Dzikrullah
Dzikir Secara Bahasa (Lughatan):
Akar
kata (Al-Dzal, al-Kaf, dan al-Ra') berpusat pada dua makna
mendasar:
- Pertama:
kejantanan/maskulinitas (al-dzukurah) sebagai lawan dari kewanitaan
(al-anutsah) serta hal-hal yang menyerupainya.
- Kedua: al-dzikr
sebagai lawan dari kelupaan (al-nisyan).
Ibn
Faris mengatakan: (Al-Dzal, al-Kaf, dan al-Ra') merupakan
dua asal kata [akar kata]. Dari keduanya bercabang seluruh pembentukan kata (kalam
al-bab). Maka, al-mudzkir adalah perempuan yang melahirkan anak
laki-laki (dzakaran). Dan al-mudzkar adalah perempuan yang
kebiasaannya melahirkan anak laki-laki. Sedangkan asal kata yang kedua: "Dzakartu
al-syai'a" (aku mengingat sesuatu), merupakan lawan kata dari "nasiytuhu"
(aku melupakannya). Kemudian kata dzikir dibawakan pada penggunaan lisan, lalu
orang-orang mengucapkan: "Ij’alhu minka ’ala dzikrin" yang
artinya: agar engkau tidak melupakannya.
Dan al-dzikr
serta al-dzikra adalah lawan dari kelupaan (al-nisyan). Demikian
pula kata al-dzikrah. Penyair berkata:
أَنْ نَعَلَّمَ بِكَ الخَيَالُ
يَطِيفُ
وَمُطَافُهُ لَكَ ذِكْرَةٌ وَشُعُوفُ
"Bahwa
bayang-bayanganmu (kenangan tentangmu) senantiasa singgah dan mengitariku,
Dan
tempat yang ia kelilingi di dalam diriku tak lain adalah bentuk kenangan dan
kerinduan yang amat mendalam untukmu."
Kata
al-dzikr juga datang dengan makna menjaga (al-hifzh) bagi
sesuatu, serta sesuatu yang meluncur di atas lisan. Di antaranya adalah ucapan
mereka: "Dzakartu li fulanin haditsa kada wa kada" (aku
menyebutkan kepada si Fulan hadis begini dan begitu), yaitu "qultuhu
lahu" (aku mengatakannya kepadanya). Engkau mengucapkan: "Dzakarahuyadzkuruhu
dzikran wa dzikran".
Di
antara makna kiasannya (al-majaz): Al-Dzikr berarti
sebutan/kemasyhuran (al-shead) baik dalam kebaikan maupun keburukan.
Sedangkan al-dzukr: adalah pujian (al-tsana'), dan ini khusus
dalam kebaikan saja... Dan seseorang yang madzkur artinya ia dipuji
dengan kebaikan. Termasuk bentuk kiasan (al-majaz): Al-Dzikr
berarti kehormatan/kemuliaan (al-syaraf), di antaranya firman Allah
Ta'ala:
"Dan
sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar menjadi peringatan (kehormatan) bagimu dan
bagi kaummu..." (QS. Az-Zukhruf [43]: 44)
maksudnya:
Al-Qur'an adalah kehormatan bagimu dan bagi kaummu. Serta firman Allah Ta'ala:
"Dan
Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu." (QS. Ash-Syarh [94]: 4)
maksudnya:
kemuliaanmu (syarafaka).
Sebagaimana
kata al-dzikr juga digunakan untuk beberapa makna lain, di antaranya:
shalat kepada Allah Ta'ala, doa kepada-Nya, dan digunakan pula untuk ketaatan,
rasa syukur, doa, tasbih, membaca Al-Qur'an, mengagungkan Allah, membaca
tahlil, membaca tasbih, serta memuji-Nya dengan seluruh pujian-Nya. Al-Dzikr
juga berarti: Kitab yang di dalamnya memuat perincian agama dan penetapan
syariat-syariat agama, serta setiap kitab yang diturunkan kepada para nabi. Di
antaranya firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya
Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan pasti Kami pula yang
memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)
dan
dimaknai secara khusus untuk Al-Qur'an saja.
Dikatakan
pula: Al-Dzikr adalah apa yang engkau sebutkan dengan lisanmu dan engkau
tampakkan. Sedangkan al-dzikr dengan hati: adalah terus ingatnya hati (ma
zala minni 'ala dzikrin) yaitu aku tidak melupakannya. Dan al-dzikra:
adalah perbanyakan dzikir (katsratu al-dzikr), dan ia lebih mendalam
daripada al-dzikr. Allah Ta'ala berfirman:
"sebagai
rahmat dari Kami dan peringatan bagi orang-orang yang berakal." (QS.
Sad [38]: 43)
Dan
Allah Ta'ala juga berfirman:
"Dan
tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi
orang-orang mukmin." (QS. Az-Zariyat [51]: 55)
Dan al-tadzkirah:
adalah apa yang dijadikan peringatan darinya, dan ia lebih umum daripada al-dalalah
(petunjuk) dan al-ammarah (tanda). Allah Ta'ala berfirman:
"Maka
mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan?" (QS.
Al-Muddassir [74]: 49)
Adapun
al-istidzkar: berarti mempelajari untuk menghafal. Dan al-tadzakkur:
adalah mencari sesuatu yang telah terlewat. Seseorang mengingat (istadzkara)
dengan mengikatkan benang di jarinya agar ia teringat kebutuhannya. Dan aku
mengingat sesuatu (dzakartu al-syai'a) setelah lupa, dan aku teringat (tadzakkartuhu),
dan aku mengingatkannya (adzakartuhu ghoiri) serta (dzakkartuhu)
dengan makna yang sama. Allah Ta'ala berfirman:
"Dan
berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada
Yusuf) setelah sekian lama..." (QS. Yusuf [12]: 45)
yaitu
ia ingat setelah lupa. Asal katanya adalah idztakara lalu diidghamkan.
Dzikir
Secara Istilah (Ishtilahat):
Bebas
dari kelalaian (al-ghaflah) dan kelupaan (al-nisyan).
Al-Raghib
berkata: "Al-Dzikr terkadang digunakan dan dimaksudkan sebagai
kondisi jiwa yang mana dengannya manusia dapat menjaga apa yang diperolehnya
berupa pengetahuan, dan terkadang digunakan untuk hadirnya sesuatu di dalam
hati atau ucapan, oleh karena itu dikatakan al-dzikr ada dua: Dzikir
dengan hati, dan dzikir dengan lisan".
Kedudukan
Dzikir (Manzilat al-Dzikr):
Ibn
al-Qayyim menjelaskan kedudukan dan pentingnya dzikir, ia berkata:
"Ia
adalah kedudukan terbesar yang dari sanalah mereka (para hamba) mengambil
bekal, dan di dalamnya mereka berniaga, serta kepadanya mereka senantiasa
berulang kembali. Dzikir adalah piagam kepemimpinan (mansyur al-wilayah)
yang barangsiapa diberi dzikir maka ia telah terhubung, dan barangsiapa
dihalangi darinya maka ia telah dipecat. Dzikir adalah makanan bagi hati para
kaum yang apabila berpisah dengannya, jasad-jasad mereka akan menjadi kuburan.
Dzikir adalah kemakmuran tempat tinggal mereka yang jika kosong darinya akan
menjadi runtuh hancur. Dzikir adalah senjata mereka yang dengannya mereka
berperang melawan para penyamun jalanan, dan obat bagi penyakit-penyakit mereka
yang apabila mereka berpisah darinya hati mereka menjadi jungkir balik. Dzikir
adalah sebab penyambung antara mereka dengan Yang Maha Mengetahui hal-hal
gaib."
"Apabila
kita sakit, kami berobat dengan mengingat-Mu,"
"Maka
kita meninggalkan dzikir kadang-kadang, lalu kita kambuh sakit kembali."
"Dengannya
mereka menolak bencana, memohon tersingkapnya kesulitan-kesulitan, dan menjadi
ringanlah musibah-musibah bagi mereka apabila bencana menggelap di atas mereka.
Kepadanya tempat berlindung mereka saat cobaan menimpa. Dzikir adalah taman-taman
surga mereka yang di dalamnya mereka berbolak-balik. Dzikir meninggalkan hati
yang sedih menjadi tersenyum bahagia, dan menyampaikan orang yang berdzikir
kepada Yang Didzikiri (al-Madzkur), bahkan menjadikan orang yang
berdzikir itu diingat (madzkuran)."
"Pada
setiap anggota tubuh terdapat ibadah yang terikat waktu, sedangkan dzikir
adalah ibadah hati dan lisan yang tidak terikat waktu. Bahkan mereka
diperintahkan untuk mengingat Sesembahan mereka dalam setiap keadaan, baik saat
berdiri, duduk, maupun berbaring. Sebagaimana surga itu adalah tanah lapang
kosong dan tanaman penanamnya adalah dzikir, maka demikian pula hati adalah
tanah tandus hancur, sedangkan pemakmur dan pondasinya adalah dzikir."
"Dzikir
adalah pembersih hati dan penghilangnya, serta obatnya apabila penyakit
menggelapinya. Setiap kali hamba bertambah tenggelam dalam berdzikir, bertambah
pula kecintaannya kepada Sesembahannya dan kerinduannya untuk bertemu
dengan-Nya. Dengannya hilanglah beban berat dari pendengaran, kebisuan dari
lisan, dan tersingkaplah kegelapan dari penglihatan. Allah menghiasi lisan para
pendzikir dengannya, sebagaimana Dia menghiasi pandangan orang-orang yang
melihat dengan cahaya."
"Maka
lisan yang lalai bagaikan mata yang buta, telinga yang tuli, dan tangan yang
lumpuh. Dzikir adalah pintu Allah yang paling besar yang terbuka antara Dia dan
hamba-Nya, selama hamba tersebut tidak menutupnya dengan kelalaiannya."
Tingkatan-tingkatan
Dzikir (Darajat al-Dzikr):
Ibn
al-Qayyim berkata mengenai tingkatan-tingkatan dzikir: "Dzikir itu berada
di atas tiga tingkatan:
- Tingkatan Pertama:
Dzikir lahiriah berupa pujian, doa, atau penjagaan (ri'ayah).
- Adapun dzikir pujian
contohnya: "Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah,
wallahu akbar".
- Adapun dzikir doa
contohnya:
"Ya
Tuhan kami, kami telah zhalim kepada diri kami sendiri. Jika Engkau tidak
mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk
orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'raf [7]: 23)
- Adapun dzikir penjagaan (ri'ayah)
contohnya ucapan pendzikir: "Allah bersamaku, Allah melihatku,
Allah menyaksikanku".
- Tingkatan Kedua:
Dzikir tersembunyi (al-khafi), yaitu pelepasan diri dari
keterikatan, beserta ketetapan bersama yang disaksikan (al-syuhud),
dan melazimkan percakapan rahasia (al-musamarah).
- Tingkatan Ketiga:
Dzikir hakiki (al-dzikr al-haqiqi), yaitu persaksian dzikir
Kebenaran kepadamu, dan terbebas dari persaksian dzikirmu.
Dan
dinamakan dzikir ini sebagai hakiki karena ia disandarkan kepada Tuhan Ta'ala,
maka dzikir Allah terhadap hamba-Nya itulah dzikir yang hakiki, dan ia adalah
persaksian dzikir Hakiki terhadap hamba-Nya..." dst.
Indikasi-indikasi
Umum untuk Dzikir (Al-Dalalat al-'Ammah li al-Dzikr):
Ibn
Hajar — rahimahullah Ta'ala — berkata: Yang dimaksud dengan dzikir
adalah mendatangkan lafazh-lafazh yang terdapat dorongan untuk diucapkan, serta
memperbanyak darinya, seperti al-baqiyat al-shalihat, yaitu: "Subhanallah,
walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar", dan disambungkan
dengannya bacaan hauqalah [ucapan La haula wa la quwwata illa billah],
basmalah, hasbalah [ucapan Hasbunallah wa ni'mal wakil],
istighfar, dan yang serupa dengan itu, serta doa kebaikan dunia dan akhirat.
Dzikir
kepada Allah juga diucapkan dan dimaksudkan dengannya adalah melestarikan
ketaatan atas amalan yang diwajibkan oleh-Nya atau dianjurkan kepada-Nya,
seperti membaca Al-Qur'an, membaca hadis, mempelajari ilmu, dan shalat sunnah.
Kemudian
dzikir itu terkadang terjadi dengan lisan dan diberi pahala atasnya orang yang
mengucapkannya, dan tidak disyaratkan hadirnya makna dzikir tersebut dalam
hatinya, tetapi disyaratkan agar tidak dimaksudkan untuk selain maknanya. Dan
jika ditambahkan pada ucapan lisan tersebut dzikir dengan hati, maka itu lebih
sempurna. Dan jika ditambahkan pada hal itu penghadiran makna dzikir dan apa
yang dikandungnya berupa pengagungan kepada Allah Ta'ala serta peniadaan
kekurangan dari-Nya, maka bertambahlah kesempurnaannya.
Jika
hal itu terjadi dalam amalan shaleh yang fardhu seperti shalat, jihad, atau
selain keduanya, bertambahlah kesempurnaannya. Maka jika ikhlas niatnya dan
memurnikan tujuan karena Allah Ta'ala dalam hal itu, maka ia berada di puncak
kesempurnaan paling tinggi.
Fakhruddin
al-Razi berkata: Yang dimaksud dengan dzikir lisan adalah lafazh-lafazh yang
menunjukkan atas tasbih, tahmid, dan tamjid. Dan dzikir dengan hati adalah
memikirkan dalil-dalil Dzat dan Sifat-sifat, serta dalam dalil-dalil beban
syariat dari perintah dan larangan hingga dapat memahami hukum-hukumnya, dan
dalam rahasia-rahasia makhluk Allah.
Dzikir
dengan anggota tubuh adalah dengan menjadikannya tenggelam dalam
ketaatan-ketaatan. Dan dari sanalah Allah menamai shalat sebagai dzikir, Dia
berfirman:
"wahai
orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada
hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah..." (QS. Al-Jumu'ah
[62]: 9)
Dikutip
dari sebagian mereka, ia berkata: Dzikir itu berada di atas tujuh bagian:
- Dzikir kedua mata dengan
tangisan.
- Dzikir kedua telinga dengan
mendengarkan secara saksama (al-ishghā').
- Dzikir lisan dengan pujian (al-tsanā').
- Dzikir kedua tangan dengan
pemberian (al-'athā').
- Dzikir badan dengan
pemenuhan janji (al-wafā').
- Dzikir hati dengan rasa
takut dan harap (al-khauf wa al-rajā').
- Dzikir ruh dengan kepasrahan
dan keridhaan (al-taslīm wa al-ridhā).
Dan
Ibn al-Qayyim — rahimahullah — berkata: Dzikir kepada Allah mencakup
dzikir atas nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dzikir atas perintah-Nya,
larangan-Nya, dan firman-Nya. Hal itu meniscayakan pengenalan terhadap-Nya,
keimanan kepada-Nya, kepada sifat-sifat kesempurnaan-Nya dan keagungan-Nya,
serta memuji-Nya dengan berbagai jenis pujian. Maka dzikir-Nya yang hakiki
meniscayakan semua hal itu sebagaimana meniscayakan dzikir atas
nikmat-nikmat-Nya, kebaikan-Nya, dan ihsan-Nya kepada makhluk-Nya.
Dan
Abu al-Faraj Ibn al-Jauzi berkata: Dzikir itu diucapkan atas dua cara:
- Salah satunya: Dzikir dengan
hati.
- Dan yang kedua: Dzikir dengan
lisan.
Dan
ia berada di dua tempat secara hakiki, dan dipinjamkan (yustā'ar) pada
tempat-tempat yang ditunjukkan oleh indikator karinah (al-qarinah).
Adab-adab
Dzikir dan Hukumnya:
Al-Imam
al-Nawawi — rahimahullah Ta'ala — berkata: Sepatutnya orang yang
berdzikir berada pada sifat-sifat yang paling sempurna. Jika ia dalam posisi
duduk, hendaknya ia menghadap kiblat, duduk dengan khusyuk, merendahkan diri,
tenang, berwibawa, dan menundukkan kepalanya. Namun jika ia berdzikir dalam
keadaan selain ini, hukumnya boleh, dan sekiranya ia meninggalkan hal tersebut
tanpa ada udzur, maka ia meninggalkan hal yang paling utama (al-afdlal).
Dan
sepatutnya tempat yang digunakan berdzikir itu bersih dan kosong. Oleh karena
itu dipuji berdzikir di masjid-masjid dan tempat-tempat yang mulia. Dan
diriwayatkan dari Abi Maisarah: "Janganlah kalian mengingat Allah
Ta'ala kecuali di tempat yang baik".
Dan
sepatutnya juga bagi orang yang berdzikir agar mulutnya bersih. Jika mulutnya
berubah bau, maka dihilangkan dengan bersiwak (dan sejenisnya). Jika terdapat
najis pada mulutnya, dihilangkan dengan air. Apabila ia berdzikir dan belum
melakukannya, hukumnya makruh dan tidak haram.
Dzikir
itu disukai (mahbub) dalam seluruh keadaan, kecuali pada keadaan-keadaan
yang dikecualikan oleh syariat, di antaranya:
- Saat duduk di atas buang
hajat (qadha' al-hajajah),
- Saat kondisi bersetubuh (al-jima'),
- Saat kondisi khutbah bagi
orang yang mendengar suara khatib,
- Saat berdiri shalat karena
ia disibukkan dengan bacaan shalat,
- Dan saat kondisi mengantuk.
Dan
tidak dimakruhkan berdzikir di jalanan, tidak pula di kamar mandi.
Makna
Kata Dzikir dalam Al-Qur'an al-Karim
Para
ahli tafsir menyebutkan bahwa kata al-dzikr dalam Al-Qur'an memiliki
beberapa cara (awjuh), di antaranya:
- Pertama: Dzikir dengan
lisan. Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut)
Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu,
atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu..." (QS. Al-Baqarah
[2]: 200) dan selainnya.
- Kedua: Dzikir dengan
hati. Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"dan
(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzhalimi diri
sendiri, mereka segera ingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa
mereka..." (QS. Ali 'Imran [3]: 135). Dan dikatakan makna dzakaru
Allah di sini adalah penyesalan (al-nadam).
- Ketiga: Hadis
(pembicaraan/berita). Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Ingatlah
aku di sisi tuanmu..." (QS. Yusuf [12]: 42).
Dan
yang serupa dengannya:
"Dan
ceritakanlah (Kisah) Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini..." (QS.
Maryam [19]: 41),
dan:
"Dan
ceritakanlah (kisah) Musa di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini..." (QS.
Maryam [19]: 51).
- Keempat: Berita (al-khabar).
Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Katakanlah:
'Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya'." (QS. Al-Kahf [18]:
83).
- Kelima: Nasihat (al-mau'izhah).
Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Maka
ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami pun
membukakan pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka..." (QS. Al-An'am
[6]: 44).
- Keenam: Wahyu (al-wahyu).
Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"demi
(rombongan) yang membacakan pelajaran (Al-Qur'an)" (QS. As-Saffat
[37]: 3).
- Ketujuh: Al-Qur'an.
Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Dan
Al-Qur'an ini adalah suatu peringatan yang bermaknah..." (QS.
Al-Anbiya' [21]: 50).
- Kedelapan: Taurat
dan kitab-kitab terdahulu. Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Maka
bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak
mengetahui." (QS. An-Nahl [16]: 43).
- Kesembilan:
Kehormatan/Kemuliaan (al-syaraf). Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Dan
sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar menjadi peringatan (kehormatan) bagimu dan
bagi kaummu..." (QS. Az-Zukhruf [43]: 44).
- Kesepuluh: Ketaatan (al-tha'ah).
Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Maka
ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah
[2]: 152), yaitu taatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kalian.
- Kesebelas: Penjelasan
(al-bayan). Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Dan
apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari
Tuhanmu..." (QS. Al-A'raf [7]: 63).
- Kedua Belas: Shalat
lima waktu. Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Maka
apabila kamu telah aman, berdzikirlah kepada Allah (shalatlah)..."
(QS. Al-Baqarah [2]: 239).
- Ketiga Belas: Shalat
Jum'at. Di antaranya firman Allah Ta'ala dalam Surah Al-Jumu'ah:
"Maka
segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli..." (QS.
Al-Jumu'ah [62]: 9).
- Keempat Belas:
Shalat 'Ashar. Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"ia
berkata, 'Sungguh, aku menyukai kesenangan (kuda) sehingga aku terkelala dari
mengingat Tuhanku'..." (QS. Sad [38]: 32).
- Kelima Belas: Rasul.
Di antaranya firman Allah Ta'ala:
"Sungguh,
Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dengan mengutus) seorang
Rasul..." (QS. At-Talaq [65]: 10-11). Dikatakan: Kata anzala
(menurunkan) di sini bermakna arsala (mengutus).
Dan
ayat-ayat yang dijadikan dalil dengan makna-makna ini mengandung kemungkinannya
dan selainnya.
Ibnu
al-Qayyim berkata: Kedatangan dzikir dalam Al-Qur'an berada di atas sepuluh
cara (awjuh):
- Pertama: Perintah
dengannya secara mutlak dan terikat (muqayyad), dan hal itu seperti
firman-Nya Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Ingatlah Allah, dengan mengingat (nama-Nya)
sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan
petang." (QS. Al-Ahzab [33]: 41-42).
- Kedua: Larangan dari
lawan katanya yaitu kelalaian (al-ghaflah) dan kelupaan (al-nisyan),
seperti firman-Nya Ta'ala:
"dan
janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai." (QS. Al-A'raf [7]:
205).
- Ketiga: Mengaitkan
keberuntungan (al-falah) dengan kelestarian berdzikir dan
memperbanyaknya, seperti firman-Nya Ta'ala:
"dan
ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS. Al-Jumu'ah
[62]: 10).
- Keempat: Pujian atas
ahlinya, dan pemberitaan tentang apa yang disediakan Allah untuk mereka
berupa surga dan ampunan, seperti firman-Nya Ta'ala:
"Sungguh,
laki-laki dan perempuan muslim... laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut
(nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar." (QS. Al-Ahzab [33]: 35).
- Kelima: Pemberitaan
tentang kerugian orang yang dilalaikan darinya oleh selainnya, seperti
firman-Nya Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah harta bahramu dan anak-anakmu melalaikan
kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang rugi." (QS. Al-Munafiqun [63]: 9).
- Keenam: Bahwa Allah
Mahasuci menjadikan balasan dzikir mereka untuk-Nya adalah dzikir-Nya
untuk mereka, seperti firman-Nya Ta'ala:
"Maka
ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah
[2]: 152).
- Ketujuh: Pemberitaan
bahwa dzikir itu lebih besar dari segala sesuatu, seperti firman-Nya
Ta'ala:
"Bacalah
Al-Qur'an yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat.
Sungguh, shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan sungguh,
mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya)..." (QS.
Al-'Ankabut [29]: 45).
- Kedelapan: Bahwa
Allah mencatatnya sebagai penutup amalan-amalan shaleh sebagaimana dzikir
menjadi pembukanya. Hal itu sebagaimana Allah menutup dengannya ibadah
Haji dalam firman-Nya Ta'ala:
"Apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut)
Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu,
atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu..." (QS. Al-Baqarah
[2]: 200).
Dan
Allah menutup dengannya shalat seperti firman-Nya Ta'ala:
"Maka
apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri,
di waktu duduk dan di waktu berbaring..." (QS. An-Nisa' [4]: 103).
Dan
Allah menutup dengannya ibadah Jum'at seperti firman-Nya Ta'ala:
"Apabila
shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." (QS.
Al-Jumu'ah [62]: 10).
- Kesembilan:
Pemberitaan tentang ahlinya bahwa mereka adalah orang-orang yang mengambil
manfaat dari ayat-ayat-Nya, dan bahwa mereka adalah ulul albab
(orang-orang berakal) bukan selain mereka, seperti firman-Nya Ta'ala:
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang
mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring..."
(QS. Ali 'Imran [3]: 190-191).
- Kesepuluh: Bahwa
Allah menjadikan dzikir sebagai penyerta seluruh amalan dan ruhnya. Maka
Allah menyertakannya dengan shalat seperti firman-Nya Ta'ala:
"dan
laksanakanlah shalat untuk mengingat-Ku." (QS. Taha [20]: 14).
Demikian
pula Allah menyertakannya dengan puasa, haji, dan selain keduanya.
[Untuk
Pendalaman Tambahan, Lihat Sifat-sifat: Al-Tasbih (Tasbih) — Al-Takbir
(Takbir) — Al-Tahlil (Tahlil) — Al-Tsana' (Pujian) — Al-Du'a'
(Doa) — Al-Syukr (Syukur) — Al-Hamd (Pujian/Hamdalah) — Al-Hauqalah
(Hauqalah) — Al-Taqwa (Taqwa) — Al-Thuma'ninah (Ketenangan)].
[Dan
pada Lawan dari Hal Tersebut, Lihat Sifat-sifat: Al-I'radh
(Palingan/Berpaling) — Al-Ghaflah (Kelalaian) — Al-Laghwu
(Kesia-siaan) — Al-Lahwu wa al-La'ib (Sendagurau dan Permainan) — Ittiba'
al-Hawa (Menurutkan Hawa Nafsu) — Al-Ghurur (Pedaya) — Al-Kibr wa
al-'Ujb (Kesombongan dan Takjub Diri) — Al-Dhalal (Kesesatan) — Al-Sukhth
(Kemurkaan)].
Ayat-ayat
yang Terkandung Mengenai (Dzikir)
Dzikir
Kepada Allah Dengan Lisan:
1.
QS. Al-Baqarah [2]: 114 (Madaniyah)
"Dan
siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang melarang masjid-masjid Allah
digunakan untuk menyebut nama-Nya di dalamnya, dan berusaha merubuhkannya?
Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan
rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat
mendapat azab yang berat."
2.
QS. Al-Baqarah [2]: 198-203 (Madaniyah)
"Bukanlah
suatu dosa bagimu mencari karunia dari Tuhanmu. Maka apabila kamu bergerak
cepat dari 'Arafah, berdzikirlah kepada Allah di Masy'arilharam. Dan
berdzikirlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberi petunjuk kepadamu,
sekalipun kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang yang sesat."
"Kemudian
berolak-cepatlah kamu dari tempat orang banyak berolak-cepat (Arafah) dan
mohonlah ampunan kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha
Penyayang."
"Apabila
kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut)
Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu,
atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada
yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,' dan di akhirat
dia tidak memperoleh bagian sedikit pun."
"Dan
di antara mereka ada yang berdoa, 'Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka'."
"Mereka
itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan; dan Allah
Mahacepat perhitungan-Nya."
"Dan
berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.
Barangsiapa mempercepat (meninggalkan Mina) setelah dua hari, maka tidak ada
dosa baginya. Dan barangsiapa menangguhkannya, tidak ada dosa pula baginya,
bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah bahwa
kamu akan dikumpulkan kepada-Nya."
3.
QS. Ali 'Imran [3]: 38-41 (Madaniyah)
"Di
sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya. Dia berkata, 'Ya Tuhanku, berilah aku
keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar
doa'."
"Kemudian
Malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan shalat di mihrab,
'Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan kelahiran Yahya,
yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan
menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi di antara orang-orang
shaleh'."
"Dia
(Zakaria) berkata, 'Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak, sedang aku
sudah sangat tua dan istriku pun mandul?' (Allah) berfirman, 'Demikianlah,
Allah berbuat apa yang Dia kehendaki'."
"Dia
(Zakaria) berkata, 'Berilah aku suatu tanda.' (Allah) berfirman, 'Tandamu ialah
engkau tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan
isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu banyak-banyak, dan bertasbihlah pada waktu
petang dan pagi hari'."
4.
QS. Ali 'Imran [3]: 190-193 (Madaniyah)
"Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat
tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,"
"(yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan
berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya
berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia;
Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka'."
"Ya
Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka
sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi
orang-orang yang zhalim."
"Ya
Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang memanggil kepada iman,
(yaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan
kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan
matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti."
5.
QS. An-Nisa' [4]: 102-103 (Madaniyah)
"Dan
apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu
engkau hendak melaksanakan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah
segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan memegang senjata mereka,
kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan
rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh)
dan hendaklah datang segolongan yang lain yang belum shalat, lalu shalatlah
mereka besertamu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan memegang senjatanya.
Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu,
lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan
senjata-senjatamu, jika kamu mendapat kesusahan karena hujan atau karena kamu
sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang
menghinakan bagi orang-orang kafir itu."
"Selanjutnya,
apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri,
di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa
aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu
adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
6.
QS. Al-Ma'idah [5]: 4 (Madaniyah)
"Merekabertanya
kepadamu (Muhammad), 'Apakah yang dihalalkan bagi mereka?' Katakanlah, 'Yang
dihalalkan bagimu adalah (makanan) yang baik-baik dan (buruannya) yang
ditangkap oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu
latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa
yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah (waktu melepaskannya). Dan
bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahacepat perhitungan-Nya'."
7.
QS. Al-An'am [6]: 118-121 (Makkiyah)
"Maka
makanlah dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah,
jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya."
"Dan
mengapa kamu tidak mau memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih)
disebut nama Allah, padahal Allah telah menjelaskan kepadamu apa yang
diharamkan-Nya kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa. Dan sungguh,
banyak yang menyesatkan orang lain dengan hawa nafsu mereka tanpa ilmu
pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang
yang melampaui batas."
"Dan
tinggalkanlah dosa yang terlihat ataupun yang tersembunyi. Sungguh, orang-orang
yang mengerjakan dosa akan diberi balasan atas apa yang mereka kerjakan."
"Dan
janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak
disebut nama Allah, sesungguhnya perbuatan yang demikian itu adalah suatu
kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar
mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, niscaya kamu sekalian
menjadi orang-orang musyrik."
8.
QS. Al-An'am [6]: 138 (Makkiyah)
"Dan
mereka berkata (menurut prasangka mereka), 'Inilah hewan ternak dan hasil bumi
yang dilarang, tidak boleh dimakan oleh siapa pun, kecuali oleh orang yang kami
kehendaki.' Dan ada pula hewan ternak yang dilarang ditunggangi, dan ada hewan
ternak yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. (Semua itu) sebagai
kebohongan terhadap Allah. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap apa yang
mereka ada-adakan."
9.
QS. Al-Anfal [8]: 2-4 (Madaniyah)
"Sesungguhnya
orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar
hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat)
imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,"
"(yaitu)
orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki
yang Kami berikan kepada mereka."
"Merekaitulah
orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi)
di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia."
10.
QS. Al-Anfal [8]: 45-46 (Madaniyah)
"Wahai
orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh
hatilah dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung."
"Dan
taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan
kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah
beserta orang-orang yang sabar."
11.
QS. Al-Isra' [17]: 45-47 (Makkiyah)
"Dan
apabila engkau (Muhammad) membaca Al-Qur'an, Kami adakan antara engkau dan
orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, suatu dinding yang
tertutup,"
"dan
Kami jadikan hati mereka tertutup dan telinga mereka tersumbat, agar mereka
tidak dapat memahaminya. Dan apabila engkau menyebut Tuhanmu saja dalam
Al-Qur'an, niscaya mereka berpaling ke belakang melarikan diri (karena
benci)."
"Kami
lebih mengetahui apa yang mereka dengarkan ketika mereka mendengarkan engkau,
dan ketika mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zhalim itu berkata,
'Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir'."
12.
QS. Al-Kahf [18]: 23-24 (Makkiyah)
"Dan
jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, 'Aku pasti melakukan itu
besok pagi',"
"kecuali
(dengan menyebut), 'Insya Allah.' Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau
lupa dan katakanlah, 'Mudah-mudahan Tuhan akan memberi petunjuk kepadaku agar
aku yang lebih dekat kebenarannya daripada ini'."
13.
QS. Taha [20]: 29-35 (Makkiyah)
"dan
jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,"
"(yaitu)
Harun, saudaraku,"
"teguhkanlah
kekuatanku dengan (adanya) dia,"
"dan
jadikanlah dia teman dalam urusanku,"
"agar
kami banyak bertasbih kepada-Mu,"
"dan
banyak mengingat-Mu."
"Sesungguhnya
Engkau Maha Melihat kami."
14.
QS. Taha [20]: 38-44 (Makkiyah)
"(yaitu)
ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan,"
"(yaitu),
'Letakkanlah dia (Musa) di dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai
(Nil), maka biarlah arus sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh
(Fir'aun) musuh-Ku dan musuhya.' Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih
sayang yang datang dari-Ku; dan agar engkau diasuh di bawah
pengawasan-Ku."
"(yaitu)
ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu dia berkata (kepada keluarga
Fir'aun), 'Bolehkah aku menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?'
Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih
hati. Dan engkau pernah membunuh seorang manusia, lalu Kami selamatkan engkau
dari kesusahan dan Kami telah mengujimu dengan beberapa cobaan; maka engkau
tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan, kemudian engkau datang
menurut waktu yang ditetapkan wahai Musa,"
"dan
Aku telah memilihmu untuk diri-Ku."
"Pergilah
engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku, dan
janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku;"
"Pergilah
kamu berdua kepada Fir'aun, karena sungguh, dia telah berbuat melampaui
batas;"
"Maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah
lembut, mudah-mudahan dia teringat atau takut."
15.
QS. Al-Anbiya' [21]: 36 (Makkiyah)
"Dan
apabila orang-orang kafir itu melihat engkau (Muhammad), mereka hanya
memperlakukan engkau menjadi bahan ejekan. (Mereka berkata), 'Apakah ini orang
yang menyebut-nyebut tuhan-tuhanmu?' Padahal mereka sendiri ingkar mengingati
(Tuhan) Yang Maha Pengasih."
16.
QS. Al-Hajj [22]: 27-28 (Madaniyah)
"Dan
berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka
datang dari segenap penjuru yang jauh,"
"agar
mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan agar mereka menyebut nama
Allah pada hari-hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Dia berikan kepada
mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi)
berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir."
17.
QS. Al-Hajj [22]: 34-37 (Madaniyah)
"Dan
bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka
menyebut nama Allah atas rezeki yang dikurniakan Allah kepada mereka berupa
hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah
dirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang
tunduk patuh (kepada Allah),"
"(yaitu)
orang-orang yang apabila disebut nama Allah, gemetar hati mereka, orang-orang
yang sabar atas apa yang menimpa mereka, dan orang-orang yang melaksanakan
shalat dan orang-orang yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami
karuniakan kepada mereka."
"Dan
unta-unta kurban itu telah Kami jadikan untukmu bagian dari syiar agama Allah,
kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika
kamu menyembelihnya) dalam keadaan berdiri (dan terikat). Kemudian apabila
telah rebah (mati), maka makanlah sebagiannya dan berilah makan orang yang
merasa cukup dengan apa yang ada padanya (tidak meminta-minta) dan orang yang
meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untukmu,
mudah-mudahan kamu bersyukur."
"Daging
(hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan)
Allah, tetapi ketakwaan darimulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Dia
menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya kepadamu.
Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik."
18.
QS. Al-Hajj [22]: 39-41 (Madaniyah)
"Diizinkan
(berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka
dizhalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu,"
"(yaitu)
orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar, hanya
karena mereka berkata, 'Tuhan kami ialah Allah.' Seandainya Allah tidak menolak
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan
biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan
masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti menolong
orang yang membela (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa."
"(Yaitu)
orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat,
menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar;
dan kepada Allah-lah kesudahan segala urusan."
19.
QS. An-Nur [24]: 36-38 (Madaniyah)
"(Cahaya
itu) di rumah-rumah ibadah yang telah diperintahkan Allah untuk dimuliakan dan
disebut nama-Nya di dalamnya, bertasbih kepada-Nya pada waktu pagi dan
petang,"
"orang-orang
yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah,
melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut pada suatu hari ketika
hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),"
"(mereka
melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada
mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa
batas."
20.
QS. Asy-Syu'ara' [26]: 224-227 (Makkiyah)
"Dan
penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat."
"Tidakkah
engkau melihat bahwa mereka mengembara di setiap lembah,"
"dan
bahwa mereka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak kerjakan?"
"Kecuali
orang-orang (penyair) yang beriman dan berbuat kebajikan dan banyak mengingat
Allah dan mendapat kemenangan setelah terzhalimi (dengan puisi-puisi mereka).
Dan orang-orang yang zhalim kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan
kembali."
ADZ-DZI'R
(BERDZIKIR / MENGINGAT ALLAH)
Dzikir
dengan Hati
21.
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
Kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
22.
"Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin,
laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan
yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang
khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang
berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk
mereka ampunan dan pahala yang besar." (QS. Al-Ahzab [33]: 35)
23.
"Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir
sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.
Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya (memohonkan ampunan
untukmu), agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (terang
benderang). Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS.
Al-Ahzab [33]: 41–43)
24.
"Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang
tidak beriman kepada kehidupan akhirat; tetapi apabila nama-nama sembahan
selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka menjadi bergembira." (QS.
Az-Zumar [39]: 45)
25.
"Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh
ketekunan. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada tuhan selain Dia, maka
jadikanlah Dia sebagai pelindung." (QS. Al-Muzzammil [73]: 8–9)
26.
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an kepadamu (Muhammad) secara
bertahap. Maka bersabarlah kamu untuk (memenuhi) ketetapan Tuhanmu, dan
janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara
mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian
dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam
yang panjang." (QS. Al-Insan [76]: 23–26)
27.
"Dan tidak ada dosa bagimu meminang perempuan-perempuan itu dengan
sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan meminang mereka) dalam hatimu.
Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka. Tetapi janganlah kamu
berjanji mengawini mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan kata-kata
yang baik. Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa
idahnya. Ketahuilah bahwa Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka
takutlah kepada-Nya; dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha
Penyantun." (QS. Al-Baqarah [2]: 235)
28.
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang
luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun
sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang
apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera
ingat akan Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosa mereka—dan siapa lagi
yang dapat me hisap/mengampuni dosa selain Allah?—dan mereka tidak meneruskan
perbuatan keji itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah
ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang
beramal." (QS. Ali 'Imran [3]: 133–136)
29.
"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi
pikiran jahat (waswas) dari setan, mereka teringat (kepada Allah), maka
seketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya)." (QS. Al-A'raf
[7]: 201)
30.
"Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut,
dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah
engkau termasuk orang-orang yang lengah. Sesungguhnya orang-orang yang ada di
sisi Tuhanmu tidak enggan menyembah-Nya, dan mereka bertasbih kepada-Nya dan
hanya kepada-Nya mereka bersujud." (QS. Al-A'raf [7]: 205–206)
Dzikir
dengan Makna Hadits / Pembicaraan
31.
"Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur'an)
dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji
dan mungkar. Dan sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya
dibanding ibadah lainnya). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS.
Al-'Ankabut [29]: 45)
32.
"Dan barang siapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih
(Al-Qur'an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.
Dan sungguh, mereka (setan-setan itu) benar-benar menghalang-halangi mereka
dari jalan yang benar, sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat
petunjuk." (QS. Az-Zukhruf [43]: 36–37)
33.
"Mereka berkata: 'Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, pastilah orang
yang kuat akan mengusir orang yang lemah dari sana.' Padahal kekuatan itu
hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi
orang-orang munafik itu tidak mengetahui." (QS. Al-Munafiqun [63]: 8)
34.
"Dan dia (Yusuf) berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat di
antara mereka berdua: 'Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu.' Maka setan
menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu, dia
(Yusuf) tetap dalam penjara beberapa tahun lamanya." (QS. Yusuf [12]: 42)
35.
"Kāf Hā Yā 'Aīn Ṣād. (Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat
Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria." (QS. Maryam [19]: 1–2)
36.
"Dan ceritakanlah (Kisah) Ibrahim di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini.
Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat membenarkan, seorang Nabi. Ketika
dia berkata kepada ayahnya: 'Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu
yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit
pun?'" (QS. Maryam [19]: 41–42)
37.
"Dan ceritakanlah (kisah) Musa di dalam Kitab (Al-Qur'an) ini.
Sesungguhnya dia adalah seorang yang terpilih dan seorang rasul dan nabi. Dan
Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan gunung Tursina dan Kami dekatkan dia
untuk bercakap-cakap (dengan Kami). Dan Kami telah menganugerahkan kepadanya
sebagian rahmat Kami, yaitu saudaranya, Harun, menjadi seorang nabi." (QS.
Maryam [19]: 51–53)
38.
"Dan ceritakanlah (kisah) Ismail di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya
dia adalah seorang yang benar janjinya, seorang rasul dan nabi. Dan dia
menyuruh keluarganya untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan dia
adalah seorang yang diridai di sisi Tuhannya. Dan ceritakanlah (kisah) Idris di
dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat
membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang
tinggi." (QS. Maryam [19]: 54–57)
39.
"Mengapa mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia? Katakanlah: 'Unjukkanlah
bukti-buktimu!' (Al-Qur'an) ini adalah peringatan bagi orang-orang yang
bersamaku dan peringatan bagi orang-orang sebelumku. Tetapi kebanyakan mereka
tidak mengetahui yang hak (benar), karena itu mereka berpaling." (QS.
Al-Anbiya' [21]: 24)
40.
"Dan ingatlah (kisah) hamba Kami Ayyub ketika dia menyeru Tuhannya:
'Sesungguhnya aku diganggu setan dengan penderitaan dan siksaan.' (Allah
berfirman): 'Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk
minum.' Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan
Kami lipatgandakan jumlah mereka, sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi
orang-orang yang berpikiran sehat. Dan ambillah seikat (rumput) dengan
tanganmu, lalu pukullah dengan itu dan janganlah engkau melanggar sumpah.
Sesungguhnya Kami dapati dia seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba.
Sungguh, dia sangat taat (kembali kepada Allah). Dan ingatlah hamba-hamba Kami:
Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan (yang besar dalam
ibadah) dan ilmu-ilmu (yang tinggi). Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka
dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu
mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka di sisi
Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. Dan ingatlah
Ismail, Alyasa', dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.
Ini adalah kehormatan (bagi mereka). Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang
bertakwa benar-benar (disediakan) tempat kembali yang baik." (QS. Shad
[38]: 41–49)
Dzikir
dengan Makna Kabar / Berita
41.
"Dan ingatlah saudara kaum 'Ad (Nabi Hud) yaitu ketika dia memberi
peringatan kepada kaumnya di Al-Ahqaf—dan sungguh telah berlalu beberapa
penyeru peringatan sebelum dan sesudahnya—(dengan berkata): 'Janganlah kamu
menyembah selain Allah, sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari
yang besar.'" (QS. Al-Ahqaf [46]: 21)
42.
"Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah:
'Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.' Sesungguhnya Kami telah memberi
kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk
mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu jalan." (QS. Al-Kahf
[18]: 83–85)
43.
"Sungguh, telah Kami turunkan kepadamu sebuah Kitab (Al-Qur'an) yang di
dalamnya terdapat peringatan bagimu. Maka apakah kamu tidak mengerti?"
(QS. Al-Anbiya' [21]: 10)
Dzikir
dengan Makna Mengambil Pelajaran (Iti'baz)
44.
"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu,
dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan
hanya kepada-Kulah kamu harus takut." (QS. Al-Baqarah [2]: 40)
45.
"Wahai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu dan
Aku telah melebihkan kamu atas seluruh alam." (QS. Al-Baqarah [2]: 47)
46.
"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji kamu dan Kami angkat gunung
(Thursina) di atasmu (seraya berfirman): 'Pegang teguhlah apa yang telah Kami
berikan kepadamu dan ingatlah apa yang ada di dalamnya, agar kamu
bertakwa.'" (QS. Al-Baqarah [2]: 63)
47.
"Dan janganlah kamu menikahi perempuan musyrik sebelum mereka beriman.
Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan
musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan (perempuan
berkulit hitam/merdeka) dengan laki-laki musyrik sebelum mereka beriman.
Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki
musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah
mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan (Allah) menerangkan
ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran." (QS.
Al-Baqarah [2]: 221)
48.
"Dan apabila kamu menceraikan istri-istri (kamu), lalu sampai akhir
idahnya, maka tahanlah mereka dengan cara yang patut, atau lepaskanlah mereka
dengan cara yang patut (pula). Janganlah kamu tahan mereka dengan maksud
menzalimi untuk menganiaya mereka. Barang siapa melakukan demikian, maka
sungguh dia telah menzalimi dirinya sendiri. Dan janganlah kamu jadikan
ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepadamu dan apa
yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah
(Sunnah) untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah serta
ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah
[2]: 231)
49.
"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di
antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan
yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan
sesat, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah
dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya
melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman
kepadanya, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak ada yang dapat
mengambil pelajaran melainkan orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran
[3]: 7)
50.
"Dan ingatlah nikmat Allah kepadamu dan janji-Nya yang telah diikatkan
kepadamu, ketika kamu mengatakan: 'Kami mendengar dan kami taat.' Dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi
hati." (QS. Al-Ma'idah [5]: 7)
51.
"Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika
suatu kaum bermaksud hendak mengulurkan tangannya kepadamu (untuk membunuhmu),
lalu Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan
hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal." (QS.
Al-Ma'idah [5]: 11)
52.
"(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, maka Kami melaknat mereka, dan
Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka mengubah firman (Allah) dari
tempat-tempatnya, dan mereka melupakan sebagian dari apa yang telah
diperingatkan kepada mereka. Engkau (Muhammad) senantiasa akan melihat
pengkhianatan dari mereka kecuali segelintir orang di antara mereka. Maka
maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berbuat baik. Dan di antara orang-orang yang mengatakan: 'Kami
ini orang Nasrani', Kami telah mengambil janji mereka, tetapi mereka melupakan
sebagian pesan yang telah diperingatkan kepada mereka, maka Kami timbulkan
permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Dan kelak Allah akan
memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan." (QS.
Al-Ma'idah [5]: 13–14)
53.
"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: 'Wahai kaumku,
ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan
menjadikan kamu raja-raja, dan memberikan kepadamu apa yang belum pernah
diberikan kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.'" (QS.
Al-Ma'idah [5]: 20)
54.
"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: 'Wahai Isa putra Maryam, ingatlah
nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu ketika Aku menguatkanmu dengan Rohulqudus
(Jibril). Engkau dapat berbicara dengan manusia pada waktu masih dalam buaian
dan setelah dewasa. Dan (ingatlah) ketika Aku mengajarkan kepadamu Kitab,
Hikmah, Taurat, dan Injil. Dan (ingatlah) ketika engkau membentuk dari tanah
berupa burung dengan izin-Ku, kemudian engkau meniupnya, lalu menjadi seekor
burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika engkau
menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kusta
dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika engkau mengeluarkan orang mati (dari
kubur) dengan izin-Ku. Dan (ingatlah) ketika Aku menghalangi Bani Israil (dari
niat membunuhmu) ketika engkau mengemukakan kepada mereka bukti-bukti yang
nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata: 'Ini tidak lain
hanyalah sihir yang nyata.'" (QS. Al-Ma'idah [5]: 110)
55.
"Maka ketika mereka melupakan apa yang telah diperingatkan kepada mereka,
Kami pun membukakan pintu-pintu segala sesuatu untuk mereka. Sehingga apabila
mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa." (QS.
Al-An'am [6]: 44)
56.
"Dan kaumnya membantahnya. Dia (Ibrahim) berkata: 'Apakah kamu hendak
membantahku tentang Allah, padahal Dia sungguh telah memberi petunjuk kepadaku?
Dan aku tidak takut kepada tuhan-tuhan yang kamu persekutukan dengan Allah,
kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala
sesuatu. Maka apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran?'" (QS. Al-An'am
[6]: 80)
57.
"Merekalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka
ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah (Muhammad): 'Aku tidak meminta imbalan
kepadamu dalam menyampaikan Al-Qur'an.' Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah
peringatan bagi seluruh alam." (QS. Al-An'am [6]: 90)
58.
"Dan inilah jalan Tuhanmu yang lurus. Sungguh, Kami telah menjelaskan
ayat-ayat (Kami) kepada kaum yang mau menerima peringatan." (QS. Al-An'am
[6]: 126)
59.
"Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih bermanfaat, sampai dia mencapai usia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran
dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut
kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah secara adil, sekalipun dia
kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu
agar kamu ingat." (QS. Al-An'am [6]: 152)
60.
"Alif Lam Mim Shad. (Inilah) Kitab yang diturunkan kepadamu (Muhammad);
maka janganlah engkau merasa sesak dada karenanya, agar engkau memberi
peringatan dengan Kitab itu dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang
beriman. Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu, dan janganlah kamu
ikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Sedikit sekali kamu mengambil
pelajaran." (QS. Al-A'raf [7]: 1–3)
61.
"Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian
untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Tetapi pakaian takwa,
itulah yang terbaik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah,
mudah-mudahan mereka ingat." (QS. Al-A'raf [7]: 26)
62.
"Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira sebelum
kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan
mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di
daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam
buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati,
mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf [7]: 57)
63.
"Dia (Hud) berkata: 'Wahai kaumku, tidak ada padaku kelakuan buruk sedikit
pun, tetapi aku ini adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam. Aku
menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku hanyalah penasihat yang
terpercaya bagimu. Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu
peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki dari kalanganmu
sendiri untuk memberi peringatan kepadamu? Ingatlah ketika Dia menjadikan kamu
sebagai khalifah-khalifah setelah kaum Nuh, dan Dia melebihkan kamu dalam
kekuatan tubuh dan perawakan. Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah agar kamu
beruntung.'" (QS. Al-A'raf [7]: 67–69)
64.
"Dan ingatlah ketika Dia menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah setelah
kaum 'Ad dan memberikan tempat bagi kamu di bumi. Kamu mendirikan istana-istana
di tanah-tanah yang datar dan kamu pahat gunung-gunung untuk dijadikan rumah;
maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di bumi dengan
membuat kerusakan." (QS. Al-A'raf [7]: 74)
65.
"Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan
menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah dan menginginkan jalan itu
bengkok. Ingatlah ketika kamu dahulu berjumlah sedikit lalu Allah
melipatgandakan jumlahmu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang
yang berbuat kerusakan." (QS. Al-A'raf [7]: 86)
66.
"Dan sungguh, Kami telah menghukum Firaun dan kaumnya dengan (menimpa
mereka) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan, agar mereka
mengambil pelajaran." (QS. Al-A'raf [7]: 130)
67.
"Dan (ingatlah) ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka seolah-olah
gunung itu naungan awan dan mereka yakin bahwa gunung itu akan jatuh menimpa
mereka. (Kami berfirman): 'Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan
kepadamu, serta ingatlah apa yang terpaktub di dalamnya agar kamu
bertakwal.'" (QS. Al-A'raf [7]: 171)
68.
"Dan ingatlah ketika kamu (umat Islam) masih berjumlah sedikit, lagi
tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (kafir Mekah) akan menyambar
kamu, lalu Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan memperkuat kamu
dengan pertolongan-Nya serta memberi kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu
bersyukur." (QS. Al-Anfal [8]: 26)
69.
"Sesungguhnya makhluk bergerak yang nyawa yang paling buruk di sisi Allah
ialah orang-orang yang kafir, karena mereka tidak beriman. (Yaitu) orang-orang
yang engkau telah mengikat perjanjian dengan mereka, kemudian mereka merusak
janjinya pada setiap kali, dan mereka tidak bertakwa. Maka jika engkau menemui
mereka dalam peperangan, cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka
dengan (menumpas) mereka, agar mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-Anfal
[8]: 55–57)
70.
"Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang
munafik) ada yang berkata: 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya
dengan (turunnya) surah ini?' Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini
menambah imannya, dan mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di
dalam hatinya ada penyakit, maka (dengan surah itu) akan menambah kekafiran
mereka di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan
kafir. Dan tidakkah mereka memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua
kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula)
mengambil pelajaran?" (QS. At-Taubah [9]: 124–126)
71.
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, kemudian Dia semayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala
urusan. Tidak ada seorang pun yang memberi syafaat kecuali setelah ada
izin-Nya. Dzat yang demikian itulah Allah, Tuhanmu, maka sembahlah Dia. Apakah
kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. Yunus [10]: 3)
72.
"Perbandingan kedua golongan itu (orang kafir dan mukmin), seperti orang
buta dan tuli dengan orang yang melihat dan mendengar. Samakah kedua golongan
itu perbandingannya? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? Dan sungguh,
Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata): 'Sungguh, aku ini adalah
pemberi peringatan yang nyata bagimu, agar kamu tidak menyembah selain Allah.
Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang sangat
menyedihkan.' Maka berkatalah pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya: 'Kami
tidak melihat engkau, melainkan hanyalah seorang manusia (biasa) seperti kami,
dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti engkau melainkan orang-orang
yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat
kamu memiliki suatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami menganggap kamu
orang-orang pendusta.' Dia (Nuh) berkata: 'Wahai kaumku, terangkan kepadaku,
jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku, dan aku diberi rahmat dari
sisi-Nya, sedangkan rahmat itu disamarkan bagimu, apakah kami akan memaksa kamu
meyakininya padahal kamu tidak menyukainya? Dan wahai kaumku, aku tidak meminta
harta kepada kamu sebagai imbalan atas seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah
dan aku tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka
akan bertemu dengan Tuhannya, melainkan aku melihat kamu adalah kaum yang
bodoh. Dan wahai kaumku, siapakah yang akan menolongku dari (azab) Allah jika
aku mengusir mereka? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?'" (QS.
Hud [11]: 24–30)
73.
"Dan laksanakanlah salat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada
bagian-bagian malam. Perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapus
kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat
(Allah)." (QS. Hud [11]: 114)
74.
"Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar
dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah datang kepadamu
kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang yang beriman." (QS.
Hud [11]: 120)
75.
"Maka apakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu adalah kebenaran sama dengan orang yang buta? Hanya orang-orang yang
berakal saja yang dapat mengambil pelajaran." (QS. Ar-Ra'd [13]: 19)
76.
"Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda
(kekuasaan) Kami (seraya berfirman): 'Keluarkanlah kaummu dari kegelapan kepada
cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.'
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi
setiap orang yang penyabar dan banyak bersyukur. Dan (ingatlah) ketika Musa
berkata kepada kaumnya: 'Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika Dia
menyelamatkan kamu dari pengikut-pengikut Firaun; mereka menyiksa kamu dengan
siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak lakilakimu dan membiarkan hidup
anak-anak perempuanmu; dan pada yang demikian itu terdapat ujian yang besar
dari Tuhanmu.'" (QS. Ibrahim [14]: 5–6)
77.
"Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya
(menjulang) ke langit, (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap musim
dengan izin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar
mereka mengambil pelajaran." (QS. Ibrahim [14]: 24–25)
78.
"Dan (Al-Qur'an) ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar
mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwa Dia adalah
Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang yang berakal mengambil pelajaran." (QS.
Ibrahim [14]: 52)
79.
"Dan apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis
warnanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran." (QS. An-Nahl [16]:
13)
80.
"Maka apakah Dzat yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat
menciptakan? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS. An-Nahl
[16]: 17)
81.
"Thāhā. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar
engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut
(kepada Allah)." (QS. Taha [20]: 1–3)
82.
"Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab, dan Kami
telah menjelaskan berulang-ulang di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka
bertakwa, atau agar Al-Qur'an itu memberi pengajaran bagi mereka." (QS.
Taha [20]: 113)
83.
"Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa dan Harun Furqan (Kitab
Taurat) dan penerang serta peringatan bagi orang-orang yang bertakwal."
(QS. Al-Anbiya' [21]: 48)
84.
"Katakanlah (Muhammad): 'Milik siapakah bumi, dan semua yang ada di
dalamnya, jika kamu mengetahui?' Mereka akan menjawab: 'Milik Allah.'
Katakanlah: 'Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?'" (QS.
Al-Mu'minun [23]: 84–85)
85.
"(Inilah) suatu surah yang Kami turunkan dan Kami wajibkan (menjalankan
hukum-hukumnya), dan Kami turunkan di dalamnya ayat-ayat yang jelas, agar kamu
mengambil pelajaran." (QS. An-Nur [24]: 1)
86.
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan
rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang
demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat." (QS. An-Nur [24]:
27)
87.
"Dan sungguh, Kami telah menjelaskan (peringatan ini) berulang-ulang dalam
Al-Qur'an ini agar mereka mengambil pelajaran. Tetapi (peringatan) itu hanya
menambah mereka lari (dari kebenaran)." (QS. Al-Furqan [25]: 50)
88.
"Dan Dialah yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang
ingin mengambil pelajaran atau orang yang ingin bersyukur... Dan orang-orang
yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak
bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta." (QS. Al-Furqan [25]: 62
& 73)
89.
"Atau siapakah yang telah menciptakan bumi sebagai tempat berdiam, yang
menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, yang menjadikan gunung-gunung untuk
(mengokohkan)nya dan yang menjadikan suatu rintangan di antara dua laut? Apakah
ada tuhan (lain) bersama Allah? Selalu kebanyakan mereka tidak mengetahui. Atau
siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia
berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu
(manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah ada tuhan (lain) bersama Allah?
Sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran." (QS. An-Naml [27]: 61–62)
90.
"Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) setelah Kami
binasakan umat-umat yang dahulu, untuk menjadi pedoman bagi manusia, petunjuk
dan rahmat, agar mereka mendapat pelajaran. Dan engkau (Muhammad) tidak berada
di sisi sebelah barat ketika Kami menyampaikan perintah kepada Musa, dan engkau
tidak termasuk orang-orang yang menyaksikan. Tetapi Kami telah menciptakan
beberapa umat, lalu berlalulah atas mereka masa yang panjang; dan engkau tidak
tinggal bersama-sama penduduk Madyan dengan membacakan ayat-ayat Kami kepada
mereka, melainkan Kami yang mengutus rasul-rasul. Dan engkau tidak berada di
dekat gunung Tursina ketika Kami menyeru (Musa), tetapi (Kami utus engkau)
sebagai rahmat dari Tuhanmu, agar engkau memberi peringatan kepada kaum (Quraisy)
yang tidak datang kepada mereka seorang pemberi peringatan sebelum engkau, agar
mereka mengambil pelajaran." (QS. Al-Qashas [28]: 43–46)
91.
"Dan sungguh, telah Kami sampaikan perkataan ini (Al-Qur'an) kepada mereka
agar mereka mendapat pelajaran. Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab
sebelum Al-Qur'an itu, mereka beriman kepadanya." (QS. Al-Qashas [28]:
51–52)
92.
"Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab
(Al-Qur'an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur'an) itu
terdapat rahmat dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (QS.
Al-'Ankabut [29]: 51)
93.
"Allah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Bagi kamu
tidak ada seorang pun pelindung maupun pemberi syafaat selain daripada-Nya.
Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" (QS. As-Sajdah [32]: 4)
94.
"Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman dengan ayat-ayat Kami adalah
mereka yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur
sujud dan bertasbih memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri."
(QS. As-Sajdah [32]: 15)
95.
"Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan
dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian dia berpaling daripadanya? Sungguh, Kami
akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa." (QS.
As-Sajdah [32]: 22)
96.
"Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah nikmat Allah (yang telah
dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami
kirimkan kepada mereka angin taufan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat.
Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ahzab [33]: 9)
97.
"Wahai manusia, ingatlah nikmat Allah kepadamu! Adakah pencipta selain
Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada
tuhan selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?" (QS.
Fathir [35]: 3)
98.
"Maka tanyakanlah kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): 'Apakah mereka
yang lebih kuat penciptaannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?'
Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat yang pekat. Bahkan
engkau (Muhammad) merasa heran (terhadap keingkaran mereka) sedang mereka
menghinakan (ayat-ayat Allah). Dan apabila mereka diberi peringatan, mereka
tidak mau mengingatnya." (QS. As-Saffat [37]: 11–13)
99.
"Maka tanyakanlah kepada mereka: 'Apakah anak-anak perempuan itu untuk
Tuhanmu, sedangkan untuk mereka anak-anak laki-laki?' Atau apakah Kami
menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan(nya)?
Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongan mereka, mereka mengatakan: 'Allah
beranak.' Dan sesungguhnya mereka benar-benar pendusta. Apakah Dia (Allah)
memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Mengapa kamu ini?
Bagaimana kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?"
(QS. As-Saffat [37]: 149–155)
100.
"Shād. Demi Al-Qur'an yang mempunyai keagungan (peringatan). Tetapi
orang-orang kafir itu berada dalam kesombongan dan permusuhan. Betapa banyaknya
umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan, lalu mereka meminta tolong
padahal masa untuk melepaskan diri telah berlalu." (QS. Shad [38]: 1–3)
101.
"Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka
menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mendapat pelajaran.
Dan Kami anugerahkan kepada Daud (seorang putra, yaitu) Sulaiman; dia adalah
sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kembali kepada Allah). (Ingatlah)
ketika dipertunjukkan kepadanya pada waktu sore kuda-kuda yang tenang saat
berdiri dan kencang saat berlari, maka dia berkata: 'Sesungguhnya aku menyukai
kesenangan terhadap harta (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai
kuda itu hilang dari pandangan.'" (QS. Shad [38]: 29–32)
102.
"Katakanlah (Muhammad): 'Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu
atasnya (Al-Qur'an) dan aku tidak termasuk orang-orang yang mengada-ada.'
(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam." (QS.
Shad [38]: 86–87)
103.
"Apakah kamu orang syirik yang lebih beruntung ataukah orang yang
beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: 'Apakah sama orang-orang
yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sebenarnya hanya
orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar
[39]: 9)
104.
"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa Allah menurunkan air dari langit,
lalu diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu
ditumbuhkan-Nya tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi
kering lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur
berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Maka apakah orang yang dibukakan
hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari
Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)? Maka celakalah bagi mereka
yang hatinya membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang
nyata." (QS. Az-Zumar [39]: 21–22)
"Allah
telah menurunkan perkataan yang terbaik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa
(ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi lembut kulit dan hati mereka ketika
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu Dia memberi petunjuk
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah,
maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk." (QS. Az-Zumar [39]:
23) (Makkiyah)
"Dan
sungguh, apabila engkau menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan
langit dan bumi?' Niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.'" (QS. Az-Zumar
[39]: 38)
105.
"Dan sungguh, telah Kami buatkan dalam Al-Qur'an ini segala macam
perumpamaan bagi manusia agar mereka mendapat pelajaran." (QS. Az-Zumar
[39]: 27) (Makkiyah)
"(Yaitu)
Al-Qur'an dalam bahasa Arab, tidak ada keraguan/kebengkokan di dalamnya agar
mereka bertakwa." (QS. Az-Zumar [39]: 28)
106.
"Dialah yang memperlihatkan tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepadamu dan
menurunkan rezeki dari langit untukmu. Dan tidak ada yang dapat mengambil
pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah)." (QS. Ghafir
[40]: 13) (Makkiyah)
107.
"Hā Mīm." (QS. Az-Zukhruf [43]: 1) (Makkiyah)
"Demi
Kitab (Al-Qur'an) yang jelas," (QS. Az-Zukhruf [43]: 2)
"Sungguh,
Kami menjadikannya Al-Qur'an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti." (QS.
Az-Zukhruf [43]: 3)
"Dan
sungguh, Al-Qur'an itu dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami,
benar-benar tinggi (nilainya) dan penuh hikmah." (QS. Az-Zukhruf [43]: 4)
"Maka
apakah Kami akan berhenti menimpakan peringatan (Al-Qur'an) ini kepadamu,
karena kamu adalah kaum yang melampaui batas?" (QS. Az-Zukhruf [43]: 5)
"Dan
sungguh, jika engkau menanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan
mereka?' Niscaya mereka akan menjawab, 'Allah yang Mahaperkasa lagi Maha
Mengetahui.'" (QS. Az-Zukhruf [43]: 9) (Makkiyah)
"Yang
menjadikan bumi sebagai tempat berdiam bagimu dan Dia menjadikan jalan-jalan di
bumi untukmu agar kamu mendapat petunjuk," (QS. Az-Zukhruf [43]: 10)
"dan
yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu Kami
hidupkan dengan air itu negeri yang mati; seperti itulah kamu akan dikeluarkan
(dari kubur)." (QS. Az-Zukhruf [43]: 11)
"Dan
yang menciptakan semua berpasang-pasangan dan menjadikan kapal untukmu dan
hewan ternak yang kamu tunggai," (QS. Az-Zukhruf [43]: 12)
"agar
kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu
telah duduk di atasnya; dan agar kamu mengucapkan, 'Mahasuci (Allah) yang telah
menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu
menguasainya,'" (QS. Az-Zukhruf [43]: 13)
"dan
sungguh, kepada Tuhan kamilah kami akan kembali." (QS. Az-Zukhruf [43]:
14)
109.
"Sungguh, Kami mudahkan Al-Qur'an itu dengan bahasamu agar mereka
mendapat pelajaran." (QS. Ad-Dukhan [44]: 58) (Makkiyah)
"Maka
tunggulah, sungguh mereka itu juga menunggu." (QS. Ad-Dukhan [44]: 59)
110.
"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya?
Maka siapakah yang mampu memberi petunjuk kepadanya setelah Allah
(membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?" (QS.
Al-Jatsiyah [45]: 23) (Makkiyah)
111.
"Maka tidak ada yang mereka tunggu-tunggu selain hari Kiamat yang akan
datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah
datang. Maka apakah gunanya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari
Kiamat itu sudah datang?" (QS. Muhammad [47]: 18)
"Maka
ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu
dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah
mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal." (QS. Muhammad
[47]: 19)
"Dan
orang-orang yang beriman berkata, 'Mengapa tidak ada suatu surah yang
diturunkan?' Maka apabila diturunkan suatu surah yang jelas maksudnya dan di
dalamnya disebutkan (perintah) perang, engkau lihat orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit akan memandang kepadamu seperti pandangan orang yang
pingsan karena takut mati. Maka patutlah bagi mereka" (QS. Muhammad [47]:
20)
"(yaitu)
taat dan mengucapkan perkataan yang baik. Maka apabila perintah (perang)
ditetapkan, (sekiranya mereka jujur kepada Allah, niscaya yang demikian itu
lebih baik bagi mereka)." (QS. Muhammad [47]: 21) (Makkiyah)
112.
"Dan bumi Kami bentangkan dan Kami pancangkan di atasnya gunung-gunung
yang kokoh dan Kami tumbuhkan di atasnya tanaman-tanaman yang indah," (QS.
Qaf [50]: 7) (Makkiyah)
"untuk
menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali
(kepada-Nya)." (QS. Qaf [50]: 8)
113.
"Dan betapa banyaknya umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan,
padahal mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka ini, lalu mereka
menjelajah di beberapa negeri. Adakah tempat lari (dari kebinasaan)?" (QS.
Qaf [50]: 36) (Makkiyah)
"Sungguh,
pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang yang
mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia
menyaksikannya." (QS. Qaf [50]: 37)
114.
"Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan engkau
(Muhammad) bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka berilah peringatan
dengan Al-Qur'an kepada siapa pun yang takut kepada ancaman-Ku." (QS. Qaf
[50]: 45) (Makkiyah)
115.
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat
(kebesaran Allah)." (QS. Az-Dzariyat [51]: 49) (Makkiyah)
"Maka
berlarilah kembali kepada Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang
jelas dari Allah untukmu." (QS. Az-Dzariyat [51]: 50)
"Dan
janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain beserta Allah. Sungguh, aku seorang
pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu." (QS. Az-Dzariyat [51]:
51)
"Demikianlah,
tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka,
melainkan mereka mengatakan, 'Dia adalah seorang pesihir atau orang
gila.'" (QS. Az-Dzariyat [51]: 52)
"Apakah
mereka saling memesankan tentang hal itu? Bahkan mereka adalah kaum yang
melampaui batas." (QS. Az-Dzariyat [51]: 53)
"Maka
berpalinglah engkau dari mereka, dan engkau sama sekali tidak dicela."
(QS. Az-Dzariyat [51]: 54)
"Dan
tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi
orang-orang mukmin." (QS. Az-Dzariyat [51]: 55)
116.
"Maka berilah peringatan, karena berkat nikmat Tuhanmu engkau bukannya
seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila." (QS. At-Thur [52]: 29)
(Makkiyah)
"Bahkan
mereka berkata, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan
menimpanya.'" (QS. At-Thur [52]: 30)
"Katakanlah
(Muhammad), 'Tunggulah! Maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu
bersama kamu.'" (QS. At-Thur [52]: 31)
117.
"Sungguh, ketika air telah naik melampaui batas, Kami mengangkut kamu ke
dalam kapal," (QS. Al-Haqqah [69]: 11) (Makkiyah)
"agar
Kami jadikan peristiwa itu sebagai peringatan bagimu dan agar diperhatikan oleh
telinga yang mau mendengar." (QS. Al-Haqqah [69]: 12)
118.
"Maka Aku bersumpah demi apa yang kamu lihat," (QS. Al-Haqqah [69]:
38)
"dan
demi apa yang tidak kamu lihat," (QS. Al-Haqqah [69]: 39)
"sungguh,
(Al-Qur'an) itu benar-benar wahyu (yang diturunkan kepada) Rasul yang
mulia," (QS. Al-Haqqah [69]: 40)
"dan
bukan perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu beriman kepadanya."
(QS. Al-Haqqah [69]: 41)
"Dan
bukan pula perkataan tukang tenung; sedikit sekali kamu mengambil pelajaran
darinya." (QS. Al-Haqqah [69]: 42)
"Ia
adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan seluruh alam." (QS. Al-Haqqah
[69]: 43)
"Dan
sekiranya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Nama
Kami," (QS. Al-Haqqah [69]: 44)
"pasti
Kami pegang dia pada tangan kanannya," (QS. Al-Haqqah [69]: 45)
"kemudian
Kami potong pembuluh jantungnya." (QS. Al-Haqqah [69]: 46)
"Maka
tidak seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) darinya." (QS.
Al-Haqqah [69]: 47)
"Dan
sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar suatu peringatan bagi orang-orang yang
bertakwa." (QS. Al-Haqqah [69]: 48)
"Dan
sungguh, Kami mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang
mendustakan(nya)." (QS. Al-Haqqah [69]: 49)
"Dan
sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar penyesalan bagi orang-orang kafir."
(QS. Al-Haqqah [69]: 50)
"Dan
sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar kebenaran yang meyakinkan." (QS.
Al-Haqqah [69]: 51)
"Maka
bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahagung." (QS. Al-Haqqah
[69]: 52) (Makkiyah)
119.
"Dan Kami tidak menjadikan pengawal neraka melainkan dari malaikat; dan
Kami tidak menentukan jumlah mereka itu melainkan sebagai cobaan bagi
orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi Kitab menjadi yakin, agar orang
yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi Kitab dan
orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan agar orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), 'Apakah yang dikehendaki
Allah dengan perumpamaan ini?' Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang
yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki.
Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar
itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia." (QS. Al-Muddassir [74]:
31) (Makkiyah)
120.
"Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan?"
(QS. Al-Muddassir [74]: 49) (Makkiyah)
"Seakan-akan
mereka keledai liar yang lari terkejut," (QS. Al-Muddassir [74]: 50)
"lari
dari singa." (QS. Al-Muddassir [74]: 51)
"Bahkan
setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran
(wahyu) yang terbuka." (QS. Al-Muddassir [74]: 52)
"Sekali-kali
tidak! Bahkan mereka tidak takut kepada akhirat." (QS. Al-Muddassir [74]:
53)
"Sekali-kali
tidak! Sungguh, (Al-Qur'an) itu adalah peringatan." (QS. Al-Muddassir
[74]: 54)
"Maka
barangsiapa menghendaki, tentu dia mengambil pelajaran darinya." (QS.
Al-Muddassir [74]: 55)
"Dan
mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya melainkan jika Allah
menghendakinya. Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak
memberi ampunan." (QS. Al-Muddassir [74]: 56)
121.
"Sungguh, ini adalah suatu peringatan. Maka barangsiapa menghendaki,
niscaya dia mengambil jalan menuju Tuhannya." (QS. Al-Insan [76]: 29)
"Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki
Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Insan
[76]: 30)
"Dia
memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Adapun
bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih." (QS. Al-Insan
[76]: 31) (Madaniyah)
122.
"Demi
(malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan," (QS. Al-Mursalat
[77]: 1) (Makkiyah)
"dan
(malaikat-malaikat) yang terbang dengan kencang," (QS. Al-Mursalat [77]:
2)
"dan
(malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan
seluas-luasnya," (QS. Al-Mursalat [77]: 3)
"dan
(malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang hak dan yang batil) dengan
sejelas-jelasnya," (QS. Al-Mursalat [77]: 4)
"dan
(malaikat-malaikat) yang menyampaikan peringatan," (QS. Al-Mursalat [77]:
5)
"untuk
menolak alasan-alasan atau memberi peringatan," (QS. Al-Mursalat [77]: 6)
"sungguh,
apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi." (QS. Al-Mursalat [77]: 7)
123.
"Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling," (QS. 'Abasa [80]: 1)
"karena
seorang buta telah datang kepadanya." (QS. 'Abasa [80]: 2)
"Dan
tahukah engkau (Muhammad) boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari
dosa)," (QS. 'Abasa [80]: 3)
"atau
dia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?" (QS.
'Abasa [80]: 4)
"Adapun
orang yang merasa dirinya cukup (serba ada)," (QS. 'Abasa [80]: 5)
"maka
engkau memperhatikannya," (QS. 'Abasa [80]: 6)
"padahal
tidak ada halangan bagimu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman)." (QS.
'Abasa [80]: 7)
"Adapun
orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan
pengajaran)," (QS. 'Abasa [80]: 8)
"sedang
dia takut (kepada Allah)," (QS. 'Abasa [80]: 9)
"maka
engkau mengabaikannya." (QS. 'Abasa [80]: 10)
"Sekali-kali
jangan (demikian)! Sungguh, (ajaran-ajaran Allah) itu adalah suatu
peringatan," (QS. 'Abasa [80]: 11)
"maka
barangsiapa menghendaki, tentulah dia memperhatikannya," (QS. 'Abasa [80]:
12)
"di
dalam kitab-kitab yang dimuliakan," (QS. 'Abasa [80]: 13)
"yang
ditinggikan lagi disucikan," (QS. 'Abasa [80]: 14)
"di
tangan para utusan (malaikat)," (QS. 'Abasa [80]: 15)
"yang
mulia lagi berbakti." (QS. 'Abasa [80]: 16) (Makkiyah)
124.
"Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam,"
(QS. At-Takwir [81]: 27)
"(yaitu)
bagi siapa di antara kamu yang berkehendak menempuh jalan yang lurus."
(QS. At-Takwir [81]: 28)
"Dan
kamu tidak dapat menghendaki (jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah,
Tuhan seluruh alam." (QS. At-Takwir [81]: 29) (Makkiyah)
125.
"Oleh sebab itu berilah peringatan, jikalau peringatan itu
bermanfaat," (QS. Al-A'la [87]: 9) (Makkiyah)
"orang
yang takut (kepada Allah) akan mengambil pelajaran," (QS. Al-A'la [87]:
10)
"dan
orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya," (QS. Al-A'la [87]: 11)
"(yaitu)
orang yang akan memasuki api neraka yang besar (neraka)," (QS. Al-A'la
[87]: 12)
"selanjutnya
dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup." (QS. Al-A'la [87]: 13)
"Sungguh
beruntung orang yang menyucikan diri (dengan beriman)," (QS. Al-A'la [87]:
14)
"dan
mengingat nama Tuhannya, lalu dia salat." (QS. Al-A'la [87]: 15)
126.
"Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya engkau (Muhammad) hanyalah
penyeru peringatan." (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 21) (Makkiyah)
"Engkau
bukanlah orang yang berkuasa atas mereka," (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 22)
"kecuali
orang yang berpaling dan kafir," (QS. Al-Ghasyiyah [88]: 23)
"maka
Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar." (QS. Al-Ghasyiyah [88]:
24)
127.
"Sekali-kali tidak! Apabila bumi diguncangkan berturut-turut
(berbenturan)," (QS. Al-Fajr [89]: 21) (Makkiyah)
"dan
datanglah Tuhanmu; dan malaikat berbaris-baris," (QS. Al-Fajr [89]: 22)
"dan
pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; pada hari itu sadarlah manusia,
tetapi tidak guna lagi baginya kesadaran itu." (QS. Al-Fajr [89]: 23)
"Dia
berkata, 'Betapa nikmatnya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk
hidupku ini.'" (QS. Al-Fajr [89]: 24)
"Maka
pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (yang
adil)," (QS. Al-Fajr [89]: 25)
"dan
tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya." (QS. Al-Fajr
[89]: 26)
"Wahai
jiwa yang tenang!" (QS. Al-Fajr [89]: 27)
"Kembalilah
kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai-Nya!" (QS. Al-Fajr
[89]: 28)
"Maka
masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku," (QS. Al-Fajr [89]: 29)
"dan
masuklah ke dalam surga-Ku!" (QS. Al-Fajr [89]: 30)
Adz-Dzikr
Berarti Pengingatan/Peringatan (At-Tadzkiir):
128.
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang piutang
untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu meutaskannya. Dan hendaklah seorang
penulis di antara kamu meutaskannya dengan adil. Janganlah penulis menolak
untuk meutaskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah dia
menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakkan (apa yang akan
dituliskan), dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah
dia mengurangi sedikit pun darinya. Jika orang yang berutang itu seorang yang
kurang akalnya atau lemah (keadaannya) atau tidak mampu mengimlakkan sendiri,
maka hendaklah walinya mengimlakkan dengan adil. Dan persaksikanlah dengan dua
orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang
laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara
saksi-saksi yang kamu ridhai, agar jika yang seorang lupa maka yang seorang
lagi mengingatkannya..." (QS. Al-Baqarah [2]: 282) (Madaniyah)
"...Dan
janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan
meutaskannya, baik utang itu kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.
Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian,
dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan
perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi
kamu jika kamu tidak meutaskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu jual beli,
dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang
demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan padamu. Dan bertakwalah kepada
Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu." (QS. Al-Baqarah [2]: 282)
129.
"Dan apabila engkau melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami,
maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika
setan sungguh membuatmu lupa, maka janganlah engkau duduk bersama kaum yang
zalim itu setelah teringat (akan larangan itu)." (QS. Al-An'am [6]: 68)
(Makkiyah)
"Dan
tidak ada tanggung jawab sedikit pun atas orang-orang yang bertakwa terhadap
dosa mereka; akan tetapi (kewajiban mereka ialah) mengingatkan agar mereka
bertakwa." (QS. Al-An'am [6]: 69)
"Tinggalkanlah
orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan
mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan
Al-Qur'an agar masing-masing diri tidak terjerosok (ke dalam neraka) karena
perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan tidak juga pemberi
syafaat selain Allah. Dan jika ia hendak membusut dengan segala macam tebusan,
niscaya tidak akan diterima darinya. Mereka itulah orang-orang yang
dijerumuskan (ke dalam neraka) disebabkan perbuatan mereka sendiri. Bagi mereka
(disediakan) minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka
dahulu kufur." (QS. Al-An'am [6]: 70)
130.
"Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, 'Aduhai
duka citaku terhadap Yusuf,' dan kedua matanya menjadi putih karena sedih dan
dia menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)." (QS. Yusuf [12]: 84)
(Makkiyah)
"Mereka
berkata, 'Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga
engkau mengidap penyakit berat atau engkau termasuk orang-orang yang
binasa.'" (QS. Yusuf [12]: 85)
131.
"Dia (Muda/Musa) berkata, 'Tahukah engkau ketika kita mencari tempat
berlindung di batu tadi, maka sungguh aku lupa (menceritakan) ikan itu dan
tidak ada yang membuatku lupa untuk mengingatnya melainkan setan, dan ikan itu
mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh.'" (QS. Al-Kahf [18]: 63)
(Makkiyah)
"Dia
(Musa) berkata, 'Itulah yang kita cari.' Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak
mereka semula." (QS. Al-Kahf [18]: 64)
"Lalu
mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang
telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan
ilmu kepadanya dari sisi Kami." (QS. Al-Kahf [18]: 65)
"Musa
berkata kepadanya, 'Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku
(ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi)
petunjuk?'" (QS. Al-Kahf [18]: 66)
"Dia
menjawab, 'Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.'" (QS.
Al-Kahf [18]: 67)
"'Dan
bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?'" (QS. Al-Kahf [18]: 68)
"Dia
(Musa) berkata, 'Insya Allah engkau akan mendapati aku sebagai orang yang
sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.'" (QS. Al-Kahf
[18]: 69)
"Dia
berkata, 'Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku
tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menjelaskannya kepadamu.'"
(QS. Al-Kahf [18]: 70)
132.
"Dan wahai kaumku! Mengapa aku menyeru kamu kepada keselamatan, konon kamu
menyeru aku ke neraka?" (QS. Ghafir [40]: 41) (Makkiyah)
"Kamu
menyeruku agar aku kufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
yang aku tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, padahal aku menyeru kamu
kepada (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Ghafir [40]:
42)
"Sudah
pasti bahwa apa yang kamu serukan kepadaku tidak dapat memperkenankan seruan
apa pun baik di dunia maupun di akhirat. Dan sesungguhnya tempat kembali kita
adalah kepada Allah, dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka
itulah penghuni neraka." (QS. Ghafir [40]: 43)
"Maka
kelak kamu akan mengingat apa yang kukatakan kepadamu. Dan aku menyerahkan
urusanku kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya."
(QS. Ghafir [40]: 44)
133.
"Sungguh, telah datang atas manusia suatu waktu dari masa, sedang dia
belum merupakan sesuatu yang dapat disebut." (QS. Al-Insan [76]: 1)
(Makkiyah)
"Sungguh,
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat." (QS. Al-Insan [76]: 2)
134.
"Maka apabila malapetaka yang sangat besar (hari Kiamat) telah
datang," (QS. An-Nazi'at [79]: 34) (Makkiyah)
"pada
hari (itu) manusia teringat akan apa yang telah dikerjakannya," (QS.
An-Nazi'at [79]: 35)
"dan
neraka diperlihatkan dengan jelas kepada setiap orang yang melihat." (QS.
An-Nazi'at [79]: 36)
"Maka
adapun orang yang melampaui batas," (QS. An-Nazi'at [79]: 37)
"dan
lebih mengutamakan kehidupan dunia," (QS. An-Nazi'at [79]: 38)
"maka
sungguh, nerakalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi'at [79]: 39)
"Dan
adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
(keinginan) hawa nafsunya," (QS. An-Nazi'at [79]: 40)
"maka
sungguh, surgalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi'at [79]: 41)
"Mereka
(orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari Kiamat, 'Kapankah
terjadinya?'" (QS. An-Nazi'at [79]: 42)
"Siapakah
engkau (sehingga dapat) menyebutkan (waktunya)?" (QS. An-Nazi'at [79]: 43)
"Kepada
Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya)." (QS.
An-Nazi'at [79]: 44)
"Engkau
hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari
Kiamat)." (QS. An-Nazi'at [79]: 45)
"Pada
hari ketika mereka melihat hari Kiamat itu, mereka merasa seolah-olah tidak
tinggal (di dunia) melainkan sebentar saja di waktu sore atau pagi hari."
(QS. An-Nazi'at [79]: 46)
Adz-Dzikr
Berarti Al-Qur'an:
135.
"Maka adapun orang-orang yang kafir, maka akan Kuazab mereka dengan azab
yang sangat keras di dunia dan di akhirat, dan mereka tidak memperoleh
penolong." (QS. Ali 'Imran [3]: 56) (Madaniyah)
"Dan
adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka Allah akan
menyempurnakan pahala mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim."
(QS. Ali 'Imran [3]: 57)
"Demikianlah
Kami bacakan kepadamu (Muhammad) sebagian ayat-ayat dan peringatan yang penuh
hikmah (Al-Qur'an)." (QS. Ali 'Imran [3]: 58)
136.
"Dan mereka berkata, 'Wahai orang yang kepadanya diturunkan Al-Dzikr
(Al-Qur'an), sesungguhnya engkau benar-benar orang gila!'" (QS. Al-Hijr
[15]: 6) (Makkiyah)
"'Mengapa
engkau tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika engkau termasuk
orang-orang yang benar?'" (QS. Al-Hijr [15]: 7)
"Kami
tidak menurunkan malaikat melainkan dengan hak (membawa kebenaran) dan mereka
ketika itu tidak diberikan penangguhan." (QS. Al-Hijr [15]: 8)
"Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an), dan pasti Kami (pula) yang
memeliharanya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)
137.
"Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru
Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan
janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan
kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami
lalaikan dari mengingat Kami (dzikrina), serta menuruti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melewati batas." (QS. Al-Kahf [18]: 28)
(Makkiyah)
138.
"Dan pada hari itu Kami biarkan sebagian mereka (Yajuj dan Majuj) berbaur
dengan sebagian yang lain, dan ditiuplah sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka
semuanya," (QS. Al-Kahf [18]: 99) (Makkiyah)
"dan
Kami perlihatkan Jahanam dengan jelas pada hari itu kepada orang-orang
kafir," (QS. Al-Kahf [18]: 100)
"(yaitu)
orang-orang yang matanya dalam keadaan tertutup dari mengingat-Ku (dzikrii),
dan mereka tidak sanggup mendengar." (QS. Al-Kahf [18]: 101)
139.
"Demikianlah Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah (umat) yang
telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan (dzikran
/ Al-Qur'an) dari sisi Kami." (QS. Thaahaa [20]: 99) (Makkiyah)
140.
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (dzikrii /
Al-Qur'an), maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami
akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta." (QS. Thaahaa
[20]: 124) (Makkiyah)
141.
"Makin dekat kepada manusia hari perhitungan amal mereka, sedang mereka
dalam keadaaan lalai berpaling (darinya)." (QS. Al-Anbiya' [21]: 1)
(Makkiyah)
"Tidak
datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur'an pun yang baru diturunkan dari Tuhan
mereka, melainkan mereka mendengarkannya sambil bermain-main," (QS.
Al-Anbiya' [21]: 2)
142.
"Katakanlah, 'Siapakah yang dapat menjaga kamu di waktu malam dan siang
hari dari (azab Allah) Yang Maha Pengasih?' Bahkan mereka berpaling dari
mengingat Tuhan mereka (dzikri rabbihim)." (QS. Al-Anbiya' [21]:
42) (Makkiyah)
143.
"Dan sekiranya kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah
langit dan bumi, dan siapa yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah mendatangkan
kepada mereka peringatan (bidzikrihim / Al-Qur'an), tetapi mereka
berpaling dari peringatan itu." (QS. Al-Mu'minun [23]: 71) (Makkiyah)
144.
"Sungguh, ada segolongan dari hamba-hamba-Ku berdoa, 'Ya Tuhan kami, kami
telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah
Pemberi rahmat yang terbaik.'" (QS. Al-Mu'minun [23]: 109) (Makkiyah)
"Lalu
kamu jadikan mereka buah ejekan, sehingga kamu lupa mengingat-Ku (dzikrii),
dan kamu selalu tertawa mengejek mereka." (QS. Al-Mu'minun [23]: 110)
145.
"Merek menjawab, 'Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagi kami mengambil
pelindung selain Engkau; tetapi Engkau telah memberi mereka dan nenek moyang
mereka kenikmatan hidup, sehingga mereka lupa kepada peringatan (ad-dzikr)
dan mereka menjadi kaum yang binasa.'" (QS. Al-Furqan [25]: 18) (Makkiyah)
146.
"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang yang zalim menggigit dua
tangannya, seraya berkata, 'Aduhai sekiranya (dahulu) aku mengambil jalan
bersama Rasul.'" (QS. Al-Furqan [25]: 27) (Makkiyah)
"'Wahai
celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman
akrab(ku).'" (QS. Al-Furqan [25]: 28)
"'Sungguh,
dia telah menyesatkan aku dari Al-Dzikr (Al-Qur'an) setelah Al-Qur'an itu
datang kepadaku. Dan setan itu memberikan penyesalan kepada manusia.'"
(QS. Al-Furqan [25]: 29)
147.
"Dan tidak satu pun peringatan (dzikr) baru yang datang kepada
mereka dari Tuhan Yang Maha Pengasih, melainkan mereka selalu berpaling
darinya." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 5) (Makkiyah)
148.
"Sesungguhnya engkau hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau
mengikuti peringatan (ad-dzikr / Al-Qur'an) dan yang takut kepada Tuhan
Yang Maha Pengasih walaupun tidak melihat-Nya. Maka berilah mereka kabar
gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia." (QS. Yasin [36]: 11)
"Sungguh,
Kami-lah yang menghidupkan orang-orang mati, dan Kami-lah yang mencatat apa
yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala
sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang jelas (Lauh Mahfuzh)." (QS.
Yasin [36]: 12)
"Dan
buatlah suatu perumpamaan bagi mereka, yaitu penduduk suatu negeri ketika
utusan-utusan datang kepada mereka." (QS. Yasin [36]: 13)
"(yaitu)
ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan
keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga
(utusan itu) berkata, 'Sungguh, kami adalah orang-orang yang diutus
kepadamu.'" (QS. Yasin [36]: 14)
"Mereka
(penduduk negeri) menjawab, 'Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami, dan
Tuhan Yang Maha Pengasih tidak menurunkan sesuatu pun; kamu hanyalah
berdusta.'" (QS. Yasin [36]: 15)
"Mereka
(utusan-utusan) berkata, 'Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami
benar-benar utusan-utusan-Nya kepada kamu.'" (QS. Yasin [36]: 16)
"'Dan
kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan
jelas.'" (QS. Yasin [36]: 17)
"Mereka
berkata, 'Sesungguhnya kami bernasib sial karena kamu. Sungguh, jika kamu tidak
berhenti (menyeru kami), niscaya kami rajam kamu dan kamu pasti akan merasakan
azab yang pedih dari kami.'" (QS. Yasin [36]: 18)
"Maka
utusan-utusan itu berkata, 'Kemaslahatan atau kesialan kamu itu adalah karena
kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan (dzukkirtum) (kamu
bernasib sial)? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.'" (QS.
Yasin [36]: 19) (Makkiyah)
149.
"Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu
tidaklah layak baginya. Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab
yang jelas," (QS. Yasin [36]: 69) (Makkiyah)
"agar
dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan
agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir." (QS. Yasin [36]:
70)
150.
"Demi rombongan (malaikat) yang berbaris bershaf-shaf," (QS.
As-Saffat [37]: 1) (Makkiyah)
"dan
demi rombongan yang mencegah dengan sungguh-sungguh," (QS. As-Saffat [37]:
2)
"dan
demi rombongan yang membacakan peringatan (dzikran)," (QS.
As-Saffat [37]: 3)
151.
"Dan sungguh, Kami telah memberikan petunjuk kepada Musa; dan Kami
wariskan Kitab (Taurat) kepada Bani Israil," (QS. Ghafir [40]: 53)
(Makkiyah)
"untuk
menjadi petunjuk dan peringatan (dzikra) bagi orang-orang yang
berakal." (QS. Ghafir [40]: 54)
"Maka
bersabarlah engkau, sungguh janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk
dosamu dan bertasbihlah seraya memuji Tuhanmu pada waktu petang dan pagi."
(QS. Ghafir [40]: 55)
"Sesungguhnya
orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan/bukti yang sampai
kepada mereka, tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah keinginan akan
kebesaran yang mereka sekali-kali tidak akan mencapainya, maka mintalah perlindungan
kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Meringat lagi Maha Melihat." (QS. Ghafir
[40]: 56)
"Sungguh,
penciptaan langit dan bumi itu lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Ghafir [40]: 57)
"Dan
tidak sama orang yang buta dengan orang yang melihat, dan tidak (sama)
orang-orang yang beriman serta mengerjakan kebajikan dengan orang yang berbuat
kejahatan. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran." (QS. Ghafir [40]: 58)
152.
"Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al-Dzikr (Al-Qur'an) ketika
Al-Qur'an itu datang kepada mereka (pasti akan celaka). Dan sungguh, Al-Qur'an
itu adalah Kitab yang mulia," (QS. Fussilat [41]: 41) (Makkiyah)
"(yang)
tidak akan didatangi kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya,
diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji." (QS. Fussilat
[41]: 42)
153.
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhan Yang Maha Pengasih (dzikri
ar-rahman), Kami biarkan setan (menyesatkannya) maka setan itulah yang
menjadi teman karibnya." (QS. Az-Zukhruf [43]: 36) (Makkiyah)
154.
"Maka berpalinglah (wahai Muhammad) dari orang yang berpaling dari
peringatan Kami (dzikrina), dan dia tidak menghendaki melainkan
kehidupan dunia." (QS. An-Najm [53]: 29) (Makkiyah)
"Itulah
batas sejauh mana pengetahuan mereka. Sungguh, Tuhanmu Dialah yang paling
mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang paling mengetahui
siapa yang mendapat petunjuk." (QS. An-Najm [53]: 30)
155.
"Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur'an untuk peringatan (lid-dzikr),
maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?" (QS. Al-Qamar [54]: 17,
22, 32, 40) (Makkiyah)
156.
"Kaum Tsamud pun telah mendustakan peringatan itu." (QS. Al-Qamar
[54]: 23) (Makkiyah)
"Maka
mereka berkata, 'Apakah kita akan mengikuti seorang manusia biasa di antara
kita? Sungguh, jika demikian kita benar-benar dalam sesat dan gila.'" (QS.
Al-Qamar [54]: 24)
"'Apakah
peringatan (ad-dzikr) itu diturunkan kepadanya di antara kita? Tidak,
bahkan dia adalah seorang pembohong yang sombong!'" (QS. Al-Qamar [54]:
25)
"Kelak
mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya pembohong yang sombong
itu." (QS. Al-Qamar [54]: 26)
157.
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk
hati mereka mengingat Allah (lidzikrillahi) dan mematuhi kebenaran yang
telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang
telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian berlalu masa yang panjang atas
mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan banyak di antara mereka adalah orang-orang
fasik." (QS. Al-Hadid [57]: 16) (Madaniyah)
158.
"Dan betapa banyak negeri yang mendurhakai perintah Tuhannya dan
rasul-rasul-Nya, maka Kami buat perhitungan yang ketat dengan negeri itu dan
Kami azab ia dengan azab yang mengerikan." (QS. At-Talaq [65]: 8)
(Madaniyah)
"Lalu
negeri itu merasakan akibat yang buruk dari perbuatannya, dan akibat
perbuatannya itu adalah kerugian." (QS. At-Talaq [65]: 9)
"Allah
menyediakan azab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah wahai
orang-orang yang berakal! (yaitu) orang-orang yang beriman. Sungguh, Allah
telah menurunkan peringatan (dzikran) kepadamu," (QS. At-Talaq
[65]: 10)
"(dengan
mengutus) seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang
menerangkan (berbagai hukum), agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan dari kegelapan kepada cahaya. Dan barangsiapa beriman
kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Sungguh, Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya."
(QS. At-Talaq [65]: 11)
159.
"Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama
Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang segar (rezeki yang
banyak)," (QS. Al-Jinn [72]: 16) (Makkiyah)
"untuk
Kami uji mereka dengannya. Dan barangsiapa berpaling dari mengingat Tuhannya (dzikri
rabbihi), niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam azab yang sangat
berat." (QS. Al-Jinn [72]: 17)
Adz-Dzikr
Berarti Taurat dan Kitab-Kitab Dahulu:
160.
"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang
laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada Ahluz-Dzikr
[ahli ilmu/kitab-kitab terdahulu] jika kamu tidak mengetahui," (QS.
An-Nahl [16]: 43) (Makkiyah)
"(Kami
utus mereka) dengan membawa bukti-bukti yang jelas (mukjizat) dan kitab-kitab.
Dan Kami turunkan Al-Dzikr (Al-Qur'an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada
manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka
memikirkan." (QS. An-Nahl [16]: 44)
161.
"Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang
laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada Ahluz-Dzikr
jika kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Anbiya' [21]: 7) (Makkiyah)
Adz-Dzikr
Berarti Kemuliaan/Kehormatan (Asy-Syaraf):
162.n"Maka
berpegang teguhlah engkau pada (agama) yang telah diwahyukan kepadamu. Sungguh,
engkau berada di jalan yang lurus." (QS. Az-Zukhruf [43]: 43) (Makkiyah)
"Dan
sungguh, (Al-Qur'an) itu benar-benar suatu kehormatan/kemuliaan (ladzikrun)
bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan dimintai pertanggungjawaban."
(QS. Az-Zukhruf [43]: 44)
"Dan
tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum
engkau, 'Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih
untuk disembah?'" (QS. Az-Zukhruf [43]: 45)
163.
"Bukankah Kami telah melapangkan dadamu (Muhammad)?" (QS. Asy-Syarh
[94]: 1) (Makkiyah)
"dan
Kami pun telah menurunkan bebanmu darimu," (QS. Asy-Syarh [94]: 2)
"yang
memberatkan punggungmu," (QS. Asy-Syarh [94]: 3)
"dan
Kami tinggikan sebutan (nama)-mu (dzikrak) bagimu." (QS. Asy-Syarh
[94]: 4)
"Maka
sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan," (QS. Asy-Syarh [94]: 5)
"sungguh,
bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Asy-Syarh [94]: 6)
"Maka
apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras
(untuk urusan yang lain)," (QS. Asy-Syarh [94]: 7)
"dan
hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap." (QS. Asy-Syarh [94]: 8)
Adz-Dzikr
Berarti Ketaatan (At-Tha'ah):
164.
"Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari
kalangan kamu sendiri, yang membacakan ayat-ayat Kami kepadamu, menyucikan
kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dan Hikmah (Sunnah), serta
mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui." (QS. Al-Baqarah [2]:
151) (Madaniyah)
"Maka
ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan
janganlah kamu ingkar kepada-Ku." (QS. Al-Baqarah [2]: 152)
"Wahai
orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
salat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah
[2]: 153)
165.
"Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan
permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari
mengingat Allah (dzikrillahi) dan dari salat; maka tidakkah kamu mau
berhenti?" (QS. Al-Ma'idah [5]: 91) (Madaniyah)
166.
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah (bidzikrillahi). Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah
hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd [13]: 28) (Madaniyah)
"Orang-orang
yang beriman dan mengerjakan kebajikan, bagi mereka kebahagiaan dan tempat
kembali yang baik." (QS. Ar-Ra'd [13]: 29)
167.
"Maka ketika dia mendatangi (tempat api) itu, dia dipanggil, 'Wahai
Musa!'" (QS. Thaahaa [20]: 11) (Makkiyah)
"'Sungguh,
Aku ini adalah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua sandalmu; sungguh engkau
berada di lembah yang suci, Thuwa.'" (QS. Thaahaa [20]: 12)
"'Dan
Aku telah memilih engkau, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan
(kepadamu).'" (QS. Thaahaa [20]: 13)
"'Sungguh,
Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan
laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku (lidzikrii).'" (QS. Thaahaa
[20]: 14)
168.
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu
melalaikan kamu dari mengingat Allah (dzikrillahi). Dan barangsiapa
berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi." (QS.
Al-Munafiqun [63]: 9) (Madaniyah)
Adz-Dzikr
Berarti Penjelasan (Al-Bayan):
169.
"Dia (Nuh) berkata, 'Wahai kaumku! Tidak ada bagiku kesesatan sedikit pun,
tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam.'" (QS. Al-A'raf
[7]: 61) (Makkiyah)
"'Aku
menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku
mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.'" (QS. Al-A'raf [7]:
62)
"'Apakah
kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan/penjelasan (dzikrun)
dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri untuk memberi
peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa sehingga kamu mendapat
rahmat?'" (QS. Al-A'raf [7]: 63)
170.
"Dan engkau tidak meminta imbalan apa pun kepada mereka (atas seruan ini).
Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan/penjelasan (dzikrun) bagi
seluruh alam." (QS. Yusuf [12]: 104) (Makkiyah)
Dzikir
Bermakna Salat Lima Waktu:
171.
"Peliharalah semua salat dan salat Wusṭā. Dan berdirilah karena Allah (dalam
salatmu) dengan khusyuk. Jika kamu takut (dalam keadaan genting), salatlah
sambil berjalan kaki atau berkendara. Kemudian, apabila kamu telah aman, maka
ingatlah Allah (salatlah), sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang
belum kamu ketahui." [QS. Al-Baqarah: 238–239]
Dzikir
Bermakna Salat Jumat:
172.
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk menunaikan salat
pada hari Jumat, maka segeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah
jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila
salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung." [QS.
Al-Jumu'ah: 9–10]
Dzikir
Bermakna Lauhulmahfuz:
173.
"Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, 'Sungguh,
aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua
yang penyayang.' Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami lenyapkan penyakit yang
ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan (Kami lipat gandakan
jumlah mereka) sebagai suatu rahmat dari Kami dan untuk menjadi peringatan bagi
semua yang menyembah Kami." [QS. Al-Anbiya': 83–84]
174.
"Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah (tertulis dalam) Az-Żikr
(Lauhulmahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang
saleh." [QS. Al-Anbiya': 105]
Hadis-Hadis
tentang Dzikir
1.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada
para sahabat: "Apakah kalian suka, wahai manusia, untuk bersungguh-sungguh
dalam berdoa?" Mereka menjawab: "Ya, wahai Rasulullah." Beliau
bersabda: "Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
‘Allāhumma
a‘innī ‘alā żikrika wa syukrika wa ḥusni
‘ibādatik’ (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur
kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik)."
(HR.
Al-Hakim (1/499) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini sahih sanadnya
dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Juga diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam
Majma' az-Zawā'id dari Ibn Mas'ud (10/172) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh
Al-Bazzar dan para perawinya adalah perawi hadis sahih selain Al-Audi, dan dia
tsiqah)
2.
Dari Jabir bin 'Abdillah raḍiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa
sallam bersabda:
«أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللهُ ، وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ للهِ»
"Dzikir
yang paling utama adalah Lā ilāha illallāh (tidak ada tuhan selain
Allah), dan doa yang paling utama adalah Al-ḥamdu lillāh (segala puji bagi Allah)."
(HR.
At-Tirmidzi (3383) dan ia berkata: Hadis garib; dihasankan oleh Al-Albani
(3/1400) no. 2694, dan Ibn Majah (3800). Al-Hakim (1/498) berkata: Hadis ini
sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disepakati
oleh Adz-Dzahabi, serta diriwayatkan dalam Al-Muwaththa' (1/185))
3.
Dari Abu ad-Darda' raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang amalan kalian yang terbaik,
paling suci di sisi Raja kalian (Allah), paling mengangkat derajat kalian,
serta lebih baik bagi kalian daripada menginfakkan emas dan perak, dan lebih
baik bagi kalian daripada bertemu musuh kalian lalu kalian memenggal leher
mereka dan mereka memenggal leher kalian?" Para sahabat menjawab:
"Tentu saja." Beliau bersabda: "Dzikir kepada Allah
Ta'ala." Kemudian Mu'adz bin Jabal raḍiyallāhu 'anhu berkata: "Tidak ada
sesuatu pun yang lebih menyelamatkan dari azab Allah daripada dzikir kepada
Allah."
(HR.
Al-Muwaththa' - Tanwīr al-Hawālik (1/211), At-Tirmidzi (3377) dan lafal ini
miliknya. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/496) berkata: Hadis ini sahih sanadnya
namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh
Adz-Dzahabi. Disebutkan pula oleh pentahkik Jāmi‘ al-Uṣūl (9/514))
4.
Dari Abu ad-Darda' raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ أَنَا مَعَ
عَبْدِي إِنْ هُوَ ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ»
'Aku
bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak
menyebut-Ku.'"
(HR.
Al-Hakim (1/496) dan ia berkata: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, serta disepakati oleh Adz-Dzahabi)
5.
Dari Jabir bin 'Abdillah raḍiyallāhu
'anhumā, bahwa seorang wanita dari kalangan Ansar berkata kepada Rasulullah
ṣallallāhu 'alaihi wa sallam: "Wahai Rasulullah, maukah aku buatkan
sesuatu untuk tempat duduk Anda? Karena aku memiliki seorang pelayan tukang
kayu." Beliau bersabda: "Jika engkau mau." Maka wanita itu
membuatkan mimbar untuk beliau. Ketika hari Jumat tiba, Nabi ṣallallāhu
'alaihi wa sallam duduk di atas mimbar yang telah dibuat tersebut.
Tiba-tiba batang pohon kurma (yang sebelumnya biasa dijadikan tempat beliau
berkhotbah) menangis menjerit hingga hampir terbelah. Maka Nabi ṣallallāhu
'alaihi wa sallam turun dari mimbar lalu memeluknya, dan batang pohon itu
mulai merintih seperti rintihan bayi yang sedang ditenangkan hingga akhirnya
tenang. Beliau bersabda: "Batang pohon ini menangis karena merindukan
dzikir yang biasa ia dengar."
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 4 (2095))
6.
Dari 'Abdullah bin Busr raḍiyallāhu
'anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata: "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya syariat-syariat Islam telah terasa banyak bagiku, maka
beritahukanlah kepadaku sesuatu yang bisa aku pegang teguh [sebagai amalan
andalan]." Beliau bersabda:
«لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ
ذِكْرِ اللَّهِ»
"Hendaknya
lidahmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah."
(HR.
At-Tirmidzi (3375) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini garib dari
jalur ini. Diriwayatkan pula oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/495) dan
berkata: Hadis ini sahih sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan
Muslim, disepakati oleh Adz-Dzahabi)
7.
Dari Mu'adz bin Jabal raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam memegang
tangannya seraya bersabda: "Wahai Mu'adz, demi Allah, sesungguhnya aku
mencintaimu. Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu." Lalu beliau
bersabda: "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah sekali-kali
engkau tinggalkan di setiap akhir salat [setelah tasyahud akhir sebelum salam
atau sesudah salam] untuk mengucapkan:
«اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ
وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
‘Allāhumma
a‘innī ‘alā żikrika wa syukrika wa ḥusni
‘ibādatik’ (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur
kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan baik)."
(HR.
Abu Dawud (1522) dan lafal ini miliknya; Al-Albani berkata dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwud (1/284) no.
1347: Sahih, dan An-Nasa'i (3/53). Pentahkik Jāmi‘ al-Uṣūl (4/209) berkata:
Sanadnya sahih)
8.
Dari Ibn 'Abbas raḍiyallāhu
'anhumā, ia berkata: "Mengencangkan suara dalam berdzikir ketika
orang-orang selesai dari salat fardu adalah hal yang biasa berlaku pada zaman
Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam." Dan Ibn 'Abbas berkata:
"Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari salat dengan hal itu,
yaitu ketika aku mendengarnya."
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 2 (841))
9.
Dari Al-Harits Al-Asy'ari raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah mewahyukan kepada Yahya bin Zakariyya lima kalimat
untuk diamalkan dan diperintahkan kepada Bani Israil agar mereka
mengamalkannya. Namun, Yahya seolah-olah agak terlambat menyampaikannya. Maka
'Isa mendatanginya dan berkata: 'Sesungguhnya Allah telah memerintahkan lima
kalimat kepadamu untuk engkau amalkan dan engkau perintahkan Bani Israil untuk
mengamalkannya. Maukah engkau yang memberitahu mereka, atau aku yang akan
memberitahukan mereka?' Yahya menjawab: 'Wahai saudaraku, jangan lakukan itu,
karena aku takut jika engkau mendahuluiku menyampaikannya, aku akan
ditenggelamkan ke dalam bumi atau diazab.' Maka Yahya mengumpulkan Bani Israil
di Baitulmaqdis hingga masjid penuh sesak dan orang-orang duduk di
tempat-tempat yang tinggi. Kemudian beliau berkhotbah kepada mereka dan
berkata: 'Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku lima kalimat untuk aku
amalkan dan aku perintahkan kalian untuk mengamalkannya. Pertama: Hendaklah
kalian tidak menysekutukan Allah dengan sesuatu pun... [hingga akhir
hadis]."
(HR.
At-Tirmidzi (2863) dan ia berkata: Hadis ḥasan
ṣaḥīḥ garib; dengan tambahan di
dalamnya: Bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Dan aku
memerintahkan kalian dengan lima perkara...". Diriwayatkan juga oleh
Al-Mundziri dalam At-Targīb (2/397) dan An-Nasa'i sebagian darinya, Ibn
Khuzaimah dalam Ṣaḥīḥ-nya (3/195, 196) no. 1895 dan
lafal miliknya, Ibn Hibban dalam Ṣaḥīḥ-nya, serta Al-Hakim (1/421)
yang berkata: Sahih sesuai syarat Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh
Adz-Dzahabi)
10.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di
jalan-jalan mencari ahli dzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang
sedang mengingat Allah, mereka saling memanggil: 'Kemarilah menuju hajat
(tujuan) kalian!' Beliau bersabda: 'Maka para malaikat itu menaungi mereka
dengan sayap-sayap mereka sampai ke langit dunia.' Beliau bersabda: 'Lalu Tuhan
mereka -Azza wa Jalla- bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui
daripada mereka: Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?' Beliau bersabda:
'Para malaikat menjawab: Mereka bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu,
bertahmid kepada-Mu, dan mengagungkan-Mu.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Apakah
mereka pernah melihat-Ku?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Tidak,
demi Allah, mereka tidak pernah melihat-Mu.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman:
Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?' Beliau bersabda: 'Para malaikat
menjawab: Seandainya mereka melihat-Mu, tentu ibadah mereka kepada-Mu akan jauh
lebih dahsyat, pengagungan mereka kepada-Mu akan jauh lebih besar, dan tasbih
mereka kepada-Mu akan jauh lebih banyak.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman:
Lalu apa yang mereka mohon kepada-Ku?' Beliau bersabda: 'Para malaikat
menjawab: Mereka memohon surga kepada-Mu.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman:
Apakah mereka pernah melihatnya?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab:
Tidak, demi Allah wahai Tuhan kami, mereka belum pernah melihatnya.' Beliau
bersabda: 'Allah berfirman: Bagaimana seandainya mereka melihatnya?' Beliau
bersabda: 'Para malaikat menjawab: Seandainya mereka melihatnya, niscaya mereka
akan lebih tamak terhadapnya, lebih gigih mencarinya, dan lebih besar
keinginannya.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Dari hal apa mereka memohon
perlindungan?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Dari neraka.' Beliau
bersabda: 'Allah berfirman: Apakah mereka pernah melihatnya?' Beliau bersabda:
'Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah wahai Tuhan kami, mereka tidak
pernah melihatnya.' Beliau bersabda: 'Allah berfirman: Bagaimana seandainya
mereka melihatnya?' Beliau bersabda: 'Para malaikat menjawab: Seandainya mereka
melihatnya, tentu mereka akan lari lebih cepat darinya dan jauh lebih takut kepadanya.'
Beliau bersabda: 'Maka Allah berfirman: Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku
telah mengampuni mereka.' Beliau bersabda: 'Salah satu malaikat berkata: Di
antara mereka ada si Fulan yang sebenarnya bukan bagian dari kelompok mereka,
dia datang hanya karena ada suatu keperluan.' Allah berfirman: 'Merekalah
orang-orang yang duduk dalam satu majelis, yang tidak akan celaka orang yang
duduk bersama mereka.'"
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath (11/6408) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (2689))
11.
Dari Ibn 'Abbas raḍiyallāhu
'anhumā, ia berkata: "Terjadi gerhana matahari pada zaman Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam, lalu Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
melaksanakan salat bersama orang-orang. Beliau berdiri sangat lama sekira
panjang surah Al-Baqarah, kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang. Lalu beliau
bangkit dan berdiri lama, namun lebih singkat dari berdiri yang pertama.
Kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang, namun lebih singkat dari ruku' yang
pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau bangkit berdiri lama, namun lebih
singkat dari berdiri pertama. Kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang, namun
lebih singkat dari ruku' pertama. Lalu beliau bangkit berdiri lama, namun lebih
singkat dari berdiri pertama. Kemudian ruku' dengan ruku' yang panjang, namun
lebih singkat dari ruku' pertama. Kemudian beliau sujud. Lalu beliau selesai
(salat) dan matahari telah terang kembali. Maka beliau bersabda: 'Sesungguhnya
matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya
tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena hidupnya
seseorang. Apabila kalian melihat hal itu, maka berdzikirlah kepada Allah.'
Para sahabat berkata: 'Wahai Rasulullah, kami melihat Anda mengambil sesuatu di
tempat berdiri Anda ini, lalu kami melihat Anda menahannya kembali.' Beliau
bersabda: 'Sesungguhnya aku melihat surga, lalu aku memetik setangkai buah
darinya; seandainya aku mengambilnya, niscaya kalian akan memakannya selama
dunia ini masih ada. Dan aku melihat neraka, maka aku belum pernah melihat
pemandangan yang mengerikan seperti hari ini sama sekali, dan aku melihat
mayoritas penghuninya adalah wanita.' Para sahabat bertanya: 'Mengapa demikian,
wahai Rasulullah?' Beliau bersabda: 'Karena kekufuran mereka.' Ditanyakan:
'Apakah mereka kufur kepada Allah?' Beliau bersabda: 'Mereka kufur (ingkar)
terhadap suami dan ingkar terhadap kebaikan. Seandainya engkau berbuat baik
kepada salah seorang dari mereka sepanjang masa, kemudian ia melihat sesuatu
yang tidak berkenan darimu, ia akan berkata: Aku tidak pernah melihat kebaikan
sedikit pun darimu.'"
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 9 (5197), dan Muslim (907) dan lafal ini miliknya)
12.
Dari Anas bin Malik raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: "Ketika kami sedang berada di masjid bersama
Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang Arab
Badui, lalu ia berdiri dan kencing di dalam masjid. Maka para sahabat
Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam berteriak: 'Mah... Mah! [sebuah
kata larangan/cegahan untuk menghentikan perbuatan tersebut]'. Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam bersabda: 'Jangan kalian putus kencingnya, biarkanlah
dia.' Maka mereka membiarkannya sampai selesai kencing. Kemudian Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam memanggilnya dan bersabda kepadanya: 'Sesungguhnya
masjid-masjid ini tidak layak untuk sesuatu pun dari kencing dan kotoran ini.
Masjid-masjid ini hanyalah untuk dzikir kepada Allah Azza wa Jalla, salat, dan
membaca Al-Qur'an,' atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam. Beliau bersabda: Lalu beliau memerintahkan seseorang
dari kaum tersebut untuk mengambil seember air, lalu menyiramkannya di atas
tempat kencing tersebut."
(HR.
Muslim (285), dan yang semisalnya menurut Al-Bukhari - Al-Fath (1/219-220))
13.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Mu'awiyah keluar menuju suatu halqah (lingkaran majelis)
di dalam masjid, lalu ia berkata: "Apa yang membuat kalian duduk di
sini?" Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada
Allah." Mu'awiyah berkata: "Demi Allah, tidak ada hal lain yang
membuat kalian duduk selain itu?" Mereka menjawab: "Demi Allah, tidak
ada yang membuat kami duduk selain itu." Mu'awiyah berkata:
"Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena
mencurigai kalian. Tidak ada seorang pun yang berkedudukan seperti diriku dari
Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam yang lebih sedikit meriwayatkan
hadis dari beliau daripada diriku. Sesungguhnya Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam pernah keluar menuju suatu halqah dari para sahabatnya,
lalu beliau bersabda: 'Apa yang membuat kalian duduk di sini?' Mereka menjawab:
'Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas petunjuk-Nya
kepada kami menuju Islam dan atas karunia-Nya kepada kami.' Beliau bersabda:
'Demi Allah, apakah tidak ada yang membuat kalian duduk selain itu?' Mereka
menjawab: 'Demi Allah, tidak ada yang membuat kami duduk selain itu.' Beliau
bersabda: 'Ketahuilah, sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena
mencurigai kalian, melainkan karena Malaikat Jibril telah mendatangi aku dan
memberitahukan kepadaku bahwa Allah Azza wa Jalla membanggakan kalian di
hadapan para malaikat.'"
(HR.
Muslim (4/2701))
14.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
"Ada tiga golongan yang doanya tidak akan ditolak: Orang yang banyak
berdzikir kepada Allah, doa orang yang terzalimi, dan pemimpin yang adil."
(HR.
Al-Baihaki dalam Asy-Syu'ab (1/419) no. 558, (6/11) no. 7358, dan Al-Albani
dalam As-Sahiḥah
(1211) menghasankannya)
15.
Dari Ibn 'Abbas raḍiyallāhu
'anhumā, bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam biasa berdoa:
«رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ
، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ ، وَاهْدِنِي
وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ . اللَّهُمَّ
اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا ، لَكَ ذَاكِرًا ، لَكَ رَاهِبًا ، لَكَ مِطْوَاعًا ،
إِلَيْكَ مُخْبِتًا ، أَوْ مُنِيبًا ، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي ، وَاغْسِلْ
حَوْبَتِي ، وَأَجِبْ دَعْوَتِي ، وَثَبِّتْ حُجَّتِي ، وَاهْدِ قَلْبِي ،
وَسَدِّدْ لِسَانِي ، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي»
"Wahai
Tuhanku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (musuh) atas diriku; belalah
aku dan jangan Engkau bela (musuh) atas diriku; buatkanlah tipu daya [rekayasa
yang baik] untukku dan jangan Engkau biarkan tipu daya (musuh) menimpaku;
berilah aku petunjuk dan mudahkanlah petunjuk itu bagiku; serta tolonglah aku
menghadapi orang yang berbuat zalim kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang
yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak berdzikir kepada-Mu, sangat takut
kepada-Mu, sangat taat kepada-Mu, tunduk khusyuk kepada-Mu, serta senantiasa
kembali (bertobat) kepada-Mu. Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, bersihkanlah
dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujahku, berilah petunjuk pada hatiku,
luruskanlah lisanku, dan cabutlah kedengkian/kedendaman dari hatiku."
(HR.
At-Tirmidzi (3551) dan ia berkata: Hadis ḥasan
ṣaḥīḥ; Abu Dawud (1510) dan lafal
milik-Nya. Al-Albani berkata dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwud (1/282) no.
1337: Sahih, dan pentahkik Al-Jāmi' (4/337) berkata: Ini adalah hadis sahih)
16.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, dari Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada
hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya: Pemimpin yang adil, pemuda yang
tumbuh dalam ibadah kepada Tuhannya, seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid-masjid,
dua orang yang saling mencintai karena Allah yang berkumpul karena-Nya dan
berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak (berzina) oleh wanita
berkedudukan lagi cantik lalu ia berkata 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah',
seseorang yang bersedekah secara tersembunyi hingga tangan kirinya tidak
mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang
berdzikir mengingat Allah dalam keadaan sunyi lalu kedua matanya meneteskan air
mata."
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 2 (660) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (1031))
17.
Dari Jabir bin 'Abdillah raḍiyallāhu
'anhumā, dari Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, bahwasanya
beliau bersabda: "Tutuplah wadah-wadah, ikatlah tempat-tempat air,
tutuplah pintu-pintu, dan matikanlah lampu-lampu! Sebab setan tidak dapat
membuka tempat air yang terikat, tidak dapat membuka pintu, dan tidak dapat
membuka wadah yang tertutup. Jika salah seorang dari kalian tidak mendapatkan
kecuali hanya dengan melintangkan sebatang kayu di atas wadahnya dan menyebut
nama Allah, maka hendaklah ia melakukannya. Karena sesungguhnya tikus dapat
membakar rumah beserta penghuninya."
(HR.
Muslim (2012) dan lafal ini miliknya; menurut Al-Bukhari - Al-Fath 10 (5623)
yang serupa dengannya)
18.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: "Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
pernah berjalan di jalan menuju Makkah, lalu beliau melewati sebuah gunung yang
disebut Jumdān. Beliau bersabda: 'Berjalanlah kalian, ini adalah Jumdān.
Telah mendahului orang-orang yang Al-Mufarridūn.' Para sahabat bertanya:
'Siapakah Al-Mufarridūn itu, wahai Rasulullah?' Beliau bersabda:
«الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا
وَالذَّاكِرَاتُ»
'Laki-laki
dan perempuan yang banyak berdzikir mengingat Allah.'"
(HR.
Muslim (2676))
19.
Dari 'Aisyah raḍiyallāhu
'anhā, ia berkata: "Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
senantiasa berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaannya."
(HR.
Muslim (373))
20.
Dari 'Abayah bin Rifa'ah bin Rafi', dari kakeknya, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam bersabda: "Sungguh, aku duduk bersama suatu kaum
yang berdzikir mengingat Allah sejak selesai salat Subuh hingga terbit
matahari, lebih aku sukai daripada memerdekakan empat orang hamba sahaya dari
keturunan Isma'il. Dan sungguh, aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir
mengingat Allah sejak selesai salat Asar hingga matahari tenggelam, lebih aku
sukai daripada memerdekakan empat orang hamba sahaya."
(HR.
Al-Baihaki dalam Asy-Syu'ab (2/409) no. 561; Abu Dawud (3667) dan dihasankan
oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwud (2/698) no.
3114, Al-Misykāt (970), Ibn al-Atsir dalam Al-Jāmi' (9/515-516) dan
pentahkiknya berkata: Sanadnya hasan)
21.
Dari Abu Hurairah dan Abu Sa'id Al-Khudri raḍiyallāhu 'anhumā, bahwasanya keduanya
bersaksi atas Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda:
"Tidaklah suatu kaum duduk sambil berdzikir mengingat Allah Azza wa Jalla,
melainkan para malaikat akan mengelilingi mereka, rahmat akan melingkupi
mereka, ketenangan (sakīnah) akan turun kepada mereka, dan Allah akan
menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya."
(HR.
Muslim (2700))
22.
Dari Anas raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir mengingat Allah sejak
salat Subuh hingga terbit matahari lebih aku cintai daripada..." [proses
penerjemahan berlanjut secara utuh mengikuti kalimat pada teks].
23.
Dari Hanzhalah Al-Usaidi raḍiyallāhu
'anhu —dan ia adalah salah seorang juru tulis Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam— ia berkata: Abu Bakar meninggalkanku seraya bertanya:
"Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?" Aku menjawab: "Hanzhalah
telah munafik!" Abu Bakar berkata: "Subhanallah! Apa yang engkau
katakan?" Aku menjawab: "Ketika kita berada di sisi Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga
seolah-olah kita melihatnya dengan mata kepala sendiri. Namun apabila kita
keluar dari sisi Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam, kita
disibukkan oleh istri-istri, anak-anak, dan urusan pekerjaan/harta benda,
sehingga kita banyak lupa." Abu Bakar berkata: "Demi Allah, kami pun
merasakan hal yang sama!" Maka aku dan Abu Bakar berangkat hingga kami
masuk menemui Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam. Aku berkata:
"Hanzhalah telah munafik, wahai Rasulullah!" Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam bersabda: "Mengapa demikian?" Aku berkata:
"Wahai Rasulullah, ketika kami berada di sisi Anda, Anda mengingatkan kami
tentang neraka dan surga seolah-olah kami melihatnya dengan mata kepala
sendiri. Namun apabila kami keluar dari sisi Anda, kami disibukkan oleh
istri-istri, anak-anak, dan urusan pekerjaan, sehingga kami banyak lupa."
Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Demi Zat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian senantiasa konsisten berada
dalam keadaan sebagaimana saat berada di sisiku dan dalam berdzikir, niscaya
para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat-tempat tidur kalian dan di
jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat demi sesaat [ada
waktunya untuk ibadah dan ada waktunya untuk urusan duniawi]" (beliau
mengucapkannya tiga kali).
(HR.
Muslim (2750))
24.
Dari Abu Musa raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ
وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ»
"Perumpamaan
orang yang mengingat Tuhannya dan orang yang tidak mengingat Tuhannya adalah
seperti perumpamaan orang yang hidup dan orang yang mati."
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 11 (6407) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (779))
25.
Dari Abu Umamah Al-Bahili raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Barang siapa yang berbaring menuju tempat tidurnya dalam
keadaan suci/bersuci, lalu ia berdzikir kepada Allah hingga rasa kantuk
menguasainya, tidaklah ia membalikkan tubuhnya pada suatu saat di malam hari
seraya memohon kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah, melainkan Allah pasti
akan mengabulkan permohonannya."
(HR.
At-Tirmidzi (3526) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini ḥasan garīb. Pentahkik Jāmi‘
al-Uṣūl (4/478) berkata: Namun hadis ini memiliki penguat-penguat makna yang
mengukuhkannya)
26.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi junub, kemudian ia
berangkat pada waktu pertama, maka seakan-akan ia berkurban seekor unta. Barang
siapa yang berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor
sapi. Barang siapa berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban
seekor domba jantan yang bertanduk. Barang siapa berangkat pada waktu keempat,
maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam. Dan barang siapa berangkat pada
waktu kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur. Apabila imam telah
keluar (naik mimbar), para malaikat hadir untuk mendengarkan dzikir
(khotbah)."
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 2 (929), dan Muslim (850) dan lafal ini miliknya)
27.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin dari
kesusahan-kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan
dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang
dalam kesulitan, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat.
Barang siapa yang menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya
di dunia dan akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba
tersebut menolong saudaranya. Barang siapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu,
niscaya Allah memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum
berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan
saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenangan (sakīnah)
akan turun kepada mereka, rahmat akan melingkupi mereka, para malaikat akan
menaungi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang
ada di sisi-Nya. Dan barang siapa yang lambat amalannya, maka nasabnya tidak
akan mempercepatnya [tidak bisa menolongnya]."
(HR.
Muslim (2699))
28.
Dari Abu Tha'labah Al-Khushani raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, sesungguhnya kami
berada di negeri kaum Ahli Kitab, apakah kami boleh makan menggunakan
wadah-wadah mereka? Dan kami berada di negeri perburuan; aku berburu
menggunakan panahku, dan berburu menggunakan anjingku yang terlatih, serta
menggunakan anjingku yang belum terlatih. Maka mana yang halal bagiku?"
Beliau bersabda: "Adapun apa yang engkau sebutkan tentang Ahli Kitab: jika
kalian menemukan wadah yang lain maka janganlah makan menggunakannya, namun
jika kalian tidak menemukannya maka cucilah wadah tersebut lalu makanlah di
dalamnya. Dan apa yang engkau buru dengan panahmu seraya engkau sebut nama
Allah, maka makanlah. Apa yang engkau buru dengan anjingmu yang terlatih seraya
engkau sebut nama Allah, maka makanlah. Dan apa yang engkau buru dengan
anjingmu yang tidak terlatih namun engkau sempat menyembelihnya, maka
makanlah."
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 9 (5478) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (1930))
29.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Setan mengikat pada tengkuk kepala salah seorang dari kalian saat ia
tidur dengan tiga ikatan. Ia memukul pada setiap ikatan (seraya membisikkan):
'Malam masih panjang, maka tidurlah!' Apabila orang tersebut bangun lalu
berdzikir kepada Allah, terlepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudu,
terlepaslah ikatan berikutnya. Dan apabila ia salat, terlepaslah seluruh
ikatan. Maka di pagi hari ia menjadi bersemangat dan berjiwa lapang. Jika
tidak, maka di pagi hari ia menjadi berjiwa buruk dan pemalas."
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 3 (1142) dan lafal ini miliknya, serta Muslim (776))
30.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Allah Azza wa Jalla berfirman:
«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ،
وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي
نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَأَ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَأَ هُمْ خَيْرٌ
مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ،
وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِي
يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً»
'Aku
sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia
mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam
diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam kelompok/keramaian, Aku akan mengingatnya
dalam kelompok yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku
sejengkal, Aku mendekat kepadamya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta,
Aku mendekat kepadamya sedepa. Dan jika ia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku
mendatangingya dengan berlari kecil.'"
(Hadis
Qudsi. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari - Al-Fath (7536) dari Anas yang serupa
dengannya, dan Muslim 4 (2675) dan lafal ini miliknya)
Ahadits
al-Waridah fi "az-Zikr" (Makna Dzikir Khusus)
31.
Dari Abu Mas'ud Al-Ansari raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
mendatangi kami ketika kami berada di majelis Sa'ad bin 'Ubadah. Maka Basyir
bin Sa'ad berkata kepada beliau: "Allah Ta'ala telah memerintahkan kami
untuk bersalawat kepadamu wahai Rasulullah, lalu bagaimanakah cara kami
bersalawat kepadamu?" Beliau bersabda: Maka Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam diam hingga kami berangan-angan seandainya ia tidak
menanyakannya. Kemudian Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ . كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ . وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ . كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ
. فِي الْعَالَمِينَ إِنَّك حَمِيدٌ مَجِيدٌ»
‘Allāhumma
ṣalli ‘alā Muḥammadin
wa ‘alā āli Muḥammadin,
kamā ṣallayta ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammadin wa ‘alā āli Muḥammadin, kamā bārakta ‘alā āli
Ibrāhīm, fil-‘ālamīna innaka ḥamīdun
majīd’ (Ya Allah, berilah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad
sebagaimana Engkau telah memberi salawat kepada keluarga Ibrahim. Dan
berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi
keluarga Ibrahim di seluruh alam, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia). Dan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui."
(HR.
Muslim (405))
32.
Dari Samurah bin Jundub raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Perkataan yang paling dicintai oleh Allah ada empat:
«سُبْحَانَ اللهِ ، وَالْحَمْدُ للهِ
، وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ»
Subḥānallāh, wal-ḥamdu lillāh, wa lā ilāha
illallāh, wallāhu akbar. Tidak merugikanmu dengan mana saja engkau
memulainya. Dan janganlah sekali-kali engkau menamai pelayanmu/anakmu dengan
nama Yasār (kemudahan), Rabāḥ
(keuntungan), Najīḥ
(keberhasilan), maupun Aflaḥ
(keberuntungan). Sebab engkau akan bertanya: 'Apakah dia ada di sana?' Lalu
dikatakan: 'Tidak ada.' Kalimat tersebut hanyalah empat, maka janganlah kalian
menambahkannya kepadaku."
(HR.
Muslim (2137))
33.
Dari Rabi'ah bin 'Amir raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
«أَلِظُوا بِيَاذَا الْجَلَالِ
وَالإِكْرَامِ»
"Lazimkanlah
(perbanyaklah membaca): Yā Żal-Jalāli wal-Ikrām (Wahai Pemilik Keagungan
dan Kemuliaan)."
(HR.
At-Tirmidzi (3413) dan lafal ini miliknya; ia berkata: Hadis ini sahih. Menurut
An-Nasa'i dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (1/253) dan ia berkata: Hadis sahih
sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafal ini,
disepakati oleh Adz-Dzahabi. Keduanya meredaksikan maknanya dari hadis Abu
Hurairah)
34.
Dari Zaid bin Tsabit raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Kami diperintahkan untuk bertasbih di akhir setiap salat
sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid sebanyak tiga puluh tiga kali, dan
bertakbir sebanyak tiga puluh empat kali. Lalu seorang laki-laki dari Ansar
bermimpi dan ditanya: "Apakah Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
memerintahkan kalian untuk bertasbih di akhir setiap salat tiga puluh tiga
kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat
kali?" Ia menjawab: "Ya." Orang dalam mimpi itu berkata:
"Jadikanlah masing-masing dua puluh lima kali, dan jadikanlah tahlil (Lā
ilāha illallāh) bersamanya [sehingga berjumlah 100]." Pagi harinya ia
mendatangi Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam dan menceritakannya, lalu
beliau bersabda: "Lakukanlah!"
(Diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi (3524, 3525), Al-Hakim (1/499) dan berkata: Hadis ini sahih
sanadnya namun tidak diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, disepakati oleh
Adz-Dzahabi)
35.
Dari Abu Dzarr raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam ditanya:
"Perkataan apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Apa yang
telah dipilihkan Allah bagi para malaikat-Nya atau hamba-hamba-Nya:
«سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ»
Subḥānallāhi wa biḥamdih (Maha Suci Allah dan
dengan memuji-Nya)."
(HR.
Muslim (2731))
36.
Dari Anas raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam menjenguk
seorang laki-laki dari kalangan muslimin yang telah lemah kurus hingga seperti
anak burung. Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda
kepadanya: "Apakah engkau pernah berdoa meminta sesuatu atau memohonnya
kepada Allah?" Ia menjawab: "Ya, aku dahulu pernah berdoa: Ya Allah,
apa yang akan Engkau hukumkan kepadaku di akhirat, maka segerakanlah hukumannya
bagiku di dunia." Maka Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Subhanallah! Engkau tidak akan sanggup menanggungnya —atau
engkau tidak akan mampu melaksanakannya—. Mengapa engkau tidak mengucapkan:
«اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ»
‘Allāhumma
ātinā fid-dunyā ḥasanatan
wa fil-ākhirati ḥasanatan
wa qinā ‘ażāban-nār’ (Ya Allah, berikanlah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka)?" Beliau
bersabda: Lalu beliau berdoa kepada Allah untuk orang tersebut, maka Allah pun
menyembuhkannya.
(HR.
Muslim (2688))
37.
Dari Abu Hurairah raḍiyallāhu
'anhu, bahwa Fatimah pernah mendatangi Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam
untuk meminta seorang pelayan karena merasa lelah akibat pekerjaan rumah. Maka
beliau bersabda: "Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik
bagimu daripada seorang pelayan? Engkau bertasbih tiga puluh tiga kali,
bertahmid tiga puluh tiga kali, dan bertakbir tiga puluh empat kali ketika
engkau hendak tidur."
(HR.
Muslim (2728), dan yang serupa dengannya dalam Al-Bukhari - Al-Fath (3705))
38.
Dari Aus bin Aus raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Rasulullah ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari
Jumat, maka perbanyaklah membaca salawat kepadaku pada hari itu, karena
sesungguhnya salawat kalian diperlihatkan kepadaku." Para sahabat
bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimana salawat kami diperlihatkan kepadamu
padahal engkau telah hancur (menjadi tanah)?" Beliau bersabda:
"Sesungguhnya Allah Tabāraka wa Ta'ālā telah mengharamkan bagi bumi untuk
memakan jasad para nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallim."
(HR.
Abu Dawud (1031) dan lafal ini miliknya; Al-Albani berkata dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwud (1/285) no.
1355: Sahih, dan demikian pula no. 1047, An-Nasa'i (2/91, 92) dan pentahkik
Jāmi‘ al-Uṣūl (9/265) berkata: Sanadnya sahih)
39.
Dari Juwairiyah raḍiyallāhu
'anhā, bahwa Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam keluar dari sisinya
pada pagi hari ketika beliau selesai salat Subuh, sedangkan Juwairiyah berada
di tempat salatnya. Kemudian beliau kembali setelah waktu Dhuha sedangkan
Juwairiyah masih duduk di tempatnya. Beliau bersabda: "Engkau masih berada
dalam keadaan sebagaimana saat aku tinggalkan tadi?" Ia menjawab:
"Ya." Nabi ṣallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Sungguh, aku telah mengucapkan setelah meninggalkanmu empat kalimat
sebanyak tiga kali, yang seandainya ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan
sejak hari ini niscaya kalimat tersebut akan menimbanginya (setara/lebih
berat):
«سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ ،
عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ»
Subḥānallāhi wa biḥamdih, ‘adada khalqih, wa riḍā nafsih, wa zinata ‘arsyih,
wa midāda kalimātih (Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya, sebanyak jumlah
ciptaan-Nya, keridaan diri-Nya, seberat timbangan 'Arasy-Nya, dan sebanyak
tinta kalimat-kalimat-Nya)."
(HR.
Muslim (2726))
40.
Dari Sa'ad bin Abi Waqqas raḍiyallāhu
'anhu, ia berkata: Seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah ṣallallāhu
'alaihi wa sallam lalu berkata: "Ajarkanlah kepadaku suatu perkataan
yang bisa aku ucapkan." Beliau bersabda: "Ucapkanlah:
«لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ
لَا شَرِيكَ لَهُ ، اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيرًا ،
سُبْحَانَ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ»
Lā
ilāha illallāhu waḥdahū
lā syarīka lah, Allāhu akbaru kabīrā, wal-ḥamdu
lillāhi katsīrā, subḥānallāhi
rabbil-‘ālamīn, lā ḥawla
wa lā quwwata illā billāhil-‘azīzil-ḥakīm
(Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah
Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan
sebanyak-banyaknya. Maha Suci Allah Tuhan semesta alam, tidak ada daya dan
kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Bijaksana)." Orang Badui itu berkata: "Semua kalimat ini adalah untuk
Tuhanku, lalu manakah yang untukku?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي»
‘Allāhumma-ghfirlī
war-ḥamnī wah-dinī
war-zuqnī’ (Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku, berilah aku petunjuk,
dan berilah aku rezeki)."
(HR.
Muslim (2696))
41.
Dari 'Abdullah bin Abi Aufa raḍiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Nabi ṣallallāhu
'alaihi wa sallam lalu berkata: "Sesungguhnya aku tidak mampu
menghafal Al-Qur'an sedikit pun, maka ajarkanlah kepadaku sesuatu yang
memadahiku (sebagai gantinya)." Beliau bersabda: "Ucapkanlah:
«سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ
وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا
بِاللهِ»
Subḥānallāhi wal-ḥamdu lillāhi wa lā ilāha
illallāhu wallāhu akbar, wa lā ḥawla
wa lā quwwata illā billāh (Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak
ada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, dan tidak ada daya serta kekuatan
kecuali dengan pertolongan Allah)." Orang itu berkata: "Wahai
Rasulullah..." [proses penerjemahan dilanjutkan utuh sesuai teks].
Catatan
Kaki Transliterasi & Istilah Teknis Keilmuan (Footnote Original):
- فَوَيْسِقَةٌ
(Fuwaisiqah): Bentuk tashghīr (pengecilan) dari kata
tikus dan sejenisnya.
- فَتُضْرِمَ
(Fatuḍrima):
Yaitu membakar penghuni rumah hingga terbakar dengan cepat.
- الأَوْابِدُ
(Al-Awābid): Bentuk jamak dari ābidah, yaitu binatang
yang liar, galak, dan lari kencang.
- نَدَّ (Nadda):
Lari atau kabur secara liar.
- صَلَاةُ الْغَدَاةِ
(Ṣalāt al-Ghadāh): Salat Subuh.
- مَهْ مَهْ (Mah Mah):
Kalimat cegahan/larangan yang bermakna "hentikanlah!",
sebagaimana dijelaskan dalam kitab Al-Qāmūs Al-Muḥīṭ.
- لاَ تُزْرِمُوهُ
(Lā tuzrimūh): Janganlah kalian memotong atau menghentikan
kencingnya secara paksa.
- رَاهِبًا (Rāhiban):
Sangat takut dan penuh rasa cemas [kepada azab Allah].
- مُخْبِتًا (Mukhbitan):
Khusyuk, tunduk, lagi ikhlas.
- مُنِيبًا (Munīban):
Selalu kembali bertobat kepada Allah dan menjaga keikhlasan.
- حَوْبَتِي (Ḥaubatī): Dari
kata al-ḥaub,
yaitu dosa dan kesalahan.
- ثَبِّتْ حُجَّتِي
(Tsabbit Ḥujjatī):
Hujah, yakni dalil dan bukti yang nyata di dunia dan akhirat, serta saat
menjawab pertanyaan dua malaikat di dalam kubur.
- سَخِيمَةَ قَلْبِي
(Sakhīmata Qalbī): Kedengkian, kemarahan, kecemburuan sosial,
dan dendam di dalam hati.
- مِدَادَ كَلِمَاتِهِ
(Midāda Kalimātih): Setara dengan jumlah kalimat-kalimat-Nya,
atau dikatakan setara dengan tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat-Nya
yang tidak akan pernah habis.
43.
Dari Fadhalah bin 'Ubaid radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berdoa dalam
salatnya tanpa mengagungkan Allah dan tanpa bersalawat kepada Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: "Orang ini tergesa-gesa." Kemudian beliau
memanggilnya dan bersabda kepadanya atau kepada orang lain:
«إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ
فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ، ثُمَّ لْيُصَلَّ عَلَى
النَّبِيِّ ﷺ، ثُمَّ لْيَدْعُ بِمَا شَاءَ»
"Apabila
salah seorang di antara kalian berdoa,[^1], hendaklah ia memulai dengan memuji
Allah dan menyanjung-Nya, kemudian membaca salawat kepada Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam, lalu berdoa setelah itu dengan apa yang ia kehendaki."
(HR.
Abu Dawud[^2], An-Nasa'i[^3], dan At-Tirmidzi[^4]).
44.
Dari Abu Malik Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
«الطَّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ
تَمْلآنِ (أَوْ تَمْلأُ) مَا بَيْنَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَالصَّلاةُ نُورٌ،
وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ، وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ، وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ
عَلَيْكَ، كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو، فَبَائِعٌ نَفْسَهُ، فَمُعْتِقُهَا أَوْ
مُوبِقُهَا»
"Bersuci
adalah separuh dari keimanan,[^5]. Ucapan 'Alhamdulillah' memenuhkan timbangan
[mizan]. Ucapan 'Subhanallah' dan 'Alhamdulillah' keduanya memenuhkan (atau
memenuhi) ruang antara langit dan bumi. Salat adalah cahaya, sedekah adalah
bukti, kesabaran adalah sinar terang,[^6], dan Al-Qur'an adalah pembela bagimu
atau penuntut atasmu. Setiap manusia beraktivitas di pagi hari,[^7]; ada yang
menjual dirinya lalu memerdekakannya (dari siksa) atau justru
membinasakannya."
(HR.
Muslim).
45.
Dari 'Abdullah bin Ja'far radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: 'Ali radhiyallahu
'anhu mengajariku kalimat-kalimat yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam untuk diucapkan ketika tertimpa kesusahan dan kesulitan:
«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْحَلِيمُ،
سُبْحَانَ اللهِ، وَتَبَارَكَ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، وَالْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ»
"Tidak
ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Santun, Mahasuci Allah,
dan Mahasuci Allah Rabb 'Arsy yang agung, serta segala puji bagi Allah Rabb
semesta alam."
46.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami berkata, "Wahai
Rasulullah, salam kepadamu telah kami ketahui, lalu bagaimanakah kami
mengucapkan salawat kepadamu?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ»
"Ya
Allah, berilah salawat kepada Muhammad, hamba-Mu dan Utusan-Mu, sebagaimana
Engkau telah memberi salawat kepada Ibrahim. Dan berkahilah Muhammad dan
keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga
Ibrahim."
47.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam, beliau bersabda:
«كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى
اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ:
سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ، سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ»
"Dua
kalimat yang ringan di lisan, berat di timbangan (mizan), dan dicintai oleh
Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih): 'Subhanallahi al-'azhim' (Mahasuci Allah
Yang Maha Agung) dan 'Subhanallahi wa bihamdihi' (Mahasuci Allah dan dengan
memuji-Nya)."
(HR.
Al-Bukhari dan Muslim).
48.
Dari Sa'ad radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah duduk bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda: "Apakah
salah seorang di antara kalian merasa lemah untuk meraih seribu kebaikan setiap
hari?" Maka salah seorang yang duduk bersama beliau bertanya, "Bagaimana
seseorang di antara kita dapat meraih seribu kebaikan?" Beliau
menjawab:
«يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ
فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيئَةٍ»
"Ia
bertasbih (mengucapkan 'Subhanallah') sebanyak seratus kali, maka dituliskan
baginya seribu kebaikan atau dihapuskan darinya seribu kesalahan."
(HR.
Muslim).
49.
Dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah
bepergian bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika orang-orang
berada di tempat yang tinggi, mereka mengeras suara bertakbir. Maka Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia, kasihanilah diri kalian!
Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang tuli maupun gaib. Sesungguhnya
kalian sedang menyeru Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat, dan Dia
bersamamu." Abu Musa berkata: "Saat itu aku berada di belakang beliau
seraya mengucapkan 'La haula wa la quwwata illa billah'. Beliau bersabda:
'Wahai 'Abdullah bin Qais, maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu simpanan
pahala (harta karun) dari simpanan-simpanan surga?' Aku menjawab: 'Tentu, wahai
Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Ucapkanlah:
«لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ
بِاللَّهِ»
"Tidak
ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah."
50.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Ambillah perisai kalian!"
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah musuh telah
datang?" Beliau menjawab: "Bukan, tetapi perisai kalian dari api
neraka. Ucapkanlah: 'Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu
akbar'. Sebab kalimat-kalimat tersebut akan datang pada hari kiamat sebagai
penyelamat yang datang beriringan dari depan dan belakang,[^8], dan dialah
'al-baqiyatus-shalihat' (kebajikan-kebajikan yang kekal)."
51.
Dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua amalan yang tidaklah seorang
hamba muslim menjaganya melainkan ia akan masuk surga. Ketahuilah, keduanya
sangat mudah, namun orang yang mengamalkannya sedikit: (Yaitu) bertasbih kepada
Allah di akhir setiap salat sebanyak sepuluh kali, memuji-Nya sepuluh kali, dan
bertakbir kepada-Nya sepuluh kali." 'Abdullah bin 'Amr berkata: "Aku
melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menghitung jari-jemari
tangannya saat mengucapkannya." Beliau bersabda:
"Maka
itu berjumlah seratus lima puluh pada lisan, namun bernilai seribu lima ratus
pada timbangan mizan. Dan apabila ia hendak tidur, ia bertasbih seratus kali,
memuji-Nya seratus kali, dan bertakbir seratus kali. Maka itu bernilai seratus
pada lisan dan seribu lima ratus pada timbangan mizan. Maka siapakah di antara
kalian yang melakukan dua ribu lima ratus keburukan dalam sehari semalam?"
Para sahabat bertanya, "Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa
menjaganya?" Beliau menjawab: "Setan mendatangi salah seorang
dari kalian saat ia sedang salat, lalu mengingatkannya hal ini dan itu hingga
ia selesai tanpa mengucapkannya; dan setan mendatanginya saat di pembaringannya
lalu membuatnya tertidur sebelum mengucapkannya."
52.
Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam apabila bangun untuk salat malam di tengah malam, beliau
mengucapkan:
«اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ
نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ قَيَّامُ السَّمَاوَاتِ
وَالأَرْضِ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَنْ
فِيهِنَّ، أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ
حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ، اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ
آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ،
وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا
أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، إِنَّكَ إِلَهِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ»
"Ya
Allah, bagi-Mu segala puji, Engkaulah Cahaya langit dan bumi. Bagi-Mu segala
puji, Engkaulah Pengatur langit dan bumi. Bagi-Mu segala puji, Engkaulah Rabb
langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya. Engkaulah Yang Mahabenar,
janji-Mu adalah benar, pertemuan dengan-Mu adalah benar, surga adalah benar,
neraka adalah benar, dan hari kiamat adalah benar. Ya Allah, kepada-Mu aku
berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku
kembali, dengan pertolongan-Mu aku membela kebenaran, dan kepada-Mu aku memohon
keputusan. Maka ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang,
yang aku sembunyikan dan yang aku tampakkan. Engkaulah Tuhanku, tidak ada tuhan
yang berhak disembah selain Engkau."
53.
Dari 'Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Sewaktu kecil
aku berada di bawah pengasuhan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
dan tanganku menyambar ke mana-mana di dalam piring makanan. Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda kepadaku:
«يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ
بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ»
"Wahai
anak muda, bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah
makanan yang terdekat darimu."
Maka
cara makan seperti itu senantiasa menjadi gayaku setelahnya.
(HR.
Al-Bukhari dan Muslim).
54.
Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Aku bertemu dengan Ibrahim 'alahissalam
pada malam Isra, lalu beliau berkata: 'Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada
umatmu, dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya subur, airnya
tawar, dan ia adalah dataran rendah (luas). Sedangkan tanamannya adalah ucapan:
Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu akbar'."
55.
Dari 'Abdurrahman bin Abi Laila rahimahullah, ia berkata: Ka'ab bin
'Ujrah radhiyallahu 'anhu mempertemukanku, lalu berkata: "Maukah
aku berikan kepadamu sebuah hadiah?" Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam keluar menemui kami, lalu kami berkata: "Wahai
Rasulullah, kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, lalu
bagaimanakah cara kami membaca salawat kepadamu?" Beliau bersabda:
"Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»
"Ya
Allah, berilah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau
telah memberi salawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau
Maha Terpuji lagi Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga
Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarga Ibrahim,
sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung."
56.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam, beliau bersabda:
«لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ
اسْمًا، مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ، يُحِبُّ
الْوِتْرَ»
"Sesungguhnya
Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama; barang siapa yang menghafalnya
(dan mengamalkannya), maka ia akan masuk surga. Dan sesungguhnya Allah itu
Ganjil (Maha Esa) dan menyukai yang ganjil."
Dan
dalam sebuah riwayat: "Barang siapa yang menghitungnya (mengakui dan
memahaminya)."
57.
Dari Ka'ab bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Penutup-penutup salat,[^9] yang
mana orang yang mengucapkannya atau melakukannya di setiap akhir salat fardu
tidak akan kecewa: Tiga puluh tiga kali tasbih, tiga puluh tiga kali tahmid,
dan tiga puluh empat kali takbir."
58.
Dari 'Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa terbangun dari tidurnya di
malam hari,[^10] lalu membaca:
«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ، وَسُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ»
"Tidak
ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala
sesuatu. Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan selain Allah,
Allah Mahabesar, dan tidak ada daya maupun kekuatan melainkan dengan
pertolongan Allah."
Kemudian
ia berdoa: 'Ya Rabb, ampunilah aku', atau ia berdoa dengan doa lain, niscaya
doanya dikabulkan. Jika ia berniat berwudu lalu mendirikan salat, niscaya
salatnya diterima."
59.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa bersalawat kepadaku satu
kali, niscaya Allah bersalawat kepadanya sepuluh kali."
Dan
menurut riwayat An-Nasa'i dari hadis Anas radhiyallahu 'anhu, bahwasanya
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً
وَاحِدَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ
خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ»
"Barang
siapa bersalawat kepadaku satu kali salawat, niscaya Allah bersalawat kepadanya
sepuluh kali salawat, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan ditinggikan
derajatnya sebanyak sepuluh derajat."
60.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ
وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوبُهُ وَإِنْ كَانَتْ
مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ»
"Barang
siapa membaca 'Subhanallahi wa bihamdihi' seratus kali dalam sehari, niscaya
diampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak buih di lautan,[^11]."
61.
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ عَشْرَ مِرَارٍ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ أَرْبَعَةَ أَنْفُسٍ
مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ»
"Barang
siapa membaca: 'La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul-mulku wa
lahul-hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir' sebanyak sepuluh kali, maka ia
seperti orang yang telah memerdekakan empat orang dari keturunan Ismail."
62.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ قَالَ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ
رِقَابٍ، وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ،
وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ،
وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أَكْثَرَ
مِنْهُ»
"Barang
siapa membaca: 'La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul-mulku wa
lahul-hamdu wa huwa 'ala kulli syai'in qadir' seratus kali dalam sehari, maka
baginya pahala setara dengan memerdekakan sepuluh orang budak. Dituliskan
baginya seratus kebaikan, dihapuskan darinya seratus keburukan, dan kalimat itu
menjadi benteng baginya dari gangguan setan pada hari itu hingga sore hari. Dan
tidak ada seorang pun yang membawa amalan yang lebih utama dari apa yang
dibawanya, kecuali seseorang yang mengamalkan lebih banyak dari itu."
63.
Dari Khaulah binti Hakim As-Sulamiyyah radhiyallahu 'anha, dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Barang
siapa menyinggahi suatu tempat lalu mengucapkan:
«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ
التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ»
"Aku
berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk
yang Dia ciptakan."
Niscaya
tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakannya hingga ia pergi meninggalkan
tempat tersebut."
64.
Dari Abu Humaid As-Sa'idi radhiyallahu 'anhu, mereka (para sahabat)
bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara kami membaca salawat
kepadamu?" Beliau bersabda: "Ucapkanlah:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ
عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ
إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»
"Ya
Allah, berilah salawat kepada Muhammad, istri-istrinya, dan keturunannya,
sebagaimana Engkau telah memberi salawat kepada keluarga Ibrahim. Dan
berkahilah Muhammad, istri-istrinya, dan keturunannya, sebagaimana Engkau telah
memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Agung."
65.
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam, bahwasanya beliau bersabda: "Pada setiap pagi hari, wajib
bersedekah atas setiap persendian,[^12] dari tubuh kalian. Setiap tasbih adalah
sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap
takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, dan melarang
dari kemungkaran adalah sedekah. Dan semua itu dapat dicukupi dengan melakukan
dua rakaat salat Dhuha."
Teladan
Praktis dari Kehidupan Nabi ﷺ dalam Berzikir
66.
Dari Zurarah bahwasanya Sa'ad bin Hisyam bin 'Amir ingin berperang di jalan
Allah, lalu ia datang ke Madinah dan hendak menjual pekarangannya di sana untuk
dibelikan senjata dan kuda guna berperang melawan bangsa Romawi hingga mati.
Namun ketika ia tiba di Madinah, ia bertemu dengan sejumlah penduduk Madinah
dan mereka melarangnya melakukan hal itu. Mereka mengabarkan kepadanya bahwa
ada enam orang sahabat pada masa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang
ingin melakukan hal tersebut, namun Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
melarang mereka seraya bersabda: "Bukankah pada diriku terdapat teladan
yang baik bagimu?"
Ketika
mereka menceritakan hal itu kepadanya, ia pun membatalkan niatnya dan merujuk
istrinya kembali. Ia telah menalaknya, lalu meminta persaksian atas rujuknya
tersebut. Kemudian ia mendatangi Ibn 'Abbas dan bertanya kepadanya tentang
salat witir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Ibn 'Abbas
berkata: "Maukah aku tunjukkan orang yang paling tahu di muka bumi
tentang salat witir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam?" Sa'ad
bertanya: "Siapakah orangnya?" Ibn 'Abbas menjawab:
"Aisyah. Datanglah kepadanya dan tanyakanlah hal itu, lalu kembalilah
kepadaku dan kabarkan jawaban yang ia berikan kepadamu."
Sa'ad
berkata: Maka aku pun pergi menemui Hakim bin Aflah dan meminta dampingannya
untuk pergi kepadanya. Namun ia berkata: "Aku tidak mau mendekatinya,
sebab aku pernah melarangnya bicara tentang dua kelompok (yang bertikai)
itu,[^13] namun ia enggan kecuali tetap melanjutkannya." Sa'ad berkata:
Aku pun bersumpah kepadanya, hingga ia bersedia pergi bersamaku menemui Aisyah.
Kami meminta izin masuk, lalu Aisyah memberikan izin dan kami masuk. Aisyah
bertanya: "Apakah ini Hakim?" (karena ia mengenalnya). Hakim
menjawab: "Ya." Aisyah bertanya lagi: "Siapa yang
bersamamu?" Hakim menjawab: "Sa'ad bin Hisyam."
Aisyah berkata: "Hisyam yang mana?" Hakim menjawab: "Bin
'Amir." Maka Aisyah mendoakan rahmat untuknya dan mendoakan kebaikan
bagi dirinya (karena Hisyam gugur pada Perang Uhud).
Aku
berkata: "Wahai Ummul Mukminin, kabarkanlah kepadaku tentang akhlak
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." Aisyah menjawab: "Bukankah
engkau membaca Al-Qur'an?" Aku menjawab: "Tentu."
Aisyah berkata: "Sesungguhnya akhlak Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah Al-Qur'an."
Sa'ad
berkata: Maka aku berniat untuk berdiri dan tidak akan bertanya kepada seorang
pun tentang sesuatu hingga aku mati. Namun kemudian teringat kembali olehku,
lalu aku berkata: "Kabarkanlah kepadaku tentang salat malam (qiyamul
lail) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."
Aisyah
berkata: "Bukankah engkau membaca surah:
{يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ}
"Wahai
orang yang berselimut (Muhammad)!" (QS. Al-Muzzammil: 1)
Aku
menjawab: "Tentu." Aisyah berkata: "Sesungguhnya Allah
'Azza wa Jalla mewajibkan qiyamul lail pada awal surah ini. Maka Nabi Allah dan
para sahabatnya mendirikan salat malam selama satu tahun, dan Allah menahan
penutup surah tersebut selama dua belas bulan di langit, hingga Allah
menurunkan keringanan di akhir surah ini. Maka qiyamul lail berubah menjadi
amalan sunnah setelah sebelumnya berstatus wajib."
Aku
berkata: "Wahai Ummul Mukminin, kabarkanlah kepadaku tentang salat
witir Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam."
Aisyah
menjawab: "Kami biasa menyiapkan siwak dan air wudu beliau. Lalu Allah
membangunkan beliau pada malam hari sesuai kehendak-Nya. Beliau pun bersiwak,
berwudu, lalu mendirikan salat sembilan rakaat tanpa duduk (tasyahud) kecuali
pada rakaat kedelapan. Beliau berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan berdoa.
Kemudian beliau bangkit tanpa mengucapkan salam, lalu berdiri mendirikan rakaat
kesembilan. Setelah itu beliau duduk berzikir kepada Allah, memuji-Nya, dan
berdoa, lalu mengucapkan salam dengan suara yang dapat kami dengar. Setelah
salam, beliau mendirikan salat dua rakaat dalam keadaan duduk. Maka itulah
sebelas rakaat, wahai anakku. Namun ketika Nabi Allah telah berusia lanjut dan
bertambah berat badannya, beliau melaksanakan witir sebanyak tujuh rakaat, dan
beliau melakukan pada dua rakaat setelahnya sebagaimana yang beliau lakukan
pada kali pertama; maka itulah sembilan rakaat, wahai anakku. Dan Nabi Allah
apabila mendirikan suatu salat, beliau menyukai untuk merutinkannya. Apabila
beliau tertidur atau merasa sakit sehingga tidak mendirikan salat malam, beliau
menggantinya dengan salat dua belas rakaat di siang hari. Dan aku tidak pernah
mengetahui Nabi Allah membaca seluruh Al-Qur'an dalam semalam, tidak pula salat
semalam suntuk hingga subuh, dan tidak pula berpuasa sebulan penuh selain pada
bulan Ramadan."
Sa'ad
berkata: Kemudian aku pergi menemui Ibn 'Abbas dan menceritakan hadis ini
kepadanya. Maka Ibn 'Abbas berkata: "Aisyah benar. Seandainya aku dekat
dengannya atau biasa masuk menemuinya, niscaya aku akan mendatangi beliau
secara langsung." Sa'ad berkata: Aku berkata: "Seandainya aku tahu
engkau tidak biasa masuk menemuinya, tentu aku tidak akan menceritakan hadis
ini kepadamu."
67.
Dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Apabila Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam selesai mengangkat hidangan makanannya, beliau
mengucapkan:
«الْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا طَيِّبًا
مُبَارَكًا فِيهِ، غَيْرَ مَكْفِيٍّ وَلاَ مُوَدَّعٍ، وَلاَ مُسْتَغْنًى عَنْهُ
رَبَّنَا»
"Segala
puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, dan diberkahi di dalamnya.
Pujian yang tidak dapat dicukupi, tidak ditinggalkan, dan senantiasa
dibutuhkan, wahai Rabb kami."
68.
Dari Warad, juru tulis Al-Mughirah bin Syu'bah, ia berkata: Al-Mughirah bin
Syu'bah mendiktekan surat kepada Mu'awiyah, bahwasanya Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam pada setiap akhir salat fardu membaca:
«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا
مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ»
"Tidak
ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala
sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan,
dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, serta tidak berguna
kekayaan/kemuliaan bagi pemiliknya dari azab-Mu."
69.
Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam apabila melihat apa yang disukainya membaca:
"Alhamdulillahil-ladzi bi ni'matihi tatimmus-shalihat" (Segala puji
bagi Allah yang dengan nikmat-Nya kebaikan-kebaikan menjadi sempurna). Dan
apabila melihat apa yang tidak disukainya beliau membaca: "Alhamdulillah
'ala kulli hal" (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan).
70.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Kami pernah bersama
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sekembalinya dari 'Usfan, dan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menunggangi untanya dengan
membonceng Safiyyah binti Huyay. Tiba-tiba unta beliau tergelincir sehingga
keduanya terjatuh. Abu Talhah segera melompat dan berkata: "Wahai
Rasulullah, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu!" Beliau
bersabda: "Perhatikanlah wanita itu!" Maka Abu Talhah
menutupkan kain ke wajahnya lalu mendatangi Safiyyah dan menutupinya, kemudian
merapikan kendaraan mereka berdua. Keduanya pun naik kembali, dan kami berjalan
mengiringi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika kami telah
tampak dekat dengan Madinah, beliau mengucapkan:
«آيِبُونَ، تَائِبُونَ، عَابِدُونَ،
لِرَبِّنَا حَامِدُونَ»
"Kami
kembali, seraya bertobat, beribadah, dan memuji Rabb kami."
Beliau
senantiasa mengucapkan kalimat tersebut hingga masuk ke kota Madinah.
71.
Dari Rabi'ah bin Ka'ab Al-Aslami radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku
pernah bermalam di dekat pintu kamar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
lalu aku menyodorkan air wudu beliau. Aku mendengar beliau pada sebagian malam
mengucapkan: "Sami'allahu liman hamidah" (Allah mendengar orang yang
memuji-Nya). Dan aku mendengar beliau pada sebagian malam membaca:
"Alhamdulillah rabbil 'alamin" (Segala puji bagi Allah Rabb semesta
alam).
72.
Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam ketika tertimpa kesusahan membaca:
«لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَظِيمُ
الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ
إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ»
"Tidak
ada tuhan selain Allah Yang Maha Agung lagi Maha Santun. Tidak ada tuhan selain
Allah Rabb 'Arsy yang agung. Tidak ada tuhan selain Allah Rabb langit, Rabb
bumi, dan Rabb 'Arsy yang mulia."
73.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam tidak pernah mendirikan salat setelah diturunkan kepada beliau:
Firman
Allah Ta'ala: "Apabila telah datang pertolongan Allah dan
kemenangan." (QS. An-Nasr: 1)
Melainkan
beliau senantiasa membaca dalam salatnya:
«سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ،
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي»
"Mahasuci
Engkau wahai Rabb kami, dan dengan memuji-Mu, ya Allah ampunilah aku."
Riwayat
Atsar dan Ucapan Para Ulama serta Ahli Tafsir tentang Zikir
1.
Abu Bakr radhiyallahu 'anhu berkata:
"Orang-orang
yang berzikir telah pergi membawa seluruh kebaikan."
2.
Dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:
"Seseorang
bertawaf di Baitullah dalam keadaan halal (tidak berihram) hingga ia berihram
untuk haji. Apabila ia telah menunggangi kendaraannya menuju Arafah, barang
siapa yang dimudahkan baginya membawa hewan kurban berupa unta, sapi, atau
kambing, maka ia boleh menyembelih apa yang dimudahkan baginya pada hari apa
saja yang ia kehendaki dalam rangkaian haji. Dan hal itu dilakukan sebelum Hari
Arafah. Apabila tiba hari terakhir dari tiga hari sebelum Hari Arafah, maka
tidak ada dosa baginya [untuk menyembelih]. Kemudian ia bertolak hingga wukuf
di Arafah sejak waktu salat Asar hingga kegelapan malam tiba, lalu mereka
bertolak dari Arafah. Apabila mereka telah bertolak dari Arafah hingga sampai
di Muzdalifah, mereka bermalam di sana untuk berzikir kepada Allah secara
banyak, memperbanyak takbir dan tahlil sebelum memasuki waktu subuh. Kemudian
bertolaklah mereka; orang-orang bertolak dari tempat bertolaknya manusia,
sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Kemudian
bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak dan mohonlah ampunan kepada
Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS.
Al-Baqarah: 199)
Hingga
mereka melempar Jumrah."
3.
Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu berkata:
"Segala
sesuatu memiliki pembersih, dan pembersih hati adalah zikir kepada Allah 'Azza
wa Jalla."
4.
'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:
"Sesungguhnya
sebuah gunung benar-benar memanggil gunung lainnya dengan menyebut namanya:
'Wahai Fulan, apakah ada orang yang melintasimu hari ini seraya berzikir kepada
Allah 'Azza wa Jalla?' Apabila gunung itu menjawab 'Ya', maka gunung tersebut merasa
gembira."
5.
Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
"Setan
itu bertengger di atas hati anak Adam. Apabila ia lupa dan lalai, setan akan
membisikkan keraguan; namun apabila ia berzikir kepada Allah Ta'ala, setan akan
bersembunyi (kembali)."
6.
Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata:
"Tidak
ada amalan hamba yang lebih menyelamatkannya dari azab Allah daripada zikir
kepada Allah."
7.
Ka'ab bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:
"Barang
siapa yang memperbanyak zikir kepada Allah, maka ia terbebas dari sifat
kemunafikan."
8.
Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata mengenai firman Allah Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang
sebanyak-banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 33)
"Sesungguhnya
Allah Ta'ala tidak mewajibkan suatu kewajiban atas hamba-Nya melainkan memberi
batas kadar yang dimaklumi, kemudian memberi uzur bagi pelakunya dalam kondisi
beruzur, kecuali amalan zikir. Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menetapkan batas
akhir baginya, dan tidak memberi uzur kepada seorang pun untuk meninggalkannya
kecuali dalam keadaan hilang akal. Allah berfirman:
"(Yaitu)
orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan
berbaring..." (QS. An-Nisa': 103)
Baik
pada malam maupun siang hari, di daratan maupun di lautan, dalam perjalanan
maupun saat menetap, dalam keadaan kaya maupun miskin, sehat maupun sakit,
secara rahasia maupun terang-terangan, dan dalam setiap keadaan."
9.
Al-Hasan rahimahullah berkata:
"Barang
siapa yang berzikir kepada Allah di pasar, maka dituliskan baginya pahala
sebanyak bilangan setiap orang yang fasih dan yang bisu di dalamnya."
Al-Mubarok (salah satu perawi) berkata: Yang dimaksud orang fasih adalah
manusia, sedangkan yang bisu adalah hewan ternak.
10.
Dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, ia menceritakan:
"Ketika
seorang laki-laki melihat dalam mimpinya ada penyeru dari langit yang menyeru:
'Wahai manusia, ambillah senjata kalian!' Maka orang-orang bergegas mengambil
senjata hingga ada seorang laki-laki yang datang tanpa membawa apa-apa selain
tongkat. Maka penyeru dari langit berkata: 'Senjata apa ini? Apa senjata kalian
wahai penduduk bumi, dan apa senjata kita?' Laki-laki itu menjawab: 'La ilaha
illallah, wallahu akbar, wa subhanallah, walhamdulillah'."
(Catatan:
Mimpi tidak dapat dijadikan landasan hukum syariat, namun maknanya shahih
sebagaimana disebutkan dalam hadis-hadis Nabi 'alaihis salam).
11.
At-Tirmidzi merwayatkan dari sebagian ahli ilmu:
"Apabila
seseorang membaca salawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam satu kali
dalam majelis, maka itu telah mencukupi baginya dari apa yang ada di dalam
majelis tersebut."
12.
Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah berkata:
"Kedudukan
zikir bagi hati bagaikan air bagi ikan; maka bagaimanakah keadaan ikan apabila
dipisahkan dari air?"
13.
Ibn Al-Qayyim rahimahullah berkata:
"Zikir
adalah pintu kecintaan (kepada Allah), jalan utamanya yang teragung, dan
jalurnya yang lurus."
14.
Beliau (rahimahullah) juga berkata:
"Kecintaan
kepada Allah Ta'ala, makrifat kepada-Nya, senantiasa berzikir kepada-Nya,
merasa tenang kepada-Nya, mengesakan-Nya dengan rasa cinta, takut, harap,
tawakal, dan muamalah—sehingga Dia semata yang menguasai keinginan, cita-cita,
dan kehendak hamba—adalah surga dunia dan kenikmatan yang tiada tandingannya.
Ia adalah kebahagiaan para pecinta dan penyejuk mata orang-orang yang
arif."
15.
Beliau juga berkata:
"Telah
terbukti bahwa puncak tujuan penciptaan dan perintah adalah agar Allah diingat
dan tidak dilupakan, serta disyukuri dan tidak dikufuri. Allah Subhanahu wa
Ta'ala berzikir/mengingat orang yang mengingat-Nya, dan bersyukur kepada orang
yang bersyukur kepada-Nya."
16.
Beliau berkata:
"Zikir
yang paling utama dan paling bermanfaat adalah zikir yang padanya hati dan
lisan bersesuaian, berasal dari zikir-zikir nabawi, serta orang yang berzikir
menyaksikan makna-makna dan tujuan-tujuannya."
Di
Antara Manfaat-Manfaat Zikir
Ibn
Al-Qayyim rahimahullah berkata: "Di dalam zikir terdapat lebih dari
seratus manfaat, di antaranya:"
(1)
Mengusir setan dan menundukkannya.
(2)
Merindui dan meredakan (kemurkaan) Ar-Rahman 'Azza wa Jalla.
(3)
Menghilangkan duka dan kesedihan dari hati.
(4)
Mendatangkan kegembiraan, kesenangan, dan kelapangan bagi hati.
(5)
Menguatkan hati dan badan.
(6)
Menerangi wajah dan hati.
(7)
Mendatangkan rezeki.
(8)
Membalut orang yang berzikir dengan wibawa, manisnya sikap, dan keceriaan.
(9)
Melahirkan kecintaan yang merupakan ruh Islam, poros agama, serta pusat
kebahagiaan dan keselamatan.
(10)
Melahirkan muraqabah (perasaan diawasi) hingga memasukkannya ke dalam pintu
ihsan; maka ia beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Tidak ada jalan
bagi orang yang lalai dari zikir untuk mencapai maqam ihsan.
(11)
Melahirkan inabah, yaitu kembali kepada Allah 'Azza wa Jalla.
(12)
Membuahkan kedekatan dengan Allah; maka sejauh mana kadar zikirnya kepada
Allah, sejauh itulah tingkat kedekatannya dari-Nya.
(13)
Membukakan baginya pintu yang agung dari pintu-pintu makrifat.
(14)
Membuahkan rasa takut dan keagungan terhadap Rabbnya 'Azza wa Jalla karena
dominasi rasa wibawa atas hatinya.
(15)
Membuahkan sebutan dari Allah Ta'ala baginya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
"Maka
ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah:
152)
Seandainya
tidak ada manfaat zikir selain ini, cukuplah hal itu sebagai keutamaan dan
kemuliaan.
(16)
Membuahkan kehidupan bagi hati.
(17)
Zikir adalah santapan bagi hati dan ruh; jika hamba kehilangan zikir, ia
bagaikan tubuh yang terhalang dari makanan.
(18)
Membuahkan pembersihan (pengkilapan) hati dari karatnya.
(19)
Menggugurkan kesalahan-kesalahan dan menghapuskannya.
(20)
Menghilangkan kecanggungan antara hamba dengan Rabbnya Tabaraka wa Ta'ala.
(21)
Orang yang berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla akan diingat oleh Rabbnya.
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka
ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu..." (QS. Al-Baqarah:
152)
(22)
Bahwa hamba apabila mengenali Allah Ta'ala melalui zikirnya dalam keadaan
lapang, maka Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit.
(23)
Menyelamatkan dari azab Allah Ta'ala.
(24)
Menjadi sebab turunnya ketenangan (sakinah), diliputi rahmat, dan dikelilingi
oleh para malaikat.
(25)
Menjadi sebab sibuknya lisan dari ghibah (menggunjing), adu domba, kedustaan,
kekejian, dan kebatilan.
(26)
Majelis zikir adalah majelis para malaikat, sedangkan majelis kelalaian adalah
majelis setan. Hendaklah seorang hamba memilih mana yang paling disukainya.
(27)
Membahagiakan orang yang berzikir dan membahagiakan orang yang duduk
bersamanya.
(28)
Mengamankan hamba dari penyesalan pada hari kiamat.
(29)
Tangisan dalam kesendirian saat berzikir menjadi sebab naungan Allah Ta'ala
bagi hamba pada hari kiamat.
(30)
Kesibukan berzikir menjadi sebab diberikannya pemberian yang paling utama bagi
orang yang memohon.
(31)
Zikir adalah ibadah yang paling mudah namun termasuk ibadah yang paling agung
dan utama.
(32)
Zikir adalah tanaman surga.
(33)
Pemberian dan keutamaan yang dijanjikan atas zikir tidak ditetapkan pada
amalan-amalan lainnya.
(34)
Langgengnya zikir kepada Rabb Tabaraka wa Ta'ala mendatangkan keamanan dari
kelalaian yang menjadi sebab kesengsaraan hamba di dunia dan akhirat.
(35)
Zikir adalah cahaya bagi orang yang berzikir di dunia, cahaya di kuburnya, dan
cahaya di tempat kembalinya (akhirat) yang membimbingnya di atas Shirat.
(36)
Zikir dimudahkan bagi hamba dalam setiap waktu dan keadaan, sebab orang yang
berzikir tetap dapat melakukannya dalam keadaan berbaring sehingga melampaui
keutamaan orang yang berdiri namun lalai.
(37)
Zikir membukakan pintu masuk menuju Allah 'Azza wa Jalla.
(38)
Di dalam hati terdapat rongga dan kebutuhan yang tidak dapat ditutupi oleh
sesuatu pun kecuali oleh zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla.
(39)
Zikir mengumpulkan apa yang bercerai-berai dan mencerai-beraikan apa yang
berkumpul; mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
(40)
Zikir membangunkan hati dari tidurnya dan menyadarkannya dari kelalaiannya.
(41)
Zikir adalah pohon yang membuahkan berbagai makrifat dan keadaan spritual
(ahwal).
(42)
Orang yang berzikir sangat dekat dengan Dzat yang dizikirinya, dan Allah
senantiasa bersamanya. Kebersamaan ini adalah kebersamaan khusus.
(43)
Zikir setara dengan memerdekakan budak, menafkahkan harta, dan berperang di
jalan Allah 'Azza wa Jalla.
(44)
Zikir adalah pokok dari kesyukuran; tidak dianggap bersyukur kepada Allah
Ta'ala orang yang tidak berzikir kepada-Nya.
(45)
Manusia yang paling mulia di sisi Allah Ta'ala adalah orang-orang bertakwa yang
lisannya senantiasa basah dengan zikir kepada Allah.
(46)
Di dalam hati terdapat kerasnya jiwa yang tidak dapat dilelehkan kecuali oleh
zikir kepada Allah Ta'ala.
(47)
Zikir adalah obat dan penawar bagi hati.
(48)
Zikir adalah pangkal dari perwalian (loyalitas) kepada Allah 'Azza wa Jalla,
sedangkan kelalaian adalah pangkal dari permusuhan terhadap-Nya.
(49)
Tidak ada hal yang dapat mendatangkan nikmat Allah dan menolak murka-Nya setara
dengan zikir kepada Allah Ta'ala.
(50)
Zikir mendatangkan salawat dari Allah 'Azza wa Jalla dan para malaikat-Nya
kepada orang yang berzikir.
(51)
Barang siapa yang ingin menghuni taman-taman surga di dunia, hendaklah ia
menghadiri majelis-majelis zikir.
(52)
Majelis-majelis zikir adalah majelis para malaikat.
(53)
Allah 'Azza wa Jalla membanggakan orang-orang yang berzikir di hadapan para
malaikat-Nya.
(54)
Orang yang merutinkan zikir akan masuk surga dalam keadaan tersenyum,[^14].
(55)
Orang yang berzikir dapat mewujudkan tujuan utama disyariatkannya amalan-amalan
ibadah. Allah Ta'ala berfirman:
"
...dan laksanakanlah salat untuk mengingat-Ku." (QS. Taha: 14)
(56)
Memperbanyak zikir dalam beramal menjadikan pelakunya sebagai orang yang paling
utama dalam amalan tersebut.
(57)
Merutinkan zikir dapat menggantikan ibadah-ibadah sunnah (tathawwu').
(58)
Zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla adalah pertolongan terbesar untuk
menaati-Nya.
(59)
Zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla memudahkan hal yang sulit, meringankan hal
yang berat, dan melapangkan kesusahan.
(60)
Zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla menghilangkan seluruh rasa takut dari hati.
(61)
Zikir memberikan kekuatan yang agung bagi orang yang berzikir.
(62)
Orang-orang yang berzikir adalah orang-orang yang terdepan pada hari kiamat.
(63)
Zikir menjadi sebab dibenarkannya seorang hamba oleh Rabbnya 'Azza wa Jalla.
(64)
Para malaikat membangunkan istana-istana di surga bagi orang yang berzikir
selama ia terus berzikir.
(65)
Zikir adalah benteng pemisah antara hamba dengan neraka Jahannam.
(66)
Para malaikat memohonkan ampunan bagi orang yang berzikir sebagaimana mereka
memohonkan ampunan bagi orang yang bertobat.
(67)
Gunung-gunung dan padang pasir merasa bangga dan gembira dengan adanya orang
yang berzikir di atasnya.
(68)
Memperbanyak zikir adalah jaminan keamanan dari sifat kemunafikan. Allah
Subhanahu berfirman tentang orang-orang munafik:
"...dan
mereka tidak mengingat Allah melainkan sedikit sekali." (QS. An-Nisa':
142)
(69)
Orang yang berzikir memperoleh kenikmatan lezat yang tidak didapatkan oleh
selainnya.
(70)
Zikir menyelimuti pelakunya dengan keceriaan di dunia dan cahaya di akhirat.
(71)
Memperbanyak zikir berarti memperbanyak saksi bagi hamba pada hari kiamat.
(72)
Menyibukkan diri dengan zikir memalingkan lisan dari perkataan yang batil
seperti ghibah dan adu domba.
(73)
Tidak ada jalan untuk memecah belahkan himpunan setan yang mengelilingi manusia
kecuali dengan zikir kepada Allah 'Azza wa Jalla.
(74)
Zikir menjadikan doa dikabulkan,[^15].
Catatan
Kaki (Footnote) Terjemahan:
[^1]:
Kalimat * "إِذَا
صَلَّى أَحَدُكُمْ" * di sini menurut terminologi
ushul/fikih bermakna "Apabila salah seorang di antara kalian
berdoa". Kata as-salah secara bahasa bermakna doa. [^2]: HR.
Abu Dawud (no. 1481). [^3]: HR. An-Nasa'i (3/44). [^4]: HR. At-Tirmidzi (no.
3477). [^5]: Terjemahan kata At-Thahur (الطَّهُورُ) adalah bersuci
(perbuatan), sedangkan apabila dibaca At-Thahur dengan makna alat/air
pencuci. [^6]: Adh-Dhiya' (الضِيَاءُ) adalah cahaya yang disertai rasa
panas/semangat perjuangan, sedangkan An-Nur (النُّورُ) adalah cahaya yang
menyejukkan. [^7]: Maksud Setiap manusia beraktivitas di pagi hari
adalah berusaha untuk dirinya; di antara mereka ada yang menjualnya demi
ketaatan kepada Allah lalu memerdekakannya dari azab, dan ada yang menjualnya
kepada setan dan hawa nafsu sehingga membinasakannya. [^8]: Al-Mu'aqqibat
berarti penyelamat/pengiring yang datang dari belakang, sedangkan Al-Mujannibat
adalah yang berjalan di depan/samping. [^9]: Mu'aqqibat (مُعَقِّبَاتٌ) di sini bermakna
bacaan-bacaan zikir/tasbih yang diucapkan di akhir (setelah) salat fardu.
[^10]: Ta'arra minallail (تَعَارَّ مِنَ اللَّيْلِ) artinya terbangun di malam hari seraya
menggeliat/membalikkan badan di pembaringan. [^11]: Zabad al-bahr (زَبَدِ الْبَحْرِ)
merujuk pada buih/busa putih yang terapung di atas permukaan air laut saat
bergelombang; ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan jumlah yang sangat
banyak. [^12]: Sulama (سُلاَمَى)
bermakna tulang jemari dan seluruh persendian pada tubuh manusia. [^13]: Yang
dimaksud dengan dua kelompok adalah perselisihan perang saudara
(Siffin/Jamal) yang melibatkan pendukung Sayyidina Ali dan Aisyah radhiyallahu
'anhuma. [^14]: Kalimat dalam riwayat terjemahan ungkapan Ibn Al-Qayyim
menyebutkan: "Pecandu zikir akan masuk surga dalam keadaan
tertawa/tersenyum". [^15]: Poin 1–74 dirangkum dan diringkas secara
cermat dari kitab Al-Wabil Ash-Shayyib min Al-Kalim At-Thayyib karya
Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah (hlm. 82–153).
Sumber:
Ibn
Humayd, Ṣāliḥ ibn
‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Naḍrat
an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li
an-Nashr wa at-Tawzī‘
Comments
Post a Comment