Biografi 12 Tokoh Islam
1. Hassan Al-Hudaibi
Beliau
adalah seorang Konsultan dan jaksa, bernama lengkap Hasan Ismail Al-Hudaibi,
jabatan terakhirnya sebagai mursyid kedua jamaah Ikhwanul Muslimin, dan
merupakan mursyid yang mengalami masa sulit dan penuh dengan ujian dan cobaan,
karena pada saat beliau diangkat menjadi mursyid berada pada masa terjadinya
perselisihan antara para pejuang revolusi, terutama mantan presiden Jamal Abdul
Naser. Dan sebagai masa dimana para anggota jamaah banyak yang ditangkap,
dipenjara dan disiksa; dan pemerintah pada saat itu berusaha melakukan
pembersihan jamaah Ikhwanul Muslimin dengan kekuatan dan kekerasan dari bumi
Mesir dan dunia.
Perjalanan
hidup, sejarah singkat kepribadian dan karakter Hassan Al-Hudaibi
Hasan
Al-Hudaibi lahir di desa Arab Al-Shawalihah, distrik Syibin Al-Qanatir, tahun
1309 yang bertepatan pada bulan Desember 1891 M. menghafal Qur’an di desanya
sejak kecil, kemudian masuk sekolah formal di Al-Azhar yang semangat keagamaan
nya yang tinggi dan ketakwaan yang suci. Kemudian setelah itu pindah ke sekolah
negeri dan mendapatkan ijazah SD pada tahun 1907, lalu masuk sekolah Aliyah
Al-Khadiwiyah (setingkat SMA) dan mendapat gelar BA pada tahun 1911, kemudian
meneruskan kuliah di bagian hukum, dan lulus darinya pada tahun 1915. Setelah
itu menjalankan masa percobaan menjadi pengacara di Kairo dan secara bertahap
menjadi pengacara yang sesungguhnya.
Setelah
menjadi pengacara, beliau bekerja sesuai profesinya di distrik Syibin
Al-Qanatir, lalu untuk pertama kali dalam hidupnya dan tanpa diketahui oleh
seorang pun, beliau pergi ke daerah Sohaj dan tinggal di sana hingga tahun
1924, dan di sana beliau menjadi jaksa. kemudian pindah ke daerah Qana, lalu
pindah ke daerah Naja’ Hamady tahun 1925, lalu pindah lagi ke daerah
El-Manshurah tahun 1930, dan tinggal di daerah Al-Mania selama satu tahun,
kemudian pindah ke daerah Asyuth, lalu ke Zaqaziq, lalu ke Giza pada tahun
1933, dan pada akhirnya menetap di Kairo.
Tahapan
beliau menjabat sebagai jaksa diawali dengan menjabat sebagai direktur
administrasi kepaniteraan, lalu menjadi ketua badan pemeriksa kejaksaan, lalu
sebagai konsultan di mahkamah konstitusi. Kemudian mengundurkan diri sebagai
jaksa setelah terpilih menjadi mursyid Ikhwanul Muslimin pada tahun 1951.
Pertama kali beliau menjabat, dirinya dan para ikhwan lainnya ditangkap tanggal
13 Januari 1953, namun pada bulan maret pada tahun sama beliau dibebaskan
kembali, setelah dijenguk oleh para senior dan jenderal revolusi sambil meminta
maaf kepadanya. Kemudian ditangkap lagi untuk yang kedua kalinya pada akhir
tahun 1954 dan divonis hukuman mati, namun akhirnya diberikan keringanan dengan
hukuman seumur hidup. Kemudian hukuman dipindah dari penjara menjadi tahanan
rumah, akibat menderita sakit dan usia lanjut. Kemudian pada tahun 1961 hukuman
tahanan rumah dihapus atasnya. Dan beliau kembali ditangkap pada tanggal 23
Agustus 1965 di Alexandria dan dijatuhi hukuman dengan wajib lapor, kemudian
dijatuhi hukuman penjara selama 3 tahun, walaupun pada saat itu umur beliau
telah mencapai 70 an tahun, dan kemudian diberikan izin keluar untuk ke rumah
sakit selama 15 hari, kemudian dipindah ke rumahnya, lalu dikembalikan ke
penjara untuk melengkapi masa tahanannya. Dan masa tahanannya menjadi panjang
–melewati batas yang dijatuhkan- hingga tanggal 15 Oktober tahun 1971. Dan
beliau wafat pada hari kamis, jam 07 pagi waktu setempat, pada tanggal 14
Syawal 1939 bertepatan dengan tanggal 11 November 1973.
Karakter
Hasan Al-Hudaibi
Hassan
al-Hudaibi adalah sosok seorang Muslim sejati, hafal Al-Qur’an sejak belia,
memiliki komitmen untuk selalu taat kepada Allah, beliau tidak pernah lengah
dan tidak pernah merasa bosan dalam menunaikan tugas dan kewajiban agama.
Beliau
adalah sosok manusia yang dermawan dan tidak pernah memiliki keraguan sejak dia
menjadi seorang siswa hingga menjadi konsultan dalam berpegang pada prinsip dan
kebenaran. Beliau merupakan contoh dan teladan di antara teman-temannya dan
orang-orang yang dekat dengannya atas ke istiqamahannya, keteguhan akhlaqnya
dan kemuliaan karakternya, keengganannya bermujamalah (bermain-main) pada
kebenaran dan ketidak takutannya kepada siapa pun kecuali kepada Allah. Beliau
juga mampu mencetak rumah tangganya dengan tabiat dan shibghah Islam;
adab-adabnya, kebiasaan-kebiasaannya dan pakaian-pakaiannya, sehingga tampak
dengan akan keteguhan agamanya dan Ittiba’nya dengan nama agama melebihi
jabatan dan julukan yang telah dimiliki dan diraihnya.
Hassan
Al-Hudaibi juga merupakan sosok yang sangat disegani oleh teman sejawatnya dan
para konsultan lainnya; terutama yang berani bermain-main dengan undang-undang
sipil, dan yang melakukan pelanggaran dasar-dasar syariah Islam. Suatu kali;
pada jiwa-jiwa terhenti tanpa dapat melakukan apa-apa, dan cukup dengan
memberikan agenda kritikan yang lembut, beliau pergi dengan sendirinya ke pusat
revisi undang-undang, dan memberikan pernyataan secara resmi bahwa dirinya
menentang dan mengutuk berbagai produk undang-undang yang tidak berasal dan
bersumber dari syariat Islam, atau kandungan bab dan fasal-fasalnya yang
bertentangan dengan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga, dengan sikap tersebut
menjadi berita headline di seluruh surat kabar di Mesir saat itu; bahkan koran
Al-Ikhwan menerbitkan berita dengan tema “Hasan Al-Hudaibi, semoga Allah
menolongnya” yang berasal dari surat kabar “Akhbar Al-Youm.” Dan karakter yang
agung yang terdapat dalam diri Al Hassan Al-Hudaibi adalah ketegarannya dan
keberaniannya dalam menentang kebatilan, dan terhadap para pelaku dan pendukung
kebatilan, ketegarannya berdiri dihadapan kekuatan zhalim dan para pelaku
kezhaliman, sekalipun usia beliau sudah lanjut dan sering sakit-sakitan beliau
tetap melakukan aktivitas. Sebagaimana beliau juga memiliki karakter membenci
terhadap hal-hal yang berbau pamer dan pujian, jauh dari pantauan, karena itu
–kadang- beliau selalu menghindar dari sorotan kamera, menolak untuk ditulis
tentang jati dirinya dan perjalanan hidupnya; karena yang beliau harapkan
hanyalah ganjaran dari Allah. Jika seorang imam memilih banyak diam dan jauh
dari sorotan masa, adalah merupakan ketawadhuan dan kelebihan yang dimilikinya,
namun di antara haknya –dan juga hak imam Al-Banna dan seluruh ulama dan umat
yang membawa amanah setelah mereka hingga hari akhir zaman, untuk selalu
menjadi uswah dan qudwah (contoh dan teladan), bahkan beliau menjadi menara
yang mengarahkan para pembawa risalah dakwah dan pengarah jalan di dalamnya,
sehingga dapat dijadikan pegangan bagi para pengemban amanah dakwah dan
menerangi jalan mereka, karena para pemuda zaman sekarang ini, banyak yang
sering mentaqlid dari sana sini, menemukan kebesaran jiwa dari sebagian tokoh.
Karena itu, jika mereka mengambil kebesaran jiwa maka mereka kelak akan menjadi
jiwa yang memiliki kepribadian yang tinggi pula.
Perjuangan
beliau
Adapun
Perjuangan pada bidang pekerjaan dan spesialisasinya memiliki sejarah yang
sangat menarik. Suatu ketika ketua mahkamah konstitusi bertanya kepadanya: Ya
Hasan, bukankah engkau bersama saya, bahwa kebanyakan dari undang-undang sipil
saat ini berkaitan erat dengan hukum-hukum yang ada dalam fiqh Islam? Hasan
Hudaibi berkata: betul. Orang tersebut berkata lagi: jadi apa dasarnya tuntutan
Anda untuk kembali pada syariat Islam dan menerapkan hukum-hukumnya?”. Beliau
menjawab: Hal tersebut karena Allah SWT. Dia berfirman: “Dan hendaklah saat
memutuskan hukum diantara mereka sesuai dengan apa yang diturunkan Allah”. Dan
tidak mengatakan: Dan berhukumlah seperti yang diturunkan Allah. Dan bahwa
berhukum pada syariat Allah menurut seorang muslim adalah ibadah dan
menunjukkan ketaatan kepada perintah Allah, dan itulah sumber keberkahannya,
rahasia kekuatan yang ada dalam jiwa orang-orang yang beriman dengannya dan
dalam komunitas jamaah muslimah.
Ketika
dijabarkan rancangan revisi undang-undang sipil Mesir pada tahun 1945 di
hadapan ustadz Al-Hudaibi, tertulis disitu bahwa beliau menolak mendiskusikan
proyek tersebut dari sisi prinsipnya; karena tidak berdasarkan pada al-kitab
dan as-sunnah.
Dan
pada tahun 1947 Ustadz Hasan Al-Hudaibi menerbitkan sebuah artikel di koran
Mesir “Akhbar Al-Youm,” yang membantah amandemen rancangan undang-undang sipil
Mesir, beliau berkata, “bahwa amandemen terbaik menurut pandangan saya adalah
yang mengacu pada sebuah undang-undang yang satu; untuk menerapkan hukum
syariah dalam kasus pidana dan perdata kemudian beliau berkata: “Aku telah
menyatakan pendapat di komisi revisi undang-undang sipil dalam Senat, dan saya
sampaikan: Bahwa undang-undang kita harus berdasarkan Al-Quran dan Sunnah dalam
berbagai sendi kehidupa, bukan hanya dalam urusan syariat saja. Bahwa Islam
adalah agama yang koheren dan terpadu tidak boleh dipisah-pisah, sehingga harus
diterapkan seluruh ketentuannya oleh setiap orang yang menganutnya” Inilah
pendapat yang saya kemukakan, dan saya berharap bahwa saya telah menyelesaikan
tugas dalam melakukan revisi undang-undang, berusaha mempelajarinya hingga
tidak terdapat di dalamnya undang-undang asing yang tidak konsideran dengan
Al-Qur’an Al-Karim, yang tidak bisa membedakan antara yang halal dan yang haram,
padahal keduanya sangat jelas karakter dan batasan-batasannya hingga hari
kiamat.
Dan
inilah yang saya sampaikan di hadapan tim revisi, dan saya yakin bahwa mereka
tidak akan menerima dan mengambilnya, namun bagi saya tidak mengapa selama saya
yakin dengan apa yang saya sampaikan, namun menurut praduga saya, kelak setelah
berjalan 20 atau 30 tahun opini akan mengarah pada pengambilan pendapat saya;
setiap kali Allah melapangkan dada umat manusia dengan Al-Qur’an pada hari yang
meliputi opini dan pendapat ini”.
Kami
telah melihat bahwa berbagai undang-undang yang bersumber pada undang-undang
asing tidak memberikan kemaslahatan pada negeri kami, tidak mencapai apa yang
diharapkan, penjara ini penuh narapidana, kejahatan meningkat, kemiskinan
menyebar, dan moral dan akhlak menurun, hubungan sosial memburuk hingga terjadi
setiap hari sejak para pendahulunya, dan ini semua tidak mampu dirubah kecuali
jika kita menyusun kembali hubungan kita dengan sunnah kauniyah yang telah
diturunkan melalui wahyu dengan berbagai rahasia-rahasianya, dan tanda-tandanya
yang terdapat dalam Al-Qur’an, dan dengan itu semua, maka kita akan dapat
tinggal di rumah, di tengah keluarga dan masyarakat, bersama anak-anak kita,
dan bersama semua orang yang hidup bersama Al-Qur’an “.
Pada
tanggal sepuluh Desember 1952, konstitusi Klasik Mesir mengumumkan revisi dan
setelah berlalu dua hari ditetapkan seratus anggota untuk membuat konstitusi
baru yang mana di antara mereka ada tiga orang yang berasal dari Ikhwanul
Muslimin. Akhirnya majalah “El-dakwah” menerbitkan artikel yang mengajak untuk
mendukung konstitusi berdasarkan Islam. Hasan Al-Hudaibi mengajak untuk
dilakukan referendum; guna mengetahui apakah Mesir memilih syariat Islam atau
undang-undang barat? Jika memilih berhukum pada Islam maka pemerintah harus
komitmen melaksanakan pilihan tersebut, dan jika memilih undang-undang Barat
–yang tidak mungkin keluar dari diri seorang muslim- maka kita harus mengaca
diri, mengajarkan umat akan perintah Tuhannya dan apa yang seharusnya mereka
lakukan”.
Awal
Hasan Al-Hudaibi mengenal Ikhwanul Muslimin
Dikisahkan
bahwa hubungan beliau dengan Ikhwanul Muslimin dimulai sejak tahun 1942, yaitu
saat beliau mendapatkan kepuasan dengan dakwah al-Ikhwan melalui praktek
sebelum mendapatkannya secara teori. Hal tersebut terjadi ketika beliau melihat
sebagian anggota kerabatnya dari para petani yang sedang menghadapi berbagai
macam masalah; agama dan politik, yang kebanyakan dari masyarakat umum tidak
memahami hal tersebut, terutama karena kebanyakan dari mereka adalah berasal
kalangan umi (buta huruf), dan ketika diketahui bahwa hal tersebut kembali
kepada para Ikhwan, beliau tertarik dengan cara dakwahnya, sehingga beliau
sangat antusias untuk menghadiri khutbah Jum’at di masjid-masjid yang diisi
oleh pendiri jamaah Ikhwan; Hasan Al-Banna. Dan sejak tahun 1942 beliau mulai
menjalin hubungan dengan dakwah yang penuh berkah ini melalui pendirinya
langsung terutama di saat beliau melakukan kunjungan ke kota Zaqaziq.
Adapun
awal begitu tertariknya beliau dengan dakwah Ikhwanul Muslimin adalah saat
mendengar ceramah ustadz Hasan Al-Banna tentang masalah membersihkan jiwa,
menumbuhkan perasaan, menggelorakan ruh. Ketika beliau mendengarkan uraiannya
ada perasaan aliran darah yang deras dan kencang merasuk ke dalam jiwanya,
bergelora ruhnya, akalnya, hatinya dan perasaannya, sehingga tidak membutuhkan
waktu lama dan usaha yang keras, segera terdorong jiwanya untuk bergabung
dengan dakwah yang penuh berkah ini, dakwah yang membawa kebenaran, dan siap
bekerja untuknya, terikat dengannya serta komitmen untuk berjihad di jalannya.
Pada saat itu Imam Hasan memandang telah terjadi kehancuran di tengah umat
Islam sehingga perlu adanya kerja keras untuk menolong dan menyelamatkannya.
Dan ditambah kecemburuan iman Hasan Al-Banna yang bergelora di dadanya, yang
mana hal tersebut dapat diketahui saat beliau berbicara, baik dihadapan para
ulama yang shalih dan dihadapan orang-orang yang duduk-duduk dan nongkrong di
kedai kopi.
Pada
saat itu –setelah mendengar uraian imam Hasan Al-Banna- beliau langsung
menghadap, dan setelah berbicara singkat, beliau melakukan janji, ikatan dan
baiat. Baiat yang mengikat dirinya dan kehidupannya untuk selamanya, dan berada
di jalan dakwah yang penuh berkah ini, mengarungi masa depan dakwah. Dan inilah
model kejujuran para rijal dakwah. Mengikat jiwa mereka dengan dakwah kehidupan
masa lalunya, yang sedang berjalan dan yang akan datang dengan kebenaran.
Dan
karena karakter imam Hasan Al-Hudaibi memiliki kecerdasan dan kejelian, jiwa
yang kokoh, ruh yang bersih, sehingga ketika mendengar dakwah imam Hasan
Al-Banna yang bersumber dari kejujuran dan keikhlasan, dan totalitas yang
begitu dalam, beliau yakin bahwa ini adalah dakwah yang akan memberikan air
kesejukan bagi siapa saja yang haus hatinya, perasaannya dan jiwanya.
Bai’at
ustadz Hasan Al-Hudaibi
Pada
tanggal 12 Pebruari tahun 1949 para pesuruh kerajaan Mesir Raja Farouk berhasil
membunuh Hasan Al-Banna sehingga membuat kosong kursi Mursyid Am Ikhwanul
Muslimin, dan pada saat itulah, para pendiri Ikhwan berusaha mencari
menggantinya, dan akhirnya mereka menetapkan Hasan Al-Hudaibi menjadi Mursyid
Am Ikhwanul Muslimin. Pada 6 bulan pertama Hasan Al-Hudaibi menjabat sebagai
mursyid secara tersembunyi dan diam-diam, tanpa tidak meninggalkan pekerjaannya
sebagai jaksa selama masa tersebut. Dan ketika pemerintahan An-Nuhas Pasya
memberikan izin kepada lembaga pendiri Ikhwanul Muslimin untuk melakukan
pertemuan, para anggota tersebut mempersilakan kepada Hasan Al-Hudaibi untuk
memimpin pertemuan dan menjabat sebagai mursyid am Ikhwanul muslimin, namun saat
itu beliau menolak permintaan mereka, karena beliau menganggap saat pemilihan
atas dirinya menjadi Mursyid oleh anggota lembaga pendiri hanya pada marhalah
sirriyah dan tidak mewakili pendapat anggota Ikhwan lainnya, dan beliau meminta
untuk memilih Ikhwan lain menjabat sebagai mursyid, namun para Ikhwan lainnya
menolak permintaan tersebut dan meminta beliau untuk melanjutkan jabatannya
sebagai mursyid Ikhwanul muslimin, akhirnya beliau menerima permintaan utusan
para Ikhwan dan setelah itu beliau mulai mengurus pengunduran diri dari
pekerjaannya untuk fokus pada jabatan barunya yaitu mursyid Am Ikhwanul
muslimin.
Dan
tepat pada tanggal 17 Oktober 1951 Hasan Al-Hudaibi resmi menjadi mursyid am
jamaah Ikhwanul muslimin. Dan setelah itu beliau melakukan jaulah ke berbagai
tempat dan daerah yang terdapat di dalamnya anggota Ikhwanul Muslimin untuk
menegaskan bahwa mereka mendukung keputusan tersebut. Dan akhirnya beliau
mendapatkan kepastian tersebut…, bahkan semua anggota yang bertemu dengannya
melakukan baiat kepadanya. Dan sebelum baiat beliau berkata: “Sebenarnya saya
tahu, bahwa saya sedang menyerahkan diri pada kepemimpinan dakwah yang
mengakibatkan syahidnya sang pionir, muassis dan mursyid pertama, berhadapan
dengan ancaman pembunuhan, penyiksaan para pengikutnya, pengusiran di jalan
Allah, mereka telah mendapatkan apa yang mereka harapkan, dan saya tidak yakin
pada diri ini akan mampu melakukan dari apa yang ditinggalkan oleh sang imam
dan membawa maslahat di dalamnya seperti imam Hasan Al-Banna, namun walau
begitu saya akan berusaha menghadirkan dan melakukan sesuai dengan amanah dan
keinginan para Ikhwan, menunaikan amanah untuk Allah SWT, tidak mencari dan
berharap apapun kecuali ganjaran dan ridha Allah, dan saya tidak meminta
pertolongan kepada siapapun kecuali pada kekuasaan dan kekuatan Allah SWT.
Apa
yang diberikan oleh Hasan Al-Hudaibi untuk jamaah ini?
-
Dukungan beliau terhadap jamaah dan pembelaannya sangat besar sekali, bahkan
kontribusi yang mulia beliau tampakkan ketika membeli rumah markas al-am
(kantor pusat).
-
Menunjukkan amanah dakwahnya saat beliau marah terhadap kekejaman Zionis guna
membela Palestina.
-
Memiliki jiwa perhatian terhadap keluarganya, dengan membentuk kantor cabang di
desanya “Arab As-shawalihah” dan desa-desa yang berdekatan dengannya.
-
Dengan retorika dan metode khas beliau dan berpenampilan tenang dan penuh
tawadhu mampu menghidupkan dakwah di daerah Syibin Al-Qanatir.
-
Beliau tidak pernah putus menjalin hubungan dengan imam syahid, dan bahkan
beliau tidak pernah lepas dalam bertukar pikiran dan memberikan pendapat yang
konstruktif pada setiap langkah dan sikap sebelum terjadinya pembunuhan dan
setelahnya, bahkan beliau selalu ikut dalam jalasah yang diikuti oleh mukhlisin
dan pejabat teras Ikhwanul Muslimin, yang sedang berjual melakukan pemetaan
strategi dakwah untuk jamaah sebelum dan sesudah syahidnya Mursyid pertama.
-
Setelah beliau bergabung dengan dakwah, maka seluruh jiwanya, rumahnya,
anak-anaknya, jabatannya, dan seluruh hartanya diserahkan untuk dakwah dan
dibawah kendali dakwah.
-
Beliau adalah satu-satunya orang yang jujur dalam dakwah yang berasal dari
kalangan kejaksaan sehingga beliau menjadi pionir dan satu-satunya orang yang
mampu membersihkan kewibawaan jamaah, membersihkan kejaksaan dari pengaruh
kedustaan dan kebohongan, yang sengaja dilakukan oleh pemerintah untuk mengubah
kejaksaan dari kerja yang serius dan bertanggung jawab pada tindakan melakukan
kezhaliman dengan berbagai tuduhan yang dibuat-buat.
-
Hasan Al-Hudaibi juga selalu mengikuti perkembangan berita Ikhwan, terutama
setelah terbunuhnya imam Hasan Al-Banna, selalu membekali diri dengan
nasihat-nasihat yang membuatnya memiliki kekuatan dan imunitas dari gelora
kekejian pemerintah dan kekuasaan undang-undang, dan mampu melakukan banyak
kebaikan menuju jalan yang pasti; yaitu melakukan penyatuan barisan, memberikan
dukungan untuk tsabat dan tsiqah kepada Allah di antara para Ikhwan.
-
Beliau memiliki perhatian kepada keluarga Ikhwan yang ditangkap dan dipenjara.
Hasan
Al-Hudaibi saat di penjara
Mursyid
memulai hidup barunya menjadi Mursyid Am Ikwahnul Muslimin berhadapan dengan
berbagai ujian dan cobaan yang begitu keras; berbagai penangkapan, vonis
hukuman penjara, bahkan menerima siksaan dan hukuman mati atasnya, yang
kemudian berganti menjadi hukuman kerja paksa.
Pendapat
para ulama tentang Hasan Al-Hudaibi
Saat
memulai kehidupannya menjadi mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin, beliau mulai
mengalami kehidupan yang keras dan tidak pernah berhenti, beban yang berat dan
ujian yang tidak pernah putus, cobaan terhadap jamaah terutama pemimpinnya
terus berlanjut; dimasukkan di dalam penjara, disiksa, dijatuhi hukuman mati,
kemudian di ganti dengan hukuman kerja paksa. Di tengah ujian tersebut beliau
berkata:”Tegakkanlah daulah Islam di dalam hati-hati kalian, niscaya dia akan
tegak di negeri kalian”. Pada kondisi yang mengenaskan berada dipenjara yang
terisolir -sementara para Ikhwan yang lain dan termasuk anak-anaknya ikut
disiksa dan dipecut – beliau memperkokoh jiwa mereka dan mengajak mereka untuk
mempertahankan keimanan mereka.
DR.
Ahmad Al-’Asal berkata tentangnya: “Beliau selalu menghadirkan kepada mereka
untuk memiliki hati yang tsabat, dan jiwa yang tenang; dengan mengatakan di
hadapan para pelaku penyiksaan: “Mereka adalah sebaik-baik pemuda Mesir, karena
itu, jagalah mereka untuk menjadi saham bagi negerinya, cukuplah kalian
mengambil dan memenjarakan diri saya dan melakukan apa yang kalian inginkan”.
Selama
di penjara kesehatan beliau sering terganggu, sehingga harus dipindah ke rumah
sakit, namun setelah itu hukuman terhadapnya tidak berhenti namun dikembalikan
ke tempat semula untuk ikut merasakan penderitaan Ikhwan lainnya serta
anak-anaknya. Beliau berkta: “Penjara adalah sebaik-baik tempat pengkondisian
jiwa bukan sekadar tembok dan jeruji besi”. Ahmad Al-’Asal juga berkata: “saya
tidak pernah lupa terhadap apa yang diceritakan beliau kepada kami, beliau
meneteskan air mata saat bercerita tentang kondisi seorang Ikhwan yang miskin
yang mendapatkan waktu berharga pada salah seorang Pasya saat dirinya
membersihkan WC di tempat salah seorang terpidana, maka salah seorang dari
teman-temannya berinisiatif memberikan uang atas amanah yang dikerjakannya dan
kembali bekerja. Maka Ikhwan tersebut berdiri sambil menegakkan badannya
berkata: “Sungguh saya ingin menambah pekerjaan ini sesuai dengan amanah, dan
saya tidak menginginkan upah tersebut kecuali karena Allah, dan saya tidak
butuh harta tersebut”. Kemudian Ustadz berkata: “Padahal saya tahu betul
kondisinya, dirinya pasti membutuhkan harta tersebut, namun karena kesucian dan
kebersihan dirinya, ia tidak mau menerima uang tersebut”. Kemudian air matanya
meleleh kembali.
Ahmad
Husain pemimpin pemuda Mesir berkata, kami dimasukkan di penjara perang pada
bulan Maret tahun 1954, dan saya melihat Syeikh Hasan Al-Hudaibi ada di
dalamnya bersama kami, dan ketika beliau berada sama saya, seakan saya melihat
dirinya penuh dengan kemuliaan dan ketawadhuan, serta berinteraksi dengannya
yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, dan saya mengira bahwa kemuliaan
yang besar ini baginya adalah kemuliaan bersama Ikhwanul Muslimin. Salah
seorang wartawan bertanya kepada saya; apa pendapatmu terhadap Ikhwan pada
perang di Palestina? Maka saya jawab bahwa hal tersebut merupakan fenomena yang
sangat mulia; karena merekalah yang telah berhasil menyelamatkan tentara Mesir
dari kekalahan, yaitu mereka berhasil melindungi pasukan terakhir saat mundur,
dan hendaknya dunia mesti memahami, bahwa orang yang memerangi Ikhwan dengan
besi dan api, telah melakukan perbuatan demi kepentingan syaitan, janganlah
kalian mengira wahai saudaraku bahwa saya mengucapkan ini saat ini sah; karena saya
telah meninggalkan Mesir sejak tahun 1955; dan terakhir kali saya bertemu
dengan Abdul Nasher adalah karena terkait permasalahan ini. Kemudian dia
berkata: “Bahwa syahid kalian dan syuhada Islam, sedang menikmati kenikmatan di
sisi Tuhannya, dan kelak sejarah akan mencatat seperti Ibnu Hambal, yang
menolak untuk disamakan atau dijauhkan terhadap apa yang dianggapnya benar”.
Buku-buku
karangan beliau
1.
Duat la qudhat
2.
Inna hadzal Qur’an
3.
Al-islam wa ad-da’iyah, kumpulan tulisan yang disusun oleh As’ad Sayyid Ahmad
Sumber
rujukan:
1.
Mausu’ah al-harakiyah, muassasah al-buhuts wal masyari’ al-islamiyah, dipimpin
oleh Fathi Yakan
2.
Majalah As-Syihab, edisi 13
3.
Afaq Arabiyah, makalah ustadz Muhammad Abdullah Al-Khatib.
2.
Umar At-Tilmisani
Beliau
diangkat menjadi Mursyid Am ketiga Ikhwanul Muslimin setelah ustadz Hasan
Al-Hudaibi; mursyid kedua Ikhwanul Muslimin meninggal dunia.
Riwayat
Hidup:
Pada
tanggal 4 bulan November tahun 1904, lahir di Jalan al-Husy depan Balghoriyah,
desa ad-darb al-ahmar Kairo, seorang bayi yang bernama lengkap, “Umar Abdul
Fattah Abdul Qadir Mustafa At-Tilmisany” dan julukan At-Tilmisani bukan berasal
dari Mesir asli, karena kakek dari bapaknya berasal dari daerah Tilmisani
Al-Jazair, datang ke kota Kairo dan bekerja sebagai pedagang, dan menjadi
pembesar dari kumpulan orang-orang kaya.
Umar
At-Tilmisani menikah pada umur yang sanagt muda, yaitu pada usia delapan belas
tahun dan masih menjadi pelajar di sekolah umum tingkat atas (SMU-red) dan
beliau tidak menikah lagi setelah sampai Allah mewafatkannya pada bulan Agustus
1979, setelah Allah memberikan kepadanya empat orang anak: Abid, Abdul Fattah,
dan dua orang putri. ”
Dan
ketika beliau berhasil menerima ijazah licence sebagai Sarjana Hukum, beliau
bekerja sebagai pengacara, dan membuka kantor sendiri di daerah Syibin
Al-Qanatir, dan pada tahun 1933 beliau bertemu dengan Ustadz “Hassan al-Banna”
di rumahnya, yang mana ketika itu beliau tinggal di Jalan Abdullah Bek, gang
Al-Yakniyah di distrik Al-khayamiyah, dan langsung berbai’at. Dan sejak saat
itu beliau resmi menjadi anggota jamaah Ikhwanul Muslimin, dan menjadi orang
pertama dari seorang pengacara yang mewakili Ikhwan untuk memberikan pembelaan
atas anggota Ikhwan yang ditangkap di pengadilan Mesir.
Kepribadian
beliau
Beliau
dikenal dengan pribadi yang teguh dan tsabat dalam kesehariannya, bahkan di
dalam penjara pun beliau tetap tegar dan teguh karena kebenaran, tidak pernah
luluh pendiriannya oleh karena teror atau ancaman, karena itu pula beliau
melewati masa di penjara selama 20 tahun..
Beliau
juga merupakan anggota Ikhwan yang paling sabar dan teguh pendirian, sekalipun
sangat keras siksaan dan interaksi orang-orang zhalim terhadapnya namun
lisannya tidak pernah luput dari berdzikir kepada Allah dan bahkan terus
mengajak para Ikhwan untuk bersabar dan tsabat hingga akhirnya beliau keluar
dari penjara pada tahun 1981, dan setelah itu beliau tetap menerima ujian dan
cobaan namun beliau tetap dengan keteguhan, kesabaran dan tsabat.
Beliau
pernah berkata: Saya sama sekali tidak takut pada siapapun dalam hidup ini
kecuali kepada Allah, dan tidak ada yang bisa mencegah saya untuk lantang pada
kebenaran yang saya yakin terhadapnya sekalipun berat dilakukan oleh orang
lain, dan sekalipun saya harus menemui berbagai ujian dan cobaan, saya akan
tetap mengungkapkannya dengan penuh ketenangan, hati-hati dan beretika, tidak
menyakiti orang yang mendengarnya, tidak menyinggung perasaan, dan selalu
menghindar dari ucapan dan ungkapan yang saya rasa tidak akan disukai oleh
lawan bicara saya atau orang yang mendebat saya, sehingga dengan metode ini,
saya mendapatkan ketenangan pada diri saya, sekalipun dengan metode ini saya
mendapat banyak pertentangan dari pihak musuh.
Ustadz
Umar At-Tilimsani sangat disenangi dan dikagumi oleh khalayak masyarakat Mesir,
sebagaimana kalangan masyarakat Coptic’s juga menghormati beliau, bahkan para
pejabat negara pun sungkan dan enggan dengan kepribadian beliau dan menyadari
akan kharisma beliau.
Sebagaimana
para Ikhwan juga memandang beliau sebagai teladan dan mereka berlomba-lomba
ingin dapat talaqqi langsung dengan beliau, melaksanakan perintahnya. Hal
tersebut terjadi karena dilandasi oleh rasa cinta karena Allah dalam menjalin
hubungan antara dirinya dengan yang lain, bekerja untuk menerapkan syariat
Allah dan mencari ridha Allah SWT..
Pelajaran-pelajaran,
muhadharah-muhadharah, nasihat-nasihat dan taujihat-taujihat beliau selalu
memberikan motivasi kepada umat khususnya para pemuda dan para tokoh, serta
para ulama lainnya dalam mengemban amanah dan menunaikan tanggung jawab,
sehingga mereka bangkit untuk mengikutinya, melaksanakan arahan-arahan dalam
berbagai kondisi untuk mengembalikan Islam pada kekuatannya dan menjadi
pemimpin dan penguasa di dunia.
Demikianlah
seharusnya sikap para du’at di sepanjang zaman dan waktu, sebagaimana hal
tersebut juga merupakan risalah yang dibawa oleh para nabi dan rasul, dan
menjadi warisan bagi para ulama, aktivis, para du’at yang jujur, beriman dan
ikhlas.
Beberapa
karakter ustadz Umar At-Tilimsani:
1.
Zuhud pada dunia
Beliau
sangat memahami wasiat nabi saw yang disampaikan kepada Abdullah bin Umar,
“Jadilah di dunia seakan-akan asing atau dalam perjalanan” (Bukhari)… Setelah
bergabung dengan kafilah dakwah, beliau tidak pernah mau tunduk pada dunia,
bahkan beliau begitu zuhud, berkhidmat untuk dakwah dengan hati, lisan dan
jasadnya; hatinya selalu tenteram dengan berdzikir kepada Allah dan mencintai
dakwah ini, dan melalui lisannya beliau memberikan dan menyampaikan muhadharah,
pelajaran dan makalahnya di berbagai media masa, dan melalui jasadnya beliau
mampu bergerak ke berbagai penjuru sehingga diikuti oleh banyak manusia dalam
berdakwah kepada Allah..
Dan
beliau tidak pernah putus asa, dan beliau pernah ditawarkan harta berlimpah
dalam menunaikan dakwah ini namun beliau menolaknya, beliau berkata kepada
orang yang memberi harta kepadanya: “Telah datang kepada Anda seorang dai bukan
pencari harta”. Beliau juga menolak untuk mengambil upah dari salah satu media
yang di dalamnya beliau menulis makalah tentang dakwah, dan beliau berkata:
“Saya tidak akan menjual sedikit pun dakwah Ikhwan, saya hanyalah seorang juru
dakwah kepada Allah”.
2.
Sabar dan berharap hanya kepada Allah
Ustadz
Umar At-Tilimsani adalah sosok yang memiliki teladan dalam kesabaran, ketika
berada dalam penjara –penjara yang begitu kotor- tempat yang banyak kotoran
yang menjijikan, dingin menusuk tulang, panas yang terik dan angin yang
menghembus keras membawa debu-debu; membuat hidup tidak nyaman, tidur tidak
tenang, jiwa selalu gelisah.. namun beliau menerimanya dengan penuh senyum dan
suka ria. Beliau adalah sosok yang memiliki keteguhan, iman yang kuat dan
kepercayaan yang sangat kokoh, selalu mengumbar senyum kepada Ikhwan nya,
memberikan keteguhan dan selalu menolak dari seorangpun ketika ingin memberikan
bantuan untuknya, dan beliau selalu melakukan segala urusannya dengan
sendirinya.
3.
Keteguhan dalam mengucapkan kebenaran
Nampaknya
beliau adalah sosok yang disebutkan Allah dalam ayat “yaitu mereka yang
menyampaikan risalah Allah dan takut kepada Allah dan tidak takut kepada siapa
pun kecuali kepada Allah”. Beliau tegar dan berani dalam menyampaikan kebenaran
di hadapan presiden Sadat, ketika beliau bertemu dengannya, Sadat menuduhnya
dengan berbagai kecaman, lalu dengan berani beliau menjawabnya, memanggilnya
dengan nama asli dan mengadukan nya kepada Allah, sedangkan Sadat mendengarkan
jawabannya dengan tubuh gemetar, dan ketika Sadat bertanya siapakah mursyid Am
Ikhwanul Muslimin? Beliau menjawab: “Sayalah Mursyid Am Ikhwan.
Ketika
itu hukuman atas orang yang menjabat sebagai ketua jamaah ilegal adalah 25
tahun, dan beliau menerimanya dengan senang hati, hanya berharap ganjaran dari
Allah, bagaimanapun kondisinya.
4.
Lisan yang bersih
Beliau
juga memiliki lisan yang bersih, ungkapan yang manis dan sama sekali tidak
pernah menyakiti seorang pun dari lisannya. Beliau pernah berkata tentang
dirinya: “Saya telah berjanji pada diri ini untuk tidak menyakiti seorang pun
melalui ungkapan para nabi, sekalipun diriku adalah pelaku oposisi (penentang)
dalam kebijakan politik, bahkan sekalipun mereka menyiksa saya.. bahwa
pekerjaan saya adalah berjuang di jalan Allah, yang mesti menanggung berbagai
cobaan dan siksaan yang diarahkan kepada saya, menangkap saya namun saya tetap
bertawakal kepada Allah, tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan, dan
berbagai tindakan yang mereka lakukan terhadap diriku…
5.
Di antara ungkapan-ungkapan beliau
-
Imam Hasan Al-Banna telah mengajarkan kepada saya bahwa kezhaliman tidak akan
mampu dihancurkan kecuali karena umat manusia tidak penuh menguasai
kekuatannya”. Para anggota Ikhwanul Muslimin pada masa pemerintahan Abdul Naser
banyak yang dipenjara, meninggalkan anak-anak dan istri-istri mereka tanpa ada
yang menanggungnya, namun Ikhwan berharap perbuatan mereka adalah karena Allah,
sehingga Allah melindungi anak-anak dan istri-istri mereka, karena barangsiapa
yang hanya berharap kepada Allah, memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya maka
hal tersebut merupakan kelapangan rezki dan karunia dari Allah SWT.
-
Bahwa penjara telah mampu menelurkan generasi dakwah yang agung dan mulia,
generasi dengan penuh keteguhan dan ketegaran, hafal Al-Qur’an dan menerima
ilmu yang banyak di dalamnya, mereka terus meningkatkan kesabaran dan tsabat,
sekalipun jasad mereka menjadi lemah namun ruh mereka begitu besar dan begitu
dekat hubungannya dengan Allah, di antara mereka adalah Umar At-Tilimsani, dan
Allah telah menjanjikan untuk memberikan kepada jamaah ini seorang pemimpin
yang kharismatik, seorang rabbani yang mampu memimpin kapal ini di tengah
kerasnya ujian dan cobaan dengan penuh kesabaran dan hikmah.
-
Dakwah pada masa beliau menjabat telah menyebar begitu luas, para pemuda banyak
menerima akan dakwah beliau sehingga menjadi arus Islam yang begitu luas dan
besar, terutama di universitas-universitas, persatuan-persatuan, dan lain
sebagainya.
Awal
mula bergabung dengan Ikhwanul Muslimin
Awal
mula bergabungnya Umar At-Tilimsani dengan jamaah Ikhwanul Muslimin adalah
langsung dihadapan pendirinya yaitu Hasan Al-Banna pada tahun 1933, setelah
beliau diajak oleh dua orang anggota Ikhwanul Muslimin; “Izzat Muhammad Hasan
dan Muhammad Abdul Aa’l untuk mengikuti pelajaran yang diisi oleh Imam Hasan
Al-Banna.
Beliau
masuk penjara pada 1948 dan kemudian pada tahun 1954, dan saat dibebaskan dari
penjara pada akhir bulan Juni 1971 seorang petugas militer menghampirinya dan
berkata: Anda telah dibebaskan … dan sekarang kumpulkan barang-barangmu untuk
segera keluar dari tempat ini, dan pada saat waktu telah masuk malam; yaitu
setelah waktu Isya, beliau berkata kepada petugas tersebut: bolehkah saya
bermalam di sini untuk malam ini saja, lalu saya akan pergi nanti pada waktu
pagi, karena saya telah lupa jalan-jalan di Kairo. Petugas tersebut berkata:
Ini adalah bukan tanggung jawab saya, silakan keluar dari penjara, dan tidur di
pintu masuk hingga waktu yang Anda inginkan, maka saya pun meminta taksi dan
akhirnya kembali ke rumah dengan selamat.
Di
kota Ismailia saat terjadi pertemuan antara Sadat dan Ustadz Umar At-Tilimsani,
dan al-akh Abdul Azhim Al-muth’ini, lalu Sadat berbicara dan menyerang Ikhwanul
Muslimin, lalu meminta Umar untuk membalasnya, maka diapun mempersilakan
kepadanya untuk melanjutkan.
Dan
ketika Sadat selesai berbicara, Umar menjawab dan berkata: “Jika orang lain
berkata seperti ini maka saya akan mengadukannya kepada Anda, namun karena Anda
yang berkata seperti demikian, maka saya akan mengadukan Anda kepada Allah,”
maka Sadat pun berkata kepadanya: “Tolong tarik pengaduan Anda wahai Umar,” dan
saat itu tubuhnya gemetaran, dan pertemuan berakhir tetapi kondisi masih tidak
bersih karena Sadat masih saja melakukan pengkhianatan terhadap Ikhwanul
Muslimin.
Kemudian
Sadat pada tahun 1981 menangkap Umar At-Tilimsani dan bersama ratusan orang
dari para cendekiawan, Coptic’s, uskup, dan para penulis serta lain-lainnya,
dan Umar At-Tilimsani meninggal pada hari Rabu, 13 Ramadan 1406 H bertepatan
dengan tanggal 22 Mei 1986 pada usia 82 tahun, setelah dirawat di rumah sakit
akibat penyakit menderanya dan usia tua, kemudian beliau dishalatkan di Masjid
Umar Makram di Kairo, dan upacara pemakamannya diiringi oleh sejumlah orang
yang begitu besar hingga mencapai lebih dari seperempat juta orang –dan ada
berpendapat setengah juta – dari masyarakat Mesir dan para utusan yang datang
dari luar Mesir.
Begitu
pula ikut hadir para pemuda yang berumur di bawah dan di atas dua puluh …
mereka datang dari kota-kota dan desa-desa di Mesir, mereka ikut berpartisipasi
dalam mengikuti prosesi pemakaman ini, mereka berlari-lari kecil dengan
bertelanjang kaki di belakang mobil yang membawa jenazah, sementara air mata
mereka membasahi wajah-wajah mereka, menangis atas meninggalnya sang dai pujaan
nan kharismatik. Selain itu pula; pemerintah juga ikut berpartisipasi dan
berbelasungkawa terhadap meninggalnya pemimpin Ikhwanul Muslimin tersebut.. dan
ikut mengiringi pemakamannya, sebagaimana dihadiri pula oleh Perdana Menteri,
Sheikh Al-Azhar saat itu, para anggota dari majma’ buhuts al-islamiyah (Akademi
Penelitian Islam) dan ketua DPR/MPR, dan beberapa pimpinan dan tokoh Organisasi
Kemerdekaan Palestina, dan beberapa tokoh dan ulama Mesir dan Islam serta
sekelompok besar dari para diplomat; Arab dan dunia Islam.
Kesaksian
tokoh tentang Umar At-Tilimsani
-
Ibrahim Saa’dah, pemimpin redaksi Akhbar El Youm berkata dengan satu ungkapan:
Umar At-Tilimsani telah meninggal .. negara dalam kondisi tenang.. bagi jamaah…
bangsa… dan tanah air!
-
Siaran radio Amerika: Jenazah ini telah menampakkan kekuatan dan antusiasme
gerakan Islam di Mesir secara khusus dan mayoritas yang hadir adalah para
pemuda.
-
Majalah Kreeznet Internasional pada edisi tanggal 1-06-1986 menulis tentang
beliau: “Dengan meninggalnya Umar At-Tilimsani seluruh harakah Islamiyah
kehilangan seseorang yang memiliki kharisma yang mengagumkan, dan
pengorbanannya akan menjadi inspirasi serta menempati posisi yang selalu
dikenang sepanjang masa”.
Beberapa
tulisan Mursyid Am “Umar At-Tilimsani”:
1.
Dzikroyat la mudzakirat
2.
Syahid al-mihrab
3.
Hassan al-Banna al-mulhim al-mauhub (Hassan al-Banna dan inspirasi yang
berbakat)
4.
Wa ba’dhu ma ‘allamani al-ikhwan (beberapa sikap yang diajarkan oleh Ikhwanul
Muslimin)
5.
Fi riyadhi tauhid (dalam naungan tauhid)
6.
Al-makhraj al-Islami min ma’zaq as-siyasi (Solusi Islam dari krisis politik)
7.
Al-Islam wal hukumah ad-diniyah (Islam dan pemerintahan teokratis)
8.
Islam wanzhratuhu as-samiyah lil mar’ah (Pandangan Islam terhadap wanita)
9.
wa qala an -naas walam aqul fi ahdi Abdun nasir (ungkapan orang-orang namun
saya tidak ikut mengatakannya pada masa pemerintahan Abdul Nasser)
10.
Minsifatil abidin (beberapa karakteristik Abidin)
11.
Ya hukkamal muslimin.. ala takhafunallah (Wahai para pemimpin Islam.. tidakkah
kalian takut pada Allah)
12.
Wala nakhafus salam walakin (kami tidak khawatir terhadap perdamaian, namun?)
13.
Al-Islam wal Hayah (Islam dan kehidupan).
14.
Haula risalah Nahwan nuur
15.
Min fiqhil I’lam Al-Islami
16.
Ayyam ma’as Sadat
18.
Ara fiddiin wa siyasah (Beberapa pandangan tentang agama dan politik).
Referensi:
1.
Min A’lam al-harakah al-islamiyah, mustasyar Abdullah Uqail
2.
Miah mauqif min hayatil mursyidin lijamaatil Ikhwanul Muslimin
3.
Umar At-Tilimsani wada’an
4.
Dzikroyat la Mudzakirat, Umar At-Tilimsani
5.
Majalah mujtama, edisi 1138, Syauqi Al-asthal
3.
Muhammad Hamid Abu Nasr
Muhammad
Hamid Abu An-Nasr, lahir pada tanggal 25 Maret 1913, di kota Manfaluth,
propinsi Asyuth, Mesir. Sebuah daerah yang tumbuh di dalamnya Muhammad Hamid
Abu An-Nasr, yang didirikan oleh kakeknya yang bernama Abu An-Nasr; seorang
yang alim, Azahriy (ulama al-Azhar), penyair dan penulis dan merupakan salah
satu pencetus kebangkitan kesusasteraan di Mesir di era Khadiwi Ismail, ikut
juga berpartisipasi dalam penyusunan revolusi Arab, dan akhirnya Al-khadiwi
Taufiq memutuskan untuk menentukan tempat tinggalnya di Manfelot , namun
kemudian disingkirkan dengan cara diracun dan pada akhirnya meninggal pada
akhir 1880.
Muhammad
Hamid Abu Nasr hidup dalam keluarga yang kuat dengan kehidupan agama, sastra,
dan politik. Dan hal tersebut diterjemahkan dalam partisipasinya mendirikan
asosiasi keagamaan, dan forum kesusasteraan dan berpartisipasi dalam sistem
politik; sehingga beliau dipercaya menjabat sebagai Amin mali (bendahara)
Asosiasi Pemuda Islam, dan Ketua Asosiasi Reformasi Sosial Masyarakat dan
anggota Komite Sentral delegasi di Manfelot.
Pada
tahun 1933 menerima sertifikat kompetensi, dan menjadi anggota dari Asosisasi
Reformasi Sosial Masyarakat di Manfalout tahun 1932, dan anggota dari Syubbanul
Muslimin tahun 1933, dan Pada 1934 – 1935 M melallui temannya al-marhum ustadz
Mohamed Abdul Dayem mendapat kabar bahwa mursyid pertama Ikhwanul Muslimin
Hassan al-Banna akan berkunjung ke Jam’iyyah Syubbanul Muslimin di Asyuth, lalu
beliau berbicara melalui telepon dengannya dan memintanya untuk untuk
mengunjungi Manfalut untuk menyampaikan pidatonya disana. Dan setelah
menyampaikan pidatonya mereka bertemu dan berdikusi bagaimana caranya
mengembalikan umat Islam kepada Islam yang benar, dan saat itu beliau berkata
kepada Imam Hasan Al-Banna berkata; namun hal ini bukanlah cara yang tepat
untuk mengembalikan umat Islam pada masa keemasan dan kemuliaan masa lalu,
beliau -Hasan Al-Banna- berkata kepadanya: jadi menurutmu bagaimana? Dan pada
saat itu Muhammad Hamid Abu Nashr, berkata:” Saya pada waktu itu sangat berjiwa
muda, dan senjata tidak pernah lepas dari saya seperti dalam menyambut
pengunjung yang mulia yang saya cintai sebelum saya melihatnya. Saya berkata
kepadanya: jadi satu-satunya cara untuk kembali kepada kemuliaan umat seperti
masa lalu adalah ini… saya menunjukkan kepadanya senjata. Lalu beliau beliau
turun dari tempat tidurnya seakan mendapatkan jawabannya, dan mendapatkan apa
yang diinginkan, dan beliau berkata kepada saya: kemudian apa lagi? …
bicaralah… lalu saya mendapatkan ucapan sebagai jawaban darinya dengan jelas,
sambil mengeluarkan mushaf dari kopernya. Beliau berkata: apakah kamu mau
berjanji dengan dua ini; mushaf dan senjata? Saya berkata: ya, dengan penuh
kekuatan dan perasaan… dan saya tidak mensifatinya, kecuali karena karunia
Allah yang berlimpah, dan kebahagiaan yang abadi yang di inginkan Allah melalui
ilmu-Nya. Dan setelah selesai berbaiat dengan bentuk seperti tadi. Secara
santai imam Hasan Al-Banna berkata: selamat, semoga Allah memberkahi, inilah
awal kemenanganmu”.
Dakwah
beliau
-
Ustadz Muhammad Hamid bertemu dengan imam Syahid Hasan Al-Banna, pendiri dakwah
Ikhwanul Muslimin di akhir tahun 1933, dan membaiatnya untuk bekerja di jalan
Allah di bawah bendera dakwah yang penuh berkah ini.
-
Ustadz Muhammad Hami adalah orang yang pertama kali bergabung pada barisan
dakwah Ikhwanul Muslimin di daerah perkampungan Mesir.
-
Menjadi ketua cabang di Manfaluth hingga menjadi anggota dalam lembaga pendiri
(majelis syura), kemudian setelah itu menjadi anggota maktab Irsyad umum
jamaah.
-
Menghadapi penangkapan dan penjara serta dijatuhi hukuman pada tahun 1954
dengan hukuman kerja paksa selama 25 tahun, dan berlalu hukuman padanya 20
tahun di penjara Mesir dalam keadaan tegar dan kuat tidak pernah luntur dan
gentar dalam berdakwah dan tidak pernah lunak walau terus berhadapan dengan
rintangan, cobaan dan fitnah, sehingga beliau keluar dari penjara pada tahun
1974 untuk melanjutkan kontribusi dan jihadnya untuk meninggikan bendera Islam.
-
Beliau terus melakukan dakwah dan kepemimpinannya hingga beliau diangkat
menjadi mursyid am Ikhwanul muslimin menggantikan ustadz Umar At-Tilimsani pada
tahun 1986.
Ustadz
Muhammad Hamid adalah orang pertama yang selalu menemani pendiri jamaah
Ikhwanul Muslimin, dan menjadi penopang harakah pada tahun 30-an, hidup
bersamanya dalam penuh ujian bahkan berbagai rintangan dengan penuh kesabaran
dan ikhlas, tidak pernah luntur azimahnya walau harus hidup di penjara, dan
tidak pernah melemah walau harus berhadapan dengan kerasnya fitnah dan cobaan,
sehingga beliau menjadi qudwah dalam keikhlasan dan kejujuran iman.
Beliau
memenuhi janjinya dalam berbaiat, bersungguh-sungguh dalam ide dan pikirannya,
membawa dengan gigih amanah risalah sekalipun telah berumur 80 an tahun..
Salah
seorang penulis Islam berkata: “Saya melihatnya beliau adalah sosok yang
memiliki fanatisme keimanan, berjiwa dan semangat muda, berani seperti
pahlawan, bijaksana laksana syeikh, kaya akan pengalaman, penuh dengan cahaya
iman, memiliki kasih sayang laksana orang tua, kecintaan laksana seorang
al-akh, interaksi yang jujur laksana seorang sahabat, memiliki bimbingan
laksana seorang guru, kebaikan yang memberikan teladan, keikhlasan sang
murabbi, selalu memberi dengan penuh wibawa dan kharisma, akhlaq yang mulia,
seakan sosok yang memiliki kesempurnaan, tampak pada wajahnya menghadapi
kegamangan dakwah dengan penuh kesungguhan dan optimisme, dengan akhlaq yang
mulia, penuh kasih sayang, cinta, wibawa, dermawan, ikhlas dan kebapakan”.
Beliau
adalah saksi sejarah pada masanya yang secara sempurna menceritakan peristiwa
dan kejadian yang dialami, dan bagaimana berpegang teguh pada dakwah di tengah
masyarakat dan politik terakhir kali hingga masuk pada dewan kota dan desa, di
bawah kehidupan parlemen, hidup pada masa yang penuh tipu daya, fitnah,
mengada-ada dan penuh rekayasa, berhadapan dengan vonis dan tuduhan-tuduhan
lainnya. Beliau adalah teladan dalam berbagai sikap walau tubuhnya semakin
melemah oleh karena banyaknya ujian, siksaan dan usia, hingga akhirnya beliau
kembali kepada yang Maha Kuasa, bertemu dengan Rabb-nya setelah memberikan
pengorbanan dengan jiwa dan ruh dengan penuh jihad, gigih, sabar dan memenuhi
janji dalam dakwah.
Jamaah
Ikhwanul Muslimin pada masa kepemimpinannya
Jamaah
Ikhwanul Muslimin di bawah kepemimpinan ustadz Muhammad Hamid berhadapan dengan
banyak peristiwa terutama dalam kancah politik, secara kongkret pada masa
beliau tokoh-tokoh yang muncul dalam pemilihan persatuan profesi, club-club
pendidikan pada universitas dan lembaga-lembaga sosial lainnya.
Jamaah
Ikhwanul Muslimin pada masa kepemimpinannya ikut turun dalam pemilu anggota
dewan tahun 1987 dan berkoalisi dengan partai al-amal dan al-ahrar, sehingga
berhasil memasukkan 36 orang anggota Ikhwan menjadi anggota parlemen. Dan untuk
pertama kalinya sepanjang sejarah Ikhwanul Muslimin masuk ke DPR dan menjadi
pemimpin oposisi dalam bentuk yang kongkret, sebagaimana saat itu jamaah ikut
dalam melakukan perbaikan majelis syura pada tahun 1989, dan mengikuti pemilu
parlemen pada tahun 1990 dan bersama-sama ikut menjadi oposisi dengan
partai-partai lain dalam menentang terus diterapkannya undang-undang darurat
dan tidak adanya jaminan yang cukup untuk dilangsungkannya pemilu yang bersih…
dan pada tahun 1992 jamaah Ikhwanul Muslimin juga ikut dalam pilkada yang ada
di Mesir.
Dan
pada tahun 1993 pemimpin jamaah menolak pengangkatan presiden Husni Mubarak
untuk yang ketiga kalinya sehingga membuat marah pemerintah saat itu, dan
memasukkan 82 orang dari pimpinan Ikhwanul Muslimin pada daftar yang akan
diajukan ke mahkamah militer pada tahun 1995, dan menjatuhkan hukuman penjara
terhadap 54 orang dari mereka dalam persidangan ilegal. Kemudian Ikhwanul
muslimin juga ikut dalam pemilihan majelis syura (MPR) yang dilaksanakan pada
tahun 1995.
Aktivitas
politiknya.
Abu
An-Nasr pada awal kehidupannya telah ikut serta dalam amal sosial dan amal-amal
Islami lainnya, sehingga beliau dapat mencapai berbagai jabatan penting,
seperti sebagai:
-
Anggota dalam jam’iyah Islah ijtima’i di Manfaluth, tahun 1932
-
Anggota jam’iyah syubbanul muslimin, tahun 1933
-
Anggota jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1934
-
Anggota maktab irsyad jamaah Ikhwanul Muslimin.
-
Mursyid am Ikhwanul Muslimin setelah meninggalnya Umar At-Tilimsani, tahun 1986
Berada
dalam penjara
Abu
Hamid Abu An-Nasr bersama dengan kawan-kawannya dari maktab Irsyad serta yang
lainnya dari anggota jamaah Ikhwanul Muslimin ditangkap pada tahun 1954 saat
terjadi bentrokan revolusi Mesir dengan jamaah Ikhwanul Muslimin dan dijatuhi
vonis dengan hukuman kerja paksa seumur hidup. Dan beliau tetap ditahan hingga
akhirnya dibebaskan pada masa presiden Anwar Sadat.
Kembali
dalam kancah politik dan dakwah
Setelah
keluar dari penangkapan, beliau kembali pada aktivitas dakwah dalam jamaah
Ikhwanul Muslimin, dan kemudian dipilih menjadi mursyid Ikhwanul muslimin
setelah ustadz Umar At-Tilimsani meninggal pada tahun 1986. Dan pada masa
kepemimpinannya banyak anggota Ikhwan yang masuk dalam parlemen dan menjadi
anggota dewan Mesir, dan jamaah menyaksikan akan perkembangan dan kemajuan yang
gemilang pada masa kepemimpinannya.
Wafatnya:
Muhammad
Hamid Abu An-Nasr wafat dalam usia 83 tahun, yaitu tepat pada hari sabtu pagi
tanggal 20 Januari 1996.
Buku-buku
karangan beliau:
-
Hakikat al-khilaf baina “Al-Ikhwan al-muslimin” wa Abdul Nasser.
4.
Mustafa Masyhur
Beliau
lahir pada tanggal 15 September tahun 1921 di kota As-Sa’din dari kota Manya
al-qamh, propinsi Timur. Ikut dalam belajar pada penulis desa sejak dua tahun.
Kemudian masuk sekolah dasar di desanya, kemudian masuk sekolah I’dad di Manya
Al-Qamh, lalu sekolah tsanawiyah (setingkat SMA) di Zaqaziq, setelah tinggal di
Zaqaziq selama dua tahun mengikuti sekolah tsanawiyah, beliau pindah ke Kairo
dan menyempurnakan sekolah tsanawiyahnya di sana, lalu masuk kuliah di
universitas Kairo kuliah al-ulum, dan tamat pada tahun 1942.
Mengenal
jamaah Ikhwanul muslimin pada tahun 1936.
Setelah
lulus kuliah, beliau ditempatkan wajib militer pasukan udara dengan tugas
“spionase udara”, kemudian pindah ke Alexandria, untuk menghabiskan waktu satu
tahun dalam latihan, kemudian kembali ke Kairo untuk melakukan tugas sebagai
pembawa berita melalui udara.
Pada
bulan Juni tahun 1954 beliau di pindah kerjakan ke Marsa matruh dan disana
beliau ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara perang.
Lalu
dijatuhi hukuman 10 tahun penjara dan diwajibkan kerja paksa, kemudian
dipindahkan ke daerah Liman Torh dan dimasukkan ke dalam penjara lumpur.
Pada
tahun 1965 beliau kembali dipenjara; hingga akhirnya dibebaskan pada masa
presiden Anwar Sadat dan memangku jabatan penting sebagai Mursyid Am Ikhwanul
Muslimin setelah meninggalnya ustadz Muhammad hamid Abu An-Nasr pada tahun 1996
Ketika
beliau pindah ke Kairo untuk melanjutkan pendidikan disana, saat beliau shalat
di masjid suatu kampung tempat beliau tinggal, beliau melihat salah seorang
jamaah memberikan majalah yang bernama “At-Ta’aruf”, dan mendengar pengumuman
adanya pelajaran di masjid tersebut dan beliau diajak untuk menghadirinya, lalu
beliau hadir dan mendengar salah seorang dari anggota Ikhwan berbicara tentang
Islam, dan membuatnya sangat kagum akan penyampaian tersebut dan berambisi
untuk terus menghadirinya.
Dan
dalam satu masjid tersebut di umumkan bahwa imam Al-Banna akan memberikan
pelajaran pada hari selasa di kota Al-Hilmiyah, maka ustadz Mustafa datang
menghadirinya, dan sangat kagum dengan penyampaian ustadz Al-Banna, dan
berambisi untuk terus mengikutinya, dan pada akhirnya beliau masuk menjadi
anggota Ikhwan pada tahun 1936 dan berbaiat untuk komitmen dengan dakwah
Ikhwan.
Kesaksian
beliau atas perbedaan antara Ikhwan dan pasukan revolusi
Pada
masa pemerintahan Abdul Naser yang berambisi untuk menjadi sosok tersendiri
dalam revolusi, dan berhasil menjatuhkan pemerintahan Muhammad Najib, karena
secara pangkat beliau lebih tinggi, lalu memberantas anggota dan pengikut
jamaah Ikhwan padahal mereka adalah orang-orang yang berhasil melakukan
revolusi dengan kader-kadernya dalam struktur tentara, sehingga terjadilah
penangkapan atas mereka dan terjadilah pergolakan oleh senjata tentara,
sehingga akhirnya para Ikhwan dapat bebas dan langsung pergi menuju Mursyid
Ikhwanul Muslimin yang pada saat itu di pimpin oleh Hasan Al-Hudaibi dan
meminta sikap terhadap apa yang terjadi.
Terjadinya
krisis antara Ikhwan dan kelompok revolusi membuahkan berbagai penangkapan, dan
dibebaskan kembali pada tahun 1954.
Dan
pada tahun 1954 terjadi di kota Al-Mansyiah dan Abdul Naser menuduh mereka
melakukan rekayasa peristiwa tersebut dan akhirnya 6 orang di antara mereka
dijatuhi hukuman mati, diantaranya Abdul Qadir Audah, Syeikh Muhammad
Faragalli, Yusuf Thal’at, Ibrahim At-Tayyib, Handawi Duwair dan Muhammad Abdul
Latif”.
Mustafa
Masyhur dalam penjara
Pada
bulan Juni tahun 1954 beliau dipindah tugaskan ke daerah Marsa Matruh, namun di
sana beliau ditangkap dengan tuduhan berada di balik kejadian Al-Mansyiah dan
dimasukkan ke dalam penjara perang.
Dan
pada tahun 1955 dijatuhi hukuman 10 tahun dengan kewajiban melakukan kerja
paksa atas tuduhan dengan masalah yang dikenal dengan sebutan “Masalah mobil
Al-Jiip” dan beliau menjalani hukuman tersebut dengan penuh.
Pada
tahun 1965 presiden Abdul Naser mengeluarkan keputusan untuk menangkap seluruh
orang yang sebelumnya pernah ditangkap, dan keputusan tersebut tetap bertahan
hingga akhirnya Abdul Naser wafat dan mereka dilepaskan pada masa pemerintahan
Anwar Sadat.
Kesaksian
beliau pada peristiwa pembantaian di Torroh
Ustadz
Mustafa masyhur berkata: “Pada tahun 1957 Abdul Naser merencanakan untuk
mengulingkan raja Husain dari singgasananya melalui para tentara Ikhwan di
Jordania, namun rencana tersebut berhasil tercium, sehingga akhirnya mereka
gagal melakukannya, dan sang raja melakukan pembalasan atas perbuatan tersebut,
sehingga diantara mereka ada yang dipenjara di Torroh. dan di tempat tersebut
para ikhwan dipaksa kerja diatas gunung untuk memecahkan batu, dan ada diantara
mereka yang sakit diberikan keterangan dokter agar tidak ikut naik gunung.
Pada
suatu hari dikeluarkan keputusan seluruh napi harus naik ke gunung, baik yang
sehat atau yang sakit, maka para Ikhwan pun keheranan akan keputusan tersebut,
dan menanyakan sebabnya sehingga merekapun tidak mau keluar.
Namun
seketika itu muncul sekelompok orang tentara membawa senjata dan masuk pada
sekelompok Ikhwan melalui terowongan dan parit, lalu melepaskan tembakan atas
mereka secara brutal dan keji, sehingga sebanyak 21 orang anggota Ikhwan
terbunuh, kejadian tersebut disebut dengan nama “Pembantaian Torroh”.
Wafatnya
beliau
Beliau
wafat pada hari Selasa tanggal 29 Oktober tahun 2002 pada usia 83 tahun.
Karangan-karangan
beliau
•
Al-jihad huwa as-sabil
•
Tasaulat ala thariq ad-dakwah
•
Munajat ala at-thariq
•
Muqawwimat rajulul aqidah ala thariq ad-dakwah
•
Wihdatul amal al-islami fi al-qatrul wahid
•
Zaad ala at-thariq
•
Al-qudwah ala thariq ad-dakwah, ad-dakwah al-fardiyah
•
Al-hayah fi mihrab as-shalat al-islam huwal al-hall, min fiqh ad-dakwah
•
Al-qaid al-qudwah wa mutathallibatuhu baina ar-rabbaniyah wal madiyah
•
Qadhaya asasiyah ala thariq ad-dakwah at-tiyar al-islami wa dauruhu fi al-bina
•
Qadhiyah azh-zhulm fi dhaui al-kitab wa as-sunnah
•
Thariq ad-dakwah baina al-ashalah wa al-inhiraf min at-tiyar al-islami ila
Sya’b misr
5.
Ma'mun al-Hudhaibi
Beliau
adalah seorang konsultan dan jaksa; Muhammad Ma’mun Hasan Ismail Al-Hudaibi,
mursyid ke enam jamaah Ikhwanul muslimin, anak kandaung dari konsultan Hasan
Al-Hudaibi, Mursyid Am kedua Ikhwanul muslimin yang menjabat pada tahun 1950
sampai 1973.
Beliau
Lahir di propinsi Sohaj, Mesir tanggal 28 Mei 1921, dan keluarganya berasal
dari desa Arab As-Shawalihah, distrik Syibin El-Qanatir, propinsi
Al-Qolyubiyah, lalu setelah itu keluarganya banyak berpindah ke berbagai tempat
dan kota di Mesir; karena orang tuanya adalah seorang Jaksa Hasan Al-Hudaibi,
yang merupakan mursyid am kedua Ikhwanul Muslimin pada masa dari tahun 1951
hingga meninggal pada tanggal 13 Nopember 1973
Aktivitas
Beliau
Ustadz Muhammad Ma’mun Al-Hudaibi menjalani masa pendidikan umum di berbagai
sekolah di Mesir mulai dari tingkat ibtidaiyah hingga kuliah dan meraih sarjana
pada kuliah hukum di Universitas Raja Fuad (sekarang universitas Kairo).
setelah itu beliau ditetapkan sebagai wakil jaksa.
Kemudian
secara beransur menjabat sebagai Jaksa Penuntut Umum kemudian ditunjuk sebagai
hakim.
Kemudian
setelah itu menjabat bidang peradilan hingga menjadi Ketua Pengadilan Banding
di kejaksaan pemula di Kairo, yang merupakan akhir karirnya di pemerintahan di
Mesir.
Setelah itu bekerja di Arab Saudi dalam satu periode dan kemudian kembali ke
Kairo untuk mencurahkan dirinya dalam dakwah.
Akhirnya
beliau menjabat sebagai ketua Pengadilan untuk Gaza pada tahun 1956.
Bersama
jamaah Ikhwanul Muslimin
Ustadz
Ma’mun Hudhaibi berpartisipasi dalam berbagai aktivitas dakwah dan harakah
terutama dalam melakukan perlawanan rakyat saat terjadi agresi selasa atas
Mesir pada tahun 1956 sehingga beliau ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel.
Kemudian beliau bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin, namun dirinya tidak
terlepas dari penjara dan penangkapan pada masa pemerintahan Jamal Abdul Nasser
pada tahun 1965 dan dipindahkan dari penjara perang dan Tora saat itu. Kemudian
pada pemerintahan Sadat pada tahun 1971 dibebaskan dari penjara, dan kemudian
mengajukan gugatan untuk menuntut kembali bekerja di bidang peradilan, maka
Pengadilan pun mengangkatnya kembali namun pemerintah menolaknya untuk kembali
bekerja tanpa memberikan justifikasi apapun.
Di
Parlemen
Jamaah
mencalonkan beliau dan sekelompok Ikhwan lainnya pada pemilu tahun 1987
legislatif dan berhasil meraih 36 orang untuk menjadi anggota parlemen. Beliau
menjadi anggota parlemen dari daerah pemilihan Al-Dokki, Propinsi Al-Giza. Kemudian
pada saat itu pula beliau diangkat untuk menjabat sebagai juru bicara resmi
fraksi Ikhwanul muslimin di Parlemen. Dan setelah itu, beliau terpilih sebagai
Wakil Mursyid Am Ikhwanul Muslimin dan menjadi juru bicara jamaah Ikhwanul
muslimin
Menjabat
sebagai mursyid am Ikhwanul Muslimin
Pada
saat menderita sakit dan koma yang dialami oleh Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
ustadz Mustafa Mashhour pada tanggal 29 Oktober 2002 akibat pendarahan otak
yang telah meraja lela pada dirinya, dan akhirnya ustadz Ma’mun Hudaibi
mengambil alih tugas jabatan Ikhwanul Muslimin.
Dan
Pada hari Rabu sore, tanggal 22 Ramadan 1423 bertepatan dengan tanggal 27
November 2002 beliau terpilih menjadi Mursyid Am Ikhwanul Muslimin,
menggantikan posisi ustadz Mustafa Mashhour sehingga beliau resmi menjadi
Mursyid Am keenam Ikhwanul Muslimin
Wafatnya
Ustadz
Ma’mun Al-Hudaibi meninggal setelah berbagai penyakit dan permasalahan
kesehatan menyerang beliau, sehingga membuatnya sering keluar masuk rumah sakit
untuk mendeteksi usus besarnya, kemudian meninggal setelah kembali ke rumahnya
di Kairo.
Lebih
dari 300 ribu warga ikut menyalatkan beliau di Masjid Rab’ah al-adawiyah
setelah salat Jumat dan yang menjadi imam saat itu adalah “Khaled Hudhaibi,”
putra almarhum, dan yang menjadi imam qashar bagi para musafir adalah ustadz
Mohamed Helal, Mursyid Am sementara, karena beliau adalah anggota tertua hingga
diadakan pemilihan baru
Prosesi pemakaman beliau dilakukan dengan berjalan kaki dari masjid menysuri
jalan An-nasr, hingga tiba di pusat klub Al Ahli Al-Jadid di Nasr City, Timur
Kairo, kemudian mayat beliau diusung dengan menggunakan mobil khusus dan
diiringi dibelakangnya oleh ratusan mobil, mayat Ustadz Ma’mun dibawa untuk
dikubur di pemakaman keluarganya di daerah Arab Alsowalihah, distrik Shibin
El-Qanatir, provinsi Qaliubiya; dan almarhum dimakamkan disamping ayahnya
“Hasan Al-Hudhaibi,” mursyid am Ikhwanul muslimin kedua.
6.
Muhammad Mahdi Akif
Tokoh
ini sudah berkecimpung dalam pergerakan Islam, khususnya dalam perjuangan
Ikhwanul Muslimin sejak berusia 12 tahun.
Apabila
pemimpin Ikhwan, Hassan alBanna mengesyorkan supaya ada di kalangan pemuda
Islam yang boleh memberikan latihan fizikal kepada ahli pergerakan itu,
Muhammad Akif meninggalkan pengajiannya dalam bidang kejuruteraan untuk
menyahut cabaran itu. Sejak itu, bermulalah perjuangannya di barisan hadapan
Ikhwanul Muslimin.
Walaupun
tidak pernah menjadi tentera, beliau bersama belia Mesir lain pernah berjuang
menentang tentera British di Terusan Suez pada 1951 dan berjuang menentang
penubuhan sebuah kerajaan Yahudi di Palestin. Selepas perang tamat, beliau
kembali melatih belia tahan lasak Ikhwan.
Oleh
kerana terlalu gerun pada perjuangan Ikhwanul Muslimin, pada 1954, tujuh
pemimpin utama Ikhwan termasuk Muhammad Akif, ditahan dan dijatuhkan hukuman
mati. Ini termasuk pemikir Islam terkemuka, Abdul Kadir Audah. Enam pemimpin
diseksa, digantung dan dibunuh. Beliau ialah pemimpin ketujuh yang disenaraikan
oleh regim Jamal Nasser untuk dibunuh. Pada perkiraannya, saat untuk syahid
sudah sampai. Bagaimanapun, datang perintah supaya hukuman itu dibatalkan.
Kerajaan Naseer mengubah fikiran suapaya hukuman itu dibatalkan. Kerajaan
Nasser mengubah fikiran kerana desakan daripada negara Islam lain ketika itu.
Walaupun
terselamat daripada tali gantung, Muhammad Akif terpaksa menghabiskan usia
mudanya dalam penjara sehingga dibebaskan pada 1974 oleh kerajaan Anwar Sadat.
7.
Dr. Muhammad Badi
Muhammad
Badi Abdul Majid Samy, lahir 7 Agustus 1943, di kota Mahalla al-Kubra, dikenal
seorang tokoh Ikhwan yang sangat ulet, teguh dalam pendirian, memiliki
keyakinan yang kokoh terhadap cita-cita, dan memiliki pandangan-pandangan yang
banyak mengadopsi pemikiran Sayyid Qutb. Badi menikah dengan Samia al-Ashnawy,
mantan Direktur Sekolah Dakwah Islam, dan ia adalah adik kandung dari tokoh
Ikhwan generasi awal, Ali Ashnawy, seorang pilot, yang dihukum mati tahun 1954
oleh Presiden Gamal Abdul Nasser, karena dituduh terlibat makar.
Dari
perkawinannya itu, antara Badi dengan Sami memperoleh anak, diantaranya Ammar
seorang insinyur dibidang komputer, Bilal ahli radiologi, Doha ahli dibidang
pharmasi. Badi dan Samia juga telah dikaruniai cucu, Roaa, Habib, Eyad, dan
Tameem.
Riwayat
pendidikan Badi, cukup unik, yaitu sarjana kedokteran hewan tahun 1965, dan
setelah lulus, mengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, di tahun 1965.
Selanjutnya, Badi melanjutkan kuliah, sampai kemudian mendapatkan master di
bidang kedokteran hewan di tahun 1977 dariUniversitas Zagazig. Tak lama
kemudian Badie mendapatkan gelar doktor dibidang kedokteran hewan di tahun l979
di Universitas Zagazig. Sesudah mengajar dibidang yang digelutinya selama
beberapa tahun, Badi menjadi asisten Profesor dibidang kedokteran hewan di
tahun 1983 di Universitas Zagazig.
Murysid
'Aam IKhwanul Muslimin yang ke VIII ini, pernah menjadi tenaga ahli di bidang
kedokteran hewan di Sana'a (Yaman), antara tahun 1982-1986. Ia terus
melanjutkan keahlian dibidang kedokteran hewan, dan mendapatkan gelar Profesor
di bidang kedokteran hewan, tahun l987, dari Universitas Kairo -Cabang di Bani
Suef. Badie juga menjadi ketua Departmen Pathology, pada Fakultas Kedokteran
Hewan di Beni Suef tahun 1990. Tokoh baru Ikhwan itu, juga menjadi supervisi 15
orang master, dan 12 orang PhDs, dan puluhan ilmuwan yang melakukan penelitian
yang sedang mengambil spesialis dibidang kedokteran hewan.
Badie
sekarang sebagai Profesor di Departemen Pathology Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Beni Suef. Ia juga menjadi Sekjen Organisasi Assosiasi Dokter Hewan
selama dua tahun. Ia juga anggota dewan Organisasi profesi dibidang profesi
obat-obatan selama setahun. Kegiatan lainnya, Badie aktif dibidang sosial dan
ilmu pengetahuan, dan selebihnya menjadi anggota Dewan Pemerintahan, khususnya
Organisasi Islam yang menangani masalah Kesejahteraan di kota Mahalla al-Kubra.
Riwayat
keterlibatan Badie di Gerakan Ikhwan, dimulai sejak tahun 1975 menjadi anggota
bagian bidang administrasi Ihwan di Mahalla, di tahun 1977 menjadi kepala
administrasi Ikhwan di kota Mahalla, tahun 1986 bekerja dibidang pendidikan di
Sana'a (Yaman), di tahun 1990 menjadi ketua Ikhwan di Bani Suef, dan menjadi
ketua bidang pendidikan di Beni Suef. Interaksi yang inten dengan Gerakan
Ikhwan itu, membuat pribadi Badi sebagai seorang pemimpin yang sangat tangguh.
Selanjutnya,
sebagai Anggota pusat Assosiasi di bidang Kedokteran Hewan, yang mengantarkan
dirinya menjadi orang yang paling mendalami dibidang kedokteran hewan. Badie
memiliki reputasi dibidang kedokteran hewan, yang sangat langka dalam bidang
ini. Sampai sekarang ini ia terus mengeluti bidangnya, ditengah-tengah
kesibukannya menjadi pemimpin gerakan Islam terbesar di dunia. Inilah pelajaran
yang menarik seorang tokoh pergerakan Islam dengan latar belakang yang langka,
dan bukan ulumul syar'i.
Karena
keterlibatan yang sangat inten dalam pergerakan Ikhwan ini, maka Badi di tahun
1996 terpilih menjadi anggota Maktabul Irsyad (dewan pembimbing), dan di tahun
2007, tokoh yang memiliki kepribadian yang unik, dan sangat teguh pendiriannya
ini, di pilih menjadi anggota pusat Maktabul Irsyad, sampai kemudian ia ditahan
oleh fihak keamanan Mesir.
Pengalaman
Badi juga pernah dipenjara bersama dengan Sayyid Quthb, di tahun 1965. Ia
dijebloskan penjara selama 15 tahun di penjara militer, dan bertemu dengan
seorang tokoh dan ideolog Ikhwan yaitu Quthb, dan dibebaskan sesudah
dijalaninya selama 9 tahun. Setelah dibebaskan di tahun 1974, Badie kembali
melanjutkan profesi sebagai dosen di Universitas Zagazig, serta mengajar di
Yaman, dan kembali ke Universitas Kairo di Bani Suef. Ia berulang-ulang
dimasukkan penjara oleh rejim Mesir, sampai tahun l999, di mana ia dijatuhi
hukuman 5 tahun.
Badi
yang menikah dengan Samia yang merupakan adik dari Ali Ashnawy yang telah
digantung oleh Gamal Abdul Nasser ini, akan menjadi nakhoda baru dari
pergerakan Ikhwan, yang bertanggungjawab menghadapi tantangan masa depan Ikhwan
yang sangat rumit dan pelik, terutama tantangan internal dan eksternal. Badi
telah teruji mengarungi perjalanan dakwah yang panjang bersama dengan Gerakan
Ikhwan.
Mahdi
Akif sendiri meninggalkan kepemimpin Jamaah Ikhwan dengan hati yang lapang, di
tengah-tengah berbagai terpaan isu dan pandangan negatif terhadap Ikhwan, tapi
tokoh yang masih berhubungan dengan pendiri Jamaah Ikhwan, Hasan Al-Banna itu,
nampak ikhlas meninggalkan posisinya sebagai Mursyid 'Aam, tanpa harus
bersikeras untuk mempertahankan terus menerus. Mahdi Akif baru satu periode
memimpin Jamaah Ikhwan, menggantikan Makmun Hudaibi, yang meninggal tidak lama
sesudah menggntikan Mustafa Masyhur.
Padahal,
saat ini Ikhwan menjadi sebuah barometer politik di Mesir, khususnya dalam
menghadapi pemerintah. Ikhwan di Mesir menjadi kekuatan utama oposisi, yang
tidak mau melakukan tawar menawar dengan kekuasaan Husni Mubarak. Semua akan
menepis adanya pengelompokkan dan pengkubuan di dalam tubuh Ikhwan, antara yang
disebut konservatif dengan reformis. Akif mampu menjembatani berbagai pandangan
di dalam tubuh Ikhwan, khususnya yang reformis dengan yang konservatif, dan
memilih Mohammed Badie, sebagai penggantinya.
Mahdi
Akif, meninggalkan posisinya sebagai Murysid 'Aam, sesuai dengan aturan
anggaran dasar (Nidhom 'Aam) Ikhwan, yang sejak meninggalnya Mustafa Masyhur,
Mursyid 'Am yang ke VI, jabatan Mursyid 'Aam, tidak lagi seumur hidup, tapi
dibatasi hanya dua periode. Mahdi Akif jujur dan komitment pada aturan
organisasi, dan kemudian sebagai pucuk pimpinan Ikhwan, ia meninggalkan
posisinya sebagai Mursyid 'Aam, tanpa harus terbebani lagi dengan jabatan itu.
(mashadi/berbagai sumber)
Sumber:
https://aridasahputra.blogspot.com/2012/05/mursyid-am-kedelapan-dr-muhammad-badi.html
8.
Ahmad Yasin
“Wahai anak-anakku, telah tiba saatnya kalian
kembali kepada Allah swt., meninggalkan berbagai sorak kehidupan dan
menyingkirkannya ke tepi jalan. Telah tiba saatnya kalian bangun dan melakukan
salat subuh berjamaah, saatnya kalian menghiasi diri dengan akhlak mulia,
mengamalkan kandungan al Qur’an, serta meneladani Muhammad saw.
Aku
mengajak kalian wahai anak-anakku untuk shalat tepat waktu. Lebih dari itu, aku
mengajak kalian, wahai anak-anakku, untuk mendekat kepada Nabi kalian yang
agung.
Wahai
para pemuda, aku ingin kalian mengenal dan menyadari makna tanggung jawab,
tegar menghadapi kesulitan hidup, meninggalkan keluh kesah, menghadap kepada
Allah swt., banyak meminta ampunan kepada-Nya agar Dia memberi rezeki kepada
kalian, menghormati yang tua dan menyayangi yang muda. Aku ingin kalian tidak
terlena oleh saluran-saluran lagu audio visual, melupakan kata-kata yag
mengobral cinta, serta menggantinya dengan kata amal, kerja, dan zikir kepada
Allah. Wahai anak-anakku, kuharap kalian tidak sibuk dengan musik dan
terjerumus ke dalam arus syahwat.Wahai p
utriku,
aku ingin kalian berjanji kepada Allah mempergunakan hijab secara benar. Aku
meminta kalian berjanji kepada Allah peduli dengan agama dan Nabi kalian yang
mulia. Jadikanlah ibunda kalian, Khadijah dan Aisyah, sebagai teladan. Jadikan
mereka sebagai pelita hidup kalian. Haram hukumnya bagi kalian membuat usaha
para pemuda untuk menjaga mata mereka menjadi kendur dan surut.
Kepada
semuanya, aku ingin kalian bersiap-siap menghadapi segala sesuatu yang akan
datang. Bersiaplah dengan agama dan ilmu pengetahuan. Bersiaplah untuk belajar
dan mencari hikmah. Belajarlah bagaimana hidup dalam kegelapan yang pekat.
Latihlah diri kalian agar dalam beberapa saat hidup tanpa listrik dan perangkat
elektronik. Latihlah diri kalian agar dalam sementara waktu merasakan kehidupan
yang keras. Biasakan diri kalian agar dapat melindungi diri dan membuat
perencanaan untuk masa depan. Berpeganglah kepada agama kalian. Carilah
sebab-sebabnya dan tawakallah kepada Allah.”
(Petikan
salah satu pidato beliau)
Kemuliaan
Hati Mengalahkan Hambatan Fisik
Dia
adalah seorang mukmin yang merdeka meski seluruh hidupnya dibelenggu dengan
terali besi. Itulah gambaran indah yang mencerminkan kehidupan Syaikhul
Mujahidin, Guru para Mujahid dan perlawanan ini. Meskipun sebenarnya gambaran
tersebut kalah indah dengan kalbunya yang menghembuskan kehidupan serta
tekadnya yang tidak pernah lumpuh dan tidak terbelenggu oleh ikatan penjara.
Beliau adalah cakrawala yang luas serta pikiran yang hidup yang tidak mengenal
batas. Demikianlah kehidupannya di penjara dan begitulah kisahnya saat berada
di medan dakwah dan perlawanan, seperti yang dituturkan oleh orang-orang yang
mendampinginya, mengenai sosok yang tidak mampu bergerak, namun bisa menggerakkan
dunia.
Dia
bukanlah seorang presiden ataupun seorang raja. Dia hanyalah seorang lelaki
lumpuh yang membangun ide perlawanan hingga menjadi sosok yang tidak disebut
kecuali dengannya. Sampai hari ini, setiap orang baik lawan maupun kawan tetap
menaruh hormat kepadanya. Namanya senantiasa disebut di seluruh dunia. Dialah
Amir Mujahidin Palestina, mujahid Ahmad Yasin, gugur perlawanan yang gugur oleh
tangan-tangan biadab Zionis Israel dalam serangan rudal dari pesawat heli
tempur Apache buatan Amerika, selepas shalat subuh di masjid kota Gaza, Senin
22 maret 2004 lalu.
Seperti
diungkapkan Prof. Dr. Taufiq Yusuf al Wa’i, dalam karyanya “Qaadat al-Jihaad
al-Filistiini fii al-Ashr al-Hadiits: Kifaah, Tadhiyyah, Butuulaat,
Syahaadaat”, semua gambaran di atas terdapat pada sosok lumpuh yang tak mampu
berdiri ini; sosok yang kedua tangannya pun lumpuh tidak mampu membawa sesuatu;
sosok yang kurus dan lemah; tubuh yang terserang oleh berbagai penyakit;
penglihatan yang telah kabur kecuali hanya seberkas sinar dari satu mata; serta
penderitaan dan sakit yang tak kunjung reda. Bukankah ini sesuatu yang
menakjubkan? Bukankah ia merupakan tanda kebesaran Tuhan dan wujud
anugerah-Nya? Sosok tersebut hidup untuk misi dan untuk umatnya. Ia
menghabiskan usianya dalam dakwah. Ia adalah jihad yang terus berjalan, teladan
yang terus bergerak, panutan yang memancarkan cahaya dan keimanan, serta
pemahaman dan pengetahuan di tengah jarangnya orang yang tulus, di tengah
sedikitnya keikhlasan, serta di tengah lenyapnya suara kebenaran dan ketegasan.
Syaikh Yasin datang sebagai pemimpin bagi para mujAhed, tokoh bagi para dai,
guru yang bijak dan teladan yang agung bagi para pendidik. Tubuhnya yang kurus,
kelumpuhannya, dan penyakit yang kronis membuatnya tidak mampu berjuang dengan
senjata. Karena itu, beliau berjuang dengan senjata hikmah, dengan pedang
pembinaan dan penataan, dengan meriam keimanan, serta dengan bom kesabaran,
keteguhan, dan ketegaran.
Namun
demikian Ahmad Yasin membekali dirinya dengan pendidikan tinggi secara
autodidak. Sungguh menakjubkan, Ahmad Yasin terbukti menguasai segala bidang
keilmuan mulai dari agama, bahasa, sastra, politik, sosial sampai masalah
ekonomi. Dengan wawasan yang luas inilah kemudian Ahmad Yasin menjadi sumber
rujukan di Jalur Gaza dan semua orang, dari berbagai lapisan, terkesan oleh
ceramah-ceramah yang disampaikan. Semua orang mendengar apa yang dikatakan dan
menaruh hormat. Sejatinya, semua itu bukan hanya karena wawasan dan keilmuan
yang dimilikinya saja. Sebenarnya banyak kaum intelek Palestina kala itu, namun
– allahu a’lam – mungkin itu semua karena sikap wara’, ikhlas, tawadhu’,
energik – meski fisiknya cacat -, kecerdasan, visi yang benar, kelapangan dada
dan semangat memperjuangkan agama dan tanah air, serta totalitas kerjanya
diperuntuhkan hanya pada Allah.
Masa
Muda Syaikh Ahmad Yassin
Kedua
kakinya yang lumpuh tak menghalanginya untuk memandu perjuangan dari atas kursi
roda. Namanya menjelma menjadi simbol jihad bagi rakyat Palestina dalam melawan
penjajahan Zionis. Berkali-kali militer tentara Israel mencoba membunuhnya,
berkali-kali juga gagal.
Ahmad
Yasin kecil biasa dipanggil dengan (kuniyah) Abu Sa’dah, dinisbatkan kepada
ibundanya Sa’dah Abdullah al Hubail, untuk membedakan sebutan karena banyaknya
nama Ahmad dalam keluarga Yasin. Sa’dah adalah sosok hajjah yang mulia, sabar,
dan penuh keyakinan, termasuk wanita terhormat di desa tersebut. Ayah Ahmad
Yasin bernama Ismail Yasin, orang terkemuka di desanya. Keluarganya termasuk
keluarga yang berkecukupan. Ismail meninggal dunia ketika Ahmad masih sangat
kecil, belum lewat usia 3 tahun, meninggalkan keluarga yang terdiri atas
sebelas orang. Ahmad Yasin adalah anak ketiga di antara 4 anak laki-laki
keluarga Ismail.
Ketika
tentara Arab menderita kekalahan pada 1948, Yassin baru berusia 12 tahun.
Peristiwa ini meninggalkan pelajaran dalam kehidupan maupun pemikiran
politiknya kemudian. Menurutnya, mempersenjatai diri sendiri adalah jalan yang
lebih ampuh daripada menggantungkan harapan pada orang lain, baik dunia Arab
maupun internasional. "Tentara Arab yang datang untuk memerangi Israel
justru merampas senjata dari tangan kami. Mereka beralasan, tidak pantas ada
pasukan lain. Nasib kami pun terikat dengannya. Jika pasukan Arab kalah, kami
pun kalah. Lalu Zionis menebar pembantaian dan penyembelihan. Seandainya
senjata berada di tangan kami, tentu situasi akan berubah."
Ahmad
Yassin bersekolah SD di Jaurah hingga kelas lima. Situasi kacau pada tahun 1948
memaksanya hijrah menemani keluarganya ke Gaza. Di sana, situasi berubah pahit.
Keluarganya, seperti umumnya pengungsi, merasakan kefakiran, kelaparan dan
intimidasi. Masa itu, ia biasa pergi ke perkemahan tentara Mesir bersama
teman-temannya untuk mengambil sisa-sisa makanan tentara untuk ia berikan pada
keluarganya. Sekolahnya sempat terhenti pada tahun 1949-1950 demi menolong
ekonomi keluarganya yang berjumlah dari tujuh orang, Ia terpaksa bekerja di
salah satu restoran kacang di Gaza.
Kecelakaan
Itu
Malang
tak dapat ditolak. Pada tahun 1952, saat berusia 16 tahun, rangka leher Yassin
patah ketika bermain bersama kawan-kawannya.
Di
dekat kamp pengungsi al Shati’, pantai adalah tempat bermain yang sangat
penting dan strategis. Di sana banyak dilakukan aktivitas mulai dari keilmuan
yang disusul dengan kegiatan olah raga. Di antara olah raga yang dilakukan
adalah melompat dari ketinggian ke pasir laut (yang indah), atau seorang naik
di atas pundak yang lain saling berpegangan tangan kemudian melompat ke laut,
atau bermain bola dan berbagai permainan berat lainnya. Dalam salah satu
permainan di pantai pada musim panas tahun 1952 Ahmad Yasin jatuh terjungkal
kepalanya, seperti diceritakan Ahmad Yasin kepada keluarganya kala itu. Namun
seperti diceritakan Dr. Abdul Aziz Rantisi, “Beliau mengalami musibah patah
tulang leher saat bermain gulat dengan salah satu teman beliau, asy Syahid Abdullah
Shiyam (Komandan Perang “Khalda” Beirut tahun 1982 yang gugur dalam perang
tersebut). Namun beliau menyembunyikan sebab-sebab terjadinya kecelakaan
tersebut kepada keluarga beliau agar tidak timbul masalah antara keluarga
beliau dan keluarga Shiyam. Ketika itu, beliau hanya berkata bahwa kecelakaan
itu terjadi karena ia melompat di udara dan kemudian terjatuh dengan kepala
terlebih dahulu. Baru pada tahun 1990 beliau bercerita yang sebenarnya kepadaku
saat bersama dalam satu pernjara.
”Setelah
empat puluh hari lehernya digips, ternyata ia harus menjalani sisa hidupnya
dalam keadaan lumpuh. Selain lumpuh penuh, mata bagian kanannya buta setelah ia
dipukul dalam penjara Israel oleh dinas intelijen Israel. Mata kirinya juga
tidak dapat melihat banyak. Selain itu, masih ada beberapa penyakit fisik
lainnya yang menimpa beliau. Namun semua ini tidak menghalanginya untuk
berjuang.
Masa
Perjuangan
Usai
menamatkan sekolah menengahnya pada 1958, Yassin diberi kesempatan mengajar
meski sebelumnya ditolak karena faktor kesehatan. Sebagian besar gajinya dari
mengajar diserahkan untuk keluarganya. Ketika berusia duapuluh tahun, Yassin
ikut berdemonstrasi di Gaza dalam rangka menolak serangan Israel ke Mesir pada
tahun 1956. Saat itulah, tampak kepiawaian berorasi dan berorganisasi tampak.
Bersama teman-temannya, ia menyerukan untuk menolak campur tangan dunia
internasional dan menegaskan kemestian kembalinya pasukan Mesir ke wilayah ini.
Lidah
Yassin yang tajam membuat bintangnya meroket di kalangan aktivis dakwah di
Gaza. Hal ini membuat intelijen Mesir menangkapnya pada tahun 1965 yang
merupakan kelanjutan dari penangkapan besar-besaran yang ditujukan kepada
aktivis Ikhwanul Muslimin. Ia dikurung selama sebulan, lalu dilepaskan setelah
terbukti tidak bersalah. Tentang pengalamannya di penjara, pemimpin spritual
HAMAS ini menuturkan, "Penjara makin menegaskan jiwaku dalam membenci
kezaliman."
Setelah
kekalahan pasukan gabungan negara-negara Arab pada perang 1967, yang membuat
Israel mencamplok seluruh tanah Palestina termasuk Jalur Gaza, Yassin terus
memompakan semangat jihad kaum Muslimin dari atas mimbar Masjid Al-Abbasi. Ia
juga ikut bergiat dalam kegiatan pengumpulan dana bagi para keluarga syuhada
maupun yang ditangkap. Tak lama kemudian, Yassin terpilih menjadi Ketua Lembaga
Islam di Gaza. Yassin banyak berinteraksi dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin
yang didirikan oleh Ustadz Hasan Al-Banna pada tahun 1928 di Mesir.
Aktivitas
dakwah Syaikh Yasin mengusik zionis. Akibatnya, pemerintah memerintahkan untuk
menangkapnya pada tahun 1982 dengan tuduhan membentuk lembaga militer dan
terlibat dalam pengumpulan senjata. Ia divonis penjara selama 13 tahun, namun
baru tiga tahun kemudian ia dilepaskan dalam proses imbal lepas tawanan antara
Israel dan Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina.
Pada
tahun 1987, bersama sejumlah aktivis dakwah Ikhwanul Muslimin di Jalur Gaza,
Yassin mendirikan Harakah Al-Muqawamah AL-Islamiyyah yang sering disingkat
dengan HAMAS. Gerakan ini berperan penting bagi meletusnya Intifadhah I atau
juga dikenal dengan istilah "Intifhadah Masjid".
Sejak
meletusnya Intifadhah, penjajah Zionis berpikir keras untuk menghentikan
aktivitas Syaikh Yasin. Maka pada 1988, rumahnya diserbu, digeledah dan dirinya
terancam diusir ke Libanon. Banyaknya tentara Israel yang tewas membuat Israel
kembali menangkapnya pada 18 Mei 1989 bersama ratusan aktivis HAMAS lainnya.
Pada 16 Oktober 1991, pengadilan militer Israel memvonisnya dengan penjara
seumur hidup. Yasin dituduh mendorong penangkapan dan pembunuhan terhadap
tentara Israel di samping mendirikan organisasi HAMAS.
Sejumlah
operasi digelar oleh Brigade Izzuddin Al-Qassam, sayap militer HAMAS demi
membebaskan Syaikh Yassin namun gagal. Yassin akhirnya kembali menghirup udara
kebebasan, setelah proses tukar-menukar pada 1 Oktober 1997 antara kerajaan
Yordania dan Israel. Dua agen Mossad diserahkan kepada Israel sebagai imbalan
pembebasan Syaikh Ahmad Yasin. Sejak saat itu, singa tua ini kembali ke medan
jihad Palestina, memimpin kelompok perjuangan HAMAS, hingga syahid
menjemputnya.
Syaikh
Yassin dan Anak-anak
Syaikh
Ahmad Yassin terkenal karena rasa humorisnya dan kebaikannya kepada anak-anak
di Gaza. Dia mencintai dan bersimpati dengan anak-anak tersebut. Anak-anak Gaza
bahkan menganggap Syaikh Yassin seperti ayah mereka sendiri yang lembut dalam
mendidik mereka.
Syaikh
Yassin sering merawat dan mengajar anak-anak Palestina tentang
pelajaran-pelajaran agama dan tentang kehidupan mereka sehari-hari. Dan
anak-anak muda tersebut sekarang tumbuh dalam bimbingan serta pendidikan iman
dan keislaman lewat tangan Syaikh Yassin yang lumpuh, pendiri Gerakan
Perlawanan Islam di Palestina Hamas.
Musbah
Shaghnuby (15 tahun), sangat ingat kenangan ketika ia waktu masih berusia 8
tahun, Syaikh Yassin sering memanjakan dia dan anak-anak di lingkungannya.
Mereka menganggap Syaikh Yassin sebagai ayah yang penuh kasih sayang terhadap
mereka, Musbah mengatakan: "Semoga Allah memberkati dia, dia adalah ayah
dari semua orang Palestina dan seorang kakek bagi anak-anak mereka". Dia
menambahkan: "kami sering mengiringi Syaikh Yassin baik di masjid ataupun
di rumahnya yang sederhana, dan ia sangat menghargai kami ketika kami shalat
Subuh di masjid dan mau menghafal Al-Qur'an".
Musbah
melanjutkan: "Terus terang, saya tidak terlalu suka mendengarkan khotbah
kecuali khutbah atau ceramah dari Syaikh Yassin, bukan semata-mata karena dia
Syaikh Yassin, tetapi karena kata-kata yang ia sampaikan memang berasal dari
hati dan penuh dengan kata-kata yang membangkitkan semangat dan menyenangkan.
Syaikh Yasin sering menyerukan kepada orang-orang untuk rajin belajar dengan
ketekunan, serta terus menambah ilmu pengetahuan ".
Kesyahidannya
Abil
Qadir Abdil Aal, seorang pemuda 19 tahun yang tinggal di dekat rumah Syaikh
Yassin, mengatakan : "Saya bersama Syaikh Yassin beberapa saat sebelum ia
syahid ketika kami shalat subuh bersama di kompleks Masjid Islam yang dekat
dengan rumah kami. Beberapa menit setelah shalat subuh berakhir, Syaikh Yassin
meminta semua anak muda di dalam masjid untuk segera pulang ke rumah mereka
masing-masing, sehingga merekapun meninggalkan masjid. Begitu mereka tiba di
rumah mereka, mereka terkejut dengan suara bom yang ternyata menargetkan tubuh
lumpuh Syaikh Yassin".
Abdiel
Aal menyebutkan beberapa kegiatan yang sering Syaikh Yassin lakukan di komplek
Masjid Islam di dekat rumahnya: "Syaikh Yassin sering mendorong kami
sebagai anak-anak muda untuk rajin berlatih olahraga, ia sangat menghargai
kami."
Selain
itu, ia juga sering mengatur kegiatan-kegiatan yang memotivasi para pemuda dan
anak-anak untuk datang ke masjid serta mendorong para anak muda untuk lebih
bertanggung jawab. Ia sangat bermurah hati dan tidak pernah menolak setiap
pengemis yang mendekatinya. Ia juga mencintai Jihad dan perlawanan untuk
membebaskan Palestina dari pendudukan zionis Israel."
Di
saat-saat sebelum Syaikh Yassin terbunuh, sambil menangis Abdil Aal mengatakan:
"Saya sedang duduk bersama sepupu saya, asy syahid Amir Abid Aal, dan asy
syahid Mu'min Al Yazuri yang ikut syahid bersama dengan Syaikh Yassin. Syaikh
Yassin bertanya kepada mereka: "Bagaimana cuaca di luar?" Lalu salah
seorang dari mereka menjawab: "cuaca terlalu dingin. Jadi, jangan keluar
dulu nanti malah menjadi 'sakit'. Ini merupakan upaya para anak muda untuk
mencegah Syaikh keluar dari masjid, agar pesawat Israel tidak bisa
menyerangnya. "Saya berkata kepada Syaikh: "Langit penuh dengan
pesawat Israel dan situasi sangat berbahaya. Syaikh Yassin dengan tenang
menjawab: "Anakku ..Tak ada yang bisa lolos dari takdir-Nya ". Anak
Palestina itu mengatakan bahwa Syaikh meminta semua anak muda yang berada di
masjid untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing demi keselamatan
mereka.
Syaikh
kemudian menunggu sampai semua dari mereka pulang ke rumah mereka
masing-masing, kecuali Mu'min Al Yazouri, Amir Abid Aal dan pengawal yang
tinggal bersamanya. Lalu, kemudian ketika mereka keluar dari masjid, tidak lama
kemudian pesawat-pesawat Zionis menyerang mereka. Syaikh Yassin syahid
(insyaAllah) bersama dengan teman-temannya, Mu'min dan Amir.
"Kami
semua sangat sedih oleh kematian Syaikh Yassin. Saya mencintainya lebih dari
keluarga saya sendiri. Saya menganggap dirinya sebagai seorang kakek, pemimpin
dan panutan. Saya tidak melihat dan sepertinya tidak akan pernah melihat orang
yang lebih baik daripada dia saat ini." Musbah Shaghnuby (15 tahun)
seorang pemuda palestina.Syaikh Yassin adalah ikon keIslaman, nasional dan
sosial yang akan tetap terukir dalam memori semua orang Palestina dan umat
Muslim di seluruh dunia, khususnya mereka yang dekat dengannya saat mereka
mengingat dirinya yang telah mempengaruhi diri mereka dalam semua aspek
kehidupan. Semoga Allah memberkati Syaikh Yassin dan para pemimpin rakyat
Palestina dan umat Muslim di dunia untuk mengikuti jalan-Nya.
https://aridasahputra.blogspot.com/2012/06/profil-syaikh-ahmad-yasin.html
9.
Sayyid Quthb (1324 – 1386 H / 1906 – 1966 M)
Kelahiran
dan Tumbuh Kembangnya:
Penulis
Fi Zhilalil Qur'an, Sayyid Quthb Ibrahim, lahir di desa Mūsyah, wilayah
Provinsi Asyut, Mesir Selatan (Hulu Mesir) pada tahun 1324 H bertepatan dengan
9 Oktober 1906 M. Beliau masuk Sekolah Dasar di desa tersebut pada tahun 1912
M, lalu lulus pada tahun 1918 M. Setelah itu, beliau sempat terputus dari
pendidikan selama dua tahun akibat Revolusi 1919 M.
Pada
tahun 1920 M, beliau merantau ke Kairo untuk melanjutkan studi. Beliau masuk ke
Sekolah Guru Tingkat Pertama (Madrasah al-Mu'allimīn al-Awwaliyyah) pada
tahun 1922 M, kemudian masuk ke Sekolah Persiapan Darul Ulum (Madrasah
Tajhīziyyah Dār al-'Ulūm) pada tahun 1925 M, hingga akhirnya masuk ke
Fakultas Darul Ulum pada tahun 1929 M. Beliau lulus dari fakultas tersebut pada
tahun 1352 H / 1933 M dengan meraih gelar Lisensi (Licence) di bidang
Sastra.
Setelah
lulus, beliau diangkat sebagai guru di bawah naungan Kementerian Pendidikan di
Sekolah Ad-Dawudiyyah, kemudian pindah ke Sekolah Damietta pada tahun 1935 M,
lalu ke Helwan pada tahun 1936 M. Pada tahun 1940 M, beliau dipindahkan ke
kantor pusat Kementerian Pendidikan lalu menjadi inspektur Pendidikan Dasar.
Beliau kemudian kembali ke Direktorat Jenderal Kebudayaan di kementerian
tersebut pada tahun 1945 M. Pada tahun inilah beliau menulis buku Islam
pertamanya, yaitu At-Tashwīr al-Fannī fī al-Qur'ān (Artistika Bahasa
al-Qur'an), dan mulai menjauh dari madrasah sastra Al-Aqqad.
Pada
tahun 1368 H / 1948 M, Kementerian Pendidikan mengutusnya ke Amerika Serikat
untuk mempelajari kurikulum dan sistem pendidikan di sana. Beliau menetap di
sana selama kurang lebih dua tahun, hingga kembali ke Mesir pada tanggal 20
Agustus 1950 M / 1370 H. Beliau lalu diangkat di kantor Menteri Pendidikan
sebagai Wakil Pengawas Riset Teknis dan terus menjabat hingga mengajukan
pengunduran dirinya pada tanggal 18 Oktober 1952 M.
Dukungan
dan Seruannya terhadap Perbaikan (Islah):
Sayyid
Quthb telah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik sejak usia muda. Beliau
memublikasikan ratusan artikel di berbagai surat kabar dan majalah Mesir,
seperti Al-Ahram, Ar-Risalah, dan Ath-Thaqafah. Beliau
juga menerbitkan majalah Al-'Alam al-'Arabi dan Al-Fikr al-Jadid,
kemudian menjabat sebagai pemimpin redaksi mingguan surat kabar Al-Ikhwan
al-Muslimun pada tahun 1373 H / 1953 M, yaitu tahun di mana beliau secara
resmi bergabung dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun. Sebelum masa itu, beliau sudah
dekat dan bekerja sama dengan Ikhwan.
Melalui
artikel-artikelnya, beliau memerangi berbagai bentuk kerusakan dan penyimpangan
dalam kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Mesir, serta mengkritik keras
pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kerusakan tersebut. Beliau menyerukan
perbaikan berbasiskan Islam, sehingga—bersama tokoh lainnya—beliau menjadi
figur sosial yang senantiasa hadir dalam dinamika kebudayaan, sosial, politik,
dan pergerakan pembaharuan di Mesir. Beliau menganggap pihak Inggris beserta
para kaki tangan dan sekutunya dari kalangan orang-orang istana, pemerintahan
yang berganti-ganti, politisi partai, kaum feodal, dan pedagang-pedagang besar
sebagai penyebab ketertinggalan Mesir.
Sayyid
Quthb mencapai puncak kejayaan dalam bidang kritik sastra dan literatur. Beliau
mengusung teori kritik baru dalam kritik sastra yang dinamakan "Teori
Gambar dan Bayangan" (Nazhariyyat ash-Shuwar wa azh-Zhilāl). Beliau
juga menyerukan "Metode Komprehensif dalam Kritik Sastra" (Al-Manhaj
al-Mutakāmil fī an-Naqd al-Adabī), yaitu menggabungkan antara metode
artistik, metode sejarah-kebahasaan, dan metode psikologis.
Pada
tahun 1367 H / 1947 M, Sayyid Quthb mengalihkan haluan hidupnya sepenuhnya
kepada Islam. Beliau berubah menjadi seorang reformis (mushlih) Islam,
kemudian tumbuh menjadi salah satu pelopor pemikiran Islam kontemporer
terkemuka. Beliau menyerukan kebangkitan Islam garda depan (Thalī'ah)
dan pembaharuan kehidupan berbasiskan Islam. Oleh karena itu, beliau
menafsirkan Al-Qur'anul Karim dengan penafsiran baru dalam kitab tebalnya, Fi
Zhilalil Qur'an. Dalam karya tersebut, beliau menjadi peletak madrasah baru
dalam tafsir, yaitu Madrasah at-Tafsīr al-Harakī (Madrasah Tafsir
Pergerakan), karena makna-makna serta gagasan-gagasan pergerakan dan edukatif (tarbawiyyah)
yang beliau tambahkan ke dalam tafsirnya.
Sayyid
Quthb menyerukan isolasi emosional (al-'uzlah ash-syu'ūriyyah) yang
berkaitan dengan perasaan dan indra batin seorang muslim, bukan isolasi
fisik-material (al-'uzlah al-māddiyyah al-hissiyyah) yang melibatkan
anggota badan, yakni sebatas dalam bingkai apa yang dihalalkan dan diharamkan
oleh Allah. Beliau memandang bahwa isolasi emosional ini timbul secara otomatis
dalam jiwa seorang muslim yang komitmen (multazim) terhadap orang-orang
yang tidak berkomitmen pada perintah-perintah Islam.
Sayyid
Quthb tidak pernah mengeluarkan hukum-hukum syariat [penerapan vonis] atas
orang-orang, dan tidak pula berpendapat tentang pengkafiran (takfīr)
masyarakat. Oleh sebab itu, kita mendapati beliau menegaskan hal tersebut
melalui pernyataannya: "Sesungguhnya tugas kita bukanlah menjatuhkan
hukuman/vonis atas manusia, melainkan tugas kita adalah mengenalkan mereka pada
hakikat 'Lā ilāha illallāh'. Sebab, manusia belum mengetahui konsekuensi
riilnya, yaitu berhukum pada syariat Allah."
Aqidah
Sayyid Quthb adalah aqidah Salafus Shalih, dan pemikirannya adalah
pemikiran salafi yang bersih dari noda/penyimpangan. Pemikirannya terfokus pada
masalah tauhid yang murni (at-tauhīd al-khālish), penjelasan makna
hakiki Lā ilāha illallāh, serta penjelasan kriteria keimanan yang
sebenarnya sebagaimana tercantum dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Beliau juga
memfokuskan tulisan-tulisannya pada masalah Hakimiyyah [hak menetapkan
hukum hanya milik Allah] dan Wala' [loyalitas] agar benar-benar murni
semata-mata demi Wajah Allah Ta'ala.
Sayyid
Quthb menentang kejahiliyaan modern (al-jāhiliyyah al-mu'āshirah) dalam
karya-karyanya dan menyingkap hakikat kejahiliaan tersebut. Beliau menjelaskan
bahwa jahiliyah bukanlah keadaan individual semata, melainkan
individu-individunya bergerak sebagai satu kesatuan organ yang saling menjadi
pelindung satu sama lain. Beliau menuntut masyarakat muslim untuk menghadapi
jahiliyah ini dengan karakteristik yang sama, tetapi dengan kadar yang lebih
kuat dan lebih dalam, agar tidak terjadi fitnah berupa timbulnya kerusakan di
darat dan di laut.
Sayyid
Quthb mendefinisikan masyarakat jahiliyah (al-mujtama' al-jāhilī)
sebagai: "Setiap masyarakat yang tidak memurnikan peribadatannya hanya
kepada Allah semata; di mana peribadatan ini terefleksikan dalam konsepsi
keyakinan (at-tashawwur al-i'tiqādī), ritual-ritual tradisi (asysa'ā'ir
at-taqlīdiyyah), dan hukum-hukum perundang-undangan (asy-syarā'i'
al-qānūniyyah)."
Asy-Syahid
Sayyid Quthb menulis karya yang sangat banyak. Pada awal kehidupan ilmiahnya,
karya-karyanya didominasi oleh corak sastra, seperti kritik, literatur, puisi,
dan novel. Kemudian, beliau bertransformasi secara radikal menuju kontribusi
pemikiran Islam. Perkembangan ini mencerminkan perubahan mendalam dalam
kehidupannya yang berkesinambungan dan rekam jejaknya yang harum.
Ceramah-ceramah Islam yang beliau sampaikan di wilayah Syam ketika menghadiri
Konferensi Islam Yerusalem (Mu'tamar al-Quds) memberikan pengaruh yang
sangat besar dalam jiwa masyarakat luas, khususnya para pemuda perguruan tinggi
yang menyambut hangat kecenderungan Islam dari sastrawan besar ini.
Karya-Karya
Utama:
Di
antara karya-karyanya yang paling penting adalah:
- Fī Zhilāl al-Qur'ān
- Hādzā ad-Dīn
- Al-Mustaqbal li Hādzā
ad-Dīn
- Khashā'ish at-Tashawwur
al-Islāmī
- Ma'ālim fī ath-Tharīq
- At-Tashwīr al-Fannī fī
al-Qur'ān
- Masyāhid al-Qiyāmah fī
al-Qur'ān
- Al-Islām wa Musykilāt
al-Hadhārah
- Al-'Adālah
al-Ijtimā'iyyah fī al-Islām
- As-Salām al-'Ālamī wa
al-Islām
- Kutub wa Syakhshiyyāt
- Asywāk
- An-Naqd al-Adabī:
Ushūluhu wa Manāhijuh
- Nahwa Mujtama' Islāmī
- Thifl min al-Qaryah
- Al-Athyāf al-Arba'ah
- Muhimmat asy-Syā'ir fī
al-Hayāh
- Ma'rakat al-Islām wa
ar-Ra'samāliyyah
- Tafsīr Āyāt ar-Ribā
- Tafsīr Sūrah asy-Syūrā
- Dirāsāt Islāmiyyah
- Ma'rakatunā ma'a al-Yahūd
fī al-Tārīkh: Fikrah wa Manhaj
- Limādzā A'damūnī?
Majalah
'Ālam al-Kutub yang diterbitkan di Kerajaan Arab Saudi telah menerbitkan
indeks komprehensif yang sangat baik mengenai karya-karya buku dan
artikel-artikel beliau.
Sebagian
dari buku-buku ini ditulis sebelum beliau mengadopsi kecenderungan Islam yang
berkomitmen (ilfizām), yaitu jalan hidup yang dibawanya hingga wafat
menemui Allah. Namun bagaimanapun juga, karya-karya tersebut merepresentasikan
salah satu fase dalam tahapan kehidupannya.
Perkenalan
Saya Dengar Beliau:
Sungguh
saya sangat berbahagia dapat mengenal beliau pada awal tahun 1950-an, sepulang
beliau dari Amerika. Saat itu, saya bersama rombongan saudara-saudara sejawat
mengunjungi rumah beliau di Helwan. Sebelum bertemu dengannya, kami telah
membaca bukunya Al-'Adālah al-Ijtimā'iyyah fī al-Islām (Keadilan Sosial
dalam Islam) yang terbit pada tahun 1946 M. Diskusi-diskusi pun berlangsung
dengannya mengenai kecenderungan Islamnya.
Halaqah-halaqah
diskusi (nidwāt) di rumahnya dihadiri oleh sekumpulan saudara dari
Sudan, Suriah, Irak, Yordania, Bahrain, negara-negara Teluk, dan Jazirah Arab,
di samping saudara-saudara dari Mesir sendiri. Fokus pembahasannya adalah
mengenai pentingnya garda depan yang beriman (ath-thalī'ah al-mu'minah)
dalam menjalankan perannya untuk mengubah masyarakat, setelah mereka dibina di
atas manhaj Islam dan membentuk diri sesuai dengan ajaran Al-Qur'anul Karim.
Al-Qur'an inilah yang dahulu telah membentuk generasi Al-Qur'an yang unik (al-jīl
al-qur'ānī al-farīd), sehingga mereka menjadi teladan yang jujur bagi Islam
baik dalam perkataan, perbuatan, keyakinan, maupun perilaku.
Beliau
pernah menceritakan bagaimana beliau mengamati luapan kegembiraan yang melanda
Amerika Serikat saat mereka mendengar kabar terbunuhnya Imam Hasan al-Banna, di
mana mereka keluar menari, menyanyi, dan saling memberi ucapan selamat!
Ketika
beliau menanyakan sebabnya, dikatakan kepadanya: "Musuh paling
berbahaya bagi Barat dan Amerika telah terbunuh di Mesir, yaitu Hasan al-Banna,
Mursyid Am Ikhwanul Muslimin."
Sayyid
Quthb merasa heran bagaimana kedudukan Al-Banna bisa seperti itu, padahal
beliau tidak mengenal Al-Banna memiliki kedudukan seberbahaya itu ketika masih
di Mesir.
Maka
beliau memutuskan bahwa sekembalinya ke Mesir, beliau akan segera mengontak
jamaah Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan al-Banna dan bekerja sama
dengannya. Dan alhamdulillah, hal itu benar-benar terwujud.
Saudara
Isa Al Khalifa beserta saudara-saudaranya dari Bahrain, dan Saudara Muhammad
Madani beserta saudara-saudaranya dari Sudan sering berkunjung ke rumah Sayyid
Quthb karena mereka tinggal di Helwan. Sedangkan kami berkunjung dari waktu ke
waktu, namun kami sangat antusias membaca buku-buku terbarunya yang bercorak
Islam.
Ketika
masih menjadi siswa SMA, saya kurang menggemari Sayyid Quthb karena beliau
berasal dari madrasah Al-Aqqad. Saya lebih cenderung pada madrasah Ar-Rafi'i
dan murid-muridnya seperti Sa'id Al-'Aryan, Ali Ath-Thanthawi, dan Mahmud
Syakir. Namun setelah tiba di Mesir dan membaca majalah Al-Fikr al-Jadid,
artikel-artikelnya tentang Hasan al-Banna dan Ikhwanul Muslimin di majalah Ad-Da'wah,
menghadiri forum-forumnya di rumahnya, menyimak ceramah-ceramahnya yang memukau
di Perhimpunan Pemuda Muslim (Jam'iyyah asy-Syubbān al-Muslimīn)
menentang Prancis serta tuntutannya untuk menanggalkan gelar-gelar dan
ijazah-ijazah Prancis demi membela saudara-saudara kita di Afrika Utara, begitu
pula artikel-artikelnya tentang "Rombongan Wanita-Wanita Hampa" (Mawākib
al-Fārighāt)—semua hal ini mendekatkan saya kepadanya dan menempatkan
posisi yang agung baginya dalam jiwa saya. Maka saya mulai menikmati setiap
artikel yang beliau tulis atau buku yang beliau terbitkan, dan membacanya
dengan penuh gairah serta dahaga. Hingga ketika beliau bergabung dengan
Ikhwanul Muslimin dan memegang bidang kebudayaan, dakwah, serta pimpinan
redaksi surat kabar Al-Ikhwan al-Muslimun, hubungan dengan beliau
menjadi semakin kuat, erat, dan dalam.
Islam
Amerika (Al-Islām al-Amrīkānī):
Asy-Syahid
Sayyid Quthb berkata:
"Islam
yang diinginkan oleh orang-orang Amerika dan sekutu-sekutunya di Timur Tengah
bukanlah Islam yang menentang kolonialisme, bukan pula Islam yang menentang
kediktatoran/zhalim. Melainkan Islam yang menentang komunisme. Mereka tidak
ingin Islam itu memerintah. Mereka menginginkan 'Islam Amerika'. Mereka
menginginkan Islam yang hanya dimintai fatwa tentang hal-hal yang membatalkan
wudhu, tetapi tidak dimintai fatwa dalam urusan-urusan politik, ekonomi,
sosial, dan keuangan umat Islam. Sungguh ini adalah sebuah komedi, bahkan
sebuah tragedi.
Sesungguhnya
masyarakat ini tidak akan tegak sampai terbentuk sekelompok manusia yang
menetapkan bahwa peribadatan mereka secara total hanya untuk Allah semata, dan
mereka tidak mengabdi kepada selain Allah; kemudian mereka mulai secara riil
mengorganisasi seluruh kehidupan mereka di atas landasan peribadatan yang murni
ini."
Perselisihan
dengan Pihak Revolusi:
Sayyid
Quthb berselisih paham dengan para tokoh Revolusi Mesir setelah Abdel Nasser
menggulingkan Presiden Muhammad Naguib, memonopoli kekuasaan, dan mendirikan
pemerintahan diktator sebagai pengganti sistem syura. Abdel Nasser juga
menindas para ahli hukum, dai, pakar pemikiran, dan ulama.
Sayyid
Quthb ditangkap untuk pertama kalinya pada awal tahun 1954 M dan mendekam
selama dua bulan di tahanan bersama pimpinan Ikhwanul Muslimin. Kemudian beliau
ditangkap kembali setelah sandiwara "Insiden Al-Manshiyyah", di mana
Abdel Nasser menuduh Ikhwan mencoba membunuhnya pada tanggal 26 Oktober 1954 M.
Sayyid Quthb diajukan ke pengadilan pada tanggal 22 November 1954 M di bawah
pengadilan yang dipimpin oleh Gamal Salem dengan anggota Anwar Sadat dan
Hussein el-Shafei. Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara selama 15 tahun.
Belakangan, Presiden Irak Abdul Salam Arif memberikan intervensi (sebagai
perantara), sehingga beliau dibebaskan atas dasar pengampunan medis pada tahun
1964 M.
Pada
tahun 1965 M, Abdel Nasser mengumumkan dari Moskow saat berkunjung ke sana
tentang pembongkaran plot konspirasi yang dirancang oleh Ikhwanul Muslimin di
bawah pimpinan Sayyid Quthb untuk membunuhnya dan menggulingkan rezim
pemerintahan!! Maka Sayyid Quthb ditangkap untuk ketiga kalinya pada tanggal 9
Agustus 1965 M. Interogasi terhadapnya dimulai di Penjara Militer pada tanggal
19 Desember 1965 M dan berlangsung selama tiga hari. Persidangannya dimulai di
hadapan pengadilan yang dipimpin oleh Fuad ad-Digwi pada tanggal 12 April 1966
M. Pengadilan menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Sayyid Quthb pada tanggal
21 Agustus 1966 M. Berbagai telegram mengalir dari penjuru dunia Arab dan Islam
yang menuntut Abdel Nasser agar tidak melaksanakan eksekusi mati terhadap
Sayyid Quthb.
Raja
Syahid Faisal bin Abdul Aziz Al Saud telah mengirimkan telegram kepada Abdel
Nasser yang tiba pada tanggal 28 Agustus 1966 M, meminta dengan sangat agar
tidak mengeksekusi Sayyid Quthb. Sami Sharaf menyampaikan telegram tersebut
kepada Abdel Nasser pada malam hari itu. Abdel Nasser lantas berkata kepada
Sami Sharaf: "Eksekusi dia pada waktu fajar... besok. Dan tunjukkan
telegram ini kepadaku setelah eksekusi!" Kemudian Abdel Nasser
mengirimkan telegram balasan berisi permohonan maaf kepada Raja Faisal dengan
alasan bahwa telegram baru tiba setelah eksekusi dilaksanakan!!!
Pelaksanaan
eksekusi hukuman mati tersebut dilakukan sebelum terbit fajar pada hari Senin,
13 Jumadil Awal 1386 H / 29 Agustus 1966 M.
Al-Maududi
di Hari Eksekusi:
Syekh
Khalil Ahmad al-Hamadi—sekretaris Al-Maududi—merawatkan dengan berkata:
"Pagi
hari setelah pelaksanaan eksekusi hukuman mati terhadap Asy-Syahid Sayyid
Quthb, kami masuk menemui Al-Maududi di kamarnya. Surat kabar Pakistan telah
menyorot berita tersebut di halaman-halaman utamanya. Amir Jamaah, Al-Maududi,
menceritakan kisah ini kepada kami, beliau berkata: 'Tiba-tiba aku merasakan
rasa sesak napas yang nyata... dan aku tidak tahu apa sebabnya. Ketika aku
mengetahui waktu eksekusi Asy-Syahid Sayyid Quthb di surat kabar, barulah aku
menyadari bahwa momen sesak napas yang kurasakan adalah momen yang persis sama
ketika Sayyid Quthb digantung!' "
Syekh
Khalil al-Hamadi menambahkan:
"Pada
tahun 1966 M di Makkah Al-Mukarramah, tepatnya di Hotel Syubra, seorang pemuda
muslim Arab masuk menemui Ustadz Al-Maududi dan menyodorkan buku 'Ma'ālim fī
ath-Tharīq' karya Sayyid Quthb. Ustadz Al-Maududi membacanya hanya dalam waktu
satu malam. Pada pagi harinya beliau berkata: 'Seolah-olah akulah yang
mengarang buku ini!!' Beliau mengungkapkan rasa takjubnya atas kesamaan
pemikiran antara dirinya dan Sayyid Quthb, kemudian beliau meralat dengan
berkata: 'Tidak mengherankan, karena sumber pemikirannya dan pemikiranku adalah
satu, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya'."
Asy-Syahid
Sayyid Quthb berkata:
"Sesungguhnya
jari telunjuk yang bersaksi atas keesaan Allah dalam shalat, enggan untuk
menuliskan satu kata pun yang tunduk/mengakui penguasa thagut. Jika aku
dipenjara secara haq (benar), maka aku ridha dengan hukum yang haq. Namun jika
aku dipenjara secara bathil, maka aku terlalu mulia untuk memohon belas kasihan
kepada kebathilan."
Dr.
Ahmad Abdul Hamid Ghurab berkata:
"Kita
tidak mengklaim kesucian dari dosa (ishmahal-‘ishmah) bagi Asy-Syahid Sayyid
Quthb, tidak pula bagi ulama dan dai muslim lainnya. Setiap orang dapat diambil
perkataannya dan dapat ditinggalkan, kecuali orang yang ma'shum ﷺ."
Sebagaimana
firman Allah Ta'ala:
فَهُوَ الَّذِي يُصْلِحُ
أَعْمَالَهُمْ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَن يُضِلَّ
أَعْمَالَهُمْ
"Dan
orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan
amal-amal mereka." (QS. Muhammad: 4)[^1]
Umat
Islam mengutuk kejahatan keji ini, dan shalat gaib ditegakkan untuknya di Timur
dan Barat. Banyak majalah Islam berbahasa Arab maupun bahasa lainnya
menerbitkan edisi khusus tentang Asy-Syahid Sayyid Quthb dan
saudara-saudaranya. Banyak ulama dan dai memperkirakan bahwa para penjahat
tersebut akan ditimpa malapetaka hebat. Tidak berselang melainkan beberapa
bulan saja hingga terjadinya Tragedi/Bencana 1967 (Naksah 1967), di mana
Abdel Nasser menderita kekalahan yang sangat fatal.
Allal
al-Fasi, tokoh pemimpin Maroko, menulis dan berkhotbah dengan menyatakan: "Allah
tidak akan pernah memenangkan perang yang dipimpin oleh pembunuh Sayyid
Quthb."
Penyair
Ahmad Muhammad ash-Shiddiq bersyair:
Pena
yang cerdas pun terhunus mengingatkan,
Demi
Allah, menolak selain hukum Sang Pencipta.
Hingga
engkau merajut panji-panji dari kebenaran,
Berkibar
megah di alam pemikiran.
Dan
engkau menerangi petunjuk terbaik bagi generasi,
Menyingkap
jalan kebenaran bagi orang-orang yang berbakti.
Juga
menjadikan "Fi Zhilal" sebagai tangga-tangga rimbun,
Menuju
keabadian dan tempat mendaki orang-orang yang suci.
Kaum
thagut mengira bahwa jika mereka membunuh para dai, mereka akan memusnahkan
Islam. Namun Allah menghendaki hal yang berbeda; karya-karya Sayyid Quthb
tersebar luas ke seluruh penjuru dunia, mayoritas bukunya dicetak ulang lebih
dari 25 kali cetakan, serta diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Tidak ada
satu tempat pun di dunia melainkan mengenal Asy-Syahid Sayyid Quthb,
pemikirannya, mengapa ia dieksekusi, siapa di balik eksekusinya, dan demi
kepentingan siapa ia dieksekusi.
Para
penulis, pengarang, penyair, dan pengkritik berlomba-lomba mengenalkan
pemikiran Sayyid Quthb serta mengulas riwayat hidup dan biografinya. Ribuan
tulisan diterbitkan, puluhan studi dituliskan, serta puluhan tesis universitas
dan riset akademis diajukan mengenai dirinya, pemikirannya, dan karya-karyanya
dalam berbagai bahasa. Penerbit-penerbit saling bersaing mencetak buku-bukunya,
dan buku Fi Zhilalil Qur'an menjadi buku paling laku di seluruh pameran
buku. Masyarakat dan pemuda muslim menyambut hangat serta menimba ilmu dari
sumber yang segar dan air yang jernih ini.
Mungkin
saudara yang mulia, Dr. Salah Abdul Fattah al-Khalidi, adalah salah satu murid
Sayyid Quthb yang paling banyak menaruh perhatian dalam menulis tentang beliau
dan warisan pemikirannya; dan saya pribadi banyak mengambil manfaat dari
tulisan-tulisannya.
Lebih
dari seperempat abad yang lalu, saya pernah membaca sebuah studi karya peneliti
Arab Saudi, Ustadz Ibrahim ibn Abdurrahman al-Bulaihi, berjudul "Sayyid
Quthb wa Turāthuhu al-Adabī al-Fikrī" (Sayyid Quthb dan Warisan Sastra
Pemikirannya), yang mana saya pernah menulis ulasannya di majalah Al-Mujtama'
pada masa itu.
Begitu
pula saudara-saudara ustadz: Yusuf al-'Azham, Abdullah Azzam, Muhammad Ali
Quthb, Ahmad Abdul Ghafur Attar, Abul Hasan An-Nadwi, Muhammad Al-Hasani, Ahmad
Hasan Farhat, Ahmad Fa'iz, Salim al-Bahnasawi, dan lainnya, telah memberikan
kontribusi yang sangat baik dalam mengenalkan warisan Asy-Syahid Sayyid Quthb,
dan ini adalah sebagian kecil dari hak beliau atas kita.
Sikap-Sikap
yang Adil (Mawāqif al-Inshāf):
Kami
tidak akan melupakan sikap-sikap adil yang ditunjukkan oleh para masyaikh:
Abdul Aziz bin Baz, Abdullah al-Jibreen, Bakr Abu Zayd, Abdurrahman ad-Dausari,
dan lainnya... Semoga Allah membalas mereka semua dengan kebaikan yang
melimpah.
Sayyid
Quthb berkata: "Sesungguhnya dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah
yang murni dari fanatisme, dan sesungguhnya orang-orang yang menentangnya
dialah orang-orang yang fanatik, atau orang-orang bodoh yang tidak tahu apa
yang mereka katakan."
Beliau
juga berkata: "Fakta terbesar dari Hasan al-Banna adalah pembangunan,
keandalan pembangunan, bahkan kejeniusan dalam pembangunan."
Beliau
berkata pula: "Akidah Islam telah mengenal banyak dai, namun propaganda
dakwah berbeda dengan pembangunan. Tidak setiap dai mampu menjadi pembangun,
dan tidak setiap pembangun dikaruniai kejeniusan raksasa dalam membangun ini:
Bangunan raksasa Ikhwanul Muslimin ini adalah manifestasi dari kejeniusan
raksasa dalam membangun jamaah-jamaah. Hasan al-Banna berpulang ke hadirat
Rabb-nya setelah bangunan ini menyempurnakan fondasi-fondasinya. Beliau
berpulang, sehingga kelahirannya sebagai syahid menjadi proses baru dalam tahap-tahap
pembangunan, proses memperdalam fondasi dan memperkuat dinding-dindingnya.
Seribu khotbah dan seribu risalah dari almarhum sang syahid tidak akan mampu
mengobarkan dakwah dalam jiwa Ikhwan sebagaimana kobaran yang dipantik oleh
tetesan-tetesan darah suci yang tumpah itu."
Beliau
berkata: "Sesungguhnya kata-kata kita akan tetap menjadi patung-patung
dari lilin, hingga ketika kita mati di jalannya, barulah ruh berhembus ke
dalamnya dan tertulis kehidupan baginya."
Beliau
berkata: "Sesungguhnya kata-kata yang lahir dari mulut dan dilontarkan
oleh lidah tanpa terhubung dengan mata air Ilahi yang hidup, lahir dalam
keadaan mati."
Beliau
berkata: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini tidak memberikan rahasianya
kecuali kepada orang-orang yang terjun mengarungi pertempuran dengannya dan
berjihad dengannya dengan jihad yang besar."
Saat
berada di balik pintu-pintu penjara, Sayyid Quthb menggubah puisinya yang
sangat indah, "Akhī" (Saudaraku), yang dianggap sebagai salah
satu permata puisi Islam yang mengekspresikan detak jantung, kesadaran, dan
perasaannya. Di antara baitnya adalah perkataannya:
Saudaraku,
engkau merdeka di balik tembok jeruji,
Jika
engkau berpegang teguh kepada Allah.
Saudaraku,
engkau bebas dengan belenggu-belenggu itu,
Maka
apa yang dapat dimudaratkan oleh tipu daya para hamba?
Saudaraku,
pasukan kegelapan pasti akan binasa,
Dan
fajar baru akan menyinari alam semesta.
Maka
lepaskanlah kerinduan jiwamu,
Engkau
'kan melihat fajar menatap kita dari kejauhan.
Saudaraku,
mungkinkah engkau telah jemu berjuang,
Dan
melempar senjata dari pundakmu?
Lantas
siapa lagi bagi para korban yang 'kan mengobati luka,
Dan
mengibarkan panjinya kembali?
Puisi
ini memiliki gaung yang luas di dunia Arab, yang dilantunkan kembali di
Yordania oleh penyair Al-Aqsa, Ustadz Yusuf al-'Azham, dalam perkataannya:
Saudaraku,
dari bukit-bukit Yordania yang bersabar,
Dan
dari kesucian Baitul Maqdis yang murni.
Aku
mendatangi mu dengan kerinduan dan kabar gembira esok hari,
Yang
mulia dari Sang Pencipta Yang Mahakuasa.
Sebagaimana
dilantunkan pula di Irak oleh penyair Islam, Walid al-A'zhami, dalam
perkataannya:
Saudaraku,
wahai yang menetap di balik tembok jeruji,
Tampak
di wajahmu tanda-tanda sujud.
Betapapun
musuh menyiapkan belenggu-belenggu,
Engkau
tidak akan pernah tunduk pada hukum para hamba.
Semoga
Allah merahmati ustadz kita, Asy-Syahid Sayyid Quthb, dan semoga Allah
mengumpulkan kita bersama beliau beserta para nabi, shiddiqin, syuhada,
dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
10.
Dr. Abdul Aziz Rantisi (17 April 2004 M)
Di
saat umat sedang berduka atas gugurnya sang pemimpin pahlawan, Syaikh Ahmad
Yasin, ketika rasa penyesalan dan kesedihan masih memenuhi hati serta melukai
jiwa, dan saat air mata masih membeku di sudut-sudut mata menyaksikan kondisi
yang ada, tiba-tiba tanpa disangka-sangka kita dikejutkan oleh kabar duka atas
gugurnya pengganti beliau, seorang pemimpin yang gagah berani, Dr. Abdul Aziz
Rantisi. Beliau dibunuh secara zalim oleh kerja sama tiga pihak:
Pertama:
Para kaki tangan dan pengkhianat yang menjual diri mereka kepada setan-setan
Zionis. Kaum penjajah selamanya tidak akan mampu bertahan hidup tanpa adanya
para kaki tangan yang menunjukkan celah-celah kelemahan dan menuntun mereka
untuk menghancurkan para pemimpin yang mulia. Jika tidak demikian, katakanlah
kepadaku demi Allah: Apa yang menunjukkan kepada kaum Zionis keberadaan orang
yang keluar untuk salat, atau yang turun ke jalan untuk menunaikan suatu
keperluan, atau keperluan lainnya?
Boleh
jadi kelompok pertama dari para kaki tangan ini adalah mereka yang dinamakan
sebagai "Otoritas Palestina"—atau katakanlah "Malapetaka
Palestina"—yang didatangkan oleh Yahudi dan para kaki tangan mereka. Di
pangkuan mereka inilah tumbuh orang-orang yang direkrut oleh Zionisme, yang
diberi kekebalan, perlindungan, pengayoman, dana, serta angan-angan kosong.
Mereka bekerja keras untuk melikuidasi [menghapuskan] isu Palestina dan jihad
rakyat Palestina, serta menjual tempat-tempat suci meskipun harus berdiri di
atas puing-puing tubuh, darah, dan potensi umat.
Mereka
inilah yang dimaksud oleh pahlawan yang syahid, Abdul Aziz Rantisi, ketika
Syaikh Yasin gugur syahid melalui peryataannya:
"Bukan
rahasia lagi bahwa terdapat rencana-rencana likuidasi terhadap isu dan
keberadaan Palestina. Sayangnya, ada pihak-pihak yang sangat tergiur untuk
diberi peran dalam melikuidasi isu ini demi meraih eksistensi diri di
lingkungan yang sebenarnya menolak mereka. Kelompok manusia semacam ini ada di
sepanjang dan selebar peta Palestina, Arab, dan Islam. Sesungguhnya
peristiwa-peristiwa sebesar dan seberat ini sanggup meningkatkan isolasi dan
penyingkiran terhadap orang-orang munafik tersebut. Hal itu pada akhirnya
memangkas bahaya mereka dan melemahkan kemampuan mereka dalam menghalangi para
mujahidin serta memata-matai umat. Orang-orang munafik ini telah menjadi
kepanjangan tangan lawan untuk merugikan umat demi kepentingan Zionis dan musuh-musuh
Islam. Kejahatan-kejahatan mereka tergolong pelanggaran berat, dan itu cukup
untuk menempatkan mereka dalam lingkaran tuduhan serta melemahkan peran
destruktif mereka. Hal ini pada gilirannya berdampak negatif terhadap kemampuan
musuh dalam menghadapi mujahidin dan mengeksekusi rencana-rencananya. Saya
yakin bahwa darah suci Syaikh Yasin tidak lain telah menyatukan barisan rakyat
Palestina dari berbagai faksi politiknya di atas satu-satunya pilihan:
perlawanan (al-muqawamah)."
Demikianlah
apa yang ditulis oleh Rantisi sebelum beliau gugur syahid.
Kedua:
Otoritas-otoritas yang telah tersesat, kehilangan arah, dan menyia-nyiakan
tanggung jawab hingga burung-burung kecil [orang-orang hina] berani berkuasa di
tanah kita, dan tikus-tikus bertindak raksasa di medan kita. Otoritas-otoritas
yang membungkam lidah, mematikan potensi, membuang-buang sumber daya, berbangga
diri dengan pakaian merak, dan tertidur lelap hingga (Israel) menjadi negara
adidaya, mengerahkan dunia di sekitarnya, serta menundukkan negara-negara
terbesar untuk melayani politiknya. Sebagian penguasa tidak lagi memiliki apa
pun selain sikap penghambaan dan ketundukan. Kita telah meninggalkan nasib umat
dipermainkan angin; disembelih dan dihalalkan darahnya tanpa ada penolong
maupun pelindung. Kita membiarkan para pembela dan mujahidin yang berjuang
menolak bahaya serta melindungi kehormatan dibakar oleh pesawat-pesawat udara
dan dihancurkan dengan rudal-rudal dalam keadaan tidak bersenjata tanpa ada
yang menolong. Dr. Rantisi pernah menyeru mereka dalam sebuah artikel berjudul
"Jeritan" (Shorchah), beliau berkata:
"Apa
yang ditunggu oleh para pemimpin Arab? Sebuah pertanyaan yang bergema di setiap
tempat dan waktu. Engkau membacanya pada mata yang bingung, hati yang cemas,
derai air mata, desah napas, darah yang tumpah, dan potongan tubuh yang
melayang. Bahkan terbaca pada kedengkian yang bergolak di dalam dada dan ukiran
di dinding-dinding kuburan. Namun, pertanyaan itu tetap menjadi pertanyaan
tanpa jawaban!
Jika
darah anak-anak kami, potongan tubuh laki-laki dan perempuan kami, serta air
mata dan ratapan para ibu yang kehilangan anak dan anak-anak yatim yang
tersiksa dari rakyat kami yang berjuang tidak mampu menggerakkan mereka untuk
menolong kami, lalu kapan lagi mereka akan bergerak? Jika kecemburuan
al-Mu'tasim [khalifah Bintiyyah] tidak menggerakkan mereka menyaksikan rintihan
Masjidilaqsa—tempat isra Rasulullah ﷺ—yang mengadukan kenistaan penjajahan, penistaan kaum Yahudi
terhadap pelataran, menara, dan kubahnya, pembakaran mihrabnya, serta jeritan
minta tolongnya saat fondasi dan pilar-pilarnya diguncang serta persiapan
mereka untuk merubuhkannya guna membangun Haikal [Candi] yang mereka klaim di
atas reruntuhannya; jika mereka tidak bangkit karena semua itu, lalu kapan lagi
mereka akan bangkit?
Jika
pesawat Apache dan F-16 Amerika yang meneror malam kami, merubuhkan rumah-rumah
kami, menelantarkan keluarga kami, serta memburu para pemimpin politik dan
militer tidak mampu mengeluarkan mereka dari kebisuan, lalu kapan mereka akan
bergerak?
Wahai
para pemimpin Arab, aku tidak akan menuntut kalian dengan hal-hal yang di luar
kemampuan kalian, karena aku terlalu cerdas untuk melakukan itu. Namun, kalian
memiliki kemampuan untuk menghentikan musuh dengan sedikit sikap kejantanan dan
sebagian ketegasan yang dapat mengancam pasar-pasar mereka. Kekayaan kita yang
dirampok, simpanan kita di bank-bank Amerika, dan pasar-pasar kita yang terbuka
bagi barang-barang mereka, semua itu berubah menjadi mesin perang untuk
menghancurkan kita.
Wahai
para pemimpin Arab: Rakyat kalian sangat merindukan dan mendambakan untuk
menolong serta memenangkan kami. Mereka terbakar di atas bara api karena
dihalangi untuk menolong tempat isra' yang mulia, dan mereka merindukan
jihad di jalan Allah demi membela kehormatan umat yang telah dicampakkan oleh
kaum Zionis ke dalam tanah. Lantas mengapa kalian melepaskan anjing-anjing
Zionis dan Amerika kepada mereka? Mengapa kalian memukul punggung mereka dengan
tongkat-tongkat Britania? Jika kalian telah berpaling dari menolong kami,
cukuplah bagi kalian untuk membiarkan dan memejamkan mata terhadap siapa saja
yang ingin menolong kami."
Demikianlah
Rantisi menyeru otoritas-otoritas yang telah diberi kepemimpinan oleh rakyat
untuk menjaga kramat dan kehormatan umat serta membela benteng pertahanannya,
namun Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Ketiga:
Kaum Yahudi dan pihak-pihak di belakang mereka dari kalangan musuh-musuh Islam;
monster-monster berwujud manusia yang telah diperingatkan oleh Al-Qur'an
al-Karim tentang permusuhan dan besarnya kebencian mereka terhadap umat Islam.
Namun kita lalai dan meremehkan hingga mereka berhasil menguasai kita. Mereka
adalah para perusak di bumi dan pembunuh para nabi serta rasul. Oleh karena
itu, Allah menjadikan kehinaan dan penindakan terhadap mereka sebagai salah
satu sunatullah yang tidak akan berubah:
(Ingatlah)
ketika Tuhanmu memberitahukan bahwa Dia pasti akan mengirim orang-orang yang
akan menimpa mereka adzab yang buruk sampai hari Kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu
sangat cepat siksa-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al-A'raf [7]: 167)
Tindakan
kaum Yahudi hari ini tidak meninggalkan seorang pun kekasih atau penolong bagi
mereka, begitu pula orang-orang yang berloyalitas, menolong, dan berjalan di
garis mereka.
Hari
ini, di tengah gejolak peristiwa-peristiwa besar ini, bangsa-bangsa Muslim dan
umat Arab harus dipanggil untuk mengambil peran yang dituntut, agar mampu
menang atas kelemahan dan keragu-raguannya, menindak para pembuat kerusakan dan
para kaki tangan, serta memperlihatkan kepada Zionisme dan pihak di belakangnya
bahwa darah para syuhada telah menumbuhkan tekad dan melahirkan para
pahlawan—yang apabila satu pemimpin gugur syahid, maka akan bangkit pemimpin
lain yang bijak dan berani bertindak apabila para lelaki berbicara.
Setelah
itu... Salam sejahtera atasmu wahai Rantisi, engkau dan guru utamamu di tengah
orang-orang terdahulu dan kemudian hingga Hari Pembalasan. Sesungguhnya rakyat
dari umat ini akan tetap berjalan di atas jalan kalian hingga meraih
kemenangan, insya Allah. Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan
mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.
Rantisi
dalam Sekilas Langkah
Abdul
Aziz Ali Abdul Hafizh ar-Rantisi lahir pada tanggal 23 Oktober 1947 M di desa
Yibna (terletak antara Ashkelon dan Jaffa). Keluarganya mengungsi setelah
Perang 1948 ke Jalur Gaza dan menetap di kamp pengungsian Khan Yunis saat
usianya baru enam bulan. Rantisi tumbuh di antara sembilan saudara laki-laki
dan dua saudara perempuan.
Pendidikan:
Pada
usia enam tahun, beliau masuk ke sekolah milik Badan Bantuan dan Kerja PBB
untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Beliau juga terpaksa bekerja pada usia
tersebut untuk membantu menopang kehidupan keluarganya yang besar yang sedang
mengalami kondisi sulit. Beliau menyelesaikan pendidikan menengahnya pada tahun
1965 M, lalu lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Aleksandria pada tahun
1972 M, dan kemudian meraih gelar Magister dalam bidang Spesialis Anak dari
universitas yang sama. Setelah itu, beliau bekerja sebagai dokter spesialis di
Rumah Sakit Nasser (pusat medis utama di Khan Yunis) pada tahun 1976 M.
Kehidupan
dan Aktivitas Politik:
- Beliau telah menikah dan
dikaruniai enam orang anak (dua putra dan empat putri).
- Dr. Rantisi menduduki
beberapa posisi dalam khidmat kemasyarakatan, di antaranya: anggota dewan
pengurus di Al-Mujamma' al-Islami, Asosiasi Medis Arab di Jalur
Gaza, dan Bulan Sabit Merah Palestina.
- Beliau bekerja di Universitas
Islam Gaza sejak pertama kali dibuka pada tahun 1978 M sebagai dosen yang
mengajar mata kuliah ilmu sains, genetika, dan parasitologi.
- Beliau ditangkap pada tahun
1983 M karena menolak membayar pajak kepada otoritas pendudukan. Pada
tanggal 5 Januari 1988 M, beliau ditangkap kembali selama 21 hari.
- Beliau merupakan salah satu
pendiri Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Gaza pada tahun 1987 M,
dan merupakan pimpinan gerakan pertama yang ditangkap setelah gerakannya
menyulut Intifadah Palestina Pertama pada tanggal 9 Desember 1987 M. Pada
tanggal 15 Januari 1988 M, beliau ditahan selama 21 hari setelah terjadi
perkelahian fisik antara beliau dan prajurit pendudukan yang hendak
menerobos masuk ke kamar tidurnya; beliau menghadapi mereka untuk
menghalangi masuk ke kamar, sehingga mereka menangkapnya tanpa berhasil
memasuki kamar tersebut.
- Satu bulan setelah
dibebaskan, beliau ditangkap kembali pada tanggal 4 Maret 1988 M dan
ditahan di penjara-penjara pendudukan selama dua setengah tahun atas
tuduhan berpartisipasi dalam mendirikan dan memimpin Hamas serta menyusun
selebaran pertama Intifadah. Namun, beliau tidak mengakui tuduhan tersebut
dalam pemeriksaan, sehingga diadili berdasarkan Hukum Tamir dan dibebaskan
pada 4 September 1990 M. Hanya 100 hari setelahnya, pihak pendudukan
kembali menangkapnya pada tanggal 14 Desember 1990 M dengan status tahanan
administratif selama satu tahun penuh.
- Pada tanggal 17 Desember 1992
M, beliau diasingkan bersama 416 mujahid yang terdiri dari aktivis dan
kader Hamas serta Jihad Islam ke Lebanon Selatan. Beliau menonjol sebagai
juru bicara resmi bagi para pengungsi deportasi yang bertahan di Kamp
Al-'Audah di daerah Marj az-Zuhur untuk memaksa otoritas pendudukan
mengembalikan mereka sekaligus sebagai wujud penolakan terhadap keputusan
deportasi Zionis. Mereka berhasil membatalkan keputusan pengasingan
tersebut, kembali ke tanah air, dan menutup pintu pengasingan hingga hari
ini.
- Pasukan pendudukan Zionis
langsung menangkapnya setibanya beliau dari Marj az-Zuhur, dan pengadilan
militer Zionis menjatuhkan hukuman penjara kepadanya. Beliau terus ditahan
hingga pertengahan tahun 1997 M. Beliau keluar dari penjara untuk langsung
menjalankan perannya kembali dalam memimpin Hamas yang saat itu menerima
pukulan menyakitkan dari Otoritas Palestina pada tahun 1996 M. Beliau
mulai membela prinsip-prinsip abadi rakyat Palestina dan keteguhan sikap
gerakan secara gigih serta mendorong untuk bangkit kembali. Hal ini tidak
disukai oleh Otoritas Palestina, sehingga mereka menangkapnya kurang dari
satu tahun setelah keluar dari penjara pendudukan, yaitu pada tanggal 10
April 1998 M atas tekanan dari pihak pendudukan sebagaimana diakui oleh
beberapa pejabat keamanan Otoritas Palestina. Beliau dibebaskan 15 bulan
kemudian karena ibunya meninggal dunia saat beliau berada di dalam tahanan
Palestina. Setelah itu, beliau ditangkap kembali sebanyak tiga kali dan
baru dibebaskan setelah melakukan aksi mogok makan serta setelah penjara
dibom oleh pesawat musuh Zionis saat beliau berada di dalam ruang terkunci
di Penjara Pusat, sementara para perwira dan personel keamanan dievakuasi
karena mengkhawatirkan keselamatan jiwa mereka. Dengan demikian, beliau
menghabiskan total waktu 27 bulan di dalam penjara Otoritas Palestina.
- Otoritas Palestina sempat
mencoba menangkapnya sebanyak dua kali setelah peristiwa tersebut, namun
gagal karena perlindungan massa rakyat Palestina yang memagari rumahnya.
- Dr. Rantisi berhasil
menyelesaikan hafalan Al-Qur'an secara penuh (kamil) di dalam
tahanan pada tahun 1990 M saat berada dalam satu sel isolasi bersama
Syaikh al-Mujahid Ahmad Yasin. Beliau memiliki bait-bait puisi yang
mengekspresikan betapa tancapnya tanah air dan rakyat Palestina di
kedalaman lubuk hatinya. Beliau juga seorang penulis artikel politik yang
diterbitkan oleh puluhan surat kabar.
- Beliau menghabiskan sebagian
besar masa penahanannya di penjara pendudukan dan seluruh masa
penahanannya di penjara Otoritas Palestina dalam sel isolasi ('azl
infiradi)...
- Dr. Rantisi meyakini bahwa
Palestina tidak akan pernah merdeka melainkan dengan jalan jihad di jalan
Allah.
Rantisi:
Sebagai Pemimpin Gerakan Hamas
Gerakan
Perlawanan Islam (Hamas) memilih Abdul Aziz Rantisi sebagai pemimpin gerakan di
Kota Gaza menggantikan Syaikh Ahmad Yasin, mengingat posisi beliau sebagai
wakil bagi Pemimpin Umum Gerakan, Syaikh Ahmad Yasin, sehingga beliau secara
otomatis mengisi posisi tersebut hingga diselenggarakannya pemilihan umum yang
baru.
Di
Dalam Internal Gerakan:
Gerakan
Hamas telah menggelar pemilihan umum satu setengah tahun sebelumnya yang
memilih Syaikh Yasin sebagai Pemimpin Umum Gerakan dan Rantisi sebagai
wakilnya. Pembaiatan (mubaya'ah) Rantisi dilakukan di dalam tenda duka
di Stadion al-Yarmuk, Kota Gaza, untuk menjadikannya sebagai Pemimpin Umum
Gerakan hingga diselenggarakannya pemilihan umum baru. Dalam waktu singkat,
Dokter Mujahid Abdul Aziz Rantisi terpilih sebagai pemimpin politik bagi
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).
Tidak
diragukan lagi bahwa warisan tanggung jawab ini sangat berat dan beban yang
dipikul amat besar bagi pemimpin baru yang harus memegang kendali kepemimpinan
kelompok perlawanan Islam Palestina terbesar pasca-gugurnya sang pahlawan dan
ikon, Syahid Ahmad Yasin.
Syaikh
Ahmad Yasin telah gugur syahid pada hari Senin di tangan pasukan pendudukan
Israel.
Dari
Catatan Harian Dr. Abdul Aziz Rantisi
Bagaimana
Aku Menantang Perwira Zionis...
Dari
catatan harian pimpinan yang syahid, Dr. Abdul Aziz Rantisi, yang beliau tulis
mengenai kenangan masa pemenjaraan, beliau menuturkan:
Pada
tahun 1991 M, aku berada di tahanan Negev menjalani hukuman vonis administratif
selama satu tahun. Para tahanan sejak pembukaan tahanan ini pada tahun 1988 M
hingga saat itu dilarang dikunjungi oleh keluarga mereka. Seiring dengan
desakan para tahanan dan protes mereka yang berulang kali, mulai tampak adanya
iktikad dari pihak pengelola tahanan untuk mengizinkan keluarga berkunjung.
Kepala pengelola tahanan yang bertingkat militer tinggi bernama
"Shaltiel" meminta diselenggarakannya pertemuan dengan perwakilan
para tahanan. Perwakilan dari berbagai faksi berkumpul di salah satu tenda
tahanan untuk bermusyawarah sebelum pertemuan dengan pihak pengelola
berlangsung, dan para tahanan menginginkan aku untuk mendampingi mereka, maka
aku pun melakukannya.
Di
tengah pertemuan kami di tenda, aku mendengar sebagian pemuda memperingatkan
bahaya Shaltiel, membesar-besarkan posisinya, dan mengkhawatirkan kemarahannya.
Aku merasakan bahwa pria itu memiliki wibawa yang menakutkan dalam jiwa
sebagian pemuda, dan hal ini tidak menyenangkan bagiku, tetapi aku tidak
memberi komentar apa pun.
Kemudian
bus datang pada hari pertemuan untuk membawa kami ke kantor Shaltiel. Selama
berada di dalam bus, aku berpikir tentang kesombongan pria ini dan wibawanya
yang menakutkan di dalam jiwa para pemuda, serta bagaimana cara mencabut rasa
takut itu dari jiwa mereka. Aku menata jiwaku untuk melakukan sesuatu meskipun
aku belum tahu pasti bentuknya, namun aku memiliki kesiapan penuh untuk
menentangnya jika ia bertindak dengan cara yang tidak pantas.
Bus
pun tiba dan kami memasuki kantornya. Di sebelah kanan kami di dalam aula
terdapat panggung tinggi sekitar 30 cm dari lantai ruangan, di atasnya terdapat
sejumlah kursi. Di sebelah kiri kami terdapat beberapa baris kursi yang
disiapkan untuk kami. Kemudian datanglah para kepala divisi yang semuanya
berpangkat militer di dalam tentara pendudukan. Di antara mereka terdapat
penanggung jawab salah satu divisi yang di masa lalu merupakan wakil penguasa
militer untuk Kota Khan Yunis dan sudah mengenal diriku sebelumnya. Wakil
Shaltiel juga duduk di atas panggung bersama para kepala divisi.
Para
tahanan perwakilan seluruh faksi duduk di kursi yang disiapkan untuk mereka
berhadapan langsung dengan para kepala divisi, dipisahkan oleh jarak tidak
lebih dari dua meter. Aku duduk di barisan depan pada kursi yang paling dekat
dengan pintu kantor. Tak lama kemudian, Shaltiel masuk. Ia seorang pria
berbadan tinggi dan bertubuh tegap. Ia berpaling dengan gaya militer ke arah
panggung dan memberi isyarat dengan tangannya agar mereka berdiri
menghormatinya, maka mereka pun berdiri. Kemudian ia berpaling kepada kami
dengan gaya militer dan memberi isyarat tangan, maka para pemuda berdiri
sedangkan aku tetap duduk.
Pertemuan
ini adalah pertemuan pertama antara diriku dengannya. Ia mendekatiku dan
berkata, "Mengapa engkau tidak berdiri?" Maka aku katakan padanya:
"Aku
tidak berdiri melainkan hanya untuk Allah, sedangkan engkau bukanlah tuhan
melainkan hanya seorang manusia biasa, dan aku tidak akan berdiri menghormati
manusia."
Ia
berkata, "Engkau harus berdiri!" Maka aku bersumpah dengan nama Allah
dengan sumpah yang tegas bahwa aku tidak akan berdiri. Ia menjadi sangat serba
salah dan tidak tahu harus berbuat apa. Kolonel Sami Abu Samhadanah, salah satu
pimpinan Fatah di tahanan, mencoba mengintervensi dan memberitahunya bahwa jika
aku sudah memutuskan sesuatu maka aku tidak akan mundur. Namun Shaltiel menolak
mendengarkannya dan tetap bersikeras pada sikapnya. Tetapi aku menolak dengan
keras.
Wakilnya
lalu berkata, "Wahai Dokter, di sini ada protokol yang harus
dihormati." Aku menjawabnya, "Agamaku lebih berhak untuk dihormati,
dan Islam tidak mengizinkanku berdiri untuk mengagungkan makhluk." Ia
bertanya, "Lalu apa solusinya?" Aku menjawab, "Antara aku tetap
duduk atau aku kembali ke tendaku." Shaltiel berkata, "Kalau begitu
kembali ke tendamu!"
Maka
aku keluar dari kantor dan tidak ada yang keluar bersamaku kecuali Saudara
Insinyur Ibrahim Radwan dan Saudara Abdul Aziz al-Khalidi, keduanya dari Hamas.
Beberapa
hari kemudian—saat masa penahananku telah berjalan sembilan bulan dan hanya
tersisa tiga bulan lagi menuju pembebasan—tiba-tiba mereka memanggilku dan
memintaku mengumpulkan barang-barangku. Dalam istilah penjara, ini berarti
pemindahan (tarhil), namun kami tidak tahu ke mana. Sebuah bus telah
menungguku. Begitu aku naik ke atasnya, aku mendapati kedua saudaraku tadi
sudah ada di dalamnya setelah dijemput dari divisi mereka. Aku pun menyadari
bahwa ini adalah hukuman, dan tidak ada hukuman selain dimasukkan ke sel
isolasi.
Bus
membawa kami ke Tahanan Tujuh yang memiliki 50 sel isolasi. Begitu tiba, kami
diterima oleh penanggung jawab sel bernama "Nir", yang memberitahu
kami dengan nada jengkel bahwa kami dihukum dengan dimasukkan ke dalam sel
isolasi selama tiga bulan. Kemudian tampak jelas bagi kami bahwa alasan
kejengkelannya karena ia menganggap hukuman tersebut didasari alasan pribadi;
artinya ia tidak menyukai tindakan Shaltiel yang membalas dendam untuk dirinya
sendiri dengan cara seperti ini, terlebih lagi hukuman harian rutin yang paling
berat pun tidak sampai tujuh hari. Oleh karena itu, ia tidak bersikap buruk
saat menyambut kami sebagaimana biasanya, dan mungkin faktor usia serta gelar
akademis turut memengaruhi sikapnya.
Kami
dibawa ke sel yang telah ditentukan, masing-masing dari kami berada di dalam
sel seorang diri. Kami keluar setiap hari selama satu jam—kecuali hari Sabtu—ke
sebuah lapangan yang dikelilingi kawat berduri tempat terdapat toilet dan kamar
mandi, karena di dalam sel tidak terdapat fasilitas toilet maupun kamar mandi.
Kami
pun memulai perjalanan kami bersama Al-Qur'an. Adapun aku, aku mengulangnya (muraja'ah)
setelah Allah mengaruniakanku kesempurnaan menghafalnya sejak tahun 1990 M
ketika aku dan Syaikh Ahmad Yasin berada dalam satu sel di Tahanan Kfar Yona.
Adapun Insinyur Ibrahim, ia mulai menghafal Al-Qur'an di dalam sel. Ia seorang
pria yang sangat cerdas dan fasih berbahasa Ibrani dengan lancar, dan ia
berhasil menghafal Al-Qur'an sebelum berlalunya masa tiga bulan, walhamdulillah
rabbil 'alamin.
Musuh-Musuh
Allah Tidak Menghargai Kehormatan Darah Umat Islam Maupun Akidah Mereka... Maka
Selamat Datang bagi Perlawanan (al-Muqawamah)
Ini
bukanlah pertama kalinya dalam sejarah manusia para perusak mengambil sikap
konyol dengan menuduh orang-orang saleh sebagai pembuat kerusakan, berdasarkan
pepatah Arab yang berbunyi: "Ia melempar penyakitnya kepadaku lalu ia
menyelinap pergi" (Ramatni bi da'iha wansallat). Firaun telah
mendahului kaum Zionis Yahudi dalam arena ini ketika ia berkata kepada Nabi
Allah Musa 'alaihissalam:
Dan
Fir'aun berkata (kepada pembesar-pembesar kerajaan): "Biarkan aku yang
membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhannya. Sesungguhnya aku khawatir
dia akan mengganti agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi." (QS.
Ghafir [40]: 26)
Padahal
di saat yang sama, Rabbul Izzah [Allah] Subhanahu wa Ta'ala
menegaskan bahwa Firaun tidak lain adalah salah satu simbol kerusakan:
Sesungguhnya
Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya
berpecah belah. Dia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki
mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun
termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash [28]: 4)
Hari
ini, muncul di hadapan kita seorang pembunuh Zionis dari kalangan mereka yang
bergelimang darah umat Islam dan terlibat langsung dalam pembantaian yang tidak
terhitung jumlahnya. Seluruh fokus mereka yang utama adalah memuaskan naluri
Talmudik mereka yang buas dan haus darah, dan yang kedua adalah mengusir
seluruh bangsa dengan tujuan merampas tanah airnya, menghapus identitasnya,
mengikis sejarahnya, serta mendirikan negara Yahudi rasis Talmudik yang buas di
atas tanahnya.
Hari
ini muncul di hadapan kita Zionis kecil ini yang menjabat sebagai menteri dalam
geng teroris Sharon, sekaligus salah satu lengan dari geng
"Moledet"—geng yang didirikan oleh sosok rasis buas yang haus darah
Muslim, marhum Rehaveam Zeevi. Dengan pembawaan apa pembunuh Zionis "Benni
Elon" ini muncul di hadapan kita? Ia meminta kepada para misionaris
Kristen Amerika dalam sebuah pertemuan dengan mereka untuk mengkristenkan umat
Islam. Ia berkata kepada mereka:
"Kalian
harus berpindah dari satu masjid ke masjid lain untuk membawa cahaya kepada
umat Islam!! Serta menjelaskan kepada para pembunuh Muslim ini bahwa mereka
telah melupakan larangan Allah terhadap pembunuhan."
Ia
meminta kepada mereka:
"Ubah
umat Islam menjadi orang-orang Kristen yang beriman dan orang-orang yang
baik!!"
Sembari
berkata kepada mereka:
"Misionaris
Kristen di tengah kaum Yahudi adalah hal yang dilarang."
Sebenarnya,
lebih utama bagi pembunuh ini untuk mencari kebenaran Islam agar dapat
menyelamatkan dirinya dari kerusakan akidahnya, sehingga ia terbebas dari
kedengkian hitamnya, dan itulah yang kami harapkan baginya. Namun kami tidak
tahu, boleh jadi Allah telah mengunci mati hatinya sehingga matanya yang telah
tertutup tirai kedengkian terhadap Islam tidak lagi mampu melihat cahayanya
yang terang benderang.
Jika
bukan karena perlawanan Palestina yang gigih, niscaya ular kecil ini tidak akan
menyemburkan racun-racunnya dengan cara seperti ini—cara yang menunjukkan
kedengkian yang tertanam mendalam di hatinya yang kelam terhadap Islam sebagai
manhaj, akidah, dan nilai-nilai kehidupan. Sesungguhnya pukulan-pukulan
menyakitkan yang dilayangkan oleh perlawanan Palestina kepada para pembunuh
Zionis inilah yang berjasa membongkar hakikat kedengkian yang bergolak di dalam
dada mereka terhadap Islam. Pembunuh yang hari ini menyemburkan racunnya ini
terhitung sebagai anggota geng teroris Zionis "Moledet" yang tujuan
utama dan tunggalnya adalah mencabut akar rakyat Palestina dari tanah air
mereka. Demi mencapai hal tersebut, mereka telah melakukan kejahatan-kejahatan
yang membuat dahi kemanusiaan tercoreng malu. Berapa banyak pembantaian yang
telah dieksekusi oleh geng penakut tersebut hingga menumpahkan darah anak-anak,
perempuan, dan orang-orang tua tak berdosa dari kalangan rakyat Muslim
Palestina.
Jika
bukan karena perlawanan Palestina yang gigih, niscaya orang-orang Eropa tidak
akan tersadar akan kejahatan-kejahatan entitas Zionis yang cacat ini. Hal ini
mendesak bangsa-bangsa Eropa yang tadinya tertutupi akalnya oleh propaganda
bohong Zionis untuk membenarkan pandangan mereka agar dapat melihat entitas ini
dengan wajahnya yang asli dan menjijikkan. Tampak jelas dalam jajak pendapat di
Eropa bahwa mereka menempatkan entitas yang akan sirna dengan izin Allah Ta'ala
ini di jajaran terdepan negara-negara dunia yang mengancam perdamaian
internasional. Maka perlawanan dengan karunia Allah berhasil memperburuk citra
Zionis:
Maka
apabila datang saat hukuman bagi kejahatan yang kedua, (Kami datangkan
orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam
masjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk
membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-Isra'
[17]: 7)
Perlawanan
Palestina juga berjasa memindahkan konflik ke dalam internal arena Zionis:
mulai dari perselisihan mengenai Tembok Pemisah, efektivitas, biaya, dan dampak
negatifnya di arena internasional; berlanjut ke perselisihan mengenai
operasi-operasi pembunuhan (assassination) yang tidak membawa apa-apa
bagi mereka selain kematian yang mematikan; hingga perselisihan mengenai
efektivitas pembangunan pemukiman-pemukiman liar dan biaya sangat mahal yang
dikeluarkannya demi menyediakan keamanan di bawah bayang-bayang perlawanan Palestina
yang gigih. Sampai-sampai kita mendengar pimpinan teror di dunia dan konseptor
utama pemukiman di Palestina, Sharon, menyerukan untuk mengosongkan pemukiman
dari Jalur Gaza. Baik seruan ini sungguhan maupun taktis, atau merupakan
upayanya untuk mempertahankan keuntungan di Tepi Barat dengan mengorbankan
keberadaannya di Gaza, pada akhirnya hal itu tidak akan pernah terjadi jika
bukan karena perlawanan Palestina yang gigih. Sebab, jika bukan karena
mortir-mortir dan roket-roket al-Qassam yang lama diejek oleh para penyeru
kekalahan, niscaya Sharon tidak akan berpikir walau sekejap untuk mengosongkan
pemukiman di Jalur Gaza. Karena Sharon menyadari bahwa melarikan diri dari Gaza
dan mengosongkan pemukiman-pemukimannya akan disusul—mau tidak mau—oleh pelarian
dari Tepi Barat, cepat atau lambat, dan proses ini akan terus berlanjut (al-hablu
'alāl-jarrār).
Jika
bukan karena perlawanan Lebanon yang gigih, niscaya kaum Zionis tidak akan
diusir dari Lebanon Selatan, dan para tawanan serta tahanan tidak akan keluar
dari penjara-penjara pendudukan. Perlawanan di Lebanon telah mencapai apa yang
gagal dicapai oleh perundingan-perundingan dengan entitas Zionis—perundingan
yang menjadi bentuk penyia-nyiaan terhadap hak, kehormatan, harta, waktu, dan
tenaga rakyat Palestina, sekaligus menjadi kesempatan bagi pihak pendudukan
untuk memperkokoh kakinya di Tepi Barat dan Jalur Gaza, mengupayakan Yahudisasi
tempat-tempat suci, membangun pemukiman, membuat jalan-jalan lingkar, serta
mengisolasi rakyat Palestina ke dalam kantong-kantong (kanton) yang
terpisah-pisah dan tersebar.
Jika
bukan karena perlawanan yang gigih di Irak, niscaya Bush tidak akan jatuh ke
dalam kesulitan yang sangat berat. Seandainya urusan di Irak hanya terbatas
pada foto-foto penyambutan palsu terhadap invasi Amerika sebagaimana yang
diangankan oleh Bush dan kaum Zionis di Gedung Putih, niscaya kita tidak akan
mendapati kegaduhan besar di Amerika Serikat mengenai motif asli invasi ke
Irak, kita tidak akan mendengar tentang proses pertanggungjawaban terhadap
Bush, dan popularitanya di tingkat publik Amerika tidak akan merosot serendah
hari ini. Bukan nilai-nilai moral dan etika yang mendorong rakyat Amerika
menuntut pertanggungjawaban Bush, karena mereka yang bersorak untuk perang dan
bertepuk tangan untuk Bush dahulunya meyakini bahwa Irak tidak mengancam keamanan
Amerika, dan mereka yakin akan kebenaran laporan tim inspeksi internasional
tentang kosongnya Irak dari senjata pemusnah massal. Namun perlawanan yang
gigih di Irak-lah yang telah menakutkan dan mengagetkan orang-orang Amerika,
membuat mereka berada dalam posisi yang tidak diiri saat mengantarkan ratusan
jenazah tentara mereka dan melihat rumah-rumah sakit mereka dipenuhi ribuan
korban luka. Perlawanan itulah yang membangunkan kesadaran rakyat Amerika dari
mabuknya. Mereka merasakan kehinaan dan kenistaan, terlebih lagi menikmati
kesombongan dan kenikmatan keunggulan militer merupakan pendorong di balik
dukungan rakyat Amerika terhadap tim Zionis yang menduduki tahta Gedung Putih
dalam invasinya ke Irak. Itu adalah kegilaan atas keagungan (megalomania),
rasionalitas rasisme menjijikkan yang menciptakan perasaan unggul secara rasial
pada manusia Amerika—itu adalah mentalitas koboi (cowboy). Oleh karena
itu, kita tidak melihat publik Amerika bergerak memprotes kehancuran dahsyat
yang ditimbulkan oleh mesin perusak dan pembuat kerusakan di Irak, kita tidak
mendengar protes publik Amerika dan gejolak kemarahan mereka demi darah Muslim
Irak yang suci yang ditumpahkan oleh pasukan mereka yang buas; mereka baru
bergerak hanya ketika prajurit Amerika hancur, kehilangan kekuatan, dan roboh
mentalnya di hadapan pejuang perlawanan Irak yang pemberani.
Dari
sini kita menyerukan: Selamat datang bagi perlawanan! Sebab ia adalah
satu-satunya jalan bagi bangsa-bangsa yang tertindas dan dilanggar haknya oleh
kejahatan dan para pembuat kerusakan di dunia, yang tidak menghargai nilai dan
kehormatan bagi akidah maupun darah umat Islam.
Wahai
Syaas bin Qais, Kembalilah ke Kuburmu!...
Racun-Racun
Fitnah dan Adu Domba Yahudi
Bukan
rahasia lagi bahwa rencana Zionis yang mendapat prioritas tertinggi saat ini
bagi entitas Zionis—yang ditempatkan di puncak skala prioritas cara berpikir
destruktif Zionis—adalah upaya gigih menciptakan fitnah di arena internal
Palestina. Apa yang terjadi saat ini di tingkat politik dan media terarah milik
musuh Zionis menunjukkan bahwa tujuan yang ditetapkan musuh di depan matanya
adalah menyulut api perang saudara (al-harb al-ahliyyah) agar dapat
melihat darah Palestina tumpah di tangan orang Palestina sendiri.
Alangkah
miripnya hari ini dengan hari kemarin! Ketika Syaas bin Qais—seorang Yahudi tua
yang tenggelam dalam kejahatan Jahiliah, sangat kufur, menyimpan kedengki yang
dahsyat terhadap umat Islam, dan sangat cemburu/dengki kepada mereka—melintas
di hadapan sekelompok sahabat Rasulullah ﷺ dari suku Aus dan Khazraj dalam suatu
majelis yang menyatukan mereka sedang berbincang-bincang. Ia merasa geram
melihat kebersamaan, keakraban, dan kedamaian di antara mereka. Syaas berkata: "Orang-orang
Banu Qilah [Aus dan Khazraj] telah bersatu di negeri ini. Demi Allah, kita
tidak akan memiliki tempat lagi bersama mereka jika mereka bersatu."
Maka
ia memerintahkan seorang pemuda Yahudi yang bersamanya seraya berkata: "Pergilah
kepada mereka dan duduklah bersama mereka, lalu ingatkan mereka tentang Perang
Bu'ats dan apa yang terjadi di dalamnya." (Bu'ats adalah hari di mana
suku Aus dan Khazraj saling berperang). Pemuda itu pun melaksanakannya dan
mulai berbicara, sehingga orang-orang mulai berselisih, saling membanggakan
diri, dan kedua belah pihak menjadi marah seraya berkata: "Perjanjian
kalian adalah di az-Zahirah [tempat pertempuran]!"
Maka
mereka keluar menuju tempat tersebut, dan suku Aus serta Khazraj saling
bergabung mempertahankan klaim seruan Jahiliah mereka. Kabar itu sampai kepada
Rasulullah ﷺ,
maka beliau keluar menemui mereka bersama para sahabat dari kaum Muhajirin
hingga mendatangi mereka dan bersabda:
"Wahai
معشر المسلمين (sekalian kaum
Muslimin)! Apakah kalian menyerukan seruan Jahiliah padahal aku ada di antara
kalian setelah Allah memuliakan kalian dengan Islam, memutuskan perkara
Jahiliah dari kalian, dan mempersatukan hati kalian, lalu kalian kembali
menjadi kafir seperti keadaan kalian sebelumnya? Takutlah kepada Allah,
takutlah kepada Allah!"
Maka
kaum tersebut sadar bahwa hal itu adalah tipu daya dari musuh mereka, lalu
mereka melempar senjata dari tangan mereka, menangis, dan saling berpelukan
satu sama lain.
Begitulah
media massa musuh Zionis setiap hari membangkitkan Syaas bin Qais dari
kuburnya. Tidak ada satu hari pun yang sepi dari judul-judul provokatif dengan
tujuan menyulut api fitnah antara Otoritas Palestina dan Gerakan Hamas, serta
antara Gerakan Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya—baik faksi nasionalis
maupun Islam—bahkan antara sesama elemen Otoritas Palestina sendiri.
Berikut
apa yang ditulis oleh surat kabar Haaretz:
"Pemerintah
Amerika berusaha mencegah penguasaan Hamas atas Jalur Gaza pasca-pengosongan
Israel."
Sangat
jelas bahwa berita ini diarahkan kepada Otoritas Palestina untuk
memprovokasinya melawan Gerakan Hamas, seolah-olah Hamas sedang mempersiapkan
diri untuk melakukan kudeta terhadap Otoritas Palestina guna merebut tampuk
kekuasaan dari tangannya.
Kemudian
lihatlah apa yang ditulis oleh Yedioth Ahronoth:
"Demikianlah
menurut laporan rahasia yang disusun oleh Kementerian Luar Negeri untuk
menganalisis peta kekuatan antara Hamas dan Otoritas Palestina."
Disebutkan
dalam laporan tersebut bahwa:
"Kedudukan
dan keberanian Hamas semakin kuat menyusul enggan Otoritas Palestina untuk
melakukan konfrontasi dengannya."
Ini
jelas-jelas merupakan pelengkap dari apa yang dimuat di surat kabar Haaretz
sekaligus penjelas baginya. Ini adalah seruan terbuka bagi Otoritas Palestina
agar menyerang Hamas; seakan-akan mereka ingin mengatakan bahwa keengganan
Otoritas untuk menghadapi Hamas akan mengarahkan pada penguasaan Hamas atas
Jalur Gaza sehingga Otoritas Palestina akan tersingkir ke pinggir jalan. Adakah
provokasi yang lebih jelas daripada ini?
Kemudian
lihatlah bagaimana surat kabar Haaretz meracuni halaman-halamannya
kembali dengan mengatakan:
"Hamas
menampilkan pengumuman penarikan diri Israel dari Gaza sebagai kemenangan
militer dan politik baginya, bukan bagi Otoritas atau organisasi-organisasi
yang berafiliasi dengan Fatah. Jihad Islam telah didorong oleh Hamas ke sudut.
Dan agar Otoritas dapat menerima kendali atas Gaza saat ini, ia harus mengelola
konflik yang sangat besar dengan Hamas."
Betapa
buruknya apa yang bergolak di dalam hati orang-orang Zionis yang jahat ini! Aku
tidak hanya mengatakan terhadap Hamas saja, tetapi terhadap seluruh rakyat
Palestina, karena mereka menginginkan pertikaian yang sangat besar. Kemudian
renungkanlah provokasi yang jelas terhadap faksi-faksi Palestina lainnya agar
mereka menyadari situasi dan masuk ke dalam pertikaian dengan Hamas sebelum
terlambat, sebelum Hamas memonopoli rampasan perang itu sendiri sehingga Jihad
Islam dan Fatah menjadi terbuang. Padahal Hamas tidak henti-hentinya memuji
perlawanan Palestina beserta seluruh elemennya, dan mengembalikan kredit
keberhasilan—setelah Allah Azza wa Jalla—atas apa yang direncanakan oleh
musuh Zionis berupa pelarian dari neraka Jalur Gaza kepada seluruh elemen
perlawanan.
Surat
kabar Maariv kembali menyemburkan racunnya dengan mengatakan:
"Nalar
sederhana mengatakan bahwa penarikan diri sepihak dari Gaza tanpa perjanjian
adalah kemenangan besar bagi Hamas."
Kemudian
ia menambahkan:
"Di
dalam pemerintahan Amerika, mereka memperkirakan bahwa Israel akan mengambil
langkah-langkah untuk memperkuat Otoritas Palestina agar Hamas tidak menguasai
Jalur Gaza. Orang-orang Amerika sekarang khawatir—dan kekhawatiran ini
menemukan bentuk ekspresinya dalam salah satu artikel terbaru jurnalis
berpengaruh besar Tom Friedman—di mana setelah keluar dari Irak akan berdiri
negara Syiah di sana, sedangkan setelah keluarnya tentara Israel dari Jalur
Gaza akan berdiri negara Hamas di sana."
Kaum
Zionis tidak melewatkan kesempatan untuk mencoba memprovokasi para pekerja
Palestina agar melawan Gerakan Hamas. Geng-geng Zionis sengaja membagikan
selebaran-selebaran kepada mereka yang dipenuhi kedengkian, racun, dan
kebohongan yang menyerang gerakan. Disebutkan dalam salah satu selebaran
tersebut sebagai berikut:
"Dalam
beberapa hari terakhir, elemen-elemen teroris telah meyakinkan seorang anak
berusia tiga belas tahun (Montaser Khalid Dahman Abu Sultan dari Kamp
asy-Syathi', seorang anak yatim ayah) untuk melakukan aksi perusakan di
perbatasan Erez agar perbatasan tersebut ditutup dan merugikan ribuan warga
Palestina yang bekerja di Israel dan di Kawasan Industri Erez. Pemanfaatan
sinis yang dilakukan oleh Hamas terhadap anak-anak dan perempuan untuk
melakukan aksi perusakan merupakan bukti sampainya organisasi-organisasi
teroris ke titik terendah. Dan kami bertanya: Sampai kapan?"
Mereka
mengatakan hal tersebut padahal mereka menyadari bahwa tidak akan ada seorang
pun yang mempercayai klaim mereka ini. Sejarah perjuangan jihad Hamas tidak
pernah mencatat bahwa ia pernah mengirimkan seorang anak-anak untuk
mengeksekusi operasi melawan musuh. Justru sebaliknya, Hamas pernah
mengeluarkan pernyataan yang mengimbau anak-anak untuk tidak terburu-buru
mengambil peran mereka dalam perlawanan. Selain itu, anak yang disebutkan
tersebut tidak berafiliasi dengan faksi Palestina mana pun.
Proses
pembagian selebaran-selebaran tersebut kepada para pekerja Palestina bertepatan
dengan tindakan para kaki tangan yang membagikan sebaran beratasnamakan "Warga
Muslim Palestina yang Bingung", yang polanya mirip dengan apa yang
dibagikan oleh kaum Zionis; penuh dengan kebohongan dan kedengkian terhadap
Gerakan Hamas, serta mencemarkan operasi heroik yang dieksekusi oleh Syahidah
Reem Riyashi, persis seperti yang dilakukan oleh selebaran yang dibagikan musuh
Zionis kepada para pekerja.
Di
saat kami yakin bahwa rakyat Palestina, kekuatan-kekuatan nasionalis dan Islam,
serta Otoritas Palestina semuanya menyadari tujuan-tujuan jahat di balik
upaya-upaya Zionis yang bergaya "Syaas" ini, kami juga yakin bahwa
seluruh elemen Palestina memiliki kesadaran penuh bahwa senjata paling ampuh di
tangan rakyat Palestina dan kekuatan perlawanannya adalah persatuan barisan
Palestina. Dan bahwa sarana paling ideal untuk memperkokoh persatuan ini adalah
dialog, bukan pertikaian. Jika musuh Zionis lari terbirit-birit dari Jalur
Gaza, aku tidak meragukan bahwa barisan Palestina akan tetap solid dan bersatu
untuk melindungi pencapaian besar yang diraih oleh perlawanan Palestina dengan
seluruh faksi yang bekerja di dalam parit konfrontasi. Maka tidak akan ada
seorang pun yang meremehkan orang lain, dan lengan-lengan yang telah bersatu di
atas pelatuk senjata akan menjadi jauh lebih terikat erat saat meraih titik
awal kemenangan. Kami katakan kepada Syaas bin Qais: "Kembalilah ke
kuburmu, engkau tidak akan pernah beruntung, karena kami adalah satu
bangsa."
Di
hari-hari jihad dan keshahidan ini, dalam rangka memperingati hari jadi (Milad)
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), aku memilih untuk mengarahkan sorotan kepada
pendiri gerakan ini, seorang pemimpin yang ulung dan luar biasa, Syaikh
al-Mujahid Ahmad Yasin. Sosok pria yang tidaklah cobaan dan ujian
menambahkannya melainkan tekad dan keteguhan untuk melanjutkan perjalanan di
atas jalannya yang terjal, serta melangkah maju di jalan pengorbanan dan
pemeliharaan hingga terwujudnya tujuan-tujuan yang menjadi alasan didirikannya
gerakan Islam yang berjuang ini.
Tujuanku
saat menulis artikel ini bukanlah untuk menyelam ke dalam kedalaman samudra
pria ini, karena jika demikian aku tidak akan pernah mencapai dasarnya. Sebab
samudra pria ini sangat, sangat dalam. Oleh karena itu, keutamaan-keutamaannya
tidak akan sanggup dicakup oleh sebuah artikel, sebuah buku, atau bahkan
puluhan jilid buku meskipun jumlahnya diperbanyak. Dan aku melihat bahwa
sejarah akan berhenti lama saat mencatat sejarah pemimpin Muslim Palestina yang
mujahid ini. Oleh karena itu, aku memilih untuk membatasi diri pada mengarahkan
sorotan pada beberapa stasion perjalanan hidupnya yang menyingkap sebagian dari
sifat-sifatnya, yang aku rasakan bahwa kita hari ini sangat butuh untuk
berakhlak dengannya dan menanamkannya dalam jiwa serta sanubari generasi-generasi
mendatang dari putra-putri umat Islam. Pemimpin ini memiliki tekad yang tidak
mengenal keraguan, kehendak yang tidak mengenal penyimpangan atau jalan mundur,
keberanian yang tidak mengenal sifat penakut dan kelemahan, serta kekuatan yang
tidak mengenal kelumpuhan.
Syaikh
Ahmad Yasin sedang mengarungi usia belia lima belas tahunnya ketika beliau
mengalami patah tulang leher akibat pergulatan persahabatan antara beliau dan
salah seorang rekannya, Syahid Abdullah Siam. Meskipun cedera berbahaya menimpa
pemuda Ahmad Yasin, beliau menyembunyikan alasan kejadian tersebut dari
keluarganya agar tidak timbul masalah kekeluargaan antara keluarganya dan
keluarga Siam; beliau mengatakan saat itu bahwa kejadian tersebut disebabkan
oleh lompatannya ke udara lalu jatuh bertumpu pada kepalanya. Beliau
memberitahuku alasan sebenarnya dari kejadian tersebut pada tahun 1990 M ketika
aku berada satu sel dengannya—yaitu 40 tahun setelah kejadian tersebut. Beliau
berkata kepadaku bahwa ini adalah pertama kalinya beliau menceritakan hakikat
apa yang terjadi dan bahwa keluarganya hingga saat itu tidak mengetahui hal
tersebut.
Kejadian
yang menyakitkan ini menyebabkan pemuda Ahmad Yasin mengalami kelumpuhan total
(quadriplegia); tidak ada kaki maupun lengan yang dapat digerakkan. Dan
sudah menjadi hal yang dimaklumi bahwa orang-orang yang tertimpa musibah
sejenis ini biasanya cenderung pasrah pada kelemahan dan menyerah pada
kelumpuhan, sehingga engkau tidak melihat salah satu dari mereka melainkan
telah berada di pinggiran kehidupan sebagai barang yang diabaikan; tidak
memengaruhi jalannya peristiwa dan tidak terpengaruh darinya, sehingga menjadi
beban bagi masyarakat dan beban berat bagi keluarganya.
Namun
hal yang menakjubkan dan menyita perhatian adalah bahwa Syaikh Ahmad Yasin
telah mencatatkan kemenangan pertama dalam hidupnya ketika beliau menciptakan
dari kelumpuhannya sebuah pergerakan, dari ketidakmampuannya sebuah kehendak,
dan dari kelemahannya sebuah kekuatan. Maka kemenanganlah kehendak spiritual
pada diri Syaikh Ahmad Yasin atas kelemahan jasad yang kaku. Beliau melanjutkan
pendidikannya dan menjadi seorang guru, kemudian naik ke atas mimbar-mimbar
sebagai khatib, pengarah, dan pendidik yang menyeru kepada Allah di atas bashirah
[ilmu dan keyakinan], mempersiapkan para pemuda Muslim untuk memikul beban
dakwah kepada Allah dan menghadapi konspirasi-konspirasi yang dirancang melawan
Rakyat Palestina dan isu Palestina, yang mengakibatkan beliau ditangkap oleh
pemerintah Mesir pada waktu itu. Setelah kekalahan tahun 1967 M, Syaikh Ahmad
Yasin bangkit untuk membangun kembali gerakan Ikhwanul Muslimin di Jalur Gaza.
Beliau berhasil mendirikan bangunan ini dengan kesabaran, keteguhan, dan tekad
kuat yang jarang tandingannya di dunia modern kita, terutama ketika umat Arab
dan Islam sedang tertidur lelap serta mengalami kondisi kelemahan, kehancuran,
dan kekalahan. Sementara itu, Syaikh terus menyambung malam dan siang dalam
pergerakan yang tiada henti, didorong oleh harapan besar untuk menyelamatkan
umat dari musibah yang menimpanya.
Setelah
keberhasilan yang dicapainya dalam membangun kembali gerakan Ikhwanul Muslimin
di Palestina, Syaikh mulai mempersiapkan perlengkapan untuk meraih kemenangan
lain demi kepentingan rakyat Palestina dan isu Palestina, bahkan demi
kepentingan umat Arab dan Islam. Tujuan utamanya adalah menang atas kondisi
kelemahan dan bangkit kembali, didorong oleh iman yang kuat bahwa umat ini
mampu meraih kemenangan jika memiliki kehendak untuk keluar dari lingkaran
kekalahan, serta memutus belenggu ketergantungan pada musuh-musuhnya yang
selalu mengintai. Maka dimulailah persiapan untuk pertempuran jangka panjang
yang diarahkan oleh Gerakan Islam dalam menghadapi agresi Zionis secara
menyeluruh terhadap Palestina serta umat Arab dan Islam. Syaikh yang mujahid
ini mendirikan sayap militer bagi Gerakan Islam, namun takdir Allah menghendaki
sayap ini terpukul sejak dini, yang berujung pada penangkapan Syaikh Ahmad
Yasin oleh musuh Zionis. Beliau disiksa dengan siksaan yang sangat kejam di
ruang-ruang interogasi Zionis oleh para interogator Yahudi Zionis pada tahun
1984 M, yaitu tiga tahun sebelum meletusnya Intifadah. Beliau dijatuhi hukuman
penjara selama tiga belas tahun, kemudian dibebaskan atas karunia Allah setelah
sebelas bulan melalui kesepakatan pertukaran tawanan pada tahun 1985 M yang
diadakan oleh mujahid Ahmad Jibril, Sekretaris Jenderal Front Populer untuk
Pembebasan Palestina - Komando Umum (PFLP-GC), dengan musuh Zionis. Beliau
keluar dari tahanan dengan tekad, kehendak, dan kegigihan untuk melanjutkan jihad.
Pada
saat Syaikh mencetuskan Intifadah Palestina pada tahun 1987 M, sayap militer
gerakan Hamas telah didirikan sebelumnya—yang di kemudian hari dinamai Batalyon
Syahid Izzuddin Al-Qassam—agar gerakan beserta sayap militernya dan Intifadah
rakyat Palestina menjadi semacam deklarasi perang perang saraf/perang urat
saraf (attrition war) melawan musuh yang zalim ini, guna mencapai
keseimbangan daya tangkal (deterrence balance) di tengah ketiadaan
keseimbangan kekuatan (power balance).
Pada
tahun 1987 M, beliau mendirikan Gerakan Perlawanan Islam (Hamas), dan pada saat
yang sama mengumumkan dimulainya Intifadah rakyat Palestina melawan kezaliman,
agresi, penghinaan, dan penindasan yang direpresentasikan oleh pendudukan
Zionis atas Palestina, penistaan terhadap tempat-tempat suci Islam—yang
utamanya adalah Masjid Al-Aqsa yang diberkahi—serta pembantaian yang menimpa
anak-anak, wanita, orang tua, bahkan janin di dalam perut ibu mereka. Musuh
juga merusak desa-desa dan kota-kota, merobohkan rumah-rumah di atas kepala
penghuninya, mencabut pohon-pohon yang berbuah, meratakan lahan-lahan
pertanian, dan menghancurkan kehidupan rakyat di segala bidang. Syaikh
menyadari bahwa musuh Zionis yang merusak ini mengandalkan kebijakan terorisme untuk
mencapai tujuan-tujuan agresi Zionisnya, dan beliau juga menyadari bahwa musuh
yang kriminal ini tidak akan menghentikan kebijakan tersebut kecuali jika harga
yang harus dibayar akibat kejahatannya sangatlah mahal.
Lalu
Syaikh ditangkap untuk kedua kalinya pada tahun 1989 M dan divonis hukuman
penjara seumur hidup oleh pihak Zionis. Setelah delapan tahun di dalam penjara,
beliau dibebaskan atas karunia Allah `Azza wa Jalla menyusul kegagalan operasi
yang dilakukan oleh Mossad di Yordania, yaitu operasi terorisme yang
menargetkan nyawa Saudara Mujahid Khalid Masy'al, Ketua Biro Politik Gerakan
Hamas.
Syaikh
keluar dari penjara untuk mengumumkan kepada pendengaran seluruh dunia bahwa
jihad tidak akan berhenti sampai seluruh tanah Palestina dibebaskan dari laut
hingga sungai (from the river to the sea), dan tidak ada pengabaian
terhadap sejengkal pun tanah air, serta tidak ada penyerahan atas satu pun hak
dari hak-hak rakyat Palestina, yang utamanya adalah hak kembali (Hak
Al-Audah) bagi pengungsi Palestina yang diusir dari rumah-rumah mereka
sejak tahun 1948 M akibat terorisme Zionis. Beliau menolak dengan tegas seluruh
inisiatif, dokumen, dan perjanjian yang mengarah pada kompromi atas tanah air
atau penyerahan sejengkal tanah darinya demi keuntungan para bajak laut zaman
ini dari kalangan Yahudi Zionis yang didukung oleh kekuatan Salibis yang penuh
kedengkian.
Kedengkian
Zionis terus berlanjut terhadap Syaikh yang mujahid ini hingga mencapai tingkat
di mana pihak Zionis menghasut Otoritas Palestina untuk melawan Syaikh,
sehingga tidak lama kemudian Otoritas Palestina mengenakan tahanan rumah
padanya. Otoritas Palestina tidak ragu-ragu menuruti keinginan Zionis ini,
namun massa rakyat Palestina menghalangi berlanjutnya tahanan rumah tersebut,
sehingga Syaikh keluar kembali dengan tekad yang lebih tajam dan kegigihan yang
lebih kuat untuk melanjutkan perjalanan jihad.
Kedengkian
Zionis terus berlanjut dan kali ini terwujud dalam penargetan nyawa Syaikh, di
mana rumah yang di dalamnya terdapat Syaikh dibom saat serangan teroris dengan
bom seberat seperempat ton. Namun Allah menyelamatkan beliau, sehingga Syaikh
keluar dalam keadaan selamat meskipun terjadi kehancuran yang sangat dahsyat
pada rumah tersebut. Syaikh pun keluar dari percobaan pembunuhan ini dengan
tekad yang semakin kuat untuk melanjutkan pergerakan jihad; cobaan-cobaan
tersebut tidak bertambah padanya kecuali kekuatan, kegigihan, dan keteguhan
pada prinsip-prinsip (tsawabit) serta hak-hak nasional.
Inilah
Ahmad Yasin, seorang laki-laki yang setara dengan satu umat, atau satu umat
dalam diri seorang laki-laki.
"Di
antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah
mereka janjikan kepada Allah. Menerapkan janji itu, maka di antara mereka ada
yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka
tidak mengubah (janjinya)." (QS. Al-Ahzab: 23)...
Dan
berikut ini adalah wawancara beliau dengan jaringan (website) Al-Fursan
Elektronik, di mana beliau memaparkan beberapa aspek, di antaranya aspek
pribadi, budaya, media, sastra, pergerakan (haraki), dan politik.
Kita
Mulai dengan Aspek Pribadi dan Budaya
Dr.
Ar-Rantisi: Ketika saya menyelesaikan studi saya dan kembali ke Jalur Gaza
pada tahun 1972 bersama sekelompok rekan, kami menuliskan keinginan kami pada
formulir yang diserahkan ke Dinas Kesehatan. Keinginan saya adalah spesialisasi
dalam bedah mata dan saya telah mencatat hal itu dalam surat permohonan
pekerjaan. Namun Allah berkehendak lain, salah satu rekan terpilih untuk
spesialisasi bedah mata, sementara saya menemukan nama saya telah dikirim ke
Rumah Sakit Asy-Syifa, sebuah rumah sakit umum yang tentu saja tidak memiliki
bagian bedah mata. Di sana, diajukan permohonan baru untuk menyatakan opsi
pilihan, maka opsi pilihan saya adalah bedah umum atau bedah anak. Saya
terkejut bahwa mereka telah mengirim nama saya ke bagian anak dan opsi saya
tidak dipenuhi untuk kedua kalinya. Maka timbul rasa marah dalam diri saya
karena merasa terzalimi, dan saya menyadari bahwa urusan berjalan sesuai hawa
nafsu, nepotisme, dan kebiasaan koneksi (faktors keterikatan/koneksitas).
Lalu saya ridha dengan apa yang dipilihkan Allah untuk saya dalam keadaan
merasa pahit dan sakit hati, kemudian saya pergi ke bagian anak. Oleh karena
itu, saya dapat katakan: Pemilihan tersebut terjadi karena paksaan dan bukan
berdasarkan keinginan pribadi saya.
Jaringan
Al-Fursan: Apakah Anda dapat menyelaraskan antara profesi Anda sebagai
dokter dengan perhatian Anda pada hal-hal lain seperti urusan politik,
pergerakan jihad, organisasi (harakiyah), dan lainnya pada waktu
sekarang ini secara khusus?
Dr.
Ar-Rantisi: Saya dulu bekerja di profesi kedokteran hingga awal Intifadah
pertama di mana perjalanan saya dengan penjara-penjara dimulai, sebab saya
telah menghabiskan waktu di dalam penjara lebih dari sepuluh tahun.
Ketika
saya keluar dari penjara, saya mendapati bahwa tidak ada lagi kesempatan untuk
bekerja di profesi kedokteran, maka saya memfokuskan diri (tafarrugh)
untuk kerja-kerja jihad dan politik, bersamaan dengan tetap menjalankan tugas
saya sebagai dosen di Universitas Islam Gaza di Fakultas Keperawatan.
Jaringan
Al-Fursan: Syaikh Ahmad Yasin hafizhahullah, apa arti sosok beliau
bagi Anda?
Dr.
Ar-Rantisi: Beliau adalah teladan, pemimpin, ayah, dan guru. Pada dirinya
terdapat sifat-sifat yang tidak dapat Anda lihat padanannya pada orang lain.
Beliau adalah pemimpin yang lumpuh, dan sejarah tidak pernah menceritakan
kepada kita tentang seorang pemimpin gerakan perlawanan jihad yang menderita
kelumpuhan total (kualdriplegia). Beliau adalah pemilik daya ingat yang kuat
yang hampir tidak mengenal kata lupa. Beliau pernah memberitahu saya suatu
ketika saat kami berada dalam satu sel penjara bahwa beliau tidak tahu
bagaimana orang-orang bisa lupa. Saya juga bersaksi bahwa beliau adalah orang
paling sabar yang pernah saya kenal, dan siapa pun yang ingin mengetahui makna Shabr
Jamil (kesabaran yang indah), hendaklah ia mendampingi orang ini. Atas
musibah yang menimpanya, beliau tidak pernah mengadukan kesusahan dan
kesedihannya kecuali hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Beliau
adalah sosok yang inovatif dan memiliki hikmah, sehingga apabila persoalan
menjadi gelap dan perkara terasa berat bagi kami, kami menemukan pendapat yang
tepat ada pada Syaikh Ahmad Yasin. Di antara sifatnya yang menakjubkan, beliau
adalah orang paling aktif yang pernah saya kenal; bekerja dengan energi sepuluh
orang laki-laki, tidak merasa bosan, dan tidak merasa lelah. Beliau adalah
sosok Qur'ani, seorang pria yang membawa Al-Qur'an di dalam dadanya dan
telah menghafalnya di luar kepala di dalam sel penjaranya saat saya menjadi
teman satu sel dengannya. Saya telah katakan dalam sebuah artikel yang khusus
saya persembahkan untuk beliau bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang
setara dengan satu umat, atau satu umat dalam diri seorang laki-laki.
Jaringan
Al-Fursan: Dengan taufik dari Allah, Anda berhasil menyelesaikan hafalan
Al-Qur'anul Karim (dan ini adalah nikmat dari Allah) saat Anda berada di dalam
penjara. Bagaimana Anda melihat diri Anda setelah menghafalnya?
Dr.
Ar-Rantisi: Seutama-utama nikmat Allah kepada manusia adalah ketika Allah
memampukannya untuk menghafal Kitab-Nya. Para penghafal Kitabullah melihat hal
baru di dalamnya pada setiap tilawah yang mereka baca; Al-Qur'an terbarukan di
dalam hati mereka dengan kenikmatan, makna-makna, dan rahasia-rahasianya. Anda
dapat meresapi sesuatu yang indah di dalamnya pada setiap tilawah baru yang
belum pernah Anda rasakan sebelumnya. Selain itu, menghafal Al-Qur'an
mendekatkan seorang muslim kepada Rabb-nya dan membuatnya menjalani kehidupan
akhirat seolah-olah ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Al-Qur'an juga
menjadi benteng yang menjaga pemiliknya dari kekhilafan hingga tingkat yang
tinggi, serta membangkitkan cita-cita (himmah) dalam diri pemiliknya.
Maka tidak mengherankan jika Anda melihat para penghafal Kitabullah itu:
"bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka. Kamu melihat mereka..." (QS. Al-Fath: 29).
Jaringan
Al-Fursan: Tempat lahir Anda adalah di desa Yibna yang terletak di antara
Asyqalan dan Yafa. Bisakah Anda menceritakan kepada kami tentang desa ini dan
apa arti desa ini bagi Anda?
Dr.
Ar-Rantisi: Saya dikeluarkan dari desa saya, Yibna, ketika saya berusia
enam bulan. Namun rasa cinta kepadanya tumbuh di dalam hati saya seiring
bertambahnya usia saya. Betapa saya sangat merindukannya meskipun saya tidak
melihatnya dengan mata kesadaran ketika saya dikeluarkan darinya. Saya telah
mengunjunginya beberapa kali tak lama setelah pendudukan Tepi Barat dan Jalur
Gaza, yaitu sebelum Intifadah pertama. Setiap kali mengunjunginya, saya pergi
ke rumah tempat saya dilahirkan, yaitu rumah dua lantai yang terletak di
tengah-tengah pepohonan jeruk, yang dirampas oleh sebuah keluarga Yahudi yang
datang dari Yaman. Rumah itu adalah rumah indah yang menghuni jiwa saya meski
saya tidak menghuninya, terletak di tengah desa dan dekat darinya terdapat
sekolah kota yang biasa dituju oleh murid-murid dari desa-desa tetangga. Juga
dekat dari rumah itu terdapat makam seorang yang saleh yang mereka sebut di
desa itu sebagai Makam Abu Hurairah. Ketika saya mengunjungi rumah itu, saya
terkejut bahwa di sana masih ada beberapa pohon jeruk yang ditanam oleh ayah
saya dengan tangannya sendiri, semoga Allah merahmatinya. Jalan raya lama yang
menghubungkan utara Palestina dengan selatannya melintasi desa tersebut,
sementara jalan baru menyenggol batas baratnya. Di desa tersebut masih ada
peninggalan rumah-rumah yang hancur serta masjid yang telah mengalami kerusakan
dan tidak tersisa kecuali sebagian dari menaranya. Dekat dari masjid terletak
pemakaman desa tempat jasad para leluhur bersemayam. Dari pihak saya, saya
masih terus menantikan hari di mana saya akan kembali ke desa dan rumah saya.
Saya yakin bahwa kita akan kembali kepadanya, tetapi saya tidak tahu apakah
saya akan menyejukkan mata saya dengan melihatnya dalam keadaan gema takbir
"Allahu Akbar" membumbung di atas menaranya, ataukah desa itu akan
bangkit dengan mulia sementara tanah telah memeluk jasad saya.
Jaringan
Al-Fursan: Ketika Anda berada di kelas enam sekolah dasar, Anda terpaksa
bekerja untuk membantu menafkahi keluarga besar Anda. Bisakah Anda menceritakan
kepada kami tentang fase kehidupan Anda ini? Dan tentang kehidupan Anda di kamp
pengungsi Khan Yunis (secara singkat jika memungkinkan)?
Dr.
Ar-Rantisi: Tidak ada penghasilan bagi keluarga besar kami kecuali apa yang
kami terima berupa bantuan logistik (tomwin) dari Badan Bantuan dan
Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA). Hal ini
memaksa saya dan saudara-saudara saya untuk mencari pekerjaan meskipun
sederhana, dan pekerjaan itu terkadang tidak sesuai dengan usia dan kemampuan.
Saya dulu bekerja di bidang penjualan; saya menjual buah sederhana yang disebut
Jummaiz (buah ara hutan/sycamore), hingga pada akhir hari saya membawa
pulang—sering kali—hanya satu qirsy (sen) atau setengah qirsy
dari hasil itu. Kemudian ketika saya bertambah besar sedikit, saya bekerja
menyiram pohon-pohon di perkebunan (biyarat), dan saya juga bekerja di
bidang bangunan; mengangkut batu dan lain sebagainya. Kemudian ketika saya
masuk jenjang sekolah menengah pertama (SMP), saya pergi ke kota Al-Arisy di
Sinai untuk membawa sabun dan beberapa barang lain dari sana dalam jumlah kecil
yang menghasilkan sedikit keuntungan. Ada banyak bidang kerja lainnya yang saya
geluti, dan secara umum tidak sesuai dengan usia muda saya.
Jaringan
Al-Fursan: Mata kuliah apa saja yang Anda ajarkan di Universitas Islam
Gaza? Dan bagaimana perlakuan Anda terhadap para mahasiswa?
Dr.
Ar-Rantisi: Saya mengajar mata kuliah Biokimia di Universitas Islam serta
mata kuliah Pertolongan Pertama (P3K). Semangat yang mendominasi antara
saya dan para mahasiswa saya adalah semangat ukhuwah (persaudaraan). Mereka
merasakan semangat ini dan memperlakukan saya sebagai teman mereka. Saya sering
bersenda gurau dengan mereka, serta mengingatkan mereka kepada Allah dan peran
yang dibebankan kepada mereka di kehidupan dunia ini, khususnya karena tanah
air sedang terjajah dan mereka membentuk tulang punggung rakyat Palestina,
serta menjadi harapan umat dan perbekalannya di usia muda mereka.
Jaringan
Al-Fursan: Baik... Pada saat ini, bagaimana Anda melanjutkan
kuliah/pengajaran Anda?
Dr.
Ar-Rantisi: Setelah saya menjadi sasaran percobaan pembunuhan yang gagal,
tidak lagi mudah bagi saya untuk melanjutkan pengajaran saya di universitas di
bawah tindakan pengamanan ketat yang kami terapkan hari ini. Hal itu dilakukan
demi mengamalkan firman Allah `Azza wa Jalla: "Wahai orang-orang yang
beriman! Bersiap siagalah kamu..." (QS. An-Nisa: 71). Oleh karena itu,
saya berhenti dari melanjutkan pengajaran di universitas sampai Allah
memutuskan suatu perkara yang telah ditetapkan.
Jaringan
Al-Fursan: Anda telah menghabiskan bertahun-tahun dan berbulan-bulan di
penjara musuh Zionis dan Otoritas Nasional (Sultah Wathaniyah). Apa saja
sisi positif dan negatif dari periode yang Anda habiskan di dalam penjara ini?
Dan apakah itu mempengaruhi cara berpikir serta gaya hidup Anda?
Dr.
Ar-Rantisi: Tidak diragukan lagi bahwa di dalam penahanan terdapat banyak
sisi positif. Yang terdepan dari sisi positif ini adalah bahwa penahanan
menyiapkan manusia untuk menanggung beban-beban berat di masa depan.
Demikianlah Nabi Yusuf 'alaihissalam disiapkan untuk tugas yang lebih
besar, di mana Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman setelah Nabi Yusuf
keluar dari penjara: "Dan demikianlah Kami memberi kedudukan kepada Yusuf
di negeri ini..." (QS. Yusuf: 56). Penjara adalah madrasah kesabaran,
sebagaimana seorang tahanan menemukan waktu yang cukup untuk ilmu dan pengetahuan.
Penjara juga merupakan kesempatan baik untuk berinteraksi dengan para pemuda.
Dan yang terdepan dari sisi positif adalah bahwa saya mampu menghafal
Kitabullah `Azza wa Jalla. Adapun sisi negatifnya terbatas pada fakta bahwa
manusia di dalam penjara kehilangan kemampuan untuk bergerak secara luas yang
memberikan kemanfaatan bagi isu perjuangan, rakyat, dan keluarga. Jika ada
pengaruh terhadap cara berpikir saya setelah penahanan, maka saya dapat katakan
bahwa keterikatan saya pada dunia telah sangat melemah. Maka tidak mengherankan
jika Anda melihat sebagian besar pemuda yang gugur sebagai syahid pernah
menghabiskan periode kehidupan mereka di dalam penjara.
Kita
Masuk ke Aspek Media, Sastra, atau Budaya
Jaringan
Al-Fursan: Anda memiliki situs web di internet. Apa tujuan dari situs
tersebut? Berapa jumlah pengunjung harian Anda? Ceritakan kepada kami tentang
situs itu dan komunikasi Anda dengan para pengunjung.
Dr.
Ar-Rantisi: Tujuan terpenting dari situs web ini terwujud dalam memaparkan
sikap Islam terhadap isu Palestina, menempatkan pemerhati situs di hadapan
perkembangan-perkembangan terbaru, serta menyampaikan tulisan-tulisan terbaik
tentang isu Palestina berupa artikel dan puisi kepada para pengikut situs. Juga
memaparkan sikap Islam terhadap isu-isu yang menjadi perhatian umat Arab dan
Islam, serta membongkar musuh-musuh Allah dan tipu daya yang mereka rancang
terhadap umat ini. Adapun jumlah pengunjungnya, situs ini dikunjungi oleh
sekitar seribu orang per hari dan terkadang jauh lebih banyak dari jumlah
tersebut. Di sana ada halaman untuk menerima pesan-pesan pengunjung dan
pesan-pesan mereka dipublikasikan di situs. Saya juga memiliki alamat email
yang melaluinya saya menerima banyak pesan yang saya baca dan saya balas.
Biasanya saya menerima balasan atas balasan saya di mana para pengirimnya
mengungkapkan kebahagiaan mereka seraya mengatakan bahwa mereka tidak menyangka
kecepatan balasan ini. Terkadang karena kondisi keamanan yang sulit, saya
terlambat membalas pesan pengunjung, dan ketika saya mampu membalas mereka,
saya meminta maaf kepada mereka atas keterlambatan balasan yang terjadi.
Jaringan
Al-Fursan: Apakah Anda sendiri yang memperbarui (update) situs web
tersebut?
Dr.
Ar-Rantisi: Sering kali ya, saya sendiri yang memperbarui situs tersebut.
Namun dalam kondisi keamanan yang sulit, sebagian pemuda mengambil alih urusan
ini.
Jaringan
Al-Fursan: Kami ingin mengetahui pandangan Anda tentang bagaimana generasi
umat Islam kita dapat memanfaatkan jaringan internet?
Dr.
Ar-Rantisi: Realitasnya bahwa jaringan internet merupakan pintu pengetahuan
yang luas yang memudahkan sampainya informasi kepada para pembaca. Internet
juga membentuk kesempatan bagi para pemuda untuk mengakses informasi yang sahih
melalui situs-situs yang terpercaya—dan betapa banyaknya situs tersebut.
Internet juga menjadi kesempatan yang baik untuk menjalin komunikasi
antar-generasi dalam satu umat dan satu akidah serta bertukar pemikiran dan
informasi. Selain itu, terdapat banyak situs yang kaya dengan informasi
keagamaan yang memuaskan kebutuhan pemuda muslim yang haus akan informasi ini
di saat ia kembali dengan kembalinya yang terpuji kepada akidah, asal-usul, dan
identitasnya.
Jaringan
Al-Fursan: Ada yang mengatakan bahwa jaringan internet bertindak sebagai
media alternatif dalam waktu dekat. Apa tanggapan Anda?
Dr.
Ar-Rantisi: Hal ini memang diperkirakan, terutama karena persentase yang
tinggi dari anak-anak umat hari ini tidak menemukan kebutuhan mereka melalui
sarana-sarana media lain yang telah menutup pintu-pintu mereka di hadapan
orang-orang Islam (Islamiyyin). Namun jaringan internet membuka pintu
selebar-lebarnya bagi kaum muslimin yang terhalangi untuk menemukan tempat
penyaluran bagi rasa sakit mereka. Di saat para pemuda menemukan situs web di
internet untuk Gerakan Hamas dan Batalyon Al-Qassam, mereka tidak akan
menemukan stasiun penyiaran televisi untuk keduanya karena pintunya ditutup
rapat di hadapan gerakan ini.
Jaringan
Al-Fursan: Anda adalah seorang penulis artikel yang unggul, dan alhamdulillah
artikel-artikel Anda dipublikasikan di beberapa situs dan surat kabar. Bisakah
kami mengetahui suasana seperti apa yang kondusif bagi Anda untuk menulis
artikel? Terutama karena artikel-artikel Anda selalu seirama dengan peristiwa
yang terjadi.
Dr.
Ar-Rantisi: Suasana terbaik untuk menulis adalah kesendirian dan
ketenangan. Pendorong terbaik adalah peristiwa-peristiwa yang terkadang
membangkitkan kegembiraan dalam jiwa, dan di waktu lain membangkitkan rasa
sakit, khususnya peristiwa yang menyentuh isu Palestina dan isu-isu umat Arab
kita. Dari sinilah artikel-artikel biasanya hadir seirama dengan peristiwa.
Kita
Masuk ke Aspek Politik dan Pergerakan (Haraki)
Jaringan
Al-Fursan: Ikhwanul Muslimin adalah induk dari mana Gerakan Perlawanan
Islam (Hamas) memancar pada tahun 1987. Sebenarnya kami mengalami
kesimpangsiuran, bisakah Anda menjelaskan kepada kami apa hubungan antara
gerakan ini dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin? Ceritakan kepada kami tentang
pemikiran dan manhaj gerakan ini dibandingkan dengan Ikhwanul Muslimin.
Dr.
Ar-Rantisi: Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) adalah Gerakan Ikhwanul
Muslimin di Palestina. Pada tahun 1987 M, ketika pimpinan Ikhwanul Muslimin—dan
saya merupakan salah satu anggota pimpinan—memutuskan untuk menyulut Intifadah
di Palestina, kami memilih sebuah nama untuk gerakan lapangan yang mewakili
aktivitas Intifadah di jalanan Palestina yang dijalankan oleh gerakan Ikhwanul
Muslimin. Maka pilihan kami jatuh pada judul ini: "Gerakan Perlawanan
Islam" (Harakat al-Muqawamah al-Islamiyyah). Oleh karena itu, para
anggota Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) ketika memberikan baiat, mereka
memberikannya kepada gerakan Ikhwanul Muslimin.
Jaringan
Al-Fursan: Kapan terorisme (Al-Irhab) menjadi hal yang terpuji? Dan
kapan menjadi hal yang tercela?
Dr.
Ar-Rantisi: Terorisme (Al-Irhab) sebagai istilah yang dikenal saat
ini di dunia telah menjadi hal yang tercela, karena ia tidak lagi sekadar nama masyda
(kata benda asal) dari kata kerja arhaba (menakut-nakuti). Sekiranya ia
tetap berada dalam bingkai ini, tentu ia menjadi hal yang terpuji jika berupa
tindakan menakut-nakuti terhadap para penjajah, pendaulat kezaliman, dan
orang-orang zalim, sebagaimana tercantum dalam Kitabullah Subhanahu wa
Ta'ala: "Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja
yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang
dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..." (QS.
Al-Anfal: 60). Dan ia menjadi tercela jika berupa tindakan menakut-nakuti
terhadap rakyat yang aman dan tenteram serta melakukan agresi atas mereka, atau
menakut-nakuti orang-orang yang lemah di bumi. Maka apa yang dilakukan oleh
musuh Zionis berupa pendudukan dan agresi terhadap rakyat Palestina adalah
terorisme itu sendiri menurut istilah internasional. Sedangkan apa yang
dilakukan oleh rakyat Palestina berupa penggentaran terhadap para penjajah
adalah perlawanan yang sah terhadap pendudukan menurut Kitabullah. Jika mereka
menyematkan istilah terorisme pada perlawanan Palestina ini, maka pada saat itu
ia adalah terorisme yang terpuji, sebagaimana dikatakan oleh penyair:
Tidak
ada keadilan kecuali jika kekuatan telah seimbang,
dan
berbenturanlah terorisme dengan terorisme.
Dan
lafaz terorisme (Al-Irhab) dalam bait puisi ini—yang mengekspresikan
perlawanan—hadir dalam konteks musyakalah lafzhiyyah (keselarasan
artikulasi lafaz).
Jaringan
Al-Fursan: Bagaimana perang media mempengaruhi Anda ketika mereka melabeli
para pahlawan yang gagah berani dengan sebutan terorisme? Dan bagaimana Anda
melawan perang media yang ditujukan terhadap jihad suci Anda ini?
Dr.
Ar-Rantisi: Istilah ini tidak lagi memiliki nilai apa pun karena tidak
mencerminkan gambaran hakiki dari terorisme yang dimaksud dari istilah
tersebut. Oleh karena itu, ia tidak lagi memiliki pengaruh apa pun terhadap
rakyat, bahkan rakyat Barat sekalipun, karena rakyat Arab dan Islam menyadari
hakikat permusuhan Salibis dan Zionis terhadap umat Arab dan Islam. Walhasil,
mereka tidak menghormati istilah-istilah ini dan tidak menghormati pihak yang
berada di baliknya. Sebagaimana yang Anda ketahui, jajak pendapat di Eropa
telah membuktikan bahwa rakyat Eropa menyadari sepenuhnya sifat musuh Zionis
ini ketika mayoritas menegaskan bahwa entitas Zionis ini membentuk ancaman
terbesar bagi keamanan di muka bumi.
Jaringan
Al-Fursan: Tidakkah Anda melihat bahwa terdapat perancuan dan kontradiksi
antara apa yang diinginkan oleh Pemerintah Palestina melalui pemberian konsesi
(تنازلات) kepada geng Zionis
yang rasis dengan tuntutan gerakan-gerakan jihad dan perlawanan Palestina yang
gagah berani?
Dr.
Ar-Rantisi: Kontradiksinya sangat besar antara hak-hak nasional yang sah
bagi rakyat Palestina yang diusung dan dipegang teguh oleh Gerakan Perlawanan
Islam di Palestina, dengan apa yang dipraktikkan oleh Otoritas Palestina berupa
kemerosotan politik yang berbahaya yang mengarah pada penyerahan sebagian besar
hak-hak nasional yang sah bagi rakyat Palestina. Bahkan terdapat kontradiksi
antara asas-asas, kaidah-kaidah, dan prinsip-prinsip dasar yang menjadi
landasan berdirinya Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) saat didirikan,
dengan sikap-sikap merosot yang kekalahan yang diusung oleh PLO hari ini yang
direpresentasikan oleh Otoritas.
Jaringan
Al-Fursan: Apa saja poin-poin utama yang dipegang teguh oleh warga
Palestina—baik rakyat, pemerintah, maupun gerakan perlawanan—demi kemaslahatan
isu Palestina?
Dr.
Ar-Rantisi: Tidak menyerahkan sejengkal pun tanah Palestina dari laut
hingga sungai meskipun kita tidak mampu membebaskannya hari ini; tidak
menyerahkan hak kembali (Hak Al-Audah) dan ganti rugi bagi warga
Palestina yang diusir dari rumah-rumah mereka; tidak menyerahkan tempat-tempat
suci; berdirinya negara Palestina yang berdaulat penuh tanpa menyerahkan bagian
tanah air yang tersisa sebagai imbalannya. Poin-poin inilah yang dipegang teguh
oleh Gerakan Islam di Palestina, dan ini mewakili mayoritas mutlak rakyat
Palestina. Namun poin-poin yang dipegang teguh oleh Otoritas tidaklah jelas,
karena Otoritas mengubah sikapnya secara terus-menerus untuk menyesuaikan diri
dengan apa yang diinginkan oleh musuh Zionis. Kita semua telah mendengar
tentang Dokumen Jenewa yang menghabisi sisa-sisa hak-hak nasional.
Jaringan
Al-Fursan: Membunuh warga sipil Israel, bahkan tentara Israel, dianggap
sebagai aksi teroris yang dilarang yang tidak didiamkan oleh geng Zionis, dan
pemerintah Palestina terkadang mengecam serta mengutuknya. Lantas siapakah yang
membela korban-korban Palestina dari kalangan anak-anak, wanita, dan lansia?
Dengan kata lain, bagaimana media Arab bersikap terhadap korban tewas sipil
Zionis dan syahid sipil Arab Palestina?
Dr.
Ar-Rantisi: Jika kata "sipil" mengekspresikan orang yang tidak
membawa senjata, maka di sana ada warga sipil Zionis dan kami tidak memungkiri
hal itu. Namun yang kami ingkari adalah bahwa mereka adalah warga sipil yang
tidak berdosa (innocent); tidak lain karena mereka adalah sekutu dalam
pendudukan tanah air dan pengusiran rakyat Palestina dari tanahnya serta
penempatan mereka di sana secara paksa tanpa izin dari pemiliknya. Bahwa tidak
mungkin mengeluarkan mereka dari Palestina dan mengembalikan pemiliknya ke sana
kecuali dengan memerangi dan mengusir mereka darinya secara paksa. Maka
pengutukan terhadap operasi-operasi yang menargetkan para penjajah pada
hakikatnya mengekspresikan kelemahan pihak yang melontarkan pengutukan tersebut
dan tidak mencerminkan hakikat dirinya. Sungguh sangat disayangkan bahwa media
Arab bersikap terhadap korban tewas dari kalangan penjajah seolah-olah mereka
warga sipil, sementara pada saat yang sama tidak menyoroti secara kuat
kejahatan-kejahatan pendudukan yang menargetkan anak-anak, wanita, lansia, dan
pemuda dari kalangan rakyat Palestina serta menghancurkan kehidupan Palestina
dengan merusak bangunan dan pepohonan.
Jaringan
Al-Fursan: Bagaimana pandangan Hamas yang gagah berani terhadap apa yang
sedang berlangsung berupa upaya-upaya untuk mewujudkan perdamaian melalui Peta
Jalan Perdamaian (Roadmap for Peace)?
Dr.
Ar-Rantisi: Roadmap (Peta Jalan) tidak mungkin mengarahkan pada
perdamaian. Poin-poin pertama dari Peta Jalan ini adalah poin-poin yang
berkaitan dengan pemukulan terhadap perlawanan Palestina dan pemusnahannya demi
kepentingan pendudukan, atau katakanlah penyulutan perang saudara di dalam
internal jalanan Palestina. Saya meyakini bahwa perang saudara Palestina adalah
tujuan utama dan akhir di balik Peta Jalan ini. Siapa saja yang mengira selain
itu atau meyakini ada tujuan-tujuan perdamaian di balik Peta Jalan ini, maka ia
tenggelam dalam ilusi. Peta Jalan ini tidak dapat diterapkan, dan jika
ditakdirkan untuk diterapkan, maka penerapannya terbatas pada penghancuran
rakyat Palestina dan Intifadahnya yang gagah berani. Jalan perdamaian sudah
diketahui bagi siapa saja yang ingin menempuhnya, yaitu terwujud dengan
memberikan hak-hak yang sah kepada rakyat Palestina, serta menghentikan
tragedinya yang dimulai sejak tahun 1948 dan masih berlanjut hingga hari ini.
Jaringan
Al-Fursan: Meskipun ada peran berbahaya yang dimainkan oleh para mata-mata
(jasus), khususnya mereka yang bekerja dalam posisi-posisi kepemimpinan
di tengah rakyat Palestina, namun kami mengamati bahwa gerakan Hamas menahan
tangannya dari mereka. Bagaimana Anda dapat menjelaskan sikap ini kepada
teman-teman dan musuh-musuh Anda?
Dr.
Ar-Rantisi: Sebagaimana Anda ketahui, kita di Palestina memiliki pemerintah
yang berdiri, dan memantau serta mengejar para mata-mata seharusnya menjadi
salah satu kewajiban utama pemerintah ini. Jika gerakan Hamas mengambil peran
ini, Pemerintah Palestina akan menganggap bahwa Hamas menyodorkan dirinya
sebagai alternatif dari pemerintah ini, atau Hamas bekerja untuk membentuk
pemerintah tandingan, atau Hamas mengambil hukum dengan tangannya sendiri.
Semua hal itu berpotensi memicu ketegangan di jalanan Palestina, dan dapat
dijadikan dalih untuk menjalankan peran yang diinginkan oleh Amerika dan musuh
Zionis dari Otoritas Palestina, yaitu memukul Gerakan Islam. Dari sinilah
gerakan Hamas pada fase ini membatasi diri pada mengawasi dan memantau mereka.
Jaringan
Al-Fursan: Bagaimana Anda menjelaskan tuntutan geng Zionis agar warga Arab
Palestina yang tinggal di dalam wilayah yang disebut Israel untuk terlibat
dalam wajib militer sebagai bentuk ekspresi loyalitas mereka kepada negara
Israel yang rapuh dan klaim semata?
Dr.
Ar-Rantisi: Tuntutan ini merupakan pendahuluan untuk mempraktikkan
penyempitan terhadap warga Palestina yang tetap menjaga identitas dan loyalitas
mereka, serta pendahuluan untuk menciptakan dalih-dalih guna merampas sisa-sisa
hak-hak sipil mereka. Pihak Zionis menyadari loyalitas warga kita di Palestina
yang diduduki sejak tahun 1948, namun mereka tidak ingin menghormati loyalitas
ini, di saat mereka membolehkan diri mereka sendiri untuk membela kaum Yahudi
di seluruh penjuru dunia. Pengadopsian mereka terhadap kaum Yahudi Iran yang
dituduh melakukan mata-mata terhadap negara mereka (Iran) bukanlah hal yang
jauh dari kita.
Jaringan
Al-Fursan: Hal-hal apa saja yang Anda lihat sangat dibutuhkan oleh rakyat
Palestina pada saat sekarang ini?
Dr.
Ar-Rantisi: Rakyat Palestina saat ini sangat membutuhkan untuk melihat
dukungan nyata dengan segala sarana dari rakyat Arab dan Islam, karena rakyat
Palestina hari ini berdiri di parit terdepan membela kehormatan umat. Merupakan
hak rakyat ini atas umat agar umat menjadi penguat bagi jihadnya sehingga ia
dapat melanjutkan keteguhannya dalam menghadapi agresi Zionis yang zalim ini,
yang tidak ada tandingannya dalam sejarah baik dalam kekejaman penindasannya
maupun dalam ketiadaan moralitasnya.
Jaringan
Al-Fursan: Apa permintaan Anda kepada situs-situs web Arab dan Islam di
internet untuk melayani isu terbesar umat Islam, yaitu isu Palestina yang
terluka?
Dr.
Ar-Rantisi: Kami meminta mereka untuk menonjolkan kejahatan musuh Zionis
terhadap rakyat Palestina di hadapan dunia, merangsang/menganjurkan umat untuk
menjalankan perannya dalam menghadapi agresi ini dan menyokong jihad rakyat
Palestina, serta menyoroti keadilan isu Palestina, sejarah Palestina, dan akar
tragedi Palestina.
Jaringan
Al-Fursan: Apa sikap Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) terhadap perang Salib
yang dipimpin oleh Amerika Serikat terhadap kaum muslimin di berbagai penjuru
dunia, dan apa peran gerakan dalam menolak agresi ini?
Dr.
Ar-Rantisi: Realitasnya bahwa perang gila yang dipimpin oleh Barat yang
penuh kedengkian ini adalah perang yang ditujukan pertama dan utama terhadap
Islam secara pemikiran, peradaban, akidah, dan nilai-nilai. Gerakan Perlawanan
Islam (Hamas) pada tingkat pertama adalah gerakan Islam, dan dari sinilah ia
menaruh perhatian pada isu-isu kaum muslimin di setiap tempat. Apa yang terjadi
berupa agresi Amerika terhadap saudara-saudara kita di Irak sangat mempengaruhi
Gerakan Hamas. Sebagaimana pula perlawanan Islam yang gagah berani di Irak
memiliki pengaruh positifnya terhadap isu Palestina dan terhadap Gerakan
Perlawanan Islam.
Jaringan
Al-Fursan: Mengapa Anda menentang serangan terhadap para pemukim Salibis di
kompleks Al-Muhayya di tanah Jazirah Arab, dan mengutuk pembunuhan Muhammad
Baqir Al-Hakim, meskipun ada sikap Hamas yang dinyatakan tidak campur tangan
dalam urusan dalam negeri negara lain?
Dr.
Ar-Rantisi: Ini bukan termasuk campur tangan dalam urusan negara lain,
tetapi kami menyampaikan perkataan kami yang kami yakini bermuara pada
kemaslahatan kaum muslimin. Mereka yang terbunuh di kompleks Al-Muhayya adalah
bagian dari kaum muslimin. Banyak analis dan pengamat pada saat itu meyakini
ada tangan-tangan tersembunyi di balik operasi tersebut. Adapun mengenai
pembunuhan Baqir Al-Hakim, kami tidak tahu siapa yang berada di balik operasi
ini, dan kami meragukan jika perlawanan Irak yang melakukannya. Yang paling
kami khawatirkan adalah bahwa operasi-operasi semacam ini memukul persatuan
jalanan Irak, dan hal itu tidak akan menjadi kemaslahatan bagi perlawanan Irak.
Jaringan
Al-Fursan: Adakah pesan yang ingin Anda sampaikan kepada para pemuda umat
Islam?
Dr.
Ar-Rantisi: Sesungguhnya urusan umat hari ini menyaksikan kondisi
kemunduran—saya tidak berlebihan jika mengatakan bahwa ini adalah salah satu
fase terburuk yang pernah dilalui oleh umat. Umat telah kehilangan
independensinya setelah kehilangan identitas Islamnya. Bangsa-bangsa berkumpul
mengeroyoknya untuk merampas masa lalu, masa kini, dan masa depannya. Kini
tibalah giliran pemuda muslim untuk menyelamatkan umat dan mengangkatnya dari
jurang terdalam yang telah dicapainya. Pemuda adalah pilar umat; jika mereka lurus
maka umat akan lurus, dan jika mereka bangkit maka umat akan bangkit. Bersama
mereka umat akan menang, dan bersama mereka kedudukan umat akan meninggi di
antara bangsa-bangsa. Tidak akan menjadi baik kondisi umat ini kecuali jika
baik kondisi pemudanya, dan tidak akan menjadi baik kondisi pemudanya kecuali
dengan Islam. Maka bertakwalah kepada Allah wahai para pemuda Islam dalam
menjaga umat kalian, berpegang teguhlah pada akidah kalian, dan ingatlah firman
Allah `Azza wa Jalla: "Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong
(agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
(QS. Muhammad: 7). Ketahuilah bahwa Islam pasti akan menang; jika tidak menang
melalui kalian, maka ia akan menang melalui selain kalian. Ketahuilah bahwa
jihad di jalan Allah adalah puncak tertinggi (sanam) Islam, maka wajib
atas kalian berjihad untuk membebaskan tanah dan tempat-tempat suci kalian,
menyediakan keamanan bagi anak-anak kaum muslimin, menjaga darah mereka, serta
mengembalikan kejayaan bagi umat.
Jaringan
Al-Fursan: Adakah pesan yang ingin Anda sampaikan kepada pengelola situs
Jaringan Islam Al-Fursan? Dan apakah Anda memiliki catatan, nasihat, serta
saran untuk situs ini?
Dr.
Ar-Rantisi: Sesungguhnya kita berada dalam pertempuran sengit melawan
musuh-musuh Islam dari kalangan Zionis dan Salibis. Musuh telah mengerahkan
seluruh sarananya untuk memenangkan pertempuran, yang utamanya adalah media.
Dan kita harus mengerahkan untuk menghadapi mereka dalam pertempuran ini
seluruh kekuatan yang kita miliki. Maka Anda sekalian berada di salah satu pos
perbatasan (tsaghar) Islam, maka jangan sampai Islam terserang dari arah
kalian. Kami bangga dengan kalian dan dengan upaya yang kalian curahkan, dan
umat kalian bangga dengan kalian. Saya memohon kepada Allah agar memberikan
taufik kepada kalian untuk setiap kebaikan, memberkahi langkah-langkah kalian,
dan mengalirkan kebaikan umat ini melalui tangan kalian.
Jaringan
Al-Fursan: Meskipun berbincang dengan Anda memiliki kenikmatan dan manfaat,
adakah pertanyaan yang belum kami ajukan?
Dr.
Ar-Rantisi: Pertanyaan-pertanyaan kalian telah mencakup segala hal yang
mungkin terlintas dalam pikiran, maka semoga Allah memberkahi kalian.
Istri
Ar-Rantisi: Anak-Anakku Berjalan di Atas Jalan Ayah Mereka
Mujahidah
(Ummu Muhammad), istri syahid Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi, menegaskan bahwa ia
akan menerima ucapan selamat dan bukan ucapan belasungkawa. Ia menegaskan bahwa
suaminya sepanjang hidupnya berada di atas jalan jihad menuntut kesyahidan dan
mencari keridhaan Allah, dan ia telah mencapainya serta meraihnya.
Ia
menambahkan dalam pernyataan kepada saluran Al-Arabiya saat mengantar
jenazah sang syahid: "Ar-Rantisi selalu meminta kesyahidan. Selama kita
tahu bahwa setiap ajal telah ada ketetapannya, maka kesyahidan adalah pilihan (isthifa')
dari Allah. Oleh karena itu, tidak ada yang bisa saya katakan kepadanya selain:
Selamat untukmu atas kesyahidan ini wahai Abu Muhammad, dan saya memohon kepada
Allah agar mengumpulkan kita di dalam kenikmatan surga."
Adapun
mengenai kondisi anak-anaknya setelah kesyahidan ayah mereka, sang istri yang
pasrah dan mengharap pahala (muhtasibah) berkata: "Anak-anakku
mengetahui jalan yang dilalui oleh ayah mereka, dan mereka memperbarui janji,
dan di atas jalannya mereka berjalan."
Puluhan
ribu laki-laki dan perempuan telah berpartisipasi dalam mengantar jenazah
syahid Dr. Abdul Aziz Ar-Rantisi dan saudara-saudaranya sesama syahid pada
siang hari ini, Minggu 18/4/2004 M, dan mereka mengancam akan memberikan
balasan cepat atas kejahatan Zionis ini.
Putra
Ar-Rantisi Menceritakan Detik-Detik Terakhir dalam Kehidupan Ayahnya
Putra
sulung syahid Abdul Aziz Ar-Rantisi menceritakan rincian detik-detik terakhir
dalam kehidupan pemimpin Gerakan Hamas di Gaza sesaat sebelum pembunuhannya.
"Muhammad Ar-Rantisi" mengungkapkan bahwa ayahnya sedang bersiap
untuk menikahkan putranya yang kedua, "Ahmad", setelah ia mendapatkan
tabungannya dari Universitas Islam tempat ia mengajar, dan melunasi seluruh
utangnya. Surat kabar UEA (Al-Khaleej) mengutip dari Muhammad bahwa
ayahnya menghabiskan malam sebelum pembunuhannya bersama keluarga yang
merindukannya dan jarang melihatnya kecuali sedikit.
Ia
menambahkan: Kehidupan Ar-Rantisi bukanlah kehidupan biasa dalam segala makna
yang dikandung oleh kata tersebut; melainkan kehidupan seorang pemimpin yang
memikul kewajiban-kewajiban seluruh gerakan, dan pada saat yang sama ia harus
bertindak sebagai buronan yang berpindah dari satu rumah ke rumah lain dengan
cara-cara rahasia dan sulit hingga detik terakhir kehidupannya.
Ia
berkata: Sesungguhnya ayahnya—sejak pembaiatannya sebagai pengganti Syaikh
Ahmad Yasin—berhenti pergi ke rumahnya di lingkungan Asy-Syaikh Radwan di Kota
Gaza. Beliau tinggal di markas-markas rahasia, mengambil tingkat kewaspadaan
dan kehati-hatian tertinggi, dan tidak berpindah tempat kecuali jarang. Namun
beliau akhirnya kembali pada Sabtu dini hari, tanggal 17 April, setelah
mengetahui bahwa saudaranya, Salah, datang dari Khan Yunis untuk melihat dan
mengucapkan salam padanya. Demikian pula putrinya, Inas, tiba untuk memastikan
keselamatan ayahnya dan menghabiskan beberapa jam bersamanya. Beliau memutuskan
untuk menghabiskan beberapa hari bersama anak-anak dan istrinya tanpa keluar,
terutama karena ketika beliau mengunjungi kami sebelum itu, beliau datang
tengah malam dan pergi saat fajar, terlebih setelah gagalnya percobaan
pembunuhan atas dirinya pada bulan Juni 2003 M, dan pembunuhan Syaikh Yasin
pada bulan Maret tahun 2004 M.
Muhammad
Ar-Rantisi berkata: Beliau duduk membicarakan pernikahan adik saya
"Ahmad", yang terluka saat percobaan pembunuhan pertama, hal itu
setelah beliau mendapatkan tabungannya dari Universitas Islam dan melunasi
utang-utang yang menanggungnya, serta menyisihkan sejumlah uang untuk
pernikahan Ahmad (21 tahun). Beliau berkata kepada kami: "Sekarang aku
menemui Rabb-ku dalam keadaan bersih, tidak ada hak orang padaku dan tidak ada
beban padaku."
Putra
sang syahid menambahkan: Ayahku bangun tidur, mandi, memakai wewangian, dan
mulai bersenandung—tidak seperti kebiasaannya—sebuah nasyid Islam yang bait
awalnya: "Jika Engkau memasukkanku wahai Rabb-ku ke dalam surga... ini
adalah puncak apa yang aku harapkan." Ia menambahkan: Beliau menoleh
kepada ibuku dan berkata padanya: "Ini adalah kata-kata terbaik yang
aku cintai dalam hidupku." Dan saat itulah aku merasa cemas.
Ia
mengisyaratkan bahwa pengawalnya, "Akram Mansy Nassar" (35 tahun),
tidak menghubunginya sejak waktu yang cukup lama hingga mencapai dua minggu,
melainkan mengordinasikan beberapa pergerakannya sesuai kode tertentu untuk
beberapa perpindahan. Namun ia tiba di rumah kami pada sore hari itu dan
berbicara dengan ayahku sebentar, lalu mereka sepakat untuk keluar, meskipun
beliau berniat untuk tinggal lebih lama. Maka kami meminta darinya untuk tidak
keluar, tetapi beliau tetap bersikeras untuk keluar!!
Ia
melanjutkan seraya berkata: Sedikit sebelum adzan Isya, ayahku keluar dengan
didampingi adikku "Ahmad", yang mengendarai mobil jenis (Subaru)
dengan kaca gelap sebagaimana yang disepakati dari rumah mereka dalam keadaan
menyamar dengan pakaian tertentu. Ahmad mengantarkannya ke lokasi tertentu di
Kota Gaza yang telah disepakati sebelumnya. Beberapa menit kemudian, tiba di
lokasi tersebut mobil (Subaru) lain yang ditumpangi oleh "Akram
Nassar" dan dikendarai oleh "Ahmad Al-Ghurrah" (yang bekerja
secara rahasia di dalam jajaran Batalyon Al-Qassam). Dengan tenang Ar-Rantisi
berpindah dari mobil putranya ke mobil lain yang melaju melesat bersamanya ke
tujuan yang tidak ditentukan; namun dua rudal dari helikopter (Apache) Zionis
lebih cepat dari siapa pun.
Muhammad
berkata: Ketika saya mendengar suara pemboman, saya segera menghubungi adik
saya Ahmad untuk memastikan keselamatannya dan ia menjawab saya, di sini saya
sedikit tenang. Namun tampaknya Ahmad menyadari apa yang terjadi, dan ia
menunggu sampai memastikan hal tersebut; di mana ia kembali ke lokasi dan
menyaksikan mobil yang terbakar telah berubah menjadi puing-puing dan ia yakin
dengan apa yang terjadi. Muhammad menambahkan: Saya bergegas ke lokasi
pemboman, dan ketika saya melihat mobil tersebut saya tahu bahwa ayah saya
berada di antara para syahid, meskipun sebagian orang mencoba menenangkan
dengan mengatakan bahwa beliau hanya terluka. Adapun ibu saya, beliau menyambut
berita tersebut dengan penuh kekuatan dan keteguhan, serta mulai bertasbih dan
bertahlil, sementara saudara perempuan saya menangis tersedu-sedu... Kami tetap
tegar... Ini adalah takdir kami dan kami ridha dengan ketetapan Allah.
Detik-detik
terakhir dari kehidupan sang pemimpin syahid ini mencerminkan kesungguhannya
untuk mengambil tindakan dan langkah pengamanan yang tinggi dalam
pergerakannya. Beliau tidak menggunakan komunikasi telepon atau nirkabel, namun
teknologi, agen mata-mata, dan pemantauan sepanjang waktu yang dimiliki oleh
penjajah... membuat meloloskan diri dari takdir menjadi hal yang sangat sulit.
Muhammad
berkata bahwa gambaran yang ada di dalam benak orang-orang tentang ayah saya
adalah sosok revolusioner yang keras, namun di dalam keluarga beliau adalah
pemilik kasih sayang yang besar dan hati yang lembut lagi tenang, serta
menyukai anak-anak. Ia menambahkan: Ayahku tidak meninggalkan istana-istana,
perusahaan-perusahaan, maupun rekening-rekening di bank; melainkan apa yang
beliau tinggalkan adalah daftar terperinci tentang apa yang menjadi haknya dan
apa yang menjadi kewajibannya berupa uang pada tingkat pribadi dan tingkat
gerakan Hamas.
11. Dr.
Abdullah Azzam (1360–1410 H / 1941–1989 M)
Setelah
peristiwa Nakbah Kedua di Palestina pada tahun 1967 M, umat Islam
dilanda kebingungan dan keguncangan (dzu'ul). Hal itu disebabkan karena
umat telah terperdaya oleh propaganda media yang bohong dan klaim-klaim hampa.
Agar keputusasaan tidak menguasai jiwa umat, Al-Ikhwan Al-Muslimun di
negara-negara Arab bergerak mengingatkan umat akan sejarah dan kejayaannya. Mereka
menyeru umat untuk menghidupkan kembali kewajiban jihad yang merupakan puncak
tertinggi ajaran Islam (dzirwatu sanamil Islam). Mereka mulai
mempersiapkan perbekalan untuk menghadapi kaum Yahudi serta melatih para pemuda
untuk terjun ke medan pertempuran melawan mereka.
Maka,
dibentuklah sebuah kamp militer yang dinamakan "Mu'asakar
asy-Syuyukh" (Kamp Para Syekh) atau "Qawa'id asy-Syuyukh"
(Pangkalan Para Syekh), yang terdiri dari empat pangkalan. Abdullah Azzam
bertindak sebagai amir (pemimpin) Pangkalan Baitul Maqdis. Kamp militer ini
memadukan barisan banyak anggota Ikhwan dari berbagai negara Arab, seperti
Mesir, Sudan, Suriah, Yordania, Palestina, Yaman, dan Lebanon. Pengelolaannya
diserahkan kepada sekelompok ikhwah yang telah berjihad di Palestina pada tahun
1948 M dan di Terusan Suez pada tahun 1951 M.
Para
khatib dan da'i Ikhwan pun mulai berkeliling ke dunia Arab dan Islam untuk
membangkitkan tekad, memperkuat cita-cita, serta menggerakkan pemuda agar
berangkat perang (an-nafr) di jalan Allah demi meninggikan kalimat-Nya,
memerangi kaum Yahudi, dan melancarkan serangan terhadap mereka guna merampas
buah kemenangan musuh.
Di
antara mereka yang berada di kamp militer tersebut adalah Syekh Abdullah Azzam
beserta saudara-saudara seperjuangannya, seperti Muhammad Saleh Umar, Muhammad
Sa'id Ba'abbad, Ibrahim Asyur, Salah Hassan, Mahmud Hassan, Abdul Aziz Ali,
Ahmad Naufal, Ahmad Abu Thalib, dan lain-lain.
Perkenalan
Saya Dengannya
Organisasi
Ikhwan membentuk sebuah utusan/delegasi untuk mengunjungi kamp militer
tersebut, memastikan kelancaran jalan tugas di dalamnya, serta mengetahui
kekurangan, kebutuhan, dan perbekalannya. Saya adalah salah satu dari tiga
orang yang ditugaskan untuk mengunjungi kamp tersebut. Peristiwa itu merupakan
kali pertama saya bertemu dengan Saudara Abdullah Azzam. Sebelum pertemuan itu,
saya hanya mendengar tentang beliau dari para ikhwah Palestina.
Kemudian,
pertemuan-pertemuan kami berulang kembali di Kuwait, Arab Saudi, Pakistan,
Afganistan, Yordania, Eropa, dan Mesir. Kunjungan demi kunjungan pun terus
terjalin; saya pernah mengunjungi beliau di rumahnya di Suwaylih (dekat Amman)
dan di Peshawar (Pakistan), sebagaimana beliau juga pernah mengunjungi saya di
rumah saya, dan kami merasa sangat bahagia atas kehadiran beliau beserta para
ikhwah.
Kelahiran
dan Masa Studi
Ulama
yang pemberani, mujahid yang gigih, da'i pembaru (al-mushlih), serta
amir para mujahidin Arab di Afganistan, yaitu Dr. Abdullah Azzam, lahir pada
tahun 1360 H / 1941 M di desanya, Silat al-Haritsiyyah, yang termasuk wilayah
distrik kota Jenin, Palestina. Beliau menempuh pendidikan dasar dan menengah di
sekolah desa tersebut, kemudian menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Tinggi
Pertanian Kadoorie di kota Tulkarm. Beliau senantiasa melazimi bacaan
Al-Qur'anul Karim serta senantiasa meramaikan masjid desanya.
Beliau
melanjutkan studi tingginya di Fakultas Syariah Universitas Damaskus dan
berhasil meraih gelar Licence (Sarjana) dalam bidang Syariah pada tahun
1386 H / 1966 M. Setelah itu, beliau bekerja sebagai pengajar di desanya. Namun
tidak lama kemudian, beliau meninggalkan desanya setelah pendudukan kaum Yahudi
pada tahun 1387 H / 1967 M. Beliau lalu bergabung dengan Batalyon Mujahidin (Kata'ib
al-Mujahidin) yang dibentuk oleh Al-Ikhwan Al-Muslimun yang berbasis di
Yordania. Di sana, beliau berpartisipasi dalam beberapa operasi militer melawan
kaum Yahudi di bumi Palestina, di antaranya adalah Pertempuran Al-Masyru'
atau Al-Hizam Al-Akhdhar (Sabuk Hijau) yang terjadi di wilayah Lembah
Yordan Utara (Al-Ghur asy-Syamali). Beliau juga mengawasi operasi
militer dalam Pertempuran 5 Juni 1970 M.
Setelah
aktivitas kamp berakhir akibat peristiwa September 1970 M [Black September],
Syekh Abdullah Azzam memutuskan untuk mendaftar di Universitas Al-Azhar, Mesir,
hingga berhasil meraih gelar Magister dalam bidang Ushul Fikih. Beliau kemudian
diangkat sebagai dosen di Fakultas Syariah Universitas Yordania di Amman pada
tahun 1391 H / 1971 M. Setelah itu, beliau diutus ke Kairo untuk meraih gelar
Doktor, dan beliau berhasil mendapatkannya dalam bidang Ushul Fikih dengan
predikat Summa Cum Laude (Cumlaude Utama / Martabat asy-Syaraf al-Ula)
pada tahun 1393 H / 1973 M. Beliau lalu mengajar di Universitas Yordania
(Fakultas Syariah) dari tahun 1393 H hingga 1400 H (1980 M). Beliau kemudian
pindah untuk mengajar di Universitas King Abdul Aziz di Jeddah, dan setelah itu
bekerja di International Islamic University di Islamabad, Pakistan. Tak lama
kemudian, beliau mengajukan pengunduran diri dari universitas tersebut dan
memfokuskan seluruh waktunya (tafarrugh) untuk jihad di Afganistan.
Jihad
Beliau
Beliau
memiliki peran sangat penting dalam perjalanan jihad tersebut, di mana beliau
menjadi jembatan penghubung antara para mujahidin Afganistan dengan para
pendukung mereka di negara-negara Arab. Beliau juga mengawasi operasi luas
dalam penyaluran berbagai bentuk pelayanan dan bantuan—baik pendidikan,
kesehatan, maupun militer—bagi para pengungsi, mujahidin Afganistan, dan
anak-anak mereka. Beliau mendirikan majalah "Risalatul Jihad"
sebagai media cetak bulanan untuk menyebarkan berita-berita jihad, serta
buletin "Lahiib al-Ma'rakah" (Gejolak Pertempuran) yang terbit
mingguan dan mengulas peristiwa-peristiwa terbaru di medan Afganistan.
Syekh
Abdullah Azzam telah terjun dalam banyak pertempuran melawan Uni Soviet. Salah
satu pertempuran yang paling sengit dan dahsyat adalah Pertempuran
"Jaji" pada bulan suci Ramadan tahun 1408 H / 1987 M. Saat itu,
beliau didampingi oleh sejumlah mujahidin Arab yang telah menunjukkan
pengorbanan luar biasa (ablaw al-bala' al-hasan), dan sebagian dari
mereka gugur sebagai syuhada di jalan Allah.
Dr.
Abdullah Azzam menjabat sebagai amir (kepala) Maktab Khidamat al-Mujahidin
(Biro Pelayanan Mujahidin) di Afganistan. Beliau menjadi sosok yang sangat
dipercaya dan dihormati oleh para pemimpin jihad Afganistan, serta sangat
dicintai oleh para pemuda yang datang dari berbagai penjuru negeri Arab dan
Islam untuk berjihad di Afganistan.
Beliau
juga melakukan berbagai safari dakwah dan sosialisasi di negara-negara Arab,
Islam, Eropa, hingga Amerika Serikat. Safari tersebut memberikan pengaruh yang
amat besar dan menggerakkan umat di seluruh pelosok negeri untuk berpartisipasi
atau memberikan dukungan dan bantuan bagi jihad dan para mujahidin di
Afganistan.
Di
samping itu, Syahid Abdullah Azzam turut berkontribusi dalam membukukan
peristiwa-peristiwa jihad Afganistan melalui artikel-artikel editorialnya di
majalah Al-Jihad dan buletin Lahiib al-Ma'rakah. Beliau juga
berupaya mengusahakan perdamaian (al-itilaf) di antara para pemimpin
mujahidin serta menyatukan barisan mereka, dengan bekerja sama bersama para
da'i Al-Ikhwan Al-Muslimun seperti: Syahid Muhammad Kamaluddin as-Sananiri, Dr.
Ahmad al-Malth (semoga Allah merahmatinya), Ustadz Mustafa Mashhur (semoga
Allah merahmatinya), Ustadz Muhammad Abdurrahman Khalifa, Syekh Sa'id Hawwa
(semoga Allah merahmatinya), dan lainnya.
Kesyahidan
Beliau
Dr.
Abdullah Azzam terus melanjutkan perjuangan dan jihadnya hingga beliau meraih
persaksian syahid (asy-syahadah) bersama kedua putranya, Muhammad dan
Ibrahim. Peristiwa ini terjadi ketika musuh-musuh Islam meledakkan mobil beliau
sewaktu beliau sedang menuju ke "Masjid Sab'atul Lail" untuk
menyampaikan khotbah Jumat pada tanggal 25 Rabiul Akhir 1410 H / 24 November
1989 M.
Syahid
dimakamkan pada hari kesyahidannya. Para pengantar jenazah—yang jumlahnya
mencapai ribuan orang—mencium aroma minyak kasturi (musk) yang tercium
dari darahnya yang suci hingga jenazahnya selesai dimakamkan. Hal lain yang
turut disaksikan—dan ini termasuk pemuliaan dari Allah Ta'ala—adalah bahwa
jasad beliau terjaga utuh dari kehancuran/kerusakan, meskipun ledakan tersebut
berasal dari 20 kilogram bahan peledak TNT. Ledakan dahsyat tersebut
menimbulkan suara yang sangat menggelegar, memutus aliran listrik, membuat
lubang besar di tanah, serta melontarkan bagian-bagian mobil ke udara. Jasad
beliau ditemukan berada tidak jauh dari lokasi kejadian.
Apa
yang Dikatakan Orang-Orang tentang Beliau:
Dr.
Syahid Abdullah Azzam memadukan antara amal dan jihad di samping pena dan
lisan. Dalam ranah ini, beberapa penulis telah mencatat tentang beliau dan
perjalanan hidupnya, di antaranya buku Asy-Syahid Abdullah Azzam Mujahidan
fi Filasthin wa Afganistan karya Hassan Khalil Husain; buku Asy-Syaikh
al-Mujahid Abdullah Azzam alladzi Tarjama al-Aqwal ila Af'al karya Muhammad
Abdullah al-Amil; buku Abdullah Azzam Ahdats wa Mawaqif karya Adnan
an-Nahwi; serta buku Manaqib asy-Syahid Abdullah Azzam karya Ahmad Sa'id
Azzam.
Gerakan
Hamas menyampaikan dalam belasungkawanya:
"Sungguh,
jikalau kesyahidan Syekh Abdullah Azzam terjadi di dekat bumi jihad di
Afganistan yang muslim, dan bukan di atas tanah Isra' di Palestina yang amat
beliau cintai dan beliau perjuangkan pembebasannya hingga urusan jihad itu
dimudahkan, maka hal tersebut kembali pada bentuk blokade yang dialami oleh
para mujahidin di luar Palestina untuk menghalangi mereka dari musuh-musuh
Allah dari keturunan Yahudi di satu sisi, serta menjadi simbol bagi kesatuan
duka Islam di seluruh penjuru dunia di sisi yang lain. Bumi Isra' telah
mengenal Syekh Azzam sebagai seorang mujahid yang jujur di Pangkalan Para Syekh
di Lembah Yordan pada tahun 1968 M, 1969 M, dan 1970 M. Syekh telah gugur
sebagai syahid dalam keadaan jiwanya rindu mendalam untuk berjihad di
Palestina, yang mana beliau selalu bersamanya dan bersama para mujahidinnya
melalui hati, lisan, dan penanya."
Ustadz
Haidar Mustafa berkata tentang beliau:
"Apabila
Azzam berbicara, beliau tampil dengan karakter yang kuat bagaikan gelombang
pada saat pasang tinggi. Tidak ada di dalam dadanya melainkan hati yang tak
kenal takut. Hukum hidupnya adalah keteguhan, kestabilan, keseimbangan, dan
kesederhanaan. Beliau berusaha keras untuk mengadili dirinya sendiri dan tidak
memedulikan penilaian dunia. Keyakinannya adalah bahwa kenikmatan itu bukan
terletak pada istirahat dan kekosongan, melainkan pada kesinambungan jihad
serta menegakkan agama Allah di bumi dalam keletihan, jerih payah, dan
kesukaran."
Beliau
juga menggubah beberapa bait puisi untuk Syekh Abdullah Azzam, di antaranya:
Jihadmu
telah menerangi jalan bagi kami,
Dan
memberi kami tegukan dahaga berupa sari minuman yang murni.
Dari
laut hingga ke daratan yang aman,
Dengannya
engkau menyelamatkan kami bagai jasad yang hampir tenggelam.
Dalam
jihad ini engkau telah menuliskan sebuah lembaran sejarah,
Yang
meniru masa lalu kita yang agung dan mulia.
Di
dalamnya kita menunggangi puncak kedudukan menuju keluhuran,
Dengannya
kita melintasi kesempitan—menuju jalan yang lapang.
Kita
goreskan kisah-kisah perjuangan sebagai saksi,
Dan
melaluinya kita kembalikan hak-hak kepada manusia.
Agar
setiap manusia menjadi mulia,
Dan
menjadi sosok yang bebas merdeka di tengah persada.
The
International Islamic Council (Al-Hai'ah al-Islamiyyah al-'Alamiyyah)
menyatakan dalam berita duka atas wafatnya beliau:
"Ketika
Dewan ini menyampaikan berita duka atas wafatnya salah satu anggota pendirinya,
Dewan ini berduka atas kepergian seorang lelaki yang dikenal akan keikhlasan,
wara', dan ketakwaannya. Seorang lelaki yang telah menjual dirinya kepada
Allah, lalu ia dan keluarganya berhijrah ke kota Peshawar untuk ikut serta
bersama para mujahidin Afganistan dalam jihad dan pengorbanan mereka. Seorang
lelaki yang telah menceraikan dunia, lalu hidup di medan-medan dan arena jihad
demi mencari kesyahidan di jalan Allah... Seorang lelaki yang dikenal akan
keberanian, pengorbanan, dan jiwa ksatria, sehingga ia tidak takut terhadap
ancaman-ancaman musuh yang hendak membunuh dan mengorbankannya."
Penyair
Ahmad Muhammad asy-Shiddiq juga menyampaikan belasungkawa seraya berkata:
"Saudara
Syahid Abdullah Azzam benar-benar telah terdidik di madrasah Imam Syahid Hassan
al-Banna yang menyatakan dalam Risalah al-Jihad:
'Sesungguhnya
Allah telah membebankan jihad kepada setiap muslim sebagai kewajiban yang pasti
dan tegas, tidak ada jalan menghindar dengannya dan tidak ada tempat lari
darinya. Allah sangat mendorongnya dengan dorongan yang amat besar,
melipatgandakan pahala para mujahidin dan syuhada, menjadikan darah mereka yang
suci dan bersih sebagai bukti kemenangan di dunia dan simbol keberuntungan
serta kejayaan di akhirat, serta mengancam orang-orang yang tertinggal dan
enggan ikut perang dengan hukuman yang sangat mengerikan, serta mencap mereka
dengan sifat dan julukan yang paling buruk. Engkau tidak akan menemukan suatu
sistem kuno maupun modern, sistem keagamaan maupun sipil, yang memberikan
perhatian sedemikian besar terhadap urusan jihad, kemiliteran, serta memobilisasi
dan menghimpun seluruh elemen umat dalam satu barisan untuk membela kebenaran
dengan segala kekuatan mereka, sebagaimana yang engkau temukan dalam agama
Islam dan ajaran-ajarannya.
Sesungguhnya
umat yang mahir dalam seni kematian dan mengetahui bagaimana cara mati secara
mulia, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia
dan kenikmatan yang abadi di akhirat. Dan tidaklah kelemahan (al-wahn) yang
menghinakan kita ini melainkan karena cinta dunia dan takut mati...'
Saudara
Azzam sangat memahami peran dan tugasnya dalam kehidupan ini. Beliau paham
betul pelajaran yang digoreskan oleh Imam Hassan al-Banna dalam
risalah-risalahnya, serta menghidupi pembinaan yang terstruktur (at-tarbiyah
al-manhajiyyah) yang melahirkan tokoh-tokoh Islam, para da'i kebenaran,
kekuatan, dan kemerdekaan.
Dari
sinilah kita memahami kejujuran dalam ucapan dan kedalaman dalam pemahaman ini
ketika kita membaca surat wasiat beliau, di mana tercantum di dalamnya:
'Sungguh,
kecintaan kepada jihad telah menguasai hidupku, jiwaku, perasaanku, hatiku, dan
seluruh indraku... Sesungguhnya berangan-angan dengan harapan tanpa adanya
persiapan (al-i'dad) adalah tabiat jiwa-jiwa kerdil yang tidak bercita-cita
mencapai puncak dan tidak pula mendaki ke tempat yang tinggi... Sesungguhnya
berdiam diri di dekat Masjidilharam dan memakmurkannya tidaklah dapat
ditandingi dengan jihad di jalan Allah. Sesungguhnya membiarkan kaum muslimin
di muka bumi disembelih, sedangkan kita hanya mengucapkan "la haula wa la
quwwata illa billah" dan "innalillahi wa inna ilaihi raji'un"
serta menepuk tangan dari kejauhan tanpa hal itu menggerakkan kita pada satu
langkah pun untuk memajukan urusan mereka, adalah bentuk permainan terhadap
agama Allah, serta gurauan emosi yang dingin dan dusta yang sering kali menipu
jiwa yang ada di dalam dada.'
Dan
beliau sangat memahami secara mendalam tipu daya musuh serta perang mereka
terhadap Islam dan pemeluknya, begitu pula rencana-rencana mereka untuk
melenyapkan setiap orang yang mengibarkan panji jihad, menyokong para
mujahidin, atau menuntut penerapan syariat Islam. Beliau berkata—beberapa hari
sebelum kesyahidannya—dalam wawancaranya dengan majalah Al-Mujtama' edisi yang
terbit pada tanggal 8 Rabiul Akhir 1410 H / 7 November 1989 M:
'...Ketika
orang-orang Amerika menyadari bahwa mereka tidak mungkin bekerja sama dengan
para pemimpin jihad, mereka memutuskan untuk melenyapkan mereka secara fisik.
Mereka mulai menekan Presiden Pakistan, Zia-ul-Haq. Namun ketika Zia-ul-Haq
menolak untuk tunduk pada perintah mereka dan menyatakan bahwa beliau akan
menerapkan syariat Islam, mereka memutuskan untuk melenyapkannya. Zia-ul-Haq
mengetahui keputusan orang-orang Amerika tersebut, sehingga beliau selalu
mengajak Duta Besar Amerika dalam setiap perjalanannya. Meskipun demikian,
beliau tetap terbunuh bersamanya di dalam pesawat yang sama.' Selesai."
Inilah
dia sang mujahid syahid, alim yang mengamalkan ilmunya, da'i pendidik (al-murabbi),
serta orang yang berhijrah di jalan Allah: Abdullah Azzam, cucu para mujahidin
yang berjuang bersama Al-Qassam dan sosok yang meniti jalan mereka. Itulah
sikap-sikap, ucapan, dan amal perbuatannya.
Beliau
telah meninggalkan warisan ilmiah berupa buku-buku yang bermanfaat; telah
dicetak untuk beliau sekitar 20 judul buku, di antaranya yang kami sebutkan
adalah:
- Ayaatur Rahman fii
Jihaadil Afghan (Tanda-Tanda Kekuasaan Allah dalam Jihad Afganistan)
- Al-Islam wa Mustaqbalul
Basyariyyah (Islam dan Masa Depan Kemanusiaan)
- Al-Hiq bil-Qafilah
(Bergabunglah dengan Kafilah)
- Hukmul 'Amal fii Jama'ah
(Hukum Bekerja dalam Jamaah)
- Al-Amru bil Ma'ruf
wan-Nahyu 'anil Munkar (Amar Ma'ruf Nahi Munkar)
- Hamas: Al-Juzur
ad-Tarikhiyyah wal-Misaq (Hamas: Akar Sejarah dan Piagam Perjuangan)
- Ad-Difa' 'an Aradhil
Muslimina Ahammu Furudhil A'yan (Membela Negeri-Negeri Muslim adalah
Fardu Ain Terpenting)
- As-Sarathan al-Ahmar
(Kanker Merah / Komunisme)
- Al-'Aqidah wa Asaruha fii
Bina'il Jil (Akidah dan Pengaruhnya dalam Membina Generasi)
- Al-Manarah al-Mafqudah
(Menara yang Hilang)
- Fiil Jihad Adab wa Ahkam
(Etika dan Hukum-Hukum dalam Jihad)
- Jarimatu Qatlil Nafsil
Mu'minah (Kejahatan Membunuh Jiwa Beriman)
- Basa'ir an-Nashr
(Kabar Gembira Kemenangan)
- Kalimat 'ala Khathil
Naril Awwal (Kata-Kata di Garis Depan Pertempuran)
- Dalalatul Kitabi
was-Sunnah 'alal Ahkam min Haitsul Bayan wal-Ijmal aw al-Zhuhur wal-Khafa'
(Petunjuk Al-Qur'an dan Sunnah terhadap Hukum Ditinjau dari Sisi
Penjelasan, Keumuman, Kejelasan, dan Samar) — Ini merupakan disertasi
doktor beliau yang diuji di Universitas Al-Azhar.
Di
samping itu, terdapat pula kumpulan besar artikel, ceramah, penelitian, dan
pelajaran yang jumlahnya mencapai ratusan di berbagai tempat dan waktu.
Sungguh
Syekh Abdullah Azzam—melalui ilmu, amal, jihad, pengorbanan, kesabaran, dan
keteguhannya—telah memberikan teladan bagi para pemuda kebangkitan Islam (al-shahwah
al-islamiyyah) kontemporer yang memenuhi arena dengan vitalitas dan
aktivitas mereka, serta menengadahkan leher mereka menyongsong hari pertempuran
melawan musuh-musuh Allah di bumi. Hal serupa juga telah dilakukan oleh para
guru dan ikhwah beliau terdahulu yang gugur sebagai syuhada di bumi Palestina
pada tahun 1935 M, 1936 M, 1948 M, atau di Terusan Suez pada tahun 1951 M, atau
di tiang gantungan dan sel-sel penjara pada tahun 1955 M, 1957 M, dan 1966 M.
Inilah jalan dakwah, perjuangan (al-mujahadah), kesabaran, adu kesabaran
(al-mushabarah), serta memerangi musuh di mana pun dan kapan pun mereka
berada, seraya berpegang teguh pada tali agama Islam, cemburu membela
kehormatan agama, dan menolong kaum muslimin yang tertindas (al-mustadh'afin)
di muka bumi.
Kesabaran
yang Indah (Ash-Shabr al-Jamil)
Meskipun
pembunuhan terhadap Syahid Abdullah Azzam dan kedua putranya merupakan musibah
besar bagi umat Islam di seluruh dunia, namun istri sang Syahid (ibu dari dua
syahid, Muhammad dan Ibrahim) telah dimuliakan oleh Allah dengan kesabaran.
Allah menghiasinya dengan keridaan atas ketetapan (qadha') Allah, dan
beliau merasa gembira atas kesyahidan suami beserta kedua putranya. Sikap
beliau tersebut mengembalikan ingatan kita pada sikap Al-Khansa' tempo dulu
ketika anak-anaknya gugur sebagai syuhada. Hal itu menggerakkan Saudari yang
mulia Aminah Qutb (saudari dari Syahid Sayyid Qutb dan istri dari Syahid Kamal
as-Sananiri) untuk menulis surat kepada istri Syahid Abdullah Azzam ("Ummu
Muhammad"), di mana ia berkata:
"...Kata
atau ucapan apa yang aku miliki di hadapan gambaran yang terang dan mempesona
dari seorang wanita yang kehilangan tiga orang kekasihnya, namun ia memandang
hal itu sebagai karunia dan pemuliaan dari Allah dengan menjadikan mereka
sebagai para syuhada. Sungguh, tingkat keimanan dan kepasrahan total
(at-tajarrud) ini telah memukauku. Aku sangat mengagumi kesadaran, kesabaran,
dan pengorbananmu, dan aku melihat padamu sosok pendamping hidup ideal bagi
seorang mujahid yang menyerahkan hidupnya untuk Allah dan jihad di jalan-Nya,
di tempat dan bumi mana pun jihad murni karena Allah itu berdiri. Dan telah
beruntung meraih kesyahidan orang yang mencari, mendambakan, beramal untuknya,
serta menepati janji dan jujur.
Semoga
Allah merahmati saudara kita Syahid Abdullah Azzam, semoga Allah merahmati
kedua putranya dan seluruh syuhada yang telah dipilih Allah untuk berada di
sisi-Nya, dan semoga Allah mengumpulkan kita bersama mereka di tempat kediaman
rahmat-Nya. Dan penutup doa kami adalah: Alhamdulillahi Rabbil 'Alaminn
(sanjungan dan puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam)."
12.
Izzuddin Al-Qassam (20 November 1935 M / 23 Syakban 1354 H)
Ya’bad...
kata sandi waktu itu adalah Ya’bad. Detak jantung yang memberontak adalah
Ya’bad. Para ksatria rimba yang menyatu...
Sungguh,
orang yang berjanji dan yang dijanjikan telah membuktikannya secara nyata...
Maka bawalah peluru bersama mesiu, dan jelajahilah puncak bersama jurang...
Ya’bad, Ya’bad.
Batu
dan peluru... serta langkah-langkah penembak jitu... di malam yang pekat... dan
siang yang suram...
Ya’bad...
keheningan yang membara... bintang-bintang dan bayangan yang membentang... di
ujung pemandangan... dan malam yang tak tertidur...
Waktu:
Pagi hari Rabu, tanggal 23 Syakban tahun 1354 Hijriah, bertepatan dengan
tanggal 20 November tahun 1935 Masehi.
Tempat:
Hutan Ya’bad di antara pepohonan oak (baluth) di wilayah Jenin.
Peristiwa:
Pertempuran sengit yang melibatkan ratusan prajurit Inggris yang dilengkapi
dengan kendaraan tempur serta pesawat pengintai, menghadapi sekelompok kecil
mujahidin yang jumlahnya tidak lebih dari sepuluh orang. Senjata mereka hanya
berupa senapan dan pistol, dipimpin oleh seorang syekh agung yang berusia lebih
dari enam puluh tahun, berwajah putih bundar, serta memiliki janggut putih yang
berwibawa. Penduduk Haifa megenalnya sebagai Syekh Izzuddin Al-Qassam, Imam
Masjid Al-Istiqlal di kota tersebut, Ketua Perhimpunan Pemuda Muslim (Jam'iyyah
asy-Syubban al-Muslimin), dan penghulu (mā`żūn syar'ī) bagi kota Haifa.
Ketika
pasukan pendudukan Inggris maju mendekat, mereka menempatkan aparat kepolisian
Arab di barisan paling depan. Al-Qassam menolak untuk menembak mereka, meskipun
anak buahnya mendesaknya, hingga pertempuran semakin sengit dan pengepungan
terhadap hutan Ya’bad semakin diperketat. Keputusan sang Syekh kepada para
pengikutnya saat itu adalah: "Mati syahid-lah kalian!"
Al-Qassam
gugur sebagai syahid bersama tiga orang rekannya (Yusuf Abdullah Az-Zaibawi,
Hanafi Utaifah Al-Mashri, dan Muhammad Abu Qasim Khalaf). Sementara itu,
seorang mujahid bernama Nimr As-Sa'di mengalami luka parah yang kelak
menyebabkannya gugur sebagai syahid.
Gugurnya
Al-Qassam menjadi percikan api yang menyulut Revolusi Besar tahun 1936 M dan
pemogokan selama enam bulan yang baru berakhir setelah campur tangan para
pemimpin Arab. Secara historis, pertempuran ini berlangsung tidak lebih dari
beberapa jam. Meski demikian, pemimpinnya, Al-Qassam, mendapatkan konsensus
[kesepakatan penhormatan] yang tak tandingannya dalam sejarah Palestina. Dialah
sosok yang tak pernah sekalipun mengincar kepemimpinan, tidak pernah
mempraktikkan politik kekuasaan, ataupun menggunakan metode partai politik.
Pemakamannya menjadi pemakaman terbesar yang pernah disaksikan Kota Haifa
sepanjang sejarahnya yang panjang. Di dalam saku bajunya ditemukan sebuah
Mushaf Al-Qur'an mulia yang bagi sang Syekh mewakili identitas,
kewarganegaraan, dan jalan hidupnya.
Izzuddin
bin Syekh Abdul Qadir Mustafa Al-Qassam lahir pada tahun 1871 M di Jableh,
Provinsi Latakia, Suriah Utara, dari keluarga terhormat yang dikenal luas. Pada
masa kecilnya, ia merasakan pahitnya penderitaan kemiskinan dan kekurangan. Ia
cenderung menyukai pemikiran dan perenungan. Ia mengenyam pendidikan di
Al-Azhar dan berguru kepada Muhammad Abduh. Ia juga menjalin hubungan baik
dengan Rasjid Ridha serta membaca karya-karya Al-Afghani rahimahullāh.
Ia
senantiasa terhubung dengan fikih, syariat, dan ushul [fikih]. Ia tidak merasa
cukup hanya dengan memberikan nasihat (dakwah), tetapi menyandingkan bimbingan
dengan amal nyata, dan menyandingkan amal nyata dengan studi ilmiah. Hingga
Allamah Muhibbuddin Al-Khatib menggambarkannya sebagai salah satu ulama yang
terhitung dan terkemuka.
Ketika
pasukan Italia mendarat di pesisir Libya pada tahun 1911 M, ia mengelilingi
desanya untuk mengumpulkan sumbangan demi menolong umat Islam. Ia berangkat
bersama puluhan sukarelawan menuju Iskandarun (Alexandretta) untuk berjihad di
Libya. Namun ketika mereka dihalangi, ia kembali ke Jableh. Dari uang hasil
sumbangan tersebut, ia membangun sebuah sekolah untuk memberantas buta huruf
yang ia awasi sendiri secara langsung.
Ketika
Prancis menginvasi wilayah Syam pada tahun 1918 M, Al-Qassam menjual rumahnya
dan membeli 24 pucuk senapan, lalu keluar bersama rekan-rekannya
mengumandangkan jihad global melawan penjajah. Hal itu berlangsung hingga
revolusi yang dipimpin oleh Ibrahim Hananu dipadamkan setelah dikhianati oleh
pihak Inggris dan diserahkan kepada Prancis, serta gugurnya pemimpin
pertempuran Maysalun, Yusuf Al-'Azhmah, pada tahun 1920 M. Maka Al-Qassam
memutuskan untuk berangkat ke Palestina setelah dikeluarkannya hukuman mati
atas dirinya. Ia mengarungi laut menuju Haifa...
Dan
Izzuddin pun merenungkan pasang surut air laut... Ia merenungkan bagaimana
ikan-ikan menyelam jauh ke kedalaman laut...
Maka
ia pun bergabung dengan gelombang pasang di sana... di pantai prajurit
Palestina.
Bukankah
itu hanyalah sebuah babak perjuangan? Dan cukuplah bagimu...
Hijrah
adalah sunnah baginda Nabi-mu yang pemberani...
Apa
itu Makkah? Apa itu Yasrib (Madinah)? Apa itu Jableh? Apa itu Haifa? Apa arti
tangan kananmu dan tangan kirimu? Bergabunglah dengan gelombang pasang di sana.
Dan
wewangian... Hukuman mati telah dijatuhkan, dan Al-Qassam pun datang sebagai
utusan dari Syam yang berjihad menuju Palestina yang bersiaga (ribāṭ).
Wahai
junjunganku yang datang dari Jableh, yang tidak memiliki apa-apa selain
jubahnya, hingga kedua kakinya berdarah terkena duri... Ia tidak serupa dengan
siapa pun yang pernah dikenal Haifa... dari para petapa yang mengetuk pintu
malam. Kedua matanya bagaikan dua kawah api dari balik sorbannya, dan kedua
telapak tangannya tampak melicet.
Haifa
mulai mengenal Al-Qassam sebagai seorang pengajar di Masjid Al-Istiqlal.
Masyarakat kota dan desa-desa sekitarnya berkumpul mengelilinginya.
Kata-katanya yang membakar semangat menggema di penjuru Haifa, hingga pada
suatu hari ia berdiri di atas mimbar seraya mengacungkan sebuah pistol dan
berkata: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
hendaklah ia memiliki [senjata] seperti ini."
Seorang
pemuda yang belum genap berusia 20 tahun datang kepadanya dan mengeluhkan
orang-orang yang mengecapnya sebagai pemuda yang nekad dan gila. Sang Syekh pun
bersabda (berkata): "Merekalah yang gila, sedangkan engkau orang yang
berakal sehat. Apakah engkau benar-benar menginginkan jihad?" Pemuda
itu menjawab: "Ya." Maka Al-Qassam membentangkan tangannya dan
membaiatnya atas tiga syarat: persaudaraan (ukhuwah), berjihad hingga syahid,
serta mendengar dan taat.
Al-Qassam
menyerukan kembalinya Islam... Islam para penakluk, serta kembali kepada
shalat... shalatnya para mujahidin. Pihak Inggris pun berguncang karena mereka
kini berhadapan dengan Islam yang berbeda dari Islam tarekat/dervish dan
pembiusan dogma. Dulu para imam dan penceramah disibukkan oleh hukum-hukum
bersuci, haid, nifas, dan talak. Adapun Al-Qassam, ia mengurusi itu semua
sekaligus menambahkan persoalan-persoalan penting umat. Inggris menduduki
Palestina dan memfasilitasi bangsa Yahudi dalam hal migrasi, persenjataan,
pembelian tanah, serta pemukiman.
Sebagian
besar kekuatan nasionalis memusuhi kaum Zionis, namun mereka memandang
Inggris—sekutu kemarin dalam melawan Turki—sebagai teman. Aktivitas politik
berupa demonstrasi, penyataan sikap, dan pengiriman delegasi ke London untuk
memengaruhi opini publik lebih mendominasi kegiatan partai-partai nasionalis.
Saat itu tidak ada kekuatan bersenjata yang terorganisir yang mampu melawan
Britania dan kaum Zionis. Maka, penetapan Inggris sebagai musuh oleh Al-Qassam
adalah langkah yang menempatkan perkara pada porsi yang sebenarnya. Sebab jika
bukan karena mereka, kaum Yahudi tidak akan mampu membangun satu pun pemukiman
di Palestina.
Al-Qassam
memilih jalan jihad sebagai sarana perlawanan, meninggalkan metode-metode
tradisional partai politik lainnya. Ia memulai kerja terorganisir dan persiapan
revolusi yang matang. Al-Qassam mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia bagi
para pengikutnya, dan ia tidak menerima kecuali orang yang beriman dan siap
menghadapi kematian. Sebagian besar anggotanya adalah kaum buruh dan ulama yang
ia kenal melalui masjid, kelas pemberantasan buta huruf, atau Perhimpunan
Pemuda Muslim.
Profesinya
sebagai penghulu (mā`żūn syar'ī) juga memungkinkannya mengenal
masyarakat dengan sangat baik. Ia rutin mengunjungi para petani di desa-desa
setiap minggunya. Bagi penduduk Haifa, ia berposisi sebagai guru, imam,
penghulu, mufti, dan sahabat. Ia menanamkan ke dalam jiwa orang-orang di
sekitarnya bahwa menuntut ilmu adalah kesempatan yang bernilai ibadah. Ia sosok
yang sedikit berbicara, sangat menjaga rahasia, mencintai murid-muridnya,
pendiriannya tegas, begitu pula kesetiaannya. Senyuman tak pernah lepas dari
wajahnya, beriringan dengan keagungan dan kewibawaan. Ia menolak hidup
bermewah-mewah; rumahnya hanya terdiri dari dua ruangan saja.
Fokus
utamanya adalah membangun basis dan struktur rahasia bagi revolusi. Mungin hal
inilah yang mendorongnya untuk tidak berpartisipasi dalam Konferensi-konferensi
Islam yang diselenggarakan di Masjid Al-Aqsha pada tahun 1928 M dan 1931 M. Ia
bergerak menggunakan pola sel-sel rahasia yang anggotanya tidak lebih dari lima
orang tiap selnya, mengadopsi pola halaqah Darul Arqam bin Abil Arqam.
Setiap sel memiliki seorang Naqib (ketua) yang bertanggung jawab atas
kepemimpinan dan pengarahan. Ia menentukan tugas masing-masing sel dalam hal:
pengumpulan senjata, pelatihan, pengumpulan informasi, dakwah, dan komunikasi.
Pada
tahun-tahun terakhirnya, ia berada dalam keraguan dan kegelisahan, hatinya
tidak pernah tenang, makanan terasa tidak lezat baginya, dan ia tidak merasakan
nikmatnya istirahat. Ketika putrinya, "Maymanah", mencoba
menenangankannya dan meyakinkannya bahwa aksi damai adalah jalan terbaik untuk
menghadapi Inggris dan kaum Yahudi, ia berteriak dengan suaranya yang lantang:
"Diamlah
wahai Maymanah! Kehormatan yang tinggi tidak akan selamat dari gangguan...
hingga darah ditumpahkan di sekelilingnya."
Al-Qassam
telah mengambil keputusannya:
"Kita
akan berperang bagaimanapun sulitnya kemenangan... Kita akan berperang sebagai
kewajiban dan jihad.
Maka
jika mata yang melihat ditanya oleh pemiliknya pada hari berbangkitkelak... ia
tidak akan menjawab: 'Dia dahulu seorang penakut atau mucikari!'
Kita
akan berperang agar anak-anak mewarisi... panji-panji yang diwariskan kepada
anak cucu.
Kita
akan berperang demi kebenaran dengan gigih, membuat mereka memakai pakaian duka
atas para ksatria.
Kita
akan berperang demi para syahid!!"
Jumlah
orang yang diorganisir oleh Al-Qassam diperkirakan sekitar seratus orang,
sementara jumlah orang yang mendaftarkan diri/terhubung dengan Al-Qassam selama
tahun-tahun revolusi meningkat hingga lebih dari delapan ratus orang. Sebagian
dari mereka mendengar pidato-pidatonya di masjid, belajar kepadanya, atau
terpengaruh oleh kepribadian dan pemikirannya.
Operasi
pelemparan bom pertama menyasar pemukiman Nahalal di Marj Bani Amir, yang
menewaskan direktur penjara Haifa berkebangsaan Zionis beserta putranya, serta
melukai dua orang lainnya. Sementara Britania mengumumkan imbalan sebesar 500
Poundsterling bagi siapa saja yang memberikan informasi. Contoh operasi lainnya
adalah penyergapan di jalan Nazareth yang menewaskan 11 orang Zionis.
Al-Qassam
ingin memastikan sikap penduduk serta dukungan moral dan material mereka. Maka
ia keluar bersama sekelompok mujahidin—untuk menjadi inti dari revolusi—menuju
hutan Ya’bad. Di tengah jalan, mereka bentrok dengan patroli yang sedang
mengejar sekelompok pencuri. Mereka berhasil membunuh komandan patroli yang
beragama Yahudi di Dataran Bisan dan membebaskan dua orang Arab yang
mengawalnya.
Maka
pasukan Britania mulai mengepung lokasi tersebut hingga meletuslah pertempuran
pertama melawan Inggris di Palestina. Meskipun hasil secara kuantitatif
tergolong kecil—yaitu terbunuh dan lukanya sejumlah prajurit Inggris—namun
korelasinya mewakili titik balik dan titik tolak dalam sejarah bangsa
Palestina.
Adapun
mujahidin Al-Qassam yang tertawan adalah:
- Ma'ruf Al-Haj Jabir (dari
Ya’bad)
- Nimr As-Sa'di (dari Shafa
'Amr)
- As'ad Al-Muflih (dari Umm
Al-Fahm)
- Hasan Al-Bayir (dari Burqin)
- Ahmad Abdurrahman Jabir (dari
Anabta)
- 'Arabi Al-Badawi (dari
Qabalan)
- Muhammad Yusuf (dari
Sebastia)
Kita
dapat mengamati bahwa masing-masing dari mereka berasal dari desa dan kota yang
berbeda-beda. Hal ini menunjukkan sejauh mana keberhasilan mujahid ini dalam
memenangkan hati orang-orang dan merekrut mereka untuk revolusi. Boleh jadi
kesederhanaan dan ketawaduan beliau termasuk faktor utama keberhasilan ini,
hingga pada taraf ia menikahkan putrinya dengan seorang pemuda miskin yang
beriman.
Anak
buahnya di dalam penjara dikenal sebagai pimpinan para tawanan. Jurnalis Kanaan
Abu Khadrah, yang pernah ditangkap Inggris di penjara Yerusalem dan bertemu
dengan Qassami bernama 'Arabi Al-Badawi yang sedang menjalani tahun ketujuhnya
di penjara, menceritakan: Kanaan berkata bahwa perwira Inggris bukanlah kepala
penjara yang sebenarnya, melainkan 'Arabi Al-Badawi-lah yang dimintai pendapat
dalam segala hal, dan perkataannya ditaati serta dihormati oleh semua orang,
termasuk saya sendiri.
Al-Qassam
tidak menciptakan pemikiran revolusioner atau prinsip-prinsip baru, melainkan
ia menciptakan praktik nyata dan komitmen harian terhadap prinsip dan pemikiran
jihad revolusionernya. Memang benar ia tidak memenangkan pertempuran di Ya’bad,
tetapi ia berhasil memenangkan hati rakyat. Siapa pun yang menggambarkan
revolusinya sebagai aksi nekat (bunuh diri) yang prematur, maka ia telah
keliru. Al-Qassam telah menyulut sumbu revolusinya sebelum semuanya terlambat.
Engkau
wahai Syekhku, adalah minyak lentera...
Luka-lukamu
jika mengalir, jangan disumbat dengan sapu tangan...
Sebab
sebagian luka adalah pekikan semangat...
Maka
tebaslah, ini adalah zaman kebenaran yang menghunuskan pedangnya...
Tidak
ada kebaikan jika kebenaran tidak menghunuskan pedang.
Tancapkanlah
pada lambung kanan naga yang merayap menuju Al-Aqsha...
Wahai
Al-Aqsha, wahai tempat mikraj Rasulullah menuju tempat yang tertinggi...
Aku
berikan padamu ketaatan... di dalam lampumu bagi orang yang terjaga di atas
lembaran-lembarannya... membaca ayat-ayat cahaya... sebagai penjelasan seperti
fajar... dan kabar gembira seperti kemenangan...
Wahai
Al-Aqsha, wahai panjiku... lapangkanlah untukku di halamanmu pada hari Jumat
setapak kaki...
Hadir
di sini aku datang kepadamu... jiwaku mendahului langkah kakiku... dan pedangku
mendahului penaku...
Hadir
di sini aku datang kepadamu... lapangkanlah di dadamu tempat perlindungan yang
memelukku atau tempat peristirahatan yang menguburkanku!!
Al-Qassam
dan rekan-rekannya telah gugur sebagai syahid di Ya’bad, namun melalui
keshahidannya ia telah menyalakan sebuah revolusi. Pesan Al-Qassam kepada
rakyat dan umatnya melalui moncong senapan adalah: "Jangan percaya pada
janji-janji dan kebohongan Inggris!" Seandainya hari ini ia berada di
tengah-tengah kita, niscaya ia akan mengatakan kalimat yang sama kepada para
pelaku Perjanjian Oslo: "Jangan percaya pada janji-janji dan kebohongan
Amerika!"
Revolusi
saat itu berhasil digagalkan ketika para pemimpin pemogokan percaya pada
janji-janji Britania dan jaminan dari para pemimpin Arab. Sebagaimana intifadah
rakyat kita juga digagalkan ketika para pemimpin Organisasi Pembebasan
Palestina (PLO) percaya pada janji-janji Amerika dan negara-negara Arab.
Akankah rakyat kita kembali mendengarkan perkataan Al-Qassam? Betapa jujurnya
perkataan tersebut!
Al-Qassam
telah menunaikan kesaksiannya (syahādah) atas rakyat dan umatnya.
Masyarakat mengantarkannya ke pemakaman Haifa dalam prosesi pemakaman terbesar
yang pernah disaksikan kota tersebut sepanjang sejarahnya. Pidatonya di hadapan
massa setelah keshahidannya jauh lebih kuat daripada seluruh pidatonya di atas
mimbar masjid.
Ia
dan rekan-rekan mujahidin telah berlalu menuju surga Khuld yang abadi,
sedangkan kenangan mereka tetap abadi dalam sanubari dan ingatan umat. Mereka
menunjuk dengan darah mereka menuju jalan kemuliaan, kehormatan, dan
pembebasan, seraya mengulang-ulang:
"Kamilah
para syahid... Guru kami Sang Syekh telah mendoakan kita sejak kita mengambil
janji setia.
Mata
kami terasa sempit melihat matahari dan roti harian... lalu kami membukanya
lebar-lebar menuju Yerusalem cahaya yang utuh.
Selamat
datang kemenangan dan kejayaan, dan tidak ada penyesalan jika kita gugur
sebagai syahid.
Kami
bukanlah batu yang dilemparkan tanpa tujuan... Kami membumbung tinggi...
sebagai roh-roh yang tidak terbebani oleh bumi, roh-roh yang harum bagaikan
batang kayu gaharu...
Kamilah
para syahid... Kuda-kuda puncak adalah kuda yang dikenal oleh pemiliknya...
Kuda subuh yang dikenal oleh Hittin... Dikenal oleh Al-Mu'tashim sang
penolong... di zaman teriakan bertahun-tahun lalu... Ini adalah zaman teriakan
yang diperbarui... Ini Al-Mu'tashim sang penolong meringkik di Ya’bad."
Maka
menuju surga Khuld yang abadi wahai Syekh kami, Pemimpin kami, Abu Muhammad. Semoga
keselamatan tercurah atas rohmu yang suci dan kenanganmu yang harum.
Sumber-sumber:
- Ma'ālim fī ath-Tharīq li
Taḥrīri Filasṭīn - Al-Muqāwamah
- Unsūdat al-Qassām:
Muneer Ar-Rayyis
- Asy-Syaikh al-Mujāhid:
Izzuddīn al-Qassām
- Asy-Syaikh al-Qassām fī
Tārīkh Filasṭīn:
Bayān al-Mawt
13.
Yahya Ayyash18/5/2002 M [1]
Yahya
Ayyash lahir pada akhir Maret tahun 1966. Ia tumbuh besar di Desa Rafat yang
terletak di antara Nablus dan Qalqilya, di tengah keluarga yang religius.
Keluarganya menggambarkan dirinya sebagai sosok yang sangat cerdas, memiliki
daya ingat yang kuat, banyak diam, pemalu, dan tenang.
Ia
mulai menghafal Al-Qur'anul Karim sejak berusia enam tahun. Pada ujian Tawjihi
(kelulusan sekolah menengah), ia meraih nilai rata-rata 92,8% di Jurusan IPA,
sehingga ia berhasil masuk ke Universitas Birzeit di Jurusan Elektronika,
dengan tetap mempertahankan kecintaan utamanya pada ilmu kimia yang telah
menjadi hobinya.
Ia
menjadi salah satu aktivis Al-Kutlah Al-Islamiyyah (Blok Islam). Setelah
kelulusannya, ia berusaha mendapatkan izin keluar untuk bepergian ke Yordania
guna melanjutkan studi jenjang pascasarjana. Namun, otoritas pendudukan (Shohyuni)
menolak permohonannya. Terkait hal ini, Yaakov Peri—Kepala Badan Intelijen
(Shin Bet) saat itu—memberikan komentar dengan menyatakan: "Seandainya
kami mengetahui bahwa 'Sang Insinyur' (Al-Muhandis) akan melakukan apa yang
telah ia perbuat, niscaya kami akan memberinya izin keluar ditambah uang
sebesar satu juta dolar."
Ayyash
menikah setelah kelulusannya dengan putri dari bibinya (saudara kandung
ayahnya). Allah mengaruniakan kepadanya putra sulung yang diberi nama
"Al-Bara'", kemudian dilanjutkan dengan kelahiran "Yahya"
sekitar satu minggu sebelum kelahirannya sebagai syahid (istisyhad).
Maut
Dibayar Maut.. Demikianlah Keadilan
Kejeniusan
militernya mulai tampak nyata seiring dengan meletusnya percikan Intifada
Pertama pada tahun 1987 M. Abu Al-Bara' (Yahya Ayyash) menulis surat kepada
Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam, menjelaskan kepada mereka sebuah rencana
untuk berjihad melawan orang-orang Yahudi melalui operasi-operasi penyerangan
syahid (al-'amaliyyat al-istisyhadiyyah). Setelah mendapatkan lampu
hijau, tugas Yahya Ayyash difokuskan pada penyiapan mobil-mobil peledak dan
rangkaian bom berdaya ledak tinggi.
Namun,
kelahiran sejati bagi "Sang Insinyur" (Al-Muhandis) beserta
operasi-operasi kejeniusannya terjadi secara masif setelah peluru-peluru Baruch
Goldstein meledak dan menembus kepala orang-orang yang sedang bersujud di
Masjid Ibrahimi di Hebron (Al-Khalil) pada bulan Ramadan tahun 1994 M.
Pada
peringatan empat puluh hari terjadinya pembantaian tersebut, balasan pertama
pun dilancarkan. Pejuang istisyhad Ra'id Zakarneh
("Ukasyah"-nya para pelaku operasi istisyhad) meledakkan tas
buatan Sang Insinyur di kota Afula, hingga menewaskan delapan orang Zionis dan
melukai puluhan lainnya.
Sekitar
satu minggu kemudian, Ammar Al-Amarnah meledakkan dirinya, menyebabkan lima
mayat pembunuh Zionis lainnya bergelimpangan.
Kurang
dari satu bulan setelah itu, tentara pendudukan mempercepat penarikannya dari
Gaza. Namun pada tanggal 19 Oktober 1994, Syahid Saleh Nazzal bergerak menuju
Jalan Dizengoff di pusat kota Tel Aviv membawa tas Sang Insinyur lalu
meledakkannya, hingga menewaskan 22 orang Zionis.
Barisan
para pejuang istisyhad terus berlanjut hingga kerugian pihak musuh
akibat operasi-operasi Sang Insinyur (Ayyash) pada periode tersebut mencapai 76
orang Zionis tewas dan 400 orang luka-luka.
Penderitaan
Demi Sebuah Pertemuan
Masa-masa
pengejaran (mulaḥaqah)
dan perburuan dalam kehidupan sang syahid dianggap sebagai periode yang
misterius dan tidak banyak diketahui dalam rekam jejak ksatria kita. Sejak
tanggal 25 April 1993 M, pihak intelijen musuh telah mengenali nama Ayyash
sebagai insinyur perakit bom peledak dan mobil peledak yang mengusik kenyamanan
dan merampas tidur nyenyak musuh. Istrinya, Asrar, menceritakan kisah
pengejaran tentara pendudukan terhadap keluarga Sang Insinyur.
Istrinya
menuturkan: "Aku tinggal di rumah paman (ayah mertuaku) pada awal
periode pengejaran Yahya dengan bersembunyi dari pandangan para tetangga, agar
ketika aku pergi mengunjungi Yahya tidak ada seorang pun yang mencurigainya.
Sebelum aku pergi ke Gaza, Yahya mengirimkan surat yang ditulis langsung dengan
tangannya—tulisan tangan yang sangat kukenali di antara ribuan tulisan tangan
lainnya—meminta pendapatku mengenai kemungkinanku meninggalkan Tepi Barat (West
Bank). Aku pun bermusyawarah mengenai hal itu dengan ayah mertuaku, lalu aku
memutuskan untuk pergi menemui suamiku. Kemudian, salah seorang saudara pejuang
(al-ikhwah al-mujahidin) menjemputku dengan menggunakan kata kunci (kata sandi)
yang ia ucapkan kepadaku, yang tidak diketahui oleh seorang pun kecuali aku dan
Yahya.
Pemuda
itu lalu membawa aku, ibu dari Yahya, dan anakku Al-Bara'. Pemuda tersebut
membawa banyak kartu identitas (paspor/KTP) palsu untuk memudahkan kami
melewati pos-pos pemeriksaan (checkpoints).
Mereka
melewati setiap pos pemeriksaan Israel dengan nama samaran yang berbeda-beda
dan dengan menggunakan mobil yang berganti-ganti dari mobil pertama, demi
menyamarkan diri dari tentara pendudukan. Selain itu, pemuda tersebut memiliki kemampuan
yang sangat luar biasa dalam menyamar sesuai dengan bentuk foto yang tertera
pada kartu identitas palsu tersebut.
Adapun
bagi Ummu Al-Bara' dan ibu Sang Insinyur, urusannya lebih mudah; karena pasukan
pendudukan pada masa itu tidak terlalu memeriksa secara teliti foto-foto para
wanita.
Ummu
Al-Bara' mengenang: "Dalam sepekan, ia tidak tinggal bersama kami
kecuali hanya beberapa jam saja, kemudian ia keluar tanpa aku ketahui ke mana
tujuannya. Kehidupan sebagai buronan (mutharad), meskipun penuh dengan berbagai
bahaya, memiliki kelezatan jihad yang tidak dapat dirasakan oleh siapapun
selain pejuang (mujahid)."
Surat-surat
Ayyash.. Dokumen yang Diterbitkan untuk Pertama Kalinya
Mengenai
petualangan paling penting yang ia jalani pada hari-hari itu, ia menuturkan: "Aku
menghabiskan sebagian besar hari-hari tinggalku di Gaza sebagai buronan yang
berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Aku tidak tinggal di salah satu
rumah lebih dari satu minggu, dan aku tidak menemui siapapun agar tidak ada
yang mencurigai keberadaanku. Aku tidur sementara bom-bom tangan berada di atas
kepalaku dan senjataku berada di sampingku, terlebih lagi karena aku menguasai
penggunaannya dan mahir dalam menentukan sasaran. Kehidupan kami terancam
bahaya setiap saat, dan rumah selalu terancam digerebek oleh tentara pendudukan
agar orang-orang Zionis itu dapat menggunakanku sebagai sarana penekanan
terhadap suamiku."
Demi
menjamin kerahasiaan, sandaran utamanya adalah surat-surat tertulis antara
dirinya dan suaminya, karena masing-masing dari mereka memiliki kemampuan untuk
mengenali tulisan tangan satu sama lain. Ia masih menyimpan surat-surat
tersebut hingga hari ini, termasuk di antaranya sebuah surat tertulis yang
diperoleh oleh situs IslamOnline.net.
Ummu
Al-Bara' mengenang dengan suara pilu: "Suatu ketika, penghuni rumah
tempat kami bersembunyi menyadari adanya pengawasan di sekitar rumah. Maka aku
terpaksa menyembunyikan diriku dan anakku, Al-Bara', serta mengunci rapat kamar
tempat kami berada selama sekitar satu minggu. Aku tidak melihat seorang
manusia pun selain istri pejuang (mujahid) yang mengantarkan makanan untukku,
dan ia pun tidak tinggal bersamaku lebih dari seperempat jam."
Ummu
Al-Bara' tersenyum ketika mengenang saat-saat menegangkan lainnya: "Suatu
ketika rumah tempat kami berada digerebek.. Itu adalah saat-saat yang sangat
sulit.. Maka aku terpaksa bersembunyi bersama anakku di dalam lemari pakaian
dan menguncinya rapat-rapat dari dalam. Hal yang ajaib adalah Al-Bara'—yang
saat itu usianya belum genap empat tahun—sangat menyadari besarnya bahaya yang
mengancam nyawa kami dan nyawa ayahnya. Alih-alih aku yang menenangkannya agar
tidak mengeluarkan suara, ia justru meletakkan tangannya di atas mulutku agar
aku tidak mengucapkan sepatah kata pun.. Betapa bangganya aku terhadap putra
kecilku, dan bahwasanya ia benar-benar layak menjadi anak dari seorang pejuang
(mujahid) serta pahlawan seperti Insinyur Yahya Ayyash.. Aku merasa bahwa aku
tidak berjuang sendirian; putra kecilku, Al-Bara', mampu bertanggung jawab
dalam lebih dari satu situasi. Ketika ia keluar untuk bermain bersama anak-anak
pemilik rumah yang menampung kami, ia memperkenalkan dirinya dengan nama
'Ahmad', dan tidak pernah mengumumkan identitas aslinya sama sekali."
Perjuangan
Istri Seorang Pejuang
Tidak
diragukan lagi bahwa setiap wanita yang menerima kabar tentang jihad suaminya
akan menyambutnya dengan perasaan takut dan cemas pada awalnya. Berbagai
prasangka mulai membayangkan suaminya telah berubah menjadi potongan-potongan
tubuh yang berserakan.. Ummu Al-Bara' mengenang bagaimana ia mengetahui
kegiatan jihad suaminya, seraya berkata: "Sejak hari-hari pertama
kehidupan pernikahan kami, Yahya sering pulang ke rumah dengan pakaian yang
kotor oleh lumpur dan tanah. Ketika aku bertatanya kepadanya tentang penyebab
hal itu, ia tidak menjawabku, melainkan memohon kepadaku dengan lembut agar aku
tidak menanyakannya tentang apa pun. Aku pun menuruti pendapatnya, karena aku
percaya penuh pada akhlak dan komitmen agamanya. Hingga tibalah hari di mana
tentara pendudukan mengepung rumah untuk menangkap Yahya, namun ia sedang tidak
berada di rumah. Ketika ia merasa bahwa aku sangat ketakutan, ia menjelaskan
kepadaku tentang hakikat pekerjaannya dan memberiku pilihan antara melanjutkan
jalan jihad bersamanya atau berpisah darinya."
Mimpi
Buruk yang Mengancam Sebuah Negara
Sang
Insinyur, melalui operasi-operasi penyerangan syahidnya (al-'amaliyyat
al-istisyhadiyyah), berubah menjadi mimpi buruk yang mengancam keamanan
negara Ibrani, para prajurit pasukannya yang mengklaim diri tidak tertandingi,
bahkan para pemimpinnya. Kegilaan ketakutan Israel mencapai puncaknya ketika
Perdana Menteri entitas Zionis saat itu, Yitzhak Rabin, berkata: "Aku
khawatir Ayyash saat ini sedang duduk di antara kita di dalam Knesset (Parlemen
Israel)." Ia juga menyatakan: "Aku tidak ragu bahwa Sang
Insinyur memiliki kemampuan-kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki oleh orang
lain. Keberadaannya yang masih bebas berkeliaran merupakan ancaman nyata bagi
keamanan dan stabilitas Israel."
Banyak
peneliti Israel tidak menganggap Yahya sebagai fenomena yang berdiri sendiri,
melainkan hasil dari lingkungan pembinaan (maḥḍan tarbawī) dan tatanan pemikiran tertentu.
Hal inilah yang mendorong salah seorang dari mereka untuk menyatakan: "Masalah
utamanya terletak pada lingkungan akidah fundamentalis yang menjadi ruang
bernapas bagi Sang Insinyur; lingkungan itulah yang melahirkan fenomena Sang
Insinyur dan fenomena pria-pria yang siap mati demi mempertahankan
akidahnya."
Adapun
Moshe Shahak, mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri Zionis, menyatakan: "Aku
tidak dapat menggambarkan Insinyur Yahya Ayyash kecuali sebagai sebuah
keajaiban (mu'jizah); negara Israel dengan seluruh perangkat keamanannya tidak
mampu menghentikan operasi-operasi perusakannya."
Surat
kabar berbahasa Ibrani juga menuliskan tentang ciri-ciri fisiknya dan
menerbitkan beberapa foto dirinya yang berbeda-beda untuk memperingatkan
masyarakat Zionis dari ancamannya, di bawah judul utama: "Kenalilah
Musuh Nomor 1 Anda.. Yahya Ayyash."
Akhirnya..
Pejuang Tangguh Itu Pun Istirahat
Setelah
empat tahun yang dipenuhi dengan bergelimpangannya potongan tubuh orang-orang
Zionis, dinas intelijen Shin Bet berhasil memperoleh informasi mengenai
keberadaan Sang Insinyur dan penyusupannya ke Jalur Gaza melalui lingkaran
orang-orang terdekat dengan Abu Al-Bara'.
Sebagaimana
dikisahkan oleh Osama Hammad, sahabat Sang Insinyur sekaligus saksi tunggal
dalam peristiwa pembunuhan (pembunuhan berencana/eksekusi) tersebut,
Yahya berlindung kepadanya lima bulan sebelum kelahirannya sebagai syahid.
Osama menampungnya di rumahnya tanpa diketahui oleh seorang pun. Kamal
Hammad—paman dari Osama yang bekerja sebagai kontraktor bangunan—memiliki
hubungan dekat dengan intelijen Israel. Kamal memberi isyarat kepada Osama
tentang kemungkinan memberinya sebuah pesawat telepon seluler (Pelephone/Belfon)
untuk digunakan. Kamal biasa mengambil HP tersebut selama satu atau dua hari
lalu mengembalikannya. Ayah Sang Insinyur biasanya menghubungi Yahya melalui HP
tersebut, padahal Yahya telah berulang kali memintanya untuk menghubungi via
telepon rumah biasa. Yahya telah sepakat dengan ayahnya untuk mengontaknya pada
hari Jumat pagi melalui telepon rumah.
Pada
Jumat pagi, 5 Januari 1996 M, Kamal Hammad menghubungi Osama dan memintanya
untuk menyalakan HP tersebut karena ia ingin menelepon dari Israel. Ternyata
jalur telepon rumah saat itu terputus.. Pada pukul sembilan pagi, ayah Yahya
menelepon ke HP tersebut dan mengabarkan kepada Osama bahwa ia tidak bisa
menghubungi nomor telepon rumah.
Baru
saja Sang Insinyur memegang HP tersebut dan berkata kepada ayahnya: "Wahai
ayahku, jangan menelepon ke HP...", tiba-tiba ledakan dahsyat
terdengar dan Sang Insinyur pun jatuh tersungkur. Kepala yang selama ini selalu
merancang dan mengatur strategi untuk membalas kejahatan Zionis itu pun
meledak.. Bagian-bagian dari otak yang suci itu berserakan, mengumumkan berakhirnya
sebuah legenda yang meninggalkan puluhan insinyur penerus yang terus mengusik
tidur nyenyak pihak pendudukan, dan mereka hingga kini tetap menjadi
murid-murid dari "Madrasah Ayyash".
Belakangan
diketahui bahwa muatan bahan peledak seberat 50 gram telah meledak di dalam HP
tersebut, hingga merubuhkan tubuh yang lelah itu untuk beristirahat dari
penatnya perjalanan panjang.. Pejuang yang tangguh itu kini beristirahat
setelah bertahun-tahun berjihad, lalu membumbung naik menuju derajat yang
tinggi dan kemuliaan.
"Aku
Al-Bara' Ayyash.. Di Atas Jalanmu, Wahai Ayahku!"
"Jika
Yahya Ayyash terbunuh, maka akulah Yahya Ayyash. Ketika aku besar nanti, aku
akan menjadi insinyur peledak dan membalaskan dendam ayahku."
Demikianlah kalimat yang terlontar dari bocah kecil, Yahya Yahya Ayyash (6
tahun), yang lahir pada saat ayahnya gugur sebagai syahid untuk melanjutkan
perjalanannya.. Seolah-olah kehendak Allah menginginkan agar Yahya tetap ada di
muka bumi.
Hal
yang tidak jauh berbeda juga tampak pada putra sulungnya, Al-Bara' (8 tahun),
yang telah mengenyam kepahitan hidup dalam masa-masa ayahnya menjadi buronan
tentara pendudukan dan aksi perburuan mereka terhadap ayahnya. Dalam tutur
katanya, ia tampak seperti seorang pemuda dewasa yang memahami masalah-masalah
keamanan dan besarnya bahaya yang mengintai ayahnya. Pikiran dan kesadarannya
bertumbuh melampaui usianya. Oleh karena itu, tidak heran jika ia berkata: "Aku
bukan dari Hamas, melainkan aku dari Batalyon Izzuddin Al-Qassam. Aku akan
bekerja sebagai insinyur seperti ayahku, meledakkan orang-orang Yahudi dan
menghancurkan tubuh mereka. Aku akan merampas kebahagiaan orang-orang yang
telah merampas ayahku dari anak-anak mereka, sebagaimana aku akan merampas ayah
dari anak-anak mereka."
Apakah
Al-Bara' akan tumbuh dewasa di bawah naungan kegelapan yang menindih hati
setiap orang mulia di dunia ini, ataukah Allah akan mengizinkannya menikmati
kehidupan yang tenang dan makmur jauh dari kancah pertarungan jihad?
Ayyash
telah mengukir epik sejarah yang abadi demi agama dan tanah airnya. Ia terbunuh
di jalan Allah (fī sabīlillāh) dan demi Palestina di atas pijakan yang
kokoh berupa pemahaman yang mendalam tentang hakikat perjuangan Palestina.
Yahya telah memahami formula berinteraksi dengan musuh sejak kedua tangannya
menyentuh mobil peledak pertama yang ia siapkan untuk membangkitkan rakyat
Palestina di seluruh sektor dan berbagai alirannya menuju perlawanan
komprehensif melawan pendudukan yang tidak memahami kecuali bahasa perlawanan
dan kosakata kekuatan. Oleh karena itu, para pemimpin dan tokoh musuh
menyatakan keputusasaan mereka dan mengakui dengan berkata: "Apa yang
bisa kita perbuat terhadap seorang pemuda yang menginginkan kematian?"
"Sang
Insinyur" (Al-Muhandis) adalah judul dari legenda Palestina sejati
yang memperbarui harapan, mematikan keputusasaan, dan mengembalikan kehidupan
pada ruh jihad dan perlawanan di Palestina, melalui lembaran-lembaran bercahaya
yang dituliskannya dalam kisah ketabahan dan jihad ketokohannya di bawah
kondisi yang paling buruk sekalipun.
Kisah
Sang Insinyur telah dikenal dan tersimpan rapat dengan tinta cinta dan
penghormatan di dalam hati orang-orang yang hidup sezaman dengannya. Namanya
senantiasa bergema di setiap lorong, rumah, serta di setiap bibir dan lidah di
seluruh pelosok bumi. Namanya dikenang oleh ratusan juta umat Arab dan Islam
ketika dunia terasa gelap, krisis semakin memuncak, dan raut wajah mereka
dipenuhi oleh rasa sakit, penindasan, serta keputusasaan.
Yahya
Ayyash telah mengetahui titik kelemahan musuhnya dan letak kekuatan rakyatnya.
Ia memanfaatkan pengetahuannya tersebut untuk mengembalikan sebagian dari
keseimbangan kekuatan yang hilang antara rakyatnya yang tak bersenjata dengan
musuhnya yang bersenjata lengkap dengan mesin militer termodern. Cara yang
digunakannya adalah dengan memindahkan medan pertempuran dari arena materi yang
sempit ke medan moral/spiritual yang lebih luas. Maka pertempuran berubah
menjadi pertarungan antara musuh yang terbelenggu oleh ketakutan akan kematian
melawan rakyat yang mencintai kematian di jalan Allah untuk meraih
kemerdekaannya. Karena kepahlawanan memiliki cita rasa yang berbeda pada
momen-momen krusial, Yahya Ayyash hampir menjadi sosok yang tiada tandingannya
di antara para pahlawan rakyat Palestina. Ia hadir di puncak keterpurukan untuk
mengumumkan bahwa rakyat yang sedang digali kuburannya untuk mengubur
perjuangannya ternyata masih penuh dengan semangat kehidupan, dan bahwasanya
slogan-slogan keputusasaan resmi tidak lebih dari abu yang menutupi bara api
yang menyala di dalam tungku rakyat.
Dalam
usianya yang singkat, Yahya Ayyash telah berbuat sangat banyak. Sejak awal ia
menyadari bahwa dirinya sedang berpacu dengan waktu ketika memutuskan untuk
meruntuhkan tembok keamanan kokoh yang dibangun oleh Zionis dengan memanfaatkan
persenjataan militer dan pengalaman terakumulasi milik mereka dalam menghadapi
rakyat yang tak bersenjata dan terkepung. Ia adalah seorang yang proaktif dan
berinisiatif, di mana tidak ada waktu terbuang bagi rakyat yang sedang
menjalani salah satu fase sejarah modernnya yang paling kritis.
Raksasa
ini hidup demi rakyat dan agamanya serta untuk keduanya, lalu ia berpulang pada
saat orang-orang kerdil sedang berebut remah-remah yang mereka sangka sebagai
harta rampasan dari perang yang telah usai.
Kepribadian
yang istimewa dalam pengabdian serta kemampuannya dalam berinisiatif dan
memperbarui ini sangat layak untuk kita renungkan dan cermati secara mendalam.
Kita dapat mempelajari kehidupannya dan sumber-sumber keagungan dalam
kepribadiannya, mengevaluasi pengalamannya yang pelopor, serta memetik
pelajaran ('ibrah) dari perjalanan pengabdiannya yang sarat dengan
pengorbanan demi risalah yang diimaninya dan demi mewujudkan risalah yang
untuknya ia telah mewakafkan jiwa dan raganya.
Meskipun
Yahya Ayyash mempresentasikan sosok pemuda desa yang sederhana—yang sebenarnya
bisa saja seperti ribuan sarjana perguruan tinggi lainnya menjadi insinyur
biasa yang bekerja di salah satu perusahaan atau bengkel kerja dengan gaji
tinggi di luar negeri—namun pahlawan kita ini mengabaikan itu semua. Ia
melompati segala rintangan dan berpegang teguh pada Islam serta perjuangannya.
Perlawanan dan jihad pun menjadi cinta besarnya yang kepadanya ia curahkan sari
pati pemikiran dan perasaannya, sekaligus mewujudkan kemampuan untuk melakukan
aksi nyata yang jauh dari sorotan lampu publisitas.
Sang
Insinyur tidak sedang mencari peran sejarah, melainkan peran sejarahlah yang
sedang mencari seorang pemimpin. Ia tidak berjiwa bintang yang berburu
popularitas, melainkan massa rakyatlah yang sangat merindukan sosok pahlawan
yang dapat mereka eluk-elukkan; pahlawan yang mengembalikan keceriaan
hari-hari, memberikan kembali cita rasa kehidupan, serta mengembalikan kejayaan
dan kemuliaan Islam. Karena model-model pemimpin yang dilahirkan oleh Gerakan
Perlawanan Islam (Hamas) tidak menunggangi gelombang kebetulan, tidak memanjat
tali keacakan, dan tidak memanfaatkan situasi yang ada, melainkan mereka selalu
berada pada janji yang tepat dengan takdirnya, siap sedia menunaikan perannya
dalam kancah aksi dan keberadaan, lalu berpulang dengan wibawa dan keluhuran
bersamaan dengan terbitnya sang surya.
Syekh
Ikhwan di Rafat
Perjalanan
Menyelami Pemikiran Ayyash
Yahya
Ayyash menyambut seruan Ikhwanul Muslimin dan membaiat jamaah tersebut pada
awal tahun 1985 M. Ia menjadi prajurit yang taat dan anggota biasa dalam salah
satu usrah Ikhwanul Muslimin di kota Ramallah. Ia bekerja dengan
sungguh-sungguh dan penuh semangat, menunaikan seluruh tugas dan beban dakwah
Islamiah, baik di dalam lingkungan universitas, di kota Ramallah, maupun di
desanya, Rafat. Sang Insinyur memanfaatkan mobil ayahnya yang dibeli untuk
melayani gerakan Islam (al-harakah al-islamiyyah), di mana ia secara
rutin bepergian ke Rafat untuk meletakkan fondasi-fondasi dakwah dan membentuk
cikal bakal kelompok-kelompok pemuda muslim yang komitmen (multazim).
Ketika cakrawala gerakan perlawanan Islam (Hamas) terbuka, kelompok-kelompok
inilah yang berada di barisan terdepan para pelempar batu selama tahun-tahun
Intifada Pertama yang diberkahi. Mengingat peran kepeloporan yang ia jalankan
serta kearifan, kesantunan, dan akhlaknya, faksi-faksi Palestina menganggapnya
sebagai "Syekh Ikhwan di Rafat", di mana mereka merujuk
kepadanya dalam seluruh urusan yang berkaitan dengan aktivitas maupun pemecahan
masalah selama tahun 1988–1992.
Putra
Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam
Awal
mula keterlibatan Sang Insinyur dalam kerja militer kembali pada masa-masa
Intifada Pertama, tepatnya pada tahun 1990–1991 M. Ia berhasil menemukan jalan
keluar dari masalah kelangkaan fasilitas dan kelangkaan bahan peledak, yaitu
dengan cara memproduksi bahan peledak tersebut dari bahan-bahan kimia mentah
yang banyak tersedia di apotek-apotek serta toko-toko obat dan sediaan medis.
Operasi pertamanya dilakukan dengan menyiapkan mobil peledak di Ramat Efal.
Sejak saat itulah dimulai aksi saling berburu antara Yahya Ayyash dengan pihak
pendudukan Zionis beserta perangkat keamanan dan militernya. Allah Subḥānahu wa Ta'ālā
mentakdirkan bahwa musuh menemukan mobil peledak di Ramat Efal secara tidak
sengaja. Setelah dilakukan penyelidikan/pemeriksaan yang sangat intensif dan
berat terhadap dua pejuang yang ditangkap pasca ditemukannya mobil peledak
tersebut, Shin Bet mencetak nama Yahya Abdul Lathif Ayyash dalam daftar orang
yang paling dicari (wanted list) untuk pertama kalinya.
Hari
Minggu, 25 April 1993 M, dianggap sebagai awal masa perburuan/pengejaran (mulaḥaqah) resmi terhadap Yahya
Ayyash. Pada tanggal tersebut, Sang Insinyur meninggalkan rumahnya untuk
bergabung dengan rekan-rekan jihad dan perlawanan. Pada malam harinya, pasukan
besar dari tentara dan intelijen mengepung dan menggerebek rumahnya, menggeledah,
mengacak-acak furnitur, serta merusak beberapa barang pribadi milik Sang
Insinyur. Setelah perwira Shin Bet mengambil foto Syahid Jawad Abu Salmiyah
yang disimpan oleh Sang Insinyur, salah seorang dari mereka mendatangi ayahnya
seraya mengancam: "Yahya harus menyerahkan dirinya, jika tidak maka ia
akan mati dan kami akan meruntuhkan rumah ini di atas kepala kalian!"
Penggerebekan
dan provokasi dari tentara pendudukan beserta perangkatnya terus berlanjut
dengan tujuan menyebarkan suasana ketakutan dan teror di tengah keluarga
pedesaan tersebut, dengan anggapan bahwa hal itu dapat mempengaruhi mentalitas
mereka dan memalingkan Sang Insinyur dari jalannya yang diberkahi. Namun
mustahil bagi mereka untuk berhasil! Sang Insinyur terus mencetak
lembaran-lembaran kemuliaan dan kemerdekaan, serta mengembalikan keindahan cita
rasa kehidupan masyarakat Palestina. Selama tiga tahun, ia menjadi madu manis
bagi Palestina dan racun pahit bagi Bani Zionis. Dugaan otoritas pendudukan
beserta perangkat represifnya terbukti gagal; mereka memanen kegagalan dalam
rencana-rencana mereka dan terombang-ambing dalam perjalanan pencarian Sang
Insinyur. Sementara itu, Ummu Yahya berdiri dengan penuh kebanggaan dan kehormatan
menghadapi para penyidik Shin Bet dan prajurit pendudukan. Surat kabar Ibrani Yedioth
Ahronoth—yang mendampingi pasukan tentara saat menggerebek rumah keluarga
Ayyash setelah operasi pahlawan Saleh Souwi di Tel Aviv—mengutip pernyataan ibu
Sang Insinyur: "Ia meninggalkan kami semua sebelum kami puas
bersamanya. Dan sejak Yahya menjadi buronan, ia bukan lagi anakku saja.. Ia
adalah putra Batalyon Izzuddin Al-Qassam."
Pertama:
Landasan Akidah dan Keimanan
Pelajaran
dan Hikmah
Lingkungan
akidah dan keimanan yang menghujam merasuk di lubuk jiwa manusia itulah yang
menciptakan dan melahirkan fenomena pria-pria yang siap mati di jalan Allah (fī
sabīlillāh). Melalui pengakaran prinsip-prinsip ini dan keteguhan
pengembannya, cadangan energi dalam sel-sel tubuh meledak, dan terpancarlah
seluruh kebaikan yang dititipkan oleh Sang Pencipta Subḥānahu wa Ta'ālā di dalam
jiwa berupa akhlak mulia, penyerahan diri (tajarrud), keikhlasan,
kejujuran, tawakal, serta sifat-sifat kesyahidan (syahadah), makna
keabadian, dan keteladanan lainnya.
Meskipun
Sang Insinyur telah meninggalkan kita setelah berhasil mencapai puncak
perbukitan orang-orang yang naik derajatnya dan meraih kemenangan dalam
perjalanan hidupnya menuju keabadian, kita masih memiliki kesempatan untuk
memegang teguh prinsip-prinsipnya, ketetapannya, serta pengalaman sejarahnya
yang kaya akan indikasi yang memberi kabar gembira tentang pelajaran-pelajaran
yang mudah diteladani, meniru sosok raksasa yang abadi di bumi Palestina,
mengulang kembali perjalanannya, dan menyampaikan kabar gembira tentang
kemampuan umat untuk melahirkan orang-orang besar serta mengukir masa depan
yang cerah. Kita dapat memaparkan beberapa sorotan cahaya dari landasan akidah
dan keimanan yang menopang tiang-tiang raksasa abadi ini agar menjadi
panji-panji petunjuk dan bimbingan yang diteladani oleh para pejuang yang
melangkah:
- Penyatuan antara wara'
(kehati-hatian dari dosa) dan ketakwaan dengan kesucian ruh serta
kesederhanaan jiwa. Yahya adalah sosok yang komitmen (multazim)
dan taat kepada Allah dalam apa yang Diperintahkan-Nya maupun apa yang
Dilarang-Nya. Konsep makna keagamaan (tadayyun) ini tampak pada
Sang Insinyur melalui intensitasnya dalam membaca Al-Qur'anul Karim,
mentilawahkannya, dan menghafalnya. Dari sinilah tampak jelas bagi kita
alasan keteguhan gigihnya dan keberaniannya yang tidak mengenal keraguan
dalam perjalanan jihad, meskipun musuh memiliki keunggulan fasilitas dan
kekejaman.
- Kesungguhan dalam
kehidupan, menyambung tali silaturahmi, mencintai sesama manusia, dan
menunaikan kewajiban. Hal ini tidak berarti bahwa sang syahid adalah
sosok yang tidak suka bersenda gurau atau bersuka ria secara bersih;
melainkan ia selalu menjauhi kebisingan/huru-hara dan menjauh dari
atmosfer yang tercemar.
- Mengarahkan dan
mendedikasikan kehidupan dunia untuk beramal kebaikan serta menganggap hal
tersebut sebagai sarana untuk meraih keridaan Allah. Oleh karena itu,
ia sangat berkasih sayang kepada sesama manusia dan memberikan bantuan
sebatas kemampuannya kepada siapapun yang meminta pertolongan kepadanya.
- Sifat pemaaf merupakan
salah satu karakter Sang Insinyur dalam hubungannya, baik di rumah, di
desa, maupun di universitas. Ia selalu memaafkan orang yang berbuat jahat
kepadanya dan tidak pernah menyimpan dendam kepada siapapun, bahkan kepada
orang yang berbuat buruk kepadanya sekalipun.
- Ketenangan, keseimbangan
sikap, dan kedalaman berpikir, seolah-olah ia selalu terbang membubung
di angkasa pencarian keridaan Allah... hingga hal tersebut membawanya pada
cita-citanya bersama para nabi, ṣiddīqīn (orang-orang yang jujur
keimanannya), dan para syahid.
- Dirinya tidak mengambil
bagian dari kenikmatan dan kesenangan dunia. Ia dikenal sebagai sosok
yang menjaga kesucian diri ('iffah) dan bersikap zuhud, tidak
menginginkan apapun selain keridaan Allah. Ketika gerakan (Hamas)
mengirimkan sejumlah uang untuk membantunya mengurus kebutuhan
keluarganya, ia mengirimkan surat teguran/kemanjaan (mu'ātabah)
kepada pimpinannya: "Terkait uang yang kalian kirimkan, apakah itu
merupakan upah atas apa yang aku lakukan? Tiada lain balasan/upahku
melainkan hanya dari Allah [2]; aku memohon kepada-Nya agar menerima amal
dari kami. Sesungguhnya tujuanku bukanlah materi, dan seandainya demikian,
niscaya aku tidak akan memilih jalan ini. Oleh karena itu, janganlah
kalian terlalu mengkhawatirkanku, dan berikanlah perhatian kepada keluarga
para syahid dan tawanan, karena mereka lebih berhak daripada aku dan
keluargaku."
Catatan
Kaki / Penjelasan Istilah:
[1]
Tanggal "18/5/2002 M" tertera pada bagian tajuk dokumen asli. Yahya
Ayyash sendiri gugur sebagai syahid (istisyhad) pada 5 Januari 1996 M.
[2]
Kalimat "Tiada lain balasan/upahku melainkan hanya dari Allah"
merupakan ungkapan yang menyerap maknawi ayat Al-Qur'an (seperti dalam QS.
Yunus: 72, QS. Hud: 29/51, QS. Ash-Shu'ara: 109).
Berikut
adalah terjemahan lengkap, utuh, dan presisi dari teks bahasa Arab yang Anda
unggah ke dalam bahasa Indonesia, sesuai dengan seluruh ketentuan dan
metodologi penerjemahan literatur keislaman/sejarah:
Dan
karena ia tidak menginginkan selain keridaan Allah dan surga-Nya, maka pahlawan
syahid ini bekerja secara diam-diam dalam kerahasiaan, seraya membumbung tinggi
di atas hawa nafsu, sorotan kamera, serta media massa. Hal ini semakin
meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi musuh serta menggagalkan berbagai
upaya provokasi dan pemancingan. Semua itu menunjukkan pemahaman yang mendalam
tentang hakikat pertempuran dan tuntutannya, serta mencerminkan ketulusan dan
keikhlasan mutlak terhadap tujuan dan cita-cita. Meskipun Yahya sangat
mencintai aktivitas jihad secara dahsyat hingga menguasai seluruh
pancainderanya—dengan lebih menyukai agar amal perbuatannya yang berbicara,
bukan perkataannya, mengingat ia mewakili suatu gerakan dan sejarah, bukan
sekadar mewakili dirinya sendiri—namun ia tidak suka membesar-besarkan masalah
maupun peran dirinya. Ia selalu mengembalikan segala keutamaan kepada Rabb Yang
Mahamulia Subhanahu wa Ta'ala, seraya terus-menerus mengulang-ulang ayat
Al-Qur'an yang mulia:
"Dan
bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah-lah yang
melempar." (QS. Al-Anfal [8]: 17)
Kedua:
Kerahasiaan dan Menyembunyikan Strategi (As-Sirriyyah wal Kitman)
Hal
ini merupakan perkara yang fundamental (badihiyyah) dalam kehidupan sang
Insinyur (Al-Muhandis) dan menjadi prinsip penting dari prinsip-prinsip
pergerakan, dengan mengambil petunjuk dari perintah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam:
استَعِينُوا عَلَى إِقْضَاءِ
حَوَائِجِكُمْ بِالْكِتْمَانِ
Minta
tolonglah kalian dalam menyelesaikan hajat-hajatmu dengan menyembunyikannya
(merahasiakannya).
Maka
sang Insinyur bersama Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam bekerja dengan metode
rahasia yang terorganisasi. Hal ini membuat rencana aparatur keamanan dan
intelijen Zionis untuk menyusupi struktur organ militer tersebut maupun upaya
mendeteksi operasinya sebelum terjadi menjadi hal yang sangat sulit. Sebab,
jihad senantiasa diintai dan menggagalkannya merupakan strategi Zionis dan
global, terlebih setelah Islam menjadi musuh utama bagi kubu "Tatanan
Dunia Baru (atau Yang Terbaru)" beserta instrumen-instrumennya. Dalam
kasus Komandan Syahid ini, hakikat kerahasiaan dan penyembunyian strategi telah
melampaui kondisi darurat atau kebutuhan sesaat, hingga menjadi akhlak yang
tertanam kuat dan tabiat yang mengakar.
Ketiga:
Meloloskan Diri dari Cengkeraman Musuh
Piaayunya
sang Insinyur yang sangat luar biasa—berkat karunia Allah dan
perlindungan-Nya—dalam menghadapi para pengejarnya, serta kejeniusannya dalam
menyamar, memanipulasi, dan meloloskan diri dari penyergapan yang dipasang oleh
ribuan prajurit unit-unit khusus pilihan dari tentara Zionis, pasukan pengawal
perbatasan, dan kepolisian, di samping ratusan personel Badan Intelijen Umum (Shabak)
dan unit-unit intelijen militer khusus yang ditugaskan dalam operasi pengejaran
terbesar yang pernah diorganisasi oleh negara Yahudi tersebut dalam sejarahnya,
telah membuat para pengejarnya menjulukinya dengan gelar "Si Jenius",
"Carlos sang Rubah", dan "Pria Berwajah Seribu". Mereka
juga menisbkan kepadanya sifat-sifat sebagai 'orang suci', 'manusia yang
memiliki sembilan nyawa', serta 'orang yang dapat melihat namun tidak dapat
dilihat'. Perkara-perkara tersebut sejatinya merupakan upaya aparatur keamanan
dan intelijen Zionis untuk menyembunyikan ketidakmampuan mereka di baliknya.
Otoritas pendudukan telah mencari sang Insinyur selama empat tahun penuh.
Selama rentang waktu tersebut, sang Komandan terus menjalankan
operasi-operasinya tanpa henti maupun kendur. Ia merekrut sel demi sel, serta
menghembuskan semangat inisiatif dan aktivitas baru setelah setiap pukulan yang
dilayangkan pihak Zionis kepada kelompok-kelompok jihadis. Setelah setiap
operasi, otoritas pendudukan mengakui bahwa berita-beritanya pun menghilang
dengan sangat rapi, sehingga membuat pimpinan Shabak kebingungan
menghadapi teka-teki sang Insinyur.
Keberhasilan
sang Insinyur mencapai Jalur Gaza pada hakikatnya merupakan pukulan telak bagi
entitas Zionis, yang membuat Yitzhak Rabin dalam rapat gabungan pimpinan
aparatur keamanan Zionis memukul meja dengan sangat keras, seraya menuntut
penjelasan yang tegas mengenai bagaimana sang Insinyur mampu melampaui ribuan
informan Zionis yang mengejarnya dan menyesatkan aparatur keamanan Zionis.
Keempat:
Jihad, Kemenangan, atau Maut Syahid
Dimensi
lain dari kepribadian Yahya Ayyash atau sang Insinyur tecermin pada
kegigihannya untuk terus bekerja dan beraktivitas, serta kesiapannya yang
konstan untuk meraih mati syahid di jalan Allah, seraya menolak untuk keluar
atau melarikan diri ke luar Palestina yang terintimidasi/terjajah meskipun
peluang untuk itu terbuka lebar. Pria yang telah menggentarkan para pemimpin
pendudukan, prajurit, dan pemukimnya—hingga mereka menghafal wajahnya di luar
kepala dan memajang fotonya di kantor-kantor mereka—sangat menyadari bahwa
setiap ajal telah ditetapkan waktunya. Kesadaran inilah yang menjadi bekal bagi
pejuang mukmin ini untuk melanjutkan jihad serta mewariskan pengalaman dan
ilmunya kepada saudara-saudaranya. Oleh karena itu, wajah Yahya akan memerah
karena marah apabila saudara-saudaranya membicarakan kemungkinan meninggalkan
tanah air untuk sementara waktu, lalu ia menjawab mereka: "Mustahil! Aku
telah mewakafkan diriku untuk Allah kemudian untuk agama ini; pilihannya hanya
kemenangan atau mati syahid. Perang melawan entitas Zionis harus terus
berlanjut sampai orang-orang Yahudi keluar dari seluruh tanah Palestina."
Waktu
Eksekusi Kejahatan Pembunuhan (Pembunuhan Berencana/Oksidasi)
Selama
kurang lebih empat tahun, Yitzhak Rabin—yang memperlakukan sang Insinyur
sebagai rival pribadinya—menempatkan berkas pembunuhan Komandan Qassam ini di
puncak prioritas politik dan keamanan pemerintahannya. Namun, salah satu
kejutan dalam berkas ini adalah terbunuhnya Rabin sendiri di tangan seorang
ekstremis Yahudi sebelum aparatur intelijen Zionis berhasil membunuh sang
Insinyur. Dengan demikian, bertambahlah satu skandal lagi dalam catatan
aparatur tersebut, yang selalu digambarkan oleh propaganda Zionis sebagai
lembaga super yang mampu mendeteksi peristiwa sebelum terjadi dan sanggup
mencapai tujuannya dengan usaha paling minim dan waktu tercepat.
Guncangan
kepercayaan publik Israel terhadap aparatur keamanan tersebut memberikan dampak
yang mengkhawatirkan bagi para pimpinan keamanan dan militer. Mereka tidak
mampu melindungi perdana menteri sekaligus tokoh terpenting mereka, dan tidak
pula mampu menangkap atau membunuh musuh nomor satu mereka yang telah
menyebarkan ketakutan di hati orang-orang Zionis penduduk. Untuk keluar dari
kondisi hilang keseimbangan yang membuat aparatur keamanan Zionis berada di
titik nadir, harus dilakukan suatu tindakan spektakuler yang dapat memulihkan
wibawa pimpinan tersebut di dalam lembaga politik dan keamanan entitas Zionis.
Hal inilah yang menjelaskan mengapa Shimon Peres menolak pengunduran diri
Jenderal Carmi Gillon, Kepala Shabak, sesaat setelah pembunuhan Rabin,
namun kemudian mengabulkannya hanya dua hari setelah eksekusi kejahatan
pembunuhan sang Insinyur.
Pada
saat kejahatan pembunuhan sang Insinyur dianggap sebagai sarana untuk
mengembalikan kepercayaan terhadap aparatur keamanan Zionis dan menenangkan
publik Israel bahwa musuh mereka telah dimusnahkan serta pembalasan dendam
telah dilaksanakan terhadap pihak yang menumpahkan darah Zionis—sebagaimana
selalu diulang-ulang oleh para pemimpin pendudukan—terdapat tujuan lain yang
tidak kalah penting, bahkan jauh lebih penting. Tujuan tersebut adalah
menjadikan sang Insinyur sebagai simbol berakhirnya suatu era (era tanpa
penyerang/milisi), terlebih karena pembunuhan sang Insinyur didahului oleh
pembersihan banyak komandan seperti: Fathi Shaqaqi, Hani Abed, Kamal Kahil,
Ibrahim An-Naffar, Mahmud Al-Khawaja, dan lainnya. Oleh karena itu, ada pesan
Zionis di balik kejahatan pembunuhan sang Insinyur yang intinya bahwa zaman
para fida'i (pejuang) dan pahlawan telah usai, dan inilah saatnya menerima
keberadaan Israel serta berhubungan dengannya secara realistis.
Meskipun
terdapat propaganda yang digencarkan oleh otoritas pendudukan Zionis tersebut,
banyak pihak di kalangan Zionis sendiri yang tidak yakin bahwa pembunuhan sang
Insinyur akan menghentikan jihad dan perlawanan serta mengakhiri perjuangan
bersenjata.
Adapun
pada tingkat Palestina, kejahatan pembunuhan ini justru memberikan kesempatan
bagi Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) untuk memulihkan aktivitas militernya.
Pihak Zionislah yang melakukan agresi dan meningkatkan eskalasi pembunuhan di
Gaza. Berangkat dari semua itu, kubu perlawanan tetap meraih keuntungan
meskipun mengalami kerugian besar akibat kehilangan sang Syahid. Pelaksanaan
empat operasi syahid oleh murid-murid sang Insinyur dalam jangka waktu yang
singkat (sepuluh hari) menjadi penegas bagi hal tersebut, meskipun kondisi yang
dihadapi dalam pelaksanaan operasi-operasi tersebut sangatlah berat.
Operasi-Operasi
Terpenting yang Dinasabkan Kepada Syahid Sang Insinyur Yahya Ayyash
Kejeniusan
Komandan Yahya Ayyash telah memindahkan medan pertempuran ke jantung
wilayah-wilayah aman yang diklaim oleh orang-orang Israel bahwa aparatur
keamanan mereka menguasai situasinya secara penuh. Setelah berbagai operasi
yang dilancarkan terhadap pusat-pusat pendudukan dan patroli militer, para
pejuang Hamas dengan perencanaan dari komandan mereka, Ayyash, melaksanakan
sejumlah operasi terpenting, di antaranya:
- 6 April 1994: Syahid
Ra'id Zakarneh meledakkan mobil مفخخة (berisi bahan peledak) di dekat bus
Zionis di kota Afula; yang mengakibatkan tewasnya delapan orang Zionis dan
melukai tidak kurang dari tiga puluh orang. Hamas menyatakan bahwa
serangan ini merupakan balasan pertama atas pembantaian jemaah salat di
Masjid Ibrahimi di kota Hebron (Al-Khalil).
- 13 April 1994:
Pejuang lain dari gerakan "Hamas", yaitu Syahid Ammar Amarnah,
meledakkan bahan peledak yang dipasang di tubuhnya di dalam bus Zionis di
kota Hadera di dalam Garis Hijau; yang menyebabkan tewasnya 5 orang Zionis
dan melukai puluhan lainnya.
- 19 Oktober 1994:
Syahid Saleh Nazzal—seorang pejuang dalam Batalyon Syahid Izzuddin
Al-Qassam—meledakkan dirinya di dalam bus penumpang Zionis di Jalan Dizengoff
di kota Tel Aviv; yang mengakibatkan tewasnya 22 orang Zionis dan melukai
tidak kurang dari 40 orang lainnya.
- 25 Desember 1994:
Syahid Usamah Radi—seorang polisi Palestina dan anggota rahasia dalam
kelompok Qassam—meledakkan dirinya di dekat bus yang mengangkut prajurit
Angkatan Udara Zionis di Yerusalem, serta melukai 13 prajurit.
- 22 Januari 1995: Dua
pejuang Palestina meledakkan diri mereka di stasiun kumpul militer Zionis
di daerah Beit Lid dekat Netanya; yang mengakibatkan tewasnya 23 prajurit
Zionis dan melukai empat puluh lainnya dalam serangan yang digambarkan
sebagai yang terkuat dari jenisnya. Sumber-sumber militer Zionis
menyatakan bahwa penyelidikan menunjukkan adanya jejak jemari sang
Insinyur dalam merangkai bahan peledak tersebut.
- April 1995: Gerakan
Hamas dan Jihad Islam melaksanakan dua serangan syahid terhadap warga
Yahudi di Jalur Gaza; yang mengakibatkan tewasnya 7 pemukim sebagai
balasan atas kejahatan intelijen Zionis dalam meledakkan sebuah rumah di
lingkungan Asy-Syaikh Radwan di Gaza, yang menyebabkan gugurnya sekitar
lima warga Palestina, di antaranya Syahid Kamal Kahil (salah satu komandan
kelompok Qassam) dan asistennya.
- 24 Juli 1995:
Seorang pejuang pencari syahid dari kelompok murid-murid Insinyur Yahya
Ayyash yang berafiliasi dengan Batalyon Syahid Izzuddin Al-Qassam
meledakkan bahan peledak yang dipasang di tubuhnya di dalam bus penumpang
Zionis di Ramat Gan dekat Tel Aviv; yang mengakibatkan tewasnya 6 orang
Zionis dan melukai 33 orang lainnya.
- 21 Agustus 1995:
Serangan syahid lainnya menargetkan bus penumpang Zionis di lingkungan
Ramat Eshkol di kota Yerusalem yang terintimidasi/terjajah; yang
mengakibatkan tewasnya 5 orang Zionis dan melukai lebih dari 100 orang
lainnya. Murid-murid Insinyur Yahya Ayyash menyatakan bertanggung jawab
atas serangan tersebut.
Total
korban yang tewas di tangan "Sang Insinyur" dan murid-muridnya
mencapai tujuh puluh enam orang Israel, dan melukai lebih dari empat ratus
orang lainnya.
Sebagian
Puisi yang Dikatakan Tentang Ayyash:
Hutan
jihad telah menumbuhkan tombak-tombak,
dan
kami telah menanam di setiap jengkal seorang syahid.
Kami
menanami langitnya dengan roh-roh,
dan
kami menyirami tanah-tanah lapang dengan darah.
Jika
kezaliman dan kegelapan terus berlanjut,
maka
kebenaran menerbitkan fajar di bukit-bukit kami.
Dan
jika seruan jihad bergema,
ia
menjadikan agama sebagai bekal dan senjata.
Rakyat
kami bergerak maju mengarungi kebinasaan,
memenuhi
bumi dengan revolusi dan perjuangan.
Setiap
kali seorang syahid diantar menuju surga,
cahaya
memenuhi hatinya dengan kebahagiaan.
Surga
keabadian mendekat dan mulai
mengaruniakan
harum wewangiannya kepada semesta.
Pemuda-pemuda
kebenaran mencintai kebinasaan (di jalan Allah),
mereka
tidak takut akan luka-luka dalam pertempuran.
Jika
darah mengalir dalam jihad,
mereka
menjadikannya sebagai selendang di dada.
Kalian
tidak akan mencapai kemuliaan tanpa
jihad,
dan kalian tidak akan meraih kejayaan.
Jika
kalian menginginkan bagian dari keagungan,
maka
sulutlah pelita dari agama ini.
Dari
Irak... Dipersembahkan untuk Roh Syahid Yahya Ayyash!
Bagimu
Kemuliaan (Lakal Majdu)
Karya
Puisi: Rafi' Al-Ja'far
Orang-orang
tunduk mati, sedangkan engkau tetap hidup...
dan
singgasana-singgasana runtuh, namun mimbar luhurmu akan tetap ada melintasi
zaman.
Dan
penggertak hina jatuh ke dalam jurang kehinaan...
susu
kehinaan di mulutnya terasa manis.
Engkau
diam, namun engkau menjadi yang paling fasih berbicara di antara mereka...
ia
mencoba mengecoh dengan sulit, namun melihat dirinya bisu tak berdaya.
Engkau
menyerahkan rohmu kepada bumi ketika mereka kikir...
sungguh
jauh perbedaan antara orang kikir dan orang dermawan.
Kematian
para lelaki bukanlah masuk ke dalam kubur...
melainkan
kematian mereka adalah kehinaan dan prasangka buruk.
Tidaklah
merugikanmu sebuah kubur yang mengurungmu...
sementara
sebutan tentangmu harum dan semerbak.
Harta
terpendam tidak menjadi hina di perut bumi...
dan
tidak pula dihormati buih yang terapung jika kebinasaan tampak.
Mutiara
bisa berada di dasar laut terperosok...
sementara
buih yang tak berguna mengapung di atasnya.
Engkau
membumbung tinggi hingga kuburmu menjadi menara cahaya...
yang
menerangi jalan bagi pemuda yang membangkang (terhadap kezaliman).
Pemberani
yang tidak dapat dikuasai oleh musibah-musibah...
berpikiran
tajam yang dihiasi oleh akal jenius.
Mesu
gunpowder membangkang di hadapannya, namun...
bagi
saudara-saudara yang suci, ia memiliki hati yang ridha.
Ia
mengubah siang Zion menjadi kegelapan...
maka
tidak ada tidur yang nyenyak bagi mereka.
Tidak
ada pembicara yang berbincang di klub mereka...
dan
tidak ada orang yang dihormati di majelis mereka.
Ia
menjadikan ufuk mereka api yang menyala-nyala...
maka
pengobatan terakhir bagi manusia ini adalah besi panas (kauterisasi).
Pinjamkanlah
aku sebagian mawar dari percikan apimu...
karena
sebagian api bagi yang haus adalah kesegaran.
Dan
sebagian air bagi yang dahaga adalah kematian...
dan
dari pemantik besi akan hadir kemenangan.
Jika
kehidupan yang hina menggoda mereka...
dan
dari gemuruh suara, hujan tercurah.
Bagimu
kemuliaan yang sejak dahulu menegakkan...
pilar-pilarnya
di atas wahyu Nabi.
Dan
menggariskan baginya kematian syahid sebagai jalan kejayaan...
yang
dengannya benteng dilindungi oleh pahlawan pemberani.
Engkau
bukanlah orang pertama yang mengorbankan jiwa...
dan
bukan orang terakhir yang diratapi dengan ratapan.
Sebab
di mihrabnya Al-Faruq (Umar) gugur...
dan
di mihrabnya Ali pun gugur.
Sebelum
dan sesudah keduanya, rombongan menuju surga terus berjalan...
memiliki
gemuruh yang bergema.
Mata
air akan tetap melimpah dan akan tetap ada...
pasukan
rombongan yang dipimpin oleh perjalanan malam.
Bendera
Islam akan tetap menjulang tinggi...
dan
rahim yang suci akan tetap melahirkan.
Orang-orang
yang gagal mengira keabadian adalah istana...
yang
dituntun kepadanya para pelayan dan hamba sahaya.
Dan
takhta yang diidamkan oleh orang yang sengsara...
serta
diberi minum ginjalnya oleh telapak tangan orang jahat.
Yang
dijaga dari kejatuhan oleh kerumunan orang...
dan
dilindungi oleh saudara dari ketundukan yang hina.
Wahai
orang yang tergesa-gesa untuk Israel, hentikanlah...
sebab
apa yang menimpa Musa tidak memalingkan Samiri.
Engkau
telah kurus kering hingga tampak logammu yang buruk...
dan
wajah menjadi buruk serta penyingkapan tersembunyi.
Tali-tali
tersembunyi di dalam tongkat Yahya...
untuk
Israel dan menelannya...
Maka
tunduklah penyihir dan binasalah orang yang zalim...
dan
lunaklah orang yang sombong serta jatuhlah orang yang keras kepala.
Fidatmu
[Penebusmu] wahai Abu Al-Bara' adalah para penyeru perdamaian...
yang
memiliki maksud jahat jika tipu daya itu berguna.
Maka
apa yang engkau mati dengannya, dengannya negeri hidup...
dan
apa yang dengannya hidup, kematian lebih layak.
Demikianlah,
dan ratapan para penyair tentang Ayyash sangatlah banyak, kami cukupkan
dengannya.
Ratapan
Istrinya Untuknya:
Saudari
Hiyam Ayyash (Ummu Al-Bara'), istri Syahid Yahya Ayyash, secara khusus
memberikan kepada majalah (Filasthin Al-Muslimah) untuk menerbitkan
surat yang dituliskannya dalam perpisahan dengan suaminya:
Aku
Tidak Akan Mengucapkan Selamat Tinggal, Wahai Abu Al-Bara'
Wahai
orang yang pergi meninggalkan kami sementara raut kerinduan di matanya tertuju
ke Tepi Barat... wahai orang yang berpisah namun tidak pernah menyedihkan
kekasih-kekasihnya suatu hari pun, melainkan mengikhlaskan hatinya pada pohon
zaitun... wahai orang yang bersalat kepada Allah sebelum menyiapkan kudanya
untuk berangkat, Yahya Ayyash telah berangkat, betapa indahnya kematian syahid
sebagai perjalanannya...
Demi
Allah, kami akan menyalakan dari darahmu seribu Yahya, seribu obor... Palestina
telah menangisimu wahai Yahya, anak-anaknya, wanita-wanitanya, dan para
sesepuhnya menangisimu. Hebron (Al-Khalil) menangisimu, para janda Hebron dan
anak-anak yatim mereka menangisimu. Laut Gaza menangisimu pada hari ketika ia
berhenti sejenak sebagai tanda berkabung atas pahlawan. Jalan-jalan di Gaza,
tanah Tepi Barat, dan seluruh tanah Palestina yang pernah engkau pijaki dan
engkau enggan meninggalkannya menangisimu.
Tidak...
tidak... engkau tidak akan mati, melainkan engkau akan tetap hidup di hati
kami, di hati setiap orang yang mengenalmu, hidup bersamamu, mendengar
tentangmu, dan orang yang bersamamu dalam jihad. Tidak, kami tidak akan
menangisimu, melainkan kenanganmu yang harum, operasi-operasi syahidmu, dan
mobil-mobil rakitanmu akan tetap menjadi saksi bahwa engkau adalah pahlawan,
ayah, pejuang, dan sebaik-baik prajurit Batalyon.
Jika
kalian bertanya kepadaku tentang dirinya, "Abu Al-Bara'", maka apa
yang harus aku katakan? Demi Allah, sungguh seluruh kata-kata tidak akan mampu
menggambarkan dirinya. Seandainya kami menghabiskan seluruh usia kami untuk
menulis tentangmu, kami tidak akan mampu memenuhi hakmu.
Mereka
bertanya: Bagaimana ia mengawali? Bagaimana ia hidup? Dan bagaimana ia tumbuh?
Banyak pertanyaan di dalam benak tentang komandan pemberani ini yang telah
menggentarkan orang-orang Yahudi dan mencekoki mereka kepahitan yang amat
sangat. Ia membuat Rabin tidak dapat merasakan nikmatnya tidur dan istirahat.
Ia menantang seluruh pasukan yang dipimpin oleh Rabin yang pernah berkata:
"Aku ingin membunuh Yahya Ayyash dengan tanganku sendiri." Namun,
walhamdulillah, harapannya pupus; Rabin mati dalam penyesalannya dan Abu
Al-Bara' bergembira atas kematiannya.
Ia
tumbuh sejak kecil dan tumbuh kembangnya terdistingsi oleh ketenangan serta
iman yang kuat yang diilhamkan Allah kepadanya sejak usia dini. Ia tumbuh dan
berkembang di masjid-masjid, menyusu ASI kemuliaan dan martabat. Ia menolak
kehinaan dan menjauh dari dunia serta perhiasannya. Setelah meraih ijazah
kelulusan sekolah menengah, ia melanjutkan studi akademisnya di Universitas
Birzeit di mana ia mempelajari Teknik Elektro. Sejak memasuki universitas, ia
memikul di atas bahunya amanah yang berat yaitu membebaskan Al-Aqsa dan meraih
mati syahid di jalan Allah. Di mana aku selalu membaca di buku-buku catatannya
bait-bait kalimat ini:
Wahai
Ibunda, agamaku telah memanggilku untuk berjihad dan berkorban...
Wahai
Ibunda, sesungguhnya aku bergerak menuju keabadian dan tidak akan ragu...
Wahai
Ibunda, janganlah engkau menangisiku jika aku jatuh terkapar...
sebab
kematian tidaklah menakutkanku, dan cita-citaku adalah mati syahid...
Meskipun
ia seorang yang sedikit bicara, banyak diam, memikul beban berat di dalam
dirinya, dan ingin menjadikan ilmunya sebagai sarana untuk meledakkan Bani
Zionis, ia telah berbuat sangat banyak dan memagarnya dengan benteng
kerahasiaan hingga meledaklah bom yang mengenalkan orang-orang kepadanya. Ia
menjadi orang yang diburu oleh Bani Zionis beserta antek-antek mereka pada
tahun 1993 M. Sejak saat itu ia menjadi buronan di mana ia menjauh dari rumah
dan menyerahkan hidupnya untuk jihad serta memikul senjata di bahunya.
Ketika
kita berbicara tentang operasi-operasinya, kita katakan: Apa yang tersisa bagi
seorang ibu yang kehilangan putranya, seorang istri yang kehilangan suaminya,
dan seorang anak yang kehilangan ayahnya? Selain menikmati momen-momen
kemenangan yang diukir oleh pahlawan kita Yahya Ayyash dalam pertempuran
melawan pasukan yang melebihi dirinya dari segi jumlah dan peralatan. Di mana
ia mengobati kejengkelan hati dan mengusap air mata para janda di Palestina
secara umum, dan Hebron secara khusus. Ia telah membalaskan dendam mereka atas
pembantaian Hebron yang dilakukan oleh orang-orang Zionis yang membunuh
orang-orang yang rukuk dan sujud di bulan Ramadan saat mereka sedang sujud
tanpa senjata.
Ketika
berbicara tentang operasi-operasinya, banyak pihak yang menjadi saksinya. Jalan
Dizengoff menjadi saksi atas tewasnya korban di tanahnya dan puing-puing jasad
yang berserakan akibat dahsyatnya ledakan. Ia tidak pernah merasakan nikmatnya
tidur dan istirahat. Ia terus berjihad di Tepi Barat hingga bumi terasa sempit
baginya dengan segala keluasannya, yang memaksanya untuk berpindah ke Gaza guna
menyelesaikan perjalanan jihadnya di sana. Namun setelah beberapa waktu, ia
merasa seolah-olah berada di dalam penjara.
Beberapa
saat sebelum kelahirannya sebagai syahid, ia rindu untuk kembali ke Tepi Barat;
ia rindu untuk pergi seolah-olah ia merasakan bahwa saat kepergiannya menuju
Rabbnya telah tiba... Demi Allah, ia telah lelah di dunianya dan telah tiba
saatnya untuk beristirahat dari keletihan dunia untuk bertemu Allah, Rasul-Nya,
dan para sahabatnya.
Abu
Al-Bara' adalah teladan suami yang penyayang dan ayah yang ideal. Kalian
mengenalnya sebagai pejuang, sedangkan aku mengenalnya sebagai suami, ayah, dan
pahlawan yang tidak memedulikan kesusahan dunia dan perhiasannya. Ia sangat
merindukan kematian syahid. Sungguh ia tidak mati, melainkan akan tetap hidup
di hati kami. Kami tidak akan melupakanmu wahai Komandan Pejuang, dan
kenanganmu akan tetap menggentarkan orang-orang Yahudi serta memperbarui tekad,
wahai Komandan. Engkau telah mengusap air mata anak-anak yatim wahai Abu
Al-Bara', maka siapakah yang akan mengusap air mata Bara' dan Yahya? Aku
memohon kepada Allah agar membangkitkan di antara kami orang yang dapat
menggantikanmu. Demi Allah, kami akan menyalakan dari darahmu seribu Yahya dan
seribu obor. Sungguh air mata ini menetes dan hati ini berduka, dan kami atas
perpisahan denganmu wahai Abu Al-Bara' benar-benar merasa sedih.
Istrimu
/ Ummu Al-Bara'
Sumber:
Mawsu'ah
Syuhada' al-Harakah al-Islamiyyah fi al-'Ashr al-Hadits - Ensiklopedia Para
Syuhada Gerakan Islam di Era Modern, Jilid Pertama, Taufik Wa’iy
Comments
Post a Comment