Kaifa yatakayyafu bil Islam (Bagaimana Beradaptasi Dengan Islam)

Sinopsis

Bagaimana cara untuk beradaptasi dengan Islam (kayfa yatakayyafu bil-Islaam) dilakukan dengan berlandaskan aqidah, ukhuwah dan al-'uddah (materi). Tuj uannya untuk memunculkan potensi dan kekuatan pribadi. Maka diperlukan komponen aqidah dan diikat dengan ukhuwah. Pribadi yang beraqidah, beri'tikad, berperasaan, berfikiran, dan bertingkahlaku membentuk kepribadian Islam pada akhirnya menghasilkan kekuatan pribadi. Kekuatan pribadi ini tidak akan berhasil dan bermanfaat apabila tidak diikat dengan ikatan dan persatuan aqidah. Ukhuwah yang dimulai dengan at-ta'aaruf dan ditindaklanjuti dengan at-tafaahum menghasilkan at-takaaful dan mewujudkan al-'amalul al-jamaa'i sehingga terbentuk kekuatan jamaah. Kekuatan pribadi yang diikat dengan kekuatan jamaah akan menumbuhkan kekuatan jiwa.

Kekuatan jiwa belumlah lengkap tanpa kekuatan harta (quwwah al-amwaal). Kelengkapan itu harus disiapkan dengan mengeluarkan zakat, infaq, sadaqah dan sunduk (uang kas). Harta yang diperoleh melalui hal tersebut akan menghasilkan kekuatan materi (quwwah al-'uddah) bagi individu agar dapat bergerak bersama Islam dengan leluasa. Amalan dan ibadah kepada Allah adalah upaya bergerak bersama Islam sebagai realisasi pribadi yang shidiq (benar). Sidiq akan muncul di dalam hati, lisan dan amal. Dengan hati yang benar akan muncul quwwah al-indifaa' (kekuatan perlawanan). Sidiq lisan akan menghasilkan kekuatan pengaruh (quwwah at-ta’tsiir). Sidiq amal akan mewujudkan kekuatan hasil (quwwah al-intaaj). Akhirnya Allah SWT memberikan kepercayaan dengan memberikan kedudukan (al-makaanah).

Aqidah yang benar merupakan syarat utama untuk beradaptasi dengan Islam dan juga merupakan suatu pengakuan seorang muslim bahwa Islam mengatur kehidupannya sehingga dengan aqidah Islam maka seseorang memiliki suatu tingkah laku yang Islami. Aqidah demikian akan membawa individu menjadi seorang pribadi muslim yang baik.

Aqidah mestilah mengikuti Al Quran dan sunnah Nabi SAW dan mengimani para salafus shaleh dan para imam yang telah terbukti melakukan kebajikan, kebaikan, ketakwaan dan kepahaman mereka yang tepat dan benar terhadap Islam. Aqidah yang benar adalah mengimani dan meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah Yang Maha Bijaksana, mengimani bahwa Allah tdak mencipta alam ini tanpa tujuan atau untuk bermain-main saja, mengimani bahwa Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab, rengimani bahwa tujuan hidup manusia adalah mengenal Allah dan mentaatiNya, mengimani bahwa surga adalah balasan dan ganjaran bagi mukmin yang taat sedangkan neraka adalah balasan bagi orang kafir, mengimani bahwa manusia mencapai kebaikan melalui usahanya, mengimani bahwa peraturan kehidupan manusia adalah hak mutlak bagi Allah dan mengimani sifat-sifat Allah.

Beradaptasi dengan Islam diwujudkan dalam bentuk ibadah kepada Allah dengan dasar aqidah yang jelas. Ibadah dalam Islam merupakan puncak dari perasaan tunduk dan patuh kepada Allah. Ibadah juga merupakan suatu konsekuensi dari aqidah yang dimiliki seseorang yang menyambungkan hubungan antara makhluk dengan Penciptanya. Selain itu ibadah mempunyai pengaruh yang mendalam dalam beradaptasi dengan nilai-nilai Islam. Beradaptasi dalam Is­lam adalah melakukan kegiatan shalat, puasa, zakat, haji dan semua amal-amal yang dilakukan manusia untuk mendapatkan keridhaan Allah serta memelihara syariatNya.

Wujud dari beradaptasi dengan Islam adalah melaksanakan akhlak yang mulia dimana akhlak mulia adalah tujuan dasar dari pesan Islam. Hal ini dinyatakan oleh Nabi dalam haditsnya yang artinya "Sesungguhnya aku diutuskan hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia" (Hadist shahih yang  diriwayatkan oleh Malik, Ahmad, Hakim, At Tabrani dan Bukhori). Hal ini juga diterangkan dalam surat Al Hajj:41 dan surat Al Bagarah:177. Akhlak mulia merupakan tanda dan hasil dari aqidah yang benar. Tidak ada nilai sebuah aqidah yang tidak disertai oleh akhlak yang mulia. Inilah yang disebutkan Nabi SAW dalam sabdanya sewaktu beliau ditanya apakah diin itu, Nabi menjawab dengan sabdanya diin adalah akhlak yang baik (HR Muhammad Ibnu Nashr Al Maruzi secara mursal). Kemudian juga ditanyakan apakah kecelakaan itu, beliau menjawab dengan sabdanya kecelakaan ialah akhlakjahat (HR Abu Daud dan Ahmad secaraara mursal). Rasulullah j uga bersabda bahwa tidak ada suatu perkara yang paling berat yang diletakkan dalam neraca seorang hamba di hari kiamat kelak lebih dari akhlak yang mulia (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Abu Ad Darda). Dalam Islam akhlak merupakan intisari bagi segala ibadah. Tanpa akhlak, ibadah hanyalah merupakan tingkah laku yang tidak mempunyai nilai dan faedah.

Aqidah yang benar tidak akan menghasilkan suatu umat yang kuat apabila tidak diikuti dengan persaudaraan di antara muslim. Aqidah dan ukhuwah akan menghasilkan kekuatan jamaah. Beramal untuk memperjuangkan Islam merupakan suatu kewajiban syar'i baik yang berkaitan dengan individu, jamaah ataupun rnasyarakat. Oleh karena itu berjuang dalam dakwah tanpa didasari aqidah dan ukhuwah tdak akan menghasilkan suatu amal yang baik. Perintah beramal seperti yang difirmankan dalam surat At Taubah:105 ditujukan kepada semua orang dimana amal shaleh merupakan implementasi dari aqidah. Tidak ada suatu amal yang berhasil tanpa dilaksanakan dengan ukhuwah Islamiyah. Dalam ukhuwah inilah terdapat aktifitas saling menolong, membantu, menanggung dan membela dan saling mendukung. Semua ini akan menopang pelaksanaan aktifitas yang wajib secara syariat dalam memperjuangkan Islam. Dakwah Islam dan aplikasi nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu gambaran tentang komitmen seseorang dengan ibadah, akhlak, adab, muamalat yang disyariatkan Allah, sifat-sifat terpuji, kebajikan dan takwa. Dakwah dengan komitmen demikian merupakan suatu kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kaum muslimin di dalam firmannya surat Yusuf: 108.

Dakwah yang merupakan aktifitas penting dalam memperjuangkan Islam, yang memerlukan usaha bahu­rnembahu dan saling tolong menolong di antara orang-or­ang yang berukhuwah dalam Islam. Keberhasilan dakwah ini diperoleh melalui ukhuwah yang didasari oleh taaruf, tafaahum dan takaaful. Aktifitas perjuangan dakwah akan meraih keberhasilannya apabila didasari oleh faktor aqidah dan ukhuwah.

Bagaimana berinteraksi dengan Islam secara efektif adalah melakukan suatu perjuangan dakwah dimana perjuangan dakwah memerlukan pengorbanan jiwa dan harta. Pengorbanan jiwa menuntut kekuatan jiwa dalam beramal yang didasari oleh aqidah dan ukhuwah manakala pengorbanan harta menuntut kekuatan harta. Islam mewajibkan manusia untuk mengeluarkan zakat bagi yang mampu dan juga mengeluarkan infak, sadaqah dan sunduq. Allah berfirman dalam surat 49:15 yang bunyinya "Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar".

Tidak mungkin dakwah berjalan tanpa adanya kekuatan harta. Oleh karena itu Islam mewajibkan untuk mengelola harta dengan cara mengatur sistem zakat dan mendistribusikannya secara tepat. Allah menyuruh kita berzakat agar dapat membersihkan jiwa dan harta kita. Setiap kegiatan dakwah dan program yang dilakukannya membutuhkan kekuatan harta sehingga dengan kekuatan harta ini dapat mampu menggerakkan setiap amal dan pro­gram dakwah.

Beramal untuk Islam dalam mewujudkan nilai-nilai Islam di masyarakat merupakan suatu kewajiban syariat. Dakwah Islam merupakan suatu kewajiban syariat yang dikenakan kepada setiap muslim tanpa memperhitungkan status. Oleh karena itu arnal Islam dan dakwah merupakan tanggung jawab orang Islam. Surat Al Ashr:1-3 membuktikan bahwa Allah mewajibkan kita untuk bergerak dalam bentuk dakwah Islam, Begitu pula dalam surat Al Maidah:67, Al Bagarah:159, Rasulullahpun bersabda "Barangsiapa di antara kamu yang melihat kemungkaran hendaklah merubahnya dengan tangannya, sekiranya tidak mampu berbuat demikian hendaklah merubahnya dengan lidahnya, sekiranya tidak mampu berbuat demikian maka merubahnya dengan hati, yang demikian itu adalah iman yang pal­ing lemah" (HR Muslim). Begitu pula dalam hadits lain Rasulullah bersabda "Wahai manusia sesungguhnya Allah berfirman kepada kamu perintahkanlah manusia melakukan makruf dan cegahlah mereka dari kemungkaran sebelum sampai masanya kamu berdoa kepadaKu tetapi Aku tidak memperkenankannya" (HR Ibnu Maj ah) .

Bergerak bersama Islam mesti didasari oleh sikap beribadah kepada Allah saja. Segala aktifitas dan dakwah mesti merupakan bagian dari ibadah karena ibadah merupakan realisasi dari keimanan seseorang. Dengan demikian maka mereka yang berdakwah dan beramal shaleh adalah orang yang jujur hatinya, lisannya dan amalnya. Dengan demikian akan muncul kekuatan perlawanan, pengaruh dan hasil. Sehingga Allah memberikan kedudukan yang layak bagi mereka yang melaksanakan dakwah dengan karakter tersebut di atas.

1. Kayfa Yatakayyafu Bil-Islaam (Bagaimana Cara Untuk Berdaptasi Dengan Islam)

Topik ini diilhami oleh kisah pemuda Kahfi di dalam Surat Al-Kahfi ayat 9-26. Ulama menafsirkan bahwa pemuda Kahfi ini adalah pemuda-pemuda beriman yang melakukan ukhuwah Islamiyah. Mereka senasib sepenanggungan memperjuangkan keimanan dari tekanan raja zhalim pada masa itu. Syakhshiyah Islaamiyah dan al-'amalul al jamaa'i yang terlihat pada kisah itu- menghasilkan kekuatan jiwa.

Di dalam kisah tersebut, diceritakan persediaan uang perak. Hal ini menunjukkan kualitas pergerakan mereka yang diwujudkan dengan adanya persiapan keuangan dan persiapan jiwa.

Pada ayat 18 dikisahkan pula bagaimana mereka digerakkan ke kanan dan ke sebelah kiri. Mereka beribadah kepada Allah. Kemudian mereka ditangkap oleh raja setelah terbangun. Akhimya raja meyakini kebenaran cerita dan pengalaman pemuda Kahfi sehingga mereka mendapat kedudukan (al-makaanah).

2. Al-`Aqiidah (Aqidah)

·     I'tiqaddan (Keyakinan)

·     Syu'uuran (Perasaan)

·       Fikratan (Pemikiran)

·     Suluukan (Tingkah Laku)

·     As-Syakhshiyah Al-Islaamiyah (Pribadi Muslim)

·     Quwwah Al-Fard (Kekuatan Pribadi)

Aqidah yang benar mencakup i'tiqaddan (keyakinan) yang baik, syu'uuran (perasaan) yang Islami, fikratan (pemikiran) yang bersih dan suluukan (tingkah laku) yang agung. Aqidah meliputi beriman kepada Allah dan rasul sesuai dengan syahadatain. Serta keimanan kepada malaikat, kitab, hari kiamat dan taqdir. Aqidah yang mantap akan mewamai kepribadian. Kepribadian seseorang itu terdiri dari i'tiqaddan, syu'uuran, fikratan dan suluukan. Pribadi yang muslim memiliki ciri-ciri yang Islami di dalam setiap komponen dirinya.

Asy Syakhsyiyah al-Islaamiyah ditopang dengan aqidah yang benar dan bersih. Bersih dari kemusyrikan dan benar mengikuti Islam. Pribadi Islam akan mewarnai seorang muslim di rumah atau di luar rumah sebagai pengejawantahan aqidah yang dimilikinya.

Aqidah yang tertanam akan menghasilkan kekuatan pribadi (quwwah al- fard) . Pribadi tanpa aqidah akan lemah dan tidak mempunyai potensi. Bahkan akan merusak dan menghancurkan dirinya sendiri. Aqidah akan menjadikan pribadi kuat karena landasannya dan tempat bergantungnya kuat yaitu hanya kepada Allah. Kesimpulannya, suatu kekuatan pribadi akan terwujud bila dilandasi dengan pemahaman dan keyakinan yang bersih.

Dalil

Q. 9:40. Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya, yaitu ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan Kalimat Allah itulah yang tertinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Q. 26:61-62. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul". Musa menjawab: "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku".

Q. 6:161-162. Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, yaitu agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik". Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam".

Q. 8:60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).

Hadits. Rasulullah SAW bersabda, "Bukanlah iman itu dengan khayalan, akan tetapi apa yang terpatri dalam hati dan dibuktikan dengan perbuatan" (HR Muslim).

3. Al-Ukhuwwah (Persaudaraan)

·                 At-Ta'aaruf (Sating Kenal Mengenal)

·              At-Tafaahum (Saling Memahami)

·                 At-Takaaful (Senasib Sepenanggungan)

Aqidah yang bersih dan menghasilkan kekuatan pribadi harus diikat dengan persaudaraan Islam. Persaudaraan Is­lam adalah nikmat dan hidayah Allah. Persaudaraan menambah nikmatnya iman dan Islam sehingga hidup menjadi tenang dan bahagia. Semua masalah dapat di atasi dengan ukhuwah Islamiyah sebagaimana telah dibuktikan oleh para sahabat Nabi SAW.

Al-ukhuwwah al-Islaamiyah (persaudaraan Islam) dimulai dengan saling kenal mengenal (at-ta'aaruf), lalu saling memahami (at-tafaahum). Mengenal jasad, pemikiran dan kepribadian akan meningkatkan pemahaman clan munculnya saling tolong menolong (ta'awun). Keadaan ini memudahkan proses al-'amalul al-jamaa'i dan proses dakwah Islamiyah. Dari ta'awun dalam bentuk saling mendo'akan dan saling membantu akan memunculkan sikap saling senasib dan sepenanggungan (at-takaaful).

Al-'amalul al-jamaa'i (amal bersama) terbentuk setelah adanya ukhuwah Islamiyah. Kerja sama dan sama-sama kerja merupakan suasana yang hadir di antara pribadi yang mengamalkan ukhuwah Islamiyah di dalam arena dakwah.

Quwwah al-jamaa'ah (kekuatan jamaah). Sebagai hasil clan amal jama'i para da'i akan membentuk jamaah yang handal, diperhitungkan dan tahan dari segala fitnah dan cobaan.

Dalil

Q. 49:10. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

Q. 8:1. Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan ta'atlah kepada Allah clan Rasul­Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman".

Q. 49:13. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan sorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Q. 5:2. Dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.

Q. 90:17. Dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.

Q. 103:3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Q. 37:99-100. Dan Ibrahim berkata: "Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh.

Q. 11:80. Luth berkata: "Seandainya aku ada mempunyai kekuatan (untuk menolakmu) atau kalau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat (tentu aku lakukan)"

Q. 11:91. Mereka berkata: "Hai Syu' aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami.

Hadits. Dari Anas bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tolonglah saudaramu yang zalim dan yang terzalimi" Dikatakan, "Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi itu dapat kami pahami, namun bagaimana bisa kami menolong orang yang zalim ?" Beliau bersabda, "Cegah dan laranglah dia dari berbuat zalim; begitulah menolongnya" (HR Ahmad).

4. Quwwah Al-Anfus (Kekuatan Pribadi)

Al Adad (Jumlah)

Pribadi yang tertanam aqidah dan diikat dengan tall persaudaraan Islam akan mengembangkan potensi diri dan kepribadian. Kekuatan jiwa dan potensi akan berkembang setelah melakukan ta'awun dan al-'amalul al-jamaa'i.

Pribadi yang kuat apabila tidak bersama-sama akan lemah dan tidak berpotensi. Demikian halnya, apabila pribadi yang kurang beriman akan diikat dengan tali ukhwah Islamiyah maka tidak akan muncul kekuatan pribadi. Bagaikan sapu lidi yang tidak banyak manfaat apabila tidak diikat dengan tali yang kuat.

Keadaan kekuatan jiwa akan menjadikan kekuatan al-adad (jumlah). Jumlah pribadi yang banyak dan kuat akan menghasilkan kekuatan jiwa.

Dalil

Q. 49:15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

Q. 9:111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang­orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) dari pada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Q. 8:60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang yang dengan persiapan itu kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang­orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)

Hadits. Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "orang-orang yang beriman di dunia ini terbagi kepada tiga bagian: orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu­ragu dan mereka berjihad dengan jiwa dan harta di jalan Allah; orang yang dikhawatirkan oleh orang lain berkenaan dengan jiwa dan harta mereka dan orang yang apabila ia melihat ketamakan, maka dia meninggalkannya karena Allah" (HR Ahmad) .

Hadits. Imam Muslim meriwayatkan dari Uqbah bin Amir, berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW ketika beliau diatas mimbar berkata, "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi. Ketahuilah, kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah, kekuatan itu adalah memanah" (HR Ibnu Majah, Muslim, Abu Daud).

5. Al-`Uddah (Material)

Al-Maal (Harta)

Berinteraksi dengan Islam tidak cukup dengan aqidah dan ukhuwah. Aktifitas Islam dan kebutuhan berinteraksi memerlukan dana dan fasilitas. Dana, fasilitas, kendaraan, dan material lainnya berperan penting dalam mendukung kelancaran dakwah. Tanpa peranan maal (harta) maka dakwah dan jamaah tidak akan lancar. Allah SWT menyebutkan dalam banyak ayat yang berkaitan dengan perlunya berjihad dan berdakwah dengan mengorbankan harta clan jiwa. Kekuatan maal merupakan tuntutan dakwah dan gerakan. Karena itu persiapan pendanaan sangatlah penting.

Penyediaan pendanaan dapat melalui zakat, infaq, sadagah, sunduq dan harta lainnya. Zakat merupakan kewajiban bagi yang mampu. Sedangkan infaq juga kewajiban seorang Muslim tetapi tidak ditentukan jumlahnya. Sadaqah adalah terserah kita. Apabila dikumpulkan semua kewajiban dan usaha pengumpulan uang maka tidak akan kekurangan dana bagi kepentingan dakwah Islam.

Quwwah al-`uddah (kekuatan materi) terwuj ud dari adanya harta dan materi yang diperlukan oleh dakwah melalui penyaluran uang berdasarkan kewajiban dan kerelaan.

Akhirnya quwwah al-amwaal (kekuatan harta) sebagai penopang dakwah akan mempercepat terbentuknya al-` udad (materi).

Dalil

Q. 9:46. Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan -kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama-sama dengan orang yang tinggal itu".

Q. 8:3. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.

Q. 61:11 (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul­Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya.

Q. 9:111 Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang­orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Hadits. Rasulullah SAW bersabda, "Satu dirham yang diinfakkan pada jalan Allah akan dilipat-gandakan pahalanya menjadi tujuh ratus kali" (HR Ibnu Daud).

Hadits. Dari Ibnu Mas'ud RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tiada iri kecuali terhadap dua orang yang diberi ,kekayaan, lalu dia menghabiskannya dalam kebenaran dan orang yang diberi hikmah, lalu dia memutuskan berdasarkan hikmah itu dan mengajarkannya" (HR Ahmad).

6. Kayfa Yataharraku Ma'a Al-Islaam (Bagaimana Beradaptasi Dengan Harta Islam)

Apabila kebutuhan dan persyaratan untuk bergerak seperti aqidah, ukhuwah dan perbekalan telah terpenuhi maka diperlukan usaha untuk menggerakkanya kedalam bentuk amal dan ibadah Islam.

Al-ibaadah lillaah wahdah (ibadah pada Allah saja) adalah tuntutan Islam dan Allah. Iman perlu dibuktikan dengan ibadah. Segala potensi manusia barulah bernilai dan berguna apabila mereka beribadah kepada Allah. Tanpa ibadah maka potensi yang dimilikinya akan menghilang dan hancur. Kekuatan pun akan luntur sehingga mudah diinjak oleh musuh Islam sebagai akibat dari hilangnya ibadah karena hawa nafsu.

Tahqiiq al-iimaan (merealisasikan iman). Ibadah adalah perwujudan dan bukti realisasi iman (tahqiiq al-iirnaan). Iman perlu dibuktikan di dalam perbuatan yaitu ibadah

Dalil

Q. 9:119. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama-sama orang­orang yang benar.

Q. 9:120. Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.

Hadits. Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan memeberi karena Allah, maka sungguh telah sempuma imannya" (HR Abu Daud).

7. Ash-Shidq (Kejujuran)

·             Al-Qalb (Hati)

·                    Quwwah Al-Indifaa' (Kekuatan Perlawanan)

·                Al-Lisaan (Lisan)

·                    Quwwah At-Ta,tsiir (Kekuatan Pengaruh)

·             Al-'Amal (Amal)

·                Quwwah Al-Intaaj (Kekuatan Hasil)

Realisasi iman melalui ibadah akan menghasilkan sifat sidhiq (jujur). Benar di dalam hati (al-galb) menghasilkan kekuatan perlawanan (quwwah al-indifaa'). Benar di dalam lisan (al-lisaan) akan menghasilkan kekuatan pengaruh (quwwah at-ta,tsiir). Sifat shddiq di dalam amal (al-`amal) akan menghasilkan kekuatan hasil (quwwah al-intaaj).

Dalil

Q. 49:15 Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.

8. At-Tashdiiq (Pembenaran)

Sifat sidiq mendatangkan pembenaran atau kepercayaan dari Allah SWT berupa gelar takwa. Orang yang bertakwa akan dibantu dari kesusahan, diberi rezki, diberi hidayah, berkah dan rahmat. Bentuk kepercayaan yang Allah berikan adalah mendapatkan kepercayaan sebagai khalifah dan kedudukan yang mulia di sisi-Nya.

Dalil

Q. 33:23. Di antara orang-orang mukmin itu ada yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya).

Q. 22:39. Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.

Hadits. Dari Ibnu Abbas RA berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Siapa yang melazimkan membaca Istighfar, maka Allah akan melepaskan dari segala kesukaran dan melapangkan dari segala kesempitan, dan memberinya rezki yang tiada terduga-duga" (HR Abu Daud).

9. Al-Makaanah (Kedudukan)

Kepercayaan dan kedudukan yang Allah berikan sebagai khilafah adalah sebagai bukti Allah SWT memberikan al­makaanah (kedudukan) yang mulia. Di antara kedudukan itu adalah diberinya kekuasaan untuk memerintah di burni dan kemudian peranan khalifah berjalan.

Dalil

Q. 22:41. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala urusan.

Hadits. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah membentangkan bumi itu kepadaku sehingga kau dapat melihat bagian timur dan baratnya. Kekuasaan umatku akan mencapai wilayah bumi yang telah dibentangkan kepadaku"








 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat