Ilmu Allah
Mukadimah
Allah swt telah menciptakan dan
menjadikan alam ini seluruhnya lengkap dengan sistem yang menyeluruh. Antara
satu sama lain ada perakitan dan manfaatnya sendiri. Allah swt yang menjadikan
semua isi alam ini dari yang sekecil-kecilnya hingga yang paling besar, yang
nyata dan yang ghaib. Dari sifat pengetahuan Allah swt yang Maha Mengetahui
inilah, sehingga Allah swt menjadi sumber ilmu.
Dengan ilmu Allah swt tersebut,
kemudian Dia mengajar manusia terhadap apa-apa yang tidak diketahui menjadi
diketahuinya.
Kedua ilmu tersebut sangat bermanfaat
untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Islam mendorong kaumnya
untuk menguasai ilmu dunia dan ilmu akhirat.
"Barang siapa menginginkan dunia
maka ada ilmunya. Barang siapa menginginkan akhirat maka ada ilmunya. Barang
siapa menginginkan keduanya, maka diperlukan ilmu keduanya" (Al Hadits).
Pembahasan
Dalam asmaul husna Allah swt
disebut sebagai Al ‘Alim (Yang Maha Mengetahui). Bahwasanya ilmu Allah
swt tidak terbatas. Dia mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi,
yang terdahulu, sekarang ataupun yang akan datang, baik yang ghaib maupun yang
nyata: "Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah
mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi. . "(Al Hajj:70)
"Dialah Allah, Yang tiada Tuhan
selain Dia. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah
lagi Maha Penyayang" (Al Hasyr:22)
Tak ada satupun yang tersembunyi bagi
Allah swt. Sebutir biji di dalam gelap gulita bumi yang berlapis tetap
diketahui Allah swt: "Di sisi-Nya segala anak kunci yang ghaib,
tiadalah yang mengetahui kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa-apa yang ada
di daratan dan di lautan. Tiada gugur sehelai daun kayu pun, melainkan Dia
mengetahuinya, dan tiada sebuah biji dalam gelap gulita bumi dan tiada pula
benda yang basah dan yang kering, melainkan semuanya dalam Kitab yang
terang" (Al An'am:59)
Ilmu Allah swt Maha luas, tak
terjangkau dan tak terbayangkan oleh akal pikiran, tiada terbatas. Dia
mengetahui apa yang sudah, dan akan terjadi serta yang mengaturnya. Manusia, malaikat dan makhluq manapun tak akan bisa
menyelami lautan ilmu Allah swt. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah
saja manusia tidak akan mampu. Dalam tubuh manusia tak semuanya terjangkau oleh
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Semakin didalami semakin jauh pula
yang harus dijangkau, semakin banyak misteri yang harus dipecahkan, seperti
jaringan kerja otak manusia masih merupakan hal yang teramat rumit untuk dikaji.
Belum lagi tentang astronomi, berapa banyak bintang, galaksi di langit, berapa
jauhnya, bagaimana cara mencapainya, proses terjadinya, apakah ada penghuninya,
dsb. Jika kita menatap ke luar angkasa betapa kecil bumi ini bagaikan debu
bahkan lebih kecil dari itu. Andaikan
saja ada manusia yang menguasai planet bumi sebagai miliknya pribadi, maka di
hadapan alam di ruang angkasa ini dia hanyalah memiliki debu tak berarti. Jika saja ada
manusia menguasai bumi, dia hanya menguasai debu. Sementara kekuasaan, kerajaan
Allah swt tak akan tertandingi sedikitpun jua.
Allah swt menggambarkan betapa kecil dan tak berdayanya
manusia bila dibandingkan dengan ilmu Allah swt, dengan perumpamaan air laut
bahkan tujuh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalimat Allah swt, niscaya
tidak akan habis-habisnya kalimat Allah tersebut dituliskan:
"Katakanlah, kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis
kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun kami datangkan tambahan sebanyak itu
pula" (Al Kahfi:109)
"Dan seandainya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut (menjadi
tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan lagi, niscaya tidak akan
habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar
lagi Maha Melihat" (Luqman:27).
Allah swt telah menciptakan langit dan bumi dengan segala isi dan
peristiwa yang terkandung di dalamnya merupakan fenomena yang sangat
mengesankan dan menakjubkan akal serta hati sanubari manusia. Itulah alam
semesta atau al kaun (universum). Simaklah firman Allah swt berikut ini:
"Dia lah Allah Yang menciptakan, Yang mengadakan, Yang Membentuk rupa,
Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang
ada di langit dan di bumi . Dan Dia lah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana" (Al Hasyr: 24).
Hendaknya manusia senantiasa men-taddaburi ayta-ayat-Nya, baik
yang qauliyah maupun kauniyah. Karena di sana terdapat lautan
ilmu-Nya,serta dorongan/ motivasi untuk mengkaji maupun mengimplementasikannya.
"Hai jama'ah jin dan manusia jika
kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah,
kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan" (Ar Rahman :33). Dengan ayat ini manusia akan mengerti jika
ingin menembus langit diperlukan energi yang besar.
Maka dengan segala bahan-bahan yang ada di alam ini manusia harus mampu
mengkonversi energi tersebut. Masih banyak ayat-ayat Al Qur'an yang berkaitan
dengan ilmu pengetahuan dan cabang-cabangnya. Allah swt telah menciptakan alam
beserta isi dan sistemnya dan juga telah mengajarkannya kepada manusia. Dengan
mencermati Al Qur'an, akan melahirkan kajian-kajian yang lebih detail tentang
keberadaan ciptaan-Nya.
Timbulnya ilmu pengetahuan, disebabkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang
berkemauan hidup bahagia. Dalam mencapai dan memenuhi kebutuhan hidupnya itu,
manusia menggunakan akal pikirannya. Mereka menengadah ke langit, memandang
alam sekitarnya dan melihat dirinya sendiri. Dalam hal ini memang telah menjadi
qudrat dan iradat Nya, bahwa manusia dapat memikirkan sesuatu
kebutuhan hidupnya. Telah tercantum dalam Al Qur'an perintah Allah swt :
"Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah
bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan Rasul-Rasul yang memberi peringatan bagi
orang-orang yang tidak beriman" (Yunus: 101)
Hasil dari pemikiran manusia itu melahirkan ilmu pengetahuan dengan
berbagai cabangnya. Maka ilmu pengetahuan bukanlah musuh atau lawan dari iman,
melainkan sebagai wasailul hayah (sarana kehidupan) dan juga nantinya
yang akan membimbing ke arah iman. Sebagaimana kita ketahui, banyak ahli
ilmu pengetahuan yang berpikir dalam, telah dipimpin oleh pengetahuannya kepada
suatu pandangan, bahwa di balik alam yang nyata ini ada kekuatan yang lebih
tinggi, yang mengatur dan menyusunnya, memelihara segala sesuatu dengan ukuran
dan perhitungan.
Herbert Spencer dalam tulisannya tentang pendidikan, menerangkan sebagai
berikut: "Pengetahuan itu berlawanan dengan khurafat, tetapi tidak
berlawanan dengan agama. Dalam kebanyakan ilmu alam kedapatan paham tidak
bertuhan (atheisme), tetapi pengetahuan yang sehat dan mendalami kenyataan,
bebas dari paham yang demikian itu. Ilmu alam tidak bertentangan dengan agama. Mempelajari
ilmu itu merupakan ibadah secara diam, dan pengakuan yang membisu tentang
keindahan sesuatu yang kita selidiki dan kita pelajari, dan selanjutnya
pengakuan tentang kekuasaany Penciptanya. Mempelajari ilmu alam itu tasbih
(memuji Tuhan) tapi bukan berupa ucapan, melainkan tasbih berupa amal dan
menolong bekerja. Pengetahuan ini bukan mengatakan mustahil akan memperoleh
sebab yang pertama, yaitu Allah".
"Seorang ahli pengetahuan yang melihat setitik air, lalu dia
mengetahuinya bahwa air itu tersusun dari oksigen dan hidrogen, dengan
perbandingan tertentu, dan kalau sekiranya perbandingan itu berubah, niscaya
air itu akan berubah pula menjadi sesuatu yang bukan air. Maka dengan itu ia
akan meyakini kebesaran Pencipta, kekuasaan dan kebijaksanaan-Nya. Sebaliknya
orang yang bukan ahli dalam ilmu alam, akan melihatnya idak lebih dari setitik
air".
Manusia sejak zaman dahulu telah mengerahkan daya akal untuk menyelidiki
rahasia serta mencari hubungannya dengan kebutuhan dan tujuan hidupnya di atas
bumi ini. Maka lahirlah para ahli ilmu alam seperti astronom, meteorolog,
geolog, fisikawan, dsb beserta para ahli filsafatnya di bidang tersebut.
Penemuan di bidang astronomi menyebabkan kosmologi terbagi dalam dua
kelompok, yaitu kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini statis, dari
permulaan diciptakannya sampai sekarang ini tak berubah dan kelompok yang
beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis, bergerak atau berubah.
Kelompok yang beranggapan bahwa alam semesta ini dinamis ditunjang oleh
ilmu pengetahuan modern. Menurut teori evolusi, pengembangan seperti dibuktikan
oleh adanya red shift, ditafsirkan bahwa alam semesta ini dimulai dengan satu
ledakan dahsyat. Materi yang terdapat dalam alam semesta itu mula-mula
berdesakan satu sama lain dalam suhu dan kepadatan yang sangat tinggi, sehingga
hanya berupa proton, neutron, dan elektron, tidak mampu membentuk susunan yang
lebih berat. Karena mengembang, maka suhu menurun sehingga proton dan neutron
berkumpul membentuk inti atom. Kecepatan mengembang ini menentukan macam atom
yang terbentuk.
Para ahli ilmu alam telah menghitung bahwa masa mendidih itu tidak lebih
dari 30 menit. Bila kurang artinya mengembung lebih cepat, alam semesta ini
akan didominir oleh unsur hidrogen. Apabila lebih dari 30 menit, berarti
mengembung lambat, unsur berat akan dominan. Selama 250 juta tahun sesudah
ledakan dahsyat, energi sinar dominan terhadap materi, transformasi di antara
keduanya bisa terjadi sesuai dengan rumus Einstein, E = mc2. Dalam proses pengembungan inienergi sinar banyak terpakai dan meteri
semakin dominan. Setelah 250 juta tahun maka masa dari meteri dan sinar menjadi
sama. Sebelum itu, tidak dibayangkan behwa materi larut dalam panas radiasi,
seperti garam larut di air. Pada masa itu, setelah lewat 250 juta tahun, matei
dan gravitasi dominan, terdapat differensiasi yang tadinya homogen. Bola-bola
gas masa galaxi terbentuk dengan garis tengah kurang lebih 40.000 tahun cahaya
dan masanya 200 juta kali massa matahari kita. Awan gas gelap itu kemudian
berdifferensiasi atau berkondensasi menjadi bola-bola gas bintang yang
berkontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi sangat cepat. Akibat kontraksi atau
pemadatan itu maka suhu naik sampai 20.000.000 derajat, yaitu threshold
reaksi inti, dan bintang itupun mulai bercahaya. Karena sebagian dari
materi terhisap ke pusat bintang, maka planet dibentuk dari sisa-sisanya. Yaitu
butir-butir debu berbenturan satu sama lain dan membentuk massa yang lebih
besar, berseliweran di ruang angkasa dan makin lama makin besar.
Proses kondensasi bintang pembentukan planet membutuhkan waktu beberapa
ratus juta tahun. Kita mengetahui bahwa bulan bergerak menjauhi bumi, hal ini
berarti bahwa beberapa milyar tahun yang lalu bumi dan bulan itu satu, dan
bulan merupakan pecahan dari bumi yang memisahkan diri. Firman Allah swt:
"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit
dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan
antara keduanya. Dan daripada air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka
mengapakah mereka tiada juga beriman" (Al Anbiya: 30)
Konsep ini jelas menunjang teori kedinamisan alam semesta. Orang Rusia
berdasarkan umur batu bulan, telah menetapkan bahwa bulan berumur 4,5 milyar
tahun.
Dalam mempelajari red shift, jarak diukur dengan tahun cahaya, bukan
dengan kilometer. Kecepatan cahaya adalah 300.000 km per detik, sedangkan
beberapa galaxi beberapa juta tahun cahaya jauhnya. Pada waktu kita memandang
galaxi yang sangat jauh itu, sebetulnya kita sedang meneropong jauh ke masa
yang silam. Dalam mempelajari galaxi yang jauhnya satu milyar tahun cahaya,
sebetulnya membuktikan bahwa satu milyar tahun yang lalu alam semesta ini
mengembung dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sekarang. Hal ini berarti
pula bahwa kita berada di alam semesta yang dinamis, bukan statis.
Lain daripada itu penurunan kecepatan mengembung meramalkan bahwa pada
suatu waktu pengembungan itu akan berhenti, kemudian berkontraksi, pada
akhirnya kembali kepada situasi kepadatan seperti asalnya lebih kurang lima
milyar tahun yang lalu.
Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa alam semesta ini
mengembung dan mengempis. Untuk lebih lanjut perhatikan uraian George Gemov
dalam bukunya The Creation of the Universe, hal. 36: ". . . bahwa
tekanan raksasa yang terjadi pada permulaan sejarah alam semesta adalah akibat
dari suatu kehancuran yang terjadi sebelumnya, dan bahwa pengembungan yang
sekarang ini sebenarnya hanyalah suatu gerak kembali yang elastis yang terjadi
segera setelah tercapai kepadatan maximun yang diizinkan. "
Kita tidak mengetahui secara pasti bagaimana besarnya tekanan yang tercapai
pada kepadatan yang maksimum itu, tetapi menurut semua petunjuk tekanan itu
sungguh-sungguh amat tinggi. Besar kemungkinan seluruh massa alam semesta yang
mempunyai kemungkinan bentuk yang bagaimanapun dalam masa pra kehancuran
telah dimusnahkan secara sempurna, dan bahwa atom-atom dan intinya telah
dipecahkan menjadi proton, neutron, dan elektron serta partikel dasar
lainnya, jadi tak ada satupun yang bisa dituturkan tentang masa alam sebelum
pemadatan alam semesta itu. Segera setelah kepadatan massa alam semesta itu
mencapai titik maksimum, kepadatan yang sangat tinggi itu hanya bertahan dalam
waktu sebentar saja.
Segala sesuatu yang berada dalam alam semesta adalah ciptaan (makhluq)
Allah swt sebegai refleksi dan manifestasi dari wujud Allah swt dengan segala
sifat kesempurnaan-Nya. Karena itu manusia tidak habis-habisnya mengagumi isi al
kaun ini terus mengambil pelajaran dan ibroh yang bermanfaat dari
padanya.
"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali
tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.
Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu
dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan
payah" (Al Mulk: 3,4)
Tegaknya langit, keseimbangan benda-benda langit sesuai dengan ciptaan dan
pengaturan dari Penciptanya. "Dan Allah telah meninggikan langit dan
Dia meletakkan neraca (keadilan)" (Ar Rahman:7)
"Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan
sungguh jika keduanya akan lenyap tidak tidak ada seorang pun yang dapat
menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha
Pengampun" (Faathir:41)
Ayat di atas menyatakan adanya semacam penahan yang membawa kepada
ketenangan benda-benda langit, meskipun benda-benda langit itu saling bergerak.
Hal ini menunjukkan kenyataan kebenarannya terhadap ummat manusia.
Para ahli fisika sudah cukup lama mengenal gaya gravitasi antara
benda-benda bermassa yang bekerja secara luas dalam alam ini. setelah Issac
Newton pada tahun 1686 merumuskan hukum gravitasi, maka orang dapat dengan
mudah memahami dan menerangkan berbagai peristiwa dalam jagad raya ini. Hukum-hukum
Kepler yang sudah ada sebelum Newton, ternyata dapat dipahamkan sebagai akibat
saja dari hukum gravitasi Newton tersebut.
Dari keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa universum itu berjalan
dengan eksak, kokoh, teratur, rapi dan harmonis, yang tidak akan ada
habis-habisnya menjadi tantangan yang menakjubkan bagi manusia. Setelah beriman
kepada Allah, maka menjadi mudah bagi kita untuk menerima, bahwa hukum-hukum
itu adalah sunatullah atau aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah
bagi makhluq-Nya yang tidak berubah-ubah.
"Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka)
yang jahat. Rencana jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang
merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nati-nantikan melainkan
(berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang
terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan menemui perubahan bagi sunnah
Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah
itu. " (Faathir: 43)
Demikianlah, Allah swt telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna,
seimbang, beraturan, sistemik. Maka Dia jualah yang paling tahu hakikat
dan tujuan penciptaan-Nya, dan telah dikabarkannya ciptaan Allah swt itu
kepada manusia. Manusia telah diperintahkan untuk bertafakur atas ciptaan-Nya,
sehingga mampu memanfaatkannya. Dan agar manusia mampu mengenal pencipta-Nya
serta mengagungkan-Nya; Dia lah Allah swt tiada Tuhan selain-Nya. Dengan
ilmu-Nya Allah mengajarkan kepada hamba-Nya apa-apa yang telah diciptakan
dengan proses terjadinya, sehingga manusia akan menjadi tahu dan berilmu. Setelah
itu akan lahir cabang-cabang ilmu pengetahuan yang menyebar ke setiap penjuru
ufuk kehidupan manusia. Dengan ilmunya manusia diharapkan menemukan kebenaran
dan menjadikannya sebagai landasan kehidupan.
"Kami akan memperlihatkan kapada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami
di segenap ufuk pada diri mereka sendiri sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al
Qur'an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa
sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?" (Fushshilat: 53).
Ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah.
Allah swt menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia
dengan dua jalan. Pertama, dengan ath thariqah ar rasmiyah (jalan
resmi) yaitu dalam jalur wahyu melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya,
yang disebut juga dengan ayat-ayat qauliyah.
Kedua, dengan ath thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak
resmi) yaitu melalui ilham kepada makhluq-Nya di alam semesta ini (baik makhluq
hidup maupun yang mati), tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Kerena tak
melalui perantaraan malaikat Jibril maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan).
Kemudian jalan ini disebut juga dengan ayat-ayat kauniyah.
Wahyu dalam pengertian ishtilahi adalah: "kalamullah
yang diturunkan kepada Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul yang menjadi hudan
(petunjuk) bagi umat manusia", baik yang diturunkan langsung, dari
belakang tabir (min wara' hijab) maupun yang diturunkan melalui malaikat
Jibril, seperti firman Allah swt:
"Tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan
dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan
mengutus seseorang (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya apa yang Dia kehendaki.
Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana" (Asy Syura:51)
Pengertian wahyu secara ishtilahi perlu dipertegas karena ma'na
wahyu secara lughawi memiliki pengertian yang bermacam-macam, antara
lain:
1.
Ilham Fithri, seperti wahyu yang diberikan
kepada ibu Nabi Musa untuk menyusukan Musa yang masih bayi. "Dan Kami
ilhamkan kepada ibu Musa; susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya
maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). . . " (Al Qashash:7).
2.
Insting Hayawan, seperti
wahyu yang diberikan kepada lebah untuk bersarang di bukit-bukit, pohon-pohon,
dan dimana saja dia bersarang. "Dan Tuhanmu mewahyukan
kepada lebah: buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di
tempat-tempat yang dibikin manusia" (An Nahl:68).
3.
Isyarat, seperti yang diwahyukan oleh Nabi
Zakaria kepada kaumnya untuk bertasbih pagi dan sore. "Maka ia keluar
dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah
kamu bertasbih di waktu pagi dan petang" (Maryam:11).
4.
Perintah Allah kepada malaikat,
untuk mengerjakan sesuatu seperti perintah Allah kepada malaikat untuk membantu
kaum muslimin dalam perang Badr. "(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan
kepada para malaikat; Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah
(pendirian) orang-orang yang telah beriman. . . " (Al Anfal:12).
5.
Bisikan syaithan
". . . Sesungguhnya syaithan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar
mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu
tentulah menjadi orang-orang yang musyrik" (Al An'am :121).
Dalam ayat tersebut ada kata layuhuna
(mewahyukan) yang berarti membisikkan. Hadits Qudsi juga termasuk
dalam wahyu (hadits yang maknanya dari Allah swt, sedangkan redaksinya dari Rasulullah
saw), dan hadits Nabawi, (makna dan redaksinya dari Rasulullah saw)
karena pada hakekatnya apa saja yang berasal dari Rasulullah saw mempunyai
nilai wahyu, firman Allah swt:
"Apa yang diberikan Rasul
kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah
dia; dan bertaqwa-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras
hukumannya" (Al Hasyr:7)
Ayat-ayat qauliyah
mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-ayat kauniyah),
oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari, menyelidiki dan
merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt berfirman: "Bacalah
(ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan
manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang Mengajar
(manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya" (Al ‘Alaq:1-5).
"Dialah Tuhan yang membentangkan
bumi dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan. Allah
menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan" (Ar Ra'du:3)
"Dan di bumi ini terdapat
bagian-bagian tanah yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanam-tanaman
dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air
yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang
lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir" (Ar Ra'du:4)
"Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda
bagi orang-orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah
sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata):Ya Tuhan kami, tiadalah
Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah
kami dari siksa neraka. " (Ali Imran:190-191).
Dengan mempelajari, mengamati, menyelidiki dan merenungkan alam semesta (al
kaun) dengan segala isinya, manusia dapat melahirkan berbagai disiplin ilmu
seperti: Kosmologi, Astronomi, Botani, Meteorologi, Geografi, Zoologi,
Antropologi, Psikologi dsb. Sedangkan dari mempelajari wahyu manusia melahirkan
berbagai disiplin ilmu seperti: Tafsir, Ilmu Tafsir, Hadits, Ilmu Hadits,
Fiqih, Ushul Fiqih dsb.
Dengan memahami bahwa semua ilmu itu adalah dari Allah swt maka dalam mendalami
dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan pun (al kaun) harus mengacu
firman Allah swt sebagai referensi, sehingga akan semakin meneguhkan keimanan. Selain itu
penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi akan terkendali serta mengenal adab. Sebagai
misal dalam dunia teknologi kedokteran, pengalihan sperma ke sebuah rahim
seorang wanita (dalam proses bayi tabung) maka harus memperhatikan sperma itu
diambil dari siapa dan diletakkan ke rahim siapa. Proses kesepakatan, perizinan
juga harus jelas. Jangan sampai bayi lahir menjadi tidak jelas nasabnya. Di
bidang astronomi tidak boleh diselewengkan untuk meramal nasib, padahal antara
keduanya tak ada hubungan sama sekali. Dalam hal menikmati keindahan alam, akan
menjadi suatu kedurhakaan jika dalam menikmatinya dengan membangun vila-vila
untuk berbuat maksiat. Namun seorang mu'min menjadikan alam semesta untuk tafakur
agar dekat dengan-Nya.
Konsep Kebenaran Ilmu
Wahyu (al Qur'an dan as Sunnah) memiliki nilai kebenaran
yang mutlak (al haqiqah al muthlaqah) karena langsung berasal dari Allah
swt dan Rasul-Nya. Tetapi pemahaman terhadap wahyu yang memungkinkan beberapa
alternatif pemahaman tidaklah bersifat mutlak. Sedangkan ilmu yang
didapat dari alam semesta memiliki nilai kebenaran yang nisbi (realtif) dan tajribi
(eksprimentatif) atau dengan istilah al haqiqah at tajribiyah.
Kebenaran yang mutlak harus dijadikan burhan atau
alat untuk mengukur kebenaran yang nisbi, jangan sampai terbalik, justru
kebenaran yang mutlak diragukan karena bertentangan dengan kebenaran yang nisbi
(relatif dan eksprimentatif). Sejarah ilmu pengetahuan sudah membuktikan
bahwa suatu penemuan atau teori yang dianggap benar pada satu masa
digugurkan kebenarannya pada masa yang akan datang. Hal itu disebabkan
keterbatasan manusia. Dalam mengamati, menyelidiki dan menyimpulkan segala
fenomena yang ada di alam semesta. Oleh sebab itu jika terjadi pertentangan
antara kesimpulan yang didapat oleh manusia dari al kaun
dengan wahyu, maka yang harus dilakukan adalah menguji kembali kesimpulan
tersebut, atau menguji kembali pemahaman manusia terhadap wahyu. Logikanya,
wahyu dan alam semesta semuanya berasal dari Allah swt yang Maha Benar,
mustahil terjadi pertentangan satu sama lain.
Hikmah
mengimani ilmu Allah swt
Pertama, membuat manusia sadar bahwa betapa tidak berarti
dirinya dihadapan Allah swt, sebab seluruh ilmu yang dimiliki manusia adalah
ibarat setitik air laut dibandingkan dengan air laut secara keseluruhan. Oleh
karena itu manusia tidak ada alasan untuk sombong dan menjadikan ilmu menjadi
penyebab kekufuran dan kedurhakaan kepada Yang Maha Mengetahui segalanya. Seharusnya
manusia menjadikan ilmu untuk alat ber-taqarub kepada-Nya, sebagaimana
perilaku para ulil albab.
Kedua, dengan menyadari bahwa ilmu
Allah swt sangat luas, tidak ada satupun (betapa pun kecil dan halusnya) yang
luput dari ilmu-Nya, maka manusia akan dapat mengontrol tingkah laku, ucapan
dan amalan batinnya sehingga selalu sesuai dengan yang diridhai Allah swt.
Ketiga, keyakinan terhadap ilmu Allah swt akan menjadi terapi
yang ampuh untuk segala penyelewengan, penipuan dan kemaksiatan lainnya. Maka
dalam pemahamannya adalah dengan mengaplikasikan sifat Allah swt tsb dalam
kehidupan nyata sehari hari, berusaha melaksanakan perintah dan larangan-Nya
baik di tempat ramai maupun sunyi. Kita tidak lagi terpengaruh dengan
"diketahui" atau "tidak diketahui" oleh orang lain
untuk melakukan atau meninggalkan sesuatu. Karena kita menyadari betapa Allah
swt Maha Mengetahui yang pasti selalu melihat, mendengar, memperhatikan apa yang
kita lakukan di mana dan kapan saja.
Di zaman salafus shalih, kita masih ingat kisah seorang
gadis shalihah dengan ibunya yang menjual susu. Suatu saat ibunya menyuruh
dagangannya untuk dicampur dengan air, agar mendapatkan untung yang lebih. Namun
puterinya menolak. "Bukankah Khalifah Umar tidak melihat?"
kata sang ibu. "Tapi Tuhannya Umar mengetahui, Bu!" kata
putrinya. Tak disangka percakapan itu didengar Umar bin Khaththab. Maka gadis
shalihah tsb dipinang untuk putera Umar sang Khalifah. Dan kitapun tahu persis
bahwa dari seorang wanita shalihah tersebut, akhirnya menurunkan (cucu)
tokoh, Umar Bin Abdul ‘Aziz yang legendaris.
Juga kisah seorang anak gembala dengan sekian banyak
gembalaan milik tuannya. Suatu saat Umar bin Khathab menguji kekuatan muraqabatullah-nya.
Dikatakan kepada anak tsb, bahwa kambingnya akan dibeli dengan harga yang lebih.
Namun anak itu menolak. "Kamu bisa mengatakan kepada tuanmu kambingnya
dimakan binatang buas!" kata Umar ra. "Lantas dimana
Allah?" tanya anak tersebut. Subhanallah. . .
Sebenarnya bagi seorang muslim yang sudah ber-iltizam
akan selalu merasa tenang, bahagia karena segala amal kebaikannya tidak
akan dirugikan sedikitpun baik diketahui ataupun tidak oleh orang lain, kerena
dia yakin bahwa Allah swt telah mengawasinya. Sehingga seorang al akh ash shadiq
akan senantiasa beramal dengan ikhlas karena Allah swt semata, bukan karena murabbinya,
apalagi karena calon istri atau pun mertuanya. Tidak bangga karena pujian,
tidak merasa lemah karena celaan. Tetap semangat walau tak diketahui orang, tak
takabur ketika dilihat banyak orang. Juga tak takut dengan kegagalannya, atau
tak bangga diri dengan keberhasilannya. Apapun yang terjadi tak akan
mengoncangkan jiwanya, atau merusak muamalah dengan saudaranya (karena mungkin
saudara kita telah menilai salah terhadap diri kita), atau bahkan
membahayakan aqidahnya.
"Dan katakanlah; bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya
serta orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata,
lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan" (At
Taubah:105)
Penjelasan Rasmul Bayan
1.
Allah.
1.1.Yang Maha Pencipta.
Dalil :
· Q.
25:2, Tuhan yang menguasai pemerintahan langit dan bumi, dan yang tidak
mempunyai anak serta tidak mempunyai sembarang sekutu dalam pemerintahan-Nya,
dan Dialah yang menciptakan tiap-tiap sesuatu lalu menentukan keadaan makhluk-makhluk
itu dengan ketentuan takdir yang sempurna.
1.2.Yang Maha Bijaksana.
Dalil :
·
Q. 67:14, Tidakkah Allah yang menciptakan sekalian makhluk itu
mengetahui (segala-galanya)? Sedang Ia
Maha Halus urusan pentadbiran-Nya lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya.
2.
Jalan Formal.
2.1.Dengan Wahyu.
Penjelasan :
· Secara
resminya ilmu Allah kepada makhluk adalah memberikan wahyu kepada para Rasul
alaihissalam.
Dalil :
· Q. 3:38, Ketika itu Nabi Zakaria berdoa kepada
Tuhannya, katanya : “Wahai Tuhanku. Kurniakanlah
kepadaku dari sisi-Mu anakt keturunan yang baik, sesungguhnya Engkau senantiasa
Mendengar (menerima) doa permohonan”.
2.2.Memerlukan Rasul.
Penjelasan :
Penurunan wahyu ini bukanlah kepada
sembarang orang, bahkan kepada mereka yang dipilih oleh Allah untuk
melaksanakan tujuan demikian. Para Rasul
adalah mereka yang terpilih untuk menerima wahyu-wahyu yang telah diturunkan
itu.
Dalil :
·
Q. 42:53, Yaitu jalan Allah yang
memiliki dan menguasai segala yang ada di langit dan yang ada di bumi. Ingatlah !
Kepada Allah jualah kembali segala urusan.
2.3.Ayat Qauliyah.
Penjelasan :
Wahyu yang diturunkan itu merupakan
kitab langsung dari Allah berkenaan dengan suatu perkara yang kita namakan
sebagai ayat qauliyah.
Dalil :
· Q.
55:1-2, (Tuhan) Yang Maha Pemurah serta melimpah-limpah rahmat-Nya. Dialah yang telah mengajarkan Al Qur’an.
· Q.
96:1, Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan
(sekalian makhluk).
2.4.Berfungsi sebagai Pedoman Hidup.
Penjelasan :
Ilmu-ilmu dari wahyu ini berfungsi sebagai pedoman hidup bagi manusia
atau minhajul hayat.
Dalil :
·
Q. 3:19, Sesungguhnya agama (yang benar dan diridhai) di sisi Allah
ialah Islam. Dan orang-orang (Yahudi dan
Nasrani) yang diberikan Kitab itu tidak berselisih (mengenai agama Islam dan
enggan menerimanya) melainkan setelah sampai kepada mereka pengetahuan yang sah
tentang kebenarannya, perselisihan itu pula) semata-mata karena hasad dengki
yang ada dalam kalangan mereka. Dan
(ingatlah), siapa yang kufur ingkar akan ayat-ayat keterangan Allah, maka
sesungguhnya Allah amat segera hitungan hisabNya.
· Q. 3:85, Dan siapa yang mencari agama selain agama
Islam, maka tidak akan diterima daripadanya dan ia pada hari akhirat kelak dari
orang-orang yang rugi.
2.5.Kebenarannya Mutlak.
Dalil :
·
Q. 2:147, Kebenaran (yang
datangnya kepadamu dan disembunyikan oleh kaum Yahudi dan Nasrani) itu (wahai
Muhammad) adalah datangnya dari Tuhanmu, oleh karena itu jangan sekali-kali
engkau termasuk dalam golongan orang-orang yang ragu-ragu.
·
Q. 41:53, Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu
adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas
segala sesuatu?
3.
Jalan Non Formal.
3.1.Dengan Ilham.
Dalil :
· Q.
90:5, Apakah manusia itu menyangka bahwa sekali-kali tiada seorangpun yang
berkuasa atasnya?
3.2.Langsung.
Dalil :
· Q.
2:31, Dan ia telah mengajarkan Nabi Adam akan segala nama benda-benda dan
gunanya, kemudian ditunjukkannya kepada malaikat lalu Ia berfirman : “Terangkanlah
kepada-Ku nama benda-benda ini semuanya jika kamu golongan yang benar”.
·
Q. 55:4, Dialah yang telah
membolehkan manusia (bertutur) memberi dan menerima kenyataan.
3.3.Ayat Kauniyah.
Dalil :
· Q.
3:190, Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam
dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan dan keluasan rahmat Allah)
bagi orang-orang yang berakal.
·
Q. 41:53, Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu
adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas
segala sesuatu?
3.4.Berfungsi sebagai Sarana Hidup.
Dalil :
·
Q. 11:61, 61. Dan kepada
Tsamud (kami utus) saudara mereka shalih. Shalih berkata: "Hai kaumku,
sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah
menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena
itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, Sesungguhnya
Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya)."
[726] Maksudnya: manusia dijadikan
penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.
3.5.Kebenaran Eksperimen.
Dalil :
·
Q. 10:36, Dan kebanyakan mereka,
tidak menurut melainkan sesuatu sangkaan saja, (padahal) sesungguhnya sangkaan
itu tidak dapat memenuhi kehendak menentukan sesuatu dari kebenaran (i’tiqad). Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan apa
yang mereka lakukan.
3.6.Untuk Manusia agar Beribadah.
Dalil :
· Q.
51:56, Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk
mereka menyembah dan beribadah kepada-Ku.
Sinopsis
Allah SWT
telah menciptakan alam ini dengan sistem yang menyeluruh. Satu sama lain saling
berkaitan dan masing-masingnya mempunyai manfaat yang berbeda. Allah yang
menciptakan alam ini, sehingga Maha Mengetahui segalanya dari yang paling kecil
hingga sebesar-besarnya. Karena itu Allah menjadi sumber ilmu pengetahuan.
Allah sebagai Al Alim terhadap semua jenis ilmu, tidak hanya tentang agama
tetapi semua ilmu yang ada dan berkembang di muka bumi ini dikuasai oleh Allah
SWT. Karena Allah yang menciptakan semuanya, maka Allah mengetahui segalanya
yang dikenal dengan Al Alim.
Ada dua
jalan yang Allah tunjukkan untuk mengenal ilmu Allah dimana Allah memberikan
ilmu pengetahuan kepada manusia melalui wahyu dan ilham. Jalan formal melalui wahyu dan jalan non formal melalui ilham. Secara formal, Allah menurunkan
wahyu melalui Rasul sebagai ayat-ayat qauliyah.
Ayat-ayat ini merupakan kebenaran yang mutlak dari Allah yang menjadi
panduan dan manhaj untuk manusia.
Nilai ilmu yang didapatkan melalui formal adalah mutlak sifatnya dan tidak
pernah berubah dari awal diturunkannya ayat Al Quran kepada Nabi SAW hingga
hari kiamat. Semenjak Nabi SAW, nilai yang dianut tidak berbeda dengan yang
dianut oleh masyarakat saat ini misalnya tata cara shalat, puasa, zakat dan
haji walaupun zaman sudah berubah. Oleh karena itu nilai ayat qauliyah yang ada dalam Al Quran begitu
banyak mengandung Ilmu Allah yang dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia.
Nilai mutlak yang terdapat dalam Al Quran sebagai ayat qauliyah dijadikan isyarat bagi membuktikan kebenaran ayat kauniyah yang ada di alam semesta.
Sehingga pembuktian dari alam semesta menambah keimanan dan kebenaran dari
ayat Allah dalam Al Quran. Pedoman hidup manusia tidak berasal dari cara fikir
manusia tetapi berasal dari Allah yang menciptakan manusia.Hal ini berbeda
dengan ilmu yang berkaitan tentang sarana kehidupan yang setiap saat bisa berubah.
Secara non
formal, ilmu Allah dapat diterima dan diserap oleh manusia melalui tafakkur, tadabur dan penelitian terhadap
alam. Ilmu yang diperoleh manusia lewat jalur ini dipergunakan manusia sebagai
sarana untuk mempermudah kehidupan mereka. Ilmu ini merupakan rangkaian dari
pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia. Sarana hidup perlu dikembangkan
sesuai dengan keperluan manusia dan perkembangan pengetahuan dan teknologi.
Walaupun proses berkembangnya dari pengalaman dan penelitian, tetapi objek
kajian tersebut adalah ciptaan Allah yang di dalamnya telah ditetapkan sunnatullah kauniyah yang bersifat tetap
dan sesuai dengan hukum alam yang Allah tetapkan. Ilmu yang dikembangkan
manusia telah terdapat dalam alam semesta tersebut. Hakikat dari ilmu
pengetahuan untuk keperluan sarana hidup ini bisa berubah setiap waktu. Ketika
di zaman Nabi SAW berperang dengan panah dan berkendaraan dengan unta, tetapi
saat ini telah berubah dimana berperangnya dengan senjata canggih dan kendaraan
yang modern.
Allah
sebagai sumber ilmu pengetahuan, tidak ada cara lain untuk mendapatkan ilmu
yang ada di bumi kecuali memperoleh melalui kedua jalur di atas. Semua ilmu
yang berkembang berasal dari Allah melalui jalur wahyu dan ilham. Dengan kedua
cara ini, penting untuk mengabdikan diri dan bertaqwa kepada Allah.
1. Allah
Allah
sebagai Pencipta manusia memiliki pengetahuan luas atas ciptaanNya. Oleh karena
itu waj ar Allah sebagai khaliq dan
juga sebagai Al Alim.
Dalil
Q.59:24.
Allah sebagai sembahan yang mengetahui alam ghaib dan nyata. Dialah Allah yang
menciptakan alam ini.
2. Al
Khaliq (Maha Pencipta)
Allah
sebagai Pencipta berhak mempunyai aturan terhadap ciptaanNya. Segala aturan
yang diterapkan mengandung ilmu yang begitu banyak. Allah sebagai Pencipta juga
menjadikan Allah sebagai Pemilik ilmu pengetahuan.
Dalil
Q. 25:2.
Allah yang menjadikan segala sesuatu, lalu mengaturnya menurut aturan tertentu.
3. Al `Alim (Maha
Pandai/Mengetahui)
Allah
sebagai Pencipta, mengetahui yang ghaib dan yang nyata (Q.59:22). Selain itu
Allah Maha Halus dan Maha Mengetahui sehingga mengetahui apa yang dirahasiakan
dan juga yang dilahirkan.
Dalil
Q. 67:14.
Apakah Allah yang menciptakan itu, tidak mengetahui yang kamu lahirkan dan
rahasiakan; dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?
4. Al
Khosos (Khusus)
Ilmu Allah
dapat diketahui melalui pendekatan khusus karena hanya melalui RasulNya berupa
wahyu yang diturunkan dapat diketahui ilmu Allah tersebut. Manusia biasa tidak
mendapatkan ilmu ini, karena ilmu melalui cara khusus ini berupa wahyu-wahyu
Allah.
A. Ath Thariq Ar Rasmiyah (Jalan Formal)
Pendekatan
khusus ini disebutkan juga dengan jalan resmi, artinya Allah melalui malaikat
Jibril menyampaikan firmanNya secara bertahap dan pasti untuk dijadikan pedoman
hidup dan petunjuk agar memperoleh kebahagian dan kedamaian.
B. Al Wahyu (Wahyu)
Pada
dasarnya setiap wahyu adalah ilmu Allah yang di dalamnya banyak mengandung
pengetahuan bagi mereka yang menggunakan akalnya untuk berfikir. Al Quran
sebagai contoh ilmu Allah yang diturunkan kepada Nabi SAW melalui wahyu. Dengan
demikian semua ayat Allah dalam Al Quran patut dipelajari karena banyak
terkandung ilmu bagi kehidupan manusia.
Dalil
Q. 3 :38.
Disanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku
berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha
Pendengar doa ".
C. Ar
Rasul (Rasul)
Ilmu Allah
dalam bentuk wahyu diturunkan melalui Rasul. Malaikat Jibril dengan berbagai
cara menyampaikan wahyu ini kepada rasul. Yang dibawa malaikat kepada Nabi SAW
adalah ilmu Allah yang perlu disosialisasikan oleh Nabi SAW kepada semua
manusia.
Dalil
Q.
42:51-53. Dan tidak ada bagi seorangpun manusia bahwa Allah berkata-kata dengan
manusia kecuali melalui perantaraan wahyu atau melalui malaikat. Demikianlah
diwahyukan Al Quran dengan perintah kami. Dan Allah benar-benar memberi
petunjuk kepada jalan yang lurus. Yaitu jalan Allah yang kepunyaanNya segala
apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada
Allahlah kembali semua urusan.
D. AI Ayatul Qauliyah (Ayat Berupa Firman Allah) - Al Isyarah (Isyarat)
Ayat qauliyah adalah ayat-ayat Al Quran. Ayat
qauliyah ini merupakan tanda-tanda
kekuasaan Allah berupa firmanNya. Ayat tentang larangan memakan babi juga mengandung
ilmu pengetahuan, begitu juga larangan memakan makanan binatang yang bertaring,
buas, bangkai dan sebagainya. Begitu juga perintah memakai pakaian muslimah,
berzakat, berekonomi tanpa riba, berhukum Islam dan lainnya. Semua perintah
ini mengandung ilmu yang cukup luas sekali. Juga termasuk ayat yang menjelaskan
proses penciptaan bumi dan langit, pergantian siang dan malam, dan kejadian
manusia mengandung ilmu pengetahuan yang sangat berkembang saat ini.
Ayat-ayat
ini menjadi isyarat bagi kita untuk membuktikannya melalui ayat-ayat kauniyah. Ayat qauliyah juga memberikan isyarat tentang bukti-bukti adanya ilmu Allah
yang begitu luas untuk dikaji dan dikembangkan sehingga dapat menambah
keimanan.
Al Quran
sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah yang di dalamnya bisa memberikan inspirasi
berbagai jenis ilmu. Di dalam Al Quran mengandung ilmu kedokteran, kesehatan,
fisika, biologi, psikologi, sosial, politik, ekonomi, hukum dan banyak lagi
yang lainnya. Semua ilmu tersebut diperuntukkan bagi keperluan manusia.
Ilmu yang
ada di dalam Al Quran sangat sesuai dengan fitrah manusia, bersifat universal
dan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara objektif, sehingga ilmu ini
mutlak dan tidak berubah. Kemutlakan ilmu Allah tersebut disebabkan karena ayat
Al Quran bersifat tetap dan tidak merubah serta mengatur yang bersifat prinsip.
Ilmu yang
berkembang di luar kerangka nilai Islam biasanya tidak mutlak dan selalu berubah,
karena didasari sangkaansangkaan (asumsi) manusia. Perlu kita mentermati dan
hatihati terhadap ilmu pengetahuan yang tidak sesuai dengan nilai Islam,
khususnya apabila ilmu tersebut dijadikan pedoman hidup seperti teori yang
dikeluarkan oleh Sigmund Freud untuk Psikologi dan paham-paham ilmu sosial
lainnya.
Dalil
Q. 55:1-2.
Tuhan Yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran.
Q. 96:1.
Bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan.
E. Minhajul Hayah (Pedoman Hidup)
Ayat qauliyah di dalamnya berfungsi sebagai
pedoman hidup. Al Quran penuh dengan nilai-nilai pedoman hidup. Minhajul hayah bersifat tetap karena
mengatur manusia yang dari awal adanya manusia hingga saat ini dan sampai
kiamat adalah tetap. Minhajul hayah tidak
mengatur yang bersifat sarana dan fasilitas manusia karena sarana dapat berubah
untuk setiap perkembangan zaman.
Minhajul hayah lebih
bersifat mengatur fitrah manusia yang tetap dan mengatur prinsip hidup manusia
yang tetap. Minhajul hayah juga
mengelola misi, visi dan fungsi
manusia di hadapan Allah, mengatur kebutuhan hidup manusia secara biologis,
ruhani dan akal. Dengan tidak adanya perubahan fitrah, prinsip, misi, visi,
fungsi, kebutuhan, biologis, ruhani dan akal manusia maka Islam sebagai mnhajul hayah adalah tetap seperti yang
telah diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi SAW
Dalil
Q.3:19.
Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanya Islam. Tiada berselisih
orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan
kepada mereka, karena kedengkian yang ada di antara mereka. Barangsiapa yang
kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabNya.
Q. 3: 85.
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan
diterima agama itu dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang
rugi.
E Haqiqah Al Muthlaqah (Kebenaran Mutlak)
Ilmu Allah
yang diturunkan berupa wahyu melalui malaikat kepada Rasul merupakan suatu
kebenaran yang mutlak dan tidak ada perubahan sedikitpun hingga hari akhir.
Kebenaran mutlak ini disebabkan karena Allah SWT sebagai Pencipta makhluk telah
diyakini sebagai sesuatu yang abadi, kekal dan mutlak. Sesuatu yang mutlak akan
mengeluarkan sesuatu yang juga langgeng, terlebih lagi Al Quran diturunkan
untuk kepentingan manusia yang sesuai dengan fitrah yang tidak pernah berubah.
Kebenaran
berasal dari Allah Pencipta manusia. Al Quran telah diturunkan dan tidak lagi
ditarik atau dihapus oleh Allah, melainkan sesuatu yang digunakan oleh manusia
sepanjang masa.
Dalil
Q. 2:147.
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu.
Q. 41:53.
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan Kami di segenap
ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Quran
itu adalah kebenaran. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup bagi kamu bahwa
sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
5. Al
Ammah (Umum)
Pendekatan
kedua untuk mengetahui ilmu Allah adalah melalui cara umum yaitu dengan
ayat-ayat kauniyah. Ilmu Allah melalui ayat kauniyah dapat diketahui dan
dipelajari oleh setiap manusia dan tidak melalui Rasul saja. Secara umum
(ammah) ini, bermaksud bahwa ilmu Allah dapat dipelajari dan diturunkan serta
difahami oleh siapa saja.
A. At
Thariq Ghairu Rasmiyah (Jalan Non Formal)
Pendekatan
umum ini juga disebut dengan jalan tidak resmi. Karena bukan berupa wahyu dan
tidak melalui Rasul tetapi kepada siapa saja manusia yang menggunakan akalnya,
oleh karena itu pendekatan ini disebut pendekatan tidak resmi.
B. Al Ilham (IIham)
Biasanya
ilmu Allah melalui pengamatan dan analisa kepada alam semesta diperoleh melalui
ilham. Misalnya Archimides mendapatkan ilmu tentang berat jenis dari ilham
ketika ia berenang di kolam, begitu pula Newton ketika mengeluarkan hukum
gravitasi diperoleh dari ilham jatuhnya buah apel dari pohon. Banyak lagi ilham
dan berfikirnya manusia bisa menelaah dan mengembangkan ilmu Allah yang berasal
dari ayat kauniyah.
Dalil
Q. 90:5.
Apakah manusia itu menyangka bahwa sekalikali tiada seorangpun yang berkuasa
atasnya.
Q. 3:190,
191. Penciptaan langit bumi dan pergantian malam siang sebagai tanda bagi orang
yang berakal. Allah meminta manusia memikirkan penciptaan langit dan bumi.
C.
Mubasyarah (Langsung)
Ilmu Allah
yang berupa firman Allah diturunkan melalui wahyuNya sedangkan ilmu Allah yang
ada di alam diperuleh melalui siapa saja secara langsung. Setiap manusia tanpa
memperhitungkan agama dan latar belakangnya berhak mendapatkan ilmu Allah.
Bahkan mereka dapat berhasil mengembangkannya walaupun bukan muslirn. I1mu Allah
yang berkembang di alam semesta dapat dijadikan objek kajian bagi setiap orang
yang berminat.
Kenyataannya
saat ini, orang non muslim yang dapat mengambil ilmu Allah ini. Mereka dapat
mengembangkannya dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi bankan telah
diaplikasikan bagi kebutuhan dan kepcrluan hidup manusia. Ilmu Allah bahwa
manusia bisa terbang dan ke langit yang begitu jauh telah diinspirasi oleh
isra' daa mi'rajn_ya Nabi SAW.
Dalil
Q. 2:31.
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama benda-benda seluruhnya, kemudian
mengemukakannya heoada Malaikat lalu berfirman: " Sebutkanlah kepadaku
Nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang beriman!"
Q. 55:4.
Mengajarnya pandai berbicara.
D. Ayat Kauniah
(Ayat Berupa Alam Semesta) - Burhan
(Bukti)
Kajian
ilmu Allah di alam semesta merupakan kajian terhadap tanda-tanda kekuasaan
Allah. Sangat banyak berkembang ilmu Allah di alam seperti ilmu fisika,
biologi, astronomi, geofisika, dan lain-lain. Semua ayat ini menjadi bukti bagi
kebenaran ilmiah yang perlu diyakini. Bukti kebenaran ilmu Allah ini siap diuji
melalui pendekatan ilmiah dan sangat objektif sebagai data pengetahuan yang berkembang.
E.
Wasailul Hayah (Sarana Hidup)
Ayat-ayat kauniyah berfungsi sebagai sarana hidup.
Sifat ayat kauniyah biasanya selalu
berubah sehingga ilmu tersebut menuju kebenaran mutlak yang menjelaskan tentang
persitiwa-peristiwa masa lalu. Ayat ini dijadikan renungan dan ibrah bagi kita
semua. Ayat kauniyah yang
dike-nbangkan lebih berkaitan dengan sarana, fasilitas dan produk peradaban
yang memerlukan kerja professional.
Dalil
Q. 11:61.
Dan kepada Tsamud, Kami utus saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata: "Hai
kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia
telah ;nenciptakan kamu dari bumi tanah dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena
itu--mohonlah ampunanNya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmatNya lagi
1nemperkenankan doa hambaNya.
F Al
Haqiqah Tajribiah (Kebenaran Eksperimental)
Kebenaran
yang muncul dari pendekatan resmi langsung rnerujuk kepada nilai-nilai
universal. Kebenaran eksperimental dilakukan melalui uji coba dengan membuat
analisa dan latihar.. Kebenaran eksperimental melalui media menggambarkan bahwa
ilmu Allah ini bersifat sementarc; khususnya yang berkaitan dengan wasailul hayah.
Karena
bersifat sarana manusia yang senantiasa berubah maka ilmu Allah yang berkembang
di alam juga bersifat tidak tetap sesuai dengan kebutuhan manusia yang
berkembang. Perubahan ilmu Allah ini untuk mengembangkan ilmu itu sendiri yang
diperlukan manusia. Secara prinsip, ilmu-ilmu Allah yang mendaparkan kepada
alam semesta adalah tetap hanya aplikasi dan pengembangannya bisa berubah.
Kalau ilmu berkembang berdasarkan asumsi atau persangkaan maka ilmu tersebut
akan mudah dikritisi dan diperdebatkan oleh manusia dan akan lepas dari
kritikan kesalahan apabila telah sesuai dengan nilai kebenaran ayat kauniyah yang Allah telah tetapkan.
Dalil
Q. 10:36.
Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya
persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya
Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.
6. Al Insan (Manusia)
Ilmu Allah
yang diperoleh melalui resmi dan tidak resmi dapat dirasakan manfaatnya oleh
manusia. Ilmu Allah melalui resmi berupa firman Allah dapat digunakan sebagai
pedoman hidup manakala ilmu Allah yang dikemb ng#R* melalui alam semesta dapat
digunakan untuk .an? hidup manusia berupa fasilitas dan sebagainya. u
Semua ilmu
Allah selain wajib dipelajari ole nusia juga mendapatkan banyak kebaikan.
Kegiatan me" i1mu dan
mengembangkan ilmu Allah serta mengapltiWikennya dalam kehidupan
adalah rangkaian dari ibadah manusia.
Dalil
Q. 51:56.
Dan Aku tidak ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.
Ringkasan Dalil
·
Allah Yang
Maha Pencipta (Q. 25:2) - Yang Maha Pandai (Q. 67:14)
·
Jalan
formal
·
Dengan
wahyu (Q. 3:38)
·
Memerlukan
rasul (Q. 42:53)
·
Ayat
Qauliyah (Q. 55:1-2, 96:1) .
·
Berfungsi
pedoman hidup (Q. 3:19, 85)
·
Kebenarannya
mutlak (Q. 2:147, 41:53)
·
Jalan
nonformal
·
Dengan
ilham (Q. 90:5)
·
Langsung
(Q. 2:31, 55:4)
·
Ayat
kauniyah (Q. 3:190, 41:53)
·
Berfungsi
sarana hidup (Q. 11:61)
·
Kebenaran
eksperimental (Q. 10:36)
·
Untuk
manusia agar beribadah (Q. 51:56)
Comments
Post a Comment