini mencakup dua hal: Pertama, berhias dengan sifat hilm (santun) dan pemaaf. Kedua, tidak bertindak menuruti gejolak amarah. Jika amarah mendorongmu untuk menghantam, tahanlah tanganmu; jika mendorong untuk mencaci, tahanlah lidahmu; jika engkau berdiri, maka duduklah; dan jika engkau duduk, maka berbaringlah.

Pengendalian Diri adalah Sifat yang Dicintai Allah dan Rasul-Nya

Pengendalian diri adalah sifat yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Ketika utusan (suku 'Abdul Qais) tiba menemui Nabi , setibanya mereka di Madinah, mereka bergegas menuju Nabi . Mereka meninggalkan tunggangan mereka dan datang masih berpakaian perjalanan serta berbau perjalanan. Namun, Al-Asyajj bin 'Abdul Qais tetap tinggal di tempat barang-barang mereka, ia mengumpulkannya dan mengikat untanya. Ia mengikat hewan-hewan tunggangan tersebut, memakai pakaian terbaiknya, baru kemudian menghadap Nabi . Maka Nabi bersabda:

((إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ: الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ))

"Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai Allah: kelembutan/kesantunan (al-hilm) dan kehati-hatian/ketenangan (al-anāh)." (HR. Muslim no. 18)

Lelaki ini tahu benar bagaimana tata cara masuk yang baik, sebagaimana doa: "Ya Tuhan kami, masukkanlah aku melalui tempat masuk yang benar."

Tergesa-gesa Berlawanan dengan Pengendalian Diri

Sikap tergesa-gesa (al-'ajalah) berlawanan dengan pengendalian diri. Melangkah melakukan sesuatu sejak terlintasnya pikiran pertama tanpa perenungan dan pengamatan adalah sebuah masalah.

Bisa jadi orang yang berhati-hati mendapatkan sebagian hajatnya

Dan bisa jadi orang yang tergesa-gesa jatuh dalam kesalahan

Orang yang tergesa-gesa berbicara sebelum mengetahui, menjawab sebelum memahami, memuji sebelum mencoba, mencela setelah memuji, bertekad sebelum berpikir, dan melangkah sebelum mantap bertekad.

Sikap tergesa-gesa selalu disertainya penyesalan, dan keselamatan akan menjauh darinya. Orang-orang Arab dahulu memberi julukan bagi sikap tergesa-gesa sebagai: Umm an-Nadamāt (ibunya segala penyesalan).

Pengendalian Diri Menjadi Sebab Datangnya Pertolongan Allah

Pengendalian diri ini menjadi sebab datangnya pertolongan Allah bagi seorang hamba. "Wahai Rasulullah, aku memiliki kerabat, aku menyambung silaturahmi kepada mereka tetapi mereka memutuskannya, aku berbuat baik kepada mereka tetapi mereka berbuat jahat kepadaku, aku bersabar (hilm) menghadapi mereka tetapi mereka bersikap bodoh kepadaku?" Ini adalah puncak pengendalian diri menghadapi kerabat yang menyakiti. Beliau bersabda:

((لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ))

"Jika benar seperti apa yang engkau katakan, maka seolah-olah engkau menyuapkan debu/abu panas ke mulut mereka, dan senantiasa ada penolong dari Allah bersamamu untuk menghadapi mereka selama engkau tetap berada dalam keadaan demikian." (HR. Muslim no. 2558)

Kata tusiffuhum berarti memasukkan sesuatu ke dalam mulut orang lain secara paksa. Al-Mall adalah abu yang panas. Ini merupakan kiasan atas keunggulan dan kemenangannya yang nyata atas mereka.

Di antara wasiat orang-orang bijak kepada anaknya: "Wahai anakku, aku berwasiat kepadamu dengan beberapa perkara yang jika engkau pegang teguh, engkau akan senantiasa menjadi pemimpin: terapkanlah sifat hilm-mu kepada kerabat maupun orang jauh, tahanlah kebodohan/emosimu dari orang yang mulia maupun orang yang hina, sambunglah silaturahmi dengan kerabatmu, dan jadikanlah saudara-saudaramu adalah orang-orang yang ketika engkau berpisah dengan mereka dan mereka berpisah denganmu, engkau tidak mencela mereka."

Pengendalian Diri adalah Sifat 'Ibādurraḥmān (Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih)

Pengendalian diri termasuk di antara sifat-sifat 'Ibādurraḥmān:

"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, 'Salam'." (QS. Al-Furqan [25]: 63)

Di sinilah letak pengendalian diri. Di manakah letak pengendalian diri pada hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih? Yaitu pada firman-Nya: (dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka mengucapkan "salam"). Mereka adalah orang-orang yang santun, tidak berbuat bodoh/emosional, dan tidak membalas orang pandir.

Dalam sifat hilm terdapat pencegah bagi orang pandir dari menyakiti

Sedangkan dalam kebodohan (kejahilan) terdapat pemicu, maka janganlah engkau menjadi orang yang bodoh

Orang pandir sangat berharap engkau membalas perbuatannya agar ia dapat memojokkanmu dan caci-maki terus berlanjut.

Sebagian orang yang bekerja di dunia media massa memiliki tabiat seperti ini. Ia ingin memicu pertempuran agar dapat menulis artikel, menghubungi si Fulan untuk mengadu domba dengan si Fulan, dan menghubungi si Fulan untuk mengadu domba dengan si Fulan; karena inilah "bahan jualan"-nya. Sensasi di dunia media tidak akan muncul baginya kecuali dengan cara ini. Oleh karena itu, ia menjalankan peran iblis dalam mengadu domba sesama manusia.

Merek berkata: "Engkau diam padahal engkau didebat?" Aku katakan kepada mereka:

Sesungguhnya jawaban itu adalah kunci pembuka pintu keburukan

Berdiam diri dari orang bodoh atau pandir adalah sebuah kemuliaan

Di dalamnya juga terdapat perbaikan untuk menjaga kehormatan

Tidakkah engkau melihat singa ditakuti padahal ia diam?

Sedangkan anjing diusir, demi umurku, padahal ia menggonggong

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah—rahimahullāh—berkata: "Tingkatan hilm, sabar atas gangguan, dan memaafkan kedzaliman adalah akhlak terbaik penghuni dunia dan akhirat. Seseorang dapat mencapai darajat dengannya apa yang tidak dapat dicapai dengan puasa dan salat malam." (Shārim al-Maslūl, hal. 234)

Pengendalian Diri adalah Sifat Para Nabi

Tentu saja, pengendalian diri ini merupakan sifat para Nabi. Petunjuk yang baik, ketenangan, dan kesederhanaan adalah satu bagian dari dua puluh empat bagian kenabian—itulah sifat ketenangan/kehati-hatian (at-tu'adah).

Sifat apakah yang disebutkan Allah mengenai Nabi Ibrahim 'Alaihissalam dalam hal pengendalian diri?

"Sesungguhnya Ibrahim benar-benar seorang yang penyantun, lembut hati, lagi suka kembali (kepada Allah)." (QS. Hud [11]: 75)

Dan pada ayat yang lain:

"...Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hati lagi penyantun." (QS. At-Taubah [9]: 114)

Allah Ta'ala juga menyifati putranya, Isma'il, dengan sifat ini:

"Maka, Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang sangat penyantun." (QS. As-Saffat [37]: 101)

Dan cucunya yang datang kemudian, Muhammad , adalah pemimpin orang-orang yang penyantun (Sayyid al-Hulamā').

Lihatlah kesantunan Isma'il ketika berkata kepada ayahnya:

"...Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." (QS. As-Saffat [37]: 102)

Betapa agungnya pengendalian diri yang ditunjukkannya!

Dan Nabi Yahya 'Alaihissalam, Allah berfirman tentangnya:

"...membenarkan kalimat dari Allah, menjadi panutan, menahan diri (dari hawa nafsu)..." (QS. Ali 'Imran [3]: 39)

Para ulama seperti Sa'id bin Jubair dan Qatadah menjelaskan tafsir kata Sayyidan (panutan/pemimpin): "Orang yang penyantun (al-ḥalīm) adalah pemimpin yang amarahnya tidak dapat menguasai dirinya."

Di manakah kesantunan Yusuf 'Alaihissalam sebelum bertemu saudara-saudaranya? Di manakah ketenangan Yusuf 'Alaihissalam sebelum bertemu saudara-saudaranya? Bagaimanakah sikapnya? (Raja berkata: "Bawalah dia kepadaku"). Namun Yusuf belum dibebaskan nama baiknya di hadapan khalayak; ia masuk penjara atas tuduhan palsu:

"...Maka, ketika utusan itu datang kepadanya, dia (Yusuf) berkata, "Kembalilah kepada tuanmu, lalu tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangan mereka..." (QS. Yusuf [12]: 50)

Yusuf tidak langsung keluar begitu saja padahal telah dipenjara selama tujuh tahun. Ketika utusan datang dan berkata: "Kemarilah," ia ingin keluar dengan prinsip, ingin keluar dengan kejelasan di hadapan manusia. Ia mengenal dirinya sendiri, tetapi ia ingin lembaran hidupnya bersih di mata manusia. Ini adalah hal penting bagi seorang da'i dalam berdakwah; rekam jejak yang baik sangat penting di hadapan masyarakat. Ia berkata: (Kembalilah kepada tuanmu, lalu tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangan mereka. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Mengetahui tipu daya mereka) [QS. Yusuf [12]: 50].

Nabi kita memuji sikap ini seraya bersabda:

((لَوْ لَبِثْتُ فِي السِّجْنِ طُولَ مَا لَبِثَ يُوسُفُ لأَجَبْتُ الدَّاعِيَ))

"Seandainya aku tinggal di penjara selama Yusuf tinggal di dalamnya, tentu aku akan langsung memenuhi panggilan utusan itu." (HR. Bukhari no. 3372 dan Muslim no. 151)

Maksudnya, langsung keluar saat utusan itu datang. Tentu ini merupakan bentuk ketawaduan Nabi , sebab beliau lebih santun daripada Nabi Yusuf.

Ini adalah pujian yang sangat agung bagi Yusuf 'Alaihissalam atas ketelitiannya, ketenangannya, dan keputusannya untuk tidak keluar dari penjara sampai kebebasan dan kesucian nama baiknya tampak di hadapan umum.

Di antara faedah peristiwa ini adalah: pentingnya menuntut pembersihan nama baik (barā'at as-sāhah).

Kesantunan lainnya adalah ketika ia bertemu saudara-saudaranya setelah bertahun-tahun berlalu, padahal dulu mereka melemparkannya ke dalam sumur, menjadi sebab terpisahnya ia dari ayahnya, menghalanginya dari pengajaran ayahnya yang seorang Nabi, mencelakakannya di dalam sumur, menyebabkannya dijadikan budak yang dijual dengan harga murah, serta menyebabkannya diuji dengan fitnah wanita hingga masuk penjara—semua itu berawal dari kedzaliman saudara-saudaranya. Namun ketika melihat mereka dan terjadi berbagai peristiwa setelahnya, ia berkata:

"...Pada hari ini tidak ada celaan atas kamu..." (QS. Yusuf [12]: 92)

Ia tidak membalas dendam; ini adalah pengendalian diri yang sangat luar biasa: (Tidak ada celaan atas kamu pada hari ini, semoga Allah mengampuni kamu. Dia Maha Penyayang di antara yang penyayang) [QS. Yusuf [12]: 92]. Tidak ada celaan, tidak ada cerca, tidak ada teguran, tidak ada ejekan, dan tidak mengungkit-ungkit kembali masalah itu.

Marilah kita tutup pembicaraan yang telah terjadi

Jangan sampai pemfitnah mendengar atau mengetahuinya

Marilah kita kembali pada keridaan

Seakan-akan ikatan tak pernah berubah

Perselisihan kata di antara kita telah berlangsung lama

Dan tidaklah perselisihan itu memanjang melainkan untuk segera berakhir

Mulai hari ini adalah sejarah kasih sayang di antara kita

Semoga Allah memaafkan teguran yang telah berlalu

Nabi Sulaiman 'Alaihissalam, di manakah ketenangannya dalam kisah Ratu Saba' bersama burung Hud-hud ketika ia berkata:

"Dia memeriksa burung-burung, lalu berkata, 'Mengapa aku tidak melihat Hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir? Sungguh, aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau menyembelihnya, kecuali jika dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.'" (QS. An-Naml [27]: 20-21)

Beliau memberikan ruang bagi pemilik udzur untuk menyampaikan alasannya. Ketika Hud-hud menyampaikan alasannya, muncul bentuk ketenangan lainnya dari Sulaiman. Apakah itu?

"Dia (Sulaiman) berkata, 'Akan kami lihat, apakah engkau benar ataukah engkau termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.'" (QS. An-Naml [27]: 27-28)

Sikap dalam menghadapi peristiwa seperti inilah yang menjadi kebiasaan para Nabi: memberikan ruang untuk menyampaikan udzur. Jika Hud-hud memiliki udzur, ia tidak dihukum. Ketika Hud-hud membawa berita, Sulaiman tidak tergesa-gesa membenarkannya sampai perkaranya menjadi jelas.

Pengendalian Diri dalam Ibadah

Terdapat ibadah-ibadah yang secara jelas melatih seorang muslim untuk mengendalikan dirinya. Bahkan salat ini:

"...dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar..." (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)

Begitu pula puasa, di dalamnya terdapat pengendalian diri dari syahwat makanan dan pernikahan. Demikian pula jika ada seseorang yang mencaci atau mencelanya, sementara orang yang berpuasa tersebut telah mencapai kondisi fisik/mental tertentu karena puasanya, ia menasihati dirinya sendiri dengan berseru: "Sesungguhnya aku sedang berpuasa" (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151), serta mengingatkan lawannya: "Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa."

Ada sebuah permasalahan yang berkaitan dengan pengendalian diri dalam puasa bagi pria yang sudah menikah, apakah itu? Hukum mencium istri saat berpuasa. Para ulama menjelaskan: Jika ia mengetahui dari dirinya bahwa apabila ia mencium ia akan terlanjur melangkah lebih jauh, maka tidak boleh baginya. Sebab mungkin ada orang yang berargumen: Bukankah telah tetap dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi mencium istrinya saat berpuasa? Kita jawab: Ya, tetapi 'Aisyah berkata: "Namun beliau adalah orang yang paling mampu mengendalikan hajat/nafsunya di antara kalian." (HR. Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106).

Betapa banyak orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya saat berpuasa, lalu datang seraya berkata: "Aku tidak menemukan budak untuk dimerdekakan, ini masalah besar puasa dua bulan berturut-turut, carikan aku jalan keluar di dunia fatwa!" Pertanyaan seperti ini sudah sangat umum: memerdekakan budak tidak ada, sedangkan puasa dua bulan aku memiliki pekerjaan dan jam dinas, carikan aku pintu keluar! Sungguh engkau telah menganiaya dirimu sendiri, di sinilah letak pentingnya pengendalian diri.

Perhatikan pula ibadah haji dan latihan pengendalian diri yang ada di dalamnya:

"(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang menetapkan niatnya untuk melaksanakan haji pada bulan-bulan itu, tidak boleh berbuat rafats..." (QS. Al-Baqarah [2] : 197)

Inilah bentuk pengendalian diri: (tidak boleh berbuat rafats) tidak boleh bersetubuh dan tidak boleh melakukan pendahuluan persetubuhan, (tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan).

Di manakah pengendalian diri dalam ibadah haji terwujud? Pada larangan-larangan ihram. Pengendalian diri bagi orang-orang yang memiliki hobi: pengharaman berburu bagi orang yang berihram dan pengharaman berburu di tanah haram. Ketahuilah ini adalah bagian dari pengendalian diri: (Allah pasti akan menguji kamu dengan sedikit binatang buruan yang mudah dicapai oleh tangan dan tombakmu). Maksudnya, binatang buruan yang berada dalam jangkauan tangan, sangat mudah ditangkap dengan tangan. (binatang buruan yang mudah dicapai oleh tangan dan tombakmu), namun demikian para Sahabat mampu mengendalikan diri mereka sehingga tidak berburu; karena Allah menguji mereka:

"Wahai orang-orang yang beriman, Allah pasti akan menguji kamu dengan sedikit binatang buruan yang mudah dicapai oleh tangan dan tombakmu agar Allah mengetahui siapa yang takut kepada-Nya dalam keghaiban..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 94)

Maka tampaklah siapa pengikut ketaatan yang sejati, dan para Sahabat pun menahan diri. Abu Qatadah pernah berjalan bersama Nabi , hingga ketika berada di sebagian jalan menuju Mekkah, ia tertinggal bersama beberapa sahabat yang sedang berihram sementara ia sendiri tidak berihram. Lalu ia melihat seekor keledai liar, maka ia naik ke atas kudanya dan meminta para sahabatnya untuk mengambilkan cambuknya, namun mereka menolak (HR. Bukhari no. 5490 dan Muslim no. 1196); karena mereka sedang berihram. Orang yang berihram tidak boleh membantu perburuan walaupun membantu orang yang tidak berihram, sedikit pun tidak boleh membantu. Abu Qatadah berkata: "Berikan cambukku!", mereka tidak mau memberikan. Ia meminta tombaknya, mereka tetap menolak.

Dalam riwayat lain: "Maka aku menyiapkan pelana kudaku dan mengambil tombakku lalu naik, tiba-tiba cambukku terjatuh. Aku berkata kepada sahabat-sahabatku yang sedang berihram: 'Ambilkan cambuk itu untukku!' Mereka menjawab: 'Demi Allah, kami tidak akan membantumu sedikit pun untuk memburu binatang itu.' Maka aku memungutnya sendiri lalu menyerang keledai liar itu dan membunuhnya." (HR. Bukhari no. 5407 dan Muslim no. 1196).

Berbeda dengan Bani Israil, Allah mengharamkan menangkap ikan atas mereka pada hari Sabtu:

"...ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, yaitu ketika ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka datang terapung-apung pada hari Sabtu itu..." (QS. Al-A'raf [7]: 163)

Ikan-ikan bermunculan di permukaan air, datang melimpah pada hari Sabtu mereka; mirip dengan firman-Nya: (yang mudah dicapai oleh tangan dan tombakmu) [QS. Al-Ma'idah [5]: 94], yaitu berada dalam jangkauan tangan. (Demikianlah Kami menguji mereka disebabkan mereka selalu berbuat fasik) [QS. Al-A'raf [7]: 163].

Pengendalian Diri dalam Hukum Ḥudūd dan Qisas

Perhatikan bagaimana syariat mengendalikan manusia melalui hukum ḥudūd (hukuman syari) dan qisas agar mereka dapat mengendalikan diri:

"Dalam hukum qisas itu ada (jaminan) kehidupan bagimu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 179)

"Laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 38)

Apa yang Allah firmankan kepada wali korban pembunuhan dalam hal pengendalian diri? Apa yang Allah perintahkan kepada wali darah (waliy ad-dam) terkait pengendalian diri?:

"...Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan alasan yang benar. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu mengerti." (QS. Al-An'am [6]: 151)

"Janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah, kecuali dengan hak. Siapa yang dibunuh secara teraniaya, sungguh Kami telah memberi kekuasaan kepada walinya. Akan tetapi, janganlah walinya itu melampaui batas dalam pembunuhan. Sesungguhnya dia adalah orang yang mendapat pertolongan." (QS. Al-Isra' [17]: 33)

Jangan membunuh selain pembunuh! Pada masa Jahiliyah, mereka membunuh si pembunuh, kerabat pembunuh, kelompok pembunuh, dan siapa saja dari suku si pembunuh. Jangan membunuh orang selain pembunuh, jangan membunuh orang lain bersama si pembunuh, dan jangan memotong-motong tubuh (mutsla) si pembunuh. Apabila ada yang bertanya: Apa makna firman-Nya (maka janganlah walinya melampaui batas dalam pembunuhan)? Kita katakan: Inilah bentuk larangan tersebut.

Para Sahabat telah diuji dengan pengendalian diri pada fase Mekkah, pada ayat mana?

Para Sahabat dilarang melakukan perang (jihad) di Mekkah, padahal bagi orang Arab tidaklah mudah untuk dizalimi tanpa membalas dendam meskipun harus mengorbankan keluarga mereka. Namun demikian, para Sahabat mampu mengendalikan diri mereka dengan luar biasa, pada ayat mana?

"Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, 'Tahankanlah tanganmu'..." (QS. An-Nisa' [4]: 77)

Barulah kemudian: (Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka dizalimi) [QS. Al-Hajj [22]: 39]. Berarti, sebelum adanya izin ini mereka dilarang.

Bidang-bidang Pengendalian Diri

Kita harus mendidik diri kita dan anak-anak kita di atas prinsip yang agung ini, karena demi Allah ini adalah kebaikan yang sangat besar. Jika seseorang memperhatikan masalah pengendalian diri ini, apa saja sarana penunjangnya dan apa saja bidang-bidangnya?

Lihatlah misalnya dalam masalah ibadah:

((لِيُصَلِّ أَحَدُكُمْ نَشَاطَهُ فَإِذَا فَتَرَ فَلْيَقْعُدْ))

"Hendaklah salah seorang di antara kalian salat sewaktu kondisinya segar/bersemangat, dan jika ia merasa lelah maka hendaklah ia duduk." (HR. Bukhari no. 1150 dan Muslim no. 784)

((إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ))

"Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu; maka berikanlah kepada setiap pemilik hak akan haknya." (HR. Bukhari no. 1968)

Lidah ini, betapa sulit mengendalikannya. Namun ketika Nabi bersabda:

((مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ))

"Barangsiapa dapat menjamin bagiku apa yang ada di antara dua tulang rahangnya (lidah) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan), aku jamin surga baginya." (HR. Bukhari no. 6474)

Dari sini kita mengetahui pahala yang sangat besar dalam mengendalikan lidah. Al-Hasan Al-Bashri—rahimahullāh—berkata: "Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya; jika ia ingin berbicara, ia berpikir terlebih dahulu. Jika berdampak baik baginya ia bicara, dan jika berdampak buruk ia diam. Sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya."

Masalah pengendalian diri dalam mengambil sikap pertengahan (at-tawassuth) pada berbagai perkara, misalnya dalam berinfak:

"Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan jangan (pula) engkau mengulurkannya terlalu terentang..." (QS. Al-Isra' [17]: 29)

"Orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Sikap mereka) adalah di tengah-tengah antara yang demikian." (QS. Al-Furqan [25]: 67)

Pengendalian diri dalam makan dan minum:

"...makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan..." (QS. Al-A'raf [7]: 31)

Pengendalian diri dalam mencintai dan membenci:

"...Jangan sampai kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah! Itu lebih dekat kepada takwa..." (QS. Al-Ma'idah [5]: 8)

Dalam hadis disebutkan:

((أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا))

"Cintailah kekasihmu secukupnya saja, bisa jadi ia akan menjadi orang yang engkau benci suatu hari nanti. Dan bencilah orang yang engkau benci secukupnya saja, bisa jadi ia akan menjadi kekasihmu suatu hari nanti." (HR. At-Tirmidzi no. 1997 dan Al-Bukhari dalam Al-Adab al-Mufrad no. 1321; dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab al-Mufrad no. 997)

"Janganlah cintamu menjadi beban yang berlebihan, dan janganlah kebencianmu membawa kebinasaan," sebagaimana dikatakan oleh 'Umar radhiyallāhu 'anhu. (Al-Adab al-Mufrad, hal. 448)

Pengendalian diri ketika mendengar berita:

"Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka mengembuskannya..." (QS. An-Nisa' [4]: 83)

Sebagian orang tidak mampu mengendalikan dirinya; begitu menerima berita apa saja, langsung membuka aplikasi WhatsApp, membuka seluruh grup; salin, tempel, kirim. Tiga gerakan langsung selesai, tidak ada pengendalian diri.

Wahai saudaraku, bersikaplah tenang (tarawwā), pastikan kebenaran berita tersebut, periksa sumber beritanya, apakah berita itu berulang, apakah sumbernya beragam, siapa yang mengatakannya? Tidak ada kontrol sama sekali, di manakah pengendalian diri? Di manakah firman Allah: (maka periksalah dengan teliti) [QS. Al-Hujurat [49]: 6]? Tidakkah Allah berfirman: (tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya dapat mengetahuinya dari mereka) [QS. An-Nisa' [4]: 83]? Yaitu mereka yang mengetahui sudut pandang masalah dengan pemikiran yang lurus, pandangan bijak, dan ilmu yang membimbing.

Allah membenci bagi kita desas-desus (qīla wa qāla) dan menyebarkan berita tanpa verifikasi:

((كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ))

"Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menceritakan setiap apa yang ia dengar." (HR. Muslim no. 4)

Perhatikan pandangan syariat dalam pengendalian diri saat berbaur dengan masyarakat:

((الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الَّذِي لاَ يُخَالِطُهُمْ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ))

"Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka lebih besar pahalanya daripada orang yang tidak berbaur dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka." (HR. Ibnu Majah no. 4032 dan Ahmad no. 5022; para periset Al-Musnad menyatakan: "Sanadnya shahih").

Kisah-kisah Teladan dalam Pengendalian Diri

Nabi adalah seorang pemimpin yang mengajari kita pengendalian diri. Di antara sifat beliau dalam Taurat disebutkan: "Beliau bukan orang yang kasar, tidak keras, tidak suka berteriak-teriak di pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan memaafkan dan mengampuni." (HR. Bukhari no. 2125).

Sangat masyhur kisah beliau bersama seorang Arab Badui yang menarik kain selendang Najran milik beliau.

Masyhur pula kisah beliau bersama pimpinan utama Khawarij, Dzul Khuwaishirah, yang berkata: "Wahai Muhammad, berbuat adillah!" (HR. Bukhari no. 3610).

Nabi tidak tergesa-gesa membunuhnya. Beliau juga tidak membalas dendam kepada orang yang berniat membunuhnya ketika menghunuskan pedang ke arah beliau seraya berkata: "Siapa yang dapat membelamu dariku?" Dan ketika pedangnya terjatuh, Nabi bersabda: ((وَالآنَ مَنْ يَمْنَعُكَ؟)) "Dan sekarang, siapa yang dapat membelamu dariku?" (HR. Bukhari no. 4135 dan Muslim no. 843). Orang itu menjawab: "Jadilah engkau sebaik-baik pengambil tindakan."

Ketika mereka mengusir beliau dari Mekkah lalu beliau pergi ke Tha'if, dan penduduk Tha'if mengusirnya, Malaikat Penjaga Gunung menemui beliau dalam kondisi kesedihan mendalam tersebut. Apa yang sekiranya dapat dikatakan beliau kepada Malaikat Penjaga Gunung saat malaikat itu meminta izin untuk menimpakan dua gunung batu (Al-Akhsyabain) kepada mereka?

Itulah bentuk pengendalian diri.

Nabi mengajari kita sikap pengendalian diri yang luar biasa demi menjaga kedudukan saudaranya, Nabi Sulaiman 'Alaihissalam. Kisah ini terdapat dalam Shahih Bukhari, sebuah kisah yang menakjubkan. Beliau bersabda:

((إِنَّ عِفْرِيتًا مِنَ الْجِنِّ تَفَلَّتَ عَلَيَّ الْبَارِحَةَ لِيَقْطَعَ عَلَيَّ صَلاَتِي، فَأَمْكَنَنِي اللَّهُ مِنْهُ فَأَخَذْتُهُ فَأَرَدْتُ أَنْ أَرْبِطَهُ إِلَى سَارِيَةٍ مِنْ سَوَارِي الْمَسْجِدِ حَتَّى تَنْظُرُوا إِلَيْهِ كُلُّكُمْ، فَذَكَرْتُ دَعْوَةَ أَخِي سُلَيْمَانَ: {رَبِّ هَبْ لِي مُلْكًا لاَ يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي}، فَرَدَدْتُهُ خَاسِئًا))

"Sesungguhnya jin 'Ifrit tiba-tiba menampakkan diri kepadaku semalam untuk memutus salatku. Maka Allah memberiku kuasa atasnya hingga aku berhasil menangkapnya. Aku berniat mengikatnya pada salah satu tiang masjid agar kalian semua dapat melihatnya, lalu aku teringat doa saudaraku Sulaiman: (Ya Rabb-ku, anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun setelahku), maka aku mengembalikannya dalam keadaan terhina." (HR. Bukhari no. 461 dan Muslim no. 541)

Maka Nabi meninggalkan tindakan pembalasan untuk mengikat setan tersebut di tiang masjid demi menjaga kedudukan saudaranya, Sulaiman.

Doa yang dipanjatkan para Sahabat ketika mereka berniat menghakimi seorang Arab Badui yang kencing di dalam masjid; Nabi memerintahkan mereka untuk mengendalikan diri dan memperhatikan dampak kerusakan yang lebih besar agar tidak melakukan hal yang memicu kerusakan tersebut.

Demikian pula dapat kita temukan pada diri beliau dalam peristiwa Ḥadīts al-Ifk (berita bohong tentang 'Aisyah). Ketika terjadi peristiwa tersebut, beliau tidak tergesa-gesa mengambil tindakan terhadap 'Aisyah. Beliau pergi bermusyawarah dengan 'Ali, Usamah bin Zaid, dan budak wanita bernama Burairah yang berada di rumah 'Aisyah. Beliau tidak langsung menceraikan istrinya, tidak tergesa-gesa. Beliau mendatangi dan mengajak bicara 'Aisyah seraya bersabda:

((يَا عَائِشَةُ، فَإِنَّهُ قَدْ بَلَغَنِي عَنْكِ كَذَا وَكَذَا، فَإِنْ كُنْتِ بَرِيئَةً فَسَيُبَرِّئُكِ اللَّهُ، وَإِنْ كُنْتِ أَلْمَمْتِ بِذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرِي اللَّهَ وَتُوبِي إِلَيْهِ، فَإِنَّ الْعَبْدَ إِذَا اعْتَرَفَ بِذَنْبِهِ ثُمَّ تَابَ، تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ))

"Wahai 'Aisyah, telah sampai kepadaku berita demikian dan demikian tentangmu. Jika engkau tidak bersalah, maka Allah akan membebaskanmu. Namun jika engkau telah terlanjur melakukan dosa, mohonlah ampun kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya; karena seorang hamba jika mengakui dosanya lalu bertobat, niscaya Allah menerima tobatsnya." (HR. Bukhari no. 4141 dan Muslim no. 2770)

Beliau lalu berkhotbah, mengucapkan syahadat, memuji Allah, dan bersabda:

((أَمَّا بَعْدُ، أَشِيرُوا عَلَيَّ فِي أُنَاسٍ أَبَنُوا أَهْلِي، وَأَيْمُ اللَّهِ مَا عَلِمْتُ عَلَى أَهْلِي مِنْ سُوءٍ))

"Amma ba'du, berilah nasihat/saran kepadaku mengenai orang-orang yang telah menuduh keluargaku. Demi Allah, aku tidak pernah mengetahui adanya keburukan pada keluargaku sedikit pun." (HR. Bukhari no. 4757 dan Muslim no. 2770)

Ketika seorang pemuda datang meminta izin kepada Nabi untuk berzina, seorang pemberi fatwa (mufti) bisa saja naik pitam. Sebagian penanya memang membuat emosi melonjak, tetapi ketika pemuda itu berkata: "Izinkan aku berzina," Nabi tidak meluapkan emosi kepadanya, padahal pertanyaan itu sangat memancing amarah. Beliau justru bertanya kepadai: ((ادْنُ)) "Mendekatlah." Pemuda itu mendekat lalu duduk. Nabi bertanya: ((أَتُحِبُّهُ لأُمِّكَ؟ أَتُحِبُّهُ لأُخْتِكَ؟ أَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟)) "Apakah engkau menyukainya untuk ibumu? Apakah engkau menyukainya untuk saudara perempuanmu? Apakah engkau menyukainya untuk bibimu?" (HR. Ahmad no. 22211; para periset Al-Musnad menyatakan: "Sanadnya shahih"). Hasil akhirnya, pemuda itu menjadi iffah (menjaga diri) dan tidak pernah lagi menoleh kepada syahwat yang diharamkan setelah peristiwa itu.

Pengendalian diri dalam kisah Hatib bin Abi Balta'ah sangat menakjubkan. Ia mengirimkan surat yang dapat mengagalkan seluruh pertempuran, sebuah surat yang jika sampai ke tangan orang-orang kafir dapat menggagalkan Fatḥu Makkah (Penaklukan Kota Mekkah). Nabi bersabda: ((مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ؟)) "Apa yang mendorongmu melakukan ini?" (HR. Bukhari no. 3983).

Pertanyaan: "Apa yang mendorongmu melakukan ini?", berapa kali beliau mengucapkannya?

Semua itu adalah bentuk kontrol, pengendalian diri, tidak terburu-buru memberikan hukuman. Bahkan kepada para wanita, ketika salah satu istri beliau memecahkan piring milik istri yang lain di hadapan beliau, apa yang beliau lakukan? ((غَارَتْ أُمُّكُمْ)) "Ibu kalian sedang cemburu" (HR. Bukhari no. 5225). Beliau mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengirimkan piring utuh milik istri dari rumah tempat piring itu dipecahkan untuk diberikan kepada pemilik piring yang pecah, seraya memaklumi rasa cemburu istri yang memecahkannya.

Bahkan ketika orang Yahudi membubuhkan racun pada makanan beliau, apakah beliau langsung memerintahkan membunuh mereka dengan pedang? Beliau bertanya: ((مَا حَمَلَكُمْ عَلَى ذَلِكَ؟)) "Apa yang mendorong kalian melakukan hal ini?" Mereka menjawab: "Kami ingin tahu, jika engkau seorang pendusta maka kami bisa beristirahat darimu, dan jika engkau seorang Nabi maka racun itu tidak akan membahayakanmu." (HR. Bukhari no. 5777).

Tentu saja ini adalah perkataan yang sangat buruk: "Jika engkau pendusta kami bisa beristirahat dari gangguanmu."

Pengendalian Diri Para Sahabat

Para Sahabat berjalan di atas manhaj ini. Dahulu para ulama Salaf ketika dikatakan kepada salah seorang dari mereka: "Aku sungguh akan mencelamu dengan celaan yang ikut masuk bersama ke dalam kuburmu!" Ia menjawab: "Pencelaan itu masuk ke dalam kuburmu, bukan kuburku."

Abu Bakar radhiyallāhu 'anhu memiliki keteladanan bersama 'Umar dalam hal pengendalian diri pada peristiwa perjanjian Hudaibiyah. Beliau berkata: "Wahai laki-laki, sesungguhnya beliau adalah Rasulullah , beliau tidak akan mendurhakai Rabb-nya dan Allah pasti menolongnya, maka pegang teguhlah petunjuknya! Demi Allah, sesungguhnya beliau berada di atas kebenaran." (HR. Bukhari no. 2731). "Pegang teguhlah petunjuknya", ini adalah puncak pengendalian diri.

'Abdullah bin 'Umar radhiyallāhu 'anhumā ketika mendengarkan seorang khatib berkhotbah, lalu khalifah berkata: "Barangsiapa yang ingin berbicara dalam perkara ini (kepemimpinan/kekhalifahan), hendaklah ia menampakkan dirinya kepada kami! Kami lebih berhak atas perkara ini daripada dia dan ayahnya." Lalu dikatakan kepada Ibnu 'Umar: "Mengapa engkau tidak menjawabnya?" Maksudnya, ada orang yang lebih utama darinya atau lebih berhak darinya, mengapa engkau tidak menjawabnya? 'Abdullah bin 'Umar berkata: "Maka aku melepaskan sarung paha (ḥubwah)-ku dan berniat untuk mengatakan: 'Orang yang lebih berhak atas perkara ini darimu adalah orang yang memerangi engkau dan ayahmu demi Islam.' Namun aku takut mengucapkan kata-kata yang dapat memecah belah persatuan kaum muslimin, menumpahkan darah, dan perkataanku dipahami secara keliru oleh orang lain." (HR. Bukhari no. 4108). Maksudnya, salah dipahami dan tidak dimaknai sesuai dengan tujuan awal yang aku inginkan.

Perhatikanlah—wahai saudara-saudara sekalian—seorang laki-laki bijak yang mempertimbangkan dampak akhir dari setiap perkara sebelum ia berbicara. Di sana terdapat ungkapan-ungkapan yang memprovokasi, tetapi apa kata Ibnu 'Umar? "Aku melepaskan sarung pahaku dan berniat untuk berbicara, tetapi aku takut mengucapkan kata-kata yang memecah belah persatuan kaum muslimin, menumpahkan darah, dan dipahami secara keliru oleh orang lain. Maka aku pun teringat apa yang disediakan Allah di dalam surga." (HR. Bukhari no. 4108).

Ini adalah bukti yang sangat agung dalam kisah ini mengenai topik kita. Apakah yang menahan Ibnu 'Umar dari berbicara?

Dua hal yang menahannya: Perenungan terhadap dampak kerusakan (mafāsid), dan yang kedua: pahala menahan amarah berupa kenikmatan yang disiapkan Allah di dalam surga.

Sarana-sarana yang Membantu Pengendalian Diri

Ketika Nabi mengutus Hudzaifah bin Al-Yaman dalam Perang Ahzab, beliau bersabda kepadanya:

((اذْهَبْ فَأْتِنِي بِخَبَرِ الْقَوْمِ وَلاَ تَذْعَرْهُمْ عَلَيَّ))

"Pergilah dan bawakan berita tentang kaum itu kepadaku, dan jangan buat mereka terkejut/terprovokasi menatangkan bahaya kepadaku!" (HR. Bukhari no. 1788)

Jangan membuat mereka bergerak, jangan memprovokasi mereka, jangan memicu emosi mereka! Masuklah, ambil berita, lalu kembali saja. Jangan melakukan tindakan yang dapat memprovokasi musuh. Mereka saat itu sudah hampir mundur, jangan sampai keadaan berbalik karena tindakanmu. Jangan membuat mereka tergerak, jangan memprovokasi mereka! Hudzaifah pun pergi dan menyusup ke dalam pasukan Ahzab hingga mendekati sang panglima musyrik, yaitu Abu Sufyan. "Aku melihat Abu Sufyan sedang memanaskan punggungnya di dekat api." Saat itu malam musim dingin yang sangat dingin dan Abu Sufyan sedang memanaskan punggungnya di dekat api. "Maka aku memasang anak panah pada busurku," kata Hudzaifah. "Aku ingin memanah dengannya, dan seandainya aku memanahnya tentu aku akan mengenainya." Maksudnya, aku bisa membunuh pimpinan musyrikin. "Namun aku teringat sabda Rasulullah : (dan jangan buat mereka terkejut/terprovokasi mendatangiku)." (HR. Bukhari no. 1788). Maka ia pun mengendalikan dirinya.

Mengingat Teks Syariat (An-Nashsh asy-Syar'ī)

Di antara hal terbesar yang membantu pengendalian diri adalah: mengingat teks syariat pada detik-detik genting tersebut. Misalnya mengingat firman Allah:

"...dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) manusia. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali 'Imran [3]: 134)

Mengingat teks syariat di saat-saat kritis itulah yang membuat seseorang menahan diri. Seorang laki-laki datang dan mencaci-maki Ibnu 'Abbas. Ibnu 'Abbas menunggu hingga orang itu selesai berbicara, lalu berkata kepada pelayannya: "Wahai 'Ikrimah, apakah orang ini memiliki hajat yang dapat kita penuhi?" Orang itu langsung menundukkan kepalanya karena malu. Selesai sudah, tujuannya telah tercapai; orang tersebut mendadak sadar, merasa malu, dan mengambil pelajaran.

Seorang laki-laki berkata kepada 'Amr bin Al-'Ash: "Demi Allah, aku sungguh akan meluangkan waktu khusus untuk mencelamu!" 'Amr menjawab: "Kalau begitu engkau jatuh dalam kesibukan." Maksudnya, itu bukan luang waktu melainkan kesibukan yang sia-sia. Orang itu berkata: "Seakan-akan engkau mengancamku? Demi Allah, jika engkau mengucapkan satu kata celaan kepadaku, sungguh aku akan membalasmu dengan sepuluh kata celaan!" 'Amr menjawab: "Sedangkan engkau, demi Allah, seandainya engkau mengucapkan sepuluh kata celaan kepadaku, aku tidak akan membalasmu walau dengan satu kata pun."

Seorang laki-laki mencaci-maki 'Ali bin Al-Husain (Zainal 'Abidin). Maka 'Ali melepaskan baju jubah (khamīshah) yang dipakainya lalu melemparkannya kepada orang tersebut, serta memerintahkan agar orang itu diberi hadiah uang seribu dirham.

Ia mengumpulkan lima keutamaan sekaligus: kesantunan (hilm), mengesampingkan gangguan, menyelamatkan orang tersebut dari hal yang menjauhkannya dari Allah, membawanya pada penyesalan dan tobat, serta mengubah sikap celaan orang itu menjadi pujian. Ia membeli semua itu dengan sedikit harta dunia.

Zainab binti Jahsy radhiyallāhu 'anhā ketika terjadi peristiwa Ḥadīts al-Ifk terhadap 'Aisyah, ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui darinya melainkan kebaikan." Padahal peristiwa itu adalah kesempatan untuk membalas dendam kepada madunya, menjatuhkan madunya, menjebak madunya, berbicara untuk menghancurkan reputasinya, dan melakukan apa saja. Namun demikian, terlepas dari apa yang biasa terjadi di antara sesama madu, Zainab adalah seorang wanita yang wara' radhiyallāhu 'anhā. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, aku menjaga pendengaran dan penglihatanku. Demi Allah, aku tidak mengetahui darinya melainkan kebaikan." 'Aisyah berkata: "Maka Allah melindunginya dengan sifat wara'." Padahal Zainab adalah pesaing nomor dua tepat setelah 'Aisyah di antara istri-istri Nabi yang masih hidup saat itu. Sebab 'Aisyah berkata: "Dialah yang membandingkan kedudukannya denganku," maksudnya menyamai kedudukanku di sisi Nabi . 'Aisyah berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang wanita pun yang lebih baik dalam beragama daripada Zainab, lebih bertakwa kepada Allah, lebih jujur perkataannya, lebih menyambung silaturahmi, lebih besar sedekahnya, dan lebih keras memeras keringatnya dalam beramal untuk bersedekah dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala." (HR. Bukhari no. 2442).

Seorang laki-laki pernah menyampaikan kata-kata yang sangat keras kepada Mu'awiyah. Lalu dikatakan kepadanya: "Mengapa engkau tidak menghukumnya dan menjadikannya pelajaran bagi yang lain?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya aku merasa malu jika kesantunanku (hilm) tidak mampu menampung dosa salah seorang rakyatku."

Al-Ahnaf bin Qais adalah sosok yang sangat masyhur dengan kesantunannya. Namun reputasi itu tidak muncul dari ruang kosong. Lelaki ini memiliki rekam jejak peristiwa-peristiwa besar. Ia tidak menjadi pemimpin dalam kesantunan melainkan karena peristiwa-peristiwa agung yang dilaluinya. Di antaranya: Suatu hari ia sedang duduk di halaman rumahnya sambil melipat kakinya dengan kain (mConstraint/muḥtabiyan). Tiba-tiba datang sekelompok orang membawa jenazah anaknya yang terbunuh dan seorang laki-laki yang terikat. Mereka berkata: "Ini anakmu yang terbunuh, dan pemudanya yang terikat ini adalah anak saudaramu (keponakanmu) yang membunuhnya, kami telah mengikatnya." Peristiwa seperti ini, apa yang sekiranya akan dilakukan oleh manusia biasa? Mereka menceritakan: Demi Allah, ia tidak mengubah posisi duduknya, tidak menggeser panggulnya. Kemudian ia menoleh kepada anaknya yang lain di majelis itu seraya berkata: "Bangunlah, lepaskan ikatan anak saudaramu itu! Lepaskan ikatannya, dan uruslah jenazah saudaramu: mandikan, kafani, salatkan, dan kuburkan! Serta serahkan kepada ibunya (ibu korban) seratus ekor unta, karena dia adalah wanita asing di sini." Maksudnya, aku menikahinya dari luar sukunya, ia wanita asing yang terpisah dari keluarganya, "Maka bawakan untuk ibunya seratus ekor unta sebagai penawar duka karena ia wanita asing." Kemudian ia menoleh kepada si pembunuh (keponakannya) dan berkata: "Engkau telah mengurangi jumlah keluarga kita, memutuskan tali silaturahmimur, membuat murka Rabb-mu, dan menuruti setanmu." Sebuah nasihat yang sangat mendalam. Oleh karena itulah muncul peribahasa: "Lebih penyantun daripada Ahnaf."

Seorang laki-laki mendatangi Wahab bin Munabbih—rahimahullāh—dan berkata: "Aku baru saja melewati si Fulan dan ia sedang mencacimu." Wahab menjawab: "Apakah setan tidak menemukan utusan lain selain dirimu untuk dikirim kepadaku?" Ketika sang pencaci itu datang, Wahab menyambutnya dengan salam, mengucap selamat datang, mengulurkan tangan menjabat tangannya, lalu mendudukkannya di sampingnya.

'Abdullah bin Muhammad Al-Warraq menceritakan: Kami berada di majelis Ahmad bin Hanbal, lalu beliau bertanya: "Dari mana kalian datang?" Kami menjawab: "Dari majelis Abu Kuraib." Beliau bersabda: "Catatlah ilmu darinya, karena dia adalah seorang syekh yang shalih." Kami katakan: "Sesungguhnya dia sering mencelamu." Imam Ahmad menjawab: "Lalu apa daya ku? Seorang syekh yang shalih sedang diuji melalui diriku."

Ketika 'Umar bin 'Abdul 'Aziz masuk ke dalam masjid pada malam hari yang gelap gulita, kaki beliau tersandung seorang laki-laki. Laki-laki itu membentak: "Apakah engkau gila?" 'Umar menjawab ringkas: "Bukan." Para pengawal berniat menghajar orang tersebut, tetapi 'Umar mencegah mereka seraya berkata: "Tahan! Dia hanya bertanya kepadaku: 'Apakah engkau gila?' Maka aku jawab: 'Bukan'."

Shalahuddin Al-Ayyubi berada dalam suatu majelis dan meminta air minum kepada para pelayannya, namun mereka tidak membawakannya. Beliau mengulang permintaan itu hingga lima kali dan mereka tetap belum membawakannya, hingga beliau berkata: "Wahai sahabat-sahabatku, demi Allah dahaga ini sungguh membunuhku," barulah mereka membawakan air untuknya.

Bandingkanlah antara sikap beliau ini dengan apa yang dilakukan seseorang terhadap pelayannya pada zaman sekarang!

Bagaimanakah pengendalian diri Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah terhadap orang-orang yang menyelisihi beliau? Mereka mencerca, mencaci, mengadili, memenjarakan, dan menyakiti beliau. Mereka menuduh beliau dengan tuduhan kafir dan sesat. Namun demikian, ketika beliau mendengar kabar kematian salah seorang musuhnya, beliau pergi bertakziyah kepada keluarga almarhum seraya berkata: "Aku akan menjadi penggantinya bagi kalian."

Di antara tokoh-tokoh besar yang masyhur dengan sifat hilm dari kalangan ulama kita zaman ini—rahimahumullāh—adalah guru kami, Al-Imam 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah bin Baz—rahimahullāh. Beliau memiliki banyak pengalaman yang menampilkan sifat kesantunannya. Di antaranya: Pernah seseorang datang dan berkata kepada beliau: "Si Fulan telah mencelamu." Beliau menjawab: "Semoga Allah memberinya petunjuk." Orang itu berkata lagi: "Dia telah mengkafirkanmu!" Beliau menjawab: "Semoga Allah memberinya petunjuk." Orang itu menimpali: "Dia melaknatmu!" Beliau tetap menjawab: "Semoga Allah memberinya petunjuk."

Sifat kedengkian tidak akan bersemayam pada jiwa yang memiliki kedudukan tinggi

Dan keluhuran tidak akan diraih oleh orang yang tabiat dasarnya pemarah

Di antara tempat pengendalian diri yang mana Syekh Bin Baz menjadi teladan agung di dalamnya adalah: pengendalian diri di hadapan desakan orang-orang yang mengajukan berbagai permohonan. Syekh adalah teladan luar biasa dalam hal ini. Sebab orang-orang yang mendatangi beliau adakala meminta fatwa, meminta bantuan rekomendasi (syafa'at), atau meminta bantuan harta/keuangan—begitu banyak permohonan dari berbagai jenis. Sampai-sampai seorang laki-laki mendatangi beliau dan berkata: "Tuliskan surat rekomendasi untukku sekarang! Tuliskan surat rekomendasi nikah untukku, aku ingin menikah." Syekh bertanya: "Engkau dari negeri mana?" Orang itu menjawab dari kota anu. Syekh bersabda: "Pergilah kepada Fulan, hakim di kota itu atau syekh di sana agar ia menuliskan surat keterangan tentang dirimu." Orang itu mendesak: "Aku orang yang memiliki hajat, umurku sudah mencapai lima puluh tahun, kapan lagi aku menikah padahal umurku sudah lima puluh tahun?!" Syekh tetap dengan lembut menenangkan: "Engkau akan menikah insya Allah, bahkan sampai umur sembilan puluh tahun." Walaupun demikian, Syekh tidak membiarkannya pergi sampai orang itu makan siang bersama beliau. Orang itu berkata: "Tetapi aku punya janji pertemuan." Syekh bersabda: "Ini ada telepon, minta uzurlah kepada teman janjimu itu."

Tentu saja hal seperti ini merupakan anugerah yang Allah berikan kepada siapa saja dari hamba-Nya yang Dia kehendaki. Namun hal ini juga membutuhkan latihan (mirān) dan perjuangan (mujāhadah) yang besar. Maksudnya, dapat diraih dengan usaha melatih diri: "Sesungguhnya ilmu itu diraih dengan belajar, dan sifat hilm (santun) diraih dengan melatih kesantunan (at-taḥallum)." Sifat ini diraih dengan melatih diri, yaitu memaksa jiwa melakukan kebaikan hingga menjadi karakter yang melekat.

Bermujahadah Menundukkan Jiwa untuk Pengendalian Diri

Di antara medan terbesar dalam pengendalian diri adalah: masalah syahwat. Zaman sekarang ini sangat membutuhkan pengendalian diri di hadapan syahwat, mengingat banyaknya pemicu naluri pada zaman ini: pemandangan, tayangan, klip video, foto, film, penampakan aurat (tabarruj) dan kebebasan wanita—sebuah fenomena yang sangat dahsyat di alam nyata. Sementara pada diri manusia terdapat tabiat bawaan, naluri, syahwat, dan kecenderungan:

"...Allah hendak menerima tobatsmu, melainkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya menghendaki agar kamu berpaling sejauh-jauhnya." (QS. An-Nisa' [4]: 27)

Maka pengendalian diri di sini membuat seseorang teringat akan kisah Nabi Yusuf 'Alaihissalam. Beliau adalah seorang pemuda, sedangkan gejolak zina pada diri pemuda jauh lebih kuat dibandingkan anak kecil atau orang tua renta. Beliau seorang lajang, dan pemicu syahwat pada orang lajang jauh lebih besar daripada orang beristri yang memiliki penyalur halal. Beliau berada di negeri asing, sedangkan orang asing tidak memiliki rasa malu sebagaimana rasa malu penduduk asli, serta tidak takut akan kehancuran reputasi seperti penduduk setempat. Wanita yang mengundangnya adalah wanita yang cantik, padahal dorongan terjerumus pada wanita cantik jauh lebih besar daripada wanita berparas jelek atau sedang. Wanita itu memiliki kekuasaan yang ditakuti, ia adalah majikannya yang memiliki hak memerintah dan melarang, dialah yang mengundangnya seraya berkata: "Kemarilah!" Kebiasaannya, laki-laki yang mengejar dan wanita yang dikejar. Namun jika wanita yang mengejar dan laki-laki yang dikejar, runtuhlah benteng-benteng psikologis, pintu-pintu telah dikunci rapat, dan pengawas telah tiada. Suami wanita itu terbukti bukan tipe lelaki pencemburu, sebab jika ia pencemburu tentu ia akan langsung memisahkan keduanya. Namun yang diucapkannya hanyalah:

"(Wahai) Yusuf, abaikanlah ini dan (wahai istriku) mohonlah ampun atas dosamu karena sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang bersalah." (QS. Yusuf [12]: 29)

Suaminya membiarkan mereka berdua tetap berada di dalam rumah, hingga wanita itu berkata: (Keluarlah memperlihatkan diri kepada mereka) [QS. Yusuf [12]: 31].

Yusuf diuji dengan tipu daya wanita-wanita kota, persekutuan tipu daya wanita atas dirinya, namun beliau tidak memenuhinya dan tetap mengendalikan dirinya.

Kemudian beliau diancam dengan penjara:

"...Jika dia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya dia akan dipenjarakan dan akan menjadi orang yang hina." (QS. Yusuf [12]: 32)

Namun beliau tetap tidak memenuhinya.

Berapa banyak sebab yang berkumpul pada diri Yusuf 'Alaihissalam untuk melakukan perbuatan keji tersebut? Berapa banyak bujukan? Berapa banyak tekanan? Berapa besar kekuatan tekanan tersebut? Berapa banyak faktor iming-iming dan berapa besar kekuatan ancaman yang didapatkannya untuk berbuat keji? Maksudnya, ada harapan (raghab) dan ada ketakutan (rahab). Bukan sekadar hal-hal yang bersifat iming-iming, melainkan juga ancaman hukuman. Meskipun demikian beliau menolak, beliau berlindung kepada Allah seraya berkata: (Aku berlindung kepada Allah) [QS. Yusuf [12]: 23]. Beliau memohon perlindungan kepada Allah: Aku memohon perlindungan dan membentengi diri kepada-Nya dari wanita-wanita ini dan dari perbuatan haram. Beliau berdoa kepada Rabb-nya:

"...Jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku cenderung kepada mereka dan aku termasuk orang-orang yang bodoh. Maka, Rabb-nya memperkenankan doanya dan memalingkan tipu daya mereka darinya..." (QS. Yusuf [12]: 33-34)

Namun beliau telah bermujahadah menundukkan jiwanya.

Oleh karena itu, Allah akan menolong orang-orang yang bermujahadah. Allah menolong orang-orang yang berjuang sungguh-sungguh. Adapun orang yang tidak memiliki tekad, tidak memiliki cita-cita, tidak memiliki kekuatan, tidak memiliki ketahanan, dan tidak memiliki pengendalian diri di hadapan keharaman, lalu ia berkata: "Perkara haram itu berada di hadapanku?" Kita katakan: Ingatlah Yusuf 'Alaihissalam! Wanita itu berlari di belakangnya, mengejarnya dari belakang hingga mengoyakkan baju gamisnya dari belakang.

Maka ini adalah teladan yang sangat agung dalam hal pengendalian diri di hadapan hal yang haram, dan ini termasuk bidang yang paling utama.

Mempertimbangkan Dampak Akhir (An-Nazhar fī al-'Awāqib)

Di antara hal yang membantu pengendalian diri adalah: mempertimbangkan dampak akhir (al-'awāqib). Sebab barangsiapa merenungkan dampak-dampak indah dari pengendalian diri dan dampak buruk dari ketiadaan pengendalian diri, hal itu cukuplah menjadi pendorong baginya untuk bersabar dan mengendalikan diri. Bahkan jika seseorang merenungkan dampak-dampak duniawi: secara medis penurunan tekanan darah dan terhindar dari berbagai penyakit yang timbul jika seseorang meluapkan emosinya dan tidak mengendalikan diri; atau terhindar dari kehancuran reputasi jika terjerumus ke dalam keharaman akibat tidak mampu mengendalikan diri. Apa dampak yang ditimbulkannya? Bahkan di dunia berupa kehancuran reputasi, belum lagi di akhirat. Dan akhirat adalah fondasi utama dalam bertahan menghadapi fitnah-fitnah ini, serta memohon perlindungan kepada Allah dengan berdoa:

((اهْدِنِي لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِي لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا لاَ يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ))

"Berilah aku petunjuk kepada akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada akhlak yang baik melainkan Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan dariku akhlak yang buruk melainkan Engkau." (HR. Muslim no. 771)

Pengendalian Diri Bagi Para Pemegang Jabatan

Di antara keadaan di mana seseorang sangat membutuhkan pengendalian diri adalah: ketika ia memiliki jabatan dan kekuasaan. Sebab jika ia tidak mengendalikan dirinya, ia akan bertindak sewenang-wenang: suami terhadap istri, ayah terhadap anak-anaknya, pemilik rumah terhadap sopir atau pelayannya, manajer terhadap karyawan, serta pengusaha terhadap para pekerja dan pegawainya. Perbedaan tingkat dan tingginya kedudukan di dunia ini dapat memicu keinginan untuk membalas dendam dan bertindak sewenang-wenang karena adanya kekuatan duniawi yang mendukung hal tersebut. Di sinilah letak pentingnya pengendalian diri untuk tidak bertindak sewenang-wenang.

Ketika 'Umar radhiyallāhu 'anhu menjabat sebagai Khalifah, beliau memanjatkan doa-doa, sebagaimana terdapat dalam Mushannaf Ibni Abī Syaibah: "Ya Allah, sesungguhnya aku ini lemah maka kuatkanlah aku; sesungguhnya aku ini keras maka lembutkanlah aku; dan sesungguhnya aku ini kikir maka jadikanlah aku dermawan." (Mushannaf Ibn Abī Syaibah, 6/65). Padahal beliau termasuk orang yang paling dermawan, namun perhatikanlah perkataan beliau: "Dan sesungguhnya aku ini keras maka lembutkanlah aku"; karena ketika beliau memimpin rakyat, beliau membutuhkan tambahan kelembutan saat menghadapi mereka.

Oleh karena itu, terdapat kasih sayang yang menakjubkan pada diri 'Umar, sebagaimana dalam kisahnya bersama seorang wanita dan anak-anaknya yang kelaparan di dalam kemah pada malam hari. Bagaimanakah beliau membawakan makanan untuk mereka, kembali ke Baitul Mal, dan memikul sendiri karung gandum dari Baitul Mal untuk mereka.

Demikian pula ketika beliau melakukan ronda malam ('asas) di luar kota Madinah, beliau melihat sebuah kemah yang di dalamnya terdapat seorang laki-laki dan istrinya. Beliau bertanya kepadanya, lalu laki-laki itu menjawab: "Istriku sedang merintih hendak melahirkan, sekarang ia akan melahirkan dan tidak ada orang yang membantunya melahirkan, sedangkan aku tidak mampu membawanya masuk ke kota Madinah." Maka 'Umar pergi mendatangi istrinya seraya berkata: "Apakah engkau mau mengambil pahala? Ada seorang wanita yang hendak melahirkan, bangunlah!" Istri beliau berkata: "Maka aku mengambil kain, air hangat, dan peralatan yang diperlukan." Istri 'Umar pun pergi dan membantunya melahirkan, sementara 'Umar berada di luar bersama laki-laki tersebut. Laki-laki itu tidak mengetahui bahwa orang di sampingnya adalah sang Khalifah, ia berterima kasih kepadanya seolah-olah 'Umar adalah salah seorang pejalan kaki yang melintas. Ia tidak menyadari bahwa orang ini adalah Khalifah kaum muslimin yang datang membawakan istrinya untuk membantu melahirkan istri laki-laki tersebut.

Maha Suci Allah!

Kita memohon kepada Allah Ta'ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersabar, mengaruniakan kita sifat hilm (santun), menghiasi kita dengan sifat 'iffah (menjaga diri), mengaruniakan kita ketakwaan, dan menjauhkan kita dari segala kesulitan.

Sumber:

https://almunajjid.com/lectures/lessons/476

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat