Biografi 12 Tokoh Islam

1. Hassan Al-Hudaibi

Beliau adalah seorang Konsultan dan jaksa, bernama lengkap Hasan Ismail Al-Hudaibi, jabatan terakhirnya sebagai mursyid kedua jamaah Ikhwanul Muslimin, dan merupakan mursyid yang mengalami masa sulit dan penuh dengan ujian dan cobaan, karena pada saat beliau diangkat menjadi mursyid berada pada masa terjadinya perselisihan antara para pejuang revolusi, terutama mantan presiden Jamal Abdul Naser. Dan sebagai masa dimana para anggota jamaah banyak yang ditangkap, dipenjara dan disiksa; dan pemerintah pada saat itu berusaha melakukan pembersihan jamaah Ikhwanul Muslimin dengan kekuatan dan kekerasan dari bumi Mesir dan dunia.

Perjalanan hidup, sejarah singkat kepribadian dan karakter Hassan Al-Hudaibi

Hasan Al-Hudaibi lahir di desa Arab Al-Shawalihah, distrik Syibin Al-Qanatir, tahun 1309 yang bertepatan pada bulan Desember 1891 M. menghafal Qur’an di desanya sejak kecil, kemudian masuk sekolah formal di Al-Azhar yang semangat keagamaan nya yang tinggi dan ketakwaan yang suci. Kemudian setelah itu pindah ke sekolah negeri dan mendapatkan ijazah SD pada tahun 1907, lalu masuk sekolah Aliyah Al-Khadiwiyah (setingkat SMA) dan mendapat gelar BA pada tahun 1911, kemudian meneruskan kuliah di bagian hukum, dan lulus darinya pada tahun 1915. Setelah itu menjalankan masa percobaan menjadi pengacara di Kairo dan secara bertahap menjadi pengacara yang sesungguhnya.

Setelah menjadi pengacara, beliau bekerja sesuai profesinya di distrik Syibin Al-Qanatir, lalu untuk pertama kali dalam hidupnya dan tanpa diketahui oleh seorang pun, beliau pergi ke daerah Sohaj dan tinggal di sana hingga tahun 1924, dan di sana beliau menjadi jaksa. kemudian pindah ke daerah Qana, lalu pindah ke daerah Naja’ Hamady tahun 1925, lalu pindah lagi ke daerah El-Manshurah tahun 1930, dan tinggal di daerah Al-Mania selama satu tahun, kemudian pindah ke daerah Asyuth, lalu ke Zaqaziq, lalu ke Giza pada tahun 1933, dan pada akhirnya menetap di Kairo.

Tahapan beliau menjabat sebagai jaksa diawali dengan menjabat sebagai direktur administrasi kepaniteraan, lalu menjadi ketua badan pemeriksa kejaksaan, lalu sebagai konsultan di mahkamah konstitusi. Kemudian mengundurkan diri sebagai jaksa setelah terpilih menjadi mursyid Ikhwanul Muslimin pada tahun 1951. Pertama kali beliau menjabat, dirinya dan para ikhwan lainnya ditangkap tanggal 13 Januari 1953, namun pada bulan maret pada tahun sama beliau dibebaskan kembali, setelah dijenguk oleh para senior dan jenderal revolusi sambil meminta maaf kepadanya. Kemudian ditangkap lagi untuk yang kedua kalinya pada akhir tahun 1954 dan divonis hukuman mati, namun akhirnya diberikan keringanan dengan hukuman seumur hidup. Kemudian hukuman dipindah dari penjara menjadi tahanan rumah, akibat menderita sakit dan usia lanjut. Kemudian pada tahun 1961 hukuman tahanan rumah dihapus atasnya. Dan beliau kembali ditangkap pada tanggal 23 Agustus 1965 di Alexandria dan dijatuhi hukuman dengan wajib lapor, kemudian dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun, walaupun pada saat itu umur beliau telah mencapai 70 an tahun, dan kemudian diberikan izin keluar untuk ke rumah sakit selama 15 hari, kemudian dipindah ke rumahnya, lalu dikembalikan ke penjara untuk melengkapi masa tahanannya. Dan masa tahanannya menjadi panjang –melewati batas yang dijatuhkan- hingga tanggal 15 Oktober tahun 1971. Dan beliau wafat pada hari kamis, jam 07 pagi waktu setempat, pada tanggal 14 Syawal 1939 bertepatan dengan tanggal 11 November 1973.

Karakter Hasan Al-Hudaibi

Hassan al-Hudaibi adalah sosok seorang Muslim sejati, hafal Al-Qur’an sejak belia, memiliki komitmen untuk selalu taat kepada Allah, beliau tidak pernah lengah dan tidak pernah merasa bosan dalam menunaikan tugas dan kewajiban agama.

Beliau adalah sosok manusia yang dermawan dan tidak pernah memiliki keraguan sejak dia menjadi seorang siswa hingga menjadi konsultan dalam berpegang pada prinsip dan kebenaran. Beliau merupakan contoh dan teladan di antara teman-temannya dan orang-orang yang dekat dengannya atas ke istiqamahannya, keteguhan akhlaqnya dan kemuliaan karakternya, keengganannya bermujamalah (bermain-main) pada kebenaran dan ketidak takutannya kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Beliau juga mampu mencetak rumah tangganya dengan tabiat dan shibghah Islam; adab-adabnya, kebiasaan-kebiasaannya dan pakaian-pakaiannya, sehingga tampak dengan akan keteguhan agamanya dan Ittiba’nya dengan nama agama melebihi jabatan dan julukan yang telah dimiliki dan diraihnya.

Hassan Al-Hudaibi juga merupakan sosok yang sangat disegani oleh teman sejawatnya dan para konsultan lainnya; terutama yang berani bermain-main dengan undang-undang sipil, dan yang melakukan pelanggaran dasar-dasar syariah Islam. Suatu kali; pada jiwa-jiwa terhenti tanpa dapat melakukan apa-apa, dan cukup dengan memberikan agenda kritikan yang lembut, beliau pergi dengan sendirinya ke pusat revisi undang-undang, dan memberikan pernyataan secara resmi bahwa dirinya menentang dan mengutuk berbagai produk undang-undang yang tidak berasal dan bersumber dari syariat Islam, atau kandungan bab dan fasal-fasalnya yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga, dengan sikap tersebut menjadi berita headline di seluruh surat kabar di Mesir saat itu; bahkan koran Al-Ikhwan menerbitkan berita dengan tema “Hasan Al-Hudaibi, semoga Allah menolongnya” yang berasal dari surat kabar “Akhbar Al-Youm.” Dan karakter yang agung yang terdapat dalam diri Al Hassan Al-Hudaibi adalah ketegarannya dan keberaniannya dalam menentang kebatilan, dan terhadap para pelaku dan pendukung kebatilan, ketegarannya berdiri dihadapan kekuatan zhalim dan para pelaku kezhaliman, sekalipun usia beliau sudah lanjut dan sering sakit-sakitan beliau tetap melakukan aktivitas. Sebagaimana beliau juga memiliki karakter membenci terhadap hal-hal yang berbau pamer dan pujian, jauh dari pantauan, karena itu –kadang- beliau selalu menghindar dari sorotan kamera, menolak untuk ditulis tentang jati dirinya dan perjalanan hidupnya; karena yang beliau harapkan hanyalah ganjaran dari Allah. Jika seorang imam memilih banyak diam dan jauh dari sorotan masa, adalah merupakan ketawadhuan dan kelebihan yang dimilikinya, namun di antara haknya –dan juga hak imam Al-Banna dan seluruh ulama dan umat yang membawa amanah setelah mereka hingga hari akhir zaman, untuk selalu menjadi uswah dan qudwah (contoh dan teladan), bahkan beliau menjadi menara yang mengarahkan para pembawa risalah dakwah dan pengarah jalan di dalamnya, sehingga dapat dijadikan pegangan bagi para pengemban amanah dakwah dan menerangi jalan mereka, karena para pemuda zaman sekarang ini, banyak yang sering mentaqlid dari sana sini, menemukan kebesaran jiwa dari sebagian tokoh. Karena itu, jika mereka mengambil kebesaran jiwa maka mereka kelak akan menjadi jiwa yang memiliki kepribadian yang tinggi pula.

Perjuangan beliau

Adapun Perjuangan pada bidang pekerjaan dan spesialisasinya memiliki sejarah yang sangat menarik. Suatu ketika ketua mahkamah konstitusi bertanya kepadanya: Ya Hasan, bukankah engkau bersama saya, bahwa kebanyakan dari undang-undang sipil saat ini berkaitan erat dengan hukum-hukum yang ada dalam fiqh Islam? Hasan Hudaibi berkata: betul. Orang tersebut berkata lagi: jadi apa dasarnya tuntutan Anda untuk kembali pada syariat Islam dan menerapkan hukum-hukumnya?”. Beliau menjawab: Hal tersebut karena Allah SWT. Dia berfirman: “Dan hendaklah saat memutuskan hukum diantara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan Allah”. Dan tidak mengatakan: Dan berhukumlah seperti yang diturunkan Allah. Dan bahwa berhukum pada syariat Allah menurut seorang muslim adalah ibadah dan menunjukkan ketaatan kepada perintah Allah, dan itulah sumber keberkahannya, rahasia kekuatan yang ada dalam jiwa orang-orang yang beriman dengannya dan dalam komunitas jamaah muslimah.

Ketika dijabarkan rancangan revisi undang-undang sipil Mesir pada tahun 1945 di hadapan ustadz Al-Hudaibi, tertulis disitu bahwa beliau menolak mendiskusikan proyek tersebut dari sisi prinsipnya; karena tidak berdasarkan pada al-kitab dan as-sunnah.

Dan pada tahun 1947 Ustadz Hasan Al-Hudaibi menerbitkan sebuah artikel di koran Mesir “Akhbar Al-Youm,” yang membantah amandemen rancangan undang-undang sipil Mesir, beliau berkata, “bahwa amandemen terbaik menurut pandangan saya adalah yang mengacu pada sebuah undang-undang yang satu; untuk menerapkan hukum syariah dalam kasus pidana dan perdata kemudian beliau berkata: “Aku telah menyatakan pendapat di komisi revisi undang-undang sipil dalam Senat, dan saya sampaikan: Bahwa undang-undang kita harus berdasarkan Al-Quran dan Sunnah dalam berbagai sendi kehidupa, bukan hanya dalam urusan syariat saja. Bahwa Islam adalah agama yang koheren dan terpadu tidak boleh dipisah-pisah, sehingga harus diterapkan seluruh ketentuannya oleh setiap orang yang menganutnya” Inilah pendapat yang saya kemukakan, dan saya berharap bahwa saya telah menyelesaikan tugas dalam melakukan revisi undang-undang, berusaha mempelajarinya hingga tidak terdapat di dalamnya undang-undang asing yang tidak konsideran dengan Al-Qur’an Al-Karim, yang tidak bisa membedakan antara yang halal dan yang haram, padahal keduanya sangat jelas karakter dan batasan-batasannya hingga hari kiamat.

Dan inilah yang saya sampaikan di hadapan tim revisi, dan saya yakin bahwa mereka tidak akan menerima dan mengambilnya, namun bagi saya tidak mengapa selama saya yakin dengan apa yang saya sampaikan, namun menurut praduga saya, kelak setelah berjalan 20 atau 30 tahun opini akan mengarah pada pengambilan pendapat saya; setiap kali Allah melapangkan dada umat manusia dengan Al-Qur’an pada hari yang meliputi opini dan pendapat ini”.

Kami telah melihat bahwa berbagai undang-undang yang bersumber pada undang-undang asing tidak memberikan kemaslahatan pada negeri kami, tidak mencapai apa yang diharapkan, penjara ini penuh narapidana, kejahatan meningkat, kemiskinan menyebar, dan moral dan akhlak menurun, hubungan sosial memburuk hingga terjadi setiap hari sejak para pendahulunya, dan ini semua tidak mampu dirubah kecuali jika kita menyusun kembali hubungan kita dengan sunnah kauniyah yang telah diturunkan melalui wahyu dengan berbagai rahasia-rahasianya, dan tanda-tandanya yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan dengan itu semua, maka kita akan dapat tinggal di rumah, di tengah keluarga dan masyarakat, bersama anak-anak kita, dan bersama semua orang yang hidup bersama Al-Qur’an “.

Pada tanggal sepuluh Desember 1952, konstitusi Klasik Mesir mengumumkan revisi dan setelah berlalu dua hari ditetapkan seratus anggota untuk membuat konstitusi baru yang mana di antara mereka ada tiga orang yang berasal dari Ikhwanul Muslimin. Akhirnya majalah “El-dakwah” menerbitkan artikel yang mengajak untuk mendukung konstitusi berdasarkan Islam. Hasan Al-Hudaibi mengajak untuk dilakukan referendum; guna mengetahui apakah Mesir memilih syariat Islam atau undang-undang barat? Jika memilih berhukum pada Islam maka pemerintah harus komitmen melaksanakan pilihan tersebut, dan jika memilih undang-undang Barat –yang tidak mungkin keluar dari diri seorang muslim- maka kita harus mengaca diri, mengajarkan umat akan perintah Tuhannya dan apa yang seharusnya mereka lakukan”.

Awal Hasan Al-Hudaibi mengenal Ikhwanul Muslimin

Dikisahkan bahwa hubungan beliau dengan Ikhwanul Muslimin dimulai sejak tahun 1942, yaitu saat beliau mendapatkan kepuasan dengan dakwah al-Ikhwan melalui praktek sebelum mendapatkannya secara teori. Hal tersebut terjadi ketika beliau melihat sebagian anggota kerabatnya dari para petani yang sedang menghadapi berbagai macam masalah; agama dan politik, yang kebanyakan dari masyarakat umum tidak memahami hal tersebut, terutama karena kebanyakan dari mereka adalah berasal kalangan umi (buta huruf), dan ketika diketahui bahwa hal tersebut kembali kepada para Ikhwan, beliau tertarik dengan cara dakwahnya, sehingga beliau sangat antusias untuk menghadiri khutbah Jum’at di masjid-masjid yang diisi oleh pendiri jamaah Ikhwan; Hasan Al-Banna. Dan sejak tahun 1942 beliau mulai menjalin hubungan dengan dakwah yang penuh berkah ini melalui pendirinya langsung terutama di saat beliau melakukan kunjungan ke kota Zaqaziq.

Adapun awal begitu tertariknya beliau dengan dakwah Ikhwanul Muslimin adalah saat mendengar ceramah ustadz Hasan Al-Banna tentang masalah membersihkan jiwa, menumbuhkan perasaan, menggelorakan ruh. Ketika beliau mendengarkan uraiannya ada perasaan aliran darah yang deras dan kencang merasuk ke dalam jiwanya, bergelora ruhnya, akalnya, hatinya dan perasaannya, sehingga tidak membutuhkan waktu lama dan usaha yang keras, segera terdorong jiwanya untuk bergabung dengan dakwah yang penuh berkah ini, dakwah yang membawa kebenaran, dan siap bekerja untuknya, terikat dengannya serta komitmen untuk berjihad di jalannya. Pada saat itu Imam Hasan memandang telah terjadi kehancuran di tengah umat Islam sehingga perlu adanya kerja keras untuk menolong dan menyelamatkannya. Dan ditambah kecemburuan iman Hasan Al-Banna yang bergelora di dadanya, yang mana hal tersebut dapat diketahui saat beliau berbicara, baik dihadapan para ulama yang shalih dan dihadapan orang-orang yang duduk-duduk dan nongkrong di kedai kopi.

Pada saat itu –setelah mendengar uraian imam Hasan Al-Banna- beliau langsung menghadap, dan setelah berbicara singkat, beliau melakukan janji, ikatan dan baiat. Baiat yang mengikat dirinya dan kehidupannya untuk selamanya, dan berada di jalan dakwah yang penuh berkah ini, mengarungi masa depan dakwah. Dan inilah model kejujuran para rijal dakwah. Mengikat jiwa mereka dengan dakwah kehidupan masa lalunya, yang sedang berjalan dan yang akan datang dengan kebenaran.

Dan karena karakter imam Hasan Al-Hudaibi memiliki kecerdasan dan kejelian, jiwa yang kokoh, ruh yang bersih, sehingga ketika mendengar dakwah imam Hasan Al-Banna yang bersumber dari kejujuran dan keikhlasan, dan totalitas yang begitu dalam, beliau yakin bahwa ini adalah dakwah yang akan memberikan air kesejukan bagi siapa saja yang haus hatinya, perasaannya dan jiwanya.

Bai’at ustadz Hasan Al-Hudaibi

Pada tanggal 12 Pebruari tahun 1949 para pesuruh kerajaan Mesir Raja Farouk berhasil membunuh Hasan Al-Banna sehingga membuat kosong kursi Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, dan pada saat itulah, para pendiri Ikhwan berusaha mencari menggantinya, dan akhirnya mereka menetapkan Hasan Al-Hudaibi menjadi Mursyid Am Ikhwanul Muslimin. Pada 6 bulan pertama Hasan Al-Hudaibi menjabat sebagai mursyid secara tersembunyi dan diam-diam, tanpa tidak meninggalkan pekerjaannya sebagai jaksa selama masa tersebut. Dan ketika pemerintahan An-Nuhas Pasya memberikan izin kepada lembaga pendiri Ikhwanul Muslimin untuk melakukan pertemuan, para anggota tersebut mempersilakan kepada Hasan Al-Hudaibi untuk memimpin pertemuan dan menjabat sebagai mursyid am Ikhwanul muslimin, namun saat itu beliau menolak permintaan mereka, karena beliau menganggap saat pemilihan atas dirinya menjadi Mursyid oleh anggota lembaga pendiri hanya pada marhalah sirriyah dan tidak mewakili pendapat anggota Ikhwan lainnya, dan beliau meminta untuk memilih Ikhwan lain menjabat sebagai mursyid, namun para Ikhwan lainnya menolak permintaan tersebut dan meminta beliau untuk melanjutkan jabatannya sebagai mursyid Ikhwanul muslimin, akhirnya beliau menerima permintaan utusan para Ikhwan dan setelah itu beliau mulai mengurus pengunduran diri dari pekerjaannya untuk fokus pada jabatan barunya yaitu mursyid Am Ikhwanul muslimin.

Dan tepat pada tanggal 17 Oktober 1951 Hasan Al-Hudaibi resmi menjadi mursyid am jamaah Ikhwanul muslimin. Dan setelah itu beliau melakukan jaulah ke berbagai tempat dan daerah yang terdapat di dalamnya anggota Ikhwanul Muslimin untuk menegaskan bahwa mereka mendukung keputusan tersebut. Dan akhirnya beliau mendapatkan kepastian tersebut…, bahkan semua anggota yang bertemu dengannya melakukan baiat kepadanya. Dan sebelum baiat beliau berkata: “Sebenarnya saya tahu, bahwa saya sedang menyerahkan diri pada kepemimpinan dakwah yang mengakibatkan syahidnya sang pionir, muassis dan mursyid pertama, berhadapan dengan ancaman pembunuhan, penyiksaan para pengikutnya, pengusiran di jalan Allah, mereka telah mendapatkan apa yang mereka harapkan, dan saya tidak yakin pada diri ini akan mampu melakukan dari apa yang ditinggalkan oleh sang imam dan membawa maslahat di dalamnya seperti imam Hasan Al-Banna, namun walau begitu saya akan berusaha menghadirkan dan melakukan sesuai dengan amanah dan keinginan para Ikhwan, menunaikan amanah untuk Allah SWT, tidak mencari dan berharap apapun kecuali ganjaran dan ridha Allah, dan saya tidak meminta pertolongan kepada siapapun kecuali pada kekuasaan dan kekuatan Allah SWT.

Apa yang diberikan oleh Hasan Al-Hudaibi untuk jamaah ini?

- Dukungan beliau terhadap jamaah dan pembelaannya sangat besar sekali, bahkan kontribusi yang mulia beliau tampakkan ketika membeli rumah markas al-am (kantor pusat).

- Menunjukkan amanah dakwahnya saat beliau marah terhadap kekejaman Zionis guna membela Palestina.

- Memiliki jiwa perhatian terhadap keluarganya, dengan membentuk kantor cabang di desanya “Arab As-shawalihah” dan desa-desa yang berdekatan dengannya.

- Dengan retorika dan metode khas beliau dan berpenampilan tenang dan penuh tawadhu mampu menghidupkan dakwah di daerah Syibin Al-Qanatir.

- Beliau tidak pernah putus menjalin hubungan dengan imam syahid, dan bahkan beliau tidak pernah lepas dalam bertukar pikiran dan memberikan pendapat yang konstruktif pada setiap langkah dan sikap sebelum terjadinya pembunuhan dan setelahnya, bahkan beliau selalu ikut dalam jalasah yang diikuti oleh mukhlisin dan pejabat teras Ikhwanul Muslimin, yang sedang berjual melakukan pemetaan strategi dakwah untuk jamaah sebelum dan sesudah syahidnya Mursyid pertama.

- Setelah beliau bergabung dengan dakwah, maka seluruh jiwanya, rumahnya, anak-anaknya, jabatannya, dan seluruh hartanya diserahkan untuk dakwah dan dibawah kendali dakwah.

- Beliau adalah satu-satunya orang yang jujur dalam dakwah yang berasal dari kalangan kejaksaan sehingga beliau menjadi pionir dan satu-satunya orang yang mampu membersihkan kewibawaan jamaah, membersihkan kejaksaan dari pengaruh kedustaan dan kebohongan, yang sengaja dilakukan oleh pemerintah untuk mengubah kejaksaan dari kerja yang serius dan bertanggung jawab pada tindakan melakukan kezhaliman dengan berbagai tuduhan yang dibuat-buat.

- Hasan Al-Hudaibi juga selalu mengikuti perkembangan berita Ikhwan, terutama setelah terbunuhnya imam Hasan Al-Banna, selalu membekali diri dengan nasihat-nasihat yang membuatnya memiliki kekuatan dan imunitas dari gelora kekejian pemerintah dan kekuasaan undang-undang, dan mampu melakukan banyak kebaikan menuju jalan yang pasti; yaitu melakukan penyatuan barisan, memberikan dukungan untuk tsabat dan tsiqah kepada Allah di antara para Ikhwan.

- Beliau memiliki perhatian kepada keluarga Ikhwan yang ditangkap dan dipenjara.

Hasan Al-Hudaibi saat di penjara

Mursyid memulai hidup barunya menjadi Mursyid Am Ikwahnul Muslimin berhadapan dengan berbagai ujian dan cobaan yang begitu keras; berbagai penangkapan, vonis hukuman penjara, bahkan menerima siksaan dan hukuman mati atasnya, yang kemudian berganti menjadi hukuman kerja paksa.

Pendapat para ulama tentang Hasan Al-Hudaibi

Saat memulai kehidupannya menjadi mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin, beliau mulai mengalami kehidupan yang keras dan tidak pernah berhenti, beban yang berat dan ujian yang tidak pernah putus, cobaan terhadap jamaah terutama pemimpinnya terus berlanjut; dimasukkan di dalam penjara, disiksa, dijatuhi hukuman mati, kemudian di ganti dengan hukuman kerja paksa. Di tengah ujian tersebut beliau berkata:”Tegakkanlah daulah Islam di dalam hati-hati kalian, niscaya dia akan tegak di negeri kalian”. Pada kondisi yang mengenaskan berada dipenjara yang terisolir -sementara para Ikhwan yang lain dan termasuk anak-anaknya ikut disiksa dan dipecut – beliau memperkokoh jiwa mereka dan mengajak mereka untuk mempertahankan keimanan mereka.

DR. Ahmad Al-’Asal berkata tentangnya: “Beliau selalu menghadirkan kepada mereka untuk memiliki hati yang tsabat, dan jiwa yang tenang; dengan mengatakan di hadapan para pelaku penyiksaan: “Mereka adalah sebaik-baik pemuda Mesir, karena itu, jagalah mereka untuk menjadi saham bagi negerinya, cukuplah kalian mengambil dan memenjarakan diri saya dan melakukan apa yang kalian inginkan”.

Selama di penjara kesehatan beliau sering terganggu, sehingga harus dipindah ke rumah sakit, namun setelah itu hukuman terhadapnya tidak berhenti namun dikembalikan ke tempat semula untuk ikut merasakan penderitaan Ikhwan lainnya serta anak-anaknya. Beliau berkta: “Penjara adalah sebaik-baik tempat pengkondisian jiwa bukan sekadar tembok dan jeruji besi”. Ahmad Al-’Asal juga berkata: “saya tidak pernah lupa terhadap apa yang diceritakan beliau kepada kami, beliau meneteskan air mata saat bercerita tentang kondisi seorang Ikhwan yang miskin yang mendapatkan waktu berharga pada salah seorang Pasya saat dirinya membersihkan WC di tempat salah seorang terpidana, maka salah seorang dari teman-temannya berinisiatif memberikan uang atas amanah yang dikerjakannya dan kembali bekerja. Maka Ikhwan tersebut berdiri sambil menegakkan badannya berkata: “Sungguh saya ingin menambah pekerjaan ini sesuai dengan amanah, dan saya tidak menginginkan upah tersebut kecuali karena Allah, dan saya tidak butuh harta tersebut”. Kemudian Ustadz berkata: “Padahal saya tahu betul kondisinya, dirinya pasti membutuhkan harta tersebut, namun karena kesucian dan kebersihan dirinya, ia tidak mau menerima uang tersebut”. Kemudian air matanya meleleh kembali.

Ahmad Husain pemimpin pemuda Mesir berkata, kami dimasukkan di penjara perang pada bulan Maret tahun 1954, dan saya melihat Syeikh Hasan Al-Hudaibi ada di dalamnya bersama kami, dan ketika beliau berada sama saya, seakan saya melihat dirinya penuh dengan kemuliaan dan ketawadhuan, serta berinteraksi dengannya yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, dan saya mengira bahwa kemuliaan yang besar ini baginya adalah kemuliaan bersama Ikhwanul Muslimin. Salah seorang wartawan bertanya kepada saya; apa pendapatmu terhadap Ikhwan pada perang di Palestina? Maka saya jawab bahwa hal tersebut merupakan fenomena yang sangat mulia; karena merekalah yang telah berhasil menyelamatkan tentara Mesir dari kekalahan, yaitu mereka berhasil melindungi pasukan terakhir saat mundur, dan hendaknya dunia mesti memahami, bahwa orang yang memerangi Ikhwan dengan besi dan api, telah melakukan perbuatan demi kepentingan syaitan, janganlah kalian mengira wahai saudaraku bahwa saya mengucapkan ini saat ini sah; karena saya telah meninggalkan Mesir sejak tahun 1955; dan terakhir kali saya bertemu dengan Abdul Nasher adalah karena terkait permasalahan ini. Kemudian dia berkata: “Bahwa syahid kalian dan syuhada Islam, sedang menikmati kenikmatan di sisi Tuhannya, dan kelak sejarah akan mencatat seperti Ibnu Hambal, yang menolak untuk disamakan atau dijauhkan terhadap apa yang dianggapnya benar”.

Buku-buku karangan beliau

1. Duat la qudhat

2. Inna hadzal Qur’an

3. Al-islam wa ad-da’iyah, kumpulan tulisan yang disusun oleh As’ad Sayyid Ahmad

Sumber rujukan:

1. Mausu’ah al-harakiyah, muassasah al-buhuts wal masyari’ al-islamiyah, dipimpin oleh Fathi Yakan

2. Majalah As-Syihab, edisi 13

3. Afaq Arabiyah, makalah ustadz Muhammad Abdullah Al-Khatib.

 

2. Umar At-Tilmisani

Beliau diangkat menjadi Mursyid Am ketiga Ikhwanul Muslimin setelah ustadz Hasan Al-Hudaibi; mursyid kedua Ikhwanul Muslimin meninggal dunia.

Riwayat Hidup:

Pada tanggal 4 bulan November tahun 1904, lahir di Jalan al-Husy depan Balghoriyah, desa ad-darb al-ahmar Kairo, seorang bayi yang bernama lengkap, “Umar Abdul Fattah Abdul Qadir Mustafa At-Tilmisany” dan julukan At-Tilmisani bukan berasal dari Mesir asli, karena kakek dari bapaknya berasal dari daerah Tilmisani Al-Jazair, datang ke kota Kairo dan bekerja sebagai pedagang, dan menjadi pembesar dari kumpulan orang-orang kaya.

Umar At-Tilmisani menikah pada umur yang sanagt muda, yaitu pada usia delapan belas tahun dan masih menjadi pelajar di sekolah umum tingkat atas (SMU-red) dan beliau tidak menikah lagi setelah sampai Allah mewafatkannya pada bulan Agustus 1979, setelah Allah memberikan kepadanya empat orang anak: Abid, Abdul Fattah, dan dua orang putri. ”

Dan ketika beliau berhasil menerima ijazah licence sebagai Sarjana Hukum, beliau bekerja sebagai pengacara, dan membuka kantor sendiri di daerah Syibin Al-Qanatir, dan pada tahun 1933 beliau bertemu dengan Ustadz “Hassan al-Banna” di rumahnya, yang mana ketika itu beliau tinggal di Jalan Abdullah Bek, gang Al-Yakniyah di distrik Al-khayamiyah, dan langsung berbai’at. Dan sejak saat itu beliau resmi menjadi anggota jamaah Ikhwanul Muslimin, dan menjadi orang pertama dari seorang pengacara yang mewakili Ikhwan untuk memberikan pembelaan atas anggota Ikhwan yang ditangkap di pengadilan Mesir.

Kepribadian beliau

Beliau dikenal dengan pribadi yang teguh dan tsabat dalam kesehariannya, bahkan di dalam penjara pun beliau tetap tegar dan teguh karena kebenaran, tidak pernah luluh pendiriannya oleh karena teror atau ancaman, karena itu pula beliau melewati masa di penjara selama 20 tahun..

Beliau juga merupakan anggota Ikhwan yang paling sabar dan teguh pendirian, sekalipun sangat keras siksaan dan interaksi orang-orang zhalim terhadapnya namun lisannya tidak pernah luput dari berdzikir kepada Allah dan bahkan terus mengajak para Ikhwan untuk bersabar dan tsabat hingga akhirnya beliau keluar dari penjara pada tahun 1981, dan setelah itu beliau tetap menerima ujian dan cobaan namun beliau tetap dengan keteguhan, kesabaran dan tsabat.

Beliau pernah berkata: Saya sama sekali tidak takut pada siapapun dalam hidup ini kecuali kepada Allah, dan tidak ada yang bisa mencegah saya untuk lantang pada kebenaran yang saya yakin terhadapnya sekalipun berat dilakukan oleh orang lain, dan sekalipun saya harus menemui berbagai ujian dan cobaan, saya akan tetap mengungkapkannya dengan penuh ketenangan, hati-hati dan beretika, tidak menyakiti orang yang mendengarnya, tidak menyinggung perasaan, dan selalu menghindar dari ucapan dan ungkapan yang saya rasa tidak akan disukai oleh lawan bicara saya atau orang yang mendebat saya, sehingga dengan metode ini, saya mendapatkan ketenangan pada diri saya, sekalipun dengan metode ini saya mendapat banyak pertentangan dari pihak musuh.

Ustadz Umar At-Tilimsani sangat disenangi dan dikagumi oleh khalayak masyarakat Mesir, sebagaimana kalangan masyarakat Coptic’s juga menghormati beliau, bahkan para pejabat negara pun sungkan dan enggan dengan kepribadian beliau dan menyadari akan kharisma beliau.

Sebagaimana para Ikhwan juga memandang beliau sebagai teladan dan mereka berlomba-lomba ingin dapat talaqqi langsung dengan beliau, melaksanakan perintahnya. Hal tersebut terjadi karena dilandasi oleh rasa cinta karena Allah dalam menjalin hubungan antara dirinya dengan yang lain, bekerja untuk menerapkan syariat Allah dan mencari ridha Allah SWT..

Pelajaran-pelajaran, muhadharah-muhadharah, nasihat-nasihat dan taujihat-taujihat beliau selalu memberikan motivasi kepada umat khususnya para pemuda dan para tokoh, serta para ulama lainnya dalam mengemban amanah dan menunaikan tanggung jawab, sehingga mereka bangkit untuk mengikutinya, melaksanakan arahan-arahan dalam berbagai kondisi untuk mengembalikan Islam pada kekuatannya dan menjadi pemimpin dan penguasa di dunia.

Demikianlah seharusnya sikap para du’at di sepanjang zaman dan waktu, sebagaimana hal tersebut juga merupakan risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul, dan menjadi warisan bagi para ulama, aktivis, para du’at yang jujur, beriman dan ikhlas.

Beberapa karakter ustadz Umar At-Tilimsani:

1. Zuhud pada dunia

Beliau sangat memahami wasiat nabi saw yang disampaikan kepada Abdullah bin Umar, “Jadilah di dunia seakan-akan asing atau dalam perjalanan” (Bukhari)… Setelah bergabung dengan kafilah dakwah, beliau tidak pernah mau tunduk pada dunia, bahkan beliau begitu zuhud, berkhidmat untuk dakwah dengan hati, lisan dan jasadnya; hatinya selalu tenteram dengan berdzikir kepada Allah dan mencintai dakwah ini, dan melalui lisannya beliau memberikan dan menyampaikan muhadharah, pelajaran dan makalahnya di berbagai media masa, dan melalui jasadnya beliau mampu bergerak ke berbagai penjuru sehingga diikuti oleh banyak manusia dalam berdakwah kepada Allah..

Dan beliau tidak pernah putus asa, dan beliau pernah ditawarkan harta berlimpah dalam menunaikan dakwah ini namun beliau menolaknya, beliau berkata kepada orang yang memberi harta kepadanya: “Telah datang kepada Anda seorang dai bukan pencari harta”. Beliau juga menolak untuk mengambil upah dari salah satu media yang di dalamnya beliau menulis makalah tentang dakwah, dan beliau berkata: “Saya tidak akan menjual sedikit pun dakwah Ikhwan, saya hanyalah seorang juru dakwah kepada Allah”.

2. Sabar dan berharap hanya kepada Allah

Ustadz Umar At-Tilimsani adalah sosok yang memiliki teladan dalam kesabaran, ketika berada dalam penjara –penjara yang begitu kotor- tempat yang banyak kotoran yang menjijikan, dingin menusuk tulang, panas yang terik dan angin yang menghembus keras membawa debu-debu; membuat hidup tidak nyaman, tidur tidak tenang, jiwa selalu gelisah.. namun beliau menerimanya dengan penuh senyum dan suka ria. Beliau adalah sosok yang memiliki keteguhan, iman yang kuat dan kepercayaan yang sangat kokoh, selalu mengumbar senyum kepada Ikhwan nya, memberikan keteguhan dan selalu menolak dari seorangpun ketika ingin memberikan bantuan untuknya, dan beliau selalu melakukan segala urusannya dengan sendirinya.

3. Keteguhan dalam mengucapkan kebenaran

Nampaknya beliau adalah sosok yang disebutkan Allah dalam ayat “yaitu mereka yang menyampaikan risalah Allah dan takut kepada Allah dan tidak takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah”. Beliau tegar dan berani dalam menyampaikan kebenaran di hadapan presiden Sadat, ketika beliau bertemu dengannya, Sadat menuduhnya dengan berbagai kecaman, lalu dengan berani beliau menjawabnya, memanggilnya dengan nama asli dan mengadukan nya kepada Allah, sedangkan Sadat mendengarkan jawabannya dengan tubuh gemetar, dan ketika Sadat bertanya siapakah mursyid Am Ikhwanul Muslimin? Beliau menjawab: “Sayalah Mursyid Am Ikhwan.

Ketika itu hukuman atas orang yang menjabat sebagai ketua jamaah ilegal adalah 25 tahun, dan beliau menerimanya dengan senang hati, hanya berharap ganjaran dari Allah, bagaimanapun kondisinya.

4. Lisan yang bersih

Beliau juga memiliki lisan yang bersih, ungkapan yang manis dan sama sekali tidak pernah menyakiti seorang pun dari lisannya. Beliau pernah berkata tentang dirinya: “Saya telah berjanji pada diri ini untuk tidak menyakiti seorang pun melalui ungkapan para nabi, sekalipun diriku adalah pelaku oposisi (penentang) dalam kebijakan politik, bahkan sekalipun mereka menyiksa saya.. bahwa pekerjaan saya adalah berjuang di jalan Allah, yang mesti menanggung berbagai cobaan dan siksaan yang diarahkan kepada saya, menangkap saya namun saya tetap bertawakal kepada Allah, tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan, dan berbagai tindakan yang mereka lakukan terhadap diriku…

5. Di antara ungkapan-ungkapan beliau

- Imam Hasan Al-Banna telah mengajarkan kepada saya bahwa kezhaliman tidak akan mampu dihancurkan kecuali karena umat manusia tidak penuh menguasai kekuatannya”. Para anggota Ikhwanul Muslimin pada masa pemerintahan Abdul Naser banyak yang dipenjara, meninggalkan anak-anak dan istri-istri mereka tanpa ada yang menanggungnya, namun Ikhwan berharap perbuatan mereka adalah karena Allah, sehingga Allah melindungi anak-anak dan istri-istri mereka, karena barangsiapa yang hanya berharap kepada Allah, memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya maka hal tersebut merupakan kelapangan rezki dan karunia dari Allah SWT.

- Bahwa penjara telah mampu menelurkan generasi dakwah yang agung dan mulia, generasi dengan penuh keteguhan dan ketegaran, hafal Al-Qur’an dan menerima ilmu yang banyak di dalamnya, mereka terus meningkatkan kesabaran dan tsabat, sekalipun jasad mereka menjadi lemah namun ruh mereka begitu besar dan begitu dekat hubungannya dengan Allah, di antara mereka adalah Umar At-Tilimsani, dan Allah telah menjanjikan untuk memberikan kepada jamaah ini seorang pemimpin yang kharismatik, seorang rabbani yang mampu memimpin kapal ini di tengah kerasnya ujian dan cobaan dengan penuh kesabaran dan hikmah.

- Dakwah pada masa beliau menjabat telah menyebar begitu luas, para pemuda banyak menerima akan dakwah beliau sehingga menjadi arus Islam yang begitu luas dan besar, terutama di universitas-universitas, persatuan-persatuan, dan lain sebagainya.

Awal mula bergabung dengan Ikhwanul Muslimin

Awal mula bergabungnya Umar At-Tilimsani dengan jamaah Ikhwanul Muslimin adalah langsung dihadapan pendirinya yaitu Hasan Al-Banna pada tahun 1933, setelah beliau diajak oleh dua orang anggota Ikhwanul Muslimin; “Izzat Muhammad Hasan dan Muhammad Abdul Aa’l untuk mengikuti pelajaran yang diisi oleh Imam Hasan Al-Banna.

Beliau masuk penjara pada 1948 dan kemudian pada tahun 1954, dan saat dibebaskan dari penjara pada akhir bulan Juni 1971 seorang petugas militer menghampirinya dan berkata: Anda telah dibebaskan … dan sekarang kumpulkan barang-barangmu untuk segera keluar dari tempat ini, dan pada saat waktu telah masuk malam; yaitu setelah waktu Isya, beliau berkata kepada petugas tersebut: bolehkah saya bermalam di sini untuk malam ini saja, lalu saya akan pergi nanti pada waktu pagi, karena saya telah lupa jalan-jalan di Kairo. Petugas tersebut berkata: Ini adalah bukan tanggung jawab saya, silakan keluar dari penjara, dan tidur di pintu masuk hingga waktu yang Anda inginkan, maka saya pun meminta taksi dan akhirnya kembali ke rumah dengan selamat.

Di kota Ismailia saat terjadi pertemuan antara Sadat dan Ustadz Umar At-Tilimsani, dan al-akh Abdul Azhim Al-muth’ini, lalu Sadat berbicara dan menyerang Ikhwanul Muslimin, lalu meminta Umar untuk membalasnya, maka diapun mempersilakan kepadanya untuk melanjutkan.

Dan ketika Sadat selesai berbicara, Umar menjawab dan berkata: “Jika orang lain berkata seperti ini maka saya akan mengadukannya kepada Anda, namun karena Anda yang berkata seperti demikian, maka saya akan mengadukan Anda kepada Allah,” maka Sadat pun berkata kepadanya: “Tolong tarik pengaduan Anda wahai Umar,” dan saat itu tubuhnya gemetaran, dan pertemuan berakhir tetapi kondisi masih tidak bersih karena Sadat masih saja melakukan pengkhianatan terhadap Ikhwanul Muslimin.

Kemudian Sadat pada tahun 1981 menangkap Umar At-Tilimsani dan bersama ratusan orang dari para cendekiawan, Coptic’s, uskup, dan para penulis serta lain-lainnya, dan Umar At-Tilimsani meninggal pada hari Rabu, 13 Ramadan 1406 H bertepatan dengan tanggal 22 Mei 1986 pada usia 82 tahun, setelah dirawat di rumah sakit akibat penyakit menderanya dan usia tua, kemudian beliau dishalatkan di Masjid Umar Makram di Kairo, dan upacara pemakamannya diiringi oleh sejumlah orang yang begitu besar hingga mencapai lebih dari seperempat juta orang –dan ada berpendapat setengah juta – dari masyarakat Mesir dan para utusan yang datang dari luar Mesir.

Begitu pula ikut hadir para pemuda yang berumur di bawah dan di atas dua puluh … mereka datang dari kota-kota dan desa-desa di Mesir, mereka ikut berpartisipasi dalam mengikuti prosesi pemakaman ini, mereka berlari-lari kecil dengan bertelanjang kaki di belakang mobil yang membawa jenazah, sementara air mata mereka membasahi wajah-wajah mereka, menangis atas meninggalnya sang dai pujaan nan kharismatik. Selain itu pula; pemerintah juga ikut berpartisipasi dan berbelasungkawa terhadap meninggalnya pemimpin Ikhwanul Muslimin tersebut.. dan ikut mengiringi pemakamannya, sebagaimana dihadiri pula oleh Perdana Menteri, Sheikh Al-Azhar saat itu, para anggota dari majma’ buhuts al-islamiyah (Akademi Penelitian Islam) dan ketua DPR/MPR, dan beberapa pimpinan dan tokoh Organisasi Kemerdekaan Palestina, dan beberapa tokoh dan ulama Mesir dan Islam serta sekelompok besar dari para diplomat; Arab dan dunia Islam.

Kesaksian tokoh tentang Umar At-Tilimsani

- Ibrahim Saa’dah, pemimpin redaksi Akhbar El Youm berkata dengan satu ungkapan: Umar At-Tilimsani telah meninggal .. negara dalam kondisi tenang.. bagi jamaah… bangsa… dan tanah air!

- Siaran radio Amerika: Jenazah ini telah menampakkan kekuatan dan antusiasme gerakan Islam di Mesir secara khusus dan mayoritas yang hadir adalah para pemuda.

- Majalah Kreeznet Internasional pada edisi tanggal 1-06-1986 menulis tentang beliau: “Dengan meninggalnya Umar At-Tilimsani seluruh harakah Islamiyah kehilangan seseorang yang memiliki kharisma yang mengagumkan, dan pengorbanannya akan menjadi inspirasi serta menempati posisi yang selalu dikenang sepanjang masa”.

Beberapa tulisan Mursyid Am “Umar At-Tilimsani”:

1. Dzikroyat la mudzakirat

2. Syahid al-mihrab

3. Hassan al-Banna al-mulhim al-mauhub (Hassan al-Banna dan inspirasi yang berbakat)

4. Wa ba’dhu ma ‘allamani al-ikhwan (beberapa sikap yang diajarkan oleh Ikhwanul Muslimin)

5. Fi riyadhi tauhid (dalam naungan tauhid)

6. Al-makhraj al-Islami min ma’zaq as-siyasi (Solusi Islam dari krisis politik)

7. Al-Islam wal hukumah ad-diniyah (Islam dan pemerintahan teokratis)

8. Islam wanzhratuhu as-samiyah lil mar’ah (Pandangan Islam terhadap wanita)

9. wa qala an -naas walam aqul fi ahdi Abdun nasir (ungkapan orang-orang namun saya tidak ikut mengatakannya pada masa pemerintahan Abdul Nasser)

10. Minsifatil abidin (beberapa karakteristik Abidin)

11. Ya hukkamal muslimin.. ala takhafunallah (Wahai para pemimpin Islam.. tidakkah kalian takut pada Allah)

12. Wala nakhafus salam walakin (kami tidak khawatir terhadap perdamaian, namun?)

13. Al-Islam wal Hayah (Islam dan kehidupan).

14. Haula risalah Nahwan nuur

15. Min fiqhil I’lam Al-Islami

16. Ayyam ma’as Sadat

18. Ara fiddiin wa siyasah (Beberapa pandangan tentang agama dan politik).

Referensi:

1. Min A’lam al-harakah al-islamiyah, mustasyar Abdullah Uqail

2. Miah mauqif min hayatil mursyidin lijamaatil Ikhwanul Muslimin

3. Umar At-Tilimsani wada’an

4. Dzikroyat la Mudzakirat, Umar At-Tilimsani

5. Majalah mujtama, edisi 1138, Syauqi Al-asthal

 

3. Muhammad Hamid Abu Nasr

Muhammad Hamid Abu An-Nasr, lahir pada tanggal 25 Maret 1913, di kota Manfaluth, propinsi Asyuth, Mesir. Sebuah daerah yang tumbuh di dalamnya Muhammad Hamid Abu An-Nasr, yang didirikan oleh kakeknya yang bernama Abu An-Nasr; seorang yang alim, Azahriy (ulama al-Azhar), penyair dan penulis dan merupakan salah satu pencetus kebangkitan kesusasteraan di Mesir di era Khadiwi Ismail, ikut juga berpartisipasi dalam penyusunan revolusi Arab, dan akhirnya Al-khadiwi Taufiq memutuskan untuk menentukan tempat tinggalnya di Manfelot , namun kemudian disingkirkan dengan cara diracun dan pada akhirnya meninggal pada akhir 1880.

Muhammad Hamid Abu Nasr hidup dalam keluarga yang kuat dengan kehidupan agama, sastra, dan politik. Dan hal tersebut diterjemahkan dalam partisipasinya mendirikan asosiasi keagamaan, dan forum kesusasteraan dan berpartisipasi dalam sistem politik; sehingga beliau dipercaya menjabat sebagai Amin mali (bendahara) Asosiasi Pemuda Islam, dan Ketua Asosiasi Reformasi Sosial Masyarakat dan anggota Komite Sentral delegasi di Manfelot.

Pada tahun 1933 menerima sertifikat kompetensi, dan menjadi anggota dari Asosisasi Reformasi Sosial Masyarakat di Manfalout tahun 1932, dan anggota dari Syubbanul Muslimin tahun 1933, dan Pada 1934 – 1935 M melallui temannya al-marhum ustadz Mohamed Abdul Dayem mendapat kabar bahwa mursyid pertama Ikhwanul Muslimin Hassan al-Banna akan berkunjung ke Jam’iyyah Syubbanul Muslimin di Asyuth, lalu beliau berbicara melalui telepon dengannya dan memintanya untuk untuk mengunjungi Manfalut untuk menyampaikan pidatonya disana. Dan setelah menyampaikan pidatonya mereka bertemu dan berdikusi bagaimana caranya mengembalikan umat Islam kepada Islam yang benar, dan saat itu beliau berkata kepada Imam Hasan Al-Banna berkata; namun hal ini bukanlah cara yang tepat untuk mengembalikan umat Islam pada masa keemasan dan kemuliaan masa lalu, beliau -Hasan Al-Banna- berkata kepadanya: jadi menurutmu bagaimana? Dan pada saat itu Muhammad Hamid Abu Nashr, berkata:” Saya pada waktu itu sangat berjiwa muda, dan senjata tidak pernah lepas dari saya seperti dalam menyambut pengunjung yang mulia yang saya cintai sebelum saya melihatnya. Saya berkata kepadanya: jadi satu-satunya cara untuk kembali kepada kemuliaan umat seperti masa lalu adalah ini… saya menunjukkan kepadanya senjata. Lalu beliau beliau turun dari tempat tidurnya seakan mendapatkan jawabannya, dan mendapatkan apa yang diinginkan, dan beliau berkata kepada saya: kemudian apa lagi? … bicaralah… lalu saya mendapatkan ucapan sebagai jawaban darinya dengan jelas, sambil mengeluarkan mushaf dari kopernya. Beliau berkata: apakah kamu mau berjanji dengan dua ini; mushaf dan senjata? Saya berkata: ya, dengan penuh kekuatan dan perasaan… dan saya tidak mensifatinya, kecuali karena karunia Allah yang berlimpah, dan kebahagiaan yang abadi yang di inginkan Allah melalui ilmu-Nya. Dan setelah selesai berbaiat dengan bentuk seperti tadi. Secara santai imam Hasan Al-Banna berkata: selamat, semoga Allah memberkahi, inilah awal kemenanganmu”.

Dakwah beliau

- Ustadz Muhammad Hamid bertemu dengan imam Syahid Hasan Al-Banna, pendiri dakwah Ikhwanul Muslimin di akhir tahun 1933, dan membaiatnya untuk bekerja di jalan Allah di bawah bendera dakwah yang penuh berkah ini.

- Ustadz Muhammad Hami adalah orang yang pertama kali bergabung pada barisan dakwah Ikhwanul Muslimin di daerah perkampungan Mesir.

- Menjadi ketua cabang di Manfaluth hingga menjadi anggota dalam lembaga pendiri (majelis syura), kemudian setelah itu menjadi anggota maktab Irsyad umum jamaah.

- Menghadapi penangkapan dan penjara serta dijatuhi hukuman pada tahun 1954 dengan hukuman kerja paksa selama 25 tahun, dan berlalu hukuman padanya 20 tahun di penjara Mesir dalam keadaan tegar dan kuat tidak pernah luntur dan gentar dalam berdakwah dan tidak pernah lunak walau terus berhadapan dengan rintangan, cobaan dan fitnah, sehingga beliau keluar dari penjara pada tahun 1974 untuk melanjutkan kontribusi dan jihadnya untuk meninggikan bendera Islam.

- Beliau terus melakukan dakwah dan kepemimpinannya hingga beliau diangkat menjadi mursyid am Ikhwanul muslimin menggantikan ustadz Umar At-Tilimsani pada tahun 1986.

Ustadz Muhammad Hamid adalah orang pertama yang selalu menemani pendiri jamaah Ikhwanul Muslimin, dan menjadi penopang harakah pada tahun 30-an, hidup bersamanya dalam penuh ujian bahkan berbagai rintangan dengan penuh kesabaran dan ikhlas, tidak pernah luntur azimahnya walau harus hidup di penjara, dan tidak pernah melemah walau harus berhadapan dengan kerasnya fitnah dan cobaan, sehingga beliau menjadi qudwah dalam keikhlasan dan kejujuran iman.

Beliau memenuhi janjinya dalam berbaiat, bersungguh-sungguh dalam ide dan pikirannya, membawa dengan gigih amanah risalah sekalipun telah berumur 80 an tahun..

Salah seorang penulis Islam berkata: “Saya melihatnya beliau adalah sosok yang memiliki fanatisme keimanan, berjiwa dan semangat muda, berani seperti pahlawan, bijaksana laksana syeikh, kaya akan pengalaman, penuh dengan cahaya iman, memiliki kasih sayang laksana orang tua, kecintaan laksana seorang al-akh, interaksi yang jujur laksana seorang sahabat, memiliki bimbingan laksana seorang guru, kebaikan yang memberikan teladan, keikhlasan sang murabbi, selalu memberi dengan penuh wibawa dan kharisma, akhlaq yang mulia, seakan sosok yang memiliki kesempurnaan, tampak pada wajahnya menghadapi kegamangan dakwah dengan penuh kesungguhan dan optimisme, dengan akhlaq yang mulia, penuh kasih sayang, cinta, wibawa, dermawan, ikhlas dan kebapakan”.

Beliau adalah saksi sejarah pada masanya yang secara sempurna menceritakan peristiwa dan kejadian yang dialami, dan bagaimana berpegang teguh pada dakwah di tengah masyarakat dan politik terakhir kali hingga masuk pada dewan kota dan desa, di bawah kehidupan parlemen, hidup pada masa yang penuh tipu daya, fitnah, mengada-ada dan penuh rekayasa, berhadapan dengan vonis dan tuduhan-tuduhan lainnya. Beliau adalah teladan dalam berbagai sikap walau tubuhnya semakin melemah oleh karena banyaknya ujian, siksaan dan usia, hingga akhirnya beliau kembali kepada yang Maha Kuasa, bertemu dengan Rabb-nya setelah memberikan pengorbanan dengan jiwa dan ruh dengan penuh jihad, gigih, sabar dan memenuhi janji dalam dakwah.

Jamaah Ikhwanul Muslimin pada masa kepemimpinannya

Jamaah Ikhwanul Muslimin di bawah kepemimpinan ustadz Muhammad Hamid berhadapan dengan banyak peristiwa terutama dalam kancah politik, secara kongkret pada masa beliau tokoh-tokoh yang muncul dalam pemilihan persatuan profesi, club-club pendidikan pada universitas dan lembaga-lembaga sosial lainnya.

Jamaah Ikhwanul Muslimin pada masa kepemimpinannya ikut turun dalam pemilu anggota dewan tahun 1987 dan berkoalisi dengan partai al-amal dan al-ahrar, sehingga berhasil memasukkan 36 orang anggota Ikhwan menjadi anggota parlemen. Dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Ikhwanul Muslimin masuk ke DPR dan menjadi pemimpin oposisi dalam bentuk yang kongkret, sebagaimana saat itu jamaah ikut dalam melakukan perbaikan majelis syura pada tahun 1989, dan mengikuti pemilu parlemen pada tahun 1990 dan bersama-sama ikut menjadi oposisi dengan partai-partai lain dalam menentang terus diterapkannya undang-undang darurat dan tidak adanya jaminan yang cukup untuk dilangsungkannya pemilu yang bersih… dan pada tahun 1992 jamaah Ikhwanul Muslimin juga ikut dalam pilkada yang ada di Mesir.

Dan pada tahun 1993 pemimpin jamaah menolak pengangkatan presiden Husni Mubarak untuk yang ketiga kalinya sehingga membuat marah pemerintah saat itu, dan memasukkan 82 orang dari pimpinan Ikhwanul Muslimin pada daftar yang akan diajukan ke mahkamah militer pada tahun 1995, dan menjatuhkan hukuman penjara terhadap 54 orang dari mereka dalam persidangan ilegal. Kemudian Ikhwanul muslimin juga ikut dalam pemilihan majelis syura (MPR) yang dilaksanakan pada tahun 1995.

Aktivitas politiknya.

Abu An-Nasr pada awal kehidupannya telah ikut serta dalam amal sosial dan amal-amal Islami lainnya, sehingga beliau dapat mencapai berbagai jabatan penting, seperti sebagai:

- Anggota dalam jam’iyah Islah ijtima’i di Manfaluth, tahun 1932

- Anggota jam’iyah syubbanul muslimin, tahun 1933

- Anggota jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1934

- Anggota maktab irsyad jamaah Ikhwanul Muslimin.

- Mursyid am Ikhwanul Muslimin setelah meninggalnya Umar At-Tilimsani, tahun 1986

Berada dalam penjara

Abu Hamid Abu An-Nasr bersama dengan kawan-kawannya dari maktab Irsyad serta yang lainnya dari anggota jamaah Ikhwanul Muslimin ditangkap pada tahun 1954 saat terjadi bentrokan revolusi Mesir dengan jamaah Ikhwanul Muslimin dan dijatuhi vonis dengan hukuman kerja paksa seumur hidup. Dan beliau tetap ditahan hingga akhirnya dibebaskan pada masa presiden Anwar Sadat.

Kembali dalam kancah politik dan dakwah

Setelah keluar dari penangkapan, beliau kembali pada aktivitas dakwah dalam jamaah Ikhwanul Muslimin, dan kemudian dipilih menjadi mursyid Ikhwanul muslimin setelah ustadz Umar At-Tilimsani meninggal pada tahun 1986. Dan pada masa kepemimpinannya banyak anggota Ikhwan yang masuk dalam parlemen dan menjadi anggota dewan Mesir, dan jamaah menyaksikan akan perkembangan dan kemajuan yang gemilang pada masa kepemimpinannya.

Wafatnya:

Muhammad Hamid Abu An-Nasr wafat dalam usia 83 tahun, yaitu tepat pada hari sabtu pagi tanggal 20 Januari 1996.

Buku-buku karangan beliau:

- Hakikat al-khilaf baina “Al-Ikhwan al-muslimin” wa Abdul Nasser.

 

4. Mustafa Masyhur

Beliau lahir pada tanggal 15 September tahun 1921 di kota As-Sa’din dari kota Manya al-qamh, propinsi Timur. Ikut dalam belajar pada penulis desa sejak dua tahun. Kemudian masuk sekolah dasar di desanya, kemudian masuk sekolah I’dad di Manya Al-Qamh, lalu sekolah tsanawiyah (setingkat SMA) di Zaqaziq, setelah tinggal di Zaqaziq selama dua tahun mengikuti sekolah tsanawiyah, beliau pindah ke Kairo dan menyempurnakan sekolah tsanawiyahnya di sana, lalu masuk kuliah di universitas Kairo kuliah al-ulum, dan tamat pada tahun 1942.

Mengenal jamaah Ikhwanul muslimin pada tahun 1936.

Setelah lulus kuliah, beliau ditempatkan wajib militer pasukan udara dengan tugas “spionase udara”, kemudian pindah ke Alexandria, untuk menghabiskan waktu satu tahun dalam latihan, kemudian kembali ke Kairo untuk melakukan tugas sebagai pembawa berita melalui udara.

Pada bulan Juni tahun 1954 beliau di pindah kerjakan ke Marsa matruh dan disana beliau ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara perang.

Lalu dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan diwajibkan kerja paksa, kemudian dipindahkan ke daerah Liman Torh dan dimasukkan ke dalam penjara lumpur.

Pada tahun 1965 beliau kembali dipenjara; hingga akhirnya dibebaskan pada masa presiden Anwar Sadat dan memangku jabatan penting sebagai Mursyid Am Ikhwanul Muslimin setelah meninggalnya ustadz Muhammad hamid Abu An-Nasr pada tahun 1996

Ketika beliau pindah ke Kairo untuk melanjutkan pendidikan disana, saat beliau shalat di masjid suatu kampung tempat beliau tinggal, beliau melihat salah seorang jamaah memberikan majalah yang bernama “At-Ta’aruf”, dan mendengar pengumuman adanya pelajaran di masjid tersebut dan beliau diajak untuk menghadirinya, lalu beliau hadir dan mendengar salah seorang dari anggota Ikhwan berbicara tentang Islam, dan membuatnya sangat kagum akan penyampaian tersebut dan berambisi untuk terus menghadirinya.

Dan dalam satu masjid tersebut di umumkan bahwa imam Al-Banna akan memberikan pelajaran pada hari selasa di kota Al-Hilmiyah, maka ustadz Mustafa datang menghadirinya, dan sangat kagum dengan penyampaian ustadz Al-Banna, dan berambisi untuk terus mengikutinya, dan pada akhirnya beliau masuk menjadi anggota Ikhwan pada tahun 1936 dan berbaiat untuk komitmen dengan dakwah Ikhwan.

Kesaksian beliau atas perbedaan antara Ikhwan dan pasukan revolusi

Pada masa pemerintahan Abdul Naser yang berambisi untuk menjadi sosok tersendiri dalam revolusi, dan berhasil menjatuhkan pemerintahan Muhammad Najib, karena secara pangkat beliau lebih tinggi, lalu memberantas anggota dan pengikut jamaah Ikhwan padahal mereka adalah orang-orang yang berhasil melakukan revolusi dengan kader-kadernya dalam struktur tentara, sehingga terjadilah penangkapan atas mereka dan terjadilah pergolakan oleh senjata tentara, sehingga akhirnya para Ikhwan dapat bebas dan langsung pergi menuju Mursyid Ikhwanul Muslimin yang pada saat itu di pimpin oleh Hasan Al-Hudaibi dan meminta sikap terhadap apa yang terjadi.

Terjadinya krisis antara Ikhwan dan kelompok revolusi membuahkan berbagai penangkapan, dan dibebaskan kembali pada tahun 1954.

Dan pada tahun 1954 terjadi di kota Al-Mansyiah dan Abdul Naser menuduh mereka melakukan rekayasa peristiwa tersebut dan akhirnya 6 orang di antara mereka dijatuhi hukuman mati, diantaranya Abdul Qadir Audah, Syeikh Muhammad Faragalli, Yusuf Thal’at, Ibrahim At-Tayyib, Handawi Duwair dan Muhammad Abdul Latif”.

Mustafa Masyhur dalam penjara

Pada bulan Juni tahun 1954 beliau dipindah tugaskan ke daerah Marsa Matruh, namun di sana beliau ditangkap dengan tuduhan berada di balik kejadian Al-Mansyiah dan dimasukkan ke dalam penjara perang.

Dan pada tahun 1955 dijatuhi hukuman 10 tahun dengan kewajiban melakukan kerja paksa atas tuduhan dengan masalah yang dikenal dengan sebutan “Masalah mobil Al-Jiip” dan beliau menjalani hukuman tersebut dengan penuh.

Pada tahun 1965 presiden Abdul Naser mengeluarkan keputusan untuk menangkap seluruh orang yang sebelumnya pernah ditangkap, dan keputusan tersebut tetap bertahan hingga akhirnya Abdul Naser wafat dan mereka dilepaskan pada masa pemerintahan Anwar Sadat.

Kesaksian beliau pada peristiwa pembantaian di Torroh

Ustadz Mustafa masyhur berkata: “Pada tahun 1957 Abdul Naser merencanakan untuk mengulingkan raja Husain dari singgasananya melalui para tentara Ikhwan di Jordania, namun rencana tersebut berhasil tercium, sehingga akhirnya mereka gagal melakukannya, dan sang raja melakukan pembalasan atas perbuatan tersebut, sehingga diantara mereka ada yang dipenjara di Torroh. dan di tempat tersebut para ikhwan dipaksa kerja diatas gunung untuk memecahkan batu, dan ada diantara mereka yang sakit diberikan keterangan dokter agar tidak ikut naik gunung.

Pada suatu hari dikeluarkan keputusan seluruh napi harus naik ke gunung, baik yang sehat atau yang sakit, maka para Ikhwan pun keheranan akan keputusan tersebut, dan menanyakan sebabnya sehingga merekapun tidak mau keluar.

Namun seketika itu muncul sekelompok orang tentara membawa senjata dan masuk pada sekelompok Ikhwan melalui terowongan dan parit, lalu melepaskan tembakan atas mereka secara brutal dan keji, sehingga sebanyak 21 orang anggota Ikhwan terbunuh, kejadian tersebut disebut dengan nama “Pembantaian Torroh”.

Wafatnya beliau

Beliau wafat pada hari Selasa tanggal 29 Oktober tahun 2002 pada usia 83 tahun.

Karangan-karangan beliau

• Al-jihad huwa as-sabil

• Tasaulat ala thariq ad-dakwah

• Munajat ala at-thariq

• Muqawwimat rajulul aqidah ala thariq ad-dakwah

• Wihdatul amal al-islami fi al-qatrul wahid

• Zaad ala at-thariq

• Al-qudwah ala thariq ad-dakwah, ad-dakwah al-fardiyah

• Al-hayah fi mihrab as-shalat al-islam huwal al-hall, min fiqh ad-dakwah

• Al-qaid al-qudwah wa mutathallibatuhu baina ar-rabbaniyah wal madiyah

• Qadhaya asasiyah ala thariq ad-dakwah at-tiyar al-islami wa dauruhu fi al-bina

• Qadhiyah azh-zhulm fi dhaui al-kitab wa as-sunnah

• Thariq ad-dakwah baina al-ashalah wa al-inhiraf min at-tiyar al-islami ila Sya’b misr

 

5. Ma'mun al-Hudhaibi

Beliau adalah seorang konsultan dan jaksa; Muhammad Ma’mun Hasan Ismail Al-Hudaibi, mursyid ke enam jamaah Ikhwanul muslimin, anak kandaung dari konsultan Hasan Al-Hudaibi, Mursyid Am kedua Ikhwanul muslimin yang menjabat pada tahun 1950 sampai 1973.

Beliau Lahir di propinsi Sohaj, Mesir tanggal 28 Mei 1921, dan keluarganya berasal dari desa Arab As-Shawalihah, distrik Syibin El-Qanatir, propinsi Al-Qolyubiyah, lalu setelah itu keluarganya banyak berpindah ke berbagai tempat dan kota di Mesir; karena orang tuanya adalah seorang Jaksa Hasan Al-Hudaibi, yang merupakan mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin pada masa dari tahun 1951 hingga meninggal pada tanggal 13 Nopember 1973

Aktivitas

Beliau Ustadz Muhammad Ma’mun Al-Hudaibi menjalani masa pendidikan umum di berbagai sekolah di Mesir mulai dari tingkat ibtidaiyah hingga kuliah dan meraih sarjana pada kuliah hukum di Universitas Raja Fuad (sekarang universitas Kairo). setelah itu beliau ditetapkan sebagai wakil jaksa.

Kemudian secara beransur menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum kemudian ditunjuk sebagai hakim.

Kemudian setelah itu menjabat bidang peradilan hingga menjadi Ketua Pengadilan Banding di kejaksaan pemula di Kairo, yang merupakan akhir karirnya di pemerintahan di Mesir.
Setelah itu bekerja di Arab Saudi dalam satu periode dan kemudian kembali ke Kairo untuk mencurahkan dirinya dalam dakwah.

Akhirnya beliau menjabat sebagai ketua Pengadilan untuk Gaza pada tahun 1956.

Bersama jamaah Ikhwanul Muslimin

Ustadz Ma’mun Hudhaibi berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dakwah dan harakah terutama dalam melakukan perlawanan rakyat saat terjadi agresi selasa atas Mesir pada tahun 1956 sehingga beliau ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel. Kemudian beliau bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin, namun dirinya tidak terlepas dari penjara dan penangkapan pada masa pemerintahan Jamal Abdul Nasser pada tahun 1965 dan dipindahkan dari penjara perang dan Tora saat itu. Kemudian pada pemerintahan Sadat pada tahun 1971 dibebaskan dari penjara, dan kemudian mengajukan gugatan untuk menuntut kembali bekerja di bidang peradilan, maka Pengadilan pun mengangkatnya kembali namun pemerintah menolaknya untuk kembali bekerja tanpa memberikan justifikasi apapun.

Di Parlemen

Jamaah mencalonkan beliau dan sekelompok Ikhwan lainnya pada pemilu tahun 1987 legislatif dan berhasil meraih 36 orang untuk menjadi anggota parlemen. Beliau menjadi anggota parlemen dari daerah pemilihan Al-Dokki, Propinsi Al-Giza. Kemudian pada saat itu pula beliau diangkat untuk menjabat sebagai juru bicara resmi fraksi Ikhwanul muslimin di Parlemen. Dan setelah itu, beliau terpilih sebagai Wakil Mursyid Am Ikhwanul Muslimin dan menjadi juru bicara jamaah Ikhwanul muslimin

Menjabat sebagai mursyid am Ikhwanul Muslimin

Pada saat menderita sakit dan koma yang dialami oleh Mursyid Am Ikhwanul Muslimin ustadz Mustafa Mashhour pada tanggal 29 Oktober 2002 akibat pendarahan otak yang telah meraja lela pada dirinya, dan akhirnya ustadz Ma’mun Hudaibi mengambil alih tugas jabatan Ikhwanul Muslimin.

Dan Pada hari Rabu sore, tanggal 22 Ramadan 1423 bertepatan dengan tanggal 27 November 2002 beliau terpilih menjadi Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, menggantikan posisi ustadz Mustafa Mashhour sehingga beliau resmi menjadi Mursyid Am keenam Ikhwanul Muslimin

Wafatnya

Ustadz Ma’mun Al-Hudaibi meninggal setelah berbagai penyakit dan permasalahan kesehatan menyerang beliau, sehingga membuatnya sering keluar masuk rumah sakit untuk mendeteksi usus besarnya, kemudian meninggal setelah kembali ke rumahnya di Kairo.

Lebih dari 300 ribu warga ikut menyalatkan beliau di Masjid Rab’ah al-adawiyah setelah salat Jumat dan yang menjadi imam saat itu adalah “Khaled Hudhaibi,” putra almarhum, dan yang menjadi imam qashar bagi para musafir adalah ustadz Mohamed Helal, Mursyid Am sementara, karena beliau adalah anggota tertua hingga diadakan pemilihan baru
Prosesi pemakaman beliau dilakukan dengan berjalan kaki dari masjid menysuri jalan An-nasr, hingga tiba di pusat klub Al Ahli Al-Jadid di Nasr City, Timur Kairo, kemudian mayat beliau diusung dengan menggunakan mobil khusus dan diiringi dibelakangnya oleh ratusan mobil, mayat Ustadz Ma’mun dibawa untuk dikubur di pemakaman keluarganya di daerah Arab Alsowalihah, distrik Shibin El-Qanatir, provinsi Qaliubiya; dan almarhum dimakamkan disamping ayahnya “Hasan Al-Hudhaibi,” mursyid am Ikhwanul muslimin kedua.

 

6. Muhammad Mahdi Akif

Tokoh ini sudah berkecimpung dalam pergerakan Islam, khususnya dalam perjuangan Ikhwanul Muslimin sejak berusia 12 tahun.

Apabila pemimpin Ikhwan, Hassan alBanna mengesyorkan supaya ada di kalangan pemuda Islam yang boleh memberikan latihan fizikal kepada ahli pergerakan itu, Muhammad Akif meninggalkan pengajiannya dalam bidang kejuruteraan untuk menyahut cabaran itu. Sejak itu, bermulalah perjuangannya di barisan hadapan Ikhwanul Muslimin.

Walaupun tidak pernah menjadi tentera, beliau bersama belia Mesir lain pernah berjuang menentang tentera British di Terusan Suez pada 1951 dan berjuang menentang penubuhan sebuah kerajaan Yahudi di Palestin. Selepas perang tamat, beliau kembali melatih belia tahan lasak Ikhwan.

Oleh kerana terlalu gerun pada perjuangan Ikhwanul Muslimin, pada 1954, tujuh pemimpin utama Ikhwan termasuk Muhammad Akif, ditahan dan dijatuhkan hukuman mati. Ini termasuk pemikir Islam terkemuka, Abdul Kadir Audah. Enam pemimpin diseksa, digantung dan dibunuh. Beliau ialah pemimpin ketujuh yang disenaraikan oleh regim Jamal Nasser untuk dibunuh. Pada perkiraannya, saat untuk syahid sudah sampai. Bagaimanapun, datang perintah supaya hukuman itu dibatalkan. Kerajaan Naseer mengubah fikiran suapaya hukuman itu dibatalkan. Kerajaan Nasser mengubah fikiran kerana desakan daripada negara Islam lain ketika itu.

Walaupun terselamat daripada tali gantung, Muhammad Akif terpaksa menghabiskan usia mudanya dalam penjara sehingga dibebaskan pada 1974 oleh kerajaan Anwar Sadat.

 

7. Dr. Muhammad Badi

Muhammad Badi Abdul Majid Samy, lahir 7 Agustus 1943, di kota Mahalla al-Kubra, dikenal seorang tokoh Ikhwan yang sangat ulet, teguh dalam pendirian, memiliki keyakinan yang kokoh terhadap cita-cita, dan memiliki pandangan-pandangan yang banyak mengadopsi pemikiran Sayyid Qutb. Badi menikah dengan Samia al-Ashnawy, mantan Direktur Sekolah Dakwah Islam, dan ia adalah adik kandung dari tokoh Ikhwan generasi awal, Ali Ashnawy, seorang pilot, yang dihukum mati tahun 1954 oleh Presiden Gamal Abdul Nasser, karena dituduh terlibat makar.

Dari perkawinannya itu, antara Badi dengan Sami memperoleh anak, diantaranya Ammar seorang insinyur dibidang komputer, Bilal ahli radiologi, Doha ahli dibidang pharmasi. Badi dan Samia juga telah dikaruniai cucu, Roaa, Habib, Eyad, dan Tameem.

Riwayat pendidikan Badi, cukup unik, yaitu sarjana kedokteran hewan tahun 1965, dan setelah lulus, mengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, di tahun 1965. Selanjutnya, Badi melanjutkan kuliah, sampai kemudian mendapatkan master di bidang kedokteran hewan di tahun 1977 dariUniversitas Zagazig. Tak lama kemudian Badie mendapatkan gelar doktor dibidang kedokteran hewan di tahun l979 di Universitas Zagazig. Sesudah mengajar dibidang yang digelutinya selama beberapa tahun, Badi menjadi asisten Profesor dibidang kedokteran hewan di tahun 1983 di Universitas Zagazig.

Murysid 'Aam IKhwanul Muslimin yang ke VIII ini, pernah menjadi tenaga ahli di bidang kedokteran hewan di Sana'a (Yaman), antara tahun 1982-1986. Ia terus melanjutkan keahlian dibidang kedokteran hewan, dan mendapatkan gelar Profesor di bidang kedokteran hewan, tahun l987, dari Universitas Kairo -Cabang di Bani Suef. Badie juga menjadi ketua Departmen Pathology, pada Fakultas Kedokteran Hewan di Beni Suef tahun 1990. Tokoh baru Ikhwan itu, juga menjadi supervisi 15 orang master, dan 12 orang PhDs, dan puluhan ilmuwan yang melakukan penelitian yang sedang mengambil spesialis dibidang kedokteran hewan.

Badie sekarang sebagai Profesor di Departemen Pathology Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Beni Suef. Ia juga menjadi Sekjen Organisasi Assosiasi Dokter Hewan selama dua tahun. Ia juga anggota dewan Organisasi profesi dibidang profesi obat-obatan selama setahun. Kegiatan lainnya, Badie aktif dibidang sosial dan ilmu pengetahuan, dan selebihnya menjadi anggota Dewan Pemerintahan, khususnya Organisasi Islam yang menangani masalah Kesejahteraan di kota Mahalla al-Kubra.

Riwayat keterlibatan Badie di Gerakan Ikhwan, dimulai sejak tahun 1975 menjadi anggota bagian bidang administrasi Ihwan di Mahalla, di tahun 1977 menjadi kepala administrasi Ikhwan di kota Mahalla, tahun 1986 bekerja dibidang pendidikan di Sana'a (Yaman), di tahun 1990 menjadi ketua Ikhwan di Bani Suef, dan menjadi ketua bidang pendidikan di Beni Suef. Interaksi yang inten dengan Gerakan Ikhwan itu, membuat pribadi Badi sebagai seorang pemimpin yang sangat tangguh.

Selanjutnya, sebagai Anggota pusat Assosiasi di bidang Kedokteran Hewan, yang mengantarkan dirinya menjadi orang yang paling mendalami dibidang kedokteran hewan. Badie memiliki reputasi dibidang kedokteran hewan, yang sangat langka dalam bidang ini. Sampai sekarang ini ia terus mengeluti bidangnya, ditengah-tengah kesibukannya menjadi pemimpin gerakan Islam terbesar di dunia. Inilah pelajaran yang menarik seorang tokoh pergerakan Islam dengan latar belakang yang langka, dan bukan ulumul syar'i.

Karena keterlibatan yang sangat inten dalam pergerakan Ikhwan ini, maka Badi di tahun 1996 terpilih menjadi anggota Maktabul Irsyad (dewan pembimbing), dan di tahun 2007, tokoh yang memiliki kepribadian yang unik, dan sangat teguh pendiriannya ini, di pilih menjadi anggota pusat Maktabul Irsyad, sampai kemudian ia ditahan oleh fihak keamanan Mesir.

Pengalaman Badi juga pernah dipenjara bersama dengan Sayyid Quthb, di tahun 1965. Ia dijebloskan penjara selama 15 tahun di penjara militer, dan bertemu dengan seorang tokoh dan ideolog Ikhwan yaitu Quthb, dan dibebaskan sesudah dijalaninya selama 9 tahun. Setelah dibebaskan di tahun 1974, Badie kembali melanjutkan profesi sebagai dosen di Universitas Zagazig, serta mengajar di Yaman, dan kembali ke Universitas Kairo di Bani Suef. Ia berulang-ulang dimasukkan penjara oleh rejim Mesir, sampai tahun l999, di mana ia dijatuhi hukuman 5 tahun.

Badi yang menikah dengan Samia yang merupakan adik dari Ali Ashnawy yang telah digantung oleh Gamal Abdul Nasser ini, akan menjadi nakhoda baru dari pergerakan Ikhwan, yang bertanggungjawab menghadapi tantangan masa depan Ikhwan yang sangat rumit dan pelik, terutama tantangan internal dan eksternal. Badi telah teruji mengarungi perjalanan dakwah yang panjang bersama dengan Gerakan Ikhwan.

Mahdi Akif sendiri meninggalkan kepemimpin Jamaah Ikhwan dengan hati yang lapang, di tengah-tengah berbagai terpaan isu dan pandangan negatif terhadap Ikhwan, tapi tokoh yang masih berhubungan dengan pendiri Jamaah Ikhwan, Hasan Al-Banna itu, nampak ikhlas meninggalkan posisinya sebagai Mursyid 'Aam, tanpa harus bersikeras untuk mempertahankan terus menerus. Mahdi Akif baru satu periode memimpin Jamaah Ikhwan, menggantikan Makmun Hudaibi, yang meninggal tidak lama sesudah menggntikan Mustafa Masyhur.

Padahal, saat ini Ikhwan menjadi sebuah barometer politik di Mesir, khususnya dalam menghadapi pemerintah. Ikhwan di Mesir menjadi kekuatan utama oposisi, yang tidak mau melakukan tawar menawar dengan kekuasaan Husni Mubarak. Semua akan menepis adanya pengelompokkan dan pengkubuan di dalam tubuh Ikhwan, antara yang disebut konservatif dengan reformis. Akif mampu menjembatani berbagai pandangan di dalam tubuh Ikhwan, khususnya yang reformis dengan yang konservatif, dan memilih Mohammed Badie, sebagai penggantinya.

Mahdi Akif, meninggalkan posisinya sebagai Murysid 'Aam, sesuai dengan aturan anggaran dasar (Nidhom 'Aam) Ikhwan, yang sejak meninggalnya Mustafa Masyhur, Mursyid 'Am yang ke VI, jabatan Mursyid 'Aam, tidak lagi seumur hidup, tapi dibatasi hanya dua periode. Mahdi Akif jujur dan komitment pada aturan organisasi, dan kemudian sebagai pucuk pimpinan Ikhwan, ia meninggalkan posisinya sebagai Mursyid 'Aam, tanpa harus terbebani lagi dengan jabatan itu. (mashadi/berbagai sumber)

 

Sumber:

https://aridasahputra.blogspot.com/2012/05/mursyid-am-kedelapan-dr-muhammad-badi.html

 

8. Ahmad Yasin

 “Wahai anak-anakku, telah tiba saatnya kalian kembali kepada Allah swt., meninggalkan berbagai sorak kehidupan dan menyingkirkannya ke tepi jalan. Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan salat subuh berjamaah, saatnya kalian menghiasi diri dengan akhlak mulia, mengamalkan kandungan al Qur’an, serta meneladani Muhammad saw.

Aku mengajak kalian wahai anak-anakku untuk shalat tepat waktu. Lebih dari itu, aku mengajak kalian, wahai anak-anakku, untuk mendekat kepada Nabi kalian yang agung.

Wahai para pemuda, aku ingin kalian mengenal dan menyadari makna tanggung jawab, tegar menghadapi kesulitan hidup, meninggalkan keluh kesah, menghadap kepada Allah swt., banyak meminta ampunan kepada-Nya agar Dia memberi rezeki kepada kalian, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Aku ingin kalian tidak terlena oleh saluran-saluran lagu audio visual, melupakan kata-kata yag mengobral cinta, serta menggantinya dengan kata amal, kerja, dan zikir kepada Allah. Wahai anak-anakku, kuharap kalian tidak sibuk dengan musik dan terjerumus ke dalam arus syahwat.Wahai p

utriku, aku ingin kalian berjanji kepada Allah mempergunakan hijab secara benar. Aku meminta kalian berjanji kepada Allah peduli dengan agama dan Nabi kalian yang mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan. Jadikan mereka sebagai pelita hidup kalian. Haram hukumnya bagi kalian membuat usaha para pemuda untuk menjaga mata mereka menjadi kendur dan surut.

Kepada semuanya, aku ingin kalian bersiap-siap menghadapi segala sesuatu yang akan datang. Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar dan mencari hikmah. Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat. Latihlah diri kalian agar dalam beberapa saat hidup tanpa listrik dan perangkat elektronik. Latihlah diri kalian agar dalam sementara waktu merasakan kehidupan yang keras. Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat perencanaan untuk masa depan. Berpeganglah kepada agama kalian. Carilah sebab-sebabnya dan tawakallah kepada Allah.”

(Petikan salah satu pidato beliau)

Kemuliaan Hati Mengalahkan Hambatan Fisik

Dia adalah seorang mukmin yang merdeka meski seluruh hidupnya dibelenggu dengan terali besi. Itulah gambaran indah yang mencerminkan kehidupan Syaikhul Mujahidin, Guru para Mujahid dan perlawanan ini. Meskipun sebenarnya gambaran tersebut kalah indah dengan kalbunya yang menghembuskan kehidupan serta tekadnya yang tidak pernah lumpuh dan tidak terbelenggu oleh ikatan penjara. Beliau adalah cakrawala yang luas serta pikiran yang hidup yang tidak mengenal batas. Demikianlah kehidupannya di penjara dan begitulah kisahnya saat berada di medan dakwah dan perlawanan, seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang mendampinginya, mengenai sosok yang tidak mampu bergerak, namun bisa menggerakkan dunia.

Dia bukanlah seorang presiden ataupun seorang raja. Dia hanyalah seorang lelaki lumpuh yang membangun ide perlawanan hingga menjadi sosok yang tidak disebut kecuali dengannya. Sampai hari ini, setiap orang baik lawan maupun kawan tetap menaruh hormat kepadanya. Namanya senantiasa disebut di seluruh dunia. Dialah Amir Mujahidin Palestina, mujahid Ahmad Yasin, gugur perlawanan yang gugur oleh tangan-tangan biadab Zionis Israel dalam serangan rudal dari pesawat heli tempur Apache buatan Amerika, selepas shalat subuh di masjid kota Gaza, Senin 22 maret 2004 lalu.

Seperti diungkapkan Prof. Dr. Taufiq Yusuf al Wa’i, dalam karyanya “Qaadat al-Jihaad al-Filistiini fii al-Ashr al-Hadiits: Kifaah, Tadhiyyah, Butuulaat, Syahaadaat”, semua gambaran di atas terdapat pada sosok lumpuh yang tak mampu berdiri ini; sosok yang kedua tangannya pun lumpuh tidak mampu membawa sesuatu; sosok yang kurus dan lemah; tubuh yang terserang oleh berbagai penyakit; penglihatan yang telah kabur kecuali hanya seberkas sinar dari satu mata; serta penderitaan dan sakit yang tak kunjung reda. Bukankah ini sesuatu yang menakjubkan? Bukankah ia merupakan tanda kebesaran Tuhan dan wujud anugerah-Nya? Sosok tersebut hidup untuk misi dan untuk umatnya. Ia menghabiskan usianya dalam dakwah. Ia adalah jihad yang terus berjalan, teladan yang terus bergerak, panutan yang memancarkan cahaya dan keimanan, serta pemahaman dan pengetahuan di tengah jarangnya orang yang tulus, di tengah sedikitnya keikhlasan, serta di tengah lenyapnya suara kebenaran dan ketegasan. Syaikh Yasin datang sebagai pemimpin bagi para mujAhed, tokoh bagi para dai, guru yang bijak dan teladan yang agung bagi para pendidik. Tubuhnya yang kurus, kelumpuhannya, dan penyakit yang kronis membuatnya tidak mampu berjuang dengan senjata. Karena itu, beliau berjuang dengan senjata hikmah, dengan pedang pembinaan dan penataan, dengan meriam keimanan, serta dengan bom kesabaran, keteguhan, dan ketegaran.

Namun demikian Ahmad Yasin membekali dirinya dengan pendidikan tinggi secara autodidak. Sungguh menakjubkan, Ahmad Yasin terbukti menguasai segala bidang keilmuan mulai dari agama, bahasa, sastra, politik, sosial sampai masalah ekonomi. Dengan wawasan yang luas inilah kemudian Ahmad Yasin menjadi sumber rujukan di Jalur Gaza dan semua orang, dari berbagai lapisan, terkesan oleh ceramah-ceramah yang disampaikan. Semua orang mendengar apa yang dikatakan dan menaruh hormat. Sejatinya, semua itu bukan hanya karena wawasan dan keilmuan yang dimilikinya saja. Sebenarnya banyak kaum intelek Palestina kala itu, namun – allahu a’lam – mungkin itu semua karena sikap wara’, ikhlas, tawadhu’, energik – meski fisiknya cacat -, kecerdasan, visi yang benar, kelapangan dada dan semangat memperjuangkan agama dan tanah air, serta totalitas kerjanya diperuntuhkan hanya pada Allah.

Masa Muda Syaikh Ahmad Yassin

Kedua kakinya yang lumpuh tak menghalanginya untuk memandu perjuangan dari atas kursi roda. Namanya menjelma menjadi simbol jihad bagi rakyat Palestina dalam melawan penjajahan Zionis. Berkali-kali militer tentara Israel mencoba membunuhnya, berkali-kali juga gagal.

Ahmad Yasin kecil biasa dipanggil dengan (kuniyah) Abu Sa’dah, dinisbatkan kepada ibundanya Sa’dah Abdullah al Hubail, untuk membedakan sebutan karena banyaknya nama Ahmad dalam keluarga Yasin. Sa’dah adalah sosok hajjah yang mulia, sabar, dan penuh keyakinan, termasuk wanita terhormat di desa tersebut. Ayah Ahmad Yasin bernama Ismail Yasin, orang terkemuka di desanya. Keluarganya termasuk keluarga yang berkecukupan. Ismail meninggal dunia ketika Ahmad masih sangat kecil, belum lewat usia 3 tahun, meninggalkan keluarga yang terdiri atas sebelas orang. Ahmad Yasin adalah anak ketiga di antara 4 anak laki-laki keluarga Ismail.

Ketika tentara Arab menderita kekalahan pada 1948, Yassin baru berusia 12 tahun. Peristiwa ini meninggalkan pelajaran dalam kehidupan maupun pemikiran politiknya kemudian. Menurutnya, mempersenjatai diri sendiri adalah jalan yang lebih ampuh daripada menggantungkan harapan pada orang lain, baik dunia Arab maupun internasional. "Tentara Arab yang datang untuk memerangi Israel justru merampas senjata dari tangan kami. Mereka beralasan, tidak pantas ada pasukan lain. Nasib kami pun terikat dengannya. Jika pasukan Arab kalah, kami pun kalah. Lalu Zionis menebar pembantaian dan penyembelihan. Seandainya senjata berada di tangan kami, tentu situasi akan berubah."

Ahmad Yassin bersekolah SD di Jaurah hingga kelas lima. Situasi kacau pada tahun 1948 memaksanya hijrah menemani keluarganya ke Gaza. Di sana, situasi berubah pahit. Keluarganya, seperti umumnya pengungsi, merasakan kefakiran, kelaparan dan intimidasi. Masa itu, ia biasa pergi ke perkemahan tentara Mesir bersama teman-temannya untuk mengambil sisa-sisa makanan tentara untuk ia berikan pada keluarganya. Sekolahnya sempat terhenti pada tahun 1949-1950 demi menolong ekonomi keluarganya yang berjumlah dari tujuh orang, Ia terpaksa bekerja di salah satu restoran kacang di Gaza.

Kecelakaan Itu

Malang tak dapat ditolak. Pada tahun 1952, saat berusia 16 tahun, rangka leher Yassin patah ketika bermain bersama kawan-kawannya.

Di dekat kamp pengungsi al Shati’, pantai adalah tempat bermain yang sangat penting dan strategis. Di sana banyak dilakukan aktivitas mulai dari keilmuan yang disusul dengan kegiatan olah raga. Di antara olah raga yang dilakukan adalah melompat dari ketinggian ke pasir laut (yang indah), atau seorang naik di atas pundak yang lain saling berpegangan tangan kemudian melompat ke laut, atau bermain bola dan berbagai permainan berat lainnya. Dalam salah satu permainan di pantai pada musim panas tahun 1952 Ahmad Yasin jatuh terjungkal kepalanya, seperti diceritakan Ahmad Yasin kepada keluarganya kala itu. Namun seperti diceritakan Dr. Abdul Aziz Rantisi, “Beliau mengalami musibah patah tulang leher saat bermain gulat dengan salah satu teman beliau, asy Syahid Abdullah Shiyam (Komandan Perang “Khalda” Beirut tahun 1982 yang gugur dalam perang tersebut). Namun beliau menyembunyikan sebab-sebab terjadinya kecelakaan tersebut kepada keluarga beliau agar tidak timbul masalah antara keluarga beliau dan keluarga Shiyam. Ketika itu, beliau hanya berkata bahwa kecelakaan itu terjadi karena ia melompat di udara dan kemudian terjatuh dengan kepala terlebih dahulu. Baru pada tahun 1990 beliau bercerita yang sebenarnya kepadaku saat bersama dalam satu pernjara.

”Setelah empat puluh hari lehernya digips, ternyata ia harus menjalani sisa hidupnya dalam keadaan lumpuh. Selain lumpuh penuh, mata bagian kanannya buta setelah ia dipukul dalam penjara Israel oleh dinas intelijen Israel. Mata kirinya juga tidak dapat melihat banyak. Selain itu, masih ada beberapa penyakit fisik lainnya yang menimpa beliau. Namun semua ini tidak menghalanginya untuk berjuang.

Masa Perjuangan

Usai menamatkan sekolah menengahnya pada 1958, Yassin diberi kesempatan mengajar meski sebelumnya ditolak karena faktor kesehatan. Sebagian besar gajinya dari mengajar diserahkan untuk keluarganya. Ketika berusia duapuluh tahun, Yassin ikut berdemonstrasi di Gaza dalam rangka menolak serangan Israel ke Mesir pada tahun 1956. Saat itulah, tampak kepiawaian berorasi dan berorganisasi tampak. Bersama teman-temannya, ia menyerukan untuk menolak campur tangan dunia internasional dan menegaskan kemestian kembalinya pasukan Mesir ke wilayah ini.

Lidah Yassin yang tajam membuat bintangnya meroket di kalangan aktivis dakwah di Gaza. Hal ini membuat intelijen Mesir menangkapnya pada tahun 1965 yang merupakan kelanjutan dari penangkapan besar-besaran yang ditujukan kepada aktivis Ikhwanul Muslimin. Ia dikurung selama sebulan, lalu dilepaskan setelah terbukti tidak bersalah. Tentang pengalamannya di penjara, pemimpin spritual HAMAS ini menuturkan, "Penjara makin menegaskan jiwaku dalam membenci kezaliman."

Setelah kekalahan pasukan gabungan negara-negara Arab pada perang 1967, yang membuat Israel mencamplok seluruh tanah Palestina termasuk Jalur Gaza, Yassin terus memompakan semangat jihad kaum Muslimin dari atas mimbar Masjid Al-Abbasi. Ia juga ikut bergiat dalam kegiatan pengumpulan dana bagi para keluarga syuhada maupun yang ditangkap. Tak lama kemudian, Yassin terpilih menjadi Ketua Lembaga Islam di Gaza. Yassin banyak berinteraksi dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Ustadz Hasan Al-Banna pada tahun 1928 di Mesir.

Aktivitas dakwah Syaikh Yasin mengusik zionis. Akibatnya, pemerintah memerintahkan untuk menangkapnya pada tahun 1982 dengan tuduhan membentuk lembaga militer dan terlibat dalam pengumpulan senjata. Ia divonis penjara selama 13 tahun, namun baru tiga tahun kemudian ia dilepaskan dalam proses imbal lepas tawanan antara Israel dan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina.

Pada tahun 1987, bersama sejumlah aktivis dakwah Ikhwanul Muslimin di Jalur Gaza, Yassin mendirikan Harakah Al-Muqawamah AL-Islamiyyah yang sering disingkat dengan HAMAS. Gerakan ini berperan penting bagi meletusnya Intifadhah I atau juga dikenal dengan istilah "Intifhadah Masjid".

Sejak meletusnya Intifadhah, penjajah Zionis berpikir keras untuk menghentikan aktivitas Syaikh Yasin. Maka pada 1988, rumahnya diserbu, digeledah dan dirinya terancam diusir ke Libanon. Banyaknya tentara Israel yang tewas membuat Israel kembali menangkapnya pada 18 Mei 1989 bersama ratusan aktivis HAMAS lainnya. Pada 16 Oktober 1991, pengadilan militer Israel memvonisnya dengan penjara seumur hidup. Yasin dituduh mendorong penangkapan dan pembunuhan terhadap tentara Israel di samping mendirikan organisasi HAMAS.

Sejumlah operasi digelar oleh Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer HAMAS demi membebaskan Syaikh Yassin namun gagal. Yassin akhirnya kembali menghirup udara kebebasan, setelah proses tukar-menukar pada 1 Oktober 1997 antara kerajaan Yordania dan Israel. Dua agen Mossad diserahkan kepada Israel sebagai imbalan pembebasan Syaikh Ahmad Yasin. Sejak saat itu, singa tua ini kembali ke medan jihad Palestina, memimpin kelompok perjuangan HAMAS, hingga syahid menjemputnya.

Syaikh Yassin dan Anak-anak

Syaikh Ahmad Yassin terkenal karena rasa humorisnya dan kebaikannya kepada anak-anak di Gaza. Dia mencintai dan bersimpati dengan anak-anak tersebut. Anak-anak Gaza bahkan menganggap Syaikh Yassin seperti ayah mereka sendiri yang lembut dalam mendidik mereka.

Syaikh Yassin sering merawat dan mengajar anak-anak Palestina tentang pelajaran-pelajaran agama dan tentang kehidupan mereka sehari-hari. Dan anak-anak muda tersebut sekarang tumbuh dalam bimbingan serta pendidikan iman dan keislaman lewat tangan Syaikh Yassin yang lumpuh, pendiri Gerakan Perlawanan Islam di Palestina Hamas.

Musbah Shaghnuby (15 tahun), sangat ingat kenangan ketika ia waktu masih berusia 8 tahun, Syaikh Yassin sering memanjakan dia dan anak-anak di lingkungannya. Mereka menganggap Syaikh Yassin sebagai ayah yang penuh kasih sayang terhadap mereka, Musbah mengatakan: "Semoga Allah memberkati dia, dia adalah ayah dari semua orang Palestina dan seorang kakek bagi anak-anak mereka". Dia menambahkan: "kami sering mengiringi Syaikh Yassin baik di masjid ataupun di rumahnya yang sederhana, dan ia sangat menghargai kami ketika kami shalat Subuh di masjid dan mau menghafal Al-Qur'an".

Musbah melanjutkan: "Terus terang, saya tidak terlalu suka mendengarkan khotbah kecuali khutbah atau ceramah dari Syaikh Yassin, bukan semata-mata karena dia Syaikh Yassin, tetapi karena kata-kata yang ia sampaikan memang berasal dari hati dan penuh dengan kata-kata yang membangkitkan semangat dan menyenangkan. Syaikh Yasin sering menyerukan kepada orang-orang untuk rajin belajar dengan ketekunan, serta terus menambah ilmu pengetahuan ".

Kesyahidannya

Abil Qadir Abdil Aal, seorang pemuda 19 tahun yang tinggal di dekat rumah Syaikh Yassin, mengatakan : "Saya bersama Syaikh Yassin beberapa saat sebelum ia syahid ketika kami shalat subuh bersama di kompleks Masjid Islam yang dekat dengan rumah kami. Beberapa menit setelah shalat subuh berakhir, Syaikh Yassin meminta semua anak muda di dalam masjid untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing, sehingga merekapun meninggalkan masjid. Begitu mereka tiba di rumah mereka, mereka terkejut dengan suara bom yang ternyata menargetkan tubuh lumpuh Syaikh Yassin".

Abdiel Aal menyebutkan beberapa kegiatan yang sering Syaikh Yassin lakukan di komplek Masjid Islam di dekat rumahnya: "Syaikh Yassin sering mendorong kami sebagai anak-anak muda untuk rajin berlatih olahraga, ia sangat menghargai kami."

Selain itu, ia juga sering mengatur kegiatan-kegiatan yang memotivasi para pemuda dan anak-anak untuk datang ke masjid serta mendorong para anak muda untuk lebih bertanggung jawab. Ia sangat bermurah hati dan tidak pernah menolak setiap pengemis yang mendekatinya. Ia juga mencintai Jihad dan perlawanan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan zionis Israel."

Di saat-saat sebelum Syaikh Yassin terbunuh, sambil menangis Abdil Aal mengatakan: "Saya sedang duduk bersama sepupu saya, asy syahid Amir Abid Aal, dan asy syahid Mu'min Al Yazuri yang ikut syahid bersama dengan Syaikh Yassin. Syaikh Yassin bertanya kepada mereka: "Bagaimana cuaca di luar?" Lalu salah seorang dari mereka menjawab: "cuaca terlalu dingin. Jadi, jangan keluar dulu nanti malah menjadi 'sakit'. Ini merupakan upaya para anak muda untuk mencegah Syaikh keluar dari masjid, agar pesawat Israel tidak bisa menyerangnya. "Saya berkata kepada Syaikh: "Langit penuh dengan pesawat Israel dan situasi sangat berbahaya. Syaikh Yassin dengan tenang menjawab: "Anakku ..Tak ada yang bisa lolos dari takdir-Nya ". Anak Palestina itu mengatakan bahwa Syaikh meminta semua anak muda yang berada di masjid untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing demi keselamatan mereka.

Syaikh kemudian menunggu sampai semua dari mereka pulang ke rumah mereka masing-masing, kecuali Mu'min Al Yazouri, Amir Abid Aal dan pengawal yang tinggal bersamanya. Lalu, kemudian ketika mereka keluar dari masjid, tidak lama kemudian pesawat-pesawat Zionis menyerang mereka. Syaikh Yassin syahid (insyaAllah) bersama dengan teman-temannya, Mu'min dan Amir.

"Kami semua sangat sedih oleh kematian Syaikh Yassin. Saya mencintainya lebih dari keluarga saya sendiri. Saya menganggap dirinya sebagai seorang kakek, pemimpin dan panutan. Saya tidak melihat dan sepertinya tidak akan pernah melihat orang yang lebih baik daripada dia saat ini." Musbah Shaghnuby (15 tahun) seorang pemuda palestina.Syaikh Yassin adalah ikon keIslaman, nasional dan sosial yang akan tetap terukir dalam memori semua orang Palestina dan umat Muslim di seluruh dunia, khususnya mereka yang dekat dengannya saat mereka mengingat dirinya yang telah mempengaruhi diri mereka dalam semua aspek kehidupan. Semoga Allah memberkati Syaikh Yassin dan para pemimpin rakyat Palestina dan umat Muslim di dunia untuk mengikuti jalan-Nya.

 

https://aridasahputra.blogspot.com/2012/06/profil-syaikh-ahmad-yasin.html

 

9. Sayyid Quthb (1324 – 1386 H / 1906 – 1966 M)

Kelahiran dan Tumbuh Kembangnya:

Penulis Fi Zhilalil Qur'an, Sayyid Quthb Ibrahim, lahir di desa Mūsyah, wilayah Provinsi Asyut, Mesir Selatan (Hulu Mesir) pada tahun 1324 H bertepatan dengan 9 Oktober 1906 M. Beliau masuk Sekolah Dasar di desa tersebut pada tahun 1912 M, lalu lulus pada tahun 1918 M. Setelah itu, beliau sempat terputus dari pendidikan selama dua tahun akibat Revolusi 1919 M.

Pada tahun 1920 M, beliau merantau ke Kairo untuk melanjutkan studi. Beliau masuk ke Sekolah Guru Tingkat Pertama (Madrasah al-Mu'allimīn al-Awwaliyyah) pada tahun 1922 M, kemudian masuk ke Sekolah Persiapan Darul Ulum (Madrasah Tajhīziyyah Dār al-'Ulūm) pada tahun 1925 M, hingga akhirnya masuk ke Fakultas Darul Ulum pada tahun 1929 M. Beliau lulus dari fakultas tersebut pada tahun 1352 H / 1933 M dengan meraih gelar Lisensi (Licence) di bidang Sastra.

Setelah lulus, beliau diangkat sebagai guru di bawah naungan Kementerian Pendidikan di Sekolah Ad-Dawudiyyah, kemudian pindah ke Sekolah Damietta pada tahun 1935 M, lalu ke Helwan pada tahun 1936 M. Pada tahun 1940 M, beliau dipindahkan ke kantor pusat Kementerian Pendidikan lalu menjadi inspektur Pendidikan Dasar. Beliau kemudian kembali ke Direktorat Jenderal Kebudayaan di kementerian tersebut pada tahun 1945 M. Pada tahun inilah beliau menulis buku Islam pertamanya, yaitu At-Tashwīr al-Fannī fī al-Qur'ān (Artistika Bahasa al-Qur'an), dan mulai menjauh dari madrasah sastra Al-Aqqad.

Pada tahun 1368 H / 1948 M, Kementerian Pendidikan mengutusnya ke Amerika Serikat untuk mempelajari kurikulum dan sistem pendidikan di sana. Beliau menetap di sana selama kurang lebih dua tahun, hingga kembali ke Mesir pada tanggal 20 Agustus 1950 M / 1370 H. Beliau lalu diangkat di kantor Menteri Pendidikan sebagai Wakil Pengawas Riset Teknis dan terus menjabat hingga mengajukan pengunduran dirinya pada tanggal 18 Oktober 1952 M.

Dukungan dan Seruannya terhadap Perbaikan (Islah):

Sayyid Quthb telah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik sejak usia muda. Beliau memublikasikan ratusan artikel di berbagai surat kabar dan majalah Mesir, seperti Al-Ahram, Ar-Risalah, dan Ath-Thaqafah. Beliau juga menerbitkan majalah Al-'Alam al-'Arabi dan Al-Fikr al-Jadid, kemudian menjabat sebagai pemimpin redaksi mingguan surat kabar Al-Ikhwan al-Muslimun pada tahun 1373 H / 1953 M, yaitu tahun di mana beliau secara resmi bergabung dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Sebelum masa itu, beliau sudah dekat dan bekerja sama dengan Ikhwan.

Melalui artikel-artikelnya, beliau memerangi berbagai bentuk kerusakan dan penyimpangan dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Mesir, serta mengkritik keras pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Beliau menyerukan perbaikan berbasiskan Islam, sehingga—bersama tokoh lainnya—beliau menjadi figur sosial yang senantiasa hadir dalam dinamika kebudayaan, sosial, politik, dan pergerakan pembaharuan di Mesir. Beliau menganggap pihak Inggris beserta para kaki tangan dan sekutunya dari kalangan orang-orang istana, pemerintahan yang berganti-ganti, politisi partai, kaum feodal, dan pedagang-pedagang besar sebagai penyebab ketertinggalan Mesir.

Sayyid Quthb mencapai puncak kejayaan dalam bidang kritik sastra dan literatur. Beliau mengusung teori kritik baru dalam kritik sastra yang dinamakan "Teori Gambar dan Bayangan" (Nazhariyyat ash-Shuwar wa azh-Zhilāl). Beliau juga menyerukan "Metode Komprehensif dalam Kritik Sastra" (Al-Manhaj al-Mutakāmil fī an-Naqd al-Adabī), yaitu menggabungkan antara metode artistik, metode sejarah-kebahasaan, dan metode psikologis.

Pada tahun 1367 H / 1947 M, Sayyid Quthb mengalihkan haluan hidupnya sepenuhnya kepada Islam. Beliau berubah menjadi seorang reformis (mushlih) Islam, kemudian tumbuh menjadi salah satu pelopor pemikiran Islam kontemporer terkemuka. Beliau menyerukan kebangkitan Islam garda depan (Thalī'ah) dan pembaharuan kehidupan berbasiskan Islam. Oleh karena itu, beliau menafsirkan Al-Qur'anul Karim dengan penafsiran baru dalam kitab tebalnya, Fi Zhilalil Qur'an. Dalam karya tersebut, beliau menjadi peletak madrasah baru dalam tafsir, yaitu Madrasah at-Tafsīr al-Harakī (Madrasah Tafsir Pergerakan), karena makna-makna serta gagasan-gagasan pergerakan dan edukatif (tarbawiyyah) yang beliau tambahkan ke dalam tafsirnya.

Sayyid Quthb menyerukan isolasi emosional (al-'uzlah ash-syu'ūriyyah) yang berkaitan dengan perasaan dan indra batin seorang muslim, bukan isolasi fisik-material (al-'uzlah al-māddiyyah al-hissiyyah) yang melibatkan anggota badan, yakni sebatas dalam bingkai apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh Allah. Beliau memandang bahwa isolasi emosional ini timbul secara otomatis dalam jiwa seorang muslim yang komitmen (multazim) terhadap orang-orang yang tidak berkomitmen pada perintah-perintah Islam.

Sayyid Quthb tidak pernah mengeluarkan hukum-hukum syariat [penerapan vonis] atas orang-orang, dan tidak pula berpendapat tentang pengkafiran (takfīr) masyarakat. Oleh sebab itu, kita mendapati beliau menegaskan hal tersebut melalui pernyataannya: "Sesungguhnya tugas kita bukanlah menjatuhkan hukuman/vonis atas manusia, melainkan tugas kita adalah mengenalkan mereka pada hakikat 'Lā ilāha illallāh'. Sebab, manusia belum mengetahui konsekuensi riilnya, yaitu berhukum pada syariat Allah."

Aqidah Sayyid Quthb adalah aqidah Salafus Shalih, dan pemikirannya adalah pemikiran salafi yang bersih dari noda/penyimpangan. Pemikirannya terfokus pada masalah tauhid yang murni (at-tauhīd al-khālish), penjelasan makna hakiki Lā ilāha illallāh, serta penjelasan kriteria keimanan yang sebenarnya sebagaimana tercantum dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Beliau juga memfokuskan tulisan-tulisannya pada masalah Hakimiyyah [hak menetapkan hukum hanya milik Allah] dan Wala' [loyalitas] agar benar-benar murni semata-mata demi Wajah Allah Ta'ala.

Sayyid Quthb menentang kejahiliyaan modern (al-jāhiliyyah al-mu'āshirah) dalam karya-karyanya dan menyingkap hakikat kejahiliaan tersebut. Beliau menjelaskan bahwa jahiliyah bukanlah keadaan individual semata, melainkan individu-individunya bergerak sebagai satu kesatuan organ yang saling menjadi pelindung satu sama lain. Beliau menuntut masyarakat muslim untuk menghadapi jahiliyah ini dengan karakteristik yang sama, tetapi dengan kadar yang lebih kuat dan lebih dalam, agar tidak terjadi fitnah berupa timbulnya kerusakan di darat dan di laut.

Sayyid Quthb mendefinisikan masyarakat jahiliyah (al-mujtama' al-jāhilī) sebagai: "Setiap masyarakat yang tidak memurnikan peribadatannya hanya kepada Allah semata; di mana peribadatan ini terefleksikan dalam konsepsi keyakinan (at-tashawwur al-i'tiqādī), ritual-ritual tradisi (asysa'ā'ir at-taqlīdiyyah), dan hukum-hukum perundang-undangan (asy-syarā'i' al-qānūniyyah)."

Asy-Syahid Sayyid Quthb menulis karya yang sangat banyak. Pada awal kehidupan ilmiahnya, karya-karyanya didominasi oleh corak sastra, seperti kritik, literatur, puisi, dan novel. Kemudian, beliau bertransformasi secara radikal menuju kontribusi pemikiran Islam. Perkembangan ini mencerminkan perubahan mendalam dalam kehidupannya yang berkesinambungan dan rekam jejaknya yang harum. Ceramah-ceramah Islam yang beliau sampaikan di wilayah Syam ketika menghadiri Konferensi Islam Yerusalem (Mu'tamar al-Quds) memberikan pengaruh yang sangat besar dalam jiwa masyarakat luas, khususnya para pemuda perguruan tinggi yang menyambut hangat kecenderungan Islam dari sastrawan besar ini.

Karya-Karya Utama:

Di antara karya-karyanya yang paling penting adalah:

  • Fī Zhilāl al-Qur'ān
  • Hādzā ad-Dīn
  • Al-Mustaqbal li Hādzā ad-Dīn
  • Khashā'ish at-Tashawwur al-Islāmī
  • Ma'ālim fī ath-Tharīq
  • At-Tashwīr al-Fannī fī al-Qur'ān
  • Masyāhid al-Qiyāmah fī al-Qur'ān
  • Al-Islām wa Musykilāt al-Hadhārah
  • Al-'Adālah al-Ijtimā'iyyah fī al-Islām
  • As-Salām al-'Ālamī wa al-Islām
  • Kutub wa Syakhshiyyāt
  • Asywāk
  • An-Naqd al-Adabī: Ushūluhu wa Manāhijuh
  • Nahwa Mujtama' Islāmī
  • Thifl min al-Qaryah
  • Al-Athyāf al-Arba'ah
  • Muhimmat asy-Syā'ir fī al-Hayāh
  • Ma'rakat al-Islām wa ar-Ra'samāliyyah
  • Tafsīr Āyāt ar-Ribā
  • Tafsīr Sūrah asy-Syūrā
  • Dirāsāt Islāmiyyah
  • Ma'rakatunā ma'a al-Yahūd fī al-Tārīkh: Fikrah wa Manhaj
  • Limādzā A'damūnī?

Majalah 'Ālam al-Kutub yang diterbitkan di Kerajaan Arab Saudi telah menerbitkan indeks komprehensif yang sangat baik mengenai karya-karya buku dan artikel-artikel beliau.

Sebagian dari buku-buku ini ditulis sebelum beliau mengadopsi kecenderungan Islam yang berkomitmen (ilfizām), yaitu jalan hidup yang dibawanya hingga wafat menemui Allah. Namun bagaimanapun juga, karya-karya tersebut merepresentasikan salah satu fase dalam tahapan kehidupannya.

Perkenalan Saya Dengar Beliau:

Sungguh saya sangat berbahagia dapat mengenal beliau pada awal tahun 1950-an, sepulang beliau dari Amerika. Saat itu, saya bersama rombongan saudara-saudara sejawat mengunjungi rumah beliau di Helwan. Sebelum bertemu dengannya, kami telah membaca bukunya Al-'Adālah al-Ijtimā'iyyah fī al-Islām (Keadilan Sosial dalam Islam) yang terbit pada tahun 1946 M. Diskusi-diskusi pun berlangsung dengannya mengenai kecenderungan Islamnya.

Halaqah-halaqah diskusi (nidwāt) di rumahnya dihadiri oleh sekumpulan saudara dari Sudan, Suriah, Irak, Yordania, Bahrain, negara-negara Teluk, dan Jazirah Arab, di samping saudara-saudara dari Mesir sendiri. Fokus pembahasannya adalah mengenai pentingnya garda depan yang beriman (ath-thalī'ah al-mu'minah) dalam menjalankan perannya untuk mengubah masyarakat, setelah mereka dibina di atas manhaj Islam dan membentuk diri sesuai dengan ajaran Al-Qur'anul Karim. Al-Qur'an inilah yang dahulu telah membentuk generasi Al-Qur'an yang unik (al-jīl al-qur'ānī al-farīd), sehingga mereka menjadi teladan yang jujur bagi Islam baik dalam perkataan, perbuatan, keyakinan, maupun perilaku.

Beliau pernah menceritakan bagaimana beliau mengamati luapan kegembiraan yang melanda Amerika Serikat saat mereka mendengar kabar terbunuhnya Imam Hasan al-Banna, di mana mereka keluar menari, menyanyi, dan saling memberi ucapan selamat!

Ketika beliau menanyakan sebabnya, dikatakan kepadanya: "Musuh paling berbahaya bagi Barat dan Amerika telah terbunuh di Mesir, yaitu Hasan al-Banna, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin."

Sayyid Quthb merasa heran bagaimana kedudukan Al-Banna bisa seperti itu, padahal beliau tidak mengenal Al-Banna memiliki kedudukan seberbahaya itu ketika masih di Mesir.

Maka beliau memutuskan bahwa sekembalinya ke Mesir, beliau akan segera mengontak jamaah Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan al-Banna dan bekerja sama dengannya. Dan alhamdulillah, hal itu benar-benar terwujud.

Saudara Isa Al Khalifa beserta saudara-saudaranya dari Bahrain, dan Saudara Muhammad Madani beserta saudara-saudaranya dari Sudan sering berkunjung ke rumah Sayyid Quthb karena mereka tinggal di Helwan. Sedangkan kami berkunjung dari waktu ke waktu, namun kami sangat antusias membaca buku-buku terbarunya yang bercorak Islam.

Ketika masih menjadi siswa SMA, saya kurang menggemari Sayyid Quthb karena beliau berasal dari madrasah Al-Aqqad. Saya lebih cenderung pada madrasah Ar-Rafi'i dan murid-muridnya seperti Sa'id Al-'Aryan, Ali Ath-Thanthawi, dan Mahmud Syakir. Namun setelah tiba di Mesir dan membaca majalah Al-Fikr al-Jadid, artikel-artikelnya tentang Hasan al-Banna dan Ikhwanul Muslimin di majalah Ad-Da'wah, menghadiri forum-forumnya di rumahnya, menyimak ceramah-ceramahnya yang memukau di Perhimpunan Pemuda Muslim (Jam'iyyah asy-Syubbān al-Muslimīn) menentang Prancis serta tuntutannya untuk menanggalkan gelar-gelar dan ijazah-ijazah Prancis demi membela saudara-saudara kita di Afrika Utara, begitu pula artikel-artikelnya tentang "Rombongan Wanita-Wanita Hampa" (Mawākib al-Fārighāt)—semua hal ini mendekatkan saya kepadanya dan menempatkan posisi yang agung baginya dalam jiwa saya. Maka saya mulai menikmati setiap artikel yang beliau tulis atau buku yang beliau terbitkan, dan membacanya dengan penuh gairah serta dahaga. Hingga ketika beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin dan memegang bidang kebudayaan, dakwah, serta pimpinan redaksi surat kabar Al-Ikhwan al-Muslimun, hubungan dengan beliau menjadi semakin kuat, erat, dan dalam.

Islam Amerika (Al-Islām al-Amrīkānī):

Asy-Syahid Sayyid Quthb berkata:

"Islam yang diinginkan oleh orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah bukanlah Islam yang menentang kolonialisme, bukan pula Islam yang menentang kediktatoran/zhalim. Melainkan Islam yang menentang komunisme. Mereka tidak ingin Islam itu memerintah. Mereka menginginkan 'Islam Amerika'. Mereka menginginkan Islam yang hanya dimintai fatwa tentang hal-hal yang membatalkan wudhu, tetapi tidak dimintai fatwa dalam urusan-urusan politik, ekonomi, sosial, dan keuangan umat Islam. Sungguh ini adalah sebuah komedi, bahkan sebuah tragedi.

Sesungguhnya masyarakat ini tidak akan tegak sampai terbentuk sekelompok manusia yang menetapkan bahwa peribadatan mereka secara total hanya untuk Allah semata, dan mereka tidak mengabdi kepada selain Allah; kemudian mereka mulai secara riil mengorganisasi seluruh kehidupan mereka di atas landasan peribadatan yang murni ini."

Perselisihan dengan Pihak Revolusi:

Sayyid Quthb berselisih paham dengan para tokoh Revolusi Mesir setelah Abdel Nasser menggulingkan Presiden Muhammad Naguib, memonopoli kekuasaan, dan mendirikan pemerintahan diktator sebagai pengganti sistem syura. Abdel Nasser juga menindas para ahli hukum, dai, pakar pemikiran, dan ulama.

Sayyid Quthb ditangkap untuk pertama kalinya pada awal tahun 1954 M dan mendekam selama dua bulan di tahanan bersama pimpinan Ikhwanul Muslimin. Kemudian beliau ditangkap kembali setelah sandiwara "Insiden Al-Manshiyyah", di mana Abdel Nasser menuduh Ikhwan mencoba membunuhnya pada tanggal 26 Oktober 1954 M. Sayyid Quthb diajukan ke pengadilan pada tanggal 22 November 1954 M di bawah pengadilan yang dipimpin oleh Gamal Salem dengan anggota Anwar Sadat dan Hussein el-Shafei. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama 15 tahun. Belakangan, Presiden Irak Abdul Salam Arif memberikan intervensi (sebagai perantara), sehingga beliau dibebaskan atas dasar pengampunan medis pada tahun 1964 M.

Pada tahun 1965 M, Abdel Nasser mengumumkan dari Moskow saat berkunjung ke sana tentang pembongkaran plot konspirasi yang dirancang oleh Ikhwanul Muslimin di bawah pimpinan Sayyid Quthb untuk membunuhnya dan menggulingkan rezim pemerintahan!! Maka Sayyid Quthb ditangkap untuk ketiga kalinya pada tanggal 9 Agustus 1965 M. Interogasi terhadapnya dimulai di Penjara Militer pada tanggal 19 Desember 1965 M dan berlangsung selama tiga hari. Persidangannya dimulai di hadapan pengadilan yang dipimpin oleh Fuad ad-Digwi pada tanggal 12 April 1966 M. Pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Sayyid Quthb pada tanggal 21 Agustus 1966 M. Berbagai telegram mengalir dari penjuru dunia Arab dan Islam yang menuntut Abdel Nasser agar tidak melaksanakan eksekusi mati terhadap Sayyid Quthb.

Raja Syahid Faisal bin Abdul Aziz Al Saud telah mengirimkan telegram kepada Abdel Nasser yang tiba pada tanggal 28 Agustus 1966 M, meminta dengan sangat agar tidak mengeksekusi Sayyid Quthb. Sami Sharaf menyampaikan telegram tersebut kepada Abdel Nasser pada malam hari itu. Abdel Nasser lantas berkata kepada Sami Sharaf: "Eksekusi dia pada waktu fajar... besok. Dan tunjukkan telegram ini kepadaku setelah eksekusi!" Kemudian Abdel Nasser mengirimkan telegram balasan berisi permohonan maaf kepada Raja Faisal dengan alasan bahwa telegram baru tiba setelah eksekusi dilaksanakan!!!

Pelaksanaan eksekusi hukuman mati tersebut dilakukan sebelum terbit fajar pada hari Senin, 13 Jumadil Awal 1386 H / 29 Agustus 1966 M.

Al-Maududi di Hari Eksekusi:

Syekh Khalil Ahmad al-Hamadi—sekretaris Al-Maududi—merawatkan dengan berkata:

"Pagi hari setelah pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap Asy-Syahid Sayyid Quthb, kami masuk menemui Al-Maududi di kamarnya. Surat kabar Pakistan telah menyorot berita tersebut di halaman-halaman utamanya. Amir Jamaah, Al-Maududi, menceritakan kisah ini kepada kami, beliau berkata: 'Tiba-tiba aku merasakan rasa sesak napas yang nyata... dan aku tidak tahu apa sebabnya. Ketika aku mengetahui waktu eksekusi Asy-Syahid Sayyid Quthb di surat kabar, barulah aku menyadari bahwa momen sesak napas yang kurasakan adalah momen yang persis sama ketika Sayyid Quthb digantung!' "

Syekh Khalil al-Hamadi menambahkan:

"Pada tahun 1966 M di Makkah Al-Mukarramah, tepatnya di Hotel Syubra, seorang pemuda muslim Arab masuk menemui Ustadz Al-Maududi dan menyodorkan buku 'Ma'ālim fī ath-Tharīq' karya Sayyid Quthb. Ustadz Al-Maududi membacanya hanya dalam waktu satu malam. Pada pagi harinya beliau berkata: 'Seolah-olah akulah yang mengarang buku ini!!' Beliau mengungkapkan rasa takjubnya atas kesamaan pemikiran antara dirinya dan Sayyid Quthb, kemudian beliau meralat dengan berkata: 'Tidak mengherankan, karena sumber pemikirannya dan pemikiranku adalah satu, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya'."

Asy-Syahid Sayyid Quthb berkata:

"Sesungguhnya jari telunjuk yang bersaksi atas keesaan Allah dalam shalat, enggan untuk menuliskan satu kata pun yang tunduk/mengakui penguasa thagut. Jika aku dipenjara secara haq (benar), maka aku ridha dengan hukum yang haq. Namun jika aku dipenjara secara bathil, maka aku terlalu mulia untuk memohon belas kasihan kepada kebathilan."

Dr. Ahmad Abdul Hamid Ghurab berkata:

"Kita tidak mengklaim kesucian dari dosa (ishmahal-‘ishmah) bagi Asy-Syahid Sayyid Quthb, tidak pula bagi ulama dan dai muslim lainnya. Setiap orang dapat diambil perkataannya dan dapat ditinggalkan, kecuali orang yang ma'shum ﷺ."

Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

فَهُوَ الَّذِي يُصْلِحُ أَعْمَالَهُمْ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَن يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ

"Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 4)[^1]

Umat Islam mengutuk kejahatan keji ini, dan shalat gaib ditegakkan untuknya di Timur dan Barat. Banyak majalah Islam berbahasa Arab maupun bahasa lainnya menerbitkan edisi khusus tentang Asy-Syahid Sayyid Quthb dan saudara-saudaranya. Banyak ulama dan dai memperkirakan bahwa para penjahat tersebut akan ditimpa malapetaka hebat. Tidak berselang melainkan beberapa bulan saja hingga terjadinya Tragedi/Bencana 1967 (Naksah 1967), di mana Abdel Nasser menderita kekalahan yang sangat fatal.

Allal al-Fasi, tokoh pemimpin Maroko, menulis dan berkhotbah dengan menyatakan: "Allah tidak akan pernah memenangkan perang yang dipimpin oleh pembunuh Sayyid Quthb."

Penyair Ahmad Muhammad ash-Shiddiq bersyair:

Pena yang cerdas pun terhunus mengingatkan,

Demi Allah, menolak selain hukum Sang Pencipta.

Hingga engkau merajut panji-panji dari kebenaran,

Berkibar megah di alam pemikiran.

Dan engkau menerangi petunjuk terbaik bagi generasi,

Menyingkap jalan kebenaran bagi orang-orang yang berbakti.

Juga menjadikan "Fi Zhilal" sebagai tangga-tangga rimbun,

Menuju keabadian dan tempat mendaki orang-orang yang suci.

Kaum thagut mengira bahwa jika mereka membunuh para dai, mereka akan memusnahkan Islam. Namun Allah menghendaki hal yang berbeda; karya-karya Sayyid Quthb tersebar luas ke seluruh penjuru dunia, mayoritas bukunya dicetak ulang lebih dari 25 kali cetakan, serta diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Tidak ada satu tempat pun di dunia melainkan mengenal Asy-Syahid Sayyid Quthb, pemikirannya, mengapa ia dieksekusi, siapa di balik eksekusinya, dan demi kepentingan siapa ia dieksekusi.

Para penulis, pengarang, penyair, dan pengkritik berlomba-lomba mengenalkan pemikiran Sayyid Quthb serta mengulas riwayat hidup dan biografinya. Ribuan tulisan diterbitkan, puluhan studi dituliskan, serta puluhan tesis universitas dan riset akademis diajukan mengenai dirinya, pemikirannya, dan karya-karyanya dalam berbagai bahasa. Penerbit-penerbit saling bersaing mencetak buku-bukunya, dan buku Fi Zhilalil Qur'an menjadi buku paling laku di seluruh pameran buku. Masyarakat dan pemuda muslim menyambut hangat serta menimba ilmu dari sumber yang segar dan air yang jernih ini.

Mungkin saudara yang mulia, Dr. Salah Abdul Fattah al-Khalidi, adalah salah satu murid Sayyid Quthb yang paling banyak menaruh perhatian dalam menulis tentang beliau dan warisan pemikirannya; dan saya pribadi banyak mengambil manfaat dari tulisan-tulisannya.

Lebih dari seperempat abad yang lalu, saya pernah membaca sebuah studi karya peneliti Arab Saudi, Ustadz Ibrahim ibn Abdurrahman al-Bulaihi, berjudul "Sayyid Quthb wa Turāthuhu al-Adabī al-Fikrī" (Sayyid Quthb dan Warisan Sastra Pemikirannya), yang mana saya pernah menulis ulasannya di majalah Al-Mujtama' pada masa itu.

Begitu pula saudara-saudara ustadz: Yusuf al-'Azham, Abdullah Azzam, Muhammad Ali Quthb, Ahmad Abdul Ghafur Attar, Abul Hasan An-Nadwi, Muhammad Al-Hasani, Ahmad Hasan Farhat, Ahmad Fa'iz, Salim al-Bahnasawi, dan lainnya, telah memberikan kontribusi yang sangat baik dalam mengenalkan warisan Asy-Syahid Sayyid Quthb, dan ini adalah sebagian kecil dari hak beliau atas kita.

Sikap-Sikap yang Adil (Mawāqif al-Inshāf):

Kami tidak akan melupakan sikap-sikap adil yang ditunjukkan oleh para masyaikh: Abdul Aziz bin Baz, Abdullah al-Jibreen, Bakr Abu Zayd, Abdurrahman ad-Dausari, dan lainnya... Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan yang melimpah.

Sayyid Quthb berkata: "Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah yang murni dari fanatisme, dan sesungguhnya orang-orang yang menentangnya dialah orang-orang yang fanatik, atau orang-orang bodoh yang tidak tahu apa yang mereka katakan."

Beliau juga berkata: "Fakta terbesar dari Hasan al-Banna adalah pembangunan, keandalan pembangunan, bahkan kejeniusan dalam pembangunan."

Beliau berkata pula: "Akidah Islam telah mengenal banyak dai, namun propaganda dakwah berbeda dengan pembangunan. Tidak setiap dai mampu menjadi pembangun, dan tidak setiap pembangun dikaruniai kejeniusan raksasa dalam membangun ini: Bangunan raksasa Ikhwanul Muslimin ini adalah manifestasi dari kejeniusan raksasa dalam membangun jamaah-jamaah. Hasan al-Banna berpulang ke hadirat Rabb-nya setelah bangunan ini menyempurnakan fondasi-fondasinya. Beliau berpulang, sehingga kelahirannya sebagai syahid menjadi proses baru dalam tahap-tahap pembangunan, proses memperdalam fondasi dan memperkuat dinding-dindingnya. Seribu khotbah dan seribu risalah dari almarhum sang syahid tidak akan mampu mengobarkan dakwah dalam jiwa Ikhwan sebagaimana kobaran yang dipantik oleh tetesan-tetesan darah suci yang tumpah itu."

Beliau berkata: "Sesungguhnya kata-kata kita akan tetap menjadi patung-patung dari lilin, hingga ketika kita mati di jalannya, barulah ruh berhembus ke dalamnya dan tertulis kehidupan baginya."

Beliau berkata: "Sesungguhnya kata-kata yang lahir dari mulut dan dilontarkan oleh lidah tanpa terhubung dengan mata air Ilahi yang hidup, lahir dalam keadaan mati."

Beliau berkata: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini tidak memberikan rahasianya kecuali kepada orang-orang yang terjun mengarungi pertempuran dengannya dan berjihad dengannya dengan jihad yang besar."

Saat berada di balik pintu-pintu penjara, Sayyid Quthb menggubah puisinya yang sangat indah, "Akhī" (Saudaraku), yang dianggap sebagai salah satu permata puisi Islam yang mengekspresikan detak jantung, kesadaran, dan perasaannya. Di antara baitnya adalah perkataannya:

Saudaraku, engkau merdeka di balik tembok jeruji,

Jika engkau berpegang teguh kepada Allah.

Saudaraku, engkau bebas dengan belenggu-belenggu itu,

Maka apa yang dapat dimudaratkan oleh tipu daya para hamba?

Saudaraku, pasukan kegelapan pasti akan binasa,

Dan fajar baru akan menyinari alam semesta.

Maka lepaskanlah kerinduan jiwamu,

Engkau 'kan melihat fajar menatap kita dari kejauhan.

Saudaraku, mungkinkah engkau telah jemu berjuang,

Dan melempar senjata dari pundakmu?

 

Lantas siapa lagi bagi para korban yang 'kan mengobati luka,

Dan mengibarkan panjinya kembali?

Puisi ini memiliki gaung yang luas di dunia Arab, yang dilantunkan kembali di Yordania oleh penyair Al-Aqsa, Ustadz Yusuf al-'Azham, dalam perkataannya:

Saudaraku, dari bukit-bukit Yordania yang bersabar,

Dan dari kesucian Baitul Maqdis yang murni.

Aku mendatangi mu dengan kerinduan dan kabar gembira esok hari,

Yang mulia dari Sang Pencipta Yang Mahakuasa.

Sebagaimana dilantunkan pula di Irak oleh penyair Islam, Walid al-A'zhami, dalam perkataannya:

Saudaraku, wahai yang menetap di balik tembok jeruji,

Tampak di wajahmu tanda-tanda sujud.

Betapapun musuh menyiapkan belenggu-belenggu,

Engkau tidak akan pernah tunduk pada hukum para hamba.

Semoga Allah merahmati ustadz kita, Asy-Syahid Sayyid Quthb, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama beliau beserta para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.

 

10. Dr. Abdul Aziz Rantisi (17 April 2004 M)

Di saat umat sedang berduka atas gugurnya sang pemimpin pahlawan, Syaikh Ahmad Yasin, ketika rasa penyesalan dan kesedihan masih memenuhi hati serta melukai jiwa, dan saat air mata masih membeku di sudut-sudut mata menyaksikan kondisi yang ada, tiba-tiba tanpa disangka-sangka kita dikejutkan oleh kabar duka atas gugurnya pengganti beliau, seorang pemimpin yang gagah berani, Dr. Abdul Aziz Rantisi. Beliau dibunuh secara zalim oleh kerja sama tiga pihak:

Pertama: Para kaki tangan dan pengkhianat yang menjual diri mereka kepada setan-setan Zionis. Kaum penjajah selamanya tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya para kaki tangan yang menunjukkan celah-celah kelemahan dan menuntun mereka untuk menghancurkan para pemimpin yang mulia. Jika tidak demikian, katakanlah kepadaku demi Allah: Apa yang menunjukkan kepada kaum Zionis keberadaan orang yang keluar untuk salat, atau yang turun ke jalan untuk menunaikan suatu keperluan, atau keperluan lainnya?

Boleh jadi kelompok pertama dari para kaki tangan ini adalah mereka yang dinamakan sebagai "Otoritas Palestina"—atau katakanlah "Malapetaka Palestina"—yang didatangkan oleh Yahudi dan para kaki tangan mereka. Di pangkuan mereka inilah tumbuh orang-orang yang direkrut oleh Zionisme, yang diberi kekebalan, perlindungan, pengayoman, dana, serta angan-angan kosong. Mereka bekerja keras untuk melikuidasi [menghapuskan] isu Palestina dan jihad rakyat Palestina, serta menjual tempat-tempat suci meskipun harus berdiri di atas puing-puing tubuh, darah, dan potensi umat.

Mereka inilah yang dimaksud oleh pahlawan yang syahid, Abdul Aziz Rantisi, ketika Syaikh Yasin gugur syahid melalui peryataannya:

"Bukan rahasia lagi bahwa terdapat rencana-rencana likuidasi terhadap isu dan keberadaan Palestina. Sayangnya, ada pihak-pihak yang sangat tergiur untuk diberi peran dalam melikuidasi isu ini demi meraih eksistensi diri di lingkungan yang sebenarnya menolak mereka. Kelompok manusia semacam ini ada di sepanjang dan selebar peta Palestina, Arab, dan Islam. Sesungguhnya peristiwa-peristiwa sebesar dan seberat ini sanggup meningkatkan isolasi dan penyingkiran terhadap orang-orang munafik tersebut. Hal itu pada akhirnya memangkas bahaya mereka dan melemahkan kemampuan mereka dalam menghalangi para mujahidin serta memata-matai umat. Orang-orang munafik ini telah menjadi kepanjangan tangan lawan untuk merugikan umat demi kepentingan Zionis dan musuh-musuh Islam. Kejahatan-kejahatan mereka tergolong pelanggaran berat, dan itu cukup untuk menempatkan mereka dalam lingkaran tuduhan serta melemahkan peran destruktif mereka. Hal ini pada gilirannya berdampak negatif terhadap kemampuan musuh dalam menghadapi mujahidin dan mengeksekusi rencana-rencananya. Saya yakin bahwa darah suci Syaikh Yasin tidak lain telah menyatukan barisan rakyat Palestina dari berbagai faksi politiknya di atas satu-satunya pilihan: perlawanan (al-muqawamah)."

Demikianlah apa yang ditulis oleh Rantisi sebelum beliau gugur syahid.

Kedua: Otoritas-otoritas yang telah tersesat, kehilangan arah, dan menyia-nyiakan tanggung jawab hingga burung-burung kecil [orang-orang hina] berani berkuasa di tanah kita, dan tikus-tikus bertindak raksasa di medan kita. Otoritas-otoritas yang membungkam lidah, mematikan potensi, membuang-buang sumber daya, berbangga diri dengan pakaian merak, dan tertidur lelap hingga (Israel) menjadi negara adidaya, mengerahkan dunia di sekitarnya, serta menundukkan negara-negara terbesar untuk melayani politiknya. Sebagian penguasa tidak lagi memiliki apa pun selain sikap penghambaan dan ketundukan. Kita telah meninggalkan nasib umat dipermainkan angin; disembelih dan dihalalkan darahnya tanpa ada penolong maupun pelindung. Kita membiarkan para pembela dan mujahidin yang berjuang menolak bahaya serta melindungi kehormatan dibakar oleh pesawat-pesawat udara dan dihancurkan dengan rudal-rudal dalam keadaan tidak bersenjata tanpa ada yang menolong. Dr. Rantisi pernah menyeru mereka dalam sebuah artikel berjudul "Jeritan" (Shorchah), beliau berkata:

"Apa yang ditunggu oleh para pemimpin Arab? Sebuah pertanyaan yang bergema di setiap tempat dan waktu. Engkau membacanya pada mata yang bingung, hati yang cemas, derai air mata, desah napas, darah yang tumpah, dan potongan tubuh yang melayang. Bahkan terbaca pada kedengkian yang bergolak di dalam dada dan ukiran di dinding-dinding kuburan. Namun, pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan tanpa jawaban!

Jika darah anak-anak kami, potongan tubuh laki-laki dan perempuan kami, serta air mata dan ratapan para ibu yang kehilangan anak dan anak-anak yatim yang tersiksa dari rakyat kami yang berjuang tidak mampu menggerakkan mereka untuk menolong kami, lalu kapan lagi mereka akan bergerak? Jika kecemburuan al-Mu'tasim [khalifah Bintiyyah] tidak menggerakkan mereka menyaksikan rintihan Masjidilaqsa—tempat isra Rasulullah ﷺ—yang mengadukan kenistaan penjajahan, penistaan kaum Yahudi terhadap pelataran, menara, dan kubahnya, pembakaran mihrabnya, serta jeritan minta tolongnya saat fondasi dan pilar-pilarnya diguncang serta persiapan mereka untuk merubuhkannya guna membangun Haikal [Candi] yang mereka klaim di atas reruntuhannya; jika mereka tidak bangkit karena semua itu, lalu kapan lagi mereka akan bangkit?

Jika pesawat Apache dan F-16 Amerika yang meneror malam kami, merubuhkan rumah-rumah kami, menelantarkan keluarga kami, serta memburu para pemimpin politik dan militer tidak mampu mengeluarkan mereka dari kebisuan, lalu kapan mereka akan bergerak?

Wahai para pemimpin Arab, aku tidak akan menuntut kalian dengan hal-hal yang di luar kemampuan kalian, karena aku terlalu cerdas untuk melakukan itu. Namun, kalian memiliki kemampuan untuk menghentikan musuh dengan sedikit sikap kejantanan dan sebagian ketegasan yang dapat mengancam pasar-pasar mereka. Kekayaan kita yang dirampok, simpanan kita di bank-bank Amerika, dan pasar-pasar kita yang terbuka bagi barang-barang mereka, semua itu berubah menjadi mesin perang untuk menghancurkan kita.

Wahai para pemimpin Arab: Rakyat kalian sangat merindukan dan mendambakan untuk menolong serta memenangkan kami. Mereka terbakar di atas bara api karena dihalangi untuk menolong tempat isra' yang mulia, dan mereka merindukan jihad di jalan Allah demi membela kehormatan umat yang telah dicampakkan oleh kaum Zionis ke dalam tanah. Lantas mengapa kalian melepaskan anjing-anjing Zionis dan Amerika kepada mereka? Mengapa kalian memukul punggung mereka dengan tongkat-tongkat Britania? Jika kalian telah berpaling dari menolong kami, cukuplah bagi kalian untuk membiarkan dan memejamkan mata terhadap siapa saja yang ingin menolong kami."

Demikianlah Rantisi menyeru otoritas-otoritas yang telah diberi kepemimpinan oleh rakyat untuk menjaga kramat dan kehormatan umat serta membela benteng pertahanannya, namun Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.

Ketiga: Kaum Yahudi dan pihak-pihak di belakang mereka dari kalangan musuh-musuh Islam; monster-monster berwujud manusia yang telah diperingatkan oleh Al-Qur'an al-Karim tentang permusuhan dan besarnya kebencian mereka terhadap umat Islam. Namun kita lalai dan meremehkan hingga mereka berhasil menguasai kita. Mereka adalah para perusak di bumi dan pembunuh para nabi serta rasul. Oleh karena itu, Allah menjadikan kehinaan dan penindakan terhadap mereka sebagai salah satu sunatullah yang tidak akan berubah:

(Ingatlah) ketika Tuhanmu memberitahukan bahwa Dia pasti akan mengirim orang-orang yang akan menimpa mereka adzab yang buruk sampai hari Kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-A'raf [7]: 167)

Tindakan kaum Yahudi hari ini tidak meninggalkan seorang pun kekasih atau penolong bagi mereka, begitu pula orang-orang yang berloyalitas, menolong, dan berjalan di garis mereka.

Hari ini, di tengah gejolak peristiwa-peristiwa besar ini, bangsa-bangsa Muslim dan umat Arab harus dipanggil untuk mengambil peran yang dituntut, agar mampu menang atas kelemahan dan keragu-raguannya, menindak para pembuat kerusakan dan para kaki tangan, serta memperlihatkan kepada Zionisme dan pihak di belakangnya bahwa darah para syuhada telah menumbuhkan tekad dan melahirkan para pahlawan—yang apabila satu pemimpin gugur syahid, maka akan bangkit pemimpin lain yang bijak dan berani bertindak apabila para lelaki berbicara.

Setelah itu... Salam sejahtera atasmu wahai Rantisi, engkau dan guru utamamu di tengah orang-orang terdahulu dan kemudian hingga Hari Pembalasan. Sesungguhnya rakyat dari umat ini akan tetap berjalan di atas jalan kalian hingga meraih kemenangan, insya Allah. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.

Rantisi dalam Sekilas Langkah

Abdul Aziz Ali Abdul Hafizh ar-Rantisi lahir pada tanggal 23 Oktober 1947 M di desa Yibna (terletak antara Ashkelon dan Jaffa). Keluarganya mengungsi setelah Perang 1948 ke Jalur Gaza dan menetap di kamp pengungsian Khan Yunis saat usianya baru enam bulan. Rantisi tumbuh di antara sembilan saudara laki-laki dan dua saudara perempuan.

Pendidikan:

Pada usia enam tahun, beliau masuk ke sekolah milik Badan Bantuan dan Kerja PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Beliau juga terpaksa bekerja pada usia tersebut untuk membantu menopang kehidupan keluarganya yang besar yang sedang mengalami kondisi sulit. Beliau menyelesaikan pendidikan menengahnya pada tahun 1965 M, lalu lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Aleksandria pada tahun 1972 M, dan kemudian meraih gelar Magister dalam bidang Spesialis Anak dari universitas yang sama. Setelah itu, beliau bekerja sebagai dokter spesialis di Rumah Sakit Nasser (pusat medis utama di Khan Yunis) pada tahun 1976 M.

Kehidupan dan Aktivitas Politik:

  • Beliau telah menikah dan dikaruniai enam orang anak (dua putra dan empat putri).
  • Dr. Rantisi menduduki beberapa posisi dalam khidmat kemasyarakatan, di antaranya: anggota dewan pengurus di Al-Mujamma' al-Islami, Asosiasi Medis Arab di Jalur Gaza, dan Bulan Sabit Merah Palestina.
  • Beliau bekerja di Universitas Islam Gaza sejak pertama kali dibuka pada tahun 1978 M sebagai dosen yang mengajar mata kuliah ilmu sains, genetika, dan parasitologi.
  • Beliau ditangkap pada tahun 1983 M karena menolak membayar pajak kepada otoritas pendudukan. Pada tanggal 5 Januari 1988 M, beliau ditangkap kembali selama 21 hari.
  • Beliau merupakan salah satu pendiri Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Gaza pada tahun 1987 M, dan merupakan pimpinan gerakan pertama yang ditangkap setelah gerakannya menyulut Intifadah Palestina Pertama pada tanggal 9 Desember 1987 M. Pada tanggal 15 Januari 1988 M, beliau ditahan selama 21 hari setelah terjadi perkelahian fisik antara beliau dan prajurit pendudukan yang hendak menerobos masuk ke kamar tidurnya; beliau menghadapi mereka untuk menghalangi masuk ke kamar, sehingga mereka menangkapnya tanpa berhasil memasuki kamar tersebut.
  • Satu bulan setelah dibebaskan, beliau ditangkap kembali pada tanggal 4 Maret 1988 M dan ditahan di penjara-penjara pendudukan selama dua setengah tahun atas tuduhan berpartisipasi dalam mendirikan dan memimpin Hamas serta menyusun selebaran pertama Intifadah. Namun, beliau tidak mengakui tuduhan tersebut dalam pemeriksaan, sehingga diadili berdasarkan Hukum Tamir dan dibebaskan pada 4 September 1990 M. Hanya 100 hari setelahnya, pihak pendudukan kembali menangkapnya pada tanggal 14 Desember 1990 M dengan status tahanan administratif selama satu tahun penuh.
  • Pada tanggal 17 Desember 1992 M, beliau diasingkan bersama 416 mujahid yang terdiri dari aktivis dan kader Hamas serta Jihad Islam ke Lebanon Selatan. Beliau menonjol sebagai juru bicara resmi bagi para pengungsi deportasi yang bertahan di Kamp Al-'Audah di daerah Marj az-Zuhur untuk memaksa otoritas pendudukan mengembalikan mereka sekaligus sebagai wujud penolakan terhadap keputusan deportasi Zionis. Mereka berhasil membatalkan keputusan pengasingan tersebut, kembali ke tanah air, dan menutup pintu pengasingan hingga hari ini.
  • Pasukan pendudukan Zionis langsung menangkapnya setibanya beliau dari Marj az-Zuhur, dan pengadilan militer Zionis menjatuhkan hukuman penjara kepadanya. Beliau terus ditahan hingga pertengahan tahun 1997 M. Beliau keluar dari penjara untuk langsung menjalankan perannya kembali dalam memimpin Hamas yang saat itu menerima pukulan menyakitkan dari Otoritas Palestina pada tahun 1996 M. Beliau mulai membela prinsip-prinsip abadi rakyat Palestina dan keteguhan sikap gerakan secara gigih serta mendorong untuk bangkit kembali. Hal ini tidak disukai oleh Otoritas Palestina, sehingga mereka menangkapnya kurang dari satu tahun setelah keluar dari penjara pendudukan, yaitu pada tanggal 10 April 1998 M atas tekanan dari pihak pendudukan sebagaimana diakui oleh beberapa pejabat keamanan Otoritas Palestina. Beliau dibebaskan 15 bulan kemudian karena ibunya meninggal dunia saat beliau berada di dalam tahanan Palestina. Setelah itu, beliau ditangkap kembali sebanyak tiga kali dan baru dibebaskan setelah melakukan aksi mogok makan serta setelah penjara dibom oleh pesawat musuh Zionis saat beliau berada di dalam ruang terkunci di Penjara Pusat, sementara para perwira dan personel keamanan dievakuasi karena mengkhawatirkan keselamatan jiwa mereka. Dengan demikian, beliau menghabiskan total waktu 27 bulan di dalam penjara Otoritas Palestina.
  • Otoritas Palestina sempat mencoba menangkapnya sebanyak dua kali setelah peristiwa tersebut, namun gagal karena perlindungan massa rakyat Palestina yang memagari rumahnya.
  • Dr. Rantisi berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur'an secara penuh (kamil) di dalam tahanan pada tahun 1990 M saat berada dalam satu sel isolasi bersama Syaikh al-Mujahid Ahmad Yasin. Beliau memiliki bait-bait puisi yang mengekspresikan betapa tancapnya tanah air dan rakyat Palestina di kedalaman lubuk hatinya. Beliau juga seorang penulis artikel politik yang diterbitkan oleh puluhan surat kabar.
  • Beliau menghabiskan sebagian besar masa penahanannya di penjara pendudukan dan seluruh masa penahanannya di penjara Otoritas Palestina dalam sel isolasi ('azl infiradi)...
  • Dr. Rantisi meyakini bahwa Palestina tidak akan pernah merdeka melainkan dengan jalan jihad di jalan Allah.

Rantisi: Sebagai Pemimpin Gerakan Hamas

Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) memilih Abdul Aziz Rantisi sebagai pemimpin gerakan di Kota Gaza menggantikan Syaikh Ahmad Yasin, mengingat posisi beliau sebagai wakil bagi Pemimpin Umum Gerakan, Syaikh Ahmad Yasin, sehingga beliau secara otomatis mengisi posisi tersebut hingga diselenggarakannya pemilihan umum yang baru.

Di Dalam Internal Gerakan:

Gerakan Hamas telah menggelar pemilihan umum satu setengah tahun sebelumnya yang memilih Syaikh Yasin sebagai Pemimpin Umum Gerakan dan Rantisi sebagai wakilnya. Pembaiatan (mubaya'ah) Rantisi dilakukan di dalam tenda duka di Stadion al-Yarmuk, Kota Gaza, untuk menjadikannya sebagai Pemimpin Umum Gerakan hingga diselenggarakannya pemilihan umum baru. Dalam waktu singkat, Dokter Mujahid Abdul Aziz Rantisi terpilih sebagai pemimpin politik bagi Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).

Tidak diragukan lagi bahwa warisan tanggung jawab ini sangat berat dan beban yang dipikul amat besar bagi pemimpin baru yang harus memegang kendali kepemimpinan kelompok perlawanan Islam Palestina terbesar pasca-gugurnya sang pahlawan dan ikon, Syahid Ahmad Yasin.

Syaikh Ahmad Yasin telah gugur syahid pada hari Senin di tangan pasukan pendudukan Israel.

Dari Catatan Harian Dr. Abdul Aziz Rantisi

Bagaimana Aku Menantang Perwira Zionis...

Dari catatan harian pimpinan yang syahid, Dr. Abdul Aziz Rantisi, yang beliau tulis mengenai kenangan masa pemenjaraan, beliau menuturkan:

Pada tahun 1991 M, aku berada di tahanan Negev menjalani hukuman vonis administratif selama satu tahun. Para tahanan sejak pembukaan tahanan ini pada tahun 1988 M hingga saat itu dilarang dikunjungi oleh keluarga mereka. Seiring dengan desakan para tahanan dan protes mereka yang berulang kali, mulai tampak adanya iktikad dari pihak pengelola tahanan untuk mengizinkan keluarga berkunjung. Kepala pengelola tahanan yang bertingkat militer tinggi bernama "Shaltiel" meminta diselenggarakannya pertemuan dengan perwakilan para tahanan. Perwakilan dari berbagai faksi berkumpul di salah satu tenda tahanan untuk bermusyawarah sebelum pertemuan dengan pihak pengelola berlangsung, dan para tahanan menginginkan aku untuk mendampingi mereka, maka aku pun melakukannya.

Di tengah pertemuan kami di tenda, aku mendengar sebagian pemuda memperingatkan bahaya Shaltiel, membesar-besarkan posisinya, dan mengkhawatirkan kemarahannya. Aku merasakan bahwa pria itu memiliki wibawa yang menakutkan dalam jiwa sebagian pemuda, dan hal ini tidak menyenangkan bagiku, tetapi aku tidak memberi komentar apa pun.

Kemudian bus datang pada hari pertemuan untuk membawa kami ke kantor Shaltiel. Selama berada di dalam bus, aku berpikir tentang kesombongan pria ini dan wibawanya yang menakutkan di dalam jiwa para pemuda, serta bagaimana cara mencabut rasa takut itu dari jiwa mereka. Aku menata jiwaku untuk melakukan sesuatu meskipun aku belum tahu pasti bentuknya, namun aku memiliki kesiapan penuh untuk menentangnya jika ia bertindak dengan cara yang tidak pantas.

Bus pun tiba dan kami memasuki kantornya. Di sebelah kanan kami di dalam aula terdapat panggung tinggi sekitar 30 cm dari lantai ruangan, di atasnya terdapat sejumlah kursi. Di sebelah kiri kami terdapat beberapa baris kursi yang disiapkan untuk kami. Kemudian datanglah para kepala divisi yang semuanya berpangkat militer di dalam tentara pendudukan. Di antara mereka terdapat penanggung jawab salah satu divisi yang di masa lalu merupakan wakil penguasa militer untuk Kota Khan Yunis dan sudah mengenal diriku sebelumnya. Wakil Shaltiel juga duduk di atas panggung bersama para kepala divisi.

Para tahanan perwakilan seluruh faksi duduk di kursi yang disiapkan untuk mereka berhadapan langsung dengan para kepala divisi, dipisahkan oleh jarak tidak lebih dari dua meter. Aku duduk di barisan depan pada kursi yang paling dekat dengan pintu kantor. Tak lama kemudian, Shaltiel masuk. Ia seorang pria berbadan tinggi dan bertubuh tegap. Ia berpaling dengan gaya militer ke arah panggung dan memberi isyarat dengan tangannya agar mereka berdiri menghormatinya, maka mereka pun berdiri. Kemudian ia berpaling kepada kami dengan gaya militer dan memberi isyarat tangan, maka para pemuda berdiri sedangkan aku tetap duduk.

Pertemuan ini adalah pertemuan pertama antara diriku dengannya. Ia mendekatiku dan berkata, "Mengapa engkau tidak berdiri?" Maka aku katakan padanya:

"Aku tidak berdiri melainkan hanya untuk Allah, sedangkan engkau bukanlah tuhan melainkan hanya seorang manusia biasa, dan aku tidak akan berdiri menghormati manusia."

Ia berkata, "Engkau harus berdiri!" Maka aku bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah yang tegas bahwa aku tidak akan berdiri. Ia menjadi sangat serba salah dan tidak tahu harus berbuat apa. Kolonel Sami Abu Samhadanah, salah satu pimpinan Fatah di tahanan, mencoba mengintervensi dan memberitahunya bahwa jika aku sudah memutuskan sesuatu maka aku tidak akan mundur. Namun Shaltiel menolak mendengarkannya dan tetap bersikeras pada sikapnya. Tetapi aku menolak dengan keras.

Wakilnya lalu berkata, "Wahai Dokter, di sini ada protokol yang harus dihormati." Aku menjawabnya, "Agamaku lebih berhak untuk dihormati, dan Islam tidak mengizinkanku berdiri untuk mengagungkan makhluk." Ia bertanya, "Lalu apa solusinya?" Aku menjawab, "Antara aku tetap duduk atau aku kembali ke tendaku." Shaltiel berkata, "Kalau begitu kembali ke tendamu!"

Maka aku keluar dari kantor dan tidak ada yang keluar bersamaku kecuali Saudara Insinyur Ibrahim Radwan dan Saudara Abdul Aziz al-Khalidi, keduanya dari Hamas.

Beberapa hari kemudian—saat masa penahananku telah berjalan sembilan bulan dan hanya tersisa tiga bulan lagi menuju pembebasan—tiba-tiba mereka memanggilku dan memintaku mengumpulkan barang-barangku. Dalam istilah penjara, ini berarti pemindahan (tarhil), namun kami tidak tahu ke mana. Sebuah bus telah menungguku. Begitu aku naik ke atasnya, aku mendapati kedua saudaraku tadi sudah ada di dalamnya setelah dijemput dari divisi mereka. Aku pun menyadari bahwa ini adalah hukuman, dan tidak ada hukuman selain dimasukkan ke sel isolasi.

Bus membawa kami ke Tahanan Tujuh yang memiliki 50 sel isolasi. Begitu tiba, kami diterima oleh penanggung jawab sel bernama "Nir", yang memberitahu kami dengan nada jengkel bahwa kami dihukum dengan dimasukkan ke dalam sel isolasi selama tiga bulan. Kemudian tampak jelas bagi kami bahwa alasan kejengkelannya karena ia menganggap hukuman tersebut didasari alasan pribadi; artinya ia tidak menyukai tindakan Shaltiel yang membalas dendam untuk dirinya sendiri dengan cara seperti ini, terlebih lagi hukuman harian rutin yang paling berat pun tidak sampai tujuh hari. Oleh karena itu, ia tidak bersikap buruk saat menyambut kami sebagaimana biasanya, dan mungkin faktor usia serta gelar akademis turut memengaruhi sikapnya.

Kami dibawa ke sel yang telah ditentukan, masing-masing dari kami berada di dalam sel seorang diri. Kami keluar setiap hari selama satu jam—kecuali hari Sabtu—ke sebuah lapangan yang dikelilingi kawat berduri tempat terdapat toilet dan kamar mandi, karena di dalam sel tidak terdapat fasilitas toilet maupun kamar mandi.

Kami pun memulai perjalanan kami bersama Al-Qur'an. Adapun aku, aku mengulangnya (muraja'ah) setelah Allah mengaruniakanku kesempurnaan menghafalnya sejak tahun 1990 M ketika aku dan Syaikh Ahmad Yasin berada dalam satu sel di Tahanan Kfar Yona. Adapun Insinyur Ibrahim, ia mulai menghafal Al-Qur'an di dalam sel. Ia seorang pria yang sangat cerdas dan fasih berbahasa Ibrani dengan lancar, dan ia berhasil menghafal Al-Qur'an sebelum berlalunya masa tiga bulan, walhamdulillah rabbil 'alamin.

Musuh-Musuh Allah Tidak Menghargai Kehormatan Darah Umat Islam Maupun Akidah Mereka... Maka Selamat Datang bagi Perlawanan (al-Muqawamah)

Ini bukanlah pertama kalinya dalam sejarah manusia para perusak mengambil sikap konyol dengan menuduh orang-orang saleh sebagai pembuat kerusakan, berdasarkan pepatah Arab yang berbunyi: "Ia melempar penyakitnya kepadaku lalu ia menyelinap pergi" (Ramatni bi da'iha wansallat). Firaun telah mendahului kaum Zionis Yahudi dalam arena ini ketika ia berkata kepada Nabi Allah Musa 'alaihissalam:

Dan Fir'aun berkata (kepada pembesar-pembesar kerajaan): "Biarkan aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan mengganti agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi." (QS. Ghafir [40]: 26)

Padahal di saat yang sama, Rabbul Izzah [Allah] Subhanahu wa Ta'ala menegaskan bahwa Firaun tidak lain adalah salah satu simbol kerusakan:

Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah. Dia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash [28]: 4)

Hari ini, muncul di hadapan kita seorang pembunuh Zionis dari kalangan mereka yang bergelimang darah umat Islam dan terlibat langsung dalam pembantaian yang tidak terhitung jumlahnya. Seluruh fokus mereka yang utama adalah memuaskan naluri Talmudik mereka yang buas dan haus darah, dan yang kedua adalah mengusir seluruh bangsa dengan tujuan merampas tanah airnya, menghapus identitasnya, mengikis sejarahnya, serta mendirikan negara Yahudi rasis Talmudik yang buas di atas tanahnya.

Hari ini muncul di hadapan kita Zionis kecil ini yang menjabat sebagai menteri dalam geng teroris Sharon, sekaligus salah satu lengan dari geng "Moledet"—geng yang didirikan oleh sosok rasis buas yang haus darah Muslim, marhum Rehaveam Zeevi. Dengan pembawaan apa pembunuh Zionis "Benni Elon" ini muncul di hadapan kita? Ia meminta kepada para misionaris Kristen Amerika dalam sebuah pertemuan dengan mereka untuk mengkristenkan umat Islam. Ia berkata kepada mereka:

"Kalian harus berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk membawa cahaya kepada umat Islam!! Serta menjelaskan kepada para pembunuh Muslim ini bahwa mereka telah melupakan larangan Allah terhadap pembunuhan."

Ia meminta kepada mereka:

"Ubah umat Islam menjadi orang-orang Kristen yang beriman dan orang-orang yang baik!!"

Sembari berkata kepada mereka:

"Misionaris Kristen di tengah kaum Yahudi adalah hal yang dilarang."

Sebenarnya, lebih utama bagi pembunuh ini untuk mencari kebenaran Islam agar dapat menyelamatkan dirinya dari kerusakan akidahnya, sehingga ia terbebas dari kedengkian hitamnya, dan itulah yang kami harapkan baginya. Namun kami tidak tahu, boleh jadi Allah telah mengunci mati hatinya sehingga matanya yang telah tertutup tirai kedengkian terhadap Islam tidak lagi mampu melihat cahayanya yang terang benderang.

Jika bukan karena perlawanan Palestina yang gigih, niscaya ular kecil ini tidak akan menyemburkan racun-racunnya dengan cara seperti ini—cara yang menunjukkan kedengkian yang tertanam mendalam di hatinya yang kelam terhadap Islam sebagai manhaj, akidah, dan nilai-nilai kehidupan. Sesungguhnya pukulan-pukulan menyakitkan yang dilayangkan oleh perlawanan Palestina kepada para pembunuh Zionis inilah yang berjasa membongkar hakikat kedengkian yang bergolak di dalam dada mereka terhadap Islam. Pembunuh yang hari ini menyemburkan racunnya ini terhitung sebagai anggota geng teroris Zionis "Moledet" yang tujuan utama dan tunggalnya adalah mencabut akar rakyat Palestina dari tanah air mereka. Demi mencapai hal tersebut, mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan yang membuat dahi kemanusiaan tercoreng malu. Berapa banyak pembantaian yang telah dieksekusi oleh geng penakut tersebut hingga menumpahkan darah anak-anak, perempuan, dan orang-orang tua tak berdosa dari kalangan rakyat Muslim Palestina.

Jika bukan karena perlawanan Palestina yang gigih, niscaya orang-orang Eropa tidak akan tersadar akan kejahatan-kejahatan entitas Zionis yang cacat ini. Hal ini mendesak bangsa-bangsa Eropa yang tadinya tertutupi akalnya oleh propaganda bohong Zionis untuk membenarkan pandangan mereka agar dapat melihat entitas ini dengan wajahnya yang asli dan menjijikkan. Tampak jelas dalam jajak pendapat di Eropa bahwa mereka menempatkan entitas yang akan sirna dengan izin Allah Ta'ala ini di jajaran terdepan negara-negara dunia yang mengancam perdamaian internasional. Maka perlawanan dengan karunia Allah berhasil memperburuk citra Zionis:

Maka apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-Isra' [17]: 7)

Perlawanan Palestina juga berjasa memindahkan konflik ke dalam internal arena Zionis: mulai dari perselisihan mengenai Tembok Pemisah, efektivitas, biaya, dan dampak negatifnya di arena internasional; berlanjut ke perselisihan mengenai operasi-operasi pembunuhan (assassination) yang tidak membawa apa-apa bagi mereka selain kematian yang mematikan; hingga perselisihan mengenai efektivitas pembangunan pemukiman-pemukiman liar dan biaya sangat mahal yang dikeluarkannya demi menyediakan keamanan di bawah bayang-bayang perlawanan Palestina yang gigih. Sampai-sampai kita mendengar pimpinan teror di dunia dan konseptor utama pemukiman di Palestina, Sharon, menyerukan untuk mengosongkan pemukiman dari Jalur Gaza. Baik seruan ini sungguhan maupun taktis, atau merupakan upayanya untuk mempertahankan keuntungan di Tepi Barat dengan mengorbankan keberadaannya di Gaza, pada akhirnya hal itu tidak akan pernah terjadi jika bukan karena perlawanan Palestina yang gigih. Sebab, jika bukan karena mortir-mortir dan roket-roket al-Qassam yang lama diejek oleh para penyeru kekalahan, niscaya Sharon tidak akan berpikir walau sekejap untuk mengosongkan pemukiman di Jalur Gaza. Karena Sharon menyadari bahwa melarikan diri dari Gaza dan mengosongkan pemukiman-pemukimannya akan disusul—mau tidak mau—oleh pelarian dari Tepi Barat, cepat atau lambat, dan proses ini akan terus berlanjut (al-hablu 'alāl-jarrār).

Jika bukan karena perlawanan Lebanon yang gigih, niscaya kaum Zionis tidak akan diusir dari Lebanon Selatan, dan para tawanan serta tahanan tidak akan keluar dari penjara-penjara pendudukan. Perlawanan di Lebanon telah mencapai apa yang gagal dicapai oleh perundingan-perundingan dengan entitas Zionis—perundingan yang menjadi bentuk penyia-nyiaan terhadap hak, kehormatan, harta, waktu, dan tenaga rakyat Palestina, sekaligus menjadi kesempatan bagi pihak pendudukan untuk memperkokoh kakinya di Tepi Barat dan Jalur Gaza, mengupayakan Yahudisasi tempat-tempat suci, membangun pemukiman, membuat jalan-jalan lingkar, serta mengisolasi rakyat Palestina ke dalam kantong-kantong (kanton) yang terpisah-pisah dan tersebar.

Jika bukan karena perlawanan yang gigih di Irak, niscaya Bush tidak akan jatuh ke dalam kesulitan yang sangat berat. Seandainya urusan di Irak hanya terbatas pada foto-foto penyambutan palsu terhadap invasi Amerika sebagaimana yang diangankan oleh Bush dan kaum Zionis di Gedung Putih, niscaya kita tidak akan mendapati kegaduhan besar di Amerika Serikat mengenai motif asli invasi ke Irak, kita tidak akan mendengar tentang proses pertanggungjawaban terhadap Bush, dan popularitanya di tingkat publik Amerika tidak akan merosot serendah hari ini. Bukan nilai-nilai moral dan etika yang mendorong rakyat Amerika menuntut pertanggungjawaban Bush, karena mereka yang bersorak untuk perang dan bertepuk tangan untuk Bush dahulunya meyakini bahwa Irak tidak mengancam keamanan Amerika, dan mereka yakin akan kebenaran laporan tim inspeksi internasional tentang kosongnya Irak dari senjata pemusnah massal. Namun perlawanan yang gigih di Irak-lah yang telah menakutkan dan mengagetkan orang-orang Amerika, membuat mereka berada dalam posisi yang tidak diiri saat mengantarkan ratusan jenazah tentara mereka dan melihat rumah-rumah sakit mereka dipenuhi ribuan korban luka. Perlawanan itulah yang membangunkan kesadaran rakyat Amerika dari mabuknya. Mereka merasakan kehinaan dan kenistaan, terlebih lagi menikmati kesombongan dan kenikmatan keunggulan militer merupakan pendorong di balik dukungan rakyat Amerika terhadap tim Zionis yang menduduki tahta Gedung Putih dalam invasinya ke Irak. Itu adalah kegilaan atas keagungan (megalomania), rasionalitas rasisme menjijikkan yang menciptakan perasaan unggul secara rasial pada manusia Amerika—itu adalah mentalitas koboi (cowboy). Oleh karena itu, kita tidak melihat publik Amerika bergerak memprotes kehancuran dahsyat yang ditimbulkan oleh mesin perusak dan pembuat kerusakan di Irak, kita tidak mendengar protes publik Amerika dan gejolak kemarahan mereka demi darah Muslim Irak yang suci yang ditumpahkan oleh pasukan mereka yang buas; mereka baru bergerak hanya ketika prajurit Amerika hancur, kehilangan kekuatan, dan roboh mentalnya di hadapan pejuang perlawanan Irak yang pemberani.

Dari sini kita menyerukan: Selamat datang bagi perlawanan! Sebab ia adalah satu-satunya jalan bagi bangsa-bangsa yang tertindas dan dilanggar haknya oleh kejahatan dan para pembuat kerusakan di dunia, yang tidak menghargai nilai dan kehormatan bagi akidah maupun darah umat Islam.

Wahai Syaas bin Qais, Kembalilah ke Kuburmu!...

Racun-Racun Fitnah dan Adu Domba Yahudi

Bukan rahasia lagi bahwa rencana Zionis yang mendapat prioritas tertinggi saat ini bagi entitas Zionis—yang ditempatkan di puncak skala prioritas cara berpikir destruktif Zionis—adalah upaya gigih menciptakan fitnah di arena internal Palestina. Apa yang terjadi saat ini di tingkat politik dan media terarah milik musuh Zionis menunjukkan bahwa tujuan yang ditetapkan musuh di depan matanya adalah menyulut api perang saudara (al-harb al-ahliyyah) agar dapat melihat darah Palestina tumpah di tangan orang Palestina sendiri.

Alangkah miripnya hari ini dengan hari kemarin! Ketika Syaas bin Qais—seorang Yahudi tua yang tenggelam dalam kejahatan Jahiliah, sangat kufur, menyimpan kedengki yang dahsyat terhadap umat Islam, dan sangat cemburu/dengki kepada mereka—melintas di hadapan sekelompok sahabat Rasulullah ﷺ dari suku Aus dan Khazraj dalam suatu majelis yang menyatukan mereka sedang berbincang-bincang. Ia merasa geram melihat kebersamaan, keakraban, dan kedamaian di antara mereka. Syaas berkata: "Orang-orang Banu Qilah [Aus dan Khazraj] telah bersatu di negeri ini. Demi Allah, kita tidak akan memiliki tempat lagi bersama mereka jika mereka bersatu."

Maka ia memerintahkan seorang pemuda Yahudi yang bersamanya seraya berkata: "Pergilah kepada mereka dan duduklah bersama mereka, lalu ingatkan mereka tentang Perang Bu'ats dan apa yang terjadi di dalamnya." (Bu'ats adalah hari di mana suku Aus dan Khazraj saling berperang). Pemuda itu pun melaksanakannya dan mulai berbicara, sehingga orang-orang mulai berselisih, saling membanggakan diri, dan kedua belah pihak menjadi marah seraya berkata: "Perjanjian kalian adalah di az-Zahirah [tempat pertempuran]!"

Maka mereka keluar menuju tempat tersebut, dan suku Aus serta Khazraj saling bergabung mempertahankan klaim seruan Jahiliah mereka. Kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau keluar menemui mereka bersama para sahabat dari kaum Muhajirin hingga mendatangi mereka dan bersabda:

"Wahai معشر المسلمين (sekalian kaum Muslimin)! Apakah kalian menyerukan seruan Jahiliah padahal aku ada di antara kalian setelah Allah memuliakan kalian dengan Islam, memutuskan perkara Jahiliah dari kalian, dan mempersatukan hati kalian, lalu kalian kembali menjadi kafir seperti keadaan kalian sebelumnya? Takutlah kepada Allah, takutlah kepada Allah!"

Maka kaum tersebut sadar bahwa hal itu adalah tipu daya dari musuh mereka, lalu mereka melempar senjata dari tangan mereka, menangis, dan saling berpelukan satu sama lain.

Begitulah media massa musuh Zionis setiap hari membangkitkan Syaas bin Qais dari kuburnya. Tidak ada satu hari pun yang sepi dari judul-judul provokatif dengan tujuan menyulut api fitnah antara Otoritas Palestina dan Gerakan Hamas, serta antara Gerakan Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya—baik faksi nasionalis maupun Islam—bahkan antara sesama elemen Otoritas Palestina sendiri.

Berikut apa yang ditulis oleh surat kabar Haaretz:

"Pemerintah Amerika berusaha mencegah penguasaan Hamas atas Jalur Gaza pasca-pengosongan Israel."

Sangat jelas bahwa berita ini diarahkan kepada Otoritas Palestina untuk memprovokasinya melawan Gerakan Hamas, seolah-olah Hamas sedang mempersiapkan diri untuk melakukan kudeta terhadap Otoritas Palestina guna merebut tampuk kekuasaan dari tangannya.

Kemudian lihatlah apa yang ditulis oleh Yedioth Ahronoth:

"Demikianlah menurut laporan rahasia yang disusun oleh Kementerian Luar Negeri untuk menganalisis peta kekuatan antara Hamas dan Otoritas Palestina."

Disebutkan dalam laporan tersebut bahwa:

"Kedudukan dan keberanian Hamas semakin kuat menyusul enggan Otoritas Palestina untuk melakukan konfrontasi dengannya."

Ini jelas-jelas merupakan pelengkap dari apa yang dimuat di surat kabar Haaretz sekaligus penjelas baginya. Ini adalah seruan terbuka bagi Otoritas Palestina agar menyerang Hamas; seakan-akan mereka ingin mengatakan bahwa keengganan Otoritas untuk menghadapi Hamas akan mengarahkan pada penguasaan Hamas atas Jalur Gaza sehingga Otoritas Palestina akan tersingkir ke pinggir jalan. Adakah provokasi yang lebih jelas daripada ini?

Kemudian lihatlah bagaimana surat kabar Haaretz meracuni halaman-halamannya kembali dengan mengatakan:

"Hamas menampilkan pengumuman penarikan diri Israel dari Gaza sebagai kemenangan militer dan politik baginya, bukan bagi Otoritas atau organisasi-organisasi yang berafiliasi dengan Fatah. Jihad Islam telah didorong oleh Hamas ke sudut. Dan agar Otoritas dapat menerima kendali atas Gaza saat ini, ia harus mengelola konflik yang sangat besar dengan Hamas."

Betapa buruknya apa yang bergolak di dalam hati orang-orang Zionis yang jahat ini! Aku tidak hanya mengatakan terhadap Hamas saja, tetapi terhadap seluruh rakyat Palestina, karena mereka menginginkan pertikaian yang sangat besar. Kemudian renungkanlah provokasi yang jelas terhadap faksi-faksi Palestina lainnya agar mereka menyadari situasi dan masuk ke dalam pertikaian dengan Hamas sebelum terlambat, sebelum Hamas memonopoli rampasan perang itu sendiri sehingga Jihad Islam dan Fatah menjadi terbuang. Padahal Hamas tidak henti-hentinya memuji perlawanan Palestina beserta seluruh elemennya, dan mengembalikan kredit keberhasilan—setelah Allah Azza wa Jalla—atas apa yang direncanakan oleh musuh Zionis berupa pelarian dari neraka Jalur Gaza kepada seluruh elemen perlawanan.

Surat kabar Maariv kembali menyemburkan racunnya dengan mengatakan:

"Nalar sederhana mengatakan bahwa penarikan diri sepihak dari Gaza tanpa perjanjian adalah kemenangan besar bagi Hamas."

Kemudian ia menambahkan:

"Di dalam pemerintahan Amerika, mereka memperkirakan bahwa Israel akan mengambil langkah-langkah untuk memperkuat Otoritas Palestina agar Hamas tidak menguasai Jalur Gaza. Orang-orang Amerika sekarang khawatir—dan kekhawatiran ini menemukan bentuk ekspresinya dalam salah satu artikel terbaru jurnalis berpengaruh besar Tom Friedman—di mana setelah keluar dari Irak akan berdiri negara Syiah di sana, sedangkan setelah keluarnya tentara Israel dari Jalur Gaza akan berdiri negara Hamas di sana."

Kaum Zionis tidak melewatkan kesempatan untuk mencoba memprovokasi para pekerja Palestina agar melawan Gerakan Hamas. Geng-geng Zionis sengaja membagikan selebaran-selebaran kepada mereka yang dipenuhi kedengkian, racun, dan kebohongan yang menyerang gerakan. Disebutkan dalam salah satu selebaran tersebut sebagai berikut:

"Dalam beberapa hari terakhir, elemen-elemen teroris telah meyakinkan seorang anak berusia tiga belas tahun (Montaser Khalid Dahman Abu Sultan dari Kamp asy-Syathi', seorang anak yatim ayah) untuk melakukan aksi perusakan di perbatasan Erez agar perbatasan tersebut ditutup dan merugikan ribuan warga Palestina yang bekerja di Israel dan di Kawasan Industri Erez. Pemanfaatan sinis yang dilakukan oleh Hamas terhadap anak-anak dan perempuan untuk melakukan aksi perusakan merupakan bukti sampainya organisasi-organisasi teroris ke titik terendah. Dan kami bertanya: Sampai kapan?"

Mereka mengatakan hal tersebut padahal mereka menyadari bahwa tidak akan ada seorang pun yang mempercayai klaim mereka ini. Sejarah perjuangan jihad Hamas tidak pernah mencatat bahwa ia pernah mengirimkan seorang anak-anak untuk mengeksekusi operasi melawan musuh. Justru sebaliknya, Hamas pernah mengeluarkan pernyataan yang mengimbau anak-anak untuk tidak terburu-buru mengambil peran mereka dalam perlawanan. Selain itu, anak yang disebutkan tersebut tidak berafiliasi dengan faksi Palestina mana pun.

Proses pembagian selebaran-selebaran tersebut kepada para pekerja Palestina bertepatan dengan tindakan para kaki tangan yang membagikan sebaran beratasnamakan "Warga Muslim Palestina yang Bingung", yang polanya mirip dengan apa yang dibagikan oleh kaum Zionis; penuh dengan kebohongan dan kedengkian terhadap Gerakan Hamas, serta mencemarkan operasi heroik yang dieksekusi oleh Syahidah Reem Riyashi, persis seperti yang dilakukan oleh selebaran yang dibagikan musuh Zionis kepada para pekerja.

Di saat kami yakin bahwa rakyat Palestina, kekuatan-kekuatan nasionalis dan Islam, serta Otoritas Palestina semuanya menyadari tujuan-tujuan jahat di balik upaya-upaya Zionis yang bergaya "Syaas" ini, kami juga yakin bahwa seluruh elemen Palestina memiliki kesadaran penuh bahwa senjata paling ampuh di tangan rakyat Palestina dan kekuatan perlawanannya adalah persatuan barisan Palestina. Dan bahwa sarana paling ideal untuk memperkokoh persatuan ini adalah dialog, bukan pertikaian. Jika musuh Zionis lari terbirit-birit dari Jalur Gaza, aku tidak meragukan bahwa barisan Palestina akan tetap solid dan bersatu untuk melindungi pencapaian besar yang diraih oleh perlawanan Palestina dengan seluruh faksi yang bekerja di dalam parit konfrontasi. Maka tidak akan ada seorang pun yang meremehkan orang lain, dan lengan-lengan yang telah bersatu di atas pelatuk senjata akan menjadi jauh lebih terikat erat saat meraih titik awal kemenangan. Kami katakan kepada Syaas bin Qais: "Kembalilah ke kuburmu, engkau tidak akan pernah beruntung, karena kami adalah satu bangsa."

Di hari-hari jihad dan keshahidan ini, dalam rangka memperingati hari jadi (Milad) Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), aku memilih untuk mengarahkan sorotan kepada pendiri gerakan ini, seorang pemimpin yang ulung dan luar biasa, Syaikh al-Mujahid Ahmad Yasin. Sosok pria yang tidaklah cobaan dan ujian menambahkannya melainkan tekad dan keteguhan untuk melanjutkan perjalanan di atas jalannya yang terjal, serta melangkah maju di jalan pengorbanan dan pemeliharaan hingga terwujudnya tujuan-tujuan yang menjadi alasan didirikannya gerakan Islam yang berjuang ini.

Tujuanku saat menulis artikel ini bukanlah untuk menyelam ke dalam kedalaman samudra pria ini, karena jika demikian aku tidak akan pernah mencapai dasarnya. Sebab samudra pria ini sangat, sangat dalam. Oleh karena itu, keutamaan-keutamaannya tidak akan sanggup dicakup oleh sebuah artikel, sebuah buku, atau bahkan puluhan jilid buku meskipun jumlahnya diperbanyak. Dan aku melihat bahwa sejarah akan berhenti lama saat mencatat sejarah pemimpin Muslim Palestina yang mujahid ini. Oleh karena itu, aku memilih untuk membatasi diri pada mengarahkan sorotan pada beberapa stasion perjalanan hidupnya yang menyingkap sebagian dari sifat-sifatnya, yang aku rasakan bahwa kita hari ini sangat butuh untuk berakhlak dengannya dan menanamkannya dalam jiwa serta sanubari generasi-generasi mendatang dari putra-putri umat Islam. Pemimpin ini memiliki tekad yang tidak mengenal keraguan, kehendak yang tidak mengenal penyimpangan atau jalan mundur, keberanian yang tidak mengenal sifat penakut dan kelemahan, serta kekuatan yang tidak mengenal kelumpuhan.

Syaikh Ahmad Yasin sedang mengarungi usia belia lima belas tahunnya ketika beliau mengalami patah tulang leher akibat pergulatan persahabatan antara beliau dan salah seorang rekannya, Syahid Abdullah Siam. Meskipun cedera berbahaya menimpa pemuda Ahmad Yasin, beliau menyembunyikan alasan kejadian tersebut dari keluarganya agar tidak timbul masalah kekeluargaan antara keluarganya dan keluarga Siam; beliau mengatakan saat itu bahwa kejadian tersebut disebabkan oleh lompatannya ke udara lalu jatuh bertumpu pada kepalanya. Beliau memberitahuku alasan sebenarnya dari kejadian tersebut pada tahun 1990 M ketika aku berada satu sel dengannya—yaitu 40 tahun setelah kejadian tersebut. Beliau berkata kepadaku bahwa ini adalah pertama kalinya beliau menceritakan hakikat apa yang terjadi dan bahwa keluarganya hingga saat itu tidak mengetahui hal tersebut.

Kejadian yang menyakitkan ini menyebabkan pemuda Ahmad Yasin mengalami kelumpuhan total (quadriplegia); tidak ada kaki maupun lengan yang dapat digerakkan. Dan sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa orang-orang yang tertimpa musibah sejenis ini biasanya cenderung pasrah pada kelemahan dan menyerah pada kelumpuhan, sehingga engkau tidak melihat salah satu dari mereka melainkan telah berada di pinggiran kehidupan sebagai barang yang diabaikan; tidak memengaruhi jalannya peristiwa dan tidak terpengaruh darinya, sehingga menjadi beban bagi masyarakat dan beban berat bagi keluarganya.

Namun hal yang menakjubkan dan menyita perhatian adalah bahwa Syaikh Ahmad Yasin telah mencatatkan kemenangan pertama dalam hidupnya ketika beliau menciptakan dari kelumpuhannya sebuah pergerakan, dari ketidakmampuannya sebuah kehendak, dan dari kelemahannya sebuah kekuatan. Maka kemenanganlah kehendak spiritual pada diri Syaikh Ahmad Yasin atas kelemahan jasad yang kaku. Beliau melanjutkan pendidikannya dan menjadi seorang guru, kemudian naik ke atas mimbar-mimbar sebagai khatib, pengarah, dan pendidik yang menyeru kepada Allah di atas bashirah [ilmu dan keyakinan], mempersiapkan para pemuda Muslim untuk memikul beban dakwah kepada Allah dan menghadapi konspirasi-konspirasi yang dirancang melawan Rakyat Palestina dan isu Palestina, yang mengakibatkan beliau ditangkap oleh pemerintah Mesir pada waktu itu. Setelah kekalahan tahun 1967 M, Syaikh Ahmad Yasin bangkit untuk membangun kembali gerakan Ikhwanul Muslimin di Jalur Gaza. Beliau berhasil mendirikan bangunan ini dengan kesabaran, keteguhan, dan tekad kuat yang jarang tandingannya di dunia modern kita, terutama ketika umat Arab dan Islam sedang tertidur lelap serta mengalami kondisi kelemahan, kehancuran, dan kekalahan. Sementara itu, Syaikh terus menyambung malam dan siang dalam pergerakan yang tiada henti, didorong oleh harapan besar untuk menyelamatkan umat dari musibah yang menimpanya.

Setelah keberhasilan yang dicapainya dalam membangun kembali gerakan Ikhwanul Muslimin di Palestina, Syaikh mulai mempersiapkan perlengkapan untuk meraih kemenangan lain demi kepentingan rakyat Palestina dan isu Palestina, bahkan demi kepentingan umat Arab dan Islam. Tujuan utamanya adalah menang atas kondisi kelemahan dan bangkit kembali, didorong oleh iman yang kuat bahwa umat ini mampu meraih kemenangan jika memiliki kehendak untuk keluar dari lingkaran kekalahan, serta memutus belenggu ketergantungan pada musuh-musuhnya yang selalu mengintai. Maka dimulailah persiapan untuk pertempuran jangka panjang yang diarahkan oleh Gerakan Islam dalam menghadapi agresi Zionis secara menyeluruh terhadap Palestina serta umat Arab dan Islam. Syaikh yang mujahid ini mendirikan sayap militer bagi Gerakan Islam, namun takdir Allah menghendaki sayap ini terpukul sejak dini, yang berujung pada penangkapan Syaikh Ahmad Yasin oleh musuh Zionis. Beliau disiksa dengan siksaan yang sangat kejam di ruang-ruang interogasi Zionis oleh para interogator Yahudi Zionis pada tahun 1984 M, yaitu tiga tahun sebelum meletusnya Intifadah. Beliau dijatuhi hukuman penjara selama tiga belas tahun, kemudian dibebaskan atas karunia Allah setelah sebelas bulan melalui kesepakatan pertukaran tawanan pada tahun 1985 M yang diadakan oleh mujahid Ahmad Jibril, Sekretaris Jenderal Front Populer untuk Pembebasan Palestina - Komando Umum (PFLP-GC), dengan musuh Zionis. Beliau keluar dari tahanan dengan tekad, kehendak, dan kegigihan untuk melanjutkan jihad.

Pada saat Syaikh mencetuskan Intifadah Palestina pada tahun 1987 M, sayap militer gerakan Hamas telah didirikan sebelumnya—yang di kemudian hari dinamai Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam—agar gerakan beserta sayap militernya dan Intifadah rakyat Palestina menjadi semacam deklarasi perang perang saraf/perang urat saraf (attrition war) melawan musuh yang zalim ini, guna mencapai keseimbangan daya tangkal (deterrence balance) di tengah ketiadaan keseimbangan kekuatan (power balance).

Pada tahun 1987 M, beliau mendirikan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), dan pada saat yang sama mengumumkan dimulainya Intifadah rakyat Palestina melawan kezaliman, agresi, penghinaan, dan penindasan yang direpresentasikan oleh pendudukan Zionis atas Palestina, penistaan terhadap tempat-tempat suci Islam—yang utamanya adalah Masjid Al-Aqsa yang diberkahi—serta pembantaian yang menimpa anak-anak, wanita, orang tua, bahkan janin di dalam perut ibu mereka. Musuh juga merusak desa-desa dan kota-kota, merobohkan rumah-rumah di atas kepala penghuninya, mencabut pohon-pohon yang berbuah, meratakan lahan-lahan pertanian, dan menghancurkan kehidupan rakyat di segala bidang. Syaikh menyadari bahwa musuh Zionis yang merusak ini mengandalkan kebijakan terorisme untuk mencapai tujuan-tujuan agresi Zionisnya, dan beliau juga menyadari bahwa musuh yang kriminal ini tidak akan menghentikan kebijakan tersebut kecuali jika harga yang harus dibayar akibat kejahatannya sangatlah mahal.

Lalu Syaikh ditangkap untuk kedua kalinya pada tahun 1989 M dan divonis hukuman penjara seumur hidup oleh pihak Zionis. Setelah delapan tahun di dalam penjara, beliau dibebaskan atas karunia Allah `Azza wa Jalla menyusul kegagalan operasi yang dilakukan oleh Mossad di Yordania, yaitu operasi terorisme yang menargetkan nyawa Saudara Mujahid Khalid Masy'al, Ketua Biro Politik Gerakan Hamas.

Syaikh keluar dari penjara untuk mengumumkan kepada pendengaran seluruh dunia bahwa jihad tidak akan berhenti sampai seluruh tanah Palestina dibebaskan dari laut hingga sungai (from the river to the sea), dan tidak ada pengabaian terhadap sejengkal pun tanah air, serta tidak ada penyerahan atas satu pun hak dari hak-hak rakyat Palestina, yang utamanya adalah hak kembali (Hak Al-Audah) bagi pengungsi Palestina yang diusir dari rumah-rumah mereka sejak tahun 1948 M akibat terorisme Zionis. Beliau menolak dengan tegas seluruh inisiatif, dokumen, dan perjanjian yang mengarah pada kompromi atas tanah air atau penyerahan sejengkal tanah darinya demi keuntungan para bajak laut zaman ini dari kalangan Yahudi Zionis yang didukung oleh kekuatan Salibis yang penuh kedengkian.

Kedengkian Zionis terus berlanjut terhadap Syaikh yang mujahid ini hingga mencapai tingkat di mana pihak Zionis menghasut Otoritas Palestina untuk melawan Syaikh, sehingga tidak lama kemudian Otoritas Palestina mengenakan tahanan rumah padanya. Otoritas Palestina tidak ragu-ragu menuruti keinginan Zionis ini, namun massa rakyat Palestina menghalangi berlanjutnya tahanan rumah tersebut, sehingga Syaikh keluar kembali dengan tekad yang lebih tajam dan kegigihan yang lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan jihad.

Kedengkian Zionis terus berlanjut dan kali ini terwujud dalam penargetan nyawa Syaikh, di mana rumah yang di dalamnya terdapat Syaikh dibom saat serangan teroris dengan bom seberat seperempat ton. Namun Allah menyelamatkan beliau, sehingga Syaikh keluar dalam keadaan selamat meskipun terjadi kehancuran yang sangat dahsyat pada rumah tersebut. Syaikh pun keluar dari percobaan pembunuhan ini dengan tekad yang semakin kuat untuk melanjutkan pergerakan jihad; cobaan-cobaan tersebut tidak bertambah padanya kecuali kekuatan, kegigihan, dan keteguhan pada prinsip-prinsip (tsawabit) serta hak-hak nasional.

Inilah Ahmad Yasin, seorang laki-laki yang setara dengan satu umat, atau satu umat dalam diri seorang laki-laki.

"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Menerapkan janji itu, maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23)...

Dan berikut ini adalah wawancara beliau dengan jaringan (website) Al-Fursan Elektronik, di mana beliau memaparkan beberapa aspek, di antaranya aspek pribadi, budaya, media, sastra, pergerakan (haraki), dan politik.

Kita Mulai dengan Aspek Pribadi dan Budaya

Dr. Ar-Rantisi: Ketika saya menyelesaikan studi saya dan kembali ke Jalur Gaza pada tahun 1972 bersama sekelompok rekan, kami menuliskan keinginan kami pada formulir yang diserahkan ke Dinas Kesehatan. Keinginan saya adalah spesialisasi dalam bedah mata dan saya telah mencatat hal itu dalam surat permohonan pekerjaan. Namun Allah berkehendak lain, salah satu rekan terpilih untuk spesialisasi bedah mata, sementara saya menemukan nama saya telah dikirim ke Rumah Sakit Asy-Syifa, sebuah rumah sakit umum yang tentu saja tidak memiliki bagian bedah mata. Di sana, diajukan permohonan baru untuk menyatakan opsi pilihan, maka opsi pilihan saya adalah bedah umum atau bedah anak. Saya terkejut bahwa mereka telah mengirim nama saya ke bagian anak dan opsi saya tidak dipenuhi untuk kedua kalinya. Maka timbul rasa marah dalam diri saya karena merasa terzalimi, dan saya menyadari bahwa urusan berjalan sesuai hawa nafsu, nepotisme, dan kebiasaan koneksi (faktors keterikatan/koneksitas). Lalu saya ridha dengan apa yang dipilihkan Allah untuk saya dalam keadaan merasa pahit dan sakit hati, kemudian saya pergi ke bagian anak. Oleh karena itu, saya dapat katakan: Pemilihan tersebut terjadi karena paksaan dan bukan berdasarkan keinginan pribadi saya.

Jaringan Al-Fursan: Apakah Anda dapat menyelaraskan antara profesi Anda sebagai dokter dengan perhatian Anda pada hal-hal lain seperti urusan politik, pergerakan jihad, organisasi (harakiyah), dan lainnya pada waktu sekarang ini secara khusus?

Dr. Ar-Rantisi: Saya dulu bekerja di profesi kedokteran hingga awal Intifadah pertama di mana perjalanan saya dengan penjara-penjara dimulai, sebab saya telah menghabiskan waktu di dalam penjara lebih dari sepuluh tahun.

Ketika saya keluar dari penjara, saya mendapati bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk bekerja di profesi kedokteran, maka saya memfokuskan diri (tafarrugh) untuk kerja-kerja jihad dan politik, bersamaan dengan tetap menjalankan tugas saya sebagai dosen di Universitas Islam Gaza di Fakultas Keperawatan.

Jaringan Al-Fursan: Syaikh Ahmad Yasin hafizhahullah, apa arti sosok beliau bagi Anda?

Dr. Ar-Rantisi: Beliau adalah teladan, pemimpin, ayah, dan guru. Pada dirinya terdapat sifat-sifat yang tidak dapat Anda lihat padanannya pada orang lain. Beliau adalah pemimpin yang lumpuh, dan sejarah tidak pernah menceritakan kepada kita tentang seorang pemimpin gerakan perlawanan jihad yang menderita kelumpuhan total (kualdriplegia). Beliau adalah pemilik daya ingat yang kuat yang hampir tidak mengenal kata lupa. Beliau pernah memberitahu saya suatu ketika saat kami berada dalam satu sel penjara bahwa beliau tidak tahu bagaimana orang-orang bisa lupa. Saya juga bersaksi bahwa beliau adalah orang paling sabar yang pernah saya kenal, dan siapa pun yang ingin mengetahui makna Shabr Jamil (kesabaran yang indah), hendaklah ia mendampingi orang ini. Atas musibah yang menimpanya, beliau tidak pernah mengadukan kesusahan dan kesedihannya kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau adalah sosok yang inovatif dan memiliki hikmah, sehingga apabila persoalan menjadi gelap dan perkara terasa berat bagi kami, kami menemukan pendapat yang tepat ada pada Syaikh Ahmad Yasin. Di antara sifatnya yang menakjubkan, beliau adalah orang paling aktif yang pernah saya kenal; bekerja dengan energi sepuluh orang laki-laki, tidak merasa bosan, dan tidak merasa lelah. Beliau adalah sosok Qur'ani, seorang pria yang membawa Al-Qur'an di dalam dadanya dan telah menghafalnya di luar kepala di dalam sel penjaranya saat saya menjadi teman satu sel dengannya. Saya telah katakan dalam sebuah artikel yang khusus saya persembahkan untuk beliau bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang setara dengan satu umat, atau satu umat dalam diri seorang laki-laki.

Jaringan Al-Fursan: Dengan taufik dari Allah, Anda berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur'anul Karim (dan ini adalah nikmat dari Allah) saat Anda berada di dalam penjara. Bagaimana Anda melihat diri Anda setelah menghafalnya?

Dr. Ar-Rantisi: Seutama-utama nikmat Allah kepada manusia adalah ketika Allah memampukannya untuk menghafal Kitab-Nya. Para penghafal Kitabullah melihat hal baru di dalamnya pada setiap tilawah yang mereka baca; Al-Qur'an terbarukan di dalam hati mereka dengan kenikmatan, makna-makna, dan rahasia-rahasianya. Anda dapat meresapi sesuatu yang indah di dalamnya pada setiap tilawah baru yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Selain itu, menghafal Al-Qur'an mendekatkan seorang muslim kepada Rabb-nya dan membuatnya menjalani kehidupan akhirat seolah-olah ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Al-Qur'an juga menjadi benteng yang menjaga pemiliknya dari kekhilafan hingga tingkat yang tinggi, serta membangkitkan cita-cita (himmah) dalam diri pemiliknya. Maka tidak mengherankan jika Anda melihat para penghafal Kitabullah itu: "bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka..." (QS. Al-Fath: 29).

Jaringan Al-Fursan: Tempat lahir Anda adalah di desa Yibna yang terletak di antara Asyqalan dan Yafa. Bisakah Anda menceritakan kepada kami tentang desa ini dan apa arti desa ini bagi Anda?

Dr. Ar-Rantisi: Saya dikeluarkan dari desa saya, Yibna, ketika saya berusia enam bulan. Namun rasa cinta kepadanya tumbuh di dalam hati saya seiring bertambahnya usia saya. Betapa saya sangat merindukannya meskipun saya tidak melihatnya dengan mata kesadaran ketika saya dikeluarkan darinya. Saya telah mengunjunginya beberapa kali tak lama setelah pendudukan Tepi Barat dan Jalur Gaza, yaitu sebelum Intifadah pertama. Setiap kali mengunjunginya, saya pergi ke rumah tempat saya dilahirkan, yaitu rumah dua lantai yang terletak di tengah-tengah pepohonan jeruk, yang dirampas oleh sebuah keluarga Yahudi yang datang dari Yaman. Rumah itu adalah rumah indah yang menghuni jiwa saya meski saya tidak menghuninya, terletak di tengah desa dan dekat darinya terdapat sekolah kota yang biasa dituju oleh murid-murid dari desa-desa tetangga. Juga dekat dari rumah itu terdapat makam seorang yang saleh yang mereka sebut di desa itu sebagai Makam Abu Hurairah. Ketika saya mengunjungi rumah itu, saya terkejut bahwa di sana masih ada beberapa pohon jeruk yang ditanam oleh ayah saya dengan tangannya sendiri, semoga Allah merahmatinya. Jalan raya lama yang menghubungkan utara Palestina dengan selatannya melintasi desa tersebut, sementara jalan baru menyenggol batas baratnya. Di desa tersebut masih ada peninggalan rumah-rumah yang hancur serta masjid yang telah mengalami kerusakan dan tidak tersisa kecuali sebagian dari menaranya. Dekat dari masjid terletak pemakaman desa tempat jasad para leluhur bersemayam. Dari pihak saya, saya masih terus menantikan hari di mana saya akan kembali ke desa dan rumah saya. Saya yakin bahwa kita akan kembali kepadanya, tetapi saya tidak tahu apakah saya akan menyejukkan mata saya dengan melihatnya dalam keadaan gema takbir "Allahu Akbar" membumbung di atas menaranya, ataukah desa itu akan bangkit dengan mulia sementara tanah telah memeluk jasad saya.

Jaringan Al-Fursan: Ketika Anda berada di kelas enam sekolah dasar, Anda terpaksa bekerja untuk membantu menafkahi keluarga besar Anda. Bisakah Anda menceritakan kepada kami tentang fase kehidupan Anda ini? Dan tentang kehidupan Anda di kamp pengungsi Khan Yunis (secara singkat jika memungkinkan)?

Dr. Ar-Rantisi: Tidak ada penghasilan bagi keluarga besar kami kecuali apa yang kami terima berupa bantuan logistik (tomwin) dari Badan Bantuan dan Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Hal ini memaksa saya dan saudara-saudara saya untuk mencari pekerjaan meskipun sederhana, dan pekerjaan itu terkadang tidak sesuai dengan usia dan kemampuan. Saya dulu bekerja di bidang penjualan; saya menjual buah sederhana yang disebut Jummaiz (buah ara hutan/sycamore), hingga pada akhir hari saya membawa pulang—sering kali—hanya satu qirsy (sen) atau setengah qirsy dari hasil itu. Kemudian ketika saya bertambah besar sedikit, saya bekerja menyiram pohon-pohon di perkebunan (biyarat), dan saya juga bekerja di bidang bangunan; mengangkut batu dan lain sebagainya. Kemudian ketika saya masuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP), saya pergi ke kota Al-Arisy di Sinai untuk membawa sabun dan beberapa barang lain dari sana dalam jumlah kecil yang menghasilkan sedikit keuntungan. Ada banyak bidang kerja lainnya yang saya geluti, dan secara umum tidak sesuai dengan usia muda saya.

Jaringan Al-Fursan: Mata kuliah apa saja yang Anda ajarkan di Universitas Islam Gaza? Dan bagaimana perlakuan Anda terhadap para mahasiswa?

Dr. Ar-Rantisi: Saya mengajar mata kuliah Biokimia di Universitas Islam serta mata kuliah Pertolongan Pertama (P3K). Semangat yang mendominasi antara saya dan para mahasiswa saya adalah semangat ukhuwah (persaudaraan). Mereka merasakan semangat ini dan memperlakukan saya sebagai teman mereka. Saya sering bersenda gurau dengan mereka, serta mengingatkan mereka kepada Allah dan peran yang dibebankan kepada mereka di kehidupan dunia ini, khususnya karena tanah air sedang terjajah dan mereka membentuk tulang punggung rakyat Palestina, serta menjadi harapan umat dan perbekalannya di usia muda mereka.

Jaringan Al-Fursan: Baik... Pada saat ini, bagaimana Anda melanjutkan kuliah/pengajaran Anda?

Dr. Ar-Rantisi: Setelah saya menjadi sasaran percobaan pembunuhan yang gagal, tidak lagi mudah bagi saya untuk melanjutkan pengajaran saya di universitas di bawah tindakan pengamanan ketat yang kami terapkan hari ini. Hal itu dilakukan demi mengamalkan firman Allah `Azza wa Jalla: "Wahai orang-orang yang beriman! Bersiap siagalah kamu..." (QS. An-Nisa: 71). Oleh karena itu, saya berhenti dari melanjutkan pengajaran di universitas sampai Allah memutuskan suatu perkara yang telah ditetapkan.

Jaringan Al-Fursan: Anda telah menghabiskan bertahun-tahun dan berbulan-bulan di penjara musuh Zionis dan Otoritas Nasional (Sultah Wathaniyah). Apa saja sisi positif dan negatif dari periode yang Anda habiskan di dalam penjara ini? Dan apakah itu mempengaruhi cara berpikir serta gaya hidup Anda?

Dr. Ar-Rantisi: Tidak diragukan lagi bahwa di dalam penahanan terdapat banyak sisi positif. Yang terdepan dari sisi positif ini adalah bahwa penahanan menyiapkan manusia untuk menanggung beban-beban berat di masa depan. Demikianlah Nabi Yusuf 'alaihissalam disiapkan untuk tugas yang lebih besar, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman setelah Nabi Yusuf keluar dari penjara: "Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini..." (QS. Yusuf: 56). Penjara adalah madrasah kesabaran, sebagaimana seorang tahanan menemukan waktu yang cukup untuk ilmu dan pengetahuan. Penjara juga merupakan kesempatan baik untuk berinteraksi dengan para pemuda. Dan yang terdepan dari sisi positif adalah bahwa saya mampu menghafal Kitabullah `Azza wa Jalla. Adapun sisi negatifnya terbatas pada fakta bahwa manusia di dalam penjara kehilangan kemampuan untuk bergerak secara luas yang memberikan kemanfaatan bagi isu perjuangan, rakyat, dan keluarga. Jika ada pengaruh terhadap cara berpikir saya setelah penahanan, maka saya dapat katakan bahwa keterikatan saya pada dunia telah sangat melemah. Maka tidak mengherankan jika Anda melihat sebagian besar pemuda yang gugur sebagai syahid pernah menghabiskan periode kehidupan mereka di dalam penjara.

Kita Masuk ke Aspek Media, Sastra, atau Budaya

Jaringan Al-Fursan: Anda memiliki situs web di internet. Apa tujuan dari situs tersebut? Berapa jumlah pengunjung harian Anda? Ceritakan kepada kami tentang situs itu dan komunikasi Anda dengan para pengunjung.

Dr. Ar-Rantisi: Tujuan terpenting dari situs web ini terwujud dalam memaparkan sikap Islam terhadap isu Palestina, menempatkan pemerhati situs di hadapan perkembangan-perkembangan terbaru, serta menyampaikan tulisan-tulisan terbaik tentang isu Palestina berupa artikel dan puisi kepada para pengikut situs. Juga memaparkan sikap Islam terhadap isu-isu yang menjadi perhatian umat Arab dan Islam, serta membongkar musuh-musuh Allah dan tipu daya yang mereka rancang terhadap umat ini. Adapun jumlah pengunjungnya, situs ini dikunjungi oleh sekitar seribu orang per hari dan terkadang jauh lebih banyak dari jumlah tersebut. Di sana ada halaman untuk menerima pesan-pesan pengunjung dan pesan-pesan mereka dipublikasikan di situs. Saya juga memiliki alamat email yang melaluinya saya menerima banyak pesan yang saya baca dan saya balas. Biasanya saya menerima balasan atas balasan saya di mana para pengirimnya mengungkapkan kebahagiaan mereka seraya mengatakan bahwa mereka tidak menyangka kecepatan balasan ini. Terkadang karena kondisi keamanan yang sulit, saya terlambat membalas pesan pengunjung, dan ketika saya mampu membalas mereka, saya meminta maaf kepada mereka atas keterlambatan balasan yang terjadi.

Jaringan Al-Fursan: Apakah Anda sendiri yang memperbarui (update) situs web tersebut?

Dr. Ar-Rantisi: Sering kali ya, saya sendiri yang memperbarui situs tersebut. Namun dalam kondisi keamanan yang sulit, sebagian pemuda mengambil alih urusan ini.

Jaringan Al-Fursan: Kami ingin mengetahui pandangan Anda tentang bagaimana generasi umat Islam kita dapat memanfaatkan jaringan internet?

Dr. Ar-Rantisi: Realitasnya bahwa jaringan internet merupakan pintu pengetahuan yang luas yang memudahkan sampainya informasi kepada para pembaca. Internet juga membentuk kesempatan bagi para pemuda untuk mengakses informasi yang sahih melalui situs-situs yang terpercaya—dan betapa banyaknya situs tersebut. Internet juga menjadi kesempatan yang baik untuk menjalin komunikasi antar-generasi dalam satu umat dan satu akidah serta bertukar pemikiran dan informasi. Selain itu, terdapat banyak situs yang kaya dengan informasi keagamaan yang memuaskan kebutuhan pemuda muslim yang haus akan informasi ini di saat ia kembali dengan kembalinya yang terpuji kepada akidah, asal-usul, dan identitasnya.

Jaringan Al-Fursan: Ada yang mengatakan bahwa jaringan internet bertindak sebagai media alternatif dalam waktu dekat. Apa tanggapan Anda?

Dr. Ar-Rantisi: Hal ini memang diperkirakan, terutama karena persentase yang tinggi dari anak-anak umat hari ini tidak menemukan kebutuhan mereka melalui sarana-sarana media lain yang telah menutup pintu-pintu mereka di hadapan orang-orang Islam (Islamiyyin). Namun jaringan internet membuka pintu selebar-lebarnya bagi kaum muslimin yang terhalangi untuk menemukan tempat penyaluran bagi rasa sakit mereka. Di saat para pemuda menemukan situs web di internet untuk Gerakan Hamas dan Batalyon Al-Qassam, mereka tidak akan menemukan stasiun penyiaran televisi untuk keduanya karena pintunya ditutup rapat di hadapan gerakan ini.

Jaringan Al-Fursan: Anda adalah seorang penulis artikel yang unggul, dan alhamdulillah artikel-artikel Anda dipublikasikan di beberapa situs dan surat kabar. Bisakah kami mengetahui suasana seperti apa yang kondusif bagi Anda untuk menulis artikel? Terutama karena artikel-artikel Anda selalu seirama dengan peristiwa yang terjadi.

Dr. Ar-Rantisi: Suasana terbaik untuk menulis adalah kesendirian dan ketenangan. Pendorong terbaik adalah peristiwa-peristiwa yang terkadang membangkitkan kegembiraan dalam jiwa, dan di waktu lain membangkitkan rasa sakit, khususnya peristiwa yang menyentuh isu Palestina dan isu-isu umat Arab kita. Dari sinilah artikel-artikel biasanya hadir seirama dengan peristiwa.

Kita Masuk ke Aspek Politik dan Pergerakan (Haraki)

Jaringan Al-Fursan: Ikhwanul Muslimin adalah induk dari mana Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) memancar pada tahun 1987. Sebenarnya kami mengalami kesimpangsiuran, bisakah Anda menjelaskan kepada kami apa hubungan antara gerakan ini dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin? Ceritakan kepada kami tentang pemikiran dan manhaj gerakan ini dibandingkan dengan Ikhwanul Muslimin.

Dr. Ar-Rantisi: Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) adalah Gerakan Ikhwanul Muslimin di Palestina. Pada tahun 1987 M, ketika pimpinan Ikhwanul Muslimin—dan saya merupakan salah satu anggota pimpinan—memutuskan untuk menyulut Intifadah di Palestina, kami memilih sebuah nama untuk gerakan lapangan yang mewakili aktivitas Intifadah di jalanan Palestina yang dijalankan oleh gerakan Ikhwanul Muslimin. Maka pilihan kami jatuh pada judul ini: "Gerakan Perlawanan Islam" (Harakat al-Muqawamah al-Islamiyyah). Oleh karena itu, para anggota Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) ketika memberikan baiat, mereka memberikannya kepada gerakan Ikhwanul Muslimin.

Jaringan Al-Fursan: Kapan terorisme (Al-Irhab) menjadi hal yang terpuji? Dan kapan menjadi hal yang tercela?

Dr. Ar-Rantisi: Terorisme (Al-Irhab) sebagai istilah yang dikenal saat ini di dunia telah menjadi hal yang tercela, karena ia tidak lagi sekadar nama masyda (kata benda asal) dari kata kerja arhaba (menakut-nakuti). Sekiranya ia tetap berada dalam bingkai ini, tentu ia menjadi hal yang terpuji jika berupa tindakan menakut-nakuti terhadap para penjajah, pendaulat kezaliman, dan orang-orang zalim, sebagaimana tercantum dalam Kitabullah Subhanahu wa Ta'ala: "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..." (QS. Al-Anfal: 60). Dan ia menjadi tercela jika berupa tindakan menakut-nakuti terhadap rakyat yang aman dan tenteram serta melakukan agresi atas mereka, atau menakut-nakuti orang-orang yang lemah di bumi. Maka apa yang dilakukan oleh musuh Zionis berupa pendudukan dan agresi terhadap rakyat Palestina adalah terorisme itu sendiri menurut istilah internasional. Sedangkan apa yang dilakukan oleh rakyat Palestina berupa penggentaran terhadap para penjajah adalah perlawanan yang sah terhadap pendudukan menurut Kitabullah. Jika mereka menyematkan istilah terorisme pada perlawanan Palestina ini, maka pada saat itu ia adalah terorisme yang terpuji, sebagaimana dikatakan oleh penyair:

Tidak ada keadilan kecuali jika kekuatan telah seimbang,

dan berbenturanlah terorisme dengan terorisme.

Dan lafaz terorisme (Al-Irhab) dalam bait puisi ini—yang mengekspresikan perlawanan—hadir dalam konteks musyakalah lafzhiyyah (keselarasan artikulasi lafaz).

Jaringan Al-Fursan: Bagaimana perang media mempengaruhi Anda ketika mereka melabeli para pahlawan yang gagah berani dengan sebutan terorisme? Dan bagaimana Anda melawan perang media yang ditujukan terhadap jihad suci Anda ini?

Dr. Ar-Rantisi: Istilah ini tidak lagi memiliki nilai apa pun karena tidak mencerminkan gambaran hakiki dari terorisme yang dimaksud dari istilah tersebut. Oleh karena itu, ia tidak lagi memiliki pengaruh apa pun terhadap rakyat, bahkan rakyat Barat sekalipun, karena rakyat Arab dan Islam menyadari hakikat permusuhan Salibis dan Zionis terhadap umat Arab dan Islam. Walhasil, mereka tidak menghormati istilah-istilah ini dan tidak menghormati pihak yang berada di baliknya. Sebagaimana yang Anda ketahui, jajak pendapat di Eropa telah membuktikan bahwa rakyat Eropa menyadari sepenuhnya sifat musuh Zionis ini ketika mayoritas menegaskan bahwa entitas Zionis ini membentuk ancaman terbesar bagi keamanan di muka bumi.

Jaringan Al-Fursan: Tidakkah Anda melihat bahwa terdapat perancuan dan kontradiksi antara apa yang diinginkan oleh Pemerintah Palestina melalui pemberian konsesi (تنازلات) kepada geng Zionis yang rasis dengan tuntutan gerakan-gerakan jihad dan perlawanan Palestina yang gagah berani?

Dr. Ar-Rantisi: Kontradiksinya sangat besar antara hak-hak nasional yang sah bagi rakyat Palestina yang diusung dan dipegang teguh oleh Gerakan Perlawanan Islam di Palestina, dengan apa yang dipraktikkan oleh Otoritas Palestina berupa kemerosotan politik yang berbahaya yang mengarah pada penyerahan sebagian besar hak-hak nasional yang sah bagi rakyat Palestina. Bahkan terdapat kontradiksi antara asas-asas, kaidah-kaidah, dan prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan berdirinya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) saat didirikan, dengan sikap-sikap merosot yang kekalahan yang diusung oleh PLO hari ini yang direpresentasikan oleh Otoritas.

Jaringan Al-Fursan: Apa saja poin-poin utama yang dipegang teguh oleh warga Palestina—baik rakyat, pemerintah, maupun gerakan perlawanan—demi kemaslahatan isu Palestina?

Dr. Ar-Rantisi: Tidak menyerahkan sejengkal pun tanah Palestina dari laut hingga sungai meskipun kita tidak mampu membebaskannya hari ini; tidak menyerahkan hak kembali (Hak Al-Audah) dan ganti rugi bagi warga Palestina yang diusir dari rumah-rumah mereka; tidak menyerahkan tempat-tempat suci; berdirinya negara Palestina yang berdaulat penuh tanpa menyerahkan bagian tanah air yang tersisa sebagai imbalannya. Poin-poin inilah yang dipegang teguh oleh Gerakan Islam di Palestina, dan ini mewakili mayoritas mutlak rakyat Palestina. Namun poin-poin yang dipegang teguh oleh Otoritas tidaklah jelas, karena Otoritas mengubah sikapnya secara terus-menerus untuk menyesuaikan diri dengan apa yang diinginkan oleh musuh Zionis. Kita semua telah mendengar tentang Dokumen Jenewa yang menghabisi sisa-sisa hak-hak nasional.

Jaringan Al-Fursan: Membunuh warga sipil Israel, bahkan tentara Israel, dianggap sebagai aksi teroris yang dilarang yang tidak didiamkan oleh geng Zionis, dan pemerintah Palestina terkadang mengecam serta mengutuknya. Lantas siapakah yang membela korban-korban Palestina dari kalangan anak-anak, wanita, dan lansia? Dengan kata lain, bagaimana media Arab bersikap terhadap korban tewas sipil Zionis dan syahid sipil Arab Palestina?

Dr. Ar-Rantisi: Jika kata "sipil" mengekspresikan orang yang tidak membawa senjata, maka di sana ada warga sipil Zionis dan kami tidak memungkiri hal itu. Namun yang kami ingkari adalah bahwa mereka adalah warga sipil yang tidak berdosa (innocent); tidak lain karena mereka adalah sekutu dalam pendudukan tanah air dan pengusiran rakyat Palestina dari tanahnya serta penempatan mereka di sana secara paksa tanpa izin dari pemiliknya. Bahwa tidak mungkin mengeluarkan mereka dari Palestina dan mengembalikan pemiliknya ke sana kecuali dengan memerangi dan mengusir mereka darinya secara paksa. Maka pengutukan terhadap operasi-operasi yang menargetkan para penjajah pada hakikatnya mengekspresikan kelemahan pihak yang melontarkan pengutukan tersebut dan tidak mencerminkan hakikat dirinya. Sungguh sangat disayangkan bahwa media Arab bersikap terhadap korban tewas dari kalangan penjajah seolah-olah mereka warga sipil, sementara pada saat yang sama tidak menyoroti secara kuat kejahatan-kejahatan pendudukan yang menargetkan anak-anak, wanita, lansia, dan pemuda dari kalangan rakyat Palestina serta menghancurkan kehidupan Palestina dengan merusak bangunan dan pepohonan.

Jaringan Al-Fursan: Bagaimana pandangan Hamas yang gagah berani terhadap apa yang sedang berlangsung berupa upaya-upaya untuk mewujudkan perdamaian melalui Peta Jalan Perdamaian (Roadmap for Peace)?

Dr. Ar-Rantisi: Roadmap (Peta Jalan) tidak mungkin mengarahkan pada perdamaian. Poin-poin pertama dari Peta Jalan ini adalah poin-poin yang berkaitan dengan pemukulan terhadap perlawanan Palestina dan pemusnahannya demi kepentingan pendudukan, atau katakanlah penyulutan perang saudara di dalam internal jalanan Palestina. Saya meyakini bahwa perang saudara Palestina adalah tujuan utama dan akhir di balik Peta Jalan ini. Siapa saja yang mengira selain itu atau meyakini ada tujuan-tujuan perdamaian di balik Peta Jalan ini, maka ia tenggelam dalam ilusi. Peta Jalan ini tidak dapat diterapkan, dan jika ditakdirkan untuk diterapkan, maka penerapannya terbatas pada penghancuran rakyat Palestina dan Intifadahnya yang gagah berani. Jalan perdamaian sudah diketahui bagi siapa saja yang ingin menempuhnya, yaitu terwujud dengan memberikan hak-hak yang sah kepada rakyat Palestina, serta menghentikan tragedinya yang dimulai sejak tahun 1948 dan masih berlanjut hingga hari ini.

Jaringan Al-Fursan: Meskipun ada peran berbahaya yang dimainkan oleh para mata-mata (jasus), khususnya mereka yang bekerja dalam posisi-posisi kepemimpinan di tengah rakyat Palestina, namun kami mengamati bahwa gerakan Hamas menahan tangannya dari mereka. Bagaimana Anda dapat menjelaskan sikap ini kepada teman-teman dan musuh-musuh Anda?

Dr. Ar-Rantisi: Sebagaimana Anda ketahui, kita di Palestina memiliki pemerintah yang berdiri, dan memantau serta mengejar para mata-mata seharusnya menjadi salah satu kewajiban utama pemerintah ini. Jika gerakan Hamas mengambil peran ini, Pemerintah Palestina akan menganggap bahwa Hamas menyodorkan dirinya sebagai alternatif dari pemerintah ini, atau Hamas bekerja untuk membentuk pemerintah tandingan, atau Hamas mengambil hukum dengan tangannya sendiri. Semua hal itu berpotensi memicu ketegangan di jalanan Palestina, dan dapat dijadikan dalih untuk menjalankan peran yang diinginkan oleh Amerika dan musuh Zionis dari Otoritas Palestina, yaitu memukul Gerakan Islam. Dari sinilah gerakan Hamas pada fase ini membatasi diri pada mengawasi dan memantau mereka.

Jaringan Al-Fursan: Bagaimana Anda menjelaskan tuntutan geng Zionis agar warga Arab Palestina yang tinggal di dalam wilayah yang disebut Israel untuk terlibat dalam wajib militer sebagai bentuk ekspresi loyalitas mereka kepada negara Israel yang rapuh dan klaim semata?

Dr. Ar-Rantisi: Tuntutan ini merupakan pendahuluan untuk mempraktikkan penyempitan terhadap warga Palestina yang tetap menjaga identitas dan loyalitas mereka, serta pendahuluan untuk menciptakan dalih-dalih guna merampas sisa-sisa hak-hak sipil mereka. Pihak Zionis menyadari loyalitas warga kita di Palestina yang diduduki sejak tahun 1948, namun mereka tidak ingin menghormati loyalitas ini, di saat mereka membolehkan diri mereka sendiri untuk membela kaum Yahudi di seluruh penjuru dunia. Pengadopsian mereka terhadap kaum Yahudi Iran yang dituduh melakukan mata-mata terhadap negara mereka (Iran) bukanlah hal yang jauh dari kita.

Jaringan Al-Fursan: Hal-hal apa saja yang Anda lihat sangat dibutuhkan oleh rakyat Palestina pada saat sekarang ini?

Dr. Ar-Rantisi: Rakyat Palestina saat ini sangat membutuhkan untuk melihat dukungan nyata dengan segala sarana dari rakyat Arab dan Islam, karena rakyat Palestina hari ini berdiri di parit terdepan membela kehormatan umat. Merupakan hak rakyat ini atas umat agar umat menjadi penguat bagi jihadnya sehingga ia dapat melanjutkan keteguhannya dalam menghadapi agresi Zionis yang zalim ini, yang tidak ada tandingannya dalam sejarah baik dalam kekejaman penindasannya maupun dalam ketiadaan moralitasnya.

Jaringan Al-Fursan: Apa permintaan Anda kepada situs-situs web Arab dan Islam di internet untuk melayani isu terbesar umat Islam, yaitu isu Palestina yang terluka?

Dr. Ar-Rantisi: Kami meminta mereka untuk menonjolkan kejahatan musuh Zionis terhadap rakyat Palestina di hadapan dunia, merangsang/menganjurkan umat untuk menjalankan perannya dalam menghadapi agresi ini dan menyokong jihad rakyat Palestina, serta menyoroti keadilan isu Palestina, sejarah Palestina, dan akar tragedi Palestina.

Jaringan Al-Fursan: Apa sikap Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) terhadap perang Salib yang dipimpin oleh Amerika Serikat terhadap kaum muslimin di berbagai penjuru dunia, dan apa peran gerakan dalam menolak agresi ini?

Dr. Ar-Rantisi: Realitasnya bahwa perang gila yang dipimpin oleh Barat yang penuh kedengkian ini adalah perang yang ditujukan pertama dan utama terhadap Islam secara pemikiran, peradaban, akidah, dan nilai-nilai. Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) pada tingkat pertama adalah gerakan Islam, dan dari sinilah ia menaruh perhatian pada isu-isu kaum muslimin di setiap tempat. Apa yang terjadi berupa agresi Amerika terhadap saudara-saudara kita di Irak sangat mempengaruhi Gerakan Hamas. Sebagaimana pula perlawanan Islam yang gagah berani di Irak memiliki pengaruh positifnya terhadap isu Palestina dan terhadap Gerakan Perlawanan Islam.

Jaringan Al-Fursan: Mengapa Anda menentang serangan terhadap para pemukim Salibis di kompleks Al-Muhayya di tanah Jazirah Arab, dan mengutuk pembunuhan Muhammad Baqir Al-Hakim, meskipun ada sikap Hamas yang dinyatakan tidak campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain?

Dr. Ar-Rantisi: Ini bukan termasuk campur tangan dalam urusan negara lain, tetapi kami menyampaikan perkataan kami yang kami yakini bermuara pada kemaslahatan kaum muslimin. Mereka yang terbunuh di kompleks Al-Muhayya adalah bagian dari kaum muslimin. Banyak analis dan pengamat pada saat itu meyakini ada tangan-tangan tersembunyi di balik operasi tersebut. Adapun mengenai pembunuhan Baqir Al-Hakim, kami tidak tahu siapa yang berada di balik operasi ini, dan kami meragukan jika perlawanan Irak yang melakukannya. Yang paling kami khawatirkan adalah bahwa operasi-operasi semacam ini memukul persatuan jalanan Irak, dan hal itu tidak akan menjadi kemaslahatan bagi perlawanan Irak.

Jaringan Al-Fursan: Adakah pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para pemuda umat Islam?

Dr. Ar-Rantisi: Sesungguhnya urusan umat hari ini menyaksikan kondisi kemunduran—saya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa ini adalah salah satu fase terburuk yang pernah dilalui oleh umat. Umat telah kehilangan independensinya setelah kehilangan identitas Islamnya. Bangsa-bangsa berkumpul mengeroyoknya untuk merampas masa lalu, masa kini, dan masa depannya. Kini tibalah giliran pemuda muslim untuk menyelamatkan umat dan mengangkatnya dari jurang terdalam yang telah dicapainya. Pemuda adalah pilar umat; jika mereka lurus maka umat akan lurus, dan jika mereka bangkit maka umat akan bangkit. Bersama mereka umat akan menang, dan bersama mereka kedudukan umat akan meninggi di antara bangsa-bangsa. Tidak akan menjadi baik kondisi umat ini kecuali jika baik kondisi pemudanya, dan tidak akan menjadi baik kondisi pemudanya kecuali dengan Islam. Maka bertakwalah kepada Allah wahai para pemuda Islam dalam menjaga umat kalian, berpegang teguhlah pada akidah kalian, dan ingatlah firman Allah `Azza wa Jalla: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7). Ketahuilah bahwa Islam pasti akan menang; jika tidak menang melalui kalian, maka ia akan menang melalui selain kalian. Ketahuilah bahwa jihad di jalan Allah adalah puncak tertinggi (sanam) Islam, maka wajib atas kalian berjihad untuk membebaskan tanah dan tempat-tempat suci kalian, menyediakan keamanan bagi anak-anak kaum muslimin, menjaga darah mereka, serta mengembalikan kejayaan bagi umat.

Jaringan Al-Fursan: Adakah pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pengelola situs Jaringan Islam Al-Fursan? Dan apakah Anda memiliki catatan, nasihat, serta saran untuk situs ini?

Dr. Ar-Rantisi: Sesungguhnya kita berada dalam pertempuran sengit melawan musuh-musuh Islam dari kalangan Zionis dan Salibis. Musuh telah mengerahkan seluruh sarananya untuk memenangkan pertempuran, yang utamanya adalah media. Dan kita harus mengerahkan untuk menghadapi mereka dalam pertempuran ini seluruh kekuatan yang kita miliki. Maka Anda sekalian berada di salah satu pos perbatasan (tsaghar) Islam, maka jangan sampai Islam terserang dari arah kalian. Kami bangga dengan kalian dan dengan upaya yang kalian curahkan, dan umat kalian bangga dengan kalian. Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kalian untuk setiap kebaikan, memberkahi langkah-langkah kalian, dan mengalirkan kebaikan umat ini melalui tangan kalian.

Jaringan Al-Fursan: Meskipun berbincang dengan Anda memiliki kenikmatan dan manfaat, adakah pertanyaan yang belum kami ajukan?

Dr. Ar-Rantisi: Pertanyaan-pertanyaan kalian telah mencakup segala hal yang mungkin terlintas dalam pikiran, maka semoga Allah memberkahi kalian.

Istri Ar-Rantisi: Anak-Anakku Berjalan di Atas Jalan Ayah Mereka

Mujahidah (Ummu Muhammad), istri syahid Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi, menegaskan bahwa ia akan menerima ucapan selamat dan bukan ucapan belasungkawa. Ia menegaskan bahwa suaminya sepanjang hidupnya berada di atas jalan jihad menuntut kesyahidan dan mencari keridhaan Allah, dan ia telah mencapainya serta meraihnya.

Ia menambahkan dalam pernyataan kepada saluran Al-Arabiya saat mengantar jenazah sang syahid: "Ar-Rantisi selalu meminta kesyahidan. Selama kita tahu bahwa setiap ajal telah ada ketetapannya, maka kesyahidan adalah pilihan (isthifa') dari Allah. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa saya katakan kepadanya selain: Selamat untukmu atas kesyahidan ini wahai Abu Muhammad, dan saya memohon kepada Allah agar mengumpulkan kita di dalam kenikmatan surga."

Adapun mengenai kondisi anak-anaknya setelah kesyahidan ayah mereka, sang istri yang pasrah dan mengharap pahala (muhtasibah) berkata: "Anak-anakku mengetahui jalan yang dilalui oleh ayah mereka, dan mereka memperbarui janji, dan di atas jalannya mereka berjalan."

Puluhan ribu laki-laki dan perempuan telah berpartisipasi dalam mengantar jenazah syahid Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi dan saudara-saudaranya sesama syahid pada siang hari ini, Minggu 18/4/2004 M, dan mereka mengancam akan memberikan balasan cepat atas kejahatan Zionis ini.

Putra Ar-Rantisi Menceritakan Detik-Detik Terakhir dalam Kehidupan Ayahnya

Putra sulung syahid Abdul Aziz Ar-Rantisi menceritakan rincian detik-detik terakhir dalam kehidupan pemimpin Gerakan Hamas di Gaza sesaat sebelum pembunuhannya. "Muhammad Ar-Rantisi" mengungkapkan bahwa ayahnya sedang bersiap untuk menikahkan putranya yang kedua, "Ahmad", setelah ia mendapatkan tabungannya dari Universitas Islam tempat ia mengajar, dan melunasi seluruh utangnya. Surat kabar UEA (Al-Khaleej) mengutip dari Muhammad bahwa ayahnya menghabiskan malam sebelum pembunuhannya bersama keluarga yang merindukannya dan jarang melihatnya kecuali sedikit.

Ia menambahkan: Kehidupan Ar-Rantisi bukanlah kehidupan biasa dalam segala makna yang dikandung oleh kata tersebut; melainkan kehidupan seorang pemimpin yang memikul kewajiban-kewajiban seluruh gerakan, dan pada saat yang sama ia harus bertindak sebagai buronan yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain dengan cara-cara rahasia dan sulit hingga detik terakhir kehidupannya.

Ia berkata: Sesungguhnya ayahnya—sejak pembaiatannya sebagai pengganti Syaikh Ahmad Yasin—berhenti pergi ke rumahnya di lingkungan Asy-Syaikh Radwan di Kota Gaza. Beliau tinggal di markas-markas rahasia, mengambil tingkat kewaspadaan dan kehati-hatian tertinggi, dan tidak berpindah tempat kecuali jarang. Namun beliau akhirnya kembali pada Sabtu dini hari, tanggal 17 April, setelah mengetahui bahwa saudaranya, Salah, datang dari Khan Yunis untuk melihat dan mengucapkan salam padanya. Demikian pula putrinya, Inas, tiba untuk memastikan keselamatan ayahnya dan menghabiskan beberapa jam bersamanya. Beliau memutuskan untuk menghabiskan beberapa hari bersama anak-anak dan istrinya tanpa keluar, terutama karena ketika beliau mengunjungi kami sebelum itu, beliau datang tengah malam dan pergi saat fajar, terlebih setelah gagalnya percobaan pembunuhan atas dirinya pada bulan Juni 2003 M, dan pembunuhan Syaikh Yasin pada bulan Maret tahun 2004 M.

Muhammad Ar-Rantisi berkata: Beliau duduk membicarakan pernikahan adik saya "Ahmad", yang terluka saat percobaan pembunuhan pertama, hal itu setelah beliau mendapatkan tabungannya dari Universitas Islam dan melunasi utang-utang yang menanggungnya, serta menyisihkan sejumlah uang untuk pernikahan Ahmad (21 tahun). Beliau berkata kepada kami: "Sekarang aku menemui Rabb-ku dalam keadaan bersih, tidak ada hak orang padaku dan tidak ada beban padaku."

Putra sang syahid menambahkan: Ayahku bangun tidur, mandi, memakai wewangian, dan mulai bersenandung—tidak seperti kebiasaannya—sebuah nasyid Islam yang bait awalnya: "Jika Engkau memasukkanku wahai Rabb-ku ke dalam surga... ini adalah puncak apa yang aku harapkan." Ia menambahkan: Beliau menoleh kepada ibuku dan berkata padanya: "Ini adalah kata-kata terbaik yang aku cintai dalam hidupku." Dan saat itulah aku merasa cemas.

Ia mengisyaratkan bahwa pengawalnya, "Akram Mansy Nassar" (35 tahun), tidak menghubunginya sejak waktu yang cukup lama hingga mencapai dua minggu, melainkan mengordinasikan beberapa pergerakannya sesuai kode tertentu untuk beberapa perpindahan. Namun ia tiba di rumah kami pada sore hari itu dan berbicara dengan ayahku sebentar, lalu mereka sepakat untuk keluar, meskipun beliau berniat untuk tinggal lebih lama. Maka kami meminta darinya untuk tidak keluar, tetapi beliau tetap bersikeras untuk keluar!!

Ia melanjutkan seraya berkata: Sedikit sebelum adzan Isya, ayahku keluar dengan didampingi adikku "Ahmad", yang mengendarai mobil jenis (Subaru) dengan kaca gelap sebagaimana yang disepakati dari rumah mereka dalam keadaan menyamar dengan pakaian tertentu. Ahmad mengantarkannya ke lokasi tertentu di Kota Gaza yang telah disepakati sebelumnya. Beberapa menit kemudian, tiba di lokasi tersebut mobil (Subaru) lain yang ditumpangi oleh "Akram Nassar" dan dikendarai oleh "Ahmad Al-Ghurrah" (yang bekerja secara rahasia di dalam jajaran Batalyon Al-Qassam). Dengan tenang Ar-Rantisi berpindah dari mobil putranya ke mobil lain yang melaju melesat bersamanya ke tujuan yang tidak ditentukan; namun dua rudal dari helikopter (Apache) Zionis lebih cepat dari siapa pun.

Muhammad berkata: Ketika saya mendengar suara pemboman, saya segera menghubungi adik saya Ahmad untuk memastikan keselamatannya dan ia menjawab saya, di sini saya sedikit tenang. Namun tampaknya Ahmad menyadari apa yang terjadi, dan ia menunggu sampai memastikan hal tersebut; di mana ia kembali ke lokasi dan menyaksikan mobil yang terbakar telah berubah menjadi puing-puing dan ia yakin dengan apa yang terjadi. Muhammad menambahkan: Saya bergegas ke lokasi pemboman, dan ketika saya melihat mobil tersebut saya tahu bahwa ayah saya berada di antara para syahid, meskipun sebagian orang mencoba menenangkan dengan mengatakan bahwa beliau hanya terluka. Adapun ibu saya, beliau menyambut berita tersebut dengan penuh kekuatan dan keteguhan, serta mulai bertasbih dan bertahlil, sementara saudara perempuan saya menangis tersedu-sedu... Kami tetap tegar... Ini adalah takdir kami dan kami ridha dengan ketetapan Allah.

Detik-detik terakhir dari kehidupan sang pemimpin syahid ini mencerminkan kesungguhannya untuk mengambil tindakan dan langkah pengamanan yang tinggi dalam pergerakannya. Beliau tidak menggunakan komunikasi telepon atau nirkabel, namun teknologi, agen mata-mata, dan pemantauan sepanjang waktu yang dimiliki oleh penjajah... membuat meloloskan diri dari takdir menjadi hal yang sangat sulit.

Muhammad berkata bahwa gambaran yang ada di dalam benak orang-orang tentang ayah saya adalah sosok revolusioner yang keras, namun di dalam keluarga beliau adalah pemilik kasih sayang yang besar dan hati yang lembut lagi tenang, serta menyukai anak-anak. Ia menambahkan: Ayahku tidak meninggalkan istana-istana, perusahaan-perusahaan, maupun rekening-rekening di bank; melainkan apa yang beliau tinggalkan adalah daftar terperinci tentang apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi kewajibannya berupa uang pada tingkat pribadi dan tingkat gerakan Hamas.

 

11. Dr. Abdullah Azzam (1360–1410 H / 1941–1989 M)

Setelah peristiwa Nakbah Kedua di Palestina pada tahun 1967 M, umat Islam dilanda kebingungan dan keguncangan (dzu'ul). Hal itu disebabkan karena umat telah terperdaya oleh propaganda media yang bohong dan klaim-klaim hampa. Agar keputusasaan tidak menguasai jiwa umat, Al-Ikhwan Al-Muslimun di negara-negara Arab bergerak mengingatkan umat akan sejarah dan kejayaannya. Mereka menyeru umat untuk menghidupkan kembali kewajiban jihad yang merupakan puncak tertinggi ajaran Islam (dzirwatu sanamil Islam). Mereka mulai mempersiapkan perbekalan untuk menghadapi kaum Yahudi serta melatih para pemuda untuk terjun ke medan pertempuran melawan mereka.

Maka, dibentuklah sebuah kamp militer yang dinamakan "Mu'asakar asy-Syuyukh" (Kamp Para Syekh) atau "Qawa'id asy-Syuyukh" (Pangkalan Para Syekh), yang terdiri dari empat pangkalan. Abdullah Azzam bertindak sebagai amir (pemimpin) Pangkalan Baitul Maqdis. Kamp militer ini memadukan barisan banyak anggota Ikhwan dari berbagai negara Arab, seperti Mesir, Sudan, Suriah, Yordania, Palestina, Yaman, dan Lebanon. Pengelolaannya diserahkan kepada sekelompok ikhwah yang telah berjihad di Palestina pada tahun 1948 M dan di Terusan Suez pada tahun 1951 M.

Para khatib dan da'i Ikhwan pun mulai berkeliling ke dunia Arab dan Islam untuk membangkitkan tekad, memperkuat cita-cita, serta menggerakkan pemuda agar berangkat perang (an-nafr) di jalan Allah demi meninggikan kalimat-Nya, memerangi kaum Yahudi, dan melancarkan serangan terhadap mereka guna merampas buah kemenangan musuh.

Di antara mereka yang berada di kamp militer tersebut adalah Syekh Abdullah Azzam beserta saudara-saudara seperjuangannya, seperti Muhammad Saleh Umar, Muhammad Sa'id Ba'abbad, Ibrahim Asyur, Salah Hassan, Mahmud Hassan, Abdul Aziz Ali, Ahmad Naufal, Ahmad Abu Thalib, dan lain-lain.

Perkenalan Saya Dengannya

Organisasi Ikhwan membentuk sebuah utusan/delegasi untuk mengunjungi kamp militer tersebut, memastikan kelancaran jalan tugas di dalamnya, serta mengetahui kekurangan, kebutuhan, dan perbekalannya. Saya adalah salah satu dari tiga orang yang ditugaskan untuk mengunjungi kamp tersebut. Peristiwa itu merupakan kali pertama saya bertemu dengan Saudara Abdullah Azzam. Sebelum pertemuan itu, saya hanya mendengar tentang beliau dari para ikhwah Palestina.

Kemudian, pertemuan-pertemuan kami berulang kembali di Kuwait, Arab Saudi, Pakistan, Afganistan, Yordania, Eropa, dan Mesir. Kunjungan demi kunjungan pun terus terjalin; saya pernah mengunjungi beliau di rumahnya di Suwaylih (dekat Amman) dan di Peshawar (Pakistan), sebagaimana beliau juga pernah mengunjungi saya di rumah saya, dan kami merasa sangat bahagia atas kehadiran beliau beserta para ikhwah.

Kelahiran dan Masa Studi

Ulama yang pemberani, mujahid yang gigih, da'i pembaru (al-mushlih), serta amir para mujahidin Arab di Afganistan, yaitu Dr. Abdullah Azzam, lahir pada tahun 1360 H / 1941 M di desanya, Silat al-Haritsiyyah, yang termasuk wilayah distrik kota Jenin, Palestina. Beliau menempuh pendidikan dasar dan menengah di sekolah desa tersebut, kemudian menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi Pertanian Kadoorie di kota Tulkarm. Beliau senantiasa melazimi bacaan Al-Qur'anul Karim serta senantiasa meramaikan masjid desanya.

Beliau melanjutkan studi tingginya di Fakultas Syariah Universitas Damaskus dan berhasil meraih gelar Licence (Sarjana) dalam bidang Syariah pada tahun 1386 H / 1966 M. Setelah itu, beliau bekerja sebagai pengajar di desanya. Namun tidak lama kemudian, beliau meninggalkan desanya setelah pendudukan kaum Yahudi pada tahun 1387 H / 1967 M. Beliau lalu bergabung dengan Batalyon Mujahidin (Kata'ib al-Mujahidin) yang dibentuk oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun yang berbasis di Yordania. Di sana, beliau berpartisipasi dalam beberapa operasi militer melawan kaum Yahudi di bumi Palestina, di antaranya adalah Pertempuran Al-Masyru' atau Al-Hizam Al-Akhdhar (Sabuk Hijau) yang terjadi di wilayah Lembah Yordan Utara (Al-Ghur asy-Syamali). Beliau juga mengawasi operasi militer dalam Pertempuran 5 Juni 1970 M.

Setelah aktivitas kamp berakhir akibat peristiwa September 1970 M [Black September], Syekh Abdullah Azzam memutuskan untuk mendaftar di Universitas Al-Azhar, Mesir, hingga berhasil meraih gelar Magister dalam bidang Ushul Fikih. Beliau kemudian diangkat sebagai dosen di Fakultas Syariah Universitas Yordania di Amman pada tahun 1391 H / 1971 M. Setelah itu, beliau diutus ke Kairo untuk meraih gelar Doktor, dan beliau berhasil mendapatkannya dalam bidang Ushul Fikih dengan predikat Summa Cum Laude (Cumlaude Utama / Martabat asy-Syaraf al-Ula) pada tahun 1393 H / 1973 M. Beliau lalu mengajar di Universitas Yordania (Fakultas Syariah) dari tahun 1393 H hingga 1400 H (1980 M). Beliau kemudian pindah untuk mengajar di Universitas King Abdul Aziz di Jeddah, dan setelah itu bekerja di International Islamic University di Islamabad, Pakistan. Tak lama kemudian, beliau mengajukan pengunduran diri dari universitas tersebut dan memfokuskan seluruh waktunya (tafarrugh) untuk jihad di Afganistan.

Jihad Beliau

Beliau memiliki peran sangat penting dalam perjalanan jihad tersebut, di mana beliau menjadi jembatan penghubung antara para mujahidin Afganistan dengan para pendukung mereka di negara-negara Arab. Beliau juga mengawasi operasi luas dalam penyaluran berbagai bentuk pelayanan dan bantuan—baik pendidikan, kesehatan, maupun militer—bagi para pengungsi, mujahidin Afganistan, dan anak-anak mereka. Beliau mendirikan majalah "Risalatul Jihad" sebagai media cetak bulanan untuk menyebarkan berita-berita jihad, serta buletin "Lahiib al-Ma'rakah" (Gejolak Pertempuran) yang terbit mingguan dan mengulas peristiwa-peristiwa terbaru di medan Afganistan.

Syekh Abdullah Azzam telah terjun dalam banyak pertempuran melawan Uni Soviet. Salah satu pertempuran yang paling sengit dan dahsyat adalah Pertempuran "Jaji" pada bulan suci Ramadan tahun 1408 H / 1987 M. Saat itu, beliau didampingi oleh sejumlah mujahidin Arab yang telah menunjukkan pengorbanan luar biasa (ablaw al-bala' al-hasan), dan sebagian dari mereka gugur sebagai syuhada di jalan Allah.

Dr. Abdullah Azzam menjabat sebagai amir (kepala) Maktab Khidamat al-Mujahidin (Biro Pelayanan Mujahidin) di Afganistan. Beliau menjadi sosok yang sangat dipercaya dan dihormati oleh para pemimpin jihad Afganistan, serta sangat dicintai oleh para pemuda yang datang dari berbagai penjuru negeri Arab dan Islam untuk berjihad di Afganistan.

Beliau juga melakukan berbagai safari dakwah dan sosialisasi di negara-negara Arab, Islam, Eropa, hingga Amerika Serikat. Safari tersebut memberikan pengaruh yang amat besar dan menggerakkan umat di seluruh pelosok negeri untuk berpartisipasi atau memberikan dukungan dan bantuan bagi jihad dan para mujahidin di Afganistan.

Di samping itu, Syahid Abdullah Azzam turut berkontribusi dalam membukukan peristiwa-peristiwa jihad Afganistan melalui artikel-artikel editorialnya di majalah Al-Jihad dan buletin Lahiib al-Ma'rakah. Beliau juga berupaya mengusahakan perdamaian (al-itilaf) di antara para pemimpin mujahidin serta menyatukan barisan mereka, dengan bekerja sama bersama para da'i Al-Ikhwan Al-Muslimun seperti: Syahid Muhammad Kamaluddin as-Sananiri, Dr. Ahmad al-Malth (semoga Allah merahmatinya), Ustadz Mustafa Mashhur (semoga Allah merahmatinya), Ustadz Muhammad Abdurrahman Khalifa, Syekh Sa'id Hawwa (semoga Allah merahmatinya), dan lainnya.

Kesyahidan Beliau

Dr. Abdullah Azzam terus melanjutkan perjuangan dan jihadnya hingga beliau meraih persaksian syahid (asy-syahadah) bersama kedua putranya, Muhammad dan Ibrahim. Peristiwa ini terjadi ketika musuh-musuh Islam meledakkan mobil beliau sewaktu beliau sedang menuju ke "Masjid Sab'atul Lail" untuk menyampaikan khotbah Jumat pada tanggal 25 Rabiul Akhir 1410 H / 24 November 1989 M.

Syahid dimakamkan pada hari kesyahidannya. Para pengantar jenazah—yang jumlahnya mencapai ribuan orang—mencium aroma minyak kasturi (musk) yang tercium dari darahnya yang suci hingga jenazahnya selesai dimakamkan. Hal lain yang turut disaksikan—dan ini termasuk pemuliaan dari Allah Ta'ala—adalah bahwa jasad beliau terjaga utuh dari kehancuran/kerusakan, meskipun ledakan tersebut berasal dari 20 kilogram bahan peledak TNT. Ledakan dahsyat tersebut menimbulkan suara yang sangat menggelegar, memutus aliran listrik, membuat lubang besar di tanah, serta melontarkan bagian-bagian mobil ke udara. Jasad beliau ditemukan berada tidak jauh dari lokasi kejadian.

Apa yang Dikatakan Orang-Orang tentang Beliau:

Dr. Syahid Abdullah Azzam memadukan antara amal dan jihad di samping pena dan lisan. Dalam ranah ini, beberapa penulis telah mencatat tentang beliau dan perjalanan hidupnya, di antaranya buku Asy-Syahid Abdullah Azzam Mujahidan fi Filasthin wa Afganistan karya Hassan Khalil Husain; buku Asy-Syaikh al-Mujahid Abdullah Azzam alladzi Tarjama al-Aqwal ila Af'al karya Muhammad Abdullah al-Amil; buku Abdullah Azzam Ahdats wa Mawaqif karya Adnan an-Nahwi; serta buku Manaqib asy-Syahid Abdullah Azzam karya Ahmad Sa'id Azzam.

Gerakan Hamas menyampaikan dalam belasungkawanya:

"Sungguh, jikalau kesyahidan Syekh Abdullah Azzam terjadi di dekat bumi jihad di Afganistan yang muslim, dan bukan di atas tanah Isra' di Palestina yang amat beliau cintai dan beliau perjuangkan pembebasannya hingga urusan jihad itu dimudahkan, maka hal tersebut kembali pada bentuk blokade yang dialami oleh para mujahidin di luar Palestina untuk menghalangi mereka dari musuh-musuh Allah dari keturunan Yahudi di satu sisi, serta menjadi simbol bagi kesatuan duka Islam di seluruh penjuru dunia di sisi yang lain. Bumi Isra' telah mengenal Syekh Azzam sebagai seorang mujahid yang jujur di Pangkalan Para Syekh di Lembah Yordan pada tahun 1968 M, 1969 M, dan 1970 M. Syekh telah gugur sebagai syahid dalam keadaan jiwanya rindu mendalam untuk berjihad di Palestina, yang mana beliau selalu bersamanya dan bersama para mujahidinnya melalui hati, lisan, dan penanya."

Ustadz Haidar Mustafa berkata tentang beliau:

"Apabila Azzam berbicara, beliau tampil dengan karakter yang kuat bagaikan gelombang pada saat pasang tinggi. Tidak ada di dalam dadanya melainkan hati yang tak kenal takut. Hukum hidupnya adalah keteguhan, kestabilan, keseimbangan, dan kesederhanaan. Beliau berusaha keras untuk mengadili dirinya sendiri dan tidak memedulikan penilaian dunia. Keyakinannya adalah bahwa kenikmatan itu bukan terletak pada istirahat dan kekosongan, melainkan pada kesinambungan jihad serta menegakkan agama Allah di bumi dalam keletihan, jerih payah, dan kesukaran."

Beliau juga menggubah beberapa bait puisi untuk Syekh Abdullah Azzam, di antaranya:

Jihadmu telah menerangi jalan bagi kami,

Dan memberi kami tegukan dahaga berupa sari minuman yang murni.

Dari laut hingga ke daratan yang aman,

Dengannya engkau menyelamatkan kami bagai jasad yang hampir tenggelam.

Dalam jihad ini engkau telah menuliskan sebuah lembaran sejarah,

Yang meniru masa lalu kita yang agung dan mulia.

Di dalamnya kita menunggangi puncak kedudukan menuju keluhuran,

Dengannya kita melintasi kesempitan—menuju jalan yang lapang.

Kita goreskan kisah-kisah perjuangan sebagai saksi,

Dan melaluinya kita kembalikan hak-hak kepada manusia.

Agar setiap manusia menjadi mulia,

Dan menjadi sosok yang bebas merdeka di tengah persada.

The International Islamic Council (Al-Hai'ah al-Islamiyyah al-'Alamiyyah) menyatakan dalam berita duka atas wafatnya beliau:

"Ketika Dewan ini menyampaikan berita duka atas wafatnya salah satu anggota pendirinya, Dewan ini berduka atas kepergian seorang lelaki yang dikenal akan keikhlasan, wara', dan ketakwaannya. Seorang lelaki yang telah menjual dirinya kepada Allah, lalu ia dan keluarganya berhijrah ke kota Peshawar untuk ikut serta bersama para mujahidin Afganistan dalam jihad dan pengorbanan mereka. Seorang lelaki yang telah menceraikan dunia, lalu hidup di medan-medan dan arena jihad demi mencari kesyahidan di jalan Allah... Seorang lelaki yang dikenal akan keberanian, pengorbanan, dan jiwa ksatria, sehingga ia tidak takut terhadap ancaman-ancaman musuh yang hendak membunuh dan mengorbankannya."

Penyair Ahmad Muhammad asy-Shiddiq juga menyampaikan belasungkawa seraya berkata:

"Saudara Syahid Abdullah Azzam benar-benar telah terdidik di madrasah Imam Syahid Hassan al-Banna yang menyatakan dalam Risalah al-Jihad:

'Sesungguhnya Allah telah membebankan jihad kepada setiap muslim sebagai kewajiban yang pasti dan tegas, tidak ada jalan menghindar dengannya dan tidak ada tempat lari darinya. Allah sangat mendorongnya dengan dorongan yang amat besar, melipatgandakan pahala para mujahidin dan syuhada, menjadikan darah mereka yang suci dan bersih sebagai bukti kemenangan di dunia dan simbol keberuntungan serta kejayaan di akhirat, serta mengancam orang-orang yang tertinggal dan enggan ikut perang dengan hukuman yang sangat mengerikan, serta mencap mereka dengan sifat dan julukan yang paling buruk. Engkau tidak akan menemukan suatu sistem kuno maupun modern, sistem keagamaan maupun sipil, yang memberikan perhatian sedemikian besar terhadap urusan jihad, kemiliteran, serta memobilisasi dan menghimpun seluruh elemen umat dalam satu barisan untuk membela kebenaran dengan segala kekuatan mereka, sebagaimana yang engkau temukan dalam agama Islam dan ajaran-ajarannya.

Sesungguhnya umat yang mahir dalam seni kematian dan mengetahui bagaimana cara mati secara mulia, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Dan tidaklah kelemahan (al-wahn) yang menghinakan kita ini melainkan karena cinta dunia dan takut mati...'

Saudara Azzam sangat memahami peran dan tugasnya dalam kehidupan ini. Beliau paham betul pelajaran yang digoreskan oleh Imam Hassan al-Banna dalam risalah-risalahnya, serta menghidupi pembinaan yang terstruktur (at-tarbiyah al-manhajiyyah) yang melahirkan tokoh-tokoh Islam, para da'i kebenaran, kekuatan, dan kemerdekaan.

Dari sinilah kita memahami kejujuran dalam ucapan dan kedalaman dalam pemahaman ini ketika kita membaca surat wasiat beliau, di mana tercantum di dalamnya:

'Sungguh, kecintaan kepada jihad telah menguasai hidupku, jiwaku, perasaanku, hatiku, dan seluruh indraku... Sesungguhnya berangan-angan dengan harapan tanpa adanya persiapan (al-i'dad) adalah tabiat jiwa-jiwa kerdil yang tidak bercita-cita mencapai puncak dan tidak pula mendaki ke tempat yang tinggi... Sesungguhnya berdiam diri di dekat Masjidilharam dan memakmurkannya tidaklah dapat ditandingi dengan jihad di jalan Allah. Sesungguhnya membiarkan kaum muslimin di muka bumi disembelih, sedangkan kita hanya mengucapkan "la haula wa la quwwata illa billah" dan "innalillahi wa inna ilaihi raji'un" serta menepuk tangan dari kejauhan tanpa hal itu menggerakkan kita pada satu langkah pun untuk memajukan urusan mereka, adalah bentuk permainan terhadap agama Allah, serta gurauan emosi yang dingin dan dusta yang sering kali menipu jiwa yang ada di dalam dada.'

Dan beliau sangat memahami secara mendalam tipu daya musuh serta perang mereka terhadap Islam dan pemeluknya, begitu pula rencana-rencana mereka untuk melenyapkan setiap orang yang mengibarkan panji jihad, menyokong para mujahidin, atau menuntut penerapan syariat Islam. Beliau berkata—beberapa hari sebelum kesyahidannya—dalam wawancaranya dengan majalah Al-Mujtama' edisi yang terbit pada tanggal 8 Rabiul Akhir 1410 H / 7 November 1989 M:

'...Ketika orang-orang Amerika menyadari bahwa mereka tidak mungkin bekerja sama dengan para pemimpin jihad, mereka memutuskan untuk melenyapkan mereka secara fisik. Mereka mulai menekan Presiden Pakistan, Zia-ul-Haq. Namun ketika Zia-ul-Haq menolak untuk tunduk pada perintah mereka dan menyatakan bahwa beliau akan menerapkan syariat Islam, mereka memutuskan untuk melenyapkannya. Zia-ul-Haq mengetahui keputusan orang-orang Amerika tersebut, sehingga beliau selalu mengajak Duta Besar Amerika dalam setiap perjalanannya. Meskipun demikian, beliau tetap terbunuh bersamanya di dalam pesawat yang sama.' Selesai."

Inilah dia sang mujahid syahid, alim yang mengamalkan ilmunya, da'i pendidik (al-murabbi), serta orang yang berhijrah di jalan Allah: Abdullah Azzam, cucu para mujahidin yang berjuang bersama Al-Qassam dan sosok yang meniti jalan mereka. Itulah sikap-sikap, ucapan, dan amal perbuatannya.

Beliau telah meninggalkan warisan ilmiah berupa buku-buku yang bermanfaat; telah dicetak untuk beliau sekitar 20 judul buku, di antaranya yang kami sebutkan adalah:

  1. Ayaatur Rahman fii Jihaadil Afghan (Tanda-Tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad Afganistan)
  2. Al-Islam wa Mustaqbalul Basyariyyah (Islam dan Masa Depan Kemanusiaan)
  3. Al-Hiq bil-Qafilah (Bergabunglah dengan Kafilah)
  4. Hukmul 'Amal fii Jama'ah (Hukum Bekerja dalam Jamaah)
  5. Al-Amru bil Ma'ruf wan-Nahyu 'anil Munkar (Amar Ma'ruf Nahi Munkar)
  6. Hamas: Al-Juzur ad-Tarikhiyyah wal-Misaq (Hamas: Akar Sejarah dan Piagam Perjuangan)
  7. Ad-Difa' 'an Aradhil Muslimina Ahammu Furudhil A'yan (Membela Negeri-Negeri Muslim adalah Fardu Ain Terpenting)
  8. As-Sarathan al-Ahmar (Kanker Merah / Komunisme)
  9. Al-'Aqidah wa Asaruha fii Bina'il Jil (Akidah dan Pengaruhnya dalam Membina Generasi)
  10. Al-Manarah al-Mafqudah (Menara yang Hilang)
  11. Fiil Jihad Adab wa Ahkam (Etika dan Hukum-Hukum dalam Jihad)
  12. Jarimatu Qatlil Nafsil Mu'minah (Kejahatan Membunuh Jiwa Beriman)
  13. Basa'ir an-Nashr (Kabar Gembira Kemenangan)
  14. Kalimat 'ala Khathil Naril Awwal (Kata-Kata di Garis Depan Pertempuran)
  15. Dalalatul Kitabi was-Sunnah 'alal Ahkam min Haitsul Bayan wal-Ijmal aw al-Zhuhur wal-Khafa' (Petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah terhadap Hukum Ditinjau dari Sisi Penjelasan, Keumuman, Kejelasan, dan Samar) — Ini merupakan disertasi doktor beliau yang diuji di Universitas Al-Azhar.

Di samping itu, terdapat pula kumpulan besar artikel, ceramah, penelitian, dan pelajaran yang jumlahnya mencapai ratusan di berbagai tempat dan waktu.

Sungguh Syekh Abdullah Azzam—melalui ilmu, amal, jihad, pengorbanan, kesabaran, dan keteguhannya—telah memberikan teladan bagi para pemuda kebangkitan Islam (al-shahwah al-islamiyyah) kontemporer yang memenuhi arena dengan vitalitas dan aktivitas mereka, serta menengadahkan leher mereka menyongsong hari pertempuran melawan musuh-musuh Allah di bumi. Hal serupa juga telah dilakukan oleh para guru dan ikhwah beliau terdahulu yang gugur sebagai syuhada di bumi Palestina pada tahun 1935 M, 1936 M, 1948 M, atau di Terusan Suez pada tahun 1951 M, atau di tiang gantungan dan sel-sel penjara pada tahun 1955 M, 1957 M, dan 1966 M. Inilah jalan dakwah, perjuangan (al-mujahadah), kesabaran, adu kesabaran (al-mushabarah), serta memerangi musuh di mana pun dan kapan pun mereka berada, seraya berpegang teguh pada tali agama Islam, cemburu membela kehormatan agama, dan menolong kaum muslimin yang tertindas (al-mustadh'afin) di muka bumi.

Kesabaran yang Indah (Ash-Shabr al-Jamil)

Meskipun pembunuhan terhadap Syahid Abdullah Azzam dan kedua putranya merupakan musibah besar bagi umat Islam di seluruh dunia, namun istri sang Syahid (ibu dari dua syahid, Muhammad dan Ibrahim) telah dimuliakan oleh Allah dengan kesabaran. Allah menghiasinya dengan keridaan atas ketetapan (qadha') Allah, dan beliau merasa gembira atas kesyahidan suami beserta kedua putranya. Sikap beliau tersebut mengembalikan ingatan kita pada sikap Al-Khansa' tempo dulu ketika anak-anaknya gugur sebagai syuhada. Hal itu menggerakkan Saudari yang mulia Aminah Qutb (saudari dari Syahid Sayyid Qutb dan istri dari Syahid Kamal as-Sananiri) untuk menulis surat kepada istri Syahid Abdullah Azzam ("Ummu Muhammad"), di mana ia berkata:

"...Kata atau ucapan apa yang aku miliki di hadapan gambaran yang terang dan mempesona dari seorang wanita yang kehilangan tiga orang kekasihnya, namun ia memandang hal itu sebagai karunia dan pemuliaan dari Allah dengan menjadikan mereka sebagai para syuhada. Sungguh, tingkat keimanan dan kepasrahan total (at-tajarrud) ini telah memukauku. Aku sangat mengagumi kesadaran, kesabaran, dan pengorbananmu, dan aku melihat padamu sosok pendamping hidup ideal bagi seorang mujahid yang menyerahkan hidupnya untuk Allah dan jihad di jalan-Nya, di tempat dan bumi mana pun jihad murni karena Allah itu berdiri. Dan telah beruntung meraih kesyahidan orang yang mencari, mendambakan, beramal untuknya, serta menepati janji dan jujur.

Semoga Allah merahmati saudara kita Syahid Abdullah Azzam, semoga Allah merahmati kedua putranya dan seluruh syuhada yang telah dipilih Allah untuk berada di sisi-Nya, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di tempat kediaman rahmat-Nya. Dan penutup doa kami adalah: Alhamdulillahi Rabbil 'Alaminn (sanjungan dan puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam)."

 

12. Izzuddin Al-Qassam (20 November 1935 M / 23 Syakban 1354 H)

Ya’bad... kata sandi waktu itu adalah Ya’bad. Detak jantung yang memberontak adalah Ya’bad. Para ksatria rimba yang menyatu...

Sungguh, orang yang berjanji dan yang dijanjikan telah membuktikannya secara nyata... Maka bawalah peluru bersama mesiu, dan jelajahilah puncak bersama jurang... Ya’bad, Ya’bad.

Batu dan peluru... serta langkah-langkah penembak jitu... di malam yang pekat... dan siang yang suram...

Ya’bad... keheningan yang membara... bintang-bintang dan bayangan yang membentang... di ujung pemandangan... dan malam yang tak tertidur...

Waktu: Pagi hari Rabu, tanggal 23 Syakban tahun 1354 Hijriah, bertepatan dengan tanggal 20 November tahun 1935 Masehi.

Tempat: Hutan Ya’bad di antara pepohonan oak (baluth) di wilayah Jenin.

Peristiwa: Pertempuran sengit yang melibatkan ratusan prajurit Inggris yang dilengkapi dengan kendaraan tempur serta pesawat pengintai, menghadapi sekelompok kecil mujahidin yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Senjata mereka hanya berupa senapan dan pistol, dipimpin oleh seorang syekh agung yang berusia lebih dari enam puluh tahun, berwajah putih bundar, serta memiliki janggut putih yang berwibawa. Penduduk Haifa megenalnya sebagai Syekh Izzuddin Al-Qassam, Imam Masjid Al-Istiqlal di kota tersebut, Ketua Perhimpunan Pemuda Muslim (Jam'iyyah asy-Syubban al-Muslimin), dan penghulu (mā`żūn syar'ī) bagi kota Haifa.

Ketika pasukan pendudukan Inggris maju mendekat, mereka menempatkan aparat kepolisian Arab di barisan paling depan. Al-Qassam menolak untuk menembak mereka, meskipun anak buahnya mendesaknya, hingga pertempuran semakin sengit dan pengepungan terhadap hutan Ya’bad semakin diperketat. Keputusan sang Syekh kepada para pengikutnya saat itu adalah: "Mati syahid-lah kalian!"

Al-Qassam gugur sebagai syahid bersama tiga orang rekannya (Yusuf Abdullah Az-Zaibawi, Hanafi Utaifah Al-Mashri, dan Muhammad Abu Qasim Khalaf). Sementara itu, seorang mujahid bernama Nimr As-Sa'di mengalami luka parah yang kelak menyebabkannya gugur sebagai syahid.

Gugurnya Al-Qassam menjadi percikan api yang menyulut Revolusi Besar tahun 1936 M dan pemogokan selama enam bulan yang baru berakhir setelah campur tangan para pemimpin Arab. Secara historis, pertempuran ini berlangsung tidak lebih dari beberapa jam. Meski demikian, pemimpinnya, Al-Qassam, mendapatkan konsensus [kesepakatan penhormatan] yang tak tandingannya dalam sejarah Palestina. Dialah sosok yang tak pernah sekalipun mengincar kepemimpinan, tidak pernah mempraktikkan politik kekuasaan, ataupun menggunakan metode partai politik. Pemakamannya menjadi pemakaman terbesar yang pernah disaksikan Kota Haifa sepanjang sejarahnya yang panjang. Di dalam saku bajunya ditemukan sebuah Mushaf Al-Qur'an mulia yang bagi sang Syekh mewakili identitas, kewarganegaraan, dan jalan hidupnya.

Izzuddin bin Syekh Abdul Qadir Mustafa Al-Qassam lahir pada tahun 1871 M di Jableh, Provinsi Latakia, Suriah Utara, dari keluarga terhormat yang dikenal luas. Pada masa kecilnya, ia merasakan pahitnya penderitaan kemiskinan dan kekurangan. Ia cenderung menyukai pemikiran dan perenungan. Ia mengenyam pendidikan di Al-Azhar dan berguru kepada Muhammad Abduh. Ia juga menjalin hubungan baik dengan Rasjid Ridha serta membaca karya-karya Al-Afghani rahimahullāh.

Ia senantiasa terhubung dengan fikih, syariat, dan ushul [fikih]. Ia tidak merasa cukup hanya dengan memberikan nasihat (dakwah), tetapi menyandingkan bimbingan dengan amal nyata, dan menyandingkan amal nyata dengan studi ilmiah. Hingga Allamah Muhibbuddin Al-Khatib menggambarkannya sebagai salah satu ulama yang terhitung dan terkemuka.

Ketika pasukan Italia mendarat di pesisir Libya pada tahun 1911 M, ia mengelilingi desanya untuk mengumpulkan sumbangan demi menolong umat Islam. Ia berangkat bersama puluhan sukarelawan menuju Iskandarun (Alexandretta) untuk berjihad di Libya. Namun ketika mereka dihalangi, ia kembali ke Jableh. Dari uang hasil sumbangan tersebut, ia membangun sebuah sekolah untuk memberantas buta huruf yang ia awasi sendiri secara langsung.

Ketika Prancis menginvasi wilayah Syam pada tahun 1918 M, Al-Qassam menjual rumahnya dan membeli 24 pucuk senapan, lalu keluar bersama rekan-rekannya mengumandangkan jihad global melawan penjajah. Hal itu berlangsung hingga revolusi yang dipimpin oleh Ibrahim Hananu dipadamkan setelah dikhianati oleh pihak Inggris dan diserahkan kepada Prancis, serta gugurnya pemimpin pertempuran Maysalun, Yusuf Al-'Azhmah, pada tahun 1920 M. Maka Al-Qassam memutuskan untuk berangkat ke Palestina setelah dikeluarkannya hukuman mati atas dirinya. Ia mengarungi laut menuju Haifa...

Dan Izzuddin pun merenungkan pasang surut air laut... Ia merenungkan bagaimana ikan-ikan menyelam jauh ke kedalaman laut...

Maka ia pun bergabung dengan gelombang pasang di sana... di pantai prajurit Palestina.

Bukankah itu hanyalah sebuah babak perjuangan? Dan cukuplah bagimu...

Hijrah adalah sunnah baginda Nabi-mu yang pemberani...

Apa itu Makkah? Apa itu Yasrib (Madinah)? Apa itu Jableh? Apa itu Haifa? Apa arti tangan kananmu dan tangan kirimu? Bergabunglah dengan gelombang pasang di sana.

Dan wewangian... Hukuman mati telah dijatuhkan, dan Al-Qassam pun datang sebagai utusan dari Syam yang berjihad menuju Palestina yang bersiaga (ribāṭ).

Wahai junjunganku yang datang dari Jableh, yang tidak memiliki apa-apa selain jubahnya, hingga kedua kakinya berdarah terkena duri... Ia tidak serupa dengan siapa pun yang pernah dikenal Haifa... dari para petapa yang mengetuk pintu malam. Kedua matanya bagaikan dua kawah api dari balik sorbannya, dan kedua telapak tangannya tampak melicet.

Haifa mulai mengenal Al-Qassam sebagai seorang pengajar di Masjid Al-Istiqlal. Masyarakat kota dan desa-desa sekitarnya berkumpul mengelilinginya. Kata-katanya yang membakar semangat menggema di penjuru Haifa, hingga pada suatu hari ia berdiri di atas mimbar seraya mengacungkan sebuah pistol dan berkata: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memiliki [senjata] seperti ini."

Seorang pemuda yang belum genap berusia 20 tahun datang kepadanya dan mengeluhkan orang-orang yang mengecapnya sebagai pemuda yang nekad dan gila. Sang Syekh pun bersabda (berkata): "Merekalah yang gila, sedangkan engkau orang yang berakal sehat. Apakah engkau benar-benar menginginkan jihad?" Pemuda itu menjawab: "Ya." Maka Al-Qassam membentangkan tangannya dan membaiatnya atas tiga syarat: persaudaraan (ukhuwah), berjihad hingga syahid, serta mendengar dan taat.

Al-Qassam menyerukan kembalinya Islam... Islam para penakluk, serta kembali kepada shalat... shalatnya para mujahidin. Pihak Inggris pun berguncang karena mereka kini berhadapan dengan Islam yang berbeda dari Islam tarekat/dervish dan pembiusan dogma. Dulu para imam dan penceramah disibukkan oleh hukum-hukum bersuci, haid, nifas, dan talak. Adapun Al-Qassam, ia mengurusi itu semua sekaligus menambahkan persoalan-persoalan penting umat. Inggris menduduki Palestina dan memfasilitasi bangsa Yahudi dalam hal migrasi, persenjataan, pembelian tanah, serta pemukiman.

Sebagian besar kekuatan nasionalis memusuhi kaum Zionis, namun mereka memandang Inggris—sekutu kemarin dalam melawan Turki—sebagai teman. Aktivitas politik berupa demonstrasi, penyataan sikap, dan pengiriman delegasi ke London untuk memengaruhi opini publik lebih mendominasi kegiatan partai-partai nasionalis. Saat itu tidak ada kekuatan bersenjata yang terorganisir yang mampu melawan Britania dan kaum Zionis. Maka, penetapan Inggris sebagai musuh oleh Al-Qassam adalah langkah yang menempatkan perkara pada porsi yang sebenarnya. Sebab jika bukan karena mereka, kaum Yahudi tidak akan mampu membangun satu pun pemukiman di Palestina.

Al-Qassam memilih jalan jihad sebagai sarana perlawanan, meninggalkan metode-metode tradisional partai politik lainnya. Ia memulai kerja terorganisir dan persiapan revolusi yang matang. Al-Qassam mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia bagi para pengikutnya, dan ia tidak menerima kecuali orang yang beriman dan siap menghadapi kematian. Sebagian besar anggotanya adalah kaum buruh dan ulama yang ia kenal melalui masjid, kelas pemberantasan buta huruf, atau Perhimpunan Pemuda Muslim.

Profesinya sebagai penghulu (mā`żūn syar'ī) juga memungkinkannya mengenal masyarakat dengan sangat baik. Ia rutin mengunjungi para petani di desa-desa setiap minggunya. Bagi penduduk Haifa, ia berposisi sebagai guru, imam, penghulu, mufti, dan sahabat. Ia menanamkan ke dalam jiwa orang-orang di sekitarnya bahwa menuntut ilmu adalah kesempatan yang bernilai ibadah. Ia sosok yang sedikit berbicara, sangat menjaga rahasia, mencintai murid-muridnya, pendiriannya tegas, begitu pula kesetiaannya. Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya, beriringan dengan keagungan dan kewibawaan. Ia menolak hidup bermewah-mewah; rumahnya hanya terdiri dari dua ruangan saja.

Fokus utamanya adalah membangun basis dan struktur rahasia bagi revolusi. Mungin hal inilah yang mendorongnya untuk tidak berpartisipasi dalam Konferensi-konferensi Islam yang diselenggarakan di Masjid Al-Aqsha pada tahun 1928 M dan 1931 M. Ia bergerak menggunakan pola sel-sel rahasia yang anggotanya tidak lebih dari lima orang tiap selnya, mengadopsi pola halaqah Darul Arqam bin Abil Arqam. Setiap sel memiliki seorang Naqib (ketua) yang bertanggung jawab atas kepemimpinan dan pengarahan. Ia menentukan tugas masing-masing sel dalam hal: pengumpulan senjata, pelatihan, pengumpulan informasi, dakwah, dan komunikasi.

Pada tahun-tahun terakhirnya, ia berada dalam keraguan dan kegelisahan, hatinya tidak pernah tenang, makanan terasa tidak lezat baginya, dan ia tidak merasakan nikmatnya istirahat. Ketika putrinya, "Maymanah", mencoba menenangankannya dan meyakinkannya bahwa aksi damai adalah jalan terbaik untuk menghadapi Inggris dan kaum Yahudi, ia berteriak dengan suaranya yang lantang:

"Diamlah wahai Maymanah! Kehormatan yang tinggi tidak akan selamat dari gangguan... hingga darah ditumpahkan di sekelilingnya."

Al-Qassam telah mengambil keputusannya:

"Kita akan berperang bagaimanapun sulitnya kemenangan... Kita akan berperang sebagai kewajiban dan jihad.

Maka jika mata yang melihat ditanya oleh pemiliknya pada hari berbangkitkelak... ia tidak akan menjawab: 'Dia dahulu seorang penakut atau mucikari!'

Kita akan berperang agar anak-anak mewarisi... panji-panji yang diwariskan kepada anak cucu.

Kita akan berperang demi kebenaran dengan gigih, membuat mereka memakai pakaian duka atas para ksatria.

Kita akan berperang demi para syahid!!"

Jumlah orang yang diorganisir oleh Al-Qassam diperkirakan sekitar seratus orang, sementara jumlah orang yang mendaftarkan diri/terhubung dengan Al-Qassam selama tahun-tahun revolusi meningkat hingga lebih dari delapan ratus orang. Sebagian dari mereka mendengar pidato-pidatonya di masjid, belajar kepadanya, atau terpengaruh oleh kepribadian dan pemikirannya.

Operasi pelemparan bom pertama menyasar pemukiman Nahalal di Marj Bani Amir, yang menewaskan direktur penjara Haifa berkebangsaan Zionis beserta putranya, serta melukai dua orang lainnya. Sementara Britania mengumumkan imbalan sebesar 500 Poundsterling bagi siapa saja yang memberikan informasi. Contoh operasi lainnya adalah penyergapan di jalan Nazareth yang menewaskan 11 orang Zionis.

Al-Qassam ingin memastikan sikap penduduk serta dukungan moral dan material mereka. Maka ia keluar bersama sekelompok mujahidin—untuk menjadi inti dari revolusi—menuju hutan Ya’bad. Di tengah jalan, mereka bentrok dengan patroli yang sedang mengejar sekelompok pencuri. Mereka berhasil membunuh komandan patroli yang beragama Yahudi di Dataran Bisan dan membebaskan dua orang Arab yang mengawalnya.

Maka pasukan Britania mulai mengepung lokasi tersebut hingga meletuslah pertempuran pertama melawan Inggris di Palestina. Meskipun hasil secara kuantitatif tergolong kecil—yaitu terbunuh dan lukanya sejumlah prajurit Inggris—namun korelasinya mewakili titik balik dan titik tolak dalam sejarah bangsa Palestina.

Adapun mujahidin Al-Qassam yang tertawan adalah:

  • Ma'ruf Al-Haj Jabir (dari Ya’bad)
  • Nimr As-Sa'di (dari Shafa 'Amr)
  • As'ad Al-Muflih (dari Umm Al-Fahm)
  • Hasan Al-Bayir (dari Burqin)
  • Ahmad Abdurrahman Jabir (dari Anabta)
  • 'Arabi Al-Badawi (dari Qabalan)
  • Muhammad Yusuf (dari Sebastia)

Kita dapat mengamati bahwa masing-masing dari mereka berasal dari desa dan kota yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan sejauh mana keberhasilan mujahid ini dalam memenangkan hati orang-orang dan merekrut mereka untuk revolusi. Boleh jadi kesederhanaan dan ketawaduan beliau termasuk faktor utama keberhasilan ini, hingga pada taraf ia menikahkan putrinya dengan seorang pemuda miskin yang beriman.

Anak buahnya di dalam penjara dikenal sebagai pimpinan para tawanan. Jurnalis Kanaan Abu Khadrah, yang pernah ditangkap Inggris di penjara Yerusalem dan bertemu dengan Qassami bernama 'Arabi Al-Badawi yang sedang menjalani tahun ketujuhnya di penjara, menceritakan: Kanaan berkata bahwa perwira Inggris bukanlah kepala penjara yang sebenarnya, melainkan 'Arabi Al-Badawi-lah yang dimintai pendapat dalam segala hal, dan perkataannya ditaati serta dihormati oleh semua orang, termasuk saya sendiri.

Al-Qassam tidak menciptakan pemikiran revolusioner atau prinsip-prinsip baru, melainkan ia menciptakan praktik nyata dan komitmen harian terhadap prinsip dan pemikiran jihad revolusionernya. Memang benar ia tidak memenangkan pertempuran di Ya’bad, tetapi ia berhasil memenangkan hati rakyat. Siapa pun yang menggambarkan revolusinya sebagai aksi nekat (bunuh diri) yang prematur, maka ia telah keliru. Al-Qassam telah menyulut sumbu revolusinya sebelum semuanya terlambat.

Engkau wahai Syekhku, adalah minyak lentera...

Luka-lukamu jika mengalir, jangan disumbat dengan sapu tangan...

Sebab sebagian luka adalah pekikan semangat...

Maka tebaslah, ini adalah zaman kebenaran yang menghunuskan pedangnya...

Tidak ada kebaikan jika kebenaran tidak menghunuskan pedang.

Tancapkanlah pada lambung kanan naga yang merayap menuju Al-Aqsha...

Wahai Al-Aqsha, wahai tempat mikraj Rasulullah menuju tempat yang tertinggi...

Aku berikan padamu ketaatan... di dalam lampumu bagi orang yang terjaga di atas lembaran-lembarannya... membaca ayat-ayat cahaya... sebagai penjelasan seperti fajar... dan kabar gembira seperti kemenangan...

Wahai Al-Aqsha, wahai panjiku... lapangkanlah untukku di halamanmu pada hari Jumat setapak kaki...

Hadir di sini aku datang kepadamu... jiwaku mendahului langkah kakiku... dan pedangku mendahului penaku...

Hadir di sini aku datang kepadamu... lapangkanlah di dadamu tempat perlindungan yang memelukku atau tempat peristirahatan yang menguburkanku!!

Al-Qassam dan rekan-rekannya telah gugur sebagai syahid di Ya’bad, namun melalui keshahidannya ia telah menyalakan sebuah revolusi. Pesan Al-Qassam kepada rakyat dan umatnya melalui moncong senapan adalah: "Jangan percaya pada janji-janji dan kebohongan Inggris!" Seandainya hari ini ia berada di tengah-tengah kita, niscaya ia akan mengatakan kalimat yang sama kepada para pelaku Perjanjian Oslo: "Jangan percaya pada janji-janji dan kebohongan Amerika!"

Revolusi saat itu berhasil digagalkan ketika para pemimpin pemogokan percaya pada janji-janji Britania dan jaminan dari para pemimpin Arab. Sebagaimana intifadah rakyat kita juga digagalkan ketika para pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) percaya pada janji-janji Amerika dan negara-negara Arab. Akankah rakyat kita kembali mendengarkan perkataan Al-Qassam? Betapa jujurnya perkataan tersebut!

Al-Qassam telah menunaikan kesaksiannya (syahādah) atas rakyat dan umatnya. Masyarakat mengantarkannya ke pemakaman Haifa dalam prosesi pemakaman terbesar yang pernah disaksikan kota tersebut sepanjang sejarahnya. Pidatonya di hadapan massa setelah keshahidannya jauh lebih kuat daripada seluruh pidatonya di atas mimbar masjid.

Ia dan rekan-rekan mujahidin telah berlalu menuju surga Khuld yang abadi, sedangkan kenangan mereka tetap abadi dalam sanubari dan ingatan umat. Mereka menunjuk dengan darah mereka menuju jalan kemuliaan, kehormatan, dan pembebasan, seraya mengulang-ulang:

"Kamilah para syahid... Guru kami Sang Syekh telah mendoakan kita sejak kita mengambil janji setia.

Mata kami terasa sempit melihat matahari dan roti harian... lalu kami membukanya lebar-lebar menuju Yerusalem cahaya yang utuh.

Selamat datang kemenangan dan kejayaan, dan tidak ada penyesalan jika kita gugur sebagai syahid.

Kami bukanlah batu yang dilemparkan tanpa tujuan... Kami membumbung tinggi... sebagai roh-roh yang tidak terbebani oleh bumi, roh-roh yang harum bagaikan batang kayu gaharu...

Kamilah para syahid... Kuda-kuda puncak adalah kuda yang dikenal oleh pemiliknya... Kuda subuh yang dikenal oleh Hittin... Dikenal oleh Al-Mu'tashim sang penolong... di zaman teriakan bertahun-tahun lalu... Ini adalah zaman teriakan yang diperbarui... Ini Al-Mu'tashim sang penolong meringkik di Ya’bad."

Maka menuju surga Khuld yang abadi wahai Syekh kami, Pemimpin kami, Abu Muhammad. Semoga keselamatan tercurah atas rohmu yang suci dan kenanganmu yang harum.

Sumber-sumber:

  1. Ma'ālim fī ath-Tharīq li Taḥrīri Filasṭīn - Al-Muqāwamah
  2. Unsūdat al-Qassām: Muneer Ar-Rayyis
  3. Asy-Syaikh al-Mujāhid: Izzuddīn al-Qassām
  4. Asy-Syaikh al-Qassām fī Tārīkh Filasṭīn: Bayān al-Mawt

 

13.  Yahya Ayyash18/5/2002 M [1]

Yahya Ayyash lahir pada akhir Maret tahun 1966. Ia tumbuh besar di Desa Rafat yang terletak di antara Nablus dan Qalqilya, di tengah keluarga yang religius. Keluarganya menggambarkan dirinya sebagai sosok yang sangat cerdas, memiliki daya ingat yang kuat, banyak diam, pemalu, dan tenang.

Ia mulai menghafal Al-Qur'anul Karim sejak berusia enam tahun. Pada ujian Tawjihi (kelulusan sekolah menengah), ia meraih nilai rata-rata 92,8% di Jurusan IPA, sehingga ia berhasil masuk ke Universitas Birzeit di Jurusan Elektronika, dengan tetap mempertahankan kecintaan utamanya pada ilmu kimia yang telah menjadi hobinya.

Ia menjadi salah satu aktivis Al-Kutlah Al-Islamiyyah (Blok Islam). Setelah kelulusannya, ia berusaha mendapatkan izin keluar untuk bepergian ke Yordania guna melanjutkan studi jenjang pascasarjana. Namun, otoritas pendudukan (Shohyuni) menolak permohonannya. Terkait hal ini, Yaakov Peri—Kepala Badan Intelijen (Shin Bet) saat itu—memberikan komentar dengan menyatakan: "Seandainya kami mengetahui bahwa 'Sang Insinyur' (Al-Muhandis) akan melakukan apa yang telah ia perbuat, niscaya kami akan memberinya izin keluar ditambah uang sebesar satu juta dolar."

Ayyash menikah setelah kelulusannya dengan putri dari bibinya (saudara kandung ayahnya). Allah mengaruniakan kepadanya putra sulung yang diberi nama "Al-Bara'", kemudian dilanjutkan dengan kelahiran "Yahya" sekitar satu minggu sebelum kelahirannya sebagai syahid (istisyhad).

Maut Dibayar Maut.. Demikianlah Keadilan

Kejeniusan militernya mulai tampak nyata seiring dengan meletusnya percikan Intifada Pertama pada tahun 1987 M. Abu Al-Bara' (Yahya Ayyash) menulis surat kepada Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam, menjelaskan kepada mereka sebuah rencana untuk berjihad melawan orang-orang Yahudi melalui operasi-operasi penyerangan syahid (al-'amaliyyat al-istisyhadiyyah). Setelah mendapatkan lampu hijau, tugas Yahya Ayyash difokuskan pada penyiapan mobil-mobil peledak dan rangkaian bom berdaya ledak tinggi.

Namun, kelahiran sejati bagi "Sang Insinyur" (Al-Muhandis) beserta operasi-operasi kejeniusannya terjadi secara masif setelah peluru-peluru Baruch Goldstein meledak dan menembus kepala orang-orang yang sedang bersujud di Masjid Ibrahimi di Hebron (Al-Khalil) pada bulan Ramadan tahun 1994 M.

Pada peringatan empat puluh hari terjadinya pembantaian tersebut, balasan pertama pun dilancarkan. Pejuang istisyhad Ra'id Zakarneh ("Ukasyah"-nya para pelaku operasi istisyhad) meledakkan tas buatan Sang Insinyur di kota Afula, hingga menewaskan delapan orang Zionis dan melukai puluhan lainnya.

Sekitar satu minggu kemudian, Ammar Al-Amarnah meledakkan dirinya, menyebabkan lima mayat pembunuh Zionis lainnya bergelimpangan.

Kurang dari satu bulan setelah itu, tentara pendudukan mempercepat penarikannya dari Gaza. Namun pada tanggal 19 Oktober 1994, Syahid Saleh Nazzal bergerak menuju Jalan Dizengoff di pusat kota Tel Aviv membawa tas Sang Insinyur lalu meledakkannya, hingga menewaskan 22 orang Zionis.

Barisan para pejuang istisyhad terus berlanjut hingga kerugian pihak musuh akibat operasi-operasi Sang Insinyur (Ayyash) pada periode tersebut mencapai 76 orang Zionis tewas dan 400 orang luka-luka.

Penderitaan Demi Sebuah Pertemuan

Masa-masa pengejaran (mulaḥaqah) dan perburuan dalam kehidupan sang syahid dianggap sebagai periode yang misterius dan tidak banyak diketahui dalam rekam jejak ksatria kita. Sejak tanggal 25 April 1993 M, pihak intelijen musuh telah mengenali nama Ayyash sebagai insinyur perakit bom peledak dan mobil peledak yang mengusik kenyamanan dan merampas tidur nyenyak musuh. Istrinya, Asrar, menceritakan kisah pengejaran tentara pendudukan terhadap keluarga Sang Insinyur.

Istrinya menuturkan: "Aku tinggal di rumah paman (ayah mertuaku) pada awal periode pengejaran Yahya dengan bersembunyi dari pandangan para tetangga, agar ketika aku pergi mengunjungi Yahya tidak ada seorang pun yang mencurigainya. Sebelum aku pergi ke Gaza, Yahya mengirimkan surat yang ditulis langsung dengan tangannya—tulisan tangan yang sangat kukenali di antara ribuan tulisan tangan lainnya—meminta pendapatku mengenai kemungkinanku meninggalkan Tepi Barat (West Bank). Aku pun bermusyawarah mengenai hal itu dengan ayah mertuaku, lalu aku memutuskan untuk pergi menemui suamiku. Kemudian, salah seorang saudara pejuang (al-ikhwah al-mujahidin) menjemputku dengan menggunakan kata kunci (kata sandi) yang ia ucapkan kepadaku, yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali aku dan Yahya.

Pemuda itu lalu membawa aku, ibu dari Yahya, dan anakku Al-Bara'. Pemuda tersebut membawa banyak kartu identitas (paspor/KTP) palsu untuk memudahkan kami melewati pos-pos pemeriksaan (checkpoints).

Mereka melewati setiap pos pemeriksaan Israel dengan nama samaran yang berbeda-beda dan dengan menggunakan mobil yang berganti-ganti dari mobil pertama, demi menyamarkan diri dari tentara pendudukan. Selain itu, pemuda tersebut memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dalam menyamar sesuai dengan bentuk foto yang tertera pada kartu identitas palsu tersebut.

Adapun bagi Ummu Al-Bara' dan ibu Sang Insinyur, urusannya lebih mudah; karena pasukan pendudukan pada masa itu tidak terlalu memeriksa secara teliti foto-foto para wanita.

Ummu Al-Bara' mengenang: "Dalam sepekan, ia tidak tinggal bersama kami kecuali hanya beberapa jam saja, kemudian ia keluar tanpa aku ketahui ke mana tujuannya. Kehidupan sebagai buronan (mutharad), meskipun penuh dengan berbagai bahaya, memiliki kelezatan jihad yang tidak dapat dirasakan oleh siapapun selain pejuang (mujahid)."

Surat-surat Ayyash.. Dokumen yang Diterbitkan untuk Pertama Kalinya

Mengenai petualangan paling penting yang ia jalani pada hari-hari itu, ia menuturkan: "Aku menghabiskan sebagian besar hari-hari tinggalku di Gaza sebagai buronan yang berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Aku tidak tinggal di salah satu rumah lebih dari satu minggu, dan aku tidak menemui siapapun agar tidak ada yang mencurigai keberadaanku. Aku tidur sementara bom-bom tangan berada di atas kepalaku dan senjataku berada di sampingku, terlebih lagi karena aku menguasai penggunaannya dan mahir dalam menentukan sasaran. Kehidupan kami terancam bahaya setiap saat, dan rumah selalu terancam digerebek oleh tentara pendudukan agar orang-orang Zionis itu dapat menggunakanku sebagai sarana penekanan terhadap suamiku."

Demi menjamin kerahasiaan, sandaran utamanya adalah surat-surat tertulis antara dirinya dan suaminya, karena masing-masing dari mereka memiliki kemampuan untuk mengenali tulisan tangan satu sama lain. Ia masih menyimpan surat-surat tersebut hingga hari ini, termasuk di antaranya sebuah surat tertulis yang diperoleh oleh situs IslamOnline.net.

Ummu Al-Bara' mengenang dengan suara pilu: "Suatu ketika, penghuni rumah tempat kami bersembunyi menyadari adanya pengawasan di sekitar rumah. Maka aku terpaksa menyembunyikan diriku dan anakku, Al-Bara', serta mengunci rapat kamar tempat kami berada selama sekitar satu minggu. Aku tidak melihat seorang manusia pun selain istri pejuang (mujahid) yang mengantarkan makanan untukku, dan ia pun tidak tinggal bersamaku lebih dari seperempat jam."

Ummu Al-Bara' tersenyum ketika mengenang saat-saat menegangkan lainnya: "Suatu ketika rumah tempat kami berada digerebek.. Itu adalah saat-saat yang sangat sulit.. Maka aku terpaksa bersembunyi bersama anakku di dalam lemari pakaian dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Hal yang ajaib adalah Al-Bara'—yang saat itu usianya belum genap empat tahun—sangat menyadari besarnya bahaya yang mengancam nyawa kami dan nyawa ayahnya. Alih-alih aku yang menenangkannya agar tidak mengeluarkan suara, ia justru meletakkan tangannya di atas mulutku agar aku tidak mengucapkan sepatah kata pun.. Betapa bangganya aku terhadap putra kecilku, dan bahwasanya ia benar-benar layak menjadi anak dari seorang pejuang (mujahid) serta pahlawan seperti Insinyur Yahya Ayyash.. Aku merasa bahwa aku tidak berjuang sendirian; putra kecilku, Al-Bara', mampu bertanggung jawab dalam lebih dari satu situasi. Ketika ia keluar untuk bermain bersama anak-anak pemilik rumah yang menampung kami, ia memperkenalkan dirinya dengan nama 'Ahmad', dan tidak pernah mengumumkan identitas aslinya sama sekali."

Perjuangan Istri Seorang Pejuang

Tidak diragukan lagi bahwa setiap wanita yang menerima kabar tentang jihad suaminya akan menyambutnya dengan perasaan takut dan cemas pada awalnya. Berbagai prasangka mulai membayangkan suaminya telah berubah menjadi potongan-potongan tubuh yang berserakan.. Ummu Al-Bara' mengenang bagaimana ia mengetahui kegiatan jihad suaminya, seraya berkata: "Sejak hari-hari pertama kehidupan pernikahan kami, Yahya sering pulang ke rumah dengan pakaian yang kotor oleh lumpur dan tanah. Ketika aku bertatanya kepadanya tentang penyebab hal itu, ia tidak menjawabku, melainkan memohon kepadaku dengan lembut agar aku tidak menanyakannya tentang apa pun. Aku pun menuruti pendapatnya, karena aku percaya penuh pada akhlak dan komitmen agamanya. Hingga tibalah hari di mana tentara pendudukan mengepung rumah untuk menangkap Yahya, namun ia sedang tidak berada di rumah. Ketika ia merasa bahwa aku sangat ketakutan, ia menjelaskan kepadaku tentang hakikat pekerjaannya dan memberiku pilihan antara melanjutkan jalan jihad bersamanya atau berpisah darinya."

Mimpi Buruk yang Mengancam Sebuah Negara

Sang Insinyur, melalui operasi-operasi penyerangan syahidnya (al-'amaliyyat al-istisyhadiyyah), berubah menjadi mimpi buruk yang mengancam keamanan negara Ibrani, para prajurit pasukannya yang mengklaim diri tidak tertandingi, bahkan para pemimpinnya. Kegilaan ketakutan Israel mencapai puncaknya ketika Perdana Menteri entitas Zionis saat itu, Yitzhak Rabin, berkata: "Aku khawatir Ayyash saat ini sedang duduk di antara kita di dalam Knesset (Parlemen Israel)." Ia juga menyatakan: "Aku tidak ragu bahwa Sang Insinyur memiliki kemampuan-kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang lain. Keberadaannya yang masih bebas berkeliaran merupakan ancaman nyata bagi keamanan dan stabilitas Israel."

Banyak peneliti Israel tidak menganggap Yahya sebagai fenomena yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari lingkungan pembinaan (maḥḍan tarbawī) dan tatanan pemikiran tertentu. Hal inilah yang mendorong salah seorang dari mereka untuk menyatakan: "Masalah utamanya terletak pada lingkungan akidah fundamentalis yang menjadi ruang bernapas bagi Sang Insinyur; lingkungan itulah yang melahirkan fenomena Sang Insinyur dan fenomena pria-pria yang siap mati demi mempertahankan akidahnya."

Adapun Moshe Shahak, mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri Zionis, menyatakan: "Aku tidak dapat menggambarkan Insinyur Yahya Ayyash kecuali sebagai sebuah keajaiban (mu'jizah); negara Israel dengan seluruh perangkat keamanannya tidak mampu menghentikan operasi-operasi perusakannya."

Surat kabar berbahasa Ibrani juga menuliskan tentang ciri-ciri fisiknya dan menerbitkan beberapa foto dirinya yang berbeda-beda untuk memperingatkan masyarakat Zionis dari ancamannya, di bawah judul utama: "Kenalilah Musuh Nomor 1 Anda.. Yahya Ayyash."

Akhirnya.. Pejuang Tangguh Itu Pun Istirahat

Setelah empat tahun yang dipenuhi dengan bergelimpangannya potongan tubuh orang-orang Zionis, dinas intelijen Shin Bet berhasil memperoleh informasi mengenai keberadaan Sang Insinyur dan penyusupannya ke Jalur Gaza melalui lingkaran orang-orang terdekat dengan Abu Al-Bara'.

Sebagaimana dikisahkan oleh Osama Hammad, sahabat Sang Insinyur sekaligus saksi tunggal dalam peristiwa pembunuhan (pembunuhan berencana/eksekusi) tersebut, Yahya berlindung kepadanya lima bulan sebelum kelahirannya sebagai syahid. Osama menampungnya di rumahnya tanpa diketahui oleh seorang pun. Kamal Hammad—paman dari Osama yang bekerja sebagai kontraktor bangunan—memiliki hubungan dekat dengan intelijen Israel. Kamal memberi isyarat kepada Osama tentang kemungkinan memberinya sebuah pesawat telepon seluler (Pelephone/Belfon) untuk digunakan. Kamal biasa mengambil HP tersebut selama satu atau dua hari lalu mengembalikannya. Ayah Sang Insinyur biasanya menghubungi Yahya melalui HP tersebut, padahal Yahya telah berulang kali memintanya untuk menghubungi via telepon rumah biasa. Yahya telah sepakat dengan ayahnya untuk mengontaknya pada hari Jumat pagi melalui telepon rumah.

Pada Jumat pagi, 5 Januari 1996 M, Kamal Hammad menghubungi Osama dan memintanya untuk menyalakan HP tersebut karena ia ingin menelepon dari Israel. Ternyata jalur telepon rumah saat itu terputus.. Pada pukul sembilan pagi, ayah Yahya menelepon ke HP tersebut dan mengabarkan kepada Osama bahwa ia tidak bisa menghubungi nomor telepon rumah.

Baru saja Sang Insinyur memegang HP tersebut dan berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, jangan menelepon ke HP...", tiba-tiba ledakan dahsyat terdengar dan Sang Insinyur pun jatuh tersungkur. Kepala yang selama ini selalu merancang dan mengatur strategi untuk membalas kejahatan Zionis itu pun meledak.. Bagian-bagian dari otak yang suci itu berserakan, mengumumkan berakhirnya sebuah legenda yang meninggalkan puluhan insinyur penerus yang terus mengusik tidur nyenyak pihak pendudukan, dan mereka hingga kini tetap menjadi murid-murid dari "Madrasah Ayyash".

Belakangan diketahui bahwa muatan bahan peledak seberat 50 gram telah meledak di dalam HP tersebut, hingga merubuhkan tubuh yang lelah itu untuk beristirahat dari penatnya perjalanan panjang.. Pejuang yang tangguh itu kini beristirahat setelah bertahun-tahun berjihad, lalu membumbung naik menuju derajat yang tinggi dan kemuliaan.

"Aku Al-Bara' Ayyash.. Di Atas Jalanmu, Wahai Ayahku!"

"Jika Yahya Ayyash terbunuh, maka akulah Yahya Ayyash. Ketika aku besar nanti, aku akan menjadi insinyur peledak dan membalaskan dendam ayahku." Demikianlah kalimat yang terlontar dari bocah kecil, Yahya Yahya Ayyash (6 tahun), yang lahir pada saat ayahnya gugur sebagai syahid untuk melanjutkan perjalanannya.. Seolah-olah kehendak Allah menginginkan agar Yahya tetap ada di muka bumi.

Hal yang tidak jauh berbeda juga tampak pada putra sulungnya, Al-Bara' (8 tahun), yang telah mengenyam kepahitan hidup dalam masa-masa ayahnya menjadi buronan tentara pendudukan dan aksi perburuan mereka terhadap ayahnya. Dalam tutur katanya, ia tampak seperti seorang pemuda dewasa yang memahami masalah-masalah keamanan dan besarnya bahaya yang mengintai ayahnya. Pikiran dan kesadarannya bertumbuh melampaui usianya. Oleh karena itu, tidak heran jika ia berkata: "Aku bukan dari Hamas, melainkan aku dari Batalyon Izzuddin Al-Qassam. Aku akan bekerja sebagai insinyur seperti ayahku, meledakkan orang-orang Yahudi dan menghancurkan tubuh mereka. Aku akan merampas kebahagiaan orang-orang yang telah merampas ayahku dari anak-anak mereka, sebagaimana aku akan merampas ayah dari anak-anak mereka."

Apakah Al-Bara' akan tumbuh dewasa di bawah naungan kegelapan yang menindih hati setiap orang mulia di dunia ini, ataukah Allah akan mengizinkannya menikmati kehidupan yang tenang dan makmur jauh dari kancah pertarungan jihad?

Ayyash telah mengukir epik sejarah yang abadi demi agama dan tanah airnya. Ia terbunuh di jalan Allah (fī sabīlillāh) dan demi Palestina di atas pijakan yang kokoh berupa pemahaman yang mendalam tentang hakikat perjuangan Palestina. Yahya telah memahami formula berinteraksi dengan musuh sejak kedua tangannya menyentuh mobil peledak pertama yang ia siapkan untuk membangkitkan rakyat Palestina di seluruh sektor dan berbagai alirannya menuju perlawanan komprehensif melawan pendudukan yang tidak memahami kecuali bahasa perlawanan dan kosakata kekuatan. Oleh karena itu, para pemimpin dan tokoh musuh menyatakan keputusasaan mereka dan mengakui dengan berkata: "Apa yang bisa kita perbuat terhadap seorang pemuda yang menginginkan kematian?"

"Sang Insinyur" (Al-Muhandis) adalah judul dari legenda Palestina sejati yang memperbarui harapan, mematikan keputusasaan, dan mengembalikan kehidupan pada ruh jihad dan perlawanan di Palestina, melalui lembaran-lembaran bercahaya yang dituliskannya dalam kisah ketabahan dan jihad ketokohannya di bawah kondisi yang paling buruk sekalipun.

Kisah Sang Insinyur telah dikenal dan tersimpan rapat dengan tinta cinta dan penghormatan di dalam hati orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Namanya senantiasa bergema di setiap lorong, rumah, serta di setiap bibir dan lidah di seluruh pelosok bumi. Namanya dikenang oleh ratusan juta umat Arab dan Islam ketika dunia terasa gelap, krisis semakin memuncak, dan raut wajah mereka dipenuhi oleh rasa sakit, penindasan, serta keputusasaan.

Yahya Ayyash telah mengetahui titik kelemahan musuhnya dan letak kekuatan rakyatnya. Ia memanfaatkan pengetahuannya tersebut untuk mengembalikan sebagian dari keseimbangan kekuatan yang hilang antara rakyatnya yang tak bersenjata dengan musuhnya yang bersenjata lengkap dengan mesin militer termodern. Cara yang digunakannya adalah dengan memindahkan medan pertempuran dari arena materi yang sempit ke medan moral/spiritual yang lebih luas. Maka pertempuran berubah menjadi pertarungan antara musuh yang terbelenggu oleh ketakutan akan kematian melawan rakyat yang mencintai kematian di jalan Allah untuk meraih kemerdekaannya. Karena kepahlawanan memiliki cita rasa yang berbeda pada momen-momen krusial, Yahya Ayyash hampir menjadi sosok yang tiada tandingannya di antara para pahlawan rakyat Palestina. Ia hadir di puncak keterpurukan untuk mengumumkan bahwa rakyat yang sedang digali kuburannya untuk mengubur perjuangannya ternyata masih penuh dengan semangat kehidupan, dan bahwasanya slogan-slogan keputusasaan resmi tidak lebih dari abu yang menutupi bara api yang menyala di dalam tungku rakyat.

Dalam usianya yang singkat, Yahya Ayyash telah berbuat sangat banyak. Sejak awal ia menyadari bahwa dirinya sedang berpacu dengan waktu ketika memutuskan untuk meruntuhkan tembok keamanan kokoh yang dibangun oleh Zionis dengan memanfaatkan persenjataan militer dan pengalaman terakumulasi milik mereka dalam menghadapi rakyat yang tak bersenjata dan terkepung. Ia adalah seorang yang proaktif dan berinisiatif, di mana tidak ada waktu terbuang bagi rakyat yang sedang menjalani salah satu fase sejarah modernnya yang paling kritis.

Raksasa ini hidup demi rakyat dan agamanya serta untuk keduanya, lalu ia berpulang pada saat orang-orang kerdil sedang berebut remah-remah yang mereka sangka sebagai harta rampasan dari perang yang telah usai.

Kepribadian yang istimewa dalam pengabdian serta kemampuannya dalam berinisiatif dan memperbarui ini sangat layak untuk kita renungkan dan cermati secara mendalam. Kita dapat mempelajari kehidupannya dan sumber-sumber keagungan dalam kepribadiannya, mengevaluasi pengalamannya yang pelopor, serta memetik pelajaran ('ibrah) dari perjalanan pengabdiannya yang sarat dengan pengorbanan demi risalah yang diimaninya dan demi mewujudkan risalah yang untuknya ia telah mewakafkan jiwa dan raganya.

Meskipun Yahya Ayyash mempresentasikan sosok pemuda desa yang sederhana—yang sebenarnya bisa saja seperti ribuan sarjana perguruan tinggi lainnya menjadi insinyur biasa yang bekerja di salah satu perusahaan atau bengkel kerja dengan gaji tinggi di luar negeri—namun pahlawan kita ini mengabaikan itu semua. Ia melompati segala rintangan dan berpegang teguh pada Islam serta perjuangannya. Perlawanan dan jihad pun menjadi cinta besarnya yang kepadanya ia curahkan sari pati pemikiran dan perasaannya, sekaligus mewujudkan kemampuan untuk melakukan aksi nyata yang jauh dari sorotan lampu publisitas.

Sang Insinyur tidak sedang mencari peran sejarah, melainkan peran sejarahlah yang sedang mencari seorang pemimpin. Ia tidak berjiwa bintang yang berburu popularitas, melainkan massa rakyatlah yang sangat merindukan sosok pahlawan yang dapat mereka eluk-elukkan; pahlawan yang mengembalikan keceriaan hari-hari, memberikan kembali cita rasa kehidupan, serta mengembalikan kejayaan dan kemuliaan Islam. Karena model-model pemimpin yang dilahirkan oleh Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) tidak menunggangi gelombang kebetulan, tidak memanjat tali keacakan, dan tidak memanfaatkan situasi yang ada, melainkan mereka selalu berada pada janji yang tepat dengan takdirnya, siap sedia menunaikan perannya dalam kancah aksi dan keberadaan, lalu berpulang dengan wibawa dan keluhuran bersamaan dengan terbitnya sang surya.

Syekh Ikhwan di Rafat

Perjalanan Menyelami Pemikiran Ayyash

 

Yahya Ayyash menyambut seruan Ikhwanul Muslimin dan membaiat jamaah tersebut pada awal tahun 1985 M. Ia menjadi prajurit yang taat dan anggota biasa dalam salah satu usrah Ikhwanul Muslimin di kota Ramallah. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh semangat, menunaikan seluruh tugas dan beban dakwah Islamiah, baik di dalam lingkungan universitas, di kota Ramallah, maupun di desanya, Rafat. Sang Insinyur memanfaatkan mobil ayahnya yang dibeli untuk melayani gerakan Islam (al-harakah al-islamiyyah), di mana ia secara rutin bepergian ke Rafat untuk meletakkan fondasi-fondasi dakwah dan membentuk cikal bakal kelompok-kelompok pemuda muslim yang komitmen (multazim). Ketika cakrawala gerakan perlawanan Islam (Hamas) terbuka, kelompok-kelompok inilah yang berada di barisan terdepan para pelempar batu selama tahun-tahun Intifada Pertama yang diberkahi. Mengingat peran kepeloporan yang ia jalankan serta kearifan, kesantunan, dan akhlaknya, faksi-faksi Palestina menganggapnya sebagai "Syekh Ikhwan di Rafat", di mana mereka merujuk kepadanya dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan aktivitas maupun pemecahan masalah selama tahun 1988–1992.

Putra Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam

Awal mula keterlibatan Sang Insinyur dalam kerja militer kembali pada masa-masa Intifada Pertama, tepatnya pada tahun 1990–1991 M. Ia berhasil menemukan jalan keluar dari masalah kelangkaan fasilitas dan kelangkaan bahan peledak, yaitu dengan cara memproduksi bahan peledak tersebut dari bahan-bahan kimia mentah yang banyak tersedia di apotek-apotek serta toko-toko obat dan sediaan medis. Operasi pertamanya dilakukan dengan menyiapkan mobil peledak di Ramat Efal. Sejak saat itulah dimulai aksi saling berburu antara Yahya Ayyash dengan pihak pendudukan Zionis beserta perangkat keamanan dan militernya. Allah Subḥānahu wa Ta'ālā mentakdirkan bahwa musuh menemukan mobil peledak di Ramat Efal secara tidak sengaja. Setelah dilakukan penyelidikan/pemeriksaan yang sangat intensif dan berat terhadap dua pejuang yang ditangkap pasca ditemukannya mobil peledak tersebut, Shin Bet mencetak nama Yahya Abdul Lathif Ayyash dalam daftar orang yang paling dicari (wanted list) untuk pertama kalinya.

Hari Minggu, 25 April 1993 M, dianggap sebagai awal masa perburuan/pengejaran (mulaḥaqah) resmi terhadap Yahya Ayyash. Pada tanggal tersebut, Sang Insinyur meninggalkan rumahnya untuk bergabung dengan rekan-rekan jihad dan perlawanan. Pada malam harinya, pasukan besar dari tentara dan intelijen mengepung dan menggerebek rumahnya, menggeledah, mengacak-acak furnitur, serta merusak beberapa barang pribadi milik Sang Insinyur. Setelah perwira Shin Bet mengambil foto Syahid Jawad Abu Salmiyah yang disimpan oleh Sang Insinyur, salah seorang dari mereka mendatangi ayahnya seraya mengancam: "Yahya harus menyerahkan dirinya, jika tidak maka ia akan mati dan kami akan meruntuhkan rumah ini di atas kepala kalian!"

Penggerebekan dan provokasi dari tentara pendudukan beserta perangkatnya terus berlanjut dengan tujuan menyebarkan suasana ketakutan dan teror di tengah keluarga pedesaan tersebut, dengan anggapan bahwa hal itu dapat mempengaruhi mentalitas mereka dan memalingkan Sang Insinyur dari jalannya yang diberkahi. Namun mustahil bagi mereka untuk berhasil! Sang Insinyur terus mencetak lembaran-lembaran kemuliaan dan kemerdekaan, serta mengembalikan keindahan cita rasa kehidupan masyarakat Palestina. Selama tiga tahun, ia menjadi madu manis bagi Palestina dan racun pahit bagi Bani Zionis. Dugaan otoritas pendudukan beserta perangkat represifnya terbukti gagal; mereka memanen kegagalan dalam rencana-rencana mereka dan terombang-ambing dalam perjalanan pencarian Sang Insinyur. Sementara itu, Ummu Yahya berdiri dengan penuh kebanggaan dan kehormatan menghadapi para penyidik Shin Bet dan prajurit pendudukan. Surat kabar Ibrani Yedioth Ahronoth—yang mendampingi pasukan tentara saat menggerebek rumah keluarga Ayyash setelah operasi pahlawan Saleh Souwi di Tel Aviv—mengutip pernyataan ibu Sang Insinyur: "Ia meninggalkan kami semua sebelum kami puas bersamanya. Dan sejak Yahya menjadi buronan, ia bukan lagi anakku saja.. Ia adalah putra Batalyon Izzuddin Al-Qassam."

Pertama: Landasan Akidah dan Keimanan

Pelajaran dan Hikmah

Lingkungan akidah dan keimanan yang menghujam merasuk di lubuk jiwa manusia itulah yang menciptakan dan melahirkan fenomena pria-pria yang siap mati di jalan Allah (fī sabīlillāh). Melalui pengakaran prinsip-prinsip ini dan keteguhan pengembannya, cadangan energi dalam sel-sel tubuh meledak, dan terpancarlah seluruh kebaikan yang dititipkan oleh Sang Pencipta Subḥānahu wa Ta'ālā di dalam jiwa berupa akhlak mulia, penyerahan diri (tajarrud), keikhlasan, kejujuran, tawakal, serta sifat-sifat kesyahidan (syahadah), makna keabadian, dan keteladanan lainnya.

Meskipun Sang Insinyur telah meninggalkan kita setelah berhasil mencapai puncak perbukitan orang-orang yang naik derajatnya dan meraih kemenangan dalam perjalanan hidupnya menuju keabadian, kita masih memiliki kesempatan untuk memegang teguh prinsip-prinsipnya, ketetapannya, serta pengalaman sejarahnya yang kaya akan indikasi yang memberi kabar gembira tentang pelajaran-pelajaran yang mudah diteladani, meniru sosok raksasa yang abadi di bumi Palestina, mengulang kembali perjalanannya, dan menyampaikan kabar gembira tentang kemampuan umat untuk melahirkan orang-orang besar serta mengukir masa depan yang cerah. Kita dapat memaparkan beberapa sorotan cahaya dari landasan akidah dan keimanan yang menopang tiang-tiang raksasa abadi ini agar menjadi panji-panji petunjuk dan bimbingan yang diteladani oleh para pejuang yang melangkah:

  1. Penyatuan antara wara' (kehati-hatian dari dosa) dan ketakwaan dengan kesucian ruh serta kesederhanaan jiwa. Yahya adalah sosok yang komitmen (multazim) dan taat kepada Allah dalam apa yang Diperintahkan-Nya maupun apa yang Dilarang-Nya. Konsep makna keagamaan (tadayyun) ini tampak pada Sang Insinyur melalui intensitasnya dalam membaca Al-Qur'anul Karim, mentilawahkannya, dan menghafalnya. Dari sinilah tampak jelas bagi kita alasan keteguhan gigihnya dan keberaniannya yang tidak mengenal keraguan dalam perjalanan jihad, meskipun musuh memiliki keunggulan fasilitas dan kekejaman.
  2. Kesungguhan dalam kehidupan, menyambung tali silaturahmi, mencintai sesama manusia, dan menunaikan kewajiban. Hal ini tidak berarti bahwa sang syahid adalah sosok yang tidak suka bersenda gurau atau bersuka ria secara bersih; melainkan ia selalu menjauhi kebisingan/huru-hara dan menjauh dari atmosfer yang tercemar.
  3. Mengarahkan dan mendedikasikan kehidupan dunia untuk beramal kebaikan serta menganggap hal tersebut sebagai sarana untuk meraih keridaan Allah. Oleh karena itu, ia sangat berkasih sayang kepada sesama manusia dan memberikan bantuan sebatas kemampuannya kepada siapapun yang meminta pertolongan kepadanya.
  4. Sifat pemaaf merupakan salah satu karakter Sang Insinyur dalam hubungannya, baik di rumah, di desa, maupun di universitas. Ia selalu memaafkan orang yang berbuat jahat kepadanya dan tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun, bahkan kepada orang yang berbuat buruk kepadanya sekalipun.
  5. Ketenangan, keseimbangan sikap, dan kedalaman berpikir, seolah-olah ia selalu terbang membubung di angkasa pencarian keridaan Allah... hingga hal tersebut membawanya pada cita-citanya bersama para nabi, ṣiddīqīn (orang-orang yang jujur keimanannya), dan para syahid.
  6. Dirinya tidak mengambil bagian dari kenikmatan dan kesenangan dunia. Ia dikenal sebagai sosok yang menjaga kesucian diri ('iffah) dan bersikap zuhud, tidak menginginkan apapun selain keridaan Allah. Ketika gerakan (Hamas) mengirimkan sejumlah uang untuk membantunya mengurus kebutuhan keluarganya, ia mengirimkan surat teguran/kemanjaan (mu'ātabah) kepada pimpinannya: "Terkait uang yang kalian kirimkan, apakah itu merupakan upah atas apa yang aku lakukan? Tiada lain balasan/upahku melainkan hanya dari Allah [2]; aku memohon kepada-Nya agar menerima amal dari kami. Sesungguhnya tujuanku bukanlah materi, dan seandainya demikian, niscaya aku tidak akan memilih jalan ini. Oleh karena itu, janganlah kalian terlalu mengkhawatirkanku, dan berikanlah perhatian kepada keluarga para syahid dan tawanan, karena mereka lebih berhak daripada aku dan keluargaku."

Catatan Kaki / Penjelasan Istilah:

[1] Tanggal "18/5/2002 M" tertera pada bagian tajuk dokumen asli. Yahya Ayyash sendiri gugur sebagai syahid (istisyhad) pada 5 Januari 1996 M.

[2] Kalimat "Tiada lain balasan/upahku melainkan hanya dari Allah" merupakan ungkapan yang menyerap maknawi ayat Al-Qur'an (seperti dalam QS. Yunus: 72, QS. Hud: 29/51, QS. Ash-Shu'ara: 109).

Berikut adalah terjemahan lengkap, utuh, dan presisi dari teks bahasa Arab yang Anda unggah ke dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan seluruh ketentuan dan metodologi penerjemahan literatur keislaman/sejarah:

 

Dan karena ia tidak menginginkan selain keridaan Allah dan surga-Nya, maka pahlawan syahid ini bekerja secara diam-diam dalam kerahasiaan, seraya membumbung tinggi di atas hawa nafsu, sorotan kamera, serta media massa. Hal ini semakin meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi musuh serta menggagalkan berbagai upaya provokasi dan pemancingan. Semua itu menunjukkan pemahaman yang mendalam tentang hakikat pertempuran dan tuntutannya, serta mencerminkan ketulusan dan keikhlasan mutlak terhadap tujuan dan cita-cita. Meskipun Yahya sangat mencintai aktivitas jihad secara dahsyat hingga menguasai seluruh pancainderanya—dengan lebih menyukai agar amal perbuatannya yang berbicara, bukan perkataannya, mengingat ia mewakili suatu gerakan dan sejarah, bukan sekadar mewakili dirinya sendiri—namun ia tidak suka membesar-besarkan masalah maupun peran dirinya. Ia selalu mengembalikan segala keutamaan kepada Rabb Yang Mahamulia Subhanahu wa Ta'ala, seraya terus-menerus mengulang-ulang ayat Al-Qur'an yang mulia:

"Dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." (QS. Al-Anfal [8]: 17)

Kedua: Kerahasiaan dan Menyembunyikan Strategi (As-Sirriyyah wal Kitman)

Hal ini merupakan perkara yang fundamental (badihiyyah) dalam kehidupan sang Insinyur (Al-Muhandis) dan menjadi prinsip penting dari prinsip-prinsip pergerakan, dengan mengambil petunjuk dari perintah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

استَعِينُوا عَلَى إِقْضَاءِ حَوَائِجِكُمْ بِالْكِتْمَانِ

Minta tolonglah kalian dalam menyelesaikan hajat-hajatmu dengan menyembunyikannya (merahasiakannya).

Maka sang Insinyur bersama Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam bekerja dengan metode rahasia yang terorganisasi. Hal ini membuat rencana aparatur keamanan dan intelijen Zionis untuk menyusupi struktur organ militer tersebut maupun upaya mendeteksi operasinya sebelum terjadi menjadi hal yang sangat sulit. Sebab, jihad senantiasa diintai dan menggagalkannya merupakan strategi Zionis dan global, terlebih setelah Islam menjadi musuh utama bagi kubu "Tatanan Dunia Baru (atau Yang Terbaru)" beserta instrumen-instrumennya. Dalam kasus Komandan Syahid ini, hakikat kerahasiaan dan penyembunyian strategi telah melampaui kondisi darurat atau kebutuhan sesaat, hingga menjadi akhlak yang tertanam kuat dan tabiat yang mengakar.

Ketiga: Meloloskan Diri dari Cengkeraman Musuh

Piaayunya sang Insinyur yang sangat luar biasa—berkat karunia Allah dan perlindungan-Nya—dalam menghadapi para pengejarnya, serta kejeniusannya dalam menyamar, memanipulasi, dan meloloskan diri dari penyergapan yang dipasang oleh ribuan prajurit unit-unit khusus pilihan dari tentara Zionis, pasukan pengawal perbatasan, dan kepolisian, di samping ratusan personel Badan Intelijen Umum (Shabak) dan unit-unit intelijen militer khusus yang ditugaskan dalam operasi pengejaran terbesar yang pernah diorganisasi oleh negara Yahudi tersebut dalam sejarahnya, telah membuat para pengejarnya menjulukinya dengan gelar "Si Jenius", "Carlos sang Rubah", dan "Pria Berwajah Seribu". Mereka juga menisbkan kepadanya sifat-sifat sebagai 'orang suci', 'manusia yang memiliki sembilan nyawa', serta 'orang yang dapat melihat namun tidak dapat dilihat'. Perkara-perkara tersebut sejatinya merupakan upaya aparatur keamanan dan intelijen Zionis untuk menyembunyikan ketidakmampuan mereka di baliknya. Otoritas pendudukan telah mencari sang Insinyur selama empat tahun penuh. Selama rentang waktu tersebut, sang Komandan terus menjalankan operasi-operasinya tanpa henti maupun kendur. Ia merekrut sel demi sel, serta menghembuskan semangat inisiatif dan aktivitas baru setelah setiap pukulan yang dilayangkan pihak Zionis kepada kelompok-kelompok jihadis. Setelah setiap operasi, otoritas pendudukan mengakui bahwa berita-beritanya pun menghilang dengan sangat rapi, sehingga membuat pimpinan Shabak kebingungan menghadapi teka-teki sang Insinyur.

Keberhasilan sang Insinyur mencapai Jalur Gaza pada hakikatnya merupakan pukulan telak bagi entitas Zionis, yang membuat Yitzhak Rabin dalam rapat gabungan pimpinan aparatur keamanan Zionis memukul meja dengan sangat keras, seraya menuntut penjelasan yang tegas mengenai bagaimana sang Insinyur mampu melampaui ribuan informan Zionis yang mengejarnya dan menyesatkan aparatur keamanan Zionis.

Keempat: Jihad, Kemenangan, atau Maut Syahid

Dimensi lain dari kepribadian Yahya Ayyash atau sang Insinyur tecermin pada kegigihannya untuk terus bekerja dan beraktivitas, serta kesiapannya yang konstan untuk meraih mati syahid di jalan Allah, seraya menolak untuk keluar atau melarikan diri ke luar Palestina yang terintimidasi/terjajah meskipun peluang untuk itu terbuka lebar. Pria yang telah menggentarkan para pemimpin pendudukan, prajurit, dan pemukimnya—hingga mereka menghafal wajahnya di luar kepala dan memajang fotonya di kantor-kantor mereka—sangat menyadari bahwa setiap ajal telah ditetapkan waktunya. Kesadaran inilah yang menjadi bekal bagi pejuang mukmin ini untuk melanjutkan jihad serta mewariskan pengalaman dan ilmunya kepada saudara-saudaranya. Oleh karena itu, wajah Yahya akan memerah karena marah apabila saudara-saudaranya membicarakan kemungkinan meninggalkan tanah air untuk sementara waktu, lalu ia menjawab mereka: "Mustahil! Aku telah mewakafkan diriku untuk Allah kemudian untuk agama ini; pilihannya hanya kemenangan atau mati syahid. Perang melawan entitas Zionis harus terus berlanjut sampai orang-orang Yahudi keluar dari seluruh tanah Palestina."

Waktu Eksekusi Kejahatan Pembunuhan (Pembunuhan Berencana/Oksidasi)

Selama kurang lebih empat tahun, Yitzhak Rabin—yang memperlakukan sang Insinyur sebagai rival pribadinya—menempatkan berkas pembunuhan Komandan Qassam ini di puncak prioritas politik dan keamanan pemerintahannya. Namun, salah satu kejutan dalam berkas ini adalah terbunuhnya Rabin sendiri di tangan seorang ekstremis Yahudi sebelum aparatur intelijen Zionis berhasil membunuh sang Insinyur. Dengan demikian, bertambahlah satu skandal lagi dalam catatan aparatur tersebut, yang selalu digambarkan oleh propaganda Zionis sebagai lembaga super yang mampu mendeteksi peristiwa sebelum terjadi dan sanggup mencapai tujuannya dengan usaha paling minim dan waktu tercepat.

Guncangan kepercayaan publik Israel terhadap aparatur keamanan tersebut memberikan dampak yang mengkhawatirkan bagi para pimpinan keamanan dan militer. Mereka tidak mampu melindungi perdana menteri sekaligus tokoh terpenting mereka, dan tidak pula mampu menangkap atau membunuh musuh nomor satu mereka yang telah menyebarkan ketakutan di hati orang-orang Zionis penduduk. Untuk keluar dari kondisi hilang keseimbangan yang membuat aparatur keamanan Zionis berada di titik nadir, harus dilakukan suatu tindakan spektakuler yang dapat memulihkan wibawa pimpinan tersebut di dalam lembaga politik dan keamanan entitas Zionis. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Shimon Peres menolak pengunduran diri Jenderal Carmi Gillon, Kepala Shabak, sesaat setelah pembunuhan Rabin, namun kemudian mengabulkannya hanya dua hari setelah eksekusi kejahatan pembunuhan sang Insinyur.

Pada saat kejahatan pembunuhan sang Insinyur dianggap sebagai sarana untuk mengembalikan kepercayaan terhadap aparatur keamanan Zionis dan menenangkan publik Israel bahwa musuh mereka telah dimusnahkan serta pembalasan dendam telah dilaksanakan terhadap pihak yang menumpahkan darah Zionis—sebagaimana selalu diulang-ulang oleh para pemimpin pendudukan—terdapat tujuan lain yang tidak kalah penting, bahkan jauh lebih penting. Tujuan tersebut adalah menjadikan sang Insinyur sebagai simbol berakhirnya suatu era (era tanpa penyerang/milisi), terlebih karena pembunuhan sang Insinyur didahului oleh pembersihan banyak komandan seperti: Fathi Shaqaqi, Hani Abed, Kamal Kahil, Ibrahim An-Naffar, Mahmud Al-Khawaja, dan lainnya. Oleh karena itu, ada pesan Zionis di balik kejahatan pembunuhan sang Insinyur yang intinya bahwa zaman para fida'i (pejuang) dan pahlawan telah usai, dan inilah saatnya menerima keberadaan Israel serta berhubungan dengannya secara realistis.

Meskipun terdapat propaganda yang digencarkan oleh otoritas pendudukan Zionis tersebut, banyak pihak di kalangan Zionis sendiri yang tidak yakin bahwa pembunuhan sang Insinyur akan menghentikan jihad dan perlawanan serta mengakhiri perjuangan bersenjata.

Adapun pada tingkat Palestina, kejahatan pembunuhan ini justru memberikan kesempatan bagi Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) untuk memulihkan aktivitas militernya. Pihak Zionislah yang melakukan agresi dan meningkatkan eskalasi pembunuhan di Gaza. Berangkat dari semua itu, kubu perlawanan tetap meraih keuntungan meskipun mengalami kerugian besar akibat kehilangan sang Syahid. Pelaksanaan empat operasi syahid oleh murid-murid sang Insinyur dalam jangka waktu yang singkat (sepuluh hari) menjadi penegas bagi hal tersebut, meskipun kondisi yang dihadapi dalam pelaksanaan operasi-operasi tersebut sangatlah berat.

Operasi-Operasi Terpenting yang Dinasabkan Kepada Syahid Sang Insinyur Yahya Ayyash

Kejeniusan Komandan Yahya Ayyash telah memindahkan medan pertempuran ke jantung wilayah-wilayah aman yang diklaim oleh orang-orang Israel bahwa aparatur keamanan mereka menguasai situasinya secara penuh. Setelah berbagai operasi yang dilancarkan terhadap pusat-pusat pendudukan dan patroli militer, para pejuang Hamas dengan perencanaan dari komandan mereka, Ayyash, melaksanakan sejumlah operasi terpenting, di antaranya:

  • 6 April 1994: Syahid Ra'id Zakarneh meledakkan mobil مفخخة (berisi bahan peledak) di dekat bus Zionis di kota Afula; yang mengakibatkan tewasnya delapan orang Zionis dan melukai tidak kurang dari tiga puluh orang. Hamas menyatakan bahwa serangan ini merupakan balasan pertama atas pembantaian jemaah salat di Masjid Ibrahimi di kota Hebron (Al-Khalil).
  • 13 April 1994: Pejuang lain dari gerakan "Hamas", yaitu Syahid Ammar Amarnah, meledakkan bahan peledak yang dipasang di tubuhnya di dalam bus Zionis di kota Hadera di dalam Garis Hijau; yang menyebabkan tewasnya 5 orang Zionis dan melukai puluhan lainnya.
  • 19 Oktober 1994: Syahid Saleh Nazzal—seorang pejuang dalam Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam—meledakkan dirinya di dalam bus penumpang Zionis di Jalan Dizengoff di kota Tel Aviv; yang mengakibatkan tewasnya 22 orang Zionis dan melukai tidak kurang dari 40 orang lainnya.
  • 25 Desember 1994: Syahid Usamah Radi—seorang polisi Palestina dan anggota rahasia dalam kelompok Qassam—meledakkan dirinya di dekat bus yang mengangkut prajurit Angkatan Udara Zionis di Yerusalem, serta melukai 13 prajurit.
  • 22 Januari 1995: Dua pejuang Palestina meledakkan diri mereka di stasiun kumpul militer Zionis di daerah Beit Lid dekat Netanya; yang mengakibatkan tewasnya 23 prajurit Zionis dan melukai empat puluh lainnya dalam serangan yang digambarkan sebagai yang terkuat dari jenisnya. Sumber-sumber militer Zionis menyatakan bahwa penyelidikan menunjukkan adanya jejak jemari sang Insinyur dalam merangkai bahan peledak tersebut.
  • April 1995: Gerakan Hamas dan Jihad Islam melaksanakan dua serangan syahid terhadap warga Yahudi di Jalur Gaza; yang mengakibatkan tewasnya 7 pemukim sebagai balasan atas kejahatan intelijen Zionis dalam meledakkan sebuah rumah di lingkungan Asy-Syaikh Radwan di Gaza, yang menyebabkan gugurnya sekitar lima warga Palestina, di antaranya Syahid Kamal Kahil (salah satu komandan kelompok Qassam) dan asistennya.
  • 24 Juli 1995: Seorang pejuang pencari syahid dari kelompok murid-murid Insinyur Yahya Ayyash yang berafiliasi dengan Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam meledakkan bahan peledak yang dipasang di tubuhnya di dalam bus penumpang Zionis di Ramat Gan dekat Tel Aviv; yang mengakibatkan tewasnya 6 orang Zionis dan melukai 33 orang lainnya.
  • 21 Agustus 1995: Serangan syahid lainnya menargetkan bus penumpang Zionis di lingkungan Ramat Eshkol di kota Yerusalem yang terintimidasi/terjajah; yang mengakibatkan tewasnya 5 orang Zionis dan melukai lebih dari 100 orang lainnya. Murid-murid Insinyur Yahya Ayyash menyatakan bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Total korban yang tewas di tangan "Sang Insinyur" dan murid-muridnya mencapai tujuh puluh enam orang Israel, dan melukai lebih dari empat ratus orang lainnya.

Sebagian Puisi yang Dikatakan Tentang Ayyash:

Hutan jihad telah menumbuhkan tombak-tombak,

dan kami telah menanam di setiap jengkal seorang syahid.

Kami menanami langitnya dengan roh-roh,

dan kami menyirami tanah-tanah lapang dengan darah.

Jika kezaliman dan kegelapan terus berlanjut,

maka kebenaran menerbitkan fajar di bukit-bukit kami.

Dan jika seruan jihad bergema,

ia menjadikan agama sebagai bekal dan senjata.

Rakyat kami bergerak maju mengarungi kebinasaan,

memenuhi bumi dengan revolusi dan perjuangan.

Setiap kali seorang syahid diantar menuju surga,

cahaya memenuhi hatinya dengan kebahagiaan.

Surga keabadian mendekat dan mulai

mengaruniakan harum wewangiannya kepada semesta.

Pemuda-pemuda kebenaran mencintai kebinasaan (di jalan Allah),

mereka tidak takut akan luka-luka dalam pertempuran.

Jika darah mengalir dalam jihad,

mereka menjadikannya sebagai selendang di dada.

Kalian tidak akan mencapai kemuliaan tanpa

jihad, dan kalian tidak akan meraih kejayaan.

Jika kalian menginginkan bagian dari keagungan,

maka sulutlah pelita dari agama ini.

Dari Irak... Dipersembahkan untuk Roh Syahid Yahya Ayyash!

Bagimu Kemuliaan (Lakal Majdu)

Karya Puisi: Rafi' Al-Ja'far

Orang-orang tunduk mati, sedangkan engkau tetap hidup...

dan singgasana-singgasana runtuh, namun mimbar luhurmu akan tetap ada melintasi zaman.

Dan penggertak hina jatuh ke dalam jurang kehinaan...

susu kehinaan di mulutnya terasa manis.

Engkau diam, namun engkau menjadi yang paling fasih berbicara di antara mereka...

ia mencoba mengecoh dengan sulit, namun melihat dirinya bisu tak berdaya.

Engkau menyerahkan rohmu kepada bumi ketika mereka kikir...

sungguh jauh perbedaan antara orang kikir dan orang dermawan.

Kematian para lelaki bukanlah masuk ke dalam kubur...

melainkan kematian mereka adalah kehinaan dan prasangka buruk.

Tidaklah merugikanmu sebuah kubur yang mengurungmu...

sementara sebutan tentangmu harum dan semerbak.

Harta terpendam tidak menjadi hina di perut bumi...

dan tidak pula dihormati buih yang terapung jika kebinasaan tampak.

Mutiara bisa berada di dasar laut terperosok...

sementara buih yang tak berguna mengapung di atasnya.

Engkau membumbung tinggi hingga kuburmu menjadi menara cahaya...

yang menerangi jalan bagi pemuda yang membangkang (terhadap kezaliman).

Pemberani yang tidak dapat dikuasai oleh musibah-musibah...

berpikiran tajam yang dihiasi oleh akal jenius.

Mesu gunpowder membangkang di hadapannya, namun...

bagi saudara-saudara yang suci, ia memiliki hati yang ridha.

Ia mengubah siang Zion menjadi kegelapan...

maka tidak ada tidur yang nyenyak bagi mereka.

Tidak ada pembicara yang berbincang di klub mereka...

dan tidak ada orang yang dihormati di majelis mereka.

Ia menjadikan ufuk mereka api yang menyala-nyala...

maka pengobatan terakhir bagi manusia ini adalah besi panas (kauterisasi).

Pinjamkanlah aku sebagian mawar dari percikan apimu...

karena sebagian api bagi yang haus adalah kesegaran.

Dan sebagian air bagi yang dahaga adalah kematian...

dan dari pemantik besi akan hadir kemenangan.

Jika kehidupan yang hina menggoda mereka...

dan dari gemuruh suara, hujan tercurah.

Bagimu kemuliaan yang sejak dahulu menegakkan...

pilar-pilarnya di atas wahyu Nabi.

Dan menggariskan baginya kematian syahid sebagai jalan kejayaan...

yang dengannya benteng dilindungi oleh pahlawan pemberani.

Engkau bukanlah orang pertama yang mengorbankan jiwa...

dan bukan orang terakhir yang diratapi dengan ratapan.

Sebab di mihrabnya Al-Faruq (Umar) gugur...

dan di mihrabnya Ali pun gugur.

Sebelum dan sesudah keduanya, rombongan menuju surga terus berjalan...

memiliki gemuruh yang bergema.

Mata air akan tetap melimpah dan akan tetap ada...

pasukan rombongan yang dipimpin oleh perjalanan malam.

Bendera Islam akan tetap menjulang tinggi...

dan rahim yang suci akan tetap melahirkan.

Orang-orang yang gagal mengira keabadian adalah istana...

yang dituntun kepadanya para pelayan dan hamba sahaya.

Dan takhta yang diidamkan oleh orang yang sengsara...

serta diberi minum ginjalnya oleh telapak tangan orang jahat.

Yang dijaga dari kejatuhan oleh kerumunan orang...

dan dilindungi oleh saudara dari ketundukan yang hina.

Wahai orang yang tergesa-gesa untuk Israel, hentikanlah...

sebab apa yang menimpa Musa tidak memalingkan Samiri.

Engkau telah kurus kering hingga tampak logammu yang buruk...

dan wajah menjadi buruk serta penyingkapan tersembunyi.

Tali-tali tersembunyi di dalam tongkat Yahya...

untuk Israel dan menelannya...

Maka tunduklah penyihir dan binasalah orang yang zalim...

dan lunaklah orang yang sombong serta jatuhlah orang yang keras kepala.

Fidatmu [Penebusmu] wahai Abu Al-Bara' adalah para penyeru perdamaian...

yang memiliki maksud jahat jika tipu daya itu berguna.

Maka apa yang engkau mati dengannya, dengannya negeri hidup...

dan apa yang dengannya hidup, kematian lebih layak.

Demikianlah, dan ratapan para penyair tentang Ayyash sangatlah banyak, kami cukupkan dengannya.

Ratapan Istrinya Untuknya:

Saudari Hiyam Ayyash (Ummu Al-Bara'), istri Syahid Yahya Ayyash, secara khusus memberikan kepada majalah (Filasthin Al-Muslimah) untuk menerbitkan surat yang dituliskannya dalam perpisahan dengan suaminya:

Aku Tidak Akan Mengucapkan Selamat Tinggal, Wahai Abu Al-Bara'

Wahai orang yang pergi meninggalkan kami sementara raut kerinduan di matanya tertuju ke Tepi Barat... wahai orang yang berpisah namun tidak pernah menyedihkan kekasih-kekasihnya suatu hari pun, melainkan mengikhlaskan hatinya pada pohon zaitun... wahai orang yang bersalat kepada Allah sebelum menyiapkan kudanya untuk berangkat, Yahya Ayyash telah berangkat, betapa indahnya kematian syahid sebagai perjalanannya...

Demi Allah, kami akan menyalakan dari darahmu seribu Yahya, seribu obor... Palestina telah menangisimu wahai Yahya, anak-anaknya, wanita-wanitanya, dan para sesepuhnya menangisimu. Hebron (Al-Khalil) menangisimu, para janda Hebron dan anak-anak yatim mereka menangisimu. Laut Gaza menangisimu pada hari ketika ia berhenti sejenak sebagai tanda berkabung atas pahlawan. Jalan-jalan di Gaza, tanah Tepi Barat, dan seluruh tanah Palestina yang pernah engkau pijaki dan engkau enggan meninggalkannya menangisimu.

Tidak... tidak... engkau tidak akan mati, melainkan engkau akan tetap hidup di hati kami, di hati setiap orang yang mengenalmu, hidup bersamamu, mendengar tentangmu, dan orang yang bersamamu dalam jihad. Tidak, kami tidak akan menangisimu, melainkan kenanganmu yang harum, operasi-operasi syahidmu, dan mobil-mobil rakitanmu akan tetap menjadi saksi bahwa engkau adalah pahlawan, ayah, pejuang, dan sebaik-baik prajurit Batalyon.

Jika kalian bertanya kepadaku tentang dirinya, "Abu Al-Bara'", maka apa yang harus aku katakan? Demi Allah, sungguh seluruh kata-kata tidak akan mampu menggambarkan dirinya. Seandainya kami menghabiskan seluruh usia kami untuk menulis tentangmu, kami tidak akan mampu memenuhi hakmu.

Mereka bertanya: Bagaimana ia mengawali? Bagaimana ia hidup? Dan bagaimana ia tumbuh? Banyak pertanyaan di dalam benak tentang komandan pemberani ini yang telah menggentarkan orang-orang Yahudi dan mencekoki mereka kepahitan yang amat sangat. Ia membuat Rabin tidak dapat merasakan nikmatnya tidur dan istirahat. Ia menantang seluruh pasukan yang dipimpin oleh Rabin yang pernah berkata: "Aku ingin membunuh Yahya Ayyash dengan tanganku sendiri." Namun, walhamdulillah, harapannya pupus; Rabin mati dalam penyesalannya dan Abu Al-Bara' bergembira atas kematiannya.

Ia tumbuh sejak kecil dan tumbuh kembangnya terdistingsi oleh ketenangan serta iman yang kuat yang diilhamkan Allah kepadanya sejak usia dini. Ia tumbuh dan berkembang di masjid-masjid, menyusu ASI kemuliaan dan martabat. Ia menolak kehinaan dan menjauh dari dunia serta perhiasannya. Setelah meraih ijazah kelulusan sekolah menengah, ia melanjutkan studi akademisnya di Universitas Birzeit di mana ia mempelajari Teknik Elektro. Sejak memasuki universitas, ia memikul di atas bahunya amanah yang berat yaitu membebaskan Al-Aqsa dan meraih mati syahid di jalan Allah. Di mana aku selalu membaca di buku-buku catatannya bait-bait kalimat ini:

Wahai Ibunda, agamaku telah memanggilku untuk berjihad dan berkorban...

Wahai Ibunda, sesungguhnya aku bergerak menuju keabadian dan tidak akan ragu...

Wahai Ibunda, janganlah engkau menangisiku jika aku jatuh terkapar...

sebab kematian tidaklah menakutkanku, dan cita-citaku adalah mati syahid...

Meskipun ia seorang yang sedikit bicara, banyak diam, memikul beban berat di dalam dirinya, dan ingin menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk meledakkan Bani Zionis, ia telah berbuat sangat banyak dan memagarnya dengan benteng kerahasiaan hingga meledaklah bom yang mengenalkan orang-orang kepadanya. Ia menjadi orang yang diburu oleh Bani Zionis beserta antek-antek mereka pada tahun 1993 M. Sejak saat itu ia menjadi buronan di mana ia menjauh dari rumah dan menyerahkan hidupnya untuk jihad serta memikul senjata di bahunya.

Ketika kita berbicara tentang operasi-operasinya, kita katakan: Apa yang tersisa bagi seorang ibu yang kehilangan putranya, seorang istri yang kehilangan suaminya, dan seorang anak yang kehilangan ayahnya? Selain menikmati momen-momen kemenangan yang diukir oleh pahlawan kita Yahya Ayyash dalam pertempuran melawan pasukan yang melebihi dirinya dari segi jumlah dan peralatan. Di mana ia mengobati kejengkelan hati dan mengusap air mata para janda di Palestina secara umum, dan Hebron secara khusus. Ia telah membalaskan dendam mereka atas pembantaian Hebron yang dilakukan oleh orang-orang Zionis yang membunuh orang-orang yang rukuk dan sujud di bulan Ramadan saat mereka sedang sujud tanpa senjata.

Ketika berbicara tentang operasi-operasinya, banyak pihak yang menjadi saksinya. Jalan Dizengoff menjadi saksi atas tewasnya korban di tanahnya dan puing-puing jasad yang berserakan akibat dahsyatnya ledakan. Ia tidak pernah merasakan nikmatnya tidur dan istirahat. Ia terus berjihad di Tepi Barat hingga bumi terasa sempit baginya dengan segala keluasannya, yang memaksanya untuk berpindah ke Gaza guna menyelesaikan perjalanan jihadnya di sana. Namun setelah beberapa waktu, ia merasa seolah-olah berada di dalam penjara.

Beberapa saat sebelum kelahirannya sebagai syahid, ia rindu untuk kembali ke Tepi Barat; ia rindu untuk pergi seolah-olah ia merasakan bahwa saat kepergiannya menuju Rabbnya telah tiba... Demi Allah, ia telah lelah di dunianya dan telah tiba saatnya untuk beristirahat dari keletihan dunia untuk bertemu Allah, Rasul-Nya, dan para sahabatnya.

Abu Al-Bara' adalah teladan suami yang penyayang dan ayah yang ideal. Kalian mengenalnya sebagai pejuang, sedangkan aku mengenalnya sebagai suami, ayah, dan pahlawan yang tidak memedulikan kesusahan dunia dan perhiasannya. Ia sangat merindukan kematian syahid. Sungguh ia tidak mati, melainkan akan tetap hidup di hati kami. Kami tidak akan melupakanmu wahai Komandan Pejuang, dan kenanganmu akan tetap menggentarkan orang-orang Yahudi serta memperbarui tekad, wahai Komandan. Engkau telah mengusap air mata anak-anak yatim wahai Abu Al-Bara', maka siapakah yang akan mengusap air mata Bara' dan Yahya? Aku memohon kepada Allah agar membangkitkan di antara kami orang yang dapat menggantikanmu. Demi Allah, kami akan menyalakan dari darahmu seribu Yahya dan seribu obor. Sungguh air mata ini menetes dan hati ini berduka, dan kami atas perpisahan denganmu wahai Abu Al-Bara' benar-benar merasa sedih.

Istrimu / Ummu Al-Bara'

Sumber:

Mawsu'ah Syuhada' al-Harakah al-Islamiyyah fi al-'Ashr al-Hadits - Ensiklopedia Para Syuhada Gerakan Islam di Era Modern, Jilid Pertama, Taufik Wa’iy

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat