Sekulerisme
SEKULARISME (AL-'ULMANIYYAH)
Pengertian
(Definisi):
Sekularisme
(Secularism), terjemahan yang paling tepat untuk istilah ini adalah al-ladiniyyah
(kebebasan dari agama/nir-agama) atau ad-dunyawiyyah (keduniawian).
Sekularisme merupakan sebuah seruan untuk menyelenggarakan kehidupan
berdasarkan ilmu pengetahuan positif ('ilm wadha'i) dan akal pikiran,
serta mempertimbangkan kemaslahatan semata dengan menjauhkan diri dari peran
agama.
Ditinjau
dari aspek politik secara khusus, sekularisme berarti paham nir-agama dalam
pemerintahan. Istilah ini sama sekali tidak memiliki keterkaitan secara
etimologis dengan kata al-'ilm (ilmu pengetahuan/science). Paham ini
muncul di Eropa sejak abad ke-17, lalu berpindah ke Timur pada awal abad ke-19,
terutama ke Mesir, Turki, Iran, Lebanon, Suriah, kemudian Tunisia, dan disusul
oleh Irak pada akhir abad ke-19. Adapun negara-negara Arab lainnya, paham ini
baru masuk pada abad ke-20. Penggunaan kata 'ulmaniyyah (sekularisme)
dipilih karena terkesan tidak terlalu memicu kontroversi dibandingkan kata la-diniyyah
(nir-agama).
Substansi
sekularisme yang disepakati adalah pemisahan antara agama dan negara, serta
memisahkan agama dari kehidupan masyarakat dan mengurungnya hanya dalam tataran
nurani individu semata, yang tidak melampaui hubungan pribadi antara seseorang
dengan Tuhannya. Jika agama masih diizinkan untuk mengekspresikan dirinya, hal
itu hanya sebatas pada ritual peribadatan dan upacara-upacara yang berkaitan
dengan pernikahan, kematian, dan sejenisnya.
Sekularisme
memiliki kesamaan dengan doktrin agama Kristen dalam hal pemisahan antara agama
dan negara, di mana Kaisar memiliki kekuasaan atas negara dan Tuhan
(Kaisar/Gereja) memiliki kekuasaan atas Gereja. Hal ini terlihat jelas dalam
ungkapan yang dinisbatkan kepada Nabi Isa Al-Masih: "Berikanlah milik
Kaisar kepada Kaisar dan milik Allah kepada Allah." Adapun Islam tidak
mengenal dikotomi/dualisme semacam ini; seorang muslim secara keseluruhan
adalah milik Allah, dan seluruh kehidupannya dipersembahkan hanya untuk Allah:
"Katakanlah
(Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk
Allah, Tuhan seluruh alam.'" (QS. Al-An'am: 162)
Gagasan
Awal dan Tokoh-Tokoh Utamanya:
Gagasan
ini menyebar di Eropa dan meluas ke seluruh penjuru dunia akibat pengaruh
ekspansi Barat dan penetrasi paham Komunisme. Berbagai kondisi sebelum dan
sesudah Revolusi Prancis pada tahun 1789 M turut mendorong meluasnya paham ini
serta mengkristalkan metode dan pemikirannya. Perkembangan peristiwa tersebut
berjalan sesuai dengan urutan berikut:
- Penyimpangan para pemuka
agama (klerus) yang berubah menjadi para penguasa zalim (thaghut),
politisi profesional, dan penguasa otoriter di balik topeng hierarki
gereja (clergy), kebiarawanan, Perjamuan Kudus (Eucharist),
serta penjualan surat pengampunan dosa (indulgensi).
- Sikap Gereja yang menentang
ilmu pengetahuan, mendominasi pemikiran, serta membentuk Lembaga Inkuisisi
(Inquisition) dan menuduh para ilmuwan melakukan bidah/heresi,
seperti:
- Copernicus:
Menerbitkan buku De revolutionibus orbium coelestium (Tentang
Revolusi Gelanggang Benda-Benda Langit) pada tahun 1543 M, dan Gereja
mengharamkan buku ini.
- Galileo Galilei:
Membuat teleskop lalu disiksa secara keji pada usia 70 tahun, hingga
wafat pada tahun 1642 M.
- Spinoza: Tokoh
mazhab kritik historis, yang mengakhiri hidupnya dengan tewas terbunuh.
- John Locke: Menuntut
agar wahyu tunduk kepada akal ketika terjadi pertentangan di antara
keduanya.
- Munculnya prinsip
rasionalisme dan hukum alam (Nature): Para penganut sekularisme
mulai menyerukan kebebasan akal dan menisbatkan sifat-sifat Ketuhanan
kepada alam (Nature).
- Revolusi Prancis:
Sebagai akibat dari pertentangan antara Gereja di satu sisi dan gerakan
baru di sisi lain, lahirlah Pemerintah Prancis pada tahun 1789 M, yang
merupakan pemerintah sekuler (nir-agama) pertama yang memerintah atas nama
rakyat. Sebagian pengamat menilai bahwa kaum Freemason memanfaat
kesalahan-kesalahan Gereja dan Pemerintah Prancis, lalu menunggangi
gelombang revolusi untuk merealisasikan tujuan-tujuan mereka.
- Jean-Jacques Rousseau
(1778 M) dengan bukunya Du contrat social (Kontrak Sosial) yang
dianggap sebagai 'kitab suci' revolusi; Montesquieu dengan karyanya
De l'esprit des lois (Jiwa Undang-Undang); Spinoza (seorang
Yahudi) yang dianggap sebagai pelopor sekularisme sebagai sebuah pandangan
hidup dan perilaku, serta menulis Tractatus Theologico-Politicus
(Risalah Teologi dan Politik); Voltaire, pengusung hukum alam yang
menulis karya Religion within the Bounds of Bare Reason (Agama
dalam Batas Murni Akal) pada tahun 1804 M; serta William Godwin
(1793 M) dengan karyanya Enquiry Concerning Political Justice
(Keadilan Politik) yang berisi seruan sekularisme secara terang-terangan.
- Mirabeau, yang
dianggap sebagai orator, pemimpin, dan filsuf Revolusi Prancis.
- Gelombang massa bergerak
merubuhkan Penjara Bastille dengan slogan awal "Roti", yang
kemudian berubah menjadi slogan "Kebebasan, Kesetaraan, dan
Persaudaraan" (Liberté, Égalité, Fraternité)—yang merupakan
slogan Freemasonry—serta slogan "Tumbangkan Reaksioner!", yaitu
frasa kiasan yang ditujukan kepada agama. Kaum Yahudi menyusup melalui
slogan ini untuk meruntuhkan tembok pemisah antara mereka dan
lembaga-lembaga negara serta meleburkan perbedaan agama. Peristiwa ini
mengubah arah revolusi dari penentangan terhadap kedzaliman oknum pemuka
agama menjadi revolusi menentang agama itu sendiri.
- Teori Evolusi:
Terbitnya buku On the Origin of Species (Asal Usul Spesies) karya
Charles Darwin pada tahun 1859 M, yang berfokus pada hukum seleksi alam
dan kelangsungan hidup bagi yang paling adaptif (survival of the
fittest). Teori ini menjadikan nenek moyang asli manusia berasal dari
mikroba kecil yang hidup di rawa-rawa tenang jutaan tahun lalu, sedangkan
kera merupakan salah satu tahapan evolusi yang berakhir pada manusia.
Teori ini mengakibatkan runtuhnya akidah keagamaan dan meluasnya ateisme,
serta dimanfaatkan oleh kaum Yahudi dengan sangat cerdik dan licik.
- Munculnya Nietzsche
dan filsafatnya yang mengklaim bahwa "Tuhan telah mati", dan
manusia unggul (Übermensch/Superman) harus menggantikan posisi-Nya.
- Durkheim (seorang
Yahudi): Menggabungkan antara kehewanan manusia dan kekebendaannya melalui
teori kesadaran kolektif (collective consciousness).
- Freud (seorang
Yahudi): Menjadikan dorongan seksual sebagai penjelas bagi seluruh
fenomena. Dalam pandangannya, manusia tidak lebih dari seekor binatang
seksual.
- Karl Marx (seorang
Yahudi): Pencetus penafsiran materialisme sejarah (historical
materialism) yang meyakini kepastian evolusi historis. Ia merupakan
tokoh propagandis dan pendiri utama Komunisme yang menganggap bahwa agama
adalah racun/candu bagi masyarakat.
- Jean-Paul Sartre dalam
aliran Eksistensialisme dan Colin Wilson dalam karyanya The
Outsider: Keduanya menyerukan paham Eksistensialisme dan Ateisme.
Aliran-Aliran
Sekularisme di Dunia Arab dan Islam:
Berikut
adalah beberapa contohnya:
- Di Mesir: Sekularisme
masuk ke Mesir bersamaan dengan invasi Napoleon Bonaparte. Hal ini telah
diisyaratkan oleh Al-Jabarti dalam kitab sejarahnya—pada bagian khusus
mengenai invasi Prancis ke Mesir dan peristiwa-peristiwa di
dalamnya—menggunakan frasa-frasa yang bermakna sekularisme, meskipun tidak
menyebutkan frasa tersebut secara eksplisit. Adapun orang pertama yang
menggunakan istilah 'ulmaniyyah adalah seorang penganut Kristen
bernama Ellious Bocthor dalam kamus bahasa Arab-Prancis buatannya pada
tahun 1827 M. Khedive Ismail memasukkan hukum Prancis pada tahun 1883 M;
Khedive ini sangat kagum terhadap dunia Barat dan bercita-cita menjadikan
Mesir sebagai bagian dari Eropa.
- India: Hingga tahun
1791 M, hukum yang berlaku di India disandarkan pada Syariat Islam.
Kemudian penghapusan Syariat Islam dilakukan secara bertahap sejak kurun
tersebut di bawah rekayasa Inggris, hingga syariat terhapus secara total
pada pertengahan abad ke-19.
- Aljazair: Penghapusan
Syariat Islam dilakukan menyusul pendudukan Kolonial Prancis pada tahun
1830 M.
- Tunisia: Hukum Prancis
mulai diberlakukan di negara ini pada tahun 1906 M.
- Maroko: Hukum Prancis
mulai dimasukkan ke negara ini pada tahun 1913 M.
- Turki: Mengenakan
pakaian sekularisme setelah dihapuskannya sistem Kekhalifahan Islam dan
berkuasanya Mustafa Kemal Atatürk, meskipun benih-benih dan indikasi ke
arah sana sudah ada sebelumnya.
- Irak dan Syam (Suriah,
Lebanon, Palestina, Yordania): Syariat Islam dihapuskan pada masa
runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, bersamaan dengan makin kokohnya cengkeraman
Inggris dan Prancis di kawasan tersebut.
- Sebagian besar wilayah
Afrika: Diperintah oleh pemerintah-pemerintah Kristen yang memegang
kekuasaan pasca kepergian penjajah.
- Indonesia dan sebagian
besar negara Asia Tenggara: Menjadi negara-negara sekuler.
- Meluasnya partai-partai
sekuler dan paham nasionalisme chauvinistik: Seperti Partai Ba'ath,
Partai Nasionalis Sosial Suriah (Hizb as-Suri al-Qaumi), gerakan
Faraonisme (Kebanggaan Firaun), gerakan Turanisme (Ath-Thuraniyyah),
serta Nasionalisme Arab (Al-Qaumiyyah al-'Arabiyyah).
- Di antara para tokoh
propagandis sekularisme yang terkenal di Dunia Arab dan Islam: Ahmad
Lutfi as-Sayyid, Ismail Mazhar, Qasim Amin, Taha Husain, Abdurrazzaq
Fahmi, Michel Aflaq, Antoun Saadeh, Sukarno, Soeharto, Jawaharlal Nehru,
Mustafa Kemal Atatürk, Gamal Abdel Nasser, Anwar Sadat (pencetus slogan "Tidak
ada agama dalam politik, dan tidak ada politik dalam agama"), Dr.
Fuad Zakaria, Dr. Farag Foda (yang tewas terbunuh di Kairo beberapa waktu
lalu), serta tokoh-tokoh lainnya.
Pemikiran
dan Keyakinan Sekularisme:
- Sebagian penganut sekularisme
mengingkari keberadaan Allah sama sekali.
- Sebagian lainnya beriman akan
keberadaan Allah, namun mereka meyakini tidak ada hubungan apa pun antara
Allah dengan kehidupan manusia.
- Kehidupan didasarkan pada
ilmu pengetahuan positif yang mutlak di bawah kekuasaan akal (rasionalisme)
dan eksperimen (empirisme).
- Membangun benteng pemisah
yang tebal antara alam ruhani dan alam materi, di mana nilai-nilai
spiritualitas dalam pandangan mereka merupakan nilai yang pasif/negatif.
- Memisahkan agama dari politik
dan menyelenggarakan kehidupan berdasarkan asas materialisme.
- Menerapkan prinsip
Pragmatisme (al-manfa'ah) dalam segala hal di kehidupan.
- Mengadopsi prinsip
Machiavellianisme dalam filsafat pemerintahan, politik, dan etika/moral.
- Menyebarkan pergaulan bebas (ibahiyyah)
dan kekacauan moral, serta merusak pranata keluarga karena dianggap
sebagai fondasi utama dalam struktur sosial.
Adapun
pemikiran sekularisme di Dunia Islam dan Arab yang menyebar berkat jasa
kolonialisme dan misi Kristenisasi (tabsyir) adalah sebagai berikut:
- Menikam/meragukan hakikat
kebenaran Islam, Al-Qur'an, dan Kenabian.
- Mengklaim bahwa Islam telah
habis masa berlakunya dan fungsinya, serta menganggap Islam hanya sebatas
ritual dan peribadatan spiritual semata.
- Mengklaim bahwa Fikih Islam
disadur dari Hukum Romawi.
- Mengklaim bahwa Islam tidak
selaras dengan peradaban modern dan justru mengajak kepada kemunduran.
- Menyerukan 'emansipasi
wanita' (tahrir al-mar'ah) sesuai dengan gaya dan standar Barat.
- Distorsi terhadap peradaban
Islam, memperbesar porsi gerakan-gerakan destruktif dalam sejarah Islam,
serta mengklaim bahwa gerakan destruktif tersebut adalah gerakan
pembaruan/reformasi.
- Menghidupkan kembali tradisi
peradaban-peradaban kuno pra-Islam.
- Mengadopsi sistem dan
kurikulum sekuler dari Barat serta menirunya secara mentah-mentah.
- Mendidik generasi muda dengan
pendidikan yang jauh dari nilai-nilai agama (la-diniyyah).
Jika
terdapat suatu udzur/alasan atas munculnya sekularisme di Barat, maka sama
sekali tidak ada udzur atau pembenaran atas keberadaannya di negeri-negeri kaum
muslimin. Sebab, seorang pemeluk Kristen tidak akan terlalu terganggu jika ia
diatur oleh hukum positif sekuler, karena hal itu tidak membatalkan hukum wajib
dari agamanya, lagipula di dalam ajaran agamanya memang tidak terdapat tata
aturan komprehensif yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Namun bagi seorang
muslim, kondisinya amat berbeda; keimanannya mewajibkan dirinya untuk tunduk
dan berhukum kepada Syariat Allah.
Di
sisi lain—sebagaimana dipaparkan oleh Dr. Yusuf al-Qaradawi—apabila negara
dipisahkan dari agama di Barat, agama Kristen tetap akan berdiri kokoh di bawah
naungan otoritas gereja yang kuat, muda, dan mapan. Pasukan biarawan,
biarawati, serta para misionarisnya akan terus bekerja di berbagai bidang tanpa
dapat diintervensi oleh kekuasaan negara. Berbeda halnya jika hal itu
diterapkan di negara Islam, dampaknya adalah agama Islam akan terlantar tanpa
adanya kekuasaan yang mendukung maupun kekuatan yang menopangnya. Sebab dalam
Islam tidak dikenal lembaga kepausan, sistem kependetaan (kahanut),
ataupun hierarki gereja (clergy). Sungguh benar apa yang dinyatakan oleh
Khalifah Ketiga, Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu:
"Sesungguhnya
Allah mencegah dengan kekuasaan (pemerintah) apa yang tidak dapat dicegah hanya
dengan Al-Qur'an."
Akar
Pemikiran dan Akidah Sekularisme:
- Permusuhan mutlak terhadap
Gereja pada awalnya, yang kemudian berlanjut menjadi permusuhan terhadap
agama secara umum, baik agama tersebut mendukung ilmu pengetahuan maupun
menentangnya.
- Kaum Yahudi memiliki peran
yang sangat menonjol dalam memperkokoh paham sekularisme, guna meruntuhkan
benteng keagamaan yang menjadi penghalang antara kaum Yahudi dan
bangsa-bangsa lain di bumi.
- Alfred North Whitehead
menyatakan: "Tidak ada satu masalah pun yang di dalamnya ilmu
pengetahuan bertentangan dengan agama, melainkan kebenaran selalu berada
di pihak ilmu pengetahuan dan kesalahan di pihak agama."
Pernyataan ini, jika benar berlaku antara ilmu pengetahuan dan teologi di
Eropa, maka pernyataan tersebut tertolak dan sama sekali tidak berlaku
bagi agama Islam. Sebab, tidak ada pertentangan sama sekali antara ajaran
Islam dengan hakikat ilmu pengetahuan, serta tidak pernah terjadi konflik
di antara keduanya sebagaimana yang terjadi pada agama Kristen.
Diriwayatkan dari salah seorang sahabat Nabi bahwa ia berkata mengenai
Islam: "Tidaklah Islam memerintahkan sesuatu lalu akal berkata:
'Aduhai sekiranya hal itu dilarang', dan tidaklah Islam melarang sesuatu
lalu akal berkata: 'Aduhai sekiranya hal itu diperintahkan'."
Pernyataan ini dibenarkan oleh fakta-fakta ilmiah dan objektif, bahkan
para ilmuwan pilihan di Barat telah mengakui serta mengungkapkan kekaguman
dan pembenaran mereka terhadap hakikat tersebut dalam ratusan karya ilmiah
mereka.
- Menggeneralisasi teori
dikotomi/permusuhan antara ilmu pengetahuan di satu sisi dan agama di sisi
lain hingga mencakup agama Islam. Padahal agama Islam tidak pernah
mengambil sikap seperti Gereja yang menentang kehidupan dan ilmu
pengetahuan; justru Islam adalah pelopor dalam penerapan metode
eksperimental (al-manhaj at-tajribi) dan penyebaran sains.
- Pengingkaran terhadap hari
akhirat dan tidak mau beramal untuk kehidupan pascadunia, serta meyakini
bahwa kehidupan dunia adalah satu-satunya ruang untuk bersenang-senang dan
memuaskan hawa nafsu.
Mengapa
Islam Menolak Sekularisme?
- Karena sekularisme
mengabaikan fitrah penciptaan manusia yang terdiri dari jasmani dan
rohani; sekularisme hanya berfokus pada tuntutan jasmani dan mengabaikan
dahaga kerohaniannya.
- Karena sekularisme tumbuh dan
lahir di lingkungan Barat sesuai dengan kondisi sejarah, sosial, dan
politiknya, sehingga tergolong sebagai pemikiran asing/impor di lingkungan
Timur kita.
- Karena sekularisme memisahkan
agama dari negara, sehingga membuka pintu lebar-lebar bagi menguatnya
individualisme, sektarianisme, rasialisme, kedaerahan, nasionalisme
sempit, kefanatikan partai, dan konflik mazhab/golongan.
- Karena sekularisme memberi
ruang bagi meluasnya ateisme, krisis identitas (lack of belonging),
alienasi (keterasingan), dekadensi moral, kerusakan, dan kebebasan tanpa
batas.
- Karena sekularisme memaksa
kita untuk berpikir dengan pola pikir Barat, sehingga kita tidak lagi
menghujat pergaulan bebas antar lawan jenis, menginjak-injak etika
masyarakat, membuka pintu selebar-lebarnya bagi praktik-praktik hina,
menghalalkan transaksi riba, serta mendewakan slogan "seni untuk
seni", di mana setiap individu hanya berjuang mencari kebahagiaan
dirinya sendiri meskipun harus mengorbankan orang lain.
- Karena sekularisme menularkan
penyakit-penyakit masyarakat Barat kepada kita, seperti pengingkaran
terhadap hisab di hari akhirat, yang mendorong manusia hidup secara liar
tanpa kendali dorongan agama, memicu naluri keduniawian seperti ketamakan,
pragmatisme, dan persaingan mempertahankan hidup (struggle for survival),
hingga akhirnya suara hati nurani menjadi sirna.
- Seiring munculnya
sekularisme, sistem pendidikan dikhususkan hanya untuk mempelajari
fenomena kehidupan yang dapat diuji dan diamati semata, sedangkan hal-hal
gaib seperti iman kepada Allah, hari kebangkitan, balasan pahala, dan
siksa menjadi terabaikan. Dari sini lahirlah masyarakat yang tujuan
hidupnya hanya mencari kesenangan duniawi dan hiburan-hiburan murah.
Penyebaran
dan Wilayah Pengaruh:
Sekularisme
bermula di Eropa dan mulai memiliki wujud politik nyata seiring lahirnya
Revolusi Prancis pada tahun 1789 M. Paham ini meluas di Eropa pada abad ke-19,
lalu berpindah hingga mencakup sebagian besar negara di dunia dalam ranah
politik dan pemerintahan pada abad ke-20 akibat pengaruh kolonialisme dan Misi
Kristenisasi (tabsyir).
Kesimpulan
dari Paparan di Atas:
Sekularisme
adalah gagasan/seruan untuk menyelenggarakan kehidupan berdasarkan asas ilmu
pengetahuan positif dan akal pikiran dengan menjauhkan agama. Agama dipisahkan
dari negara dan kehidupan masyarakat, lalu dikurung dalam nurani individu
semata, serta tidak diizinkan untuk diekspresikan kecuali dalam batas yang
sangat sempit.
Atas
dasar hal tersebut, maka barang siapa yang meyakini sekularisme sebagai
pengganti bagi agama dan tidak menerima hukum Syariat Islam dalam seluruh aspek
kehidupan, serta tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah, maka ia
dianggap telah murtad dan keluar dari Islam. Wajib hukumnya untuk menegakkan
hujah atasnya dan memintanya bertobat hingga ia kembali ke dalam naungan Islam;
jika tidak bertobat, maka berlaku baginya hukum-hukum bagi orang murtad yang
keluar dari agama, baik sewaktu hidup maupun setelah meninggal dunia.
Rujukan
untuk Pendalaman (Referensi):
- Jahiliyyatul Qarnil Isyrin,
Muhammad Qutb.
- Al-Mustaqbal lihadzad Din,
Sayyid Qutb.
- Tahafut al-'Ulmaniyyah,
Imaduddin Khalil.
- Al-Islam wal Hadharah
al-Gharbiyyah, Muhammad Muhammad Husain.
- Al-'Ulmaniyyah, Safar
bin Abdurrahman al-Hawali.
- Tarikh al-Jam'iyyat
as-Sirriyyah wal Harakat al-Haddamah, Muhammad Abdullah Inan.
- Al-Islam wa Musykilat
al-Hadharah, Sayyid Qutb.
- Al-Gharah 'alal 'Alam
al-Islami, Terjemahan Muhibbuddin al-Khatib dan Mus'ad al-Yafi.
- Al-Fikr al-Islami fi
Muwajahat al-Afkar al-Gharbiyyah, Muhammad al-Mubarak.
- Al-Fikr al-Islami
al-Hadits wa Silatuhu bil Isti'mar al-Gharbi, Dr. Muhammad al-Bahi.
- Al-Islam wal 'Ulmaniyyah
Wajhan li Wajhin, Dr. Yusuf al-Qaradawi.
- Al-'Ulmaniyyah: An-Nasy'ah
wal Atsar fisy Syarq wal Gharb, Zakaria Faid.
- Wujub Tahkim asy-Syari'ah
al-Islamiyyah lil Khuruj min Da'irat al-Kufr al-I'tiqadi, Dr. Muhammad
Syata Abu Sa'ad, Kairo, 1413 H.
- Judzur al-'Ulmaniyyah,
Dr. As-Sayyid Ahmad Faraj - Dar al-Wafa, Mansoura, 1990 M.
- 'Ulmani wa 'Ulmaniyyah,
Dr. As-Sayyid Ahmad Faraj - Makalah dalam Al-Mu'jamiyyah ad-Duwaliyyah,
Tunisia, 1986 M.
Sumber:
Al-Nadwah
al-ʿĀlamiyyah
li al-Shabāb al-Islāmī. Al-Mawsūʿah
al-Muyassarah fī al-Adyān wa
al-Madhāhib wa al-Aḥzāb al-Muʿāṣirah.
Supervised by Maniʿ ibn Ḥammād al-Juhanī. 4th ed.
Riyadh: Al-Nadwah al-ʿĀlamiyyah li al-Shabāb al-Islāmī, 1999.
Comments
Post a Comment