Ghurur

AL-GHURŪR (TERPEDAYA)

Penyakit keenam yang menimpa sebagian aktivis dakwah (para pekerja di jalan Allah)—yang mana mereka wajib berusaha keras untuk membebaskan diri darinya dan tidak terjerumus lagi ke dalamnya—adalah al-ghurūr (terpedaya/rasa bangga diri yang memusnahkan). Agar pembahasan kita mengenai penyakit ini memiliki dimensi yang jelas serta batasan yang terukur, kita akan membaginya sebagai berikut:

Pertama: Makna Al-Ghurūr

Secara Bahasa: Al-Ghurūr dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, yang terpenting di antaranya:

  • Tipu daya/Kecohan: Baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun terhadap diri sendiri dan orang lain secara bersamaan. Dikatakan: gharra-hu, yaghurru-hu, ghurūran (ia menipunya). Dan gharra nafsahu yaghurruhā ghurūran berarti ia menipu dirinya sendiri. [Lihat: Lisān al-'Arab (5/11), materi: (غرر).] Dari makna inilah firman Allah Swt.: "Dan setan itu hanya menjanjikan tipu daya belaka kepada mereka." (QS. An-Nisā': 120).
  • Segala sesuatu yang menyebabkan atau menjatuhkan seseorang pada penipuan/keterperdayaan: Al-Jauhari berkata: "Al-ghurūr" dengan huruf ghin yang dibaca dammah berarti kesenangan dunia yang menipu. [Lihat: Aṣ-Ṣiā (2/768), materi: (غرر)] Dari makna inilah firman Allah Swt.: "Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, jangan sekali-kali kehidupan dunia menipu kamu dan jangan sekali-kali (setan) yang pandai menipu bertindak menipu kamu tentang Allah." (QS. Fāir: 5).

Secara Istilah: Adapun dalam terminologi para dai atau aktivis dakwah, al-ghurūr adalah rasa kagum seorang pekerja (aktivis) terhadap dirinya sendiri ('ujub) yang mencapai tingkatan memandang rendah atau meremehkan segala hal yang dihasilkan oleh orang lain jika dibandingkan dengan apa yang dihasilkannya, namun tanpa merendahkan zat atau menjatuhkan pribadi orang-orang tersebut secara langsung.

Tidak diragukan lagi bahwa siapa pun yang berada pada kondisi ini, maka ia adalah orang yang tertipu/terpedaya. Dengan demikian, kita dapat memahami titik temu antara makna istilah dan makna bahasanya.

Kedua: Sebab-Sebab Al-Ghurūr

Mengingat al-ghurūr merupakan tingkatan rasa kagum pada diri sendiri ('ujub) yang sangat amat, maka sebab-sebab dan faktor penyulut yang menjatuhkannya pada dasarnya adalah sebab-sebab ujub, dengan beberapa tambahan:

1. Mengabaikan Pemeriksaan Diri (Taftīsy) dan Introspeksi Diri (Muhāsabah)

Sebab terjadinya ghurūr bisa jadi adalah karena melalaikan diri dari pemeriksaan dan introspeksi. Hal itu karena sebagian aktivis dakwah mungkin teruji dengan penyakit ujub (kagum pada diri sendiri). Lantaran ia mengabaikan dirinya dari melakukan pemeriksaan dan introspeksi, penyakit tersebut makin menguasai dirinya lalu berubah menjadi sikap meremehkan atau memandang rendah apa yang dilakukan orang lain dibanding apa yang ia lakukan; sehingga ia pun menjadi orang yang maghrūr (terpedaya).

Boleh jadi inilah rahasia di balik wasiat Islam untuk senantiasa memeriksa diri dan mengintrospeksinya secara berkelanjutan: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-asyr: 18).

2. Pengabaian, Kurangnya Pembinaan/Pemantauan (Mutāba'ah), dan Kurangnya Bimbingan dari Orang Lain

Penyebab ghurūr juga bisa berasal dari pengabaian, tidak adanya pemantauan, serta kurangnya bimbingan dari orang lain. Sebagian aktivis dakwah yang terkena penyakit ujub mungkin memiliki kemauan yang lemah, tekad yang rapuh, dan semangat yang kendur sehingga tidak mampu menyucikan dirinya secara mandiri dari penyakit ini. Ia membutuhkan pemantauan dari orang lain, pendampingan di sisinya, serta bimbingan tangan mereka. Namun, orang lain bisa saja tidak menyadari hal tersebut lalu alpa dalam menjalankan peran dan kewajibannya. Pada saat itulah, penyakit ini menguat di dalam jiwa dan seiring berjalannya waktu berubah menjadi ghurūrna'ūżu billāh (kita berlindung kepada Allah darinya).

Mungkin inilah rahasia di balik penekanan Islam terhadap pentingnya nasihat, hingga menjadikan seluruh agama berporos dan kembali kepadanya. Rasulullah bersabda:

 عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

"Agama itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau bersabda, "Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan awam mereka." (HR. Muslim).

Dan boleh jadi ini pula rahasia seruan Islam untuk saling menanggung (taāmun) dan bekerja sama di antara sesama muslim. Allah Swt. berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..." (QS. Al-Mā'idah: 2).

Serta sabda Nabi :

المُؤْمِنُ مِرْآةُ المُؤْمِنِ، وَالمُؤْمِنُ أَخُو المُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ

"Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya; ia menjaga hartanya dari kehancuran dan melindunginya dari belakang." (HR. Abu Dawud).

3. Sikap Berlebihan (Ghuluw) atau Terlalu Keras (Tasjdid) dalam Beragama

Sebab ghurūr berikutnya adalah sikap ghuluw (melampaui batas) atau terlalu keras dalam beragama. Sebagian aktivis dakwah menjalani ajaran Allah dengan sikap ekstrim dan keras. Setelah beberapa waktu, ia melihat ke sekelilingnya dan menyaksikan para aktivis dakwah lainnya menempuh jalan pertengahan (wasatīyah). Karena kelalaiannya atau ketidakpahamannya terhadap tabiat agama ini, ia menyangka bahwa apa yang dilakukan orang lain itu adalah bentuk kelalaian (tafrī) atau pengabaian. Prasangka ini terus menyeretnya hingga pada tingkat meremehkan dan memandang kecil semua yang dihasilkan oleh mereka dibanding apa yang ia lakukan. Itulah ghurūr.

Mungkin inilah di antara rahasia seruan Islam menuju sikap pertengahan (wasatīyah), bahkan peringatannya dari sikap ghuluw atau terlalu keras dalam beragama. Sebagaimana bersabda Nabi kepada sekelompok orang yang berniat untuk membujang (memutus syahwat) dan menjauhi kehidupan duniawi:

أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي

"Kaliankah yang telah mengatakan begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara kalian. Namun, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, serta aku pun menikahi wanita. Maka, barang siapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari golonganku." (HR. Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb an-Nikā, Bāb at-Targhīb fī an-Nikā (7/2); Muslim dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb an-Nikā, Bāb Istibāb an-Nikā liman Tāqat Nafsuhu Ilayh... dst. (2/1018, no. 1401); An-Nasa'i dalam As-Sunan: Kitāb an-Nikā, Bāb an-Nahyi 'an at-Tabattul (6/60, no. 3217); dan Ahmad dalam Al-Musnad (3/241, 259, 285); semuanya dari hadis Anas bin Malik r.a. secara marfu', dan lafaz ini milik Al-Bukhari.).

Dan beliau bersabda:

هَلَكَ المُمَتَنِّعُونَ» (قَالَهَا ثَلَاثًا)

"Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan (al-mutanaṭṭi'ūn)!" Beliau mengucapkannya tiga kali. Yakni: orang-orang yang mendalam-dalamkan dan melampaui batas dalam perkataan serta perbuatan mereka. (HR. Muslim. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb al-'Ilm, Bāb Halaka al-Mutanaṭṭi'ūn (4/2055, no. 2670) dari hadis Abdullah bin Mas'ud r.a. secara marfu'.).

Serta sabda beliau:

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ

"Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama, karena sesungguhnya perkara yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam beragama." (HR. Ahmad. Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad (1/215, 347) dari hadis Ibn 'Abbas r.a.)

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا، وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا... الحديث

"Sesungguhnya agama ini mudah. Tidaklah seseorang memperberat agama ini melainkan ia akan dikalahkannya. Maka bertindaklah lurus (proporsional), mendekatlah (pada kebenaran), dan berilah kabar gembira..." (Al-Hadits) (HR. Bukhari. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb al-Īmān, Bāb ad-Dīnu Yusr (1/16) dari hadis Abu Hurairah r.a. secara marfu'.).

4. Mendalami Ilmu—Khususnya Masalah-Masalah Asing dan Ganjil (Gharā'ib wa Syawāż)—Serta Mengabaikan Amal

Sebab ghurūr juga dapat timbul dari sikap mendalami ilmu, terutama masalah-masalah yang ganjil dan janggal, disertai dengan mengabaikan amal nyata. Sebagian aktivis dakwah menjadikan fokus utamanya hanyalah mendalami ilmu khususnya topik-topik ganjil dan terasing (syawāż), sementara ia melalaikan amal. Boleh jadi, ketika mengangkat masalah-masalah tersebut, ia mengamati adanya kelalaian sebagian aktivis lain atau kurangnya penguasaan mereka terhadap topik itu. Hal itu bisa karena masalah tersebut bersifat sekunder (sānawīyah) yang tidak memudaratkan jika tidak diketahui, atau karena tidak berimplikasi pada amal nyata. Lantas terbersit dalam pikirannya bahwa orang-orang itu tidak menguasai masalah ilmu sedikit pun, atau jika menguasainya pun hanya sedikit dibanding masalah-masalah asing/ganjil yang ia miliki. Bisikan ini terus berulang dan mendesak dalam jiwanya hingga berubah menjadi sikap menghinakan dan meremehkan apa yang ada pada orang lain dibanding apa yang ada padanya. Itulah penyakit ghurūr.

Mungkin itulah rahasia di balik seruan Islam agar pencarian ilmu selalu berkisar pada hal-hal yang bermanfaat dan berguna. Sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh Rasulullah :

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak dikabulkan." (HR. Muslim. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb aż-Żikr wad-Du'ā' wat-Tawbah wal-Istighfār, Bāb at-Ta'awwuż min Syarri Mā 'Amila wa min Syarri Mā Lam Ya'mal (4/2088, no. 2722) dari hadis Zaid bin Arqam r.a. secara marfu', namun ia menambahkan di depannya: "Allāhumma innī a'ūżu bika minal-'ajzi wal-kasali...".).

Bahkan Islam menegaskan agar ilmu tersebut bergandengan dengan amal. Jika tidak, maka yang terjadi adalah kebinasaan dan kerugian. Allah Swt. berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Aṣ-Ṣaff: 2–3).

"Apakah kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Baqarah: 44).

Nabi yang mulia juga bersabda:

يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ

"Seseorang akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka terburailah usus-usus perutnya di dalam neraka itu. Ia berputar-putar di sana sebagaimana keledai berputar mengitari penggilingannya. Penghuni neraka pun berkumpul mengelilinginya seraya berkata, 'Wahai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah dulu engkau menyuruh kami berbuat makruf dan melarang kami dari keburukan?' Ia menjawab, 'Dahulu aku menyuruh kalian berbuat makruf tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya, dan aku melarang kalian dari keburukan tetapi aku sendiri mengerjakannya.'" (HR. Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb Bad'il-Khalq, Bāb Ṣifatin-Nāri wa Annahā Makhlūqah (4/147); dan Muslim dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb aż-Zuhd war-Raqā'iq, Bāb 'Uqūbati Man Ya'muru bil-Ma'rūfi wa Lā Yaf'aluh... (4/2290, 2291, no. 2989) dari hadis Usamah bin Zaid r.a. secara marfu', dan lafaz ini milik Al-Bukhari).

5. Terfokus pada Amalan Ketaatan dan Melupakan Maksiat serta Kejelekan

Sebab timbulnya ghurūr juga bisa berupa sikap terhenti/terfokus hanya pada amalan taat sembari melupakan kemaksiatan dan keburukan-keburukan yang dilakukan. Kita semua adalah manusia biasa, dan watak manusia—selain para nabi—adalah tempatnya benar dan salah. Apabila seorang aktivis melalaikan kenyataan ini, sering kali ia hanya terpaku pada ketaatan atau kebenaran yang dilakukannya, sementara pada saat yang sama ia melupakan maksiat atau kesalahan yang diperbuatnya. Akibatnya adalah munculnya rasa kagum pada diri sendiri ('ujub) yang disertai dengan sikap meremehkan apa yang terjadi pada orang lain jika disandingkan dengan amalan yang ia hasilkan. Dan inilah ghurūr.

Allah Swt. telah menarik perhatian pada sebab atau pendorong ini ketika Dia memuji sekolompok orang beriman yang menunaikan ketaatan namun tetap merasa takut jika ada hal-hal yang menghalangi diterimanya amalan tersebut. Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang karena takut akan (azab) Tuhan mereka, mereka sangat berhati-hati; dan orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Tuhan mereka; dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu apa pun); dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka; mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minūn: 57–61).

Sayyidati 'Aisyah r.a. berkata, "Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah maksud dari firman Allah (Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut...) adalah orang yang mencuri, berzina, dan meminum khamar sementara ia takut kepada Allah Swt.?" Beliau menjawab:

لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يُصَلِّي وَيَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

"Bukan, wahai putri As-Siddiq. Akan tetapi, dia adalah orang yang shalat, berpuasa, dan bersedekah, namun ia tetap takut kepada Allah Azza wa Jalla (amalannya tidak diterima)." (HR. Tirmidzi. Hadis 'Aisyah r.a. diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam As-Sunan: Kitāb Tafsīr al-Qur'ān, Bāb Min Sūrah al-Mu'minūn (5/306, 307, no. 3175) secara marfu', dan beliau memberi komentar: "Hadis ini juga diriwayatkan dari Abdurrahman bin Sa'id, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, dari Nabi semisal ini...".).

Nabi juga mengarahkan perhatian pada hal ini ketika beliau menyeru agar sandaran utama setelah selesai beramal adalah karunia dan rahmat Allah, bukan pada amal itu sendiri. Sebab jika bersandar pada amal, yang terjadi adalah ghurūr dan kebinasaan. Beliau bersabda:

لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ» قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلاَ أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ، سَدِّدُوا، وَقَارِبُوا، وَاغْدُوا، وَرُوحُوا، وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ، وَالقَصْدَ القَصْدَ تَبْلُغُوا

"Amal salah seorang di antara kalian tidak akan pernah menyelamatkannya." Para sahabat bertanya, "Apakah termasuk engkau wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadaku. Maka bertindaklah lurus, mendekatlah (pada kebenaran), beribadahlah di waktu pagi, sore, dan sebagian waktu malam. Dan bersikaplah pertengahan (konsisten dan tidak berlebihan), niscaya kalian akan sampai (pada tujuan)." (HR. Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb ar-Riqāq, Bāb al-Qaṣda wal-Mudāwamata 'alal-'Amal (8/122, 123); dan Muslim dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb Ṣifāt al-Munāfiqīna wa Akāmihim, Bāb Lan Yadkhula al-Jannata Aadun bi-'Amalih... dst. (4/2169, 2171, no. 2816, 2818) dari hadis Abu Hurairah dan 'Aisyah r.a. secara marfu' dan yang semakna dengannya, lafaz milik Al-Bukhari).

Seluruh penjelaskan ini telah diungkapkan secara amat gamblang oleh Sayyidina Abdullah bin Mas'ud r.a. ketika beliau menerangkan pengaruh dari mengingat dosa dan melupakannya terhadap perilaku seseorang. Beliau berkata:

إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

"Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah ia sedang duduk di bawah kaki gunung yang ia takuti akan runtuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat (fājir) melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di depan hidungnya, lalu ia mengibaskannya begini (dengan tangannya)." (HR. Bukhari. Atsar Abdullah bin Mas'ud r.a. diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaī: Kitāb ad-Da'awāt, Bāb at-Tawbah (8/83, 84) secara mauquf padanya. Sebagian mengklaim bahwasanya atsar ini marfu', namun hal itu adalah kekeliruan (waham). Lihat: Fath al-Bari (11/105)).

6. Cenderung dan Bersandar kepada Dunia (Ar-Rukūn ilā ad-Dunyā)

Sebab timbulnya ghurūr juga bisa berasal dari sikap cenderung/bersandar kepada dunia. Sebagian aktivis dakwah mungkin menyadari bahwa dirinya teruji dengan penyakit ujub (kagum pada diri sendiri). Namun, karena ia cenderung pada dunia dan tenggelam di dalamnya, rasa malas pun menyelimutinya sehingga ia tidak mampu mengumpulkan keteguhan hatinya untuk mengobati jiwanya. Bahkan ia mulai menunda-nunda (taswīf) dan mengakhirkan taubat. Seiring berjalannya waktu, rasa kagum pada diri sendiri ('ujub) tersebut berubah menjadi penyakit yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya, yaitu al-ghurūr.

Al-Qur’an Al-Karim telah menarik perhatian pada sebab atau pendorong ini melalui celaan terhadap dunia dan peringatan darinya apabila manusia menjadikannya sebagai tujuan atau cita-cita. Allah Ta’ala berfirman:

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak cucu. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur...” [QS. Al-Hadid: 20].

“Buatlah untuk mereka (umat manusia) perumpamaan kehidupan dunia, yaitu seperti air yang Kami turunkan dari langit, lalu menyerap ke dalam tanaman-tanaman di bumi, kemudian (tanaman-tanaman itu) menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [QS. Al-Kahfi: 45].

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia, merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempat tinggalnya adalah neraka, karena apa yang selalu mereka kerjakan.” [QS. Yunus: 7-8].

Nabi  bersabda:

عَسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيْكَ فَلَا انْتَقَشَ، طُوْبَى لِعَبْدٍ أَخَذَ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ، أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةً قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ.

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian berpola/mewah. Jika diberi ia ridha, dan jika tidak diberi ia murka. Celakalah ia dan tersungkurlah ia. Apabila ia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut. Berbahagialah seorang hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah; rambutnya kusut dan kedua kakinya berdebu. Jika ia bertugas di benteng penjagaan, ia berada di benteng penjagaan. Dan jika ia bertugas di pasukan belakang, ia berada di pasukan belakang. Jika ia meminta izin, tidak diizinkan baginya; dan jika ia memberi syafaat (rekomendasi), tidak diterima syafaatnya.” (HR. Bukhari dan Ibn Majah) [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Jihad, Bab Al-Hirāsah fi Al-Ghazwi fi Sabīlillāh (4/41, 42), dan Kitab Al-Riqaq, Bab Mā Yuttaqā min Fitnatil Māl (8/114, 115); serta Ibn Majah dalam Al-Sunan: Kitab Al-Zuhd, Bab Fi Al-Muktsirīn (2/1382, 1385 no. 4135, 4136). Keduanya dari hadits Abu Hurairah secara marfu' dengannya].

Sangat jarang beliau  bangkit dari suatu majelis hingga beliau berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya:

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا.

“Ya Allah, bagikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu; dan ketaatan kepada-Mu yang dapat menyampaikan kami ke surga-Mu; serta keyakinan yang dengannya Engkau meringankan musibah-musibah dunia bagi kami. Berilah kami kenikmatan dengan pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah ia terus tersisa pada kami. Jadikanlah pembalasan kami atas orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau jadikan musibah kami terjadi pada agama kami. Janganlah Engkau jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas puncak pengetahuan kami, serta janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi kami.” (HR. Tirmidzi) [Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Al-Sunan: Kitab Al-Da'awāt, Bab 80 (5/493, 494 no. 3502) dari hadits Ibn Umar secara marfu' dengannya. Beliau memberi komentar atasnya: "Hadits ini hasan gharib".].

Sungguh, Salafus Saleh umat ini sangat menyadari dampak buruk yang ditimbulkan oleh sikap bersandar dan merasa tenteram kepada dunia bagi seseorang. Oleh karena itu, mereka berpaling darinya kecuali sekadar untuk dijadikan bekal menuju akhirat. Hal tersebut sering kali terucap dari lisan-lisan mereka. Ali  berkata: “Dunia telah beranjak pergi meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah beranjak datang menghampiri. Dan masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak (pengikut). Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Sebab hari ini adalah waktunya beramal tanpa ada hisab (perhitungan), sedangkan besok (akhirat) adalah waktunya hisab tanpa ada lagi amal.” (HR. Bukhari) [Atsar ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Riqaq, Bab Fi Al-Amal wa Thūlihi (8/110) dari hadits Ali secara mauquf padanya].

Al-Hasan  berkata: “Barangsiapa yang menyaingimu dalam urusan agamamu, maka saingilah dia. Dan barangsiapa yang menyaingimu dalam urusan duniamu, maka lemparkanlah dunia itu ke lehernya.” [Atsar ini disebutkan oleh Al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūmiddīn (3/207)].

Sebagian dari mereka mengambarkan kesadaran dan kepekaan rasa ini dengan bersyair:

Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas

Mereka menceraikan dunia dan takut akan fitnah*

Merek memperhatikan dunia, lalu ketika mereka tahu

Bahwa dunia bukanlah tanah air bagi orang yang hidup*

Maka mereka menjadikannya bagai lautan yang dalam

Dan menjadikan amal-amal saleh di dalamnya sebagai bahtera*

[Bait-bait syair ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam muqaddimah kitabnya Riyādh Al-Shālihīn (hal. 2) tanpa menisbahkannya kepada seseorang].

7. Melihat Sebagian Tokoh Teladan (Uswah/Qudwah) berada pada Kondisi di Bawah Standar yang Seharusnya

Sebab terjadinya sikap terperdaya (ghurur) adakalanya berupa pemandangan terhadap sebagian tokoh peneladan (uswah) atau panutan (qudwah) yang berada pada kondisi di bawah standar yang seharusnya. Hal itu karena sebagian tokoh panutan—karena satu dan lain hal—mungkin turun dari derajat yang seharusnya, yaitu memegang prinsip عزيمة ('azimmah [prinsip dasar yang teguh/ketat]) dalam kebanyakan kondisi, menuju keadaan yang lebih rendah, yaitu mengambil رخصة (rukhshah [kemudahan/keringanan]) pada sebagian waktu.

Boleh jadi hal tersebut dilihat oleh orang yang sedang berusaha meneladani dan mencontoh mereka. Lantaran minimnya deposit pemahaman fikih (fiqh) yang ia miliki, atau belum sempurnanya pembinaan (tarbiyah) dirinya, ia berilusi atau mengira bahwa para tokoh tersebut berada jauh di bawahnya dalam hal beramal. Ilusi atau sangkaan ini terus membayangi dan mendesaknya hingga berubah—wal 'iyadzu billah—menjadi sikap ujub (‘ujub / mengagumi diri sendiri), yang kemudian berlanjut menjadi sikap terperdaya (ghurur).

Mungkin hal inilah yang menjadi sebagian rahasia di balik seruan Islam untuk menjauhi tempat-tempat prasangka/tuduhan (mawatin at-tuham), yaitu dengan cara menjelaskan sisi kebenaran dari seluruh tindakan mubah yang terkadang dapat memicu prasangka buruk.

Dari Shafiyyah binti Huyay —istri Nabi —bahwasanya ia datang mengunjungi Rasulullah  saat beliau sedang beri'tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Ia berbincang-bincang di sisi beliau sesaat, kemudian ia bangkit untuk kembali pulang. Maka Nabi  berdiri bersamanya untuk mengantarkannya pulang. Hingga ketika beliau sampai di dekat pintu Masjid di samping pintu Ummu Salamah, melintaslah dua orang laki-laki dari kaum Anshar, lalu keduanya mengucapkan salam kepada Rasulullah . Maka Nabi  bersabda kepada keduanya:

عَلَى رِسْلِكُمَا، إِنَّمَا هِيَ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ.

“Pelan-pelanlah kalian berdua, sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyyah binti Huyay.”

Keduanya berkata: “Maha Suci Allah, wahai Rasulullah!” (Keduanya merasa berat/kaget atas penjelasan itu). Lalu Nabi  bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَبْلُغُ مِنَ الْإِنْسَانِ مَبْلَغَ الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيْتُ أَنْ يَقْذِفَ فِيْ قُلُوْبِكُمَا شَيْئًا.

“Sesungguhnya setan itu menyusup ke dalam diri manusia melalui aliran darah, dan aku khawatir setan akan membisikkan sesuatu (prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.” (HR. Bukhari dan Muslim) [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-I'tikaf, Bab Hal Yakhruju Al-Mu'takifu li Hawā'ijihi ilā Bāb Al-Masjid? (3/64, 65); dan Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Salam, Bab Bayān Annahu Yustahabbu liman Ru'iya Khāliyan bi Imra'atin wa Kānat Zaujatahu au Mahraman Lahu... alkh (4/1712, 1713 no. 2175) dari hadits Shafiyyah secara marfu' dengannya].

Yazid bin Al-Aswad pernah shalat bersama Nabi  ketika ia masih seorang pemuda. Ketika selesai shalat, tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang tidak ikut shalat di sudut masjid. Maka beliau memanggil keduanya, lalu keduanya didatangkan dalam keadaan gemetar urat lehernya (karena takut). Beliau bersabda: “Apa yang menghalangi kalian berdua untuk shalat bersama kami?” Keduanya menjawab: “Kami telah shalat di tempat kediaman kami.” Beliau bersabda:

لَا تَفْعَلُوْا، إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فِيْ رَحْلِهِ، ثُمَّ أَدْرَكَ الْإِمَامَ، وَلَمْ يُصَلِّ، فَلْيُصَلِّ مَعَهُ، فَإِنَّهَا لَهُ نَافِلَةٌ.

“Janganlah kalian berbuat demikian! Apabila salah seorang dari kalian telah shalat di kediamannya, kemudian ia menjumpai imam (berjamaah) dan ia belum shalat (bersama imam itu), maka hendaklah ia shalat bersamanya, karena shalat itu menjadi ibadah sunnah baginya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa'i) [Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Al-Sunan: Kitab Al-Shalah, Bab Fi Man Shallā fi Manzilihi tsumma Adraka Al-Jamā'ata Yushallī Ma'ahum (1/157 no. 575); At-Tirmidzi dalam Al-Sunan: Kitab Al-Shalah, Bab Mā Jā'a fi Al-Rajuli Yushallī Wahdahu tsumma Yudriku Al-Jamā'ah (1/424-426 no. 219), dan ia berkomentar: "Hadits Yazid bin Al-Aswad adalah hadits hasan shahih"; serta An-Nasa'i dalam Al-Sunan: Kitab Al-Imamah, Bab I'ādat Al-Shalāh ma'a Al-Jamā'ah ba'da Shalāt Al-Rajuli li Nafsihi (2/112 no. 857) dari hadits Yazid bin Al-Aswad secara marfu' dengannya].

Oleh karena itu, Ibn Daqiq Al-'Id berkata: “(Tindakan ini—yaitu menjaga diri dari segala hal yang memicu timbulnya prasangka buruk—sangat ditekankan bagi para ulama dan orang-orang yang dijadikan teladan. Maka tidak boleh bagi mereka melakukan suatu perbuatan yang memicu prasangka buruk, meskipun mereka memiliki alasan pembenar/penjelas di dalamnya; karena hal tersebut dapat menjadi sebab hilangnya manfaat dari ilmu mereka. Para ulama juga menyatakan: Sesungguhnya hendaknya bagi seorang hakim untuk menjelaskan sisi kebenaran/keadilan kepada pihak yang dihukumi jika hal itu samar baginya, dan ini termasuk dalam bab menepis prasangka terkait kelaliman dalam penjatuhan hukum).” [Lihat: Ihkām Al-Ahkām karya Ibn Daqiq Al-'Id (2/57); dan darinya diukil oleh Ibn Hajar dalam Fath Al-Bārī (4/280)].

8. Berlebihan dalam Menyembunyikan Amal yang Dilakukan oleh Sebagian Aktivis (Al-'Amilun)

Sebab terjadinya sikap terperdaya (ghurur) adakalanya juga berupa tindakan berlebihan dalam menyembunyikan amal yang dilakukan oleh sebagian aktivis dakwah. Hal itu karena dorongan untuk merealisasikan hakikat ikhlas terkadang membawa sebagian aktivis untuk berlebihan dalam menyembunyikan amal yang terbit darinya, sehingga tidak ada yang nampak darinya kecuali sangat sedikit.

Boleh jadi, orang yang belum matang pembinaan (tarbiyah) dirinya hanya melihat apa yang nampak secara zahir saja, lalu ia berimajinasi bahwa amal para aktivis tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan amalnya sendiri. Imajinasi ini terus membayanginya dan mendesaknya hingga ia terperosok ke dalam jerat ujub (‘ujub / mengagumi diri sendiri), yang kemudian berlanjut menjadi terperdaya (ghurur).

Mungkin saja, seruan Islam untuk menampakkan amal-amal yang baik dan memperlihatkannya kepada manusia—di samping sebagai dorongan bagi mereka untuk meneladani dan mencontohnya—di dalamnya terdapat isyarat kepada sebab atau pendorong ini, sekaligus penjelasan tentang jalan keluar darinya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

“Jika kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu...” [QS. Al-Baqarah: 271].

Dan sebagaimana sabda Nabi :

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَرْدِ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.

“Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Shalah, Bab Fadhl Shalāt Al-Jamā'ah (1/165, 166); dan Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Masajid wa Mawādhi' Al-Shalah, Bab Fadhl Shalāt Al-Jamā'ah (1/450, 451 no. 650) dari hadits Ibn Umar secara marfu' dengannya].

مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ...

“Barangsiapa yang memelopori suatu tradisi/jalan yang baik (sunnah hasanah) dalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka...” (HR. Muslim) [Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakah, Bab Al-Hats 'alā Al-Shadaqah (2/704-706 no. 1017) dari hadits Jarir bin 'Abdillah Al-Bajali secara marfu' dengannya dan yang semakna].

9. Pembedaan Sikap oleh Sebagian Tokoh Panutan dalam Memperlakukan Orang-Orang yang Meneladainya

Sebab terjadinya sikap terperdaya (ghurur) adakalanya berupa: pembedaan sikap oleh sebagian tokoh teladan/panutan dalam memperlakukan orang-orang yang meneladani mereka. Hal itu karena sebagian tokoh panutan terkadang luput dari pikiran mereka tentang metode ideal dalam memperlakukan para pengikut/peneladan.

Maka engkau melihat mereka mendekatkan sebagian orang, melapangkan dada untuknya, serta memaklumi kekhilafan dan kesalahannya. Pada saat yang sama, mereka berpaling dari sebagian orang lainnya, merasa sempit/tidak sabar terhadapnya, dan membuka mata lebar-lebar terhadap kekhilafan maupun kekeliruan terkecil yang timbul darinya.

Boleh jadi pada kelompok pertama terdapat orang yang belum sempurna pembinaan (tarbiyah) dirinya dan belum matang kepribadiannya. Ketika ia menyaksikan pembedaan perlakuan ini, terlintas dalam pikirannya bahwa hal itu bersumber dari potensi dan bakat yang ia miliki yang tidak terdapat pada orang lain. Lintasan pikiran ini terus-menerus mendesaknya hingga menjelma menjadi sikap ujub (‘ujub / mengagumi diri sendiri), lalu berlanjut menjadi terperdaya (ghurur).

Sungguh Rasulullah  telah menutup rapat pintu ini melalui kesungguhan beliau dalam memperlakukan para sahabatnya secara setara. Di antara petunjuk (hidayah) beliau —sebagaimana dikatakan oleh para pemerhati sifat beliau—adalah: “Beliau memberikan hak (perhatian) kepada setiap orang yang duduk di majelisnya, hingga orang yang duduk bersama beliau tidak menganggap ada seseorang yang lebih dimuliakan oleh beliau daripada dirinya.” [Hadits ini merupakan bagian dari hadits panjang yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Al-Syamā'il Al-Muhammadiyyah: Bab Mā Jā'a fi Khuluqi Rasūlillāh (hal. 18-23) dari hadits Sufyan bin Waki', dari Jami' bin 'Umair bin 'Abdirrahman, dari seorang laki-laki Bani Tamim dari keturunan Abu Halah, dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sanadnya dha'if (lemah) karena kelemahan Sufyan dan Jami', serta keasingan (jahalah) laki-laki dari Bani Tamim tersebut; akan tetapi hadits ini memiliki jalur-penguat (syawahid) lain yang menutup kelemahan ini dan mengangkat derajatnya hingga dapat diterima (maqbul)].

Pada hari di mana kebutuhan mendesak beliau  untuk membedakan perlakuan, sementara orang yang duduk bersama beliau belum memahami hikmah di balik tindakan tersebut, beliau menjelaskan hal itu secara transparan. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sa'ad bin Abi Waqqas , ia berkata:

Rasulullah  memberi suatu pemberian kepada sekelompok orang sedang aku duduk di sana. Lalu beliau meninggalkan seorang laki-laki yang justru merupakan orang yang paling aku kagumi. Maka aku berkata: “Wahai Rasulullah, ada apa dengan Si Fulan? Demi Allah, sungguh aku memandangnya sebagai seorang mukmin!” Maka beliau  bersabda: “Atau seorang muslim.” Aku pun diam sejenak, namun apa yang aku ketahui tentang orang itu mendesakku, sehingga aku mengulangi perkataanku: “Ada apa dengan Si Fulan? Demi Allah, sungguh aku memandangnya sebagai seorang mukmin!” Beliau bersabda: “Atau seorang muslim.” Kemudian apa yang aku ketahui tentangnya mendesakku kembali, maka aku mengulangi perkataanku, dan Rasulullah  merespons dengan jawaban yang sama. Kemudian beliau bersabda:

يَا سَعْدُ، إِنِّي لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ اللهُ فِي النَّارِ.

“Wahai Sa'ad, sungguh aku memberi kepada seseorang padahal orang lain lebih aku cintai daripadanya, karena khawatir Allah akan menyungkurkannya ke dalam neraka.” (HR. Bukhari) [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Iman, Bab Idzā Lam Yakun Al-Islāmu 'alā Al-Haqīqah (1/13, 14) dari hadits 'Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqas dari ayahnya secara marfu' dengannya].

Ketiga: Dampak-Dampak Sikap Terperdaya (Ghurur)

Sikap terperdaya (ghurur) memiliki dampak-dampak yang buruk dan akibat-akibat yang berbahaya, baik bagi para aktivis (al-'amilun) maupun bagi gerakan/amal Islam. Berikut ini sebagian dari dampak dan akibat tersebut:

A. Bagi Para Aktivis (Al-'Amilun):

Di antara dampaknya bagi para aktivis—di luar apa yang telah kami paparkan pada penyakit ujub (‘ujub / mengagumi diri sendiri)—adalah:

1. Terjerumus ke dalam Malapetaka Perdebatan dan Percekcokan (Al-Mira' wa Al-Jadal):

Dampak pertama yang ditimbulkan oleh sikap terperdaya (ghurur) pada diri para aktivis adalah terperosok ke dalam malapetaka perdebatan dan percekcokan (al-mira' wa al-jadal). Hal itu karena orang yang terperdaya—disebabkan oleh rasa cinta pada dirinya, pandangannya yang terpesona pada amalnya sendiri, serta peremehannya terhadap amal orang lain—selalu berusaha membela dirinya dan memenangkannya, baik secara benar maupun batil. Setan pun menghiasi persepsinya bahwa sarana terbaik yang menyampaikan pada hal itu tidak lain adalah perdebatan dan percekcokan. Penghiasan ini berhasil mengecohnya sehingga ia terjerumus ke dalamnya. Pada saat itulah waktu-waktunya terbuang sia-sia dan usianya melayang tanpa guna, dan itulah kesesatan serta kebinasaan yang nyata.

Dan Nabi sungguh telah mengarahkan perhatian kita pada hal tersebut seraya bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الجَدَلَ

Dari Abu Umamah ia berkata: Rasulullah bersabda: "Tidaklah suatu kaum tersesat setelah berada di atas petunjuk, melainkan karena mereka diberi (tabiat suka) berdebat."

(HR. At-Tirmidzi dalam Al-Sunan, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Wa Min Surah Az-Zukhruf [5/353, No. 3253], dan beliau berkomentar: "Hadits ini hasan shahih, kami hanya mengetahuinya dari hadits Hajjaj bin Dinar... dst." Juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam Al-Sunan, Al-Muqaddimah, Bab Ijtinab Al-Bida' wa Al-Jadal [1/19, No. 48], keduanya dari hadits Hajjaj bin Dinar, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah secara marfu').

Sebagaimana beliau juga memotivasi untuk membebaskan diri dari perdebatan dan pertengkaran (al-mira' dan al-jadal) dengan ungkapan yang sangat ringkas dan penyampaian yang paling halus, seraya bersabda:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسُنَ خُلُقُهُ

Dari Abu Umamah ia berkata: Rasulullah bersabda: "Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar; sebuah rumah di tengah surga bagi siapa yang meninggalkan kebohongan meskipun hanya bergurau; dan sebuah rumah di kedudukan tertinggi di surga bagi siapa yang membaguskan akhlaknya."

(HR. Abu Dawud dalam Al-Sunan, Kitab Al-Adab, Bab Fi Husn Al-Khuluq [4/253, No. 4800] dari hadits Abu Umamah secara marfu'. Al-Albani mencantumkannya dalam Silsilah Al-Ahadits Al-Shahihah No. 273 dengan disandarkan kepada Abu Dawud, dan beliau mengisyaratkan bahwa dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak dikenal, namun hadits ini memiliki perawi-perawi penguat [syawahid] yang mengangkat derajatnya menjadi hadits hasan).

2. Jatuh ke Dalam Terperangkap Keterperdayaan Sifat Takabur di Muka Bumi Tanpa Hak:

Dampak kedua yang diakibatkan oleh al-ghurur (sifat tertipu/ujub) adalah jatuh ke dalam jerat kesombongan (takabur) di muka bumi tanpa hak. Hal itu karena ketika ghurur telah menguasai jiwa, ia ber transformasi dari yang semula sekadar menganggap remeh dan merendahkan amal perbuatan orang lain, menjadi perasaan tinggi hati dan bersikap superior terhadap mereka. Perasaan tinggi hati, bersikap superior, atau takabur ini memiliki konsekuensi yang sangat buruk dan dampak yang membahayakan; dan kita akan mengulasnya secara terperinci—insya Allah—saat membahas tentang bahaya (afah) takabur.

3. Otoriter dalam Berpendapat (Al-Istibdad bi ar-Ra'yi):

Adapun dampak ketiga yang ditimbulkan dari ghurur adalah bersikap otoriter dengan pendapat sendiri (istibdad bi ar-ra'yi). Hal itu karena orang yang tertipu daya oleh dirinya sendiri hanya memandang kebenaran ada pada dirinya, dan meyakini bahwa apa yang lahir dari dirinya adalah suatu kebenaran mutlak tanpa cela, sedangkan apa yang datang dari orang lain adalah kesalahan tanpa kebenaran. Orang seperti ini, jika diajak kepada kebenaran, terasa berat baginya untuk tunduk dan patuh kepadanya, sehingga ia tetap bertahan dengan pendapatnya sendiri. Sikap otoriter terhadap pendapatnya sendiri ini menjadikannya menjalani hidup dalam kemelut kesalahan hingga akhirnya ia binasa bersama orang-orang yang binasa.

B. Dampaknya Terhadap Pergerakan/Amal Islami (Al-'Amal Al-Islami):

Adapun dampak-dampaknya terhadap pergerakan Islami dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Mudah disusupi oleh musuh-musuh Allah, yang mengakibatkan pergerakan tersebut terpukul, atau setidaknya tergagalkan, sehingga tidak membuahkan hasil melainkan setelah pengorbanan yang amat mahal dan kurun waktu yang sangat panjang.
  2. Berbaliknya masyarakat umum dan rakyat biasa menentang pergerakan tersebut serta mencelanya, terutama pada masa-masa sulit dan krisis; hal ini dikarenakan mereka tidak melihat dari orang-orang yang berisitisab (terisnisiasi) ke dalamnya melainkan kesombongan yang tampak jelas dalam bentuk sikap meremehkan dan merendahkan amal perbuatan masyarakat umum meskipun amal itu berupa kebaikan. Hal ini saja sudah menyimpan dampak negatif yang sangat besar.

Keempat: Manifestasi/Indikator Sifat Ghurur

Sifat ghurur ditunjukkan oleh beberapa indikator/gejala, di antaranya:

  1. Senantiasa merendahkan dan menganggap sepele perbuatan/amal orang lain, meskipun perbuatan tersebut merupakan suatu kebaikan.
  2. Terlalu banyak membicarakan amal perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri, seraya memuji dan meninggikan kedudukan diri.
  3. Sulit untuk tunduk dan patuh kepada kebenaran, meskipun kebenaran tersebut disampaikan oleh orang yang ahli/berhak menyampaikannya.

Kelima: Terapi/Obat Penyakit Ghurur

Jiwa dapat diobati dari penyakit ghurur, bahkan dapat dibentengi agar tidak tertimpa penyakit ini lagi, yaitu dengan mengikuti metode dan sarana-sarana berikut:

  1. Memahami dan menyadari bahaya serta akibat yang ditimbulkan dari ghurur; sebab menyadari hal tersebut termasuk perkara yang dapat menggerakkan jiwa dari dalam dan menghentakkannya—jika masih ada kebaikan di dalam jiwa tersebut—untuk berjuang keras membebaskan diri dari penyakit ini sebelum datangnya hari di mana hati dan penglihatan dibolak-balikkan, dan sebelum muncul keinginan untuk kembali ke dunia demi memperbaiki keteledoran namun permohonan itu tidak dikabulkan:

"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Rabbku, kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya saja. Di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun [23]: 99-100).

  1. Mengingatkan tentang pentingnya bersikap pertengahan dan moderat (at-tawassuth wa al-i'tidal) dalam segala hal, bahkan dalam urusan ketaatan dan hal-hal yang mubah, agar tidak memicu munculnya sifat ghurur atau sikap kelalaian/keengganan (al-qu'ud).
  2. Mengingatkan bahwa meskipun amal perbuatan adalah sebuah keharusan yang mutlak, namun amal bukanlah penyebab utama keselamatan hingga seorang hamba menggantungkan tumpuan padanya. Keselamatan semata-mata merupakan karunia dan rahmat dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, sebagaimana diisyaratkan oleh ungkapan "memasukkan" (al-idkhal) dalam banyak ayat Al-Qur'anul Karim, di mana Allah Subhanahu berfirman:

"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang disucikan, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang berteduh lagi nyaman." (QS. An-Nisa' [4]: 57).

"Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dengan izin Rabb mereka. Ucapan penghormatan mereka di dalamnya ialah 'Salam'." (QS. Ibrahim [14]: 23).

"Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..." (QS. Al-Hajj [22]: 14, 23).... dan seterusnya.

Sebagaimana hal itu juga diisyaratkan dalam hadits yang telah kami sebutkan pada bagian sebab-sebab ghurur: "Amal salah seorang di antara kalian tidak akan pernah menyelamatkannya..." Al-Hadits.

  1. Senantiasa menelaah dan merenungkan Kitabullah Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi-Nya ; karena hal itu akan membuka wawasan kita tentang perjalanan hidup dan kisah para Nabi serta orang-orang saleh, dan bagaimana mereka begitu takut terhadap kekhilafan sekecil apa pun yang mungkin timbul dari diri mereka, padahal tabungan ketaatan mereka amatlah besar dan agung, agar kita dapat meneladani dan mengambil pelajaran dari mereka.

Al-Qur'an menceritakan tentang Adam dan Hawa saat keduanya berdoa: "Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi'." (QS. Al-A'raf [7]: 23).

Dan menceritakan tentang Nuh saat ia berkata: "...Dan sekiranya Engkau tidak mengampuni aku dan menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Hud [11]: 47).

Dan menceritakan tentang Ibrahim saat ia berkata: "dan Yang amat aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat." (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 82). Dan masih banyak lagi ayat selain ini.

  1. Mengkaji dan mempelajari perjalanan hidup serta rekam jejak para Salaf (generasi pendahulu yang saleh) dari umat ini, di mana mereka melobi dan melakukan amal yang sangat banyak dengan tetap menjaga kejujuran dan keikhlasan, namun mereka tidak pernah menggantungkan tumpuan pada amal tersebut. Bahkan dalam banyak keadaan, mereka senantiasa mencurigai/menuduh diri mereka sendiri (kurang ikhlas); hal ini termasuk perkara yang mampu menggerakkan emosi dan kepekaan jiwa untuk meneladani atau setidaknya menyerupai mereka.

Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq—sahabat Nabi , teman beliau di gua Tsur, dan orang yang paling sempurna imannya di kalangan umat ini setelah Nabi —perkataannya: "Seandainya manusia mengetahui apa yang ada pada diriku (berupa ketakutan kepada Allah), niscaya mereka akan melemparkan tanah ke atas kepalaku."

Dan ketika Imam Asy-Syafi'i menjelang wafatnya, sebagian sahabatnya bertanya kepada beliau: "Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Abu Abdillah?"

Maka beliau menjawab—padahal beliau adalah sosok yang digambarkan oleh muridnya, Ahmad bin Hanbal, bahwa beliau laksana matahari bagi dunia dan kesehatan bagi manusia—dengan perkataannya: "Aku memasuki pagi hari ini dalam keadaan akan berpisah dari dunia, meningggalkan saudara-saudara, akan menyongsong keburukan amalku, dan akan menghadap Allah Azza wa Jalla, sedang aku tidak tahu apakah rohku diperintahkan menuju surga sehingga aku mengucapkan selamat, ataukah diperintahkan menuju neraka sehingga aku berduka." Kemudian beliau melantunkan bait syair:

Ketika hatiku membatu dan jalan-jalanku terasa sempit,

Jadikanlah harapanku pada ampunan-Mu sebagai tangga penerang.

Dosaku terasa amat besar bagiku, namun ketika aku bandingkan

Dengan ampunan-Mu wahai Rabbku, ternyata ampunan-Mu jauh lebih agung.

  1. Mendorong dan mengarahkan diri untuk sibuk dengan masalah-masalah pokok dan fundamental (ummahat wa ushul al-masail), seraya berpaling dari perkara-perkara yang aneh dan nyleneh (asy-syawadz wa al-ghara'ib); karena hal itu dapat menjaga waktu dan memberikan kemanfaatan pada sisa umur.
  2. Memutuskan hubungan (pemboikotan) terhadap orang-orang yang tertipu daya (al-mughtarrin) dan menjauhi pergaulan dengan mereka, seraya melemparkan diri ke dalam dekapan orang-orang yang kenal (arif) kepada Rabb mereka dan menghargai-Nya dengan penghargaan yang sebenar-benarnya; yaitu orang-orang yang terus beramal namun tidak menyandarkan diri pada amalnya karena takut telah terjadi sesuatu dari diri mereka yang menghalangi diterimanya amal tersebut, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji mereka dalam firman-Nya:

"Sungguh, orang-orang yang karena takut akan (azab) Rabb mereka, mereka berhati-hati..." Ayat-ayat [QS. Al-Mu'minun [23]: 57-61].

  1. Melakukan evaluasi diri (muhasabatu an-nafs) secara kontinu/berkala, serta mendidik dan menundukkannya hingga ia melepaskan diri dari seluruh akhlak yang tercela. Dan sungguh benar Rasulullah ketika bersabda:

عَنْ أَبِي يَعْلَى شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأَمَانِيَّ

Dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus, dari Nabi , beliau bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan/mengoreksi dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian; sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya lalu berangan-angan hampa kepada Allah."

(HR. Ibn Majah dalam Al-Sunan, Kitab Az-Zuhd, Bab Zikr Al-Mawt wa Al-Isti'dad Luh [2/1423, No. 4260] dari hadits Abu Ya'la Syaddad bin Aus secara marfu').

  1. Pemantauan/pendampingan dari orang lain terhadap dirinya, di mana mereka menjalankan kewajiban terhadapnya berupa pemberian nasihat yang dipadukan dengan syarat-syarat dan adab-adabnya, kemudian mendorongnya—dengan berbagai metode—untuk menerima nasihat tersebut dan melaksanakannya betapa pun berat atau sulitnya.
  2. Memindahkan/mengundurkan posisinya dari garis depan (al-mawaqi' al-amamiuyah), meskipun untuk sementara waktu, sampai ia sembuh dari penyakit ini dan jiwanya kembali kepada fitrah serta kecemerlangannya.
  3. Penerapan adab-adab syar'i oleh orang-orang di sekitarnya dalam hal pujian, penghormatan, dan ketundukan, guna menutup celah bagi setan dan memutus penyakit ini hingga ke akar-akarnya dari dalam jiwa.
  4. Kesadaran dan kesungguhan orang-orang di sekitarnya untuk menampakkan beberapa amal kebaikan di hadapan orang yang tertimpa penyakit ghurur, agar setan tidak menyendiri bersama mereka dan membinasakan mereka.
  5. Kesadaran para teladan (dzawu al-uswah wa al-qudwah) untuk memperlakukan para pengikut atau pengambil teladan secara adil dan setara (bis sawiyyah); agar tidak tersisa celah bagi setan menuju jiwa, sehingga jiwa selamat dari bisikan dan tipu dayanya.
  6. Memohon pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla; karena Subhanahu akan menolong siapa saja yang berdoa kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan bersandar pada-Nya:

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut [29]: 69).

 

Sumber:

buku آفات على الطريق karya الدكتور السيد محمد نوح (Sayyid Muhammad Nuh)

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat