Ghurur
AL-GHURŪR (TERPEDAYA)
Penyakit
keenam yang menimpa sebagian aktivis dakwah (para pekerja di jalan Allah)—yang
mana mereka wajib berusaha keras untuk membebaskan diri darinya dan tidak
terjerumus lagi ke dalamnya—adalah al-ghurūr (terpedaya/rasa bangga diri
yang memusnahkan). Agar pembahasan kita mengenai penyakit ini memiliki dimensi
yang jelas serta batasan yang terukur, kita akan membaginya sebagai berikut:
Pertama:
Makna Al-Ghurūr
Secara
Bahasa: Al-Ghurūr dalam bahasa Arab mempunyai beberapa arti, yang
terpenting di antaranya:
- Tipu daya/Kecohan:
Baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun terhadap diri sendiri dan
orang lain secara bersamaan. Dikatakan: gharra-hu, yaghurru-hu,
ghurūran (ia menipunya). Dan gharra nafsahu yaghurruhā ghurūran
berarti ia menipu dirinya sendiri. [Lihat: Lisān al-'Arab (5/11),
materi: (غرر).]
Dari makna inilah firman Allah Swt.: "Dan setan itu hanya menjanjikan
tipu daya belaka kepada mereka." (QS. An-Nisā': 120).
- Segala sesuatu yang
menyebabkan atau menjatuhkan seseorang pada penipuan/keterperdayaan:
Al-Jauhari berkata: "Al-ghurūr" dengan huruf ghin
yang dibaca dammah berarti kesenangan dunia yang menipu. [Lihat:
Aṣ-Ṣiḥāḥ (2/768), materi: (غرر)]
Dari makna inilah firman Allah Swt.: "Wahai manusia, sesungguhnya
janji Allah itu benar. Maka, jangan sekali-kali kehidupan dunia menipu
kamu dan jangan sekali-kali (setan) yang pandai menipu bertindak menipu
kamu tentang Allah." (QS. Fāṭir:
5).
Secara
Istilah: Adapun dalam terminologi para dai atau aktivis dakwah, al-ghurūr
adalah rasa kagum seorang pekerja (aktivis) terhadap dirinya sendiri ('ujub)
yang mencapai tingkatan memandang rendah atau meremehkan segala hal yang
dihasilkan oleh orang lain jika dibandingkan dengan apa yang dihasilkannya,
namun tanpa merendahkan zat atau menjatuhkan pribadi orang-orang tersebut
secara langsung.
Tidak
diragukan lagi bahwa siapa pun yang berada pada kondisi ini, maka ia adalah
orang yang tertipu/terpedaya. Dengan demikian, kita dapat memahami titik temu
antara makna istilah dan makna bahasanya.
Kedua:
Sebab-Sebab Al-Ghurūr
Mengingat
al-ghurūr merupakan tingkatan rasa kagum pada diri sendiri ('ujub)
yang sangat amat, maka sebab-sebab dan faktor penyulut yang menjatuhkannya pada
dasarnya adalah sebab-sebab ujub, dengan beberapa tambahan:
1.
Mengabaikan Pemeriksaan Diri (Taftīsy) dan Introspeksi Diri (Muhāsabah)
Sebab
terjadinya ghurūr bisa jadi adalah karena melalaikan diri dari
pemeriksaan dan introspeksi. Hal itu karena sebagian aktivis dakwah mungkin
teruji dengan penyakit ujub (kagum pada diri sendiri). Lantaran ia
mengabaikan dirinya dari melakukan pemeriksaan dan introspeksi, penyakit
tersebut makin menguasai dirinya lalu berubah menjadi sikap meremehkan atau
memandang rendah apa yang dilakukan orang lain dibanding apa yang ia lakukan;
sehingga ia pun menjadi orang yang maghrūr (terpedaya).
Boleh
jadi inilah rahasia di balik wasiat Islam untuk senantiasa memeriksa diri dan
mengintrospeksinya secara berkelanjutan: "Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ḥasyr: 18).
2.
Pengabaian, Kurangnya Pembinaan/Pemantauan (Mutāba'ah), dan Kurangnya
Bimbingan dari Orang Lain
Penyebab
ghurūr juga bisa berasal dari pengabaian, tidak adanya pemantauan, serta
kurangnya bimbingan dari orang lain. Sebagian aktivis dakwah yang terkena
penyakit ujub mungkin memiliki kemauan yang lemah, tekad yang rapuh, dan
semangat yang kendur sehingga tidak mampu menyucikan dirinya secara mandiri
dari penyakit ini. Ia membutuhkan pemantauan dari orang lain, pendampingan di
sisinya, serta bimbingan tangan mereka. Namun, orang lain bisa saja tidak
menyadari hal tersebut lalu alpa dalam menjalankan peran dan kewajibannya. Pada
saat itulah, penyakit ini menguat di dalam jiwa dan seiring berjalannya waktu
berubah menjadi ghurūr—na'ūżu billāh (kita berlindung kepada
Allah darinya).
Mungkin
inilah rahasia di balik penekanan Islam terhadap pentingnya nasihat, hingga
menjadikan seluruh agama berporos dan kembali kepadanya. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ
تَمِيمٍ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: «الدِّينُ النَّصِيحَةُ» قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ
وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
"Agama
itu adalah nasihat." Kami bertanya, "Untuk siapa?" Beliau
bersabda, "Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin,
dan awam mereka." (HR. Muslim).
Dan
boleh jadi ini pula rahasia seruan Islam untuk saling menanggung (taḍāmun) dan bekerja sama di
antara sesama muslim. Allah Swt. berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu
dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa..." (QS. Al-Mā'idah: 2).
Serta
sabda Nabi ﷺ:
المُؤْمِنُ مِرْآةُ
المُؤْمِنِ، وَالمُؤْمِنُ أَخُو المُؤْمِنِ، يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ،
وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ
"Seorang
mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya, dan seorang mukmin adalah saudara
bagi mukmin lainnya; ia menjaga hartanya dari kehancuran dan melindunginya dari
belakang." (HR. Abu Dawud).
3.
Sikap Berlebihan (Ghuluw) atau Terlalu Keras (Tasjdid) dalam
Beragama
Sebab
ghurūr berikutnya adalah sikap ghuluw (melampaui batas) atau
terlalu keras dalam beragama. Sebagian aktivis dakwah menjalani ajaran Allah
dengan sikap ekstrim dan keras. Setelah beberapa waktu, ia melihat ke
sekelilingnya dan menyaksikan para aktivis dakwah lainnya menempuh jalan
pertengahan (wasatīyah). Karena kelalaiannya atau ketidakpahamannya
terhadap tabiat agama ini, ia menyangka bahwa apa yang dilakukan orang lain itu
adalah bentuk kelalaian (tafrīṭ)
atau pengabaian. Prasangka ini terus menyeretnya hingga pada tingkat meremehkan
dan memandang kecil semua yang dihasilkan oleh mereka dibanding apa yang ia
lakukan. Itulah ghurūr.
Mungkin
inilah di antara rahasia seruan Islam menuju sikap pertengahan (wasatīyah),
bahkan peringatannya dari sikap ghuluw atau terlalu keras dalam
beragama. Sebagaimana bersabda Nabi ﷺ kepada sekelompok orang yang berniat untuk membujang (memutus
syahwat) dan menjauhi kehidupan duniawi:
أَنْتُمُ الَّذِينَ
قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا؟ أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ
وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ،
وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
"Kaliankah
yang telah mengatakan begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah
orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya di antara
kalian. Namun, aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan tidur, serta aku pun
menikahi wanita. Maka, barang siapa yang membenci sunnahku, ia bukan dari
golonganku." (HR. Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb an-Nikāḥ, Bāb at-Targhīb fī an-Nikāḥ (7/2); Muslim dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb an-Nikāḥ, Bāb Istiḥbāb an-Nikāḥ liman Tāqat Nafsuhu Ilayh...
dst. (2/1018, no. 1401); An-Nasa'i dalam As-Sunan: Kitāb an-Nikāḥ, Bāb an-Nahyi 'an at-Tabattul
(6/60, no. 3217); dan Ahmad dalam Al-Musnad (3/241, 259, 285); semuanya dari
hadis Anas bin Malik r.a. secara marfu', dan lafaz ini milik Al-Bukhari.).
Dan
beliau ﷺ
bersabda:
هَلَكَ
المُمَتَنِّعُونَ» (قَالَهَا ثَلَاثًا)
"Binasalah
orang-orang yang berlebih-lebihan (al-mutanaṭṭi'ūn)!" Beliau mengucapkannya tiga
kali. Yakni: orang-orang yang mendalam-dalamkan dan melampaui batas dalam
perkataan serta perbuatan mereka. (HR. Muslim. Diriwayatkan oleh Muslim
dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb al-'Ilm, Bāb Halaka
al-Mutanaṭṭi'ūn
(4/2055, no. 2670) dari hadis Abdullah bin Mas'ud r.a. secara marfu'.).
Serta
sabda beliau:
إِيَّاكُمْ
وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ
فِي الدِّينِ
"Jauhilah
oleh kalian sikap berlebih-lebihan (ghuluw) dalam beragama, karena sesungguhnya
perkara yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap
berlebih-lebihan dalam beragama." (HR. Ahmad. Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam Al-Musnad (1/215, 347) dari hadis Ibn 'Abbas r.a.)
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ،
وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا، وَقَارِبُوا،
وَأَبْشِرُوا... الحديث
"Sesungguhnya
agama ini mudah. Tidaklah seseorang memperberat agama ini melainkan ia akan
dikalahkannya. Maka bertindaklah lurus (proporsional), mendekatlah (pada
kebenaran), dan berilah kabar gembira..." (Al-Hadits) (HR. Bukhari. Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb al-Īmān, Bāb ad-Dīnu
Yusr (1/16) dari hadis Abu Hurairah r.a. secara marfu'.).
4.
Mendalami Ilmu—Khususnya Masalah-Masalah Asing dan Ganjil (Gharā'ib wa
Syawāż)—Serta Mengabaikan Amal
Sebab
ghurūr juga dapat timbul dari sikap mendalami ilmu, terutama
masalah-masalah yang ganjil dan janggal, disertai dengan mengabaikan amal
nyata. Sebagian aktivis dakwah menjadikan fokus utamanya hanyalah mendalami
ilmu khususnya topik-topik ganjil dan terasing (syawāż), sementara ia
melalaikan amal. Boleh jadi, ketika mengangkat masalah-masalah tersebut, ia
mengamati adanya kelalaian sebagian aktivis lain atau kurangnya penguasaan
mereka terhadap topik itu. Hal itu bisa karena masalah tersebut bersifat
sekunder (sānawīyah) yang tidak memudaratkan jika tidak diketahui, atau
karena tidak berimplikasi pada amal nyata. Lantas terbersit dalam pikirannya
bahwa orang-orang itu tidak menguasai masalah ilmu sedikit pun, atau jika
menguasainya pun hanya sedikit dibanding masalah-masalah asing/ganjil yang ia
miliki. Bisikan ini terus berulang dan mendesak dalam jiwanya hingga berubah
menjadi sikap menghinakan dan meremehkan apa yang ada pada orang lain dibanding
apa yang ada padanya. Itulah penyakit ghurūr.
Mungkin
itulah rahasia di balik seruan Islam agar pencarian ilmu selalu berkisar pada
hal-hal yang bermanfaat dan berguna. Sebagaimana doa yang dipanjatkan oleh
Rasulullah ﷺ:
اللَّهُمَّ إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ
نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا
"Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang
tidak khusyuk, dari jiwa yang tidak pernah puas, dan dari doa yang tidak
dikabulkan." (HR. Muslim. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb aż-Żikr wad-Du'ā'
wat-Tawbah wal-Istighfār, Bāb at-Ta'awwuż min Syarri Mā 'Amila wa min Syarri Mā
Lam Ya'mal (4/2088, no. 2722) dari hadis Zaid bin Arqam r.a. secara marfu',
namun ia menambahkan di depannya: "Allāhumma innī a'ūżu bika minal-'ajzi
wal-kasali...".).
Bahkan
Islam menegaskan agar ilmu tersebut bergandengan dengan amal. Jika tidak, maka
yang terjadi adalah kebinasaan dan kerugian. Allah Swt. berfirman: "Wahai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan." (QS. Aṣ-Ṣaff: 2–3).
"Apakah
kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan
dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu
mengerti?" (QS. Al-Baqarah: 44).
Nabi
yang mulia ﷺ
juga bersabda:
يُجَاءُ بِالرَّجُلِ
يَوْمَ القِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي
النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ
النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ
تَأْمُرُنَا بِالمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ المُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ
بِالمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ المُنْكَرِ وَآتِيهِ
"Seseorang
akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka
terburailah usus-usus perutnya di dalam neraka itu. Ia berputar-putar di sana
sebagaimana keledai berputar mengitari penggilingannya. Penghuni neraka pun
berkumpul mengelilinginya seraya berkata, 'Wahai Fulan, ada apa denganmu?
Bukankah dulu engkau menyuruh kami berbuat makruf dan melarang kami dari
keburukan?' Ia menjawab, 'Dahulu aku menyuruh kalian berbuat makruf tetapi aku
sendiri tidak mengerjakannya, dan aku melarang kalian dari keburukan tetapi aku
sendiri mengerjakannya.'" (HR. Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan
oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb Bad'il-Khalq, Bāb Ṣifatin-Nāri
wa Annahā Makhlūqah (4/147); dan Muslim dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb aż-Zuhd war-Raqā'iq,
Bāb 'Uqūbati Man Ya'muru bil-Ma'rūfi wa Lā Yaf'aluh... (4/2290, 2291, no. 2989)
dari hadis Usamah bin Zaid r.a. secara marfu', dan lafaz ini milik Al-Bukhari).
5.
Terfokus pada Amalan Ketaatan dan Melupakan Maksiat serta Kejelekan
Sebab
timbulnya ghurūr juga bisa berupa sikap terhenti/terfokus hanya pada
amalan taat sembari melupakan kemaksiatan dan keburukan-keburukan yang
dilakukan. Kita semua adalah manusia biasa, dan watak manusia—selain para
nabi—adalah tempatnya benar dan salah. Apabila seorang aktivis melalaikan
kenyataan ini, sering kali ia hanya terpaku pada ketaatan atau kebenaran yang
dilakukannya, sementara pada saat yang sama ia melupakan maksiat atau kesalahan
yang diperbuatnya. Akibatnya adalah munculnya rasa kagum pada diri sendiri ('ujub)
yang disertai dengan sikap meremehkan apa yang terjadi pada orang lain jika
disandingkan dengan amalan yang ia hasilkan. Dan inilah ghurūr.
Allah
Swt. telah menarik perhatian pada sebab atau pendorong ini ketika Dia memuji
sekolompok orang beriman yang menunaikan ketaatan namun tetap merasa takut jika
ada hal-hal yang menghalangi diterimanya amalan tersebut. Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang-orang yang karena takut akan (azab) Tuhan mereka,
mereka sangat berhati-hati; dan orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Tuhan
mereka; dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka (dengan sesuatu
apa pun); dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan
hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali
kepada Tuhan mereka; mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan merekalah
orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minūn: 57–61).
Sayyidati
'Aisyah r.a. berkata, "Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah maksud
dari firman Allah (Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka
berikan dengan hati yang takut...) adalah orang yang mencuri, berzina, dan
meminum khamar sementara ia takut kepada Allah Swt.?" Beliau ﷺ menjawab:
لَا يَا بِنْتَ
الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُ الَّذِي يُصَلِّي وَيَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ، وَهُوَ
يَخَافُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
"Bukan,
wahai putri As-Siddiq. Akan tetapi, dia adalah orang yang shalat, berpuasa, dan
bersedekah, namun ia tetap takut kepada Allah Azza wa Jalla (amalannya tidak
diterima)." (HR. Tirmidzi. Hadis 'Aisyah r.a. diriwayatkan oleh
At-Tirmidzi dalam As-Sunan: Kitāb Tafsīr al-Qur'ān, Bāb Min Sūrah al-Mu'minūn
(5/306, 307, no. 3175) secara marfu', dan beliau memberi komentar: "Hadis
ini juga diriwayatkan dari Abdurrahman bin Sa'id, dari Abu Hazim, dari Abu
Hurairah, dari Nabi ﷺ
semisal ini...".).
Nabi
ﷺ juga mengarahkan
perhatian pada hal ini ketika beliau menyeru agar sandaran utama setelah
selesai beramal adalah karunia dan rahmat Allah, bukan pada amal itu sendiri.
Sebab jika bersandar pada amal, yang terjadi adalah ghurūr dan
kebinasaan. Beliau ﷺ
bersabda:
لَنْ يُنَجِّيَ أَحَدًا
مِنْكُمْ عَمَلُهُ» قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «وَلاَ
أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِرَحْمَتِهِ، سَدِّدُوا، وَقَارِبُوا،
وَاغْدُوا، وَرُوحُوا، وَشَيْءٌ مِنَ الدُّلْجَةِ، وَالقَصْدَ القَصْدَ تَبْلُغُوا
"Amal
salah seorang di antara kalian tidak akan pernah menyelamatkannya." Para
sahabat bertanya, "Apakah termasuk engkau wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab, "Termasuk aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya
kepadaku. Maka bertindaklah lurus, mendekatlah (pada kebenaran), beribadahlah
di waktu pagi, sore, dan sebagian waktu malam. Dan bersikaplah pertengahan
(konsisten dan tidak berlebihan), niscaya kalian akan sampai (pada
tujuan)." (HR. Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari
dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb ar-Riqāq, Bāb al-Qaṣda
wal-Mudāwamata 'alal-'Amal (8/122, 123); dan Muslim dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb Ṣifāt al-Munāfiqīna wa
Aḥkāmihim, Bāb Lan
Yadkhula al-Jannata Aḥadun
bi-'Amalih... dst. (4/2169, 2171, no. 2816, 2818) dari hadis Abu Hurairah dan
'Aisyah r.a. secara marfu' dan yang semakna dengannya, lafaz milik Al-Bukhari).
Seluruh
penjelaskan ini telah diungkapkan secara amat gamblang oleh Sayyidina Abdullah
bin Mas'ud r.a. ketika beliau menerangkan pengaruh dari mengingat dosa dan
melupakannya terhadap perilaku seseorang. Beliau berkata:
إِنَّ المُؤْمِنَ يَرَى
ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ
الفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
"Sesungguhnya
seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah ia sedang duduk di bawah kaki
gunung yang ia takuti akan runtuh menimpanya. Sedangkan orang yang jahat
(fājir) melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di depan
hidungnya, lalu ia mengibaskannya begini (dengan tangannya)." (HR.
Bukhari. Atsar Abdullah bin Mas'ud r.a. diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Aṣ-Ṣaḥīḥ: Kitāb ad-Da'awāt, Bāb
at-Tawbah (8/83, 84) secara mauquf padanya. Sebagian mengklaim bahwasanya atsar
ini marfu', namun hal itu adalah kekeliruan (waham). Lihat: Fath al-Bari
(11/105)).
6.
Cenderung dan Bersandar kepada Dunia (Ar-Rukūn ilā ad-Dunyā)
Sebab
timbulnya ghurūr juga bisa berasal dari sikap cenderung/bersandar kepada
dunia. Sebagian aktivis dakwah mungkin menyadari bahwa dirinya teruji dengan
penyakit ujub (kagum pada diri sendiri). Namun, karena ia cenderung pada
dunia dan tenggelam di dalamnya, rasa malas pun menyelimutinya sehingga ia
tidak mampu mengumpulkan keteguhan hatinya untuk mengobati jiwanya. Bahkan ia
mulai menunda-nunda (taswīf) dan mengakhirkan taubat. Seiring
berjalannya waktu, rasa kagum pada diri sendiri ('ujub) tersebut berubah
menjadi penyakit yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya, yaitu al-ghurūr.
Al-Qur’an
Al-Karim telah menarik perhatian pada sebab atau pendorong ini melalui celaan
terhadap dunia dan peringatan darinya apabila manusia menjadikannya sebagai
tujuan atau cita-cita. Allah Ta’ala berfirman:
“Ketahuilah
bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling
membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak cucu.
(Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani,
kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur...” [QS. Al-Hadid: 20].
“Buatlah
untuk mereka (umat manusia) perumpamaan kehidupan dunia, yaitu seperti air yang
Kami turunkan dari langit, lalu menyerap ke dalam tanaman-tanaman di bumi,
kemudian (tanaman-tanaman itu) menjadi kering yang diterbangkan oleh angin.
Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” [QS. Al-Kahfi: 45].
“Sesungguhnya
orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan
kehidupan dunia, merasa tenteram dengannya, dan orang-orang yang melalaikan
ayat-ayat Kami, mereka itu tempat tinggalnya adalah neraka, karena apa yang
selalu mereka kerjakan.” [QS. Yunus: 7-8].
Nabi
bersabda:
عَسَ عَبْدُ
الدِّيْنَارِ، وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ، وَعَبْدُ الْخَمِيْصَةِ، إِنْ أُعْطِيَ
رَضِيَ، وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ، تَعِسَ وَانْتَكَسَ، وَإِذَا شِيْكَ فَلَا
انْتَقَشَ، طُوْبَى لِعَبْدٍ أَخَذَ بِعِنَانِ فَرَسِهِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ،
أَشْعَثَ رَأْسُهُ، مُغْبَرَّةً قَدَمَاهُ، إِنْ كَانَ فِي الْحِرَاسَةِ كَانَ فِي
الْحِرَاسَةِ، وَإِنْ كَانَ فِي السَّاقَةِ كَانَ فِي السَّاقَةِ، إِنِ
اسْتَأْذَنَ لَمْ يُؤْذَنْ لَهُ، وَإِنْ شَفَعَ لَمْ يُشَفَّعْ.
“Celakalah
hamba dinar, hamba dirham, dan hamba pakaian berpola/mewah. Jika diberi ia
ridha, dan jika tidak diberi ia murka. Celakalah ia dan tersungkurlah ia.
Apabila ia tertusuk duri, semoga tidak dapat dicabut. Berbahagialah seorang
hamba yang memegang tali kekang kudanya di jalan Allah; rambutnya kusut dan
kedua kakinya berdebu. Jika ia bertugas di benteng penjagaan, ia berada di
benteng penjagaan. Dan jika ia bertugas di pasukan belakang, ia berada di
pasukan belakang. Jika ia meminta izin, tidak diizinkan baginya; dan jika ia
memberi syafaat (rekomendasi), tidak diterima syafaatnya.” (HR. Bukhari dan
Ibn Majah) [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih:
Kitab Al-Jihad, Bab Al-Hirāsah fi Al-Ghazwi fi Sabīlillāh (4/41, 42),
dan Kitab Al-Riqaq, Bab Mā Yuttaqā min Fitnatil Māl (8/114, 115); serta
Ibn Majah dalam Al-Sunan: Kitab Al-Zuhd, Bab Fi Al-Muktsirīn
(2/1382, 1385 no. 4135, 4136). Keduanya dari hadits Abu Hurairah secara marfu'
dengannya].
Sangat
jarang beliau bangkit dari suatu majelis hingga beliau
berdoa dengan doa-doa ini untuk para sahabatnya:
اللَّهُمَّ اقْسِمْ
لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا يَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيْكَ، وَمِنْ
طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَا تُهَوِّنُ
بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، وَمَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا
وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ
ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا
تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ
هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا
يَرْحَمُنَا.
“Ya
Allah, bagikanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara
kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu; dan ketaatan kepada-Mu yang dapat
menyampaikan kami ke surga-Mu; serta keyakinan yang dengannya Engkau
meringankan musibah-musibah dunia bagi kami. Berilah kami kenikmatan dengan
pendengaran, penglihatan, dan kekuatan kami selama Engkau menghidupkan kami,
dan jadikanlah ia terus tersisa pada kami. Jadikanlah pembalasan kami atas
orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami.
Janganlah Engkau jadikan musibah kami terjadi pada agama kami. Janganlah Engkau
jadikan dunia sebagai cita-cita terbesar kami dan batas puncak pengetahuan
kami, serta janganlah Engkau kuasakan atas kami orang yang tidak menyayangi
kami.” (HR. Tirmidzi) [Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Al-Sunan:
Kitab Al-Da'awāt, Bab 80 (5/493, 494 no. 3502) dari hadits Ibn Umar secara marfu'
dengannya. Beliau memberi komentar atasnya: "Hadits ini hasan gharib".].
Sungguh,
Salafus Saleh umat ini sangat menyadari dampak buruk yang ditimbulkan oleh
sikap bersandar dan merasa tenteram kepada dunia bagi seseorang. Oleh karena
itu, mereka berpaling darinya kecuali sekadar untuk dijadikan bekal menuju
akhirat. Hal tersebut sering kali terucap dari lisan-lisan mereka. Ali berkata: “Dunia telah beranjak pergi
meninggalkan kita, sedangkan akhirat telah beranjak datang menghampiri. Dan
masing-masing dari keduanya memiliki anak-anak (pengikut). Maka jadilah kalian
anak-anak akhirat, dan janganlah menjadi anak-anak dunia. Sebab hari ini adalah
waktunya beramal tanpa ada hisab (perhitungan), sedangkan besok (akhirat)
adalah waktunya hisab tanpa ada lagi amal.” (HR. Bukhari) [Atsar ini
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Riqaq, Bab Fi
Al-Amal wa Thūlihi (8/110) dari hadits Ali secara mauquf padanya].
Al-Hasan
berkata: “Barangsiapa yang menyaingimu dalam
urusan agamamu, maka saingilah dia. Dan barangsiapa yang menyaingimu dalam
urusan duniamu, maka lemparkanlah dunia itu ke lehernya.” [Atsar ini disebutkan
oleh Al-Ghazali dalam Ihyā' 'Ulūmiddīn (3/207)].
Sebagian
dari mereka mengambarkan kesadaran dan kepekaan rasa ini dengan bersyair:
Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang cerdas
Mereka
menceraikan dunia dan takut akan fitnah*
Merek memperhatikan dunia, lalu ketika mereka tahu
Bahwa
dunia bukanlah tanah air bagi orang yang hidup*
Maka mereka menjadikannya bagai lautan yang dalam
Dan
menjadikan amal-amal saleh di dalamnya sebagai bahtera*
[Bait-bait
syair ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam muqaddimah kitabnya Riyādh
Al-Shālihīn (hal. 2) tanpa menisbahkannya kepada seseorang].
7.
Melihat Sebagian Tokoh Teladan (Uswah/Qudwah) berada pada Kondisi di
Bawah Standar yang Seharusnya
Sebab
terjadinya sikap terperdaya (ghurur) adakalanya berupa pemandangan
terhadap sebagian tokoh peneladan (uswah) atau panutan (qudwah)
yang berada pada kondisi di bawah standar yang seharusnya. Hal itu karena
sebagian tokoh panutan—karena satu dan lain hal—mungkin turun dari derajat yang
seharusnya, yaitu memegang prinsip عزيمة ('azimmah [prinsip dasar yang
teguh/ketat]) dalam kebanyakan kondisi, menuju keadaan yang lebih rendah, yaitu
mengambil رخصة
(rukhshah [kemudahan/keringanan]) pada sebagian waktu.
Boleh
jadi hal tersebut dilihat oleh orang yang sedang berusaha meneladani dan
mencontoh mereka. Lantaran minimnya deposit pemahaman fikih (fiqh) yang
ia miliki, atau belum sempurnanya pembinaan (tarbiyah) dirinya, ia
berilusi atau mengira bahwa para tokoh tersebut berada jauh di bawahnya dalam
hal beramal. Ilusi atau sangkaan ini terus membayangi dan mendesaknya hingga
berubah—wal 'iyadzu billah—menjadi sikap ujub (‘ujub / mengagumi
diri sendiri), yang kemudian berlanjut menjadi sikap terperdaya (ghurur).
Mungkin
hal inilah yang menjadi sebagian rahasia di balik seruan Islam untuk menjauhi
tempat-tempat prasangka/tuduhan (mawatin at-tuham), yaitu dengan cara
menjelaskan sisi kebenaran dari seluruh tindakan mubah yang terkadang dapat
memicu prasangka buruk.
Dari
Shafiyyah binti Huyay —istri Nabi
—bahwasanya ia datang
mengunjungi Rasulullah
saat beliau sedang beri'tikaf di masjid pada
sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Ia berbincang-bincang di sisi beliau
sesaat, kemudian ia bangkit untuk kembali pulang. Maka Nabi
berdiri bersamanya untuk mengantarkannya
pulang. Hingga ketika beliau sampai di dekat pintu Masjid di samping pintu Ummu
Salamah, melintaslah dua orang laki-laki dari kaum Anshar, lalu keduanya
mengucapkan salam kepada Rasulullah
. Maka Nabi
bersabda kepada keduanya:
عَلَى رِسْلِكُمَا،
إِنَّمَا هِيَ صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ.
“Pelan-pelanlah
kalian berdua, sesungguhnya wanita ini adalah Shafiyyah binti Huyay.”
Keduanya
berkata: “Maha Suci Allah, wahai Rasulullah!” (Keduanya merasa berat/kaget atas
penjelasan itu). Lalu Nabi bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ
يَبْلُغُ مِنَ الْإِنْسَانِ مَبْلَغَ الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيْتُ أَنْ يَقْذِفَ
فِيْ قُلُوْبِكُمَا شَيْئًا.
“Sesungguhnya
setan itu menyusup ke dalam diri manusia melalui aliran darah, dan aku khawatir
setan akan membisikkan sesuatu (prasangka buruk) ke dalam hati kalian berdua.” (HR.
Bukhari dan Muslim) [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih:
Kitab Al-I'tikaf, Bab Hal Yakhruju Al-Mu'takifu li Hawā'ijihi ilā Bāb
Al-Masjid? (3/64, 65); dan Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Salam,
Bab Bayān Annahu Yustahabbu liman Ru'iya Khāliyan bi Imra'atin wa Kānat
Zaujatahu au Mahraman Lahu... alkh (4/1712, 1713 no. 2175) dari hadits
Shafiyyah secara marfu' dengannya].
Yazid
bin Al-Aswad pernah shalat bersama Nabi ketika ia masih seorang pemuda. Ketika selesai
shalat, tiba-tiba ada dua orang laki-laki yang tidak ikut shalat di sudut
masjid. Maka beliau memanggil keduanya, lalu keduanya didatangkan dalam keadaan
gemetar urat lehernya (karena takut). Beliau bersabda: “Apa yang menghalangi
kalian berdua untuk shalat bersama kami?” Keduanya menjawab: “Kami telah shalat
di tempat kediaman kami.” Beliau bersabda:
لَا تَفْعَلُوْا، إِذَا
صَلَّى أَحَدُكُمْ فِيْ رَحْلِهِ، ثُمَّ أَدْرَكَ الْإِمَامَ، وَلَمْ يُصَلِّ،
فَلْيُصَلِّ مَعَهُ، فَإِنَّهَا لَهُ نَافِلَةٌ.
“Janganlah
kalian berbuat demikian! Apabila salah seorang dari kalian telah shalat di
kediamannya, kemudian ia menjumpai imam (berjamaah) dan ia belum shalat
(bersama imam itu), maka hendaklah ia shalat bersamanya, karena shalat itu
menjadi ibadah sunnah baginya.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, dan An-Nasa'i)
[Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Al-Sunan: Kitab Al-Shalah,
Bab Fi Man Shallā fi Manzilihi tsumma Adraka Al-Jamā'ata Yushallī Ma'ahum
(1/157 no. 575); At-Tirmidzi dalam Al-Sunan: Kitab Al-Shalah, Bab Mā
Jā'a fi Al-Rajuli Yushallī Wahdahu tsumma Yudriku Al-Jamā'ah (1/424-426 no.
219), dan ia berkomentar: "Hadits Yazid bin Al-Aswad adalah hadits hasan
shahih"; serta An-Nasa'i dalam Al-Sunan: Kitab Al-Imamah, Bab I'ādat
Al-Shalāh ma'a Al-Jamā'ah ba'da Shalāt Al-Rajuli li Nafsihi (2/112 no. 857)
dari hadits Yazid bin Al-Aswad secara marfu' dengannya].
Oleh
karena itu, Ibn Daqiq Al-'Id berkata: “(Tindakan ini—yaitu menjaga diri dari
segala hal yang memicu timbulnya prasangka buruk—sangat ditekankan bagi para
ulama dan orang-orang yang dijadikan teladan. Maka tidak boleh bagi mereka
melakukan suatu perbuatan yang memicu prasangka buruk, meskipun mereka memiliki
alasan pembenar/penjelas di dalamnya; karena hal tersebut dapat menjadi sebab
hilangnya manfaat dari ilmu mereka. Para ulama juga menyatakan: Sesungguhnya
hendaknya bagi seorang hakim untuk menjelaskan sisi kebenaran/keadilan kepada
pihak yang dihukumi jika hal itu samar baginya, dan ini termasuk dalam bab
menepis prasangka terkait kelaliman dalam penjatuhan hukum).” [Lihat: Ihkām
Al-Ahkām karya Ibn Daqiq Al-'Id (2/57); dan darinya diukil oleh Ibn Hajar
dalam Fath Al-Bārī (4/280)].
8.
Berlebihan dalam Menyembunyikan Amal yang Dilakukan oleh Sebagian Aktivis (Al-'Amilun)
Sebab
terjadinya sikap terperdaya (ghurur) adakalanya juga berupa tindakan
berlebihan dalam menyembunyikan amal yang dilakukan oleh sebagian aktivis
dakwah. Hal itu karena dorongan untuk merealisasikan hakikat ikhlas terkadang
membawa sebagian aktivis untuk berlebihan dalam menyembunyikan amal yang terbit
darinya, sehingga tidak ada yang nampak darinya kecuali sangat sedikit.
Boleh
jadi, orang yang belum matang pembinaan (tarbiyah) dirinya hanya melihat
apa yang nampak secara zahir saja, lalu ia berimajinasi bahwa amal para aktivis
tersebut sangat sedikit jika dibandingkan dengan amalnya sendiri. Imajinasi ini
terus membayanginya dan mendesaknya hingga ia terperosok ke dalam jerat ujub (‘ujub
/ mengagumi diri sendiri), yang kemudian berlanjut menjadi terperdaya (ghurur).
Mungkin
saja, seruan Islam untuk menampakkan amal-amal yang baik dan memperlihatkannya
kepada manusia—di samping sebagai dorongan bagi mereka untuk meneladani dan
mencontohnya—di dalamnya terdapat isyarat kepada sebab atau pendorong ini,
sekaligus penjelasan tentang jalan keluar darinya. Sebagaimana firman Allah
Ta'ala:
“Jika
kamu menampakkan sedekah-sedekahmu, maka itu baik. Dan jika kamu
menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih
baik bagimu dan Allah akan menghapus sebagian kesalahan-kesalahanmu...” [QS.
Al-Baqarah: 271].
Dan
sebagaimana sabda Nabi :
صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ
تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَرْدِ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً.
“Shalat
berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh
derajat.” (HR. Bukhari dan Muslim) [Hadits ini diriwayatkan oleh
Al-Bukhari dalam Al-Shahih: Kitab Al-Shalah, Bab Fadhl Shalāt
Al-Jamā'ah (1/165, 166); dan Muslim dalam Al-Shahih: Kitab
Al-Masajid wa Mawādhi' Al-Shalah, Bab Fadhl Shalāt Al-Jamā'ah (1/450,
451 no. 650) dari hadits Ibn Umar secara marfu' dengannya].
مَنْ سَنَّ فِي
الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا
بَعْدَهُ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ...
“Barangsiapa
yang memelopori suatu tradisi/jalan yang baik (sunnah hasanah) dalam
Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya,
tanpa dikurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka...” (HR. Muslim) [Hadits
ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Shahih: Kitab Al-Zakah, Bab Al-Hats
'alā Al-Shadaqah (2/704-706 no. 1017) dari hadits Jarir bin 'Abdillah
Al-Bajali secara marfu' dengannya dan yang semakna].
9.
Pembedaan Sikap oleh Sebagian Tokoh Panutan dalam Memperlakukan Orang-Orang
yang Meneladainya
Sebab
terjadinya sikap terperdaya (ghurur) adakalanya berupa: pembedaan sikap
oleh sebagian tokoh teladan/panutan dalam memperlakukan orang-orang yang
meneladani mereka. Hal itu karena sebagian tokoh panutan terkadang luput dari
pikiran mereka tentang metode ideal dalam memperlakukan para pengikut/peneladan.
Maka
engkau melihat mereka mendekatkan sebagian orang, melapangkan dada untuknya,
serta memaklumi kekhilafan dan kesalahannya. Pada saat yang sama, mereka
berpaling dari sebagian orang lainnya, merasa sempit/tidak sabar terhadapnya,
dan membuka mata lebar-lebar terhadap kekhilafan maupun kekeliruan terkecil
yang timbul darinya.
Boleh
jadi pada kelompok pertama terdapat orang yang belum sempurna pembinaan (tarbiyah)
dirinya dan belum matang kepribadiannya. Ketika ia menyaksikan pembedaan
perlakuan ini, terlintas dalam pikirannya bahwa hal itu bersumber dari potensi
dan bakat yang ia miliki yang tidak terdapat pada orang lain. Lintasan pikiran
ini terus-menerus mendesaknya hingga menjelma menjadi sikap ujub (‘ujub
/ mengagumi diri sendiri), lalu berlanjut menjadi terperdaya (ghurur).
Sungguh
Rasulullah telah menutup rapat pintu ini melalui
kesungguhan beliau dalam memperlakukan para sahabatnya secara setara. Di antara
petunjuk (hidayah) beliau
—sebagaimana dikatakan oleh
para pemerhati sifat beliau—adalah: “Beliau memberikan hak (perhatian) kepada
setiap orang yang duduk di majelisnya, hingga orang yang duduk bersama beliau
tidak menganggap ada seseorang yang lebih dimuliakan oleh beliau daripada
dirinya.” [Hadits ini merupakan bagian dari hadits panjang yang diriwayatkan
oleh At-Tirmidzi dalam Al-Syamā'il Al-Muhammadiyyah: Bab Mā Jā'a fi
Khuluqi Rasūlillāh (hal. 18-23) dari hadits Sufyan bin Waki', dari Jami'
bin 'Umair bin 'Abdirrahman, dari seorang laki-laki Bani Tamim dari keturunan
Abu Halah, dari Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Sanadnya dha'if (lemah)
karena kelemahan Sufyan dan Jami', serta keasingan (jahalah) laki-laki
dari Bani Tamim tersebut; akan tetapi hadits ini memiliki jalur-penguat (syawahid)
lain yang menutup kelemahan ini dan mengangkat derajatnya hingga dapat diterima
(maqbul)].
Pada
hari di mana kebutuhan mendesak beliau untuk membedakan perlakuan, sementara orang
yang duduk bersama beliau belum memahami hikmah di balik tindakan tersebut,
beliau menjelaskan hal itu secara transparan. Sebagaimana diriwayatkan oleh
Sa'ad bin Abi Waqqas
, ia berkata:
Rasulullah
memberi suatu pemberian kepada sekelompok
orang sedang aku duduk di sana. Lalu beliau meninggalkan seorang laki-laki yang
justru merupakan orang yang paling aku kagumi. Maka aku berkata: “Wahai
Rasulullah, ada apa dengan Si Fulan? Demi Allah, sungguh aku memandangnya
sebagai seorang mukmin!” Maka beliau
bersabda: “Atau seorang muslim.” Aku pun diam
sejenak, namun apa yang aku ketahui tentang orang itu mendesakku, sehingga aku
mengulangi perkataanku: “Ada apa dengan Si Fulan? Demi Allah, sungguh aku
memandangnya sebagai seorang mukmin!” Beliau bersabda: “Atau seorang muslim.”
Kemudian apa yang aku ketahui tentangnya mendesakku kembali, maka aku
mengulangi perkataanku, dan Rasulullah
merespons dengan jawaban yang sama. Kemudian
beliau bersabda:
يَا سَعْدُ، إِنِّي
لَأُعْطِي الرَّجُلَ، وَغَيْرُهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْهُ، خَشْيَةَ أَنْ يَكُبَّهُ
اللهُ فِي النَّارِ.
“Wahai
Sa'ad, sungguh aku memberi kepada seseorang padahal orang lain lebih aku cintai
daripadanya, karena khawatir Allah akan menyungkurkannya ke dalam neraka.” (HR.
Bukhari) [Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Al-Shahih:
Kitab Al-Iman, Bab Idzā Lam Yakun Al-Islāmu 'alā Al-Haqīqah (1/13, 14)
dari hadits 'Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqas dari ayahnya secara marfu'
dengannya].
Ketiga:
Dampak-Dampak Sikap Terperdaya (Ghurur)
Sikap
terperdaya (ghurur) memiliki dampak-dampak yang buruk dan akibat-akibat
yang berbahaya, baik bagi para aktivis (al-'amilun) maupun bagi
gerakan/amal Islam. Berikut ini sebagian dari dampak dan akibat tersebut:
A.
Bagi Para Aktivis (Al-'Amilun):
Di
antara dampaknya bagi para aktivis—di luar apa yang telah kami paparkan pada
penyakit ujub (‘ujub / mengagumi diri sendiri)—adalah:
1.
Terjerumus ke dalam Malapetaka Perdebatan dan Percekcokan (Al-Mira' wa
Al-Jadal):
Dampak
pertama yang ditimbulkan oleh sikap terperdaya (ghurur) pada diri para
aktivis adalah terperosok ke dalam malapetaka perdebatan dan percekcokan (al-mira'
wa al-jadal). Hal itu karena orang yang terperdaya—disebabkan oleh rasa
cinta pada dirinya, pandangannya yang terpesona pada amalnya sendiri, serta
peremehannya terhadap amal orang lain—selalu berusaha membela dirinya dan
memenangkannya, baik secara benar maupun batil. Setan pun menghiasi persepsinya
bahwa sarana terbaik yang menyampaikan pada hal itu tidak lain adalah
perdebatan dan percekcokan. Penghiasan ini berhasil mengecohnya sehingga ia
terjerumus ke dalamnya. Pada saat itulah waktu-waktunya terbuang sia-sia dan
usianya melayang tanpa guna, dan itulah kesesatan serta kebinasaan yang nyata.
Dan
Nabi ﷺ sungguh telah
mengarahkan perhatian kita pada hal tersebut seraya bersabda:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا ضَلَّ
قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الجَدَلَ
Dari
Abu Umamah ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah suatu kaum
tersesat setelah berada di atas petunjuk, melainkan karena mereka diberi
(tabiat suka) berdebat."
(HR.
At-Tirmidzi dalam Al-Sunan, Kitab Tafsir Al-Qur'an, Bab Wa Min
Surah Az-Zukhruf [5/353, No. 3253], dan beliau berkomentar: "Hadits
ini hasan shahih, kami hanya mengetahuinya dari hadits Hajjaj bin
Dinar... dst." Juga diriwayatkan oleh Ibn Majah dalam Al-Sunan, Al-Muqaddimah,
Bab Ijtinab Al-Bida' wa Al-Jadal [1/19, No. 48], keduanya dari hadits
Hajjaj bin Dinar, dari Abu Ghalib, dari Abu Umamah secara marfu').
Sebagaimana
beliau ﷺ
juga memotivasi untuk membebaskan diri dari perdebatan dan pertengkaran (al-mira'
dan al-jadal) dengan ungkapan yang sangat ringkas dan penyampaian yang
paling halus, seraya bersabda:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ
لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ
الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ
حَسُنَ خُلُقُهُ
Dari
Abu Umamah ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku menjamin sebuah rumah
di pinggiran surga bagi siapa yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada
di pihak yang benar; sebuah rumah di tengah surga bagi siapa yang meninggalkan
kebohongan meskipun hanya bergurau; dan sebuah rumah di kedudukan tertinggi di
surga bagi siapa yang membaguskan akhlaknya."
(HR.
Abu Dawud dalam Al-Sunan, Kitab Al-Adab, Bab Fi Husn Al-Khuluq
[4/253, No. 4800] dari hadits Abu Umamah secara marfu'. Al-Albani
mencantumkannya dalam Silsilah Al-Ahadits Al-Shahihah No. 273 dengan
disandarkan kepada Abu Dawud, dan beliau mengisyaratkan bahwa dalam sanadnya
terdapat perawi yang tidak dikenal, namun hadits ini memiliki perawi-perawi
penguat [syawahid] yang mengangkat derajatnya menjadi hadits hasan).
2.
Jatuh ke Dalam Terperangkap Keterperdayaan Sifat Takabur di Muka Bumi Tanpa
Hak:
Dampak
kedua yang diakibatkan oleh al-ghurur (sifat tertipu/ujub) adalah jatuh
ke dalam jerat kesombongan (takabur) di muka bumi tanpa hak. Hal itu karena
ketika ghurur telah menguasai jiwa, ia ber transformasi dari yang semula
sekadar menganggap remeh dan merendahkan amal perbuatan orang lain, menjadi
perasaan tinggi hati dan bersikap superior terhadap mereka. Perasaan tinggi
hati, bersikap superior, atau takabur ini memiliki konsekuensi yang sangat
buruk dan dampak yang membahayakan; dan kita akan mengulasnya secara
terperinci—insya Allah—saat membahas tentang bahaya (afah)
takabur.
3.
Otoriter dalam Berpendapat (Al-Istibdad bi ar-Ra'yi):
Adapun
dampak ketiga yang ditimbulkan dari ghurur adalah bersikap otoriter
dengan pendapat sendiri (istibdad bi ar-ra'yi). Hal itu karena orang
yang tertipu daya oleh dirinya sendiri hanya memandang kebenaran ada pada
dirinya, dan meyakini bahwa apa yang lahir dari dirinya adalah suatu kebenaran
mutlak tanpa cela, sedangkan apa yang datang dari orang lain adalah kesalahan
tanpa kebenaran. Orang seperti ini, jika diajak kepada kebenaran, terasa berat
baginya untuk tunduk dan patuh kepadanya, sehingga ia tetap bertahan dengan
pendapatnya sendiri. Sikap otoriter terhadap pendapatnya sendiri ini
menjadikannya menjalani hidup dalam kemelut kesalahan hingga akhirnya ia binasa
bersama orang-orang yang binasa.
B.
Dampaknya Terhadap Pergerakan/Amal Islami (Al-'Amal Al-Islami):
Adapun
dampak-dampaknya terhadap pergerakan Islami dapat diringkas sebagai berikut:
- Mudah disusupi oleh
musuh-musuh Allah, yang mengakibatkan pergerakan tersebut terpukul, atau
setidaknya tergagalkan, sehingga tidak membuahkan hasil melainkan setelah
pengorbanan yang amat mahal dan kurun waktu yang sangat panjang.
- Berbaliknya masyarakat umum
dan rakyat biasa menentang pergerakan tersebut serta mencelanya, terutama
pada masa-masa sulit dan krisis; hal ini dikarenakan mereka tidak melihat
dari orang-orang yang berisitisab (terisnisiasi) ke dalamnya melainkan
kesombongan yang tampak jelas dalam bentuk sikap meremehkan dan
merendahkan amal perbuatan masyarakat umum meskipun amal itu berupa
kebaikan. Hal ini saja sudah menyimpan dampak negatif yang sangat besar.
Keempat:
Manifestasi/Indikator Sifat Ghurur
Sifat
ghurur ditunjukkan oleh beberapa indikator/gejala, di antaranya:
- Senantiasa merendahkan dan
menganggap sepele perbuatan/amal orang lain, meskipun perbuatan tersebut
merupakan suatu kebaikan.
- Terlalu banyak membicarakan
amal perbuatan yang dilakukan oleh diri sendiri, seraya memuji dan
meninggikan kedudukan diri.
- Sulit untuk tunduk dan patuh
kepada kebenaran, meskipun kebenaran tersebut disampaikan oleh orang yang
ahli/berhak menyampaikannya.
Kelima:
Terapi/Obat Penyakit Ghurur
Jiwa
dapat diobati dari penyakit ghurur, bahkan dapat dibentengi agar tidak
tertimpa penyakit ini lagi, yaitu dengan mengikuti metode dan sarana-sarana
berikut:
- Memahami dan menyadari bahaya
serta akibat yang ditimbulkan dari ghurur; sebab menyadari hal
tersebut termasuk perkara yang dapat menggerakkan jiwa dari dalam dan
menghentakkannya—jika masih ada kebaikan di dalam jiwa tersebut—untuk
berjuang keras membebaskan diri dari penyakit ini sebelum datangnya hari
di mana hati dan penglihatan dibolak-balikkan, dan sebelum muncul
keinginan untuk kembali ke dunia demi memperbaiki keteledoran namun
permohonan itu tidak dikabulkan:
"(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu) hingga
apabila datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, 'Ya Rabbku,
kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku
tinggalkan.' Sekali-kali tidak! Sesungguhnya itu adalah dalih yang diucapkannya
saja. Di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka
dibangkitkan." (QS. Al-Mu'minun [23]: 99-100).
- Mengingatkan tentang
pentingnya bersikap pertengahan dan moderat (at-tawassuth wa al-i'tidal)
dalam segala hal, bahkan dalam urusan ketaatan dan hal-hal yang mubah,
agar tidak memicu munculnya sifat ghurur atau sikap
kelalaian/keengganan (al-qu'ud).
- Mengingatkan bahwa meskipun
amal perbuatan adalah sebuah keharusan yang mutlak, namun amal bukanlah
penyebab utama keselamatan hingga seorang hamba menggantungkan tumpuan
padanya. Keselamatan semata-mata merupakan karunia dan rahmat dari Allah Subhanahu
wa Ta'ala, sebagaimana diisyaratkan oleh ungkapan
"memasukkan" (al-idkhal) dalam banyak ayat Al-Qur'anul
Karim, di mana Allah Subhanahu berfirman:
"Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan,
kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka
mempunyai pasangan-pasangan yang disucikan, dan Kami masukkan mereka ke tempat
yang berteduh lagi nyaman." (QS. An-Nisa' [4]: 57).
"Dan dimasukkanlah orang-orang yang beriman dan
mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya dengan izin Rabb mereka. Ucapan
penghormatan mereka di dalamnya ialah 'Salam'." (QS. Ibrahim [14]: 23).
"Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman
dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai..." (QS. Al-Hajj [22]: 14, 23).... dan seterusnya.
Sebagaimana hal itu juga diisyaratkan dalam hadits yang telah
kami sebutkan pada bagian sebab-sebab ghurur: "Amal salah
seorang di antara kalian tidak akan pernah menyelamatkannya..."
Al-Hadits.
- Senantiasa menelaah dan
merenungkan Kitabullah Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi-Nya ﷺ;
karena hal itu akan membuka wawasan kita tentang perjalanan hidup dan
kisah para Nabi serta orang-orang saleh, dan bagaimana mereka begitu takut
terhadap kekhilafan sekecil apa pun yang mungkin timbul dari diri mereka,
padahal tabungan ketaatan mereka amatlah besar dan agung, agar kita dapat
meneladani dan mengambil pelajaran dari mereka.
Al-Qur'an menceritakan tentang Adam dan Hawa saat keduanya
berdoa: "Keduanya berkata, 'Ya Rabb kami, kami telah menzalimi diri kami
sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami,
niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi'." (QS. Al-A'raf [7]: 23).
Dan menceritakan tentang Nuh saat ia berkata: "...Dan
sekiranya Engkau tidak mengampuni aku dan menaruh belas kasihan kepadaku,
niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Hud [11]: 47).
Dan menceritakan tentang Ibrahim saat ia berkata: "dan
Yang amat aku harapkan akan mengampuni kesalahanku pada hari Kiamat." (QS.
Asy-Syu'ara' [26]: 82). Dan masih banyak lagi ayat selain ini.
- Mengkaji dan mempelajari
perjalanan hidup serta rekam jejak para Salaf (generasi pendahulu yang
saleh) dari umat ini, di mana mereka melobi dan melakukan amal yang sangat
banyak dengan tetap menjaga kejujuran dan keikhlasan, namun mereka tidak
pernah menggantungkan tumpuan pada amal tersebut. Bahkan dalam banyak
keadaan, mereka senantiasa mencurigai/menuduh diri mereka sendiri (kurang
ikhlas); hal ini termasuk perkara yang mampu menggerakkan emosi dan
kepekaan jiwa untuk meneladani atau setidaknya menyerupai mereka.
Diriwayatkan dari Abu Bakar Ash-Shiddiq—sahabat Nabi ﷺ, teman beliau di gua
Tsur, dan orang yang paling sempurna imannya di kalangan umat ini setelah Nabi ﷺ—perkataannya: "Seandainya
manusia mengetahui apa yang ada pada diriku (berupa ketakutan kepada Allah),
niscaya mereka akan melemparkan tanah ke atas kepalaku."
Dan ketika Imam Asy-Syafi'i menjelang wafatnya, sebagian
sahabatnya bertanya kepada beliau: "Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai
Abu Abdillah?"
Maka beliau menjawab—padahal beliau adalah sosok yang
digambarkan oleh muridnya, Ahmad bin Hanbal, bahwa beliau laksana matahari bagi
dunia dan kesehatan bagi manusia—dengan perkataannya: "Aku memasuki
pagi hari ini dalam keadaan akan berpisah dari dunia, meningggalkan
saudara-saudara, akan menyongsong keburukan amalku, dan akan menghadap Allah
Azza wa Jalla, sedang aku tidak tahu apakah rohku diperintahkan menuju surga
sehingga aku mengucapkan selamat, ataukah diperintahkan menuju neraka sehingga
aku berduka." Kemudian beliau melantunkan bait syair:
Ketika
hatiku membatu dan jalan-jalanku terasa sempit,
Jadikanlah
harapanku pada ampunan-Mu sebagai tangga penerang.
Dosaku
terasa amat besar bagiku, namun ketika aku bandingkan
Dengan ampunan-Mu wahai Rabbku, ternyata ampunan-Mu jauh
lebih agung.
- Mendorong dan mengarahkan
diri untuk sibuk dengan masalah-masalah pokok dan fundamental (ummahat
wa ushul al-masail), seraya berpaling dari perkara-perkara yang aneh
dan nyleneh (asy-syawadz wa al-ghara'ib); karena hal itu dapat
menjaga waktu dan memberikan kemanfaatan pada sisa umur.
- Memutuskan hubungan (pemboikotan)
terhadap orang-orang yang tertipu daya (al-mughtarrin) dan menjauhi
pergaulan dengan mereka, seraya melemparkan diri ke dalam dekapan
orang-orang yang kenal (arif) kepada Rabb mereka dan menghargai-Nya
dengan penghargaan yang sebenar-benarnya; yaitu orang-orang yang terus
beramal namun tidak menyandarkan diri pada amalnya karena takut telah
terjadi sesuatu dari diri mereka yang menghalangi diterimanya amal tersebut,
sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala memuji mereka dalam
firman-Nya:
"Sungguh, orang-orang yang karena takut akan (azab) Rabb
mereka, mereka berhati-hati..." Ayat-ayat [QS. Al-Mu'minun [23]: 57-61].
- Melakukan evaluasi diri (muhasabatu
an-nafs) secara kontinu/berkala, serta mendidik dan menundukkannya
hingga ia melepaskan diri dari seluruh akhlak yang tercela. Dan sungguh
benar Rasulullah ﷺ
ketika bersabda:
عَنْ أَبِي يَعْلَى
شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
«الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ
مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأَمَانِيَّ
Dari Abu Ya'la Syaddad bin Aus, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan/mengoreksi dirinya
dan beramal untuk kehidupan setelah kematian; sedangkan orang yang lemah adalah
orang yang mengikutkan dirinya pada hawa nafsunya lalu berangan-angan hampa kepada
Allah."
(HR. Ibn Majah dalam Al-Sunan, Kitab Az-Zuhd,
Bab Zikr Al-Mawt wa Al-Isti'dad Luh [2/1423, No. 4260] dari hadits Abu
Ya'la Syaddad bin Aus secara marfu').
- Pemantauan/pendampingan dari
orang lain terhadap dirinya, di mana mereka menjalankan kewajiban
terhadapnya berupa pemberian nasihat yang dipadukan dengan syarat-syarat
dan adab-adabnya, kemudian mendorongnya—dengan berbagai metode—untuk
menerima nasihat tersebut dan melaksanakannya betapa pun berat atau
sulitnya.
- Memindahkan/mengundurkan
posisinya dari garis depan (al-mawaqi' al-amamiuyah), meskipun
untuk sementara waktu, sampai ia sembuh dari penyakit ini dan jiwanya
kembali kepada fitrah serta kecemerlangannya.
- Penerapan adab-adab syar'i
oleh orang-orang di sekitarnya dalam hal pujian, penghormatan, dan
ketundukan, guna menutup celah bagi setan dan memutus penyakit ini hingga
ke akar-akarnya dari dalam jiwa.
- Kesadaran dan kesungguhan
orang-orang di sekitarnya untuk menampakkan beberapa amal kebaikan di
hadapan orang yang tertimpa penyakit ghurur, agar setan tidak
menyendiri bersama mereka dan membinasakan mereka.
- Kesadaran para teladan (dzawu
al-uswah wa al-qudwah) untuk memperlakukan para pengikut atau
pengambil teladan secara adil dan setara (bis sawiyyah); agar tidak
tersisa celah bagi setan menuju jiwa, sehingga jiwa selamat dari bisikan
dan tipu dayanya.
- Memohon pertolongan kepada
Allah Azza wa Jalla; karena Subhanahu akan menolong siapa
saja yang berdoa kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, dan bersandar
pada-Nya:
"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan)
Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah
beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut [29]: 69).
Sumber:
buku
آفات على الطريق karya الدكتور السيد محمد نوح
(Sayyid Muhammad Nuh)
Comments
Post a Comment