Asbaab Al-Jahiliyah (Sebab-Sebab Jahiliyah)

Sinopsis

Bila manusia tidak memegang kebenaran (Al-haq), maka ia pasti berada dalam kejahiliyahan. Kedua suasana ini selalu bertabrakan yang menjadikan individu berada di dalam Islam atau kejahiliyahan. Sebab-sebab seseorang menjadi jahiliyah adalah prasangka buruk pada Allah, merasa cukup, tak perlu hidayah, sombong, hawa nafsu, dan tradisi.

Mereka yang sombong, tak perlu hidayah, berprasangka buruk pada Allah, dan merasa dirinya cukup akan jauh dari kebenaran. Keadaan jahiliyah ini akan memunculkan prasangka jahiliyah, hukum jahiliyah, ibadah/pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah, tradisi jahiliyah, dan tngkah laku jahiliyah. Kejahiliyahan akan membawa manusia ke dalam kegelapan, kerusakan, kehancuran, kehinaan, dan kerugian yang besar.

1. Asbabul Jahili ah (Sebab-Sebab Kejahiliyahan)

Kejahiliyahan berarti kebodohan terhadap hidayah. Mereka yang jahil berarti tidak mau menerima hidayah atau melaksanakan sesuatu yang tidak mengikuti petunjuk hidayah Allah SWT. Selain disebabkan individu, kejahiliyahan sendiri itulah yang menutupi hidayah dengan tingkah laku dan kebiasaan yang menjauhkan dirinya dari ibadah Islam. Beberapa sebab individu menjadi jahiliyah adalah prasangka buruk pada Allah, merasa cukup, tak perlu hidayah, sombong, hawa nafsu, dan tradisi.

A. Dzonnu Suuk BiIIah (Berprasangka Buruk Kepada Allah)

Memberikan pandangan yang keliru pada segala keputusan Allah dan terhadap apa-apa yang difirmankan-Nya adalah sikap yang tidak mengimani Allah SWT. Kecenderungan untuk berprasangka buruk ini diawali dengan hati yang kotor dan dipenuhi oleh maksiat, sehingga ia tidak menerima takdir Allah. Sesuatu yang Allah turunkan dianggap negatif dan kurang baik. Misalnya ketika diberi huj an ia mengeluh dan marah kenapa hujan turun terus-menerus, namun ketika diberi panas ia juga mengeluh karena kepanasan. Begitupun dalam hal rezeki, kesehatan, jodoh, dan sebagainya. Menyangka bahwa hukum Allah tidak sesuai lagi dengan zaman dan tidak berperikemanusiaan juga termasuk persangkaan yang j ahil. Keadaan demikian akan menjauhkan kita dari Allah SWT.

Dalil

Q.48:6. Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik lelaki dan perempuan dan orang-orang musyrik lelaki dan perempuan yang berprasangka buruk terhadap Al­lah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka jahannam; sedang neraka jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Q.24:50. Apakah (ketidakdatangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim (disebabkan keraguan dan kekufuran mereka).

B. Al Istighna (Merasa Tak Perlu Hidayah)

Mereka yang sudah mapan kehidupannya dan terpenuhi segala keperluannya akan merasa cukup dengan kondisi tersebut dan enggan menerima sesuatu yang baru dari pihak luar. Apabila datang sesuatu yang baru untuk memperbaiki kehidupannya mereka akan menjawab "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati dari nenek moyang kami yang telah mengerjakannya". Kebiasaan yang sudah tumbuh mengakar di masyarakat ini menjadikan seseorang sulit untuk merubah dan menerima kritik atau komentar dari luar. Merasa cukup dan tidak memerlukan hidayah adalah sikap yang muncul dari keadaan ini. Seperti pada orang tua yang biasanya lebih sulit menerima sesuatu karena merasa mempunyai lebih banyak pengalaman dibandingkan dengan mereka yang masih muda. Sedangkan mereka yang muda lebih mudah menerima sesuatu yang baru walau cenderung lebih mengikuti sesuatu yang menyenangkan.

Dalil

Q.96:6-7. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar­benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.

Q.5:104. Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah (Al Quran), dan kepada Rasul-Nya", mereka menjawab: "Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya". Apakah (mereka akan mengikuti juga) sekalipun nenek moyang mereka tidak mengetahui apa­apa dan tidak pula mendapat hidayah?

Q.31:21. Dan apabila dikatakan kepada mereka (yang ingkar): "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah" mereka menjawab:" (Tidak), bahkan Kami hanya mengikuti apa yang Kami dapati nenek moyang kami melakukannya". Patutkah mereka (mengikuti nenek moyangnya) sekalipun syaitan mengajak mereka ke dalam siksa api neraka yang menyala-nyala?

C. Al Istikbar (Sombong)

Merasa lebih hebat termasuk perasaan iblis dan orang kafir. Perasaan ini akan menjauhkan seseorang dari hidayah Al­lah SWT. Pada saat seseorang merasa dirinya lebih baik dibandingkan dengan orang lain, maka sesungguhnya pada saat itu juga ia merendahkan dan menghinakan orang lain. Perbuatan ini dilarang oleh Islam, namun demikian sifat demikian masih banyak ditemui di kalangan umat Islam. Sombong akan menutupi hati kita untuk menerima perbaikan dan merubah diri ke arah yang lebih baik. Kesombongan jahiliyah biasanya dengan membanggakan diri melalui potensi dan rupanya saja. Namun Islam melihat kebaikan dan kehebatan berdasarkan ketakwaan, bukan zahirnya semata. Iblis misalnya pernah menyebutkan ia yang diciptakan dari api lebih hebat dibandingkan manusia yang diciptakan oleh tanah. Begitupun pemuka-pemuka kafir Quraiys yang tidak menerima Islam karena kesombongan mereka. Bahkan mereka selalu menyatakan bahwa pengikut Muhammad SAW adalah dari mereka yang miskin, hina, dari golongan budak, dan tidak terhormat. Dengan kesombongan ini mereka memandang bahwa manusia mengikuti kriteria yang nampak dan berorientasi kepada materi.

Dalil

Q.7:12. Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripada Adam, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah."

Q.38: 75-76. Allah berfirman: "Hai lblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada (Adam) yang telah Ku­ciptakan dengan kekuasaan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu dari golongan yang tertinggi?" Iblis menjawab: "Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah ".

Q. 11:27. Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihatmu (Hai Nuh) melainkan sebagai seorang manusia seperti kami; dan kami tidak melihat golongan yang mengikutimu melainkan orang-orang kami yang miskin dan berfikiran pendek; dan kami juga tidak melihatmu memiliki kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta".

D. Ar Ruhbaniyah Al Mubtadiah (Pendeta Yang Membuat Bidah)

Pendeta Nasrani membawa pengikutnya kepada bidah aqidah yaitu menjadikan mereka juga sebagai tuhan-tuhan mereka. Hal ini juga terjadi pada Ulama Suuk yang membawa pengikutnya kepada perkara-perkara bidah. Dalam prakteknya muncul kejahiliyahan dari segi kepercayaan yang dibawa oleh para guru, ustaz atau pendeta sesat sehingga para pengikutnya mengikuti tanpa disadarinya. Biasanya hal ini terjadi apabila kita mengikuti secara taqlid dan tanpa mempertimbangkannya dengan ilmu.

Dalil

Q.3:64. Katakanlah hai ahli kitab, marilah kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bawa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah".

Q.9:3 1. Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebaagai tuhan selain Allah dan juga mereka mempertuhankan Al Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

E. Al Ahwa (Hawa Nafsu)

Jahiliyah dapat disebabkan oleh hawa nafsu yang diperturutkan. Walaupun hawa nafsu merupakan bagian dari kehidupan manusia tetapi dalam Islam hawa nafsu harus dikendalikan oleh taqwa. Dengan pengendalian oleh taqwa, hawa nafsu tidak akan dijadikan sebagai tuhan-tuhan tandingan Allah SWT. Begitu banyak masyarakat saat ini memperturutkan hawa nafsunya sehingga menjadikan dirinya jahiliyah kembali. Mempertuhankan hawa nafsu seperti materi merupakan ciri dari masyarakat modem saat ini.

Dalil

Q.45:23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat. Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran.

F. At Taqolid (Taklid)

Kejahiliyahan artinya kebodohan berarti pula tidak mempunyai ilmu. Individu yang tidak berilmu adalah individu yang cendrung mengikuti sesuatu secara taqlid, sehingga kemungkinan yang diikutinya salah akan terjadi. Allah SWT melarang kita melakukan sesuatu tanpa ilmu karena pendengaran, penglihatan dan hati akan diminta pertanggungan jawabnya. Dalam memahami La Ilaha Illallah perlu didasari oleh ilmu sehingga kita dapat memahaminya secara benar dan tidak sesat. Akibat dari taqlid adalah ibadah dan tingkah laku kita menjadi jahiliyah.

Dalil

Q. 17:36. Dan janganlah kamu mengkiuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

2. Al Jahlu Anil Haq (Bodoh Terhadap Kebenaran)

Sebab-sebab kejahiliyahan ini akan menjadikan kebenaran sebagai sesuatu yang salah dan tidak benar. Pandangan terhadap Islam menjadi menyimpang dan kurang tepat. Dengan kejahiliyahan ini menjadikan individu muslim bersikap jahil seperti bertingkah laku yang tidak normal dan tidak mengikuti fitrah manusia. Kejahiliyahan ini biasanya memandang yang haq menjadi bathil, haram menjadi halal, salah menjadi benar, buruk menjadi indah, maksiat menjadi indah, dosa menjadi biasa. Sebaliknya, mereka melihat bathil menjadi benar, halal menjadi haram dan seterusnya. Beberapa produk jahiliyah adalah persangkaan jahiliyah, hukum jahiliyah, ibadah/pengabdian jahiliyah, kebanggaan jahiliyah, tradisi jahiliyah, clan tingkah laku/perhiasan jahiliyah

A. Dzonu Al Jahilyah (Persangkaan Jahiliyah)

Muslim saja terkadang memiliki persangkaan jahiliyah kepada Allah SWT, apalagi mereka yang kafir atau munafik. Persangkaan jahiliyah adalah persangkaan yang berdasarkan hawa nafsu dan sifat andai-andai. Di zaman nabi terdapat beberapa peristiwa yang memperlihatkan bagaimana para sahabat nabi mempunyai persangkaan jahiliyah atas ketentuan yang berlaku pada saat perang Uhud. Umat Is­lam waktu itu mengalami kekalahan dan banyak dari mereka yang gugur. Mereka putus asa dan menyangka Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti layaknya sangkaan or­ang-orang jahiliyah. Mereka berkata: "Adakah bagi kita sesuatu bagian dari pertolongan kemenangan yang dijanjikan itu?" Katakanlah (Hai Muhammad): "Sesungguhnya perkara (yang telah dijanjikan) itu semuanya tertentu bagi Allah, (Dia lah yang berkuasa melakukannya maka ikuti peraturan yang ditetapkanNya)". Semua ketentuan yang terjadi telah Allah SWT tentukan dan kita harus menerimanya dengan keimanan yang benar kepada Sang Penentu dan Sang Pembuat Keputusan yaitu Allah SWT.

Dalil

Q.48:6. Dan supaya Dia mengazab orang-orang orang­orang munafik lelaki dan perempuan, dan orang-orang musyrik lelaki dan perempuan, yang berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka seta menyediakan bagi mereka neraka jahannam, dan neraka jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.

Q.3:154. Kemudian setelah (kamu mengalami kejadian) yang mendukacitakan itu, Allah menurunkan kepada kamu perasaan aman, yaitu rasa kantuk yang meliputi segolongan dari kamu (yang ikhlas dan teguh imannya), sedang segolongan lain yang hanya mementingkan diri sendiri, menyangka terhadap Allah dengan sangkaan yang tidak benar, seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Adakah bagi kita sesuatu bagian dari pertolongan kemenangan yang dijanjikan itu?" Katakanlah (Hai Muhammad): "Sesungguhnya perkara (yang telah dijanjikan) itu semuanya di tangan Allah, (Dia lah saja yang berkuasa melakukan maka ikuti peraturan yang ditetapkan-Nya)". Mereka sembunyikan dalam hati mereka apa yang mereka tidak nyatakan kepadamu. Mereka berkata: "Kalaulah ada sedikit bagian bagi kita dari pertolongan yang dijanjikan itu, tentulah kita tidak akan dibunuh di tempat ini?" katakanlah (Hai Muhammad): "Kalau kamu berada di rumah kamu sekalipun niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan (oleh Allah) akan terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh". Dan (apa yang berlaku di medan perang Uhud itu) dijadikan oleh Allah untuk menguj i apa yang ada dalam dada kamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hati kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha mengetahui segala (isi hati) yang ada di dalam dada.

B. Hukmul Jahiliyah (Hukum Jahiliyah)

Mengikuti orang kafir dan menjadikannya sebagai pemimpin atau teman serta menyerahkan urusan kepadanya, akan memungkinkan kita mengikuti hukum atau ketentuan mereka yang jahiliyah. Hukum jahiliyah ini berlaku di banyak tempat dengan berbagai produk, misalnya dalam bidang ekonomi kita melihat praktek riba, dalam politik melalui demokrasi liberal, dalam kehidupan bermasyarakat seperti dalam penetapan hukum waris, perceraian, dan perkawinan. Hukum jahiliyah juga termasuk yang diamalkan oleh thaghut dalam menjalankan negara seperti perundang-undangan yang tidak merujuk kepada Islam. Hukum jahiliyah juga terdapat di dalam rumah dari segi penerimaan hukum tersebut dalam mengharungi kehidupan keluarganya. Or­ang kafir dan munafik senantiasa mengajak kita untuk jauh dari Islam melalui pelaksanaan hukum jahiliyah (bukan Is­lam). Manusia pada dasarnya telah diperintahkan supaya kufur dan ingkar kepada thaghut dan beriman kepada A lah tetapi kenyataannya mereka senang berhakim kepada thaghut. Dan syaitan pula senantiasa hendak menyesatkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.

Dalil

Q.5:51. Hai orang-orang yang beriman, j anganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu), karena sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunj uk kepada or­ang-orang yang zalim.

Q 4:60. Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman kepada Al Quran yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (Kitab-kitab) yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut. Dan syaitan bermaksud menyesalkan mereka dengan kesesatan yang amat jauh.

C. Ibadatul Jahiliyah (Pengabdian Jahiliyah)

Pengabdian jahiliyah adalah pengabdian pada selain Allah, seperti mengabdi kepada berhala-berhala, termasuk pada materi, hawa nafsu, pekerjaan, perempuan, harta, tahta, dan kecendenmgan kecenderungan manusia. Pengabdian berarti menyerahkan diri dan menjalankan tingkah laku yang menghambakan diri kepada sesuatu. Di dalam Al Quran Allah SWTtelah banyak memberikan contoh mereka yang mengabdi pada berhala dan hawa nafsu. Inilah ilah (tuhan) bagi orang-orang jahil. Penghambaan jahiliyah akan membuat hati tidak tenang karena apa yang dihambakannya bukanlah sesuatu yang tetap dan dapat menenukan. Selain itu, ilah yang disembah selain Allah tidak akan membuat pengikutnya puas. Penghambaan dan pengabdian jahiliyah dapat dilihat pada buku Makna Syahadatain dan Makrifatullah.

Dalil

Q.39:64. Katakanlah (hai Muhammad, kepada orang­orang musyrik itu: "Sesudah jelas dalil-dalil keesaan Al­lah yang demikian), patutkah kamu menyuruhku menyembah selain Allah, hai orang-orang yang jahil?"

D. Hamiyatul Jahiliyah (Kebanggaan Jahiliyah)

Orang kafir dikenal sangat angkuh dan sombong. Mereka tidak menerima dan mengakui bahwa segala kekuatan fisik, kepandaian, kekayaan, dan kehebatan mereka berasal dari Allah. Kesombongan ini semakin dirasakan bila mereka menyebutkan bahwa semua itu adalah hasil usaha dan jerih payah mereka sendiri. Itulah contoh betapa jahilnya manusia dalam melihat kehidupannya. Apakah mereka yakin bahwa semua itu adalah hasil usahanya sendiri, sedangkan beberapa kali ia tidak mendapatkan hasil yang sama dengan usaha yang sama? Dengan strategi dan cara yang terbaikpun temyata hasilnya masih tidak memuaskan. Apakah manusia dapat mengendalikan dan memutuskan sesuatu secara tepat dan pasti? Perasaaan sombong inilah yang kemudian memunculkan kebanggaan jahiliyah. Mereka bangga dengan apa yang telah dibuatnya dan apa yang telah diperolehnya. Padahal dengan kebanggaan yang berasal dari kebodohannya itu, manusia sebenarnya menghancurkan dirinya sendiri. Beberapa contoh kebanggaan j ahiliyah adalah pakaian yang membuka aurat dan mengikuti mode terbaru dengan harga yang mahal. Sesungguhnya mereka menjerumuskan diri sendiri pada sesuatu yang menghampakan jiwa. Ketika orang-orang yang kafir itu sombong terhadap kebenaran Islam, maka itulah kesombongan jahiliyah.

Dalil

Q.48:26. (Ingatlah) ketika orang-orang kafir itu menaaamkan perasaan sombong dalam hati mereka (terhadap kebenaran Islam) yaitu kesombongan jahiliyah, lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin, serta meminta mereka tetap berpegang kepada kalimat takwa, dan mereka (di sisi Allah) berhak dengan kalimat takwa dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

E. Taqolidu Jahiliyah (Tradisi Jahiliyah)

Tradisi jahiliyah banyak ditemukan dalam keseharian kita, seperti mencela, mengumpat, pakaian yang membuka aurat, perhiasan perempuan, dan musik. Termasuk juga perkataan sia-sia di berbagai tempat untuk mengisi waktu dan dalam berbagai aktivitas adalah merupakan tradisi yang perlu dihindari karena akan menjauhkan kita dari keberkahan. Muslim diberikan panduan oleh Allah SWT dalam menghadapi orang jahil agar tidak mengamalkan amal mereka, karena bagi kami amal kami dan bagimu amal kamu. Selanjutnya kita harus meninggalkan perbuatan jahil tersebut.

Dalil

Q.28:55. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling daripadanya sambil berkata: "Bagi kami amal kami dan bagimu amal-amal kamu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin berdampingan dengan orang-orang yang jahil".

Q.25:63. Dan hamba-hamba (Allah) Ar-Rahman (yang diridhoi-Nya), ialah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati (tidak sombong), dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

F. Tabaruj Jahiliyah (Tingkah Laku/Perhiaan Jahiliyah)

Budaya sekarang ini mendorong perempuan untuk keluar rumah dengan berbagai alasan, termasuk bekerja. Ketika menjalankan pekerjaan atau aktivitas lainnya, tidak jarang muncul pergaulan jahiliyah dalam interaksi mereka. Sebagian dari tingkah laku jahiliyah adalah ingin menarik perhatian dengan pakaian, gaya berjalan, cara berbicara, make up, dan sebagainya. Hal tersebut adalah sesuatu yang dilarang Islam. Alangkah baiknya kita keluar rumah bila benar-benar perlu, dan kalaupun harus keluar rumah hendaknya menjaga adab dengan tidak menampilkan sesuatu yang dapat menarik perhatian atau membangkitkan nafsu orang lain kepadanya. Segala perhiasan yang melekat dalam penampilan seseorang yang dimaksudkan untuk menarik perhatian orang disebut perhiasan jahiliyah (tabaruj jahiliyah).

Dalil

Q.33:33. Dan hendaklah kamu tetap di rumah kamu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang­orang jahiliyah zaman dahulu; dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat; dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah (perintahkan kamu dengan semuanya itu) bermaksud menghapuskan perkara-perkara yang mencemarkan diri kamu - Hai AhlulBait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya (dari segala perkara yang keji).

3. Dhulumatul Jahiliyah (Dalam Kegelapan Jahiliyah)

Orang kafir akan masuk neraka bersama dengan sekutu­sekutunya. Muslim yang mengikuti perbuatan orang kafir akan mendapat balasan yang sama di akhirat seperti yang dirasakan oleh orang kafir. Allah menyebutkan bahwa or­ang-orang kafir dan penolong-penolong mereka (termasuk muslim atau yang lainnya) ialah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya iman kepada kegelapan (kufur). Mereka adalah ahli neraka dan kekal di dalamnya. Hal ini disebabkan karena amal-amal mereka seperti fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak akan mendapatkannya. Demikianlah keadaan orang kafir yang tidak mendapat faedah dari amalnya.

Dalil

Q.2:257. Allah Pelindung (Yang mengawal dan menolong) orang-orang yang beriman. la mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman). Dan orang­orang yang kafir, penolong-penolong mereka ialah thaghut yang mengeluarkan mereka dari cahaya (iman) kepada kegelapan (kufur). Mereka itulah ahli neraka dan mereka kekal di dalamnya.

Q.24:39-40. Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah datar yang disangka air oleh orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapati sesuatu apapun (demikianlah keadaan orang kafir, tidak mendapat faedah dari amalnya sebagaimana yang disangkanya) dan Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup (serta membalasnya) dan Allah amat cepat perhitunganNya. Atau (orang-orang kafir itu keadaannya) adalah seperti keadaan (orang yang di dalam) gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak yang di atasnya awan tebal (demikianlah keadaannya) gelap gelita yang berlapis­lapis. Apabila orang itu mengeluarkan tangannya, ia tidak dapat melihatnya sama sekali. Dan (ingatlah) siapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun (yang akan memandunya ke jalan yang benar).

4. Waqi Al Jahiliyah (Realitas Jahiliyah)

Jahiliyah yang sebenarnya adalah mereka yang mengalami kegelapan jahiliyah dengan mengamalkan nilai dan kegiatan yang tidak berdasarkan kepada Al Haq. Individu yang kehidupannya berdasarkan kepada sangkaan jahiliyah, berhukum dengan hukum jahiliyah, ibadahnyapun dengan cara bukan Islam atau diada-adakan, keluar rumah dengan perhiasan jahiliyah dan kebudayaan yang diamalkannya adalah budaya Barat yang jahiliyah. Maka nilai dan kegiatan tersebut menggambarkan realitas jahiliyah.

Ringkasan Dalil

Sebab-sebab kejahiliyahan: persangkaan buruk kepadaAl­lah (Q.48:6; 24:50), merasa cukup, tak perlu hidayah (Q.96:6-7; 5:104; 31:21), sombong (Q.7:12; 38: 75-76; 11:27).

Jahil terhadap kebenaran: persangkaan jahiliyah (Q.48:6; 3:154), hukum jahiliyah (Q.5:5 1; 4:60), ibadah/pengabdian jahiliyah (Q.39:64), kebanggaan jahiliyah (Q.48:26), tradisi jahiliyah (Q.28:55; 25:63), tingkah laku/perhiasan jahiliyah (Q.33:33).

Akibat berada di dalam kegelapan jahiliyah (Q.2: 257; 24:39-40).




 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat