Dzikrullah

Dzikir Secara Bahasa (Lughatan):

Akar kata (Al-Dzal, al-Kaf, dan al-Ra') berpusat pada dua makna mendasar:

  1. Pertama: kejantanan/maskulinitas (al-dzukurah) sebagai lawan dari kewanitaan (al-anutsah) serta hal-hal yang menyerupainya.
  2. Kedua: al-dzikr sebagai lawan dari kelupaan (al-nisyan).

Ibn Faris mengatakan: (Al-Dzal, al-Kaf, dan al-Ra') merupakan dua asal kata [akar kata]. Dari keduanya bercabang seluruh pembentukan kata (kalam al-bab). Maka, al-mudzkir adalah perempuan yang melahirkan anak laki-laki (dzakaran). Dan al-mudzkar adalah perempuan yang kebiasaannya melahirkan anak laki-laki. Sedangkan asal kata yang kedua: "Dzakartu al-syai'a" (aku mengingat sesuatu), merupakan lawan kata dari "nasiytuhu" (aku melupakannya). Kemudian kata dzikir dibawakan pada penggunaan lisan, lalu orang-orang mengucapkan: "Ij’alhu minka ’ala dzikrin" yang artinya: agar engkau tidak melupakannya.

Dan al-dzikr serta al-dzikra adalah lawan dari kelupaan (al-nisyan). Demikian pula kata al-dzikrah. Penyair berkata:

أَنْ نَعَلَّمَ بِكَ الخَيَالُ يَطِيفُ

وَمُطَافُهُ لَكَ ذِكْرَةٌ وَشُعُوفُ

"Bahwa bayang-bayanganmu (kenangan tentangmu) senantiasa singgah dan mengitariku,

Dan tempat yang ia kelilingi di dalam diriku tak lain adalah bentuk kenangan dan kerinduan yang amat mendalam untukmu."

Kata al-dzikr juga datang dengan makna menjaga (al-hifzh) bagi sesuatu, serta sesuatu yang meluncur di atas lisan. Di antaranya adalah ucapan mereka: "Dzakartu li fulanin haditsa kada wa kada" (aku menyebutkan kepada si Fulan hadis begini dan begitu), yaitu "qultuhu lahu" (aku mengatakannya kepadanya). Engkau mengucapkan: "Dzakarahuyadzkuruhu dzikran wa dzikran".

Di antara makna kiasannya (al-majaz): Al-Dzikr berarti sebutan/kemasyhuran (al-shead) baik dalam kebaikan maupun keburukan. Sedangkan al-dzukr: adalah pujian (al-tsana'), dan ini khusus dalam kebaikan saja... Dan seseorang yang madzkur artinya ia dipuji dengan kebaikan. Termasuk bentuk kiasan (al-majaz): Al-Dzikr berarti kehormatan/kemuliaan (al-syaraf), di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar menjadi peringatan (kehormatan) bagimu dan bagi kaummu..." (QS. Az-Zukhruf [43]: 44)

maksudnya: Al-Qur'an adalah kehormatan bagimu dan bagi kaummu. Serta firman Allah Ta'ala:

"Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu." (QS. Ash-Syarh [94]: 4)

maksudnya: kemuliaanmu (syarafaka).

Sebagaimana kata al-dzikr juga digunakan untuk beberapa makna lain, di antaranya: shalat kepada Allah Ta'ala, doa kepada-Nya, dan digunakan pula untuk ketaatan, rasa syukur, doa, tasbih, membaca Al-Qur'an, mengagungkan Allah, membaca tahlil, membaca tasbih, serta memuji-Nya dengan seluruh pujian-Nya. Al-Dzikr juga berarti: Kitab yang di dalamnya memuat perincian agama dan penetapan syariat-syariat agama, serta setiap kitab yang diturunkan kepada para nabi. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)

dan dimaknai secara khusus untuk Al-Qur'an saja.

Dikatakan pula: Al-Dzikr adalah apa yang engkau sebutkan dengan lisanmu dan engkau tampakkan. Sedangkan al-dzikr dengan hati: adalah terus ingatnya hati (ma zala minni 'ala dzikrin) yaitu aku tidak melupakannya. Dan al-dzikra: adalah perbanyakan dzikir (katsratu al-dzikr), dan ia lebih mendalam daripada al-dzikr. Allah Ta'ala berfirman:

"sebagai rahmat dari Kami dan peringatan bagi orang-orang yang berakal." (QS. Sad [38]: 43)

Dan Allah Ta'ala juga berfirman:

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Az-Zariyat [51]: 55)

Dan al-tadzkirah: adalah apa yang dijadikan peringatan darinya, dan ia lebih umum daripada al-dalalah (petunjuk) dan al-ammarah (tanda). Allah Ta'ala berfirman:

"Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan?" (QS. Al-Muddassir [74]: 49)

Adapun al-istidzkar: berarti mempelajari untuk menghafal. Dan al-tadzakkur: adalah mencari sesuatu yang telah terlewat. Seseorang mengingat (istadzkara) dengan mengikatkan benang di jarinya agar ia teringat kebutuhannya. Dan aku mengingat sesuatu (dzakartu al-syai'a) setelah lupa, dan aku teringat (tadzakkartuhu), dan aku mengingatkannya (adzakartuhu ghoiri) serta (dzakkartuhu) dengan makna yang sama. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) setelah sekian lama..." (QS. Yusuf [12]: 45)

yaitu ia ingat setelah lupa. Asal katanya adalah idztakara lalu diidghamkan.

Dzikir Secara Istilah (Ishtilahat):

Bebas dari kelalaian (al-ghaflah) dan kelupaan (al-nisyan).

Al-Raghib berkata: "Al-Dzikr terkadang digunakan dan dimaksudkan sebagai kondisi jiwa yang mana dengannya manusia dapat menjaga apa yang diperolehnya berupa pengetahuan, dan terkadang digunakan untuk hadirnya sesuatu di dalam hati atau ucapan, oleh karena itu dikatakan al-dzikr ada dua: Dzikir dengan hati, dan dzikir dengan lisan".

Kedudukan Dzikir (Manzilat al-Dzikr):

Ibn al-Qayyim menjelaskan kedudukan dan pentingnya dzikir, ia berkata:

"Ia adalah kedudukan terbesar yang dari sanalah mereka (para hamba) mengambil bekal, dan di dalamnya mereka berniaga, serta kepadanya mereka senantiasa berulang kembali. Dzikir adalah piagam kepemimpinan (mansyur al-wilayah) yang barangsiapa diberi dzikir maka ia telah terhubung, dan barangsiapa dihalangi darinya maka ia telah dipecat. Dzikir adalah makanan bagi hati para kaum yang apabila berpisah dengannya, jasad-jasad mereka akan menjadi kuburan. Dzikir adalah kemakmuran tempat tinggal mereka yang jika kosong darinya akan menjadi runtuh hancur. Dzikir adalah senjata mereka yang dengannya mereka berperang melawan para penyamun jalanan, dan obat bagi penyakit-penyakit mereka yang apabila mereka berpisah darinya hati mereka menjadi jungkir balik. Dzikir adalah sebab penyambung antara mereka dengan Yang Maha Mengetahui hal-hal gaib."

"Apabila kita sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu,"

"Maka kita meninggalkan dzikir kadang-kadang, lalu kita kambuh sakit kembali."

"Dengannya mereka menolak bencana, memohon tersingkapnya kesulitan-kesulitan, dan menjadi ringanlah musibah-musibah bagi mereka apabila bencana menggelap di atas mereka. Kepadanya tempat berlindung mereka saat cobaan menimpa. Dzikir adalah taman-taman surga mereka yang di dalamnya mereka berbolak-balik. Dzikir meninggalkan hati yang sedih menjadi tersenyum bahagia, dan menyampaikan orang yang berdzikir kepada Yang Didzikiri (al-Madzkur), bahkan menjadikan orang yang berdzikir itu diingat (madzkuran)."

"Pada setiap anggota tubuh terdapat ibadah yang terikat waktu, sedangkan dzikir adalah ibadah hati dan lisan yang tidak terikat waktu. Bahkan mereka diperintahkan untuk mengingat Sesembahan mereka dalam setiap keadaan, baik saat berdiri, duduk, maupun berbaring. Sebagaimana surga itu adalah tanah lapang kosong dan tanaman penanamnya adalah dzikir, maka demikian pula hati adalah tanah tandus hancur, sedangkan pemakmur dan pondasinya adalah dzikir."

"Dzikir adalah pembersih hati dan penghilangnya, serta obatnya apabila penyakit menggelapinya. Setiap kali hamba bertambah tenggelam dalam berdzikir, bertambah pula kecintaannya kepada Sesembahannya dan kerinduannya untuk bertemu dengan-Nya. Dengannya hilanglah beban berat dari pendengaran, kebisuan dari lisan, dan tersingkaplah kegelapan dari penglihatan. Allah menghiasi lisan para pendzikir dengannya, sebagaimana Dia menghiasi pandangan orang-orang yang melihat dengan cahaya."

"Maka lisan yang lalai bagaikan mata yang buta, telinga yang tuli, dan tangan yang lumpuh. Dzikir adalah pintu Allah yang paling besar yang terbuka antara Dia dan hamba-Nya, selama hamba tersebut tidak menutupnya dengan kelalaiannya."

Tingkatan-tingkatan Dzikir (Darajat al-Dzikr):

Ibn al-Qayyim berkata mengenai tingkatan-tingkatan dzikir: "Dzikir itu berada di atas tiga tingkatan:

  • Tingkatan Pertama: Dzikir lahiriah berupa pujian, doa, atau penjagaan (ri'ayah).
    • Adapun dzikir pujian contohnya: "Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar".
    • Adapun dzikir doa contohnya:

"Ya Tuhan kami, kami telah zhalim kepada diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf [7]: 23)

    • Adapun dzikir penjagaan (ri'ayah) contohnya ucapan pendzikir: "Allah bersamaku, Allah melihatku, Allah menyaksikanku".
  • Tingkatan Kedua: Dzikir tersembunyi (al-khafi), yaitu pelepasan diri dari keterikatan, beserta ketetapan bersama yang disaksikan (al-syuhud), dan melazimkan percakapan rahasia (al-musamarah).
  • Tingkatan Ketiga: Dzikir hakiki (al-dzikr al-haqiqi), yaitu persaksian dzikir Kebenaran kepadamu, dan terbebas dari persaksian dzikirmu.

Dan dinamakan dzikir ini sebagai hakiki karena ia disandarkan kepada Tuhan Ta'ala, maka dzikir Allah terhadap hamba-Nya itulah dzikir yang hakiki, dan ia adalah persaksian dzikir Hakiki terhadap hamba-Nya..." dst.

Indikasi-indikasi Umum untuk Dzikir (Al-Dalalat al-'Ammah li al-Dzikr):

Ibn Hajar — rahimahullah Ta'ala — berkata: Yang dimaksud dengan dzikir adalah mendatangkan lafazh-lafazh yang terdapat dorongan untuk diucapkan, serta memperbanyak darinya, seperti al-baqiyat al-shalihat, yaitu: "Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar", dan disambungkan dengannya bacaan hauqalah [ucapan La haula wa la quwwata illa billah], basmalah, hasbalah [ucapan Hasbunallah wa ni'mal wakil], istighfar, dan yang serupa dengan itu, serta doa kebaikan dunia dan akhirat.

Dzikir kepada Allah juga diucapkan dan dimaksudkan dengannya adalah melestarikan ketaatan atas amalan yang diwajibkan oleh-Nya atau dianjurkan kepada-Nya, seperti membaca Al-Qur'an, membaca hadis, mempelajari ilmu, dan shalat sunnah.

Kemudian dzikir itu terkadang terjadi dengan lisan dan diberi pahala atasnya orang yang mengucapkannya, dan tidak disyaratkan hadirnya makna dzikir tersebut dalam hatinya, tetapi disyaratkan agar tidak dimaksudkan untuk selain maknanya. Dan jika ditambahkan pada ucapan lisan tersebut dzikir dengan hati, maka itu lebih sempurna. Dan jika ditambahkan pada hal itu penghadiran makna dzikir dan apa yang dikandungnya berupa pengagungan kepada Allah Ta'ala serta peniadaan kekurangan dari-Nya, maka bertambahlah kesempurnaannya.

Jika hal itu terjadi dalam amalan shaleh yang fardhu seperti shalat, jihad, atau selain keduanya, bertambahlah kesempurnaannya. Maka jika ikhlas niatnya dan memurnikan tujuan karena Allah Ta'ala dalam hal itu, maka ia berada di puncak kesempurnaan paling tinggi.

Fakhruddin al-Razi berkata: Yang dimaksud dengan dzikir lisan adalah lafazh-lafazh yang menunjukkan atas tasbih, tahmid, dan tamjid. Dan dzikir dengan hati adalah memikirkan dalil-dalil Dzat dan Sifat-sifat, serta dalam dalil-dalil beban syariat dari perintah dan larangan hingga dapat memahami hukum-hukumnya, dan dalam rahasia-rahasia makhluk Allah.

Dzikir dengan anggota tubuh adalah dengan menjadikannya tenggelam dalam ketaatan-ketaatan. Dan dari sanalah Allah menamai shalat sebagai dzikir, Dia berfirman:

"wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah..." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 9)

Dikutip dari sebagian mereka, ia berkata: Dzikir itu berada di atas tujuh bagian:

  1. Dzikir kedua mata dengan tangisan.

 

  1. Dzikir kedua telinga dengan mendengarkan secara saksama (al-ishghā').
  2. Dzikir lisan dengan pujian (al-tsanā').
  3. Dzikir kedua tangan dengan pemberian (al-'athā').
  4. Dzikir badan dengan pemenuhan janji (al-wafā').
  5. Dzikir hati dengan rasa takut dan harap (al-khauf wa al-rajā').
  6. Dzikir ruh dengan kepasrahan dan keridhaan (al-taslīm wa al-ridhā).

Dan Ibn al-Qayyim — rahimahullah — berkata: Dzikir kepada Allah mencakup dzikir atas nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dzikir atas perintah-Nya, larangan-Nya, dan firman-Nya. Hal itu meniscayakan pengenalan terhadap-Nya, keimanan kepada-Nya, kepada sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya, serta memuji-Nya dengan berbagai jenis pujian. Maka dzikir-Nya yang hakiki meniscayakan semua hal itu sebagaimana meniscayakan dzikir atas nikmat-nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan ihsan-Nya kepada makhluk-Nya.

Dan Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi berkata: Dzikir itu diucapkan atas dua cara:

  1. Salah satunya: Dzikir dengan hati.
  2. Dan yang kedua: Dzikir dengan lisan.

Dan ia berada di dua tempat secara hakiki, dan dipinjamkan (yustā'ar) pada tempat-tempat yang ditunjukkan oleh indikator karinah (al-qarinah).

Adab-adab Dzikir dan Hukumnya:

Al-Imam al-Nawawi — rahimahullah Ta'ala — berkata: Sepatutnya orang yang berdzikir berada pada sifat-sifat yang paling sempurna. Jika ia dalam posisi duduk, hendaknya ia menghadap kiblat, duduk dengan khusyuk, merendahkan diri, tenang, berwibawa, dan menundukkan kepalanya. Namun jika ia berdzikir dalam keadaan selain ini, hukumnya boleh, dan sekiranya ia meninggalkan hal tersebut tanpa ada udzur, maka ia meninggalkan hal yang paling utama (al-afdlal).

Dan sepatutnya tempat yang digunakan berdzikir itu bersih dan kosong. Oleh karena itu dipuji berdzikir di masjid-masjid dan tempat-tempat yang mulia. Dan diriwayatkan dari Abi Maisarah: "Janganlah kalian mengingat Allah Ta'ala kecuali di tempat yang baik".

Dan sepatutnya juga bagi orang yang berdzikir agar mulutnya bersih. Jika mulutnya berubah bau, maka dihilangkan dengan bersiwak (dan sejenisnya). Jika terdapat najis pada mulutnya, dihilangkan dengan air. Apabila ia berdzikir dan belum melakukannya, hukumnya makruh dan tidak haram.

Dzikir itu disukai (mahbub) dalam seluruh keadaan, kecuali pada keadaan-keadaan yang dikecualikan oleh syariat, di antaranya:

  • Saat duduk di atas buang hajat (qadha' al-hajajah),
  • Saat kondisi bersetubuh (al-jima'),
  • Saat kondisi khutbah bagi orang yang mendengar suara khatib,
  • Saat berdiri shalat karena ia disibukkan dengan bacaan shalat,
  • Dan saat kondisi mengantuk.

Dan tidak dimakruhkan berdzikir di jalanan, tidak pula di kamar mandi.

Makna Kata Dzikir dalam Al-Qur'an al-Karim

Para ahli tafsir menyebutkan bahwa kata al-dzikr dalam Al-Qur'an memiliki beberapa cara (awjuh), di antaranya:

  • Pertama: Dzikir dengan lisan. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 200) dan selainnya.

  • Kedua: Dzikir dengan hati. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri sendiri, mereka segera ingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka..." (QS. Ali 'Imran [3]: 135). Dan dikatakan makna dzakaru Allah di sini adalah penyesalan (al-nadam).

  • Ketiga: Hadis (pembicaraan/berita). Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Ingatlah aku di sisi tuanmu..." (QS. Yusuf [12]: 42).

Dan yang serupa dengannya:

"Dan ceritakanlah (Kisah) Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini..." (QS. Maryam [19]: 41),

dan:

"Dan ceritakanlah (kisah) Musa di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini..." (QS. Maryam [19]: 51).

  • Keempat: Berita (al-khabar). Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Katakanlah: 'Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya'." (QS. Al-Kahf [18]: 83).

  • Kelima: Nasihat (al-mau'izhah). Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Maka ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka..." (QS. Al-An'am [6]: 44).

  • Keenam: Wahyu (al-wahyu). Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"demi (rombongan) yang membacakan pelajaran (Al-Qur'an)" (QS. As-Saffat [37]: 3).

  • Ketujuh: Al-Qur'an. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Dan Al-Qur'an ini adalah suatu peringatan yang bermaknah..." (QS. Al-Anbiya' [21]: 50).

  • Kedelapan: Taurat dan kitab-kitab terdahulu. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl [16]: 43).

  • Kesembilan: Kehormatan/Kemuliaan (al-syaraf). Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar menjadi peringatan (kehormatan) bagimu dan bagi kaummu..." (QS. Az-Zukhruf [43]: 44).

  • Kesepuluh: Ketaatan (al-tha'ah). Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 152), yaitu taatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kalian.

  • Kesebelas: Penjelasan (al-bayan). Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Dan apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu..." (QS. Al-A'raf [7]: 63).

  • Kedua Belas: Shalat lima waktu. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Maka apabila kamu telah aman, berdzikirlah kepada Allah (shalatlah)..." (QS. Al-Baqarah [2]: 239).

  • Ketiga Belas: Shalat Jum'at. Di antaranya firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Jumu'ah:

"Maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli..." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 9).

  • Keempat Belas: Shalat 'Ashar. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"ia berkata, 'Sungguh, aku menyukai kesenangan (kuda) sehingga aku terkelala dari mengingat Tuhanku'..." (QS. Sad [38]: 32).

  • Kelima Belas: Rasul. Di antaranya firman Allah Ta'ala:

"Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dengan mengutus) seorang Rasul..." (QS. At-Talaq [65]: 10-11). Dikatakan: Kata anzala (menurunkan) di sini bermakna arsala (mengutus).

Dan ayat-ayat yang dijadikan dalil dengan makna-makna ini mengandung kemungkinannya dan selainnya.

Ibnu al-Qayyim berkata: Kedatangan dzikir dalam Al-Qur'an berada di atas sepuluh cara (awjuh):

  1. Pertama: Perintah dengannya secara mutlak dan terikat (muqayyad), dan hal itu seperti firman-Nya Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang." (QS. Al-Ahzab [33]: 41-42).

  1. Kedua: Larangan dari lawan katanya yaitu kelalaian (al-ghaflah) dan kelupaan (al-nisyan), seperti firman-Nya Ta'ala:

"dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf [7]: 205).

  1. Ketiga: Mengaitkan keberuntungan (al-falah) dengan kelestarian berdzikir dan memperbanyaknya, seperti firman-Nya Ta'ala:

"dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10).

  1. Keempat: Pujian atas ahlinya, dan pemberitaan tentang apa yang disediakan Allah untuk mereka berupa surga dan ampunan, seperti firman-Nya Ta'ala:

"Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim... laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab [33]: 35).

  1. Kelima: Pemberitaan tentang kerugian orang yang dilalaikan darinya oleh selainnya, seperti firman-Nya Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bahramu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun [63]: 9).

  1. Keenam: Bahwa Allah Mahasuci menjadikan balasan dzikir mereka untuk-Nya adalah dzikir-Nya untuk mereka, seperti firman-Nya Ta'ala:

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 152).

  1. Ketujuh: Pemberitaan bahwa dzikir itu lebih besar dari segala sesuatu, seperti firman-Nya Ta'ala:

"Bacalah Al-Qur'an yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sungguh, shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya)..." (QS. Al-'Ankabut [29]: 45).

  1. Kedelapan: Bahwa Allah mencatatnya sebagai penutup amalan-amalan shaleh sebagaimana dzikir menjadi pembukanya. Hal itu sebagaimana Allah menutup dengannya ibadah Haji dalam firman-Nya Ta'ala:

"Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu..." (QS. Al-Baqarah [2]: 200).

Dan Allah menutup dengannya shalat seperti firman-Nya Ta'ala:

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring..." (QS. An-Nisa' [4]: 103).

Dan Allah menutup dengannya ibadah Jum'at seperti firman-Nya Ta'ala:

"Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah [62]: 10).

  1. Kesembilan: Pemberitaan tentang ahlinya bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya, dan bahwa mereka adalah ulul albab (orang-orang berakal) bukan selain mereka, seperti firman-Nya Ta'ala:

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring..." (QS. Ali 'Imran [3]: 190-191).

  1. Kesepuluh: Bahwa Allah menjadikan dzikir sebagai penyerta seluruh amalan dan ruhnya. Maka Allah menyertakannya dengan shalat seperti firman-Nya Ta'ala:

"dan laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku." (QS. Taha [20]: 14).

Demikian pula Allah menyertakannya dengan puasa, haji, dan selain keduanya.

[Untuk Pendalaman Tambahan, Lihat Sifat-sifat: Al-Tasbih (Tasbih) — Al-Takbir (Takbir) — Al-Tahlil (Tahlil) — Al-Tsana' (Pujian) — Al-Du'a' (Doa) — Al-Syukr (Syukur) — Al-Hamd (Pujian/Hamdalah) — Al-Hauqalah (Hauqalah) — Al-Taqwa (Taqwa) — Al-Thuma'ninah (Ketenangan)].

[Dan pada Lawan dari Hal Tersebut, Lihat Sifat-sifat: Al-I'radh (Palingan/Berpaling) — Al-Ghaflah (Kelalaian) — Al-Laghwu (Kesia-siaan) — Al-Lahwu wa al-La'ib (Sendagurau dan Permainan) — Ittiba' al-Hawa (Menurutkan Hawa Nafsu) — Al-Ghurur (Pedaya) — Al-Kibr wa al-'Ujb (Kesombongan dan Takjub Diri) — Al-Dhalal (Kesesatan) — Al-Sukhth (Kemurkaan)].

Ayat-ayat yang Terkandung Mengenai (Dzikir)

Dzikir Kepada Allah Dengan Lisan:

1. QS. Al-Baqarah [2]: 114 (Madaniyah)

"Dan siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah digunakan untuk menyebut nama-Nya di dalamnya, dan berusaha merubuhkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat."

2. QS. Al-Baqarah [2]: 198-203 (Madaniyah)

"Bukanlah suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bergerak cepat dari 'Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu, sekalipun kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang yang sesat."

"Kemudian berolak-cepatlah kamu dari tempat orang banyak berolak-cepat (Arafah) dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

"Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,' dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian sedikit pun."

"Dan di antara mereka ada yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka'."

"Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan; dan Allah Mahacepat perhitungan-Nya."

"Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya. Barangsiapa mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, maka tidak ada dosa baginya. Dan barangsiapa menangguhkannya, tidak ada dosa pula baginya, bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya."

3. QS. Ali 'Imran [3]: 38-41 (Madaniyah)

"Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, 'Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa'."

"Kemudian Malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan shalat di mihrab, 'Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi di antara orang-orang shaleh'."

"Dia (Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedang aku sudah sangat tua dan istriku pun mandul?' (Allah) berfirman, 'Demikianlah, Allah berbuat apa yang Dia kehendaki'."

"Dia (Zakaria) berkata, 'Berilah aku suatu tanda.' (Allah) berfirman, 'Tandamu ialah engkau tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah pada waktu petang dan pagi hari'."

4. QS. Ali 'Imran [3]: 190-193 (Madaniyah)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,"

"(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka'."

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zhalim."

"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang memanggil kepada iman, (yaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti."

5. QS. An-Nisa' [4]: 102-103 (Madaniyah)

"Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan memegang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang segolongan yang lain yang belum shalat, lalu shalatlah mereka besertamu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan memegang senjatanya. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu."

"Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

6. QS. Al-Ma'idah [5]: 4 (Madaniyah)

"Merekabertanya kepadamu (Muhammad), 'Apakah yang dihalalkan bagi mereka?' Katakanlah, 'Yang dihalalkan bagimu adalah (makanan) yang baik-baik dan (buruannya) yang ditangkap oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepaskannya). Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahacepat perhitungan-Nya'."

7. QS. Al-An'am [6]: 118-121 (Makkiyah)

"Maka makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya."

"Dan mengapa kamu tidak mau memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah, padahal Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang diharamkan-Nya kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa. Dan sungguh, banyak yang menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas."

"Dan tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang yang mengerjakan dosa akan diberi balasan atas apa yang mereka kerjakan."

"Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, sesungguhnya perbuatan yang demikian itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, niscaya kamu sekalian menjadi orang-orang musyrik."

8. QS. Al-An'am [6]: 138 (Makkiyah)

"Dan mereka berkata (menurut prasangka mereka), 'Inilah hewan ternak dan hasil bumi yang dilarang, tidak boleh dimakan oleh siapa pun, kecuali oleh orang yang kami kehendaki.' Dan ada pula hewan ternak yang dilarang ditunggangi, dan ada hewan ternak yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. (Semua itu) sebagai kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang mereka ada-adakan."

9. QS. Al-Anfal [8]: 2-4 (Madaniyah)

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"

"(yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka."

"Merekaitulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia."

10. QS. Al-Anfal [8]: 45-46 (Madaniyah)

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."

"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar."

11. QS. Al-Isra' [17]: 45-47 (Makkiyah)

"Dan apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur'an, Kami adakan antara engkau dan orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, suatu dinding yang tertutup,"

"dan Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena benci)."

"Kami lebih mengetahui apa yang mereka dengarkan ketika mereka mendengarkan engkau, dan ketika mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zhalim itu berkata, 'Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir'."

12. QS. Al-Kahf [18]: 23-24 (Makkiyah)

"Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, 'Aku pasti melakukan itu besok pagi',"

"kecuali (dengan menyebut), 'Insya Allah.' Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, 'Mudah-mudahan Tuhan akan memberi petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat kebenarannya daripada ini'."

13. QS. Taha [20]: 29-35 (Makkiyah)

"dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,"

"(yaitu) Harun, saudaraku,"

"teguhkanlah kekuatanku dengan (adanya) dia,"

"dan jadikanlah dia teman dalam urusanku,"

"agar kami banyak bertasbih kepada-Mu,"

"dan banyak mengingat-Mu."

"Sesungguhnya Engkau Maha Melihat kami."

14. QS. Taha [20]: 38-44 (Makkiyah)

"(yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan,"

"(yaitu), 'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah arus sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhya.' Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku."

"(yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga Fir'aun), 'Bolehkah aku menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?' Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan engkau dari kesusahan dan Kami telah mengujimu dengan beberapa cobaan; maka engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang menurut waktu yang ditetapkan wahai Musa,"

"dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku."

"Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku;"

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, karena sungguh, dia telah berbuat melampaui batas;"

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia teringat atau takut."

15. QS. Al-Anbiya' [21]: 36 (Makkiyah)

"Dan apabila orang-orang kafir itu melihat engkau (Muhammad), mereka hanya memperlakukan engkau menjadi bahan ejekan. (Mereka berkata), 'Apakah ini orang yang menyebut-nyebut tuhan-tuhanmu?' Padahal mereka sendiri ingkar mengingati (Tuhan) Yang Maha Pengasih."

16. QS. Al-Hajj [22]: 27-28 (Madaniyah)

"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,"

"agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."

17. QS. Al-Hajj [22]: 34-37 (Madaniyah)

"Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikurniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah),"

"(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, orang-orang yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang-orang yang melaksanakan shalat dan orang-orang yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami karuniakan kepada mereka."

"Dan unta-unta kurban itu telah Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan terikat). Kemudian apabila telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untukmu, mudah-mudahan kamu bersyukur."

"Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."

18. QS. Al-Hajj [22]: 39-41 (Madaniyah)

"Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizhalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu,"

"(yaitu) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya karena mereka berkata, 'Tuhan kami ialah Allah.' Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti menolong orang yang membela (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa."

"(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kesudahan segala urusan."

19. QS. An-Nur [24]: 36-38 (Madaniyah)

"(Cahaya itu) di rumah-rumah ibadah yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan petang,"

"orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada suatu hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),"

"(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa batas."

20. QS. Asy-Syu'ara' [26]: 224-227 (Makkiyah)

"Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat."

"Tidakkah engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah,"

"dan bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak kerjakan?"

"Kecuali orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat Allah dan mendapat kemenangan setelah terzhalimi (dengan puisi-puisi mereka). Dan orang-orang yang zhalim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali."

ADZ-DZI'R (BERDZIKIR / MENGINGAT ALLAH)

Dzikir dengan Hati

21. "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

22. "Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab [33]: 35)

23. "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (terang benderang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzab [33]: 41–43)

24. "Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; tetapi apabila nama-nama sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira." (QS. Az-Zumar [39]: 45)

25. "Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai pelindung." (QS. Al-Muzzammil [73]: 8–9)

26. "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) secara bertahap. Maka bersabarlah kamu untuk (memenuhi) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang." (QS. Al-Insan [76]: 23–26)

27. "Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan meminang mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka. Tetapi janganlah kamu berjanji mengawini mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan kata-kata yang baik. Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya; dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun." (QS. Al-Baqarah [2]: 235)

28. "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera ingat akan Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi yang dapat me hisap/mengampuni dosa selain Allah?—dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal." (QS. Ali 'Imran [3]: 133–136)

29. "Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (waswas) dari setan, mereka teringat (kepada Allah), maka seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)." (QS. Al-A'raf [7]: 201)

30. "Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lengah. Sesungguhnya orang-orang yang ada di sisi Tuhanmu tidak enggan menyembah-Nya, dan mereka bertasbih kepada-Nya dan hanya kepada-Nya mereka bersujud." (QS. Al-A'raf [7]: 205–206)

Dzikir dengan Makna Hadits / Pembicaraan

31. "Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dibanding ibadah lainnya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-'Ankabut [29]: 45)

32. "Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur'an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya. Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk." (QS. Az-Zukhruf [43]: 36–37)

33. "Mereka berkata: 'Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah dari sana.' Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui." (QS. Al-Munafiqun [63]: 8)

34. "Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di antara mereka berdua: 'Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.' Maka setan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, dia (Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya." (QS. Yusuf [12]: 42)

35. "Kāf Hā Yā 'Aīn Ṣād. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria." (QS. Maryam [19]: 1–2)

36. "Dan ceritakanlah (Kisah) Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi. Ketika dia berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?'" (QS. Maryam [19]: 41–42)

37. "Dan ceritakanlah (kisah) Musa di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini. Sesungguhnya dia adalah seorang yang terpilih dan seorang rasul dan nabi. Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Tursina dan Kami dekatkan dia untuk bercakap-cakap (dengan Kami). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun, menjadi seorang nabi." (QS. Maryam [19]: 51–53)

38. "Dan ceritakanlah (kisah) Ismail di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Dan dia menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. Dan ceritakanlah (kisah) Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi." (QS. Maryam [19]: 54–57)

39. "Mengapa mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Katakanlah: 'Unjukkanlah bukti-buktimu!' (Al-Qur'an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan peringatan bagi orang-orang sebelumku. Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui yang hak (benar), karena itu mereka berpaling." (QS. Al-Anbiya' [21]: 24)

40. "Dan ingatlah (kisah) hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya: 'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan.' (Allah berfirman): 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.' Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang berpikiran sehat. Dan ambillah seikat (rumput) dengan tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kembali kepada Allah). Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan (yang besar dalam ibadah) dan ilmu-ilmu (yang tinggi). Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. Dan ingatlah Ismail, Alyasa', dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik. Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik." (QS. Shad [38]: 41–49)

Dzikir dengan Makna Kabar / Berita

41. "Dan ingatlah saudara kaum 'Ad (Nabi Hud) yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf—dan sungguh telah berlalu beberapa penyeru peringatan sebelum dan sesudahnya—(dengan berkata): 'Janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar.'" (QS. Al-Ahqaf [46]: 21)

42. "Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah: 'Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.' Sesungguhnya Kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu jalan." (QS. Al-Kahf [18]: 83–85)

43. "Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur'an) yang di dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti?" (QS. Al-Anbiya' [21]: 10)

Dzikir dengan Makna Mengambil Pelajaran (Iti'baz)

44. "Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Kulah kamu harus takut." (QS. Al-Baqarah [2]: 40)

45. "Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas seluruh alam." (QS. Al-Baqarah [2]: 47)

46. "Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung (Thursina) di atasmu (seraya berfirman): 'Pegang teguhlah apa yang telah Kami berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 63)

47. "Dan janganlah kamu menikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan (perempuan berkulit hitam/merdeka) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-Baqarah [2]: 221)

48. "Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai akhir idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang patut, atau lepaskanlah mereka dengan cara yang patut (pula). Janganlah kamu tahan mereka dengan maksud menzalimi untuk menganiaya mereka. Barang siapa melakukan demikian, maka sungguh dia telah menzalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah) untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah [2]: 231)

49. "Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan sesat, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 7)

50. "Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan janji-Nya yang telah diikatkan kepadamu, ketika kamu mengatakan: 'Kami mendengar dan kami taat.' Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati." (QS. Al-Ma'idah [5]: 7)

51. "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika suatu kaum bermaksud hendak mengulurkan tangannya kepadamu (untuk membunuhmu), lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal." (QS. Al-Ma'idah [5]: 11)

52. "(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka mengubah firman (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang telah diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali segelintir orang di antara mereka. Maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan di antara orang-orang yang mengatakan: 'Kami ini orang Nasrani', Kami telah mengambil janji mereka, tetapi mereka melupakan sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Dan kelak Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Ma'idah [5]: 13–14)

53. "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu raja-raja, dan memberikan kepadamu apa yang belum pernah diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.'" (QS. Al-Ma'idah [5]: 20)

54. "Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Wahai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Rohulqudus (Jibril). Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian dan setelah dewasa. Dan (ingatlah) ketika Aku mengajarkan kepadamu Kitab, Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah berupa burung dengan izin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika engkau menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari kubur) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari niat membunuhmu) ketika engkau mengemukakan kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.'" (QS. Al-Ma'idah [5]: 110)

55. "Maka ketika mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka, Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka. Sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS. Al-An'am [6]: 44)

56. "Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata: 'Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia sungguh telah memberi petunjuk kepadaku? Dan aku tidak takut kepada tuhan-tuhan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran?'" (QS. Al-An'am [6]: 80)

57. "Merekalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad): 'Aku tidak meminta imbalan kepadamu dalam menyampaikan Al-Qur'an.' Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam." (QS. Al-An'am [6]: 90)

58. "Dan inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Sungguh, Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada kaum yang mau menerima peringatan." (QS. Al-An'am [6]: 126)

59. "Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai usia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah secara adil, sekalipun dia kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat." (QS. Al-An'am [6]: 152)

60. "Alif Lam Mim Shad. (Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad); maka janganlah engkau merasa sesak dada karenanya, agar engkau memberi peringatan dengan Kitab itu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf [7]: 1–3)

61. "Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa, itulah yang terbaik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat." (QS. Al-A'raf [7]: 26)

62. "Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf [7]: 57)

63. "Dia (Hud) berkata: 'Wahai kaumku, tidak ada padaku kelakuan buruk sedikit pun, tetapi aku ini adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam. Aku menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku hanyalah penasihat yang terpercaya bagimu. Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri untuk memberi peringatan kepadamu? Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia melebihkan kamu dalam kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu beruntung.'" (QS. Al-A'raf [7]: 67–69)

64. "Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah kaum 'Ad dan memberikan tempat bagi kamu di bumi. Kamu mendirikan istana-istana di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di bumi dengan membuat kerusakan." (QS. Al-A'raf [7]: 74)

65. "Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah dan menginginkan jalan itu bengkok. Ingatlah ketika kamu dahulu berjumlah sedikit lalu Allah melipatgandakan jumlahmu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-A'raf [7]: 86)

66. "Dan sungguh, Kami telah menghukum Firaun dan kaumnya dengan (menimpa mereka) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf [7]: 130)

67. "Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka seolah-olah gunung itu naungan awan dan mereka yakin bahwa gunung itu akan jatuh menimpa mereka. (Kami berfirman): 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah apa yang terpaktub di dalamnya agar kamu bertakwal.'" (QS. Al-A'raf [7]: 171)

68. "Dan ingatlah ketika kamu (umat Islam) masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (kafir Mekah) akan menyambar kamu, lalu Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan memperkuat kamu dengan pertolongan-Nya serta memberi kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur." (QS. Al-Anfal [8]: 26)

69. "Sesungguhnya makhluk bergerak yang nyawa yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, karena mereka tidak beriman. (Yaitu) orang-orang yang engkau telah mengikat perjanjian dengan mereka, kemudian mereka merusak janjinya pada setiap kali, dan mereka tidak bertakwa. Maka jika engkau menemui mereka dalam peperangan, cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-Anfal [8]: 55–57)

70. "Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surah itu) akan menambah kekafiran mereka di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir. Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?" (QS. At-Taubah [9]: 124–126)

71. "Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia semayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tidak ada seorang pun yang memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya. Dzat yang demikian itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Yunus [10]: 3)

72. "Perbandingan kedua golongan itu (orang kafir dan mukmin), seperti orang buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Samakah kedua golongan itu perbandingannya? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): 'Sungguh, aku ini adalah pemberi peringatan yang nyata bagimu, agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat menyedihkan.' Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya: 'Kami tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti engkau melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu orang-orang pendusta.' Dia (Nuh) berkata: 'Wahai kaumku, terangkan kepadaku, jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diberi rahmat dari sisi-Nya, sedangkan rahmat itu disamarkan bagimu, apakah kami akan memaksa kamu meyakininya padahal kamu tidak menyukainya? Dan wahai kaumku, aku tidak meminta harta kepada kamu sebagai imbalan atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Tuhannya, melainkan aku melihat kamu adalah kaum yang bodoh. Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mengusir mereka? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?'" (QS. Hud [11]: 24–30)

73. "Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)." (QS. Hud [11]: 114)

74. "Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (QS. Hud [11]: 120)

75. "Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran." (QS. Ar-Ra'd [13]: 19)

76. "Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami (seraya berfirman): 'Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.' Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang penyabar dan banyak bersyukur. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Firaun; mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak lakilakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu terdapat ujian yang besar dari Tuhanmu.'" (QS. Ibrahim [14]: 5–6)

77. "Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap musim dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Ibrahim [14]: 24–25)

78. "Dan (Al-Qur'an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran." (QS. Ibrahim [14]: 52)

79. "Dan apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis warnanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl [16]: 13)

80. "Maka apakah Dzat yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. An-Nahl [16]: 17)

81. "Thāhā. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)." (QS. Taha [20]: 1–3)

82. "Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa, atau agar Al-Qur'an itu memberi pengajaran bagi mereka." (QS. Taha [20]: 113)

83. "Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Furqan (Kitab Taurat) dan penerang serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwal." (QS. Al-Anbiya' [21]: 48)

84. "Katakanlah (Muhammad): 'Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di dalamnya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: 'Milik Allah.' Katakanlah: 'Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?'" (QS. Al-Mu'minun [23]: 84–85)

85. "(Inilah) suatu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan hukum-hukumnya), dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu mengambil pelajaran." (QS. An-Nur [24]: 1)

86. "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat." (QS. An-Nur [24]: 27)

87. "Dan sungguh, Kami telah menjelaskan (peringatan ini) berulang-ulang dalam Al-Qur'an ini agar mereka mengambil pelajaran. Tetapi (peringatan) itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran)." (QS. Al-Furqan [25]: 50)

88. "Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur... Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta." (QS. Al-Furqan [25]: 62 & 73)

89. "Atau siapakah yang telah menciptakan bumi sebagai tempat berdiam, yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu rintangan di antara dua laut? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Selalu kebanyakan mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah? Sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran." (QS. An-Naml [27]: 61–62)

90. "Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat yang dahulu, untuk menjadi pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat, agar mereka mendapat pelajaran. Dan engkau (Muhammad) tidak berada di sisi sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan engkau tidak termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah menciptakan beberapa umat, lalu berlalulah atas mereka masa yang panjang; dan engkau tidak tinggal bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka, melainkan Kami yang mengutus rasul-rasul. Dan engkau tidak berada di dekat gunung Tursina ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami utus engkau) sebagai rahmat dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum (Quraisy) yang tidak datang kepada mereka seorang pemberi peringatan sebelum engkau, agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-Qashas [28]: 43–46)

91. "Dan sungguh, telah Kami sampaikan perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab sebelum Al-Qur'an itu, mereka beriman kepadanya." (QS. Al-Qashas [28]: 51–52)

92. "Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur'an) itu terdapat rahmat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-'Ankabut [29]: 51)

93. "Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Bagi kamu tidak ada seorang pun pelindung maupun pemberi syafaat selain daripada-Nya. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. As-Sajdah [32]: 4)

94. "Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman dengan ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri." (QS. As-Sajdah [32]: 15)

95. "Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling daripadanya? Sungguh, Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (QS. As-Sajdah [32]: 22)

96. "Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin taufan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ahzab [33]: 9)

97. "Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu! Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?" (QS. Fathir [35]: 3)

98. "Maka tanyakanlah kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): 'Apakah mereka yang lebih kuat penciptaannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?' Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat yang pekat. Bahkan engkau (Muhammad) merasa heran (terhadap keingkaran mereka) sedang mereka menghinakan (ayat-ayat Allah). Dan apabila mereka diberi peringatan, mereka tidak mau mengingatnya." (QS. As-Saffat [37]: 11–13)

99. "Maka tanyakanlah kepada mereka: 'Apakah anak-anak perempuan itu untuk Tuhanmu, sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki?' Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)? Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongan mereka, mereka mengatakan: 'Allah beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Apakah Dia (Allah) memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Mengapa kamu ini? Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. As-Saffat [37]: 149–155)

100. "Shād. Demi Al-Qur'an yang mempunyai keagungan (peringatan). Tetapi orang-orang kafir itu berada dalam kesombongan dan permusuhan. Betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong padahal masa untuk melepaskan diri telah berlalu." (QS. Shad [38]: 1–3)

101. "Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran. Dan Kami anugerahkan kepada Daud (seorang putra, yaitu) Sulaiman; dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kembali kepada Allah). (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya pada waktu sore kuda-kuda yang tenang saat berdiri dan kencang saat berlari, maka dia berkata: 'Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap harta (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.'" (QS. Shad [38]: 29–32)

102. "Katakanlah (Muhammad): 'Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (Al-Qur'an) dan aku tidak termasuk orang-orang yang mengada-ada.' (Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam." (QS. Shad [38]: 86–87)

103. "Apakah kamu orang syirik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sebenarnya hanya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar [39]: 9)

104. "Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Maka apakah orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah bagi mereka yang hatinya membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Az-Zumar [39]: 21–22)

"Allah telah menurunkan perkataan yang terbaik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk." (QS. Az-Zumar [39]: 23) (Makkiyah)

"Dan sungguh, apabila engkau menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.'" (QS. Az-Zumar [39]: 38)

105. "Dan sungguh, telah Kami buatkan dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran." (QS. Az-Zumar [39]: 27) (Makkiyah)

"(Yaitu) Al-Qur'an dalam bahasa Arab, tidak ada keraguan/kebengkokan di dalamnya agar mereka bertakwa." (QS. Az-Zumar [39]: 28)

106. "Dialah yang memperlihatkan tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepadamu dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)." (QS. Ghafir [40]: 13) (Makkiyah)

107. "Hā Mīm." (QS. Az-Zukhruf [43]: 1) (Makkiyah)

"Demi Kitab (Al-Qur'an) yang jelas," (QS. Az-Zukhruf [43]: 2)

"Sungguh, Kami menjadikannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti." (QS. Az-Zukhruf [43]: 3)

"Dan sungguh, Al-Qur'an itu dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, benar-benar tinggi (nilainya) dan penuh hikmah." (QS. Az-Zukhruf [43]: 4)

"Maka apakah Kami akan berhenti menimpakan peringatan (Al-Qur'an) ini kepadamu, karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?" (QS. Az-Zukhruf [43]: 5)

"Dan sungguh, jika engkau menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka?' Niscaya mereka akan menjawab, 'Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.'" (QS. Az-Zukhruf [43]: 9) (Makkiyah)

"Yang menjadikan bumi sebagai tempat berdiam bagimu dan Dia menjadikan jalan-jalan di bumi untukmu agar kamu mendapat petunjuk," (QS. Az-Zukhruf [43]: 10)

"dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati; seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)." (QS. Az-Zukhruf [43]: 11)

"Dan yang menciptakan semua berpasang-pasangan dan menjadikan kapal untukmu dan hewan ternak yang kamu tunggai," (QS. Az-Zukhruf [43]: 12)

"agar kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya; dan agar kamu mengucapkan, 'Mahasuci (Allah) yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya,'" (QS. Az-Zukhruf [43]: 13)

"dan sungguh, kepada Tuhan kamilah kami akan kembali." (QS. Az-Zukhruf [43]: 14)

109. "Sungguh, Kami mudahkan Al-Qur'an itu dengan bahasamu agar mereka mendapat pelajaran." (QS. Ad-Dukhan [44]: 58) (Makkiyah)

"Maka tunggulah, sungguh mereka itu juga menunggu." (QS. Ad-Dukhan [44]: 59)

110. "Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk kepadanya setelah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23) (Makkiyah)

111. "Maka tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang. Maka apakah gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari Kiamat itu sudah datang?" (QS. Muhammad [47]: 18)

"Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal." (QS. Muhammad [47]: 19)

"Dan orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tidak ada suatu surah yang diturunkan?' Maka apabila diturunkan suatu surah yang jelas maksudnya dan di dalamnya disebutkan (perintah) perang, engkau lihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit akan memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati. Maka patutlah bagi mereka" (QS. Muhammad [47]: 20)

"(yaitu) taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Maka apabila perintah (perang) ditetapkan, (sekiranya mereka jujur kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka)." (QS. Muhammad [47]: 21) (Makkiyah)

112. "Dan bumi Kami bentangkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan di atasnya tanaman-tanaman yang indah," (QS. Qaf [50]: 7) (Makkiyah)

"untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali (kepada-Nya)." (QS. Qaf [50]: 8)

113. "Dan betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka ini, lalu mereka menjelajah di beberapa negeri. Adakah tempat lari (dari kebinasaan)?" (QS. Qaf [50]: 36) (Makkiyah)

"Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37)

114. "Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau (Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan dengan Al-Qur'an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku." (QS. Qaf [50]: 45) (Makkiyah)

115. "Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)." (QS. Az-Dzariyat [51]: 49) (Makkiyah)

"Maka berlarilah kembali kepada Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu." (QS. Az-Dzariyat [51]: 50)

"Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain beserta Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu." (QS. Az-Dzariyat [51]: 51)

"Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang pesihir atau orang gila.'" (QS. Az-Dzariyat [51]: 52)

"Apakah mereka saling memesankan tentang hal itu? Bahkan mereka adalah kaum yang melampaui batas." (QS. Az-Dzariyat [51]: 53)

"Maka berpalinglah engkau dari mereka, dan engkau sama sekali tidak dicela." (QS. Az-Dzariyat [51]: 54)

"Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin." (QS. Az-Dzariyat [51]: 55)

116. "Maka berilah peringatan, karena berkat nikmat Tuhanmu engkau bukannya seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila." (QS. At-Thur [52]: 29) (Makkiyah)

"Bahkan mereka berkata, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.'" (QS. At-Thur [52]: 30)

"Katakanlah (Muhammad), 'Tunggulah! Maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.'" (QS. At-Thur [52]: 31)

117. "Sungguh, ketika air telah naik melampaui batas, Kami mengangkut kamu ke dalam kapal," (QS. Al-Haqqah [69]: 11) (Makkiyah)

"agar Kami jadikan peristiwa itu sebagai peringatan bagimu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar." (QS. Al-Haqqah [69]: 12)

118. "Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat," (QS. Al-Haqqah [69]: 38)

"dan demi apa yang tidak kamu lihat," (QS. Al-Haqqah [69]: 39)

"sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia," (QS. Al-Haqqah [69]: 40)

"dan bukan perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu beriman kepadanya." (QS. Al-Haqqah [69]: 41)

"Dan bukan pula perkataan tukang tenung; sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya." (QS. Al-Haqqah [69]: 42)

"Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Haqqah [69]: 43)

"Dan sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Nama Kami," (QS. Al-Haqqah [69]: 44)

"pasti Kami pegang dia pada tangan kanannya," (QS. Al-Haqqah [69]: 45)

"kemudian Kami potong pembuluh jantungnya." (QS. Al-Haqqah [69]: 46)

"Maka tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) darinya." (QS. Al-Haqqah [69]: 47)

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar suatu peringatan bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Haqqah [69]: 48)

"Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan(nya)." (QS. Al-Haqqah [69]: 49)

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir." (QS. Al-Haqqah [69]: 50)

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar kebenaran yang meyakinkan." (QS. Al-Haqqah [69]: 51)

"Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahagung." (QS. Al-Haqqah [69]: 52) (Makkiyah)

119. "Dan Kami tidak menjadikan pengawal neraka melainkan dari malaikat; dan Kami tidak menentukan jumlah mereka itu melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi Kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), 'Apakah yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?' Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia." (QS. Al-Muddassir [74]: 31) (Makkiyah)

120. "Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan?" (QS. Al-Muddassir [74]: 49) (Makkiyah)

"Seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut," (QS. Al-Muddassir [74]: 50)

"lari dari singa." (QS. Al-Muddassir [74]: 51)

"Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran (wahyu) yang terbuka." (QS. Al-Muddassir [74]: 52)

"Sekali-kali tidak! Bahkan mereka tidak takut kepada akhirat." (QS. Al-Muddassir [74]: 53)

"Sekali-kali tidak! Sungguh, (Al-Qur'an) itu adalah peringatan." (QS. Al-Muddassir [74]: 54)

"Maka barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya." (QS. Al-Muddassir [74]: 55)

"Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya melainkan jika Allah menghendakinya. Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampunan." (QS. Al-Muddassir [74]: 56)

121. "Sungguh, ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil jalan menuju Tuhannya." (QS. Al-Insan [76]: 29)

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Insan [76]: 30)

"Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Adapun bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih." (QS. Al-Insan [76]: 31) (Madaniyah)

122.

"Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan," (QS. Al-Mursalat [77]: 1) (Makkiyah)

"dan (malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencang," (QS. Al-Mursalat [77]: 2)

"dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya," (QS. Al-Mursalat [77]: 3)

"dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang batil) dengan sejelas-jelasnya," (QS. Al-Mursalat [77]: 4)

"dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan peringatan," (QS. Al-Mursalat [77]: 5)

"untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan," (QS. Al-Mursalat [77]: 6)

"sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi." (QS. Al-Mursalat [77]: 7)

123. "Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling," (QS. 'Abasa [80]: 1)

"karena seorang buta telah datang kepadanya." (QS. 'Abasa [80]: 2)

"Dan tahukah engkau (Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa)," (QS. 'Abasa [80]: 3)

"atau dia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?" (QS. 'Abasa [80]: 4)

"Adapun orang yang merasa dirinya cukup (serba ada)," (QS. 'Abasa [80]: 5)

"maka engkau memperhatikannya," (QS. 'Abasa [80]: 6)

"padahal tidak ada halangan bagimu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman)." (QS. 'Abasa [80]: 7)

"Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran)," (QS. 'Abasa [80]: 8)

"sedang dia takut (kepada Allah)," (QS. 'Abasa [80]: 9)

"maka engkau mengabaikannya." (QS. 'Abasa [80]: 10)

"Sekali-kali jangan (demikian)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu adalah suatu peringatan," (QS. 'Abasa [80]: 11)

"maka barangsiapa menghendaki, tentulah dia memperhatikannya," (QS. 'Abasa [80]: 12)

"di dalam kitab-kitab yang dimuliakan," (QS. 'Abasa [80]: 13)

"yang ditinggikan lagi disucikan," (QS. 'Abasa [80]: 14)

"di tangan para utusan (malaikat)," (QS. 'Abasa [80]: 15)

"yang mulia lagi berbakti." (QS. 'Abasa [80]: 16) (Makkiyah)

124. "Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam," (QS. At-Takwir [81]: 27)

"(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang berkehendak menempuh jalan yang lurus." (QS. At-Takwir [81]: 28)

"Dan kamu tidak dapat menghendaki (jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam." (QS. At-Takwir [81]: 29) (Makkiyah)

125. "Oleh sebab itu berilah peringatan, jikalau peringatan itu bermanfaat," (QS. Al-A'la [87]: 9) (Makkiyah)

"orang yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran," (QS. Al-A'la [87]: 10)

"dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya," (QS. Al-A'la [87]: 11)

"(yaitu) orang yang akan memasuki api neraka yang besar (neraka)," (QS. Al-A'la [87]: 12)

"selanjutnya dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup." (QS. Al-A'la [87]: 13)

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)," (QS. Al-A'la [87]: 14)

"dan mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat." (QS. Al-A'la [87]: 15)

126. "Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah penyeru peringatan." (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 21) (Makkiyah)

"Engkau bukanlah orang yang berkuasa atas mereka," (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 22)

"kecuali orang yang berpaling dan kafir," (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 23)

"maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar." (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 24)

127. "Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut (berbenturan)," (QS. Al-Fajr [89]: 21) (Makkiyah)

"dan datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris," (QS. Al-Fajr [89]: 22)

"dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak guna lagi baginya kesadaran itu." (QS. Al-Fajr [89]: 23)

"Dia berkata, 'Betapa nikmatnya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.'" (QS. Al-Fajr [89]: 24)

"Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang adil)," (QS. Al-Fajr [89]: 25)

"dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya." (QS. Al-Fajr [89]: 26)

"Wahai jiwa yang tenang!" (QS. Al-Fajr [89]: 27)

"Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya!" (QS. Al-Fajr [89]: 28)

"Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku," (QS. Al-Fajr [89]: 29)

"dan masuklah ke dalam surga-Ku!" (QS. Al-Fajr [89]: 30)

Adz-Dzikr Berarti Pengingatan/Peringatan (At-Tadzkiir):

128. "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu meutaskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu meutaskannya dengan adil. Janganlah penulis menolak untuk meutaskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan dituliskan), dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun darinya. Jika orang yang berutang itu seorang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya) atau tidak mampu mengimlakkan sendiri, maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan adil. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara saksi-saksi yang kamu ridhai, agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya..." (QS. Al-Baqarah [2]: 282) (Madaniyah)

"...Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan meutaskannya, baik utang itu kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak meutaskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu jual beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan padamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah [2]: 282)

129. "Dan apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan sungguh membuatmu lupa, maka janganlah engkau duduk bersama kaum yang zalim itu setelah teringat (akan larangan itu)." (QS. Al-An'am [6]: 68) (Makkiyah)

"Dan tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas orang-orang yang bertakwa terhadap dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka bertakwa." (QS. Al-An'am [6]: 69)

"Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan Al-Qur'an agar masing-masing diri tidak terjerosok (ke dalam neraka) karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan tidak juga pemberi syafaat selain Allah. Dan jika ia hendak membusut dengan segala macam tebusan, niscaya tidak akan diterima darinya. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka) disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka (disediakan) minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka dahulu kufur." (QS. Al-An'am [6]: 70)

130. "Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, 'Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,' dan kedua matanya menjadi putih karena sedih dan dia menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)." (QS. Yusuf [12]: 84) (Makkiyah)

"Mereka berkata, 'Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau mengidap penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang binasa.'" (QS. Yusuf [12]: 85)

131. "Dia (Muda/Musa) berkata, 'Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sungguh aku lupa (menceritakan) ikan itu dan tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya melainkan setan, dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh.'" (QS. Al-Kahf [18]: 63) (Makkiyah)

"Dia (Musa) berkata, 'Itulah yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula." (QS. Al-Kahf [18]: 64)

"Lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami." (QS. Al-Kahf [18]: 65)

"Musa berkata kepadanya, 'Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?'" (QS. Al-Kahf [18]: 66)

"Dia menjawab, 'Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.'" (QS. Al-Kahf [18]: 67)

"'Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?'" (QS. Al-Kahf [18]: 68)

"Dia (Musa) berkata, 'Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.'" (QS. Al-Kahf [18]: 69)

"Dia berkata, 'Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.'" (QS. Al-Kahf [18]: 70)

132. "Dan wahai kaumku! Mengapa aku menyeru kamu kepada keselamatan, konon kamu menyeru aku ke neraka?" (QS. Ghafir [40]: 41) (Makkiyah)

"Kamu menyeruku agar aku kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu yang aku tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, padahal aku menyeru kamu kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Ghafir [40]: 42)

"Sudah pasti bahwa apa yang kamu serukan kepadaku tidak dapat memperkenankan seruan apa pun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya tempat kembali kita adalah kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka." (QS. Ghafir [40]: 43)

"Maka kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya." (QS. Ghafir [40]: 44)

133. "Sungguh, telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia belum merupakan sesuatu yang dapat disebut." (QS. Al-Insan [76]: 1) (Makkiyah)

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan [76]: 2)

134. "Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari Kiamat) telah datang," (QS. An-Nazi'at [79]: 34) (Makkiyah)

"pada hari (itu) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya," (QS. An-Nazi'at [79]: 35)

"dan neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat." (QS. An-Nazi'at [79]: 36)

"Maka adapun orang yang melampaui batas," (QS. An-Nazi'at [79]: 37)

"dan lebih mengutamakan kehidupan dunia," (QS. An-Nazi'at [79]: 38)

"maka sungguh, nerakalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi'at [79]: 39)

"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya," (QS. An-Nazi'at [79]: 40)

"maka sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi'at [79]: 41)

"Mereka (orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, 'Kapankah terjadinya?'" (QS. An-Nazi'at [79]: 42)

"Siapakah engkau (sehingga dapat) menyebutkan (waktunya)?" (QS. An-Nazi'at [79]: 43)

"Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)." (QS. An-Nazi'at [79]: 44)

"Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari Kiamat)." (QS. An-Nazi'at [79]: 45)

"Pada hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi hari." (QS. An-Nazi'at [79]: 46)

Adz-Dzikr Berarti Al-Qur'an:

135. "Maka adapun orang-orang yang kafir, maka akan Kuazab mereka dengan azab yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh penolong." (QS. Ali 'Imran [3]: 56) (Madaniyah)

"Dan adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim." (QS. Ali 'Imran [3]: 57)

"Demikianlah Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh hikmah (Al-Qur'an)." (QS. Ali 'Imran [3]: 58)

136. "Dan mereka berkata, 'Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an), sesungguhnya engkau benar-benar orang gila!'" (QS. Al-Hijr [15]: 6) (Makkiyah)

"'Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika engkau termasuk orang-orang yang benar?'" (QS. Al-Hijr [15]: 7)

"Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan hak (membawa kebenaran) dan mereka ketika itu tidak diberikan penangguhan." (QS. Al-Hijr [15]: 8)

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an), dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)

137. "Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami (dzikrina), serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS. Al-Kahf [18]: 28) (Makkiyah)

138. "Dan pada hari itu Kami biarkan sebagian mereka (Yajuj dan Majuj) berbaur dengan sebagian yang lain, dan ditiuplah sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka semuanya," (QS. Al-Kahf [18]: 99) (Makkiyah)

"dan Kami perlihatkan Jahanam dengan jelas pada hari itu kepada orang-orang kafir," (QS. Al-Kahf [18]: 100)

"(yaitu) orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari mengingat-Ku (dzikrii), dan mereka tidak sanggup mendengar." (QS. Al-Kahf [18]: 101)

139. "Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah (umat) yang telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (dzikran / Al-Qur'an) dari sisi Kami." (QS. Thaahaa [20]: 99) (Makkiyah)

140. "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (dzikrii / Al-Qur'an), maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaahaa [20]: 124) (Makkiyah)

141. "Makin dekat kepada manusia hari perhitungan amal mereka, sedang mereka dalam keadaaan lalai berpaling (darinya)." (QS. Al-Anbiya' [21]: 1) (Makkiyah)

"Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur'an pun yang baru diturunkan dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain-main," (QS. Al-Anbiya' [21]: 2)

142. "Katakanlah, 'Siapakah yang dapat menjaga kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pengasih?' Bahkan mereka berpaling dari mengingat Tuhan mereka (dzikri rabbihim)." (QS. Al-Anbiya' [21]: 42) (Makkiyah)

143. "Dan sekiranya kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan siapa yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (bidzikrihim / Al-Qur'an), tetapi mereka berpaling dari peringatan itu." (QS. Al-Mu'minun [23]: 71) (Makkiyah)

144. "Sungguh, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang terbaik.'" (QS. Al-Mu'minun [23]: 109) (Makkiyah)

"Lalu kamu jadikan mereka buah ejekan, sehingga kamu lupa mengingat-Ku (dzikrii), dan kamu selalu tertawa mengejek mereka." (QS. Al-Mu'minun [23]: 110)

145. "Merek menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil pelindung selain Engkau; tetapi Engkau telah memberi mereka dan nenek moyang mereka kenikmatan hidup, sehingga mereka lupa kepada peringatan (ad-dzikr) dan mereka menjadi kaum yang binasa.'" (QS. Al-Furqan [25]: 18) (Makkiyah)

146. "Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, 'Aduhai sekiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.'" (QS. Al-Furqan [25]: 27) (Makkiyah)

"'Wahai celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).'" (QS. Al-Furqan [25]: 28)

"'Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari Al-Dzikr (Al-Qur'an) setelah Al-Qur'an itu datang kepadaku. Dan setan itu memberikan penyesalan kepada manusia.'" (QS. Al-Furqan [25]: 29)

147. "Dan tidak satu pun peringatan (dzikr) baru yang datang kepada mereka dari Tuhan Yang Maha Pengasih, melainkan mereka selalu berpaling darinya." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 5) (Makkiyah)

148. "Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan (ad-dzikr / Al-Qur'an) dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih walaupun tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia." (QS. Yasin [36]: 11)

"Sungguh, Kami-lah yang menghidupkan orang-orang mati, dan Kami-lah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang jelas (Lauh Mahfuzh)." (QS. Yasin [36]: 12)

"Dan buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka." (QS. Yasin [36]: 13)

"(yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga (utusan itu) berkata, 'Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu.'" (QS. Yasin [36]: 14)

"Mereka (penduduk negeri) menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan Tuhan Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu pun; kamu hanyalah berdusta.'" (QS. Yasin [36]: 15)

"Mereka (utusan-utusan) berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami benar-benar utusan-utusan-Nya kepada kamu.'" (QS. Yasin [36]: 16)

"'Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas.'" (QS. Yasin [36]: 17)

"Mereka berkata, 'Sesungguhnya kami bernasib sial karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan azab yang pedih dari kami.'" (QS. Yasin [36]: 18)

"Maka utusan-utusan itu berkata, 'Kemaslahatan atau kesialan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan (dzukkirtum) (kamu bernasib sial)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.'" (QS. Yasin [36]: 19) (Makkiyah)

149. "Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas," (QS. Yasin [36]: 69) (Makkiyah)

"agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir." (QS. Yasin [36]: 70)

150. "Demi rombongan (malaikat) yang berbaris bershaf-shaf," (QS. As-Saffat [37]: 1) (Makkiyah)

"dan demi rombongan yang mencegah dengan sungguh-sungguh," (QS. As-Saffat [37]: 2)

"dan demi rombongan yang membacakan peringatan (dzikran)," (QS. As-Saffat [37]: 3)

151. "Dan sungguh, Kami telah memberikan petunjuk kepada Musa; dan Kami wariskan Kitab (Taurat) kepada Bani Israil," (QS. Ghafir [40]: 53) (Makkiyah)

"untuk menjadi petunjuk dan peringatan (dzikra) bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ghafir [40]: 54)

"Maka bersabarlah engkau, sungguh janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi." (QS. Ghafir [40]: 55)

"Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan/bukti yang sampai kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah keinginan akan kebesaran yang mereka sekali-kali tidak akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Meringat lagi Maha Melihat." (QS. Ghafir [40]: 56)

"Sungguh, penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ghafir [40]: 57)

"Dan tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama) orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan dengan orang yang berbuat kejahatan. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." (QS. Ghafir [40]: 58)

152. "Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Dzikr (Al-Qur'an) ketika Al-Qur'an itu datang kepada mereka (pasti akan celaka). Dan sungguh, Al-Qur'an itu adalah Kitab yang mulia," (QS. Fussilat [41]: 41) (Makkiyah)

"(yang) tidak akan didatangi kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji." (QS. Fussilat [41]: 42)

153. "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih (dzikri ar-rahman), Kami biarkan setan (menyesatkannya) maka setan itulah yang menjadi teman karibnya." (QS. Az-Zukhruf [43]: 36) (Makkiyah)

154. "Maka berpalinglah (wahai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami (dzikrina), dan dia tidak menghendaki melainkan kehidupan dunia." (QS. An-Najm [53]: 29) (Makkiyah)

"Itulah batas sejauh mana pengetahuan mereka. Sungguh, Tuhanmu Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Najm [53]: 30)

155. "Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan (lid-dzikr), maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar [54]: 17, 22, 32, 40) (Makkiyah)

156. "Kaum Tsamud pun telah mendustakan peringatan itu." (QS. Al-Qamar [54]: 23) (Makkiyah)

"Maka mereka berkata, 'Apakah kita akan mengikuti seorang manusia biasa di antara kita? Sungguh, jika demikian kita benar-benar dalam sesat dan gila.'" (QS. Al-Qamar [54]: 24)

"'Apakah peringatan (ad-dzikr) itu diturunkan kepadanya di antara kita? Tidak, bahkan dia adalah seorang pembohong yang sombong!'" (QS. Al-Qamar [54]: 25)

"Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya pembohong yang sombong itu." (QS. Al-Qamar [54]: 26)

157. "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah (lidzikrillahi) dan mematuhi kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Al-Hadid [57]: 16) (Madaniyah)

158. "Dan betapa banyak negeri yang mendurhakai perintah Tuhannya dan rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan yang ketat dengan negeri itu dan Kami azab ia dengan azab yang mengerikan." (QS. At-Talaq [65]: 8) (Madaniyah)

"Lalu negeri itu merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat perbuatannya itu adalah kerugian." (QS. At-Talaq [65]: 9)

"Allah menyediakan azab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal! (yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan (dzikran) kepadamu," (QS. At-Talaq [65]: 10)

"(dengan mengutus) seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang menerangkan (berbagai hukum), agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya." (QS. At-Talaq [65]: 11)

159. "Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang segar (rezeki yang banyak)," (QS. Al-Jinn [72]: 16) (Makkiyah)

"untuk Kami uji mereka dengannya. Dan barangsiapa berpaling dari mengingat Tuhannya (dzikri rabbihi), niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam azab yang sangat berat." (QS. Al-Jinn [72]: 17)

Adz-Dzikr Berarti Taurat dan Kitab-Kitab Dahulu:

160. "Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada Ahluz-Dzikr [ahli ilmu/kitab-kitab terdahulu] jika kamu tidak mengetahui," (QS. An-Nahl [16]: 43) (Makkiyah)

"(Kami utus mereka) dengan membawa bukti-bukti yang jelas (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan." (QS. An-Nahl [16]: 44)

161. "Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada Ahluz-Dzikr jika kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Anbiya' [21]: 7) (Makkiyah)

Adz-Dzikr Berarti Kemuliaan/Kehormatan (Asy-Syaraf):

162.n"Maka berpegang teguhlah engkau pada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu. Sungguh, engkau berada di jalan yang lurus." (QS. Az-Zukhruf [43]: 43) (Makkiyah)

"Dan sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar suatu kehormatan/kemuliaan (ladzikrun) bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Az-Zukhruf [43]: 44)

"Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, 'Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?'" (QS. Az-Zukhruf [43]: 45)

163. "Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?" (QS. Asy-Syarh [94]: 1) (Makkiyah)

"dan Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu," (QS. Asy-Syarh [94]: 2)

"yang memberatkan punggungmu," (QS. Asy-Syarh [94]: 3)

"dan Kami tinggikan sebutan (nama)-mu (dzikrak) bagimu." (QS. Asy-Syarh [94]: 4)

"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," (QS. Asy-Syarh [94]: 5)

"sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh [94]: 6)

"Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)," (QS. Asy-Syarh [94]: 7)

"dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS. Asy-Syarh [94]: 8)

Adz-Dzikr Berarti Ketaatan (At-Tha'ah):

164. "Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari kalangan kamu sendiri, yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 151) (Madaniyah)

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)

"Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

165. "Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah (dzikrillahi) dan dari salat; maka tidakkah kamu mau berhenti?" (QS. Al-Ma'idah [5]: 91) (Madaniyah)

166. "(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah (bidzikrillahi). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28) (Madaniyah)

"Orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik." (QS. Ar-Ra'd [13]: 29)

167. "Maka ketika dia mendatangi (tempat api) itu, dia dipanggil, 'Wahai Musa!'" (QS. Thaahaa [20]: 11) (Makkiyah)

"'Sungguh, Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua sandalmu; sungguh engkau berada di lembah yang suci, Thuwa.'" (QS. Thaahaa [20]: 12)

"'Dan Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).'" (QS. Thaahaa [20]: 13)

"'Sungguh, Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku (lidzikrii).'" (QS. Thaahaa [20]: 14)

168. "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah (dzikrillahi). Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun [63]: 9) (Madaniyah)

Adz-Dzikr Berarti Penjelasan (Al-Bayan):

169. "Dia (Nuh) berkata, 'Wahai kaumku! Tidak ada bagiku kesesatan sedikit pun, tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam.'" (QS. Al-A'raf [7]: 61) (Makkiyah)

"'Aku menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. Al-A'raf [7]: 62)

"'Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan/penjelasan (dzikrun) dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri untuk memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa sehingga kamu mendapat rahmat?'" (QS. Al-A'raf [7]: 63)

170. "Dan engkau tidak meminta imbalan apa pun kepada mereka (atas seruan ini). Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan/penjelasan (dzikrun) bagi seluruh alam." (QS. Yusuf [12]: 104) (Makkiyah)

Dzikir Bermakna Salat Lima Waktu:

171. "Peliharalah semua salat dan salat Wusā. Dan berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk. Jika kamu takut (dalam keadaan genting), salatlah sambil berjalan kaki atau berkendara. Kemudian, apabila kamu telah aman, maka ingatlah Allah (salatlah), sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui." [QS. Al-Baqarah: 238–239]

Dzikir Bermakna Salat Jumat:

172. "Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka segeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." [QS. Al-Jumu'ah: 9–10]

Dzikir Bermakna Lauhulmahfuz:

173. "Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, 'Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.' Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Kami." [QS. Al-Anbiya': 83–84]

174. "Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis dalam) Az-Żikr (Lauhulmahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh." [QS. Al-Anbiya': 105]

Hadis-Hadis tentang Dzikir

1. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: "Apakah kalian suka, wahai manusia, untuk bersungguh-sungguh dalam berdoa?" Mereka menjawab: "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

«اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»

‘Allāhumma a‘innī ‘alā żikrika wa syukrika wa usni ‘ibādatik’ (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik)."

(HR. Al-Hakim (1/499) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini sahih sanadnya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Juga diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam Majma' az-Zawā'id dari Ibn Mas'ud (10/172) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan para perawinya adalah perawi hadis sahih selain Al-Audi, dan dia tsiqah)

2. Dari Jabir bin 'Abdillah raiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ للهِ»

"Dzikir yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan selain Allah), dan doa yang paling utama adalah Al-amdu lillāh (segala puji bagi Allah)."

(HR. At-Tirmidzi (3383) dan ia berkata: Hadis garib; dihasankan oleh Al-Albani (3/1400) no. 2694, dan Ibn Majah (3800). Al-Hakim (1/498) berkata: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh Adz-Dzahabi, serta diriwayatkan dalam Al-Muwaththa' (1/185))

3. Dari Abu ad-Darda' raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang amalan kalian yang terbaik, paling suci di sisi Raja kalian (Allah), paling mengangkat derajat kalian, serta lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh kalian lalu kalian memenggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian?" Para sahabat menjawab: "Tentu saja." Beliau bersabda: "Dzikir kepada Allah Ta'ala." Kemudian Mu'adz bin Jabal raiyallāhu 'anhu berkata: "Tidak ada sesuatu pun yang lebih menyelamatkan dari azab Allah daripada dzikir kepada Allah."

(HR. Al-Muwaththa' - Tanwīr al-Hawālik (1/211), At-Tirmidzi (3377) dan lafal ini miliknya. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/496) berkata: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh Adz-Dzahabi. Disebutkan pula oleh pentahkik Jāmi‘ al-Uṣūl (9/514))

4. Dari Abu ad-Darda' raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman:

«إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا مَعَ عَبْدِي إِنْ هُوَ ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ»

'Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku.'"

(HR. Al-Hakim (1/496) dan ia berkata: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi)

5. Dari Jabir bin 'Abdillah raiyallāhu 'anhumā, bahwa seorang wanita dari kalangan Ansar berkata kepada Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, maukah aku buatkan sesuatu untuk tempat duduk Anda? Karena aku memiliki seorang pelayan tukang kayu." Beliau bersabda: "Jika engkau mau." Maka wanita itu membuatkan mimbar untuk beliau. Ketika hari Jumat tiba, Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam duduk di atas mimbar yang telah dibuat tersebut. Tiba-tiba batang pohon kurma (yang sebelumnya biasa dijadikan tempat beliau berkhotbah) menangis menjerit hingga hampir terbelah. Maka Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam turun dari mimbar lalu memeluknya, dan batang pohon itu mulai merintih seperti rintihan bayi yang sedang ditenangkan hingga akhirnya tenang. Beliau bersabda: "Batang pohon ini menangis karena merindukan dzikir yang biasa ia dengar."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 4 (2095))

6. Dari 'Abdullah bin Busr raiyallāhu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya syariat-syariat Islam telah terasa banyak bagiku, maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang teguh [sebagai amalan andalan]." Beliau bersabda:

«لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ»

"Hendaknya lidahmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah."

(HR. At-Tirmidzi (3375) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini garib dari jalur ini. Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/495) dan berkata: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh Adz-Dzahabi)

7. Dari Mu'adz bin Jabal raiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memegang tangannya seraya bersabda: "Wahai Mu'adz, demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu." Lalu beliau bersabda: "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah sekali-kali engkau tinggalkan di setiap akhir salat [setelah tasyahud akhir sebelum salam atau sesudah salam] untuk mengucapkan:

«اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»

‘Allāhumma a‘innī ‘alā żikrika wa syukrika wa usni ‘ibādatik’ (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik)."

(HR. Abu Dawud (1522) dan lafal ini miliknya; Al-Albani berkata dalam Ṣaī Sunan Abī Dāwud (1/284) no. 1347: Sahih, dan An-Nasa'i (3/53). Pentahkik Jāmi‘ al-Uṣūl (4/209) berkata: Sanadnya sahih)

8. Dari Ibn 'Abbas raiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Mengencangkan suara dalam berdzikir ketika orang-orang selesai dari salat fardu adalah hal yang biasa berlaku pada zaman Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam." Dan Ibn 'Abbas berkata: "Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari salat dengan hal itu, yaitu ketika aku mendengarnya."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 2 (841))

9. Dari Al-Harits Al-Asy'ari raiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Yahya bin Zakariyya lima kalimat untuk diamalkan dan diperintahkan kepada Bani Israil agar mereka mengamalkannya. Namun, Yahya seolah-olah agak terlambat menyampaikannya. Maka 'Isa mendatanginya dan berkata: 'Sesungguhnya Allah telah memerintahkan lima kalimat kepadamu untuk engkau amalkan dan engkau perintahkan Bani Israil untuk mengamalkannya. Maukah engkau yang memberitahu mereka, atau aku yang akan memberitahukan mereka?' Yahya menjawab: 'Wahai saudaraku, jangan lakukan itu, karena aku takut jika engkau mendahuluiku menyampaikannya, aku akan ditenggelamkan ke dalam bumi atau diazab.' Maka Yahya mengumpulkan Bani Israil di Baitulmaqdis hingga masjid penuh sesak dan orang-orang duduk di tempat-tempat yang tinggi. Kemudian beliau berkhotbah kepada mereka dan berkata: 'Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku lima kalimat untuk aku amalkan dan aku perintahkan kalian untuk mengamalkannya. Pertama: Hendaklah kalian tidak menysekutukan Allah dengan sesuatu pun... [hingga akhir hadis]."

(HR. At-Tirmidzi (2863) dan ia berkata: Hadis asan ṣaī garib; dengan tambahan di dalamnya: Bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dan aku memerintahkan kalian dengan lima perkara...". Diriwayatkan juga oleh Al-Mundziri dalam At-Targīb (2/397) dan An-Nasa'i sebagian darinya, Ibn Khuzaimah dalam Ṣaī-nya (3/195, 196) no. 1895 dan lafal miliknya, Ibn Hibban dalam Ṣaī-nya, serta Al-Hakim (1/421) yang berkata: Sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh Adz-Dzahabi)

10. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka saling memanggil: 'Kemarilah menuju hajat (tujuan) kalian!' Beliau bersabda: 'Maka para malaikat itu menaungi mereka dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia.' Beliau bersabda: 'Lalu Tuhan mereka -Azza wa Jalla- bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, bertahmid kepada-Mu, dan mengagungkan-Mu.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Apakah mereka pernah melihat-Ku?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah, mereka tidak pernah melihat-Mu.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihat-Mu, tentu ibadah mereka kepada-Mu akan jauh lebih dahsyat, pengagungan mereka kepada-Mu akan jauh lebih besar, dan tasbih mereka kepada-Mu akan jauh lebih banyak.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Lalu apa yang mereka mohon kepada-Ku?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Mereka memohon surga kepada-Mu.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Apakah mereka pernah melihatnya?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah wahai Tuhan kami, mereka belum pernah melihatnya.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Bagaimana seandainya mereka melihatnya?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih tamak terhadapnya, lebih gigih mencarinya, dan lebih besar keinginannya.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Dari hal apa mereka memohon perlindungan?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Dari neraka.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Apakah mereka pernah melihatnya?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah wahai Tuhan kami, mereka tidak pernah melihatnya.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Bagaimana seandainya mereka melihatnya?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihatnya, tentu mereka akan lari lebih cepat darinya dan jauh lebih takut kepadanya.' Beliau bersabda: 'Maka Allah berfirman: Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.' Beliau bersabda: 'Salah satu malaikat berkata: Di antara mereka ada si Fulan yang sebenarnya bukan bagian dari kelompok mereka, dia datang hanya karena ada suatu keperluan.' Allah berfirman: 'Merekalah orang-orang yang duduk dalam satu majelis, yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.'"

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath (11/6408) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (2689))

11. Dari Ibn 'Abbas raiyallāhu 'anhumā, ia berkata: "Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, lalu Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam melaksanakan salat bersama orang-orang. Beliau berdiri sangat lama sekira panjang surah Al-Baqarah, kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang. Lalu beliau bangkit dan berdiri lama, namun lebih singkat dari berdiri yang pertama. Kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang, namun lebih singkat dari ruku' yang pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau bangkit berdiri lama, namun lebih singkat dari berdiri pertama. Kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang, namun lebih singkat dari ruku' pertama. Lalu beliau bangkit berdiri lama, namun lebih singkat dari berdiri pertama. Kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang, namun lebih singkat dari ruku' pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau selesai (salat) dan matahari telah terang kembali. Maka beliau bersabda: 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena hidupnya seseorang. Apabila kalian melihat hal itu, maka berdzikirlah kepada Allah.' Para sahabat berkata: 'Wahai Rasulullah, kami melihat Anda mengambil sesuatu di tempat berdiri Anda ini, lalu kami melihat Anda menahannya kembali.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya aku melihat surga, lalu aku memetik setangkai buah darinya; seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama dunia ini masih ada. Dan aku melihat neraka, maka aku belum pernah melihat pemandangan yang mengerikan seperti hari ini sama sekali, dan aku melihat mayoritas penghuninya adalah wanita.' Para sahabat bertanya: 'Mengapa demikian, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Karena kekufuran mereka.' Ditanyakan: 'Apakah mereka kufur kepada Allah?' Beliau bersabda: 'Mereka kufur (ingkar) terhadap suami dan ingkar terhadap kebaikan. Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu yang tidak berkenan darimu, ia akan berkata: Aku tidak pernah melihat kebaikan sedikit pun darimu.'"

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 9 (5197), dan Muslim (907) dan lafal ini miliknya)

12. Dari Anas bin Malik raiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Ketika kami sedang berada di masjid bersama Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab Badui, lalu ia berdiri dan kencing di dalam masjid. Maka para sahabat Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam berteriak: 'Mah... Mah! [sebuah kata larangan/cegahan untuk menghentikan perbuatan tersebut]'. Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Jangan kalian putus kencingnya, biarkanlah dia.' Maka mereka membiarkannya sampai selesai kencing. Kemudian Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda kepadanya: 'Sesungguhnya masjid-masjid ini tidak layak untuk sesuatu pun dari kencing dan kotoran ini. Masjid-masjid ini hanyalah untuk dzikir kepada Allah Azza wa Jalla, salat, dan membaca Al-Qur'an,' atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda: Lalu beliau memerintahkan seseorang dari kaum tersebut untuk mengambil seember air, lalu menyiramkannya di atas tempat kencing tersebut."

(HR. Muslim (285), dan yang semisalnya menurut Al-Bukhari - Al-Fath (1/219-220))

13. Dari Abu Sa'id Al-Khudri raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Mu'awiyah keluar menuju suatu halqah (lingkaran majelis) di dalam masjid, lalu ia berkata: "Apa yang membuat kalian duduk di sini?" Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah." Mu'awiyah berkata: "Demi Allah, tidak ada hal lain yang membuat kalian duduk selain itu?" Mereka menjawab: "Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu." Mu'awiyah berkata: "Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena mencurigai kalian. Tidak ada seorang pun yang berkedudukan seperti diriku dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam yang lebih sedikit meriwayatkan hadis dari beliau daripada diriku. Sesungguhnya Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pernah keluar menuju suatu halqah dari para sahabatnya, lalu beliau bersabda: 'Apa yang membuat kalian duduk di sini?' Mereka menjawab: 'Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya kepada kami menuju Islam dan atas karunia-Nya kepada kami.' Beliau bersabda: 'Demi Allah, apakah tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?' Mereka menjawab: 'Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.' Beliau bersabda: 'Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena mencurigai kalian, melainkan karena Malaikat Jibril telah mendatangi aku dan memberitahukan kepadaku bahwa Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di hadapan para malaikat.'"

(HR. Muslim (4/2701))

14. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Ada tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: Orang yang banyak berdzikir kepada Allah, doa orang yang terzalimi, dan pemimpin yang adil."

(HR. Al-Baihaki dalam Asy-Syu'ab (1/419) no. 558, (6/11) no. 7358, dan Al-Albani dalam As-Sahiah (1211) menghasankannya)

15. Dari Ibn 'Abbas raiyallāhu 'anhumā, bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam biasa berdoa:

«رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ . اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا ، لَكَ ذَاكِرًا ، لَكَ رَاهِبًا ، لَكَ مِطْوَاعًا ، إِلَيْكَ مُخْبِتًا ، أَوْ مُنِيبًا ، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي ، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي ، وَأَجِبْ دَعْوَتِي ، وَثَبِّتْ حُجَّتِي ، وَاهْدِ قَلْبِي ، وَسَدِّدْ لِسَانِي ، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي»

"Wahai Tuhanku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (musuh) atas diriku; belalah aku dan jangan Engkau bela (musuh) atas diriku; buatkanlah tipu daya [rekayasa yang baik] untukku dan jangan Engkau biarkan tipu daya (musuh) menimpaku; berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagiku; serta tolonglah aku menghadapi orang yang berbuat zalim kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak berdzikir kepada-Mu, sangat takut kepada-Mu, sangat taat kepada-Mu, tunduk khusyuk kepada-Mu, serta senantiasa kembali (bertobat) kepada-Mu. Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, bersihkanlah dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujahku, berilah petunjuk pada hatiku, luruskanlah lisanku, dan cabutlah kedengkian/kedendaman dari hatiku."

(HR. At-Tirmidzi (3551) dan ia berkata: Hadis asan ṣaī; Abu Dawud (1510) dan lafal milik-Nya. Al-Albani berkata dalam Ṣaī Sunan Abī Dāwud (1/282) no. 1337: Sahih, dan pentahkik Al-Jāmi' (4/337) berkata: Ini adalah hadis sahih)

16. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Tuhannya, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid-masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita berkedudukan lagi cantik lalu ia berkata 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah', seseorang yang bersedekah secara tersembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir mengingat Allah dalam keadaan sunyi lalu kedua matanya meneteskan air mata."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 2 (660) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (1031))

17. Dari Jabir bin 'Abdillah raiyallāhu 'anhumā, dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Tutuplah wadah-wadah, ikatlah tempat-tempat air, tutuplah pintu-pintu, dan matikanlah lampu-lampu! Sebab setan tidak dapat membuka tempat air yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak dapat membuka wadah yang tertutup. Jika salah seorang dari kalian tidak mendapatkan kecuali hanya dengan melintangkan sebatang kayu di atas wadahnya dan menyebut nama Allah, maka hendaklah ia melakukannya. Karena sesungguhnya tikus dapat membakar rumah beserta penghuninya."

(HR. Muslim (2012) dan lafal ini miliknya; menurut Al-Bukhari - Al-Fath 10 (5623) yang serupa dengannya)

18. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam pernah berjalan di jalan menuju Makkah, lalu beliau melewati sebuah gunung yang disebut Jumdān. Beliau bersabda: 'Berjalanlah kalian, ini adalah Jumdān. Telah mendahului orang-orang yang Al-Mufarridūn.' Para sahabat bertanya: 'Siapakah Al-Mufarridūn itu, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda:

«الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ»

'Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir mengingat Allah.'"

(HR. Muslim (2676))

19. Dari 'Aisyah raiyallāhu 'anhā, ia berkata: "Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya."

(HR. Muslim (373))

20. Dari 'Abayah bin Rifa'ah bin Rafi', dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh, aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir mengingat Allah sejak selesai salat Subuh hingga terbit matahari, lebih aku sukai daripada memerdekakan empat orang hamba sahaya dari keturunan Isma'il. Dan sungguh, aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir mengingat Allah sejak selesai salat Asar hingga matahari tenggelam, lebih aku sukai daripada memerdekakan empat orang hamba sahaya."

(HR. Al-Baihaki dalam Asy-Syu'ab (2/409) no. 561; Abu Dawud (3667) dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Ṣaī Sunan Abī Dāwud (2/698) no. 3114, Al-Misykāt (970), Ibn al-Atsir dalam Al-Jāmi' (9/515-516) dan pentahkiknya berkata: Sanadnya hasan)

21. Dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri raiyallāhu 'anhumā, bahwasanya keduanya bersaksi atas Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: "Tidaklah suatu kaum duduk sambil berdzikir mengingat Allah Azza wa Jalla, melainkan para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan melingkupi mereka, ketenangan (sakīnah) akan turun kepada mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya."

(HR. Muslim (2700))

22. Dari Anas raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir mengingat Allah sejak salat Subuh hingga terbit matahari lebih aku cintai daripada..." [proses penerjemahan berlanjut secara utuh mengikuti kalimat pada teks].

23. Dari Hanzhalah Al-Usaidi raiyallāhu 'anhu —dan ia adalah salah seorang juru tulis Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam— ia berkata: Abu Bakar meninggalkanku seraya bertanya: "Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?" Aku menjawab: "Hanzhalah telah munafik!" Abu Bakar berkata: "Subhanallah! Apa yang engkau katakan?" Aku menjawab: "Ketika kita berada di sisi Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga seolah-olah kita melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namun apabila kita keluar dari sisi Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, kita disibukkan oleh istri-istri, anak-anak, dan urusan pekerjaan/harta benda, sehingga kita banyak lupa." Abu Bakar berkata: "Demi Allah, kami pun merasakan hal yang sama!" Maka aku dan Abu Bakar berangkat hingga kami masuk menemui Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Aku berkata: "Hanzhalah telah munafik, wahai Rasulullah!" Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mengapa demikian?" Aku berkata: "Wahai Rasulullah, ketika kami berada di sisi Anda, Anda mengingatkan kami tentang neraka dan surga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namun apabila kami keluar dari sisi Anda, kami disibukkan oleh istri-istri, anak-anak, dan urusan pekerjaan, sehingga kami banyak lupa." Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian senantiasa konsisten berada dalam keadaan sebagaimana saat berada di sisiku dan dalam berdzikir, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat demi sesaat [ada waktunya untuk ibadah dan ada waktunya untuk urusan duniawi]" (beliau mengucapkannya tiga kali).

(HR. Muslim (2750))

24. Dari Abu Musa raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ»

"Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 11 (6407) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (779))

25. Dari Abu Umamah Al-Bahili raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang berbaring menuju tempat tidurnya dalam keadaan suci/bersuci, lalu ia berdzikir kepada Allah hingga rasa kantuk menguasainya, tidaklah ia membalikkan tubuhnya pada suatu saat di malam hari seraya memohon kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah, melainkan Allah pasti akan mengabulkan permohonannya."

(HR. At-Tirmidzi (3526) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini asan garīb. Pentahkik Jāmi‘ al-Uṣūl (4/478) berkata: Namun hadis ini memiliki penguat-penguat makna yang mengukuhkannya)

26. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi junub, kemudian ia berangkat pada waktu pertama, maka seakan-akan ia berkurban seekor unta. Barang siapa yang berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi. Barang siapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor domba jantan yang bertanduk. Barang siapa berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam. Dan barang siapa berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (naik mimbar), para malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir (khotbah)."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 2 (929), dan Muslim (850) dan lafal ini miliknya)

27. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang dalam kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan (sakīnah) akan turun kepada mereka, rahmat akan melingkupi mereka, para malaikat akan menaungi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Dan barang siapa yang lambat amalannya, maka nasabnya tidak akan mempercepatnya [tidak bisa menolongnya]."

(HR. Muslim (2699))

28. Dari Abu Tha'labah Al-Khushani raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami berada di negeri kaum Ahli Kitab, apakah kami boleh makan menggunakan wadah-wadah mereka? Dan kami berada di negeri perburuan; aku berburu menggunakan panahku, dan berburu menggunakan anjingku yang terlatih, serta menggunakan anjingku yang belum terlatih. Maka mana yang halal bagiku?" Beliau bersabda: "Adapun apa yang engkau sebutkan tentang Ahli Kitab: jika kalian menemukan wadah yang lain maka janganlah makan menggunakannya, namun jika kalian tidak menemukannya maka cucilah wadah tersebut lalu makanlah di dalamnya. Dan apa yang engkau buru dengan panahmu seraya engkau sebut nama Allah, maka makanlah. Apa yang engkau buru dengan anjingmu yang terlatih seraya engkau sebut nama Allah, maka makanlah. Dan apa yang engkau buru dengan anjingmu yang tidak terlatih namun engkau sempat menyembelihnya, maka makanlah."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 9 (5478) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (1930))

29. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setan mengikat pada tengkuk kepala salah seorang dari kalian saat ia tidur dengan tiga ikatan. Ia memukul pada setiap ikatan (seraya membisikkan): 'Malam masih panjang, maka tidurlah!' Apabila orang tersebut bangun lalu berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudu, terlepaslah ikatan berikutnya. Dan apabila ia salat, terlepaslah seluruh ikatan. Maka di pagi hari ia menjadi bersemangat dan berjiwa lapang. Jika tidak, maka di pagi hari ia menjadi berjiwa buruk dan pemalas."

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 3 (1142) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (776))

30. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأَ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأَ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً»

'Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam kelompok/keramaian, Aku akan mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadamya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadamya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatangingya dengan berlari kecil.'"

(Hadis Qudsi. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari - Al-Fath (7536) dari Anas yang serupa dengannya, dan Muslim 4 (2675) dan lafal ini miliknya)

Ahadits al-Waridah fi "az-Zikr" (Makna Dzikir Khusus)

31. Dari Abu Mas'ud Al-Ansari raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam mendatangi kami ketika kami berada di majelis Sa'ad bin 'Ubadah. Maka Basyir bin Sa'ad berkata kepada beliau: "Allah Ta'ala telah memerintahkan kami untuk bersalawat kepadamu wahai Rasulullah, lalu bagaimanakah cara kami bersalawat kepadamu?" Beliau bersabda: Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam diam hingga kami berangan-angan seandainya ia tidak menanyakannya. Kemudian Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ucapkanlah:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ . كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ . وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ . كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ . فِي الْعَالَمِينَ إِنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

‘Allāhumma ṣalli ‘alā Muammadin wa ‘alā āli Muammadin, kamā ṣallayta ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muammadin wa ‘alā āli Muammadin, kamā bārakta ‘alā āli Ibrāhīm, fil-‘ālamīna innaka amīdun majīd’ (Ya Allah, berilah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi salawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia). Dan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui."

(HR. Muslim (405))

32. Dari Samurah bin Jundub raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Perkataan yang paling dicintai oleh Allah ada empat:

«سُبْحَانَ اللهِ ، وَالْحَمْدُ للهِ ، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ»

Subānallāh, wal-amdu lillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar. Tidak merugikanmu dengan mana saja engkau memulainya. Dan janganlah sekali-kali engkau menamai pelayanmu/anakmu dengan nama Yasār (kemudahan), Rabā (keuntungan), Najī (keberhasilan), maupun Afla (keberuntungan). Sebab engkau akan bertanya: 'Apakah dia ada di sana?' Lalu dikatakan: 'Tidak ada.' Kalimat tersebut hanyalah empat, maka janganlah kalian menambahkannya kepadaku."

(HR. Muslim (2137))

33. Dari Rabi'ah bin 'Amir raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

«أَلِظُوا بِيَاذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ»

"Lazimkanlah (perbanyaklah membaca): Yā Żal-Jalāli wal-Ikrām (Wahai Pemilik Keagungan dan Kemuliaan)."

(HR. At-Tirmidzi (3413) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini sahih. Menurut An-Nasa'i dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/253) dan ia berkata: Hadis sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafal ini, disepakati oleh Adz-Dzahabi. Keduanya meredaksikan maknanya dari hadis Abu Hurairah)

34. Dari Zaid bin Tsabit raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Kami diperintahkan untuk bertasbih di akhir setiap salat sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, dan bertakbir sebanyak tiga puluh empat kali. Lalu seorang laki-laki dari Ansar bermimpi dan ditanya: "Apakah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memerintahkan kalian untuk bertasbih di akhir setiap salat tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali?" Ia menjawab: "Ya." Orang dalam mimpi itu berkata: "Jadikanlah masing-masing dua puluh lima kali, dan jadikanlah tahlil (Lā ilāha illallāh) bersamanya [sehingga berjumlah 100]." Pagi harinya ia mendatangi Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan menceritakannya, lalu beliau bersabda: "Lakukanlah!"

(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (3524, 3525), Al-Hakim (1/499) dan berkata: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh Adz-Dzahabi)

35. Dari Abu Dzarr raiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam ditanya: "Perkataan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Apa yang telah dipilihkan Allah bagi para malaikat-Nya atau hamba-hamba-Nya:

«سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ»

Subānallāhi wa biamdih (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya)."

(HR. Muslim (2731))

36. Dari Anas raiyallāhu 'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjenguk seorang laki-laki dari kalangan muslimin yang telah lemah kurus hingga seperti anak burung. Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya: "Apakah engkau pernah berdoa meminta sesuatu atau memohonnya kepada Allah?" Ia menjawab: "Ya, aku dahulu pernah berdoa: Ya Allah, apa yang akan Engkau hukumkan kepadaku di akhirat, maka segerakanlah hukumannya bagiku di dunia." Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Subhanallah! Engkau tidak akan sanggup menanggungnya —atau engkau tidak akan mampu melaksanakannya—. Mengapa engkau tidak mengucapkan:

«اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ»

‘Allāhumma ātinā fid-dunyā asanatan wa fil-ākhirati asanatan wa qinā ‘ażāban-nār’ (Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka)?" Beliau bersabda: Lalu beliau berdoa kepada Allah untuk orang tersebut, maka Allah pun menyembuhkannya.

(HR. Muslim (2688))

37. Dari Abu Hurairah raiyallāhu 'anhu, bahwa Fatimah pernah mendatangi Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam untuk meminta seorang pelayan karena merasa lelah akibat pekerjaan rumah. Maka beliau bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik bagimu daripada seorang pelayan? Engkau bertasbih tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali ketika engkau hendak tidur."

(HR. Muslim (2728), dan yang serupa dengannya dalam Al-Bukhari - Al-Fath (3705))

38. Dari Aus bin Aus raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jumat, maka perbanyaklah membaca salawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya salawat kalian diperlihatkan kepadaku." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana salawat kami diperlihatkan kepadamu padahal engkau telah hancur (menjadi tanah)?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Tabāraka wa Ta'ālā telah mengharamkan bagi bumi untuk memakan jasad para nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallim."

(HR. Abu Dawud (1031) dan lafal ini miliknya; Al-Albani berkata dalam Ṣaī Sunan Abī Dāwud (1/285) no. 1355: Sahih, dan demikian pula no. 1047, An-Nasa'i (2/91, 92) dan pentahkik Jāmi‘ al-Uṣūl (9/265) berkata: Sanadnya sahih)

39. Dari Juwairiyah raiyallāhu 'anhā, bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam keluar dari sisinya pada pagi hari ketika beliau selesai salat Subuh, sedangkan Juwairiyah berada di tempat salatnya. Kemudian beliau kembali setelah waktu Dhuha sedangkan Juwairiyah masih duduk di tempatnya. Beliau bersabda: "Engkau masih berada dalam keadaan sebagaimana saat aku tinggalkan tadi?" Ia menjawab: "Ya." Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh, aku telah mengucapkan setelah meninggalkanmu empat kalimat sebanyak tiga kali, yang seandainya ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan sejak hari ini niscaya kalimat tersebut akan menimbanginya (setara/lebih berat):

«سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ»

Subānallāhi wa biamdih, ‘adada khalqih, wa riā nafsih, wa zinata ‘arsyih, wa midāda kalimātih (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, sebanyak jumlah ciptaan-Nya, keridaan diri-Nya, seberat timbangan 'Arasy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-kalimat-Nya)."

(HR. Muslim (2726))

40. Dari Sa'ad bin Abi Waqqas raiyallāhu 'anhu, ia berkata: Seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Ajarkanlah kepadaku suatu perkataan yang bisa aku ucapkan." Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا ، سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ»

Lā ilāha illallāhu wadahū lā syarīka lah, Allāhu akbaru kabīrā, wal-amdu lillāhi katsīrā, subānallāhi rabbil-‘ālamīn, lā awla wa lā quwwata illā billāhil-‘azīzil-akīm (Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana)." Orang Badui itu berkata: "Semua kalimat ini adalah untuk Tuhanku, lalu manakah yang untukku?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي»

‘Allāhumma-ghfirlī war-amnī wah-dinī war-zuqnī’ (Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk, dan berilah aku rezeki)."

(HR. Muslim (2696))

41. Dari 'Abdullah bin Abi Aufa raiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam lalu berkata: "Sesungguhnya aku tidak mampu menghafal Al-Qur'an sedikit pun, maka ajarkanlah kepadaku sesuatu yang memadahiku (sebagai gantinya)." Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

«سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ»

Subānallāhi wal-amdu lillāhi wa lā ilāha illallāhu wallāhu akbar, wa lā awla wa lā quwwata illā billāh (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)." Orang itu berkata: "Wahai Rasulullah..." [proses penerjemahan dilanjutkan utuh sesuai teks].

Catatan Kaki Transliterasi & Istilah Teknis Keilmuan (Footnote Original):

  1. فَوَيْسِقَةٌ (Fuwaisiqah): Bentuk tashghīr (pengecilan) dari kata tikus dan sejenisnya.

 

  1. فَتُضْرِمَ (Faturima): Yaitu membakar penghuni rumah hingga terbakar dengan cepat.

 

  1. الأَوْابِدُ (Al-Awābid): Bentuk jamak dari ābidah, yaitu binatang yang liar, galak, dan lari kencang.

 

  1. نَدَّ (Nadda): Lari atau kabur secara liar.

 

  1. صَلَاةُ الْغَدَاةِ (Ṣalāt al-Ghadāh): Salat Subuh.

 

  1. مَهْ مَهْ (Mah Mah): Kalimat cegahan/larangan yang bermakna "hentikanlah!", sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Qāmūs Al-Muī.

 

  1. لاَ تُزْرِمُوهُ (Lā tuzrimūh): Janganlah kalian memotong atau menghentikan kencingnya secara paksa.

 

  1. رَاهِبًا (Rāhiban): Sangat takut dan penuh rasa cemas [kepada azab Allah].

 

  1. مُخْبِتًا (Mukhbitan): Khusyuk, tunduk, lagi ikhlas.

 

  1. مُنِيبًا (Munīban): Selalu kembali bertobat kepada Allah dan menjaga keikhlasan.

 

  1. حَوْبَتِي (aubatī): Dari kata al-aub, yaitu dosa dan kesalahan.

 

  1. ثَبِّتْ حُجَّتِي (Tsabbit ujjatī): Hujah, yakni dalil dan bukti yang nyata di dunia dan akhirat, serta saat menjawab pertanyaan dua malaikat di dalam kubur.

 

  1. سَخِيمَةَ قَلْبِي (Sakhīmata Qalbī): Kedengkian, kemarahan, kecemburuan sosial, dan dendam di dalam hati.

 

  1. مِدَادَ كَلِمَاتِهِ (Midāda Kalimātih): Setara dengan jumlah kalimat-kalimat-Nya, atau dikatakan setara dengan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya yang tidak akan pernah habis.

 

43. Dari Fadhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam salatnya tanpa mengagungkan Allah dan tanpa bersalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang ini tergesa-gesa." Kemudian beliau memanggilnya dan bersabda kepadanya atau kepada orang lain:

«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ لْيُصَلَّ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ لْيَدْعُ بِمَا شَاءَ»

"Apabila salah seorang di antara kalian berdoa,[^1], hendaklah ia memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian membaca salawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu berdoa setelah itu dengan apa yang ia kehendaki."

(HR. Abu Dawud[^2], An-Nasa'i[^3], dan At-Tirmidzi[^4]).

44. Dari Abu Malik Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«الطَّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ (أَوْ تَمْلأُ) مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ، وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ، فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا»

"Bersuci adalah separuh dari keimanan,[^5]. Ucapan 'Alhamdulillah' memenuhkan timbangan [mizan]. Ucapan 'Subhanallah' dan 'Alhamdulillah' keduanya memenuhkan (atau memenuhi) ruang antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah bukti, kesabaran adalah sinar terang,[^6], dan Al-Qur'an adalah pembela bagimu atau penuntut atasmu. Setiap manusia beraktivitas di pagi hari,[^7]; ada yang menjual dirinya lalu memerdekakannya (dari siksa) atau justru membinasakannya."

(HR. Muslim).

45. Dari 'Abdullah bin Ja'far radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: 'Ali radhiyallahu 'anhu mengajariku kalimat-kalimat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk diucapkan ketika tertimpa kesusahan dan kesulitan:

«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيمُ، سُبْحَانَ اللهِ، وَتَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ»

"Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Santun, Mahasuci Allah, dan Mahasuci Allah Rabb 'Arsy yang agung, serta segala puji bagi Allah Rabb semesta alam."

46. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami berkata, "Wahai Rasulullah, salam kepadamu telah kami ketahui, lalu bagaimanakah kami mengucapkan salawat kepadamu?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ»

"Ya Allah, berilah salawat kepada Muhammad, hamba-Mu dan Utusan-Mu, sebagaimana Engkau telah memberi salawat kepada Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim."

47. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ»

"Dua kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan (mizan), dan dicintai oleh Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): 'Subhanallahi al-'azhim' (Mahasuci Allah Yang Maha Agung) dan 'Subhanallahi wa bihamdihi' (Mahasuci Allah dan dengan memuji-Nya)."

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

48. Dari Sa'ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Apakah salah seorang di antara kalian merasa lemah untuk meraih seribu kebaikan setiap hari?" Maka salah seorang yang duduk bersama beliau bertanya, "Bagaimana seseorang di antara kita dapat meraih seribu kebaikan?" Beliau menjawab:

«يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ»

"Ia bertasbih (mengucapkan 'Subhanallah') sebanyak seratus kali, maka dituliskan baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan."

(HR. Muslim).

49. Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika orang-orang berada di tempat yang tinggi, mereka mengeras suara bertakbir. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia, kasihanilah diri kalian! Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli maupun gaib. Sesungguhnya kalian sedang menyeru Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia bersamamu." Abu Musa berkata: "Saat itu aku berada di belakang beliau seraya mengucapkan 'La haula wa la quwwata illa billah'. Beliau bersabda: 'Wahai 'Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu simpanan pahala (harta karun) dari simpanan-simpanan surga?' Aku menjawab: 'Tentu, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Ucapkanlah:

«لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ»

"Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah."

50. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ambillah perisai kalian!" Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah musuh telah datang?" Beliau menjawab: "Bukan, tetapi perisai kalian dari api neraka. Ucapkanlah: 'Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar'. Sebab kalimat-kalimat tersebut akan datang pada hari kiamat sebagai penyelamat yang datang beriringan dari depan dan belakang,[^8], dan dialah 'al-baqiyatus-shalihat' (kebajikan-kebajikan yang kekal)."

51. Dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua amalan yang tidaklah seorang hamba muslim menjaganya melainkan ia akan masuk surga. Ketahuilah, keduanya sangat mudah, namun orang yang mengamalkannya sedikit: (Yaitu) bertasbih kepada Allah di akhir setiap salat sebanyak sepuluh kali, memuji-Nya sepuluh kali, dan bertakbir kepada-Nya sepuluh kali." 'Abdullah bin 'Amr berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghitung jari-jemari tangannya saat mengucapkannya." Beliau bersabda:

"Maka itu berjumlah seratus lima puluh pada lisan, namun bernilai seribu lima ratus pada timbangan mizan. Dan apabila ia hendak tidur, ia bertasbih seratus kali, memuji-Nya seratus kali, dan bertakbir seratus kali. Maka itu bernilai seratus pada lisan dan seribu lima ratus pada timbangan mizan. Maka siapakah di antara kalian yang melakukan dua ribu lima ratus keburukan dalam sehari semalam?" Para sahabat bertanya, "Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa menjaganya?" Beliau menjawab: "Setan mendatangi salah seorang dari kalian saat ia sedang salat, lalu mengingatkannya hal ini dan itu hingga ia selesai tanpa mengucapkannya; dan setan mendatanginya saat di pembaringannya lalu membuatnya tertidur sebelum mengucapkannya."

52. Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila bangun untuk salat malam di tengah malam, beliau mengucapkan:

«اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيَّامُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، إِنَّكَ إِلَهِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ»

"Ya Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah Cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Pengatur langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Rabb langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Engkaulah Yang Mahabenar, janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga adalah benar, neraka adalah benar, dan hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dengan pertolongan-Mu aku membela kebenaran, dan kepada-Mu aku memohon keputusan. Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Tuhanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau."

53. Dari 'Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sewaktu kecil aku berada di bawah pengasuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan tanganku menyambar ke mana-mana di dalam piring makanan. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:

«يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»

"Wahai anak muda, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang terdekat darimu."

Maka cara makan seperti itu senantiasa menjadi gayaku setelahnya.

(HR. Al-Bukhari dan Muslim).

54. Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku bertemu dengan Ibrahim 'alahissalam pada malam Isra, lalu beliau berkata: 'Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya subur, airnya tawar, dan ia adalah dataran rendah (luas). Sedangkan tanamannya adalah ucapan: Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar'."

55. Dari 'Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullah, ia berkata: Ka'ab bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu mempertemukanku, lalu berkata: "Maukah aku berikan kepadamu sebuah hadiah?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menemui kami, lalu kami berkata: "Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimanakah cara kami membaca salawat kepadamu?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

"Ya Allah, berilah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung."

56. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

«لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ الْوِتْرَ»

"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama; barang siapa yang menghafalnya (dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dan sesungguhnya Allah itu Ganjil (Maha Esa) dan menyukai yang ganjil."

Dan dalam sebuah riwayat: "Barang siapa yang menghitungnya (mengakui dan memahaminya)."

57. Dari Ka'ab bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Penutup-penutup salat,[^9] yang mana orang yang mengucapkannya atau melakukannya di setiap akhir salat fardu tidak akan kecewa: Tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid, dan tiga puluh empat kali takbir."

58. Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa terbangun dari tidurnya di malam hari,[^10] lalu membaca:

«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ»

"Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar, dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah."

Kemudian ia berdoa: 'Ya Rabb, ampunilah aku', atau ia berdoa dengan doa lain, niscaya doanya dikabulkan. Jika ia berniat berwudu lalu mendirikan salat, niscaya salatnya diterima."

59. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa bersalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bersalawat kepadanya sepuluh kali."

Dan menurut riwayat An-Nasa'i dari hadis Anas radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً وَاحِدَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ»

"Barang siapa bersalawat kepadaku satu kali salawat, niscaya Allah bersalawat kepadanya sepuluh kali salawat, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan ditinggikan derajatnya sebanyak sepuluh derajat."

60. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ»

"Barang siapa membaca 'Subhanallahi wa bihamdihi' seratus kali dalam sehari, niscaya diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan,[^11]."

61. Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ»

"Barang siapa membaca: 'La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir' sebanyak sepuluh kali, maka ia seperti orang yang telah memerdekakan empat orang dari keturunan Ismail."

62. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ، وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْهُ»

"Barang siapa membaca: 'La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir' seratus kali dalam sehari, maka baginya pahala setara dengan memerdekakan sepuluh orang budak. Dituliskan baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan kalimat itu menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore hari. Dan tidak ada seorang pun yang membawa amalan yang lebih utama dari apa yang dibawanya, kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu."

63. Dari Khaulah binti Hakim As-Sulamiyyah radhiyallahu 'anha, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barang siapa menyinggahi suatu tempat lalu mengucapkan:

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ»

"Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan."

Niscaya tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakannya hingga ia pergi meninggalkan tempat tersebut."

64. Dari Abu Humaid As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara kami membaca salawat kepadamu?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:

«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

"Ya Allah, berilah salawat kepada Muhammad, istri-istrinya, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberi salawat kepada keluarga Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad, istri-istrinya, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung."

65. Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Pada setiap pagi hari, wajib bersedekah atas setiap persendian,[^12] dari tubuh kalian. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang dari kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat dicukupi dengan melakukan dua rakaat salat Dhuha."

Teladan Praktis dari Kehidupan Nabi dalam Berzikir

66. Dari Zurarah bahwasanya Sa'ad bin Hisyam bin 'Amir ingin berperang di jalan Allah, lalu ia datang ke Madinah dan hendak menjual pekarangannya di sana untuk dibelikan senjata dan kuda guna berperang melawan bangsa Romawi hingga mati. Namun ketika ia tiba di Madinah, ia bertemu dengan sejumlah penduduk Madinah dan mereka melarangnya melakukan hal itu. Mereka mengabarkan kepadanya bahwa ada enam orang sahabat pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang ingin melakukan hal tersebut, namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang mereka seraya bersabda: "Bukankah pada diriku terdapat teladan yang baik bagimu?"

Ketika mereka menceritakan hal itu kepadanya, ia pun membatalkan niatnya dan merujuk istrinya kembali. Ia telah menalaknya, lalu meminta persaksian atas rujuknya tersebut. Kemudian ia mendatangi Ibn 'Abbas dan bertanya kepadanya tentang salat witir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Ibn 'Abbas berkata: "Maukah aku tunjukkan orang yang paling tahu di muka bumi tentang salat witir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Sa'ad bertanya: "Siapakah orangnya?" Ibn 'Abbas menjawab: "Aisyah. Datanglah kepadanya dan tanyakanlah hal itu, lalu kembalilah kepadaku dan kabarkan jawaban yang ia berikan kepadamu."

Sa'ad berkata: Maka aku pun pergi menemui Hakim bin Aflah dan meminta dampingannya untuk pergi kepadanya. Namun ia berkata: "Aku tidak mau mendekatinya, sebab aku pernah melarangnya bicara tentang dua kelompok (yang bertikai) itu,[^13] namun ia enggan kecuali tetap melanjutkannya." Sa'ad berkata: Aku pun bersumpah kepadanya, hingga ia bersedia pergi bersamaku menemui Aisyah. Kami meminta izin masuk, lalu Aisyah memberikan izin dan kami masuk. Aisyah bertanya: "Apakah ini Hakim?" (karena ia mengenalnya). Hakim menjawab: "Ya." Aisyah bertanya lagi: "Siapa yang bersamamu?" Hakim menjawab: "Sa'ad bin Hisyam." Aisyah berkata: "Hisyam yang mana?" Hakim menjawab: "Bin 'Amir." Maka Aisyah mendoakan rahmat untuknya dan mendoakan kebaikan bagi dirinya (karena Hisyam gugur pada Perang Uhud).

Aku berkata: "Wahai Ummul Mukminin, kabarkanlah kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Aisyah menjawab: "Bukankah engkau membaca Al-Qur'an?" Aku menjawab: "Tentu." Aisyah berkata: "Sesungguhnya akhlak Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Al-Qur'an."

Sa'ad berkata: Maka aku berniat untuk berdiri dan tidak akan bertanya kepada seorang pun tentang sesuatu hingga aku mati. Namun kemudian teringat kembali olehku, lalu aku berkata: "Kabarkanlah kepadaku tentang salat malam (qiyamul lail) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

Aisyah berkata: "Bukankah engkau membaca surah:

{يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ}

"Wahai orang yang berselimut (Muhammad)!" (QS. Al-Muzzammil: 1)

Aku menjawab: "Tentu." Aisyah berkata: "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan qiyamul lail pada awal surah ini. Maka Nabi Allah dan para sahabatnya mendirikan salat malam selama satu tahun, dan Allah menahan penutup surah tersebut selama dua belas bulan di langit, hingga Allah menurunkan keringanan di akhir surah ini. Maka qiyamul lail berubah menjadi amalan sunnah setelah sebelumnya berstatus wajib."

Aku berkata: "Wahai Ummul Mukminin, kabarkanlah kepadaku tentang salat witir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."

Aisyah menjawab: "Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudu beliau. Lalu Allah membangunkan beliau pada malam hari sesuai kehendak-Nya. Beliau pun bersiwak, berwudu, lalu mendirikan salat sembilan rakaat tanpa duduk (tasyahud) kecuali pada rakaat kedelapan. Beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa. Kemudian beliau bangkit tanpa mengucapkan salam, lalu berdiri mendirikan rakaat kesembilan. Setelah itu beliau duduk berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa, lalu mengucapkan salam dengan suara yang dapat kami dengar. Setelah salam, beliau mendirikan salat dua rakaat dalam keadaan duduk. Maka itulah sebelas rakaat, wahai anakku. Namun ketika Nabi Allah telah berusia lanjut dan bertambah berat badannya, beliau melaksanakan witir sebanyak tujuh rakaat, dan beliau melakukan pada dua rakaat setelahnya sebagaimana yang beliau lakukan pada kali pertama; maka itulah sembilan rakaat, wahai anakku. Dan Nabi Allah apabila mendirikan suatu salat, beliau menyukai untuk merutinkannya. Apabila beliau tertidur atau merasa sakit sehingga tidak mendirikan salat malam, beliau menggantinya dengan salat dua belas rakaat di siang hari. Dan aku tidak pernah mengetahui Nabi Allah membaca seluruh Al-Qur'an dalam semalam, tidak pula salat semalam suntuk hingga subuh, dan tidak pula berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadan."

Sa'ad berkata: Kemudian aku pergi menemui Ibn 'Abbas dan menceritakan hadis ini kepadanya. Maka Ibn 'Abbas berkata: "Aisyah benar. Seandainya aku dekat dengannya atau biasa masuk menemuinya, niscaya aku akan mendatangi beliau secara langsung." Sa'ad berkata: Aku berkata: "Seandainya aku tahu engkau tidak biasa masuk menemuinya, tentu aku tidak akan menceritakan hadis ini kepadamu."

67. Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Apabila Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selesai mengangkat hidangan makanannya, beliau mengucapkan:

«الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدَّعٍ، وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ رَبَّنَا»

"Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi di dalamnya. Pujian yang tidak dapat dicukupi, tidak ditinggalkan, dan senantiasa dibutuhkan, wahai Rabb kami."

68. Dari Warad, juru tulis Al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: Al-Mughirah bin Syu'bah mendiktekan surat kepada Mu'awiyah, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada setiap akhir salat fardu membaca:

«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»

"Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, serta tidak berguna kekayaan/kemuliaan bagi pemiliknya dari azab-Mu."

69. Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila melihat apa yang disukainya membaca: "Alhamdulillahil-ladzi bi ni'matihi tatimmus-shalihat" (Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna). Dan apabila melihat apa yang tidak disukainya beliau membaca: "Alhamdulillah 'ala kulli hal" (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan).

70. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sekembalinya dari 'Usfan, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menunggangi untanya dengan membonceng Safiyyah binti Huyay. Tiba-tiba unta beliau tergelincir sehingga keduanya terjatuh. Abu Talhah segera melompat dan berkata: "Wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu!" Beliau bersabda: "Perhatikanlah wanita itu!" Maka Abu Talhah menutupkan kain ke wajahnya lalu mendatangi Safiyyah dan menutupinya, kemudian merapikan kendaraan mereka berdua. Keduanya pun naik kembali, dan kami berjalan mengiringi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika kami telah tampak dekat dengan Madinah, beliau mengucapkan:

«آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ، لِرَبِّنَا حَامِدُونَ»

"Kami kembali, seraya bertobat, beribadah, dan memuji Rabb kami."

Beliau senantiasa mengucapkan kalimat tersebut hingga masuk ke kota Madinah.

71. Dari Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku pernah bermalam di dekat pintu kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu aku menyodorkan air wudu beliau. Aku mendengar beliau pada sebagian malam mengucapkan: "Sami'allahu liman hamidah" (Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Dan aku mendengar beliau pada sebagian malam membaca: "Alhamdulillah rabbil 'alamin" (Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam).

72. Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika tertimpa kesusahan membaca:

«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ»

"Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Santun. Tidak ada tuhan selain Allah Rabb 'Arsy yang agung. Tidak ada tuhan selain Allah Rabb langit, Rabb bumi, dan Rabb 'Arsy yang mulia."

73. Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mendirikan salat setelah diturunkan kepada beliau:

Firman Allah Ta'ala: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan." (QS. An-Nasr: 1)

Melainkan beliau senantiasa membaca dalam salatnya:

«سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي»

"Mahasuci Engkau wahai Rabb kami, dan dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku."

Riwayat Atsar dan Ucapan Para Ulama serta Ahli Tafsir tentang Zikir

1. Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berkata:

"Orang-orang yang berzikir telah pergi membawa seluruh kebaikan."

2. Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

"Seseorang bertawaf di Baitullah dalam keadaan halal (tidak berihram) hingga ia berihram untuk haji. Apabila ia telah menunggangi kendaraannya menuju Arafah, barang siapa yang dimudahkan baginya membawa hewan kurban berupa unta, sapi, atau kambing, maka ia boleh menyembelih apa yang dimudahkan baginya pada hari apa saja yang ia kehendaki dalam rangkaian haji. Dan hal itu dilakukan sebelum Hari Arafah. Apabila tiba hari terakhir dari tiga hari sebelum Hari Arafah, maka tidak ada dosa baginya [untuk menyembelih]. Kemudian ia bertolak hingga wukuf di Arafah sejak waktu salat Asar hingga kegelapan malam tiba, lalu mereka bertolak dari Arafah. Apabila mereka telah bertolak dari Arafah hingga sampai di Muzdalifah, mereka bermalam di sana untuk berzikir kepada Allah secara banyak, memperbanyak takbir dan tahlil sebelum memasuki waktu subuh. Kemudian bertolaklah mereka; orang-orang bertolak dari tempat bertolaknya manusia, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 199)

Hingga mereka melempar Jumrah."

3. Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu berkata:

"Segala sesuatu memiliki pembersih, dan pembersih hati adalah zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla."

4. 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:

"Sesungguhnya sebuah gunung benar-benar memanggil gunung lainnya dengan menyebut namanya: 'Wahai Fulan, apakah ada orang yang melintasimu hari ini seraya berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla?' Apabila gunung itu menjawab 'Ya', maka gunung tersebut merasa gembira."

5. Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

"Setan itu bertengger di atas hati anak Adam. Apabila ia lupa dan lalai, setan akan membisikkan keraguan; namun apabila ia berzikir kepada Allah Ta'ala, setan akan bersembunyi (kembali)."

6. Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata:

"Tidak ada amalan hamba yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikir kepada Allah."

7. Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:

"Barang siapa yang memperbanyak zikir kepada Allah, maka ia terbebas dari sifat kemunafikan."

8. Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata mengenai firman Allah Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 33)

"Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak mewajibkan suatu kewajiban atas hamba-Nya melainkan memberi batas kadar yang dimaklumi, kemudian memberi uzur bagi pelakunya dalam kondisi beruzur, kecuali amalan zikir. Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menetapkan batas akhir baginya, dan tidak memberi uzur kepada seorang pun untuk meninggalkannya kecuali dalam keadaan hilang akal. Allah berfirman:

"(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring..." (QS. An-Nisa': 103)

Baik pada malam maupun siang hari, di daratan maupun di lautan, dalam perjalanan maupun saat menetap, dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, secara rahasia maupun terang-terangan, dan dalam setiap keadaan."

9. Al-Hasan rahimahullah berkata:

"Barang siapa yang berzikir kepada Allah di pasar, maka dituliskan baginya pahala sebanyak bilangan setiap orang yang fasih dan yang bisu di dalamnya." Al-Mubarok (salah satu perawi) berkata: Yang dimaksud orang fasih adalah manusia, sedangkan yang bisu adalah hewan ternak.

10. Dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, ia menceritakan:

"Ketika seorang laki-laki melihat dalam mimpinya ada penyeru dari langit yang menyeru: 'Wahai manusia, ambillah senjata kalian!' Maka orang-orang bergegas mengambil senjata hingga ada seorang laki-laki yang datang tanpa membawa apa-apa selain tongkat. Maka penyeru dari langit berkata: 'Senjata apa ini? Apa senjata kalian wahai penduduk bumi, dan apa senjata kita?' Laki-laki itu menjawab: 'La ilaha illallah, wallahu akbar, wa subhanallah, walhamdulillah'."

(Catatan: Mimpi tidak dapat dijadikan landasan hukum syariat, namun maknanya shahih sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Nabi 'alaihis salam).

11. At-Tirmidzi merwayatkan dari sebagian ahli ilmu:

"Apabila seseorang membaca salawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam satu kali dalam majelis, maka itu telah mencukupi baginya dari apa yang ada di dalam majelis tersebut."

12. Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata:

"Kedudukan zikir bagi hati bagaikan air bagi ikan; maka bagaimanakah keadaan ikan apabila dipisahkan dari air?"

13. Ibn Al-Qayyim rahimahullah berkata:

"Zikir adalah pintu kecintaan (kepada Allah), jalan utamanya yang teragung, dan jalurnya yang lurus."

14. Beliau (rahimahullah) juga berkata:

"Kecintaan kepada Allah Ta'ala, makrifat kepada-Nya, senantiasa berzikir kepada-Nya, merasa tenang kepada-Nya, mengesakan-Nya dengan rasa cinta, takut, harap, tawakal, dan muamalah—sehingga Dia semata yang menguasai keinginan, cita-cita, dan kehendak hamba—adalah surga dunia dan kenikmatan yang tiada tandingannya. Ia adalah kebahagiaan para pecinta dan penyejuk mata orang-orang yang arif."

15. Beliau juga berkata:

"Telah terbukti bahwa puncak tujuan penciptaan dan perintah adalah agar Allah diingat dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri. Allah Subhanahu wa Ta'ala berzikir/mengingat orang yang mengingat-Nya, dan bersyukur kepada orang yang bersyukur kepada-Nya."

16. Beliau berkata:

"Zikir yang paling utama dan paling bermanfaat adalah zikir yang padanya hati dan lisan bersesuaian, berasal dari zikir-zikir nabawi, serta orang yang berzikir menyaksikan makna-makna dan tujuan-tujuannya."

Di Antara Manfaat-Manfaat Zikir

Ibn Al-Qayyim rahimahullah berkata: "Di dalam zikir terdapat lebih dari seratus manfaat, di antaranya:"

(1) Mengusir setan dan menundukkannya.

(2) Merindui dan meredakan (kemurkaan) Ar-Rahman 'Azza wa Jalla.

(3) Menghilangkan duka dan kesedihan dari hati.

(4) Mendatangkan kegembiraan, kesenangan, dan kelapangan bagi hati.

(5) Menguatkan hati dan badan.

(6) Menerangi wajah dan hati.

(7) Mendatangkan rezeki.

(8) Membalut orang yang berzikir dengan wibawa, manisnya sikap, dan keceriaan.

(9) Melahirkan kecintaan yang merupakan ruh Islam, poros agama, serta pusat kebahagiaan dan keselamatan.

(10) Melahirkan muraqabah (perasaan diawasi) hingga memasukkannya ke dalam pintu ihsan; maka ia beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Tidak ada jalan bagi orang yang lalai dari zikir untuk mencapai maqam ihsan.

(11) Melahirkan inabah, yaitu kembali kepada Allah 'Azza wa Jalla.

(12) Membuahkan kedekatan dengan Allah; maka sejauh mana kadar zikirnya kepada Allah, sejauh itulah tingkat kedekatannya dari-Nya.

(13) Membukakan baginya pintu yang agung dari pintu-pintu makrifat.

(14) Membuahkan rasa takut dan keagungan terhadap Rabbnya 'Azza wa Jalla karena dominasi rasa wibawa atas hatinya.

(15) Membuahkan sebutan dari Allah Ta'ala baginya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah: 152)

Seandainya tidak ada manfaat zikir selain ini, cukuplah hal itu sebagai keutamaan dan kemuliaan.

(16) Membuahkan kehidupan bagi hati.

(17) Zikir adalah santapan bagi hati dan ruh; jika hamba kehilangan zikir, ia bagaikan tubuh yang terhalang dari makanan.

(18) Membuahkan pembersihan (pengkilapan) hati dari karatnya.

(19) Menggugurkan kesalahan-kesalahan dan menghapuskannya.

(20) Menghilangkan kecanggungan antara hamba dengan Rabbnya Tabaraka wa Ta'ala.

(21) Orang yang berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla akan diingat oleh Rabbnya. Allah Ta'ala berfirman:

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah: 152)

(22) Bahwa hamba apabila mengenali Allah Ta'ala melalui zikirnya dalam keadaan lapang, maka Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit.

(23) Menyelamatkan dari azab Allah Ta'ala.

(24) Menjadi sebab turunnya ketenangan (sakinah), diliputi rahmat, dan dikelilingi oleh para malaikat.

(25) Menjadi sebab sibuknya lisan dari ghibah (menggunjing), adu domba, kedustaan, kekejian, dan kebatilan.

(26) Majelis zikir adalah majelis para malaikat, sedangkan majelis kelalaian adalah majelis setan. Hendaklah seorang hamba memilih mana yang paling disukainya.

(27) Membahagiakan orang yang berzikir dan membahagiakan orang yang duduk bersamanya.

(28) Mengamankan hamba dari penyesalan pada hari kiamat.

(29) Tangisan dalam kesendirian saat berzikir menjadi sebab naungan Allah Ta'ala bagi hamba pada hari kiamat.

(30) Kesibukan berzikir menjadi sebab diberikannya pemberian yang paling utama bagi orang yang memohon.

(31) Zikir adalah ibadah yang paling mudah namun termasuk ibadah yang paling agung dan utama.

(32) Zikir adalah tanaman surga.

(33) Pemberian dan keutamaan yang dijanjikan atas zikir tidak ditetapkan pada amalan-amalan lainnya.

(34) Langgengnya zikir kepada Rabb Tabaraka wa Ta'ala mendatangkan keamanan dari kelalaian yang menjadi sebab kesengsaraan hamba di dunia dan akhirat.

(35) Zikir adalah cahaya bagi orang yang berzikir di dunia, cahaya di kuburnya, dan cahaya di tempat kembalinya (akhirat) yang membimbingnya di atas Shirat.

(36) Zikir dimudahkan bagi hamba dalam setiap waktu dan keadaan, sebab orang yang berzikir tetap dapat melakukannya dalam keadaan berbaring sehingga melampaui keutamaan orang yang berdiri namun lalai.

(37) Zikir membukakan pintu masuk menuju Allah 'Azza wa Jalla.

(38) Di dalam hati terdapat rongga dan kebutuhan yang tidak dapat ditutupi oleh sesuatu pun kecuali oleh zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla.

(39) Zikir mengumpulkan apa yang bercerai-berai dan mencerai-beraikan apa yang berkumpul; mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.

(40) Zikir membangunkan hati dari tidurnya dan menyadarkannya dari kelalaiannya.

(41) Zikir adalah pohon yang membuahkan berbagai makrifat dan keadaan spritual (ahwal).

(42) Orang yang berzikir sangat dekat dengan Dzat yang dizikirinya, dan Allah senantiasa bersamanya. Kebersamaan ini adalah kebersamaan khusus.

(43) Zikir setara dengan memerdekakan budak, menafkahkan harta, dan berperang di jalan Allah 'Azza wa Jalla.

(44) Zikir adalah pokok dari kesyukuran; tidak dianggap bersyukur kepada Allah Ta'ala orang yang tidak berzikir kepada-Nya.

(45) Manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta'ala adalah orang-orang bertakwa yang lisannya senantiasa basah dengan zikir kepada Allah.

(46) Di dalam hati terdapat kerasnya jiwa yang tidak dapat dilelehkan kecuali oleh zikir kepada Allah Ta'ala.

(47) Zikir adalah obat dan penawar bagi hati.

(48) Zikir adalah pangkal dari perwalian (loyalitas) kepada Allah 'Azza wa Jalla, sedangkan kelalaian adalah pangkal dari permusuhan terhadap-Nya.

(49) Tidak ada hal yang dapat mendatangkan nikmat Allah dan menolak murka-Nya setara dengan zikir kepada Allah Ta'ala.

(50) Zikir mendatangkan salawat dari Allah 'Azza wa Jalla dan para malaikat-Nya kepada orang yang berzikir.

(51) Barang siapa yang ingin menghuni taman-taman surga di dunia, hendaklah ia menghadiri majelis-majelis zikir.

(52) Majelis-majelis zikir adalah majelis para malaikat.

(53) Allah 'Azza wa Jalla membanggakan orang-orang yang berzikir di hadapan para malaikat-Nya.

(54) Orang yang merutinkan zikir akan masuk surga dalam keadaan tersenyum,[^14].

(55) Orang yang berzikir dapat mewujudkan tujuan utama disyariatkannya amalan-amalan ibadah. Allah Ta'ala berfirman:

" ...dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku." (QS. Taha: 14)

(56) Memperbanyak zikir dalam beramal menjadikan pelakunya sebagai orang yang paling utama dalam amalan tersebut.

(57) Merutinkan zikir dapat menggantikan ibadah-ibadah sunnah (tathawwu').

(58) Zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah pertolongan terbesar untuk menaati-Nya.

(59) Zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla memudahkan hal yang sulit, meringankan hal yang berat, dan melapangkan kesusahan.

(60) Zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla menghilangkan seluruh rasa takut dari hati.

(61) Zikir memberikan kekuatan yang agung bagi orang yang berzikir.

(62) Orang-orang yang berzikir adalah orang-orang yang terdepan pada hari kiamat.

(63) Zikir menjadi sebab dibenarkannya seorang hamba oleh Rabbnya 'Azza wa Jalla.

(64) Para malaikat membangunkan istana-istana di surga bagi orang yang berzikir selama ia terus berzikir.

(65) Zikir adalah benteng pemisah antara hamba dengan neraka Jahannam.

(66) Para malaikat memohonkan ampunan bagi orang yang berzikir sebagaimana mereka memohonkan ampunan bagi orang yang bertobat.

(67) Gunung-gunung dan padang pasir merasa bangga dan gembira dengan adanya orang yang berzikir di atasnya.

(68) Memperbanyak zikir adalah jaminan keamanan dari sifat kemunafikan. Allah Subhanahu berfirman tentang orang-orang munafik:

"...dan mereka tidak mengingat Allah melainkan sedikit sekali." (QS. An-Nisa': 142)

(69) Orang yang berzikir memperoleh kenikmatan lezat yang tidak didapatkan oleh selainnya.

(70) Zikir menyelimuti pelakunya dengan keceriaan di dunia dan cahaya di akhirat.

(71) Memperbanyak zikir berarti memperbanyak saksi bagi hamba pada hari kiamat.

(72) Menyibukkan diri dengan zikir memalingkan lisan dari perkataan yang batil seperti ghibah dan adu domba.

(73) Tidak ada jalan untuk memecah belahkan himpunan setan yang mengelilingi manusia kecuali dengan zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla.

(74) Zikir menjadikan doa dikabulkan,[^15].

Catatan Kaki (Footnote) Terjemahan:

[^1]: Kalimat * "إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ" * di sini menurut terminologi ushul/fikih bermakna "Apabila salah seorang di antara kalian berdoa". Kata as-salah secara bahasa bermakna doa. [^2]: HR. Abu Dawud (no. 1481). [^3]: HR. An-Nasa'i (3/44). [^4]: HR. At-Tirmidzi (no. 3477). [^5]: Terjemahan kata At-Thahur (الطَّهُورُ) adalah bersuci (perbuatan), sedangkan apabila dibaca At-Thahur dengan makna alat/air pencuci. [^6]: Adh-Dhiya' (الضِيَاءُ) adalah cahaya yang disertai rasa panas/semangat perjuangan, sedangkan An-Nur (النُّورُ) adalah cahaya yang menyejukkan. [^7]: Maksud Setiap manusia beraktivitas di pagi hari adalah berusaha untuk dirinya; di antara mereka ada yang menjualnya demi ketaatan kepada Allah lalu memerdekakannya dari azab, dan ada yang menjualnya kepada setan dan hawa nafsu sehingga membinasakannya. [^8]: Al-Mu'aqqibat berarti penyelamat/pengiring yang datang dari belakang, sedangkan Al-Mujannibat adalah yang berjalan di depan/samping. [^9]: Mu'aqqibat (مُعَقِّبَاتٌ) di sini bermakna bacaan-bacaan zikir/tasbih yang diucapkan di akhir (setelah) salat fardu. [^10]: Ta'arra minallail (تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ) artinya terbangun di malam hari seraya menggeliat/membalikkan badan di pembaringan. [^11]: Zabad al-bahr (زَبَدِ الْبَحْرِ) merujuk pada buih/busa putih yang terapung di atas permukaan air laut saat bergelombang; ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan jumlah yang sangat banyak. [^12]: Sulama (سُلاَمَى) bermakna tulang jemari dan seluruh persendian pada tubuh manusia. [^13]: Yang dimaksud dengan dua kelompok adalah perselisihan perang saudara (Siffin/Jamal) yang melibatkan pendukung Sayyidina Ali dan Aisyah radhiyallahu 'anhuma. [^14]: Kalimat dalam riwayat terjemahan ungkapan Ibn Al-Qayyim menyebutkan: "Pecandu zikir akan masuk surga dalam keadaan tertawa/tersenyum". [^15]: Poin 1–74 dirangkum dan diringkas secara cermat dari kitab Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib karya Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah (hlm. 82–153).

 

Sumber:

Ibn Humayd, Ṣāli ibn ‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Narat an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li an-Nashr wa at-Tawzī‘

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat